KeSeImbanga Hidup Didalam Kehidupan Dunia:


KeSeImbanga Hidup Didalam Kehidupan Dunia:
Oleh: Wong Edan Bagu.

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…

Gubug Jenggolo Manik. Pukul. 20:00. Malam Rabu. Tanggal 27. Februari 2019.

Mencari ketenangan, kedamaian, kenyamanan, kebahagiaan dan ketentraman Hidup itu, teramat sangat mudah, asalkan mau Laku Murni Menuju Suci tanpa merasa sudah lulus.

Yang tidak mudah itu. Adalah;
Belajar keSeImbangan untuk bisa jalani kehidupan di dunia ini.

Karena untuk bisa seimbang, di butuhkan Kemanunggalan Rasa Sadar. Rasa Kesadaran dan Rasa Kesadaran Murni, dan untuk menyatukan atau memanunggalkan ketiganya ini, benar-benar di butuhkan Wahyu Panca Laku tingkat penghabisan (Laku Murni Menuju Suci yang extravaganza).

Hidup di kehidupan dunia ini, bak orang yang sedang mengendarai sepeda, yang dibutuhkan Yaitu;
KeSeImbangan.

Jalannya Hidup, terkadang berbelok-belok, ada kalanya lurus, ada kalanya menanjak, ada kalanya juga menurun, berlubang, terjal, serta tajam berkelok.

Ada kalanya juga, di serempet, bahkan di tabrak oleh teman sendiri.

Nah…
Jikalau Laku Murni Menuju Suci nya seImbang alias Rasa Sadar. Rasa Kesadaran dan Rasa Kesadaran Murni nya sudah manunggal/manyatu, tidak akan tergelincir, apa lagi jatuh dan nyungsep.

Apanya to pak WEB yang di SeImbangkan…?!

1. Pikiran – Rasa Sadar.
2. Hati – Rasa Kesadaran.
3. Bathin – Rasa Kesadaran Murni.

Sebab Karena itu, saya pernah menghimbau dengan Cinta Kasih Sayang;
Jagalah Pikiran mu, karena Pikiran mu akan menjadi Perkata’an mu. Jagalah Perkata’an mu, karena Perkataan mu akan menjadi Perbuatannya.
Jagalah Perbuatan mu, karena Perbuatan mu akan menjadi Kebiasa’an mu.
Jagalah Kebiasa’an mu, karena Kebiasaan mu akan membentuk Karakter mu.
Jagalah Karakter mu, karena Karakter mu, akan membentuk Nasib mu.
Jagalah Nasib mu, karena Nasib mu, akan menentukan Hati mu. Jagalah Hati mu, karena Hati mu, akan menentukan Rasa mu.
Jagalah Rasa mu, karena Rasa mu, akan menentukan Laku mu.
Jagalah Laku mu, karena Laku mu, akan menentukan Tuhan-mu.

Tuhan-nya…
Tuhan hantu.
Apa hantu Tuhan.
Atau hantu-hantuan.
Apa Tuhan-Tuhanan.

Karena Tuhan-nya sudah tepat, semua dan segalanya akan berjalan atau berputar dengan seImbang sesuai Kehendak dan Kuasa Tuhan.

Dan Dari Lubuk Hati❤️saya Yang Paling Dalam Mengucapkan Salam Rahayu Penuh Cinta Kasih Sayang❤️Selamat🙏Selamat🙏Selamat🙏 Rahayu🙏Rahayu🙏Rahayu🙏Damai🙏Damai🙏 Damai🙏 Tenteram🙏
Saya❤️
Wong Edan Bagu❤️
Ngaturaken Sugeng Rahayu🙏
lir Ing Sambikolo🤝
Amanggih Yuwono🤝
Pinayungan Mring Ingkang Maha Suci🙏
Basuki❤️
Yuwono❤️
Teguh❤️
Rahayu❤️
Slamet❤️🙏❤️
BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏Om Shantih Shantih Shantih Om – Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu🙏
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Wejangan Terbuka Tanpa Tedeng Aling-Aling Tentang Manunggaling Kawula Gusti Yang Sebenarnya:


Wejangan Terbuka Tanpa Tedeng Aling-Aling Tentang Manunggaling Kawula Gusti Yang Sebenarnya:

Oleh: Wong Edan Bagu.

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…

Gubug Jenggolo Manik. Pukul. 24:00. Malam Jumat. Tanggal 22. Februari 2019.

Para kadhang dan para sedulur kinasihku sekalian “Ora gampang urip ing ngalam ndunyo iki, lamun tan wikan mring Kunci-nepun”

Maksunya;

Tidaklah mudah hidup di dunia ini, jika tidak mengerti/paham akan Kunci-nya.

Kunci itu apa to…?!

Kunci itu apa sih…?!

Kok sampai-sampai pak WEB berulang-ulang ngebahasnya, bahwasannya Kunci itu menjadi penentu utama dalam ilmu pengetahuan di dalam kehidupan di dunia ini bahkan di akherat nanti…!!!

Karena Kunci itu, adalah Jati Diri Sejati nya kita yang sebenarnya, yang sesungguhnya, yang menjadi asal usul kita, berawal dari Kunci inilah kita sebagai manusia Hidup di ciptakan dengan label/stempel makhluk paling sempurna di banding makhluk lainnya.

Para kadhang dan para sedulur kinasihku sekalian, Kunci adalah asal usul Hidup kita, sebelum di utus memasuki diri/wujud kasar kita ini, asal usul semua mahluk Hidup sebelum di cipta menjadi apapun.

“KUNCI”

Ku-N-Ci;

Ku = Kumpul.

N = Nunggal.

Ci = Suci “Kunci” Artinya;

Adalah Kumpul Nunggal Suci. Maksudnya;
Bersatu padu menjadi satu kesatuan dengan Dzat Maha Suci Hidup atau berkumpul menjadi satu dengan Dzat Maha Suci Hidup (pulet pinuletan-tan pinisah).

Nah…
Berawal dan berasal dari sinilah kita.

Awalnya kita kumpul nunggal dengan Dzat Maha Suci.
Mulanya, bersatu atau menyatu dengan Dzat Maha Suci.
Artinya kita adalah Dzat Maha Suci itu sendiri.

Lalu bagian dari diri-Nya itu diambil, yang kemudian di utus oleh Dzat Maha Suci, untuk menghidupkan sebuah wujud, tersebut raga/jasad manusia/makhluk.

Sebelum diutus, terlebih dahulu diadakan sebuah perjanjian, perjanjiannya, selain semua kebutuhannya di cukupi dan segala kepentingannya di sediakan, juga tentang asal usul sangkan paraning dumadinya, setelah perjanjian ini selesai dan di tulis abadi di dalam kitab Lauh Mahfudz atau Lauhul Mahfudz, lalu di utus untuk menghidupi sebuah wujud, tersebut raga/jasad manusia/makhluk.

Setelah memasuki wujud/jasad/tubuh manusia, kemudian di bekali empat anasir, yang lebih di kenal dengan sebutan sedulur papat atau kawula yang sakti mandraguna.

Di dalam al-qitab kejadian, setelah Dzat Maha Suci menciptakan tubuh manusia tersebut “ADAM” dari tanah pilihan, lalu di bekali empat anasir, yang bahannya di ambil dari;
Sari-sarinya air.
Sari-sarinya angin.
Sari-sarinya api.
Sari-sarinya bumi.

Dan empat anasir ini, merupakan esensi kesaktian Dzat Maha Suci, maksudnya;
Seluruh ilmu Dzat Maha Suci, ada di empat anasir tersebut, sebab itu, mereka berempat, selain cerdas, juga sakti mandraguna, karena mereka adalah ilmu Dzat Maha Suci.

Empat anasir ini, di dalam ilmu pengetahuan, dinamai atau disebut sebagai;
Sedulur Papat, ada juga yang menyebutnya sebagai kawula, ada juga yang menamainya sebagai malaikat empat dan masih banyak lagi nama-nama dan sebutannya, namun yang baku adalah empat anasir. Yaitu;
Sari-sarinya air.
Sari-sarinya angin.
Sari-sarinya api.
Sari-sarinya bumi.
Atau…
Mutmainah.
Aluamah.
Amarah.
Supiyyah.

Setelah di bekali empat anasir, kemudia Dzat Maha Suci BerFirman;
Aku ambil sebagian Ruh-Ku, kemudia Aku-tiupkan “Kun Faya Kun” Sebagai penghidup kepada jasad atas Perintah-Ku, untuk bertanggung jawab tentang masalah dunia akheratnya.

Di mulai dari sinilah, kehidupan bagi raga/wujud/tubuh manusia.

“ADAM” Asal Dumadi Ananing Manungsa (Awal Terjadi Adanya Manusia).

Kesimpulan Pertama:

Kunci itu Adalah Hidup atau Ruh Suci atau Ruh Kudus atau Ruh nya Dzat Maha Suci, yang awalnya menjadi satu dengan Dzat Maha Suci, yang tak lain dan tak bukan, adalah Dzat Maha Suci itu sendiri.

Hidup atau Ruh Suci atau Ruh Kudus atau Ruh nya Dzat Maha Suci, yang awalnya menjadi satu dengan Dzat Maha Suci, yang tak lain dan tak bukan, adalah Dzat Maha Suci itu sendiri.

Di dalam ilmu pengetahuan lebih di kenal dengan sebutan sebagau Sang Guru Sejati kalau istilah spiritualnya, kalau istilah Laku Murni Menuju Sucinya, di sebut sebagai Asmo Sejati, kalau istilah Agamanya disebut sebagai Rasullullah atau Utusan Tuhan.

Karena adanya Hidup atau Ruh Suci atau Ruh Kudus atau Guru Sejati atau Asmo Sejati atau Ruh Tuhan di dalam diri inilah, manusia bisa beragama, bisa berkepercayaan, berkeyakinan, bisa lapar, kenyang, makan, puasa, bisa haus-minum, bisa ngantuk-tidur, bisa berbicara, bisa mendengar, bisa berpikir, bisa bekerja, bisa berdoa, bisa beribadah, bisa susah-senang dllnya…

Kalau tanpa adanya Hidup atau Ruh Suci atau Ruh Kudus atau Guru Sejati atau Asmo Sejati di dalam dirinya.

Sekalipun didalamnya ada empat anasir, dan empat anasir itu adalah esensi kesaktian Tuhan.

Sungguh manusia itu adalah Mayat/Bangkai, yang hanya layak untuk di kubur, sebab kalau tidak segera di kubur atau di bakar, bau busuk bangkainya, akan mengganggu semua pemilik indera penciuman.

Itu-lah Kunci, yang berati simpel dan singkat padatnya adalah “HIDUP” kita sendiri.

