Wahyu Panca Gha’ib Surat Pertama “KUNCI”


Wahyu Panca Gha’ib Surat Pertama “KUNCI”:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Selasa Legi. Tgl 18 Oktober 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian dimanapun berada, khususnya Kadhang Anom didikan saya, ditempatnya masing-masing. Artikel ini, merupakan artikel kedua saya, yang mengungkap secara khusus bab “KUNCI” karena saya pernah mengupasnya di artikel lainnya beberapa bulan yang lalu, namun masih menggunakan moral, maksudnya, masih ada yang saya tutupi dan tidak detail, buktinya, masih ada banyak yang tidak bisa mengerti dan paham. Pada kesempatan kali ini. Saya ungkap dan saya uraikan ulang, dengan lebih singkat, detail dan jelas. Sehingga bisa lebih mudah untuk di mengerti dan dipahami, dan dibawah ini uraiannya. Selamat menghayati dengan Rasa.

KUNCI:
1. Ayat Pertama; “Gusti Ingkang Moho Suci” Maksudnya…
Sebelum Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, menciptakan Alam-alam atau Dimensi-dimensi, termasuk Alam Semesta, Dimensi Arasy, Bumi dan Langit beserta isinya, yang ada hanyalah Dzat di Kesunyian Sejati Hyang Maha Suci. Alam Tunggal Sejati atau Alam Kumpul Nunggal Suci “KUNCI”. Dalam istilah lainnya “Ghaibul Ghaib”.

KUNCI:
2. Ayat Kedua; “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci” Maksudnya…
Kulo itu sipatnya manusia. Nyuwun pangapuro itu sikapnya manusia. Dumateng itu jarak jauh dekatnya manusia dan Tuhan-nya. Gusti Ingkang Maha Suci itu. Dzat Tuhan/Allah. Pada hakikatnya, manusia itu, tidak bisa apa-apa, kecuali Nyuwun Pangapuro “Mohon Ampunan” kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah-nya.

KUNCI:
3. Ayat Ketiga; “Sirolah Datolah Sipatolah” Maksudnya…
SIR adalah Sabda-Nya, yaitu Kunci. Paweling. Asmo. Mijil. Singkir “Wahyu Panca Gha’ib”. Dat itu Dzat “ Maha Suci”. SIFAT adalah bukti adanya kehidupan Hidup, pohon nyawa/sukma, wadah amal/ibadah, kubur/maqom sejati. Hidup-nya segala rupa dan wujud. Seluruh isi tujuh lapis bumi dan tujuh lapis langit, asalnya dari satu cahaya saja, yaitu Cahaya Allah, yang lebih di kenal dengan sebutan Nurrullah, kemudian Nurrullah berkehendak, dan kehendak inilah, yang di sebut-sebut Nurr Muhammad. Jadi,,, artinya Nur Muhammad itu, adalah kehendak-Nya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dalam kata lainnya Rasullullah, yang artinya “Utusan Maha Agung”. Maksud dari Utusan, adalah Cinta. Maksud dari Maha, adalah Kasih. Maksud dari Agung, adalah Sayang.

Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang sedang bergerak sebagai/menjadi Nurrullah ini, kemudian berkehendak/Nur Muhammad. Kehendak yang di sebut Nur Muhammad inilah, yang menjadikan Alam Dunia dan isinya.

Dzat Maha Suci dan Nurrullah dan Nur Muhammad. Atau Cinta Kasih Sayang atau Sir Dat Sipat ini. Tidak bisa Pisah dan Tidak bisa Jauh. Karena ketiganya salin terkait dan berkait, dan hakikatnya adalah Satu. Itu Sebab di sebut “KUNCI” yang maksudnya Kumpul Nunggal Suci “Satu Kesatuan Suci”

Seperti Bentuk/Wujud Gula dan Rasanya;
SIR adalah Sebutannya Gula. DZAT adalah Manisnya Gula, SIFAT adalah bentuk/wujud Gulanya. SIR adalah Namanya Bunga. DZAT adalah Wanginya Bunga, SIFAT adalah Bentuk/Wujudnya Bunga. SIR dan DZAT serta SIFAT, adalah PASTI. TIDAK AKAN ADA SIR, jika tidak ada DZAT, tidak ada DZAT kalau tidak ada Sipat. Begitupun sebaliknya.

KUNCI:
4. Ayat Ke’empat; “Kulo Sejatine Sateriyo” Maksudnya…
Sir Dat Sipat atau Cinta Kasih Sayang ini. Jika bersatu/manunggal, menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan, seperti pada hakikat awalnya. Yaitu “Dzat Maha Suci”.”Nurrullah”.”Nur Muhammad”. Maka akan mengeluarkan cahaya empat rupa. Yaitu; Merah, Kuning, Putih, Hitam, empat cahaya ini, lebih di kenal dengan sebutan sedulur papat, tersebut kakang kawah, adi ari-ari, sedulur puser lan getih, atau Mutmainah. Aluamah. Amarah dan Supiyah, atau malaikat empat, tersebut jibril, mikail, ijroil dan isrofil, dan empat cahaya inilah, yang disebut Nur Ilmu Muhammad. yaitu Hakikatnya Adam. Asal Dumadi Ananing Manungsa. Bibit untuk Alam Dhohir/Lahir.

“Kulo Sejatine Sateriyo” adalah bekerja samanya atau manunggalnya atau menyatunya atau bersatunya Dzat Maha Suci. Nurrullah. Nur Muhammad atau Sir Dat Sipat atau Cinta Kasih Sayang yang di olah, maksudnya di pelajari. Jadi… “Kulo Sejatine Sateriyo” itu, adalah Nur Ilmu Muhammad-nya Nur Muhammad “Ilmu-nya Hidup”.

Untuk lebih singkat dan jelasnya. Yang di sebut Nur Ilmu Muhammad itu, adalah sedulur papat. Yang di sebut Nur Muhammad itu, adalah Hidup atau pancer. Yang di sebut Nurrullah itu, adalah yang menghidupkan atau yang memerintah atau yang menguasai. Dalam kata lain; Sedulur papat itu ilmunya Hidup, dan Hidup itu Utusan Dzat Maha Suci.

Kalau di kembalikan pada kalimat awal. Cinta itu Dzat Maha Suci. Kasih itu Hidup. Sayang itu Sedulur Papat. Atau… Cinta atau Dzat Maha Suci itu yang mengutus. Kasih atau Hidup itu yang di utus. Sayang atau sedulur papat itu bekal ilmunya.

KUNCI:
5. Ayat Kelima; “Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso” Maksudnya…
Bukan memohon agar terlaksana maksud tujuan/hajatnya dan meminta kekuasa’an. Bukan… Maksud dari Ayat “Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso” Adalah; Nyuwun itu Laku. Wicaksono itu Nur Ilmu Muhammad atau sedulur papat “Sayang”. Panguwoso itu Nur Muhammad atau Hidup/Pancer “Kasih”. Tepatnya. Obah Polah atau Bergeraknya seluruh anggota badan/tubuh kita, yang di kendalikan oleh Nur Muhammad/Hidup, dengan menggunakan Sedulur Papat/Nur Ilmu Muhammad, sebagai alat/senjatanya. Amarah dari Daging, kuasanya keluar melalui Telingan. Aluamah dari Sungsum, kuasanya keluar menuju Mata. Supiyah dari Kulit, kuasanya keluar menuju Mulut. Mutmainah dari Tulang, kuasanya keluar menuju Hidung.

KUNCI:
6. Ayat Ke’enam; “Kangge Tumindake Sateriyo Sejati” Maksudnya…
Tumindak itu, perbuatan sipat dan sikap. Sateriyo itu, manusia. Sejati itu, Hidup. Jadi, maksud daripada “Kangge Tumindake Sateriyo Sejati” adalah, perbuatan sipat dan sikapnya manusia Hidup, yaitu diri kita ini. Kalau di gabung atau di sambungkan dengan ayat kelima; “Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso”. “Kangge Tumindake Sateriyo Sejati”.

