SUDAHKAN ANDA MENGENAL HIDUP ANDA…?!


SUDAHKAN ANDA MENGENAL HIDUP ANDA…?!
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Minggu Pahing. Tgl 31 Juli 2016

MANFAAT DAN INDAHNYA KESADARAN MURNI;
Para Kadhang dan Para Seduur Kinasihku sekalian…. Ketahuilah. Bahwa sebenarnya.
Menggali Rasa Yang Meliputi Seluruh Tubuh Kita, atau dengan istiah lainnya. Menggali Kesadaran Murni. Potensi Keimanan, Maksud, dan Kebahagia’an kita, ini akan sangat membantu membangkitkan proses penyembuhan, bagi yang sedang dalam bermasalah sakit, apapun penyakitnya, karena Dzat Maha Suci telah menganugerahi setiap dari diri kita, dengan bakat-bakat yang unik, dan karunia-karunia lainnya yang dibawa kedunia ini.

Seni Penyembuhan Tradisional dan Hidup Sehat Secara Alami, adaah Rahasia Penyembuhan Melalui Energi Dzat Maha Suci. Saat sekarang ini, dimasa yang serba modern, kata penyembuhan tradisional secara alami, akan terdengar sedikit asing bagi kebanyakan orang, hal ini dikarenakan semakin tergerusnya, kesadaran murni yang di miliki setiap manusia hidup, untuk menemukan identitas dirinya sendiri, yang sebenarnya hal ini kerap terjadi, tak-kala dirinya tertimpa satu pengalaman pahit masa lalu, yang terekam dengan kuat oleh memori otaknya, lalu menyebabkan dirinya kehilangan identitas kediriannya, hal ini tak lain disebabkan oleh kegersangan spiritual. Yang namanya Penyakit kehilangan “ identitas kediriannya “ inilah… Sebenarnya penyakit yang paling berbahaya bagi setiap manusia hidup.

Timbulnya penyakit ini, dekarenakan manusia saat ini, yang hanya ditekankan secara langsung, ataupun tidak langsung, baik dari keluarga maupun lingkungan sekitarnya, untuk selalu berusaha mempertajam rasionya dan mengesampingakan Panggilan Hidup (Hati Nuraninya). Manusia yang hanya bisa berpikir saja, adalah binatang yang paling cacat bagi saya. Ilmunya akan menggapai tingginya angkasa, tetapi hatinya malah diperbudak oleh kerakusan, iri hati, kebencian, dendam, kegersangan emosi, dan penipuan, keterampilannya mampu menggerakan gunung-gunung, tetapi tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri. Itu sungguh sangat di sayangkan bukan…?!

Menurut pengalaman spiritual pribadi saya. Manusia dalam literatur Agama, adalah makhluk yang Ber-Jasmani dan Ber-Rohani. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Manusia dalam literatur Ilmu, adalah makhluk yang Ber-Syare’at dan Ber-Hakikat. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Dan Manusia dalam literatur Iman atau Yakin atau Percaya, adalah makhluk yang Ber-Wahyu Panca Gha’ib dan Ber-Wahyu Panca Laku. Sama saja, keduanya tidak dapat dipisahkan.

Sebagai makhluk dualitas ini, kita manusia mempunyai potensi, untuk berhubungan dengan dunia materi dan dunia spiritual, yang mampu menangkap gelombang panjang dan gelombang pendek. Ia mampu menangkap hukum-hukum alam, dibalik gejala-gejala fisik yang diamatinya. Tetapi ia juga mampu untuk menyadap isyarat-isyarat ghaib, dari alam yang lebih luas lagi. Maka tak-kala salah satu potensi manusia ini, dikembangkan, luar biasa, sedangkan potensi lainnya dimatikan, manusia menjadi makhluk yang bermata satu.

Dimasa modern saat ini, lebih-lebih karena ada tunjangan masalah yang tak kunjungan selesai/teratasi, manusia terlalu banyak disibukan untuk mencari hiburan bagi nafsunya, yang sebenarnya telah terlalu banyak dan berlebihan. Hal ini terbukti dengan kemajuan dunia teknologi dan informasi multimedia, telah menghadirkan sedemikian banyaknya hiburan, dengan begitu cepat dan mudah. Dunia barat yang terus mempopulerkan hal ini, menganggap manusia bagaikan “robot” yang telah terprogram untuk mencari dan mencari kenikmatan jasmaniah semata. Derasnya arus teknologi informasi ini, telah membuat kita lupa untuk memfilter diri kita sendiri, sehingga kita terlalu mudah dibuai dan terlena, sampai-sampai kita tidak dapat menyadarinya lagi dan menyebabkan diri kita terjeremus, dalam kenestapa’an yang tiada akhir.

Yang harus kita ingat adalah, bahwa kitalah yang seharusnya mengendalikan teknologi informasi ini dan bukan sebaliknya, dimana kita melupakan bahwa dalam diri manusia ada dimensi-dimensi lain atau yang disebut dimensi halus (ghaib) yang menentukan jati diri manusia. Sedikitnya ada empat lapisan ghaib yang menyertai manusia yaitu:
1. Tubuh fisik, disebut juga tubuh eterik sebagaimana dapat kita lihat dengan mudah.
2. Tubuh emosional, juga tubuh astral atau tubuh kelestial, tubuh inilah kita mengenal suka atau tidak suka pada suatu hal (rasa).
3. Tubuh mental, disebut juga tubuh kausal atau tubuh rasional, tubuh yang satu ini, kita dapat mengukur satu resiko perbuatan (pikir).
4. Tubuh spiritual, disebut juga tubuh cahaya atau lingkaran cahaya. Dimana keluhuran dan keagungan manusia, sebagai makhluk paling sempurna cipta’an Dzat Maha Suci/Tuhan.

Ada sebagian anggapan bahwa pengetahuan tentang dimensi halus ini, hanyalah dimiliki oleh orang-orang khusus saja, yang memiliki spiritualitas tinggi, sehingga orang awam tidak dapat mengenalnya. Namun,,, berdasarkan bukti pengalaman spiritual pribadi saya sendiri di TKP, saya berani ditegaskan, bahwa dimensi halus (ghaib) bukanlah rekayasa atau mengada-ada semata. Ia eksis dalam setiap tubuh manusia manapun, dan dapat di ketahui dan di rasakan bagi mereka, yang punya kepeka’an dan kemauan untuk mengenalnya.

Bahkan konon kabarnya, sekarang berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan lebih banyaknya orang yang memang sengaja mempelajari dan memperdalam dunia metafisika, seluruh lapisan dimensi halus ini, dapat dibuktikan dengan tekhnik foto Kirlian. Dengan fotografi Kirlian, energi-energi halus ini, dapat difoto dengan jelas. Warna dan bentuk dari energi dimensi haus ini, terlihat pada hasil foto, sehingga tampak seperti benda fisik.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian….
Kalau kita browsing di google, untuk mengetahui opini orang-orang tentang pengertian hidup. Wow… buanyaknya orang yang bingung dan tak menentu arahnya. Ada yang pengertian hidup jomblo itu susah – mau hidup merit bingung, pengertian hidup untuk uang – uang untuk hidup, pengertian hidup itu untuk dinikmati – tapi pas sakit bingung, bahkan tidak sedikit yang hidupnya hampa, walau sudah banyak yang dimilikinya, kalau tidak percaya, coba saja perhatikan dan teletilah dalam mengamati tulisan yang Anda baca.

Dan anehnya, kebanyakan dari kita, justru menyukai hal tersebut. Karena mungkin, mayoritas, yang seperti itu itu, gambarnya cantik-cantik-ganteng-ganteng, dan mudah di ajak berkomunikasi, lumayan, buat hiburan, bisa dijadikan mangsa sa’at lapar dan haus dll, sehingganya kalau ada kata-kata yang menuntun, mendidik, membimbing, mengarahkan ke jalan yang tepat dan benar, katanya pusing, males bacanya, bikin stres, kepanjangan, ribet bla…bla…bla… He he he . . . Edan Tenan.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian….
Kenapa kita sampai bingung akan pengertian hidup kita sendiri…?!
Banyak alasannya, tapi ada satu persama’an, itu di karenakan kencenderungan kita, untuk menggunakan pikiran kita sendiri, akan pengertian hidup itu untuk apa. Masih ingat kan, dengan Kata-kata saya yang Seperti INI: “Jagalah Pikiranmu, karena Pikiran akan menjadi Perkata’anmu. Jagalah Perkata’anmu, karena Perkata’anmu akan menjadi Perbuatanmu. Jagalah Perbuatanmu, karena Perbuatanmu akan menjadi Kebiasa’anmu. Jagalah Kebiasa’anmu, karena Kebiasa’anmu akan membentuk Karaktermu. Jagalah Karaktermu, Karena Karaktermu akan membentuk Nasibmu. Maksimal Jagalah Hati/Qalbumu, karena Hati/Qalbumu akan menentukan Rasamu. Jagalah Rasamu, karena Rasamu akan menentukan Lakumu. Jagalah Lakumu, karena Lakumu akan menentukan Hyang Maha Suci Hidup-mu. Tuhan hantu apa hantu Tuhan atau hantu-hantuan apa Tuhan-Tuhanan”

Kalau Anda bisa merenungi kata-kata saya diatas. Anda pasti bisa tau sendiri, bukan katanya. Sehingganya. Iman. Yakin. Percaya. Itu lahir secara alami/murni. Bukan karena paksa’an katanya.

Tapi jika tidak. Anda akan muter-muter terus dalam lingkaran bingung itu, selama Anda masih belum mau menanggakan egoisme. Sehingganya… Begitu mengambil kesimpulan sendiri akan pengertian hidup itu untuk apa, lahirlah harapan, standar penilaian, sudut pandang, bagaimana melihat hidup ini. Dan lebih parah lagi, diyakininya sebagai kebenaran yang mutlak ( sikap pikiran “aku benar” ).

