BIOGRAFI SEJARAH PERJALANAN HIDUPKU


Photoku Sa’at Sekarang INI

Photoku waktu thn 1980 di sulawesi tengah

Photoku thn 1981 di sulawesi tengah

Photoku waktu thn 1998 di borobudur magelang jawa tengah

Photoku waktu thn 1999 di prambanan jogjakarta jawa tengah

Photoku waktu thn 2001 di sendang kamulyan pantai ngliyep  malang jawa timur

Photoku waktu thn 2001 di balekambang malang jawa timur

Photoku waktu thn 2010 di penataran gunung ciremai cirebon jawa barat

Photoku waktu thn 2011 di tanjung brebes jawa tengah

Photoku waktu thn 2010 di ujung kulon banten jawa barat

Semoga di dalam catatan biografiku ini. ada manfa’at untuk siapapun yang membacanya. sebagai kaca benggala atau cermin. yang kemungkinan akan terhadapi di hari esok oleh siapapun……mohon ma’af  atas segala kekurangan dan atas semua kesalahan yang saya sengaja atau tidak sengaja. doaku, semoga semuanya tidak mengalami hal seperti yang pernah saya alami dalam biografi ini. sukses dengan kemudahan, berhasil dengan keringan. semoga menjadi jalan hidup para saudara-saudariku semuanya……cukuplah saya yang mengalami hal seperti yang di biografikan ini. akhir kata dari saya…..mohon ma’af….semoga mendapat manfa’at. dan Salam sukses serta sehat bahagia selalu……….amin. . . . …”RAHAYU”…

BIOGRAFI SEJARAH PERJALANAN HIDUP “WONG EDAN BAGU”


BIOGRAFI SEJARAH PERJALANAN HIDUP “WONG EDAN BAGU”

DALAM TEMA

KACA BENGGALA

MAHKOTA MAYANG KARA

{ LAMBANG BAYANGAN SEMU }

 

SALAM RAHAYU…………TERIMA KASIH. Sudah mau mampir ke blogg saya….

Semoga sajian saya. bermanfa’at. untuk di ambil hiqmahnya……jika ada salah dan kekuranganya….yang tidak berkenan di hati……tolong mohon di ma’afkan ya……….Salam Sejahtera selalu dariku untukmu yang singgah di tempatku ini…..semoga sukses selalu dalam segala halnya……

 

 

TTD

Djaka Tolos  – Toso Wijaya. D. Ms

Wong Edan BaGu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

BIOGRAFI SEJARAH PERJALANAN HIDUP “WONG EDAN BAGU”


BIOGRAFI SEJARAH PERJALANAN HIDUP “WONG EDAN BAGU”

DALAM TEMA

KACA BENGGALA

MAHKOTA MAYANG KARA

{ LAMBANG BAYANGAN SEMU }

manunggal

SELAMAT MENIKMATI. DAN SEMOGA MENDAPAT PENGALAMAN YANG BERMANFA’AT. DARI SEJARAH PERJALANAN HIDUP Djaka Tolos INI. SEBAGAI PENAMBAHAN WACANA. DAN UNTUK BAHAN RENUNGAN. DALAM PROSES HIDUP. MENCARI JATIDIRI. MENUJU KESEMPURNA’AN. YANG SEJATI.

SALAM RAHAYU…………..

Djaka Tolos/Wong Edan BaGu

Toso Widjaya. D. Ms

 

KATA PENGANTAR:

A’udzu  billaahim  minnas  syaithon nirojim, bismillaahir  rohmanir rohim. Assalamu alikum war/wab. Dengan ijin dan ridho Allah ta’ala, saya ciptakan sebuah buku, karya saya sendiri, yang berjudul Biografi Sejarah Hidup Wong Edan Bagu atau djaka tolos, yang mengisahkan proses perjalanan hidup anak manusia, dalam mencari jati diri pribadi, yang di awali dengan seratus kesedihan, seribu kepiluan, sejuta penderita’an, tanpa henti, yang datang silih berganti, yang mau tidak mau, harus di laluinya, di hadapinya, dan di rasakanya, hingga berakhir selesai atau tamat.

 

Hanya  tekad dan iman serta ketabahan yang di kehandaki oleh Tuhan-lah, yang membuat saya mampu menjalaninya. semua yang tertulis di buku ini, adalah merupakan kutipan atau salinan dari buku agenda harian pribadi milik saya sendiri. Toso Widjaya. D, yang lebih di kenal dengan sebutan Wong Edan Bagu. Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Anak kedua dari pasangan suami Matsalim – istri Dewi arimi. Asal Asli Cirebon Jawa Barat.

 

Sebagai kenangan bersejarah, dengan tujuan sebagai bahan renungan atau cermin atau contoh atau kaca benggala. Khususnya untuk anak cucu saya, yang berkempatan membaca buku biografi karya saya sendiri ini, umumnya bagi siapapun yang lelaku, mencari jatidiri pribadi, atau asal-usul sangkan paraning dumadi. Bawasanya, apapun yang ada di dunia ini, tak satupun yang abadi. (anyakra manggilimgan). Segalanya/semuanya semu. Namun, segalanya dan semuanya itu, bukan berati sia-sia atau tanpa guna dan percuma, karena menurut ilmu pengertian saya pribadi, tidak ada selembar daunpun yang jatuh tanpa kehendak Tuhan. untuk itu,,, buku ini sengaja menulis, yang kemudian saya bukukan, untuk dapat di jadikan sebagai bahan renungan, dalam melangkah menuju satu titik kesempurna’an sejati di dalam hidup berkehidupan. Agar bisa sesuai dengan kodrat dan irodatnya masing-masing yang telah di firmankan oleh Dzat Maha Suci Tuhan kita. Alami tanpa rekayasa dan politik appaun. alias tidak neko-neko.

 

Dengan wejangan saloka tri tunggal. Yaitu; “1. Suci ingati gandaning manunggal. 2. Aja pisan-pisan ngaku wong urip, yen ora bisa ngrasakake uripe, sebab yen ora bisa ngrasakake uripe, iku dudu wong urip,  ananging mayit urip. 3. Keduk’en roso kang anglimputi sekojur badanmu, ing sakojur badanmu, ono dawuhe gusti, kang bakal njamin pati urip lan ndunyo akheratmu”. Bagi siapapun yang membuka dan membaca biografi sejarah hidup saya ini, di larang meniru atau mengikuti perjalanan pribadi saya yang tersirat ini, karena setiap makhluk hidup itu, memiliki laku pribadi sendiri-sendiri.

 

Akhir kata dari saya, semoga Buku Biografi Sejarah Hidup saya ini, bermanfa’at untuk semuanya yang hidup. dan segalanya di dalam kehidupan ini. Amin. was-salamu alaikum  war / wab…………….Salam Rahayu……

Tertanda:

Toso Widjaya. D. Ms

 

Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

 

BIOGRAFI SEJARAH PERJALANAN HIDUP “WONG EDAN BAGU”

DALAM TEMA

KACA BENGGALA

MAHKOTA MAYANG KARA

{ LAMBANG BAYANGAN SEMU }

Berawal dari sebuah desa transmigrasi rusa kencana, yang terletak di pinggiran hutan belantara, kecamatan batui kabupaten luwuk propinsi sulawesi tengah, yang kurang lebihnya di huni oleh 250 kepala keluarga, dengan masing-masing suku adat dan trandisinya, dan diantara 250 kepala keluarga tersebut, adalah keluarga Djaka Tolos, seorang bapak bernama Matsalim dan ibu bernama Dewi arimi, yang kala itu, memiliki dua orang anak, satu perempuan bernama Atnesi, sebagai anak pertamanya, dan anak keduanya, yaitu bernama Djaka Tolos, sama seperti warga yang lainnya, setiap pagi kedua orang tua Djaka Tolos, berangkat ke ladang, untuk membabat hutan, karena pada waktu itu, ladang yang harus di oleh para warga, masih berbentuk hutan rimba, jadi, untuk mengolahnya, harus membabat hutannya terlebih dahulu. Sedangkan Djaka Tolos, yang pada waktu itu masih berusia 6 tahun kurang lebihnya, terkadang ikut bapak dan ibunya  ke hutan, menebang pepohonan yang berada di lokasi ladang. Berangkat pagi, pulang sore harinya. Setelah terbabat, lalu di biyarkan mengering selama satu bulan, lalu di bakar dan tanahnya mulai di oleh dan di tanami.

 

Dewi arimi ibu Djaka Tolos dan matsalim bapak Djaka Tolos, bekerja keras untuk menjadi yang terbaik dan berhasil. Pada sa’at-sa’at tertentu, mereka menanam padi, ada kalanya menanam jagung, sayuran, kedelai dan lain sebagainya, tergantung musim cocok tanamnya, cocok dengan jenis tanaman apa, keberhasilan tani yang di peroleh matsalim bapak Djaka Tolos, membuat warga sekitar tertarik dan menirunya, banyak tetangga dan warga yang datang menemui matsalim, untuk diajari cara bercocok tanam yang baik dan benar.  Sehingganya, keluarga mereka menjadi banyak saudara ketemu tua. namun tetap saja yang paling sukses dalam bertani di tempat itu, adalah keluarga matsalim, dan warga yang pertama kali bisa merehab rumah jatah transmigrasi, yang paling bagus dan besar di tempat itu, adalah matsalim. dan karena itu pula, yang jadi di satroni perampok cuma rumah matsalim juga. pada suatu ketika. karena keberhasilanya, matsalim jadi terkenal kemana-mana, hingga sampai ke telingan para perampok. tepatnya malam hari, di sa’at semua warga sedang terlelap dalam tidurnya, akibat kecapean sehabis kerja di ladang, rumah matsalim di datangi sebelas orang perapok dari kota, namun dewi arimi berhasil melindungi kedua anaknya dan matsalim berhasil melindungi hartanya, juga berhasil meringkus sebelas perampok itu dan menundukanya hingga kapok.

 

Sejak kejadian perampokan itu, nama matsalim jadi semakin tersiar, sebelas perampok itu, selain tunduk, juga menjadi murid matsalim. dan karena para perampok itulah, matsalim, jadi di kenal banyak orang dan di segani.

 

Sehingganya, atas suruhan warga setempat, akhirnya matsalim mendirikan sebuah perguruan silat, selain para perampok itu, juga ada para pemuda desa, yang ikut belajar, bahkan ada yang sudah tua. tak lama kemudian, namanya sampai di kecamatan, lalu matsalim di undang untuk datang ke kecamatan, matsalim lalu di angkat sebagai pemimpin di wilayah itu, dan wilayah itu di ubah menjadi sebuah desa yang di beri nama oleh matsalim sendiri yaitu. Desa Kandang Jongak.

 

Sebagai pemimpin yang berhasil dan bijaksana, matsalim jadi semakin berhasil dalam segala hal, serta di hormati, seribu kesibukan mulai menghimpitnya, hingga tanggung jawab sebagai seorang kepala rumah tangga, sering terabaikan, sampai-sampai sa’at dewi arimi melahirkan anak ketiganya, matsalim tidak tahu, karena tidak ada di rumah. namun semua itu belum di rasakanya. waktu adik perempuan Djaka Tolos, bernama Endang Taurina berumur satu tahun, dan umur Djaka Tolos sudah 7 tahun lebih kurangnya, Djaka Tolos di daftarkan untuk sekolah, di kelurahan, karena pada waktu itu, di desa transmigrasi, belum ada sekolahan yang maksimal, sementara dewi atnesi kakak perempuan Djaka Tolos, yang umurnya tak beda jauh dengan Djaka Tolos, tidak di sekolahkan, di suruh bantu-bantu ibu di rumah, karena menurut matsalim, anak perempuan tak perlu pendidikan sekolah.

 

Setiap pagi Djaka Tolos berjalan kaki sejauh sembilan kilometer untuk sekolah di kantor kelurahan, sedangkan Dewi atnesi merawat Endang taurina, adik perempuan Djaka tolos yang baru berumur satu tahun. berangkat masih petang dan pulang hampir sore, sudah menjadi kebiasa’an Djaka tolos selama sekolah darurat/SR di kantor  kelurahan.

 

Pada suatu ketika, waktu itu Dewi arimi ibu djaka tolos, sedang mengantar nasi buat matsalim suaminya, yang sedang bekerja di ladang, sementara dewi atnesi mencuci pakaian di sumur, sementara djaka yang sedang libur sekolah, menggendong adik perempuanya, yang rewel dan susah di tidurkan. lalu sesa’at kemudian, dewi atnesi menyuruh djaka tolos membetulkan api di dapur, yang sedang di pakai merebus air, sambil menggendong sang adik, djaka tolos bergegas ke dapur, untuk membetulkan kayu api tersebut.

 

Bersama’an dengan itu, tanpa di ketahui, ternyata tangan endang taurina, meraih dan mengambil kayu yang sedang menyala dari dapur itu, karena di buat mainan, api yang menyala di kayu itu, menempel di atap dapur yang terbuat dari ilalang, akibatnya, terbakarlah atap dapur itu, djaka tolos berusaha memadamkanya, tapi api semakin membesar, lalu segara memberi tau kakaknya dan minta tolong, tapi sudah terlambat, api sudah menjalar ke seluruh atap dapur hingga merembet ke rumah.

 

Dewi atnesi dan djaka tolos yang panik dan ketakutan, segara berteriak minta tolong ke warga yang ada, namun tetap saja tidak berguna, karena api yang sudah membesar, akibatnya, rumah yang terbesar dan terbagus itu, ludes di lalab api hingga tanpa sisa sedikitpun, kecuali arangnya. matsalim dan dewi arimi yang pulang dari ladang, karena di beri kabar oleh warga, sesampainya di rumah, terbelalak diam bagai patung yang rusak, keduanya salin berpandangan dan tatapan mereka sama-sama kosong, seakan sedang memikirkan sesuatu yang mereka sesali, lalu sesudah api benar-benar  padam, karena sudah tak ada lagi yang harus di bakar.

 

Sesaat kemudian, semua warga salin bantu, masing-masing salin membawa bahan, yang di butuhkan, lalu warga membuat gubug sederhana dari bambu, untuk tempat tinggal sementara, dan sejak itulah, semua jadi berubah, keluarga matsalin dan dewi arimi, jadi sering berlinangan air mata, menangis dalam batin, akibat musibah tersebut, sipat matsalim yang tadinya penuh kasih, walau sering lalai kewajibannya, kini jadi sering garang, mungkin karena keada’an, bercocok tanam di ladang jadi sering gagal panen, sampai kehabisan modal, simpanan sudah tak punya lagi, berangsur- angsur, para murid pun mulai mengundurkan diri, karena sudah tidak mendapat fasilitas apapun seperti dulu, jangankan memberi fasilitas pada murid, buat makan sendiri saja, sering kekurangan.

 

Lalu dewi arimi mencoba berdagang jajanan kampung di pasar, untuk menambah penghasilan sehari-hari, sementara matsalim yang tak bisa kerja di ladang lagi, karena kehabisan bekal dan modal, lalu beralih menjadi pekerja buruh, mencangkul di ladang para warga yang membutuhkanya, sementara dewi atnesi yang tak tega melihat kondisi kedua orang tuanya, nekad pergi ke kota menjadi pembantu rumah tangga, dan sebulan sekali kirim hasil buat kebutuhan di rumah, sementara djaka tolos yang tetap masih sekolah, mau tidak mau harus ikut merasa prihatin atas segala kekurangan yang sedang terjadi.

 

Sepulang sekolah, djaka tolos mampir ke pasar, menemui ibunya untuk minta makan, yang kemudian membawa pulang adiknya, sedang dewi arimi masih tetap di pasar, menunggu dagangan habis terjual, selain berdagang di pasar, kalau malam hari, ada yang membutuhkan tenaga, untuk menumbuk padi, dewi arimi juga buruh ke tetangga sebagai tukang penumbuk padi. pernah suatu ketika, sa’at itu pasar lagi sepi dari pengunjung, karena dearah ini sedang di landa kamarau panjang, banyak petani yang gagal panen, sehingga jarang yang punya uang untuk bisa belanja ke pasar, jualan kue milik dewi arimi masih utuh, hampir tak ada yang laku terjual, begitu laku bukan laku terjual, tapi laku di hutang semua. sa’at djaka tolos mampir ke pasar, dengan sedih dewi arimi berbisik tak bisa membeli sarapan.

 

Akhirnya dengan lemas, karena lapar, djaka tolos pulang sambil menggendong adiknya, di tengah jalan, endang taurina sang adik menangis, minta makan karena lapar, begitupun dengan djaka, akibat lapar, dia hampir tak mampu berjalan sambil menggendong adiknya. sa’at istirahat di tepi jalan. di balik kebun, djaka tolos melihat ada buah pisang matang di pohon, tanpa berpikir panjang, djaka nekad menerobos pagar itu, untuk mengambil buah pisang tersebut, dan di makanya bersama sang adik.

 

Namun malang nasib djaka tolos dan adiknya endang taurina, baru memakan dua buah pisang saja, pemilik pisang itu datang, dan memarahinya habis-habisan, djaka di tuduh orang yang sering mencuri pisang tanamanya, padahal baru kali itu, djaka mencurinya, itupun terpaksa, karena sangat lapar sekali, lalu djaka di hajar tanpa mengenal belas kasihan. setandan pisang di suruh dimakan hingga habis, setelah itu di pukuli hingga pisang yang baru di makan itu, keluar lagi dari mulutnya, setelah puas memukuli, lalu djaka di suruh pulang dan di ancam untuk tidak mencuri tanaman lagi di tempat itu.

 

Di rumahnya, dewi arimi yang mengetahui cerita dari djaka tentang kejadian itu, terisak sedih memeluk kedua anaknya sambil meneteskan air mata duka, sejak kejadian itu dewi arimi semakin menyibukan diri dengan segala usaha, namun tetap saja tidak mencukupi kebutuhanya.

 

Pada suatu sa’at lagi, waktu itu dewi arimi sedang buruh menumbuk padi dan belum pulang hingga pagi tiba, sementara matsalim sedang lembur buruh di ladang tetangga, djaka tolos yang di tinggal di rumah bersama adiknya, kelaparan, lalu pagi itu djaka nekad lagi mencuri ubi milik tetangganya, karena sang adik tak henti-hentinya menangis akibat lapar, namun gagal karena keburu di ketahui oleh pemiliknya.

 

Djakapun di hukum oleh sang pemilik ubi itu bersama adiknya yang baru berumur hampir dua tahun itu, djaka di suruh mencuci pakaian yang jumlahnya tak sedikit, lalu di suruh membersihkan halaman rumah dan memetik buah kelapa sebanyak 10 pohon, tanpa di beri upah apapun, selain itu djaka juga mendapat hukuman cambuk rotan sebanyak 25 x.

 

Sementara dewi arimi yang sudah pulang dari buruh, kebingungan mencari kedua anaknya yang hampir sehari tidak pulang, begitu pulang kedua anaknya dalam keada’an yang sangat memprihatinkan, tapi kali ini djaka tidak mau mengadu, karena tidak mau melihat ibunya meneteskan air mata lagi seperti dulu, sehingga dewi arimi tidak tau, kalau kedua anaknya habis menjalani hukuman karena mencuri. dan sejak itu dewi arimi selalu membawa serta endang taurina kemanapun dia pergi, karena tak mau menambahkan beban kepada djaka tolos.

 

Pernah lagi suatu sa’at di sekolahan, karena tak punya pingsil buat menulis, sementara ada pelajaran yang harus di tulis sa’at itu juga, lalu djaka nekad mencuri pingsil milik temanya, setelah tau pingsilnya hilang, lalu temanya melapor pada guru, dan gurupun memeriksa semua murid, karena pingsil itu ada pada djaka, djaka pun jadi tersangka, lalu djaka di hukum untuk berlari mengelilingi halaman sekolah sebanyak seratus kali, setelah itu di suruh hormat bendera di halaman sekolah hingga tiba waktu pulang sekolah, karena lapar akibat dari kemarin tidak makan, djaka tolos jatuh pingsan sa’at menjalani hukuman hormat bendera.

 

Sepulang sekolah karena tak mampu menahan lapar, djaka nekad lagi mencuri mangga yang di temuinya di pinggir jalan, untuk menghilangkan rasa laparnya, tapi belum sampai mendapatkan buah mangga itu, djaka sudah tertangkap oleh pemiliknya. djaka lalu di tampar dan di seret masuk rumah, pemilik mangga itu adalah adik ibu guru sekolahnya, dia bernama pak ansori, pak ansori punya satu istri dan dua anak yang seumur dengan djaka tolos dan satu sekolah.

 

Tapi pada sa’at itu istri dan kedua anaknya sedang tidak ada di rumah, sehingga pak ansori dapat melakukan apa saja terhadap djaka tolos, sebagai hukuman karena mencuri mangganya, walau gagal tapi tetap wajibkan untuk mendapat hukuman. setibanya di dalam, djaka di jatuhi dua pilihan, djaka di suruh memilih satu di antara dua, mau di pukul atau mau nurut dengan maunya pak ansori, dan djaka lebih memilih mau nuruti maunya pak ansori dari pada di pukuli.

 

Setelah itu djaka di suruh mandi, seusai mandi di beri makan, setelah makan, djaka di bawa masuk ke kamar, dan di suruh memijat tubuh pak ansori, yang telanjang bulat tanpa selembar kainpun, tak lama kemudian, djakapun di suruh telanjang pula, dan di suruh mempermainkan kelamin pak ansori, hingga menegang keras, setelah itu, djaka di suruh telungkup, lalu kelamin pak ansori yang tegap dan keras itu, di masukanya ke anus djaka, djaka merintih kesakitan, tapi pak ansori justru merintih seakan kenikmatan.

 

Setelah puas dengan apa yang di lakukanya, lalu djaka di suruh pulang dengan berpesan, agar tidak menceritakan kejadian itu kepada siapapun, jika sampai cerita pada orang, djaka di ancam akan di bunuh, ke esokan harinya, sepulang sekolah, di jalan djaka tolos di hadang oleh pak ansori, lalu di bawa masuk ke rumahnya, untuk di paksa melakukan seperti kemarin, dan kali ini permainanya lebih menyakitkan bagi djaka, tapi mengasikan bagi pak ansori, dan ke esokan harinya lagi, karena takut di hadang dan di suruh melakukan hal yang sama lagi, djaka pulang sekolah tidak lewat jalan itu yang sama, melainkan lewat perkebunan milik para warga.

 

Tapi sialnya djaka, saat itu ada salah satu warga yang sedang sering kehilangan, dan orang tersebut sedang mengintai siapa pelakunya dari balik rumahnya, dan djaka pun akhirnya jadi tersangka tersebut, pak hendrik melihat djaka tolos yang sedang berjalan sambil mengendap-ngendap, karena takut di lihat pak ansori itu, di anggap oleh pak hendrik, mengendap karena mau mencuri barang miliknya, djaka pun langsung di tangkap dan di hajar tanpa ampun, lalu di seret ketengah warga dan di masa sampai babak belur, tanpa di tanya dan di beri kesempatan untuk berbicara.

 

Setelah mereka puas, lalu menyeret djaka untuk di pasrahkan kepada kedua orang tuanya, matsalim dan dewi arimi, yang baru saja istirahat karena kecapekan kerja, jadi terbelalak murka terhadap djaka, tanpa bertanya sedikitpun, matsalim lebih percaya kepada orang-orang tersebut, di bangding kepada djaka tolos anaknya sendiri, yang berteriak minta ampun, sambil berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tanpa ampun,,, lalu djaka di tendang sampai tersungkur jatuh, dewi arimi berusaha menghalangi, tapi malah di jadikan sasaran, lalu djaka di ikat di pohon belimbing, sambil sesekali berkata, anak durhaka anak tidak tau di untung dll.

 

Lalu djaka yang di ikat di pohon tersebut, di beri semut angkrang,  (bahasa jawa), tak lama kemudian, semut-semut itu mengerumuni dan menggigiti seluruh tubuh djaka, djaka pun berteriak minta ampun, minta tolong, tapi tak satupun yang peduli, hingga akhirnya jatuh pingsan, tak sadarkan diri, ketika djaka membuka mata, djaka sudah berada dalam pangkuan dewi arimi sang ibunda, yang menangis sambil mengharap djaka tersadar kembali, setelah sadar, djaka berusaha mengadu pada ibunya, sambil merintih karena badanya penuh luka pukulan, dan gigitan semut, akibat penganiaya’an tersebut, { maak………..saya tidak melakukan apa-apa, saya cuma lewat karena takut, tapi kenapa saya di buat seperti ini, sungguh mak…….}

 

{ emak tau nang, kamu tidak melakukanya, emak tau itu anaku, emak yakin ini semua kehendak gusti, dan gusti punya rencana baik untukmu anaku, untuk itu sabar dan tabahkan hatimu. kamu pasti mampu dan kuat. kamu pasti bisa anaku, karena di dalam jiwamu, emak melihat ada para leluhurmu }. Selalu begitu dan begitulah cara Dewi arimi, menghibur djaka tolos agar tidak merintih lagi, tiap kali habis di aniaya karena sebuah kesalahan yang tidak di lakukannya.

 

Karena tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan ibunya itu, djaka pun tertunduk bingung, tapi djaka merasakan ada kedamaian tiap dalam pelukan sang ibundanya. Dan sejak kejadian itulah, djaka jadi di kenal oleh semua orang, sebagai anak yang nakal dan badung, dan yang lebih membuat djaka tertekan, adalah cela’an djaka tukang mencuri atau calon perampok yang harus di basmi seperti kuman atau hama tanaman.

 

Di rumah djaka tak punya teman, di sekolahpun djaka tak punya teman, di jalan djaka di jauhi dan selalu di pandang juriga oleh semua mata yang melihatnya, tersisih, terbuang, teraniaya, bahkan tercampakan, kini di alami oleh djaka tolos, tak satupun yang mau meliriknya, apa lagi memandangnya, semua anak menjauhinya, semua orang mencurigainya, semua manusia membencinya, djaka tolos pun menjadi sangat asing di manapun dia berada, nilai pelajaran di sekolah, yang selalu baik di banding yang lainya, kini tak pernah di dapatnya lagi.

 

Cita-citanya yang ingin menjadi dokter, agar dapat membantu pasien miskin pun, menjadi tipis harapanya, untuk tercapai, djaka jadi lebih sering mengurung diri di rumah, terkadang pergi ke tepi sungai yang terletak di pinggir hutan, untuk merenungi nasibnya, yang begitu berat terasa. Sepulang dari perenungan di tepi sungai, djaka terkejut lagi oleh tuduhan baru, yang di teriamanya, belum terlupakan rasa sakit yang kemarin, kini muncul lagi tuduhan baru, yang tak beralasan, kali ini djaka tolos di tuduh mencuri sekarung beras milik pak marsada tetangganya, sekalipun djaka membela diri dengan alasan kalau dia cuma pergi ke sungai, tapi percuma saja, tak satupun yang mau percaya, karena bukti tidak adanya djaka di rumah pada sa’at kejadian itu, cukup membuat mereka yakin kalau djaka lah pelakunya. Padahal,,, pada waktu itu, djaka tolos masih berusia 7 tahun lebih, jadi, secara nalar, tidaklah mungkin mampu mengangkat sekarung beras.

 

Penyesalan djaka keluar dari rumah pada sa’at itupun, tak berguna, karena peristiwa itu telah terjadi. seperti yang sudah berlalu, djaka di hujani pertanya’an dan di paksa untuk mengakui serta mengembalikan barang tersebut, djaka pun kebingungan, harus berbuat apa, terpaksa djaka pun mau tidak mau mengakui perbuatan yang tidak di lakukanya itu, tapi djaka kebingungan sa’at di suruh mengembalikan barang curian tersebuat, karena tak bisa mengembalikan barang itu, djaka pun mengalami penyiksa’an lagi.

 

Setelah menjalani penyiksa’an dari masa, lalu beralih dengan penyiksa’an dari matsalim bapaknya. djaka di rendam dalam sumur selama sehari penuh, setelah itu di kurung dalam kamar tanpa lampu dan makan minum, sehari dua hari, djaka tolos masih mampu menyuarakan tangisannya, tiga hari keatas, djaka sudah tak kuasa lagi bersuara dan meneteskan air matanya.

 

Karena tenaganya mulai habis, pada sa’at itulah, muncul di hadapanya seorang kakek tua, yang tak lain adalah kakeknya sendiri, bapak kandung dari dewi arimi ibunya, yang sudah meninggal, kakek tua itu meneteskan air matanya sambil menyapa…………., (cucuku……kamu sudah besar…nak) kata kakek itu sambil mengelus kepala djaka.

 

Djaka yang ketakutan, melihat kemunculan kakek itu secara tiba-tiba, segera menepi dan merapat ke diding kamar yang terbuat dari anyaman bambu, penuh rasa takut, tapi sudah tak mampu bersuara lagi…..(jangan takut cucuku……aku kakekmu, bapak kandung dari ibumu,) sambung kakek itu menenangkan djaka tolos.

 

Lalu kakek itu memberikan mustika merah delima, kepada djaka tolos untuk di telanya, setelah menelan mustika tersebut, rasa lemah dan nyeri, dirasakan mendadak hilang, menjadi segar bugar,  seakan tak terjadi apa-apa, lalu djaka bangkit dan mencoba bertanya pada kakek tersebut sebisanya, kakek itupun memberikan jawaban yang membuat djaka menjadi tenang dan penuh percaya diri, djakapun di beri cerita-cerita indah, tentang berbagai macam sejarah di masa lalu, tapi djaka di pesan untuk tidak bercerita pada siapapun tentang pertemuan itu, terutama pada matsalim dan dewi arimi kedua orang tuanya.

 

Satu yang membuat djaka tolos bingung dan tidak mengerti, kakek itu memanggil djaka tolos dengan sebutan nama Raden Toso Widjaya diningrat, yang sering di ucapkannya adalah Raden, djaka tolos yang masih kecil dan tidak tau asal usulnya itu, jadi bingung, karena selama ini, dia hanya tau, namanya adalah Djaka Tolos, bukan Raden Toso Widjaya Diningrat. Ibu dan bapaknya-pun, memanggilnya dengan sebutan Djaka atau Tolos.

 

Tak terasa, karena di temani oleh kakeknya, sudah satu minggu, djaka berada dalam kurungan kamar, sa’at matsalim membuka kamar, sedidit terkejut melihat djaka yang tetap segar bugar, walau dalam kamar tanpa makan dan minum selama tujuh hari tujuh malam, dewi arimi merasa bangga melihat djaka sehat seperti tak terjadi apa-apa, di peluknya djaka sambil berbisik, ibu yakin semua leluhurmu tidak akan tinggal diam, jika melihatmu menderita tanpa alasan, ibu percaya itu.

 

Djaka tidak mengerti dengan kata-kata ibunya itu, tapi sa’at di tanya dewi arimi pun, berbalik arah, seakan ada sesuatu yang di sembunyikanya, tapi djaka masih takut dan belum mengerti ke arahnya, lalu sejak itu, setiap matsalim pergi kerja dan dewi arimi juga kerja, djaka di pasrahkan pada Sobari,  untuk di awasi, sobari adalah satu-satunya murid kesayangan matsalim, yang masih aktif pada sa’at itu. Djaka tolos di haruskan tiap-tiap pulang sekolah, menuju dan tinggal di rumah sobari, tidak boleh kemanapun, kecuali dengan sobari, sampai matsalim dan dewi arimi orang tuanya, berada di rumah lagi seusai bekerja.

 

Sehari-hari yang di lakukan oleh djaka, selama bersama sobari di rumahnya, adalah membantu semua kegiatan sobari, salah satunya adalah di suruh memijat, tubuhnya yang tinggi besar dan gagah serta kekar, membuat djaka tolos, terkadang merasa kecapean, tiap kali di suruh memijatnya, tapi djaka bisa kembali bersemangat, jika sudah di beri makan dan uang buat jajan, sobari adalah satu-satunya orang yang bisa dan mau dekat dengan djaka, layaknya seorang sahabat sejati bagi djaka, walau sobari sudah berumur dua puluh lima tahun, dan djaka baru berumur 7 tahun kurang lebihnya, namun tidak menganggap djaka seperti anak-anak, dia penuh pengertian, baik budi dan suka humor, hingga membuat djaka lebih sering bisa tersenyum, di banding melamun karena terasing dari pergaulan.

 

Sobari yang sudah yatim piatu dan tinggal seorang diri di rumahnya itu, merasa terhibur dengan kehadiran djaka di sampingnya, walau umurnya sudah dua puluh lima tahun, dan belum punya istri, dia tidak pernah sungkan untuk humor bersama djaka, salin berbagi cerita dan pengalaman. sobari juga selalu meneteskan air matanya, jika giliran djaka yang bercerita tentang hidup yang di alaminya. sobari percaya dan yakin, dengan cerita djaka, dan tuduhan orang-orang itu, kepada djaka adalah salah.

 

Walau begitu, mungkin karena memang tuhan itu maha kuasa atas segalanya. dan tak satupun yang bisa menyamainya. baru saja djaka bisa tersenyum karena sobari, dan menerima kabar lulus ujian sekolah, muncul lagi masalah baru yang tak kalah kejamnya, djaka di tuduh mencuri radio milik ibu gurunya di sekolah, selain menjalani hukuman di sekolah, djaka juga di skors selama 7 hari tidak boleh mengikuti pelajaran di sekolah, karena takut di hukum oleh bapaknya dan tak mau melihat ibunya sedih karenanya, djaka merahasiakan tentang kejadian di sekolah, walau di skors, djaka tetap berangkat kesekolah, untuk mengelabui kedua orang tuanya. Tapi di persimpangan jalan, djaka masuk ke hutan untuk bersembunyi.

 

Di bawah sebuah pohon yang besar dan rindang, djaka duduk melamun, merenungi nasibnya yang selalu jadi tuduhan tiap-tiap ada kehilangan, dan pada saat-saat seperti itulah, orang tua yang mengaku kakek djaka itupun, muncul menemui djaka. Menghibur dan meyakinkan djaka, agar tidak putus asa, lalu djaka di ajari untuk menghapalkan kalimah-kalimah atau doa-doa, yang menurut kakek tersebut, kelak akan sangat berguna bagi djaka.

 

Setelah berhasil menghapalkan beberapa  kalimah, djaka pun segera pulang menuju rumah sobari, karena waktunya anak sekolah pulang, telah tiba, esok harinya begitu lagi, seperti biasa, djaka berbelok sa’at di persimpangan dan masuk hutan untuk sembunyi, dan tak berselang lama kemudian, kakek tua itupun  muncul lagi di hadapan djaka,  untuk menemani dan memberikan pelajaran baru, selama tujuh hari berturut-turut di dalam hutan, bersama kakek tua itu, selama menjalani skors dari sekolah, djaka berhasil menghapal dua puluh empat kalimah atau doa, yang kata kakeknya itu, adalah  ilmu-ilmu para leluhur kuno, yang memang di wariskan untuk Djaka tolos, sebagai penanggung dan penyelesai sejarah para leluhurnya.

 

Namun djaka tolos belum tau dan belum mengarti, apa yang di maksud ilmu para leluhur oleh kakeknya itu, kakek itupun juga bilang sama djaka, kalimah atau doa itulah, yang kelak akan di gunakan untuk apa saja, dalam menjalani proses hidup, selama belum mendapatkan apa yang seharusnya di dapatkan, djaka pun semakin kacau memikirkanya, karena belum tau apa-apa.

 

Sementara itu di rumah, karena matsalim tidak pulang, karena ada borongan kerja, sekalipun ada dewi arimi di rumah, djaka tetap di haruskan dalam pengawasan sobari, djaka pun jadi menginap di rumah sobari sampai matsalim selesai kerja dan kembali berada di rumah, malam itu, djaka melihat sobari gelisah sekali, hingga larut malam belum tidur juga, karena kasihan melihatnya, lalu djaka bangun dan bertanya kepada sobari.

 

{ maaf om,….kenapa belum tidur…?.} kata djaka bertanya pada sobari. { saya tidak bisa tidur djak,…} jawab sobari, { apakah tiap malam om sobari selalu susah tidur…?,} Tanya djaka kembali, { benar…..hampir tiap malam om tidak pernah bisa tidur.} jawab sobari selanjutnya. { apakah karena ada saya di sini, lalu om sobari merasa terganggu hingga tidak bisa tidur,} Tanya djaka ambil tau, { tidak, tidak djaka……memang seperti inilah om, justru dengan adanya kamu bersama om di sini, om sedikit merasa tidak kesepian,} jawab sobari kepada djaka. { o…….kalau begitu, kenapa om sobari tidak menikah saja, kalau punya istri, om sobari kan tidak kesepian lagi, trus om juga akan ada yang membantu, seperti cuci pakaian, masak dan lainya, } kata djaka mencoba memberi saran kepada sobari,{djaka……,kamu masih terlalu kecil untuk mengetahuinya, tapi…..tidak apa-apa….siapa tahu….dengan bercerita kepada kamu, om bisa sedikit lega, karena sudah mengungkap sesuatu yang selama ini om pendam sendiri.} kata sobari kepada djaka, yang di anggapnya masih kecil dan polos. {apa itu om…?..} tanya djaka penasaran. { tapi djaka jangan cerita kepada siapapun ya, karena ini rahasia, } kata sobari, { baiklah om aku janji, tidak akan cerita pada siapapun. } jawab djaka berjanji.{ terima kasih…..,sebenarnya om ini gay, } kata sobari kepada djaka, { apa itu gay om..? } Tanya djaka tidak mengerti, { gay itu lelaki yang menyukai lelaki, atau homo seksual, om tidak punya rasa suka kepada perempuan, walau hanya sedikit saja, om lebih suka pada sesama jenis, itulah yang membuat om hingga kini belum punya istri, karena om tidak menyukai perempuan, tapi om sendiri bingung, tidak mungkin selamanya om seperti ini, sendirian, kesepian dan takut karena masalah itu di anggap oleh semua orang menyimpang aturan dan agama.

 

Tapi om mengalami itu, om tidak bisa membohongi diri om sendiri. om tidak mungkin kawin dengan perempuan, sementara om tidak menyukai perempuan. rasanya om ingin mati saja, dari pada harus hidup menderita seperti ini djaka. } kata sobari mencoba mencurahkan keluh kesahnya kepada djaka yang masih polos dan tidak tau apa-apa itu.{ jangan om…..jangan mati, nanti siapa yang jadi sahabatku kalau om sobari mati. saya tidak punya siapa-siapa, kecuali om sobari yang mau mengerti dengan saya. } jawab djaka dengan polosnya sa’at iu. {tidak djaka……om tidak akan pernah mati untukmu. asal kamu mau berjanji pada om, kalau kamu selalu mau tidur bersama om.} kata sobari. { baiklah om, saya mau tidur bersama om, asal om tidak mati dan meninggalkan saya sendiri, } jawab djaka dengan polos pula.

 

Lalu, sambil meneteskan air mata, sobari meraih tangan djaka dan di ajaknya tidur bersama di kamarnya, tubuh djaka di dekapnya dengan erat sekali sambil berkata,..{ ya…tuhan inikah orang yang akan engkau jadikan sebagai jodohku kelak,} kata sobari dengan lirihnya, djaka yang tak mengerti dengan ucapan sobari, justru malah tertidur pulas di dalam pelukan sobari. sesekali djaka terbangun dari tidurnya, sa’at sobari meraih tangannya dan menempelkanya pada kelaminya yang sedang tegang.

 

Paginya,,, sa’at terbangun, djaka terkejut dengan kedua pahanya yang menjadi basah. dengan malu djaka minta maaf kapada sobari, di kiranya semalam dia ngompol/kencing tanpa terasa, { maaf kan saya om…..saya tidak sengaja…..semalam saya kencing di tempat tidurnya om. tapi saya akan mencucinya om…} kata djaka penuh rasa takut, { Djaka, kamu tidak salah, tadi malam kamu tidak kencing, om yang salah. karena om melakukanya tanpa kamu ketahui, biar om yang mencucinya, } kata sobari kepada djaka, { memangnya om melakukan apa..? } Tanya djaka penasaran, { nanti jika kamu sudah besar, kamu akan tau dan om siap mengajari kamu. } jawab sobari, dan membuat djaka semakin tidak mengerti lagi.

 

Malamnya lagi, sobari melakukan hal yang sama. tapi kali ini djaka tidak mau tidur, karena penasaran, akan kata-kata sobari tadi siang, sa’at tidur, djaka bertanya.{ sebenarnya tadi malam om sobari melakukan apa sih, sampai kedua paha saya jadi basah,? } Tanya djaka, { mau tau…….sini om ajari biar kamu tau } kata sobari. lalu djaka di suruh telangjang bulat, begitu juga dengan dirinya, lalu djaka di suruh mempermainkan kelamin sobari yang sudah menegang, saat itu djaka jadi teringat pada pak ansori, yang pernah memasaknya untuk melakukan permaianan seperti itu.

 

Penuh penasaran, djaka mencoba menurut dan mengikuti suruhan sobari, sampai pada akhirnya, ada air putih kental terpancar dari ujung kelamin yang tegang dan besar itu, hingga membasahi wajah djaka, dan pikir djaka { o…..ini yang membasahi kedua pahaku semalam.}

 

Lalu sobari bangkit dan membersihkan air yang membasahi wajah djaka dengan sarungnya sambil berkata. { kelak kamu juga bisa seperti ini. di sa’at air tadi keluar, rasanya mampu melupakan segalanya, karena saking nikmatnya, dan kamu djaka tolos, adalah orang pertama yang berhubungan seperti ini denganku. aku bangga dan puas karena pada akhirnya, aku bisa melakukanya, walau denga anak kecil seperti kamu,} kata sobari menjelaskan kepada djaka.

 

Djaka yang belum mengerti akan hal itu, cuma bisa diam. lalu djaka pun di peluknya hingga tertidur sampai pagi tiba. di dalam kepala djaka, selalu berpikir tentang pengalaman barunya, selama tidur dengan sobari, djaka selalu bertanya dalam hati….{ apa arti dan maksud kata-kata om sobari itu, dan itu di sebut apa ya…..,.kok apa yang pernah di lakukan oleh pak ansori dulu, sama seperti yang di lakukan oleh om sobari, hanya saja dulu pak ansori memaksa, sedang om sobari, melakukanya dengan penuh kelembutan, apa mungkin pak ansori dan om sobari itu, mempunyai kesama’an, seperti yang di sebut om sobari itu,(gay).

 

Di sa’at djaka sedang asik melamun, memikirkan apa yang baru dia alami. munculah masalah baru lagi, sa’at itu tetangga belakang rumah, semalam habis kehilangan sepeda dan padi juga uang. dan anehnya, djaka yang di jadikan tersangka. waktu itu bertepatan matsalim baru pulang dari kerjanya, mendapat tuduhan kalau djaka habis mencuri di rumahnya tadi malam. segera matsalim datang kerumah sobari dalam keada’an marah besar, djaka sudah berusaha mengatakan yang sebenarnya, begitu juga dengan sobari, tapi matsalim tidak peduli, malah sobari juga kena marah dan tendangan, lalu djaka di seret pulang dan di hajar sepanjang perjalanan, dewi arimi yang tak berdaya mengetahui kejadian itu, hanya bisa menjerit – jerit sambil menangis, tak satupun yang mau menolong djaka.

 

Matsalim jadi semakin gemas sa’at melihat djaka yang di hajarnya merasa biasa-biasa saja, tidak manangis dan tidak memar, djaka pun tidak merasakan sakit sediditpun sa’at di hajar matsalim bapaknya, saking gemasnya, lalu matsalim memanggang tubuh djaka di atas api dapur, yang sedang di pakai memasak oleh dewi arimi, lalu mengurungnya lagi di kamar tanpa di beri apapun, di dalam kamar, djaka bingung pada dirinya sendiri, yang tidak merasakan sakit sedikitpun, sa’at di pukuli bapaknya.

 

Djaka tidak tau kalau semua itu adalah, pengaruh dari mustika merah delima pemberian dari kakeknya, yang pernah di telanya tempo dulu. tepat tengah malam, kakeknya kembali menemui djaka di kamar itu, djaka mengadu dengan apa yang baru di alaminya, dan jawaban kakek itu.

 

{ bersabarlah cucuku…itu memang bagian dari lakumu, untuk menebus segala sesuatu yang pernah di lakukan oleh semua para leluhurmu, termasuk kakek. itu sebab kamu harus kakek warisi semua ilmu yang pernah di miliki oleh semua leluhurmu. agar kamu bisa mampu dan kuat, karena kamu satu-satunya keturunan, yang bisa menyempurnakan semua para leluhurmu, yang belum mencapai kesempurna’an sejati. dan kamulah satu-satunya harapan dari semua para leluhurmu, termasuk kakek ini cucuku. untuk itu, kamu harus mampu dan harus kuat, jika tidak, kepada siapa lagi kakek dan semua para leluhurmu akan berharap. kamu sudah menghapal hampir semua kalimah warisan dari leluhur, kini tinggal menyempurkan saja, bersiaplah cucuku, untuk menerima semua warisan dari para leluhurmu, duduklah dengan tenang dan santai, kakek akan menyalurkan intisari dari semua kalimah yang telah kamu hapal.

 

Djaka yang tetap bingung tak mengerti, mencoba menurut dengan apa yang di katakan oleh kakek itu, sesa’at setelah duduk bersilah, djaka melihat tubuh kakek tua namun bertubuh gagah dan berwibawah itu bercahaya, dan cahaya itu bergerak mengumpul jadi satu, di kedua telapak tanganya, lalu kedua tangan itu di tempelkan pada kedua punggung djaka, mendadak tubuh djaka terguncang hebat, dan lalu kambali tenang. Saat tangan kakek itu terlepas dari kedua punggungnya, lalu kakek itu memeluknya sambil berkata.

