SYARIAT – THAREKAT – HAKIKAT – MA’RIFAT:

SYARIAT adalah BAYANGAN HAKIKAT;

Syariat adalah nama Allah, berbeda dengan nama Governement, sebab Governement juga tidak boleh di tunjuk wujudnya, umpama ditunjuk akan menjadi lain, misalnya kita menetapkan Governement itu kepada Paduka Sri Baginda itu adalah Raja, menunjuk kepada Residentnya Assistant Bupati itu adalah Pemerintahnya, menunjuk kepada bawahannya itu adalah Negaranya, menunjuk kepada orang-orang di kampungnya, itu adalah Rakyatnya, jadi artinya Governement adalah suatu perkumpulan, rukunnya empat perkara ;

1. Adanya Raja
2. Adanya Pemerintah
3. Adanya Rakyat
4. Adanya Negara (bawahannya).

Satu rukunnya itu empat sifat berdiri menjadi sebuah Governement, jadi Governement adalah nama yang meliputi kepada empat sifat. Sesudah berdiri dengan nama Governement, di situ membuat Wet hukuman dan aturan buktinya Wet Staatsblad.

Jadi Allah juga adalah nama, yaitu nama yang meliputi kepada 4 sifat, yaitu Dzat – Sifat – Asma – Af’al.
Dzat ibarat Raja, apakah Rajanya di wujud manusia?
Asma ibarat Rakyatnya, apakah nyatanya di wujud manusia?
Af’al ibarat Negaranya, apakah buktinya di wujud manusia?
jika sudah tahu kepada barangnya yang empat dengan yakin terlihat oleh mata baathin, itulah yang di sebut ma’rifat kepada Allah.

Jangankan kurang tiga, kurang satu saja tidak sah ma’rifatnya. Sudah bukti di lafadznya juga, jika kita menulis lafadz Allah, tapi hurufnya kurang satu, akankah menjadi lafadz Allah? Tidak akan, apalagi jika kurang tiga.

Jadi ini juga adegan wujud manusia, jika kurang satu tidak akan bisa berdiri tegak. Begitu juga dengan nama Governement yaitu kumpulannya yang empat ; Dzat – Sifat – Asma – Af’al.

Apakah Dzat merupakan hal yang wajib harus dilihat? Sedangkan Dzat kata dalilnya Bila Haeffin, artinya tidak berwarna tidak berupa, tidak merah, tidak hitam, tidak kuning, tidak putih, tidak terang dan tidak gelap”.

TIDAK WAJIB melihat kepada Dzat, yang wajib adalah WAJIB TAHU adanya sambil terasa, ibaratnya kepada barang dunia seperti kepada api, melihat kepada apinya (sifatnya) wajib tahu kepada panasnya/adanya panas, syaratnya jika ingin yakin kepada adanya panas, harus di pegang dan merasakan sifatnya api, pasti yakin adanya panas, begitu juga jika kita sudah melihat kepada Sifat-Nya Allah, pasti terasa adanya Dzat, serta terasa meliputinya kepada segala sifat-sifat.

Jadi, Dzat yang lebih kuasa, ibarat api (sifatnya) api tentu keluarnya dari adanya panas, buktinya jika kita mau membuat api dari korek api, ingin ada apinya harus digoreskan dulu biji korek dengan bungkusnya agar menghasilkan panas, sesudah ada panas keluarlah apinya, disitu api dan panas menjadi satu, yang membuat dan yang di buat. Begitulah Allah yang membuat suka bersatu dengan yang di buat, tidak seperti manusia jika akan membuat barang, suka berpisah dengan yang di buatnya, Allah sendiri yang membuat, Allah sendiri yang ada, asal Nafi jadi Isbat. Isbat Nafi jadi satu, jadi lafadz ;

Lailahailallah :

LAM kenyataan adanya DZAT
ALIF – LAM – HA kenyataan adanya SIFAT
ALIF – LAM kenyataan aadanya ASMA
ALIF – LAM – LAM – HA kenyataan adanya AF’AL

Jadi sekarang juga haqnya Islam adalah yang sudah ma’rifat [melihat] Baginda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam sambil dituruti perintahnya itulah Islam, hanya saja melihat itu bukan kepada syariatnya [Majajinya] tapi kepada hakikatnya yaitu Jauhar Awwal Rasulullah/Ruh Ilmu Rasulullah/Cahaya Awwal Rasulullah/Hakikat Muhammad, cahaya pertama yang di buat oleh Maha Suci yaitu Sifat-Nya Allah Ta’ala, atau Sifat Qudrat [Kuasa] Maha Kuasa yang membuat Ruh semuanya.

