TENTANG SRI MAWUR. BAJANG WURUNG. KAMA WURUNG (SETAN/SYAITHON)


images
TENTANG SRI MAWUR. BAJANG WURUNG. KAMA WURUNG (SETAN/SYAITHON)
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes Jateng Hari Selasa Wage tgl 18-08-2015

Para Kadhang Kinasihku semuanya tanpa terkecuali dimanapun berada…
Kita sama-sama sudah salin mengetahui, entah itu katanya kabar, atau menyaksikannya sendiri, tentang berapa banyak saudara-saudari kita diluar sana, yang mengalamai kegagalan dalam berusaha, kesulitan dalam berjuang, kesusahan dalam kehidupan ini, bahkan kita sendiri mungkin mengalaminya. Mengapa bisa begitu dan seperti itu? Sedang di dalam Firman telah di jelaskan, bahwa sesungguhnya, semua kebutuhkan makhluk hidup, terutama manusia, itu telah di sediakan oleh Maha Suci Hidup, sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, di dalam doapun, ada hukum pasti di kabulkan. Yang inti artinya, tidak seharusnya manusia mengalami gagal dan sulit serta susah. Di firman lainnya, menjelaskan pula, sesungguhnya, manusia itu sendiri yang telah menganiaya dirinya sendiri. Yang inti artinya, Maha Suci Hidup, tidak pernah menggagalkan dan menyulitkan serta menyusahkan umatnya. Melainnya umat itu sendirilah yang telah menggagalkan dan menyulitkan serta menyusahkan dirinya sendiri. Mau tau penjelasan lengkapnya? Berikut ini kutipannya, hasil dari pengalaman praktek langsung saya di TKP. Bukan katanya apapun, melainkan bukti dari al-kitab kejadian yang saya baca lalu saya telusuri sendiri dengan iman, di TKP.

Al-kisah… Berawal dari Kitab Kejadian Manusia Pertama, yaitu; ADAM/ADAMU. Pro Kadhang kinasihku, dalam kitab kejadian di jelaskan, Saat Maha Suci Hidup menciptakan Adam, manusia pertama yang nantinya akan berkembang biyak memenuhi jaga raya, karena itu, sebagai Bibit awal, Adam di ciptakan secara khusus dan istimewa oleh Hyang Maha Suci Hidup, Tubuhnya/Wujudnya, yang berbahan dari tanah liat pilihan, di bentukNya dengan sangat hati-hati dan termata teliti, hingga terhasil menjadi makhluk paling indah dibanding makhluk-makhluk ciptaanNya yang lainnya. Hidungnya, matanya, telinganya, mulutnya, wajahnya, rambutnya, kepalanya dan bla bla bla lainya, dibuat sedemikian beda dengan lainnya. Hingga layak di sebut MANUSIA/MANUNGSA. Lalu di bekali 4 saudara, yang di ciptaNya dari 4 anasir, yaitu Air, Angin, Api dan Sari-sarinya Bumi. Tersebut; Mutmainah, Aluamah, Supiyah dan Amarah, dalam istilah lain, malaikat 4. Tersebut; Jibril, Mikail, ijroil dan isrofil. Sebagai pendamping atau sahabat dalam suka maupun duka, sekaligus abdi dalemnya. Sehingga mendapatkan pujian dari makhluk-makhluk lainnya, sebagai makhluk paling sempurna di banding dengan makhluk-makhluk lainnya yang di ciptakan Hyang Maha Suci Hidup. Lalu Wujud/Tubuh yang telah di lengkapi 4 pendamping itu Di TiupNya, dengan Sabda. Kun Faya Kun. Dan… Wujud/Tubuh Manusia/Manungsa paling indah dan sempurna itu, mulai bergerak dan bangkit sungkem/sujud di hadapan Hyang Maha Suci Hidup untuk mengucapkan Syukur/Terima kasihnya. Dan mulai saat itulah, wujud manusia sempurna itu mendapat julukan Manusia Hidup/Manungsa Urip dengan sebutan ADAM. Yang artinya; Asal Dumadi Ananing Mansungsa, aksara arabnya; ADAMU. Yang Berati Asal Dumadi Ananing Manungsa Urip.

ADAM pun mulai beribadah kepada Hyang Maha Suci Hidup sesuai dengan yang Telah diajarkan Hyang Maha Suci Hidup kepadanya. Setelah memperhatikan sekitarnya, dan menyaksikan makhluk lain, memiliki teman yang berwujud sama, Adam mulai merasa bahwa dirinya tidak sempurna seperti yang di sebutkan oleh makhluk lainnya kepadanya. Karena, Adam melihat, selainnya memiliki teman, sedang dirinya hanya seorang diri. Munculah sipat protes dalam benak Adam, pemikiran, kenapa saya di cipta hanya seorang diri, sementara lainnya berpasangan. Protes ini sampai kehadirat Hyang Maha Suci Hidup, dan Adampun memohon agar di buat sama seperti yang lainnya, dan sejak itulah, manusia hidup di sebut telah menganiaya dirinya sendiri. Karena kehendaknya yang menginginkan terciptanya dunia keinginan, karena Hyang Maha Suc Hidup itu Maha welas Asih, maka, di kabulkanlah keinginan Adam itu, sehingganya, Maha Suci Hidup, menciptakan manusia lagi untuk yang kedua kalinya, manusia kedua setelah Adam, yaitu Siti Hawa, yang artinya. SITI itu TANAH/BUMI/DUNIA dan HAWA Berarti Keinginan (Tanah/Bumi/Dunia yang di inginkan). Hyang Maha Suci Hidup, menciptakan Siti Hawa tidak seribet dan sedetil dikala menciptakan Adam, Maha Suci Hidup tidak perlu itu dan ini, semua prosesnya serba singkat, yaitu cukup dengan cara mengambil iga/tulang rusuk Adam, lalu di cipta menjadi wujud Siti Hawa dan di Tiup dengan sabda Kun Faya Kun, lalu Hiduplah Siti Hawa dan selesai. Sajak itu Adam memiliki pendamping lain, selain sedulur 4nya, yaitu Siti Hawa, Sebagai wujud dari keinginannya itu. Yang nantinya akan berkembang biyak mengisi Dunia keinginannya hingga penuh, Setelah itu, mulailah bermunculan masalah demi masalah dan persoalan demi persoalan dalam proses kehidupan Adam, yang kemudian Maha Suci Hidup menurunkannya ke Tanah/Bumi/Dunia keinginannya itu, sebagai khalifah yang harus kembali kepadaNya jika sudah di kehendakiNya.

Hyang Maha Suci Hidup… Menciptakan lagi, manusia ketiga setelah Adam dan Siti Hawa, agar Adam tidak kewalahan merawat Dunia, manusia ketiga yang di ciptakan Maha Suci Hidup, Tidak Seribet dikala menciptakan Adam, juga tidak sesingkat dikala menciptakan Siti Hawa. Melainkan Dengan KasihNya yang Agung lagi mulia dan bijaksana. Yaitu dengan Cara, menggerakan Kasih Adam dan Sayang Siti Hawa, kemudian di satukan dalam Cinta, dan didalam Cinta itu, Maha Suci Hidup menciptakan Benih Hidup, yang kemudian di prosesNya menjadi Janin/orok. Lalu dengan mengalirkan kekuasa’anNya yang dahsyat, benih hidup yang telah di prosesnya menjadi janin itu, di tumbuhkan, di kembangkan hingga menjadi wujud bayi yang terus bertumbuh seiring waktunya. Dan lahir/muncul kedunia ebagai anak Adam, untuk ikut menghuni Dunia bersama Adam. Setelah pencipta’an manusia ketiga. Hyang Maha Suci Hidup, menciptakan manusia-manusia berikutkan Hingga sampai kepada kita kini, dengan cara yang sama. Yaitu, menyatukan kasih Adam dan Sayang Siti Hawa dalam Cinta. Artinya; Bahan berupa Benih Hidup di amanahkan kepada Adam, dan Alat Prosesnya di Amanahkan kepada Siti Hawa.

Itulah Sekilas Pengetahuan Tentang Pencipta’an Manusia Hidup yang Berpangkal pada ADAM (Asal Dumadi Ananing Manungsa) ADAMU (Asal Dumadi Ananing Manungsa Urip) Asal Terjadinya Manusia Hidup. Menurut Al-Qitab Kejadian yang saya Pelajari dan saya Praktekan secara langsung di TKP. Di saat saya mempelajarinya, saya tidak menemkan jejak-jejak yang menceritak bahwa Hyang Maha Suci Hidup menciptakan Setan. Iblis,,, yang di cap Setan oleh kebanyakan saudara-saudari kita itu, bukanlah setan, Iblis adalah termasuk Malaikat, yang di laknat Maha Suci Hidup karena mbalelo/membangkang. Bukan setang, sekali lagi, Hyang Maha Suci Hidup, tidak pernah menciptakan SETAN, saya sudah keliling jagat mencari sejarahnya, namun tidak menumakannya, bagi saya, ini sudah cukup untuk di jadikan bukti, bahwa Maha Suci Hidup itu, tidak menciptakan SETAN.

Kalau Maha Suci Hidup tidak menciptakan Setan, lalu kenapa dan mengapa di pohon beringin ada setannya?, di jembatan rusak ada setannya?, di rumah kosong ada setannya?, dimana-mana banyak setannya? DLL. Mari Kita Ungkap Bersama sejarahnya… He he he . . . Edan Tenan.

PERTAMA:
Hasil telisik pembuktian diatas: Di setiap diri Lelaki, ada amanah dari Hyang Maha Suci Hidup, berupa Sperma/mani (Bibit/Benih Hidup) Sedangkan disetiap diri wanita, ada amanah Hyang Maha Suci Hidup, berupa Kandungan. Dengan Begitu, apapun alasannya, jika lelaki dan wanita memadu kasih sayang, berati sedang menjalankan proses penanaman benih/bibit hidup dan penumbuhan janin/manusia. PEN. Tidak bisa diganggu gugat dengan persoalan bagaimanapun. Artinya, jika kedua amanah itu sudah di satukan, dipertemukan, maka, Hakekatnya harus dan Syare’atnya pun harus menjadi Manusia. Jika tidak,,, misalnya karena di cegah dengan alat kontrasepsi KB, seperti spiral, kondom, pil dll, Benih hidup tetap akan menjadi benih hidup, walaupun tanpa wujud, benih yang sudah di tanam itu, akan tetap tumbuh sesuai kodratnya. Disinilah awal terciptanya SETAN. Jadi,,, Setan itu bukan Cipta’an Hyang Maha Suci Hidup, melainkan Cipta’an Para Manusia Lelaki yang Mencecerkah Benih Hidup yang di amanahkan kepadanya Oleh Maha Suci Hidup, di sembarang Tempat. Inilah yang di Sebut Sri Mawur. Bajang wurung. Kama wurung. Sri mawur, tercipta karena si Lelaki mengeluarkan Sperma dengan cara melakukan Onani atau seks oral atau dengan wanita tapi sperma di keluarkan diluar, bukan di vaginanya atau mimpi. Bajang wurung, tercipta karena si Lelaki mengeluarkan Sperma dengan cara menggauli wanita yang bukan istrinya, misal; pacarnya, selingkuhannya atau WTS, tapi tidak membuahkan anak. Kama wurung, tercipta karena si Lelaki mengeluarkan Sperma dengan cara melakukan berhubungan badan dengan istrinya, namun di cegah dengan alat kontrasepsi KB, kondom, pil, spiral, suntik dll.

Karena Bibit/Benih Hidup yang merupakan amanah dari Hyang Maha Suci Hidup, akan terciptanya manusia-manusia berikutnya, itu akan tetap hidup walaupun tanpa wujud, artinya, bibit/benih hidup itu, ada sebagai wujud gha’ib, karena tidak memiliki wujud, maka tersebut arwah yang menempati alam ruh. Yang kita kenal dengan sebutan Syaithon… SETAN.

Berapa kali kita melakukan; Onani atau seks oral atau dengan wanita tapi sperma di keluarkan diluar, bukan di vaginanya atau mimpi. Maka Sejumlah tulah kita sudah menciptakan Sri Mawur (Setan). Berapa kali kita menggauli; wanita yang bukan istrinya, misal; pacarnya, selingkuhannya atau WTS. Berati sejumlah itulah kita telah menciptakan Bajang wurung (Setan) Berapa kali kita melakukan hubungan badan dengan istri, namun di cegah dengan alat kontrasepsi KB, kondom, pil, spiral, suntik dll. Maka Sejumlah itulah kita sudah menciptakan Bajang Wurung (Setan).

Sebenarnya, mereka belum layak dan tidak layak di sebut Setan, karena mereka belum pernah mengalami mati, sebab mati, hanya bisa dialami oleh yang memiliki wujud, itu sebab mereka, di sebutnya. Sri mawur. Bajang wurung. Kama wurung. Karena prosesnya telah gagal prodak. Mereka adalah anak-anak kita, bukan setan, mereka lahir karena kita, meraka tercipta karena kita, mereka ada karena kita. Sungguh mereka teramat sangat amat menderita, tersiksa, sedih,,,, pedih,,, pilu,,, itupun karena kita yang sebagai bapaknya.

Mari kita merenung sejenak soal mereka; Bagaimana mereka tidak menderita, tersiksa, sedih,,,, pedih,,, pilu,,, Mereka anak kita, tapi kita tidak tau, tidak mengakuinya, mereka memiliki hak yang sama dengan anak-anak kita yang cantik-cantik, tampan-tampan dan lucu-lucu dirumah, mereka butuh boneka, mereka butuh belon, ingin bermain mobil-mobilan, ingin bermain petak umpet, ingin berseda gurau dengan bapaknya, ingin di peluk, ingin di nina bobokin, ingin jajan dll… tapi kita mengabaikannya, hanya karena sekelmit alasan, karena tidak tau, karena tidak melihat wujudnya, ketika kita membelikan mainan mobil-mobilan di si lucu budi, mereka disanapun sama, ingin di belikan juga, ketika kita membelikan boneka untuk si cantk susi, mereka disanapun sama, ingin di belikan boneka, mereka merengek-rengek, menangis sedih dan pilu, karena kita mengabaikannya, mereka merasa diperlakukan tidak adil. Sama-sama anak, tapi pilih kasih, akhirnya mereka menuntut keadilan, dengan cara tetep merengek, sambil memegangi kaki kita, tangan kita, celana kita, baju kita, bahkan saking banyaknya, seluruh tubuh kita di ganduli, di gendongi sambil merengek-rengek. Bagaimana tidak berat ibadah kita, bagaimana tidak sulit usaha kita, bagaimana tidak susah kehidupan kita, la wong… setiap waktu di recokin anak-anak ghaib kita yang menuntut keadilan setiap hari.

Sampai kapan akan begini terus? Bagaimana mereka disana? Tidak tergugahkah kita? Masih tetap asyikah kita mencecerkan Sperma di sana sini? MAKA… MERENUNGLAH. SUDAH BERAPA BANYAK SETAN YANG TELAH KITA CIPTAKAN SENDIRI DI SETIAP HARINYA…?! DAN RENUNGKANLAH… KENAPA DAN MENGAPA KITA SERING BAHKAN SELALU SULIT SUSAH DAN BERAT DALAM HAL APAPUN… Itulah jawabannya.

Kalau Maha Suci Hidup tidak menciptakan Setan, lalu kenapa dan mengapa di pohon beringin ada setannya?, di jembatan rusak ada setannya?, di rumah kosong ada setannya?, dimana-mana banyak setannya? DLL. Mari Kita Ungkap Bersama sejarahnya… He he he . . . Edan Tenan.

KEDUA:
Sungguh tidak ada satupun sejarah dan riwayat yang menjelaskan atau menceritakan, bahwa Hyang Maha Suci Hidup menciptakan SETAN, Maha Suci Hidup, tidak bosan-bosannya menurunkan wahyu, pelajaran, pendidikan, pengetahuan, pemahaman, hingga sampai dengan cara memperingatkan dengan bukti-bukti kekuasa’anNya. Namun… hanya beberapa saja, yang mau ambil tau, yang lainnya bersipat masa bodoh, bersikap acu tak acuh, sehingganya, tersesat di di rimba belantara, tidak tau jalan pulang. Bisa membaca Inna lillaahi wa inna illaahi roji’un, tapi tidak mau ambil tau bahkan tidak peduli dengan apa yang dimaksud Inna lillaahi wa inna illaahi roji’un. Al-hasil,,, jangankan, rumahnya, jalan menuju rumahnya saja, tidak tau sama sekali. Akhirnya, berdomisilah di pohon beringin, di rumah kosong, di jembatan runtuh dan tempat-tepat yang hanya layak di huni oleh nyamuk dan serangga. Kalau sudah begini, Inna lillaahi wa inna illaahi roji’un nya, diganti alias dirubah saja, menjadi Inna lillaahi wa inna pohon beringin’un atau jembatan runtuh’un atau rumah kosong’un atau gunung gundul’un atau surga’un atau neraka’un… Monggo… Silahkan Di Renungkan ya. Jangan Di bayangkan, nanti jadi bayangan yang menghantui setiap tidurmu lo… He he he . . . Edan Tenan. Ingat…!!! Di Renungkan atau di Pikirkan. Jangan di bayangkan.

Soal Arwah Kesasar dan Gentanyangan, itu urusan Hyang Maha Suci Hidup dan keluarga yang bersangukatan, Tapi kalau tentang Sri mawur. Bajang wurung. Kama wurung, mari kita bahas lebih lanjut, agar dunia ini, tidak segera penuh oleh anak-anak gha’ib kita, bagaimana caranya, agar anak-anak ghaib tersebut bisa mencapai kesempurna’an alias kembali ke maqomnya, biyar tidak ngrecoki sang bapak yang sudah terlanjur melakukan ketidak benaran itu, sehingga tidak lagi mengalami kesusahan kesulitan dan kegagalan dalam menjalani segala bentuk proses kehidupan ini? Hanya ada satu cara, yaitu; Mengamalkan Wahyu Panca Gha’ib. Hanya ada satu jalan, yaitu; KUMPUL NUNGGAL SUCI (KUNCI). Karena hanya dengan itu, Sri mawur. Bajang wurung. Kama wurung. Bisa di kembalikan ke maqomnya dengan sempurna.
Untuk yang Sudah mengamalkan Wahyu Panca Gha’ib:
Inilah Lakon;
Sediakan Ube Rampe sebagai berikut:
Wedang kopi tanpa gula 1 gelas.
Wedang teh tanpa gula 1 gelas.
Wedang air putuh tanpa apapun 1 gelas
Rendaman kembang setaman 1 mangkok
Tumpeng punar satu piring.

Kelima ube rampe ini. Merupakan lambang ruh yang tanpa wujud dan proses kembalinya ruh kepada maqomnya.

Inilah Lakunya;
Sediakan tempat yang aman dan nyaman, letakan lima ube rampe tersebut dilantai, lalu duduklah di samping kelima ube rampe tersebut. Silahkan mau menghadap kemana, yang penting posisi ada di samping kelima ube rampe itu.

Duduk rileks dan santai, bebaskan dan merdeka semua panca indera, lalu tarik napas panjang dan dalam secara perlahan melalui hidup, dan keluarkan napas panjang dan dalam secara perlahan melalui mulut, lakukan hingga tiga kali berturut-turut. Sampai merasa plong.

Lalu… Palungguh 3x.
Kunci 7x.
Paweling 3x.
Mijil sampurno 1x.
Lalu semedi mencari enak, jika sudah mendapat enak.
Singkir 3x.
Selesai Singkir, lalu tiupkan napas ke atas 3x… ke bawah 3x dan 1x ke kedua telapak tangan, lalu usapkan ke bagian seluruh badan. Sembari menikmati sentuhan kedua telapak tangan kesekujur badan. Sambungkan Hidup ke Hyang Maha Suci Hidup. Tanpa Embel-embel apapun, tanpa niyat atau kata apapun, cukup menyambungkan/mengkonexsikan Hidup dengan Hyang Maha Suci Hidup. Itu sudah cukup. Ingat…!!! jangan sekali-kali berniyat ucap, menyempurnakan Sri mawur. Bajang wurung. Kama wurung atau yang lain2xnya, jalankan saja seperti petunjuk diatas, Hyang Maha Suci Hidup itu, Maha segalanya, jadi, tidak perlu berucap, DIA sudah tau apa yang kita lakukan. Jadi, setelah lakon dan laku diatas sduah dilakukan, tinggal menyambungkan/mengkonexsikan Hidup kita dengan Hyang Maha Suci Hidup saja. Tak perlu neko-neko. Jika Hidup sudah Tersambung/Terkonexsi dengan Hyang Maha Suci Hidup. Silahkan Bersabda… Contoh Misal. Sri mawur. Bajang wurung. Kama wurung. SEMPURNA. Atau dengan kata apapun, terserah, yang penting simpel, padat dan sesuai dengan yang dimaksud.

Setelah selesai, Lalu palungguh lagi, untuk mengakhiri semedi dan menutup lakon, menyelesaikan laku. Terus mandi keramas, dengan Mijil Sesuji. Selesai mandi keramas, lalu palungguh lagi untuk menyelsaikan laku mijil sesuci, lalu,,, larunglah/hanyutkan kelima ube rampe tersebut di sungai yang airnya mengalir deras. Setelash itu. SELESAI.

Untuk yang Belum mengamalkan Wahyu Panca Gha’ib, ya mau tidak mau, harus mengamalkan Wahyu Panca Gha’ib itu, hingga sampai ke ASMO. Jika belum, berati tidak bisa. Karena, Lakon Laku ini, hanya di perkenankan Bagi yang Sudah KUNCI dan ASMO. Kalau belum, hanya akan buang-buang waktu dan tenaga saja, malahan, bisa jadi tambah parah sikonnya. SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang kinasihku yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. SEMOGA POSTINGAN SAYA KALI INI. Bermanfaat untuk Para Kadhang yang belum mengetahui ini dan Bisa menggugah Rasa Hidup siapapun yang membacanya . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Bertamu Di Dunia. Negeri Penuh Rekayasa:


Bertamu Di Dunia. Negeri Penuh Rekayasa;
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes. Malam selasa kliwon. Tgl 4 agustus 2015

Malam Selasa Kliwon tanggal 4 agustus 2015, saya Kekadhangan di Malahayu Brebes jawa tengah. Bersama 10 orang anak didik saya, di rumah kadhang di malahayu yang kami datangi itu, saya mangambil tema kekadhang tentang falsafal “Urip mung mampir ngombe” yang saya beri judul, Menjadi Tamu Dunia Di Negeri Penuh Rekayasa. Saya sepintas mengungkap tentang perjalanan spiritual di dunia dan proses setelah meninggalkan dunia yang penuh rekayasa ini. Mulai dari jam 21:09 manit, hingga tanpa perhatian jam waktu telah menunjukan pukul 02:45 manit. Karena sudah menjelang pagi dan ungkapan demi ungkapan kekadhang telah selesai, kamipun berpamit undur diri untuk pulang ke rumah masing-masing.

Dan setibanya dirumah, seusai manembah ingarsaning Hyang Maha Suci Hidup, saya duduk di tempat tidur saya, saya mengambil sebatang rokok dan korek apinya, lalu menyalakan dan menikmatinya isapan demi isapan, karena kerongkongan terasa kurang segar, sayapun spontan refelks mengambil air minum dan meminumnya, sambil nongkrong di samping tempat air minum, saya memandangi gelas kosong bekas air minum yang baru saja saya minum. Tiba-tiba Perasa’an saya berkata;

Perasa’an:
Para pujangga piawai dalam mengungkapkan apa yang terjadi pada zamannya dan menawarkan solusi yang bijaksana, bagaimana mensikapi ungkapan para leluhur yang telah merakyat seperti “Urip mung mampir ngombe”, Hidup hanya sesaat yang seakan hanya untuk minum beberapa tegukan saja, kemudian melanjutkan perjalanannya. Bukankah bangsa kita dalam keadaan carut marut, seperti ini juga dikarenakan ketidakpedulian sebagian masyarakat, yang hanya bisa mengeluh tanpa berkontribusi memperbaiki keadaan negerinya?

Saya menghela napas panang,,, dan tiba-tiba pula, Rasa saya berkata;
Rasa:
Sebagian masyarakat hanya memahami ungkapan sepotong-sepotong saja. Para leluhur juga mempunyai ungkapan “Sopo sing nandur winih bakal panen wohing penggawe”, Siapa yang menanam benih akan memetik buah tindakannya. Itu adalah ajaran untuk bertanggung jawab atas segala hal yang telah kita lakukan sebelumnya. Apa pun yang kita terima adalah akibat dari tindakan masa lalu kita. Tidak peduli itu buruk ataupun baik.

Perasa’an:
Benar juga, kita harus pandai memahami secara keseluruhan. Bukankah Sayidina Umar sang panglima perang pun sangat “Jawa”, karena beliau berkata bahwa “Pada hakikatnya setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu dan uang yang dimilikinya adalah pinjaman”. Seorang tamu pastilah cepat atau lambat akan pergi, dan pinjaman harus dikembalikan. Sayidina Umar pun berbicara tentang hukum aksi reaksi, hukum sebab akibat, yang pinjam akan mengembalikan.

Rasa:
Saya ingat pada buku “Ah, Hridaya Sutra” yang mengambil contoh Sang Sariputra, murid Sang Buddha Gautama, yang pernah saya baca sekitar tahun 2000 yang lalu.

Tinggal di Hotel Bumi ini, jadilah seorang tamu seperti Sariputra. Sadar sepenuhnya dan bertindak sesuai dengan kesadarannya, dia tidak perlu dibelenggu dengan rantai peraturan dan hukum hotel yang ditamuinya. Seorang tamu seperti Sariputra akan dipercayai penuh oleh manajemen hotel yang diinapinya. Mereka yakin bahwa ia tidak akan mencuri handuk dalam kamar mandinya. Tidak akan mencuri asbak dari ruangan tamunya. Tidak akan merusak penutup klosetnya. Ia dipercayai akan menjaga kebutuhan dan keindahan kamar yang disewanya.

Perasa’an:
Iya ya,,, mereka yang sadar tidak akan merusak bumi, tidak merusak lingkungan hidup, tidak merugikan masyarakat, tidak merekayasa tayangan, tidak menjadi makelar kasus pada profesinya……

Akan tetapi, bagaimana seandainya tamu tersebut mampir di Hotel Bumi yang berwujud negara penuh rekayasa ini ya… Raksasa masih jelas wujudnya, akan tetapi rekayasa? Mafia? Wajah bak satria tetapi berkelakuan raksasa. Kepala negara pun menyebut tentang pemberantasan “Mafia”. Satgas Pemberantasan Mafia Hukum yang dibentuk Kepala Negara menengarai di berbagai bidang terjadi “Mafia”. Disebutkan ada sembilan “big fish” yaitu mafia peradilan, mafia korupsi, mafia pajak dan bea cukai, mafia kehutanan, mafia tambang dan energi, mafia tanah, mafia perbankan dan pasar modal, mafia perikanan, mafia narkoba, sampai mafia Vagina dan Penis.

Kalau ada “big fish”, bagaimana “medium” dan “small fish”-nya. Pasti sudah menyebar ke mana-mana………

Mafia Asli sendiri mungkin geleng-geleng kepala melihat ilmunya berkembang luar biasa. Apakah “seorang tamu yang sadar” cukup “tidak ikut terlibat” dan segera melanjutkan perjalanannya?

Rasa:
Jujur saya tidak tahu persisnya. Tetapi leluhur kita menekankan dunia ini adalah sebuah panggung dan ada dalang, ada sutradaranya. Setiap orang diberi dharma, peran di atas panggung dunia yang harus dimainkannya. Sang pemain harus selalu ingat pada Sang Sutradara, untuk memahami peran apa yang harus dilakukannya. Agar selalu ingat pada Sang Sutradara, sang pemain harus berkawan, berada dalam kelompok, sangha yang selalu mengingat Sang Sutradara. Seorang pemain yang sadar akan melakukan peran yang dibebankan Ilahi kepadanya secara sebaik-baiknya.

Perasa’an:
Seseorang yang melakukan peran penyebar kebaikan, mengingatkan teman-teman atau murid-muridnya akan Kebenaran. Kemudian beliau mendapatkan ketidakadilan di negeri penuh rekayasa ala mafia di mana dia tengah melakukan sebuah peran. Peran yang diberikan Ilahi kepadanya yang harus dia mainkan.

Rasa:
Pengetahuan kita baru sebatas hukum sebab-akibat dan hukum evolusi. Kita belum tahu peraturan bagi “mereka” yang sudah melampauinya. Hukum diapers yang berlaku bagi para bayi yang masih suka ngompol, sudah tidak berlaku lagi bagi seorang anak yang 3-4 tahun usianya. Demikian pula dengan dharma. Dharma seorang bayi lain dengan dharma orang dewasa. Dharma “Para Suci” lain pula. Hukum alam berlaku selama kita masih berada dalam dunia. Dan dharma atau hukum alam memang bersifat sementara. Ada peraturan baru, dan peraturan lama pun ditinggalkannya. Ada yang kurang baik, maka diperbaikinya. Ada yang dikurangi, ada juga yang ditambahnya. Selama kita masih “terikat” dengan alam, mau tak mau kita harus tunduk pada hukumnya. “Para Suci” telah melampaui mind, telah melampaui dualitas, hukum mereka lain pula.

Perasa’an:
Itulah perlunya seorang Pemandu Spiritual bagi kita. Apakah kita berani mengatakan Sang Buddha Gautama meninggal karena racun yang diakibatkan oleh hukum sebab-akibat masa lalunya?

Apakah kita berani mengatakan Gusti Yesus disalib dan sebelumnya diperintah mengangkat salibnya sendiri karena karma?

Tidak,,, kita tidak berani karena kita tidak paham dengannya. Dharma mereka lain dengan dharma kita, hukum bagi mereka tidak sama dengan hukum bagi kita. Masyarakat menganggap Syeh Siti Jenar dan Al Halaq dibunuh karena kesalahan mereka, apakah demikian bagi Gusti Yang Maha Kuasa? Wallahu alam bisawab, Gusti yang mengetahuinya.

Rasa:
Benar,,, ya benar, kita masih terkurung dalam lapisan-lapisan pikiran kita. Lapisan pola pikiran pertama kita warisi dari kelahiran sebelumnya. Obsesi-obsesi dari masa lalu, keinginan-keinginan yang tidak tercapai dalam masa kelahiran sebelumnya, yang melekat sebagai sifat bawaan kita……. Heeemmmmm,,,,,edan tenan.

Lapisan pola pikiran kedua terbentuk dalam kelahiran kini. Keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi dalam kehidupan saat ini. Lapisan pola pikiran ketiga kita peroleh dari masyarakat, hukum negara, dogma agama, kode etik yang semuanya ikut membentuk lapisan yang ketiga ini. Lapisan-lapisan tersebut bagaikan kurungan diri. Kita belum hidup bebas sejati.

Perasa’an:
Bukankah dalam Kitab Srimad Bhagavatam dikisahkan, bahwa Penjaga Istana Vaikunta Jaya dan Wijaya, harus lahir sebagai Hiranyaksa dan Hiranyaksipu, kemudian lahir lagi sebagai Rahwana dan Kumbakarna dan terakhir lahir sebagai Sisupala dan Dantavakra? Kita melihat mereka sebagai tokoh-tokoh yang jahat, padahal mereka sedang memainkan peran Ilahi yang diamanatkan kepada mereka. Dan mereka menjalankan peran sebaik-baiknya.

Rasa:
Berikut ini adalah penjelasan yang saya ingat dari buku “Ah, Hridaya Sutra”. “Hukum Alam” bersifat ganda ada dan tidak ada. Persis seperti pertunjukan film. Sebagai “pertunjukan” ada, nyata. Tetapi, keber-“ada”-annya, ke-“nyata”-annya hanya “sebatas” pertunjukan film saja. Peran jelek tidak ikut menjelekkan kepribadiannya. Peran bagus tidak ikut memperbaiki kepribadiannya pula. Dan kita semua sedang berperan di atas film dunia. Tidak ada peran yang jelek dan peran yang baik sesungguhnya.

Perasa’an:
Benar,,, ya benar begitu, seorang pemain film, pemain sinetron, pemain teater tahu persis bahwa tidak ada peran yang jelek, yang “kotor” dan tidak ada peran yang baik, yang “bersih” adanya. Peran adalah peran, tergantung bagaimana dimainkannya. “Seorang pemain yang sadar”, memahami bahwa kepribadiannya tidak akan terpengaruh oleh peran yang dimainkannya…………..

Jati diri kita adalah suci, murni dan tidak terpengaruh apa pun juga.
Rasa:
Hukum Sebab-Akibat hanya berlaku bagi jenis kehidupan yang memiliki mind. Karena yang menciptakan dualitas antara baik dan buruk, antara panas dan dingin adalah mind. Pengalaman-pengalaman spiritual para santa, santo, wali, pujangga, yogi membuktikan bahwa manusia bisa hidup “tanpa mind”………

Dan, bahkan lebih baik kualitasnya! Penggunaan mind bisa diminimalkan, cukup untuk mengatur anggaran belanja dan sebagainya. Untuk hal-hal yang masih membutuhkan perhitungan dan matematika…… Hingga pada suatu ketika, mind tidak dibutuhkan sama sekali. Bila mind sering-sering mengalami “kematian”, entah lewat “tidur pulas” atau lewat meditasi, lama-lama ia akan “beneran” mati… He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU SAUDARA-SAUDARI SAYA SEMUANYA TANPA TERKECUALI… MUGA POSTINGAN SAYA INI. ADA MANFAAT DAN HIQMAHNYA . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com
https://padepokanonlinekuncithepower.wordpress.com

Moksha. Mati Sajroning Ngaurip:


Moksha. Mati Sajroning Ngaurip:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes. Hari selasa kliwon. Tgl 4 agustus 2015

Jivan-Mukta, Moksha Selagi Hayat Masih Dikandung Badan;
Di depan sebuah laptop, saya membuka situs web Blog dan wordpress milik saya sendiri, saya bermaksud mau posting artikel tentang dialog antara Rasa dan Perasa’an saya, yang saya alami di malam selasa keliwon tgl 4 agustus 2015, tentang “Urip mung mampir ngombe”,
Ketika conexsi internet saya aktifkan, lebih dari satu jam, saya tidak bisa membuka situs web milik saya, karena jaringan internetnya sedang trobel, leletnya minta ampun. Ketika saya mendesah kesal, tiba-tiba Rasa saya berkata mengajak Perasa’an saya;

Rasa:
Mari kita lihat lihat lembarang buku lama tentang perjalanan kehidupan. Sambil menunggu jaringan internetnya normal. Bukan suatu kebetulan bila seorang teman, di kala mahasiswa mengirimkan penjelasan Tembang Jawa secara kronologis, sesuai tahapan kehidupan. Diawali Tembang “Maskumambang”, emas yang “kumambang”, terapung, saat manusia berwujud janin yang terapung dalam air ketuban. Kedua “Mijil” berarti keluar dari goa garbanya sang ibu, di saat kelahiran. Dilanjutkan “Kinanti”, di-“kanthi”, digandeng tangannya diajari berjalan menapaki kehidupan. Kemudian “Sinom”, menjadi “nom-noman”, remaja usia belasan. Setelah itu “Asmaradhana”, gelora asmara sewaktu dewasa, dalam rangka mencari pasangan.

Selanjutnya memasuki “Gambuh” gabungan, membentuk rumah tangga untuk membuat anak keturunan. Selanjutnya “Durma”, aktif berdharma bhakti bagi negara sebagai pahlawan.

Diteruskan “Dhandhanggula”, mengolah “gula”, menikmati manisan kehidupan. Kemudian sudah saatnya “Pangkur”, mungkur, undur diri dari keduniawian. Diteruskan “Megatruh”, persiapan “megat” ruh, memisahkan ruh dari badan. Akhirnya “Pocung”, dipocong ditutupi kain kafan.

Perasa’an:
Benar juga kata para orang tua, bahwa banyak orang yang lupa “Jawa”-nya, lupa etika tata krama dan tahapan kehidupannya. Melupakan kronologis, tahapan kehidupan dari Tembang Jawa. Sudah “sepuh”, tua tetapi tak mau “mungkur” juga, tak berkeinginan mengundurkan diri dari jabatannya. Tidak bisa mempercayai generasi muda, karena masih ingin memperpanjang “Dhandhanggula”, menikmati manisnya kekuasaannya. Orang yang semestinya menyanyikan lagu pucung yang penuh canda ria, gembira dipanggil Yang Maha Kuasa, masih menembangkan “Kinanthi”, tidak berani memberdaya diri sendiri juga. Bahkan ada juga yang hidupnya seperti “Maskumambang”, menangis terombang-ambing ombak kehidupan dunia… He he he . . . Edan Tenan.

Rasa:
Saya ingat nasehat almarhum Yth Guru spiritual saya dari jung jatim banyuwangi, bahwa kehidupan batin seseorang, semestinya lebih tua daripada kondisi fisiknya. Usia boleh tiga puluhan, tetapi sebaiknya sudah empat puluhan usia kehidupan batinnya. Usia boleh empat puluh limaan, tetapi sudah pensiunan kehidupan batinnya. Sayangnya kebalikannya yang sering terjadi. Usia setengah baya pergi ke disko setiap hari. Kijang tua karoseri tahun 80-an dipakai “ngebut pol” di jalan tol, motor butut di pakai balapan di gang kampung yang banyak anak-anak balita sedang bermain, Berapa lama sih daya tahan diri?

Perasa’an:
Yth guru mu itu sudah memahami antara kedewasaan dan ketahanan diri. Tetapi mengapa beliau tidak lebih progresif lagi? Mengapa setelah tua baru berpikir mati? Mengapa tidak berpikir tentang mati pada saat ini? Bukankah fisik manusia tidak abadi? Sedangkan keinginan tidak punya batasan. Sehingga menjelang ajal selalu ada kekecewaan. Terlambat sudah datangnya penyesalan.

Rasa:
Para leluhur mempunyai ungkapan “mati sajroning ngaurip”, selagi hidup sudah mati. Hampir sama dengan istilah zuhud, melepaskan keterikatan terhadap duniawi. Bagi musafir perjalanan Ilahi, mengikatkan diri pada keduniawian, berarti perjalanan terhenti. Ada juga ungkapan leluhur, bahwa hidup hanya sekedar mampir minum, berhenti sejenak lalu melanjutkan perjalanan lagi. Intinya hidup perlu dijalani tanpa keterikatan pada hal-hal yang bersifat duniawi………

Perasa’an:
Benar juga tuh, selama masih mempunyai keterikatan, hidup yang nampak “bebas” dalam dunia tidak menjamin kebebasan bagi jiwa. Sesungguhnya, dunia ini sendiri merupakan kurungan bagi jiwa. Jiwa kita jauh lebih luas daripada dunia di mana kita berada. Dunia kita sangat sempit dan menyesakkan jiwa. Kebahagiaan datang dari kebebasan jiwa. Jiwa yang masih belum bebas, yang masih terkurung, tidak paham Kebebasan itu apa dan bagaimana? Merdeka itu apa dan bagaimana? Tenteram itu apa dan bagaimana?

Kita takut mati seperti narapidana yang sedang menunggu hukuman mati. Narapidana tersebut lupa arti kebebasan diri. Yang dikejar hanyalah kesenangan-kesenangan tak berarti dalam bui. Kesenangan di tengah ketakutan akan datangnya hukuman mati. Kita sudah terbiasa hidup dalam penjara diri. Meski terbelenggu konsep-konsep keliru, dan terpenjara oleh tradisi-tradisi yang memperbudak jiwa, tetap saja tidak kita sadari. Padahal penjara diri hanya berupa pola pikiran tertanam yang bisa dilampaui. Manusia bisa keluar dari belenggu pikiran menuju kebebasan sejati.

Rasa:
Dulu saya pernah baca buku, tentang Sri Mangkunagoro IV dalam kitab Wedhatama menyatakan bahwa seseorang yang tidak sadar adalah orang yang sakit, tidak sehat jiwanya. Beliau tidak menjatuhkan vonis, bahwa orang yang tidak sadar itu berdosa. Pandangan Beliau akan dibenarkan para ahli ilmu jiwa. Yang sakit jiwa, merasa dirinya hampa, akan selalu mengejar tahta, ketenaran dan harta. Sedang sakit, seseorang ingin menonjolkan dirinya. Yang sakit jiwa merasa begitu kosong, tak berdaya, sehingga membutuhkan pengakuan dari masyarakatnya. Padahal tahta, ketenaran, harta, wanita atau lelaki dan pengakuan masyarakat adalah keterikatan nyata. Tanpa itu semua, dia tidak bahagia. Dia terpenjara oleh keterikatannya. Dan konyolnya, dia tidak sadar bahwa dirinya sedang sakit jiwa.

Perasa’an:
Moksha atau Kebebasan bukanlah sesuatu yang harus dikerjakan menjelang akhir kehidupan. Moksha tidak berada di ujung kehidupan sebelum datangnya kematian. Moksha harus diupayakan saat ini juga. “Jivan-Mukta” atau “Bebas dalam Hidup” adalah sesuatu yang tidak dapat ditunda. Tanpa kebebasan itu, manusia tidak mampu untuk mengungkapkan kesempurnaannya.