Namun… Pas dihadapkan dengan realita. Gubrak…!!! Brug…!!! Preett…!!!
Terjadi ketidak sesuaian, dan timbulah kebingungan dan kekecewa’an. Besar kekecewa’an itu tergantung seberapa jauh jarak antara realita dan harapan kita. Semakin jauh ya semakin frustrasi saja tentunya. He he he . . . Edan Tenan.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian….
Menurut Pangalaman Spiritual Pribadi saya di TKP. Orang yang memiliki pengertian hidup berdasarkan prinsip alam, kehidupan yang ada cenderung bahagia. Mereka paham bahwa, semakin kita hidup selaras dengan sistem kehidupan yang universal, semakin makmur dan bahagialah kita. Hidup sukses, hukum kepemimpinan, sebab akibat, hukum daya tarik, sikap positif, peremajaan sikap dan seterusnya, merupakan hal yang perlu untuk di pelihara dan di lakukan. Tapi bukan PENTING apalagi TERPENTING. Karena yang Penting dan Terpenting adalah hanya Dzat Maha Suci/Tuhan. Bukan yang lain selain-Nya.

Masa kehidupan manusia hidup terbagi dua;
Kehidupan yang pertama adalah di dunia ini dan kehidupan kedua, berlaku di akhirat. Kedua kehidupan ini berlaku dalam keada’an konkrit. Berbagai macam ajaran mengenai syare’at dan hakikat kehidupan dan tujuan hidup telah berkembang. Masing-masing berbeda tentang pengertian dan tujuan hidup. Manun hanya Hidup itu sendirilah yang dapat menjelaskan arti dan tujuan hidup manusia sebenarnya-secukupnya, sehingga dapat dipahami oleh setiap individu yang membutuhkannya.

Dulu saya pernah menjadi seorang atheis, dan orang atheis mendasarkan doktrinnya atas teori naturalism, tidak dapat memberikan alasan kenapa adanya hidup ini, kecuali sebagai kelanjutan dari hukum evolusi, pada setiap benda yang sejak dulu telah mengalami perubahan alamiah. Sementara mereka (orang-orang atheis) tetap salin berbantahan pula, mengenai hukum evolusi itu sendiri, disebabkan banyaknya benturan (dead lock) dalam analysa dan teorinya.

Benturan itu mereka namakan Missing Link. Untuk tujuan hidup, mereka juga tidak mempunyai arah dan alasan yang tepat. Tetapi mereka semua sama, berpendapat bahwa yang ada kini akan musnah dengan sendirinya di ujung zaman, sesuai dengan menyusut dan habisnya alat kebutuhan hidup yang disebabkan terganggunggunya, stabilitas susunan bintang di alam semesta ini. Mereka berkesimpulan bahwa hidup ini, dimulai dari kekosongan, telah terwujud secara alamiah, dan sedang menuju ke arah kekosongan alam semesta, dimana setiap individu hilang berlalu tanpa bekas dan tidak akan hidup kembali.

Dalam hal ini mereka melupakan unsur Roh Suci (HIDUP), yang ada pada setiap individu itu. Pihak yang menganut paham Plurality atau Trinity, walaupun tidak membenarkan teori evolusi , malah mengakui manusia hidup ini, memulai hidupnya dari satu diri, yang sengaja diciptakan Dzat Maha Suci/Tuhan, tetapi mereka tdak dapat memberikan alasan tentang maksud apa, yang terkandung dalam perencana’an pencipta’an Dzat Maha Suci/Tuhan itu. Sebagai tujuan hidup, mereka sama sependapat bahwa nanti akan berlaku kehidupan balasan sesudah mati, tetapi dalam keda’an ghaib, bukan konkrit, dimana setiap pribadi baik akan menerima kebahagia’an jiwa dan pribadi buruk akan merana.

Pihak pertama yang saya uraikan di atas tadi, bertentangan dengan ajaran Al Qur’an yang pernah saya pelajari, mengenai asal usul hidup dan juga bertentangan mengenai tujuan hidup. Sedangkan pihak kedua yang saya uraikan diatas juga, bersama’an dengan ajaran Al Qur’an yang pernah saya pelajari, mengenai asal usul hidup dan juga bersamaan tentang tujuan hidup. Tetapi berbeda dalam hal ghaib dan konkritnya.

Sebaliknya kedua pihak (agama dan Plurality/Trinity) sependapat tentang arti hidup, yang tidak lain hanyalah berjuang untuk kebutuhan dan kelanjutan generasi, tetapi mereka (agama dan Plurality/Trinity) melupakan, bahwa pendapat demikian akan berujung dengan pemusnahan generasi mendatang, karena setiap individu, lebih mementingkan keada’an sekarang, tanpa ancaman resiko konkrit, yang akan dihadapi di akhirat nanti.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian… Bukti yang pernah saya peroleh saya Praktek di TKP, sangat sesuai dengan Al-Qur’an, yang menjadi dasar ajaran hidup dalam Islam, memberikan alasan dan keterangan secukupnya mengenai sebab, arti dan tujuan hidup manusia.

Bahwasanya… Alam Semesta raya ini, dulunya dari kekosongan total, tidak ada satupun yang ada, kecuali Dzat Maha Suci Allah/Tuhan yang Maha ESA, yang senantiasa dalam keada’an ghaib. DIA mempunyai maksud, agar berlaku penyembahan terhadap-NYA, yang tentu harus dilaksanakan oleh makhluk, yang memiliki logika. Maka perlulah diciptakan jin dan manusia, yang akan menjalani ujian, dimana dapat ditentukan berlakunya pengabdian dimaksud.

Kedua macam makhluk ini, membutuhkan tempat Hidup, dimana segala kebutuhan dalam pengujian tersedia secara alamiah atau ilmiah, maka diciptakanlah benda angkasa berbagai bentuk, masa dan fungsi. Semuanya terlaksana secara logis menurut rencana tepat-Nya, dan tiba masanya dimulai pencipta’an Jin dan Manusia, masing-masing berbeda di segi abstrak dan konkrit. Mulai dari sebelum Adam hingga sampai ke Adam, sebagai manusia yang paling sempurna, di bandingkan manusia-manusia sebelum adam dan mahluk lainnya.

Dzat Maha Suci Allah/Tuhan itu Pencipta tiap sesuatu dan DIA menjaga tiap sesuatu itu. (QS 39/62) DIA pelaksana bagi apa yang DIA inginkan. (QS 85/16)
Dan tidaklah AKU ciptakan jin dan manusia itu kecuali untuk menyembah AKU (di akhirat utamanya). QS 51/96.

Al-Qur’an memberikan ajaran, tentang arti Hidup, bahwa hendaklah menghubungkan dirinya secara langsung kepada Dzat Maha Suci tanpa perantara apapun, dengan cara “LAKU” Maksudnya… Melaksanakan hukum-hukum yang tersurat di dalam al-quran dan tersirat di dalam semesta alam.

Dzat Maha Suci-lah yang menciptakan kematian dan kehidupan ini. Dzat Maha Suci menguji kita, yang mana diantara kita, yang lebih baik perbuatannya ”layak”. Dzat Maha Suci itu, Mulia lagi Pengampun. Baca saja (QS; 67/2). Dzat Maha Suci menunjukkan garis hukum pada kita (manusia). Namun terserah pada kita, mau bersyukur atau mengingkarinya. Baca saja (QS; 76/3)

Kehidupan ini bukanlah akan berlalu tanpa sebab akibat, tetapi berlangsung dengan catatan atas semua gerak dzahir dan batin, yang menentukan nilai setiap individu, untuk kehidupan konkrit, nantinya di alam akhirat, dimana Hidup terpisah antara yang beriman dan yang tidak beriman untuk selamanya.

Dengan uraian saya yang singkat dan sederhana ini, jelaslah sudah, bahwa kesadaran murni itu, adalah mengenal Hidup. Mengenal Hidup itu, indah dan bermanfaat. Karena Hidup yang bersemayan di dalam setia diri kita, jika di kenali seagi masih bersemayan di diri kita. Bukan hanya akan menjelaskan kenapa adanya hidup ini, tetapi juga memberikan artinya Hidup serta tujuannya yang harus dicapai oleh setiap diri. Dan dengan Kata Maaf yang Tiadatara. Saya bertanya; SUDAHKAN ANDA MENGENAL HIDUP ANDA…?!

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Iklan

Cara Menemukan Kesadaran Murni didalam Laku Spiritual:


Cara Menemukan Kesadaran Murni didalam Laku Spiritual:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Rabu Pon. Tgl 27 Juli 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian… Ketahuilah. Seseorang yang telah menemukan kesadaran murni, dan telah mendapatkan pencerahan dari Hidupnya sendiri, tidak akan bersandar pada siapapun, pada suatu apapun dan tidak akan membuat dirinya sandaran Bagi siapapun. INGAT Itu.

Sebab… Kesempurna’an seluruh pencipta’an ini. Sesungguhnya ada padatiap-tiap diri manusia hidup. Dan tujuan ini, hanya dapat dipenuhi jika manusia hidp itu, telah dapat menyadarkan bagian dari dirinya, yang mewakili Dzat Maha Suci/Tuhan-nya, yaitu Dzat Maha Suci/Tuhan itu sendiri.

Laku Spiritual, hanya dapat dibangkitkan ketika manusia hidup, dengan segenap jiwa raganya, laku hanya kepada Dzat Maha Suci/Tuhan. Karena Dia adalah,,, sandaran yang paling hakiki. Maksudnya; Sumber energi atau kekuatan yang sangat kuat tanpa batas, dan tidak pernah habis. Karena Dzat Maha Suci adalah pemelihara dan pelindung terhadap seluruh makhluk-Nya, tanpa kecuali.

Ada kisah dari salah satu Nabi yang saya sukai, yaitu Nabi Muhammad saw; Pada suatu ketika, Nabi Muhammad diancam akan dibunuh, dengan sebuah pedang yang terhunus di leher Nabi, oleh seorang pembunuh bayaran.

Si pembunuh yang telah meletakan pedang di leher Nabi, dengan nada mengancam berkata ”Siapa yang dapat menyelamatkan Engkau dari pedangku ini?”

Dengan PD, penuh percaya diri dan Iman, maksudnya, keyakinan yang mantap Nabi menjawab “Allah!”

