JAKA TINGKIR (3)

JAKA TINGKIR (3)

Ki Ganjur sowan ke istana Demak. Seorang kawula yang dipanggil menghadap ke Keraton, biasanya kalau tidak mendapatkan anugerah atau tugas khusus, kemungkinan besar pasti akan mendapatkan murka. Dan Ki Ganjur sudah dapat memperkirakan, dirinya akan mendapatkan murka dari Sultan Demak.
Ki Ganjur menunggu untuk dipanggil menghadap ke Siti hinggil ditempat khusus. Setelah sekian lama menunggu, seorang abdi dalem datang dan menyuruh Ki Ganjur menghadap ke Siti Hinggil.

Setelah bertatap muka dengan Sultan Demak, Ki Ganjur-pun meminta pengampunan kepada Sultan atas kecerobohan yang telah dilakukan oleh Jaka Tingkir. Ternyata, Sultan tidak murka, malahan Sultan menanyakan siapakah pemuda yang kini tinggal di rumah Ki Ganjur. Kesempatan emas ini dimanfaatkan oleh Ki Ganjur. Serta merta Ki Ganjur menyampaikan siapa sesungguhnya Jaka Tingkir. Sultan Trenggana terkejut. Namun, sedemikian pintarnya Ki Ganjur meyakinkan Sultan, pada akhirnya, Sultan Demak-pun berkata :

“Paman Ganjur, jika memang benar apa yang kamu katakan barusan, beranikah Jaka Tingkir aku uji kesaktiannya?”

Ki Ganjur diam. Tapi tak ada jalan lain.
“Jika memang Kangjeng Sultan berkehendak seperti itu, kami hanya bisa pasrah saja. Tapi beribu ampun, Kangjeng. Kalau boleh hamba tahu, Kangjeng hendak menguji anak saya Tingkir dengan cara bagaimana ?”

Kangjeng Sultan tersenyum :
“Seperti halnya menguji calon pasukan pengawal Sultan. Yaitu diadu dengan seekor banteng. Beranikah?”

Ki Ganjur menyutujui.
Dan pada hari yang telah ditentukan, di lapangan tempat pengujian para prajurid, dengan disaksikan oleh Sultan Demak sendiri, beserta beberapa pejabat dan para pasukan pengawal Sultan, Jaka Tingkir, siap diuji kesaktiannya!

Jaka Tingkir yang telah banyak belajar ilmu bela diri, termasuk cara menggunakan berbagai senjata, cara berkuda dan ilmu-ilmu kanoragan dari para pertapa Shiwa Buddha, kini semua yang telah dipelajarinya tersebut, harus ditunjukkan semaksimal mungkin. Karena hari ini adalah hari penentuan bagi masa depan Jaka Tingkir dikemudian hari!

Jaka Tingkir dengan gagahnya menaiki seekor kuda sembari membawa busur panah. Tegang dia menunggu bunyi gong tanda dilepaskannya banteng liar sebagai lawan tandingnya. Manakala dari atas panggung, Kangjeng Sultan Trenggana mengangkat tangan kanannya, maka, gong-pun dipukul nyalang oleh seorang prajurid khusus! Menyusul…seekor banteng liar tiba-tiba masuk ke dalam areal lapangan!

Sorak-sorai terdengar. Jaka Tingkir menggebrak kudanya. Gemuruh suara para prajurid menambah semangat Jaka Tingkir. Untuk beberapa saat, Jaka Tingkir memacu kuda mengelilingi tubuh banteng tersebut. Banteng mendengus. Sesaat belum terpancing. Namun sesaat kemudian, banteng berubah semakin liar!

Banteng menyerang Jaka Tingkir . Jaka Tingkir sigap, kuda berputar indah menghindari serudukan banteng! Gemuruh suara prajurid terdengar melihat gerakan indah cara menghindar yang dipertunjukkan oleh Jaka Tingkir. Sultan Trenggana tersenyum .

Serudukan awal itu luput, banteng memutar badannya, mendengus kencang, lantas kembali mengejar Jaka Tingkir. Aksi kejar-kejaran terjadi. Jaka Tingkir dengan lihai mampu menjaga jarak yang tetap antara kudanya dan banteng yang terus mengejar. Dan….dengan gagahnya, Jaka Tingkir melepaskan tali kekang kuda sembari mengangkat tubuhnya dari pelana. Dengan posisi miring ke arah belakang, Jaka Tingkir melepaskan beberapa anak panah! Tidak terlihat kapan Jaka Tingkir mengambil anak panah dari pundaknya! Anak panah meluncur deras dan tepat mengenai tubuh banteng! Banteng terluka! Serudukannya agak goyah! Gemuruh prajurid riuh rendah melihat ketangkasan Jaka Tingkir yang mampu mengendarai kuda tanpa memegang tali kekang dan sekaligus melepaskan anak panah dengan fokus yang terarah!

Banteng mendengus!!! Semakin liar!!

Tiba-tiba, dari arah pinggir, muncul due ekor banteng lain! Keduanya langsung menyerang Jaka Tingkir! Dengan sangat lincah Jaka Tingkir memacu kuda dan mengambil sebatang tombak yang tersedia dipinggir arena. Sekali lagi, Jaka Tingkir bangkit dari pelana kuda, tombak terarah pada salah satu banteng! Sesaat Jaka Tingkir mengarahkan tombaknya! Sesaat kemudian dia melemparkan tombak ditangannya kearah tubuh salah satu banteng! Tepat! Seekor banteng perutnya jebol terkena tombak!
Jaka Tingkir berputar lagi menuju pinggiran arena, dia menyambar sebatang tombak lagi, seperti yang tadi, Jaka Tingkir melemparkan tombak kearah salah satu banteng yang lain. Sekali lagi, seekor banteng terkena bidikan tombaknya!

Jaka Tingkir tidak membuang waktu, dengan tetap memacu kudanya, beberapa kali dilepaskannya anak panah. Bidikan anak panah tak ada yang meleset, mengarah satu persatu ke tubuh ketiga banteng yang kebingungan hendak menyeruduk!

Kondisi ketiga banteng sudah lemah. Jaka Tingkir mendekati salah seekor banteng. Dengan indahnya, dia melompat dari punggung kuda yang dinaikinya, berpindah ke punggung banteng. Banteng melonjak-lonjak! Nampak Jaka Tingkir ikut terayun-ayun. Namun dengan kecepatan yang luar biasa Jaka Tingkir menancapkan sebilah keris dileher banteng yang dinaikinya!

Banteng roboh! Meregang nyawa! Seekor banteng yang lain mendekat! Jaka Tingkir lari menghindar. Tapi, bersamaan dengan itu, cepat keris ditangannya mengarah ke leher banteng yang menyeruduknya…Leher banteng terkoyak! Banteng lari kepinggir…dan roboh meregang nyawa!

Gemuruh sorak sorai prajurid kembali terdengar!

Tinggal seekor lagi……
Sultan Trenggana terlihat bangkit dari duduknya. Dia nampak terpikat dengan ketangkasan Jaka Tingkir!
Sedangkan ditengah arena, Jaka Tingkir berlari menghampiri kudanya. Kembali dia menaiki kuda.Tombak kembali dia raih. Dan tombak meluncur mengarah tubuh banteng! Telak! Banteng mendengus…dan roboh akibat telah banyak luka-luka ditubuhnya! Sorak sorai lebih hebat membahana mengiringi kemenangan Jaka Tingkir.

Dan Sultan Demak-pun puas!
Jaka Tingkir diangkat sebagai Lurah Prajurid Pengawal Sultan Demak.
Berhasil dengan gemilang melewati uji keprajuridan pasukan pengawal Sultan, nama Jaka Tingkir seketika dikenal dan merebak dikalangan istana. Identitas Jaka Tingkir sebagai putra Ki Ageng Pengging-pun sudah banyak yang tahu. Banyak para pejabat Demak yang kagum pada ketangkasan Jaka Tingkir, namun disebagian pihak, bergulir pula sebuah kecemasan.

Sunan Kudus, adalah salah seorang yang mencemaskan hal tersebut, dia mengutarakan kecemasannya atas masuknya putra Ki Ageng Pengging dilingkungan istana Demak kepada Sultan Trenggana langsung. Namun, Sultan Trenggana sudah terlanjur menyukai Jaka Tingkir. Kecemasan Sunan Kudus tidak begitu ditanggapi Sultan Demak.

Dan, manakala Sultan Trenggana melantik Jaka Tingkir sebagai Lurah Prajurid Pengawal Sultan Demak, maka gegerlah seluruh pejabat. Ada yang diam-diam menolak dan tidak puas atas keputusan tersebut, namun banyak pula yang bergembira mendengarma keputusan Sultan.

Dan masa depan Jaka Tingkir sudah nampak didepan mata.

Kemampuan Jaka Tngkir kerap kali teruji. Sebagai Lurah Prajurid Pengawal Sultan, Jaka Tingkir mampu memberikan rasa aman bagi Sultan Trenggana. Pernah suatu ketika, manakala Sultan Trenggana tengah melakukan perburuan dihutan, Jaka Tingkir berhasil menyelamatkan Sultan Trenggana dari serangan gerombolan geriryawan Majapahit.

Jaka Tingkir mampu mengusir gerombolan gerilyawan tersebut tanpa pertempuran sama sekali. Pemimpin gerombolan mematuhi perintah Jaka Tingkir, sang putra Ki Ageng Pengging, untuk tidak meneruskan penyerangannya.

Begitu juga suatu ketika, saat Jaka Tingkir mengawal Sultan Trenggana yang tengah berkunjung ke wilayah bagian Demak melalui rute menyeberangi sebuah sungai, Jaka Tingkir mampu mengundurkan gerombolan gerilyawan Majapahit pula yang tengah menyerang secara tiba-tiba rombongan Sultan Trenggana. Jaka Tingkir mengundurkan mereka tanpa pertempuran sama sekali! Sultan Trenggana merasa sangat terlindungi dan aman dengan Jaka Tingkir yang berada disampingnya.

(Dalam Babad Tanah Jawa dikisahkan, manakala Sultan Trenggana tengah berburu, Jaka Tingkir berhasil menangkap seekor harimau yang hendak mengganggu Sultan. Harimau tersebut ditaklukkan dan dipanggul oleh Jaka Tingkir. Ditunjukkan kepada Sultan Demak, lantas dilepaskannya. Dan dilain waktu, manakala Sultan Demak tengah mengadakan kunjungan ke wilayah bagian dengan melewati rute menyeberangi sebuah sungai, tiba-tiba muncul buaya yang besar! Jaka Tingkir terjun ke sungai, dia bergulat dengan buaya. Buaya berhasil ditangkap, diperlihatkan kepada Sultan Trenggana dan lantas dilepaskan.

Jaka Tingkir sangat dekat dengan Sultan Trenggana. Lebih dekat daripada pejabat-pejabat yang lain, seperti Sunan Kudus maupun Fatahillah, Sang Senopati Demak Bintara. Keselamatan Sultan benar-benar terjaga apabila Jaka Tingkir melakukan pengawalan. Seluruh lasykar Majapahit yang masih bergerilya, sangat menghormati dan menyegani putra Ki Ageng Pengging tersebut. Apa yang disampaikan oleh Ki Ganjur, terbukti sudah. Dan Sultan Trenggana semakin menyayangi Jaka Tingkir.

Pada suatu ketika, Sultan Trenggana mengeluarkan maklumat khusus, membuka kesempatan kepada pemuda-pemuda Demak untuk mengabdi sebagai Pasukan pengawal Sultan. Sultan Demak menghendaki jumlah personil pasukan pengawal ditambah dengan mengambil personil baru diluar personil angkatan perang yang sudah ada.

Maklumat istimewa tersebut disambut antusias oleh seluruh pemuda-pemuda Demak. Banyak yang berdatangan ke ibu kota Demak. Mereka mengajukan diri untuk bersedia mengabdi sebagai anggota Pasukan pengawal Sultan.

Setiap pemuda harus melewati ujian-ujian yang tidak mudah. Banyak yang berhasil, tapi lebih banyak pula yang gagal. Jaka Tingkir mendapat tugas melakukan penyeleksian dan pengujian. Konon, seluruh pemuda yang berasal dari padepokan-padepokan di pelosok Tanah Jawa, banyak yang berdatangan. Dengan mengandalkan kesaktian yang telah mereka peroleh dari guru masing-masing, para pemuda ini mencoba peruntungannya di Demak Bintara.


Pemberontakan Ki Ageng Sela.
Ada kejadian menarik. Putra Ki Getas Pandhawa, guru Sultan Trenggana, yang bernama Ki Ageng Sela, ikut mendaftar. Padahal Ki Ageng Sela sudah memegang jabatan sebagai kepala pasukan bersenjata Demak yang ditugaskan didaerah Sela ( Sekarang tetap bernama Sela, sebuah daerah disekitar lereng Gunung Merapi, Jawa Tengah.

Sultan Trenggana jelas-jelas tidak mau mengambil personil calon pasukan pengawal dari personil angkatan bersenjata yang sudah ada. Namun mengingat Ki Ageng Sela masih merupakan putra gurunya, Sultan Trenggana terpaksa menyuruh Jaka Tingkir untuk mencatatnya dalam daftar calon-calon anggota pasukan pengawal yang hendak diuji. Namun, saat pengujian Ki Ageng Sela, Sultan sendiri yang akan memutuskan hasilnya, bukan Jaka Tingkir.

(Ki Ageng Sela adalah putra Ki Getas Pandhawa. Ki Getas Pandhawa adalah putra Raden Bondhan Kejawen atau Ki Ageng Tarub II. Raden Bondhan Kejawen adalah putra Prabhu Brawijaya V dengan Dewi Wandhan Kuning yang berasal dari Sulawesi.
MAKAM KI AGENG TARUB I & KI AGENG TARUB II (R.BONDHAN KEJAWEN),PURWODADI,JAWA TENGAH

Saat hari pengujian Ki Ageng Sela, Sultan Trenggana hadir menyaksikannya. Seperti saat menguji Jaka Tingkir, Ki Ageng Sela-pun diadu dengan tiga ekor banteng liar sekaligus. Dua ekor banteng bisa ditaklukkan dengan mudah oleh Ki Ageng Sela, dan manakala tinggal seekor banteng lagi, saat keris Ki Ageng Sela berhasil menghunjam ke leher banteng, darah banteng tersebut muncrat ke wajah Ki Ageng Sela. Ki Ageng Sela memalingkan wajahnya jijik!

Sultan Trenggana tersenyum. Saat itu juga beliau memutuskan bahwa Ki Ageng Sela telah gagal dalam menempuh ujian. Sultan berkata :

“Sela…sira ora katarima, amarga sira jirih ing getih!”
(Sela…kamu tidak diterima, sebab kamu masih jijik dengan darah!)

Ki Ageng Sela marah mendenga keputusan Sultan. Dia kembali ke Sela dan mengumpulkan seluruh pasukan yang berada dibawah komandonya. Beberapa minggu kemudian, ibu kota Demak dikagetkan dengan mengamuknya pasukan Demak sendiri diareal keraton. Fatahillah, sebagai Senopati Agung Demak mendapat laporan, bahwa pasukan Demak yang ditugaskan didaerah Sela dan dipimpin langsung oleh Ki Ageng Sela tengah mengamuk di istana. Fatahillah segera menghadap Sultan Trenggana dan memohon ijin untuk menggempur Ki Ageng Sela beserta pasukan Demak yang bersamanya. Namun Sultan Trenggana melarang Fatahillah untuk menggempur pasukan yang membelot tersebut secara sungguh-sungguh. Jika memang memungkinkan, hindari korban seminimal mungkin. Dan pesan Sultan kepada Fatahillah, agar Senopati Demak tersebut memberikan ruang kepada Ki Ageng Sela agar bisa leluasa masuk areal keraton. Sultan Trenggana berkehendak untuk menghadapi Ki Ageng Sela sendiri jika memang dia berani masuk ke istana.

Fatahillah segera melaksanakan perintah.

Di areal istana, Sultan Trenggana menunggu kemungkinan Ki Ageng Sela memang berani memasuki areal istana yang sengaja dibuka untuknya. Hanya pasukan Ki Ageng Sela yang akan ditahan. Ki Ageng Sela sendiri disengaja diberikan keleluasaan memasuki istana. 

Sultan Trenggana menaiki seekor kuda dengan dikawal para pasukan pengawal Sultan yang dipimpin oleh Jaka Tingkir.

Dan benar! Manakala diluar istana tengah terjadi pertempuran, nampak seorang penunggang kuda memacu kudanya memasuki areal keraton dengan beraninya!

Jaka Tingkir waspada! Dia memberikan isyarat agar seluruh pasukan pengawal siaga. Pasukan pengawal bergerak mengitari Sultan Trenggana. Posisi Sultan kini berada ditengah-tengah seluruh pasukan.
Ki Ageng Sela dengan beraninya memacu kuda sembari megang senjata terhunus! Sultan Trenggana tanggap. Dari atas punggung kuda, Sultan merentangkan busur panah dan melepaskan beberapa anak panah! Sasarannya bukan tubuh Ki Ageng Sela, namun kuda tunggangannya!

Begitu anak panah yang dilontarkan Sultan Trenggana mengenai sasaran di kaki kuda Ki Ageng Sela, sontak kuda meringkik nyaring dan tersungkur ruboh! Otomatis, Ki Ageng Sela ikut jatuh terjerembab!
Dalam posisi seperti itu, Jaka Tingkir memerintahkan pasukannya mengepung Ki Ageng Sela! Ki Ageng Sela tidak berdaya! Tombak-tombak tajam prajurid pengawal Sultan terarah ketubuhnya yang masih jatuh terduduk didekat kudanya yang roboh meringkik-ringkik!

Sultan memacu kuda mendekat kearah Ki Ageng Sela. Dari atas kuda, Sultan berkata :

“Sela, jelas sudah terlihat kamu sangat semberono dalam melakukan penyerangan. Seorang pemimpin pasukan tidak seharusnya meninggalkan pasukannya sendirian saat pertempuran tengah berlangsung. Apalagi, berani menyerang pusat kekuatan musuh sendirian pula!”

Dan Ki Ageng Sela harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ki Ageng Sela ditahan di Demak Bintara.

Sesungguhnya, ada pemicu lain yang membuat Ki Ageng Sela berani coba-coba melakukan ’pemberontakan kecil’ tersebut. Ki Ageng Sela meyakini bahwa dari keturunan Tarub, yaitu keturunan Raden Bondhan Kejawen, sesuai ramalan Prabhu Brawijaya V, eyang buyut Ki Ageng Sela, bahwasanya kelak dari keturunan Tarub akan tampil menjadi Raja Tanah Jawa. Wahyu keprabon tersebut belum saatnya turun kekeluarga Tarub pada masa itu. Wahyu itu akan jatuh kepada cicit Ki Ageng Sela, yaitu Panembahan Senopati, yang kelak mendirikan Kesultanan Mataram pada tahun 1575 Masehi.

Atas kebijaksanaan Sultan Demak, kesalahan Ki Ageng Sela diampuni. Dia tetap dipercaya memimpin pasukan didaerah Sela, walau terbatas hanya dengan duaratus limapuluh personil semata.
MAKAM KI AGENG SELO, DESA SELO, TAWANG HARJO, PURWODADI.

Jaka Tingkir terusir dari Demak.
Proses pendaftaran calon pasukan pengawal Sultan berlanjut setelah peristiwa Ki Ageng Sela.
Suatu ketika, datang seorang pemuda berperawakan tinggi besar dengan janggut ditumbuhi bulu lebat. Dia mengaku bernama Dhadhung Awuk. Dhadhung Awuk adalah pemuda yang terkenal sakti mandraguna. Beberapa anggota pasukan pengawal memberikan informasi kepada Jaka Tingkir bahwa Dhadhung Awuk pernah dicurigai terlibat pemberontakan Raden Suryawiyata.

Saat mendaftar, Dhadhung Awuk sesumbar bahwa dirinya gatal ingin menghancurkan lasykar-lasykar Majapahit yang masih banyak melakukan perang gerilya. Dia ingin mengadu kesaktian dengan mereka. Kalau sehari tidak memukuli orang-orang Majapahit, tangannya terasa gatal!

Mendapat laporan seperti itu, diam-diam Jaka Tingkir marah. Sontak dia datang sendiri ketempat pendaftaran. Melihat kehadiran Jaka Tingkir, beberapa pasukan memberikan tempat.
Jaka Tingkir lantas duduk bersila, berhadap-hadapan dengan Dhadhung Awuk.

Jaka Tingkir sendiri yang menyatakan keberatan dengan pengajuan diri Dhadhung Awuk untuk mendaftar sebagai calon pasukan pengawal Sultan. Demak membutuhkan orang-orang yang mampu menghargai semua lapisan. Demak sudah kebanyakan orang-orang kolot.

Dan Dhadhung Awuk tersinggung. Dia kemudian berkata :

“Apakah karena Raden Jaka Tingkir masih pewaris sah tahta Majapahit sehingga Raden tidak menyukai saya? Ingat Raden, ini Demak, bukan Majapahit! Dan Majapahit sudah tidak ada apa-apanya lagi!”

Jaka Tingkir diam. Lalu dia mempersilakan Dhadhung Awuk untuk meninggalkan tempat tersebut. 

Dhadhung Awuk semakin lancang :

“Jika Raden tidak terima, boleh kita mengadu kesaktian. Atas nama pribadi, antara Dhadhung Awuk dan Jaka Tingkir, bukan antara Dhadhung Awuk dengan seorang Lurah Prajurid Pengawal Sultan Demak!”

Gegerlah seluruh yang hadir mendengar perkataan Dhadhung Awuk. Baik para prajurid pengawal Sultan maupun para pemuda yang sedang mengantri menunggu giliran mendaftarkan diri.

Jaka Tingkir tidak menggubris. Dan Dhadhung Awuk-pun tidak juga segera pergi meninggalkan tempat tersebut.

Maka bangkitlah amarah Jaka Tingkir manakala Dhadhung Awuk sesumbar :

“Ketahuilah Raden, badan saya ini terasa gatal semua jikalau sehari saja tidak dihunjami senjata oleh orang Majapahit!”

Jaka Tingkir memberi isyarat kepada seorang anak buahnya untuk mendekat. Jaka Tingkir membisikkan sesuatu, lantas, prajurid tersebut memerintahkan seluruh yang hadir menepi untuk memberi ruang lebar…

Tidak ada yang tahu apa yang bakal terjadi…

Dan semua orang jadi tahu apa yang bakalan terjadi ketika Jaka Tingkir berkata kepada Dhadhung Awuk :

“Jika memang itu maumu, mari kita buktikan bersama siapa yang lebih sakti! Aku akan mencoba kesaktianmu dengan sadak ini.”

Saat itu Jaka Tingkir tengah memegang ‘sadak’. ( Sadak adalah alat penumbuk buah gambir, dimana hasil tumbukan tersebut dipakai sebagai bahan campuran untuk mengunyah sirih. Panjangnya sekitar 15 cm dan besarnya Cuma sebesar jempol tangan, berbentuk silindris.

Dhadhung Awuk mendengus melihat beberapa prajurid telah membuat ‘kalangan’ atau tempat yang cukup luas untuk adu kesaktian. Dhadhung Awuk segera beranjak dari bersila, lantas bergerak ke arah tengah-tengah ‘kalangan’ yang telah disediakan. Disana dia berdiri gagah dan membuka dadanya lebar-lebar

Terlihat Dhadung Awuk mencabut keris. Kemudian menghunjamkan keris itu berkali-kali kedada dan perutnya sendiri. Tidak ada luka sedikitpun ditempat mana dia menghunjamkan senjata tersebut.

Jaka Tingkir beranjak. Dia menuju ‘kalangan’ dengan disaksikan oleh para prajurid dan para pemuda dengan dada berdebar!

Kini, Jaka Tingkir dan Dhadhung Awuk berdiri berhadap-hadapan. Ditangan Jaka Tingkir tergenggam sadak. Melihat apa yang dipegang Jaka Tingkir, Dhadhung Awuk sedikit mendengus. Keris saja tidak mampu melukai tubuhnya, apalagi sebuah sadak. Begitu Dhadhung Awuk bergumam dalam hati.

Sesaat keduanya masih diam ditempat masing-masing. Dan sedetik kemudian, Jaka Tingkir tiba-tiba bergerak cepat menusukkan sadak ke dada Dhadhung Awuk! Dhadhung Awuk membuka dada lebar-lebar.

Dan Dhadhung Awuk menjerit keras manakala sadak ditangan Jaka Tingkir menancap dalam tepat dijantungnya! Darah muncrat dari sana! Dhadhung Awuk menggeram! Tikaman Jaka Tingkir tepat mengenai organ vital! Tubuh Dhadhung Awuk bergetar hebat! Sedetik kemudian jatuh terduduk, lantas roboh menelungkup! Dhadhung Awuk tewas seketika!

Gegerlah seluruh yang hadir!
Kejadian tersebut dilihat oleh beberapa pejabat yang kebetulan hadir ditempat tersebut. Mereka lantas menghadap Sultan Trenggana, melaporkan kejadian terbunuhnya seorang calon pasukan pengawal Sultan ditangan Jaka Tingkir. Sultan Trenggana murka! Beliau seketika itu juga memerintahkan Jaka Tingkir untuk menghadap!

Pada hari itu, Sultan Demak melepas jabatan Jaka Tingkir sebagai Lurah Prajurid Pengawal Sultan. Bahkan, Jaka Tingkir diusir dari lingkungan istana Demak.

Jaka Tingkir yang memang merasa bersalah, menerima keputusan tersebut. Namun diam-diam, dengan diusirnya Jaka Tingkir dari istana, Nimas Sekar Kedhaton, adik Ratu Kalinyamat, menangis dan merasa kehilangan.

(Bali, 31 Januari 2010, by ; Damar Shashangka)

Sumber :
1. Babad Tanah Jawi
2. Babad Tanah Jawi Demakan
3. Serat Kandha
4. Kronik Tionghoa Klenteng Sam Po Kong- Semarang
5. Cerita tutur masyarakat Jawa
6. Baboning Kitab Primbon, terbitan Sadu Budi, Solo

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s