TENTANG Syare’at, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf, Ibadah, dan Istiqomah:


MB
TENTANG Syare’at, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf, Ibadah, dan Istiqomah:
Apa itu Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf, Ibadah, dan Istiqomah?
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Rabu Legi. Tgl 23 Desember 2015

Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Sukses selalu dari saya WEB, untukmu sekalian Para sedulur dan Kadhang kinasih saya, dimanapun berada tanpa terkecuali, pada kesempatan kali ini, bertepatan dengan Hari Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, yang jatuh pada hari kamis pahing, tanggal 24 Desember 2015 atau 12/1437H. dan pada Hari yang tak kalah Besarnya pula, yaitu Hari Raya Natal yang Jatuh pada hari jumat pon, tanggal 25/2015, dan kemudian berlanjut ke detik-detik Penyambutan Tahun Baru 2016.

Dan saya akan membagikan ilmu pengalaman pribadi saya, yang pernah saya pelajari dari Para Pembimbing saya, dan pernah saya prakteknya sendiri di TKP. Sebagai Ucapan Syukur di Hari Maulid Nabi Besar Muhammad SAW bagi yang memperingatinya. Dan Ucapan Selamat Hari Natal 2015 bagi yang sedang merayakannya serta Ucapan sambut Tahun Baru 2016.

Sedulur dan Para Kadhang Kinasih saya yang selalu diridhai ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Sajian kita kali ini, diTahun 2015 ini, adalah tiga masa dalam kurun waktu, yang selama hayat masih dikandung badan, pasti akan berkesempatan menemui dan mengalaminya lagi di tahun-tahun berikutnya. Namun,,, sepanjang sejarah tersebut, sudahkah kita mendapatkan berkahnya? Sudahkah kita memperoleh maknanya?

Secara singkat, Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasawuf, Ibadah dan Istiqomah. Adalah sebagai berikut:

Para sedulur dan kadhang kinasih saya yang senantiasa diridhai Allah Azza wa Jalla. Ketahuilah, apapun alasan kepentingan tujuan dan maksudnya, tidak ada satupun waktu yang bisa terlepas dan lepas dari yang namanya; Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf, Ibadah, dan Istiqomah. Karena, ke tujuh tahapan dimensi waktu inilah, yang menjadi ketetapan Hyang Maha Suci Hidup, yang harus di lalui oleh siapapun, jika hendak berbuat, bergerak, bertidak, bepergian, bermaksud dan terutama berniyat menuju kehadirat Hyang Maha Suci Hidup.

Kesama’annya: bila ingin mendapat titel. Sarjana, ir,dr dll, yang syah/resmi dan asli. Maka apapun alasannya, harus melalui sekaloh terlebih dahulu, berawal dari tk nol kecil, lalu naik ke tk nol besar, setelah berhasil melalui dua kelas di tk itu, baru naik lagi ke tingkatan sekolah dasar, dimulai dari kelas 1 hingga kelas 9/smp. Lalu setelah berhasil melalui itu, baru bisa berlanjut ke perguruan tinggi yang sesuai dengan bakat atau keahlian masing-masing diri.

Ketetapan dunia ini, tidak bisa di ganggu gugat, apapun alasannya, memang bisa, siapapun dia, asal punya uang, mendapatkan titel sarjana, ir, dr dll, memang bisa, tapi, coba pikirkan, apa manfaatnya, apa gunanya, apa untungnya, malah justru mencelakai diri bukan? Bagaimana tidak, la minimal masuk bui…

Begitulah gambaran tentang ketetapan Hyang Maha Suci Hidup, tersebut; Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf, Ibadah, dan Istiqomah. Yang mau tidak mau, rela tidak rela, suka tidak suka, harus di lalui oleh siapapun yang menuju-Nya. Satu persatu, jika ingin jelas,,, mulus,,, ringan,,, mudah,,, dan enak. Melewatkan satu ketetapan saja, maka, harus siap samar, tersendat, berat, rumit dan tidak enak.

Tidak sedikit bukan, diantara kita, yang mengalami kesamaran, sendatan, berat, rumit, dan tidak enak di dalam belajar mengenal dan memahami Hyang Maha Suci Hidup. Sehingganya, keraguan muncul, kebingungan hadir, kebimbangan datang berkecamuk, berat sekali rasanya, sangat tidak enak, serba salah, tidak bisa-bisa, tidak sampai-sampai, tidak berhasil-berhasil, malah tambah bingung, pusing,,, pening,,, iman berubah jadi imron, spiritual morat marit, kepercaya’an/keyakinan jadi terapung, ada kabar yang terkesan gampang dan mudah, langsung tertarik, begitu dijalankan, sami mawon sama saja sulitnya, berbagai sangka’an dan duga’an bermunculan, sepertinya,,, jangan-jangan, jangan-jangan, jangan-jangan dan jangan-jangan lodeh, asem, opor, terus apa lagi ya… He he he . . . Edan Tenan. Iya apa iya? Hayo…!!!

Itu bukan di karena otak kita tidak mampu, tidak bakat, atau tidak kuat, bukan, itu di sebabkan, kita tidak melalui tahap aturan yang ada dan tersedia serta telah di tetapkan. Jika semuanya melalui tahapan yang ada dan tersedia, diatas tadi sudah saya beri gambaran persama’annya yang paling mudah untuk dipahami, targetnya jelas dan pasti, asalkan giat dan rajin belajar, sekian tahun, jadi sarjana, sekian tahun jadi insinyur, sekian tahun jadi dokter, setelahnya, silahkan tentukan, mau berexpresi dimana dan kemana… Anda akan di kaui oleh Bangsa dan Negara, sebagai Pewaris dan Penerus Keraja’an dunia yang Anda Pijak sa’at ini. Misalkan di Jakarta susah kerja’an, tinggal hijrah ke desa terpencil, nunjukin titel ir/dr. Bra ka dabra,,, dalam sekejap mata. Anda bisa jadi terhormat dan terpandang ditempat itu, bahkan bisa-bisa, di lantik jadi lurah, la wong ada kalanya, lurah di desa terpencil itu, buta huruf kok. He he he . . . Edan Tenan.

Lalu… Biyar mulus, jelas terang, mudah, tidak rumit dan sulit, supaya tidak ragu dan bimbing lagi dan cepat sampai alias berhasil dalam belajar. Bagaimana pak WEB…?!

Ya hanya dengan kembali awal, melalui tahapan yang ada dan tersedia, setahap demi setahap. Jika sudah merasa terlanjur ngiyak-nginyak tahapan itu, merasa waktu dan kesempatan serta usia yang tidak mendukung untuk memulianya dari awal, sehingganya, terpaksa pakai istilah singkat, ujug-ujug langsung ke kelas lima SD misalnya, atau ke SMP atau SMA. Ya jangan gengsi, jangan malu, jangan munafiq, akui dan terimalah serta tanggunglah risiko dari hal itu, jangan mau berbuat tapi tidak mau bertanggung jawab, kan sudah jelas, kalau itu risikonya, bahwa yang namanya menyebrang jalan raya, jika tidak menggunakan rambu-rambut jalan, risikonya akan tertabrak kendara’an…!!!

Selama masih gengsi mengakuinya, malu menerimanya bin munafiq, karena suatu alasan, risiko itu, tidak akan pernah berhasil di lewati, semakin membingungkan dan memusingkan, semakin rumit dan sulit serta berat yang tiada habisnya, tambah bodrex tambah budrex, semakin banyak menambah bodrex, ya semakin tambah ringsex.

Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasih saya yang senantiasa diridhai Allah Azza wa Jalla. Selain yang sudah saya jelaskan diatas, banyak diantara kita yang Paseh berbicara Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf, Ibadah, dan Istiqomah, dengan masing-masing gaya bahasanya. Namun percayalah,,, yang banyak itu, belum tentu tau betul, mengerti betul dan paham betul tentang apa itu Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf, Ibadah, dan Istiqomah. Dibawah ini, saya akan menguraikannya dengan singkat, padat, namun tetap bisa mudah untuk di pahami, asal,,, yang toto titi surti ngati-ngati bacanya njih…

Satu. Syariat;
Syare’at… Adalah hukum dan aturan, yang mengatur seluruh sendi kehidupan manusia hidup, baik yang beragama maupun yang tidak beragama sekalipun. Selain berisi hukum dan aturan, syariat juga berisi penyelesaian masalah dari seluruh segi kehidupan. Maka oleh sebab itu, syare’at dianggap ilmu terpenting, khususnya bagi sebagian penganut Islam, karena syariat, merupakan panduan menyeluruh dan sempurnanya seluruh permasalahan kehidupan di dunia ini.

Sebab itu, syare’at,,, bukan saja berlaku untuk penganut islam saja, melainkan seluruh umat, diharuskan bisa tau seluk beluk detilnya, selagi belum mencapai ke tingkat Tarekat.

Dua. Tarikat;
Tarekat berasal dari kata ‘thariqah’ yang artinya ‘jalan’. Jalan yang saya maksud di sini, adalah jalan untuk menjadi orang bertaqwa, apa itu taqwa? Taqwa itu, orang yang diridhai oleh Hyang Maha Suci Hidup. Secara praktisnya, tarekat adalah Lakon, lakon yang intinya berusaha untuk bersipat dan berikap, lahir dan batinnya, menjadi orang bertaqwa/diridhai.

Tiga. Hakikat;
Hakikat artinya, i`tikad atau kepercayaan atau keyakinan (mengenai Hyang Maha Suci Hidup), dengan itu, maka hakikat ini, disebut perkerja’an Hati, urusan Rasa, soal dan tentang Hidup. Sehingga tidak ada yang dilihat didengar dicium, dipikir selain Hyang Maha Suci Hidup, atau dalam arti lain, gerak dan diam, itu adalah kekuasaan Hyang Maha Suci Hidup.

Arti lebih dalamnya. Hakikat; adalah kebenaran, kenyataan. Karena Hakikat adalah menyaring dan memusatkan aspek-aspek yang lebih rumit, menjadi keterangan yang gamblang dan ringkas, hakikat mengandung pengertian-pengertian kedalam aspek yang penting dan instrinsik dari benda yang dianalisa/prediksi.

Hakikat berasal dari kata arab haqqo, yahiqqu, haqiqotan, yang berarti kebenaran, sedangkan dalam kamus ilmiah, disebutkan, bahwa hakikat adalah: Yang sebenarnya; sesungguhnya; aslinya; keadaan yang sebenarnya.

(Partanto, pius A, M. Dahlan al barry, Kamus Ilmiah Populer, 1994, Arkola, Surabaya). Istilah bahasa hakikat berasal dari kata “Al-Haqq”, yang berarti kebenaran. Kalau dikatakan Ilmu Hakikat, berarti ilmu yang digunakan untuk mencari suatu kebenaran.

Empat. Makrifat;
Makrifat, Dari segi bahasa, Makrifat berasal dari kata arafa, ya’rifu, irfan, ma’rifat yang artinya pengetahuan dan pengalaman. yaitu perpaduan dari syariat-tarikat-hakikat, yang nantinya menuju kepada “Pengenalan terhadap Sang Khaliq. Pencipta semesta Alam Raya pless isinya, yaitu Allah alias Hyang Maha Suci Hidup.

Dan Maskrifat, adalah merupakan kode kelimuan alam semesta yang termuat dalam Al-Quran. Setelah berhasil melalui Syariat, Tarekat dan Hakikat,

Dalam makna lain…. Makrifat adalah tau/mengerti/paham melaksanakan pelaksa’annya (dengan sempurna). Sesuai Firma Hyang Maha Suci Hidup dan Sabdanya Hidup.

Sayangnya dalam fase ini (makrifat), nyaris tidak ada yang mampu mendekati makrifat, apalagi duduk dalam tahap/dimensi tersebut. Alasannya mudah saja, karena syarat mutlak makrifat adalah “mengusai ” Syariat, Tarekat, Hakikat.

Mengapa harus menguasai Syariat, Tarekat, Hakikat?
La mau lewat mana…!!! wong jalannya itu, itu… kalau sudah melalui Syariat, Tarekat, Hakikat dan berhasil mengusainya. Harus mendapatkan Wahyu.

Mengapa harus mendapatkan wahyu?
Jawabannya mudah saja, Makrifat, artinya pengetahuan dan pengalaman, yaitu perpaduan dari syariat-tarikat-hakikat, yang nantinya menuju kepada “pengenalan Hyang Maha Suci Hidup/Allah. Sebab Wahyu adalah; (kunci-kode) keilmuan alam semesta yang termuat dalam Al-Quran.

Maka,,, bagaimana akan makrifat bila tanpa wahyu?
Bagaimana menjadi makrifat? jawabannya adalah: “tidak mungkin.” Kecuali, Nabi. Karena. Nabi, pasti memperoleh Wahyu.

Bila sudah mendapatkan Wahyu. Pinilih apa tidak?
Apa itu pinilih? Pinilih itu, maksudnya, amanah apa tidak, jika tidak pinilih/amanah. Wahyu tidak akan di gunakan untuk melanjutkan ke tahap berikutnya, pasti Wahyu-nya di salah gunakan, buat korupsi, buat perdukunan, buat ngejar-ngejar setan penghuni terowongan kasablanca, lingkaran cadas pangeran dll, ngaku Malaikat. Ngaku Nabi. Bahkan ngaku Tuhan. He he he . . . Edan Tenan.

Jika sudah mendapatkan Wahyu dan Pinilih/Amanah. Terus, pininto apa tidak?
Apa itu pininto? Pininto maksudnya, di perintah apa tidak, kalau pininto/diperintah, diutus. Maka akan kuasa untuk bisa membimbing dan mendidik serta mengabarkan kebenaran tanpa rekayasa bendera dan politik kotak apapun kepada siapapun tanpa batasan dan keterkecualian.

Jika sudah mendapatkan Wahyu dan Pinilih/Amanah, namun tidak pininto/terutus/terperintah. Maka akan memasukin tahap penyempurna’an lakon selanjutnya, yaitu Tasyawuf. Apa itu tasyawuf?

Lima. Tasyawuf;
Tasyawuf adalah… Ilmu Teknologi Al-Qur’an, Tasyawuf merupakan ilmu halus yang sangat tinggi dan tidak bisa dengan mudah dipelajari. Kecuali telah berhasil menguasai Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makifat.

Tasyawuf bukan ilmu hapalan yang dipelajari dengan otak, akan tetapi merupakan ilmu praktek teknologi Al-Qur’an yang Maha Dahsyat. Hasil pengamalan tasyawuf akan melahirkan sipat dan sikap manusia-manusia berkualitas tinggi, karena di setiap gerak gerik tubuhnya, tidak pernah lepas sedetikpun hubungan dengan Hyang Maha Suci Hidup, sebagai sumber kebenaran dan kebaikan.

Salah satu tujuan Hyang Maha Suci Hidup, mengutus para nabi adalah untuk memperbaiki akhlak manusia hidup. Para nabi bukan sekedar menyampaikan firman Allah, akan tetapi juga berfungsi sebagai pembawa wasilah (wasilah carrier) sebagai media penyambung antara manusia dengan Tuhan. Nabi adalah teknolog Al Qur’an yang berwujud manusia hidup, yang di beri Wahyu mengetahui dan mengerti serta memahami, bagaimana menyalurkan power maha dahsyat, menjadi sesuatu yang bisa bermanfaat untuk manusia.

Kita masih ingat sejarah nyata, tentang kemampuan nabi Musa membelah laut? Kehebatan Nabi Isa menghidupkan orang mati dan menyembuhkan segala jenis penyakit? dan Kehebatan Nabi Muhammad SAW membelah bulan?

Itu semua bukan terjadi dengan serta merta. Mereka diajarkan oleh Hyang Maha Suci Hidup teknologi Maha Dahsyat, teknologi metafisika dan siapapun menggunakan teknologi yang sama, maka hasilnya pasti akan sama. Kalau kita perhatikan bagaimana hebatnya teknologi fisika. Air yang tenang bisa diubah menjadi listrik lewat teknologi turbin. Air dipanaskan menjadi uap mampu menggerakkan gerbong kereta api yang beratnya ratusan ton. Air juga bisa mendongkrak mobil yang dengan memakai ujung jari, tentu saja lewat teknologi hidrolika. Air juga apabila di pisahkan inti atomnya akan terjadi ledakan sangat hebat, menjadi sebuah bom yang daya rusaknya luar biasa.

Air sifat dasarnya memadamkan api bisa berubah menjadi bahan bakar yang hebat. Masih banyak teknologi lain yang hebat hasil penemuan manusia, jika berbicara tentang teknologi al-Qur’an, alam metafisika tentu hasilnya berpuluh, beratus bahkan berjuta kali lebih hebat dari teknologi fisika. Sampai saat ini belum ada teknologi yang mampu membelah laut seperti yang dilakukan oleh nabi Musa atau menghidupkan orang mati yang pernah dilakukan nabi isa.

Pada intinya. Tasawuf adalah; Adalah Jalan Menuju Hyang Maha Suci Hidup. Jika sedang melalui jalan yang menuju Hyang Maha Suci Hidup. Maka,,, bersiaplah, tentukan dengan Pasti Titik Finis Awal dan Akhir-nya.

Karena…
“Jika yang di cintai adalah Ilmu, maka Ia akan menjadi Ilmu. Jika yang di cintai adalah Harta, maka Ia akan menjadi Harta. Jika yang di cintai adalah Tahta, maka Ia akan menjadi Tahta. Jika yang di cintai adalah wanita, maka Ia akan menjadi Wanita. Kalau mencintai Batu maka Ia adalah Batu, dan kalau mencintai Hyang Maha Suci Hidup. Maka aku tidak bisa menjawab. Karena Aku khawatir, jika aku menjawabnya, kalian akan melempariku dengan batu“… He he he . . . Edan Tenan.

Demikian gambaran bagaimana Rahasia dan Tingginya Tasyawuf, yang diawali dengan keberhasilan menguasai empat tahap ketentuan Hyang Maha Suci Hidup, yaitu; Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat.

Enam. Ibadah;
Namun,,, masih belum berhenti di situ saja, tidak cukup dengan itu dan begitu saja. Karena… Sebab… Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf. Itu di tentukan Oleh yang Namanya Ibadah. Lalu… Pertanya’an selanjutnya. Apa itu Ibadah? He he he . . . Edan Tenan.

Ingat… jangan salah maksud disini, Sholat/sembahyang, haji, sedekah dll itu, bukan Ibadah. Karena Ibadah itu “Ta’at” jadi, jangan bilang saya habis melaksakan Ibadah sholat jum’at, karena itu artinya “saya habis melaksanakan ta’at sholat jum’at” dll. Sholat dll, bisa di sebut ibadah/ta’at jika atas Sabdanya Hidup, jika bukan atas Sabdanya Hidup, tidak bisa di sebut ibadah/ta’at. La yang sholat itu mayat hidup, bukan manusia hidup, iya to… apa ada sejarahnya mayat ibadah/ta’at. Mayat itu, yang harusnya tidak bisa apa-apa, kalau ada mayat bisa sholat, pasti ngedeni bocah, pak jentit lo loba, wong mati ora iso obah, yen obah ngedeni bocah… He he he . . . Edan Tenan.

Para Sedulur dan para Kadhang kinasih saya yang senantiasa diridhai Allah Azza wa Jalla, Ibadah adalah ta’at/patuh. Ta’at/Patuh apa? Ta’at/Patuh akan Sabdanya Hidup. Karena hanya dengan Ta’at/Patuh pada Sabdanya Hidup, kita bisa sesuai dengan Firman-Nya Hyang Maha Suci Hidup. Dan hanya dengan sesuai dengan Firman-Nya Hyang Maha Suci Hidup. Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf bisa di Lakoni dan Lakukan.

Kalau tidak dengan Sabda-Nya Hidup, bagaimana kita bisa mengerti Firman-Nya Hyang Maha Suci Hidup. La Cuma Hidup yang Tau, mengerti dan paham Firman-Nya Hyang Maha Suci Hidup. Selain Hidup, Cuma bisa meraba dan menebak-nebak bin meramal dan menduga saja. Kalau tidak sesuai dengan Firman-Nya/Pentunjuk Hyang Maha Suci Hidup. Bagaimana mungkin bisa melalui Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf, la yang memiliki ketentuan Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf itu, hanya Hyang Maha Suci Hidup. Bukan yang lain selain-Nya. Hayo…. silahkan di pikir, iya apa iya…?! He he he . . . Edan Tenan.

Tujuh. Istiqomah;
Ibadah/Ta’at yang di terima oleh Hidup, itu, adalah Ta’at/Ibadah yang Istiqomah. La…. apa itu Istiqomah? He he he . . . Edan tenan.

Istiqamah adalah anonim dari thughyan (melampaui batas). Ia bisa berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser, karena akar kata istiqomah dari kata “qaama” yang berarti berdiri. Maka secara etimologi, istiqamah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan konsekuen, komitment. Tetep idep madep mantep. Apapun yang terjadi.