Spontan pedang Si pembunuh terpental , dan pedang dapat diambil oleh Nabi dan mengancam balik Si pembunuh yang tengah menggigil.
”Sekarang siapa yang dapat menyelamatkanmu?”

“Tidak ada,” Jawab si pengancam yang hendak membunuh.
“Hanya belas kasihmu yang bisa menyelamatkan saya.”

Romo Semono Sastrohadijoyo menjelaskan tentang bagaimana Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Hare Cokro Semono menjadi sumber kekuatan dan sumber energi tanpa batas. Yang kalau saya jelaskan dengan bahasa sederhananya, agar mudah di pahami. Seperti ini INTInya.

Jika seorang Putro Romo dapat menggantungkan gelar gulung dirinya, dengan sepenuhnya, hanya kepada Sang Dzat Maha Suci, maka sesungguhnya ia berada dalam pemelihara’an-Nya, (lebur manunggal menjadi satu dengan-Nya), sehingga tidak ada satupun kekuatan yang dapat mencelakakannya. Ketika seseorang butuh bantuan-Nya, segera Dia memberikan bantuan tanpa menunggu perantara/utusan. Karena itulah Romo Semono Sastrohadijoyo Mengingatkan “Ana apa-apa Kunci. Ora ana apa-apa Kunci”

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian… Ketahuilah bahwa sesungguhnya, walaupun seluruh manusia dan jin memberi pertolongan dan bantuan kepadamu, mereka tidak akan mampu memberikannya, terkecuali sesuatu yang telah ditetapkan Dzat Maha Suci untukmu. Dan sebaliknya, bila mereka menjahatimu, maka merekapun tidak akan dapat melakukanya kepadamu, terkecuali yang telah ditetapkan oleh Dzat Maha Suci atasmu. Sebab itu. Romo Semono Sastrohadijoyo wanti-wanti dalam sabda-nya “Ana apa-apa Kunci. Ora ana apa-apa Kunci”

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian… Coba Perhatikan Kata-Kata Romo Semono Sastrohadijoyo. (Jika seorang Putro Romo dapat menggantungkan gelar gulung dirinya, dengan sepenuhnya, hanya kepada Sang Dzat Maha Suci, maka sesungguhnya ia berada dalam pemelihara’an-Nya, (lebur manunggal menjadi satu dengan-Nya), sehingga tidak ada satupun kekuatan yang dapat mencelakakannya. Ketika seseorang butuh bantuan-Nya, segera Dia memberikan bantuan tanpa menunggu perantara/utusan. Karena itulah Romo Semono Sastrohadijoyo Mengingatkan “Ana apa-apa Kunci. Ora ana apa-apa Tetep Kunci”)

Apa detail dari “Ana apa-apa Kunci. Ora ana apa-apa Kunci itu?” Peliharalah Dzat Maha Suci Tuhanmu Didalam Jiwa Ragamu.

Maksudnya;
Peliharalah Dzat Maha Suci Tuhanmu di dalam jiwa ragamu, niscaya Dia memelihara-Mu. Peliharalah Dzat Maha Suci Tuhanmu di dalam jiwa ragamu, niscaya kamu mendapati-Nya, selalu ada dihadapanmu, di belakangmu, disampingmu, diatas dan dibawahmu dan didalam dirimu. Apabila kamu bermohon, maka bermohonlah hanya kepada Dzat Maha Suci Tuhanmu. Apabila kamu meminta pertolongan, maka mintalah hanya kepada Dzat Maha Suci Tuhanmu. Apabila kamu mencintai, maka cintailah Dzat Maha Suci Tuhanmu. Apabila kamu mengasihi, maka kasihilah Dzat Maha Suci Tuhanmu. Apabila kamu menyayangi, maka sayangilah Dzat Maha Suci Tuhanmu. Jangan yang lain selain-Nya. Agar iman-mu tidak terbagi, agar supaya kesadaran-mu murni “Tan kemomoran”.

“Ana apa-apa Kunci. Ora ana apa-apa Kunci” (Peliharalah Dzat Maha Suci Tuhanmu Didalam Jiwa Ragamu).

Adalah merupakan kalimah yang ampuh, yang keluar dari sabda lisan Romo Semono Sastrohadijoyo, untuk kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. mungkin ada diantara kita yang selama ini telah mengabaikan kalimat “Ana apa-apa Kunci. Ora ana apa-apa Tetep Kunci”, yang artinya telah melupakan Dzat Maha Suci.

Seseorang butuh manakala ia gagal dalam menjalani hidup. Tuhanpun bukan lagi awal dan akhir dari setiap perbuatan, melainkan hanya sampingan. Tuhanpun hanya sebagai pelarian, bukan tujuan. Begitupun sebaliknya. Padahal kitalah yang membutuhkan hubungan ini agar selalu harmonis dengan-Nya. He he he . . . Edan Tenan.

Lalu….
Bagaimana Cara Menemukan Kesadaran Murni didalam Laku Spiritual…?! Jawabannya; “BERSIHKAN HATI DAN BUKA PIKIRANmu Dengan Jernih”

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian… Menurut Pengetahuan Laku Spiritual Pribadi saya Wong Edan Bagu. Tuhan-Dzat Maha Suci itu, Indah dan Tenteram serta mencintai, mengasihi, menyayangi semua dan segalanya yang telah di ciptakan-Nya. Itu sebab, seluruh mahluk hidup, memuja-Nya dan Berburu dengan berbagai macan cara untuk mendapatkan-Nya.

Pertanya’annya sekarang. Apa buktinya kalau Tuhan Dzat Maha Suci itu Indah dan Tenteram..?!

Ini Buktinya;
Buktinya… Tidak seorangpun yang menyukai keburukan atau kejelekan. Semuanya menyukai ke INDAHAN. Demi sebuah keindahan, berbondong-bondong mendatangi pantai, tanpa takut bahaya dari ombak di tepinya. Iya apa iya? Ini membuktikan kalau Dzat Maha Suci Tuhan itu Indah, dan menanamkan keindahan itu pada tiap-tiap diri manusia hidup cipta’an-Nya.

Buktinya… Tidak ada seorangpun yang bisa sehat bugar kalau tidak tidur. Baik siang maupun malam. Yang namanya Tidur itu, harus. Tidak bisa tidak. Pada hakikatnya, tidur adalah Tenteram. Jika tidak Tenteram. Tidak akan bisa tidur. Iya apa iya?

Lalu apa buktinya kalau Tuhan Dzat Maha Suci itu mencintai, mengasihi, menyayangi semua dan segalanya yang telah di ciptakan-Nya..?!

Mudah… Ini Buktinya;
Apa mungkin bisa ada di Dunia ini. Jika tidak di cintai, di kasihi, di sayangi-Nya…?!

Tapi Kenapa…?!
Ada orang yang penampilannya indah, tapi ia tidak disukai orang lain? Kenapa ada orang yang memiliki rumah yang megah tapi hidupnya tidak bahagia ? Kenapa ada orang yang suaranya indah, tapi akhirnya ia mengalami nestapa ? Kenapa ada orang yang mencintai dan mengasihi serta menyayangi, namun di balas dengan kebencian, caci maki, fitnah dan keburukan lainya ?

Sebaliknya, ada orang tua yang secara fisik tidak menarik, tapi dicintai dikasihi di sayangi banyak orang. Ada orang yang tunanetra tapi suaranya dipuji banyak orang. Ada tukang hasut, tukang adu domba, tapi justru banyak teman, di percaya, ada tukang tipu tapi di percaya, jahat tapi kaya raya dll.

Jawabanya;
Pasti ada apa-apanya dibalik fenomena tersebut. Maka… Laku-lah-Baca-lah “Kunci” Ana apa-apa Kunci. Ora ana apa-apa Kunci.

Praktekan Wahyu Panca Gha’ib dengan Panca Laku. Tanpa begitu, kita takan pernah bisa mengerti apalagi paham. Karena ini sudah menyangkut Dzat Maha Suci Hidup. Jadi,,, hanya dengan Bersama-Nya ah kita bisa Tau. Untuk itu….

Peliharalah Dzat Maha Suci Tuhanmu di dalam jiwa ragamu, niscaya Dia memelihara-Mu. Peliharalah Dzat Maha Suci Tuhanmu di dalam jiwa ragamu, niscaya kamu mendapati-Nya, selalu ada dihadapanmu, di belakangmu, disampingmu, diatas dan dibawahmu dan didalam dirimu. Apabila kamu bermohon, maka bermohonlah hanya kepada Dzat Maha Suci Tuhanmu. Apabila kamu meminta pertolongan, maka mintalah hanya kepada Dzat Maha Suci Tuhanmu. Apabila kamu mencintai, maka cintailah Dzat Maha Suci Tuhanmu. Apabila kamu mengasihi, maka kasihilah Dzat Maha Suci Tuhanmu. Apabila kamu menyayangi, maka sayangilah Dzat Maha Suci Tuhanmu. Jangan yang lain selain-Nya. Agar iman-mu tidak terbagi, agar supaya kesadaran-mu murni “Tan kemomoran”.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

MAKSUDNYA ROMO SEMONO KEPADA PUTERO ROMO:


Pesarean Romo Semono

MAKSUDNYA ROMO SEMONO KEPADA PUTERO ROMO:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Sabtu Wage. Tgl 23 Juli 2016

Salam Rahayu Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian….
Dulu,,, semasa Romo Semono Sastrohadidjoyo masih sugeng/Hidup, setiap waktu, beliau nyaris tidak pernah istirahat, karena di setiap waktunya, selalu ada Putero Romo yang datang menghadap beliau, baik secara lahir maupun secara bathin. Namun,,, sesibuk apapun, beliau tetap siap sedia sebagai Pandita Ratu. Beliau juga bisa bertani, seperti mengolah sawah, mulai dari menggarap, menanam hingga ke panen, disisi lain, beliau menerima tamu, disisi lain agi, beliau bersenda gurau bersama kedua istrinya, disisi lain, beliau Laku Patrap Semedi, manembah kepada Tuhan. Di samping menerima semua karakter tamu yang datang, khususnya Para Putero Romo, semua dan segala tetek bengeknya kehidupan manusia sewajarnya, tidak ada satupun yang terbengkalai.