Sebab karena itu Dzat Maha Suci selalu mengingatkan dengan pesan-pesan indah dan bijak nya;

“Jika ingin mengenal-Ku. Kenalilah dirimu sendiri”

“Barang siapa mengenal dirinya. Niscaya dia akan mengenal-Ku”

“Sesungguhnya Aku berada dekat. Bahkan lebih dekat dari urat lehermu”

“Barang siapa yang mencari-Ku keluar diri. Niscaya dia akan tersesat”

Dan masih banyak lagi pesan bijak Dzat Maha Suci yang lainnya, yang sepertinya, para ahli kitab, mustahil tidak mengetahuinya.

Ini lo Kunci.
Itu lo Kunci.
Kunci itu ini lo…

La kalau Gusti ingkang moho suci, kulo nyuwun pangapuro dumateng gusti ingkang moho suci dan seterusnya itu pak WEB…?!

Itu bukan Kunci, itu bunyinya Kunci, kalau Kunci, seperti yang sudah saya uraikan diatas.

Kok penerima pertamanya ADAM…?!

Saya dengan….
Katanya….
Romo Semono.

La wong katanya, di percaya dan di yakini, buktikan dulu sendiri, setelah membuktikan sendiri, baru silahkan percaya atau yakin.

Romo Semono Sastrohadijoyo itu, bukan penerima Wahyu Panca Ghaib pertama, kalau penerima Wahyu Panca Ghaib pertama adalah “ADAM” kalau Romo Semono Sastrohadijoyo itu adalah Penyempurna Pertama.
Maksudnya;
Manusia Pertama yang berhasil Mijilake / Menyempurnakan Wahyu Panca Ghaib adalah Romo Semono Sastrohadijoyo.

Yang kemudian di lanjutkan oleh para Putro-putro-Nya, namun sayang, para Putro-Nya banyak yang gagal paham, karena mudah percaya dengan katanya itu tadi, belum membuktikan, sudah main percaya dan yakin aja. He he he . . . Edan Tenan.

Pertama kali turun ke dunia, Wahyu Panca Ghaib di terima oleh;
“ADAM” Asal Dumadi Ananing Manungsa (Awal Terjadi Adanya Manusia).

Kemudian di lanjutkan oleh “ISA” Ilmu Sejati Aku (Pengetahuan Kebenaran Hidup)

Namun “ISA” gagal, karena selain di tolak oleh kaumnya di jaman itu, juga di Tuhan kan oleh umatnya.

Yang kemudian bermohon kepada Tuhan untuk mengambil kedirian-Nya, dan Tuhan mengabulkan permohonannya itu, dengan satu syarat, kelak mendekati akhir jaman, harus kembali turun lagi, untuk menyelesaikan penggenapan Firman-Nya.

Dan ini di akui oleh Nabi Akhir jaman, yaitu Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Bersabda:
“Para Nabi itu bersaudara seayah, sedangkan ibu mereka berbeda-beda dan agama mereka satu.

Aku adalah manusia yang paling dekat terhadap ‘Isa bin Maryam, karena tidak ada Nabi lagi antara dia dan aku. Dan dia akan turun (kembali).

Dalam hadist riwayat Abu Hurairah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bersabda;
“Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya. Sebentar lagi Isa bin Maryam akan turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil” (Ratu Adli).

Kemudian Bermula lah Sejarah Kemanunggalan Hidup yang di Mijilake/Mijilkan/Sempurnakan Oleh Romo Semono Sastrohadijoyo “PEN”

Kesimpulan Kedua:
Kunci, itu bukan Wahyu baru, melainkan justru Wahyu kuno, Wahyu tertua, Wahyu yang pertama kali di turunkan ke dunia oleh Dzat Maha Suci, dan penerima pertamanya adalah “ADAM” Asal Dumadi Ananing Manungsa (Awal Terjadi Adanya Manusia).

Sebab itu, di namai atau di sebut sebagai Wahyu Panca Ghaib – Wahyu itu pemberian Tuhan. Panca itu lima. Ghaib itu Ruh.
Artinya;
Wahyu Panca Ghaib adalah;
Lima Ruh Pemberian Tuhan.

1. Sari-sarinya air – Mutmainah.
2. Sari-sarinya angin – Aluamah.
3. Sari-sarinya api – Amarah.
4. Sari-sarinya bumi – Supiyyah.
5. Ruh Suci atau Ruh Kudus atau Ruh Tuhan – Hidup.

1. Kunci.
2. Paweling.
3. Mijil.
4. Singkir.
5. Asmo

Ini lo Wahyu Panca Ghaib.
Itu lo Wahyu Panca Ghaib.
Wahyu Panca Ghaib itu ini lo…

Jadi…
Wahyu Panca Ghaib adalah isi dari raga/wujud/tubuh kita sendiri, yang selama ini menjadikan kita bisa beragama, berkeyakinan, berkepercayaan, beribadah, bekerja, berdoa, ber- kaliber lainnya.

Dengan begitu, jikalau tanpa adanya Wahyu Panca Ghaib di dalam raga/wujud/tubuh, bisa apa coba…?!

Pada hakikatnya, semua manusia Hidup itu, memiliki Wahyu Panca Ghaib, tidak peduli agama dan latar belakang serta suku apapun, hanya saja, ada yang sudah menyadarinya dan ada yang belum, itu saja.

Untuk bisa menyadarinya Caranya bagaimana Pak WEB…?!

Untuk bisa wikan atau mengerti atau memahami Kunci yang tak lain dan tak bukan adalah Hidup kita sendiri, yang merupakan utusan Tuhan itu.

“Tidak ada cara lain, selain Dengan Laku Murni Menuju Suci”

Laku Murni Menuju Suci…?!

Ya… Laku Murni Menuju Suci.

Kalau tidak…?!

Ya, tidak bisa…!!!

Sebab karena Dia adalah Ruh Suci/Kudus, berasal dari Dzat Maha Suci. Artinya;
Hidup itu, Suci, kan…?!

Dan Suci itu adalah sesuatu yang murni, yang tidak bisa dicampuri dengan apapun dan tidak bisa tercampuri oleh apapun, selain dengan suci itu sendiri, bukan suci namanya kalau tercampuri dan bisa di campuri oleh selain suci itu sendiri.

Artinya, kita tidak akan pernah bisa, mendekati suci, menyentuh suci, apa lagi menyatu dengan suci, kalau diri kita tidak suci.

Karena suci itu, tidak bisa di campuri dengan apapun, dan tidak bisa tercampuri oleh apapun, selain dengan suci lagi. Jadi…

Untuk bisa menyatu dengan suci, kita harus memurnikan laku kita.
Yaitu dengan;

Laku Murni Menuju Suci.

Untuk Laku Murni Menuju Suci, harus bagaimana Pak WEB…?!

Apa yang harus saya lakukan atau yang harus saya perbuat…?!

He he he . . . Edan Tenan.

Di dalam setiap rongga dada anak adam, terdapat segumpal gading, yang jika segumpal daging itu baik, maka baik pula seluruh anggota badan nya, sebaliknya, jika buruk, maka buruk pula seluruh anggota badan nya, dan segumpal daging itu, tersebut Hati” Tempat Aku menyimpan rahasiaku.

Dalam setiap rongga dada anak adam, Aku ciptakan suatu mahligai, yang di sebut dada, di dalam dada, ada hati (hati bagian luar), di dalam hati, ada qalbu/benak (hati bagian dalam), di dalam qalbu/benak, ada fuad/nurani (hati paling dalam), di dalam fuad/nurani, ada rasa, di dalam rasa, ada Sir, Dzat, Sipat, di dalam Sir, Dzat, Sipat, ada rahasiaKu/Hidup, didalam rahasiaKu/Hidup itulah AKU.

“Al-Insanu Siri Wa Ana Siruhu” Rahasia kalian adalah rahasia-Ku.

“Galilah rasa, yang meliputi seluruh tubuhmu, karena di dalam tubuhmu, ada firman/utusan Tuhan, yang dapat menjamin, jiwa ragamu, lahir bathinmu, hidup matimu dan dunia akheratmu”

(firman/utusan Tuhan di dalam diri kita, ya Hidup kita itu)

Untuk hal itu, kita tak perlu neko-neko, karena hanya perlu menggali rasa yang meliputi seluruh tubuh kita. Cukup sederhana kan…?!

Menggali Rasa yang meliputi seluruh tubuh saya…?!

Rasa apa Pak WEB…?!

Rasa apa saja.

Rasa apa saja…?!

Ya… Semua Rasa, segala Rasa yang berada di seluruh/sekujur tubuh kita. Rasa enak dan tidak enak, seperti pahit, getir, manis, asam, panas, dingin, gatal, gerah, sejuk dll.

Karena rasa sejati atau sejatinya rasa yang menjadi klimaxnya, itu di liputi kesempurnaan rasa yang beraneka ragam dan macamnya itu kan…

Yang namanya sempurna, itu kan, lengkap bin komplit, jadi, suka tidak suka, mau tidak mau, kita harus siap melampaui semua rasa dan segala rasa yang menjadi pembungkus rasa yang sebenarnya itu.

Karena Dzat Maha Suci itu Esa, yang berarti baik buruk enak tidak enak itu berasal dari-Nya, kita harus bisa mau siap menerima dan menikmati semua dan segala rasa-rasa itu dengan syukur, apapun rasa yang kita dapatkan ketika laku murni menuju suci, tanpa menganalisa, tanpa mengeluh dan tanpa protes.

Kalau kita bisa berhasil menelan semua rasa itu tanpa komentar apapun, rasa sejati atau sejati nya rasa, akan kita temukan. Yaitu;
1. Rasa Sadar.
2. Rasa Kesadaran.
3. Rasa Kesadaran Murni.

Nah…
Rasa Sejati atau Sejati nya Rasa inilah yang menjadi intisaripatinya, bisa mengklimaxkan Rasa Sejati atau Sejati nya Rasa tersebut;
1. Rasa Sadar.
2. Rasa Kesadaran.
3. Rasa Kesadaran Murni.

Makan akan menyaksikan di mana Dzat Maha Suci sebenar, sebab karena menyaksikan di mana Dzat Maha Suci itu sebenarnya, maka akan mengenal-Nya dengan selamat dan sempurna.

Dan kalau sudah mengenal Dzat Maha Suci yang di sebut-sebut sebagai Tuhan selama ini;
Kita akan mengerti, memahami, mengetahui. Bahwa;

Ajaran Nabi Muhammad Saw itu. Bukanlah agama Islam, namun di dalam agama Islam. Terkandung ajaran Sang Rasullullah/Utusan Allah.

Kita akan mengerti, memahami, mengetahui. Bahwa;

Ajaran Nabi Isa Putra Mariyam itu. Bukanlah agama Kristen, namun di dalam agama Kristen. Terkandung ajaran Sang Anak Allah.

