KELUH…?!. KESAH….?!


WebVidiosme 036

WebVidiosme 036


KELUH…?!. KESAH….?!
Oleh. Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasunda
Kembeng. Jombang Jatim Senin Tgl. 29-06-2015

Salahkah aku berkeluh kesah pada yang lain?
Aku tiada punya kesempatan untuk menyampaikan perasaanku.
Baik suka maupun duka harus diam bagaikan patung tak berasa.
Sampai pada suatu ketika, kudapat seorang kawan/sahabat.
Walau jauh di tempat lain, dia begitu bisa mendengar keluhanku dan menghiburku.
Memang itu fana,,, namun sangat membantu aku untuk kembali menghadapi dunia nyata ku.
Lalu salahkah aku?

Dulu… dan duluuuuu…. sekali, Setiap kali ada Pendeta atau Kiyai yang berkhotbah, dan khotbahnya, saya anggap kurang atau tidak tepat. Saya suka mengkritik khotbah tersebut, setelahnya. Hingga pada suatu sa’at, ada yang mengkritik balik kepada saya,

“Apa maksudmu selalu mengkritik khotbah, termasuk aku?”
Tanya orang yang mengkritik balik saya.

“Maaf,,, sebenarnya, saya tak bermaksud apa-apa. Tapi ketahuilah, saya adalah Wong Edan Bagu, saya biasa dan sudah terbiasa memperdebatkan Al-kitab. Setiap kali saya mengkritik, berharap Bapak menyanggah kritikan saya, supaya terjadi dialog yang menarik. Dari situ kita bisa makin akrab!”
Jawab saya.

Sejak dulu, saya biasa berdialog terbuka kepada Tuhan maupun sesama. Saat berdoa, saya berani membahas segala topik, termasuk yang tidak menyenangkan: kekecewaan, keluh-kesah bahkan kemarahan.

Karena menurut saya pribadi, itu adalah bagian dari syair-syair Mazmur, yang perlu di kaji, agar bisa tau dan mengerti serta paham.

Ratapan,,, dari doa Ayub.
Ia mengeluh karena hari-hari hidupnya terasa hampa dan sia-sia (ayat 1-7). Ia ingin segera mati (ayat 8-10). Ia menuduh Tuhan memberinya mimpi buruk waktu tidur (ayat 12-15). Ia kecewa Tuhan membuatnya menderita, padahal ia hidup baik-baik (ayat 20-21).
Tidak semua perkataan Ayub benar bukan…?

Sampai pada suatu ketika.
Tuhan menegur kata-katanya yang “tidak berpengetahuan” (Ayub 38:2).
Namun, keluh kesahnya didengar! Dengan jujur mencurahkan isi hati, Ayub dapat menghadapi kekecewaan dengan cara sehat. Ia tidak membenci Tuhan atau melukai diri sendiri… He he he . . . Edan Tenan.

Apakah Anda… kecewa terhadap seseorang? Kerja’an? Waktu? dll?
Daripada bersungut-sungut di depan orang diluar sana, lebih baik curahkan isi hati Anda kepada Hyang Maha Suci Hidup. Tuhan mu… Allah mu. Karena hanyaNYA yang bisa mengerti dan memahamimu. Dan DIA akan menghibur sekaligus menegur cara pandang Anda yang keliru. Damai pun akan kembali hadir di hati Anda. BERKELUH-KESAH TIDAKLAH SALAH. ASAL DISAMPAIKAN KEPADA MAHA SUCI HIDUP ALLAH.

Janganlah hendaknya Anda khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginan Anda kepada Allah, dalam doa dan ucapan syukur Anda.

Doa adalah napasnya Laku Hidup kita.” Siapapun pasti setuju dengan perkatakan ini, jika hanya sepintas lalu membacanya. Tetapi akan merasa bersalah karenanya, jika teliti membacanya. Bagaimana tidak…

Bernapas mengacu pada aktivitas yang terus-menerus, dan tanpanya kita mati. Lantas bagaimana doa kita? Jangankan terus-menerus, tak jarang ada hari-hari yang kita lewatkan tanpa doa.

Saya jenuh dan merasa “kehabisan bahan”. Tampaknya, ada yang salah dengan kehidupan doa saya. Atau, mungkin ada yang salah dengan konsep doa saya. Buktinya… melesed terus, nyaris tidak ada yang tepat dengan yang saya doakan. Sehingganya… terpaksa saya mencari tempat curhat lain selain Allah… He he he . . . Edan Tenan.

Saudara-saudariku… Maha Suci Hidup, menciptakan kita dengan cinta dan kasih sayangnya yang menentramkan, Nah… Cinta dan kasih sayang yang menentramkan inilah, penangkis kecenderungan kita untuk bisa tidak khawatir dan kecewa.