Satu Asma-Nya Allah ;
Yang disebut satu Asma-Nya Allah Ta’ala yaitu SIFAT RUH (Adam Hakiki) barang yang masih ghoib suka disebut Ismudzat.

Sifat IRADAT-Nya Allah Ta’ala, menjadi SIFAT dan ASMA Allah yaitu JAUHAR AWWAL dan RUH.
QUDRAT yang MENGHIDUPKAN MANUSIA
IRADAT (Ruh) yang menjadikan PENGLIHATAN, PENDENGARAN, PENCIUMAN, PERKATAAN.

Jadi manusia itu berasal dari Qudrat Iradat-Nya Allah, itulah sifat-sifatnya Qudrat Iradat-Nya Allah Ta’ala asalnya dari situ, wajib untuk di ketahui, supaya bisa pulang dengan selamat ke asalnya.

Jika manusia tidak ma’rifat ke situ, pasti matinya balik lagi ke dunia. Sudah menjadi bukti pada gentayangan menjadi arwah [Sifat nyawa] mati tetapi balik lagi ke dunia, dunia ini bakalan rusak, menurut rukun Iman “wal yaumil akhiri” tiap-tiap pulang ke tempat yang bakal rusak, pasti yang mengisinya juga ikut rusak.

Satu Af’al-Nya Allah ;
Apakah wujud yang dipakai hasil membuat Ibu dan Bapak? Jika Ibu dan Bapak bisa membuat wujud, yang ada pastinya manusia akan membuat sebagus mungkin anak-anaknya, jadi sebetulnya Ibu Bapak hanya menjadi sebab saja, yang menjadikan tetap tiada lain adalah Allah Maha Suci saja , untuk membuktikan kekuasaan-Nya, tetapi biarpun kuasa harus memakai sebab ;

“In sabaaba’ala kuli syai’innalloha” Allah menjadikan segala rupa sesuatu sebab saja.

Wujud adalah rantainya (bersatunya) kepada
DZAT – SIFAT – ASMA – AF’AL atau jika di lafadz bersatunya ALIF – LAM – LAM – HA, ketarik kepada kenyataan Allah, jadi ini Af’al wujud menjadi huruf lafadz HA-nya lafadz Allah

Apakah ini baru? Yang baru adalah Isbatnya (adanya) ini adalah barang NAFI, Nafi Isbat jadi SATU.

Jika wujud adalah barang Nafi, mengapa terkena rusak dan bau di kuburnya? Bisa jadi buruk baathin, jika wujud ini diakui wujud (manusia), ini adalah bukan wujud manusia tapi wujud (buktinya) perbuatan Allah, tempat untuk manusia dan perabotannya untuk memenuhi segala keinginan manusia.

Jika ingin ke Jakarta apakah wujudnya yang ingin ke Jakarta? RASA lah yang ingin ke Jakarta, akan tetapi apakah RASA bisa datang ke Jakarta, jika tidak di antarkan oleh wujud? RASA tidak akan bisa datang, jangankan ke tempat jauh, ingin ke WC juga tidak akan bisa jika tidak di bawa oleh wujud, wujud juga tidak bisa pergi jika tidak oleh DZAT – SIFAT – ASMA [Hidup dan Ruh] – AF’AL Allah Ta’ala. “Segala keinginan manusia tidak akan jadi, jika tidak di barengi oleh Allah”

Di sinilah Allah terasa, tidak pilih kasih kepada semua manusia, sebab rata semua pada diberi wujud, kenyataan Af’al-Nya Allah untuk menyertai serta menjadikan segala keinginan manusia, isi Alam dunia yang indah dengan gedung-gedung yang tinggi menjulang, kapal-kapal yang di air, pesawat yang di udara, mobil, kereta api dan semua isi dunia, yang menjadikannya tidak lain adalah wujud (Af’alullah) tetapi yang punya kemauan dan keinginan adalah manusia, begitu juga untuk isi Akhirat, juga Surga dan Neraka, adanya hasil dari pekerjaan wujud juga, hasil perbuatan sekarang di dunia.

