Cara Membebaskan Diri dari Penjara Mental:


Cara Membebaskan Diri dari Penjara Mental:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 20:45. Hari Rabu. Tanggal 27 Juni 2018.

Pertanyaan;
Mengapa orang bisa sukses…?! Mengapa orang bisa gagal…?!

Jawabannya ada beraneka ragam jawaban, terlepas dari jenjang pendidikan, kadang jawaban kita justru bersifat menghambat diri kita sendiri, untuk bisa mencapai keberhasilan hidup.

Jawaban-jawaban itu, mencerminkan sistem kepercayaan, yang justru telah mengurung kita dalam satu zona kenyamanan yang tidak aman, dan telah menjadi penjara mental yang tidak di sadari.

Penjara mental yang dimaksudkan, adalah berbagai kepercayaan yang salah, yang harus diterima sebagai sesuatu yang benar, tanpa pernah diperiksa keabsahan dan kebenaran kepercayaan itu.

Sebagai contoh…

Pertanyaan;
Mengapa orang bisa sukses…?!

Jawaban standar yang didapatkan.
Adalah;
Karena faktor keturunan, hoki, pendidikan, koneksi, hari lahir/jam lahir, nasib, jenis kelamin, shio/zodiak, modal, dan kesehatan / fisik dll.

Tapi anehnya, apabila ditanya, Mengapa orang bisa gagal…?!

Maka jawaban yang didapat kurang lebih sama dengan jawaban di atas.

Kita berkeyakinan bahwa apa yang kita percayai itu, sebagai faktor yang menentukan keberhasilan atau kegagalan hidup, adalah hal yang benar.

Alasannya adalah;
Karena kepercayaan itu adalah pelajaran yang didapatkan dari orang tua, guru, atau figur yang kita kagumi dan hormati.

Penjara yang umum kita kenal adalah, tempat untuk mengurung seseorang, untuk periode waktu tertentu, yang telah berbuat kesalahan atau kejahatan.

Selama seseorang berada di penjara, maka ia kehilangan kebebasan dan sebagian hak-haknya sebagai warga negara.

Narapidana menjalani hidup yang monoton dan terisolasi dari dunia luar, sampai masa hukumannya habis.

Penjara mental menjalankan fungsi yang sama.

Namun sangat banyak orang yang secara sadar atau tidak sadar, telah memasukkan diri mereka ke penjara yang tidak kasat mata ini, yang lebih mengerikan lagi, dapat mengurung diri mereka seumur hidup.

Satu-satunya cara untuk keluar dari penjara mental adalah;

Dengan secara sadar menela’ah setiap kepercayaan yang dipegang seseorang.

Tidak ada kepercayaan yang baik atau buruk, yang ada adalah kepercayaan yang mendukung dan menghambat.

Kepercayaan seseorang mengendalikan cara berpikir, sikap, perilaku, bagaimana ia menggunakan waktunya, siapa kawannya, buku apa yang ia baca, gaya hidup, penghasilan, dan masih banyak aspek lainnya.

Mungkin banyak orang yang berkata, “Uang adalah akar dari segala masalah kejahatan itu” Orang dengan kepercayaan ini, hidupnya biasa-biasa, cenderung agak kekurangan.

Itu karena mereka telah mengadopsi kepercayaan yang salah, dan kepercayaan ini, telah menjadi penjara mental mereka.

Adanya seorang yang sangat berhasil secara finansial, saat ditanya mengenai rahasia keberhasilannya, ia menjawab, “Sejak usia tujuh tahun saya telah mempunyai keyakinan bahwa, bila saya berusaha dan bekerja keras, maka Tuhan akan berkonsultasi dengan saya untuk menentukan nasib saya”

Kita tidak boleh menilai apakah kepercayaan ini benar atau salah, karena kepercayaan adalah sesuatu yang bersipat pribadi.

Pesan yang ingin saya sampaikan adalah;
Bahwa apapun kepercayaan yang kita pegang, maka kepercayaan ini, akan mempengaruhi hidup kita, dan di akhir tulisan saya ini, ada satu renungan bagi pembaca.

Ada dua keluarga yang mengajarkan dua kepercayaan yang berbeda pada anak-anak mereka.

Keluarga pertama mengajarkan.
(Makan tidak makan yang penting kumpul).

Keluarga kedua mengajarkan.
(Kumpul… Kumpul… Kita makan).

Menurut Para Kadhang dan Para Sedulur kinasih-ku sekaluan, anak dari keluarga mana yang akan jauh lebih berhasil secara finansial…?!

He he he . . . Edan Tenan. Wahyu Panca Ghaib yang di Ibadahkan dengan Wahyu Panca Laku atau Tobat Iman yang saya bahasakan sebagai Laku Murni Menuju Suci. Adalah; Cara untuk Membebaskan Diri dari Penjara Mental, kalau sudah bebas, jangan berusaha untuk Masuk Penjara Lagi.

Salam Rahayu Penuh Cinta Kasih Sayangku Untukmu Sekalian Dan
“Selamat_/!\_Selamat_/!\_Selamat” Untuk kita semuanya tanpa terkecuali.
Ttd: Toso Wijaya. D.
Lahir: Cirebon.
Hari: Rabu Pon.
Tanggal: 13 – 08 -1959
Di Gubug Jenggolo Manik.
Alamat:
Jl. Raya Pilangrejo.
Gang. Jenggolo.
Dusun. Ledok Kulon.
Rt/Rw: 004/001.
Ds: Pilangrejo.
Kec: Juwangi.
Kab: Boyolali.
Propinsi: Jawa Tengah.
Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Iklan

Cara Membebaskan Diri dari Penjara Pikiran:


Cara Membebaskan Diri dari Penjara Pikiran:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 00:00. Hari Selasa. Tanggal 26 Juni 2018.

Bebas Dari Penjara Pikiran Melalui Pintu Kesadaran

Manusia pada umumnya, tanpa mereka sadari, hanya menjalani kehidupan dalam koridor penjara pikiran yang sempit, yang dibatasi oleh tembok-tembok tinggi persepsi.

Mereka jarang sekali, jika tidak mau dikatakan tidak pernah, mampu menjelajah melampaui perangkap penjara pikiran yang dikondisikan oleh keterbatasan persepsi akibat ketidaktahuan akan ketidaktahuan.

Dengan bahasa yang lebih sederhananya, manusia hidup dalam realita yang ditentukan oleh seperangkat aturan yang ada dalam pikirannya.

Kita tidak melihat segala sesuatu dengan apa adanya. Kita melihat sesuatu apa kita-nya.

Pikiran itu sungguh sukar diawasi, ia amat halus dan senang mengembara sesuka hati, karena itu, hendaklah orang bijaksana selalu menjaganya.

Pikiran yang dijaga dengan baik, akan membawa kebahagian.

Pikiran itu mudah goyah dan tidak tetap, sulit dijaga dan sulit dikuasai.

Namun orang bijaksana, akan selalu berusaha meluruskannya, bagaikan seorang pembuat panah meluruskan anak panahnya.

