PETUNJUK DAN BIMBINGAN SPIRITUAL HAKIKAT HIDUP.  DALAM LAKU MURNI MENUJU SUCI “KUNCI THE POWER” Level Satu (Untuk Menjaga Hati):


PETUNJUK DAN BIMBINGAN SPIRITUAL HAKIKAT HIDUP. DALAM LAKU MURNI MENUJU SUCI “KUNCI THE POWER” Level Satu (Untuk Menjaga Hati):
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Semarang Jateng. Hari Rabu. Tanggal 30 Agustus 2017.

Patrap Samadi “MIJIL SOWAN”
Pengertian MIJIL SOWAN:
Mijil Sowan. Adalah Praktek Mengabdikan Diri kepada Dzat Maha Suci Hidup, dengan penuh kesadaran rahsa yang sadar Wahyu Panca Laku atau IMAN.

Maksudnya…
Mijil sowan itu, merupakan praktek pengabdian seorang mahluk kepada Tuhan-nya, atau seorang hamba kepada Tuan-nya, atau seorang abdi kepada Raja-nya.

Di patrap mijil sowan inilah, seorang Putro, ber kesempatan, untuk bersua, atau berkomunikasi, atau bercengkrama, dengan Romo nya.

Sebab karena itu, proses cengkoknya wajib di mengerti, dan endingnya wajib di pahami, serta klimaxnya wajib di ketahui, oleh seorang putro romo, yang sedang laku murni menuju suci.

Agar tepat sasaran, maksudnya, tidak melesed dari yang di tuju, yaitu Dzat Maha Suci Hidup, supaya bisa bersua, atau berkomunikasi, atau bercengkrama, dengan Romo nya.

PRAKTEKNYA:
Langkah Pertama Adalah;
Patrap PALUNGGUH PAMBUKA.

Pengertian Palungguh Pambuka;
Palungguh Pambuka, adalah upaya menenangkan rasa yang tidak nyaman dan perasa’an, yang tidak tenang, akibat dari pengaruh, bercerai berainya empat anasir atau sedulur papat kita, agar supaya, mau menunggal atau kembali menyatu, menjadi satu kesatuan, seperti takdirnya semula, dengan tenang dan nyaman.

CARA DAN TEKNIKNYA:
Setelah berada di tempat atau ruang semedi, dalam keada’an duduk siap patrap bersamadi, tempelkan telapak tangan kanan, ke dada sebelah kiri, dimana terdapat detak jantung. Lalu baca “PALUNGGUH PAMBUKA” 3x.

“PALUNGGUH PAMBUKA”
Sedulur Papatku.
Lungguho ingkang prayugo.
Ragane arso tentrem.
Sun sangoni basuki.
Kalis ing sambikolo.
Kanti teguh rahayu selamet.

Patrap Palungguh

Bacalah hingga berulang ulang kali, sampai mendapatkan rasa tenang dan nyaman atau plong, jikalau mengalami kesulitan, maksudnya;
Sudah berkali kali membaca Palungguh pambuka, namun tetap tidak bisa tenang juga, maka praktekan metode ini;
Buka Mata hati atau bathin, buka mata lahir, bebaskan semua Panca indera, pikiran, angan-angan, jangan sampai ada satupun tekanan atau beban, bebaskan dan merdekakan.

Semisal contoh;
Mungkin, pikiran atau angan-angan, teringat hal-hal di luar sana, seperti ingat pekerja’an, teman, pacar, anak, isteri, suami, hutang, motor, mobil dll.

Biyarkan dan bebaskan, serta merdekakan, untuk beberapa menit lamanya, lalu…

Segera tundukan kepala, tundukan pula ego pamrih arogan kita, tanggalkan semua bentuk takut dan keraguan serta kebimbangan kita.

Kemudian dengan penuh kesadaran rasa yang sadar, katakanlah secara lirih atau perlahan dan jujur serta apa adanya. Seperti Contoh Di Bawah INI;
“(Tuhan… Saya salah, saya dosa, saya memang salah ya Tuhan….
Saya memang dosa, sungguh saya bodoh, tidak mengerti apa-apa, tidak paham apa-apa, tidak tahu apa-apa, tidak bisa apa-apa, tapi saya selalu sok ngerti, sok paham, sok tahu, sok bisa, sok pintar.

Padahal saya bodoh dan dungu, goblog, tidak punya kuasa apa-apa dan tidak bisa apa-apa, kini saya sadar dan bertaubat serta berserah diri hanya kepada-Mu wahai yang Maha Segalanya, sesembahanku yang tiada duanya…

Saya Serahkan dan saya Pasrahkan anak-anakku, istriku, atau suami-ku, atau pacarku, atau kekasih-ku, keluarga-ku, saudara-saudari-ku, masalah-ku, keperluan-ku, kepentingan-ku, kebutuhan-ku, hutang-hutangku, jiwa raga-ku, dunia akherat-ku, hidup mati-ku dan semuanya serta segalanya tentang-ku.

Saya serahkan dan saya pasrahkan hanya kepada-Mu wahai Dzat Maha Suci Hidup sesembahan-ku yang tunggal dan maha segalanya.

Sungguh saya tiada daya dan upaya apapun jika tanpa-Mu, mulai sekarang, semua dan dan segalanya, terserah-Mu, apapun keputusan-Mu, aku terima.

Mulai saat sekarang ini, saya akan tunduk dan turut hanya kepada-Mu saja Romo….

Karena saya berasal dari-Mu dan Milik-Mu, maka saya akan mengabdi dan kembali hanya kepada-Mu.

Atas kebodohanku ini, engkau jadikan apapun diri ini, di dunia dan di akherat nanti, saya tetap siap sebagai abdi setiamu)”

KETERANGAN;
Bahasa yang saya contohkan diatas, bisa diubah sesuai sikon pribadi masing-masing, dan gunakanlah bahasa yang paling di mengerti, misal bahasa suku setempat, yang pasti, kurang lebih intinya seperti yang saya maksud dalam contoh diatas.