 

{ Raden sudah menerima warisan itu dengan sempurna. harapan kakek dan semua para leluhur, reden bisa mampu dan kuat. kami semua menanti raden. tolong sempurnakanlah kami semua, agar dapat kembali pada asal usul mulanya jadi. selamat tinggal raden. kami senantiasa menunggu uluran tanganmu } kata kakek tersebut sambil melangkah mundur. Lalu, mendadak wujud kakek itu lenyap dari pandangan djaka, yang masih tertegun bingung dengan semua ucapanya. padahal terlalu banyak yang ingin di tanyakan dan di katakanya, tapi belum sempat djaka bersuara, kakek itu sudah mendahului pergi entah kemana, hingga djaka tolos jadi semakin bingung tak mengerti.

 

Sepuluh hari djaka di kurung di dalam kamar, tapi kondisi djaka seperti cukup makan dan minum serta tidur nyenyak, sperti tidak habis terjadi apa-apa. setelah di buka dan di keluarkan dari kamar. matsalim jadi semakin terkejut, karena siksa’anya tak berpengaruh apa-apa bagi djaka. tapi jaka tolos sendiri masih tetap bingung dan tidak mengerti dengan dirinya sendiri, dan setelah kejadian itu,  djaka tidak boleh sekolah lagi. kemanapun matsalim pergi buruh, djaka selalu di bawanya.

 

Djaka ikut kerja sebagai buruh bersama bapaknya. walau begitu, tuduhan tetap terarah kepada djaka. sa’at itu djaka sedang mencangkul di ladang milik tetangga desa, bersama bapaknya matsalim. datanglah seseorang yang melempar tuduhan kepada djaka, djaka di tuduh mencuri tanaman semangkanya dan merusaknya, padahal sa’at itu jelas-jelas djaka sedang bersama matsalim bapaknya, sedang mencangkul. tapi tuduhan itu kenapa harus jatuh kepada djaka…?.

 

Apakah memang djaka di takdirkan untuk jadi tertuduh dan selalu di tuduh…?, dan anehnya,  matsalim pun menghajar djaka karena tuduhan itu, kenapa….?   Ada….apa….dengan semua ini…?

 

Setelah di hajar habis-habisan oleh matsalim, di depan orang yang menuduhnya, lalu djaka di seret pulang dan di usir pergi dari rumah dengan di beri tiga potong pakaian, melihat djaka yang di lempar keluar dari dalam rumah, untuk di usir oleh matsalim bapaknya, dewi arimi segera menyusul dan mendekap djaka tolos, yang sedang menangis bingung. sambil memegangi perutnya yang besar kerena sedang hamil untuk yang ke empat kalinya, menangislah dewi arimi sambil berkata dengan tersendat……

 

{ pergilah anaku. carilah hidupmu sendiri. ibu yakin walau tanpa ibu dan bapak, kamu bisa hidup. karena hidup itu milik gusti allah. Bukan milik bapak atau ibu, buktikan bahwa kamu bisa. bahwa kamu benar. dari pada kamu di sini selalu jadi korban, dari orang-orang yang tak berprikemanusia’an.

 

Pergilah anaku….pergilah….doa emak dan semua para leluhurmu menyertaimu. jangan kembali sebelum kamu bisa membuktikan kepada semuanya. pesan emak…..di manapun kamu berada dan dalam keada’an apapun, jangan pernah lupa pada ibu. karena ibu senantiasa memohonkan dirimu kepada gusti allah………,demi langit dan bumi ibu bersaksi kepada allah, celakakanlah anaku jika tuduhan orang-orang itu benar, saya rela dan ikhlas jika memang anaku seperti yang mereka tuduhkan. } kata dewi arimi sambil memberikan uang sebanyak tujuh ratus perak kepada Djaka tolos putranya.

 

Lalu dewi arimi melepas kepergian djaka tolos, dengan doanya yang paling dalam. dan djaka tolos pun pergi melangkahkan kakinya, yang hampa tanpa tujuan. sambil menangis, kakinya bergetar melangkah ke arah selatan perkampungan. semua mata menatap kejam, sambil melempari bebatuan. sembari berkata…bajingan….dasar pencuri…….!.

 

Dan tibalah djaka di sebuah jalan, tepi sungai. sambil duduk di tepi derasnya air mengalir, djaka berkaca sambil bertanya pada diri sendiri….{ kenapa aku bernasib begini….? kanapa mereka kajam padaku….? Kenapa aku harus berpisah dengan keluargaku…..? ini tidak adil, mereka kejam ! jahat !.}

 

Lalu djaka bangkit berdiri lagi, untuk melanjutkan langkahnya yang tiada tau harus kemana. sambil berkata { selamat tinggal mak, pak, dik, selamat tinggal kampong halamanku, selamat tinggal cita-citaku, selamat tinggal semua orang yang telah kejam kepadaku, selamat tinggal semuanya, selamat tinggal }.

 

Pada akhirnya, hari kamis tanggal 10 bulan 05 tahun 1968, djaka keluar dari dukuh kandang jongak, desa rusa kencana, sebagai anak yang terusir, dengan usia 8 tahun lebih, siang malam djaka berjalan kaki tanpa henti, walau tanpa arah dan tujuan yang pasti. tapi djaka terus melangkah dan berjalan mengikuti pandanganganya yang lurus ke depan. entah berapa lama djaka berjalan kaki, mengikuti arah jalan yang ada di depanya. tibalah djaka di sebuah kota kecil, kota kabupaten tersebut Luwuk. Djaka teringat dengan kakaknya dewi atnesi yang sedang kerja di kota tersebut, tapi djaka tidak tahu harus kemana mencarinya, karena alamatnya yang tidak tau. di tengah keramaian kota kabupaten, djaka terus melangkahkan kakinya tanpa letih sedikitpun, hingga sampailah di sebuah terminal kota luwuk.

 

Walaupun kabupaten luwuk adalah kota kecil yang terletak di tepi pantai, namun, yang namanya kota, sekecil apapun kota tersebut, tidaklah sama dengan kampung atau desa. Artinya, tetap ramai dengan hiruk pikuknya aktifitas manusia dan mesin. Di antara pasar dan terminal, djaka duduk kebingungan. saking bingungnya, akan keramaian kota yang baru saja di lihatnya, rasa capek akibat berhari-hari berjalan, dan rasa lapar akibat berhari-hari tidak makan, sama sekali tidak di rasakanya, djaka terkejut dari lamunanya, sa’at ada seorang bapak yang menyapanya.

 

karena sa’at di tanya djaka tidak bisa menjawab. orang tersebut pun langsung tau kalau djaka sedang kebingungan, lalu djaka di bawa oleh orang itu ke rumahnya, sesampainya di rumah, djaka di beri makan dan baju buat ganti, setelah itu baru di tanyai, djaka pun menceritakan semua kejadiannya, tentang apa yang di alaminya, setelah tau ceritanya, orang itu iba dan jatuh kasihan, dan mengangkat djaka sebagai anak, karena kebetulan orang itu tidak mempunyai anak, sebut saja namanya daeng tahak dan istrinya bernama tante cerly.

 

Tinggalah djaka di rumah daeng tahak sebagai anak anggat, lalu djaka di daftarkan sekolah lagi. tiap pulang sekolah, djaka di beri tugas merawat tanaman bunga, yang ada di halaman  rumah, dan menyapu halaman rumah, bersama pembantu perempuan asal desa batui, bernama rokayah, sedangkan daeng tahak dan istrinya, menjaga toko emas di komplek pasar. sesa’at djaka tolos merasa tenang dan bahagia tinggal bersama keluarga daeng tahak di kota luwuk, namun belum puas djaka merasakan kedamaian itu, munculah masalah baru lagi.

 

Pada suatu ketika, sa’at sepulang dari  sekolah, djaka bertemu dengan teman seusianya di jalan,  bernama firman, dia anak gelandangan yang biasa mangkal di pintu masuk terminal, dekat tempat sekolahnya, djaka pun di ajak mampir ke rumah firman yang baru saja di kenalnya itu, tapi djaka baru sadar, sa’at tiba di rumahnya, ternyata bukan rumah, melainkan sebuah lapak atau sejenis pangkalan, tempat para gelandangan dan para pengemis tinggal. djaka terjebak di tempat itu. bisa masuk tapi tak bisa keluar. firman membawa djaka untuk menghadap bosnya, bernama daeng tamar, yang rupanya sungguh menyeramkan. tubuhnya penuh gambar, rambutnya panjang, tubuhnya tinggi besar. begitu juga kumis dan jenggot yang sangat lebat, menambah penampilanya bertambah menakutkan, konon menurut cerita dari firman, daeng tamar adalah pemimpin atau ketua juga bosnya para preman di kabupaten luwuk dan sekitarnya ini. juga para gelandangan dan pengemis. termasuk para perampoknya.

 

Setelah mendengar dan melihat kenyata’an daeng tamar yang memang benar-benar menakutkan itu, djaka semakin tidak menentu pikiranya. entah apa yang akan di alaminya di sini, setelah di jual olah firman teman barunya itu, ternyata djaka tolos di paksa untuk jadi anak buahnya, sebagai pengemis cilik dan hasilnya buat dia, sungguh sial sekali nasib djaka, baru semenit jadi orang senang,  langsung berganti dengan derita lagi, sebagai pendatang baru yang belum tau seluk beluk kota luwuk, djaka sudah tentu kesulitan untuk bisa mendapatkan rumah daeng tamar. dan akhirnya sejak itu djaka hidup di kota luwuk sebagai pengemis, kadang pengamen, kadang juga nyopet kalo ada kesempatan, lalu hasilnya di setorkan kepada daeng tamar, jika sehari tidak mendapatkan hasil, hukuman yang di terimanya.

 

Begitu juga nasib anak-anak seusianya, yang ada di tempat itu bersama djaka. mau lari dan minggat tidak tau arah dan jalan. lagi pula setiap gerakan selalu ada yang mengawasi. sehingga selalu sulit dan tertekan. dalam hati djaka berpikir mengeluh. { seperti inikah kehidupan di kota..?.} mungkin tidak semuanya, mungkin juga memang djaka yang lagi ketiban sial dan apes. {ibu……..taukah engkau, tentang aku yang bernasib begini di kota ini….?. } itulah yang selalu ada di hati djaka yang selalu mencoba mengingat ibunya. { aku harus bagaimana bu……?}.

 

Lalu pada suatu kesempatan. di sa’at semua orang sedang tidur, djaka bangun dan duduk di tepi pantai, matanya menatap jauh entah kemana, dengan kekosonganya, seiring dengan irama deburan ombak yang merdu memecah kesunyian malam yang dingin, tiba-tiba munculah di hadapanya seorang kakek tua, yang berwajah hampir mirip dengan kakek, yang sering menemuinya, saat mendapat hukuman waktu di kampung dulu, dia mengaku sebagai buyutnya djaka tolos, kakenya dewi arimi ibu kandunganya, sosok tubuh itu tiba-tiba muncul, tanpa terduga, dari balik ombak, dengan di liputi cahaya kuning dan aroma wangi semerbak, kakek itu berkata.

 

{ janganlah Raden terlalu lama berhenti disini……perjalananmu masih jauh raden. dan semua para leluhurmu, menunggu dan sangat mengharapkanmu. }, begitulah kata kakek tersebut, djaka terpaku menyasikanya, tak dapat berbuat apa-apa dan berkata apa-apa, hingga wujud itu hilang kembali. dan djaka pun terkejut, { siapakah kakek tadi….? Wajahnya hampir mirip dengan kakek yang sering menemuiku sa’at di kampong dulu. lalu apa maksud dari ucapanya tadi. }djaka berkata dalam hati.

 

Tapi karena tak mau pusing, djaka pun melupakan kejadian itu. lalu djaka berpikir tentang bagaimana caranya, agar bisa keluar dari tempat ini, { cita-citaku dulu,,, ingin menjadi dokter, tapi kenapa sekarang aku malah jadi pengemis, jadi pencopet dan pengamen…..ah tidak, aku harus bisa keluar dari tempat ini. tidak mungkin aku seperti ini terus menerus, ini bukan cita-cita atau keinginanaku. } teriak djaka, melawan suara deburan ombak yang ada di hadapanya.

 

Esok paginya, djaka nekad berpamit kepada daeng tamar untuk berhenti dan keluar dari tempat konyol itu. tapi tidak semudah yang di bayangkan djaka. bukanya di ijinkan, malah djaka di hajar habis-habisan oleh empat orang ajudan daeng tamar, yang tak kalah sangarnya dengan daeng tamar. djaka di buat seperti bola kaki, di tendang kian kemari, namun djaka bukanya teriak kesakitan, malah tertawa, karena merasakan geli, sa’at di tendang dan di pukul oleh empat orang anak buah daeng tamar.

 

Karena merasa di lecehkan, ke empat orang itupun  menjadi semakin garang, setelah mendapat aba-aba untuk membunuh djaka tolos, ke empat orang itupun, segera mengeluarkan senjatanya masing-masing, berupa pisau kecil yang terbuat dari besi kuning beracun. secara bergantian pisau itu di tikamkan ke tubuh djaka, djaka yang ketakutan berteriak minta ampun. tapi apa yang terjadi, pisau-pisau yang terlanjur menyentuh tubuh djaka itu, meleleh bagaikan lilin yang terbakar api. menyaksikan hal tersebut, ke empat orang tersebut jadi ciut nyali dan berbalik di belakang daeng tamar. dan sambil berkaca pinggang, daeng tamar menatap djaka yang sedang takut dan bingung dengan apa yang baru saja terjadi pada dirinya.

 

Sambil menunjuk ke arah djaka tolos, daeng tamar berkata lantang, { hai bocah…!.siapa sebenarnya kamu. rupanya kamu sengaja datang ke tempatku, untuk pamer ilmu ya, baiklah, jika itu maumu, akan aku layani, kita tentukan siapa yang paling hebat, paling kuat dan siapa yang akan mati sa’at ini, aku atau kamu.!. jika kamu kalah, maka kamu akan mati di tanganku, tapi jika kamu yang menang maka…kedudukaku sebagai pemimpin dan ketua sekaligus bos di sini, akan menjadi milikmu, semua daerah kekuasa’anku, akan jadi milikmu. dan semua anak buahku, termasuk aku sendiri, akan tunduk patuh kepadamu, semua yang hadir di sini saksinya, tapi jika kamu tidak bisa mengalahkan aku, maka kamu akan aku panggang di atas bara sebelum aku membunuhmu. } kata daeng tamar mengarah kepada Djaka tolos dengan penuh kebencian dan amarah.

 

Lalu tanpa memberi tanda apapun terlebih dulu. daeng tamar langsung menyerang djaka yang sedang meringkuk ketakutan di sudut dinding, djaka berhasil menghindari tendangan daeng tamar dengan cara menundukan kepalanya, dan tendangan itu mengenai dinding, hingga jebol dan hancur, djaka dapat membayangkan, andaikata tendangan itu mengenai kepalanya, tentunya akan seperti dinding itu, tanpa memberi kesempatan sedikitpun, daeng tamar terus menyerang djaka, dengan tendangan dan pukulan yang bertubi-tubi, djaka yang tidak tau caranya menghindari tendangan dan pukulan, jadi sasaran empuk, untung djaka tidak merasakan sakit dan tidak bisa terluka, walau di hujani serangan apapun, kalau tidak, pasti djaka sudah jadi bubur palabutun. (bahasa Sulawesi). Artinya bubur sungsum.

 

Daeng tamar jadi semakin garang dan marah, karena semua seranganya tak berguna, lalu daeng tamar diam sejenak dan lalu menarik nafas dan mengarahkanya ke pada djaka, rupanya daeng tamar mengeluarkan pukulan tenaga dalam, yang mematikan. tapi pukulan itu mengenai tubuh seorang kakek yang muncul saat djaka di pantai kemaren. Rupanya, kakek itu sengaja datang untuk menepis serangan daeng tamar yang di anggapnya cukup bahaya itu.

 

Pukulan itupun berbalik arah, mengenai tubuh daeng tamar sendiri, daeng tamar pun terpental kebelakang, dan kemudian berusaha bangkit sambil merangkak ke arah djaka, untuk minta ampun dan mengaku kalah. melihat darah yang keluar dari mulut dan hidung serta telinga daeng tamar, djaka tolos menjadi iba dan kasihan, sambil menyapu darah itu, djaka membantu daeng tamar untuk bisa berdiri.

 

Dan pada sa’at itu pula, daeng tamar mengumumkan pada semua yang hadir di tepat itu, kalau posisinya telah di serahkan kepada Djaka Tolos, dan mulai sa’at itu juga, djaka tolos lah yang berkuasa atas Geng Mandau tersebut, walau tanpa di sadari, karena kelebihan dirinya itu adalah berkat pemberian dari kakek dan buyutnya, akhirnya djaka tolos dapat mencapai awal dari kemerdeka’annya, di dalam proses awal perjalananya hidupnya.

 

Sejak itulah, djaka memimpin genk mandau di kabupaten luwuk sulawesi tengah, salah satu geng yang paling di takuti di sulawesi tengah, waktu itu, djaka tolos berusia genap 10 tahun, walau djaka tolos masih berumur 10 tahun, tapi keberada’anya di tengah genk mandau, djaka di puji dan di hormati serta di sanjung juga patuhi dan di takuti banyak orang, terutama anggota genk mandau itu sendiri. Karena sejak kekuasa’an beralih ke tangan djaka, tak ada lagi istilah hukuman, jika ada anggota yang tidak dapat hasil. selain itu, semua anggota menjadi senang dan suka atas kepemimpinan djaka, yang penuh kasih terhadap sesama, djaka merasa terharu dan bahagia sekali. karena baru kali ini merasakan indahnya, memiliki banyak taman di sekitarnya.

 

Walau begitu, djaka tolos masih banyak mendapat bimbingan dari daeng tamar, yang menjadi wakilnya. pelajaran dan pengalaman banyak di perolehnya dari daeng tamar. walau umur jaka 10 tahun, tapi daeng tamar sangat hormat kepada djaka sebagai ketua, hampir semua kebutuhan djaka di layaninya sendiri, sambil sesekali merayu agar di angkat sebagai murid djaka, tapi djaka belum mengenal dan belum tau, apa yang di sebut ilmu atau kesaktian. itupun di katakanya kepada daeng tamar, dan daeng tamar pun memberi taunya sejalas mungkin.

 

Dari daeng tamarlah, djaka jadi tau apa yang di sebut ilmu dan kesaktian, secara tidak langsung,  sebenarnya daeng tamar adalah guru pembimbing djaka tentang ilmu pengetahuan. bagaimana tidak, selama menjadi ketua genk mandau bersama daeng tamar di kota luwuk, djaka banyak tau tentang beraneka ragam seni kehidupan meluas. sesekali djaka di ajak oleh daeng tamar keliling untuk mengenalkan diri pada semua bawahan yang tersebar di seluruh penjuru kota, posisi daeng tamar sebagai wakil, terkadang membuat djaka tolos merasa risih, karena daeng tamar selalu melayani semua keperluan dan kebutuhan djaka tolos, bukan seperti wakil, tapi seperti pembantu.

 

Mulai dari mandi makan duduk dan tidur di layaninya. dengan penuh hormat. padahal pekerja’an itu tidaklah pantas untuk orang yang berpenampilan seperti daeng tamar. hingga pada suatu ketika, djaka tolos berpikir. tidak mungkin dirinya akan seperti ini terus menerus, sementara itu bukanlah cita-cita atau keinginanya. sa’at duduk sendiri, djaka teringat masa lalu di kampungnya, djaka ingat sa’at di tuduh, sa’at di hukum, sa’at di aniaya, sa’at tersisih, sa’at terusir, dan sa’at terpisah. semuanya muncul dari dalam hatinya yang paling dalam, di sertai linanangan air mata kepedihan.

 

Bibirnya bergetar sambil bersuara……{ mereka kejam..!.mereka tega…!.mereka telah menghancurkan cita-cita dan masa depanku, nama baik keluargaku, hidupku. mereka telah menghancurkanya, kejam……!….!…!, aku akan membalas semua yang pernah mereka lakukan padaku, mereka harus aku balas, semuanya. semuanya akan aku balas}. Begitulah teriakan djaka tolos, saat mengingat masa lalunya di kampong, sedih, kecewa, marah dan dendam jadi menguasai dirinya. tapi dia masih takut, karena masih kecil. djaka masih ragu akan kehebatan dirinya, walau sering mengalami pembuktian. karena menurutnya, belum pernah berguru pada siapapun.

 

Sa’at sadar, bergegaslah djaka, bangkit dan berlari ke kamar, lalu memeluk daeng tamar, yang sedang tertidur pulas. daeng pun terkejut dan segera terbangun akan tangisan djaka sang ketua. daeng berusaha bertanya dan djaka pun menceritakan semua yang pernah di alaminya waktu di kampong. mendengar cerita dari djaka yang jujur keluar dari hati. daeng tamar terenyuh haru. dan memberi semangat kepada djaka untuk membalasnya.

 

Tapi djaka masih belum yakin akan kehebatan yang sudah di milikinya, karena merasa belum pernah berguru langsung pada seseorang, untuk menumbuhkan keyakinan, djaka ingin berguru pada siapapun yang paling hebat di wilayah itu, lalu daeng tamar memasang telinga di mana-mana, untuk mencari seorang guru yang terhebat di wilayah kabupaten luwuk, dan beberapa waktu kemudian, orang yang di maksudpun di temukan oleh salah satu anak buah daeng tamar, orang itu bernama pak tarjan, asal dari banyuwangi jawa timur. Dan tinggal di sulawesi sebagai warga transmigrasi, setelah menyerahkan kembali kekuasa’an kepada daeng tamar, berangkatlah djaka menemui pak tarjan,  yang tinggal di desa transmigrasi mayayap, kecamatan pagimana, kabupaten luwuk, propinsi sulawesi tengah, berjarak sekitar 100 km dari kota luwuk.

 

Setibanya di desa transmigrasi mayayap, bertamulah djaka ke rumah pak TARJAN, yang alamatnya sesuai petunjuk. setelah masuk dan mengutarakan masud dan tujuanya itu, di terimalah djaka sebagai murid pertama pak tarjan. setelah di angkat sebagai anak, kemudian djaka di ajari berbagai kalimah ilmu yang di sebut aji karang, yang terdiri dari yiga tingkatan ilmu, yaitu tingkat awal sebagai dasar, lalu tingkat dua sebagai inti dan tingkat akhir sebagai pamungkasnya. Setelah berhasil menghapal semua kalimah yang di berikan oleh pak tarjan gurunya, lalu djaka di suruh mempelajari ilmu olah kanuragan terlebih dahulu, sebagai penyempurna dasarnya, dan karena pak tarjan tidak punya anak lelaki, yang sudah besar, dan anak pertamanya adalah perempuan, lalu djaka di pasangkan dengan anak perempuanya, bernama SITI AMIDAH, sebagai lawan dalam berlatih ilmu olah kanuragan, walau seorang perempuan, siti amidah adalah putri pak tarjan, orang yang sangat ahli dalam bidang ilmu, sudah tentu dia sangat hebat dan lincah dalam olah kanuragan.

 

Setiap sore djaka tolos dan siti amidah selalu giat dalam berlatih, sesudah berlatih, mereka istirahat,  duduk berdua sambil bercerita, salin tukar penglaman. Paginya, sebagai pengabdian seorang murid terhadap gurunya, djaka ke sawah untuk membantu pak tarjan mengolah lahan. pada waktu itu, djaka tolos sudah berumur genap 11 tahun, sedangkan siti amidah anak pak tarjan berumur 10 tahun kurang lebihnya. Selama berguru pada pak tarjan, bagi djaka, tiada hari tanpa latihan dengan giatnya, begitu juga dengan siti amidah, yang selalu setia melayani djaka sebagai lawan dalam latihan, tak pernah merasa jenuh apalagi bosan, hingga semakin akrablah hubungan antara djaka dan siti, bagaikan saudara sekandung.

 

Tak terasa,,, waktu terus bergulir, sudah setahun djaka tolos berguru pada pak tarjan. 32 jurus olah kanuragan, telah berhasil di kuasai oleh djaka, dan tiba sa’atnya bagi djaka, untuk menerima inti sari dari seluruh ilmu yang di perolahnya dari pak tarjan, untuk melangkah ke pelajaran ilmu aji karang, djaka mulai di gembleng puasa, pertama djaka di suruh puasa mutih selama 3 hari 3 malam, lalu beralih dengan puasa ngepel selama 3 hari 3 malam, terus puasa ngebleng 3 hari 3 malam, di akhiri puasa pati geni sehari semalam. terus puasa kungkum di tempuran sungai semalam suntuk, terus puasa ngalong semalam, terus puasa pendem selama 7 hari 7 malam. di tutup dengan puasa melek selama sehari semalam. kemudian istirahat selama seminggu.

 

Selama istirahat, djaka selalu melatih diri di temani oleh siti amidah, setelah itu djaka di suruh puasa ngrokot selama 90 hari 90 malam tanpa henti, selama puasa djaka tidak boleh masuk ke dalam rumah ataupun berteduh di suatu tempat yang tertutup, untuk sehari-hari, jika malam, djaka tidur di pinggir jalan atau di pematang sawah, jika siang, djaka mencari tempat di tepi sungai, untuk menghindari terik matahari yang terlalu panas. Setelah selesai 90 hari/malam, lalu djaka terhambat fitnah, para tetangga pak tarjan mengisukan, kalau djaka dan siti amidah putrinya, telah kumpul kebo, hal itu membuat pak tarjan malu, hingga menghentikan latihan, pak tarjan tidak mau mengajari djaka lagi hingga tuntas, kecuali kalau djaka mau menikahi putrinya, sebagai tebusan malu dan menutup isu yang membuatnya malu itu, lalu terpaksa djaka menikahi siti amidah putri pak tarjan gurunya, sebagai tanda pengabdianya, pernikahan dini antara jaka tolos dan siti amidah pun terjadi pada hari senin pon tgl 25 bulan 10 tahun 1971, waktu itu djaka berumur 11 tahun lebih, sedangkan siti amidah istrinya, masih berumur 10 tahun kurang.

 

Setelah pernikahan resmi itu terjadi, lalu djaka melanjutkan pelajaran ilmu, hingga berhasil selesai, setelah lulus, lalu di adakan selamatan sebagai tanda keberhasilan dalam belajar,…(putraku…..kini semua ilmuku telah berhasil kamu miliki. sekarang, putriku siti amidah juga telah menjadi milikmu,  secara resmi dan sah, maka semuanya atas putriku, aku titipkan padamu, jagalah dia dan kasihi dia, sebagaimana kamu menjaga dan mengasihi dirimu sendiri, gunakan ilmu yang aku berikan itu, di jalan yang benar, jangan sombong atau adigang adigung adiguna, dan pakailah di sa’at kamu benar-benar terdesak, dan untuk sementara, tinggalah bersama bapak dan ibu di sini, karena kalian masih sangat membutuhkan bimbingan kami, kelak jika kalian benar-benar telah dewasa, barulah kalian menentukan jalan hidup kalian sendiri, sesuai dengan kehendak kalian berdua). Begitulah wejangan terakhir pak tarjan yang di berikan pada djaka tolos sebagai murid sekaligus anak dan menantunya.

 

Dan sejak itu, djaka hidup di bawah didikan dan bimbingan pak tarjan sebagai murid dan anak, djaka di pasrahi sebidang tanah, untuk di olah sebagai sarana belajar kerja, menafkahi sang istri. pengalaman berharga dan baru telah di terima djaka dari pak tarjan gurunya. walau sudah beristri, djaka tetap belum tau harus bagaimana dan untuk apa istri itu sebenarnya. tidurpun setiap malam seperti tidur dengan temanya sendiri, ada kalanya bermain, ada kalanya bergurau, ada kalanya bertengkar rebutan mainan, ada kalanya juga salin berbagi cerita dll, layaknya anak-anak yang sedang bermain dengan teman sebayanya.

 

Setahun tak terasa,,, djaka hidup sebagai suami istri dengan putri dari seorang gurunya, namun sejauh itu dan selama itu pula, tetap tak tau apa-apa, taunya hanya kerja dan makan, humor dan tidur, cintapun belum di ketahuinya. pada suatu sa’at, djaka dan siti sedang iseng latilah olah kanuragan berdua di belakang rumah hingga larut malam, setelah latihan lalu istirahat, di samping rumah sambil makan pisang goreng, pada sa’at itu, djaka dan siti mendengar suara aneh dari balik dinding kamar sang mertua. djaka dan siti pun ngintip bersama, di lihatnya kedua orang tuanya salin bertindih melakukan senggama.

 

Dan di mulai dari itulah, djaka dan siti tau apa yang harus di lakukan oleh seorang suami dan istri. setelah tau, barulah djaka dan siti mulai meniru apa yang pernah di lakukan oleh kedua orang tuanya sa’at di intip waktu itu. akhirnya djaka dan siti tau dan melakukanya juga. padahal waktu itu, keduanya masih tergolong usia ABG, anak baru gede. kalo istilah jaman sekarangnya, bagaimana tidak, djaka tolos masih berumur 11 tahun kurang lebihnya, dan siti amidah berumur 10 tahun kurang lebihnya,  setelah tahu kenikmatanya, djaka dan siti jadi sering melakukanya, akibatnya, siti amidah hamil. di sa’at istrinya hamil inilah, djaka  mulai bisa berpikir seperti orang dewasa. mengerti apa itu cinta dan kasih sayang, juga memahami tentang tanggung jawab. hingga djaka menjadi semakin giat dalam usaha.

 

Karena ingin membahagiakan siti amidah istri tercintanya, semua pikiranya fokus tercurah hanya untuk istrinya, semua masa lalu terlupakan, termasuk dendam yang memaksanya harus berguru. hampir semua orang di kampong itu, di buatnya kagum, sampai-sampai orang menyebutnya, kecil-kecil si cabe rawit, namun sayang, waktu yang tidak mendukung djaka, pada sa’at itu. di sa’at usia kandungan siti amidah menginjak usia yang ke lima bulanya, kemarau panjang datang melanda propinsi sulawesi tengah, tiga bulan lebih, hujan tak kunjung menyiram bumi. sawah yang mengharap siraman air hujan pun, menjadi kering, semua padi yang baru sebulan di tanam pun, jadi menguning dan kemudian mati kekeringan, untuk selanjutnya merambat ke tumbuh-tumbuhan lainya, hingga semua jadi mengering, tanah terbelah lebar, sumur kering. udara menjadi panas menyengak, djaka mulai risau, begitu juga dengan mertuanya dan semua warga bahkan seluruh penghuni pulau sulawesi, jadi kelabakan.

 

Sementara waktu terus berjalan. kehamilan siti amidah pun hampir mendekati masa kelahiran. persiapan belum ada. kemarau masih berlanjut. hingga pada sa’at itu, semua warga setempat termasuk djaka, harus berburu tumbuhan hutan, yang di sebut gadung, yang kemudian di olah untuk di makan, sebagai gantinya nasi. hingga pada akhirnya tibalah sa’at kelahiran dari kehamilan siti amidah istri djaka tolos. pada hari sabtu legi tgl 15 bulan 7 tahun 1972, mungkin bukan karena keada’an atau lainya, melainkan kehendak ilahi rabbi, putra pertama djaka tolos yang di beri nama AGUNG PRASTYO. hanya berumur sampai 21 hari  saja, lalu pergi menghadap Tuhan.

 

Kepergian putra pertama djaka, sempat membuat djaka, merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya, namun, bertambah dewasa lagilah djaka dalam menghadapi kehidupan yang selalu tak terduga itu. lalu dengan telaten pak tarjan memberikan petuah-petuah hidup yang membuat djaka semakin mengerti dan memahami kehidupan, cinta sejati dan suci mulai tumbuh menghiasi rumah tangganya, juga mulai mengerti, bahwa dirinya harus bagaimana. walau begitu,  djaka masih merasa kurang dan ingin menambah pengalamanya lagi, ketika mendengar kabar tentang OM YUNUS, orang kampung yang terpilih oleh suku trasing, untuk di jadikan raja di dalam rimba, djaka pun timbul keinganan untuk menemui om yunus dan ingin berguru padanya.

 

Lalu atas ijin istri dan keluarga mertuanya, djaka pergi menemui om yunus, yang tinggal di puncak gunung tompotika, yang terletak di sebelah utara desa bualemo. padahal gunung tersebut, sangat di kenal dengan keangkeranya, dan gawat keliwat-liwat kata penduduk setempat di sekitar kaki gunung tompotika itu, karena salain hutanya yang masih rimba, hingga masih terdapat banyak binatang buas, juga di huni oleh makhluk-makhluk sebangsa jin dan prayangan, namun djaka tak gentar sedikitpun untuk tetap maju, dengan berbekal pengalaman dari mertuanya, djaka berangkat memasuki hutan rimba dan naik ke atas punak gunung keramat tompotika itu.

 

Dan dengan segala perjuangan yang tidak mudah, karena harus melawan gelapnya hutan dan penghuninya, akhirnya djaka sampai di puncak gunung tompotika, setibanya, djaka merasa sedikit bingung, karena apa yang di ceritakan oleh kebanyakan orang, tidak sama dengan kenyata’an yang di lihatnya di atas puncak, di punak gunung, djaka tidak bertemu dengan siapapun, kecuali melihat hamparan tanah rata seluas 1 hektar, dan beberapa batu besar yang nampak aneh wujudnya.

 

Lalu di atas batu tersebut, djaka duduk istirahat sambil merenung, langkah apa selanjutnya yang harus di perbuatnya, dan secara tiba-tiba, muncul di hadapanya, anjing hitam yang berjumlah ratusan ekor, anjing-anjing itu menatap tajam ke arah djaka dengan penuh keganasan, seakan sudah lapar selama puluhan hari, dengan ragu djaka bangkit dan berdiri di atas batu, yang tadi di dudukinya, sambil memandangi sekelilingnya, djaka mempersiapkan diri, memasang kuda-kuda,  kalau-kalau anjing itu akan menyerangnya, namun tak lama kemudian, muncul pula di tengah antara anjing itu, seorang gadis yang berpakaian nyaris telanjang, lalu djaka berusaha menyapa gadis itu, tapi rupanya gadis tersebut tidak mengerti dengan bahasa yang di gunakan oleh djaka, tanpa alasan lalu gadis itu menyerang djaka dengan pedang mandau di tanganya, djaka pun berusaha mengimbanginya, dengan olah kanuragan yang pernah di pelajarinya dari pak tarjan gurunya.

 

Di sa’at pertarungan sedang berlangsung tegang, tiba-tiba muncul suara yang menghentikan pertarungan tersebut, dan ternyata suara itu adalah suara om yunus, yang sedang di cari djaka, dan gadis yang sedang bertarung dengan djaka itu, adalah anak gadis om yunus yang nomer 3, setelah mendapat sambutan baik dari om yunus, lalu djaka di persilahkan masuk ke rumah om yunus, dan lagi, pada sa’at itu pula, djaka mendadak terkejut. tanah datar yang semula di lihatnya kosong, tiba-tiba bermunculan menjadi banyak gubug-gubug mungil yang indah, berhias seribu tanaman bunga beraneka warna. Djaka semakin kagum dan yakin kepada om yunus, bahwa dia memang orang hebat, seperti yang di ceritakan olah kebanyakan orang kampung.

 

Setelah salin ungkap, bergurulah djaka tolos kepada om yunus, dan tinggal menetap sementara di gunung tompotika. sebagai raja dari orang-orang dayak, om yunus memang pantas mendapat sajungan dari banyak orang di kampong, karena kesaktianya luar biasa, banyak hal yang telah di pelajari oleh djaka, selama tinggal bersama om yunus di tompotika, setelah enam bulan belajar pada om yunus di gunung tompotika, dan merasa cukup, lalu djaka turun gunung, kembali ke mayayap, pulang menemui siti amidah istrinya, setibanya di rumah, djaka di kejutkan oleh sebuah berita yang membuatnya tertarik untuk membuktikanya.

 

Semenjak djaka tolos pergi berguru ke puncak gunung tompotika, daerah transmigrasi di gegerkan oleh orang yang menganut ilmu hitam, yang lebih di kenal dengan sebutan leyak, di kampong itu sudah ada enam bayi yang mati tidak wajar, menjadi korban limu leyak, konon di karenakan kehabisan darah,dan darah itu di hisap oleh leyak tersebut, jika bayinya selamat, maka yang mati ibunya, juga karena di isap darahnya, menurut warga setempat, pelakunya adalah salah seorang warga trans dari bali, karena ilmu leyak, adalah ilmu khas bali, namun karena tidak ada bukti yang nyata, warga tidak bisa menuduh, warga bali yang mana, yang memiliki ilmu leyak itu. Mendengar berita itu, djaka langsung ingat akan kematian putranya tempo dulu, pikirnya, jangan-jangan, anaknya juga, mati karena leyak itu, namun anehnya, tak ada satupun yang bisa menangkap atau memergoki sa’at leyak itu beraksi, padahal hampir semua warga, ikut berjaga-jaga tiap kali ada kelahiran seorang bayi.

 

Karena curiga kalau yang membuat anaknya mati itu adalah leyak tersebut, dan penasaran ingin tau seperti apa yang di sebut ilmu leyak itu, itung-itung sambil menguji kemampuan ilmu yang selama ini di pelajarinya, lalu djaka tolos ikut melibatkan diri berjaga bersama warga, dengan harapan bisa ketemu dengan leyak tersebut. Walau bersama warga, djaka sering memisahkan diri, dengan cara keliling kampong, karena tidak sabar menunggu di satu tempat saja, dan bertepatan ada salah seorang warga yang baru saja melahirkan bayi 8 hari, semua warga banyak yang berjaga di rumah pak riduwan yang istrinya baru melahirkan itu, sementara djaka mengambil tempat sendiri di atas pohon  kelapa, yang terletak di perbatasan pakarangan milik pak riduwan. tepat tengah malam, djaka melihat kepala manusia terbang melayang di udara, hanya dengan membawa isi perutnya saja, menyaksikan hal itu, djaka seakan tidak percaya, tapi benar-benar melihatnya, hampir tak berkedip djaka memperhatikannya, karena tak mau kehilangan jejak.

 

Djaka terus memandang dan memperhatikan kepala usus yang tanpa badan itu. semua warga yang berjaga di tempat itu, di buat tidur oleh kepala itu, tak lama kemudian, satu persatu warga yang berjaga, salin berjatuhan tertidur dengan pulasnya, namun sebelum semua jadi tertidur, djaka segera melompat ke arah kepala itu, mendengar teriakan djaka yang sedang menyerang kepala tanpa badan itu, membuat warga yang belum sempat tertidur, serentak kaget dan segera keluar dari dalam  rumah, pertarungan antara djaka dan leyak itupun, jadi tontonan warga, tak satupun warga yang berani membantu djaka, hingga djaka berhasil melumpuhkan leyak itu, dan mengejarnya hingga masuk kerumahnya sendiri.

 

Djaka dan semua warga segera memburunya, dan tertangkaplah siapa pelakunya, ternyata dia adalah pak nyoman adimerta, salah seorang warga transmigrasi asal dari bali, pak nyoman akhirnya di seret ke kelurahan untuk di adili, dan warga sepakat untuk mengusir pak nyoman dari kampong, jika tidak, maka warga akan membunuhnya, sebagai balasan atas anak-anak dan istri mereka yang telah jadi korban ilmu hitamnya, dan sa’at itu pula, pak nyoman adimerta keluar dari kampung.  Namun sebelum pergi, istrinya yang kecewa karena perbuatanya, minta di cerai, akhirnya pak nyoman pun pergi terusir seorang diri, tanpa anak dan istrinya, sejak pak nyoman pergi entah kemana, kampong menjadi aman dan damai kembali, tak ada cerita mistik yang mengerikan seperti yang lalu, dan djaka pun kembali menjadi petani bersama keluarganya.

 

Kemarau panjang yang melanda belum juga usai, untuk menyambut kalau sewaktu-waktu hujan akan turun, djaka dan warga lainya, mempersiapkan lahan dan bibit tanaman, setelah semua lahan warga sudah siap tanam, pada akhir tahun turunlah hujan, dan semua wargapun menyambutnya dengan semangat, merperbaiki pematang sawah dan lahanya, yang kemudian di tanami padi. Selesai di sawah, lahan kering di tanami kedelai. setelah lewat musim tanam, siti amidah istri djaka, hamil lagi untuk yang kedua kalinya, djaka pun jadi senang dan bertambah giat serta semangat dalam segala halnya. kebahagia’an mulai nampak lagi di wajah djaka, dan keluarganya, djaka pun menjaga dan merawat istrinya penuh kasih dan sayang, seakan tak mau terpisahkan oleh apapun.

 

Namun,,, pada suatu ketika, djaka melihat siti amidah istrinya, di tendang oleh pak tarjan mertuanya. hanya karena kesalahan sepele, menumpahkan wedang kopi miliknya, yang di taruh di pinggir pintu, sa’at dia sedang membuat kurungan ayam. hal itu di anggapnya tidak sopan, lalu siti amidah istri djaka di tendangnya, hingga tersungkur jatuh, melihat sang istri tercintanya yang sedang hamil tua itu, jatuh tersungkur karena di tendang oleh bapaknya, djaka jadi marah dan tersinggung, pertengkaran mulut pun terjadi antara djaka dan pak tarjan mertuanya, hal itu membuat djaka sakit hati, lalu djaka membawa istrinya untuk memisahkan diri dengan mertuanya, hidup mandiri sendiri.

 

Lalu djaka menempati rumah temanya yang kosong, karena sedang di tinggal usaha di kota. Mulai dari sinilah, djaka mengalami suka dan dukanya sebuah rumah tangga, sebagai pemula jadi kepala rumah tangga, yang belum cukup bekal pengalaman, karena usia yang masih dini. Djaka sering mengalami pasang surutnya kebutuhan rumah tangga, sehari makan, empat hari puasa bersama istrinya, itu sudah hal yang biasa, rumahnya gelap gulita, karena tak punya minyak untuk menyalakan lampu, juga sudah biasa, namun sebagai manusia biasa, djaka sering gelisah dan malu serta sering menyalahkan dirinya, karena kebodohanya itu, ucapan mohon ma’af pun sering di lakukanya pada sang istri, karena tak dapat membahagiakan dirinya, namun siti amidah istrinya, justru malah menasehati djaka, agar sabar dan tidak putus asa dalam segalanya.

 

Siti amida istrinya, selalu setia dan tabah mendapingi djaka tolos, dengan segala kekurangannya,  sebagai istri walau sering mengalami kekurangan dan kesulitan dalam segala hal, bahkan berjanji pada djaka, akan selalu setia, jujur, tabah, mendampingi djaka, suka maupun duka, mendengar nasehat dan ungkapan hati sang istri yang begitu tulus, djaka semakin percaya diri dan semakin setia pada istrinya, pernah suatu sa’at, ketika itu sedang lebaran idul fitri. rumah djaka gelap gulita, karena tak punya minyak untuk menyalakan lampu ublik/sentir.

 

Sementara rumah-rumah para tetangganya, terang benderang, selain itu sudah 2 hari tidak makan,  karena tak punya beras untuk di masak, semalam suntuk, djaka tak tidur, sambil memeluk istrinya yang sedang hamil tua, karena kasihan, paginya dari balik jendela, djaka melihat orang-orang yang  sedang bersuka ria, dengan pakaian baru dan bagusnya, yang baru di beli dari pasar, sedang djaka,  melihat istrinya yang masih tidur, karena lemas belum makan, dengan daster robeknya, djaka tak kuasa menahan air mata kesedihanya, lalu mohon ma’af lagi untuk yang ke seribu kalinya, siti amidah tersenyum, lalu bangun dari tidurnya, sambil mencium kening djaka dan memeluk tubuhnya.

 

Sang istri berkata,……..{ tabahkan hati dan bersabarlah mas, gusti allah sedang menguji iman kita. dan allah punya rahasia baik serta indah buat kita, untuk itu….kita harus tetap tabah dan sabar menunggunya }. mendengar kalimat sang istri, djaka tolos seketika luluh dan pasrah diri dengan semua kehendak tuhan, walo belum banyak tau tentang apa itu tuhan. seperti yang di katakana siti amidah istrinya.

 

Dan pagi itu, untuk menghindari malu, jika ada teman yang datang berkunjung kerumahnya, lalu djaka menghindarinya dengan cara pergi mancing ke laut, setelah minta ijin pada sang istri dan mendapat ijin, segera djaka berangkat dengan membawa kail dan golok sebagai peralatannya. Setibanya di laut, djaka meminjam perahu, lalu mendayung perahu itu hingga ke tengah lautan. tanpa sadar. malampun telah tiba, hingga tiba pagi lagi. tapi djaka tak mendapatkan seekor ikanpun. lalu dengan kehabisan semangat, djaka mendayung perahunya, untuk menepi. namun tak kunjung sampai, rupanya arus laut telah membawa perahu djaka ke lain arah, yang tak bertepi. karena sudah tak sanggup mendayung perahu lagi, djaka pasrah pada laut, jika harus mati di laut, asal istri tercintanya, dapat pengganti yang bisa membuatnya bahagia.

 

Dan pada sa’at itu, muncul di hadapanya, dari bawah air laut yang terlihat biru, seorang wanita cantik sempurna, djaka sempat terpesona, namun kondisinya yang lemah, membuatnya tak mampu berbuat apa-apa. lalu wanita itu mengantarnya hingga ke tepi yang harus di tujunya, tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu, lalu wanita itu pergi sambil mencium kedua pipi djaka, seraya berbisik, cepatlah pulang, karena istrimu sangat membutuhkan dirimu, dan suatu sa’at nnati, kita akan bertemu lagi. Lalu, lenyapnya wanita itu, pulihlah djaka dari ke tidak berdaya’anya, djaka pun segera pulang. Dan setibanya di rumah, djaka jadi marah dan kecewa, karena sang istri tak ada di rumah, semua pakaian pun di bawanya.