Arti sederhananya; Ibadah/Ta’at yang kontinyu atau apa itu, kalau bahasa inggrisnya, yang terus menerus dengan tetep idep madep mantep, tiada henti dan tak kenal putus, tidak tolah kanan tidak toleh kiri, bukan yang malam ini ngedo’a besoknya cuty, bukan yang hari senin Ibadah/Ta’at, hari selasanya istirahat, nanti hari rabu Ta’at/Ibadah, kamis jumatnya tidak, sabtu Ta’at/Ibadah, minggunya mbalelo, pagi tahu siang tempe sorenya oncom. Yo tangeh lamun rek. He he he . . . Edan Tenan.

WEB.:-)
Dengan semua penjabaran diatas, bisa terpikir kan, bahwasannya, tidak mudah untuk mencapai sebuah Kesempurna’an Hidup dan Kesempurna’an Mati itu… jika tanpa Hidup. Begitu sulit dan rumitnya, jika tidak dengan Hidup, bahkan bisa mustahil bisa melakonkan dan melakukan jika tanpa Hidup. Maka…

Renungkanlah dengan baik dan benar. Adakah pelajaran yang mengajarkan
Tentang Hidup?
Soal Hidup?
Bab Hidup?
Mengenai Hidup?
Selain Wahyu Panca Gha’ib..?!

Jika menolak Wahyu Panca Gha’ib, tidak mau dengan Wahyu Panca Gha’ib. Lalu mau dengan apa? Kalau jalannya, sudah jelas, yaitu… Syariat, Tarekat, Hakikat, Makrifat, Tasyawuf, sebagai Dunia Nyata dan Gha’ib serta semua isi tetek bengeknya. Ibadah itu tiyangnya/peyangganya. Sedangkan Istiqomah itu, tenaganya/energinya/powernya… tapi Sarananya. Hanya Wahyu Panca Gha’ib. Karena hanya Wahyu Panca Gha’ib-lah yang mengajarkan; Tentang Hidup. Soal Hidup. Bab Hidup. Mengenai Hidup. Jadi… Monggo, silahkan di renung. Karena keputusan dan kesimpulannya, ada pada masing-masing diri Anda…
He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh kinasih saya, yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Pamrih saya berharap POSTINGAN SAYA KALI INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup nya siapapun yang membacanya.
*Matur Nuwun ROMO….._/\_…..Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Iklan

UNGKAPAN RASA. Tentang WONG EDAN BAGU Yang Sekarang. Bukan WONG EDAN BAGU Yang Dulu Lagi:


UNGKAPAN RASA.
Tentang WONG EDAN BAGU Yang Sekarang.
Bukan WONG EDAN BAGU Yang Dulu Lagi:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Kamis Kliwon. Tgl 17 Desember 2015

Para Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian tanpa terkecuali dimanapun berada. Sejak awal mengenal yang namanya internet, saya sudah menceritakan seluruhnya tentang siapa saya, bagimana saya, dan seperti apa saya, melalui artikel Biografi Pribadi saya. Secara langsung, selalu selalu menceritakan juga, kepada setiap orang yang pernah bertemu saya dan memiliki kesempatan untuk salin bercerita.

Bahwasanya, saya tidak berasal dari sesuatu yang baik dan benar menurut padangan umum yang mayoritas. Kalau saya orang yang baik, tidaklah mungkin, dulu bapak saya sampai tega mengusir saya, kalau saya orang benar, mana mungkin, dulu orang-orang menjauhi saya, membenci saya dan memusuhi saya, bahkan menganggap saya ini virus yang perlu di basmi. Itu semua sudah pernah saya ungkapkan melalui artikel Biografi Pribadi saya, dengan kejujuran hati saya yang apa adanya. Begitu juga dengan secara langsungnya. Sudah tidak terhitung jumlahnya, orang-orang yang pernah saya beritau tentang saya dan soal saya secara langsung, dan Biografi Pribadi sayapun, saya lihat sudah di lihat dan dibaca oleh hampir 2000 pengguna internet. Artinya. Sudah cukup banyak orang yang sudah tau Tentang siapa saya, bagimana saya, dan seperti apa saya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dengan masa lalu yang tidak baik dan tidak benar itu, saya merasa terhantar untuk menuju kehadirat Hyang Maha Suci Hidup. Karena itu, tidak sedikit daerah dan wilayah yang menjadi tempat tinggal orang-orang sakti, mumpuni dan berkaliber saya datangi, hanya demi untuk meneguk seteguk air pengetahuan yang mereka miliki. Sudah barang tentu, proses dari semuanya itu, tidaklah mudah, semudah saya membalikan telapak tangan saya sendiri.

Rintangan. Hambatan. Goda’an, saya temui disetiap langkah kaki saya. Pedih. Perih. Sakit. Sedih. Menderita. Bahkan Tersiksa pun, saya dapatkan disetiap gerak tubuh saya, di dalam mencapai dan meraih apa yang saya idamkan, yaitu, mengenal Hyang Maha Suci Hidup pless memahaminya secara keseluruhannya.
INI ADALAH PHOTO SAYA DI SEKITAR TAHUN 1990
Hingga pada suatu sa’at, sekitar tahun 1989, setelah kenyang dan puas berpetualangan keliling jagat pramundita, saya terdampar dan bertemu dengan seorang guru bernama Mbah Dukut, dari osing banyuwangi jawa timur, yang juga merupakan juru Kunci goa pawon yang terletak di Desa Kramat Kecamatan Osing Banyuwangi, beliau mengajarkan seluruh ilmunya kepada saya, kecuali ilmu yang menurutnya tidak baik untuk saya, dan diakhir pelajarannya. Beliau mengatakan, jika tujuan utamamu adalah mengenal Hyang Maha Suci Hidup, maka kau harus mengenal dirimu sendiri terlebih dulu. Untuk hal itu, simbah tidak bisa, kau harus mencari guru yang sudah berhasil mengenali dirinya sendiri, coba, berjalanlah ke arah barat selatan, mungkin disuatu daerah itu, kau akan menemukan guru, yang bisa membimbingmu untuk belajar mengenal diri.

Sesuai petunjuk guru, saya berjalan lagi, menyusuri panjangnya jalan dan luasnya jawa dwipa, di bawah terik panahnya matahari atau dinginnya hujan yang menyiram bumi, saya tertatih-tatih melangkahkan kaki menggerakan tubuh mencari sang empunya ilmu mengenal diri, hingga sampai akhirnya, sekitar tahun 1995, terdamparlah saya, di makam keramat Ki Ronggowarsito di Desa Palar Kecamatan Trucuk Kabupaten Klaten Jawa Tengah.

Dibawah asuhan mbah Sewo, yang merupakan juru kunci Makam kramat Ki Ronggowarsito inilah, saya di wejang bab Ramalam Jaman Edan yang termuat dalam Kitab Kalatidha, peninggalan mendiang Ki Ronggowarsito. Dan sejak itulah, nama pengembara’an saya, yang awalnya Djaka Tolos, di ganti oleh Mbah Sewo, menjadi Wong Edan Bagu. Wong, berarti Manungso/Manusia. Edan berarti Merdeka/Terbebas, dan Bagu, yang artinya Bareng Gusti/Bersama Tuhan. Jika maknanya digabungkan. Menjadi. Manungso Bebas Bareng Gusti (Manusia Merdeka Bersama Tuhan).

Dan pada akhir pembelajarannya, Mbah Sewo tidak sanggup membimbing saya untuk mengenal Diri, menurutnya, mengenal diri, berarti mengenal apa yang di sebut Guru Sejati atau Hidup, sedangkan untuk mengenal Guru Sejati, harus melalui penyatuan sedulur papat kalima pancer terlebih dulu. Untuk itu, lalu saya di sowankan kepada Guru Mbah Sewo, yang usianya jauh lebih sepuh dibandingnya kala itu, beliau bernama Mbah Buyut Renggo. Lalu saya di beri salinan tiga Kitab, yaitu kitab Serat Sastrajendra Hayuningrat. Kitab Serat Manunggaling Kawula Gusti dan Kitab Serat Sangkan Paraning Dumadi.

Salinan dari Tiga kitab yang merupakan intisari Ilmu Tertinggi Kepercaya’an Jawa Sanyoto ini. Diserahkan kepada saya untuk di pelajari, hingga ketemu titik intisari patinya. Menurut Mbah Buyut Renggo, jika saya berhasil menemukan titik temu yang menjadi intisari ketiga kitab itu, maka saya akan berhasil memahami apa yang di maksud sedulur papat kalima pancer, jika sudah paham, maka kenalah dengan sang diri sejati, lalu,,, tinggal menyatukan/manunggalkan saja, ketiga inti itu. Maka manunggal-lah apa yang di sebut sedulur papat kalima pancer. Jika sedulur papat kalima pancer sudah manunggal. Maka, apa yang di sebut Guru Sejati, akan Mijil/Keluar untuk mengenali diri sejati kita dan membimbing kita. Menuju Hyang Maha Suci Hidup.

Agar bisa fokus dalam mempelajari gabungan ketiga inti kitab tersebut, saya di beri tempat untuk menepi di goa Langse, yang terletak di Desa Giricahyo Kecamatan Purwosari Kabupaten Gunung Kidul Jawa Tengah. Dan selama mempelajari isi dari ketiga kitab itu di goa langse, saya harus bersipat dan bersikap tak ubahnya orang gila, lakon ini baru bisa disebut berhasil, jika semua orang yang melihat, benar-benar mengira/menganggap kita orang gila beneran.

Setelah tiga tahun, menjadi orang gila/edan yang menghuni goa langse, dan tak seorangpun yang mengira kalau saya sedang lakon ngedan. Saya berhasil menemukan intisaripati dari tiga kitab tersebut, dan berhasil pula menggabungkan ketiga intisaripati kitab tesebut.

Kejadiannya…
Tepat tengah malam, sa’at bulan purnama berada diatas kepada saya, ketika itu, saya sedang duduk semedi di atas sebuah lempengan batu, yang terletak disebelah barat mulut goa langse, setelah saya berhasil melalui goda’an yang bernama Ilmu. Harta. Tahta. Yang datang silih berganti, salin menawarkan untuk saya miliki, tiba-tiba,,, laut kidul mendadak tebelah menjadi dua bagian, diantara kedua bagian itu, nampak terbentang seperti jalan tol, membentang dari tengah samudera, menuju tempat dimana saya sedang duduk bersemedi kala itu.

Tidak lama kemudian, nampak sesuatu yang bergerak dengan sangat cepat menuju ke arah saya, semakin dekat, sesuatu itu semakin nampak jelas, dan ternyata, sesuatu itu, adalah sebuah Kereta Kencana Mewah yang berhias emas intan dan berlian yang berkilauan sangat indah, saya sampai tidak bisa menggambarkan keindahannya. Karena saking indahnya.

Namun menurut penglihatan mata saya, yang kala itu sama sekali tidak berkedip memperhatikan, kereta kencana itu, tidak bergerak/berjalan mendekati saya. Melainkan jalan yang tak ubahnya sebuah tol itulah, yang bergerak semakin memendek, sehingganya, jarak antara tempat dimana saya duduk bersilah dan Kereta Kencana itu, semakin dekat jaraknya.

Itu terbukti dari kaki-kaki ke empat kuda gagah yang menarik Kereta itu, saya lihat, tetap diam tak bergerak. Dan pemendekan jalan itu, berhenti setelah jarak antara tempat duduk saya dan kereta itu, tersisa sekitar 11 meter kurang lebihnya.

Kerata kencana itu, di naiki oleh lima wanita cantik, yang berwajah hampir sama, namun tak serupa penampilannya. Seteah berkomunikasih seperlunya, sayapun jadi tau, siapa saja kelima Wanita Nan Cantik Jelita itu, sungguh,,, jujur saya katakan, seumur hidup saya, selama saya berpetualang keliling dunia, belum pernah melihat wanita secantik dan seanggun kelima wanita diatas kerata kencana indah yang megah dan mewah itu.

Yang duduk diatas kursi gading mewah didalam kereta kencana itu. Bergelar; KANJENG IBU RATU KENCANA SARI SEKAR JAGAT WIJAYA KUSUMA atau (Ratu Bilqist). Yang lebih di kenal oleh kebanyakan orang dengan sebutan Dewi Samudera.

Yang berdiri tegak tepat di depan kursi gading sebelah kanan beliau. Bergelar; RATU ALAM AZRAK, beliau adalah tangan kanan Kanjeng Ibu Ratu Mas Sekar Jagat Wijaya Kusuma atau (Ratu Bilqist).

Sedangkan yang berdiri tegak tepat di depan kursi gading sebelah kiri beliau. Bergelar; RATU SEJAGAT, yang lebih di kenal oleh kebanyakan orang pada umumnya, dengan sebutan Ratu Mas Roro Kidul. Beliau adalah tangan kiri Kanjeng Ibu Ratu Mas Sekar Jagat Wijaya Kusuma atau (Ratu Bilqist) yang konon memiliki hubungan khusus dengan Raja-Raja jawa.

Sedang yang berdiri tepat di samping kanan dan kiri kursi gading beliau, adalah senopati apit. Yang masing-masing Bernama; RATU DEWI BATARI KARTI, disamping kanan, dan yang disamping kiri Bernama; RATU DEWI ANDARA WATI.

Setelah berbicara seperlunya. Yang intinya memperkenalkan masing-masing diri. Tiba-tiba… KANJENG IBU RATU KENCANA SARI SEKAR JAGAT WIJAYA KUSUMA atau (Ratu Bilqist). Mengucapkan kata-kata dari bibirnya yang penuh pesona, suaranya merdu bergema mendamaikan, sekali lagi, jujur saya katakan, saya hampir tidak kuat, karena terpesona oleh getaran aura suaranya yang bergema merdu mempesona bahkan membius.
Kereta Kencana Ratu Samudera
KANJENG IBU RATU KENCANA SARI SEKAR JAGAT WIJAYA KUSUMA atau (Ratu Bilqist); Berkata; “Lakonmu dalam menyatukan sedulur papat kalima pancer telah berhasil, namun lakumu belum selesai. Untuk melanjutkan ke tahap berikutnya, apakah engkau sanggup untuk kuat dan bersedia untuk mampu, dengan apapun yang akan terjadi?” Tanyanya kepada saya…

Sungguh saya telah terbius, terhipnotis, oleh getaran aura suaranya yang bergema begitu merdu mempesona. sehingga tak sepatah katapun yang bisa keluar dari mulut saya. Kecuali anggukan kepala sebagai tanda setuju/sanggup.

Jikalau engkau sanggup, lanjutnya….
“Maka ketahuilah wahai keturunan leluhur parahiyangan.
Mengenal diri, artinya mengenal Hidupmu, mengenal Hidupmu, artinya mengenal Guru Sejatimu, mengenal Guru Sejatimu. Berarti mengenal Hyang Maha Suci Hidup, yang sedang engkau cari selama ini”.

“Untuk bisa memasuki ranah/dimensi itu, engkau harus membersihkan jiwamu terlebih dahulu, dari semua kemelekatan dunia, dan membebaskannya dari banyak hal yang dapat menodai lakumu, dengan cara tapa ngrame. Berbaur dengan semuanya tanpa terkecuali, namun tetap berjalan menuju Hyang Maha Suci Hidup tanpa adanya pengecualian”.

“Ketahuilah wahai calon pemilik kesempurna’an Hidup dan Mati. Guru Sejati itu, adalah Hidupmu sendiri, dan Hidup itu Suci. Suci itu tidak bisa di campuri dengan apapun dan tidak bisa tercampuri oleh apapun. Artinya,,, jika engkau hendak memasuki ranah/dimensi Suci itu, maka jiwamu harus Suci pula”.

“Kalau tidak, maka tidak ada alasan untuk bisa masuk ke ranah/dimensi suci. Sebab itu, sebelumnya harus ada pembersihan terlebih dahulu, dan pembersihan itu, harus atas Firman Hyang Maha Suci Hidup, bukan dengan kehendak atau caramu sendiri”.

“Dan yang namanya Pembersihan itu, sangatlah amat menyakitkan untuk ukuran kaummu sebagai manusia penghuni dunia fana. Setelah mendengar penjelasan ini. Apakah engkau tetap hendak melanjutkan tujuanmu ke tahap selanjutnya?”

Karena masih dalam sikon terhipnotis, saya hanya bisa menganggu’kan kepala sebagai tanda jawaban iya atau setuju dan sanggup.

Biaklah kalau begitu… lanjutnya.
“Sejak awal tapa ngrame di mulai, maka sejak itu pula, pembersihan atasmu dimulai, selama menjalankan tapa ngrame, engkau akan mendapatkan hina’an, cacian, singgungan, sangkalan, cela’an, sindiran, fitnah, adu domba dari sesamamu, engkau juga akan mengalami kesedihan dan kesengsara’an yang mendalam hingga menembus sungsummu, panas, dingin, perih, sakit, pedih bahkan tersiksa dan menderita, karena semua yang engkau miliki dan segala yang ada padamu, harus engkau korbankan untuk itu”.

“Mungkin engkau akan kehilangan orang-orang yang engaku cintai, kasihi dan sayangi, termasuk temanmu, sahabatmu, keluargamu, saudaramu, anak atau istrimu, orang tuamu, kehormatanmu, harga dirimu, wibawamu, pengaruhmu, pekerja’anmu, jabatanmu, titel/pangkatmu dan lain sebagainya yang melekat pada jiwamu. Akan sirna tanpa dadi, Suro Diro Joyonirat lebur dening pangastuti”.

“Dengan pemberitahuan ini. Apakah engkau tetap hendak melanjutkan tujuanmu ke tahap selanjutnya?”

Karena masih dalam sikon terhipnotis, saya hanya bisa menganggu’kan kepala sebagai tanda jawaban iya atau setuju dan sanggup.

“Bagus,,, jika engkau mampu dan berhasil. Maka semua dan segalanya akan menyertaimu/bersamamu, menjadi milikmu seutuhnya, engkau akan mendapat Kesempurna’an Hidup sekarang dan jaminan Kesempurna’an Mati nantinya. Sekarang juga, beranjaklah meninggalkan tempat ini, dan carilah tempat dimanapun yang engkau suka, sebagai tempat untuk tapa ngramemu. Selamat tinggal Wahai Keturunan Leluhur Parahiyangan… Selama berpisah untuk smentara waktu Wahai Calon Pemilik Kesempurna’an Hidup dan Mati. dan sampai jumpa nanti dialam kesempurna’an yang sebenarnya, yaitu “ABADI”.
INI ADALAH PHOTO SAYA DI SEKITAR TAHUN 1999
Lalu, sekejap mata saja, semuanya sirna/hilang, lenyap dari hadapan saya. Kembali seperti semula, yaitu hanya bongkahan batu-batu karang yang tajam dan deburan ombak sang pemecah kesunyian malam.

Sayapun segera bergegas meninggalkan goa langse, tanpa buang waktu lama. Sekitar tahun 1999. Setelah sowan kepada Mbah Sewo dan Makam Mbah Buyut Renggo, karena sepulangnya saya dari goa langse, Mbah Buyut Renggo telah meninggal dunia, saya berganti sikon menjadi seperti pada umumnya manusia Hidup, namun tetap menggunakan nama sebagai Wong Edan Bagu.

Dan di akhir tahun 1999 dan awal tahun 2000, saya berhasil mendapatkan Wahyu Panca Gha’ib, di goa singa barong nusakambangan cilacap jawa tengah, yang kemudian, penyempurna’an saya temukan di pekalongan, dibawah bimbingan tiga Guru/kadhang sepuh saya bernama Bambang Handoyo. Bambang Setiyoko dan Bambang Hudiyoko.

Ketiga senior kakak beradik inilah, yang menyempurnakan Wahyu Panca Ghaib, hasil penemuan saya di goa singa barong nusakambangan cilacap jawa tengah, yang pada awalnya dinalar oleh seorang kadhang dari pekalongan juga, bernama Qosim.
INI ADALAH PHOTO SAYA DI SEKITAR TAHUN 2006
Dan sejak itulah, bagi saya, tiada waktu tanpa berTuhan, tiada hari tanpa Laku, selama menjalankan praktek tapa ngrame, kenyataan demi kenyataan, kebenaran demi kebenaran dan pembuktian demi pembuktian, terungkap langsung secara nyata di depan mata kepala saya sendiri, bukan katanya.

Semuanya hasil praktek langsung sendiri, dan dengan hasil praktek itu, istilah katanya, insya Allah, semoga dan mudah-mudahan, yang tadinya membungkus iman saya, sehingga sulit untuk berkembang, mulai terkikis sedikit demi sedikit, hingga habis total dari jiwa dan raga saya.

Bersama’an dengan itu…
Saya mengalami hina’an, cacian, singgungan, sangkalan, cela’an, sindiran, fitnah, adu domba dari orang-orang yang tadinya adalah teman dekat saya, sahabat saya, dan ternyata,,, benar, apa yang di jelaskan oleh KANJENG IBU RATU KENCANA SARI SEKAR JAGAT WIJAYA KUSUMA atau (Ratu Bilqist). Rasa panas, dingin, perih, sakit, pedih bahkan tersiksa dan menderita itu, terasa menembus hingga ke sungsum. Namun saya tidak peduli dengan semuanya itu, saya tetep idep madep mantep pada tujuan saya, yaitu Hyang Maha Suci Hidup.

