Ending Tersulit dan Terberat Dalam Laku Suci:


Ending Tersulit dan Terberat Dalam Laku Suci:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah
Pasundan
Cirebon Jabar. Hari Kamis. Tgl 13 April 2017

Para kadhang dan sedulur kinasihku sekalian. Selain Dzat Maha Suci, tidak ada satupun apapun itu yang suci di dunia ini, termasuk manusia.

Laku Suci… Berati menuju Dzat Maha Suci, bukan yang lain. Karena tidak ada satupun yang suci selain Dzat Maha Suci itu sendiri.

Seorang manusia hidup, bisa disebut suci, jika hatinya bersih dari semua niyatan baik maupun buruk (pamrih-ego), dan murni dari segala keterikatan yang melekat dalam hatinya.

Menuju Dzat Maha Suci, berati, suka tidak suka, mau atau tidak mau dan sadar atau tidak sadar. Harus murni niyatnya dan bersih hatinya.

Maksudnya cuma dan hanya Dzat Maha Suci Thok, yang menjadi isi hatinya dan niyat tujuan yang dituju, jika ada yang lain selain Dzat Maha Suci, baik di luar lahir maupun di dalam bathin, namanya tidak murni, tidak bersih, kalau tidak murni-bersih, bagaimana mungkin bisa suci, kalau tidak suci, mustahil bisa sampai kepada Dzat Maha Suci.

Disinilah letak ending Terberat dan Tersulitnya di dalam Laku Suci. Ketika kita berusaha mengeluarkan semua isi hati, yang telah mengisi hati selama ini, lalu membersihkannya dan menggantinya dengan satu isi saja, yaitu Dzat Maha Suci.

Ini Tidaklah remeh dan bukan hal mudah, coba pikirkan, kalau soal harga atau tahta dll nya, mungkin bisa di anggap sepele, tapi anak kita yang lucu-lucu, istri yang denog demplon atau suami yang maco alias maskulin, ibu bapak yang paling berjasa pada kita, yang semuanya itu amat kita cintai, kasihi, sayangi selama ini, harus keluar dari dalam hati kita dan di ganti Dzat Maha Suci yang menjadi isinya,

Kalau kita tidak mengeluarkan, namun bersi keras memasukan Dzat Maha Suci menjadi isi hati kita, maka, apapun yang ada dalam hati itu, akan semburat keluar dengan sendirinya. Sebab Dzat Maha Suci itu, tidak bisa di campuri dengan apapun dan tercampuri oleh apapun, kecuali dengan suci.

Anak yang tadinya patuh, jadi bandel, istri yang tadinya cantik jadi cerewet bshkan hianat, suami yang tadinya setia jadi tukang selingkuh, rejeki yang tadinya lancar jadi macet, bahkan nunggak hutang dimana mana, berdoa yang tadinya jitu jadi tuji, keluarga, teman, rekan, tetangga yang tadinya aman, berubah menjadi sinis dll.

Sehebat dan sekuat apapun keyakinan dan kepercayaan kita kepada Dzat Maha Suci Tuhan, tetap tidak akan terima senang dengan proses kejadian yang sedemikian rupa, tidak akan berani mengandalkan dan mengutamakan Dzat Maha Suci Tuhan dalam sikon segenting itu, yang kita alami. Sekalipun Dzat Maha Suci telah berkata, bahwa tidak ada satupun yang mustahil jika Aku berkehendak.

Ragu-ragu, maju mundur, sedih, sakit, kecewa, marah, duga menduga, jangan-jangan dan jangan-jangan lodeh, asem, garang, opor dll, tetap saja Tuhan-nya di dalam dompet.

Mengeluarkan beraneka isi hati itu, lalu menggantinya dengan satu isi saja, yaitu Dzat Maha Suci, tidaklah gampang dan mudah. Apa lagi kalau Dzat Maha Suci itu sendiri yang melakukannya. Percayalah… Jarang yang mampu, To-Ji. Sakyuto Siji.

Namun… Dengan Wahyu Panca Laku, saya bisa melalui semua dan segalanya itu, artinya,,, dengan Wahyu Panca Laku, siapapun dan dimanapun. BISA.

