Ingin Mengenal Identitas Dirimu…?! Bukalah Hatimu. Lalu Masuklah kedalam Jiwamu. (Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling Bagian Dua):


Ingin Mengenal Identitas Dirimu…?! Bukalah Hatimu. Lalu Masuklah kedalam Jiwamu.
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling Bagian Dua):
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Hari Kamis. Tanggal 31 Mei 2018

Ingin Mengenal Identitas Diri…?! Jati Diri…?!
Diri Sejati…?!
Atau Sejatinya Diri…?!
Agar supaya bisa mengenal Tuhan.

Tidak perlu pergi mengembara jauh dan tak perlu bayar mahal.

Dimanapu kini berada.
Cukup diam di tempat.
Lalu Buka Hatimu.
Terus Masuklah kedalam Jiwamu.

Seperti penggambaran dalam pentas seni Wayang Purwa dengan lakon BIMA SUCI Vs DEWA RUCI. Selesai.

He he he . . . Edan Tenan.
Masuk ke dalam jiwa/sukma adalah perjalanan yang paling penting dari semua perjalanan hidup yang manusia lakukan.

Ini adalah perjalanan untuk menuju kebenaran yang sesungguhnya, perjalanan untuk menuju kepada sumber dari segala sumber yaitu Dzat Maha Suci Tuhan.

Ini adalah tempat dimana kita akan menemukan kekuatan spiritual dan mujijat kebijaksanaan yang sesungguhnya.

Untuk mengembangkan karakter yang bercahaya (pengetahuan spiritual universal) dan membersihkan pikiran negatif, juga kebiasaan buruk yang bisa merusak kondisi emosi kita menjadi negatif, termasuk membersihkan karma negatif/buruk.

Kita bisa melakukannya dengan cara bersemedi, memgibadahkan Wahyu panca ghaib dengan menggunakan Wahyu panca laku, seperti yang sudah saya kabarkan melalui rekaman Vidio di you tube berjudul Kunci The Power Level Satu untuk menjaga hati. Kunci The Power Level Dua untuk membersihkan hati, dan Kunci The Power Level Tiga untuk membuka hati.

Patrap semedi ini, bisa menenangkan pikiran (jiwa/sukma) dan menemukan ketenangan batin (Ruh/Hidup), pemahaman tentang spiritual, prinsip/hukum tentang penciptaan, yang mana nantinya semua itu bisa membuat harmonis dalam kehidupan kita sehari-hari secara universal.

Dalam Patrap semedi ini, kita akan terkoneksi dengan jiwa/sukma ples Ruh/Hidup kita sendiri, dan sesegera mungkin dengan Dzat Maha Suci Tuhan juga.

Karena Dzat Maha Suci Tuhan itu, ada di dalam hati kita, di dalam diri setiap mahluknya yang ada di seluruh semesta ini, bukan di luar diri kita.

Hati kita, ada di dalam diri kita, bukan diluar diri kita. Jiwa/Sukma kita, ada dalam diri kita, bukan diluar diri kita. Ruh/Hidup kita, juga ada di dalam diri kita, bukan diluar diri kita. Dzat Maha Suci Hidup/Tuhan pun, ada di dalam diri kita, bukan diluar diri kita. Bahkan semua yang ada di luar diri kita, itu bermula dari dalam diri kita sendiri.

Patrap Semedi ini juga, akan membuat kita mulai mengenal apa itu “kesadaran diri sendiri” dan membawa kita kedalam realisasi-diri (mengenai eksperesi diri sejati) yang sesungguhnya, yang sebenar-benarnya.

Jiwa/Sukma dan Ruh/Hidup kita, adalah rantai penghubung kita dengan Dzat Maha Suci Tuhan “Sang Sumber Segalanya” Yang kesemuanya itu, ada di dalam “HATI”

Jiwa/Sukma kita adalah alat dalam diri kita, yang bisa mengekspresikan segala sesuatu dan bisa menghasilkan apapun dengan nyata, senyata-nyatanya.

Kapanpun Jiwa/Sukma kita terkoneksi dengan Ruh/Hidup kita, kita adalah “higher self” dan dalam satu kesatuan hubungan dengan Dzat Maha Suci Tuhan.

Semua manusia hidup di dunia ini, adalah jiwa/sukma, kita ini adalah jiwa/sukma.

Semua manusia hidup di dunia ini, bahkan seluruh mahkluk tanpa terkecuali, adalah bagian dari Dzat Maha Suci Tuhan.

Karena sesungguhnya, kita dan semua serta segalanya tanpa terkecuali, itu berasal dari-NYA dan akan kembali kepada-NYA.

Ketika kita berhasil “masuk ke dalam diri” kita akan otomatis langsung terhubung dengan higher self kita (diri kita yang lebih tinggi, yaitu Ruh/Hidup).

Semakin sering kita terhubung dengannya, maka kesadaran, pengetahuan universal spiritual kita, akan semakin berkembang.

Lakukanlah cara Patrap Semedi ini, sesering mungkin, tanpa terikat waktu dan arah, agar kita bisa lebih sadar dan peka terhadap-NYA.

Karena kita adalah satu kamu, dan kamu adalah satu diriku, orang-orang lain, hewan dan tumbuhan, kita adalah saudara, kita berasal dari-NYA dan kita akan kembali lagi hanya kepada-NYA. Bersambung Ke Vidio di You Tube Yang Berjudul;
Kunci The Power Level Satu untuk menjaga hati. Kunci The Power Level Dua untuk membersihkan hati, dan Kunci The Power Level Tiga untuk membuka hati.

Semoga Bermanfaat. Saya Wong Edan Bagu…. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Iklan

Ingin Mengenal Identitas Dirimu…?! Bukalah Hatimu. Lalu Masuklah kedalam Jiwamu. (Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling Bagian Satu):


Ingin Mengenal Identitas Dirimu…?! Bukalah Hatimu. Lalu Masuklah kedalam Jiwamu.
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling Bagian Satu):
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Hari Selasa. Tanggal 29 Mei 2018.

Ingin Mengenal Identitas Diri…?! Jati Diri…?! Diri Sejati…?! Atau Sejatinya Diri…?!

Tidak perlu pergi mengembara jauh dan bayar mahal.

Dimanapu kini berada…
Buka saja Hatimu.
Lalu Masuklah kedalam Jiwamu.

Seperti penggambaran dalam pentas seni Wayang Purwa dalam lakon BIMA SUCI Vs DEWA RUCI. Selesai. He he he . . . Edan Tenan.

Salam Rahayu Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasih-ku sekalian masih ingat Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling yang berjudul;
Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Rabb-nya (Tuhan), jelasnya…

Man‘ Arafa Nafsahu, Faqad‘ Arafa Rabbahu “Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Rabb-nya”

Begitulah kurang lebih makna dari sabda Rasulullah SAW tersebut. He he he . . . Edan Tenan.

Heeemmmm…
Apa maksud presisi kalimat tersebut…?!

Seperti apa mengenal diri itu…?! Bagaimana bisa dengan hanya mengenal diri sendiri lalu menjadi bisa mengenal Rabb/Tuhan…?!

Apakah diri ini adalah Rabb/Tuhan…?!

Apakah ini terkait dengan pantheisme—menyatunya wujud Tuhan dan wujud manusia…?!

Pasti itu yang berkecamuk dalam pikiran penalaran mereka yang super relegius.

Mari kita perhatikan sabda Beliau SAW tersebut;
“Man ‘arafa nafsahu” Siapa yang ‘arif akan nafs-nya/jiwa-nya.

Ini sebenarnya bukan sekadar mengenal, tapi ‘arif. ‘Arif akan jiwa-nya. ‘Arif, kurang lebih bermakna sangat memahami, maksudnya paham dengan sebenar-benarnya.

Sedangkan dalam “faqad arafa rabbahu” kata faqad, berarti, maka pastilah, atau sudah barang tentu.

Ada kadar kepastian yang tercakup di sana, jauh lebih pasti derajatnya dari sekedar akan. “Faqad ‘arafa rabbahu” berarti “maka pastilah akan ‘arif tentang Rabb -nya”.

“Siapa yang ‘arif akan jiwanya, maka pastilah akan ‘arif tentang Rabb -nya”, begitu kira-kira maknanya.