 

Djaka tolos berpikir, ini pasti perbuatan mertunya, yang sengaja menghasut dan ingin memisahkan djaka dan siti amidah istrinya, emosi dan amarah pun muncul membara, segera djaka tolos mengasah golok hingga putih dan tajam, lalu dengan mata merah, djaka melabrak mertuanya, untuk di tantang duel. namun warga berhasil menenangkan djaka, lalu di beri tahu kalau tadi istri hendak melahirkan, karena di rumah tak ada orang, lalu lari ke rumah orang tuanya, dan kini sudah melahirkan dalam keada’an selamat. Mendengar penjelasan dari warga seperti itu, djaka jadi terdiam kaku, lalu segara lari masuk rumah, di pintu djaka melihat istrinya sedang terbaring lemah di ranjang, dengan wajah cantiknya, sedang si bayi mungil berada di sampingnya. penuh malu dan penyesalan, djaka lalu mohon ma’af pada kedua mertuanya, dan memeluk serta mencium anaknya yang mungil. dan sejak itulah, djaka jadi berkumpul lagi dengan mertuanya, dan sejak itu pula, djaka jadi semakin hormat pada mertuanya, karena merasa punya hutang budi yang tak bisa di bayar dengan apapun.

 

Pada akhirnya, putra yang kedua djaka terlahir juga, tepatnya pada hari minggu pon tgl 09 bln 08 tahun 1974, bertepatan dengan ulan tahun djaka, yang ke lima belas tahunnya, anak kedua djaka yang lahir sebagai perempuan tersebut. kemudian di beri nama RIA SUSANTI. Denagn kelahiran anak keduanya ini, menjadikan djaka tolos bertambah semakin dewasa lagi. seakan seribu kebahagia’an sa’at itu, sedang berpihak kepada djaka.

 

Namun sayang seribu sayang lagi, berpihaknya hanya sekejap mata saja, yang kemudian djaka bertemu dengan orang sekampung dari kandang jongak, rusa kencana, yang kebetualan sedang kerja buruh di mayayap, djaka di beri kabar kalau matsalim bapaknya, sedang sakit keras, dan tak kunjung sembuh, selama sakit, hanya nama djaka tolos lah yang selalu di sebut-sebutnya. Mendengar kabar itu, djaka menjadi risau memikirkan kebenaranya,…..,{ benarkah bapak sakit,  karena menahan rindu kepadaku…? Benarkah..? kalau benar, kenapa dulu bapak tega menghukumku hingga mengusirku…? }.

 

Pikir djaka dalam lamunanya. selain itu, djaka pun jadi teringat dengan semua orang-orang yang pernah menganiayanya dulu, semua yang pernah di alami di kandang jonak, jadi teringat kembali, dendam pun yang sudah lama terlupakan, jadi kembali tumbuh dan berkembang membara di hatinya. Lalu djaka nekad mohon ijin kepada kedua mertuanya, untuk membuktikan kabar dari orang yang sekampung itu, setelah mendapat ijin dari mertua, djaka dengan membawa serta anak dan istrinya, berangkat menuju kandang jongak, kampung halamanya, dimana terlah tersimpan kenangan pahit dan menghancurkannya, tempat tinggal bapak dan ibunya sekeluarga, setibanya,,, mendengar djaka tolos telah kembali dengan membawa istri dan anak, matsalim yang semula hanya bisa berbaring di ranjang, karena lemah akibat sakit, mendadak sembuh dan bangkit, lalu berlari menjemput djaka di pinggir jalan, di gendonganya djaka hingga sampai di dalam rumah, sambil berseru…..

{ anak lanangku balik, lanang tenan anaku.! }

 

Orang sekampung ikut geger, semula orang menganggap djaka telah mati dan tidak mengira kalau djaka bakal kembali lagi. setelah kenyata’anya lain, mereka pun jadi heran. sesudah satu minggu istirahat dengan damai bersama keluarga, lalu djaka tolos mengumpulkan semua keluarganya, bapak dan ibunya, dewi atnesi kakanya yang sudah tidak kerja lagi di kota, karena sudah bersuami, endang taurina adiknya, juga adik lelakinya yang lahir sa’at djaka sedang berada di rantau, yang bernama muhamad subur, lalu djaka bercerita tentang perjalanan hidupnya selama ini, hingga kini kembali. juga tentang dendamnya terhadap semua orang, yang telah menghancurkan semua masa depan dan harapanya.

 

Mendengar penjelasan djaka tolos, matsalim jadi minder, penuh rasa kawatir bahkan takut, tapi djaka berusaha untuk menenangkanya, kalau dirinya tidak mungkin akan membalas kepada orang tuanya, karena apapun yang pernah di lakukan oleh bapaknya dulu, di anggapnya itu sebuah didikan, djaka hanya akan membalas berbuatan orang-orang yang telah memfitnahnya dulu, sehingga menjadikan dirinya kehilangan masa depan. Djaka ingin membuktikan kepada mereka, kalau apa yang mereka tuduhkan dulu itu adalah salah, kalau apa yang mereka lakukan dulu itu,  adalah tidak berpri kemanusia’an. Namun walau sudah mendapat penjelasan dari djaka, matsalim tetap minder dan takut. karena merasa pernah ikut menganiaya djaka, esok paginya, sebelum waktunya orang berangkat kerja, djaka mendatangi salah satu rumah orang, yang pernah menganiayanya dengan fitnah, yaitu yang bernama pak jalal, sambil berteriak lantang, djaka memanggil pak jalal, agar keluar dari rumahnya, untuk bertanggung jawab atas tuduhan dan penganiaya’an yang pernah di lakukanya terhadap djaka dulu.

 

{ Siapapun yang ada di dalam rumah ini. Keluar…..aku djaka tolos. Anak nakal yang sering kamu aniaya dulu. Kini datang untuk menuntut tanggung jawab dan menegakan keadilan. Ayo kluar…!!!. Sebelum aku hancurkan rumah ini }. Teriak djaka penuh amarah dendam. Tak lama kemudian. Pemilik rumahpun keluar. setelah pak jalal muncul dari balik pintu rumahnya. Melihat wajah pak jalal, djaka tak mampu menahan emosi, seakan apa yang pernah di lakukan pak jalal dulu, sedang terjadi sa’at itu juga, lalu djaka berkelit melompat ke arah pak jalal, dan menghajarnya tanpa di beri sedikitpun kesempatan, setelah puas melampiaskan dendam. dan pak jalal pun sudah tak berdaya lagi, lalu djaka menyeret pak jalal ke desa, untuk minta pengadilan pada aparat desa setempat.

 

Dengan di saksikan banyak warga, djaka berhasil mengungkap perkara masa lalu, dengan pak jalal di hadapan aparat desa, lalu djaka beralih lagi ke orang berikutnya, yaitu pak dakir, pak dakirpun bernasib sama seperti pak jalal. pak dakir di seret pula ke desa oleh djaka, lalu beralih lagi pada ibu guru sekolahnya dulu. juga suaminya ikut diseret oleh djaka ke desa. Untuk di adili seadil adilnya, jika tidak, djaka mengancam akan membunuh mereka semuanya, yang pernah menganiayanya dulu. Menyaksikan perbuatan balas dendam yang di lakukan oleh djaka, matsalim jadi semakin ketakutan, beda dengan dewi arimi ibunya, dia semakin mendukung djaka, agar membuktikan segala kebenaranya. begitulah cara djaka membalas dendam kepada orang-orang yang pernah menganiayanya dulu.

 

Satu persatu orang-orang itu di seretnya ke desa, namun sebelumnya di hajar sesuai dengan apa yang pernah mereka lakukan terhadap djaka dulu, semua di sesuaikan hingga imbas. namun walau begitu, ada juga yang kabur, melarikan diri, sebelum di datangi djaka tolos, karena saking takutnya pada djaka, dan sejak semua orang tau, kalau waktu itu djaka hanya korban terfitnah, dan teraniaya, banyak warga yang datang untuk minta ma’af kepada djaka. Banyak pula para pemuda seusianya,  yang datang untuk minta di ajari agar bisa seperti djaka, setelah semuanya terungkap, lalu djaka beralih mencari siapa pelaku yang sebenarnya. dan atas bantuan pemuda yang sedang belajar pada djaka saat itu, akhirnya,,, pelaku yang sering melakukan pencurian, waktu djaka masih kecil dulu. tertangkap juga, ke lima kawanan pencuri itu pun, di adili dan di bui, untuk mempertanggung jawabkan, atas semua perbuatanya, yang merugikan orang lain. terutama djaka tolos.

 

Setelah semua terungkap tuntas dan kembali aman. matsalim yang semula ketakutan kepada djaka,  kembali lega, dan atas usaha djaka pula, perguruan silat yang sudah tertutup lama, di buka kembali, nama baik keluarga dan harga diri keluarga menjadi pulih kembali. Djaka tolos lalu di angkat oleh aparat desa, menjadi ketua pemuda di desa rusa kencana. sementara matsalim di angkat menjadi wakil kepala desa atau skertaris desa. kini keluarga matsalim kembali normal bersama masarakat luas. Lalu djaka membawa kembali anak dan istrinya ke desa mayayap, untuk tinggal bersama lagi dengan mertuanya. setibanya di kampung mayayap, musim hujan semakin menjadi, hingga banjir air terjadi di mana-mana, banyak tananaman yang mati membusuk akibat tergenang air, yang terlalu besar dan lama. ekonomi pun menjadi semakin sulit, bahkan lebih sulit lagi di banding waktu musim kemarau terdahulu.

 

Untuk  mencukupi kebutuhan keluarganya. lalu djaka pergi usaha ke kota kabupaten luwuk. di sana djaka tolos menemui rekan-rekannya yang pernah menjadi anak buahnya dulu, yaitu daeng tamar dan lainya, setelah mendapat sedikit bantuan dari rekan-rekan itu, lalu di kirimkanya pada keluarga di mayayap. setelah tinggal sesa’at bersama para sahabatnya di kota. Djaka tolos ingin mengenang masa lalunya bersama daeng tamar dan anak buahnya, apakah mereka semua masih seperti dulu dan tetap menganggap djaka tolos sebagai pemimpin dan ketua mereka. lalu daeng tamar mengajak djaka keliling kota, untuk menemui beberapa perwakilan geng mandau, yang terletak di empat penjuru, yaitu timur, selatan, barat dan utara kota, setelah tau kalau mereka tetap hormat dan mengakui djaka sebagai ketua mereka, sampai kapanpun, walau tidak di tunggui, djaka tolos menjadi lega dan semakin percaya terhadap daeng tamar, dan sebagai tanda kepercaya’an itu, lalu daeng tamar di warisi beberapa ilmu kesaktian dan olah kanuragan oleh djaka tolos.

 

Namun suatu ketika, djaka di kejutkan oleh sesuatu yang membuat dirinya harus mengingat masa kecil yang sangat menyakitkan dulu, awalnya djaka sedang tiduran, di serambi depan aula, dalam posisi tertelungkup, kedua kaki djaka sedang di pijat oleh daeng tamar, yang sedang mengabdinya sebagai wakil dan murid, tiba-tiba, djaka menatap sebuah bangunan baru di sebelah utara aula tempat tinggalnya, yang sa’at itu sedang di kerjakan, djaka melihat ada tiga orang yang sedang kerja di sana, dan ketiga orang itu, di kenalnya. Dia adalah pak ansori, pak pardi dan pak giyan, tiga orang yang pernah menganiaya dan menfitnah djaka sewaktu kecil di kampungnya, hingga masa depan dan kehidupanya menjadi hancur, namun djaka tolos waktu itu, belum membalasnya, karena ketiga orang itu, keburu kabur entah kemana, pikirnya,….{ o……rupanya kalian ada di sini, pucuk di cinta ulang pun tiba, belum puas rasanya hatiku, jika semua dendamku belum terbalaskan }, kata djaka tolos dalam batin. lalu sambil menunjuk ke arah tiga orang itu.

 

Djaka memerintah daeng tamar, untuk menangkapanya hidup-hidup dan membawanya di hadapan djaka, tanpa membuang waktu sedikitpun, daeng tamar lalu bergegas pergi bersama 6 anak buahnya, untuk meringkus tiga orang itu buat djaka, 3 jam kemudian kurang lebihnya, daeng tamar dan anak buahnya, telah kembali dengan membawa tiga orang yang di maksud oleh djaka, ketiga orang tersebut, kaget begitu melihat dan tau kalau mereka adalah anak buah djaka, lalu djaka menceritakan kepada daeng tamar dan anak buahnya, kenapa harus menangkap ketiga orang itu, setelah tau dari cerita djaka, kalau merekalah yang pernah menganiaya djaka waktu kecil di kampong. Serentak mereka jadi naik darah dan membenturkan tubuh mereka ke dinding, lalu djaka menyuruh agar mereka di kurung tanpa di beri apapun, tujuanya agar mereka juga merasakan seperti apa yang di rasakan oleh djaka, sewaktu di kurung bapaknya akibat fitnah mereka, namun sa’at djaka sedang tidur pulas, tanpa sepengetahuan djaka, saking emosinya, daeng tamar dan anak buahnya, menyiksa dan menganiaya mereka bertiga.

 

Djaka terbangun karena kaget, mendengar teriakan salah satu dari mereka, yaitu pak ansori yang sedang di pukuli oleh daeng tamar, menyaksikan hal itu, djaka langsung menghentikan mereka, tapi djaka sudah terlambat, karena pak gian dan pardi telah tewas di tangan daeng tamar, djaka tolos jadi marah sekali pada sa’at itu. karena daeng tamar telah melakukan sesuatu di luar perintahnya, tamparan tangan djaka pun mendarat di pipi mereka masing-masing. Tapi mau bagai mana lagi, nasi telah menjadi bubur, yang sudah mati tak mungkin bisa di hidupkan kembali, mungkin itulah hukuman atau karma yang pantas buat mereka berdua, melihat kedua temanya tewas, pak ansori ketakutan yang teramat sangat, dia tunduk di bawah kaki djaka, sambil meratap minta ampun dan tolong. setelah djaka menyuruh daeng tamar dan anak buahnya, pergi mengubur mayat kedua orang tersebut, lalu djaka membawa pak ansori masuk ke kamar pribadinya.

 

Masih dalam keada’an meratap dan sesekali sambil sujud di kaki djaka, pak ansori terus bermohon dan bermohon kepada djaka, agar tidak membunuhnya, seperti kedua temanya itu. lalu djaka bangkit berdiri sambil mengangkat wajah pak ansori yang sedang tertunduk sujud, djaka berkata…..{ pak, apa saja yang pernah bapak lakukan dulu terhadap saya,…tolong jawab dengan jujur….jangan sampai ada yang tidak di ceritakan kepada saya }, tanya djaka pada pak ansori, lalu pak ansori mengakui dan menceritakan semua yang pernah dia lakukan pada djaka waktu dulu, lalu djaka tertawa, dan saya akan melakukan hal yang sama pada bapak, agar bapak juga merasakan apa yang saya rasakan pada sa’at itu.

 

Lalu djaka melucuti semua pakaian pak ansori, seperti yang pernah di lakukanya pada djaka dulu, lalu djaka pun melakukan hal yang sama, seperti yang pernah di lakukan oleh pak ansori kepadanya dulu, setelah semua perbuatan terbalaskan. lalu djaka menjadikan pak ansori sebagai pembantu pribadinya, selama satu tahun, sebagai tebusan atas semua kesalahanya. setelah itu baru, akan mema’afkan dan melepaskan pak ansori, sebagai orang yang tidak punya salah lagi. Lalu djaka kembali lagi ke kampung mayayap, dengan membawa serta pak ansori, dan persiapan modal untuk bertani. dan dengan modal itulah, djaka kembali bekerja sebagai petani di sawah bersama mertuanya.

 

Sekembalinya djaka tolos dari kota bersama pak ansori, yang kini jadi abdinya, sebagai tebusan dari semua kesalahan di masa lalu. djaka bekerja sebagai petani di sawah, dengan di bantu pak ansori, namun pada akhirnya, atas saran sang istri, djaka melepaskan pak ansori dan di suruhnya kembali pulang ke kampungnya, dengan di beri pesangon yang lumayan, sebagai bayaran selama bekerja bersama djaka di sawah, tapi pak ansori justru menolak, tak mau kembali ke kampong. dia lebih memilih tinggal bersama djaka, bahkan berjanji ingin dan akan mengabdikan seluruh jiwa raganya pada djaka dan untuk djaka seumur hidupnya.

 

Menurut pengakuanya, dia sudah bercerai dengan istrinya, dan anak-anaknya di ambil sebagai anak angkat oleh saudara-saudaranya di kampong, akhirnya djaka dan istrinyapun tak bisa memaksa pak ansori pulang, apalagi mengusirnya. dan sejak itu, pak ansori hidup bersama keluarga djaka tolos. sekali dua kali dan tiga kali panen, akhirnya djaka merasakan kalau dirinya memang tidak punya bakat jadi orang tani. lalu pertanian di serahkan pada mertuanya. sementara dirinya berpamit ke kota untuk usaha yang lain. lalu dengan doa restu dari istri dan mertuanya, djaka tolos berangkat untuk usaha yang cocok dengan dirinya, di kota. Bersama pak ansori, yang tidak mau di tinggal dan ingin mengikuti djaka kemanapun pergi, hingga menuju ke kota kabupaten poso, yang juga masih wilayah sulawesi tengah. setibanya di kota poso, djaka berkeliling mencari lowongan kerja, di berbagai tempat, jika malam telah tiba, djaka dan pak ansori, istirahat di terminal bus, bersama dengan orang-orang terminal dan para penumpang yang kemalaman, karena tak mendapatkan  mobil angkutan umum, paginya lalu keliling lagi untuk mencari lowongan kerja. namun tak ada satupun pekerja’an yang mau menerima djaka sebagai karyawan. semua lowongan selalu menanyakan ijasah atau pengalaman kerja. sementara djaka tak punya ijasah dan pengalaman kerja apapun, kecuali bertani.

 

Tak terasa,,, sudah seminggu keliling kota poso, djaka belum juga mendapat pekerja’an, hal tersebut membuat djaka tolos, jadi teringat akan masa lalunya yang hancur karena orang-orang yang telah memfitnahnya, di sebuah jalan yang cukup sunyi, djaka menatap pak ansori dengan penuh kebencian, karena dia salah satu orang yang telah menghancurkan masa depanya, hingga seperti sekarang ini, susah mencari kerja, coba kalau saja dulu, djaka tidak mengalami peristiwa tragis itu, tentu djaka memiliki ijasah atau pengalaman. yang sering di pertanyakan oleh semua lowongan kerja. Pak ansori mundur ketakutan, seluruh tubuhnya gemetaran hingga terkencing-kencing, saking takutnya pada djaka yang matanya menatap tanpa berkedip ke arahnya, sambil minta ampun yang tak henti-hentinya, pak ansori langsung mencium kaki djaka, sambil meratap dan menangis, tapi masa lalu itu telah menguasai djaka, sehingga djaka, tidak mempunyai kesadaran sedikitpun. dengan dada yang berdebar, kedua tangan djaka mengepal kuat, dan ketika kepalan tangan kanan itu hampir mendarat di kepala pak ansori, yang sedang menunduk di kaki djaka. Tiba-tiba muncul di hadapanya, kakek tua yang dulu pernah dan sering menemui djaka, saat di kurung dalam kamar oleh matsalin bapaknya, dia adalah kakeknya, bapak dari dewi arimi ibu kandungnya.

 

{ tahan…!.jangan lakukan hal itu raden, raden…….masa lalumu itu adalah sebagian dari laku hidupmu, yang harus kamu jalani, suka atau tidak suka, jadi ….apapun yang telah terjadi itu, adalah benar, karena semua itu atas kehendak gusti allah, sebagai tebusan dari semua kesalahan para leluhurmu di masa lampau……untuk itu dan karena itu, kakek dan para leluhurmu yang lain, sangat berharap dan bergantung pada dirimu raden, karena hanya radenlah satu-satunya yang mampu dan bisa, orang yang hampir raden pukul itu, sebagai salah satu sarana dari gusti, untuk memperlakukan hidupmu, agar dapat menebus kesalahan para leluhurmu di masa lalu, raden. Kakek dan semua para leluhurmu, memang salah, karena harus membebani hidupmu dengan seribu dosa kami, tapi kalau bukan kepadamu, lalu kepada siapa lagi raden…….kakek mohon…jangan terlena, jangan tertipu oleh semua yang  raden alami, yang raden hadapi selama hidup, karena itu semua adalah laku yang harus raden lalui, tidak selamanya raden, hanya sepintas lalu saja, dan jangan kawatir atau ragu juga takut, karena semua para leluhur raden, akan selalu mendampingi dan memandumu raden }.

 

Kata kekek itu. Menghentikan pukulan djaka, yang hampir jatuh ke tubuh pak ansori. Djaka semakin penasaran kepada kakek itu. lalu djaka berusaha untuk minta penjelasanya, namun kakek itu mengelak, dengan alasan, kelak djaka tolos akan tahu dengan sendirinya, jika di beri tahu sekarang, djaka akan semakin sulit dan berat lakunya, selain itu juga, berati kakek telah membongkar rahasia tuhan, atau ikut campur urusan tuhan.

 

Setelah di lihat djaka telah kembali tenang, secara tiba-tiba pula, kakek tua itu langsung lenyap dari pandangan djaka, dan pak ansori. dan sejak itu pula, pak ansori jadi semakin takut dan patuh serta keinginanya untuk mengbdikan diri kepada djaka tolos semakin kuat dan tidak ragu. Pak ansori menyakini kalau djaka masih keturunan darah biru, Karena tahu waktu seorang kakek itu, memanggil djaka dengan sebutan raden, setelah yakin di kota poso tak dapat pekerja’an. lalu djaka tolos tambah nekad dan pergi ke kota palu, yaitu ibu kota propinsi sulawesi tengah. pak ansori pun turut serta kesana, setelah menempuh perjalanan sehari semalam dengan kendara’an bus, akhirnya pada hari senin tanggal 09 bulan 06 tahun 1977, djaka dan pak ansori tiba di kota palu, yang menjadi ibu kota di propinsi sulawesi tengah, waktu itu djaka tolos berusai 17 tahun lebih. lalu djaka memulai keliling lagi, mengadu nasib mencari pekerja’an. dan setelah 4 hari berusaha, djaka di terima kerja sebagai buruh bangunan di pengaspalan jalan raya di ibu kota palu.

 

Dan sejak itu juga, djaka  mulai bekerja dengan penuh semangat, karena mengingat akan tanggung jawabnya kepada anak dan istrinya, yang di tinggal di kampong. namun…. djaka bukan saja hanya bekerja, di balik kerjanya, djaka selalu memperhatikan semua bentuk pekerja,an tersebut, semua di pelajarinya dengan seksama dan teliti, hingga hapal di luar kepala.  Setelah 5 bulan bekerja sambil belajar, lalu djaka nekat minta borongan sendiri, yang di bantu dengan 10 orang anak buah, karena hasilnya cukup bagus, lalu djaka mendapat kepercaya’an dari bos ke satu, dan djaka di beri borongan jalan, yang lebih panjang lagi, dengan itu, djaka lalu menyuruh pak ansori untuk pulang ke kampong, mencari karyawan sebanyak mungkin, dan dari kampong di rusakencana, pak ansori berhasil membawa 170 karyawan kerja, djaka pun memulai pekerja’anya dengan karyawan yang jumlahnya hampir dua ratus orang. Keberhasilan dalam merantau di kota pun, di raih oleh djaka, setiap dua minggu sekali, setelah bayaran/gajian, djaka selalu rutin mengirimkan hasil kepada anak istrinya di mayayap, sebagian di kirim pada kedua orang tuanya di rusa kencana, dengan pekerja’an sebagai pemborong pengaspalan jalan, tiap kali selesai, djaka dan karyawanya selalu pindah-pindah tempat pula, mulai dari kota dan kecamatan hingga sampai ke pelosok desa.

 

Tiga bulan sekali, djaka tolos pulang ke kampong, untuk menemui keluarganya, begitu juga dengan semua karyawanya, di suruhnya untuk istirahat, setelah seminggu beristirahat bersama keluarga di kampong, lalu djaka menjemput semua karyawan kerjanya, untuk di ajak berangkat kerja lagi. hingga pekerja’an ini di tekuninya selama tiga tahun, setelah mertuanya bisa memperbaiki rumahnya, orang tuanya dapat membangun rumahnya dan dirinya sendiri sudah punya rumah sendiri. Djaka lalu menetap di rumah bersama anak istrinya di mayayap, dan berbahagialah djaka tolos bersama anak dan istrinya hingga hampir setahun di kapung.

 

Karena bekal sudah habis, akibat nganggur selama di kampong, di sa’at kemarau datang, djaka lalu mencoba usaha bareng warga sekampung, untuk merambah hutan, mencari rotan dan getah kayu dammar, untuk di jual sebagai penghasilan. pak ansori yang selalu setia mendapangi djaka, juga ikut bersama djaka masuk hutan, dengan membawa bekal sembako makanan yang cukup, buat di makan selama lima belas hari di hutan, berangkatlah djaka dan pak ansori bersama warga lainya, untuk masuk di hutan, setengah bulan sekali keluar dari hutan, dengan membawa hasilnya untuk di jual. Namun djaka hanya mampu bertahan beberapa bulan saja, setelah itu, djaka lalu pergi merantau ke kota lagi, sebagai pemborong pengaspalan jalan. pada waktu itu, djaka mendapat borongan di kota luwuk. kota kabupaten dari kampungnya sendiri, namun sayang, setelah djaka dan karyawanya sudah siap kerja, musim hujan pun mulai turun, sehingga pekerja’an yang membutuhkan terik matahari itupun, jadi terhambat, sehari bisa kerja dua hari tak bisa kerja, karena hujan, ada kalanya sampai tiga hari bhakn lima hari hingga seminggu, tidak bisa kerja, karena hujan, djaka jadi sering tekor, karena kerja tidak kerja, djaka harus tetap bertanggung jawab tentang masalah makanya para karyawan, hingga djaka menjadi bangkrut dalam usahanya itu.

 

Sebagian karyawan lalu di pulangkan ke kampong asalnya, dan sebagian masih tetap bertahan, karena tak ada pesangon buat pulang, dan pada sa’at itu, pak ansori jatuh sakit, terkena demam malaria, dan karena hujan terus menerus tiada hentinya, lalu semua karyawanpun di suruhnya pulang kampong semua, sementara djaka masih bertahan, karena tak punya uang cukup buat pulang kampong, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan merawat pak ansori yang sedang sakit, djaka selalu bon di kantor perusaha’anya, dan pada suatu ketika….

 

Pak ansori dalam keada’an sangat parah dalam sakitnya, dia minta di temani dan tidak mau di tinggal terlalu lama oleh djaka, dan djaka menjadi sedikit cemas di buatnya, sa’at djaka sedang duduk mendampinginya, tiba-tiba pak ansori meminta ijin untuk mengungkap isi hatinya, yang sebenarnya, yang selama ini di pendamnya, setelah djaka memberi ijin, lalu pak ansori mulai bercerita, dan ternyata, selain karena ingin menebus kesalahanya kepada djaka, ternyata pak ansori jatuh cinta pada djaka, itu sebab dia ingin selalu bersama dengan djaka, karena menurutnya, walau dulu pak ansori melakukanya sa’at djaka masih kecil, tapi djaka lah orang pertama yang pernah membuatnya merasa puas dalam bercinta, karena hasratnya yang terpendam selama ini, dapat tersalurkan, sehingga setelah djaka besar, dia jadi jatuh cinta.

 

Mendengar pengakuan pak ansori, djaka jadi teringat pada sobari, orang yang pernah memberinya tentang pengalaman cinta, dan mengaku kalau dirinya gay, lelaki yang menyukai lelaki, pikir djaka, berati pak ansori itu seorang gay, sama seperti sobari, djaka sedikit melamun, tapi lamunanya segera sadar, karena terkejut oleh suara pak ansori, yang bermohon ingin memeluk tubuh djaka dan menikmatinya untuk yang terakhir kalinya, djaka sedikit gugup harus bagaimana, di turuti merasa risih, tidak di turuti perminta’an orang sakit, sambil meratap terus menerus pak ansori memohon kepada djaka untuk memenuhi permohonan terakhirnya, karena tak tega melihat pak ansori, lalu djaka mau dan membiarkan tubuhnya di telanjangi dan di cumbui oleh pak ansori. Semalam suntuk djaka tidur telanjang bersama pak ansori, untuk menuruti kemauanya. Setelah pak ansori merasa puas dengan tersalurnya sahwat dan mengucapkan terima kasih, lalu djaka keluar menuju sumur untuk mandi membersihkan diri, seusai mandi, bergegas kembali lagi menemani pak ansori yang masih terbaring dalam sakitnya, namun sa’at itu juga, djaka terkejut, karena setibanya di kamar, pak ansori sudah tidak bernyawa lagi (meninggal dunia), dia meninggal dalam posisi tidur terlentang sambil memegang selembar kertas yang bertuliskan.

 

Lalu djaka mengambil kertas itu dan membacanya, isi kertas itu, tentang ucapan terima kasihnya kepada djaka yang telah menerima dan mengerti akan dirinya, lalu djaka mengirim kabar pada keluarganya di kampong, dan di bawalah jenazah pak ansori oleh keluarganya pulang ke kampong untuk di makamkan. Sepeninggalan pak ansori, djaka menjadi kesepian, karena dalam segala halnya, harus di lakukanya seorang diri, resah dan gelisah, karena keada’an nganggur, mulai di rasakan oleh djaka, kini tak ada lagi yang menghiburnya seperti dulu, sewaktu masih ada pak ansori, mau pulang tak punya bekal yang cukup buat di kampong, tidak pulang, di tempat selalu nganggur, musim hujan belum juga berlalu. Dan pada sa’at itulah muncul fitnah yang maha kejam.

 

Di kampong istrinya, siti amidah istri djaka, mendapat kabar dari orang lain, yang mengakui telah bertemu djaka di kota, orang itu, mengatakan kalau djaka tidak mungkin pulang ke mayayap lagi, karena sudah kawin lagi di kota, itu sebab tidak pernah kirim uang lagi ke kampong. karena penasaran, lalu siti amidah pergi menyusul djaka ke tempat kerjanya di kota luwuk, sa’at sang istri tiba di tempat, djaka tidak ada di tempat, karena sedang mengantar anaknya bos belanja ke pasar, dan sa’at djaka pulang bersama seorang perempuan, di anggapnya bahwa itu istrinya yang baru, dan dia yakin kalau kabar yang di terimanya itu adalah benar, pertengkaran mulutpun terjadi, siti amidah tak mau lagi mendengar penjelasan dari djaka, karena bukti tersebut dianggapnya benar.

 

Lalu lari pulang sambil menangis penuh kecewa dan amarah, karena tak mau masalahnya menjadi panjang, djaka pun segera pamit pada bosnya, untuk menyusul istrinya pulang ke mayayap, tapi kedatangan djaka sudah di anggap terlambat, karena sang istri sudah terlanjur menceritakan semua yang di lihatnya di kota tentang suaminya, pada orang tuanya, dan semuanya sudah percaya dan yakin kalau djaka tolos sudah berhianat, kedatangan djaka di rumah di tolak bahkan di usir, namun djaka berusaha untuk bersabar, menunggu kesempatan guna memceritakan yang sebenarnya, waktu itu djaka menginap di rumah tetangganya.

 

Namun, hingga seminggu telah berlalu, djaka masih juga belum di terima, bahkan untuk bertemu dengan ria susanti anak tercintanya saja, tidak di ijinkan, malah sang istri di dukung oleh orang tuanya untuk minta di ceraikan segera, djaka semakin panik mendengar pernyata’an istrinya yang minta cerai, pikiranya jadi melambung tinggi hingga membayangkan, jika hal itu benar-benar  terjadi, karena tak mampu menolak desakan sang istri dan mertua yang minta cerai, dan djaka tidak mau menceraikan istri tercintanya itu, lalu djaka tolos memilih pergi tanpa pamit dengan siapapun, dengan membawa seribu duka tentang perminta’an cerai dari sang istri tercintanya. Djaka berjalan kaki dan terus berjalan mengikuti jalur jalan yang di laluinya, tanpa membawa bekal apapun, di sepanjang perjalanan, yang ada di dalam pikiran djaka, hanyalah bayangan wajah anak dan istrinya, berhari-hari, siang dan malam, djaka terus berjalan kaki tanpa henti, pikiranya melambung tinggi dalam lamunanya, hatinya kosong tak bercorak sedikitpun, tatapan matanya hampa tak terarah, tubuhnya tak berdaya kecuali untuk berjalan, langkahnya tidak pasti, linangan air matanya mulai mongering, bibirnya bergetar karena tak putus-putusnya menyebut nama anak dan istrinya,di luar kesadaranya.

 

Langkah kakinya telah membawanya sampai di kota kecamatan pagimana kabupaten poso, di sebuah jalan, langkah kakinya di hentikan oleh seseorang yang mengenalnya, dia adalah sobari, satu-satunya orang yang pernah bersahabat dengan djaka di waktu kecil dulu, melihat kondisi djaka tolos yang acak-acakan, sobari jadi nekat mengurung djaka, agar tidak hilang di telan daerah yang tak di kenalnya, pada waktu itu, baju djaka sudah tak berupa baju, tubuhnya kotor, wajahnya kusut, tidak ubahnya dengan orang gila di jalanan, tapi sobari tanpa malu dan sungkan, walau di lihat banyak orang terutama anak buahnya, yang bekerja di pengaspalan jalan waktu itu. Sobari memeluk djaka dan membawanya ke bass cam, setibanya, lalu djaka di mandikan dan di ganti pakaianya, lalu di berinya makan sambil di tanya tentang apa yang sedang terjadi Padanya, namun djaka tetap diam tak bersuara sedikitpun, makan tak mau, apalagi bicara, namun sobari tetap sabar dan telaten merawat djaka, karena dia merasa yakin, kalau djaka tidaklah gila, selama satu bulan lebih, djaka hidup di bawah rawatan sobari, dan selama itu pula, djaka belum mau bicara sepatah katapun.

 

Sementara itu, hampir setiap malam sobari yang menganggap djaka telah hilang ingatan itu, selalu di cumbuinya bak seorang perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya, tanpa sungkan dan malu sedikitpun, walau djaka tau apapun yang di lakukan oleh sobari atas dirinya, tetap tak peduli sedikitpun, djaka tetap diam dan tak melakukan apapun, hingga pada akhirnya, sobari pun merasa takut dan bingung juga tentang keada’an djaka tolos, yang tak ubahnya dengan sebongkah patung, dan pada suatu sa’at. Dia berbisik di telinga djaka yang sa’at itu sedang terbaring di ranjangnya, { Djaka…. kamu adalah satu-satunya orang yang ku kenal paling hebat dan kuat dalam segi apapun, itu sebab aku suka dan kagum padamu, saya yakin semua orang yang kenal dan tau tentang kamu, juga sama seperti apa yang aku katakan tadi kepadamu, tapi……jika kondisi keada’anmu seperti ini…….terus menerus….lalu apa kata semua orang nanti, aku yakin ini bukan sipatmu yang sebenarnya, jika kamu sedang punya masalah, katakanlah dan ceritakanlah dengan hati terbuka, om pasti akan membantumu, tidak ada masalah yang tak dapat di selesaikan, semua masalah pasti ada jalan keluarnya, untuk itu, agar om bisa membantumu, katakan dan ceritakan pada om, jangan diam terus menerus seperti ini, om jadi takut dan kawatir, om tidak mau kehilangan kamu, dan tidak ingin melihatmu seperti ini terus-terusan, apa kamu tidak malu jika sampai ada orang yang mengagumimu, tahu kalau ternyata kamu selemah ini……..}, kata sobari yang ingin mencari tau tentang apa yang mebuat djaka hingga seperti itu.

 

Mendengar ucapan sobari seperti itu, djaka langsung melirik ke arah sobari dan menatapnya dengan tajam, sobari jadi takut dan mundur beberapa langkah, namun segera tenang kembali, sa’at djaka menyapanya dan menyuruhnya duduk kembali di sampingnya, lalu djaka tolos menceritakan tentang apa yang sedang di alaminya, tentang apa yang sedang di kawatirkanya dan tentang apa yang sedang di rasakanya, mendengar pengakuan djaka, yang bercerita sambil melinangkan air matanya, sobari ikut terbawa sedih dan haru, lalu bermaksud meluaskan pikiranya yang sedang sempit sa’at itu, dengan sebuah bahasa……

 

{ Djaka tolos…,dunia itu tak selebar daun kelor, melainkan sangat luas sekali, artinya, karena masalahmu adalah masalah wanita, wanita itu bukan Cuma istri kamu saja, masih banyak yang cantik bahkan lebih dari istrimu, kalau dia sudah begitu, cari lagi kan bisa, kamu lelaki, gagah,  masih muda dan hebat lagi, saya yakin, bukan hal yang sulit bagimu untuk mendapat kan yang lebih baik dari dia istrimu itu……}. kata sobari pada djaka yang bermaksud menghiburnya, namun djaka justru marah dan menarik leher baju sobari sambil berkata,…..{ dunia memang luas, dan banyak yang lebih dari siti amidah istriku, tapi ketahuilah…..tidak ada satupun yang bisa menggantikan posisinya di hatiku,….tau..!.}. kata djaka membentak sobari yang sedang menghiburnya saat itu.

 

Lalu djaka berjalan keluar dan pergi mengikuti kehendak kakinya lagi, tapi sobari pun bergegas mengikutinya, dan menahanya, salin bantah bahasa di halaman bass cam pun, tak bisa di hindari, hingga membuat semua karyawan yang sedang istirahat, jadi terbangun dan Menontonya, dan salin mengguncingkan djaka, yang sedang bertengkar dengan sobari, ada yang bilang…..{ saya kira yang di rawat sobari itu orang gila…ternyata bukan }, { iya saya kira juga begitu }, ada juga yang bilang, { saya kira bisu atau pikun dan hilang ingatan }, { memangnya dia itu siapa sih…..saudara bukan teman bukan…kok di pikiri, seperti kurang kerja’an saja }, kata sebagian karyawan yang sedang menonton pertengkaran antara djaka dan sobari saat itu, di halaman bass cam.

 

Mendengar suara mereka yang sumbang itu, djaka jadi panas telinga dan mengalihkan amarahnya pada mereka, dan dengan suara yang lantang, djaka mengarahkan pandangan matanya yang tajam bagaikan ujung pedang mandau itu, pada pusat suara tersebut, lalu melangkah ke arahnya dan menyeretnya dan di hajarnya, awalnya mereka salin melawan dan membela diri, tapi setelah tahu kalau djaka tidak seperti yang mereka duga, merekapun salin tersungkur merangkak untuk minta ampun pada djaka, namun djaka tidak peduli sama sekali, djaka tetap melampiaskan amarahnya,  bahkan menantang semua orang yang hadir di tempat itu, untuk bertarung sesuai dengan keinginan mereka masing-masing. Tapi tak satupun yang berani membalas tatapan mata djaka, apalagi menerima tantanganya, untung sobari berhasil menenangkan djaka, dan djaka masih mau mendengarkan ucapan sobari, karena merasa punya hutang budi padanya, lalu sobari menarik dan membawa djaka masuk ruangan tempat tidurnya, di peluknya djaka sambil berkata….{ kenapa kamu bisa seperti itu djaka…..tenangkan hatimu, mari kita sama-sama berusaha mencari jalan keluarnya, jangan menuruti emosimu }.

 

Tapi sejak kejadian itu, semua karyawan yang ada di tempat itu, jadi hormat pada sobari, dan banyak yang ingin bersahabat dengan djaka tolos, tapi sobari dan djaka menanggapi semua itu dengan biasa saja, setelah proyek selesai dan pindah ke kota mamuju, sobari pun ikut serta pindah ke mamuju bersama djaka, sobari berpikir tidak akan melepaskan djaka, jika djaka masih dalam keada’an seperti itu, sesampainya di mamuju, djaka masih tetap sering melamun memikirkan anak dan istrinya, hingga pikiranya lebih sering kosong di banding tidaknya, lalu sobari mencoba mencarikan hiburan buat djaka. Dengan cara mengajaknya jalan-jalan ke kota, sa’at mampir makan di restoran ikan bakar khas sulawesi, sobari memperkenalkan djaka dengan seorang gadis cantik pelayan restoran itu, djaka pun sedikit terhibur karenanya, gadis itu bernama nur halimah, dan sejak perkenalan itu, nur halimah sering datang main ke bass cam untuk menemui djaka,  kedatanganya, membuat djaka jadi merasa berhutang budi padanya, karena itu juga lalu sobari memaksa djaka untuk menikah dengan gadis itu. Asal djaka bersedia, semua biaya perkawinan sobari yang tanggung, dan akhirnya pernikahan itupun terjadi juga, djaka menikahi nur halimah pada awal bulan desember tahun 1979.

 

Karena djaka akan tinggal bersama istri barunya, lalu sobari minta waktu satu malam pada djaka, sebagai tanda pisah ranjang, dan semalam suntuk pula sobari mencumbui djaka bagaikan istrinya sendiri, karena sudah tau dan memahami tentang sobari, djaka pun melayaninya dengan senang hati dan tanpa beban apapun. Setelah itu, lalu djaka tinggal bersama nur halimah istri keduanya itu, di kota, namun walau begitu, sobari sering mengunjungi djaka dua hari sekali, namun sayang,,,nya, djaka tetap tak bisa melupakan siti amidah istrinya dan ria susanti anak tercintanya, dia masih sering termenung dan melamun memikirkan mereka, jika di Tanya istrinya, djaka selalu mengelak dengan berbagai kebohonganya, namun lambat laun kebohongan itu pun di ketahui istri, karena tahu dan merasa di jadikan sebagai pelampiasan nafsu dan pelarian cinta belaka, pertengkaran pun sering terjadi antara djaka dan nur halimah istrinya, dan pada akhiranya, rumah tangga yang baru berumur 5 bulan itupun, jadi kandas dan putus di tepi jurang perpisahan. Setelah perceraian itu, djaka kembali tinggal bersama sobari lagi, setelah proyek pengaspalan jalan di mamuju selesai, lalu bersama proyek itu pula, pindah tempat ke pulau peleng, tepatnya di kota kabupaten banggai, yang terletak di sebrang laut selatan kota luwuk.

 

Setibanya, seperti biasa, djaka lebih sering melamun dari pada membantu pekerja’an sobari sebagai pemborong bangunan, setelah 20 hari di banggai, waktu itu sa’at para karyawan istirahat kerja, dan waktunya mandi, sebelum santap makan malam, dan,,, tempat mandi dari air pancuran, di lereng bukit yang merupakan satu-satunya tempat mandi di baas cam, membuat semua karyawan harus rela antri bergilir tiap mau mandi, dan seperti biasa pula, djaka selalu mengambil antrian paling terakhir, yang bertepatan dengan waktu tenggelamnya matahari. Namun kali ini, bagi djaka adalah waktu yang di anggapnya paling istimewa, karena pada sore itu, djaka tolos melihat dan bertemu dengan seorang gadis yang semuanya sangat mirip dengan siti amidah istri tercintanya, untuk dapat menikmati pemandanganya yang terasik itu, djaka pun memilih mengalah dan membiarkan gadis kampong itu mandi duluan, seusai gadis itu, karena tak mau kehilangan kesempatan, djaka pun tak jadi mandi melainkan hanya cuci muka saja, dan segera mengejar gadis itu.

 

Sambil berjalan santai, djaka memperkenalkan diri, begitu juga dengan gadis itu, namanya palawang, tinggalnya di desa wajo kecamatan salakan, setelah pertemuan itu dan salin kenal itu, lalu djaka sering mengadakan pertemuan berdua, dengan palawang di sebuah tempat kusus, yaitu di bawah pohon laban, yang tumbuh di tepi jalan samping tebing, yang jalanya sedang di aspal, dalam pertemuan cinta itupun, banyak cerita indah yang salin terungkap di sana, tak satupun orang yang mengetahui pertemuan itu, termasuk sobari, karena djaka merahasiakan dari semuanya. Hingga pada suatu sa’at. terucaplah sebuah janji dari mulut djaka, yang mengarah pada sebuah perkawinan, untuk niyatnya itu, lalu djaka meminta pada palawang agar memperkenalkan dirinya dengan keluarganya, terutama kedua orang tuanya, lalu djaka di ajaknya ke rumahnya, namun sayang, pada sa’at itu, menurut palawang, semua keluarga sedang pergi kondangan di desa sebelah, di sana sedang ada pesta keluarga, pulangnya sekitar 2 atau 3 hari lagi, dan palawang tidak ikut karena di suruh untuk menjaga rumah.

 

Akhirnya, rumah besar yang indah dan megahpun, jadi terasa ganjil, karena hanya di tempati seorang gadis saja, djaka pun merasa bebas dan leluasa, perbincangan tentang perkawinan pun terus berlanjut, sambil bercerita indah, gadis itu merebahkahkan bagian tubuhnya ke pangkuan djaka, hal itu, kontan membuat djaka jadi mana tahan. Hingga di malam itu, terjadilah hubungan badan, yang seharusnya di lakukan setelah menikah, bukan sebelum nikah. Keduanya salin di landa asmara, hingga lupa diri, esok malamnya djaka datang lagi kerumah itu, di temuinya palawang sedang terisak nangis seorang diri di sudut kamarnya, sa’at djaka masuk, hal itu membuat djaka merasa sangat bersalah, akan kejadian semalam, sambil menangis palawang mengeluhkan rasa kawatirnya pada djaka, dan dengan kesungguhan, djaka berjanji akan tetap bertanggung jawab atas apa yang telah di perbuatnya kemarin malam, namun palawang tetap ragu dan tetap menangis.

 

Lalu agar salin percaya, keduanya salin mengadakan perjanjian terlarang, keduanya salin melukai lengan tanganya,  dengan cara menggoreskan pisau tajam, hingga berdarah, lalu salin mengucapkan janji yang di sepakati sambil menghisap darah tersebut, djaka tolos menghisap darah milik palawang dan palawang menghisap darah djaka tolos, setelah itu barulah palawang merasa lega dan percaya akan janji tersebut, setelah mengadakan perjanjian itu, lalu keduanya salin berpelukan dan salin menyalurkan gelora asmaranya hingga sama-sama merasa melayang tinggi ke alam sorga maniloka yang berhias seribu cinta dan sejuta kasih.

 

Setelah keduanya tergulai lemah di atas ranjang, yang baru saja di hujani asmara cinta itu,tiba-tiba  palawang yang semula sangat mirip dengan siti amidah istri djaka itu, mendadak berubah menjadi seorang wanita cantik, bahkan sangat cantik, hingga djaka merasa baru kali itu, melihat wanita berwajah cantik sesempurna itu, dengan busana yang indah gemerlap, wanita itu berdiri di tepi ranjang, tepat di samping djaka yang sa’at itu masih terbaring lemah, karena usai di gulung badai cinta, sambil tersenyum, wanita itu bercerita tentang siapa dirinya yang sesungguhnya. Dan…. Ternyata….dia……adalah seorang ratu dari bangsa jin, mahluk halus….sekilas cerpen tentang gadis yang awalnya mirip dengan siti amidah, istri djaka, yang mengaku bernama palawang.

 

( dulu….di pulau peleng berdiri sebuah keraja’an dayak, dan pulau peleng sangatlah di kenal dengan hewan-hewan buruanya, sehingganya, raja dari majapahit bernama prabu brawijaya, sangat tertarik ingin berburu ke pulau peleng, dan sang raja dari tanah jawa itu pun, berangkat bersama pengawal kususnya untuk berburu ke pulau peleng, setibanya di pulau itu, sang raja bertemu putri dayak yang bernama bidae arum, dan sang raja jatuh cinta padanya, lalu atas restu sang ayah, bindae arum di kawinkan dengan prabu brawijaya, raja agung asal dari tanah jawa resebut.

 

Setelah perkawinan itu, bindae arum mengandung benih sang raja jawa itu, namun saying, sebelum kandungan itu lahir, sang raja sudah terpanggil untuk segera kembali ke tanah jawa, guna menduduki kewajibanya sebagai raja, lalu dengan berat hati dan kesedihan pula, bindae arum di tinggal ke tanah jawa, dalam keada’an hamil tua, namun sebelum pergi, sang raja sempat meninggalkan kenangan sebagai tanda dan bukti, kalau dirinya akan selalu menjadi miliknya selamanya, kenangan itu berupa lencana yang merupakan lambang keraja’an dan raja majapahit.

 

Sepulangnya sang raja ke tanah jawa, selang beberapa bulan kemudian, lahirlah jabang bayi kembar dari rahim bindae arum, sebagai tanda hasil perkawinan tersebut. Lalu kedua anak itu di beri nama jalala dan jalali, setelah tumbuh dewasa, kedua anak tersebut menanyakan bapaknya, karena tak mau di anggap buruk oleh kedua putranya, lalu bindae arum menceritakan kejadianya, setelah tahu, sang putra lalu minta di pertemuka dengan bapaknya, sebagai bukti kalau cerita itu benar adanya, lalu bindae arum menyuruh kedua sang putra itu menyusulnya ke tanah jawa, dengan membawa lambang keraja’an, peninggalan bapaknya sebagai bukti kalau mereka adalah putranya.

 

Berangkatlah kedua putra itu menuju tanah jawa, setibanya di tengah laut, karena tak mau tersaing, lalu sang adik membunuh sang kakak, dan jasadnya di ceburkan ke laut, sa’at tubuh itu masuk ke dalam laut, berubahlah tubuh jalala menjadi se ekor ikan, yang kini di sebut ikan pare, sementara jalali tetap melanjutkan perjalananya ke tanah jawa, untuk menemui bapaknya, setibanya di tanah jawa dan berhasil menemui bapaknya, yang jadi raja di majapahit, jalali baru percaya dengan kata  ibunya dan merasa lega, setelah belajar beberapa sa’at kepada bapaknya, lalu jalali kembali ke pulau peleng.

 

Setibanya di tempat, sa’at di Tanya oleh ibunya tentang kakaknya, jalali tak bisa mengelak, dan menceritakan yang sebenarnya, mendengar hal itu, bindae arum terkejut hingga jatuh sakit dan meninggal dunia, setelah kakeknya berusia lanjut lalu kedudukanya di wariskan pada jalali cucunya, setelah di nobatkan sebagai raja, jalali menikah dengan wanita dusun, dan di karuniai seorang putri yang di beri nama ratu gadis palawang.

 

Jalali kemudian meninggal dunia di usia muda, sa’at memancing ikan di laut, ajalnya tiba karena balas dendamnya sang kakak, yang dulu di bunuhnya dan di buang kelaut hingga berubah menjadi ikan pare, dan jalali lupa akan kejadian itu, sehingga memancing di laut, dan kailnya di makan ikan pare, yang tidak lain adalah kakaknya sendiri, yang sudah lama mengincarnya, jalala melampiaskan pembalasanya sa’at jalali sedang melepaskan ikan pare itu dari kailnya, ekornya yang merupakan senjata beracun mematikan, dan sudah lama di siapkanya, langsung di tusukanya ke paha jalali hingga meninggal, dan sejak itu kedudukanya sebagai raja di ambil alih oleh putri tunggalnya bernama ratu gadis palawang.

 

Menjelang usianya yang telah dewasa, keraja’an banggai pun tidak lepas dari penjajahan belanda, sang ratu yang arif bijaksana dalam memerintah rakyatnya, dan tidak suka dengan pertumpahan darah atau perang itu, lalu menyabda keraja’an banggai beserta rakyatnya menjadi perpindah ke alam prayangan/ghaib, sa’at penjajahan belanda tiba dan menyerang pulau banggai/peleng, sehingganya, pulau peleng terlihat menjadi hutan belantara tak perpenghuni sama sekali, namun sayang, walau sudah merdeka ini, keraja’an tersebut tetap menjadi penghuni alam ga’ib, tak bisa kembali ke alam dunia lagi, karena sang ratu tak memiliki pamungkas atau penawarnya, untuk mengembalikan kerajaanya ke dunia nyata lagi.

 

Akhirnya hingga kini menjadi penghuni tetap di alam halus, itulah sekilas kisah gadis yang baru di kenal oleh djaka. Yang ternyata dia adalah ratu banggai, yang sedang jatuh cinta pada djaka }, dan djaka tidak boleh mengingkari janjinya, yang telah bersedia menikahinya, karena djaka telah berenang dan meminum airnya, maka sang ratu pun akan menuntut jika djaka ingkar janji.

 

Mendengar dan setelah tau tentang apa yang sedang di alaminya, masih dalam keada’an telanjang bulat, djaka langsung melopat dari atas ranjang, lalu lari kabur sekuat mungkin menuju bass cam, setibanya, langsung memeluk sobari yang sa’at itu sedang mempersiapkan diri akan tidur, melihat djaka yang pulang dalam keada’an telanjang dan langsung memeluknya sambil menangis, menjadi gugup dan bingung, lalu segera di berinya kain untuk menutupi tubuhnya yang bugil, dan djaka pun segera menceritakan kejadianya dari awal hingga akhir. Lalu minta ma’af pada sobari, karena telah merahasiakan semua kejadianya, mendengarnya sobari menjadi tersentak kaget, antara percaya dan tidak percaya, tapi djaka yang ketakutan terus memohon agar mencari jalan keluarnya secepat mungkin, karena pernikahan itu akan berlangsung  pada bulan purnama ini, dan bulan purnama itu kurang tiga hari lagi, semalam suntuk djaka dan sobari tidak tidur, memikirkan masalah tersebut, sementara djaka yang sedang ketakutan, tak mau melepas pelukanya pada sobari, hingga menjelang pagi.

 

Karena penasaran, lalu sobari meminta djaka untuk mengantarnya pergi ke tempat itu, dengan penuh rasa takut, djaka pun mengantar sobari ke rumah palawang, djaka menjadi semakin takut lagi, setelah tahu dan melihat, ternyata rumah palawang yang besar dan megah itu, hanyalah serumpun semak belukar, yang tumbuh di bawah pohon beringin, di tepi jalan, dan sejak itu  djaka dan sobari serta di bantu beberapa rekanya, mencari dukun untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut.

 

Namun sayang, hampir semua dukun kampong yang membantu masalah djaka, selalu berakhir dengan kematian, akibatnya tak ada lagi dukun yang mau membantunya lagi, hingga pada suatu sa’at, waktu itu situasi bass cam sedang di rundung ketegangan, datanglah seorang lelaki tua yang merupakan ketua adat di desa gangsal, desa tempat berdirinya bass cam proyek pengaspalan, semua mengira kalau orang itu, akan menolong djaka, tapi ternyata tidak, dia hanya memberikan ketegasan pada djaka, agar menerima kenyata’an yang telah terjadi. Karena menurutnya, dulu hingga sepanjang masa di pulau peleng kabupaten banggai ini, tepatnya di desa gangsal dan sekitarnya, setiap tahunya pasti ada pemuda yang hilang, hilangnya pemuda tersebut, karena di ambil oleh ratu gadis palawang, untuk di jadikan suami sesa’at, setelah setahun, lalu pemuda itu di kembalikan lagi, dalam keada’an utuh dan sehat, kemudian mengambil pemuda lainya sebagai ganti, dan selalu seperti itu dan selalu begitu, hingga semua jadi paham dan hapal, sampai menjadi sebuah kebiasa’an tradisi.

 

Jadi, jika ada pemuda yang hilang secara tiba-tiba, tak satupun yang mencari, baik dari pihak keluarra maupun warga, karena jika di cari akan menimbulkan bala bencana, toh jika sudah waktunya, akan di pulangkan lagi, walau begitu, seluruh pulau ini, selalu tenang dan damai tak pernah ada masalah apapun, yang kemudian munculah sebuah proyek pengaspalan ini, tujuanya memang baik dan bagus, karena memperbaiki dan memperindah kemajuan desa ini, tapi seharusan tidak asal di lakukan, setidaknya harus menyesuaikan adat setempat.

 

Sebagai tanda pamit atau ijin pada leluhur setempat, minimal selamatan atau sukuran, begitulah menurut sesepuh itu, lalu lanjutnya, penggusuran tebing-tebing untuk pelebaran jalan, yang akan di bangun itu, pohon-pohon yang di tumbangkan, itu adalah merupakan tempat tinggal para leluhur wilayah ini, coba kita bayangkan sendiri, jika yang mengalami hal itu adalah kita, rumah kita,  tanaman kita, tempat kita, di gusur dan di runtuhkan hingga hancur berkeping-keping tanpa sebab dan alasan apa-apa, bagai mana perasa’anya, seperti itulah yang di alami oleh sebagian para leluhur di wilayah ini, mereka menjerit, meratap, karena kehilangan tempat tinggalnya masing-masing, sudah jelas kita akan marah dan menuntut bukan, Sama. mereka pun begitu, seharusnya proyek ini sudah di hancurkan oleh para penghuni tempat ini sejak pertama kali di adakan. karena ratu mereka marah dan tidak terima senang.

 

Tapi… karena ratu mereka jatuh cinta pada salah satu orang yang sedang menjadi karyawan di proyek ini, sehingganya, proyek ini menjadi tetap utuh hingga sekarang ini, takan ada orang yang bisa dan mampu melawan kekuatan ratu leluhur kami di sini, sekalipun di datangkan dukun-dukun  sakti dari segala penjuru dunia, karena posisi kalian adalah posisi salah, datang di rumah orang tanpa ijin tanpa pamit tanpa permisi, merusak lagi, dan karyawan yang bernama Djaka Tolos itu,  adalah di anggap sebagai ganti ruginya. Jadi, percuma kita melakukan perlawanan apapun, karena hasilnya akan tetap sia-sia, seperti itulah kata sesepuh itu selanjutnya, yang kemudian pergi begitu saja tanpa pamit pada siapapun. Setelah mendengar penjelasan dari orang tersebut, semuanya jadi tahu dan paham, terutama djaka, pikirnya mungkin ini semua sudah takdir nasibnya.

 

Dan sejak kejadian itu, banyak karyawan yang pulang karena takut, sementara djaka selalu berduka bersama sobari, hampir setiap sa’at djaka wanti-wanti berpesan pada sobari, agar menyampaikan salam pada kedua orang tunya di kampung, jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu atas dirinya.

 

Dan tibalah malam purnama itu, waktu itu semua karyawan tak ada yang berani tidur, semuanya salin bergerombol penuh dengan ketegangan, sementara djaka tak mau melepas pelukanya pada sobari, namun sobari tak bisa berbuat apa-apa untuk djaka, kecuali perkata’an ma’af atas kesalahanya, karena telah membawanya ke pulau ini. Lalu,,, tepat bulan berada di atas kepala, segerombol pasukan wanita datang tiba-tiba, tak satupun yang bisa melihat kedatanganya itu,  kecuali djaka sendiri, mereka adalah utusan ratu gadis palawang, untuk menjemput djaka tolos sebagai pengantin pria. Dan sobari pun tersentak kaget, sa’at djaka tolos mendadak hilang dari pelukanya, sobari menangis sambil memanggil djaka tolos, djaka mendengar suara sobari dan melihat sobari yang sedang kebingungan mencari-cari, tapi sobari tidak mendengar jawaban djaka, hingga djaka pun pergi jauh bersama orang-orang itu.

 

Sampailah djaka di sebuah tempat yang sangat asing baginya, udaranya beda dari biasanya, cuacanya juga beda, tempatnya juga beda, semua serba beda dan ganjil, tapi djaka tak bisa berbuat apa-apa, lalu dengan di iring orang-orang itu, djaka memasuki pintu gerbang halaman yang sangat besar dan indah, menuju masuk ke sebuah rumah yang cukup luas dan besar serta megah sekali, di dalamnya, terdapat banyak kaum wanita di banding kaum lelakinya, di sebuah singgasana yang megah, terlihat ratu gadis palawang sedang duduk menanti kedatangan djaka tolos calon suaminya. Setibanya djaka di hadapanya, hadirlah beberapa orang tua, yang kemudian mengesahkan pertemuan itu, lalu palawang berdiri menghadap pada semua rakyatnya, dan mengumumkan kalau mulai sa’at ini, dia telah bersuami, dan di perkenalkan pula seluruh rakyatnya dengan djaka, lalu di lanjutkan dengan sebuah pesta adat selama satu minggu berturut-turut.

 

Di sana djaka juga melihat warga kampong di alam manusia, ikut merayakan pesta perkawinan itu, sementara pesta berlangsung, djaka di ajak berkeliling untuk mengenal seluk beluk tempat tinggalnya yang baru itu, { seumur hidup aku baru kali ini melihat dan masuk serta tinggal di sebuah tempat yang luas besar indah dan megah, seperti ini }, pikir djaka dalam hati, lalu palawang berkata sambil tersenyum pada djaka,……{ mulai sa’at ini, semua yang kumiliki ini, adalah milikmu juga, tempatku, kekaya’anku, rakyatku, kedudukanku, dan semuanya serta segalanya adalah milikmu juga, aku adalah kamu, dan kamu adalah aku }, begtulah kata Ratu gadis palawang kepada djaka tolos meyakinkan.

 

Setelah di piker-pikir oleh djaka, akhirnya djaka pasrah juga, dengan semua kenyata’an yang sedang di alaminya. Dan hari demi hari yang telah di lalui oleh djaka, selama bersama istri gahibnya, akhirnya jadi terbiasa juga, malah baginya di sini jauh lebih nyaman, damai, dan mewah.  Semua yang di inginkanya tersedia dan terlayani penuh kehormatan dan kasih sayang, semua orang hormat dan tunduk padanya, hingga djaka merasa suka dan bahagia. Setelah kebahagia’an itu hadir menyelimuti kehidupan baru djaka tolos.

 

Djaka mulai timbul niyat untuk mempelajari apa yang di miliki oleh ratu gadis palawang, terutama tentang ilmu ghaibnya, dan dengan senang hati ratu gadis palawang mewariskan hampir semua ilmunya pada djaka tolos, entah berapa lama djaka tolos tinggal bersama ratu gadis palawang di alam prayangan sebagai suami istri, karena djaka sendiri tak bisa menghintung hari di alam itu, karena baginya susah di bedakan antara siang dan malam, keduanya hampir sama tak berbeda, seperti pergantian sa’at sore ke malam atau malam ke pagi hari.

 

Dan pada akhirnya, djaka tolos berhasil menguasai separuh ilmu yang di miliki oleh istrinya, sa’at dalam pertemuan antara pemimpin dan rakyatnya, tiba-tiba muncul di hadapanya, kakek dan buyutnya djaka tolos, kedatanganya hadir di hadapan djaka dan istriya, untuk memberi tahu, kalau keada’an matsalim bapaknya djaka, dalam posisi kritis, dan sangat membutuhkan kehadiran djaka segera, juga memberi pengertian pada ratu gadis palawang, untuk tidak mengikat djaka dan memberinya kebebasan sebagai manusia seutuhnya, karena tanggung jawab dan perjalanan djaka sangat panjang dan teramat besar lagi penting bagi seluruh leluhurnya.

 

Namun sayangnya seribu kali sayang lagi, sa’at djaka berusaha mencari tahu yang sesungguhnya, tentang mereka itu, masih belum juga mau menjawab, jawabanya sama dengan jawaban sebelumnya, djaka pun masih kecewa dan di hantui penasaran selama itu. Lalu beberapa waktu kemudian, atas saran dan ijin sang istri, djaka pergi menemui matsalim bapaknya di kampong, setelah salin berjanji untuk tidak salin berhianat, ratu gadis palawang mengantarkan djaka hingga sampai di perbatasan desa. Djaka sedikit samar dengan desanya yang telah mengalami perubahan, desa yang dulu di tinggalnya masih kampong, kini telah menjadi kecamatan, lalu djaka mulai berjalan dengan penuh kewaspada’an. Sambil mengingat arah tujuan ke rumahnya, waktunya sekitar jam 9 malam, di tepi jalan, djaka singgah di sebuah kios untuk membeli rokok, djaka kenal betul dengan pemilik kios tersebut, karena kios terdekat dari rumah tempat tinggalnya, pemilik kios itu bernama mbah surif, namun sa’at djaka sampai di depan kios dan membeli rokok, djaka terkejut, karena pada sa’at itu juga, mbah surif ketakutan melihat djaka. Dalam ketakutanya itu, mbah surip lalu berteriak Setaaaaaaaaaaaannnnnnn…!!!.

 

Hingga banyak warga yang berdatangan, sementara mbah surif sendiri langsung jatuh pingsan, karena ketakutan, djaka bingung di buatnya, pikirnya, { apakah wajahnya telah berubah menjadi buruk dan mengerikan, shingga menakutkan orang }, karena tak mau ada masalah, lalu djaka segera pergi meninggalkan kios itu sebelum warga berdatangan.

 

Di sepanjang jalan, djaka selalu berpikir sambil meraba-raba wajahnya, hingga tiba di rumahnya, sa’at itu rumah matsalim orang tua djaka, nampak sangat sunyi sekali, tidak biasanya rumah itu sunyi di waktu sore hari, di intainya dari balik celah dinding rumah, tentang seisi rumahnya, djaka kawatir kalau keluarganya telah berpindah rumah, dari balik celah jendela, djaka melihat matsalim bapaknya, sedang dalam pasungan, seperti orang gila, karena tak sabar lagi ingin segera tahu kejadianya, djaka langsung memanggil-manggil ibunya untuk minta di bukakan pintu.

 

Tapi tak satupun yang keluar dari kamar, untuk membuka pintunya, djaka mendengar seperti ada suara orang yang sedang ketakutan di dalam kamar itu, tanpa menyerah djaka terus memanggil-manggil dengan suara yang cukup keras, hingga semua tetangga pada dengar dan berdatangan, bersama’an itu, djaka melihat sang ibu keluar dari kamar dan penuh ragu membuka pintu, sementara warga yang berkumpul di jalan sana, salin pandang entah apa yang sedang mereka pikirkan.

 

Sa’at pintu terbuka dan melihat djaka tolos yang sedang berdiri di depan pintu, dewi arimi ibu djaka,  terkejut dan langsung jatuh pingsan, untung djaka segera menangkapnya, sehingga tidak sampai jatuh ke tanah, lalu penuh penasaran, djaka membopong tubuh ibunya masuk ke kamar, di lihatnya adik dan kakaknya serta keluarganya, berlarian keluar rumah, penuh ketakutan, tak berselang lama kemudian, kepala desa dan stapnya, bersama warga masuk ke dalam rumah djaka.

 

Hingga rumah menjadi  penuh oleh warga, djaka semakin tidak mengerti, lalu djaka mendekati kepala desa dan mohon penjelasan tentang apa yang sedang di alami keluarganya, lalu di ceritakanya pada djaka, menurut cerita kepala desa itu.

 

Pada waktu itu……tiba-tiba datang kabar dari rata, salah satu desa yang berada di atas bukit tebing tepi pantai, kabar itu menceritakan tentang seorang warga setempat, yang menemukan mayat di jurang tepi pantai, tubuh dan wajah sudah tidak bisa di kenali lagi, karena telah rusak, tapi dari saku celana yang di pakai mayat itu, warga menemukan dompet yang berisikan beberapa uang dan surat-surat juga ktp. Dan ktp itu adalah milikmu nak djaka, dan karena bukti itulah, kami dan keluargamu menyakini kalau itu adalah kamu, kamipun segera ke desa itu, untuk membawa pulang jasad yang kami yakini adalah kamu itu, dan menguburnya seperti pada umumnya, matsalim bapakmu, yang tidak bisa menerima kenyata’an tersebut, jadi shok dan hilang kesadaran, karena sering melakukan hal-hal yang membahayakan orang lain. lalu demi keamanan dan kenyamanan. kami memasungnya, dan sejak pemakaman itu hingga sekarang, sudah dapat setahun lebih, dan karena itulah kami semua merasa heran dan penasaran berampur takut, karena orang yang sudah kami kubur setahun yang lalu. kini muncul kembali.

 

Begitulah cerita menurut kepala desa kepada djaka tolos yang bertanya ke padanya, setelah selesai bercerita, lalu kepala desa itu balik bertanya kepada djaka, tentang kejadian yang di alami dirinya selama ini, lalu djaka pun bercerita tentang semua yang di alaminya dari awal hingga akhir, dan malam itu menjadi malam yang paling istimewa bagi warga rusa kencana, kususnya, djaka tolos pribadi, tentang kejadian tersebut, semalam suntuk rumah djaka ramai di penuhi warga yang ingin melihat djaka kembali.

 

Setelah sadar, dewi arimi memeluk djaka, dan tak henti-hentinya menciumi sambil menangisinya, sementara matsalim yang sedang di pasung bak orang gila, mendadak sembuh ketika, melihat putranya yang di anggap telah mati itu, ternyata masih hidup, lalu paginya, dengan di antar kepala desa dan setapnya, juga kedua orang tuanya djaka, berkunjung ke pemakaman, untuk melihat kuburanya, karena penasaran dan ingin membuktikan kebenaranya, lalu warga sepakat untuk membongkar kembali makam tersebut, ternyata setelah di bongkar, kuburan itu adalah kuburan kosong, tak ada apa-apa kecuali kain putih yang di temukan.

 

Setelah setengah bulan tinggal bersama keluarga di kampung, rumah djaka mulai sepi dari pengunjung, yang datang karena penasaran, akan kejadian yang ganjil itu, hanya satu keluarga yang tak kunjung datang, yaitu keluarga istrinya dari mayayap, setelah mendengar kalau siti amidah istrinya telah menikah lagi, djaka kembali prustasi, ternyata bagi djaka. kenangan itu begitu sulit dan berat untuk di lupakan begitu saja, lalu secara diam-diam, djaka pergi menemui keluarga baru istrinya di mayayap, begitu melihat suami siti amidah yang baru itu, djaka tolos menjadi lupa diri, ada amarah dendam dalam dirinya, juga kebencian yang teramat sangat.

 

Akibatnya. djaka tolos lalu menyeretnya keluar dari rumah dan di hajarnya tanpa di beri kesempatan untuk menghirdar, melihat jumhari menantunya yang baru itu, di hajar djaka, pak tarjan ikut tampil untuk menolongnya, pertarungan pun beralih dengan pak tarjan, hampir semua warga mayayap berdatangan untuk melihat perkelahian itu, djaka pun berhasil mentaklukan pak tarjan, yang pernah menjadi guru dan mertuanya itu, lalu di lemparnya hingga jadi berdampingan dengan jumhari menantunya, lalu siti amidah di cari dan di seret keluar rumah, tanpa sadar tangan djaka mendarat sebagai tamparan amarah di pipi istrinya itu.

 

Lalu di hadapan warga, djaka mengungkap peristiwa yang pernah terjadi tentang rumah tangganya dulu, setelah mendengar kan penjelasan lengkap dari djaka tolos, barulah semuanya tahu dan sadar, bahwa apa yang di tuduhkan oleh istri dan mertunya pada sa’at itu, adalah salah, lalu djaka bertanya pada sang istri tentang siapa yang menyampaikan kabar fitnah itu, setelah di beri tau orangnya, djaka langsung berkelit mencari orang tersebut, tak lama kemudian, djaka sudah menyeret orang itu,  dalam keada’an babak belur, setelah semuanya menjadi jelas, lalu djaka memeluk putri tercintanya, ria susanti yang telah sedikit tau duduk persoalanya walau masih kecil itu, bisa meneteskan air mata sa’at berada di pelukan djaka tolos bapaknya, lalu djaka membawa putrinya pulang ke rumah orang tuanya di rusa kencana, selang beberapa minggu kemudian, siti amida datang menemui djaka.

 

Untuk menyatakan penyesalanya, dan ingin rujuk kembali, tapi djaka menolak dengan alasan kasihan dengan suami yang barunya itu, { walau kamu sudah menjadi milik orang lain, kamu tetap istriku yang sah, karena aku belum pernah menceraikanmu, teruskanlah perjodohanmu denganya, karena semua sudah terlanjur, nasi telah menjadi bubur, tidak mungkin bisa di tanak kembali },…begitulah kata djaka menolak siti amidah yang meminta rujuk kembali. Lalu siti amidah balik berkata kepada djaka…{ mas…walau di dunia kita tidak bersama, tapi di akherat nanti kita pasti bersatu, karena kita masih sah sebagai suami istri }, setelah itu, istri djaka pun pamit pulang, dan djaka pun melepasnya dengan air mata, bersama putri tercintanya.

 

Dan sejak itu, djaka menjadi prustasi lagi, karena merasa tak sanggup melupakan kenangan bersama siti amidah, di tambah lagi dengan masalah dewi atnesi kakaknya, yang selalu di permainkan para lelaki, kini sudah menjadi janda untuk yang 8 kalinya, dan mempunyai 3 anak yang berlaianan bapak. Djaka semakin dendam pada semua wanita, di anggapnya semua wanita adalah sama.

 

Akibatnya, djaka jadi meraja lela, untuk mempermainkan semua wanita, hingga banyak yang menjadi janda seperti dewi atnesi kakaknya, awalnya djaka berguru pada seorang wanita tua, yang di juluki ratu pengasihan, wanita itu bernama eyang trinil, dia seorang janda sakti berasal dari wonogiri, untuk berguru ilmu pengasihan pada eyang trinil, djaka harus mengorbankan dirinya untuk rela di jadikan pelampiyasan nafsu birahinya.

 

Hampir setiap habis menghapalkan kalimahnya, djaka selalu di minta untuk melayani birahinya, jika menolak, maka tidak akan mendapat kan apa-apa, akhirnya demi ilmu itu, djaka pun rela jadi budaknya, hingga berhasil memiliki seluruh ilmu dari eyang trinil, dan pada akhirnya eyang trinil meninggal dunia, setelah menurunkan dan menyalurkan semua ilmunya kepada djaka, dan mulai pada sa’at itu, djaka tolos hidup sebagai sang petualang cinta asmara, menundukan banyak gadis untuk di nikahinya, kemudian tiap tiga bulan, di ceraikanya, hingga di sebut janda seperti kakaknya. Yang sudah punya suamipun, tidak lepas dari dendam djaka, setelah berpetualang cinta di dunia asmara, pada akhirnya djaka pun berhenti juga, sa’at dewi atnesi mendapat seorang jodoh, yang mau menerimanya dengan apa adanya, serta bertanggung jawab penuh, sebagai seorang suami, setelah itu djaka mencoba mencari kehidupan baru di daerah lain, setelah memasrahkan ria susanti putrinya pada sang ibundanya, lalu, pada tahun 1983, djaka pergi merantau ke manado sulawesi utara.

 

Di sini djaka bertemu dengan pak nyoman adimerta, orang yang pernah membuat geger di desa mayayap, dengan ilmu leyaknya, sa’at bertemu, pak nyoman gentar dan ketakutan, tapi djaka berusaha untuk menenangkanya, karena masih penasaran dengan ilmu leyak itu, lalu djaka mengajak pak nyoman untuk pergi di suatu tempat yang cukup sunyi. di tempat itulah, djaka menantang untuk adu ilmu dengan pak nyoman, tapi pak nyoman bukanya menerima tantangan itu, justru malah pasrah kepada djaka, untuk di bunuh saja, karena menurutnya, hidup sudah tak berarti lagi baginya, karena ilmu tersebut, dia telah kehilangan anak istri, tempat tinggal dan semua saudara serta teman, juga semua orang memusuhinya, menolakanya, bahkan membenci dan mengucilkanya, untuk itu dia memilih mati saja.

 

Mendengarnya,,, djaka menjadi sangat iba, teringat akan masa kecilnya dulu, djaka juga pernah merasakan, bagaimana menjadi orang tersisih, orang terkucil, orang yang terusir dan tertolak, lalu djaka menghampiri pak nyoman yang sedang tunduk bersimpuh di hadapan djaka, di raihnya kedua bahu yang sedang terisak itu, lalu di suruhnya berdiri dan di peluknya, belum sempat djaka berkata-kata, pak nyoman sudah bermohon lagi,…..{ tolonglah saya….saya ingin membuang ilmu yang telah memperdaya saya ini…tolong bantu saya, jika tidak bisa juga, bunuh saja saya, dari pada saya hidup, tapi membuat orang lain celaka,….}kata pak nyoman berohon kepada djaka tolos.

 

Lalu djaka merangkul pak nyoman, untuk dijadikan saudara angkatnya, lalu di bawanya ke tanah toraja, untuk menemui sahabatnya, bernama yohanes, dulu yohanes pernah bercerita pada djaka,  tentang kelebihan tanah toraja, dengan ilmu mejignya, untuk itulah, djaka datang ke toraja sulawesi selatan, dengan harapan, di sana pak nyoman bisa terbantu, setibanya di tanah toraja, djaka di ajak oleh yohanes berkeliling ke tempat-tempat keramat peninggalan para leluhur tanah toraja, dan di antara tempat yang di tunjukan oleh yohanes, satu yang membuat djaka tertarik untuk memngetahuinya, yaitu goa pemakaman para leluhurnya orang toraja.

 

Lalu atas ijin dari keluarga yohanes, djaka masuk ke dalam goa tersebut, telah cukup puas dan jelas dengan penjelasan dari juru kuncinya, lalu djaka kembali ke rumah yohanes, untuk beristirahat, malamnya, djaka merasa ada sesuatu yang ganjil menyelimuti lingkungan dan rumah yohanes, hingga mata djaka pun, susah untuk di pejamkan, tepat tengah malam, pak nyoman yang sedang tidur di sampingnya, memdadak tersentak bangun dan menggerang bagaikan harimau lapar, sambil mencekik lehernya sendiri, pak nyoman berguling kesana kesini, bak orang yang sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat.

 

Djaka menebak kalau ilmu leyak itu sedang timbul dan minta di pergunakan, tapi pak nyoman menolaknya, lalu karena tak sampai hati menyaksikan pak nyoman yang meraung raung itu, djaka menggunakan kekuatanya untuk membantu pak nyoman meredam gejolak ilmu itu, agar tidak timbul, dan usaha djaka berhasil, setelahnya……

 

Pak nyoman bermohon lagi untuk segera di bantu, karena sudah tak kuat lagi hidup dalam keada’an seperti itu, semalam suntuk akhirnya berdua tidak tidur, salin tegang memikirkan tentang ilmu yang telah menganiaya dan membelenggu hidup pak nyoman itu, menjelang paginya, djaka merasa kantuk yang teramat sangat, hingga tanpa sadar djaka jadi tertidur dengan pulasnya, namun baru saja terpejam pulas, djaka sudah di kejutkan oleh sebuah mimpi yang sangat buruk.

 

Djaka bermimpi melihat pak nyoman memakan 7 bayi sekaligus, di hadapan djaka, sa’at djaka bangun terkejut karena mimpi itu, di lihatnya pak nyoman masih duduk termenung di sudut ranjang, lalu djaka bertanya tentang cara yang bisa membuat ilmu itu tidak timbul, selain dengan memakan bayi atau minum darah segar, lalu di ceritakanya pada djaka, menurut pak nyoman, satu-satunya cara agar ilmu itu tidak sering timbul adalah, harus di gunakan untuk memakan daging bayi yang segar atau minimal minum darah seorang yang baru saja melahirkan.

 

Dengan begitu, ilmu itu tidak sering timbul, timbulnya hanya setiap bulan purnama saja, ada cara lain yang bisa meredam agar ilmu itu tidak timbul, tapi kekuatanya hanya mampu satu minggu saja, jika setelah satu minggu itu tidak di lakukan pencegahan, maka hari berikutnya akan timbul, bahkan timbulnya lebih ganas di banding sebelumnya…..{ lalu cara itu apa…?.}.tanya djaka penuh penasaran. { caranya dengan meminum air hidup, tiap seminggu sekali…} jawab pak nyoman…{ maksudnya air hidup itu apa…?.}.tanya djaka yang minta penjelasan. { air hidup itu yang punya hanya kaum lelaki saja, dan lebih di kenal dengan sebutan banyu mani atau sperma…}.jawab pak nyoman dengan sedikit keraguan. Lalu dengan berpikir sejenak, djaka langsung menjawab…..{ baiklah….kalau itu memang satu-satunya cara lain, untuk meredam ilmu itu, untuk sementara waktu, selagi saya belum bisa menemukan orang yang bisa melunturkan ilmu itu, saya sanggup membantu bapak dengan memberikan sperma saya, tiap seminggu sekali, untuk meredam ilmu itu agar tidak timbul menuntut atau minta di gunakan.

 

Dan mulai sejak itulah, djaka selalu melayani pak nyoman tiap seminggu sekali, sebelum ilmunya timbul, dengan memberinya air spermanya yang di awali dengan bercumbu terlebih dahulu, untuk mempermudah proses pengeluaranya, pernah di suatu perjalanan hendak pulang ke kampong, ilmu pak nyoman timbul dalam kendara’an, lalu di tengah perjalanan djaka minta di turunkan bersama pak nyoman, dan segera membawa pak nyomah ke suatu tempat yang sangat sunyi, lalu di usahakan agar djaka bisa memberinya penangkalnya, dan sesudah aman.

 

Munculah kakek yang biasa menemui djaka tolos, untuk memberi tahu agar cepat kembali ke rusa kencana, karena ada perjalanan yang sudah sa’atnya di lalui, dan djaka segera pulang ke kampong atas petunjuk kakeknya, yang berindentitas misterius itu, namun sebelumnya, djaka sempat minta tolong, agar membantu masalah pak nyoman, dan atas bantuan kakeknya itulah, ilmu leyak pak nyoman berhasil di lenyapkan dari tubuh pak nyoman.

 

Akhirnya djaka dan pak nyoman pulang ke kampong dengan tanpa beban, dalam perjalanan, djaka singgah di kota luwuk untuk menemui daeng tamar, lalu di titipkan dan di serahkanya pak nyoman padanya, untuk di beri modal buat usaha di kota luwuk itu, guna mempertahankan hidupnya, lalu djaka sendiri meneruskan perjalanan pulang ke kampong, setibanya di rumah, tidak ada satupun orang, dewi atnesi kakaknya dan anaknya telah tinggal di rumahnya sendiri, bersama suaminya, endang taurina juga ikut dan tinggal bersama suaminya, muh. subur adik bungsunya juga sedang tidak ada di rumah.

 

Dewi arimi ibunya masih belum pulang dari pasar, matsalim bapaknya masih juga belum pulang di kelurahan, waktu itu semua pakaian djaka kotor semua, lalu djaka merendamnya di sebuah bak mandi, seusai mandi djaka membuka lemari milik bapaknya, dengan maksud mau meminjam sarung buat ganti sementara, tapi dari tumpukan baju di lemari itu, djaka menemukan selembar amplop surat yang berisikan surat keluarga, namun isinya sudah tidak ada, hanya tinggal amplopnya saja, di bacanya tulisan yang tertera di kedua bagian amplop tersebut, { dari samsudin / fatonah sekeluarga di luwung ireng, desa gintung lor, rt/rw 001/003, kec kedondong kab cirebon berpropinsi jawa barat, yang sebelahnya lagi, kepada matsalim sekeluarga di desa rusa kencana, rt/rw 01/01 no. G.32 kecamatan toili kabupaten luwuk banggai propinsi sulawesi tengah }.

 

Setelah membaca tulisan yang tertera di amplop tersebut, djaka jadi berpikir panjang dan penuh curiga, sayang amplop itu sudah tak ada isi suratnya, kalau ada, mungkin djaka sedikit paham dan mengerti, sambil duduk tidak tenang, djaka terus berpikir, apa mungkin dirinya itu bukan anak kandung dari matsalim, buktinya dulu matsalim begitu tega ikut-ikutan menganiaya dirinya, apa mungkin dirinya itu anak pungut, atau anak tiri, kalau iya, lalu siapa orang tuaku, apa mungkin yang alamatnya tercantum di amplop surat ini, adalah orang tua kandung saya? Atau… itulah pemikiran yang hadir pada diri djaka, selama kedua orang tuanya belum pulang ke rumah.

 

Dengan penuh ketidak tenangan, djaka tolos mondar mandir kian kemari, menduga dan menebak-nebak tentang siapa dirinya, juga dengan tidak sabar menunggu kedua orang tuanya pulang, setelah sekian lama di siksa kejenuhan, akhirnya kedua orang tua yang sejak tadi di tunggunya, pulang juga, belum sempat kedua orang tuanya melepaskan baju dan istirahat, djaka sudah memanggil keduanya dan di dudukan di hadapanya, keduanya pun serentak bingung dengan apa yang di lakukan oleh djaka, lalu djaka memohon ma’af serta ampunan, setelah itu, djaka bermohon lagi pada keduanya untuk bercerita tentang siapa dirinya dengan penuh kejujuran. Tentang siapa bapaknya dan siapa ibunya serta dari mana asalnya, setelah mendapat penjelasan yang tidak sesuai dengan yang di harapnya, dari kedua orang tuanya, lalu djaka menunjukan amplop surat tersebut, sambil membentak kesal……….{ kalau saya anak kandung bapak, kenapa bapak dulu kejam terhadap saya…!.lalu ini surat dari mana dan siapa…..!.kenapa sudah tidak ada isinya lagi, isinya pasti sudah di bakar, karena takut saya tau…!. Tolong pak……tolong bu…….saya mohon…….ceritakanlah tentang sebenarnya tentang saya……seumur hidup…..saya sudah cukup menderita…..jangan buat saya lebih menderita lagi….karena tidak tau siapa diri saya yang sebenarnya…..}, bentak dan keluh djaka pada kedua orang tuanya dalam bermohon.

 

Mendengar ratapan djaka tolos, lalu matsalim dan dewi arimi salin berpandangan, kedua matanya salin berkaca-kaca, tak lama kemudian matsalim bangkit dan berdiri lalu pergi, tapi djaka terlalu cepat untuk menghalanginya,……{ jangan pergi dulu pak…sebelum semuanya jelas…}. kata djaka, mencegah bapaknya yang hendak pergi meninggalkan tempat duduknya. { tidak anaku….biar ibumu yang akan menjelaskan semuanya, bapak tidak sanggup untuk menceritakan masa lalu itu },…jawab matsalim menghindar. Lalu djaka melempar pandanganya pada sang ibu, dan segera di hampirinya, sambil meneteskan air mata, dan bibir yang bergetar, dewi arimi berusaha mengingat semua masa lalunya, lalu di ceritakanya pada djaka tolos puteranya.

 

CERITA Dari DEWI ARIMI Ibu Kandung Djaka Tolos:

Kakekmu adalah seorang pangeran. Namanya Pangeran Karim. dia seorang pangeran dalam sebuah keraton, di salah satu kerajaan kecil, yang merupakan pecahan dari kerajaan besar, pajajaran tanah pasundan, kakekmu, yang merupakan bapak kandung ibu itu, memegang kekuasa’an penting di dalam keraton itu, dan ibu adalah anak kelima, dari lima bersaudari, hasil pernikahannya dengan nenekmu Dewi Ratnadumilah. Masing-masing bernama; 1. DEWI UTARSIH, 2. DEWI ARIMA, 3. DEWI KARMINI, 4. DEWI RUSMINI dan 5. DEWI ARIMI, yaitu ibu sendiri.

 

Menjelang usianya yang semakin tua, kakekmu merasa gelisah akan keturunanya, yang semuanya adalah perempuan, dia selalu berpikir, siapa kelak yang akan mewarisi kekuasaan yang di milikinya itu, lalu dengan alasan itulah, kakekmu  memaksa para putrinya untuk segera menikah, karena sangat berharap, akan kelahiran seorang cucu lelaki, untuk meneruskan kekuasa’an yang di milikinya itu.

 

Namun sayang,,, apa yang di kehendaki kakekmu, sangatlah berbeda dengan kehendak tuhan, empat putrinya yang telah di paksanya menikah, tak satupun yang melahirkan cucu lelaki, seperti yang sangat di harapkanya.

 

Perasaan kecewa dan kawatir pun, semakin menghantui benak kakekmu di setiap waktunya, kesadaran nampak menjauh dari imanya, sehingga ke empat putri dan menantunya juga cucunya, di buat sasaran amarahnya, yang tak beralasan itu. akibatnya, karena sering di buat kesal. tersinggung dan di abaikan, membuat semuanya tidak betah berada di dalam keraton, dan memilih kabur, keluar, pergi dan minggat dari keraton, entah kemana rimbanya.

 

Lalu jatuh pada giliran ibu, yang merupakan anak kelimanya, anak bungsunya, yang saat itu, ibu masih berumur 8 tahun, karena masih terlalu kecil, untuk di paksa menikah, lalu ibu di didik dan di gembleng menjadi seorang satria, di ajari ilmu olah kanuragan dan kesaktian, juga di ajari bermain pedang dan  ilmu perang laga, akhirnya sipat ibu yang seharusnya lemah lembut, sebagai seoarang wanita dan seorang putri keratonpun, hilang lenyap, berubah menjadi ganas dan sombong, tak ubahnya seorang lelaki, namun semua itu tidak juga membuat kakekmu sadar dari kekeliruanya.

 

Sampai-sampai dewi ratna dumilah nenekmu, jatuh sakit, karena tak tahan dengan sikap kakekmu, di tambah lagi, memikirkan ke empat anaknya, yang entah ada di mana rimbanya, terlalu berat beban yang harus di tanggungnya. hingga tak mampu bertahan, lalu meninngal dunia, namun pangeran karim kakekmu, tetap belum sadar juga, menginjak usia ibu yang ke 13 tahun, ibu pada akhrinya di suruh segera menikah pula, karena pikirnya, sehebat apapun ibu, ibu tetaplah seorang wanita, yang takan mampu dan sah sebagai pewaris kekuasaan dalam adat keraton, ibu yang tau nasib ke empat kakak ibu, yang kini entah di mana rimbanya, ibu  menolak untuk di nikahkan, tapi kakekmu bersi keras memaksa ibu, karena tak mau di anggap murtad melawan orang tua, terpaksa ibu berdalih lain, dalam menolakanya, yaitu, menolak secara halus, dengan cara, ibu mau di nikahkan, tapi dengan satu sarat, yaitu, lelaki yang akan menjadi suami ibu, harus lebih hebat dari ibu, dan untuk mengetahui kehebatanya, lelaki itu harus bertarung terlebih dahulu dengan ibu, siapa lelaki yang bisa memegang buah dada ibu, maka itulah yang akan menjadi suami ibu.

 

Dengan senang hati kakekmu menerima sarat itu, segara menyebar undangan kepada semua sahabatnya, untuk mencari dan mendatangkan para lelaki jawara guna menundukan ibu.

 

Mungkin karena kehendak tuhan dan adanya istilah di atas bukit masih ada langit, akhirnya ibu pun, bisa di kalahkan oleh salah satu peserta terakhir asal dari luwung ireng, bernama matsalim, yaitu bapak kandungmu itu, bapakmu adalah putera ketiga dari KI BUYUT SARPANI, sesepuh dari dukuh macan ringgit. Dan kamipun menikah.

 

Setelah menikah, kami di paksa pula, untuk segera punya anak, setelah hamil tiga bulan, kakekmu sibuk mendatangkan hampir semua tukang palak, ahli tebak yang ada di wilayah keraton, baik diluar maupun di dalam keraton, untuk menebak bayi, yang ada di dalam kadungan ibu, yang masih berusia tiga bulan itu, lelaki atau permpuan, dan hasil tebakan itu, menyatakan permpuan, mendengarnya, kakekmu nampak kecewa, terlebih lagi, setelah bayi lahir, ternyata benar perempuan, semakin membuatnya tambah kecewa berat, karena tak mau bernasib sama seperti ke empat kakak ibu, dan ingin membuat kakekmu bahagia, akhirnya ibu dan bapakmu, sepakat untuk bisa hamil lagi, walau anak pertama masih berumur 3 bulan.

 

Dan usaha kami pun berhasil, ibu hamil lagi untuk yang kedua kalinya, saat anak kakakmu DEWI ATNESIH berumur 8 bulan. Mendengar berita itu, kakekmu sedikit tersenyum, dan  seperti pada awal pula, tebak menebak pun terjadi lagi, namun tebakan kali ini, tidak sama seperti awal, 10 orang menebak bahwa jabang bayi itu lelaki, tapi yang 4 orang lainya, menebak bahwa jabang bayi itu perempuan.

 

Kakekmu semakin di buat gelisah oleh tebakan tersebut, seperti biasanya, kakekmu kembali resah dan suka menyendiri di ruang pamijahan keraton, menginjak usia kandungan ibu yang ke enam bulannya. munculah gerombolan pengacau yang menamakan dirinya DI, yang datang mengcaukan dan menghancurkan serta mengadu domba para umat sesama umat muslim, di wilayah sekitar keraton, khususnya pedesaan-pedesaan yang masih awam, saudara sesama saudara, salin fitnah dan salin bunuh, peranya seperti musuh dalam selimut atau duri dalam daging. yang kejam mematikan dan menyakitkan.

 

Sebagai pemegang kekuasa’an penting dalam keraton, kakekmu tidak bisa tinggal diam, lalu mengerahkan semua prajurit keraton untuk memerangi gerombolan kaum sendiri yang menjajah kaum sendiri itu, namun sayang,,, tanpa perasaan, kakekmu menugaskan ibu untuk memimpin pasukan prajurit keraton itu, padahal tau kondisi ibu yang sedang hamil tua, dan karena tak tega melihat ibu, yang berbadan dua, harus angkat senjata maju ke medan perang, lalu bapakmu pun, turut ikut menyingsingkan lengan baju, menyertai ibu ke medan peperangan, angkat pedang sambil menggendong kakakmu, walau demikian, ibu dan bapakmu berhasil menyisir wilayah selatan keraton, hingga ke barat dan timur keraton, hingga di sekitar lereng gunung cermai, yang menjadi sarangnya.

 

Setelah benar-benar aman, lalu pasukan di halau kembali, setibanya di lereng gunung cermai, bagian utara, yang terkenal angker, karena banyak di huni oleh para jim setan peri prayangan, ibu merasakan, perut sakit yang teramat sangat, prajuritpun di haruskan berhenti dan mendirikan tenda istirahat, menunggu ibu merasa sehat kembali, namun tanpa di duga dan di sadari, tepat tengah malam rabu pon tgl 13 bulan 08 tahun 1959, ibu melahirkanmu anakku,,, sambil memeluk Djaka Tolos Putera keduanya, dan kami memberimu nama DJAKA TOLOS.

 

Karena keada’an itu, perjalanan pulang ke keratonpun, di tunda lebih lama lagi, menunggu sampai ibu benar-benar pulih kembali kesehatanya, waktu kamu, anaku djaka tolos, berumur 7 hari, kamu hilang dari pelukan ibu, di culik dewi permoni, ratu demit dari gunung gundul, yang merupakan anak dari gunung cermai, yang terletak di sebelah barat, untuk di jadikan calon pewaris ilmunya kelak, juga sekaligus akan di jadikan sebagai menantunya, namun dengan segala daya dan upaya, ibu  dan bapakmu, serta bantuan dari  ki buyut sarpani, kakek dari bapakmu, yang sengaja di jemput, kami berhasil merebutmu  kembali.

 

Mengetahui keada’an putra dan menantunya yang sangat memprihatikan itu, kakekmu ki buyut sarpani sangat kecewa, atas sikap kakekmu pangeran karim besanya, lalu ibu dan bapakmu, di laramg kembali ke keraton, dan di ajaknya untuk tinggal bersamanya di luwung ireng, sementara para prajurit, di suruh tetap kembali ke keraton, tapi dengan memegang amanat rahasia, tentang kelahiran djaka tolos anak ibu, untuk tidak di ceritakan pada pangeran karim kakekmu, yang telah lupa diri itu. namun yang namanya manusia, tetaplah manusia, yang memiliki sipat salah dan lupa, sekalipun sudah di wanti-wanti  oleh ibu dan ki buyut sarpani kakekmu.

 

Satunya bisa memegang rahasia, satunya tidak bisa, akhirnya kelahiranmu sampai juga ke telinga pengeran karim kakekmu, akibatnya, kakekmu dan pengawal kususnya, datang ke luwung ireng, untuk menjemput ibu sekeluarga, dan memboyongnya kembali ke keraton. Sesampainya di keraton, kamu di minta oleh kakekmu, untuk di rawat secara kusus di ruang keprabon, namamu di ganti, menjadi RADEN TOSO WIDJAYA DININGRAT, sejak itu ibu dan bapakmu sekeluarga, mendapat perlakuan istimewa, semua kebutuhan dan keperluan kami di cukupi dan di turuti.

 

Namun dengan satu syarat, kami tidak boleh menemui mu anaku, walaupun hanya sebentar, apapun alasanya, setahun dua tahun, ibu dan bapakmu biasa-biasa saja, tapi setelah 4 tahun lamanya, tidak melihatmu, tidak tahu keadaanmu, ibu dan bapakmu, tidak mampun, akhirnya kami berontak, merasa ganjil dan tetap di perlakukan tidak adil, akhirnya kami berbuat nekad semau kami sendiri, semua pemberian kakekmu, yang merupan hadiah atau imbalan, sebagai gantinya dirimu, ibu  bawa keluar dan di titipkan ke kakekmu di luwung ireng, juga kakakmu dewi atnesih, lalu kami kembali lagi ke keraton, untuk menculik menculikmu anakku, yang berada dalam kekuasaan pangeran karim kakekmu.

 

Setelah waktu malam yang sunyi tiba, kami bergerak membobol gerbang keprabon, tak satupun prajurit yang mampu menghalangi dan mengenali kami, yang saat itu, memakai penutup wajah, apalagi mengalahkan atau menangkap kami, hingga kami berhasil masuk dan membawa kabur dirimu anakku djaka tolos, keluar dari keraton, menuju luwung ireng, setelah mengambil bekal dan kakakmu di luwung ireng, lalu atas petunjuk ki buyut sarpani kakekmu, kami menuju ke alas gandaka, menemui sahabat ki buyut, untuk bersembunyi disana, dan untuk sementara amanlah kami berada di tempat itu.

 

Sementara itu, kabarnya di keraton, pangeran karim kakekmu, bingung, resah dan marah, pada semua prajurit yang tak mampu menangkap kami yang menyusup, dan yang telah menculik cucu tersayangnya, yang tujuannya, kelak bakal mewarisi kedudukanya di keraton nantinya, namun setelah tahu kalau kami telah kabur dari tempatnya, kakekmu baru sadar diri, namun ibu dan bapakmu, sangat tidak tahu akan kesadaran kakekmu tersebut, bagaimana bisa tahu, karena jarak dan tempat yang cukup jauh, dan dalam keada’an sembunyi karena takut.

 

Selang beberapa waktu kemudian, ada kerajaan wetan yang sedang di serbu oleh kawanan pemberontak yang sama, seperti yang pernah terjadi di pasundan, yang belum lama terjadi, dan ibu juga ikut berjuang mengamankannya, yang merasa tidak puas akan pemerintahan sang sultan yang saat itu sedang berkuasa,  pemberontakan itu di lakukan dalam penyamaran dan berada dalam lingkup keraton, hingga sulit untuk di perangi. lalu sang sultan mengundang kakekmu, untuk membantunya, lalu berangkatlah, kakekmu dengan sejumlah prajurit yang di butuhkanya, dan terjadilah perang saudara di luar keraton, hingga merembet ke penjajahan wilayah, namun kakekmu dan pasukanya, berhasil memenangkan peperang itu.

 

Hingga mendapat pengharga’an dan hadiah dari sang sultan, serta mendapat gelar panembahan girilaya. Selain itu, kakekmu juga di nikahkan dengan putri sang sultan, yang sudah bersetatus janda, karena di tinggal suaminya yang tewas dalam pertempuran, dan sudah memiliki tiga putra peninggalan almarhum. Ibu yang mendengar kabar, kalau kakekmu telah menikahi wanita hadiah itu, ibu sangat marah dan kecewa sekali.

 

Lalu kekecewa’an dan amarah itu, ibu lampiaskan dengan sumpah, bahwasanya, ibu benci pada tanah jawa yang di huni oleh pangeran karim kakekmu, yang telah menghianati almarhumah nenekmu, lalu ibu bersumpah akan pergi jauh, tidak akan kembali menginjakan kaki lagi ke tanah jawa ini.

 

Lalu ibu menyuruh bapakmu, untuk membawa ibu pergi jauh, meninggalkan tanah pasundan, menyebrangi lautan, dan tidak pernah kembali lagi seumur hidup ibu, dan sejak itu, bapakmu membawa ibu dan kakakmu juga dirimu, pergi berlayar menyebrangi lautan luas, sesuai perminta’an ibu waktu itu, sa’at itu, dirimu masih berusia lima tahun 3 bulan anakku. Dan disini, di tempat ini, yang kita sama-sama tempati inilah. Kami,,, kita semua dalam kadaan seperti sa’at ini. Itulah awal mulanya anaku… Sambil memeluk erat, djaka tolos, dengan deraian air mata yang tiada habisnya.

 

Setelah mendengar sendiri tentang dirinya dari sang ibunya, djaka baru mulai mengerti tentang semuanya itu. tentang panggilan raden, tentang para kakek-kakek yang pernah menemuinya, dan memberinya berbagai macam warisan ilmu leluhur, walau begitu, djaka masih merasa belum puas, sebelum dapat membuktikan cerita dari ibunya tersebut. Lalu djaka tolos, memaksa kan diri untuk pergi ke pasundan pulau jawa, untuk membuktikan kebenaran cerita dari ibunya itu, dan tak satupun yang bisa menghentikan niyat dan tujuan djaka tolos, hingga, mau tidak mau, rela tidak rela, dewi arimi dan matsalim orang tuanyapun, harus melepasnya dengan doa restunya jua.

 

Lalu,,, esok malamnya, djaka menemui ratu gadis palawang istrinya di banggai, untuk minta pendapat dan pertimbangan, sang istripun memberi ijin, kalau djaka hendak ke pulau jawa. asal tetap salin setia dan percaya. Lalu dengan di bekali alamat adik kandung matsalim, di pasundan jawa barat, dan pesangon sebesar satu juta rupiyah, hasil jual sapi, akhirnya pada hari sabtu tgl 16 atau malam minggu tgl 17/03/1985. Matsalim dan Dewi arimi sekeluarga, melepas kepergian djaka tolos di dermaga Tanjung kota luwuk selawesi tengah, dengan seribu doa ketulusan yang di sertakan pada sang anak, yang telah siap berangkat meninggalkanya, untuk mencari jati dirinya yang sejati.

 

Sementara djaka tolos sendiri, yang telah siap dengan segala resikonya, dalam perjalanan mencari jatidiri, sempat meneteskan air mata, sa’at melihat kedua orang tuanya sekeluarga, yang menangis pula, melepas kepergianya, di pandanginya semua dari kejauahan, keluarganya, pemandangan kota kampungnya yang akan di tinggalkanya. Dan…..tepat jam 07.30, hari sabtu tgl 16 atau malam minggu tgl 17/03/1985, kapal Tampomas, yang di tumpangi djaka tolos, mulai bergerak meninggalkan pelabuhan tanjung, kota luwuk sulawesi tengah, dengan lambaian tangan, bibir djaka bergerak, seakan tak mampu untuk berkata-kata kepada semuanya, namun di dalam hati djaka berkata, selamat tinggal bapak, ibu, kakak dan adik-adikku, selamat tinggal anak tercintaku,  istriku. saudaraku dan kampong halamanku, selamat tinggal semuanya, doakan aku dan akupun akan doakan semuanya.

 

Kemudian…beberapa saat setelanya. di balik deburan ombak tepi pantai, djaka melihat ratu gadis palawang istrinya, turut mengantar dan melepas kepergian djaka, di sana djaka melihat sang istri ikut melambaikan tanganya, dan dengan senang hati serta senyum kasih dan sayang, djaka membalas lambaian tangan tersebut.

 

Begitulah proses perjalanan djaka tolos, menjelang usia dewasanya, semua serba tidak masuk akal pikiran manusia pada umumnya, bagaikan sumur di gantung, telaga awang-awang, seakan hidupnya bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang lain, dia hampir tak pernah memikirkan, akan dirinya sendiri, tak perduli pada dirinya sendiri, selalu orang lain yang dia pikirkan, padahal dirinya sendiri, nyaris tak pernah di pikirkan oleh orang lain.

 

Tanpa tujuan yang tertuntun, djaka terus melangkahkan kakinya, hanya untuk sebuah bisikan yang dirinya sendiri, tidak tau pangkal dan ujungnya, pengalamanya, kebanyakan dari alam ghaib, dan hanya orang-orang tertentulah, yang sudi menuntunya, tanpa peduli, tanpa mengikuti kehendak hati, maupun angan-angan atau pikiran, djaka selalu bergerak melangkah dan terus melangkahkan kakinya. Untuk siapa semua itu di jalaninya, entah untuk siapa, dia sendiri tidak tau tentang apa-apa, seperti sumur di gantung telaga awang-awang istilahnya, tak satupun ambil tau, maupun peduli, namun sedikit demi sedikit, djaka tolos mulai sadar diri, dengan semua itu, djaka baru mengerti, bahwasanya, di dunia ini, tidak ada satupun yang kekal dan abadi, namun, kebanyakan suka dengan yang tidak kekal abadi itu, kebanyakan, suka kebohongan yang semu itu, kebanyakan juga, suka yang palsu itu, yang bukan sesungguhnya.

 

Kini djaka mulai berjuang mencari jatidirinya, yang sesungguhnya, yang sebenarnya, dan yang sejatinya, dengan bekal doa serta nasehat dari kedua orang tuanya, djaka nekat melanglang buana mencari sarang, mengungkap asal usul diri pribadinya, yang banyak membuatnya, tidak mengerti, sehingga sering di landa kebimbangan dan keraguan itu. Namun sayang, pada sa’at itu, djaka tolos sama sekali belum mengenal dengan apa yang di sebut agama, apalagi yang namanya tuhan, sehingganya, di setiap langkah kakinya, selalu tak terarah, dan lebih sering terhambat, walau terkadang ada rasa takut dan kawatir, tapi dirinya tak mengerti dan tidak tahu, mengeluh dan harus bermohon kepada siapakah gerangan. Selain hanya mengandalkan ilmu kesaktian yang di milikinya. yang dia tahu, hanyalah ibu bapak dan guru, sementara mereka tak pernah memberi tahunya, tentang hal yang sebenarnya.

 

Setelah perpisahan itu, kapal laut tampomas, semakin jauh membawa djaka tolos berlayar ke tengah samudra, di teras kapal,  djaka berdiri sambil memandangi matahari, yang hendak tenggelam di ufuk barat, matanya menatap jauh tanpa batas, namun tatapan itu kosong tanpa isi, hatinya hancur karena masa lalu yang di alaminya, selama menjadi penghuni pulau sulawesi, hanya satu harapanya, jika sampai di pulau jawa nanti, dapat bertemu dengan kakeknya, yang konon sangat mendambakanya, yang kata ibunya, adalah seorang pangeran. Setelah 7 hari 6 malam, berlayar di tengah samudra, bersama kapal tampomas, tepatnya pada hari minggu tgl 24/03/1985, djaka tolos tiba di pelabuhan tanjung perak Surabaya jawa timur.

 

Di atas dek kapal, djaka memandangi sekitar pelabuhan itu, nampak di depan hidupnya, manusia yang jumlahnya, seperti semut keluar dari sarangnya, djaka berpikir, mampukah dirinya menyesuaikan diri dengan kota sebesar ini.?.

 

Sambil turun dari tangga kapal, djaka selalu mengingat pesan dewi arimi ibunya, sebelum berangkat waktu itu. Sang ibu berpesan kepada djaka tolos, agar ramah tamah dan sopan santun pada setiap lingkungan yang di laluinya, terutama terhadap sesama manusia, harus bisa menyesuaikan diri, dengan lingkungan yang di tempatinya, tidak boleh sombong atau adigang adigung adiguna, selalu waspada dan tata titi surti ngati-ati dalam segala tidakan, karena di jawa itu, tempatnya orang-orang sakti mandraguna, untuk itu, tidak boleh mengaku kuat, hebat atau sakti, karena di atas bukit itu masih ada langit, itulah nasehat dari dewi arimi, yang di pesankan kepada djaka tolos, sebelum pergi meninggalkan kampung halamannya di sulawesi. Pesan-pesan sang ibunya itu, selalu terngiyang di telinganya, dan bersemayam di dalam kalbunya, sebagai jimat yang paling handal baginya.

 

Dan,,,setibanya di dermaga, djaka singgah di sebuah kedai penjual rokok dan minuman, untuk membeli rokok dan minuman, djaka tersentak kaget, sa’at hendak membayar rokok yang di belinya, karena dompet di saku celananya, telah lenyap tanpa bekas, kecuali saku celana yang sobek, seperti habis di silet, sambil kecewa dan malu, djaka tak jadi membeli rokok tersebut, lalu mojok di sudut dermaga sambil berpikir, kemana hilangnya dompet itu, karena di dalam dompet itu, selain uang, juga ada alamat yang harus di carinya, jika telah sampai di cirebon nanti.

 

Djaka tolos, manggut-manggut, benar kata ibu, jawa memang tempatnya orang sakti mandraguna. Sungguh luar biasa. Bingung was dan kawatir serta ragu mulai bergejolak di hatinya, djaka bingung harus bagaimana, di pulau jawa, dia sebagai pendatang baru, yang belum mengenal seluk beluk pulau jawa, tidak punya siapa-siapa, yang bisa di mohoni bantuanya, sehari semalan tanpa makan dan minum, djaka tolos duduk di tepi dermaga, dengan tatapan kosongnya, namun tetap saja tidak mendapat jalan keluar apapun.

 

Akhirnya djaka nekat dengan berjalan kaki menuju cirebon, walau tanpa bekal apapun. Djaka merasa yakin pasti bisa, lalu mulailah djaka keluar dari dermaga pelabuhan tanjung perak Surabaya jawa timur, dan di tengah keramaian kota surabaya, djaka terus berjalan kaki dengan mengikuti rambu-rambu yang di temuinya di sepanjang jalan, sipatnya yang angkuh dan terlalu percaya diri itu, membuatnya enggan bertanya pada siapapun, setelah rambu-rambu  sudah mulai jarang di temuinya, djaka beralih dengan mengikuti arah biss yang berlalu lalang. Sehari dua hari, djaka sering di tawari kondektur untuk naik bis, tapi djaka menolak, karena tak punya uang buat bayarnya, djaka pun yakin tidak mungkin ada bis yang mau membawa penumpang gratis, tapi lama-lama, hampir semua mobil yang berlalu, jadi hapal dengan djaka yang selalu jalan kaki,  dengan situasi tetap begitu-begitu saja, hingga tak ada lagi, satu pun mobil yang menawarinya untuk naik ke mobilnya.

 

Akibat dari tak mau bertanya itu, perjalanan djaka pun keliru arah, djaka sadar sa’at tubuhnya mulai merasa lemah, karena berjalan tanpa henti, dan tanpa makan serta minum, dalam perjalananya,  djaka sampai di pelabuhan ketapang banyuwangi, yang masih propinsi jawa timur, pada salah seorang, djaka akhirnya nekad, mencoba untuk bertanya, tentang arah jalan yang menuju ke cirebon jawa barat, tapi sa’at mendapat jawaban dari orang itu, djaka tertunduk lemas, karena perjuangan jalanya, ternyata salah arah, bukanya menuju dan mendekati ke arah cirebon, malah semakin menjauhinya.

 

Sesuai petunjuk orang tersebut, lalu djaka berbalik arah lagi menuju Surabaya, tempat pertama dia menginjakan kaki, lalu djaka berusaha untuk lebih teliti lagi, dalam mencari arah, setelah melewati jombang, caruban, ngawi, madiun dan ponorogo, djaka tiba di kota pacitan, di kota pacitan, djaka mencoba istirahat karena tubuhnya mulai lemah dan kehabisan tenaga, lalu djaka mengeluarkan selembar bajunya, dari dalam tas, untuk di tukar dengan nasi dan air di sebuah warung, setelah makan dan minum serta istirahat sejenak, djaka merasa tenaganya telah pulih kembali.

 

Lalu djaka melanjutkan perjalananya menuju pasundan, setelah melewati hutan dan beberapa kota kecil, djaka tiba di wonogiri, dan istirahat di solo jawa tengah, karena sudah mulai kehabisan tenaga lagi, lalu djaka mengeluarkan pakaian lagi dari tasnya, untuk di tukar dengan makanan dan minuman lagi, setelah istirahat sejenak,  lalu djaka melanjutkan perjalananya lagi tanpa menyerah, setelah melewati purwodadi, pati, dan lomongan, djaka mulai merasa tidak mampu lagi untuk berjalan kaki, lalu djaka istirahat di laren, untuk menukarkan bajunya dengan makanan lagi. Setelah makan dan minum, lalu mencoba untuk istirahat sejenak, di dalam istirahatnya, djaka tertidur pulas di bawah sebuah pohon yang cukup rindang di tepi jalan pantai utara, sa’at tidur, djaka bermimpi bertemu dengan semua keluarganya di sulawesi, djaka merasa sangat bahagia sekali sa’at itu, karena bisa bersua dengan keluarga, walau hanya di dalam mimpi, namun kebahagia’an itu mendadak lenyap, sa’at djaka terkejut oleh suara klakson mobil yang berbunyi sangat keras di sampingnya, mimpipun seketika sirna, lalu djaka memcoba berjalan kaki lagi, dengan harapan semoga saja tujuanya sudah semakin dekat, dan tidak salah jalan lagi. Setelah berhari-hari berjalan kaki dengan sisa-sisa semangatnya, djaka tergulai lemah sa’at melintasi kota gresik, di pinggir jalan, djaka membaca tulisan Surabaya, djaka duduk di tepi jalan sambil berpikir. { mungkinkah aku telah salah jalan lagi…?}.

 

ketika ada orang yang melintas di hadapanya, djaka berusaha bangkit dan menghentikan orang itu untuk bertanya, ternyata djaka benar, dia telah salah jalan lagi, seharusnya dari pati, djaka mengambil arah kiri, bukan arah kanan, karena, arah kanan adalah arah ke Surabaya, lalu dengan lemas dan kecewa, djaka berjalan perlahan, mencari warung nasi, di dalam tasnya, masih ada satu lembar baju dan celana lagi, lalu di tukarkanya baju itu dengan nasi dan air, setelah makan dan minum serta istirahat, djaka masih tetap lemas dan lemah, tenaganya tak mau pulih kembali.

 

Lalu djaka duduk termenung di sebelah warung, yang baru saja di laluinya, namun baru saja djaka menyandarkan punggungnya, pemilik warung itu marah-marah, dan mengusir djaka seperti orang gila, seketika itu djaka meneteskan air mata, sambil pergi menghindari lemparan batu dari pemilik warung itu, dan memilih istirahat di tepi kebun pinggir jalan, djaka sudah kehabisan akal dan tenaga untuk berjuang menuju pasundan, pikiranya sudah mulai sempit, tubuhnya mulai mengurus, rambutnya sudah acak-acakkan, bagai ijuk yang ada di tengah hutan belantara, pakaian yang di kenakanya, sudah tak nampak warnanya, sepatu yang di pakainya,  sudah terkikis habis di makan jalan, hingga jebol di setiap pinggirnya, kulitnya hitam hangus, terbakar sinar matahari, akibat berbulan-bulan di jalanan.

 

Melihat keada’anya sendiri, djaka tidak mengenal, sudah pantas jika setiap orang yang melihatnya, menganggap orang gila, karena memang seperti orang gila, bahkan mungkin memang sudah gila, lalu djaka menukar pakaianya untuk yang terakhir kalinya, karena setelah itu, tak ada lagi lainya, setelah makan dan minum, lalu djaka menggunakan sisa-sisa tenaganya itu, untuk melanjutkan perjalananya menuju cirebon, dengan langkah yang sangat lambat, selambat keong berjalan, akhirnya djaka kembali sampai di pati, setelah melewati tayu, jepara, kudus dan demak, djaka sampai di kota semarang, djaka merasa sangat lega ketika membaca tulisan semarang jawa tengah.

 

Pikirnya, berati jawa barat sudah dekat dari semarang itu, lalu semangat djaka kembali lagi membara, dan melangkah penuh semangat, setelah melewati ungaran, ambarawa, magelang dan jogja, djaka sudah kehabisan tenaga lagi, sementara itu, sudah tak punya barang lagi, untuk di tukar dengan makanan, lalu dengan sisa tenaganya, djaka terus berjalan mencari perkebunan yang ada tanamannya, yang bisa di makan, untuk mengganjal perutnya yang sudah lengket dengan pinggangnya, di sebuah persawahan, djaka menemukan tanaman ubi, lalu dengan susah payah, djaka berusaha mencabut pohon ubi tersebut, yang kemudian di makanya mentah-mentah.

 

Lalu berjalan lagi, dan menemukan sebuah warung, lalu djaka nekad meminta makanan, tapi pemilik warung itu ketakutan, dan mengusir djaka, lalu djaka berjalan lagi hingga sampai di persimpangan jalan, di sana djaka membaca tulisan rambu-rambu  yang menuju Jakarta dan cirebon, tulisan itu cukup membuat djaka merasa sedikit kenyang, lalu djaka mengikuti arah jalan tersebut, hingga sampai di wates, purworejo, kebumen, banyumas dan purwokerto. Di sinilah djaka benar-benar merasa sudah tidak mampu lagi, untuk menggerakan tubuhnya, sa’at melewati warung, lalu nekat lagi untuk meminta makanan, djaka merasa sangat senang sekali sa’at itu, karena di beri sebungkus nasi dan air oleh pemilik warung itu, lalu djaka mencari tempat yang agak teduh dari matahari, untuk istirahat makan, sa’at membuka bungkusan itu, djaka sedikit kaget, karena isi bungkusan itu, adalah sisa-sisa nasi dan duri ikan, tapi karena sangat lapar sekali, djaka tetap memakannya, walaupun nasi itu, adalah nasi sisa, lalu tenaga yang baru pulih itu, di gunakanya untuk berjalan kaki lagi, dengan tertati-tati, djaka terus melangkah dan melangkah demi mencapai tujuanya.

 

Djaka melewati hutan-hutan pinus, dan beberapa kota kecil, di antaranya, bobot sari purbalingga, randudongkal, pemalang, dan pekalongan, hingga istirahat di kota Kendal, di kota ini, djaka merasa lemah kembali, dan merasa ragu, jangan-jangan salah arah lagi, lalu djaka mencoba untuk bertanya, namun tak satupun orang yang bisa di dekati, apalagi untuk bertanya, semua orang ketakutan sa’at di dekati oleh djaka, padahal djaka cuma ingin bertanya, tak punya maksud lain, apalagi niyat jahat, mereka takut mungkin di anggapnya djaka orang gila.

 

Karena tak ada tempat untuk bertanya, lalu djaka nekad melanjutkan perjalanan itu, dan ternyata benar, salah arah lagi, djaka sampai lagi di kota semarang, lalu djaka berbalik lagi kearah yang baru saja di laluinya, tapi djaka sudah benar-benar tidak kuat dan sangat tidak mampu lagi untuk menggerakan badanya, di tempat itu juga, djaka berjatuh lemah, dekat tukang ojeg di pertiga’an, rupanya para tukang ojeg itu, tak mau peduli pada djaka, karena di anggap mengganggu kenyamanan mereka, djaka pun di lempari batu, dan di usir untuk enyah dari tempat itu, karena sakit akibat lemparan batu yang mengenai tubuhnya, yang sudah rapuh, djaka pun merangkak berusaha pergi dari tempat itu, mencari tempat yang tak ada orangnya, dan djaka istirahat di tepi jembatan di bawah terik matahari, karena tak ada pohon untuk berteduh.

 

Djaka tolos merasa tubuhnya bergetar, menggigil dingin yang tak tertahankan, lalu djaka tak sadarkan diri, lupa akan segala yang sedang di alaminya, pada sa’at itulah, muncul di hadapanya dua orang wanita cantik, yang kemudian membawanya terbang jauh ke angkasa, lalu memasuki lautan dalam, dan di sana, djaka tolos di bawa masuk ke sebuah istana bawah laut, yang sangat megah,  berhias intan, emas, permata dan mutiara, kedatanganya di sambut oleh seorang ratu yang cantik jelita, wajahnya ayu alami, tanpa polesan, dan sangat mendamaikan angan pemikiran, senyumnya indah berwibawah, dan menyejukan hati, wujudnya sempurna, busananya serba emas intan dan berlian, rambutnya terurai panjang hitam mempesona, suaranya yang merdu dan sejuk serta mendamaikan.

 

Terucap sebuah kata dari bibirnya yang penuh pesona kedamaian menyambut djaka tolos yang baru saja tiba,……{ selamat datang di keraton siti hinggil laut kidul tempat tinggalku raden……semoga sambutanku ini, cukup menghibur hatimu yang sedang prihatin }. Kata ratu itu menyapa djaka tolos sebagai tamunya, mendengar suaranya yang merdu bergema, djaka tolos terbius, bisu, hingga tak mampu berbuat apa-apa, kecuali memandangi sekelilingnya. Djaka kagum dengan kesempurna’an wujud wanita, yang baru saja menyapanya, dan ada di hadapannya, setelah menyapa, lalu wanita itu kembali duduk di sebuah singgasana yang terbuat dari emas, tak lama kemudian, wanita yang berbusana serba sutra biru, yang berdiri di samping ratu yang duduk di singgasana emas itu, mulai bersuara memperkenalkan semuanya yang ada di dalam istana itu.

 

{ ma’af raden……raden pasti terkejut dan bingung akan semua ini……perkenalkan…….yang duduk di singgasana itu, adalah KANJENG IBU RATU KENCANA SARI SEKAR JAGAT WIJAYA KUSUMA, sesembahan kami, junjungan kami, beliaulah penguasa laut, yang menempati siti hinggil kedaton kidul, beliau lebih di kenal dengan sebutan dewi samudra, dan saya sendiri adalah …RATU MAS RORO KIDUL, wakil dari kanjeng ibu ratu, yang bertugas di laut kidul ini, dan yang berdiri di samping kiri beliau itu, adalah RATU MAS DEWI LANJAR, juga merupakan wakil beliau, yang bertugas di laut utara, sedangkan yang berdiri di belakang samping kanan beliau, adalah senopati apit kanjeng ibu ratu, bernama RATU DEWI BATARI KARTI, sedang yang di sebelah kirinya itu, juga seno pati apit,  beliau bernama RATU DEWI ANDARA WATI}.

 

Kata salah seorang wanita cantik yang berdiri di samping ratu yang sedang duduk di singgasana itu, yang mengaku namnya adalah RATU MAS RORO KIDUL, menjelasakn kepada djaka. Wajahnya tak kalah cantik, Namun penuh aura birahi. Lalu suara itu, di lanjutkan oleh suara ibu ratu yang sangat merdu mendamaikan hati itu,……{ ma’af raden….bukan maksudku mengganggu perjalanan raden, tapi apa yang sedang raden alami itu, membuat istanaku berguncang, itu sebab aku membawa raden ke sini, tujuanya agar raden tahu dan mengerti kami di sini, turut merasakann, apa yang raden rasakan…..}, lalu djaka mencoba untuk bisa bersuara…..

 

{ ma’af kanjeng ibu ratu……dari mana kanjeng ratu tahu tentang diri saya yang sebenarnya…..},Tanya djaka dengan sedikit keraguan, sambil tersenyum ratu itu menjawab……{ siapa yang tak kenal pangeran karim kakek raden, seorang kesatria dari tanah pasundan, juga hingga ke atasnya, yang akhirnya sampai pada Baduga Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran yang kesohor dan arif bijaksana itu, dan atas merekalah, aku tahu tentang dirimu raden, namun sayang…..aku tak punya banyak hak, untuk menjelaskan semuanya, karena jika itu aku lakukan, sama halnya aku telah ikut campur urusan Gusti Ingkang Moho Suci, dan artinya, aku telah melanggar kodratku,…ma’afkan raden….aku tak bisa banyak membantumu, aku hanya bisa memulihkan tenagamu, yang telah habis, selebihnya aku tak kuasa apa-apa }. { Saranku….tetaplah pada tekat dan pendirian raden, karena tidak lama lagi, raden akan sampai pada puncak dan titik temu yang seharusnya raden tempati…,tapi jika suatu sa’at, raden sudah berhasil dalam mencari jatidiri, sempatkanlah untuk singgah ke sini, pintu keraton siti hinggil laut kidul, akan selalu terbuka untuk raden kapanpun raden bersedia datang menemuiku di sini, terimalah mustika ini, sebagai tanda perkenalan kita, dan dengan mustika ini, raden bisa dengan mudah, untuk masuk ke laut kidul, menemuiku sewaktu-waktu, jika perlu, dan jangan sekali-kali menunjukan, apalagi memberikan mustika itu pada orang lain, karena akan menimbulkan bencana besar }.

 

Begitulah, sedikit kata-kata dewi samudra, yang telah menolong djaka tolos, dari masa kritisnya, saat mengalami kelemahan dalam perjalananya menuju tanah pasundan tempat kelahiranya.

 

Setelah mendengar sapaan dewi samudra dan mendapat sedikit penjelasan dari beliau, Djaka tolos menjadi semakin yakin, dengan pengakuan cerita dewi arimi ibunya, hingga, membuatnya, semakin tidak sabar, ingin segera secepat mungkin sampai di pasundan, untuk bisa bertemu sang kakek, yang dulu selalu menemaninya dalam suka dan duka, saat di aniaya oleh warga di kampungnya, sebagai anak yang tersiksa. Setelah sejenak istirahat, seusai pemulihan tenaga. Lalu djaka tolos di antar kembali ke tempatnya,  djaka sedikit kaget, sa’at melihat tubuhnya sedang tergeletak di pinggir jembatan tepi jalan, lalu dengan semua ketidak mengertian, djaka merasa masuk kembali ke dalam raganya itu, dan terbangunlah dari pingsanya, sambil meraba-raba seluruh tubuhnya, djaka heran dengan apa yang baru saja di alaminya, tapi djaka tak mau ambil pusing, lalu di pergunakanya tenaga yang baru pulih itu,  untuk melanjutkan perjalananya menuju pasundan, mendekati kota Kendal, djaka mulai merasa lemah kembali, karena sudah berminggu-minggu perutnya tidak kemasukan apa-apa.

 

Tapi djaka berusaha untuk tetap bertahan, dan terus memaksakan diri, untuk berjalan dan terus berjalan, malam itu, djaka duduk di tepi jalan, sambil merenungi apa yang akan terjadi pada dirinya,  yang sudah tak berdaya itu, tiba-tiba djaka di kejutkan oleh suara takbiran aidul fitri, yang melintas di hadapanya, suara takbir yang di sertai arak-arak mobil, yang jumlahnya tak sedikit itu, terdengar begitu meriah sekali, tapi mengancurkan perasa’an djaka, yang sedang dalam perjalanan, yang tak bertepi itu, tanpa apapun dan siapapun, di tepi jalan itu, djaka benar-benar merasa seorang diri, hati djaka serasa di sayat seribu sembilu, pedih…sekali, namun tak ada yang peduli, sedih….sekali, namun,,, walau betapapun pedih dan sedihnya, djaka tetap tak bisa berbuat apapun, air matanya telah habis dan kering untuk di teteskan, pikiranya telah buntu untuk dapat berangan-angan, hatinya telah gelap untuk bisa mengenang, semuanya sudah tak di milikinya, daya ingat pun sirna, tekat yang membarapun jadi punah lenyap di telan seribu duka kesedihan.

 

Paginya, dengan langkah yang tertati-tati lagi, djaka mencoba untuk bisa melangkahkan kakinya, untuk melanjutkan perjalananya,  dengan sisa-sisa tenaga dan harapanya, namun sebesar apapun harapan yang tersisa itu, tetap tak mampu membuat djaka bisa bangkit kembali, lalu seakan ada bisikan di telinganya,  yang menuntun djaka, terpaksa melapor ke pos polisi yang sedang di laluinya, untuk minta bantuan, namun belum sempat djaka melapor, di pintu masuk pos polisi, djaka sudah jatuh pingsan terlebih dahulu.

 

Dan ketika sadar membuka kedua matanya, djaka sudah dalam keada’an tidur terlentang di sebuah bangku pangjang di dalam kantor pos polisi tersebut, di tatapnya semua ruangan dan para polisi yang berada di sampingnya, lalu salah satu dari mereka, menyuruh djaka mandi, sambil memberikan satu setel pakaian pada djaka, seusai mandi, djaka sudah di siapi nasi bungkus, dan di suruh makan, sesudah makan, djaka di panggil untuk di beri pertanya’an-pertanya’an, djaka pun menjawab dengan apa adanya, semuanya di ceritakan mulai awal berangkat dari pelabuhan sulawesi, hingga akhir berada di pos polisi tersebut.

 

Polisi-polisi yang mendengarnya, ada yang terkagum, ada yang terharu, bahkan ada yang sampai meneteskan air matanya, lalu polisi yang sempat menangis itu, memberi uang sebesar 15 ribu rupiyah kepada djaka, lalu djaka di buatkan surat kehilangan dan pengantar, setelah memberi saran dan petunjuk, lalu djaka di carikan mobil tumpangan, yang berjurusan ke cirebon, dan berangkatlah, djaka tolos atas bantuan para polisi Kendal tersebut. Namun sayang, karena situasi, djaka tidak sempat untuk salin mengenal para polisi yang telah menolongnya tersebut, dan akhirnya, pada hari kamis tgl 25/12/1986, djaka tiba di tempat tujuanya, yaitu. Cirebon jawa barat.

 

Tepatnya, di salah satu kantor polisi di wilayah cirebon, dan dengan bantuan dari polisi pula, djaka keliling untuk mencari alamat saudara dari bapaknya, namun karena alamat yang tak jelas, polisi pun kesulitan untuk membantu djaka, mencari saudaranya tersebut, hingga seminggu telah berlalu, karena tak sabaran, lalu djaka pamit untuk mencarinya sendiri. Siang hari itu, tanpa mengenal lelah dan lebatnya hujan yang sedang mengguyur kota cirebon, djaka berjalan mengelilingi seluruh pelosok kota, yang di laluinya, namun tak satupun orang yang di tanyainya, tahu tentang nama dan alamat yang di carinya, setelah 3 hari keliling, lalu djaka beralih ke desa-desanya, di pedesa’an, djaka mengalami yang lebih sulit lagi, karena orangnya jarang yang bisa berbahasa melayu atau indonesia, sementara djaka sendiri, juga tidak bisa bahasa cirebon, walaupun  lahirnya di cirebon, setelah 10 hari keliling kota dan desanya, djaka putus asa, karena belum juga di temukan alamat yang di carinya.

 

Rasa lapar dan letih, mulai menguasainya, lalu dari ujung jalan, malam itu, djaka melihat masih ada warung yang masih buka, bergegas djaka mendekati warung itu, untuk minta nasi, tapi kesulitan, karena gadis sang penjualnya, selain tak bisa bahasa Indonesia, juga ketakutan melihat djaka, yang berambut panjang dan dekil itu. Hingga gadis itu memanggil tetangganya, untuk menemaninya, lalu sambil makan, djaka mencoba bertanya pada teman penjual warung yang bisa bahasa Indonesia itu, dan…….djaka serasa di timpa seribu kesenangan, sa’at mendapat jawaban kalau desa yang di carinya itu, adalah desa yang sedang di injaknya, tapi sayang, djaka lupa dengan nama saudara yang harus di temuinya itu, tapi djaka berusaha untuk menjelaskan tentang asal usulnya, hingga sampai di cirebon.

 

Dan rupanya, orang itu mengerti dengan apa yang di maksud oleh djaka, lalu orang itu memanggil pemilik rumah dan warung itu, dengan sebutan bibik fatonah, djaka teringat, kalau nama itu yang ada di alamat yang hilang itu. Tak lama kemudian, keluarlah pemilik warung itu, lalu di ceritakanya tentang djaka, jawaban pemilik rumah itu,…..{ kalau begitu….orang itu keponakan saya, anaknya kakak saya, yang di sulawesi, karena saya dapat kiriman surat dari sulawesi, yang mengabarkan kalau anaknya lelaki, akan ke jawa, tapi surat itu sudah dapat setahun lebih, dan anaknya itu,  belum juga datang sampai sekarang sini, namanya Djaka tolos }, kata pemilik warung itu, menanggapi cerita anaknya, yang sedang menjaga jualanya…mendengar pembicara’an perempuan separuh baya pemilik warung itu, djaka tidak kuat menahan diri, djaka langsung melompat bersujud di kaki wanita itu sambil berkata…..

 

{ sayalah anak itu bik……sayalah anaknya matsalim, kakak bibik, saya terlambat sampai, karena kehilangan pesangon dan tersesat di  jalan……}, kata djaka tolos memperjelas kadaan kepada pemilik warung itu.

 

Seketika itu pula, wanita itu balik memeluk djaka, sambil menangis pula, hingga terjadilah salin tangis menangisi, pertemuan yang tak terduga tersebut, hingga mengejutkan dan membangunkan orang se RT, lalu djaka di bawa masuk, masih dalam pelukan bibiknya,  semua keluargapun datang berkumpul, untuk mendengarkan cerita djaka yang terlambat datangnya itu. Bibik fatonah adik kandung matsalim  bapak djaka, tak henti-hentinya menangis, karena melihat kedua telapak kaki djaka, yang hancur terbakar panasnya jalan dan kerikil jalanan selama setahun lebih.

 

Dan mulai saat itu, djaka di rawat oleh bibik fatonah, penuh dengan kasih dan sayang, hingga kembali sembuh dan pulih seperti sedia kala, setelah semua kembali aman, lalu djaka di pertemukan dengan neneknya, yang sudah sangat tua di kamarnya, dia adalah ibu kandung matsalim bapaknya, istri dari ki buyut sarpani almarhum, di pangkuan sang nenek, djaka tolos mencurahkan air matanya penuh haru, sambil menyampaikan salam dari bapaknya, namun sayang, sang nenek sudah tak bisa di ajak ngobrol, secara sempurna, juga sudah tak bisa cerita sejarah lagi, karena sudah pikun tertelan usia yang sudah seratus tahun lebih.

 

Walau begitu, djaka sudah bisa sedikit tenang dan bangga, karena sudah membuktikan salah satu cerita ibunya, tentang keluarga di tanah jawa, setidak-tidaknya, ada harapan untuk melangkah ke depanya lagi, hari-hari yang di lalui oleh djaka selama tinggal bersama bibik fatonah, selalu di buatnya untuk merenungi tentang apa yang akan di alaminya lagi setelah ini, di hatinya bertanya, siapa yang akan mengantarnya, untuk bisa bertemu dengan pangeran karim kakeknya, yang sangat di rindukanya selama ini…?

 

Sa’at di tanya bibiknya, mengapa sering melamun, djaka menjawab ingin bisa segera bertemu dengan kakeknya, dan fatonah menjawab, kalau pangeran karim kakeknya itu, sudah tiada, hati djaka, serasa di sambar seribu petir, hancur rasanya semua harapan, orang yang sangat di dambakanya, telah meninggal, dan sejak itu djaka jadi sering melamun, karena tak tahu harus berbuat apa, sementara tujuan utamanya dari sulawesi, adalah ingin bertemu pangeran karim kakeknya, tapi ternyata sudah tiada, semua terasa sia-sia tanpa guna. Dan karena itulah, djaka jadi larut pada kesedihanya itu……….demikianlah proses perjalanan djaka tolos dalam mencari sarangnya, tanah kelahiranya, guna mengungkap asal-usul dan jati dirinya, di awali dengan berbagai liku-liku perjalanan hidup, yang sempat membuatnya putus asa dan kehilangan keseimbangan, baginya, pulau jawa memang di akuinya, tanah jawa memang di kaguminya, tapi djaka tolos,  merasa yakin, bahwa dirinya, suatu sa’at ketika nanti, bisa menyatu dengan tanah jawa ini.

 

Djaka kagum dan tertarik dengan kehidupan jawa, yang di temuinya di sepanjang perjalananya menuju sarangnya, dirinya berjanji, akan mengenang semuanya, dan menjadikanya sebagai ilmu alam, yang tak terlupakan, walau hatinya sudah tak sabar lagi menunggu sampai semuanya mendukung, namun djaka tolos tetap mengindahkan amanat sang ibunya, djaka selalu berusaha untuk sabar dan menyesuaikan dirinya, terlebih dahulu pada lingkungan dan alam sekitarnya, mulai dari bahasa, pergaulan, kebiasa’an, adat istiadat, hingga sampai ke ilmuanya, di pelajari dan di sesuaikanya.

 

Sebulan sudah, djaka tolos tinggal bersama fatonah bibiknya, yang bersuami samsudin, namun sejauh dan selama itu, belum juga ada yang mau bercerita tentang keraton cirebon asal-usul dewi arimi ibunya, djaka jadi jenuh dan bingung, harus bertanya pada siapa,  kepada nenek maria ibu dari bapaknya, sudah tidak nyambung bila di ajak cerita, mau bertanya pada bibik fatonah dan paman samsudin, hampir tak pernah ada waktu, karena mereka berdua selalu di sibuk dengan pekerja’annya di sawah, juga hiruk pikuk keluarga besar bibik fatonah sering membuat djaka menjadi risih.

 

Namun, walau  begitu, kedatangan djaka yang berkisah menyedihkan itu, banyak mengundang keluarga besar ki buyut sarpani, dari tempat tinggalnya masing-masing, salin berdatangan untuk menjenguk djaka, dan pada akhirnya, salah satu keluarga ki buyut  sarpani, yang paling kaya, datang dan ingin membawa serta djaka tinggal bersamanya, dia adalah kakak keponakan madsalim, bernama uwak surtinah, ibu surtinah adalah seorang janda yang mempunyai 4 orang anak, semua anaknya itu, telah berumah tangga dengan kesuksesanya masing-masing.

 

Karena ibu surtina tinggal hanya seorang diri di rumahnya, lalu djaka di bawa serta untuk tinggal bersamanya, dan sejak itu, djaka tolos tinggal bersama uwaknya yang bernama surtinah tersebut, di sini djaka sehari-harinya, membantu kegiatan  uwak surtina, yang berdagang sembako di pasar, tiap pagi dan sore hari, djaka di beri tugas untuk antar jemput, dengan menggunakan becak, di luar itu,  djaka di suruh belajar agama, pada bapa murnawi, seorang tokoh agama di dukuh sebelah kampung tempat tinggalnya.

 

Di luar tugasnya menjemput, djaka selalu giat belajar pada kiyai murnawi, disini djaka berlajar banyak tentang ilmu syare’at agama islam, sebelum di mulai belajar, karena tidak tahu sama sekali tentang agama islam, langkah pertamapun, djaka di tuntun untuk mengucapkan dua kalimah sahadat, sebagai sarat utama dalam memeluk agama islam, setelah mengucapkan dua kalimah sahadat, baru djaka melangkah kedalam pelajaran agamanya, dan pengamalanya, djaka di tuntun tentang bab sholat lima waktu, caranya yang tepat dan benar, juga sholat-sholat sunah sebagai kesempurna’anya, cara berdo’a, cara berdikir, juga cara beribadah yang benar dan tepat. Tak terasa, djaka pun telah menghabiskan waktu 3 bulan lamanya, untuk bisa memahami ilmu sare’at agama islam tersebut, dan hasilnya, djaka sudah banyak mengalami perubahan, terlebih lagi, dengan ilmu akhlak dan adab yang telah di pelajarinya dari bapak murnawi guru agamanya.

Inilah salah satu pelajaran yang di peroleh djaka tolos dari sang guru yang bernama MURNAWI, di luwunh ireng cirebon jawa barat.

 

MENGENAL AKHLAK DAN ADAB;

Ilmu akhlak merupakan bagian dari pembahasan dalam hikmah amali (filsafat amal), di samping ilmu keluarga dan kemasyarakatan (siyasah), ilmu akhlak juga dipahami sebagai ilmu yang mempersoalkan, bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan. Atau, dalam rumusan lain, ilmu mengenai bagaimana berperilaku yang baik.

 

Akhlak;

Ilmu akhlak merupakan sebuah spesialisasi, yang di dalamnya membahas tentang potensi manusia, yang berhubungan dengan kekuatan syahwaniyyah (syahwat), ghadhabiyyah (amarah), dan fikir (pikir). Ilmu ini juga membedakan antara sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat rendah manusia, sehingga manusia dapat mencapai kesempurnaan nilai manusiawinya. Dalam hidupnya, manusia tidak dapat melepaskan diri dari pencariannya atas sesuatu, seperti makan, minum, dan beristirahat, yang semuanya didorong oleh kekuatan syahwani.

 

Begitu juga, dari upaya untuk menghindar dari sesuatu, seperti sakit, kerja keras, dan sebagainya, yang didorong oleh kekuatan ghadhabi. Juga, dari kekuatan fikir seperti berhujah, yang didorong oleh kekuatan fikir dalam diri manusia, itulah yang di sebut akhlak.

 

Adab;

Adab adalah sikap dalam bentuk perbuatan bajik/baik, Karena itu, kezaliman, kebohongan, dan pengkhianatan tidak dapat dikatakan sebagai tindakan beradab. adab merupakan tindakan bajik yang berasal dari ikhtiar manusia. Karenanya, berdasarkan nalar, tidak akan ditemui ikhtilaf di dalamnya, meskipun pada kenyataannya, manusia terdiri dari berbagai bangsa dan agama dengan gaya dan cara hidup yang berbeda-beda. Sehingga suatu adab terkadang dipandang baik bagi golongan tertentu dan dipandang buruk oleh golongan lainnya, itulah yang di maksud adab.

 

Perbedaan akhlak dan adab;

Adab tidak sama dengan akhlak. Akhlak merupakan potensi yang tertanam di dalam ruh, maka Adab adalah sikap bajik yang menjadi pakaian bagi perbuatan manusia, yang muncul dari sifat-sifat mereka yang berbeda. Karena itu, adab adalah cerminan akhlak manusia, sementara akhlak adalah hakim bagi sebuah masyarakat.

 

Dan sejak mengenal ilmu akhlak dan adab, jiwa djaka tolos, mulai mengenal dan memiliki ketenangan, karena sudah bisa berdoa’ jika sedang galau dan risau, tidak lagi merasa seorang diri, dan tidak lagi mengeluh pada kekosongan, melainkan mengadu dan berdoa kepada tuhan. Yang lebih akrab dan di kenal dengan sebutan gusti allah. namun sayang, pelajaran itu harus putus sebelum djaka beralih ke pelajaran lainya, karena, uwak surtina yang di banggakanya, di hormatinya sebagai pengganti ibunya, tiba-tiba  jatuh cinta kepada djaka, yang sudah di anggap anaknya sendiri itu.

 

Awalnya, semua kebutuhan djaka tanpa terkecuali, di turuti dan di penuhi, tapi rupanya di balik semua itu, ada maksud lain, surtina yang menganggap djaka tolos menerimanya, sebagai calon istri, menyebar kabar dan undangan nikah ke seluruh kerabatnya, hingga tersiarlah, kalau djaka akan mengawini uwaknya sendiri, rasa kecewa dan malu, membuat djaka tolos harus nekad kabur dari rumah, demi menghindari pernikahan itu terjadi, seperti pada awalnya, djaka pergi tanpa bekal apapun, kali ini, djaka sudah banyak tahu dan paham tentang seluk beluk tanah pasundan, khususnya cirebon, bahasa pun sudah di kuasainya, walau baru sedikit.

 

Setelah meninggalkan rumah, djaka menuju gunung cermai, yang terletak tidak jauh dari tempat tinggalnya, pikirnya, menurut ibunya, dulu djaka di lahirkan di lereng gunung cermai. Saat sang ibu berjuang mengusir gerombolan pengacau keraton. Waktu itu, dewi arimi sedang mengandung djaka tolos 8 bln, karena tugas yang tidak adil dari pangeran karim kakeknya. Yang berdalih situasi darurat. Dewi arimi yang sedang hamil tua tersebut. Di tugasi untuk memimpin pasukan perang, bersama matsalim suaminya. Setelah berhasil mengusir gerombolan pemberontak tersebut. Dalam perjalanan pulang, lahirlah djaka tolos di dalam tenda peristirahatan para prajurit keraton saat itu.

 

Djaka nekad pergi ke tempat kelahiranya, karena berharap akan dapat yang lebih baik di sana, setelah semalam sehari, djaka berjalan kaki melewati jalan perkampungan, akhirnya sampai juga di lereng gunung sebelum matahari terbenam, di sebuah bukit kecil, yang terletak di lereng gunung, djaka memandangi alam sekitarnya, di lihat kota dan perkampungan di wilayah cirebon, yang nampak kecil dari kejauhan, sekecil batu kerikil, pikirnya, sampai kapan saya harus seperti ini…….

 

Dan akhirnya, di dalam lamunanya itu, tak sengaja dari balik pohon, tempat djaka berdiri, terlihat sebuah gubug, yang terletak di tepi air terjun, lalu bergegaslah, djaka menuju gubug tersebut, sebelum malam tiba, untuk bermalam menunggu pagi hari, setibanya di tepi air terjun, djaka melihat kalau gubug itu berpenghuni, di lihatnya seorang lelaki separuh baya, yang sedang menyalakan api di depan gubugnya itu, setelah dekat, djaka mengucapkan salam, sabil terkejut, lelaki itu menjawab salam djaka, yang kemudian mempersilahkan masuk ke dalam gubugnya.

 

Setelah salin duduk santai di lantai gubug bambu sambil makan ubi bakar, keduanya lalu salin memperkenalkan diri, orang itu bernama mang onang, asal dari desa yang tidak begitu jauh dari tempat tinggal djaka, waktu ikut uwaknya, hanya beda kecamatan saja, dan sudah tinggal menetap di lereng gunung cermai itu, selama 7 tahun katanya, setelah tahu, kalau djaka bertujuan hendak mendaki gunung, mang onang berusaha mencegahnya, menurutnya, gunung itu terlalu berbahaya, karena selain angker dan keramat, dengan penghuni ga’ibnya, juga masih di huni banyak binatang buas, namun djaka tak gentar sedikitpun, tentang apa yang di katakan  oleh mang onang itu.

 

Lalu djaka, dengan penasaran membalikan cerita tersebut, dengan kalimat,….{ kalau memang sebahaya itu…..lalu kenapa mang onang memilh tinggal di sini seorang diri, menjauhi dunia ramai,  yang seharusnya menjadi tempat para manusia moderen.

 

Jawabanya, karena terpaksa, ketika djaka mengejar jawaban itu, akhirnya mang onang bercerita tentang masa lalunya, yang membuatnya terpaksa harus tinggal di lereng gunung cermai seorang diri, menurut pengakuan cerita mang onang, dia dulu adalah seorang kiyai, yang mengajar di salah satu pondok pesantren di wilayahnya, mang onang adalah salah seorang yang mempunyai kelainan seksual, dia suka sesama jenis. Bahkan lebih sangat menyukai lelaki dari pada perempuan, rasa dan perasa’an itu, di pendamnya seumur hidupnya waktu itu, pada suatu sa’at, dia tak mampu menaha hasratnya, hingga hasrat birahi itu, di lampiaskan pada salah seorang santrinya, yang kebetulan santri itu adalah anak seorang kepala desa, sekali dua kali, mang onang berhasil, tapi pada suatu ketika, hubungan rahasia itu di ketahui oleh warga yang pada sa’at itu memergokinya,  sedang bercumbu dengan santri lelakinya, lalu terjadilah sebuah masalah besar, hubungan yang di tolak karena di yakini sebagai perbuatan yang di laknat tuhan itu.

 

Lalu mang onang di hakimi dengan hukum rimba, sementara bapak dari sartri itu, yang tidak terima anaknya di ajak berbuat kotor seperti itu, merasa tak puas, jika mang onang tidak di singkirkan, lalu mang onang di lepas sebagai kiyai dan di usir tanpa apapun,  yang di ijinkan untuk di bawa sebagai bekal, dan karena itulah, mang onang lalu memutuskan untuk tinggal di tempat ini seorang diri, menjauhi semuanya yang menolak kehadiranya, dalam hati,  djaka tolos mendesah……{ya….allah…kenapa engkau selalu mempertemukan aku dengan orang-orang seperti mang onang ini},  hingga mang onang entah menjadi orang yang keberapa dalam hidup djaka, apa maksudmu…ya..tuhanku….}.

 

Walau begitu, djaka merasa sangat yakin sekali, kalau tuhan memiliki rencana dan rahasia yang sangat baik buat dirinya, dengan begitu dia tetap mantap dan tegar dalam pendirianya, dan paginya,  djaka bangun dengan tujuan hendak mendaki gunung cermai, tapi,,,  pagi itu seluruh tubuh djaka terasa lemas, tak bertenaga sama sekali, serasa tak punya tulang dan otot, sehingga mengurungkan niyatnya untuk melanjutkan perjalananya naik gunung, tapi djaka sedikit curiga, karena pagi itu, dia tidak melihat mang onang di sampingnya, padahal semalam tidur salin berdampingan, lalu djaka ingat semalam, waktu bangun hendak buang air kecil, sempat minum secangkir air yang sudah tersedia di sampingnya.

 

Lalu dengan lemas, djaka merangkak meraih cangkir bambu bekas air yang di minumnya semalam, ternyata benar, cangkir itu berbau ramuan daun, setelah tahu, djaka menjadi marah sekali, tapi tak berdaya, tak lama kemudian, mang onang pun datang dan masuk gubug, djaka langsung bertanya apa maksudnya, menaruh racun pelemah sarap itu ke minumanya, dia menjawab sangat sederhana sekali, lalu pergi keluar dari gubug lagi, katanya, biar kamu tidak jadi masuk dan naik gunung, karena saya kasihan padamu, karena  kamu belum kenal hutan dan gunung itu.

 

Sehari semalam djaka dalam kelemahan tanpa sarap, dan malam itu, sa’at djaka tidur, djaka bermimpi bertemu kakeknya, yaitu pangeran karim, pangeran karim datang untuk mencegah djaka tolos, agar tidak ke gunung cermai, karena itu hanya akan membuang-buang waktu saja, menurut kakeknya, dari pada harus ke gunung itu tanpa tujuan yang pasti, lebih baik menjalankan tapa wuda di bawah air terjun gunung cermai, yang terletak di belakang gubug, yang di tempatinya sekarang, karena dengan begitu, djaka akan dapat menyatu dengan alam, seiring bersama dengan air yang mencurah tersebut, dan juga, ada kemungkinan, djaka akan dapat isaroh atau petunujuk, bahkan mungkin, dapat pengalaman baru tentang tanah jawa ini.

 

Setelah itu, paginya djaka berjanji pada mang onang, untuk tidak masuk ke gunung cermai, setelah mendapat obat penawarnya, lalu djaka di ajari oleh mang onang tentang ilmu tarekot, setelah belajar tarekot pada mang onang di kaki gunung cermai selama satu bulan lebih, lalu djaka menjalani tapa wuda, sesuai petunjuk dari kakeknya tempo hari, di bawah curahan air terjun gunung cermai, dengan telanjang bulat, djaka duduk bersila tepat di tempat jatuhnya air di atas batu yang membentuk tampah, atau penapis beras, sementara mang onang, menjaga djaka tolos hingga selesai bertapa selama 21 hari duduk di bawah air terjun.

 

Sa’at bertapa, djaka tolos bertemu dengan seorang raja agung yang mengaku bernama Prabu Siliwangi, raja dari pajajaran, penguasa dan leluhur tanah pasundan ini, prabu siliwangi sengaja menemui djaka tolos, untuk memberikan ilmu warisan siliwangi, peninggalan para leluhur tanah pasundan, yang secara terun menurun harus di miliki oleh keturunanya, setelah itu, beliau menyuruh djaka turun gunung menuju pantai utara gunung, guna menemui salah seorang sesepuh yang masih ada kaitan keluarga dengan djaka, dari garis dewi arimi ibunya, yang sudah siap menunggu kedatangan djaka tolos sewaktu-waktu.

 

Tepat tengah malam, djaka mengakhiri pertapa’anya, genap 21 hari, tubuh djaka yang lemas, akibat menahan dinginnya air terjun pegununga selama 21 hari, membuat mang onang, terpaksa harus  menggendongnya, hingga sampai ke dalam gubug, lalu djaka di tutupi dengan semua selimut yang ada di tempat itu, dan di buatkan wedang jahe panas untuk menghangatkan tubuh, tapi djaka tetap menggigil hebat, hingga konsentrasipun tidak bisa, hilang keseimbanganya, untuk menghangatkan tubuh djaka, lalu mang onang memeluk dan menindih tubuh djaka, hingga djaka merasa hangat dan tertidur pulas.

 

Di dalam kepulasanya, tanpa sadar, mang onang yang memang menyukai sesama jenis, dan sudah tahunan menahan berahinya, merasa tidak mampu menahan hasratnya, dan akhirnya menyetubuhi djaka, di sa’at sedang tertidur lelap itu. hingga berkali-kali, dan untuk yang terakhir kalinya, sa’at menjelang pagi, djaka sudah terbangun, mengetahui tubuhnya yang sedang di tindih dan di cumbui, oleh mang onang, djaka terkejut dan marah besar, seketika itu, mang onang di tendangnya dan di hajarnya dengan membabi buta, masih dalam keada’an telanjang bulat, tanpa henti djaka menghajar mang onang sambil menyerangnya secara bertubi-tubi. Karena tak mau terlalu sakit, mang onang pun berusaha untuk menghindari semua bentuk serangan djaka tolos. Sambil sesekali memberikan penjelasan kepada djaka, karena djaka tak peduli dengan mang onang yang berusaha memberikan penjelasan, akhirnya mang onang membela diri juga

 

Terjadilah sebuah pertarungan yang seimbang, djaka tidak pernah menyangka, kalau mang onang bisa bertarung juga, namun sayangnya, mang onang tidak bisa membela dirinya terlalu lama, karena keburu di kalahkan oleh djaka, sa’at tangan kanan djaka yang sudah berisi kekuatan penuh, hendak menghantam tubuh mang onang yang terkapar, muncul tiba-tiba bayangan yang menghentikanya, dia adalah pangeran karim, kakeknya.

 

{ hentikan raden…!.jangan bunuh dia, bukankah dia yang telah merawat dan menolong raden, sekarang bersiaplah untuk segera turun gunung, jangan berhenti terlalu lama raden }. Kata kakek itu menghentikan serangan djaka yang membabi buta kepada mang onang. Setelah itu, bergegas djaka masuk gubug untuk berpakaian, sementara mang onang yang telah tahu siapa djaka tolos, yang sebenarnya, atas kejadian tadi, langsung tunduk patuh dan berjanji akan mengabdikan sisa hidupnya untuk djaka, dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatanya, lalu dengan di sertai mang onang sebagai pendamping, djaka segera turun gunung menuju pantai uatara, menemui eyang sukma yang di tunjukan oleh leluhurnya,  setelah perjalanan sehari penuh, djaka tiba di sebuah muara, seperti dalam petunjuk yang di terimanya.

 

Dari sudut pandang, djaka sudah melihat ada gubug indah di tepi muara itu, dan djaka bersama mang onang pun, segera menuju ke tempat itu, setibanya, ternyata penghuni gubug indah itu, memang sedang menunggu kedatangan djaka, baru saja kaki kanan djaka berpijak di lantai teras, yang terbuat dari kayu jati yang halus, pemiliknya sudah menyambut dengan penuh kasih. { selamat datang cucuku……masuklah, eyang sudah terlalu lama menunggumu di sini }. { ternyata dia EYANG SUKMA }. Pikir djaka.

 

Dan ternyata, beliau sudah di temui dan di beri penjelasan tentang djaka tolos oleh Prabu siliwangi, sebelum djaka tiba, dan sejak itu,  jaka tolos hidup di bawah asuhan eyang sukma, di pertapan muara pantai utara, eyang sukma medidik djaka tentang ilmu tarekot, dan di bantu oleh mang onang, yang sebelumnya telah menjadi guru djaka, sa’at di lereng gunung cermai. Setelah selesai dalam mempelajari ilmu tarekot dan martabat tujuh, lalu eyang sukma meninggalkan djaka tolos pulang ke rahmatullah, yang sebelumnya telah menitipkan djaka terlebih dahulu, pada adik kandungnya, bernama Elang SUTEJA, dan setelah elang sukma meninggal dunia, djaka tolos hidup di bawah asuhan elang suteja, yang tinggal di pesanggrahan tepi hutan pegunungan tanah pasundan.

 

Di sini, oleh elang suteja, djaka tolos di didik tentang ilmu hakekat, djaka-pun sangat senang, dan giyat dalam setiap menerima semua pelajaran yang di berikan oleh elang suteja, setelah tujuh bulan dalam didikan elang suteja, djaka pun di tinggal pergi lagi oleh elang suteja, untuk menghadap ilahi robbi, djaka tolos di titipkan lagi, kepada adiknya bernama ELANG WARSIH atau Warsiyah, yang lebih di kenal secara umum, dengan sebutan Ki Jayang Katon.

 

Yang tinggal di salah satu kecamatan di kota pasundan, pada elang warsih, djaka mendapat pelajaran baru lagi, tentang ilmu ma’rifat dan tasawuf. Juga penganalan ilmu-ilmu spiritual lainnya. Selain itu, elang warsih juga, banyak menceritakan tentang sejarah tanah pasundan, termasuk keraton yang kini hanya  menjadi peninggalan sejarah kuno belaka, elang warsih juga sering membawa serta djaka tolos masuk ke dalam keraton, tiap-tiap ada acara penting, yang berhubungan dengan sejarah pasundan, untuk mengetahui dan menyaksikan langsung, kondisi dan berubahan keraton peninggalan leluhurnya.

 

Setelah di anggap cukup dan sudah tiba sa’atnya,lalu pada suatu ketika, eleng warsih memperkenalkan dan menceritakan tentang siapa djaka tolos yang sebenarnya. Kepada segenap keluarganya. Awal mulanya, semua kaget dan terkejut, tapi setelah melihat dan membaca buku silsilah keluarga keraton, yang mencatat nama djaka tolos, membuat keterkejutan mereka tak berarti, dan pada akhirnya, mau tidak mau, setuju tidak setuju, semua keluarga keraton, mengakui dan mengijinkan djaka tolos, untuk menjadi bagian dari keluarga besar Pangeran, sang pelopor kuno tersebut. Tempatnya waktu masih kecil, dalam asuhan para emban yang merawatnya dalam pengawasan kakeknya, dan mulai sejak itulah,  djaka hidup di dalam keraton peninggalan kakek dan para leluhurnya, di dampingi mang onang, yang mengabdi dengan kesetia’anya yang tulus, serta tetap di bawah lindungan dan didikan elang warsih, djaka hidup penuh aturan dalam keluarga keraton.

 

Dan kehidupan ini, membuat djaka merasa seperti di kurungan penjara, tapi karena tekanan sari elang warsih gurunya, dan hiburan dari mang onang, lama ke lama’an, djaka jadi terbiasa dan betah juga, namun walau begitu,  djaka tolos selalu waspada dan siap siaga serta berhati-hati dalam posisinya, karena sejak awal, djaka sudah merasakan adanya musuh dalam selimut, dan duri dalam dagingnya, tentang para abdi dan keluarga yang sebenarnya tidak suka dan tidak setuju akan kehadiranya, untung djaka membawa bukti dari dewi arimi ibunya, yaitu sepasang pusaka kujang, yang merupakan lambang dan bukti keluarga siliwangi.

 

Kalau tidak, sudah tentu djaka tidak akan di terima oleh segenap keluarganya di pasundan,  apalagi di akuinya, dan sejak tinggal di bersama keluarga besarnya, djaka mulai mempelajari tentang kehidupan di dalam keraton, juga selalu mengikuti kegiayatan dan pendidikan di keraton, namun di antara sekian banyak pelajaran yang di dapatnya dari dalam keraton, djaka tolos lebih condong untuk mempelajari ilmu pengobatan, yaitu masalah pengobatan tradisional kuno, peninggalan para leluhurnya.

 

Dan….djaka tolos pada akhirnya, merasa puas dan bangga atas keberhasilanya itu, selain telah bisa membuktikan kata-kata  ibunya, djaka bangga, karena telah berhasil meraih banyak ilmu pengalaman, hingga dapat menyatukan dirinya dengan tanah jawa tempat kelahiranya, atas keberhasilanya ini, djaka tak lupa mengirim kabar kepada bapak dan ibunya sekeluarga di sulawesi, keluarganya pun memberi balasan tantang kebangga’anya dan ucapan selamat atas keberhasilanya. Hingga hari-hari yang selalu di lewati oleh djaka, selama hidup di tanah pasundan, merasa tenang, namun, walau begitu, djaka tetap suka dalam belajar pengalaman, selain tetap mengikuti semua aturan dan pelajaran yang di adakan tetap di dalam keluarga, djaka tolos juga belajar di luar keluarga, pada salah satu kyai di pesantren, dan beberapa tokoh agama di sekitar wilayah pasundan.

 

Dan pada suatu ketika, djaka di temui lagi oleh kakeknya, yang kemudian berkata…..

{ raden,,, jangan terlalu bangga dengan apa yang sudah raden dapatkan sekarang ini, karena itu baru seper empatnya, dari pejalanan raden yang harus di lalui, langkah raden di dalam perjalanan masih jauh dan panjang, untuk itu, tetaplah siap siaga, tetaplah bergerak, jangan pernah berhenti terlalu lama, agar cepat terselesaikan, dan yang paling penting, jangan sampai raden terlena, sebab, jika raden sampai terlena, akan kesemuan dunia ini, maka seluruh dan semua para leluhur raden, yang telah berharap besar, serta banyak kepada raden, akan selamanya tidak sempurna di dalam ketersesatanya, raden adalah satu-satunya harapan kami, yang bisa kami harapkan, maka kakek bermohon, jangan kecewakan kami, dan kami akan selalu mengayomimu hingga semuanya berakhir tamat tak bersambung lagi, yaitu, sempurna raden….sempurna jati sejatining sempurna lah….yang sangat kami harapkan dari raden seorang, teruslah melangkah, teruslah berjalan, teruslah bergerak, teruslah bertindak, raden pasti kuat, pasti bisa, pasti berhasil, tidak jauh raden, dekat, sudah dekat, sangat dekat, bahkan lebih dekat dari urat nadimu, maka jangan sia-siakan, jangan tunda selagi masih ada waktu dan kesempatan }.

Kata kekeknya yang berusaha mengingatkan djaka tolos, agar tidak terlena dengan sesuatu yang telah di raihnya.

 

Dan kini, djaka telah tahu dan mengerti, serta paham, dengan apa yang di katakan, di maksudkan dan di harapkan, oleh semua para leluhurnya sa’at menemuinya, itu sebab, djaka dapat merasakan apa yang mereka rasakan, prinsip djaka, dia tidak boleh mengecewakan para leluhurnya itu, apapun resikonya, djaka harus berusaha dan berjuang, walau bagaimanapun, djaka harus melanjutkan sejarah para leluhurnya yang belum terselasaikan itu.

 

Artinya…

Semua sejarah dan segala sejarah yang berkaitan dengan para leluhurnya harus selesai hingga sempurna/TAMAT. Agar tak ada lagi yang menanggung, atau meneruskanya, dengan begitu, mereka semua akan damai tanpa beban dalam perjalananya menuju kesempurna’an sejati. Yaitu… kembali pada asal usul sangkan paraning dumadi.

 

Harapannya, semoga saja, setelah djaka tolos, tak ada lagi penerus sejarah berikutnya, karena telah di selesaikan oleh djaka tolos seorang diri …..seperti itulah proses perjalanan djaka tolos, dalam balada petualang spiritualnya, tentang pencarian asal usul diri pribadinya, yang di awali dengan lika liku kehidupan, yang tak menyenangkan, apalagi mudah dan gampang, walau dengan sebuah perjuangan yang tak mudah.

 

Namun dengan tekad yang kuat dan hati yang tegar, serta mau berusaha dengan apa adanya, tanpa politik dan rekayasa. Djaka berhasil menemukan titiknya, yang di idamkanya, ibarat kata mutiara, sejauh-jauhnya kerbau yang pergi, pada waktunya, akan kembali ke kandangnya lagi, setinggi-tingginya burung yang terbang, pada akhirnya pulang lagi ke sarangnya… Maka. Jangan penar lupakan asal usul.

 

Setahun sudah djaka tolos tinggal di dalam lingkungan keluarga besarnya di pasundan, banyak pula yang telah berhasil di raihnya, diantaranya, ilmu pengalaman, ilmu adat istiadat, ilmu pengobatan, ilmu sare’at/tarekot/hakekat/tasawuf dan ma’rifat, juga ilmu olah kanuragan serta kebatinan dan jaya kawijayan pun, berhasil di raihnya, lalu kemudian, atas nama keluarga besar para leluhurnya, djaka tolos di beri tugas untuk memperkenalkan dirinya kepada alam semesta, dan menyatukan jiwanya kepada persada nusantara, khususnya tanah pasundan, dengan cara berkelana sebagai musafir, yang tanpa dan asal usul, serta identitas dan bekal apapun, kecuali pakaian yang menempel di badan serta seorang diri.

 

Pengembara’an tersebut, harus di jalaninya setanah jawa, tugas ini merupakan ujian bagi djaka, untuk membuktikan kemampuan djaka tolos sebagai keturunan siliwangi, djaka sedikit gugup dalam menyanggupi tugas untuk yang pertama kalinya ini, lalu djaka mohon saran kepada elang warsih gurunya, sang gurupun memberi restu dan saran, djaka di beri saran, supaya di dalam perjalanan mengembaranya, melakukan ziarah ke makam para leluhur, para, pejuang sejarah, para wali dan tokoh-tokoh ulama, juga napak tilas ke seluruh keramat dan candi-candi bersejarah. Kususnya di tanah jawa dan umumnya di luar jawa.

 

Lalu dengan ijin dan doa restu sang guru, pada tanggal 05/05/1990. djaka memulai perjalananya untuk mengebara, menguji kemampuanya sebagai keturunan siliwangi, mang onang yang tak mau pisah walau sekejapun, harus rela untuk berpisah sementara dengan djaka tolos, demi tugas pertamanya tersebut, perjalanan itu di awali oleh djaka, dengan berziarah ke pemakaman keluarga besar leluhurnya. Lalu ke buyut dan kakeknya dan seluruh keluarga dan para abdi keraton, lalu pindah untuk berziarah ke makam syekh datuh kafi atau syekh nurjati, ke patilasan wali 9, dan para pini sepuh sejarah pasundan, lalu berziarah ke pemakan keluarga di luwung ireng, lalu keliling ke makam para buyut dan ki gede di seluruh telatah tanah pasundan, terus ke astana gunungjati dan gunung sembung Cirebon, setelah itu dengan melewati jalur pantura, djaka mengarah ke barat. Setelah singgah di karang ampel, panguragan, indramayu dan sumedang, lalu djaka istirahat di makam syekh quro’ kerrawang, yang kemudian di lanjutkan lagi ke bekasi, bantar gebang, sunda kelapa, bogor, jampang, banten dan serang.

 

Lalu istirahat di telatah luar batang, kemudian ke badui, di pedalaman badui, djaka sempat tinggal beberapa sa’at untuk berguru, lalu ke ujung kulon, dan berguru lagi pada eyang gelung, , eyang gelung adalah satu-satunya sesepuh kuno, yang masih hidup di wilayah ujungkulon banten, lalu djaka memutar ke arah selatan pandegelang, hingga sampai ke curug sewu, dan istirahat di gunung tangkil pelabuhan ratu suka bumi, lalu ke tangkuban perahu bandung, dan istirahat di makam syekh H. Abdul muhyi pamijahan tasik Malaya.

 

Lalu ke pangandaran dan panjalu, lalu ke majalengka, raja galuh dan kuningan, di kuningan djaka tolos mendapat petunjuk, untuk sowan ke gunung papandaean garut purwakarta, lalu ke alas gandaka dan istirahat di gunung tampomas sumedang, di goa kaki gunung tampomas, djaka sempat istirahat cukup lama, karena kehabisan tenaga, akibat musim kemarau yang banyak mematikan tumbuhan liar, yang dapat di makan, di dalam goa, djaka tolos menemukan penyipanan harta karun milik para leluhur, yang di simpan dalam ruangan goa, yang sangat tertutup dan berbahaya.

 

Karena tempat itu telah di huni se’ekor ular yang lumayan besar, setelah itu, perjalanan di lanjutkan kembali ke arah selatan, hingga menembus ke cilacap, lalu berbelok ke arah bumiayu, wangon dan istirahat di gunung putri, lalu di lanjutkan lagi ke ajibarang purwokerto dan istirahat di baturaden lereng gunung slamet, di sinilah, djaka berguru pada salah seorang peduduk asing yang tinggal di lereng gunung slamet, lalu atas perintah gurunya itu, djaka mendaki gunung slamet, untuk mengambil rumput jalak yang tumbuh di tepi kawah gunung slamet, setelah berhasil, lalu djaka di suruh menjalani tapa pendem selama 21 hari di hutan gunung slamet.

 

Setelah itu, perjalanan di lanjutkan ke bumi jawa, terus ke walangsanga moga, randu dongkal, bobotsari, dan istirahat di makam syekh jambu karang, di puncak gunung ardilawet purbalingga, lalu turun ke kramatsari untuk berziarah ke makam syekh ma’dum husain, lalu ke arah banyumas dan singgah di pertapan jambe pitu gunung selok adipala, perbatasan cilacap dan banyumas.

 

Sa’at berada di pertapan jambepitu, djaka tolos di temui keluarga cendana, untuk di ajak bekerja sama, dan terjalinlah sebuah perjanjian antara djaka tolos dan keluarga pejabat Negara tersebut, setelah itu, djaka turun dari gunung selok, untuk singgah di pertapan jambe lima dan jambe tiga yang terletak di bawah gunung selok, lalu mengelilingi 99 gua yang terdapat di kaki gunungnya, dan istirahat di goa ratu 3 hari, di goa nagaraja 3 hari, setelah itu di lanjutkan ke gunung srandil, untuk berziarah ke makam pangeran langlang buana.

 

Dari sini, djaka mendapat petunujuk, untuk kembali purwokerto banyumas, untuk sowan ke makam syekh ma’dum ali dan panembahan mangku bumi atau raden banjak blanak, di karanglewas, setelah itu, perjalanan di lanjutkan lagi ke arah selatan, dan singgah ke makam mbah suci karanganyar, dan istirahat di makam raden jaka sanggrip atau jaka tarub, di keraton bulupitu kebumen, lalu melintas ke arah utara menyebrangi hutan, menembus ke dataran tinggi dieng, setelah singgah ke kawah candradimuka, sumur jalatunda, dan beberapa candi keramat peninggalan leluhur jawa. Djaka menjalani tirakat, di goa semar,  yang kemudian menjalani tapa kungkum di telaga warna dieng.

 

Di sinilah, djaka di temui kanjeng ibu ratu sekar jagat wijaya kusuma, kanjeng ratu menyarankan, agar djaka menetap sementara di sekitar telaga warna, karena akan ada sesuatu yang akan di peroleh, dan ternyata, setelah seminggu tinggal menetap di sekitar telaga warna, djaka tolos bertemu dengan seorang gadis, yang merupakan juru kunci di telaga warna, bernama RUMINI, anak ontang anting asal dari jepara, yang telah di angkat anak oleh kanjeng ratu, dan atas saran kanjeng ratu pula, lalu djaka dan ajeng rumini menikah.

 

Setelah satu bulah pernikahan, lalu djaka melanjutkan perjalananya untuk mengembara, sementara ajeng, tetap dalam tugasnya menjadi juru kunci di telaga warna dieng, lalu djaka menuju gunung sundoro sundari di temanggung, dan singgah berziarah ke makam syekh mekukuhan di gunung sumbing wonosobo, lalu turun menuju utara dan naik lagi ke gunung ungaran semarang, untuk napak tilas ke candi sewu, yang lebih di kenal dengan sebutan, candi lawang atau gedong  9. Peninggalan wali 9, lalu pindah ke gunung anoman dan singgah mandi di telaga dewi anjani di grobogan. Lalu ke ambarawa, magelang dan singgah di gunung merapi jogja, lalu ke borobudur magelang dan singgah untuk istirahat di padepokan bukit manoreh, lalu naik lagi ke gunung wangi untuk berziara ke makam pangeran semono, lalu ke gunung kraton loano, berziarah ke makam panglima gagak handoko dan gurunya gagak pranolo di gunung pring, lalu turun dan menuju ke istana girigondo wates, lalu ke bantul dan istirahat di masjid agung kauman ngayugjokarto.

 

Di sini, djaka mulai merasakan kelelahan, tapi djaka merasa harus mampu, karena hal ini menyangkut nama keluarga besarnya, setelah beberapa hari istirahat, lalu djaka melanjutkan perjalananya lagi ke makam syekh jumadil qubro di sragen, lalu di lanjutkan ke istana imogiri, lalu ke wonosari dan gunung kidul dan istirahat di goa langse, untuk berziarah ke makam syekh dumbo dan syekh belabelu, lalu ke goa cermai, lalu ke goa gong dan goa tabuhan hingga tembus ke pacitan. Di pacitan, djaka bertemu jodoh lagi, dan lalu menikah dengan AMBAR WATI, putri tunggal dari pak narto sangit, juru kunci goa iskendar gunung bawang pacitan, setelah 2 bulan menikah, lalu djaka melanjutkan perjalananya lagi menuju ke utara, lalu singgah di goa jurang mangu, berziarah ke makam ki surononggo, lalu ke ponorogo dan madiun dan berputar ke ngawi lalu istirahat di alas ketonggo, untuk napak tilas di pertapan sri ganti dan prabu heru cokro, lalu naik ke gunung lawu, turunya singgah di pertapan cemarasewu dan napak tilas di candi sasrabau, lalu ke candi sukuh dan candi cetho, lalu turun dan singgah di padepokan banyubiru, lalu melanjutkan lagi ke boyolali dan singgah berziarah ke makam pangeran samudra di gunung kemukus.

 

Lalu ke makam syekh jangkung pati, lalu menuju ke pamotan dan singgah di makam raden ayu kartini, lalu menembus ke caruban, lalu ke bojonegoro dan membelok lagi ke trenggalek dan malang, untuk berziarah ke makan bung karno, lalu ke gunung kraton kawi, dan singgah di pesanggrahan waringin pitu malang, lalu ke kediri dan singgah di jombang untuk berziarah dan napak tilas di panataran tuban. Lalu ke pasuruan dan intirahat di gunung arjuna, untuk napaktilas, lalu ke bojonegoro lagi, dan membalik ke alas purwo, ke situ bondo dan istirahat di goa pawon, untuk berziarah ke makam syekh abdul faqih, di dukuh kramat kec, songgon banyuwangi jawa timur, lalu kebali ke arah Surabaya dan singgah di makam sunan bungkul, yang kemudian istirahat di makam sunan ampel denta Surabaya, lalu ke keramat bataputih dan istirahat lagi di makam habib hasbullah dan ki gede umar sumbo kenjeran, lalu ke makam sunan gresik, di gresik, lalu ke makam sunan bonang di lasem dan istirahat di paciran lamongan, untuk berziarah ke makam sunan drajat. Lalu berjalan lagi menuju ke gunung bromo, lalu turun menuju ke juwana dan singgah di makam ki gede bangsri di kelet keling jepara, lalu ke pertapan sambung oyod, untuk napak tilas ke sejarah ratu kalinyamat dan singgah berziarah di makam ke gede mantingan jepara, lalu naik ke gunung muria untuk berziarah ke makam sunan muria, lalu turun menuju gunung mondoliko dan berdzikir di tepi pantai benteng portugis wilayah pantai utara jepara, lalu menuju ke makam sunan kudus di kudus, lalu beralih ke arah barat menuju kadilangu untuk berziarah ke makam sunan kali jaga.

 

Setelah istirahat beberapa malam, lalu di lanjutkan lagi ke demak bintoro, lalu ke sayu dan istirahat di makam ki ageng pandanaran semarang, lalu ke Kendal dan singgah di goa singaraja di curug sewu sukorejo, di sini djaka tolos mendapat jodoh lagi, dari putri tunggal juru kunci makam ki ajar sewu, bernama neneng maryanti, yang di jodohkan oleh bapaknya dengan djaka, karena sedang sakit keras, dan setelah menikah dengan djaka, sakitnya langsung sembuh, setelah 2 bulan menikah, lalu djaka melanjutkan perjalananya lagi menuju Kendal, weleri, alas roban dan istirahat sambil berziarah di telatah ujung negoro batang, lalu ke wonobodro untuk berziarah ke makam syekh malik ibrahim, lalu ke bruno untuk napak tilas di keramat sunan bonang dan sunan kali jaga.

 

Lalu ke makam ki gede atasangi dan ki empu supo juga ki gede rogoselo di kalibening, lalu naik ke puncak gunung petung kriono,  untuk napak tilas di telaga pakis, di telaga pakis ini, djaka mendapat petunjuk untuk naik ke puncak gunung nyai basinga, dan atas ijin serta petunjuk juru kunci, djaka pun nekad naik ke gunung basinga, yang misterius, di balik kabut yang gelap, di atas puncak,  djaka hanya mampu bertahan selama 7 hari saja, karena tak kuat melawan hawa dingi yang mencekam di atasnya, turun dari gunung, djaka jatuh sakit, yang lalu di rawat oleh juru kunci, hingga sembuh seperti sediakala lagi. Setelah sembuh, putri juru kunci yang kedua jatuh cinta kepada djaka, dan minta di nikahkan, akhirnya menikahlah djaka dengan siti jubaidah, anak pak marmo juru kunci gunung nyai basinga puncak petung kriono, setelah 3 bulan menikah, lalu djaka berjalan lagi menuju ke makam ki gede dukosewu lebakbarang, lalu ke tapak tilas syekh lemah abang di doro talun, lalu ke makam syekh pengiling gondo kusumo di buntu, dan istirahat di gunung sri, linggo Pekalongan.

 

Lalu napak tilas ke gunung batok kramat, lalu ke goa watu ireng kandang serang, lalu ke telatah sapuro kota pekalongan, lalu ke makam syekh pandan jati bantar bolang pemalang, dan istirahat di makam den bagus mas ringin doyong gunung gajah, dan istirahat di keramat mbah pentol kali tempuran tegal. Lalu melanjutkan lagi ke mundu dan istirahat lagi makam mbah kuwu cerbon girang, dan akhirnya pada tanggal 06/06/1995, djaka berhasil tiba lagi di telatah tanah pasundan, tempat awal dia memulai perjalanan dalam lakunya dengan selamat.

 

Kedatangan djaka tolos, di sambut bangga oleh segenap keluarga atas keberhasilanya, dalam menjalani ujian keluarga, setelah istirahat sepuluh hari, lalu djaka tolos di berangkatkan haji, sebagai hadiyah atas kelulusanya, sepulang dari haji, djaka tolos di angkat sebagai juru dakwah di keluarga, sejak itu, nama djaka tolos yang bergelar Kh.Rm. Toso Widjaya Diningrat, mulai banyak di kenal oleh masarakat umum, selain dakwah di tempat tinggalnya dan kutbah rutin tiap hari jumat di masjid agung, djaka juga sering di undang untuk mengisi acara dakwah pengajian akbar di setiap majlis taklim, kususnya di wilayah tanah pasundan.

 

Djaka tolos yang berdakwah dengan mengambil tema dari gabungan tentang  antara ilmu sare’at dan hakikat, yang berhias ilmu tarekot, banyak di sambut baik, oleh semua masarakat muslim, kususnya yang pernah putus dalam mendalami ajaran agama, di sa’at djaka mulai di kenal masarakat luas, mang onang justru jatuh sakit, hingga berakhir pada ajalnya, dan sejak di tinggal mang onang, pendamping setianya, djaka jadi sering kesepian, dia selalu mengingat akan ketulusan mang onang, yang melayaninya dengan penuh kasih, dan di sa’at djaka sedang ganjil.

 

Muncul kabar tentang surtinah uwaknya, yang pernah merawatnya dulu, sedang sakit keras, karena di tinggal djaka sekian lamanya, tanpa kabar apapun, lalu atas permohonan keluarga, djaka datang menjenguk, dan sa’at di jenguk, uwak surtina mendadak sembuh dan minta di nikahi, jika tidak, akan mengancam untuk bunuh diri, dan atas desakan keluarga lagi, terpaksa djaka tolos menikahi surtinah, yang tak lain adalah uwaknya sendiri tersebut, bersama’an dengan itu, djaka tolos mendapat tugas untuk mewakili keluarga pergi ke brunai, memenuhi undangan siraturrahmi, dalam acara halal bi halal di kasultanan brunai.

 

Dengan di dampingi elang warsih, lalu djaka berangkat ke brunai Darussalam, setibanya di sana, djaka di beri penghormatan untuk beriktiyar mengobatikan putranya yang sedang sakit terkena penyakit gula, atau diabetes, dan atas ijin tuhan, djaka tolos berhasil menerima penghormatan tersebut, sepulang dari brunai atas kesaksian elang warsih waktu di brunai, lalu djaka di angkat sekabagai tabib, dengan begitu, kini, kesibukan djaka tolos pun jadi bertambah.

 

Sementara semuanya harus di lakukan oleh djaka seorang diri, sebagai seorang tabib, djaka tolos harus siap setiap sa’at, jika ada yang membutuhkan, djaka juga sering di undang keluar daerah untuk menangani pasien, di samping itu, pengajian di setiap majlis juga, selalu sering membuat djaka nyaris tidak pernah beristirahat, dengan begitu, lalu djaka mencari murid untuk di didik, yang dengan harapan, bisa membantu kesibukanya, djaka tolos mengangkat murid seorang pemuda desa bernama ato saifudin, dan semenjak mempunyai murid, djaka jadi tidak terlalu sering di buat repot oleh setiap acara yang datang tiba-tiba.

 

Di tengah kesibukan, djaka di kejutkan oleh peristiwa meninggalnya nyi buyut mariya neneknya, istri ki buyut sarpani yang tinggal di luwung ireng, lalu djaka bereta’jiah ke luwung ireng, karena di tempat tinggalnya, lagi banyak kesibukan, djaka tidak mendapat ijin untuk keluar, tapi djaka menentang larangan itu, karena bagi djaka, keluarga itu lebih Penting dari segalanya, pertengkaran antara djaka dan para segenap keluarga pun terjadi, tapi djaka tolos tak mau peduli, djaka tetap keluar untuk bertajiah ke luwung ireng atas meninggalnya sang nenek. Sehingganya, sejak itu, djaka mulai tahu tentang apa yang di sebut perubahan di keluarganya, oleh elang warsih, dan perubahan tersebut, mulai sering muncul, hingga di saksikan oleh djaka sendiri, setelah pemakaman nyi buyut mariyah neneknya, dan mengikuti tahlilnya selama 41 hari, djaka lalu kembali, lalu djaka tolos segera mengirim kabar atas berita duka itu pada matsalim bapaknya di sulawesi.

 

Kepulangan djaka sehabis tajiah, di sambut dengan cemberut oleh kerabatnya, karena di tinggal selama 41 hari, pemasukan keluarga mengalami banyak penurunan, tapi djaka tetap tak perduli, lalu djaka tolos mendapat undangan ke Jakarta untuk menangani seorang pejabat yang sedang sakit dan belum terobati, sepulang dari Jakarta, djaka menerima kabar balasan dari sulawesi, yang menyampaikan kalau matsalim bapaknya telah meninggal dunia, setelah membaca isi surat dari djaka, yang memberi kabar tentang nyi buyut mariyah ibunya telah meninggal.

 

Hati djaka terasa di sambar petir, djaka tolos menyesali diri, atas keputusanya mengirim kabar itu, andai tidak, mungkin ini tidak terjadi, satu, karena bapaknya meninggal dunia, dua, karena merasa bersalah, lalu dengan tergesa-gesa pula, djaka tolos minta ijin untuk ke sulawesi, pada sa’at itu juga, akhirnya djaka tolos harus mengalami perdebatan lagi dengan anggota keluarganya, karena djaka tolos tetap tidak mendapat ijin untuk ke sulawesi apapun alasanya, djaka tolos menjadi murka dan marah besar, semua yang ada di tempat itu, di jadikan sasaran amarahnya. Awalnya djaka tolos mendapat kan tantangan dari beberapa anggota, yang kedudukanya lebih tinggi dari djaka, tapi setelah djaka mengeluarkan sepasang pusaka kujang warisan dari ibunya.

 

Semua tertunduk diam, tak berkutik, sekalipun di hina dan di caci maki oleh djaka, dengan suara lantang djaka tolos berkata……

 

{ akulah Raden Toso Widjaya Diningrat, putra dewi arimi….!…cucu Pangeran  Karim….!….yang lebih berhak dari kalian semua, untuk menentukan jalan hidupku sendiri…!….jadi, jangan sekali-kali mengatur aku atau menghalangi niyat dan tujuanku….!…karena, jika tidak benar, aku akan menentangnya, siapapun dia…!…aku ke sulawesi bukan mau bermain atau mencari kepuasan se’enaku sendiri..!…aku ke sulawesi karena bapaku meninggal dunia….!…pikiran kalian ini kemana..!..perasa’an kalian kemana..!..kalian ini manusia bukan, orang muslim bukan….hah..!. atau memang sengaja memancing amarahku..!..ingi coba bertarung denganku..!..kalau iya, silakan maju, apapun mau kalian aku ladeni..!..aku layani..!..ayo maju, kalau perlu semuanya …!..aku tidak mundur selangkahpun..!…jangan se enaknya sendiri, aku juga punya kuasa dan hak di sini, bahkan lebih kuasa dan lebih berhak dari kalian….}

 

Djaka melampiaskan semua uneg-unegnya, yang selama ini di pendamnya, tak satupun abdi yang berani angkat muka, apalagi menjawab melayani djaka yang sedang meledakan amarahnya itu, lalu elang warsih menghampiri djaka, mencoba menenangkan djaka, lalu esoknya, djaka berangkat ke sulawesi dengan menggunakan pesawat garuda Indonesia, dari bandara sukarno hatta cengkareng Jakarta, pada bulan 02/1997.

 

Setibanya di rumah sulawesi, jasad matsalim bapaknya, sudah di makamkan, djaka menemuinya sudah dalam wujud makam, di samping makam sang bapak, djaka tolos duduk tafakur untuk minta ma’af pada arwah sang bapak, yang telang pergi menghadap ilahi, tiada hentinya djaka berdo’a di samping makam matsalim almarhum bapaknya, untuk minta ma’af dan mendoakan arwah sang bapak agar di terima oleh allah, serta di ampuni segala dosanya. setelah siang malam tanpa henti, tak perduli panas dan hujan selama 90 hari djaka berdoa di makam matsalim bapaknya. Lalu djaka bermaksud memboyong sang ibu sekeluarga, untuk kembali ke jawa, tapi dewi arimi menolak tak mau, dengan alasan sudah terlanjur bersumpah untuk tidak menginjakan kaki di tanah jawa lagi, dan ingin mati di makamkan di samping matsalim suami tercintanya, karena sang ibu bersikeras untuk tetap bertahan di sulawesi hingga ajal menjemputnya, djaka pun tak bisa berbuat apa-apa atas ibunya…..

 

Dan,,, belum sirna perasa’an yang membuat djaka tolos menjadi larut dalam kesedihan yang panjang, sa’at djaka mencoba keluar rumah untuk mencari hiburan, di jalan, djaka tolos bertemu dengan 5 orang teman lamanya, yang kemudian menceritakan tentang keburukan siti amidah istrinya, yang kini sudah kawin lagi itu. Selama djaka ada di jawa, katanya dia prustasi dan menjajahkan diri ke dunia seks, sementara suaminya malah ikut mendukung, mendengar kabar yang memalukan itu, djaka emosi dan marah, kelima teman lamanya yang sedang bercerita tentang keburukan siti amidah secara bergantian itu, langsung di hajarnya satu persatu, hingga babak belur tak berkutik, lalu djaka seketika itu juga, meluncur ke mayayap untuk membuktikan kabar tersebut, setebanya di tempat, tanpa basa basi lagi, djaka langsung bertanya pada siti amidah istrinya, dan suaminya, karena tak ada yang mau menjawab.

 

Kemarahan djaka langsung meledak lagi, di tamparnya wajah siti amida, dan di lempar juga suaminya dengan sebuah gelas hingga terluka, mendengar ada ribut-ribut, tetangga pun salin berdatangan, djaka tolos lalu menghajar suami siti amidah yang di anggapnya tidak bertanggung jawab itu, hingga terkencing-kencing, tak satupun yang berani membantunya, pak tarjan yang tau hal itu, langsung ikut turun tangan mencegahnya, tapi djaka justru beralih menyerang pak tarjan, tapi tiba-tiba serangan djaka tolos, mendadak terhenti, oleh suara siti amidah yang berteriak sambil menghadang di depan djaka tolos.

 

{ cukup…!…sudah…hentikan….,sebenarnya ini salahku mas….mereka tidak ikut dan tidak tau apa-apa, jadi kalau mas mau marah dan memukul, pukul aku…jangan libatkan mereka, lagi pula apa pedulinya dengan masalah pribadi ku,….sebenarnya, orang yang memberi kabar pada masa itu, adalah orang suruhan ku, karena aku ingin tau perasa’an mas yang sebenarnya, kini aku sudah dapat jawabanya, ternyata mas memang masih cinta sama aku, buktinya mendengar aku seperti itu mas cemburu, tapi kenapa waktu itu mas menolak keinginanku untuk rujuk kembali, kenapa…mas…jawab…!..bukankah mas masih cinta aku…,} kata siti amidah istri djaka tolos.

 

Djaka merasa telah di permalukan siti amidah di hadapan banyak orang, djaka menundukan kepala sambil meneteskan air matanya, lalu melangkah pergi, tapi siti amidah langsung mencegatnya…..jangan pergi dulu…mas…jawab dulu pertanya’anku,…. dan djaka tolos menjawabnya hanya dengan satu kata,…{ karena aku tidak ingin menyakiti hati orang lain. } Artinya, djaka memang masih mencintai siti amidah, bahkan sangat mencintainya lebih dari apapun, selamanya, bagi djaka, dia adalah yang pertama dalam hidupnya, dan sampai kapanpun takan ada yang bisa menggantikanya dalam hatinya yang paling dalam, terus djaka berlalu pulang, kembali ke rusa kencana, setibanya, langsung djaka berkemas hendak ke jawa lagi, bagi djaka, sulawesi, terlalu banyak menyimpan kenangan pahit dalam masa lalu hidupnya, dan djaka tidak mampu untuk mengenangnya, tidak mampu, terlalu berat untuk di lalui, karena itu, djaka tolos tak mau terlalu lama berada di pulau seribu kenangan pahit di masa silam itu.

 

Setelah berpamit pada sang ibu sekeluarga, lalu djaka segera pergi menuju bandara kota palu, tapi di perjalanan, djaka bertemu dengan sobari, sahabat lamanya di waktu kecil dulu, dialah satu-satunya saksi hidup, tentang seribu kenanganya di sulawesi, sobari ingin ikut menyertai djaka, kemanapun djaka akan pergi, dan di bawanya serta sobari ke pulau jawa, tapi dari sulawesi, djaka tidak menuju ke pasundan, melainkan menuju ke medan, untuk mencari suasana baru di pulau Sumatra, setibanya, lalu djaka berdomosili di kota duri kepulauan riau, djaka menelusuri perkampungan  terpencil, menemui dan mempelajari kehidupan mereka yang alami dan apa adanya.

 

Pada suatu ketika, djaka duduk berdzikir di sebuah bongkahan batu keramat, yang di yakini oleh suku pedalaman, sebagai tempat bersemayamnya arwah para leluhur mereka, djaka di temui oleh pangeran karom kakeknya, entah untuk yang ke berapa kalinya  lagi,….{ raden cucuku….,jangan terlalu lama di tempat ini, di sini bukan tempatmu raden, raden harus kembali pulang ke pasundan, untuk meneruskan sejarah leluhur, yang terputus hingga selesai, jika raden berada di sini, bagaimana raden bisa menyelesaikanya,….kakek mengerti dengan apa yang sedang engkau rasakan sa’at ini, memang berat raden, sangat berat, tapi menurut sejarah hidup yang telah tertulis, hanya raden yang mampu dan bisa, untuk itu kami semua sangat berharap dan bergantung pada raden seorang }.

 

Mendengarnya, djaka terharu hingga meneteskan air mata, datanglah sobari menghampirinya, lalu bertanya. {…..ada apa kamu menangis seorang diri di sini djaka….?} tanya sobari,..{ tidak om….tidak apa-apa, saya cuma terkesan akan masa lalu }, jawab djaka menyembunyikan jati dirinya, { om….om sobari benar-benar akan mengikutiku, dan selamanya bersamaku?}, tanya djaka,….{ percayalah…aku akan selalu mendampingimu, kemanapun dan sampai kapanpun, karena di dunia ini, hanya kamu yang aku miliki, kamu satu-satunya orang yang pernah membuatku bahagia, kamulah orang yang paling aku kagumi dan aku banggakan di dunia ini }. jawab sobari meyakinkan djaka,..

 

{ om tidak menyesal, jika sampai menderita bersamaku…?..}, tanya djaka lanjut, { percayalah…aku akan selalu ada untukmu dalam suka maupun duka }. jawabnya lagi, lalu setelah itu, djaka tolos bersama sobari berangkat pulang ke pasundan, setibanya, sobari terkejut,   kaget, setelah tau siapa djaka tolos yang sebenarnya, dan sejak itu, sobari tak berani menatap djaka lagi, bahkan tidak mau bicara jika tidak di ajak bicara, sekalipun djaka sudah memberikan kebebasan, tapi sobari tetap dalam posisi hormatnya.

 

Di keraton, djaka tolos mulai lagi di sibukan dengan semua kegiatanya, sebagai seorang kiyai dan tabib, djaka mulai berdakwah lagi di setiap majlis-majlis ta’lim dan acara-aara kusus di setiap pengajian akbar, yang sering di adakan oleh segenap masarakat di pasundan, selain itu, juga selalu sibuk dengan kebiasa’anya meracik tumbuh-tumbuhan alam, untuk di jadikan bahan jamu untuk mengobati berbagai maam penyakit, selain itu,  djaka juga sering menerima undangan resmi dari para pejabat Negara, untuk sebuah acara pertemuan penting di Jakarta, bogor dan bandung.

 

Hingga pada suatu sa’at, djaka di panggil oleh salah seorang artis ternama dan terkenal di Jakarta, untuk membantu masalah pribadi keluarganya, artis itu cukup kaya, karena selain menjadi artis, dia juga mempunyai banyak bisnis papapn atas, namun dengan semua keberhasilanya itu, tidak merasakan bahagia, karena sudah 20 tahun lebih menikah, belum juga memiliki keturunan sebagai anaknya, bukti dan hasil perkawinanya, atas kesepakatan dengan istrinya yang telah lama mendengar tentang djaka tolos, lalu mengundang ke rumahnya di perumahan cipayung Jakarta selatan, setibanya, sesuai dengan keinginanya, djaka mohon penjelasan atas hasil pemeriksa’an dari dokter, dan djaka terkejut sa’at mendengar penjelasan mereka. Mereka mengatakan, menurut keterangan dokter, sang suamilah yang di nyatakan mandul tak memiliki benih keturunan.

 

Lalu, dengan tidak mengerti djaka berkata, { kalau dokter sudah memponis si pria yang mandul, saya juga tidak bisa, lalu apa maksudnya mengundang saya kemari, kalau masalahnya sudah jelas seperti itu…?.},Tanya djaka, dan djaka lebih terkejut lagi, sa’at mngetahui apa maksud mereka berdua, rupanya mereka sudah salin sepakat untuk menjebak djaka tolos, dengan menunjukan sejumlah uang, djaka di ajak kerjasama untuk salin  memegang rahasia, karena sang suami mandul, djaka tolos di minta untuk menggauli sang istri, hingga positif hamil, lalu djaka pulang dengan membawa imbalan dan menjaga rahasia tersebut, begitulah rencana mereka, djaka menolak kerja sama yang di anggapnya konyol itu, tapi sang suami itu menodongkan senjata api di kepala djaka untuk memaksa.

 

Jika djaka menerima kerja sama itu, maka djaka akan pulang dengan selamat membawa hasil, jika menolak, djaka akan di tembak mati di tempat, dan karena paksa’an todongan itulah,  akhirnya djaka menerima kerjasama yang konyol itu, dan di mulai sa’at itu juga, djaka di paksa untuk berhubungan dengan sang istrinya, dengan membaca kalimat istighfar yang tiada putusnya, djaka tolos terpaksa berhubungan dengan wanita itu, di bawah todongan senjata suaminya, hampir setiap malam hingga tiga bulan lamanya, djaka di paksa untuk melakukan hubungan tersebut hingga hamil. Di luar hubungan, djaka tolos di kurung di dalam kamar, setelah di periksa dokter dan di nyatakan positif hamil, djaka pun di lepas dan di beri imbalan yang tidak sedikit jumlahnya, tetap dalam kesepakan untuk salin menjaga rahasia tersebut, lalu djaka tolos di antar pulang ke pasundan dengan mobil pribadinya, sementara di pasundan yang telah di tinggal djaka, yaitu selama 3 bulan lebih, tanpa kabar, karena dalam penyekapan di Jakarta, hampir semua jadi berantakan.

 

Sobari yang selalu cemas dan takut akibat memikirkan djaka yang tak jelas kabarnya, jatuh sakit dan meninggal dunia, sebelum djaka sampai di pasundan, setibanya di keraton, hati djaka pun sedih dan menyesalkan semua kejadianya, kini djaka sepi sendiri lagi, tanpa pendamping yang selalu setia mengabdinya, di dalam kesedihanya, djaka tolos menjadi larut tenggelam di dalam lamunanya, lalu djaka berpamit kepada gurunya, untuk keluar dari keraton, dalam tujuan mengembara, tapi sang guru elang melarangnya, karena tahu kondisi djaka yang sedang tidak konsentrasi itu, lalu sang guru menyuruh djaka untuk tirakat di makam para leluhur di gunung cangak, dan di makam para leluhur gunung tampomas.

 

Djaka merenungi semua proses perjalanan hidupnya selama ini, sambil membaca dzikir di samping makam kakeknya, djaka mengalami perang sabil antara hati dan pikiranya sendiri, antara batin dan anganya, terkadang selaras, namun terkadang bertentangan, djaka sering meneteskan air matanya, karena tak sanggup untuk mengambil kesimpualan, terkadang di benturkanya kepalanya di kijing makam kakeknya, saking tak kuatnya, lalu djaka tolos mandi tengah malam di 7 sumur keramat, yang ada di sekitar gunung kramat, untuk meredam hawa panas yang sedang membakar jiwanya, setelah itu jaka menjalankan sholat sunah, yang kemudian di lanjutkan dengan dzikir, sambil berdzikir, hati djaka melintas ke dalam pikiranya sambil berkata.

 

Suara Hati Djaka Tolos;

Aku sering menasehati banyak orang, untuk berlaku benar, sabar,  nariman dan welas asih, juga ta’at perintah tuhan, beribadah yang benar, serta mencegah perbuatan maksiat atau dosa, dan masih banyak lagi nasehat-nasehat dan ajakan baik lainya, yang pernah aku ucapkan sewaktu ceramah/dakwah, baik secara umum maupun secara pribadi, namun di balik semua itu, sesungguhnya, aku masih belum tahu tentang bukti nyata dari yang sebenarnya, tentang yang sesungguhnya, tentang yang sejatinya, aku selalu menyuarakan dan memperkenalkan tentang tuhan, padahal aku sendiri belum kenal tuhan, jangankan kenal, melihat dan bertemu saja, tidak pernah, aku memang mengerti dan paham, karena aku pernah belajar, tapi, pengertian dan pemahamanku, hanya sebatas katanya al-qitab dan guru pembimbing saya, soal bukti nyata kenyata’annya, aku belum bisa tahu, sehingganya, aku sendiri masih seperti ini.

 

Lalu,,, sudah benarkah aku ini..?

Sudah benarkah apa yang sudah ku perbuat ini..?

Sudah islamkah aku ini…?

Tidak….!

Aku belum tahu apa-apa, dan aku tidak pantas berdiri di atas mimbar, untuk menyeruakan tuhan, aku masih dangkal, bodoh, belum tahu apa-apa, dan aku harus tahu apa-apa itu, ya,,, aku harus ambil tahu tentang apa-apa itu, karena, pasti dengan itu, aku bisa tahu, mengerti dan paham, juga merasakan yang sejatinya, yang sebenarnya, yang sesungguhnya nyata-nyata benar aku tahu sendiri, bukan katanya apapun, dan dengan cara itu pula, aku akan bisa menyempurnakan semua sejarah para leluhurku.

 

Ya,,, dengan begitu, aku pasti bisa. Lalu,,, dengan cara apa dan bagaimana caranya…? Haruskan aku mendalami semua agama yang di syahkan oleh pemerintah itu? Termasuk kepercaya’an dan keyakinan setempatnya? Oh… Tuhan. Aku bisa di upamakan, seperti orang yang sedang mencari kuncing, aku sudah mengerti dan paham namanya kucing, dari orang-orang yang bercerita tentang kucing, tapi aku belum pernah bertemu langsung dengan kucing. Jadi,,, bagaimana munkin aku bisa Tahu seandainya aku bertemu kucing. Karena itu, mengerti dan paham, belumlah cukup, kalau belum mengetahui bukti nyatanya. Baiklah,,, aku akan berlanjut untuk mencari bukti nyatanya Engkau.

 

Itu kata hati djaka, yang melintas dan berbisik pada pikiranya sa’at itu, lalu djaka bertekad bulat untuk mengebara memcari guru sejati, yang dapat menuntun hidupnya menemukan semua  yang di sebut hakikat hidup, djaka mempelajari dan mendalami lima agama yang ada di jawa dwipa, termasuk tetek bengek kepercaya’an dan keyaikan yang ada di dalamnya, demi untuk meneemukan yang sebenarnya, kaena djaka yakin, Tuhan itu satu, dan semua agama, menyembah Tuhan yang satu itu, maka untuk mempermudahnya, djaka mempelajari dan mendalami semua agama itu.

 

Setelah tahu pasti tujuannya, djaka tolos, dan dengan doa restu, sang gurupun melepas kan, djaka untuk mengebara keluar dari keluarga keraton, sa’at melepas kepergian djaka, sang guru berpesan, { jangan pernah melupakan asal usulmu raden, jika sudah selesai, segeralah kembali, karena disinilah kamu di butuhkan, disinilah tempatmu }.

 

Lalu djaka tolos menuju kota metro politan Jakarta, ibu kota Indonesia yang di kenal dengan dunia miliniumnya, lalu pada awal tahun 1998, namun sayang, belum lama djaka tolos malang melintang di kota jakarta, keluarga cendana, mengalami guncangan hebat, hingga mengakibatkan sang pemimpin tumbang dari kekuasa’annya, djaka tolos pun ikut terkena imbasnya, hingga merasa terpaksa untuk mengamankan dirinya, dan pada bulan 05/1998, djaka pergi ke bali, dan bersembunyi di bukit kintamani, untuk kemanan dan kenyamananya, bemula dari sinilah, djaka tolos memdalami dan memperlajari semua agama dan keperaya’an yang ada di tanah jawa dwipa, setelah islam, karena mmang awalnya dari islam, lalu ke agama hindu bali, yang kemudian ke agama budha, setelah menemukan dan mendapatkan intisari pelajarannya, berpindah lagi ke agama lainnya. Seperti kristen dan kepercaya’an kejawen serta adat istiadat setempat lainnya.  Dan hasilnya;

 

Karena pindah-pindah agama, setiap agama yang saya tinggalkan, setelah mengetahui apa yang menjadi intisari ajaran dari agama tersebut, saya rasakan seakan-akan agama itu, mengutuk saya, dengan perkata’an dosa, musrik, sirik, laknat bahkan kafir. Namun saya tetap tidak peduli, yang penting saya tahu sendiri, apa yang menjadi intisari ajaran tersebut. Bukan katanya…

 

Intisari Ajaran Agama Islam;

Islam adalah (Arab: al-islam) yang artinya adalah “berserah diri kepada Tuhan”) adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Dengan lebih dari satu seperempat miliar orang pengikut di seluruh dunia, menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen. Islam memiliki arti “penyerahan”, atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: Allah). Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim, yang berarti “seorang yang tunduk kepada Tuhan” atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan.

 

Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi/rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

 

Kepercayaan Islam adalah;

  1. Lima Rukun Islam.
  2. Enam Rukun Iman.

 

Ajaran Islam adalah;

  1. Allah.
  2. Al-Qur’an.
  3. Nabi Muhammad S.A.W.

 

Kepercayaan dasar Islam dapat ditemukan pada dua kalimah syahadatain (“dua kalimat persaksian”), yaitu “asyhadu an-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah”. Yang arti; “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah”. Esensinya adalah prinsip keesaan Tuhan dan pengakuan terhadap kenabian Muhammad. Adapun bila seseorang meyakini dan kemudian mengucapkan dua kalimat persaksian ini, ia dapat dianggap telah menjadi seorang muslim dalam status sebagai mualaf (orang yang baru masuk Islam dari kepercayaan lamanya).

 

Kaum Muslim percaya bahwa Allah mengutus Muhammad sebagai Nabi terakhir setelah diutusnya Nabi Isa 6 abad sebelumnya. Agama Islam mempercayai bahwa al-Qur’an dan Sunnah (setiap perkataan dan perbuatan Muhammad) sebagai sumber hukum dan peraturan hidup yang fundamental. Mereka tidak menganggap Muhammad sebagai pengasas agama baru, melainkan sebagai penerus dan pembaharu kepercayaan monoteistik yang diturunkan kepada Ibrahim, Musa, Isa, dan nabi lainnya oleh Tuhan yang sama. Islam menegaskan, bahwa agama Yahudi dan Kristen belakangan, setelah kepergian para nabinya telah membelokkan wahyu yang Tuhan berikan kepada nabi-nabi ini, dengan mengubah teks dalam kitab suci, memperkenalkan intepretasi palsu, ataupun kedua-duanya.

 

Inti Ajaran Islam yaitu;

  1. Tauhid atau berserah diri kepada Allah SWT.
  2. Ta’at Kepada Allah SWT.
  3. Baro’ah atau berlepas diri dari Perbuatan Syirik dan

dari pelakunya.

 

  1. Tauhid atau berserah diri kepada Allah SWT;

Yaitu kerendahan diri dan tunduk kepada Allah dengan tauhid,  yakni mengesakan Allah dalam setiap peribadahan. Tidak boleh menunjukkan satu saja dari jenis ibadah kepada selain-Nya.

 

  1. Taat Kepada Allah SWT;

Yaitu ketundukan dan kepatuhan yang mutlak kepada Allah. Dan inilah sebenarnya yang merupakan bukti kebenaran pengakuan imannya. Penyerahan dan perendahan semata tidak cukup apabila tidak disertai ketundukan terhadap perintah-perintah Allah dan menjauhi apa-apa yang dilarang, semata-mata hanya karena taat kepada Allah dan hanya mengharap wajah-Nya semata, berharap dengan balasan yang ada di sisi-Nya serta takut akan adzab-Nya.

 

  1. Baro’ah atau berlepas diri dari Perbuatan Syirik dan dari pelakunya;

Yaitu berlepas diri dan membenci perbuatan syirik dan pelakunya. Karena ia belum dikatakan beriman dengan sebenar-benarnya, sebelum ia mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah.

 

Sedangkan Intisarinya Ada Pada Tauhid;

Tauhid bukan hanya ajaran Nabi Muhammad saw, tetapi juga merupakan ajaran setiap nabi/rasul yang diutus Allah SWt. ( al-Anbiya’ 25 ).

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.”

 

Nabi Nuh mengajarkan tauhid ( al-A’raf 59 ).

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).

 

Nabi Hud mengajarkan tauhid ( Hud 50 ).

Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja.

 

Nabi Shalih mengajarkan tauhid ( Hud 61 ).

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).”

 

Nabi Syu’aib mengajarkan tauhid ( Hud 84 ).

Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”.

 

Nabi Musa mengajarkan tauhid ( Thoha 13-14 ).

“Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu)”.

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”

 

Nabi Ibrahim, Ishaq dan Ismail juga mengajarkan tauhid ( al-Baqarah 133 ).

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

 

KESIMPULAN;

Islam adalah agama yang mengimani satu Tuhan yaitu Allah SWT.

Pokok-pokok ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan serta memperhatikan isi Al-Qur’an secara keseluruhan, maka dapat dikembangkan bahwa pada dasarnya pokok ajarannya, hanyalah kembali pada tiga hal yaitu tauhid, taat dan baro’ah/berlepas diri. Itulah intisari ajaran para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah kepada umat manusia. Maka barangsiapa yang mengaku islam, namun tidak melaksanakan ketiga hal ini, pada hakikatnya dia bukanlah pengikut dakwah para Nabi.

 

Intisari Ajaran Agama Hindu;

Agama Hindu merupakan agama yang mempunyai usia tertua dan merupakan agama yang pertama kali dikenal oleh manusia. Hindu mengajarkan banyak hal, baik ilmu yang berhubungan dengan dunia rohani maupun dunia material. Ajaran Hindu sangat luas , mulai dari hal yang sederhana hingga yang rumit, yang sulit dijangkau oleh pikiran biasa.

 

Bagi umat Hindu, agama Hindu dikenal dengan nama Sanatana Dharma, Artinya kebenaran yang abadi, namun orang umum menyebutnya sebagai Hindu, karena agama ini berasal dari lembah sungai Shindu. “Kata Hindu pertama kali digunakan oleh orang Persia dan kemudian dipopulerkan pada masa penjajahan Inggris” Namun yang jelas didalam Weda agama Hindu disebut dengan nama Sanatana Dharma.

 

Selain Hindu mengajarkan banyak hal ia pula memiliki banyak kitab suci, baik Sruti maupun Smriti (smerti) dan juga terdiri dari beberapa aliran seperti Shaivisme,Vaishnavisme dan Śrauta . Meskipun Hindu mengajarkan berbagai hal, sudah pasti dari keseluruhan ajaran yang terkandung memiliki inti atau pokok ajaran.

 

Dan Inti ajaran Hindu dikonsepkan kedalam “Tiga Kerangka Dasar” dan “Panca Sradha”. Tiga kerangka dasar tersebut terdiri dari Tattwa (Filsafat) Susila (Etika) Upacara (Yadnya).

Tattwa ­ – Ajaran Hindu kaya akan Tattwa atau dalam ilmu modern disebut filsafat , secara khusus filsafat disebut Darsana. Dalam perkembangan agama Hindu atau kebudayaan veda terdapat Sembilan cabang filsafat yang disebut Nawa Darsana.

 

Pada masa Upanishad, akhirnya filsafat dalam kebudayaan veda dapat dibagi menjadi dua  kelompok, yaitu astika (kelompok yang mengakui veda sebagai ajaran tertinggi) dan nastika (kelompok yang tidak mengakui Veda ajaran tertinggi).

 

Terdapat enam cabang filsafat yang mengakui veda yang disebut Sad Darsana, (Saṁkhya, Yoga, Mimamsa, Nyaya, Vaisiseka, dan Vedanta) dan tiga cabang filsafat yang menentang veda yaitu Jaina, Carvaka dan Budha (agama Budha).

 

Susila – Secara harfiah susila diartikan sebagai etika . hal-hal yang tekandung yang dikelompokan kedalam susila memuat tata aturan kehidupan bermasyarakat yang pada intinya membahas perihal hukum agama. Mulai dari hukum dalam kehidupan sehari-sehari hingga hukum pidana (Kantaka Sodhana) dan hukum perdata (Dharmasthiya).

 

Upacara – Yang dimaksud upacara dalam agama Hindu adalah ritual keagamaan , sarana ritual keagamaan disebut Upakara , upakara di Bali disebut Banten. Upacara ini dapat dikelompok kedalam beberapa bentuk korban suci (Yajna) yang disebut Panca Yadnya (Panca Maha Yadnya). Ada banyak jenis panca Yadnya tergantung dari kitab mana uraian dari panca yadnya tersebut, artinya meskipun Panca Yadnya sama-sama terdiri dari lima jenis yadnya, namun bagian-bagian yang disebutkan berbeda-beda masing–masing uraian kitab suci Smrti.

 

Selain tiga kerangka dasar agama Hindu, ajaran hindu berlandaskan pada lima keyakinan yang disebut Panca Sradha (lima dasar keyakinan umat Hindu) yang melitputi : Widhi Tattwa, keyakinan terhadap Tuhan (Brahman). Atma Tattwa, keyakinan terhadap Atman (Roh). Karmaphala Tattwa, keyakinan pada Karmaphala (hukum sebab-akibat). Punarbawa Tattwa, keyakinan pada kelahiran kembali (reinkarnasi) dan Moksa Tattwa, keyakinan akan bersatunya Atman dengan Brahman

 

Intisari Ajaran Agama Buddha;

  1. Budha.

Budha Berasal dari bahasa sansekerta, Budha berarti menjadi sadar, kesadaran sepenuhnya, bijaksana. Perkataan Budha terbentuk dari kata kerja “Budh” yang artinya bangun; bangun dari dalam kesesatan dan keluar ditengah-tengan cahaya pemandangan yang benar. Budha adalah orang yang mendapat pengetahuan dengan tidak mendapat wahyu dari Tuhan dan bukan dari seorang guru, sebagaimana disebutkan dalam Mahavagga 1,67 : “Aku sendiri yang mencapai pengetahuan, akan kukatakan pengikut siapakah aku ini? Aku tak mempunyai guru, aku guru yang tak ada bandingannya”.

 

Budha bukan nama orang melainkan gelar. Nama pendiri agama Budha ini ialah Sidharta Gautma atau biasa juga disebut Cakyamuni, artinya orang tapa dari suku turunan Cakyas. Sidharta Gautama dilahirkan di Kapilawastu, sebelah utara Benares di daerah Nepal sekarang, di lereng pegunungan Himalaya pada tahun 566 SM. Sidharta Gautama anak raja Sudhodana.

 

  1. Dharma.

Dharma adalah doktrin atau pokok ajaran, intisari ajaran agama Budha, dirumuskan dalam empat kebenaran mulia (Catur Arya Saccani), yaitu : Dukkha ialah penderitaan Samudya,  ialah sebab penderitaan. Nirodha ialah peniadaan penderitaan. Marga ialah delapan jalan kebenaran.

 

Dharma mengandung empat makna utama;

  1. Doktrin.
  2. Hak, Keadilan, kebenaran.
  3. Kondisi.
  4. Barang yang kelihatan atau Fenomena.

 

Budha Dharma adalah suatu ajaran yang mengguraikan hakekat kehidupan, berdasarkan pandangan terang, yang dapat membebaskan manusia, dari kesesatan atau kegelapan bathin dan penderitaan yang disebabkan ketidakpuasan. Budha Dharma meliputi unsur-unsur agama, kebaktian, filosofi, psikologi, falsafah, kebatinan, metafisika, tata susila, etika.dll.

 

Tripitaka Mahayana termasuk dalam Budha Dharma.

Tripitaka.

Tripitaka adalah kitab suci agama Budha. “Tri” artinya “tiga” dan “Pitaka”artinya “keranjang”atau kumpulan, jadi Tripitaka  adalah  tiga keranjang. Tripitaka terdiri dari :

 

Vinaya Pitaka.

Vinaya Pitaka merupakan suatu kumpulan tata tertib dan peraturan cara hidup yang ditetapkan untuk mengatur murid-murid sang  Budha yang telah diangkat menjadi Bhikku atau Bhikkuni ke dalam Sangha.

 

Sutta Pitaka.

Sutta Pitaka adalah kumpulan ceramah, dialog, atau berisi wejangan-wejangan sang Budha.

 

Adidharma Pitaka.

Adidharma Pitaka adalah kumpulan doktrin yang  lebih, hasil susunan sistematis dan analisis skolastik dari bahan-bahan yang ditemukan dalam Sutta Pitaka. Adidharma Pitaka yang berisi penjelasan dogmatic yang didasarkan atas ajaran itu.

 

Triratna.

Triratna yang bermakna tiga permata adalah tiga buah pengakuan dari setiap penganut agama Budha. seperti halnya dengan Credo dalam Kristen, Syahadat dalam Islam. Tiga pengakuan di dalam agama Budha itu berbunyi :

“Buddham Saranam Gocchami”

“Dhamman Saranam Goccani”

“Sangham saranam dacchami”

 

Bermakna :

“Saya berlindung diri di bawah Budha

“Saya berlindung diri di Bawah Dharma”

“Saya berlindung diri di bawah Sangha”

Triratna harus diucapkan tiga kali. Pada kali yang kedua diawali dengan Dutiyam, yang bermakna : buat kedua kalinya. Pada kali yang ketiga diawali dengan Tatiyam, yang bermakna : buat ketiga kalinya.

 

Intisari Ajaran Agama Kristen;

Intisari iman Kristen adalah sebuah relasi yang didasarkan cinta kasih. Ketika kita mendengar hal ini, kesannya begitu sederhana, namun sebenarnya begitu kompleks. Di dalam dunia, ada empat unsur yang menyusun sebuah agama, yaitu: esksistensi Sang Ilahi, adanya wahyu yang diturunkan oleh Sang Ilahi, adanya penerima wahyu tersebut, dan adanya penganut ajaran yang diteruskan oleh penerima wahyu tersebut.

 

Dalam agama, manusia sebenarnya datang kepada pengajaran, bukan kepada pendiri agama. Pola pikir manusia seringkali didasarkan pada apakah manusia paham dan mengamalkan ajaran agama sehingga menyenangkan Tuhan. Pendiri agama hanya bertindak sebagai seorang guide (pemandu). Apabila si pendiri agama mati ataupun bangkit dari kematian pun, tidak seorangpun yang peduli. Contoh nyata hal ini adalah ajaran agama Hindu. Tidak seorangpun yang tahu siapa yang mendirikan agama Hindu, tapi Hindu tetap mempunyai banyak penganut, terutama di India dan Bali (Indonesia).

 

Lalu, apa bedanya ke-Kristen-an dengan agama-agama lain?

Yesus berkata; bahwa Dia adalah jalan dan kebenaran dan hidup (Yohanes 14:6). Keempat unsur ajaran di atas tidak bisa diterapkan pada diri Yesus. Yesus adalah Allah yang mewahyukan diri. Dengan demikian, keempat unsur di atas tidak dapat diterapkan pada kekristenan.

 

Kekristenan merupakan sebuah relasi: relasi antara Dia (Tuhan) dan aku. Seseorang disebut sebagai seorang Kristen apabila orang tersebut menerima Kristus. Menjadi Kristen bukan karena rajin pergi ke gereja, rajin baca Alkitab, rajin berdoa, dll, tapi adanya keintiman relasi bersama Yesus, relasi yang didasarkan pada cinta kasih. Banyak cerita di dunia yang mengisahkan tentang cinta kasih. Kita mungkin akrab dengan cerita-cerita cinta kasih dalam Walt Disney: Pocahontas, Beauty and the Beast, Snow White, dll.

 

Semua cerita cinta kasih di dunia hanyalah bayang-bayang dari cerita cinta kasih terbesar yang ada di dunia, yaitu cinta kasih Yesus yang meninggalkan takhta sorgawi dan mati di kayu salib. Dalam sebuah relasi cinta kasih, ada sebuah tuntutan yang begitu tinggi, yaitu: “tidak membagi cinta kasih” alias “tidak mendua”. Cinta Kasih menuntut untuk “tidak boleh dibagi”. Dalam perjalanan iman Kristen, kita tidak bisa menyangkal bahwa kita telah menduakan cinta kasih Tuhan. Kita telah memberhalakan sesuatu dan membagi cinta kasih Tuhan kepada yang lain.

 

Cinta Kasih pasti menuntut, cinta kasih pasti meminta ini dan itu, cinta kasih pasti mengatur. Misalnya orang tua yang mencintai anak, pasti menuntut banyak hal bagi si anak. Tidak mungkin orang tua yang mencintai anak, malah berkata kepada si anak: “Loe mau apa, silahkan kerjakan, emang gue pikirin”.

 

Banyak orang Kristen berkata mencintai Tuhan, tapi sebenarnya cinta itu bersifat narsis, untuk menguntungkan diri sendiri. Apabila hubungan kita dengan Tuhan adalah hubungan cinta kasih, maka ada tuntutan.

 

Ayah Pendeta Yohan, awalnya adalah seorang atheis yang bertobat menjadi seorang Kristen. Bagi Penddeta Yohan, pergi ke gereja, membaca Alkitab, dan berdoa menjadi sebuah tuntutan. Kekristenan dalam hidup Pendeta Yohan, dimulai dengan sebuah tuntutan, bukan relasi. Tapi bagi ayah Pendeta Yohan, tuntutan-tuntutan itu merupakan ekspresi cintanya kepada Tuhan. Dalam sebuah rumah tangga Kristen, sulit bagi anak-anak generasi kedua menjadi Kristen sebagai hasil relasi dengan Tuhan, tapi lebih kepada tuntutan.

 

Dalam sebuah relasi, kita memahami bahwa relasi harus ada tujuan mau kemana. Dalam sebuah rumah tangga, sebuah hal yang membuat rumah tangga rusak, adalah karena tidak ada tujuan yang jelas sampai keduanya dipanggil Tuhan. Sebuah relasi itu bagaikan minyak dan air dalam satu gelas. Apabila minyak dan air berhenti diaduk, maka keduanya terpisah. Apabila hubungan dengan Yesus adalah hubungan cinta kasih, maka kita bertanya: “Mau kemana hubungan ini?” Kita harus mengupayakan hubungan cinta kasih tersebut berjalan baik dalam tuntunan dan kasih karunia Tuhan sendiri, sehingga segala yang kita kerjakan adalah sebagai bentuk ekspresi cinta kasih kita kepada Tuhan. Sebagai umat kristen, entah itu Katolik maupun Protestan. Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing: “Dalam relasi dengan Yesus, apakah saya melihat keindahan-keindahan Kristus?”

 

Intisari Ajaran Kepercaya’an Kejawen;

Sebenarnya, kedjawen adalah ajaran Budi Pakerti Luhur Tanah Jawa. Budaya dan kebudayaan adalah jati diri suatu bangsa. Ajaran budi pakerti luhur dari sebuah pemikiran rasa cipta dan karsa dari manusia. Sebagai orang jawa, sudah sepatutnya budaya sebagai jati diri ini,  digali dilestarikan dan diajarkan, bukan malah ditolak mentah-mentah, di sia-sia dianggap tak berharga. Perlu diketahui, yang membuat bangsa lain kagum kepada kita, bukanlah sekedar teknologi dan kemajuan, tapi adalah orisinilitas dalam pola tingkah laku, yaitu budaya kebudayaan ajaran budi pakerti luhur, sebagai identitas jati diri pribadi sebuah bangsa.
Kejawen (bahasa Jawa Kejawèn) adalah sebuah kepercayaan yang terutama dianut di pulau Jawa, oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya, yang menetap di Jawa. Kejawen hakikatnya adalah suatu filsafat dimana keberadaanya ada sejak orang Jawa (Bahasa Jawa: Wong Jawa , Krama: Tiyang Jawi) itu ada. Hal tersebut dapat dilihat dari ajarannya yang universal dan selalu melekat berdampingan dengan agama yang dianut pada zamannya. Kitab-kitab dan naskah kuno Kejawen tidak menegaskan ajarannya sebagai sebuah agama, meskipun memiliki laku. Kejawen juga tidak dapat dilepaskan dari agama yang dianut, karena filsafat Kejawen dilandaskankan pada ajaran agama yang dianut oleh filsuf Jawa.
Sejak dulu, orang Jawa mengakui keesaan Tuhan, sehingga menjadi inti ajaran Kejawen, yaitu mengarahkan insan. Sangkan Paraning Dumadhi; (Dari mana datang dan kembalinya hamba Tuhan) dan membentuk insan se-iya se-kata dengan Tuhan-nya. Manunggaling Kawula lan Gusthi; (Bersatunya Hamba dan Tuhan). Dari kemanunggalan itu, ajaran Kejawen memiliki misi sebagai berikut:
Mamayu Hayuning Pribadhi (sebagai rahmat bagi diri pribadi)

Mamayu Hayuning Kaluwarga (sebagai rahmat bagi keluarga)

Mamayu Hayuning Sasama (sebagai rahmat bagi sesama manusia)

Mamayu Hayuning Bhuwana (sebagai rahmat bagi alam semesta)
Berbeda dengan kaum abangan kaum kejawen relatif taat dengan agamanya, dengan menjauhi larangan agamanya dan melaksanakan perintah agamanya namun tetap menjaga jatidirinya sebagai orang pribumi, karena ajaran filsafat kejawen memang mendorong untuk taat terhadap Tuhan-nya. jadi tidak mengherankan jika ada banyak aliran filsafat kejawen menurut agamanya yang dianut seperti: Islam Kejawen, Hindu Kejawen, Kristen Kejawen, Budha Kejawen, Kejawen Kapitayan (Kepercayaan) dengan tetap melaksanakan adat dan budayanya yang tidak bertentangan dengan agamanya.

 

Sedangkan Haqikat Hidup-nya Syare’at. Haqikat Hidup-nya Thariqat-Tasyawuf. Haqikat Hidup-nya Haqikat. Haqikat Hidup-nya Ma’rifat. Adalah sebagai berikut:

 

  1. Haqikat Hidup-nya Syari’at;

Menurut saya. Hakikat Hidupnya Syari’at. Saya gambarkan seperti jalan setapak yang menuju saluran air. Dipelajari melalui ilmu fiqih dan usuluddin, yang artinya adalah ilmu Kepastian hukum ilmu Tata cara beribadah. Aqidah, perintah dan larangan. Yang berinti menjalin hubungan dengan Allah dan antar manusia hidup. Amal-ibadah dan olah lahir yang tujuannya membangun akhlak yang baik. Sumbernya dari wahyu Allah dan sunnah. Maksudnya adalah Firman Allah dan Sabda Rasul. Pemahamannya melalui otak kiri.

 

  1. Haqikat Hidup-nya Thareqat  atau Tasawuf;

Adalah Jalan dari saluran air menuju mata air. Riyadhoh. Suluk. Lelaku. Maksudnya adalah olah bathin, untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwa’an, melalui pengalaman spiritual yang dialami secara pribadi, bukan kata orang lain, melalui dzikir-semedi, olah bathin untuk pengembangan otak kanan.

 

  1. Haqikat Hidup-nya Haqikat;

Adalah sudah mencapai sumber mata air.  Mencari Sang Pencipta air. Tonggak terakhir,  tajalli, mukasyafah,  penyaksian dan penghayatan rahasia-rahasia keTuhanan melalui mata hatinya “Rasa”, bukan mata lahir.

 

  1. Haqikat Hidup-nya Ma’rifat;

Adalah Sampai kepada Sang Pencipta air. Para pencari (Salik) , sampai pada Al-Haq.

 

Ibarat buah kelapa;

Kulitnya adalah syari’at.

Dagingnya adalah thariqat atau tasyawuf.

Minyaknya adalah haqiqat.

Minyak kelapa bekas, yang dalam bahasa jawanya disebut.  Jalan-Tah. Itulah jalannya. Yang pernah dilalui oleh Para Nabi dan manusia-manusia Hidup yang berhasil mencintai dan di cintai oleh Allah. Apapun itu, tidaklah penting. Yang penting dan terpenting adalah “Allah Mencintai-ku apa TIDAK”

 

KESIMPULANNYA:

Berarti Essensi Dzat Ilahiah, berada di dalam semua cipta’an-NYA.

Barang siapa mengenal dirinya maka dia mengenal Tuhannya.

Barang siapa mengenal Tuhannya maka dia merasakan diri/Hidupnya.  Barang siapa yang mencari Tuhan keluar dari dirinya, maka dia akan tersesat semakin jauh.

 

Setelah mendapatkan apa yang menjadi intisari ajaran yang ada di dunia itu, termasuk soal kepercaya’an dan keyakinannya. Lalu djaka mempraktekan apa yang sudah di perolehnya itu. Kemudian djaka ingin merasakan jadi seorang gay, lelaki yang menyukai lelaki, djaka ingin merasakan hidup sebagai orang yang di tentang agama, juga ingin membuktikan, apakah benar, hal tersebut di laknat tuhan, lalu djaka bergabung hampir tiap malam di bar dan diskotic bersama para gay dan homo seksual, setelah merasa cukup dan telah tahu seperti apa, lalu pada awal tahun 2000, djaka pergi ke Sumatra, djaka singgah di lampung tengah, bergabung dengan para pecandu ganja, karena ingin tahu rasanya, bukan sekedar katanya.

 

Lalu berpindah ke bandung untuk bergabung bersama rekan-rekannya dari lampung, mencadi perampok, penodong, dan pecudang, di sini, sebagai pengembara yang mencari Tuhan yang nyata dalam hidupnya, djaka menghadapi masalah besar, sa’at merampok salah seorang pengusaha, yang di kenal dengan keangkuhan dan kekikiranya, djaka tertangkap dan di hakimi masa, namun sebelum topeng yang menutupi wajahnya terbuka, dan masa menghujankan senjatanya, tiba-tiba muncul sang penolong, dia bergerak cepat menarik djaka dan membawa djaka tolos melambung, melompati diding bangunan, yang tinggi-tinggi di kota bandung, dan berhenti di hutan pangandaran, djaka tolos terpesona sa’at mengetahui sang penolongnya, ternyata seorang gadis, yang berwajah sangat cantik, dan ternyata gadis itu adalah, anak kandungnya sendiri, hasil perkawinanya dengan ratu gadis palawang di banggai sulawesi tengah, dia bernama DEWI KUSUMA WATI.

 

Nama yang cantik, secantik pemiliknya, untung djaka belum sempat mengutarakan rasa kagum dan cintanya pada gadis tersebut, karena dia lebih dulu memperkenalkan dirinya, djaka tidak pernah menyangka, kalau pernikahanya dengan ratu gadis palawang itu, telah membuahkan seorang anak gadis yang cantik itu, lalu di peluknya sang anak itu, penuh kasih dan saying, sambil bertanya ada apa sehingga sampai ke pulau jawa ini, ternyata sang anak datang ke jawa, sesuai petunjuk dari ibunya, karena memaksa ingin tahu wujud bapaknya, dan ingin bertemu secara langsung, djaka masih belum selesai memikirkan anaknya itu, kemudian muncul pula ratu gadis palawang istrinya, yang sengaja meyakinkan djaka, kalau itu memang anaknya.

 

Kebahagia’an sesa’at, karena pertemuan yang lama tak terjadi, menghiasi taman wisata pangandaran malam itu, ratu gadis dan putrinya memohon, agar djaka tolos mau kembali ke banggai, tapi djaka menolak, karena proses perjalanan hidup belum berhasil, dan sang istri juga putrinya pun memakluminya, setelah perpisahan itu, lalu djaka pergi ke pulau dewata lagi, bali, yang di kenal dengan para turisnya sebagai wisata mancanegara, kedatangan djaka ke bali kali ini, karena ingin menjajahkan diri sebagai pelacur pria, yang lebih di kenal dengan sebutan gigolo.

 

Djaka ingin tahu, rasanya menjadi menusia penjajah seksual bebas, ingin menjadi sang petualang cinta, setibanya di bali, pada awal tahun 2002, dengan modal telepon pribadi dan kerja sama dengan menejer di beac hotel pantai sanur bali, djaka melayani para tamu hotel yang rata-rata orang asing, untuk melayani nafsu kepuasan seksual mereka, dari petualang inilah, djaka dapat meraih uang juta’an dolar, dari setiap pelangganya yang memberi imbalan atas pelayananya yang cukup memuaskan mereka, hasilnya, djaka simpan di salah satu bank swasta di Indonesia, djaka sempat terlena dengan penghasilan yang lebih dari cukup itu, tak perlu membuang terlalu banyak tenaga, dan jauh-jauh pergi ke luar negeri, cukup di atas ranjang yang mewah, djaka sudah bisa meraih berbagai mata uang asing, hingga membuat djaka tolos sempat terlena dan  lupa akan perjalanan yang menjadi tujuan awalnya.

 

Untunglah sang kakek, yang selalu memantaunya, segera datang menemuinya, untuk menyadarkan,  sehingganya, djaka, secepatnya beristighfar, dan pada pertengahan tahun 2004, lalu djaka kembali ke pulau jawa, dan sowan di pesantren jobang, di sana djaka duduk bertafakur dalam kelaleanya, lalu djaka bermusawaroh dengan para kiyainya, lalu djaka pergi ke pasuruan, singgah ke tempat sahabatnya yang kini sedang mengajar di salah satu pondok pesantren di pasuruan, lalu djaka pergi ke bojonegoro, juga untuk menemui sahabatnya, karena rindu lama tak bertemu.

 

Seusai belajar, djaka merasa sangat prihatin, karena sang sahabat jatuh sakit, djaka sudah berusaha untuk beriktiar mengobatinya, tapi tuhan sudah menjatuhkan waktu wafatnya, sebelum meninggal, sahabat berpesan amanat, agar djaka mau menikahi istrinya bernama SITI AJIJAHTUN, dan merawat ke empat anaknya yang masih terlalu kecil untuk di tinggalkan seorang bapak, hingga setelah sahabatnya meninggal dunia, djaka terpaksa menikahi siti ajijatun istri almarhum sahabatnya sesuai amanatnya.

 

Dan djaka jadi terhenti selama satu tahun, di bojonegoro, namun djaka tolos menyempat dirinya, untuk mengelilingi seluruh tempat-tempat keramat di sekitar bojonegoro, di sini djaka tolos bertemu dengan orang ahli harta, dia berasal dari balik papan Kalimantan, seorang pengusaha tambang yang jatuh bangkrut, dan datang ke jawa, untuk mencari jalan pintas tentang kesuksesan dunia, yang lebih di kenal dengan sebutan pesugihan, orang tersebut sudah usaha keliling hingga ke gunung kawi, yang terkenal itu, namun sampai modalnya habis, belum juga membuahkan hasil, karena memaksa dan sudah tidak bisa di masuki nasehat lagi, lalu djaka melantarkanya pada kanjeng ibu ratu sekar jagat wijaya kusuma sang penguasa samudera. Setelah itu, di suruhnya cepat pulang ke Kalimantan dengan membawa hasil tersebut.

 

Lalu djaka, pada awal tahun 2006, pergi mengembara ke gunung bromo, dan kemudian bertempat di tulungagung, kemudian ke sampang pulau Madura, lalu mengembara lagi ke jepara, di jepara,  djaka tolos bertemu dengan sahabat-sahabat baru, yang semuanya korban dari ke bangkrutan usaha, dan lagi semuanya telah putus asa dan nekad dengan menghalalkan segala macam cara, untuk meraih keberhasilanya kembali, ada yang minta di lantarkan ke bank ga’ib, ada yang minta ke ratu kidul, ada yang ingin ke dewi lanjar, ada yang minta di carikan tuyul, bahkan ada yang sampai nekad bermaksud mengorbankan anak istrinya, untuk memuja nyai blorong.

 

Semuanya di layani dengan senang hati oleh djaka, yang masih bisa di sadarkan, djaka memberinya petuah dan nasehat, yang sudah tidak mempan dengan nasehat, di lantarkan oleh djaka pada ke inginanya, dan dengan begitu, djaka lalu banyak di buru oleh orang-orang yang ahli maksiat, karena tak mau terlibat terlalu jauh pada kesesatan, lalu djaka mengangkat salah satu dari mereka untuk di jadikan sebagai murid, menempati wilayah tayu, setelah di anggap sudah cukup mumpuni, lalu djaka tolos melanjutkan pegengebara’an ke daerah istimewa Kediri, di sini djaka tolos sempat mempelajari ilmu kejawen, yang di sebut sapta darma, dan di solo mendapatkan aji panunggal jati, di solotigo mendapat aji paweling jati, lalu ke wonogiri dan mendapat ilmu yang di sebut aji padmawara.

 

Namun,,, walau betapa sibuknya, djaka dengan segala urusan dan perjalananya dalam mengembara, sesekali djaka tolos juga pulang untuk menjenguk keluarganya, baik itu yang di kampung, maupun yang di Pasundan. Dan lagi, walau secara spiritual pada umumnya, baik itu Syare’at maupun Hakikat, Thareqat  atau Tasawuf maupun Ma’rifat, djaka pun sama seperti pada umumnya para pembelajar ilmu atau penghayat kepercaya’an, ada kalanya djaka panatik, mudah tersinggung jika ada yang menganggap remeh apa yang sedang  di pelajari, apa lagi jika menyangkut agama yang djaka  yakini, yaitu islam, djaka berani berdebat habis-habisan. Walau djaka tidak faseh/fasik dalam membaca ayat-ayat al-qitab, tapi djaka mengerti dan paham, makna dan arah serta maksud dari sebuah ayat yang tersirat di dalam al-qitab. Jadi, kalau ada yang bertentangan dengan ayat-ayat al-qitab yang djaka yakini kebenarannya, langsung melabraknya.

 

Jika ada tetangga yang tidak beribadah/sembahyang, dengan mudahnya djaka langsung mengatakan kafir, calon intip neraka jahanam, kalau ada orang yang berdoa di kuburan atau tempat-tempat keramat, tahlil atau manakip yang tidak sesuai dengan tuntunan yang semestinya, dengan gampangnya djaka katakan bit’ah, sirik, musrik, sesat dll. Bertemu teman atau sahabat, tidak peduli di mana tempatnya, djaka ceramahi dengan dalil-dalil serta ayat-ayat yang djaka ketahui, lalu di ajak untuk mengikuti apa yang di yakininya, baik secara halus maupun paksa. Neraka dan Surga, selalu jadi pacuan dan andalan djaka tolos, untuk menakuti dan  mengiming-imingi siapapun yang menurut djaka, sedang djaka ajak ke jalan yang baik dan benar. Dan pada umumnya.

 

Hingga pada suatu ketika, djaka merasa capek dengan semua itu, walau pengetahuan dan pemahamannya, tentang semua ajaran dan ilmu, semakin banyak dan mumpuni, tapi, tetap saja, djaka belum berhasil bertemu dengan Tuhan sebelum mati dan selain dengan cara mati,  karena masil belum berhasil bertemu Tuhan, akibatnya, pemikiran djaka, masih tetap seperti tempo dulu, yaitu “kenapa aku masih suka, menggembar gemborkan neraka dan surga, namun aku  sendiri, belum tahu benar tentang neraka dan surga itu, kecuali baru sebatas katanya al-qitab dan para guru pembimbing saja”. Lalu, muncul pemikiran baru, bahwasanya, menurut pemikiran djaka pada saat itu, Tuhan adalah Maha Kuasa, bahkan Maha diatas segala yang Maha. Artinya… Jika Tuhan mau, Dia tinggal berkata bim salabim. Selesai dan TamaT.

 

Lalu,,, apa gunanya membela Tuhan? Apa manfaatnya, dengan  lantang berbicara neraka dan surga, hingga harus habis-habisan, bahkan mati-matian berdebat, bertengkar, berselisih, salin sinis dan benci satu sama lain, bahkan bermusuhan dengan orang-orang, yang pada hakikatnya, adalah saudara-saudarinya sendiri, karena satu kakek nenek moyang, yaitu Adam dan Hawa. Kalau ini di terus-teruskan, bisa senewen sendiri, dan sama halnya,  menganggap Tuhan itu tidak kuasa alias bodoh bin dungu, sehingga perlu di bela dan di pembela.

 

Karena itulah, kemudian, pemikiran itu djaka buang jauh-jauh. Dan berubah, menjadi diam, apapun yang djaka lihat dan apapun yang djaka dengar, selalu diam dan di anggap angin lalu saja, sehingganya, tidak ada perdebatan, tidak ada pertengkaran, dan tidak ada lagi permusuhan. Dan menitikan fokus hanya kepada Tuhan, bukan yang lainnya.

 

Karena sudah enggan pada para guru yang membimbing djaka pada sa’at itu, sebab karena hanya di beri pelajaran yang tak ubahnya seperti teka teki silang, yang ujungnya harus di cari sendiri. Lalu djaka memilih, untuk mempraktekan ayat-ayat al-qitab yang terkait langsung dengan Tuhan, yang djaka hapal kalimah dan artinya. Seperti di bawah ini.

 

Pertama. Dua kalimah syahadat;

Yang berbunyi “Asyhadu allaa ilaaha illallah-Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah” dan kurang lebihnya berarti seperti ini. “Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah-Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”

 

Kedua. Surat Al-baqarah ayat 115;

Yang berbunyi “Walillahil masyriqu wal maghribu fa-ainamaa tuwalluu wajhullahi innallaha waasi’un aliimun” dan kurang lebihnya berarti seperti ini. “Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap maka disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas (rahmatNya) lagi Mahamengetahui

 

Ketiga. Surat al-baqarah ayat 156;

Yang berbunyi “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” dan kurang lebihnya berarti seperti ini. “Sesungguhnya kami adalah kepunya’an Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali”

 

Ke’empat. Dua Sabda Rasullullah shallallahu alaihi wa sallam dalam Al-qitab hadist;

Yang kurang lebih artinya seperti ini. “Allah Ta’ala berfirman; Aku sesuai persangka’an hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat sendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

 

Berbekal Bahan Dua Kalimah Syahadat dan Dua Ayat Al-qitab serta Dua Hadist inilah. Pada pertengahan tahun 2008. Djaka tolos meninggalkan semuanya dan segalanya, tanpa peduli, djaka keliling menjelajah luasnya dunia ilmu spiritual. Fokus membaca. Fokus berpikir dan membathin. Fokus pada pengkajian. Fokus pada  penghayatan. Fokus untuk mempelajari dan resapi. Lebih dalam dan jauh lebih mendalam lagi. Semua dan segalanya di tanggalkan, hanya Tuhan/Allah yang ada, semuanya di anggap tidak penting dan tidak perlu.

 

Dari satu tempat ke tempat lainnya, yang di katakan oleh kebanyakan orang, angker, wingit, bahaya dll, djaka tidak peduli. djaka datangi dan djaka tempati, untuk mempelajari dan mempraktekan Dua Kalimah syahadat dan dua Ayat serta dua Hadist yang sudah di sebutkan diatas tadi. Walau banyak rintangan dan hambatan yang menderai djaka tolos, djaka tetap berjuang tanpa menyerah, Hingga akhirnya djaka berhasil menemukan Hakikat Hidupnya Dua Kalimah syahadat dan dua Ayat serta dua Hadist tersebut, yang sebenarnya, jadi, bukan hanya sekedar katanya al-qitab dan hadist belaka. Dengan kebrhasilnya ini.

 

Lalu, dari pengasingan, djaka tolos kembali berbaur dengan masyarakat umum, dengan berbangga diri, karena menurut djaka, mereka yang amalnya hebat dan luar biasa, ibadahnya tekun, belum tentu mengetahui dan mengerti apa yang mereka geluti itu, mereka yang selalu berteriak memperdebatkan neraka surga dan Tuhan, tapi mereka belum memahami, apa yang mereka perdebatkan itu, karena saya tahu betul, untuk mengetahui semua itu, tidaklah mudah, tidak cukup hanya dengan hapal al-qitab dan hadist serta beramal dan beribadah saja. Melainkan perlu tekad pengorbanan dan niyat yang tulus serta fokus hanya pada satu titik saja, yaitu Tuhan. Tidak bisa di campuri dengan apapun dan tercampuri oleh apapun. Itupun jika tanpa praktek, tidak bisa.

 

Dan… ternyata benar, yang mengetahui wali itu, adalah wali itu sendiri, artinya, yang mengetahui kalau seorang itu mumpuni, adalah seorang mumpuni juga. Tanpa djaka beriklan kesana sini, banyak sahabat-sahabat djaka tolos, khususnya para semusyafir, seperjalanan saat mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya, sebuk mencari djaka, dan berdatangan silih berganti, untuk salin asah asih asuh dalam belajar, sehingga merekapun, salin berbagi pengalaman. Dan bagian inilah,,, kesadaran murni djaka tolos  terkikis hingga habis. Mentang-mentang djaka sudah tahu, bahwa tidak selembar daunpun, yang jatuh kebumi tanpa kehendak Tuhan. Yang artinya, bahwa semua dan segalanya itu adalah perwujudan Tuhan. Yang wajib di pelajari dan di ibadahi sesuai Firman-Nya, etika sipat dan sikap djaka yang seharusnya alami sebagai manusia hidup, tidak terpakai. Djaka lupa dan tidak ingat, kalau djaka tolos ini, bukanlah seorang Nabi atau Malaikat. Melainkan manusia hidup di dunia fana, yang memiliki tanggung jawab dalam kehidupan yang wajar dan murni serta asli dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

 

Sehingganya, djaka sering melakukan kebohongan-kebohongan kepada banyak pihak, salah satu contohnya, jika ada yang datang ingin belajar mengenal Tuhan, di atur sedemikian rupa, karena mengingat, lelakunya yang tidak mudah dan ringan, djaka berbelit-belit, maksudnya tidak langsung tutup poin saja, muter-muter dulu, dengan politik dan ego djaka, tujuannya baik, untuk menguji iman dan tekad niyat seseorang itu, seberapa kuatnya. Djaka lupa, bahwa yang punya hak menguji manusia itu, hanya Dzat Maha Suci Hidup saja. Jika sudah di uji dengan berbagai macan ego kepentingan djaka, termasuk soal duit/uang, tapi seseorang itu, tetap bertekad dan berniyat belajar mengenal Tuhan, baru djaka tolos mengajarinya, itupun sedikit demi sedikit, karena ego djaka mengatakan, watirnya seseorang itu, tidak kuat/mampun, jadi, biyar kuat dan mampu, harus sediki demi sedikit, kan lama-lama menjadi bukit. Begitu dan selalu begitu tiap ada seseorang yang datang menemui djaka, untuk minta di bimbing dalam mengenal Tuhan.

 

Selain itu, juga kalau ada seseorang yang datang, untuk meminta pertolongan tentang kesembuhan suatu pengakit atau penyelesaian masalah, djaka sugesti mereka dengan benda-benda pusaka, seperti keris, batu akik, atau rajahan-rajahan tertuliskan aksara arab yang di buat sendiri atau hasil karya sahabatnya. Tidak langsung di mohonkan kepada Tuhan, melainkan dogma terlebih dahulu dengan segesti, dan berbagai macan ego kepentingan djaka, yang ujung-ujungnya adalah duit. Bahkan tidak jarang, djaka beri mereka kesan tentang arwah atau roh gentayangan, yang bisa mengganggu manusia, hingga berakibat sakit dan tertimpa masalah.

 

Dan lagi juga, jika ada seseorang yang datang belajar, atau ada seseorang yang datang untuk minta tolong atau bantuan soal masalah, entah itu masalah penyakit maupun bisnis atau ilmu, kalau seseorang itu adalah wanita, apa lagi cantik dan bla…bla…bla… lainnya, djaka perlakukan lebih dari sekedar yang sudah di ungkapkan diatas. Pernah pada suatu ketika, ada seorang wanita asal dari jakarta, datang menemui djaka di pekalongan, karena pada saat itu, djaka sedang berada di pekalongan jawa tengah. Wanita itu datang bersama suaminya,,, untuk keperluan soal bisnis. Djaka hampir terjebak melakukan perjinahan, andai saja,,, wanita itu tidak sedang haid. Pernah lagi, di suatu ketika, ada seorang wanita muda, dari lamongan jawa timur, datang menemui djaka tolos di kebumen, karena pada waktu itu, djaka sedang berada di kebumen jawa tengah. Untuk belajar mengenal Tuhan. Yang ujungnya, djaka jatuh cinta pada wanita itu, walau tidak sampai terjadi perjinahan, namun hubungan antara djaka dan wanita itu, layaknya seorang pacar atau kekasih.

 

Semakin lama, djaka semakin asyik dalam dunia bodoh dan konyol itu, namun djaka tidak juga sadar, justru malah semakin asyik dan mengasyikan. Hingga pada akhrinya, djaka jatuh tersungkur secara total. Bagaimana tidak, semua ilmu pengetahuannya, tiba-tiba buntu dan menghilang tanpa bekas, kekuatan spiritual djaka, jadi lemah total, djaka sering bingung dan gugup, dalam menjawab pertanya’an-pertanya’an soal Tuhan dan tentang Tuhan, yang di lontarkan oleh setiap orang yang bertanya kepadanya. Semakin lama, semakin djaka rasakan, semakin jauh dari Tuhan, seakan di tinggalkan begitu saja. Jangankan untuk mengajari bab Tuhan, menjawab pertanya’an soal Tuhan saja, djaka kelimpungan, seperti cacing keinjak.

 

Mengetahuinya dengan sadar, tanpa buang waktu, sebelum ada yang mengetahui, bergegas djaka naik ke gunung kramat, untuk menguji kemampuan yang di miliki, dan hasilnya,,, ternyata djaka memang sudah nol total. Kosong dan bodoh serta dungu.

 

Djaka tolos menangis tersedu haru, menyesali diri, atas semua yang sudah di perbuatnya. Djaka terlena dan lupa, bahwa itu adalah tidak benar. Karena, orang yang mengetahui, bahwa. Tidak selembar daunpun, yang jatuh kebumi tanpa kehendak Tuhan. Yang artinya, bahwa semua dan segalanya itu adalah perwujudan Tuhan. Yang wajib di pelajari dan di ibadahi sesuai Firman-Nya. Seseorang itu, justru bermoral dan beretika wajar, sebagai manusia hidup yang seutuhnya/sebenarnya, bukan mentang-mentang dan berego semakin besar lagi tinggi.

 

Berhari-hari djaka termenung menyesali diri, diatas puncak gunung sundoro sumbing wonosobo jawa tengah. Berhari-hari pula, tak ada satupun solusi dan jalan keluar yang datang menghampiri djaka, djaka putus asa, semua dan segalanya sudah di tinggalkan dan di korbankannya, demi Tuhan, namun pada akhirnya harus jatuh terpuruk di dasar yang paling rendah dan hina, kalimat doa-doa djaka, yang tadinya memiliki sabda, kini kosong tak berfungsi apa-apa, tak ubahnya seperti tong kosong, jika di pukul, akan berbunyi nyaring, al-hasil, sampai berbusapun mulut djaka memohon ampunan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, tapi tak ada tanda-tanda apapun, yang ada hanya semakin melemahnya tubuh dan terpuruknya iman, karena menaham lapar dan haus serta tiupan angin gunung yang teramat dingin menusuk hingga ke sungsum tulang sungsum. Selain meminta mati, tidak ada lagi yang djaka harapkan, karena dengan usianya yang sekarang ini, tidaklah mungkin, hendak mengulangi lelaku seperti yang pernah djaka jalani dulu, mulai dari nol lagi, tidaklah mungkin, karena faktor usia yang telah memakan fisik djaka menjadi lemah, tidak sekuat dulu lagi.

 

Djaka tolos benar-benar putus asa dan menyerah, lalu, dengan sisa-sisa tenaga yang di miliki djaka, djaka mencoba merangkak menuju sebongkah batu besar, yang bertengger di tepi jurang gunung sumbing wonosobo jawa tengah, tempat dimana dia merenung itu. Di atas batu itu, djaka mencoba untuk berdiri tegak, terbesit dalam pikiran djaka, untuk mengakhiri perjalanan hidup, “andai tubuhku  jatuh ke jurang ini, sudah pasti akan hancur berkeping-keping. Tapi,,, sudah pasti juga, bukan hanya di benci, tapi juga akan di laknat Dzat Maha Suci Tuhan/Allah”.

 

Lalu djaka menatap jauh perkampungan kabupaten wonosobo yang manpak kecil dari atas gunung. Lalu djaka memandang langit yang luar tanpa batas, dan… Teringatlah djaka akan Firman Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang pernah di Sabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam sebuah hadist panjang, yang kurang lebihnya seperti ini artinya;

 

“Telah diperlihatkan kepada diriku umat-umat manusia. Aku melihat seorang Nabi yang bersamanya beberapa orang dan bersamanya satu dan dua orang, serta seorang Nabi yang tidak ada seorang pun bersamanya. Tiba-tiba ditampakkan kepada diriku, sekelompok manusia yang berjumlah banyak, dan aku pun mengira bahwa mereka adalah umatku. Tetapi dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah Musa bersama kaumnya’. Lalu tiba-tiba aku melihat sekelompok manusia yang banyak pula. Kemudian dikatakan kepadaku ini adalah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab”.

 

Lalu,,, bangkit samangat djaka, djaka mungkin tidak mendapatkan ampuni dari Tuhan, karena kesalahan djaka yang fatal. Tapi yang terpenting bagi djaka, djaka telah bertaubat, artinya tidak akan mengulanginya lagi, serta akan memperbaiki diri dan membersihkannya dari noda yang tidak layak menodai jiwa raganya itu, karena, menurutnya, selagi hayat masih di kanung badab, berati tetap masih memiliki kesempatan untuk bisa kembali kepada asal usul sangkan paraning dumadi, tanpa hisab dan adzab, seperti Firman-Nya. Lalu djaka lupakan yang sudah terjadi, dan djaka biyarkan dia berlalu, djaka cukup mengambil hikmahnya, dan sesegera mungkin, djaka bangkit lagi untuk belajar dan berlatih lagi, mulai dari nol awal. Lalu djaka tolos mulai mengembara lagi. Nelerusuri jejak-jejak petualangan spiritual yang pernah di laluinya dulu, yang pernah menjadikan djaka bisa berhasil.

 

Lika liku perjalanan hidup, masih tetap sama persih dengan yang dulu, dan djaka tetap berlalu, jika tajuh, djaka bangun lagi, kalau gagal, djaka berusaha lagi, begitu terus dan selalu terus begitu, tanpa ngenal capek, lelah dan putus asa. Namun perjalanan hidup-nya kali ini, berbeda dengan pada awalnya dahulu. Karena sudah tidak punya lagi, yang untuk di tinggalkan dan di korbankan.

 

Dulu djaka meninggalkan semua dan segalanya, karena memiliki semua dan segalanya, sekarang, tidak ada yang harus di tinggalka, karena semua keluarganya, sudah mengerti tujuang djaka tolos, sehingganya, tinggal mendukung saja, tanpa merasa di tinggalkan dan di korbankan. Dulu djaka Berbekal Bahan Dua Kalimah Syahadat dan Dua Ayat Al-qitab serta Dua Hadist. Kini djaka Berbekal Iman. Hanya Iman. Tidak ada yang lainnya. Djaka belajar dan Berlatih mencari tahu dan mengerti serta memahami. Apa itu Iman dan bagaimana Iman itu. Dan dalam perjalanan ini, perjalanan yang di anggap oleh djaka, sebagai perjalanan terakhir, yang menentukan gagal dan berhasilnya dalam ber “innalillaahi wa inna illaaihi roji’un”

 

Djaka tolos, jauh lebih sulit dan rumit, di bandingkan pada awal mulanya dia belajar ngenenal Tuhan. Di fitnah, di caci maki, di hina, di lecehkan, di adu domba, bahkan di benci dll, namun semuanya di innalillaahi wa inna illaaihi roji’un-kan. Menghadapinya. Ada kalanya djaka menyerah, ada kalanya djaka putus asa, ada kalanya djaka lelah, ada kalanya djaka protes, ada kalanya djaka berdebat, unggul-unggulan pengerten/pengertian, ada kalanya djaka juga iri, sirik, dengki, benci, dendam, ada kalanya juga meremehkan orang lain, menyalahkan ajaran agama, sikut sana sikat sini, dan bla…bla…bla… lainnya.

 

Namun, apapun yang terjadi dan yang di alami djaka, tetap djaka  berusaha dan berusaha untuk belajar dan terus belajar beriman kokoh dan tegar, bak batu karang di pantai. Istilahnya, tingginya gunung di daki, panjangnya jalan di lalui, dalamnya laut di selami, luasnya bumi di tapaki, namun tetap saja djaka jatuh dan jatuh lagi, tapi djaka selalu merangkak dan bangun lagi, djaka tidak kapok untuk bangkit berdiri lagi untuk terus belajar, walau djaka tahu akan jatuh lagi, tapi djaka selalu bangkit bediri lagi, untuk selalu berlatih dan belajar, mempelajari Iman itu apa dan bagaimana . Hingga pada akhirnya….

 

Djaka terjatuh dan benar-benar tidak mampu lagi untuk bangkit berdiri. Karena suatu hal yang teramat sangat sarat, dan tidak bisa di uraikan atau katakan dalam buku ini, kecuali secara langsung.

 

Karena sudah tak mampu dan tidak sanggup bangkit untuk berdiri lagi. Akhirnya djaka menyerah… Pada pertengahan tahun 2009. Sa’at bertafakur di puncak gunung ardilawet purbalingga jawa tengah, selama 90 hari 90 malam. Djaka tolos mengakui kekalahannya.

 

Semuanya dan segalanya tentang Djaka. Niyat dan tujuan serta cita-citanya, harapannya, keinginannya, kepentingannya, kebutuhannya, masalah dan  keperluan, termasuk keluarganya, perbuatan dan bla,,,bla,,,bla,,, yang terkait dengannya. Di Serahkan/Pasrahkan kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Lalu djaka menerima, apapun keputusan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah tentangnya. Lalu,,, djaka mempersilahkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, melakukan apapun itu kepadanya. Apakan  mau di bunuh, di siksa, di laknat, di masukan neraka, atau mau di apakan saja, djaka telah siap dan sudah siap Mempersilahkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah… intinya, djaka tolos sudah kalah dan nyerah.

 

Lalu, djaka tolos menunduk patuh dengan ratapan Rindu akan Cinta Kasih Sayang-Nya yang agung lagi mulia, yang pernah di dapatkannya dalam Firmankan-Nya. Lalu,,, tak berselang lama kemudian, djaka merasakan, ada tangan Cinta Kasih Sayang, yang memeluk seluruh tubuh djaka, dengan Cinta Kasih Sayang yang Agung itu. Tenteram-lah djaka rasakannya, bahagia, damai, aman, nyaman, dan enaknya,,, dan tidak bisa di expresikan atau  gambarkan dengan sebuah kata-kata apapun,  soal yang satu ini. Pokonya… Wah.

 

Dajak tolos tahu, itu adalah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah-nya, yang di ari dan di rindukannya. Selama dalam pelukan Cinta Kasih Sayang-Nya inilah. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah-nya. Berbisik kepada djaka tolos, bahwasannya, ada diantara sekian banyak ilmu pelajaran yang di milikinya djaka tolos, adalah sarana benar dan tepat untuk menuju-Nya. Yaitu Wahyu Panca Gha’ib. Dan di  pertengahan tahun 2009, di puncak gunung ardilawet purbalingga jawa tengah inilah, djaka tolos, baru tahu secara sadar, bahkan Wahyu Panca Gha’ib, yang dianggapnya selama ini, adalah ilmu sakti pamungkas, yang menjadi andalannya selama ini. Adalah Tuntunan benar dan tepat untuk menuju kepada asal usul sangkan paraning dumadi.

 

Dan di mulai dari pertengahan tahun 2009, djaka tolos merubah haluan lelaku spiritualnya, menjadi Laku Spiritual Hakikat Hidup, artinya, menggunakan Wahyu Panca Gha’ib secara total, tanpa di campur dengan embel-embel apapun. Dalam laku manunggal kembali, kepada asal usul sangkan paraning dumadi. Karena tidak ingin kehilangan waktu dan kesempatan, lalu djaka tolos pergi tirakat di goa singa barong, nusakambangan cilacap jawa tengah, selama 90 hari, sebuah goa yang letaknya terpisah dengan cilacap dan pulau nusakambangan, yang dulu pernah di gunakan sebagai tempat bertapanya, almarhum Pak Semono Sastrohadidjoyo. Manusia pertama yang menerima Wahyu Panca Gha’ib, yang turun di dunia, tepatnya di tanah jawa, sekitar tahun 40an, di dalam goa singa barong nusakambang cilacap jawa tengah, dan mijil pada tahun 1955 yang lalu, di Perak surabaya jawa timur.  inilah, djaka tolos mendapatkan Wejangan tentang dan soal apa itu Iman dan bagaimana iman itu.

 

Dan Ternyata… Iman itu, bukan hanya sekedar yakin atau percaya atau haq-kul yakin saja. Ternyata… Iman itu, tidak cukup hanya dengan menjalankan perintah Tuhan atau meninggalkan larangan Tuhan saja, atau Beramal dan beribadah kepada Tuhan saja. Karena itu hanya pernak-perniknya Iman, assesoriesnya Iman, pirantinya Iman. Sedangkan Iman itu sendiri. Adalah…. Wahyu Panca Laku.

 

Wahyu Panca Laku;

  1. Manembahing Kawula Gusti.
  2. Manunggaling Kawula Gusti.
  3. Leburing Kawula Gusti.
  4. Sampurnaning Kawula Gusti.
  5. Sampurnaning Pati lan Urip.

 

  1. Apa itu Manembahing Kawula Gusti..?

Manembahing Kawula Gusti Adalah Pasrah kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

  1. Apa itu Manunggaling Kawula Gusti..?

Manunggaling Kawula Gusti Adalah Menerima Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

  1. Apa itu Leburing Kawula Gusti..?

Leburing Kawula Gusti Adalah Mempersilahkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

  1. Apa itu Sampurnaning Kawula Gusti..?

Sampurnaning Kawula Gusti Adalah Merasakan semua dan segala Kuasa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

  1. Apa itu Sampurnaning Pati lan Urip..?

Sampurnaning Pati lan Urip Adalah Beribadah dengan Iman Cinta Kasih Sayang kepada apapun dan terhadap siapapun dimanapun atas Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

 

Prakteknya seperti yang sudah saya uraikan diatas, sa’at saya jatuh dan tidak mampu untuk bangkit lagi. Pada saat itulah. Iman/Wahyu Panca Laku di butuhkan, untuk di Praktekan.

 

Dan dengan Wahyu Panca Laku inilah, djaka tolos, bisa mampu Menjalankan Perintah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dan Meninggalkan Larangan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Serta Mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib tanpa tapi. Yang sudah di  buktikannya tidak ribet, lebih ringan, lebih mudah dan tidak sulit serta singkat, padat, lengkap. Tinggal Wahyu Panca Laku-nya di gunakan untuk mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib. Selesai.

 

Dan dengan Wahyu Panca Laku ini juga, djaka tolos berhasil membuka gha’ibnya Wahyu Panca Gha’ib. Dan lagi,,, ternyata. Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan seperti apapun yang sering di sangkakan oleh kebanyakan Para Putero, yang menjalankan Wahyu Panca Gha’ib itu sendiri.

 

Dengan bukti pengetahuan yang nyata telah berhasil dapatkan sendiri oleh djaka tolos, dan membuktikannya sendiri, sehinggnya djaka berani memastikan, siapapun dia, apa lagi seorang putero romo, jikalau sudah berhasil mencapai dimensi/tingkatan atau kahanan ini. Yaitu Kesadaran Murni “SUCI/HIDUP” yang artinya, sudah mengerti, telah memahami Hakikat Hidup-nya Wahyu Panca Gha’ib yang sebenar-benarnya/sesungguhnya. Djaka tolos berani pastikan. Jangankan orang yang beragama dan berkepercaya’an, orang yang kafir sekalipun. Pasti akan di peluknya dengan penuh Iman Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

 

Kalau tidak, berati masih belum… Apa lagi tanpa Wahyu Panca Laku, yang artinya. Wahyu Panca Gha’ib-nya. Hanya sebatas obat gengsi dan jika kepepet saja. Masih terlalu amat jauh sekali. Tapi itu bukan berati salah dan tidak akan berhasil mencapai kesempurna’an hidup di  dalam kehidupannya dunia akherat. Bukan,,, asalkan mau membuka diri “menanggalkan ego”, dan tiada bosan-bosannya untuk selalu terus berlatih dan belajar, karena lambat laun pasti berhasil mencapai tingkat kesempurna’an hidup di dunia hingga akherat nanti. Tapi kalau tidak mau membuka  diri dan “menanggalkan ego”nya, dan tidak berlatih dalam belajar. Djaka tolos tidak tahu, hanya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang punya hak untuk menjawabnya. Sebab hanya Dia Yang Maha diatas segala yang Maha. Djaka Tolos hanya sebatas berusaha, mengamalkan Cinta Kasih Sayang-Nya yang Agung, yang diamanahkan kepadanya, untuk siapapun yang mau menerima, selebihnya, bukan kuasa-nya. Melainkan kuasa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah dan si pelaku itu sendiri.

 

Dulu, sewaktu djaka belum tahu, bahwa Wahyu Panca Gha’ib adalah salah satu sarana untuk kembali kepada asal usul sangkan paraning dumadi, yang masih tinggal berada di dunia ini, karena selain Wahyu Panca Gha’ib, telah di ambil lagi oleh yang empu-Nya, yang di sebabkan oleh penolakan umat manusia itu sendiri. Djaka Pernah, minta di ajari caranya nglungguhake asmo, kepada tiga pembimbing Wahyu Panca Gha’ib djaka tolos, dari pekalongan jawa tengah, bukannya djaka diajari, malah di lempar kesana sini, seperti bola. Yang satunya nyuruh bertanya kepada satunya, satunya lagi menyuruh belajar pada yang satunya lagi, sedang yang satunya berkata, halah,,, itu tidak penting, nanti juga bisa sendiri, kalau sudah ketemu Romo.

 

Djaka tolos diam dan menunduk. Karena djaka beranggap, bahwa ini adalah tantangan dari tiga pembimbing djaka buat djaka. Untuk lebih dewasa, artinya, ceker dewe/mencari sendiri, agar tahu sendiri, bukan katanya dan biyar bisa sendiri, bukan meniru.

 

Dan setelah emempraktekan Wahyu Panca Gha’ib, dengan  menggunakan Wahyu Panca Laku. Ternyata benar, djaka tolos jadi bisa dan tahu sendiri. Bukan katanya tiga pembimbingnya, dan tidak meniru tiga pembimbingnya. Pada awalnya, djaka mengira, bahwa keahlian nglungguhake asmo itu, adalah amanah atau mandat atau perintah atau kuasa yang di berikan oleh Romo, kepada Putero Romo yang sudah sepuh/mumpuni atau layak. Ternyata tidak begitu. Keahlian nglungguhake Asmo itu, di karena, si Putro Romo itu, sudah mengerti dan memahami serta tahu sendiri, hakikat-nya Asmo tersebut.

 

Contoh gambarannya seperti ini “Saya sudah tahu baju dan celana itu apa dan bagaimana. Serta saya juga sudah memakai baju dan celana itu setiap sa’at. Cara mencuci dan merawatnya juga saya tahu. Hingga saya hapal betul tentang baju dan soal celana itu. Karena saya sudah hapal sebab sudah tahu, saya bisa memperkenalkan dan memakaikan baju dan celana itu, pada anak yang belum mengerti baju dan celana serta belum bisa memakai baju dan celana tersebut”  Seperti itulah kurang lebih gambarannya.

 

Dan dengan penemuan pengetahuan tentang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang di perolehnya sendiri, dari hasil prakteknya sendiri pula itu. Djaka Tolos jadi tersenyum dengan lapang dada dan legowo/rela. sambil berucap dalam hati. O……

 

Ternyata, semuanya itu bukan yang sejati, bukan yang sebenarnya, bukan yang sesungguhnya, namun, walau begitu, bukan berati sia-sia atau percuma tanpa guna, karena semua itulah, djaka tolos bisa terantar ke proses Laku dan Titik Penyampaiannya, semuanya itu adalah perjalananya, untuk bisa sampai ke yang sesungguhnya, yang sebenarnya, yang sejatinya, yang tak bisa di hindari oleh siapapun, jika Tuhan telah berkehendak, baginya, tidak ada selembar daunpun yang jatuh tanpa kehendak Tuhan, dan setiap kehendak Tuhan, itulah, yang baik dan benar dari yang terbaik dan benar, dan djaka pun sangat menghargai dan menghormati semua perjalanan proses masa lalunya, sebab itu, djaka, dengan sadar mengakui dan tidak malu untuk menguraikannya dengan apa adanya.

 

Disini pencarianku berakhir………
Dititik, dimana aku menemukan kebenaran yang tak terbantahkan. Masih banyak memang pertanyaan yang belum terpecahkan. Tetapi entah kekuatan apa yang membuat aku tetap bertahan disini. Hingga aku tak tertarik lagi, pada selain Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

 

Disini pencarianku berakhir………..
Dititik, ketika kegelisahanku menemukan penawarnya.  Masih banyak memang yang bisa aku lakukan. Namun setidaknya, jalan lurus menuju rumah di kampung halamanku, telah aku tempuh,  meski hanya dalam diamnya “IMAN”

 

Wassukuri- Walhamdulillaahi robbil alamin, atas ijin dan ridho allah ta’ala, selesai sudah saya menyalin sebagian besar dari biografi sejarah hidup pribadi saya sendiri, sebagai tanda kenangan bersejarah, walau tidak semuanya, yang dapat saya salin di buku ini, sepertinya sudah lebih dari cukup, untuk di jadikan sebagai bukti sejarah perjalana pribadi saya, di dalam mengembara mencari sejatinya hidup yang sempurna. harapan saya, semoga dengan tersalinya biografi sejarah hidup saya ini, kita bisa sama-sama salin dan semakin mawas diri, juga lebih banyak membaca diri sebelum berbuat apapun, istilahnya ihqro’ yang artinya ( bacalah ).

 

Jangan asal, kalau asal, jangan usul, kalau usul janganlah asal, karena akhir daripada hidup itu, di tentukan oleh laku hidupnya sendiri, siapa melihat bakal tahu, siapa tahu bakal mengerti, siapa mengerti bakal paham, siapa paham akan merasa, siapa merasa pasti akan bisa merasakan, betapa penting dan berharganya hidup itu, karena hidup kita bisa semuanya, karena hidup kita dapat  segalanya, karena hidup kita ada, maka ketahuilah hidupmu, kenalilah hidupmu, milikilah hidupmu, dan rasakanlah hidupmu, karena hidupmulah, yang kelak akan dapat mengantarmu kembali kepada yang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, selain hidup, tidak ada yang mampu dan bias, ilmu, agama, kesaktian, kebatinan, kewaskita’an, jaya kawijayan dan sejenisnya, itu hanya sebuah dagangan di dalam toko, yang jika mampu kita beli, akan kita miliki, kalau tidak, dia akan tetap berada dalam lemari kaca toko.

 

Amal, ibadah, title atau pangkat atau kedudukan, harta, tahta, wanita, kehebatan, kekuatan, kecanggihan, kepintaran, pengetahuan, kelebihan dan kekurangan, dan apapun sebutanya, itu hanya sebuah kesemuan yang pasti akan di tinggalkan, jika ajal sudah tiba, dan kelak di akhir jamanmu, takan ada dan takan bisa mengantar untuk dapat kembali ke asal usul sangkan paraning dumadi, hanya hidup dan cuma hidup-lah yang bisa mengantarnya,  hingga dapat sampai ke titik kesempurna’an yang sejati/sebenarnya, untuk itu, kenalilah hidupmu, ketahuilah hidupmu, milikilah hidupmu dan rasakanlah hidupmu, selagi Dia masih berada di dalam tubuh/ragamu.

 

Ada salah satu surat di antara isi al-qur’an, yang meriwayatkan separti ini, kala itu baginda Nabi Muhammad saw, merasa kawatir tentang umatnya, kalau-kalau ada salah satu dari umatnya, bertanya tentang Tuhan-nya. Lalu baginda rosul bertanya kepada Allah. ”Ya…Allah, jika suatu sa’at, ada umatku yang bertanya tentangmu, sementara engkau adalah ga’ib, yang tak bisa di samakan dengan apapun, apa yang harus aku katakan kepadanya”. Lalu Allah berfirman, “Ya Muhammad, jika ada umatmu yang bertanya tentang aku, kamu tak perlu kawatir, katakan padanya, kalau aku berada sangat dekat denganya, bahkan lebih dekat dari urat nadinya”. Dan hanya ada satu cara saja, yang bisa dan dapat untuk membuktikan ayat tersebut.

 

Yaitu…

Galilah rasa, yang meliputi seluruh tubuhmu, karena di dalam tubuhmu, ada Firman Tuhan, yang bisa menjamin hidup mati dan dunia akheratmu.

 

Hidup adalah suci, suci itu bukan warna atau bentuk, suci adalah asli/murni, yang tidak bisa di campuri atau tercampuri oleh dan dengan apapun, kecuali dengan suci itu sendiri, karena suci adalah bagian dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang di tiupkan secara langsung, dengan Sabda Kun Faya Kun, masuk kepada wujud/raga  manusia, untuk menjadi Hidup karena Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, bukan yang lain selain-Nya, inilah yang di maksud lebih dekat dari urat nadi, yang membuat kita bias, yang dapat mengantar kita kembali ke asal usul sangkan paraning dumadi kita, yaitu Dzat Maha Suci Tuhan/Allah kita yang sebenarnya, yang sesungguhnya,yang sejatinya.

 

Sayang sekali tidak suluruhya saya bisa menyalin semua ilmu dan pengalaman yang berhasil di temui dan di saya miliki, yang berhubungan dengan Laku tentang  keTuhanan, Karena, kalau saya tuliskan disini semuanya, sungguh ilmu Tuhan itu sangat remeh dan sepele, dan lagi, akan mengakibatnya banyak orang yang terdogma oleh katanya saya, sehingganya, sulit untuk bisa membuktikan sendiri secara langsung, tapi apa yang sudah saya uraikan di buku ini, sudah lebih dari cukup, untuk di jadikan sebagai dasar Laku Spiritual. Dan percayalah pada diri sendidri, asal kita mau berjalan tanpa berhenti, walau lambat, pasti akan sampai pada tujuan, yakinlah kepada hidupmu, asal kita peduli kepadanya, pasti kita akan di perdulikanya juga.

 

Semoga Biografi Sejarah Perjalanan Hidup “Wong Edan Bagu” Dalam Teman Kaca Benggala di dalam Mahkota Mayang Kara. Yang artinya Lambang Bayangan Semu ini, yang mengisahkan, perjalanan hidup Djaka tolos atau Wong Edan bagu, dalam laku proses hidupnya ini. Dapat bermanfa’at bagi siapapun yang sempat membacanya. Semua nama-nama orang dan tempat yang di sebutkan di dalam buku ini, mulai awal dan akhir. Adalah samaran. Demi tetap terjaganya kenyamanan yang terjalin antar semua pihak. Kecuali nama- nama keluarga pribadi djaka tolos. Terima kasih….dan selamat berjuangan dalam belajar menggali rasa sejatining urip kang mengkoni sakabehing sakaliring dumadi. akhir kata dari saya. “jangan kau bagi Iman Cinta Kasih Sayangmu kepada Tuhan, dengan apapun itu”, Wa bilahi taufiq wa hidayah, was-salamu alaikum wr/wb. Sekian dan terima kasih.

 

RAHAYU.……7x. Hayu memayu, hayuning, karahayon kanti Teguh Slamet Berkah Sukses dan Bahagia selalu untuk semuanya tanpa terkecuali. Wassalamu alaikum wr/wb….AMIN.

TTD

Djaka tolos – Wong Edan BaGu

Toso Widjaya. D, Ms

PUTERA RAMA JAYADEWATA TANAH PASUNDAN

CIREBON 19 september 2007

TAMAT