Kita akan mengerti, memahami, mengetahui. Bahwa;

Ajaran Sakyamuni itu. Bukanlah agama Buddha, namun di dalam agama Buddha. Terkandung ajaran Sang Hyang Buddha.

Kita akan mengerti, memahami, mengetahui. Bahwa;

Ajaran Krishna itu. Bukanlah agama Hindu, namun di dalam agama Hindu. Terdapat ajaran Sang Avatara Wisnu.

Kita akan mengerti, memahami, mengetahui. Bahwa;

Ajaran Romo Semono Sastrohadijoyo itu. Bukanlah Organisasi, Kepercayaan Kapribaden, namun di dalam Organisasi, Kepercayaan, Kapribaden. Terkandung ajaran Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Herucokro Semono.

Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Herucokro Semono…?!

Siapa dan apa itu Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Herucokro Semono…?!

Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Herucokro Semono Adalah Pusaranya semua dan segala Ruh Suci atau Ruh Kudus atau Guru Sejati atau Asmo Sejati atau Hidup yang tak lain dan bukan adalah yang di sebut Tuhan dengan berbagai nama-nama indah dan mewah-Nya.

Kesimpulannya Ketiga:

Untuk memperoleh kesempurna’an Hidup di dunia hingga akherat dengan cinta kasih sayang Dzat Maha Suci yang sempurna. Itu…

Bukan di tentukan karena memeluk Agama Atau Kepercayaan/Keyakinan apapun.

Namun untuk mendapatkan kesempurna’an Hidup di dunia hingga akherat dengan cinta kasih sayang Dzat Maha Suci yang Sempurna. Itu…

Mau Taubat dan Bersedia berIman hanya kepada-Nya apa tidak…?!

Kalau mau dan bersedia, ya harus Laku Murni Menuju Suci.

Sebab kita berasal dari suci-Nya Dzat Maha Suci, jadi, kita harus mau menerapkan/mengibadahkan ajaran-ajaran agama dan kepercayaan/keyakinan tersebut dengan menggunakan Wahyu Panca Laku/Iman.

Wahyu Panca Laku/Iman…?!

Apa itu dan bagaimana Wahyu Panca Laku/Iman itu Pak WEB…?!

Wahyu Panca Laku/Iman.
Adalah Sipat dan Sikapnya;
Sedulur Papat Kelima Pancer nya kita sendiri, yang tak lain dan tak bukan. Adalah;
Wahyu Panca Ghaib yang menjadi isi raga/tubuh/wujud kita sendiri.
Tersebut;
1. Sari-sarinya air – Mutmainah.
2. Sari-sarinya angin – Aluamah.
3. Sari-sarinya api – Amarah.
4. Sari-sarinya bumi – Supiyyah.
5. Ruh Suci atau Ruh Kudus atau Ruh Tuhan – Hidup.
|
|
!
Wahyu Panca Ghaib;
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Mijil.
4. Singkir.
5. Asmo

Wahyu Panca Laku/Iman;
1. Pasrah kepada Tuhan.
2. Menerima keputusan Tuhan.
3. Merasakan kenyataan Tuhan.
4. Menebar cinta kasih sayang Tuhan.
5. Mempersilahkan kuasa Tuhan.

Itulah sipat dan sikapnya sedulur papat kalima pancer atau Wahyu Panca Ghaib nya diri pribadinya kita sendiri.

Adakah kelima Sipat dan Sikap ini ada di dalam diri Kita…?!

Kalau belum ada, apa lagi tidak ada, berati, mau ngototnya macam/kayak apapun, mengaku percaya alias yakin bin haqul yakin kepada Tuhan ples adanya Tuhan.

Sesungguhnya kita belum berIman, sebab karena itu, segera berTaubat dan berImanlah, selagi masih ada waktu dan belum terlambat.

Untuk bisa berWahyu Panca Laku alias berIman seperti yang sudah saya uraikan diatas tadi.

Siapapun dia dan bagaimanapun dia, suka tidak suka, cocok tidak cocok harus mau berTaubat.

Kalau tidak dengan berTaubat.

Jika belum berTubat.

Mana Mungkin Bisa;
1. Pasrah kepada Tuhan.
2. Menerima keputusan Tuhan.
3. Merasakan kenyataan Tuhan.
4. Menebar cinta kasih sayang Tuhan.
5. Mempersilahkan kuasa Tuhan.

Iya apa iya…?!
Hayo…!!!

Adakah kelima Sipat dan Sikap ini di dalam diri Kita…?!

Jika Ada…
Sudah pasti dia akan selalu Menjaga Pikirannya, karena mengerti, paham dan tahu, bahwa Pikirannya akan menjadi Perkata’annya, Perkata’annya, akan menjadi Perbuatannya, Perbuatannya akan menjadi Kebiasa’annya, Kebiasa’annya akan membentuk Karakternya, Karakternya akan membentuk Nasibnya, Nasib akan menentukan Hatinya, Hatinya akan menentukan Rasanya, Rasanya akan menentukan Lakunya, Lakunya akan menentukan Tuhan-nya.

Tuhan-nya. Tuhan hantu, apa hantu Tuhan, atau hantu-hantuan, apa Tuhan-Tuhanan.

Itulah Laku Murni Menuju Suci; Yang sering saya selipkan di setiap Artikel yang mengabarkan Bab Taubat-Wahyu Panca Ghaib) dan Iman-Wahyu Panca Laku).

Mempraktekan. Meng-Ibadahkan. Menjalankan Wahyu Panca Ghaib dengan Menggunakan Wahyu Panca Laku. Adalah;
Mengenal Tuhan dengan Menggunakan Tuhan itu sendiri.

Sebab Tuhan itu Dzat Maha Suci, yang tidak bisa di campuri dengan apapun dan tidak bisa tercampuri oleh apapun. Jadi…

Kalau hendak ke Tuhan, ya harus mau menjadi Tuhan.

Menjadi Tuhan…?!
Wah…!!!
Kafir…!!!
Sesat…!!!
Murtad…!!!

Seeeeeeeetttttttt…..
Tunggu dulu, jangan asal ngejeplak gitu, menjadi Tuhan itu, bukan berarti mengaku Tuhan atau menjadi Tuhan, melainkan menerapkan Sifat-sifat dan Sikap-sikap Tuhan di kehidupan kita sehari-hari, gitu mas brow mbak brow. He he he . . . Edan Tenan.

Dengan uraian saya diatas, yang singkat namun padat dan jelas Tanpa Tedeng Aling-aling.

Nah, ini dia…

Yang selama ini di sebut-sebut sebagai Manunggaling Kawula Gusti. Ya;
Wahyu Panca Ghaib ini.

Tapi, Wahyu Panca Ghaib yang di ibadahkan atau di jalankan atau di praktekan dengan Wahyu Panca Laku/Iman lo ya…

Bukan yang di ibadahkan atau di jalankan atau di praktekan dengan kebencian, fitnah, sirik, iri, dengki, dendam, hasut, ego, pamrih, munafik dan sejenisnya. Bukan!

Sebab karena, kalau Wahyu Panca Ghaib tidak di ibadahakan dengan Wahyu Panca Laku atau Iman, dia tidak bisa manunggal, tidak bisa menyatu dan tidak bisa bersatu padu.

Dia akan beralih fungsi sendiri-sendiri, yang di luar kesadaran akan menimbulkan kebencian, fitnah, sirik, iri, dengki, dendam, hasut, ego, pamrih, munafik dan sejenisnya.

Maka dari itu, tidak sedikit dari kita yang sudah ibadahkan atau di jalankan atau di praktekan Wahyu Panca Ghaib, namun masih tetap asyik mencari-cari kesalahan dan kekurangan orang lain, untuk di nilai, lalu di bedakan, agar supaya punya alasan untuk bisa;
Bencian, fitnah, sirik, iri, dengki, dendam, hasut, ego, pamrih, munafik dan sejenisnya.

Semuga Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling yang kesekian kalinya dari saya ini, bermanfaat guna sebagai penambahan wawasan kecerdasan spiritual kita di dalam Laku Murni Menuju Suci-Nya. Dan…

Dari Lubuk Hati❤️saya Yang Paling Dalam Mengucapkan Salam Rahayu Penuh❤️Cinta Kasih Sayang❤️ Selamat🙏Selamat🙏Selamat🙏 Rahayu🙏Rahayu🙏Rahayu🙏Damai🙏Damai🙏 Damai🙏 Tenteram🙏

Saya❤️

Wong Edan Bagu❤️

Ngaturaken Sugeng Rahayu🙏

lir Ing Sambikolo🤝

Amanggih Yuwono🤝

Pinayungan Mring Ingkang Maha Suci🙏

Basuki❤️

Yuwono❤️

Teguh❤️

Rahayu❤️

Slamet❤️🙏❤️

BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏Om Shantih Shantih Shantih Om – Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu🙏

Terima Kasih🤝❤️🤝

Terima Kasih🤝❤️🤝

Terima Kasih🤝❤️🤝

Ttd: Toso Wijaya. D

Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959

Alamat: Gubug Jenggolo Manik.

Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.

Email: webdjakatolos@gmail.com

Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.

BBM: DACB5DC3”

Twitter: @EdanBagu

Blogg: http://www.wongedanbagu.com

WordPress: http:// putraramasejati.wordpress.com

Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Jumbuhing Wahyu Panca Ghaib Dan Wahyu Panca Laku (Laku Murni Tumuju/Menuju Suci):


Jumbuhing Wahyu Panca Ghaib Dan Wahyu Panca Laku (Laku Murni Tumuju/Menuju Suci):
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul. 15:34. Hari Rabu. Tanggal 20. Februari 2019.

Salam Rahayu Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku Sekalian…

Jumbuhing Wahyu Panca Ghaib Dan Wahyu Panca Laku Atau Laku Murni Tumuju/Menuju Suci. Adalah:
“Rasa Sadar. Rasa Kesadaran. Rasa Kesadaran Murni”

Kalau istilah di dalam pelajaran Laku Spiritualnya;
Rasa Sadar. Rasa Kesadaran. Rasa Kesadaran Murni ini, disebut sebagai;
Sir. Dat. Sipat.

Sir. Dat. Sipat.
Ini saya kurung dulu ya. Terus…

Kalau istilah di dalam pelajaran Ilmu Syariatnya;
Rasa Sadar. Rasa Kesadaran. Rasa Kesadaran Murni ini, disebut sebagai;
Sirullah. Datullah. Sipatullah.

Sirullah. Datullah. Sipatullah.
Saya kurung lagi ya. Terus…

Kalau istilah di dalam pelajaran Ilmu Hakikatnya;
Rasa Sadar. Rasa Kesadaran. Rasa Kesadaran Murni ini, disebut sebagai;
Nur Allah. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad.