Dan bukan hanya itu saja, dan berhenti disitu saja, lagi-lagi, benar apa yang dikatakan oleh KANJENG IBU RATU KENCANA SARI SEKAR JAGAT WIJAYA KUSUMA atau (Ratu Bilqist). Saya juga kehilangan orang-orang yang saya cintai, kasihi dan sayangi, termasuk teman, sahabat, keluarga, saudara, anak dan istri, bahkan orang tua, kehormatan, harga diri, wibawa, pengaruh, pekerja’an, jabatan dan lain sebagainya yang melekat pada jiwa saya, semuanya tercampakan, serasa saya sedang di telanjangi secara total.

Namun saya tidak peduli dengan semuanya itu, saya tetep idep madep mantep pada tujuan saya, yaitu Hyang Maha Suci Hidup.

Dan dimulai dari sinilah…
Saya Percaya adanya Hukum alam, sebab akibat atau tebar tuai atau memberi dan menerima, yang lebih di kenal dengan sebutan Karma.

Sebab saya membuktikannya sendiri, mengalaminya sendiri, bukan katanya apapun dan siapapun.

Hukum Karma itu,,, benar-benar nyata ada dan berlaku untuk semua makhluk Hidup tanpa terkecuali.

Dan dimulai dari sinilah…
Saya yakin,,, bahwa Hyang Maha Suci Hidup itu, benar-benar ada dan nyata-nyata ada pless kekuwasa’annya yang Maha diatas segala yang Maha. Karena saya telah membuktikannya sendiri, bukan katanya apapun dan siapapun. Melainkan tau sendiri.

Karena saya tau sendiri dan sebab saya mengalaminya sendiri. Jadi,,, Kepercaya’an saya tentang Hukum Karma itu, apapun yang terjadi dengan alasannya, tidak bisa bergeser dari posisinya, walau hanya sejengkal saja. Keyakinan saya soal Hyang Maha Suci Hidup itu, apapun yang terjadi dengan alasannya, tidak bisa di ganggu gugat. Percaya dan yakin, seyakin-yakinnya. “Haqkul Yaqin” istilahnya.

Sebagai Manusia Hidup yang bertitah dan tertitah dengan Wahyu Panca Gha’ib, menjadi Putero Romo. Apapun yang terjadi dan apapun alasannya. Saya tidak bisa bergeser walau sejengkal, tidak bisa mundur walau setapak. Karena saya sudah mendapatkan bukti kebenaran nyatanya, sendiri, bukan katanya siapapun dan apapun. Karena itu, saya tidak peduli apapun yang di lakukan dan di perbuat oleh siapapun dan apapun tentang saya.

Saya akan tetap terus bergerak melangkah maju, sesuai tuntunan Firman Hyang Maha Suci Hidup, selaras dengan Sabdanya Hidup, mengikuti jejak Guru Sejati, hingga sudah undangan untuk pulang ke kampung halaman itu, tiba.

Kejadian demi kejadian yang saya saksinya dengan mata kepala saya sendiri, sepanjang tapa ngrame, tentang pelajaran-pelajaran yang semu dan samar, tanpa kepastian, yang banyak membutakan, menulikan, membisukan bahkan melenakan, Saudara dan Saudari saya disana sini, sehingga mau tidak mau harus mengalami kebingungan jangka panjang, yang tak berkesudahan. Ini terbukti dari sipat dan sikapnya, yang mengaku tau, paham dan mengerti, yakin dan percaya, bahkan mengaku ahli spiritual, namun masih menggunjing, mencela, menghina bahkan mengfitnah, menebar kebencian antar sesama, mengadu domba. Sirik. Dengki. Ala. Pogal. Budreg. Jujur dari hati nurani saya yang paliiiiiiiiiing dalaaaaaaaaaaaaaaaaaaaam. Saya trenyuh…._/\_

Saya menjadi tergugah, untuk membagikan secara umum, semua kebenaran yang saya dapatkan sa’at praktek di lapangan, yaitu soal Kesempurna’an Hidup dan Kesempurna’an Mati, serta tentang kebenaran Hyang Maha Suci Hidup, kepada siapapun yang mau dan bersedia, terutama mereka yang sangat saya kasihi dan sayangi.

Semakin sering dan semakin saya ingin mengabarkannya secara meluas, dimanapun dan kapanmu saya mendapatkannya, percaya atau tidak di percaya, di anggap atau tidak di anggap, saya sudah tidak peduli lagi, saya di sebut sombong atau ujub, sok tau atau kemingsung, saya sudah tidak peduli lagi, mau di anggap sesat atau murtad, saya sudah tidak peduli lagi, saya akan tetap terus melangkah maju, sembari hanya sekedar mengabarkan bukti benarnya soal Kesempurna’an Hidup/Mati dan bukti benarnya tentang Hyang Maha Suci Hidup, yang sudah berhasil saya dapatkan secara nyata, bukan katanya.
Selebihnya, terserah anda, toh, suatu ketika, jika anda terus melangkah maju, kemungkinan anda akan pinilih dan pininto, kalau sudah pinilih dan pininto, artinya anda pasti sampai, bila sudah sampai, berati pasti akan tau sendiri dan mengalaminya sendiri. Dan lagi,,, pasti anda akan mengatakan,,, O…. ternyata, apa yang dikabarkan/sampaikan WEB, itu benar adanya to…

Namun… apapun yang anda katakan tentang saya dan soal saya, sudah tidak ngaruh dan tidak ngefek lagi pada Wong Edan Bagu. Karena Wong Edan Bagu yang sekarang, bukan Wong Edan Bagu yang dulu lagi… He he he . . . Edan Tenan. INILAH Wong Edan Bagu Yang Sekarang.
INI ADALAH PHOTO SAYA DI SEKITAR TAHUN 2012
PENGADUAN;
Pak WEB… ada beberapa akun facebook, yang menggunakan photo pak WEB, selain itu, juga menggunakan nama facebook bahkan nama asli pak WEB, apa yang mereka updatekan di status facebooknya, itu jauh menyimpang dari sipat dan sikap pak WEB yang sebenarnya, ada yang berbahasa cinta yang tak beretika, ada yang ngumpulin pertemanan dengan akun facebook milik wanita yang bergambar profil cantik bahkan porno.

Bahkan saya pernah di inbox untuk diajak kencan, awalnya, saya pikir itu pak WEB, tapi tidak mungkin, setelah selidik punya selidik, melihat akunnya yang serba di sembunyikan, dan nomer telephon, yang berbeda dengan nomer telephon yang pak WEB cantumkan di facebook. Saya berani mendampratnya, saya maki-maki. Sebagai anak didik pak WEB, saya tidak terima senang dengan hal itu, apa yang harus saya lakukan pak? dan apa sikap pak WEB dengan adanya hal itu?

TANGGAPAN;
Wong Edan Bagu yang sekarang, bukan Wong Edan Bagu yang dulu lagi. Sebagai Manusia Hidup yang percaya adanya Hukum Karma. Sebagai Putero Romo yang yakin adanya Hyang Maha Suci Hidup pless kuasanya yang Maha diatas segala yang Maha. Jawabannya… Sudah jelas bukan… jadi, biyarkan saja mereka begitu, karena pada hakikatnya, mereka sedang membantu saya, menebus dan membersihkan karma saya, dan keluarga saya hingga ke para leluhur saya. Maka, akan saya ucapkan, terima kasih, karena sudah rela menyisihkan waktunya, untuk membantu saya, menebus karma. Karena Wong Edan Bagu yang sekarang, bukan Wong Edan Bagu yang dulu lagi… He he he. . . Edan Tenan.

Dan untukmu, jangan lakukan hal ini lagi, karena dengan mengadukan hal ini kepada saya, apapun alasannya, sama halnya, kau sudah mengfitnah orang lain dan mengadu domba orang lain itu dengan saya, dan kamupun akan mendapatkan karma, jadi, jika tidak mau mendapatkan karmanya, biyarkan saja, jangan buang dan sia-siakan waktumu untuk hal-hal seperti itu, tetap fokus saja pada lakon dan laku pribadimu, dalam mengamalkan Wahyu Panca Gha’ib.

PENGADUAN Lagi;
Maafkan pak WEB. Ada beberapa akun facebook yang bernada sumbang tentang pak WEB, bahkan ada yang terang-terang menghina, melecehkan, menfitnah, hingga nyumpain yang tidak baik jika di ungkap disini bahasanya. Intinya, benci dan tidak suka sama pak WEB, sebagai anak didik pak WEB, saya gatel, ingin melawannya, mengajaknya berduel jika perlu, tapi, ada rasa bersalah jika tidak mengatakannya terlebih dulu pada pak WEB, yang membimbing saya, kalau-kalau apa yang akan saya lakukan itu, adalah salah dan tidak benar. Untuk hal ini, apa yang harus saya perbuat pak WEB? Dan apa sikap pak WEB dengan hal tersebut?

TANGGAPAN;
Wong Edan Bagu yang sekarang, bukan Wong Edan Bagu yang dulu lagi. Sebagai Manusia Hidup yang percaya adanya Hukum Karma. Sebagai Putero Romo yang yakin adanya Hyang Maha Suci Hidup pless kuasanya yang Maha diatas segala yang Maha. Jawabannya… Sudah jelas bukan…. istilah tidak suka atau benci kepada saya, artinya, mereka pernah akrab mengenal saya, kalau tidak akrab mengenal saya, tidak ada alasan untuk tidak suka atau benci kepada saya, dan 85%nya, orang yang mengenal saya secara akrab itu, adalah orang yang mengaku Ahli Spiritual. Percaya adanya Hukum Karma dan Yakin adanya Hyang Maha Suci Hidup, dengan gaya bahasa pribadinya masing-masing. Artinya….

Disini, sudah cukup jelas jawabannya bukan… jika mereka melakukan itu kepada saya, berati pengakuan mereka tentang percaya karma dan soal Tuhan, serta spiritual yang di gembar gemborkannya itu, nol kecil, bukankah kita sama-sama percaya karma? yakin Tuhan? jika saya iya, seperti yang didakwahkan, pastinya, karma akan merenggut saya melalui kutukan-kutukan, yang mereka sumpakan kepada saya. Jadi,,, buat apa kita buang-buang waktu dan menyia-nyiakan kesempatan untuk Lakon dan Laku Wahyu Panca Gha’ib?

Bukankah, karma itu memang benar-benar ada? Bukankah, Tuhan itu nyata-nyata ada? Maka, biyarkan karma itu berlaku dan Tuhan menunjukan kuasanya, kita tetap terus berjalan maju mencapai tujuan menggapai cita. Yaitu kesempurna’an Hidup dan kesempurna’an Mati.

Tidak usah hiraukan mereka, mereka sedang membantu saya menebus dan membersihkan karma saya dan keluarga saya hingga ke para leluhur saya, atas itu, sayapun, akan mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas bantuannya itu. Karena Wong Edan Bagu yang sekarang, bukan Wong Edan Bagu yang dulu lagi… He he he . . . Edan Tenan.

Dan untukmu, jangan lakukan hal ini lagi, karena dengan mengadukan hal ini kepada saya, apapun alasannya, sama halnya, kau sudah mengfitnah orang lain dan mengadu domba orang lain itu dengan saya, dan kamupun akan mendapatkan karma, jadi, jika tidak mau mendapatkan karmanya, biyarkan saja, jangan buang dan sia-siakan waktumu untuk hal-hal seperti itu, tetap fokus saja pada lakon dan laku pribadimu, dalam mengamalkan Wahyu Panca Gha’ib. . . . Monggo… Silahkan Direnungkan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh kinasih saya, yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Pamrih saya berharap POSTINGAN SAYA KALI INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup nya siapapun yang membacanya.
*Matur Nuwun ROMO….._/\_…..Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Dua Laku dan Tiga Lakon Dasar Spiritual Hakikat Hidup untuk Mencapai Kesempurna’an Hidup dan Kesempurna’an Mati, dengan Laku Wahyu Panca Gha’ib:


WEB Bintang
Dua Laku dan Tiga Lakon Dasar Spiritual Hakikat Hidup untuk Mencapai Kesempurna’an Hidup dan Kesempurna’an Mati, dengan Laku Wahyu Panca Gha’ib:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Rabu Wage. Tgl 16 Desember 2015

Para sedulur… Dan Para Kadhang Kinasih didik saya yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Dengan Wahyu Panca Gha’ib dan Atas Ridha-Nya. Kali ini, saya berhasil mengungkap Rahasia Spiritual yang sebenarnya. Yang sering menyulitkan banyak para pelaku Spiritual pada umumnya. Mari kita simak bersama wedarannya, dan saya mohon, bacalah dengan teliti/seksama hingga selesai, agar bisa mengerti dan bisa memahami, apa yang di maksud dan yang menjadi intisari patinya.

Para sedulur… Dan Para Kadhang Kinasih didik saya yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Pada artikel lain, saya pernah wedar. Bahwa Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan Agama. Kejawen. Aliran. Kepercaya’an. Kebatinan. Perguruan. Golongan. Partai atau Bla… bla… bla… Lainnya. Karena Wahyu Panca Gha’ib itu, adalah Hidup. Dan Hidup itu, terlepas dari semua dari Agama. Kejawen. Aliran. Kepercaya’an. Kebatinan. Perguruan. Golongan. Partai atau Bla… bla… bla… Lainnya. Tapi Wahyu Panca Gha’ib bisa untuk apa saja, bergantung dari Pangolah dan Pangrengganya. Bergantung dari Lakon dan Lakunya.

Artinya; jika Wahyu Panca Gha’ib dianggap Harta, maka akan menjadi harta. Bila dianggap ilmu, akan menjadi ilmu, jika dianggap agama, maka akan menjadi agama, bila dianggap kepercaya’an/kejawen, maka akan menjadi kepercaya’an/kejawen dll. Namun ingat…!!! Yen wani aja wedi-wedi. Yen wedi aja wani-wani. Begitulah wedaran kelanjutannya yang saya wejangkan.

Ini buktinya, kalau Wahyu Panca Gha’ib itu, bisa untuk apa saja;
Ada dua pilihan Laku di dalam Wahyu Panca Gha’ib. Dan kedua pilihan itu, harus di lalui dengan Wahyu Panca Gha’ib, artinya, harus sesuai dengan Sabdanya Hidup. Jika tidak sesuai dengan Sabdanya Hidup, maka akan terpelesed jatuh, bahkan terpelanting jauh dan menyakitkan (gagal total alias tidak bisa). Karena itu, perlu saya tegaskan dengan jelas, hanya dengan Wahyu Panca Gha’ib, saya bisa pastikan, Pasti Bisa, kalau tidak dengan Wahyu Panca Gha’ib, saya juga bisa pastikan, Pasti Tidak Bisa, sebab saya sudah membuktikannya sendiri. Pilihannya.

Laku Pertama;
Proses Tangga Menurun.

Laku Kedua;
Proses Tangga menaik/mendaki.

Pilihan Pertama;
Proses dengan Anak Tangga Menurun.
Anak tangga ke satu; Hyang Maha Suci Hidup.
Anak tangga ke dua; Ilmu.
Anak tangga ke ketiga; Harta.
Anak tangga ke empat; Tahta.
Anak tangga ke kelima; wanita.

Pilihan Kedua;
Proses dengan Anak Tangga menaik/mendaki.
Anak tangga ke satu; Wanita.
Anak tangga ke dua; Tahta.
Anak tangga ke tiga; Harta.
Anak tangga ke empat; Ilmu.
Anak tangga ke lima; Hyang Maha Suci Hidup.
Laku Naik dan Turun
Kalau kita memilih Laku Pertama, dengan Proses Tangga Menurun. Berati; kita harus mengutamakan No. 1, yaitu Hyang Maha Suci Hidup. Artinya; Fokus kita arahkan Ke Soal Wahyu Panca Gha’ib. No. 2-3-4-5 nya di nomer duakan.

Disini kita harus siap sedia, secara jiwa raga dan lahir bathinnya, merasakan sedikit kesedihan dan kepahitan, sebentar saja. Karena sebagai manusia wajar, yang sudah terbiasa serba ingin kecukupan dan keturutan, akan mengalami himpitan dan guncangan hidup. Karena kita sedang berada di dimensi Suci. Soal Suci itu bagaimana dan seperti apa, pada artikel lain, saya sudah pernah menjelaskannya. Yang intinya, Suci itu, tidak bisa di campuri dan tercampuri oleh apapun. Jadi, karena kita sedang ada di dimensi Suci, maka, apapun yang melekat pada jiwa raga kita, akan di sisihkan dan akan di bersihkan.

Mungkin akan mengalami tidak punya uang, tidak punya beras, tidak punya rokok, tidak punya kehormatan, tidak punya sesuatu yang bisa di banggakan dll, dihina, di rendahkan, di fitnah bahkan di kucilkan, tapi jangan lupa, itu hanya Proses dan hanya sedikit serta hanya sebentar saja, maksudnya, semuanya itu bisa kita lewati sepintas lalu saja, tidak pakai lama, jika Tetep Idep Madep Mantep (tetap IMAN). Maka jaminan atau garansi KESEMPURNA’AN HIDUP DAN KESEMPURNA’AN MATI, akan kita dapatkan. Dan yang No. 2-3-4-5nya, akan kita miliki seutuhnya dengan syah.

Kalau kita memilih Laku Kedua, dengan Proses Tangga Menaik/Mendaki. Berati; kita harus menunda dan melupakan sejenak yang No. 1, yaitu Hyang Maha Suci Hidup. Artinya; Fokus kita arahkan Ke No. 5-4-3 dan 2. Sedangkan yang No. 1nya, yaitu Hyang Maha Suci Hidup, kita tunda dulu nanti.

Disini, kita harus siap sedia lahir dan bathin jiwa raga, melupakan sejenak soal kesempurna’an, menunda tentang sedulur papat, tentang sedulur pancer/guru sejati, tentang semua urusan akherat dan kepentingan Hidup serta Hyang Maha Suci Hidup.

Kalau sudah bisa siap sedia lahir bathin jiwa raga, melupakan Sempurna dan menunda urusan Hyang Maha Suci Hidup. Maka… Kamulia’an Hidup akan kita raih dan kita genggam. Dengan Wahyu Panca Gha’ib. Kita akan mendapatkan No. 5-4-3-2 dengan sangat mudah sekali. Tidak ada istilah dan kata rumit atau susah serta sulit. Tidak pakai lama lagi, tapi ingat…!!! Usia kita belum tentu cukup untuk berlanjut ke No. 1nya.

Jadi… Silahkan Tentukan Pilihan Laku Wahyu Panca Gha’ibmu sekarang juga, sebelum Terlambat… He he he . . . Edan Tenan.

Tiga Lakon Dasar Spiritual Hakikat Hidup untuk Mencapai, Kesempurna’an Hidup dan Kesempurna’an Mati, dengan Laku Wahyu Panca Gha’ib: Lakon ini, berkait erat dengan Laku Pilihan yang Pertama, yaitu, dengan Proses Tangga Menurun.

1. Menjadi Manusia Yang Manusiawi (Seutuhnya)
2. Menyelesaikan Akun Sebab Akibat/memberi dan menerima (Karma).
3. Membuat Kemajuan Spiritual.

1. Menjadi Manusia Yang Manusiawi (Seutuhnya);
Maksud dari kalimat “Manusia yang manusiawi” adalah menjadi manusia yang baik dan benar, manusia yang baik dan benar itu, adalah manusia Hidup, yang seperti di sa’at awal pertama kali diciptakan oleh Hyang Maha Suci Hidup.

Perlu kita ketahui, bahwasannya, suatu hal yang benar belum tentu sudah baik, begitupun sebaliknya, sesuatu yang baik juga belum tentu sudah benar.

Perhatikan contoh percakapan berikut:
Si A: (berjalan dari arah utara)
Si B: (bertanya) “Pagi mas, dari mana?”
Si A: (menjawab) “Dari utara”
Si B: (bertanya lagi) “Oh,,, mau kemana atuh mas.? 🙂 ”
Si A: (menjawab lagi) “Ya mau ke selatan lah”

Benar?
Memang jawabannya benar.
Baik?
Sudah barang tentu tidak baik, sebab Si B yang hanya sekedar ingin basa basi menyapa, agar terlihat lebih harmonis sebagai sesama Hidup, akan terluka perasaannya bahkan Hatinya.

Contoh lagi perhatikan peristiwa berikut:
Si A, mempunyai tetangga yang bisa dikatakan lebih miskin dari dirinya, dan Si A, ingin sekali bersedekah pisang goreng, sebab saat itu, istri Si A, kebeteulan baru saja menggoreng pisang. Namun cara Si A, bersedekah itu dilemparkan tepat di depan si miskin. Kita semua tahu, bahwa bersedekah itu, suatu hal yang sangat baik, namun jika caranya seperti itu, sudah pasti tidak benar bukan…

Nah, dari kedua contoh tersebut diatas, sudah bisa kita simpulkan, bahwa sesuatu yang benar itu, belum tentu sudah baik, begitupun sebaliknya. Jika kita bisa menyatukan keduanya, antara benar dan baik itu, serta baik dan benar tersebut, maka,,, pada saat itulah, kita telah menjadi manusia seutuhnya, dengan jiwa yang fitrah (Fitri).

Jadi, makna sebenarnya dari kata fitri, adalah jiwa yang baik dan benar serta benar dan baik, saat itulah kita juga telah menjadi manusia yang manusiawi.

