NAGASASRA DAN SABUK INTEN SERI. 2

CERITA LEGENDA RAKYAT DALAM  SERIAL 

NAGASASRA DAN SABUK INTEN Seri ke.  2
Karya SH Mintardja.
Dikumpulkan dari Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta.

151

DARAH Mahesa Jenar segera bergolak. Dadanya tiba-tiba merasa sesak oleh desakan kemarahan. Untunglah bahwa masih diingatnya bahwa di ruangan itu terbaring beberapa orang yang terluka serta di dalam ruang sebelah putera Gajah Sora masih juga belum sadarkan diri. Karena itu sekuat-kuatnya ia masih mencoba menguasai dirinya.

Adi Lembu Sora…, kata Gajah Sora, kau jangan terlalu cepat mengemukakan pendapat sebelum kau pikirkan masak-masak untung-ruginya. Sudah aku katakan bahwa aku sendiri dapat melihat orangnya yang mengambil pusaka-pusaka itu. Jadi kalau benar dugaanmu pasti akulah orangnya yang pertama-tama akan bertindak.
Rupa-rupanya Lembu Sora masih belum puas mendengar jawaban kakaknya, maka ia menyahut, Untuk melakukan pekerjaan itu, tidaklah perlu harus ditangani sendiri. Tetapi adanya seorang asing di dalam halaman ini, telah merupakan suatu kemungkinan untuk menuntun datangnya orang kedua, ketiga dan seterusnya. Sebab segala sesuatu telah dapat dipersiapkannya dengan saksama.
Jantung Mahesa Jenar rasa-rasanya hampir meledak mendengar kata-kata itu. Tetapi ketika ia melihat Gajah Sora telah berdiri dari duduknya, ia masih mencoba sekuat-kuatnya menahan diri.

Sudahlah, Adi Lembu Sora, kata Gajah Sora, pendapatmu baik aku perhatikan. Tetapi biarlah aku yang memutuskan.


Tidak, Kakang…
bantah Lembu Sora, Mumpung sekarang kita sedang lengkap di hadapan Kakang, siap untuk menghukum siapapun yang mencoba untuk mengganggu ketenangan Banyubiru, meskipun ia adalah bekas sahabat Kakang sendiri. Adakah Kakang yakin bahwa orang itu sama sekali tak ada hubungannya dengan orang-orang yang menyerang Banyubiru?

Kembali Lembu Sora melanjutkan hasutannya, Kakang Gajah Sora, paman Pandan Kuning, Bantaran Wirapati dan lain-lainnya telah bertempur dengan gagah perkasa mengusik laskar penyerbu itu. Dan sekarang di sini mereka harus menyaksikan seorang diantara penjahat-penjahat itu, yang mungkin lebih licik dan licin mendapat perlindungan dari Kakang. Apakah…..

Cukup! potong Gajah Sora. Kau jangan mengurus aku, Lembu Sora. Aku senang sekali bahwa kau mencoba ikut serta memecahkan kesulitan-kesulitan yang aku alami. Tetapi janganlah kau memaksakan suatu pendapat yang belum dapat diyakinkan kebenarannya. Menghukum seseorang bukanlah suatu pekerjaan yang dapat dilakukan begitu saja tanpa bukti-bukti akan kesalahannya. Karena itu sekali lagi aku mengucapkan terima kasih atas perhatianmu itu, tetapi sebaiknya kau beristirahat di tempat yang sudah kami sediakan.


Paman Pandan Kuning…,
kata Lembu Sora seolah-olah tidak mendengar kata-kata kakaknya, … dan paman-paman yang lain serta para perwira di Banyubiru…. Dapatkah kalian membiarkan orang yang berkedok persahabatan ini mengkhianati kepala daerah kalian? Hilangnya kedua pusaka itu adalah suatu pengkhianatan yang tiada taranya dalam sejarah Banyubiru, sejak ayah Sora Dipayana masih memegang pemerintahan di Pangrantunan. Tetapi ternyata Kakang Gajah Sora adalah seorang yang terlalu luhur budi dan pengasih, sehingga ia tidak sampai hati untuk bertindak terhadap seorang yang menamakan diri sahabatnya.
Nah, para pahlawan, sekarang adalah waktunya bagi kalian untuk menunjukkan bakti kalian terhadap kepala daerah kalian serta daerah kelahiran kalian,
tambah Lembu Sora.

Akibat kata-kata Lembu Sora yang diucapkan dengan berapi-api itu, ternyata hebat sekali. Mereka yang disebutnya pahlawan yang mempunyai kesempatan untuk berbakti itu, tiba-tiba menjadi lupa diri. Beberapa orang telah bergerak untuk menangkap Mahesa Jenar. Sedangkan Lembu Sora sendiri segera menarik pedangnya yang besar sekali, dan siap diayunkan.

Kini Mahesa Jenar sudah tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Banyak hal yang akan dikatakan untuk menyatakan kebersihannya serta banyak hal lagi yang dapat dikatakan pula tentang ketidakwajaran Lembu Sora. Tetapi terdorong oleh kemarahan yang memuncak maka bibirnya hanyalah tampak bergetar tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Apalagi ketika ia melihat Lembu Sora telah menarik pedangnya, maka tidak ada pilihan lain kecuali bertempur mati-matian.

Segera Mahesa Jenar memusatkan segala kekuatan lahir batin, mengatur jalan pernafasannya dan siap untuk mempergunakan Sasra Birawa dalam pukulan yang pertama. Sebab ia tidak mau menanggung akibatnya apabila Lembu Sora telah memiliki aji Lebur Seketi seperti kakaknya. Maka sebagai seekor banteng murka, ia cepat berdiri dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi ketika Lembu Sora beserta beberapa orang yang berotak kosong serta hanya berpikir pendek untuk dapat disebut sebagai seorang pahlawan tanpa menilik masalahnya lebih dalam lagi, mulai bergerak. Tampaklah dengan kecepatan kilat Gajah Sora meloncat maju ke depan adiknya beserta orang-orang itu.

Dengan wajah merah membara, Gajah Sora berteriak dengan penuh kemarahan, Hai orang-orang Banyubiru, akulah kepala daerah perdikan di sini. Kalau kalian maju selangkah lagi, kalian akan berhadapan dengan aku.

Lontaran suara yang penuh dengan perasaan marah itu terdengar dahsyat sekali. Beberapa orang yang telah bergerak seperti orang mabuk itu, tiba-tiba seperti terlempar kembali ke alam kesadaran. Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang dengan penuh kebaktian dan kesetiaan mengabdikan diri mereka kepada tanah kelahiran serta kepala daerah perdikan mereka.

Tetapi karena itu pulalah dengan mempergunakan kesadaran akan kesetiaan itulah maka mereka kadang-kadang dapat dengan mudah digelincirkan ke dalam suatu perbuatan yang salah, yang justru bertentangan dengan kesetiaan mereka sendiri tanpa sesadar mereka.

Sekarang tiba-tiba pemimpin yang ditakuti, disegani dan dicintai itu seolah-olah telah menantang mereka. Maka tidaklah mustahil bahwa beberapa orang kemudian menjadi gemetar ketakutan seperti seekor tikus di tangan seekor kucing yang ganas.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja

152

LEMBU SORA, bagaimanapun angkuhnya, ketika melihat kakaknya benar-benar telah marah, dan benar-benar tidak termakan oleh hasutan-hasutannya itu pun menjadi agak takut pula. Sebab ia tahu betul akan sifat-sifat Gajah Sora. Meskipun dalam banyak hal Gajah Sora selalu mencoba untuk mengalah terhadap adik kesayangan ibunya itu. Tetapi apabila ia telah menentukan suatu sikap, tak seorang pun mampu mengubahnya.

Karena itu dengan kecewa dan menyesal, Lembu Sora mundur beberapa langkah. Lalu katanya, Maafkan aku, Kakang. Maksudku adalah baik, untuk kepentingan masa datang Kakang dan kesan yang teguh atas kepemimpinan Kakang. Tetapi agaknya Kakang salah terima.

Sarungkan senjata itu, perintah Gajah Sora.

Sekali lagi Lembu Sora tak berani melawan perintah kakaknya. Dengan segera pedangnya itu disarungkannya pula.

Suasana tegang itu kemudian untuk beberapa saat menjadi semakin tegang. Tak seorangpun yang berani bergerak, meskipun hanya jari kakinya. Bernafaspun mereka menjadi berhati-hati sekali, seolah-olah takut kalau-kalau bunyi nafasnya dapat menambah kemarahan Gajah Sora.

Lembu Sora…, kembali terdengar suara Gajah Sora. Tetapi kali ini terasa bahwa kemarahannya telah menurun. Bagaimanapun ia adalah seorang kepala daerah yang bijaksana. Maka sekali ini pun ia menunjukkan kebijaksanaannya.

Baiklah… kau beritirahat, sambung Gajah Sora, mungkin kau terlalu lelah sehingga pikiranmu tak dapat berjalan dengan baik. Juga kalian laskar Banyubiru, aku persilahkan meninggalkan ruangan ini untuk mengaso. Setelah kalian bertempur untuk mempertahankan tanah ini, mungkin sekali otak kalian pun agak terganggu. Tetapi tak apalah…. Sekarang pergilah.
Tak seorangpun mengucapkan sepatah kata. Dengan kepala tunduk, mereka berjalan berebutan untuk lebih dahulu meninggalkan ruangan yang rasa-rasanya menjadi panas sekali. Demikian mereka sampai di halaman, segera mereka meloncat ke atas kuda masing-masing.

Dengan segera kuda-kuda itu dipacu pulang ke rumah masing-masing untuk menyatakan keselamatan mereka kepada keluarga mereka masing-masing yang menanti dengan hati cemas. Sedang beberapa orang lagi bertugas untuk merawat kawan-kawan mereka yang gugur, dan yang terluka pun segera dengan tekun melakukan tugas masing-masing.

Lembu Sora pun segera mengundurkan diri bersama-sama dengan para pengiringnya, ke tempat yang sudah disediakan, di gandok sebelah barat.

Sepeninggal mereka, di dalam ruangan itu tinggallah Gajah Sora, Mahesa Jenar, Ki Lemah Telasih, dan orang-orang yang terluka. Mereka duduk tepekur tanpa berkata-kata. Angan-angan mereka mengalir menuruti pikiran masing-masing.
Suasana segera menjadi hening. Kembali terdengar di kejauhan gonggong anjing-anjing liar berebut makanan. Sedang di ruang itu beberapa orang duduk seperti patung, kaku dan membisu. Tetapi perasaan mereka berputar seperti baling-baling.

Baru beberapa saat kemudian terdengar Gajah Sora berkata, Adi Mahesa Jenar… maafkan kelakuan Lembu Sora beserta beberapa orangku yang sama sekali tidak sopan.
Tetapi percayalah bahwa orang-orangku sama sekali tak mempunyai pandangan yang kurang baik terhadap Adi. Sayang bahwa Lembu Sora telah menyeret mereka ke dalam suatu tindakan yang memalukan.

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia sama sekali tidak akan dapat melupakan tuduhan pengkhianatan yang dilancarkan oleh Lembu Sora. Terhadap laskar Banyubiru, memang ia tidak menaruh banyak perhatian, sebab mereka hanya terpengaruh oleh hasutan-hasutan Lembu Sora saja. Namun, meskipun demikian, kepada Gajah Sora ia menjawab, Sudahlah Kakang, mudah-mudahan aku dapat melupakannya. Aku harapkan bahwa Ki Ageng Lembu Sora tidak berbuat hal-hal yang dapat mengeruhkan keadaan.
Gajah Sora mengangguk-angguk kecil. Ia dapat merasakan sepenuhnya kekecewaan Mahesa Jenar terhadap adiknya. Karena itu ia berkata menyambung, Aku akan mencoba selalu mengawasi anak itu selama ia berada di Banyubiru. Mudah-mudahan ia segan meninggalkan rumah ini untuk tidak menambah pekerjaannku

.
Kembali mereka berdiam diri. Dan kembali keadaan ruangan itu menjadi sepi. Sepi dan kaku, seperti garis-garis lurus dari sambungan-sambungan papan gebyok rumah Gajah Sora yang pecah berserakan karena ditembus oleh Gajah Sora dan Mahesa Jenar bersama-sama.

Kesepian itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara rintih Arya Salaka dari dalam ruang tidur Gajah Sora. Mendengar suara itu, hampir bersamaan Gajah Sora, Mahesa Jenar dan Ki Lemah Telasih meloncat, mendekati Arya. Wajah Gajah Sora yang suram itu segera berubah, karena tumbuhnya harapan yang semakin besar, bahwa Arya Salaka akan segera dapat sadar kembali.

Ketika mereka bersama-sama memasuki ruangan itu, mereka melihat Arya sudah mulai menggerakkan kepalanya, dan perlahan-lahan matanya mulai terbuka. Terdengarlah dari mulutnya ia merintih dan akhirnya terdengar Arya perlahan-lahan sekali menangis, meskipun agaknya ia mencoba menahannya kuat-kuat.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
153

IBU Arya Salaka yang melihat Arya mulai sadar, segera memeluknya dan menciuminya dengan penuh rasa kasih dari seorang ibu. Tetapi Ki Lemah Telasih sebagai seorang tabib segera mencoba mencegahnya. ”Nyai Ageng, biarlah Ananda Arya bebas bernafas dahulu, supaya tubuhnya menjadi segar.”
Wajah Gajah Sora pun segera menjadi cerah. Meskipun luka di hatinya dengan hilangnya kedua pusaka itu begitu dalam, namun Arya Salaka pun merupakan mutiara di hatinya yang tidak kalah nilainya.

Mahesa Jenar yang sejak melihat Arya untuk pertama kali telah mengagumi anak itu, kini ia bertambah kagum lagi. Anak-anak yang masih pantas bermain gundu itu, andaikata tidak ada orang kedua, telah berhasil menggagalkan suatu usaha dari seorang yang tentu berilmu tinggi, dalam usahanya mencuri Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.

Dalam asuhan Ki Ageng Gajah Sora, pastilah Arya kelak akan menjadi manusia yang mumpuni lahir dan batin. Apalagi andaikata kakeknya Ki Ageng Sora Dipayana juga mau mengasuhnya.

Sebentar kemudian Arya Salaka telah benar-benar sadar. Ia telah mulai mengenali orang-orang yang berdiri di sekitar tempat pembaringannya.

Pada saat itu malam telah semakin jauh, bahkan ayam jantan telah mulai berkokok untuk ketiga kalinya, suatu pertanda bahwa sebentar lagi fajar akan datang.
Gajah Sora, Mahesa Jenar dan Ki Lemah Telasih pun segera meninggalkan Arya Salaka yang sudah mulai dapat tidur ditunggui oleh ibunya yang berbaring di sampingnya. Ki Lemah Telasih dan Mahesa Jenar kemudian meninggalkan ruangan itu pula untuk beristirahat.

Ketika Mahesa Jenar turun dari pendapa untuk mengantarkan Ki Lemah Telasih sampai di gerbang halaman, tampaklah di timur sudah mulai membayang warna kemerah-merahan yang melapisi langit. Angin pagi yang sejuk menyapu wajah Mahesa Jenar yang masih tampak berminyak karena keringat yang berlapis debu.

Meskipun demikian perasaan segar terasa menusuk sampai ke tulang sungsum.
Perlahan-lahan ia berjalan ke gandok sebelah timur untuk beristirahat. Tetapi alangkah terkejutnya ketika ia memasuki ruang yang disediakan untuknya.

Rupa-rupanya ruangan itu pun telah dibongkar dengan teliti.

Melihat hal itu, Mahesa Jenar tertegun. Ia tiada tahu siapakah yang telah melakukan perbuatan itu, tetapi kejadian itu telah menyalakan kembali kemarahannya. Sayanglah bahwa Lembu Sora kebetulan adalah adik Gajah Sora. Kalau saja tidak ada hubungan antara kedua orang itu, sudah pasti bahwa ia akan membuat perhitungan secepat-cepatnya dengan Lembu Sora. Tetapi dalam keadaan seperti sekarang ini, yang dapat dilakukannya hanyalah menyimpan kemarahannya itu di dalam dadanya yang menjadi sesak.

Akhirnya dengan susah payah ia dapat meredakan gelora hatinya sendiri. Dan karena kelelahan, Mahesa Jenar kemudian merebahkan dirinya di atas pembaringan dan sejenak kemudian ia tertidur dengan nyenyaknya.

Demikian nyenyaknya ia tidur, sehingga tidak terasa bahwa hari telah tinggi. Meskipun demikian masih saja ia belum bangun, apabila tidak didengarnya derap kuda di halaman. Ketika ia bangun dan membuka pintu depan, tampak sudah siap untuk berangkat Ki Ageng Lembu Sora beserta rombongannya.

Melihat Lembu Sora siap meninggalkan Banyubiru, tanpa sadar Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa syukur bahwa orang yang sama sekali tak menyenangkan, baik wataknya maupun bentuk tubuhnya yang kaku itu, segera akan meninggalkan Banyubiru sebelum terjadi sesuatu.

Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba Ki Ageng Lembu Sorapun memandang ke arah pintu yang sudah terbuka sedikit itu, dimana Mahesa Jenar sedang berdiri mengawasinya.

Benturan pandangan yang terjadi dengan tiba-tiba itu telah menimbulkan ledakan yang hebat di hati masing-masing. Pandangan mereka segera berubah menjadi tajam dan seolah-olah meskipun tanpa diucapkan, mereka telah berjanji bahwa pada suatu ketika mereka akan berhadapan sebagai lawan yang harus membuat perhitungan dengan taruhan yang sangat mahal.

Sebentar kemudian, Ki Ageng Lembu Sora segera memberi aba-aba kepada para pengiringnya, dan segera mereka pun pergi meninggalkan halaman Kepala Daerah Perdikan Banyubiru.

Sampai di regol halaman, sekali lagi Lembu Sora menoleh kepada kakaknya yang melepasnya dari atas pendapa beserta istrinya. Dan dengan sekali lagi menganggukkan kepalanya, Lembu Sora lenyap dari pandangan mereka.

Setelah Lembu Sora hilang di balik pagar halaman, serta Ki Ageng Gajah Sora telah masuk kembali ke dalam rumah, segera Mahesa Jenar keluar dari Gandok Wetan dan langsung pergi lewat pintu pagar samping, menuruti tangga batu, pergi ke mata air dimana ia biasa mandi.

Tetapi baru saja ia akan melepaskan pakaiannya, tiba-tiba dilihatnya dua bayangan diantara pepohonan agak diatas mata air itu. Dan ketika ia memandangnya lebih tajam lagi, dilihatnya seorang tua dengan seorang pemuda tampan berdiri memandangnya. Alangkah terkejutnya ketika diketahuinya bahwa orang tua itu tidak lain adalah Ki Ageng Pandan Alas yang berdiri bertolak pinggang sambil tertawa nyaring. ”Kau agak kesiangan bangun, Mahesa Jenar,” katanya diantara derai tertawanya.

Mahesa Jenar segera membungkuk hormat. ”Ya, Ki Ageng,” jawabnya.
Mahesa Jenar…” sambung Ki Ageng Pandan Alas, ”Apakah Kakang Sora Dipayana telah meninggalkan Banyubiru?”
”Sudah, Ki Ageng.”
”Bagus,”
sahut Pandan Alas. ”Aku juga akan segera pergi. Tetapi sengaja aku singgah sebentar untuk memperkenalkan muridku ini kepadamu.”
Barulah Mahesa Jenar sadar bahwa Pandan Alas itu berdiri di sana dengan seorang lagi. Maka ketika ia mendengar bahwa Pandan Alas bermaksud memperkenalkannya dengan muridnya, segera ia membetulkan pakaiannya dan melangkah mendekat.

Tetapi segera ia berhenti ketika Ki Ageng Pandan Alas menegornya, ”Tak usah kau naik kemari, Mahesa Jenar. Muridku agak malu berkenalan dengan kau yang telah memiliki nama besar sebagai seorang perwira prajurit Demak. Tidak saja itu, tetapi juga sebagai penolong yang luhur budi.”
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja

154

Mahesa Jenar segera tertegun heran. Apakah hubungannya dengan nama yang pernah dimilikinya. Tetapi ketika sekali lagi ia memandang murid Pandan Alas itu, hatinya terguncang hebat. Apalagi ketika orang itu menundukkan wajahnya yang tampak kemalu-maluan.

Mahesa Jenar segera mengenal siapakah murid Ki Pandan Alas itu. Karena itu wajahnya menjadi terasa panas dan jantungnya berdetak lebih cepat.

Rupa-rupanya kau sudah mengenalnya Mahesa Jenar, ” bertanya Pandan Alas sambil tertawa.

Mahesa Jenar tidak segera menjawab. Mulutnya jadi seperti terkunci.

Kemudian terdengar tertawa Pandan Alas semakin keras. Katanya; “Aku jadi geli, kalau aku teringat ketika Mahesa Jenar jadi marah bukan main dan hampir saja membunuh orang yang sama sekali tak bersalah beberapa pekan yang lalu di hutan Tambak Baya, ketika ia kehilangan bebannya.”

Juga kali inipun Mahesa Jenar tidak menjawab.

Ketika kata-katanya tidak mendapat jawaban Pandan Alas melanjutkan, “Mahesa Jenar, inilah muridku yang aku katakan. Siapakah nama yang pantas aku berikan kepadanya?.”

Mendengar pertanyaan yang berturut-turut itu hati Mahesa Jenar menjadi bertambah bingung. Ia sendiri tidak mengetahui, kenapa ia tidak dapat menahan perasaannya sehingga ia kehilangan ketenangan. Murid Pandan Alas itu, meskipun jelas berpakaian seperti seorang pemuda, namun ketika Mahesa Jenar memandangnya agak lama, ia segera mengenal bahwa murid Pandan Alas itu sama sekali bukan seorang pemuda, melainkan ia adalah seorang gadis cantik yang sedang mekar, yang tidak lain adalah cucu Pandan Alas sendiri yaitu Rara Wilis yang pernah dikenalnya dan pernah ditolongnya. Pertemuan yang tidak diduga itu membuat Mahesa Jenar kehilangan ketenangan. Disamping itu iapun menjadi heran pula bahwa sedemikian cepat Ki Ageng Pandan Alas telah kembali bersama gadis itu. Kalau demikian ketika Ki Ageng Pandan Alas sedang bertempur dengan Pasingsingan, Rara Wilis pasti disembunyikan ditempat yang tidak begitu jauh dari Banyu Biru.

Pada saat kenangannya sedang menelusur kembali ke masa lampau terdengan kembali Pandan Alas berkata, “apakah kau mempunyai pilihan nama yang baik Mahesa Jenar ? Aku sendiri bingung memberi nama yang sesuai. Tetapi yang jelas aku tidak akan memberinya nama Lawa Ijo, meskipun nama aselinya bermakna hijau juga.”

Mahesa Jenar masih saja belum dapat menguasai dirinya sehingga mulutnya masih belum dapat mengucapkan kata. Bahkan ia menjadi gelisah. Melihat sikap Mahesa Jenar, Pandan Alas tertawa semakin keras, katanya, “Barangkali kau tidak siap menghadapi kejadian yang sangat tiba-tiba datangnya ini Mahesa Jenar. Tetapi tidak mengapa. Maksudku hanyalah supaya kau tahu bahwa cucuku ini aku bawa, supaya aku dapat melakukan dua pekerjaan sekaligus, yaitu yang pertama untuk mengetahui siapakah yang telah membawa kedua keris Kiai Nagasasra dan Sabukinten, sedangkan yang kedua, supaya diperjalanan aku masih dapat mengajari anak ini selangkah dua langkah ilmu yang tak berarti, supaya ia dapat menjaga keselamatan dirinya. Sokur ia berhasil melepaskan pengaruh jahat ibu tirinya atas bapaknya yang sekarang bermukim di Gunung Tidar.”
Mendengar kata-kata Pandan Alas yang terakhir Mahesa Jenar terkejut, sahutnya;” Maksud Ki Ageng, Sima Rodra Gunung Tidar ?”

“Ya,” jawab Pandan Alas. “Sima Rodra muda itu adalah bekas menantuku yang kemudian kena pengaruh seorang perempuan, maka ia seperti berubah ingatan. Sekarang keturunanku satu-satunya adalah Wilis ini. Karenaitu, meskipun ia seorang gadis aku akan mencoba untuk membuatnya setidak-tidaknya dapat menyamai ibu tirinya. Maka supaya pantas aku beri ia pakaian laki-laki dan seharusnya namanyapun harus nama lelaki pula. Nah apa katamu kalau anak ini aku beri nama Pudak Wangi ?.”
Kembali Mahesa Jenar terbungkam. Tetapi nama itu rasanya amat manisnya. karena itu, meskipun ia tidak menjawab, tetapi dengan tidak disengaja ia mengangguk juga. Ia terkejut ketika Pandan Alas meneruskan, “Ha rupanya kau setuju juga. Bukankah Pudak adalah nama dari bunga Pandan. Aku harap cucuku kelak akan dapat menjadi bunga Pandan yang wangi.”

Mahesa Jenar menjadi bertambah bingung. Ia ingin menjawab tetapi ia tidak tahu bagaimana, sampai akhirnya Pandan Alas berkata lagi, “Mahesa Jenar kenapa kau diam saja. Setuju atau tidak, atau barangkali kau punya nama yang lebih baik ?.”

“Tidak Ki Ageng” akhirnya terpaksa ia menjawab sekenanya, “nama itu sudah baik sekali.”

“Bagus, Kau setuju dengan nama itu bukan. Nah kalau pada suatu ketika kau bertemu dengan seorang pemuda yang bernama Pudak Wangi, jangan kau apa-apakan dia,” sahut Ki Ageng Pandan Alas. “Nah sekarang aku akan pergi. Marilah Pudak Wangi. Sebaiknya kau minta diri pada Mahesa Jenar.”
Wajah Rara Wilis segera berubah menjadi merah. Ia mencoba tersenyum, tetapi alangkah sulitnya. Dengan terpaksa ia berkata, “Selamat tinggal tuan, aku mohon diri untuk mengikuti kakek mencari pusaka yang hilang.”

Mendengar kata cucunya segera Pandan Alas membetulkan, “eh Mahesa Jenar adalah murid sahabatku. Kenapa kaupanggil dengan sebutan tuan? kau sekarang adalah muridku. Panggil dengan sebutan yang lebih akrab sebagai dua murid dari dua orang sahabat.”

Kembali wajah Rara Wilis kemerahan. tetapi terpaksa ia berkata, “Aku mohon diri kakang, aku akan menyertai guru.”
“Begitulah panggilan seorang sahabat,”
kata Pandan Alas sambil tertawa nyaring. Sementara itu terdengar Mahesa Jenar menjawab, “mudah-mudahan semuanya selamat, yang pergi dan yang ditinggalkan.”
“Baiklah Mahesa Jenar,
” sahut Pandan Alas. “Lekaslah mandi. Aku akan berangkat. Mungkin untuk waktu yang agak lama kita tidak bertemu. Selamat tinggal.”

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
155

SESUDAH mengucapkan kata-kata itu segera Ki Ageng Pandan Alas dan Rara Wilis yang kemudian bernama Pudak Wangi itu pergi meninggalkan Mahesa Jenar dan berjalan perlahan-lahan menyusup pepohonan. Mahesa Jenar berdiri tegak seperti patung mengawasi mereka berdua. Pikirannya tiba-tiba menjadi risau. Ia tidak tahu kenapa hatinya bergetar ketika mendengar Pandan Alas mengatakan bahwa mungkin untuk waktu yang lama mereka tidak akan bertemu.

Malam tadi, ketika ia melihat Pandan Alas itu berangkat untuk mencari pusaka-pusaka yang hilang, ia tidak merasakan perasaan seperti pada saat itu.
Baru beberapa saat kemudian Mahesa Jenar seperti orang sadar dari mimpi. Kembali ia turun ke mata air untuk mandi. Tetapi bagaimanapun terasa bahwa ada sesuatu yang mengganggu ketentraman hatinya.

Rara Wilis meskipun sudah berpakaian seperti seorang pemuda, namun wajah itu selalu mondar-mandir saja di dalam otaknya.

Karena itulah maka setelah ia mandi dan kembali ke rumah sahabatnya, ia tampak agak lain dari biasanya. Tetapi ia selalu berusaha untuk menyembunyikan perasaannya.

Dua-tiga hari kemudian, Mahesa Jenar merasa agak kurang enak untuk tinggal berdiam diri di rumah sahabatnya itu. Bagaimanapun ia merasa turut bertanggung jawab pula atas hilangnya pusaka-pusaka Demak yang telah dengan susah payah diketemukan dan direbut dari tangan Sima Rodra. Karena itu, meskipun ia tahu pasti bahwa yang berhasil merampas kedua pusaka itu, termasuk angkatan gurunya atau setidak-tidaknya mempunyai kesaktian yang setingkat dengan gurunya, serta Ki Ageng, namun adalah kewajibannya pula untuk mencoba-coba menemukannya kembali.

Mahesa Jenar memutuskan menemui Ki Gajah Sora untuk minta diri, dan kemudian meneruskan perantauannya, dan apbila mungkin untuk mendapatkan kembali Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten yang telah hilang.

Tetapi ketika pada suatu pagi, Mahesa Jenar telah bersiap-siap untuk minta diri, tiba-tiba terdengarlah sayup-sayup suara kentongan yang dipukul bertalu-talu dengan irama dara muluk ganda. Itu adalah suatu pertanda bahwa ada pejabat penting dari Istana Demak yang datang ke Daerah Perdikan Banyubiru.

Tanda itu kemudian diulang dan diulang oleh pemukul-pemukul kentongan yang lain, sehingga suaranya terdengar semakin lama semakin dekat.

Mendengar tanda-tanda itu, Gajah Sora tampak agak sibuk mempersiapkan penyambutan. Tetapi bagaimanapun tampak membayang di wajahnya perasaan yang hambar dan kurang tenang. Meskipun ia belum tahu akan kepentingan para pejabat itu, namun ia mendapat firasat bahwa sesuatu yang kurang baik akan terjadi.
Wanamerta yang masih belum sembuh benar, segera diundang pula. Beberapa pejabat lain, dengan sendirinya telah hadir pula setelah mendengar tanda-tanda itu.
Mahesa Jenar yang mengerti juga akan tanda-tanda itu menjadi agak bingung. Ia meninggalkan Demak serta melepaskan pakaian keprajuritan karena perbedaan-perbedaan pendapat dengan beberapa pejabat istana.
Dan sekarang di suatu tempat yang jauh dari istana, pejabat itu datang untuk suatu keperluan. Ia menjadi bimbang, apakah ia harus menemui pejabat-pejabat itu ataukah tidak.

Akhirnya setelah menimbang masak-masak, akhirnya Mahesa Jenar minta kepada Gajah Sora untuk diberi kesempatan tidak usah menemui mereka dan kehadiran tamu-tamu tersebut. Juga tidak perlu dikabarkan bahwa Mahesa Jenar sedang berada di Banyubiru. Ia akan berada di dalam ruangan tengah sambil mendengarkan apakah kepentingan para pejabat itu datang ke daerah perdikan Banyubiru.

Sejenak kemudian terdengarlah di kejauhan suara sangkakala. Itu adalah suatu pertanda bahwa yang datng adalah pejabat-pejabat penting.

Mendengar sangkakala itu, Gajah Sora menjadi bertambah sibuk. Diperintahkan seorang meniup sangkakala pula untuk menyatakan kesediaan kepala perdikan Banyubiru menerima tamu-tamu penting dari pusat.

Sementara itu beberapa orang telah siap di atas kuda untuk menyongsong tamu-tamu dari Demak itu. Ketika Ki Ageng memberikan tanda-tanda, segera mereka pun berangkat.

Mahesa Jenar yang menanti kedatangan tamu-tamu itu dari ruang dalam menjadi semakin lama semakin gelisah. Kalau saja ia telah meninggalkan tempat itu, maka apapun yang terjadi, ia sudah tidak melihatnya lagi. Tetapi sekarang, pada saat ia masih berada di tempat itu, dapatkah kiranya ia berdiam diri? Sebab dalam tangkapan Mahesa Jenar, kedatangan para utusan dari Demak itu pasti ada sangkut-pautnya dengan keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.

Beberapa saat kemudian, sebelah punggung Mahesa Jenar basah oleh keringat dingin yang mengalir karena kegelisahannya. Terdengarlah derap kuda di halaman.

Perasaan ingin tahu Mahesa Jenar sedemikian besar sehingga lewat lubang-lubang papan sambungan dinding, ia mengintip. Ketika ia melihat pemimpin rombongan dari Demak itu, dadanya bergetar. Rupa-rupanya rombongan ini dianggap sedemikian pentingnya sehingga telah ditunjuk untuk memimpin rombongan ini, seorang perwira dari pengawal bandar Bergota, yaitu Palindih, seorang perwira yang sangat terkenal, yang pada saat Pangeran Sabrang Lor menyerang Portugis di Malaka, dialah yang mempergunakannya sebagai batu loncatan untuk meluaskan jari-jari penjajahannya ke Pulau Jawa dan sekitarnya. Ia sudah menjabat sebagai pimpinan dari salah satu kapal dalam armada yang dipimpin langsung oleh Adipati Unus sendiri.

Pada saat itu Gajah Sora, yang masih sangat muda, yang ikut sebagai sukarelawan dalam penyerangan itu, beruntung terpilih menjadi anggota pengawal Sabrang Lor. Karena pemuda itu telah menunjukkan ketangkasan yang luar biasa, maka dari Pangeran, ia menerima hadiah sebuah tombak pusaka.

Karena itu, ketika Ki Ageng Gajah Sora melihat, siapakah yang datang, maka dengan tergopoh-gopoh ia turun ke halaman menyambut tamunya dengan salam persahabatan. Mereka telah saling berkenalan dan telah mengetahui kebesaran masing-masing.

 

156

TAMU-TAMU dari Istana Demak itu segera dipersilahkan naik ke pendapa, dimana telah hadir para pejabat tanah perdikan dan pimpinan-pimpinan laskar Banyubiru. Di belakang, Nyi Ageng pun telah bekerja keras menyiapkan suguhan yang dianggapnya pantas, untuk menjamu tamu-tamu dari kota.

Setelah mereka saling menanyakan keselamatan masing-masing, serta setelah mereka yang datang mendapat jamuan pelepas haus, maka mulailah Arya Palindih menyampaikan keperluannya datang ke Perdikan Banyubiru. Meskipun wajahnya tampak keras, tetapi karena umurnya yang telah agak lanjut, maka ia berusaha untuk berhati-hati.

Anakmas Gajah Sora… izinkanlah aku menyampaikan pesan Baginda untuk Anakmas kepala daerah Perdikan Banyubiru. Pertama Baginda Sultan Demak menyampaikan salam taklim untuk Anakmas, serta doa mudah-mudahan pemerintahan perdikan Banyubiru yang didasarkan atas ketetapan sejak Baginda Brawijaya Pamungkas ini dapat berlangsung dengan sempurna, serta keputusan Baginda untuk tetap menghormati prasasti ketetapan tanah perdikan ini, kata Arya Palindih.
Adapun yang kedua, lanjut Arya Palindih, Baginda Sultan Demak mengucap syukur ke hadirat Allah bahwa Anakmas dari Banyubiru yang sudah dikenal oleh Baginda sejak penyerangan kedaerah Utara, yang pada saat itu Pemerintahan Demak masih dipegang oleh Pangeran Sabrang Lor, telah berhasil menyelamatkan kedua pusaka istana, Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.
Mendengar kata-kata itu, yang diucapkannya dengan jelas setiap suku katanya, baik Gajah Sora maupun Mahesa Jenar yang berada di ruang dalam, dadanya merasa seolah-olah tertindih beban yang sangat berat. Wajah Gajah Sora segera berubah, serta pandangannya menjadi suram. Meskipun hal itu telah diduganya, namun bagaimanapun darah Gajah Sora mengalir bertambah cepat juga.

Maka dengan agak gemetar serta berusaha untuk menguasai diri, Ki Ageng Gajah Sora menjawab, Paman Arya Palindih yang aku hormati…. Pertama-tama aku merasa sangat berbesar hati atas kesudian Paman serta atas kemurahan hati Baginda mengutus sebuah rombongan untuk datang ke daerah yang terpencil ini. Adapun yang kedua, aku menyatakan terima kasih yang sebesar-besarnya pula atas perhatian Baginda kepada hasil yang telah aku dapatkan, yaitu menyelamatkan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.
Sampai sekian kata-kata Gajah Sora terputus. Hatinya menjadi semakin gelisah serta dadanya bertambah berdebar. Dengan berusaha sedapat-dapatnya untuk menguasai dirinya ia melanjutkan, Tetapi Paman, sebaiknya aku berkata terus terang, bahwa mungkin karena kesalahanku, karena aku tidak mampu menjaga keselamatan kedua pusaka itu, maka beberapa hari yang lalu kedua pusaka itu hilang kembali.
Mendengar keterangan Gajah Sora itu, Arya Palindih terkejut, sehingga duduknya tergeser ke belakang. Dengan mata yang mengandung seribu satu macam pertanyaan, ia memandangi Gajah Sora tanpa berkedip.

Gajah Sora merasakan bahwa sesuatu bergolak di dalam dada Arya Palindih, karena itu ia merasa perlu untuk memberikan penjelasan atas hilangnya kedua pusaka itu.

Maka dengan sedikit bergetar Gajah Sora menceriterakan bagaimana ia berhasil mendapatkan kedua keris itu di Gunung Tidar, sampai kedua keris itu hilang dicuri orang, dengan kesaksian orang-orang yang pada saat itu masih belum sembuh benar, seperti Wanamerta, Panjawi dan lain-lainnya. Tetapi sudah tentu Gajah Sora sama sekali tak menyebut-nyebut nama Mahesa Jenar atau yang lebih terkenal dengan sebutan Rangga Tohjaya.

Meskipun Gajah Sora telah mengatakan semuanya yang terjadi, tampaknya Arya Palindih masih memancarkan rasa kesangsian. Beberapa kali ia memandang berkeliling. Kepada Wanamerta, Bantaran, Panjawi, Sawungrana dan kepada para pengiringnya, seolah-olah ia minta penjelasan yang lebih banyak lagi, serta minta pertimbangan-pertimbangan.

Akhirnya setelah beberapa saat mereka berdiam diri, berkatalah Arya Palindih, Anakmas Gajah Sora, aku tahu betapa besar kemampuan Anakmas. Anakmas adalah salah seorang kepercayaan almarhum Pangeran Sabrang Lor yang juga disebut Adipati Unus pada usia yang masih sangat muda. Sekarang Anakmas telah berusia dua kali lipat. Aku percaya bahwa dalam usia yang sekarang ini Anakmas telah merupakan seorang yang maha perkasa.
Ditambah lagi aku dengar laskar Banyubiru adalah laskar yang teguh dan perwira. Masih adakah gelombang-gelombang perampok yang hanya dapat mencegat pedagang-pedagang yang tak berdaya itu, berani mendekati Banyubiru? Apalagi memasuki rumah kepala daerah perdikan?

Paman Arya Palindih… jawab Gajah Sora, Apa yang Paman katakan adalah benar. Tetapi yang datang ke Banyubiru bukanlah rombongan pencuri-pencuri kerdil yang hanya mampu membongkar dinding. Tidakkah Paman pernah mendengar nama-nama seperti Lawa Ijo, Sima Rodra, Sepasang Uling dari Rawa Pening, Jaka Soka dari Nusakambangan dan yang lebih terkenal lagi Pasingsingan, Sima Rodra tua dari Lodaya, Bugel Kaliki dari lembah Gunung Cerme…?
Mereka itu semua telah beramai-ramai datang ke Banyubiru seperti orang yang dahulu-mendahului, seolah-olah kedua pusaka itu dapat mereka miliki dengan seenaknya saja. Kami telah berusaha sekuat tenaga kami, sampai beberapa orang kami luka parah, bahkan anakku sendiri terluka.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
157

ARYA PALINDIH menarik nafas dalam-dalam. Dahinya tampak berkerut-kerut. Meskipun usianya telah melebihi setengah abad, namun ia masih tampak segar dan perkasa. Beberapa rambut putih yang tumbuh di pelipisnya, tampak menambah wibawanya. Beberapa saat lamanya ia tidak berkata apa-apa. Ia sedang mencoba memahami keterangan-keterangan Gajah Sora, yang bagaimanapun sebenarnya agak janggal baginya.

Kemudian terdengarlah ia berkata, Aneh. Aneh sekali. Kenapa mereka baru akan memperebutkan pusaka-pusaka itu setelah berada di tangan Anakmas. Kenapa mereka tidak merebutnya selagi pusaka-pusaka itu masih berada di tangan Sima Rodra Gunung Tidar.
Gajah Sora mengerutkan keningnya. Ia sadar bahwa Arya Palindih agak membimbangkan keterangannya. Karena itu ia melanjutkan, Adakah Paman dapat membayangkan kekuatan raksasa yang mendatangi Banyubiru bersama-sama…?
Tentang keheranan Paman, kenapa baru setelah pusaka-pusaka itu berada di Banyubiru, mereka beramai-ramai memperebutkan itu sama sekali tak aku ketahui. Itu adalah soal mereka.
Tetapi mungkin sebelum itu tak seorangpun yang mengetahui, bahwa kedua pusaka itu berada di tangan Sima Rodra. Baru setelah kedua pusaka itu lenyap dari tangannya, ia sengaja meniup-niupkan berita bahwa pusaka-pusaka itu berada di Banyubiru.

Itupun aneh, jawab Palindih. Dengan demikian ia akan mendapat banyak saingan.
Pendapat Palindih itu memang masuk akal. Gajah Sora terdiam untuk beberapa saat. Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa kedua pusaka itu telah lenyap. Lalu apakah yang harus dikatakan, selain mengatakan apa yang telah terjadi. Apapun yang akan dikatakan, tetapi sudah pasti bahwa pada saat itu, ia tidak akan dapat menunjukkan keris-keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.

Sesaat kemudian Arya Palindih melanjutkan, Anakmas…, aku memang telah pernah mendengar beberapa diantara nama-nama yang Anakmas sebutkan itu.
Tetapi bagiku adalah sulit untuk dapat membayangkan bahwa kekuatan dari sebuah gerombolan perampok akan dapat menyamai kekuatan Banyubiru. Bagaimanapun kuatnya Bugel Kaliki dari Gunung Cerme, namun dapatkah ia melawan para pengawal seperti yang anakmas katakan itu?

Mendengar kata-kata Arya Palindih, kuping Gajah Sora rasa-rasanya seperti terjilat api. Karena itu segera wajahnya berubah menjadi merah. Tetapi meskipun demikian ia berkata tenang, Paman…, mungkin Paman tidak percaya. sebab Paman adalah seorang perwira prajurit yang lebih sering bertempur dalam satuan yang besar.
Bukan pertempuran perorangan yang kadang-kadang mempunyai segi-segi yang jauh berbeda. Meskipun aku tahu bahwa secara perseorangan pun Paman termasuk seorang yang mumpuni. Atau barangkali karena Paman adalah seorang yang maha kuat, sehingga Paman sukar membayangkan kelemahan orang lain?

Kata-kata Gajah Sora pun tak kurang tajamnya, sehingga sekali lagi Arya Palindih menggeser duduknya. Tetapi Arya Palindih juga berusaha menahan dirinya, sehingga masih dalam suasana yang baik ia berkata, Mungkin Anakmas, mungkin. Aku lebih senang mengatur siasat daripada menangani lawan. Juga terhadap orang seperti Bugel Kaliki, Pasingsingan dan Sima Rodra dari Lodaya itu pun aku akan mempergunakan siasat untuk menjebaknya.

Kembali perasaan Gajah Sora seperti tertusuk sembilu. Maka katanya di dalam hati, Sayang Paman Palindih belum pernah bertemu dengan tokoh-tokoh seperti Pasingsingan, Sima Rodra, Ki Ageng Pandan Alas atau ayahnya sendiri.

Tokoh-tokoh yang lebih percaya pada dirinya sendiri daripada bertempur dalam satuan-satuan yang besar, dalam keadaan-keadaan tertentu. Seandainya sekali waktu Arya Palindih dapat berkenalan dengan salah seorang diantara mereka, maka mungkin ia akan berubah pendirian. Sebab mulai dengan penggemblengan diri, Arya Palindih telah berada di dalam lingkungan keprajuritan, sehingga kecuali para pelatih di dalam lingkungannya, ia tidak banyak berkenalan dengan tokoh-tokoh di luar.
Berbeda dengan Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Mereka masuk di dalam lingkungan keprajuritan dengan bekal yang telah cukup. Itulah sebabnya, mereka mempunyai kelebihan.

Suasana kemudian menjadi tegang. Masing-ma-sing berusaha untuk tetap menguasai dirinya de-ngan baik.

Tetapi bagaimanapun mereka telah merasa bahwa keadaan tidak menguntungkan. Arya Palindih datang dengan menjunjung kewajiban, sedang Gajah Sora terpaksa terlibat dalam keadaan yang bertentangan dengan tugas tamu-tamunya.

Apalagi ketika Arya Palindih kemudian melanjutkan, Anakmas, sebenarnya, perkenankanlah aku menyatakan, bahwa yang ketiga kalinya, dari keperluanku datang kemari, adalah menjunjung perintah Baginda Sultan Demak, untuk menerima kembali kedua pusaka Istana yang hilang itu, serta ada bersama kami, Baginda mengirimkan berbagai hadiah yang seharusnya aku terimakan kepada Anakmas sebagai tanda terimakasih Baginda kepada Kepala Daerah Perdikan Banyubiru.
Setelah berkata demikian, Palindih menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah sesuatu yang menyekat dadanya telah terlontar keluar.

Sebaliknya, dada Gajah Sora kini bertambah sesak. Ia tidak tahu bagaimana ia harus bertindak. Bagaimanapun ia seharusnya mentaati perintah Baginda Sultan Demak. Tetapi kedua karis itu benar-benar telah lenyap. Yang menyulitkan adalah, bahwa Arya Palindih tidak dapat mempercayai keterangannya.

Dalam pada itu, Mahesa Jenar yang mendengarkan segala pembicaraan Gajah Sora dan Arya Palindih tidak kalah gelisahnya. Pikirannya pun menjadi kalut. Tidak aneh kalau pada suatu saat mereka saling tidak dapat menguasai diri, maka akibatnya akan menjadi jelek sekali.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
158

MAHESA JENAR kenal betul keduanya, kelebihan-kelebihan mereka dan kekurangan-kekurangan mereka. Mungkin dalam pertempuran seorang lawan seorang, Gajah Sora akan dapat menguasai lawannya, meskipun tidak dengan begitu mudah. Tetapi dengan beberapa orang, Arya Palindih merupakan seorang pemimpin yang berbahaya sekali. Usianya yang telah banyak itu, telah menunjukkan kematangannya. Ditambah dengan pengalamannya yang jauh lebih banyak daripada Gajah Sora. Apalagi orang-orang yang dibawa Arya Palindih rata-rata mempunyai kekuatan yang sama. Berbeda dengan orang-orang Banyubiru, selain Gajah Sora, maka jarak kepandaian mereka agak jauh.

Dalam kegelisahannya, Mahesa Jenar hanya dapat berdoa, semoga keadaan berkembang ke arah yang menguntungkan.

Paman Arya… akhirnya Gajah Sora berkata, Seharusnya aku merasa bahwa aku mendapat kehormatan yang besar menerima hadiah langsung dari Baginda Sultan Demak. Tetapi sekali lagi, bahwa kali ini terpaksa aku tidak dapat menyerahkan kedua pusaka itu, karena kedua-duanya sudah tidak berada di tanganku lagi. Kalau Paman tidak percaya, aku persilahkan Paman berbuat sekehendak Paman untuk membuktikan kebenaran kata-kataku.


Maafkanlah aku, Anakmas,
jawab Palindih, Aku kira tak ada artinya, seandainya aku menggeledah rumah Anakmas ini.
Lalu apakah yang akan Paman lakukan?
tanya Gajah Sora.
Arya Palindih tidak segera menjawab. Sekali lagi ia memandang berkeliling, seolah-olah sedang membanding-bandingkan kekuatan prajurit yang dibawanya dengan Laskar Banyubiru yang berada di pendapa. Baru beberapa saat kemudian ia berkata, dengan nada yang sudah agak berbeda, Anakmas, aku adalah petugas negara. Sebenarnya aku sama sekali tidak menaruh syak terhadap Anakmas. Tetapi aku merasa bahwa telah terjadi keanehan-keanehan di sini. Sampai saat ini orang masih percaya, bahwa Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten bersama akan dapat merupakan pusaka kebesaran raja-raja di Jawa. Bahkan ada yang percaya, bahwa hanya mereka yang memiliki pusaka-pusaka itu yang dapat merajai pulau ini dengan selamat. Karena itu, seandainya Anakmas memiliki kepercayaan yang sedemikian, hendaknya Anakmas merelakan keinginan Anakmas merajai pulau ini, sebab disamping pusaka-pusaka itu, ketentuan tahta masih bergantung kepada wahyu pula.

Kata-kata Arya Palindih, yang diucapkan dengan jelas itu, setiap patah, seolah-olah merupakan sebuah tusukan langsung ke arah jantung Gajah Sora. Karena itu ia menjadi gemetar menahan diri. Mulutnya menjadi seolah-olah terbungkam, meskipun di dalam dadanya bergulung-gulung keterangan-keterangan yang banyak sekali, yang seperti banjir akan menjebol tanggul.

Sadarlah ia sekarang, bahwa pasti ada pihak ketiga yang akan memancing ikan di air keruh. Ia jadi curiga, siapakah yang memberitahukan kepada para pejabat di Istana Demak, bahwa kedua pusaka itu telah berada di tangannya. Siapapun yang telah mengatur sedemikian cermatnya sehingga seolah-olah segala sesuatu itu berjalan menurut urutan-urutan yang sudah ditentukan. Beberapa gerombolan bersama-sama datang menyerbu daerahnya, sesudah itu, pejabat-pejabat Istana datang kepadanya untuk minta pusaka-pusaka yang telah lenyap itu.

Tetapi justru karena kesadaran akan adanya pihak ketiga yang sengaja akan mengadudomba dirinya dengan alat-alat negara itu, maka ia menjadi agak tenang. Karena itu meskipun masih dengan bibir yang gemetar ia menjawab,

Paman Palindih. Sekali lagi aku mohon maaf. Paman telah mengenal aku sejak aku masih muda. Aku selalu mementingkan kepentingan negara diatas segala-galanya. Jangankan aku berangan-angan untuk menjadi raja di pulau ini, sedangkan daerah perdikan yang hanya selebar daun sirih ini pun aku sama sekali tak keberatan ketika Ayah Sora Dipayana menyatakan untuk membagi dua. Kemudian lebih dari pada itu aku tak dapat memberikan keterangan lebih banyak lagi. Tetapi harap Paman ketahui bahwa aku berkata sejujur-jujurnya.

Arya Palindih adalah seorang prajurit yang sudah berpengalaman. Wajahnya yang masih tampak segar itu ditandai oleh kekerasan hati serta sifat kepemimpinan yang tegas. Namun bagaimanapun ia adalah pengemban tugas negara yang mempunyai batas-batas tertentu.

Sebenarnya ia sama sekali tidak dapat mempercayai ceritera Gajah Sora itu. Ia mendapat keterangan bahwa pusaka-pusaka itu benar-benar telah berada di Banyubiru. Dan ceritera tentang serbuan-serbuan itu adalah usaha Gajah Sora sendiri untuk menyembunyikan kedua pusaka-pusaka itu. Dan ia tidak dapat mengerti akan keterangan-keterangan yang didengarnya. Apalagi ketika ia melihat bagaimana teraturnya Laskar Banyubiru menerima kedatangannya, sehingga anehlah kalau hanya beberapa orang gerombolan liar sampai dapat berhasil merampas kedua pusaka itu.

Setelah mereka berdiam diri beberapa saat, kembali Palindih bertanya,

Anakmas, bolehkah aku bertanya lagi, kenapa Anakmas tidak segera menyerahkan kedua keris itu ke Demak setelah Anakmas berhasil merampasnya, sehingga sampai Sultan Demak terpaksa memerintahkan petugas-petugasnya untuk datang mengambilnya? Untunglah bahwa Sultan Demak cukup bijaksana sehingga masih juga beliau mengirimkan hadiah-hadiah untuk Anakmas.

Pertanyaan yang demikian, sama sekali tak diduganya. Karena itu Gajah Sora menjadi bingung. Memang ia merasakan suatu kekhilafan bahwa sampai beberapa hari ia masih belum menyerahkan keris itu. Tetapi maksudnya mula-mula adalah untuk menenangkan suasana dahulu. Pada suatu saat secara tiba-tiba ia akan mengejutkan Baginda dengan penyerahan kedua pusaka itu. Disamping itu ia terlalu percaya pada kekuatan laskarnya dan lingkungan ayahnya, Sora Dipayana. Namun bagaimanapun ia telah berbuat suatu kekhilafan. Karena itu, karena ia tidak mungkin berkata lain, maka dengan jujur ia menjawab, Paman, memang aku telah melakukan kekhilafan.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja

159

JAWABAN Gajah Sora itu sama sekali juga tidak diduga oleh Palindih, seperti juga Gajah Sora tidak menduga bahwa ia akan mendapat pertanyaan yang demikian. Dan jawaban ini telah mengejutkannya. Sebab ia melihat dari mata Gajah Sora bahwa ia telah berkata sejujur-jujurnya. Karena itu ia jadi bimbang. Namun bagaimanapun keterangan Gajah Sora tentang hilangnya kedua pusaka itu sangatlah aneh baginya.
Memang, Arya Palindih pernah mendengar nama-nama beberapa orang penjahat ulung. Bahkan ia mendengar pula bahwa diantaranya pernah berhasil memasuki Istana Demak dan hampir saja memasuki Gedung Perbendaharaan. Untung pada saat itu, seorang perwira yang perkasa dari pengawal raja yang bernama Rangga Tohjaya dapat mencegahnya.

Arya Palindih juga pernah mendengar tokoh-tokoh angkatan yang lebih tua daripada Lawa Ijo yang berhasil memasuki istana itu, sebagai siluman-siluman yang berbahaya.
Namun meskipun demikian, lepas dari masalah percaya atau tidak percaya, Palindih adalah seorang perwira yang tegas dan taat akan kewajibannya. Ia adalah prajurit sejati, namun cukup bijaksana. Karena itu berkatalah Arya Palindih, Anakmas, pengakuan Anakmas bahwa Anakmas khilaf telah membuka pikiranku.
Tetapi bagiamanapun juga aku adalah prajurit yang mendapat tugas untuk meminta kembali pusaka-pusaka istana itu. Dan aku telah melakukan tugasku. Sayang bahwa menurut keterangan Anakmas, kedua pusaka itu telah lenyap. Karena aku tidak mendapat kekuasaan untuk bertindak lebih jauh, maka aku tidak akan melakukan hal-hal lain kecuali melaporkan peristiwa ini kepada Baginda Sultan.
Baru kemudian kalau ada kewajiban-kewajiban lain serta ketentuan-ketentuan lain, mungkin aku segera akan datang kembali ke Banyubiru.

Kata-kata Arya Palindih itu merupakan angin sejuk yang telah mengendorkan semua wajah-wajah yang tegang dari semua yang hadir di pendapa itu. Bahkan Mahesa Jenar yang mendengar percakapan dari balik dinding, juga menarik nafas lega. Dengan demikian setidak-tidaknya ada waktu sehari dua hari untuk mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan datang. Untunglah seandainya dalam waktu yang singkat itu Ki Ageng Pandan Alas atau Ki Ageng Sora Dipayana setidak-tidaknya telah mendapat keterangan tentang kedua pusaka yang hilang itu.

Gajah Sora yang dapat menanggapi keadaan serta kebijaksanaan Arya Palindih segera menjawab, Paman, aku sejak semula memang percaya bahwa Paman selalu bertindak bijaksana. Meskipun demikian aku akan selalu berusaha untuk meyakinkan Paman bahwa aku telah berkata dengan jujur. Aku berjanji bahwa aku akan berusaha sekuat tenaga serta kemampuan yang ada di daerah ini, berusaha menemukan kembali kedua keris yang hilang itu sebagai bukti kesetiaanku kepada negara.
Arya Palindih mendengarkan ucapan Gajah Sora itu sambil mengangguk-anggukkan kepala. Di dalam hatinya menjalar suatu pengertian yang berpengaruh. Akhirnya dengan kata-kata yang lunak ia berkata, Anakmas…, Anakmas adalah bekas prajurit pilihan pada masa Anakmas masih muda. Bagaimanapun juga aku tidak bisa mengerti peristiwa yang terjadi menurut ceritera Anakmas, namun aku percaya bahwa oleh jiwa kepahlawanan yang tersimpan di dalam dada Anakmas itu, maka Anakmas telah berlaku sebenarnya.
Baik Gajah Sora, Arya Palindih, Mahesa Jenar dan semuanya yang hadir di pendapa itu menyadari, bila sampai terjadi suatu bentrokan, akibatnya pasti akan jelek sekali. Sebab Laskar Banyubiru tidak dapat dianggap remeh. Laskar yang berakar pada jiwa rakyat yang setia. Mungkin Demak akan dapat mengatasinya dengan tidak banyak kesukaran.

Tetapi korbannya pasti akan banyak sekali. Tidak saja korban jiwa, tetapi korban yang lebih besar artinya bagi negara yang pada saat itu sedang terancam oleh kekuasaan penjajahan Portugis yang sudah membangun pangkalannya di Malaka. Maka usaha yang pertama, yang harus diutamakan adalah memperkuat garis armada Banten – Jakarta – Cirebon – Demak – terus ke timur – Supit Urang – langsung ke Hitu dan Ambon, sebagai garis utama untuk melumpuhkan usaha Portugis, terutama di bidang perniagaan laut dan kesiap-siagaan armada, yang setiap saat dapat menerobos ke wilayah Demak.

Bersandarkan pada kesadaran itulah, maka kemudian Arya Palindih yang tegas namun bijaksana itu berkata, Anakmas, aku kira tugasku kali ini sudah selesai, meskipun tidak seperti yang aku harapkan. Dengan demikian aku akan minta diri, dan mudah-mudahan perkembangan selanjutnya tidak akan menyulitkan Anakmas dan kami.

Meskipun Gajah Sora mencoba menahannya, Arya Palindih sudah memutuskan untuk segera pulang ke Demak dan melaporkan apa yang sudah terjadi, dengan harapan bersama bahwa segala sesuatu dapat diselesaikan dengan baik.

Sepeninggal Arya Palindih, segera Gajah Sora mengadakan pertemuan dengan segenap pembantunya serta Mahesa Jenar. Namun banyak hal yang tak dapat mereka selesaikan.

Sebab kuncinya terletak pada kedua keris yang hilang itu. Tetapi adalah menjadi kewajiban Gajah Sora untuk memerintahkan kepada semua laskarnya agar tidak berbuat hal-hal yang dapat mengeruhkan suasana.

Tetapi bagaimanapun, setelah peristiwa kedatangan utusan dari Demak itu, Gajah Sora menjadi perenung. Mahesa Jenar yang semula bermaksud meninggalkan Banyubiru, kemudian menjadi tidak sampai hati. Karena itu ditahankannya dirinya untuk tetap tinggal di Banyubiru sebagai kawan berunding dan berbincang Gajah Sora.

Hiburan yang utama bagi Gajah Sora adalah anaknya yang kini sudah hampir pulih kembali. Bahkan sudah mulai lagi dengan tingkahnya yang aneh-aneh dan diluar kebiasaan anak-anak yang sebaya dengan Arya Salaka, yang kadang-kadang sangat memusingkan kepala ayahnya. Meskipun pada umumnya Arya tidak berani membantah peringatan-peringatan ayahnya, tetapi kadang-kadang diluar pengawasan ia melakukan hal-hal yang berbahaya.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
160

BEBERAPA hari kemudian tidak terjadi hal-hal yang luar biasa. Rakyat dengan tenang dan tenteram bekerja di sawah serta ladang mereka. Padi-padi yang sudah mulai menguning, bahkan ada diantaranya yang sudah masak untuk dipetik. Berduyun-duyunlah wanita turun kesawah serta saling menolong memotong padi, sedang laki-laki bergotong royong bekerja menyiapkan sawah-sawah yang telah dituai untuk ditanami kembali. Rumah-rumah yang terbakar pada saat penyerbuan gerombolan-gerombolan liar itu, secara gotong royong telah dibangun kembali. Bahkan tampak lebih kokoh dan lebih baik daripada yang semula.
Kehidupan yang aman damai telah memancar kembali menjiwai daerah Perdikan Banyubiru.

Tetapi, tidak demikian halnya dengan perasaan Gajah Sora. Meskipun sehari-hari ia tampak tenang dan segar, serta seperti biasanya ia ikut serta bekerja dengan rakyat Banyu Biru untuk kesejahteraan daerahnya, namun didalam hatinya tersimpan duri yang selalu menusuk-nusuk perasaannya.

Bagaimanapun, ia tidak dapat melupakan, bahwa akan datang saatnya ia harus mempertanggungjawabkan hilangnya kembali keris Nagasasra dan Sabuk Inten. Meskipun ia dapat mengharapkan etikad baik dari Arya Palindih, namun bagaimanapun usaha-usaha dari pihak ketiga pasti masih selalu ada. Usaha-usaha dari golongan yang tidak ingin melihat kehidupan damai di Banyubiru khususnya, dan Demak pada umumnya. Tidak aneh kalau hal ini didalangi oleh orang-orang yang sengaja merongrong kebesaran Demak untuk mendapatkan keuntungan sendiri. Sebab di dalam lingkungan mereka ada orang-orang yang cukup tangkas otaknya. Pasingsingan, Bugel Kaliki, Sima Rodra tua dapat mewayangkan orang-orang dalam yang tidak teguh imannya.

Karena itu, karena kecurigaannya kepada golongan-golongan yang ingin dengan sengaja mengeruhkan suasana. Gajah Sora telah mengambil kebijaksanaan untuk mengirimkan beberapa orang kepercayaannya ke Demak untuk mengetahui perkembangan keadaan. Orang-orang itu bertugas untuk mendengarkan desas-desus tentang keadaan Banyu Biru yang tersiar dipusat pemerintahan itu, serta kalau perlu mengadakan perlawanan dengan menceriterakan keadaan yang sebenarnya kepada kalangan yang seluas-luasnya.

Tetapi akhirnya, dengan dada yang gemuruh Gajah Sora mendengar laporan dari salah seorang kepercayaannya itu, bahwa di Demak telah berkembang keadaan yang sama sekali tak menguntungkan. Di Demak dengan tak diketahui sumbernya, telah tersiar berita bahwa kini di Banyubiru telah diadakan latihan keprajuritan secara teratur dan besar-besaran, sebagai salah satu usaha untuk tetap mempertahankan Keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Orang-orang Gajah Sora yang tidak seberapa jumlahnya itu telah berusaha untuk menyebarkan berita yang sebenarnya, namun rupanya arus kabar yang sengaja mengeruhkan suasana itu tak dapat dibendungnya. Bahkan akhirnya telah mempengaruhi beberapa pejabat Istana Demak.

Belum lagi Gajah Sora sempat mendalami serta mengupas masalah itu, datanglah orangnya yang kedua dengan suatu berita yang lebih mengejutkan lagi, yaitu, bahwa Demak telah mengirim satu pasukan untuk meneliti keadaan di Banyubiru.

Mendengar berita ini, pikiran Gajah Sora seolah-olah menjadi gelap. Karena itu segera ia memanggil pembantu-pembantunya beserta Mahesa Jenar. Apakah yang sebaiknya mereka lakukan apabila pasukan dari Demak itu benar-benar mendatangi Banyubiru.

Persoalan ini kemudian menjadi buntu. Tak seorangpun yang dapat memberikan ketetapan pendirian. Tetapi bagaimanapun, mereka merasa bahwa sebenarnya mereka sama sekali tak bersalah dengan hal ini. Gajah Sora hanyalah berbuat suatu kekhilafan yang sebenarnya tak begitu besar seandainya akibatnya menjadi lain.
Akhirnya, ketika tak seorangpun yang berhasil memecahkan persoalan itu dengan sebaik-baiknya, maka satu-satunya kemungkinan adalah menunggu sampai pasukan dari Demak itu datang, dan kemudian bersama-sama memperbincangkan masalahnya. Gajah Sora sadar bahwa ia tidak boleh tergesa-gesa mengambil sikap, sebab kemungkinan-kemungkinan yang tak diinginkan selalu akan terjadi. Maka yang dapat dilakukan sekarang adalah mempertinggi kewaspadaan.

Diantara mereka yang selalu gelisah karena keadaan, maka yang paling gelisah adalah Mahesa Jenar, karena ia dapat melihat kebenaran sikap masing-masing.

Ia tidak dapat menyalahkan Ki Ageng Gajah Sora seandainya orang itu tetap merasa tak bersalah. Sebab ia sendiri telah berjuang mati-matian untuk merampas keris-keris itu, dan kemudian dengan sekuat tenaga pula telah dipertahankannya. Juga orang-orang Gajah Sora pasti akan mempertahankan kepala daerah mereka yang mereka segani dan cintai itu.

Tetapi sebaliknya, ia mengerti juga alasan Sultan Demak seandainya Baginda murka. Sebab Baginda merasa bahwa yang paling berhak atas kedua pusaka itu adalah pemerintah.

 

161

MALAM harinya, Mahesa Jenar hampir tidak dapat memejamkan mata. Ia selalu berangan-angan apakah kiranya yang terjadi seandainya pasukan Demak itu telah berada di Banyubiru. Yang menambah kesulitan pikiran Mahesa Jenar adalah, lalu bagaimana dengan dirinya sendiri?

Baru ketika ayam berkokok untuk ketiga kalinya, Mahesa Jenar terlena diatas pembaringannya untuk beberapa saat. Sebab sebentar kemudian ia mendengar hiruk-pikuk di halaman. Segera ia meloncat bangun dan lari keluar. Dilihatnya beberapa orang telah berada di sana, sedang Ki Ageng Gajah Sora dengan wajah merah menyala berdiri di ambang pintu rumahnya.

Segera Mahesa Jenar naik ke pendapa, langsung menuju kepada Gajah Sora. “Kakang…, apakah yang terjadi?”

Gajah Sora memandang Mahesa Jenar dengan pandangan yang gelisah. “Aku tahu kesulitanmu Adi, karena itu sebaiknya kau tidak ikut serta,” jawabnya.

Apakah yang akan Kakang lakukan?” tanya Mahesa Jenar lebih lanjut.

Aku tidak dapat menahan diri lagi,” jawabnya. “Aku telah memerintahkan untuk menyiapkan laskar Banyubiru. Aku tidak peduli akan apa yang terjadi. Aku hormati kebesaran Demak sebagai pimpinan tertinggi atas segala pemerintahan di daerah-daerah, namun alangkah kerdilnya pikiran mereka.”

Mendengar jawaban Gajah Sora itu darah Mahesa Jenar serasa berhenti. Dengan penuh kebingungan ia bertanya kembali, “Apa yang telah mereka lakukan?”

Sementara itu terdengarlah tanda bahaya bergema di seluruh lereng bukit Telamaya, disusul dengan tanda-tanda supaya laskar Banyubiru berkumpul di alun-alun. Mahesa Jenar menjadi semakin gelisah mendengar tanda-tanda itu. Apa yang telah mereka lakukan…?

Gajah Sora tidak menjawab, tetapi sorot matanya bertambah menyala. Ketika dilihatnya kudanya telah siap di halaman, tanpa menjawab pertanyaan Mahesa Jenar, ia berlari melintasi pendapa dan langsung meloncat ke atas punggung kudanya. Sesaat kemudian Gajah Sora sudah lenyap diantara beberapa orang yang bersama-sama memacu kudanya ke alun-alun, dimana sudah berkumpul segenap Laskar Banyubiru.

Untuk beberapa saat Mahesa Jenar berdiri kebingungan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tetapi untunglah bahwa Mahesa Jenar mempunyai otak yang jernih, sehingga beberapa saat kemudian ia telah berhasil menguasai dirinya kembali.

Maka dengan tangkasnya ia meloncat ke belakang, ke kandang kuda. Diambilnya kuda abu-abu yang biasa dipakainya.
Dengan cekatan ia mempersiapkan pelananya. Dan dalam sekejap kemudian, ia telah berlari diatas punggung kuda abu-abu itu menyusul Gajah Sora, serta apabila mungkin mencegah hal-hal yang tak diinginkan.

Tetapi ketika ia keluar dari halaman, segera di arah timur tampak api menyala-nyala. Mahesa Jenar terkejut bukan kepalang, sehingga terlontar suatu teriakan tertahan. Tak mungkin…. Tak mungkin. Tentara Demak bukan gerombolan-gerombolan liar yang biasa membakar rumah dan merampok isinya.

Maka segera timbul gambaran di dalam otaknya, bahwa ini pasti suatu usaha pengadu-dombaan. Walaupun demikian ia bermaksud untuk membuktikan siapakah yang telah berbuat gila itu. Segera ia menarik kekang kudanya, dan memutar ke arah api yang menyala-nyala di sebelah timur itu. Kudanya yang lari secepat angin itu, dalam beberapa saat kemudian telah hampir sampai di tempat api yang menyala-nyala. Di beberapa tempat, ia bertemu dengan orang-orang yang berusaha mengungsikan diri. Kepada salah seorang diantaranya, ia bertanya, “He…, Kakang yang menjauhkan diri dari keributan, tahukan kau siapakah yang membakari rumah-rumah itu?”

Orang itu berhenti sejenak, lalu memandang kepada Mahesa Jenar dengan heran. Tetapi bagaimanapun ia selalu mengharap perlindungan dari manapun datangnya. Maka jawabnya, “Aku tidak tahu, tetapi mereka selalu berteriak-teriak, bahwa mereka adalah prajurit-prajurit dari Demak yang mendapat perintah untuk menghancurkan Banyubiru, sebab Banyubiru akan memberontak terhadap Demak.”

“Bagaimanakah cara mereka berpakaian?” selidik Mahesa Jenar lebih lanjut.

“Mereka memakai baju merah, ikat kepala merah dan celana merah pula. Adapun kainnya berwarna hitam,” jawab pengungsi itu.

Wiratamtama, desis Mahesa Jenar.

Terimakasih, Kakang,” kata Mahesa Jenar kepada orang itu sambil menarik kekang kudanya, yang kemudian berlari kembali secepat angin ke arah api yang semakin lama semakin tinggi seolah-olah akan menjilat langit.

Pakaian orang-orang yang membakar rumah itu, adalah pakaian prajurit Demak dari kesatuan penggempur yang bernama Wiratamtama, yang terdiri dari orang-orang pilihan dan perwira, bahkan dapat dikatakan sama dengan pasukan pengawal raja, yang disebut kesatuan Nara Manggala. Tetapi pakaian mereka agak berbeda. Sebab Nara Manggala memakai ikat kepala biru, ikat pinggang kuning. Karena itu ia semakin bernafsu untuk mengetahui siapakah sebenarnya yang telah menamakan diri mereka prajurit-prajurit dari Demak itu.

Ketika matahari mulai bercahaya di arah timur, Mahesa Jenar sampai di tempat kebakaran. Ternyata orang yang membakar rumah-rumah itu sebagian besar sudah melarikan diri. Tinggallah di sana-sini beberapa orang saja yang masih berusaha untuk menemukan barang-barang yang berharga dari rumah-rumah yang terbakar itu.
Melihat kelakuan mereka yang tak ubahnya dengan anjing yang mengais di keranjang sampah, hati Mahesa Jenar terbakar oleh kemarahannya yang memuncak. Ia tidak saja merasa marah, bahwa orang-orang yang menamakan diri prajurit-prajurit itu telah membakar rumah-rumah penduduk yang tak bersalah, tetapi kelakuan mereka adalah suatu penghinaan langsung terhadap kebesaran nama Wiratamtama khususnya dan prajurit Demak umumnya.

Karena itu segera ia dapat mengambil kesimpulan, bahwa sama sekali mereka bukanlah prajurit-prajurit Demak yang sebenarnya. Karena itu tanpa bertanya-tanya lagi Mahesa Jenar segera menyerbu ke arah mereka.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
162

BEBERAPA orang yang sedang sibuk mencari barang-barang itu, segera terkejut ketika mereka mendengar derap kuda mendekati mereka, apalagi ketika dilihatnya seorang yang belum dikenalnya langsung menuju ke arah mereka, dengan sikap yang garang.

Segera mereka melihat bahaya yang datang. Tetapi karena jumlah mereka yang banyak itu, mereka sama sekali tidak takut ketika dilihatnya bahwa yang datang hanyalah seorang. Meskipun demikian mereka bersiap-siap pula menanti kedatangan Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar yang memacu kudanya seperti badai, dengan penuh kemarahan langsung menyerang orang-orang yang menantinya dengan sikap tak acuh itu. Baru ketika tiga orang bersama-sama terpelanting dengan meninggalkan suara parau yang terputus, sadarlah mereka bahwa yang datang itu bukan orang sembarangan.

Dengan kebingungan karena terkejut mereka mencoba mempersiapkan senjata-senjata mereka, tetapi itu tidaklah banyak gunanya, sebab sekejap kemudian Mahesa Jenar telah mengulangi serangannya. Sekali lagi dua orang sekaligus terlempar dengan mengumandangkan teriakan tinggi.

Orang-orang lain yang melihat kelima kawannya sudah menggeletak tak bernyawa itu, menjadi ketakutan, dan dengan tidak menunggu lebih lama lagi segera mereka melarikan diri bercerai-berai.

Mahesa Jenar segera berusaha menangkap salah seorang diantaranya. Dan kemudian membantingnya di tanah. Dengan ibu jarinya yang kuat Mahesa Jenar siap menekan leher orang itu. Sementara itu ia bertanya, Siapakah kau sebenarnya?

Orang itu menjadi ketakutan setengah mati. Karena itu, meskipun ia berusaha menjawab, tetapi mulutnya menjadi tergagap-gagap tak keruan. Mahesa Jenar menyumpah-nyumpah di dalam hati. Karena bagaimanapun ia memaksa, mulut orang itu pasti tak akan dapat mengeluarkan kata-kata yang dapat dimengerti.

Akhirnya dengan sangat marah Mahesa Jenar menarik bajunya sehingga orang itu berdiri. Bersamaan dengan itu darah Mahesa Jenar tersirap sampai ke kepala, ketika dilihatnya, melingkar perut orang itu sebuah ikat pinggang yang lebar, dengan gambar dua ekor uling yang saling melilit. Karena itu Mahesa Jenar berteriak nyaring, Kau dari gerombolan Uling Rawa Pening…?

Mulut orang itu tampak bergerak-gerak, tapi suara yang keluar dari mulutnya tak ubahnya seperti suara orang bisu. Meskipun demikian karena kepalanya mengangguk-angguk, tahulah Mahesa jenar bahwa orang itu benar-benar dari gerombolan Uling Rawa Pening. Karena itu marahnya semakin membara di dalam dadanya. Alangkah banyaknya unsur-unsur yang ingin merusak kedamaian tanah perdikan kecil di lereng bukit Telamaya itu.
Tetapi kemudian Mahesa Jenar terkejut ketika ia mendengar suara tertawa di belakangnya. Ketika ia menoleh, dilihatnya Arya Salaka agak jauh di belakangnya, duduk di atas kuda hitamnya. Begitu asyiknya Mahesa Jenar mengurusi tangkapannya, sehinga ia sama sekali tak memperhatikan kedatangan Arya yang tentu dengan sengaja bersembunyi dan sangat berhati-hati.

Apa kerjamu di situ Arya? teriak Mahesa Jenar.
Apa pula yang Paman kerjakan itu? jawab Arya berteriak pula.
Mendapat jawaban yang nakal itu, Mahesa Jenar menjadi jengkel.

Kemarilah, panggilnya keras-keras.
Perlahan-lahan Arya menjalankan kudanya mendekati Mahesa Jenar. Tetapi ia tidak mau dekat benar, sebab ia mengira bahwa Mahesa Jenar akan marah kepadanya.
Dengan masih memegangi tangkapannya erat-erat, Mahesa Jenar mengulangi pertanyaannya Apa kerjamu disini?
Arya menjadi agak bingung, sebab ternyata Mahesa Jenar benar-benar tak senang akan kehadirannya. Meskipun demikian ia menjawab dengan jujur. Aku melihat Paman memacu kuda ke arah timur. Aku kira pasti ada hal-hal yang menarik sehingga aku ingin ikut melihatnya.

Lalu apa yang sudah kau lihat? desak Mahesa Jenar.
Paman Mahesa Jenar menangkap kelinci, jawab Arya. Mau tidak mau Mahesa Jenar menjadi geli mendengar jawaban Arya. Memang anak itu nakalnya bukan main. Nah, ayo lekas pulang, perintah Mahesa Jenar.
Nanti bersama Paman, jawab Arya.
Mahesa Jenar menjadi bertambah jengkel. Pulanglah Arya, supaya ayahmu tidak marah.
Aku takut pulang sendiri
, jawabnya mengelak.
Mahesa Jenar menggeleng-gelengkan kepala. Ia tahu betul bahwa Arya sama sekali tidak takut. Maka mau tidak mau ia harus mengantar anak itu pulang. Lalu dengan sebuah sentakan yang keras Mahesa Jenar mendorong tangkapannya sehingga orang itu terdorong dan terbanting menelentang. Matanya memancarkan perasaan takut yang amat sangat, sedang nafasnya seperti berdesak berebut keluar. Arya menjadi geli melihat orang itu. Tidakkah Paman bermaksud membunuh orang itu?
Mendengar kata-kata Arya orang itu menjadi semakin ketakutan, sehingga akhirnya malahan Mahesa Jenar menjadi kasihan kepadanya. Kalau kau masih mempunyai sisa tenaga, pergilah cepat-cepat menjauhi aku sebelum aku mencekikmu, katanya.
Orang itu menjadi ragu-ragu sebentar mendengar kata-kata Mahesa Jenar, seperti ia tidak percaya pada pendengarannya. Sampai kemudian terdengar, Pergilah!
Orang itu segera berdiri dan mundur beberapa langkah. Sesaat kemudian ia memutar tubuhnya dan berlari sekencang-kencangnya menjauhi Mahesa Jenar, seperti kuda pacu di lapangan pertandingan.

Arya melihat kelakuan orang itu seperti sebuah permainan yang menyenangkan. Maka timbullah kenakalannya, untuk menakut-nakuti orang itu. Tangkap orang itu, Paman…, tangkap orang itu. Ia akan melaporkan kepada pemimpinnya bahwa Paman ada di sini.

Mendengar Arya berteriak-teriak, orang itu berlari semakin cepat tanpa menoleh, dibarengi dengan suara tertawa. Arya bergelak-gelak. Arya baru berhenti tertawa ketika didengarnya Mahesa Jenar berkata, Marilah Arya, ada kerja yang lebih penting daripada menunggumu bermain-main di sini.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
163

BELUM lagi habis kata-kata Mahesa Jenar, sayup-sayup menyusur lereng perbukitan terdengarlah suara sangkakala bergema. Mahesa Jenar terkejut mendengar suara itu. Maka tanpa sesadarnya ia berkata – Itulah pasukan dari Demak.-

Dari Demak? ulang Arya.

Mahesa Jenar memandang wajah Arya yang masih memancarkan kebeningan hatinya itu dengan saksama. Meskipun anak itu nakalnya bukan main, tetapi hatinya bersih, sebersih hati ayahnya.
Marilah kita lihat, ajaknya.

Kemudian mereka berdua melarikan kuda mereka naik ke lereng yang lebih tinggi lagi. Dari sana dapatlah mereka melihat sebuah iring-iringan besar berjalan perlahan-lahan seperti semut yang merayapi dinding-dinding batu.

Mahesa Jenar menjadi terkejut bukan kepalang, ketika ia melihat pasukan Demak itu berjalan sudah dengan gelar perang. Bukan lagi merupakan barisan yang akan mengunjungi sebuah wilayah kerajaannya. Gelar itu merupakan gelar yang langsung akan dapat menghantam pertahanan lawan. Yaitu gelar Cakra Byuha.

Hati Mahesa Jenar berdebar sangat kerasnya. Mungkin beberapa penyelidik dari Demak telah menangkap tanda bahwa yang sudah dibunyikan oleh Gajah Sora, serta mereka mungkin salah terima terhadap nyala yang tidak boleh tidak pasti mereka saksikan. Nyala api yang ditimbulkan oleh kelakuan gerombolang Uling dari Rawapening, yang merasa sangat berkepentingan apabila di Banyubiru timbul keributan-keributan.

Segera Mahesa Jenar pun teringat bahwa Gajah Sora telah pula menyiapkan pasukannya. Maka apabila tidak ada pencegahan, pertempuran yang dahsyat pasti akan terjadi. Karena itu dengan tergesa-gesa Mahesa Jenar mengajak Arya Salaka untuk segera kembali menemui Ki Ageng Gajah Sora.

Dengan kecepatan penuh, Mahesa Jenar dan Arya Salaka melarikan kuda masing-masing langsung menuju ke alun-alun Banyubiru.

Ketika mereka sudah memasuki kota, kembali dada Mahesa Jenar terpukul oleh suatu kenyataan bahwa Gajah Sora telah membawa pasukannya untuk menyongsong pasukan Demak itu dengan gelar yang seimbang. Yaitu gelar Gajah Meta.

Gajah Sora tampak garang di atas kuda putihnya. Di tangannya tergenggam erat pusaka Banyubiru yang sakti, Kyai Bancak. Disampingnya dengan kepala menengadah tampak orang yang telah agak lanjut usianya, tetapi ialah satu-satunya kepercayaan yang tak pernah berkisar dari samping Gajah Sora, yaitu Wanamerta.

Di sisi yang lain dengan kepala tegak dan dada yang terbuka, seorang pemuda yang kelak akan terkenal namanya sebagai seorang perwira, yaitu Penjawi. Di belakangnya berturut-turut berjalan beberapa perwira pilihan.

Di belakangnya lagi berkibarlah dengan megahnya bendera-bendera lambang kebesaran tanah perdikan Banyubiru. Panji-panji di atas dasar merah terlukis gambar seekor gajah berwarna kuning keemasan. Di samping bendera itu berkibar pula beberapa panji-panji kemegahan serta umbul-umbul beraneka warna, yang bertangkaikan tombak-tombak yang sudah tak bersarung.

Melihat pasukan itu, sejenak Mahesa Jenar tertegun. Ia adalah bekas seorang prajurit yang tidak saja satu dua kali mengalami pertempuran-pertempuran hebat. Tetapi ketika ia melihat tata barisan Gajah Sora dan gelar Gajah Meta, hatinya kagum juga. Ia jadi percaya bahwa Laskar Banyubiru merupakan laskar yang sudah masak di bawah pimpinan seorang yang mempunyai pengetahuan yang cukup.

Tetapi ketika ia teringat akan kemungkinan yang terjadi apabila pasukan ini bertemu dengan pasukan Demak, darahnya menjadi berdesir cepat. Maka segera ia melarikan kudanya, langsung menuju ke arah Gajah Sora.

Gajah Sora melihat kedatangan Mahesa Jenar, tetapi sikapnya menjadi agak lain dari biasanya. Dengan pandangan kosong, Gajah Sora menghentikan kudanya dan bertanya hambar, Apakah maksud Adi Mahesa Jenar menemui aku?

Mahesa Jenar merasakan perbedaan sikap ini, tetapi ia tidak peduli. Dengan suara yang perlahan-lahan tetapi jelas ia menceriterakan apa yang dilihatnya. Orang-orang yang menyaru sebagai prajurit-prajurit Demak telah membakari rumah-rumah penduduk. Dengan demikian maka laporan yang sampai kepada Gajah Sora pasti prajurit-prajurit Demak yang melakukan pembakaran itu.

Gajah Sora mendengar dengan baik kata-kata Mahesa Jenar, tetapi wajahnya sama sekali tidak berubah. Meskipun demikian ia bertanya, Lalu apa kata Adi Mahesa Jenar terhadap gelar Cakra Byuha itu?
Mendengar pertanyaan itu terasa sesuatu berdesir di dada Mahesa Jenar. Rupa-rupanya Gajah Sora telah mengetahui bahwa prajurit Demak mendekati Banyubiru dalam gelar perang yang berbahaya. Karena itu untuk beberapa saat ia tidak menjawab. Baru kemudian Mahesa Jenar berkata, Kakang Gajah Sora, ini adalah suatu kesalahpahaman yang berbahaya.

Sudahlah Adi, potong Gajah Sora. Aku sudah mengatakan bahwa aku menyadari kesulitan Adi sekarang ini. Karena itu aku persilahkan Adi kembali saja.
Sebenarnya Mahesa Jenar sama sekali tidak senang mendengar kata-kata Gajah Sora itu, tetapi ketika ia akan menjawab, dilihatnya Gajah Sora melambaikan tangannya, dan iring-iringan itu mulai bergerak kembali. Iring-iringan raksasa yang terdiri ribuan prajurit yang terpecah-pecah menjadi bagian-bagian dalam gelar yang lengkap, Gajah Meta.

Mahesa Jenar menjadi bertambah bingung. Ia merasa bahwa agak terlambat untuk menahan Gajah Sora, namun ia tidak putus asa. Tanpa mengingat kemungkinan yang dapat terjadi atas dirinya apabila ia bertemu dengan prajurit-prajurit Demak, Mahesa Jenar mengikuti perjalanan pasukan Banyubiru, untuk menyongsong kedatangan pasukan-pasukan dari Demak.

Setelah itu tak sepatah katapun yang terdengar. Masing-masing berjalan tanpa bersuara. Di kepala masing-masing berputarlah berbagai masalah yang berbeda-beda.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
164

SELANGKAH demi selangkah Laskar Banyubiru maju terus, dan selangkah demi selangkah mereka semakin dekat dengan pasukan-pasukan yang datang. Tetapi setiap jengkal mereka maju, setiap kali pula dada Mahesa Jenar merasa terbentur sesuatu yang seolah-olah hendak pecah oleh ketegangan yang semakin memuncak.
Sebentar kemudian pasukan itu menyusup, menerobos pepohonan dan kebun-kebun yang sedang memamerkan buah-buahan yang lebat, menembus pagar-pagar dan meloncati dinding-dinding rendah untuk tidak mengubah tata barisan mereka, dalam gelar perang Dirada Meta.

Kemudian muncullah pasukan itu di lapangan terbuka, sebuah padang rumput tempat para penggembala melepaskan binatang-binatang peliharaan. Masih dalam tata barisan yang teratur, mereka menuruni lereng bukit Telamaya.

Sejenak kemudian Gajah Sora melambaikan tangannya, dan berhentilah iring-iringan pasukan Banyubiru. Bersamaan dengan itu hampir berbareng terdengarlah gumam yang seperti mengumandang diantara anggota laskar itu. Sebab jauh di hadapan mereka, di bawah kaki bukit Telamaya, tampaklah dalam gelar Cakra Byuha pasukan-pasukan dari Demak.