Nah sekarang begini, Sebenarnya;
Sir. Dat. Sipat.
Atau…
Sirullah. Datullah. Sipatullah.
Atau…
Nur Allah. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad.

Itu berhakikat sama, maksudnya;

Hakikatnya adalah sama (Lungguhe Kuwi Podo).
Yaitu;
Sama-sama mengajarkan tentang tahapan pencapaian Rasa Sejati atau Sejati nya Rasa.

Intinya adalah Rasa, dan yang di maksud klimax, klimaxnya Laku Murni Menuju Suci, itu adalah Rasa, istilah-istilah diatas. Seperti;
Sir. Dat. Sipat.
Atau…
Sirullah. Datullah. Sipatullah.
Atau…
Nur Allah. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad.
Itu adalah Ending nya.

Ending Filosofi Penggambaran, agar supaya kita bisa lebih mudah mengerti, memahami dan mengetahui klimaxnya Rasa Sejati atau Sejati nya Rasa.

Sebab karena, jikalau kita sudah mengerti, memahami dan mengetahui endingnya, yaitu istilah-istilah tadi, pasti bisa lebih mudah klimaxnya, bisa klik gitu lo…

Sir. Itu mengajarkan tentang Rasa Sadar. Dat. Itu mengajarkan tentang Rasa Kesadaran. Sipat. Itu mengajarkan tentang Rasa Kesadaran Murni.

Sama dengan…
Sirullah. Itu juga mengajarkan tentang Rasa Sadar. Datullah. Itu juga mengajarkan tentang Rasa Kesadaran. Sipatullah. Itu juga mengajarkan tentang Rasa Kesadaran Murni.

Begitu juga dengan…
Nur Allah. Sama mengajarkan tentang Rasa Sadar. Nur Muhammad. Juga sama mengajarkan tentang Rasa Kesadaran. Nur Ilmu Muhammad. Juga sama mengajarkan tentang Rasa Kesadaran Murni.

Rasa Sadar, itu dimensinya atau alamnya atau dunianya Sukma atau empat anasir. Rasa Kesadaran, itu dimensinya atau alamnya atau dunianya Hidup atau Ruh Suci. Rasa Kesadaran Murni, itu dimensinya atau alamnya atau dunianya Dzat Maha Suci atau Tuhan, dan ketiganya itu, salin berkaitan dan tidak bisa terpisahkan atau di pisahkan.

Rasa itu banyak, bahkan teramat sangat buanyak sekali, sebanyak jumlah makhluk yang di ciptakan oleh Tuhan di dunia ini.

Contohnya;
Rasa pahit. Rasa manis, getir, asam, asin, gatal, panas, dingin dll.

Dan kita tidak perlu mempelajari semua rasa itu, selain tidak penting dan buang waktu, bisa pusing nantinya.

La tanpa di pelajari sekalipun, kita kan sudah hapal banget, rasa manis itu bagaimana, rasa pahit itu seperti apa, kan sudah hapal banget to…?!

Lalu, untuk apa di pelajari…!!!

Bikin pusing saja.

Cukup satu saja.
Yaitu;
Rasa Sejati atau Sejati nya Rasa, tidak perlu yang lainnya itu, karena semua rasa itu, bersumber dan bermula dari satu rasa ini. Yaitu; Rasa Sejati atau Sejati nya Rasa.
Rasa Sejati atau Sejati nya Rasa ini, terbagi menjadi tiga tahapan;
Tahap Pertama adalah;
Rasa Sadar.
Tahap Kedua adalah;
Rasa Kesadaran.
Tahap Ketiganya adalah;
Rasa Kesadaran Murni.

Itu lo klimaxnya.
Klimaxnya itu, ini lo…

Kalau di dalam Laku Murni Menuju Suci-nya, Menjalankan atau Mempraktekan atau Meng-ibadahkan Wahyu Panca Ghaib dengan menggunakan Wahyu Panca Laku.
Yaitu;
Level Satu “Patrap Semedi Mijil Sowan” yang hakikatnya adalah menjaga hati, itu sebenarnya tentang Rasa Sadar.

Level Dua “Patrap Semedi Mijil Sampurna” yang hakikatnya adalah membersihkan hati, itu sebenarnya tentang Rasa Kesadaran.

Level Tiga “Patrap Semedi Mijil Toto Lenggang” yang hakikatnya adalah membuka hati, itu sebenarnya tentang Rasa Kesadaran Murni.

Endingnya adalah Filosofi Penggambaran…
Sir. Dat. Sipat.
Kalau istilah di dalam pelajaran Laku Spiritualnya. Atau…

Sirullah. Datullah. Sipatullah.
Kalau istilah di dalam pelajaran ilmu syariatnya. Atau…

Nur Allah. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad.
Kalau istilah di dalam pelajaran ilmu Hakikatnya.

Maksud dari Ending Filosofi Penggambaran dari ilmu-ilmu pengertian, ilmu pemahaman, ilmu pengetahuan tersebut, agar supaya kita bisa lebih mudah di dalam mencapai klimaxnya Rasa Sejati atau Sejati nya Rasa.
Yaitu;
Rasa Sadar. Rasa Kesadaran dan Rasa Kesadaran Murni.

Sedangkan tentang Jumbuhing atau kedudukan atau lungguhe atau hakikatnya Rasa Sadar. Rasa Kesadaran dan Rasa Kesadaran Murni, ketiganya ini, tentang seputar Rasa, bukan selain Rasa.

Sadar adalah Rasanya Sukma.
Kesadaran adalah Rasanya Hidup.
Kesadaran Murni adalah Rasanya Tuhan.

Jadi, yang di maksud Sadar disini, adalah; Rasa yang Sadar, yang di maksud Kesadaran disini, adalah; Rasa Kesadaran, yang di maksud Kesadaran Murni disini, adalah Rasa Kesadaran Murni.

Bukan asal sadar, atau asal kesadaran atau asal kesadaran murni, kalau yang asal asalan saja, tanpa Laku Murni Menuju Suci (Wahyu Panca Laku)pun bisa di kira-kira, namun yang namanya ilmu kira-kira, kan sudah jelas tidak pasti, to…!!!

Jadi, untuk bisa mengklimaxkan Rasa Sadar. Rasa Kesadaran dan Rasa Kesadaran Murni, kita harus Laku Murni Menuju Suci (Wahyu Panca Ghaib -Wahyu Panca Laku), karena ketiganya terkait dengan Tuhan semua.

Rasa Sadar dan Rasa Kesadaran serta Rasa Kesadaran Murni ini, tidak bisa di pisahkan, ketiganya salin berkaitan, dan secara otomatis, akan aktif dengan sendirinya, ketika seseorang itu Laku Murni Menuju Suci (Wahyu Panca Laku).
Maksudnya Yaitu;
Mengenal Tuhan dengan Menggunakan Tuhan.

Wahyu Panca Ghaib yang di Jalankan atau di Praktekan atau di Ibadahkan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku.
Adalah upaya;
Mengenal Tuhan dengan Menggunakan Tuhan itu sendiri.

Jangan lupa, Tuhan itu adalah Dzat Maha Suci Hidup, yang tidak bisa di campuri dengan apapun dan tidak bisa tercampuri oleh apapun.

Jadi…
Jangan kan untuk manunggal/menyatu, mengenal saja, sangat mustahil, jika Tuhan itu sendiri, tidak berkehendak untuk di kenali.

Hehe.:-) iya apa iya…?!
Hayo…!!!

Artinya;
Agar Tuhan berkehendak untuk di kenali, supaya bisa manunggal/menyatu dengan-Nya, ya harus menggunakan Tuhan itu sendiri.

“LAA YA’RIFALLAAHU GHOIRULLAH”
Yang mengenal Allah hanya Allah.

“AROFTU ROBBI BI ROBBI”
Aku mengenal Tuhan melalui Tuhan.

Laku Murni Menuju Suci = Mempraktekan atau Menjalankan atau Meng-Ibadahkan Wahyu Panca Ghaib dengan menggunakan Wahyu Panca Laku, itu kan berarti menggunakan Tuhan itu sendiri di dalam mengenal-Nya mas brow dan mbak brow…

Coba saja pelajari Wahyu Panca Ghaib dan Wahyu Panca Laku itu apa dan bagaimana di artikel saya atau vidio saya yang menguraikan tentang apa dan bagaimana itu Wahyu Panca Ghaib dan Wahyu Panca Laku.

Baca dulu baik-baik, jangan terburu panatik menyimpulkan, agar supaya tidak gagal paham jika memang ingin mengerti apa itu Wahyu Panca Ghaib dan Wahyu Panca Laku, logisnya kan begitu, bukan cuma nebak-nebak lalu mengira…

Kembali ke pokoknya, yaitu tentang Jumbuhing Wahyu Panca Ghaib Dan Wahyu Panca Laku Atau Laku Murni Tumuju/Menuju Suci. Yaitu:

Rasa Sadar. Rasa Kesadaran dan Rasa Kesadaran Murni.

Filosofi Penggambaran Tentang
Rasa Sadar;
Ketika saya bisa merasakan kebelet pipis, itulah Rasa nya Sadar, itu lo yang di maksud Rasa Sadar itu seperti itu, seperti ketika kita bisa merasakan rasanya kebelet pipis.

Karena saya bisa merasakan rasanya kebelet pipis, saya mengerti betul, saya paham sekali, saya tau banget, bahwa rasanya kebelet pipis itu, heeemmmm,,,, gitu deh.

Karena saya bisa merasakan rasanya kebelet pipis, berarti saya sadar, buktinya bisa merasakan kebelet pipis, kalau tidak sadar, mana mungkin bisa merasakan rasanya kebelet pipis, iya apa iya…?! Hayo…!!!

Filosofi Penggambaran Tentang
Rasa Kesadaran;

Karena bisa merasakan rasanya kebelet pipis itu ehem banget, secara otomatis, tanpa di bimbing sekalipun, tanpa di didik sekalipun, tanpa di beritahu sekalipun, akan muncul reflek otomatis yang membuat tubuh saya bergerak mencari tempat untuk pipis.

Nah ketika terjadi reflek otomatis mencari tempat untuk pipis inilah, kesadaran sedang aktif, dan disaat saya bisa merasakan kesadaran yang sedang aktif menuntun saya mencari tempat untuk pipis, ini lo yang di maksud Rasa Kesadaran, rasanya kesadaran itu, seperti itu lo…

Dengan Rasa Kesadaran inilah, saya bisa menuju toilet, minimal, tempat yang aman dan nyaman untuk pipis, maksudnya tempat yang tidak terganggu oleh pandangan seseorang yang sedang lewat atau seseorang yang sedang berada di tempat itu, ini yang di maksud Rasa Kesadaran.