Lalu Diam…
Jikalau kita bisa berkata Jujur apa adanya kepada Dzat Maha Suci hidup, dan sungguh-sungguh pasrah dan berserah diri lahir dan bathin, serta bertaubat kepada Dzat Maha Suci hidup, seperti yang sudah saya contohkan diatas.

Maka pasti air mata akan menetes, berlinang, membanjiri kedua pipi, bahkan dada, hingga kedua kaki yang sedang bersimpuh.

Jika air mata mulai menetes, diawal atau di pertengahan ungkapan seperti yang saya contohkan diatas, jangan tunggu lama lama, cepat ucapkan terima kasih Romo,,,, dalam hati.

Sembari merasakan dan menikmati serta menghayati tangisan bahagia atas pengampunan tersebut.

Terus dan terus rasakan, nikmati dan hayati lebih dalam, dan lebih dalam lagi, sampai terasa plong, sampai lega, dan siap melanjutkan langkah kedua, yaitu;

Patrap KUNCI;
Kemudian lakukan patrap Kunci, dengan tetap duduk rileks dan santai menikmati rasa nyaman dan tenang, hasil palungguh tadi.

Lalu Satukan dan pertemukan kedua telapak tangan, dan letakan tepat didepan wajah, kedua ibu jari, menempel tepat dibawah kedua lubang hidung, namun tidak menutupi lubang hidung, sedangkan kedua jari telunjuk, tepat berada di tengah kening atau diantara kedua alis, sementara kedua siku tangan, lurus sejajar dengan pundak atau bahu.

Patrap Kunci

Lalu baca “KUNCI” 7x.
“KUNCI” Untuk Lelaki;
Gusti ingkang moho suci.
Kulo nyuwun pangapuro dumateng gusti ingkang moho suci.
Sirolah datolah sipatolah.
Kulo sejatine sateriyo.
Nyuwun wicaksono nyuwun panguwoso.
Kangge tumindake sateriyo sejati.
Kulo nyuwun kangge hanyirna’ake tumindak ingkang luput.

“KUNCI” Untuk Wanita;
Gusti ingkang moho suci.
Kulo nyuwun pangapuro dumateng gusti ingkang moho suci.
Sirolah datolah sipatolah.
Kulo sejatine wanito.
Nyuwun wicaksono nyuwun panguwoso.
Kangge tumindake wanito sejati.
Kulo nyuwun kangge hanyirna’ake tumindak ingkang luput.

PENJELASAN;
Bacalah Kunci secara perlahan dan santai atau rileks, jangan terburu-buru, hayati setiap kalimat yang terbaca dalam hati atau dengan lisan, dengan penghayatan rasa yang sadar.

Ingat…!!!
Dengan penghayatan rasa, bukan dengan perasa’an “sebab” di antara celah-celah baca’an Kunci, ada Wahyu Panca Laku atau iman.

Yaitu;
Sipatnya Kunci adalah “Pasrah Kepada Dzat Maha Suci Hidup” dan Sikapnya Kunci adalah “Manembahing Kawula Gusti”

Yang proses cengkok dan endingnya, harus kita mengerti dan kita pahami serta kita ketahui.

Agar supaya kita bisa mengerti dan bisa memahami serta mengetahui, apa yang di sebut Kunci? Dan bagaimana maksudnya Kunci?

Sekali lagi ingat…!!!
Patrap Kunci itu, pada hakikatnya, adalah;
Pasrah Kepada Dzat maha Suci Hidup dan Manembahing Kawula Gusti.

Karena sebab itu, cara bacanya jangan terburu-buru, harus tawaduk, sopan santun, tata-titi-surti ngati-ati, santai, pelan dan penuh penghayatan rasa yang sadar, maksudnya, menggunakan kesadaran rasa yang sadar, bukan melamun atau berhayal.

Semakin di hayati, akan semakin terasa prosesnya, yang detik demi detiknya, menjalar di sekujur tubuh kita, mengalir bersama aliran darah kita.

Terus rasakan, dan rasakan lebih dalam getarannya, di barengi dengan membaca Kunci, hingga selesai 7x.

Langkah Ketiga…
Adalah Patrap PAWELING;
Setelah selesai membaca Kunci 7x. Robah Patrap Kunci, menjadi Patrap Paweling, caranya;
Dengan tetap rilek dan santai serta sadar akan penghayatan rasa, turunkan kedua tangan secara bersama’an dan perlahan, ke dada, hingga berada tepat di tengah dada.

Patrap Paweling

Lalu baca “PAWELING” 3x.
“PAWELING”
Siji-siji – loro-loro – telu telon nono.
Siji sekti – loro dadi – telu pandito.
Siji wahyu – loro gra’trahino – telu rejeki.

PENJELASAN;
Setelah selesai membaca Paweling 3x.

Lalu diam sejenak.
Rasakan Getaran dari tekanan kedua energi yang ada di kedua telapak tangan, dengan tetap penuh penghayatan rasa, terus rasakan dan rasakan terus, hingga beberapa waktu lamanya.

Ingat…!!!
Sipatnya Paweling adalah; “Menerima Keputusan Dzat Maha Suci Hidup” Dan Sikapnya adalah “Manunggaling Kawula Gusti” artinya, harus benar-benar merasakan kemanunggalannya kawula dan gusti tersebut, yang sedang menerima apapun dari dzat maha suci hidup.

Jika kita mampu berhasil, menghayati getaran dari tekanan, kedua energi positif dan negatif, yang ada di kedua telapak tangan kanan kiri kita, maka kita akan mengerti, memahami dan mengetahui kemanunggalan kawula gusti kita.

Langkah Ke’empat…
Adalah “Patrap MIJIL SOWAN”
Setelah merasa cukup dalam merasakan proses cengkok dan ending serta klimaxnya Paweling, yang berhakikat Menerima Keputusan dzat maha suci hidup dan Manunggale kawula gusti.

Lalu robah patrap Paweling menjadi Patrap Mijil, dengan cara, tetap rileks dan santai, geser tangan kiri ke samping pinggul kiri. Ibu jari tangan kiri, menempel pada tulang rusuk yang paling bawah, yang paling pendek, sedangkan jari telunjuk tangan kiri, lurus mengarah ke pusar perut atau wudel, sedangkan tangan kanan, tetap berada di posisinya semula.

Patrap Mijil

Lalu baca “MIJIL SOWAN” 1x.
“MIJIL SOWAN”
Asmo sejati….
Jeneng siro mijilo.
Panjenengan ingsun kagungan karso.
Arso sowan ing ngarsane.
Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono.
Arso sowan bade nyuwun tambahe pangestu lan pengayoman.
Ugo sedoyo ingkang kulo aturaken.
Sageto kelaksanan kanti teguh rahayu slamet.

KETERANGAN;
Tanda titik-titik di Mijil atau Palungguh PANUTUP, yang ada di level satu dua dan tiga ini, di isi Asmo sejati-nya, bagi yang sudah memiliki Asmo sejati, namun bagi pemula, yang belum memiliki Asmo sejati, tanda titik-titik di isi dengan Asmo sejati, seperti yang saya contohkan pada kalimatnya, karena kalimat Asmo sejati itu, adalah sabda sementara, bagi yang belum memiliki atau belum mempunyai Asmo sejati.

PENJELASAN;
Setelah membaca mijil sowan 1x. Lalu Diam…
Gunakan kesadaran rasa yang sadar, untuk menerima, merasakan, menghayati dan mengikuti, apapun dan bagaimanapun proses, yang terjadi setelah membaca mijil sowan.

Ingat dan jangan sampai lupa, bahwa Sipatnya mijil adalah ” Merasakan kenyataan dzat maha suci hidup” dan sikapnya adalah “Sampurnaning kawula gusti” jadi, apapun proses yang terjadi, jangan sampai ada yang terlepas dari penghayatan rasa yang sadar.

Misal contoh;
Ada proses tangan terasa bergetar, maka, langkah awal, ucapkan terima kasih Romo… Dalam hati.

Setelah mengucapkan terima kasih, selanjutnya, rasakan, nikmati dan hayati getaran tangan tersebut, jika getarannya bergerak, ikuti gerakannya, dengan menggunakan kesadaran rasa yang sadar, maksudnya;
Tidak melamun, tidak berhayal, tidak nebak nebak, atau mengira ngira, cukup rasakan, nikmati dan hayati proses kejadiannya, dengan kesadaran rasa yang sadar.
Proses ini, disebut sebagai mbekso, mbekso adalah;
Merupakan face, di mana hidup, sedang menunjukan kuasanya atas diri kita, dan menguji kita, akan seberapa rela atau legowo nya kita, kepada hidup, ketika hidup menggerakan tubuh kita, dengan kuasanya, yang tidak kita kehendaki.

Sebab itu, apapun prosesnya, tidak usah di pikirin, di tebak tebak, di kira kira, di sangka sangka, apa lagi di tolak, cukup rasakan, nikmati, hayati dan ikuti, sampai proses ini, selesai dengan sendirinya, tanda selesainya, telapak tangan kanan, secara otomatis, akan melakukan patrap Palungguh sendiri.

Nah…
Jika sudah Palungguh sendiri, berarti patrap samadinya, sudah selesai, sudah berhasil, lalu… bacalah Palungguh Panutup hingga tiga kali berturut turut.

Patrap Palungguh

“PALUNGGUH PANUTUP”
Asmo Sejati….
Lungguho ingkang prayugo.
Ragane arso tentrem.
Sun sangoni basuki.
Kalis ing sambikolo.
Kanti teguh rahayu selamet.
Dibaca… 3x.

Dan SELESAI.

KETERANGAN;
Tentang selesai dan berhasil ini, bagi pemula, hanya akan mendapatkan rasa tenang, aman, nyaman, plong, enak, bahagia alias Tentram, selain itu, mungkin tidak mengerti apa apa, tidak memahami apa apa dan tidak mengetahui apa apa, namun bagi yang sudah ahli, akan mengerti, memahami dan mengetahui hakikatnya selesai atau berhasil atau sukses, secara nyata dan riyil adanya. Maka…

Terus Lakukan Latihan Patrap Mijil Sowan ini, setiap hari atau tiap malam dengan MERDEKA, tanpa terikat waktu dan arah menghadap, di saat Bersamadi, sebanyak 7 X, berturut turut.

Sampai benar-banar mengetahui, ending dan klimaxnya, Mijil Sowan, yang sangat luar biasa, seperti yang sudah saya maksud, dalam uraian diatas pelajaran, mempraktekan teknik laku murni menuju suci ini.

Intinya…
Di dalam Patrap Semedi Mijil Sowan, adalah mempelajari rahsanya cengkok dan ending serta klimaxnya sipat dan sikapnya Wahyu Panca Ghaib, yaitu;
Wahyu Panca Laku atau Iman.

Agar supaya bisa merasakan dan menikmati dengan rahsa syukur, Kemanunggalan atau Kesatuan Dzat Hidup dan Maha Hidup di dalam kedirian kita, secara nyata dan riyil, sehingganya, kita bisa bersua, atau berkomunikasi, atau bercengkrama, dengan Romo, tentang suatu hal apapun.

Dan dengan selalu bisa bersua, atau berkomunikasi, atau bercengkrama, dengan Romo, kita tidak butuh lagi, ilmu pengertian, ilmu pemahaman dan ilmu pengetahuan apapun dari luar diri kita, sebab karena, sudah mendapat ilmu pengertian, ilmu pemahaman dan ilmu pengetahuan dari Romo, yang ada di dalam diri kita.

Dengan begitu, kita akan selalu memperoleh alias mendapatkan tuntunan hidup, dari hidup itu sendiri, secara riyil dan nyata, serta benar benarnya benar, bukan katanya apapun dan siapapun di luar diri kita,

Sehingga…
Kita bisa menyempurnakan kehidupan lahir dan bathin kita sendiri, serta semuanya dan segalanya, yang terkait dengan diri pribadi kita, seperti anak, istri, keluarga tetangga dan semesta alam ini, termasuk kepentingan, kebutuhan, keperluan dan masalah apapun itu, dengan sangat indah.