Mungkin benar, kita bisa mencapai kebahagiaan atau sukses di bidang apa saja dengan menggunakan pikiran secara benar.

Namun bila kita tidak hati-hati, seringkali kita dipedayai oleh pikiran kita.

Ambil contoh misalnya;
Kebencian dan Kebahagiaan.

Jika dilihat sekilas, maka kita tahu bahwa “kebencian” adalah suatu emosi yang negatif, sedangkan ”kebahagiaan” adalah emosi positif.

Benarkah begitu…?!
Mari saya beri bukti penjelasannya tanpa tedeng aling-aling.

Pada Kadhang dan para sedulur kinasih-ku sekalian…
Ternyata kebahagiaan itu, justru bisa menjadi sumber masalah loh.

Bukti contohnya…
Pikiran yang terlalu melekat, atau selalu menginginkan, atau berusaha mempertahankan ”kebahagiaan” justru akan menimbulkan efek negatif.

Dan bahkan keinginan untuk bahagia, bisa mengobarkan api ”kebencian” Renungkan saja dengan sadar kalau tidak percaya.

Untuk bisa keluar dari perangkap pikiran, maka kita perlu mengerti cara kerja pikiran, agar supaya bisa mengerti cara kerja pikiran, maka jagalah pikiran itu.

Dengan memahami cara kerja pikiran, kita bisa mengerti permainan yang sedang pikiran mainkan di suatu saat.

Sehingga kita, bukannya larut dalam permainan itu atau didikte dengan suatu aturan main yang pikiran tetapkan sendiri, melainkan dapat menetapkan rule of game yang menguntungkan diri kita.

Untuk itu, mari kita amati proses belajar setiap manusia, menggunakan empat tahap belajar yaitu:
1. Pasrah kepada Tuhan.
2. Menerima keputusan Tuhan.
3. Mempersilahkan kuasa Tuhan.
4. Merasakan kenyataan Tuhan.

Pada tahap pertama “pasrah kepada Tuhan” kita tidak tahu kalau kita tidak tahu.

Misalnya, sewaktu kita masih kecil, kita tidak tahu bahwa kita, saat itu, belum bisa jalan.

Melalui interaksi dengan orang dewasa atau lingkungan kita, yang masih kecil, akhirnya tahu bahwa kita belum bisa jalan.

Mengapa…?!
Karena kita melihat orang di sekeliling kita berjalan tegak.

Selanjutnya “menerima keputusan Tuhan” kita mulai belajar berjalan dan akhirnya bisa berjalan dengan sempurna.

Sekarang “mempersilahkan kuasa Tuhan” kita bahkan tidak sadar lagi, bahwa kita bisa jalan dengan sempurna.

Kemampuan berjalan, yang dulunya kita pelajari dengan begitu susah payahnya, mengalami jatuh bangun, bahkan ada yang sampai kepalanya benjol karena jatuh, kini telah menjadi kecakapan yang bekerja secara otomatis.

Nah, saat suatu skill telah masuk ke tahap “merasakan kenyataan Tuhan” maka sejak saat itu, bila tidak dilakukan intervensi secara sadar, skill ini akan bekerja dengan prinsip automatic pilot.

Hal yang sama berlaku juga dengan kecakapan berpikir, yang note bene adalah keahlian pikiran itu sendiri.

Automatic pilot berfungsi untuk memudahkan hidup kita, yang akan dijalankan oleh sistem automatic pilot adalah program/kebiasaan yang paling kuat.

Baru-baru ini, saat sedang mengendarai motor, saya larut dalam pemikiran yang cukup intens mengenai sesuatu.

Saat itu pikiran (bawah sadar) saya secara otomatis mengambil alih kendali.

Tanpa saya sadari, saat bertemu jalan yang bercabang dua, di pertigaan godong dari arah utara kota demak, secara otomatis motor saya belokkan ke kanan, padahal rute yang seharusnya saya lewati adalah belok ke kiri, di pasar godong kalau dari arah demak, karena saya hendak pulang ke gubug jenggolo manik Pilangrejo Juwangi Boyolali.

Jalan ke arah kanan adalah rute jalan menuju kota Semarang.

Nah, apa sih yang membuat kita terperangkap di dalam penjara pikiran ini…?!

Salah satu kebutuhan dasar manusia yang sangat menonjol adalah kebutuhan akan konsistensi.

Saat pikiran telah memutuskan untuk menerima sesuatu sebagai ”kebenaran” maka ia akan konsisten dengan ”kebenaran” itu.

Kebenaran ini belum tentu sejalan dengan ”kebenaran” yang kita setujui kebenarannya.

Kebenaran menurut pikiran, sejalan dengan pemikiran, pikiran itu sendiri yang didukung dengan berbagai pengalaman yang pernah kita alami, dan kebenaran ini, dikenal dengan istilah belief.

Jadi, setelah pikiran mengadopsi suatu belief, maka selanjutnya, belief ini yang mengendalikan pikiran.

Tanpa intervensi yang dilakukan secara sadar, maka hidup kita sepenuhnya dikendalikan oleh berbagai belief, yang telah kita adopsi dan yakini kebenarannya.

Padahal…
Yang di sebut benar itu, bukan keyakinan atau kepercayaan, melainkan kesadaran yang sadar kita sadari.

Saat kita percaya/yakin/belief akan kebenaran sesuatu, maka kita tidak akan lagi mempertanyakan keabsahan data atau landasan pijak berpikir yang digunakan sebagai dasar penerimaan suatu belief.

Belief kita selalu benar menurut kita, namun kenyataannya, yang benar menurut kita, belum tentu benar menurut orang lain.

Kita akan mati-matian mempertahankan belief kita, karena kita yang memutuskan bahwa sesuatu itu, adalah hal yang benar, inilah “penjaranya”

Masa kita meragukan kebenaran yang telah kita putuskan kebenarannya…?!

Lalu, bagaimana caranya untuk bisa keluar dari perangkap penjara pikiran ini…?!

Tidak ada jalan dan tidak ada cara lain selain dengan Wahyu Panca Ghaib yang di Ibadahkan dengan Wahyu Panca Laku atau Tobat Iman yang selalu saya bahasakan sebagai Laku Murni Menuju Suci.

Untuk bisa Membebaskan Diri dari Penjara Pikiran “tapi” kalau sudah bebas, jangan berusaha untuk Masuk Penjara Lagi.

Ada mungkin akan bertanya;
Mengapa harus dengan Wahyu Panca Ghaib yang di Ibadahkan dengan Wahyu Panca Laku atau Tobat Iman atau Laku Murni Menuju Suci…?!

Hanya melalui kesadaran murni kita bisa menyadari bahwa kita bukanlah pikiran kita, kita bukanlah perasaan kita, kita bukanlah kebiasaan kita, dan yang lebih penting lagi adalah; bahwa kita bukanlah belief kita.

Kesadaran murni membuat kita mampu untuk melakukan disosiasi atau pemisahan yang jelas.