Berawal dari sinilah… Lakon dan Laku Spiritual Hakikat Hidup, terbuka untuk kita, secara disadari atau tidak disadari. Spiritual mulai tumbuh. Iman mulai berkembang. Hidup mulai tergugah. Guru sejati mulai menuntun kita, ke Ranah sadar dan menyadari tentang segalanya soal Hyang Maha Suci Hidup. Sehingganya, apapun yang hadir di sekeliling kita, menjadi ilmu pengetahuan yang akan menarik kita, untuk mempelajarinya, dan apapun yang kita pelajari, akan selalu terarah keHadirat Hyang Maha Suci Hidup, jadi,,, tidak akan mungkin melesed dari titik sasaran yang benar.

Jadi,,, mari kita semua bersama selalu berbuat baik kepada sesama dan mari kita sama-sama melakukan baik tersebut dengan benar.

2. Menyelesaikan akun sebab akibat/memberi dan menerima (karma);
Di dalam kehidupan, kita mengakumulasi banyak akun-akun memberi dan menerima, yang merupakan hasil langsung dari perbuatan dan tindakan kita.

Akun-akun tersebut, mungkin berupa hal-hal positif atau negatif, tergantung sifat positif-negatifnya tindakan-tindakan kita tersebut. Pada hakikatnya, dalam era/kurun waktu saat ini, ada sektiar 65% dari kehidupan kita, telah diakibatkan (tidak berada dalam kendali kita) dan 35% dari kehidupan kita, diatur oleh kehendak bebas kita sendiri.

Semua peristiwa besar dalam hidup kita, telah diakibatkan oleh Peristiwa-peristiwa ini, termasuk kelahiran kita, keluarga di mana kita dilahirkan, orang yang kita nikahi, anak-anak yang kita miliki, penyakit serius dan waktu kematian kita. Kebahagiaan dan rasa sakit yang kita berikan dan terima dari orang-orang yang kita cintai dan kenali, merupakan bentuk sederhana dari kasus akun-akun memberi dan menerima sebelumnya, yang mengarahkan ke bagaimana hubungan antar sesama terungkap.

Bagaimanapun, akibat kita dalam kehidupan saat ini, hanyalah merupakan sebagian kecil, dari akumulasi akun memberi dan menerima, yang telah kita kumpulkan dalam banyak peristiwa kehidupan dan perjalanan hidup kita ini.

Dalam kehidupan kita, sembari kita menyelesaikan akun memberi dan menerima, serta akibat yang diperuntukkan kehidupan tertentu kita, pada saat yang sama, kita juga akhirnya membuat lebih banyak akun-akun dengan bertindak/berkehendak bebas.

Hal ini pada akhirnya, ditambahkan ke dalam keseluruhan akun memberi dan menerima, yang dikenal sebagai akun akumulasi. Sebagai hasilnya, kita harus terlahir kembali untuk melunasi akun-akun memberi dan menerima lebih lanjut dan terjebak dalam siklus kelahiran dan kematian.

3. Membuat kemajuan spiritual;
Puncaknya dalam perkembangan spiritual di semua Jalan Spiritual.
Adalah; kembali ke asal usul sangkan paraning dumadi, atau dalam istilah lain, menyatu dengan Tuhan. (inna lillaahi wa inna illaahi roji’un).

Menyatu’ dengan Hyang Maha Suci Hidup, berarti mengalami/memiliki Kesadaran Tuhan, di dalam diri kita dan di sekitar kita serta tidak mengidentifikasi diri dengan ke lima indera dan intelek.

Penyatuan ini, terjadi pada tingkat pencapaian spiritual 100%. Kebanyakan orang di dunia saat ini, berada pada tingkat spiritual 20-25%, itu di karenakan, akibat dari lebih suka dan memilih katanya, dari pada melakukan praktek spiritual sendiri/langsung di TKP, untuk mengembangkan spiritualnya dan membuktikan spiritualnya,

Mereka juga mengidentifikasikan diri mereka dengan ke 5 indera dan intelek. Hal ini tercermin dalam kehidupan kita, dimana fokus utama kita terletak pada penampilan fisik kita dan sikap kita, yang tidak apa adanya, tentang kecerdasan atau kesuksesan spiritual kita.

Padahal, banyak bukti yang nyata, bahwa dengan melakukan praktek spiritual langsung di lapangan, bukan sekedar katanya, ketika kita tumbuh ke tingkat pencapaian spiritual 80%, kita terbebas dari siklus kehidupan dan kematian. Setelah tingkat pencapaian spiritual ini, kita dapat melunasi apapun yang tersisa dari akun-akun memberi dan menerima kita, dari alam-alam non-fisik/halus ke atas.

Tujuan Hidup atau arti Hidup;
Sering kali kita mendengar pertanyaan tentang ‘Apa arti dari hidup?’ atau ‘Apakah tujuan hidup itu?’ atau ‘Kenapa kita dilahirkan?

Dalam kebanyakan kasus, kita memiliki agenda masing-masing tentang apa yang menjadi tujuan dalam hidup kita. Namun dari sudut pandang spiritual, terdapat dua alasan dasar tentang mengapa kita dilahirkan, di artikel lain, saya sudah pernah mengungkap bab Mengapa Kita Dilahirkan. Bagi yang sudah membacanya, pasti tau alasannya, mengapa kita dilahirkan. Alasan inilah, yang mendefinisikan tujuan hidup kita yang paling mendasar.

Tujuan-tujuan ini diantaranya adalah;
Untuk menyelesaikan akun perhitungan memberi dan menerima atau sebab akibat (Karma), yang kita miliki dengan berbagai sesama hidup.

Untuk membuat kemajuan spiritual dengan tujuan akhir, kembali ke asal usul sangkan paraning dumadi, atau dalam istilah lain, bersatu dengan Hyang Maha Suci Hidup (inna lillaahi wa inna illaahi roji’un), dan dengan demikian keluarlah kita dari siklus kelahiran dan kematian.

Apa yang dimaksud dalam hal ini.
Mengenai tujuan Hidup/arti Hidup kita?
Sebagian besar dari kita memiliki tujuan Hidup/arti Hidup masing-masing. Tujuan Hidup ini, mungkin menjadi seorang dokter, menjadi kaya dan terkenal atau mewakili Negara dalam bidang tertentu atau bla… bla… bla… lainnya.

Apapun tujuannya, bagi sebagian besar dari kita, lebih banyak tujuan tersebut lebih dominan keduniawiannya. Sistem-sistem pendidikan kita yang ada telah tertata untuk membantu kita mengejar tujuan-tujuan duniawi itu. Sebagai orang tua kita juga menanamkan tujuan Hidup duniawi yang sama, pada anak-anak kita, dengan mendorong mereka untuk belajar dan masuk dalam profesi-profesi yang memberikan mereka manfaat keuangan lebih banyak, dibandingkan dengan profesi kita sendiri yang sebenarnya.

Seseorang mungkin bertanya, “Bagaimanakah memiliki tujuan Hidup duniawi ini, bisa sejalan dengan tujuan Hidup spiritual, dan alasan untuk kelahiran kita di Bumi?”

Jawabannya cukup sederhana. Kita berjuang untuk tujuan duniawi, terutama untuk mencari kepuasan dan kebahagiaan. Upaya untuk mencapai ‘kebahagiaan puncak dan kekal’ tersebut, pada hakikatnya, merupakan apa yang mendorong semua tindakan kita.

Namun, setelah kita mencapai tujuan duniawi kita, kebahagiaan dan kepuasaan yang dihasilkan, hanya bertahan sebentar/singkat, kemudian kita mengejar mimpi selanjutnya untuk bisa diraih lagi.

‘Kebahagiaan yang puncak dan kekal’ hanya dapat dicapai melalui praktek spiritual yang sesuai dengan ke tiga prinsip-prinsip dasar dari praktek spiritual, yang sudah saya uraikan diatas. Wujud kebahagiaan tertinggi yaitu Kebahagiaan abadi (Tenteram). Tenteram merupakan aspek dari Hyang Maha Suci Hidup.

Ketika kita bersatu dengan-Nya, kita pun merasakan Tenteram yang terus menerus (ABADI).

Ini bukan berarti, bahwa kita harus meninggalkan apa yang kita lakukan dan hanya fokus pada praktek spiritual saja.

Apa yang dimaksud, adalah,,, hanya dengan melakukan praktek spiritual bersamaan dengan kehidupan duniawi, barulah kita dapat mengalami kebahagiaan yang puncak dan kekal dalam arti sebenarnya, yaitu; Tenteram (Kebahagia’an Abadi).

Singkatnya, semakin tujuan Hidup kita berselaras dengan pesatnya perkembangan spiritual kita, semakin Hidup kita menjadi kaya, dan semakin sedikit Rasa sakit yang kita alami dari Hidup, hari demi hari di sepanjang kehidupan kita ini.

Namun terkadang, orang-orang di atas tingkat pencapaian spiritual 80%, biasanya, setelah berhasil dalam pencapaiannya, bisa saja memilih untuk dilahirkan ke Bumi lagi, untuk membimbing sesama manusia hidup, yang di kasihinya dalam Spiritualitas.

Pertumbuhan spiritual yang sempurna, hanya bisa terjadi melalui praktek spiritual langsung, yang sesuai dengan ke tiga prinsip-prinsip dasar dari praktek spiritual itu sendiri. Jalan spiritual yang tidak sesuai dengan ke tiga prinsip-prinsip dasar dari praktek Spiritual, menyebabkan stagnasi dalam pertumbuhan Spiritual seorang individu. He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh kinasih saya, yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Pamrih saya berharap POSTINGAN SAYA KALI INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup nya siapapun yang membacanya.
*Matur Nuwun ROMO….._/\_…..Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

ILMU PELAJARAN MENGENAL “DIRI” (Guru Sejati/Hidup/Rasa/Allah) DENGAN WAHYU PANCA GHA’IB. Bagian Dua.


Wong  Edan  Bagu
ILMU PELAJARAN MENGENAL “DIRI”
(Guru Sejati/Hidup/Rasa/Allah)
DENGAN WAHYU PANCA GHA’IB. Bagian Dua.
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Rabu Pahing. Tgl 09 Desember 2015

TENTANG PENTINGNYA MENGENAL DIRI DAN MENGENAL HYANG MAHA SUCI HIDUP:
Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian yang di Ridhai Allah Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu….

Lakon atau laku Spiritual Yang Pertama kali harus Dipelajari oleh setiap manusia hidup itu, adalah lakon dan laku spiritual mengenal diri dan mengenal Hyang Maha Suci Hidup. Setelah kedua hal ini, berhasil di pelajari, baru mempelajari ilmu-ilmu spritual yang lainnya, dengan begitu, ilmu hitam, ilmu jahat, ilmu murtad sekalipun yang di pelajarinya, akan menjadi baik dan tepat serta bisa sesuai dengan Firman Hyang Maha Suci Hidup. Jika terlebih dulu, diawali dengan lakon dan laku spiritual mengenal diri dan Hyang Maha Suci Hidup.

Begitu juga dengan agama, yang paling awal di pelajari itu, adalah. Fitrah diciptanya makhluk itu, tujuan, adalah untuk mengenal diri dan Allah. Ilmu pertama yang wajib dan yang dituntut itu, adalah ilmu tauhid atau “ilmu mengenal Allah”. Ilmu mengenal Allah ini, kan diawali dengan mengenal diri terlebih dahulu. Sebagaimana kalimah “Awalludin makrifattullah” (awal-awal beragama itu, mengenal Allah). Pertama mula beragama itu, bukan syahadzaht, sembahyang, puasa, zakat atau haji, bukan. Ilmu yang mula-mula itu, adalah mengenal Allah!. Sayangnya kebanyakkan dari kita, tidak tahu bagaimana mencari ilmu mengenal Allah!

Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian…
Hyang Maha Suci Hidup itu, Jelas, Allah itu Terang, Lebih Terang Dari Cahaya Matahari!.

Allah Ta’ala itu, terang dan teramat jelas. Terang dan jelasnya Allah Ta’ala itu, lebih terang dan lebih jelas dari cahaya matahari. Kenapa kita tidak melihat Allah?.

Sebab… Hyang Maha Suci Hidup itu, cedhak tanpo senggplan, adoh tanpo wangenan. Allah itu tidak terpandang, terlihat, tertilik dan ternampaknya Allah itu, adalah karena adanya sifat mata!.

Adanya sifat mata itulah, yang menyebabkan kita-kita tidak dapat untuk menilik atau melihat Hyang Maha Suci Hidup. Memandang Allah swt. Cobalah kita buang atau hilangkan sifat mata dari diri kita, jika ingin tahu, disitu pastinya kita akan dapat melihat, menilik dan memandang Hyang Maha Suci Hidup. Allah Ta’ala kita. Sifat mata dan sifat diri kita sendirilah, sebenar-benar sifat yang menghijab, mendinding dan yang menutup dari terpandang Allah Ta’ala!.

Sebab adanya sifat matalah, yang menjadikan jauhnya keberadaan bulu mata dengan bola mata. Coba kita merenung sejenak, jikalau tidak ada mata. Dengan tidak ada mata, tidak timbullah perkara jarak,bukan? Bagi yang tidak bermata, sama saja jauh atau dekat, bukan!.

Timbulnya perkara jarak jauh atau dekat itu, adalah karena adanya sifat mata kita. Karena adanya matalah, yang menyebabkan kita tahu jarak dekat atau jauh. Artinya,,, matalah sebenar-benar sifat yang menjarak, menghijab, menjauh dan sebenar-benar yang menutup pandangan kita untuk bisa melihat Hyang Maha Suci Hidup Allah.

Selagi ada mata, selagi itulah kita tidak akan dapat untuk melihat Allah Ta’ala.

Karena itu,,, renungkan, jika kita tidak ada mata, barulah Allah itu dapat kita ketahui, dilihat, dikenal dan diingat dengan nyata.

Bilamana kita berkata atau mengaku perkataan “ada aku”, itu akan membawa pengertian “tidak ada Allah”. Adanya Allah itu, setelah tidak adanya diri kita!.

Selagi adanya perkataan aku, maka timbullah dakwa’an aku gagah, aku besar dan aku kaya”. Bilamana kita menyebut perkataan itu, artinya kita menafikan kekuatan Allah, menafi kebesaran Alah dan menafikan kekayan Allah.

Bilamana kita gagah, bermakna Allah itu bersifat lemah dan bilamana kita kaya, berarti Allah miskin!.

Setelah kita lemah, barulah Allah itu gagah, bilaman kita kecil, barulah Allah itu besar. Bilamana kita tidak ada, barulah Allah itu benar-benar ada!.

Dengan Adanya Istilah Atau Perkataan “Aku” Untuk menjadikan Allah itu benar-benar ada, jangan sekali-kali mengatakan perkataan “aku ada”, bilamana kita mengaku “aku ada” berarti Allah tidak ada. Bilamana kita mengaku “aku tidak ada”, barulah Allah itu, sebenar-benar bersifat dengan sifatnya yang ada .

Bilamana kita mengaku kita miskin, barulah Allah itu benar-benar bersifat dengan sifat kaya-Nya. Bilamana kita mengaku aku lemah, barulah Allah itu benar-benar bersifat dengan sifat gagah-Nya.

Ingat… bahwa ini adalah bahasa seni makrifat’ Kenali itu, apahami itu, cernalah itu, jangan di telan mentah-mentah, karena diatas itu, adalah bahasa yang bernilai tinggi dan dalam lingkaran Wahyu Panca Gha’ib. Ingat Itu…!!!

Para sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian… saya akan menggunakan ulang, bahasa seni Hidup dalam Lingkaran Wahyu Panca Gha’ib. Maka, perhatikan dengan Toto Titi Surti Ngati-ngati. Biyar ngeh, paham maksudnya.

Ingat itu, artinya Belum Ingat!” Ingat itu sesungguhnya tidak ingat”. Tahu itu sesungguhnya tidak tahu”. “Tidak ingat itulah sebenar-benar ingat dan tidak tahu itulah sebenar tahu”. Untuk bisa menggunakan seninya bahasa Hidup dalam Lingkarang Wahyu Panca Gha’ib, tentunya kita harus sudah kenal Hidup dan mengikuti Sabdanya Hidup, untuk bisa mengenal dan mengikuti Sabdanya Hidup, Para Kadhang harus lebih mumpuni di dalam lakon kekadhangan. Para kadhang harus lebih mahir di dalam laku Patrap. Jika tidak, maka tak Kenal itu dan tak Paham itu.

Sebagai gambaran, saya ingin mengajak para sedulur dan kadhang, supaya merenung sejenak, semasa kita pertama kali bekerja, atau semasa pertama kali kita berpindah dari kampung ke kota, tempat dimana kita bekerja/tugas.

Dari rumah untuk pergi kerja, tentunya kita akan bertanya arah jalan, bertanya nama-nama jalan, bertanya berapa banyak menempuh lampu isyarat, bertanya apakah ada jalan yang kena belok kiri atau kanan dan sebagainya.

Lama kelamaan, bilamana sudah biasa, kita tidak lagi perlu ingat tentang tanda-tanda jalan atau tidak lagi ingat akan lampu isyarat dan tidak lagi perlu ingat nama-nama jalan. Tahu-tahu saja, kita sudah sampai ditempat kerja. Bukan begitu…?!

Kita bisa sampai ke tempat kerja dari rumah, atau dari tempat kerja ke rumah, tanpa ingat jalan, tanpa ingat lampu isyarat ada berapa, tanpa ingat belok kiri atau kanan dan tanpa ingat nama-nama jalan lagi. Tau-tau kita sudah sampai dengan selamat!.

Didalam Laku Spiritual Hakikat Hidup. “Tidak ingat, itulah tandanya ingat”. Dari rumah dari rumah ke tempat kerja itulah gambarannya, tanpa lagi perlu mengira-gira nama jalan atau lorong mana. Itulah tanda ingat. Tanda ingat itu, adalah tidak ingat! dan tanda tidak ingat, itulah sebenar-benar ingat!.

Untuk lebih jelasnya lagi. Saya ingin bertanya kepada para sedulur dan para kadhang sekalian. Sewaktu kita menyuap nasi kemulut, apakah kita ingat kepada tangan?. He he he . . . Edan Tenan. Sudah paham kan, maksudnya…?!

Saya percaya para sedulur para kadhang tidak ingat kepada tangan, soal ada atau tidaknya tangan kita itu, kita sendiri tidak tahu dan tidak ingat!. Tahu-tahu tangan menyuap nasi kemulut tanpa perlu ingat atau tanpa perlu disuruh, itulah tanda sebenar-benar ingat.

Tak perlu kita menyuruh tangan menyuap nasi kemulut, tahu-tahu nasi masuk kemulut!. Takala perut kita lapar… He he he . . . Edan Tenan.

Ingat kepada Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, harusnya begitu, Laku Patrap Kunci. Paweling. Asmo. Mijil itu, seharusnya seperti itu. Jika belum begitu dan seperti itu, tidak usah banyak cerita. Tapi bila sudah begitu dan seperti itu, silahkan… karena itu adalah haq Hidupmu atas Hyang Maha Suci Hidup-mu.

Hendaknya kita sampai kepada tahap tidak ingat!.
Kita dikehendaki tidak ingat lagi kepada keberadaan diri kita.
Jika tujuan kita, adalah TITIK “AKU” “ALLAH” “RASA” “HIDUP” ora ono opo-opo. Ora ono opo-opo “AKU” ra popo.

Kita dikehendaki tidak perlu lagi ingat kepada adanya diri. Sekiranya kita masih dalam keadaan berkira-kira untuk membuang diri, berkira-kira untuk menfanakan diri dan masih berkira-kira untuk mebinasakan diri, itu tandanya kita itu belum sempurna mengenal diri dan teramat jauh dari ingat kepada Allah Taala. Itu pada tahap atau peringkat masih dalam perkiraan, insya Allah, masih dalam keadaan berkira-kira mau ingat. Mau ingat itu, artinya belum ingat, mau ingat itu, artinya baru mau ingat, baru mau ingat itu, bermakna belum ingat.

Ingat kepada Allah itu, hendaklah sampai kepada tahap itu, Wahyu Panca Gha’ib, harus sampai ke ranah/dimensi tersebut, tidak ada apa-apa lagi yang harus diingat. Ingat kepada Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, jangan sampai ada dalil, hadist bahkan firman. Ingat kepada Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, jangan sampai ada dikeranakan dengan suatu karena. Untuk ingat kepada Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, jangan sampai disandarkan kepada suatu penyandar. Ingat kepada Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, tidak ada sebab dengan suatu sebab. Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, adalah Hyang Maha Suci Hidup Allah, Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, adalah Hyang Maha Suci Hidup Allah dan Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, adalah Rasa/Suci/Hidup. HIDUP. SUCI. RASA. RASA. SUCI. HIDUP.

Mengenal Hyang Maha Suci Hidup Allah Itu, Sehingga Tidak Lagi Perlu Adanya Dalil!

Mengenal Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, hendaklah sampai kepada tahap tidak perlu lagi kepada Hadist!

Mengenal Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, hendaklah sampai kepada tahap tidak perlu lagi kepada Firman!