Hal ini di lakukannya secara bersama’an. Sungguh luar biasa bukan? Jika kita tidak teleti, sudah pasti tidak akan mengrti, apa agi tau maksudnya. Maksud Romo Semono melakukan ini, bukan karena pamer kesaktian atau menunjukan kelebihannya, sebagai Pandita Ratu Piihan. Tapi mengajari kita semua, bahwa kita harus bisa mengetahui dengan sadar, mana kepentingan dan mana keperluan, karena dengan mengetahui, mana kepentingan dan mana keperluan, siapapun dia, apa lagi Putero Romo, pasti bisa meletakan kepentingan pada tempatnya kepentingannya, dan keperluan pada keperluannya secara tepat dan benar.

Seperti yang telah di contohkan oleh Romo Semono yang sudah saya jelaskan diatas, sehingganya, tidak ada satupun yang terbengkalai, semuanya menjadi laku, artinya tidak ada yang sia-sia dan percuma, serta berakhir dengan sempurna. Untuk itu, ketahuilah dengan sadar, mana yang penting dan mana yang perlu, lalu letakan pada tempatnya masing-masing, jangan di campur aduk menjadi satu, seperti es cendol campursari.

Romo Semono kan Pandito Ratu. Ya jelas bisa lah,,, pada sa’at yang bersama’an, bisa di sawah, bisa menerima tamu, bisa bersama istri dll, sedang kita apa? Tidak mungkin bisa…!!!

Apapun dan siapapun serta bagaimanapun itu Romo Semono. Hakikatnya adalah Wahyu Panca Gha’ib dan Syare’atnya adalah Wahyu Panca Laku. Tidak punya selain itu dan tidak menggunakan apapun selain itu. Artinya; apakah kita tidak punya, apa yang di miliki oleh Romo Semono? Bukankah kita memiliki yang sama?

Tapi Romo Semono kan manusia pilihan…
Semua manusia hidup itu, adalah pilihan, bukankah Tuhan sudah berfirman soal kesempurna’an kita sebagai manusia hidup, di banding mahkluk lainnya…!!! tidak ada alasan untuk tidak bisa, sementara kita memiliki dan melakukan hal yang sama. Berjalan di jalan yang sama dan menuju pada satu titik yang sama pula.

Mengenai hal ini, saya beri satu bahan mentah, agar mudah untuk mengetahui dan memilahnya. Ini bahannya: (Dzat Maha Suci Hidup itu Penting dan Isi dunia itu Perlu). Silahkan di olah sendiri, menurut masing-masing kemampuan. Ingat…!!! jangan di campur aduk, dan tempatkan pada tempatnya masing-masing. Jika kita bisa paham harus bagaimana sa’at berkepentingan dan harus bagaimana sa’at berkeperluan. KITA BISA. Romo bisa. Artinya kita juga bisa. Nabi bisa. Artinya kitapun bisa. Wali bisa. Artinya kita juga bisa. Titik.

Salam Rahayu Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian….
Ada lagi adegan yang pernah di peraga’an oleh Romo Semono, semasa beliau masih Hidup. Buat contoh bagi kita semuanya.

Seperti yang sudah saya jelaskan diatas, bahwa Romo Semono, setiap waktu di datangi para menusia-manusia hidup yang berkepentingan, khususnya Putero Romo. Ada tamu seorang pedagang, minta penglarisan, oleh Romo Semono di beri Kunci. Ada pejuang minta jimat untuk keselamatan, di beri Kunci oleh Romo Semono. Ada lelaki atau wanita ngorak yang belum mendapatkan jodoh, minta pengasihan, di beri Kunci oleh Romo Semono. Ada yang rumahnya angker, minta tumbal, biyar rumahnya jadi aman dan nyaman, di beri Kunci oleh Romo Semono. Ada yang sakit minta obat, di beri Kunci oleh Romo Semono. Ada yang minta ilmu kesaktian jaya kawijaya, di beri Kunci oleh Romo Semono. Bahkan ada yang ingin mengenal Tuhan yang di sembah dan di pujanya selama hidup, apapun agamanya atau kepercaya’annya, tetap di beri Kunci oleh Romo Semono.

Cukup membingungkan jika tidak sadar telitinya. Jika kita sadar dalam ketelitian, akan mengerti maksudnya Romo Semono melakukan ini, karena bersama’an sa’at Kunci di berikan. Romo Semono bersabda; Eling/Ingat “Ono opo-opo Kunci. Ora ono opo-opo tetep Kunci” (ada apa-apa Kunci. Tidak ada apa-apa tetap Kunci). Pasti slamet/pasti bisa/pasti sukses/pasti berhasil/pasti sampurno.

Inilah maksud dari Kalimat. Kalau Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan agama, bukan kepercaya’an, bukan kejawen, bukan kebathinan, bukan perguruan, bukan partai atau golongan, bukan adat istiadat dll, karena siapapun dia dan bagaimanapun dia, bisa jalankan Wahyu Panca Gha’ib. Sebab Wahyu Panca Gha’ib adalah Hidup. Hidup yang menempati semua wujud manusia Hidup, tidak peduli apapun agama dan kepercaya’an serta alirannya.

Ini maksud dari Kalimat. Bahwa Kunci itu bisa untuk apa saja. Bergantung si pelakunya mau berjalan ke arah mana dan menuju apa. Asalkan benar-benar dengan sadar “Ono opo-opo Kunci. Ora ono opo-opo tetep Kunci” (ada apa-apa Kunci. Tidak ada apa-apa tetap Kunci). Maksud lebih jelasnya adalah. Laku Patrap Semedi Panca Gha’ibnya. Jangan di saat ada masalah saja, di saat lagi tidak punya uang saja. Sekalipun lagi tidak ada masalah dan lagi punya banyak uang, tetap Laku Patrap Semedi Panca Gha’ib. Begitu bro,,, maksudnya.

Salam Rahayu Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian….
Ada lagi adegan yang pernah di peraga’an oleh Romo Semono, semasa beliau masih Hidup. Buat contoh bagi kita semuanya.

Pada waktu itu. Persiden ir Soekarno sedang sakit. Lalu beliau memerintahkan dua orang ajudannya, untuk memanggil Romo Semono datang ke jakarta, di istana kepersidenan, guna mengobati penyakit beliau, lalu, pergilah dua orang ajudan itu, menemui Romo Semono di sejiwan purworejo, dengan membawa mobil dimas Persiden. Setibanya, dihadapan Romo Semono, kedua ajudan yang dalam tugas ini, menyampaikan perintah Persiden. Namun di tolak oleh Romo Semono.

Lalu Romo berkata “Yang butuh itu siapa? Yang Peru itu siapa? Masak iya, sumur di suruh mendatangi timba” dengan begitu, lalu kedua ajudan itu, kembali ke jakarta dengan hampa, maksudnya tanpa berhasil membawa Romo Semono ke istana kepersidenan. Di sepanjang perjalanan, kedua ajudan ini, ketar ketir,,, harus melapor bagaimana nantinya. Setibanya di istana kepersidenan. Kedua ajudan ini, langsung menghadap dengan tekad untuk melapor. Namun betapa terkejutnya kedua ajudan itu, sa’at memasuki pintu dimana sang Persiden berbaring sakit. Kedua ajudan itu, melihat Romo Semono sedang duduk santai memberikan wejangan-wejangan pada sang Persiden, dan sudah selesai di sembuhkan. Mengertikah Anda, apa maksud dari adegan ini…?!

Romo Semono memberikan contoh pada kita semuanya, agar kita seperti kacang lupa kulitnya, atau sebaliknya. Romo Semono mengajari kita, agar bisa memilah dan menempatkan, mana yang perlu dan mana yang penting. Mana yang harus dan mana yang tidak harus. Walaupun Romo Semono bisa tau, mengerti dan paham akan hal itu, namun Romo Semono tetap melakukan darma baktinya sebagai Pandito Ratu, untuk itu, Romo Semono tetap datang menemui Persiden, karena dengan ketidak tauan sang Persiden itu. Romo Semono bisa menyampaikan Firman Tuhan kepada Persiden, walaupun hanya se ayat dua ayat. Sedangkan kedatangannya yang secara gha’ib itu, sebagai tanda, bahwa Putero Romo itu, bukanlah hal yang sepele dan remeh, jika di statuskan, jabatan Persiden, itu tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan status Putero Romo, sebab Putero Romo menguasai dengan sadar, pengetahuan tentang dan soal semua Hakikat Hidup dalam kehidupan di dimensi manapun dan apapun, sedangkan Persiden, hanya soal politik dunia, sedangkan akheratnya, bergantung sikon. Jadi,,, ga mentang hebat, lalu mengabaikan yang belum hebat, mentang-mentang tau dan bisa, lalu meninggalkan yang belum tau dan bisa.

Salam Rahayu Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian….
Ada lagi adegan yang pernah di peraga’an oleh Romo Semono, semasa beliau masih Hidup. Buat contoh bagi kita semuanya.

Kala itu… Kadhang kita, dokter Wahyono almarhum, sedang dalam tugas negara, di desa terpencil yang susah di angkau dengan transpot apapun, lalu beliau sowan secara gha’ib kepada Romo Semono, dan bertanya; “Romo,,, saya sedang menghadapi banyak pasien yang harus segera di tolong/diobati, sementara obat yang di perlukan, sudah tidak ada, apa yang harus saya lakukan Romo”. Romo Semono menjawab ” munduto tuyo sak ember, banjur sowan maring ramane, sabdanen tuyo kuwi, minongko gantine obat waras” (Ambilah air satu ember, lalu menghadap kepada Tuhanmu, sabdalah air itu, sebagai ganti obat sembuh). Mengertikah Anda, apa maksud dari adegan ini…?!