Yaitu;
Kesempurnaan sejati atau sejatinya kesempurnaan.
Apa itu Kesempurnaan sejati atau Sejatinya kesempurnaan…?!
Kok sebegitu pentingnya…!!!

Sejatinya kesempurnaan adalah;
Kemewahan dalam kehidupan di dunia ini, dan keindahan dalam kehidupan di akhirat nantinya, yang di ingini oleh semua makhluk hidup, dan sedang di buru atau di cari serta di kejar kejar oleh seluruh makhluk hidup, dengan berbagai macam, caranya masing masing, yang di yakininya, dan sejatinya kesempurnaan atau sebenar benarnya kesempurnaan inilah, dzat maha suci hidup, yang menjadi titik finis intisari pati tujuan dari laku murni kita.

Tekniknya bagaimana Pak WEB…?!
Tekniknya Mempraktekan, atau mengibadahkan atau menerapkan Wahyu Panca Ghaib, dengan menggunakan sipat dan sikapnya, Wahyu panca ghaib itu sendiri, yaitu; Wahyu panca laku atau iman, bukan yang lain selainnya.

Caranya bagaimana?
Caranya Ada tiga tahap atau level atau tingkatan, dan inti dari setiap tingkat atau level atau tahapan-nya adalah;
Seperti yang sudah saya Uraikan dari awal hingga akhir ini, bukan yang lain.

Yaitu Laku Murni Menuju Suci Alias Wahyu Panca Ghaib di Ibadahkan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku, jikalau level satu ini, sudah di patrapkan atau sudah di lakukan hingga 7x berturut turut, langkah selanjut, pelajari dan praktekan PETUNJUK DAN BIMBINGAN SPIRITUAL HAKIKAT HIDUP. DALAM LAKU MURNI MENUJU SUCI “KUNCI THE POWER” Level Dua (untuk membersihkan hati), yaitu;
Patrap Mijil Sampurna.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan. Asal Usul Nenek Moyang Semua Mahluk.

Sungguh Murka Paduka yang hamba harap, Kalau penguraian Kitab Purwakala warisan Leluhur kami ini, yang hamba terjemahkan dalam bahasa Merdeka (tanpa tedeng aling-aling), tidak sesuai dan tidak tepat dengan yang Aslinya.

Ini saya lakukan, demi cinta kasih sayang ku kepada-Mu dan seluruh mahluk-Mu. Supaya tidak ada lagi kecurangan dan kebohongan terkait tentang-Mu, dengan ini, saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi.

Maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi.

Segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi.

Damai dipikiran, damai dihati, damai di syahwat, damai didunia, damai Di Akherat. Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram.

Salam Se-Tuhan Penuh Cinta Kasih Sayang dari dalam Lubuk hati saya WEB yang paling dalam. Selamat🙏Selamat🙏Selamat🙏 Rahayu🙏Rahayu🙏Rahayu🙏Damai🙏Damai🙏 Damai🙏 Tenteram🙏
Saya❤️
Wong Edan Bagu❤️
Ngaturaken Sugeng Rahayu🙏
lir Ing Sambikolo🤝
Amanggih Yuwono🤝
Pinayungan Mring Ingkang Maha Suci🙏
Basuki❤️
Yuwono❤️
Teguh❤️
Rahayu❤️
Slamet❤️🙏❤️
BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Kontho dan Kanthi Anom saya, yang senantiasa di Restui Hyang Dzat Maha Suci Hidup🙏Om Shantih Shantih Shantih Om – Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu🙏
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Dan❤️Salam🙏Kebajikan❤️
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3
BBM Enterprise: EF023358
Twitter: @EdanBagu
Blogg:
http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: https://putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya
YouTube: Putro Romo Channel

Pemahaman Tentang KUNCI. PAWELING. ASMO. MIJIL. SINGKIR. (Didalam Wahyu Panca Gha’ib)


Kronologi.1

Pemahaman Tentang KUNCI. PAWELING. ASMO. MIJIL. SINGKIR.
(Didalam Wahyu Panca Gha’ib)
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Semarang Jateng. Hari Sabtu. Tanggal 19 Agustus 2017.

1. Pemahaman Tentang KUNCI:
“Kunci”
Pengertian Kunci.
Adalah; Kumpul Nunggal Suci.
Kumpul itu… Mendekat. Nunggal itu… Bersatu/Menyatu. Suci itu… Murni/Bersih, tak tercampuri oleh apapun.

Hakikat Kunci;
Adalah; Anasir pertama, yang berasal dari Sarinya Air, yang lebih di kenal dengan sebutan Kawah/ketuban atau Mutmainah.

Lakunya Kunci;
Adalah; Manembahing Kawula Gusti.
Manembahing itu… Tunduk-nya. Kawula itu… Empat Anasir, yang lebih di kenal dengan sebutan sedulur papat. Gusti itu… Hidup, yang di kenal sebagai Pancer.

Jadi…
Maksud dari Manembahing Kawula Gusti. Adalah tunduknya sedulur papat Kalima Pancer kepada Dzat Maha Suci.

Kesimpulannya;
Kalau Patrap Kunci dan Membaca Kunci. Empat Anasir atau Sedulur Papat kita Dan Hidup atau Pancer Kita. Harus Tunduk Kepada Dzat Maha Suci.

Sebab itu…
Wahyu Panca Laku atau Iman yang Pertama. Mengharuskan untuk Pasrah, menyerahkan semua dan segalanya kepada Dzat Maha Suci.

Karena yang namanya tunduk, ya pasrah, dan yang di sebut pasrah, tidak ada istilah menggerutu atau mendesah atau berkeming, apa lagi protes. Enak tidak Enak. Cocok tidak Cocok, harus tetap diam sambil senyum sendiko dawuh.

2. Pemahaman Tentang PAWELING:
“Paweling”
Pengertian Paweling.
Adalah; Panalangsan atau Keterenyuhan.
Maksudnya seperti ini. Ada hubungan yang tidak bisa kita lupakan, apapun alasannya, ada ikatan yang tidak bisa kita putuskan, apapun alasannya, ada komunikasi yang tidak bisa kita elak kan, apapun alasannya.

Yaitu;
Hubungan dan Ikatan serta Komunikasi antara Nur Allah. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad “atau” Sir Dat Sipat “atau” Cinta Kasih Sayang.
Nur Allah. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad “atau” Sir Dat Sipat “atau” Cinta Kasih Sayang.

Inilah, asal mula semua kejadian. Termasuk kita, manusia hidup.
Awalnya adalah kemutlakan dzat maha suci semata. Lalu dzat maha suci memecah dirinya. Menjadi tiga bagian. Yaitu; Nur Allah. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad “atau” Sir Dat Sipat “atau” Cinta Kasih Sayang.

Dan dengan menggunakan tiga bahan inilah, semua dan segalanya di cipta dan tercipta.
Di waktu kita masih belum terpisah, masih menjadi satu wujud sebagai dzat maha suci. Yang ada hanya Kebahagia’an dan Ketenteraman. Tidak ada suka duka, tak kenal masalah apapun.
Namun setelah terpecah menjadi tiga bagian tersebut, dan tercipta menjadi sebuah mahluk. Suka duka dan masalah mulai bermunculan.

Suka duka dan masalah inilah, yang melenakan kita, sehingga kita lupa dengan tri tunggal yang menjadi jatidiri kita, yang dulunya adalah merupakan satu kesatuan yang bahagia dan tenteram.

Ketika kita membaca Paweling. Siji-siji. Loro-loro. Telu-telonono. Kita di kembalikan ke hal ini dan tentang ini.

Bagaimana kita tidak rindu akan hal tersebut, bagaimana tidak terenyuh, selama ini kita telah lupa cinta kita bertiga, kasih kita bertiga, sayang kita bertiga, kita terlalu asyik bermain ketipung suka duka dan masalah.

Tidak mengetahui bahkan tidak menyadari kalau si Nur Allah atau Sir atau Cinta kita sedang merindu.

Tidak mengetahui bahkan tidak menyadari kalau si Nur Muhammad atau Dat atau Kasih kita sedang merindu.

Tidak mengetahui bahkan tidak menyadari kalau si Nur Ilmu Muhammad atau Sipat atau Sayang kita sedang merindu.

Sungguh terlalu jika tidak Nelangsa… Tidak Terenyuh…
Tidak selembar daunpun yang jatuh tanpa kehendak-Nya. Apapun kejadiannya yang terjadi, kita harus mau bersedia menerimanya.

Karena syarat untuk bisa menjadi satu kembali seperti semula, kita harus mau bersedia menerimanya. Apapun itu…

Protes…?!
Menolak…?!
Tidak mau…?!

1. Siji: Nur Allah-Sir-Cinta.
2. Loro: Nur Muhammad-Dat-Kasih. 3. Telu: Nur Ilmu Muhammad-Sipat-Sayang.
Tidak akan pernah bisa Bersatu/Menyatu lagi seperti semula.

Hakikatnya Paweling;
Adalah; Anasir ketiga, yang berasal dari Sarinya tanah, yang lebih di kenal dengan sebutan Ari-ari atau Aluamah.

Lakunya Paweling;
Adalah; Manunggaling Kawula Gusti.
Manunggal itu… Bersatupadu. Kawula itu… Empat Anasir, yang lebih di kenal dengan sebutan sedulur papat. Gusti itu… Hidup, yang di kenal sebagai Pancer.

Jadi…
Maksud dari Manunggaling Kawula Gusti. Adalah bersatupadunya sedulur papat Kalima Pancer dengan Dzat Maha Suci.

Kesimpulannya;
Kalau Patrap Paweling dan Membaca Paweling. Empat Anasir atau Sedulur Papat kita Dan Hidup atau Pancer Kita. Harus Bersatupadu dengan Dzat Maha Suci.

Sebab itu…
Wahyu Panca Laku atau Iman yang Kedua. Mengharuskan untuk Menerima apapun kehendak atau keputusan Dzat Maha Suci.

Kalau bisa menerima apapun kehendak dan keputusan dzat maha suci. Nur Allah. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad “atau” Sir Dat Sipat “atau” Cinta Kasih Sayang ini. Baru Bisa jadi satu.

Dan bersatunya Tri Tunggal ini. Berati dzat maha suci. Dan dzat maha suci. Adalah maha segalanya.

3. Pemahaman Tentang Asmo:
“Asmo”
Pengertian Asmo.
Adalah; Tanda atau Ciri, kalau bahasa jawanya. Tenger.

Tanda untuk siapa dan untuk apa…?!
Tanda untuk hidup dan supaya bisa disebut atau bisa di panggil dan bisa di temui.

La kalau Asmo Sejati…?!
Sejati itu… Yang sebenarnya atau yang sesungguhnya.

Hidup berasal dari dzat maha suci, yang di utus secara khusus, menempati tubuh manusia, hingga batas waktu yang telah di tentukan.

Jadi…
Maksud dari Asmo Sejati. Adalah Tanda yang sebenarnya untuk hidup, yang masih menempati setiap wujud yang masih hidup. Agar supaya bisa menyebut dan memanggil bahkan menemuinya kapanpun dan dimanapun, untuk hal apapun.

Karena hidup berasal dari dzat maha suci. Asmo di artikan juga, sebagai, Asale Manunggal, yang maksudnya (awalnya bersatu atau menyatu-dengan dzat maha suci).

Karena hidup itu utusan dzat maha suci, jadi, dia mengerti dan paham serta tahu semua dan segalanya tentang dzat maha suci dan seluruh ciptaannya.

Hakikat Asmo Sejati;
Adalah; Hidup atau Roh Suci/Kudus atau Guru Sejati atau Rasul/Utusan. Atau Pancer. yang berasal dari dzat maha suci.

Dan Hidup adalah satu-satunya Ruh Suci yang bisa berhubungan langsung dengan dzat maha suci, kapanpun dia mau. Karena selain utusan, hidup adalah kekasih terkasihnya dzat maha suci.

“sungguh aku tidak mengenal doa dari siapapun, jika tidak melalui rasulku/utusanku”

Lakunya Asmo;
Adalah; Leburing Kawula Gusti.
Leburing itu… Musnah-nya. Kawula itu… Empat Anasir, yang lebih di kenal dengan sebutan sedulur papat. Gusti itu… Hidup, yang di kenal sebagai Pancer.

Jadi…
Maksud dari Leburing Kawula Gusti. Adalah musnah-nya sedulur papat Kalima Pancer.

Kesimpulannya;
Kalau Patrap Mijil Menyebut Asmo Sejati. Empat Anasir atau Sedulur Papat kita Dan Hidup atau Pancer Kita. Harus musnah, harus tidak ada itu dan ini, semuanya musnah. Tidak ada sedulur papat, tidak ada Pancer, tidak ada kepentingan, tidak ada keperluan, tidak ada urusan dan masalah kemelekatan apapun, semuanya telah lebur/musnah, yang ada hanya dzat maha suci semata, lainnya itu, semu dan palsu.

Sebab itu…
Wahyu Panca Laku atau Iman yang Ketiga. Mengharuskan untuk mempersilahkan dzat maha suci. Karena jika tidak di persilahkan, kita tidak akan mendapatkan apa-apa, sebab semua dan segalanya telah lebur/musnah menjadi semu/palsu.

Mau mempersilahkan dzat maha suci untuk mengambil alih semua dan segala tentang kita, maka semua dan segala kesemuan dan kepalsuan itu, akan di sempurnakan, dan di ganti dengan yang asli dan nyata-nyata asli.

4. Pemahaman Tentang MIJIL:
“Mijil”
Pengertian Mijil.
Ada dua titik, yang perlu kita tepatkan, yang satu miji, satunya midji, kalau miji, itu berati tumbuh, istilah jawanya, tuwuh atau tukul, kalau midji, itu berati menyatu, istilah jawanya ngumpul atau ngumpuli.

Kata menyatu atau ngumpul, ini menandakan ada beberapa sesuatu. Maksudnya, lebih dari jumlah satu. Karena lebih dari jumlah satu, maka di gunakan kata menyatu atau ngumpul.
Jadi, yang tepat. Adalah Midjil, bukan Mijil.

Midjilo…
Berarti, sesuatu hal yang jumlahnya lebih dari satu itu, menyatu keluarnya. Maksudnya, tidak keluar sendiri sendiri atau berpisah. Melainkan jadi satu wujud.

Mengapa bisa begitu….?!
Ketika kita menyebut Asmo Sejati. Semua dan Segalanya, itu menyatu menjadi satu kesatuan. Midji. setelah bersatu, semua dan segalanya itu, menjadi lebur, tidak ada apa-apa, kecuali dzat maha suci.

Djilo. Keluarlah. Semua dan segalanya yang sudah menjadi satu itu. Keluarlah… Ini adalah ghaib, maksudnya, tidak kasat mata.

Sebab itu, Wahyu Panca Laku atau Iman, yang keEmpat.
Mengharuskan kita untuk Ngrasak Ake ananing Dzat Maha Suci. Sebab, keleburan semuanya dan penyatuan segalanya itu, tidak kasat mata, keluarnyapun, yang sudah menjadi satu itu, tidak kasat mata pula.

Jadi, hanya dengan rasa, cuma dengan cara merasakan, kita bisa mengetahui keleburan dari semuanya itu, dan penyatuan dari segalanya itu, yang keluar jadi satu tersebut.

Hakikat Midjil;
Adalah; Anasir kedua, yang berasal dari Sarinya Angin, yang lebih di kenal dengan sebutan pusar/puser atau Supiyah.

Lakunya Midjil;
Adalah; Sampurnaning Kawula Gusti.
Sampurna itu… Kembali ke asal, kalau Sampurnaning, berarti. Kembali ke asalnya. Kawula itu… Empat Anasir, yang lebih di kenal dengan sebutan sedulur papat. Gusti itu… Hidup, yang di kenal sebagai Pancer.

Jadi…
Maksud dari Sampurnaning Kawula Gusti. Adalah; Kembalinya sedulur papat Kalima Pancer ke asalnya, yaitu Dzat Maha Suci.

Kesimpulannya;
Kalau Patrap Midjil dan Membaca Midjil, Empat Anasir atau Sedulur Papat kita Dan Hidup atau Pancer Kita. Sudah tidak ada, karena sudah sampurna kembali ke asalnya, yaitu dzat maha suci.

Jadi…
Tidak ada doa lagi, kalimat, kata kata, permohonan, keluh kesah, takut, ragu, pikiran, duga menduga, rancangan.

Dan bla,,,bla,,,bla,,,lainnya. Yang ada hanya rasa, yang harus kita sadari secerdas mungkin, agar supaya bisa merasakan kasempurnaan yang nyata itu. Sehingganya kita tahu persis. Bahwa tidak ada yang lebih wah, di bandingkan dengan Pengampunan dari Hyang Maha Sempurna.

5. Pemahaman Tentang SINGKIR:
“Singkir”
Pengertian Singkir.
Adalah; Tidak menilai. Sing-Kir.
Sing itu… Dari bahasa Kawi, yang artinya mboten atau ora, bahasa Indonesianya, tidak. Kir itu… Dari bahasa Psikolog, yang artinya menganalisa atau mendeteksi atau memeriksa (menilai).

Hakikat Singkir;
Adalah; Anasir keempat, yang berasal dari Sarinya Api, yang lebih di kenal dengan sebutan Darah atau Amarah.

Lakunya Singkir;
Adalah; Sampurnaning Pati Urip.
Sampurna itu… Kembali ke asal, kalau Sampurnaning, berarti. Kembali ke asalnya. Pagi itu… Segala masalah yang berkaitan dengan Kematian atau Akhirat. Urip itu… Semua masalah yang berkaitan dengan Kehidupan atau Dunia.

Jadi…
Maksud dari Sampurnaning Pati Urip, Adalah; Kembalinya segala urusan akhirat dan dunia. ke asalnya, yaitu Dzat Maha Suci.

Kesimpulannya;
Kalau Patrap Singkir dan Membaca Singkir, apapun kejadiannya, apapun yang terjadi, sudah tidak lagi menilai, sudah tidak lagi menganalisa, memeriksa, membedakan, mengecek, mengira, menduga dan semua bentuk kira’an dan sangkaan.

Karena ketika kita Singkir, semua dan segalanya itu, telah sempurna, yang artinya, kembali ke asal usul Sangkan Paraning dumadi “Inna lillaahi wa Inna ilaihi Raji’un”

Jadi, untuk apa di nilai, untuk apa di analisa, untuk apa di pilah dan di pilih, di bedakan dan di bla,,,bla,,,bla,,, lainnya, bukankah semua dan segalanya itu berasal dari Tuhan dan hanya akan kembali kepada Tuhan.

Tidak selembar daunpun yang jatuh tanpa kehendak-Nya. Apapun itu dan bagaimanapun kejadian yang terjadi, bukan untuk di nilai, untuk di analisa, di pilah dan di pilih, di bedakan.
Yang ini baik, yang itu buruk, yang ini salah, yang itu benar, yang itu wajib di tiru, yang ini harus di tinggalkan dan bla,,,bla,,,bla,,, lainnya.

Apapun itu dan bagaimanapun kejadian yang terjadi, bukan untuk di nilai, untuk di analisa, di pilah dan di pilih, di bedakan dan bla,,,bla,,,bla… Melainkan untuk di sadari.

Bahwa itu semua berasal dari Tuhan, yang cocok tidak cocok, suka tidak suka, mau tidak mau, harus di mengerti, di pahami di ketahui dengan kesadaran iman.

Sebab itu dan karena itu. Wahyu Panca Laku atau Iman yang keLima, mengharuskan kita untuk menebar Cinta Kasih Sayang-Nya. Bukan mengharuskan kita menilai atau menganalisa apa lagi membedakan.

Karena semuanya dan segalanya itu, adalah satu/sama, baik dari Tuhan, buruk juga dari Tuhan, salah dari Tuhan, benar pun dari Tuhan dll. Karena Tuhan itu Esa/Tunggal.
Jika meyakini dan mempercayai bahwa Tuhan itu Esa/Tunggal, berati kita harus bisa menyadari, bahwa salah benar, baik buruk dan semua serta segalanya itu, berasal dari Tuhan.
Jika kita mengira bahwa baik itu dari Tuhan, dan menduga bahwa buruk itu dari iblis, berati kita belum Singkir.

Sebab, dengan kira’an dan dugaan itu, sama halnya dengan menduakan Tuhan, yang artinya Tuhan itu bukan Esa dan tidak Tuhan, melainkan ada dua Tuhan. Satu Tuhan yang berkuasa menciptakan baik. Yaitu Allah. Dan satunya Tuhan yang berkuasa menciptakan keburukan. Yaitu Iblis.

Apa lagi kalau sampai mengira bahwa Singkir itu untuk menyingkirkan musuh atau saingan atau apapun yang di anggap mengancam diri. Berati… Anda bukan saja belum berIman. Tapi juga belum berTuhan bahkan tidak berTuhan.

Maaf… Ini pemahaman yang paling mendasar secara umum dan awam, yang sesungguhnya, lebih dari sekedar yang sudah saya uraikan diatas.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; DACB5DC3”
@EdanBagu
www.wongedanbagu.com
http://facebook.com/tosowidjaya

Semua Akan Indah Pada Waktunya:


Semua Akan Indah Pada Waktunya:

Oleh: Wong Edan Bagu.

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.

Semarang Jateng. Hari Rabu. Tanggal 16 Agustus 2017.

Apapun alasannya dan siapapun dia, kalau sedang laku murni menuju suci. Suatu hari di dalam lakunya itu, akan mengalami suatu hal yang mungkin terjadi di luar kehendaknya, dan di saat seperti itu, lalu mempertanyakan hal-hal yang terjadi di luar kehendak itu. Contoh;

Mengapa ini harus terjadi…?!

Mengapa Tuhan ijinkan aku mengalami semua ini…?!

Mengapa aku yang harus melaluinya…?!

Apa salahku, hingga aku harus mengalami hal ini…?!

Mengapa cobaan ini begitu berat…?!

Apa laku-ku tidak tepat…?!

Apa Doaku salah…?! Dll.

Para Kadhang Kinasihku Sekalian…

Jika ini terjadi pada dirimu, sadarilah dengan iman-mu, bahwa kita tidak sendiri. Baca baik-baik hingga selesai uraian saya di bawah ini. Dan saya akan mencotohkan diri saya sendiri.

Semua orang di dunia ini, termasuk saya sendiri dulu, pernah mengalaminya, tidak peduli dia sedang laku murni menuju suci atau tidak.

Ketika sesuatu yang buruk terjadi dalam kehidupan saya, tak henti-hentinya saya bertanya, dan menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi dalam hidup saya, serta mencoba mencari pembenaran atas diri saya.

Namun Tuhan diam. Tidak ada jawaban, tak ada tanda dari langit atau bumi, apalagi tepukan hangat di bahu atau suara lembut membisik di telinga. Tidak…!!!

Hingga suatu ketika, saya menyadari, bahwa benarlah adanya, bahwa hidup ini, adalah misteri Illahi.

Artinya, kita tak bisa memahami semua peristiwa yang terjadi. Ada kalanya, kita hanya diijinkan untuk menjalaninya tanpa perlu bertanya apa-apa.

Sebuah firman mengatakan; Tidak selembar daunpun jatuh tanpa kehendak-Nya.

Sebuah pepatah lama berbunyi; Segala yang tersembunyi adalah milik Tuhan. Dan segala yang terbuka, dinyatakan adalah urusan kita.

Para kadhang kinasihku sekalian…

kita tidak perlu mengerti semuanya. Kita tidak perlu memahami semuanya.

Jika Tuhan tidak menyatakannya, biarlah hal itu tetap jadi misteri-Nya. Biarlah hanya Dia yang tahu, mengapa semuanya harus terjadi.

Kalau toh Dia tidak menjawab, tetap saja Dia tidak berhutang penjelasan apapun pada kita, karena kita hanyalah ciptaan-Nya.

Bagaikan tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah Tuhan berhak melakukan apapun tanpa perlu menjelaskan maksud dan rencana-Nya dalam hidup kita di kehidupan ini.

Pernah naik kapal terbang..?! Atau…

Pernahkan naik kapal laut…?!

Kalau Pernah…

Apakah Anda harus kenal dengan pilotnya sebelum penerbangan…?!

Apakan Anda harus kenal sang nahkoda sebelum memutuskan untuk berlayar…?!

Tidak, bukan…?!

Mengapa demikian…?!

Karena kita yakin, sang pilot atau nahkoda, tidak akan salah arah.

Sebelum menerbangkan kita, dia pasti punya jam terbang yang cukup tinggi, sehingga dianggap mampu untuk menghadapi keadaan apapun di udara.

Bukankah demikian Tuhan kita itu…?!

Kenapa kita harus tahu semua jawaban…?!

Kenapa kita harus memahami semua…?!

Serahkan Sajalah segala kekuatiranmu itu kepada-Nya…!!!

Pasrahkan Sajalah semua ketakutanmu itu kepada-Nya…!!!

Karena DIA yang memelihara kita. Tuhan lebih dari sekedar pilot atau nahkoda berpengalaman manapun. Bahkan samudera dan badai pun diam dalam hardikan-Nya.

Jalankan saja IMAN-mu (Wahyu Panca Laku-ku)

Membersihkan Hati dari noda, lalu merawat dan menjaganya agar tidak ternoda lagi, itulah urusan kita.

Kelak, pada saatnya, kita akan mengerti, bahwa semua indah pada waktu-Nya.

Sekarang mungkin Para kadhang belum mengerti, karena belum bertemu dengan Sang Guru Sejati, tapi tidak apa. Jalani saja tanpa bertanya. Namun saat nanti, jika sudah berhasil menemui Sang Guru Sejati. Apapun itu, akan dinyatakan kepada kita, dengan penuh Cinta Kasih Sayang.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *

Ttd: Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

Telephon; 0819-4610-8666.

SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.

BBM; DACB5DC3”

@EdanBagu

http://facebook.com/tosowidjaya

http://www.wongedanbagu.com

Benar dan Baik itu, relatif:


2017-08-09_18.42.36

Benar dan Baik itu, relatif:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Semarang Jateng. Hari Kamis. Tanggal 10 Agustus 2017.

Para kadhang Kinasih,,, Tahu tidak..?! Tentang apa penyebab konflik terbesar diseluruh dunia…?!

Penyebab Konflik Terbesar di seluruh dunia, terutama pada diri pribadi kita. Adalah Benar dan Baik.

Perang dunia I dan II dll, terjadi karena masing masing membela apa yang benar bagi mereka.

Konflik keagamaan, kebudayaan, kepercayaan, bahkan jabatan, juga terjadi karena masing masing membela apa yang benar bagi mereka.

Anda berantem sama pacar Anda. Anda bertengkar dengan istri Anda. Anda berduel sama teman Anda. karena masing masing merasa benar. Begitu juga dengan yang di sebut Baik.

Ketika tulisan saya tidak menyinggung ego Anda, ketika saya menulis hal-hal yang sependapat dengan Anda, menampilkan photo rapi dan ganteng. Anda pasti mengatakan saya Baik.

Akan tetapi, ketika saya menulis hal-hal yang Anda tidak setujui, bahkan tulisan saya menyerang ego Anda, apa lagi dengan photo yang telanjang dan jelek, spontan Anda katakan saya tidak Baik.

Ketika seorang maling ayam, mencuri seekor ayam dari tetangganya, menurut dia, adalah Baik, buat si maling, tapi Tidak benar dimata hukum.

Ketika seorang pelacur menjajakan tubuhnya kepada hidung belang, menurut mereka adalah baik, buat si pelacur (karena mendapatkan uang tidak dengan mencuri atau menipu) dan bagi si hidung belang (Karena mendapatkan tubuh mulus), tapi Tidak Benar menurut norma hukum agama dan negara serta susila di masyarakat.

Masih banyak lagi benar dan baik penyebab konflik lainnya, yang intinya, inilah yang dibela sampai titik darah penghabisan oleh hampir semua orang di dunia.

Setiap Benar atau Kebenaran, adalah relatif. Begitupun dengan yang disebut Baik atau Kebaikan.

Tergantung dan Bergantung cara dan sistem melihat atau memandangnya dari sudut subyek yang mana.

Andai saja semua orang tahu, bahwa yang di sebut Benar dan yang bilang Baik itu adalah relatif. Tergantung dari sudut pandang siapa dan Bergantung dari sudut pandang mana. Wow….

Coba renungkan dengan kesadaran nalar logikanya kita….
Apa jadinya, ketika konflik terjadi, dan mereka sadar bahwa yang sedang mereka bela hingga titik darah penghabisan itu, adalah sebuah kerelatifan belaka.

Yupzzzz….
Sejak kapan sih, kita harus tau. Mana yang benar mana yang salah…?!
Mana yang baik mana yang jahat…?!
Mana yang sukses mana yang gagal…?!

Kenapa hal-hal ini selalu ada pasangannya…!?

Apakah mutlak itu juga ada pasangannya…!? Ada lawan katanya…!?

Anda akan Terjebak lamaaaaa…. Dalam Permainan Catur Dunia ini. Jika tidak BerWahyu Panca Laku (iman). He he he . . . Edan Tenan.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; DACB5DC3”

https://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com

http://facebook.com/tosowidjaya