Tidak perlu kepada saksi atau peyaksian . Kiranya masih perlu dalil atau hadist atau firman atau saksi dan penyaksian, berarti belum benar-benar mengenal Hyang Maha Suci Hidup Allah. berarti belum benar-benar mengetahui Hyang Maha Suci Hidup Allah. berarti belum benar-benar memahami Hyang Maha Suci Hidup Allah. berarti belum benar-benar ingat, tau, melihat, memandang Hyang Maha Suci Hidup Allah.

Untuk mengenal atau untuk ingat kepada kedua Ibu dan ayah kita, apakah perlu lagi kepada saksi atau dalil atau hadist bahkan firman?.

Begitu juga dengan mengenal dan mengingat Hyang Maha Suci Hidup Allah. Orang yang benar-benar mengenal dan mengingat Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, adalah orang yang tidak lagi perlu kepada dalil, hadist, firman dan bla… bla… bla… konta bendera apapun!. Karena semuanya itu, sudah hapal diluar kepala, jadi, tidak perlu lagi di ingat-ingat. Bukan begitu sedulur dan para kadhang kabeh…?! Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, adalah Hyang Maha Suci Hidup Allah. TITIK.

Saya ulangi sekali lagi. Kenali dan Pahami lagi, untuk ingat kepada Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, sekiranya masih ada saksi, bersaksi dan masih ada yang meyaksi, apa lagi butuh dan perlu dalil, hadist, firman, berati itu adalah peringkat mereka yang masih berkira-kira untuk ingat. Berkira-kira untuk ingat kepada Allah itu, adalah tanda tidak ingat dan belum ingat!.

Masih dalam perkiraan mau ingat. Perkataan mau ingat itu, adalah tandanya belum ingat dan tandanya tidak ingat. Sebenar-benar ingat kepada Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, setelah tidak lagi ingat kepada makhluk apapun. Ingat kepada Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, setelah tidak lagi ingat kepada perkiraan, tidak lagi ingat kepada sangka-sangka dan setelah tidak ingat lagi kepada dalil itu dan dalil ini, hadist itu dan hadist ini, firman itu dan firman ini.

Inilah… Rahasia-Besarnya. Yang di rahasiakan oleh Para Ahli. Para Guru atau Pembimbing. Dari semua santri/murid-nya, yang masih cemen-cemen, masih mentah, masih suka langsung leb, tidak mau mencerna terlebih duhulu, kecuali kepada para santri/murid yang sudah dewasa. Karena jika belum, akan menyangka bahwasanya itu, adalah tidak masuk akal atau tidak boleh diterima akal!. Bahkan bisa jadi, dituduh dan dikira sesat/murtad/kafir dll.

Tapi saya siap di katakan itu semua. Saya tidak peduli, karena itulah kebenarnya yang sebenar-benar-nya benar yang saya dapatkan, saya temui. Karena saya tau, jaman sekarang adalah jaman cerdas, terbukti dari ada banyaknya pesanten dan sekolahan serta kampus, artinya, sudah tidak ada lagi yang bodoh. Pasti pada bisa mikir dan berpikir. Tapi, sebelum mengetakan itu kepada saya. Tolong baca ulang artikel pernyata’an saya diatas, semuanya dengan sadar dan baik serta seksama hingga selesai. He he he . . . Edan Tenan.

Para sedulur dan Para kadhang kinasihku sekalian… Kenali dan pahamilah apa yang sudah saya wejangkan diatas itu, itu adalah Bahasa seni Hidup dalam lingkaran Wahyu Panca Gha’ib, penuh sarat dengan ilmu yang tersirat, penuh makna, penuh pengertian dan penuh terjemahan, adalah wejangan yang sebenar-sebenar-nya wejangan.

Masih ingatkah kita dengan sejarah Wali sembilan? Yang pernah menghebohkan tanah jawa dwipa ini… yang sudah saya wedarkan diataslah itulah, Seni makrifat yang membawa ramai anak muridnya Syekh Siti Jenar, sedangkan Sekh Siti Jenar nya sendiri, duduk dalam keadan asyik. Asyik dengan Allah, setelah tidak lagi asyik kepada keberadaan diri-nya.

Yang sudah saya wedarkan diataslah itulah, yang membuat 9 wali menghujat Syekh Siti Jenar. Karena Syekh Siti Jenar mengajarkan wejangan itu secara masal kepada setiap Santrinya tanpa peduli latar belakan dan status sikonnya. Sebab 9 wali menganggap, bahwa ini adalah ilmu khusus, ilmu tingkat tertinggi yang tidak bisa di wedarkan dengan asal-asalan saja, kepada setap orang. Harus hanya orang-orang tertentu saja yang boleh mempelajarinya.

Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasih saya sekalian…
Mengenal Hyang Maha Suci Hidup Allah Itu, Akan Tercapai Setelah Tidak Adanya Diri!

Mari kita sama-sama melihat ungkapan bahasa Seni Hidup yang saya peroleh di dalam lingkaan Wahyu Panca Gha’ib.

Kenali melalui katanya, selagi kita masih mengakui “adanya diri”, karena selagi itulah sifat “adanya Allah itu” tidak akan dapat kita lihat. Bilamana kita mengadakan sifat adanya diri, berarti kita telah menafikan sifat adanya Hyang Maha Suci Hidup Allah.

Kita tidak bisa untuk mengadakan (mewujudkan) atau menggabungkan serentak antara kedua-dua sifat makhluk dengan sifat Allah!. Sifat ada atau sifat wujud itu, adalah sifat hanya bagi Allah. Sifat bagi makhluk itu, adalah tidak ada (tidak wujud). Hal ini sudah saja jelaskan pada artikel yang berjudul ILMU PELAJARAN MENGENAL DIRI.

Sekiranya kita itu bersifat ada atau kita itu bersifat wujud, berarti kita telah mengadakan dua sifat wujud (dua sifat ada). Berarti kita telah menduakan sifat Hyang Maha Suci Hidup Allah, yaitu, satunya wujud bagi Allah dan satu lagi wujud bagi diri makhluk, maknanya disini, kita telah mengadakan dua sifat wujud. Sedangkan sifat wujud itu, hanya hak bagi Hyang Maha Suci Hidup Allah dan bukannya hak bagi makhluk. Bagi yang menduakan sifat Hyang Maha Suci Hidup Allah, hukumnya adalah syirik. Syirik itu, adalah dosa besar yang tidak boleh diampun Hyang Maha Suci Hidup Allah. Untuk itu, jangan sekali=kali mengadakan dua sifat wujud (dua sifat ada). yang wujud dan yang bersifat ada itu, adalah hanya bagi Hyang Maha Suci Hidup Allah, hanya bagi Hyang Maha Suci Hidup Allah dan hanya bagi Hyang Maha Suci Hidup Allah!. TITIK.

Bagi semua yang sedang belajar hal ini, harusnya tahu, yang bahwasanya sifat “ada” itu adalah hanya sifat bagi Hyang Maha Suci Hidup Allah!. Sedangkan sifat bagi kita itu, adalah tidak ada!.

Bilamana kita tidak ada sifat, Terus,,, apa lagi yang hendak kita perkira-kirakan dalam soal ingat kepada Hyang Maha Suci Hidup Allah!.

Setelah sekalian makhluk bersifat tidak ada, bermakna yang ada itu,
adalah hanya Hyang Maha Suci Hidup Allah. Sekiranya yang ada dan yang wujud itu hanya Hyang Maha Suci Hidup Allah. Lalu,,, buat apa lagi ingat kepada selain Hyang Maha Suci Hidup Allah!.

Jangan Bandingkan “Ada Hyang Maha Suci Hidup Allah Dengan Adanya Diri” Permasalahan yang timbul kepada kebanyakkan dari kita sekarang itu, adalah permasalahan dimana kita tidak boleh untuk membuang adanya kita!.

Kebanyakkan dari kita sekarang, susah dan payah untuk membuang sifat keakuan dan ramai, masih kuat berpegang kepada perkiraan yang sifat diri sebagai makhluk itu masih ada dan masih wujud.

Kiranya Hyang Maha Suci Hidup Allah, bersifat ada dan diri kitapun juga bersifat ada, bermakna kita telah mengadakan dua sifat wujud (mengadakan dua sifat ada). Barang siapa yang mewujudkan dua wujud atau barang siapa yang mengadakan dua sifat ada, bermakna kita telah syirik dengan Hyang Maha Suci Hidup Allah, kerana telah mengadakan dua sifat Hyang Maha Suci Hidup Allah. Bilamana kita bersifat ada dan Hyang Maha Suci Hidup Allah juga bersifat ada. Lalu,,, yang mana yang benar-benar bersifat ada?.

Ada itu sifat kita kah atau sifat Allah kah?.
Setahu saya pribadi, yang bersifat ada dan yang bersifat wujud itu, adalah hanya Hyang Maha Suci Hidup Allah. Sifat kita sebagai makhluk itu, adalah sifat yang berlawanan daripada sifat Hyang Maha Suci Hidup Allah. Bilamana Hyang Maha Suci Hidup Allah bersifat ada, kita adalah bersifat tidak ada. Bilamana tidak adanya sifat kita, barulah Hyang Maha Suci Hidup Allah itu benar-benar ada dan dapat lihat, di pandang serta diingat.

Kalau kita ada dan Hyang Maha Suci Hidup Allah-pun ada, itulah yang menjadikan kita lupa untuk ingat nahkan buta kepada Hyang Maha Suci Hidup Allah.

Apabila lupa dan buta kepada Hyang Maha Suci Hidup Allah, tentunya yang kita ingat itu adalah adanya keberadaan diri, bilamana kita ingat kepada diri dan tidak ingat kepada adanya Hyang Maha Suci Hidup Allah, itulah yang dikatakan syirik (menduakan sifat Hyang Maha Suci Hidup Allah, berarti, kita telah menduakan Hyang Maha Suci Hidup Allah). Coba saja dipikir dengan logika, katanya sekarang jamannya jaman logika, bukan jaman tahayul. Itu tadi logikanya. Jadi, silahkan dipikir, jangan di khayal atau di bayangkan ya… karena Khayal dan bayang membayangkan itulah, tahayul yang sebenarnya. He he he . . . Edan Tenan.

Itulah yang dikatakan syirik. Dosa syirik itu, adalah dosa yang tidak akan dapat diampuni oleh Hyang Maha Suci Hidup Allah Ta’ala.Untuk mengelak dari dosa syirik dan untuk menjadikan diri mengenal diri, marilah kita sama-sama belajar, saya akan mengajak Para Sedulur dan Para Kadhang menghayati bahasa seni berupa kata-kata dari lidah yang Hidup di dalam lingkarang Wahyu Panca Gha’ib. Maka… Kenalilah. Pahamilah, yang saya tulisankan melalui ungkapan kata dalam bentuk tulisan ini.

Mari kita mengenal Hyang Maha Suci Hidup Allah dan mengenal diri melalui kaedah lima, berikut ini.

Menurut saya pribadi, sesungguhnya. Ilmu Makrifat Itu, Adalah Ilmu Yang Paling Rendah Dan Mudah!

Ilmu mengenal Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, sesungguhnya adalah suatu ilmu yang paling mudah, paling senang, paling ringan, paling lembut, paling halus dan paling tipis. Ringan, halus dan nipisnya ilmu mengenal Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, seumpama ringannya kita menganggkat sebilah pisau cukur. Ringannya menganggkat sebilah pisau cukur itu, tidak seumpama beratnya menganggap segoni/sekarung beras.

Biarpun pisau cukur itu tipis dan ringan, hendaklah ia dianggkat dengan cermat, berhati-hati dan penuh lemah lembut. Karena jika tidak, akan melukai jari-jari kita. Menganggkat pisau cukur itu, tidak sebagaimana mengangkat sekarung beras, yang boleh diambil dengan kasar dan dicampakan dengan kasar pula.

Ringan dan tipisnya ilmu mengenal Hyang Maha Suci Hidup Allah (makrifat) itu, terlebih ringan dan terlebih tipis dari pisau cukur. Oleh karena itu, hendaklah dituntut dengan cermat dan berhati-hati. Toto Titi Surti Ngati-ngati. Jika tidak berhati-hati, ia akan melukai tangan kita sendiri!.

Dikeranakan benda yang ringan dan tipis itu mudah terluka, makanya ramai berdebat dikalangan kita, alasan sesungguhnya, adalah merasa takut dan tidak sudi memilikinya!.

Ilmu mengenal Hyang Maha Suci Hidup Allah atau ilmu makrifat itu, adalah suatu ilmu yang terang, nyata dan suatu ilmu yang paling jelas, dibandingkan Semua ilmu-ilmu yang ada di dunia ini. Bagaimana tidak, mengenal Hyang Maha Suci Hidup Allah. Tidak harus bertapa, tirakat, wirid, puasa, ritual tumpeng, kemenyan, minyak apel jin atau apa itu, aple krowak kali… He he he . . . Edan Tenan. Cukup duduk bersilah, kadhangan dengan 4 anasirnya sendiri, lalu Palungguh. Kunci. Paweling. Asmo. Mijil. Diam mencari Rasa enak. Setelah berhasil mendapatkan Rasa Enak. Lalu nikmati sambil mencari hakikatnya, di temukan atau tidak ditemukan, jika capek, istirahatlah, dengan cara Palungguh lagi, sebagai penutup akhirnya. Gampang kan? Mudah kan? Ringan kan?

Para sedulur dan Para Kadhang Kinasih saya sekalian…
Hyang Maha Suci Hidup Allah itu terang, Hyang Maha Suci Hidup Allah itu nyata dan Hyang Maha Suci Hidup Allah itu jelas, lebih terang, lebih nyata dan lebih jelas daripada cahaya matahari. Terangnya cahaya matahari, itu lebih terang lagi Hyang Maha Suci Hidup Allah. jelasnya cahaya matahari, itu lebih jelas lagi Hyang Maha Suci Hidup!.

Kenapa tidak kita melihat dan memandangnya? He he he . . . Edan Tenan.
Saudara-Saudariku dan para Kadhang konto dan Kantiku sekalian, yang dirahmati Allah Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu sekalian, untuk dapat merasakan Hidup, saya ingin Anda sekalian, berhenti seketika dari membaca artikel saya ini sejenak, dan hendaklah memegang atau meraba bulu mata Anda.

Sesudah meraba bulu mata, saya ajukan satu pertanyaan. Dengan pamrih, agar Sedulur dan Kadhang dapat menjawabnya dengan jujur.

Pertanyaan saya adalah; apakah kedudukkan bola mata dengan bulu mata itu jauh?.

Kiranya jawaban Sedulur dan Kadhang saya, pasti menjawab dekat, bukan?

Itulah tandanya Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, lebih hampir dan lebih dekat dari bulu mata kita sendiri.

Dan saya tidak akan menyuruh sedulur dan kadhangku, memegang bola mata, nanti sakit, cukuplah dengan kiasan memegang bulu mata saja. Namun sesungguhnya Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, lebih hampir daripada bola mata putih dengan mata hitam. Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, hampir, hampirnya Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, lebih hampir dari urat leher. Kenapa tidak kita lihat, kenapa tidak kita pandang dan kenapa tidak kita tilik?.

Diantara sebab tidak bisa ditilik, dilihat atau dipandangnya Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, adalah karena Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, terlampau hampir dan teramat dekat. Dikarenakan terlampau hampir dan terlampau dekatnya Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, sehingga kita “terlepas pandang” .

Memandangkan ilmu mengenal Hyang Maha Suci Hidup Allah itu, senang, ringkas, mudah, ringan, nyata, terang, halus dan jelas, tapi kenapa kita tidak mengenal Hyang Maha Suci Hidup Allah?.

Khusus untuk anak didik saya;
Coba sekali lagi Kadhangku, menjawab pertanyaan saya, kenapa kita sampai tidak mengenal, menilik, melihat dan memandang Hyang Maha Suci Hidup Allah Ta’ala?, kenapa, kenapa dan kenapa?.

Pastikan dulu Jawaban Kadhangku, anak didik saya!.
Sebelum meneruskan bacaan artikel wejangan saya ini, saya ingin ajukan satu pertanyaan lagi. Saya minta kadhangku, menjawabnya dengan cermat dan berhati-hati. Apakah sebabnya kita tidak dapat melihat, menilik, memandang dan memperhatikan Hyang Maha Suci Hidup Allah Ta’ala.

Pertanyaan saya ini hendaklah dijawab dengan tulisan. Jawaban yang Kadhangku tulis di komentar, akan saya jadikan sebagai kayu pengukur, apakah sama dengan jawaban yang akan saya tuliskan, nantinya!. Tapi ingat, di komentar ya, jangan di inbox, biyar yang lainnya ikut mengetahui.

Inilah cara saya mengukur kefahaman anak didik saya yang berada di tempatnya masing-masing, alias tidak bersama saya, dan menerima wejangan saya melalui media internet. . . Selesai. He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh kinasih saya, yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Pamrih saya berharap POSTINGAN SAYA KALI INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup nya siapapun yang membacanya.
*Matur Nuwun ROMO….._/\_…..Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

ILMU PELAJARAN MENGENAL “DIRI” (Guru Sejati/Hidup/Rasa/Allah) DENGAN WAHYU PANCA GHA’IB:


Quludz (4)
ILMU PELAJARAN MENGENAL “DIRI” (Guru Sejati/Hidup/Rasa/Allah)
DENGAN WAHYU PANCA GHA’IB:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Senin Kliwon. Tgl 07 Desember 2015

Para Sedulur Dan Kadhang Kinasih saya sekalian…
Ada suatu pasal yang di rahasiakan oleh hampir semua Guru/Pembimbing pada murid/anak didiknya, karena suatu alasannya yang masuk akal.

Pertama; Karena pintu guru sejati itu, tersembunyi, jadi, tidak bisa dan tidak boleh asal sembrono mengajarkannya.
Kedua; Perlu dan Butuh dasar ilmu pengertian yang lebih dari cukup, sebelum mempelajarinya, karena jika tidak, tidak akan pernah bisa paham dan mengerti. Bahkan bisa gila/sterss, kalau tidak gila/stress. Sang Guru/Pembimbing, bisa di cap Sesat oleh murid/anak didiknya.

Sebab itu, tidak diajarkan kepada orang-orang yang belum pernah, belajar tentang Ilmu Tauhid atau Sifat 20 (dua puluh). Kenapa bisa begitu? Sebab, perihal ini, berisi ilmu-ilmu khusus pelajaran mengenal diri atau tata cara mengenal Hyang Maha Suci Hidup/Allah, sang pencipta Alam dan segala isinya.

Tujuannya, supaya sempurna segala amal ibadahnya. Maksudnya, tidak melangkahi kodrat dan irodatnya sebagai manusia wajar. Tentangnya, saya akan mewedarnya dengan terbuka, blak kotak tanpa tedeng aling-aling apapun. Terserah Anda, mau menyebut saya sesat atau kafir. Karena, inilah kenyata’annya, inilah kebenarnya, yang berhasil saya dapatkan, dan. Silahkan di buktikan sendiri, jika tidak percaya.

Para Sedulur Dan Kadhang Kinasih saya sekalian… Ketahuilah tanpa yang hidup, jasad tidak ada arti nya. Tetapi benda mati ini lah, yang dijaga dan diutamakan oleh kebanyakan orang di dunia ini. Sedangkan semua tahu bila mati kelak, jasad akan busuk dan di tanam atau di bakar. Ini menunjukkan, mati ialah bila hidup yang menghidupkan jasad tadi, meninggalakan jasad.

Kebanyakkan manusia pada umumnya, menganggap bahwa “Hidup” didunia ini, itu hanyalah cukup makan, bergerak, mencari kemewahan, menyelesaikan kepentingan, mencukupi kebutuhan dan keperluan, bekerja dll, mereka mengangap bahwa jasad kasar mereka itu, hidup dengan sendirinya, yang membolehkan mereka melakukan kerja, kerja harian mereka itu, tapi pernah kah mereka terfikir bahwa jasad mereka itu sebenarnya, ialah benda mati yang tidak dapat hidup dan bergerak dengan sendirinya, tanpa ada sesuatu yang menghidupkan nya?

Dimanakah letaknya yang di panggil hidup itu? Yang mana dengan adanya yang hidup itu lah jasad kita ini hidup dan sebenarnya ia diam di dalam jasad kita sendiri, dan dia lah yang di panggil “DIRI” sebenar “DIRI” dan menghidupkan jasad kita ini. Tapi pernah kah kita terfikir tentang “DIRI” itu ataucuba mencari dan mengenal nya.

Tentunya, soal yang akan timbul ialah dari mana “DIRI” itu, dimana letaknya “DIRI” itu, terdiri dari apakah “DIRI” itu, dan kemanakah perginya “DIRI” itu, apabila jasad mati atau dengan kata lain “DIRI” meninggalkan jasad??? dan yang paling penting sekali, bolehkah kita mengenal “DIRI” sebenar-benarnya “DIRI” kita itu.
Quludz (3)
BARANG SIAPA MENGENAL “DIRI”
NISCAYA KENAL LAH IA AKAN TUHAN NYA:
Benarkah bila kita mengenal “DIRI” maka kita akan mengenal Tuhan ??