Lalu Apa maksudnya…?!

Diri kita yang sejati, sesungguhnya bukan wujud/bentuk tubuh kita yang bisa dibedah dengan pisau bedah atau dengan berbagai teori psikologi kepribadian oleh para psikolog.

Diri kita yang ini, yang kita gunakan dalam interaksi, dalam bekerja, dalam berhubungan sosial dengan orang lain dll, sesungguhnya merupakan bentukan dari lingkungan, orangtua, pemikiran, norma, tren, atau paradigma yang ada di zaman kita masing-masing.

Dengan kata lain, diri kita yang ini, yang wujud kasat mata ini, adalah hasil bentukan, dari dinamika lingkungan luar yang berinteraksi dengan aspek jasadi dan aspek psikis kita.

Paduan komposisi dari semua itulah yang membentuk diri kita yang berwujud bentuk lelaki atau wanita ini, dan diri kita yang ini, meski unik, tampan atau cantik sekalipun, adalah diri yang semu.

Ini bukan diri kita yang sesungguhnya atau yang sebenarnya.

Sedangkan, yang dimaksud atau dipanggil oleh Dzat Maha Suci Hidup sebagai diri pada manusia, sebenarnya/sejatinya adalah yang Dia sebut sebagai “nafs” di dalam Al-Qitab.

Nafs, dalam bahasa umumnya kita, adalah “jiwa” atau dalam istilah keilmuannya di sebut juga sebagai sedulur papat atau empat anasir atau sukma.

Nafs-lah, jiwa-jiwa-lah itulah yang dipanggil dan disumpah oleh Dzat Maha Suci Hidup, untuk mempersaksikan bahwa Dzat Maha Suci Hidup, adalah Rabb -nya.

“Dan ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam, dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa-jiwa mereka; “Bukankah Aku ini Rabb-mu?” Mereka menjawab; “Betul, sungguh kami bersaksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan; “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang tidak ingat terhadap ini.” – Q.S. Al-A’raaf [7]: 172

Seperti yang sudah pernah saya uraikan dengan sederhana di artikel yang berjudul “Mari Kita Bersama-sama Mengenal Ruh dan Jiwa Kita” Dan artikel-artikel terdahulu lainnya.

Bahwasannya;
Nafs atau Jiwa atau Sukma atau Sedulur Papat atau Empat anasir kita itu, sudah ada bahkan sebelum alam semesta ini ada.

Dialah yang terus akan melanjutkan kehidupan kita di alam barzakh dan alam-alam berikutnya, setelah kelak jasad kita dengan pikiran, hafalan dan semua gagasan yang menyertainya dan semua dinamika psikis yang terkait dengannya akan mati, lenyap, hancur terurai menjadi tanah.

Itulah sebabnya, akan sangat berbahaya jika kita memahami agama atau kepercayaan hanya berupa hafalan dalil dan konsep di kepala, namun tidak terpahami secara mengakar hingga ke jiwa.

Seiring dengan hancurnya otak kita, maka semua konsep di dalamnya pun akan lenyap, sementara jiwa kita, akan melanjutkan perjalanannya dengan tidak membawa apa-apa, tanpa jenis kelamin dan identitas apapun.

Nafs atau Jiwa sendiri berbeda dengan hawwa nafs, atau yang biasa kita sebut dengan hawa nafsu.

Sebagaimana namanya “hawa nafsu” adalah hawa dari nafs atau jiwa tersebut, hanya sekadar hawa keinginan dari nafs atau jiwa, hawa nafsu sesungguhnya adalah nafs yang palsu.

Karena keinginan-keinginannya sama-sama berasal dari dalam diri kita, sehingga kehendak hawa nafsu, tidak mudah dibedakan dari kehendak jiwa.

Jadi, kesimpulannya;
Diri kita yang sejati, bukanlah jasad dengan segala dinamika psikis maupun psikologisnya.

Diri kita yang sejati adalah nafs (jiwa) yang ada dalam diri kita masing-masing Jiwa, namun bukan sembarang jiwa.

Jiwa yang dimaksud sebagai diri manusia yang sejati, adalah jiwa yang sudah terbebas dari dominasi hawa nafsunya, dari ikatan keduniawian, maupun dari daya-daya syahwati jasadnya.

Nafs atau Jiwa yang telah terbebas dari perbudakan syahwat dan hawa nafsunya inilah, yang disebut “nafs atau jiwa-jiwa yang tenang” oleh Dzat Maha Suci Hidup di dalam al-qitab.

Nafs atau Jiwa yang tenang inilah ia bisa melihat kembali pengetahuan tentang siapa dirinya, untuk apa dia diciptakan dan apa tugasnya.

Semua pengetahuan yang pernah Dzat Maha Suci Hidup tanamkan kepadanyapun, akan terbuka kembali dan tampak dengan jelas baginya.

Nafs-lah atau Jiwa inilah yang dulu mempersaksikan diri kepada Dzat Maha Suci Hidup, berbicara dengan-Nya dan menerima seluruh pengetahuan untuk menunjang tugas-tugas penciptaan yang harus kita laksanakan di dunia.

Sedangkan diri kita yang jasad berwujud ini, termasuk dengan segala dinamika fisik, psikis, dan psikologisnya, sesungguhnya hanya kendaraan bagi sang nafs/jiwa untuk melaksanakan perannya di alam fisik ini.

Diri kita yang ini usianya terbatas. Kelak, ia akan hancur menjadi tanah.

Secerdas-cerdasnya atau sehebat-hebat dan seindah-indahnya jasad seseorang, pada hakikatnya itu hanya seperti kecerdasan dan keindahan seekor kuda, jika dibanding dengan kecerdasan dan keindahan jiwa Sang pengendaranya.

Kecerdasan dan keindahan jiwa, sesungguhnya jutaan kali lipat dibanding jasadnya, jika saja jiwa berhasil membebaskan diri dari perbudakan hawa nafsu dan syahwatnya, dan berhasil membuka kembali ilmu-ilmu ilahiah yang Dzat Maha Suci Hidup tanamkan dalam dadanya.

Nafs/Jiwa inilah yang harus kita kenali dengan se ’arif – ’arif -nya, karena di tataran nafs-lah/jiwa-lah Dzat Maha Suci Hidup, menanam bibit pengetahuan agung tentang siapa kita sebenarnya, untuk fungsi apa kita diciptakan-Nya, dan bagaimana memperoleh segala prasarana untuk menjalankan tugas penciptaan itu.

Bukan di jasad, bukan di otak, tapi di tataran nafs/jiwa, di dalam hati;
“Di dalam setiap rongga dada anak adam, terdapat segumpal daging, yang jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Sebaliknya, kalau ia buruk, maka buruk pula seluruh tubuhnya. Dan segumpal daging itu, tersebut hati. Tempat
AKU menyimpan rahasia-Ku.
“Al-Insanu Siri Wa Ana Siruhu”
(Rahasia kalian adalah rahasia-Ku)

“Dalam setiap rongga anak adam, Aku ciptakan suatu mahligai yang di sebut dada. Di dalam dada ada hati (hati bagian luar), dalam hati, ada qalbu/benak (hati bagian dalam), di dalam qalbu/benak, ada fuad/nurani (hati paling dalam), dalam fuad/nurani, ada jiwa/ruh, di dalam jiwa/ruh, ada rasa, di dalam rasa ada hidup, di dalam hidup, ada Sir Dzat Sipat, dan di dalam Sir Dzat Sipat, ada Aku. Tempat Aku menyimpan Rahasia-ku”

“Al-Insanu Siri Wa Ana Siruhu”
(Rahasia kalian adalah rahasia-Ku)

Tentu, langkah awal untuk mengenal nafs/jiwa, adalah dengan membebaskannya dulu dari waham, kemelekatan-kemelekatan duniawi, dari timbunan karat dosa, dari kungkungan sifat-sifat jasadi maupun dominasi syahwat dan hawa nafsu atas jiwa kita.

Kalau dalam bahasa agamanya, langkah ini disebut sebagai Perjalanan Taubat.

Perjalanan kembali kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah Ta’ala.

Taubat berasal dari kata “taaba” yang artinya kembali.

Sementara, alih-alih ‘arif akan jiwanya sendiri, sebagian besar manusia bukan saja belum mengenal jiwanya, mereka bahkan belum bisa membedakan mana hawa nafsu nya dan mana jiwanya sendiri, karena jiwanya sangat jauh terkubur dalam dosa dan sifat-sifat kejasadiahannya sendiri.

Jiwanya sudah terlalu lemah, karena tertimbun kemelekatan duniawi yang membuatnya lumpuh, buta dan tuli, sehingga tak kuasa lagi untuk mengambil alih kendali atas kendaraannya sendiri yaitu jasad-nya.

Pada umumnya, manusia sudah tidak lagi mampu membedakan mana suara hati nurani, mana kehendak hawa nafsu, mana keinginan syahwat, mana bisikan setan maupun mana kehendak jiwa.

Semua nampak dan terdengar sama saja dari hatinya. BERSAMBUNG KE – Ingin Mengenal Identitas Dirimu…?! Bukalah Hatimu. Lalu Masuklah kedalam Jiwamu.
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling Bagian Dua):

Semoga Bermanfaat. Saya Wong Edan Bagu…. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Mari Kita Bersama-sama Mengenal Ruh dan Jiwa Kita (Wejangan Bagian Kedua):


Mari Kita Bersama-sama Mengenal Ruh dan Jiwa Kita (Wejangan Bagian Kedua):

Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Candi Gedung Songo. Hari Jumat. Tanggal 18 Mei 2018.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasih-ku sekalian…
Setiap manusia pasti pernah berupaya mencari tahu, berbagai pertanyaan dasar, untuk mengetahui lebih dalam, dan lebih banyak lagi, pengetahuan dan pemahaman tentang identitas diri yang lebih popular dengan istilah jatidiri.

Hal ini adalah wajar, karena manusia memiliki rasa keingintahuan yang besar, tentang apapun, yang berkaitan dengan dirinya.

Dan dari keingintahuan yang besar ini juga, terdapat Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dimana ini adalah satu bagian instrument pemahaman dasar, yang dibekali Tuhan kepada ciptaan-Nya, agar manusia bukan hanya bisa mengenal dirinya, namun juga bisa mengenal Tuhan-Nya dan mahluk ciptaan lainnya.

Lalu hingga saat ini sudahkah Anda mengenal diri Anda…?!
atau…
Apakah juga kita sudah mengenal dzat yang menciptakan kita…?!

Tentunya kita masih amat asing, bahkan dengan diri kita sendiri.

Maka dengan ini, semoga kita bisa diberi pemahaman/pengetahuan universal, walau hanya melalui tulisan saya, namun semoga saja bermanfaat. Berikut ini ilmu pengertian dan ilmu pemahaman serta ilmu pengetahuan terkait Judul artikelnya Mari Kita Bersama-sama Mengenal Ruh dan Jiwa Kita.

Hakikat Manusia;
Bagaimana manusia bisa mengenal pencipta-Nya jika ia sendiri tidak mengenal dirinya secara utuh…?!

Sebuah ilmu dibutuhkan untuk mencapai pengetahuan sejati sifat-sifat kemanusiaan pada umumnya.

Ilmu itu diberi nama atau disebut sebagai ilmu pengertian universal dan ilmu pemahaman universal serta ilmu pengetahuan universal.

Yang dalam istilah agamanya disebut sebagai ilmu Syareat. Tarekat dan Hakikat.

Tergabungnya Tiga pelajaran inilah, yang disebut atau dinamai sebagai ilmu pengenalan diri atau jati diri, ilmu yang digunakan untuk memahami identitas diri.

Dan…
Berikut ini definisi masing-masing unsur pada manusia;

Hakikat Manusia.
1). Wujud atau Jasad fisik;
Wujud atau Jasad fisik, adalah yang memiliki bentuk atau wujud atau sosok yang tergambarkan, yang diciptakan dari tanah, yang dibentuk menjadi daging, tulang lalu membentuk; badan, kaki, tangan, panca indera dan sebagainya.

2). Jiwa/Jiva atau Sukma;
Jiwa/Jiva atau Sukma, adalah sesosok mahluk dalam wujud halus, alam yang dibentuk dari unsur alam min sulaatin min thiin atau ekstrak alam (sari-sari air, sari-sari angin, sari-sari api dan sari-sari tanah) yang hidup dan memiliki pemahaman, Pikiran, Perasaan, Intuisi, Emosi, dan Akal.

Bagian iilah yang di sebut sebagai sedulur papat atau kawula dalam istilah keilmuannya.

3). Roh/ruh Atau Hidup;
Roh/ruh Atau Hidup, adalah satu kejadian yang tidak bisa di nalar dengan apapun, kalau harus saya uraikan kejadiannya agar lebih mudah di mengerti dan dipahami.

Kejadian uap atau gas yang keluar dari dalam Dzat, uap atau gas itu, berjalan ke seluruh bagian urat saraf di dalam tubuh manusia.

Unsur ini adalah bagian rahasia Dzat itu sendiri, manusia tidak akan bisa menggapainya/menjangkaunya.

Bagian inilah yang di sebut sebagai Pancer atau Gusti dalam istilah keilmuannya. Dan…

Asal kejadian jiwa/Jiva atau Sukma inilah, yang perlu kita ikuti dan telusuri, dengan jalan berTaubat (Wahyu panca ghaib) dan dengan cara berIman (Wahyu panca laku).

Karena hanya dengan bagitu, kita akan mudah mengidentifikasi diri kita, jati diri kita, sehingganya kita bisa menjangkau atau menggapai dimensi alam Roh/Ruh atau Hidup yang bersifat ghaib atau yang di rahasiakan oleh Dzat.

Dan di dalam Al-qitab pun sama, meng-isyaratkan bahwa unsur kejadian manusia terdiri atas tiga hal yang sudah saya uraikan diatas.

Yaitu;
Unsur badan atau jasad dari Tanah. Unsur Jiwa/Jiva atau Sukma dari empat anasir. Dan
Unsur Roh/Ruh atau Hidup dari Dzat. Seperti yang sudah saya expresikan dalam Vidio dan Artikel yang saya kabarkan di internet tentang turunnya Wahyu pertama dengan menggunakan kronologi penciptaan ADAM.

Berikut tahapan pembentukan diri manusia menurut firman dan hadist yang tersurat di dalam al-qitab.

Mari Kita Bersama-sama Mengenal Ruh dan Jiwa Kita:
Ke1. Jiwa/Jiva atau Sukma;
Sebagai tahap awal, Dzat Maha Suci Tuhan/Allah mengambil sumpah kepada “jiwa” yang masih berada di alam ghaib.

Para jiwa ini belum dipasangkan ke dalam jasad, karenanya ia masih bebas beterbangan dan menunggu dipanggil untuk melaksanakan tugas.

Dzat Maha Suci Tuhan/Allah berfirman dalam surah (Al-Araaf; 172) yang maksudnya;
Dan Ingatlah, ketika Tuhan-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka seraya berfirman;
”Bukakankan Aku ini Tuhan mu”, mereka menjawab :”Bahkan engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi”. Kami lakukan demikaian agar di hari akhirat kelak kamu tidak mengatakan; sesunggunya kami adalah orang-orang lalai terhadap keEsa’an Mu.

Kondisi jiwa yang sudah disumpah ini mengakui Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, sebagai Dzat yang menciptakannya, dan jiwa juga mau menjadi saksi atas segala perbuatan jasad selama di dunia pada hari akhir nanti.

Setelah proses pengambilan sumpah, tahap berikutnya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, menjelaskan tentang tugas pokok, dalam kehidupan di dunia kelak.

Bahwa ia akan mengembang dua tugas pokok, yang mencakup jalan ketaqwaan dan jalan kefasikan. Surah Asy Syams (91:7-10) Firmannya yang bermaksud;
“Dan demi nafs (jiwa) serta penyempurnaannya, maka Dzat Maha Suci Tuhan/Allah ilhamkan kepada nafs itu jalan ketaqwaaan dan kefasikannya, Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikannya dan sesungguhnnya rugilah orang yang mengotorinya”

Ini menunjukan bahwa sebelum jasad manusia di susun, Dzat Maha Suci Tuhan/Allah terlebih dahulu mempersiapkan unsure pokok yang paling utama bagi sosok manusia, yaitu Jiwa, yang sudah diberi pemahaman syareat, tarekat, hakikat keTuhanan dan keilmuan.