Rasa:
Sebetulnya, setiap agama mengajak kita untuk mengalami kematian selagi masih hidup, masih bernyawa. Kematian yang dimaksud adalah kematian ego kita, keangkuhan kita, kesombongan kita, kesia-siaan kita, kebodohan kita, ketaksadaran kita, keserakahan kita, kebencian kita, keirian kita, kecemburuan kita, dan lain sebagainya. Banyak yang malas untuk mengupayakan surga dalam kehidupannya. Mereka yang masih terbakar oleh hawa nafsu dan enggan untuk mematikan api tersebut, sudah pasti menolak Moksha.

Perasa’an:
Kebebasan yang disebut Nirwana, adalah padamnya api nafsu yang menyebabkan derita. Nirwana pun haruslah terjadi selagi kita masih bernyawa. Paripurna atau Maha Nirwana, Nirvana Yang Sempurna yang terjadi saat kematian, hanyalah bersifat simbolik saja. Semacam pengukuhan dari semesta yang diperoleh setelah seorang suci mengalaminya terlebih dahulu dalam kehidupannya. Moksha, Nirwana, Surga, Kerajaan Allah dan banyak istilah lainnya, namun yang dimaksud adalah satu dan sama …… “The Blossoming of Human Excellence”,
Berkembangnya kemanusiaan dalam diri Manusia. Itulah Kesempurnaan Diri Manusia.

Rasa:
Moksha, dalam pemahaman Vedaanta, bukanlah pembebasan dari pikiran-pikiran rendah dan hina saja, tetapi pembebasan dari pikiran itu sendiri. Tidak pula berarti bahwa kita harus membenci pikiran atau menafikan sama sekali…..

Pikiran perlu dibebaskan dari segala macam keinginan. Bukan saja keinginan untuk mendapatkan kedudukan dan ketenaran, keinginan untuk mati syahid pun keinginan. Keinginan untuk menemukan Tuhan pun keinginan. Sesungguhnya keinginan-keinginan kita itu justru memisahkan kita dari-Nya. Keinginan untuk menemukan sesuatu yang sebetulnya ada. Hilangnya Tuhan dari hidup kita betul-betul karena keinginan kita untuk menemukan-Nya. Karena “kehilangan Tuhan” itu terjadi dalam pikiran kita. Kehilangan itu adalah ilusi pikiran kita. Untuk menemukan kembali apa yang “terasa” hilang itu, kita harus menaklukkan perasaan kita. Kita harus mengoreksi sendiri pikiran kita… He he he . . . Edan Tenan.

Vedaanta menyatakan bahwa pikiran bukanlah segalanya. Logika adalah hasil dari sebagian otak saja. Dari bagian kiri otak, dan masih ada bagian kanan yang sama besarnya. Masih ada juga batang otak yang bekerja untuk mengkoordinasikan apa yang ada di otak kanan dan otak kirinya. Masih ada bagian lymbic yang berisi insting-insting dasar manusia. Vedaanta melihat manusia sebagai satu kesatuan. Pikiran adalah bagian kecil dari kesatuan. Dan, logika adalah bagian kecil dari pikiran. Jika menjalani hidup berdasarkan logika saja, maka tak akan meraih kesempurnaan. Jelas tidak bisa, karena hanya mengembangkan satu bagian. Bebaskan diri dari kekerdilan! demikianlah seruan Vedaanta. Bebaskan diri dari ketergantungan pada logika. Karena, apa yang disebut logika atau pikiran logis itu hanyalah berdasarkan ilmu yang diperoleh selama hidupnya. Yang ada keterbatasannya.

Perasa’an:
Moksha bukanlah urusan akhirat, urusan laduni atau dunia lainnya. Moksha adalah urusan dunia. Jiwa yang tidak bebas hanya dapat berhamba. la sangat miskin dan tidak mampu berbuat sesuatu yang berharga. Sebab itu, terlebih dahulu ia harus mengupayakan kebebasan bagi dirinya. Moksha adalah Kebebasan untuk Berpikir, Kebebasan untuk Merasakan, Kebebasan untuk Berkarya. Hanyalah seorang Manusia Bebas yang dapat mengungkapkan Kemanusiaannya. Namun, Kebebasan yang dimaksud bukanlah Kebebasan anarkis juga. Kebebasan yang dimaksud adalah Kebebasan yang Bertanggung-Jawab, Kebebasan yang Menguntungkan bagi Seluruh Jagad Raya.

Rasa:
Bumi berputar tiada hentinya. Dia tak punya keterikatan dengan peristiwa yang terjadi di atas permukaan dirinya. Matahari pun selalu bersinar. Tidak punya keterikatan, tidak terpengaruh banyaknya orang sadar maupun tak sadar. Apa yang terjadi bila bumi beristirahat sebentar? Semua yang ada di atas permukaan bumi terlempar. Apa yang terjadi bila matahari jenuh bersinar? Semua makhluk kedinginan dan punah, tak ada kehidupan yang mekar……

Bisakah kita meneladani mereka. Bertindak luhur, penuh kasih dan mulia. Tidak punya keterikatan dengan apa pun juga. Merekalah contoh yang tidak punya keterikatan selain menjalankan dharmanya…….

Usia boleh menua, akhirnya fisik akan di daur ulang Sang Kala. Akan tetapi Kasih dalam diri abadi sepanjang masa. Setiap saat penuh Kasih terhadap alam semesta, hidup dalam kekinian, lepas dari jerat putaran Sang Kala. Terus berkarya dalam putaran Dharma. “Mati sajroning ngaurip”, sudah mati keinginan pribadi terhadap keduniawian yang fana. “Mati sajroning ngaurip” merupakan ajaran luhur, yang telah lama terkubur, saatnya bangkit dari “tidur”…… dan berjalan kembali… He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU SAUDARA-SAUDARI SAYA SEMUANYA TANPA TERKECUALI… MUGA POSTINGAN SAYA INI. ADA MANFAAT DAN HIQMAHNYA . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com
https://padepokanonlinekuncithepower.wordpress.com