Jika kita sudi mengintip, melirik, apa lagi sampai memandang cinta dan kasih sayang itu,,,, bila kita mau peduli mencari tau tentang Tenteram itu…. Dunia Akherat dan isinya, ada di dalamnya. Di dalam lingkaran cinta dan kasih sayang yang menentramkan itu, dan… Ketika kita membacanya, itulah bahan doa, yang bisa kita doakan kapanpun dan dalam keadaan apa pun, kita dapat menyatakannya kepada Allah seketika itu juga, tanpa harus membersihkan diri dan berpakaian indah/bersih lalu berlari ke kamar doa dulu.
BERDOA… IALAH… MENCURAHKAN ISI HATI KEPADA MAHA SUCI HIDUP TUHAN KITA. MAKA… CURAHKANLAH SEPERTI KETIKA KITA CURHAT KEPADA PACAR. KEKASIH. SUAMI/ISTRI. TEMAN. SAHABAT Atau KEDUA ORANG TUA KITA. SEBAB… MAHA SUCI HIDUP TUHAN KITA. Lebih dari sekedar pacar kita, kekasih kita, suami/istri kita, teman kita, sahabat kita atau kedua orang tua kita. Jika kita telah mengenal dan memahami Tuhan kita dengan baik dan benar. PERCAYALAH…

SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU dari saya untukmu sekalian SAUDARA-SAUDARI SEMUANYA TANPA TERKECUALI… SEMOGA POSTINGAN SAYA INI. Bisa Berguna dan Ada Manfaatnya bagi kita semua. Sebagai renungan dan pengertian tambahan. Amiin dan Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://padepokanonlinekuncithepower.wordpress.com
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

KISAH PERJALANAN AL-HIQMAH. Antara Ilmu Nabi Musa dan Wahyu Panca Gha’ib:


WEB dan ZA
KISAH PERJALANAN AL-HIQMAH.
Antara Ilmu Nabi Musa dan Wahyu Panca Gha’ib.
Oleh. Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasunda
Kembeng. Jombang Jatim Minggu Tgl. 28-06-2015

Awal kisah… Sekitar tahun 1999. Saya belajar ilmu al-hiqmah di daerah jombang jatim. Tepatnya di dukuh kembeng desa kepuh kecamatan paterongan jombang. Di pesantren Darun Na’im, salah satu pesantren kuno yang di dirikan bersama’an runtuhnya keraja’an majapahit kala itu, pendirinya adalah seorang Kiyai sakti bernama Syekh Maulana Jumadil Kubro. Yang kemudian di serahkan kepada murid kesayangannya yang lebih di kenal dengan sebutan Kiyai Kepuh, sementara Syekh Maulana Jumadil Kubro sendiri, meneruskan perjalanan kelananya, yang konon mengemban tugas penting dari baginda Nabi Besar Muhammad saw, untuk menanam Tumbal/Tolak bala di Pulau jawa.

Seiring berjalannya waktu, pesantren darun na’im berkembang pesat dan baik. Di bantun beberapa anggota wali 9. Kiyai kepuh berhasil merengkuh Rakyat majapahit yang kala itu sedang mengalami krisis moral, krisis ekonomi, krisis iman dan akhlak serta kehilangan jatidiri, akibat perang tarekrek.

Ssingkat ceritannya, Pesantren Darun Na’im di teruskan hanya oleh turun keturunannya, setelah Kiyai kepun meninggal dunia. Hingga tibalah pada keturunan terakhirnya yang lebih di kenal dengan sebutan Kiyai Kembeng. Atau Romo Nyai Kepuh Kembeng. Romo Nyai Sepuh Kepuh Kembeng, memiliki 3 orang putera, dan satu yang paling di sayang, bernama Zainal Abidzin. Di tahun 1999 dan bersama Zainal Abidzin inilah, saya belajar Ilmu Al-Hiqmah, di Pesantren ayah nya itu, Zainal Abidzin ini, selain sadara seperguruan saya, beliau juga teman, sahabat, saudara, bahkan lebih dari sekedar itu, apapun itu, selalu kami lakukan bersama, sampai-sampai… belajar maksiatpun bersama… he he he . . . Edan tenan. (ibaratnya, ragamu ragaku, jiwamu jiwaku, hidupmu hidupku dll)

Pesantren kuno Darun Na’im ini, memiliki aset yang cukup lumayan menguntungkan di masa-masa kedepannya, sehingganya,,, membuat orang yang masih terkait keluarga dengan Kiyai Sepuh, merasa lebih berhak dan ingin memilikinya.

Karena itu,,, terjadilah istilah perebutan warisan, dengan cara perang ilmu kanuragan sistem bathin/gha’ib. Setelah Romo Nyai Sepuh Kepuh Kembeng meninggal dunia. Sa’at terjadi perebutan warisan ini, saya sudah pergi meninggalkan pesantren darun na’im, karena sudah selesai. Dan kembali berkunjung setelah dari sulawesi kemaren, di surabaya saya istirahat,,, dan selama istirahat di surabaya, hati saya selalu mengingat Sahabat baik saya, yaitu Zainal Abidzin, putera kedua dari almarhum guru saya yaitu Kiyai Kepuh Kembeng. Semakin saya mengingatnya, semakin saya tertarik untuk singgah berkunjung. Singkat ceritanya, setelah berkeliling kadhangan di surabaya sambil istirahat. Berkunjungalah saya ke Pesanten Darun Na’im. Setebanya… Ya Allah Gusti Pangeran Diponegoro numpak’e jaran mlayune separan-paran… Zainal Abidzin memeluk saya penuh kasih dan sayang, sayapun melakukan hal yang sama, sampai-sampai kami lupa untuk berjabat tangan, kami berpelukan sambil meneteskan air mata di luar kesadaran. Ada rasa kebahagia’an yang kami rasakan di luar biasanya. Dan tidak ingin kehilangan itu.

Setelah masuk rumah dan menata diri masing-masing, dengan tidak sabar, Zainal Abdzin menceritakan semua kejadian yang di alami bersama keluarganya setelah saya keluar dari pesantren. Dan yang paling membuat saya terenyuh, adalah soal perebutan warisan setelah Romo Nyai meninggal dunia. Keluarganya habis tumpes tersisa satu saja, saitu Zainal Abidzin seorang, Air mata yang menetes di pipi Zainal Abidzin dengan derasnya mengiringi cerita demi certanya. Seluruh keluarganya yang merupakan ahli waris, telah menjadi korban kejamnya ilmu PRING SEDAPUR. Akibat kasus perbutan itu, pesantren Darun Na’im di tutup untuk selamanya, puing-puing bangunannya hanya tinggal kenangan sejarah pahit saja bagi belahan wujud saya, yaitu Zainal Abidzin… menurutnya, jika beliau tidak sedang menjalani lakon ilmunya Nabi Musa yang di amanah dari almarhum ayahandanya, mungkin juga terseret manjadi korban. Lakon ilmu Nabi Musa yang di jalaninya dengan puasa mutih seumur hidup. Selain membuatnya menjadi semakin iman dan dewasa. Juga telah berhasil membuatnya lolos dari maut kejamnya ilmu Pring Sedapur yang menggerogoti keluarganya selama 3 tahun.

Setelah kajadian itu telah berlalu, Zainal Abidzin tidak lagi menempati rumah dan pesantrennya, beliau membuat rumah kecil dan sederhana di lingkungan masjid Darun Na’im yang di kelolanya sendiri sebagai media syi’arnya sehari-hari. Dan di rumah kecil dan sederhana inilah kami bersua menghabiskan waktu dengan cerita-cerita masa lalu yang pernah di lakoni bersama. Tidak ada satupun cerita ungkapan Zainal Abidzin yang lepas dari laku saya, semuanya terekam rapi dan pasti. Hingga tibalah di waktu yang cukup melelahkan mata saya, sayapun di suruhnya beristirhat dulu, ceritanya bisa di sambung nanti lagi. Sayapun menggunakan kesempatan itu untuk istirahat, seperti biasanya, secapek dan selelah apapun, sebelum tidur, saya bermeditasi terlebih dulu. Karena tidak ingin membuat Zainal Abidzin menduga yang tidak-tidak, kali ini saya bermeditasi dengan cara tidur terlentang. Pamrih saya, supaya di anggap tidur oleh Zainal Abidzin.

Namun… Rupaya Ilmu Nabi Musa yang sedang di pelajarinya secara mendalam oleh Zainal Abidzin itu, membuatnya tau, kalau saya bukan sedang tidur, melainkan sedang bermeditasi. Beliaupun penasaran, ingin tau dengan apa yang sedang saya lakukan sebelum tidur, beliaupun bergegas merebahkan badannya, dengan Hiqmah Ilmu Nabi Musa, beliau mukso. Mengetahui hal itu, sayapun tidak tinggal diam, dengan alasan tidak ingin ada kejadian salin salah paham. Sayapun melakukan hal yang sama, dengan Wahyu Panca Gha’ib, niyat tidurnya hilang, berubah jadi mengayomi belahan wujud saya… yaitu Zainal Abidzin… He he he . . . Edan Tenan.

Lanjut Punya Cerita… Kamipun bertemu dan bersua serta berjalan bersama di alam kasukman, kami mengelilingi bentangan kuasa Ilaahi rabb yang tiada terhingga. Sambil ngobrol… kami menyempatkan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat orang hebat jaman dulu, yang tinggal di alam kasukman, karena gagal mencapai kesempurna’an yang sebenanya. Alias salah jalan dan salah persepsi di dalam lakon kehidupan duniawi, sehingga tidak bisa melewati Laku Hidup, akhirnya melesed dari titik kesempuna’an yang sebenarnya. Hebatnya mereka,,, yang kami temui, masih bisa tersenyum, karena menurutnya,,, walau saya gagal mencapai kesempurna’an yang sebenarnya, namun saya masih punya keturunan di alam raga sana, (di dunia nyata maksudnya), yang kemungkinan besar, nantinya akan berhasil menemukan KUNCI nya, hingga bisa menyempurnakan leluhurnya, yaitu saya disini, yang masih nginep di alam kasukman ini. Menunggu belas kasih anak cucu yang masih memiliki kemungkinan-kemungkinan.

Zainal Abidzin sempat bertanya… “Bagaimana jika keturunanmu yang di harap itu, tidak berhasil menemukan KUNCI” Jawabannya “ tidak apa-apa, asalkan saya di sini atas kehendak Hyang Maha Suci Hidup” Lalu saya ikut bertanya… “Bagaimana jika harapan itu sudah habis dan Hyang Maha Suci Hidup tidak menghendakimu disini” Dia tidak menjawab… lalu kamipun berpindah ke tempat-tempat lainnya. Hingga pada suatu tempat, yang mengejutkan kami berdua, sa’at itu kami berada di tepi tempuran sungai, Zainal Abidzi beristghfar sambil menujuk ke suatu arah kepada saya. Lihatlah rumah indah di tepi sungai itu, katanya… saya sempat tengak tengok, karena di mata saya, tidak ada bangunan apapun di tepi sungai itu yang saya lihat. Yang ada hanya reruntuhkan jembatan lama yang sudah rusak dan tidak terpakai lagi, sekali lagi Zainal Abidzin menujukan kepada saya sambil berjalan ke arah rumah yang di maksudnya, “itu tempat tinggal keluargaku” aku melihatnya,,, katanya. Sambil menjawab…. Mana-mana,,, sayapun mengikuti langkah kakinya. Sambil sesekali mengucapkan istghifar, Zainal Abidzin terus mendekati yang di maksud itu, dan ternyata benar, apa yang di lihat rumah indah oleh Zainal Abidzin itu, adalah jembata runtuh yang saya lihat. Heeeemmmmm…

Mata saya terbelalak… lidah saya kelu, seluruh sukma saya terasa kaku, ketiba melihat Zainal Abidzin memeluki keluarganya satu persatu-satu. Guru Nyai saya ada dan tinggal di jembatan runtuh itu, mereka melihatnya, itu bukan jembatan runtuh, mereka melihatnya itu adalah bangunan rumah yang mewah dan indah, seperti yang Zainal Abidzin lihat. Saya ingin meraih dan mencium tangan Guru saya, namun sang guru berpaling, Sambil berkata… Belum sa’atnya. “ sambil mengelus kepala Zainal Abidzin, guru saya berkata; “saya akan tetep ada disini, hingga putera saya ini, berkumpul bersama kami disini. Setelah Putera saya berkumpul bersama kami disini, pada sa’at itulah, waktumu untuk kami, putera saya tidak mendapat jatah untuk memiliki KUNCI. Seperti keluarga kami yang lainnya, karena itu kami hanya punya harapan dan mengharap welas asihmu, kepada kami, jika sa’at itu telah tiba”

Setelah mengetahui kemana arah dan inti dari perkata’an guru saya itu, saya langsung menarik tangan Zainal Abidzin belahan wujud saya. Kembali ke Raga masing-masing. Karena jika tidak, Zainal Abidzin akan tertekan dan terpuruk bahkan bisa putus asa, jika mengetahui detil masalah yang sedang di alami kedua orang tuannya sekeluarga di alam kasukman itu. Dan… syukurlah, saya bangun lebih dulu… sedangkan Zainal Abidzin masih tergeletak tidur, saya langsung duduk bersilah, memohon kepada Allah, agar kejadian tadi, terhapus dari ingatan Zainal Abidzin, tidak lama kemudian Zainal Abidzin terbangun, dan sayapun memeluknya dengan kasih. Maafkan saya kang… beliau menjawab… sama-sama mbah… pagipun tiba. Setelah mandi, lalau saya mengambil laptop dan langsung mengetik pengalaman ini. Sambil mengetik, saya mencoba memancing Zainal Abidzin untuk menceritakan apa yang terjadi tadi malam. Beliau menjawabnya dengan dengan pinplang/lupa… Soal opo to mbah? Soal tadi malam itu loh, jawab saya, beliau menjawab,,, halah, gak usah di bahas, masa lalu kok, katanya… saya menarik napas lega, karena apa yang terjadi pada kami berdua semalam. Zainal Abidzin sama sekali tidak mengingatnya.

Manusia saya sudah menduga-duga, anda saja. Zainal Abidzin mengingat/mengetahui, kalau keluarganya belum mencapai kesempurna’an sejati (sebenarnya) dan beliaunya tidak memiliki jatah untuk menyempurnakan keluarganya serta akan mengalami hal yang sama, seperti yang dialami keluarganya akibat Karma masa lalu Leluhur-Leluhurnya…. SUBHANALLAH… Sungguh Indah dan Luar biasa mempesonanya proses Lakon Kehidupan dan Laku Hidup, dari Hyang Maha Suci Hidup untuk seluruh cipta’annya… bila kita mengetahuinya. Dengan Bahan Pengalaman baru yang saya dapatkan di malam minggu tgl 28 juni 2015 ini. BERPIKIRLAH … Selagi masih ada Waktu untuk memahaminya dan kesempatan untuk bisa Laku. SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU dari saya untukmu sekalian SAUDARA-SAUDARI SAYA SEMUANYA TANPA TERKECUALI… SEMOGA POSTINGAN SAYA KALI INI. Bisa Berguna dan Ada Manfaatnya untuk banyak Orang. Amiin dan Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://padepokanonlinekuncithepower.wordpress.com
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

IMAN MENURUT PENGALAMAN DAN PEMBUKTIAN: Wong Edan Bagu;


IMAN MENURUT PENGALAMAN DAN PEMBUKTIAN:
Wong Edan Bagu;
Putera Rama Tanah Pasundan
Kemlaten Surabaya jatim
Hari Rabu Tgl. 24 Juni 2015

Apa itu IMAN…?!
Iman adalah percaya. Iman adalah yakin. Iman adalah karunia/ilham Allah, yang di wahyu kan ke dalam hati/bathin manusia Hidup sejak awal di ciptakan, Iman tidak bisa di cari dan tidak bisa di paksa atau di paksakan.iman bukan lah kata-kata atau suara, buka pula pengakuan, iman bab biji/bibit tumbuhan, yang hanya bisa bertumbuh dengan sendirinya, jika di tanam pada niyat yang sesuai dengan Firman Allah dan rawat dengan laku sadar tentang Allah dan menyadari soal Allah, imanlah yang menghidupkan dan memandu semua kemampuan panca indera kita menuju ke satu titik tujuan Hidup dan Kehidupan dunia akherat, yang sesuai Firman Allah. Karena itu, Kita harus laku untuk menumbuhkan iman itu, dan supaya iman bisa bertumbuh. Tanpa laku, iman tidak akan bisa tumbuh dan bertumbuh, tanpa laku, iman akan tetap menjadi bibit seperti awal mulanya di wahyukan.

MAKA… Berbahagialah mereka yang memiliki laku, karena laku itu, di sengaja atau tidak di sengaja, di sadarai atau tidak tidak di sadari, imannya akan tertanam dan akan tumbuh sesuai FirmanNYA.

Tidak melihat, namun percaya/yakin. Contoh: seperti mengucapkan/mengatakan, aku percaya kepada Allah, aku yakin kepada Allah, aku percaya kepada Nabi, aku yakin kepada Rasul, padahal kita belum pernah melihat dan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, baru katanya. Itu Bukan Iman. Tapi itu merupakan bagian dari bentuk usaha atau upaya untuk menanam dan menumbuhkan iman. sementara mempercayai atau menyakini apa yang kita lihat atau kita saksikan dengan mata kepala kita sendiri, bukan katanya, itu adalah percaya/yakin yang sebenarnya, namun belum tentu tersebut iman, jika tanpa laku.

IMAN itu apa…?!
Iman jika sudah di tanam dan tumbuh, akan menjadi jawaban, dari semua dan segala pertanya’an kita yang paling rumit dan sulit serta mustahil, akan menjadi hasil dari semua dan segala daya dan upaya kita, akan menjadi bukti, dari semua dan segala yang gha’ib. Maka,,, Laku lah… dengan Laku, di sadari atau tidak di sadari, Iman akan tertanam dengan sendirinya, akan tumbum dengan sendirinya dan akan lahir/mijil dengan sendirinya sesuai dengan FirmanNYA. Laku itu apa? Laku itu,,, usaha obah polah/bergerak sesuai Firman Allah. Laku itu bagaimana? Laku itu, upaya obah polah/bergerak bersama Allah. Laku itu, Rasa. Terasa. Merasakan Rasa, yang benar nyata ada. Bukan katanya apapun.

INGAT…. jika kita memiliki iman sebesar biji sawi saja… gunung lawu si alam perkasa yang ada di tawang mangu sana, bisa kita perintah menjadi berada di belakan rumah kita… He he he . . . Edan Tenan.

Mengapa Kita Perlu Menanam IMAN…?!
Karena jika tidak di tanam, tidak akan bisa ternanam, kalau tidak tertanam, tidak akan bisa tumbuh, walau telah menyaksikan miliyaran bukti yang nyata di depan hidung, walau berada di diri yang berharta bertahta dab ber kali ber sekalipun… Dan Bila tidak di tanam, tertanam dan tumbuh. Berati itu bukan Manusia. Sebab Tidak memiliki Hati. Jika tidak berhati, jangankan tentang Allah, tentang keluarga/saudaranya sendiri saja, tidak akan ingat… Buktinya… Berapa banyak di luar sana yang mencabuli bahkan memerkosa anak kandungnya sendiri, ibunya sendiri, adiknya sendiri dan bla… bla… bla…. He he he . . . Edan Tenan.

Mengapa Kita Perlu Menumbuhkan IMAN?
Karena bila tidak di tumbuhkan, tidak akan bersemi, kalau tidak tumbuh dan bersemi, Walau telah ada dan di tanam, dengan cara di paksa sekalipun. Dan jika tidak tumbuh dan bersemi, berati itu bukan Manusia Hidup. Sebab tidak memiliki Rasa. Bila tidak memiliki Rasa, jangankan soal Allah, soal makanan dan minuman yang di konsumsi sendiri saja, tidak akan Sadar… Buktinya… Berapa banyak di luar sana yang menghalalkan segala cara hanya demi sesuap nasi dan seteguk air dan bla… bla… bla…He he he . . . Edan Tenan.

Itulah Iman saya, jika ada yang bertanya tentang Iman saya dan s Begitulah Iman saya, jika ada yang bertanya soal Iman saya. Dan saya Siap…!!! Membuktikan kepada siapapun yang bertanya dan berada bersama saya. Tentang nikmatnya rokok gudang garam surya 16 yang selalu setia menemani relaksasi saya. Soal segarnya segelas air putih yang selalu tuhu membasi tenggorokan saya, setiap kali bangun dari istirahat tidur. Ibaratnya; He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Sukses selalu untukmu sekalian tanpa terkecuali dimanapun berada. Muga postingan saya ini, ada manfa’atnya ya,,, sebagai pengalaman tambahan. TERIMA KASIH…
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com
https://padepokanonlinekuncithepower.wordpress.com

Apa Itu Benar? Apa Itu Salah? Apa Itu Luput? Apa itu Dosa?


Foto-0092
Apa Itu Benar?
Apa Itu Salah?
Apa Itu Luput?
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Toili Luwuk Sulteng Hari Jumat Tgl 19-06-2015

Ketiga hal diatas, sangat tidak asing bagi siapapun, bahkan sangat hapal jipal, saking apalnya, kita bisa mengucapkan dan mengatakannya dengan sangat mudah dan guampang. ITU BENAR… INI SALAH… INI BENAR… ITU SALAH… Dimanapun dan kepada apapun yang dianggapnya begitu. Walau masih katanya alias tidak tau dengan mata kepalanya sendiri. Bisa dengan gagahnya berani mengatakan SALAH atau BENAR tersebut.

Saudara-Saudariku Sekalian…
Kehidupan di Dunia ini, adalah gudangnya kesalahan. Bahkan dalam sebuah istilah lakon, di sebutkan, bahwa kehidupan adalah sebuah kesalahan. Karena kehidupan itu gudangnya masalah kesalahan tersebut. Ya… menurut saya, istilah itu cukup tepat, karena itu, kita hidup untuk membenarkan kesalahan-kesalahan tersebut. Membenarkan dalam arti memperbaiki, bisa juga berarti membenarkan yang salah itu.

Apa yang membuat kehidupan itu, adalah gudangnya kesalahan, adalah banyaknya pilihan yang menyertai kehidupan tersebut. Jadi,,, apa sebenarnya yang patut di sebut salah, kehidupan yang menawarkan banyak pilihan atau manusia yang memiliki otoritas untuk memilih, pilihan-pilihan tersebut? He he he . . . Edan Tenan.

Apa itu benar?
Dari sudut pandang umum dan cara berpikir filsafat untuk mendefinisikan apa itu “Benar” tidak akan habis dan amat sangat panjang, tidak ada ujung pangkalnya, karena itulah, banyak diantara kita salin sikut dan tonjog rebutan benar itu, namun tidak ada kepastiannya. Mulai dari “Apa itu Benar?”,”Dari mana Kebenaran itu?”,” Kapan dikatakan Benar?”,” Siapa yang yang Benar?” Dan… bla…bla…bla… Edan Tenan.

Banyak sekali sudut pandang untuk mengartikan Benar, seperti misalnya dari sudut pandang Agama, hukum, adat istiadat, dan banyak juga yang menentukan “benar” dengan sudut pandang sak karepe dewek (semaunya sendiri). Namun pada Intinya. Benar Menurut diluar sana. Adalah;

Perbuatan dan Perlakuan yang sesuai dengan Al-Qitab dan Hadist. Karena,,, seperti yang kita semua tahu, ada keuntungan dunia akhirat, jika mengamalkan/menerapkan Isi Al-Qitab dan Hadist ke Kehidupan kita sehari-hari. Jadi,,, jika didunia ini melakukan hal yang sesuai Al-qitab dan Hadist dengan “BENAR” Maka sudah pasti akan tenang, aman, nyaman dan bahagia, di akhirat juga, nantinya akan mendapat timbangan “BENAR”. Berbeda ketika hukum berkata “BENAR” belum tentu kita dapat timbangan “BENAR” diakhirat nanti. Itulah BENAR menurut diluar sana.

KALAU PEMBENARAN…
Apa itu Pembenaran?
Arti dari pembenaran sesungguhnya adalah sesuatu yang “Tidak Benar”. Namun karena tidak mau dianggap salah, maka dibenar-benarkan. Suatu pembenaran, sebenarnya bisa disebabkan oleh beberapa hal, misalnya karena ketidak-tahuan, maka apa yang dilakukan dianggap benar.

Contoh;
Si A mencuri, Nasi di warung Si B… Ini sudah jelas dan pasti serta nyata-nyata suatu hal yang tidak benar. Karena,,, selain Si A telah merugikan Si B… Untuk bisa mencuri nasi itu dari warung Si B… Si A… Merusak pintu atau jendela warungnya Si B. Lalu karena tidak mau ketahuan, setelah mendapatkan nasi, Si A, tidak menutup atau memperbaiki ulang, pintu atau jendela warung yang di rusaknya tersebut, sehingga, memungkinkan, akan ada pencuri lain bisa masuk mencuri dagangan lainnya, karena kesempatan untuk itu ada, dan telah di sediakan oleh Si A. Tapi dengan sebuah “PEMBENARAN”. Hal ini bisa di “BENAR” kan.

Contoh:
Kalau Si A tidak miskin, punya uang punya beras, Si A tidak akan kelaparan, artinya tidak akan mencuri nasi di warung Si B… He he he . . . Edan Tenan.
Dalam Bahasa Indahnya Mario Teguh atau kata-kata bijaknya si Abang Mario Teguh. (Jangan Menilai Seorang dari Perbuatannya. Nilailah dari kenapa Seorang itu Perbuat).
Jadi,,, jelas sekali kan. Apa yang disebut PEMBENARAN itu, adalah sesuatu hal yang “Tidak Benar”.

La kalau Salah…
Sebenarnya… Maha Suci Hidup, tidak menciptakan Salah. Tidak menciptakan Luput. Yang di ciptakannya, adalah Benar dan Tidak Benar (dalam kata lain di sebut Dosa). Benar itu… Yang sesuai dengan Kehendak dan FirmanNYA, Sedangkan Tidak Benar itu, yang tidak sesuai dengan Kehendak dan FirmanNYA. Kalau Salah. Kalau Luput,,, itu karya emas nya manusia sendiri.

Dimana letak Perbeda’an antara Tidak Benar dan Salah atau Luput?
CONTOH:
Si A… Berniyat Mau Mencuri di warungnya Si B. Sudah pasti si A ini. Akan merancang dan mengarang perbuatan mencuri sebelum melakukan pencurian di warungnya si B. Agar aksi mencurinya berhasil dan lolos. Rancangan atau Karangan ini, di Ciptakannya dengan sedemikian rupa, tidak peduli seberapa waktu si A merancan dan mengarang, maka selama itulah si A, akan mengalami ketidak tenangan, ketidak nyamanan. Seluruh organ fitalnya akan tegang. Darahnya seakan mendidih terbakar oleh Rancangan dan Karangan tersebut Niyat Mencuri nya. ( inilah yang di sebut SALAH ).

Letak salahnya dimana?
Letak salahnya… Pertama; Si A sedang mengotori sekujur tubuh/badannya dengan Rancangan yang Tidak Benar. Kedua; Si A sedang menodai hati/bathinnya dengan Karangan yang Tidak Benar. Setelah Merancan dan Mengarang… Di Lanjutkan atau tidak di lanjutkan niyat mencurinya. Si A tetap di sebut Salah. Karena sedang memproses dirinya sendiri ke Mesin Pabrik Tidak Benar. (DOSA)

Lalu setelah merancang dan mengarang Si A, beraksi melakukan Pencurian di warungnya Si B. Akibat dari aksi pencurian dari si A ini. Si B mengalami kerusakan tempat dan kerugian hak milik, juga mengalami ketidak tenangan jiwa serta ketidak nyamanan raga. Di sadari atau tidak di sadari… Si A juga, akan mengalami hal yang sama seperti yang dialami oleh si B. ( inilah yang di sebut LUPUT ).

Letak Luput nya dimana?
Letak Luputnya… Pertama; Si A sudah mengotori sekujur tubuh/badannya dengan Rancangan yang Tidak Benar. Kedua; Si A sudah menodai hati/bathinnya dengan Karangan yang Tidak Benar. Ketiga nya; Si A sudah merugikan dan menyiksa orang lain, yaitu Si B, dengan Rancangan dan Karangannya yang Tidak Benar tersebut. Berhasil atau tidak berhasil aksi mencurinya. Si A tetap Terkena Luput, karena sudah memproses dirinya sendiri dan orang lain ke Mesin Pabrik Tidak Benar. (DOSA)

Kalau Tidak Benar alias Dosa itu, apa dan bagaimana?
Lanjut punya Cerita contoh diatas;
Jika aksi mencuri yang di lakukan oleh Saudara kita si A gagal. Maka si A akan di adili dan di hakimi, dengan hukum modern maupun dengan hukum rimba, si B, juga akan mendapatkan dampak dari hukuman yang di terima oleh si A, berupa trauma, keran tidak menjaga miliknya dengan baik. Inilah yang disebut Salah Vs Luput.

Tapi jika aksi mencuri yang di lakukan oleh saudara kita si A berhasil. Maka si A akan menerima Pengadilan dan Penghakiman yang jauh lebih Dahsyat dari yang sudah disebutkan diatas. Berupa ketakutan, ketegangan, ketidak nyamanan sikon, seperti was, ragu. Sehingganya, dalam jangka panjang, si A tidak akan bisa tenang. Bagaimana tidak, setiap kali si A bertemu dengan si B, si pemilik barang yang di curinya, si A akan, gerogi, was, ragu bahkan takut. Jangan-jangan si B tau, kalau sayalah yang telah mencuri barangnya, tapi pura-pura tidak tau, lalu diam, padahal itu hanya untuk menjebaku, agar aku mencuri lagi dan terjebak alias tertangkap pakai basah lagi, dan bla… bla… bla…( inilah yang di sebut Tidak Benar atau Dosa )

KESIMPULANNYA;
Dengan semua penjelasan diatas. BERARTI…
Apapun yang di lakukan. Apapun yang di perbuat. Jika itu menimbulkan Rasa tidak Tenteram, tidak nyaman, tidak aman, tidak enak. Sakit. Cidera. Kecewa. Malu. Cemas. Takut. Ragu. Was-was. Itulah Salah. Itulah Luput. Itulah Dosa. Sekalipun beramal memberikan uang dan makanan kepada fakir miskin, jika itu membuat tidak tenteram, tidak enak, tidak nyaman. Itu adalah Salah. Luput. Dosa. Sebaliknya… apapun yang tidak lakukan, apapun yang kita perbuat, jika menimbulkan Rasa Tenteram, nyaman, aman, enak. Tidak Sakit. Tidak Cidera. Tidak Kecewa. Tidak Malu. Tidak Cemas. Tidak Takut. Tidak Ragu. Tidak Was-was. Itulah Benar.

Jika kita Teliti dengan iman, membaca kejadiannya dan jeli dengan iman, mencerna prosenya. Kalau Benar itu munculnya dari sebuah perbuatan yang tidak baik. Kita bisa melihat dan tau, itu kebenaran macam apa. Kalau Benar itu timbul dari perlakuan yang tidak layak. Kita akan mengerti dan paham kebenaran seperti apa itu. Kalau kebenaran itu tumbuh dari sipat dan sikap yang baik dan layak. Kitapun akan tau, akan paham dan mengerti BENAR itu, namun jika kita tidak teleti dan tidak jeli, atau tidak bisa teleti dan jeli. Maka… tidak berbeda dengan diluar sana. Alias sama saja… karena masih katanya. Jadi,,, tidak perlu neko-neko. MAKA… RENUNGKAN dan PIKIRKANLAH ITU… SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU dari saya untukmu sekalian SAUDARA-SAUDARI SAYA SEMUANYA TANPA TERKECUALI… SEMOGA POSTINGAN SAYA KALI INI. Bisa Berguna dan Ada Manfaatnya . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com
https://padepokanonlinekuncithepower.wordpress.com