Jiwa yang telah mengaku dan mengenal arti keEsaan, keAgungan dan keBesaran Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dengan sepenuh‐penuhnya Iman (Wahyu panca laku).

Disamping itu juga, sudah mengerti fungsi dan tugas keruhaniahan, ia juga memiliki kemampuan pemahaman yang mendalam tentang ilmu Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang universal/luas, yaitu jiwa/nafs/sukma ini, bertugas untuk memberikan pemahaman memilih jalan yang akan ditempuh, apakah jalan itu menuju ketaqwaan atau menuju jalan kefasikan.

Dan jika manusia memiih pada jalan ketaqwaan, maka ia akan termasuk dalam golongan manusia beruntung, jika sebaliknya, maka ia akan menjadi manusia yang rugi.

Karena setiap jiwa sudah dibekali pemahaman dan kesadaran yang sama pada setiap hal yang dilakukannya.

Sebagaimana firman Dzat Maha Suci Tuhan/Allah dalam Surat at-Takwir ayat 1 berikut ini:
“Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.”
Dan setiap jiwa juga sudah dilengkapi dengan system kesadaran atas apa-apa yang dikerjakannya, apa yang dilalaikannya, dan apa yang di pilihnya.

Iman/wahyu panca laku yang melekat pada jiwa ini, adalah bahwa jiwa ini bersifat hidup dan mampu membuat keputusan sendiri, dan penuh kesadaran diri. Surat Al-Infitar ayat 1.
‘Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.”

Sampai disini, maka selesailah tahap pembentukan unsure Jiwa, untuk kemudian dipasangkan pada wujud jasad manusia.

Unsure jiwa ini, kini sudah memenuhi syarat untuk mengemban tugas kehidupan sebagai manusia.

Mari Kita Bersama-sama Mengenal Ruh dan Jiwa Kita:
Ke2. Jasad/fisik;
Tahap kedua adalah proses penyusunan jasad/fisik wujud jasmani atau tubuh manusia.

Unsur jasad atau jisim terdiri dari seluruh angggota tubuh manusia, mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut kepala pless bagian dalamnya, yaitu kepala, badan, tangan, kaki dll, yang terbuat dari salah satu unsure sari pati tanah liat, yang didalamnya mengandung unsure protein.

Ia dijadikan dari tanah liat yang sangat halus dan mempunyai bentuk dan wujud nyata, keadaan dan sifatnya; kasat mata, dapat di raba/sentuh, dapat berubah bentuk, dapat rusak dan dapat dimusnahkan.

Diciptakannya jasad ini, dalam rangka sebagai media/sarana diletakkannya unsur sebelumnya, yaitu jiwa.

Sosok jiwa yang sebelumnya, sudah ditanamkan berbagai pemahaman dan pengetahuan dasar kehidupan, lalu dipasangkan ke dalam jasad/fisik manusia, sehingga jadilah ia sesosok mahluk yang sadar.

Didalam jasad ini Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, melengkapinya dengan akal dan hati.

Akal digunakan sebagai panduan dan perpustakaan utama. Sedangkan hati sebagai bagian halus yang merasa dan memahami.

Unsur hati juga terbagi menjadi dua sisi; Hati Ruhaniah dan Hati Jasmaniah. Hati Ruhaniah adalah sesuatu yang halus, hati yang merasa, mengerti, memahami, dan mengetahui, ia merupakan tempat bersemayamnya iman (Wahyu Panca Laku).

Hati Jasmani adalah sepotong daging yang terletak di dada sebelah kiri, fungsinya untuk mengatur sistem metabolime tubuh/jasad.

Lalu didalam hati ruhaniah juga disematkan dua macam hawa nafsu, yaitu pertama, Nafsu yang menuju jalan cahaya kebenaran (mutmainah yang di bantu oleh supiyah) dan nafsu yang menuju jalan kegelapan ( Amarah yang di bantu oleh aluammah).

Dua nafsu ini akan menjadi jarum penentu arah kehidupan manusia, jika jarum menunju pada arah cahaya, maka ia akan menuju pada Tuhannya, sedangkan jika menuju pada arah kegelapan, maka ia akan menuju pada kesesatan.

Sampai di sini, manusia sudah dikatakan bisa hidup mandiri, namun bagi Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, kedua unsure ini belumlah cukup.

Sebagai konsekuensi di takdirkannya manusia sebagai pemimpin di muka bumi, sebagai mahluk paling sempurna di banding makhluk-makhluk lainnya, maka Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, sekali lagi membekali manusia dengan unsure ke tiga. Yaitu Ruh/Roh (Suci kepunyaan-Nya).

Unsur ini juga dimiliki oleh mahluk lainnya, namun perbedaannya, unsur ruhaniah yang dimiliki manusia ini, memiliki nilai khusus di mata Dzat Maha Suci Tuhan/Allah swt.

Ruh/Roh inilah, yang menyebabkan meningkatnya martabat anak manusia, sehingga menjadikan para malaikat/para ruh-ruh lainnya menghormatinya.

Yang kedua, ketinggian dzat yang disebut Ruh/Roh ini, terlihat dari bagaimana Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, mengatakannya bahwa ini Ruh/Roh-Ku (sebagian dari Ruh/Roh-Ku).

Dengan kehadiran Ruh/Roh-Nya yang suci itulah, manusia bisa menjadi khalifah dimuka bumi.

Mari Kita Bersama-sama Mengenal Ruh dan Jiwa Kita:
Ke3. Proses Penyatuan Ruh dan Jasad/jasmani;
Setelah selesai seluruh proses penyusunan lapisan materil jasad manusia dengan unsure jiwa, maka kemudian Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, memulai proses penyatuan unsure Ruhanian dengan jasad/fisik manusia.

Namun sebelum Ruh ditiupkan oleh Dzat Maha Suci Tuhan/Allah ke dalam jasad manusia melalui proses-Nya.

“Ketika jasad Nabi Adam a.s telah tercipta dengan sempurna, maka Dzat Maha Suci Tuhan/Allah memerintahkan Ruh/Roh untuk memasuki jasad Nabi Adam a.s.

Maka dengan enggan ia menerima perintah tersebut, Ruh/Roh pun akhirnya memasuki jasad dengan berat hati, karena harus masuk ke tempat yang gelap.

Akhirnya Roh/Ruh mendapat sabda Dzat Maha Suci Tuhan/Allah;
“Jika seandainya kamu mau masuk dengan senang, maka kamu nanti juga akan keluar dengan mudah dan senang, tetapi bila kamu masuk dengan paksa, maka kamupun akan keluar dengan terpaksa”.

Lalu Ruh/Roh memasuki melalui ubun-ubun, kemudian turun sampai ke batas mata, selanjutnya sampai ke hidung, mulut, dan seterusnya sampai ke ujung jari kaki.

Setiap anggota tubuh Adam yang dilalui Roh/Ruh menjadi hidup, bergerak, berucap, bersin dan memuji memuji serta lain-lainnya.

Bahkan di gambarkan dalam al-qitab, ketika Roh/Ruh sampai ke lutut, maka Adam sudah tergesa gesa ingin berdiri. Sebagaimana firman Dzat Maha Suci Tuhan/Allah;
“Manusia tercipta dalam ketergesa-gesaan” (Q.S.21:37).

Setelah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah meniupkan Roh/Ruh-Nya kedalam jasad tersebut, dan setelah berada didalam, Roh/Ruh itu, memberikan suatu kelebihan tambahan mengenai kemampuan melihat, mendengar dan hati, dan bagian tambahan ini, yang menjadi bagian kesempurnaan manusia.

Mengapa…?!
Karena tiga kemampuan ini hanya disematkan pada manusia dan tidak pada mahluk lain, dan ketiga kemampuan ini, adalah salah satu sifat kemuliaan milik Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang Maha Segala-Nya.

Namun sayangnya, kebanyakan manusia tidak menyadarinya;
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam tubuh/jasad Ruh/Roh-Nya, dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi kamu sedikit sekali bersyukur.”

Jadi setelah seluruh rangkaian pembentukan jasad yang sudah dilengkapi jiwa, mulailah masuk unsure Roh/Ruh-Nya kedalam jasad.

Sampai tahap ini, proses penyusunan jasad manusia sudah selesai dan dianggap sudah sempurna kejadiaannya, lalu Dzat Maha Suci Tuhan/Allah memerintahkan mahluk lain dan para malaikat untuk bersujud kepada Adam as;
“Dan apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan Roh/Ruh-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud.
(QS. Al Hijr:29).

Ketika Allah sudah menyempurnakan proses kejadian penyatuan jasad dan Ruh, maka perhatikan sepenggal kalimat yang menyiratnya kata-kata ‘meniupkan Roh/Ruh-Ku’ yang artinya bahwa didalam unsure Roh/Ruh ini, ada unsure suci, sehingga dikategorikan sebagai Makhluk paling sempurna di banding makhluk lainnya.

Jadi…
Roh/Ruh dalam diri jasad manusia itu, bukan lah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu sendiri, melaikan sesosok mahluk suci, yang sudah dibekali tiga kemampuan lebih. Yaitu; Sir. Dzat. Sifat atau Nur Allah. Nur Muhammad. Dan Nur Ilmu Muhammad atau Cinta Kasih Sayang.

Roh/Ruh itu kepunyaan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah dan berasal dari-Nya, yang ditiup masuk ke dalam jasad manusia, dimana Roh/Ruh itu, dibekali kemampuan tambahan, yang tidak sama dengan yang di bekalkan pada Roh/Ruh yang ada pada hewan dan tumbuhan.

Roh/Ruh ini memiliki kemampuan penglihatan, pendengaran dan hati yang tajam, yang bersumber langsung dari-Nya.

Dan ketika manusia wafat, maka Roh/Ruh itu akan kembali ke pangkuan-Nya dalam keadaan sempurna tanpa proses apapun.
“akan tetapi di dalam diri manusia ada bashirah (yang tahu)” (QS 75:14).

Kata bashirah ini disebut sebagai yang tahu atas segala gerak manusia yang sekalipun sangat rahasia. Ia biasa menyebut diri (wujud)-nya adalah “Aku”.

Unsur suci yang dimaksud disini adalah bahwa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah menghembuskan tiga unsur suci yang ada pada 99 nama dan sifat terpuji Dzat Maha Suci Tuhan/Allah swt (asmanul husnah), yaitu Al – Samii’ (Maha Mendengar) dan Al – Bashiir (Maha Melihat) serta Hati yang berguna untuk merasa (mudah tersentuh, bergetar hatinya, bergejolak jiwanya) serta sebagai tempat datangnya ilmu, hikmah dan hidayah.

Ketiga unsure ini adalah unsure yang sangat suci dan memiliki tingkatan derajat yang tinggi, karena hanya manusia yang dilengkapi dengan sifat terpuji ini.

Dengan tujuan agar manusia dapat memiliki kemampuan penglihatan, pendengaran dan rasa/perasaan yang mendalam tentang hakikat keilmuan keTuhanan.

Itulah sebabnya kenapa kita disuruh melihat ke dalam diri (introspeksi diri) sebagimana firman Allah dalam surat az-Zariat ayat 21;
Yang Artinya;
“Dan di dalam diri kamu, apakah kamu tidak memperhatikannya.

Dzat Maha Suci Tuhan/Allah memerintahkan kepada manusia untuk memperhatikan ke dalam dirinya, disebabkan, karena di dalam diri manusia itu, Dzat Maha Suci Tuhan/Allah telah menciptakan sebuah mahligai, yang mana di dalamnya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah telah menanamkan rahasia-Nya sebagaimana sabda rasul-Nya;
“Di dalam setiap rongga dada anak adam, terdapat segumpal daging, yang jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Sebaliknya, kalau ia buruk, maka buruk pula seluruh tubuhnya. Dan segumpal daging itu, tersebut hati. Tempat
AKU menyimpan rahasia-Ku.
“Al-Insanu Siri Wa Ana Siruhu”
(Rahasia kalian adalah rahasia-Ku)

“Dalam setiap rongga anak adam, Aku ciptakan suatu mahligai yang di sebut dada. Di dalam dada ada hati (hati bagian luar), dalam hati, ada qalbu/benak (hati bagian dalam), di dalam qalbu/benak, ada fuad/nurani (hati paling dalam), dalam fuad/nurani, ada jiwa/ruh, di dalam jiwa/ruh, ada rasa, di dalam rasa ada hidup, di dalam hidup, ada Sir Dzat Sipat, dan di dalam Sir Dzat Sipat, ada Aku. Tempat Aku menyimpan Rahasia-ku”

“Al-Insanu Siri Wa Ana Siruhu”
(Rahasia kalian adalah rahasia-Ku)

Allah tidak menganugerahkan ini pada mahluk lainnya, dan inilah alasannya mengapa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah memerintahkan mahluk lain (bangsa jin dan malaikat) untuk bersujud kepada Nabi Adam as kala itu.

Serta inilah juga alasannya, mengapa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah hendak menjadikan manusia sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi.

Dan ini juga sebabnya, mengapa dalam berbagai firman-Nya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah selalu mengisaratkan, bahwa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah mengetahui apa-pun yang dikerjakan manusia, yang besar atau kecil bahkan yang nampak ataupun yang tidak nampak.

Karena tiga unsur suci tertanam dalam diri manusia, ketiga unsure ini yang menjadikan manusia sangat istimewa dan sempurna jika dibandingkan mahluk lainnya, tidak kah Anda-Anda tersentuh sadar lalu segera berTaubat dan berIman hanya kepada-Nya saja…?!

Apa saja keistimewaan ketiganya yang melekat pada manusia tersebut…?!

Jika manusia pandai memanfaatkan ketiga keistimewaan yang diberikan ini, maka manusia itu akan mampu menjadi apapun yang diinginkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah terjadi atas dirinya.

Seluruh organ tubuhnya akan bergerak hanya karena Dzat Maha Suci Tuhan/Allah dan atas kehendak Dzat Maha Suci Tuhan/Allah semata. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah berfirman;
“Tidaklah seorang hamba-Ku mendekati-Ku dengan terus menerus bersikap taat kecuali Aku akan mencintai-Nya dan jika Aku mencintainya maka Aku akan menjadi telinganya yang dengannya dia mendengar dan menjadi lidahnya yang dengannya dia bicara dan menjadi tangannya yang dengannya dia menggenggam”

Apakah dengan ini masih kurang…?!
Silahkan di pikir dan di renungkan dengan sadar, agar supaya bisa menyadari apa yang sudah saya uraikan dengan tanpa tedeng aling-aling diatas.

Saya Wong Edan Bagu…. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Keluarkan Isi Hatimu Dan Bebaskan Hatimu Dari Kemelekatan Lalu Persembahkan Hanya Untuk Tuhan:


Keluarkan Isi Hatimu Dan Bebaskan Hatimu Dari Kemelekatan Lalu Persembahkan Hanya Untuk Tuhan:

Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Hari Kamis. Tanggal 17 Mei 2018.

Para Kadhang kinasih-ku sekalian. Wahyu Panca Ghaib. Adalah; tentang isi hati, urusan isi hati, masalah isi hati, soal isi hati, perkara isi hati kita sendiri, bukan yang lain selain isi hati nya kita sendiri.

Karena Wahyu Panca Ghaib adalah Kawula Gusti nya kita sendiri, sedulur papat kalima pancer nya kita sendiri sendiri, empat anasir dan hidup nya kita sendiri.

Dan Wahyu Panca Ghaib atau Pemberian Lima Ruh tersebut – Kawula Gusti atau sedulur papat kalima pancer atau empat anasir dan hidup, bertempat/bermuara/bersemayam di hati kita, bukan di luar diri kita.

Seperti yang sudah saya jelaskan pada Artikel saya beberapa hari yang lalu. Bahwasannya;

“Di dalam setiap rongga dada anak adam, terdapat segumpal daging, yang jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Sebaliknya, kalau ia buruk, maka buruk pula seluruh tubuhnya. Dan segumpal daging itu, tersebut hati. Tempat
AKU menyimpan rahasia-Ku. Maka jaga dan pelihara lah ia.

“Al-Insanu Siri Wa Ana Siruhu”
(Rahasia kalian adalah rahasia-Ku)

Singkat padatnya;
Betapapun kita melakukan semiliyaran kebaikan amal ibadah hebat dan luar biasa di dunia ini, jika hatinya buruk, maka buruk pula semuanya dan segalanya itu.

“Dalam setiap rongga anak adam, Aku ciptakan suatu mahligai yang di sebut dada. Di dalam dada ada hati (hati bagian luar), dalam hati, ada qalbu/benak (hati bagian dalam), di dalam qalbu/benak, ada fuad/nurani (hati paling dalam), dalam fuad/nurani, ada jiwa/ruh, di dalam jiwa/ruh, ada rasa, di dalam rasa ada hidup, di dalam hidup, ada Sir Dzat Sipat, dan di dalam Sir Dzat Sipat, ada Aku. Tempat Aku menyimpan Rahasia-ku” Maka jaga dan pelihara lah ia.

“Al-Insanu Siri Wa Ana Siruhu”
(Rahasia kalian adalah rahasia-Ku)

Singkat padatnya;
Hati adalah alat untuk mencapai Tujuan Hidup Yang Sebenarnya, yang sesungguhnya, yang sejatinya.

Hati adalah muara dan penentu dari semua dan segalanya yang kita perbuat, baik yang di sengaja maupun yang tidak di sengaja.

Itu Lo… Wahyu Panca Ghaib.
Ini Lo… Wahyu Panca Ghaib.
Begitu Lo… Wahyu Panca Ghaib.
Begini Lo… Wahyu Panca Ghaib.
Wahyu Panca Ghaib bukan soal semua BLA BLA BLA lainnya. Melainkan; tentang isi hati, urusan isi hati, masalah isi hati, soal isi hati, perkara isi hati kita sendiri, bukan yang lain selain isi hati nya kita sendiri.

Kesimpulannya;
Mengibadahkan Wahyu Panca Ghaib (taubat) dengan menggunakan Wahyu Panca Laku (iman). Di mengerti atau tidak di mengerti, di pahami atau tidak di pahami, di ketahui atau tidak di ketahui. Berarti;
Mengharap dan menginginkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah berTahta di hatinya. Nah…

Mulai dari sinilah, mari kita merenung bersama dengan kesadaran yang sadar….

Kalau Mengharap dan menginginkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah berTahta di hatinya, agar sempurna kehidupannya di dunia dan sempurna hidupnya di akherat.

Namun kok tidak pernah menjaga dan membersihkan hatinya dari noda dan kotoran hati, seperti kebencian, dendam, fitnah, iri, dengki, hasut, bohong, egois, sombong, pamrih, munafik dll…

Tidak mau membebaskan hati dari belenggu dan kemelekatan duniawi, seperti mencintai harta, tahta, wanita/lelaki dll…

Tidak mau mempersiapkan hatinya dan mempersembahkan hatinya untuk Dzat Maha Suci Tuhan/Allah untuk dijadikan tempat-Nya berTahta.

Kira-kira…!!!
Bisa apa tidak menurut Anda…?!
Mustahil apa tidak menurut Anda…?!

Ingin berTemu guru sejati, ingin mengenal identitas jadi diri pribadi sejatinya, ingin manunggal atau menyatu dengan kawula gustinya, namun hatinya kotor bahkan busuk. Kira-kira lucu apa tidak kalau menurut Anda…?!

Silahkan di renungkan dengan kesadaran yang sadar.

Untuk itu dan sebab itu serta karena itu “Take out all your heart” Keluarkan semua isi hatimu.

Dan…
“Free your heart from attachment” Bebaskan hatimu dari lampiran-lampiran kemelekatan duniawi.

Lalu…
“Present to God” Persembahkan untuk Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, jika memang Anda mengharap Cinta Kasih Sayang-Nya.

Jangan ragu dan bimbang apalagi takut, walau isi hati Anda Hanya Tuhan, karena Dia Maha Segala-Nya. Artinya; Memiliki Tuhan dalam hati Anda, berarti Anda memiliki segalanya.

Jadi…
Tidak Rugi kan!

Saya Wong Edan Bagu…. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Mari Kita Bersama-sama Mengenal Ruh dan Jiwa Kita:


Mari Kita Bersama-sama Mengenal Ruh dan Jiwa Kita (Wejangan Bagian Pertama):

Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Candi Gedung Songo. Hari Rabu. Tanggal 16 Mei 2018.

Ruh dan Jiwa…?!
Ya… Ruh dan Jiwa, karena pada hakikatnya, manusia hidup itu, hanya terdiri dari tiga hal saja. Yaitu Raga atau Wujud Fisik, Jiwa atau Sukma dan Ruh/Roh Suci atau Hidup.

Kalau raga atau wujud fisik, siapa sih, yang tidak kenal wujud fisiknya sendiri yang di puk-puk, di bagus-bagus dan di manja-manja setiap saatnya, jadi, tak perlu lagi di pelajari, karena Anda pasti sudah kenal bahkan hapal.

Yang perlu kita pelajari agar supaya Anda mengenalnya, adalah Ruh dan Jiwa Anda, sebab karena, saya yakin 95% dari kita, belum mengenalnya, sebab karena itu, dunia ini selalu kacau balau, kalau 95% sudah mengenal, ah’ tidak usah 95%, 30% saja sudah mengenal Ruh dan Jiwanya, pasti Damai Sejahtera Gemah Ripah Loh Jinawi dan Rapah Repih Rapih.

Sek-sek pak WEB, tunggu dulu, saya kok jadi bingung bin keder, apa beda antara Ruh dan Jiwa manusia itu…?!

Jawaban:
Ya jelas beda to mas/mbak Bro. He he he . . . Edan Tenan.

Lantas…
Apa perbedaannya antara Ruh dan Jiwa itu..?!

Salam Rahayu Para Kadhang Dan Para Sedulur Kinasih-ku sekalian. Ketahuilah dengan sadar, sekali lagi, dengan sadar Lo ya?

Maksudnya jangan sambil berhayal atau melamun, supaya tidak gagal paham.

Setiap manusia yang lahir ke dunia ini, adalah mahluk pilihan, tidak percaya ya…?!

Oke, akan saya buktikan, untuk membuktikannya, tak perlu menggunakan laku spiritual, cukup dengan ilmu logika kedokteran saja.

Coba renungkan dengan sadar.
Saya ulang sekali lagi, “engan sadar Lo ya…”

Didalam rahim seorang ibu, dari jutaan sel telur yang berkumpul, lalu hanya ada satu saja, yang akan lolos dan bisa dibuahi, yaitu adalah Anda, apakah itu bukan Pilihan…?!

Lalu Anda tahu kenapa Anda yang dipilih dari jutaan calon anak yang lainnya itu…?!

Karena Anda adalah spesial dan Anda adalah orang yang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah pilih untuk hadir ke dunia ini, dengan maksud dan tujuan mulia.

Sekali lagi…
Anda adalah janin yang dipilih Oleh Dzat Maha Suci Tuhan/Allah dan Anda adalah pemenangnya, yang layak hadir di muka bumi ini.

Tapi hingga hari ini, sudah mengertikah Anda dengan tujuan hidup Anda…?!

Sudah tahukah apa alasan Anda dipilih lalu dilahirkan dengan selamat dan tanpa cacat, untuk apa dan dalam rangka apa…?!

Namun… Bukan saja Anda belum mengerti dan memahami serta mengetahui, sehingga Anda sama sekali tidak mengena diri Anda sendiri, Anda juga sudah menodai keterpilihan Anda dan Mengingkarinya.

Akibatnya…
Ada banyak yang belum Anda mengerti dan pahami serta tahu, tapi Anda Sok mengerti, sok paham, sok tahu, padahal baru katanya, kulak jare adol ndean kalau istilah jawanya.

Sekarang…
Mari Bersama saya WEB Mengenal Ruh dan Jiwa Kita, dengan Jalan Laku Murni Menuju Suci dan dengan cara mengibadahkan Wahyu Panca Ghaib atau taubat, dengan menggunakan Wahyu Panca Laku atau iman, untuk mengenal Jiwa dan Ruh kita, sebab karena hanya dengan Jiwa dan Ruh kita bisa.

Bisa apa…?!
Bisa sesuai dengan maksudnya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang telah memilih Anda sebagai mahluk pilihannya. Yaitu Sempurna di dunia dan Sempurna di akherat.

Sudah saatnya Anda bangun dari mimpi jangka panjang yang penuh dengan khayalan dan bayangan semu, sudah waktunya Anda mencari tahu semua alasan tersebut, karena ada tanggung jawab moral didalamnya dan sudah waktunya Anda menyadari akan hal itu, secara syariat dan hakikatnya, agar termasuk pada golongan jiwa-jiwa yang tenang dalam keSempurnaan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Pertanyaan;
Apa perbedaannya antara Ruh dan Jiwa..?!

Jawaban;
1. Ruh/Roh.
Ruh atau Roh berasal dari bahasa Arab, yang artinya “benih hidup atau bibit hidup”. Maksudnya “unsur non-materi yang ada dalam jasad, yang di utus atau di perintahkan Tuhan sebagai penyebab adanya kehidupan”

Kata “Ruh/Roh” merujuk pada aspek non-materi dari manusia, (Manusia memiliki Ruh, namun manusia bukan Ruh).

Ruh atau Roh adalah dzat hidup yang ada di dalam diri manusia, dan memiliki hubungan dekat dengan Dzat Maha Suci Hidup, karena dari sanalah ia berasal.

Arti kata “Ruh” yang paling mendasar adalah “Ruh Suci atau Ruh Kudus”

Setiap kali kata “Ruh” dipergunakan, kata itu merujuk pada bagian non-materi dari kehidupan manusia, termasuk jiwanya.

2. Jiwa/Jiva atau Sukma.
Jiwa atau Sukma, berasal dari bahasa Sanskerta, yang artinya ” benih atau bibit kehidupan”. Dalam berbagai filsafat, jiwa adalah bagian yang bukan jasmaniah dari seseorang.

Kata “Jiwa” merujuk bukan saja pada bagian non-materi dari manusia, namun juga bagian materi.

Jiwa atau Sukma, adalah elemen dari empat Anasir yang ada dalam diri manusia, berbeda dengan “Ruh” kalau jiwa, berasal dari 4 Anasir, sedangkan Ruh/Roh berasal dari DzatTuhan.

Arti kata “Jiwa” yang paling mendasar adalah “Empat Anasir atau Empat Elemen”

Namun demikian, dalam Alkitab, kata tersebut bukan hanya berarti itu saja, namun juga memiliki pengertian-pengertian lain, seperti sedulur 4, atau Sukma, atau Arwah, atau malaikat 4 atau kawula, sedangkan Pancer atau Gustinya adalah Ruh Suci atau Hidup.

Dengan penjelasan diatas, yang di sebut manusia adalah “Jiwa” bukan “Ruh” dan pada dasarnya, manusia itu jahat, dan jiwanya telah dikotori.

Kehidupan Jiwa akan berakhir pada saat kematian fisik, dan kematian fisik, di karenakan Ruh/Roh Sucinya atau Dzar Hidup nya keluar meninggalkan jasad/wujud fisik.

“Jiwa” dan “Ruh” itu pusat dari banyak ilmu pengalaman atau ilmu pengetahuan rohani dan emosional.

Setiap kali kata “Ruh” dipergunakan, kata tersebut dapat merujuk pada pribadi orang itu secara keseluruhan, entah itu kehidupannya maupun setelah kematian.

Kesimpulannya;
“Jiwa” dan “Ruh” itu sama dalam hal penggunaaannya pada kehidupan rohani seseorang yang berIman, hanya saja Berbeda dalam hal acuannya.

“Jiwa” itu pandangan manusia secara horizontal kepada dunia, sedangkan “Ruh” itu pandangan manusia secara vertikal kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Adalah Penting untuk memahami bahwa keduanya merujuk pada bagian non-materi dari manusia, namun hanya “Ruh/Roh” yang merujuk pada kehidupan manusia dengan Tuhan-nya.

Sedangkan “Jiwa/Jiva” merujuk pada kehidupan manusia dalam dunia, baik secara materi maupun non-materi.

Maaf…
Berhubung saat ini saya masih sedang berkeperluan spiritual di Candi Gedong 9 Gunung Ungaran Bandungan Semarang. Maka, nantikan Kelanjutannya setelah saya kembali ke Gubug Jenggolo Manik Boyolali dari Candi Gedong 9 Gunung Ungaran Bandungan Semarang.

Jadi…
Bersambung Ke Mari Kita Bersama Mengenal Ruh dan Jiwa Kita (Bagian Kedua):

Saya Wong Edan Bagu…. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Antara Hantu Dan Tuhan:


Antara Hantu Dan Tuhan;
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Hari Senin. Tanggal 14 Mei 2018.

Tempatnya “Hantu” di tubuh manusia hidup itu. Ada di Pikiran kita. Karena sebab itu, kalau kita mempelajari jalannya kembali kepada Tuhan, menggunakan Pikiran kita, bisa jadi Hantu yang akan menuntun kita, sehingganya “jadi” semakin besar kepalan ego dan pamrih kita.

Tempatnya “Tuhan” di tubuh manusia hidup itu. Ada di Hati kita. Sebab karena itu, jika kita mempelajari jalannya kembali kepada Tuhan, menggunakan Hati-kita, sudah pasti Tuhan itu sendiri yang akan menuntun kita, sehingganya, semakin berImanlah kita.

“Di dalam setiap rongga dada anak adam, terdapat segumpal daging, yang jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Sebaliknya, kalau ia buruk, maka buruk pula seluruh tubuhnya. Dan segumpal daging itu, tersebut hati. Tempat
AKU menyimpan rahasia-Ku.
“Al-Insanu Siri Wa Ana Siruhu”
(Rahasia kalian adalah rahasia-Ku)

“Dalam setiap rongga anak adam, Aku ciptakan suatu mahligai yang di sebut dada. Di dalam dada ada hati (hati bagian luar), dalam hati, ada qalbu/benak (hati bagian dalam), di dalam qalbu/benak, ada fuad/nurani (hati paling dalam), dalam fuad/nurani, ada jiwa/ruh, di dalam jiwa/ruh, ada rasa, di dalam rasa ada hidup, di dalam hidup, ada Sir Dzat Sipat, dan di dalam Sir Dzat Sipat, ada Aku. Tempat Aku menyimpan Rahasia-ku”

“Al-Insanu Siri Wa Ana Siruhu”
(Rahasia kalian adalah rahasia-Ku)

Dengan dua Riwayat Hadist yang saya gabung menjadi satu diatas, yaitu (Hadis Bukhori) dan (Hadis Qudsi). Dan sudah saya perjelas agar supaya lebih bisa di cerna dengan mudah.

Harusnya kan bisa di simpulkan dengan sangat mudah dan sederhana, bahwa Hati, adalah satu-satunya poin penentu dari semua dan segala perbuatan tujuan hidup manusia di dalam kehidupan dunia ini.

Singkatnya. Hati adalah alat untuk mencapai Tujuan Hidup Yang Sebenarnya, yang sesungguhnya, yang sejatinya.

Betapapun kita melakukan semiliyar kebaikan di dunia, jika hatinya rusak, maka rusak pula semuanya dan segalanya kan….?!

Sekalipun 5 agama yang di resmikan oleh pemerintah dunia, kita jalankan semuanya. Percuma-Percuma.

Sekalipun semua kita korbankan, segalanya kita jihadkan, kalau hatinya buruk. Percuma-Purcuma.

Ilmu setinggi langit, amal setinggi gunung, pengetahuan seluas dunia, kalau hatinya buruk. Percuma-Percuma.

Sekalipun hapal Kitab, hapal Komix, hapal Koran, hapal Novel, hapal ayat, hapal, hadist, hapal riwayat, hapal sejarah hapal bla BLA BLA … Sekali lagi saya katakan. Kalau hatinya buruk. Percuma-Percuma. He he he . . . Edan Tenan. Betul…?!

La kalau hatinya tidak buruk, mana mungkin benci iri sirik dengki dendam fitnah munafik pecundang dan melakukan BOM Bunuh diri..?! Iya apa iya…?!

Saya Wong Edan Bagu…. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Teroris…?! NKRI di Teror Lagi…?!


Teroris…?!
NKRI di Teror Lagi…?!
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Hari Minggu. Tanggal 13 Mei 2018.

Setiap kali aktif di internet, tiada henti-hentinya saya mensharekan bab Sadar dan Kesadaran hingga sampai ke kemurniannya, yaitu cinta kasih sayang universal di dalam semua hal, khususnya agama dan kepercayaan apapun labelnya.

Namun…
Begitu banyaknya yang menolak bahkan tidak menyukai saya, bahkan saya di anggap sesat di kira teroris, sampai-sampai, saking bencinya kepada saya, di gunakannya nama dan foto-foto saya untuk menipu orang-orang di internet.

Setelah waktu sudah saya anggap lebih dari cukup, sayapun berhenti, bukan karena menyerah, namun karena sudah waktunya saya diam dan tidak ikut campur lagi urusan duniawi.

Dan baru beberapa hari saya Manekung, meninggalkan urusan duniawi, mata saya terbelalak dengan kerusuhan yang terjadi di Markas Brimob dan Pengeboman di Gereja Surabaya, menggelitik telingaku.

Di tambah lagi banyaknya tulisan-tulisan dari saudara dan saudari saya di Facebook yang menyatakan belasungkawanya terhadap NKRI, sebagai tanda bukti, bahwa ternyata ada banyak yang memiliki rasa sama seperti saya, yaitu Cinta Panca Sila. Cinta NKRI, cinta kedamaian tanah air, membuat saya harus menulis kan hal ini.

Tuhan…
Apakah sudah Kau mulai Pembersihan Jagat Raya ini…?!

Atau karena Engkau belum mengijinkan saya untuk manekung…?!

Sehingga panca indera ku masih Kau Perlihatkan tentang kekacauan dunia yang sedang terjadi…?!

Jika Engkau belum mengijinkan saya Manekung, saya mohon, gerakan lah Para Pemerintah Pusat NKRI, untuk menyuruh seseorang menemui saya di alamat yang selalu saya cantumkan di setiap Artikel saya.

Memberi Surat Perintah Resmi kepada saya, untuk ikut berperan langsung di TKP, mengamankan dan membersihkan serta menyelamatkan NKRI tercinta ini dari Para Pengecut dan Pecundang yang berkedok Agama menteror NKRI.

Walaupun saya bukan perwira negara, dan tidak pernah berlatih seperti para tentara, seperti para polisi, seperti para militer, seperti brimob dllnya, namun percayalah, saya punya keahlian masa lalu untuk bisa menangkap, jika perlu menumpas Para Pengecut dan Pecundang yang berkedok Agama yang sedang memecah belah NKRI.

Saya tidak minta jabatan atau bayaran apapun untuk hal ini, di beri surat perintah mengenai hal tersebut, itu sudah lebih dari cukup, karena mengabdikan jiwa raga saya ini, hanya kepada Tuhan melalui NKRI, itu sudah menjadi tekad bulat saya.

Namun saya tidak akan bergerak, jika tidak memiliki surat perintah tugas, karena saya tahu, ada hukum di dalam NKRI, dan saya tidak mau melanggar UUD Hukum NKRI tersebut.

Numun jika ada surat perintah resmi, saya akan wudar dari manekung ini, saya tidak akan istirahat apa lagi berhenti, saya akan selalu bergerak keseluruh penjuru pelosok dunia, khususnya NKRI, menyampaikan pemahaman yang di melencengkan selama ini. Bahwa; Sebenarnya semua agama secara rasional adalah buatan manusia.

Ada warna politik, spiritual dan adat budaya, yang melandasi lahirnya setiap agama dan kepercayaan apapun labelnya, yang ada di seluruh dunia ini.

Untuk itu, maka semua klaim klaim adanya utusan Tuhan, apalagi Tuhan yang menjelma menjadi manusia, sejatinya semua adalah baru sebatas pengkultusan individu, yang kemampuan spiritual nya mumpuni di masanya dan latar belakang budayanya.

Jadi…
Sebenarnya sama saja dengan para Dewa Dewi dalam ajaran agama Timur, yang setelah mati lalu disucikan, disembah, dihormati dll, karena mereka memang nyata ada, pernah hidup sebagai manusia biasa, dan masih hidup di dimensi lain.

Banyak manusia selama ribuan tahun terjebak agamaku paling benar, agama lainnya salah semua, yang mengakibatkan selalu terjadi konflik dalam kehidupan antar sesama manusia, bahkan dengan yang satu agama namun beda pemahaman.

Akibatnya banyak manusia justru ketika mati malah membawa dosa kebencian, sifat sombong, iri, dendam, fitnah dan kejahatan lainnya atas nama agama.

Akibatnya, banyak orang yang sering bermimpi atau betul betul dibawa ke alam setelah kematian, kemudian menyaksikan sendiri, begitu banyak orang yang dihukum atas kebodohannya sendiri selama hidup menjadi manusia di dunia.

Sebenarnya itu adalah sebuah “PERINGATAN” karena menurut saya, mereka dihukum bukan karena tidak beragama apapun atau berkepercayaan manapun, melainkan karena seumur hidupnya tidak mau belajar sadar di dalam kesadaran agama atau kepercayaan yang di jalaninya.

Memahami dengan kesadaran hidup di dalam kehidupan dunia ini, dengan cara/sistem pandang yang menyeluruh/universal, adalah intisaripati hidup di dalam kehidupan yang sesungguhnya/sebenarnya/sejatinya.

Sebab karena itu, saya selalu mensharekan bab Sadar di dalam berkesadaran hingga sampai ke kemurniannya kesadaran dan sadar, karena inilah intisaripatinya.

Jikalau tidak ada yang berani tegas mensyiarkan secara universal dan umum, entah sampai kapan semua kebodohan spiritual ini akan berlangsung atau berakhir.

Karena setahu saya, baik secara kasat mata maupun non kadat mata, masih terlalu banyak yang belum bisa melepaskan diri dari belenggu perbudakan manusia melalui agama dan kepercayaan apapun labelnya.

Pada hakikatnya, tidak ada yang salah dengan beragama atau berkepercayaan, jikalau itu bisa membuat Anda “sadar diri” atau “mawas diri”.

Siapapun yang Anda sembah atau puja dan puji, mereka bisa memberikan balasan dengan kebaikan yang Anda butuhkan di dalam kehidupan ini.

Namun percayalah, mereka semua bukan lah Tuhan Semesta alam raya ini “jadi” Kebenaran agama bukan lah Kebenaran Mutlak, ada yang lebih mutlak, yaitu “Sang Maha Benar”.

Kalau Tuhan yang sesungguhnya, tidak ngurusin apapun, termasuk manusia, karena semua sudah ada sistemnya dan berjalan sendiri, sudah terscenario di (Lauhul Mahfud).

Jadi…
Janganlah terlalu “fanatik” merasa paling benar sendiri dalam beragama atau berkepercayaan.

Agama atau Kepercayaan itu, hanya sebuah titik awal saja, baru permulaan jalannys kehidupan manusia.

Agama bukanlah titik akhir atau solusi paling benar dalam menapaki jalan kehidupan manusia di dunia ini, jadi, ngapain sampai di bela-belain melakukan bom bunuh diri..

Dalam tahap awal pembelajaran ini, manusia harus juga mau berusaha belajar dengan cara lewat agama lain, maksudnya, belajar memahami apa kelebihan dan kekurangannya, membandingkan nya dengan agama yang diyakini, tentang kelebihan dan kekurangannya.

Jika ada kejujuran, obyektivitas dan konsistensi dalam mencerna pembelajaran spiritualnya, seseorang itu akan mampu lebih mengerti dan memahami serta mengetahui bahkan mengenal lebih dalam tentang hidup di dalam kehidupan di dunia yang sesungguhnya tidak bisa terlepas dari Sang Maha Segala-Nya.

Dan Saya Wong Edan Bagu…. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya