PETUNJUK DAN BIMBINGAN SPIRITUAL HAKIKAT HIDUP.  DALAM LAKU MURNI MENUJU SUCI “KUNCI THE POWER” Level Satu:


PETUNJUK DAN BIMBINGAN SPIRITUAL HAKIKAT HIDUP.
DALAM LAKU MURNI MENUJU SUCI “KUNCI THE POWER” Level Satu:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Semarang Jateng. Hari Rabu. Tanggal 30 Agustus 2017.

MIJIL SOWAN:
Mijil Sowan. Adalah Praktek Mengabdikan Diri kepada Hyang Dzat Maha Suci, dengan penuh kesadaran Wahyu Panca Laku/IMAN. Jadi, mijil sowan itu, merupakan praktek pengabdian seorang mahluk kepada Tuhan-nya, seorang hamba kepada Tuan-nya, seorang abdi kepada Raja-nya. Yang proses cengkoknya wajib di mengerti, dan endingnya wajib di pahami, oleh siapapun yang sedang laku murni menuju suci. Agar supaya tepat sasaran, tidak melesed dari yang di tuju, yaitu Dzat Maha Suci.

PRAKTEKNYA:
Langkah Pertama…
Adalah Patrap PALUNGGUH PAMBUKA;
Palungguh adalah upaya menenangkan rasa yang tidak dan perasa’an, yang tidak
nyaman, agar menjadi enak dan nyaman.

Caranya,,, setelah berada di tempat/ruang semedi. Dalam keada’an duduk siap bersamadi, tempelkan telapak tangan kanan, ke dada sebelah kiri, dimana terdapat detak jantung. Seperti yang nampak pada gambar dibawah ini;Patrap Palungguh

Lalu baca “PALUNGGUH PAMBUKA” 3x.
PALUNGGUH PAMBUKA;
Sedulur Papatku.
Lungguho ingkang prayugo.
Ragane arso tentrem.
Sun sangoni basuki.
Kalis ing sambikolo.
Kanti teguh rahayu selamet.
Dibaca… 3x.

Lalu tarik napas panjang dan pelan serta dalam melalui hidung, lalu keluarkan napas panjang dan pelan serta dalam pula melalui mulut, lakukan cara ini hingga tiga kali berturut-turut, hingga terasa plong/lega.

Langkah Kedua…
Adalah Patrap KUNCI;
Robah Patrap Palungguh, menjadi patrap Kunci, dengan tetap duduk rileks dan santai
menikmati rasa plong/lega hasil palungguh tadi. Satukan dan pertemukan kedua telapak tangan, lalu letakan tepat didepan wajah, kedua ibu jari, menempel tepat dibawah kedua lubang hidung, sedangkan kedua jari telunjuk, tepat berada di tengah kening atau diantara kedua alis, sementara kedua siku tangan, lurus sejajar dengan pundak. Seperti yang nampak pada gambar dibawah ini;Patrap Kunci

Lalu baca “KUNCI” 7x.
KUNCI untuk Lelaki;
Gusti ingkang moho suci.
Kulo nyuwun pangapuro dumateng gusti ingkang moho suci.
Sirolah datolah sipatolah.
Kulo sejatine sateriyo.
Nyuwun wicaksono nyuwun panguwoso.
Kangge tumindake sateriyo sejati.
Kulo nyuwun kangge hanyirna’ake tumindak ingkang luput.
Dibaca… 7.x.

KUNCI untuk Wanita;
Gusti ingkang moho suci.
Kulo nyuwun pangapuro dumateng gusti ingkang moho suci.
Sirolah datolah sipatolah.
Kulo sejatine wanito.
Nyuwun wicaksono nyuwun panguwoso.
Kangge tumindake wanito sejati.
Kulo nyuwun kangge hanyirna’ake tumindak ingkang luput.
Dibaca… 7.x.

PENJELASAN;
Bacalah Kunci dengan perlahan dan santai/rileks, jangan terburu-buru, hayati setiap kalimat yang terbaca dalam hati, dengan penghayatan rasa, ingat…!!! dengan penghayatan rasa, bukan dengan perasa’an “sebab” di antara celah-celah baca’an Kunci, ada Wahyu Panca Laku/iman yang tersebut Manembahing Kawula Gusti, yang proses cengkok dan endingnya Manembahing Kawula Gusti tersebut, harus kita mengerti dan pahami serta kita ketahui, agar mengerti dan paham serta tahu, apa yang di sebut Kunci yang memiliki Laku manembahing kawula gusti tersebut.

Ingat…!!!
Patrap Kunci itu, pada hakikatnya, adalah Manembahing Kawula Gusti, karena itu, cara bacanya jangan terburu-buru, harus tawaduk, sopan santun, tata-titi-surti ngati-ati, santai, pelan dan penuh penghayatan rasa, yang semakin di hayati, akan semakin terasa prosesnya, yang detik demi detik, menjalar di sekujur tubuh kita, mengalir bersama aliran darah kita, terus rasakan, dan rasakan lebih dalam getarannya, di barengi dengan membaca Kunci hingga selesai 7x.

Langkah Ketiga…
Adalah Patrap PAWELING;
Setelah selesai membaca Kunci 7x. Robah Patrap Kunci, menjadi Patrap
Paweling, caranya; dengan tetap rilek dan santai, turunkan kedua tangan secara
bersama’an, secara perlahan, dengan tetap penuh penghayatan rasa, ke bawah, hingga
berada tepat di tengah dada. Seperti gambar yang nampak dibawah ini;Patrap Paweling
Lalu baca “PAWELING” 3x.
PAWELING;
Siji-siji – loro-loro – telu telonono.
Siji sekti – loro dadi – telu pandito.
Siji wahyu – loro gra’trahino – telu rejeki.
Dibaca… 3.x.

PENJELASAN;
Setelah selesai membaca Paweling 3x. Lalu diam sejenak. Rasakan Getaran dari tekanan kedua energi yang ada di kedua telapak tangan, dengan tetap penuh penghayatan rasa, terus rasakan dan rasakan terus hingga beberapa waktu lamanya. Ingat…!!! Patrap Paweling, pada hakikatnya, adalah Manunggaling Kawula Gusti, artinya, harus benar-benar merasakan kemanunggalannya kawula dan gusti tersebut. Jika kita mampu berhasil menghayati getaran dari tekanan kedua energi yang ada di kedua telapak tangan kita, maka kita akan mengerti, memahami dan mengetahui kemanunggalan kawula gusti kita.

Langkah Ke’empat…
Adalah Patrap MIJIL SOWAN;
Setelah merasa cukup dalam merasakan proses cengkok dan ending serta klimaxnya Paweling yang hakikatnya adalah kemanunggalan kawula gusti, lalu robah patrap Paweling menjadi Patrap Mijil, dengan cara, tetap rileks dan santai, geser tangan kiri ke samping pinggul kiri, sedangkan tangan kanan, tetap berada di posisinya semula. Ibu jari tangan kiri, menempel pada tulang rusuk yang paling bawah, yang paling pendek, sedangkan jari telunjuk tangan kiri, lurus mengarah ke pusar perut/wudel. Seperti yang nampak pada gambar di bawah ini;Patrap Mijil

Lalu baca “MIJIL SOWAN” 1x.
MIJIL SOWAN;
Asmo sejati.
Jeneng siro mijilo.
Panjenengan ingsun kagungan karso.
Arso sowan ing ngarsane.
Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono.
Arso sowan bade nyuwun tambahe pangestu lan pengayoman.
Ugo sedoyo ingkang kulo aturaken.
Sageto kelaksanan kanti teguh rahayu slamet.
Dibaca… 1.x.

PENJELASAN;
Setelah membaca mijil sowan 1x. Lalu Diam… dan robah posisi kedua tangan, yang semula Patrap Mijil, menjadi seperti yang nampak pada gambar dibawah ini;Patrap Semedi

Lalu….
Buka Mata hati/bathin, tutup mata lahir, bebaskan semua Panca indera, pikiran, angan-angan, jangan sampai ada satupun tekanan atau beban, bebaskan dan merdekakan. Mungkin, pikiran atau angan-angan, teringat hal-hal di luar sana, misal, ingat pekerja’an, teman, pacar, anak, isteri, suami, hutang, motor, mobil dll, biyarkan, bebaskan, merdekakan untuk beberapa menit, maksimal lima menit. Jangan lebih.

Setelah lima menit…
Lalu tarik napas panjang dan pelan serta dalam melalui hidung, lalu keluarkan napas panjang dan pelan serta dalam pula melalui mulut, lakukan cara ini hingga tiga kali berturut-turut, hingga terasa plong/lega atau tidak plong/lega. Maksudnya… setelah melakukan ini, bisa plong/lega atau tidak plong/lega. Ingat…!!! jangan sampai lupa. Bahwa Sejatinya Patrap Mijil, adalah Sampurnaning Kawula Gusti. Jadi….

Segera tundukan kepala, tundukan pula ego kita, tanggalkan semua bentuk takut dan ragu serta bimbang. Kemudian berkatalah secara sadar dalam hati, dengan nada lirih dan jujur apa adanya. Seperti Contoh Di Bawah INI;

“ Tuhan… saya salah, saya dosa, saya memang salah ya Tuhan, saya memang dosa, sungguh saya bodoh, tidak mengerti apa-apa, tidak paham apa-apa, tidak tahu apa-apa, tidak bisa apa-apa, tapi saya selalu sok ngerti, sok paham, sok tahu, sok bisa, sok pintar, padahal saya bodoh dan dungu, goblog, tidak punya kuasa apa-apa dan tidak bisa apa-apa, kini saya sadar dan bertaubat serta berserah diri hanya kepada-Mu wahai yang Maha Segalanya, sesembahan yang tiada duanya”

“Saya Pasrahkan anak-ku, istri/suami-ku, pacar/kekasih-ku, keluarga-ku, saudara/saudari-ku, masalah-ku, keperluan-ku, kepentingan-ku, kebutuhan-ku, hutang-ku, jiwa raga-ku, dunia akherat-ku, hidup mati-ku dan semuanya serta segalanya tentang-ku. Saya serahkan dan saya pasrahkan hanya kepada-Mu wahai Dzat Maha Suci sesembahan-ku yang tunggal dan Maha Segalanya, sungguh saya tiada daya dan upaya apapun jika tanpa-Mu, mulai sekarang, semua dan dan segalanya, terserah-Mu, apapun keputusan-Mu, aku terima, mulai saat sekarang ini. Saya akan tunduk dan turut hanya kepada-Mu saja”

“Karena saya berasal dari-Mu dan Milik-Mu, maka saya akan mengabdi dan kembali hanya kepada-Mu saja. Engkau jadikan apapun diri ini di dunia dan di akherat nanti, saya tetap siap sebagai abdi setiamu”

(Pemberitahuan; Bahasa yang saya contohkan diatas, bisa diubah sesuai sikon pribadi masing-masing, yang pasti, kurang lebih intinya seperti yang saya maksud dalam contoh diatas)

Lalu Diam…
Jika Anda bisa berhasil berkata Jujur apa adanya kepada Dzat Maha Suci dan sungguh-sungguh pasrah dan berserah diri lahir dan bathin serta bertaubat kepada Dzat Maha Suci. Seperti yang saya contohkan diatas. Air mata Anda akan menetes/berlinang, membanjiri pipi, dada, hingga kedua kaki Anda yang sedang bersimpuh. Jika air mata mulai menetes, diawal atau di pertengahan ungkapan seperti yang saya contohkan diatas, jangan berhenti, terus dan terus katakan berulang kali, apa yang saya contohkan diatas, sampai selesai, sampai puas, sampai plong, sampai lega, hingga tak ada lagi yang bisa di katakan, kecuali linangan air mata. Nikmati dan Rasakan Linangan Air mata yang semakin di rasakan semakin berderai tersebut. Rasakan lebih dalam, dan lebih dalam lagi, terus rasakan dan nikmati dengan sadar, jangan hanyut dan terlena, berusahalah untuk tetap sadar. Tidak larut dalam tangisan. Jika Anda sadar, dan benar-benar sadar, sesadar-sadar. Makan Anda akan mengetahui Klimaxnya Patrap Mijil Sowan.

Klimaxnya apa…?!
Klimaxnya adalah Tenteram.
Tenteram itu apa…?!
Tenteram itu Sampurna.
Sampurna itu bagaimana…?!
Sampurna itu semuanya dan segalanya.

Intinya,,, di dalam Patrap Semedi Mijil Sowan, adalah mempelajari cengkok dan endingnya Manembahing Kawula Gusti. Manunggaling Kawula Gusti. Leburing Kawula Gusti dan Sampurnaning Kawula Gusti. Agar supaya bisa mengetahui Klimaxnya Sampurnaning Pati Urip.

Kalau kita kisa berhasil mengetahui Klimaxnya Sampurnaning Pati Urip. Kita akan Memperoleh alias mendapatkan kesempurna’an dan Merasakan Sejatinya Tenteram, yang nantinya bisa Menenteramkan Kehidupan lahir dan bathin kita sendiri dan semuanya serta segalanya yang terkait dengan diri pribadi kita, seperti anak istri keluarga tetangga dll, termasuk kepentingan, kebutuhan, keperluan dan masalah apapun selesai, dengan sangat indah tanpa masalah.

Apa itu sejatinya tenteram…?!
Seperti apa rasanya Tenteram?
Kok sebegitu pentingnya…

Apa itu sejatinya tenteram…?!
Tenteram adalah sikon asal usul kita sebelum dicipta menjadi menusia Hidup oleh Dzat Maha Suci Tuhan kita, dan di dalam sejatinya Tenteram itulah, Dzat Maha Suci Tuhan kita berada.

Seperti apa rasanya Tenteram?
Rasanya tenteram itu, seperti di waktu kita mencapai puncak klimax sa’at berhubungan badan (SEKS) dengan orang yang kita cintai/sukai.

Bisa ketebak kan…?
Rasanya…?

Itulah Wujud Gambarannya Tenteram. Itulah RasaTenteram yang saya maksud. Saking Tentramnya, sampai-sampai disaat klimax, semuanya dan segalanya terlupakan, tak satupun yang di ingat saat klimax, bahkan dirinya sendiri, lelaki atau bukan, sudah tidak tahu lagi. Itulah tenteram, itulah intisari pati dari semua dan segalanya yang di cari dan di lakukan oleh semua makhluk hidup.

Dan Itulah yang dicari sa’at kita bersamadi menerapkan Wahyu Panca Ghaib. Gambaran Rasanya seperti di Sa’at kita klimax (seks), tapi Prakteknya tidak seperti sa’at klimax (seks), karena tenteram yang di hasilkan sa’at klimax (seks), membuat kita lupa diri, lupa semuanya, lupa segalanya.
Disini, dalam menerapkan Wahyu Panca Ghaib ini, kita mencari Tenteram yang sebenarnya, bukan yang semu, tidak lupa diri seperti di sa’at klimax (seks). Melainkan dengan sadar, sesadar-sadarnya, semakin kita sadar, semakin kita mengerti apa itu Dzat Maha Suci Tuhan, semakin murni kesadaranya, semakin memahami bagaimana itu Dzat Maha Suci Tuhan, semakin sering mengalami tenteram secara sadar dan murni, maka akan bisa mengetahui semua dan segalanya tentang Dzat Maha Suci Tuhan secara jelas dan nyata, detail serta PASTI. Bukan katanya atau nanti atau ghaib.

Caranya bagaimana?
Caranya Ada tiga tahap atau level atau tingkatan, dan tingkat/level/tahap Pertama-nya. Seperti yang sudah saya Uraikan diatas, bukan yang lain. Yaitu Laku Murni Menuju Suci Alias Wahyu Panca Ghaib di Ibadahkan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku.

Langkah kelima…
Adalah Patrap “PALUNGGUH PANUTUP”
Kondisikan tangan kanan menempel di dada sebelah kiri, seperti langkah awal. secara perlahan Sembari membaca PALUNGGUH PANUTUP tiga kali.Patrap Palungguh

“PALUNGGUH PANUTUP” 3x;
Asmo Sejati.
Lungguho ingkang prayugo.
Ragane arso tentrem.
Sun sangoni basuki.
Kalis ing sambikolo.
Kanti teguh rahayu selamet.
Dibaca… 3x.

Dan SELESAI. Lakukan Patrap Mijil Sowan ini, tiap hari atau tiap malam dengan MERDEKA, tanpa terikat waktu dan arah menghadap di saat Bersamadi. Sampai benar-banar mengetahui Klimaxnya Mijil Sowan yang sangat luar biasa seperti yang sudah saya maksud dalam uraian diatas.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; DACB5DC3”
@EdanBagu
www.wongedanbagu.com
https://putraramasejati.wordpress.com
http://facebook.com/tosowidjaya

Iklan

Pemahaman Tentang KUNCI. PAWELING. ASMO. MIJIL. SINGKIR. (Didalam Wahyu Panca Gha’ib)


Kronologi.1

Pemahaman Tentang KUNCI. PAWELING. ASMO. MIJIL. SINGKIR.
(Didalam Wahyu Panca Gha’ib)
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Semarang Jateng. Hari Sabtu. Tanggal 19 Agustus 2017.

1. Pemahaman Tentang KUNCI:
“Kunci”
Pengertian Kunci.
Adalah; Kumpul Nunggal Suci.
Kumpul itu… Mendekat. Nunggal itu… Bersatu/Menyatu. Suci itu… Murni/Bersih, tak tercampuri oleh apapun.

Hakikat Kunci;
Adalah; Anasir pertama, yang berasal dari Sarinya Air, yang lebih di kenal dengan sebutan Kawah/ketuban atau Mutmainah.

Lakunya Kunci;
Adalah; Manembahing Kawula Gusti.
Manembahing itu… Tunduk-nya. Kawula itu… Empat Anasir, yang lebih di kenal dengan sebutan sedulur papat. Gusti itu… Hidup, yang di kenal sebagai Pancer.

Jadi…
Maksud dari Manembahing Kawula Gusti. Adalah tunduknya sedulur papat Kalima Pancer kepada Dzat Maha Suci.

Kesimpulannya;
Kalau Patrap Kunci dan Membaca Kunci. Empat Anasir atau Sedulur Papat kita Dan Hidup atau Pancer Kita. Harus Tunduk Kepada Dzat Maha Suci.

Sebab itu…
Wahyu Panca Laku atau Iman yang Pertama. Mengharuskan untuk Pasrah, menyerahkan semua dan segalanya kepada Dzat Maha Suci.

Karena yang namanya tunduk, ya pasrah, dan yang di sebut pasrah, tidak ada istilah menggerutu atau mendesah atau berkeming, apa lagi protes. Enak tidak Enak. Cocok tidak Cocok, harus tetap diam sambil senyum sendiko dawuh.

2. Pemahaman Tentang PAWELING:
“Paweling”
Pengertian Paweling.
Adalah; Panalangsan atau Keterenyuhan.
Maksudnya seperti ini. Ada hubungan yang tidak bisa kita lupakan, apapun alasannya, ada ikatan yang tidak bisa kita putuskan, apapun alasannya, ada komunikasi yang tidak bisa kita elak kan, apapun alasannya.

Yaitu;
Hubungan dan Ikatan serta Komunikasi antara Nur Allah. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad “atau” Sir Dat Sipat “atau” Cinta Kasih Sayang.
Nur Allah. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad “atau” Sir Dat Sipat “atau” Cinta Kasih Sayang.

Inilah, asal mula semua kejadian. Termasuk kita, manusia hidup.
Awalnya adalah kemutlakan dzat maha suci semata. Lalu dzat maha suci memecah dirinya. Menjadi tiga bagian. Yaitu; Nur Allah. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad “atau” Sir Dat Sipat “atau” Cinta Kasih Sayang.

Dan dengan menggunakan tiga bahan inilah, semua dan segalanya di cipta dan tercipta.
Di waktu kita masih belum terpisah, masih menjadi satu wujud sebagai dzat maha suci. Yang ada hanya Kebahagia’an dan Ketenteraman. Tidak ada suka duka, tak kenal masalah apapun.
Namun setelah terpecah menjadi tiga bagian tersebut, dan tercipta menjadi sebuah mahluk. Suka duka dan masalah mulai bermunculan.

Suka duka dan masalah inilah, yang melenakan kita, sehingga kita lupa dengan tri tunggal yang menjadi jatidiri kita, yang dulunya adalah merupakan satu kesatuan yang bahagia dan tenteram.

Ketika kita membaca Paweling. Siji-siji. Loro-loro. Telu-telonono. Kita di kembalikan ke hal ini dan tentang ini.

Bagaimana kita tidak rindu akan hal tersebut, bagaimana tidak terenyuh, selama ini kita telah lupa cinta kita bertiga, kasih kita bertiga, sayang kita bertiga, kita terlalu asyik bermain ketipung suka duka dan masalah.

Tidak mengetahui bahkan tidak menyadari kalau si Nur Allah atau Sir atau Cinta kita sedang merindu.

Tidak mengetahui bahkan tidak menyadari kalau si Nur Muhammad atau Dat atau Kasih kita sedang merindu.

Tidak mengetahui bahkan tidak menyadari kalau si Nur Ilmu Muhammad atau Sipat atau Sayang kita sedang merindu.

Sungguh terlalu jika tidak Nelangsa… Tidak Terenyuh…
Tidak selembar daunpun yang jatuh tanpa kehendak-Nya. Apapun kejadiannya yang terjadi, kita harus mau bersedia menerimanya.

Karena syarat untuk bisa menjadi satu kembali seperti semula, kita harus mau bersedia menerimanya. Apapun itu…

Protes…?!
Menolak…?!
Tidak mau…?!

1. Siji: Nur Allah-Sir-Cinta.
2. Loro: Nur Muhammad-Dat-Kasih. 3. Telu: Nur Ilmu Muhammad-Sipat-Sayang.
Tidak akan pernah bisa Bersatu/Menyatu lagi seperti semula.

Hakikatnya Paweling;
Adalah; Anasir ketiga, yang berasal dari Sarinya tanah, yang lebih di kenal dengan sebutan Ari-ari atau Aluamah.

Lakunya Paweling;
Adalah; Manunggaling Kawula Gusti.
Manunggal itu… Bersatupadu. Kawula itu… Empat Anasir, yang lebih di kenal dengan sebutan sedulur papat. Gusti itu… Hidup, yang di kenal sebagai Pancer.

Jadi…
Maksud dari Manunggaling Kawula Gusti. Adalah bersatupadunya sedulur papat Kalima Pancer dengan Dzat Maha Suci.

Kesimpulannya;
Kalau Patrap Paweling dan Membaca Paweling. Empat Anasir atau Sedulur Papat kita Dan Hidup atau Pancer Kita. Harus Bersatupadu dengan Dzat Maha Suci.

Sebab itu…
Wahyu Panca Laku atau Iman yang Kedua. Mengharuskan untuk Menerima apapun kehendak atau keputusan Dzat Maha Suci.

Kalau bisa menerima apapun kehendak dan keputusan dzat maha suci. Nur Allah. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad “atau” Sir Dat Sipat “atau” Cinta Kasih Sayang ini. Baru Bisa jadi satu.

Dan bersatunya Tri Tunggal ini. Berati dzat maha suci. Dan dzat maha suci. Adalah maha segalanya.

3. Pemahaman Tentang Asmo:
“Asmo”
Pengertian Asmo.
Adalah; Tanda atau Ciri, kalau bahasa jawanya. Tenger.

Tanda untuk siapa dan untuk apa…?!
Tanda untuk hidup dan supaya bisa disebut atau bisa di panggil dan bisa di temui.

La kalau Asmo Sejati…?!
Sejati itu… Yang sebenarnya atau yang sesungguhnya.

Hidup berasal dari dzat maha suci, yang di utus secara khusus, menempati tubuh manusia, hingga batas waktu yang telah di tentukan.

Jadi…
Maksud dari Asmo Sejati. Adalah Tanda yang sebenarnya untuk hidup, yang masih menempati setiap wujud yang masih hidup. Agar supaya bisa menyebut dan memanggil bahkan menemuinya kapanpun dan dimanapun, untuk hal apapun.

Karena hidup berasal dari dzat maha suci. Asmo di artikan juga, sebagai, Asale Manunggal, yang maksudnya (awalnya bersatu atau menyatu-dengan dzat maha suci).

Karena hidup itu utusan dzat maha suci, jadi, dia mengerti dan paham serta tahu semua dan segalanya tentang dzat maha suci dan seluruh ciptaannya.

Hakikat Asmo Sejati;
Adalah; Hidup atau Roh Suci/Kudus atau Guru Sejati atau Rasul/Utusan. Atau Pancer. yang berasal dari dzat maha suci.

Dan Hidup adalah satu-satunya Ruh Suci yang bisa berhubungan langsung dengan dzat maha suci, kapanpun dia mau. Karena selain utusan, hidup adalah kekasih terkasihnya dzat maha suci.

“sungguh aku tidak mengenal doa dari siapapun, jika tidak melalui rasulku/utusanku”

Lakunya Asmo;
Adalah; Leburing Kawula Gusti.
Leburing itu… Musnah-nya. Kawula itu… Empat Anasir, yang lebih di kenal dengan sebutan sedulur papat. Gusti itu… Hidup, yang di kenal sebagai Pancer.

Jadi…
Maksud dari Leburing Kawula Gusti. Adalah musnah-nya sedulur papat Kalima Pancer.

Kesimpulannya;
Kalau Patrap Mijil Menyebut Asmo Sejati. Empat Anasir atau Sedulur Papat kita Dan Hidup atau Pancer Kita. Harus musnah, harus tidak ada itu dan ini, semuanya musnah. Tidak ada sedulur papat, tidak ada Pancer, tidak ada kepentingan, tidak ada keperluan, tidak ada urusan dan masalah kemelekatan apapun, semuanya telah lebur/musnah, yang ada hanya dzat maha suci semata, lainnya itu, semu dan palsu.

Sebab itu…
Wahyu Panca Laku atau Iman yang Ketiga. Mengharuskan untuk mempersilahkan dzat maha suci. Karena jika tidak di persilahkan, kita tidak akan mendapatkan apa-apa, sebab semua dan segalanya telah lebur/musnah menjadi semu/palsu.

Mau mempersilahkan dzat maha suci untuk mengambil alih semua dan segala tentang kita, maka semua dan segala kesemuan dan kepalsuan itu, akan di sempurnakan, dan di ganti dengan yang asli dan nyata-nyata asli.

4. Pemahaman Tentang MIJIL:
“Mijil”
Pengertian Mijil.
Ada dua titik, yang perlu kita tepatkan, yang satu miji, satunya midji, kalau miji, itu berati tumbuh, istilah jawanya, tuwuh atau tukul, kalau midji, itu berati menyatu, istilah jawanya ngumpul atau ngumpuli.

Kata menyatu atau ngumpul, ini menandakan ada beberapa sesuatu. Maksudnya, lebih dari jumlah satu. Karena lebih dari jumlah satu, maka di gunakan kata menyatu atau ngumpul.
Jadi, yang tepat. Adalah Midjil, bukan Mijil.

Midjilo…
Berarti, sesuatu hal yang jumlahnya lebih dari satu itu, menyatu keluarnya. Maksudnya, tidak keluar sendiri sendiri atau berpisah. Melainkan jadi satu wujud.

Mengapa bisa begitu….?!
Ketika kita menyebut Asmo Sejati. Semua dan Segalanya, itu menyatu menjadi satu kesatuan. Midji. setelah bersatu, semua dan segalanya itu, menjadi lebur, tidak ada apa-apa, kecuali dzat maha suci.

Djilo. Keluarlah. Semua dan segalanya yang sudah menjadi satu itu. Keluarlah… Ini adalah ghaib, maksudnya, tidak kasat mata.

Sebab itu, Wahyu Panca Laku atau Iman, yang keEmpat.
Mengharuskan kita untuk Ngrasak Ake ananing Dzat Maha Suci. Sebab, keleburan semuanya dan penyatuan segalanya itu, tidak kasat mata, keluarnyapun, yang sudah menjadi satu itu, tidak kasat mata pula.

Jadi, hanya dengan rasa, cuma dengan cara merasakan, kita bisa mengetahui keleburan dari semuanya itu, dan penyatuan dari segalanya itu, yang keluar jadi satu tersebut.

Hakikat Midjil;
Adalah; Anasir kedua, yang berasal dari Sarinya Angin, yang lebih di kenal dengan sebutan pusar/puser atau Supiyah.

Lakunya Midjil;
Adalah; Sampurnaning Kawula Gusti.
Sampurna itu… Kembali ke asal, kalau Sampurnaning, berarti. Kembali ke asalnya. Kawula itu… Empat Anasir, yang lebih di kenal dengan sebutan sedulur papat. Gusti itu… Hidup, yang di kenal sebagai Pancer.

Jadi…
Maksud dari Sampurnaning Kawula Gusti. Adalah; Kembalinya sedulur papat Kalima Pancer ke asalnya, yaitu Dzat Maha Suci.

Kesimpulannya;
Kalau Patrap Midjil dan Membaca Midjil, Empat Anasir atau Sedulur Papat kita Dan Hidup atau Pancer Kita. Sudah tidak ada, karena sudah sampurna kembali ke asalnya, yaitu dzat maha suci.

Jadi…
Tidak ada doa lagi, kalimat, kata kata, permohonan, keluh kesah, takut, ragu, pikiran, duga menduga, rancangan.

Dan bla,,,bla,,,bla,,,lainnya. Yang ada hanya rasa, yang harus kita sadari secerdas mungkin, agar supaya bisa merasakan kasempurnaan yang nyata itu. Sehingganya kita tahu persis. Bahwa tidak ada yang lebih wah, di bandingkan dengan Pengampunan dari Hyang Maha Sempurna.

5. Pemahaman Tentang SINGKIR:
“Singkir”
Pengertian Singkir.
Adalah; Tidak menilai. Sing-Kir.
Sing itu… Dari bahasa Kawi, yang artinya mboten atau ora, bahasa Indonesianya, tidak. Kir itu… Dari bahasa Psikolog, yang artinya menganalisa atau mendeteksi atau memeriksa (menilai).

Hakikat Singkir;
Adalah; Anasir keempat, yang berasal dari Sarinya Api, yang lebih di kenal dengan sebutan Darah atau Amarah.

Lakunya Singkir;
Adalah; Sampurnaning Pati Urip.
Sampurna itu… Kembali ke asal, kalau Sampurnaning, berarti. Kembali ke asalnya. Pagi itu… Segala masalah yang berkaitan dengan Kematian atau Akhirat. Urip itu… Semua masalah yang berkaitan dengan Kehidupan atau Dunia.

Jadi…
Maksud dari Sampurnaning Pati Urip, Adalah; Kembalinya segala urusan akhirat dan dunia. ke asalnya, yaitu Dzat Maha Suci.

Kesimpulannya;
Kalau Patrap Singkir dan Membaca Singkir, apapun kejadiannya, apapun yang terjadi, sudah tidak lagi menilai, sudah tidak lagi menganalisa, memeriksa, membedakan, mengecek, mengira, menduga dan semua bentuk kira’an dan sangkaan.

Karena ketika kita Singkir, semua dan segalanya itu, telah sempurna, yang artinya, kembali ke asal usul Sangkan Paraning dumadi “Inna lillaahi wa Inna ilaihi Raji’un”

Jadi, untuk apa di nilai, untuk apa di analisa, untuk apa di pilah dan di pilih, di bedakan dan di bla,,,bla,,,bla,,, lainnya, bukankah semua dan segalanya itu berasal dari Tuhan dan hanya akan kembali kepada Tuhan.

Tidak selembar daunpun yang jatuh tanpa kehendak-Nya. Apapun itu dan bagaimanapun kejadian yang terjadi, bukan untuk di nilai, untuk di analisa, di pilah dan di pilih, di bedakan.
Yang ini baik, yang itu buruk, yang ini salah, yang itu benar, yang itu wajib di tiru, yang ini harus di tinggalkan dan bla,,,bla,,,bla,,, lainnya.

Apapun itu dan bagaimanapun kejadian yang terjadi, bukan untuk di nilai, untuk di analisa, di pilah dan di pilih, di bedakan dan bla,,,bla,,,bla… Melainkan untuk di sadari.

Bahwa itu semua berasal dari Tuhan, yang cocok tidak cocok, suka tidak suka, mau tidak mau, harus di mengerti, di pahami di ketahui dengan kesadaran iman.

Sebab itu dan karena itu. Wahyu Panca Laku atau Iman yang keLima, mengharuskan kita untuk menebar Cinta Kasih Sayang-Nya. Bukan mengharuskan kita menilai atau menganalisa apa lagi membedakan.

Karena semuanya dan segalanya itu, adalah satu/sama, baik dari Tuhan, buruk juga dari Tuhan, salah dari Tuhan, benar pun dari Tuhan dll. Karena Tuhan itu Esa/Tunggal.
Jika meyakini dan mempercayai bahwa Tuhan itu Esa/Tunggal, berati kita harus bisa menyadari, bahwa salah benar, baik buruk dan semua serta segalanya itu, berasal dari Tuhan.
Jika kita mengira bahwa baik itu dari Tuhan, dan menduga bahwa buruk itu dari iblis, berati kita belum Singkir.

Sebab, dengan kira’an dan dugaan itu, sama halnya dengan menduakan Tuhan, yang artinya Tuhan itu bukan Esa dan tidak Tuhan, melainkan ada dua Tuhan. Satu Tuhan yang berkuasa menciptakan baik. Yaitu Allah. Dan satunya Tuhan yang berkuasa menciptakan keburukan. Yaitu Iblis.

Apa lagi kalau sampai mengira bahwa Singkir itu untuk menyingkirkan musuh atau saingan atau apapun yang di anggap mengancam diri. Berati… Anda bukan saja belum berIman. Tapi juga belum berTuhan bahkan tidak berTuhan.

Maaf… Ini pemahaman yang paling mendasar secara umum dan awam, yang sesungguhnya, lebih dari sekedar yang sudah saya uraikan diatas.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; DACB5DC3”
@EdanBagu
www.wongedanbagu.com
http://facebook.com/tosowidjaya

Semua Akan Indah Pada Waktunya:


Semua Akan Indah Pada Waktunya:

Oleh: Wong Edan Bagu.

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.

Semarang Jateng. Hari Rabu. Tanggal 16 Agustus 2017.

Apapun alasannya dan siapapun dia, kalau sedang laku murni menuju suci. Suatu hari di dalam lakunya itu, akan mengalami suatu hal yang mungkin terjadi di luar kehendaknya, dan di saat seperti itu, lalu mempertanyakan hal-hal yang terjadi di luar kehendak itu. Contoh;

Mengapa ini harus terjadi…?!

Mengapa Tuhan ijinkan aku mengalami semua ini…?!

Mengapa aku yang harus melaluinya…?!

Apa salahku, hingga aku harus mengalami hal ini…?!

Mengapa cobaan ini begitu berat…?!

Apa laku-ku tidak tepat…?!

Apa Doaku salah…?! Dll.

Para Kadhang Kinasihku Sekalian…

Jika ini terjadi pada dirimu, sadarilah dengan iman-mu, bahwa kita tidak sendiri. Baca baik-baik hingga selesai uraian saya di bawah ini. Dan saya akan mencotohkan diri saya sendiri.

Semua orang di dunia ini, termasuk saya sendiri dulu, pernah mengalaminya, tidak peduli dia sedang laku murni menuju suci atau tidak.

Ketika sesuatu yang buruk terjadi dalam kehidupan saya, tak henti-hentinya saya bertanya, dan menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi dalam hidup saya, serta mencoba mencari pembenaran atas diri saya.

Namun Tuhan diam. Tidak ada jawaban, tak ada tanda dari langit atau bumi, apalagi tepukan hangat di bahu atau suara lembut membisik di telinga. Tidak…!!!

Hingga suatu ketika, saya menyadari, bahwa benarlah adanya, bahwa hidup ini, adalah misteri Illahi.

Artinya, kita tak bisa memahami semua peristiwa yang terjadi. Ada kalanya, kita hanya diijinkan untuk menjalaninya tanpa perlu bertanya apa-apa.

Sebuah firman mengatakan; Tidak selembar daunpun jatuh tanpa kehendak-Nya.

Sebuah pepatah lama berbunyi; Segala yang tersembunyi adalah milik Tuhan. Dan segala yang terbuka, dinyatakan adalah urusan kita.

Para kadhang kinasihku sekalian…

kita tidak perlu mengerti semuanya. Kita tidak perlu memahami semuanya.

Jika Tuhan tidak menyatakannya, biarlah hal itu tetap jadi misteri-Nya. Biarlah hanya Dia yang tahu, mengapa semuanya harus terjadi.

Kalau toh Dia tidak menjawab, tetap saja Dia tidak berhutang penjelasan apapun pada kita, karena kita hanyalah ciptaan-Nya.

Bagaikan tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah Tuhan berhak melakukan apapun tanpa perlu menjelaskan maksud dan rencana-Nya dalam hidup kita di kehidupan ini.

Pernah naik kapal terbang..?! Atau…

Pernahkan naik kapal laut…?!

Kalau Pernah…

Apakah Anda harus kenal dengan pilotnya sebelum penerbangan…?!

Apakan Anda harus kenal sang nahkoda sebelum memutuskan untuk berlayar…?!

Tidak, bukan…?!

Mengapa demikian…?!

Karena kita yakin, sang pilot atau nahkoda, tidak akan salah arah.

Sebelum menerbangkan kita, dia pasti punya jam terbang yang cukup tinggi, sehingga dianggap mampu untuk menghadapi keadaan apapun di udara.

Bukankah demikian Tuhan kita itu…?!

Kenapa kita harus tahu semua jawaban…?!

Kenapa kita harus memahami semua…?!

Serahkan Sajalah segala kekuatiranmu itu kepada-Nya…!!!

Pasrahkan Sajalah semua ketakutanmu itu kepada-Nya…!!!

Karena DIA yang memelihara kita. Tuhan lebih dari sekedar pilot atau nahkoda berpengalaman manapun. Bahkan samudera dan badai pun diam dalam hardikan-Nya.

Jalankan saja IMAN-mu (Wahyu Panca Laku-ku)

Membersihkan Hati dari noda, lalu merawat dan menjaganya agar tidak ternoda lagi, itulah urusan kita.

Kelak, pada saatnya, kita akan mengerti, bahwa semua indah pada waktu-Nya.

Sekarang mungkin Para kadhang belum mengerti, karena belum bertemu dengan Sang Guru Sejati, tapi tidak apa. Jalani saja tanpa bertanya. Namun saat nanti, jika sudah berhasil menemui Sang Guru Sejati. Apapun itu, akan dinyatakan kepada kita, dengan penuh Cinta Kasih Sayang.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *

Ttd: Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

Telephon; 0819-4610-8666.

SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.

BBM; DACB5DC3”

@EdanBagu

http://facebook.com/tosowidjaya

http://www.wongedanbagu.com

Benar dan Baik itu, relatif:


2017-08-09_18.42.36

Benar dan Baik itu, relatif:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Semarang Jateng. Hari Kamis. Tanggal 10 Agustus 2017.

Para kadhang Kinasih,,, Tahu tidak..?! Tentang apa penyebab konflik terbesar diseluruh dunia…?!

Penyebab Konflik Terbesar di seluruh dunia, terutama pada diri pribadi kita. Adalah Benar dan Baik.

Perang dunia I dan II dll, terjadi karena masing masing membela apa yang benar bagi mereka.

Konflik keagamaan, kebudayaan, kepercayaan, bahkan jabatan, juga terjadi karena masing masing membela apa yang benar bagi mereka.

Anda berantem sama pacar Anda. Anda bertengkar dengan istri Anda. Anda berduel sama teman Anda. karena masing masing merasa benar. Begitu juga dengan yang di sebut Baik.

Ketika tulisan saya tidak menyinggung ego Anda, ketika saya menulis hal-hal yang sependapat dengan Anda, menampilkan photo rapi dan ganteng. Anda pasti mengatakan saya Baik.

Akan tetapi, ketika saya menulis hal-hal yang Anda tidak setujui, bahkan tulisan saya menyerang ego Anda, apa lagi dengan photo yang telanjang dan jelek, spontan Anda katakan saya tidak Baik.

Ketika seorang maling ayam, mencuri seekor ayam dari tetangganya, menurut dia, adalah Baik, buat si maling, tapi Tidak benar dimata hukum.

Ketika seorang pelacur menjajakan tubuhnya kepada hidung belang, menurut mereka adalah baik, buat si pelacur (karena mendapatkan uang tidak dengan mencuri atau menipu) dan bagi si hidung belang (Karena mendapatkan tubuh mulus), tapi Tidak Benar menurut norma hukum agama dan negara serta susila di masyarakat.

Masih banyak lagi benar dan baik penyebab konflik lainnya, yang intinya, inilah yang dibela sampai titik darah penghabisan oleh hampir semua orang di dunia.

Setiap Benar atau Kebenaran, adalah relatif. Begitupun dengan yang disebut Baik atau Kebaikan.

Tergantung dan Bergantung cara dan sistem melihat atau memandangnya dari sudut subyek yang mana.

Andai saja semua orang tahu, bahwa yang di sebut Benar dan yang bilang Baik itu adalah relatif. Tergantung dari sudut pandang siapa dan Bergantung dari sudut pandang mana. Wow….

Coba renungkan dengan kesadaran nalar logikanya kita….
Apa jadinya, ketika konflik terjadi, dan mereka sadar bahwa yang sedang mereka bela hingga titik darah penghabisan itu, adalah sebuah kerelatifan belaka.

Yupzzzz….
Sejak kapan sih, kita harus tau. Mana yang benar mana yang salah…?!
Mana yang baik mana yang jahat…?!
Mana yang sukses mana yang gagal…?!

Kenapa hal-hal ini selalu ada pasangannya…!?

Apakah mutlak itu juga ada pasangannya…!? Ada lawan katanya…!?

Anda akan Terjebak lamaaaaa…. Dalam Permainan Catur Dunia ini. Jika tidak BerWahyu Panca Laku (iman). He he he . . . Edan Tenan.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; DACB5DC3”

https://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com

http://facebook.com/tosowidjaya

RAHASIA DI BALIK KAMA SUTERA:


Tapa Brata

RAHASIA DI BALIK KAMA SUTERA:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Brebes Jateng. Hari Minggu. Tanggal 6 Agustus 2017.
PERINGATAN (Artikel ini Khusus Untuk Dewasa dan Sedang menjalankan Laku Spiritual – Mohon dibaca dengan seksama hingga selesai. Supaya tidak gagal Paham)

1. SIROLAH-Perjalanan dari makhluk menuju Tuhan;
Para Kadhang kinasih dan Sedulurku sekalian. Ketahuilah, manusia di sunahkan untuk hidup berdampingan dengan lawan jenis, alian lelaki dan wanita bin suami istri. Bukan hanya untuk berevolusi saja, bikin anak atau melampiaskan nafsu atau memuaskan syahwat atau berseks ria, sebab itu dan karena itu, jika pasangannya tidak cantik tak usa,,,ya, kalau pasangannya tidak tampan,,, kelaut ye. Heeemmmm…

Hubungan Seks bukan hanya Hubungan Biologis, tetapi Melibatkan Mental-Emosional, bahkan ada Peran Tuhan secara langsung dibaliknya. Hewan melakukan hubungan seks, karena instink hewaninya, karena dorongan fisik hewaninya, karena kebutuhan biologis hewaninya. Yang terjadi,,, sepenuhnya interaksi fisik hewan. Lain dengan manusia, yang menyandang gelar sebagai mahluk paling sempurna di banding mahluk lainnya.

Serendah-rendahnya kesadaran manusia, keinginan dia untuk bersenggama, untuk ngeseks, tidak semata-mata karena kebutuhan biologis. Selain fisik, terjadi pula interaksi mental-emosional antara Dzat Maha Suci dan Hidup yang berada di dalam fisik tubuh manusia.

Bila seseorang bisa melakukan hubungan seks, tanpa keterlibatan mental-emosional, dia tidak lebih baik dari hewan. Dia masih bersifat hewani. Bahkan, kendati suka-sama-suka, senang-sama senang, bila sepasang anak manusia naik ranjang, dan langsung melakukan hubungan seks. Mereka tidak lebih baik dari sepasang ayam atau sepasang anjing, apa lagi ngeseksnya di bawah pohon pisang, dan meniru gaya hewan, gel,,,hewan-lah. Maksimal Interaksi yang terjadi, hanyalah antara badan dan badan, sama seperti hewan-hewan itu.

Ingin mengenal guru sejati, agar supaya bisa makrifatullah, mengenal, mengerti, memahami dan mengetahui Dzat Maha Suci Tuhan, seperti yang di firmankan di dalam kitab-kitab, apapun nama kitabnya, jangan harap bisa, apa lagi sok aku, hanya karena hapal doanya, hadistnya, firmanya, ayatnya dan tahu caranya. Kalau seksnya tidak ubahnya hewan.

Seorang pelaku spiritual, khususnya hakikat hidup, termasuk saya. Buka berati tidak butuh seks, atau tidak ingin seks, atau menghindari seks. Bukan… sama sekali bukan. Hanya saja, bagi seorang palaku spiritual hakikat hidup, seks, bukanlah hal yang penting lagi, sudah bukan yang utama lagi, karena yang utama dan penting bagi seorang pelaku spiritual hakikat hidup. Adalah Guru sejati alias Rasul Bin Hidup, karena dengan Mengetahui guru sejati, bisa mengetahui Dzat Maha Suci seluruhnya.

Kalau harus ngeseks, maka cara seks-nya, bukan seks hewan, melainnya seks-nya manusia hidup yang berIman. Dia akan mencari waktu yang tepat untuk melakukannya, lalu bersepakat dengan pasangannya, lalu mandi terlebih dahulu, diawali dengan doanya, lalu berpakaian rapi dengan menggunakan wewangian yang nyaman, lalu bersemedi/ bersembahyang, lalu menemui dan menghampiri pasangannya, lalu mengucapkan salam, lalu berdoa bersama, laku bercumbu, baru,,, ngeseks. Di sepanjang proses ngeseksnya. Masing-masing kesadarannya terkontrol, mereka tidak lupa Tuhan, hanya karena seks tersebut, Tuhan tetap ada di dalam hatinya, dari awal hingga akhir proses seks, klimax/orgasme, sesudahnya, berdoa lagi, lalu mandi lagi, lalu bersemedi/bersembahyang lagi. Sehingganya; Selesai ngeseks. Selesai pula semua permasalahan dalam kehidupan rumah tangganya di Dunia.

Itulah kenyata’an yang saya ketahui sa’at Praktek Laku Spiritual Hakikat Hidup di TKP, dan Bukan-kah di dalam agama yang kita anut, juga mengajarkan seperti itu…?!

Para Kadhang kinasih dan Sedulurku sekalian…
Jaga dan memperbaiki kehidupan seks kalian, kalau memang benar ingin mengetahui guru sejati, supaya bisa mengenal dzat maha suci secara sempurna (kalau memang benar ingin-inna lillaahi wa inna ilaihi rojiun). Jika tidak… Jangankan guru sejati bin dzat maha suci alias inna lillaahi wa inna ilaihi rojiun. Surga Neraka saja, tidak akan kalian peroleh. Sekalipun amal ibadahmu baik dan setinggi gunung, sungguh saya telah membuktikan. Dan buktinya tidak akan bisa, karena kita bukan manusia, melainkan hewan, yang tidak memiliki guru sejati untuk menuju sempurna.

Senggama antara suami-isteri (pasangan jenis atau lawan jenis atau sesama jenis bahkan non jenis), antara sepasang anak manusia khsusunya, harus melibatkan seluruh kesadaran mereka. Interaksi fisik saja tidak cukup. Belum cukup. Harus terjadi interaksi mental-emosional. Harus ada kesadaran murni dalam cinta kasih sayang antara mereka. Harus ada rasa tanggung jawab lahir bathin dan dunia akherat.

Tidak bisa berhubungan seks dengan siapa saja, di mana saja dan kapan saja. INI Terlepas dari hukum agama dan negara, seks semacam itu, hanya membuktikan bahwa anda masih dikuasai oleh instink-instink hewani. “Anda belum cukup manusiawi” Jadi, sehebat apapun bahasa pengetahuan spiritual Anda. Anda masih belum apa-apa dan bukan apa-apa “MAAF” melainkan hewan-hewan yang keluar dari hutan belantara, lalu terjebak di tengah kota asing.

2. DATOLAH-Perjalanan bersama Tuhan di dalam Tuhan;
Al-Kisah…
Bhandasura dan Pasukannya. Berniyat mengeringkan Cairan Tubuh Manusia. Ketika kerajaan sudah mapan, Bhandasura mengadakan pertemuan dengan kedua saudara dan para menterinya. Bhandasura berkata:

Dewa adalah musuh kita, selama Kamadeva masih hidup, mereka meneruskan garis keturunan dengan baik. Mereka juga telah menikmati banyak kesenangan, karena adanya kama (nafsu).

Kini keberuntungan ada di pihak kita. Kita lahir dari abu Kamadeva. Para dewa kini tengah berupaya untuk melahirkan Kamadeva, dan peristiwa itu jangan sampai terjadi. Mari kita membunuh para dewa.

Akan tetapi, jika kita masih dalam bentuk seperti ini, kita sulit untuk menang. Mari kita mewujud sebagai angin/udara, dan memasuki tubuh mereka.

Setelah masuk ke dalam tubuh mereka, kita keringkan cairan tubuh mereka, terutama air maninya. Jika air mani tersebut mengering, maka mereka tidak bisa meneruskan keturunan, mental-emosional mereka tidak berkembang, dan juga kekuatan mereka berkurang secara otomatis!” Seluruh komandan balatentara asura bersorak dengan penuh sukacita atas ajakan Bhandasura.

Semua Makhluk Kehilangan Gairah. Bhandasura dan pasukannya kemudian mulai memasuki kepala para dewa dan mengeringkan otak mereka. Mereka juga merasuk ke dalam wajah dan merampok kecantikan dan ketampanan para dewi dan dewa. Semua pria dan wanita di surga, menjadi mandul dan menjemukan. Selain itu, para dewa-dewi juga kehilangan rasa cinta kasih sayang. Bahkan tanaman dan hewan pun, mulai mengalami nasib yang sama. Vishukra bersama rombongannya turun ke bumi, dan orang-orang di bumi, berhenti tersenyum.

Penduduk bumi kehilangan rasa kebahagiaan dan rasa hormat, menjadi seperti batu yang tidak memiliki kehidupan dan rasa perasaan. Vishanga bersama rombongannya memasuki Rasaatala dan menciptakan keadaan serupa, dari lima elemen alami.

Tanah adalah kombinasi dari semua elemen, sedangkan ruang adalah tempatnya kehidupan, sehingga elemen yang pengaruhnya sangat besar adalah air, api dan angin. Ketiga elemen tersebut membentuk “ rasa ”, cairan kehidupan. Rasa adalah awal keberadaan kehidupan. Rasa membentuk darah. Darah membentuk daging. Daging membentuk tulang. Tulang membentuk sumsum. Sumsum membentuk veerya (sperma/ovum). Dari veerya datang Kanti (cahaya), Utsaaha (antusiasme), Ullasa (kebahagiaan), Dharma (kebenaran), Daya (cinta kasih-sayang), Preeti (cinta), Buddhi (kemapuan intelegensia), Vikasa (pembangun), Parakrama (keberanian), Shastra Vijnana (pengetahuan), Kala Asakti (seni), Soundarya Drishti (ketepatan kecantikan) dan lain-lain.

Pada tumbuhan; Rasa meningkatkan energi api yang berupa potensi di dalam tumbuhan. Energi api menghasilkan bunga dan buah-buahan. Karena berpotensi api, maka kayu kering akan cepat terbakar. Veda mengatakan bahwa makhluk mengalami kebahagiaan jika “rasa” itu hadir.

Bhandasura memahami hal ini. Para asura di bawah pimpinan Bhandasura masuk ke dalam semua makhluk dan mengeringkan “rasa”. Bahkan matahari, bulan dan bintang telah kehilangan kecemerlangannya. Demikian Vasanta menyampaikan penjelasan kepada Dewi Rati, dan kemudian mengatakan bahwa sudah semakin dekat waktu Kamadeva hidup kembali. Dewi Rati segera bertapa dengan tekun.

Yang Menghuni Penciptaan tetap Kena Pengaruh. Mengalami bencana tidak punya gairah diri, Brahma dan semua dewa menghadap Sri Vishnu. Kata Viṣhṇu berasal dari Bahasa Sanskerta, akar katanya vish, yang berarti “menempati” atau “memasuki” atau “mengisi”, dan mendapat akhiran nu. Kata Vishnu kira-kira artinya sebagai berikut; “Sesuatu yang menempati segalanya”.

Adi Shankara dalam Vishnu Sahasranama, mengambil kesimpulan dari akar kata tersebut, dan mengartikannya sebagai “yang hadir dimana pun”. Mereka menemui Sri Vishnu yang berada dalam keadaan sushupti “deep sleep”.

Vishnu berkata kepada para dewa;
Ini semua adalah permainan jahat Bhandasura. Kita semua adalah causal body, dan walaupun Saya, Brahma dan Shiva mewujudkan penciptaan, kami masih terpengaruh oleh Bhandasura, karena kami masih menghuni penciptaan. Akan tetapi ada yang berada di luar manifestasi penciptaan, dia disebut Maha Shambhu dimana Parashakti terus-menerus mendampinginya. Dia tanpa bentuk, tidak tergantung dan tidak berubah. Dia tidak akan dapat dipengaruhi oleh Bhandasura. Mari kita semua menghadapnya…!!!!!!!

Lalu Para dewa memasuki Chinmaya Akasha yang bebas, murni dan bebas dari lima elemen alami. Dan mereka melihat Maha Shambhu dan Parashakti.

Maha Shambhu atau dikenal sebagai Adi Shiva adalah perwujudan dari kesadaran tertinggi. Para dewa melihat wujudnya menyerupai Shiva, memiliki tiga mata, kapala tengkorak di satu tangan dan trisula di tangan yang lain. Mereka melihat Maha Shambhu tersenyum dan mengatakan, “Walaupun tak berwujud, aku sengaja mewujud menyerupai Shiva agar dikenali kalian semua.”

Maha Shambhu berkata;
Aku paham mengapa kalian ke sini. Ada tiga macam pralaya dalam kehidupan ini; 1. Avaantara Pralaya, 2. Maha Pralaya, 3. Kama Pralaya, dan Aku bertanggung jawab menyelamatkan dunia dari Maha Pralaya.

Vishnu bertanggung jawab menyelamatkan dari Aavantara Pralaya, Lalita Parameshvari yang akan menyelamatkan dunia dari Kama Pralaya. Ketiga macam Pralaya berlangsung dalam pola siklus dalam setiap Kalpa. Kama Pralaya atau Kaamika Pralaya, telah terjadi karena matinya ‘Kama’ dan tindakan Bhandasura mengeringkan rasa. Hanya Lalitha Devi yang dapat menyelamatkan situasi saat ini. Oleh karena itu, berlindunglah dalam dirinya. Mohon Dia untuk membantu kalian.

Mendengar ini, para dewa tidak tahu harus berbuat apa, dan mohon Maha Shambhu untuk mengajari mereka, tentang bagaimana meminta bantuan Parashakti. Maha Shambhu menjelaskan bahwa mereka harus mengadakan acara ritual Maha Yaga, sebuah ritual pengorbanan lewat api. Pada saat api tersebut menyala, mereka semua harus meloncat ke dalam api. Mereka harus memiliki pengabdian mutlak. Para dewa, selanjutnya melakukan acara Maha Yaga, dan mereka semuanya meloncat ke dalam api persembahan.

Selanjutnya Parashakti Lalita Parameshvari mencipta Parambrahma (Brahma Yang Besar) dengan nama Kameshvara. Lalita Parameshvari atau sering disebut sebagai Bunda Ilahi atau Bunda Tripurasundari adalah “aku”-nya. Kameshvara adalah nama lain dari Paramashiva (Shiva Yang Besar). Bunda Ilahi menciptakan kembali seluruh alam semesta, dan membuat Kamadeva hidup kembali. Lalitha Parameshvari memiliki empat senjata. Yaitu; Ikshu Dhanus, busur dari batang tebu, disebut Pushpa Banas, anak panah dari lima macam bunga, Paasha, tali pengikat cinta kasih sayang, dan Ankusha (alat pengait gajah).

Bila dewa lain hanya memberikan blessings dengan lambang satu telapak memberi anugerah, maka Bunda Lalitha langsung bertindak dengan senjata di semua tangan untuk membantu devotinya.

Bhandasura dan Pasukannya dikalahkan Bunda Lalitha Devi beserta Pasukannya.
Demikianlah yang terjadi, Bunda Lalitha Devi (Dia yang bangkit dari api pengetahuan dan kebenaran sejati) mengalahkan “Bhandasura” (sifat “keterikatan” dalam diri). Balatentara Bunda Ilahi, membunuh Vishanga, saudara Bhanda yang merupakan keinginan untuk hal-hal yang bersifat fisik. Balatentaranya juga membunuh Vishuka, saudara Bhanda yang merupakan personifikasi dari “ignorance” ketidaktahuan. Bunda Tripurasundari atau Parashakti, adalah yang mencipta Ganesha, penghancur rintangan untuk memusnahkan hambatan “penundaan” yang dibuat oleh Vishuka.

Para Kadhang kinasih dan Sedulurku sekalian…
Itulah sejarah tentang Sperma. Itulah kisah soal mani. Hasil dari pengetahuan spiritual saya di TKP. Sperma/mani itu, yang ada di dalam diri seorang lelaki, yang disebut liquid energy. Inilah energi yang paling murni dan paling dahsyat. Energi ini pula yang membuat manusia menjadi kreatif. Sperma/mani/liquid energy yang berada di dalam tubuh manusia lelaki yang masih diberkahi/diberkati Hidup ini, yang mungkin Anda sia-siakan di setiap waktu dan tempat.

Melakukan Segala Sesuatu Sebagai Persembahan kepada Bunda Ilahi, akan menolong mereka, yang berkarya tanpa pamrih, yang melakukan segala sesuatu, sebagai persembahan/pengabdian. “Bukan aku, bukan aku!” Yang mempersembahkan, yang dipersembahi, dan persembahan itu sendiri adalah Dia.

Dari pagi hingga malam, sejak matahari terbit hingga matahari terbenam, sejak membuka mata, hingga memejamnya, menyangkut hal-hal kecil dan sepele, hingga kegiatan-kegiatan besar dan penting, lakukan itu sebagai persembahan/pengabdian. Bukan saja makanan dan minuman, tetapi bacaan, pikiran, rasa, perasaan… persembahkan semuanya kepada DIA…

Namun sebelumnya, bertanyalah kepada diri sendiri, “Patutkah kupersembahkan semua itu kepada-Nya…?! Bila kita belum memiliki cinta kasih sayang sebagai seutuhnya manusia hidup (seks hewani) Heeemmmm… jawabannya, ada pada diri Anda sendiri, sebab, yang mengetahui sistem ngeseks Anda. Ya Anda sendiri.

Persembahkan apa yang Anda miliki, termasuk segala kebencian yang selama ini bersarang di dalam hati Anda, lalu dengan jujur berucap. Ya Tuhan,,, hanyalah ini yang kumiliki. Tak ada sesuatu lain yang berharga. Tak ada sesuatu apa pun lagi yang kumiliki, berkenanlah untuk menerima apa yang kumiliki ini. Dan, Anda pun akan kaget sendiri, bahwa dalam kejujuran itu, kebencian Anda seketika berubah menjadi cinta kasih sayang.

3. SIPATOLAH-Mengalami Tuhan/bersama;
Seks adalah sesuatu tindakan yang magis . Sebab pada hakikatnya, perilaku seks adalah mengelola energi universal, energi alam dan energi individu. Ketika kita berbicara tentang seks yang mistis, kita berbicara tentang pengetahuan menggunakan energi seksual dalam diri kita, agar mampu kita menej untuk bersatu dengan Ilahi (manunggal). Ada beberapa gembox dalam hal ini, yang selama ini di ingkari oleh hampir semua manusia, karena alasah hina dan memalukan, dan kunci untuk mengetahui gembox itu, Adalah, mengakui bahwa kita adalah seks.

Rasa dan Perasaan seksual itu, bukan sesuatu yang terpisah. Seks adalah diriku dan diriku adalah seks. Marilah kita kaji hubungan intim antara seksualitas dan ekstase mistik ini dengan iman. Kesenangan seksual sesungguhnya selalu bersifat ruhani. Tetapi budaya kita telah menyempitkan makna seks itu ke satu tindakan reproduksi, mekanistis, kadang-kadang hanya untuk menuruti hasrat kelamin saja, dan sangat sedikit kasus, dengan kenikmatan yang luar organik, hingga mencapai tahap emosional, dan seterusnya.

1. Bagi orang-orang awam. Seks adalah reproduksi, mekanistis. Kuncinya adalah bagaimana caranya agar dianggap syah oleh lingkungan dan bangsa serta segaranya, supaya tidak di anggap kumpul kebo atau zina.

2. Bagi orang-orang awam yang ingkar. Seks adalah pelampias/pemuas syahwat/nafsu kelamin. Kuncinya adalah bagaimana mampu menghadirkan Tuhan di dalamnya. Kuncinya adalah bagaimana mendapatkan pasangan yang cantik/tampan dan seksi/gagah serta 123456789 jumlahnya jika masih kurang memuaskan servisnya.

3. Bagi kalangan spiritual. Seks adalah pengabdian, ibadah, dan kepasrahan. Kuncinya adalah bagaimana mampu menghormati dan menghargai serta berEtika di dalamnya.

4. Bagi para mistikus, seks adalah seni, puisi, musik, ekstasi. Kuncinya adalah bagaimana mampu mengelola energi seksual. Dalam energi itu, terletak wujud citra diri ideal. Maksudnya; Kepribadian seorang manusia lelaki dan wanita yang sempurna.

5. Bagi orang-orang suci, khususnya pelaku hakikat hidup. Seks adalah laku spiritual untuk bersua dengan Shang Hyang Dzat Maha Suci. Kuncinya adalah sebagaimana mampu kesadarannya, menguasai diri secara lahir bathin, dalam mengelola energi untuk menghadirkan dzat maha suci, sejak awal proses hingga akhir prosesnya.

Banyak dari kita sudah tahu, bahwa seks itu, sebenarnya sesuatu yang harus disinari dengan kebijaksanaan. Di dalam hubungan seks, sering terjadi pengalaman yang ajaib, mistis dan artistik. Kita bisa mulai menghargai keindahan tubuh pasangan sebagai manifestasi Kemaha sempurnaan Ilahi, sebagai ungkapan dari batin yang terdalam. Lelaki/Wanita kita menghadirkan Tuhan di dekat kita. Dan Tuhan akan mengekspresikan kekuatan internal bahwa manusia ada dalam jangkauan-Nya.

Kesenangan seksual pada hakikatnya, adalah momen terbesar yang intensif, yaitu saat ruh kita dan Ilahi menyatu dalam manifestasi fisik. Pengetahuan tentang seks yang magis ini, dalam sejarah telah diajarkan secara rahasia di tempat-tempat ibadah. Oleh sebab itu, seks adalah merupakan sebuah laku yang menekankan pentingnya eksistensi subjek, dan yang harus ditangani secara serius agar dapat mencapai kesempurnaan.

Sangat disayangkan bila seks hanya dimaknai secara fisik biologis belaka. Bila ini terjadi, kita hanya menjadi pesenam seks. Seks sejati adalah laku spiritual memasukkan kebersihan hati kedalam kepekaan batin, untuk saling merangsang pintu-pintu energi supranatural.

Untuk melakukan seks yang bermutu tersebut, kita harus mengubah cara kita berpikir dan merasa. Manusia modern, dan khususnya yang tinggal di Barat, perlu memodifikasi struktur pemikirannya, yaitu rasa dan perasaan, untuk masuk ke dalam dunia hati dan batin, di mana terletak hakikat pengetahuan dan pengalaman langsung untuk bermesraan dengan Ilahi.

Pengalaman langsung tidak memerlukan evaluasi, atau argumen, tidak memihak, tetapi integrasi sistem ruhani kita. Ide yang absurd bila hubungan seksual hanya linier, di mana masing-masing pasangan mencari sesuatu yang disebut ORGASME. Tapi yang perlu diingat bahwa sesungguhnya momen kegembiraan terbesar dalam pengalaman seks, adalah mencapai yang tidak terbatas, dan yang tidak bisa dimaknai oleh kata-kata.

Inilah kenikmatan seksual sesungguhnya. Ecstase adalah pengalaman berkomunikasi dengan sesuatu yang mistis dalam satu waktu. Seks dan Ekstase adalah dua sisi dari hal yang sama. Energi yang diproduksi ekstasi seksual, adalah sama dengan energi yang mengarah pada ekstase mistik.

Energi seksual, adalah gambar/esensi/lukisan kesempurnaan kita, sebelum wujud kita di cetak, sebagai manusia yang dalam tradisi mistik Kabbalah disebut “Adam Kadmon atau Asma Sejati.” Sehingga sangat bijaksana bila kita tidak membuang percuma energi seksual, dan memaknai seks sebagai bentuk kendaraan batin menuju ke yang lebih tinggi, hingga tumbuh kesadaran dari dalam tubuh bagian dalam kita, (hati dan batin kita atau ruh dan Ruh kita).

Setelah mengetahui dan memasuki tubuh batin ini, seorang yang bermain seks akan memasuki dimensi universal kehidupan umat manusia secara keseluruhan, yang sama sekali tak dikenal sebelumnya. Namun kristalisasi manusia baru ini, adalah semua ciptaan, ciptaan yang menyerupai pembentukan alam semesta, karena kita adalah alam semesta.

Pengalaman seksualitas sebagai penggabungan ruh menjadi satu Ruh dengan pasangan kita, memungkinkan kita untuk bergabung dengan “ hati dan bathin” / rasa pangrasa Tuhan. Yang Maha Bathin. Kita akan terbang menuju alam keabadian. Kuncinya adalah tidak hanya mengelola dan menyalurkan energi ke dalam prosenya, tetapi membutuhkan kondisi yang berbeda dari pikiran sehari-hari. Yaitu kesadaran murni.

Jadi kita beralih sebentar untuk bicara tentang perubahan memaknai kembali pikiran dan perasaan. Karena hal ini juga, mensyaratkan bahwa kita mencintai, mengasihi dan menyayangi pasangan kita, bukan karena perlu klimax atau butuh argasme, sehingganya, di dalam proses ada rasa salin menghormati dan menghargai pasangan (tidak egois atau menang sendiri atau cari enak sendiri), karena seks bukan senam seksual. Bukan ajang atau arena untuk beratraksi menunjukan kejantanan atau kewanitaan.

Dalam khasanah Yoga, berhubungan seks, berarti kita sedang bekerja sama dengan “ular suci dan Ibu Kundalini”, yang bersemayam di dalam tulang ekor, cakra dasar, sehingga kita merasakan panggilan dari Yang Maha Mutlak untuk memanunggalkan Kawulo lan Gusti.

Jadi kita perlu menekankan, bahwa seks tidaklah melepas energi seksual secara gegabah. Seks bukanlah hanya memasukkan alat kelamin ke pasangan, dengan beraneka ragam gaya, sebagaimana pandangan orang Barat, yang tidak meyakini adanya ruh dan Ruh, tidak yakin adanya Tuhan. Jadi tidak salah bila disebut bahwa orang Barat sebenarnya tidak mengetahui apa hakikat orgasme. Yang mereka ketahui hanyalah perasaan menyenangkan pasca-orgasme. Tapi tidak semua orang barat seperti itu. Buktinya… ada Buku Bimbingan Laku Spiritual Hakika Hidup “Kunci The Power” karya saya. Tersebar di Barat sejumlah hampir tiga ratus buku. Sejak awal hingga sekarang, kalau setiap pemegang buku menyampaikan kelainnya sepuluh orang saja, atau lebih… berati sudah banyak jumlahnya.

Sementara bagi orang Timur seperti kita, yang percaya adanya Tuhan, maka tidak salah bila dikatakan bahwa seks tidak boleh hanya di maknai sebagai berejakulasi/orgasme/klimax saja, melainkan harus menjaga dan mempertahankan air mani, jika harus keluar, tidak di sembarang waktu dan tempat, caranyapun dengan laku spiritual/iman, bukan dengan pengalaman nonton vidio seks. dan yang lebih penting lagi, adalah sikap internal hati dan external bathin kita, yang memungkinkan kita, menggabungkannya dengan semua unsur di alam semesta…

Mengubah air mani menjadi energi laku spiritual yang kreatif, menghaluskan, memperkokoh tulang belakang, mengisi aura dengan percikan bunga api Ilahi, untuk memulai proses penciptaan alam semesta. Pengaturan seks dengan kesadaran murni ini, membawa kita untuk mengkristalkan tubuh astral agar bercahaya. Bukan-kah Agama-Agama yang kita anut selama ini, juga mengajarkan aturan atau tata kramanya orang bersetubuh/senggama…?!

Tubuh astral yang saya maksud di atas, atas tengah dan bawah badan kita ini, sudah merupakan desain kodrat energi seksual pada diri manusia, sebab itu, ketika alat kelamin terbangun, maka kita telah memulai regenerasi dan pembentukan badan astral tersebut. Dalam sebuah tindakan seksual, masing-masing mitra gaib ini, menjadi magnet. Pleksus adalah beban yang kemudian akan meningkatkan pertukaran sentuhan. Pentingnya mencapai eksitasi, agar kita mampu menghaluskan jiwa, dan membuka pikiran ke kuasa hidup kita pada dzat maha suci, sehingga Dia mulai mengisi energi bathin pada masing-masing pasangan.

Pembukaan emosional yang sempurna, maksudnya berbungkus kesadaran murni, akan menempatkan hubungan seks yang menggairahkan. Ini adalah pintu gerbang ke alam surga. Rasa dan Perasaan ini, adalah makanan ruhani dan kebutuhan jiwa kita, yang akan menjadi energi terbesar menghadapi kehidupan di alam nyata.

Seseorang harus mencapai orgasme saat melakukan hubungan seksual, tak kenal lelah dengan di dahului dengan rangsangan refleks belaian, penuh kesadaran cinta kasih sayang dan kelembutan iman.

Pemeliharalah hal ini dan singkirkan pikiran seks yang seperti hewan. Pertahankan seks sebagai hal yang murni spiritualitas, layaknya tindakan seks itu adalah sebuah upacara keagamaan yang sejati. Inilah pengetahuan saya tentang seks yang batiniah, yang berhasil saya dapatkan, saat berpetualang tempo dulu. Seks magis antara suami dan istri, di dasarkan pada unsur potensi seks. Ada hormon paten atau vitamin yang diperlukan untuk hidup, tapi benar rasa perasaan kau dan aku, dan oleh karena itu, pertukaran yang paling baik, adalah adanya pertukaran rasa afektif erotis, antara lelaki dan wanita.

Memang seseorang awalnya cukup kesulitan belajar Seksual Magis seperti ini, seperti halnya saya dulu. Dulu,,, untuk memperoleh ilmu pengetahuan super rahasia ini, berbagai seks pernah saya lakukan, mulai dari pasangan jenis, sesama jenis, hingga yang bukan sejenis, seperti onani, hayal, bahkan dengan hewan. Sungguh Tidaklah mudah belajar tentang seks magis atau seks murni. Tapi bukan berati Anda harus meniru masa lalu lelaku saya lo… Bukan. Ini hanya sekedar info sebagai penambahan wacana pengetahuan anda, anda tak perlu meniru saya, karena anda memiliki laku pribadi sendiri.

Jadi… Cukup Dengan Wahyu Panca Ghaib yang di Jalankan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Yang Artinya dan Maksudnya. Membersihkan Hati dan kelamin pless menjaganya. Selesai… Tidak perlu neko-neko dan macem-macem seperti lelaku saya dulu, sewaktu masih dalam proses pencarian. Cukup saya saja. Semuanya sudah saya tebus. Panjenengan tinggal membersihkan hati dan kelamin, lalu menjaganya dengan Wahyu Panca Ghaib yang di Jalankan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku.

Ketikan kelamin ereksi/tegang. Apabila energi seks mulai bangkit dan terkumpul, ghairah dengan hasrat seks yang menggebu-gebu, maka wilayah yang paling sensitif, yang berupa saraf, mengalir mempengaruhi bawah sadar. Badan terasa panas, jantung berdegup kencang, nafas berat dan laju, fikiran sangat fokus, tidak lagi memikirkan perkara lain dan sebagainya, selain soal orgasme/klimax. Ini adalah tanda-tanda energi seks sedang meningkat dan membesar serta berkumpul menjadi satu kesatuan yang kuat. Dan hampir atau nyaris tidak ada manusia yang mampu menghindarinya, apa lagi menolaknya. Prosesnya, energi ini, akan terkumpul semuanya di air mani, yang mana kemudian akan ‘terbuang’ keluar dari badan kita.

Namun Sungguh sangat di Sayangkan sekali, sangat kurang orang yang mengetahui akan memanfaatkan energy seksual ini. Energy seksual ini bisa mengahasilkan kesehatan, kemakmuran, keselamatan, keberhasilan dalam mengatasi sebuah masalah, meningkatkan kesadaran murni laku spiritual, bahkan kemanunggalan kawula gusti secara sempurna. Umumnya, energy seksual ini, hanya terbuang mubazir, sia-sia dalam kenikmatan badan yang hanya berlangsung beberapa saat ketika mencapai orgasme. Paling bermanfaat, hanya sekedar untuk menanam benih ke rahim, agar terlahir sang ahli waris atau keturunan, jika tidak, dianggapnya kurang sempurna bahkan tidak sempurna.

Padahal… ‘Energy flows where attention goes’. Energi mengalir di mana perhatian pergi. He he he . . . Edan Tenan. Semua masalah persoalan dunia, sepekik dan serumit serta sengeri dan separah apapun, bisa di selesaikan dalam kurun waktu beberapa detik saja, yaitu Orgasme/Klimax dari sebuah energy seksual ini. Tapi bukan asal orgasme/klimax dan caranya bukan cara seks hewan. Melainkan Orgasme/Klimax yang di hasilkan dari sebuah laku spiritual dengan kesadaran murni secara internal dan external, dan sadar sesungguhnya, tergantung pada suasana jiwa kita. Organ intim yang berupa lilin astral ini, harus benar-benar bebas dari segala macam kemunafikan, kefanatikan, penolakan, dan devaluasi kehidupan dalam segi apapun.

Kesimpulannya:
Cinta Kasih Sayang, yang merupakan urutan kelima dalam dimensi Wahyu Panca Laku atau IMAN. Adalah kunci yang dapat membuka gembox pintu kesempurnaan sejati. Minimalkan kerugian dengan menganggap seks itu hanya sekedar rekreasi (hiburan) kebutuhan syahwat/nafsu kelamin, dan prokreasi (mendapatkan keturunan).

Karena Seks yang sesungguhnya, adalah kehangatan energi cinta kasih sayang Dzat Maha Suci yang Maha Dahsyat Sempurna-Nya, yang mengejawantahkan sebagai diri kita, menjadi manusia sejati. Maka… Seks itu Laku Suci-Laku Murni. Karena di dalamnya terdapat pengelolaan kesadaran murni, untuk membuka jalur ruhani (kawula gusti kita) dalam menuju Ruh alam semesta, dan jalur khusus bebas hambatan dan syarat apapun, bagi Ruh Suci/Guru Sejati/Hidup yang lebih di kenal dalam istilah Laku-nya sebagai Asma Sejati (kontho/kanthi warno/warni atau rupo/rupi), menuju Dzat Maha Suci asal usul kita secara sempurna, tanpa proses, tanpa habatan apapun.

Campuran kecerdasan spiritual kerinduan seksual dengan antusiasme ruhani, datang bagaikan sihir, tak terduga, dan sukar di tolak atau di kuasai, kesadaran magis Inilah, jalan rahasia yang mengarah untuk pelepasan ruh dan Ruh (kawula gusti) kita, kelak jika ajal telah tiba. Inilah yang disebut belajar mati sedurunge mati atau belajar mati sak jeroning urip. Inilah yang di sebut Kitab Kama Sutera, yang di kemas dengan sebutan skaral Serat Sastra Jendra Hayuning Rat Pangruwating Diyu, agar terkesan tidak saru dan tidak mudah di ketahui serta rahasiakan sepanjang sejarah selama ini. Inilah yang di sebut-sebut sebagai Aji Mundi Jati Sasangka Jati. Puncaknya segala lelaku dan laku serta Imu dan Spiritual Tinggal Tinggi/Pungkasan.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; DACB5DC3”
https://putraramasejati.wordpress.com/
http://facebook.com/tosowidjaya
http://webdjakatolos.blogspot.com/