Dengan kesadaran murni kita mampu melakukan metakognisi atau berpikir mengenai pikiran.

Dengan berpikir dan mengamati pikiran maka kita akhirnya mengenal ”sosok” pikiran kita.

Kita akan tahu pola atau kebiasaan yang pikiran lakukan.

Dengan kesadaran murni kita dapat memahami bahwa pikiran, walaupun merupakan piranti yang sangat luar biasa, tetap hanyalah sebagian kecil dari kesadaran murni itu sendiri.

Lalu, bagaimana cara untuk bisa mengamati pikiran…?!

He he he . . . Edan Tenan, caranya mudah sekali, yang perlu kita lakukan adalah belajar Patrap Semedi, menggunakan Wahyu Panca Ghaib yang di Ibadahkan dengan Wahyu Panca Laku atau Tobat Iman yang selalu saya bahasakan sebagai Laku Murni Menuju Suci.

Hanya dengan Patrap Semedi kita bisa mampu mengamati pikiran kita dengan jelas dan sadar.

Pikiran ibarat segelas air yang keruh karena berisi kotoran atau partikel kecil, dalam kondisi keruh, kita tidak akan bisa melihat melampaui gelas air itu.

Kita tidak akan mampu melihat dan mengamati berbagai komponen yang membuat air menjadi keruh.

Lalu, bagaimana caranya untuk bisa melihat partikel kecil yang mengotori air…?!

Bagaimana cara untuk bisa melihat melampaui gelas yang keruh…?!

Maaf… sekali lagi saya tertawa. He he he . . . Edan Tenan, caranya sangat mudah sekali, yaitu belajar Patrap Semedi, menggunakan Wahyu Panca Ghaib yang di Ibadahkan dengan Wahyu Panca Laku atau Tobat Iman yang selalu saya bahasakan sebagai Laku Murni Menuju Suci.

Dengan begitu, kita sudah meletakkan gelas yang berisi air keruh dan membiarkannya selama beberapa saat, tanpa digerak-gerakan atau diaduk-aduk.

Selang beberapa saat kemudian, kotoran-kotoran itu akan mulai mengendap dengan sendirinya, tanpa harus kita upayakan.

Setelah semuanya mengendap, air di gelas menjadi sangat jernih, karena kotoran itu turun ke dasar gelas dan menjadi sangat mudah diamati, kita juga akan dapat melihat melampaui gelas. Mudah, kan…?!

Kesimpulannya;
Wahyu Panca Ghaib yang di Ibadahkan dengan Wahyu Panca Laku atau Tobat Iman yang saya bahasakan sebagai Laku Murni Menuju Suci. Adalah; Cara untuk Membebaskan Diri dari Penjara Pikiran.

Kalau sudah bebas, jangan berusaha untuk Masuk Penjara Lagi ya. He he he . . . Edan Tenan.
Salam Rahayu Penuh Cinta Kasih Sayangku Untukmu Sekalian Dan
“Selamat_/!\_Selamat_/!\_Selamat” Untuk kita semuanya tanpa terkecuali.
Ttd: Toso Wijaya. D.
Lahir: Cirebon.
Hari: Rabu Pon.
Tanggal: 13 – 08 -1959
Di Gubug Jenggolo Manik.
Alamat:
Jl. Raya Pilangrejo.
Gang. Jenggolo.
Dusun. Ledok Kulon.
Rt/Rw: 004/001.
Ds: Pilangrejo.
Kec: Juwangi.
Kab: Boyolali.
Propinsi: Jawa Tengah.
Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Atribut dan Esensial:


Atribut dan Esensial:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 22:00. Hari Rabu. Tanggal 20 Juni 2018.

Suatu ketika…
Wong Edan Bagu di undang dalam sebuah acara pengajian Akbar di suatu tempat, dalam perjalanan, Wong Edan Bagu kehujanan.

Lalu beristirahat di sebuah rumah makan yang di laluinya, karena lapar, walaupun pakaiannya kumal, akibat kehujanan dan percikan kotoran jalan karena hujan, Wong Edan Bagu tetap masuk untuk membeli makanan, sambil istirahat menunggu hujan reda.

Di meja sebelahnya, ada empat orang yang sedang makan bersama, salah satunya, sebut saja namanya Bakri.

Mengetahui pakaian Wong Edan Bagu yang kumal, Bakri memincingkan sebelah mata, kemudian mengajak teman-teman makannya pindah ke meja lainnya, seakan jijik berdekatan meja makan dengan Wong Edan Bagu.

Setelah selesai makan dan hujan sudah mereda, Wong Edan Bagu melanjutkan perjalanan menuju tempat undangan.

Setibanya di tempat, ternyata Bakri dan ketiga temannya itu, juga merupakan pengunjung acara pengajian Akbar yang mengundang Wong Edan Bagu sebagai penceramah.

Karena baju Wong Edan Bagu sudah berganti, layaknya seorang penceramah, Bakri jadi tidak mengenali Wong Edan Bagu lagi.

Dan ternyata, Bakri ini, adalah seorang pengusaha kaya raya, yang bisnisnya sedang mengalami masalah.

Selesai acara pengajian akbar, Bakri mengajaknya makan bersama Wong Edan Bagu di sebuah Restaurat, karena ia ingin berkonsultasi mengenai usahanya yang mandeg.

Sambil menunggu makanan di hidangkan, Bakri menceritakan masalah demi masalah yang membuat macet usahanya.

Lalu, berkata lah Wong Edan Bagu kepada Bakri;

Tuhan itu, tidak pandang bulu dalam membukakan jalan kemuliaan, ada sebuah hukum yang berlaku dalam pengaturan rizki-Nya.

Mereka yang menghormati semua ciptaan-Nya tanpa pandang bulu,
akan pula dihormati-Nya setiap saat.

Mereka yang selalu berusaha membahagiakan orang lain,
akan pula dibahagiakan oleh-Nya,
dicukupi seluruh kebutuhannya,
tanpa harus merasa miskin karena kondisinya.

Mereka yang menghina hamba-hamba dan semesta-Nya, akan pula dihina-Nya dan direndahkan-Nya.

Mereka yang merasa kuat dan seenaknya terhadap hamba-Nya dan ciptaan lain-Nya, memainkan serangga, mubazir dengan alam, menindas manusia dan hewan,
akan pula ditindas dan ditekan oleh-Nya.

Semakin kita tidak menuntut,
dan pasrah kepada-Nya, menerima keputusan-Nya, mempersilahkan kuasa-Nya, merasakan kenyataan-Nya dan menebar cinta kasih sayang-Nya terhadap apapun dan dimanapun.

Maka semakin kita diberi kemuliaan, kalau tidak sekarang, bisa jadi besok atau lusa.

Semua punya masanya…
Segala punya kadarnya…
Tinggal tunggu waktunya saja.

Hidup kita adalah cermin-Nya. Rasa dan Perasaan serta perkataan dan perbuatan kita.

Jadi bingung dengan rizki karena usaha macet…?!

Lihat saja Hidup kita;

Apakah kita sudah melancarkan rizki orang lain…?!