Salam Rahayu Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian….
Maksud dari adegan ini. Adalah sebagai berikut; Dengan ini Romo Semono memberikan contoh kepada kita semuanya. Dalam menghadapi masalah apapun dan bagaimanapun. Temuilah Tuhan terebih dahulu, dan dalam sikon sedang bersama Tuhan itulah, kau boleh lakukan apapun cukup dengan menyabda saja. Saya ulangi, cukup menyabda. Tidak ribet dan repot kan? Cukup Sabda. Tak harus mengeluarkan keringat dan tenaga dll, itu tidak penting. Asalkan kita bersama Tuhan. Semuanya tidak penting, jika di perlukan, cukup bersabda. Waras/Sembuh. Maka sembuhlah apapun yang sedang sakit. Begitu istimewa dan luar biasanya bukan… jika bisa bersama Tuhan selalu. Terus,,, kenapa kita tidak mau selalu bersama Tuhan? Bukankah Firmannya sudah jelas, bahwa kita tiada daya apapun jika tanpa Tuhan.

Dan masih banyak Adegan-Adegan Contoh dari Romo Semono yang pernah di peragakan secara langsung dan detail juga nyata, di hadapan Para Putero Romo Khususnya. Namun sayang, hanya sebatas kagum yang di munculkan, bukan pengkajian lakunya yang di gelar dan di gulung. Dan apa yang sudah saya jelaskan diatas, itu baru sekelumitnya. Maka… Jangan Asal.

Karena itu, dengan Wahyu Panca Gha’ib. Sudah kah kita selalu bersama Tuhan. Kalau sudah bersama Tuhan. Seperti ini atau seperti itukah sipat dan sikap laku kita kepada apapun dan terhadap siapapun…?!

Soal ini, mari kita sama-sama mengkaji diri, tidak usah risaukan yang lainnya, asalkan kita benar-benar bersama Tuhan, semuanya akan baik-baik saja. Kalau belum baik-baik saja, berati masih belum, maka Panca Laku-lah. He he he . . . Edan Tenan.

Kalau selalu bersama-Nya. Maka sipat dan sikap manusiawi-nya akan sesuai dengan Firman-Nya. Seperti dibawah ini:

Romo Pernah Ngudang/menimang Putero Romo seperti ini;
“Heh,,, Putraningsun sami. Pra satriya lan wanita. Mrenea sun jarwani. Mangertiya jenengsira. Wus Ingsun sabda dadi Kitab suci sejati. Adam makna wastanipun. Iku wujudira. Wulang-reh sejati. Iku uninira. Ber-budi bawa-leksana. Kadya lakunira. Pratanda jenengsira Putraningsun”.

WEJANGAN Tanpa Tedeng Aling-Aling:
Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian…. Ketahuilah;
Sapa kang manggula wentah ragane manungsa, iya Urip. Kang ngobahake ragane manungsa, iya Urip. kang muna muni, iya Urip. kang krasa-rumangsa-ngrasakake, iya Urip. Mula Urip kang pinilih sekalir. Kang sinembah Urip. Urip kang sinembah sakabehing Urip (sedarum) Marga Urip kang kagungan. Kang amengkoni sakabehing kahanan. Kahanane wujud wewujudan kang gumelar aneng ngalam dunya. Iku kabeh den wengkoni Urip. Urip kang kagungan purbawasesa. Kang nguwasani kabeh kahanan. Mula Urip kang gawe gelar gulung. Ana saka dene Urip. Datan ana, saka dening Urip. Urip iku yekti, Urip kang mahanani sakabehing kahanan. Mula sesembahan nyata, ora nana liya, Iya mung Urip. Bukti luhur luhuring Urip. kang sarwa tuwuh manuwuh, kang sarwo semi manyemi. Iku yektine Urip.

Gumelaring jagad anyar saisine pisan. Anane mung ringgit purwa. Lampahanipun. Manasuka Manunggal. Dalangipun. Bocah saka gunung Heru Cokro Semono. Iku kang mandegani pagelaran aneng jagad agung ngalam donya. Waranggane. Rasa Sejati. Gamelane dudu gamelan perunggu. Gamelan Lokananta. Swarane gemludug. Kang dewe-dewe muna munining Urip. Ringgit purwanipun waca. Elinga purwaning dumadi. Purwaning dumadi manungsa Urip .

Tan liya saka dening Roh Suci. Kang sinabda tumurun. Gumelar aneng ngalam donya. Kang sarwo tuwuh manuwuh. Dedalane Manunggal. Kinantenan sarwa MIJIL. Nora gampang lungguh aneng jagad anyar. Ora bisa den lakoni batin, agama lan ngelmu utawa amal jariyah. Tangeh lamun jenengsira bisa tumeka. Lamun jenengsira tan mangerti mring KUNCI nipun. Iku Kunci-ning gesang. Dzat Maha Suci sesebutan Ingsun. Iku tumrap sakabehing manungsa Urip. Kang tumitah aneng ngalam donya. Toging angga marsudia badan pribadi. sesolah bawane pribadi, panuntunipun raga kasar. Katone wujud, kang anggendong mondong yekti Urip. Yekti nyata nyatane nyata.

Jenengsira turu binantalan Urip. kinemulan Urip, kinasuran Urip. Samobahing ragane saka krentege kalbu, apa kang jenengsira sedya kudu pada. Jenengsira tumekeng wujud, datan ana bedane krenteg kang mahanani. Yekti pada ana.

Salam Rahayu Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian, jika engkau senantiasa Eling/Ingat dan Waspada. Maksudnya “Ingat pada Panca Gha’ib. Waspada pada Panca Laku”. Tumindak Tetep, Idep, madhep, mantep . Pasti bakal Mengerti dan Paham. Tentang Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling diatas. Ini sudah waktunya, berbahaya bagi kita semuanya jika tidak Eling lan Waspada “Eling marang Panca Gha’ib. Waspada marang Panca Laku”. Tebarlah Cinta Kasih Sayang kepada apapun dan siapapun sebisa mungkin dan semampunya. Jagalah hati dari segala penyakit Sirik. Iri. Dengki. Hasut. Fitnah. Benci dan Dendam. Jika terasa sulit, cukup jagalah Pikiranmu dari segala yang tidak baik dan tidak penting.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Tentang Tingkat Kesadaran Spiritual Dan Cara untuk Mengetahui Tingkat Kesadaran Spiritual:


Tentang Tingkat Kesadaran Spiritual Dan
Cara untuk Mengetahui Tingkat Kesadaran Spiritual:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Sabtu Pahing. Tgl 16 Juli 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian. Manusia Hidp adalah mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, diantara ciptaan-ciptaan Tuhan yang lainnya. Maka dari itu, manusia hidup memiliki kelebihan seperti; mampu berfikir, bersosialisasi, bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk dan masih banyak lagi kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh manusia hidup.

Dari kelebihan itu, Manusia hidup memiliki sebuah pemikiran tingkat tinggi, yang menyebabkan mereka mampu mengetahui dari mana ia diciptakan. Mulailah mereka tahu bahwa dari Tuhan-lah segala sesuatunya berasal, termasuk manusia hidup. Dengan mengetahui hal itu, mereka membalas jasa Tuhan dengan cara menyembah atau memuja-NYA.

Karena sebab itu, tidaklah aneh, jika setiap manusia hidup, memiliki caranya masing-masing dalam menyembah Tuhan. Dan mulailah manusia hidup itu, membentuk suatu perkumpulan yang didalamnya terdapat orang-orang yang memiliki suatu kepercayaan yang sama, yang sekarang lebih kita kenal dengan sebutan sebagai AGAMA. Dalam sejarah dunia, diketahui bahwa Agama Hindu merupakan agama tertua yang pernah ada, itu dibuktikan dari berbagai penemuan-penemuan yang telah di temukan di india.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian. Di zaman serba modern ini, Kepercayaan manusia dengan adanya tuhan mulai berkurang. Itu terlihat dari tingkat spiritual mereka, yang selalu berubah seiring dengan bertambahnya zaman. Kita ketahui bahwa, Spiritual itu merupakan hal-hal yang selalu berhubungan dengan jiwa dan kerohanian. Spiritual yang baik akan menciptakan kecerdasan spitritual yang baik pula. Apabila Kecerdasan spiritual ini telah mencapai pada tingkat tertinggi, maka membantunya untuk mengembangkan dirinya secara utuh, melalui penciptaan dan kemungkinan untuk selalu menerapkan nilai-nilai positif dalam kehidupannya.

Sebelum kita ingin mengetahui tingkat spiritual orang lain. Maka alangkah lebih baiknya, kita mengetahui tingkat spiritual diri kita sendiri terlebih dahulu. Cara mengetahui tingkat spiritual yang paling baik dan tepat, adalah dari segi doa yang kita mohon kepada Tuhan di setiap harinya dan kebiasa’an kita dalam pergaulan sehari-harinya.

Tingkat Kesadaran Spiritual atau Spiritual level, adalah gambaran tentang kedewasa’an atau kapasitas kesadaran spiritual seseorang. Istilah ini berfungsi sebagai skala untuk mendefinisikan, pertumbuhan spiritual dan memberikan perspektif tentang dimana kita berada dalam perjalanan spiritual kita. Semakin tinggi tingkat kesadaran spiritual seseorang, semakin banyak pula prinsip tentang Dzat Maha Suci, yang termanifestasi di dalam individu tersebut.

Dan menurut saya pribadi. Tingkat Kesadaran Spiritual tertinggi atau puncak dari pertumbuhan spiritual seseorang, yaitu Kesadaran akan Diri Sejati (Kesadaran Murni) atau mencapai Kesatuan dengan Dzat Maha Suci.

Mayoritas manusia di era saat ini, secara umum dikenal sebagai Era Perselisihan, berada dalam kategori tingkat kesadaran spiritual dua puuh persen, seseorang yang berada di atas tingkat kesadaran spiritual tujuh puluh persen, dikenal sebagai Orang Suci. Sama seperti kita memiliki orang-orang yang berada di posisi atas, pada tiap-tiap bidang dalam dunia materi, begitu juga para Orang Suci yang tinggal di Bumi, berada di posisi atas dalam hal Spiritualitas. Mereka bukan hanya para cendekiawan, melainkan mereka juga praktisi dari ilmu pengetahuan Spiritualitas dalam hidup sehari-hari, dan merupakan Jiwa-Jiwa Suci (Roh Sejati) yang telah mencapai kesadaran sejati atau kesadaran murni akan Dzat Maha Suci.

Orang-orang Suci yang aktif dalam mengajar Spiritualitas dan membimbing para pencari Tuhan dengan spiritualitas, untuk tumbuh secara spiritual, dikenal sebagai para Guru. Kurang dari sepuluh persen dari Orang-orang Suci, yang hidup di Bumi adalah Guru (Pembimbing Spiritual). Guru adalah wujud fisik dari prinsip Pengajar tentang Dzat Maha Suci, dan mereka bertindak sebagai mercu suar, bagi pemahaman spiritual di dunia kita yang sangat materialistik ini.

Tingkat kesadaran spiritual, tidak dapat diukur oleh peralatan ilmiah modern apapun, dan juga tidak dapat dipastikan secara intelektual oleh siapapun. Hanyalah Seorang Suci atau seorang Guru, yang dapat memastikan tingkat kesadaran spiritual seseorang, dengan indera ke’enam atau kemampuan persepsi-Nya yang mendalam.

Pertanya’an ini sudah cukup sering dipertanyaan kepada saya, baik secara langsung maupun melalui media internet. Yaitu “Bagaimana Seorang Suci atau Guru Pembimbing Spiritual dapat mengukur dengan akurat tingkat kesadaran spiritual seseorang?”

Sama seperti mata dengan kemampuan dasarnya, yang dapat dengan mudah membedakan antara suatu objek berwarna biru dan objek berwarna merah dengan ketepatan seratus persen, begitu pula Seorang Suci atau guru pembimbing spiritual, dengan kemampuan indera keenam-Nya, dapat dengan akurat mengukur tingkat kesadaran spiritual anak-anak didik/muridnya. Indera ke’enam membuat seseorang mampu menajamkan kesadaran dan mengukur dengan akurat dunia yang tak kasat-mata (alam spiritual/ghaib).

Seperti sekelumit penjelasan saya dibawah ini, yang kemungkinan bisa di jadikan sebagai tolak ukur, untuk mengetahui tingkatan spiritual pribadinya. Sudah seberapa persenkah kadar iman atau kemampuan spiritualnya. Seiring meningkatnya tingkat kesadaran spiritual seseorang, sikap dan perspektifnya tentang kehidupan berubah secara dramatis.

Nah, Pertanyaannya sekarang adalah;
Bagaimana Cara Mengetahui Tingkat Spiritual seseorang…?!
Lalu… Bagaimanakah Tingkat Kesadaran Spiritual diukur?
Berikut beberapa tingkatan-tingkatan spiritual pada umumnya, yang pernah saya alami dulu.

Pertama Tentang Ego dan Tingkat Kesadaran Spiritual;
Salah satu faktor penting, dalam tingkat kesadaran spiritual seseorang, adalah seberapa banyak ego atau kegelapan di sekitar Jiwanya (Roh Suci/Hidup) yang telah dilenyapkan, dan seberapa mampu ia mengidentifikasikan dirinya dengan Jiwanya (Roh Suci/Hidup) yang ada di dalam dirinya.

Maksud saya, dengan kegelapan di sekitar Jiwa atau Ego, adalah kecenderungan manusia, untuk melihat dirinya, hanya berdasarkan panca indera, pikiran dan intelek. Ego ini juga dikenal sebagai ketidaktahuan spiritual, akan Hakikat Manusia Hidup, yakni Jiwanya (Roh Suci/Hidup). Sistem edukasi modern dan masyarakat mengajari kita untuk mengidentifikasikan diri kita dengan tubuh fisik, pikiran dan intelek (akal budi), karena tidak tahu bahwa Hakikat Manusia Hidup sebenarnya adalah Jiwa (Roh Suci/Hidup).

Setelah mempelajari ilmu pengetahuan Spiritualitas, meskipun kita dapat memahami secara intelek, tentang keberadaan Jiwa (Roh Suci/Hidup) di dalam diri kita, kita belum dapat merasakan atau mengalaminya. Setelah kita melakukan latihan spiritual, kegelapan jiwa (ego) akan mulai berkurang, sampai kita mencapai tingkat kesadaran spiritual tertinggi, di mana kita dapat secara utuh, mengidentifikasikan diri dengan Jiwa (Roh Suci/Hidup) yang ada di dalam diri kita. Dengan praktek spiritual, ego kita mulai berkurang, yang mana berkaitan langsung dengan meningkatnya, tingkat kesadaran spiritual kita.

Pada tingkat kesadaran spiritual dua puluh persen, seseorang sangatlah egois, sadar hanya akan dirinya sendiri dan hanya berpikir tentang dirinya sendiri. Setelah kita melakukan latihan spiritual, kesadaran tentang tubuh fisik kita akan berkurang. Kita tidak hanya akan mampu bertahan dari ketidaknyamanan dan penderitaan, tetapi kita juga mampu untuk menerima pujian tanpa menjadi besar kepala.

Contoh misalnya suatu indikasi dari ego yang tinggi;
Ada seseorang tidak secara terbuka, mengakui bahwa ia melakukan latihan spiritual, karena hal itu mungkin membuatnya terasing dari teman-temannya. Dalam kebanyakan kasus, kita juga sering bereaksi negatif ketika orang lain menunjukkan kesalahan kita. Ketidak mampuan menerima kesalahan in, merupakan salah satu tanda dari ego.

Pada tingkat kesadaran spiritual tiga puluh persen, terdapat ketertarikan secara umum, untuk pergi ke tempat ziarah atau menyembah Dzat Maha Suci dengan cara ritualistik.

Pada tingkat kesadaran spiritual empat puluh persen, seseorang akan memiliki ketertarikan untuk mendapatkan pengetahuan spiritual dan menerapkannya. Mereka akan menghabiskan sejumlah waktu luangnya untuk pengejaran spiritual.

Pada tingkat kesadaran spiritual lima puluh persen, seseorang umumnya maju melampaui agama mereka sendiri, menuju Spiritualitas murni. Fokus utama dalam hidup orang tersebut, adalah untuk tumbuh secara spiritual, dan tidak lagi untuk pencapaian dan keterikatan duniawi. Seiring itu, mayoritas dari waktu mereka, akan dihabiskan untuk menerapkan Spiritualitas, tidak peduli apapun situasi kehidupannya, entah mereka pebisnis, ibu rumah tangga, buruh dll.

Jadi orang tersebut, yang sebelumnya sangat memperhatikan apa yang ia dapatkan dan apa yang orang pikirkan tentang dirinya, sekarang akan lebih tertarik pada apa yang Dzat Maha Suci pikirkan tentang dirinya.

Kedua Tentang Emosi Psikologis dan Tingkat Kesadaran Spiritual;
Dalam dunia kini yang egois dan kejam, memiliki emosi-emosi (perasaan) positif, khususnya mengenai orang lain adalah hal yang baik. Tetapi setelah mencapai tingkatan ini, walaupun lebih baik dibandingkan rata-rata orang yang kejam dan tidak berperasaan, seseorang harus mengingat bahwa hal itu belumlah puncak pencapaian.

Kenyata’annya, emosi psikologis adalah suatu fungsi dari pikiran yang merupakan bagian dari selubung gelap di sekitar Jiwa (Roh Suci/Hidup) kita, seperti yang sudah saya jelaskan di atas. Maka, emosi menjauhkan kita dari Jiwa/Roh Suci/Hidup yang ada di dalam diri kita.

Dzat Maha Suci melampaui emosi psikologis dan berada dalam kondisi kebahagia’an puncak/superlatif yaitu Bahagia Sejati. Ketika seseorang tumbuh secara spiritual, kemungkinan orang tersebut untuk bertindak secara emosional akan berkurang. Karen dia mencapai kondisi pikiran yang lebih seimbang dan tidak lagi dia akan terombang-ambing di antara kebahagiaan dan kesedihan, akibat peristiwa-peristiwa di sekitarnya.

Ketiga Tentang Emosi Spiritual dan Tingkat Kesadaran Spiritual;
Emosi spiritual terhadap Dzat Maha Suci, adalah mengalami kesadaran secara intensif, tentang keberadaan Dzat Maha Suci dalam segala hal, yaitu merasakan kehadiran Dzat Maha Suci, saat melakukan aktivitas sehari-hari dan mengalami hidup berdasarkan kesadaran tersebut.

Ketika emosi spiritual seseorang meningkat, orang tersebut akan semakin mampu untuk mengalami uluran tangan Dzat Maha Suci dalam setiap aspek kehidupan, dan oleh sebab itu, dia mampu untuk lebih berserah diri kepada Dzat Maha Suci. Setelah seseorang mencapai kondisi berserah diri tersebut, prinsip Dzat Maha Suci, kemudian dapat bekerja melaluinya. Prinsip ini menjadi semakin termanifestasi di dalam orang tersebut dan dia beserta orang-orang di sekitarnya, mengalami aliran Energi Ilahi Dzat Maha Suci, melalui diri orang tersebut.

CONTOH:
Seorang pada tingkat kesadaran spiritual dua puluh persen, akan merasa bangga akan dirinya dan kemampuan inteleknya, setelah menutup sebuah transaksi yang besar dan bergengsi. Dan kalau berdoa, doanya akan seperti di bawah ini;

“Ya Tuhan,,, berilah hambamu ini kebahagia’an, hambamu ini sangat miskin, berilah hamba harta yang banyak, agar aku bisa menikmati hidup yang telah engkau berikan kepadaku”

Nah,,, apabila Anda merasa bangga akan diri dan kemampuan intelek Anda, dan sering berdoa seperti diatas. Berati kesadaran spiritual atau kadar iman Anda baru mencapai dua puluh persen. Yaitu tingkat iman atau level spiritual terendah.

Sedangkan seseorang pada tingkat kesadaran spiritual tiga puluh persen, akan merasa sangat sulit untuk mencari waktu, dalam jadwal sibuknya, untuk menghadiri pengajian atau satu ceramah spiritual. Dan kalau berdoa, doanya akan seperti di bawah ini;

“Ya Tuhanku,,, aku memohon kepadamu. Berikanlah hambamu ini, keadilan, hukumlah orang-orang yang telah menyakiti hamba, melukai hamba dan menghianati hamba, sebagaiaman mestinya”

Apabila Anda mengalami kesulitan meluangkan waktu di setiap adwal kesibukan sehari-hari, untuk mengikuti pengajian atau secaramah spiritual dan sering berdoa seperti diatas. Berati kesadaran spiritual atau kadar iman Anda baru mencapai tiga puluh persen.

Tapi Orang yang sama dengan beban duniawi yang setara juga, setelah mencapai tingkat spiritual empat puluh persen, akan dengan mudah menemukan waktu secara teratur, untuk menghadiri ceramah-ceramah spiritual dan secara teratur membaca pelajaran teks-teks spiritual, baik itu berupa buku ataupun artikel di internet. Dan cara berdoa seperti di bawah ini;

“Ya Tuhanku,,, Berikanlah hambamu ini keselamatan lahir bathin, sehingga aku bisa menempuh segala macam rintangan yang engkau berikan kepadaku ya Tuhan”

Atau…
“Ya Tuhan,,, Berikanlah keluargaku keselamatan, kakak adiku, ibuku dan juga ayah bundaku, semoga selalu dalam lindunganmu”

Apabila Anda mengalami kemudahan dalam menemukan waktu secara teratur, untuk menghadiri ceramah-ceramah spiritual dan secara teratur membaca pelajaran teks-teks spiritual, baik itu berupa buku ataupun artikel di internet. Dan cara berdoa seperti diatas ini. Berati kesadaran spiritual atau kadar iman Anda telah mencapai empat puluh persen.

Dan seseorang pada tingkat kesadaran spiritual lima puluh persen, dalam keadaan beban duniawi yang sama, akan hanyut dalam emosi spiritual dan penuh rasa syukur kepada Dzat Maha Suci, untuk kebaikan-Nya dalam memberkatinya, serta cara berdoanya seperti di bawah ini;

“Ya Tuhan,,, Engkau maha pengasih dan penyayang, karuniailah seluruh mahluk hidup di dunia ini keselamatan dan kesadaran, sehingga dunia ini di penuhi hal-hal yang positif dan kedamaian”

Apabila Anda mengalami hanyut dalam emosi spiritual dan penuh rasa syukur kepada Dzat Maha Suci, untuk kebaikan-Nya dalam memberkatinya, serta cara berdoanya seperti di bawah ini. Berati kesadaran spiritual atau kadar iman Anda telah mencapai lima puluh persen.

Lain lagi jika seseorang yang tingkat kesadaran iman spiritualnya, telah mencapai kadar enam puluh persen keatas. Selain penuh rasa syukur kepada Dzat Maha Suci atas apapun itu, diapun sudah tidak mempermasalahkan lagi, tentang baik dan buruk, tidak membedakan lagi soal salah dan benar, karena dia telah mengetahui dengan sadar, bahwa baik dan buruk serta salah dan benar itu, berasal dari satu sumber, yaitu Dzat Maha Suci, jadi,,, tidak untuk di permasalahkan dan di bedakan, apa lagi di perdebatkan, melainkan di sikapi dengan kemurnian iman spiritual/Laku. Yang ada di dalam pikirannya, hanya tentang bagaimana caranya agar bisa menebar cinta kasih sayang terhadap sesama mahluk hidup, yang ada di dalam hatinya, hanya soal bagaimana caranya agar Dzat Maha Suci Mencintai. Mengasihi. Menyayangi nya. Dan doanyapun seperti di bawah ini;

“Ya Tuhan… Jika engkau menurukan hambamu ini ke dunia, untuk menebus segala dosa-dosa yang telah aku lakukan dahulu dan menyempurnakan karma-karma leluhurku. Berikanlah aku penderita’an dan rintangan, jangan berikan aku kebahagia’an dan kesenangan. Karena kebahagia’an dan kesenangan itu, hanya akan menambah dosa salah dan luputku”

Jadi,,, jika seseorang pada tingkat kesadaran spiritual lima puluh persen, hanyut dalam emosi spiritual dan penuh rasa syukur kepada Dzat Maha Suci, untuk kebaikan-Nya, jika kehilangan perjanjian, dia akan menjadi penuh dengan kejengkelan, rasa cemburu, dan ketidak bahagia’an. Namun, orang pada tingkat kesadaran spiritual enam puluh persen keatas, dalam sikon apapun, akan tetap mampu melihat uluran tangan Dzat Maha Suci dalam situasi bagaimanapun dan memahami bahwa apapun yang tersebut, telah dimenangkan, oleh yang layak dan dia akan berterima kasih kepada Dzat Maha Suci, untuk memberkatinya dengan sudut pandang Iman Cinta Kasih Sayang yang Murni.

Dan Semoga Pengalaman saya ini, bisa bermanfa’at bagi siapapun yang ingin mengetahui tingkat pencapaian spirtual pribadinya, tanpa harus malu bertanya kepada siapapun. Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

SEMPURNA ADALAH MELAMPAUI Segalanya:


SEMPURNA ADALAH MELAMPAUI Segalanya:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Sabtu Kliwon. Tgl 09 Juli 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Terkasihku sekalian…
Tidak sulit bagi semua orang untuk memahami, bahwa kemiskinan adalah penderitaan, Semua orang miskin berusaha keras untuk keluar dari penderitaannya itu. Serba kekurangan adalah kesulitan yang tidak perlu dijelaskan lagi, karena sudah pasti mengerti jawabannya. Saya contohkan pada diri saya sendiri. Yang mulainya dari kenakalan dini, saya terkucil, saya terusir, sehingga manjedai miskin segalanya. Berjuang hidup sediri sebagai anak terlantar yang tuna segalanya. Lalu saya berjuang dengan segala risiko kemampuan saya, untuk bisa bertahan hidup dan keluar dari penderita’an itu.

Walau saya berhasil bertahan hidup dan keluar dari penderita’an itu, namun sayang, keberhasilan saya, tanpa adanya Tuhan di dalamnya, karena keberhasilan itu, saya capai bukan dengan Iman Cinta Kasih Sayang. Melainkan dengan adigang adigung adigunanya ilmu jaya kawijayan. Sehingganya, menjadikan saya selalu haus akan Iman Cinta Kasih Sayang. Dan akhirnya, semua keberhasilan itu, saya korbankan segalanya demi untuk mendapatkan Iman Cinta Kasih Sayang yang selalu membuat saya haus.

Setelah Mendapatkan Wahyu Panca Gha’ib pless Panca Laku, secara nyata, bukan katanya, saya bisa merasakan Iman Cinta Kasih Sayang yang selama ini saya rindukan, yang selama ini saya dambakan dan saya idam-idamkan. Sehingganya saya sadar dan benar-benar sadar sepenuhnya. Bahwa kemakmuran tidak mampu membebaskan manusia dari kegagalan dan kesedihan. Kelimpahan materi sama sekali tidak bisa menyingkirkan ketegangan mental, sakit, usia tua, apalagi kematian. Kedudukan dan kekayaan memang bisa memberikan manfaat sosial, tetapi tidak mampu membebaskan manusia dari penderita’an, apa lagi yang namanya kematian. Dan sejak itu, saya tidak mau membagi Iman Cinta Kasih Sayang saya kepada Dzat Maha Suci, dengan apapun dan siapapun. Karena saya tau, itulah yang sebenar-benarnya musrik dan sirik. Karena itu, selain Dzat Maha Suci, cukup saya akui kebenarannya, bukan saya Cintai atau Kasihi atau Sayangi dengan Iman.

Sangat sering kita hanya berusaha menutup-nutupi penderitaan, dengan membuat kebahagiaan semu, yang hanya bertahan sementara. Kita selalu menutupi penderitaan dengan terus berpindah-pindah dari kebahagiaan yang satu menuju ke kebahagiaan yang lainnya. Dengan demikian, meskipun hidup dalam kelimpahan materi, penderitaan yang masih ada itu, bahkan yang makin membesar, tidak mudah disadari. Mengapa? Karena kita rajin menutupinya, bukan mengatasi. Sedangkan tatkala berada dalam kemiskinan usaha untuk menutupi penderitaan amatlah sulit, sehingga penderitaan amat mudah dialami dan difahami oleh siapapun dia, namun belum tentu bisa mengatasinya.

Awal mula pertama kali saya menyadari penderitaan dalam kemakmuran kehidupan. Hanya orang besar, yang mampu melihat adanya bahaya dalam kesejahteraan dan kenikmatan inderawi. Manusia biasa lainnya, seperti tertutup debu yang amat tebal di mata hatiku. saya menganggap makmur itu adalah kebahagiaan yang sebenarnya, meskipun harus selalu berlari dari satu sensasi sukses menuju ke sensasi sukses lain yang lebih sulit. Dan, tidak pernah berhenti!

Itu sebab, dengan legowo bahkan sangat rela, saya meninggalkan semuanya dan segalanya yang pernah saya miliki. untuk menjalani hidup sederhana, bahkan amat sederhana, berlatih pada banyak guru selama bertahun-tahun, mencari jalan kebebasan dari penderitaan. Hingga akhirnya berhasil mendapatkan Wahyu Panca Gha’ib. Tetapi apakah yang telah saya capai itu, adalah akhir dari semua penderitaan?

Ternyata, tidak! Amat tidak mudah sesungguhnya menyadari hal ini. Banyak para spiritualitas telah menganggap keheningan tanpa bentuk itu adalah kemanunggalan abadi dan tercapainya tujuan akhir perjalanan spiritual. Mereka menganggap pencapaian itu adalah kebahagiaan sejati. Tetapi bagi saya, semua itu hanyalah penekanan sementara saja, dari kelekatan napsu dan kotoran-kotoran mental penyebab penderitaan. Artinya; Penderita’an itu masih tetap ada.

Karena itu, walau saya sudah menemukan pelajaran benar, yaitu Wahyu Panca Gha’ib, saya masih tetap terus belajar dan belajar. Menggali rasa yang meliputi seluruh tubuh kehidupan saya, tak peduli dengan apapun, tujuan riyil panca indera saya, hanya satu, yaitu terarah hanya kepada Dzat Maha Suci, tidak ada apapun yang bisa mencampuri itu dari Niyat tujuan saya, dan sayapun tidak mencampurinya dengan apapun itu. Saya meninggalkan semua pencapaian ketenangan luar yang hanya berfungsi menekan itu, kemudian menggunakan kekuatan kesadaran murni saya, untuk membongkar gudang Wahyu Panca Gha’ib dan menghabiskan kotoran batin yang menjadi akar semua penderitaan saya. Hingga pada akhirnya, saya berhasil memperoleh Wahyu Panca Laku. Cara untuk mengamalkan/mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib.

Yaitu;
Manembahing Kawula Gusti.
Manunggaling Kawula Gusti.
Leburing Kawula Gusti.
Sampurnaning Kawula Gusti.
Sampurnaning Pati Urip-Urip Pati.

Dengan ini, saya tidak terlena dan terbelenggu dengan kebahagiaan semu yang berkotak-kotak, ini saya dapatkan bukan dari petunjuk yang diberikan orang lain atau bisikan para nabi, malaikat, wali, dewa ataupun kekuatan yang lainnya. Saya mengeri dan mengetahui serta memahaminya, karena kesadaran murni saya. Dan bukan hanya saya, Siapapun bisa, siapapun mampu, jika beum bisa dan belum mampu, datanglah temui saya, akan saya tuntun dan saya bimbing agar supaya bisa dan mampum. Karena ini bukan untuk pribadi saya, melainkan untuk semuanya tanpa terkecuali.

Inilah Kesempurna’an. Inilah kebenaran. Jalan Kebebasan kita dari semua Penderita’an. Pencerahan Sempurna yang membuat Jalan Kebebasan itu menjadi jelas, telah melampaui ketiga dimensi sekaligus. Yaitu; kemiskinan, kemakmuran, dan juga keheningan Laku Spiritual.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

CARA MENGHADIRKAN ROMO DI DALAM DIRI KITA:


CARA MENGHADIRKAN ROMO DI DALAM DIRI KITA:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Jumat Wage. Tgl 08 Juli 2016

Para Sedulur… Khususunya Para Kadhang kinasihku sekalian…
Sebagai Putro Romo. Disetiap kali malam Senin Pahing, kita di ingatkan pada lima peristiwa dalam kehidupan Romo Semono Sastrohadijoyo, dengan segala kecerahannya yang sempurna, sebagai manusia pertama yang memperkenalkan kebenaran Dzat Maha Suci, dengan bukti nyata dan detil/riyil.

Pertama, yaitu tentang kelahiran Romo Semono Sastrohadijoyo yang teramat panjang ceritanya, dan tak seorangpun bisa mengetahui ceritanya, kecuali beliau sendiri. Kedua, tentang kehidupan Romo Semono Sastrohadijoyo, yang berbeda dengan kehidupan manusia hidup pada umumnya. Yang Ketiga, tentang peristiwa turunnya Wahyu Panca Gha’ib. Ke’empat, tenteng peristiwa Mijile Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono. Dan yang Kelima adalah tentang mangkatnya Romo Semono Sastrohadijoyo yang begitu cerah dan sempurna.

Dan Hebatnya, Lima Peristiwa Sejarah Perjalanan Hidup Menuju Pulang Ke Maha Hidup ini, yang merupakan penggugah untuk semua makhluk hidup yang sedang tertidur pulas dan penyadara untuk sekalian alam seisinya yang terlena dan lupa ini. Terangkum satu jawaban di dalam saloka “ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa Kunci” bukan pada tapabrata, tirakat atau puasa, ritual atau rialat, agama atau kepercaya’an atau kebatinan, nyepi atau bertapa, namun bisa di temukan jawabannya hanya dengan saloka “ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa Kunci”

Keajaiban atau mujijat dari “ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa Kunci” sungguh di luar nalar pemikiran bahkan ilmu apapun. “ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa Kunci” sederhana bukan? Bahkan mungkin banyak diantara kita yang memandang remeh dan sepele. Padahal,,, secara syare’at maupun hakikat. “ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa Kunci” ini, adalah intisaripatinya lelaku Sangkan Paraning Dumadi atau Inna Lillaahi Wa Inna Illaihi Rojiun. Dasarnya samudra atau bumi, puncaknya angkasa atau langit. Dan tidak semua Putro Romo bisa menerapkan saloka “ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa Kunci” di dalam kehidupan sehari-harinya hingga bab keluar masuknya napas hidupnya, apa lagi yang bukan Putro Romo.

Berjalan di atas bumi, di bawah langit, berarti berjalan dengan penuh kesadaran yang murni, tanpa embel-embel apapun. Menurut saya, kesadaran adalah jalan menuju kekekalan atau kesempurna’an. Adapun mereka yang tidak sadar seolah-olah telah mati, seperti mayat hidup (zombie). Dia bergerak tanpa sadar. Dan kalau sedang lengah, berdasarkan pengalaman nyata saya di lapangan, bisa banyak melakukan kesalahan-kesalahan, bahkan fatal. Sesungguhnya Romo merupakan tempat kita berlindung yang paling aman. Romo di sini adalah Hidup yang ada dalam setiap diri, yaitu kesadaran murni kita. Karena Romo adalah satu-satunya Utusan yang terkait langsung dengan Dzat Maha Suci, dan satu-satunya Rasul yang mendapat kuasa penuh akan Hidup Matinya setiap Makhluk, tanpa perantara apapun.

Romo adalah Guru Sejati-nya dan junjungan-nya para dewa dan manusia serta semua makhluk. Romo Semono Sastrohadijoyo memperkenalkan ini kepada semua dan segala makhluk tanpa terkecuali, sebab tidak ada satupun yang bisa menjamin kehidupan beserta embel-embelnya bisa kembali kepada asal usulnya terjadi, jika tanpa Romo/Hidup/Guru Sejati. Seluruh perjalanan hidup Beliau, mulai dari kelahiran sampai kemangkatan, dengan Wahyu Panca Gha’ib dan Panca Laku, telah memberikan petunjuk berharga dan terbaik dari semua yang pernah ada, kepada kita tentang bagaimana menghadirkan Romo/Hidup/Guru Sejati (dengan kesadaran murni-kesadaran seutuhnya sebagai manusia hidup, bukan sebagai hewan dll).

Kita semua tanpa terkecuali, sesungguhnya telah memiliki potensi untuk menjadi Romo. Bagaimana tidak, sejak di dalam kandungan, bahkan sebelum di cipta menjadi janin. Romo/Hidup/Guru Sejati, sudah bersemayan di dalam diri kita. Ada benih Romo/Hidup/Guru Sejati atau hakikat Romo/Hidup/Guru Sejati di dalam diri kita. Di akui atau tidak diakui, di sadari atau tidak di sadari. Itu dan begitulah nyata adanya. Renungkan saja di setiap pembelajaran-mu.

Benih Romo/Hidup/Guru Sejati yang ada dalam diri kita, ibarat matahari yang tertutup awan. Adapun awan yang menutupi hakikat Romo/Hidup/Guru Sejati kita, adalah akar dari noda batin, seperti keserakahan, kebencian, iri dengki, dendam, fitnah dan kebodohan serta kejahatan dan ketidak baikan. Kita seharusnya tidak membiarkan awan gelap menutupi sinar mentari yang kita miliki. Oleh karena itu, manakala emosi-emosi negatif muncul, seharusnyalah kita segera kembali pada kesadaran murni yang menjadi asal usul kita pada awal mulanya, yaitu “ana apa-apa Kunci-laka apa-apa Kunci”.

Caranya adalah dengan mengamati masuk dan keluarnya nafas kita disertai Laku “ana apa-apa Kunci-laka apa-apa Kunci” atau dengan melangkahkan kaki secara sadar di barengi Laku “ana apa-apa Kunci-laka apa-apa Kunci”. Setiap orang dapat berlatih bernafas dengan sadar dan menghasilkan kesadaran murni tan kemomoran. Setiap orang dapat berlatih melangkahkan kaki menyentuh bumi dengan sadar.

Dengan cara membiasakan untuk selalu Kunci dalam sikon apapun, enak hatinya Kunci, tidak enakpun hatinya tetap Kunci, tidak enak hatinya Kunci, enakpun hatinya tetap Kunci. Patrap Semedi Kunci 2-3-4-5-6-7 kali sekalipun dalam sehari semalam, tidaklah cukup, karena masih ada kemungkinan bisa lepas dari Romo yang pada hakikatnya adalah berada dalam diri kita. Buktinya, di saat patrap saja, ada kalanya kita lupa Romo, tidak ingat Romo, yang di ingat motornya, istrinya dll. Apa lagi di luar patrap, kakinya kesandung, misalnya, refleknya misuh-misuh, bukan Romo, makan, minum ingatnya enak dan lezatnya, bukan Romo. Tapi hati yang telah terisi dan berisi Kunci dalam sikon apapun “ana apa-apa Kunci-laka apa-apa Kunci”. Tidur pun bersama Romo, jadi, bagaimana bisa lupa…

Kita seharusnya menghadirkan Romo di dalam diri kita, di setiap keseharian kita, seraya dengan tarikan nafas. Karena kehadiran Romo secara kontinyu, selalu dapat menyelesaikan ketidaknyamanan akibat dari kemunculan emosi-emosi negatif dll.

Hidup berkesadaran murni, adalah untuk dilakukan sepanjang hari bagi setiap Putro Romo, dalam segala aktivitas. Dengan senantiasa memelihara kesadaran murni, untuk berdiam pada kekinian, maka kita akan memiliki perlindungan yang paling aman dan pasti serta menjamin.

KESIMPULANNYA;
Dan dengan pembuktian ini, saya berani mengatakan dengan tegas. “Bagi seseorang yang selalu “ana apa-apa Kunci-laka apa-apa Kunci”. Pasti sadar, dan sadarnya pasti murni, Artinya; Bagi seseorang yang sadar, selalu ada kebaikan. bagi seseorang yang sadar, kebahagiaan bertambah. bagi seseorang yang sadar, segala hal membaik, walaupun ia belum terbebas dari para musuh. Namun, ia yang baik siang maupun malam mendapatkan kebahagia’an dalam ketenteraman, karena memiliki kemampuan membagi cinta kasih sayang dengan semua yang hidup, ia tidak menemukan permusuhan dengan apapun dan siapa pun”.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com