Kita semua tahu bukan, bahwa ujudnya Roh! Tidak ada seorangpun, yang dapat menafikan kenyataan ini, Karena semasa Hyang Maha Suci bertanya kepada sekelian Roh ” siapa kah Tuhan kamu ” dengan sepontan sekelian Roh menjawab ” bahkan ” yang membawa makna merekapun telah mengenal Tuhan yang esa.:

Kisah Roh memasukki jasad Adam;
Setelah jasad Adam terbaring, maka Hyang Maha Suci Hidup telah memerintahkan Roh memasukki ke jasad Adam, tetapi sebelum itu, Roh telah bertanya ” dimanakah harus aku masuki, ya ALLAH ” dan ALLAH pun menjawab ” masuk lah kemana saja yang kamu senangi ” Maka, masuk lah Roh melalui hidung dan dengan itu maka bernafaslah kita melalui hidung.

Ini menunjukkan bahwa sesudah Roh memasuki badan, maka barulah bermulanya kehidupan kepada jasad, dan terbukti di sini bahwa Roh-lah yang dikatakan penghidup kepada jasad, dan mati pada jasad ialah apabila Roh keluar, apabila sampai ajalnya tiba.

Jasad kasar kita ini terdiri dari 2 yaitu:
1. Dihidupkan;
Apakah maksud dihidupkan dan bahagian mana yang dihidupkan?
Yang dihidupkan ialah Jasad kasar kita ini, ia-nya di hidupkan oleh “”Roh”” yang berada di dalam Jasad. “Roh” memasukki jasad semasa kita 100 hari dalam rahim ibu kita. “Aku tiupkan sebagian dari Roh ku” begitulah kata firman Allah. Sejak itu lah kita hidup di dalam rahim ibu kita dan kemudian di lahirkan kedunia dan terus menjalankan kehidupan dari bayi hingga akhir hayat.

2. Menghidupkan;
Yang menghidupkan ialah Roh, yang datangnya (diciptakan) dari Hyang Maha Suci Hidup, yang memasuki jasad dan terus Hidup, tugas Roh ialah, menghidupkan jasad, tetapi sayang-nya, jasad tidak langsung terfikir bahwa Roh-lah yang Hidup sebenar-benarnya Hidup dan menghidupkan jasad yang bila mana Roh meninggalkan-nya, maka matilah dia dan di sebut mayat orang lalu di tanam atau di bakar.

MATI IALAH APABILA ROH MENINGGALKAN JASAD;
Jadi,,, siapakan yang berkepentingan disini, tentunya jasad, karena tanpa Roh, maka jasad tidak bermakna langsung. Jasad kita perlukan Roh, untuk Hidup, tapi kenapa Roh tidak dipedulikan sama sekali semasa hidup nya?
Perlukah Roh di kenali?

Tentu sangat perlu dong…. Kan peran pentingnya, sudah saya uraikan diatas. Tapi….
Sebelum mengenal Roh haruslah kita mengenal “DIRI”

BARANG SIAPA MENGENAL “DIRI”
MAKA KENALLAH DIA AKAN TUHAN NYA:

APA KAH “DIRI” ITU”
Untuk semua ilmu pengetahuan, bahwa “DIRI” itu datang kemudian, setelah Roh memasukki jasad, mengapa bisa begitu?

Apabila Roh berada di dalam Jasad, maka perkembangan cahaya Roh itu yang memenuhi dalaman Jasad keseluruhan-nya, ini telah menyebabkan ujudnya “Diri” yang berupa saperti jasad-nya, memenuhi ruang dalaman jasad-nya. Maka ujudlah “Diri” sebenar-benarnya “Diri” dan “DIRI” ini lah yang harus di kenal. (kenal lah Diri, maka kenal Tuhan)

BAGAIMANA MENGENAL “DIRI” SEBENAR-BENARNYA “DIRI”
Ada berbagai cara dan kaedah digunakan untuk mengenal “DIRI” ini. Namun hanya satu yang bisa menjamin bisa, tepat, pas sasaran, yaitu Wahyu Panca Gha’ib. Namun, bukan berati yang lain itu tidak benar, hanya saja, tidak bisa menamin tepat dan pas pada sasarannya, itu saja.

Kenapa tidak bisa tepat dan pas pada titik finis yang menjadi sasarannya?
Karena, selain adanya campuran dan embel2x yang bertentangan dengan hal tersebut, setinggi dan sehebat apapun ajarannya, pasti di bagian akhirnya, terkata; Wollahu alam wabi insya Allah. Tapi Wahyu Panca Gha’ib, tidak begitu, karena yang digunakan oleh Wahyu Panca Gha’ib, ya Roh itu sendiri, ya Diri itu sendiri, bukan yang lainnya. Jadi, mustahi dan tidak mungkin melesed.

Semua perguruan dan padepokan atau golongan dan aliran apapun itu betul, dan ilmu apapun yang digunakannya juga benar. Hanya saja, mereka enggan, bahkan tidak mau telanjang, istilahnya. Dalam artian, di campuri dengan sesuatu yang dapat menghilangkan kemurnia dari ilmu yang digunakannya, ini lo, yang membuat jadi tidak tepat alias tidak pas bin melesed.

Untuk mengenal “DIRI” ini, ada 3 jalan atau cara:
Terbuka dengan sendiri nya.
Berusaha sendiri untuk membukanya.
Dibukakan oleh guru. (guru guru yang berpengalaman)
Intisari patinya, adalah dibuka/buka.

Apa maksud dari dibukakan “buka”
Di buka maksudnya, ialah; membukakan jalan-jalan pancaran cahaya “DIRI” itu, hingga keluar dari jasad dan terpancarlah cahaya “DIRI” itu, keluar dari jasad, melalui jalan-jalannya dan dengan Rasa yang bergetar-getar pada jalan keluarnya, Rasa ini dapat dirasakan dengan nyata, oleh murid-murid/pelaku belajar, yang mempelajari hal ini.

Ini adalah rahasia Hidup kita dan “DIRI”
Ini adalah yang menghidupkan jasad, selagi ada hayatnya di dunia ini, “DIRI” ini, harus di kenal dan dirasai sepenuh nya oleh kita, karena ia mengandungi banyak rahsia dan serba guna, multi fungsi di dunia dan akhirat.

Kenal kah “DIRI” tadi kepada Tuhan nya?
Sudah tentu, karena dia datang dari sana, dari Hyang Maha Suci Hidup, Sang pencipta dan yang Maha Kuasa diatas segala yang Maha.

Banyak lagi, persoalan yang akan timbul, apabila kita dapat mengenal “DIRI” kita yang sebenar- benarnya “DIRI” ini, kita harus belajar dari “DIRI” ini sendiri, bukan yang lain, selain “DIRI” ini sendiri.

Dia mengetahui, karena dia datang dari yang MAHA mengetahui.
Dia bijak, karena dia datang dari yang MAHA bijaksana.
Dia kuasa, karena dia datang dari yang MAHA kuasa.
Dia lah sebaik-baiknya Guru, karena dia datang dari yang MAHA guru.

Kehidupan sebenarnya, ada di dalam, karena kehidupan datang setelah kita Hidup.

Kesimpulan-nya;
Kenali lah “DIRI” kita ini, karena, dia-lah sebenar-benarnya “DIRI” dan utamakan lah dia dalam segala urusan kita di dunia ini, sambil menunggu surat undangan dari Hyang Maha Kekal Abadi, jangan lupakan itu, kerana dia kekal karena di kekalkan.

Ilmu Pengetahuan Mengenal “DIRI” adalah satu-satunya ilmu pengetahuan yang wajib dan harus di ketahui oleh semua manusia hidup, tanpa terkecuali, tidak peduli agama dan latar belakang apapun, karena tiap-tiap manusia hidup, membawanya di dalam jasad kasar mereka, harus kah penghidup jasad kita ini, kita biarkan begitu saja, tanpa mengenali dan merasakan nya, hanya semasa maut hampir datang menjemput, baru kita sadar, bahwa dia akan meninggalkan kita?????

Wahai Para saudara-saudariku sekalian, sudah Anda mengenal “DIRI” Anda dengan sebenar-benarnya Diri Anda?

Wahai para Kadhang Konto dan Kantiku sekalian, sudah kah Anda Mengetahui “HIDUP” Anda dengan sebenra-benarnya Hidup Anda?
Quludz (2)
TIADA AKU, HANYA ALLAH …
Kita kembali kepada Pokok semula yaitu, mencari DIRI SENDIRI yang berdiri dengan sendirinya itu.

Setelah kita dapat MENEMUI JALANNYA PERNAFASAN kita yang turun naik itu yang berasal dari dalam, maka DENGAN MEMATIKAN SEGALA TENAGA kita yang ada, kita COBA MENURUT TURUN NAIKNYA PERNAFASAN kita itu, dengan pengertian kita MULAI MEMAKAI atau MENGGUNAKAN TENAGA DARI DALAM yaitu TENAGA YANG MENYEBABKAN TURUN NAIKNYA PERNAFASAN kita.

Lancarnya latihan kita dan sampai kepada MENINGKATNYA PERGERAKAN yang dibawakan oleh DAYA TENAGA YANG BERASALKAN DARI JALANNYA PERNAFASAN kita bergantung kepada pandainya kita membawakannya. Untuk dapat membawakan sampai mengerti, ialah pandainya kita MENYERAHKAN SEGALA SESUATU apa yang ada pada kita KEPADANYA iaitu pada YANG BERDIRI DENGAN SENDIRINYA itu.

DIA akan bebas bergerak, kalau apa yang ada pada kita teleh dipunyainya dan dikuasainya, dengan pengertian kalau tadinya kita menganggap Dia kepunyaan kita, maka adalah sebaliknya yang terjadi yaitu JADIKAN KITA MENJADI KEPUNYAANNYA.

Setahu kita, DIA telah ada bersama kita dan adalah Dia itu kepunyaan kita, KARUNIA atau ANUGERAH yang Maha Esa lagi Maha Besar kepada kita. DIA datang dariNYA dan akan kembali kepadaNYA pula. Dan adalah kedatangannya kepada kita untuk Kesempurnaan Kejadian kita. Dan tidaklah sempurna kita rasanya, kalau kita tidak mengetahui, mengenal dan MENEMUInya.

Adalah DIA langsung dari Yang Maha Esa dan adalah keadaan kita dijadikan dari yang telah dijadikan. Tingkatnya juga lebih tinggi dari kita kerana DIA ASLI ( original ) dan kita dari yang dijadikan, sesungguhnya yang menjadikan kita itu Tuhan Yang Maha Esa juga.

Satu ASAL, tetapi berlainan KE-ADA-AN. DIA ada tetapi tiada, kita ada dan nyata, DIA yang telah berada bersama kita, bahkan terkandung didalam batang tubuh kita, kenapa kita tidak dapat menemuinya ? Tuhan telah memberikannya kepada kita untuk HIDUP bukan untuk MATI.

Jadi nyatalah sudah ada KELEBIHANNYA dari kita dan Rahasia Hidup dan kehidupan kita padanyalah LETAKNYA. Dan kalau kita ingin hidup bahagia, tentu DIA MESTI KITA CARI dan KITA TEMUI, seperti telah dikatakan diatas, PADANYALAH TERLETAK RAHASIA HIDUP itu.

Untuk mengetahui dan MENEMUInya tentu lebih dahulu harus kita pecahkan soal antara kita dengan DIA dengan jalan MEMISAHKAN YANG SATU DENGAN YANG LAIN, yaitu antara BADAN dan DIRI atau antara DIA dan AKU.

Latihan yang kita bawakan dengan mematikan badan sebelum mati sebenarnya mendatangkan PERMULAAN dan PERPISAHAN, kerana dengan perbuatan kita itu, maka tinggallah YANG HIDUP.

Perbuatan kita dengan latihan itu ialah kita meninggalkan YANG HIDUP oleh karena kita hendak mengetahuinya dalam KE – ADA-AN yang sebenarnya. Sebelum kita dapat menemui dan MENGUASAInya kita tidak dapat yang sebenarnya.

Untuk itu hendaklah kita TERUS BERLATIH dan BERLATIH mencarinya SAMPAI ADA PANCARAN KELUAR DARI UJUNG JARI JARI kita. Dengan telah dapatnya kita MERASAKAN PANCARAN YANG KELUAR DIUJUNG JARI JARI kita itu berarti DINDING TELAH TEMBUS dan RAHASIA TELAH TERBUKA dan tugas kita ialah MEMPELAJARInya lagi, dengan pengalaman-pengalaman yang sudah kita dapatkan itu. DIA adalah HAKMILIK kita dan tiadalah orang lain berhak atasnya. Kenapa tidak kita pergunakan Hakmilik kita Yang Amat Berharga itu?

Pendirian kita ( selama ini ) selain SALAH kerana tidak berpegang pada DIRI barang yang hidup, melainkan kepada BADAN barang yang mati. Yang TERANG ada pada kita dan yang GELAP pun ada pada kita. Kenapa berpegang kepada itu yang GELAP ? SIANG ada pada kita MALAM pun ada pada kita.

SIANG adalah TERANG dan Yang Terang adalah DIRI dan MALAM adalah GELAP dan Yang Gelap ialah BADAN. Siterang letaknya DIDALAM dan Sigelap letaknya DILUAR. MASUKKAN itu MALAM kepada SIANG dan MASUKKAN itu SIANG kepada MALAM. Datangkanlah itu YANG HIDUP dari YANG MATI dan YANG MATI dari YANG HIDUP. KELUARKANlah Yang Didalam dan KEDALAMKANlah Yang Diluar.

UNTUK itu REZEKI yang TIDAK TERDUGA-DUGA dan TERBILANG banyaknya yang akan kita PERDAPAT.

Semua orang takut mati kerana SALAH MEMAHAMI HIDUP. Dia takut ditinggalkan Hidup. Dari itu makanya dia takut mati. Mereka mereka SALAH PEGANG, salah tangkapan berpegang pada Yang Mati YANG DIANGGAPnya Yang Hidup.

Sebenarnya Hidup, tidak diperdulikannya selama ini. Bagi kita yang berpegang pada Yang Hidup, tidak akan takut mati, karena bagi kita, Yang Hidup itu mestilah TIDAK ADA MATInya. Adalah DIA itu KEKAL dan ABADI kembali menyatu bersama Hyang Maha Suci Hidup.

Pembawaan hidup mereka-mereka yang seperti itu, menuju kepada kematian dan perjalanan hidup yang di bawa menuju kepada hidup yang kekal dan abadi untuk kembali kepangkalan.

Perjalanan mereka KEBAWAH ( sedangkan ) perjalanan kita KEATAS. Mereka MENUJU KEMATIAN. Sedangkan kita MENUJU KESEMPURNA’AN YANG KEKAL dan ABADI.

Perjalanan kita SEBENARNYA, iyalah kita telah mati sebelum dimatikan, telah pergi sebelum dipanggil dan AKU telah kembali dari SANA.

AKU telah MENEMUINYA setelah engkau menemui AKU dan BATAS Aku dengan DIA ialah seperti batas antara Engkau dengan Aku yaitu JAUH TIDAK BERANTARA dan DEKAT TIDAK BERBATAS. Engkau yang tadinya DINDING bagiku, untuk menghubungi dan MENEMUInya, kini telah dapat menghubungiku, dengan CARA PEMECAHANMU, maka TERBUKAlah JALAN bagiku, untuk menghubungi dan menemui NYA, karena pintu telah terbuka bagiku.

Engkau, Aku bawa serta, karena cinta kasih sayangku tertumpah padamu, dan adalah ENGKAU ITU BADANKU. Kita tidak akan berpisah kecuali kalau dipisahkan oleh Yang Maha Suci Hidup. Dari itu KUASAILAH AKU, supaya apa yang ada padaku menjadi KEPUNYAANMU.

Bagaimana cara menguasainya ? Mudah saja. Cintailah, kasihilah dan sayangilah AKU. Bagimanakah cara mencintai, mengasihi dan menyayanginya ? AKU tidak pinta apa yang tidak ada padamu, cukuplah kalau engkau SERAHKAN APA YANG ADA PADAMU KEPADAKU, dan untuk itu akan AKU serahkan pula apa yang ada padaKu, sehingga AKU menjadi kepunyaanmu dan engkau menjadi kepunyaanku.

Kedalam Engkau yang berkuasa, keluar AKU dimuka. Tadinya sebelum engkau mengenal Aku maka adalah AKU NYAWAMU. Setelah Engkau dapat mengenal AKU, maka tahu Engkau yang membawa AKU ini, sangat berguna padamu. Engkau ketahui bahwa seluruh kehidupanmu BERGANTUNG PADAKU. Setelah Engkau menemui AKU, maka Engkaulah lebih kenal padaku. AKUlah yang akan menjadi Engkau dan Engkaulah yang akan jadi AKU. AKU dan Engkau sebenarnya SATU dan memang kita satu. Ilmu pengetahuan yang memisahkan kita. Dan AKUlah kita, AKU LUAR dan DALAM.

Selama ini Engkau berjalan sendiri dengan tidak memperdulikan AKU. Sekarang setelah Engkau menemui AKU, apa lagi kita telah menjadi AKU, maka kalau Engkau berjalan ikut sertakanlah AKU, dan kalau AKU berjalan akan mengikut sertakan Engkau pula. Satu arah, satu tujuan dan satu tindakan. Selama ini kita berjalan pada jalan sendiri – sendiri.

Sekarang kita kenal mengenal satu sama lain. Selapik seketidur, sebantal, sekalang hulu, sehina, semulia, kelurah sama menurun, kebukit sama mendaki, sikit senang sama-sama kita rasai.

Apa yang tidak ada padaKU, ada padamu dan apa juga yang tidak ada padamu ada padaku.

Engkau selama ini sudah jauh berjalan sendiri dengan tidak mengikut sertakan AKU, walaupun Aku sentiasa berada bersamamu. Dalam banyak hal AKU menderita kerana AKU yang merasakannya.

Sekarang AKU berjalan dan Engkau Aku ikut sertakan. Tugasmu hanya menurutkan dan mempelajari hasilnya untuk kita. Engkau yang tadinya tidak tahu setelah mempelajari perjalananku akan banyak mendapat yang Engkau tidak ketahui selama ini.

AKU yang berbuat, Engkau yang melakukan dan hasilnya untuk KITA. Bahagiamu terletak PADAKU dan bahagiaku padamu. AKU sangat merasa bahagia kalau yang AKU perbuat dan lakukan besertamu menghasilkan yang memuaskan.

Lambat laun Engkau akan mengenal AKU yang sebenarnya. Dan adalah perbuatanku bagimu namanya ILMU. Oleh kerana Aku GHAIB sifatnya, maka namanya ILMU GHAIB.

Rahasia kandungan telah terbuka dengan hasil dari latihan latihan yang telah kita lakukan, yaitu keluarnya pancaran yang terasa betul pada ujung KUKU kita, ujung jari jemari kita. Dan kita telah melahirkan kandungan kita sendiri.

Yang melahirkan kita dan yang dilahirkan kita pula. Kita yang telah terlahir itu ialah DIRI YANG BERDIRI DENGAN SENDIRINYA, bergerak dan berjalan dengan sendirinya, akan tetapi duduk ditempatnya.

Keluarnya dari badan kita melalui saluran saluran tertentu yang bernamakan pancaran yang setelah sanggup menebus alam sendiri akan sanggup pula menembus alam lain, kalau kita telah dapat menguasai dan mengetahui akan RAHSIANYA yang sebenarnya.

Ibu melahirkan kita sebagai seorang manusia lengkap, dengan pembawaan dan kelahiran kita, mengandung pembawaan itu untuk hidup. Untuk melanjutkan jalannya kehidupan kita, supaya dapat menikmati Kebahagiaan Hidup, maka, adalah tugas kita melahirkan kandungan kita ,yaitu pembawaan dari Rahim ibu.

Kebahagiaan hidup yang kita alami di Rahim ibu, semasa dalam kandungan ibu, iyalah dengan hidupnya bunda mengandung atau dengan dua keadaan hidup, yaitu pertama yang mengandung dan yang kedua yang dikandung.

Sebelum kita dapat melahirkan kandungan kita itu sampai akhir hayat kita, maka senantiasa akan panjanglah jalannya kehidupan kita yang kita rasai, karena melakukan hidup sendiri. Maka untuk kesempurnaan jalannya kehidupan kita, lahirkanlah kandungan sendiri. Kelahirannya mendatangkan HIDUP BARU bagi kita, dan seimbangkanlah jalannya kehidupan kita. Kita telah bertahun-tahun berjalan sendiri-sendiri, mengarungi lautan hidup yang tidak bertepi itu. Maka pergunakanlah jalan hidup yang baru kita dapatkan ini. Bila HIDUP tidak kita pergunakan, tidak perlu disesalkan kalau satu saat nanti kita ditinggalkannya.

Dengan telah melahirkan kandungan itu, kita telah menjadi manusia baru dengan tenaga baru, dan sebutan baru, yaitu; Manusia Hidup, bukan mayat Hidup. Lanjut punya wedaran…

MENGENAL “DIRI ” DENGAN WAHYU PANCA GHA’IB;
Mengenal Diri Sebenar-benarnya “Diri.”
Seperti yang sudah saya uraikan diatas, bahwa untuk semua pengetahuan, yang di katakan “Diri” itu sebenarnya datang kemudian setelah Roh, atau dengan kata lain “Diri” itu. adalah perkembangan Roh di dalam jasad.

Ini membawa arti, bahwasannya, setelah Roh memasuki jasad, perkembangannya, yang berupa cahaya memenuhi seluruh bagian dalam jasad, dan ini lah dia “Diri” sebenar “Diri” dan “Diri” ini lah yang harus di kenal, bagaimana-kah dia? dan terdiri dari apa kah dia?.

Perumpama’an yang mudah, ibaratkan satu bulam lampu di dalam bilik, bulam itu Roh dan cahaya yang menerangi bilik itu lah “Diri”. Dan tentu nya, cahaya tadi, memenuhi ruang bilik tersebut dan bentuk cahaya itu pasti nya sama dengan cahaya yang berasal dari bulam lampu dan bentuk bilik tersebut. Sekiranya bulam lampu itu berbentuk empat segi, pasti cahaya tadi juga akan membentuk empat segi dan begitu pula pada bentuk-bentuk yang lainnya.

Jadi, sekiranya pasti kita paham, bahwa cahaya yang terhasil dari Roh tadi, telah berkembang ke seluruh anggota dalam jasad kita, hingga ia membentuk rupa dan keadaan yang sama dengan jasad, cuma bedanya, jasad terdiri dari daging dan tulang dan Diri dari asalnya cahaya Roh. Cahaya ini berupa aliran letrik yang mengaliri di setiap urat dan saraf jasad kasar kita ini.

Untuk mengenalnya, kita harus lah lahirkan cahaya diri ini, agar keluar, karena batas nya dengan dunia luar hanyalah kulit kita ini.
Bagaimana harus melahirkannya, dan merasakan akan aliran cahaya itu di setiap bahagian tubuh kita?.

Pada dasarnya ada 2 jalan/caranya;
1. Bisa Terlahir dengan sendirinya, (bagi yang lakon kadhangan dan laku Wahyu Panca Gha’ib secara aktif, maksudnya, terus menerus tiada hentinya), dengan Toto Titi Surti Ngati-ngati alias SADAR.
2. Dilahirkan oleh Guru/Pembimbing (yang telah mumpuni dalam Wahyu Panca Gha’ib) dan telah berhasil sampai di titik bab tersebut.

Melahirkannya, bermakna Mijilake/Melahirkan cahaya itu, keluar dari dalam jasad kita sendiri dan kita akan dapat merasakannya, dengannya akan lahirnya cahaya itu. (Ini perkara benar yang tidak dapat dinafikan oleh mereka-mereka yang telah di bukakan Diri mereka itu)

Apabila terbuka Diri sebenar-nya Diri ini, maka akan ternyatalah-terbuktilah, akan rahasia-rahasia Dia dan dia lah, yang akan kita utamakan dalam segala tindakan dan semua perbuatan, dia tahu karena dia datang dari yang Maha Tahu, Dia kuat karena Dia datang dari yang Maha Kuat, Beriman dengan Iman yang tidak Goyah, BEBAS TETAPI TIDAK LEPAS. Itulah Mardika/Mardiko/Merdeka.
Quludz (5)
MENGENAL DIRI. BERATI MENGENAL HYANG MAHA SUCI HIDUP/ALLAH;
Untuk memahami dan mendalami Ilmu pengetahuan ini, harus lah berguru/belajar pada yang sudah pernah belajar dan sudah berhasil mempelajarinya, jika tidak, mana mungkin bisa, dan diatas tadi, saya menerangkan nya secara kasar, blak kotak tanpa tedeng aling-aling, dan tujuan saya adalah, untuk mengaitkan Rasa Asah Asih Asuh sebagai sesama Hidup, bukan sebatas sebagai sesama Putera Rama, bahwasannya, ilmu pelajaran ini, adalah satu-satunya ilmu pengetahuan, yang wajib dan perlu harus di ketahui dan di kaji, untuk memperkuatkan iman/laku kita, dan juga dapat mengelakkan kita dari, terjerumus kedalam kesesatan iman/laku serta dapat meletakan Hyang Maha Suci Hidup, kedalam segala tindak tanduk kita sehari-hari. Dan ini lah salah satu jalan termudah dan menjamin bisa untuk mendapatkan Ridha Hyang Maha Suci Hidup/ALLAH.

Disamping itu, dengan mengetahui dan mengenal “DIRI” kita juga boleh mempergunakan akan kelebihannya, yang ada pada diri kita ini, untuk bermacam-macam tujuan dalam mengharungi bahtera kehidupan di dunia yang penuh dengan ujian dan dugaan ini. Memperkuatkan ketabahan kita dalam kehidupan ini, apapun yang terjadi.

VTS_01_1 126

VTS_01_1 126


Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku sekalian. Ketahuilah….
Pintu Guru Sejati itu. Tersembunyi;
Inilah sesuatu pasal yang menyatakan pintu guru sejati itu, tersembunyi, yang tiada diajarkan kepada orang-orang yang belum belajar tentang Ilmu Tauhid atau Sifat 20 (dua puluh). Sebab, perihal ini, berisi ilmu-ilmu khusus pelajaran mengenal diri atau tata cara mengenal Hyang Maha Suci Hidup/Allah pencipta Alam dan segala isinya. Tujuannya, supaya sempurna segala amal ibadahnya. Maksudnya, tidak melangkahi kodrat dan irodatnya sebagai manusia wajar. Tentangnya, mari kita simak bersama, saya akan mewedarnya dengan terbuka, blak kotak tanpa tedeng aling-aling apapun.

Di dalam tulang kepala itu, Otak.
Di dalam Otak itu, Ma’al Hayat atau Air Hidup.
Di dalam Ma’al Hayat itu, Akal.
Di dalam Akal itu, Budi.
Di dalam Budi itu, Roh.
Di dalam Roh itu, Mani.
Di dalam Mani itu, Rasa.
Di dalam Rasa itu, Nikmat/Tenteram.
Di dalam Nikmat itu, Nur Muhammad/Hidup.
Di dalam Nur Muhammad itu, Hyang Maha Suci Hidup/Allah.

Firman Allah “AWWALU TAJLI ZATTULLAH TA’ALA BISIFATIHI
Artinya : Mula-mula timbul Zat Allah Ta’ala kepada Sifatnya

AWWALU TAJLI SIFATULLAH TA’ALA BIASMA IHI
Artinya : Mula-mula timbul Sifat Allah Ta’ala kepada namanya

AWWALU TAJLI ASMADULLAHI TA’ALA BIAP ALIHI
Artinya : Mula-mula timbul nama Allah ta’ala kepada perbuatannya

AWWALU TAJLI AF ALULLAHI TA’ALA BIINSAN KAMILUM BIASMAI.
Artinya : Mula-mula timbul perbuatan Allah Ta’ala kepada Insan yang Kamil yakni Muhammad RasulNya

QOLAH NABIYI SAW : “AWALUMAA KHALAKALLAHU TA’ALA NURI”
Artinya : Berkata Nabi SAW, yang mula-mula dijadikan Allah Ta’ala Cahayaku, baru Cahaya sekalian Alam

QALAN NABIYI SAW : “AWWALU MAA KHALAKALLAHUTA’ALA RUHI”
Artinya : Yang mula-mula dijadikan Allah Ta’ala Rohku, baharu roh sekalian alam

QOLAN NABIYI SAW : “AWWALU MAA KHALAKALAHU TA’ALA QOBLI”
Artinya : Yang mula-mula dijadikan Allah Ta’ala Hatiku, bahru hati sekalian alam

QOLAN NABIYI SAW : “AWWALU MAA KHALAKALLAHUTA’ALA AKLI”
Artinya : Yang mula-mula dijadikan Allah Ta’ala Akalku, baharu akal sekalian alam

QOLAN NABIYI SAW : “ANA MINNURILAHI WA ANA MINNURIL ALAM”
Artinya : Aku cahaya Allah dan Aku juga menerangi Alam

HADIST : “AWALUDDIN MA’RIFATULLAH”
Artinya : Awal-awal agama adalah mengenal Allah

Sebelum mengenal Allah terlebih dahulu kita disuruh mengenal diri, seperti Hadist : “MAN’ARA PANAP SAHU PADAD’ARA PARABBAHU”
Artinya : Barang siapa mengenal dirinya, mengenal ia akan Tuhannya

“MAN ‘ARA PANAPSAHU PAKD’RA PARABBAHU LAYA RIPU NAPSAHU”
Artinya : Barang siapa mengenal Tuhannya, niscaya tiada dikenalnya lagi dirinya

“MAN ‘ARA PANAPSAHU BILFANA PAKAD’ARA PARABBAHU BIL BAQA”
Artinya : Maka barang siapa mengenal dirinya binasa, niscaya dikenalnya Tuhannya kekal

“KHALAK TUKA YA MUHAMMAD WAKHALAK TUKA ASY YA ILA ZALIK”
Artinya : Aku jadikan Engkau karena Aku dan Aku jadikan Alam dengan segala isinya karena Engkau Ya Muhammad

Firman Allah : “AL INSAN SIRRU WA ANA SIRRUHU”
Artinya : Insan itu RahasiakKu dan Aku Rahasia Insan

“WA AMBATNAL ABRU RABBUN AU ZAHIRU RABBUN ABBUN”
Artinya : Adapun bathin hamba itu Tuhan dan Zahir dan Tuhan itu hamba

“LAHIN HUWA WALAHIN GHAIRUH”
Artinya : Tiada ia tetap dan tiada ia lain dari ia

Firman Allah Ta’ala didalam Al-quran : “FAHUWA MA’AKUM AINAMA KUNTUM”
Artinya : Di mana saja Engkau berada (pergi) Aku serta kamu

“HUWAL AWWALU WAL AKHIRU WALBATHINU WAZZAHIRU”
Artinya : Ia jua Tuhan yang awal tiada permulaannya, dan Ia jua Tuhan yang akhir tiada kesesudahannya, Ia jua bathin dan Ia jua Zahir

Dalam pandangan Ma’rifat kita kepada Zat Allah Ta’ala itu, “LAISA KAMIS LIHI SYAIUN” tiada seumpamanya bagi sesuatu, dan bukan bertempat.

Adapun Ma’rifat kita atau pengenalan kita akan diri diperikan AF ‘ALULLAH, adapun Ma’rifat kita akan AF ‘ALULLAH, LAHAU LAWALA KUWWATA ILLAH BILLAHHIL’ALI YIL’AZIM. Artinya : Datang daripada Allah dan kembalinya kepada Allah jua segala sesuatu, sesuai dengan hadist Nabi yang berbunyi demikian : “MUTU ANTAL KABLAL MAUTU”. Artinya : Matikan diri kamu sebelum mati kamu.

Adapun mati ini ada dua ma’na, maka apa bila Roh bercerai dengan jasad itu mati hisi namanya, atau mati yang sebenarnya. Adapun mati yang dimaksud hadis Nabi yang di atas tadi, adalah mati Ma’nawi, artinya mati dalam pengenalan mata hati.

Mahasuci Allah Subhanahu wata’ala Tuhan Rabbil’izzati dari upayamu, wujudmu, supaya Aku terang sempurna, upaya Allah dan kuat Allah, dan wujudnya Allah “BILLAHI LAYARILLAH” tiada yang mempunyai dan menyembah Allah hanya Allah.

Bagitu sekalian Aribbillah mengerjakan ibadat kepada Allah Ta’ala. Adapun yang bernama Rahasia itu “Sirrullah”.

Adapun kita bertubuh akan Muhammad Bathin dan Zahir bertubuh akan Roh. Adapun jadi nyawa itu bertubuh kanan Idhafi Kadim (terdahulu), maka tiada lagi kita kenang tubuh dan zahir dan bathin itu, akan bernama Rahasia Ia Allah, Sir namanya kepada kita, karena rahasia itu Nur. Adapun sebenar-benarnya Sifatullahita’ala kepada kita inilah RahasiaNya yang dibicarakan Rahasia yang sebenarnya RahasiaNya yang kita ketahui.

Adapun jalan hakikat yang sebenarnya yang mengata Allahu Akbar waktu kita sembahyang itu, ialah Zat, Sifat, Asma, Af’al, Kudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, itu nama Rahasia Allah Ta’ala namanya kepada kita, itulah yang mengata Allahu Akbar tiada hati lagi, karena yang bernama Zat, Sifat, Asma, Af’al, Kudrat Iradat, Ilmu, Hayat itu nama Rahasia Allah Ta’ala namanya kepada kita.

Batin dan zahir kita akan memerintah diri, adapun diri kita tadi ialah Roh. Roh tadilah yang menerima perintah rahasia, maka berlakulah berbagai-bagai bunyi dan kelakuan di dalam sembahyang. Semua itu adalah perintah rahasia, maka perintah rahasia inilah Sirrullah. Karena Rahasia inilah kita dapat melihat Allah dan menyembah Allah serta hidup berbagai-bagai, itulah rahasia Allah kepada kita.

Firman Allah “MAN ‘ARA PANAPSAHU PAKAD’ARA PARABBAHU”
Artinya : Maka barang siapa mengenal dirinya, mengenal ia akan Tuhannya.

Maka mengetahui ia akan asal Nabi Allah Adam, nasarnya Air, Api, Angin, Tanah. Empat inilah yang dijadikan Allah, maka turun kepada kita seperti Firman Allah Ta’ala, kita disuruh mengetahui :
Adapun tanah itu Tubuh kita?
Adapun Api itu Darah kita?
Adapun Air itu Air Liur kita?
Adapun Angin itu Nafas kita?

Maka berdiri syari’at, adapun kejadian air itu Tarikat, kejadian api itu Hakikat, dan kejadian Angin itu Ma’rifat. Baginilah kita atau cara kita mengenal diri namanya.

Adapun tatkala kita tidur itu, adalah perintah Rahasia Allah, maka dari itu janganlah lagi kita kenang dan janganlah kita berkehendak atau panjang angan-angan dan jangan lagi diingat diri kita ini, karena tiada hayat lagi di waktu kita tidur itu, itu adalah Rahasia Allah.

Adapun perintah segala hati pada tengah-tengah hati berbagai bagai, adapun tempat rahasia itu di dalam jantung. Maka jikalau tiada rahasia Allah itu, tiadalah bathin dan zahir ini berkehendak, karena pada hakekatnya rahasia Allah itulah menjadi kehendak segala manusia dan binatang. Akan tetapi awas, jagalah hukum syara’ (syari’at) yang difardhukan pada kita, maka dari tiliklah dan perhatikan bersunguh-sungguh perkara yang tersebut di atas.

Maka barang siapa menilik sesuatu tiada melihat ia akan Allah di dalamnya, maka tiliknya itu batil atau syirik, karena ia tiada melihat akan Allah Ta’ala.

Berkata Saidina Abu Bakar Siddik r.a :
Artinya : Tiada aku melihat akan sesuatu melainkan Allah, yang aku lihat Allah Ta’ala terlebih dahulu.

Kata Umar Ibnu Khattab r.a :
“MAA RAAITU SYAIAN ILLA WARAAITULLAHU MA’AHU”
Artinya : Tiada aku lihat sesuatu melainkan aku lihat Allah kemudiannya.

Kata Usman Ibnu Affan r.a :
Artinya : Tiada aku melihat sesuatu melainkan yang aku lihat Allah besertanya.

Kata Ali Ibnu Abi Talib r.a :
Artinya : Tiada Ku lihat sesuatu kecuali Allah yang kulihat di dalamnya.

Maka perkataan para sahabat itu agar berbeda, akan tetapi maknanya bersamaan.

Firman Allah di dalam Al-Quraan yang berbunyi :
“WAHUWA MAAKU AINAMA KUNTUM”
Artinya : Ada hak Tuhan kamu

Firman Allah Ta’ala :
“WAHI AMPUSIKUM APALA TUBSIRUN”
Artinya : Ada Tuhan kamu di dalam diri kamu, mengapa tidakkah kamu lihat akan Aku kata Allah, padalah Aku terlebih hampir dari padamu matamu yang putih dengan hitamnya, terlebih hampir lagi Aku dengan kamu.

Kemudian dari itu hendaklah kita ketahui benar-benar akan diri ini mengapa kita ini menjadi hidup, melihat, mendengar, berkata-kata, kuasa memilih baik dan jahat, cuba renungkan sejenak, siapakah yang berbuat di balik kekuasaan kita ini. Maka di sini kita kembalikan saja kepada pasal rahasia yang telah lalu, sebutannya pasti kita bertemu dengan Allah atau Mi’raj dengan Dia.

Maka barang siapa tiada mengetahui perkara ini, tiada sempurna hidupnya dunia dan akhirat dan jikalau dia beramal apa saja semua amalannya itu syirik, maka dari itu hendaklah kita ketahui benar-benar apa asalnya yang menjadi nyawa dan roh itu. Yang menjadi Nyawa dan Roh itu ialah ZADTULLAHITA’ALA daripada Ilmunya dan Roh sekalian alam.

Seperti sabda nabi kita “ANA ABUL BASYARI”
Artinya : Aku Bapak segala Roh dan Bapak segala Tubuh

Bermula sebenarnya Roh, tatkala di dalam tubuh, Nyawa namanya, tatkala ia berkehendak, Hati namanya, tatkala ia kuasa memperbuat, Akal namanya, maka kesemuanya itu adalah Rahasia Allah Ta’ala kepada kita. Maka barang siapa tiada tahu perjalanan ini, maka tiada sempurna hidupnya dunia dan akhirat.

Hidup ada nyawa itulah Muhammad dinamai akan dia bayang-bayang Ianya yang empunya bayang-bayang dan Idhofi, akan tetapi daripada Nur jua, karena tiada diterima oleh akal kalau bayang-bayang itu maujud sendirinya, kalau ada yang empunya bayang-bayang ialah Allah Ta’ala sendirinya.

Demi Allah dan Rasulullah Islam dan Kafir, jikalau tiada tahu atau tiada percaya akan kejadian Nur itu perjalanan Roh, maka menjadi kafir lagi munafik. Karena apabila tiada tahu mengenal diri dan tiada tahu/tiada dapat membedakan antara Khalik dan Makhluk, maka amalan orang tersebut itu Syirik.

Peganglah nasihat seorang Al Arifbillah yang berbunyi demikian :
“LATUHADDISUN NAASIBIMA LAMTUSLIHU AKWALAHUM ATURIDDUN AYYUKAZ ZIBULLAHAWARASULIH”
Artinya : Jangan kamu ajarkan akan manusia, akan ilmu yang tiada sampai akal mereka itu, adalah kamu itu nanti didustakannya oleh mereka itu Allah dan Rasulnya, maka orang itu kafir.

Jadi garis besarnya, apabila seseorang umpamanya, belum pernah belajar dan mempelajari Ilmu Usuluddin atau Sifat `20 (dua puluh) tidak boleh diajarkan Ilmu Rahasia yang tersebut diatas tadi. Tapi dengan Wahyu Panca Gha’ib. Bisa dan Boleh, tinggal tau caranya apa tidak… itu saja. He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh kinasih saya, yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Pamrih saya berharap POSTINGAN SAYA KALI INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup nya siapapun yang membacanya.
*Matur Nuwun ROMO….._/\_…..Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

ILMU PENGERTIAN TENTANG DOSA DAN KARMA:


Wong Edan Bagu.03
ILMU PENGERTIAN TENTANG DOSA DAN KARMA:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Jumat Pahing. tgl 04. Desember. Tahun 2015

Berhubung masih banyak diantara saudara-saudariku yang ingin memahami bab Karma dan Dosa, maka, pada kesempatan kali ini, saya akan mengulasnya lebih detil lagi, lebih rinci lagi, dan kali ini, saya percaya, bisa lebih mudah untuk di pahami, Saudara-saudariku sekalian, Semua orang Beragama mengenal dan mengakui dosa, Tetapi sebagian besar mereka tidak mempercayai akan adanya karma. Pada tulisan kali ini, saya akan menjelaskan mengenai dosa dan karma.

Saya beragama Islam,,,,
Apa iya pak WEB ?
Huss…. diem, la wong buktinya KTP saya, bagian Agamanya di Tulis Islam kok,,,, ga usah protes. Tak lanjutin dulu ya… He he he . . . Edan Tenan.

Sehingga artikel saya ini akan lebih banyak didasari oleh iman saya. Namun saya yakin, bahwa pada hakekatnya, iman berlaku universal, hanya sedikit perbedaan yang kadang kala terlalu dibesar – besarkan oleh para pemuka rohani.

Contohnya, iman Kristiani, percaya bahwa satu-satunya jalan keselamatan dari dosa adalah melalui Yesus Kristus, sementara umat Islam percaya bahwa satu-satunya jalan keselamatan adalah melalui Nabi Muhammad SAW.

Selain hal yang pokok itu, kebanyakan ajaran kedua agama itu sama (walaupun ada beberapa yang bertentangan). Jika bertanya mana yang benar, maka kita akan berputar-putar di pertanyaan ayam dan telur. Dan saya rasa tidak akan ada gunanya bagi kita semua, malahan, kebencian yang akan muncul. Bukankah lebih baik mempelajari mengenai dosa yang kita percayai bersama ?