Apakah kita sudah cukup mensyukuri semua karunia-Nya…?!

Apakah kita sudah cukup memberi arti bagi Hidup orang lain…?!

Rizki kita.
Hidup kita.
Kita sendiri yang menjawab.

Semua dan segalanya berjalan sesuai dengan Hukum dan Aturan Hidup.

Lalu Wong Edan Bagu melepas baju luarnya yang bagus;
Inilah yang kau hargai, bukan saya, karena tadi dengan baju saya yang lain, kau tak ingin berdekatan denganku.

Baju hanyalah atribut, bukan sesuatu yang esensial.

Mungkin kekayaanmu baru atribut,
belum sampai kaya secara esensial, karena mereka yang kaya secara esensial.

Akan selalu menghormati, menghargai dan mensyukuri akan semua pemberian-Nya.

Lalu pergilah Wong Edan Bagu meninggalkan Bakri si pengusaha kaya yang bengong speechless, tak bisa berkata apa-apa.

“Merenungi atribut dan esensi*

Para Kadhang kinasih-ku sekalian.
Sudahkah Hidup kita menyentuh esensinya…?!

Hidup dengan;
Pasrah kepada-Nya.
Menerima keputusan-Nya. Mempersilahkan kuasa-Nya. Merasakan kenyataan-Nya. Menebar cinta kasih sayang-Nya terhadap apapun dan dimanapun.
*…..?!

Sehingga bisa…
Merasakan kaya dengan apa adanya. Mulia karena selalu memuliakan. Sejahtera karena selalu mensejahterakan.

Karena kaya, mulia dan sejahtera itu, tidak tergantung jumlah harta dan bisnis serta kepandaiannya, melainkan tergantung pada bersihnya hati dan indahnya pikiran serta tentramnya jiwa.

Para Kadhang kinasih-ku sekalian.
Apa hal terkecil hari ini, yang dapat menjadikan kita kaya dan mulia serta sejahtera dari dalam hati dan pikiran serta jiwa kita…?!

Dan bagaimanakah kita dapat menjaganya lebih baik, setiap harinya sampai akhir Hidup nanti…?!

Itulah Bahan Laku-Nya.
Salam Rahayu Penuh Cinta Kasih Sayangku Untukmu Sekalian Dan
“Selamat_/!\_Selamat_/!\_Selamat” Untuk kita semuanya tanpa terkecuali.
Ttd: Toso Wijaya. D.
Lahir: Cirebon.
Hari: Rabu Pon.
Tanggal: 13 – 08 -1959
Di Gubug Jenggolo Manik.
Alamat:
Jl. Raya Pilangrejo.
Gang. Jenggolo.
Dusun. Ledok Kulon.
Rt/Rw: 004/001.
Ds: Pilangrejo.
Kec: Juwangi.
Kab: Boyolali.
Propinsi: Jawa Tengah.
Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling Tentang WPG dan WPL: (Bagian Dua)


Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling Tentang WPG dan WPL:
(Bagian Dua)
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 12:00. Hari Rabu. Tanggal 20 Juni 2018.

Barang siapa mengenal Wahyu Panca Ghaib, akan mengenal Tuhan-nya.
Kalau bahasa awamnya…
Barang siapa mengenal diri, akan mengenal Rabb-nya.

Mengenal Wahyu Panca Ghaib, berarti mengenal identitas jati dirinya sendiri. Mengenal identitas jati dirinya sendiri, berarti mengenal Rabb-nya/Tuhan-nya, dan di dalam Laku Murni Menuju Suci, saya WEB bertanya;

Sudahkah Anda Mengenal Wahyu Panca Ghaib Anda…?!
Kalau bahasa awamnya…
Sudahkah Anda Mengenal Diri Anda…?!

Para Kadhang Kinasih-ku sekalian.
Hidup inilah jati diri manusia yang sebenarnya, yang sesungguhnya, maksudnya, yang di sebut sebagai Diri di dalam Al-Qitab, yaitu Hidup.

Selain Hidup, wujud/raga manusia dan semua atribut/pirantinya yang indah maupun yang tidak indah, adalah palsu dan sementara, yang pada akhirnya akan rusak dan binasa.

Sekali lagi, diri kita yang sebenarnya, yang sesungguhnya adalah Hidup, bukan wujud/raga kita yang tampan/cantik ini, wujud/raga kita yang tampan/cantik ini, adalah palsu dan akan rusak.

Hidup inilah yang berkuasa di dunia ini, di dunia ini, tidak ada yang melebihi kuasanya Hidup.

Buktinya;
Kita bisa beragama, berkeyakinan, berkepercayaan, berilmu, berpartai, beribadah, bergolongan, berkebatinan, berdoa, menyebut nama-nama Tuhan, itu karena kita Hidup, ada Hidup di dalam wujud/raga kita,

Kita bisa itu dan ini, kita tidak bisa itu dan ini, itu karena kita Hidup, karena ada Hidup di dalam wujud/raga kita.

Jika Hidup ini keluar dari wujud/raga kita, sehebat dan sekuat apapun kita, setampan/secantik apapun kita, maka, bangkailah kita, yang akan membusuk dan hancur.

Wahyu Panca Ghaib atau Imam Mahdi atau Ratu Adil atau Satriya Paningit atau Guru Sejati atau Romo atau Hidup ini Suci.

Suci itu bukan bentuk atau warna atau konsep atau apapun.

Suci itu murni/asli tak tercampuri oleh apapun dan tidak bisa di campuri dengan apapun.

Suci itu Rasa. Rasa itu Hidup. Hidup itu Suci. Suci itu murni/asli tak tercampuri oleh apapun dan tidak bisa di campuri dengan apapun.

Suci atau Rasa atau Hidup atau Guru Sejati atau Romo ini, sudah ada sejak awal pertama kali kita di cipta, sebelum ada apapun ada.

Jadi…
Kita tak perlu mencarinya, apa lagi mencarinya keluar diri, cukup di rasakan, di nikmati, di hayati, lalu di ikuti dengan sadar, pasti bisa menyadari bahwa tidak selembar daunpun yang jatuh ke bumi ini tanpa kehendak-Nya, dan hanya kehendak-Nya lah yang benar-benar terjadi.

Sebab karena itu, bersaksilah/bersyahadatlah, agar supaya kita tidak tersesat, tidak sakit, tidak kecewa, tidak rugi, tidak capek, tidak gagal, tidak jenuh, tidak gelisah, tidak ragu, tidak takut, tidak bingung, tidak berhayal dan tidak ikut campur urusan-Nya.