Kalau bukan dengan Rasa Kesadaran, pasti pipisnya sembarangan, tidak peduli di tempat ramai atau tempat bersih dan indah yang tidak seharusnya di pipisin, main semprot aja.

Filosofi Penggambaran Tentang
Rasa Kesadaran Murni;

Karena pipisnya di tempat yang aman, nyaman, sehingga pipisnya tidak terburu-buru, tidak kikuk, tidak gugup, tidak gelisah.

Sehingganya, curahan demi curahan air seni yang di keluarga, bisa di Rasakan dengan Rasa Sadar dan Rasa Kesadaran.

Al-hasil…
Plong… Lega… Dan tetap bersih, walau baru saja mengeluarkan kotoran tubuh.

Dengan begitu, Rasa Sadar dan Rasa Kesadaran nya, bisa mengucap syukur dengan sangat mudah “Terima Kasih Tuhan… Terima Kasih Tuhan… Terima Kasih Tuhan” La inilah Rasa Kesadaran Murni, Rasa nya Kesadaran Murni itu seperti itu.

Klimaxnya Rasa Sadar, adalah Rasa Kesadaran.
Klimaxnya Rasa Kesadaran, adalah Rasa Kesadaran Murni.
Klimaxnya Rasa Kesadaran Murni, adalah bertemu Hidup/Guru Sejati.
Klimaxnya bertemu Hidup/Guru Sejati, adalah mengenal Tuhan.
Klimaxnya mengenal Tuhan, adalah manunggal/menyatu menjadi satu kesatuan dengan Dzat Maha Suci Hidup.

“ALLAHU BATHINUL INSAN, AL INSANU ZHOHIRULLAAH”
Allah itu bathinnya manusia, manusia adalah zhohirnya (kenyataannya) Allah.

He he he . . . Edan Tenan.
Dan Dari Lubuk Hati❤️saya Yang Paling Dalam Mengucapkan Salam Rahayu Penuh Cinta Kasih Sayang❤️Selamat🙏Selamat🙏Selamat🙏Rahayu🙏Rahayu🙏Rahayu🙏Damai🙏Damai🙏 Damai🙏 Tenteram🙏
Saya❤️
Wong Edan Bagu❤️
Ngaturaken Sugeng Rahayu🙏
lir Ing Sambikolo🤝
Amanggih Yuwono🤝
Pinayungan Mring Ingkang Maha Suci🙏
Basuki❤️
Yuwono❤️
Teguh❤️
Rahayu❤️
Slamet❤️🙏❤️
BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏Om Shantih Shantih Shantih Om – Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu🙏
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Tuhan Bersungguh-sungguh terhadap Manusia dan alamT semesta ini (Kisah Nyata ILMU HAKIKAT):


Tuhan Bersungguh-sungguh terhadap Manusia dan alam semesta ini (Kisah Nyata ILMU HAKIKAT):
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul. 10:34. Hari Rabu. Tanggal 13. Februari 2019.

Apa kira-kira ada yang setuju ya, bila ada yang berpendapat kalau alam semesta ini, ada dengan sendirinya, tanpa ada yang mengadakan/menciptakan.

Misalnya ujug-ujug lamgsung ada, tanpa ada proses pendahuluannya.

Sepertinya jelas tidak mungkin kan…?!

Karena segala sesuatu pasti ada awal prosesnya, yang artinya ada penciptanya.

Seperti sebuah kapal, entah itu kapal terbang atau kapal laut, pasti ada pabriknya, di pabrik itu ada banyak insinyur penerbangan, ahli mekaniknya, ahli bahan logamnya dan sebagainya.

La kalau alam semesta ini, pabriknya dimana dan apa ada banyak otak untuk menciptakannya…?!

Sepertinya alam semesta ini tidak ada pabriknya yang banyak otaknya, cukup satu otak, yang sangat cerdas dan jenius.

Dan orang-orang menyebutnya sebagai Tuhan, Allah, Hyang Widi, Gusti, Ingsun, Yahweh, God dll.

Banyak sebutan/nama nya, namun sejatinya mengadah pada satu saja, yaitu Dzat.

Satu Dzat dengan banyak nama sebutan.

Dzat tidak marah kalau di panggil God. Dzat juga tidak marah bila disebut dengan Yahweh. Dzat juga tidak marah ketika disebut Allah, Dzat juga tidak marah jika disebut Wyang Widi.

Singkatnya, terserah yang manggil dan menyebut deh.

Dia mengetahui isi hati para penyebut-Nya.

Dia adalah causa prima, sebab terakhir dari deretan sebab.

Karena terakhir, maka tidak ada yang menciptakan Dzat tersebut.

Dzat itu tidak diketahui susunan biologisnya, susunan fisikanya seperti apa, susunan kimianya bagaimana.

Dzat itu Dzat, Tuhan itu Tuhan. Kalaupun selama ini Tuhan biasa digambar oleh manusia dengan Asma, Sifat, Af’al bahkan Dzat dll, itu sesungguhnya hanya untuk mempermudah kita dalam memahaminya saja.

Semua gambar itu sebenarnya tidak menunjuk pada asli Dzat-Nya.

Seperti gambar tentang ayam, pasti berbeda dengan ayam aslinya.

Apalagi bila hanya digambar atau diphoto/dipotret dengan kamera satu dimensi.

Ayam yang dishoting juga beda dengan ayam aslinya yang berdimensi tiga.

Apalagi Dzat-Nya Tuhan.

Berapa dimensi Tuhan…?!
Satu dua tiga…?!
Atau berdimensi tidak terhingga…?!

Ya…

Tentu saja iya, karena Dia adalah pencipta dimensi-dimensi itu sendiri, sehingga semua penggambaran dan penangkapan imaji tentang-Nya pasti tidak tepat.

Itu sebabnya, tidak ada satupun makhluk di muka bumi ini, bisa disebut paling tahu tentang Tuhan.

Tidak jin, tidak malaikat, tidak biksu, tidak kiyai, tidak ustadz, tidak wali, tidak pendeta, tidak pedanda, tidak politikus, tidak ekonom, tidak psikolog, tidak bromocorah, tidak menteri agama, bahkan nabi sekalipun.

Semuanya sama-sama tidak tahu apa dan bagaimana Tuhan yang sesungguhnya.

Maka, bila ada seseorang yang mengaku paling tahu tentang apa dan bagaimana Tuhan, sesungguhnya dia termasuk orang yang patut di cintai, dikasihi dan di sayangi. He he he . . . Edan Tenan.

Itu sebabnya, kita diharapkan untuk berendah hati terhadap wujud-Nya yang misterius tersebut.

Kita tetap diperkenankan untuk Kadhangan, menceritakan, memikirkan, membicarakan, menghayati, memaknai hakikat Tuhan.

Sebab karena keKadhangan, akan memperkaya pengertian dan pemahaman serta pengetahuan tentang-Nya.

Yang jelas, yang bisa kita lihat dengan mata adalah jejak-jejak Tuhan.

Apa sih jejak-jejak Tuhan itu…?!
Keberadaan alam ini.

Sejatinya, alam adalah suatu sistem keKuasaan-Nya yang berdiri di atas prinsip keAgungan-Nya.

Alam tidak mengenal sampah atau residu, karena di alam ada proses daur ulang secara otomatis.

Gelarnya; Alam semesta dan Gulungnya; Alam bukan tanpa tujuan.

Tujuannya sangat jelas yaitu; SYAHADAT – KESAKSIAN.

Saksi apa…?!
Saksi Keberadaan Dzat Tuhan.
Itulah hakikat alam semesta.

Dalam hubungannya dengan alam ini, Tuhan berkenan menyatakan atau memperlihatkan Diri sebagai Rabbul Alamin (tercakup di dalamnya Rabbul Falaq dan Rabbin Nas) sedangkan terhadap apapun yang ada di dalamnya, termasuk di langit dan bumi, Tuhan menyatakan diri sebagai Pencipta.

Jadi, kalau manusia ingin mengetahui-Nya, maka dia perlu mengenal Dzat Tuhan.

Melalui apa…?!
Ya melalui dirinya sendiri, karena diri ini adalah Ciptaan Tuhan.

Mengenal Tuhan berarti juga mendekati Dzat Tuhan, mendekati Dzat Tuhan, tidak sama dengan mendekati benda.

Maka, bila ingin mendekati Tuhan caranya adalah mengenal diri sejati.

Sebab di dalam diri sejati itulah, sesungguhnya ada kehendak dan keinginan Tuhan.

Berapa bentangan panjang alam semesta, hanya seujung debu di mata Tuhan.

Berapa bentangan usia/umur alam semesta, hanta dekejap di mata Tuhan.

Puja dan puji syukur kepada Tuhan, karena semua pergelaran alam semesta ini, masih ada dalam di dalam cipta pengawasan Tuhan.

Artinya; Kita tidak dibiarkan hidup se’enak sendiri, sesuka-sukanya sendiri, alam semesta juga tidak dibiarkan berjalan dalam ketidak pastian.

Sebab di sana juga diciptakan sebuah Hukum Keberadaan-Nya, sehingga alam ini bisa teratur rapi dan pergerakannya tidak berloncatan ke sana kemari.

Jadi Tuhan sangat bersungguh-sungguh terhadap apa yang diciptakan-Nya, yaitu manusia dan alam semesta ini.

Tapi coba kita balik, apakah manusia bersungguh-sungguh terhadap alam semesta dan Tuhan-nya…?!

Sepertinya kita masih belum pantas disebut manusia. He he he . . . Edan Tenan.

Buktinya…
La wong membuang sampah saja sembarangan, menggunduli hutan sesuka-sukanya.

Iya apa iya…?!
Hayo…!!!

Nyamuk itu kan ciptaan Tuhan, kecil tak berdaya lagi, la kok tega-teganya di bunuh…!!!

Padahal nyamuk tidak pernah berdosa dan salah. Hayo…?!

Dimanapun di muka bumi ini, yang berbuat dosa dan salah itu, hanya manusia, bukan hewan, bukan jin, bukan iblis, juga bukan setan.

Sikap dan sifat kita terhadap alam semesta ciptaan Tuhan ini yang sembrono.

Bagaimana manusia bersungguh-sungguh terhadap dirinya sendiri…?!

La hanya sibuk merawat bentuk tubuhnya saja, merawat wajahnya, merawat penampilannya, memanjakan keinginannya, merawat kedudukannya, merawat jabatannya.

Namun belum bersungguh-sungguh merawat dirinya sendiri.

Bagaimana bisa disebut telah merawat dirinya sendiri, buktinya jati diri atau diri sejatinya saja tidak mengerti, tidak memahami, tidak mengetahui, Iyo to…?!