Makanya tetap Allah Maha Suci, tidak mengambil faedah dari membuat manusia, tidak akan mengganjar, tidak akan menyiksa kepada semua manusia, adanya Surga dan Neraka hasil dari perkataan, i’tiqod dan prilaku waktu di dunia, bagaimana mengolah Af’alullah (wujud) sebab Allah memberi satu Af’al kepada masing-masing manusia dan cukup untuk mengadakan isi Dunia dan Akhirat.

Sebabnya begitu berhati-hatilah dalam menjalankan kehidupan ini,Af’alullah ini adalah amanat Allah, barang yang suci,jangan gegabah mempergunakannya, jalankan kepada kebaikan saja, dipakai ibadah kepada yang Maha Kuasa, dipakai puji sambil dibarengi shaleh, artinya harus suci hatinya, suci tekadnya, suci ucapnya, suci prilakunya, kata hati di jaga, hati jangan dipakai iri, dengki, ujub, riya, takabur, buruk sangka kepada sesama manusia, ucapan di jaga, wujud jangan dipakai prilaku maksiat.

Makanya Allah mengadakan kitab Qur’an yaitu untuk menjadi petunjuk manusia agar jangan salah langkah masuk kepada Neraka. Alhasil kitab Qur’an bukanlah untuk menghukumi orang lain, tapi untuk menghukumi diri sendiri (untuk yang membacanya) tapi sebagian besar, hasil dari pada ngaji Qur’an suka di pakai menghukumi kelakuan orang lain, terhadap ilmu yang ada di orang lain. Sangat jarang dipakai untuk menghukumi kepada prilaku dan ucapnya sendiri yang buruk. “amal saya untuk saya, amal orang lain buat orang lain” ” FASTABIQUL KHAIRAT ”
Rukun Agama, Rukun Islam, Rukun Iman, Rukun antar sesama.

Af’alullah jika sekarang dipakai melakoni keburukan seperti yang disebutkan di atas, akibatnya tentu jadi Neraka (ketidakenakan) dari sekarang terus terbawa ke Akhirat, malah nanti di Akhirat hasil dari pada keburukan – keburukan, apakah itu dari tekad, ucapan, prilaku dari aqil baligh sampai mati menjadi satu, menjadi Neraka yang lebih besar dan tempat yang kekal.

Sebalikna jika Af’alullah dari aqil baligh dijalankan kepada kebaikan, dipakai jalan ibadah, dipakai prilaku, ucap dan tekad yang baik, tentu nanti di Akhirat menjadi Surga yang lebih agung ni’matnya serta langgeng, jadi SIFAT KELAKUAN yang kelak akan menghuni Surga.

Wujud adalah salah satu kenyataan wujud Af’alullah (perbuatan) jadi jelas bahwa ini bukanlah wujud manusia. Wujud manusia adalah ghaib, ada tapi tidak terlihat, yang terlihat adalah kenyataan Af’alullah, diri manusia itu tersembunyi ;

“Waman aroffa nafsahu, faqod aroffa robbahu”….”man aroffa robbaha, faqod jahilan nafsah”

Siapa manusia yang tahu kepada dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya, dan tentu merasa bodoh dirinya.

Diri kita harus di cari, yang terlihat sekarang ini adalah bukan diri manusia, bukan mencari barang yang sudah bukti, malah sejak kecil jasad ini sudah di akui, sudah ketemu.

Jika manusia tahu kepada dirinya sendiri tentu merasakan bedanya antara Allah dan manusia , bedanya yang suci dan yang kotor, setiap merasa kotor, sudah pasti tahu jalannya yang menjadikan kotor, tentu mau bersungguh-sungguh bersih-bersihnya (Taubat)

Jika bisa memenuhi empat perkara yaitu Syariat, Hakikat, Tharekat, Ma’rifat pasti sempurna dunia dan akhiratnya, di dunia menjadi sah ibadahnya (Amal dan Iman)

“Ma’rifatin laa tasihu sholaatuhu ‘Man Shollaa bilaa ma”
“Kesempurnaan di Akhirat adalah tergantung bagaimana di Dunianya”

SYARIAT – THAREKAT – HAKIKAT – MA’RIFAT;

Syariat – Tharekat – Hakikat – Ma’rifat =
Menghasilkan > ILMU
Menjadi > BUKTI
Berbuah > KEYAKINAN = RUH IMAN
Hakikat Ilmu = Iman
Ke empat ini harus bisa menjadi satu, menjadi rukun agar bisa menyusul, ibaratnya Syariat adalah perahu yang mengambang di atas samudra, Hakikat ibarat lautan air, Tharekat diibaratkan kemudi, supaya sampai ke tengah-tengah laut, Ma’rifat ibarat intan berlian di dasar laut.

Bagaimana menyusurinya di dalam diri?
Apa kenyataannya disebut perahu?
Lautan air apa nyatanya?
Intan apa nyatanya?
Menetapkan Ilmu Syariat sudah lumrah semuanya, yaitu prilaku Ibadah, yaitu dzikir dan ngaji, hafalan ayat, rajin Shalat, mendengarkan ceramah dll.

Hakikatnya yaitu kata Ilmu Syariat adalah HATIkenyataannya, Tharekatnya yaitu Mandi (Penghilang hijab) Shalat To’at, Shalat Taubat, Shalat Munajat, Dzikir/Wirid disebut Naqsabandiyah, Naqodariyah, Naqsatariyah, apakah Ma’rifat ahli Syariat? Asal saja percaya bahwa bumi dan langit buatan Allah, itu tidak akan salah, tiap-tiap ada bukti buatan-Nya, sudah pasti adanya Allah, begitu saja lumrahnya Ilmu Syariat, di kerjakannyapun di tuntut satu persatu, ke empatnya tidak berbarengan, seharusnya yang empat harus bersatu, harus rukun.

Supaya bisa sampai Ma’rifat kepada Maha Suci, oleh ilmu Hakikat, yaitu harus bisa yang empat menjadi satu, Syariat, Hakikat dan Tharekatnya, harus bergulung kepada Ma’rifat, diibaratkannya ;

SYARIAT yaitu PERAHU
HAKIKAT ibarat LAUT
THAREKAT ibarat KEMUDI dengan perabotannya agar supaya sampai ke tengah-tengah pusaran samudra, untuk mengejar MA’RIFAT sejati yaitu INTAN BERLIAN

Nyatanya PERAHU tadi, buktinya adalah BADAN, yang bernama WUJUD JASMANI.

LAUT nyatanya RUH adalah yang merubah kepada jasad, sehingga bisa bergerak dan berbalik tiada lain oleh ijin Ruh.

PERAHU bisa gerak digerakan oleh samudra, persis seperti jasmani digerakan oleh Ruh.

KEMUDI-nya adalah tangan kanan dan kiri yang membawa ke tengah-tengah samudra.

Meskipun sudah di tengah jika tidak dengan menyelam pasti tidak akan mendapatkan Intan berlian, samudra yang sangat dalam, taruhannya nyawa karena banyak pemangsa seperti berhala dan makhluk – makhluk buas yang sangat mengerikan, ada 100 kerajaan dan 4 kerajaan di kuasai oleh dewa api, dewa angin. dewa air, dewa bumi, ke 105 adalah Jauhar Awwal Rasulullah, makhluk-makhluk buas itu menggoda agar menyelamnya tidak jadi, akhirnya pulang lagi ke darat, di akhir pasti menyesal karena tergoda, matinya tidak bisa sampai tetap mengambang di lautan. Terombang- ambing oleh ombak, terkena benturan dengan batu karang, bercampur dengan najis, bangkai-bangkai dan kotoran di atas laut, siksaan bagi yang tidak sampai kepada dasar samudra Intan berlian, Intan berlian di dalam diri, satu Nur-Nya Allah Yang Maha Suci, yaitu Iman, sifatnya Iman [RUH IMAN]

TINGKATAN IMAN ;
1. Iman ‘Am [umum]
2. Iman Ilmu [Ma’rifatullah illabillah]
3. Iman I’an [Ainul yaqin, Istiqomah]
4. Iman Haq
5. Iman Hakikat
6. Iman Hakikatul Hakikat
7. Iman Hakikatul Yaqin

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s