SELESAI.
Salam Rahayu Penuh Cinta Kasih Sayangku Untukmu Sekalian Dan
“Selamat_/!\_Selamat_/!\_Selamat” Untuk kita semuanya tanpa terkecuali.
Ttd: Toso Wijaya. D.
Lahir: Cirebon.
Hari: Rabu Pon.
Tanggal: 13 – 08 -1959
Di Gubug Jenggolo Manik.
Alamat:
Jl. Raya Pilangrejo.
Gang. Jenggolo.
Dusun. Ledok Kulon.
Rt/Rw: 004/001.
Ds: Pilangrejo.
Kec: Juwangi.
Kab: Boyolali.
Propinsi: Jawa Tengah.
Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling Tentang WPG dan WPL: (Bagian Satu)


Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling Tentang WPG dan WPL:
(Bagian Satu)
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 15:25. Hari Senin. Tanggal 18 Juni 2018.

Barang siapa mengenal Wahyu Panca Ghaib, akan mengenal Tuhan-nya.
Kalau bahasa awamnya…
Barang siapa mengenal diri, akan mengenal Rabb-nya.

Mengenal Wahyu Panca Ghaib, berarti mengenal identitas jati dirinya sendiri. Mengenal identitas jati dirinya sendiri, berarti mengenal Rabb-nya/Tuhan-nya, dan di dalam Laku Murni Menuju Suci, saya WEB bertanya;

Sudahkah Anda Mengenal Wahyu Panca Ghaib Anda…?!
Kalau bahasa awamnya…
Sudahkah Anda Mengenal Diri Anda…?!

Para Kadhang Kinasih-ku sekalian.
Dari sekian banyak kabar/informasi yang sudah saya sampaikan melalui Artikel dan Vidio di internet, mengenai Wahyu Panca Ghaib yang di Ibadahkan dengan Wahyu Panca Laku atau Taubat Iman, yang arti maksud simpelnya/singkatnya adalah Laku Murni Menuju Suci.

Intinya Tak lain dan tak bukan Adalah;
Sedulur Papat Kalima Pancernya kita sendiri, isi dari wujud/raganya kita sendiri, yang selama ini, menjadikan kita bisa itu dan ini, namun kita abaikan begitu saja dan kita anggap tidak penting serta bukan yang utama.

Dan istilah Manunggaling Kawula Gusti itu, yang di lantunkan dalam Kidung Wahyu Kalaseba Adalah;

Manunggaling Sedulur Papat Kalima Pancer atau Empat Anasir dan Hidup. Kawula atau Empat Anasir itu Sedulur Papat, dan Gusti atau Hidup itu Pancernya.

Manunggaling Kawula Gusti atau Manunggaling Empat Anasir dan Hidup atau Manunggaling Sedulur Papat Kalima Pancer atau Wahyu Panca Ghaib inilah yang di sebut Hidup.

Yang menjadi isi wujud/raga kita, identitas jati diri kita yang sebenarnya, yang selama ini menghidupi dan menghidupkan wujud/raga berserta semua atribut kita, sehingganya kita bisa itu dan ini.

Hidup ini, ada di dalam diri kita sendiri, bukan di luar diri kita, dan Hidup kita sendiri inilah, yang selama ini di sebut-sebut, sebagai Imam Mahdi atau Ratu Adil atau Satriya Paningit atau Guru Sejati atau Romo.

Dengan uraian diatas, berarti setiap manusia, tidak peduli apapun agamanya dan latar belakangnya, di sadari atau tidak di sadari, di sukai atau tidak di sukai, mau atau tidak mau, sebenarnya/sesungguhnya;

Memiliki Imam Mahdi sendiri-sendiri atau Ratu Adil sendiri-sendiri atau Satriya Paningit sendiri-sendiri atau Guru Sejati sendiri-sendiri atau Romo sendiri-sendiri atau Hidup sendiri-sendiri.

Jadi…
Tinggal manusianya sendiri;
Mau berTaubat lalu berIman apa tidak…?!

Kalau Mau berTaubat lalu berIman, pasti akan sadar diri, karena sadar diri, pasti bisa menyadari, bahwa di dalam dirinya itu, ada Imam Mahdi atau Ratu Adil atau Satriya Paningit atau Guru Sejati atau Romo atau Hidup.

Nah…
Dengan kesadaran inilah, manusia bisa mengenalnya secara nyata, adanya Imam Mahdi atau Ratu Adil atau Satriya Paningit atau Guru Sejati atau Romo atau Hidup yang bersemayam di dalam dirinya,

Sehingganya bisa merasakannya, menikmatinya, menghayatinya dan mengikutinya dengan sadar, tanpa tekanan dan paksaan apapun.

Karena sudah mengenalnya “jadi”
mengerti dan memahami serta mengetahui. Bahwa;

Imam Mahdi atau Ratu Adil atau Satriya Paningit atau Guru Sejati atau Romo atau Hidup ini, yang ada di dalam dirinya itu, melampaui semuanya dan segalanya yang ada di dunia ini, termasuk anak istri/suami.

Dengan penjelasan diatas, hal ini jadi sangat mudah di mengerti dan di pahami serta di ketahui kan…

Bahwasannya;
Kalau masih ada yang dianggap lebih penting dan utama di banding
Imam Mahdi atau Ratu Adil atau Satriya Paningit atau Guru Sejati atau Romo atau Hidup nya sendiri ini, berati belum mengenal identitas diri sejati nya sendiri, belum mengenal Wahyu Panca Ghaib nya sendiri.

Karena belum mengenal diri sejatinya, belum mengenal Wahyu Panca Ghaibnya, yang artinya belum mengenal Rabb-nya/Tuhan-nya; Sudah pasti…
Istri atau Suami, itu lebih penting dan lebih utama, daripada Wahyu Panca Ghaib.

Sebab belum mengenal diri sejatinya, belum mengenal Wahyu Panca Ghaibnya, yang artinya belum mengenal Rabb-nya/Tuhan-nya;
Sudah pasti…
Anak, itu lebih penting dan utama, daripada Kadhang.

Sebab Karena belum mengenal diri sejatinya, belum mengenal Wahyu Panca Ghaibnya, yang artinya belum mengenal Rabb-nya/Tuhan-nya;
Sudah pasti…
Kesibukan urusan duniawi, itu jauh lebih penting dan utama, dari pada keKadhangan.

Kalau masih asyik disitu dan tidak mau segera berTaubat dan berIman.

Sebab karena belum mengenal diri sejatinya, belum mengenal Wahyu Panca Ghaibnya, yang artinya belum mengenal Rabb-nya/Tuhan-nya “maka” bersiaplah untuk selalu menderita sebab akibat dari hancurnya kepalsuan yang dianggap penting dan utama itu.

Sudahkah Anda Mengenal Wahyu Panca Ghaib Anda…?!
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling)

Barang siapa mengenal Wahyu Panca Ghaib, akan mengenal Tuhan-nya.
Kalau bahasa awamnya…
Barang siapa mengenal diri, akan mengenal Rabb-nya.

Mengenal Wahyu Panca Ghaib, berarti mengenal identitas jati dirinya sendiri. Mengenal identitas jati dirinya sendiri, berarti mengenal Rabb-nya/Tuhan-nya, dan di dalam Laku Murni Menuju Suci, saya WEB bertanya;

Sudahkah Anda Mengenal Wahyu Panca Ghaib Anda…?!
Kalau bahasa awamnya…
Sudahkah Anda Mengenal Diri Anda…?!

Para Kadhang Kinasih-ku sekalian.
Dari sekian banyak kabar yang sudah saya sampaikan melalui Artikel dan Vidio di internet, mengenai Wahyu Panca Ghaib yang di Ibadahkan dengan Wahyu Panca Laku atau Taubat Iman, yang arti maksud simpelnya/singkatnya adalah Laku Murni Menuju Suci.

Tak lain dan tak bukan Adalah;
Sedulur Papat Kalima Pancernya kita sendiri, isi dari wujud/raganya kita sendiri, yang selama ini, menjadikan kita bisa itu dan ini, namun kita abaikan begitu saja dan kita anggap tidak penting serta bukan yang utama.

Dan istilah Manunggaling Kawula Gusti itu. Adalah;

Manunggaling Sedulur Papat Kalima Pancer atau Empat Anasir dan Hidup. Kawula atau Empat Anasir itu Sedulur Papat, dan Gusti atau Hidup itu Pancernya.

Manunggaling Kawula Gusti atau Manunggaling Empat Anasir dan Hidup atau Manunggaling Sedulur Papat Kalima Pancer atau Wahyu Panca Ghaib inilah yang di sebut Hidup.

Yang menjadi isi wujud/raga kita, identitas jati diri kita yang sebenarnya, yang selama ini menghidupi dan menghidupkan wujud/raga berserta semua atribut kita, sehingganya kita bisa itu dan ini.

Hidup ini, ada di dalam diri kita sendiri, bukan di luar diri kita, dan Hidup kita sendiri inilah, yang selama ini di sebut-sebut, sebagai Imam Mahdi atau Ratu Adil atau Satriya Paningit atau Guru Sejati atau Romo.

Dengan uraian diatas, berarti setiap manusia, tidak peduli apapun agamanya dan latar belakangnya, di sadari atau tidak di sadari, di sukai atau tidak di sukai, mau atau tidak mau, sebenarnya/sesungguhnya;

Memiliki Imam Mahdi sendiri-sendiri atau Ratu Adil sendiri-sendiri atau Satriya Paningit sendiri-sendiri atau Guru Sejati sendiri-sendiri atau Romo sendiri-sendiri atau Hidup sendiri-sendiri.

Jadi…
Tinggal manusianya sendiri;
Mau berTaubat lalu berIman apa tidak…?!

Kalau Mau berTaubat lalu berIman, pasti akan sadar diri, karena sadar diri, pasti bisa menyadari, bahwa di dalam dirinya itu, ada Imam Mahdi atau Ratu Adil atau Satriya Paningit atau Guru Sejati atau Romo atau Hidup.

Nah…
Dengan kesadaran inilah, manusia bisa mengenalnya secara nyata, adanya Imam Mahdi atau Ratu Adil atau Satriya Paningit atau Guru Sejati atau Romo atau Hidup yang bersemayam di dalam dirinya,

Sehingganya bisa merasakannya, menikmatinya, menghayatinya dan mengikutinya dengan sadar, tanpa tekanan dan paksaan apapun.

Karena sudah mengenalnya “jadi”
mengerti dan memahami serta mengetahui. Bahwa;

Imam Mahdi atau Ratu Adil atau Satriya Paningit atau Guru Sejati atau Romo atau Hidup ini, yang ada di dalam dirinya itu, melampaui semuanya dan segalanya yang ada di dunia ini, termasuk anak istri/suami.

Dengan penjelasan diatas, hal ini jadi sangat mudah di mengerti dan di pahami serta di ketahui kan…

Bahwasannya;
Kalau masih ada yang dianggap lebih penting dan utama di banding
Imam Mahdi atau Ratu Adil atau Satriya Paningit atau Guru Sejati atau Romo atau Hidup nya sendiri ini, berati belum mengenal identitas diri sejati nya sendiri, belum mengenal Wahyu Panca Ghaib nya sendiri.

Karena belum mengenal diri sejatinya, belum mengenal Wahyu Panca Ghaibnya, yang artinya belum mengenal Rabb-nya/Tuhan-nya; Sudah pasti…
Istri atau Suami, itu lebih penting dan lebih utama, daripada Wahyu Panca Ghaib.

Sebab belum mengenal diri sejatinya, belum mengenal Wahyu Panca Ghaibnya, yang artinya belum mengenal Rabb-nya/Tuhan-nya;
Sudah pasti…
Anak, itu lebih penting dan utama, daripada Kadhang.

Sebab Karena belum mengenal diri sejatinya, belum mengenal Wahyu Panca Ghaibnya, yang artinya belum mengenal Rabb-nya/Tuhan-nya;
Sudah pasti…
Kesibukan urusan duniawi, itu jauh lebih penting dan utama, dari pada keKadhangan.

Kalau masih asyik disitu dan tidak mau segera berTaubat dan berIman.

Sebab karena belum mengenal diri sejatinya, belum mengenal Wahyu Panca Ghaibnya, yang artinya belum mengenal Rabb-nya/Tuhan-nya “maka” bersiaplah untuk selalu menderita sebab akibat dari hancurnya kepalsuan yang dianggap penting dan utama itu.

Bagi yang segera mau berTaubat lalu berIman “berbahagialah” karena Urip wes Mijil-Hidup sudah hadir untukmu, jadi, tak perli bersusah paham mencarinya, tinggal merasakannya, menikmatinya, menghayatinya dan mengikutinya “Hidup” akan menuntun kita, kemana pun arah yang hendak kita tuju dengan benar-benar tepat dan nyata-nyata benar.

“BERSAMBUNG KE BAGIAN DUA”
Salam Rahayu Penuh Cinta Kasih Sayangku Untukmu Sekalian Dan
“Selamat_/!\_Selamat_/!\_Selamat” Untuk kita semuanya tanpa terkecuali.
Ttd: Toso Wijaya. D.
Lahir: Cirebon.
Hari: Rabu Pon.
Tanggal: 13 – 08 -1959
Di Gubug Jenggolo Manik.
Alamat:
Jl. Raya Pilangrejo.
Gang. Jenggolo.
Dusun. Ledok Kulon.
Rt/Rw: 004/001.
Ds: Pilangrejo.
Kec: Juwangi.
Kab: Boyolali.
Propinsi: Jawa Tengah.
Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Urip Wes Mijil – Hidup Sudah Hadir:


Urip Wes Mijil – Hidup Sudah Hadir:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 01:48. Hari Sabtu. Tanggal 16 Juni 2018.

*Seringkali kita lupa Hidup untuk bisa Hidup#

Mengeluh mengenai apa yang ada sekarang, merasa paling menderita, menginginkan apa yang tak ada, tanpa mensyukuri apa yang sudah ada.

Dan setelah yang ada pergi, menyesali masa lalu “galau” kenapa yang dulu tak ada lagi, padahal dulupun ia tak disyukuri.

*Seringkali kita lupa Hidup untuk bisa Hidup#

Galau memikirkan masa depan, takut akan berbagai hal, padahal ia hadir pun belum, dan belum tentu juga akan terjadi, tapi khawatir sudah dari sekarang.