Merawat jelas dibutuhkan rasa ingin tahu, sehingga bisa memiliki pengetahuan, bila sudah memiliki pengetahuan, maka akan mampu mengenal sekaligus mengakrapi dan kemudian mencintai, mengasihi, menyayangi dan melebur dalam diri sejatinya.

Tahukah apa ciri-ciri orang yang sudah ikhsan dan sudah makrifat akan diri sejatinya…?!

Orang yang sudah mampu melebur dengan diri sejatinya, ini bisa dikenali bila antara buah pikiran, kehendak hati nurani yang suci, dan kelakuannya sudah satu dan sama.

Antara gerakan sadar dan bawah sadar sudah sepenuhnya berada di dalam kontrol satu pusat kesadaran.

Yaitu;
Kesadaran diri sejati yang lebih sering saya katakan sebagai kesadaran murni.

Bagaimana mengenal diri sejati ini…?!

Saya sudah menguraikan melalui kabar berupa artikel di internet dan vidio di you tube.

Saya males baca pak WEB, you tube kurang pengalaman, jadi, tidak tau caranya.

Gampang…
Datang saja temui langsung saya, di alamat yang selalu saya cantumkan di setiap artikel terbaru. Selesai.

Kisah Nyata;
Ada seseorang yang berniat kuat bertapa, menjalani lelaku meditasi (tidak makan minum dan bergerak selama 41 hari 41 malam) untuk mengenal diri yang paling sejati.

Hari pertama hingga hari ke tiga puluh, dia mendapati banyak tantangan.

Seperti kedatangan makhluk-makhluk gaib yang berniat untuk menggugurkan tapanya.

Ada raja tuyul menawari kekayaan berlimpah, misalnya, ada raja jin menawarkan keberlimpahan harta, tahta, wanita dll.

Apabila si pertapa menghentikan lelakunya saat itu, maka dia sudah pasti akan menjadi kaya raya, hidup enak di dunia.

Namun dia tidak bergeming dengan rayuan itu, dia terus melakukan apa yang jadi tekadnya, meskipun tubuhnya sudah lemah lunglai.

Pada hari ke empat puluh, muncul sinar beraneka warna menyinari tubuhnya, yang sudah hampir mati ini.

Sinar ini adalah Malaikat yang menawarkan semua kenikmatan hidup dunia, bahkan akhirat dan jaminan masuk surga.

Namun pertapa ini tidak mau, dia terus bertekad untuk menemukan jawaban siapa diri sejatinya.

Pada hari dan detik terakhir di hari ke empat puluh satunya, tubuhnya sudah hampir mati, gelombang otaknya sudah sampai di titik nadi.

Nafasnya tinggal sejengkal lagi, namun dia masih hidup, sebab ruhnya belum lepas dari raga, saat genting itulah, apa yang dicari orang itu pun datang.

Tiba-tiba dari dalam dirinya muncul sosok yang sama persis dengan dirinya.

Terjadilah percakapan batin seperti berikut ini:
Pertapa;
Kamu siapa…?!

Sosok;
Aku guru sejatimu.

Pertapa;
Inilah hasilku mengenal diri sejati…?!

Sosok;
Ya, kau akan mengenali kehendak dan keinginanku.

Pertapa;
Kamu berkehendak apa terhadap aku…?!

Sosok;
Kehendakku adalah menuntunmu dan ikutilah aku.

Pertapa;
Kemana…?!

Sosok;
Agar kau mengenal Tuhan.

Pertapa;
Siapa Tuhan…?!

Sosok;
Aku.

Pertapa;
Jadi kau itu tuhan…?!
Aku tidak percaya.

Sosok;
Kau tidak akan mampu melihat Dzat Tuhan, maka aku mewakili-Nya, agar kau bisa tetap hidup dengan pikiran-pikiranmu.

Jangan pikirkan Tuhan, karena sesungguhnya Dia tidak bisa dipikirkan, pikiranmu untuk mengenali-Nya, sesungguhnya adalah proses awal dari pemahamanmu terhadapku.

Pertapa;
Baiklah aku sekarang jadi tahu siapa diri sejatiku, terima kasih dan apa saranmu…?!

Sosok;
Ikuti aku, aku akan selalu menuntunmu menuju pada jalan hidup yang lurus.

Pertapa itu kemudian menghentikan meditasinya dan kembali meniti hidup sebagaimana manusia biasa dan normal, sebagaimana manusia pada umumnya.

Lalu…
Apa hikmah yang bisa ditangkap dari pengalaman nyata di atas…?!

Yaitu, kenalilah diri sejatimu maka kau akan mengenal Tuhanmu.

Manusia pada hakikatnya adalah alam makro, bukan alam mikro.

Sebab bentangan panjang pendeknya usia, panjang pendeknya fisik alam semesta ini, sepenuhnya berada di dalam jangkauan pengetahuan dan kesadaran manusia.

Masak sih…?!
Apa iya ya…?!

Coba saja tanyakan panjang alam semesta ini kepada seorang astronom dan kepada seorang politikus, pasti jawabannya berbeda.

Bentangan panjang dan luasnya alam semesta ini, di tentukan dan di ukur oleh manusia itu sendiri, jadi, sesungguhnya manusia itu lebih besar dari alam semesta ini.

Sehingga dengan kesaksian ini, saya Wong Edan Bagu berkesimpulan;
Bahwa alam semesta ini adalah MIKROKOSMOS sedangkan manusia adalah MAKROKOSMOS.

Bukan sebaliknya, sebagaimana yang biasa disebutkan oleh kebanyakan orang.

Dari sini bila diteruskan kita akan mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman baru.

Maka konsep Tuhan yang sering kita sebut sehari-hari dan alam semesta yang kita nalar ini, pada hakikatnya berada di dalam genggaman pengetahuan manusia.

Apa tidak mewah dan luar biasa…?!

Yang tidak ada di dalam genggaman pengetahuan manusia adalah; Tuhan dan alam semesta yang tidak kita pikirkan namun kita rasakan.

Sedangkan mengenai rasa ini, ada dua macam keadaan. Yaitu; Rasa yang tidak ada apa-apa / rasa yang menyatu dan Rasa yang ada apa-apa / rasa yang tersebar/menyebar.

Rasa yang tersebar disebut Pangrasa (panging rasa) ranting/cabangnya rasa, ibaratnya seperti cabang/ranting pohon.

Sedangkan rasa yang menyatu (mligi/deleg/utuh) adalah pohonnya, sebagai kesatuan dari ranting-ranting tersebut.

Upaya untuk mencapai mligining rasa (Maligining Rasa) rasa yang utuh, Pertama;
Mengupayakan agar rasa pangrasa jangan terlalu menyebar, ibaratnya pohon, minimal jangan terlalu banyak ranting/cabang.

Kedua;
Dengan teliti dan kontinyu mengikuti ugering dumadi pandam, pandom dan panduming dumadi). Maksudnya, mengikuti hukum hidup (Wahyu Panca Ghaib)

Ketiga;
Mangastuti (manembah) kepada Tuhan. Maksudnya patuh kepada Tuhan (Wahyu Panca Laku).

Keempat;
Pada saat khusus, sekurang-kurangnya, ketika ada waktu luang, gunakan/manfaatkan untuk Kadhangan, agar supaya angan-angan dan nafsu bisa lebih mudah
menunggal/menyatu dengan rasa.

Apabila budi sudah tidak terhalang lagi oleh gerak angan-angan, serta rasa sudah tidak terliputi getarnya sendiri, maka tercapailah Pramana.

Keadaan manusia yang sudah Pramana ini, bisa di ibaratkan seperti Cermin Yang Jernih Dari Kahanan Jati.

Tahap akhir perjalanan Rasa setelah mencapai Pramana, adalah; kembali ke asal mula atau Sangkan Paraning Dumadi (Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un).

Yaitu: Menyaksikan alam lami yang karenanya dituntun oleh diri sejati, yang merupakan guru sejatinya, akan menumbuhkan kualitas kesadaran murni.

Di sinilah baru terjadi proses pencapaian Pamungkasing Dumadi yang merupakan kesempurnaan semua dan segala hal. Semuga bermanfaat.

Salam Se-Tuhan Penuh Cinta Kasih Sayang dari dalam Lubuk hati saya WEB yang paling dalam. Selamat🙏Selamat🙏Selamat🙏 Rahayu🙏Rahayu🙏Rahayu🙏Damai🙏Damai🙏 Damai🙏 Tenteram🙏
Saya❤️
Wong Edan Bagu❤️
Ngaturaken Sugeng Rahayu🙏
lir Ing Sambikolo🤝
Amanggih Yuwono🤝
Pinayungan Mring Ingkang Maha Suci🙏
Basuki❤️
Yuwono❤️
Teguh❤️
Rahayu❤️
Slamet❤️🙏❤️
BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏Om Shantih Shantih Shantih Om – Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu🙏
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
WordPress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Jumbuhing Kawula Gusti atau Loro-Loroning Atunggil atau Kumpul Nunggal Suci/KUNCI:


Jumbuhing Kawula Gusti atau Loro-Loroning Atunggil atau Kumpul Nunggal Suci/KUNCI:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul. 15:34. Hari Selasa. Tanggal 12. Februari 2019.

Bagi saya Wong Edan Bagu Tuhan itu adalah Dzat Maha Suci, Ruh Maulana, Ruh Terbesar, Termulia, Tertinggi, Tersuci, Termaha dan tanpa kekurangan apapun, yang menjadi asal usul permulaan dari semua kejadian.

Itulah yang di Sebut Gusti, atau Allah atau Hyang Widhi atau Tuhan atau Ingsun atau Yahweh atau God dll, menjelma menjadi wujud manusia, hewan, tumbuhan, bumi, langit, samudera dll.

Sebab karena itu Tuhan atau Hyang Widhi atau Gusti, atau Allah dll itu, dikatakan ada di mana-mana, namun tidak di langit, tidak di bumi, tidak di samudera, tidak pula di utara atau selatan dll.

Manusia tidak akan bisa menemukan Tuhan walaupun keliling dunia, sekalipun Tuhan itu ada dimana-mana, karena…

Dzat Maha Suci atau Ruh Maulana ada dalam diri manusia, karena ruh manusia sebagai penjelmaan Ruh Maulana atau Dzat Maha Suci.

Sebagaimana dirinya yang sama-sama menggunakan hidup ini dengan indera, sedangkan jasad yang akan kembali pada asalnya, yaitu tanah, menjadi busuk, kotor dan hancur.

Jika manusia itu mati, ruhnya kembali bersatu kepada asalnya, yaitu Ruh Maulana atau Dzat Maha Suci, yang bebas dari segala penderitaan, karena tanpa adanya wujud yang dari tanah.

Sifat-sifat hakikat ruh manusia, adalah ruh suci, yang berasal dari Dzat Maha Suci, yang tidak berubah, tidak berawal, tidak berakhir, tidak bermula, ruh suci tidak lupa dan tidak tidur, dan tidak terikat dengan rangsangan indera yang meliputi jasad manusia.

Dan saya Wong Edan Bagu menyebutnya sebagai Hidup, yang menghidupi jasad dan menjadikan jasad bisa itu dan ini serta lain-lain.

“Aku adalah Tuhan, Tuhan adalah Aku”. Lihatlah… Tuhan ada dalam diriku, Aku ada dalam diri Tuhan. Lihatlah kedalam dirimu, engkau akan menyaksikan hal yang sama.

Jangan salah menilai dan memandang kataku diatas, karena saya tidak bermaksud sedang mengaku Tuhan, melainkan tentang kesadaran murni (Wahyu Panca Laku) yang tetap teguh/kuat sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan.

Hakikatnya semua makhluk itu, bersatu dengan Ruh Tuhan, kalau tidak, mana mungkin bisa hidup, memang ada sesuatu yang bisa Hidup tanpa Ruh Tuhan…?!

Ada persamaan antara ruh makhluk dengan Ruh Tuhan atau Dzat, keduanya bersatu di dalam setiap diri makhluk.

Persatuan antara Ruh Tuhan dengan ruh makhluk inilah, yang sering saya jelaskan sebagai “KUNCI” Kumpul Nunggal Suci.

Persatuan antara Ruh Tuhan dengan ruh makhluk, yang sering saya jelaskan sebagai “KUNCI” Kumpul Nunggal Suci ini, terbatas pada persatuan makhluk itu sendiri dengan Tuhan-nya, maksudnya, seberapa kesadaran manusia itu bisa menyadarinya.

Karena Persatuannya merupakan persatuan Dzat Sifat, Ruh Suci bersatu dengan Dzat Maha Suci, dalam gelombang energi dan frekuensi yang sama.

Jikalau Sir kesadarannya tidak murni, tidak akan bisa menyadarinya, dikarenakan Suci adanya, sehingganya tidak bisa di campuri atau di jangkau dengan apapun, kecuali murni.

Inilah yang di sebut Kunci atau keManunggalan atau Jumbuhing Kawula Gusti. Yaitu; Bersatunya dua menjadi satu, atau Dwi Tunggal, atau Loro-Loroning Atunggil, diumpamakan wiji wonten salebeting wit (biji ada di dalamnya pohon).

Yang di sebut jiwa, itu adalah kemanunggalan atau penyatuan empat anasir dengan Hidup atau Ruh Suci atau Ruh Kudus, dan penyatuan empat anasir dan Hidup yang di sebut jiwa ini, merupakan suara hati nurani manusia, yang merupakan ungkapan dari Dzat Maha Suci, sebab itu, saya katakan, hati nurani harus ditaati dan dituruti perintahnya.

Karena jiwa merupakan kehendak Tuhan, juga merupakan penjelmaan dari Dzat Maha Suci yang lebih di kenal sebagai Sejatinya Aku atau Aku yang Sejati, sebab karena itu raga disebut sebagai wajah Tuhan, (QS.al-Baqarah: 115; ….. Kemanapun kamu menghadap maka disitulah wajah Allah….).

Jiwa ini, mempunyai Dzat Sifat Tuhan, yakni kekal, sesudah manusia raganya mati, maka lepaslah jiwa dari belenggu raganya.

Sedangkan yang di sebut akal, angen-angan, budi dan pakarti, adalah sifat dari empat anasir yang belum manunggal/menyatu, lah inilah yang di namai sebagai Sukma, kebenarannya tidak sepenuhnya dapat dipercaya, karena selalu berubah-ubah.

Mungkin pengetahuan pribadi saya ini, berbeda dengan kebanyakan pengetahuan diluar sana, yang mengacu pada Ajaran Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang, karena Ajarannya Syekh Siti Jenar, itu menggunakan sistem keilmuan, sedangkan saya, menggunakan sistem kesadaran, yaitu Wahyu Panca Ghaib yang saya jalankan dengan Wahyu Panca Laku, sehingganya, lebih jelas dan detail serta mudah di cerna.

Itu sebabnya menjadi ada garis demarkasi antara pemahaman ilmu dan pemahaman kesadaran, yang menjadi pemisah antara hakikat jiwa dan sukma, dan hal ini bukan untuk di perdebatkan.

Namun jika ada yang mau mendebat, sebelum mendebat perbedaan ini, saya beri sedikit penjelasan terkait ini, sebagai bahan perenungan.

Menurut saya Wong Edan Bagu, hasil dari praktek di TKP, perbedaan antara Jiwa dan Sukma itu disini;
Jiwa terletak di luar nafsu, sedangkan Sukma letaknya berada di dalam nafsu.

Artinya;
Sukma, itu empat anasir yang belum manunggal/menyatu dengan Hidup, karena ada didalam nafsu, jadi, dikuasai oleh nafsu.
Sedangkan…
Jiwa, itu empat anasir yang sudah manunggal/menyatu dengan Hidup, jadi, nafsunya ada di luar, karena posisinya tergantikan oleh Hidup.

Sebab itu, Sukma di umpamakan seperti katak berselimut lubang, (kodhok kinemulan ing leng) atau wit jroning wiji (pohon ada di dalam biji).

Sedangkan jiwa umpama seperti katak menyelimuti lubang (kodhok angemuli ing leng) atau wiji jroning wit (biji ada di dalam pohon).

Paham kan… Kemana arah penjelasan dari saya Wong Edan Bagu…?!

Pengalaman menyadarkan saya, bahwasannya, pengetahuan itu datang secara bersamaan dengan munculnya kesadaran subyek terhadap obyek.

Maka pengetahuan mengenai kebenaran Tuhan akan diperoleh setiap seseorang bersama dengan penyadaran diri dari orang itu sendiri. (Sepiro lakumu yo semono olehe) seberapa spiritualmu ya segitu hasilnya.

Saran dari saya Wong Edan Bagu, Jika ingin mengetahui Tuhan-mu, ketahuilah terlebih dahulu dirimu sendiri, sebab karena Tuhan berfirman tentang hal itu;
“Barang siapa yang ingin mengenal-Ku, maka kenalilah dirimu sendiri”
“Barang siapa mengenal nafs (diri) nya, maka dia mengenal Tuhan nya”
“Barang siapa yang mencari Tuhan keluar dari dirinya sendiri, maka dia akan tersesat semakin jauh”

Kemampuan intuitif ini, sebenarnya sudah ada sejak awal penciptaan, dan akan munculnya bersamaan dengan aktifnya kesadaran dalam diri seseorang.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, sadarilah, bahwa kehidupan di dunia ini sesungguhnya adalah mati.

Mengapa saya katakan demikian…?!
He he he . . . Edan Tenan.

Sebab karena di kehidupan di dunia inilah, ada surga dan neraka yang tidak bisa ditolak oleh makhluk apapun dan manusia manapun.

Manusia yang mendapatkan surga, adalah mereka yang mendapatkan rasa tentram, kebahagiaan, ketenangan, kesenangan, kenyamanan.

Jika seorang manusia kehidupannya mulia, sehat, cukup pangan, sandang, papan, maka ia dalam surga.

Sebaliknya mereka yang perasaaanya bingung, kalut, muak, takut, risih, menderita, itulah neraka.

Jika seorang manusia kehidupannya melarat/miskin, tertekan, terhimpit, penyakitan, kelurangan pangan, sandang, papan, maka ia dalam neraka.

Akan tetapi kesenangan atau surga, penderitaan atau neraka di dunia ini, bersifat sementara atau sekejap saja, karena betapapun juga manusia dan semua sarana kehidupannya, pasti akan menemui kehancuran.

Karena kehidupan di dunia ini adalah kematian, berarti semuanya itu adalah mayat, buktinya tidak bisa menyadari dan merasakan hidupnya yang seumur hidupnya menjadikan dia bisa itu dan ini serta bla bla bla lainnya.

Manusia itu sesungguhnya mayat yang gentayangan untuk mencari pangan, pakaian dan papan serta mengejar kekayaan yang dapat menyenangkan jasmaninya.

Manusia bergembira atas apa yang ia raih, yang memuaskan dan menyenangkan jasmaninya, mereka tidak sadar, bahwa semua dan segala kesenangan yang dicari atau yang dimilikinya itu akan binasa.

Mereka begitu angkuh dan sombong serta bangga atas kepemilikan, tetapi tidak menyadari bahwa dirinya adalah bangkai mayat.

Manusia justru merasa dirinya mulia dan bahagia, karena manusia tidak menyadari bahwa harta bendanya merupakan penggoda manusia yang menyebabkan keterikatannya pada dunia, jika manusia tidak menyadari itu semua, hidup yang sesungguhnya adalah mewah dan luar biasa ini, berubah menjadi derita. Ingat…!!!

Hidup di dunia ini adalah mati, tempatnya surga dan neraka, baik dan buruk, sakit dan sehat, mujur dan celaka, bahagia dan tenteram, semua bercampur aduk menjadi satu, dengan adanya ikatan peraturan-peraturan itu, maka manusia menjadi terbebani belenggu sejak lahir hingga mati.

Laku Murni Menuju Suci, dengan mempraktekan atau menjalankan Wahyu Panca Ghaib menggunakan Kesadaran Wahyu Panca Laku.

Adalah upaya atau usaha terdekat dan tercepat bagi seluruh makhluk untuk hidup yang abadi dan agar supaya tahan mengalami dan menjalani kehidupan di dunia ini, apapun prosesnya, hingga sampai ada titik sempurna/mukswa/mosca.

Yakni; curigo manjing warongko – warongko manjing curigo. He he he . . . Edan Tenan.

Hidup di dunia ini mati, karena mati itu hidup, hidup yang sesungguhnya adalah, ketika manusia bebas dari segala beban dan derita, sebab hidup sesudah kematian inilah, hidup yang sejati, hidup yang sesungguhnya dan abadi.

Sebab karena itu, dengan Laku Murni Menuju Suci, yaitu; Wahyu Panca Ghaib yang di jalankan dengan menggunakan kesadaran Wahyu Panca Laku, jangan ragu apa lagi takut menghadapi dogma-dogma tentang neraka serta mengalami bujuk rayu tentang surga, saya berani jamin pasti bisa terbebas dari belenggu raga, akal angan budi pekerti, pada jiwa.

Sebab karena dogma-dogma surga neraka inilah, manusia menjadi terkungkung rutinitas lalu lupa diri dan gagal paham dalam upaya menemukan Tuhan-nya, agar supaya bisa Inna lillaahi wa Inna ilaihi Raji’un.

Surga dan neraka adalah dalam kehidupan di dunia ini, bukan merupakan balasan yang diberikan kepada manusia atas amal perbuatannya yang bakal diterima kelak sesudah kematian (akherat).

Jadi…
Sangat tidak tepat jikalau mengerjakan atau melakukan atau menjalankan ibadah, mengharap-harap surga dan terhindar dari neraka.

Berdoa minta apa, minta rizki…?! Tuhan tidak memberikam rizki lantaran berdoa kan…!!!

Surga dan neraka, susah dan senang, letaknya pada diri manusia masing-masing.

Walaupun seseorang bergelimang harta, hidupnya belum tentu bahagia, buktinya merasa selalu terancam oleh para pesaing bisnisnya, tidur tak nyeyak, makan tak enak, jalan pun gelisah, itulah neraka.

Sebaliknya, seorang petani di lereng gunung terpencil, hasil bercocok tanam, cukup untuk makan sekeluarga, menempati rumah kecil yang tenang, tiap sore dapat duduk bersantai di halaman rumah sambil memandang hamparan sawah hijau, hatinya sesejuk udaranya, tenang jiwanya, itulah surga.

Kehidupan di dunia ini telah memberi manusia mana surga dan mana neraka.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, alam semesta ini, adalah sebagai makrokosmos dan mikrokosmos, sekurang-kurangnya kedua hal ini merupakan barang baru ciptaan Tuhan, yang sama-sama akan binasa, akan mengalami kerusakan, tidak kekal dan tidak abadi.

Sedangkan Manusia terdiri atas jiwa dan raga, yang intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan Dzat Maha Suci Hidup yang lebih di kenal sebagai Tuhan.

Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yang dilengkapi pancaindera, sebagai organ tubuh seperti daging, otot, darah, dan tulang.

Semua aspek keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman yang suatu saat, setelah manusia terlepas dari kematian di dunia ini, akan kembali ke asalnya masing-masing.

Aku bukanlah kehendak angan-angan, bukan ingatan, pikiran atau niat, hawa nafsu pun bukan, bukan pula kekosongan atau kehampaan.

Setelah Laku Murni Menuju Suci, penampilanku sekarang ini, adalah sebagai wujud bentuk mayat baruku.

Seandainya Aku menjadi gusti, tentu jasadku ini menjadi busuk bercampur debu, nafasku terhembus di segala penjuru dunia, tanah, api, air, kembali sebagai asalnya, yaitu kembali menjadi baru.

Semua yang berasal dan milik Tuhan, kembali kepada Tuhan menjadi Tuhan lagi. Sempurna. Tan kenaning owah gingsir. Abadi. Mulih Marang Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi. Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un. He he he . . . Edan Tenan.

Salam Se-Tuhan Penuh Cinta Kasih Sayang dari dalam Lubuk hati saya WEB yang paling dalam. Selamat🙏Selamat🙏Selamat🙏 Rahayu🙏Rahayu🙏Rahayu🙏Damai🙏Damai🙏 Damai🙏 Tenteram🙏
Saya❤️
Wong Edan Bagu❤️
Ngaturaken Sugeng Rahayu🙏
lir Ing Sambikolo🤝
Amanggih Yuwono🤝
Pinayungan Mring Ingkang Maha Suci🙏
Basuki❤️
Yuwono❤️
Teguh❤️
Rahayu❤️
Slamet❤️🙏❤️
BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏Om Shantih Shantih Shantih Om – Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu🙏
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

HAKIKAT HIDUP Loro-Loroning Atunggil:


HAKIKAT HIDUP Loro-Loroning Atunggil:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul. 19:34. Hari Sabtu. Tanggal 9. Februari 2019.

Kita sama-sama sadar dan percaya, bahwa di bumi nusantara, tempat dimana kita tinggal ini, sangat kaya akan ilmu spiritual, tetapi ironisnya, banyak yang gagal paham dalam pencapaian spiritualitas, yang berhasil, malah justru orang-orang pendatang dari luar Nusantara.

Contohnya…
Semua orang bersemangat untuk memeluk agama, ketika agama itu datang tersaji, akan tetapi, gagal dalam menjadi agama itu.

Wajah negeri yang dahulu dicap sebagai negeri multi agama, multi etnis, multi kultur tetapi solid bersatu di atas slogan Bhineka Tunggal Ika, karena rakyatnya memiliki watak toleransi.

Negeri yang subur makmur gemah ripah loh jinawi rapah repeh rapih.

Lautan diumpamakan kolam susu, dan dikiaskan bahwa tongkat kayu pun dapat tumbuh karena saking suburnya tanah daratan.

Hawanya sejuk, banyak hujan, kaya akan hutan belantara sebagai paru-paru dunia.

Hampir tak ada bencana alam; tanah longsor, banjir, gempa bumi, angin lesus atau badai topan, kebakaran, kekeringan.

Tetapi realitasnya di masa kini sangat kontradiktif, justru kita semua sering menyaksikan di media masa maupun realitas obyektif sosial-politik sehari-hari.

Negeri ini telah berubah karakter menjadi negeri yang berwajah beringas, mengerikan, angker, berapi-api, anti toleran, waton gasak, asal sikat, nafsu merusak dan menghancurkan bahkan membunuh, sangat semangat untuk menebar kebencian di mana-mana.

Sangat disayangkan justru dilakukan oleh para sosok figur yang menyandang nama sebagai panutan masyarakat, pembela agama, dan juru dakwah yang memiliki banyak pengikut.

Ini sungguh berbahaya, karena semakin dekat dan cepat membawa negeri ini ke ambang kehancuran fatal.

Alam pun turut bergolak, seolah tidak terima diinjak-injak penghuninya yang hilang sifat manusianya.

Sehingga bencana dan musibah datang silih berganti, tiada henti, bertubi-tubi membuat miris penghuni negeri ini.

Lantas di mana wajah negeri impian yang tentram, damai, subur, sejuk, makmur tempo dulu…?!

Apakah ini sudah benar-benar hukuman atau bebendu dari Dzat Maha Suci Hidup, atau Hukum Alam atau Karma Alam atau Manusia nya itu sendiri…?!

Sebagaimana sudah diperingatkan oleh para leluhur kita yg bijaksana dan waskita sejak masa silam, masihkah kita akan mengingkari nasehat tersebut, dengan mengatasnamakan kebenaran, namun kita tidak pernah BerKebenaran…?!

Jangan serta merta menganggapnya sebagai ramalan yang tidak boleh dipercaya, karena dekat dengan syirik dan musyrik.

Tidak kah kita sadari, bahwa sikap seperti itu justru menjauhkan kita dari watak arif dan bijaksana.

Namun apapun kisahnya, musibah, bencana, wabah, dan seterusnya, tengah melanda negeri ini sekarang, masih kita berkutat di pemikiran itu…?!

Bersegeralah Praktek memPraktekan kebenaran, waktunya sudah hampir habis.

Sembari menyadari bahwa semua ini adalah kekuasaan Dzat Maha Suci Hidup/Tuhan.

Karena hanya dengan demikian, akan menambah kesadaran kita, dan dapat menjadi sarana instropeksi diri, dan otokritik yang bijak, agar kita lebih pandai mensyukuri nikmat dan anugrah Tuhan.

Sebaliknya anggapan bahwa ini semua sebagai cobaan dan ujian bagi keimanan kita, merupakan pendapat yang terlalu naif, innocent.

Kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan menjadi ndableg, lancang, kurang waspada dan tidak eling.

Sejak kapan kita bisa mengukur keimanan kita…?!

Parameter apa yang dipakai untuk mengukurnya…?!

Seberapa persen keimanan kita hanya dapat diukur dengan perspektif yang hanya Tuhan miliki.

Kita menjadi sok tahu, teralu percaya diri dengan tingkat keimanan kita, lalu oper dosis, jadinya sombong “aja dumeh eling lan waspada” jangan sok ingat dan waspada, karena begitulah awalnya manusia menjadi keblinger.

Selalu ingin mencari menangnya sendiri, mencari benernya sendiri, mencari butuhnya sendiri, tanpa peduli dengan yang lain di sekitarnya.

Manusia seperti itu tidak akan pernah bisa menyadari sesungguhnya Aku dirinya, sehingga prakteknya menyembah angen-angen/angan-angan.

Itulah makna dari apa yang disebut Penyekuan Tuhan, yakni nuruti RAHSANING KAREP (nafsu).

Merasa sudah tinggi ilmunya, padahal ilmunya tidak mumpuni, buktinya bukan Wahyu Panca Laku yang terpraktekan, namun ego pamrih yang di tonjolkan, merasa sudah sampai di puncak spiritual, namun hasilnya mencela, mengkritik, mencari-cari kesalahan orang lain, dan masih gemar menebar kebencian, bukan cinta kasih sayang.

Bukankah Ilmu Tuhan itu ibarat air laut yang mengisi seluruh samudra di jagad raya ini…!!!

Sedangkan ilmu manusia hanya setetes air laut itu…!!!

Dan dari setetes air laut itu, sudah seberapa persenkah yang kita miliki…?!

Mari kita sama-sama membuka pintu hati tanpa batas, menuju kemanunggalan, penyatuan, kesatuan, bukan perpisahan apapun bentuk alasannya, karena semua itu berasal dari 1.

Satu ciri khas orang yang tidak gagal paham alias bisa mampu memahami Hakikat Hidup adalah;
Terus tetep idep madep mantep belajar Patrap Semedi tanpa merasa sudah bisa.

Mematrapkan Wahyu Panca Ghaib dengan menggunakan Wahyu Panca Laku tanpa merasa lulus dan terus menerus membuka diri “welcome” untuk semua dan segala hal, karena semua dan segala hal itulah Sang Guru yang paling luar biasa.

Untuk memudahkan kita “Lebur Dening Pangastuti, menyatu/bersatu dengan hakikat dzat Tuhan, Dalam peleburan itu, nurani/kesadaran akan mentransformasi sifat hakikat dzat Tuhan.

Sehingganya…
Terbukalah pintu hakikat kemanunggalan atau penyatuan antara Hidup dan Maha Hidup, sebagai wujud bukti dari makna “dwi tunggal atau loro-loroning atunggil. He he he . . . Edan Tenan.

Salam Se-Tuhan Penuh Cinta Kasih Sayang dari dalam Lubuk hati saya WEB yang paling dalam. Selamat🙏Selamat🙏Selamat🙏 Rahayu🙏Rahayu🙏Rahayu🙏Damai🙏Damai🙏 Damai🙏 Tenteram🙏
Saya❤️
Wong Edan Bagu❤️
Ngaturaken Sugeng Rahayu🙏
lir Ing Sambikolo🤝
Amanggih Yuwono🤝
Pinayungan Mring Ingkang Maha Suci🙏
Basuki❤️
Yuwono❤️
Teguh❤️
Rahayu❤️
Slamet❤️🙏❤️
BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏Om Shantih Shantih Shantih Om – Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu🙏
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya