MANUSIA HIDUP Dan SAUDARA EMPATNYA:


MANUSIA HIDUP Dan SAUDARA EMPATNYA:
(Manungso Urip lan Sedulur Papate)
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Selasa Pahing. Tgl 30 Agustus 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian….
Ketahuilah dengan kesadaran murnimu, bahwa sesungguhnya, kita semua, maksudnya kita sebagai manusia hidup ini. Adalah unik. Semuanya unik, masing-masing memiliki keunikan sendiri-sendiri. Bagaimana tidak…?!

Mari kita sama-samma mengengok tentang masing-masing ke unikan kita itu. Sedulur papat kita, atau yang lebih di kenal dengan empat malaikat pendamping kita. Masing-masing memiliki keunikan sendiri-sendiri. Mereka tidak memiliki karakter yang sama, meskipun mereka menempati satu kubu, yaitu wujud raga kita.

Kakang Kawah saudara kita yang pertama, yang lebih di kenal dengan sebutan Mutmainah. Berciri khass dengan warna putih, dan condong ke arah timur, serta memiliki sipat dan sikap lemah lembut, halus dan penuh perasa’an.

Sedangkan Adi Ari-ari saudara kita yang kedua, yang lebih di kenal dengan sebutan Aluamah. Berciri khass dengan warna kuning, dan condong ke arah selatan, serta memiliki sipat dan sikap yang konsekwen dan tegas.

Sementara saudara kita yang ketiga, yaitu darah, yang lebih di kenal dengan sebutan Nafsu Amarah. Berciri khass warna merah, dan condong ke arah barat, memiliki sipat dan sikap keras dan emosional.

Saudara Tunggal Ketok Puser kita yang ke’empat, yang lebih di kenal dengan sebutan Nafsu Supiyah. Berciri khass dengan warna hitam, dan condong ke arah utara, serta memiliki sipat dan sikap pendiam dan pemalu.

Ke’empatnya, memiliki ilmu kesaktian yang berbeda-beda pula. Mutmainah berinti kesaktian air. Aluamah berinti kesaktian angin. Amarah berinti kesaktian api dan Supiyah berinti kesaktian bumi/tanah.

Ke’empatnya juga memiliki kebutuhan yang berbeda, namun sesuai dengan tugas yang di amanahkan oleh Dzat Maha Suci Tuhan kepada mereka masing-masing. Seperti Mutmainah, contoh misalnya, yang berinti kesaktian air, dia butuh di jaga dan di rawat serta di lestarikan atau di manfaatkan sesuai Firman Dzat Maha Suci Tuhan, yang di amanahkan kepadanya. Jika tidak di jaga dan di rawat serta di lestarikan atau dimanfaatkan sesuai Firman Dzat Maha Suci Tuhan. Sunami-lah yang akan terjadi. Begitu juga dengan ketiga saudara kita yang lainnya. Butuh di jaga dan di rawat serta di lestarikan atau di manfaatkan sesuai Firman Dzat Maha Suci Tuhan, yang di amanahkan kepadanya. Kalau tidak, jatuh bangunlah kita di dalam bergerak iktiyar/ibadah, panas dinginlah situasi dan kondisi kita dibuatnya.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Karakter sipat dan sikap serta kesaktian dari ke’empat saudara kita ini. Jika berhasil di manunggalkan, di satukan. Bukan saja hanya indah, bak tumbuhan di taman bunga. Tapi juga luar biasa hebat kekuatannya. Karena semua yang mereka miliki itu, baik sipat sikap dan ilmunya, asli dan langsung berasal dari Dzat Maha Suci, tanpa perantara apapun dan siapapun. Yang jelas dan pasti, kita punya hak untuk memiliki mereka, karena mereka adalah milik kita, dan berada di dalam diri kita, serta mereka berada dalam diri kita, karena mengemban tugas/amah dari Dzat Maha Suci Tuhan, untuk kita.

Coba renungkan, andai kita mengenal mereka berempat, dan memanunggalkan/menyatuka mereka berempat, kita tidak perlu puasa atau bertapa untuk mendapatkan ilmu brajamusti atau rawarontek atau braja teluh, karena kesaktian ke’empat saudara kita, tidak ada yang bisa menandingin, karena ilmu milik mereka berempat, adalah ilmu yang di berikan langsung oleh Dzat Maha Suci Tuhan kita.

Tapi jangan berpikir, bahwa siapapun orangnya, kalau sudah mengenal dan mengusai sedulur papatnya, pasti akan sombong, adigang adigung adiguna. Dimanapun berada akan mencari masalah dan gara-gara… Oh… TIDAK. Karena siapapun dia, jika berhasil mengenal dan memanunggalkan sedulur papatnya. Pasti akan seperti PADI. Artinya, semakin kita mengenal sedulur papat, sudah pasti akan semakin menunduk, itulah Padi, jika tidak menunduk, berati gabug, padi itu tak berisi. Karena keberhasilnya dalam menyatukan/memanunggalka sedulur papat, pasti akan bersua dengan Guru Sejatinya, yaitu Hidupnya sendiri. Jadi, sudah pasti tentu kan… apa yang akan dialaminya.

KESIMPULANNYA;
Kita tidak perlu menjatuhkan diri, dengan kekaguman yang berlebihan, kepada orang lain, sehingga menimbulkan perasa’an iri, dengkin, benci dll. Karena kita semua sama uniknya, sama-sama memiliki keunggulan masing-masing. Jika kita menginginkan sebuah keunggulan, maka tugas kita adalah menggali rasa yang meliputi seluruh tubuh kita, karena di dalam tubuh kita, ada Firman Dzat Maha Suci Tuhan kita, yang bisa menjamin Hidup Mati dan Dunia Akherat kita. Kita harus membangun potensi diri kita, agar menjadi unggul juga. Dengan Cara apapun, silahkan,,, asal Kita bisa berhasil. Mau dengan cara mengamalkan Wahyu Panca Gha’ib menggunakan Wahyu Panca Laku, atau hanya mengamalkan Wahyu Panca Gha’in thok, atau dengan cara agama, atau dengan cara kejawen, atau dengan cara kebatinan, atau dengan cara bertapa atau bla,,,bla,,,bla,,, lainnya. Silahkan… asalkan kita mampu menjalankannya, dengan iman yang sungguh-sungguh, dan baik serta benar-benar yakin kita bisa berhasil. SILAHKAN….

Jadi,,, usah kita buang dan jangan menghabiskan waktu dan kesempatan kita, untuk mengusik dan mengolok-olok agama atau kepercaya’an atau keyakinan atau ilmunya orang lain tanpa usaha dari diri sendiri untuk mengembangkan diri pribadinya sendiri. SETUJU….?!

Popularitas Laku Spiritual apapun itu Model dan Bentuknya, tidak untuk menunjukan keunggulan sebenarnya. Tidak perlu rendah diri. Tidak perlu tinggi diri. Apa lagi sampai lupa diri, semua orang memiliki potensi dan kesempatan serta hak yang sama besarnya, dengan keunikan masing-masing. Keunikan ini muncul dari ketertarikan kita untuk beriman satu saja. Yaitu Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti dan bla,,,bla,,,bla,,, sebutan lainnya, dari Proses Perjalanan Spiritual Hidup Kita Sendiri, dan dari Sistem Cara Pandang Kita Sendiri. Inggat itu…!!!

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Iklan

KESIMPULANNYA ADALAH PEMBUKTIAN:


KESIMPULANNYA ADALAH PEMBUKTIAN:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Selasa Pahing. Tgl 30 Agustus 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Ada sebuah inbox bagus di facebook saya, beberapa waktu yang lalu, yang menarik buat saya, sehingganya, tertulislah artikel ini.

Begini isi kata-kata inboxnya;
Artikel pak WEB, sangat bagus dan menarik, juga cukup menggugah banyak kesadaran orang, termasuk saya sendiri. Cuman sayang Praktek-nya, bagaikan mencari satu jarum di tumpukan jerami 1 TON. Suliiiiittt,,, sekali pak WEB, untuk saya praktekan.

Itu adalah rangkuman komentar terhadap hampir semua posting saya di facebook. Hanya saja, di kirim melalui inbox/pesan, jadi lebih pribadi, kalau yang mengiri inbox ini, membaca artikel ini, mohon maafkan, bukannya saya membuka aib, tapi saya membagikan ilmu, ilmu pengalaman baru bagi saya, karena kata-kata saudaraku itu, bukanlah aib, melainkan ilmu yang berguna bagi saya dan mungkin bermanfaat bagi yang lainnya. Sekali lagi, maafkan saya.

Menurut pengalaman saya pribadi “Sulit” adalah kata yang seringkali keluar, saat kita akan melakukan sesuatu, yang kita angan-angankan/bayangkan seakan-akan mustahil.
Mungkin itu benar bagi sebagian orang, namun tidak semuanya. Kalau saya boleh bertanya,,, memang apa yang mudah…?! Adakah Laku yang mudah…?! Adakah Spiritual yang mudah…?! Atau,,, adakah bisnis yang mudah…?! Contoh misal, dengan modal kecil dan akan menghasilkan banyak uang dengan mudah…?! Kalau ada, pasti saya sudah mengalaminya dan menjalankan terlebih dulu, dan pastinya, ilmunya akan saya sebarkan di seluas mungkin. Setahu saya, dalam meraih sukses/berhasil, apapun itu sebutannya,pasti harus ada yang kita korbankan, kalau tidak uang, ya waktu atau tenaga atau pikiran yang harus kita korbankan.

Adalah sebuah fenomena yang bisa kita ambil hikmahnya, hampir semua orang, untuk mendapatkan cara yang mudah, dalam menghasilkan uang, sehingga dia akan disibukan oleh pekerjaan. Misalnya mencari cara mudah itu dan ini. Dia akan menghabiskan waktu untuk mencari sebuah “formula ajaib/spontan-alias bim sala bim” yang akan membuat kita cepat sukses/berhasil. Padahal,,, tanpa sadar, dia sudah membuang waktu, yang seharusnya bisa dia manfaatkan, untuk membangun usaha/upaya yang menurut dia sulit itu.

Dalam Proses Perjalan Hidup, sulit selalu menyertai kita. Tidak pernah ada orang sukses/berhasil, yang kesehariannya, hanya lenggang kangkung tanpa kesulitan. Justru hanya orang yang tidak bertindak, tidak akan mendapatkan kesulitan, meskipun dia akan mendapatkan kesulitan pada hal yang lain. Kira-kira ya seperti itu apa tidak Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…?! Coba renungkan sejenak dengan SADAR. Jangan sambil berhayal ya… He he he . . . Edan Tenan.

Orang sukses/berhasil, bukanlah orang yang hidupnya tanpa kesulitan, tetapi orang yang bisa mengatasi kesulitan tersebutlah, yang di sebut sukses/berhasil itu. Kalau pun kesulitan sampai membuat dia jatuh, orang sukses/berhasil, pasti akan bangkit kembali dengan iman, bukan dengan nafsu.

Sewaktu saya masih awam dalam Iman Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci Tuhan saya, saya dulu juga sering menyerah jika ada kesulitan. Misalnya saat akan berjualan sesuatu, saya mengira sudah ada saingan, bahkan banyak. Ada teman yang menawarkan yang belum ada saingan, saya berpikir susah/sulit menjualnya. Datang lagi teman yang lain, menawarkan usaha lain, saya mengatakan bahwa modalnya perlu besar, sulit cari modal dll. Akhirnya sampai sekarang, walau jamannya jaman bisnis, saya buta bisnis dan tidak punya rekan bisnis apapun, dan parahnya lagi, tidak punya ilmu pengalaman apa-apa dalam berdagang.

Kenapa? Karena saya seperti yang sudah saya uraikan diatas. Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, kesulitan selalu menyertai kita. Jika kita berusaha menghindari dari kesulitan, ibarat kita lari dari bayangan. Kemana pun kita pergi, sebagaimana bayangan, maka kesulitan akan selalu menyertai kita. Bayangan tidak akan mengikuti kita, hanya jika kita pergi ke tempat yang gelap selamanya. Nah…. Pertanya’annya sekarang. Maukah kita berada di tempat gelap selamanya…?!

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, ketahuilah…. Kesalahan Terhebat-nya Manusia Hidup itu. Ketika mengatakan “aku/saya tidak bisa, karena…”

Mungkin Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, akan membentak saya, jika kita salin berhadapan secara langsung.

Memang benar kok… “aku/saya tidak bisa, karena….” Menurut pengalaman pribadi saya, adalah kesalahan paling hebat, di bandingkan kesalahan-kesalahan lainnya. Kalau tidak percaya, cari dan baca saja, artikel-artikelnya orang-orang yang sukses di internet, kira-kira di benarkan apa tidak, kata-kata tersebut untuk meraih sukses/berhasil.

Atau mungkin Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian punya alasan, lalau Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, akan membela mati-matian, bahwa alasan Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian itu, adalah benar. Boleh saja, silahkan. Jika Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, mau bahwa alasan Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian itu benar, maka memang benar.

Namun yang perlu Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian perhatikan. Iyalah,,, meskipun Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian benar. Tetap saja tidak akan memperbaiki keada’an Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian kan…?!

Apakah alasan Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian benar atau salah. Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian tetap saja tidak bisa. Berati,,, duduk perkaranya, duduk persoalnya, bukan pada benar atau salahnya kan…?!

Duduk perkaranya dan duduk persoalnya itu, adalah iman/keyakinan. Tepatnya, keyakinan kita yang negatif. Namun ada hal yang lebih berbahaya ketimbang keyakinan yang negatif tersebut, yaitu tentang keyakinan kita, bahwa Baik itu berasal dari Tuhan, kalau buruk itu, berasal dari iblis, sementara kita iman/yakin kalau Tuhan it Esa/Tunggal alias satu. Sama halnya dengan keyakinan bahwa tidak ada jalan keluar atas alasan kita. Saat kita mengatakan tidak bisa, kemudian kita mengungkapkan suatu alasan dan yakin bahwa alasan kita benar, yang lebih parah, iyalah kita tidak mengambil alasan untuk mangatasi masalah kita itu.

Falsafah saya Wong Edan Bagu. Adalah “Baik Buruk berasal dari Satu, yaitu Dzat Maha Suci” Karena Dzat Maha Suci Tuhan itu, hanya satu, penguasa Tunggal dan Maha Segalanya”.“Selalu ada jalan keluar jika Dzat Maha Suci yang menjadi Penguasa saya”

Terlepas apakah alasan saya benar atau salah, saya memiliki iman/keyakinan bahwa selalu ada jalan keluar di setiap ketidakbisaan/ketidak mampuan saya. Saya yakin dan saya percaya. jika kita mau Pasrah kepada Dzat Maha Suci Tuhan kita, kita mau menerima Dzat Maha Suci Tuhan kita, kita mau mempersilahkan Dzat Maha Suci Tuhan kita. Kita akan mendapatkan jalan keluar yang sempurna. Namun sebelum itu, langkah awal yang perlu di terapkan. Adalah mengubah semua alasan kita dengan satu kata saja, yaitu “AKU”.

Sebagai contoh: “Saya tidak bisa karena AKU.” Artinya, kitalah yang menyebabkan bahwa kita tidak bisa, bukan orang lain, bukan lingkungan, bukan ilmu atau kejadian. Jika kita sudah bisa menerima kenyataan ini, maka kita akan mendapatkan jalan keluarnya yang sempurna di luar rancangan dan duga’an kita.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian. Ingat-ingatlah… Selama kita beralasan dengan alasan diluar diri kita, sampai kapan pun kita tidak akan pernah mendapatkan jalan keluar apapun, apa lagi kesempurna’an. Saat kita sudah mengalihkan alasan menjadi diri kita sendiri dan dari diri kita sendiri. Artinya; di sadari atau tidak di sadari, kita sudah memiliki kemampuan untuk meninggalkan alasan-alasan itu. Jika alasan itu adalah diri kita sendiri, sama artinya bahwa sudah tidak ada lagi alasan. Tinggal bagaimana kita mengibadahkan iman cinta kasih sayang Dzat Maha Suci tersebut.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian… Dengan munculnya alasan tertulisnya artikel ini, saya teringat masa kanak-kanak saya. Dulu,,, sewaktu saya masih kecil, saya sering di dongengi sama mendiang kakek saya. Maksunya, di beri cerita sebelum tidur. Ceritanya sangat-sangat lucu, bagi saya yang pada sa’at itu masih berusia anak-anak. Salah satu cerita dari mendiang kakek saya itu, ada yang berkesan dan menjadi ilmu bagi saya. Yaitu. Judul ceritanya Kerbau dan Harimau.

Ceritanya Begini;
Ada seekor kerbau, yang setiap pagi dibawa oleh seorang anak penggembala, yang masih kecil, menuju sawah yang akan dibajaknya. Jika tidak ada pekerjaan, kerbau itu oleh penggembala, dibawa ke daerah yang banyak rumputnya. Kemana pun kerbau itu dibawa, selalu saja nurut kepada majikannya yang seorang anak kecil itu.

Pada suatu ketika, saat si kerbau sedang sendirian, ada seekor harimau yang datang menghampiri kerbau itu. Si harimau berkata kepada si kerbau;

“Haeee kerbau, saya sudah beberapa hari mengamati kamu. Kamu selalu nurut saja dibawa-bawa atau disuruh-suruh oleh majikan kecilmu itu. Manusia majikanmu itu sangat kecil dibanding kamu, kenapa tidak kamu tubruk saja, pasti dia terpental jauh atau mati. Kamu jadi bebas seperti saya, bebas kemana pun saya mau, haaaauuuuuu” kata si harimau.

“Saya takut kepada anak kecil itu”. Jawab si kerbau.

“Hu… ha… ha… ha,,, dasar bodoh kamu. Masa badan kamu yang besar, takut kepada anak kecil?” ejek si harimau sambil menertawakan.

“Kamu juga akan takut jika kamu mengetahui kelebihan manusia” kata si kerbau menjelaskan.

“Apa sih kelebihan manusia itu, kok sampai bisa membuat kamu takut?” tanya si harimau penasaran.

Tidak lama kemudian, anak kecil si penggembala kerbau tersebut datang. Langsung saja si harimau menyapanya.

“Heeeeei anak manusia!! Kata si kerbau kamu mempunyai kelebihan yang membuat dia takut. Apa itu?” Tanya si harimau pada si anak pengembala.

Anak pengembala itu menjawab, “Saya sebagai manusia diberikan kelebihan oleh Sang Pencipta, yaitu berupa akal yang tidak dimiliki oleh makhluq lainnya, termasauk kamu harimau”

“Akal itu apa?
Boleh saya melihat akal kamu?
Jika kamu tidak menunjukkan, saya akan memakan kamu.” tanya harimau sambil mengancam.

“Wah saya tidak bisa memperlihatkannya, karena akal saya tertinggal di rumah”. jawab si pengembala dengan tenangnya.

“Kalau begitu kamu ambil dulu.” kata si harimau dengan nada mendesak.

“Saya bisa saja mengambilnya, tetapi percuma. Kamu akan lari.” Jawab si pengembala tidak mau kalah.

“Saya janji, saya tidak akan lari” kata si harimau dengan percaya diri.

“Sekarang kamu berkata demikian, setelah melihat saya membawa akal, kamu pasti lari. Bagaimana kalau kamu saya ikat? Supaya kamu tidak lari nantinya” kata si pengembala kepada si harimau.

“Setuju” jawab harimau.

Kemudian si anak penggembala kecil tersebut, mengikat harimau tersebut di sebuah pohon. Bukan saja tidak bisa lari, tetapi sampai tidak bisa bergerak leluasa. Setelah mengikat harimau si anak pun pergi. Kerbau yang mengamati dari tadi tertawa, melihat nasib harimau.

“Sekarang kamu bisa apa?” tanya si kerbau. Harimau tidak bisa menjawab, dia panik dan ingin melepaskan diri, tetapi tidak bisa.

“Itulah akal manusia. He he he Edan Tenan. kata si Wong Edan Bagu sambil melanjutkan tulisan artikel ini sampai selesai hingga disini. Dan silahkan di renungkan wahai Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian. Lalu BUKTIKAN Sekarang. Semuga Bermanfaat bagi kita bersama.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

KEBERANIAN ORANG YANG BERIMAN:


KEBERANIAN ORANG YANG BERIMAN:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Minggu Kliwon. Tgl 28 Agustus 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian… Ketahuilah.
Di dalam Laku/Ibadah, kita harus memiliki hubungan intim dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah kita terlebih dahulu. Jika tidak, kita tidak akan pernah bisa mampu menerima kejadian prosesnya. Jadi,,, minimal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu, harus menjadi kekasih kita, pacar kita, selingkuhan kita. Maksimalnya,,, adalah kebalikannya, yaitu menjadi kekasih Dzat Maha Suci Tuhan/Allah kita.

Kalau harus saya umpamakan seperti ini;
Ada seorang pria bernama Djaka Tolos, yang memutuskan untuk meminta Wong Edan Bagu, yang tidak pernah dia kenal sebelumnya, untuk memberikan kredit motor kepadanya. Kemungkinan untuk memperoleh persetujuan akan sangat kecil bagi Djakat Tolos, dengan asumsi bahwa Wong Edan Bagu tersebut, bukan seorang idiot tentunya. Akan tetapi, dalam kasus yang sama, jika Djaka Tolos itu adalah Csnya Wong Edan Bagu, mengajukan permohonan kredit motor itu, sudah pasti tidak akan ada masalah, bukan…?! Faktor ada atau tidaknya, hubungan-lah yang menjadi persoalannya, bukan begitu Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian..?!

Bagi Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, ketika seseorang benar-benar telah menjadi kekasih-Nya, menjadi milik Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Dia mengenal mereka satu persatu dan mendengarkan doa mereka.

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…
Ketika berdoa kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti kita, apakah Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian, sudah yakin/iman/percaya, bahwa Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian mengenal-Nya dan Dia mengenal Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…?!

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…
Apakah Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian, telah memiliki hubugan baik dengan-Nya, yang menjamin bahwa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti kita, akan menjawab doa-doa Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…?!

Jika iya Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian yakin mengenalnya. Mulailah sekarang juga, selagi masih ada waktu bin belum terlambat. Jalankan. Gunakan dan Amalkan tuntunan yang diajarkan oleh Agama-mu. Kepercaya’an-mu. Keyakinan-mu. Apapun itu nama dan jenis alirannya. Asalkan hanya menuju kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti. Sudah pasti itu benar. Maka,,, jalankanlah dengan segenap Iman Cinta Kasih Sayang-mu sesuai Firman-Nya.

Tapi kalau justru Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti kita, terasa begitu jauh, hanya menjadi sebuah konsep dalam kehidupan Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian, atau Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian, tidak yakin bahwa Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian, telah mengenal-Nya dengan baik, berikut adalah petunjuk bagaimana memulai suatu hubungan baik dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti kita, Dan Lakukan/Ibadahkan sekarang juga.

Pertama;
Pasrah-lah kepada-Nya. Serahkan semua dan segala masalamu hanya kepada-Nya.
Kedua;
Terima-lah Dia. Sepenuh jiwa segenap raga, sebagai kekasih tercinta, sahabat terkasih, saudara tersayang, pacar atau apapun, sehingganya, terasa takan bisa hidup bila tanpa-Nya.
Ketiga;
Persilahkan-lah Dia. Ijinkan Dia mengambil alih semua dan segala urusan dan masalahmu.
Ke’empat;
Rasakan dengan penuh kesadaran, ketiga Laku/Ibadah diatas dengan iman Cinta Kasih Sayang.
Kelima;
Tebarlah Iman Cinta Kasih Sayang kepada siapapun dan apapun serta dimanapun tanpa terkecuali.

Apakah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti Pasti akan Menjawab Doa kita…?!
Bagi mereka yang telah mengenal dan percaya kepada-Nya. “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan Firman-Ku tinggal di dalam-mu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya”

“Tinggal” didalam Dia dan firman-Nya tinggal didalam kita. Bukankah ini berarti kita harus menjalani kehidupan kita dengan kesadaran murni akan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti yang kita percayai itu.

Bukankah iman itu yakin/percaya?
Bukankah yakin atau percaya itu berani tegas?

INI-lah keberanian orang yang percaya/yakin kepada-Nya.
Bahwa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti Pasti mengabulkan doa. jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Dia mengabulkan apa saja yang di minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti menjawab doa kita yang sesuai dengan kehendak-Nya, dan sesuai dengan hikmah Cinta Kasih Sayang-Nya kepada kita, kesucian-Nya, dan lain-lain

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…
Terkadang kita menganggap kita mengetahui kehendak Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti, karena hal-hal tertentu, dan nampaknya itu, masuk akal bagi kita. Lalu kita berasumsi bahwa hanya ada satu “jawaban” yang benar bagi doa kita yang spesifik, asumsi itu tentu saja, bahwa Hal yang kita minta PASTILAH kehendak Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti kita.

Dan seringkali kita bersikeras. Kita hidup didalam waktu dan pengetahuan yang terbatas. Kita hanya tahu sedikit informasi tentang suatu situasi dan implikasinya, dimasa yang akan datang. Sementara Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti kita, memiliki pengertian yang tidak terbatas. Apa yang akan terjadi dalam kehidupan kita, hanya Dia yang tahu. Dia memiliki tujuan lebih jauh kedepan, dibanding yang dapat kita bayangkan. Dengan demikian, Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti kita, tidak melakukan suatu hal, dengan begitu sederhana, hanya karena kita menentukan bahwa ini pasti kehendak Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti kita. Ingat dan Sadarilah itu wahai Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian… Saya Pernah berkata, bahwa “Tidak selembar daunpun yang jatuh ke bumi ini tanpa kehendak-Nya”

Kalau kalimat ini harus di kupas, berati tidak ada satupun halaman atau ruangan yang tidak berisi tentang maksud Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti terhadap kita kan…?! Keseluruhan Al-kitab, adalah gambaran tentang hubungan seperti apa yang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti kita inginkan, kita alami bersama Dia dan Hidup seperti apa yang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti ingin berikan bagi kita. Sekali lagi,,,, Ingat dan Sadarilah itu wahai Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

TIGA PRINSIP IMAN Wong Edan Bagu:


TIGA PRINSIP IMAN Wong Edan Bagu:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Sabtu Wage Tgl 27 Agustus 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasih saya sekalian…
Ada sebuah Firman dari Al-qitab injil taurat, yang pernah saya baca, ayatnya sangat menarik. Seperti ini; “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku.. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal/sempurna kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku”

Di dalam firman itu, ada kalimat mengenal, tak kenal maka tak sayang, itu kata pujangga. Karena itu firman, yang artinya adalah kata ucapan-Nya Tuhan. Berati kalimat mengenal tersebut diatas, adalah soal dan tentang hubungan antara Manusia dan Tuhan-nya.

Sudahkan kita mengenal Tuhan yang kita sembah…?!
Kapan Waktunya buat mengenal Tuhan kita…?!
Dan bagaimana kita dapat memiliki sebuah hubungan baik dengan Tuhan…?!

Apakah menunggu di sambar kilat/petir terlebih dulu…?!
Atau menunggu kesandung dan jatuh ke dalam jurang dulu…?!
Atau menanti dan menunggu kalau sudah sekarat…?!

Apa harus memberikan dan menyerah serta mengorbankan diri kita, kepada perbuatan-perbuatan agamawi atau keperya’anwi atau keyakinanwi atau kejawenwi atau glonganwi bla,,, bla,,, bla,,, lainnyawi…?! yang tidak mementingkan diri sendiri dan yang tidak mengutamakan ego dll.

BUKAN…!!! Bukan itu semua. Dzat Maha Suci Tuhan kita, telah menjelaskannya di dalam Al-kitab, bagaimana kita dapat mengenal-Nya dan menjalin hubungan dengan-Nya. Maka,,, bacalah dan bacalah kembali al-qitab ajaran atau tuntunan-mu, jangan merasa sudah tamat atau selesai membacanya. Karena satu kata saja firman Dzat Maha Suci di dalam al-qitab, jika dijabarkan dengan tulisan, tidak akan pernah cukup, walapun seluruh air laut di jadikan tintanya dan semua daun dijadikan kertasnya.

Dalam kesempatan kali ini, di Artikel ini, saya akan berbagi Pengalaman dengan Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasih saya sekalian… Tentang bagaimana Kita dapat memulai suatu hubungan dengan Dzat Maha Suci secara pribadi/khusus.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasih saya sekalian… Sungguh, pada awalnya saya adalah manusia atheis, yang putus asa karena gagal mengenali Dzat Maha Suci dengan Cara apapun. Seperti yang sudah pernah saya akui dalam artikel biografi pribadi saya. Orang hina dan kotor serta papa, namun ingin berhasil menggenggam dunia dengan sukses, artinya tanpa kesulitan. Sehingganya, berbagai macan jenis aliran keilmuan dan tuntunan bahkan agama apapun, saya pelajari demi itu. Namun hancur pada akhirnya, saya jatuh, lalu saya bangkit lagi, jatuh lagi, bangung lagi, jatuh lagi, bangkit lagi, jatuh lagi, bahkan sampai hancur berantakan semuanya dan saya tinggalkan segalanya dalam keputus asa’an.

Walau putus asa dan kecewa akan kegagalan itu, tapi saya tetap iman/yakin/percaya, kalau Dzat Maha Suci itu memang ada dan kuasa atas segalanya. Hanya saja, saya belum menemukan cara dan jalannya. Iman atau Yakin atau Percaya-nya saya, memiliki TIGA PRINSIP IMAN. Dan dengan Tiga Prinsip Iman inilah, saya berhasil membuktikan apa yang saya rindukan seumur hidup saya. Yaitu Mengenal dan menjalin hubungan Cinta Kasih Sayang dengan Dzat Maha Suci sesembahan saya yang Esa/Tunggal dan Maha Segalanya.

Prinsip yang pertama;
“Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti itu, mengasihiku dan mempunyai suatu rencana yang indah bagi kehidupanku” Maksudnya…Dzat Maha Suci tidak hanya menciptakan saya, tapi Dia sangat mengasihi saya, sehingga Dia rindu kepada saya, agar mau mengenal-Nya.

Prinsip yang kedua;
“Saya mengakui dengan sesadar-sadarnya, bahwa diri ini, penuh dosa dan akibat dosa itu, saya jadi terpisah dari Dzat Maha Suci begitu lamanya, buktinya saya sulit bahkan gagal menggapainya” Maksudnya… saya telah merasakan keterpisahan itu, suatu jarak dengan dengan Dzat Maha Suci Tuhan saya karena dosa itu.

Lebih dari itu, sipat dan sikap saya, yang selalu melawan dan masa bodoh, terhadap Dzat Maha Suci akan cara dan jalan yang telah di firmankan-Nya, merupakan bukti dari apa yang Al-kitab sebut dengan dosa. Akibat dari dosa adalah maut, yang di sebut maut adalah, terpisahnya manusia dari Dzat Maha Sui untuk selama-lamanya. Walaupun saya telah berusaha untuk dekat dengan Dzat Maha Suci melalui berbagai macam usaha, tapi buktinya itu semua gagal.

Prinsip ketiga;
“Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti, adalah satu-satunya jalan keselamatan yang sempurna, yang telah di tentukan oleh Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti itu sendiri, untuk keampunan dosa manusia yang mau bertaubat dengan sadar, bukan dengan kepentingan ego. Hanya dengan melalui Dia dan menuju hanya kepada-Nya. Saya bisa” Artinya… mau tidak mau, rela tidak rela, saya harus Pasrah kepada-Nya. Lalu menerima-Nya. Lalu mempersilahkanya. Terus merasakan proses kekuasa’an-Nya yang Maha Dahsyat, sembari menebar iman cinta kasih sayang kepada siapapun dan apapun serta dimanapun tanpa terkecuali. Maksudnya… saya harus keluar dari kotak golongan apapun dan melipat bendera kepentingan apapun.

Daripada saya terus berusaha keras untuk mencari Dzat Maha Suci Tuhan saya, dengan berbagai macam dan segala cara otak atik rancangan dan perkira’an pikiran saya. Mending saya mempraktekan tiga prinsip ini. Dan… mulailah saya exsen mempraktekan Tuga Prinsip Iman yang sudah saya uraikan diatas. Tanpa menggunakan kotak tanpa menggunakan bendera, namun saya tidak meninggalkan kotak dan bendera itu.

Dan seiring berjalannya waktu yang setiap detiknya saya perjuangkan untuk mempraktekan Tiga Prinsip Iman yang sudah saya uraikan diatas tadi, saya berhasil Mengenal-Nya dan Menjalin Hubungan Khusus serta Pribadi dengan-Nya. Bukti dari mengenal dan menjali hubungan khusus saya dengan-Nya. Adalah banyaknya artikel yang sudah saya sebarkan di internet ini, mengenai-Nya.

Jadi, jika kita telah mempraktekan Tiga Prinsip diatas. Percayalah Dia telah masuk ke dalam hidup kita, seperti yang telah dijanjikan-Nya. Artinya, kita telah memulai sebuah hubungan pribadi dengan Dzat Maha Suci Tuhan kita, tinggal meningkatkan kesadaran-nya, semakin kita sadar, semakin bersih, semakin bersih, maka semakin murni, semakin murni, maka akan semakin jelas dan nyata. Bukti kebenaran-Nya. Sungguh Dia tidak ingkar janji.

Kalau sudah seperti ini, selanjutnya kita akan memulai suatu perjalanan yang panjang, menuju perubahan dan pertumbuhan spiritual lahir bathin, di setiap detik yang kita lalui. Pokok’e… Sungguh luar biasa uedannya. He he he . . . Edan Tenan.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

SEMAKIN KITA MENGENALNYA. SEMAKIN MUDAH KITA MEMPERCAYAINYA:


SEMAKIN KITA MENGENALNYA.
SEMAKIN MUDAH KITA MEMPERCAYAINYA:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Sabtu Wage Tgl 27 Agustus 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…
Manusia hidup di dalam kehidupan dunia ini, tentu saja tidak bisa terhindar dari yang namanya, mengalami sakit, karena penyakit, karena masalah, atau kesulitan-kesulitan lain dalam hidupan berkepentingan dan berkebutuhan. Lalu…?!

Dzat Maha Suci mengajarkan kita, untuk menyerahkan segala kekuatiran kita itu, hanya kepada-Nya saja, dalam situasi yang sulit sekalipun, “Serahkanlah segala kekuatiranmu hanya kepada-Nya, sebab Dialah pemelihara dan yang memelihara kita”

Keadaan mungkin bisa jadi terasa tidak terkendali, tetapi sebenarnya tidak, itu hanya perasa’an kita saja, obalah gunakan Rasa-nya, jangan perasa’annya, sudah sekian lamanya bukan, kita di permainkan oleh perasa’an, ketika dunia ini terasa mau runtuh.

Percayalah. Jangan takut. Usah kita hawatir. Asalkan kita bisa mau. Pasrah kepada-Nya. Menerima-Nya. Mempersilahkan-Nya. Merasakan Proses kekuasa’an-Nya dan menebar Iman Cinta Kasih Sayang-Nya dengan Sadar. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti, akan menjaga kita. Dalam sikon seperti inilah, setiap orang pasti akan sangat bersyukur, karena mereka mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti yang sesungguhnya.

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian… Ketahui dengan sadar. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti itu dekat. “Jadi, janganlah kita takut dan kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu, kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti, dalam doa dan laku/ibadah seraya mengucapan syukur. Damai sejahtera Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiran kita. Jika kita mau merawat hati dan pikiran kita sendiri, dari segara kotoran yang tak berwujud, seperti sirik-iri-dengki-fitnah-benci-dendam dan sejenisnya.

Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti, bisa saja memberikan jalan keluar, seperti mengatasi masalah yang sedang kita alami, melebihi yang kita bayangkan. Beberapa Kadhang atau Saudara kita, pasti ada yang mengalami hal seperti ini dalam kehidupan mereka. Tetapi jika keadaan tak kunjung membaik, Dzat Maha Suci masih bisa memberikan kita damai sejahtera-Nya, ditengah-tengah masalah yang kita hadapi.

“Sanadyan jenengsiro den idak-idak, den gebugi, MENENGO. Sambato Roso. Ojo sambat angen-angen. Sambato roso, jenengsiro amung Nyut. Nyut ing roso, yekti panjenenganingsun dumrojog tanpo larapan. soko Sunyoruri, yo Roso Sejati Sejatine Roso, kang ono ing ‘KENE’ mulo jenengsiro ojo was lan sumelang” (Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu).

Inilah intinya,,, ketika keadaan tidak kunjung membaik, bahwa Dzat Maha Suci meminta kita untuk tetap percaya hanya kepada-Nya (Ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa tetep Kunci) “Ono opo-opo Kunci. Ora ono opo-opo tetep Kunci”

Hidup karena percaya/iman/yakin, bukan karena melihat atau mendengar seperti yang Al-kitab katakan. Tetapi ini bukan iman membabi buta. Melainkan sesuai dengan setiap karakter yang dimiliki Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti kita.

Seperti sebuah Contoh misal yang pernah saya katakan di lain artikel. Saya hendak pergi mencari alamat toko, yang ada di kota jakarta. Dari cirebon membawa sebuah mobil dan sopir pribadi. Mobil pribadi adalah perumpama’an tuntunan yang sedang saya pelajari, sedang sopir pribadi adalah perumpam’an Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti saya. Karena yang menjadi sopir adalah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti saya. Haruskan dan pantaskah saya memandu sopir itu…?! Pir,,, di depan nanti belok kanan, lalu di belokan sebelah kiri ada warung, di depan warung ada pohon terongnya… nah, di sebelah warung itulah toko yang saya maksud. Kira-kira etis tidak, kita memperlakukan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti yang kita imani, kita yakinin, kita perayai adalah Maha diatas segala yang Maha.

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…
Dzat Maha Suci telah menawarkan untuk memberikan jawaban dan bukti dari semua doa bagi seluruh cipta’an-Nya. Mereka yang telah Pasrah dan Menerima-Nya serta Mempersilahkan-Nya, pasti mengikuti-Nya. Dia meminta kita untuk menyerahkan setiap masalah, kekuatiran kita kepada-Nya didalam doa dan laku/ibadah. Dia akan bertindak sesuai dengan kehendak-Nya. “Orausah melu cawe-cawe-Romo kang bakal tumindak” Ketika kita berada dalam kesulitan dan menyerahkan semuanya hanya kepada-Nya, maka kita akan menerima tenteram, damai sejahtera, dari-Nya, sekalipun keadaan tidak mendukung. Dasar dari pengharapan kita pada-Nya, adalah iman cinta kasih sayang atas karakter Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti itu sendiri. Semakin kita mengenal-Nya. Semakin mudah kita mempercayai-Nya. Semakin kita mudah mempercayai-Nya. Semakin tidak ada yang Mustahil bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

DASAR AGAR SUPAYA:


DASAR AGAR SUPAYA:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Sabtu Wage Tgl 27 Agustus 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…
Pernahkah kita mengenal seseorang yang sungguh-sungguh mempercayai Dzat Maha Suci, yang lebih kita kenal dengan sebutan Tuhan atau Allah atau Gusti atau Alah..?!

Dulu,,, ketika saya masih jadi seorang atheis, Saya mempunyai seorang sahabat, yang sangat sering berdoa, yang namanya berdoa, rajin banget. Setiap minggu sekali, dia pasti menceritakan kepada saya tentang iman-nya kepada Tuhan atau Allah atau Gusti atau Alah yang dipercayainya, dan dia menyebutnya sebagai Alloh zza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Dan sepertinya, dia ingin sekali membawa saya masuk ke dalam keyakinan doanya itu, sebab itu, dia selalu runtin menceritakan doa-doanya setian seminggu sekali kepada saya.

Dan setiap minggu pula, saya menyaksikan Dzat Maha Suci, dari cerita sahabat saya itu, melakukan sesuatu yang tidak biasa dalam menjawab doanya.

Tahukah Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…
Saya merasakan betapa sulitnya, bagi seorang atheis, melihat hal ini dari minggu ke minggu. Setelah berturut-turut menyaksikan hal itu, kata “kebetulan” terdengar seperti pendapat yang sangat lemah dan sepele, bagi saya kala itu.

Lalu mengapa Dzat Maha Suci menjawab doa sahabat saya itu?
Alasan terbesar adalah bahwa ia memiliki persekutuan kuat dengan Dzat Maha Suci Alloh zza wa Jalla Jalla Jalaluhu-nya itu. Ia ingin mengikuti Alloh zza wa Jalla Jalla Jalaluhu-nya itu, selalu. Ia juga bersungguh-sungguh mendengarkan apa yang Alloh zza wa Jalla Jalla Jalaluhu -nya katakan. Baginya, memiliki hak penuh untuk memimpin kehidupannya, dan dia membiarkan Alloh zza wa Jalla Jalla Jalaluhu Tuhan-nya itu, mengambil alih semuanya dan melakukannya!

Ketika dia berdoa untuk sesuatu, hal ini merupakan bagian alami dari hubungannya dengan Dzat Maha Suci Tuhan-nya. Dia merasa nyaman, membawa semua kebutuhannya, kegelisahannya, dan apapun hal yang sedang dialaminya kepada Tuhan-nya. Lebih jauh lagi, ia begitu mempercayai apa yang dibacanya dari Al-kitab, bahwa Dzat Maha Suci ingin agar dia mempercayai-Nya.

Dia seringkali memperlihatkan kepada saya, tentang apa yang dikatakan Al-kitab, “Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya, menurut kehendak-Nya. “Sebab mata Dzat Maha Suci tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka, yang minta tolong”

Jika demikian, Mengapa Dzat Maha Suci tidak Menjawab Doa Setiap Orang..?!

Hal ini disebabkan karena mereka tidak memiliki sebuah hubungan baik dengan Dzat Maha Suci Tuhan-nya. Sebaik Persekutuan Sahabat saya dengan Alloh zza wa Jalla Jalla Jalaluhu Tuhan-nya itu. Mereka mungkin percaya bahwa Dzat Maha Suci itu memang ada, bahkan mungkin mereka menyembah Dzat Maha Suci dari waktu ke waktu. Sesaui firman-firman-Nya di dalam al-qitab.

Tetapi mereka yang tidak pernah melihat doanya terjawab, mungkin tidak memiliki hubungan dengan-Nya. Lebih lanjut, Mereka belum pernah menerima pengampunan dari Dzat Maha Suci atas dosa-dosa mereka. Jika demikian,,, lalu apa yang harus kita lakukan..?!
Monggo… Silahkan di Pikir sendiri-sendiri ya. Saya hanya sebatas menggugah Rasa yang sedang tertidur dengan Pulasnya.

Karena menurut pengetahuan saya pribadi. Sesungguhnya, tangan Dzat Maha Suci itu, tidak kurang panjang untuk menyelamatkan kita, dan Telinga Dzat Maha Suci juga, tidak kurang lebar untuk mendengarkan doa-doa kita, juga tidak kurang tajam untuk melihat apapun dibawah kekuasa’an-Nya, tetapi yang merupakan pemisah antara Aku dan Tuhan-ku, adalah segala kejahatan-ku sendiri, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap-ku, sehingga aku tidak melihat dan mendengar, adalah segala dosa/karma-ku sendiri.

Saya rasa,,, itu hal yang wajar bukan? jika kita merasa terpisah dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah kita.

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…
Ketika seseorang meminta sesuatu kepada Dzat Maha Suci Tuhan-nya-Allah-nya, apa yang biasa terjadi…?!

Mereka memulai dengan berkata,”Tuhan/Allah/Gusti bla,,,bla,,,bla,,, saya sungguh memerlukan pertolongan-Mu dalam masalah ini…”Lalu kemudian ada jeda, diikuti dengan sebuah pernyataan “Saya menyadari bahwa saya tidak sempurna, sesungguhnya saya tidak layak meminta pada-Mu..” Ada sebuah kesadaran atas dosa pribadi.

Dan setiap orang tahu bahwa bukan hanya mereka, tetapi Dzat Maha Suci Tuhan-pun, tahu hal ini. Ada RASA… “Siapa yang saya permainkan?” yang mungkin tidak mereka ketahui adalah bahwa mereka dapat menerima pengampunan dari Dzat Maha Suci atas semua dosa/karma mereka. Mereka mungkin tidak tahu bahwa mereka bisa memiliki suatu hubungan dekat dengan Dzat Maha Suci, sehingga Dia akan mendengarkan mereka. Inilah Dasar “Agar Supaya” Dzat Maha Suci menjawab doa dan semua serta segala Pertanya’an masalah apapun dari Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian.

Dan Kesimpulannya; Mulailah sekarang juga, selagi masih ada waktu bin belum terlambat. Jalankan. Gunakan dan Amalkan tuntunan yang diajarkan oleh Agama-mu. Kepercaya’an-mu. Keyakinan-mu. Apapun itu nama dan jenis alirannya. Asalkan hanya menuju kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Sudah pasti itu benar. Maka,,, jalankanlah dengan segenap Iman Cinta Kasih Sayang-mu sesuai Firman-Nya.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

BACALAH DENGAN RASA. JANGAN DENGAN PERASA’AN:


BACALAH DENGAN RASA. JANGAN DENGAN PERASA’AN:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Kamis Pahing Tgl 25 Agustus 2016

“Suciningati Gandaning Manunggal”
Itulah judul tema dari artikel saya pada Hari Sabtu Kliwon. Tgl 16 Januari 2016 yang lalu, dan Hari ini. Kamis Pahing Tgl 25 Agustus 2016, sedikit saya edit, dengan Judul “BACALAH DENGAN RASA. JANGAN DENGAN PERASA’AN” biyar lebih jelas dan lebih mudah untuk dipahami, karena ada beberapa saudara kita yang kurang memahami arah pengertiannya. Kenapa saya menggunakan Judul “BACALAH DENGAN RASA. JANGAN DENGAN PERASA’AN” Karena kalau dibaca pakai Perasa’an. Anda akan menganggap saya sombong dan mengira benar sendiri dan menyalahkan yang lainnya. Sedangkan inti maksud kebenarannya. Tidak akan Anda Peroleh.

Para sedulur dan kadhang kinasih saya sekalian dimanapun berada, yang senantiasa di Restui Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Ketehui… Jangan Pernah mengaku Pintar. Jangan Pernah mengaku bisa. Jangan Pernah mangaku Pandai. Jangan Pernah mengaku mumpuni dan mahir dalam agama. Apa lagi mengaku Berilmu Tinggi.

Jika di dalam Hati, yang terletak dibaik dada kita. Masih Tersisip. Benci. Sirik. Iri. Dengki. Fitnah dan Dendam. Bila dalam Hati yang terletak dibaik dada kita. Masih Tersimpan. Buruk sangka. Menjelekan sesama hidup, mengolok-olok sesama hidup. Membicarakan keburukan sesama hidup. Mencela sesama hidup. Mengadu domba sesama hidup dan menyakiti sesama hidup. Karena orang yang benar-benar Pintar. bisa. Pandai. Mahir dan ahli dalam agama, serta berilmu Tinggi. Tidak akan mungkin melakukan hal-hal tersebut.

Para sedulur dan kadhang kinasih saya, ingat-ingatlah… dimanapun sedulur dan kadhang kinasihku bertemu seseorang yang mengaku Pintar. bisa. Pandai. Mahir dan ahli dalam agama, serta berilmu Tinggi. Namun di ketehui, masih memiliki Benci. Sirik. Iri. Dengki. Fitnah. Dendam dan masih Buruk sangka. Menjelekan sesama hidup, mengolok-olok sesama hidup. Membicarakan keburukan sesama hidup. Mencela sesama hidup. Mengadu domba sesama hidup dan menyakiti sesama hidup. Jagalah jarak imanmu. Jangan engkau terpedaya olehnya.

Karena itu… Para sedulur dan kadhang kinasih saya semuanya, tanpa terkecuali, jika benar-benar ingin mengenal dan memahami Dzat Hyang Maha Suci Hidup, dengan tepat dan benar, agar bisa sempurna dunia hingga akherat nanti.

Membersihkan Hati/Bathin kita, dari semua yang sudah saya sebutkan diatas. Hati/Bathin adalah, Pusara kita selagi Hidup di dunia ini. Jangan sampai ternoda atau ternodai, karena jika sampai ternoda oleh hal yang sudah saya sebutkan diatas. Jangan pernah bermimpi atau berkhayal tentang Manunggal atau Surga, apa lagi soal sempurna. Disini, saya meminjam gaya bahasanya Aa Gym.

“Jagalah hati, jangan kau nodai, jagalah hati, lentera hidup ini”
Yuk… kita budidayakan menebar Iman Cinta Kasih Sayang, terhadap sesama hidup dan antar sesama hidup.

Saya punya kesaksian tentang hal yang sudah saya ungkapkan diatas. Dibawah inilah pengertiannya. Bacalah dengan penghayatan iman hingga selesai. Agar bisa mengerti dan paham maksudnya. Tuhan Memberkahimu sekalian. Amiin…

Dan untuk beberapa Kadhang yang telah mengirim pesan inbox pertanya’an kepada saya. Tentang masing-masing pertanya’annya, sebagai berikut.
Pertanya’an No. 1; Pak WEB, saya sudah pahami dan jalani wejangan dari pak WEB, tapi kok, dalam mempraktekannya, masih sulit…. saja, susah pak. Ada apa dan kenapa dengan saya, apakah saya kebanyakan dosa/karma atau apa pak?

Pertanya’an No. 2; Pak WEB, saya merasakan seperti ada sesuatu yang menghalangi saya, sepertinya saya hampir bisa sampai, tapi sulit menggapainya, seakan ada dinding pemisah yang membuat saya kesulitan mencapainya, itu apa dan kenapa pak?

Pertanya’an No. 3; Pak WEB, saya sudah mengikuti dan membaca serta memahami wejangan-wejangan pak WEB, dan saya sudah menjalankannya sesuai dengan Bimbingan pak WEB, tapi masih sulit saja, susah, ada kalanya hambar rasanya, apa ada yang salah atau kurang dalam laku saya pak?

Pertanya’an No. 4; Pak WEB, semedi saya dalam laku Patrap Wahyu Panca Gha’ib, rasanya seperti bisul mau pecah, tapi ga pecah-pecah. Saya cari tau, ga ketemu letak penyebabnya apa dan dimana, mohon wedarannya mengenai hal ini pak?

Pertanya’an No. 5; Pak WEB, kok saya tambah seperti orang yang linglung, maksudnya, saya kan sudah banyak pemahaman dan pengertian dari pak WEB soal Laku, tapi, pikiran saya seperti bundel pak, kaya ada yang nutupin gitu, tapi, saya tidak tau, apa itu, semakin saya cari, semakin membuat saya bodoh, seperti orang yang ga pernah belajar. Mohon penjelasannya pak?

Pertanya’an No. 6; Pak, tekad saya sudah kuat dan bulat, saya ga pernah goyah atau terpengaruh oleh sikon apapun, saya tetep idep madep madep, menjalankan Wahyu Panca Gha’ib. Tapi kok, tidak sampai-sampai ke Intisari patinya, seperti yang pak WEB maksud itu pak, sepertinya saya tau dan melihatnya dengan sangat jelas, tapi, tangan saya seperti pendek, sehingga tidak sampai untuk meraihnya, kaki saya kaku, sehingga tidak bisa melangkah maju ke titik finis itu, kenapa dan ada apa dengan saya pak?

Dibawah inilah jawabannya. Bacalah dengan penghayatan iman hingga selesai. Agar bisa mengerti dan paham maksudnya. Tuhan Memberkahimu sekaian. Amiin…

Para sedulur dan kadhang kinasih saya dimanapun berada, yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup. Di beberapa artikel yang tersebar di media internet, saya sudah sering medar/mejang bab, apa itu Suci. Yang intinya. Bahwa Suci itu, bukanlah Bentuk dan Warna. Suci adalah sir dat sipat yang tidak tercampuri oleh apapun “Bebas Merdeka” tanpa terikat atau ikatan apapun. Atau dalam kata lain; Bersih-Murni-Tulus. Itulah kata singkat dan sederhana tentang Suci, yang bisa saya jelaskan untuk para sedulur dan kadhang kinasih saya.

Itu baru soal Suci. Bagaimana dengan Dzat Hyang Maha Suci…?!
Jawabannya; tentu berkali ber dari yang sudah saya jelaskan diatas.

Inilah yang membuat banyak para ahli Spiritual, gagal dalam mencapai puncaknya, yaitu Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Karena Dzat Hyang Maha Suci Hidup, memiliki Sipat dan Sikap Suci dalam segala halnya, yang tidak tercampuri oleh apapun dan tdiak bisa di campuri oleh siapapun. Karena itu Dzat Hyang Maha Suci. Maha Kuasa atas segala yang maha.

Inilah yang membuat banyak para Pemuja dan Pecinta Tuhan gagal dalam mengenali dan memahami Dzat Hyang Maha Suci Hidup Tuhan-nya. Karena Dzat Hyang Maha Suci Hidup, memiliki Kekuasa’an yang tidak Berkotak-kotak dan berbendera apapun.

Nekad menujunya?
Berati mau tidak mau, rela tidak rela, siap tidak siap, suka tidak suka, bisa atau tidak bisa. Harus sama. Jika tidak sama. Jangan bermimpi atau berkhayal untuk bisa berhasil menujunya, apa lagi manunggal/sempurna.

Kanapa tidak bisa Pak WEB?
Kan tadi sudah saya jelaskan. Bahwa Suci itu tidak bisa tercampuri atau dicampuri oleh apapun. Piye to iki… kok ga mudeng, jane diwoco pora. He he he . . . Edan Tenan.

Siapapun dia, dimanapun dia, bagaimanapun dia. Tidak akan pernah bisa, belajar Suci atau Memiliki Suci tanpa Kehendak-Nya. Karena Suci untuk para Makhluk, itu Laku, maksudnya Adalah Wahyu dari Dzat Hyang Maha Suci Hidup, jadi, tidak bisa di minta atau di kejar atau dinanti, bisanya di Lakukan Sesuai Firman-Nya.

Berati, selamanya tidak akan pernah ada manusia yang bisa berhasil mengenal dan memahami Dzat Hyang Maha Suci Hidup ya pak WEB?

Bukan begitu, dan tidak seperti itu brow… yang bisa berhasil mengenal dan memahami Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Itu ada, bahkan mungkin banyak, yang sampai berhasil mencapai ke tahap manunggal dan sempurna juga ada.

La terus gimana caranya mengenal dan memahami Dzat Hyang Maha Suci Hidup?
Katanya Suci itu tidak bisa dipelajari atau dimiliki oleh manusia manapun dan apapun. Piye to pak. Kok genten mbulet…

Caranya ya jangan belajar Suci. Jangan mencari Suci. Apa lagi Shok Suci.
Caranya cukup mudah. Jalankan Wahyu Panca Gha’ib dengan Menggunakan Wahyu Panca Laku, jangan dengan akal pikiran, apa lagi ego dan politik.

Apakah ada cara lain…?!
Tidak ada…!!!

Bukankah sangat banyak bahkan teramat banyak, ajaran dan pelajaran yang ada di muka bumi ini…?! kenapa tidak ada…!!! Selain Wahyu Panca Gha’ib yang di jalankan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku…?!

Percayalah,,, saya sudah menglanglang buana. Walalu tidak seluas dunia ini, saya sudah merasa cukup yakin, bahwa tidak ada yang lain selain Wahyu Panca Gha’ib, itupun jika di jalankan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Kalau tidak di jalankan dengan Wahyu Panca Laku. Wahyu Panca Gha’ib-pun. Sama dengan yang lainnya itu. Hanya sebatas sarana. Sedangkan Cara Prakteknya,,, agar bisa tepat dan benar sesuai firman-Nya. Tidak akan pernah bisa di mengerti dan di pahami jika tidak menggunakan Wahyu Panca Laku. Artinya; Wahyu Panca Gha’ib sekalipun, yang katanya WAH… sama saja dengan yang lainnya. Hanya sebatas sarana, itupun katanya. Tidak bisa membuktikannya.

Butuh Bukti…?! ini Buktinya…!!!
Sudah berapa puluh tahun kita belajar dan terus belajar tanpa henti, hingga ke negeri cina istilahnya. Semua aturan dan dogma kita lakukan dengan mantapnya, dengan iman, katakanlah begitu. Semua firmah Tuhan dan Sunah Rasul sudah kita ibadahkan dan kita terapkan dengan tak terhingga.

Sholat/Sembayang. Beramal. Bersedekah. Berkurban. Berhijrah. Berpuasa. Bertapa. Berdzikir. Berwiridz. Bertawasyul. Bertahayul. Berjihad. Berdoa. Bersesaji. Berpuja Puji, dan Ber kali ber bla,,,bla,,,bla,,, lainnya, yang jika saya tulisan semua disini, akan memperpanjang katanya yang tiada habisnya.

Apakah dengan semua itu, seumur hidup kita, di dalam keseharinnya…?!
Kita sudah tidak membenci sesama hidup kita…!!!
Kita sudah tidak mengfitnah dan dendam pada sesama hidup kita…!!!
Kita sudah tidak menghina dan meremehkan sesama hidup kita…!!!
Kita sudah tidak menyakiti, mengecewakan dan merugikan sesama hidup kita…!!!

Apakah dengan semua itu, seumur hidup kita, di dalam keseharinnya…?!
Kita sudah bisa salin mengasihi sesama hidup kita…!!!
Kita sudah bisa salin bantu dan peduli pada sesama hidup kita…!!!
Kita sudah bisa salin menghargai dan menghormati sesama hidup kita…!!!
Kita sudah bisa salin asah asih asuh pada sesama hidup kita…!!!

Sehingga kedamaian dan kebahagia’an serta ketenteraman tercipta dimana-mana dan dapat kita rasakan bersama. Tidak ada pelecehan, tidak ada pencurian, tidak ada penipuan, tidak ada penindasan, tidak ada kecurangan, tidak ada kesewenang-wenangan. Tidak ada pemerkosa’an. Tidak ada korupsi. Tidak ada ketidak adilan. Tidak ada pembunuhan. Tidak ada teror dan teroris. Tidak ada kerusuhan. Tidak ada kejahatan merajalela dimana-mana dan semua jenis ketidak nyamanan. Yang ada, hanya ketenteraman dan kebaikan yang tepat dan benar menuju kehadirat Dzat Maha Suci Allah/Tuhan.

Dan apa yang saya utarakan diatas, sudah lebih dari cukup, sebagai bukti. Bukan…?!

Tapi hanya dengan Wahyu Panca Gha’ib yang saya Jalankan/Praktekan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Saya bisa. Bisa membuktikan semua katanya al-qitab, semua katanya sejarah kejadian, semua katanya wejangan dari Para Guru Ahli Pembimbing saya, bahkan Tuhan yang saya sembah setiap waktunya saya tahu. Sehingganya, apapun rintangan dan risikonya, saya tetep idep madep mantep menebar Iman Cinta Kasih Sayang kepada apapun dan siapapun serta di manapun tanpa menyerah kalah. Tanpa kebencian, tanpa iri, tanpa fitnah, tanpa dendam, tanpa kekerasan, tanpa buruk sangka, tanpa fan tanpa apapun, yang ada hanya Iman Cinta Kasih Sayang antar sesama Hidup, yang berbangsa masing-masing dan bertanah air masing-masing pula.

Tidak-kah kecerdasa pola berpikir kita sampai ke hal tersebut…?! bukan-kah jaman ini semakin canggih dan modern…?! Tapi kenapa kita seperti katak dalam tempurung dalam memaknai Proses Hidup dalam Berkehidupan ini…!!! Coba renungkan dengan kecanggihan dan kemodernan otak pemikiran kita. Yang menurut kita logis dan logika itu.

Para sedulur dan kadhang kinasih saya sekalian dimanapun berada, yang senantiasa di Restui Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Ketehui… entah di sadarai atau tidak di sadari, kita sering bahkan amat sering mangaku beriman, apa lagi jika ada yang bertanya soal iman kita, kita dengan gigihnya menjawab tegas singkat padat dan wah,,,jempol tenan. Aku beriman bahwa Tuhan itu esa dan kuasa atas segalanya dan bla,,,bla,,,bla…

Tapi,,, dalam kenyata’annya;
Pernahkan kita memberikan kesempatan, sekali saja kepada Tuhan. Untuk menunjukan kuasanya atas masalah-masalah kehidupan kita…?!

Tapi,,, dalam kenyata’annya;
Pernahkan kita ragu, sedikit saja, tak kala hendak mencuri, menipu, berbohong, membenci, mengfitnah, menyakiti sesama hidup dan maksiat serta keburukan lainnya, bahwa Tuhan mengetahui semua itu…?! dan Tuhan akan memberikan balasan atas semuanya itu…?!

Kenyata’an-nya TIDAK bukan. Silahkan di pikir dan di renungkan sendiri. Jika bertanya akan hal itu. Tanyakan pada diri kita sendiri. Sudahkan begitu…?!!.

Para sedulur dan kadhang kinasih saya sekalian dimanapun berada, yang senantiasa di Restui Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Sudah sa’atnya dan waktunya kita menyerahkan segalanya dan semuanya hanya kepada Dzat Maha Suci Tuhan kita. Jika tidak, mau jadi apa bangsa dan negara terutama diri kita sendiri ini. Biyar Dia yang mengatur dan menata. Karena hanya Dzat Maha Suci Tuhanlah yang mampu dan bisa. Kita tak punya daya upaya apapun jika tanpa-Nya.

Dia adalah Sateriyo Paningit bagi setiap diri yang masih kedudukan Hidup. Dialah Pemimpin kita. Raja kita. Tujuan kita. Dan sudah waktunya. Sudah sa’atnya Mijil dan di Mijilkan, jangan di sembunyikan terus dalam hati, apa lagi di dalam dompet kita. Dengan tutup/tameng kepentingan politik apapun itu. Pasrah-lah pada-Nya. Terima DIA. Persilahkanlah DIA. Lalu Rasakan dengan Iman Cinta Kasih Sayang Bukti Nyata-Nya, yang akan kita terima sa’at Pasrah. Merima dan Memperilahkan-Nya.

Sekali lagi… Para sedulur dan kadhang kinasih saya sekalian dimanapun berada, yang senantiasa di Restui Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Beri kesempatan pada Dzat Hyang Maha Suci Tuhan kita, untuk menunjukan Kuasanya. Jangan disuruh diam di kamar terus, kita kan percaya, kalau Dzat Maha Suci Tuhan itu, adalah Maha diatas segala yang Maha. Kok kita terus yang selalu maju nonjol. Tuhan-nya, ga di kasih bagian, aslinya, yang kuasa itu, kita apa Dzat Maha Suci Tuhan? Hayo….!!!

Sekali lagi… Cukup dengan Wahyu Panca Gha’ib yang di jalankan/praktekan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku, tanpa ribet apapun. Kita akan dapat bukti aslinya. Bukan tiruannya. Bukan katanya. Dan Tidak perlu di otak atik atau di beri asesoris biyar indah, ditambahin bumbu biyar lebih sedap. Tidak…!!! tidak usah, karena hal itu, justru membuat kita, keluar dari jalur yang sebenarnya. Sebab belum tentu sesuai, dan akan menghilangkan kemurnian-Nya.

Jadi, tidak perlu neko-neko. Biyarkan Tuhan yang berbuat, kita cukup laku. Titik.

Kalau sudah Menjalankan/Mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Disadari tidak disadari. Diketahui atau tidak diketahui. Kita akan masuk ke dalam dimensi Proses.

Proses apa pak WEB?
Ya Proses penSucian.
Masak Proses persalinan bayi.
Piye to sampean iki.
Di dengerin dulu kalau saya lagi ngomong. Jangan di sela, jangan di potong, nanti kelalen bagaimana, la wong saya sudah pikun. He he he . . . Edan Tenan.

Yo wess monggo, di lanjut, saya tak ndlopong karo udud, ngrungoke Wong Edan Bagu ngomyang. He he he . . . Edan Tenan.

Husss… Itu gaya tertawaku, jangan di pakai, nanti cara ketawa saya gimana, kalau kamu pakai.

Huff…!!!

Disaat kita sudah berhasil memasuki dimensi Proses. Maka mulailah berlaku sebuah ayat yang menjelaskan;

“Aku adalah ‘dekat’ lebih ‘dekat’ daripada urat leher”.

“Apa bila mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta, apabila mendekatiku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa dan apabila dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari”

Artinya; disa’at kita sedang berada di dalam dimensi proses. Sebenarnya, kita sedang bersama Dzat Hyang Maha Suci. Jadi, sangatlah tidak pantas jika kita merasa ragu dan bimbang, apa lagi takut dalam sikon apapun. Tinggal kitanya, Teliti apa tidak, kalau teliti, pasti tau, kalau tau, pasti ngerti, kalau ngerti, pasti paham, kalau paham, pasti bisa merasakan keberada’an Dzat Hyang Maha Suci, yang kala itu sedang bersama kita.

Iya kalau tahu sedang berada di dalam dimensi proses pak WEB, kalau tidak tau, bahwa kita sedang berada di dalam dimensi proses, gimana coba, kan tidak tau apa yang sedang dialami itu, adalah Proses pak WEB. Hayo…

Kae ra… udah dibilang kalau saya lagi ngomong jangan di potong dulu, sebelum selesai, di potong lagi.

Yo wes yo wesss…. monggo dilanjut.

Awalnya kan sudah ada niyat, kan sudah di niyati dari awal, kok sampai tidak tau kalau itu proses, bagaimana ceritanya? Berati, niyatnya itu, kan niyat nglantur. Kalau tidak nglantur, pasti tau, kalau itu prosesnya dan sedang proses.

Hehe… ora nganggo edan tenan. Iya benar pak WEB. Prosesnya pak WEB, Proses pensuciannya gimana, maafkan nyela bentar, buat iklan. Lanjut…

Di dalam dimensi Proses inilah. Dzat Maha Suci, mensucikan lahir dan bathin kita, jiwa dan raga kita, dari semua keterikatan dunia, dan kotak-kotak kepentingan serta bendera keperluan, yang membuat lahir bathin kita, tertutup dan ternoda alias tidak suci lagi, seperti kala pertama kali dilahirkan.

Dan di dalam dimensi Proses pensucian inilah, yang membuat kebanyakan orang, memilih mundur dan menyerah serta ngaku kalah sebelum bertempur. Karena cara Dzat Hyang Maha Suci Hidup mensucikan, sangat mengejutkan. Berat, bahkan menyedihkan dan menyakitkan. Tapi bagi yang tidak mengerti, kalau dirinya sedang dalam proses, dan tidak menyadari kalau dirinya sesungguhnya sedang bersama Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Tapi bagi yang mengerti. Sungguh mengasyikan, indah dan sangat berkesan, karena hal itu, bisa di hadapi dengan “Ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa tetep Kunci” artinya”Ada apa-apa Kunci. Tidak ada apa-apa tetap Kunci”maksudnya”Ada masalah berTuhan. Tidak ada masalah ya tetap berTuhan.

Bagaimana dan seperti apakah, proses pensuciannya?
Sehingga membuat kebanyakan orang memilih mundur bahkan menyerah sebelum bertempur? He he he . . . Edan Tenan. “Yen wani aja wedi-wedi. Yen wedi aja wani-wani”.

Saya kasih gambaran.
Coba pikirkan. Maaf. Di pikir ya, jangan di bayangkan…!!!
Coba pikirkan, apa yang terjadi, jika Anda yang biasanya banyak uang, peribahasanya, garuk-garuk kepala saja, bisa dapat uang. Lalu tiba-tiba mengalami kesulitan untuk mendapakan uang.

Coba pikirkan, apa yang terjadi, jika Anda yang biasanya di sanjung, di hormati, di hargai 1000 tiga, tiba-tiba mengalami, di hina, di remehkan, di acuhkan, bahkan difitnah. Sudah ketemu jawabannya kan….

Di dalam dimensi proses pensucian ini. Dzat Hyang Maha Suci Hidup, akan menggunakan dan memanf a’atkan, semua yang melekat dalam jiwa kita, sebagai alat untuk mensucikan lahir bathin kita. Mulai dari orang yang tidak kita kenal, hingga sampai ke teman, sahabat, bos kita, anak buah kita, patner kita, sampai ke tetangga kita. Bisa jadi akan menfitnah kita, mengolok-olok kita, menghina kita, mengadu domba kita dll. Mulai dari keluarga kita, sampai anak atau istri kita, bahkan hingga ibu atau bapak kita. Bisa jadi membenci kita, meremehkan kita dll. Itulah diantara beberapa Alat Proses yang di gunakan oleh Dzat Hyang Maha Suci Hidup, yang bisa saya jelaskan untukmu sekalian.

Kalau dalam hal ini, kita tidak mengerti, bahwa kita sedang berada dalam dimensi proses pensucian, sudah tentu akan balik membenci, balik mengfitnah, balik menghina dan balas dendam. Kalau kita tidak menyadari, bahwa kita sedang bersama Dzat Hanya Maha Suci Hidup. Sudah Pasti, akan menyerah dan mundur serta mengaku kalah sebelum bertempur.

Tapi kalau kita mengerti, paham, tahu bahwa kita sedang berada dalam dimensi proses pensucian, dan menyadari, bahwa kita sedang bersama Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Pasti Rela/Legowo, tetap iman. Kalau Rela/Legowo, tetap iman, dengan apapun yang sedang terjadi. Maka berati,,, kita sedang berjalan mendekat dan mendekat lebih mendekat dan dekat, rekat erat, “pulet pinuletan” bersama Dzat Hyang Maha Suci Hidup. He he he . . . Edan Tenan.

La,,, kalau sudah dekat dan semakin dekat, hinggat rekat/erat bersama Dzat Hyang Maha Suci Hidup, guampang banget kok, tak kasih tahu contoh nih…

Misalnya… saya sedang berjalan di depan rumahnya orang kaya. Biasanya, orang kaya itu, kan miara anjing galak, dan biasanya lagi, anjing itu disuruh jaga pintu gerbang pagar teralis besi rumahnya kan, terus, pas kita lagi lewat, di gonggongin sama si anjing galak itu. Guk-guk-guk. Nah,,, kita jangan balik nggongongin anjing itu, capek deh… Tinggal bilang saja sama tuannya. Pak… anjingnya mengganggu saya tuh. Tolong diamin. SELESAI kan. He he he . . . Edan Tenan.

“Apa bila mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta, apabila mendekatiku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa dan apabila dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari”

Mari kita sejenak menelisik kembali sejarah, adakah Seorang Nabi yang tidak mengalami seperti yang saya ceritakan diatas?

Itu Nabi, karena Nabi adalah utusan, pilihannya Dzat Hyang Maha Suci Hidup itu sendiri, harusnya kan, tidak perlu di Bersihkan/Sucikan bukan? Tapi dalam kenyata’annya. Mereka semuanya mengalami Fitnah, hina’an, cemohan, adu domba dll. Itu Nabi. Pilihannya Dzat Hyang Maha Suci Hidup, apa lagi iyong dan kita-kita ini. Cukup kuat untuk dijadikan alasan penguat iman dan tekad kita bukan.

Artinya; Pasti Rela/Legowo, tetap iman. Karena apapun yang dialami, hanya sepintas saja, hanya proses, sementara, sekejap saja. Artinya, tidak akan lama, pasti selesai dalam waktu yang amat teramat singkat. Dan berubah menjadi keajaiban yang luar biasa berkahnya.

Kalau berhasil, Tapi tetap jangan berbangga diri dan sombong hati, mentang-mentang sudah manunggal dengan Dzat Hyang Maha Suci Hidup, terus,,, sakit kepala, pakainya bim salabim abra kada bra, ga mau minum bodrex. He he he . . . Edan Tenan. Kalau seperti itu, hanya sedetik keberhasilanmu. Dan akan kembali ke awal lagi, yang jauh lebih rumit prosesnya.

Sebab disini… Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Akan memberikan 5 Pilihan untuk kita. Yaitu: Suci. Ilmu. Harta. Tahta. Wanita.

Jika kita memilih tetap Suci, yang baru saja berhasil di dapat itu. Maka… akan bersama Dzat Hyang Maha Suci Hidup selama-lamanya. Artinya… akan memperoleh Ilmu. Harta. Tahta dan Wanita dan semuanya serta segalanya. Karena Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Adalah pemilik segalanya dan semuanya itu, termasuk Ilmu. Harta. Tahta. Wanita tersebut. Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Roji’un, akan menjadi kodrat irodat mutlak kita, dalam meniti kesempurna’an Hidup sekarang dan kelak setelah Mati.

Tapi jika memilih Ilmu atau Harta atau Tahta atau Wanita. Maka Suci yang baru saja di peroleh itu, akan sirna diambil kembali oleh Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Artinya. Jangan berharap tentang manunggal apa lagi Sempurna, jangan mimpikan itu. Karena…”PERCUMA”. He he he . . . Edan Tenan.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com