Soal Dzat Maha Suci, saya tidak bisa panatik, sebab saya tahu betul, tidak ada satupun tuntunan yang mengajarkan tentang keburukan baik itu moral maupun spiritual. Sebab itu. Karena itu. Untuk itu. Ibadahkan apapun Pedomanmu dengan Wahyu Panca Laku. Pasti BISA.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu dariku serta Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Iklan

Jangan Pernah Saratus Persen Jika Tidak Ingin Bermasalah Didunia:


Jangan Pernah Saratus Persen Jika Tidak Ingin Bermasalah Didunia:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Brebes. Hari Sabtu Tgl 08 April 2017

Para kadhang dan para sedulur kinasihku sekalian, cara atau sistem yang menjadi andalan saya dalam belajar, adalah membaca, maksudnya, dalam belajar, saya suka dan rajin membaca, baik secara lahir maupun bathin, karena dari hasil menbaca itu juga, saya menjadi tahu, bahwa di sepanjang sejarah dunia, mulai dari ahli petani hingga ke ahli elektronik, mulai dari ahli agama dan spiritual, mulai dari para ahli fikih, tafsir, tokoh, propesor, doktor, wali, nabi dan ahli bla,,,bla,,,bla lainnya, itu suka dan rajin membaca, membaca apapun yang dilihatnya, didengarnya, dipikirnya, diciumnya, dirasakannya hingga yang di alaminya, sevab itu dan karena itu, saya suka dan rajin membaca, hampir tidak ada satupun yang tidak saya baca, hasilnya… Saya lebih mengetahui sendiri ketimbang katanya.

Salah satu buktinya ini;
Di beberapa artikel saya, ada yang mengedepankan soal jangan berlebihan dalam hal apapun, kecuali tentang Tuhan, mengapa begitu…?! Sungguh saya telah mengalaminya.

Secara umum, sesuatu yang dianggap paling bisa membahagiakan, adalah, ketika kita memiliki barang atau benda, atau harta, atau orang-orang yang kita cintai, kasihi dan sayangi, seperti anak istri, orang tua, keluarga, tetangga, lingkungan, teman, sahabat, sedulur, kadhang dan bla,,, bla,,, bla lainnya.

Namun dalam kenyataannya, ada berapa banyak orang-orang di luar sana, yang memiliki semua yang mereka cintai, kasihi dan sayangi, tidak bahagia, bahkan tidak sedikit yang mengalami, kesedihan, kecewa bahkan sakit dan putus asa, karena apa yang di cintainya, kasihinya, sayanginya, tidak seperti harapannya.

Itu semua karena berlebihan. Contoh seperti saya sendiri, yang kisahnya pernah saya paparkan di biografi sejarah perjalanan hidup saya, yang sudah saya bagikan di internet.

Dulu… Sewaktu saya belum menemukan hakikat hidupnya manusia, yang menjadi jatidiri pribadi sebagai manusia yang tidak bisa lepas dari Dzat Maha Suci Hidup.

Saya teramat sangat mencintai, mengasihi dan menyayangi anak istri saya, melebihi segalanya, bahkan saya pernah lupa ingatan, hidup enggan mati segan, ketika istri saya minta cerai hanya karena sebuah fitnah yang tidak ada bukti riyilnya, dan berawal dari peristiwa inilah, saya di tuntun oleh Tuhan, untuk menelusuri hakikatnya, dengan cara membaca apapun yang saya alami.

Setelah saya temukan, saya tidak begitu langsung percaya dan yakin begitu saja, saya buktikan terlebih dahulu di TKP.

Dengan laku spiritual saya yang menggunakan sistem Wahyu Panca Laku alias Iman, kerajinan saya dalam membaca, saya terapkan dengan Wahyu Panca Laku alias Iman.

Hasil Prosesnya Seperti INI;
Dimanapun saya berada, tak kala saya mencintai, mengasihi, menyayangi tempat itu, selalu saja bermasalah, kalau bukan warga desa setempatnya yang tidak menyukai saya, menyangka saya itu ini, yang teroris lah, sesat lah, dll, perangkat desa setempatnya yang tidak menyukai saya, atau sebaliknya, kalau warganya aman dan perangkat desanya aman, saya nya yang ndelalah tidak suka sama warganya atau perangkat desa setempatnya.

Namun, disaat saya biasa-biasa saja, tidak berlebihan, cinta ya cinta, kasih ya kasih, sayang ya saya sayang, tapi tidak berlebihan, tidak melebihi Tuhan, tetep idep madep mantep menuju Dzat Maha Suci, karena tidak ada yang lebih penting dan utama selain-Nya. Wow…. Aman, nyaman, bahagia, tenang, bahkab tenteram semuanya berkah, ketika jadwal spiritual ditempat itu selesai, baik warga atau aparat desanya, dengan cinta kasih sayang melepas kepergiannya saya, bahkan ada yang menahan saya untuk tidak pergi dengan air matanya. Ini berulah kali saya alami, hasilnya selalu sama seperti itu, dengan begitu, saya jadi percaya dan yakin, bahwa sesuatu yang berlebihan melebihi Tuhan itu, tidaklah baik dan tidak tepat, sebab itulah sebenar-benarnya masalah.

Selanjutnya;
Setiap kali saya mencintai, mengasihi, menyayangi seorang kadhang, khususnya yang sedang saya bimbing spiritualnya, dan tempat/rumahnya saya gunakan untuk ber istirahat dalam membimbingnya, pasti bermasalah, dimanapun sama, tidak peduli itu kadhang sepuh yang sudah munpuni maupun kadhang yang baru belajar laku, tak kala saya berlebihan, pasti akan muncul masalah yang rasanya sangat tidak enak.

Hasil Prosesnya Seperti INI;
Di Brebes, ada kadhang yang sedang saya bimbing, saya sangat mencintainya, mengasihinya, menyayanginya, bahkan saya berharap, dia bisa mewarisi ilmu pengobatan dari saya. Namun,,, di sepanjang prosesnya, apapun yang saya larang, karena hal itu dapat menodoi, mengotori laku murninya, sehebat apapun dia berkata iya siap dihadapan saya, di belakang saya, dia justru menyukai apa yang saya larang itu, apa yang saya bimbingkan untuk kesuksesan kesempurnaannta, dia tidak bisa tanggap, tidak ngerti-ngerti tidak paham-paham, tapi apa yang saya larang demi kebaikannya, karena hal itu akan menjadikan dia jauh dan keluar dari hakikat hidupnya dalam menuju Tuhan, justru dia asik bergelut dan bercengkrama dengan yang saya larang itu, sampai-sampai, pribadinya di gantungkan pada orang yang saya larang, bukan kepada Tuhan.

Di semarang, ada kadhang yang sedang saya bimbing, saya sangat mencintainya, mengasihinya, menyayanginya, dan diapun sama seperti saya, dia menyediakan kamar khusus buat saya, apapun kebutuhan saya di cukupi, semua keluarga menerima saya dan memohon bimbingan dari saya, namun saya tidak betah di semarang, selain terlalu ramai sikonnya, tempatnya juga terlalu mewah untuk ukuran seorang Wong Edan Bagu.

Di Madiun, ada kadhang yang saya cintai, kasihi dan sayangi secara berlebihan, diapun sama, dia mempersilahkan saya tinggal dirumahnya, sayapun mengiyakannya, namun ada tetangganya yang mengusik keberadaan saya, sehingganya, saya dan kadhang yang rumahnya saya tempati, menjadi tidak aman dan tidak nyaman.

Di Sidoarjo, ada kadhang yang saya cintai, kasihi dan sayangi secara berlebihan, yang sedang saya bimbing, diapun sama, sekeluarga sangat mencintai, mengasihi dan menyayangi saya, disana, saya di persilahkan untuk menempati satu rumah seorang diri, lokasinya strategis, rumahnya bagus, tempatnya nyaman, tapi,,,, setiap kadhang yang datang karena ingin bertemu saya, entah itu soal kadhangan atau Asmo, semuanya kesulitan mencari alamat tempat tinggal saya itu.

Di Kudus, ada kadhang yang sedang saya bimbing dan sangat saya cintai, kasihi sayangi, antara saya dan dia, sama-sama fer dan jujur terbuka, dia memberikan kebebasan keluar masuk dirumahnya kepada saya, kapanpun waktunya dan untuk selamanya, tapi,,, istrinya salah paham dalam mengartikan cinta kasih sayang saya, cinta kasih sayang laku yang saya berikan, diterimanya dengan cinta kasih sayang birahi.

Di Jombang, ada kadhang yang saya bimbing dengan cinta kasih sayang berlebihan, dan mempersilahkan saya untuk tinggal di rumahnya selama waktu yang di perlukan, sekeluarga fer dan baik segalanya, begitupun dengan lingkunganya, namun itu hanya mampu bertahan beberapa hari saja, karena sefer dan sebaik apapun sekeluarga itu, ndelalah, istrinya merasa pekewuh dan rikuh dll.

Dan masih banyak pembuktian-pembuktian lainnya, yang tidak mungkin saya tuliskan disini semuanya.

Di Malang. Di Blitar. Di Gresik. Di Surabaya. Di Cirebon. Di Jember. Di Banyuwangi. Di Kebumen. Dan Al-Khusus Di Prigen Pasuruan. Juga ada Kadhang yang sama seperti yang sudah saya uraikan diatas. Namun tidak berlebihan, sekedarnya saja, seperlunya saja, sewajarnya saja, dan hasilnya, semuanya dan segalanya aman, nyaman, lancar, mulus tanpa gendala dan masalah apapun. Begitupun soal uang dan tentang kebutuhan atau keperluan, disaat saya berlebihan, yang ada hanya tekanan-tekanan yang terasa menambah beratnya beban. Numun ketika saya tidak berlebihan, biasa-biasa saja, tetap mengutamakan dan mementingkan Dzat Maha Suci, apapun itu, jadi tidak masalah dan bukan masalah serta tanpa masalah apapun.

Hal ini berulang kali terjadi dan saya alami secara langsung di TKP, hingga seratus kali lebih, kalau saya tidak salah hitung, bagaimana saya tidak yakin, bagaimana saya tidak percaya, saya mengalaminya sendiri hingga berulang kali, seratus kali lebih. Dan hasilnya tetap sama begitu dan selalu seperti itu. Bahwa yang namanya Cinta Kasih Sayang terhadap apapun, jika Berlebihan, itu adalah masalah. Jadi….

Kesimpulannya;
Siapapun Anda…
Dimanapun Anda…
Jangan Pernah Mencintai. Mengasihi. Menyayangi. Apapun itu… Siapapun itu… Dengan Berlebihan, secukupnya saja, seperlunya saja, jika Cinta Kasih Sayang itu memiliki kadar, cukuplah 99% saja, sisakan 1% untuk Dzat Maha Suci. Syukur-syukur bisa sebaliknya. Kalau dalam lagunya si centil Fety Ferra seperti ini. Terlalu besar. Jangan. Terlalu kecil. Jangan. Terlalu panjang. Jangan. Terlalu pendek. Jangan. Yang sedang-sedang saja… He he he . . . Edan Tenan.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu dariku serta Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

PROSES PENYEMPURNAAN SEJARAH Eyang Buyut BANDUNG BONDOWOSO:


Toso Widjaya.32

PROSES PENYEMPURNAAN SEJARAH Eyang Buyut BANDUNG BONDOWOSO:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Banyuwangi-Bondowoso. Hari Jumat Kliwon. Tgl 31 Maret 2017

CERITA SINGKAT Tentang BANDUNG BONDOWOSO;
Berawal dari dua kerajaan Hindu di Tanah jawa dwipa, tersebut kerajaan Pengging dan Keraton Boko. Kerajaan Pengging, adalah kerajaan yang subur dan makmur, yang dipimpin oleh raja yang arif dan bijaksana, bernama Prabu Damar Moyo, dan memiliki seorang putra lelaki, yang bernama Raden Joko Bandung.

Sedangkan keraton Boko, yang berada di wilayah kerajaan Pengging, diperintah oleh seseorang raja yang kejam, dan berwujud denawa, tidak seperti manusia pada umumnya, tetapi seorang raksasa yang suka makan daging manusia, bernama Prabu Boko. Meski berwujud raksasa, Prabu Boko memiliki seorang putri yang cantik jelita, bernama Putri Loro Jonggrang. Dalam kerajaannya Prabu Boko memiliki seorang patih yang bernama Patih Gupolo, yang sakti mandraguna.

Suatu ketika, Prabu Boko dan Patih Gupolo, memberontak Kerajaan Pengging. Dan terjadilah peperangan yang dasyat, antara kedua kerajaan itu, singkatnya cerita, Pengging berhasil di taklukan,ditengah caruk maruk kekalaha akibat perang tersebut, putra mahkota bernama raden joko bandung, terpisah dari ibu dan pemomongan, ditemukan oleh parbu boko sedang tergeletak di tengah puing-puing reruntuhan perang, raden joko bandung yang pada saat itu masih balita, membuat Prabu Boko tergiyur untuk menyantapnya, namun ketika menyentuh tubuh bayi mungil itu, prabu boko tidak sampai hati untuk menguyahnya, lalu dibawalah bayi itu, pulang untuk dirawat hingga besar.

Sejak merawat raden joko bandung, prabu boko jadi sering sibuk, memperhatikan pertumbuhan raden joko bandung, harapannya, kelak akan dijadikan manusia taklukannya, yang patuh dan setia hanya kepadanya, sebab itu, raden joko bandung di dogma sejak kecil hingga remaja, dan di latih beraneka ilmu-ilmu kesaktian tingkat tinggi, yang penggemblengannya, berakhir diatas puncak GUNUNG RAUNG dan GUNUNG IJEN.

Cerita Singkat Tentang Gunung Raung dan Ijen;
Gunung Raung adalah sebuah gunung yang besar dan tertua, gunung raung merupakan bagian dari kelompok pegunungan Ijen, yang terdiri dari beberapa gunung, diantaranya, gunung suket, gunung raung, gunung pendil, gunung rante, gunung merapi, gunung remuk dan Gunung Kawah Ijen, dari gunung raung inilah Prabu Boko, manusia setengah siluman itu berasal. Gunung Raung adalah tempat tinggalnya dan Gunung Ijen adalah tempat penggemblengan ilmunya, gunung raung dan gunung ijen, termasuk gunung tua yang terletak di paling ujung pulau jawa, membatasi Kab. Banyuwangi dan Situbondo-bondowoso Jawa Timur. Gunungapi raksasa ini muncul di sebelah timur dari suatu deretan puing gunungapi yang berarah barat laut – tenggara. Keangkeran Gunung Raung dan Gunung Ijen, sudah terlihat dari nama-nama pos pendakian yang ada, mulai dari Pondok Sumur, Pondok Demit, Pondok Mayit dan Pondok Angin, yang semuanya itu, mempunyai sejarah sendiri-sendiri.

Situbondo-Bondowoso-Banyuwangi, hanyalah satu dari seribu legenda dari Pegunungan Ijen/Raung di ujung timur Pulau Jawa. Ada lagi legenda Banyupahit, Kawah Wurung, atau kisah menak seperti Dhamarwulan yang merupakan bagian dari pegunungan tersebut. Tanah bergunung-gunung yang nyaris tak tersentuh, terisolasi, dan bernuansa gelap ini, banyak melahirlah aneka dongeng dan kisah magis. Termasuk budaya santet yang paling ditakuti.

Dulu, Pegunungan Ijen adalah bagian dari Negeri Blambangan. Nama Blambangan mencuat dalam sejarah tatkala rajanya, Menak Jinggo menolak mengakui kekuasaan Majapahit. Perang antara Blambangan dan Majapahit, lalu melahirkan kisah Menak pada abad ke-14. Kisah yang menceritakan perjuangan Dhamarwulan, pemuda dari rakyat biasa yang menjadi tukang arit, pencari rumput, tapi mampu membunuh musuh kerajaan, yaitu Menak Jinggo. Dia lalu menikahi Ratu Majapahit, Dewi Kencono Wungu, dan menjadi raja.

Gunung Kawah Ijen, mulai tersentuh tatkala kompeni Belanda menyewakan tanah yang amat luas di daerah Besuki, Panarukan, Probolinggo dan sekitarnya, kepada saudagar dan kapten penduduk Cina di Surabaya yang kaya raya, Han Chan Pit dan saudaranya, Han Ki Ko. Untuk menarik minat pekerja, mereka membagi-bagikan beras gratis saat ada kelaparan. Dalam waktu singkat, datanglah 40 ribu pekerja asal Madura. Mereka membuka lahan, bertanam padi dan sayuran, menggunakan sistem irigasi yang teratur. Namun meletusnya pemberontakan para petani yang dipimpin Kiai Mas pada 1813 membuat tanah sewaan ini dibeli kembali oleh Rafles.

Pelaksanaan politik culturstelse oleh Belanda di akhir abad ke-19, memaksa pembukaan kembali lahan-lahan terpencil ini, termasuk Pegunungan Ijen, untuk dijadikan perkebunan kopi dan karet. Lagi-lagi didatangkan ribuan pekerja asal Madura. Maka terciptalah ‘Madura kecil’ yang menjadi pusat pemukiman orang Madura beserta adat, budaya, dan bahasanya. Madura kecil kini masih bisa kita jumpai di sebagian Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.

Dan di Gunung Kawah Ijen inilah, raden joko bandung di gembleng habis-habisan, ketika melemparkan tubuh raden joko bandung ke kawah ijen, prabu boko berseru, hae… anak manusia, jika engkau bisa selamat dari semua yang ada di kawah ijen ini, maka seluruh ilmuku akan berpindah kepadamu, dank au akan menjadi penggantiku-penerusku, tapi jika tidak, berate engkau memang manusia yang hanya layak untuk menjadi santapan makanku. Setelah melempar raden joko bandung ke kawah ijen, lalu prabu boko pergi begitu saja, kembali ke Keraton Boko.

Setelah berhasil melampaui segala proses di kawah ijen, dalam perjalanan pulang ke Keraton Boko, raden joko bandung tersesat ke gunung raung, dan bertemu dengan penguasa utama semua bangsa lelembut yang menghuni gunung raung, bernama Bondowoso, namun raden joko bandung berhasil mengalahkannya, dan sang raja lelembut itu, berjanji akan menjadi abdi setia raden joko bandung untuk selamanya. Keberhasilan raden joko bandung, dalam menaklukan kawah ijen dan seluruh penghuni gunung raung dan sekitarnya, membuat raja boko bangga dan salut, lalu diberinya nama Bandung Bandawasa/bondowoso. Yang berati. Kehebatan Mengusai Kekuatan Alam Ghaib.

Disisi lain, setelah Pengging menjadi daerah taklukan kerajaan boko, dan akibat kesewenang-wenangan Prabu Boko, yang suka menindas dan memeras juga menculik para bayi, untuk dijadikan santapan makan pagi siang dan malam, semua rakyat kerajaan Pengging, menjadi menderita dan kocar kacir, kelaparan dimana-mana.

Prabu Damar Moyo yang berhasil menyelamatkan diri, ketika perang berhasil dikalahkan oleh Prabu Boko, secara diam-diam, menghimpun kekuatan ulang bersama rakyat Pengging. Hingga pada suatu ketika, Karena sudah banyak rakyatnya yang menderita, disaat yang dianggap tepat, Prabu Damar Moyo memulai pemberontakan itu.

Sementara itu, raden joko bandung yang di rawat oleh prabu boko, sejak kecil, dan tumbuh menjadi seorang sateriya yang tangguh, gagah dan hebat, bahkan jauh lebih hebat di bandingkan patih gupolo andalannya, dan berubah nama menjadi Bandung Bondowoso.

Mengetahui Pengging hendak memberontak. Prabu Boko mengutus Bandung Bondowoso, untuk mendahului menggempur pengging. Ditengah pertempuran, damar moyo yang melihat ada tanda yang cukup dikenalnya, yaitu toh bromo di pundak kanan bandung bondowoso, menghentikan pertempuran itu, dan mencoba mencari tahu, siapa senopati sakti utusan prabu boko tersebut. Singkat punya cerita, akhirnya, bapak dan anakpun menjadi bertemu dan bersatu kembali di tengah medan pertempuran, selanjutnya, merasa telah di peralat, karena bapak dan anak di adudomba, bandung bondowoso sangat marah, lalu membunuh patih gupolo sebagai pelampiasan amarahnya.

Lalaku berbalik arah menyerang Keraton Boko, dan berhasil menaklukan bahkan membunuh Prabu Boko, yang telah memisahkannya dengan kedua orang tuanya selama bertahun-tahun dan dianggapnya telah mempermainkan dirinya.

Dan mengetahui kematian Prabu Boko. Putri Loro Jonggrang, sangat murka, namun tiada daya, karena dia adalah seorang wanita yang bukan ahli perang. Putri Loro Jonggrang hanya bisa sedih, mengetahui ayahandanya yang sudah meninggal. Bandung Bondowoso yang sedang mengobrak abrik keratin boko hingga akhirnya sampai ke kedaton Boko, disana ia bertemu dengan Putri Loro Jonggrang, dan amarahnya menjadi luluh, karena kecantikan Putri Loro Jonggrang, Bandung Bondowoso akhirnya malah tertarik dengan sang putri dan berniat untuk melamarnya, untuk dijadikan istri. Namun sang putri menolak, karena bandung bondowoso inilah, yang membunuh ayahandanya, maka ia membuat sebuah siasat untuk bisa membalas dendam kepada bandung bondowoso.

Sang putripun meminta dua buah hal syarat kepada Bandung Bondowoso. Yang pertama, adalah membuat sebuah sumur yang dalam. Dan dengan kesaktiannya, Bandung Bondowoso membuat sebuah sumur yang dalam, yang ia beri nama sumur Jala Tunda. Dan ia segera memanggil sang putri untuk melihat sumur yang sudah ia buatnya itu, lalu Putri Loro Jonggrang menyuruh Bandung Bondowoso untuk masuk kedalam sumur, dan setelah ia berada di dalam bumur, sang putri beserta pengikutnya, menimbun sumur tersebut dengan batu, supaya Bandung Bondowoso mati didalamnya. Namun ternyata kesaktian Bandung Bondowoso memang luar biasa, ia bisa meloloskan diri dari sumur itu dengan selamat.

Setelah selamat dari maut itu, ia langsung menuju ke Kedataon Boko, dengan amarah yang amat sangat. Bandung Bondowoso murka, karena tahu sang putri berusaha untuk membunuhnya. Namun, lagi-lagi karena kecantikan Putri Loro Jonggrang, maka redalah amarahnya. Dan mulailah Putri Loro jonggrang meminta janji yang kedua kepada Bandung Bondowoso. Yaitu meminta untuk dibuatkan 1000 buah candi dalam semalam, yang diperkirakan akan gagal dilaksanakan olehnya. dan Bandung Bondowoso setuju dengan permintaannya.

Dan dibantu oleh ribuan jin dari gunung raung dan kawah ijen, pengerjaan candi tersebut dimulai, menjelang tengah malam, pembangunan sudah hampir selesai, dan loro jonggrang yang ketakutan, akhirnya membuat siasat dengan membakar jerami, sehingga pemandangan menjadi lebih terang, sehingga berkokoklah ayam. Akhirnya jin yang membantu pengerjaan candi tersebut, melarikan diri, sedangkan candi yang dibangun sudah mencapai 999 buah.

Mengetahui usahanya gagal, karena ulah Putri Roro Jonggrang, maka murkalah Bandung Bondowoso dan mengutuklah Putri Roro Jonggrang, dengan berkata… Haeee,,, Loro Jonggrang, karena candi kurang satu, maka dirimulah yang akan menjadi candi yang ke seribunya, dan anehnya Putri Loro Jongran akhirnya menjadi sebuah Arca Batu.

Sedangkan bagi para gadis yang membantu membakar jerami untuk membantu Putri Loro Jonggrang, Raden Bandung Bondowoso mengutuknya menjadi perawan kasep alias perawan tua. Sebab itu, menurut kepercayaan orang dalu, melarang para gadis membakar jerami/meranga dan calon pengantin, mengunjung candi Prambanan/sewu, karena akan terkena kutukan Bandung Bondowoso.

HUBUNGAN WONG EDAN BAGU Dan BANDUNG BONDOWOSO;
Sesuai sejarah perjalanan proses hidup itu, bandung bondowoso, tidak mau kembali ke Pengging, menemui kedua orang tuanya, karena merasa malu, hargadirinya hilang dan ternoda, akibat dari cintanya yang di tolak Loro Jonggrang, kemudia dia mengembara keseluruh penjuru dunia, khususnya tanah jawa dwipa dan parahiyangan tanah pasundan. Usianya yang sangat panjang, hingga mencapai ratusan tahun, cukup sangat amat menyiksanya.

Hingga suatu ketika, terdampar di tanah pasundan, dan bertemu dengan Pangeran Cakra Buana. Sang Putra Mahkota dari Kerajaan Pajajaran. Yang kemudian di nikahkan dengan putrid tunggal dari Panglima Kumbang, satu-satunya Panglima Sakti dari golongan bangsa siluman harimau, yang diberi tugas khusus oleh Prabu Siliwangi, untuk menjaga seluruh kawasan hutan wilayah pajajaran. Dan hasil perkawinannya ini, Bandung Bondowoso dikarunia seorang Putra yang kemudia di beri nama Macan Ringgit. Hasil pernikahannya, macan ringgit memilik satu keturunan seorang putra yang di beri nama Luwung Ireng.

Setelah Kekuasa’an Panggeran Cakra Buana di gantikan oleh keponakan yang sekaligus juga menantunya, bernama Syarif Hidayatullah alias Sunan GunungJati. Tak lama kemudia di susul dengan mangkatnya Pangeran Cakra Buana. Bandung Bondowoso merasa kesepian, karena selain Pangeran Cakra Buana yang menurutnya sepaham dengannya, tidak ada, lalu beliau memutuskan untuk muksa. Meninggalkan wujud/raga tuanya, yang sudah tidak bisa banyak leluasa lagi itu.

Sebelum Muksa, Bandung Bondowoso berpesan kepada cucunya bernama Luwung Ireng, yang jika di artikan dalam bahasa indonesianya seperti ini “ Cucuku… walau kakek sehat, namun kakek sudah tidak bias banyak melalukan apa-apa lagi, sebab itu, kakek akan melakukan muksa, dengar baik-baik pesan kakek ini, dan sampaekan pesan ini kepada seluruh keturunan-mu yang merupakan garis keturunan kakek. Kakek tidak akan kembali kealam kesempurnaan, karena kakek tidak tahu jalannya dan tidak bisa caranya, setelah muksa nanti, kakek akan menunggu, salah satu keturunan kakek, entah yang keberapa, yang berhasil memperoleh Wahyu Kesempurna’an Hidup dan Mati dari Hyang Maha Segalanya, dan bisa menuntun kesempurnaan kakek menuju ke asal usul sangkan paraning dumadi, kakek akan menunggu di Kawah Ijen Gunung Raung, tempat dimana kakek mendapatkan ilmu yang membuat kakek bisa seperti ini hingga sekarang, sampai akhir jaman-pun, kakek tetap menunggunya disana, sebab kakek yakin, pasti ada salah satu keturunan kakek yang nantinya menerima wahyu kesempurnaan itu, ingat pesan kakek dan sampekan kepada seluruh keturunan-mu” setelahnya… Bandung Bondowoso Muksa. Mati sebelum ajal, meninggalkan raga dengan menggunakan ilmu. Sukma/Ruh-nya. Kembali dan berdomisili di Kawah Ijen. Sementara raganya di kebumikan di Dukuh Luwung Ireng Desa Gintunglor Kecamatan Susukan Kabupaten Cirebon Jawa Barat.

Selanjutnya, sepeninggalan Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunungjati, hasil pernikahannya, yang lama tidak memiliki keturunan, pada akhirnya di karuniai seorang putra, yang di beri nama Sarpani, yang kemudian Sarpani menurunkan Putra bernama Mat-salim, dan Mat-Salim yang menikahi Dewi Arimi, menurunkan seorang Putera yang di beri nama Djaka Tolos, yang dilahirkan saat perang penjejajahan DI di lereng gunung ciremai, dan berganti nama setelah berada di kota, menjadi Toso Widjaya. D. yang awal kehidupannya morat marit tidak karuan alias tidak jelas, namun kemudia insyaf bin berTaubat dengan Wahyu Panca Ghaib, yang berhasil di Ibadahkannya dengan menggunakan Wahyu Panca Laku Warisan Leluhur yang berpunjer di Dzat Maha Suci.

Dan karena itu serta sebab itu. Wong Edan Bagu berada di Gunung Kawah Ijen, yaitu untuk menutup usiakan Permohonan Terakhir leluhurnya tersebut Eyang Buyut Bandung Bondosowo/Bandawasa atau Raden Joko Bandung. Demikianlah sekilas sejarah mengenai Bandung Bondowoso yang bisa saya bagikan secara umum, untuk di ambil hikmahnya, dengan harapan semuga dapat bermanfaat guna dalam Laku Spiritual Hakikat Hidup. Untuk Proses Penyempurnaanya, lihat rekaman vidionya dan Mohon Maafkan atas ketidak sempurnaan rekaman vidionya, karena itu diluar kehendak saya, melainkan pembatasan dimensi atau ranah kehidupan antara yang bersipat umum dan pribadi.

Saya Wong Edan Bagu… Mengucapkan;
Salam Rahayu selalu, serta Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com