Dan juga karma. Meskipun dalam kekristenan dan keislaman tidak mengenal karma, hanya mengenal hukum menabur dan menuai. Bagi saya, kedua istilah ini berarti sama, hanya berbeda huruf dan kata saja. Itu yang penting ! Alangkah indahnya hidup ini, jika kita semua berusaha untuk mencari kesamaan daripada mencari perbedaan yang menimbulka kehancuran…!!!

PENGERTIAN DOSA;
Dalam iman Islam/Kristen, dosa mempunyai 11 arti, namun lebih banyak orang yang menyederhanakan pengertian dosa menjadi empat saja.

Pertama, dosa adalah Hamartia. Artinya tidak mengenai sasaran, alias meleset.
Kedua, dosa adalah Parabasis. Artinya berjalan melewati batas yang sudah ditentukan.
Ketiga, Adikia, artinya perbuatan yang tidak benar atau kecenderungan untuk berbuat jahat. Keempat, Pesya. Artinya melawan memberontak, atau menantang.

Secara singkat, dosa adalah perbuatan yang dilarang Tuhan/Allah. Ngomong – ngomong tentang dosa, saya jadi teringat mengenai humor mengenai dosa ini. “Sebutkan dosa yang dibenci dan dikutuk setan !” wahahaha….lucu dan aneh kan ? Mana ada dosa yang dikutuki oleh setan ? Justru tujuan setan itu membawa manusia kepada dosa…eh….kok dia sendiri nyumpahin jenis dosa ini ? (jawabannya di bagian bawah yaa! Sementara ini lanjut ke topik dulu !) He he he . . . Edan Tenan.

Ajaran utama iman Islam dan Kristiani adalah keselamatan dari dosa (Syafa’at bagi Islamnya). Dosa itu, satu-satunya perbuatan yang menjauhkan mereka dari Tuhan dan satu-satunya jalan selamat dari hukum dosa adalah percaya kepada Yesus sebagai jalan, kebenaran dan kehidupan kekal. Hanya Yesus saja yang bisa mengampuni dosa !

Untuk Islamnya, adalah iman kepada Nabi Muhammad saw, dan menjalankan ajaran-ajarannya sebagai Firman Allah, sebagai jalan, kebenaran dan kehidupan yang di Ridhoi ALLAH. Hanya Muhammad saja yang bisa memberikan syafaat tentang ini !

Dan tidak ada dosa yang tidak dapat diampuni oleh Yesus Kristus ini. Begitupun bagi ALLAH yang diajarkan oleh Muhammad saw.

Nah… kemudahan inilah yang sering disalah artikan oleh kebanyakan anak/hamba Tuhan/Allah. Mereka pikir dengan mengakui dosa-dosanya kepada Tuhan Yesus, maka dosa tersebut akan diampuni !!!. Mereka pikir dengan mengakui dosa-dosanya kepada Allah lalu bertaubat, maka dosa tersebut akan diampuni !

Memang betul dosa mereka diampuni, karena Tuhan sendiri yang membela mereka di hadapan Allah Bapa. Memang betul dosa mereka diampuni, karena Allah itu Maha Pengampun dosa… Hanya saja….mereka lupa kalau akibat dari dosanya tetap ada !

Mereka percaya akan pengampunan, belas kasihan, dan kesabaran Tuhan/Allah. (Saya juga percaya) Mereka lupa akan keadilan, kebenaran, dan hukum tabur-tuai (Saya tidak lupa!) He he he . . . Edan Tenan. Iya apa iya? Hayo?

Masih ingatkah kita dengan cerita perselingkuhan Raja Daud dengan Betsyeba ?
Daud berdosa di hadapan Tuhan, dan kemudian disadarkan oleh Natan akan kejahatannya di mata Allah. Setelah itu Daud bertobat, mengaku dosa, merendahkan diri, dan berpuasa atas tindakannya yang keji itu. Tuhan/Allah mendengar dan mengampuni dosa Daud, tetapi akibat dari dosanya tidak dihilangkan olehNya. Anak yang dikandung Betsyeba mati….beberapa tahun kemudian, kerajaannya pecah ! Namun Tuhan/Allah juga mengkaruniakan Salomo kepada Daud !

JADI, jika akibat dosa Daud tidak diampuni oleh Tuhan… Apakah Anda ataupun saya yang dibandingkan Daud tidak ada apa-apanya ini, bisa berpikir kalau akibat dosa kita akan dihilangkan ? Jangan bermimpi ! Kasarnya….jangan sesat ! Bahasa jawanya…ojok ngawur Rek…! He he he . . . Edan Tenan.

Jika Anda percaya kepada Yesus sebagai juru selamat pribadi Anda, jangan lupa juga untuk percaya kepada ajaran Yesus mengenai Hukum menabur dan Menuai…!!!

Jika Anda percaya kepada Muhammad sebagai pembawa syafa’at iman Anda, jangan lupa juga untuk percaya kepada ajaran Muhammad mengenai Hukum menabur dan Menuai…!!!

Apa yang kita tabur itulah yang akan kita tuai. Jika kebaikan yang kita tabur, maka kebaikan juga yang akan kita tuai, sebaliknya, jika kejahatan yang kita tabur, maka kejahatan pula yang akan kita tuai. Sekalipun ada Yesus di samping kita / Sekalipun ada Muhammad di depan kita, kagak bakalan mungkin deh,,, menabur kejahatan akan menghasilkan kebaikan. Buktikan saja jika tidak percaya… He he he . . . Edan Tenan.

Doa sampe ngeseng (ngengek) pun gak bakalan terjadi ! Kalo sampe terjadi, berarti Yesus/Muhammad sekarang sudah berubah, alias tidak sama dengan Yesus/Muhammad tempo dulu, Ini Yesus/Muhammad, pagi tahu sore tempe (isuk tahu sore tempe alias mencla-mencle). Jadi apakah Anda masih percaya bahwa dosa Anda diampuni ? Harus percaya !

Terus apakah anda masih percaya bahwa akibat dosa anda akan dihapuskan ? Ini keputusan anda…saya tidak akan menentang hukum tabur dan tuai ini ! Silahkan Laku sendiri…

Silahkan Cari sendiri dan silahkan berspiritual sendiri. Karena untuk hal yang satu ini, Anda harus tau sendiri… Tidak boleh katanya Pendeta atau Ustadz kiyai juga kitab. Apa lagi katanya Wong Edan Bagu…. He he he . . . Edan Tenan.

Apakah Hukum menabur dan menuai ini mempunyai arti yang sama dengan karma ? Pada intinya memang sama, tetapi tidak sama persis. Marilah kita sama – sama mencari pengertian tentang karma.

PENGERTIAN KARMA:
Karma berasal dari bahasa Sansekerta, artinya perbuatan, tindakan, aksi, kinerja. Karma ini mendasari ajaran agama Hindu dan Budha serta Kejawen asli/kuno. Secara umum kita mengenal hukum karma dengan hukum sebab-akibat atau hukum aksi-reaksi. Apa yang kita alami saat ini, adalah akibat perbuatan kita di masa lalu. Sedangkan perbuatan yang kita lakukan saat ini, akan menentukan nasib kita di masa depan. Jika nasib kita jelek terus alias apes, maka itu akibat kelakuan kita yang jahat di masa lalu kita.

Nah, saat ini kita mempunyai pilihan untuk menentukan masa depan kita. Mau menjadi lebih baik atau tambah parah ? Jika kejadian – kejadian buruk yang menimpa kita saat ini membuat kita mendekat kepada sang pencipta, maka kita bisa mengharapkan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Sebaliknya, jika kita mengutuki nasib kita, maka di kehidupan setelah ini, kita bakalan menjadi sapi kek….babi kek..anjing kek…atau bahkan kacoa. Wahahaha… Edan Tenan.

KARMA DAN TABUR TUAI:
Karma itu bersifat kekal alias tidak bisa mati. Sekalipun manusianya sudah mati, maka karma akan tetap hidup berlanjut ke keturunan-keturunan berikutnya, bila terbayar/selesai. Jika berdasarkan hukum karma, maka,,, Wong Edan Bagu yang saat ini hidup apa adanya, tidak suka neko-neko, Senang bersaudara dengan siapapun tanpa terkecuali, berjalan sesuai kodrat dan irodzatnya, di kehidupan sebelumnya, adalah, orang baik yang suka menolong, mengorbankan hidupnya demi orang lain, mencintai orang tua, dan taat kepada perintah sang Pencipta. Makanya hidupnya saat ini apa adanya, bukan karena ada apa-apanya, suka pacaran dan bermesrahan dengan Hyang Maha Suci Hidup, penuh damai dan ketenangan kasih sayang tanpa pandang bulu dan punya banyak anak angkat yang lucu-lucu…. He he he . . . Edan Tenan. Segoro sopo singuyahe rek, nek ga asin dewe… Wahahaha.

Selidik punya selidik,,,Secara garis besar, konsep karma dalam agama Hindu/Budha/Kejawen ini, hampir sama dengan konsep hukum menabur dan menuai dalam agama Islam/Kristen/Katolik. Yaitu apa yang kita lakukan ada ganjarannya/pahalanya !

Jika perbuatan kita baik maka kita akan menuai kebaikan juga, sebaliknya jika menabur kejahatan akan mendapatkan karma jelek pula. Perbedaanya adalah konsep waktu ! Hukum menabur dan menuai tidak mengenal kehidupan masa lalu dan kehidupan sesudah kematian. Jangan salah tangkap dan jangan senang dulu karena akibat perbuatan kita akan jatuh kepada keturunan kita selanjutnya. Bisa anak-anak kita, bisa cucu kita, atau bisa cicit kita. Sedangkan hukum karma, terbatas hanya kepada diri kita saja. Kalau tidak saat ini, berarti akan kita alami pada kehidupan mendatang. Karma dan Hukum tabur-tuai akan mengejar kita kemanapun kita lari ! Karena itu berhati-hatilah ketika berbicara, bertindak, dan bekerja ! Terutama BerTuhan…!!!

DOSA DAN KARMA:
Dosa bisa diampuni dan disucikan, karena itulah kita percaya kepada Tuhan Yesus, Nabi Muhammad, Sang Budha, dan Sang Pencipta. Bagaimana dengan Karma ? Maaf Saudara-saudariku….karma tidak bisa dihilangkan. Dosa itu urusan kita dengan Allah. Tuhan semesta alam, sedangkan karma adalah buah dari dosa itu tadi. Inti permasalahannya, sudah dilupakan oleh Tuhan, tetapi akibatnya, masih harus kita tanggung !

Masalahnya, siapa yang bakalan kena apesnya ?
Kita sendiri ? Bersyukurlah karena itu memang akibat yang harus kita terima.
Anak-anak kita ? Jangan sampai terjadi ! Karena mereka tidak bersalah dan tidak melakukan apa – apa !

Karena itu… Segera intropeksi diri anda !
Ingatlah omongan dari Leluhur saya… Sri Baduga Eyang Prabu Siliwangi, Raja Agung Pajajaran Tataran Tanah Pasundan… yang meringkas bagaimana cara kita hidup di dunia ini:

(“Cobalah untuk berpikir bolak – balik ! Kalau kita tidak suka menerima perlakuan buruk dari orang lain, maka jangan melakukan tindakan keji tersebut terhadap orang lain. Filternya adalah diri kita sendiri. Kamu mau diperlakukan seperti bagaimana ? Maka perlakukan itu juga kepada orang lain ! Kalo kamu suka, orang lain juga suka. Kalau kamu tidak suka, masuk akalkah mengharapkan orang lain suka ? “) Monggo… Silahkan… Dipikir dengan Nalar yang menurut Anda Bukan Tahayul.

PERSEPSI, SEBUAH PILIHAN BERPIKIR POSITIF ATAU NEGATIF:
Ketika berbicara dengan seseorang kita selalu menganalisa tiap kata-katanya, sikapnya, tingkah lakunya dan mengamati ekspresi wajahnya. Hasilnya adalah sebuah persepsi mengenai orang tersebut. Jika ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan pola pikir kita, maka persepsi kita mengenainya menjadi negatif. Sebaliknya jika kita menyukai idealismenya maka persepsi kita akan akan muncul adalah positif. Menurut pengertian saya, persepsi adalah hasil analisa kita mengenai seseorang (atau suatu benda). Sedangkan menurut Kamus Internet (Wikipedia).

“ Persepsi adalah sebuah proses saat individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka, guna memberikan arti bagi lingkungan mereka. Perilaku individu seringkali didasarkan pada persepsi mereka, tentang kenyataan, bukan pada kenyataan itu sendiri “

Piramida Persepsi Wong Edan Bagu;
Jadi,,, pada intinya persepsi adalah sebuah penilaian kita, tentang seseorang atau sesuatu. Artinya, sebuah persepsi adalah sebuah hasil pemikiran kita.

CONTOH;
Apa yang anda pikirkan ketika melihat seorang pria berambut gondrong dan bertato ? Hmm….pasti orang itu preman, raja tega, kejam, ringan tangan (suka mukul), dan tidak bisa diatur. Apalagi jika suaranya berat dan brewok…iih… tambah sangar.

Kalo penilaian saya, terhadap orang gondrong tadi, bertolak belakang terhadap penilaian Saudara-saudari. Orang gondrong itu, jenis orang yang lembut, telaten, dan mandiri, karena susah sekali untuk merawat rambut panjang. Paling tidak dua hari sekali harus keramas, dan berambut panjang itu panas loh ! Sedangkan mengenai tatonya, si gondrong tersebut artistik alias seorang seniman. Mengapa ? Karena tidak gampang memilih tato yang akan dibawa seumur hidupnya. Saya tanya kepada Saudara-saudariku, “Gambar tato apa yang akan anda pilih untuk dipasang di tubuh anda ? Dan akan anda taruh di bagian tubuh mana ?” Saya mungkin akan memilih gambar Love dan saya taruh di tangan kanan saya. Artinya tangan ini harus selalu digunakan untuk mencintai sesama manusia…sip kaaan….(Tapi saya gak akan melakukannya) Teman saya malah mentato nama cina-nya di perutnya….cieee…ileeeh….. He he he . . . Edan Tenan… SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh kinasihku, yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Pamrih saya berharap POSTINGAN SAYA KALI INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup nya siapapun yang membacanya.
*Matur Nuwun ROMO….._/\_…..Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Cara Untuk Membedakan Suara Hati. Dengan Wahyu Panca Gha’ib:


Foto-0028
Cara Untuk Membedakan Suara Hati.
Dengan Wahyu Panca Gha’ib.
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa Dwipa. Hari Rabu. tgl 02. Desember, Tahun 2015

Manusia terlahir ke alam dunia ini dibekali dengan ‘hati’. Hati yang dimaksud disini bukanlah hati yang sesungguhnya, melainkan abstrak. Di hati inilah kita sering merasakan sakit, sedih, gembira maupun senang dll. Semuanya bisa dirasakan dalam hati. Tapi hati yang ada di setiap umat manusia itu, bisa berbicara dan bercakap-cakap dengan diri kita sendiri. Untuk bisa memahami suara hati tersebut, perlu kiranya kita mengetahui ciri-ciri suara hati (hati nurani) yang merupakan suara GUSTI ALLAH lewat GURU Sejati kita.

Hati manusia itu terbagi menjadi dua, yaitu:
– hati besar/perasa’an.
– hati kecil/Rasa.

1. HATI BESAR;
Bisa bersuara dan mengatakan sesuatu kepada kita, tetapi suara-suara itu selalu berkata bohong. Contohnya, ketika kita sering semedi ataupun shalat, hati besar kadang-kala mengatakan,”Ibadahmu luar biasa! Tidak ada orang yang semedi-nya ataupun shalatnya seperti kamu”. Bahkan kadangkala hati besar juga menyuruh untuk menipu, mencuri, emosi dan memaki-maki atau menfitnah orang, membunuh dan lain-lain.

Sering kita mendengar berita, ada seseorang yang mendengar suara, untuk membunuh anak maupun suami/istrinya, agar kesulitan ekonomi yang melilit, segera dapat teratasi. Tragisnya, suara itu malah dianggap sebagai wangsit atau suara ghaib dari GUSTI ALLAH. Hal itu jelas keliru. Karena hati besar senantiasa berkata bohong dan menghasut. Siapa penguasa hati besar? Sedulur papat atau angan-angan, budi, pakarti dan panca indera, itulah yang menguasai hati besar kita. Sedulur papat atau angan-angan, budi, pakarti dan panca indera kita itu, jika belum kenal dan menjadi sahabat kita, bukan sedulur, tapi Setan atau Iblis. Bagaimana tidak setan, la sukanya nyetani jeh. Bagaimana bukan iblis, la senangnya mbulsitin jeh. He he he . . . Edan Tenan.

Di Al-Qur’an disebutkan, bahwa Iblis dan setan itu diberi kesempatan oleh GUSTI ALLAH untuk menggoda iman manusia, hingga terjerumus ke tempat yang nista. Di tempat itulah kita tinggal menyesali diri. Contohnya, setelah seseorang itu sudah melakukan pembunuhan gara-gara mengikuti perkata’an hati besarnya, maka setan dan iblis pun akan tertawa terbahak-bahak penuh sukacita. Sementara seseorang itu, tinggal menyesali diri di balik terali besi.

2. HATI KECIL;
Sementara hati kecil juga bisa bersuara dan mengatakan sesuatu kepada kita. Dan suara-suara yang muncul dari hati kecil, selalu berkata jujur dan tidak pernah bohong. Hati kecil juga biasa disebut-sebut sebagai hati nurani. Di hati nurani tiap manusia inilah, GUSTI ALLAH lewat GURU Sejati bersemayam. Ketika berbuat salah, hati kecil senantiasa menegur apa yang telah kita lakukan.

Lewat hati kecil inilah, manusia tahu apa yang bakal terjadi pada dirinya.
Lho, darimana kok bisa tahu apa yang bakal terjadi? Ya tentu saja dari GUSTI ALLAH yang menginformasikan pada GURU Sejati dan meneruskan pada kita. Ambil contoh, pernahkah Anda naik motor? Ketika menaiki motor tersebut, Anda merasakan bahwa motor yang Anda tumpangi akan bocor. Suara di hati Anda begitu kuatnya mengatakan bahwa ban motor akan bocor, sehingga ban motor tersebut akhirnya bocor sungguhan.

Suara hati kecil inilah yang seharusnya kita dengar. Tetapi kadangkala hati besar senantiasa mengganggu kita, untuk berbincang-bincang dengan hati kecil. Bahkan sering hati besar menyaru-nyaru dengan berkata lebih bijaksana, sehingga kita pun percaya bahwa suara yang kita dengar itu, adalah dari hati kecil, hati nurani, hati kecil saya berbicara, sunggu iyong ilope yu ambe roka,,, mbel gedes, bulsit. He he he . . . Edan Tenan.

Untuk bisa melatih agar lebih mendengar suara hati kecil tersebut, hendaknya kita membiasakan untuk berdiam diri dulu sejenak, sebelum Patrap Semedi, merenung dan merenungi angan-angan, budi, pakarti dan panca indera kita, ajak mereka untuk Kadhangan, bercengkrama dengan kasih. Nah… disa’at kadhangan dengan angan-angan, budi, pakarti dan panca indera kita inilah. akan muncul suara baik dari hati besar maupun hati kecil, yang sangat bertolak belakang. Dan, dari suara dan tutur katanya itulah, kita bisa mengetahui cara, untuk membedakan, mana suara hati besar dan mana suara hati kecil, dan kita bisa memilihnya, mana yang mau dan akan di gunakan. Setelah kita menggunakan Hati Kecil, maka hati besar akan tunduk dan mengakui kita sebagai sedulur/saudara, mereka akan berkumpul bersatu, menyatu, menjadi satu kesatuan yang sulit terpisahkan, jika cara ini selalu dan sering di gunakan, kalau hanya sekali dua kali, ya mereka kumat lagi, kambuh lagi, mbedal lagi, semrawut lagi.

Setelah mereka kumpul ngariyung bersama kita, lalu Palungguh, biyar manunggal dengan kita, tidak pada bubar lagi, setelah itu, baru Patrap Kunci. Paweling. Asmo. Mijil, lalu semedi mencari Rasa Enak, dengan cara fokus pada apapun yang menjadi proses semedinya. Res beres tak’iye,,, setelah berhasil mendapatkan Rasa Enak. Lalu nikmati endingnya, merasa cukup. Palungguh lagi sebagai penutupnya, biyar Rasa Enak hasil Laku Wahyu Panca Gha’ib itu, bisa terpegang dan terbawa dalam semua dan segala aktifitas kita, tidak mencelat lagi, tidak barlen, angger wes bubar ya kelalen… He he he . . . Edan Tena.

Oleh karena itu, sangatlah hebat sabda dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa Jihad (perang) yang besar adalah jihad melawan hawa nafsu. Sedangkan hawa nafsu itu, tempatnya ada di hati besar. Jika sudah bisa menundukkan hati besar tersebut, maka kita akan lebih mudah untuk mendengarkan hati kecil dan selalu dapat berkomunikasi dengan GUSTI ALLAH. Karena hati kecil itu, hakikatnya adalah Hidup kita sendiri, yang lebih di kenal dengan sebutan Guru Sejati. He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh kinasihku, yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Pamrih saya berharap POSTINGAN SAYA KALI INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup nya siapapun yang membacanya.
*Matur Nuwun ROMO….._/\_…..Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com