Maksudnya adalah;
Obah Polah atau Bergeraknya seluruh anggota badan/tubuh kita, yang di kendalikan oleh Nur Muhammad/Hidup, dengan menggunakan Sedulur Papat/Nur Ilmu Muhammad. Untuk Perbuatan sipat dan sikap-nya manusia Hidup, bukan manusia mati. Manusia Hidup. Pasti selamat. Sebab hakikat Manusia Hidup, adalah tidak bisa pisah dan tidak bisa jauh dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Seperti yang sudah diungkap pada bagian atas tadi. Jadi,,, tidak mungkin celaka. Kecuali jika berpisah jauh dengan Dzat Maha Suci. Karena hakikat dari berpisah dan jauh dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Itulah manusia-manusia mati. Jadi,,, sudah pasti hanya celakalah yang merekan temui dan dapatkan.

Sir Dzat Sipat inilah, yang memangku/menopang Alam Semesta Dunia Seisinya, semuanya terliputi oleh tiga cahaya yang menyatu menjadi satu kesatuan. Yaitu; Sir. Dzat. Sipat. atau Cinta Kasih Sayang. atau Nurrullah. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad. Atau Dzat Maha Suci. Hidup. Sedulur Papat.

KUNCI:
7. Ayat Ketujuh; “Kulo Nyuwun Kangge Hanyirna’ake Tumindak Ingkang Luput” Maksudnya…
Luput itu tidak tepat/melesed. Jika kita Manusia Hidup, kita bersama Dzat Maha Suci Tuhan/Allah kita, yang Maha diatas segala yang Maha. Mustahil melesed. Semua bala bencana yang melukai, segalah hiruk pikuk yang mencelakai. Akan sirna lebur tanpo dadi. Yang ada hanya kesempurna’an Iman Cinta Kasih Sayang yang mengglobal, bukan terpuruk dalam kotak dibawah bendera.

“Wa kawa ‘Idul Imani, wajibul wajib”
Semua umat Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, wajib marifat, harus tahu tentang iman sejati, maksudnya iman yang sebenarnya ini, iman yang hanya menuju satu titik, yaitu Dzat Maha Suci Hidup, bukan yang lainnya. Agar tidak luput/melesed. Itulah maksud dari ayat ke tujuh yang berbunyi “Kulo Nyuwun Kangge Hanyirna’ake Tumindak Ingkang Luput”

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian… Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, hanya bisa dikenal, jika Dia sendiri berkehendak untuk dikenali. Jika Iman-mu kemomoran/terbagi, tidak murni, kita akan selalu melesed, tidak tepat, sehingganya, selalu capek, jenuh, ragu bahkan takut. Jika sudah melesed, kita tidak akan bisa pulang, pulang kembali kepada Dzat, hakikatnya manusia berasal dari Dzat, akan tetapi manusia tidak perlu tahu kepada Dzat, tetapi carilah utusan Dzat, yang disebut Nur Muhammad atau Roh Suci atau Roh Kudus atau sedulur Pancer atau Guru Sejati alias Hidup kita sendiri. Inilah jalan pulang yang paling sempurna.

“Illa anna awalla’nafsah fardhu ‘ain”
Pertama hal ibadah adalah tahu kepada Sejatinya Hidup, sifat dan sikap hidup yang sebenarnya harus di dapat. Sejatinya Hidup adalah bibit segala rupa. Samudra Ilmu dan Kehidupan. “Ru’yatullahi Ta’ala fi dunya bi’ainil qolbi” INGAT ITU.

Sebab itu, mendiang Romo Semono Sastrohadijoyo dawuh. “Kunci Keno Kanggo Opo Wae” artinya, kunci bisa untuk apa saja, bagaimana tidak, di dalam Kunci ada tiga INTISARIPATI segala dan semuanya. Yaitu Dzat Maha Suci. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad atau Sir. Dzat. Sipat atau Cinta Kasih Sayang. Tapi ingat,,, “Waton Ora Tumindak Luput” maksudnya, tidak melesed dari sasaran, yaitu; “Inna lillaahi wa inna illaaihi rojiun” atau “Sangkan paraning dumadi” kita berasal dari Dzat Maha Suci dan Milik Dzat Maha Suci serta akan kembali hanya kepada Dzat Maha Suci. Titik. Tidak bisa di tawar. Menawar. Sakit. Bahkan celaka.

Memandang Hakikat Dzat Maha Suci Tuhan/Allah di Dunia dengan mata Bathin/Rasa. Bila Qolbu manusia hidup, sudah menggunakan Nur Ilmu Muhammad, Qolbunya bisa dipakai untuk tempat bersua, melihat/menemui/memeluk Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dimanapun dan kapanpun, sehingga bisa merasakan secara nyata, ni’matnya tenteram dari Dunia sampai di Akhirat, tidak merasakan berpisah dengan Dzat Maha Suci. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad, lantaran tiga wujud itu, telah menyatu/manunggal, menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan, seperti pada awal mulanya terjadi. Siang dan malam Qolbu ditempati oleh Sifat dan sikap Nur Ilmu Muhammad, untuk senantiasa bisa bersua, melihat/menemui/memeluk Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, bercumbu mesrah.

Sebenarnya…
Melalui jalan Syariat, Tharekat, Hakikat dan Ma’rifat serta Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqih, Ushul Fiqih dan Ilmu Tasawuf bahkan kepercaya’an kejawen. Juga bisa, namun tidak istimewa, selain terikat sebab akibat, juga harus melalui antek-anteknya Dzat Maha Suci terlebih dahulu, ibaratnya, kita hendak menemui seorang raja atau persiden, maka harus melalui bawahan-bawahannya terlebih dahulu “Bertawasyul”, tapi “Wahyu Panca Gha’ib” sangat itimewa dan sempurna. Karena bisa langsung tanpa perantara apapun dan siapapun.

Jasmani. Jas, artinya adalah baju/badan/raga, mani artinya Rohani/Roh Suci/Hidup, baju adalah bungkus, bungkusnya Rohani, manusia tidak akan mendapatkan hasil, jika hanya mengetahui badan nyatanya saja, harus di buka dulu bajunya, supaya bisa ketemu dengan isinya, badan jasmani adalah hijabnya kepada Dzat Yang Maha Suci, jika tidak hilang wujudnya dulu, maka isinya tidak akan ketemu, diibaratkan kucing, maksud kucing hendak ngintip tikus keluar dari liangnya, tapi kucingnya diam di depan liang tikus, akhirnya tikus malah mati karena tidak bisa keluar, tentu saja tidak akan hasil, kucing diibaratkan jasad, tikus diibaratkan Hidup, tidak akan ketemu jika perasaan jasad tidak hilang.

Jika kucing menginginkan agar tikusnya keluar dari liang, tentu saja kucing harus pergi menjauhi liang tikus, barulah tikusnya keluar, sama seperti di diri manusia, jika ingin ma’rifatullah, harus memiliki Roso. Kroso. Rumongso. Ngrasak’ake Urip. “Rasa. Terasa. Merasa. Merasakan Hidup” bagaimana kita bisa merasakan hidup, tahu dan kenal hidup saja tidak, artinya, mau tidak mau, suka tidak suka, cocok tidak cocok, harus mengenal Hidup, mengenal Nur Muhammad, agar bisa menggunakan Nur Ilmu Muhammad. La… Terus. Adakah Pelajaran yang Mengajarkan Tentang Hidup dan Soal Hidup secara Khusus/Murni dan Otak-atik politik dan campursari lainnya. Selain Wahyu Panca Gha’ib…?!!. He he he . . . Edan Tenan.

“Waman aroffa nafsahu, faqod aroffa robbahu…man aroffa robbaha, faqod jahilan nafsah”
“Lahaula wala quwata, illa billahil aliyil ‘adim”

Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya, barang siapa mengenal Tuhannya pastilah bodoh dirinya. Karena hanya memiliki Iman Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi ini, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi Pinayungan Maring Ingkang Maha Agung. Dzat Maha Suci Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon/WhatsApp/Line; 0858 – 6179 – 9966. BBM; D38851E6
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Untukmu yang masih tertipu tentang SUCI… Dan. Bagimu yang masih salah dalam memahami soal Iman:


Untukmu yang masih tertipu tentang SUCI… Dan.
Bagimu yang masih salah dalam memahami soal Iman:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Sabtu Pon. Tgl 15 Oktober 2016

PERTAMA. Tentang Suci;
Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Pernah mendengar kalimat atau kata Suci…?!

Banyak diantara kita mengerti dan paham apa itu suci, namun,,, percayalah. Hanya sedikit yang tahu maksud dari kalimat kata suci ini.

Dalam kenyata’annya;
Hampir di setiap lantai masjid atau musholah, agar sandal pengunjung tidak di bawa masuk dan mengotoori lantai bagian dalam, lalu di teras, di beri pembatas. Dengan tulisan “BATAS SUCI” tidak berhenti disitu saja, agar tempat ibadah terkesan suci, lalu di pasangi keramik warna putih, dan masih banyak kisah-kisah lainnya, yang menunjukan, betapa tidak tahunya kita, tentang apa dan bagaimana itu suci.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Ketahuilah… Suci itu bukan Bentuk atau Warna. Suci itu ghaib, suci itu tentang isi hati, yaitu qalbu, soal rasa, jadi, tidak ada kaitannya dengan bentuk dan warna, suci itu murni, tidak bisa tercampuri oleh apapun, dan tidak bisa di campuri dengan apapun, terbebas dari semua dan segala bentuk dan warna.

Suci dalam Contoh pada manusianya, adalah bayi yang baru lahir, bayi yang baru lahir, walaupun masih berlumuran darah dan kotoran lainnya dari kelamin sang ibunya, disebut suci, karena belum terasupi oleh apapun, setelah di bersihkan dan menelan ASI, maka suci itu menjadi terselubung/terbungkus bersih, semakin bertumbuh si bayi, semakin terkotori jiwa raganya, semakin terkotori jiwa raganya, semakin hilang bersihnya, semakin menghilang bersihnya, semakin tertutup Sucinya.

Suci dan bersih itu tidak sama, dan sangat berbeda. Kalau suci itu di gambarkan sebuah barang, biyar lebih mudah dipahaminya. Suci adalah terbebasnya barang dari apapun itu. Sedangkan bersih, terbebasnya barang dari kotoran.

Ada dua katagori Suci;
Yang pertama. Adalah Suci-Nya Tuhan/Allah. Suci-Nya Tuhan/Allah, tidak bisa di pelajari dengan cara apapun. Karena Suci-Nya Tuhan/Allah, adalah Maha Murni. Maha Suci. Artinya, tidak bisa dicampuri atau terampuri oleh apapun, kecuali dengan Suci atau oleh Suci itu sendiri.

Yang kedua. Adalah Suci-nya Hidup/Roh, yang di sabdakan oleh Tuhan/Allah, untuk menempati wujud mahluk cipta’annya, terutama manusia. Suci-nya Hidup yang menempati diri kita ini. Bisa di pelajari, dan cara mempelajarinya, dengan Laku Suci/Murni. Laku Suci/Murni itu, bukan bertapa, bukan puasa, bukan bersemedi atau meditasi atau dzikir wiridz miliyaran jumlah hitungannya, bukan juga pergi haji, atau beramal banyak. Bukan… Maksudnya, niyat, yang hanya menuju kepada Tuhan/Allah. Bukan yang lainnya.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian… Ingat…!!!. hanya dengan Suci-nya Hidup kita sendirilah, kita bisa mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah kita. Bukan yang lainnya. “Sesungguhnya. Aku berada sangat dekat, bahkan lebih dekat dari urat lehermu”.“Barang siapa yang mengenal dirinya. Niscaya dia akan mengenal Tuhan-nya”. INGAT…!!! “Inna Lillaahi Wa Inna Illaihi Rojiun” Siapapun dia, tidak akan bisa kembali kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Jika tidak Suci. Karena Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu. Maha Suci, yang tidak bisa di campuri atau tercampuri oleh apapun, kecuali dengan Suci itu sendiri. Suci yang kita miliki, adalah Hidup. Suci yang bisa kita pelajari, adalah Hidup. Tidak mengenal Hidup, berati tidak bisa Suci, tidak bisa Suci. Berati tidak bisa kembali kerahmatullah.

Ingin Mengenal Hidup. Berati, mau tidak mau, harus Laku Suci/Murni. . Laku Suci/Murni itu, bukan bertapa, bukan puasa, bukan bersemedi atau meditasi atau dzikir wiridz miliyaran jumlah hitungannya, bukan juga pergi haji, atau beramal banyak. Bukan… Maksudnya, niyat, yang hanya menuju kepada Tuhan/Allah. Bukan yang lainnya.

KEDUA. Soal IMAN;
Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Pernah mendengar kalimat atau kata Iman…?!

Banyak diantara kita mengerti dan paham apa itu iman, namun,,, percayalah. Hanya sedikit yang tahu maksud dari kalimat kata iman ini.

Dalam kenyata’annya;
Tidak sedikit diantara kita, yang ingkar bahkan membangkang atau melawan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, buktinya, banyak yang lari ke dukun dan paranormal, takkala sedang dalam masalah rumit dan sulit yang dianggapnya berat, ketibang kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang di ibadahi setiap waktunya, ini membuktikan, bahwa betapa tidak tahunya kita, tentang apa dan bagaimana itu iman.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Ketahuilah… Iman itu, bukan yakin atau percaya atau hakqul yakin, yakin itu sipatnya manusia, percaya itu sikapnya manusia, dan yakin atau percaya, masih bisa di manipulasi, masih bisa di kompromi sesaui kepentingan dan kebutuhan. Kalau iman, itu Hidupnya manusia, dan Hidup itu, tidak bisa di otak atik dengan cara apapun.

Suka tidak suka, di sadari atau tidak di sadari, jika kita bertakwa, akan bertambah kadarnya, kalau kita ingkar, akan berkurang kadarnya. Itulah iman. Titik.

Iman adalah Hidup, yang lebih di kenal dengan sebutan Roh Suci atau Roh Kudus. Hidup itu tidak bisa di otak atik atau di tawar-tawar dengan politik apapun. Iman atau Hidup atau Roh Suci atau Roh Kudus, adalah Jati Diri Manusia yang sebenarnya, yang lebih di kenal dengan sebutan AKU, iman atau Hidup atau Roh Suci atau AKU ini, meliputi perkata’an/sifat dan perbuatan/sikap lahir bathinnya manusia.

Kadar Iman, yang lebih di kenal dengan istilah cahaya atau nur, bisa bertambah dan bisa berkurang. Bertambah karena sebab takwa, dan berkurang karena sebab ingkar. Takwa adalah menjaga, memelihara, melindungi, maksudnya daripada taqwa adalah, menjaga, memelihara, melindungi iman, sedangkan Ingkar, adalah menutupi, menyembunyikan dan membohongi iman. Globalnya perkata’an/sifat iman bathinnya manusia, adalah. “menerima”. Sedangkan globalnya perbuatan/sikap iman lahirnya manusia, adalah. “tunduk”.

Didalam ayat/surat peringatan yang tersirat di dalam al-kitab. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, selalu berseru. “Hai orang-orang beriman”. Maksudnya adalah… Hai manusia-manusia hidup, bukan manusia mati. Ada lagi ayat/surat peringatan. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, selalu berseru “Hai orang-orang yang bertaqwa”. Maksudnya adalah… Hai orang-orang yang menjaga, memelihara, melindungi Iman/Hidup/Roh Suci/Roh Kudus/Aku, bukan manusia-manusia yang menutupi, menyembunyikan dan membohongi Iman/Hidup/Roh Suci/Roh Kudus/Aku. Ada juga ayat/surat pemberitahuan. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, menegaskan “Sesungguhnya, aku hanya berlaku bagi orang-orang yang beriman”. Maksudnya adalah, bagi manusia-manusia hidup, bukan manusia-manusia mati.