Dan kalau yang ditakutkan benar-benar terjadi, mulai lagi menyesali masa lalu, kenapa begini, kenapa begitu, seharusnya begini, seharusnya begitu, seandainya saja…

Lalu kapan kita Hidup untuk bisa Hidup…?!

Karena Sekarang Hidup Sudah Mijil, artinya sudah hadir;
Hadir di masa sekarang ini, detik demi detik, menikmati momen demi momen secara sadar dan nyata.

Menyadari setiap nafas yang keluar masuk melalui kerongkongan hingga ke dalam dada, berdebarnya jantung, mengalirnya darah.

Menikmati secara sadar dan nyata mata yang bisa melihat, hidung yang bisa mencium, mulut yang bisa berkata.

Menikmati secara sadar dan nyata saat ini, karena nanti belum tentu ada, dan yang ada belum tentu datang lagi.

Para Kadhang kinasih-ku sekalian. Hiduplah untuk detik saat ini.

Mencintai Mengasihi Menyayangi semua dan segalanya pemberian Hyang Maha Cinta Kasih Sayang.

Ketahuilah…
Urip Wes Mijil (Hidup Sudah Hadir)
Kini sudah saatnya dan sudah waktunya, inilah yang terbaik saat ini.

Yang kita pikir buruk bisa jadi yang terbaik, yang kita pikir baik bisa jadi yang terburuk, karena hanya Hidup yang tahu, dan kita tak perlu sok tahu.

Sakit…?!
Nikmati.
Rugi…?!
Nikmati.
Gagal…?!
Nikmati.
Perih…?!
Nikmati.
Malu…?!
Nikmati.
Pedih…?!
Nikmati.
Bla bla bla…?!
Nikmati.
Karena ada banyak keindahan dibalik semua itu, yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang mau berTaubat dan berIman hanya kepada-Nya.

Tanpa perlu menemukan hikmahnya, tanpa perlu menalar kenapa;
Sakit…?!
Rugi…?!
Gagal…?!
Perih…?!
Malu…?!
Pedih…?!
Bla bla bla…?!
Itu indah.

Cukup Hanya menyadari bahwa semua dan segalanya itu, adalah Kuasa Hidup.

Ayo…
Jangan tunggu lama dan buang waktu sia-sua, Hiduplah untuk Hidup kita, yang isinya berbagai nikmat dan karunia-Nya.

Yang kita pikir buruk, bisa jadi didambakan banyak orang, karena baju yang kau keluhkan hari ini,
bisa jadi permata bagi yang tak punya baju, mata yang kau rasa terlalu kecil, bisa jadi harapan semua orang buta.

Berhentilah mengeluh, mulailah menikmati dengan kesadaran Hidup apapun yang ada, dengan begitu kita bisa Hidup untuk Hidup dan Hidup kita akan lebih hidup lagi mulai detik saat ini. He he he . . . Edan Tenan.

Salam Rahayu Penuh Cinta Kasih Sayangku Untukmu Sekalian Dan
“Selamat_/!\_Selamat_/!\_Selamat” Untuk kita semuanya tanpa terkecuali.
Ttd: Toso Wijaya. D.
Lahir: Cirebon.
Hari: Rabu Pon.
Tanggal: 13 – 08 -1959
Di Gubug Jenggolo Manik.
Alamat:
Jl. Raya Pilangrejo.
Gang. Jenggolo.
Dusun. Ledok Kulon.
Rt/Rw: 004/001.
Ds: Pilangrejo.
Kec: Juwangi.
Kab: Boyolali.
Propinsi: Jawa Tengah.
Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Hidup Itu Proses. Bukan Protes:


Hidup Itu Proses. Bukan Protes:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 19:25. Hari Jumat. Tanggal 15 Juni 2018.

Para Kadhang Kinasih-ku sekalian.
Ketika saya berpikir negatif pada seseorang “maka” pada saat itu pula, saya telah menghakimi orang itu.

Itu baru berpikir negatif lo, apa lagi kalau lebih dari sekedar berpikir negatif, artinya, lebih dari sekedar telah menghakimi tentunya.

Mari kita coba merenung sejenak.
Kira-kira lebih mudah dan lebih mungkin yang mana…?!

Berusaha menyingkirkan semua kerikil tajam di sepanjang jalanan, atau memakai sepatu agar kaki kita tidak terluka…?!

Mari kita coba merenung lagi sejenak. Kira-kira lebih mudah dan lebih mungkin yang mana…?!

Berusaha mensteril semua tempat agar tak ada kuman, atau memperkuat daya tahan tubuh kita sendiri…?!

Mari kita coba merenung lagi.
Kira-kira ebih mudah dan lebih mungkin yang mana…?!

Berusaha mencegah setiap mulut agar tak bicara sembarangan,
atau menjaga hati kita sendiri agar tidak mudah tersinggung…?!

Mari kita coba merenung sejenak.
Kira-kira lebih penting mana…?!

Berusaha menguasai orang lain, atau belajar menguasai diri sendiri…?!

Yang penting bukan bagaimana orang harus baik padaku, melainkan bagaimana aku berusaha baik pada orang lain.

Bukan orang lain yang membuat aku bahagia, melainkan sikap diriku sendirilah yang menentukan, aku bahagia atau tidak.

Setiap waktu yang telah kita habiskan dalam hidup di kehidupan dunia ini, tidak akan pernah bisa terulang kembali, namun ada satu hal yang masih tetap bisa kita lakukan, yaitu;

BELAJAR…
Dari masa lalu untuk hari esok yang lebih baik, bukankah begitu Para kadhang dan para sedulur kinasih-ku sekalian…?!

Mudah mengawali, tapi susah mengakhiri, itu yang banyak dialami oleh orang pada umumnya.

Satu misal;
Banyak ide-ide bermunculan, namun tak satupun yang terselesaikan dengan sempurna.

Semua pekerjaan jadi menumpuk, lama-lama kian membusuk, dan kitapun mulai terpuruk.

Pada akhirnya banyak cacian kasar yang mengatakan “kamu hanya bermulut besar” sehingganya, hina’an dan terpa’an itu, membuat kita semakin takut dan menjadi pengecut.

Dan ujungnya kita hanya menjadi orang yang mudah mengawali, tapi susah mengakhiri, lalu kita komplain, protes sama Tuhan, bla, bla, bla bleng… He he he . . . Edan Tenan.

Kehidupan adalah PROSES, bukan protes, proses untuk apa…?!

Proses untuk BELAJAR, belajar untuk apa…?!

Belajar untuk Hidup.
Karena Hidup, Tan keno Pati (tidak mengenal mati). Melainkan sempurna.

Di dalam Belajar, kalau jatuh ya bangun, terjengkang, berdiri lagi to…

Kalah, ya mencoba lagi, gagal, ya berusaha lagi. Tidak ada yang tidak mungkin selagi hayat masih di kandung badan. Percayalah…!!!

Terbentur… Terbentur… Terbentuk.
Jadi,,, jangan mengeluh dulu, cobalah berhenti mengeluh, bertaubat dan berImanlah saja pada Dzat Maha Suci Hidup.

Semua datang dari-Nya dan bagaimanapun proses, tetap akan kembali kepada-Nya “Jadi” Kenapa harus risau…?!

Berbahagialah untuk setiap coba’an yang datang, karena itulah sekolah kehidupan, di mana tak ada yang bisa membeli soal ujiannya, Ujian hanya Dzat Maha Suci Hidup berikan pada orang-orang tertentu.

Syukurilah… Nikmatilah… Dengan kesadaran rasa kita yang sadar setiap ujian-Nya, dan janji-Nya selalu benar “karunia-Nya menanti siapapun yang mensyukuri cobaan-Nya.

Kalau harus berbicara Nasib…
Nasib setiap manusia itu, pada hakikatnya, telah ditentukan oleh-Nya sebelum seseorang tersebut dilahirkan ke muka bumi.

Oleh karena itu, yang namanya sedih, senang, khawatir, bangga, kecewa, bahagia, optimis, pesimis, dan berbagai rasa dan perasaan lainnya, sebagai respon dalam menyikapi setiap keadaan atau kejadian dalam hidup, dan ini tentunya hal yang sudah biasa.

Seperti adanya siang, sore, malam dan pagi yang silih berganti di setiap harinya, begitu juga keadaan hidup pada setiap diri seseorang, fluktuatif, mekanis, dan selalu berubah, bukan kah begitu Para kadhang dan para sedulur kinasih-ku sekalian…?!

Dalam pencapaian sukses pun, seseorang harus bekerja keras, berusaha cerdas, serta terus mengasah pengalaman dan keterampilan dengan senantiasa belajar dan terus-menerus belajar.

Dan nilai kesuksesannya pun, tidak dengan besarnya materi, jabatan, ataupun apapun atribut keduniawian ini.

Akan tetapi, tidak lebih ukuran kesuksesan seseorang ada pada kebahagiaan yang dapat di rasakannya, seperti halnya pada keadaan yang secara umum kelihatan menderita atau terpuruk pun, jika disikapi dengan kenikmatan Wahyu Panca Laku yang selama ini kita kenal dengan sebutan iman, itulah sebuah kebahagiaan hidup.

Namun percayalah Para kadhang dan para sedulur kinasih-ku sekalian, tidak ada satupun yang sia-sia dari setiap langkah-langkah yang sudah kita ambil, karena “tidak selembar daunpun yang jatuh ke bumi tanpa kehendak-Nya”
dan tanaman yang baik pasti akan dapat kita tuai kelak.

Sebab karenanya, tetapkan laku tetep idep madep mante (konsisten) dalam jalur-jalur kebenaran dan kebaikan, tidak merugikan orang lain, tidak menyakiti orang lain, ringan tangan dalam membantu mengurangi beban kesusahan orang lain.

Serta tetap berusaha dengan segala daya dan upaya untuk tidak mencabut pertaubatan dan menghentikan keimanan yang telah kita lakukan kepada Dzat Maha Suci Hidup, sehingga potensi serta kesempatan terbaik ini, dapat kita miliki dan kita gunakan dengan sebaik-baiknya hingga anak cucu kita nantinya.

Kalau sudah jelas begini “lalu” jika ada seseorang yang dengan bermodal keberanian dan kepercayaan dirinya, menawarkan bahkan menjanjikan bisa menggandakan uang seketika.

Lantas apakah Anda akan langsung bisa percaya begitu saja…?!

Hanya karena seseorang tadi berpenampilan layaknya pemuka agama, bertutur kata halus, dan terlihat baik.

Kebaikan memang bersifat universal, sekalipun tidak mengandung kebenaran. Itulah kenapa kebaikan lebih mudah diterima oleh setiap orang.

Namun….
Sekali lagi saya katakan, mari kita merenung sejenak, bahwasannya, segala sesuatu yang tercipta di dunia ini, tidak lahir begitu saja secara instan, tanpa sebuah alasan dan tanpa melewati sebuah proses.

Contohnya;
Kita lahir ke dunia, tidak langsung sebesar kita yang sekarang ini bukan…?!

Kupu-kupu yang indah pun tidak lepas dari proses metamorfosisnya.

Mie instan saja, begitu dibuka dari bungkusnya, tidak langsung tersaji seperti yang tergambar di bungkusnya kan…?!

Semuanya butuh proses, untuk mendapatkan gelar sarjana pun tetap harus melewati serangkaian proses, sekalipun kita membeli gelar dan ijazah, tetap makan proses.

Bahkan pinjam uang sekalipun, tidak serta merta peminjamnya memberikan begitu saja tanpa proses bahkan syarat, berharap dan menginginkan hasil lebih tanpa dibarengi usaha adalah sebuah kemustahilan dan menjadi penyakit yang mulai menjangkit sebagian dari kita.

Hidup memang butuh proses, bukan protes. Saat kita lapar, kemudian kita berdoa meminta dihapus rasa laparnya, apakah lantas hilang rasa lapar tadi…?! Oh…No.

Ada proses yang harus dilewati untuk menghilangkan lapar tadi, dengan makan misalnya, ketika kita merasa lelah dan letih, kemudian kita berdoa meminta dihilangkan rasa letih tadi, apakah rasa lelah dan letih kita seketika hilang…?! Oh… tidak.

Sekalipun kita berdoa siang malam, rasa lapar rasa lelah tadi tidak akan hilang, debab harus ada proses yang dilewati, lewat makan dan istirahat dan tidur untuk melepas lelah dan letih tadi.

Memang….
Tidak ada yang mustahil bagi Dzat Maha Suci Hidup, tapi… Hal ini hanya bisa di peroleh hanya dengan berTaubat dan berIman kepada-Nya saja, bukan selain itu.

Jadi…
Jika di luar nanti kita menemukan orang-orang yang hanya bermodalkan kepercayaan diri, keberanian, dan bermuka tebal, menawarkan janji-janji bisa menggandakan uang atau mendongkrak taraf perekonomian menjadi lebih baik hanya dengan sebuah ritual kasak kuduk, tanpa PerTaubatan Dan KeImanan, lebih baik tinggalkan saja orang tersebut.

Salam Rahayu Penuh Cinta Kasih Sayangku Untukmu Sekalian Dan
“Selamat_/!\_Selamat_/!\_Selamat” Untuk kita semuanya tanpa terkecuali.
Ttd: Toso Wijaya. D.
Lahir: Cirebon.
Hari: Rabu Pon.
Tanggal: 13 – 08 -1959
Di Gubug Jenggolo Manik.
Alamat:
Jl. Raya Pilangrejo.
Gang. Jenggolo.
Dusun. Ledok Kulon.
Rt/Rw: 004/001.
Ds: Pilangrejo.
Kec: Juwangi.
Kab: Boyolali.
Propinsi: Jawa Tengah.
Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya