Sejatinnya Manunggaling Kawulo Gusti itu. INTROPEKSI.


Sejatinnya Manunggaling Kawulo Gusti itu. INTROPEKSI.

Oleh: Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

Djawa dwipa. Hari Senin Wage. Tgl 29 Pebruari 2016

Sejatinnya Manunggaling Kawulo Gusti itu, adalah INTROPEKSI. Dan sejatinya intropeksi itu, adalah Mengenal diri sendiri. Dan mengenal diri sendiri itu, merupakan langkah awal dari Spiritual.
Setiap manusia di dunia ini, pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, yang bersifat unik sebagai individu. Tentunya kita sebagai makluk sosial, mengharapkan diri kita maupun orang lain, bisa tampil serta berprilaku sebaik mungkin, sesuai dengan harapan serta norma yang berlaku, bukankah begitu sedulur-sedulur dan para kadhang kinasihku sekalian…

Seringkali kita mendengar istilah ‘Intropeksi Diri’ yakni suatu proses pengenalan diri, secara sadar, yang mengacu ke dalam diri pribadi.

Hasil dari Praktek Pembelajaran saya Pribadi di TKP. Intropeksi diri, jika dilakukan dengan tujuan yang positif,  maksudnya dengan Laku/Iman, di bahwa bimbingan seorang Pembimbing yang tepat dan benar, bisa meningkatkan kelebihan sifat seseorang dan mengidentifikasikan sifat negatif dari yang bersangkutan, namun apabila dilakukan terlalu berlebihan dan tanpa Pembimbing serta Laku/Iman, maka intropeksi diri ini justru berubah, menjadi proses yang kontraproduktif, karena bisa menurunkan rasa percaya diri, pesimis dan terlalu sensitif, yang bisa berakibat si pelaku menutup diri karena merasa kurang nyaman dengan kondisi diri sendiri, buktikan saja kalau tidak percaya.

Saya pribadi setiap hari melakukan intropeksi diri, yang lebih bersifat perenungan dengan cara menulis/mengetik apapun bentuk pengalaman yang saya alami di keseharian saya, terutama yang berkaitan dengan hasil Laku dan Semedi, yang kemudia saya sebarkan melalui internet dengan apa adanya, maksudnya sesuai dengan yang saya peroleh, tanpa pengurangan dan tambahan otak atik apapun. Karena disaat menulis/mengetik, saya dalam sikon intropeksi diri. Dialog artara kata Pikir dan kata hati, positif maupun negatif, senang atau susah, kesal atau bahagia, semua reaksi tersebut, saya tulis tanpa disensor, mengalir begitu saja.

Tak cukup hanya di situ saja, ada beberapa hal yang tengah terjadi dalam kehidupan saya pribadi,  ikut serta tertulis, dan turut pula tersebar di internet. Saya menyadari akan semuanya itu, saya juga hapal betul proses dialog dengan diri sendiri, melalui laptop yang selalu siap menjadi tumpahan dialog  atau berdiskusi, yang berjalan secara berkesinambungan sehari-harinya, memampukan kepribadian jiwa saya, untuk lebih awas, toto, titi, surti ngati-ati secara sadar, dengan “Intisari” Firman Hyang Maha Suci Hidup dan Sabda Hidup sebagai Ending-nya Lelaku saya, serta “Saripati” Hyang Maha Suci Hidup sebagai Klimax-nya Laku saya.

Sehingganya,,, semakin sering kita selalu melakukan “intropeksi diri” secara obyektif, maka kita akan semakin awas terhadap kelebihan dan kekurangan diri sendiri, juga bisa meningkatkan rasa simpati dan empati terhadap sesama makluk hidup di dalam semesta alam ini, sebab Proses perenungan pengenalan diri “intropeksi” di sadari atau tidak di sadari, telah memanunggalkan sedulur papat dengan pancernya, telah mempertemukan kawula dan gustinya.  Sehingganya, dengan sangat alami, akan membangunkan Hidup kita yang selama ini tertidur pulas, untuk selalu siap siaga menuntun, menjadi guru sejati bagi diri sendiri, secara nyata dan dengan SADAR.
Para sedulur dan kadhang kinasihku sekalian. Ketahuilah, berbagai macam ritual yang hanya menekankan kuantitas bukan qualitas, bukanlah suatu tindakan yang bijaksana. Ritual berkualitas hanya bisa didapatkan, bilamana kita melakukannya dengan penuh kesadaran/eling dan fokus sepenuhnya. Dalam artinya, tidak ada yang lain selain Hyang Maha Suci Hidup di dalam jiwa raga pribadi kita. kesadaran/eling dan fokus sepenuhnya pada satu titik tujuan ini, hanya bisa kita dapatkan setelah melakukan “intropeksi” semakin sering intropeksi, maka semakin sadar/eling dan fokus.

Sebagai contoh sederhana, prilaku hidup tanpa sadar/eling, adalah seperti ketika anda meninggalkan rumah, tiba-tiba saja anda bertanya-tanya di dalam hati, apakah kran air sudah dimatikan ya? apakah pintu rumah sudah di kunci? apakah lampu kamar sudah dimatikan? dan seterusnya. Andaikan saja sebelum anda meninggalkan rumah, anda berjalan keluar dengan penuh kesadaran/eling, maka pertanyaan & keraguan tersebut, tidak akan muncul di dalam benak anda. Masalah yang sepele, namun bisa menimbulkan kegelisahan hati & pikiran, hanya akibat ketidaksadaran/tidak eling dalam bersipat dan bersikap.

Segala tindakan sekecil apapun, bila dilakukan dengan penuh kesadaran & eling akan menghasilkan kebijaksana’an dan inilah yang di sebut sebenar-benarnya ibadah.  Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, maafkan lah saya, jika apa yang saya tulis dan saya sebarkan melalui media internet ini, adalah kesalahan yang tidak saya sengaja. saya hanya ingin menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang saya dapatkan dari-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di dunia ini. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet..  BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin dan, Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *

Ttd: Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

Handphon:  0858 – 6179 – 9966

https://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com

 

 

LUNTUR:


LUNTUR:

Oleh: Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

Djawa dwipa. Hari Senin Wage. Tgl 29 Pebruari 2016

Ditambakno mrono mrene. Tiwas-tiwas… ndedowo larane.

Nangin tombo sejatine. Ora liyo mung awake dewe…

Syair Lagu “Luntur” Karya : Alm. Gesang
Artinya;

“Berobat ke sana kemari, Sampai-sampai berkepanjangan sakitnya,
Namun obat sebenarnya, Tidak lain hanya diri sendiri”

Ada saatnya kita berbahagia dan ada saatnya juga kita bersedih. Demikian pun, adakalanya kita suka cita dirundung cinta, namun ada kalanya juga kita sedih nestapa akibat putus cinta. Tidak sedikit orang-orang yang datang langsung menemui saya, atau melalui internet, hanya untuk berkonsultasi dengan saya,  menanyakan obat apa dan solusi yang bagaimanakah, untuk menghilangkan rasa sedih pedih karena patah hati? Atau sakit hati?

Saya sarankan agar mereka yang sedang dirundung duka karena patah hati, agar sekiranya mereka bercermin ke dalam diri pribadi. Obat penyembuh perasa’an sakit sebenarnya, ada di dalam diri pribadinya sendiri. Namun sayangnya, kebanyakan diantara mereka yang sedang patah hati, melakukan pelarian dengan cara minum-minuman keras, berbelanja, jalan-jalan ntuk melampiasan nafsu sesa’at, bahkan tak jarang lari ke paranormal sebagai solusi sementara.

Padahal… Inti permasalahannya, ada di dalam dirinya sendiri. Yaitu; Ego kemelekatan terhadap cinta yang salah arti dalam penerapannya, dan nafsu menjadi sebab penderita’an akan hal itu, apabila kemelekatan tersebut, tidak bisa terwujud sesuai dengan yang di  harapkan. Hanya dengan melakukan intropeksi diri “duduk diam” Nang Ning Nung (tenang, hening, nunggal/menyatu) antara hati dan pikiran, jiwa dan raga, perasa’an dan rasa, lahir bathin, roh dan Roh Suci, sedulur papat dan pancer, kawulo dan Gusti manunggal, menyatu, bersatu padu menjadi satu kesatuan.

Penganalisa’an inti permasalahan, akan hadir secara alami dan sesuai Firman yang tersurat dan tersirat atas Kuasa Hyang Maha Suci Hidup. mempertanyakan kembali perspektif cinta kasih sayang sebenarnya, yang diharapkan, hingga sampai ke perhitungan untung rugi dalam suatu ikatan cinta kasih sayang jika tanpa iman.

Proses perenungan alami dan sesuai Firman yang tersurat dan tersirat atas Kuasa Hyang Maha Suci Hidup ini, yang akan memberikan bukti obyektif, yang dengan sendirinya, akan menuntun pandangan hidup dalam kehidupan dan menetralisir perasa’an kecewa atau sakit hati.

Memang tidak semudah yang dikatakan, ketika hendak melakukannya, karena cinta kasih sayang yang telah menyalah kaprahkan ego dan nafsu, erat kaitannya dengan yang namanya  masalah perasaan. Perasaan seringkali bertentangan dengan logika. Dan Perasa’an inilah yang telah banyak membelenggu kebanyak manusia, sampai ke kalangan para ahli, sejak awal pembelajaran menjajah dirinya. Jangankan yang selain Tuhan. berTuhan saja, kita dengan Perasa’an. Padahal kita tau, bahwa yang namanya Perasa’an itu, bohong, palsu, semu, dusta  dan mencelaka kan jika tanpa iman yang benar dan tepat.

Para Sedulu dan Para Kadhang kinasihku sekalian… Ketahuilah.

Beratnya jodoh atau ringannya jodoh. Beratnya rejeki atau ringannya rejeki, beratnya sukses atau ringannya sukses dan lain sebagainya itu. Semua bergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya.

Dari cinta kasih sayang Buta…?! atau

Dari Cinta Kasih Sayang yang Waskita…?!

Dan keduanya tidak ada yang sia-sia atau percuma jika kita Laku Wahyu Panca Gha’ib.  Semua tanpa terkecuali ada hikmah pembelajaran yang perlu di petik, untuk bekal menyelesaikan Proses kehidupan di dunia ini. INGAT… Tidak selembar daunpun yang jatuh ke bumi ini tanpa kehendak Tuhan… Dan yang harus lebih di INGAT lagi… Inna lillaahi wa inna illaahi roji’un. Dari Tuhan kita berasal dan hanya kepadanyalah kita kembali. Bukan yang lain.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, maafkan lah saya, jika apa yang saya tulis dan saya sebarkan melalui media internet ini, adalah kesalahan yang tidak saya sengaja. saya hanya ingin menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang saya dapatkan dari-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di dunia ini. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet..  BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin dan, Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *

Ttd: Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

Handphon:  0858 – 6179 – 9966

https://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com

Lelaku Ilmu Kacherbonan “Dewa Ning deweke” (Bahasa Cirebon)


Lelaku Ilmu Kacherbonan “Dewa Ning deweke” (Bahasa Cirebon)

Artinya-Tuhan ada di dalam diri Manusia:

Oleh: Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

Djawa dwipa. Hari Rabu Wage. Tgl 24 Pebruari 2016

Pengertian Dewa Ning deweke (Tuhan ada di dalam diri manusia). Maksudnya. Tuhan sebagi Sang Pencipta segalanya, ada di dalam diri manusia, yang menjadikan diri-Nya Hidup, yang bersemayam di dalam diri setiap makhluk yaitu manusia, binatang dan tumbuh-tubuhan.

Badan manusia terdiri atas tiga bagain yaitu:

(1). Sukla Sarira atau Antah Karana Sarira atau badan penyebab kehidupan,

dimana bersemayamnya sang Hidup.

(2). Suksma Sarira atau badan halus dimana terdapat roh/jiwa, budhi, pikiran, tri guna dan dasa indriya.

(3). Stula Sarira atau badan kasar yang terbentuk dari panca maha bhuta (air, cahaya, angin, api, dan tanah). Yang lebih di kenal dengan sebutan sedulur papat kalima pancer.

Oleh karena Tuhan ada di dalam diri tiap-tiap Manusia Hidup, secara tidak langsung. Tuhan sebagai Sang Pemelihara, memihara manusia sepanjang hidupnya. Namun manusia harus melakukan hubungan dengan Tuhan melalui Laku.

Sebelum menjalankan laku, manusia harus membersihkan pikiran dan badannya, dengan cara mempraktekan Cinta Kasih Sayang terhadap sesama Manusia Hidup.

Kemudian melakukan Patrap Kunci. Paweling. Asmo. Mijil lalu bersemedi. Agar intuisinya dapat dirasakan oleh badan dan pikiran. Dengan demikian manusia akan dapat mengetahui Tuhan-nya. Melalui Rasa Krasa Rumangsa. Ngrasakake ananing Hyang Maha Suci Hidup.

Agar pengetahuan ini, tidak musnah terpengaruh oleh pengalaman-pengalaman baru, yang akan muncul selepas pembersihan di dalam laku. Maka harus Palungguh, setiap kali selesai Patrap Kunci. Paweling. Asmo. Mijil dan  bersemedi. maksudnya, biyar mapan lenggah pada tempat yang seharusnya di tempati, sehingga apa yang telah di dapatkannya tidak kembali hilang di telan katanya.

Mengetahui Tuhan, berarti mengetahui segala jenis pengetahuan dan isi dunia ini. Setelah mengetahui Tuhan, manusia akan menjadi jivan mukta, atau tidak berpengaruh terhadap duka sebesar apapun, karena yang dirasakan hanyalah kebahagiaan yang Sempurna.

Sebagai Sang Pelebur… Tuhan akan mengembalikan Sang Hidup kepada diri-Nya, seperti yang di sebutkan di dalam kitab Atharvaveda “ wahai manusia, karena adanya keinginan-keinginan untuk hidup di dunia, maka diikat oleh ikatan dunia ini. Tuhan telah menjemput, sang Hidup telah pergi ke alam pitra (asal usulnya), mayat sudan milik Panca Maha Bhuta, segera dijauhkan dari rumah, agar keluarga dapat tinggal dalam kedamaian”.

Para sedulur dan Para Kadhang kinasihku… Jangan pernah takut atau marah jika Tuhan memberikan coba’an, karena seseungguhnya, coba’an itu, adalah jalan atau anak tangga dari Tuhan, untuk kita, agar supaya kita bisa lebih baik, bisa lebih dewasa, bisa lebih dari segalanya yang telah terlampaui dalam proses kehidupan. Lagi pula, jalan/tangga yang kita anggap coba’an itu, tidak akan melebihi batas kemampuan kita. Dan yang paling utama, dibalik coba’an tersebut, ada kebaikan/kesuksesan/kebahagia kita. Tinggal kitanya, mau menapaki/menaiki jalan/tangga itu atau tidak. Percayalah… Tuhan tidak akan menyia-nyiakan umatnya, satupun.

Jika saudara/kadhang hanya ingin bahagia selama satu jam, istirahat tidur sianglah. Jika saudara/kadhang hanya ingin bahagia selama satu hari, pergilah berpiknik. Jika saudara/kadhang hanya ingin bahagia selama seminggu, pergilah berlibur. Jika saudara/kadhang hanya ingin bahagia selama sebulan, menikahlah. Jika saudara/kadhang hanya ingin bahagia selama setahun, warisilah kekaya’an alam. Jika saudara/kadhang hanya ingin bahagia selama seumur Hidup, cintai, kasihi dan sayangilah sesama Hidup. Jika saudara/kadhang ingin tenteram dan sempurna dunia akherat. Maka kenalilah Hidup-mu dan Maha Suci Tuhan-Mu.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, maafkan lah saya, jika apa yang saya tulis dan saya sebarkan melalui media internet ini, adalah kesalahan yang tidak saya sengaja. saya hanya ingin menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang saya dapatkan dari-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di dunia ini. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet..  BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin dan, Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *

Ttd: Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

Handphon:  0858 – 6179 – 9966

https://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com

 

DADI WONG JOWO KUDU NGERTI JAWANE. DADI WONG JOWO OJO ILANG JAWANE:


Toso Wijaya
DADI WONG JOWO KUDU NGERTI JAWANE. DADI WONG JOWO OJO ILANG JAWANE:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Minggu Legi. Tgl 21 Pebruari 2016
Para Sedulur dan Kadhang kinasih saya dimanapun berada, ketahuilah. Tanah jawa, bukanlah asal tanah, ada ribuan, bahkan mungkin juta’an atau miliyaran sejarah yang tersembunyi didalamnya, yang jika di ungkap, tidak bisa di jelaskan hanya dengan bukti ilmu logika semata, secanggih apapun ilmu logika tersebut. Itu terbukti dari banyaknya para ilmuwan manca negara, yang sengaja di datangkan, atau tidak sengaja di datangkan ke Tanah jawa, untuk meneliti dan mengukur Tanah jawa. Bumi pertiwi tempat tinggal kita sejak dulu hingga sekarang ini.
Disengaja atau tidak di sengaja, memang sebagian berhasil mendeteksi dan menemukan beberapa titik jejak leluhur jawa, namun sejauh penelitian mereka, belum ada satupun yang mampu menjelaskan dengan benar dan pasti, tentang apa yang mereka temukan.
Ini menandakan, bahwa tanah jawa, bukan asal tanah, sebagaimana tanah-tanah yang berada di kepulauan lainnya atau negara-negara lainnya. Itulah Tanah Jawa kita. Peninggalan para leluhur kita, yang Patut kita Banggakan dan kita Pertahankan segenap Jiwa Raga kita.
Disisi lain, tidak sedikit sejarah-sejarah tersurat dan tersirat, yang menceritakan dan mengabarkan tentang kelebihan-kelebihan orang jawa. Hingga sampai ke negeri luar, orang jawa selalu mendapat sorotan paling khusus dan istimewa, sejak jaman berhala hingga jaman keNabian dan jaman modern sekarang.
Ini menandakan, bahwa Para leluhur kita, bukanlah manusia-manusia biasa. Seperti manusia-manusia hebat da sakti lainnya, yang hidup di luar Tanah jawa, Yang wajib kita junjung tinggi martabatnya, dan kita hormati perjuangannya, hingga sepenuh hati kita, sebagai keturunan dan pewarisnya.
Di Tanah Jawa ini. ada berapa miliyar jiwa manusia jawa, belum lagi yang berada di luar jawa, tersebar dimana-mana. Disadari atau tidak disadari, asli keturunan jawa, yang artinya, memiliki tanggung jawab, sebagai orang jawa, untuk mewarisi seluruh leluhur jawa.
Namun sayang… hanya beberapa saja. Yang mengetahui dan menyadari tentang semua dan segala halnya itu. Sehingganya… Pertanya’an yang harus muncul. Orang jawa yang manakah…?! Yang Dimaksud…!?
1. DADI WONG JOWO KUDU NGERTI JAWANE:
Kito iki urip kang diarani Jumeneng Manungso tinitah ing Alam Padhang ( Jagad Raya ). Kudu sumurup artining patrap traping susilo, ateges Toto Kromo, Toto, Titi, Titis,Nastiti, Ngati-ati, Duga-Prayogo, Temen, Sabar, Tawekal, Nerimo, Tatag, Ikhlas, Sumeleh, Hening, Heneng, Awas Heneng lan Eling serto Waspodho.
Ojo podho kleru tompo, sebab kabeh kuwi wus diatur dening ponco driyo.
Mungguh kito urip sipating Manungso, asal soko dumadi lan pambudi. Yo iku kang diarani PANGERAN SANYOTO, kuwi tegese wujud kito yekti. Mulo soko iku, kito jeneng wong kang ngaurip, Lumaku satindak kudu ngaweruhi hananiro, ojo demen lelemeran, kudu setyo tuhu marang gesangiro lan kapitayan marang badaniro dhewe, mungguh lungguhe AKU. Mulo ora gampang, yo ora angel, mungguh lakuning Manungso (Jalmo), sakbiso-biso ojo nyidrani janjiniro kang wus kawijil.
SABDO PANDHITO WATAK UTOMO :
Yen cidro temahing bilahi. Kito temen bakal tinemu. Kito becik ketitik. Kito olo ketoro.
Mulane mumpung kito isih gesang ( urip ). Ayo podho ngudi ngelmu kang sanyoto ing endi lungguhing Elmu, margane poro Sanak Kadang samiyo ngudi tuwuh kudu tumindak. SAROJO, TRISNO, SETYO, TUHU, PRASOJO lan UTOMO Jerjering Manungso.
Hananing PAMBUDI margo soko DUMADI, Banjur biso muncul unen-unen sing diarani ” ELMU lan NGELMU ” dumunung ono ing PONCO DRIYO. Ponco Driyo iki kang biso ngukir SEKABEHING Kabudayan.
Mulo Jaman kuno makunaning diarani jaman kabudan. Banjur kuwi sakwuse kang aran Agomo BUDHA. Lah Budha iku BUDI sawise budi kabudayan. pokok sekabehing Kabudayan iku diatur dening PONCO DRIYO.
Sejatining kang aran AGOMO kuwi yo BUSONO, ateges ageman, yo kang aran Lelaku Sejati. Mulo ing kene kito aturake, mungguh ananing dumadi banjur hanane Pangera Sanyoto. Banjur ono tembung kang aran A, I, U, tegese AKU, IKI, URIP. Ananing URIP ono sing NGURIPI. Ananing AKU (Kawulo) sebab ananing GUSTI, yen yo ora GUSTI wis mesti ora ono Kawulo. Sawise mengkono banjur kawijil ” ROSO – PANGROSO, biso muno lan muni, terus kabeh mau diatur dening PONCO DRIYO.
Ananing ELMU lan NGELMU, Sir Kawulo maneges marang Gusti, banjur ono wujud makno sing diarani SIDIKORO, MANEKUNG lan SEMEDI.
Punten-punten, amit lan nuwun sewu.
Poro Sanak Sedulur Kadang sedoyo calon-calon Satriyo Paningit.
Kang wus podho Winarah lan Winasis. Kang hamengku Bumi Nuswantoro. Semoga Bangsa dan Negara kita yang tercinta ini, segera bangkit dari keterpurukan ROSO, KROSO, RUMONGSO, NGRASAKAKE Hananing Urip. Yang Penuh Cinta Kasih Sayang nan Tulus. Karena kita-kita ini (terutama adalah saya pribadi) sudah bergeser menjadi sosok manusia yang LUPA dan LALAI akan “ADAMU” Asal Dumadi Ananing Manungsa Urip (Sangkan Paraning Dumadi), sehingga telah menjadi manusia yang lupa Hidupnya, tidak menjadi DIRINYA SENDIRI, itu di karenakan, kita-kita telah yang lupa pada KESEJATIAN DIRI.
2. DADI WONG JOWO OJO ILANG JAWANE:
Dadi Wong Jowo Ojo Ilang Jawane. Kudu Ngerti Maring Sangkan Paran Dumadine.
Artinya;
Jadi orang Jawa jangan hilang jati dirinya, harus memahami darimana asal usul pencipta’annya, dan akan kemana perjalanan akhir hidupnya.
Marang Ibu Pertiwi Kudu Rumongso Melu Handarbeni, Wajib Melu Hangrungkebi, Mulat Sariro Hangroso Wani.
Artinya;
Terhadap tanah kelahiran, harus merasa ikut memiliki, wajib ikut mempertahankan kehormatanya, mawas diri, dan berani mengambil tindakan demi kebaikan.
Elingo Ajining Rogo Ono Busono, Ajining Diri Ono Ing Lathi, Tumindak Kudu Weruh Empan Papan, mergo Manungso Mesthi Bakal Ngunduh Wohing Pakarti.
Artinya;
Ingatlah,,, bahwa raga manusia dihargai dari kesopanan dalam berpakaian, sedangkan jiwa manusia, dihargai dari ucapan dan kepribadian (sipat dan sikap), dalam bertindak harus tau menjaga tata krama sesuai tempat, waktu dan keadaan, karena manusia pasti akan memetik buah dari perbuatanya sendiri.
Saya. Toso Wijaya. D, alias Djaka Tolos. Dengan nama akun internet “Wong Edan Bagu” Tumitah ingalaman padhang Dadi Wong Jowo. Leluhurku jowo. Kaki niniku wong jowo. Bopo biyungku wong jowo. Lahirku dijawa. Besar dijawa dan Hidup dijawa. Anggalih Roso. Kroso. Rumongso. Ngrasakake Urip lan Angudidayaning Ngelmu Sangkan Paraning Dumadi ugo Manunggaling Kawulo Gusti, kuwi Lakonku. Wahyu Panca Gha’ib, kuwi Lakuku. Tak akoni tanpo tedeng aling-aling. Saya tidak akan pernah malu jadi orang jawa. Karena jawa itu, bukan suatu hal yang memalukan. Saya tidak akan menginkari sebagai orang jawa. Karena jawa itu. Luar Biasa.
Dadi wong jowo kuwi takdirku. Aku ora keno protes marang Gusti Ingkang Moho Suci, kudu nompo takdir kuwi, lan kudu dadi wong jowo sing njawani. MBESUK YEN BALI KUDU ISA NUNGGAL, SAIKI YA KUDU ISA NUNGGAL. Yen ora biso. Berati dudu wong jowo.
Tanduran utawa wit kuwi, ana sing urip uga ana sing mati, wit kuwi mung diarani urip lan mati ora ana nyawane. Kewan ana sing urip uga ana sing mati, nanging yen durung mati-mati ijih ana nyawane. Wong uga ana sing urip lan ana sing wis mati, nanging yen ana wong lara nemen, tapi ora mati-mati, kuwi nyawane utawa ruhe, durung gelem pecat saka ragane, amerga dalane peteng, uga ana sing ngarani nyawane rangkep. Saka kandane Leluhur Jawa, kuwi wis cetha, bab urip, nyawa, raga lan ruh uga bedane tanduran, kewan lan wong.
Ana unen-unen Nusantara-Jawa ruh gentayangan, ruh ngalumbara, ruh penasaran. Kuwi ngandakake, yen ruh kuwi, durung bisa bali menyang sangkan paran, kosok baline, uga ora ana unen-unen Nusantara-Jawa urip penasaran, urip gentayangan, urip ngalumbara.
URIP kuwi ora owah ora gingsir, saka mula-mulane suci lan mesti bisa bali menyang mula-mulane, sing owah gingsir, ya ragane, uga ruhe wong kuwi. Ruh mapane aning cipta. Mula, bayi kuwi lair paningale durung isa ndelok, pangrungune durung isa krungu, saya suwe saya weruh lan krungu samubarang kalir. Urip mapane aning ati sumebar ning rasa.
Laku nunggal cara Nusantara-Jawa ya kuwi lelaku nunggal ciptane (ruh) karo rasane (urip), kuwi nunggal ning jagat cilik (raga), suwe- suwe yen wis kulina dadi isa nunggal karo jagad gede. Yen wong tilar donya, nalika isih bagas waras, ora nate lelaku nunggal, ya mesti tangeh lamun isa nunggal langgeng. Sing bener mbesuk, yen bali kudhu isa nunggal, langgeng sak lawase, mula saiki mumpung ijeh nang donya, ya kudhu isa latihan nunggal. Yen isa nunggal bakal weruh samubarang kalir.
Miturut Leluhur Jawa, akeh wong Nusantara-Jawa, malah sing ngaku-ngaku sesepuh pinisepuh sing dha keliru panemu, amerga keblituk-kepikut ngelmu kapercayan anyar, saka manca negara, banjur nyampur bawurake lelaku Nusantara-Jawa, karo kapercayan utawa agama saka manca, dadine malah ora karu-karuan.
Mula para lajer Nusantara-Jawa, aja dha keliru panemu… Kuwi welinge Para Leluhur Jawa. leluhure kita kabeh. biyen wanti-wanti kanggo para wayah kudhu lelaku Nusantara-Jawa, asli tinggalane para leluhur, ben tetep Jawa lan ngerti marang Jawane, ora owah malah dadi Jawan.
Piwelinge Leluhur Jawa, lelaku Nusantara-Jawa, kaya sing di kandakake kuwi, ora bakal ana nang agama saka manca apa wae. Sapa wae pawongan yen ameh lelaku nunggal, gelem ora gelem, diwiwiti saka apa sing wis kadung tinulis nang batuk, kudu di re-set disik, yen wis bener-bener ngerti lagi dilakoni !!!.
Aja kesusu di mangerteni disik, ben ora kebat-kliwat mundhak samubarang apa wae mung dadine nang batuk (angen-angen) utawa nang lambe marahi lamis. Hee hee hee Edan Tenan. Ngerti lan pinter kuwi beda banget lo.
WONG JOWO KUDU NGERTI JAWANE. DADI WONG JOWO OJO ILANG JAWANE. Piwulang/Wejangan “Manunggaling Kawula Gusti” adalah ajaran Jawa tentang diri pribadi manusia (cipta’an) atas belas kasih Hyang Maha Suci Hidup Allah. Yang berkenan menyertai setiap hati/qalbu sejati manusia.
Manusia Hidup karena belas kasih-Nya, maka sejak manusia diciptakan, Tuhan selalu menyertai manusia, sebagai ciptaan paling sempurna, yang diutus menjadi “kepanjangan tangan Tuhan” supaya hidup rukun dengan sesama dan alam semesta, sebagaimana diteladankan Tuhan, untuk memuliakan nama-Nya. Karena kasih-Nya (katresnan Dalem Gusti), Tuhan tidak otoriter, tetapi menghargai manusia sebagai pribadi utuh yang diberi kebebasan.
Kebebasan inilah yang membuat perjalanan hidup manusia menjadi berbeda satu dengan yang lain. Upaya diri pribadi manusia yang terbuka hatinya menanggapi “Manunggaling Kawula Gusti” ini, lalu dilakukan secara sendiri-sendiri atau berkelompok, dengan lelaku glenikan, sehingga menghasilkan ngelmu klenik, yang disebut ajaran (piwulang atau kawruh kejawen) Padahal, bukanlah itu maksudnya dan bukan kesitu tujuannya.
Ini membuktikan, bahwa sesungguhnya, pengetahuan manusia, khususnya yang mengaku orang jawa, tentang “dirinya sendiri” masih sangat dangkal, daripada “diri sendiri sejati” yang diberikan Sang Pencipta. Atau dengan kata lain, Sang Pencipta mengenal diri manusia, lebih baik daripada manusia mengenal dirinya sendiri, Tuhan welas asih kepada manusia, lebih daripada manusia mengasihi dirinya sendiri.
Perbuatan yang selama ini, dilakukan kepada Tuhan, sesama dan alam semesta, yang menurut manusia sudah baik, ternyata masih sebatas ragawi, yang kasad mata, penuh pamrih dan pilih kasih, (mbancindhe mbansiladan) hanya untuk kepentingan manusia (dirinya sendiri).
Contoh;
Ketika seseorang beribadah kepada Tuhan, menganggap yang dilakukan sudah cukup (karena sikap dan perbuatannya tidak berubah), tetap melakukan kekerasan pisik/non phisik, pemarah, penfitnah, penghasut, pembenci, pendendam dll, karena dilakukan secara normatif, agamis tanpa qalbu/hati sejati.
Demikian pula, ketika perbuatan baik kepada sesama, tidak mendapatkan balasan, tanggapan semestinya atau bahkan sama sekali tidak ditanggapi menjadi kecewa, marah, tersinggung, dll. Padahal kasih yang diteladankan Tuhan, tidak pernah menuntut balas dan pilih kasih.
Oksigen untuk bernapas manusia, hangatnya matahari, segarnya air hujan, diberikan kepada setiap orang secara cuma-cuma, tanpa membedakan status, etnis/ warna kulit, agama, dan lain sabagainya.
Untuk menggali kesadaran diri hati sejati, diperlukan percaya sejati kepada Tuhan. Percaya sejati berarti berserah diri tanpa reserve, melepaskan nafsu ingin memiliki dan kemauan sendiri kepada kehendak Tuhan, semua yang ada dipersembahkan sebagai alat-Nya, memuliakan nama-Nya.
Niat berserah diri atau pasrah kepada Tuhan, hanya dapat diwujudkan dengan Laku Wahyu Panca Ghaib atau Cinta Kasih Sayang “Wahyu/Cinta” . ”Panca/Kasih” . ”Ghaib/Sayang”
Patrapnya/Prakteknya. Nang. Neng. Ning. Nung. Diam…!!! dengan senyum, rileks dan rela melepaskan, semua kemelekatan dan keterikatan. Mengarahkan hati hanya kepada Tuhan, dilakukan secara tekun tanpa target, tanpa pamrih dan tidak memaksakan diri, batin/qalbu menjadi wening (jernih). Wening/Jernih inilah, yang menumbuhkan kesadaran “diri sejati” bahwa Tuhan, sungguh benar-benar hadir mengasihi dirinya. Buahnya hati sejati menjadi dunung (mengerti) bahwa hidupnya harus menyatu dengan Sang Pencipta. Bukan kelain selainnya.
Wahyu Panca Ghaib, berarti harus mau meneladani kasih-Nya, yang diungkapkan dalam kehidupan sehari-hari, semakin Cinta Kasih Sayang kepada sesama dan alam semesta seisinya.
Diantaranya, memaafkan kesalahan, Memohon maaf kepada Tuhan dan sesamanya, atas segala kesalahannya dengan KUNCI. Menerima orang lain dan keadaan/peristiwa seperti apapun dengan apa adanya, tidak akan mempengaruhi orang lain dengan paksa, merubah sikap kekerasan menjadi tanpa kekerasan, dari permusuhan menjadi damai, dari hidup dengan berbagai kepalsuan, menjadi jujur dan apa adanya, dari sombong, egois dan menonjolkan diri menjadi rendah hati dan peka akan perasaan orang lain, dari serakah menjadi rela untuk berbagi hal, berbela dan berbagi rasa, melestarikan alam semesta, tidak pernah mengadili orang lain, mengritik, memaksakan kehendak, dll.
Inilah Orang Jawa yang sesungguhnya. Orang Jawa yang sebenarnya. Inilah Ajaran Jawa yang sesungguhnya. Ilmu Jawa yang sebenarnya. Warisan Leluhur Jawa untuk semua Orang Jawa.
Tuhan hanya dapat diabdi dengan “Wahyu/Cinta” . “Panca/Kasih” . “Ghaib/Sayang” dalam perbuatan nyata, bukan katanya apapun, dan tidak hanya dipikirkan atau angan-angan belaka. Hanya dengan Lakon dan Laku Cinta Kasih Sayang Tuhan dapat diperoleh, tetapi dengan pikiran tidak mungkin. Apa lagi dengan politik, sungguh mustahil.
Apabila sungguh-sungguh Orang Jawa, ORA ILANG JAWANE. MESTI NGERTI JAWANE. Yakin dan Percaya kepada Hyang Maha Suci Hidup Allah, mengarahkan hati sejati hanya kepada-Nya, yang di praktekkan dengan Lakon dan Laku Cinta Kasih Sayang.
Apabila sungguh-sungguh Orang Jawa, ORA ILANG JAWANE. MESTI NGERTI JAWANE. Maka akan dengan tegar, dapat menerima setiap keadaan apapun, tanpa harus melawan dengan memaksakan kehendak, segala sesuatu yang negatif, dari luar dirinya, diterima dengan senyum sebagai hiburan, karena percaya bahwa kuasa welas asih & katresnan Dalem Gusti yang berkarya, diiringi ucapan syukur. Tidak ada irihati, dendam, benci, sombong, takut, kuatir, tegang, dihantui perasaan bersalah dll, melainkan Percaya dan Yakin. Tuhan pasti akan mengatur dengan kuasanya, memberikan kesejahteraan sejati, bagi kehidupannya.
Demikian juga ketika Manembah/berdoa kepada-Nya, yakin segala permohonannya telah dikabulkan. Semua ini membuahkan bahagia, tenang, damai, nyaman “TENTERAM”. Sehingganya, berani menghadapi kenyataan hidup, dalam segala hal selalu bersyukur. (sumringah bingah, menapa-menapa wantun, syukur lan beja ingkang langgeng).
Inilah Orang Jawa yang sesungguhnya. Orang Jawa yang sebenarnya. Inilah Ajaran Jawa yang sesungguhnya. Ilmu Jawa yang sebenarnya. Warisan Leluhur Jawa untuk semua Orang Jawa. Meskipun terkesan hanya tentang relasi pribadi Manusia Hidup dengan Hyang Maha Suci Hidup “TUHANnya”, tetapi memiliki nilai sosial dan kemanusiaan tinggi, karena sipat dan sikapnya, dalam berserah diri kepada Tuhan, selalu diungkapkan dengan perbuatan Cinta Kasih Sayang kepada sesama dan alam semesta seisinya, dengan Hidup/Guru Sejati sebagai nakhodanya.
Cobalah Pikirkanlah. Salah dan Sesatkah Orang Jawa yang Mewarisi Warisan dari Leluhurnya ini…?!
Apakah Ajaran yang sudah di pelajari selama ini, seperti yang di wariskan oleh Leluhur Jawa kepada anak cucunya yaitu Orang Jawa…?!
Kalau sama seperti Ajaran warisan leluhur jawa, harusnya tidak ada istilah hitung-hitungan, tambah dan kurang, konsumerisme, hedonisme, normatif yang hanya mengutamakan urusan ragawi tanpa hati nurani. Yang mengakibatkan, orang ingin cepat memperoleh hasil secara instant, mengabaikan proses, untung rugi, yang disadari atau tidak disadari, mempengaruhi kehidupan spiritual dan keagamaan, persaingan, kalah menang, pembenaran diri, egoisme yang berbuntut konflik dengan kedok agama, suku dan ras, penguasaan sumberdaya alam tanpa ada kemauan melestarikan dan berbagi, kekerasan dll, yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab… Dimana Panca Sila Saktinya…?! Dimana Undang-Undang 45nya. Nuwun sewu… Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikala Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Slamet.. BERKAH SELALU. Untukmu Sekalian Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin dan, Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966

Pintu DIRI:


Pintu DIRI:

Oleh: Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

Djawa dwipa. Hari Jumat Wage. Tgl 19 Pebruari 2016

AKU TAHU – ORANG LAIN TAHU. (Open Self Dalam Diri Kita)

AKU TAHU – ORANG LAIN TIDAK TAHU. (Hidden Self Dalam Diri Kita)

AKU TIDAK TAHU – ORANG LAIN TAHU. (Blind Self Dalam Diri Kita)

AKU TIDAK TAHU – ORANG LAIN TIDAK TAHU. (Unknown Self Dalam Diri Kita)

Saya yakin, hanya sedikit, para sedulur dan kadhang saya, yang tidak mengetahui Ke empat hal diatas, rata-rata, pasti tahu, apa lagi seorang yang berpendidikan, ke empat hal diatas itu,  dikenal dengan nama “JOHARI WINDOWS” atau Jendela Johari, yang sering dipakai dalam melihat empat area penting dalam diri manusia.

Chart Johari Windows, diperkenalkan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham pada tahun 50-an.

Ke empat area ini, yang ada dalam diri setiap orang, dan sering tanpa sadar, dipakai setiap orang dalam menunjukkan dirinya kapada orang lain.

Ke empat sisi inilah, yang merefleksikan seberapa, diri kita dikenal oleh orang lain, termasuk pasangan dan keluarga kita. Semestinya merefleksikan dan menyadarkan kita bahwa banyak hal dalam diri kita, yang belum kita gali, bahkan tidak kita kenal. Dalam kehidupan bersosial kitapun sering mengalami.

Ada orang yang cenderung bicara banyak, untuk menunjukkan siapa dirinya.

Ada orang yang tidak banyak bicara, sehingga orang lainpun, tidak mengenal siapa dirinya.

Ada orang yang berusaha menampilkan sisi karakter tertentu, agar orang takut ataupun tunduk padanya, atau sebaliknya agar orang empati atau kagum padanya.

Sesungguhnya,,, itulah kehidupan kita sebagai seorang manusia, yang berusaha membentuk diri kita, sesuai cara pandang kita masing-masing, dan yang akhirnya,  kita menampilkan satu sisi kehidupan kita, yang bahkan sebenarnya jauh dari diri kita sendiri.

Sering kali kita berprilaku dalam image diri kita, yang itu bukan diri kita, dan akhirnya membuat kita terbentuk dari image itu. Namun akhirnya, bukankah Hyang Maha Suci Allah.  Sang Pencipta segalanya, yang paling mengenal diri kita dan kita sendiri seharusnya mengenal siapa diri kita….

Refleksikan siapa diri kita, dan bagaimana kita di hadapan Allah, serta  sesama Mahluk Hidup, teruma manusia, dengan “Laku Wahyu Panca Gha’ib”. Kenali diri kita dan bersikap terbukalah, apa adanya, dengan Cinta Kasih Sayang ke segala dan semua halnya, tanpa tedeng aling-aling.

Anda berani…?!

Kemulia dan Kesejahtera’an kehidupan akan Anda miliki. Kesempurna’an Hidup dan Kesempurna’an Mati. Akan Anda Punyai. He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU  Untukmu Sekalian Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya Terkasih, yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_…..Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih *

Ttd: Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

Handphon:  0858 – 6179 – 9966

https://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com

 

 

Ilmu Spiritual. Syare’at. Tarekat. Hakikat. Ma’rifat. Tasyawuf. Agama. Kepercaya’an. Manunggal. Kejawen. Kebatinan. “Yang Sebenarnya”


CKS.03

Ilmu Spiritual. Syare’at. Tarekat. Hakikat. Ma’rifat. Tasyawuf. Agama. Kepercaya’an. Manunggal. Kejawen. Kebatinan. “Yang Sebenarnya”

Oleh: Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

Djawa dwipa. Hari Minggu Pahing. Tgl 07 Pebruari 2016

Ilmu Syare’at. Tarekat. Hakikat. Ma’rifat. Tasyawuf. Agama. Kepercaya’an. Kejawen. Kebatinan. Kemanunggalan. Dll “Yang Sebenarnya” Penentunya adalah Cinta Kasih Sayang Penentunya. Untuk memahaminya, mari,,, akan saya jelaskan sesuai bukti-bukti yang saya dapatkan sendiri sa’at sedang bermadu Cinta Kasih Sayang bersama Hyang Maha Suci Hidup. Tuhan sekalian Alam. Tapi harus mau membacanya dengan telaten dan teliti dari awal hingga selesai. Karena tulisannya sengaja saya buat panjang lebar, maksudnya biyar jelas dan lebih mudah untuk bisa dipahami oleh siapapun yang membacanya.

Jika tidak teliti dan telaten membacanya… Anda tidak akan Pernah Bisa Mengerti dan Paham, apa lagi Tau Soal Terpenting yang yang menjadi Penentu Ilmu Syare’at. Tarekat. Hakikat. Ma’rifat. Tasyawuf. Agama. Kepercaya’an. Kejawen. Kebatinan. Kemanunggalan. Dll nya ini.

Iklan dulu sebentar ya… He he he . . . Edan Tenan.

Dimana ada cinta. Disana ada Tuhan. Dimana ada kebencian. Disana ada kehancuran. Dimana ada kasih. Disana ada Hidup. Dimana ada dendam. Disana ada kematian. Dimana ada sayang. Disana ada Rasa. Dimana ada dengki. Disana ada permusuhan.

Manusia hidup di ciptakan dengan Cinta. Manusia hidup di besarkan dengan Kasih. Manusia hidup di rawat dengan Sayang.

Haruskan kita kehilangan bahan dasar tersebut..???

Kalau tanpa bahan dasar tersebut… Bagaimana mungkin bisa JADI…!!!

Kita Datang Dengan Cinta, Kasih, Sayang. Pergipun Hanya Dengan Cinta, Kasih, Sayang.  Kita Pergi Dengan Cinta, Kasih, Sayang. Kembalipun Hanya Dengan Cinta, Kasih, Sayang. “ Cinta, Kasih, Sayang” . “Rasa, Terasa, Merasakan” . “Cinta, Kasih, Sayang” . “Wujud, Roh Suci, Maha Suci” . “Cinta, Kasih, Sayang” . “Mahkluk, Utusan, Allah” . “Cinta, Kasih, Sayang” . “Muhammad, Rasul, Allah” . “Cinta, Kasih, Sayang” . “Asal, Usul, Kita”.

Wahai Sedulur dan anak cucuku terkasih. Wahai para kadhang dan anak didikku tersayang. Mengerti dan Pahamilah…

Setiap manusia hidup, dikaruniai empat anasir, sebagai bekal dan perlengkapannya, sebagai manusia hidup, yang tersebut lebih sempurna dibanding mahkluk lainnya, dan banyak istilah untuk membelajaran dan memahami, guna mengenal emapat anasir tersebut, ada yang menyebutnya, sari-sarinya angin, sari-sarinya api, sari-sarinya air, sari-sarinya bumi, ada juga yang menyebutnya, malaikat empat, yaitu jibril, mika’il, ijro’il, isrofil, ada juga yang menyebutnya, angan-angan, budi, pakarti, panca indera, ada juga yang menyebutnya, sedulur papat, yaitu kakang kawah, adi ari-ari, getih lan puser, ada yang menyebutnya, mutmainah, aluamah, supiyah dan amarah dll.

Yang inti dari ke empat anugerah itu, ada pada Hati Nurani atau Qalbu. Ada suatu kejadian, seorang anak berumur dua tahun, berusaha berjalan mendekati dua orang, yang belum ditemui sebelumnya, ternyata kedua orang tersebut, adalah kakek dan neneknya, yang belum pernah diperkenalkan oleh siapapun. Walau seorang anak, yang dapat dikata, akalnya belum sempurna, tapi hati nuraninya, berusaha untuk mengenal diri sendirinya, orang tuanya, orang sekitarnya dan Tuhannya, dan berusaha mencintainya. Hati nurani manusia tidak dapat menghindar dari cintanya kepada ‘Tuhan Semua Manusia’ yang telah memberikan kehidupan kepadanya.

Fitrah manusia, adalah, mencintai dan dicintai, maka manusia akan merasakan nikmat mencintai orang tuanya, orang sekitarnya dan sesamanya, bahkan betapa nikmatnya mencintai ‘Tuhan Yang Maha Hidup’ yang telah menghidupkannya.

Tetapi bagi orang yang akalnya dikendalikan oleh hawa nafsunya, dia menjadi tidak mengerti,  terhadap orang yang mencintai Tuhannya.

Empat anasir yang sudah saya jelaskan sepintas diatas, adalah merupakan serangkaian komponen yang salin berkait dan mengait, jika salah satunya sampai terlepas dari rangkaianya, maka akan mengakibatkan kecidera’an jiwa raga dan menimbulkan masalah yang mempermasalahkan jiwa dan raga.

Karena empat anasir, memiliki sipat sendiri-sendiri, yang berbeda-beda dari satu dengan yang lainnya, empat anasir jika dalam rangkaian, disebut roh, namun jika di lepas atau terlepas dari rangkaiannya, tersebut angan-angan, budi, pakarti, panca indera, dll seperti yang sudah saya jelaskan diatas. Contoh sebuah mobil; di sebut mobil, karena semua rangkaian komponen di persatukan, tapi kalau di lepas satu persatu, di pisahkan dari rangkaiannya, maka tidak bisa disebut mobil, melainkan onderdil mobil, begitu juga dengan mepat anasir. Jika menyatu, tersebut roh, namun jika terpisah, maka tersebut angan-angan, budi, pakarti dan panca indera.

Dan jika empat anasir ini terpisah, tidak menyatu menjadi satu kesatuan dalam rangkaian komponen, yaitu yang tersebut roh, maka akan mengakibatkan kecidera’an jiwa raga dan menimbulkan masalah, yang mempermasalahkan jiwa dan raga. Contoh misal; Raga saya gambarkan sebagai sebuah kereta, jiwa saya gambarkan sebagai kusirnya, dan empat anasir itu sebagai empat kuda yang menarik keretanya. Coba pikirkan, kalau kuda itu, mengikuti kehendaknya masing-masing. Bukan bersatu dalam kendali sang kusir, apa yang akan terjadi pada kereta tersebut…

Dengan sekelumit uraian diatas, berati sudah jelas bukan, dalam hal ini, di butuhkan teori dan perlukan praktek, untuk memanunggalkan/menyatukan ke empat anasir tersebut.

Dan yang perlu di ketahui, untuk memanunggalkan/menyatukan empat anasir tersebut, tidak bisa dengan pemaksa’an atau kekerasan apapun, sebab,,, sebelum kita berhasil mengusai empat anasir tersebut, kita dalam cengkeraman kekuasa’an empat anasir tersebut, artinya, kita adalah budaknya empat anasir, seorang budak, menundukan tuan. Tidaklah mudah dan gampang.

Empat anasir adalah anugerah/karunia Tuhan buat kita, namun karena suatu proses perjalanan hidup yang tidak tepat, anugerah/kerunia itu, memiliki kita, bukan kita yang memiliki anugerah/karunia tersebut. Dan akhirnya, empat anasir itulah yang menguasai kita. Kita di ombang-ambingkan kian kemari, sesuka sipatnya, yang penuh kemunafikan tak manfaat dan menghancurkan. Sehingganya, untuk bisa makan minum saja, kita harus banting tulang, peras  keringat, menyiksa diri. Itupun belum tentu berhasil, karena isinya adalah kemunafikan diri yang semu. Tuhan yang menurut firman, lebih dekat dari urat leherpun, sangat sukar mengetahuinya.

Empat anasir tidak bisa di tundukan dengan ilmu kesaktian apapun, dan tidak bisa disatukan dengan lelaku apapun, sekalipun bisa, itu hanya berlaku untuk sementara saja, sekali waktu, akan kembali berkuasa, mengusai diri kita lagi, itu sebab, ada istilah khilap atau lupa, karena empat anasirnya, kumat/kambuh lagi, bak penyakit tahunan.

Empat anasir hanya bisa di tundukan dengan Cinta. Empat anasir hanya bisa di manunggalkan atau di satukan dengan Kasih Sayang. Karena ketiga sipat dan sikap inilah, yang tidak di miliki oleh empat anasir tersebut. Selain Cinta Kasih Sayang. Empat anasir sudah memiliki semuanya. Jadi,,, tidak akan berguna baginya.  Dengan ini, jelas sudah, bahwa untuk mengenal diri pribadi, mengetahui jati diri. Hanya dengan Cinta Kasih sayang. Untuk,,, kalau memang mau…

Memulailah membiasakan diri, menanam Cinta Kasih Sayang dalam hati, satu persatu, empat anasir akan tertarik masuk kedalam jiwa/qalbu, yang kemudia manunggal/menyatu dengan tenang, aman, nyama, damai, bahagia hingga tenteram, tidak akan keluar atau kambuh lagi, karena telah menemukan ketenangan, keamanan, kenyamanan, kedamaian, kebahagia’an yang menenteramkan di dimensinya.

Jika empat anasirnya sudah manunggal/menyatu, Roh Suci atau Hidup, akan bangkit, mengambil alih kekuasa’an. Dan empat anasir, akan menjadi abdinya. Setelah Hidup atau Roh Suci kembali berkuasa, menduduki tempat yang semestinya ditempati sejak awal mula itu. Yang namanya Firman Allah dan Sabda Rasul. Mulai berlaku baginya. Karena jiwanya telah Hidup. Firman dan Sabda pun, turut Hidup. Karena firman dan sabda itu, sesungguhnya, hanya untuk Hidup dan berlaku hanya untuk Hidup. Bukan empat anasir tersebut.

Karena itu, banyak orang yang mengalami kesulitan dan kerumitan dalam  mengamalkan Firman Allah dan Sabda Rasul, sebab,,, mereka mengamalkannya dengan empat anasir. Bukan dengan Hidup. Sedangkan Firman dan Sabda itu, untuk Hidup, bukan untuk empat anasir.

Di sadari atau tidak, di mulai dari sinilah, tuntunan Hidup akan dimulai. Secara alami sesuai Firman Allah dan Sabda Rasul akan menuntun, setahap demi setahap, setapak demi setapak, selangkah demi selangkah kodrat irodatnya. Dan di mulai dari sinilah, kemudahan dan keringanan dalam segala hal, akan ditemuinya, berikut dengan bukti-bukti nyata dan riyilnya. Segala yang tersembunyi dalam ghaib, akan terbuka bagi kita. Sehingga, kita bisa tau sendiri, mengerti sendiri, paham sendiri, bukan katanya apapun atau siapapun.

Yang namanya empat anasir atau sedulur/saudara empat, akan di mengerti dan di pahaminya. Yang di sebut Diri Pribadi atau Jati Diri, akan di mengerti dan di pahaminya. Apa itu Guru Sejati. Apa itu Hidup. Apa itu Rasa. Apa itu gGha’ib. Apa itu Rasul. Apa itu Tuhan/Allah. Akan di mengerti dan di pahami dengan sangat rinci, riyil, jelas dan nyata-nyata benar. Bukan katanya apapun dan siapapun.

Karena manusia hidup, yang empat anasirnya sudah manunggal/menyatu, akan mengerti dan paham. Bahwa Hidup di dunia ini, hanyalah sementara saja, bak sedang singgah untuk sekedar minum saja, artinya, pasti dia tau harus bagaimananya. Karena manusia hidup yang memiliki karunia, yang  manunggal/menyatu. Adalah seseorang yang berakal dan mencintai ‘Tuhan segala Alam’. Maka dia selalu ingat kepada-Nya, kapanpun dan dimanapun, baik ketika sedang berdiri, sedang duduk, sedang berbaring atau ketika sedang melakukan apapun, bahkan jika ada kesepatan, dengan sadar, tanpa adanya pengaruh orang lain, dia berfikir secara mendalam, benar-benar bertafakkur, tentang pencipta’an langit dan bumi, apakah semua penciptaan langit dan bumi ini sia-sia belaka? “tidak menunggu di suruh atau di perintah, tidak menunggu kepepet atau terdesak kebutuhan”.

Seseorang yang mencintai Tuhannya, maka hatinya hanya diisi oleh semua Nama-nama Tuhan yang indah’, sehingga tidak ada tempat di hatinya, untuk yang selainnya, karena tiada yang lebih utama baginya, selain selalu mengingatnya, mengagungkannya, dan mencari keridloannya. Tidak mau hatinya diisi, oleh cinta selain-Nya, sebab jika hatinya diisi cinta oleh selain-Nya, dengan berdasar hawa nafsu, akan rusak perangai dan akhlaknya dan pribadinya menjadi kurang menarik. (seperti cinta harta membuat seseorang  jadi serakah dan pelit dll)

Cinta Kasih Sayang Laku Spiritual Wahyu Panca Gha’ib. Yang saya maksudkan di setiap artikel saya, adalah cinta kasih sayang tanpa suatu pengharapan (ekspektasi). lengkapnya cinta dan sempurnanya Cinta. Adalah;  Cinta Kasih Sayang. Jika masih Cinta saja, tanpa Kasih Sayang, berati belum lengkap belum sempurna.

Biasanya, ketika seseorang mencintai orang lain, terdapat beberapa bentuk pengharapan yang melekat dan  berkondisi. Namun… Cinta Kasih Sayang Laku Spiritual Wahyu Panca Gha’ib, bersifat tanpa kondisi/syarat, tidak peduli apapun situasinya. Bentuk dari cinta kasih saya ini, bersifat Ilahi dan hanya dapat berkembang, setelah melakukan sejumlah praktik spiritual yang cukup intensif, di mana seseorang dapat merasakan kehadiran Tuhan di dalam semua orang. Dan juga, kita menjadi individu yang lebih bahagia, jika cinta kasih sayang kita, tidak pura-pura atau tercemar oleh pengharapan-pengharapan.

Uraian di atas, menunjukkan bagaimana cinta duniawi, yaitu cinta kasih sayang dengan suatu pengharapan, adalah cinta yang berdasarkan pada kemiripan-kemiripan, dengan sifat alamiah orang lain. Tetapi tidak ada jaminan, bahwa semua aspek dari sifat kita, akan mirip atau melengkapi sifat orang lain. Ketika kita mulai menemukan perbedaan, saat itulah perselisihan dan masalah dimulai.

Di sisi lain. Cinta Kasih Sayang Laku Spiritual Wahyu Panca Gha’ib atau cinta kasih sayang tanpa suatu pengharapan ini, didasarkan pada Jiwa (Roh/Atma) yang tidak berubah. Hal ini serupa dengan bagaimana seuntai tali yang  menghubungkan manik-manik pada kalung, apapun bentuk, warna atau ukurannya, di mana sifat luar/eksternalnya tidak penting. Lubang dalam setiap manik-manik mewakili Jiwa (Roh/Atma) kita, yang mana sama bagi semua orang, yaitu Tuhan di dalam dirinya, tidaklah berbeda dengan Tuhan yang ada di dalam diri orang lainnya.

Cinta Kasih Sayang Laku Spiritual Wahyu Panca Gha’ib, adalah Kasih, dan Kasih adalah Sayang, dan sayang itu, adalah Memberi. Berbicara soal Cinta Kasih Sayang,  berati kita harus mempertanyakan, apa yang telah kita beri,  bukannya apa yang telah kita dapatkan. Memberi tidaklah selalu terhadap pasangan kita saja, tetapi teradap semua orang, dan mahluk-mahluk yang ada di alam semesta ini.

Ingat,,, dulu, di artikel lain, saya pernah mengatakan, bahwa Tuhan itu sangat dekat dengan kita, Tuhan berada di dalam hati kita, hatiku dan hati mahluk-mahluk lainnya, ini berarti bahwa Tuhan itu selalu berada di dalam diri/hati setiap mahluk-mahluknya, maka dari itu kita semua (manusia, hewan, tumbuhan dan mahluk lainnya) adalah satu, kita adalah saudara, karena berasal dari Sang Sumber satu, yaitu Tuhan “Hyang Maha Suci Hidup” dan akan kembali hanya kepada-Nya lagi.

Tuhan tidaklah berada di suatu tempat  yang jauh di luar diri kita, Tuhan tidak berada di tempat ibadah atau tempat lainnya, Tetapi Tuhan akan selalu ada di dalam diri/hati kita.

Lalu apa hubungannya dengan Cinta Kasih Sayang?

Mari saya bantu jelaskan lebih detil dan rinci lagi, di banding artikel-artikel yang sudah pernah saya postingkan.

Kebanyakan dari kita, tersesat dan terjerumus ke dalam sisi kegelapan, diakibatkan karena kita tidak bisa, menemukan Tuhan yang di firmankan lebih dekta dari urat lehernya itu. Padahal,,, kalau bisa, minimal dengan hnaya mendekatkan diri kepada Tuhan saja, maka kita akan tercerahkan dan menjadi mahluk yang Spiritual.  Apa lagi kalau sampai selalu bersaman-Nya.

Bagaimana cara kita mendekatkan diri kepada-Nya?

Agar bisa selalu bersamanya?

Tuhan kan berada dekat, lebih dekat dari urat leher, berati Tuhan ada di dalam diri setiap mahluk-mahluknya, Bila kita ingin mendekatkan diri kepada-Nya, agar bisa selalu bersama-Nya. Maka kita harus mencarinya, dimana?

Ya di dalam diri/hatimu… Masak di puncak gunung dan keramat serta lain-lainnya.  Kan ayat jelas, didalam hati setiap mahluk-mahluknya. Ini berarti kita juga harus mendekatkan diri kepada mahluk-mahluknya, agar bisa lebih dekat dan memahami apa itu yang dinamakan keTuhanan, janganlah salah dulu mempersepsikan apa yang saya jelaskan, ya…

Kita harus mendekatkan diri kepada mahluk-mahluknya, maksudnya adalah,,,  kita harus bisa menyatu dengan hati setiap mahluk-mahluknya. Ini adalah pengertian spiritual yang – spiritual yang sebenarnya, menyatu dengan Tuhan dengan kata lain menyatu dengan setiap mahluk-mahluknya bukan? Karena Tuhan milik sekalian Mahluk.

Caranya ialah dengan Cinta Kasih Sayang. Bukan dendam, bukan benci, bukan fitnah sirik dan dengki, bukan,,,, tapi dengan Cinta Kasih Sayang, karena Cinta Kasih Sayang adalah, Pintu Gerbang jalan menuju ketentraman dan kebahagiaan serta Kesempurna’an segalanya, menuju Hyang Maha Suci Hidup.

Ini dikarenakan Cinta Kasih Sayang, adalah merupakan saluran kita, untuk mendekatkan diri, kepada Sang Sumber, melalui mahluk-mahluk-Nya.

Cinta Kasih Sayang bukanlah hanya sebuah konsep, dalam prinsip hidup, yang bisa mendatangkan kebahagiaan dan ketentraman, tapi dengan Cinta Kasih Sayang, kita juga dapat mendekatkan diri terhadap mahluk-mahluk lain, alam-alam lain, memahami apa yang mereka rasakan, merasakan apa yang mereka alami, yang nantinya hal ini, akan menimbulkan rasa kesatuan yang sesungguhnya, dan membuat kita lebih dekat terhadap Sang Sumber.

Adalah salah satu hukum mutlak, yang berada di dalam alam semesta ini, namun sayangnya, banyak orang-orang tidak tahu dan memahami ini. mereka lebih berfokus pada ilmu kesaktian, sibuk menghitung berapa banyak amal dan seberapa baik ibadahnya, sudah berapa lama puasanya, wiridnya, dzikirnya. Itupun sambil menggunjing tetatangga yang baru saja pergi haji, yang baru saja beli motor dll.

Tanpa sadar, dia tidak tau, bahwa semua nya itu, di tentukan oleh isi Hatinya.

Siapapun dirimu, dimanapun tempatmu, apapun latar belakang kehidupanmu, dengan Cinta Kasih Sayang Laku Spiritual Wahyu Panca Gha’ib. Kita akan bisa sangat mudah menciptakan keajaiban apapun dalam hidup.

Cinta Kasih Sayang Laku Spiritual Wahyu Panca Gha’ib, adalah kunci; untuk memperoleh Kebahagiaan dan Ketentraman serta Kesempurna’an. Cinta Kasih Sayang Laku Spiritual Wahyu Panca Gha’ib, adalah kunci; untuk memahami Rasa satu Gha’ib,  terhadap seluruh mahluk-mahluk lain dan Berserta masing-masing dimensinya. Cinta Kasih Sayang Laku Spiritual Wahyu Panca Gha’ib, adalah kunci; Gerbang Penentu untuk mendekat, kembali dan menyatu dengan Sang Sumber Asal Dumadi Ananing Manungsa Urip “ADAMU”.

Aku berkuasa dibawah kehendak TUHAN, maka terjadiah apa yang seharusnya terjadi. Aku relakan untuk melepas jiwaku untuk kembali, menuju Ketenteraman ABADI. Ragaku, duniaku, dan egoku menjadi lenyap,  berbaur dengan hangatnya CINTA KASIH SAYANG Sang Penguasa Semesta yang Agung. Aku kembalikan semua yang Engkau punya, dan yang Engkau telah titipkan kepadaku.

Diantara LANGIT dan BUMI ini. Aku menangis dan tetawa, tapi tak kulihat keabadian itu. Kian munafik jika aku terus bertahan. Datanglah!! Owhh… Ku  ijinkan semua ini Musnah Bersama Sang Waktu. Selamat tidur, ragaku, hari kebangkitan itu, ku tunggu, indahnya Sang Mentari, ku yakini membawa CINTA KASIH SAYANG kembali. Untuk KEBAHAGIAAN semua mahluk… Tenteram… Damai dan damailah… Dengan Cinta Kasih Sayang. Tanpa Benci dan Dendam apapun alasannya.

Wahai Sedulur dan anak cucuku terkasih. Wahai para kadhang dan anak didikku tersayang. Mengerti dan Pahamilah…

Layaknya Seperti kupu-kupu yang bebas bermain ditaman, itulah kita didunia ini. Ku harap kupu-kupu itu, tak melupakan ia adalah seekor ulat. Walau tubuhmu elok, pasti jadi debu juga. Bukan karena lebih indah, lalu engkau melenyapkan saudaramu. Semoga kupu-kupu itu sadar, akan prosesnya menjadi dirinya saat ini “ulat, kepompong, lalu, kupu-kupu”.

Wahai Sedulur dan anak cucuku terkasih. Wahai para kadhang dan anak didikku tersayang. Mengerti dan Pahamilah…

Walau aku dan kamu berbeda wujud di dunia ini, tapi bagiku kamu dan aku adalah satu, dari satu dan untuk kembali menyatu. Ku mulai dari Cinta Kasih Sayang aku kikis Egoku. Ku bergerak dengan Cinta Kasih Sayang, dan Ku relakan untuk kembali pada Kuasa Hyang Maha Suci Hidup atas Cinta Kasih Sayangku. Walau wujudku tak sama, namun aku nikmati Hidup dalam Kehidupan ini dengan Cinta Kasih Sayang Laku Spiritual “Wahyu Panca Gha’ib”.

PESAN WEB:

Kekuatan sejati, ada dalam diri, kebenaran sejati, berasal dari Hati. Kekuatan Sejati yang Benar, terletak pada Nurani/Qalbu atau Hidup/Roh Suci. Hati itu tempatnya/wadahnya. Nurani/Qalbu atau Hidup/Roh suci itu isinya. Dan Cinta Kasih Sayang itu, ya Nurani itu, ya Qalbu itu, ya Hidup itu, ya Roh Suci itu. Maka jaga dan peliharalah Hatimu, dari penyakit hati. Yang tersebut;  Benci. Dendam. Sirik. Iri. Dengki. Hasut. Fitnah. Adu domba dan sejenis lainya. Jika tidak bisa. Maka. Amal ibadahmu. Ilmumu. Sholatmu. Wirid/dzikirmu. Hajimu. Kiyai/ustadzmu. Puasamu. Tirakatmu. Tanpa guna, semuanya akan sia-sia saja. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU  Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh  kinasih saya, yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup. Pamrih saya berharap ARTIKEL Saya Kali INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang  kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup-nya siapapun yang membacanya.

*Matur Nuwun ROMO….._/\_…..Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*

Ttd: Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

Handphon:  0858 – 6179 – 9966

https://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com

 

 

 

Perjalanan Hakikat Menuju Ma’rifat memasuki Kesempurna’an:


Oleh: Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

Djawa dwipa. Hari Jumat Kliwon. Tgl 05 Pebruari 2016

MENGENAL DIRI SENDIRI. KUNCI MENGENAL ALLAH; Perjalanan hakikat menuju marifat memasuki kesempurna’an itu, sangatlah  halus dan lembut jalanya, umpama melintasi jembatan sehelai rambut, dan jika sampai salah menapak kan langkah kaki, maka akan terjatuh kedalam lembah curam yang dalam.

Sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama, bahwa ajaran suatu perolehan dengan karunia, dan suatu perolehan dengan usaha, yang semuanya itu di tujukan untuk memperbaiki dan menata akhlak.

Sedang tujuan perbaikan akhlak, adalah untuk membersihkan qalbu, yang bererti, mengosongkan diri, dari sifat-sifat yang tercela/tidak baik (TAKHALLI) kemudian mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji/baik (TAJALLI) yang selanjutnya beroleh kenyataan Tuhan (TAJALLI).

Dengan demikian, maka sudah jelas. Bukan,,, bahwa jalan untuk mengenal Hyang Maha Suci Hidup “Allah” tidak dapat di tempuh dengan sekaligus, melainkan sesuai dengan peribadi masing-masing, yaitu, harus di tempuh secara bertingkat-tingkat, bak anak tangga yang harus kita naiki satu persatu, itupun masih harus di tentukan oleh yang namanya isi hati.

Pada tingkat untuk memasuki Ilmu Hakikat dan Ilmu Ma’rifat, berarti memasuki suatu jalan pengetahuan, yang bertujuan untuk megenal sesuatu,  dengan cara bersungguh-sungguh, bahwa siapakah manusia itu? siapakah yang menjadikannya? dan siapakah yang menciptakan sekelian itu?.

Ilmu Tasyawuf, meringkaskan jalan pengetahuan ini, dengan berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang artinya;
“Barang siapa yang mengenal dirinya, niscaya ia akan mengenal Tuhannya.”

Menurut pengalaman dan pengetahuan saya pribadi. Langkah pertama untuk mengenal diri sendiri, adalah dengan mengetahui, bahwa diri itu, tersusun dari bentuk-bentuk lahir (yang disebut badan atau jasad) dan bentuk-bentuk batin (yang disebut qalbu atau jiwa). Yang di maksudkan dengan qalbu itu bukanlah yang berupa segumpal daging yang berada di sebelah kiri dada di bawah susu (yang dikatakan jantung). Bukan…!!!

Tetapi dialah Roh Suci yang sangat paling, berpengaruh di dalam tubuh, dan dialah yang mengatur jasmani dan segenap anggota/organ badan.

Dialah Hakikat Insani Allah (yang dinamakan diri yang sebenarnya diri). Dialah yang bertanggung-jawab tentang lahir bathin dan jiwa raga serta dunia akherat.

Untuk meneliti dan mengenal diri sendiri itu, maka jasad dapat diumpamakan sebagai suatu kerajaan. Dan Roh Suci sebagai Rajanya, yang berkuasa dan dialah yang mengatur jasmani.

Jasmani adalah sebagai suatu Kerajaan dalam bentuk Alam muasyahadah atau Alam Nyata. Seluruh badan jasmani akan hancur binasa setelah mati, tetapi hakikat Roh Suci, tidak akan mati, ia tetap tinggal dalam Kuasa Hyang Maha Suci Hidup Allah.

Yang menjadi isi jasmani adalah hati, dan yang menjadi isi hati, adalah roh, yang menjadi isi roh, adalah Roh Suci, dan yang menjadi isi Roh Suci, adalah Hyang Maha Suci Hidup Allah. Itu sebab Rasulullah SAW bersabda yang artinya; “Barang siapa yang mengenal dirinya, niscaya ia akan mengenal Tuhannya.” Karena kesemuanya itu, salin terkait dan berkait serta mengait. Dan yang mengaitkan semuanya itu, adalah Rasa. Rasa inilah yang di sebut Nur Iman, atau Cahaya Iman, atau Nurullah. Yang dapat menerangi hati. Sehingga jiwa raga dapat tau jelas akan kesemuanya itu.

Nur Iman atau Cahaya Iman atau Nurullah ini, tidak akan bisa menyalah, jika hati tidak di isi dengan Cinta Kasih Sayang. Karena kontak atau saklar yang bisa menyalakan Nur Iman atau Cahaya Iman atau Nurullah itu, hanya Cinta Kasih Sayang. Bukan ilmu, bukan amal, bukan harta benda, bukan tahta, bukan benci, bukan iri, sirik, dengki, fitnah, dendam dan bukan semuanya. Hanya Cinta Kasih Sayang.  Hanya Cinta Kasih Sayang.

Dan Laku Wahyu Panca Ghaib itu. Adalah Cinta Kasih Sayang. Itu sebab Romo dawuh, bahwa ini bukan agama, bukan ilmu, bukan golongan, bukan kebatinan, bukan kepercaya’an atau kejawen, Bukan itu dan ini, Karena Kunci itu Hidup. Hidup itu Rasa. Rasa itu Suci. Suci itu Cinta Kasih Sayang. Bukan yang lainnya, kalau yang lainnya itu, perasa’an.

Kejadiannya beraneka macam, yang dihapainya beraneka raga, namum Rasa/Iman/Qalbu/Jiwa/Diri-nya. Tetap Suci “Cinta Kasih Sayang” yang namanya Cinta, seburuk apapun, akan tetap cinta, yang namanya Kasih, sejahat apapun tetap kasih, yang namanya Sayang, sejelek apapun tetap sayang. Tidak ada pengecualian.  Dan tidak ada cela untuk yang namanya “Cinta Kasih Sayang”

Saya berani mengatakan dengan sangat Tegas. Bahwa itu SALAH, jika ada yang berpendapat,  bahwa hakikat Qalbu atau Roh Suci itu, dapat dicapai dengan cara memejamkan kedua matanya lalu diam semedi, atau memejamkan matanya terus berdzikir, atau dengan ilmu spiritual tingkat tinggi, yang intinya,   melupakan segala yang ada di sekitarnya, kacuali peribadinya sendiri.

Sementara Hatinya penuh duri kebencian dan dendam, beracun sirik, iri, dengki, fitnah, hasut dan sejenisnya. Karena itu sangat mustahil, sebab isi hatilah yang menentukan, dan Laku “Wahyu Panca Ghaib” adalah bekalnya. saya sudah membuktikannya sendiri, bukan katanya apapun dan siapapun, dan bukti yang saya dapatkan, sama persis dengan Firman Hyang Maha Suci Hidup dan Sabda Rasulullah SAW. Yang tersirat dalam al-qitab.

Disinilah letak tidak sulitnya mengenal dan memahami Hyang Maha Suci Hidup Allah. Karen tidak harus berilmu sakti dan kaya raya serta berkuasa. Asalkan hatinya bersih. Dijamin bisa. Karena hati yang bersih, adalah… Wadahnya ISI. Tempatnya ISI.

Lagi-lagi… Isi hati. Lagi-lagi isi hati. Lagi-lagi isi hati penentunya. Maka,,, jagalah hatimu, peliharalah hatimu, jangan kau nodai dia, sebab, jika sampai ternoda karena kau nodai. Maka semuanya akan sia-sia.

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspada’an, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

Dari hati terpancar kehidupan, yaitu hasil atau buah yang kita hasilkan dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, hati dan apa yang ada di dalamnya menentukan buah seperti apa yang dihasilkan.

Allah Berfirman:

“Pada hari itu tidak bermanfaat harta dan anak. kecuali yang datang pada Allah dengan hati yang selamat.” (QS as-Syuara’: 88-89)

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Al-Baqarah : 10)

“Orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya yang telah ada dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (QS At–Taubah/9: 125)

“Kebanyakan orang-orang ahli kitab, menginginkan supaya mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, disebabkan karena kedengkian (hasad) yang ada dalam jiwa mereka” (QS. Al-Baqarah: 109)

Dan masih banyak Firman-firman yang menjelaskan tentang hal tersebut. Jika kita mau iqro. Masih tidak mengertikah? Masih belum cukupkah? Kalau sudah mengerti. Kalau sudah cukup. Lalu…. Kenapa? dan mengapa? Serta untuk apa?   membenci, mendendam, menghasut, mengfitnah, iri, dengki, sirik, benci dan sejenisnya?! Bukankah semua dan segalanya itu berasal sama, dari satu titik dan akan kembali ke titik itu, itu juga? Terus,,, apa untung ruginya mencubit diri sendiri..!!!

Rasulullah SAW bersabda :
“Lisan itu akan disiksa dengan azab yang tidak pernah ditimpakan kepada anggota tubuh lainnya. Setelah itu, lisan berkata ; Ya Rabb, mengapa Engkau menyiksaku dengan azab, yang tidak pernah ditimpakan kepada anggota tubuh lainnya. Allah SWT menjawab: Sebab darimu telah keluar kalimat yang sanggup menembus timur bumi, hingga baratnya yang menyebabkan pertumpahan darah, harta benda terampas, dan harga diri ternodai. Oleh karena itu, demi keagungan-Ku, sungguh Aku akan menyiksamu dengan azab yang tidak pernah Aku timpakan kepada anggota tubuh yang lain.”
(HR. Abu Nu’aim)

“Janganlah kalian saling mendengki, saling menfitnah (untuk suatu persaingan yang tidak sehat), saling membenci, saling memusuhi dan jangan pula saling menelikung transaksi orang lain. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslimnya yang lain, ia tidak menzaliminya, tidak mempermalukannya, tidak mendustakannya dan tidak pula melecehkannya. Takwa tempatnya adalah di sini, seraya Nabi shallallahu alaihi wassalam menunjuk ke dadanya tiga kali. Telah pantas seseorang disebut melakukan kejahatan, karena ia melecehkan saudara muslimnya. Setiap muslim atas sesama muslim yang lain adalah haram darahnya, hartanya dan kehormatannya. ” (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra)

Dan masih banyak Sabda-sabda yang menjelaskan tentang hal tersebut. Jika kita mau iqro. Masih tidak mengertikah? Masih belum cukupkah? Kalau sudah mengerti. Kalau sudah cukup. Lalu…. Kenapa? dan mengapa? Serta untuk apa?   membenci, mendendam, menghasut, mengfitnah, iri, dengki, sirik, benci dan sejenisnya?! Bukankah semua dan segalanya itu berasal sama, dari satu titik dan akan kembali ke titik itu, itu juga? Terus,,, apa untung ruginya mencubit diri sendiri..!!!

Silahkan dipikir saja, menurut keyakinan masing-masing. Iya apa Iya… SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU  Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh  kinasih saya, yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup. Pamrih saya berharap ARTIKEL Saya Kali INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang  kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup-nya siapapun yang membacanya.

*Matur Nuwun ROMO….._/\_…..Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*

Ttd: Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

Handphon:  0858 – 6179 – 9966

https://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com