Nabi Isa As pernah bersabda tentang iman, yang kurang lebih artinya seperti ini “Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada gunung ini, Pindah dari tempat ini kesana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil”. Maksudnya adalah, sekiranya kadar/cahaya/nur Hidupmu bertambah sebesar biji sesawi saja…

Mengungkap Suci. Berati mengungkap Hidup. Mengungkap Hidup. Berati mengungkap Wahyu Panca Gha’ib. Mengungkap Wahyu Panca Gha’ib. Berati mengungkap Dzat Maha Suci. Mengungkap Dzat Maha Suci. Berati mengungkap Iman. Mengungkap Iman. Berati mengungkap Wahyu Panca Laku. Dan jangan sekali-kali mengaku telah berIman. Kalau belum Pernah PMMMM “Wahyu Panca Laku”

Wahyu Panca Laku;
Pasrah kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.
Menerima Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.
Mempersilahkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.
Merasakan Kekuasa’annya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.
Menebar Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Barang Siapa yang sedang mengibadahkan Wahyu Panca Gha’ib dengan Menggunakan Wahyu Panca Laku. Berati sedang menapaki Syare’at dan Hakikat serta Tauhid-nya “Inna Lillaahi Wa Inna Illaihi Rojiun” Dan barang siapa yang menapaki Syare’at dan Hakikat serta Tauhid-nya “Inna Lillaahi Wa Inna Illaihi Rojiun” Berati akan mendapat sambutan istimewa dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Dan, sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Jadi,,, tidak ada ragu dan bimbang apa lagi takut. TERIMA KASIH Dan SALAM RAHAYU SELALU Dari Saya Untukmu Sekalian…

“Tidak ada Tuhan selain AKU. Akulah Hakikat Dzat Hyang Maha Suci, yang meliputi Sifat-Ku, yang menyertai (ASMA/ASMO) Nama-Ku, dan yang menandai (AF’AL) perbuatan-perbuatan-Ku”.-. “ Sesungguhnya AKU ini adalah Allah, Tidak Ada Tuhan (yang hak), selain AKU, maka SEMBAHLAH AKU, dan Dirikanlah Shalat untuk mengingat AKU”. (At -Thaahaa : 14)

AKU Dzat/Nurullah, Sifat Laisa kamishlihi syaiun, Dzat yang tidak dapat diserupai oleh sesuatu apapun, tidak ada umpamanya.

BILLA HAEFFIN; artinya tak berwarna dan tak berupa, tidak merah tidak hitam, tidak gelap tidak pula terang.

BILLA MAKANIN; artinya tidak berarah tidak bertempat, tidak di barat tidak di timur, tidak di utara maupun di selatan, tidak di atas maupun di bawah.

DZAT yang berdiri sendiri tanpa adanya ketergantungan kepada mahluk lain ciptaan-Nya, berbeda dengan manusia yang membutuhkan Tuhan/Allah, untuk bisa selamat di kehidupan Dunia dan Akhiratnya, adanya Alam semesta, Dunia, Arasy, Malaikat, Idajil/Azazil, Iblis, Setan, Jin dan Manusia, dan semua ciptaan-Nya yang ada, adalah karena akibat dari adanya Dzat Maha Suci.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi ini, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi Pinayungan Maring Ingkang Maha Agung. Dzat Maha Suci Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon/Watshap/Line; 0858 – 6179 – 9966. BBM; D38851E6
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

WONG EDAN BAGU KUMAT:


Ketika kita menyertakan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, di dalam segala hal, semuanya menjadi indah bermakna, jangankan yang punya pekerjaan dan bisnis, yang nganggur sendirian sekalipun, itu lo… sama sekali tidak sia-sia. Namun sayangnya. hanya orang-orang hebat dan saktilah, yang bisa mau menyertakan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang di Percayai dan di Yakini-nya sebagai manusia hidup yang beriman.

Kenapa saya katakan hanya orang hebat dan sakti..?!
Buktinya,,, cuma orang-orang tertentu saja, yang bisa mau, artinya,,, menyertakan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah di dalam segala hal itu, adalah Ilmu Tingkat Tinggi. karena hanya beberapa orang saja yang bisa mampu. He he he . . . Edan Tenan.
Untuk apa kita Percaya kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dan mempercayai-Nya sebagai Yang Maha Kuasa atas segala dan semuanya. jika kita tidak pernah mau Pasrah dan Menerima serta Mempersilahkan-Nya untuk menjadi Imam kita.

Untuk apa kita Yakin kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dan meyakininya sebagai Yang Maha Esa, kalau kita tidak pernah bisa Pasrah kepada-Nya. kalau kita tidak bisa merasakan Cinta Kasih Sayang-Nya dan Memantulkan Cinta Kasih Sayang-Nya kepada sesama ciptaan-Nya.

Apa gunanya kita memuji dan memuja Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Kalau bukan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang menjadi target tujuan kita. He he he . . . Edan Tenan.

Lagi-lagi saya katakan. Ternyata… “Wahyu Panca Laku”
TERSEBUT;
Pasrah kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.
Menerima Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.
Mempersilahkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.
Merasakan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.
Menebar Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

ITU… Ternyata; Ilmu Tingkat Tinggi. Buktinya, hanya orang-orang tertentu saja. yang bisa mampu mempraktekan Lakunya di TKP. Kadhang didikan saya saja. hanya ada beberapa yang bisa mampu. lainya… beralasan, merasa belum waktunya, merasa belum pantas, merasa berat, sulit, karena manusiawi dan bla,,, bla,,, bla,,, lainnya. Renungkan itu>>>>>>>>>>>>–

Ttd:

Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

Handphon; 0858 – 6179 – 9966. BBM; D38851E6

https://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com

Dzat Maha Suci TUHAN/ALLAH YANG HIDUP


Dzat Maha Suci TUHAN/ALLAH YANG HIDUP:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Jumat Kliwon. Tgl 07 Oktober 2016

Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku, pernah melihat anak-anak yang asyik berbicara sendiri saat bermain?

Seolah-olah ada seseorang di sampingnya, yang mendengar dan menanggapi, seorang teman imajinasi. Menurut para ahli psikologi, fenomena ini wajar, dalam pertumbuhan anak. Orang tua tak perlu khawatir, tetapi perlu memantau, agar persahabatan imajiner itu, tidak mengalihkan anak dari kehidupan nyatanya.

Meski sama-sama tak terlihat. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, bukanlah pribadi hasil imajinasi. Alam semesta dan isinya, adalah bukti nyata keberadaan-Nya. Dalam taraf tertentu, angin, hujan, dan unsur alam lainnya, dapat dikendalikan manusia.

Tetapi Siapa yang membuat semua itu? dan berkuasa menghadirkannya, dalam musim-musim yang berbeda, di berbagai belahan dunia..?!

Siapa gerangan yang meletakkan emas dan perak di perut bumi? untuk ditambang manusia dan menumbuhkan pepohonan kayu di hutan-hutan raya..?!

Betapa gemasnya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, karena semua bukti itu, tak membuat umat Manusia hidup, mengakui dan menghormati keberadaan-Nya. Mereka justru datang memohon pada patung-patung dari emas dan perak, mereka justru mendatangi berhala-berhala hati, di kuburan dan goa. Mereka berusaha menyenangkan dewa-dewa dari kayu dan batu nisan, takut dimurkai, seolah-olah benda-benda mati itu hidup. Sementara, Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang Hidup, justru mereka abaikan. Betapa bodohnya!

Seberapa sering, kita mendengarkan dan berbicara kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, sebagai Pribadi yang Hidup..?!

Seberapa kita yakin, bahwa Dia dapat mendengarkan dan dapat berbicara dengan kita, kapanpun kita membutuhkan-Nya..?!

Bagaimana seharusnya kita bersipat dan bersikap, bilamana kita yakin, bahwa Dia nyata dan sungguh hadir dalam hari-hari kita..?!

Itu yang terpenting dan perlu kita pentingkankan. Maka… Berhati-hatilah, agar imajinasi kita, tentang dunia yang semu bin fana ini, tidak mengalihkan pandangan kita, dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah kita yang Maha Hidup!— INGAT…!!! DZAT MAHA SUCI TUHAN/ALLAH ITU. BUKANLAH HASIL IMAJINASI MANUSIA. DIA ADALAH SANG MAHA PENCIPTA. YANG SUNGGUH HIDUP DAN BERKUASA ATAS SEGALANYA. Namun untuk mengetahui-Nya. Membutuhkan dari sekedar Rasa. Tanpa Wahyu Panca Gha’ib yang di ibadahkan dengan Wahyu Panca Laku. Sungguh sulit dan rumit, sulitnya,,, bagaikan mencari bekasnya burung terbang, rumitnya,,, seperti mencari galihnya kangkung. Karenanya, tidak sedikit yang berhenti pada imajinasi. Walau tahu, bahwa imajinasi itu, adalah kebohongan yang nyata.

Bagimu Para Kadhang yang sudah memiliki Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku. sungguh sangat beruntung, sebab itu, jangan batasi terima kasihmu kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang telah memilihmu. JANGAN TAKUT akan segala halnya. Karena SEGALA SESUATU itu. DALAM KENDALI DZAT MAHA SUCI TUHAN/ALLAH yang kita IMANI. Ini sudah pernah saya buktikan langsung di TKP.

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…
Jika berada dalam situasi sulit dan penuh risiko, bagaimana Anda menghadapinya? Mundur sebelum berjuang, pasrah tanpa usaha, atau menghadapinya habis-habisan..?!

Ada sisi menarik dalam situasi ini, yang dapat kita jadikan pelajaran, agar lebih mengarah kepada ajaran atau tuntunan yang banyak di anut oleh kebanyakan orang, saya akan mengambil contoh sempel dari sebuah kisah di dalam al-qitab.

Di kisahkan dalam sebuah al-qitab. Peristiwa penyelamatan bayi Musa dari bahaya, melibatkan peran penting para perempuan di sekitarnya, dan masing-masing mewakili satu sikap. Sifra dan Pua adalah bidan yang takut akan Allah, sehingga mereka enggan membunuh bayi Ibrani, meski tindakan itu bertentangan dengan aturan raja firaun.

Yokebed adalah ibu yang kreatif memecahkan masalah. Ini tampak lewat gagasannya untuk menyelamatkan bayi Musa. Miriam, sang kakak, ialah pribadi pemberani. Ia tidak takut menemui putri Firaun demi perawatan adik bayinya. Dan, putri Firaun ialah pribadi yang berbela rasa walau ia tahu bayi Musa adalah bayi orang Ibrani, kaum yang menjadi budak di negerinya. Bahkan, dalam belas kasihnya, Putri Firaun mengangkat bayi itu sebagai anak. Takut akan Tuhan, kreativitas, keberanian, dan belas kasihan, itulah sikap-sikap dari para pribadi yang menghantar Musa kecil selamat dan bertumbuh besar.

Tentu ada banyak sikap yang bisa kita ambil sebagai respons saat menghadapi situasi sulit, dengan aneka rupa dampak yang mengikutinya. Keempat sikap yang kita cermati di dalam kesadaran penuh, akan kedaulatan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang terlibat dan memegang kendali atas situasi apa pun, merupakan respons yang tepat dalam menghadapi situasi sulit, yang bisa datang kapan saja bagi siapa saja dan di mana saja.

Pernahkah Kadhang dan Sedulur melihat lulu..?
Yang bahasa umumnya di sebut kaki seribu?

Coba renungkan, seandainya hewan berkaki banyak itu, berjalan sambil sibuk mengamati kakinya satu demi satu, berusaha mempelajari mekanisme langkahnya. Jalannya, pasti bakal kacau. Daripada kacau, bukankah sebaiknya ia tak usah berpikir?

Serupa dengan itu, banyak orang merasa iman tak perlu banyak dipikir. Makin sederhana, semakin baik. Apa lagi jika membaca sebuah ayat, yang menjelaskan. Bahwa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu, berlaku sesuai sangka’an umatnya. Dimana kita menghadap, disitulah wajah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Ini di maksudkan, agar kita tidak ribet dalam menyembah, saat menghadap-Nya, takkala berdoa dan bersujud.

Dalam mempelajari teologi mengancam kesederhanaan iman. Bukankah kita dinasihatkan, untuk menjadi seperti anak-anak (bayi). Maksudnya, memahami Iman Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, cukup kita mengamati bayi. Dimana seorang bayi itu, belum bisa membaca dan memahami apapun, tapi dia di sebut suci, itulah pelajaran mengenai kerohanian yang paling praktis.

Kontras dengan itu, Al-kitab menggambarkan bahwa pertumbuhan menuju kedewasaan yang menyeluruh, termasuk meliputi kedewasaan “iman dan pengetahuan yang benar dan tepat” akan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Artinya, kita justru harus dengan sengaja, memikirkan dan bertumbuh dalam pengenalan akan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Inilah sebenarnya yang menurut saya, arti dari kata teologi pengetahuan, pemahaman. Siapapun dia dan dimanapun dia, dengan pengetahuan dan pemahaman yang benar akan Dzat Mah Suci Tuhan/Allah, tidak akan mudah, diombang-ambingkan oleh masalah duniawi, Menjadi seperti anak-anak (bayi) dalam iman, anak/bayi itu, bukan berarti menjadi kekanak-kanakan.

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…
Seberapa banyak aspek pertumbuhan dewasa ini, yang kita perhatikan dengan pembelajaran…?!
Kita tidak mungkin mencintai, mengasihi, menyayangi, apa lagi mematuhi, dan menyembah Pribadi yang tidak kita kenal, atau yang kita kenal secara samar. Di jaman yang moderen ini, mari kita cari dan gunakan tiap sarana pertumbuhan dewasa yang ada, untuk menolong kita makin dewasa dalam pengenalan akan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Karena, semakin moderen sebuah jaman, semakin banyak sarana pertumbuhan dewasa yang tersedia untuk kita. Jadi,,, lebih mudah, dibandingkan dengan jaman dulu yang belum moderen.

Jangan takut..!!! Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang Maha dahsyat itu, tidak ingin kita merasa takut kepada-Nya. Dia ingin kita berlari mendekat, bukan menjauh dari-Nya. Justru karena Dia Maha dahsyat, Dia ingin kita mengimanni-Nya dan mempercayakan Hidup dalam kehidupan kita di dunia fana ini kepada-Nya. Saya pernah menghitung kata Jangan Takut, yang terselip di setiap ayat di dalam al-qkitab, sejumlahnya 365 “jangan takut”. Diantaranya. Jangan takut menghadapi tiap-tiap hari sepanjang tahun yang terbentang di depan. Jangan takut datang kepada Dzat Maha Suci Tuhan/ Allah. Dia tahu apa yang terbaik bagi kita. Jika kita mengimanni-Nya dan mempercayakan Hidup dalam kehidupan kita di dunia fana ini kepada-Nya. Apakah yang masih kita takutkan…?! PARA KADHANG DAN PARA SEDULUR KINASIHKU SEKALIAN. JANGAN TAKUT. Karena SEGALA SESUATU itu. DALAM KENDALI DZAT MAHA SUCI TUHAN/ALLAH yang kita IMANI.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi ini, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi Pinayungan Maring Ingkang Maha Agung. Dzat Maha Suci Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Mahkota Mayang Kara “Lambang Bayangan Semu”


Mahkota Mayang Kara “Lambang Bayangan Semu”
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Selasa Pahing. Tgl 04 Oktober 2016

Para Sedulur dan PRO KADHANG KINASIHku semuanya tanpa terkecuali. Ketentraman dan kebahagiaan rohani, kini menjadi barang yang sangat langkah dan mahal harganya. Upaya mendapatkan kebahagia’an, banyak menjerumuskan manusia pada kebenda’an. Kelimpahan materi untuk mencukupi semua kebutuhan kehidupan, sekaligus sarana untuk bersenang-senang, menjadikan manusia sangat bergantung pada keduniawian semu dan sesaat. Kehidupan bertetangga pun, sudah tidak lagi seerat jaman dulu. Banyak orang tidak saling mengenal, walaupun tinggal berdekatan dalam satu lingkungan. Masing-masing hidup dalam duniawinya sendiri-sendiri. Tidaklah bisa dipungkiri, karena kesepian dan kekosongan jiwa, akhirnya mengakibatkan mereka menjadi malas beribadah atau mencari alternatif lainnya, seperti narkoba, alkohol, seks sesa’at, menonton film-film hiburan, mengunjungi tempat-tempat keramaian, dsb.

Agama tidak bisa mencegah runtuhnya adat istiadat, ataupun ikatan kekeluarga’an. Bahkan pada banyak kasus, agama (dan perbedaan agama) justru menjadi sarana runtuhnya adat istiadat dan ikatan kekeluarga’an. Ditaman teknologi dan komunikasi canggih seperti sekarang ini, kenyata’annya, kita menjadi semakin kesepian, bahkan telah menjalar sampai kepada masyarakat desa, sehingga mereka pun, merasakan kesepian batin. Kehampa’an dan kekosongan jiwa, menyebabkan manusia harus mencari pengisi hati di berbagai macam tempat hiburan, dan tiap weekend dan hari libur, mereka ber-bondong-bondong mencari sesuatu yang bisa mengisi kekosongan jiwa. Tetapi kenyataannya, hanya kebahagiaan semu dan sementara sajalah, yang mereka dapatkan. Setelah meninggalkan tempat tersebut, merekan mulai kembali galauw, resah dan gelisah bahkan takut dan stress.

Para Sedulur dan Kadhang kinasihku sekalian…
Ketentraman itu, ada di dalam rasa, bukan perasa’an, dan kebahagiaan itu, ada di dalam hati, bukan dalam pikiran. Seharusnya itu bisa dimunculkan oleh setiap orang di dalam rasa dan hatinya, serta bisa diwujudkan dalam kehidupannya sehari-hari, baik untuk dirinya sendiri, maupun berkeluarga dan lingkungannya. Dengan adanya rasa tenteram itu, maka orang akan bisa merasakan kecukupan/bahagia, dan ia tidak akan mengorbankan kebahagiaan itu, untuk digantikan dengan “sensasi” kebahagia’an yang tidak akan pernah dianggap cukup.

Jika seseorang di dalam hatinya tidak bisa menemukan kebahagiaan, maka itulah yang terjadi pada orang-orang yang mencari “sensasi” kebahagiaan dengan sesuatu yang berasal dari luar dirinya. “Sensasi” kebahagiaan itulah yang cenderung dicari orang, tumpukan kekayaan, hidup mewah dan bersenang-senang, karir tinggi dan gengsi kebenda’an, keakuan agama dan fanatisme agama, eksklusivisme agama dan kelompok, pembenaran keakuan diri merasa lebih daripada orang lain, dsb, tidak akan pernah dianggap cukup, tidak ada batas cukupnya.

Ketentraman dan kebahagiaan ada di dalam diri pribadi, letaknya di hati berwujud rasa. Karir bagus, materi berlimpah, bukan jaminan merasa bahagia dan cukup. Kegundahan, tak punya pegangan hidup dan kekosongan jiwa, banyak dirasakan manusia dewasa ini, ditambah lagi dengan problematika hidup yang melilit dan membelenggu jiwa dan pikiran, tidak peduli dia seorang Putro atau Bukan. Itulah yang terjadi kalau manusia hanya mengejar “sensasi” kebahagiaan, bukan kebahagia’annya itu sendiri yang didapatkan, tetapi hanya sensasinya saja, yang sifatnya sementara dan semu. “Mahkota Mayang Kara” Lambang Bayangan Semu.

Harapan menemukan jalan keluar dilakukan dengan berbagai cara untuk mengantarkan manusia pada kebahagiaan dan ketenangan batin. Upaya untuk mendapatkannya mendorong sebagian orang untuk mengikuti kegiatan-kegiatan dalam berbagai komunitas, komunitas olah raga, hobby, komunitas lingkungan, komunitas agama, komunitas kejawen, ada juga yang menelusuri komunitas-komunitas spiritual lintas agama dan kepercaya’an.

Kecenderungan manusia sejak dulu adalah keinginannya untuk tidak terbelenggu dalam ikatan-ikatan. Manusia juga ingin lepas dari sikap fanatis. Banyak yang memilih hidup dalam pandangan-pandangan yang universal dan lintas agama, lintas suku dan bangsa. Di Jawa ada aliran-aliran spiritual kebatinan tertentu, yang tidak berpegang pada ajaran agama tertentu, seperti Aliran Kepercayaan Sumarah, Subud (Susila Budhi Darma), Sapto Darmo, Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu), ajaran Manunggaling Kawula Lan Gusti, sampai ke paguyuban kapribaden dsb. Pada masa sekarang, tak sedikit yang bergabung dengan komunitas-komunitas seperti komunitas Anand Krisna, Lia Eden, Baha’i, Sai Baba, Putro Romo dan aliran kebatinan spiritual lainnya. Tujuannya apa, hanya ingin mengalami dan merasakan tenteram secara sempurna. Bukan yang sementara dan semu.

Di dalam komunitas lintas agama inilah, mereka melakukan berbagai ritual, meditasi dan kegiatan-kegiatan lain yang menyerupai peribadatan agama atau aliran tertentu. Mereka menemukan intisari dari kebijaksanaan hidup. Bahkan mereka merasakan adanya persaudara’an di dalam komunitasnya, persaudaraan universal kemanusiaan, yang tidak membeda-bedakan ras (bangsa), agama, jenis kelamin, kasta, warna kulit, golongan atau apapun itu sebutannya.

Orang-orang yang mengikuti komunitas tersebut, mempunyai latar belakang agama yang bermacam-macam, seperti Islam, Kristen, Katolik, Budha, dan sebagainya. Ajaran-ajaran dalam komunitas tersebut kerap mengatakan bahwa semua agama adalah jalan yang benar menuju Tuhan. Ajaran mendasar dari konsep ini, adalah kebenaran agama yang universal. Ajaran ini mengajak manusia mempelajari perbandingan agama-agama, filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya, yang bersipat netral tanpa tekanan apapun.

Dengan propaganda ”mempersatukan dan menghapus pemisah antar manusia” inilah kemudian berkembang doktrin ”semua agama sama”, atau “semua agama benar”, karena merupakan jalan yang sama-sama syah untuk menuju Tuhan yang satu. Gerakan inilah yang kemudian disebut New Age Movement (Gerakan Era Baru), berusaha memadukan antara nilai-nilai Barat dan Timur, lewat jalan menggali dan mempelajari apa yang mereka sebut sebagai the ancient wisdom, kearifan masa lalu. Hingga saat ini, gerakan New Age terus berkembang di berbagai negara.

Kehadiran komunitas spiritual kebatinan, tentu berbeda dengan agama. Acuan agama bukanlah hasil pikir dan perenungan manusia, melainkan wahyu. Sedangkan materi kebatinan merupakan kreasi manusia, yang mengkombinasikan kebijaksanaan dari banyak macam kepercayaan, mulai dari kepercayaan animisme dan dinamisme jaman prasejarah, ajaran-ajaran dewa dan kepercayaan-kepercayaan kuno, teknik-teknik meditasi, mistik, tasawuf, filsafat, psikologi, bahkan sampai kultus-kultus individu terhadap pemimpin atau pendiri pertama aliran-aliran tertentu.

Kebanyakan aliran kebatinan memang kerap mensitir keterangan agama, tetapi bukan sebagai patokan dasar, melainkan sebagai cara untuk memperkuat ajaran-ajaran kebatinan. Atas nama Hak Asasi Manusia dan kebebasan, mereka menggabungkan agama-agama yang berujung pada pluralisme agama, bahkan menghilangkan semua batasan agama yang ada.

Pendekatan kebatinan spiritual seperti ini, membuat fungsi terpendam agama, seperti ketenangan batin dan kebahagiaan, menjadi nyata dan bisa dirasakan oleh semua anggotanya. Karena itu, semua aktivitas ‘keagamaan’ dan spiritual yang mereka lakukan, dinilai dari bisa atau tidaknya memenuhi fungsi menenangkan batin, mengisi kekosongan jiwa, dan bisa-tidaknya menciptakan kebahagiaan untuk dirasakan oleh para pelakunya.

Intinya adalah pada Persekutuan antara hati dan Bathin.
Di dalam rumah ibadah, kebanyakan orang hanya menjalankan rutinitas peribadatan saja, tidak ada persekutuan hati di antara mereka. Inilah yang menyebabkan, sekalipun seseorang rajin beribadah di rumah ataupun di dalam rumah ibadah, tetap saja merasakan kekosongan hati. Dan kekosongan hati, tidak bisa dipenuhi hanya dengan rutinitas ibadah dan berbagai macam khotbah dan dogma / doktrin agama. Harus ada persekutuan hati yang bisa merekatkan hubungan hati antar sesamanya dan rasa kehangatan yang mengisi hati.

Di dalam perkumpulan kebatinan tersebut, sifat kekeluargaan anggotanya jauh lebih erat daripada di rumah ibadah dan sifat kebatinannya jauh lebih menonjol dan jauh lebih diutamakan daripada sifat formalitasnya. Inilah yang mendorong banyak orang bergabung di dalam perkumpulan kebatinan atau kapribaden.

Pihak kebatinan/kapribaden tidak pernah menyerang atau merendahkan pihak agama. Tetapi banyak manusia di pihak agama, memandang sinis terhadap keberadaan perkumpulan kebatinan/kapribaden, bahkan memusuhinya, dan menganggap bahwa kebatinan itu sebagai agama liar dan sesat. Padahal kedua-duanya mempunyai unsur yang sama, yaitu percaya kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah dan mengajarkan budi luhur, dan anggota-anggotanya juga beragama. Walaupun ada saja orang yang ikut perkumpulan kebatinan sebagai “pelarian”, tetapi sebagian besar, orang di dalam perkumpulan itu, menyadari sepenuhnya, bahwa perkumpulan kebatinan/kapribaden itu, bukanlah agama, dan mereka pun menjadikan perkumpulan itu, hanya sebagai pelengkap kehidupan kerohanian mereka saja.

Di luar sikap menghakimi, mengenai benar-salahnya atau legal-tidaknya aktivitas kebatinan/kapribaden seperti yang sudah saya uraika di atas “seyogyanya” ini menjadi masukan yang berharga bagi Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku sekalian, khususnya Para Pemuka agama dan para Penganut agama. Keberadaan agama, bukan untuk ‘memaksa’ manusia untuk memeluk agama dan mengharuskan menjalankan aturan-aturannya, tetapi juga harus dapat merangkul dan mengayomi mereka yang mencari Tuhan/Allah, mencari kebenaran Tuhan/Allah, mencari Kebahagia’an lahir dan ketentraman batin, serta mencari pengisi kekosongan jiwa, yang tidak bisa didapat hanya dengan cara mengikuti rutinitas peribadatan, khotbah dan ajaran-ajaran ‘fanatik’, dogma dan doktrin agama, yang mendorong manusia menjadi ‘terkotak-kotak’ dan ‘terbelenggu’, apalagi yang sampai melakukan pembenaran atas perbuatan menghakimi dan kekerasan dengan nama agama. Hubungan manusia dengan Tuhan/Allah bersifat pribadi, tidak bisa dipaksakan, apalagi dengan kekerasan. Dan Pesan inta Kasih Sayang saya Pada Para Kadhang sepuh saya. Janganlah berhenti hanya pada Persekutuan antara hati dan Bathin saja, karena ada kalanya masih bisa semu, ada yang nyata-nyata benar dan lebih baik dari Persektuan hati dan bathin, yaitu; Persekutuan Hidup dan Maha Suci Hidup. Renungkanlah ITU…!!!

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi ini, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi Pinayungan Maring Ingkang Maha Agung. Dzat Maha Suci Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

TAKHAYUL ROHANI DAN BERHALA HATI:


TAKHAYUL ROHANI DAN BERHALA HATI:
“Tragedi Tanggal 14 Mei 1998 ”
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Sabtu Wage. Tgl 01 Oktober 2016

Siapa yang tidak ingin dan tidak mau…
Menjadi orang yang beriman kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah di sepanjang hidupnya, dengan serba cukup, karir sukses dan bermanfaat bagi banyak orang.

Namun, bagaimana kalau dengan semua itu, kita mungkin dimusuhi orang, kehilangan pekerjaan, hidup serba susah, bahkan nyawa terancam. Akankah kita tetap bertahan dengan iman Kita…?!

Saya pernah dihadapkan pada situasi yang demikian itu. Kecakapan dan reputasinya mengusik sejumlah kehidupan sekeliling saya. Sebab itu, ada orang-orang yang mungkin iri dan tidak suka akan keberhasilan saya, lalu berusaha mengatur strategi licik, untuk menjebak, bahkan mematikan saya, di mulut singa-singa ganas, istilahnya. Karena ada sejumlah oknum yang kurang waspada, dan terpesona oleh retorika para pejabat yang menjilat, masuk dalam perangkap, dengan mengesahkan undang-undang hukuman mati, bagi siapa saja yang terlibat atau terkait dengan keluarga cendana, semasa masih berkuasa.

Apa yang akan di lakukan jika menjadi saya pada saat itu…?!
Kepada siapa hati kita terarah…?! Tetap briman hanya kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah…?! Atau kepada diri sendiri, karir, kenyamanan hidup, reputasi, penghargaan orang…?!

Berhenti berdoa selama sebulan, berpura-pura alias menyamar demi menyelamatkan karir dan nyawa. Karena bisa jadi, kalau tetap konsisten beriman kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, akan tampak merugikan. Hemm… Terdengar sebagai pilihan yang masuk akal, bukan?

Namun, saya adalah orang yang tak dapat ditawar, dalam hal ibadah kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah saya. Saya tetap berdoa dan memuja serta memuji Dzat Maha Suci Tuhan/Allah sebagaimana biasanya. Takkan pernah saya menggantikan arah hati saya, kepada sesuatu selain Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, apapun yang terjadi. Karena di sa’at itulah, akan terlihat nyata, apa dan siapa yang mendapat tempat terutama di hati saya.

Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian. Ketahuilah. Bahwa… Pilihan-pilihan kita itu, adalah cermin nyata. Sebarapa PENTINGnya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah bagi kita.

TAHAYUL ROHANI;
Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian, mungkin pernah menyaksikan film-film horor, entah itu di televisi atau DVD atau bioskop, bagaimana kitab suci atau simbol-simbol agama bahkan ayat-ayat dari al-qitab, digunakan untuk membuat setan takut dan tak berdaya. Entah dipengaruhi film semacam itu, atau tradisi keluarga atau adat, ada orang beragama yang melakukan hal seperti itu. Bagi yang kristen memasang salib bahkan patung Yesus di rumahnya. Bagi yang islam, memasang ayat-ayat al-qitab di rumahnya. Bagi agama lainnyapun sama, dengan harapan, rumahnya tersebut, akan terlindung dari gangguan setan dan terhindar dari teluh, santet dll. Dan ada sebagian yang akan merasa sangat tenang dan nyaman, ketika tidur didampingi Al-kitab, dan masih banyak lainnya lagi, yang tidak mungkin saya tuturkan satu persatu.

Pertama kali saya mengetahui hal ini, mempertanyakan, mengapa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, tidak menyertai mereka dalam ketakutannya. Sebenarnya mereka telah mengarahkan pikiran kepada Pribadi yang tepat, yaitu Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Sayangnya,,, mereka mengambil kesimpulan yang salah. Dengan cepat, mereka mencari “sesuatu” untuk membuat mereka tenang/nyaman. Mereka mendatangkan “benda suci atau berda bertuah”, bahkan “orang-orang suci” seperti para imam atau kiyai. Pikir mereka, benda-benda itu dapat membuat Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, datang menolong dan melepaskan mereka dari takut dan hawatir itu.

Mereka termakan dengan takhayul rohani, sama seperti yang mereka takutkan itu. Hasilnya… Ketakutan dan kekawatiran itu, justru makin bertambah parah, karena ternyata, “benda suci atau berda bertuah”,“orang-orang suci” itu, tidak dapat menolong mereka. Tidak jarang, saya pun sering menghadapi dan mengalami kesulitan hidup bak peperangan diatas panggung sandiwara setiap hari. Kala mencari sasa tenang dan kemenangan, kepada apa atau siapa kita menaruh harap…?! Adakah benda atau pribadi tertentu, yang justru bukan Dzat Maha SuciTuhan/Allah, yang menjadi tempat kita bertumpu…?!

Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian…
Berhati-hatilah dengan takhayul rohani ini, yang membuat kita mengilahkan sesuatu dan menyakiti hati Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Takala kita perlu rasa aman dan nyaman, kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah sajalah, sepatutnya kita datang

BERHALA HATI;
Setiap kali mendengar kata berhala, mungkin kita membayangkan sebuah patung sesembahan, atau jimat yang disimpan di balik pakaian, atau benda-benda antik yang mempunyai kekuatan tertentu yang di simpan di dalam rumah. Sebagai umat beragama, tentunya kita sama-sama tahu, bahwa yang di sebut berhala itu, adalah suatu kekejian di mata Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Oleh karena itu, saya yakin, bahwa sebagian besar kita, tidak menyimpan apalagi menyembah kepada benda-benda seperti itu.

Akan tetapi, menurut hasil pengalaman spiritual Laku Hakikat Hidup saya, berhala bukan hanya sesuatu yang bersifat kasat mata, tetapi juga hal-hal yang tidak kasat mata/tidak kelihatan. Kebanyakan dari saudara/saudari bahkan Kadhang saya, menjunjung berhala-berhala di dalam hatinya.

Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian…
Ketahuilah… Segala sesuatu, yang mengambil tempat Dzat Maha Suci Tuhan/Allah di hati kita, itu merupakan berhala. Berhala-berhala yang ada dalam hati kita tersebut, merupakan batu sandungan, yang membuat kita mudah terjerumus ke dalam berbagai macam salah, dosa dan luput.

Adakah sesuatu yang sedang begitu memikat hati kita melebihi Dzat Maha Suci Tuhan/Allah..?! Apakah itu Lelaki? Wanita? Apakah itu ambisi dalam berkarier, keinginan untuk dianggap penting, atau pengejaran harta benda, atau mungkin keterikatan pada seseorang, atau juga soal popularitas dan asmara, rumah tangga dll. Segala sesuatu harus diuji, dan ditempatkan sesuai porsinya. Jangan sampai ia menggantikan posisi Dzat Maha Suci Tuhan/Allah di dalam hati kita, jika ingin selamat dengan sempurna. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang kita sembah, kita puja puji setiap waktu, adalah Hyang Maha Cemburu. Buktinya,,, tidak ada satupun firman yang mengatakan. Bahwa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, menerima orang yang murtad, ingkar, musrik, sirik atau menduakan-Nya. Firmannya selalu menegaskan, melaknat orang-orang yang murtad, ingkar, musrik, sirik atau menduakan-Nya. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah kita, menghendaki kita, menjadi umat-Nya yang setia, dan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, maunya, cukup Dia saja, yang menjadi Pujaan dan Pujian kita. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah akan bersemayam di hati kita, lebih dekat dari urat leher kita, jika di hati kita, tidak ada yang lain, selain DIA satu-satuNya.

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian… Masih ingatkah…?!
Dengan Peristiwa kerusuhan yang terjadi pada 14 Mei 1998…?! Peristiwa Tanggal 14 Mei 1996, yang menyisakan kabut kelam dalam sejarah Indonesia. Menjelang Soeharto lengser, keonaran merebak di sejumlah kota, orang yang pernah dekat dengan keluarga cendana, di buru bahkan di bunuh, yang terparah terjadi di Jakarta. Perempuan-perempuan keturunan Tionghoa, banyak yang diperkosa. Mal-mal dijarah dan dibakar. Banyak warga mati terpanggang. Namun, tak ada yang diadili dalam peristiwa itu. Sampai saat ini.

Benarkah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, acuh tak acuh terhadap kejahatan…?!
Khususnya Peristiwa yang terjadi pada Tanggal 14 Mei 1996 di Jakarta…?!
Kenapa orang jahat bisa hidup leluasa, sedangkan orang baik malah menderita…?!

Ini adalah Pertanyaan yang paling mengganggu benak saya, yang kala itu, sedang semangat-semangatnya menggali jatidiri, untuk bisa mengenal Dzat Maha Suci secara detail. Dan dalam kemajuan perkembangan spiritual saya, saya mengetahuinya sendiri. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, menjawab tiga pertanyaan diatas.

Lalu, seiring berjalannya waktu, dari kejauhan, saya memantau sikon Peristiwa yang terjadi pada Tanggal 14 Mei 1996 di Jakarta, melalui berita di televisi. Ketika mengikuti berita dan mengamati berbagai peristiwa tiap harinya, saya mendapatkan kehadiran dan daya rusak kejahatan begitu semakin merajalela, saya bertanya, “Bagaimana mungkin Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang baik, dan berkuasa, membiarkan kejahatan…!!!

Jika Tuhan Maha baik, mestinya Dia memerangi kejahatan. Jika Tuhan Maha kuasa, pastinya Dia dapat mengalahkan kejahatan. Tapi,,, kejahatan ada di mana-mana, setiap tahunnya, bukan berkurang, malah semakin bertambah. Kesimpulan saya tentang itu. Tuhan ingin agar manusia bahagia, tapi kadang dia tak cukup berkuasa, mendatangkan hal-hal baik yang di inginkan.

Kesimpulan ini, bagi yang pandangannya tentang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, masih terbatas, pasti gagal memahami. Bahwa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, belum selesai bertindak, terhadap kejahatan itu. Hal ini bisa saya gambarkan dengan sebuah perumpamaan sederhana, seperti rumput yang tumbuh di antara tanaman. Yang maksudnya, kejahatan akan tetap ada, sebelum akhir zaman, namun akan tiba saatnya, di mana segala kejahatan, serta para pelakunya, mendapat hukuman yang setimpal.

Tuhan memang Maha baik dan Maha kuasa. Fakta, bahwa, Tuhan belum melenyapkan kejahatan saat ini, tidak berarti Dia tidak akan melenyapkannya pada masa yang akan datang. Dia dapat dan akan melakukannya, dalam waktu dan hikmat-Nya. Apa yang kita pikirkan tentang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, ketika melihat atau mengalami hal-hal yang buruk dalam kehidupan dunia fana ini. Mari memperbarui pengharapan, penghormatan, dan penundukan diri kita kepada-Nya. Dengan Cara memperagakan Wahyu Panca Laku “IMAN” untuk mempraktekan ajaran atau tuntunan, khususnya Wahyu Panca Gha’ib. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang sungguh Maha baik dan Maha kuasa itu, akan memberikan bukti kepada kita, dengan sangat jelas dan nyata.

Kita mungkin pernah diperlakukan tidak adil, padahal kita berbuat benar. Dalam kondisi semacam ini, banyak orang yang putus asa, bahkan tergoda untuk ikut-ikutan bertindak menyimpang/tidak benar. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah berfirman, betapa sia-sianya orang yang bermegah atas kejahatan mereka.

Mau bersediakah, kita tetap melakukan apa yang benar, meski diperlakukan tidak adil..?!
Orang jahat pasti akan diadili Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Dengan kepastian yang sama, “orang benar akan Hidup oleh Iman Cinta Kasih Sayang-Nya.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi ini, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi Pinayungan Maring Ingkang Maha Agung. Dzat Maha Suci Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com