Lebih dari itu semua adalah goncangan dada Mahesa Jenar. Kini benar-benar dadanya serasa akan meledak. Tidak saja sedapat mungkin dirinya selalu berusaha untuk menjauhi setiap prajurit dari Demak, untuk melenyapkan segala kenangan pada masa kebanggaannya sebagai seorang prajurit pengawal raja, tetapi sekaligus ia merasa terharu melihat kebesaran pasukan itu. Meskipun masih belum begitu jelas, tetapi bagi Mahesa Jenar apa yang dilihatnya itu seolah-olah telah melekat di pelupuk matanya.

Dengan membeda-bedakan warna pakaian mereka yang tampak seperti kelompok-kelompok yang beraneka warna, Mahesa Jenar segera mengenal pasukan dari kesatuan apa saja yang telah ditugaskan untuk datang ke Banyubiru. Karena pengenalan itu pula Mahesa Jenar merasakan suatu tekanan yang dahsyat dalam hatinya. Sebab ia mengetahui dengan pasti bahwa benar-benar pasukan itu merupakan pasukan tempur yang kuat sekali.

Dalam gelar Cakra Byuha yang merupakan lingkaran bergerak itu, tampaklah dalam kelompok depan pasukan Wira Tamtama dengan bendera yang terkenal, Tunggul Dahana, bendera yang mempunyai dasar merah dan bergaris hitam lintang melintang. Pada gerigi di sebelah kiri tampak pasukan penggempur Angkatan Laut Demak yang terkenal. Pasukan ini diikutsertakan dengan suatu kemungkinan terjadi pertempuran di daerah rawa-rawa.

Di bawah panji-panji Sura Pati, yaitu sebuah panji-panji yang berwarna merah bergambar ikan sura raksasa yang menggigit sebilah keris berwarna putih, pasukan penggempur Angkatan Laut yang bernama Wira Jala Pati itu merupakan kesatuan yang mengerikan.

Yang lebih menggetarkan dada Mahesa Jenar adalah pasukan yang berada dalam lingkungan gerigi sebelah kanan. Pasukan ini adalah pasukan yang tak asing lagi baginya. Sebab ia sendiri pernah menjadi bagian pasukan tersebut, yaitu pasukan Nara Manggala di bawah panji-panji Garuda Rekta, panji-panji yang berwarna kuning, dengan lukisan seekor garuda berwarna merah, yaitu pasukan pengawal raja.

Mahesa Jenar sadar bahwa pasukan inilah yang harus membawa kembali Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dengan selamat sampai di Istana.

Sedang pada gerigi bagian belakang, yang jumlahnya tidak begitu banyak, tampaklah pasukan inti dari pasukan pengawal kota, yang disebut pasukan Manggala Sraya, dengan bendera merah bergaris silang putih, bernama Tunggul Mega.

Tetapi lebih dari segala itu, lebih dari kemegahan bendera-bendera Tunggul Dahana, Sura Pati, Garuda Rekta dan Tunggul Mega, adalah panji-panji yang berada di tengah lingkaran yang bergerigi itu. Sebuah panji-panji yang dikelilingi oleh sekelompok kecil prajurit dari kesatuan Manggala Pati yang hampir dapat dikatakan kesatuan berani mati. Panji-panji itu adalah bendera Kerajaan Demak yang berwarna gula kelapa.

Menyaksikan semuanya itu, Mahesa Jenar seolah-olah mendadak menjadi seorang lumpuh yang duduk di atas kudanya. Kesadarannya hilang, dan ia menurut saja kemana kudanya berjalan.

Hal itu bukanlah disebabkan ia merasa takut berhadapan dengan kesatuan itu. Sebab ia adalah setingkat dengan setiap perwira yang memimpin setiap kesatuan dalam pasukan Demak itu. Bahkan mungkin Mahesa Jenar masih memiliki kelebihan-kelebihan yang langsung diterima dari gurunya. Tetapi perasaan yang tak dapat disebutkan sebabnya telah menjalari dirinya.

Tanpa disengaja, Mahesa Jenar memandang ke arah Gajah Sora yang masih diam seperti patung memandangi pasukan Demak yang mendekatinya. Perasaannya bergolak hebat. Sebenarnya Gajah Sora sama sekali tidak mencemaskan pasukannya. Sebab ia merasa bahwa kekuatan kedua pasukan itu tidak akan terlalu banyak terpaut.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
165

MESKIPUN nilai dari setiap anggota Laskar Banyubiru tidak dapat menandingi prajurit-prajurit dari Demak, Gajah Sora juga mempunyai beberapa orang pilihan dan mempunyai pasukan yang lebih banyak. Kalau perlu ia dapat mengubah gelarnya dalam gelar Samodra Rob atau Gelatik Neba seperti banjir melanda pasukan Demak.
Untuk beberapa saat pasukan Banyubiru di bawah panji-panji Dirada Sakti, yaitu panji-panji merah berlukiskan gajah yang berwarna kuning emas itu masih diam tak bergerak, sementara pasukan Demak semakin lama semakin dekat. Karena itu semakin jelaslah kemudian setiap langkah dari setiap orang dalam gelar Cakra Byuha yang sempurna. Namun sampai sekian mereka masih belum dapat mengenal orang-orang yang diserahi tugas memimpin pasukan Demak itu.

Sesaat kemudian setelah pasukan itu menjadi semakin dekat, tampaklah seorang yang duduk diatas kuda berwarna sawo, yang agaknya memegang pimpinan, melambaikan tangannya. Maka segera berhentilah pasukan itu. Pemimpin pasukan itu, yang karena jaraknya yang masih agak jauh, belum dapat dikenal, segera memanggil dua orang pembantunya. Rupanya mereka sedang merundingkan siasat.

Mahesa Jenar kini merasa bahwa ia sudah tidak akan mampu berbuat sesuatu. Dua pasukan yang sudah berhadapan agaknya sukar untuk ditahannya. Apalagi ketika yang diduganya benar-benar terjadi. Menurut perhitungan Mahesa Jenar, pasukan Demak tidak mungkin dapat melawan pasukan Banyubiru dalam gelar yang demikian, sebab keadaan medan memang menguntungkan pasukan Banyubiru yang berada di tempat yang lebih tinggi.

Menurut perhitungan Mahesa Jenar, pasukan Demak harus mengubah tata barisannya sehingga mereka dapat mencapai tempat yang sama tinggi. Pemimpin pasukan Demak itu dilihatnya mengangkat kedua tangannya dan kemudian dengan gerak melingkar tangannya bersilang dan kemudian direntangkan kembali. Itu adalah suatu aba-aba untuk mengubah tata barisannya.

Pasukan Demak adalah pasukan yang terlatih baik. Karena itu segera setiap pimpinan kelompok dengan serentak mengulangi aba-aba pimpinan pasukan, dan sesaat kemudian pasukan itu tampaknya menjadi berserak-serakan tak karuan. Tetapi sebenarnya mereka sedang bergerak untuk menempati tempat-tempat mereka dalam gelar perang yang baru, Garuda Nglayang.

Meskipun dengan gelar ini pasukan Demak sama sekali tak bermaksud mengepung pasukan Banyubiru, tetapi mereka berusaha untuk mencapai tempat yang cukup tinggi, sebab dengan gelar yang memencar ini, sayap-sayap kanan dan kiri akan dapat maju mendahului induk pasukannya, dan seterusnya menerjang dari arah lambung.

Melihat pasukan dari Demak telah memulai dengan gerakannya, setiap laskar Banyubiru segera menjadi gelisah. Mereka serentak memandang kepada Gajah Sora, untuk menunggu perintah lebih lanjut, terutama pimpinan-pimpinan kelompok.
Sebenarnya Gajah Sora segera dapat berusaha mencegah maksud pasukan Demak itu dengan mengubah gelarnya pula. Hal ini disadari oleh setiap pemimpin laskar Banyubiru. Karena mereka pun telah siaga untuk melaksanakan perubahan gelar itu. Namun untuk beberapa saat Gajah Sora tidak memberikan perintah sesuatu.
Bantaran dan Sawungrana yang memegang pimpinan sebagai ujung-ujung gading dalam gelar Dirada Meta, Pandan Kuning dengan beberapa pasukan pilihan sebagai pengawal panji-panji Dirada Sakti, menjadi semakin gelisah. Wanamerta dan Panjawi pun tidak dapat mengetahui sebabnya, kenapa mereka masih harus diam menunggu. Mahesa Jenar juga menebak-nebak di dalam hati, apakah maksud sebenarnya dari Gajah Sora itu. Ataukah ia mempunyai suatu siasat di luar pengetahuannya?
Andaikata Mahesa Jenar memegang pimpinan, pasukan Banyubiru harus segera berubah dalam gelar Wulan Panunggal, untuk menghalangi sayap-sayap gelar Garuda Nglayang yang melengkung itu, sehingga dapat mengimbangi kekuatan sayap Garuda Nglayang, apalagi jumlah mereka lebih banyak.
Dalam setiap perhitungan perang, waktu memegang peranan yang penting, sehingga meskipun hanya sekejap, kadang-kadang mempunyai arti yang besar.
Demikianlah pasukan Demak yang terlatih baik itu, hanya memerlukan waktu yang singkat untuk dapat menempati kedudukannya yang baru. Bahkan pasukan sayap kanan dan kiri telah mulai mendaki tebing.
Melihat semuanya itu, Panjawi dan Sawungrana hanya dapat saling memandang, dan sekali dua kali mereka melemparkan pandangannya kepada Mahesa Jenar yang berada di luar kedudukan gelar, meskipun ia berada tidak jauh dari mereka itu.
Sebenarnya di dalam hati Mahesa Jenar tersimpanlah suatu kecemasan yang sangat besar, melihat tingkah laku Gajah Sora. Mungkinkah ia menjadi mata gelap dan putus asa, sehingga sejak langkah pertama sudah akan dipergunakan gelar-gelar yang menentukan seperti gelar Samodra Rob atau Gelatik Neba, yang sebenarnya sama sekali tidak perlu?

Memang, gelar itu akan cepat mencapai penyelesaian, tetapi korbannya tak akan dapat dihitung lagi.

Karena itu Mahesa Jenar menunggu perkembangan keadaan dengan hati yang berdebar-debar. Tetapi dalam keadaan yang demikian ia tidak akan mengganggu pemimpin pasukan.

Sementara itu, sayap-sayap kiri dan kanan dari pasukan Demak telah mencapai tempat yang sama tinggi dengan pasukan Banyubiru. Bahkan mereka telah siap pula melancarkan serangan ke arah lambung pasukan Banyubiru yang masih mempergunakan gelar Dirada Meta. Dalam hal ini dengan suatu isyarat tangan dari pemimpin mereka, pastilah mereka akan segera bergerak.

Tetapi rupanya dalam barisan Demak pun terjadi sesuatu. Pemimpin pasukan mereka ternyata tidak segera memberikan aba-aba untuk mulai menyerang. Agaknya mereka menjadi heran pula, kenapa dalam keadaan yang demikian pasukan Banyubiru masih belum juga menunjukkan tanda-tanda untuk mulai bertindak. Karena itu, pemimpin pasukan dari Demak itu pun tidak tergesa-gesa bertindak.

 

166

SEMENTARA itu, terjadilah suatu hal yang sama sekali tak terduga-duga. Dengan suara lirih dan dalam, terdengarlah Ki Ageng Gajah Sora memanggil Wanamerta dan Panjawi. Sesaat kemudian Gajah Sora memalingkan mukanya, mencari Mahesa Jenar, dan dengan isyarat ia diminta mendekatinya.

Ketika Mahesa Jenar melihat wajah Ki Ageng Gajah Sora, ia menjadi terkejut. Wajah itu nampak begitu suram dan basah oleh keringat yang tak sempat diusapnya. Segera ia menarik kekang kudanya, dan cepat-cepat mendekatinya.

Agaknya telah terjadi suatu pergolakan perasaan yang dahsyat, sehingga ketika Mahesa Jenar telah berada di sampingnya, semakin jelas bahwa tubuh Gajah Sora gemetar. Kemudian dengan suara yang bergetar pula ia berkata, Paman Wanamerta, tetua tanah perdikan Banyubiru. Panjawi, harapan masa datang, dan Adi Mahesa Jenar yang berpandangan luas. Harap kalian mengetahui keputusanku…. Aku sama sekali tidak gentar menghadapi pasukan dari Demak itu, meskipun ternyata terdiri dari pasukan penggempur yang kuat.
Gajah Sora berhenti sebentar, lalu lanjutnya, Tetapi aku tak akan melawannya.
Mendengar kata-kata Gajah Sora itu, Wanamerta, Panjawi dan Mahesa Jenar sangat terkejut. Segera wajah-wajah mereka memancarkan perasaan mereka yang menyimpan berbagai pertanyaan. Tetapi tak seorangpun yang menyatakannya.
Dengarlah dengan baik, sambung Gajah Sora, Mungkin Adi Mahesa Jenar yang paling dapat mengerti perasaanku.

Gajah Sora diam sebentar untuk menelan ludah yang seolah-olah menyumbat kerongkongan. Matanya yang sayu dan kemerah-merahan itu, tanpa berkedip memandang ke arah bendera Gula Kelapa yang berbentuk segitiga panjang sebagai lambang kebesaran Demak.
Beberapa tahun yang lampau…, lanjut Gajah Sora, Aku pernah bertempur melawan orang-orang Portugis di Semenanjung Malaka untuk mempertahankan kebesarannya. Pada saat itu diatas kapalku berkibar pula dengan megahnya bendera Gula Kelapa itu. Haruskah aku sekarang melawannya? Tidak, aku tidak bisa.
Kembali Gajah Sora terdiam. Dan kembali Gajah Sora menelan ludah beberapa kali. Matanya nampak semakin merah bukan oleh nyala kemarahan.

Mendengar kata-kata itu, bulu tengkuk Mahesa Jenar serasa serentak berdiri. Kata-kata itu langsung menyusup ke perasaannya yang paling dalam. Agaknya perasaan yang demikian pulalah yang menyebabkan dirinya seperti orang yang kehilangan pegangan.

Tetapi Wanamerta dan Panjawi mempunyai tanggapan yang lain. Wajahnya menjadi tegang. Mereka tidak begitu mengerti maksud Gajah Sora. Karena itu Wanamerta segera bertanya, Bagaimanakah maksud Ki Ageng sebenarnya?

Lalu apakah yang akan Ki Ageng lakukan? sela Panjawi yang menjadi semakin gelisah.

Aku akan berbicara dengan mereka, jawab Gajah Sora.

Mendengar jawabnya itu Wanamerta dan Panjawi saling memandang dengan kebingungan.
Mereka tidak datang untuk berbicara, jawab Panjawi kemudian, Tetapi mereka datang dengan gelar perang.

Kembali mata Ki Ageng Gajah Sora melekat pada Sang Saka Gula Kelapa yang seolah-olah melambaikan tangan-tangannya kepada Gajah Sora, sebagai salam hangat setelah agak lama tidak bertemu. Karena itu hati Ki Ageng Gajah Sora menjadi semakin terkoyak-koyak.
Kalau mereka tidak dapat berbicara, kata Gajah Sora Sora selanjutnya, aku akan menyertai mereka ke Demak. Sebab aku percaya bahwa pemerintahan berjalan dalam garis-garis hukum. Bagaimanapun juga masalah ini adalah masalah kita bersama yang harus dapat kita selesaikan, tanpa pertumpahan darah.
Wanamerta dan Panjawi agaknya masih belum begitu mengerti maksud Gajah Sora, sehingga terdengar suara Wanamerta agak tertahan, Anakmas, kami adalah orang-orang yang bersedia dibujur-lintangkan untuk keselamatan Anakmas.
Gajah Sora memandang Wanamerta dengan penuh pengertian dan haru. Tetapi ia sudah mempunyai suatu ketetapan bahwa ia sama sekali tak bermaksud menodai Sang Saka Gula Kelapa. Karena itu katanya, Paman…, aku tahu kesetiaan Paman dan segenap laskar Banyubiru. Tetapi aku harap Paman juga mengetahui kesetiaanku kepada bendera itu, Sang Saka Gula Kelapa, sebagai lambang kesatuan negara. Termasuk Banyubiru. Sebab Banyubiru sendiri tak ada artinya di muka bumi ini, kalau tidak bersama-sama dengan daerah-daerah lainnya berkembang di taman sarinya. Negara kita ini. Sebaliknya, negara kita ini tidak pula akan tegak melawan badai sejarah kalau tidak berakar di dalam jiwa rakyat di daerah-daerah, termasuk Paman dan seluruh rakyat Banyubiru.

Wanamerta dan Panjawi menundukkan mukanya dalam-dalam. Di dalam hatinya telah membayang sedikit pengertian akan ucapan pemimpinnya yang sangat dicintainya itu. Namun bagaimanapun, agaknya amat sulit baginya untuk melepas Gajah Sora pergi sebagai seorang terdakwa yang telah melakukan pengkhianatan.

Karena itu Wanamerta masih mencoba bertanya, Anakmas, tidakkah Anakmas dapat berbicara dengan mereka dalam kesempatan lain yang lebih baik, sehingga Anakmas tidak dianggap sebagai seorang tangkapan?
Tak akan ada lagi kesempatan kecuali ini, Paman. Sebab kalau aku tidak mempergunakan kesempatan ini, pasti akan terjadi pertumpahan darah sesama kita yang tak ada artinya,
jawab Ki Ageng Gajah Sora.
Kembali Wanamerta menundukkan kepalanya. Ia kenal betul akan sifat dan watak Gajah Sora. Apabila ia sudah menjatuhkan keputusan, maka tak seorang pun yang akan dapat mengubahnya. Karena itu, dengan perasaan yang tertekan ia terpaksa berdiam diri.

Sebaliknya Panjawi yang masih belum dapat mengendapkan dirinya, berkata menyela, Ki Ageng…, sebenarnya kami lebih senang apabila Ki Ageng memerintahkan kepada kami untuk menghunus pedang kami daripada melepaskan Ki Ageng pergi sebagai seorang tawanan.

 

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
167

GAJAH SORA tersenyum pahit. Lalu jawabnya, “Aku bukanlah tawanan prajurit yang kalah perang, Panjawi. Hal ini pasti disadari pula oleh orang-orang Demak itu, bahwa aku masih tegak di hadapan pasukanku yang belum pasti dapat mereka kalahkan.”

“Karena itu berikanlah kepada kami perintah, Ki Ageng,” sahut Panjawi yang agaknya masih berdarah panas.

Panjawi…” jawab Gajah Sora, “Memang di dalam tubuhmu mengalir darah jantan sejati. Tetapi dengarlah perintahku baik-baik. Kau dan Wanamerta tetap berada di tempatmu. Jagalah bahwa tak seorang pun dalam pasukan ini yang berkisar dari tempatnya.”
Mendengar perintah itu, dada Panjawi serasa menerima pukulan yang maha dahsyat, sampai ia memejamkan mata beberapa saat untuk dapat menenangkan perasaannya kembali.

Adi Mahesa Jenar… kata Gajah Sora kepada Mahesa Jenar yang selama itu dengan penuh pergolakan di dalam dadanya memperhatikan setiap kata-kata Gajah Sora. Wanamerta dan Panjawi, Di manakah Arya?
Pertanyaan ini mengejutkan benar, sebab untuk beberapa saat Mahesa Jenar telah melupakan anak ini.

Bukankah tadi anak itu datang di belakang Adi? sambung Gajah Sora.
Benar, Kakang, jawab Mahesa Jenar agak gugup sambil melayangkan pandangannya berkeliling, sampai akhirnya tertumbuk pada seekor kuda hitam dengan seorang anak di punggungnya dan tampaknya dengan enaknya melihat dua pasukan yang hampir bertempur itu seperti melihat rombongan pawai prajurit. Melihat hal itu jantung Mahesa Jenar berdesir. Apakah yang terjadi andaikata kedua pasukan itu benar-benar bertempur, sedangkan Arya berada diatas sebuah gundukan tanah dalam garis serangan sayap kanan pasukan Demak. Andaikata sampai terjadi sesuatu atasnya pastilah ia harus mempertanggungjawabkannya.
Maka dengan isyarat Arya dipanggil untuk mendekati ayahnya. Tetapi rupa-rupanya anak itu agak takut, sehingga isyarat itu sampai harus diulangi dua kali.

Ketika Arya telah berada disampingnya, dengan pandangan yang semakin sayu dan kata-kata yang gemetar, Ki Ageng Gajah Sora berkata kepada Arya, Arya…, kau telah pernah mempergunakan tombakku yang sakti ini. Karena itu, pada hari ini tombak ini aku hadiahkan kepadamu.
Arya yang tidak tahu masalahnya, mendengar kata-kata ayahnya itu menjadi terkejut dan menduga-duga, tetapi sekejap kemudian ia menjadi kegirangan. Wajahnya berseri-seri dan dengan segera ia maju mendekat.

Sebaliknya adalah Wanamerta, Panjawi dan Mahesa Jenar. Ketika mereka mendengar kata Gajah Sora itu dada mereka bergoncang hebat. Sebab mereka sadar akan arti kata-kata itu. Dengan demikian maka Ki Ageng Gajah Sora telah menyerahkan pemerintahan Banyubiru kepada putra satu-satunya yang belum dewasa.

Apakah artinya ini Ki Ageng? tanya Panjawi dengan suara bergetar.
Ayah akan menghadiahkan tombak itu kepadaku, sahut Arya dengan riangnya. Dan bukankah ayah bermaksud mengijinkan aku untuk turut bertempur sekarang ini?
Semua yang mendengar kata-kata Arya itu menarik nafas dalam-dalam. Lebih-lebih Gajah Sora sendiri.

Arya, aku tidak bermaksud demikian. Sebab hari ini aku akan bepergian jauh sekali, dan belum tentu kapan akan kembali. Kaulah yang berhak untuk memiliki pusaka itu, tetapi sementara biarlah pusaka itu kau titipkan kepada eyangmu Wanamerta, kata Gajah Sora dengan suara lembut.
Wajah Arya yang riang itu segera berubah menjadi kecewa dan bertanya-tanya. Pandangannya beredar diantara orang-orang yang berada di sekitarnya seperti minta penjelasan. Akhirnya ia bertanya, Ayah akan pergi jauh sekali?
Ki Ageng Gajah Sora mengangguk. Selama ayah pergi, kau tidak boleh nakal Arya. Kau harus menurut segala petunjuk eyangmu Wanamerta. Dan yang akan melanjutkan pelajaranmu dan olah kanuragan adalah pamanmu Mahesa Jenar. Bukankah begitu Adi…?
Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan, tetapi ia tidak dapat berkata lain daripada mengiyakan.

Sesaat kemudian kembali Gajah Sora memandangi bendera Gula Kelapa yang melambai kepadanya. Sesaat kemudian dilayangkan pandangannya kepada seluruh anak buahnya yang berbaris teratur di belakangnya dalam gelar Dirada Meta.

Tiba-tiba Gajah Sora mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

Pemimpin pasukan Demak yang rupa-rupanya cukup bijaksana dan tidak berbuat sesuatu, ketika ia menyaksikan Gajah Sora sedang berunding dengan bawahannya, juga mengangkat tangan kanannya untuk menjawab isyarat Gajah Sora.

Sekali lagi Gajah Sora memandang kepala barisannya. Kemudian ia berkata kepada Wanamerta, Sepeninggalku perintahkan pasukan ini mengundurkan diri, Paman. Aku percayakan Banyubiru dalam kebijaksanaan paman selama aku pergi.
Aku juga minta agar Adi Mahesa Jenar sudi menjadi pelindung daerah yang tak berarti ini. Aku titipkan Arya kepadamu,
lanjut Gajah Sora kepada Mahesa Jenar.
Kemudian, sehabis mengucapkan kata-kata itu, Gajah Sora menarik kekang kudanya yang kemudian berlari dengan kencangnya menuju ke arah pasukan dari Demak.

Melihat Gajah Sora telah datang seorang diri, pemimpin pasukan dari Demak itupun segera menyongsongnya bersama dua orang pengawalnya.

Melihat Ki Ageng Gajah Sora pergi seorang diri ke arah pasukan-pasukan dari Demak itu, Arya terkejut. Untuk beberapa saat ia diam kebingungan. Tetapi setelah ingatannya berjalan kembali, ia berteriak memanggil. Untunglah bahwa Mahesa Jenar cepat bertindak, menangkap kendali kuda Arya yang hampir berlari memburu.

Sambil memanggil-manggil ayahnya, Arya meronta-ronta memukul-mukul tangan Mahesa Jenar yang memegang kendali kudanya itu.

 

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
168

WANAMERTA memandangi Arya dengan dada yang sesak. Perlahan-lahan ia mendekati anak itu dan menghibur sebisa-bisanya. Namun untuk beberapa saat Arya masih saja berusaha untuk melepaskan tangan Mahesa Jenar dan berteriak-teriak sejadi-jadinya.

Sebenarnya bukan saja Arya yang menjadi bingung dan meronta-ronta, tetapi segenap hati laskar Banyubiru menjadi bingung, dan meronta-ronta pula. Bahkan kemudian terdengarlah suara bergumam yang semakin lama semakin keras. Bantaran dan Sawungrana tampak menjadi gelisah. Sedang Pandan Kuning yang tak dapat menahan diri lagi berteriak nyaring, Apakah artinya ini semua Kakang Wanamerta…?
Wanamerta dapat mengerti semuanya itu, dapat mengerti kenapa seluruh laskar Banyubiru menjadi gelisah dan bingung. Karena itu segera ia mengangkat tangannya untuk menenangkan keadaan, sedang tangannya yang lain mengacungkan pusaka Kyai Bancak tinggi-tinggi sebagai suatu pernyataan bahwa ia telah mendapatkan wewenang atas nama Arya Salaka untuk memimpin daerah perdikan Banyubiru.

Sementara itu keributan agak dapat ditenangkan, tetapi hati laskar Banyubiru itu sama sekali tak dapat ditenangkan. Mereka, dengan darah yang bergelora melihat Ki Ageng Gajah Sora berlari di atas kudanya menemui pemimpin pasukan dari Demak yang datang menyongsongnya. Apalagi beberapa saat kemudian seluruh laskar Banyubiru yang berada di lereng bukit Telamaya itu menyaksikan dengan jelas bahwa pemimpin mereka Ki Ageng Gajah Sora pergi meninggalkan mereka bersama-sama dengan pemimpin pasukan dari Demak itu, yang sebentar kemudian memberi aba-aba kepada seluruh prajurit Demak untuk menarik gelar Garuda Nglayang itu menjadi suatu barisan tidak dalam gelar perang.

Rasa-rasanya laskar Banyubiru itu hampir meledak ketika mereka menyadari bahwa pemimpin mereka telah pergi menyertai pasukan dari Demak, yang menurut anggapan mereka tidak lebih dari seorang tawanan.

Dalam keadaan yang demikian, segera Wanamerta membalikkan kudanya dan merasa perlu untuk memberi penjelasan. Segera dengan isyarat tangan ia memanggil segenap pimpinan kelompok dalam kesatuan laskar Banyubiru. Anak-anakku Laskar Banyubiru yang setia kepada pemimpinnya. Atas nama kekuasaan yang telah diserahkan kepada Arya Salaka, aku perintahkan kepadamu untuk tetap tenang, dan setelah ini menarik kembali seluruh laskar kita. Penjelasan mengenai hal ini akan aku berikan kemudian, kata Wanamerta.

Mendengar keterangan singkat dari seorang kepercayaan Gajah Sora itu beberapa orang menjadi ribut, sedang beberapa orang lagi menjadi kebingungan. Tetapi bagaimanapun laskar Banyubiru adalah laskar yang patuh dan setia sehingga bagaimanapun terjadi pergolakan di dalam dada namun mereka harus mentaati perintah pemimpin mereka atau yang dikuasakan. Dan sekarang, ternyata Wanamerta yang memegang pusaka Kyai Bancak itu berbicara atas nama Pemimpin tanah perdikan Banyubiru.
Karena itu tak seorangpun yang berani melanggar perintahnya. Panjawi yang sebenarnya sama sekali tidak rela melepaskan Gajah Sora, menjadi gemetar tubuhnya. Wajahnya jadi sebentar merah dan sebentar kemudian memutih pucat hampir seperti mayat. Giginya terdengar gemeretak dan pengertian perasaan yang bercampur aduk antara marah, kecewa, dan bingung, tetapi juga kesadaran dan pengertian bahwa apa yang dikatakan Gajah Sora adalah benar.

Sementara itu iring-iringan pasukan Demak itu berjalan terus semakin jauh, meninggalkan kepulan debu putih yang segera lenyap disapu angin pegunungan. Sebentar kemudian pasukan yang membawa Ki Ageng Gajah Sora itu lenyap sedikit demi sedikit di tikungan, seperti ditelan oleh anak pegunungan yang menonjol di hadapan laskar Banyubiru itu.

Bersama dengan lenyapnya pasukan Demak itu dari pemandangan mereka, terdengarlah Arya Salaka terisak-isak. Wanamerta segera mendekatinya dan kembali ia mencoba menenangkan Arya yang meskipun berusaha menahan tangisnya tetapi akhirnya air matanya terurai mengalir. Melihat hal itu hati Panjawi semakin bergelora, meskipun ia sadar bahwa tak ada yang dapat dilakukan.
Arya…, marilah kita pulang, kata Wanamerta lembut.
Dengan masih terisak, Arya menggelengkan kepalanya.
Pulanglah, Arya… sambung Mahesa Jenar, Bukankah ayahmu telah berpesan supaya kau menuruti nasehat kakekmu Wanamerta?
Arya memandang Mahesa Jenar dengan mata merah yang basah. Seolah-olah ia ingin menanyakan, kenapa Mahesa Jenar tidak berbuat sesuatu untuk menyelamatkan ayahnya.

Tidakkah Paman pulang ke Banyubiru? tanya Arya di sela-sela isaknya.
Pasti, Arya, jawab Mahesa Jenar. Aku akan pulang ke Banyubiru, tetapi berjalanlah dahulu, aku segera akan menyusul.

Sekali lagi Arya memandang kepada Mahesa Jenar dengan penuh pertanyaan. Tetapi sejenak kemudian ia pun menjadi agak tenang. Bersama-sama dengan Wanamerta, Panjawi dan seluruh laskar Banyubiru, Arya berjalan kembali ke Banyubiru, kecuali Mahesa Jenar.
Kepada Wanamerta, Panjawi dan Arya Salaka, Mahesa Jenar minta izin untuk tinggal sebentar dan kemudian akan segera menyusul kembali.

 

 

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
169

SEPENINGGAL pasukan Banyubiru, Mahesa Jenar mengendarai kudanya perlahan-lahan di sepanjang lereng-lereng bukit. Rasanya ada sesuatu yang tidak menentramkan hatinya. Firasatnya yang agak tajam menangkap sesuatu yang tidak wajar akan terjadi.

Beberapa saat kemudian Mahesa Jenar muncul di sebelah bukit yang menghalangi pandangannya, dan kembali tampak debu berhamburan jauh di bawah kakinya. Itulah iring-iringan pasukan dari Demak.

Tanpa disengaja, kudanya dilarikan agak cepat ke arah yang sama dengan pasukan itu. Jaraknya semakin lama semakin dekat. Tetapi apabila jarak itu sudah terlalu dekat, maka memungkinkan orang-orang Demak itu dapat melihatnya, sehingga segera ia menghentikan kudanya dan berdiri di tempat yang agak tersembunyi.

Tetapi ketika sudah agak jauh dari Banyubiru, tiba-tiba darah Mahesa Jenar tersirat ketika melihat di lereng-lereng bukit di sekitar jalan yang dilewati pasukan Demak itu tampak bintik-bintik yang bergerak-gerak. Ia menjadi curiga, dan dengan penuh perhatian dicobanya untuk mengetahui apakah sebenarnya yang tampak bergerak-gerak itu.

Mahesa Jenar menjadi semakin terperanjat ketika ia yakin bahwa bintik-bintik yang bergerak-gerak itu adalah manusia-manusia yang bersenjata.

Tetapi sebelum sempat ia berbuat sesuatu, orang-orang bersenjata yang bergerak-gerak di lereng-lereng bukit di sekitar jalan itu telah mulai dengan sebuah serangan yang melanda seperti air pasang. Inilah gelar Samodra Rob yang menyerang gelombang demi gelombang dengan jumlah pasukan yang besar.

Dari jarak yang agak jauh, Mahesa Jenar melihat iring-iringan pasukan Demak itu berhenti, dan sebentar kemudian ia melihat gerakan yang cepat dari pasukan itu menjadi sebuah gelar Gedong Minep. Ini agak aneh bagi Mahesa Jenar, kenapa pasukan dari Demak itu mengambil gelar yang sebenarnya kurang menguntungkan untuk melawan gelar Samodra Rob.

Tetapi, terlintaslah dalam benak Mahesa Jenar, bahwa di dalam pasukan dari Demak itu ada seorang yang akan dibawa menghadap kepada Sultan Demak. Jadi pastilah bahwa pemimpin pasukan penyerang itu berusaha untuk membebaskan Gajah Sora.

Mendapat pikiran yang demikian, dada Mahesa Jenar menjadi sesak. Tetapi sementara itu ia tidak dapat berbuat sesuatu.

Dalam hati Mahesa Jenar tersimpullah suatu tafsiran bahwa ini adalah suatu kesengajaan dari pihak-pihak yang ingin melihat suasana Banyubiru menjadi semakin keruh. Ternyata bahwa mereka telah menyiapkan pasukan untuk bermacam-macam kemungkinan dan kepentingan.

Di lembah, di bawah lereng-lereng bukit Telamaya itu segera terjadi suatu pertarungan yang sengit. Gelar Samodra Rob itu bagai gelombang menghantam pasukan dari Demak yang berada dalam kedudukan yang kurang menguntungkan.

Hal ini rupanya kemudian disadari bahayanya. Maka dengan suatu gerakan melingkar, pasukan Demak yang terlatih baik itu mengubah gelarnya menjadi seolah-olah suatu permainan yang selalu bergerak-gerak. Kedudukan mereka nampaknya menjadi sangat lemah di bagian depan sehingga banyak lubang pertahanan yang dengan mudahnya disusupi oleh penyerang. Tetapi tidaklah demikian sebenarnya.

Melihat perubahan itu, Mahesa Jenar yang hanya dapat melihat dari jauh, menarik nafas lega, seolah-olah ialah pemimpin pasukan dari Demak itu. Dan segera tampak bahwa pasukan penyerang itu tidak banyak dapat berbuat melawan satu pasukan yang teratur baik dan terdiri dari orang-orang pilihan.

Pasukan Demak itu telah mengubah gelarnya menjadi gelar Jurang Grawah. Gelar yang dapat menampung berapa pun banyaknya air yang mengalir melandanya.
Meskipun serangan-serangan lawannya itu seolah-olah dengan mudah dapat menyusup ke dalam gelar pasukan Demak, tetapi demikian gelombang itu masuk, demikian gelombang itu dibinasakan oleh pasukan-pasukan yang justru berada di garis kedua dan ketiga.

Tetapi karena jumlah penyerang-penyerang itu sedemikian banyaknya, maka pertempuran itu pun berlangsung dengan hebatnya.

Mahesa Jenar melihat pertempuran itu tanpa bergerak dari punggung kudanya, seolah-olah ia terpaku di atasnya. Meskipun hatinya bergelora hebat, ia hanya dapat menekan dadanya dengan tangannya. Sebab dalam kedudukannya yang sekarang, tidaklah mungkin ia turut campur.

Tiba-tiba tanpa disengaja, mata Mahesa Jenar merayap ke atas bukit kecil di sebelah lembah, dimana pertempuran yang hebat itu terjadi. Di sana, dilihatnya beberapa bayangan yang ternyata adalah orang-orang berkuda.

Cepat pikiran Mahesa Jenar bekerja. Dan ia dapat mengambil kesimpulan bahwa orang-orang itu pastilah dalang dari keributan ini. Karena itu, ia bermaksud untuk mengetahui, siapakah kiranya yang berdiri di atas bukit kecil itu.

Mendapat pikiran itu, terus saja Mahesa Jenar memutar kudanya, dan dengan mengambil jalan melingkar ia menuju ke arah bukit kecil, dimana orang-orang yang dicurigainya itu berada. Dengan hati-hati ia berusaha untuk mendekati orang itu dari arah belakang.

Maka setelah Mahesa Jenar berhasil mencapai bukit kecil itu, ia segera turun dari kudanya dan menambatkannya pada sebatang pohon dengan ikatan yang tidak begitu keras, supaya apabila setiap saat diperlukan, tidak terlalu sukar baginya untuk melepaskan tali itu.

Dengan hati-hati sekali ia merangkak naik dan selalu berusaha untuk melindungi dirinya dengan batang-batang pohon dan daun-daun yang rimbun. Bahkan kadang-kadang ia memilih jalan menyusur tebing-tebing yang curam agar tidak menarik perhatian.

Di atas bukit itu ternyata beberapa orang berkuda yang dengan saksama mengikuti jalannya pertempuran di lembah. Mahesa Jenar yang dengan sangat hati-hati berhasil mendekati mereka, segera mengenal siapakah mereka itu.

 

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
170

PADA saat Mahesa Jenar mengetahui orang-orang yang berkuda itu, rasanya dirinya seperti terlempar ke dalam sebuah khayalan yang sangat menakutkan dan sukar untuk dipercaya. Karena itu jantungnya terasa seperti berdentam-dentam tak keruan. Cepat ia berusaha menguasai diri dan mengatur pernafasan untuk menenangkan dirinya. Meskipun demikian, ia menjadi gemetar juga.

Untunglah bahwa Mahesa Jenar adalah orang yang cukup berpengalaman, sehingga apa yang dilakukan bukanlah pencetusan perasaannya belaka, tetapi juga hasil dari pemikirannya yang masak.

Karena itu, meskipun di hadapannya berdiri tokoh-tokoh yang seolah-olah merupakan kejadian yang hanya dapat terjadi di dalam mimpi, namun ia tetap dapat mempergunakan pikirannya dengan baik.

Orang-orang berkuda itu adalah deretan dari tokoh-tokoh yang dikenalnya sebagai tokoh-tokoh golongan hitam yang cukup tangguh. Diantaranya adalah Lawa Ijo dan Padas Gunung yang rupanya telah sembuh, Sepasang Uling dari Rawa Pening, Suami-istri Sima Rodra, Jaka Soka dari Nusakambangan, dan yang lebih mengejutkan hati Mahesa Jenar adalah hadirnya Lembu Sora bersama-sama dengan mereka.

Dengan demikian maka apa yang terjadi di Banyubiru seolah-olah kini menjadi terang benderang baginya.

Berkumpulnya tokoh-tokoh itu adalah suatu petunjuk yang jelas. Karena itu setelah ia mendapat kesimpulan dari peristiwa yang tak tersangka itu, otaknya pun segera bekerja keras. Yang harus diusahakan pertama-tama adalah menarik pasukan pasukan yang menyerang pasukan dari Demak itu. Sesudah itu entahlah apa yang akan terjadi dengan dirinya.
Menilik tata tempat mereka berada, Mahesa Jenar dapat mengambil kesimpulan, bahwa Lembu Sora yang berada di tempat paling depan adalah orang yang paling berkepentingan dengan pertempuran itu. Sedang menurut perhitungan Mahesa Jenar, laskar yang paling banyak dari para penyerang itu adalah laskar Lembu Sora.

Sekali lagi Mahesa Jenar melayangkan pandangannya ke lembah yang semakin samar dilapisi debu yang mengepul tinggi. Tetapi dengan jelas ia dapat menyaksikan pertempuran yang semakin dahsyat. Laskar penyerang itu kemudian hampir kehilangan pegangan, sehingga serangannya sudah mengarah ke gelar Gelatik Neba.

Melihat hal itu, maka Mahesa Jenar merasa perlu untuk segera bertindak sebelum korban semakin banyak yang jatuh. Bagi Lembu Sora dan orang-orang seperti Lawa Ijo dan sebagainya, banyaknya korban tidak merupakan soal. Yang penting, adalah maksud mereka tercapai.

Setelah berpikir berulang kali, dan menimbang untung-ruginya, Mahesa Jenar memutuskan untuk mengambil jalan yang sangat berbahaya. Sebab sudah tidak ada pilihan lain baginya kecuali menempuh bahaya itu.

Dengan lebih berhati-hati lagi Mahesa Jenar merangkak semakin dekat dengan orang-orang berkuda. Untung mereka terlalu asyik menyaksikan pertempuran di lembah, sehinggga kehadiran Mahesa Jenar sama sekali tak mereka ketahui.
Maka dengan suatu gerakan yang cepat sekali, seperti harimau yang menerkam mangsanya, Mahesa Jenar sambil menggeram meloncati Lembu Sora yang sama sekali tidak menduganya.

Karena itu, ia sama sekali tidak bersiaga, ia tidak dapat berbuat sesuatu. Segera Mahesa Jenar mendekapnya dan karena dorongan kekuatan loncatannya maka Mahesa Jenar telah mendorong Lembu Sora sehingga keduanya jatuh berguling dari atas kuda.

Mahesa Jenar yang telah memperhitungkan setiap gerakannya dengan saksama, segera dapat menyesuaikan diri dengan keadaan. Sebaliknya, Lembu Sora menjadi bingung, dan untuk beberapa saat ia seperti kehilangan pikirannya.

Lembu Sora menjadi sadar ketika lengan Mahesa Jenar yang kuat telah melingkari lehernya. Cepat tangan kanannya bergerak meraba hulu kerisnya yang terselip di lambung. Tetapi ia menjadi terkejut ketika keris itu sudah tidak ada.

Ketika Lembu Sora berusaha untuk mencapai tangkai pedangnya, tiba-tiba terasa ujung sebuah senjata tajam melekat di punggungnya. Tahulah ia sekarang bahwa orang yang mendorongnya telah berhasil pula menghunus kerisnya. Segera Lembu Sora menggigil karena marah, matanya merah menyala dan nafasnya mengalir bertambah cepat.

Orang gila manakah yang telah melakukan pekerjaan terkutuk ini? kata Lembu Sora sambil menggeram.
Sementara itu, orang-orang lain yang menyaksikan kejadian yang hanya sekejap itu menjadi tertegun. Sesaat mereka pun menjadi kebingungan dan tidak tahu apa yang dilakukan.

Kemudian terdengarlah Mahesa Jenar menjawab, Akulah, Mahesa Jenar.
Kau orang Pandanaran…,
desis Lembu Sora semakin marah, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Sebab setiap ia bergerak, keris yang menempel di punggungnya itu terasa semakin menekan.
Ya, jawab Mahesa Jenar singkat.
Aku sudah menduga bahwa kau tidak berani berlaku sebagai seorang jantan, sambung Lembu Sora.

Aku hanya dapat berlaku jantan terhadap orang jantan pula, jawab Mahesa Jenar.
Kau kira aku tidak mampu membunuhmu kalau kau menyerang aku berhadapan? kata Lembu Sora hampir berteriak.
Aku tidak peduli, tetapi membinasakan kakak kandung dengan caramu itu, adalah bukan laku seorang jantan. Kau bermaksud membinasakan pasukan Demak itu, dengan harapan Gajah Sora yang tertuduh berbuat khianat dengan menipu dan kemudian menjebak. Adakah itu laku seorang jantan?
Aku sedang berusaha membebaskannya, jawab Lembu Sora.

 

171

MAHESA JENAR memang sudah menduga bahwa Lembu Sora pasti akan beralasan demikian. Karena itu ia meneruskan, Membebaskan Ki Ageng Gajah Sora dan kemudian tidak memberinya tempat menetap karena ia akan selalu diburu oleh alat-alat negara?

Ki Ageng Lembu Sora, kau tidak usah banyak bercerita. Sekarang perintahkan orang-orangmu untuk menarik laskarmu yang menyerang pasukan Demak itu.

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu, Lembu Sora terkedjut bukan buatan. Karena itu pula maka darahnya menjadi semakin mendidih membakar hatinya.

Sementara itu, orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu telah mulai memiliki kesadarannya kembali. Dan bersamaan dengan itu pula mereka menjadi cemas sebab sebagian dari mereka telah mengenal siapakah Mahesa Jenar, bahkan Lawa Ijo, Wadas Gunung, Jaka Soka dan Sima Rodra telah mengetahui sampai di mana kekuatan Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar… jawab Lembu Sora, Kau jangan mencoba-coba menakut-nakuti aku dengan permainanmu yang licik itu. Kau kira aku dapat kau paksa dengan caramu yang murahan ini?

Mahesa Jenar tidak menjawab, tetapi keris di punggung Lembu Sora itu semakin menekan, sehingga ia terpaksa menahan napas.
Kawan-kawan Lembu Sora hanya dapat menyaksikan semuanya itu dengan hati yang berdebar-debar. Mereka sama sekali tak berani berbuat sesuatu, sebab dengan demikian berarti riwayat Lembu Sora akan berakhir.

Meskipun demikian, Lawa Ijo telah mencoba untuk menyelamatkan jiwa Lembu Sora.

Tuan, Rangga Tohjaya yang perwira. Aku telah mengenal dan merasakan betapa dahsyatnya ilmu Tuan yang dinamakan Sasra Birawa. Tetapi meskipun demikian aku yakin kalau Tuan tak dapat mengalahkan kami semua ini sekaligus, katanya sambil tertawa dalam.

Lawa Ijo… jawab Mahesa Jenar, Aku tidak merasa bahwa aku akan dapat mengalahkan kalian. Yang penting bagiku sekarang adalah Ki Ageng Lembu Sora memerintahkan orang-orangnya untuk menarik diri dari pertempuran. Setelah itu, aku tidak tahu apakah yang akan terjadi dengan diriku. Tetapi mudah-mudahan Ki Ageng Lembu Sora akan menjadi pelindungku yang baik.

Kau gila! bentak Lembu Sora. Lepaskan aku, dan marilah kita berhadapan sebagai orang-orang jantan.
Itu adalah soal yang mudah,
sahut Mahesa Jenar, Tetapi perintahkan orang-orangmu menarik diri.
Mendengar kata-kata itu Lembu Sora menjadi semakin marah, sampai dadanya serasa akan pecah. Apalagi ketika ujung keris itu serasa semakin menekan punggungnya.

Akhirnya ia tidak mempunyai pilihan lain, kecuali menuruti permintaan Mahesa Jenar. Ditatapnya satu persatu wajah-wajah yang kaku tegang di sekitarnya tanpa mendapatkan suatu kesan apapun juga. Kemudian berkatalah ia kepada salah seorang yang berkuda itu, Berilah tanda untuk menarik pasukan.

Orang yang diajaknya berbicara itu rupanya ragu-ragu. Beberapa kali ia memandang berkeliling, dan seolah-olah ia minta penjelasan dari setiap orang yang berada di situ. Tetapi setiap wajah yang ditatapnya hanyalah mengesankan kebimbangan dan ketegangan. Sampai akhirnya ia memandang wajah Jaka Soka. Hanya wajah inilah yang berkesan lain. Mahesa Jenar yang pada saat itu juga memandang Jaka Soka, melihat suatu perasaan yang aneh. Apalagi ketika kemudian ia berkata kepada orang yang memandangnya untuk mendapat penjelasan itu. Jenawi, tak usah kau beri tanda untuk menarik pasukan, katanya.

Semuanya yang mendengar kata-kata yang diucapkan dengan jelas itu menjadi terkejut. Lebih-lebih Lembu Sora sendiri, sampai ia membentak kepada Jaka Soka, Apakah maksudmu?
Tampaklah senyum menghias bibir Jaka Soka. Sedang matanya yang redup itu memandang Lembu Sora dengan sinar yang aneh. Pandangan yang demikianlah yang pernah menarik Mahesa Jenar dalam suatu perjalanan menyeberang hutan Tambakbaya. Meskipun wajah Jaka Soka itu cukup tampan dan bersih, namun wajah yang demikian bagi Mahesa Jenar tidaklah lebih atau kurang daripada wajah iblis yang paling berbahaya.

Mereka menjadi bertambah terkejut lagi ketika mereka mendengar jawaban Jaka Soka atas pertanyaan Lembu Sora, Maksudku… Ki Ageng, tak usah laskar Ki Ageng itu ditarik. Biarlah mereka membinasakan pasukan Demak itu. Dengan demikian bukankah benar kata Rangga Tohjaya atau Mahesa Jenar itu, bahwa Ki Ageng Gajah Sora tak akan mendapat tempat lagi di dunia ini, sebab selalu akan diburu oleh alat-alat negara. Syukur kalau segera ia dapat tertangkap dan dihukum mati.

Aku tidak berkata tentang Kakang Gajah Sora, potong Lembu Sora, Tetapi tentang aku sendiri.
Kembali Jaka Soka tersenyum. Kalau kau juga mati karena Mahesa Jenar, adalah baik sekali bagi kami. Dengan demikian saingan kami telah berkurang satu orang lagi, katanya.

Tutup mulutmu, bentak Lembu Sora sambil menggigil karena marah yang tak tertahankan lagi.

Kalau aku dapat lepas dari tangan pengecut ini, aku ingin meremas mulutmu itu Jaka Soka, sambungnya lagi.
Kembali terdengar Jaka Soka berkata di sela-sela senyumnya, Jangan marah Ki Ageng, dan jangan menyesal atas nasib jelek yang kau alami.

Tubuh Lembu Sora, menjadi semakin menggigil, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa oleh tekanan keris Mahesa Jenar. Sedang kawan-kawannya yang lain pun tidak kalah terkejutnya mendengar kata-kata Jaka Soka itu, sampai terdengar Uling Kuning yang kasar berkata, Tidakkah kau dapat diam Ular Laut gila?
Mendengar kata-kata Uling Kuning itu, malahan Jaka Soka tertawa lembut. Jangan berpura-pura Uling Kuning, katanya.
Atau akukah yang harus menutup mulutmu? potong Uling Kuning.
Jaka Soka agaknya tidak senang mendengar kata-kata Uling Kuning yang kasar itu, sehingga ia memutar kudanya menghadap Uling Kuning. Cobalah kalau kau mau, katanya.

 

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
172

ULING KUNING ternyata betul-betul orang yang kasar dan terburu nafsu. Hampir saja ia mendera kudanya menyerang Jaka Soka kalau saja kakaknya, Uling Putih tidak mencegahnya. Kenapa kau perlu mendengarkan omongan orang gila itu? kata Uling Putih.

Terdengarlah Lawa Ijo menyambung, Alangkah beraninya kalian. Tetapi apa yang dapat kalian perbuat atas orang itu. Orang yang sudah jelas menghalangi usaha kami?
Sejenak kemudian mereka semuanya saling berdiam diri. Otak mereka bekerja keras untuk dapat mencapai suatu penyelesaian tanpa merugikan diri sendiri. Tetapi kesepian yang tegang itu kemudian tersobek oleh suara Mahesa Jenar yang lantang, Aku tidak peduli apakah kalian ini sebenarnya sedang bersekutu atau sedang bersaing. Tetapi sekali lagi aku minta, tariklah pasukan penyerang itu.

Mahesa Jenar mengakhiri kata-katanya sambil menekankan kerisnya lebih keras lagi. Terdengar Ki Ageng Lembu Sora berdesis perlahan. Kemudian katanya, Kalian tak akan dapat berbuat sesuatu atas tanah ini serta segala isinya tanpa aku. Karena itu jangan halangi Jenawi memberi tanda untuk menarik pasukan.

Semua mata kemudian tertuju kepada Jaka Soka yang masih dalam keadaan siaga untuk menghadapi Uling Kuning. Tetapi sesaat kemudian tampaklah kembali sebuah senyuman di bibirnya. Senyum iblisnya. Rupa-rupanya kalian lebih senang berpura-pura, meskipun kalian sudah tahu akhir dari peristiwa ini. Baik mengenai tanah perdikan Banyu Biru maupun mengenai Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Apakah kalian kira bahwa pertemuan akhir tahun itu nanti akan dapat memberi kepuasan kita semuanya? Itu adalah omong kosong yang besar. Kalian tahu pasti bahwa Kyai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten itu akan menuntut kematian demi kematian, sampai akhirnya ia jatuh di tangan orang yang terkuat diantara kita, bahkan guru-guru kita atau pendekar-pendekar angkatan tua itu. Meskipun demikian aku akan tetap hadir di pertemuan akhir tahun, yang sebenarnya tak berarti apa-apa itu. Nah sekarang aku tidak mempunyai urusan lagi di sini. Aku akan pergi saja, dan pulang ke Nusakambangan.
Setelah berkata demikian segera ia memutar kudanya dan menderanya. Kuda itu segera meloncat dan berlari, seperti gila, diikuti oleh dua orang berkuda yang berlari menyusulnya. Kedua orang itu pasti pembantu-pembantu kepercayaannya.

Sejenak kemudian orang yang bernama Jenawi itu bergerak maju. Sekali lagi ia masih memandangi setiap wajah yang ada disitu. Sesudah tidak ada kesan-kesan lain, maka segera ia mengambil sebuah bundaran logam yang mengkilap. Dengan bermain-main sinar matahari yang memantul dari logam itu, ia sebenarnya sedang memberikan aba-aba ke arah bukit di seberang tempat pertempuran itu.

Ternyata tanda-tanda yang dikirim lewat logam yang mengkilap itu dapat sampai ke alamatnya. Dan karena itulah kemudian dari balik gerumbul-gerumbul di lereng sebelah, terdengar suara sangkakala mengumandang dengan nyaringnya. Itulah aba-aba kepada para laskar Lembu Sora yang bergabung dengan laskar-laskar para tokoh hitam untuk mengundurkan diri. Tetapi yang terbanyak dari laskar penyerang itu adalah laskar Lembu Sora, sebab dialah yang merasa paling berkepentingan dengan tanah perdikan Banyubiru.

Sebentar kemudian segera tampaklah perubahan pada pertempuran yang berlangsung dengan hebatnya di lembah. Pasukan gabungan yang menyerang pasukan Demak itu segera berpencaran dan mengundurkan diri cerai berai. Sebab sebenarnya mereka merasakan betapa dahsyatnya bertempur pasukan-pasukan Wira Tamtama, Wira Jala Pati, Nara Manggala, Manggala Sraya, dan lebih-lebih kesatuan Manggala Pati yang mengawal Sang Saka Gula Kelapa.

Karena itu ketika mereka mendengar tanda untuk mengundurkan diri, maka dengan tidak perlu diulang lagi, mereka telah saling berebut dahulu meloncat menjauhi prajurit-prajurit Demak yang bertempur dengan semangat yang tinggi sebagai pengemban kewajibannya, melindungi ketenteraman negara.

Sekali lagi bulu tengkuk Mahesa Jenar rasa-rasanya tegak berdiri, ketika dilihatnya bendera-bendara Tunggul Dahana, Sura Pati, Garuda Rekta dan Tunggul Mega tetap berkibar dengan megahnya, memagari Sang Saka Gula Kelapa.

Pasukan Demak yang menyaksikan penyerang-penyerangnya berlari cerai berai, ternyata sama sekali tidak berusaha untuk mengejar atau menghancurkan dengan senjata-senjata jarak jauh. Tetapi ketika pertempuran itu telah reda segera pasukan Demak itu mengubah gelarnya menjadi Gedong Minep kembali. Dan dalam gelar ini mereka akan melanjutkan perjalanan kembali ke Demak. Beberapa orang dari prajurit Demak itu segera merawat kawan-kawan mereka yang terluka, malahan ada beberapa diantaranya yang gugur, untuk dibawa bersama-sama dengan mereka.

Melihat kenyataan itu, meskipun korban dari kedua belah pihak itu sama sekali tak seimbang, tetapi terlukanya seorang saja dari prajurit Demak telah dapat menjadi sebab murkanya Sultan Demak. Dan pasti Gajah Sora yang menjadi tempat untuk menumpahkan segala kemurkaan itu. Mengenangkan hal itu jantung Mahesa Jenar berdenyut semakin cepat. Dan karena kenangannya yang melambung itu pulalah, maka ia menjadi lengah.

 

 

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
173

SEBENARNYA Lembu Sora bukan pula orang yang dapat diremehkan. Bagaimanapun ia adalah putra Ki Ageng Sora Dipayana, seperti juga Gajah Sora. Karena itu ia pun cukup mempunyai kekuatan yang tidak dapat dianggap ringan.
Ketika tekanan ujung keris Mahesa Jenar tiba-tiba mengendor, tahulah Lembu Sora bahwa perhatian Mahesa Jenar hampir seluruhnya tertuju kepada pasukan-pasukan di lembah. Entahlah, ia sedang menekuri kekalahan pasukan gabungan itu, atau sedang berbangga hati karena pasukan Demak masih tampak segar bugar, atau ia sedang mengenangkan nasib Gajah Sora. Tetapi suatu kenyataan bahwa Mahesa Jenar telah meninggalkan sikap hati-hati. Karena itu Lembu Sora ingin mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.

Pada saat itu, pada saat Mahesa Jenar sedang hanyut dalam arus kenangannya yang mengawang, tiba-tiba Lembu Sora yang mempunyai kekuatan besar sekali itu, menjatuhkan dirinya setelah dengan cepat sekali ia merenggut lengan Mahesa Jenar yang melingkar di lehernya. Demikian ia berguling di tanah, demikian kakinya menyambar perut Mahesa Jenar yang agak kurang bersiaga.

Demikian keras tendangan Lembu Sora, juga karena Mahesa Jenar sama sekali tidak menduga bahwa hal yang demikian akan terjadi, maka segera ia terdorong ke belakang beberapa langkah. Hanya karena keuletan serta pengalamannya maka ia tidak sampai jatuh terlentang.

Meskipun mendadak, perut Mahesa Jenar terasa mual dan sakit, namun ia segera dapat menguasai keseimbangannya kembali. Meskipun demikian hatinya berguncang karena terkejut. Juga orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu menjadi terkejut pula, tetapi cepat mereka dapat menanggapi keadaan.

Karena itu, ketika mereka melihat Mahesa Jenar surut beberapa langkah, serta segera dapat menguasai dirinya kembali, mereka tidak mau memberi kesempatan sama sekali. Lebih-lebih Lawa Ijo yang tahu pasti sampai dimana kedahsyatan tangan Mahesa Jenar. Maka sebelum Mahesa Jenar dapat menguasai diri sepenuhnya, Lawa Ijo mendera kudanya, langsung menyerang Mahesa Jenar dengan tiba-tiba di tangannya telah tergenggam sebilah pisau belati panjang yang putih mengkilap.

Tetapi ia menjadi gugup ketika dilihatnya, dalam sekejap Mahesa Jenar telah berdiri dengan marahnya. Di atas satu kakinya, tangan kirinya menyilang dada sedang tangan kananhya terangkat tinggi- tinggi.

Lawa Ijo telah mengenal unsur gerak Mahesa Jenar yang demikian itu. Maka ketika ia telah hampir sampai di hadapan Mahesa Jenar, dengan kebingungan dan tanpa perhitungan ia meloncat dari kudanya. Meskipun gerakannya itu sama sekali tak dihitungkan dengan saksama, namun ia berhasil menyelamatkan nyawanya. Sebab pada saat itu benar-benar karena marah yang tak tertahankan Mahesa Jenar telah memutuskan untuk melawan orang-orang itu dengan Sasra Birawa yang menjadi andalannya. Tetapi pada saat ia mengayunkan ilmunya, Lawa Ijo dengan gugup telah menjatuhkan dirinya, sehingga tangannya tidak berhasil menghancurkan dada Lawa Ijo. Tetapi pukulan Mahesa Jenar itu telah mengenai punggung kuda Lawa Ijo, yang kemudian dengan dahsyatnya kuda itu memekik tinggi, tetapi sekejap kemudian seperti batu saja jatuh terguling tak bernafas lagi. Tulang belakang kuda itu patah serta beberapa tulang iganya remuk.

Melihat kedahsyatan pukulan Mahesa Jenar, semua yang menyaksikan terguncang hatinya. Namun tak ada pilihan lain dari mereka itu, kecuali melawan bersama-sama.

Maka dengan menggeram dahsyat Sima Rodra segera menyerang dengan tombak pusakanya dan bersamaan dengan itu sepasang Uling Rawa Pening pun telah mengayunkan cambuknya. Cepat Mahesa Jenar meloncat undur untuk menghindari tombak Sima Rodra yang menyambar dengan dahsyatnya. Dan pada saat itu pula Lembu Sora telah mencabut pedangnya yang berukuran luar biasa besarnya.

Tetapi meskipun ia masih belum berani mendekat. Baru ketika Lawa Ijo telah bersiaga pula, mereka menyerang bersama-sama dari arah yang berbeda-beda. Sebenarnya untuk menghadapi sekian banyak tokoh-tokoh sakti itu Mahesa Jenar merasa bahwa tenaganya tidak akan mencukupi. Tetapi apapun yang terjadi, pantang ia menghindari.

Karena itu, segera ia menghimpun segenap kekuatan yang ada padanya untuk dapat memberikan perlawanan yang sebesar-besarnya. Dengan ayunan yang deras sekali, Lembu Sora mengarahkan pedangnya ke leher Mahesa Jenar, dan bersamaan dengan itu pula Lawa Ijo menusuk ke arah lambung, untuk menangkap gerakan Mahesa Jenar apabila ia menghindari sambaran pedang Lembu Sora dengan merendahkan diri.

Tetapi ternyata Mahesa Jenar sama sekali tak menghindar dengan merendahkan diri, bahkan dengan loncatan yang keras ia menerkam Lawa Ijo. Gerakan ini sangat mengejutkannya, sehingga dengan cepat ia menarik pisaunya dan segera pisau itu dipergunakannya untuk melindungi dirinya dengan gerakan-gerakan yang berputar. Tetapi Mahesa Jenar pun segera mengurungkan serangannya.

Sementara itu pedang Lembu Sora yang berat telah berdesing di belakang punggungnya. Cepat ia memutar tubuhnya dan dengan dahsyatnya tangan Mahesa Jenar menyusul arah gerakan pedang itu, dengan sisi telapak tangannya yang berlandaskan ilmunya Sasra Birawa. Ternyata akibatnya adalah hebat sekali. Pedang Lembu Sora adalah bukan pedang sewajarnya. Tetapi adalah pedang yang dibuat khusus untuknya, dengan ukuran yang tidak lazim, serta dari baja pilihan. Tetapi demikian sisi telapak tangan Mahesa Jenar menyentuh punggung pedang itu, terdengarlah gemeretak pedang itu patah dan disusul dengan keluhan tertahan.

Terasa betapa nyerinya tangan Lembu Sora sampai pangkal pedang itu terlempar. Ia sama sekali tidak menduga bahwa kedahsyatan ilmu Sasra Birawa itu mampu mematahkan pedangnya. Ketika ia melihat kuda Lawa Ijo jatuh dan mati, ia masih belum begitu kagum, meskipun hal itu telah mengejutkannya pula. Apalagi ia tidak segera dapat menyaksikan bahwa pukulan Mahesa Jenar itu telah meremukkan tulang-tulang iga kuda itu.

 

 

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
174

KARENA terkejut, heran dan kagum campur-aduk, juga pada saat itu ia teringat ceritera ayahnya tentang beberapa orang sahabatnya, diantaranya adalah Ki Ageng Pengging Sepuh yang terkenal dengan ilmu Sasra Birawa, Lembu Sora menjadi seperti terpaku di tempatnya. Kesempatan itulah yang akan dipergunakan oleh Mahesa Jenar. Ia sudah tidak dapat memaafkan lagi kesalahan Lembu Sora yang sudah sampai hati mengkhianati kakaknya. Maka segera ia bersiaga dan bersiap meloncat ke arah Lembu Sora dengan pukulan mautnya.

Tetapi keadaan segera berubah dan berselisih dengan rencananya. Mahesa Jenar pernah melawan Wadas Gunung bersama dengan kira-kira 20 orang sekaligus, dan dengan suatu keyakinan yang penuh ia akan dapat mengalahkan mereka. Sekarang ia berhadapan tidak lebih dari 8 atau 9 orang. Tetapi mereka bukanlah Wadas Gunung, Carang Lampit, Cemara Aking, Bagolan dan sebagainya. Mereka yang dihadapi sekarang adalah Lawa Ijo, Suami Isteri Sima Rodra, Sepasang Uling dan Lembu Sora. Karena itu keadaannya akan sangat jauh berbeda.

Pada saat itu, pada saat ia telah mengambil suatu kepastian akan dapat membalaskan sakit hati Gajah Sora, mendadak ketika ia hampir meloncat, menyerbulah kuda Suami-Istri Soma Rodra seperti gila menerjangnya. Dan bersamaan dengan itu pula meluncurlah dua buah sinar putih dari tangan Lawa Ijo dan Wadas Gunung. Meskipun mereka tidak pernah bertempur berpasangan, tetapi karena ilmu mereka cukup tinggi, mereka dengan mudahnya saling menyesuaikan diri dan saling mengisi. Demikianlah Sima Rodra dan sebagainya telah bekerja mati-matian untuk menyelamatkan Lembu Sora.

Mengalami serangan-serangan yang hampir bersamaan itu, Mahesa Jenar terpaksa mengurungkan serangannya. Dengan merendahkan diri dan memutar tubuhnya sekaligus, ia berhasil menghindari serangan dua pisau Lawa Ijo dan Wadas Gunung. Tetapi pada saat itu kuda suami-istri Sima Rodra telah demikian dekatnya. Untuk menghindarkan diri dari injakan kaki kedua ekor kuda itu, Mahesa Jenar terpaksa berguling-guling beberapa kali.

Dengan gerakannya itu, Mahesa Jenar berhasil menyelamatkan dirinya, tetapi serangan berikutnya telah mendatanginya pula. Dengan cara yang sama dengan Sima Rodra, Uling dari Rawa Pening menyerang berpasangan pula. Serangan itu tidak kurang hebatnya. Ditambah lagi dengan sepasang cambuk yang berdesing-desing di udara. Agar tidak terinjak oleh kaki-kaki kuda itu, Mahesa Jenar melenting jauh dan berusaha untuk tegak di atas kedua kakinya.

Tetapi malang bagi Mahesa Jenar. Ternyata ia terlalu jauh meloncat, sehingga ketika ia tegak berdiri, ia telah berada tepat di tepi jurang. Dan celakanya, tanah tempat ia berpijak itu runtuh. Seperti terseret Mahesa Jenar dengan cepatnya meluncur ke dalam jurang yang sangat dalam.

Peristiwa itu sama sekali tak terduga oleh siapapun. Karena itu, mereka yang menyaksikan jadi terperanjat. Serentak mereka berlarian ke tepi jurang itu untuk melihat Mahesa Jenar tergulung ke bawah, dan sebentar kemudian hilang ditelan semak-semak dan batang-batang ilalang yang tumbuh di tepi-tepi jurang itu.

Mahesa Jenar sendiri merasa, seolah-olah telah terhisap oleh suatu kekuatan raksasa sehingga tidak ada kemungkinan untuk melawannya. Sesaat setelah ia terguling, masih dilihatnya semua benda bergerak dengan cepatnya ke atas, seolah-olah hendak terbang ke arah matahari yang dengan megahnya mengapung di langit.

Tetapi sesaat kemudian terasalah dirinya membentur sesuatu yang sangat keras sehingga seolah-olah Mahesa Jenar terputar melintang dengan kepala ke bawah. Sesaat kemudian ia menjadi sangat pening, pemandangannya semakin kabur dan kabur. Akhirnya ia tidak tahu lagi apakah yang terjadi seterusnya.

Lawan-lawan Mahesa Jenar yang berada di atas jurang itu, setelah debar jantung mereka tenang kembali, menjalarlah perasaan lega di dalam dada mereka. Sebab apabila mereka terpaksa bertempur, meskipun mereka bekerja bersama, pasti akan jatuh korban diantara mereka, sebelum mereka dapat bersama-sama membinasakan Mahesa Jenar.

Meskipun demikian, mereka merasa betapa panas hati mereka, karena dengan tindakannya yang luar biasa itu, Mahesa Jenar telah menggagalkan maksud mereka untuk menghancurkan tentara Demak, atau setidak-tidaknya membuat tentara itu lumpuh, sehingga dengan demikian hukuman yang akan dijatuhkan kepada Gajah Sora pasti sangat berat. Tetapi dengan serangan yang tak begitu berarti itu, masih ada kemungkinan bagi Gajah Sora untuk mengelakkan diri, atau malahan diantara para prajurit Demak itu dapat memberikan keterangan bahwa serangan itu bukan dari Laskar Banyubiru.

Tetapi bagaimanapun, usaha mereka ada juga hasilnya meskipun hanya sedikit. Yang pasti adalah bahwa Gajah Sora untuk beberapa saat tidak berada di Banyubiru. Keadaan ini pasti akan dapat dipergunakan sebagai modal untuk melaksanakan rencana-rencana yang akan disusun kemudian.

Karena itu, ketika sudah tidak ada lagi yang akan mereka lakukan, serta mereka telah yakin bahwa Mahesa Jenar tidak akan mungkin menyelamatkan diri dalam keadaan yang demikian, maka segera mereka meninggalkan tempat itu. Selanjutnya mereka menuju ke tempat yang telah mereka tentukan sebagai tempat berkumpul bagi segenap laskar gabungan.

Namun bagaimanapun, kata-kata Uling Laut dari Nusakambangan, Jaka Soka sebagai seorang pemimpin Bajak Laut yang sangat ditakuti, membekas pula di dalam otak mereka. Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten pasti akan menuntut kematian demi kematian, sampai kedua pusaka itu jatuh ke tangan orang yang terkuat. Dan wajarlah apabila orang yang terkuat itu kemudian dapat merajai golongannya.

Demikianlah hampir sepanjang jalan tak seorang pun dari mereka yang mengucapkan kata-kata. Mereka sedang sibuk menaksir-naksir diri, menaksir-naksir kekuatan gerombolan masing-masing serta orang-orang mereka yang dapat mereka percaya. Sebab, akhirnya dalam tata pergaulan yang tak terikat oleh hukum itu, kekuatan jasmaniahlah yang akan dapat menentukan siapakah yang berkuasa.

 

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
175

SEMENTARA itu, Laskar Banyubiru yang menarik diri kembali, telah sampai di alun-alun Banyubiru. Wanamerta, Panjawi, Arya Salaka dan beberapa pimpinan laskar yang lain segera menghadap Nyai Ageng Gajah Sora dan menceriterakan apa yang telah terjadi.

Nyai Ageng mendengarkan cerita itu dengan berdiam dan menundukkan kepala.

Tetapi kemudian nampaklah butiran-butiran airmata setetes demi setetes jatuh di pangkuannya. Sebenarnya ia adalah seorang wanita yang tabah, yang sadar akan kedudukan suaminya sebagai seorang kepala daerah perdikan yang sekaligus menjadi panglima laskarnya.

Namun mengalami peristiwa kali ini, Nyai Ageng Gajah Sora tidak dapat menahan airmatanya. Bahkan kemudian didekapnya Arya Salaka, anak laki-laki satu-satunya, dan kemudian kepala anak itu ditekankan ke dadanya seakan-akan tak ingin melepaskannya lagi.

Maka setelah cukup mereka memberikan laporan mereka, Wanamerta dan kawan-kawannya segera mohon diri untuk memberikan beberapa keterangan kepada laskar Banyubiru yang masih berkumpul di alun-alun, dan yang kemudian akan dibubarkan.

Tetapi dalam keadaan ini Wanamerta sadar bahwa Banyubiru harus tetap mempertinggi kewaspadaan, dan bahkan Wanamerta telah mengambil keputusan untuk mengadakan persiapan yang lebih saksama dengan mengadakan latihan-latihan keprajuritan.

Sementara itu, matahari tetap beredar dalam garis perjalanannya. Angin pegunungan yang sejuk bertiup semakin sore semakin kencang, menggoyang pepohonan dan merontokkan daun-daun kuning yang telah tidak dapat berpegangan lebih erat lagi.
Pada saat itu, ketika Arya sedang duduk bertopang dagu di atas tangga pendapa rumahnya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seekor kuda abu-abu lengkap dengan pelananya, tetapi tanpa penunggangnya. Kuda itu berjalan perlahan-lahan memasuki halaman.

Arya kenal betul bahwa kuda itu adalah kuda yang dipergunakan oleh Mahesa Jenar, karena itu segera ia berlari ke pintu gerbang untuk menengok apakah Mahesa Jenar masih berada di luar halaman. Tetapi di luar gerbang itu sama sekali tak ada seorangpun kecuali dua orang laskar yang sedang berkawal.

Kau lihat kuda ini, Kakang? tanya Arya kepada salah seorang.

Ya, aku melihat, jawab orang itu.

Tanpa penunggang? tanya Arya lagi, menegaskan.

Ya, jawab orang itu pula, Kuda itu datang tanpa penunggangnya.
Segera Arya menjadi sangat cemas. Apakah yang telah terjadi dengan Mahesa Jenar? Segera ia meloncat ke atas punggung kuda itu dan dilarikan ke arah timur untuk melihat barangkali Mahesa Jenar langsung pergi ke mata air tempat ia biasa mandi.

Tetapi hatinya menjadi kecewa ketika di sanapun ia tidak melihat orang yang dicarinya.

Dengan perasaan yang semakin cemas segera Arya kembali ke pendapa. Setelah itu ia meloncat turun, langsung berlari ke pringgitan, dimana Wanamerta yang belum sampai hati meninggalkan rumah itu, sedang tidur untuk melepaskan lelah.

Eyang Wanamerta…! teriak Arya, Lihatlah ke halaman.
Wanamerta terkejut mendengar Arya berteriak. Segera ia meloncat ke halaman dan apa yang dilihatnya adalah seekor kuda abu-abu tanpa penunggang.

Wanamerta pun kenal kuda itu, maka iapun menjadi terkejut dan kemudian cemas.

Apakah kuda ini datang tanpa penunggangnya?
Ya, Eyang,
jawab Arya. Kuda itu datang tanpa penunggang.
Dimanakah Anakmas Mahesa Jenar?
gerutu Wanamerta seolah-olah kepada diri sendiri.

Aku telah mencarinya ke belik tempat Paman Mahesa Jenar sering mandi dan tidur di bawah beringin di lereng sebelah, tetapi di sana Paman tidak ada, sahut Arya.
Wajah Wanamerta tampak berkerut-kerut. Ia agaknya sedang berpikir dan kecemasan. Sesaat kemudian dipanggilnya pengawal gerbang. Panggil Adi Pandan Kuning, Sawungrana, Bantaran serta Panjawi. Suruhlah mereka membawa anak buah masing-masing 10 orang. Kami akan mencari Anakmas Mahesa Jenar. Mudah-mudahan tidak ada apa-apa dengan anakmas itu, perintahnya.
Yang disuruhnya segera melangkah pergi dengan tergesa-gesa ke kandang kuda, dimana kudanya ditambatkan. Dan sebentar kemudian orang itu telah meluncur di atas punggung kudanya seperti dilemparkan.

Sebentar kemudian orang-orang yang dipanggil itu telah lengkap berkumpul di pendapa. Mereka mendengar keterangan singkat dari Wanamerta bahwa kuda abu-abu yang dipergunakan Mahesa Jenar telah kembali tanpa penunggangnya. Karena itu dicemaskan kalau Mahesa Jenar telah menemui sesuatu kecelakaan. Padahal hadirnya Mahesa Jenar di Banyubiru pada saat itu, pada saat Ki Ageng Gajah Sora tidak ada, sangat diperlukan untuk melindungi tanah perdikan yang sedang kehilangan pemimpinnya, serta terancam bahaya dari segala penjuru.

Setelah mengadakan pembicaraan sebentar, maka dibagilah pekerjaan mereka. Bantaran dan anakbuahnya tetap berada di halaman itu, Sawungrana menjadi penghubung di antara halaman itu dengan rombongan pencari yang terdiri dari Wanamerta sendiri, Pandan Kuning, Panjawi dan anak buahnya.

Mereka masing-masing telah menyiapkan alat-alat untuk mengirimkan tanda-tanda bahaya apabila setiap saat diperlukan. Sementara itu para penjaga pun telah diperintahkan untuk memukul tanda supaya setiap laskar Banyubiru tetap dalam keadaan siap.

Ketika segala sesuatunya telah siap, maka segera rombongan itu berangkat, disusul dengan rombongan Sawungrana dengan arah yang sama, tetapi dengan kecepatan yang lebih kecil. Mereka pertama-tama menuju ke tempat mereka melihat Mahesa Jenar yang terakhir kalinya, yaitu pada saat pasukan Banyubiru akan ditarik kembali dari daerah pertempuran.

 

176

SAMPAI di tempat itu segera beberapa orang berusaha untuk mendapatkan jejak kaki kuda. Dan ketika jejak itu diketemukan maka mereka mencoba untuk mengikuti dengan harapan dapat memecahkan teka-teki hilangnya Mahesa Jenar.

Mudah-mudahan kuda itu hanya nakal saja sehingga penunggangnya ditinggalnya lari, desis Wanamerta perlahan-lahan. Tetapi nyata bahwa dibalik kata-katanya itu tersembunyi suatu pergolakan perasaan yang dahsyat.

Dengan tekunnya mereka mencoba untuk mengikuti terus jejak seekor kuda yang mereka sangka adalah kuda yang dipakai oleh Mahesa Jenar, sebab arah kuda ini berbeda dengan arah kuda-kuda yang lain dari laskar Banyubiru. Kalau jejak kuda yang lain berjalan ke arah barat, maka jejak yang seekor berjalan kearah timur.

Mereka menemukan jejak ini berhenti di sebuah tempat yang agak tinggi, dan yang kemudian melingkar menuju ke sebuah bukit di sebelah lembah.

Tetapi mereka akhirnya menemukan jejak itu terputus. Dan tahulah mereka bahwa kuda itu telah ditambatkan di sebatang pohon. Dari tempat itu disebarlah beberapa orang untuk menyelidik beberapa tempat dengan suatu harapan bahwa mereka akan menjumpai Mahesa Jenar sedang mencari kudanya.

Tetapi yang mereka jumpai adalah mengejutkan sekali. Beberapa orang yang tersebar itu ada yang sampai pada bekas daerah pertempuran antara pasukan Demak dengan laskar Lembu Sora. Di situ, mereka menemukan beberapa bekas darah, senjata senjata yang tertinggal dan sebagainya. Sedang orang lain, yang juga mencari Mahesa Jenar telah sampai di atas gundukan tanah, dan mereka pun menjumpai bekas-bekas perkelahian. Seekor kuda ditemukan telah mati. Yaitu kuda Lawa Ijo yang telah dibunuh oleh Mahesa Jenar dengan tangannya.
Wanamerta mendengar semua laporan itu dengan dahi yang berkerut-kerut. Otaknya berputar seperti baling-baling. Ia tidak dapat mengambil kesimpulan apapun dari apa yang telah disaksikan oleh anak buahnya. Tetapi yang pasti adalah keadaan telah menjadi semakin gawat. Dan sesuatu dapat terjadi atas Banyubiru. Maka terlintaslah dalam angan-angannya bahaya dari segala penjuru siap untuk menerkam tanah perdikan yang seolah-olah sedang lumpuh itu.

Setelah beberapa saat mereka tak mendapatkan suatu hasil apapun, mereka segera kembali dengan hati gelisah.

Pada malam hari itu juga beberapa pemimpin Banyubiru segera mengadakan pertemuan. Mereka membicarakan segala segi yang mungkin terjadi pada keadaan seperti itu. Akhirnya, setelah mereka membahas beberapa masalah, sampailah mereka pada suatu keputusan, bahwa satu-satunya kemungkinan, apabila keadaan memaksa, mereka akan minta bantuan kepada Ki Ageng Lembu Sora dari Pamingit. Sebab dalam pertimbangan mereka, Ki Ageng Lembu Sora adalah adik Ki Ageng Gajah Sora. Tetapi mereka sama sekali tidak tahu bahwa Lembu Sora sendiri ternyata memegang peranan penting dalam kekisruhan-kekisruhan yang terjadi.
Hilangnya Mahesa Jenar, terutama bagi Arya Salaka, terasa menekan sekali dalam dadanya. Ia telah kehilangan ayahnya, dan kemudian orang yang dipercaya oleh ayahnya untuk mengasuh serta menjadi gurunya dalam olah kanuragan. Disamping itu Mahesa Jenar adalah kawan bermain-main yang menyenangkan. Itulah sebabnya maka kemudian ia menjadi pendiam dan selalu bermenung.

Ibunya yang tidak kalah sedihnya, namun yang selalu berusaha untuk menghiburnya, kadang-kadang menjadi sangat cemas melihat perkembangan Arya dari hari ke hari. Ia lebih senang menyendiri dan pergi ke tempat-tempat yang sepi. Kadang-kadang malahan ia sama sekali tidak mau tidur di dalam rumah, tetapi untuk beberapa malam Arya Salaka tidur dihalaman belakang.

Wanamerta, Panjawi dan lain-lainnya juga telah berusaha sedapat-dapatnya untuk menggugah kegembiraan Arya, tetapi usaha mereka sama sekali tak berhasil. Sehingga akhirnya mereka hanya dapat menyaksikan dengan hati cemas atas sifat-sifat Arya yang telah berubah itu.

 

Dalam pada itu, apa yang telah terjadi dengan Mahesa Jenar? Pada saat Mahesa Jenar terpelanting ke dalam jurang, ia menjadi tidak sadarkan diri dan tidak tahu apakah yang telah terjadi. Tetapi pada saat ia membuka matanya, ia telah berada di dalam sebuah pondok yang kecil, beratap daun ilalang. Pada saat itu kepalanya rasanya telah retak, dan perasaan nyeri telah menjalar ke seluruh tubuhnya.

Ketika Mahesa Jenar mencoba untuk bergerak, sendi-sendi tulangnya terasa sakit bukan main. Akhirnya ia terpaksa mengurungkan niatnya untuk bergerak dan bangun. Yang dapat dilakukannya pada saat itu hanyalah menggerakkan kepalanya untuk melihat-lihat seluruh isi rumah itu. Tetapi di dalam rumah itu tak dilihatnya barang apapun kecuali bale-bale tempat ia terbaring, paga bambu dengan sebuah kendhi dan jlupak minyak di atasnya, cangkul di sudut, dan parang pemotong kayu terselip di dinding.

Beberapa saat kemudian, terdengarlah langkah perlahan-lahan memasuki ruang itu. Dan muncullah dari pintu samping, seorang tua yang rambutnya telah memutih, berdahi lebar dan berhidung besar. Wajahnya tampak kasar dan terbakar oleh panas matahari. Tetapi mata orang itu memancarkan sinar kejujuran dan kebaikan hatinya.
Ketika orang itu melihat Mahesa Jenar telah membuka matanya, tampaklah ia tersenyum lebar. “Nah, Angger…, rupa-rupanya Angger telah sadar,” katanya.

 

 

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
177

SEGERA Mahesa Jenar tahu bahwa orang itulah yang telah menemukan dan menolongnya pada saat ia pingsan. Meskipun dengan masih agak sukar Mahesa Jenar menjawab perlahan.
“Ya bapak.”

Orang itu mengangguk, lalu duduk dibale, sambungnya, “ jangan angger bergerak dahulu. Biarlah kekuatan angger pulih.”

Mahesa Jenar tidak menjawab. Tetapi ia mencoba menganggukkan kepalanya. Dan sekali lagi orang tua itu tersenyum lebar.
Mahesa Jenar mencoba mengamati orang itu lebih seksama. Kecuali berdahi lebar dan berhidung lebar, memang orang itu sama sekali tidak tampan. Tetapi tubuhnya adalah tubuh idaman bagi setiap lelaki. Mungkin karena ia harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhannya setiap hari, maka badannya masih tampak segar dan kuat. Ototnya kokoh menjalar hampir keseluruh bagian tubuhnya. Orang tua itu meskipun tidak begitu tinggi, tetapi tidak pula pendek.

Rupanya orang itu sadar ia sedang diamati. Kembali senyumnya yang lebar menghiasi bibirnya. “Adakah sesuatu yang aneh pada diriku ?.”

Mahesa Jenar terkejut mendengar pertanyaan orang itu. Karena itu ia segera dengan perlahan-lahan menggelengkan kepala.

“Angger..,” sambung orang tua itu, “usahakanlah supaya angger dapat tidur. Jangan berfikir hal yang dapat mengganggu ketentraman perasaan angger. Disini angger dapat beristirahat seenaknya, sebab tidak ada orang lain yang tinggal disini kecuali aku seorang diri.”
Kembali Mahesa Jenar mencoba mengangguk.

“Bagus,” orang tua itu melanjutkan, “tidurlah. Atau barangkali angger mau minum.”

Belum lagi Mahesa Jenar menjawab, orang itu telah melangkah keluar rumah menyambar kendi diatas pagar, dan sebentar lagi ia telah masuk kembali. Dengan perlahan dan sangat cermat ia menuangkan air kendi kedalam mulut Mahesa Jenar. Sebenarnya memang leher Mahesa Jenar terasa kering sekali. Seakan-akan sisi lehernya telah lekat menjadi satu. Dengan air yang dituangkan kedalam mulutnya, maka lehernya terasa menjadi sejuk. Bahkan seluruh tubuhnya menjadi segar.

Meskipun demikian ia masih belum mampu untuk bangun.

“Jangan coba untuk bangun dahulu,” orang tua itu melarangnya. “Tidurlah. Aku akan mencari kayu, merebus air, barangkali angger suka air jeruk.”

Sesudah berkata demikian orangitu segera melangkah pergi. dan tinggallah Mahesa Jenar seorang diri, berbaring didalam ruangan kecil yang kosong itu. Otaknya yang telah dapat bekerja dengan wajar, sedikit demi sedikit dapat mengenal kembali apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia merasa bersyukur bahwa ia tidak lumat terbanting kedalam jurang. Sebab kalau tidak ia pasti sudah binasa. Sebab bagaimanapun dahsyatnya kekuatan Sasra Birawa yang dimilikinya, namun untuk melawan tujuh orang sekaligus, agaknya ada diluar batas kemampuannya.
Kemudian oleh angin yang menghembus lewat pintu disamping tempat berbaring Mahesa Jenar, serta tubuhnya yang terasa sudah agak segar, maka Mahesa Jenar akhirnya jatuh tertidur.

Ketika ia terbangun, dilihatnya orang tua itu telah duduk disampingnya. Tangannya memegang seberkas lontar. Tanpa menoleh kepada Mahesa Jenar orang tua itu mulai membaca naskah yang tertulis didalam lontar itu. Maka segera menggemalah lagu bait demi bait dari kidung yang berisikan sebuah cerita yang agaknya menarik hati.
Pada saat itu tubuh Mahesa Jenar telah mulai terasa agak kuat. Karena itu ia telah dapat berusaha untuk duduk dibelakang orang tua yang sedang membaca lontar itu, yang seakan-akan tidak memperhatikannya.

Bait pertama dari cerita itu menggambarkan tentang dua orang sahabat yang pergi merantau untuk berguru kepada seorang sakti. Meskipun kedua orang itu hanyalah sahabat saja, namun mereka telah merasa dirinya lebih dari dua orang bersaudara.

Karena itu apapun yang terjadi selalu mereka tanggung bersama.
Akhirnya sampailah mereka kesuatu lembah yang amat sepi. Lembah yang sama sekali tak pernah disentuh oleh kaki manusia. Disana dijumpainya seorang petapa yang telah menjauhkan diri dari kehidupan. Ia hanya tinggal mengabdikan sisa hidupnya untuk menyembah Yang Maha Agung.

Kedua orang sahabat itu kemudian menyerahkan hidup matinya kepada sang petapa sakti. Petapa yang telah menjauhkan diri dari kesibukan manusia itu semula ragu.

Tetapi karena kesadaran akan pembinaan kebajikan, akhirnya kedua orang itu diterima menjadi muridnya. Diajarinya mereka berdua tentang berbagai ilmu lahir dan batin. Jaya Kawijayan dan olah kanuragan sehingga kedua sahabat itu kemudian menjadi dua orang yang gagah perkasa.

Petapa sakti itu mengharap agar kedua pemuda itudapat melanjutkan dharma bhaktinya kepada tata pergaulan manusia membina kebajikan dan memusnahkan kejahatan.

Adapun petapa sakti itu, tak seorangpun yang pernah mengenal wajahnya, serta nama yang sebenarnya. Sebab ia selalu memakai topeng yang sangat kasar buatannya, berjubah abu-abu dan menyebut dirinya Pasingsingan.

Mendengar nama Pasingsingan disebutkan, Mahesa Jenar terkejut bukan main. Tanpa disengaja ia mengulangi nama itu sampai orang itu terkejut dan berhenti.

 

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
178

PERLAHAN-LAHAN ia menoleh kepada Mahesa Jenar, dan ketika ia melihat Mahesa Jenar duduk di belakangnya, lagi-lagi orang itu tersenyum lebar. “Rupanya Angger telah berangsur baik, dan telah dapat duduk pula, “ katanya.

Begitulah, Bapak, jawab Mahesa Jenar.

Tetapi agaknya, adakah yang menarik perhatian Angger dalam ceritera ini? tanya orangtua itu kemudian.
Tetapi ketika Mahesa Jenar akan menjawab terdengar orang itu melanjutkan, Aku pernah mendengar kata orang bahwa lagu dapat dipergunakan untuk banyak tujuan. Dalam peperangan, lagu dapat membangkitkan semangat bertempur dan berkorban. Seorang prajurit yang telah kehilangan semangat, akan bangkit keberaniannya apabila ia mendengar sangkakala dalam irama yang menggelora. Sebaliknya, lagu akan sangat berguna pula dalam waktu bercinta.
Orang itu berhenti berbicara. Kemudian terdengarlah ia tertawa berderai. Anakmas pasti pernah bercinta, katanya tiba-tiba.

Perkataan itu mengejutkan Mahesa Jenar. Tanpa disengaja ia menggelengkan kepala. Melihat Mahesa Jenar menggeleng, orangtua itu mengerutkan keningnya, dan dengan nada keheranan ia bertanya, Angger belum pernah bercinta?

Mahesa Jenar menjadi semakin gelisah oleh pertanyaan itu. Tetapi sekali lagi tanpa disengaja ia menggelengkan kepalanya pula.

Orangtua itu kemudian mengangguk-angguk. Lalu katanya, Baiklah aku berkata tentang masalah yang lain.

Ia berhenti sebentar, lalu sambungnya, Kata orang, lagu dapat pula menyembuhkan atau mengurangi rasa sakit. Nah, tadi aku mencoba untuk mengurangi rasa sakit yang sedang Angger derita, meskipun suaraku sama sekali tak merdu dan lagunya pun barangkali banyak yang salah.
Terima kasih, Bapak, sahut Mahesa Jenar. Mungkin karena lagu itu pula aku jadi berangsur baik. Tetapi isi ceritera yang Bapak lagukan itu pun sangat menarik perhatianku.
Angger juga tertarik pada ceritera-cerita semacam itu? katanya pula. Kalau begitu kita mempunyai persamaan kesenangan. Tetapi, sampai sekarang aku masih belum mengenal siapakah Angger ini sebenarnya?
Oleh pertanyaan orangtua itu, barulah Mahesa Jenar menyadari kekakuan hubungannya dengan orang itu. Sebab masing-masing masih belum saling mengenal namanya. Karena itu, ketika orangtua itu menanyakan namanya, segera dijawabnya. Namaku Mahesa Jenar, Bapak…, dan siapakah Bapak ini pula?

Akh, aku adalah orang yang sama sekali tak berarti. Tetapi meskipun demikian, baiklah Angger mengenal namaku.

Ia berhenti sebentar untuk menarik nafas, kemudian melanjutkan, Namaku adalah Ki Paniling.

Mahesa Jenar menganggukkan kepalanya sambil mengulangi nama itu. Kemudian ia bertanya pula, Ceritera yang Bapak baca sangat menarik perhatianku. Dari manakah ceritera itu Bapak dapatkan?

Kening orangtua itu berkerut kembali. Agaknya ia sedang mengingat-ingat. Tetapi kemudian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia menjawab, Aku tidak ingat lagi Angger, di mana dan kapan aku mendapatkan naskah itu. Tetapi aku kira itu adalah salinan dari naskah-naskah yang ada di mana-mana. Jadi bukanlah berisikan suatu ceritera yang sedemikian menarik perhatian.

Bagaimanapun, keinginan Mahesa Jenar untuk mengetahui sebanyak-banyaknya tentang isi naskah itu, yang telah menyebut-nyebut nama Pasingsingan, namun ia selalu berusaha untuk menguasai diri. Sebab ia masih belum tahu benar dengan siapakah ia berhadapan.
Meskipun menilik sikap, kesederhanaan, cara berpikir serta hal-hal lain, orang itu bukanlah orang jahat, namun ia tidak dapat meninggalkan sikap hati-hati.

Masih panjangkah ceritera itu? tanya Mahesa Jenar kemudian.

Tidak, jawab Ki Paniling, Angger ingin membaca sendiri?
Mahesa Jenar menganggukkan kepalanya. Ki Paniling kemudian menyerahkan lontar yang dibacanya itu kepada Mahesa Jenar. Tetapi Mahesa Jenar kemudian menjadi kecewa ketika kelanjutan dari ceritera itu hanyalah tinggal beberapa bait saja, yang menceriterakan tentang keperkasaan dua orang murid Pasingsingan yang seakan-akan dapat terbang seperti burung rajawali. Adapun nama dari kedua orang itu, yang dianggap lebih tua karena memiliki beberapa kelebihan adalah Radite, sedang yang muda disebut Anggara.

Tidakkah Bapak mempunyai kelanjutan ceritera ini? tanya Mahesa Jenar dengan penuh keinginan untuk mengetahui.
Orangtua itu mengangguk-angguk sejenak, lalu berkata, Menurut ingatanku, aku ada mempunyai tiga jilid dari naskah itu. Tetapi cobalah nanti Bapak cari, barangkali sedang dipinjam orang selagi mereka punya keperluan.

Kemudian orangtua itu berdiri, sambil melangkahkan kaki ke luar ia berkata, Istirahatlah Angger. Bapak akan mencari jilid kedua dan ketiga dari kitab itu.
Lalu hilanglah orangtua itu di balik pintu.

Mahesa Jenar heran mendengar kata-kata Ki Paniling. Kemanakah ia akan mencari kedua jilid yang lain? Adakah di sekitar rumah ini? Atau rumah-rumah orang lain?

Tiba-tiba timbullah keinginannya untuk mengetahui keadaan di sekeliling tempat itu. Perlahan-lahan Mahesa Jenar mengingsar tubuhnya ke tepi tempat pembaringannya. Ketika dirasa bahwa tulang-tulangnya telah tidak begitu nyeri lagi, maka dengan sangat hati-hati ia mencoba berdiri.

Ia merasa gembira sekali, bahwa agaknya kekuatannya telah berangsur-angsur menjadi baik dan ia sudah tidak merasakan kesulitan apa-apa untuk berjalan.
Karena itu perlahan-lahan dan hati-hati Mahesa Jenar melangkah ke luar rumah. Ia menjadi agak bingung ketika sampai di halaman. Ia tidak dapat lagi mengetahui dengan pasti, di manakah utara dan di mana selatan.

 

 

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
179

KETIKA memandang ke arah matahari terbit, Mahesa Jenar juga agak keheran-heranan. Ia dapat memastikan bahwa pada saat itu hari masih pagi. Kalau demikian maka ia telah melampaui satu malam berada di dalam pondok Ki Paniling.

Kemudian dengan tubuh yang masih belum sehat benar, Mahesa Jenar melangkah lebih jauh lagi. Ia semakin bertambah heran ketika di depan halaman Ki Paniling itu terdapat sebuah jalur desa. Maka keinginannya untuk mengetahui keadaan di sekitarnya menjadi semakin besar. Setapak demi setapak Mahesa Jenar melangkah menuruti jalan kecil itu, sehingga kemudian barulah ia percaya bahwa sebenarnya ia telah dirawat oleh seorang yang sama sekali bukan orang yang terasing, tetapi orang biasa. Mungkin seorang petani miskin yang tinggal di dalam sebuah kampung kecil bersama-sama dengan orang-orang miskin lainnya.

Tetapi disamping itu, timbullah suatu masalah lain di dalam kepalanya. Mahesa Jenar ingat betul bahwa ia telah terperosok ke dalam jurang yang dalam. Apa yang diketahuinya, daerah itu daerah pegunungan yang berhutan dan bersemak-semak. Jadi tidaklah mungkin bahwa ia telah menggelinding sampai tempat yang didiami oleh manusia.

Memang mungkin pada saat itu Ki Paniling sedang mencari kayu, misalnya, lalu menemukannya. Tetapi membawa seseorang sebesar dirinya di tempat yang bergunung-gunung dan bertebing-tebing curam adalah sangat sulit. Sedang daerah ini adalah suatu dataran yang rata, meskipun masih juga dikitari hutan dan pegunungan. Dengan demikian maka pertanyaan-pertanyaan Mahesa Jenar menjadi semakin berbelit-belit di kepalanya.

Setelah Mahesa Jenar berjalan beberapa jauh, terasa kakinya amat penat.

Kekuatannya baru sebagian kecil saja yang dimilikinya kembali. Karena itu ia berhasrat kembali saja ke rumah Ki Paniling.

Tetapi baru saja ia memutar tubuhnya, tiba-tiba terdengarlah suara ramah, Adi Darba, itulah kemanakanku yang baru datang kemarin siang.

Segera Mahesa Jenar memandang ke arah suara itu. Dilihatnya Ki Paniling sedang bercakap-cakap dengan seorang petani lain, seorang yang bertubuh agak kekurus-kurusan. Dan seperti kebiasaan para petani, wajahnya memancarkan isi dadanya dengan terbuka.
Orang yang dipanggil Darba itu kemudian tertawa. Tertawanya terdengar seperti suara air yang memancar dari mata airnya. Bersih dan tanpa maksud-maksud yang tidak wajar.

Kemenakanmu tampak begitu tampan dan gagah, Kakang Paniling, aku jadi agak heran, katanya dengan jujur.

Ki Paniling tersenyum lebar. Aku tidak tahu, bagaimana aku dapat mempunyai kemenakan segagah dia, jawabnya.

Kemudian kedua orang itu sama-sama tertawa. Mau tidak mau Mahesa Jenar berusaha untuk tertawa pula, serta mengangguk hormat kepada mereka.
Mahesa Jenar…, kata Paniling, yang memanggilnya tanpa sebutan seperti lazimnya orang memanggil kemenakannya. Inilah pamanmu Darba. Ia termasuk salah seorang cikal bakal kampung ini sesudah aku. Sebab akulah yang tertua yang datang di sini, kemudian beberapa orang berturut-turut ikut serta menebas hutan dan membangun perkampungan kita ini. Bukan begitu Darba?
Darba tertawa kembali. Pasti aku harus membenarkan katamu. Sebab tak seorangpun yang akan menyangkal bahwa kaulah yang datang pertama kali di daerah ini.

Mendengar jawaban kawannya itu, kembali bibir-bibir tebal di bawah hidung Ki Paniling yang besar itu bergerak-gerak dan tersenyum lebar.

Sekarang, singgahlah sebentar, Darba, ajak Paniling.
Terimakasih. Masih banyak yang akan aku kerjakan pagi ini. Mengairi sawah dan memasak gula, jawab Darba. Aku juga masih nderes tiga pohon lagi.

Bagus, sahut Paniling. Kalau masak, gulamu nanti antarlah kami buat minum air jahe.
Tentu, tentu…
potong Darba, yang lalu melangkah pergi setelah mengangguk kepada Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar melihat keakraban pergaulan dalam hidup sederhana itu dengan perhatian yang luar biasa. Alangkah jauh bedanya dengan pergaulan orang-orang kota yang banyak dibumbui oleh sikap berpura-pura.

Setelah petani yang bernama Darba itu hilang di kelokan jalan, segera Ki Paniling melangkah mendekati Mahesa Jenar sambil berkata gembira, Rupanya angger telah banyak mendapat kemajuan. Sukurlah kalau Angger telah dapat berjalan-jalan. Maafkanlah kalau aku terpaksa menyebut Angger sebagai kemenakanku. Hal itu hanya untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tak perlu. Sebab di padepokan kecil ini segala sesuatu yang tak berarti dapat saja menjadi peristiwa yang besar.


Tak apalah, Bapak,
jawab Mahesa Jenar. Mana saja yang baik untuk Bapak, akan baik pula untukku.


Bagus, bagus…
sahut Ki Paniling, Sekarang marilah kita pulang, Angger masih jangan terlalu banyak bergerak.
Mahesa Jenar tidak menjawab, tetapi segera ia melangkah mengikuti Ki Paniling.
Sebentar kemudian mereka telah sampai ke pondok Ki Paniling. Mahesa Jenar langsung dipersilakan berbaring untuk memulihkan kekuatannya, sedang Ki Paniling segera menyalakan api serta mengupas jagung.

Kembali terasa angin yang semilir mengusap tubuh Mahesa Jenar. Dan karena kesegaran dan kepenatan yang bercampur-baur, akhirnya sekali lagi Mahesa Jenar jatuh tertidur.

Mahesa Jenar terbangun ketika didengarnya hiruk-pikuk di halaman. Meskipun tubuhnya belum pulih sepenuhnya, tetapi untuk menjaga diri segera ia bangkit, dan memperhatikan keadaan dengan saksama. Di luar, didengarnya beberapa suara orang laki-laki menyebut-nyebut namanya. Tetapi kemudian ia menjadi tersenyum sendiri, namun juga dihinggapi oleh perasaan gelisah.

 

 

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
180

ORANG-ORANG itu ternyata adalah sahabat-sahabat Ki Paniling yang telah mendengar kabar bahwa kemenakannya datang mengunjungi kampung mereka yang kecil dan terpencil ini. Karena itulah mereka memerlukan datang untuk mengucapkan selamat datang serta menyampaikan salam perkenalan.

Ki Paniling sendiri agaknya menjadi kerepotan untuk memberi penjelasan kepada sahabat-sahabatnya, tentang kemenakannya. Tetapi rupanya ia cerdik juga. Supaya tidak ada salah keterangan dengan Mahesa Jenar, sengaja ia berbicara keras-keras dengan harapan bahwa dongengannya itu didengar pula oleh Mahesa Jenar.

Adik-adik sekalian, kemenakanku ini datang dari daerah yang jauh sekali. Ia pada saat-saat yang lampau telah pergi merantau hampir ke seluruh sudut bumi. Yang terakhir ia mengabdikan dirinya di pusat kerajaan. Yaitu pada Sultan Demak. Di sana ia menjadi seorang prajurit yang gemblengan, kata Ki Paniling.
Kemudian terdengar suara orang-orang itu bergumam. Agaknya mereka menyatakan perasaan kagum terhadap salah seorang prajurit kerajaan yang sudi berkunjung ke kampung kecil itu. Malahan seorang diantaranya berkata, Anehlah kau Bapak Paniling. Kenapa kau mempunyai kemenakan yang menjabat sebagai prajurit Demak, tetapi kau hidup miskin bersama-sama dengan kami di sini?
Mendengar pertanyaan itu, terdengar Ki Paniling tertawa. Yang menjadi prajurit bukanlah aku, tetapi kemenakanku.


Kalau begitu banyaklah yang sudah dilihatnya,
kata yang lain, Dapatkah kiranya kita mendengar ceriteranya?

Tentu, tentu…, apabila ia sudah bangun, jawab Ki Paniling. Tetapi jangan tanyakan tentang kedudukannya sebagai prajurit, sebab ia telah mengundurkan diri.

Mengundurkan diri? tanya mereka hampir berbareng.

Ya, jawab Paniling.

Kenapa? tanya mereka kembali.

Paniling diam sejenak. Baru kemudian ia dapat menjawab, Sampai hal yang sekecil-kecilnya kalian ingin tahu?

Itu bukan kecil soalnya, jawab salah seorang, Tetapi adalah masalah yang besar. Seorang prajurit bagi kami adalah seorang yang luar biasa. Kalau sampai ia mengundurkan diri, pasti ada hal-hal yang luar biasa.
Kembali terdengar Paniling tertawa. Otakmu mengkilap seperti batu akik. Bagus, kau takut kalau kemenakanku itu menjadi buruan, atau dipecat karena kejahatan? Bagus, dengarlah, ia mengundurkan diri karena perbedaan pokok mengenai kepercayaan. Ia tidak mau menentang kawan-kawan seperjuangannya dalam satu pertentangan jasmaniah. Karena itu lebih baik ia mengundurkan diri, meskipun dengan demikian bukan berarti masa kebaktiannya terhenti pula. Ia tetap berjuang untuk kesejahteraan kawula Demak, kata Paniling.

Kemudian terdengarlah orang-orang di luar rumah itu bergumam puas. Tetapi tidak demikianlah perasaan Mahesa Jenar yang justru menjadi bergolak hebat. Keterangan Ki Paniling itu bagi Mahesa Jenar bukanlah sekadar kebetulan semata-mata. Tetapi adalah suatu ceritera yang tepat seperti apa yang dialaminya. Karena itu dadanya jadi bergoncang.

Bersamaan dengan itu muncullah sebuah kepala di ambang pintu. Sedemikian tiba-tiba sehingga Mahesa Jenar menjadi terkejut. Hampir saja ia meloncat menangkapnya, tetapi untunglah dalam sekejap kepala itu telah lenyap kembali disusul dengan suara seseorang, Kakang Paniling, kemenakanmu telah bangun.

He…. jawab Paniling, Bagus, kalau begitu kalian dapat menemuinya, tetapi jangan lupa kepada pesan-pesanku.
Sesaat kemudian beberapa orang telah melangkah masuk. Salah satu diantaranya segera membentangkan sebuah tikar pandan yang kasar, dan di atas tikar itulah segera mereka duduk. Mau tidak mau Mahesa Jenar harus duduk pula di atas tikar pandan itu. Meskipun demikian ia tidak dapat meninggalkan kewaspadaan, meskipun hanya sekejap. Ia tidak tahu jenis sarang apa pula yang sekarang sedang dimasukinya.

Maka mulailah sahabat-sahabat Paniling saling berebutan memperkenalkan diri mereka serta bertanya-tanya. Bertanya tentang hal-hal yang kadang-kadang menggelikan bagi Mahesa Jenar. Dengan memperhatikan pertanyaan-pertanyaan itu, sebenarnya Mahesa Jenar dapat mengambil kesimpulan, bahwa mereka benar-benar petani-petani miskin yang sebagian besar masih sangat rendah pengetahuannya.

Memang ada satu dua diantaranya yang pernah pula merantau, tetapi pengalaman yang didapatnya pun sama sekali tak berarti.

Kalau demikian, akhirnya Mahesa Jenar mengambil kesimpulan, bahwa yang sebenarnya kurang wajar adalah Ki Paniling sendiri. Memang sejak semula ia telah bertanya-tanya dalam hati tentang orang ini. Bagaimana ia dapat sampai ke pondoknya, dan bagaimana ia sengaja menyebut-nyebut Pasingsingan, lagi pula ia dapat menebak dengan tepat tentang dirinya, bahkan tentang kedudukannya sebagai bekas prajurit pun diketahuinya. Karena itu ia menjadi gelisah. Untunglah bahwa pertemuan itu tidak berlangsung terlalu lama.

 

181

SETELAH matahari sampai pada titik puncaknya, segera mereka mohon diri, pulang ke rumah masing-masing. Yang terakhir meninggalkan ruangan itu adalah Darba.

Dengan tertawa pendek ia berkata, Mahesa Jenar, datanglah sekali-sekali ke pondokku meskipun tidak lebih baik dari pondok ini. Aku juga hidup seperti pamanmu, Paniling. Berbeda dengan orang lain di sini yang hidup berkeluarga, dengan anak-istri. Tetapi kami, aku dan pamanmu, hidup sebatang kara.

Baiklah, Paman, jawab Mahesa Jenar mengangguk.

Mata Mahesa Jenar yang tajam menangkap sinar yang gemerlapan dalam mata petani yang kekurus-kurusan itu. Sinar itu bukanlah sinar mata seorang petani miskin.

Rupanya dua orang ini harus mendapat perhatian sepenuhnya. Tetapi Mahesa Jenar pun adalah orang yang berotak cemerlang. Karena itu segala sesuatu diperhitungkannya dengan cermat. Juga terhadap kedua orang ini, ia bersikap sangat hati-hati.

Sebenarnya Mahesa Jenar sama sekali tidak mempunyai prasangka yang jelek terhadap Paniling maupun Darba. Sebab cahaya mata mereka serta pancaran wajah mereka sama sekali tidak menunjukkan sesuatu kepalsuan. Tetapi meskipun demikian ia memperhitungkan pula kemungkinan-kemungkinan yang sebaliknya. Malahan kadang-kadang timbul dugaannya, apakah salah seorang diantaranya itu adalah Pasingsingan?

Setelah semua orang, juga Darba telah meninggalkan rumah itu, segera Paniling menyodorkan beberapa jagung rebus beserta gula kelapa yang masih baru kepada Mahesa Jenar. Mahesa Jenar yang memang merasa lapar segera menerimanya dan dengan lahapnya ia menghabiskan bagiannya. Setelah itu tidak banyak yang mereka percakapkan. Apalagi Paniling segera pergi ke kebun untuk menyiangi tanaman-tanamannya.

Baru ketika matahari telah hilang di balik batas antara siang dan malam, serta Paniling telah menyalakan oncor jarak, mereka duduk di atas satu-satunya tempat pembaringan yang ada di dalam ruang itu.

Tiba-tiba tanpa ditanya Paniling berkata tentang kitabnya, Angger, ternyata kedua jilid dari kitab itu belum aku ketemukan. Aku tanyakan kesana-kemari, agaknya belum aku jumpai siapakah yang telah meminjamnya. Apakah Anakmas tertarik sekali dengan ceritera itu?

Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan menjawab pertanyaan itu. Namun demikian katanya, Aku sangat tertarik kepada ceriteranya, Bapak.

Paniling mengangguk-anggukkan kepalanya. Ceriteranya memang menarik. Tetapi ceritera itu adalah ceritera biasa saja sebenarnya, sambung Paniling.
Ya, jawab Mahesa Jenar tiba-tiba. Ia sedang mencoba untuk memancing pikiran orang tua itu.

Aku juga pernah mendengar ceritera yang hampir sama, katanya.
Orang itu tampak agak terkejut, tetapi sebentar kemudian kesan itu telah hilang kembali. Malahan ia tersenyum sambil menjawab, Angger juga pernah mendengar? Di mana…?


Di Banyubiru,
sahut Mahesa Jenar.

Banyubiru…? Dekat Rawa Pening? tanya Paniling.
Ya, kenapa? tanya Mahesa Jenar pula.
Akh, ceritera itu sampai tersiar demikian jauhnya, jawab Paniling.
Demikian jauhnya? Mahesa Jenar yang sekarang keheranan.

Ki Paniling kembali mengernyitkan alisnya. Dan kembali pula ia tersenyum lebar.
Bukan jauh sekali, katanya kemudian, Tetapi buat ceritera yang tak berharga itu, adalah suatu kehormatan besar apabila sampai tersiar ke daerah-daerah yang agak jauh.
Terasa bagi Mahesa Jenar ada sesuatu yang dapat ditangkapnya dari kata-kata Paniling, karena itu segera ia menyahut, Kalau ceritera itu sampai di sini, bukankah telah tersebar ke tempat yang lebih jauh lagi?

Paniling terkejut mendengar jawaban Mahesa Jenar. Tetapi hanya sekejap, karena hanya sesaat kemudian ia telah tertawa sambil berkata, Mungkin, mungkin Angger benar.
Mahesa Jenar tidak mau melepaskan kesempatan itu lagi, karena itu ia ingin mendesak lebih lanjut. Ki Paniling, aku juga pernah mendengar ceritera tentang Pasingsingan itu di Banyubiru. Cobalah Ki Paniling sudi mendengarkan ceritera yang aku dengar itu untuk diperbandingkan dengan kelanjutan dari ceritera Ki Paniling yang tercecer, dari kitab jilid 2 dan 3. Adakah persamaannya ataukah hanya persamaan nama melulu.

Mahesa Jenar melihat orang tua itu menjadi agak gelisah, tetapi ia tidak mau kehilangan kemungkinan untuk menyentuh-nyentuh perasaan Ki Paniling yang paling dalam. Dengan demikian ia akan segera tahu dengan siapa ia berhadapan. Dengan kawan atau lawan. Maka segera Mahesa Jenar melanjutkan, Menurut ceritera yang tersebar luas di Banyubiru, tidak saja yang tertulis di lontar-lontar, tetapi bahkan telah menjadi ceritera rakyat yang tersebar dari mulut kemulut, mengatakan bahwa Pasingsingan sama sekali bukanlah seorang yang baik hati, bukan seorang yang pasrah diri kepada Yang Maha Agung, ia sama sekali tidak mengagungkan kebajikan, apalagi mempunyai dua orang murid yang bernama Radite dan Anggara. Tetapi Pasingsingan adalah orang yang sama sekali berlawanan dengan sifat-sifat itu. Ia mempunyai murid-murid yang sama jahatnya dengan dirinya sendiri, yang menamakan dirinya sebagai nama pahlawan, yaitu Lawa Ijo, Wadas Gunung dan Watu Gunung. Yang sama dengan ceritera Bapak adalah bahwa Pasingsingan itu memang sakti, namun ia telah mempergunakan kesaktiannya untuk kejahatan, merampok, membunuh, merampas isteri orang, me….
Bohong! tiba-tiba Paniling berteriak keras. Wajahnya jadi tegang dan merah. Mahesa Jenar terkejut mendengar teriakan itu. Cepat ia hendak bangkit ketika dilihatnya wajah Paniling menyala. Mahesa Jenar sadar bahwa hal yang tak dikehendaki bisa terjadi. Karena itu ia cukup waspada.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
182

TIBA-TIBA tangan Ki Paniling terjulur untuk menangkap baju Mahesa Jenar. Cepat ia mengelak, dan dengan gerakan kuat ia menerkam Paniling. Mahesa Jenar tidak mau didahului oleh orangtua yang masih belum diketahui siapakah dia dan sampai dimanakah kekuatannya.

Dengan menangkap orangtua itu, Mahesa Jenar bermaksud memaksanya untuk menjelaskan siapakah sebenarnya dirinya itu.

Tetapi Mahesa Jenar terkejut bukan kepalang ketika ia sama sekali tak berhasil menyentuh Ki Paniling dalam tempat yang demikian sempitnya. Bahkan tiba-tiba terasa tangannya terpilin dan lenyaplah segenap kekuatannya yang memang belum pulih seluruhnya. Tetapi bagaimanapun ia merasa bahwa Paniling mempunyai kekuatan yang jauh di atas kemampuannya. Bahkan andaikata kekuatannya samasekali tak terganggu sekalipun. Namun orangtua itu akan dapat dengan mudah menangkapnya.

Mengalami peristiwa itu, Mahesa Jenar segera teringat kepada pertemuan-pertemuannya dengan Ki Ageng Pandan Alas, Ki Ageng Sora Dipayana yang juga sama sekali tak diduganya. Dengan demikian ia dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa orang ini pun pasti tergolong angkatan itu pula. Kalau saja orang ini Pasingsingan, entahlah apa yang akan terjadi atas dirinya.

Tetapi tiba-tiba terasa tangkapan pada tangannya itu semakin kendor, semakin kendor, bahkan akhirnya dilepaskan. Dan dengan keheran-keheranan Mahesa Jenar melihat Ki Paniling itu membanting diri diatas bale-bale, yang kemudian dengan kedua telapak tangannya menutupi mukanya.

Mahesa Jenar jadi ragu dan tidak tahu apa yang akan dilakukannya. Tetapi suatu kelegaan telah membersit di hatinya. Sebab jelas orangtua itu sama sekali tak bermaksud jahat kepadanya.

Setelah beberapa saat suasana ruangan sempit itu dicengkam oleh kesepian yang tegang, maka perlahan-lahan Ki Paniling mengangkat mukanya. Muka yang tadi tampak merah membara, kini menjadi pucat keputih-putihan. Bahkan dari matanya memancar sinar duka.

Mahesa Jenar jadi merasa bahwa ia telah berbuat sesuatu yang menyebabkan orangtua itu susah. Maka katanya, “Maafkan aku, Bapak, barangkali aku telah berbuat suatu kesalahan.”

Tiba-tiba Ki Paniling tersenyum lebar, namun senyumnya adalah senyum yang pahit. “Tidak, Angger…, Angger tidak berbuat suatu kesalahan. Tetapi akulah yang bodoh. Sebagai orangtua aku telah berbuat sesuatu yang memalukan. Tetapi itu ada sebabnya.”
Mata orangtua itu semakin membayangkan kedukaan yang dalam. Hanya kadang kadang saja ia memandang kepada Mahesa Jenar, tetapi kemudian kembali matanya menatap ke titik-titik, jauh tak terhingga.

Lewat pintu rumah kecil yang belum ditutup itu, terasa angin malam menghembus halus, menggoyang-goyang nyala pelita jarak yang melemparkan cahaya suram ke segenap arah.
Untuk beberapa lama mereka berdua masih berdiam diri. Perlahan-lahan Mahesa Jenar pun kemudian duduk kembali di samping Ki Paniling.

“Angger…” kata Ki Paniling kemudian memecah sepi, “Maksudku hanya ingin mengatakan bahwa ceritera yang Angger dengar itu sama sekali tidak benar. Atau barangkali lebih baik aku katakan bahwa ceritera itu tidak sama dengan ceritera di dalam kitab-kitabku. Mungkin benar kata Angger bahwa kedua ceritera itu ditulis oleh orang yang tidak sama, hanya kebetulan nama tokoh-tokohnya sajalah yang bersamaan.”


“Demikianlah Bapak, ceritera itu bukanlah tidak mungkin bersamaan nama, “
jawab Mahesa Jenar.

“Ceritera yang aku baca, Angger…” kata Paniling, “Pasingsingan adalah orang yang baik hati. Menjunjung tinggi keluhuran budi, serta pasrah diri kepada Yang Maha Agung.”
“Dapatkah aku mendengar ceritera itu, Bapak? “
tanya Mahesa Jenar.
Ki Paniling menarik nafas dalam-dalam. “Otakmu cemerlang seperti matahari musim kemarau,” sahut Paniling.
Mahesa Jenar kurang mengerti kepada kata-kata Paniling itu. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu, sampai akhirnya Paniling berkata kembali, “Baiklah Angger…, aku tidak tahu apakah ada gunanya kalau aku berceritera.
Sebab kau bukanlah anak-anak yang mudah tertidur karena dongeng-dongeng yang menyenangkan serta mengasyikkan.”

Mahesa Jenar menundukkan kepala mendengar kata-kata Ki Paniling yang rupa-rupanya sudah mengetahui maksudnya, memancing-mancing keterangan tentang dirinya.
Angger Mahesa Jenar…,“kata Ki Paniling lebih lanjut, “Bagian kedua dari ceritera itu mengatakan bahwa setelah kedua murid Pasingsingan itu menjadi dua orang yang hampir mumpuni, maka Pasingsingan ingin menyerahkan jabatannya, meskipun jabatan itu disandangnya atas kemauan sendiri, kepada muridnya yang tua.
Tetapi pada saat itu datanglah seorang yang mengaku murid Pasingsingan yang tertua, yang merasa berhak untuk mengenakan tanda-tanda kebesaran gurunya, yaitu jubah abu-abu, topeng yang kasar dan yang terutama adalah sebuah belati panjang berwarna kuning emas berkilau-kilauan, yang disebut Kyai Suluh, serta cincin bermata batu akik merah menyala yang dinamai Akik Klabang Sayuta. Hampir tak ada orang yang dapat melawan kesaktian belati panjang serta akik Klabang Sayuta itu.”

Sampai sekian terasa punggung Mahesa Jenar meremang. Ia kenal semua benda-benda yang disebutkan itu.

Ia pernah melihat Pasingsingan memegang sebuah pisau belati yang berwarna kuning gemerlapan pada saat orang itu hendak bertempur melawan Ki Ageng Pandan Alas, yang juga terpaksa menarik pusakanya Sigar Penjalin.Sedang akik Klabang Sayuta yang beracun itu, tidak saja ia pernah melihat, tetapi ia pernah merasakan betapa dahsyatnya. Kalau saja di dalam darahnya tidak mengalir bisa Ular Candrasa, entahlah apa yang terjadi atasnya.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
183

KI PANILING kemudian melanjutkan ceritanya, Tetapi agaknya Pasingsingan tidak begitu terkena hatinya kepada bekas muridnya yang telah lama meninggalkannya. Karena itu ia tetap pada pendiriannya, menyerahkan semua tanda-tanda jabatannya kepada Radite. Maka pada suatu hari, dengan tidak diketahui oleh siapapun, Pasingsingan telah lenyap. Tetapi jubah abu-abu serta semua miliknya itu ditinggalkannya di dalam ruang tidur Radite. Dan sejak itulah Radite kemudian mengembara dengan nama Pasingsingan untuk mengamalkan kebajikan demi kesejahteraan hidup umat manusia. Dalam pengembaraan itu pula ia berkenalan dengan tokoh-tokoh sakti yang lain, yang juga berusaha untuk menegakkan kebajikan bagi kesejahteraan umat mahusia. Diantara sahabatnya terdapat seorang yang bernama Kiai Ageng Pengging Sepuh, yang kemudian mempunyai seorang murid yang menjadi Prajurit Pengawal Raja bernama Rangga Tohjaya.

Kembali punggung Mahesa Jenar meremang. Bahkan kali ini keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya. Ia jadi agak bingung. Ternyata Paniling telah hampir mengetahui keseluruhan dari perjalanan hidupnya. Ia akhirnya malu sendiri, ketika ia merasa bahwa pancingan-pancingannya terasa berhasil untuk memaksa Paniling berceritera. Tetapi agaknya orangtua itu telah dapat menebak seluruh isi hatinya.
Adapun Anggara… Ki Paniling meneruskan, Telah diserahi tugas untuk menunggui tempat pertapaan Pasingsingan. Dan orang itupun dengan setia melakukan kewajibannya.

Tetapi… sambung Ki Paniling dengan nada yang merendah, Peredaran roda tidak selamanya menempuh jalan datar. Radite akhirnya bertemu dengan murid tertua dari Pasingsingan, yang menamakan dirinya Umbaran. Dari segi keperwiraan jasmaniah, maka Umbaran ada di bawah kepandaian Radite.
Ki Paniling berhenti sebentar. Terasa bahwa nafasnya berangsur cepat. Wajahnya tampak semakin pucat sedang matanya semakin sayu. Kemudian ia kembali melanjutkan ceritanya, Karena itu Umbaran tidak dapat memaksa Radite untuk menyerahkan tanda-tanda kebesaran gurunya. Namun demikian ada saja jalan yang dapat ditempuhnya. Dan ini termuat pada bagian ketiga dari kitab ini. Bagian yang paling menyedihkan.
Kembali Ki Paniling berhenti sejenak, kemudian meneruskan ceritanya lagi, Bagaimanapun juga Radite adalah manusia biasa. Meskipun ia telah mengenakan jubah abu-abu, topeng dan pusaka-pusaka lainnya, namun ia tidak dapat melapisi hatinya dengan baja. Hatinya masih saja hati manusia yang lunak dan lemah. Itulah sebabnya ia pada suatu saat jatuh cinta kepada seorang gadis. Dan inilah sumber dari segala malapetaka. Ketika Umbaran mengetahui, maka segera ia berusaha memikat hati gadis itu. Memang Umbaran memiliki wajah yang tampan, sehingga akhirnya dengan tidak banyak kesulitan ia berhasil menguasai hati gadis itu sepenuhnya. Sedang di lain pihak, hati Radite telah bulat-bulat berada di dalam genggaman gadis itu.

Akhirnya… lanjut Ki Paniling, Terjadilah sesuatu yang memalukan sekali. Radite dan Umbaran mengadakan suatu perjanjian tukar-menukar. Inilah yang gila. Dan itu sudah terjadi.
Mahesa Jenar menjadi terkejut ketika nada suara Paniling jadi meninggi. Hampir berteriak ia berkata, Itu sudah terjadi, dan tak dapat dicabut kembali.

Tetapi kemudian seperti orang yang tersadar, Ki Paniling menarik nafas dalam-dalam. Dan kembali dengan nada yang rendah ia meneruskan, Radite dan Umbaran mengadakan perjanjian. Radite mendapat gadis itu, sedang Umbaran mendapat tanda-tanda kebesaran dari Pasingsingan. Maka berlangsunglah tukar-menukar itu tanpa saksi, selain Anggara yang dengan sedih berusaha mencegahnya. Tetapi tukar-menukar itu tetap berlangsung, dengan hati jantan dan tanggung jawab bagi Radite. Itulah sebabnya maka ia akan mentaati perjanjian itu untuk seterusnya.


Tetapi kemudian…
lanjut Ki Paniling, Menyusullah kejadian yang semakin menghimpit hati. Radite sebenarnya sangat menyesal atas perjanjian itu. Namun di hadapan gadis yang kemudian menjadi istrinya, ia selalu menyembunyikan penyesalan itu. Kemudian ia harus mengalami kejadian yang dahsyat, yang barangkali merupakan hukuman alam. Gadis yang memang sebenarnya sama sekali tak mencintainya itu, sebab hatinya telah terampas oleh Umbaran, akhirnya menjadi sakit-sakitan dan meninggal dunia. Kejadian ini merupakan pukulan yang maha dahsyat dalam kehidupan Radite yang telah gagal itu. Gagal dalam pengabdiannya kepada umat manusia dan gagal dalam pemanjaan nafsu pribadi.

Paniling berhenti berkata. Wajahnya menjadi semakin pucat. Dan tiba-tiba di matanya tampak mengembang sebutir air mata.

Mahesa Jenar kini telah menjadi jelas. Jelas dengan siapa ia sedang berbicara. Karena itu tiba-tiba ia berdiri dan membungkuk hormat. Jadi tuanlah sebenarnya yang berhak menyebut diri Pasingsingan.
Paniling mengangkat mukanya. Ia mencoba tersenyum, meskipun betapa pedihnya. Dengan terputus-putus ia menjawab, Tak usah kau sebut itu. Bukankah hal itu yang kau ingin ketahui?
Bukankah segala sesuatu masih belum terlambat? kata Mahesa Jenar kemudian, Tuan masih dapat menghentikan perbuatan-perbuatan jahat dari Umbaran, yang kemudian bernama Pasingsingan itu?

Paniling atau sebenarnya bernama Radite itu menggelengkan kepalanya. Tidak dapat. Sebab pada suatu kali, datanglah Guru kepadaku. Meskipun aku sama sekali tidak dapat melihatnya, tetapi aku kenal suaranya. Ia berkata kepadaku, Radite…, nama Pasingsingan telah kau korbankan. Kau tak perlu bersusah payah untuk memperbaikinya kembali. Sebab sekali nama itu ternoda, buat selamanya tak akan dapat menjadi bersih, sebersih semula. Karena itu biarkanlah nama itu bernoda untuk seterusnya. Sebab setiap kali nama itu disebutkan, setiap kali kau akan teringat kepada kesalahanmu.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
184

KI PANILING termenung sejenak.

Kemudian lanjutnya, Itu adalah hukumanku yang paling berat. Hukuman yang hampir tak tertanggungkan. Karena itu kemudian aku menyembunyikan diri. Menjauhkan diri dari setiap kemungkinan untuk dapat mendengar nama Pasingsingan. Tetapi bagaimanapun juga bendungan itu akan tembus pula. Dan aku sedang mencari saluran untuk mengatakan seluruh gelora yang bergulung-gulung di dalam dadaku. Sampai pada suatu kali aku temukan kau. Aku kenal kau karena caramu bertempur melawan 7 orang di bukit sebelah Banyubiru. Aku mendengar salah seorang menyebutmu Rangga Tohjaya. Dan aku pernah pula mendengar nama Rangga Tohjaya sebagai prajurit pengawal raja, kata Ki Paniling.

Kembali mereka berdiam diri dalam kesibukan angan-angan masing-masing.

Tiba-tiba saja Mahesa Jenar teringat kepada orang yang berjubah abu-abu dan yang telah berhasil mengambil keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Karena itu tiba-tiba ia bertanya, Bagaimanakah kalau ada seorang lagi yang menyatakan dirinya sebagai Pasingsingan?

Mendengar pertanyaan Mahesa Jenar itu, Ki Paniling terkejut bukan buatan sehingga wajahnya berubah hebat. Dengan pandangan yang mengandung seribu macam pertanyaan, ia berkata, Adakah orang lain yang kau kenal sebagai Pasingsingan pula?
Kemudian Mahesa Jenar menceriterakan apa yang pernah dilihatnya pada saat hilangnya Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Dan tentang orang yang berjubah abu-abu yang mengambil kedua keris itu.

Paniling mendengarkan ceritera Mahesa Jenar dengan wajah tegang. Alisnya tampak berkerut-kerut. Akhirnya ia bertanya, Kau lihat orang itu bertopeng pula?
Itu yang tidak aku ketahui,
jawab Mahesa Jenar.

Tampaklah wajah Paniling semakin tegang. Pikirannya bekerja keras namun ia pun agaknya tidak dapat menduga, siapakah yang telah berjubah abu-abu itu.

Tiba-tiba bertanyalah Mahesa Jenar, Tuan, bolehkah aku mengetahui, di manakah murid yang seorang lagi dari Pasingsingan itu?

Mendengar pertanyaan Mahesa Jenar itu, tiba-tiba wajah Paniling agak mengendor. Bahkan kemudian ia tersenyum lebar. Adakah kau menduga bahwa murid yang satu itu menamakan diri Pasingsingan pula?
Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan. Memang mula-mula ia mempunyai dugaan bahwa hal itu mungkin sekali. Tetapi setelah ia menerima pertanyaan itu, ia menjadi ragu. Bukan maksudku untuk berkata demikian, Tuan.

Mendengar jawaban Paniling, segera Mahesa Jenar teringat kepada sinar mata yang berkilat-kilat dari orang yang menamakan dirinya Darba. Karena itu segera ia menjawab pula, Apakah yang menamakan dirinya Paman Darba itulah orangnya?
Belum lagi Paniling menjawab, terdengarlah suara tertawa di luar, di depan pintu, sampai Mahesa Jenar agak terkejut.

Kedatangan seseorang sampai jarak yang demikian dekatnya tanpa diketahui adalah suatu hal yang jarang terjadi. Ketika Mahesa Jenar menoleh ke arah pintu, dilihatnya orang yang menamakan dirinya Darba itu telah berdiri di sana dengan wajah bening, sebening air yang memancar dari mataairnya.

Kemudian Darba berkata lirih, seperti kepada dirinya sendiri mengulangi kata-kata Paniling, Otakmu cemerlang seperti matahari musim kemarau.

Kemudian terdengar Paniling berkata, Kepadanya tak perlu kita menyembunyikan diri. Aku percaya bahwa orang semacam Mahesa Jenar akan dapat memegang rahasia, seperti ia memegang rahasia kerajaan.


Kau akan merahasiakannya Mahesa Jenar?
tanya Darba.

Akan aku coba, Tuan, jawab Mahesa Jenar.

Juga kepada Kakang Pandan Alas dan Kakang Sora Dipayana? Bukankah tadi kau berceritera tentang hilangnya Nagasasra dan Sabuk Inten, meskipun kedua tokoh itu ikut pula mempertahankannya?

Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan. Kalau ia bertemu dengan Ki Ageng Pandan Alas dan Ki Ageng Sora Dipayana, apakah ia harus merahasiakan pula tentang Pasingsingan…?

Melihat kebingungan Mahesa Jenar, berkatalah Darba, Kepada kedua orang itu, juga kepada Titis Anganten, Pangeran Gunung Slamet, kau tidak usah merahasiakan. Kalau mereka akan melenyapkan Pasingsingan adalah urusan mereka, bukankah begitu Kakang?

Tiba-tiba wajah Paniling kembali menjadi tegang. Ia tidak segera menjawab kata-kata Darba. Pandangannya jauh lewat pintu yang masih menganga itu langsung menembus gelapnya malam.

Kemudian kembali suara Darba terdengar diantara tertawanya, Kakang Paniling, masihkah kau ingin mengadakan perhitungan dengan Umbaran? Aku kiranya hanya akan mengotori tanganmu saja dengan darah yang telah digenangi kejahatan. Apalagi kau terikat kepadanya dengan sebuah perjanjian aneh itu, untuk seterusnya tidak saling mengganggu. Kenapa kau tidak memerintahkan aku saja untuk menyelesaikan masalah ini? Bukankah aku tidak terikat oleh suatu apapun?

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
185

TIBA-TIBA wajah Darba yang bening itu berubah, seolah-olah menjadi batu padas yang maha keras.

Sabarlah Darba, jawab Paniling yang wajahnya masih setegang tadi, Aku kira akan datang saatnya.

Wajah Darba perlahan-lahan menjadi lunak kembali. Dengan langkah yang perlahan lahan pula ia duduk di samping Mahesa Jenar.

Kakang Paniling kagum melihat caramu bertempur melawan 7 orang yang termasuk orang-orang kuat. Memang Kakang Pengging Sepuh telah hampir tercermin seluruhnya di dalam dirimu. Kalau kau kelak dapat mengendap ilmu Sasra Birawa sehingga mendapat bentuk yang lebih masak lagi, aku kira kau akan menjadi tepat seperti bayangan Kakang Pengging Sepuh yang mengagumkan.

Mahesa Jenar hanya dapat menundukkan kepalanya mendengar pujian itu, tetapi bersamaan dengan itu pula segera ia teringat kepada nasib Banyubiru yang dalam keadaan lumpuh itu.

Untuk beberapa saat Mahesa Jenar berdiam diri. Paniling dan Darba tak berkata-kata pula. Baru beberapa lama kemudian berkatalah Mahesa Jenar, Dan sekarang ke-7 orang yang mengeroyokku itu sedang merencanakan kehancuran Banyubiru.
Paniling dan Darba tampak mengerutkan kening nya. Kemudian kata Paniling, Perencana dari peristiwa Banyubiru itu bukanlah orang bodoh. Karena itu kaupun harus sangat berhati-hati untuk melawannya.

Apa yang kau lakukan beberapa hari yang lalu, melawan 7 orang sekaligus, adalah perbuatan yang terlalu berani. Kalau kau tewas dalam pertarungan semacam itu, maka kau sudah tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi. Sedang agaknya kau tak pernah berfikir untuk menghindar. Untunglah bahwa aku berhasil menggugurkan tanah yang kau injak, ketika kau berdiri terlalu ke tepi, dengan sebuah lemparan. Sehingga kau dengan tak usah merasa melarikan diri dari gelanggang, telah dapat terselamatkan, meskipun kau harus menggelinding ke dalam jurang.

Dada Mahesa Jenar terasa berdesir mendengar kata-kata Paniling. Agaknya orang tua itulah yang telah berusaha menyelamatkan nyawanya. Dengan demikian maka tanpa disengaja ia berkata dengan gemetar, Terima kasih Tuan, terima kasih atas pertolongan itu.
Dalam hati Mahesa Jenar memancarlah perasaan kagum yang tak terhingga. Dengan satu lemparan, Radite menggugurkan tanah tempat ia berpijak.

Paniling tersenyum lebar. Aku juga pernah mengalami masa muda. Masa darah kita menggelora, dimana kita kadang-kadang kehilangan kemampuan untuk mengakui kekurangan diri, jawabnya.

Terasa oleh Mahesa Jenar kebenaran kata-kata Paniling. Memang dalam saat yang demikian terasa alangkah kecilnya apabila seseorang menghindarkan diri dari arena. Tetapi apabila benar-benar ia dapat ditewaskan, maka untuk selanjutnya ia tak akan dapat berbuat sesuatu. Karena itu, adalah suatu keuntungan bahwa ia masih hidup.

Mahesa Jenar… kata Paniling kemudian, Memang sebaiknya kau kembali ke Banyubiru. Ketahuilah bahwa kau sekarang ini berada di hutan Pudak Pungkuran. Perjalanan ke Banyubiru dapat kau tempuh kira-kira dalam satu hari. Tetapi kau tidak perlu tergesa-gesa. Kau pulihkan dahulu kekuatanmu.
Di sini aku mempunyai beberapa jenis akar yang dapat menolong menambah lancar aliran darah serta menambah kesegaran tubuhmu.

Mahesa Jenar segera menyatakan terima kasihnya. Dengan demikian ia dapat beristirahat untuk beberapa saat di rumah Ki Paniling.

Beberapa hari kemudian setelah tubuhnya terasa pulih kembali, serta keadaan telah memungkinkan, maka Mahesa Jenar mohon diri kepada Paniling untuk kembali ke Banyubiru. Paniling dan Darba yang merasa pentingnya kehadiran Mahesa Jenar di tanah perdikan yang kehilangan pemimpin itu, segera mengizinkannya, diiringi beberapa pesan dari seorang tua yang telah banyak makan garam, kepada seorang pemuda yang darahnya masih cepat mendidih.

Disamping itu, Paniling juga memesannya untuk tidak berkata apa-apa tentang Pasingsingan apabila tidak dianggapnya perlu sekali. Sebab sampai saat itu, belum ada orang lain yang pernah mengenal wajah asli dari Pasingsingan, apalagi Pasingsingan tua, guru Radite, yang pada saat itu, baik Radite maupun Anggara tidak tahu apakah Pasingsingan masih hidup ataukah sudah tidak ada lagi.

Maka pada suatu pagi yang cerah, diiringi oleh kicauan burung-burung liar, Mahesa Jenar melangkah dengan segarnya menuju ke Banyubiru.

Bagaimanapun ia merasa bahwa ia ingin segera sampai. Sebenarnya daerah Banyubiru, yang paling menarik bagi Mahesa Jenar adalah Arya Salaka. Kepada anak ini Mahesa Jenar menaruh perhatian sepenuhnya. Apalagi sejak ayahnya Ki Ageng Gajah Sora, menyerahkan Arya kepadanya dalam olah kanuragan. Maka seolah-olah ia telah dibebani suatu tanggungjawab. Apabila kelak pada waktunya Arya dewasa, dengan tidak memiliki sesuatu yang pantas dipakai sebagai pegangan bagi seorang kepala daerah perdikan, maka ialah yang paling dapat disalahkan.
Mengenangkan hal itu, tiba-tiba saja Mahesa Jenar ingin segera sampai ke Banyubiru.

Karena itu segera ia mempercepat langkahnya. Tetapi karena ia menempuh suatu perjalanan yang belum pernah dilalui sebelumnya, dan hanya dikenalnya dari ancar-ancar yang diberikan oleh Ki Paniling, maka perjalanannya tidak dapat terlalu cepat. Beberapa kali ia harus berhenti untuk mengenali jalan-jalan dan tempat-tempat seperti yang disebut oleh Paniling.

Dengan demikian maka ia tidak dapat mencapai Banyubiru dalam sehari. Meskipun matahari telah tenggelam di langit, Mahesa Jenar dengan perlahan-lahan tetap melanjutkan perjalanannya. Apalagi ketika dari jarak yang agak jauh, remang-remang di hadapannya hanya taburan bintang-bintang.

Mahesa Jenar melihat bayangan hitam yang membujur seperti seorang raksasa yang baru berbaring. Itulah pegunungan Telamaya. Karena itu maka Mahesa Jenar seakan-akan merasa terhisap oleh pegunungan itu, serta rasa rindunya kepada Arya Salaka semakin menjadi-jadi. Segera ia pun mempercepat langkahnya.

186

RASANYA Mahesa Jenar sudah tidak sabar lagi terhadap kakinya yang sudah mulai lelah. Tetapi ketika ia sudah semakin dekat, tiba-tiba dadanya berdentam keras sehingga tubuhnya menjadi gemetar. Dari kota Banyubiru Mahesa Jenar melihat nyala api yang semakin lama semakin besar.

Sekarang Mahesa Jenar menjadi benar-benar tidak sabar lagi. Seperti seekor kijang yang sedang diburu, Mahesa Jenar meloncat dan kemudian berlari sekencang kencang ke arah api yang menyala-nyala. Apalagi sebentar kemudian didengarnya suara tanda bahaya menggema memenuhi seluruh daerah pegunungan Telamaya.

Dengan nafas yang terengah-engah akhirnya Mahesa Jenar berhasil memasuki kota. Ia berjalan hati-hati sekali. Beberapa kali ia melihat orang-orang berkuda berlari hilir-mudik. Beberapa orang sudah dikenalnya sebagai laskar Banyubiru. Tetapi beberapa yang lain sama sekali belum pernah dilihatnya.

Untuk tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diingini, Mahesa Jenar selalu berusaha menyembunyikan dirinya di balik bayang-bayang pepohonan atau di samping rumah-rumah. Sekali-sekali ia berlari dari satu tempat kelain tempat sambil mendekati tempat kebakaran.
Ketika Mahesa Jenar berhasil mendekati tempat itu, dilihatnya laskar Banyubiru terlibat dalam satu pertempuran dengan laskar yang sama sekali belum dikenalnya. Pertempuran itu berlangsung dengan serunya, sehingga kedua belah pihak telah kehilangan ikatan kesatuannya. Mereka seolah-olah bertempur tanpa pimpinan.
Dari jarak yang agak dekat akhirnya Mahesa Jenar dapat melihat bahwa pasukan Banyubiru berada di bawah pimpinan Bantaran, yang agaknya merasa terdesak. Bantaran sendiri bertempur seperti harimau luka, tetapi musuhnya terlampau banyak.

Sebentar kemudian terdengar derap pasukan yang berlari dari arah barat. Dan muncullah laskar bantuan yang dipimpin oleh Sawungrana. Pasukan ini pun segera melibatkan diri dalam pertempuran yang sengit itu.

Dengan datangnya bantuan yang dipimpin oleh Sawungrana, tampak laskar Banyubiru dapat mencapai keseimbangan kembali. Bahkan agaknya sebentar kemudian mereka akan segera dapat menguasai keadaan.

Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar mendapat pikiran lain. Sehilangnya Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, apakah kira-kira yang masih mereka cari di Banyubiru?

Teringatlah Mahesa Jenar kepada kedudukan Arya Salaka. Ayahnya yang dibawa ke Demak untuk waktu yang tak ditentukan, bahkan karena serangan laskar Lembu Sora atas pasukan Demak, mempunyai kemungkinan yang lebih tak menyenangkan bagi Gajah Sora. Ia menyerahkan kekuasaan Banyubiru kepada Arya. Ini berarti suatu rintangan langsung bagi Lembu Sora untuk dapat menguasai Banyubiru.

Karena itu, Mahesa Jenar segera memperhitungkan setiap kemungkinan. Ia memang agak heran bahwa daerah yang tak berarti di pinggiran kota ini menjadi tujuan serangan lawan. Rumah yang sama sekali tidak penting kedudukannya, kecuali banjar-banjar desa, juga bangunan-bangunan lain yang juga tidak begitu berarti.

Mengingat hal itu, maka segera Mahesa Jenar mengambil kesimpulan, bahwa serangan ini hanyalah suatu usaha untuk menarik perhatian semata-mata. Sedang tujuan yang sebenarnya adalah tempat lain.

Mendapat pikiran yang demikian, Mahesa Jenar menjadi bertambah gemetar. Ia menjadi cemas atas keselamatan Arya. Karena itu segera ia meloncat dan berlari dari satu tempat yang terlindung ke tempat yang lain menuju ke rumah Gajah Sora, sehingga beberapa saat kemudian ia telah dapat mendekati rumah itu. Sebenarnyalah bahwa apa yang dicemaskan itu benar-benar terjadi. Mahesa Jenar mendengar keributan di halaman rumah itu. Agaknya telah terjadi suatu pertempuran pula. Perlahan-lahan ia menyusur regol samping, dan dilihatnya Wanamerta dan Pandankuning serta beberapa orang sedang bertempur menghadapi lawan yang jumlahnya berlipat dua. Apalagi diantara para penyerang itu terdapat pula beberapa orang yang termasuk berilmu cukup tinggi.

Melihat pertempuran itu, Mahesa Jenar menjadi agak bimbang. Apakah ia harus melibatkan diri, ataukah masih harus ditunggunya perkembangan seterusnya.

Tetapi segera Mahesa Jenar dikejutkan oleh sebuah bayangan yang melontar keluar lewat pintu belakang. Bayangan dari seorang anak yang masih belum dewasa. Cepat Mahesa Jenar mengenal, itulah Arya.

Belum lagi Mahesa Jenar berbuat sesuatu, dilihatnya Arya merapatkan dirinya pada dinding di sebelah pintu. Sesaat kemudian muncullah bayangan lain meloncat keluar dari pintu itu pula. Tetapi demikian bayangan itu melangkahkan kakinya keluar ambang, demikian Arya dengan tangkasnya menusuk lambungnya, sehingga dengan tidak dapat berbuat sesuatu orang itu terlempar dan roboh mati. Sedang tangan Arya dengan eratnya menggenggam tombak Kyai Bancak.

Tetapi kemudian dari pintu itu muncullah beberapa orang bersama-sama. Agaknya mereka melihat seorang kawan mereka yang dapat dibunuh oleh Arya, sehingga mereka meloncat keluar dengan kesiagaan penuh. Karena itu, ketika Arya menusuk orang yang pertama, segera tampaklah orang itu menangkis serangan Arya dengan sebuah pedang pendek, sehingga Arya terputar setengah lingkaran.

Tetapi agaknya Arya bukan anak yang bodoh. Maka demikian serangannya gagal, segera ia meloncat untuk melarikan diri. Sayang bahwa orang yang mengejarnya cukup banyak segera mengepungnya.

Tampaklah Arya Salaka yang sama sekali belum cukup dewasa itu menjadi bingung.

Tetapi belum lagi orang-orang yang mengepungnya sempat bertindak, melayanglah sebuah bayangan lain, yang langsung menyerang orang-orang itu. Tubuhnya tampak ringan tetapi kuat dan tangkas. Orang itu adalah Panjawi, seorang yang masih muda, tetapi telah memiliki ketangkasan yang cukup. Dengan pedang di tangan, Panjawi bergerak menyambar-nyambar seperti burung layang. Dalam waktu yang singkat, beberapa orang telah menjadi korbannya.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
187

ORANG-ORANG yang mengepung Arya itu segera mengalihkan perhatiannya. Mereka bersama-sama segera menyerang Panjawi. Tetapi Panjawi adalah orang yang cukup tangkas, sehingga beberapa orang itu sama sekali tak berhasil mendesaknya. Apalagi beberapa saat kemudian berdatanganlah beberapa orang laskar Banyubiru yang segera membantu Panjawi.

Melihat pertempuran itu, Mahesa Jenar menarik nafas lega. Ia juga merasa kagum kepada Panjawi. Meskipun anak itu masih harus banyak berlatih, namun ia memiliki dasar-dasar yang baik dan kuat.

Tetapi sejenak kemudian, Mahesa Jenar terkejut mendengar sebuah siulan nyaring. Ia pernah mendengar bunyi yang demikian itu. Bunyi siulan dari gerombolan Lawa Ijo.

Dan apa yang sedang dipikirkan itu adalah benar. Sebab sesaat kemudian ia melihat bayangan yang melayang dari sebuah pohon langsung menyerang Panjawi.

Untunglah bahwa Panjawi cukup tangkas untuk menghindari serangan itu, sehingga bayangan itu tidak berhasil mengenainya. Bahkan demikian Panjawi meloncat menghindar, demikian kembali ia meloncat menyerang bayangan itu dengan pedangnya. Serangan Panjawi ternyata cukup cepat, sehingga bayangan itu tidak sempat menghindar. Dengan sebuah pisau belati panjang, ia menangkis pedang yang mengarah ke dadanya. Terdengarlah suatu dentangan nyaring. Dan ternyata kekuatan mereka seimbang.

Dalam pada itu, Mahesa Jenar segera mengenal bahwa bayangan yang meloncat dari atas pohon itu adalah Wadas Gunung.

Segera terjadilah pertempuran yang sengit antara Wadas Gunung dan Panjawi, sedang di lain pihak terjadi pula pertempuran yang hiruk-pikuk antara laskar Banyubiru melawan laskar-laskar penyerang.

Pada saat itu, pada saat mereka sedang sibuk mempertahankan hidup masing-masing, tiba-tiba mata Mahesa Jenar yang tajam dapat melihat bayangan lain yang datang mengendap-endap ke arah Arya Salaka yang masih saja mengawasi pertempuran itu dengan mata yang menyala-nyala. Ia sama sekali tidak berusaha untuk melarikan diri, sebab ia yakin bahwa Panjawi serta laskarnya akan dapat memenangkan pertempuran itu. Bahkan dengan girangnya ia melihat pertempuran itu seperti melihat tontonan yang sangat menarik.

Dengan berdebar-debar Mahesa Jenar mengikuti gerak gerik orang itu. Melihat caranya bergerak, Mahesa Jenar dapat meyakini bahwa ia pasti memiliki ilmu yang cukup tinggi. Karena itu Mahesa Jenar tidak mau menonton saja. Ia pun kemudian dengan mengendap-endap pula mendekati Arya Salaka dari arah lain. Untunglah bahwa ia lebih dahulu dapat melihat bayangan itu sehingga dengan demikian ia dapat lebih berhati-hati. Ternyata sampai sedemikian jauh bayangan itu belum mengetahui bahwa dari arah lain pula seseorang yang sedang mendekati Arya Salaka.

Setelah jarak mereka tidak lagi begitu jauh, terasa di dalam dada Mahesa Jenar jantungnya berdesir keras. Ia mengenal dengan pasti siapakah orang itu. Dan ia tahu pasti pula apakah yang akan dilakukannya terhadap Arya. Pedang yang terlalu besar dan panjang di tangan orang itu telah menambah pula keyakinan Mahesa Jenar.

Orang itu tidak lain adalah Ki Ageng Lembu Sora.

Pada kesempatan yang pendek itu, berputarlah otak Mahesa Jenar. Sebenarnya, pada saat itu ia mendapat kesempatan untuk membuat perhitungan dengan Lembu Sora, dengan alasan yang tepat. Tetapi mengingat pesan Paniling, apakah pada saat itu, orang-orang lain, seperti Uling Rawa pening, Sima Rodra, Lawa Ijo dan sebagainya tidak berada pula di tempat itu? Karena itu seharusnya ia tidak melawan mereka bersama-sama.

Mengingat hadirnya Wadas Gunung, maka kemungkinan hadirnya Lawa Ijo adalah besar sekali. Karena itu terjadi suatu pertentangan di dalam diri Mahesa Jenar.

Perasaannya ingin membawanya ke dalam suatu perhitungan jasmaniah yang menentukan. Tetapi pikirannya yang telah dipengaruhi oleh pertimbangan dan nasehat Paniling mengajaknya untuk berbuat lain.

Untunglah bahwa Mahesa Jenar dapat berpikir secara wajar, sehingga ditemukannya suatu pemecahan yang tidak terlalu berbahaya.

Pada saat itu, Lembu Sora telah dekat benar dengan Arya Salaka yang dengan tombak di tangan masih saja perhatiannya terikat pada pertempuran yang sengit antara Panjawi dan Wadas Gunung, serta laskar Banyubiru melawan laskar-laskar yang menyerangnya.

Ternyata Lembu Sora sudah tidak mau membuang waktu lagi. Meskipun mula-mula ia tampak ragu-ragu, tetapi akhirnya dengan suatu gerakan yang dahsyat ia meloncat sambil mengayunkan pedangnya. Meskipun demikian, karena anak yang berdiri di hadapannya itu, bagaimanapun juga adalah kemenakannya, maka pada saat pedangnya terayun deras, Lembu Sora memejamkan matanya.

Tetapi ia menjadi terkejut sekali ketika pedangnya sama sekali tak menyentuh apapun. Bahkan ia sendiri telah tertarik oleh kekuatannya serta ayunan pedangnya sehingga hampir saja ia tertelungkup. Pada saat Lembu Sora berusaha untuk menguasai dirinya, dilihatnya sebuah bayangan yang melayang menyusup regol samping dan hilang di dalam gelap malam.

Cepat Lembu Sora meloncat menyusulnya, tetapi ia sama sekali tidak dapat lagi melihat bayangan yang telah hilang bersama-sama dengan hilangnya Arya Salaka, beserta tombak tanda kebesaran Banyubiru, Kyai Bancak.

Pada saat yang tepat, ternyata Mahesa Jenar telah berhasil menarik Arya dan langsung dibawanya lari. Ia masih mempunyai kelebihan waktu beberapa saat dari Lembu Sora yang sedang memperbaiki keseimbangannya pada saat ia terbawa oleh pedangnya yang terayun deras. Karena itu Lembu Sora sudah tidak berhasil untuk dapat mengejarnya.

Pada saat itu, dada Lembu Sora terguncang luar biasa. Kegagalannya pada saat yang menentukan itu sangat menyakitkan hatinya. Hampir saja ia menjadi mata gelap dan menghancurkan Banyubiru serta seluruh isinya. Tetapi otaknya yang licin telah menyelamatkannya.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
188

CEPAT Lembu Sora menyelinap, dan dengan kudanya yang tangkas ia berlari kencang-kencang kembali ke Pamingit. Setelah dengan rahasia ia memberikan aba-aba kepada laskar gabungan itu untuk segera meninggalkan Banyubiru, diikuti pula oleh sekutu-sekutunya, tokoh-tokoh golongan hitam, untuk kemudian dengan laskar murni dari Pamingit.

Lembu Sora akan datang kembali, dengan dalih untuk memberi perlindungan kepada daerah perdikan, yang dikuasai oleh kakaknya, yang terpaksa tidak dapat menjalankan kewajibannya.

Arya Salaka yang merasa dirinya ditangkap oleh seseorang tanpa diketahui dari mana arahnya, menjadi terkejut sekali. Dengan gerak diluar kesadarannya ia menusuk orang yang menangkapnya dengan tombaknya, tetapi orang itu sangat tangkasnya, sehingga tombaknya malahan telah dirampasnya.

Dengan demikian Arya menjadi marah dan cemas. Segera ia meronta untuk melepaskan diri. Tetapi ketika ia hampir saja berteriak-teriak, didengarnya orang itu berkata, Jangan ribut Arya, kita bersembunyi untuk beberapa saat.

Arya terperanjat mendengar suara itu, suara yang telah dikenalnya. Paman Mahesa Jenar? desisnya.

Ya, jawab Mahesa Jenar singkat.

Mendengar jawaban itu, hati Arya Salaka segera menjadi sejuk seperti disiram embun. Ketakutan, kecemasan dan kebingungan yang menusuk-nusuk dadanya seketika itu lenyap seperti asap ditiup angin.

Beberapa saat kemudian, setelah Mahesa Jenar merasa aman dari kemungkinan dapat diketemukan oleh Lembu Sora dan laskarnya, segera memberhentikan langkahnya. Nafasnya berjalan cepat, serta jantungnya berdetakan karena perasaan-perasaan yang bercampur-baur di dalam kepalanya.

Setelah mereka berdua agak tenang, berkatalah Mahesa Jenar, Arya, tahukan kau siapakah yang telah menyerang Banyubiru?

Tidak Paman, jawab Arya.

Kapankah serangan itu mulai? tanya Mahesa Jenar pula.
Sejak matahari terbenam. Tiba-tiba saja terjadi kerusuhan-kerusuhan di dalam kota. Untunglah bahwa Kakek Wanamerta segera bertindak untuk mengatasi keributan.

Meskipun demikian ternyata para penyerang itu berkekuatan besar sekali, sehingga untuk keselamatan selanjutnya, Kakek Wanamerta merasa perlu atas persetujuan beberapa pemimpin yang lain serta atas persetujuan Ibu untuk mengirimkan permintaan bantuan ke Pamingit, kepada Paman Lembu Sora, sebab kalau kerusuhan itu berlarut-larut tidak dapat teratasi, maka Banyubiru akan semakin rusak.
Mendengar keterangan Arya Salaka itu, bergolaklah hati Mahesa Jenar. Ternyata para pemimpin Banyubiru sama sekali masih belum mengetahui bahwa sumber dari segala bencana itu justru Lembu Sora sendiri. Puncak dari kejahatannya adalah suatu usaha untuk membinasakan Arya Salaka. Padahal saat itu, para pemimpin Banyubiru datang minta perlindungan kepadanya.
Arya…, kata Mahesa Jenar kemudian, Ketahuilah bahwa jiwamu terancam. Karena itu sebaiknya kau bersembunyi untuk sementara waktu.
Mahesa Jenar tidak meneruskan kata-katanya. Ia menjadi ragu, apakah sebaiknya ia harus mengatakan terus terang tentang apa yang terjadi sebenarnya, ataukah ia harus berkata lain.
Arya Salaka menjadi keheran-heranan mendengar kata-kata Mahesa Jenar. Apakah kepentingan orang-orang kita itu membunuhnya? Tetapi baru saja, apa yang telah terjadi, agaknya memang benar. Beberapa orang telah mengejar-ngejar Arya Salaka, dengan senjata terhunus.
Arya menarik nafas panjang. Otaknya yang masih belum cukup masak itu belum dapat menangkap masalah-masalah yang terlalu sulit. Karena itu ia tidak berpikir lebih lanjut. Apalagi sekarang ia sudah merasa bahwa dirinya telah mendapat perlindungan.
Ketika melihat wajah Arya yang seolah-olah masih bersih dari segala macam prasangka, Mahesa Jenar tidak sampai hati untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi atas dirinya, oleh karena kekhianatan pamannya.
Dengan melihat kenyataan itu, ada kemungkinan timbul suatu luka yang berbahaya pada jiwa kanak-kanaknya. Mungkin ia akan kehilangan seluruh kepercayaan pada seseorang. Apalagi orang lain, sedang pamannya sendiri telah melakukan kejahatan terhadap dirinya.
Karena itu, Mahesa Jenar harus berkata lain kepada Arya Salaka, meskipun maksudnya adalah sama. Mengajak Arya Salaka untuk sementara bersembunyi. Arya…, mungkin orang-orang jahat sedang berusaha untuk menangkapmu. Sebab kau sekarang adalah penjabat kepala daerah perdikan Banyubiru. Dengan menangkap kau, orang-orang itu akan mengharapkan keuntungan. Mungkin kau akan dijadikan tanggungan atas suatu pemerasan terhadap Banyubiru. Tetapi juga ada kemungkinan yang lebih berbahaya lagi bagi dirimu, yaitu menghendaki jiwamu, kata Mahesa Jenar.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
189

ARYA SALAKA mengangguk-angguk, tetapi jawabannya sangat memusingkan Mahesa Jenar. Aku tidak perlu takut, Paman, sebab sebentar lagi Paman Lembu Sora pasti akan datang. Dengan adanya Paman Lembu Sora beserta laskarnya serta hadirnya Paman Mahesa Jenar di Banyubiru, maka aku kira tak akan ada seorangpun lagi yang berani mengganggu tanah kami.
Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Ia mendapat kesulitan untuk memberi penjelasan lebih lanjut. Justru adanya Lembu Sora di Banyubiru itulah maka bahaya dapat datang setiap saat bagi Arya Salaka.
Setelah berpikir beberapa saat berkatalah Mahesa Jenar, Arya, kalau mereka menyerang dengan terang-terangan maka laskar Banyubiru dan Pamingit pasti akan dapat menghalaunya, tetapi untuk menangkap atau berbuat hal-hal jahat lainnya terhadapmu, adalah seribu satu cara yang dapat ditempuh. Karena itu menurut pertimbanganku, sebaiknya kau bersembunyi untuk sementara. Selama itu, selama keadaan belum memungkinkan, kau tidak perlu menampakkan diri terhadap siapapun. Aku akan berusaha untuk menghubungi pemimpin-pemimpin Banyubiru, selama kau di dalam persembunyian. Selama itu, kau sempat belajar beberapa hal yang perlu bagi keselamatanmu. Bukankah ayahmu minta kepadaku untuk melatihmu dalam olah kanuragan?
Mendengar kata-kata- Mahesa Jenar itu, serta kesempatan baginya untuk memperdalam pengetahuannya dalam berbagai ilmu, Arya menjadi gembira. Maka jawabnya, Baiklah Paman…, kalau Paman mempertimbangkan demikian. Tetapi Ibu pasti akan selalu mencari aku dan mencemaskan keselamatanku.

Bagus Arya, pada suatu saat kau akan kembali ke tanah ini, dan kau akan memelihara tanah ini sebagai tanah pusaka. Kau harus menjadikan tanah ini tanah harapan bagi masa depan. Bukankah ayahmu selalu mengharap kau menjadi seorang pahlawan?

Arya mengangguk-anggukkan kepalanya. Matanya menjadi cerah seperti bintang pagi yang berkilau-kilau, karena kebesaran hatinya.
Kepada ibumu, aku akan selalu berusaha menyampaikan setiap berita tentang dirimu, lanjut Mahesa Jenar.
Sekali lagi Arya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sesaat kemudian keadaan menjadi sepi. Dengan pancainderanya yang tajam, Mahesa Jenar sedang mengamati keadaan.
Maka setelah menurut pertimbangan Mahesa Jenar, sudah tidak ada lagi bahaya yang mengancam, serta hiruk-pikuk pertempuran sudah tidak terdengar lagi, berkatalah ia kepada Arya, Arya…, agaknya keadaan telah bertambah baik. Meskipun demikian, kau harus berusaha untuk tidak menampakkan diri. Baik kepada para pemimpin Banyubiru maupun kepada ibu serta rakyatmu. Siapa tahu bahwa masih ada musuh-musuh yang bersembunyi, yang akan dapat menjebak atau menyerang kau dari jarak jauh. Karena itu marilah untuk sementara kita tinggalkan tanah ini dengan suatu keyakinan bahwa kau pasti akan kembali dalam keadaan aman dan sentosa.

Arya Salaka tidak menjawab kata-kata Mahesa Jenar. Wajahnya jadi tampak suram. Bagaimanapun juga, untuk meninggalkan tanah kelahiran, kampung halaman, dimana setiap hari ia bermain-main, dimana setiap hari ia meneguk airnya, serta segala-galanya yang ia cintai, adalah berat sekali bagi seorang anak seumur Arya Salaka.
Agaknya Mahesa Jenar dapat menebak perasaan Arya, maka sambungnya, Lupakanlah semuanya, Arya. Kau hanya pergi untuk sementara, dengan suatu kepastian bahwa kau akan kembali.

Kembali Arya mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun wajahnya menjadi bertambah suram. Mudah-mudahan Ibu selamat. Serta mudah-mudahan Ibu segera mengetahui bahwa akupun selamat.


Aku akan segera berusaha untuk memberitahukan itu, Arya,
potong Mahesa Jenar.
Tetapi pohon jeruk yang aku pelihara dan aku siram setiap hari itu kini sudah mulai berbunga, jawab Arya.
Mahesa Jenar menjadi terharu mendengar kata-kata Arya yang memancar dari hatinya yang tulus. Tetapi yang lebih merisaukan hati Mahesa Jenar adalah, bahwa besok Lembu Sora akan datang untuk melindungi Banyubiru serta berusaha menelan tanah serta segala isinya.
Tetapi bagaimanapun, menyelamatkan Arya adalah tugas yang pertama-tama harus dilakukan. Sebab Arya adalah satu-satunya pewaris tanah perdikan Banyubiru, yang justru karena itulah maka jiwanya selalu terancam. Karena itu, Mahesa Jenar menganggap perlu untuk segera meninggalkan daerah ini sebelum Lembu Sora datang dan memerintahkan untuk mengaduk seluruh sudut Banyubiru. Pasti Lembu Sora akan berbuat demikian, dengan alasan untuk keselamatan Arya Salaka. Tetapi tidak mustahil bahwa kepada laskar Pamingit ia memerintahkan untuk menemukan Arya dalam keadaan mati.
Bukankah dengan demikian Ki Ageng Lembu Sora bebas dari segala prasangka? Sedang apabila yang menemukan laskar Banyubiru serta membawa Arya kembali, umurnya pasti tidak akan panjang pula.
Mendapat pertimbangan itu maka segera Mahesa Jenar mengajak Arya untuk berangkat. Arya, kita jangan menunggu terlampau lama. Marilah kita berangkat selagi kesempatan ada. Siapa tahu bahwa keadaan akan berkembang ke arah yang tidak kita harapkan.
Marilah Paman, jawab Arya dengan wajah sayu.
Mahesa Jenar menjadi tambah terharu ketika didengarnya Arya mengatupkan giginya rapat-rapat. Ternyata anak itu sedang berusaha untuk membendung perasaan harunya meninggalkan kampung halaman. Namun bagaimanapun juga tampaklah bahwa matanya menjadi basah oleh air mata. Mata seorang anak yang masih seharusnya mendapat kasih sayang ayah-ibunya. Tetapi karena keadaan, ia harus berpisah dengan ayah-ibu yang ia cintai.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
190

PADA saat itu bulan yang tinggal seperempat bagian telah muncul di langit sebelah timur. Cahayanya yang merah tembaga tersebar meremangi seluruh pegunungan Telamaya yang sepi, namun mengerikan. Sebab setiap hati dari penduduk Banyubiru diselubungi oleh kecemasan dan ketakutan. Hilangnya Gajah Sora dari daerah ini, ternyata sangat mempengaruhi semangat mereka.
Dalam keremangan bulan yang samar-samar itu, Mahesa Jenar menggandeng Arya berjalan dengan sangat hati-hati menyusup semak-semak untuk menjauhi kota.
Kita pergi ke mana Paman? tanya Arya tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan itu, Mahesa Jenar menjadi agak bingung. Ia sendiri belum pernah berpikir ke mana Arya akan diajak pergi. Tiba-tiba ia teringat kepada suatu daerah terpencil yang dicikal-bakali oleh Ki Paniling dan Darba. Yaitu daerah di hutan Pudak Pungkuran. Ia mengharapkan Ki Paniling akan mengizinkan ia tinggal untuk sementara bersama Arya di sana. Maka kemudian jawabnya, Kita pergi ke Pudak Pungkuran, Arya.
Pudak Pungkuran? ulang Arya. Ia belum pernah mendengar sama sekali daerah itu. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.
Sebenarnya Mahesa Jenar ingin membawa Arya untuk pergi sejauh-jauhnya. Sebab menurut perhitungan Arya, semakin jauh dari Banyubiru, jiwa Arya pasti akan semakin aman. Tetapi untuk sementara ia tetap terikat kepada Banyubiru, kepada Rawa Pening. Sebab meskipun agaknya sudah semakin hambar, namun pertemuan akhir tahun dari golongan hitam akan tetap dilaksanakan.
Kemudian setelah itu Mahesa Jenar dan Arya Salaka tidak bercakap-cakap lagi. Mereka sedang disibukkan oleh pikiran masing-masing. Pikiran tentang keadaan kini serta masa datang. Sedangkan pikiran Mahesa Jenar diganggu oleh Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Bagaimanakah kira-kira yang akan terjadi andaikata kedua keris itu untuk seterusnya tidak dapat diketemukan? Tidakkah ada seseorang yang kelak dapat melangsungkan kejayaan Demak? Sebab menurut kepercayaan, siapa yang kuat memiliki kedua keris itulah, yang kuat pula menerima wahyu kraton.
Pikiran-pikiran Mahesa Jenar dirisaukan pula oleh kenyataan adanya dua garis keturunan yang sama-sama berhak atas tahta. Yaitu putra-putra Sultan Demak sekarang, sedangkan yang lain adalah putra almarhum Sekar Seda Lepen yang dalam keadaan belum dewasa telah mewarisi Kadipaten Jipang, bernama Penangsang.
Penangsang sebenarnya memiliki kesempatan yang besar untuk menduduki tahta, seandainya ayahnya tak terbunuh. Meskipun demikian tidak mustahil kalau pada suatu saat ia akan menuntut pula haknya serta mengadakan perhitungan dengan pembunuh ayahnya. Pada saat yang demikianlah akan terjadi suatu perjuangan yang hebat.

Kalau mereka sama-sama percaya bahwa Nagasasra dan Sabuk Inten adalah sumber kekuatan untuk menerima wahyu kraton, maka perjuangan untuk mendapatkan kedua pusaka itu pun akan menjadi bertambah ramai.
Tiba-tiba Mahesa Jenar tersadar dari angan- angannya oleh suara derap kuda yang mendatanginya. Segera ia menghentikan langkahnya dan dengan saksama memperhatikan suara itu. Ternyata suara itu semakin lama semakin dekat tepat ke arahnya, sepanjang jalan hutan yang sempit. Karena itu, segera ia menarik Arya untuk segera bersembunyi, sebab ia masih belum tahu siapakah para penunggangnya.
Beberapa saat kemudian terdengar derap itu menjadi tidak secepat tadi. Agaknya jalan kuda itu diperlambat ketika menyusup jalan sempit serta banyak rintangan salur-salur pepohonan liar. Ternyata penunggang kuda itu lebih dari 3 atau 4 orang.
Mahesa Jenar dan Arya Salaka yang bersembunyi di dalam semak, segera menahan nafas ketika kuda-kuda itu hampir lewat di depannya. Tiba-tiba terdengar salah seorang berkata, Kakang, ke mana kita akan mencari?

Entahlah, jawab yang lain. Mencari seseorang di daerah yang seluas ini adalah sulit sekali.


Tidak mungkinkah anak itu dilarikan ke Demak untuk melaporkan segala sesuatu yang terjadi kepada Sultan?
kata yang lain pula.
Telah diperlihatkan untuk memotong jalan.
Dan itu tak mungkin dilakukan, sahut yang lain lagi. Kalau orang yang melarikan anak itu bukan orang yang bodoh, ia pasti tidak akan pergi ke Demak. Sebab tidak akan ada gunanya. Kecuali kalau dapat ditunjukkan bukti-buktinya, atau yang berkepentingan tertangkap pada saat itu. Apalagi Sultan sedang murka kepada Gajah Sora.
Setelah itu, tak terdengar lagi suara mereka. Sedang derap kuda itu semakin lama terdengar semakin jauh dan kemudian menghilang.
Ketika sudah tidak ada tanda-tanda yang membahayakan lagi, segera Mahesa Jenar bangkit dan menggandeng Arya untuk berjalan kembali. Mahesa Jenar agak terkejut ketika dirasanya tangan Arya gemetar. Segera ia dapat menduga perasaan anak itu. Meskipun ada juga perasaan takut, tetapi pasti Arya menjadi marah sekali mendengar percakapan orang-orang itu.
Ketika baru tiga-empat langkah mereka berjalan, mendadak Mahesa Jenar menghentikan langkahnya. Ia mendapat suatu pikiran bahwa jalan ini pasti merupakan jalan yang berbahaya. Orang-orang tadi dapat dengan segera kembali dan mungkin ada orang lain yang mencari lewat jalan ini pula. Karena itu segera ia mempertimbangkan untuk mengambil jalan lain. Ia tidak mau menanggung akibat tertangkapnya Arya, apabila ia tidak dapat melawan orang-orang yang mencarinya.
Arya… kata Mahesa Jenar kemudian, Ternyata jalan ini adalah jalan yang berbahaya. Karena itu marilah kita ambil jalan lain.
Arya tidak menjawab, tetapi ia hanya menganggukkan kepalanya.
Karena pertimbangan itu, segera Mahesa Jenar dan Arya Salaka membelok menyusup hutan untuk mengambil jalan lain.

 

191

MEREKA berjalan dengan agak tergesa-gesa. Mahesa Jenar mengharap untuk dapat segera sampai ke Pudak Pungkuran dan menitipkan Arya di sana. Setelah itu ia akan berusaha dengan bersembunyi menemui Wanamerta dan ibu Arya, untuk membeberkan peranan Lembu Sora yang sebenarnya.
Ternyata Arya pun adalah anak yang betah berjalan. Meskipun tampaknya ia agak lelah, ketika Mahesa Jenar mengajaknya beristirahat anak itu menolak. Maka mereka pun berjalan terus di dalam gelapnya malam.
Mahesa Jenar memang pernah pergi ke Pudak Pungkuran. Dan ia telah pula mengenal jalan dari tempat itu ke Banyubiru. Tetapi sekarang untuk menghindari bahaya, ia menempuh jalan lain. Jalan yang belum pernah dilewatinya. Karena itu ia menjadi agak bingung dan kesulitan untuk menemukan arah yang tepat di dalam gelap serta di dalam hutan yang belum pernah dijamahnya.
Maka kemudian ketika fajar menyingsing, serta melemparkan warna kemerahan ke segenap penjuru, insyaflah Mahesa Jenar bahwa jalan yang ditempuh adalah jalan yang sama sekali tidak mengarah ke Pudak Pungkuran.
Karena itu dengan hati berdebar-debar ia berkata, Arya.., agaknya aku telah kehilangan jurusan untuk mencapai Pudak Pungkuran.
Arya memandang Mahesa Jenar dengan pandangan yang tidak mengerti. Lalu ke mana kita pergi, Paman?
Mahesa Jenar menarik nafas. Dengan hilangnya arah Pudak Pungkuran, ia tidak lagi mempunyai suatu tujuan tertentu lagi. Karena itu ia menjawab, Arya, tujuan bukanlah hal yang penting bagi kita. Kemanapun kita akan pergi, adalah sama saja. Sebab akhirnya kita akan kembali lagi ke Banyubiru. Karena itu, jangan dirisaukan tujuan kita.
Arya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi badannya sudah bertambah letih. Meskipun demikian Arya masih belum mau untuk beristirahat. Karena itu kembali mereka berjalan menyusur hutan yang tidak begitu lebat. Meskipun perlahan-lahan, namun mereka setapak demi setapak tetap maju.
Ketika matahari sudah mencapai ujung pepohonan, hutan yang ditempuh itu sudah semakin menipis. Sejenak kemudian tuntaslah hutan itu. Mahesa Jenar dan Arya Salaka segera menempuh padang rumput yang tidak begitu luas untuk segera sampai ke daerah yang didiami orang.
Di sinilah mereka beristirahat. Orang-orang yang membangun daerah itu menjadi pedesaan, ternyata adalah orang-orang yang ramah dan baik hati. Yang menerima Mahesa Jenar dan Arya Salaka sebagai seorang perantau beserta anaknya, dengan senang hati.
Meskipun demikian Mahesa Jenar tidak dapat untuk seterusnya menetap di tempat itu, sebab menurut pertimbangannya, tempat itu masih terlalu dekat dengan Banyubiru.

Karena itu ketika ia beserta Arya telah beristirahat satu malam, mereka minta izin kepada penduduk desa itu untuk segera meneruskan perjalanan. Terpaksa Mahesa Jenar membohongi orang-orang desa itu, dengan mengatakan arah yang bertentangan dengan arah yang sebenarnya hendak ditempuh, untuk menghindari orang-orang yang mencari mereka, kalau-kalau menanyakan kepada penduduk, apabila mereka sampai di tempat itu.
Pada hari berikutnya Mahesa Jenar sampai pula pada sebuah desa yang lain.

Penduduk desa ini terdiri dari orang-orang yang baik hati dan ramah pula. Mereka menerima Mahesa Jenar dengan senang hati, serta dengan gembira mereka menerima Mahesa Jenar sebagai warga baru di desa itu.
Di daerah ini Mahesa Jenar merasa, bahwa keamanan Arya telah dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu ia pun menyatakan diri sebagai keluarga baru serta dengan bekerja keras ia pun segera membangun perumahan serta menebas hutan untuk tanah pertanian, sebagaimana dilakukan oleh setiap pendatang.
Di tempat kediamannya yang baru itu Mahesa Jenar dianggap tidak lebih dari seorang petani biasa. Seorang yang seperti kebanyakan penduduk di desa itu, yang datang untuk sekadar dapat memperbaiki nasibnya dengan mengolah tanah yang sedikit lebih subur dibanding daerah mereka semula.
Demikianlah Mahesa Jenar dan Arya Salaka telah memulai dengan suatu penghidupan baru, sebagai seorang petani yang bekerja untuk mempertahankan hidupnya. Setiap pagi mereka pergi ke ladang, menggarap tanah seperti yang dikerjakan oleh orang lain pula.
Tetapi disamping itu, yang tak seorang pun mengetahuinya adalah, di dalam setiap kesempatan, terutama apabila matahari telah terbenam, Mahesa Jenar dengan tekunnya menuntun Arya dalam berbagai ilmu. Tidak saja olah kanuragan, tetapi juga tata pergaulan, kesusasteraan dan sebagainya.
Lebih dari itu, Mahesa Jenar juga selalu memberi petunjuk-petunjuk tentang keluhuran budi dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, juga sedikit mengenai ilmu keprajuritan dan siasat.
Sedikit demi sedikit, namun pasti, Arya setiap saat tumbuh menjadi seorang pemuda yang perkasa serta memiliki berbagai macam pengetahuan.
Sementara itu terjadilah berbagai perubahan di Banyubiru. Pada malam Arya dilarikan oleh Mahesa Jenar, Wanamerta telah mengutus beberapa orang untuk minta perlindungan kepada Ki Ageng Lembu Sora. Ketika utusan Wanamerta sampai di Pamingit, Lembu Sora justru baru berada di Banyubiru, sehingga utusan itu terpaksa menunggu untuk beberapa lama. Baru beberapa saat kemudian Ki Ageng Lembu Sora dengan tergesa-gesa datang kembali. Tentu saja ia sama sekali tidak mengatakan bahwa ia baru datang dari Banyubiru.
Mendengar permintaan utusan Wanamerta itu, hati Lembu Sora menjadi gembira sekali. Tanpa berpikir lagi segera ia menyanggupinya. Pada saat itu pula Ki Ageng Lembu Sora segera mengumpulkan pasukannya, pasukan murni dari Pamingit, yang dianggapnya pilihan serta dapat dipercaya. Ia sendiri kemudian berangkat memimpin orang-orangnya untuk melindungi perdikan Banyubiru. Tetapi ketika pasukan itu sampai, keadaan telah reda. Para penyerang telah menarik diri.
 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
192

DALAM pertemuan yang diadakan oleh Lembu Sora dengan para pemimpin Banyubiru, karena kelincahan Lembu Sora, maka dicapai suatu persetujuan bahwa selama Gajah Sora belum kembali, serta Arya Salaka belum diketemukan, Banyubiru langsung berada di bawah pemerintahan Lembu Sora di Pamingit. Tetapi untuk kelancaran tata pemerintahan, Lembu Sora diberi wewenang untuk menempatkan beberapa orangnya di Banyubiru.

Inilah titik permulaan dari kemunduran secara menyeluruh bagi Banyubiru. Sebenarnya perjanjian perlindungan itu tidak menyenangkan hati beberapa orang diantara para pemimpin Banyubiru. Wanamerta sendiri akhirnya menyesal pula. Apalagi pemuda-pemuda yang mempunyai cita-cita buat masa depannya, yaitu Bantaran dan Panjawi.

Untuk sementara mereka tidak berbuat apa-apa. Sebab mereka tahu bahwa bagaimanapun Lembu Sora adalah seorang yang perkasa. Yang memiliki ilmu seperti yang dimiliki oleh kakaknya, meskipun dalam tingkatan yang lebih rendah.

Dalam pada itu, diam-diam Lembu Sora selalu berusaha untuk menemukan Arya. Kepada orang-orang Banyubiru, ia memerintahkan mencari anak itu sebagai pewaris tanah perdikan, sedang kepada orang-orangnya yang dipercaya, diperintahkannya untuk menemukan Arya dan membunuhnya. Sebab selama anak itu masih hidup, rasa-rasanya masih saja ada duri di dalam dagingnya. Karena apabila tiba-tiba Arya muncul, maka akan terjadilah suatu perjuangan yang lebih berat lagi. Apalagi Arya membawa tanda kebesaran Banyubiru, yaitu tombak pendek yang bernama Kyai Bancak, sebuah pusaka yang menjadi kebanggaan Gajah Sora. Itulah sebabnya ia bekerja mati-matian untuk membinasakannya.

Disamping Arya Salaka, masih ada pula hal-hal yang sangat merisaukan Ki Ageng Lembu Sora, yaitu pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Ia sadar sepenuhnya, apabila pada suatu saat ada kemungkinan ia berhadapan dengan sekutu-sekutunya, tokoh-tokoh golongan hitam, sebagai lawan yang akan saling membinasakan. Pertolongan ayahnya, Ki Ageng Sora Dipayana, belum tentu dapat diharapkan. Apalagi kalau ayahnya itu mengetahui bagaimana ia telah menyingkirkan kakaknya, Ki Ageng Gajah Sora.

Karena itu, usahanya yang pertama adalah memperkuat diri. Ia selalu berusaha memperbesar pasukannya dengan biaya yang besar, tanpa mempedulikan tata penghidupan rakyat yang menjadi semakin sempit. Cita-citanya tidak hanya menguasai seluruh daerah perdikan yang dulu berada di bawah pemerintahan ayahnya, tetapi kelak bila ia berhasil mendapat Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, maka kekuatan itu sangat diperlukan. Dengan kedua pusaka itu ia akan mempunyai kemungkinan terbesar menerima wahyu kraton. Dengan demikian ia akan dengan mudahnya dapat menghancurkan kekuatan Demak.

Tetapi meskipun demikian ia masih selalu berusaha bahwa tokoh-tokoh golongan hitam akan dapat dijadikan landasan kekuatan pula, sesuai dengan kepercayaan mereka, bahwa barang siapa yang telah memiliki kedua keris pusaka itu akan dianggap sebagai pemimpin mereka. Itulah sebabnya maka Lembu Sora selalu banyak memberi keleluasaan bergerak kepada sekutu-sekutunya, di daerahnya sendiri serta daerah perlindungannya.

Disamping itu, Lembu Sora juga selalu berusaha mencari Arya Salaka, sekaligus memerintahkan untuk mendapatkan keterangan mengenai Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Sementara itu waktu berjalan terus tanpa henti-hentinya. Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Maka semakin dekatlah waktu yang akan diselenggarakan tokoh-tokoh hitam untuk mendapatkan seseorang yang dapat menjadi pemimpin mereka. Tetapi rasanya nafsu mereka sudah jauh berkurang sejak mereka mengetahui dengan pasti bahwa keris-keris pusaka yang mereka harapkan telah lenyap serta jatuh ke tangan seseorang yang tak dikenal.

Demikianlah akhirnya bulan terakhir itu datang juga. Pada saat itu Mahesa Jenar kemudian bersedia pula untuk menyaksikan pertemuan itu, meskipun ia sadar bahwa untuk melihatnya pasti akan sangat sulit. Karena itu ia harus berangkat beberapa hari sebelum purnama naik, untuk mendapatkan keterangan di mana pertemuan itu berlangsung.

Menurut keterangan yang pernah didengar Mahesa Jenar, dalam pertemuan itu Uling Putih serta Uling Kuning akan bertindak sebagai tuan rumah. Karena itu menurut perkiraan Mahesa Jenar, pertemuan itu akan dilangsungkan di sekitar daerah Rawa Pening. Mahesa Jenar juga pernah mendapat petunjuk tentang sarang Uling itu, yaitu di dalam rimba di ujung rawa yang menjorok ke utara.

Mahesa Jenar semula mengharap bahwa menyaksikan pertemuan itu ia akan dapat mengukur kekuatan tokoh-tokoh golongan hitam. Tetapi sebenarnya sekarang tanpa menyaksikan pun ia sudah mendapat gambaran jelas tentang kekuatan mereka, bahkan tentang orang-orang angkatan tua yang berdiri di belakang mereka.
Tetapi bagaimanapun, Mahesa Jenar tetap berkeinginan menyaksikan pertemuan itu.

 

 

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
193

SETELAH mendekati waktu yang ditentukan, Mahesa Jenar pun segera mempersiapkan diri. Sebenarnya yang agak memusingkan kepalanya, adalah Arya Salaka. Ia sebenarnya agak keberatan untuk meninggalkan anak itu. Tetapi sebaliknya, membawa Arya adalah sangat berbahaya pula. Tetapi akhirnya Mahesa Jenar menganggap bahwa lebih aman bagi Arya, serta lebih ringan pula tanggungjawabnya apabila Arya ditinggal saja di rumah, dengan pesan agar anak itu tidak membahayakan dirinya sendiri. Sebaiknya selama Mahesa Jenar pergi, ia tidak usah pergi keluar rumah untuk menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan.
Demikianlah maka pada suatu hari, sepekan sebelum purnama naik, Mahesa Jenar berangkat untuk melakukan suatu pekerjaan yang berbahaya, setelah ia menitipkan Arya kepada penduduk, serta pamit kepada mereka itu, bahwa ia akan mengunjungi orang tuanya di daerahnya yang lama.
Dengan memakai pakaiannya yang kumal, Mahesa Jenar mengharap bahwa dirinya tidak segera dapat dikenali. Karena itu pula ia selalu menghindari setiap pertemuan dengan orang-orang Banyubiru. Apabila kehadirannya sampai diketahui orang, maka usahanya akan menjadi terhalang. Apalagi kalau hal itu sampai terdengar Ki Ageng Lembu Sora, yang pasti menduganya telah lenyap, ketika ia tergelincir ke dalam jurang.
Tetapi sebelum itu Mahesa Jenar masih harus berusaha untuk bertemu dengan seseorang yang telah berjanji kepadanya untuk bersama-sama ke Rawa Pening, yaitu Ki Dalang Mantingan.
Usahanya mula-mula adalah mencari tempat yang kira-kira akan dipergunakan untuk mengadakan pertemuan itu. Hampir setiap saat ia bersembunyi di semak-semak di sekitar daerah Rawa Pening yang menjorok ke utara.
Meskipun di daerah itu nampaknya tidak ada jalan, tetapi Mahesa Jenar dapat mengenal bahwa ada sebuah lorong rahasia yang sengaja dikaburkan dengan semak-semak dan pepohonan kecil lainnya. Tetapi ia sama sekali belum berani untuk memasuki lorong itu, sebelum mendapat beberapa kenyataan yang tidak terlalu membahayakan.
Pada hari kedua, Mahesa Jenar melihat seseorang berkuda memasuki lorong itu. Orang itu bertubuh tegap kekar. Matanya bersinar-sinar. Hidungnya melengkung, serta dagunya jauh menggantung di bawah mulutnya. Menilik wajahnya, Mahesa Jenar menduga bahwa orang yang demikian itu, dapat berbuat sesuatu tanpa tanggung-tanggung. Ia dapat menjadi kejam seperti iblis.
Melihat orang itu lewat, Mahesa Jenar menahan nafas. Ia masih belum pernah mengenalnya. Di pinggang orang itu tergantung sebuah pedang. Meskipun demikian, Mahesa Jenar dapat mengenal bahwa orang itu pasti anggota gerombolan Uling Rawa Pening, karena orang itu mengenakan ikat pinggang kulit lebar, bergambar sepasang Uling yang saling membelit.
Hal itu bagi Mahesa Jenar adalah sangat menguntungkan. Ketika suara derap kudanya sudah tak terdengar lagi, dengan hati-hati sekali Mahesa Jenar keluar dari persembunyiannya, untuk kemudian menyusuri lorong itu, mengikuti bekas telapak kaki kuda yang baru saja lewat.
Ia mengharap dengan demikian akan dapat mendekati, setidaknya mendekati sarang gerombolan Uling Rawa Pening.
Ternyata bahwa lorong itu sengaja dibuat berkelok-kelok. Beberapa kali Mahesa Jenar menganggap bahwa seterusnya daerah itu sangat sulit dilewati, namun dengan menerobos semak yang tipis saja, ia sampai pada tempat yang tidak lagi ada kesukaran-kesukaran untuk dilaluinya.
Demikianlah Mahesa Jenar dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan selalu mengikuti jejak kuda yang dinaiki oleh orang yang belum dikenalnya.
Tiba-tiba Mahesa Jenar mendengar tidak jauh di hadapannya lamat-lamat suara orang tertawa. Cepat ia menghentikan langkahnya, dan segera menyelinap ke semak-semak. Sesaat kemudian suara tertawa itu berhenti, tetapi kemudian terdengar orang bercakap-cakap perlahan-lahan. Karena itu Mahesa Jenar tidak dapat menangkap isi percakapan mereka.
Dengan sangat hati-hati, Mahesa Jenar berusaha untuk mendekati orang yang sedang bercakap-cakap itu. Tetapi ketika ia telah menjadi bertambah dekat, suara percakapan itu telah berhenti. Meskipun demikian Mahesa Jenar masih mendengar salah seorang berkata, Silahkan Kakang Sri Gunting…, kudamu telah lelah sekali.
Dengan demikian tahulah Mahesa Jenar, bahwa orang yang berkuda itu adalah Sri Gunting. Orang pertama di dalam gerombolan Uling Rawa Pening sesudah sepasang Uling itu sendiri.
Sejenak kemudian, terdengar kembali suara langkah kuda Sri Gunting disusul dengan langkah kuda lain ke arah yang berlawanan. Sesaat kemudian Mahesa Jenar melihat orang lain lewat di depannya. Orang itu pernah dikenalnya beberapa waktu yang lalu.

Ia adalah Yuyu Rumpung, yang bersama-sama dengan Gemak Paron berusaha untuk mencuri kedua pusaka kraton di Bukit Tidar.
Mahesa Jenar sama sekali tidak mempedulikan orang itu lewat. Tetapi dengan demikian ia harus semakin hati-hati. Ternyata lorong itu memang merupakan pintu masuk ke sarang Uling Rawa Pening. Pantaslah kalau jalan itu selalu dirondai dengan cermat.
Beberapa langkah kemudian, kembali Mahesa Jenar mendengar suara orang bercakap-cakap. Juga perlahan-lahan. Tetapi agaknya lebih dari dua orang. Ketika Mahesa Jenar berhasil mengintip dari jarak yang agak jauh, dilihatnya Sri Gunting sedang bercakap-cakap dengan dua-tiga orang yang bersenjatakan tombak. Tetapi juga kali ini ia tidak mendengar isi percakapan mereka, sampai akhirnya Sri Gunting meneruskan perjalanannya.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
194

SAMPAI di situ, Mahesa Jenar tidak berani lagi menuruti jejak kuda itu secara langsung. Sebab kemungkinan untuk bertemu orang-orang gerombolan Uling akan bertambah besar. Meskipun andaikata ia dapat memenangkan perkelahian melawan tiga-empat orang, namun dengan demikian kedatangannya sudah diketahui lebih dahulu. Karena itu Mahesa Jenar berusaha untuk mengikuti kuda Sri Gunting dari semak-semak di sekitar lorong itu, meskipun kadang-kadang ia harus merangkak-rangkak menerobos pohon-pohon liar serta sulur-sulur dan tumbuh-tumbuhan merambat lainnya.
Dugaan Mahesa Jenar bahwa penjagaan semakin lama semakin rapat ternyata benar. Beberapa langkah kemudian kembali terdapat beberapa orang penjaga. Dengan demikian, Mahesa Jenar mengharap bahwa tidak lama lagi ia akan sampai ke sarang sepasang Uling Rawa Pening.
Ketika Mahesa Jenar maju lagi, tiba-tiba sampailah ia pada daerah tumbuh-tumbuhan yang rapat sekali. Pohon-pohon berduri tumbuh rapat diseling dengan tanaman-tanaman menjalar dan beberapa tanaman yang sangat gatal apabila menyinggung tubuh, misalnya pohon rawe, serta pohon-pohon yang mengandung lugut dari jenis bambu.
Melihat kerapatan pepohonan itu, Mahesa Jenar tertegun sebentar. Ketika ia memandang ke arah Sri Gunting, yang juga maju dengan perlahan-lahan di atas kudanya, dilihatnya ia membelok menyusur tanaman-tanaman berduri itu ke arah timur. Perlahan-lahan dan sangat hati-hati Mahesa Jenar berusaha untuk mengikutinya.
Beberapa langkah kemudian tampaklah sebuah pohon yang tidak terlalu tinggi, tetapi daunnya sangat lebat. Dibalik pohon itulah Mahesa Jenar melihat Sri Gunting menghilang. Tahulah kini Mahesa Jenar bahwa pohon-pohon yang tumbuh rapat sekali itu, memang sengaja diatur demikian, sehingga merupakan benteng hidup yang mengelilingi pusat sarang Uling Rawa Pening. Gerombolan yang mempunyai nama tidak kalah menggetarkan daripada nama Lawa Ijo, yang ditakuti di daerah pantai utara.
Sampai di situ, Mahesa Jenar terpaksa tidak dapat mengikuti Sri Gunting untuk seterusnya. Ia tidak mau tergesa-gesa menyusup pohon yang rimbun itu, sebab ia masih belum mengetahui apakah kira-kira yang berada di belakangnya. Mungkin setelah menyusup pohon itu, langsung akan memasuki sebuah gardu perondan, atau malah sampai ke barak Uling sendiri. Karena itu, Mahesa Jenar terpaksa berhenti di semak-semak sambil beristirahat. Ia mencoba memutar otak, bagaimana dapat memasuki, setidak-tidaknya mengetahui keadaan di dalam sarang itu.
Akhirnya Mahesa Jenar menemukan cara juga. Meskipun ia tidak pasti akan dapat masuk, tetapi ia akan mendapat gambaran tentang keadaan dibalik benteng tanaman itu. Sebagai seorang prajurit, ia pernah mendapat latihan panjat-memanjat, menggantung, dan berayun dengan tali yang cukup tinggi. Dengan hati-hati, Mahesa Jenar pun segera memanjat. Dari pohon yang tidak terlalu besar, menjalar ke pohon lain, sehingga akhirnya Mahesa Jenar berada di atas dahan sebuah pohon yang memungkinkan ia dapat melihat keadaan di dalam, keadaan pusat sarang sepasang Uling.
Ternyata di dalam benteng itu ada sebuah lapangan yang tidak begitu luas. Di pinggir-pinggir lapangan tampaklah beberapa rumah. Menurut dugaan Mahesa Jenar, rumah-rumah itu terlalu sedikit untuk dapat didiami oleh anak buah Uling yang banyak jumlahnya. Karena itu, di tempat lain pasti masih ada tempat-tempat tinggal serupa itu.
Di lapangan itu Mahesa Jenar melihat Sri Gunting berkuda melintas. Kemudian ia berhenti di depan salah satu dari rumah-rumah yang berjajar di pinggir lapangan. Seorang telah menerima kudanya, lalu mengikatnya pada sebuah pohon, sedang Sri Gunting sendiri langsung memasuki rumah itu.
Beberapa saat kemudian dilihatnya Sri Gunting keluar lagi. Dipanggilnya dua orang laskarnya, kemudian berjalan melintas lapangan dan menyusup ke balik sebuah pohon. Pohon itulah rupanya pintu keluar-masuk benteng yang tadi juga dilewati Sri Gunting. Ternyata dibalik pohon itu sama sekali tidak terdapat sebuah gardu. Memang beberapa orang tampak mengawalnya, sebagai pengawal pintu gerbang.
Ketika Mahesa Jenar sedang sibuk menduga-duga, di manakah pertemuan akan dilangsungkan, tiba-tiba dilihatnya keluar dari salah satu diantara rumah-rumah itu, dua orang yang bertubuh tinggi, tetapi tidak begitu besar. Berwajah runcing dan berhidung tajam. Itulah sepasang Uling Rawa Pening, yang di tangan mereka selalu tergenggam sebuah cemeti besar. Di belakang mereka berjalan Sri Gunting dan dua orang lainnya. Melihat mereka, mau tidak mau Mahesa Jenar terpaksa menahan nafas. Bagaimanapun kedua orang itu termasuk dalam tingkatan yang cukup tinggi, sehingga pancaindera mereka pun.
Beberapa saat kemudian Mahesa Jenar melihat orang-orang mereka menyediakan kuda, lalu dengan kuda-kuda itu Uling Rawa Pening beserta tiga orang yang mengiringinya, pergi melintasi lapangan dan menyusup pohon yang merupakan pintu gerbang benteng itu, untuk kemudian muncul di luar benteng. Mahesa Jenar jadi menduga-duga. Kemanakah mereka pergi? Cepat ia turun dengan sangat hati-hati. Tetapi ketika sepasang Uling itu menyusur benteng ke arahnya, ia jadi diam, dan bersembunyi dibalik daun-daun yang agak rimbun, apalagi ketika mereka lewat dekat di bawahnya.
Adalah suatu keuntungan, ketika Mahesa Jenar mendengar mereka bercakap-cakap. Terdengar Uling Putih berkata, Jadi kau yakin bahwa tempat itu telah disiapkan dengan baik?
Terdengar Sri Gunting menjawab, Sudah, Ki Lurah. Cuma satu-dua barak yang belum siap benar.

Bagus! Uling Putih meneruskan, Pasingsingan dan Sima Rodra dari Lodaya akan hadir dalam pertemuan itu.
Tidakkah mereka akan berpihak? sela Uling Kuning.
Tidak, mereka pasti akan menghargai nama mereka masing-masing, jawab Uling Putih.
Setelah itu mereka tidak berkata-kata lagi. Baru kemudian terdengar Sri Gunting mengatakan sesuatu, tetapi Mahesa Jenar sudah tidak dapat mendengar lagi.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
195

DENGAN mendengar percakapan mereka, Mahesa Jenar dapat mengambil kesimpulan bahwa pertemuan tokoh-tokoh hitam itu nanti, tidak akan dilakukan di dalam benteng itu, tetapi di tempat lain. Hal ini mungkin atas pertimbangan pertimbangan keselamatan benteng itu atau untuk tetap merahasiakan sarang gerombolan Uling Rawa Pening.
Karena itu segera Mahesa Jenar turun dan bergantungan pada sebuah sulur. Demikian ia sampai di tanah, cepat-cepat ia berusaha untuk dapat mengikuti kuda sepasang Uling itu.
Untuk itu Mahesa Jenar tidak banyak menemui kesulitan. Kecuali ia sudah mengenal jalan sempit yang menuju keluar dari benteng, juga kuda-kuda itu tidak dapat berjalan cepat di jalan yang banyak rintangan itu.
Beberapa ratus langkah kemudian, rombongan Uling membelok meninggalkan lorong semula dan menempuh jalan lain yang lebih sulit. Namun bagaimanapun juga Mahesa Jenar tetap dapat mengikutinya, meskipun kadang-kadang ia harus berlari-lari kecil, merangkak, meloncat dan merunduk, sehingga akhirnya Mahesa Jenar melihat di depannya terbentang sebuah padang rumput yang luas.
Di pinggir padang itu sedang dibangun beberapa barak yang sebagian masih dikerjakan. Itulah tempat yang akan dipergunakan sebagai tempat untuk menyelenggarakan suatu pertemuan dari tokoh-tokoh golongan hitam. Mengingat apa yang akan terjadi di lapangan itu, hati Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar juga.
Kemudian teringatlah ia kepada Ki Dalang Mantingan. Apakah orang itu sudah datang di daerah Rawa Pening ataukah belum. Dan mungkinkah Ki Dalang Mantingan dapat menemukan tempat pertemuan itu. Mengingat hal itu, Mahesa Jenar merasa perlu untuk berusaha menemui Ki Dalang Mantingan sebelum mereka menyaksikan pertemuan tokoh-tokoh hitam itu.
Beberapa lama kemudian, setelah sepasang Uling itu berkeliling dan memeriksa barak-barak yang sedang diselesaikan itu, mereka pun pergi meninggalkan padang rumput itu kembali ke dalam benteng mereka.
Mahesa Jenar pun menganggap bahwa ia tidak perlu terlalu lama lagi tinggal di situ. Ia masih mempunyai beberapa waktu menjelang hari yang ditentukan, untuk dapat melihat-lihat keadaan di sekeliling tempat itu, serta untuk menemui Ki Dalang Mantingan.
Sementara itu, langit telah bertambah samar-samar. Matahari telah menghilang di bawah garis pertemuan bumi dan langit. Perlahan-lahan malam yang kelam turun menyeluruh, sedang di langit bintang-bintang timbul berebutan.
Tetapi tidak lama kemudian, cahaya kuning memulai perjalanannya. Seolah-olah memberi peringatan kepada Mahesa Jenar bahwa dua hari menjelang, purnama penuh akan menyinari padang terbuka yang akan menjadi ajang pertemuan tokoh-tokoh dari golongan hitam.
Perlahan-lahan dan hati-hati Mahesa Jenar menyusup menjauhi padang rumput itu. Dengan mengenal daerah di sekitarnya, maka ia akan menjadi lebih aman. Gajah Sora pernah memperingatkan kecerobohannya pada saat ia memasuki sarang Harimau Gunung Tidar. Karena itu ia tidak mau mengulangi kesalahannya lagi.
Setelah puas, Mahesa Jenar berputar-putar, dan segera menyusur tepi Rawa Pening, untuk mencapai daerah Banyubiru. Mungkin Mantingan masih berada di sekitar daerah itu, atau ia juga sedang berusaha untuk menemukan tempat yang akan dipergunakan untuk mengadakan pertemuan.
Terhadap Mantingan, sebenarnya Mahesa Jenar masih agak was-was. Ia memang cukup berilmu. Tetapi berhadapan dengan Lawa Ijo, Jaka Soka dan sebagainya, Mantingan masih kalah setingkat. Ia pernah berkelahi dengan Mantingan, juga pernah berkelahi dengan tokoh-tokoh hitam, sehingga ia mempunyai ukuran dalam memperbandingkan kemampuan mereka.
Tetapi yang belum pernah dilihatnya, bagaimana Mantingan menggerakkan trisulanya yang terkenal itu. Mudah-mudahan keahliannya menggunakan trisula akan dapat menandingi Lawa Ijo dengan pisau belatinya, atau Jaka Soka dengan tongkat hitamnya. Namun Mahesa Jenar yakin, bahwa waktu yang sedikit menjelang kepergiannya ke Rawa Pening, Mantingan pasti telah mendapatkan sesuatu dari gurunya, Kiai Ageng Supit.
Kiai Ageng Supit adalah tokoh sakti yang tidak begitu dikenal, karena orang itu tidak banyak melakukan perbuatan-perbuatan yang menonjol di luar padepokannya. Tetapi muridnya, Mantingan, dalam setiap kesempatan selalu berusaha untuk menunjukkan jasanya kepada masyarakat di sekitarnya. Mungkin gurunya sengaja memerintahkannya berbuat demikian untuk mewakilinya.
Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar yang sedang berangan-angan, terkejut. Di tepi rawa itu ia melihat bayangan dua orang yang sedang berkelahi dengan dahsyatnya. Mahesa Jenar menjadi menduga-duga, siapakah mereka itu. Karena itu segera dengan hati-hati ia pun mendekatinya.
Semakin dekat Mahesa Jenar dengan orang yang sedang bertempur itu, debar hatinya menjadi semakin keras pula. Di dalam sinar bulan yang hampir purnama itu Mahesa Jenar dapat melihat dengan jelas, bahwa kedua-duanya adalah pasti orang-orang yang berilmu tinggi.
Tiba-tiba debar jantung Mahesa Jenar berubah menjadi degupan yang menghentak-hentak dadanya. Di dalam cahaya bulan yang kekuning-kuningan itu tampaklah berkilat-kilat sinar yang memantul dari senjata orang yang sedang bertempur itu. Senjata yang cukup dikenalnya, yaitu trisula.
Karena itu cepat Mahesa Jenar mengetahui bahwa salah seorang dari mereka adalah Mantingan. Maka, Mahesa Jenar segera berusaha untuk semakin mendekat lagi. Tetapi sekali lagi detak jantungnya menyentak dan berdegupan dengan riuhnya, ketika ia melihat lawan Mantingan itu bersenjata bola besi yang diikat di ujung rantai. Juga senjata itu pernah dikenalnya. Yaitu senjata andalan dari kawan seangkatannya, seorang perwira dalam pasukan pengawal raja, yang bertubuh gemuk pendek, yakni Gajah Alit.

 

 

196

MAHESA JENAR menjadi agak keheran-heranan. Apakah kerja Gajah Alit di sini? Melihat cara Mantingan berkelahi, Mahesa Jenar menjadi kagum. Alangkah cepatnya ia mendapat kemajuan. Langkahnya jauh lebih lincah dari beberapa saat yang lalu, ketika ia harus menghadapinya sebagai lawan, serta unsur-unsur geraknya menjadi banyak dan berbahaya. Tetapi yang lebih mengagumkan Mahesa Jenar adalah cara Mantingan mempergunakan trisulanya. Ketiga ujung trisula itu seolah-olah berubah menjadi tangan-tangan besi yang siap menangkap dan membunuh setiap tubuh apapun yang tersinggung olehnya.

Mahesa Jenar melihat bahwa sebenarnya Mantingan, pasti sudah menerima ilmu-ilmu baru dari gurunya. Tangannya yang satu lagi selalu bergerak, menjulur, dan trisulanya mendesing-desing menimbulkan sambaran-sambaran angin yang menakutkan. Karena itu, sekarang Mahesa Jenar tidak berwas-was lagi terhadap Mantingan. Dengan ilmunya itu Mantingan sudah dapat disejajarkan dengan Lawa Ijo, Jaka Soka, Sima Rodra dan sepasang Uling dari Rawa Pening. Seandainya dirinya tidak memiliki pengalaman yang lebih banyak, serta mendapat kesempatan untuk memiliki Aji Sasra Birawa, maka untuk dapat mengalahkan Mantingan dengan trisulanya adalah terlalu sulit.

Tetapi lawan Mantingan itu bukan orang kebanyakan pula. Ia adalah setingkat pula dengan Mahesa Jenar tanpa aji Sasra Birawa. Bahkan mungkin sepeninggal Mahesa Jenar, Gajah Alit yang dipercaya untuk mengisi kedudukannya.

Ketika trisula Mantingan dengan dahsyat mematuk-matuk hampir mencapai tingkat tertinggi, maka pertempuran itu menjadi dahsyat sekali. Mahesa Jenar kemudian menjadi cemas ketika dilihatnya bahwa agaknya pertempuran itu telah mencapai puncaknya. Masing-masing telah mengeluarkan segala kemampuan yang ada untuk membinasakan lawannya.

Melihat hal itu Mahesa Jenar menjadi ragu. Kalau ia melerai mereka, maka Gajah Alit pasti akan mengenalnya. Tetapi bila dibiarkan, pertempuran itu pasti akan membawa korban.

Selagi Mahesa Jenar termangu-mangu, pertempuran itu menjadi semakin sengit. Trisula Mantingan bergerak dengan cepatnya seperti petir menyambar-nyambar, sedang senjata Gajah Alit berputar semakin cepat pula sehingga yang tampak hanyalah bayangan hitam yang bergulung-gulung mengerikan, seperti awan gelap yang hendak melanda dengan dahsyatnya.

Beberapa kali rantai berkepala bola besi Gajah Alit berhasil melilit senjata lawannya, tetapi ia sama sekali tak berhasil merampasnya. Bahkan kadang-kadang mereka sampai lama berputar-putar, tarik-menarik senjata masing-masing, sehingga akhirnya terpaksa mereka berusaha untuk mengurai lilitan rantai itu.

Demikian senjata mereka terurai, demikian senjata-senjata itu kembali berputar, menyambar dan menusuk-nusuk dengan dahsyatnya. Melihat semuanya itu akhirnya Mahesa Jenar mengambil keputusan untuk melerai mereka. Karena itu segera ia meloncat maju mendekati arena pertempuran itu sambil berteriak nyaring, Tahan dirimu masing-masing. Hentikan pertempuran ini.

Tetapi agaknya mereka yang bertempur itu sama sekali tak mendengarnya, sebab pendengaran mereka dikacaukan oleh bunyi senjata mereka yang berdesing-desing dan berdentangan saling beradu. Sedang perhatian mereka seluruhnya tertumpah pada upaya mempertahankan jiwa masing-masing. Karena itu sekali lagi Mahesa Jenar berteriak, lebih keras dari semula sambil meloncat lebih dekat lagi, Kakang Mantingan dan Adi Gajah Alit, hentikan pertempuran.

 

Baru ketika mereka mendengar nama-nama mereka disebut, mereka menjadi terkejut. Apalagi, ketika mereka lihat seseorang mendekat, Mantingan dan Gajah Alit hampir berbareng meloncat surut, dan dengan herannya memandang kepada Mahesa Jenar yang kemudian meloncat diantara mereka. Tetapi untuk sesaat mereka tidak segera mengenal siapakah yang telah melerai mereka itu, sampai Mahesa Jenar berkata, Kakang Mantingan dan Adi Gajah Alit…. Adakah sesuatu yang tidak wajar, sehingga kalian terpaksa bertempur?

Mantingan dan Gajah Alit, segera mengenal suara itu. Karena itu hampir berbareng mereka menyebut nama Mahesa Jenar.
Ya, inilah aku, jawab Mahesa Jenar.

Mendengar jawaban itu, segera mereka berloncatan maju sambil berebutan memberi salam.

Kemanakah kau selama ini, Kakang? tanya Gajah Alit, Kau begitu saja menghilang seperti hantu.
Mahesa Jenar tidak segera menjawab pertanyaan ini, tetapi malahan ia bertanya, Kenapa kalian bertempur?

Mantingan dan Gajah Alit kemudian saling berpandangan. Memang sebenarnya mereka tidak mempunyai suatu alasan yang kuat, kecuali mereka sebenarnya hanya saling curiga.

Aku tidak tahu sekarang, jawab Gajah Alit sambil tersenyum-senyum. Wajahnya yang bulat itu masih saja memancarkan kejenakaannya.

Kami sebenarnya tidak mempunyai urusan, jawab Mantingan.
Lalu apakah sebabnya? tanya Mahesa Jenar heran.
Sebenarnya kami belum saling mengenal, jelas Mantingan.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
197

MENDENGAR kata-kata itu, barulah Mahesa Jenar sadar bahwa sebaiknya ia memperkenalkan kedua orang yang baru saja bertempur itu.

Dengan mengenal siapakah mereka masing-masing, hati Mantingan maupun Gajah Alit bergetaran. Bagi Mahesa Jenar, Gajah Alit adalah seorang perwira prajurit pengawal raja, yang pasti seorang prajurit pilihan. Sebaliknya nama Mantingan pernah didengar oleh Gajah Alit, sebagaimana Mahesa Jenar dahulu juga sudah mendengarnya, sebagai seorang yang telah berhasil membinasakan tiga orang perampok yang menamakan diri mereka Samber Nyawa.

Dalam hati Mantingan merasa bersyukur bahwa ia masih tetap dapat mempertahankan dirinya terhadap Gajah Alit. Andaikata ia masih belum menerima ilmu Pacar Wutah dari gurunya, entahlah apa yang akan terjadi atas dirinya. Dan karena ilmu itulah maka Mantingan menjadi seorang yang perkasa. Gurunya sengaja memberikan ilmu itu sebagai bekal perjalanannya yang akan sangat berbahaya.
Sejenak kemudian, kembali terdengar Mahesa Jenar bertanya kepada Mantingan dan Gajah Alit, Apakah urusan kalian, sehingga kalian sampai mempertaruhkan nyawa kalian?

Gajah Alit tidak menjawab pertanyaan itu. Malahan ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sebaliknya Mantingan mencoba untuk memberi penjelasan.

Entahlah Adi, tetapi kami tadi telah berjumpa di temat ini. Karena barangkali kami sama-sama tidak mau mengatakan keperluan kami, maka kami menjadi saling curiga. Aku mengira bahwa orang itu adalah salah seorang anggota golongan hitam, barangkali ia pun mengira aku demikian pula, sehingga akhirnya kami berkelahi. Mula-mulai kami tidak bersungguh-sungguh tetapi akhirnya kami jadi mata gelap.
Mendengar keterangan Ki Dalang Mantingan, Mahesa Jenar tersenyum. Memang kadang-kadang kita harus mengalami peristiwa-peristiwa yang aneh, seperti apa yang pernah dialaminya di Prambanan dan Pucangan.

Benarkah begitu, Adi Gajah Alit? Mahesa Jenar menegaskan.

Begitulah, Kakang, jawab Gajah Alit, Sebab kami belum pernah saling mengenal. Untunglah bahwa Kakang Mahesa Jenar sempat melerai kami. Kalau tidak, barangkali ada bangkai Gajah tanpa belalai jadi makanan Gagak.
Mahesa Jenar tertawa perlahan-lahan. Segera terdengar Mantingan berkata, Tuan terlalu merendahkan diri. Bersyukurlah aku, kalau sekarang aku masih sempat memandang bulan.
Aku tidak dapat mengatakan, potong Mahesa Jenar, Siapakah yang lebih unggul diantara kalian. Karena itu kalian akan menjadi kawan yang baik bagiku di sini, di dekat sarang sepasang Uling Rawa Pening.
Mahesa Jenar diam sebentar, kemudian ia meneruskan, Apakah sebenarnya kepentingan Adi Gajah Alit kemari?
Gajah Alit menarik nafas. Ia akan menjawab, tetapi agak ragu-ragu sambil memandang Ki Dalang Mantingan, sampai Mahesa Jenar mendesaknya, Katakanlah. Kakang Mantingan adalah orang yang tahu membawa masalah.

Kakang…. Gajah Alit memulai, Kedatanganku adalah atas perintah Sultan. Sebab terdengar keterangan dari penjabat-penjabat rahasia, bahwa di sekitar rawa ini akan terjadi suatu pertemuan dari tokoh-tokoh golongan hitam. Karena itu aku mendapat perintah untuk mengadakan penyelidikan atas kebenaran berita itu. Maka dikirimkannyalah aku kemari.
Mendengar keterangan Gajah Alit, Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya.

Jadi kalangan istana sudah mendengar akan adanya pertemuan tengah bulan ini?

Ya, Jawab Gajah Alit, Bahkan aku tidak seorang diri.
Kau tidak seorang diri?
ulang Mahesa Jenar.
Aku dikirim bersama dengan Kakang Paningron. Gajah Alit meneruskan.
Mendengar kata-kata Gajah Alit itu hati Mahesa Jenar jadi berdebar-debar juga. Paningron adalah salah seorang perwira dari jabatan rahasia. Ilmunya tidak kalah dengan ilmu yang dimiliki oleh Gajah Alit.

Di manakah Adi Paningron sekarang? tanya Mahesa Jenar.

Sejak senja kami berpisah, jawab Gajah Alit. Kami berusaha untuk menemukan tempat pertemuan Golongan Hitam itu. Tengah malam kami akan bertemu.

Kalau malam ini tempat itu belum kami temukan, besok kami masih harus bekerja keras.

Sesaat kemudian Mahesa Jenar jadi ragu. Kalau dari penjabat rahasia telah dapat mengetahui keberadaannya, maka ada kemungkinan dirinya dipanggil menghadap.

Kepada Gajah Alit, ia masih mungkin untuk memintanya tidak berkata apa-apa tentang dirinya. Tetapi bagaimana dengan Paningron?

Agaknya Gajah Alit dapat menangkap perasaan Mahesa Jenar. Karena itu ia berkata, Kakang Mahesa Jenar tidak perlu khawatir tentang Kakang Paningron. Ia adalah seorang penjabat yang baik, tetapi juga bukan jenis orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain.

Mendengar keterangan Gajah Alit, Mahesa Jenar tertawa pendek. Kau pandai menebak perasaan orang Adi. Mudah-mudahan demikianlah hendaknya.
Percayakan itu padaku,
tegas Gajah Alit.
Baiklah… kata Mahesa Jenar, Kalau demikian aku bersamamu menunggu kedatangannya. Juga adalah suatu keuntungan bahwa kau tidak berjalan bersama-sama dengan Adi Paningron. Sebab dengan demikian mungkin kalian telah menangkap Kakang Mantingan yang pergi seorang diri.
Mendengar percakapan itu Mantingan tertawa pula, serta diantara tertawanya terdengar ia berkata, Aku pun tidak pergi seorang diri, Adi.

He…? Mahesa Jenar dan Gajah Alit agak terkejut mendengar itu.
Dengan siapa Kakang pergi? tanya Mahesa Jenar.

Aku pergi bersama Kakang Wiraraga, kakak seperguruanku, jawab Mantingan.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
198

MAHESA JENAR dan Gajah Alit berbareng mengangguk-angguk. Terlintaslah dalam angan- angan mereka, bahwa kakak seperguruan Mantingan setidak-tidaknya adalah setingkat dengan Mantingan.

Dan memang sebenarnyalah demikian. Kakak seperguruannya itu pun baru saja menerima ilmu Pacar Wutah berbareng dengan Mantingan, menjelang keberangkatan mereka.

Meskipun Wiraraga lebih lama menekuni pelajaran gurunya, tetapi karena sifatnya yang pendiam dan jarang-jarang keluar dari padepokan seperti gurunya, maka Mantingan memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas. Karena itu, keperkasaan Mantingan tidaklah kalah dengan kakak seperguruannya itu.

Dalam perjalanannya yang berbahaya itu, Ki Ageng Supit tidak sampai hati melepaskan Mantingan pergi sendiri, sebab ia pernah mendengar siapa saja yang tergolong dalam lingkaran hitam. Karena itu ia minta Wiraraga menyertainya.

Di manakah kakak seperguruan Kakang itu? tanya Mahesa Jenar kemudian.
Seperti juga Adi Gajah Alit, Kakang Wiraraga memisahkan diri sejak kemarin. Malam ini kami berjanji akan bertemu. Meskipun tempat yang kita cari itu masih belum dapat kami temukan.
Mudah-mudahan Kakang Paningron tidak bertemu dan bertempur dengan kakak seperguruan Kakang Mantingan,
sela Gajah Alit sambil tertawa lucu.

Mudah-mudahan, jawab Mahesa Jenar.
Kalau demikian… lanjut Mahesa Jenar, Aku tunggu di sini. Kalian cari kawan-kawan kalian itu, dan bawalah mereka kemari. Tempat pertemuan itu tak usah kalian cari-cari lagi.
Kenapa?
tanya Mantingan dan Gajah Alit hampir berbareng.

Carilah kawan-kawan kalian, desak Mahesa Jenar, dan cegahlah kalau mereka benar-benar bertemu dan bertempur seperti kalian tadi. Aku menunggu kalian di sini.

Kemudian terdengar Gajah Alit tertawa riuh. Untunglah aku bertemu Kakang di sini. Melihat gelagatnya pasti Kakang Mahesa Jenar telah menemukan tempat itu.
Tepat! sambung Mantingan, Aku juga menduga demikian.
Mahesa Jenar pun kemudian tertawa. Mungkin kalian benar, karena itu kalian harus cepat-cepat menemukan kawan-kawan kalian.


Baiklah,
jawab mereka berbareng.
Ketika mereka telah tidak tampak lagi, segera Mahesa Jenar mencari tempat untuk beristirahat. Direbahkannya dirinya di atas sebuah batu besar, sambil memandang bulan dan bintang-bintang yang bertebaran di langit.

Untuk beberapa lama pikirannya sempat melayang mondar-mandir dari waktu ke waktu, dari peristiwa yang satu ke peristiwa yang lain.

Menjelang tengah malam, Mahesa Jenar mendengar langkah orang mendekati tempatnya berbaring. Cepat ia bangkit dan memandang ke arah suara itu. Tetapi kemudian ia menarik nafas panjang ketika ia melihat bayangan dua orang mendekatinya, serta keduanya membawa senjata ciri perguruan Ki Ageng Supit, yaitu trisula. Jelaslah bagi Mahesa Jenar bahwa kedua orang itu pasti Mantingan dan Wiraraga.

Maka demikian kedua orang itu sampai di hadapan Mahesa Jenar, demikian Mantingan memperkenalkan kakak seperguruannya kepada Mahesa Jenar dengan sebutan Rangga Tohjaya.

Mendengar nama itu segera Wiraraga membungkuk hormat sambil berkata, Berbesarlah hatiku dapat berkenalan dengan seseorang yang pernah menggemparkan istana, karena berhasil menggagalkan pencurian pusaka di gedung perbendaharaan. Juga yang telah banyak menyelamatkan rakyat dari gangguan kejahatan.

Mendengar pujian itu Mahesa Jenar tersenyum sambil membungkuk hormat pula. Terimakasih Kakang, tetapi perguruan Kakang adalah perguruan yang terkenal pula. Karena itu seharusnya akulah yang merasa beruntung berkenalan dengan Kakang.
Kembali Wiraraga mengangguk. Wajahnya yang ketua-tuaan itu tampak tersenyum-senyum. Meskipun umurnya tidak terpaut banyak dari Mantingan, tetapi nampaknya Wiraraga telah jauh lebih tua. Rambutnya telah mulai ditumbuhi uban. Matanya memancar lembut, tetapi dalam.

Tubuhnya kekar meskipun tidak begitu tinggi. Wiraraga memang benar-benar seorang pendiam. Tidak banyak ia berkata-kata. Ia lebih senang mendengarkan Mantingan berbicara daripada ia sendiri yang berbicara. Maka karena sifat-sifatnya itulah maka Wiraraga nampak jauh lebih tua dari umur yang sebenarnya.

Tidak lama kemudian, tampaklah Gajah Alit datang pula bersama-sama dengan Paningron. Bagi Paningron, kehadiran Mahesa Jenar di situ sangat mengejutkan. Agaknya Gajah Alit belum memberitahukan lebih dahulu, sehingga suasana kemudian menjadi riuh.

Setelah pertemuan itu menjadi lebih tenang, barulah mereka berbicara tentang tokoh-tokoh hitam yang akan mengadakan pertemuan pada purnama penuh yang akan datang, serta tempat pertemuan mereka.

Dengan teliti Mahesa Jenar memberikan gambaran tentang lapangan yang akan dipergunakan, serta memberitahukan bahwa dalam pertemuan itu akan hadir Pasingsingan dan Sima Rodra. Dua orang angkatan tua yang setingkat dengan guru-guru mereka. Karena itu mereka harus sangat berhati-hati.

Dalam pertemuan itu mereka memutuskan untuk pada saat itu juga pergi ke tempat yang akan dipergunakan untuk mengadakan pertemuan itu serta seterusnya mengatur agar setiap saat tempat itu dapat diawasi bergiliran.

Demikianlah maka segera mereka berlima pergi bersama untuk melihat keadaan serta kemungkinan-kemungkinan yang akan mereka lakukan.

Sejak saat itu, mulailah rombongan Mahesa Jenar itu mengadakan pengawasan dengan teliti berganti-ganti. Mereka telah berhasil menemukan tempat yang sangat baik.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
199

TEMPAT itu agak menjorok ke atas, tetapi ditumbuhi pepohonan yang agak lebat. Dari tempat itu, mereka akan dapat melihat apa saja yang terjadi di lapangan rumput yang terbentang di hadapannya. Meskipun pada siang hari, tempat itu akan tetap merupakan tempat yang tersembunyi. Mereka yang sedang bertugas mengadakan pengawasan harus memanjat sebuah pohon yang tak begitu tinggi, namun berdaun rimbun. Sedang yang lain dapat dengan aman beristirahat tidak lebih dari dua puluh langkah dari tempat itu, sambil menikmati ketupat sambal, bekal yang dibawa oleh Mantingan atau jadah jenang alot, bekal Gajah Alit.

Pada siang hari itu, Mahesa Jenar dan kawan-kawannya melihat betapa orang-orang Uling Rawa Pening berusaha keras menyelesaikan pekerjaan mereka, bahkan pada malam harinya pun pekerja-pekerja itu tetap melakukan tugas mereka sampai barak-barak itu siap dipergunakan.

Maka pada hari berikutnya, menjelang purnama penuh, tampaklah di tempat itu kesibukan-kesibukan yang padat. Uling Putih dan Uling Kuning sendiri datang menjelang hari sepenggalah.

Ketika matahari telah mencapai puncaknya, maka mulailah penjagaan-penjagaan sekeliling tempat itu semakin ditertibkan. Sri Gunting sendiri yang memimpinnya. Beberapa orang telah diperintahkan untuk meronda keliling, serta beberapa orang lagi ditempatkan di tempat-tempat yang dianggap perlu.

Dalam pada itu, Mahesa Jenar dan kawan-kawannya tidak berani lagi berbuat seenaknya. Sebab setiap saat ada kemungkinan para peronda melintasi tempat mereka bersembunyi. Karena itu, daripada mereka harus selalu memperhatikan keadaan di sekeliling mereka, maka mereka lebih menganggap aman apabila mereka semuanya memanjat pohon. Dengan demikian mereka tidak perlu lagi bersusah payah menegangkan urat syaraf mereka.

Berdasarkan atas pikiran itu, maka segera mereka berlima memilih tempat mereka masing-masing. Tidak terlalu dekat satu sama lain, tetapi juga tidak terlalu jauh.
Beberapa saat, perasaan mereka dihinggapi oleh ketegangan yang semakin lama semakin memuncak, karena mereka harus menunggu suatu peristiwa yang cukup penting. Sedang di bawah mereka beberapa peronda sudah lebih dari dua kali lewat hilir-mudik. Namun untunglah bahwa tak seorang pun dari mereka merasa perlu untuk menyelidiki dahan-dahan kayu di atas mereka.

Ketika matahari telah condong ke barat, mulailah rombongan yang pertama datang ke tempat itu. Rombongan yang datang paling awal adalah rombongan dari Gunung Tidar. Beberapa waktu yang lampau Mahesa Jenar pernah menyaksikan orang-orang dari golongan hitam ini berkumpul, tetapi agaknya kali ini pertemuan mereka lebih bersifat resmi.

Suami-istri Sima Rodra itu datang bersama beberapa pengiring, di bawah pimpinan seorang yang bertubuh pendek dengan otot-otot yang menjorok, membuat garis-garis di wajah kulitnya yang hitam. Dengan demikian nampak betapa kokohnya ia, bahkan mirip seekor orang hutan.

Uling Putih dan Uling Kuning sendiri datang menyambut rombongan itu, serta langsung dibawa ke salah satu barak yang terbesar, yang agaknya merupakan ruang pertemuan. Setelah mereka berbicara beberapa saat, rombongan itu kemudian dipersilahkan memasuki salah satu barak yang lain, yang rupa-rupanya menjadi tempat penginapan.

Demikian datanglah berturut-turut rombongan dari hutan Tambakbaya. Lawa Ijo bersama-sama dengan Wadas Gunung, Carang Lampit, Cemoro Aking, Bagolan dan beberapa orang lagi. Disusul oleh kedatangan Ki Ageng Lembu Sora beserta para pengiringnya.

Meskipun Mahesa Jenar telah menduga sebelumnya bahwa Lembu Sora pasti akan hadir juga dalam pertemuan itu, namun hatinya berdebar-debar pula menyaksikan kedatangannya.

Tetapi satu hal yang Mahesa Jenar masih menunggu-nunggu. Yaitu kehadiran Jaka Soka. Sampai matahari rendah sekali, Ular Laut dari Nusakambangan itu belum menampakkan diri. Sedangkan Pasingsingan dan Sima Rodra menurut perhitungan Mahesa Jenar pasti akan muncul ketika pertemuan itu sudah akan dimulai.

Sesaat kemudian matahari tenggelam dengan damainya, disusul oleh cahaya purnama penuh yang memancar dari sebuah bola yang melayang-layang di langit.
Pada saat yang demikian, agaknya pertemuan antara golongan hitam itu sudah akan dimulai.

Beberapa orang telah keluar dari barak-barak mereka, dan berkumpul di pinggir lapangan rumput itu. Uling Putih dan Uling Kuning untuk penghabisan kali memeriksa tempat pertemuan itu. Setelah ia merasa bahwa segala sesuatunya tidak ada kekurangan, maka segera terdengar sebuah kentongan dipukul perlahan-lahan.
Sesaat kemudian muncullah tokoh-tokoh hitam dari barak mereka masing-masing menuju ke lapangan. Juga Ki Ageng Lembu Sora yang akan mengikuti pertemuan itu. Tetapi diantara mereka masih belum nampak Jaka Soka, Pasingsingan dan Sima Rodra.

Uling Putih sebagai tuan rumah segera mempersilahkan tamu-tamunya di tempat yang telah direncanakan. Lembu Sora sebagai tamu kehormatan menempati sisi sebelah barat bersama-sama dengan Uling Rawa Pening. Bagian selatan disediakan untuk Rombongan dari Gunung Tidar, sedangkan Bagian timur untuk gerombolan Hutan Tambakbaya. Bagian utara yang disediakan untuk rombongan dari Nusakambangan masih tampak kosong. Sedang tempat-tempat yang disediakan untuk Pasingsingan dan Sima Rodra pun masih tampak kosong.

Tetapi belum lagi mereka selesai menempatkan diri, tiba-tiba dari arah utara muncullah satu rombongan, yang di depan mereka berjalan seorang muda yang berwajah tampan. Ialah Jaka Soka yang datang sambil tersenyum-senyum, beserta beberapa pengiringnya.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
200

DENGAN munculnya Jaka Soka, tiba-tiba suasana segera berubah menjadi tegang, meskipun orang itu sendiri selalu tersenyum-senyum. Apalagi Lembu Sora tiba-tiba tidak dapat menguasai dirinya. Dengan serta merta ia berdiri sambil mencabut pedang panjangnya. Tanpa menunggu apapun ia langsung berlari menyerang Jaka Soka yang baru saja datang.

Jaka Soka, ketika melihat serangan itu menjadi terkejut. Tetapi segera ia menyadari bahwa hal yang demikian memang wajar terjadi, sebab pasti Lembu Sora masih sakit hati kepadanya, karena ia sama sekali tidak berusaha untuk mencegah pada saat Mahesa Jenar akan membunuhnya, bahkan agaknya Jaka Soka pada waktu itu menunjukkan bahwa ia bersenang hati atas peristiwa itu.

Karena itu, Jaka Soka pun segera menyambut serangan Lembu Sora. Dengan cepatnya, ia memutar tongkatnya, dan sesaat kemudian tangan kanannya telah memegang sebuah pedang yang lentur, sedang tangan kiri memegang tongkatnya yang dipergunakannya sebagai perisai.

Pada saat itu Lembu Sora telah berdiri di hadapan Jaka Soka. Pedangnya yang besar itu terayun deras mengarah ke leher Jaka Soka. Tetapi ternyata Jaka Soka cukup gesit, sehingga demikian pedang itu menyambar, Jaka Soka segera merendahkan diri sambil menjulurkan tangan kanannya untuk menyerang lambung Lembu Sora dengan pedangnya.

Melihat ujung pedang Jaka Soka itu tetap mengejarnya, Lembu Sora segera meluruskan tangannya pula. Dan karena pedangnya lebih panjang dari pedang Jaka Soka, maka terpaksa Jaka Soka menarik serangannya.
Lembu Sora tidak mau melepaskan kesempatan itu. Segera pedangnya yang besar serta panjang melampaui ukuran biasa itu, diputarnya seperti memutar lidi, sehingga menimbulkan bunyi berdesingan dan angin yang menyambar-nyambar menyertai putaran pedangnya.
Mendapat serangan yang dahsyat itu Jaka Soka terpaksa menangkis dengan kedua tangannya, dengan pedang lenturnya serta tongkat hitam yang juga merupakan rangka dari pedangnya. Tetapi ia adalah seorang pemimpin bajak laut yang terkenal. Karena itu ia segera dapat mencapai keseimbangan. Bahkan serangannya menjadi semakin berbahaya pula.
Sesaat itu, orang-orang hitam yang menyaksikan gerakan Lembu Sora yang tak mereka duga, menjadi terkejut dan tidak tahu apa yang harus mereka kerjakan. Baru setelah mereka menyaksikan perkelahian mati-matian antara keduanya, mereka menjadi sadar atas apa yang terjadi.

Uling Kuning yang pernah bertengkar pula dengan Jaka soka, hatinya menjadi terbakar pula. Hampir saja ia ikut serta menyerang Jaka Soka, kalau sekali lagi kakaknya Uling Putih tidak memperingatkan.

Biarkanlah mereka, kata Uling Putih. Adalah baik sekali kalau salah seorang, atau kedua-duanya binasa.
Dengan pandangan tidak mengerti, Uling Kuning menatap wajah kakaknya. Sehingga dengan tertawa pendek Uling Putih perlu menjelaskan, Aku setuju dengan pendapat Jaka Soka, bahwa akhirnya kita akan saling berusaha untuk membinasakan. Kalau salah seorang atau kedua-duanya binasa, bukankah saingan kita berkurang? Kalau Lembu Sora binasa, Banyubiru akan dengan mudah kita kuasai. Sedang Pamingit mungkin akan jatuh ke dalam pengaruh Sima Rodra. Tetapi Sima Rodra itu kelak harus kita binasakan pula, cepat atau lambat, sebelum atau sesudah Demak sendiri binasa.
Mendengar keterangan kakaknya itu, Uling Kuning ikut tertawa pula. Serta tak sengaja ia memandang Lawa Ijo dan Sima Rodra berganti-ganti. Ternyata mereka sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Agaknya mereka pun mempunyai perhitungan yang sama sehingga mereka tidak menganggap perlu untuk melerainya.

Sementara itu pertempuran antara Jaka Soka dan Lembu Sora menjadi semakin dahsyat. Laskar Lembu Sora yang melihat pemimpinnya bertempur serentak bergerak maju. Tetapi segera mereka terhenti ketika mereka melihat para pengiring Jaka Soka menyiapkan panah mereka. Agaknya para bajak laut itu biasa mempergunakan senjata jarak jauh dalam pekerjaan mereka sehari-hari, bila mereka sedang merompak dan membajak kapal-kapal yang berlayar di daerah kerja mereka.

Tetapi orang-orang Lembu Sora ternyata memiliki kelicinan seperti pemimpinnya pula. Begitu mereka tertahan karena ancaman panah, segera mereka bubar berpencaran ke segala penjuru. Tentu saja hal ini agak menyulitkan orang-orang Jaka Soka. Namun para bajak laut itu pun terdiri dari orang-orang yang berhati keras. Ketika mereka merasa bahwa senjata panah mereka kurang berguna, segera mereka menyiapkan golok-golok mereka. Demikianlah maka suasana menjadi bertambah tegang. Tidak saja laskar Pamingit dan para pengiring Jaka Soka saja yang kemudian bersiaga, tetapi juga orang-orang Lawa Ijo, Sima Rodra dan Gerombolan Uling Rawa Pening segera bersiaga penuh. Sebab tidak mustahil kalau salah satu pihak akan mengambil kesempatan dalam kekisruhan yang terjadi itu.

 

201

TAK seorang pun dari orang-orang Lembu Sora atau Jaka Soka yang berani memulai sebelum mereka mendapat perintah dari pemimpin-pemimin mereka. Sedang Lembu Sora maupun Jaka Soka agaknya ingin menyelesaikan masalah itu seorang diri, tanpa bantuan orang lain. Sebab dengan demikian akan puaslah hati mereka masing-masing yang berhasil membinasakan lawannya karena tangan sendiri.

Perkelahian antara Jaka Soka dan Lembu Sora semakin lama makin bertambah dahsyat. Masing-masing mengeluarkan segala kepandaiannya untuk membinasakan lawannya. Mereka sama sekali sudah tidak ragu-ragu lagi, seandainya lawan masing-masing terpenggal lehernya atau tersobek dadanya.

Lembu Sora yang kuat dan garang seperti singa itu menyerang semakin dahsyat dengan pedang yang terayun kian-kemari, sedang Jaka Soka berkelahi benar-benar seperti seekor ular yang membelit, menjalur dan mematuk-matuk berbahaya sekali.
Semua yang menyaksikan pertempuran itu terpaksa menahan nafas. Mau tidak mau mereka harus mengagumi keperkasaan kedua orang yang sedang bertanding. Lembu Sora percaya akan kekuatan tubuhnya melawan Jaka Soka yang mempunyai cara bertempur yang lemas sekali.

Sesaat kemudian pertempuran itu sampai ke taraf yang menentukan. Baik Jaka Soka maupun Lembu Sora telah mengerahkan segenap tenaganya secara berlebih-lebihan, sehingga dalam waktu yang singkat mereka telah merasa bahwa tenaga mereka seakan-akan telah terperas habis. Karena itu sebelum mereka jatuh dan tidak bertenaga lagi, mereka telah sedemikian bernafsu untuk membinasakan lawannya.

Maka pada saat yang demikian, pada saat semua yang hadir lagi menahan nafas, tiba-tiba muncullah orang yang selama ini mereka nanti-nantikan, ialah Pasingsingan dan Sima Rodra. Melihat Lembu Sora dan Jaka Soka sedang dengan dahsyatnya mempertaruhkan nyawanya, Pasingsingan dan Sima Rodra mengernyitkan alisnya.

Tiba-tiba hampir tak diketahui apa yang sudah dilakukan oleh Pasingsingan, Jaka Soka dan Lembu Sora terpental bersama-sama beberapa langkah, dan kemudian mereka jatuh bergulingan. Ketika mereka bangun, mata mereka menunjukkan kemarahan yang luar biasa. Tetapi ketika mereka melihat Pasingsingan telah berdiri diantara mereka, wajah mereka yang merah itu segera menjadi pucat dan ketakutan.

Apa yang telah kalian lakukan? bentak Pasingsingan.

Lembu Sora dan Jaka Soka sama sekali tidak menjawab. Dan karena mereka tidak menjawab, Pasingsingan segera memanggil Lawa Ijo, dan bertanya kepadanya,

Kenapa mereka berkelahi?
Dengan singkat Lawa Ijo menceriterakan apa yang telah terjadi, pertentangan antara Jaka Soka dan Lembu Sora pada saat mereka sedang mencegat pasukan-pasukan dari Demak beberapa waktu berselang.

Mendengar ceritera Lawa Ijo, sekali lagi Pasingsingan menyernyitkan alisnya, kemudian katanya, Kenapa kalian diam saja melihat perkelahian itu?
Lawa Ijo, Sepasang Uling Rawa Pening, dan Sima Rodra terkejut mendengar pertanyaan itu, sehingga tak seorang pun yang dapat menjawabnya.

Kalian tak usah berbohong, sebab kalian akan bersyukur kalau salah seorang sekutu kalian atau kedua-duanya binasa, lanjut Pasingsingan.
Yang mendengar kata-kata Pasingsingan itu semakin diam, sebab Pasingsingan langsung dapat menebak isi hati mereka.

Kemudian Pasingsingan menoleh kepada Jaka Soka dan Lembu Sora.

Kalian telah merusak suasana malam purnama ini, katanya.
Lembu Sora dan Jaka Soka tidak berkata sepatah pun. Mereka menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

Kembalilah ke tempat kalian masing-masing, perintah Pasingsingan.
Mendengar perintah itu segera Lembu Sora berjalan menuju ke tempatnya semula. Sedang para pengiringnya kemudian juga pergi ke tempat masing-masing.

Sementara itu Lawa Ijo, Sima Rodra muda telah mengambil tempatnya pula, sedang sepadang Uling Rawa Pening sibuk mempersilahkan Jaka Soka untuk menempatkan diri beserta para pengirinya di sisi utara. Adapun Pasingsingan kemudian dipersilahkan duduk bersama-sama dengan Sima Rodra tua di sisi sebelah barat, di samping tempat duduk Uling Rawa Pening.

Setelah suasana menjadi tenang kembali, serta para peserta pertemuan itu telah duduk di tikar pandan di sisi-sisi yang telah ditentukan, berkatalah Pasingsingan dengan nyaringnya, Kalian, orang yang disebut golongan hitam, tetapi yang sebenarnya bercita-cita luhur seperti lazimnya manusia yang selalu ingin mencapai tingkatan tertinggi dalam kehidupan, bersyukurlah di dalam hati kalian bahwa pada malam hari ini kalian dapat berkumpul bersama-sama. Tetapi kalian pasti tak akan dapat berbuat sesuatu, sebab tidak ada diantara kalian yang pantas menjadi pemimpin diantara kita. Terbukti bahwa tidak seorang pun diantara kalian yang berhasil membawa keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten itu kemari.
Pasingsingan diam sebentar. Pandangannya beredar dari setiap wajah yang berada di sekitar lapangan kecil itu. Sejenak kemudian ia melanjutkan, Kalau kalian ingin mendapatkan tingkatan itu dengan mengadu kepandaian, maka cara itu pun tidak akan menyelesaikan masalahnya. Sebab suatu pertarungan diantara kalian dalam saat ini pasti hanya akan memakan waktu berlarut-larut. Coba lihat apa yang dilakukan oleh Jaka Soka dengan Ki Ageng Lembu Sora. Andaikata mereka dibiarkan bertempur terus pasti mereka akan mati kelelahan kedua-duanya, bersama-sama, atau kalau mereka menghemat tenaga mereka, pertempuran semacam itu akan dapat berlangsung berhari-hari.
Kembali Pasingsingan diam sejenak, lalu ia melanjutkan, Yang penting sekarang kesatuan diantara kita masih kita perlukan. Marilah kita ubah persetujuan kita, dengan mengadakan persetujuan baru. Barang siapa yang terdahulu menemukan Keris Nagasasra dan Sabuk Inten, dialah yang segera diumumkan dan kita angkat menjadi pemimpin kita, dan kita dukung perjuangannya melawan pemerintah Demak.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
202

SUASANA kemudian menjadi hening sepi. Tetapi dalam pada itu degup jantung Mahesa Jenar serta kawan-kawannya bertambah cepat. Apalagi Mahesa Jenar, Gajah Alit dan Paningron yang datang sebagai prajurit-prajurit Demak. Tetapi bagaimanapun mereka harus menahan diri, sebab di hadapan mereka berkumpul tokoh-tokoh hitam yang kuat, ditambah lagi dengan Pasingsingan dan Sima Rodra yang pernah mereka dengar namanya.

Tetapi lebih terkejut lagi mereka berlima ketika Pasingsingan kemudian melanjutkan, Sedangkan sekarang kalian mempunyai pekerjaan yang lebih penting. Pertemuan ini dapat kalian lanjutkan nanti setelah pekerjaan kita selesai. Nanti kita dapat mengatur siasat, menentukan sikap dan sebagainya, setelah orang-orang lain yang tidak kita undang tidak turut serta mendengarkan pembicaraan kita.

Yang mendengar kata-kata Pasingsingan itu menjadi sibuk berpikir serta menduga-duga. Demikian pula Mahesa Jenar dan kawan-kawannya yang dengan lamat-lamat dapat mendengarkan setiap pembicaraan mereka, menjadi sibuk berpikir pula, sampai Pasingsingan berkata lebih lanjut, Kalian ternyata terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara kalian untuk membinasakan kawan sendiri daripada berhati-hati menghadapi lawan.

Orang-orang golongan hitam itu menjadi bertambah bingung, sedang Mahesa Jenar dan kawan-kawannya, jantungnya bertambah cepat bergetar. Apakah kehadiran mereka telah diketahui oleh Pasingsingan?
Melihat kebingungan orang-orang yang berkumpul di sisi-sisi lapangan itu, terdengar Sima Rodra tua tertawa pendek. Apakah yang akan kalian banggakan untuk dapat menemukan Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten yang tidak tentu di mana sekarang berada. Apakah benar-benar telah hilang dari Banyubiru atau hanya disembunyikan saja oleh si Gajah Sora atau si tua bangka Sora Dipayana, ayah Lembu Sora itu. Sedangkan apa yang ada di hadapan hidung kalian saja tidak kalian ketahui, katanya.
Perasaan mereka yang mendengarkan kata-kata itu menjadi semakin kisruh. Melihat keadaan itu agaknya Pasingsingan tidak sabar lagi. Berdirilah kalian dan berjalanlah kalian ke arah tenggara. Lihatlah setiap pohon yang tumbuh di sana, kalian akan menemukan orang yang telah kalian sangka mati terguling ke dalam jurang beserta empat orang kawannya, katanya keras-keras.

Tampaklah betapa terkejutnya tokoh-tokoh hitam yang sedang berkumpul itu. Tetapi tidak kurang pula terkejutnya Mahesa Jenar dengan kawan-kawannya. Ternyata kehadiran mereka telah diketahui oleh Pasingsingan dan Sima Rodra. Bagaimanapun mereka terpaksa mengakui betapa tinggi ilmu kedua orang dari angkatan tua itu.

Di samping itu, kata-kata Pasingsingan merupakan suatu peringatan bagi Mahesa Jenar beserta kawan-kawannya, untuk tidak mempunyai pilihan selain berjuang mati-matian untuk mempertahankan hidup masing-masing, meskipun mereka sadar bahwa seandainya Pasingsingan dan Sima Rodra ikut campur maka tak ada jalan untuk melepaskan diri dari maut. Meskipun demikian, kemungkinan-kemungkinan itu memang sudah terpikirkan sejak mereka berangkat. Karena itu, satu-satunya jalan adalah mencari korban sebanyak-banyaknya sebelum dirinya binasa.

Karena itu sebelum mereka terkunci di atas pohon, maka segera dengan cepat Mahesa Jenar turun diikuti oleh kawan-kawannya. Demikian mereka sampai di atas tanah, segera mereka menyiapkan senjata masing-masing. Gajah Alit segera menimbang-nimbang bola besinya yang bertangkai rantai, Paningron bersenjata sebuah tombak yang berkait kecil, sedang Mantingan dan Wiraraga tampak menggosok-gosok trisula masing-masing, seolah-olah sedang membesarkan hati senjata-senjata itu.

Hanya Mahesa Jenar sendirilah yang tidak bersenjata, tetapi di sisi telapak tangannya tersimpan senjata yang dahsyat, yaitu Aji Sasra Birawa.
Sementara itu, tokoh-tokoh hitam yang terdiri dari tujuh orang, Sima Rodra muda suami-istri, kakak-beradik Uling, Lawa Ijo, Jaka Soka dan Lembu Sora segera berloncatan berlari-lari ke arah yang ditunjukkan oleh Pasingsingan.

Ketika tokoh-tokoh hitam itu sedang mendekati Mahesa Jenar dengan kawan-kawannya, terdengarlah Sima Rodra berteriak dengan suaranya yang gemetar, He, kalian laskar yang mengikuti pemimpin-pemimpin kalian kemarin. Janganlah kalian menjadi penonton saja. Kepunglah orang-orang yang telah memberanikan diri bertindak sombong dan merendahkan kita sekalian.

Mendengar perintah Sima Rodra tua, segera laskar-laskar golongan hitam itu bubar berlari-larian memencar ke segenap arah untuk mengepung Mahesa Jenar dan kawan-kawannya.

Gajah Alit yang merasa bahwa senjatanya kurang menguntungkan bila dipergunakan di tempat yang berpohon-pohon, segera berkata, Kakang Mahesa Jenar, aku kira lebih baik aku menyongsong mereka di tempat terbuka supaya rantaiku tidak melilit-lilit pepohonan.

Belum lagi Mahesa Jenar menjawab, Gajah Alit telah menghambur lari seperti sebuah batu yang menggelinding cepat sekali. Mahesa Jenar beserta kawan-kawannya yang lain, agaknya tidak tega melepaskan Gajah Alit menyongsong seorang diri. Karena itu, ia segera menyusulnya, menyongsong lawan-lawan mereka di tempat yang terbuka.
Yang mula-mula sekali sampai adalah Lawa Ijo. Hatinya yang panas melebihi bara itu tidak dapat dikendalikan lagi. Dendamnya kepada Mahesa Jenar bertimbun-timbun sampai menyentuh langit. Tetapi di antara gerumbul di tepi lapangan itu yang muncul pertama-tama adalah Gajah Alit. Tanpa menanyakan apa-apa lagi, Gajah Alit langsung menyerangnya.

Lawa Ijo terpaksa membatalkan maksudnya untuk mencari Mahesa Jenar, karena ia harus melayani Gajah Alit yang menilik geraknya, ternyata sangat berbahaya.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
203

LAWA IJO tidak berani menganggap enteng kepada lawannya yang gemuk pendek hampir bulat itu. Apalagi ketika Lawa Ijo mendengar desing bola besi yang berputar-putar mengerikan melibat tubuhnya. Cepat-cepat ia meloncat mundur dan cepat ia berdiri di atas tanah, kedua tangannya telah memegang pisau belati panjangnya. Dengan senjata-senjata itulah ia bertempur melawan Gajah Alit.

Yang menyusul dibelakang Lawa Ijo adalah Sepasang Uling dari Rawa Pening. Sambil memutar-mutar cemetinya, mereka menyerang dengan ganas sekali. Tetapi segera mereka terhenti ketika Mantingan dan Wiraraga menghadangnya. Agaknya sepasang Uling itu sudah menjadi sedemikian marahnya sehingga langsung mereka menghantam Wiraraga dan Mantingan, dua orang yang kini tidak dapat direndahkan. Mereka telah dibekali dengan sebuah ilmu yang sukar tandingannya, yaitu Pacar Wutah.

Melihat sepasang Uling itu menyerang berpasangan, segera Wiraraga dan Mantinganpun melawan nya dengan berpasangan pula.

Paningron agaknya lebih suka melawan seorang yang bertubuh besar dan tinggi serta berkumis dan berjanggut lebat. Ialah Sima Rodra Muda dari Gunung Tidar.

Yang datang terakhir adalah Lembu Sora dan Jaka Soka, yang sudah hampir kehabisan tenaga setelah mereka bertempur sendiri, beserta isteri Sima Rodra.

Karena semuanya telah mempunyai lawannya masing-masing, maka Mahesa Jenar mau tidak mau harus bertempur melawan ketiga orang itu untuk mencegah bantuan mereka kepada tokoh-tokoh yang sedang mengadu tenaga. Adalah suatu keuntungan besar bahwa Lembu Sora dan Jaka Soka baru saja bertempur mati-matian sehingga hampir tiga perempat bagian tenaganya telah terperas habis. Juga karena pertentangan diantara mereka itu pula, maka pasangan mereka tidak begitu tertib sehingga Mahesa Jenar tidak begitu banyak mengalami kesulitan untuk melawan mereka bertiga.

Sejenak kemudian terjadilah lingkaran-lingkaran pertempuran yang hebat di tepi lapangan itu. Lawa Ijo dengan kedua pisau di tangannya menyerang bertubi-tubi dengan marahnya. Ia bermaksud untuk membinasakan Gajah Alit secepat-cepatnya supaya segera ia dapat melawan Mahesa Jenar. Di hadapan gurunya, Lawa Ijo menjadi bertambah garang, sebab ia tidak perlu lagi takut terhadap aji Sasra Birawa.

Karena itu gerakannya menjadi bertambah sengit. Tetapi Gajah Alit adalah perwira dari pasukan Nara Manggala, pasukan pengawal raja. Karena itu kepandaiannya hampir mumpuni, dan sama sekali tidak berada di bawah Lawa Ijo. Apalagi tangan yang pendek-pendek itu diperpanjang dengan rantainya yang berkepala bola besi, yang seakan-akan bola besi itu mempunyai mata, sehingga seolah-olah selalu mengejar kepala Lawa Ijo ke mana kepala itu disingkirkan. Dengan demikian untuk sementara Lawa Ijo harus melupakan Mahesa Jenar, sebab orang yang dihadapi itu pun merupakan seorang yang perkasa.

Di bagian lain, Uling Putih dan Uling Kuning bertempur berpasangan melawan Wiraraga dan Mantingan yang bertempur berpasangan pula. Di bawah cahaya purnama penuh, perkelahian itu tampak betapa berbahayanya apabila salah seorang menjadi lengah sedikit saja. Mereka berloncatan, sambar-menyambar dengan hebatnya. Sepasang cemeti di tangan kedua Uling itu berputar-putar dan terayun-ayun ke segenap penjuru, seolah-olah menjadi gumpalan-gumpalan asap yang melibat isi-mengisi satu sama lain. Tetapi sementara itu dua Trisula di tangan Wiraraga dan Mantinganpun bergerak berkilat-kilat memantulkan cahaya bulan. Ujungnya yang bermata masing-masing 3 buah itu seakan-akan berubah menjadi ratusan bahkan ribuan, yang oleh kedahsyatan ilmu Pacar Wutah menjadi benar-benar seperti genggaman demi genggaman bulan pacar yang ditebarkan, sehingga sangat sulit untuk menghindarinya.

Paningron mempunyai cara sendiri dalam pertempurannya melawan Sima Rodra muda yang bersenjatakan pusakanya, sebuah tombak pendek yang dinamainya Kala Tadah. Ia tidak begitu banyak bergerak. Di atas kedua kakinya, ia berdiri teguh, sedang tombak berkaitnya tergenggam di tangannya. Ia hanya berkisar setapak demi setapak menghadapi lawannya yang bertubuh tinggi besar itu. Dan apabila serangan datang, tangannyalah yang bergerak tangkas sekali. Tetapi meskipun demikian, apabila tampak padanya kesempatan, seperti kilat ia meloncat dan menyerang dengan garangnya. Tetapi Sima Rodra pun adalah seorang yang cukup berpengalaman, sehingga segera ia menyesuaikan diri dengan lawannya. Ia tidak berani banyak membuang tenaga yang tidak perlu, sebab dengan demikian, lawannya akan dapat membinasakan apabila tenaganya sudah separoh habis.

Sedangkan Mahesa Jenar yang menghadapi tiga orang sekaligus, bertempur seperti banteng terluka. Ia masih mencoba mengalahkan lawannya tanpa Aji Sasra Birawa yang mengerikan itu. Sebab gurunya selalu berpesan kepadanya bahwa apabila nyawanya tidak terancam benar-benar, sebaiknya ia tidak mempergunakan Sasra Birawa itu. Tetapi kemudian ternyata bahwa ketiga lawannya meskipun sudah tidak mempunyai tenaga penuh, namun akhirnya, karena mereka bersama-sama harus mempertahankan jiwa mereka, gerak mereka pun menjadi garang. Agaknya Lembu Sora dan Jaka Soka untuk sesaat dapat melupakan pertentangan mereka, ditambah dengan istri Sima Rodra yang bertempur dengan jari-jarinya yang mengembang dan di ujung-ujung jari itu tampak kuku-kukunya yang panjang dan bersalutkan logam yang pasti beracun. Itulah senjatanya yang ditakuti lawan-lawannya.

Lembu Sora dengan pedang panjangnya dan Jaka Soka dengan pedang lenturnya merupakan bahaya-bahaya yang setiap saat dapat mencabut jiwa Mahesa Jenar.

Sementara itu laskar golongan hitam dari tingkat yang paling bawah sampai pada orang-orang seperti Wadas Gunung, Sri Gunting, Sakayon, Carang Lampit dan sebagainya menyaksikan pertempuran itu dengan mata tanpa berkedip. 12 Orang yang perkasa sedang bergulat mati-matian antara hidup dan mati. Diantara kilatan senjata serta sambaran-sambaran angin yang ditimbulkan oleh pertempuran itu, berkali kali terdengar dentangan senjata serta teriakan-teriakan nyaring, yang bahkan kadang menimbulkan percikan bunga api memancar-mancar.

 

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
204

PASINGSINGAN dan Sima Rodra pun mengikuti pertempuran itu dengan saksama. Tetapi sampai sekian jauh ia masih belum memerintahkan kepada laskar-laskar golongan hitam itu untuk turut serta dalam pertempuran itu, sebab hal itu belum pasti akan menguntungkan, malahan mungkin akan merepotkan saja.

Dalam ketegangan yang semakin lama semakin memuncak itu, seolah-olah waktu berjalan lambat sekali. Agaknya bulan pun ingin menyaksikan pertempuran yang hebat itu sehingga perjalanannya agak terganggu.

Tetapi sesaat kemudian Sima Rodra dan Pasingsingan menjadi agak cemas melihat jalannya pertempuran. Sudah sampai sekian lama, namun orang-orangnya masih belum ada tanda-tanda dapat menguasai lawannya. Apalagi ketika tiba-tiba mereka menyaksikan Mahesa Jenar, yang ternyata akhirnya merasa terdesak, telah mengambil sikap. Kakinya diangkat dan ditekuk kedepan, satu tangannya menyilang dada sedang tangannya yang lain diangkat tinggi-tinggi. Segera pula ia mengatur pernafasannya dan memusatkan tenaganya pada sisi telapak tangannya. Itu adalah pertanda bahwa Mahesa Jenar telah memutuskan untuk mempergunakan senjatanya yang tersimpan di dalam sisi telapak tangannya, Sasra Birawa.

Lembu Sora, Jaka Soka dan Istri Sima Rodra, yang menyaksikan sikap Mahesa Jenar itu segera berloncatan mundur dan berpencaran. Mereka sadar bahwa apabila salah seorang dari mereka sampai tersentuh tubuhnya maka mereka tidak dapat mengharapkan untuk dapat menyaksikan terbitnya matahari fajar besok.

Karena itu mereka menjadi semakin hati-hati, dan tidak berani menyerang sekenanya, meskipun mereka masing-masing bersenjata.

Melihat keadaan itu, Sima Rodra ternyata tidak mau membiarkan tokoh-tokoh hitam itu kehilangan hati. Maka segera terdengar ia mengaum hebat. Akibatnyapun hebat sekali. Suara itu rasanya seperti mengguncang isi dada. Pasingsingan yang melihat Sima Rodra tua itu sudah akan bertindak, ia pun tidak tinggal diam. Meskipun bukanlah sewajarnya kalau orang-orang angkatan tua itu harus melawan Mahesa Jenar, namun bagi mereka tidak akan ada banyak bedanya, apakah Lawa Ijo dan kawan-kawannya, apakah Pasingsingan dan Sima Rodra yang membinasakan, meskipun mula-mula ia mengharap bahwa anak muridnya beserta kawan-kawannya dapat menyelesaikan masalah mereka sendiri untuk tidak membawa-bawa namanya. Tetapi sekarang, terpaksa ia terjun ke dalam pertempuran itu.

Tetapi baru saja ia meloncat, terdengarlah Sima Rodra berkata, Pasingsingan, kau jangan memperkecil perananku dalam pembunuhan yang akan aku lakukan. Kau tinggal pilih, aku atau kau yang membunuh kelima ekor kelinci yang sombong itu.
Mendengar teriakan Sima Rodra itu Pasingsingan tertawa. Apakah bedanya? Kau yang membunuh kelima-limanya, atau aku, atau kita berdua? jawabnya.
Terdengarlah Sima Rodra menggeram. Kemudian katanya, Baiklah…. Marilah kita berlomba. Siapakah diantara kita orang tua-tua ini yang masih cukup kuat bergerak. Kau atau aku yang terbanyak dapat membunuh kelima orang yang sudah jemu memandang purnama malam ini.

Kembali terdengar Pasingsingan tertawa. Suara tertawanya seolah-olah menyusup ke dalam tulang dan daging, sehingga menimbulkan perasaan nyeri dan pedih. Ketika suara tertawanya itu lenyap, terdengarlah suara suitan nyaring diikuti oleh suatu auman dahsyat. Dan seperti kilat berloncatanlah Pasingsingan dan Sima Rodra memasuki arena.
Mahesa Jenar yang masih menunggu kesempatan beserta keempat kawannya mendengar seluruh percakapan itu. Mau tidak mau hati mereka tergetar hebat.

Ternyata sekarang Pasingsingan dan Sima Rodra akan ikut serta dalam pertempuran itu. Mereka sama sekali bukanlah orang-orang yang takut mati, tetapi sebentar lagi mereka harus binasa sebelum dapat berbuat sesuatu atas tokoh-tokoh hitam itu. Itulah yang menggelisahkan hati mereka. Tetapi kenyataan itu sama sekali tak dapat diingkari lagi.

Segera darah mereka bergolak ketika mereka mendengar suitan Pasingsingan yang disusul dengan auman dahsyat Sima Rodra. Apalagi ketika dengan aba-aba itu, tokoh-tokoh hitam yang sedang bertempur itu segera berloncatan menjauhkan diri dari lawan masing-masing, agar tidak mengganggu kedua tokoh angkatan tua yang akan terjun dalam pertempuran.

Mahesa Jenar beserta kawan-kawannya sadar bahwa saat terakhir telah hampir tiba. Ketika lawan-lawan mereka berloncatan pergi, untuk sesaat mereka tertegun, tetapi sesaat kemudian tanpa sesuatu tanda apapun, agaknya mereka mempunyai persamaan perhitungan, sehingga seolah-olah digerakkan oleh satu tenaga, mereka berloncatan saling mendekat, untuk dapat bersama-sama melawan kedua orang tokoh dari angkatan tua itu.

Melihat mereka berkumpul dalam satu lingkaran, terdengarlah Pasingsingan dan Sima Rodra tertawa hampir berbareng.

Suatu kesetiakawanan yang mengagumkan. Meskipun kalian berdatangan dari perguruan yang berbeda-beda, tetapi karena nasib kalian telah akan kami tentukan, maka kalian dapat bekerja sama dengan rapi sekali. Nah sekarang, lawanlah kami berdua yang tak bersenjata ini dengan segenap kemampuan kalian, sebelum kalian tak sempat menikmati lezatnya madu, kata Pasingsingan.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
205

Kata-kata itu hebat akibatnya. Bunyinya terdengar lebih dahsyat dari seribu guruh yang meledak bersama-sama. Tetapi justru karena itu maka setiap hati dari kelima orang itu menjadi pasrah pada garis hidupnya masing-masing. Dengan demikian maka lenyaplah segala perasaan gentar dan cemas. Yang ada dalam dada mereka hanyalah satu kepercayaan bahwa pintu sorga akan terbuka bagi mereka yang gugur dalam menunaikan tugas mereka untuk membela kebenaran dan kebajikan. Karena itu mereka menjadi lebih mantap menggenggam senjata masing-masing yang siap diayunkan.

Sesaat kemudian tampillah Pasingsingan dan Sima Rodra bersama-sama, berbareng dengan bergeraknya setiap senjata kawan-kawan Mahesa Jenar. Segera berkobarlah suatu pertempuran yang dahsyat. Kedua orang dari angkatan tua itu memang ternyata memiliki ketinggian ilmu yang luar biasa, sehingga dengan tertawa-tawa saja Pasingsingan dan Sima Rodra dengan senangnya mempermainkan korbannya.

Dalam pada itu Mahesa Jenar dan kawan-kawannya telah bertempur mati-matian untuk mempertahankan diri. Mereka sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk menyerang. Pasingsingan dan Sima Rodra yang hanya dua orang itu seolah-olah seperti angin ribut yang melanda dari segenap penjuru, sedang suara tertawa mereka mengumandang dari segala arah.

Semakin lama Mahesa Jenar dan kawan-kawannya menjadi semakin bingung. Mereka sudah tidak tahu lagi di mana lawan-lawan mereka berada. Tetapi tahu-tahu tubuh mereka telah tersentuh oleh tangan-tangan yang panasnya melampaui panas api.

Mereka sadar bahwa Pasingsingan dan Sima Rodra sampai saat itu baru sampai pada taraf menggoda saja, serta menimbulkan kebingungan dan kesakitan yang semakin lama semakin merata di segenap tubuh Mahesa Jenar dan kawan-kawannya.

Sehingga akhirnya Mahesa Jenar dan kawan-kawannya itu bertempur seperti orang gila yang mengayun-ayunkan senjata tanpa tujuan, bahkan hampir-hampir saja mereka telah mengenai satu sama lain.

Sementara itu suara tertawa Pasingsingan dan Sima Rodra semakin lama menjadi semakin mengerikan dan menggoncang-goncang dada. Mahesa Jenar dan kawan-kawannya semakin lama menjadi semakin tak terkendalikan. Mereka bergerak berputaran tanpa tujuan dan hampir diluar kesadaran mereka masing-masing.

Sesaat kemudian agaknya Pasingsingan dan Sima Rodra telah jemu dengan permainan mereka. Karena itu segera terdengar Pasingsingan berkata, Sima Rodra, agaknya kelinci-kelinci itu sudah hampir gila. Apakah kita perlu membunuhnya ataukah kita buat saja mereka benar-benar gila? Buat apa kita menonton orang-orang gila berkeliaran di daerah ini?
Baiklah, kita bunuh saja mereka dengan senjata mereka sendiri, jawab Sima Rodra.
Mendengar percakapan Pasingsingan dengan Sima Rodra itu, Mahesa Jenar dengan keempat kawannya meremang seluruh tubuhnya. Tetapi juga karena itu darah mereka meluap-luap karena marah. Dengan sisa-sisa kesadaran yang masih ada, mereka pasrahkan jiwa dan raga kepada kekuasaan yang Tinggi. Dan sesudah itu mereka bersiap untuk menghadapi saat-saat terakhir.

Mahesa Jenar serta keempat kawannya itu masih sempat menyaksikan di bawah remang-remang cahaya purnama yang disaput mega, bayangan Pasingsingan dan Sima Rodra menyambar ke arah mereka, dan sejenak kemudian mereka melihat kedua orang itu berdiri sambil tertawa nyaring beberapa langkah di hadapan mereka dengan sebuah tombak berkait di tangan Pasingsingan serta sebuah trisula di tangan Sima Rodra.

Nah… kata Pasingsingan, Jangan salahkan aku kalau kalian mati karena senjata kawan sendiri. Yang mula-mula harus membuat perhitungan adalah Mahesa Jenar. Kau telah membunuh Watu Gunung, melukai Lawa Ijo, dan dengan Gajah Sora kalian menyerang aku di Banyubiru. Kaulah orang yang pertama-tama harus binasa. Setelah itu sebenarnya bagiku sudah tidak ada soal lagi, apakah aku atau Sima Rodra yang akan membelah perut kalian.
Mahesa Jenar mendengarkan kata-kata itu dengan dada yang bergetar. Bukan oleh ketakutan bahwa maut akan melibatnya, tetapi karena ia harus meninggalkan tugas-tugas sucinya sebelum seujung kuku dapat diselesaikan. Namun bagaimanapun ia adalah seorang jantan, karena itu ia tidak akan ada artinya. Maka segera ia pun mempersiapkan dirinya dengan apa yang ada padanya.

Mendengar kata-kata Pasingsingan itu, agaknya keempat kawan Mahesa Jenar tidak akan membiarkan Mahesa Jenar menjadi korban yang pertama-tama. Karena itu seperti orang yang berebutan, mereka tiba-tiba berloncatan mengelilinginya. Mahesa Jenar menjadi terharu melihat kesetiakawanan yang sedemikian tinggi. Meskipun Paningron dan Wiraraga kini sudah tidak bersenjata lagi, tetapi mereka sama sekali tidak gentar menghadapi kemungkinan yang akan datang.

Melihat kejadian itu Pasingsingan menjadi marah.

Ke tepilah kalian yang tidak berkepentingan. Atau kalian semuanya akan bersama-sama binasa, katanya.
Tak seorangpun menjawab, tetapi tak seorangpun beranjak dari tempatnya. Hal itu menjadikan Pasingsingan semakin marah. Tetapi belum lagi ia berkata sesuatu, Sima Rodra yang agaknya tidak sabar lagi, menggeram. Mereka ternyata benar-benar telah gila dan tidak mampu berkata-kata. Karena itu buat apa kita memilih korban. Marilah bersama-sama kita binasakan mereka sekaligus.
Pasingsingan tidak menjawab. Tetapi segera mereka berdua bergerak dan seperti petir mereka menyambar bersama-sama.

Tetapi sementara itu Mahesa Jenar dan kawan-kawannya tidak berdiam diri saja sambil menunggu dada mereka tertembus senjata. Mereka pun segera berusaha untuk melawan sekuat-kuat tenaga mereka. Maka segera terjadilah sekali lagi pertempuran yang maha dahsyat.

Tetapi adalah di luar dugaan mereka semuanya, bahwa tiba-tiba saja Mahesa Jenar dapat memberikan perlawanan yang mengerikan. Dengan sebatang dahan kayu ia menyambar, melompat, menangkis dan menyerang dengan dahsyatnya hampir di luar kemampuan manusia.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
206

MAHESA JENAR seolah-olah berada di segala tempat dan dapat menggagalkan segala serangan Pasingsingan dan Sima Rodra, walaupun tidak diarahkan kepadanya. Sehingga baik kawan-kawan Mahesa Jenar sendiri maupun Pasingsingan dan Sima Rodra menjadi terheran-heran. Mantingan, Gajah Alit, Wiraraga dan Paningron sampai-sampai terpaksa berhenti bertempur karena Mahesa Jenar selalu bergerak dan seolah-olah melayang-layang di hadapan mereka, pada setiap waktu nyawa mereka terancam, sehingga di dalam lingkaran pertempuran itu seakan-akan ada beribu-ribu Mahesa Jenar yang bertempur bersama-sama. Karena itu dada mereka sekarang tergoncang hebat, tidak karena Pasingsingan dan Sima Rodra, tetapi justru karena Mahesa Jenar yang berubah menjadi ribuan Mahesa Jenar dengan kesaktiannya yang dapat menandingi Pasingsingan dan Sima Rodra.

Sebaliknya Pasingsingan dan Sima Rodra menjadi terheran-heran tak keruan. Menghadapi lima orang yang sebenarnya bagi mereka sama sekali tak berarti itu, tiba-tiba saja menjadi agak kerepotan.

Serangan-serangan mereka yang seharusnya sudah tidak mungkin dielakkan oleh orang-orang yang setingkat dengan Mahesa Jenar dan kawan-kawannya itu, tiba-tiba dapat dimusnahkan hanya oleh sepotong dahan kayu. Karena itu mereka menjadi semakin marah. Apalagi ketika mereka melihat kelima orang yang melawannya itu bergerak berputaran melingkar dan melibat satu sama lain dengan gerak yang tak terduga-duga dan membingungkan.

Sebenarnya kawan-kawan Mahesa Jenar itu sama sekali tidak mampu mengadakan gerakan-gerakan yang sedemikian rumitnya, tetapi Mahesa Jenar lah yang mendorong mendesak dan kadang-kadang menarik mereka untuk membuat gerakan-gerakan yang aneh-aneh.

Akhirnya Pasingsingan menjadi tidak sabar lagi, demikian juga Sima Rodra. Segera mereka melemparkan senjata-senjata rampasan itu, dan tiba-tiba di tangan Pasingsingan telah tergenggam sebilah pisau belati panjang yang berwarna kuning gemerlapan, sedang di jari-jari Sima Rodra seolah-olah tumbuhlah kuku-kukunya yang panjang dan bersalut logam. Agaknya kedua orang itu telah sedemikian marahnya sehingga mereka merasa perlu mempergunakan senjata-senjata simpanan mereka.

Dalam pada itu, segenap tokoh-tokoh hitam yang menyaksikan pertempuran itu menjadi cemas dan kebingungan. Berkali-kali mereka menggosok-gosok mata mereka, sebab di dalam keremangan cahaya bulan yang tidak seterang siang hari, mereka telah menyaksikan suatu pertempuran yang tak dapat diikuti oleh pikiran-pikiran mereka. Pasingsingan dan Sima Rodra adalah dua tokoh yang berada dalam tingkatan guru Mahesa Jenar, bahkan mungkin berada diatas guru-guru orang-orang lain kawan-kawan Mahesa Jenar.

Tetapi ternyata untuk melawan mereka berlima, kedua orang sakti itu telah terpaksa mempergunakan senjata-senjata mereka yang hampir sama sekali tak pernah mereka perlihatkan. Apalagi di dalam lingkaran pertempuran itu, mereka melihat bayangan Mahesa Jenar berubah, seakan-akan lebih dari satu Mahesa Jenar yang berdiri di sana sambil bergerak menyambar-nyambar tak terikuti oleh pandangan mereka.

Sementara itu pisau belati panjang Pasingsingan telah mulai bergerak menyambar-nyambar, sedang jari-jari Sima Rodra yang berkuku panjang-panjang mengembang mengerikan. Namun Mahesa Jenar dapat dengan tangkasnya melawan setiap serangan kedua tokoh itu. Malahan sekali-sekali potongan dahan kayu di tangannya berhasil mengenai tubuh Pasingsingan dan Sima Rodra. Dengan demikian sekarang bergantilah bahwa Pasingsingan dan Sima Rodra yang menjadi kebingungan dan bertempur dengan gelisah.

Barulah teka-teki itu terpecahkan ketika Pasingsingan dan Sima Rodra yang sudah kebingungan meloncat beberapa langkah surut untuk mengambil jarak dengan kelima lawannya yang aneh itu.

Karena Pasingsingan dan Sima Rodra adalah dua orang yang sudah kenyang makan asin pahit kehidupan, maka mereka segera menaruh curiga bahwa pasti ada sesuatu yang tidak wajar.

Ketika mereka telah berdiri dengan jarak dua tiga langkah, tahulah mereka bahwa mata mereka telah terkelabui. Karena itu segera Pasingsingan berteriak nyaring dibarengi oleh suara auman dahsyat dari Sima Rodra untuk menyatakan kemarahan hati mereka.

Ternyata yang berdiri di hadapan mereka itu, yang semula adalah lima orang, tiba-tiba tanpa setahu orang setingkat Pasingsingan dan Sima Rodra telah berubah menjadi tujuh orang. Sedang kedua orang yang melibatkan diri kedalam pertempuran itu berpakaian kumal dan berwarna gelap mirip sekali dengan pakaian Mahesa Jenar.

Apalagi gerak mereka pun sedemikian dekat dengan gerak anak perguruan Pengging itu. Mereka berdualah yang memegang tongkat potongan dahan kayu. Sedang Mahesa Jenar yang sebenarnya tanpa diketahuinya sendiri telah memegang sepotong dahan kayu yang mirip dengan kedua dahan yang lain. Itulah sebabnya bahwa dalam keributan pertempuran itu Mahesa Jenar seolah-olah berubah menjadi beribu-ribu Mahesa Jenar yang berada di segala tempat.

Mengalami peristiwa itu Pasingsingan dan Sima Rodra untuk sejenak tertegun heran. Ini adalah suatu kejadian yang luar biasa. Meskipun Pasingsingan dan Sima Rodra sadar bahwa mereka adalah manusia-manusia biasa, namun peristiwa itu adalah peristiwa yang hampir tak mungkin dapat dimengerti. Hal ini adalah suatu pertanda bahwa kedua orang yang memasuki arena itu adalah orang yang mumpuni.

Apalagi Mahesa Jenar sendiri beserta keempat kawannya. Mereka jadi ragu-ragu sendiri apakah otak mereka telah benar-benar tidak bekerja dengan baik.

Baru kemudian sadarlah mereka bahwa ada orang lain yang sengaja akan menolong jiwa mereka. Karena ternyata ketika mereka sempat memperhatikan setiap wajah diantara mereka, dapatlah mereka ketahui bahwa kedua orang yang berpakaian mirip dengan Mahesa Jenar, kumal dan gelap itu, sama sekali bukan Mahesa Jenar. Wajah-wajah mereka tampak merah kehitam-hitaman.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
207

Di bawah cahaya bulan yang remang-remang, memang sangat sulit untuk mengenali siapakah mereka itu. Apalagi agaknya kedua orang itu dengan sengaja telah mewarnai wajah-wajah mereka dengan warna-warna hitam dan merah. Sedemikian hebatnya peristiwa itu mempengaruhi perasaan mereka sehingga kelima orang itu tubuhnya menjadi gemetar.

Sementara itu darah Pasingsingan dan Sima Rodra serasa mendidih, membakar rongga dada mereka. Mereka merasa bahwa perbuatan kedua orang itu telah dilakukan dengan sengaja untuk menghinanya. Karena itu mereka menjadi marah sekali. Maka terdengarlah suara Pasingsingan yang seolah-olah melingkar-lingkar di dalam perut.

Hai orang-orang yang telah berbuat seolah-olah jantan tanpa tandingan, kalian telah menghinakan kami. Apakah kalian tidak sadar bahwa perbuatan kalian itu dapat mengancam keselamatan jiwa kalian?

Maka terdengarlah salah seorang menjawab dengan nada yang tajam tinggi dibuat-buat, sehingga semua orang yang mendengarnya mengetahui bahwa suara itu bukanlah suara aslinya untuk menyembunyikan diri,

Aku hanya ingin bermain-main saja Pasingsingan, seperti kau ingin bermain-main dengan kelima kelinci-kelinci ini. Bukankah permainanku tidak kalah baiknya dengan permainanmu?

Mendengar jawaban itu Sima Rodra menyahut dengan suaranya yang menggeletar,

Apa hubungan kalian dengan orang-orang yang akan aku binasakan itu?

Kembali terdengar jawaban, Hubungannya adalah, aku tidak senang melihat kau membinasakan orang-orang yang tak bersalah.
Oleh jawaban itu, darah Sima Rodra dan Pasingsingan semakin menggelegak.

Aku beri kesempatan kau minta ampun kepadaku, kata Sima Rodra. Atau, aku akan membinasakan kalian juga?
Terdengarlah suara tertawa tinggi nyaring. Kemudian orang itu menjawab pula, Aku tidak senang melihat kau membinasakan kelima orang yang tak bersalah itu, apalagi kau akan membinasakan kami berdua. Pastilah, bahwa kami menjadi semakin tidak senang lagi.

Janganlah kalian berbicara seenaknya, bentak Pasingsingan.

Kau anggap bahwa orang-orang itu tak bersalah? Aku mempunyai sebuah ceritera yang tak akan habis aku ceriterakan semalam suntuk untuk membuktikan kesalahan mereka.

Aku sudah tahu apa yang akan kau ceriterakan. Terdengar kembali sebuah jawaban,

Dan aku mengerti pula apa yang kau anggap kesalahan orang-orang itu, bahwa mereka telah berusaha mencegah kejahatan-kejahatan yang kalian atau murid-murid kalian lakukan.

Karena jawaban itu Pasingsingan hampir tak dapat menguasai dirinya, namun ia masih bertanya pula, Siapakah sebenarnya kalian?


Orang yang selalu menyembunyikan wajahnya di belakang topeng yang jelek itu, tak perlu berusaha mengetahui siapakah orang-orang yang berdiri di hadapannya,
jawab orang itu.

Sekarang Pasingsingan benar-benar tak dapat menguasai dirinya. Dengan satu gerakan yang hampir tak dapat ditangkap oleh kecepatan pandangan mata, Pasingsingan meloncat maju. Belati panjangnya berkilau gemerlapan oleh sinar bulan yang remang-remang. Sedang Sima Rodra yang melihat kawannya mulai bertindak, segera pula mengaum menggetarkan sambil menerkam, tak ubahnya seekor harimau lapar.
Yang menyaksikan kedua serangan tokoh-tokoh hitam dari angkatan tua itu, dadanya berdesir. Seakan-akan tak ada seorang pun yang dapat menghindarkan diri dari serangan yang demikian dahsyatnya.

Tetapi ternyata dugaan mereka meleset. Dua orang yang berpakaian mirip dengan Mahesa Jenar itu, yang masing-masing menerima serangan dari Pasingsingan dan Sima Rodra, masih sempat berteriak nyaring, Mahesa Jenar, undurlah beserta kawan-kawanmu. Biarlah mereka selesaikan urusan ini dengan orang-orang yang sebaya.
Setelah itu mereka segera berloncatan menghindari serangan-serangan lawannya yang hampir saja telah mengenainya. Mahesa Jenar dengan keempat kawannya, setelah mendengar kata-kata orang yang tak dikenalnya itu, segera berlari menjauhi sampai lebih dari 10 langkah.

Setelah itu maka terjadi suatu pertarungan yang maha dahsyat. Pertarungan yang jarang terjadi. Pasingsingan yang telah terkenal sebagai seorang yang paling ditakuti itu bertempur mati-matian dengan seorang yang tak dikenal, yang memiliki ilmu sempurna.

Demikian pula Sima Rodra. Ternyata lawannya memiliki ilmu yang tinggi pula sehingga pertempuran diantara mereka tidak kalah hebatnya.

Sejenak kemudian pertempuran itu sudah tidak dapat disaksikan dengan jelas. Yang tampak hanyalah asap yang bergulung-gulung libat melibat, serta kilatan cahaya yang menyambar-nyambar, disertai dengan angin yang melingkar-lingkar diantara mereka yang sedang bertempur itu.

Selain suara derap mereka yang sedang berjuang itu tak ada lagi yang bergerak, bahkan tak seorangpun yang sempat mengedipkan mata.

Suasana di lapangan kecil di tepi hutan itu benar-benar dicekam oleh suasana tegang yang mengerikan. Angin yang bertiup semilir seakan-akan menyebarkan udara maut ke segenap penjuru, sedang bunga-bunga liar menaburkan bebauan yang menjadikan udara bersuasana mati namun harum.

Demikianlah pertempuran itu menjadi semakin lama semakin dahsyat. Orang-orang yang tak dikenal itu ternyata benar-benar dapat menandingi Pasingsingan dan Sima Rodra. Bahkan semakin lama semakin nampak bahwa Pasingsingan dan Sima Rodra menjadi agak terdesak.

Hal ini adalah suatu kejadian yang sangat menggoncangkan dada mereka yang menyaksikan. Mereka jadi sibuk menduga-duga siapakah kedua orang itu. Wajahnya yang sengaja disaput dengan warna-warna hitam dan merah itu menjadi sangat susah untuk dikenali di dalam keremangan cahaya bulan.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
208

KETIKA Pasingsingan dan Sima Rodra seamkin terdesak, maka tak ada pilihan lain dari mereka kecuali mempergunakan ilmu-ilmu terakhir yang menjadi andalan mereka. Segera Sima Rodra meloncat beberapa langkah mundur. Dengan sebuah auman yang hebat ia menggetarkan tubuhnya. Itulah suatu pertanda bahwa Harimau Liar dari Rojaya itu telah mempergunakan ajinya yang dahsyat, Macan Liwung.

Sedang di lain pihak, Pasingsingan segera mengenakan cincinnya yang bermata merah menyala, Kelabang Sayuta, dibarengi dengan ilmunya Alas Kobar. Akik Klabang Sayuta adalah semacam batu akik beracun yang sangat tajam dan pernah dipergunakan oleh Lawa Ijo untuk menghantam Mahesa Jenar. Untunglah Mahesa Jenar memiliki daya penawarnya. Sedang aji Alas Kobar sebenarnya adalah suatu ilmu yang maha dahsyat, yang apabila dipergunakan untuk menyerang lawan, akibatnya seperti api yang maha besar, yang seolah-olah sanggup memusnakan hutan yang lebat.

Melihat kedua lawannya telah mempergunakan ilmu-ilmu yang paling akhir dimiliki, serta mempunyai daya hancur yang luar biasa, maka kedua orang yang berpakaian mirip dengan Mahesa Jenar itu segera berloncatan mundur. Tampaklah mereka mengerutkan kening dan menarik nafas panjang. Tetapi mereka sudah tidak memiliki waktu banyak untuk berfikir, sebab sesaat kemudian Pasingsingan dan Sima Rodra telah siap untuk menghancurlumatkan lawan-lawan mereka.

Mahesa Jenar beserta keempat kawannya yang menyaksikan gerak Pasingsingan dan Sima Rodra yang berubah menjadi buas dan mengerikan itu, menahan nafas. Dada mereka berdegupan. Apakah kira-kira yang akan terjadi apabila kedua orang yang berpakaian mirip Mahesa Jenar itu sampai terjamah oleh tangan-tangan yang siap menyebar maut itu?

Sebaliknya adalah Lawa Ijo, Sima Rodra beserta kawan-kawannya. Seolah-olah mereka sudah melihat bahwa perkelahian itu sudah sampai pada akhir. Kedua orang itu pasti segera akan lebur menjadi tepung, dan sesudah itu mereka akan menyaksikan lawan-lawannya yang paling dibencinya, yaitu Mahesa Jenar akan lumat pula beserta keempat kawan-kawannya.

Tetapi apa yang mereka saksikan adalah sama sekali tidak seperti yang mereka bayangkan. Kedua orang yang berpakaian mirip Mahesa Jenar itu kemudian tampak berdiri tegak di atas kedua kaki yang renggang, sedang kedua tangan mereka bersilang dengan telapak tangan masing-masing di atas pundak seperti orang yang sedang bersemedi. Tetapi apa yang mereka lakukan itu hanya sesaat, tidak lebih dari sekeredipan mata.

Setelah itu, segera mereka berloncatan dan bergerak, mirip dua ekor rajawali yang menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Tetapi tak seorang pun yang mengetahuinya, bahwa kedua orang itu telah mempergunakan ilmu yang mereka namakan Naga Angkasa. Ilmu yang telah mereka ciptakan bersama setelah mereka bertahun-tahun menekuni dan mempelajari gerak dari binatang-binatang di udara. Sehingga akhirnya mereka menemukan suatu kedahsyatan dari gerak burung rajawali yang mereka gabungkan dengan kelembutan gerak seekor ular yang sanggup membelit, melingkar dengan lemasnya. Dilambari dengan kekuatan batin yang sempurna dari kedua orang yang tak dikenal itu, maka Naga Angkasa merupakan suatu ilmu yang sukar untuk diperbandingkan.
Karena itu, beradunya ilmu-ilmu yang dahsyat itu kemudian menimbulkan suasana yang hampir tak dapat digambarkan. Macan Liwung, Alas Kobar dan Naga Angkasa. Di dalam lingkaran pertempuran itu terjadilah benturan-benturan yang mengerikan. Meskipun mereka tidak bersenjata, sentuhan tubuh-tubuh mereka dengan ilmu mereka masing-masing telah melebihi berdentangnya senjata.

Ketika pertempuran itu kemudian bergeser semakin mendekati hutan, maka tampaklah pepohonan menjadi bergoyang-goyang oleh angin yang timbul karena gerakan-gerakan mereka yang sedang bertempur. Daun-daun kering berterbangan melebihi tiupan angin kemarau. Kemudian disusul dengan kengerian yang memuncak.
Tangan-tangan mereka yang tak dapat menyentuh lawan-lawan mereka, yang dengan gerak yang tak dapat dicapai oleh mata biasa berhasil menghindar, dan kemudian mengenai pepohonan, menjadi roboh berantakan. Suaranya berderak-derak menggetarkan seluruh hutan di tepi Rawa Pening itu, disela oleh teriakan nyaring dan auman dahsyat Sima Rodra tua.

Baik Mahesa Jenar dan kawan-kawannya, maupun Lawa Idjo beserta seluruh golongan hitam, ketika menyaksikan kedahsyatan pertempuran itu, kemudian seperti orang-orang yang melihat pertunjukan yang menakutkan.

Pertempuran itu sendiri semakin lama menjadi semakin dahsyat.

Sementara itu bulan yang berjalan menyusur garis edarnya, semakin lama menjadi semakin tinggi tergantung di langit yang bersih. Hanya sekali-kali mega putih seperti kapas berterbangan di muka wajahnya yang kuning pucat, seperti wajah gadis yang ketakutan melihat pahlawannya sedang berjuang diantara hidup dan mati.

 

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
209

KETIKA bulan itu sudah melampaui titik puncak langit, terjadilah perubahan dalam keseimbangan pertempuran di hutan Rawa Pening. Kedua orang yang berpakaian mirip Mahesa Jenar serta wajahnya disaput dengan warna merah dan hitam itu kemudian berpendapat bahwa apabila keringatnya semakin banyak mengalir, akan hanyutlah warna-warna hitam dan merah di wajahnya. Maka dengan demikian pasti mereka akan dikenal oleh lawan-lawannya. Apalagi kalau pertempuran itu sampai menjelang fajar. Karena itu, segera mereka mengeluarkan segenap ilmunya, kekuatan lahir dan batinnya. Naga Angkasa itu semakin lama menjadi semakin garang setelah mendapatkan saluran yang lapang.

Pasingsingan yang percaya kepada ilmunya Alas Kobar menjadi keheran-heranan dan gelisah. Ilmu yang dapat menghindarkan diri dari panasnya ilmu Alas Kobar yang melebihi bara api. Bahkan kadang-kadang ia terlibat dalam satu keadaan yang sangat berbahaya.

Udara yang dingin seolah-olah meniup-niup dari segala arah dan melilit-lilit tubuhnya seperti ular. Sementara ia sedang berusaha menguraikan lilitan hawa dingin itu, tiba-tiba melayanglah lawannya dari udara dengan tangan yang mengembang siap menerkam lehernya. Untuk melawan serangan yang demikian, terpaksa ia mempergunakan pisaunya di tangan kiri dan akik Klabang Sejuta di tangan kanan dilambari dengan ilmunya Alas Kobar. Beruntunglah Pasingsingan bahwa agaknya lawannya mengenal betapa saktinya kedua senjatanya itu sehingga beberapa kali ia berhasil membebaskan diri dari serangan-serangan maut yang mengerikan itu.

Sima Rodrapun diam-diam mengumpat dalam hati. Lawannya benar-benar seperti hantu yang menakutkan. Gerakan-gerakannya cepat tak terduga, sedang aji Macan Liwung ternyata sampai sekian lama tak dapat menjatuhkannya. Karena itu ia menjadi semakin ganas dan beberapa kali mengaum keras.

Namun bagaimanapun juga lawannya benar-benar seorang yang luar biasa, yang menyerangnya seolah terbang di udara, tetapi sekali-kali berguling dan tangannya mematuk seperti kepala ular mengarah ke bagian-bagian tubuhnya yang lemah.

Benturan-benturan yang terjadi di dalam pertempuran itu, meyakinkan Sima Rodra bahwa lawannyapun memiliki kekuatan yang dapat menandingi kekuatan Macan Liwung. Karena itu ia menjadi gelisah sebab sesudah Macan Liwung tidak ada lagi yang dapat dibanggakan.

Sesaat lagi semakin jelaslah bahwa kedua orang yang berpakaian mirip dengan Mahesa Jenar itu mempunyai beberapa kelebihan dari lawannya. Lawan Pasingsingan hampir dalam setiap geraknya dapat memotong gerakan-gerakan Pasingsingan, bahkan mendahuluinya. Karena itu Pasingsingan menjadi semakin heran dan kebingungan.

Tetapi sama sekali ia tak dapat meraba-raba, dari perguruan manakah ilmu yang diwarisi oleh lawan-lawannya yang aneh itu. Sebab menilik beberapa geraknya, ia mengenal sumber-sumber yang bermacam-macam. Bahkan ada beberapa kemiripan dengan gerakan-gerakan dari perguruannya sendiri, tetapi ia juga melihat beberapa gerakan yang sesuai dengan dasar-dasar gerak peninggalan dari almarhum Ki Ageng Pengging Sepuh yang bersumber dari Ranggalawe yang dahsyat itu. Malahan ia melihat juga gerakan-gerakan hebat yang berasal dari almarhum Raden Gadjah yang pernah dengan susah payah dipelajarinya namun sama sekali belum sempurna.

Karena kegelisahan serta kebingungan itulah maka Pasingsingan bertempur semakin lama semakin kehilangan keseimbangan. Meskipun kemarahannya menggelegak sampai kepala, namun tenaganya tidak dapat mengimbangi perasaannya. Sehingga semakin bernafsu ia mengalahkan lawannya semakin hilanglah keseimbangan gerakannya.
Agaknya sedemikian pula dengan Sima Rodra. Bagaimanapun ia berusaha dengan sekuat tenaganya yang diandalkan itu, namun ilmunya Macan Liwung memang berada di bawah kedahsyatan Naga Angkasa. Karena itu semakin lama Sima Rodra tua itu menjadi semakin terdesak mundur. Beberapa kali ia mencoba untuk mengadakan serangan-serangan yang membahayakan, tetapi usahanya selalu tidak berhasil.

Ia menganggap bahwa selama ini tak seorang pun yang mampu mengatasi ilmunya yang mengerikan itu. Pandan Alas, Sora Dipayana, Titis Anganten yang mewarisi sebagian ilmunya Menak Jingga dari Blambangan dan sahabatnya sendiri Bugel Kaliki yang terkenal itupun setinggi-tingginya baru dapat menyamainya.

Namun tiba-tiba sekarang ia berhadapan dengan seorang yang tak dikenal yang dapat melebihi ketinggian ilmunya. Meskipun wajah orang-orang itu tak jelas baginya namun pasti bahwa mereka bukan orang dari Pandan Alas beserta sahabat-sahabatnya.

Karena itu hatinya lambat laun menjadi kecil pula. Ia masih mempunyai banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Apabila ia sampai dilibat oleh lawannya sehingga ia benar-benar dibinasakan maka segala rencananya akan pudar.

Bagaimanapun, seperti juga Pasingsingan, ia berkeinginan melihat muridnya, bahkan anaknya sendiri menjadi orang yang berkekuasaan besar. Itulah sebabnya ia bekerja mati-matian untuk mendapatkan keris-keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten dengan sekutunya Pasingsingan, meskipun ia sadar bahwa kemudian Pasingsingan pasti akan mengusahakan agar keris itu dapat dimiliki oleh murid kesayangannya, Lawa Ijo.

Karena itu, baik Sima Rodra maupun Pasingsingan merasa bahwa bagaimanapun mereka tak akan mampu untuk mengalahkan lawannya. Ia tidak berani memerintahkan kepada Lawa Ijo dan kawan-kawannya untuk ikut serta dalam pertempuran itu, sebab bahayanya akan besar sekali apabila mereka sampai tersentuh kesaktian ilmu lawannya. Apalagi dengan demikian Mahesa Jenar dan kawan-kawannya pasti tidak akan tinggal diam. Karena itu jalan yang sebaik-baiknya selagi masih berkesempatan adalah menarik diri.

Mendapat keputusan itu, maka segera terdengarlah suara tertawa Pasingsingan yang mengerikan. Suara itu bergetar di antara gerak-geraknya yang semakin terdesak itu.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
210

MAHESA Jenar dan kawan-kawannya terkejut mendengar suara Pasingsingan, yang seolah-olah mendapat suatu kemenangan yang gemilang. Tetapi sebenarnya suara itu adalah suatu pertanda kepada Lawa Ijo dan anak buahnya untuk segera menghindarkan diri. Karena itu, betapa kecut hati Lawa Ijo beserta anak buahnya melihat suatu kenyataan bahwa Pasingsingan yang diagung-agungkan itu tidak dapat mengatasi lawan-lawannya.

Maka, tidak perlu diulangi lagi, Lawa Ijo segera meloncat dan berlari sekencang-kencangnya menjauhi lawan-lawan Pasingsingan, disusul oleh Wadas Gunung, Carang Lampit, Cemara Aking dan kawan-kawannya.

Melihat Lawa Ijo dan para pengiringnya melarikan diri, tokoh-tokoh golongan hitam itu terkejut. Segera mereka sadar bahwa keadaan menjadi sangat genting. Apalagi ketika kemudian terdengar geram Sima Rodra seperti merintih-rintih, dan kemudian disusul dengan lenyapnya Suami Isteri Sima Rodra muda menyusup kedalam hutan, maka pemimpin-pemimpin gerombolan hitam itu tidak menunggu lebih lama lagi, segera mereka dengan pengiring-pengiring mereka berlari-lari menyelamatkan diri mereka masing-masing.

Melihat peristiwa itu Mahesa Jenar dan kawan-kawannya menjadi keheran-heranan. Mereka sama sekali tidak dapat mengetahui apakah yang terjadi. Sesaat kemudian terdengarlah orang-orang yang berpakaian seperti Mahesa Jenar itu tertawa nyaring. Sedang solah mereka menjadi semakin lincah dan berbahaya.

Akhirnya Sima Rodra merasa bahwa tidak ada gunanya ia bertahan lebih lama lagi. Mungkin ia masih dapat bertempur sampai sehari, namun kesudahannya akan sudah pasti, yaitu lawannya akan dapat membinasakannya. Karena itu, dengan mengaum hebat, ia meloncat undur dan setelah itu dengan kecepatan yang mungkin dicapainya, ia berusaha untuk menyelamatkan diri. Melihat Sima Rodra Rodra itu berlari seperti terbang meninggalkannya, lawan Sima Rodra itu tertawa kembali. Tetapi sama sekali ia tidak berusaha untuk mengejarnya.

Berbeda dengan lawan Pasingsingan. Ketika Pasingsingan tinggal seorang diri, iapun segera berusaha untuk melepaskan diri dari pertempuran itu, namun lawannya sama sekali tidak memberi kesempatan. Bahkan akhirnya dengan mengerahkan segenap tenaganya lahir dan batin, dilambari dengan ilmu Naga Angkasa, lawan Pasingsingan itu berhasil melibat tubuh Pasingsingan dengan gerak-geraknya yang mirip dengan gerak Ular, tetapi yang kadang-kadang seperti seekor burung Rajawali yang meniup menyambar-nyambar. Mengalami peristiwa itu Pasingsingan menjadi bingung.

Keringat dinginnya mengalir membasahi jubah abu-abunya.

Dengan segenap kekuatannya ia mencoba bertahan, dan melindungi dirinya dengan Belati Panjangnya yang bernama Kiai Suluh, serta akik Kelabang Sayuta dibarengi dengan ilmunya Alas Kobar dan Gelap Ngampar. Namun Naga Angkasa itu seperti hantu saja yang berada disegala tempat dan menyerang dari segala penjuru.

Pasingsingan mengeluh didalam hati. Karena itulah maka pemusatan pikirannya sedikit demi sedikit menjadi terurai, sehingga dengan demikian daya kekuatan Alas Kobar serta Gelap Ngampar pun menjadi berkurang. Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba terasalah udara dingin sedingin air embun, membelit diseluruh bagian tubuhnya, dibarengi dengan suatu teriakan dahsyat seperti teriakan burung rajawali yang sedang marah, terasalah pundaknya dicengkam oleh tangan yang kuat seperti baja.

Dengan cepat ia menggerakkan pisau panjangnya, tetapi sama sekali tak mengenai sesuatu. Cepat ia mengulangi berkali-kali, tetapi yang ada dihadapannya bagaikan hantu yang dapat berkisar-kisar dengan cepatnya tanpa mengadakan gerakan sesuatu. Bahkan akhirnya tangan yang sekuat baja itu berhasil menangkap tangannya dan dipilinnya kebelakang. Pasingsingan merasakan suatu keanehan membersit didalam dadanya. Bahwa didunia ini ada kekuatan seperti itu, yang sama sekali tak diduganya semula. Sebenarnya ia sendiri merasakan bahwa ilmunya tidak usah terlalu jauh kalah dari ilmu lawannya. Hanya kekuatan orang itu agaknya yang luar biasa.

Dengan mengerahkan segenap kekuatannya yang terakhir Pasingsingan mencoba untuk melepaskan diri, namun orang itu agaknya mengerahkan segenap kesaktiannya pula untuk dapat tetap menguasai Pasingsingan.

Mahesa Jenar dan kawan-kawannya melihat kejadian itu dengan jantung yang berdegupan hebat. Meskipun mereka agak terguncang perasaan, namun timbul pula kebanggaan serta ketenteraman diri. Mereka menyaksikan bahwa akhirnya Pasingsingan dapat dikalahkan.

Tiba-tiba dalam keremangan cahaya bulan mereka melihat tangan orang yang menangkap Pasingsingan itu bergerak cepat sekali sehingga dalam sekejap ditangan itu telah berkilat-kilat cahaya sebuah keris yang agaknya tidak kalah hebatnya dari pisau belati panjang Pasingsingan. Dengan penuh bernafsu orang yang berpakaian mirip Mahesa Jenar itu mengayunkan kerisnya untuk menembus dada Pasingsingan.

Tetapi kembali Mahesa Jenar dan kawan-kawannya dikejutkan oleh bayangan yang melontar kearah mereka yang sedang bertempur itu. Ia adalah orang yang satu lagi, yang berpakaian mirip Mahesa Jenar, yang tadi bertempur dengan Sima Rodra.

Dengan cekatan ia menangkap tangan kawannya yang memegang keris yang hampir saja memusnahkan orang yang memakai kedok jelek berjubah abu-abu dan menamakan diri Pasingsingan.

Orang itu agaknya terkejut, sehingga pegangannya mengendor. Kesempatan ini agaknya dapat dipergunakan Pasingsingan dengan baik. Cepat ia berusaha membebaskan diri, dan dalam sekejap tampaklah ia seperti terbang berlari menyusup kedalam hutan. Jubahnya yang abu-abu melambai-lambai ditiup angin malam, namun hanya sesaat, karena sesaat kemudian ia telah lenyap ditelan lebatnya hutan.

Orang yang memegang keris, yang hampir saja menyobek dada Pasingsingan itu memandang kawannya dengan mata yang bertanya-tanya. Rupa-rupanya ia menjadi sangat kecewa.

Katanya Kakang, kenapa kakang menahan aku pada saat Pasingsingan sudah diambang maut?

 

211

KAWAN orang itu menarik nafas panjang. Perlahan-lahan ia melangkah menjauh. Matanya yang sayu dilemparkan ke arah purnama yang dengan tenangnya mengambang di langit yang bersih. Hanya kadang-kadang saja tampak beterbangan kelelawar-kelelawar yang sedang mencari mangsa.
Adi… terdengarlah orang itu berkata, Entahlah apa sebabnya, aku tidak dapat membiarkan Pasingsingan itu terbunuh. Mungkin masanya memang belum sampai.

Masihkah Kakang ingin melihat kejahatan-kejahatan berikutnya yang akan dilakukan oleh Pasingsingan? desak yang lain.
Tentu tidak, Adi, jawabnya. Tetapi apakah kata bapa guru nanti atas kematian Pasingsingan. Sebab bagaimanapun juga ia adalah muridnya pula. Apalagi sebenarnya letak kesalahan yang menyebabkan segala kejadian ini, adalah aku sendiri. Kalau terjadi kejahatan-kejahatan, maka sebenarnya semuanya itu bersumber pada diriku. Bersumber pada pemuasan nafsu yang tiada mengenal batas. Karena itulah maka hukuman yang sepantasnya adalah dibebankan kepadaku.
Kau terlalu perasa, Kakang. Kalau suatu kota tenggelam dilanda banjir, bukanlah mata air yang harus memikul beban kesalahannya? Sebab dari mata air itulah sawah-sawah mendapat air, serta kepentingan-kepentingan lain yang berguna. Meskipun karena mata air itu dapat timbul banjir. Tetapi perkembangannya telah melampaui beberapa tingkatan yang tidak ada hubungannya. Air yang mengalir ke lautan menjadi mendung dan kemudian hujan lebat. Barulah terjadi banjir.
Untuk mencegah banjir itu haruskah orang-orang menutup segenap mata air? Seperti Kakang merasa bersalah kalau Pasingsingan berbuat kejahatan-kejahatan?

Orang yang lain itu sama sekali tak menjawab. Perlahan-lahan tampak orang itu mengangguk-anggukkan kepala. Tetapi pandangannya masih melekat pada bulan di langit.
Kakang… orang yang satu melanjutkan, Aku persilahkan Kakang melenyapkan perasaan itu. Perasaan yang menyalahkan diri tanpa batas. Suatu pengakuan yang demikian tidak akan menguntungkan. Bagi Kakang, bagi orang lain dan bagi bebrayan agung.

Sudahlah Adi, potong yang lain. Nada suaranya jauh dan dalam. Aku tahu akan perasaanmu. Suatu rasa kesetiaan dan kecintaanmu kepada saudara tua. Namun barangkali aku masih menunggu sampai guru memberikan ijinnya.
Mahesa Jenar mendengarkan percakapan itu dengan saksama. Kecuali dirinya tak seorang pun yang mengerti siapakah kedua orang itu. Tetapi bagi Mahesa Jenar, percakapan mereka cukup memberi penjelasan, siapakah mereka berdua. Karena itu segera ia berlari dan berjongkok di hadapan mereka. Keempat kawan-kawannya, meskipun tidak dapat mengerti siapakah mereka itu, namun sebagai ucapan terima kasih, mereka segera menirukan perbuatan Mahesa Jenar.
Paman…, kata Mahesa Jenar, Perkenankanlah aku mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas pertolongan Paman Paniling dan Paman Darba.
Kedua orang itu, yang memang sebenarnya adalah Paniling dan Darba, menjadi agak terkejut mendengar nama-nama mereka disebut oleh Mahesa Jenar. Maka terdengarlah Darba tertawa pendek.

Dari mana kau tahu tentang kami? Adakah warna-warna yang tersaput di wajah kami telah terhapus?

Aku telah mengenal paman berdua, baik suara Paman yang sebenarnya itu, maupun persoalan-persoalan yang Paman perbincangkan, jawab Mahesa Jenar.
Memang otakmu cemerlang seperti matahari musim kemarau, sahut Darba sambil tertawa kembali.

Bukankah begitu kakang? sambungnya kepada Paniling.
Paniling mengangguk-anggukkan kepalanya.

Aku sudah mengira kalau kau akan berbuat itu. Mengintip musyawarah orang-orang dari golongan hitam. Sadar atau tidak sadar, kau telah bermain-main api kembali. Karena itulah kami datang kemari. Beberapa waktu yang lampau aku telah memperingatkan agar kau berhati-hati menghadapi orang-orang dari golongan hitam itu. Hampir saja kau binasa pada saat kau dikerubut oleh tokoh-tokoh hitam itu. Sekarang kau masuk ke dalam bahaya yang lebih besar lagi, dimana hadir Sima Rodra tua dan Pasingsingan.

Mahesa Jenar sama sekali tidak menjawab. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Pamanmu Paniling terlalu hati-hati, Mahesa Jenar, sahut Darba.

Mungkin karena umurnya yang telah lanjut. Tetapi kira-kira pada saat mudanya melebihimu.


Mungkin,
potong Paniling sambil tersenyum, Memang anak-anak muda senang menyerempet-menyerempet bahaya.

Dan karena itulah mereka mencapai kemajuan-kemajuan, sambung Darba,

Karena dengan pengalaman-pengalaman mereka, masa depan seakan-akan telah diratakan. Sedang bagi mereka yang tidak berani menempuh bahaya, tak sesuatu apapun yang akan bisa dicapainya.
Meskipun demikian… jawab Paniling,

Segala sesuatu wajib diperhitungkan. Kalau kita berani menempuh bahaya, bukan berarti kita harus bunuh diri. Mahesa Jenar, kami datang kemari karena kami mencemaskan kau. Tetapi Adi Darba mengusulkan supaya kami membuat permainan ini dengan berpakaian mirip pakaianmu. Sebab kami tahu bahwa kau tidak pernah berganti pakaian kecuali kalau pakaianmu satu-satunya itu sedang kau cuci.

Semua yang mendengar kata-kata Paniling itu tersenyum. Mahesa Jenar menjadi agak malu. Memang, ia sama sekali tidak mempunyai pakaian lain selain yang dipakainya. Kalau pakaian itu dicuci, terpaksa ia menunggu sampai kering.
Maksudku… sahut Darba, Salah seorang diantara kami yang mungkin dapat berbuat sesuatu mewakilimu. Dengan demikian tak seorang pun berani merendahkan kau lagi. Tetapi ternyata kau datang berlima, sehingga kami agak menemui kesulitan. Untunglah bahwa kami menemukan suatu cara untuk bermain-main dengan Pasingsingan. Sayang, Kakang Paniling menahan kerisku yang sudah melekat di dada Pasingsingan itu.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
212

KI PANILING segera memotong,

Sudahlah Adi Darba, aku minta maaf kalau aku membuat kau kecewa. Sekarang yang penting adalah usaha untuk menemukan kembali keris yang hilang itu.

Mahesa Jenar… sambung Paniling, Apakah kau tidak memperkenalkan sahabat-sahabatmu itu kepadaku?

Mendengar pertanyaan Paniling, Mahesa Jenar seakan-akan disadarkan dari kekhilafannya. Segera ia mulai memperkenalkan satu persatu sahabat-sahabatnya yang telah bersama-sama melakukan suatu pekerjaan yang berbahaya.
Dan kepada sahabat-sahabatnya, Mahesa Jenar memperkenalkan Paniling dan Darba sebagai dua orang petani yang sakti, yang telah menolong jiwanya untuk kedua kalinya. Namun sama sekali tidak disinggung-singgungnya bahwa Paniling itulah yang dahulu pernah mengenakan jubah abu-abu dan kedok yang kasar, dan yang menamakan diri Pasingsingan.
Setelah mereka saling memperkenalkan diri, maka berkatalah Paniling, Mahesa Jenar, aku kira kerjaku untuk kali ini sudah selesai. Aku dan pamanmu Darba akan segera kembali. Tetapi pesanku, janganlah terlalu lama anak pungutmu kau tinggalkan. Sebab bagaimanapun juga, banyaklah bahaya yang mengancam anak itu.
Kembali Mahesa Jenar seperti orang yang tersadar dari mimpi. Segera ia ingat kepada Arya, anak yang sampai sekarang masih menjadi buruan pamannya sendiri. Karena itu tiba-tiba hatinya menjadi tidak tenteram. Meskipun Arya kini telah berada di tempat yang jauh, namun mungkin saja orang-orang Lembu Sora akan sampai ke sana.
Maka setelah Paniling dan Darba pergi meninggalkan mereka, segera mereka mengadakan pembicaraan tentang pekerjaan-pekerjaan apa yang harus dilakukan oleh mereka masing-masing.
Gajah Alit dan Paningron harus segera kembali ke Demak untuk melaporkan segala kejadian di tepi Rawa Pening itu. Melaporkan tentang kebenaran laporan mengenai adanya golongan hitam yang kuat dan berbahaya bagi ketenteraman negara. Dengan manyaksikan serta mengalami sendiri, Paningron serta Gajah Alit harus percaya, bahwa orang yang bernama Pasingsingan dan Sima Rodra, tetua dari golongan hitam, termasuk orang yang tak dapat diabaikan, meskipun jumlah orang-orang yang demikian itu tidak banyak.
Demikianlah maka segera Paningron dan Gajah Alit mohon diri. Mahesa Jenar melepaskan mereka berdua dengan pesan agar untuk sementara dirinya jangan tersinggung-singgung pula dalam laporan mereka, sebab ia masih belum mempunyai keinginan untuk kembali ke Demak sebelum Nagasasra dan Sabuk Inten diketemukan. Juga Mahesa Jenar mempergunakan kesempatan itu untuk menitipkan bukti-bukti tentang kebenaran alasan-alasan Gajah Sora, bahwa ia tidak mampu mempertahankan kedua keris itu dari usaha-usaha golongan lain untuk memilikinya.
Bagaimanapun hebatnya Gajah Sora, yang pernah menerima hadiah pusaka sebuah tombak yang bernama Kyai Bancak, namun menghadapi orang-orang seperti Pasingsingan dan Sima Rodra, maka Gajah Sora tidak lebih dari seorang anak-anak yang baru saja dapat berjalan.
Dalam pada itu Wiraraga pun minta diri untuk kembali ke Wanakerta bersama-sama dengan Ki Dalang Mantingan. Tetapi sebelum mereka berangkat, Mahesa Jenar minta kepada Ki Dalang Mantingan untuk membantu mengawasi tanah perdikan Banyubiru.

Dalam kedudukannya sebagai seorang dalang maka ia akan lebih leluasa bergerak di mana saja.
Maka setelah segala pembicaraan selesai, berpisahanlah mereka. Masing-masing ke arah tujuan masing-masing. Gajah Alit dan Paningron kembali ke Demak, Wiraraga dan Mantingan ke Wanakerta lewat Banyubiru.
Sedangkan Mahesa Jenar harus segera kembali kepada Arya Salaka yang telah beberapa hari ditinggalkan seorang diri, dan hanya dititipkan kepada para tetangga yang baik hati.
Mengingat kata-kata Ki Paniling, hati Mahesa Jenar tiba-tiba menjadi berdebar-debar. Memang sebenarnyalah pasti Lembu Sora tetap akan berusaha untuk membunuh Arya. Sebab sepeninggal Gajah Sora, Aryalah yang paling berhak atas tanah perdikan Banyubiru. Sedang apabila Arya ini dilenyapkan, maka keturunan Sora Dipayana tidak ada lain tinggal Lembu Sora seorang diri. Dengan demikian maka Banyubiru dengan sendirinya akan jatuh ke tangan orang itu.
Mengingat hal itu semuanya, maka segera Mahesa Jenar mempercepat langkahnya untuk dapat segera sampai ke rumah, dimana Arya ditinggalkan. Di perjalanan pulang itu hati Mahesa Jenar menjadi tidak tenteram. Ia telah menyatakan kesanggupannya kepada Gajah Sora untuk memelihara anak itu, serta mendidiknya dan mengajarinya dalam olah kanuragan sehingga anak itu kelak dapat menjadi orang yang berguna.
Ketika burung-burung menyambut fajar yang segar dalam belaian angin pagi yang bertiup halus dari pegunungan serta melintasi lembah-lembah, Mahesa Jenar masih tetap berjalan cepat-cepat. Seakan-akan kesegaran fajar itu tak terasa baginya. Namun meskipun demikian, sinar matahari pagi yang memancar cerah, dapat menimbulkan perasaan yang cerah pula. Karena itu Mahesa Jenar mempercepat langkahnya. Karena perasaannya yang kecemasan, ia sama sekali tak dipengaruhi oleh kelelahannya.
Demikianlah seharian Mahesa Jenar berjalan terus. Hanya sekali dua ia berhenti untuk mencari sumber air, apabila terasa lehernya disekat dahaga, serta kemudian untuk beberapa saat ia menyegarkan tubuhnya dengan duduk-duduk sejenak. Hanya sejenak, sebab ia tidak dapat membiarkan perasaannya diburu oleh kegelisahan. Karena itu, dengan tergesa-gesa segera Mahesa Jenar melanjutkan perjalanannya pula.
Demikian pula ketika matahari yang lelah setelah menempuh peredarannya sehari penuh itu menjelang garis pertemuan langit dan bumi, serta sebentar lagi seolah-olah tenggelam ditelan garis pemisah itu. Mahesa Jenar sama sekali tidak peduli.
 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
213

MESKIPUN perlahan-lahan, karena gelapnya malam kemudian mentakbiri bumi, Mahesa Jenar tetap berjalan terus di bawah sinar bulan yang baru saja lewat purnama penuh.
Maka di pertengahan malam, Mahesa Jenar melihat cahaya pelita yang berpancaran di sebuah dusun yang kecil. Itulah desa dimana Arya ditinggalkannya.
Melihat nyala pelita yang seolah-olah melambai-lambai meneriakkan nama Arya Salaka, hati Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar. Meskipun Salaka itu bukan sanak dan bukan kadang, namun telah dianggapnya sebagai anak sendiri. Apalagi mengingat segala pesan-pesan dari Gajah Sora. Maka pertanggungjawaban anak itu seluruhnya ada padanya.
Tetapi semakin dekat Mahesa Jenar dengan desa itu, hatinya menjadi semakin gelisah. Rasa-rasanya ada sesuatu yang tidak menyenangkan. Ia seakan-akan mendapat suatu firasat yang tidak baik.
Demikianlah dengan gelisah dan setengah berlari Mahesa Jenar memasuki desanya yang kecil, yang biasanya selalu diliputi oleh suasana tenteram dan damai. Tetapi pada malam itu, tampaklah beberapa kesibukan yang aneh. Dari jarak yang semakin dekat, Mahesa Jenar melihat beberapa orang berjalan cepat-cepat dengan membawa obor, dan yang lebih mengejutkan lagi mereka menuju ke sebuah gubuk kecil di sudut desa itu. Itulah rumah yang dibangunnya, serta ditinggalinya bersama-sama dengan Arya.

Dengan berlari-lari kecil Mahesa Jenar melintas pematang untuk segera dapat sampai ke rumahnya.
Demikian ia sampai ke ambang pintu, demikian semua mata memandanginya dengan keheranan, seolah-olah tidak sewajarnyalah kalau ia datang pada malam itu. Baru sesaat kemudian seorang diantara mereka dapat menguasai dirinya.

Anakmas Mahesa Jenar, marilah…, marilah duduk dahulu, katanya.
Hati Mahesa Jenar sama sekali tidak enak mendengar kata-kata itu. Kata-kata yang mengandung perasaan yang iba. Apalagi ketika ia memandangi setiap wajah yang berada di dalam rumah itu. Arya Salaka tidak ada.
Sekali lagi ia meneliti setiap orang yang berada di dalam ruangan gubugnya, namun Arya Salaka tetap tidak tampak. Tiba-tiba berdesirlah jantung di dalam dadanya. Dan, dengan suara yang bergetar ia bertanya, Di manakah anakku, Arya Salaka?
Serentak semua mata memandang kepadanya dengan pandangan penuh iba. Salah seorang diantaranya, setelah beberapa lama baru dapat menjawab pertanyaan itu dengan kata yang terputus-putus. Angger, duduklah dahulu, nanti kami kabarkan di mana anakmu berada.
Mendengar jawaban itu, Mahesa Jenar menjadi semakin gelisah.

Di manakah Arya Salaka? desaknya.
Angger… jawab yang lain, Maafkanlah kami sebelumnya, bahwa kami tidak dapat memenuhi harapan Angger untuk melindungi anak itu. Baru tadi hal itu terjadi. Ketika beberapa orang bersenjata datang ke rumah ini menjelang senja. Dengan kekerasan mereka membawa Arya. Kami telah berusaha menggagalkan maksud mereka. Tetapi kami adalah petani-petani yang tak berarti seperti kau juga. Karena itu kami sama sekali tidak berdaya untuk menahannya.
Tiba-tiba darah Mahesa Jenar menggelegak hebat. Jantungnya berdentang menggoncangkan dada. Matanya yang sayu karena kelelahan berubah seperti bara api.
Duduklah Ngger, kata yang lain pula. Biarlah kita bicarakan bagaimana caranya untuk dapat mencari anakmu itu.
Tetapi Mahesa Jenar sudah tidak dapat mendengar kata-kata itu. Matanya yang membara itu sesaat beredar ke wajah-wajah para petani kecil yang baik hati serta ramah tamah. Hanya sesaat, sebab sekejap kemudian seperti orang kehilangan akal, Mahesa Jenar meloncat berlari ke luar halaman.
Beberapa orang kemudian memburunya sambil berteriak-teriak, Tunggulah Angger…, tunggulah….
Mahesa Jenar tertegun sejenak. Ia menjadi agak bingung, ke mana arah yang harus dianut kalau ia mau menyusul Arya. Lalu katanya hampir berteriak, Kemanakah anak itu dibawa?
Beberapa orang jadi ragu-ragu, namun salah seorang menjawab pula, Mereka pergi ke arah timur melalui jalan di sebelah desa kami itu.
Mahesa Jenar tidak menunggu kata-kata itu berakhir. Segera ia meloncat dan berlari kencang-kencang ke arah yang ditunjukkan oleh tetangga-tetangganya. Lamat-lamat ia masih mendengar orang-orang itu berteriak, Angger, kembalilah. Mereka adalah orang-orang perkasa dan bersenjata. Kita cari akal untuk mengambil anak itu, tetapi jangan dengan kekerasan.
Namun bagi Mahesa Jenar suara-suara itu tidak lebih dari suara berdesirnya daun-daun kering yang rontok oleh angin malam yang kencang. Karena itu justru ia mempercepat larinya seperti orang yang kehilangan akal, semakin lama semakin cepat.
Sesaat kemudian Mahesa Jenar sampai ke padang rumput yang luas. Di sana-sini terdapat padas. Di bawah cahaya bulan yang hampir penuh, Mahesa Jenar dapat memandang ke arah yang agak jauh. Tetapi matanya yang tajam tak dapat menangkap apapun kecuali puntuk-puntuk yang seolah-olah gelembung-gelembung yang tumbuh dari dalam tanah yang sedang mendidih. Ia bertambah cemas.

Bagaimanakah keadaan Arya Salaka…? Apakah ia dibawa ke padang rumput itu.., atau ke mana…?

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
214

DALAM kebimbangan itu Mahesa Jenar mencoba mengamat-amati tanah-tanah di sekitarnya. Kalau-kalau ia menemukan sesuatu sebagai petunjuk. Tiba-tiba ia melihat rumput-rumput liar di padang rumput itu rebah searah. Tampaknya jelas, bekas sesuatu yang diseret diatas rumput itu. Hati Mahesa Jenar kemudian berdebar-debar. Apalagi ketika kemudian ia melihat warna yang kehitam-hitaman di atas rumput yang mewarnai jari-jarinya pula. Darah. Adakah darah ini darah Arya Salaka?
Hati Mahesa Jenar kini benar-benar mendidih. Mahesa Jenar yakin pasti terjadi sesuatu yang tak menyenangkan atas anak itu. Maka seperti digerakkan oleh tenaga gaib, Mahesa Jenar berlari lebih cepat lagi, sehingga tampaknya seperti bayangan malaikat yang melayang-layang di atas padang rumput yang luas. Ia tidak tahu, sudah berapa lama ia berlari.
Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar berhenti berlari. Dilihatnya agak jauh di depannya sebuah bayangan yang bergerak perlahan-lahan. Apalagi ketika dilihatnya bayangan itu adalah seorang yang sedang mendukung sesuatu. Cepat Mahesa Jenar menyelinap ke belakang sebuah puntuk, serta dengan hati-hati ia mendekati bayangan yang berjalan semakin lama semakin cepat.
Ketika jarak orang itu sudah dekat serta dapat dicapainya dengan jelas oleh matanya yang tajam, perasaan Mahesa Jenar terlonjak hebat. Yang didukung oleh orang itu tidak lain adalah Arya Salaka. Karena itu segera darahnya bergelora. Ia sama sekali belum pernah mengenal orang itu. Maka segera ia mengambil kesimpulan, bahwa orang itu adalah salah seorang yang melarikan Arya. Perasaan Mahesa Jenar segera menghubungkan kejadian itu dengan Lembu Sora. Tidak mustahil bahwa kejadian-kejadian ini adalah atas perintahnya.
Melihat hal itu, Mahesa Jenar tidak dapat mengendalikan diri lagi. Seperti kilat ia meloncat dari tempat persembunyiannya sambil berteriak, Hai orang yang mengandalkan kejantanan diri…. Letakkan anak itu, dan marilah kita membuat perhitungan.
Orang itu terkejut. Dengan tangkasnya ia memutar tubuhnya. Ketika ia melihat Mahesa Jenar sudah siap untuk menyerang, perlahan-lahan anak yang di dalam dukungannya itu diletakkan. Agaknya ia menjadi curiga pula, karena itu segera orang itu pun mempersiapkan dirinya.
Tetapi belum lagi ia bertanya sesuatu, Mahesa Jenar sudah tidak dapat lagi menahan diri. Seperti taufan yang dahsyat, ia segera menyerang lawannya. Namun agaknya lawannya pun bukanlah orang yang dapat direndahkan. Dengan cepat ia berhasil menghindari serangan Mahesa Jenar. Bahkan dalam saat yang tidak lebih dari sekejap mata, ia sudah siap untuk membalas serangan itu.
Segera terjadilah suatu pertempuran yang hebat. Serangan Mahesa Jenar datang seperti mengalirnya ombak yang digerakkan oleh taufan yang dahsyat, sedang lawannya tidaklah kurang dari batu karang yang kokoh kuat. Bahkan tidak jarang pula orang itu berhasil mengadakan serangan-serangan balasan yang sangat berbahaya. Tangannya dapat bergerak-gerak dengan cepat serta tak terduga.

Agaknya mereka berdua memiliki ilmu yang seimbang.
Setelah mereka bertempur beberapa saat, ia menjadi keheran-heranan di dalam hati. Kalau orang ini orang Pamingit sangatlah mustahil. Ia sudah dapat mengukur kekuatan Lembu Sora yang dianggap orang terkuat di daerahnya, sedang orang ini memiliki beberapa kelebihan, daripada kepala daerah perdikan itu.
Tetapi kemungkinan yang lain adalah Lembu Sora minta bantuan kepada orang lain dengan imbalan yang tinggi. Sebab hal yang sedemikian tidaklah mustahil dilakukan oleh orang itu. Mendapat pikiran yang demikian, hati Mahesa Jenar menjadi semakin panas, karena itu serangannya menjadi semakin dahsyat pula. Sehingga dengan demikian lawannya harus berjuang lebih keras lagi untuk dapat menyelamatkan dirinya.
Demikianlah terjadi suatu pertempuran yang dahsyat diantara dua orang perkasa. Tandang Mahesa Jenar semakin lama semakin garang, terdorong oleh suatu perasaan bertanggung jawab terhadap Arya, yang berarti terhadap masa depan Banyubiru. Tetapi lawannya pun menjadi semakin garang pula.
Mereka saling menghantam, saling menyerang dengan hebatnya. Ketika Mahesa Jenar mendapat kesempatan, dengan segenap kekuatannya tangannya menghantam dada lawannya. Demikian kerasnya sehingga lawannya terdorong beberapa langkah dan kemundian jatuh terlentang. Mahesa Jenar tidak mau kehilangan kesempatan. Cepat ia meloncati lawannya yang belum sempat bangun.
Tetapi tiba-tiba terasa perutnya muak sekali, dan dengan kerasnya ia terlempar. Agaknya perutnya telah terkena dengan kerasnya tendangan lawannya. Untuk beberapa saat Mahesa Jenar kehilangan keseimbangan. Ketika ia telah berhasil berdiri tegak kembali, sebuah pukulan yang tepat mengenai rahang kanannya, kembali ia terdorong ke belakang sampai punggungnya melekat pada sebuah puntuk padas. Lawannya dengan cepat memburunya, dan sebuah pukulan tangan kiri melayang dengan kerasnya.
Mahesa Jenar tidak mau rahang kirinya dikenai pula. Cepat ia memutar tubuhnya sambil merendahkan dirinya. Tangan kiri lawannya itu berdesing dengan kerasnya disertai dengan sambaran angin yang mengejutkan. Pada saat itulah kaki Mahesa Jenar melayang ke lambung orang itu. Terdengarlah sebuah keluhan tertahan, dan orang itu terlempar beberapa langkah. Cepat ia melangkah maju dan beberapa kali tangannya berhasil menghantam lawannya sehingga lawannya itu jatuh berguling.
Melihat lawannya jatuh, Mahesa Jenar segera meloncat maju. Tetapi langkahnya segera terhenti ketika dengan lincahnya pula orang itu telah menyerang kembali ke arah dadanya. Dengan tangkas Mahesa Jenar membalas ke arah pelipisnya. Tetapi orang itu pun tidak mau dikenai pukulan Mahesa Jenar. Cepat ia merendahkan diri, dan sebuah hantaman yang kuat tepat mengenai perut Mahesa Jenar. Sekali lagi perut itu terasa muak dan seolah-olah isinya bergelut di dalamnya.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
215
UNTUNGLAH Mahesa Jenar telah mengalami masa penggemblengan baik jasmaniah maupun rohaniah, sehingga dengan memusatkan segala tenaganya tetap tegak. Ketika lawannya sekali lagi akan mengulangi serangannya, Mahesa Jenar berhasil mendahului dengan sebuah tendangan yang dahsyat mengenai wajah orang itu, sehingga orang itu terlempar beberapa langkah. Namun demikian ia terjatuh, demikian ia berusaha untuk tegak kembali.
Dari sudut bibirnya melelehlah cairan berwarna merah. Darah. Ketika tangannya mengusap darah itu, serta dirasanya cairan yang hangat, maka orang itu menjadi marah sekali. Matanya segera menyala seperti api. Bibirnya tampak bergetar-getar namun tak sepatah kata yang terdengar.
Tiba-tiba dari wajahnya yang membara itu memancar perasaan dendam tiada taranya. Cepat orang itu menjulur lurus ke depan. Melihat sikap itu, Mahesa Jenar terkejut. Ia pernah mendengar dari gurunya tentang sikap yang demikian. Suatu sikap pemusatan pikiran dan perasaan untuk memancarkan suatu ilmu yang dahsyat.
Tetapi Mahesa Jenar sama sekali tidak sempat untuk mengingat-ingat lebih lama lagi, sebab apabila ia terlambat menjaga diri, maka akibatnya tidak dapat dibayangkan. Karena itu cepat-cepat ia memusatkan segala tenaga lahir dan batin, mengatur peredaran pernafasannya. Satu kakinya diangkat dan ditekuk ke depan, sedang sebelah tangan menyilang dada, dan yang satu lagi diangkatnya tinggi-tinggi.
Peristiwa seterusnya, hanya terjadi dalam sekejap. Lawan Mahesa Jenar itu meloncat maju, dan dengan telapak tangannya ia menghantam dahsyat sekali. Tetapi pada saat itu Mahesa Jenar telah mengayunkan tangannya pula, sehingga berbenturanlah sisi telapak tangannya dengan telapak tangan lawannya.
Terjadilah suatu benturan yang tidak terkira dahsyatnya. Suaranya berdentam seperti sebuah ledakan. Dan akibatnyapun hebat pula. Kedua-duanya terlempar beberapa langkah surut, dan kemudian mereka jatuh terguling untuk kemudian beberapa saat pandangan mereka menjadi gelap, dan hilanglah kesadaran mereka.
Pada saat itu pecahlah fajar di langit. Warna yang kemerah-merahan membayang di ujung timur, diantar oleh kokok ayam hutan saling bersahutan. Angin pagi yang segar berhembus silir menggerakkan batang-batang ilalang yang seolah-olah menari kegirangan menyambut datangnya pagi yang segar.
Dalam kesegaran angin pagi itu, dari arah timur berlarilah seekor kuda tidak terlalu cepat. Penunggangnya yang berwajah tampan, beberapa kali selalu mengamat-amati jalan yang akan dilewati. Agaknya ia sedang menuruti jejak dari seekor kuda. Dalam cahaya fajar, rupa-rupanya penunggang kuda itu harus memperhatikan bekas-bekas itu dengan saksama. Tetapi arahnya adalah tepat kepada dua orang yang masih terbaring tak sadarkan diri.
Ketika penunggang kuda itu telah semakin dekat, dan ketika tiba-tiba matanya yang bercahaya itu melihat kedua orang yang terbaring tak bergerak, maka ia menjadi sangat terkejut. Cepat ia meloncat turun mengamat-amati lawan Mahesa Jenar.

Dengan wajah yang cemas, ia meraba-raba dada orang itu, menggerak-gerakkan tangannya dan mengendorkan ikat pinggang kulit yang melilit di perutnya. Setelah itu perlahan-lahan ia mendekati Mahesa Jenar.
Alangkah terkejutnya ia, pada saat ia melihat siapakah yang terbaring pingsan itu, sehingga terloncatlah suaranya yang lunak halus, Kakang Mahesa Jenar….
Setelah itu ia menjadi kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apalagi ketika ia sadar bahwa pasti telah terjadi pertempuran diantara mereka berdua.
Dalam kebingungannya, penunggang kuda itu melihat Mahesa Jenar mulai bergerak-gerak. Tanpa disengaja ia meloncat selangkah maju. Tetapi pada saat itu pula ia melihat orang yang lain bergerak-gerak pula. Sehingga tanpa sadar ia mendekatinya pula. Sesaat kemudian tampaklah mereka berdua telah dapat mengangkat kepala masing-masing, meskipun pandangan mereka masih berputar-putar. Tetapi demikian mereka saling memandang, maka dengan sisa kekuatan mereka, segera mereka bangkit dan siap untuk bertempur kembali, meskipun mereka belum dapat berdiri tegak.
Untunglah bahwa orang ketiga itu sempat memisahnya.
Mendengar suara orang ketiga yang halus, Mahesa Jenar terkejut bercampur heran. Pandangannya bergerak-gerak berganti-ganti ke arah kedua orang yang berada di hadapannya.
Dalam cahaya matahari pagi yang sudah semakin jelas, Mahesa Jenar dapat melihat kedua-duanya dengan terang. Yang seorang adalah seorang laki-laki yang perkasa, bertubuh tegap kekar, berwajah cakap, serta berpakaian bagus. Beberapa macam perhiasan melekat pada pakaiannya yang sudah menjadi kotor.
Tetapi yang paling menggetarkan adalah orang yang satu lagi. Meskipun orang itu berpakaian sederhana, tetapi dari wajahnya memancar cahaya yang menyilaukan mata Mahesa Jenar.

Ketika orang itu menyapanya, darah Mahesa Jenar serasa berdesir lebih cepat. Kakang Mahesa Jenar, apakah yang telah menyebabkan Kakang bertengkar dengan Kakang Sarayuda?

Mendengar pertanyaan itu, Mahesa Jenar menundukkan kepalanya. Melihat wajah orang yang disebut Sarayuda itu, tiba-tiba Mahesa Jenar meragukan tuduhannya, bahwa orang itu telah menjadi suruhan Lembu Sora untuk membunuh Arya.
Karena Mahesa Jenar beberapa lama tidak menjawab, maka terdengarlah suara Sarayuda, masih dengan nada kemarahan, Kau kenal dia, Pudak Wangi…?

Orang yang dipanggil Pudak Wangi itu menganggukkan kepalanya. Ya, aku kenal orang itu Kakang, seperti aku mengenal Kakang Sarayuda, jawabnya.
Mendengar jawaban Pudak Wangi, Sarayuda bertambah tidak senang. Di mana dan kapan kau kenal dia?
Pudak Wangi tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi kepada Mahesa Jenar ia berkata, Kakang, marilah Kakang Mahesa Jenar aku perkenalkan dengan Kakang Sarayuda.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
216

MENDENGAR ajakan Pudak Wangi, perasaan Mahesa Jenar menjadi bertanya-tanya. Apakah hubungan antara Pudak Wangi dengan Sarayuda…?

Sebaliknya Sarayuda yang masih dipengaruhi oleh kemarahannya, menjadi agak bingung.
Agaknya Pudak Wangi merasakan kekakuan suasana, maka ia menjelaskan, Kakang Mahesa Jenar.., Kakang Sarayuda adalah murid Eyang Pandan Alas.
Mendengar keterangan itu, hati Mahesa Jenar berdebar tak keruan. Kalau demikian ia telah berbuat suatu kesalahan. Mustahillah kalau murid Pandan Alas telah berbuat suatu kejahatan. Perlahan-lahan matanya beredar ke arah Arya terbaring, dan perlahan-lahan didekatinya anak itu. Anak tempat menumpahkan segala harapan masa depannya.
Karena ia sendiri sampai saat itu belum mempunyai gambaran sesuatu tentang kelanjutan dari perguruannya, maka ia telah berbuat suatu kesalahan. Sambil meraba-raba tubuh Arya, Mahesa Jenar mengangguk hormat kepada Sarayuda.

Barangkali aku telah berbuat kesalahan. Karena itu aku minta maaf sebesar-besarnya. Aku adalah Mahesa Jenar, murid dari Almarhum Kyai Ageng Pengging Sepuh, katanya.
Mendengar pengakuan Mahesa Jenar, Sarayuda menjadi terkejut pula, disamping pertanyaan-pertanyaan yang bergelut di dalam dadanya.
Kalau orang itu murid Almarhum Kyai Ageng Pengging Sepuh seperti yang pernah didengar dari gurunya, lalu apakah sebabnya ia demikian saja menyerangnya tanpa sebab?
Belum lagi Sarayuda bertanya, terdengar Mahesa Jenar melanjutkan,

Tuan… sebenarnya aku tadi telah meraba-raba. Menilik sikap Tuan, pastilah Tuan ada hubungannya dengan salah seorang sahabat almarhum guruku. Tetapi aku sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mengingat-ingat. Baru kemudian setelah Adi Pudak Wangi mengatakan bahwa Tuan adalah murid Ki Ageng Pandan Alas, aku jadi teringat kepada ceritera guruku, bahwa sikap yang demikian tadi adalah sikap khusus perguruan Ki Ageng Pandan Alas dengan sebutan Aji Cunda Manik.

Wajah Sarayuda kini telah mengendor, namun matanya masih mengandung bermacam-macam pertanyaan.

Aku pun kemudian tahu pula, bahwa Tuan telah melawan Aji Cunda Manik dengan aji yang terkenal, Sasra Birawa. Untunglah bahwa aku tidak lumat karenanya.

Ah, jangan merendahkan diri Tuan, sahut Mahesa Jenar. Cunda Manik adalah suatu kekuatan yang tiada taranya.

Tetapi, apakah sebabnya Tuan menyerang aku tanpa sebab, sedang aku lagi berusaha menyelamatkan jiwa anak itu? tanya Sarayuda kemudian.
Tiba-tiba wajah Mahesa Jenar jadi pucat. Maka dengan gugup ia bertanya, Tuan sedang berusaha menyelamatkan jiwa anak ini?
Demikianlah, jawab Sarayuda. Ketika aku sedang menikmati kesejukan malam di padang ilalang ini, aku mendengar jerit anak itu. Ketika aku mendekatinya, maka aku melihat seorang anak sedang diseret dan disiksa oleh tiga orang yang tak mengenal perikemanusiaan. Akhirnya aku terpaksa membunuh ketiga orang yang tidak mau mendengarkan peringatanku. Bahkan mereka telah mencoba untuk membunuh anak yang sudah pingsan itu.
Mendengar ceritera itu, Mahesa Jenar menjadi semakin pucat.

Kalau demikian, Tuanlah yang telah menyelamatkan jiwa anak itu? Kalau demikian maka dengan menyerang Tuan, aku telah berbuat kesalahan yang berlipat-lipat. Sebab aku mengira bahwa Tuan telah mengambil anakku itu dari rumahku.

Sarayuda mengangguk-anggukkan kepala. Sekarang ia sedikit banyak telah dapat mengetahui duduk perkaranya, kenapa Mahesa Jenar langsung menyerangnya pada saat ia sedang mendukung anak yang pingsan itu.

Agaknya Tuan telah salah sangka, katanya.
Mahesa Jenar menjawab lirih,

Benar Tuan, aku terlalu tergesa-gesa, karena kecemasan akan nasib anakku.

Siapakah anak itu? tanya Pudak Wangi, yang memperhatikan percakapan kedua orang itu dengan saksama.
Arya Salaka, jawab Mahesa Jenar. Ia adalah putra Kakang Gajah Sora, kepala perdikan Banyubiru, yang juga cucu Paman Sora Dipayana.
Aku pernah mendengar nama itu dari Bapa Pandan Alas,
sahut Sarayuda, dan untunglah bahwa aku telah menjumpai orang-orang yang mencoba mengganggunya.
Kemudian Mahesa Jenar menceriterakan segala sesuatu yang telah terjadi atas Arya, dan suatu kebetulan yang tak disangka-sangka bahwa kemudian ia bertemu dengan murid Ki Ageng Pandan Alas, Sarayuda dan Pudak Wangi mendengarkan kata-kata Mahesa Jenar itu dengan seksama.
Sampai akhirnya Mahesa Jenar berkata, Aku minta maaf, Tuan, bahwa aku telah menyerang Tuan. Untunglah bahwa Tuan adalah seorang perkasa. Kalau sampai terjadi sesuatu atas diri Tuan maka aku akan menanggung dosa yang tiada taranya.
Sarayuda tersenyum hambar. Bagaimanapun juga ia masih agak jengkel kepada Mahesa Jenar. Tetapi mendengar keterangan Mahesa Jenar, ia dapat mengerti sepenuhnya, perasaan apakah yang mendorongnya sehingga ia berbuat demikian.
Kemudian atas persetujuan mereka bersama, Arya segera didukung oleh Pudak Wangi di atas kudanya, dan segera dilarikan ke tempat pemondokannya, untuk segera mendapat perawatan yang lebih baik. Sedang Sarayuda dan Mahesa Jenar segera berjalan menyusulnya, meskipun kemudian mereka terpaksa kembali dengan membawa alat-alat untuk mengubur orang-orang yang terbunuh oleh Sarayuda.
Mereka pergi ke sebuah bukit, dimana Ki Ageng Pandan Alas membangun sebuah gubug sebagai tempat peristirahatan. Di sebelahnya terbentang sebuah tanah pategalan yang luas, milik orang-orang padepokan di bukit itu pula.
Sebagai seorang yang sedang melakukan tugas yang diliputi oleh rahasia, maka Ki Ageng Pandan Alas pun merahasiakan diri pula. Di padepokan itu Ki Ageng Pandan Alas pun merahasiakan diri. Di padepokan itu Ki Ageng Pandan Alas diterima sebagai seorang penduduk yang baik hati beserta cucunya seorang pemuda pemalu yang tidak pernah keluar dari gubugnya.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
217

KADANG-KADANG Ki Ageng Pandan Alas yang menamakan dirinya Ki Punjung, pergi beberapa hari untuk mendapatkan keterangan tentang keris Nagasasra dan Sabuk Inten. Namun sampai beberapa minggu kedua keris itu masih diliputi oleh takbir kegelapan.
Sedang apabila Ki Ageng Pandan Alas berada di rumah, maka hampir setiap saat, siang dan malam, ia membentuk Pudak Wangi yang sebenarnya adalah Rara Wilis, untuk menjadi seorang yang berilmu. Ia ingin merebut kembali ayah Rara Wilis dari dunia kejahatan dengan mempergunakan keperwiraan Rara Wilis yang diharapkan dapat menandingi ibu tirinya, anak Sima Rodra tua dari Lodaya. Dalam pondok itulah Rara Wilis mengalami penggemblengan.
Beberapa lama kemudian, datanglah seorang pemuda dari Gunung Kidul. Sarayuda, yang pada masa kanak-kanaknya menjadi kawan bermain Rara Wilis. Pemuda itu adalah murid Ki Ageng Pandan Alas. Ketika masa berguru sudah cukup, maka beberapa lama Sarayuda diajaknya merantau untuk mendapat pengalaman. Setelah beberapa lama kemudian, disuruhnya Sarayuda kembali ke Gunung Kidul untuk menerima warisan orang tuanya, yaitu kedudukan sebagai Demang di Gunung Kidul.
Pada saat Rara Wilis menjadi dewasa, Sarayuda merasa bahwa persahabatannya dengan Rara Wilis telah mengalami perubahan. Perasaannya sebagai pemuda kadang-kadang tersentuh-sentuh dengan tajamnya. Tetapi belum lagi Sarayuda mengatakan sesuatu, terjadilah malapetaka yang menimpa Rara Wilis. Ibunya meninggal dunia. Terpaksa ia menyabarkan diri untuk beberapa saat, sehingga masa berkabung itu lampau.
Tetapi tanpa diduganya, pada suatu hari Rara Wilis pergi meninggalkan Gunung Kidul. Tak seorang pun yang mengetahui ke mana arah tujuannya. Meskipun Sarayuda telah memerintahkan beberapa orang untuk mencarinya, namun selalu sia-sia saja.
Karena itu, untuk memenuhi tuntutan perasaannya yang tak dapat dibendung lagi, maka pada suatu hari Sarayuda sendirilah yang pergi untuk menemukan Rara Wilis. Karena Sarayuda memiliki pengalaman yang cukup, maka meskipun dengan susah payah, bertanya kesana-kemari, akhirnya ia mendapatkan beberapa keterangan yang meskipun samar-samar tentang seorang gadis yang berjalan seorang diri. Tetapi untuk beberapa lama ia kehilangan jejak.
Ia telah mencoba mencari Ki Ageng Pandan Alas ke Pliridan, Wanasaba, dan ke tempat-tempat yang pernah dikunjunginya dahulu. Namun Ki Ageng Pandan Alas tidak dapat ditemuinya. Ia yakin bahwa Ki Ageng Pandan Alas tidak akan membiarkan cucunya itu merantau tanpa tujuan. Pada suatu saat pasti Rara Wilis akan berada bersama-sama dengan Ki Ageng Pandan Alas.
Pada suatu saat di lereng Gunung Sumbing, pada saat ia sedang beristirahat di sebuah goa yang pernah dikunjungi bersama dengan gurunya, datanglah seorang yang juga akan berteduh di tempat itu. Dan ternyata, orang itulah Ki Ageng Pandan Alas.

Betapa girang hati Sarayuda bertemu dengan gurunya tanpa disangka-sangka.
Seterusnya Sarayuda menyertai Ki Ageng Pandan Alas, kembali ke pondoknya, ke tempat ia meninggalkan Rara Wilis yang telah berubah menjadi Pudak Wangi. Namun bagaimanapun bagi Sarayuda, baik Rara Wilis maupun Pudak Wangi sama sekali tidak ada bedanya.
Maka untuk beberapa lama Sarayuda tinggal bersama-sama dengan Ki Ageng Pandan Alas dan Pudak Wangi, untuk mendapat kesempatan pada suatu saat melahirkan perasaannya kepada Rara Wilis.
Pada malam itu, ketika udara malam yang sejuk membelai gubug kecil tempat tinggal Ki Ageng Pandan Alas bersama muridnya, Sarayuda tiba-tiba ingin melihat-lihat keadaan sekeliling bukit kecil itu. Maka segera ia menyiapkan kudanya, dan perlahan-lahan dinaikinya kuda itu tanpa tujuan.
Tiba-tiba ketika kudanya sampai di padang terbuka, Sarayuda mendengar sayup-sayup jerit seseorang. Cepat-cepat ia memacu kudanya ke arah suara itu. Dan yang dilihatnya adalah seorang anak yang diseret oleh tiga orang yang agaknya sama sekali tidak berperikemanusiaan.
Sarayuda mencoba untuk mencegah serta bertanya tentang anak itu, apakah sebab-musababnya. Tetapi sama sekali ia tidak mendapat jawaban. Malahan ketiga orang itu menyerangnya bersama-sama. Maka tidak ada jalan lain, kecuali melawannya. Malahan akhirnya ketiga orang itu binasa.
Ketika kemudian ia mengangkat anak itu, dan akan dibawanya kembali, kudanya telah berlari mendahului. Kemudian tanpa diduga-duganya datanglah Mahesa Jenar menyerangnya, sehingga mereka harus bertempur hampir separoh malam.
Kuda yang telah beberapa hari tinggal di rumah Ki Ageng Pandan Alas itu ternyata dapat menemukan jalan. Agaknya ia ketakutan dan terkejut ketika Sarayuda bertempur melawan tiga orang lawannya.
Pudak Wangi yang mengetahui bahwa kuda itu pulang tanpa penumpang menjadi agak cemas. Karena itu ia berusaha untuk mencarinya dengan menuruti jejak kudanya. Sehingga akhirnya dijumpainya Sarayuda dan Mahesa Jenar bersama-sama pingsan. Untunglah bahwa Pudak Wangi tidak terlambat, sehingga tidak terlanjur terjadi sesuatu.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
218

Di rumah Ki Ageng Pandan Alas, Arya mendapat perawatan yang baik, sehingga dalam waktu yang singkat tampaklah bahwa tidak terlanjur terjadi sesuatu, baik Mahesa Jenar maupun Sarayuda. Ternyata bahwa Ki Ageng Pandan Alas mempunyai cukup pengetahuan pula dalam hal obat-obatan.
Meskipun tidak begitu sempurna, namun karena usianya yang telah lanjut serta pengalaman yang luas, maka banyak pula dedaunan dan akar-akar yang membuat kesehatannya telah hampir pulih kembali.
Atas permintaan Pandan Alas pula, maka Mahesa Jenar untuk beberapa lama tinggal di rumah itu sambil menunggu Arya Salaka sampai benar-benar sembuh.
Dalam waktu yang singkat itu, timbullah rasa persahabatan yang erat antara Mahesa Jenar dengan Sarayuda yang usianya hampir sebaya. Sarayuda mengagumi Mahesa Jenar sebagai seorang yang cerdas, bersikap dewasa serta banyak mempunyai ceritera-ceritera tentang kepahlawanan yang menarik. Sedang terhadap Sarayuda, Mahesa Jenar merasa berhutang budi yang tiada taranya. Juga karena sikap Sarayuda yang berterus terang, yang memancar dari lubuk hati tanpa pamrih.
Tetapi disamping itu, disamping perasaan yang bahagia, karena Arya telah terselamatkan, dan karena ia berkesempatan bertemu dengan Ki Ageng Pandan Alas dan bersahabat dengan muridnya, namun ada pula perasaan lain yang menusuk-nusuk dada Mahesa Jenar. Pertemuannya dengan Pudak Wangi pada kesempatan yang sama sekali tak diduganya itu, telah menimbulkan kenangan pada segenap peristiwa-peristiwa yang lalu, pada saat pertemuannya yang mula-mula sekali di hutan Tambak Baya. Suatu perasaan yang berbahagia pada saat ia dapat menyelamatkan gadis itu dari tangan Jaka Soka. Tetapi juga suatu kenangan yang seram, pada saat gadis itu hilang. Hampir saja ia membunuh orang yang sama sekali tak bersalah.

Mengingat hal-hal itu Mahesa Jenar tersenyum sendiri.
Beberapa saat kemudian, Ki Ageng Pandan Alas sengaja mempertemukannya dengan seorang pemuda baru yang bernama Pudak Wangi di Banyubiru.
Semuanya itu telah membuat Mahesa Jenar selalu diganggu oleh kenangan yang susul-menyusul, yang setiap kali terasa menggores jantungnya, serta meninggalkan bekas luka yang pedih.
Apalagi sekarang, pemuda yang bernama Pudak Wangi itu selalu berada di sekitarnya. Karena itu maka hatinya tidak pernah merasa tenteram. Bagaimanapun ia mencoba melupakan bayangan-bayangan yang selalu mengejarnya, serta bagaimanapun juga ia mencoba menasehati dirinya, bahwa yang berada di rumah itu adalah seorang pemuda, namun ia tidak dapat membohongi diri, tidak dapat mencabut kembali pengertiannya, bahwa Pudak Wangi itu adalah Rara Wilis.
Kadang-kadang Mahesa Jenar menjadi jengkel kepada dirinya sendiri. Kalau demikian maka untuk mengisi waktunya, supaya tidak selalu diganggu oleh perasaan-perasaan itu, Mahesa Jenar sering pergi berburu seorang diri, sebab Arya masih belum kuat benar untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang agak berat.

Dengan busur yang dapat dipinjamnya dari Pudak Wangi, Mahesa Jenar sering berburu.
Demikianlah pada suatu malam yang gelap, Mahesa Jenar telah mempersiapkan busur serta anak-panahnya. Kali ini ia ingin mendapatkan harimau. Sengaja ia tidak mengajak Sarayuda, supaya ia dapat berbuat sesuka hati tanpa ada yang mengganggunya.
Setelah ia minta diri kepada Arya, serta menyanggupinya untuk membawakan kulit harimau yang besar, maka berangkatlah Mahesa Jenar ke padang ilalang yang diseling-seling dengan semak-semak. Di tempat-tempat itulah biasanya berkeliaran harimau-harimau yang sedang mencari mangsa.
Angin malam yang bertiup lewat perbukitan, mengantarkan hawa yang segar. Di langit yang biru gelap, bintang-bintang bergantungan dengan riangnya. Beberapa kali lembaran-lembaran mega yang putih terapung-apung lewat, seperti rakit-rakit berkeliaran di danau yang luas.
Sekali dua kali Mahesa Jenar memandang ke arah langit yang terbentang di atas kepalanya. Alangkah luasnya. Dengan memandang ke arah langit serta benda-benda angkasa yang tiada taranya itu, terasa betapa kecilnya manusia ini. Tidak lebih dari satu titik pada sebuah bidang seluas kerajaan Demak. Apalagi kalau kita hadapkan hati kita kepada Sang Pencipta. Maka manusia itu benar-benar sama sekali tak berarti.
Ketika Mahesa Jenar sedang mengagumi keperkasaan alam, tiba-tiba terdengarlah oleh telinganya yang sangat tajam itu, langkah orang mengikutinya. Dengan hati-hati sekali Mahesa Jenar memperhatikan langkah itu dengan saksama. Sampai akhirnya dengan gerakan yang cepat sekali Mahesa Jenar menghentikan langkahnya serta membalikkan diri. Tetapi demikian ia menghadap orang yang mengikutinya itu, debar dadanya berubah menjadi suatu perasaan heran. Sebab yang berdiri di hadapannya adalah Pudak Wangi.
Untuk sesaat mereka saling berdiam diri. Pudak Wangi menundukkan wajahnya, sedang jari-jarinya bermain-main pada ujung bajunya. Baru beberapa lama kemudian Mahesa Jenar dengan agak tergagap bertanya, Akan ke manakah Adi Pudak Wangi malam-malam begini?
Pudak Wangi tidak segera menyahut.

Kemudian ia bertanya, Bukankah Kakang Mahesa Jenar hendak berburu?

Mahesa Jenar mengangguk mengiyakan.
Kalau demikian aku akan pergi berburu pula, lanjut Pudak Wangi.
Maka terloncatlah jawaban Mahesa Jenar tanpa sadar, Adi… aku kira tidaklah pantas kalau kau berjalan-jalan di malam hari, serta berburu pula bersama aku.
Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, kembali Pudak Wangi menundukkan wajahnya malu. Tetapi sesaat kemudian ia menjawab, Kakang Mahesa Jenar…, kalau Kakang boleh berburu pada malam hari, apa sebabnya aku tidak…? Adakah bedanya…?

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
219

MAHESA JENAR terdiam. Barulah ia sadar bahwa ia berhadapan dengan seorang pemuda yang bernama Pudak Wangi, bukan dengan seorang gadis yang bernama Rara Wilis. Karena itu, segera ia menjawab, Tidak … Adi, sama sekali tak ada bedanya.

Kalau demikian berarti aku diperkenankan untuk pergi berburu pula, Desak Pudak Wangi.
Karena jawaban itu Mahesa Jenar semakin terdesak. Meskipun demikian ia masih berusaha untuk mencegah Pudak Wangi ikut serta. Tetapi banyak halangannya berjalan di malam hari, meskipun Adi pada dasarnya diperkenankan berburu pula.
Dengan tersenyum Pudak Wangi menjawab, Kenapa Kakang Mahesa Jenar cemas akan bahaya. Aku sudah lebih lama tinggal di tempat ini, sehingga aku lebih banyak mengenalnya. Kecuali itu, andaikata bahaya datang, biarlah aku coba untuk mengatasinya. Bukankah aku murid Ki Ageng Pandan Alas?
Sekali lagi Mahesa Jenar terdesak, sehingga ia tidak dapat berkata-kata lagi. Pudak Wangi memandang Mahesa Jenar dengan tersenyum kecil. Melihat senyum Pudak Wangi, bagaimanapun Mahesa Jenar tergetar hatinya. Kemudian terdengar kembali Pudak Wangi berkata, Jadi, masih tetapkah Kakang Mahesa Jenar menolak aku ikut serta?
Dengan tergagap Mahesa Jenar cepat-cepat menjawab, Silahkan Adi… silahkan.
Kembali Pudak Wangi tersenyum. Tetapi ia tidak berkata-kata lagi. Maka kemudian berjalanlah mereka berdua dengan busur di tangan masing-masing. Tetapi di sepanjang jalan hampir tak terdengar kata-kata. Suasana kekakuan masih tetap ada, membatasi pergaulan mereka.
Bintang-bintang yang gemerlapan masih bergayutan di langit. Di selatan, bintang Gubug Penceng tepat berdiri di atas kutub. Dan angin malam dengan segarnya membelai hati mereka yang sedang berjalan di kegelapan malam.
Tetapi tiba-tiba langkah mereka terhenti. Di kejauhan terdengar bunyi telapak kuda semakin lama semakin mendekat, dan tidak lama kemudian mereka melihat bayangan dua orang berkuda melintas di padang ilalang itu.
Ketika orang-orang itu melintas dekat Mahesa Jenar dan Pudak Wangi berdiri, mendadak salah seorang membelokkan kudanya mengarah kepadanya. Untuk tidak menimbulkan kesan-kesan yang kurang baik, segera Mahesa Jenar dan Pudak Wangi meletakkan busur-busur mereka.
Beberapa langkah di hadapan Mahesa Jenar, kuda itu berhenti, disusul dengan orang yang satu lagi, yang agaknya mengikutinya pula.
Dengan kasar dan masih tetap di punggung kudanya, orang itu bertanya, He, siapakah kalian yang pada malam-malam begini berkeliaran di sini?

Kami adalah petani-petani di bukit ini, jawab Mahesa Jenar.
Hem… desis yang lain. Lalu apa kerja kalian di sini?
Kami sedang berburu ayam hutan,
jawab Mahesa Jenar pula.
Mendengar jawaban itu agaknya mereka percaya. Maka bertanyalah salah seorang diantaranya lebih lanjut, Adakah kau lihat di sekitar bukit ini kemarin atau lusa atau beberapa hari yang lalu tiga orang asing lewat?

Tiga orang? ulang Mahesa Jenar sambil meng- ingat-ingat. Tiba-tiba ia teringat kepada keterangan Sarayuda, bahwa Arya telah diseret oleh tiga orang yang tak dikenalnya. Sedang menilik pakaian mereka, maka mereka tak ubahnya dengan orang yang telah menyerang Banyubiru untuk membunuh Arya. Karena itu segera Mahesa Jenar menghubungkan kedua orang itu dengan ketiga orang yang telah mencoba membunuh anak itu. Maka timbullah keinginannya untuk meyakinkan pendapatnya itu.

Maka katanya, Aku memang telah melihat tiga orang lewat di sini, Tuan. Tetapi tidak hanya tiga orang saja, mereka telah membawa serta seorang anak laki-laki bersama dengan mereka.
Seorang anak laki-laki?
potong salah seorang diantaranya.
Ya, aku tidak tahu apakah anak itu anak salah seorang dari ketiga orang itu, lanjut Mahesa Jenar.
Bukan, sama sekali bukan, jawab yang lain.
Pasti demikian, sela Mahesa Jenar, Sebab anak itu didukungnya dengan penuh kasih, sebagai seorang bapak terhadap anaknya.

Maka terdengarlah kedua orang itu tertawa riuh, dan terdengarlah salah seorang berkata, Umur anak itu tidak akan lebih dari panjangnya malam pada saat kau lihat. Kapan kau lihat mereka lewat di sini?

Mendengar kata-kata itu, Mahesa Jenar menjadi yakin bahwa dua orang itu adalah kawan-kawan yang sedang mencari ketiga orang yang ternyata telah dibunuh oleh Sarayuda. Karena itu, segera terungkaplah kemarahan Mahesa Jenar. Karena orang-orang ini adalah pasti orang-orang Lembu Sora. Maka, karena gelora kemarahannya, timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk menghajar kedua orang itu. Segera Mahesa Jenar memancing mereka ke dalam suatu perselisihan.
Tuan salah terka. Anak itu sampai sekarang masih segar bugar. Oleh ketiga orang itu, ia mereka titipkan kepada kami, sementara mereka pulang untuk mengambil jemputan dan kendaraan, kata Mahesa Jenar.
Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, wajah kedua orang itu segera berubah hebat. Dengan gugup salah seorang bertanya, Ketiga orang itu berasal dari mana?
Dari Banyubiru,
jawab Mahesa Jenar cepat-cepat. Mereka adalah utusan Nyi Ageng Gajah Sora.
Wajah kedua orang itu menjadi bertambah tegang, apalagi ketika Mahesa Jenar melanjutkan, Nama anak itu adalah Arya Salaka.
Berikan anak itu kepadaku!
Tiba-tiba yang seorang berteriak.
Dengan tenang Mahesa Jenar memandang wajah orang itu. Hidungnya yang besar hampir melengkung, terletak diantara kedua matanya yang mirip dengan mata burung hantu. Sedang yang lain adalah gambaran dari wajah seorang yang tidak mempunyai pikiran. Sudut-sudut bibirnya tertarik agak ke bawah, dan matanya tidaklah bedanya dengan mata sebuah patung. Mati dan tak bersinar sama sekali.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
220

SIAPAKAH sebenarnya kalian? tanya Mahesa Jenar.
Aku juga suruhan Nyi Ageng Gajah Sora dari Banyubiru, jawab mereka.
Sayang, bahwa aku tidak berani menyerahkan anak itu kecuali kepada yang telah menitipkan, sahut Mahesa Jenar.
Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, agaknya kedua orang itu menjadi marah sekali. Kau berikan anak itu, atau kau aku seret di belakang kudaku? teriak orang itu.
Melihat muka-muka yang kasar dari kedua orang itu Mahesa Jenar menjadi muak.

Tetapi masih juga ia menjawab dengan tenang, Aku tidak akan memberikan anak itu. Ketahuilah bahwa ketiga orang Banyubiru yang akan menyelamatkan Arya Salaka itu sudah aku bunuh, dan sekarang anak itu pun akan aku bunuh pula. Aku adalah orang Ki Ageng Lembu Sora dari Pamingit.
Mendengar jawaban Mahesa Jenar, kedua orang berkuda itu tubuhnya menjadi bergetar karena marah. Mereka sadar bahwa mereka telah dipermainkan serta telah dikenal pula sebagai orang-orang Lembu Sora yang diperintahkan membunuh Arya.

Karena itu tidak ada jalan lain kecuali membinasakan kedua orang yang tidak dikenalnya itu. Dengan gigi yang gemeretak mereka mencabut pedang-pedang mereka.
Bersamaan dengan itu, Mahesa Jenar pun menjadi semakin muak pula melihat mata yang mirip dengan mata burung hantu, serta mata yang sama sekali padam di atas bibir yang melengkung ke bawah. Karena itu segera ia akan bertindak melenyapkan pemandangan yang sama sekali tidak menarik hati itu.
Tetapi baru saja Mahesa Jenar akan melangkah, terasalah Pudak Wangi menggamit pundaknya sambil berbisik, Kakang Mahesa Jenar, berilah aku kesempatan untuk berlatih. Tetapi jangan lepaskan aku dari pengawasan.
Mahesa Jenar agak terkejut mendengar bisik Pudak Wangi, tetapi kemudian ia tersenyum. Dengan berbisik pula ia menjawab, Silahkan murid Ki Ageng Pandan Alas.
Oleh jawaban itu, Pudak Wangi menjadi agak malu. Namun sesaat kemudian Mahesa Jenar telah meloncat ke samping pada saat serangan kedua orang berkuda itu datang.
Pudak Wangi pun lincah pula. Sambil memungut busurnya ia meloncat ke samping, serta dengan tangkasnya ia berjongkok, untuk sesaat yang sangat pendek siap melontarkan anak panahnya.
Sengaja Pudak Wangi tidak segera mengarahkan anak panahnya kepada orang-orang yang mengendarai kuda-kuda itu, karena ia ingin mengetahui sampai di mana tingkat ilmu yang pernah diterima dari kakeknya, Ki Ageng Pandan Alas.
Mengalami kejadian itu, kedua orang penunggang kuda itu menjadi semakin marah. Meskipun demikian mereka tidak berani tergesa-gesa menyerang, sebab mereka sadar bahwa busur di tangan Pudak Wangi itu tak dapat diperingan akibatnya.

Karena itu mereka segera meloncat turun dan lari-lari berputaran sambil mendekati bersama-sama dari arah yang berlawanan.
Pudak Wangi, yang memang sama sekali tak ingin membunuh mereka dengan panahnya, segera meletakkan busurnya serta kemudian mencabut pedangnya pula.

Kedua orang lawannya menjadi keheranan kenapa orang itu tidak mempergunakan panahnya.
Tetapi mereka sama sekali tidak mau membuang-buang waktu lagi. Segera mereka bersama-sama mendesak maju. Karena Mahesa Jenar kemudian menyingkir saja, maka perhatian mereka tercurah kepada Pudak Wangi.
Ternyata Pudak Wangi yang meskipun baru menerima pelajaran beberapa bulan saja, namun ia telah dapat menunjukkan kelincahan serta ketangkasan bergerak. Dengan melingkar dan kemudian meloncat mundur, ia berhasil menghindari kedua serangan yang datang dari arah yang berbeda itu sekaligus. Bahkan demikian kakinya menyentuh tanah, ia segera meloncat maju menyerang dengan pedangnya yang tipis namun tajamnya tiada terkira.
Pedang itu dibuat oleh Ki Ageng Pandan Alas, khusus untuk Pudak Wangi. Meskipun bentuknya tidak ubahnya pedang biasa, namun pedang itu agak lebih ringan.
Kedua orang lawan Pudak Wangi itu terkejut melihat lawannya dapat menghindarkan diri, bahkan kemudian dengan cepatnya telah menyerang kembali. Segera mereka berloncatan mundur. Meskipun kedua orang itu adalah dua orang yang telah berpuluh tahun menjadi laskar Pamingit, namun mereka belum pernah menerima latihan yang teratur dan bersungguh-sungguh, sehingga apa yang mereka lakukan adalah cara-cara yang kasar namun sederhana.
Mereka lebih senang mempergunakan tenaga dari pada otak mereka. Karena itu, meskipun melawan dua orang sekaligus, Pudak Wangi dapat melayani mereka dengan baiknya. Meskipun setelah beberapa lama, ternyata bahwa kedua orang Pamingit itu, bagaimanapun juga telah memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak daripada Pudak Wangi, sehingga akhirnya Pudak Wangi perlahan-lahan menjadi agak terdesak.
Tetapi bagaimanapun juga Mahesa Jenar menjadi keheranan. Agaknya darah Ki Ageng Pandan Alas yang mengalir di dalam tubuhnya telah memberinya bekal yang cukup untuk menjadikannya seorang yang perkasa. Baru beberapa bulan yang lalu di hutan Tambak Baya, seorang gadis hampir membunuh dirinya karena ia dikejar-kejar oleh Jaka Soka, dan kemudian setelah gadis itu ditolongnya, telah menjadikan Mahesa Jenar hampir gila karena gadis yang ditolongnya itu lenyap. Semuanya itu baru terjadi beberapa bulan, yang bagi Mahesa Jenar seolah-olah baru kemarin sore.
Sekarang, Mahesa Jenar menyaksikan gadis yang mengubah dirinya menjadi seorang pemuda bernama Pudak Wangi, telah dapat melawan dua orang laki-laki yang tubuhnya kuat seperti orang hutan, dengan otot-otot menjorok di permukaan kulit. Bagaimanapun tekunnya Pudak Wangi belajar, serta bagaimanapun sakti guru yang memberinya pelajaran, kalau di dalam tubuh Pudak Wangi tidak tersimpan bakat yang kuat, pasti dalam waktu yang pendek itu pelajaran yang diterimanya belumlah berarti.

 

221

TIDAK demikianlah dengan Pudak Wangi. Tangannya yang memegang pedang itu bergerak dengan cepatnya. Agaknya menjadi ciri dari ilmu pedang Ki Ageng Pandan Alas, bahwa daun pedang itu tampaknya selalu bergetar, sehingga mengaburkan arah geraknya. Untuk melawan ilmu pedang dari Gunung Kidul itu, kedua orang Lembu Sora harus bekerja mati-matian. Mereka mengandalkan kekuatan tenaga mereka, ditambah dengan pengalaman-pengalaman yang mereka dapat puluhan tahun. Meskipun demikian kadang-kadang nyawa mereka hampir saja disambar oleh pedang Pudak Wangi.

Untunglah bahwa Pudak Wangi sangat kurang pengalaman. Ia belum pernah mengalami perkelahian benar-benar yang dapat mengancam jiwanya maupun jiwa orang lain. Sampai sedemikian jauh Pudak Wangi baru mengalami latihan-latihan dengan gurunya serta kakak seperguruannya, Sarayuda. Karena itu, maka dalam saat-saat yang menentukan ia menjadi agak ragu-ragu. Beberapa kali tampak Pudak Wangi menarik kembali serangannya yang sangat membahayakan jiwa lawan-lawannya.

Dengan demikian maka akhirnya Pudak Wangi berada di dalam kekuasaan lawan-lawannya yang sama sekali tidak tahu diri. Mereka sama sekali tidak peduli bahwa lawannya kadang-kadang tidak sampai hati melukai kulitnya. Bahkan mereka telah mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Meskipun kemudian Pudak Wangi sadar bahwa seharusnya ia tidak beragu-ragu lagi, namun waktunya telah agak terlambat. Lawan-lawan Pudak Wangi telah berhasil menempatkan diri mereka pada kedudukan yang menentukan.

Mengalami hal yang demikian itu, Pudak Wangi menjadi agak bingung. Ia masih belum tahu beberapa kesempatan yang dapat dipergunakan untuk mengatasi keadaan, karena kurangnya pengalaman.

Maka segera teringatlah Pudak Wangi kepada Mahesa Jenar. Dengan sudut matanya, ia melihat dalam sepintas Mahesa Jenar dengan enaknya duduk di atas rumput sambil melihat perkelahian itu seperti sedang menikmati pertunjukan. Sama sekali tidak ada kesan bahwa Mahesa Jenar melihat kesulitan yang sedang dialami Pudak Wangi.

Karena itu dengan agak terpaksa Pudak Wangi menjerit, Kakang Mahesa Jenar, sudah puaskah Kakang melihat permainanku?
Mendengar suara Pudak Wangi yang halus nyaring itu Mahesa Jenar tersenyum. Ia sebenarnya melihat kesulitan Pudak Wangi. Tetapi karena keadaannya belum terlalu membahayakan, timbullah keinginannya untuk menggoda gadis itu. Ia juga mengerti maksud Pudak Wangi dengan kata-katanya, yang sebenarnya memintanya untuk membantu. Namun ia menjawab dengan tertawa pendek, Belum Adi, permainan Adi bagus sekali. Aku masih ingin menyaksikan beberapa lama lagi.

Pudak Wangi mendengar jawaban Mahesa Jenar menjadi jengkel sekali, tetapi untuk berterus terang ia pun agak malu-malu, karena itu sekali lagi ia menjerit, Aku sudah cukup lama berlatih, Kakang.
Sekali lagi Mahesa Jenar tersenyum. Tinggi hati juga gadis ini, katanya dalam hati.
Tiba-tiba Mahesa Jenar ingin memaksa gadis itu supaya menyatakan permintaan untuk menolongnya. Karena itu ia menjawab, Latihanmu baru mulai, Adi… gerak-gerakmu baru sampai pada taraf memanaskan badan. Aku ingin melihat kalau kau benar-benar sudah menunjukkan kepandaianmu.

Mendengar jawaban itu hati Pudak Wangi menjadi semakin jengkel. Akhirnya ia menjadi sadar bahwa Mahesa Jenar sedang mengganggunya. Apalagi ketika itu, kedua orang lawan Pudak Wangi, yang merasa dirinya direndahkan menjadi bertambah marah. Mereka menyerang semakin garang dan ngetok kekuatan.

Sehingga akhirnya timbullah jiwa kemanjaan seorang gadis di dalam dada Pudak Wangi. Sekali lagi ia menjerit hampir menangis, Kakang, baiklah kalau Kakang ingin melihat dadaku terbelah. Dan berbareng dengan itu Pudak Wangi melemparkan pedangnya ke arah salah seorang dari lawannya.

Melihat pedang itu melontar ke arahnya, orang itu menjadi terkejut sekali, sehingga ia meloncat mundur menghindar. Demikian pula yang seorang lagi, menjadi tertegun beberapa saat.

Tetapi tidak pula kalah terkejutnya adalah Mahesa Jenar. Dengan melemparkan pedangnya, Pudak Wangi sama sekali tidak bersenjata lagi. Sedangkan sesaat kemudian kedua lawannya telah berhasil menguasai diri mereka masing-masing, sehingga segera melakukan serangan-serangan mereka kembali.

Meskipun demikian agaknya Pudak Wangi sama sekali sudah tidak menghiraukan lagi. Ia berdiri saja tegak dengan tenangnya menanti ujung-ujung pedang yang mengarah ke dadanya.

Melihat peristiwa itu, Mahesa Jenar menjadi cemas. Ia dapat mengerti bahwa Pudak Wangi marah kepadanya. Kemarahan seorang gadis yang manja. Mahesa Jenar mendadak teringat pada saat Rara Wilis akan bunuh diri di hutan Tambak Baya. Karena itu secepat kilat tangannya kiri dan kanan, kedua-duanya meraih dua buah batu sebesar telur ayam. Dengan sekuat tenaganya kedua batu itu dilemparkan ke arah dua lawan Pudak Wangi berturut-turut.

Hasilnya adalah mengerikan sekali. Batu-batu itu tepat mengenai pelipis orang yang berwajah padam seperti mayat. Suaranya gemeretak memecahkan tulang pelipisnya.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
222

TANPA dapat berbuat sesuatu, orang jatuh terjerembab untuk tidak bangun lagi. Sedang yang sebuah lagi mengenai dada orang yang bermata seperti mata burung hantu. Terdengar ia berteriak keras-keras dan kemudian jatuh berguling-guling kesakitan. Dari mulutnya memancar darah segar. Tetapi beberapa saat kemudian orang itu terdiam untuk selama-lamanya.

Melihat kedua peristiwa yang tak disangka-sangka itu, Pudak Wangi terperanjat bukan kepalang. Apalagi ketika dilihatnya darah yang mengalir dari luka-luka kedua lawannya. Peristiwa itu adalah suatu peristiwa yang belum pernah disaksikan. Karena itu hatinya ngeri dan ketakutan. Di luar sadarnya maka ia kemudian berlari dan seperti seorang anak kecil ia menyembunyikan wajahnya ke dada Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar adalah seorang yang sudah berpuluh kali melihat darah mengalir. Tetapi ketika tiba-tiba Pudak Wangi berlari ke arahnya dan kemudian menangis terisak-isak, Mahesa Jenar kemudian seperti terpaku di atas tanah. Jantungnya berdebaran dan darahnya seolah-olah membeku. Untuk beberapa saat mulutnya terkunci rapat-rapat dan seolah-olah seluruh persenjataannya mati terkunci.

Baru beberapa saat kemudian Pudak Wangi sadar akan dirinya. Karena itu dengan penuh kemalu-maluan sebagai lazimnya seorang gadis, ia perlahan-lahan menarik dirinya dan selangkah demi selangkah ia menjauhi Mahesa Jenar. Tetapi untuk beberapa lama Mahesa Jenar masih diam mematung. Ditatapnya wajah Pudak Wangi yang tunduk itu dengan jantung yang bergelora. Baru kemudian ketika Pudak Wangi menjatuhkan dirinya di atas rumput-rumput kering, Mahesa Jenar merasa seolah-olah terbangun dari sebuah mimpi yang indah.

Tetapi bagaimanapun, Mahesa Jenar hampir tidak pernah bergaul dengan gadis-gadis. Meskipun yang duduk di hadapannya itu menurut wujudnya adalah seorang pemuda namun hatinya melihat, bahwa ia adalah seorang gadis. Karena itu untuk beberapa lama kemudian Mahesa Jenar masih diam termangu-mangu. Tetapi kemudian perlahan-lahan Mahesa Jenar maju juga mendekati Pudak Wangi yang masih terisak-isak menahan tangis.

Melihat Pudak Wangi menangis, Mahesa Jenar merasa bahwa ia bersalah. Tetapi sebenarnya maksudnya adalah bergurau saja. Maka ingin rasanya ia minta maaf kepada gadis itu.

Setelah ia dekat berdiri di belakang Pudak Wangi, berkatalah Mahesa Jenar, Wilis, aku minta maaf.

Mendengar namanya disebut, dada Pudak Wangi tiba-tiba terasa sesak. Telah beberapa lama ia tidak pernah mendengar seseorang memanggilnya dengan namanya yang sebenarnya. Sekarang tiba-tiba ia mendengar lagi nama itu, namanya sebagai seorang gadis disebut oleh seorang yang dikaguminya. Karena itu timbullah rasa haru yang menggelegak, sehingga kemudian Rara Wilis tak dapat menahan dirinya lagi, dan menangislah ia sejadi-jadinya.
Melihat hal itu Mahesa Jenar menjadi semakin bingung. Ia tidak tahu kenapa Pudak Wangi menangis semakin keras. Untuk beberapa saat Mahesa Jenar sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dengan gemetar ia melangkah kian kemari. Sebentar ia duduk dibelakang Pudak Wangi, tetapi sebentar kemudian kembali ia berdiri dan melangkah pula kian-kemari.

Sesaat kemudian terasalah malam menjadi semakin sepi. Angin malam yang gemerisik di sela-sela tangis Pudak Wangi, mengantarkan udara yang dingin. Kelelawar yang merajai langit di malam hari, masih tampak berkeliaran di muka tebaran bintang-bintang yang menaburkan cahayanya yang gelisah, segelisah hati Mahesa Jenar.

Maka akhirnya Mahesa Jenar menjatuhkan dirinya di samping Pudak Wangi, dan untuk beberapa lama mereka saling berdiam diri.

Ketika di kejauhan terdengar ayam hutan berkokok bersahutan, Mahesa Jenar menjadi seperti tersadar, bahwa ia harus berbuat sesuatu. Mereka tidak dapat terus-menerus berdiam diri di tengah-tengah padang terbuka sampai esok pagi. Kerana itu Mahesa Jenar ingin menghibur hati Pudak Wangi, tetapi karena banyaknya kata-kata yang tersimpan di dalam dadanya, yang keluar hanyalah, Adi Pudak Wangi, marilah kita teruskan perburuan kita.
Pudak Wangi memandang wajah Mahesa Jenar dengan sinar mata yang kecewa. Tetapi ia sendiri tidak tahu kenapa hatinya kecewa. Mungkin hatinya mengharapkan Mahesa Jenar berkata lebih banyak lagi, meskipun ia sendiri takut menduga-duga kata-kata apa yang dinantinya itu.

Namun semuanya itu hanya terjadi dalam sesaat, sebab sesaat kemudian Pudak Wangi segera kembali ke dalam keadaannya kini. Ia adalah seorang pemuda, murid Ki Ageng Pandan Alas. Karena itu segera ia mencoba menguasai perasaannya. Dan dengan gagahnya ia menjawab ajakan Mahesa Jenar, Marilah kita berlomba, siapakah yang lebih dahulu berhasil mendapatkan binatang buruan.
Mendengar jawaban Pudak Wangi itu, Mahesa Jenar tersenyum kecil. Segera ia memungut busurnya dan kemudian mereka bersama-sama meneruskan perburuan mereka diantara gerumbul-gerumbul yang semakin lama semakin hebat.

Tetapi meskipun mereka telah berjalan di daerah perburuan, hati mereka sama sekali tidak tertarik kepada binatang-binatang hutan. Itulah sebabnya maka beberapa ekor menjangan yang seharusnya telah mati, mendapat kesempatan untuk masih menikmati segarnya rumput dan akar-akaran.

Akhirnya Pudak Wangi menjadi lelah. Maka katanya, Kakang, baiklah perlombaan kita tunda sebentar. Aku ingin beristirahat dahulu.
Sekali lagi Mahesa Jenar tersenyum. Baiklah, Adi… aku pun lelah, katanya. Setelah itu, maka segera mereka mencari tempat peristirahatan, di atas batu-batu yang berserakan.
Segera terdengarlah mereka dan Pudak Wangi bercakap-cakap tentang hal-hal yang sama sekali tidak penting. Pembicaran itu beredar dari satu ke lain hal sehingga akhirnya sampai pada diri Mahesa Jenar. Terdengarlah dengan penuh keinginan tahu Pudak Wangi bertanya, Kakang Mahesa Jenar, tidakkah Kakang Mahesa Jenar bermaksud untuk kembali ke Demak dan memangku jabatan Kakang kembali?

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
223

MENDENGAR pertanyaan itu, Mahesa Jenar tertegun sebentar. Apakah perlunya maka Pudak Wangi menanyakan hal-hal yang menyangkut dengan kedudukannya?

Adi… jawab Mahesa Jenar, Jabatan itu memang menyenangkan. Sebagai seorang perwira pasukan pengawal raja aku banyak mempunyai kesempatan untuk berbangga. Baik terhadap orang lain maupun terhadap diri sendiri. Tetapi sayang bahwa aku tidak dapat kembali pada saat-saat yang dekat ini. Apalagi ketika aku merasa bahwa aku wajib untuk ikut menemukan kembali keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten. Maka keinginanku untuk kembali ke Demak menjadi semakin tipis.
Sebagai seorang prajurit, sela Pudak Wangi, Bukankah Kakang akan lebih banyak kesempatan untuk menemukan keris-keris itu?
Mungkin demikian, jawab Mahesa Jenar. Tetapi mungkin juga sebaliknya. Sebab tugas seorang prajurit adalah beraneka ragam. Kecuali itu Adi, pengabdian seseorang bertebaran pada banyak bidang. Aku sekarang sedang mengabdikan diriku dengan cara ini.
Pembicaraan mereka jadi terputus ketika mereka mendengar gemersik halus di belakang mereka. Mahesa Janar cepat meloncat berdiri dengan busur di tangan, serta anak panah yang siap meluncur. Sebab yang terdengar itu sama sekali bukan harimau atau babi hutan, tetapi suara langkah manusia.

Tetapi meskipun pandangan Mahesa Jenar sangat tajam, namun Mahesa Jenar tidak dapat melihat seseorang di belakangnya. Karena itu ia menjadi curiga. Cepat ia melangkah maju, meskipun dengan penuh kehati-hatian. Sedang Pudak Wangi pun segera mempersiapkan anak panahnya. Namun setelah beberapa lama mereka mencari-cari, tak seorangpun yang mereka jumpai. Maka hati mereka menjadi gelisah. Kalau benar dugaan mereka, bahwa yang didengarnya itu langkah seseorang, pastilah orang itu orang yang sakti.

Baru beberapa lama kemudian, ketika mereka sudah menjadi bertambah gelisah, terdengarlah suara tertawa halus di kejauhan. Mendengar suara itu, tiba-tiba Pudak Wangi menundukkan kepalanya. Wajahnya menjadi merah, semerah jambu dersana. Suara itu sangat dikenalnya, sebagai suara seseorang yang mengasuhnya, Ki Ageng Pandan Alas. Mahesa Jenar yang mengenal suara itu, juga menjadi malu. Namun segera ia berkata lantang, Adi, lihatlah babi hutan hampir sebesar kerbau.

Setelah berkata demikian, segera Mahesa Jenar meloncat berlari menyusup ke dalam semak-semak. Pudak Wangi segera tersentak pula. Ia mengira bahwa Mahesa Jenar benar-benar telah melihat seekor binatang buruan. Karena itu, segera ia pun meloncat menyusulnya.

Tetapi meskipun mereka telah berlari-lari beberapa lama, namun sama sekali Pudak Wangi tak melihat seekor binatang pun, sampai akhirnya ia melihat Mahesa Jenar berdiri tegak menantinya.

Manakah binatang itu Kakang? tanya Pudak Wangi.
Dengan menarik nafas Mahesa Jenar menjawab, Sama sekali aku tak melihat seekor binatang pun Adi. Tetapi aku mendengar suara tertawa Ki Ageng Pandan Alas.
Pudak Wangi menjadi tersenyum jengkel. Namun ia membenarkan pula sikap Mahesa Jenar yang agak rikuh terhadap kakeknya.

Tetapi mereka menjadi terkejut pula ketika tiba-tiba terdengar kembali suara tertawa itu. Suara Ki Ageng Pandan Alas yang justru berada di tempat yang bertentangan dengan arah semula.

Mendengar suara itu, Mahesa Jenar sadar, bahwa ia tidak dapat menjauhkan dirinya dari orang tua yang sakti itu, selama orang tua itu menghendakinya. Teringatlah Mahesa Jenar akan sikap jenaka dari Ki Ageng Pandan Alas. Karena itu akhirnya ia tidak akan menghindar lagi, bahkan segera ia menjatuhkan diri dan duduk di atas rumput-rumput kering. Agaknya Pudak Wangi memaklumi hal itu, dan segera ia pun duduk di samping Mahesa Jenar. Namun untuk beberapa lama mereka sama sekali tidak berkata sepatah pun.

Tiba-tiba Mahesa Jenar mendengar kemersik yang disusul oleh dengus seekor binatang. Dengan mata yang tajam, dibalik semak-semak di hadapan mereka tampaklah sesuatu yang bergerak-gerak, dan sesaat kemudian muncullah seekor rusa yang agaknya terbangun dari tidurnya. Dengan isyarat tangan, Mahesa Jenar menunjuk ke arah binatang itu.

Pudak Wangi yang kemudian melihat pula, dengan cepat sekali telah memasang anak panahnya dan sesaat kemudian rusa itu terlonjak dan memekik tinggi. Anak panah tepat mengenai lambungnya. Tetapi sekejap kemudian menancaplah anak panah kedua, yang dilepaskan oleh Mahesa Jenar pada leher binatang itu. Tanpa diulang lagi, rusa itu jatuh dan mati seketika.

Nah, bukankah aku yang menang? kata Pudak Wangi diiringi oleh suara-suara tertawanya yang segar. Akulah yang pertama-tama mengenainya.
Akulah yang menang,
bantah Mahesa Jenar, Karena panahkulah binatang itu mati.
Tetapi akulah yang lebih dahulu, bantah Pudak Wangi kembali.

Mahesa Jenar tidak menjawab lagi. Dengan tersenyum, didekatinya rusa yang telah mati itu, kemudian setelah ia membuka baju, dipanggulnya binatang itu.

Marilah kita pulang, Adi. Rusa ini cukup besar untuk pesta besok. Pesta kemenangan Adi Pudak Wangi atas dua orang yang akan membunuh anakku Arya Salaka, kata Mahesa Jenar.

Ah… potong Pudak Wangi. Tetapi ia tidak melanjutkan kata-katanya.

Mahesa Jenar pun tidak berkata-kata lagi. Segera mereka dengan seekor rusa di pundak Mahesa Jenar, berjalan kembali pulang.

Di sepanjang jalan pulang, Mahesa Jenar sempat mengamat-amati dengan saksama Pudak Wangi yang berjalan di depannya. Melihat tingkah lakunya, maka Mahesa Jenar semakin yakin bahwa tidak lama lagi Pudak Wangi pasti akan menjadi seorang yang perkasa seperti kakak seperguruannya, Sarayuda. Setidaknya, ia akan dapat memenuhi keinginan kakeknya, gurunya pula, bahwa akhirnya ia pasti akan dapat menandingi ibu tirinya, istri Sima Rodra muda dari Gunung Tidar, anak Sima Rodra dari Lodaya.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
224

MAHESA JENAR membayangkan bahwa persoalannya kemudian akan menjadi bertambah melilit lagi. Persoalan antara mereka yang sedang memperebutkan Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten, ditambah dengan persoalan Rara Wilis dengan ibu tirinya, yang pasti akan sangkut-menyangkut pula dengan usaha Arya untuk menemukan kembali kedudukan ayahnya yang telah dirampas oleh pamannya, Lembu Sora.

Sampai di rumah, mereka temui Arya masih tidur nyenyak. Maka tanpa dibangunkannya, rusa hasil buruan itu langsung dibaringkan di samping Arya, untuk mengejutkan anak itu besok pagi.

Kemudian Pudak Wangi segera pergi ke pembaringannya untuk beristirahat, sedang Mahesa Jenar seperti biasanya tidur dengan alas anyaman daun kelapa yang direntangkan di atas tumpukan jerami disamping gubug Ki Ageng Pandan Alas. Karena kelelahan serta kantuknya yang sangat maka segera Mahesa Jenar jatuh tertidur.

Mahesa Jenar terbangun ketika didengarnya suara orang bercakap-cakap di halaman belakang rumah itu. Tanpa disengaja ia mendengar bahwa mereka yang bercakap-cakap itu adalah Pudak Wangi dengan Sarayuda, sebagai seorang gadis dengan seorang pemuda.

Tiba-tiba saja dengan tidak diketahuinya sendiri, darah Mahesa Jenar bergetar membentur dinding-dinding jantung. Maka timbullah keinginannya untuk mendengarkan percakapan mereka lebih lanjut. Dengan masih berpura-pura tidur, ia memasang telinganya untuk mencoba menangkap setiap kata-kata mereka. Dan apa yang didengarnya telah menambah cepat gelora hatinya.

Wilis… terdengar suara Sarayuda jauh di dalam dadanya, Sejak kecil aku telah mengenalmu. Mengenal sebagai cucu guruku. Sejak itu aku telah merasakan suatu perbedaan antara pergaulanku denganmu dibanding dengan pergaulanku dengan kawan-kawan lain. Perasaan itulah yang agaknya kemudian berkembang menjadi perasaan seperti yang aku alami kini, dan yang pasti sudah aku ketahui pula. Karena itu Wilis, aku telah berusaha untuk menemukan kau kembali setelah kau melenyapkan diri beberapa saat yang lalu dari Gunung Kidul setelah ibumu meninggal dunia. Dengan menyimpan harapan di dalam hati, bahwa kau akan memiliki perasaan yang demikian pula.
Kemudian untuk beberapa lama, sama sekali tak terdengar suara. Namun bagi Mahesa Jenar, suara detak jantungnya seolah-olah sedemikian kerasnya sehingga jauh melampaui bunyi bedug.

Tetapi sesaat kemudian terdengar Sarayuda melanjutkan, Wilis, kalau beberapa waktu yang lalu aku pulang dari perantauanku, dan untuk beberapa lama aku tak pernah mengatakan perasaan itu kepadamu dan kepada siapapun, itu karena aku merasa bahwa aku masih belum mempunyai syarat-syarat yang cukup. Sekarang aku telah memiliki pekerjaan yang pantas. Yang dilintirkan dari ayahku kepadaku, yaitu jabatan Demang, yang aku kira akan dapat mencukupi bagi jaminan masa depan.
Kembali Sarayuda diam. Tetapi kali ini juga Rara Wilis sama sekali tidak menjawab. Bahkan akhirnya terdengar isak tangisnya diantara desah angin menjelang fajar, yang bagi Mahesa Jenar seolah-olah merupakan desir suara meluncurnya anak-anak panah yang langsung menembus jantungnya, serta menimbulkan luka yang pedih.

Wilis… Sarayuda melanjutkan, Aku tidak tahu kenapa kau menangis. Apakah kau terharu, marah, gembira atau kata-kataku telah menyinggung perasaanmu? Tetapi apa yang aku lakukan adalah benar-benar terdorong oleh perasaanku yang bersih.
Masih belum terdengar Rara Wilis menjawab.

Bukan maksudku untuk memancingmu dengan janji Wilis, desak Sarayuda kemudian, Tetapi meskipun hanya setapak aku telah memliki tanah, dan walaupun hanya seekor kerbau kurus, aku telah berternak pula.
Meskipun kata-kata itu terluncur dari mulut Sarayuda tanpa maksud apapun terhadap orang lain, namun bagi Mahesa Jenar, kata-kata itu merupakan sebuah cermin suryakantha yang dapat menimbulkan bayangan seratus kali lipat.

Tiba-tiba Mahesa Jenar melihat dirinya dalam kaca itu sebagai seorang pengembara tak berarti. Seorang yang tidak mempunyai rumah dan tempat tinggal, tidak mempunyai tanah yang subur untuk jaminan hidupnya, tanpa ternak dan tanpa kedudukan. Serta dilihatnya pula bayangan Sarayuda sebagai seorang yang memiliki syarat-syarat yang penuh. Tanah hampir seluas tanah yang terbentang di daerah Gunung Kidul yang ditaburi oleh 1000 puncak-puncak pegunungan yang asri. Ternak yang setiap hari memenuhi padang-padang rumput di tebing-tebing pegunungan dan di dataran-dataran, sawah yang subur di lembah-lembah yang luas dipagari oleh lereng-lereng hijau.

Mahesa Jenar… tiba-tiba terdengar hatinya berkata, Apakah kau akan berusaha untuk menyaingi Demang Sarayuda yang kaya raya serta gagah perkasa itu…? Mungkin kau akan dapat berhasil merebut hati Rara Wilis, tetapi dengan demikian kau akan menyiksanya sepanjang umurnya. Wilis akan mengalami hidup yang sulit, penuh dengan kekurangan dan penderitaan. Kalau kau melanjutkan usahamu untuk menemukan keris-keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten, lalu apakah yang dapat kau lakukan terhadap Rara Wilis? Kau bawa serta untuk kau binasakan di bawah kekejaman-kekejaman lawan-lawanmu, atau kau umpankan kepada orang-orang golongan hitam sebagai barang permainan? Atau barangkali kau bermaksud meninggalkannya di suatu tempat? Dengan demikian Rara Wilis akan kesepian. Tiap malam ia akan menghitung setiap desir angin yang menyentuh wajahnya dengan mata yang mengaca, dengan penuh harapan pada setiap tarikan nafasnya, menantimu pulang. Tetapi adakah kau akan pulang kembali kepadanya?
Kata-kata hatinya itu mendengung sedemikian kerasnya di dalam kepala Mahesa Jenar. Ditambah dengan berbagai kenangan yang susul-menyusul. Apalagi kalau diingatnya bahwa Sarayuda adalah seorang yang telah menyelamatkan Arya, yang telah melepaskannya dari kemarahan Gajah Sora. Dan tiba-tiba karena semuanya itu, terasa bahwa kepalanya seolah-olah berputar, semakin lama semakin cepat semakin cepat.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
225

MAHESA JENAR memejamkan matanya rapat-rapat. Dengan sekuat tenaga ia berusaha menguasai perasaannya. Namun betapa sulitnya. Malahan kenangan-kenangan masa lalu, yang seolah susul-menyusul, nampak semakin jelas. Bagaimana ia telah berusaha menyelamatkan Rara Wilis dari tangan Jaka Soka, sehingga akibatnya, hampir saja ia dibinasakan oleh Pasingsingan.

Tetapi karena tiba-tiba sekarang dirinya merasa tidak berhak lagi untuk mencoba mengambil hatinya, kenapa sekarang tiba-tiba ada orang lain yang menarik garis pemisah? Mengingat hal itu semua, darah Mahesa Jenar bergelora. Bukankah ia seorang laki-laki? Kalau demikian maka untuk mencapai idaman hati, taruhannya adalah nyawa. Ia tahu bahwa Sarayuda termasuk orang yang sakti, yang memiliki ilmu keturunan dari Ki Ageng Pandan Alas, yaitu Cunda Manik. Namun ia yakin bahwa Sasra Birawa tidak pula kalah dahsyatnya. Penyelesaian dari pertempuran itu tidaklah penting. Kalau ia menang, maka ia pasti dapat memiliki Rara Wilis, tetapi kalau ia kalah, adalah kebinasaan. Ini akan lebih baik daripada hidup dengan hati yang kosong.

Karena pikiran itu, tiba-tiba darah Mahesa Jenar menggelegak. Apalagi ketika timbul dugaannya, bahwa Sarayuda sengaja menyatakan perasaannya terhadap Rara Wilis untuk dapat didengarnya. Kalau demikian, maka berarti bahwa Sarayuda dengan terang-terangan menantangnya. Maka hampir saja Mahesa Jenar meloncat berdiri, kalau tidak tiba-tiba saja timbul pula pikirannya yang lain. Sehingga terjadilah desak-mendesak antara perasaan yang satu dengan yang lain, pikiran yang satu dengan yang lain.

Rara Wilis bukanlah semacam barang yang dapat diperebutkan. Ia adalah seorang manusia yang berhak menjatuhkan pilihan. Meskipun seandainya ia menang dalam perang tanding dengan Sarayuda, tetapi ternyata Rara Wilis sebenarnya tidak memilihnya. Maka yang akan dimilikinya hanya Rara Wilis dalam bentuk wadagnya, bukan keseluruhannya. Apakah artinya bagi Mahesa Jenar, memiliki Rara Wilis tanpa hatinya. Karena itu maka kemauan Mahesa Jenar jadi mengendor lagi.

Malahan kembali timbul di dalam dadanya, suatu perasaan yang pedih, ketika ia tiba-tiba teringat kata-kata Rara Wilis di padang ilalang pada saat mereka berburu tadi.

Bukankah pertanyaan itu jelas. Rara Wilis akan berkata kepadanya, bahwa kenapa ia adalah seorang perantau, seorang yang tidak mempunyai tempat tinggal? Kenapa ia hidup sebagai seorang yang selalu berkeliaran di hutan-hutan, bukit-bukit dan lembah-lembah…?

Kalau demikian maka Rara Wilis pasti sedang memperbandingkan dirinya yang tidak hidup seperti lazimnya orang yang berkeluarga. Kenapa ia tidak menjadi Demang seperti Sarayuda yang menguasai tanah dengan seribu bukit, ternak di padang dan sawah yang subur di lembah-lembah…?

Kenapa ia tidak berkata kepada Rara Wilis tentang rumah yang besar serta halaman yang ditumbuhi pohon buah-buahan serta dipagari oleh tanam-tanaman berbunga…?
O…, semuanya itu pasti akan selalu menggugahnya kelak, apabila Rara Wilis kelak benar-benar menjadi istri Mahesa Jenar. Ataupun kalau tak terucapkan, perlahan-lahan pasti akan membakar hati gadis itu. Karena itu sebelum semuanya itu terjadi maka lebih baik Mahesa Jenar menarik diri. Kalau ia ingin melihat Rara Wilis berbahagia, maka ia harus melepaskan kepentingannya sendiri yang dikendalikan oleh nafsu. Tidak! Ia tidak akan membiarkan Wilis menderita dan terlalu banyak berkorban untuknya.

Aku tidak akan mengganggunya, desis Mahesa Jenar.
Kemudian dengan diam-diam dan hati-hati sekali Mahesa Jenar bangkit dari pembaringannya, anyaman daun kelapa di atas jerami. Perlahan-lahan ia memasuki gubug Pandan Alas dari pintu depan, dan tanpa bersuara didukungnya Arya Salaka dari pembaringannya. Kemudian dengan hati-hati ia meninggalkan gubug yang telah menimbulkan peristiwa pahit itu.

Arya yang kemudian terbangun, sama sekali tak mengetahui duduk perkaranya. Ia merasa bahwa pamannya berlari kencang sekali, karena itu ia bertanya, Paman…, ke mana Paman akan pergi?
Mahesa Jenar tidak menjawab pertanyaan itu, malahan ia berlari semakin kencang dan kencang, menuju ke gubug yang telah dibangunnya bersama Arya Salaka.

Perjalanan mereka menyusup melewati hutan-hutan kecil yang tidak begitu lebat.
Ketika fajar menyingsing, Mahesa Jenar mencoba untuk menguasai dirinya. Ia berusaha untuk tidak menimbulkan kesan yang asing bagi orang-orang yang dijumpainya di jalanan. Karena itu Arya segera diturunkannya dari dukungan.

Orang-orang yang sedang ke sawah serta orang-orang yang pergi mencari kayu di hutan, hanya memandang Mahesa Jenar sepintas saja, meskipun kadang-kadang ada yang heran pula, Dari manakah sepagi itu, ayah-beranak sudah berada di perjalanan?

Tetapi Mahesa Jenar sudah sama sekali tidak memperhatikannya lagi. Ia berjalan terus dengan kecepatan yang penuh, tanpa beristirahat.

 

226

AKHIRNYA Arya menjadi kelelahan.

Maka bertanyalah ia, Paman…, kemanakah kita pergi?

Mahesa Jenar tidak menjawab pertanyaan itu. Ia masih saja berjalan cepat-cepat. Karena itu Arya kadang-kadang terpaksa berlari-lari untuk mengikuti langkah Mahesa Jenar.

Paman…, tunggulah! teriak Arya.
Mahesa Jenar yang sedang diliputi oleh berpuluh ribu masalah itu hampir tak mendengar suara Arya. Ia masih saja berjalan cepat tanpa menoleh.

Mendengar Arya berteriak-teriak, Mahesa Jenar berhenti menoleh. Tetapi, Arya yang biasanya mendapat perhatian sepenuhnya dari Mahesa Jenar, kini rasa-rasanya sangat menjengkelkan sekali. Dengan keras pula Mahesa Jenar berteriak, Arya…, tidakkah kau dapat berjalan lebih cepat?
Aku lelah sekali Paman,
jawab Arya.
Baru beberapa langkah kau berjalan. Ayo belajarlah menjadi seorang laki-laki. Apakah kau, yang sudah sebesar itu masih harus selalu dimanjakan…? Didukung sampai punggungku patah? teriak Mahesa Jenar dengan kasarnya.

Mendengar jawaban Mahesa Jenar, Arya terkejut bercampur heran. Ia belum pernah melihat Mahesa Jenar bertindak sekasar itu terhadapnya. Padahal ia sama sekali tidak merasa berbuat suatu kesalahan. Ia ingat jelas bahwa pamannya kemarin berkata kepadanya agar ia tidur saja, pamannya akan pergi berburu. Kemudian ketika ia terbangun, ia sedang didukung oleh pamannya sambil berlari-lari. Dan sekarang tiba-tiba saja pamannya marah kepadanya.

Sedang Arya kebingungan, terdengar kembali suara Mahesa Jenar, Arya…, tidakkah kau mau berjalan?
Arya tersentak, cepat ia melangkah menyusul. Namun di hatinya terasa ada sesuatu yang mengeram. Dan tiba-tiba saja terasa tenggorokannya tersumbat. Alangkah asingnya sikap pamannya. Sikap yang belum pernah dirasakannya selama ia bertemu dengannya. Apalagi sejak ayahnya meninggalkan Banyubiru, dan sejak beberapa orang selalu mengejar-ngejarnya dan akan membunuhnya. Pamannya selama itu selalu melindunginya dengan saksama. Tetapi sekarang sikap Paman Mahesa Jenar itu tiba-tiba berubah. Maka tanpa dirasanya matanya jadi membasah.

Dengan susah payah Arya berusaha untuk mencegah air mata yang hampir pecah. Namun akhirnya Arya Salaka tidak tahan lagi. Apalagi ketika didengarnya Mahesa Jenar membentaknya, Arya, kau anak laki-laki yang sudah sebesar itu masih juga menangis? Ayo, berlarilah kalau kau masih mau beserta aku. Kalau tidak, terserahlah kepadamu.

Setelah berkata demikian, Mahes Jenar melangkah melanjutkan perjalanannya. Meskipun kemudian terdengar suara Arya memanggil-manggilnya, Paman…, Paman…!
Tiba-tiba saja langkah Mahesa Jenar terhenti. Dilihatnya di pinggir jalan sempit di tepi hutan itu seseorang berdiri seperti menantinya. Ketika Mahesa Jenar berhenti, tampaklah orang itu melambaikan tangannya memanggil. Hati Mahesa Jenar jadi berdebar-debar, apalagi kemudian ketika dikenalnya orang itu adalah Ki Ageng Pandan Alas. Kakek dan guru Rara Wilis, yang telah memecahkan hatinya.

Tetapi ketika Mahesa Jenar sadar bahwa ia tidak dapat bermain-main dengan orang tua itu, maka dengan langkah yang berat ia pergi mendekatinya.

Mahesa Jenar… kata orang tua itu setelah Mahesa Jenar berdiri di hadapannya, Aku menangkap suatu sikap yang aneh padamu.
Mahesa Jenar menundukkan kepalanya tanpa menjawab.

Kenapa kau pergi tanpa pamit kepadaku? lanjut Ki Ageng Pandan Alas.
Juga kali ini Mahesa Jenar tidak menjawab.

Terdengarlah orang tua itu tertawa lirih, namun wajahnya tidak secerah biasanya.
Perlahan-lahan Mahesa Jenar mengangkat wajahnya. Tetapi ketika pandangannya membentur mata orang tua itu, kembali ia menundukkan mukanya. Dengan suara yang berat ia menjawab, Ki Ageng…, aku adalah orang yang tak berarti, yang tidak sepantasnya tinggal bersama-sama dengan Ki Ageng, Adi Pudak Wangi dan Demang Sarayuda yang kaya raya.
Sekali lagi Ki Ageng Pandan Alas tersenyum.

Mahesa Jenar…, aku telah mendengar seluruhnya percakapanmu dengan Rara Wilis di padang perburuan.
Aku juga melihat bagaimana kau menyaksikan Rara Wilis berkelahi melawan dua orang yang kemudian kau bunuh dengan lemparan batu. Tetapi seterusnya, menurut gagapanku, kau menjadi tersinggung karenanya. Maka segera aku menyusulmu untuk mendapat penjelasan. Tetapi mendengar kata-katamu tadi, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa kau merasa disisihkan, karena kau bukan seorang yang kaya seperti Sarayuda,
kata Ki Pandan Alas.

Mahesa Jenar mengangguk perlahan-lahan. Ki Ageng…, bukankah Ki Ageng mendengar sendiri, bagaimana Rara Wilis menanyakan kepadaku? Kenapa aku tidak menjabat kedudukanku kembali? Bukankah itu sudah jelas, bahwa Rara Wilis sama sekali tidak senang melihat seseorang yang merantau memperjuangkan keyakinannya?


Bukan tidak senang, Mahesa Jenar…
jawab Ki Ageng Pandan Alas, Tetapi sebagai seorang gadis, pastilah ia berangan-angan. Angan-angan itu akan dapat dipenuhi oleh Ki Demang Sarayuda, yang memiliki tanah, ternak dan pangkat. Apalagi ia adalah seorang yang sakti pula, yang akan dapat melindungi keselamatan Rara Wilis, sela Mahesa Jenar.
Mendengar kata Mahesa Jenar itu, wajah Ki Ageng Pandan Alas nampak berkerut. Alisnya bergerak-gerak, sedang matanya memancarkan perasaannya yang kecewa.

Mahesa Jenar…, meskipun Sarayuda itu muridku, namun aku melihat beberapa kelebihan ada padamu.
Tetapi ternyata bahwa kau juga mempunyai kekurangan yang besar. Hatimu keras seperti baja, tetapi getas seperti baja pula. Kalau demikian… baiklah, aku akan berusaha untuk membentuk Sarayuda lebih lanjut, untuk melenyapkan kekurangan-kekurangannya agar dapat menyamaimu.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
227

SETELAH mengucapkan kata-kata itu, dalam sekejap saja Ki Ageng Pandan Alas telah melangkah jauh. Ketika Mahesa Jenar akan menjawab, orang tua itu telah hilang masuk ke dalam hutan.

Maka, tiba-tiba timbullah penyesalan di hati Mahesa Jenar. Mungkin ia sudah menyakitkan hati orang tua itu. Sehingga dengan demikian kemungkinan untuk dapat kembali kepada Rara Wilis menjadi semakin tipis. Karena itu tiba-tiba menggeloralah kembali kejengkelan di dalam dadanya. Dunia ini menjadi seolah-olah gelap dan tanpa masa depan. Hidupnya menjadi tak berarti sama sekali. Kalau demikian buat apa ia mesti berjuang untuk masa depan. Masa yang akan dipenuhi oleh kepahitan hidup…?

Tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada Ki Paniling yang sebenarnya bernama Radite, yang menjauhkan diri dari pergaulan ramai. Yang kemudian lebih senang hidup diantara para petani miskin tanpa berpikir tentang masa depan. Tentang negara, tentang bangsa.

O…, adakah demikian balas jasa yang diterimanya atas perjuangan yang dilakukan selama ini? Kalau demikian maka alangkah tenteramnya hidup Paniling.

Paman… tiba-tiba terdengar suara Arya dekat di belakang Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar agak terkejut mendengar suara itu. Tetapi ketika ia menoleh dan nampak wajah Arya yang kuyu, kembali terungkitlah kejengkelannya. Anak itu adalah isi dari masa depan yang gelap, yang pahit, yang akan menyiksanya. Buat apa ia harus ikut serta membinanya. Anak itu bukanlah anaknya. Biarlah Gajah Sora sendiri bertanggung jawab atasnya. Kalau kelak ia marah kepadanya, biarlah Gajah Sora mencoba mengukur lebar dadanya.

Karena pengaruh pikirannya yang kelam itu berteriaklah Mahesa Jenar membentak, Pergi…, pergi kau kelinci cengeng. Buat apa kau ikuti aku?

Mendengar suara kasar itu, dada Arya Salaka rasa-rasanya seperti tersambar petir, sehingga tubuhnya menggigil ketakutan. Belum lagi ia dapat bersuara, Mahesa Jenar telah melompat berlari. Berlari kencang-kencang seperti orang yang kehilangan ingatan. Meskipun kemudian terdengar jerit Arya Salaka, Paman…, Paman... namun suara itu semakin lama semakin jauh semakin jauh di belakangnya.
Suara Arya Salaka itu akhirnya lenyap menghantam batas-batas hutan. Sedang Mahesa Jenar masih saja berlari menyusup semak-semak seperti orang gila. Dengan napas yang terengah-engah, ia mendaki bukit kecil sambil masih terus berlari, menjauhi manusia. Ia akan pergi ke suatu tempat dimana hidupnya tak tersentuh oleh apapun.

Di puncak sebuah bukit, atau di pusat hutan yang lebat, ia akan bertapa. Menghadapkan hidupnya melulu buat masa langgeng. Akan ditinggalkannya dunia yang penuh dengan bayangan dan angan-angan seperti mimpi yang nikmat, tetapi kemudian yang membantingnya ke dalam jurang kekecewaan yang maha dalam.

Tetapi, tiba-tiba Mahesa Jenar terkejut melihat sebuah bayangan menghadang perjalanannya di tempat yang temaram oleh bayangan pepohonan. Karena itu segera ia memperlambat langkahnya. Ia menjadi semakin terkejut lagi ketika dari kejauhan dilihatnya bayangan itu mengenakan jubah abu-abu.

Pasingsingan… desisnya. Hatinya kemudian agak gelisah. Tetapi tiba-tiba ia tersenyum sendiri.

Bagus, desisnya. Kalau Pasingsingan mau membunuh aku pula, aku akan mengucapkan terima kasih kepadanya.
Mendapat pikiran itu, kembali Mahesa Jenar berlari, ke arah orang yang berjubah abu-abu yang disangkanya Pasingsingan itu. Tetapi kembali ia terkejut bukan kepalang, ketika ternyata orang yang berjubah abu-abu itu tidak mengenakan topeng kasar seperti yang biasa dipergunakan oleh Pasingsingan.

Apalagi ketika Mahesa Jenar sempat memandang wajah orang itu. Kurus dan janggutnya yang sudah putih tumbuh lebat pepat, menutup sebagian dari mukanya, sedang rambutnya yang sudah putih dibiarkannya terurai menjuntai dari bawah ikat kepalanya. Menilik garis-garis umur yang tergores di keningnya, nyatalah bahwa umur orang itu sudah sangat tua, namun tubuhnya masih nampak segar dan kuat.

Tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada orang yang telah mengambil keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten di Banyubiru. Orang itu berpakaian mirip dengan jubah Pasingsingan, namun bukan Pasingsingan. Sedang rambutnya yang putih itu, dapat saja pada waktu ia mengambil keris di Banyubiru digelungnya di bawah ikat kepalanya. Adapun wajahnya, tak seorangpun yang mengetahuinya. Karena itu tiba-tiba timbul dugaannya bahwa orang inilah yang telah mengambil pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.

Maka dengan tiba-tiba pula Mahesa Jenar berteriak, He Kyai…, adakah kau yang mengambil pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten?
Orang itu sama sekali tidak menjawab dan tidak bergerak. Hanya matanya saja yang tajam bersinar memandang ke arah Mahesa Jenar tanpa berkedip.

Karena pandangan mata itu, hati Mahesa Jenar jadi gelisah. Seolah-olah ada suatu pengaruh yang aneh pada dirinya. Maka untuk mengatasi kegelisahannya, kembali ia berteriak, He, siapakah kau, yang telah berani mengambil pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten dari Banyu Biru…?

Orang itu masih belum menjawab. Tetapi pandangan matanya semakin dalam menembus dada Mahesa Jenar yang menjadi semakin gelisah. Dan seperti orang yang bingung, Mahesa Jenar membentak-bentak, Kau yang mengambil, he..? Ayo bilang, tak usah kau ingkari. Kalau demikian, kembalikan keris itu kepadaku. Kembalikan…!
Karena orang itu masih saja tidak menjawab, perasaan Mahesa Jenar menjadi semakin melonjak-lonjak. Timbullah suatu perasaan kecut dan ngeri di dalam dirinya. Seolah-olah orang yang berdiri di hadapannya itu memancarkan suatu perbawa yang aneh. Sehingga kemudian Mahesa Jenar tidak dapat mengendalikan kecemasannya, bercampur-baur dengan perasaan bingung dan pepat.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
228

MAHESA JENAR mundur beberapa langkah, disilangkan satu tangannya di depan dada, satu lagi diangkat tinggi-tinggi. Sambil memusatkan segala tenaganya, Mahesa Jenar mengangkat satu kakinya dan ditekuknya ke depan. Sambil berteriak nyaring Mahesa Jenar meloncat maju, Kembalikan keris-keris itu atau kau binasa.

Setelah itu, tangannya terayun deras dengan aji Sasra Birawa tersimpan di dalamnya. Tetapi terjadilah suatu peristiwa yang sama sekali tak terkirakan. Dengan cekatan, tangan orang tua itu bergerak dan dalam sekejap tangan Mahesa Jenar yang sedang mengayunkan Sasra Birawa itu dengan tenang ditangkapnya. Dengan demikian maka Mahesa Jenar tersentak oleh kekuatannya yang tidak tersalur itu, sehingga seolah-olah suatu pukulan yang dahsyat telah menghantam dadanya. Tetapi hanya sebentar. Sebab sesaat kemudian terasalah seolah-olah udara yang sejuk mengalir ke seluruh tubuhnya, sehingga dengan demikian tubuhnya sama sekali tidak merasakan suatu gangguan apapun.

Mengalami peristiwa itu, jantung Mahesa Jenar berdesir hebat sekali. Sadarlah ia bahwa yang berdiri di hadapannya itu adalah seorang yang maha sakti. Yang memiliki kedahsyatan ilmu lahir dan batin. Karena itu, ketika tangannya telah dilepaskan, Mahesa Jenar segera mundur beberapa langkah dan kemudian seperti orang yang tak berdaya, Mahesa Jenar menjatuhkan dirinya duduk bersila menghadap kepada orang yang tak dikenalnya itu.

Dengan gemetar Mahesa Jenar berkata, Maafkanlah kelancanganku Kyai, dan perkenankanlah aku mengetahui siapakah sebenarnya Tuan?
Terdengarlah orang tua berjubah abu-abu itu tersenyum.

Sudahlah Mahesa Jenar, kau tak perlu terlalu merasa bersalah. Bahkan aku menjadi gembira ketika kau masih ingat kepada kewajibanmu untuk menemukan kembali Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, sehingga kau berani bertindak terhadap apapun dan siapapun. Dengan demikian maka masa depanmu tidaklah akan gelap sama sekali, jawabnya.
Mendengar kata-kata orang tua yang sama sekali tidak menjawab pertanyaannya itu, Mahesa Jenar menjadi tertegun heran. Apakah gerangan maksudnya?
Kemudian terdengarlah orang tua itu melanjutkan, Mahesa Jenar…, apakah sebenarnya yang kau cari, sehingga kau sampai ke tempat ini?
Perasaan Mahesa Jenar terasa seperti disentakkan mendengar pertanyaan itu. Yah, apakah sebetulnya yang dikehendaki sehingga sampai ke tempat ini…?

Teringatlah kemudian apa yang pernah dialami akhir-akhir ini, yang masalahnya berkisar di sekitar Rara Wilis. Namun untuk menguraikan kepada orang tua itu, Mahesa Jenar masih merasa kurang enak. Karena itu ia jadi bimbang sehingga beberapa lama ia tidak menjawab.

Karena Mahesa Jenar masih berdiam diri, terdengarlah orang tua itu meneruskan, Aku kira, aku dapat menduga-duga apa yang sebenarnya telah kau alami Mahesa Jenar. Dan ketika aku melihat kau berlari-lari ke arah yang sama sekali tak kau ketahui, aku pun dapat mengira-ngira pula, apa yang akan kau lakukan. Sebab sebagian besar dari percakapanmu dengan Kyai Ageng Pandan Alas, serta kemarahanmu kepada Arya Salaka dapat aku dengar. Ditambah lagi dengan beberapa kejadian akhir-akhir ini yang dapat aku lihat pula. Hubunganmu dengan cucu Ki Ageng Pandan Alas serta murid Ki Ageng Pandan Alas yang bernama Sarayuda.

Mendengar uraian orang tua itu, Mahesa Jenar seperti orang yang dihadapkan pada suatu peristiwa yang diluar kemampuan jalan pikirannya. Demikian banyaknya masalah yang dapat diketahui oleh orang tua itu. Kalau demikian maka orang tua itu pasti telah beberapa hari mengikutinya. Karena itu, pasti orang itu adalah orang yang sama sekali tidak bermaksud jahat kepadanya. Dengan demikian ia menjadi agak berani pula.

Maka katanya, Apa yang Tuan katakan adalah benar.
Maka terdengarlah orang tua itu tertawa. Bagus… katanya. Kau sadari semua itu, dan sekarang kau akan pergi kemana?

Kembali Mahesa Jenar kebingungan. Apakah sebaiknya ia bekata terus terang? Sebab andaikata ia berbohong maka orang tua itupun agaknya dapat mengetahui pula.

Karena itu jawabnya, Aku akan pergi bertapa, Kyai. Menjauhi kesibukan kesibukan duniawi yang menjemukan.
Sekali lagi orang tua itu tertawa.

Apakah dengan bertapa serta menjauhkan diri dari persoalan manusia itu, kemudian keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten akan datang kepadamu dengan sendirinya?

Sedikit-sedikit arah pembicaraan orang tua itu sudah dapat ditangkap oleh Mahesa Jenar. Ia menjadi bertanya pula pada diri sendiri, apakah sebenarnya yang dicarinya selama ini?

Mahesa Jenar… lanjut orang tua itu, Kau adalah seorang kesatria, bukan seorang brahmana atau pertapa. Kewajiban kesatria adalah membina kesejahteraan umat manusia, kesejahteraan bangsanya dan tanah airnya. Apakah yang dapat kau lakukan apabila kau mengasingkan dirimu di puncak gunung atau di tengah-tengah hutan yang lebat? Di dalam goa-goa atau di bawah pohon beringin tua? Mahesa Jenar, aku sudah tua. Aku adalah gambaran dari orang-orang yang tak berarti. Tinggal di dalam goa yang jauh dari masalah-masalah bangsa dan tanah air, dimana aku meneguk air jika aku haus serta mencari ketenteraman diri. Tetapi dengan demikian masalah keluarga besar kita tak akan dapat diselesaikan. Sekarang adakah kau mau memperbanyak jumlah dari orang-orang yang demikian itu?
Kata-kata orang tua itu memancar ke hati Mahesa Jenar seperti sinar matahari yang memecahkan gelapnya malam. Meskipun ia masih duduk tepekur, namun dadanya telah menyala kembali dengan api kekesatriaannya.

Masihkah kau akan melanjutkan mencari pusaka-pusaka yang hilang itu? tanya orang tua itu.
Karena pertanyaan itu Mahesa Jenar tersentak.

Jawabnya tergagap, Ya… Tuan, aku tetap mencarinya. Dan adakah Tuan mengetahui di manakah kedua keris itu sekarang?

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
229

ORANGTUA itu tersenyum, lalu jawabnya, Aku tahu. Kedua keris itu berada di dalam kekerasan hatimu serta usahamu.

Kembali Mahesa Jenar tertunduk. Tepat benar jawaban orang tua itu.

Mahesa Jenar… lanjut orang itu, hati-hatilah kelak akan memilih. Ada dua keturunan yang merasa berhak memiliki keris itu. Keturunan Trenggana dan keturunan Sekar Seda Lepen. Pilihlah siapa diantara mereka yang mengutamakan kepentingan rakyat serta kesejahteraan negerinya. Kepadanyalah keris itu kau serahkan. Seterusnya kau masih mempunyai satu kewajiban lagi. Membina masa depan. Dan sekarang kau sia-siakan satu tugas kekuatan masa depan itu.

Orang tua itu diam sesaat, lalu bertanya kepada Mahesa Jenar, Dengarlah siapakah yang menyebut-nyebut namamu?

Lamat-lamat ketajaman pendengaran Mahesa Jenar mendengar suara memanggil-manggilnya, Paman…, Paman Mahesa Jenar…, di manakah kau Paman…?

Mendengar suara itu, terbantinglah hati Mahesa Jenar seperti kaca yang menimpa batu. Itu adalah suara Arya Salaka, putra Gajah Sora.

Apa salah anak itu kepadamu Mahesa Jenar? tanya orang tua itu sambil tersenyum.
Karena pertanyaan itu hati Mahesa Jenar merasa semakin pecah-pecah. Teringatlah ia, bagaimana ia membentak-bentak anak itu, meninggalkannya dalam kebingungan dan kekalutan pikiran.

Mahesa Jenar… terdengarlah kembali kata-kata orang tua itu, Masa depan tidaklah kalah pentingnya dengan masa kini. Justru apa yang kau lakukan adalah buat kepentingan masa depan. Karena itu peliharalah tunas-tunas buat masa depan itu dengan baik-baik. Kali ini kau telah mendapatkan pengalaman untuk dapat kau pergunakan sebagai cermin pada masa-masa yang akan datang. Setiap usaha pasti mengalami rintangan-rintangan. Apabila kau terperosok pada kepatahan hati maka tak akan ada usahamu yang berhasil. Aku setuju dengan kata-kata Pandan Alas, hatimu sekeras baja, tetapi getas seperti baja pula. Nah sekarang hayatilah tugasmu kembali. Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten serta anak Gajah Sora yang dititipkan kepadamu itu.
Mahesa Jenar membungkuk hormat, namun masih juga ia mencoba bertanya, Siapakah sebenarnya Tuan?

Orang tua itu tersenyum.

Tak banyak gunanya kau mengetahui siapakah aku ini. Sebab aku adalah orang yang tak berarti. Salah satu dari gambaran orang-orang yang tidak bertanggungjawab buat membina bebrayan agung. Namun aku masih ingin menitipkan sumbangsihku atas tanah ini kepadamu, dengan mencegah kehendakmu untuk menambah barisan orang-orang yang tak berarti seperti aku ini. Nah selamat bekerja Mahesa Jenar. Seharusnya kau memiliki keagungan seperti gurumu, Pangeran Handayaningrat.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, orang tua yang berkumis dan berjanggut lebat itu melangkah pergi.

Mahesa Jenar yang masih belum puas itu segera akan mengikutinya, tetapi tiba-tiba kembali didengarnya suara sayup-sayup menyusup dedaunan, Paman…, Paman Mahesa Jenar…. Kenapa aku kau tinggalkan sendiri, Paman…?
Suara yang timbul-tenggelam diantara desir angin di hutan itu telah menyentuh-nyentuh perasaan Mahesa Jenar seperti panasnya bara api. Cepat ia menyadari kesalahannya telah meninggalkan anak yang tak bersalah itu. Karena itu ia berteriak pula, Arya…, tunggulah Paman segera datang.

Setelah itu segera ia meloncat berlari sekencang-kencangnya menuju ke arah suara Arya Salaka, yang ketika mendengar suara Mahesa Jenar, berteriak lebih keras lagi, Paman…, Paman….

Ketika Arya Salaka melihat Mahesa Jenar yang tiba-tiba muncul dari rimbunnya hutan, segera ia berlari menyongsongnya. Tetapi karena tubuhnya sudah sangat lelah, maka ia pun terjatuh lemas. Melihat kadaan Arya, Mahesa Jenar jadi terharu. Cepat ia menangkap tubuh Arya yang sudah hampir terjerembab, dan dengan hati-hati anak itu didudukkan di atas rumput-rumputan.

Arya…. bisik Mahesa Jenar.

Arya tidak menjawab, karena kerongkongannya terasa buntu. Namun air matanya mengalir seperti tanggul yang pecah.

Arya Salaka yang sebenarnya bukanlah anak cengeng, pada saat itu tangisnya tak tertahankan lagi, seperti berdesak-desakan berebut jalan.

Arya… kata Mahesa Jenar, Anak laki-laki tidak sepantasnya menangis. Diamlah.
Meskipun nada suara Mahesa Jenar sudah menjadi lunak, namun Arya masih ketakutan kalau-kalau pamannya akan marah kembali. Karena itu ditahannya tangisnya kuat-kuat. Tetapi karena itu pula maka dadanya menjadi sesak karena isaknya yang tersekat, sehingga tubuhnya berguncang-guncang.
Sudahlah Arya… sambung Mahesa Jenar, Kalau kau terlalu lama menangis kau dapat kemasukan angin.
“Aku takut”
kata Arya.
Takut…? tanya Mahesa Jenar. Apa yang kau takutkan?
Aku takut kalau Paman meninggalkan aku sendiri,
jawab Arya.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
230

MENDENGAR jawaban itu hati Mahesa Jenar tergetar. Adalah wajar kalau seorang anak sebesar Arya Salaka menjadi ketakutan ditinggalkan seorang diri di padang ilalang di pinggir hutan yang sama sekali tak dikenalnya, bagaimanapun beraninya anak itu.

Tidak Arya…, Paman tak akan meninggalkan kau sendiri, kata Mahesa Jenar membesarkan hati anak itu.
Tetapi tadi Paman berlari kencang sekali, potong Arya.
Mendengar kata-kata Arya itu, Mahesa Jenar tersenyum. Senyuman yang pahit bagi dirinya sendiri.

Namun jawabnya, Tadi Paman tidak akan meninggalkan kau, Arya. Tetapi karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan, dan tidak boleh orang lain tahu, apalagi anak-anak. Karena hal itu adalah rahasia besar, maka aku pergi mendahuluimu untuk beberapa lama.
Arya memandang wajah Mahesa Jenar dengan pandangan yang penuh keragu-raguan. Apa yang dilakukan oleh Mahesa Jenar tadi menurut anggapannya bukanlah sekadar mendahului, tetapi benar-benar telah berusaha untuk meninggalkannya.

Karena itu ia bertanya, Tetapi tadi Paman marah kepadaku.
Sekali lagi Mahesa Jenar tersenyum. Namun hatinya mengeluh. Sudahlah Arya, sekarang dan seterusnya Paman tak akan meninggalkan kau lagi.
Arya mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun hatinya masih tetap ragu.

Kemana Paman pergi, aku ikut Paman.
Bagus Arya, bagus, jawab Mahesa Jenar. Nah, sekarang kemana?

Terserahlah kepada Paman, jawab Arya.
Kau lelah? tanya Mahesa Jenar.

Tidak, kalau berjalan dengan Paman aku masih kuat, jawab Arya dengan mantapnya, meskipun sebenarnya kakinya sudah terlalu letih. Agaknya Mahesa Jenar mengetahui pula kelelahan Arya, karena itu katanya,

Kita beristirahat sebentar Arya, nanti kalau kau sudah tidak begitu letih, kita berjalan kembali.

Arya menjadi gembira mendengar ajakan pamannya. Memang sebenarnya ia lelah sekali setelah beberapa lama berlari-lari mengejar Mahesa Jenar. Maka jawabnya,

Baiklah Paman. Aku akan beristirahat dahulu.

Kemudian mereka mencari tempat yang teduh di bawah pepohonan, di tepi hutan. Arya Salaka dengan segera merebahkan dirinya berbaring diatas rumput-rumput kering. Dan, karena lelahnya maka segera ia pun tertidur.

Mahesa Jenar memandang Arya yang sedang tidur itu dengan perasaan belas kasih. Apalagi kalau diingatnya, bahwa hampir saja anak itu ditinggalkannya seorang diri. Dari wajah anak itu tampaklah memancar ketulusan serta keberanian yang diwarisinya dari ayahnya, Gajah Sora. Karena itu, apabila Arya Salaka menerima pendidikan serta latihan yang baik, pastilah kelak ia akan menjadi seorang pemuda yang perkasa.
Sementara itu matahari telah menempuh lebih dari tigaperempat bagian dari jalan peredarannya, karena itu panasnya tidak begitu tajam lagi. Di langit yang biru bersih, hanya kadang-kadang saja tampak awan tipis mengalir perlahan-lahan.

Bersama dengan awan yang tipis itu kenangan Mahesa Jenar membubung tinggi. Diingatnya segenap masa lampaunya yang penuh dengan bermacam-macam kejadian silih berganti. Ketenaran dua keagungan sebagai seorang perwira pasukan Naramanggala, kepahitan dan kekecewaan, kecemasan dan bermacam-macam lagi peristiwa yang datang silih berganti di masa perantauannya.

Namun akhirnya, ketika awan di langit itu pecah berpencaran ditiup angin, maka hilang pulalah semua kenangan yang mengganggu pikiran Mahesa Jenar. Yang tampak sekarang adalah masa yang menghadang di hadapannya. Masa yang akan penuh dengan tantangan-tantangan yang harus dijawab dengan tindakan-tindakan yang tepat.

Tetapi kemudian tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada orang tua yang telah membawanya kembali ke jalan yang lurus. Siapakah kira-kira orang itu? Benarkah orang itu yang telah mengambil keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten?
Ketika pertanyaan-pertanyaan itu ditujukan kepadanya maka ia sama sekali tidak menyangkalnya meskipun tidak pula membenarkan. Ditilik dari pakaiannya maka Mahesa Jenar hampir pasti bahwa orang itulah yang mengambil kedua pusaka itu dari Banyubiru, sebab jarang orang yang berpakaian jubah berwarna abu-abu, kecuali Pasingsingan dan orang itu.

Meskipun Mahesa Jenar belum pernah melihat wajah asli Pasingsingan yang nama sebenarnya adalah Umbaran, namun pastilah bahwa orang tua itu bukannya Umbaran.
Kalau demikian sampailah Mahesa Jenar pada suatu dugaan bahwa orang tua itu adalah Pasingsingan tua, guru dari Paniling, atau yang sebenarnya bernama Radite, Anggara dan Umbaran. Namun ia sendiri tidak yakin, apakah dugaannya itu benar.
Tetapi bagaimanapun Mahesa Jenar mendapat kesimpulan bahwa usaha untuk menemukan keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten akan merupakan suatu usaha yang berjangka panjang. Sebab sampai saat itu segala sesuatunya masih gelap. Gelap sama sekali.

Tak ada satu titik pun yang dapat menunjukkan arah lenyapnya kedua pusaka yang sedang menjadi rebutan oleh beberapa pihak itu. Akibat dari itu, pasti akan menyangkut Gajah Sora pula. Makin lama waktu yang diperlukan untuk menemukan kedua keris itu, semakin lama pula waktu pembebasan yang akan diberikan kepadanya. Mahesa Jenar hanya dapat berdoa, mudah-mudahan Paningron dan Gajah Alit dapat menolong meringankan tuduhan yang dibebankan kepada Gajah Sora.

Tetapi ketika Mahesa Jenar baru asyik berangan-angan, tiba-tiba terdengarlah derap kuda yang semakin lama semakin dekat. Karena itu segera didukungnya Arya yang masih tidur, dibawa masuk ke dalam semak-semak yang rimbun. Untunglah bahwa Arya yang kelelahan itu tidak terbangun. Sedang Mahesa Jenar, dengan hati-hati sekali mengintip dari celah-celah rapatnya dedaunan ke arah suara kuda-kuda itu.

 

 

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
231

SEBENTAR kemudian dari balik tikungan semak-semak muncullah tiga orang berkuda. Melihat tiga orang itu, dada Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar.

Mereka adalah sepasang Uling dari Rawa Pening, disertai oleh Sri Gunting.
Menilik perbekalan mereka, maka Mahesa Jenar dapat mengetahui bahwa dua bersaudara Uling itu akan menempuh perjalanan yang jauh. Mula-mula timbul keinginan Mahesa Jenar untuk menghadang mereka serta langsung membinasakan mereka.

Tetapi tiba-tiba diingatnya pesan Ki Paniling, bahwa ia dinasehatkan untuk tidak bertindak tergesa-gesa. Ia harus tahu pasti bahwa tindakannya benar-benar akan menguntungkan. Sedang pada saat itu, ia masih belum yakin bahwa ia seorang diri dapat mengalahkan orang-orang itu.

Apalagi ia sedang membawa Arya. Kalau sampai terjadi sesuatu atas anak itu, maka letak kesalahan ada padanya. Karena itu akhirnya, Mahesa Jenar hanya mengintip dengan dada yang bergetar menahan perasaannya.

Ketika ketiga orang itu lenyap dari pandangan matanya, Mahesa Jenar segera menyadari, betapa semakin sulitnya pekerjaan yang akan dilakukan. Dengan melihat kedua orang itu Mahesa Jenar dapat menerka, bahwa pasti tidak saja sepasang Uling itu yang pergi merantau, tetapi pasti juga tokoh-tokoh hitam yang lain, menempuh perjalanan dan bertebaran ke segenap penjuru untuk dahulu-mendahului menemukan Keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Kalau saja ia bertemu dengan Uling, Lawa Ijo, Jaka Soka dan sebagainya, bagaimanapun masih ada kemungkinan bagi Mahesa Jenar untuk menyelamatkan diri.

Tetapi bagaimana halnya kalau di perjalanan ia berjumpa dengan tokoh-tokoh tua seperti Pasingsingan, Sima Rodra tua, Bugel Kaliki dan barangkali tokoh-tokoh tua yang berdiri di belakang Sepasang Uling dan Jaka Soka, atau guru-guru mereka, yang ternyata juga mengingini pusaka-pusaka itu?

Terhadap mereka tidak akan banyak yang dapat dilakukan. Untunglah sampai saat ini beberapa kali jiwanya selalu terselamatkan oleh pertolongan mereka dari angkatan yang sebaya. Tetapi kalau tak seorangpun dari mereka yang melihat, pasti bahwa tinggal nama Mahesa Jenar saja yang mungkin masih sering disebut-sebut orang.

Mengingat hal itu, tiba-tiba dirasanya bulu tengkuknya berdiri. Tetapi ketika segera menyusul gema yang berkumandang di rongga hatinya, gema suara orang tua yang tak dikenalnya, yang mengatakan bahwa Keris Nagasasra dan Sabuk Inten berada di dalam kekerasan hatinya serta usahanya, maka nyala tekad di dalam hatinya berkobar semakin besar, sebesar nyala api di lubang kepundan Gunung Merapi, yang tak akan dapat padam oleh hujan selebat apapun serta angin sekencang apapun.

Sementara itu Arya telah menggeliat pula. Ketika ia membuka matanya maka yang pertama-tama dilakukan adalah berteriak memanggil, Paman…, Paman Mahesa Jenar….

Sst…! desis Mahesa Jenar. Kenapa kau berteriak, Arya…?
Dengan pandangan yang masih diliputi oleh keragu-raguan, Arya mengawasi Mahesa Jenar tanpa berkedip. Paman tidak meninggalkan aku lagi bukan?

Mahesa Jenar tertawa kosong, dengan penuh pengertian atas kecemasan yang mencengkam perasaan Arya.

Kalau aku akan meninggalkan engkau, bukankah lebih baik pada saat kau sedang tidur?

Mendengar jawaban Mahesa Jenar, Arya menjadi percaya bahwa pamannya tidak akan pergi meninggalkannya. Setelah beberapa kali menggeliat, segera Arya duduk di samping Mahesa Jenar.

Sudah tidak lelah lagi kau Arya? tanya Mahesa Jenar.
Bukankah sejak tadi aku tidak lelah Paman? jawab anak itu.

Terdengar Mahesa Jenar tertawa pendek, katanya meneruskan, Bagus kalau begitu. Nah sekarang kau sudah siap untuk berjalan lagi?
Tentu Paman, tentu aku siap berjalan setiap saat,
sahut Arya.
Kalau begitu, mari kita berjalan, ajak Mahesa Jenar.
Oleh ajakan itu segera Arya meloncat berdiri dengan sigapnya. Memang setelah ia tertidur beberapa lama, tubuhnya telah menjadi segar kembali.

Kita sekarang kembali ke rumah kita sebentar Arya, ajak Mahesa Jenar meneruskan.
Kenapa hanya sebentar Paman? tanya Arya.
Biarlah kami tinggalkan rumah itu. Rumah dimana kau hampir saja mengalami bencana, jawab Mahesa Jenar.
Seterusnya ia menerangkan, Arya, rumah itu ternyata sudah diketahui oleh orang-orang yang ingin membunuhmu. Karena itu bukankah lebih baik kalau kita pergi? Kita mampir sebentar hanyalah untuk mengambil tombak pusaka Banyubiru Kyai Bancak. Biarlah tombak itu kau bawa serta. Supaya tidak mencurigakan, nanti sebaiknya kita lepas tangkainya.
Baiklah Paman,
jawab Arya sambil menganggukkan kepalanya.

Kemudian berangkatlah mereka berdua meneruskan perjalanan. Tidak lama kemudian matahari tenggelam di ujung barat langit.

Dalam kegelapan, mereka tetap meneruskan perjalanan. Mahesa Jenar yang berpandangan tajam dapat menempuh perjalanan dengan tidak banyak menemui kesulitan, sambil menggandeng Arya Salaka.

Belum sampai tengah malam, mereka berdua telah tiba di pedukuhan dimana telah mereka bangun tempat untuk berteduh.

Pada pagi harinya, tetangga-tetangga Mahesa Jenar yang baik hati, ketika mengetahui bahwa Mahesa Jenar telah berhasil menemukan anak yang mereka anggap anak Mahesa Jenar sendiri, dengan selamat, segera berkerumun untuk mengucapkan syukur.

Mereka bertanya bergantian tak ada henti-hentinya sehingga Mahesa Jenar kerepotan untuk menjawabnya.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
232

TETAPI kemudian, mereka, tetangga-tetangga yang baik itu menjadi tercengang-cengang ketika tiba-tiba saja Mahesa Jenar mohon diri kepada mereka untuk pergi meneruskan perantauannya seperti ketika belum menetap di pedukuhan itu. Para tetangga yang menganggap Mahesa Jenar sebagai seorang petani yang banyak memberikan sesuluh kepada mereka, menjadi agak kecewa. Kata salah seorang dari mereka, Adakah kami berbuat kesalahan terhadap Angger?

Tidak, Bapak, sahut Mahesa Jenar cepat. Sama sekali tidak.
Atau barangkali Anda marah kepada kami?
sambung yang lain, Karena kami tidak dapat melindungi anak Adi?
Juga tidak,
jawab Mahesa Jenar. Tidak ada kesalahan saudara-saudara kepada kami.
Lalu kenapa Adi mau pergi?
tanya seseorang pula.
Mahesa Jenar agak bingung menjawab pertanyaan itu. Tetapi akhirnya ia berkata, Saudara-saudaraku yang baik. Aku ingin berjalan semata-mata karena kegemaranku merantau. Aku ingin menunjukkan beberapa pengalaman kepada anakku ini. Sebab aku bercita-cita bahwa kelak nasib anakku ini harus lebih baik dari nasibku sendiri.

Para tetangga yang ramah itu pun mengangguk-anggukkan kepala. Agaknya Mahesa Jenar sudah tidak dapat di tahan lagi. Karena itu dengan berat hati mereka lepas Mahesa Jenar dan anaknya berjalan.

Pada suatu saat kami akan datang kembali, kata Mahesa Jenar kepada mereka yang mengantar sampai ke ujung desa.

Setelah itu, mulailah Mahesa Jenar dengan perantauannya kembali. Tetapi kali ini Mahesa Jenar tidak berjalan sendiri.

Mula-mula Mahesa Jenar dan Arya Salaka berjalan ke arah selatan, tetapi kemudian mereka membelok ke barat dan terus ke utara. Untuk sementara mereka berjalan asal saja menjauhi daerah kekuasaan Lembu Sora. Di bawah baju Arya Salaka terseliplah tombak pusaka Banyubiru yang telah dilepas dari tangkainya, yang dibalut rapi dengan kulit kayu.

Di perjalanan pagi itu Mahesa Jenar tidak banyak berkata-kata. Pikirannya diliputi oleh kegelapan yang menyelubungi keris-keris pusaka Demak yang hilang. Sampai saat itu ia sama sekali masih belum tahu kemana dan bagaimana harus mencari kedua keris itu. Apa yang dilakukan adalah seperti meraba-raba di dalam kelam. Tetapi disamping itu masih ada yang harus dilakukan. Membentuk Arya menjadi seorang jantan. Dan mengantarnya kembali ke daerah perdikan Banyubiru.

Sedang Arya Salaka agaknya sama sekali tidak menghiraukan apa-apa. Dalam cerah matahari pagi, ia berjalan agak di depan dengan riangnya. Ia berlari-lari selincah anak kijang, tanpa perasaan takut serta prasangka apa-apa, dalam irama nyanyi burung-burung liar yang berloncat-loncatan di rerumputan yang hijau segar.

Sekali-sekali Arya mengambil batu serta dilemparkan kearah gerombolan burung-burung yang asyik mematuk-matuk biji-biji rumput, yang kemudian karena terkejut beterbangan berputar-putar, tetapi sesaat kemudian burung-burung itu kembali hinggap di rerumputan.

Tiba-tiba Arya Salaka terhenti ketika didengarnya Mahesa Jenar memanggil. Ketika ia menoleh, dilihatnya pamannya sudah agak jauh tertinggal di belakang. Karena itu Arya segera duduk di atas batu untuk menanti Mahesa Jenar.

Arya… kata Mahesa Jenar setelah mereka berjalan bersama-sama. Aku mempunyai pikiran bahwa untuk keselamatanmu kau harus berusaha sejauh-jauhnya agar kau tak dikenal orang. Karena itu Arya, aku berpendapat bahwa sebaiknya nama panggilanmu harus diganti. Sebab, selama kau masih mengenakan namamu yang sekarang, Arya Salaka, maka orang-orang yang akan mencarimu dengan mudahnya akan dapat menemukan kau. Sebab namamu adalah nama yang jarang-jarang dipakai orang. Maka sekarang kau ingin mengubah namamu dengan nama lain?
Arya memandang wajah Mahesa Jenar dengan herannya. Apakah kalau aku berganti nama, orang tak mengenal aku lagi? katanya.
Bukan begitu Arya, jawab Mahesa Jenar. Tetapi setidak-tidaknya orang tidak mendengar lagi nama Arya Salaka. Bukankah dengan mendengar namamu orang dapat menemukanmu?
Arya Salaka mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya ia sudah mengerti maksud Mahesa Jenar. Tetapi tiba-tiba ia bertanya, Paman, meskipun namaku sudah diganti, tetapi apabila seseorang berkata tentang seorang anak yang berjalan bersama-sama dengan Mahesa Jenar, bukankah segera orang mengenal aku? Sebab yang selalu berjalan bersama-sama dengan Arya Salaka adalah Mahesa Jenar.


Kau benar-benar cerdas Arya,
jawab Mahesa Jenar sambil tertawa, Aku setuju dengan pendapatmu. Kalau begitu, marilah kita bersama-sama mengganti nama.

Mendengar pendapat itu Arya Salaka tertawa berderai. Agaknya hal itu merupakan suatu hal yang lucu. Melihat Arya tertawa, Mahesa Jenar pun tertawa.
Nah, Arya… siapakah nama yang pantas buat mengganti namamu? tanya Mahesa Jenar kemudian.

Arya tampak mengerutkan keningnya, tetapi beberapa lama kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, Terserahlah kepada paman.

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berpikir. Nama apakah yang sepantasnya diberikan buat anak itu. Tiba-tiba terlintaslah suatu nama yang tepat diberikan kepada Arya Salaka.

Arya, kau tahu bahwa namaku adalah Mahesa Jenar.
Mahesa adalah sejenis binatang bertanduk. Maksud dari nama itu adalah supaya aku mempunyai kesigapan dan ketangguhan seperti Mahesa. Sedang harapanku, kau harus lebih hebat daripadaku. Karena itu aku akan memberi nama kepadamu dengan nama yang lebih hebat pula. Bukankah nama ayahmu hebat pula? Gajah Sora. Dan ayahmu benar-benar hebat seperti seekor gajah. Nah, dengarlah Arya, aku akan memberimu nama Handaka.

Handaka… ulang Arya, Apakah Handaka itu?

Handaka adalah nama binatang bertanduk pula, jawab Mahesa Jenar. Tetapi jauh lebih hebat dari Mahesa Jenar. Sebab Handaka berarti banteng.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
233

MENDENGAR uraian Mahesa Jenar, hati Arya Salaka bergetar. Maka dengan bangga ia berkata, Aku pernah mendengar ayah berceritera tentang seekor banteng.
Apa kata ayahmu?
tanya Mahesa Jenar.
Banteng adalah binatang yang hebat sekali, jawab Arya.
Nah, kalau begitu sekarang aku memanggil kau, Handaka, kata Mahesa Jenar meneruskan.

Tetapi siapakah kelanjutan nama itu?
Handaka Sora, seperti nama ayah,
usul Arya.

Tetapi orang akan masih dapat mengenal kau dalam hubungan nama dengan ayahmu, jawab Mahesa Jenar.

Juga seandainya kau bernama Handaka Jenar. Orang akan menghubungkan dengan nama Mahesa Jenar.
Lalu apakah yang baik menurut Paman?
tanya Arya Salaka.

Begini Arya… aku mempunyai nama yang baik. Dengarlah…. Nama lengkapmu adalah Bagus Handaka. Bagaimana pendapatmu?

Mata Arya menjadi berkilat-kilat. Bagus… Paman. Bagus sekali. Nah, sejak saat ini aku bernama Bagus Handaka.
Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, Dan sekarang siapakah namaku?


Terserahlah kepada Paman,
jawab Bagus Handaka.

Jangan panggil aku Paman. Panggil aku Bapak untuk seterusnya.
Baiklah Bapak.


Bagus Handaka, dengarlah. Aku akan memakai nama seorang petani biasa. Sejak saat ini panggilah aku dengan nama Manahan, Bapak Manahan.

Baiklah Bapak Manahan.

Bagus. Kita sekarang sudah merupakan orang baru. Meskipun apa yang kita lakukan adalah kelanjutan usaha kita sebelumnya. Kau harus kembali ke Banyubiru kelak. Dengan atau tidak dengan kekerasan.

Tentu Paman… eh… Bapak. Sebab tanah itu bagiku merupakan Tanah Pusaka sekaligus tanah tercinta.
Manahan dengan menepuk pundak Bagus Handaka berkata pula, Bagus Handaka, karena semuanya itu, kau mulai saat ini harus melatih diri dengan tekun dan sungguh-sungguh. Supaya kau kelak tidak akan ketinggalan dengan anak pamanmu Lembu Sora.


Adi Sawung Sariti?
potong Bagus Handaka.

Manahan mengangguk. Katanya meneruskan, Anak itu pun sekarang pasti mengalami penggemblengan. Supaya kelak dapat menjadi anak hebat pula. Karena itu kau jangan sampai kalah.
Baik Bapak, aku akan mencoba untuk berlatih sekuat-kuat tenagaku, supaya aku tidak mengecewakan Bapak Manahan serta ayah Gajah Sora,
jawab Bagus Handaka.
Bagus Handaka. Masa yang akan datang ini bagimu adalah suatu masa pembajaan diri, desis Bagus Handaka.

Kemudian setelah itu, mereka saling berdiam diri, hanyut dalam arus angan-angan masing-masing.

Di langit, matahari masih memancar dengan cemerlang memanasi gunung serta lembah-lembah.

Itulah permulaan dari suatu masa yang panjang, yang akan penuh dengan latihan olah kanuragan jaya kasantikan bagi Arya Salaka, yang kemudian bernama Bagus Handaka.

Ternyata ia memang seorang anak yang tangkas dan cerdas. Memiliki kekuatan jasmaniah yang hebat pula. Dalam perantauan mereka dari satu tempat ke lain tempat, mereka sama sekali hidup dalam keprihatinan. Manahan dan Bagus Handaka tidak lebih dari dua orang bapak dan anak yang miskin. Apabila mereka merambah hutan, maka yang dimakan adalah buah-buahan yang dapat mereka jumpai di perjalanan mereka. Sedangkan apabila mereka melalui jalan-jalan kota, mereka berusaha untuk mendapatkan pekerjaan apapun yang dapat mereka lakukan.

Tetapi karena semuanya itu mereka lakukan dengan suatu keyakinan bagi masa datang, maka hal itu sama sekali tidak menimbulkan gangguan apapun dalam diri mereka. Baik jasmaniah maupun tekad yang tersimpan di dalam dada mereka.

Di dalam masa perantauan itu, satu hal yang tak seorangpun mengetahui, adalah, bahwa setiap saat Bagus Handaka selalu menerima latihan-latihan yang berat dan teratur dari gurunya. Setiap pagi, bila matahari belum menampakkan diri, Bagus

Handaka harus sudah melakukan latihan berlari-lari dan kemudian dengan alat apa saja yang mungkin dipergunakan, cabang-cabang pohon, ia harus melakukan latihan tangan dengan bergantung dan berayun. Disamping itu, sedikit demi sedikit Manahan mengajarinya pula gerakan-gerakan pembelaan diri dengan segala unsur-unsurnya.

Bagus Handaka menerima semua pelajaran dari gurunya dengan tekad yang bulat, hati yang mantap. Karena itu semua pelajaran dengan cepatnya dapat dikuasainya dengan baik.

Maka beberapa lama kemudian perjalanan mereka sampai ke pantai utara. Seterusnya mereka menyusur pantai membelok ke arah barat, menerobos hutan-hutan rimba yang kadang-kadang masih sangat lebat. Tetapi semuanya itu tidak menghalangi pertumbuhan Bagus Handaka. Tubuhnya semakin lama menjadi semakin kekar dan kuat, sedang geraknya menjadi semakin sigap.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
234

AKHIRNYA mereka sampai ke suatu daerah pedukuhan yang kecil, dimana para penduduknya hidup sebagai nelayan. Disamping itu mereka gemar berburu kalong, sejenis binatang malam yang mirip dengan kelelawar, tetapi lebih besar dan pemakan buah-buahan. Meskipun ada juga diantara mereka yang bercocok tanam, tetapi penghidupan sebagai seorang petani agak tidak begitu menarik perhatian.

Di pedukuhan itulah Manahan dan Bagus Handaka berhenti berjalan. Mereka menyatakan diri untuk tinggal bersama-sama di padepokan itu. Meskipun penduduknya tampaknya agak bersikap kasar, namun sebenarnya hati mereka tulus.

Karena itu Manahan dan anaknya diterima oleh mereka dengan tangan terbuka.

Di pedukuhan itulah Manahan menambah jumlah mereka yang mengolah tanah pertanian. Dengan tidak mencolok Manahan membawa cara-cara baru dalam pengolahan tanah dan cara-cara pengairan yang agak teratur. Karena itu dalam waktu singkat Manahan telah menjadi orang yang disenangi oleh penduduk pedukuhan itu.
Di pedukuhan itu, Bagus Handaka mendapat kesenangan baru. Dengan para nelayan kadang-kadang ia ikut serta berlayar menangkap ikan. Adalah mengherankan bahwa Handaka yang belum begitu lama hidup di kalangan para nelayan, kesigapannya telah hampir melampaui pemuda-pemuda nelayan yang sebayanya.

Agaknya kesenangannya bermain-main di Rawa Pening, serta kegemarannya menangkap Uling, merupakan bekal yang baik bagi seorang nelayan. Apalagi darah pelaut yang mengalir dalam tubuh ayahnya, Gajah Sora, agaknya melimpah juga kepada anak ini. Ditambah lagi dengan latihan-latihan keprigelan yang diterimanya dari Manahan. Dengan demikian Handaka pun menjadi cepat terkenal diantara teman-temannya. Bahkan orang-orang tua pun kemudian mengaguminya.

Tetapi ada kegemaran Handaka yang lain, yang tidak sama dengan pemuda-pemuda nelayan pada umumnya. Handaka mempunyai kegemaran menyepi apabila semua pekerjaannya sudah selesai. Kadang-kadang ia betah duduk lama-lama di pasir pantai yang sepi. Memandang ke arah laut yang luas. Pada gelombang-gelombang yang selalu bergerak disapu angin.

Apabila tubuhnya terasa lelah sekali, di pasir pantailah Handaka merebahkan diri, yang kadang-kadang ketika terdengar ayam berkokok menjelang matahari terbit, ia baru bangkit dan berjalan pulang ke pondoknya.

Manahan sama sekali tidak keberatan atas kelakuan muridnya itu. Ia mengharap bahwa dengan demikian Bagus Handaka mendapat ketenangan dan pengendapan.

Dalam kesepian yang demikian kadang-kadang ditemukannya masalah-masalah besar dalam perjuangan masa depan. Karena itu ia sama sekali tak mengganggunya.

Dibiarkannya Handaka pada saat terluangnya menyepikan diri, sedang Manahan sendiri waktu-waktu luangnya selalu diisi dengan duduk-duduk di sudut desa bersama-sama dengan para petani yang menunggui sawahnya yang sering diganggu oleh babi hutan. Dalam keadaan yang demikian banyaklah masalah-masalah yang dapat diberikan kepada para petani secara tidak langsung.

Tetapi pada suatu malam terjadilah suatu hal yang mengejutkan. Saat itu, ketika malam kelam membalut pantai, Handaka sedang duduk seperti biasa merenungi lampu-lampu perahu nelayan yang hilir-mudik di laut. Tiba-tiba dilihatnya seseorang berjalan lurus ke arahnya. Di dalam gelap malam, Handaka tidak segera mengenal siapakah orang itu. Tetapi ia tahu pasti bahwa orang itu bukanlah Manahan.

Ketika orang itu sudah berdiri dekat di hadapannya, mendadak tanpa berkata apa-apa orang itu langsung menyerangnya. Mula-mula Handaka terkejut bukan main, tetapi kemudian ia sadar bahwa ia harus membebaskan dirinya. Karena itu segera ia meloncat menghindar. Tetapi penyerangnya tidak membiarkannya lolos, malahan kembali ia menyerang lebih hebat.

Untuk beberapa saat Handaka menjadi ragu. Apakah salahnya dan siapakah orang itu? Sambil meloncat menghindar, ia berteriak, Siapakah kau, dan apakah sebabnya kau menyerang aku?
Tetapi penyerang itu sama sekali tak menghiraukannya. Dengan penuh nafsu orang itu menyerang terus.

Akhirnya karena tak ada kemungkinan lain, Handaka terpaksa melayaninya.

Mula-mula ia masih berusaha untuk meyakinkan orang itu, bahwa mungkin ia keliru. Sebab selama ini Handaka merasa tak ada seorang pun yang memusuhinya di seluruh pedukuhan nelayan itu.

Tetapi ia menjadi terkejut sekali ketika orang yang menyerangnya itu berkata dengan suara yang dalam, Bagus Handaka, kau sekarang tidak akan dapat melepaskan diri dari tanganku.
Sekali lagi ia mencoba bertanya, Apakah hubunganmu dengan diriku sehingga kau bermaksud menangkap aku? Dan siapakah sebenarnya kau ini?
Orang itu tidak menjawab, tetapi tertawanya yang nyaring terdengar sangat mengerikan. Dan berbareng dengan itu serangannya menjadi bertambah cepat dan mendesak.

Tetapi Bagus Handaka sekarang bukanlah Arya Salaka dua tahun yang lalu. Bagus Handaka adalah seorang pemuda yang meskipun umurnya belum lebih dari 15 tahun, namun karena gemblengan yang menempa dirinya setiap saat, maka ia adalah seorang pemuda yang tangkas dan kuat. Karena itu ia dapat berkelahi dengan tenang dan lincah. Sehingga serangan-serangan orang yang tak dikenalnya itu beberapa kali dapat dihindarinya dengan mudah.

Tetapi ia tidak dapat terus-menerus menghindar dan mengelak. Sebab orang yang menyerangnya menjadi semakin marah. Gerak-geriknya semakin cepat dan berbahaya. Karena itu, akhirnya Bagus Handaka terpaksa melakukan serangan-serangan pula, sebagai suatu cara terbaik untuk mempertahankan diri.

Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin hebat. Namun di masa-masa yang pendek, Bagus Handaka sempat mengamat-amati wajah penyerangnya. Orang itu agaknya telah berumur sedikit lebih tua dari gurunya. Wajahnya tampak bengis dan berkumis tebal. Selebihnya ia tidak begitu jelas. Kecuali orang itu selalu bergerak, juga karena malam yang kelam.

 

 

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
235

UNTUNGLAH bahwa orang itu tidak memiliki ilmu yang tinggi, sehingga meskipun Bagus Handaka pantas menjadi anaknya, tetapi dalam perkelahian itu, meskipun ia harus bekerja keras, ia sama sekali tidak perlu cemas akan kesudahan dari pertempuran itu.

Setelah mereka bertempur beberapa lama, akhirnya Bagus Handaka mendengar desah nafas lawannya semakin lama semakin cepat. Ia menjadi bergembira, karena dengan demikian ia tahu bahwa sebentar lagi lawannya akan kehabisan nafas. Karena itu, ia tidak perlu untuk melawannya dengan sungguh-sungguh. Ia cukup mengganggunya sehingga apabila nafas orang itu telah benar-benar tersekat, maka ia dengan mudah akan dapat menangkapnya. Mungkin gurunya tahu siapakah orang itu. Tetapi agaknya penyerang itu menyadari kelemahannya.

Karena itu, dengan tergesa-gesa orang itu meloncat mundur sebelum kehabisan nafas dan berusaha melarikan diri. Tetapi Bagus Handaka sama sekali tak melepaskannya. Cepat ia berusaha mengejarnya. Namun ia menjadi keheran-heranan. Orang yang nafasnya tinggal seujung kuku itu, masih dapat melarikan diri dari kejarannya.
Bagus Handaka berhenti mengejar ketika orang itu menyusup ke dalam semak-semak yang rimbun. Sulitlah baginya untuk mencari seseorang di dalam gelapnya malam diantara semak-semak itu.

Setelah puas merenungi semak-semak itu, kemudian dengan langkah yang berat Bagus Handaka berjalan pulang ke pondoknya. Di dalam otaknya terjadilah suatu keributan. Ia sibuk menebak-nebak, siapakah orang yang dengan tiba-tiba saja menyerangnya. Bukan karena suatu kekeliruan, tetapi benar-benar dirinyalah yang dicari.

Sampai di pondoknya segera ia mencari gurunya. Tetapi ternyata Manahan masih belum pulang. Bagus Handaka yang tahu akan kebiasaan gurunya segera pergi menyusul ke pojok desa.

Tetapi akhirnya ia menjadi ragu. Apakah hal yang demikian saja sudah merupakan suatu hal yang perlu dibicarakan dengan gurunya. Apakah dalam hal-hal yang kecil tidak cukup kalau diselesaikannya sendiri.

Karena pikiran itu maka Bagus Handaka kemudian membatalkan maksudnya untuk menyatakan peristiwa yang baru saja dialami itu kepada gurunya. Sehingga ketika ia sampai di pojok desa, dan ketika ia sudah duduk diantara para petani dan nelayan yang sedang tidak turun ke laut, ia sama sekali tak berkata apapun mengenai peristiwa yang baru saja terjadi. Ia tidak mau mengganggu Manahan dengan soal-soal yang remeh-remeh.

Tetapi apa yang dialami kemudian adalah sangat memusingkan kepalanya. Pada malam berikutnya, ketika ia sedang berbuat seperti kebiasaannya, tiba-tiba datanglah seseorang yang juga tanpa sebab menyerangnya. Tetapi orang ini adalah orang yang lain dari yang menyerangnya kemarin. Orang ini agaknya sudah jauh lebih tua dari gurunya.

Seperti malam sebelumnya, Bagus Handaka berusaha pula meyakinkan bahwa mungkin orang itu keliru. Tetapi juga seperti malam sebelumnya, Bagus Handaka terkejut dan keheran-heranan ketika orang yang menyerangnya itu berkata dengan suara yang tinggi, Tak usah kau mengelakkan diri. Soalnya sudah cukup jelas. Dan kau harus menyerah kepadaku sebelum orang lain berhasil menangkapmu mati atau hidup.

Maka bersilang-silanglah teka-teki di dalam kepala Bagus Handaka. Apakah sebabnya maka hal ini bisa tejadi? Tiba-tiba ia teringat kepada orang-orang yang beberapa tahun yang lalu memburunya. Adakah orang-orang ini juga terdiri dari gerombolan yang sama? Karena itu dengan keras Bagus Handaka berkata, Hai orang tua yang tak tahu diri, adakah kau termasuk dalam gerombolan orang-orang yang akan membunuhku beberapa tahun yang lalu?
Terdengar orang itu tertawa dengan nada yang tinggi. Jawabnya, Aku tidak mengenal orang-orang lain yang memburumu. Tetapi aku memerlukan kau seperti orang-orang lain yang barangkali juga memerlukan.
Bagus Handaka menjadi semakin bingung. Adakah hubungan semua itu dengan tanah perdikan Banyubiru?

Banyubiru? tanya orang tua itu dengan heran. Aku belum pernah mendengar nama Tanah Perdikan Banyubiru.

Lalu apa perlumu menangkap aku? potong Handaka.
Sekali lagi orang tua itu memperdengarkan suara tertawanya yang semakin tinggi. Tetapi bersamaan dengan itu serangan menjadi bertambah cepat dan berbahaya.
Bagus Handaka pun kemudian tidak bertanya-tanya lagi. Ia menjadi jengkel sekali atas kejadian-kejadian itu. Karena itu ia bertekad untuk menangkap penyerangnya kali ini.

Tetapi ternyata orang tua ini mempunyai ilmu yang agak lebih tinggi dari orang yang menyerang kemarin. Meskipun umurnya sudah lanjut, namun geraknya masih sangat membahayakan. Serangannya datang tiba-tiba dan kadang-kadang tak terduga.

Mula-mula Bagus Handaka menjadi agak mengalami kesulitan. Ia belum pernah melihat beberapa dari unsur-unsur gerak lawannya. Tetapi karena orang tua itu agaknya belum memiliki unsur-unsur gerak yang banyak macamnya, maka serangannya selalu dilakukan berulang kali dengan unsur-unsur gerak yang hanya ada beberapa macam itu saja. Meskipun unsur-unsur gerak itu mula-mula agak membingungkannya, tetapi lambat laun dapat dikuasainya. Apalagi karena Bagus Handaka sendiri telah banyak menerima bahan-bahan serta ilmu yang cukup banyak dari gurunya.

Malahan ketika mereka telah bertempur beberapa lama, Bagus Handaka mulai dapat mengenal ilmu lawannya dengan baik. Karena itu seperti malam sebelumnya, ia tidak perlu mengkhawatirkan dirinya. Ia pasti akan dapat mengatasi lawannya yang sudah tua itu.

Tetapi karena kali ini ia benar-benar ingin menangkap penyerang itu, maka Bagus Handaka selalu berusaha untuk dengan secepat-cepatnya menjatuhkan lawannya, meskipun hal itu tidak dapat dilakukannya dengan mudah.

 

236

AKHIRNYA, ketika orang tua itu merasa bahwa Bagus Handaka bukanlah anak-anak yang dengan mudahnya dapat ditakut-takuti serta dengan mudahnya dapat ditangkap, bahkan malahan dalam beberapa hal Bagus Handaka dapat melebihinya, maka tak ada jalan lain daripada melarikan diri.

Apalagi ketika ternyata Bagus Handaka dapat melawannya dengan mempergunakan bagian-bagian dari unsur-unsur geraknya sendiri. Orang tua itu menjadi bertambah takut lagi.
Cepat-cepat ia meloncat mundur beberapa langkah, dan kemudian berusaha untuk berlari secepat-cepatnya. Bagus Handaka yang sudah mengira hal itu akan terjadi, segera meloncat menghadang. Tetapi orang tua itu seakan-akan telah dapat memperhitungkan pula tindakan Bagus Handaka, karena demikian Bagus Handaka melontarkan diri, demikian orang tua itu membalik ke arah yang berlawanan, dan seperti terbang orang itu berlari masuk ke dalam semak-semak yang gelap.

Bagus Handaka yang mengejarnya menjadi keheran-heranan. Meskipun ternyata ilmunya tidak kalah tinggi, bahkan beberapa unsur gerak orang tua itu malahan telah dapat dikuasai, namun dalam hal berlari ternyata ia masih kalah. Karena itu dengan hati yang semakin jengkel Bagus Handaka terpaksa melepaskan orang tua itu pergi.

Dengan kejadian-kejadian itu, teka teki yang melibat dirinya menjadi semakin kisruh. Ia mencoba mengingat-ingat semua kejadian yang pernah dialami, namun ia sama sekali tak dapat menghubungkannya dengan peristiwa dua malam terakhir itu.

Tetapi Bagus Handaka adalah seorang pemuda yang berani, cerdas dan banyak hal yang ingin diketahui. Karena itulah maka, setelah mengalami peristiwa dua malam berturut-turut, malahan ia ingin untuk mengetahui apakah yang akan terjadi seterusnya. Ia ingin melihat apakah pada malam-malam berikutnya akan terjadi pula hal-hal semacam itu. Malahan ia mengharap kedatangan salah seorang diantaranya, sehingga apabila orang itu dapat ditangkapnya, maka pastilah latar belakang dari peristiwa-peristiwa itu dapat disingkapkan.

Namun sampai sedemikian jauh Bagus Handaka masih belum merasa perlu untuk menyampaikan masalah itu kepada gurunya. Nanti apabila salah seorang dari mereka dapat ditangkapnya, barulah Bagus Handaka bermaksud membawa orang itu kepada Manahan.

Pada malam berikutnya Bagus Handaka sengaja menghindarkan diri dari beberapa kawannya yang sering mengajaknya turun ke laut. Dengan demikian maka ia dapat leluasa pergi ke pantai untuk menanti peristiwa yang aneh, yang barangkali masih ada kelanjutannya.

Dan apa yang dinantinya benar-benar datang.

Ketika angin laut menghembus perlahan-lahan mempermainkan buih di pantai, Bagus Handaka dikejutkan oleh sebuah bayangan yang seolah-olah muncul saja dari dalam laut, dan dengan langkah yang cepat langsung menuju ke arahnya.

Meskipun Bagus Handaka sengaja menanti kejadian itu, namun hatinya tergetar juga.

Dua malam berturut-turut ia mengalami serangan dari orang yang tak dikenalnya.

Tetapi orang-orang itu datang dari arah semak-semak, sedangkan kali ini orang itu muncul seakan-akan dari dalam air.

Ketika orang itu sudah semakin dekat, Bagus Handaka segera meloncat berdiri serta mempersiapkan diri. Sebab menilik gerak serta arah datangnya, maka orang ini pasti lebih berbahaya dari dua orang yang pernah dilawannya.

Melihat Bagus Handaka berdiri serta mempersiapkan diri, orang itu terhenti. Agaknya ia heran melihat sikap Handaka. Tetapi kemudian terdengar ia tertawa pendek, menyeramkan. Aku tidak akan keliru lagi. Bukankah kau yang bernama Bagus Handaka?

Di dalam gelap, Bagus Handaka mencoba mengawasi wajah orang itu. Tetapi yang dapat diketahuinya adalah, orang itu janggut serta kumisnya tumbuh lebat sekali, sehingga menutupi hampir seluruh lubang mulut serta hidungnya. Selain dari itu tak ada lagi kesan yang diperolehnya.
Dengan suara yang mantap, Bagus Handaka menjawab, Ya, aku Bagus Handaka. Kau mau apa?
Kembali terdengar suara tertawa pendek yang menyeramkan. Kau memang berani Handaka. Aku kira kau akan memungkiri dirimu. Kau tidak takut mendapat bahaya?
Kenapa aku mesti takut. Aku sudah mengira bahwa kau akan berkata seperti orang-orang yang pernah menyerangku dua malam berturut-turut meskipun orangnya tidak sama,
potong Bagus Handaka.
Agaknya orang itu heran mendengar kata-kata Handaka, sehingga ia bertanya, Dua malam berturut-turut kau mendapat serangan?
Sekarang Bagus Handaka yang tertawa berderai. Aku bukan anak-anak yang masih pantas kau bohongi dengan cara demikian. Adakah suatu peristiwa kebetulan sampai tiga kali berturut-turut dengan cara yang sama?
Mendengar jawaban Bagus Handaka, orang itu berdesis, Agaknya mereka telah mendahului aku.
Lalu tiba-tiba ia berkata kepada Bagus Handaka, Tetapi kenapa kau masih sempat bermain-main di sini. Kalau apa yang kau katakan benar, aku kira kau sudah tergantung mati di tengah Alas Roban.
Mau tidak mau jantung Handaka tergetar hebat mendengar kata-kata itu. Apakah sebabnya orang-orang itu memburunya dan akan menggantungnya di Alas Roban…? Karena itu pula ia menjadi marah sekali. Ia tidak pernah merasa berbuat salah kepada orang lain, tetapi kenapa ada orang yang menginginkan kematiannya?
Kemudian dengan tidak menunggu lebih lama lagi, Bagus Handaka meloncat mendahului menyerang orang itu. Serangannya hebat sekali dengan mengerahkan segenap tenaga yang ada.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
237

ORANG yang berkumis dan berjanggut lebat itu agaknya terkejut sekali. Ia tidak mengira bahwa Bagus Handaka akan memulai lebih dahulu. Cepat ia meloncat ke samping. Tetapi Bagus Handaka tidak membiarkannya. Disusullah serangan itu dengan serangan berikutnya. Serangan itu datangnya cepat sekali, sehingga orang asing itu tidak sempat mengelakkan dirinya. Karena itu cepat-cepat ia berusaha menahan serangan Bagus Handaka dengan kedua tangan yang disilangkan di muka dadanya.

Maka terjadilah suatu benturan yang keras. Bagus Handaka terdorong beberapa langkah surut, tetapi orang itu pun tak dapat bertahan pada tempatnya dan terlempar beberapa langkah pula. Dengan demikian masing-masing mengetahui bahwa kekuatan mereka berimbang. Maka untuk memenangkan pertempuran selanjutnya adalah terletak pada keprigelan dan ketinggian ilmu masing-masing.

Karena itu segera Bagus Handaka mempersiapkan dirinya. Ia merasa bahwa apabila orang itu dapat mengalahkannya, maka taruhannya adalah nyawanya. Ia tidak mau mati bergantungan di tengah-tengah Alas Roban, dan bangkainya nanti akan menjadi makanan burung gagak.

Sesaat berikutnya terjadilah pertempuran yang dahsyat. Masing-masing mempergunakan segenap tenaganya serta segenap ilmunya. Meskipun Bagus Handaka masih terlalu muda untuk melawan orang yang berjanggut dan berkumis lebat itu, namun karena latihan-latihan berat yang pernah dilakukan selama ini, maka ia pun tidak mengecewakan. Sebaliknya orang asing itu pun ternyata bukan pula seperti dua orang yang menyerangnya malam-malam sebelumnya. Sehingga dengan demikian perkelahian itu berlangsung dengan serunya.

Hanya kadang-kadang saja Bagus Handaka dikejutkan oleh gerakan-gerakan yang aneh-aneh yang dilakukan oleh lawannya. Tetapi karena lawannya itu pun agaknya belum menguasai benar-benar ilmunya itu, sehingga pelaksanaannya masih belum seperti yang diharapkan. Bagus Handaka yang lincah dan kuat itu dapat untuk beberapa kali menyelamatkan diri dari serangan-serangan yang demikian.
Setelah mereka bertempur beberapa lama maka terasalah oleh Handaka bahwa meskipun kekuatan orang itu dapat menyamainya tetapi ia masih dapat membanggakan kelincahannya.

Orang itu agaknya terlalu memberatkan serangan-serangannya pada kekuatan tenaga serta beberapa unsur geraknya yang meskipun berbahaya tetapi belum dapat dilakukannya dengan lancar. Karena itu lambat laun ia merasa bahwa ia akan dapat berhasil mengatasinya.

Sebaliknya orang asing itu akhirnya kehabisan akal. Semua ilmu serta tenaganya sudah dicurahkannya, namun ia sama sekali tidak berhasil menangkap anak yang dicarinya itu. Meskipun beberapa kali ia berhasil mengenai tubuh Bagus Handaka, namun ia sendiri dapat dikenai oleh anak itu dua kali lipat.

Dengan demikian maka sudah tidak ada harapan lagi baginya untuk memenangkan pertempuran itu. Maka akhirnya orang itu putus asa, dan menyerang membabi buta dengan ilmu andalannya. Dengan demikian bagi Bagus Handaka, malahan menguntungkan sekali. Sebab dengan membabi buta, lawannya telah kehilangan sebagian dari pengamatan diri serta kewaspadaan. Karena itulah agaknya Bagus Handaka semakin lama semakin berada dalam keadaan yang menguntungkan.

Tetapi hampir seperti kejadian-kejadian pada malam-malam sebelumnya, orang itu pun kemudian meloncat melarikan diri. Juga kali ini Bagus Handaka sama sekali tak berhasil mengejarnya. Apalagi orang aneh yang muncul dari dalam air itu berlari terjun ke dalam air pula.

Ketika orang itu lenyap, Bagus Handaka berdiri bertolak pinggang di batas air. Dadanya melonjak-lonjak dipenuhi oleh kemarahan, keheranan dan kengerian yang bercampur aduk. Tiga malam ia mengalami peristiwa yang disaput oleh kabut rahasia. Apakah kejadian ini akan berlangsung berlarut-larut…?

Tetapi jiwa keingintahuan Bagus Handaka tiba-tiba menguasai perasaannya kembali. Bagaimana dengan malam keempat? Kalau hal ini disampaikan kepada gurunya, mungkin kejadiannya akan berubah. Ia ingin melihat para penyerang itu datang berturut-turut sampai orang yang terakhir. Lalu apakah yang terjadi sesudah itu…?
Demikianlah kembali pada malam keempat. Bagus Handaka mencari-cari alasan untuk tidak terjun ke laut. Kawan-kawannya yang mengajaknya sama sekali tidak curiga bahwa Bagus Handaka sedang melakukan suatu perbuatan yang aneh namun sebenarnya penuh dengan bahaya.

Dan apa yang diharapkan kali inipun benar-benar datang pula.

Dengan penuh pertanyaan di dalam hati Bagus Handaka berjuang dengan sekuat tenaga untuk menangkap penyerangnya. Namun kali inipun ia tidak berhasil. Malahan orang keempat ini berhasil menghantam pergelangan tangan kirinya sehingga terasa sangat sakit. Untunglah bahwa akhirnya ia masih dapat mengalahkan orang itu, meskipun ia tidak pula berhasil menangkapnya.

Demikian pula pada malam kelima. Otak bagus Handaka rasa-rasanya hampir meledak memikirkan hal itu. Apalagi ketika orang kelima ini ternyata memiliki ilmu yang cukup tinggi.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
238

TIDAK seperti keempat orang sebelumnya, yang datang dari jurusan yang tidak sama, namun kedatangan mereka itu dapat diketahui sebelumnya, meskipun ada dua diantaranya yang datang dari jurusan yang aneh, dari laut. Tetapi orang kelima ini jauh lebih aneh lagi. Tahu-tahu orang itu sudah berdiri di belakang Bagus Handaka dengan suara garang dibarengi dengan suara tertawa yang menyeramkan.

Bagus Handaka, kau mau melarikan dirimu kemana lagi. Berbulan-bulan aku mencarimu, dan sekarang aku menemukan kau di sini.

Empat malam berturut-turut Bagus Handaka sudah bertempur dengan orang-orang yang tak dikenal, dan empat kali pula ia berhasil mengalahkan mereka. Namun kali ini bulu tengkuknya meremang juga. Wajah orang ini sama sekali bersih, hanya alisnya agak terlalu lebat dan hampir bertemu di atas hidungnya. Tetapi wajah yang bersih itu seakan-akan memancarkan udara maut dari setiap lubang-lubangnya.

Kemudian terdengar kembali orang itu berkata, Ha, agaknya kau sudah ketakutan. Aku kira kau anak yang berani. Bukankah kau murid Manahan sepengecut kau ini.
Bagus Handaka adalah seorang anak yang berani. Meskipun hatinya tergetar pula menghadapi sesuatu, tetapi ia tidak akan menilai seseorang berlebih-lebihan. Apalagi orang itu telah menghinanya dengan menyebut-nyebut nama gurunya. Karena itu ia menjadi marah sekali. Dengan mulut yang terkatub rapat serta gigi yang gemeretak, Bagus Handaka tidak menanti orang itu selesai berkata. Seperti seekor banteng luka ia dengan dahsyatnya menyerang orang itu.

Orang yang mendapat serangan itu agaknya terkejut. Tetapi dengan tangkasnya ia menggeser kakinya sehingga ia terbebas dari serangan Bagus Handaka. Tetapi Bagus Handaka yang hatinya sudah terbakar oleh kemarahan itu, dengan cepatnya menyerang pula. Sekali lagi orang itu terpaksa mengelakkan diri, tetapi agaknya ia tidak mau diserang terus-menerus.

Kemudian dengan garangnya ia pun menyerang kembali. Namun ternyata Bagus Handaka memiliki kelincahan yang cukup pula, sehingga serangan orang itu dapat dielakkannya. Kemudian terjadilah suatu pertempuran yang hebat. Masing-masing melancarkan serangan-serangan yang dahsyat dan berbahaya. Tetapi masing-masing ternyata memiliki kegesitan dan ketahanan yang cukup.

Bagus Handaka yang telah bertempur empat malam berturut-turut dan memenangkan setiap pertempuran, ternyata sangat mempengaruhi jiwanya. Ia semakin percaya kepada kekuatan dirinya sendiri. Dan perasaan yang demikian sangat membantu keadaannya pada malam kelima itu. Meskipun ia merasa bahwa orang kelima ini memiliki ilmu yang lebih tinggi dari orang-orang sebelumnya, namun hatinya yang telah dibesarkan oleh peristiwa-peristiwa empat malam sebelumnya menjadikannya tetap tatag dan tenang.

Tetapi suatu hal yang kurang menguntungkan bagi Bagus Handaka, adalah karena orang itu jauh lebih besar dan lebih tinggi, maka kesempatan orang itu untuk mengenainya agak lebih banyak. Tangan serta kakinya yang agak lebih panjang, ternyata mempengaruhi jalan pertempuran itu.

Rupa-rupanya orang itu mempergunakan keuntungan itu sebaik-baiknya. Ia selalu melawan serangan Bagus Handaka dengan serangan pula. Beberapa kali Bagus Handaka dapat dikenai dengan cara demikian sebelum tangannya sempat menyentuh tubuh orang itu. Sehingga Bagus Handaka menjadi semakin marah dan bertempur mati-matian.

Ternyata kali ini lawannya benar-benar tangguh. Orang itu licin seperti belut, serta lincah seperti singgat. Beberapa kali, apabila serangan-serangan Bagus Handaka agaknya sudah tidak dapat dihindari, tiba-tiba saja ia melenting beberapa langkah, dan kemudian dengan cara yang sama ia telah menyerang kembali.

Menghadapi serangan yang demikian Bagus Handaka merasa agak sulit. Dengan menjatuhkan diri ia mencoba membebaskan dirinya. Tetapi orang itu tidak membiarkan Bagus Handaka lolos. Dengan kakinya yang kokoh ia meloncat kearah dada anak itu. Sekali lagi Bagus Handaka berguling. Tetapi sekali lagi orang itu melakukan serangan yang sama pula sebelum Handaka sempat berdiri.

Bagus Handaka kemudian menjadi agak gugup. Berapa kali ia harus bergulung-gulung di pasir pantai itu. Tiba-tiba ia teringat kepada lawan-lawannya yang pernah dikalahkannya. Ada beberapa unsur gerak yang dapat dikuasainya. Karena itu ketika sekali lagi Bagus Handaka mendapat serangan dengan cara yang sama, setelah ia berhasil menggeser tubuhnya, cepat-cepat ia menangkap pergelangan kaki lawannya.

Dengan mempergunakan daya dorongnya sendiri, Bagus Handaka ternyata berhasil menjatuhkan orang itu, dengan menghantam betisnya. Ia sendiri pernah pula mengalami hal yang demikian. Ketika orang itu terjatuh dan berguling-guling, kesempatan itu cepat dipergunakan oleh Bagus Handaka untuk berdiri.

Tetapi demikian ia berdiri, orang itupun dengan suatu gerak seperti roda yang bergulung telah berdiri di hadapannya pula.

Bagus Handaka, melihat hal itu menjadi bertambah marah. Matanya menjadi merah menyala-nyala dan dadanya berdegupan. Dengan dahsyatnya ia melontar maju menyerang dada orang itu. Serangan itu demikian tak terduga-duga sehingga orang asing itu tak sempat mengelak. Karena itulah maka dadanya terpaksa terhantam hebat. Terhuyung-huyung ia terdorong beberapa langkah surut.

Bagus Handaka tidak mau melepaskan kesempatan itu lagi. Dengan garangnya ia memburu dan sekali lagi menghantamnya. Sayang bahwa kali ini orang itu sempat memiringkan tubuhnya, sehingga serangan Bagus Handaka tidak mengenai sasarannya, bahkan ia sendiri hampir-hampir kehilangan keseimbangan.

Dalam saat yang demikian, tampak lawannya mengayunkan tangannya dengan dahsyatnya. Melihat serangan itu, Bagus Handaka agak bingung.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
239

TIBA-TIBA tanpa sadar Bagus Handaka telah mempergunakan unsur-unsur gerak yang pernah ditiru-tirukannya dari lawan-lawannya sebelumnya. Cepat ia sedikit merendahkan diri, menangkap tangan orang itu sambil memutar tubuhnya, dan dengan bantuan tenaga berat lawannya. Bagus Handaka menarik orang itu melampau pundaknya. Dengan kerasnya orang itu terlempar keatas lewat diatas pundaknya dan terbanting di pasir pantai.

Tetapi sekali lagi Bagus Handaka keheran-heranan. Demikian orang itu terbanting, demikian ia bergulung-gulung dan dengan cepatnya bangkit kembali. Namun sesaat kemudian ia sadar bahwa lawannya adalah orang yang luar biasa. Karena itu demikian orang itu berdiri, demikian kaki Bagus Handaka terlontar mengenai perutnya.

Sekali lagi orang itu terdorong beberapa langkah ke belakang. Tetapi seterusnya ketika Bagus Handaka menyusul menyerang dagu orang itu, maka orang itu pun menghantamnya.

Kali ini Bagus Handaka mengalami kembali hal yang sangat merugikannya. Tangannya agak lebih pendek dari tangan lawannya. Dengan demikian sebelum tangannya menyentuh dagu orang itu, terasa wajahnya seperti tersentuh bara. Dengan kerasnya wajahnya terangkat dan ia terlempar beberapa langkah surut, dan kemudian jatuh terlentang. Serangan itu disusul dengan suatu serangan yang garang sekali.

Seperti seekor harimau, lawannya menerkam selagi Handaka belum sempat bangun. Maka tidak ada suatu cara yang mungkin untuk membebaskan dirinya kecuali dengan kedua kakinya Bagus Handaka menghantam tubuh orang yang seperti melayang ke arahnya. Akibatnya adalah bebat sekali. Orang itu terlempar ke udara.

Kali ini Bagus Handaka juga menjadi keheran-heranan. Dengan gerak yang bagus orang itu melingkar di udara dan jatuh pada punggungnya untuk kemudian berguling dua kali. Setelah itu dengan cepatnya ia meloncat berdiri.

Pada saat itu Bagus Handaka pun telah berdiri. Keringatnya mengalir membasahi seluruh tubuhnya, yang hampir seluruhnya terbalut oleh debu-debu pasir pantai.
Sebenarnya Bagus Handaka pada saat itu telah menjadi gelisah sekali. Lawannya ternyata benar-benar licin seperti belut.

Tetapi kemudian terjadilah suatu hal di luar dugaan. Orang itu tiba-tiba menjadi gelisah dan liar. Nafasnya mengalir dengan derasnya. Bagus Handaka melihat keadaan itu, sehingga kelegaan membersit di hatinya.

Ia tahu bahwa lawannya telah kehabisan tenaga. Karena itu ia tidak mau memberi kesempatan lagi. Cepat ia melangkah maju dan menyerangnya dengan hebat.
Ternyata orang itu telah hampir tidak mampu melawannya. Beberapa kali Bagus Handaka berhasil menghantamnya sampai orang itu terhuyung-huyung dan roboh. Sekali lagi kegembiraan membayang di wajah Bagus Handaka. Orang yang hebat ini pasti akan dapat ditangkapnya.

Tetapi ketika sekali lagi ia maju menyerang, tiba-tiba orang itu melemparkan segenggam pasir ke arah matanya. Cepat-cepat Handaka memalingkan mukanya, namun beberapa butir pasir telah menyebabkan matanya terasa nyeri sekali. Ketika ia sedang sibuk membersihkan mata itu, terasa sebuah hantaman mengenai punggungnya.

Untunglah bahwa tenaga orang itu, telah hampir separo lenyap, sehingga dengan demikian hantamannya telah tidak lebih dari sebuah dorongan saja. Meskipun demikian, karena Bagus Handaka sama sekali tidak menduga bahwa lawannya akan berbuat curang, menjadi sangat terkejut dan jatuh tertelungkup.

Dengan marahnya Handaka cepat memutar tubuhnya, untuk menanti serangan berikutnya, yang dapat saja dilakukan dengan curang oleh lawannya itu.
Tetapi Bagus Handaka menjadi terkejut sekali sehingga tubuhnya menjadi gemetar.

Orang yang sudah kehabisan tenaga dan hampir saja dapat ditangkapnya itu lenyap seperti debu dibawa angin. Beberapa kali Bagus Handaka mengusap-usap matanya yang masih terasa agak nyeri, tetapi orang itu benar-benar telah lenyap.

Perlahan-lahan ia bangkit dan duduk di atas pasir. Dilayangkannya pandangannya ke segenap malam, tetapi di pantai yang luas itu, pastilah ia tak dapat melihat seseorang. Bulu tengkuknya tiba-tiba terasa meremang. Meskipun ia selama ini mendapat didikan untuk tidak takut kepada hantu, namun mengalami peristiwa ini, hatinya bergetar juga.
Kecuali itu, terasa pula kengerian merayapi perasaannya. Untunglah kali ini ia masih dapat membebaskan diri, meskipun hampir saja ia kehilangan akal.
Lalu bagaimana dengan malam besok?

Sekarang Bagus Handaka tidak berani main-main lagi. Kalau besok datang seseorang menyerangnya, dan memiliki sedikit saja kelebihan dari orang ini, maka pasti ia tidak dapat melawannya. Sedangkan kalau para penyerang itu dapat menangkapnya, hampir pasti bahwa dirinya benar-benar akan digantung di tengah-tengah Alas Roban.
Karena itu akhirnya Bagus Handaka memutuskan untuk menyampaikan segala peristiwa yang pernah dialami itu kepada gurunya, serta menyerahkan segala penyelesaiannya kepadanya.

Pada saat Bagus Handaka melangkah pulang ke pondoknya, terdengarlah ayam jantan berkokok bersahut-sahutan. Di langit sebelah timur sudah mulai tampak membayang warna fajar, diantar oleh angin pagi yang sejuk.

Namun tubuh Bagus Handaka justru mulai merasa nyeri dan sakit-sakit. Empat malam sebelumnya ia bertempur terus-menerus, tetapi tidak pernah ia merasakan lelah, letih dan sakit-sakit seperti saat itu.

Sampai di pondok, ia melihat Manahan telah bangun dan menunggui api. Agaknya ia sedang merebus air. Cepat-cepat Bagus Handaka mendekatinya dan berkata, Bapak, biarlah aku yang merebus air dan jagung.
Manahan tersenyum melihat kedatangan Bagus Handaka. Apakah kau turun ke laut Handaka?

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
240

TIDAK, Bapak, jawab Handaka singkat.

Dari pantai…? tanya Manahan lebih lanjut. Bagus Handaka menganggukkan kepalanya. Dalam cahaya api barulah Bagus Handaka melihat tubuhnya merah-merah biru dan berdarah di beberapa tempat. Ketika Manahan melihat luka-luka itu, serta melihat wajah Handaka yang pucat dan nafasnya yang kurang teratur, ia menjadi keheran-heranan. Maka kemudian ia bertanya, Handaka, apakah yang terjadi? Apakah kau berselisih dengan kawan-kawanmu, sehingga kau berkelahi?
Tidak, Bapak
, jawab Handaka.
Lalu kenapa kau? desak Manahan.

Bagus Handaka yang memang telah berkeputusan untuk menyampaikan keadaan yang dialaminya lima malam berturut-turut itu pun segera duduk disamping Manahan, dan segera mengalirlah ceritera dari mulutnya. Sejak malam pertama sampai malam terakhir, lengkap dengan bentuk-bentuk wajah dari orang-orang yang menyerangnya.
Mendengar ceritera Bagus Handaka itu, Manahan menarik alisnya. Memang ia pun menjadi keheranan-heranan, apakah pamrih orang-orang itu menyerang Bagus Handaka.

Handaka…, kenapa kau baru sekarang mengatakan semua kejadian itu kepadaku? tanya Manahan.
Dengan jujur Handaka mengatakan segala keinginannya untuk mengetahui kelanjutan peristiwa-peristiwa itu, serta keinginannya untuk menyelesaikan masalah itu sendiri.
Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya di dalam hatinya berkobar pula kemarahan ketika ia mendengar bahwa orang kelima yang menyerang Bagus Handaka itu telah menyebut-nyebut namanya. Padahal pada saat orang itu ia hanya melawan seorang anak-anak.

Handaka… kata Manahan kemudian, Pergilah kau besok sekali lagi ke pantai. Aku akan melihat siapakah yang selalu datang itu.

Mendengar kesanggupan gurunya, Handaka menjadi bergembira. Besok apabila benar-benar ada seseorang yang datang menyerangnya, meskipun kepandaiannya berlipat tiga, namun pasti orang itu akan dapat ditangkap oleh gurunya. Karena itu ia tersenyum-senyum sendiri. Dipandanginya api yang berkobar-kobar di hadapannya, yang bergerak-gerak seolah-olah menari-nari riang. Dan sebentar kemudian mendidihlah air yang dipanasinya. Segera ia bangkit untuk mengambil daun serai serta gula kelapa. Itulah kegemaran gurunya, air serai bergula kelapa.

Hari itu rasa-rasanya panjang sekali bagi Bagus Handaka. Matahari seolah-olah menjalani garis edar dengan malasnya. Sehari itu ia merasa amat malas untuk bermain-main dengan kawan-kawannya. Dihabiskannya waktunya dengan berangan-angan. Namun akhirnya, perlahan-lahan datanglah senja. Langit yang cerah dengan gumpalan-gumpalan mega yang berarak-arak mulai dirayapi oleh warna-warna lembayung. Bagus Handaka yang hampir tidak sabar itu memaki-maki di dalam hati. Kenapa kedatangan malam tidak saja langsung tanpa melewati senja?
Setelah melampaui masa-masa yang menjengkelkan, kemudian malam turun dengan tabir hitamnya. Bagus Handaka segera berangkat ke pantai, dimana ia biasa duduk-duduk memandangi ombak lautan. Manahan sengaja tidak berangkat bersama-sama supaya kehadirannya tidak diketahui. Ketika Manahan telah sampai di pantai pula, segera ia bersembunyi dengan membaringkan dirinya di belakang sebuah puntuk pasir tak begitu jauh dari Bagus Handaka.

Bersamaan dengan semakin gelapnya malam, hati Bagus Handaka menjadi semakin tegang dan gelisah. Jangan-jangan orang-orang yang menyerangnya telah mengetahui bahwa gurunya berada di tempat itu, sehingga para penyerang itu tidak berani mendekatinya.

Dan dalam kesempatan itu, ia mencoba pula mengingat-ingat kelima orang yang datang berturut-turut setiap malam. Masing-masing menyatakan bahwa mereka satu sama lain tidak berhubungan. Sejak semula ia sudah tidak percaya.

Tetapi yang mengherankan, bahwa seolah-olah kedatangan mereka telah diatur sedemikian, sehingga setiap orang yang datang pasti memiliki kepandaian setingkat lebih tinggi dari orang sebelumnya.

Tiba-tiba ketika sedang berangan-angan, Bagus Handaka dikejutkan oleh suara tertawa dekat di sampingnya. Suara itu terdengar nyaring dan menggetarkan hatinya. Cepat ia meloncat bangkit dan bersiap. Perasaannya telah mengatakan kepadanya bahwa orang ini pasti salah seorang yang datang untuk menyerangnya pula seperti malam-malam yang lewat.

Ketika ia memandang wajah orang itu, hatinya menjadi bertambah berdebar-debar. Wajah orang itu sama sekali tidak mirip dengan wajah manusia. Barangkali demikian itulah wajah hantu yang ditakuti oleh anak-anak. Beberapa bintil-bintil sebesar biji rambutan bertebaran hampir di seluruh wajah itu. Gigi-giginya tampak berleret pada saat orang itu tertawa.

Kemudian disela-sela tertawanya ia berkata, Siapakah nama anak muda yang bermain-main di pantai di malam hari…?
Meskipun sebenarnya Bagus Handaka ngeri juga melihat wajah itu, namun karena ia merasa bahwa gurunya berada di dekatnya, hatinya menjadi tabah pula. Maka jawabnya lantang, Kenapa kau bertanya? Kau pasti sudah tahu pula siapa aku. Dan kau pasti akan menangkapku seperti yang pernah dilakukan oleh lima orang sebelum kau datang, pada malam-malam sebelum malam itu.

Mendengar kata-kata Bagus Handaka itu, tertawanya menjadi bertambah keras. Bagus… bagus, jadi sebelum ini telah datang lima orang mendahului aku? Agaknya monyet-monyet itu ingin menerima hadiah pula dengan menangkap anak ini. Dan kau dapat mengalahkan mereka berlima?

Mereka datang satu-persatu, jawab Handaka.
Alangkah bodohnya mereka, sambung orang berwajah iblis itu. Tentu kau dapat mengalahkannya.
Jangan banyak bicara, potong Bagus Handaka dengan beraninya, Jangan coba bohongi aku. Kau pasti telah bersekongkol dengan mereka. Dan barangkali kau malam ini akan mencoba menangkap aku bersama-sama. Ayo datanglah berenam.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
241

KEMBALI orang yang menakutkan itu tertawa berderai-derai sampai seluruh tubuhnya bergetar. Hebat, kau memang hebat. Tetapi jangan terlalu sombong. Sebab malam ini nyawamu benar-benar akan lenyap. Aku harus menangkap kau, mati atau hidup. Meskipun kalau aku membawamu hidup-hidup hadiahnya akan berlipat banyaknya. Sebab pertunjukan membunuh Bagus Handaka akan dapat mendatangkan uang yang banyak sekali.

Tanpa sadar, bulu tengkuk Bagus Handaka serentak berdiri. Perkataan orang berwajah menakutkan itu sangat mempengaruhi perasaannya. Apakah sebenarnya latar belakang dari semua kejadian ini? Kenapa orang itu menyebut-nyebut pertunjukan membunuh Bagus Handaka?

Mau tidak mau Bagus Handaka menjadi ngeri juga. Ia sudah membayangkan dirinya diikat di tengah-tengah lapangan, kemudian setiap orang diperkenankan untuk melukainya, sampai mati. Tetapi apa salahnya?

Tiba-tiba ia menjadi marah sekali. Ini hanyalah suatu gertakan saja. Karena itu ia menjawab sambil berteriak keras-keras, Jangan coba-coba takut-takuti aku. Namun demikian terasa suara Handaka bergetar pula.

Mendengar teriakan Bagus Handaka, orang itu sekali lagi tertawa keras-keras. Jangan berbohong pula. Kau sudah ketakutan bukan? Bagus…, semakin takut kau, semakin lucu pertunjukan itu jadinya.

Sekarang Bagus Handaka benar-benar menjadi marah sekali. Ternyata orang itu telah menghinanya. Karena itu segera ia meloncat dan langsung menyerang leher dengan jari-jarinya.

Orang itu, yang masih enak tertawa, ternyata terkejut melihat kecepatan bergerak Bagus Handaka, sehingga tertawanya segera terhenti. Memang kau anak berani. Tetapi hati-hatilah.

Sambil berkata demikian ia merendahkan dirinya, dan dengan kakinya ia menghantam lambung Bagus Handaka. Bagus Handaka yang menyerang dengan sekuat tenaga, tidak sempat menarik serangannya, maka yang dapat dilakukan adalah memukul kaki itu dengan tangannya ke samping. Ternyata usahanya berhasil pula. Orang itu terputar sedikit dan dengan demikian lambungnya dapat diselamatkan, meskipun tangannya yang berbenturan dengan kaki orang itu terasa sakit.

Dengan demikian Bagus Handaka segera dapat mengetahui, bahwa orang ini mempunyai ilmu diatas orang-orang yang pernah menyerangnya. Tetapi meskipun demikian ia sama sekali tidak gentar ketika diingatnya bahwa gurunya telah menungguinya.
Mengingat hal itu, segera Bagus Handaka menjadi bertambah tatag, karena itu serangannya menjadi bertambah sengit. Tetapi perlawanan orang itu bertambah sengit pula. Bahkan ia pun telah menyerangnya dengan gerak-gerak yang sangat membingungkan dan berbahaya sekali. Namun ternyata Bagus Handaka telah memberikan perlawanan dengan gigih.

Setiap serangan yang datang, bagaimanapun berbahayanya, Handaka selalu dapat menghindarkan dirinya. Malahan tidak jarang pula iapun berhasil membalas serangan-serangan itu dengan serangan-serangan yang tak kalah berbahayanya.

Namun serangan-serangan itu pun selalu tidak berhasil pula.

Maka pertempuran itu semakin lama menjadi bertambah hebat dan cepat. Masing-masing menyerang dan menghindar berganti-ganti, sehingga tampaknya kedua orang itu seperti bayangan yang sedang libat-melibat dengan cepatnya, semakin lama semakin cepat.

Tetapi kemudian ternyata bahwa Bagus Handaka tidak dapat menyamai kecepatan gerak lawannya, sehingga tiba-tiba terasa punggungnya terdorong oleh suatu kekuatan yang besar sekali. Dengan derasnya ia terlempar ke udara.

Mengalami peristiwa itu hati Bagus Handaka berdesir. Untuk beberapa saat ia menjadi bingung. Tetapi untunglah bahwa otaknya yang cerdas dapat bekerja dengan cepat. Ia pernah menyaksikan lawannya terlempar ke udara pula, namun ia dapat jatuh dengan enaknya, seolah-olah sama sekali tidak terasakan sesuatu. Maka tanpa dikehendakinya sendiri Bagus Handaka menirukan gerak-gerak yang pernah disaksikannya itu. Cepat-cepat ia berusaha melingkarkan diri dan menjatuhkan diri pada punggungnya, yang kemudian dilanjutkan dengan berguling sampai dua kali. Setelah itu ia melenting berdiri.

Untunglah bahwa Bagus Handaka telah dibekali dengan olah keprigelan yang cukup, serta kekuatan jasmaniah yang besar, sehingga meskipun gerak-geraknya masih belum sempurna, namun ia tidak pula mengalami sesuatu.

Melihat cara Bagus Handaka membebaskan diri dengan cara yang demikian, terdengar lawannya tertawa keras-keras sambil berkata, Hai monyet kecil, dari mana kau belajar berjungkir balik demikian…? Untunglah bahwa kau mengenal cara yang baik untuk menyelamatkan dirimu.
Bagus Handaka tidak sempat menjawab kata-kata itu. Dengan darah yang mendidih ia meloncat maju kembali untuk menyerang lawannya sejadi-jadinya. Tangannya bergerak berganti-ganti mengarah ke segenap tubuh lawannya, sedang kakinya bergerak dengan lincahnya di atas pasir pantai. Tetapi ternyata lawannya tidak kalah lincah pula.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
242

UNTUK beberapa lama serangan-serangannya tidak dapat menyentuh tubuh lawannya sama sekali. Bahkan ketika ia mencoba untuk menyerang mata lawannya dengan jarinya, maka tiba-tiba terasa kepalanya berguncang hebat. Guncangan yang pertama, disusul dengan yang kedua.

Untunglah dalam keadaan terakhir Bagus Handaka masih sempat melihat sebuah kepalan tangan sekali lagi mengarah kepelipisnya. Cepat-cepat ia memalingkan wajahnya. Tangan itu dengan derasnya menyambar tidak lebih dari tebal daun padi di muka hidungnya. Untunglah bahwa Bagus Handaka masih dapat bekerja cepat.

Tangan itu segera ditangkapnya, serta sambil merendahkan diri ia pergunakan tenaga dorong serta berat badan lawannya sendiri untuk membantingnya ke tanah lewat pundaknya.

Dengan kerasnya orang itu terpelanting. Tetapi meski ia jatuh terlentang namun ia berusaha jatuh di atas kedua kaki serta pundaknya saja yang menyentuh tanah. Bagus Handaka tidak mau membiarkannya dalam sikap yang demikian, cepat-cepat ia menyerang lagi lawannya sebelum sempat memperbaiki keadaannya. Dengan kakinya ia menghantam dada orang yang masih terlentang itu. Gerak Bagus Handaka sedemikian cepatnya sehingga lawannya tidak sempat menghindarinya. Maka terdengarlah keluhan pendek. Tetapi sesaat kemudian kaki lawannya itu dengan cepatnya menyapu kakinya, sehingga Bagus Handaka jatuh terbanting pula.

Ketika ia kemudian tegak, lawannya telah berdiri di hadapannya pula. Bahkan dengan suatu lontaran dahsyat ia menyerang ke arah dadanya. Dengan cepatnya Bagus Handaka merendahkan dirinya, dan bersamaan dengan itu ia menjulurkan kakinya lurus-lurus, sehingga dengan demikian ia berhasil mengenai perut lawannya.

Agaknya lawannya sama sekali tidak menyangka bahwa Bagus Handaka akan menyerang selagi ia melakukan serangan yang sedemikian cepat. Karena itu ia terdorong keras beberapa langkah surut disusul dengan serangan Bagus Handaka yang dahsyat pula.

Demikianlah pertempuran itu berlangsung semakin hebat dan cepat. Pada malam kelima, Bagus Handaka yang hampir merasa dapat dikalahkan, ternyata memiliki nafas yang lebih baik dari lawannya sehingga akhirnya lawannya menjadi lemas karena kehabisan nafas.

Tetapi orang keenam ini agaknya mempunyai nafas lebih baik dari kuda. Karena itu semakin lama terasa Bagus Handaka semakin terdesak, tenaganya semakin lama semakin berkurang pula setelah ia berjuang mati-matian untuk mempertahankan dirinya.

Akhirnya pertempuran itu pun menjadi berat sebelah. Beberapa kali Bagus Handaka terpaksa terlempar, terbanting dan kadang-kadang perutnya terasa terguncang-guncang hebat. Dari mulut serta hidung melelehlah darah segar. Sampai sedemikian jauh Bagus Handaka tidak melihat gurunya datang membantunya. Bahkan ketika matanya sudah mulai berkunang-kunang pun Manahan masih belum menampakkan dirinya. Ia menjadi keheran-heranan. Apakah sebenarnya maksud Manahan dengan membiarkannya demikian? Seolah-olah segenap sisa-sisa tenaganya ia tetap melawan dengan beraninya.

Sampai beberapa saat kemudian ketika ia terbanting diatas pasir dan seolah-olah ia sudah sama sekali tidak dapat bergerak lagi, dilihatnya orang berwajah menakutkan itu tertawa berderai sambil selangkah demi selangkah mendekatinya. Bagus Handaka tidak tahu lagi bagaimana ia harus melawan. Tangannya serasa sudah membeku dan darahnya seolah-olah sudah tidak mengalir lagi.

Dalam keadaan yang demikian tiba-tiba orang itu, yang sudah tinggal beberapa langkah dari padanya, terhenyak dan memandang ke suatu titik. Maka sekali lagi meledaklah tertawanya yang mengerikan, disusul dengan suaranya yang menggelegar, Hai, kaukah itu? Jadi kau datang pula untuk membantu muridmu…?

Mendengar suara orang itu, melonjaklah sebuah kegembiraan di hati Bagus Handaka. Agaknya gurunya telah datang. Dan apa yang diduganya adalah benar. Ketika ia mengangkat mukanya, dilihatnya Manahan berjalan dengan tenangnya ke arah orang yang berwajah mirip hantu itu. Melihat gurunya datang, tiba-tiba Bagus Handaka merasa bahwa akan datanglah saatnya ia mengetahui latar belakang dari semua peristiwa-peristiwa itu.

Ketika Manahan telah berdiri di muka orang berwajah jelek itu terdengarlah orang berwajah menakutkan itu berkata, Kaukah yang bernama Manahan?
Manahan menganggukkan kepalanya sambil menjawab, Kenapa kau tanyakan itu? Bukankah kau sudah pasti bahwa guru Bagus Handaka bernama Manahan?
Kembali terdengar orang itu tertawa berderai sehingga suaranya memenuhi pantai. Aku tidak mengira bahwa Manahan orangnya seperti kau ini.

Terdengarlah Manahan menjawab sambil tersenyum, Lalu dari mana kau tahu bahwa kau bernama Manahan?

Karena kau datang pada saat Bagus Handaka sudah tidak dapat bergerak lagi. Aku kira tidak ada orang lain yang akan menolongnya, selain gurunya, sahut orang itu.
Lalu apa anehnya aku ini? tanya Manahan pula.
Aku jadi kecewa melihat tampangmu. Seharusnya kau berwajah seperti asahan batu, berkumis lebat dan bertubuh seperti orang hutan. Supaya ujudmu sesuai dengan namamu yang terkenal itu.
Tak ada orang yang mengenal aku sebagai seorang yang seharusnya bertubuh demikian. Aku adalah seorang petani yang tidak lebih dari menggarap sawah setiap hari,
jawab Manahan.

Mendengar jawaban Manahan yang masih bernada dingin itu, Bagus Handaka bertambah heran pula. Kenapa gurunya tidak saja langsung menghantamnya sampai pingsan. Apalagi orang itu telah menghinanya pula.

 

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja

 

243
DALAM gelap malam Handaka melihat orang berwajah menakutkan itu menyeringai, benar-benar seperti hantu. Namun Manahan sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Bahkan masih saja ia tersenyum-senyum.

Bagus…. Kau adalah seorang petani yang baik, Manahan. Pekerjaan petani adalah pekerjaan yang mulia pula. Tanpa petani maka banyaklah orang yang kelaparan. Tetapi daerah pertanian bukankah daerah pelarian? Apabila seseorang telah berputus asa dalam melaksanakan tugasnya sendiri, maka kemudian orang itu menerjunkan diri dalam daerah pertanian. Bukankah demikian…?

Mendengar kata-kata orang itu tampaklah wajah Manahan berkerut. Segera senyumnya lenyap dari bibirnya. Namun tak sepatah katapun ia menjawab. Sehingga kemudian terdengar orang yang menakutkan itu meneruskan, Atau barangkali kau sudah bercita-cita untuk menjadi seorang tuan tanah yang kaya raya, yang dapat menandingi kekayaan demang Gunung Kidul?
Hampir terlonjak Manahan mendengar kata-kata itu. Juga Bagus Handaka menjadi keheran-heranan. Kemana arah bicara orang yang berwajah hantu itu. Tetapi ia menjadi semakin tidak sabar ketika ia masih saja melihat Manahan tegak seperti patung. Bahkan kemudian ia menjadi bertambah tidak mengerti ketika kemudian orang itu berkata, Bagus Handaka…, untunglah kau untuk satu pertunjukan yang menarik di daerahku. Tetapi hati-hatilah lain kali aku datang lagi.
Setelah itu segera ia meloncat dan melarikan diri seperti terbang di gelap malam.
Bapak…! teriak Bagus Handaka.
Manahan memandang anak itu dengan wajah yang dingin pula.

Sambil berdiri perlahan-lahan Bagus Handaka mendekati gurunya sambil berkata pula, Kenapa Bapak membiarkan orang itu pergi? Selama ini aku ingin menangkap salah seorang diantaranya. Dengan hadirnya Bapak di sini aku mengharap bahwa aku akan dapat mengetahui alasan mereka menyerang aku. Tetapi Bapak membiarkan orang itu pergi.

Bagus Handaka, kata Manahan tidak menjawab pertanyaan anak itu. Bagaimana keadaan tubuhmu?
Sakit, Bapak, jawabnya agak jengkel. Tetapi bagaimana dengan orang tadi?
Kau sudah dapat bergerak kembali?
sambung Manahan tanpa menghiraukan kata-kata Bagus Handaka.
Sudah, Bapak… jawab Handaka masih belum mengerti.
Bagus…. Bersiaplah. Aku adalah orang ketujuh yang akan menangkapmu, kata Manahan tiba-tiba.
Bapak… apakah artinya ini? tanya Handaka semakin bingung.
Aku adalah orang ketujuh yang akan menangkap kau dan akan menyerahkan kau kepada orang yang menyuruh mereka datang berturut-turut selama enam malam. Aku sekarang sudah tahu, siapakah orang yang berdiri di belakang mereka. Dan aku juga ingin menerima hadiah itu supaya aku dapat kaya-raya seperti Demang Gunung Kidul. Jelas?

Handaka mendengar kata-kata gurunya seperti orang bermimpi. Tetapi tiba-tiba ia melihat gurunya benar-benar bersiap untuk menyerangnya. Sehingga ia menjadi bertambah bingung.

Handaka… kata Manahan kemudian, Terserahlah padamu, apakah kau masih ingin hidup atau tidak. Aku tidak mempunyai kepentingan dengan kau lagi. Kau harus melawan aku. Kalau tidak, aku akan membawamu hidup-hidup. Kalau kau mau melawan, aku beri kau keringanan. Aku akan membawa kau setelah kau aku binasakan, supaya kau tidak menjadi bahan pertunjukan.

Agaknya Handaka sadar bahwa ia tidak bermimpi. Ia harus memilih dua hal yang sama-sama tak dikehendaki. Karena itu ia menjadi bingung sekali. Tetapi ia tidak sempat berpikir-pikir lebih lanjut. Sebab tiba-tiba gurunya telah melangkah dan menghantam lambung. Maka dengan gerak naluriah Handaka menghindarkan diri.

Dengan kekuatan yang ada padanya ia melenting tinggi dan kemudian jatuh berguling-guling menjauhi gurunya. Tetapi Manahan mengejar terus sambil melepaskan serangan-serangan yang sangat berbahaya dan bersungguh-sungguh.

Ia memang pernah berlatih dengan gurunya seperti ia harus berkelahi sungguh sungguh, namun terasa bahwa selama itu gurunya selalu menyesuaikan diri dengan gerak-geraknya. Tetapi kali ini Manahan benar-benar telah menyerangnya dengan pukulan-pukulan yang dapat membinasakan. Karena itu Bagus Handaka menjadi benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan kecuali meloncat-loncat berlari, berguling dan cara-cara lain untuk menghindari serangan-serangan Manahan. Namun demikian Manahan menyerang terus seperti orang kehilangan akal. Tetapi kemudian muncullah suatu pikiran yang agak jernih dalam otak Bagus Handaka. Tiba-tiba ia merasa bahwa saat ini adalah saat terakhir baginya untuk menunjukkan kepada gurunya, ketekunan serta kesungguhannya selama ini dalam menerima segala ilmu serta pelajarannya.

Ia sudah pasti, bahwa kalau benar-benar gurunya akan membunuhnya, maka saat terakhir ini akan dipergunakan sebaik-baiknya. Ia harus dapat menunjukkan kepada gurunya hasil-hasil yang telah dicapainya dalam olah kanuragan.

Meskipun Handaka menjadi semakin tidak mengerti kepada sifat-sifat gurunya, karena ketakutan-ketakutannya yang kadang-kadang aneh, misalnya beberapa tahun yang lalu, tiba-tiba saja ia ditinggal berlari jauh sekali sampai ia merasa bahwa tidak akan mungkin dapat menemukannya, tetapi tiba-tiba gurunya itu, yang pada saat itu bernama Mahesa Jenar datang kembali kepadanya, yang kemudian untuk beberapa tahun melatihnya dengan tekun. Sekarang tiba-tiba gurunya itu berbuat keanehan lagi.

Tetapi agaknya kali ini gurunya tidak lagi bermain-main. Sebab apabila ia lengah, maka pastilah nyawanya akan melayang.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
244

NAMUN demikian, apabila hal itu sudah dikehendaki oleh gurunya, maka yang dapat dilakukan adalah menyenangkan hati gurunya pada saat terakhir itu. Ia harus menunjukkan kepada gurunya hasil pelajaran yang diterimanya selama ini dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian ia akan dapat membesarkan hati gurunya itu yang telah berjerih payah mendidiknya.

Mendapat pikiran yang demikian, maka tiba-tiba Bagus Handaka merasa seolah-olah telah menerima segala kekuatannya kembali. Seolah-olah badannya merasa bertambah segar dan sehat.

Tanpa mengenal ketakutan atas kematian yang bakal datang, Handaka kemudian bergerak dengan cepat seperti seorang anak-anak yang menari-nari riang menjelang ayahnya pulang dari rantau. Dengan demikian maka ia telah berbuat sebaik-baiknya untuk melawan gurunya yang sangat disegani serta dicintainya itu.

Pertempuran itu segera berjalan semakin cepat. Bagus Handaka telah berusaha untuk mengurangi tekanan Manahan dengan menyerangnya pula berkali-kali. Ia tiba-tiba saja merasa bahwa ia telah dapat melayani gurunya jauh lebih baik daripada saat-saat yang lampau. Dengan tangkasnya ia menyerang, melenting, kemudian melingkar di udara kalau kebetulan ia terlempar oleh pukulan-pukulan gurunya yang dahsyat. Ia sudah berusaha sebaik-baiknya.

Dalam keadaan yang demikian, setitik pun tak ada maksud Handaka untuk mencoba menyelamatkan dirinya. Sebab adalah tidak mungkin sama sekali baginya berbuat demikian. Jadi yang dilakukan itu adalah benar-benar suatu pernyataan kebaktian seorang murid terhadap gurunya. Sebab bagaimanapun, Manahan adalah gurunya.
Manahan adalah seorang yang perkasa, yang pernah menjabat sebagai seorang perwira pasukan pengawal raja. Karena itu kemampuannya pun luar biasa. Apalagi sebenarnya tenaga Bagus Handaka telah berada jauh di bawah kekuatannya, karena sebelumnya ia sudah harus bertempur mati-matian melawan seorang yang berwajah seperti hantu.

Daya perlawanan Bagus Handaka pun segera tampak surut. Dengan demikian maka serangan-serangan Manahan pun semakin banyak mengenai tubuhnya.

Meskipun demikian, Bagus Handaka sama sekali tidak mengeluh. Dengan tenaganya yang semakin lama semakin lemah itu ia tetap melawan sedapat-dapatnya.

Tetapi apa yang dapat dilakukannya adalah tidak seberapa lama. Sebuah serangan Manahan yang dahsyat datang mengarah ke lambungnya. Dengan tenaga yang masih ada padanya, Bagus Handaka mencoba menghindari serangan itu dengan memiringkan tubuhnya, tetapi ia tidak berhasil. Dengan kerasnya ia terlempar beberapa langkah dan kemudian jatuh terbanting. Yang dapat dilakukannya hanyalah mencoba menyelamatkan tubuhnya dengan berusaha menjatuhkan diri sebaik-baiknya. Dan apa yang diusahakan itu sebagian dapat berhasil.

Namun setelah itu, kembali seluruh tulang-tulangnya terasa telah terlepas. Tubuhnya menjadi lemas dan darahnya seolah-olah tidak mengalir lagi. Bagaimanapun ia berusaha namun ia sudah tidak mampu lagi menggerakkan bagian-bagian dari tubuhnya. Meskipun demikian, Bagus Handaka tetap tidak mengeluh sama sekali. Dengan dada menengadah ia menanti apapun yang bakal terjadi.

Sekilas dilihatnya langit yang biru gelap ditaburi bintang-bintang seperti jutaan lampu yang tergantung jauh sekali di udara, dengan sinarnya, yang berkedip-kedip mengelilingi bintang raksasa Bima Sakti yang melintang ke utara.

Kemudian dilihatnya gurunya, yang diakunya sebagai ayahnya setelah ayahnya yang sebenarnya pergi meninggalkannya, berjalan mendekatinya. Dan Bagus Handaka telah siap menerima apapun yang akan dilakukan oleh gurunya itu, meskipun untuk sesaat terlintas pula wajah-wajah ayahnya Gajah Sora. Ibunya, serta wajah-wajah yang pernah dikenalnya. Wajah-wajah bengis yang pernah akan membunuhnya pada saat ia ditolong oleh seorang yang menamakan dirinya Sarayuda, serta wajah keenam orang yang datang berturut-turut menyerangnya.

Dan sekarang yang berada di depannya adalah gurunya, Manahan yang sebenarnya dikenalnya dengan nama Mahesa Jenar, yang menyatakan dirinya sebagai orang yang ketujuh.

Dengan sekuat tenaga perasaannya, Bagus Handaka mencoba melenyapkan semua bayangan yang berturut-turut datang mengganggu otaknya. Dipusatkannya pikirannya untuk menghadapi apapun yang bakal terjadi, dengan tabahnya.

Dan tiba-tiba dirasanya tangan gurunya itu meraba-raba tubuhnya. Memijat-mijat tangannya dan kemudian dengan suara yang rendah berkata, Tidakkah kau dapat bergerak lagi Handaka?

Dengan mata yang cerah, Bagus Handaka memandangi wajah gurunya. Aku sudah berusaha sebaik-baiknya, Bapak.
Kemudian tampaklah Manahan merenungi anak itu. Alisnya yang lebat bergerak-gerak karena kerut-kerut di keningnya. Seolah-olah ia sedang menghitung setiap titik di permukaan tubuh muridnya. Sesaat kemudian terdengarlah Manahan menarik nafas dalam-dalam serta mengangguk-anggukkan kepalanya.

Lalu terdengar ia bertanya kembali, Adakah dengan cara demikian kau melawan orang-orang yang menyerangmu enam malam berturut-turut?

Bagus Handaka tidak segera mengerti maksud pertanyaan gurunya. Karena untuk beberapa saat ia tidak menjawab, terdengar kembali Manahan berkata, Ingat-ingatlah apa yang telah kau lakukan selama enam malam berturut-turut.
Bagus Handaka semakin tidak mengerti. Tetapi ia menjawab juga, Bapak, selama itu akupun telah berusaha sebaik-baiknya melawan mereka. Bahkan aku sudah mencoba untuk menangkap salah seorang diantaranya. Tetapi aku tidak berhasil.
Sekali lagi Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya, sedangkan Bagus Handaka menjadi bertambah bingung. Apalagi ketika kemudian dilihatkan gurunya tersenyum sambil membangunkannya. Duduklah Handaka. Dan cobalah menggerak-gerakkan tubuhmu perlahan-lahan.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
245

DENGAN otak yang dipenuhi oleh berbagai pertanyaan, Bagus Handaka mencoba sedapat-dapatnya untuk bangun dan kemudian bertahan duduk di atas pasir pantai. Adakah gurunya menunggu sampai ia mampu untuk melawannya kembali…?

Ternyata Manahan tidak berbuat demikian. Juga ternyata gurunya itu tidak membunuhnya. Malahan kemudian gurunya itu duduk pula di sampingnya dan dengan wajah yang jernih berkata, Sudahkah kau ingat keenam orang yang menyerangmu?

Sambil mengangguk, Bagus Handaka menjawab sekenanya saja, Sudah, Bapak.
Baik… sahut Manahan, Kau pernah berkata kepadaku tentang wajah-wajah dari kelima orang itu, sedang orang yang keenam telah aku saksikan sendiri. Tetapi kau belum pernah menceriterakan kepadaku bagaimanakah bentuk tubuh kelima orang yang menyerangmu itu.

Untuk sesaat Bagus Handaka jadi termenung. Memang selama itu ia belum pernah menyebut-nyebut bentuk tubuh lawan-lawannya. Dan sekarang tiba-tiba gurunya menanyakan hal itu. Maka dicobanya sekali lagi untuk membayangkan kembali kelima orang itu berturut-turut.

Bagaimanakah dengan orang yang pertama? tanya Manahan.

Dengan masih mencoba mengingat-ingat orang itu Bagus Handaka menjawab, Orang itu bertubuh tegap tinggi dan berdada bidang.

Orang kedua? desak Manahan.

Dengan mengingat-ingat mengerti sepenuhnya maksud pertanyaan gurunya, karena itu setelah merenung beberapa lama ia menjawab hampir berteriak, Semuanya bertubuh tegap tinggi dan berdada bidang.

Lalu bagaimanakah pendapatmu mengenai mereka itu? tanya Manahan pula.

Bagus Handaka diam menimbang-nimbang. Tetapi kemudian ia berkata, Itu adalah aneh, Bapak. Tubuh mereka berenam hampir bersamaan. Hanya wajah merekalah yang agaknya berbeda-beda.

Kau yakin bahwa wajah mereka berbeda-beda? desak Manahan.

Mendengar pertanyaan gurunya, tiba-tiba Handaka menjadi ragu. Memang sepintas lalu, apalagi di dalam gelapnya malam, wajah-wajah mereka tampak berbeda-beda.

Sayang, aku tak dapat menangkapnya, gumam Bagus Handaka.

Terdengarlah Manahan tertawa pendek, lalu katanya, Inginkah kau menangkapnya?

Ya, jawab Handaka. Aku ingin tahu kenapa mereka menyerang aku.

Dan kenapa aku menjadi orang ketujuh? tanya Manahan pula.

Bagus Handaka menatap Manahan dengan pandangan yang aneh. Apa yang terjadi lima malam berturut-turut telah cukup memusingkan kepalanya. Apalagi malam yang keenam itu. Segalanya menjadi semakin kabur dan penuh teka-teki.

Melihat Bagus Handaka kebingungan, berkatalah Manahan, Handaka…. Meskipun aku tidak menyaksikan, namun aku berani meyakinkan bahwa keenam orang yang menyerangmu berturut-turut itu pasti mempunyai persamaan bentuk tubuh. Dan ketahuilah Handaka bahwa kau jangan mimpi untuk dapat menangkapnya.

Mata Handaka masih memancarkan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan. Tetapi orang yang pertama, kedua dan ketiga adalah orang-orang yang belum memiliki ilmu yang cukup tinggi. Sehingga aku mempunyai kemungkinan yang besar untuk dapat menangkapnya.

Mendengar kata-kata itu Manahan tersenyum. Meskipun demikian, bukankah ternyata kau tidak mampu menangkapnya?

Bagus Handaka mengangguk mengiyakan.

Jangankan kau Handaka, sambung Manahan, Sedang aku pun tidak berani bermimpi untuk dapat menangkapnya.

Mendengar perkataan itu Handaka terkejut bukan main, sampai ia tergeser ke samping. Matanya semakin membayangkan kebingungan yang memenuhi hatinya.
Handaka… kata Manahan seterusnya dengan perasaan iba, Sudah sewajarnya kalau kau menjadi bingung karenanya.

Handaka mendengarkan kata-kata gurunya itu dengan saksama, meskipun sikap gurunya itu tidak kalah membingungkan pula.

Pertama-tama ketahuilah, bahwa apa yang aku lakukan, tidaklah benar-benar seperti apa yang aku katakan. Otakku masih cukup sehat untuk tidak melakukan hal-hal seperti itu. Sedang apa yang aku lakukan, adalah untuk meyakinkan dugaanku terhadap keenam orang yang telah menyerangmu enam malam berturut-turut. Dengan caraku itu aku kemudian yakin siapakah orang-orang yang datang berturut-turut itu.

Guru… potong Handaka dengan penuh haru, Jadi Bapak tidak benar-benar mau membunuhku?

Mendengar pertanyaan Bagus Handaka, Manahan jadi terharu. Jawabnya sambil membelai kepala anak itu, Kenapa aku akan membunuhmu?
Bukankah Bapak sendiri berkata demikian?
jawab Handaka.
Dan kau telah mencoba mempertahankan dirimu? tanya Manahan pula.

 

246

TIDAK, Bapak…. Aku sama sekali tidak berusaha untuk menyelamatkan diri, tetapi aku hanya bermaksud untuk menunjukkan hasil pelajaran-pelajaran yang aku terima selama ini pada saat-saat terakhir.

Diam-diam Manahan memuji di dalam hati. Benar-benar anak ini berhati bersih dan setia. Karena itu Manahan menjadi semakin terharu. Namun demikian ia berusaha agar wajahnya sama sekali tidak membayangkan perasaannya.

Handaka… kata Manahan kemudian, Baiklah aku beritahukan dugaanku atas semua kejadian-kejadian yang berlaku itu, supaya kau tidak terlalu lama menebak.
Handaka menjadi sangat tertarik. Karena itu ia menggeser duduknya semakin dekat dengan gurunya.

Handaka…. Manahan melanjutkan, Mengucapkan syukur atas semua peristiwa yang berlaku enam malam berturut-turut. Meskipun barangkali untuk dua-tiga hari tubuhmu akan masih terasa sakit-sakit, namun setelah itu kau akan berbangga karenanya.

Apakah yang dapat aku banggakan Bapak? tanya Handaka.
Manahan tersenyum, lalu jawabnya, Aku telah mencoba untuk memancingmu dalam suatu perkelahian. Apapun alasanmu tetapi kau telah berbuat sebaik-baiknya. Sedang apa yang kau lakukan sebagian adalah bukan hasil pelajaran yang aku berikan.


Bapak…
potong Handaka, Kenapa kau berbuat demikian. Aku tidak pernah belajar kepada siapapun kecuali kepada Bapak.

Kembali Manahan tersenyum.

Meskipun andaikata unsur-unsur itu tidak kau miliki sekarang, kemudian aku pun akan memberikannya pula. Tetapi kemajuan yang kau capai selama lima hari akan sama dengan kemajuan yang akan kau capai dalam waktu berbulan-bulan apabila hal itu kau pelajari dariku, serta dalam keadaan yang biasa.

Masih saja Handaka belum mengerti maksud gurunya. Sehingga kemudian Manahan berkata pula, Handaka…, menurut dugaanku orang yang datang enam malam berturut-turut itu adalah orang yang sama.

Orang yang sama? tanya Handaka keheran-heranan.

Ya, jawab Manahan. Orang itu hanya mengubah mukanya sedikit dengan menggores-goreskan warna-warna hitam dan kadang-kadang memasang kumis dan janggut palsu.

Tetapi tingkat kepandaiannya sama sekali tidak sama, Bapak, potong Handaka.

Sekali lagi Manahan tersenyum.

Itulah sebabnya kepandaianmu meningkat dengan wajar, meskipun waktunya dipercepat. Dan ketahuilah bahwa yang dapat berbuat demikian hanyalah orang-orang sakti yang berilmu mumpuni.

Handaka menjadi termenung karenanya.

Jadi apakah maksudnya menyerangku…? Dan kenapa dikatakannya bahwa orang-orang itu akan menangkap aku untuk sebuah pertunjukan pembunuhan…? tanya Handaka.

Satu-satunya cara untuk memaksamu bekerja sekeras-kerasnya adalah menakut-nakutimu dengan cara demikian, jawab Manahan.
Bagus Handaka menarik nafas dalam-dalam. Mengertilah ia sekarang bahwa orang yang datang setiap malam itu sama sekali tidak akan membunuhnya seperti gurunya itu pula.

Adakah Bapak mengenal orang yang datang setiap malam itu? tanya Handaka kemudian.
Manahan menggelengkan kepalanya.

Aku tidak tahu. Meskipun aku telah berusaha mengenal gerak-geraknya sebaik-baiknya namun aku tetap tidak dapat mengatakan siapakah dia. Apalagi apa yang diberikan kepadamu selama ini ternyata adalah urut-urutan pelajaran dari ilmuku sendiri yang akan aku berikan pula kepadamu.

Sekarang semuanya menjadi agak jelas bagi Handaka. Ternyata orang itu datang kepadanya dengan maksud baik. Menuntunnya untuk berlatih lebih keras. Dan tahulah ia sekarang kenapa pada malam-malam pertama, kedua dan ketiga orang itu seolah-olah hanya memiliki unsur-unsur gerak yang itu-itu saja, sehingga dengan demikian ia berhasil menguasai unsur-unsur itu, serta kemudian pada malam-malam berikutnya tanpa disengajanya unsur-unsur itu terselip pada gerak-gerak perlawanannya, sedang lawan-lawannya dapat memberikan perlawanan sebaik-baiknya dan diulang-ulangnya pula.

Karena itu, dadanya jadi bergelora. Apalagi ketika gurunya berkata, Handaka… orang yang datang berturut-turut itu pastilah seorang yang sakti, jauh lebih sakti dari gurumu ini. Itulah sebabnya aku sama sekali tidak berusaha untuk menangkapnya, sebab hal itu pasti akan sia-sia. Hal itu juga ternyata pula, bahwa orang itu dapat mengetahui bahwa aku berada di sekitar ini meskipun aku telah bersembunyi sebaik-baiknya.
Handaka mengangguk-anggukkan kepalanya. Hal itu sama sekali tak pernah dibayangkan sebelumnya, bahwa seorang yang sakti, bahkan lebih sakti dari gurunya, datang kepadanya dengan cara-cara yang aneh.

Jadi Bapak diketahuinya sebelum Bapak menampakkan diri?

Tidak hanya itu saja Handaka… Manahan meneruskan, Sedang aku pun telah menerima nasihatnya pula.

Nasihat untuk Bapak? tanya Handaka terkejut.
Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya.

Bukankah orang itu berkata kepadaku bahwa pertanian bukanlah daerah pelarian. Bukan daerah tempat orang-orang yang berputus asa apabila kewajibannya sendiri sudah tak dapat ditunaikan…?

Handaka memandang Manahan dengan mata yang bertanya-tanya. Ia sama sekali tidak tahu maksud perkataan itu. Sampai Manahan melanjutkan, Handaka…, barangkali kau sama sekali tak dapat menghubungkan perkataan-perkataan itu dengan keadaan kita.
Tetapi ketahuilah bahwa ada sesuatu hal yang selama ini belum pernah aku katakan kepadamu, sebab kau masih aku anggap terlalu kanak-kanak. Sekarang, aku kira kau telah cukup dewasa untuk mengetahui lebih banyak hal tentang keadaan kita. Keadaan serta kewajiban-kewajibanku dan keadaan serta kewajiban-kewajibanmu.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
247

BAGUS Handaka mendengarkan setiap kata gurunya dengan saksama. Sakit-sakitnya di seluruh tubuhnya sudah tidak dirasakannya lagi. Sementara itu angin malam bertiup lemah, dan bintang-bintang di langit telah mengubah susunannya. bintang Waluku telah jauh condong di barat, sedang bintang Bima Sakti telah mulai mengabur pada kedua ujungnya, jauh di selatan dan utara.

Bagus Handaka…. Manahan meneruskan perlahan-lahan.

Sebenarnya saat ini aku sedang mengemban suatu tugas yang berat. Tugas yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Sekarang, karena kau telah cukup dewasa, ternyata seorang sakti yang tak dikenal telah berkenan langsung mengajarmu, maka baiklah aku berterus-terang pula. Saat ini aku sedang berusaha untuk mencari dua pusaka Istana yang hilang, berwujud keris yang bernama Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.
Handaka mendengarkan ceritera gurunya sampai tidak sempat berkedip. Sedang Manahan kemudian berceritera tentang kedua keris yang pernah diketemukannya bersama ayahnya, Gajah Sora. Tetapi keris itu kemudian hilang kembali. Dan karena itu pula maka ayahnya terpaksa menghadap Sultan Demak untuk mempertanggungjawabkan hilangnya kedua pusaka itu.

Sepeninggal Gajah Sora, Banyubiru kemudian ditimpa oleh banyak malapetaka dan Bagus Handaka sendiri hidupnya selalu terancam bahaya.

Untunglah bahwa Paman Lembu Sora segera bertindak, desis Bagus Handaka, Dengan demikian pasti Ibu serta Banyubiru dapat diselamatkan.

Mendengar kata-kata Bagus Handaka itu Manahan menarik nafas dalam-dalam. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia berkata dengan suara sayu, Kau keliru Bagus Handaka.


Keliru?
sela Handaka terkejut.
Ya, kau keliru. Manahan menjelaskan, Sayang bahwa pamanmu sama sekali tidak berbuat demikian. Meskipun apa yang dikatakan kepada semua warga Banyubiru, pamanmu telah berusaha menyelamatkan ibumu serta daerah perdikan itu, namun nyatanya tidaklah demikian. Sebab pamanmulah sebenarnya sumber keributan itu.
Handaka menjadi semakin tidak mengerti. Ia melihat sendiri ketika itu pamannya telah membantu ayahnya menghalau gerombolan yang menyerang Banyubiru. Bahkan kemudian ibunya telah memerintahkan Sawungrana untuk meminta bantuan pamannya pula ketika kemudian timbul hura-hara.

Bagus Handaka… sambung Manahan, Ketahuilah, pamanmulah yang berusaha untuk menyingkirkan ayahmu. Karena pamanmu ingin menguasai seluruh daerah perdikan Pangrantunan Lama. Karena itu ia telah berusaha untuk menyingkirkan kau pula, yang pasti akan menjadi penghalang usahanya itu.
Mendengar kata-kata terakhir itu, menggigillah tubuh Bagus Handaka karena kemarahan yang mencengkam perasaannya. Ia sama sekali tidak mengira, bahwa apa yang terjadi adalah kebalikan dari dugaannya.

Benarkah apa yang Bapak katakan…? Handaka bertanya untuk mendapat suatu kepastian.
Aku telah berkata sebenarnya, jawab Manahan.
Tetapi kenapa Bapak baru mengatakan itu kepadaku sekarang?
Aku menganggap bahwa sebelum ini, kau belum cukup dewasa, Handaka,
jawab Manahan pula.
Tetapi agaknya Handaka tidak puas mendengar keterangan itu, maka ia mendesak, Dan kenapa pada saat itu Bapak tidak berbuat sesuatu untuk mencegah perbuatan itu?

Manahan membenarkan letak duduknya. Ia dapat mengerti sepenuhnya pergolakan perasaan muridnya.

Dengan sabar Manahan menjelaskan, Handaka….., waktu itu aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku tidak dapat menunjukkan bukti-bukti kejahatan yang telah dilakukan oleh pamanmu. Juga karena kelicinan pamanmu, di hadapan ayahmu aku pernah hampir-hampir dibinasakan oleh Laskar Banyubiru sendiri, karena mereka curiga kepadaku tentang hilangnya kedua keris itu. Untunglah bahwa ayahmu sempat mencegahnya. Kemudian aku tidak yakin bahwa kecurigaan para pimpinan Laskar Banyubiru itu kepadaku telah lenyap dari hati mereka seluruhnya atau baru sebagian saja dari antara mereka.
Mendengar penjelasan gurunya, Bagus Handaka semakin terbakar hatinya. Matanya kemudian menjadi merah menyalakan kemarahannya. Giginya terdengar gemeretak serta denyut jantungnya bertambah cepat. Dan tiba-tiba saja lenyaplah segala perasaan sakit dan nyeri. Meskipun masih agak tertatih-tatih ia bangkit berdiri serta dengan suara lantang ia berkata, Bapak…, apapun yang terjadi atasku, aku tidak ambil pusing. Besok pada saat matahari terbit aku minta ijin Bapak untuk kembali ke Banyubiru. Aku atau Paman Lembu Sora yang akan binasa tidaklah menjadi soal. Tetapi aku harus menuntut balas.


Handaka…
kata Manahan masih setenang tadi, Duduklah.
Handaka dengan tidak sabar memandangi Manahan yang masih saja duduk di pasir pantai.

Tidakkah sekarang sudah saatnya Bapak…? Kita harus bertindak tegas.
Duduklah Handaka…. Meskipun Manahan berkata perlahan-lahan, namun nadanya penuh dengan tekanan, sehingga Handaka tidak dapat berbuat lain, kecuali duduk kembali di sisi gurunya.
Handaka… sambung Manahan, Aku dapat mengerti sepenuhnya perasaan yang bergelora di dalam dadamu. Tetapi jangan membiasakan diri bertindak tergesa-gesa. Membunuh pamanmu Lembu Sora barangkali tidaklah terlalu sulit, meskipun bagaimana saktinya. Tetapi akibat dari perbuatan itu sudahkah menjadi perhatianmu? Setidak-tidaknya pasti akan timbul permusuhan antara Pamingit dan Banyubiru. Kalau benar demikian, maka diantara kedua daerah perdikan itu pasti akan ditelan oleh masa depan yang suram.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
248

SETELAH diam sejenak, Manahan melanjutkan, “Dalam kekalutan itu akan hadirlah kekuatan-kekuatan dari pihak lain yang akan menelan Pamingit dan Banyubiru sekaligus. Sebab dalam hal ini golongan hitam pasti tidak akan tinggal diam. Mereka pasti akan mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Kemudian dapatlah dipastikan bahwa di atas mayat-mayat laskar Pamingit dan Banyubiru akan berkibar bendera-bendera mereka, bendera yang bergambarkan harimau hitam, sepasang uling yang berlilitan, kelelawar raksasa berkepala serigala, ular laut yang ganas. Setelah itu lenyaplah sudah nama daerah perdikan Pamingit dan Banyubiru sekaligus. Lenyap pulalah hasil jerih payah eyangmu Sora Dipayana yang dengan memeras keringat dan darah membangun kedua daerah perdikan itu. Lenyap pulalah nama kebesaran keluarga Sora yang selama ini disegani oleh daerah-daerah lain, bahkan sampai ke Istana Demak. Yang ada kemudian tinggalah nama-nama Sima Rodra, Uling Rawa Pening, Lawa Ijo, dan Jaka Soka.”
Bagus Handaka adalah seorang anak yang cerdik. Karena itu segera ia dapat menangkap maksud gurunya. Namun meskipun demikian amat sulitlah baginya untuk mengendalikan perasaannya.

Maka bertanyalah ia, “Bapak, kalau demikian apakah kita biarkan saja Paman Lembu Sora tidak terhukum atas kesalahannya itu?”

“Itu pasti Handaka,” jawab Manahan.

“Siapa yang bersalah harus dihukum. Tetapi kita harus menjaga agar kita dapat menarik garis antara pamanmu Lembu Sora dan orang-orangnya yang sama sekali tidak tahu-menahu, sehingga dengan demikian pertumpahan darah yang luas dapat terhindar. Itu adalah tugasmu Handaka, meyakinkan orang-orang Pamingit dan Banyubiru, bahwa pamanmu telah berbuat suatu dosa yang harus dipertanggungjawabkan.”

Bagus Handaka menjadi tertegun diam. Perkataan Manahan itu seolah-olah satu demi satu menyusup ke dalam dadanya serta mendinginkan hatinya. Sadarlah bahwa pekerjaan yang dihadapinya bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan dengan tergesa-gesa, tetapi harus ditempuhnya dengan penuh kebijaksanaan.

“Lalu apakah yang harus aku lakukan Bapak?” tanya Handaka kemudian.

Untuk beberapa saat Manahan tidak menjawab. Ia sendiri masih belum tahu dengan pasti, apa yang akan dilakukannya. Namun demikian ia kemudian menjawab, “Handaka, kita harus meninggalkan pedukuhan ini. Aku harus tetap berusaha mencari keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.
Disamping itu ada baiknya kalau kita mencari berita tentang Banyubiru dan perkembangannya setelah kau tinggalkan. Kemudian baru kau menentukan cara untuk memecahkan masalahnya. Meskipun kau sebenarnya belum dewasa penuh, namun aku kira kau telah cukup untuk memulai pekerjaan yang besar itu, dengan kehati-hatian dan yang mungkin memerlukan waktu tidak sehari dua hari, tetapi setahun dua tahun, bahkan mungkin lebih dari itu.”

Bagus Handaka memperhatikan setiap kata gurunya yang menambah keyakinannya bahwa pekerjaan yang betapapun beratnya itu pasti akan dapat diselesaikan. Namun ia sadar bahwa jalan yang akan ditempuhnya bukanlah jalan yang lurus dan licin, tetapi pasti akan penuh dengan rintangan dan bahaya.

Namun ia sadar pula bahwa apa yang dilakukannya nanti seharusnya tidak menyingkir dari bahaya-bahaya itu, tetapi ia harus berani menghadapi serta mengatasinya.
Kemudian untuk sesaat mereka saling berdiam diri. Masing-masing tenggelam dalam angan-angan serta gambaran-gambaran masa yang akan datang. Masa yang pasti akan penuh dengan perjuangan.

“Bagus Handaka….”

Kemudian terdengar Manahan memulai, “Marilah kita pulang. Sejak besok kita harus sudah berkemas-kemas. Kita tinggal menunggu padi yang sudah menguning. Setelah itu baiklah kita melanjutkan perantauan kita untuk menemukan kedua pusaka itu, beserta mempersiapkan diri untuk mendapatkan kembali tanah pusaka yang kau tinggalkan. Sekarang bekalmu telah jauh lebih banyak dari lima atau enam hari yang lalu.”
Bagaimanapun Bagus Handaka masih belum begitu yakin kepada kata-kata gurunya. Benarkah ilmunya sudah sedemikian menanjak sehingga gurunya merasa bahwa bekalnya telah cukup banyak? Karena itu bertanyalah ia meyakinkan, “Bapak, benarkah ilmuku telah jauh lebih banyak dari lima atau enam hari yang lalu…?”

Mendengar pertanyaan muridnya, Manahan tersenyum. “Bagus Handaka…, aku telah mengujimu. Dalam keadaan payah dan luka-luka kau mampu melawan aku sampai beberapa lama. Hal itu tidak akan dapat kau lakukan lima atau enam hari yang lalu. Bahkan aku telah mencoba untuk menyerangmu dengan bersungguh-sungguh walaupun masih dalam batas-batas tertentu. Tetapi kau nyata-nyata telah bertambah jauh. Karena itu maka yang akan aku berikan kepadamu seterusnya tinggallah tingkat yang tertinggi.”


Oleh keterangan-keterangan itu, diam-diam Bagus Handaka jadi berbangga.

Beberapa kali bibirnya bergerak-gerak mengucapkan terima kasih kepada orang yang tak dikenalnya, namun tak sepatah kata pun yang meluncur keluar.

Kemudian berjalanlah mereka berdua perlahan-lahan sepanjang pantai menuju ke pondoknya. Di sepanjang jalan hampir tak ada kata-kata yang mereka ucapkan.

Apalagi Bagus Handaka, yang sedang merenungi dirinya sendiri. Dicobanya mengingat-ingat kembali segala peristiwa yang pernah dialaminya dengan lebih saksama. Dicobanya mengingat-ingat setiap gerak yang pernah dilakukan dan yang pernah disaksikan. Akhirnya ia dapat mengambil kesimpulan, bahwa memang banyak unsur-unsur yang tanpa sesadarnya telah dimiliki dan bahkan telah dikuasainya dengan baik.

Maka, sejak matahari terbit di pagi harinya, Bagus Handaka mulai berkemas-kemas. Sesuai dengan perintah gurunya, apabila padi telah dituai, maka mereka segera akan meninggalkan pedukuhan Tegal Arang, untuk meneruskan perjalanan ke tempat yang tak ditentukan.

Namun sesuai dengan harapan gurunya untuk mengetahui perkembangan Banyubiru, maka mereka pasti akan mendekati tempat itu, dengan harapan bahwa mereka sudah tidak akan dikenal lagi setelah hampir tiga tahun meninggalkan tempat itu. Bila perlu, mereka akan mempergunakan penyamaran.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
249

DEMIKIANLAH, tidak sampai dua pekan, padi telah masak.

Tetapi demikian orang pergi menuai, demikian Manahan dan Bagus Handaka mulai minta diri kepada tetangga-tetangganya, bahwa ia tidak dapat tinggal lebih lama lagi di pedukuhan itu.

Tentu saja, hal itu sangat mengejutkan mereka, yang mengira bahwa Manahan dan anaknya akan tetap tinggal bersama mereka sampai hari tuanya.

He…, kau mau kemana lagi Manahan? tanya salah seorang dari mereka yang bertubuh pendek, kasar dan berambut tegak.
Kami telah menerima kau dengan baik, tetapi kau agaknya tidak betah tinggal di pantai.

Meskipun kata-kata itu diucapkan dalam nada yang kasar seperti tubuhnya, namun sebenarnya itu adalah suatu pernyataan yang jujur dari rasa persahabatannya.

Maafkan Kakang, jawab Manahan. Aku terpaksa meninggalkan kalian karena aku masih mempunyai pekerjaan yang lain

.
Apa yang harus kau kerjakan? tanya yang lain, seorang nelayan yang kurus dan berkumis tipis.
Aku masih harus mencari bapakku, jawab Manahan berbohong.

Orang yang kurus dan berkumis tipis itu mengerutkan keningnya, lalu sambungnya, Kemana bapakmu pergi…?
Manahan menggeleng-gelengkan kepala.

Itu yang aku tidak tahu. Karena itu aku harus mengelilingi seluruh pulau untuk menemukannya.
Hampir semua orang yang mendengar, mengerutkan dahinya. Mereka merasa aneh bahwa seseorang sampai kehilangan bapaknya. Tetapi meskipun demikian ternyata mereka tidak berhasil mencegah. Manahan serta Bagus Handaka pergi meninggalkan mereka. Banyak pula kawan-kawan Handaka yang menjadi kecewa karena kepergiannya.

Maka dengan rendah hati Manahan menyerahkan seluruh hasil panennya kepada para tetangganya, dan dengan hati yang agak berat pula, setelah bergaul hampir tiga tahun dengan para nelayan yang kasar namun berhati bersih, ia terpaksa meninggalkan mereka. Suatu hal yang terpaksa berulang kali dialaminya. Menetap di suatu tempat dan kemudian meninggalkannya, dan kembali ia harus berjalan menyusur jalan-jalan pedukuhan, hutan dan lereng-lereng gunung serta lembah-lembah yang hijau padat.

Tetapi kali ini Manahan tidak membawa muridnya menyembunyikan diri, tetapi bahkan sebaliknya. Mereka berusaha mendekati Banyubiru untuk mengambil ancang-ancang atas perjuangan yang bakal dilakukan. Mereka harus lebih dahulu mengetahui seluk-beluk daerah itu dan mengetahui tanggapan rakyatnya terhadap pimpinan daerah yang sebenarnya tidak berhak sama sekali itu.

Dengan Kyai Bancak, tanda kebesaran Banyubiru yang berwujud sebuah ujung tombak, di pinggangnya, setelah dilepas dari tangkainya, Bagus Handaka berjalan dengan tegapnya menuju ke arah selatan. Manahan yang berjalan di belakangnya memandangi anak itu dengan bangga. Ia mengharap agar Bagus Handaka benar-benar dapat menjadi seorang anak yang kuat dan berhati mulia seperti harapan ayahnya.

Tetapi dengan demikian Manahan jadi teringat kepada Gajah Sora. Apakah kira-kira yang terjadi atasnya? Namun ia percaya bahwa Gajah Alit dan Paningron dapat membantu kesulitannya. Setidak-tidaknya memperingan tuduhan yang ditimpakan atasnya.

Perjalanan Manahan dan Handaka kemudian sampai pada daerah hutan dan kemudian mereka harus menyusur kaki gunung Slamet, membelok kearah timur.

Demikianlah dari hari ke hari mereka selalu berjalan tanpa henti-hentinya. Ternyata kekuatan jasmaniah Bagus Handaka cukup memuaskan. Ia sama sekali tetap segar dan lincah. Disamping itu selama perjalanan mereka, masih sempat juga Manahan memberikan tambahan pengetahuan kepada muridnya. Dan bahkan karena kecerdasan Bagus Handaka, maka dapatlah ia menemukan unsur-unsur gerak yang bagus, yang ditirunya dari gerak-gerak binatang buas.

Dengan tuntunan gurunya, Bagus Handaka yang hampir menghabiskan waktunya selama perjalanan itu dengan memperhatikan gerak-gerik kera-kera yang berloncatan dari dahan ke dahan, maka kemudian ia berhasil menirukan beberapa bagian, yang dapat dileburnya ke dalam unsur-unsur gerak yang telah dimilikinya.

Handaka juga senang sekali memperhatikan perkelahian antar binatang. Dari binatang yang paling buas sampai binatang yang paling lemah. Diperhatikannya pula, bagaimana seekor kancil berhasil melepaskan diri dari terkaman serigala-serigala yang buas, dan bagaimana seekor banteng dengan tangguhnya menanti serangan seekor harimau dan kemudian dengan tanduk-tanduknya yang tajam membinasakannya.
Dengan demikian Bagus Handaka mendapatkan berbagai macam pengetahuan dari alam. Manahan sendiri sebenarnya kagum atas ketangkasan otak muridnya, maka ia menjadi semakin bangga bahwa tidak sia-sialah ia menuntun anak itu.

Karena itu, Manahan selalu memberinya petunjuk-petunjuk atas kemungkinan kemungkinan yang dapat dimanfaatkan dari setiap gerak yang dilihatnya. Kecuali gerak-gerak binatang, juga gerak-gerak dari benda-benda yang lain, seperti angin pusaran, air bah dan bahkan kelincahan gerak nyala api.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
250

DI sepanjang perjalanan itu, tidak sedikitlah pengetahuan yang ditangkap oleh Handaka. Dan karena itu pula ia sama sekali tidak merasakan suatu kejemuan atau keletihan selama ia bersama-sama dengan gurunya menyusuri jalan-jalan hutan yang lebat dan sulit.

Setelah meninggalkan lembah kaki gunung Slamet, mereka mulai dengan perjalanan yang tidak kalah sulitnya. Mereka menyusur tebing pegunungan Prau, setelah melampaui beberapa pedukuhan yang tak berarti.

Tetapi meskipun mereka sama sekali tidak mengenal letih, namun kadang-kadang mereka terpaksa berhenti pula untuk beberapa lama di suatu tempat. Kadang-kadang sampai satu dua bulan, kadang-kadang malahan lebih. Setelah itu kembali mereka meneruskan perjalanan mereka sambil berbuat bermacam-macam kebajikan.

Di tempat-tempat yang pernah dilewati oleh mereka itu, banyaklah hal-hal yang ditinggalkannya. Pemberitahuan tentang banyak hal. Tentang pertanian dan sebagainya.

Karena itu mereka selalu meninggalkan kesan yang baik, sehingga nama Manahan dan Bagus Handaka menjadi banyak dikenal orang.

Pada suatu kali mereka memasuki sebuah pedukuhan yang sepi di ujung hutan. Penduduknya yang menamakan pedukuhannya itu Gedangan, terdiri dari petani-petani yang menggarap sawah dengan cara yang sederhana sekali. Mereka masih belum begitu menaruh perhatian kepada saluran-saluran air. Untunglah bahwa tanah mereka adalah tanah yang subur, sehingga meskipun dengan cara-cara yang sangat sederhana, hasil pertanian mereka dapat mencukupi kebutuhan.

Berbeda dengan pengalaman-pengalaman mereka, Manahan dan Bagus Handaka ketika memasuki pedukuhan itu, mengalami penerimaan yang aneh. Hampir setiap mata memandang mereka dengan penuh kecurigaan. Manahan dan Handaka merasakan keasingan penerimaan itu. Karena itu mereka bersikap hati-hati dan berusaha untuk tidak menyinggung perasaan mereka.

Kepada salah seorang dari para petani yang sedang berdiri di pematang, Manahan bertanya dengan hormatnya, Kakang, apakah aku diperkenankan untuk memasuki pedukuhan ini?

Orang itu tidak segera menjawab. Tetapi sekali dua kali ia melemparkan pandangannya kepada beberapa orang yang bertebaran menggarap sawah di sekitarnya.

Baru setelah beberapa saat ia menjawab, Siapakah kau berdua?

Aku bernama Manahan dan ia anakku, Handaka, jawab Manahan.
Mendengar nama itu, orang itu mengernyitkan alisnya. Agaknya nama itu asing baginya. Kemudian terdengar ia berkata, Entahlah aku tak tahu. Berkatalah kepada lurah kami.

Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil bertanya pula, Di manakah Bapak Lurah itu?
Maksudku, di mana rumahnya? sambung Manahan.
Kembali orang itu ragu-ragu dan kembali ia menebarkan pandangannya kepada orang-orang yang sedang menggarap sawah di sekitarnya. Tiba-tiba ia menunjuk pada salah seorang daripadanya sambil berkata, Bertanyalah kepada orang itu.
Manahan menoleh menurut arah tangan orang itu. Dilihatnya di sudut desa berdiri seorang yang bertubuh pendek kokoh dengan urat-urat yang menonjol. Namun matanya membayangkan kejernihan hatinya.

Setelah mengucapkan terimakasih, segera Manahan dan Handaka berjalan ke arah orang bertubuh pendek itu. Dan kemudian dengan hormatnya Manahan bertanya, Adakah Bapak ini Lurah dari pedukuhan ini?

Orang itu menggelengkan kepalanya, sambil menjawab, Bukan Ki Sanak, aku bukan lurah di sini. Adakah kau punya keperluan dengan lurahku?
Manahan menganggukkan kepalanya. Demikianlah, aku mempunyai sedikit keperluan.

Apakah keperluan itu? tanya orang yang bertubuh pendek.

Tiba-tiba saja setelah mengalami peristiwa itu, timbullah keinginan Manahan untuk mengetahui lebih banyak hal lagi. Karena itu timbul pula keinginan untuk bermalam.
Maka kemudian kata Manahan, Sebenarnya keperluanku hanyalah akan mohon izin untuk bermalam barang semalam dua, setelah aku berjalan beberapa hari terus-menerus tanpa beristirahat.

Orang yang bertubuh pendek itu mengernyitkan keningnya. Kemudian ia bertanya pula, Siapakah kau berdua?
Aku adalah seorang perantau dan bernama Manahan. Sedang anak ini adalah anakku, bernama Handaka, jawab Manahan memperkenalkan diri.

Dengan seksama orang itu mengamat-amati mereka berdua. Baru sesaat kemudian ia berkata, Saat ini lurah kami sedang menerima beberapa orang tamu. Karena itu mungkin tak ada tempat lagi bagi kalian untuk bermalam di rumah lurah kami.

Kalaupun tempat itu ada, pastilah lurah kami dengan terpaksa tidak akan mengizinkan kalian bermalam di sana.

Manahan mengangguk perlahan-lahan. Ia menjadi semakin ingin untuk mengetahui lebih banyak lagi. Karena itu katanya, Bukan maksudku untuk bermalam di rumah Pak Lurah. Meskipun aku ditempatkan di kandang kuda sekalipun, asal aku diizinkan bermalam untuk melepaskan lelah barang semalam dua malam, aku akan mengucapkan terimakasih.

Orang yang bertubuh pendek serta bermata jernih itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian setelah berpikir sejenak ia menjawab, Menilik wajah-wajah kalian yang merah hitam terbakar terik matahari, serta menilik pakaian kalian maka aku percaya bahwa kalian telah menempuh jarak yang sangat jauh. Maka adalah kewajiban kami untuk memberikan sekadar tempat melepaskan lelah bagi kalian berdua. Karena itu maka kalian akan aku bawa pulang ke rumahku, di sana kalian dapat bermalam. Sebab selain Lurah di pedukuhan ini, aku pun termasuk orang yang harus membantu pekerjaannya.

 

251

JAWABAN itu membuat hati Manahan menjadi gembira. Karena itu segera ia mengangguk hormat.

Alangkah besar hati kami berdua atas izin sekaligus tempat yang disediakan untuk kami berdua. Tetapi hendaknya kehadiran kami janganlah menambah kesibukan, katanya.

Orang itu tersenyum sambil menggelengkan kepala.

Aku memang selalu sibuk, katanya. Jadi kehadiran Ki Sanak sama sekali tak mempengaruhi kesibukan itu.

Memang sejak semula Manahan sudah mengira bahwa orang itu pasti seorang yang baik hati serta ramah, ditilik dari sinar matanya yang jernih. Apalagi setelah Manahan bercakap-cakap sejenak, makin pastilah ia bahwa orang itu orang yang berbudi.

Marilah Ki Sanak, kata orang itu, Ikutlah ke pondokku. Dan kalian dapat beristirahat sepuas-puasnya.

Maka kemudian ikutlah Manahan serta Bagus Handaka ke rumah orang yang bertubuh pendek bermata jernih itu. Dan kemudian ketika mereka bercakap-cakap di sepanjang jalan, tahulah Manahan bahwa orang itu adalah tangan kanan dari lurah mereka, namanya Wiradapa.
Sebagai seorang kepercayaan kepala pedukuhan, rumah Wiradapa tidaklah begitu jauh dengan rumah lurahnya. Halamannya cukup luas ditumbuhi berbagai macam pepohonan serta dipagari oleh deretan pohon nyiur yang berpuluh-puluh jumlahnya. Di pedukuhan yang kecil itu, rumah Wiradapa merupakan rumah yang cukup baik meskipun tidak begitu besar. Beratap ijuk dan bertulang-tulang kayu.
Di rumah itu pun Manahan mengalami pelayanan yang baik, meskipun bagi Manahan dan Handaka hanya disediakan ruangan di bagian belakang rumah. Sebab menurut tangkapan Wiradapa, Manahan tidaklah lebih dari dua ayah-beranak yang pergi merantau untuk mencari penghidupan yang baik.

Tetapi kemudian sejak Manahan serta Handaka dipersilakan di ruang yang diperuntukkan bagi mereka, maka mereka tidak lagi bertemu dan bercakap-cakap dengan Wiradapa sampai malam, karena Wiradapa harus pergi ke lurahnya.

Manahan dan Handaka yang setelah beberapa lama selalu tidur di tempat-tempat yang sama sekali tak menentu, dan sekarang mendapat tempat pembaringan yang selayaknya, segera membaringkan diri sejak gelap mulai turun. Tempat pembaringan yang tidak lebih dari sebuah bale-bale bambu serta tikar pandan yang dibentangkan di atas galar. Bagi Manahan serta Handaka, pada saat itu dirasakan sebagai suatu pembaringan yang sangat baik. Karena itu pula maka belum lagi malam sampai seperempat bagian, mereka telah tertidur nyenyak.

Tetapi meskipun bagaimana nyenyaknya mereka tidur, namun telinga Manahan adalah telinga yang terlatih baik. Itulah sebabnya meskipun suara itu sangat perlahan-lahan tetapi sudah cukup untuk membangunkannya.

Manahan menjadi terkejut ketika mendengar seseorang berkata perlahan, Di mana mereka tidur…?

Di ruang sebelah belakang, Tuan, jawab yang lain, yang oleh Manahan suara itu dikenalnya, yaitu suara Wiradapa.

Kemudian terdengarlah beberapa orang melangkah mendekat ke ruang tidurnya. Mendengar langkah-langkah itu, segera Manahan curiga. Karena itu ia pun segera bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Tetapi sampai sedemikian ia merasa masih belum perlu untuk membangunkan muridnya yang masih tidur dengan nyenyaknya.
Sampai di muka pintu, terdengarlah langkah-langkah itu berhenti, dan terdengarlah seseorang berbisik, Kau yakin bahwa orang itu tak berbahaya…?
Tidak, Kakang Lurah, aku yakin bahwa orang itu hanyalah bagian dari orang-orang yang hidup berpindah-pindah seperti burung yang selalu mencari tempat dimana ada makanan. Terdengar Wiradapa menjawab.

Aku akan melihatnya…. Terdengar suara lain lagi.

Silakan Tuan, jawab Wiradapa.

Aku akan dapat mengetahui apakah dia orang berbahaya atau benar-benar orang-orang malas yang kerjanya mondar-mandir dari desa yang satu ke desa yang lain. Terdengar lagi suara itu. Sebab aku tidak mau ada orang yang dapat mengganggu usahaku.

Kembali terdengar Wiradapa menjawab, Apa saja yang baik bagi Tuan.
Kemudian terdengarlah langkah-langkah mereka semakin dekat dan dengan sekali dorong pintu itu sudah terbuka.

Dengan tangkasnya salah seorang dari mereka meloncat masuk dan tiba-tiba saja di tangannya telah tergenggam sebilah pedang. Dalam sinar pelita yang remang-remang, berkilat-kilatlah cahayanya menyilaukan. Dengan suara yang keras orang itu membentak, He, perantau malang, aku bunuh kau.
Berbareng dengan itu melekatlah ujung pedangnya di dada Manahan yang masih saja berbaring di bale-bale bambu.

Mendengar orang itu berteriak, Bagus Handaka menjadi terkejut. Cepat ia dapat menguasai kesadarannya karena latihan-latihan berat yang pernah dijalani. Tetapi demikian ia akan bergerak, terasalah pergelangannya dipijat oleh gurunya, yang berbaring di sampingnya. Sehingga dengan demikian ia mengurungkan niatnya, meskipun ia sama sekali tidak tahu maksudnya. Bahkan kemudian ia melihat gurunya menggigil ketakutan dan dengan suara gemetar berkata, Tuan… jangan aku Tuan bunuh. Ampunilah aku yang tidak berdosa.

Untuk beberapa saat beberapa pasang mata memandanginya dengan seksama. Mereka terdiri seorang anak sebaya dengan Bagus Handaka, yang kira-kira baru berumur 16 tahun. Dialah yang dengan geraknya yang lincah mengancam Manahan dengan pedangnya. Kemudian di sampingnya sebelah-menyebelah berdiri dua orang yang lain lagi terdiri Wiradapa dan seorang lagi yang disebutnya Kakang Lurah.

Dialah kepala daerah Pedukuhan Gedangan.

Kemudian terdengarlah anak yang memegang pedang itu berkata dengan nyaring, Menyebutlah nama nenek moyangmu, sebab saat kematianmu telah datang.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
252

HANDAKA tidak tahu siapakah yang telah mengancam gurunya, juga orang-orang yang berdiri di dalam ruangan itu. Ia tidak habis herannya melihat sikap gurunya.

Baginya lebih baik mati dengan tangan terentang daripada mati seperti seekor cacing yang sama sekali tak berdaya. Bukankah gurunya telah menuntunnya demikian dalam menghadapi lawan-lawannya …? Tetapi sekarang gurunya sendiri bersikap sebagai seorang pengecut. Karena perasaan-perasaan yang berdesakan itulah Handaka menjadi gemetar. Bukan karena ketakutan, tetapi karena pergolakan dadanya yang tak tertahan.

Hampir Handaka tak dapat menguasai dirinya ketka sekali lagi ia mendengar Manahan menjawab, Ampun Tuan, ampun…. Apakah dosaku maka Tuan akan membunuhku?
Melihat sikap Manahan itu Wiradapa memandangi wajah anak muda yang memegang pedang itu dengan sikap meminta untuk membebaskannya. Tetapi anak muda itu agaknya sama sekali tidak menaruh belas kasihan. Namun kemudian terdengarlah ia tertawa sambil berseru, Apakah kerjamu berdua di sini?
Manahan nampak gugup mendengar pertanyaan itu. Maka jawabnya gemetar, Aku tidak apa-apa, Tuan. Sungguh aku tidak apa-apa.

Sekali lagi anak muda itu tertawa menyeringai. Sedang ujung pedangnya masih saja melekat di dada Manahan. Sesaat kemudian terdengarlah ia berkata, Kau datang pada saat yang tidak menguntungkan bagimu.
Setelah itu ia merenung sejenak, dan kemudian melanjutkan. Kenapa kau pilih desa ini untuk bermalam…?
Aku tidak tahu, jawab Manahan gugup.
Anak muda itu menarik nafas panjang mendengar jawaban Manahan yang ketakutan itu. Kemudian tangannya yang memegang pedang itu mengendor. Dan dengan nada yang merendahkan ia berkata, Kalau di dunia ini dipenuhi oleh orang-orang macam itu, maka manusia ini tak ada bedanya dengan binatang-binatang melata yang mengais makanan dari dalam tanah tanpa dapat berbuat apa-apa.
Kemudian ia membentak, He orang-orang malang. Kau harus menggerakkan tanganmu kalau kau ingin mengisi perutmu. Selama kau berada di sini kau harus bekerja keras. Aku menjadi muak melihat kau menjual belas kasihan untuk mendapat makan. Karena itu besok pada saat matahari terbit, kau sudah harus datang ke rumah bapak lurah untuk menerima pekerjaan yang harus kau lakukan besok.
Sesudah berkata demikian anak muda itu segera menyarungkan pedangnya kembali, dan sekali lagi dengan pandangan yang menghina ia menggerutu, Seharusnya orang-orang macam itu wajib dimusnahkan, supaya dunia kita tidak kekurangan makan.
Setelah itu segera ia pun melangkah pergi, diikuti oleh kedua orang yang bertubuh kokoh kuat berwajah seram, serta lurah pedukuhan itu. Tinggallah Wiradapa yang memandangi Manahan dengan perasaan welas. Tetapi ketika ia akan berkata sesuatu, terdengarlah suara di luar, He Wiradapa, apa yang kau kerjakan?

Wiradapa mengurungkan niatnya, lalu dengan cepatnya ia melangkah keluar. Sebentar kemudian hilanglah langlah-langkah mereka ditelan oleh bunyi binatang-binatang malam.
Demikian langkah mereka menghilang, melentinglah Bagus Handaka dari tempat tidurnya, dan dengan kecepatan yang luar biasa ia sudah tegak berdiri di hadapan gurunya, seolah-olah ia ingin memperlihatkan ketangkasannya. Dengan mata yang memancarkan kemarahan dan gigi yang gemeretak terdengar ia menggeram, Bapak…
Setelah itu bibirnya sajalah yang gemetar, tetapi tak ada kata-katanya yang meluncur keluar. Meskipun di dalam dadanya berdesak-desakkan berbagai macam perasaan yang akan dilahirkan, namun hanya satu kata itulah yang berhasil diucapkan.

Tetapi ia bertambah bingung dan tidak mengerti ketika dilihatnya gurunya masih saja berbaring dengan bibir yang tersenyum-senyum. Baru ketika ia melihat Handaka gemetar di hadapannya, ia berkata Duduklah Handaka.

Tetapi Handaka masih saja tegak seperti patung, suara gurunya itu tidak terdengar oleh telinganya yang seperti mendesing-desing, sehingga Manahan terpaksa mengulangi lagi, Duduklah Handaka.
Dengan perasaan yang dipenuhi oleh teka-teki, Handaka kemudian duduk di samping gurunya. Namun terasa bahwa dadanya masih bergetar keras.
Tenanglah Handaka. Tak ada yang perlu kau khawatirkan, sambung Manahan kemudian.
Tetapi… sahut Handaka tergagap. Tetapi kenapa demikian?
Handaka menjadi semakin bingung ketika gurunya kemudian tertawa panjang, meskipun perlahan-lahan, supaya tidak menimbulkan suara riuh.

Apa yang demikian…? tanya Manahan sambil tertawa.
Handaka menjadi semakin bingung, meskipun demikian ia menjawab, Kenapa Bapak tadi menjadi sedemikian takut? Kalau Bapak tidak menahan aku, barangkali aku sanggup berbuat sesuatu untuk mengusir mereka. Ataupun kalau mereka adalah orang-orang sakti, bukankah lebih baik binasa daripada mereka hinakan sedemikian?


Bagus, memang sedemikianlah seharusnya,
potong Manahan.

Tetapi kenapa aku tidak boleh berbuat demikian? sambung Handaka yang merasa mendapat kesempatan untuk menyatakan perasaannya. Maka mengalirlah kata-katanya seperti hujan yang dicurahkan dari langit.

Dan kenapa Bapak sama sekali tidak melakukan perlawanan. Malahan bapak minta ampun kepada orang yang sama sekali tidak kenal. Bukankah kami tidak pernah berbuat kesalahan terhadap mereka? Sebab kami belum pernah bertemu sebelumnya, dan…

Sudahlah Handaka, potong Manahan. Tenanglah, dan dengarkanlah kata-kataku seterusnya.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
253

HANDAKA menjadi terdiam. Ia mencoba untuk mendengarkan kata-kata gurunya dengan baik.

Handaka… kata Manahan kemudian.

Aku percaya bahwa apa yang kau katakan itu dapat kau lakukan. Memang harusnya kita berbuat demikian. Tetapi untuk kali ini aku mempunyai pertimbangan-pertimbangan lain. Pertimbangan pikiran yang kadang-kadang bertentangan dengan perasaan. Sebagai seorang laki-laki yang berhati jantan, seharusnya kita lawan setiap serangan dengan dada tengadah. Apalagi penghinaan. Namun demikian ada kalanya keadaan menuntut tanggapan yang lain atas penghinaan yang kita terima itu. Karena pertimbangan-pertimbangan itulah maka aku tidak melawan sama sekali ketika anak muda itu mengancamku dengan pedangnya.


Tetapi ia tidak sekadar mengancam,
sahut Bagus Handaka.

Bagaimana kalau pedang itu benar-benar ditusukkan kepada Bapak?


“Bukankah ia tidak berbuat demikian?
jawab Manahan sambil tersenyum.

Dan hal itu aku ketahui dengan pasti. Ia hanya akan menggertak untuk mengetahui apakah aku memiliki kemampuan untuk melawan atau tidak. Ia hanya ingin mengetahui apakah kita memiliki ilmu tataperkelahian atau tidak. Sekarang ternyata bahwa ia telah mendapat kesan bahwa kita adalah orang-orang yang malas, yang merantau dari satu desa ke lain desa untuk sekadar mendapat makan. Bukankah dengan demikian kita mendapat keuntungan?

Setelah diam sejenak, Manahan kemudian meneruskan, Handaka… sebenarnya aku ingin mengetahui apa yang mereka lakukan di sini, tanpa kecurigaan apapun.
Mendengar penjelasan itu Handaka menundukkan kepalanya. Ia menjadi malu kepada dirinya sendiri atas ketergesa-gesaannya. Apalagi ia telah telanjur seolah-olah mengajari gurunya. Ternyata apa yang dilakukan gurunya adalah suatu cara untuk maksud-maksud tertentu.

Sudahkah kau jelas Handaka? tanya Manahan.

Handaka mengangguk perlahan. Sadarlah ia sekarang, betapa banyak persoalan yang sama sekali tidak dipikirkannya, yang ternyata perlu untuk diketahuinya. Ternyata bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan kekuatan dan kekerasan, tetapi dapat diambil cara yang lain. Dengan demikian ternyata bahwa pandangan gurunya sangat jauh mendahuluinya.
Nah, Handaka… marilah kita tidur kembali. Hari masih malam. Tutuplah pintu itu, ajak Manahan sambil membaringkan dirinya kembali.

Perlahan-lahan Handaka pun bangkit menutup pintu, dan kemudian merebahkan dirinya di samping Manahan. Pikirannya sibuk menduga-duga siapakah orang-orang yang telah datang menjenguk nya tadi. Dalam remang-remang cahaya pelita ia tidak dapat memandang wajah mereka dengan jelas.

Handaka… kata Manahan pelan, Mulai besok kita akan mendapat pekerjaan baru. Aku tidak tahu apakah kira-kira yang harus kita kerjakan. Mudah-mudahan dengan demikian kita akan mengetahui siapakah mereka dan apakah maksud kedatangan mereka kemari.


Tetapi alangkah sombongnya anak muda itu, Bapak,
gerutu Handaka.

Manahan tertawa pendek, lalu jawabnya, Bukankah itu persoalan biasa? Anak-anak sebaya dengan kau memang sedang dalam taraf pergolakan. Mereka senang menunjukkan ketangkasan serta kelebihannya.

Handaka tidak menjawab lagi. Ia merasa bahwa sebagian jawaban gurunya ditujukan kepadanya pula. Sesaat kemudian terdengarlah Manahan meneruskan, Karena itu, jiwa yang bergolak itu harus mendapat saluran yang sebaik-baiknya. Untuk itu perlu kesadaran. Kesadaran akan keadaan diri sendiri serta keadaan yang melingkupinya.
Seperti biasa, Handaka selalu mendengarkan nasihat gurunya baik-baik. Ia berjanji dalam hati bahwa ia akan berusaha untuk mentaatinya sejauh-jauh mungkin.

Setelah itu Manahan tidak berkata-kata lagi. Kantuknya telah mulai menyerangnya kembali. Dan sesaat kemudian ia pun telah tertidur pula. Demikian pula Bagus Handaka. Ketika ayam jantan berkokok untuk kedua kalinya, kesadarannya pun mulai tenggelam. Dan ia pun tertidur kembali dengan penuh angan-angan di kepala.

Pagi-pagi benar Manahan telah bangun. Segera Handaka dibangunkannya pula. Sebab pada saat matahari terbit mereka harus sudah sampai di halaman kalurahan untuk menerima tugas-tugas yang akan diberikan oleh anak muda yang datang semalam.

Ketika mereka keluar dari ruang itu mereka melihat Wiradapa sudah berdiri di pagar halaman. Agaknya ia pun baru bangun. Maka ketika ia melihat Manahan mendekati, ia pun berkata mengingatkan, Ki Sanak, bukankah kau diwajibkan datang ke kalurahan pagi ini?

Manahan mengangguk hormat sambil menjawab, Benar Tuan, dan aku akan segera pergi.

Baik Ki Sanak, bersiap-siaplah. Nanti kita pergi bersama. Sekarang mandilah, aku pun akan membersihkan diri pula, kata Wiradapa sambil melangkah pergi.

Manahan dan Handaka pun segera pergi ke sumur di belakang rumah untuk membersihkan diri. Setelah itu mereka menghangatkan diri dengan air panas dan gula kelapa yang sudah disediakan untuk mereka. Sementara itu Manahan selalu menasihati Handaka untuk tidak bertindak tergesa-gesa dalam segala hal. Ia harus menyesuaikan diri dengan kedudukannya sebagai seorang yang dianggap tak berdaya. Hanya apabila jiwanya benar-benar terancam, barulah boleh bertindak untuk melindungi dirinya.
Beberapa saat kemudian Wiradapa pun telah siap. Bertiga mereka berjalan bersama-sama ke kalurahan.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
254

KETIKA mereka sampai ke halaman kalurahan, ternyata di pendapa telah banyak orang. Dari pakaian mereka segera dapat diketahui bahwa beberapa orang diantaranya bukanlah orang dari padukuhan itu. Orang-orang asing itu berpakaian lebih baik dan lengkap daripada orang pedukuhan itu sendiri, serta pada umumnya di pinggang mereka terselip sebilah keris atau senjata-senjata yang lain.

Melihat Wiradapa datang, segera mereka mempersilahkannya. Dan lurah mereka sendiri memanggilnya untuk duduk di sampingnya. Sedang Manahan dan Handaka, mereka suruh duduk di lantai di tangga pendapa itu. Tampaklah di wajah Handaka perasaan tidak senang, namun Manahan sendiri, wajahnya sama sekali tidak berkesan apa-apa.

Sebentar kemudian muncullah dari ruang dalam seorang pemuda sebaya dengan Bagus Handaka. Wajahnya memancar cerah dan pakaiannya pun lebih baik dari pakaian mereka semua yang hadir di pendapa itu. Di sampingnya sebelah menyebelah, berdirilah orang-orang yang bertubuh gagah tegap dengan wajah-wajahnya yang seram. Mereka itulah yang tadi malam datang melihat Manahan di tempatnya menginap.

Pada saat itu, sinar matahari yang baru saja naik, mulai menembus dedaunan dan jatuh di tanah-tanah lembab. Embun malam yang melekat di rerumputan perlahan-lahan mulai mengering menimbulkan asap putih yang melapisi cahaya pagi. Sedangkan tetesan-tetesan embun yang tersangkut di dedaunan, tampak berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari yang masih kemerah-merahan, seperti butiran-butiran permata yang cemerlang.

Dengan semakin cerahnya cahaya matahari, semakin jelas pulalah wajah-wajah yang berada di dalam pendapa kalurahan. Mulai dari wajah yang sudah dikenalnya dengan baik, yaitu Wiradapa, sampai wajah lurah pedukuhan itu. Juga wajah orang-orang asing itu satu demi satu mulai dapat dikenal.
Manahan dan Bagus Handaka yang duduk agak jauh dari mereka, mulai memperhatikan wajah-wajah itu pula. Satu demi satu. Namun Manahan tak dapat mengenal seorang pun dari mereka. Mereka bagi Manahan benar-benar orang asing yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Karena itu Manahan sama sekali tidak lagi menaruh banyak perhatian, kecuali menanti pekerjaan apakah yang akan diberikan kepadanya, dan seterusnya menyelidiki apakah yang mereka kerjakan di situ. “Mudah-mudahan mereka tidak berbuat keributan,” pikirnya.

Lalu setelah itu mulailah perhatiannya beredar ke sudut-sudut halaman rumah kepala pedukuhan itu. Sejak dari pagar batu yang mengelilingi setinggi orang, sampai pada pohon-pohon liar yang tumbuh tidak begitu teratur bertebaran di sana-sini.

Tetapi tiba-tiba Manahan terkejut karena gemeretak gigi Handaka. Ketika ia menoleh, dilihatnya wajah Handaka yang merah padam, sedang nafasnya mengalir cepat. Manahan menjadi agak terkejut. Sadarlah ia bahwa pasti ada sesuatu di hati anak itu. Untunglah bahwa Manahan cepat dapat menggamit Bagus Handaka yang hampir saja melompat berdiri.

“Handaka…” bisik Manahan, “Ada apa?”
Mata Bagus Handaka menjadi merah menyala. Tubuhnya gemetar karena menahan diri. “Bapak, biarkan aku kali ini membuat perhitungan,” desisnya.
Manahan menjadi keheran-heranan.
“Kau kenapa Handaka?” tanya Manahan.
Aku tidak mau melepaskan anak itu pergi,” jawabnya.
Manahan menjadi semakin heran. Karena itu ia segera berusaha menenangkan hati Bagus Handaka.

Dengan perlahan-lahan ia berkata, “Tenanglah Handaka, jangan kau biarkan perasaanmu meluap-luap. Ada apakah sebenarnya dengan anak itu?”

“Bapak, belumkah Bapak kenal dia?” tanya Handaka.

Manahan menggelengkan kepalanya.

“Semalam aku agak kurang dapat melihat wajah anak muda itu. Juga barangkali setelah tiga tahun aku tidak bertemu, maka baru setelah aku mengingat-ingat agak lama, aku kenal ia kembali,” sambung Bagus Handaka.

“Siapakah dia?” desak Manahan ingin tahu.

“Sawung Sariti, putra Paman Lembu Sora,” jawab Handaka.
Berdesirlah dada Manahan mendengar jawaban itu. Memang sebelumnya ia belum pernah melihat anak itu. Tetapi bagaimanapun, Manahan tidak ingin maksudnya gagal.

Apalagi setelah ia mengetahui bahwa anak itu adalah anak Lembu Sora, keinginannya untuk mengetahui maksud kedatangannya di pedukuhan itu semakin mendesak. Maka itu segera ia berkata, “Bagus Handaka, cobalah kuasai perasaanmu. Dengan bertindak tergesa-gesa barangkali, tidak banyak keuntungannya.”

“Sudah aku katakan bahwa aku ingin mengetahui apakah kedatangannya kemari. Agaknya ia sudah tidak mengenal kau kembali setelah kau menjadi anak sawah dan anak laut. Barangkali kulitmu telah hitam terbakar matahari dan tersiram ombak lautan. Hal itu adalah suatu keuntungan bagimu sehingga usaha kita tidak lekas dapat diketahui. Dengan mengetahui lebih banyak tentang Sawung Sariti itu, bukankah jalanmu menjadi semakin licin…?”

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
255

BAGUS Handaka menekan giginya kuat-kuat. Ia sedang berusaha untuk menenangkan dirinya. Seperti biasa ia tidak pernah berani melanggar perintah dan nasehat gurunya, bagaimanapun nasehat atau perintah itu bertentangan dengan kehendaknya.

Handaka… sambung Manahan, Barangkali permintaanku ini mengecewakan engkau, tetapi dengan sangat aku harapkan bahwa kau dapat memenuhinya.
Handaka menundukkan kepalanya. Dengan penuh ketaatan ia menjawab, Baiklah Bapak, aku selalu berusaha untuk dapat memenuhi nasehat Bapak.

Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan-lahan. Sambil tersenyum ia berkata pula, Nah, sekarang nikmatilah permainan ini. Ingat, kita adalah perantau yang tak berharga. Dua orang ayah-beranak yang malas, yang pergi dari satu tempat, ke lain tempat untuk menuntut belas kasihan orang.
Handaka menganggukkan kepalanya, tetapi ia tidak menjawab. Terkilaslah di dalam otaknya permainan-permainan aneh yang pernah dilakukan oleh gurunya, yang kadang kadang sangat membingungkannya. Kemudian teringat pulalah keanehan orang yang tak dikenal, yang bahkan gurunya pun tak mengenalnya, yang mengajarkannya dengan cara yang sama sekali tak diduga-duganya. Enam malam berturut-turut menyerangnya dengan cara yang berbeda-beda menurut urutan yang teratur.

Apakah setiap orang sakti itu mempunyai cara-cara yang tidak menurut kebiasaan orang-orang lumrah…? pikirnya.

Tetapi ia tidak menanyakan hal itu kepada gurunya.

Sementara itu terjadi pulalah berbagai pembicaraan diantara orang-orang yang berada di pendapa. Pembicaraan mereka mula-mula berkisar pada persoalan-persoalan yang berarti. Tentang sawah, air dan tentang kebiasaan-kebiasaan penduduk pedukuhan itu. Diantara mereka terdengarlah seorang yang tampaknya berasal dari Pamingit, yang bersama-sama dengan Sawung Sariti memberikan beberapa petunjuk mengenai cara-cara mengolah sawah.
Tiba-tiba kemudian terdengarlah anak muda yang ternyata adalah Sawung Sariti itu berkata nyaring, He, Paman Lurah, siapakah dua orang yang duduk di sana itu?

Mendengar sapa itu, semua mata kemudian tertuju kepada Manahan dan Bagus Handaka, yang kemudian kepalanya menjadi semakin tunduk. Dadanya terasa bergelora hebat, namun ia sama sekali tidak berani melanggar pesan gurunya.
Sesaat kemudian terdengarlah Wiradapa menjawab, Mereka adalah Manahan dan Bagus Handaka, yang semalam bermalam di rumahku, Tuan.
O… sahut Sawung Sariti. Untuk apa mereka datang kemari?

Bukankah Tuan yang memerintahkannya? jawab Wiradapa pula.
Terdengarlah Sawung Sariti tertawa. Suaranya terdengar melengking tinggi.

Benar Paman, memang aku yang menyuruhnya kemari. Aku sama sekali tidak senang melihat orang bermalas-malas seperti kedua orang itu.

Mendengar percakapan itu dada Bagus Handaka serasa akan pecah terdesak oleh gelora perasaannya. Ia belum pernah mengalami tanggapan yang sangat menyakitkan hati seperti itu. Ia menjalani semua pahit getir penghidupan dengan senang hati, tetapi tidak untuk direndahkan sedemikian.

Namun dengan tabah ia menelan segala kepahitan itu, sebagai suatu kewajiban.

Karena itu mukanya menjadi merah pengab. Dadanya seolah-olah berdentang dentang oleh pukulan detak jantungnya. Manahan melihat keadaan Bagus Handaka itu dengan penuh pengertian. Sebenarnya ia merasa kasihan kepada anak itu, namun ia harus mengajarinya menahan diri.

Maka dengan lembut ia berbisik, Di dalam perjalanan hidupmu kelak Handaka, banyaklah tekanan-tekanan batin yang lebih dahsyat daripada permainan ini. Karena itu anggaplah kali ini sebagai latihanmu yang masih terlalu ringan.
Kata-kata Manahan itu ternyata besar pengaruhnya. Memang latihan selamanya terasa hebat. Karena itu ia menjadi agak tenang dan menerapkan dirinya dalam suatu keadaan latihan.

Paman Lurah… kembali terdengar suara Sawung Sariti, Pekerjaan apakah yang dapat diberikan kepada orang-orang malas itu?

Lurah Gedangan yang sama sekali tidak mempunyai rencana apapun menjadi agak bingung, maka jawabnya, Terserahlah Tuan, sebab aku tidak memerlukan mereka berdua.
Kembali terdengar Sawung Sariti tertawa nyaring. Tetapi kemudian tampak wajahnya berkerut. Agaknya ia teringat sesuatu yang sangat penting. Tiba-tiba ia berdiri dan mendekati salah seorang pengiringnya. Untuk beberapa saat mereka saling berbisik-bisik. Setelah itu kemudian dengan tersenyum-senyum Sawung Sariti berkata, He orang-orang malas, siapakah namamu?

Manahan memutar duduknya, dan sambil membungkuk hormat ia menjawab, Namaku Manahan, Tuan… dan ini anakku bernama Handaka.

Nama-nama yang bagus, sahutnya, kemudian ia meneruskan, Apakah yang dapat kau kerjakan?

Manahan mengangkat mukanya. Apa saja yang Tuan perintahkan, aku akan mencoba melakukannya.
Sawung Sariti mengangguk-anggukkan kepalanya.

Besok aku mempunyai pekerjaan penting untukmu berdua. Sekarang belum. Tetapi ingat, jangan coba-coba meninggalkan pedukuhan ini. Sebab menurut pikiranku tak ada orang lain yang dapat melakukannya kecuali kalian berdua. Kalau kalian mencoba dengan diam-diam pergi dari pedukuhan ini, maka pasti orang-orangku akan menemukan kalian dan memenggal leher kalian. Mengerti…?

Manahan memandangi wajah anak muda itu dengan penuh pertanyaan. Dengan nada bertanya-tanya ia menjawab, Pekerjaan apakah yang akan Tuan berikan itu. Dan adakah aku mampu melaksanakan?

Kau pasti dapat melakukan, jawabnya bersungguh-sungguh lalu ia meneruskan,

Karena kalian akan melakukan pekerjaan yang penting itu, maka sekarang kalian boleh beristirahat, tidur untuk sehari penuh. Dan jangan takut kelaparan untuk sehari ini. Paman Wiradapa akan memberimu makan sebanyak-banyaknya.

 

256

SEKALI lagi dada Handaka berguncang. Apalagi kalau diingatnya bahwa orang yang mengucapkan kata-kata itu adalah anak pamannya yang telah berkhianat kepada ayahnya.

Tetapi kemudian Bagus Handaka telah dapat menempatkan perasaannya sebaik baiknya, sehingga karena itu hanya suatu tarikan nafas yang dalam yang terdengar.

Nah, orang-orang malas… sambung Sawung Sariti, Sekarang kau boleh pergi. Kau boleh berjalan kemana kau suka, tetapi ingat jangan tinggalkan pedukuhan ini.

Baiklah Tuan, jawab Manahan penuh hormat. Dan kemudian bersama-sama dengan Bagus Handaka mereka meninggalkan halaman kalurahan.

Mereka berjalan begitu saja sepanjang jalan desa tanpa tujuan. Manahan berjalan di depan dengan kepala tunduk, sedang di belakangnya Bagus Handaka mengikutinya dengan kepala yang dipenuhi teka-teki.

Kemana kita pergi Bapak? tanya Handaka kemudian.
Manahan menoleh, dan kemudian memperlambat jalannya sampai Handaka berjalan di sisinya. Kemudian ia menjawab, Asal kita berjalan Handaka. Melihat sawah-sawah, ladang serta lereng-lereng pegunungan.


Apakah kira-kira yang harus kita kerjakan besok pagi?
tanya Handaka pula.

Entahlah, jawab Manahan. Agaknya bukan pekerjaan yang menyenangkan.
Setelah itu mereka berdua bersama-sama berdiam diri. Tetapi kaki mereka melangkah terus sepanjang jalan yang kemudian sampai ke daerah persawahan. Batang-batang jagung yang sudah setinggi lutut, tampak hijau segar di bawah sinar matahari pagi.

Burung liar terbang bertebaran mencari mangsanya. Dan di sana sini beberapa orang telah mulai mengerjakan sawahnya. Menyiangi tanamannya dan mengalirkan air dari parit-parit. Meskipun apa yang mereka lakukan adalah cara-cara yang sederhana sekali, namun karena tanah yang subur maka tanaman mereka tampak subur pula.

Manahan dan Handaka berjalan saja berkeliling tanpa tujuan. Ketika kemudian matahari semakin tinggi, mereka berdua beristirahat di bawah pohon rindang di simpang jalan. Selama itu tidak juga banyak yang mereka percakapan, karena pikiran mereka masing-masing dipenuhi oleh berbagai masalah yang melingkar-lingkar.

Matahari merayap-rayap semakin tinggi di kaki langit. Manahan dan Handaka melihat iring-iringan orang berkuda keluar dari pedukuhan. Mereka adalah Sawung Sariti dengan tiga atau empat pengawalnya, Pak Lurah dan beberapa orang lagi. Agaknya mereka akan menempuh suatu perjalanan yang agak jauh, meskipun pasti pada hari itu juga mereka akan kembali ke pedukuhan itu.

Wiradapa tidak ikut dengan mereka, bisik Manahan.

Handaka menganggukkan kepalanya. Tetapi, ia tidak menjawab. Manahan pun tidak melanjutkan kata-katanya pula. Kembali mereka tenggelam dalam angan-angan mereka masing-masing.
Tetapi sejenak kemudian mereka melihat Wiradapa berjalan keluar lewat sudut desanya. Sebentar ia berhenti sambil memperhatikan titik-titik yang semakin lama semakin jauh sambil meninggalkan hamburan debu putih.

Kemudian setelah titik-titik itu hilang di kelokan jalan, kembali Wiradapa memandang berkeliling. Tiba-tiba matanya terhenti pada Manahan dan Handaka yang masih duduk di bawah pohon di simpang jalan. Tampaklah orang itu tersenyum dan kemudian ia melangkah mendekat.

Tuan tidak ikut serta dengan rombongan itu? tanya Manahan sambil menghormat.
Wiradapa menggelengkan kepala sambil menjawab, Tidak Ki Sanak, aku lebih senang tinggal di rumah.
Kemanakah mereka pergi? tanya Manahan pula.

Entahlah, jawab Wiradapa. Tetapi di balik kata-katanya itu Manahan menangkap sesuatu yang tidak wajar. Namun ia sama sekali tidak mendesaknya.

Siapakah mereka itu Tuan? tanya Manahan mengalihkan persoalan.

Adakah mereka bukan penduduk pedukuhan ini?

Bukan Ki Sanak, jawab Wiradapa sambil duduk di sisi Manahan.

Mereka bukan penduduk pedukuhan ini. Menurut keterangan mereka, mereka datang dari Banyubiru. Anak muda itu adalah putra kepala daerah perdikan Banyubiru dan Pamingit, yang menurut keterangan mereka, adalah bekas daerah Pangrantunan lama.
Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan ekor matanya ia melihat wajah Bagus Handaka yang berubah menjadi merah. Untunglah bahwa anak itu menundukkan wajahnya sehingga perubahan itu tidaklah begitu nampak.

Anak muda itu bernama Sawung Sariti, lanjut Wiradapa, Dan orang-orang itu adalah pengawal-pengawal mereka dari Pamingit.
Apakah keperluan mereka datang kemari? tanya Manahan pula.

Wiradapa tersenyum. Ia memandang Manahan dengan wajah yang lucu.

Suatu keperluan yang penting bagi orang-orang yang punya cita-cita, jawabnya.
Manahan menarik nafas. Ia sadar akan permainannya. Memang bagi orang yang pekerjaaannya merantau dari satu desa ke desa yang lain, pertanyaannya agak terlampau maju. Meskipun demikian, terdorong oleh keinginan untuk mengetahui lebih lanjut, ia bertanya pula, Tuan, apakah cita-cita seseorang yang telah menjabat sebagai kepala daerah perdikan?
Kembali Wiradapa tersenyum.

Banyak juga yang ingin kau ketahui Ki Sanak. Memang barangkali bagimu apa yang telah kau capai hari ini telah cukup tanpa memikirkan masa depan. Tetapi justru bagi orang-orang yang semakin tinggi pangkatnya, semakin tinggi cita-citanya. Demikian juga Anakmas Sawung Sariti. Bukankah diatas kepala perdikan masih banyak jabatan penting? Jabatan-jabatan istana, misalnya. Sedang jabatan istana yang paling tinggi adalah raja.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
257

RAJA…? ulang Manahan. Menurut pendengaranku, raja adalah jabatan turun- temurun.
He, kau tahu juga tentang raja?
potong Wiradapa, kemudian ia melanjutkan, Tetapi tidak selamanya demikian.
Manahan mendengarkan kata-kata Wiradapa dengan sungguh sungguh. Ia mengharap agar dengan demikian Wiradapa sampai pada keterangan yang sejauh-jauhnya.

Tuan…, adakah orang yang lain kecuali keturunannya boleh menjadi raja? tanya Manahan pula.

Wiradapa tertawa geli. Memang dapat terjadi demikian.

Adakah Ki Sanak ingin menjadi raja?

Manahan tertawa pula.

Siapakah yang tidak mau menjadi raja? Apapun yang dikehendaki selalu ada. Makanan lezat serta minuman segar. Pakaian gemerlapan serta perhiasan yang cemerlang.

Wiradapa tidak dapat menahan tertawanya, sampai tubuhnya berguncang-guncang. Memang barangkali kepentinganmu, apabila kau menjadi raja, adalah makanan lezat serta minuman segar. Tetapi kau tidak pernah berpikir tentang pekerjaan serta kewajibannya.

Apakah pekerjaan raja? tanya Manahan.

Banyak sekali, jawab Wiradapa.

Banyak sekali dan tidak menyenangkan. Meskipun demikian banyak orang yang ingin menjabatnya. Termasuk Anakmas Sawung Sariti.

Tetapi kenapa Tuan muda yang ingin menjadi raja itu datang kemari. Adakah ia ingin menjadi raja di sini? sahut Manahan.

Sekali lagi Wiradapa tertawa.

Baiklah aku ceriterakan kepadamu, barangkali perlu kau ceriterakan kelak buat anak cucumu sebagai pengetahuan. Mungkin anak cucumu kelak tidak lagi menjadi perantau seperti Ki Sanak ini. Untuk menjadi raja kadang-kadang diperlukan benda-benda pusaka sebagai sipat kandel, atau sebagai wadah untuk menerima wahyu keraton. Dengan memiliki pusaka-pusaka tertentu, orang menjadi kuat menerima wahyu. Tanpa pusaka itu, mungkin seseorang yang tidak kuat menerima wahyu keraton, malahan dapat menjadi gila. Misalnya, setelah ia menjadi raja, mempergunakan kekuasaannya sewenang-wenang, atau menghambur-hamburkan uang perbendaharaan, sehingga akhirnya ia jatuh dari jabatannya itu dengan berbagai cara. Nah, sekarang Anakmas Sawung Sariti sedang bersiap-siap untuk mendapatkan pusaka istana yang akan menjadi sipat kandel. Pusaka itu berupa dua keris yang maha sakti, yang bernama Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Mendengar keterangan itu sesuatu terasa berdesir di dada Manahan, dan kemudian jantungnya terasa berdetak lebih cepat. Juga Bagus Handaka terkejut sampai ia mengangkat mukanya. Untunglah bahwa Manahan masih dapat mengendalikan diri, sehingga perasaannya tidak berkesan pada wajahnya. Demikian juga Bagus Handaka, cepat-cepat menundukkan mukanya kembali.

Jadi kedatangan mereka kemari, adalah dalam usaha mereka menemukan pusaka pusaka itu, sambung Wiradapa.

Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan sikap yang bodoh ia bertanya, Adakah kedua keris itu di sini?

Wiradapa menggelengkan kepala, lalu jawabnya

Tak seorangpun diantara kami di sini yang pernah melihat keris-keris itu, bahkan mendengar namanya pun baru kali ini.

Melihat cara mengatakannya, Manahan percaya bahwa Wiradapa telah berkata sebenarnya.

Karena itu ia menjadi kecewa, sebab ia mengharapkan setidak-tidaknya petunjuk di mana kira-kira kedua keris itu sekarang.

Tetapi… sambung Wiradapa, Di sebelah selatan, ada sebuah padepokan yang disebut orang Padepokan Karang Tumaritis atau disebut juga Karangdempel. Di sana tinggal seorang tua yang saleh. Yang suka menolong sesama. Bahkan ia terkenal dengan kepandaiannya mengobati segala macam penyakit. Ke sanalah Anakmas Sawung Sariti tadi pergi, menghadap orang tua yang menamakan dirinya Panembahan Ismoyo. Konon orang percaya bahwa orang tua itu titisan Dewa Ismoyo yang ditugaskan untuk menunggui pertapaannya. Kemudian seperti kepada diri sendiri ia meneruskan, Tetapi mudah-mudahan seandainya beliau tahu, janganlah beliau memberitahukan kepadanya.
Kata-kata yang terakhir itu justru menyentuh perasaan Manahan serta meninggalkan kesan yang aneh. Kalau sampai orang seperti Wiradapa yang baik hati itu mengucapkan kata-kata yang demikian, pastilah ada sebabnya yang cukup penting.

Dan tiba-tiba tanpa sadar ia bertanya, Kenapa demikian Tuan?

Wiradapa tersadar bahwa ia telah mengucapkan kata-kata yang sebenarnya tidak perlu. Segera ia mencoba memperbaiki kesalahannya, katanya sambil tersenyum hambar, Eh, mudah-mudahan kepadakulah Panembahan Ismoyo kelak memberitahukan.
Manahan sadar sesadar-sadarnya, bahwa Wiradapa ingin bergurau untuk menyembunyikan keterlanjurannya. Dan karena itu iapun segera menyesuaikan diri untuk menyenangkan hati Wiradapa.

Sambil tertawa-tawa Manahan menyahut, Kalau Tuan kelak mendapatkan pusaka-pusaka itu, serta kemudian menjadi raja, bukankah Tuan akan sudi mengambil kami berdua sebagai pekatik?

Mendengar kata-kata Manahan, Wiradapa tertawa, lalu jawabnya, Bukankah kau mau berdoa untukku?
Tentu, Tuan…, tentu!
jawab Manahan.
Wiradapa menarik nafas panjang. Mendadak saja dahinya tampak berkerut, katanya perlahan-lahan, Aku tidak boleh mimpi demikian, asal desa ini dapat aku selamatkan dari noda, aku telah merasa senang.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
258

SEKALI lagi perasaan Manahan tersentuh. Namun ia tidak bertanya apa-apa. Sehingga kemudian Wiradapa berdiri sambil berkata, Ah, lebih baik aku pergi dahulu Ki Sanak, untuk menengok sawah. Kalau Ki Sanak sudah lelah duduk-duduk di sini, pulanglah. Ki Sanak dapat beristirahat di rumah. Bukankah besok Ki Sanak akan mendapat pekerjaan penting?

Karena itu pula maka Manahan teringat untuk menanyakan pekerjaan apakah kira-kira yang akan dilakukannya besok. Tuan…, apakah yang harus aku kerjakan besok?
Wiradapa menggelengkan kepalanya, Entahlah. Dan setelah itu ia pun segera melangkah pergi.

Dari percakapan pendek itu Manahan dapat mengambil banyak kesimpulan. Pasti terjadi sesuatu yang kurang wajar di pedukuhan kecil dan sepi ini. Mungkin pula telah terjadi beberapa pertentangan pendapat diantara mereka.

Setelah Wiradapa agak jauh, berkatalah Manahan kepada Bagus Handaka, Handaka…, bukankah dengan permainan ini banyak yang dapat kita ketahui?
Handaka mengangguk, dan sambil tersenyum ia menjawab, Permainan yang sulit, Bapak.
Manahan tertawa mendengar jawaban Handaka, katanya melanjutkan, Semakin sulit permainan ini, semakin banyak hal yang kita dengar. Apalagi besok. Mungkin kita akan mendapat pekerjaan yang menyenangkan sekali.
Mudah-mudahan Bapak, mudah-mudahan bukan pekerjaan yang sulit, jawab Handaka.

Karena itu… sahut Manahan, Marilah kita beristirahat untuk menyiapkan diri menghadapi pekerjaan kita besok.

Handaka tidak menjawab, dan ketika kemudian Manahan berdiri dan melangkah, Handaka pun mengikutinya. Mereka dengan perlahan-lahan, tepat seperti dua orang pemalas, berjalan di sepanjang jalan yang membujur diantara persawahan, dimana tampak banyak orang laki-laki perempuan bekerja keras untuk makan mereka sehari-hari.

Beberapa pasang mata memandang Manahan dan Handaka dengan pandangan yang aneh. Tetapi Handaka dan Manahan sama sekali tidak menghiraukan lagi. Pikiran mereka sedang dicengkam oleh pertanyaan yang melingkar di seputar hari besok. Apakah kira-kira yang harus dikerjakan.

Siang hari itu, Manahan dan Handaka duduk-duduk saja di dalam ruangan mereka. Hanya ketika matahari condong tanpa ada yang menyuruhnya, Handaka mengambil air untuk mengisi jeding dan padasan.

Setelah sembahyang Isa, kembali mereka menyekap diri sambil bermain macanan.

Sesaat kemudian setelah malam semakin dalam, Manahan dan Handaka pun segera menutup pintu ruangnya. Mereka sama sekali tidak bernafsu untuk keluar.

Dalam kesempatan yang demikian Handaka lebih senang belajar berbagai-bagai ilmu dari gurunya, yang mengajarinya membaca dan menulis pula. Kadang-kadang Handaka minta gurunya berceritera mengenai berbagai ilmu pengetahuan yang mungkin akan sangat berguna kelak.

Demikian juga malam itu, Manahan menceriterakan berbagai hal dari lontar-lontar yang pernah dibacanya sehingga tidak terasa malam menjadi semakin jauh menukik ke pusatnya.

Tetapi tiba-tiba mereka terganggu oleh suara telapak-telapak kaki memasuki halaman. Kemudian terdengar suara memanggil dari halaman.

Adi Wiradapa…, sudahkah Adi tidur?

Kemudian terdengar jawaban dari dalam, Belum Kakang, marilah, silahkan.
Agaknya Lurah pedukuhan itu dengan pengiringnya datang berkunjung. Setelah rombongan itu masuk dan dipersilahkan duduk, terdengarlah mereka bercakap-cakap. Mula-mula perlahan-lahan tetapi lama kelamaan menjadi semakin keras. Manahan dan Bagus Handaka segera ikut memperhatikan percakapan itu pula.
Kakang Lurah…. Terdengar suara Wiradapa. Aku tidak akan turut mempertanggungjawabkan perbuatan terkutuk itu.
Adi Wiradapa… jawab lurah itu, Sudah berpuluh tahun kita bekerja bersama-sama. Sekarang kenapa Adi mau mengubah naluri itu?

Aku hanya mau bekerja sewajarnya, jawab Wiradapa.
Tetapi dengan pekerjaan itu, kita akan mendapat kesempatan sebaik-baiknya untuk menjadi kaya raya, sahut lurah pedukuhan itu.
Hem…. Wiradapa menggeram, Aku tidak mau pedukuhan ini ternoda. Pedukuhan yang sudah berpuluh-puluh tahun kita bina, sekarang akan kita korbankan untuk keperluan yang sesat.
Jangan berlagak seperti malaekat. Apakah kesalahan itu dapat ditimpakan kepada kita? Kalau aku mengajak Adi Wiradapa untuk turut serta dalam pekerjaan ini, adalah karena Adi Wiradapa akan banyak memperingan pekerjaan kami dan akan kami bagi hadiah yang kita terima bersama-sama. Sebab aku tidak ingin untuk mendapatkannya sendiri.

Aku tidak mimpi untuk menerima hadiah, Kakang, potong Wiradapa.
Hem, jangan menyesal kalau terjadi sesuatu. Aku telah menyiapkan orang-orangku sendiri. Tanpa Adi, pekerjaan ini akan selesai dengan baik. Tetapi jangan coba menghalangi aku.


Jangan menakut-nakuti aku dengan ancaman,
sahut Widarapa.

Aku sudah mengenal Kakang Lurah, dan Kakang Lurah sudah lama pula mengenal aku.

Lurah pedukuhan itu tidak menjawab, tetapi terdengar ia menggeram marah.

Kemudian terdengar langkahnya pergi disusul oleh langkah menjauhi.

Percakapan itu sangat menarik perhatian Manahan dan Bagus Handaka. Tetapi sayang bahwa dari percakapan itu, tak ada yang menunjukkan tindakan apa yang akan dilakukan oleh lurah itu.

Apakah yang akan mereka lakukan Bapak? tanya Bagus Handaka berbisik.
Manahan menggelengkan kepala.

Entahlah, jawabnya.
Adakah lurah itu akan menyerang Sawung Sariti? tanya Handaka seterusnya.
Pasti tidak, jawab Manahan. Kalau demikian dari siapa lurah itu mengharapkan hadiah?

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
259

HANDAKA mengangguk-angguk. Tetapi pikirannya menjadi bertambah kalut.

Mungkin pekerjaan kita besok ada hubungannya dengan peristiwa ini, kata Manahan kemudian.

Ya, mungkin demikian Bapak, sahut Handaka.

Setelah itu kembali mereka berdiam diri, mereka-reka dan menebak-nebak apakah yang kira-kira akan terjadi.

Dalam pada itu terdengarlah Wiradapa menutup pintu dan kemudian terdengar ia berkata kepada istrinya, Nyai, tidurlah di ruang belakang. Jangan pedulikan apa yang terjadi.

Ada apakah sebenarnya Kakang? Dan kenapa Kakang tidak mau bekerja sama dengan Kakang Lurah? tanya istrinya.

Tak ada apa-apa. Tetapi sekali lagi, jangan pedulikan apa yang terjadi, jawab Wiradapa.
Tetapi…? Terdengar istrinya masih akan bertanya.

Sudahlah Nyai, potong suaminya, Tak ada apa-apa yang terjadi.

Kemudian istri Wiradapa tidak berkata apa-apa lagi. Kemudian terdengar ia pergi ke ruang belakang, dekat dengan ruang Manahan.

Setelah itu terdengar gemerincing senjata. Agaknya Wiradapa bersiap-siap untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Manahan dan Handaka menjadi semakin bertanya-tanya di dalam hati. Begitu penting agaknya persoalan yang dihadapi oleh Wiradapa, sehingga ia terpaksa menyiapkan senjata, untuk menghadapi orang yang telah berpuluh tahun bekerja bersama-sama.
Kemudian kembali malam ditelan sepi. Yang terdengar hanyalah suara jengkerik dan angkup nangka bercuit-cuit. Tetapi dalam setiap dada orang-orang di dalam rumah itu, berdeburan dengan riuhnya, kekhawatiran kecemasan dan keinginan tahu tentang apa yang bakal terjadi.

Sampai tengah malam, kesepian malam berjalan tanpa terganggu. Manahan dan Handaka sudah berbaring di pembaringan mereka. Namun mereka sama sekali tidak meninggalkan kewaspadaan. Meskipun mereka tidak berjanji, namun di dalam hati mereka masing-masing tersimpan suatu keinginan untuk membantu Wiradapa kalau kemudian terjadi sesuatu, apabila dianggap perlu. Dengan diam-diam Manahan meraba-raba dinding. Kalau terpaksa dinding kayu dan bambu itu harus dijebolnya untuk dapat dengan segera sampai di ruang dalam.

Baru ketika tengah malam itu telah lewat, terjadilah sesuatu. Beberapa orang terdengar hilir-mudik di halaman, bahkan beberapa diantaranya telah berada di halaman belakang.

Hati Manahan dan Handaka kemudian berdebar-debar pula. Karena itu, meskipun mereka masih tetap berbaring, tetapi siap untuk melakukan setiap gerakan yang perlu. Apalagi ketika dengan telinga yang tajam mereka mendengar ada nafas orang dekat di muka pintu ruang, malahan mereka melihat pula dinding ruang itu bergerak-gerak.

Pastilah bahwa ada orang yang sedang mengintip. Namun demikian mereka masih tetap berbaring, sehingga tidak menimbulkan suatu kecurigaan.

Tetapi sampai beberapa lama, mereka sama sekali tak mengalami sesuatu. Meskipun langkah-langkah di halaman masih saja terdengar, namun agaknya mereka, yang hilir-mudik itu tak berbuat lain kecuali berjalan kesana-kemari. Sehingga dengan demikian Manahan menduga bahwa orang-orang itu hanyalah ditugaskan untuk mengawasi Wiradapa. Sedang Wiradapa agaknya tidak mau membuat perkara. Ia masih tetap di dalam rumahnya, meskipun masih juga kadang-kadang terdengar suara senjatanya yang agaknya tak lepas dari tangannya.

Dengan demikian rumah itu diliputi oleh ketegangan yang semakin memuncak.

Manahan dan Bagus Handaka sama sekali tidak mencemaskan keadaan mereka, karena mereka merasa cukup mampu untuk menjaga diri. Tetapi mereka menjadi tegang pula, karena teka-teki yang mengetuk-ngetuk perasaan mereka terus-menerus sejak siang tadi. Mereka ingin teka-teki itu segera terpecahkan.

Tetapi ketika malam sudah semakin dalam, terdengarlah hiruk-pikuk di kejauhan.

Segera Manahan dan Bagus Handaka bangkit untuk memperhatikan suara-suara itu, yang semakin lama terdengar semakin riuh. Dengan pengetahuannya yang tinggi, Manahan segera mengetahui bahwa keributan itu adalah keributan pertempuran. Tetapi ia tidak dapat menebak pihak-pihak manakah yang sedang bertempur itu. Mungkin pihak penduduk pedukuhan itu di bawah pimpinan lurah mereka sedang menyerang Sawung Sariti dengan para pengikutnya.

Kalau demikian, maka besar kemungkinannya laskar Gedangan akan dimusnahkan. Tetapi kalau demikian halnya, lalu siapakah yang berdiri di belakang lurah Gedangan itu, yang menjanjikan hadiah besar?
Sesaat kemudian tiba-tiba terdengar Wiradapa menggeram, lalu berteriak, Siapakah di luar…?

Terdengar suara tertawa pendek. Kemudian jawabnya, Kau tak perlu mengenal aku, Wiradapa.

Baik, aku tak perlu mengenal kau, sahut Wiradapa. Tapi hentikan pengkhianatan itu.

Manahan dan Bagus Handaka berdebar-debar dan cemas mendengar percakapan itu, tetapi juga terkejut.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
260

TERNYATA yang berada di halaman bukanlah laskar Gedangan. Dan karena kekalutan itu Manahan dan Bagus Handaka menjadi ragu-ragu untuk berpihak.

Kalau kalian tak mau menghentikan pengkhianatan itu, aku yang akan berbuat, terdengar kembali Wiradapa berteriak.

Dan kembali terdengar tawa menyeramkan di halaman.

Kau jangan berlagak Wiradapa. Seandainya kau memiliki kesaktian sekalipun kau tak akan memenangkan kami berenam. Karena itu, tetaplah kau di rumahmu sampai ada keputusan hukuman apa yang harus kau jalani besok.

Gila…! potong Wiradapa. Kau kira aku sebangsa cacing yang tak mampu berbuat apa-apa. Cobalah kalian, meskipun berenam memasuki rumahku ini. Jangan harap dapat keluar lagi dengan selamat.

Luar biasa, teriak orang lain dari halaman. Sayang kami tak mendapat perintah untuk memasukinya.
Wiradapa tidak menjawab. Tetapi ia menggeram penuh kemarahan. Kemudian terdengar langkahnya hilir-mudik di dalam rumahnya.

Kegelisahan di rumah itu tidak saja mencengkam hati Wiradapa, tetapi juga merayap-rayap di kepala Manahan dan Bagus Handaka. Sehingga tanpa disengaja Manahanpun kemudian bangkit dan berjalan pula hilir mudik di dalam ruangan, sedang Bagus Handaka menjadi asik bermain-main dengan ujung tombaknya yang keramat, Kyai Bancak.

Ternyata pertempuran yang hiruk pikuk itu tak berlangsung lama. Sesaat kemudian suara itu telah lenyap. Tetapi justru karena itu Manahan jadi curiga. Ia mendapat firasat bahwa ada suatu permainan yang kotor di balik segala peristiwa ini.

Ia kemudian teringat akan kelicikan Lembu Sora. Tidaklah mustahil bahwa anaknya pun akan berbuat demikian.

Belum lagi Manahan mendapat suatu perkiraan apa-apa, terdengarlah beberapa ekor kuda berderap memasuki halaman, langsung mengepung rumah. Lamat-lamat terdengar suara Wiradapa marah.

Setan. Orang itu benar-benar cari perkara.

Kemudian disusul sebuah teriakan di halaman, Masih adakah tikus itu di dalam?
Masih, Tuan,
jawab yang lain dari halaman pula.
Bagus, ia harus bertanggungjawab atas peristiwa itu, sahut yang tadi.
Lalu terdengarlah beberapa orang berloncatan turun, disusul oleh ketukan pada pintu rumah Wiradapa. He, Wiradapa. Bukalah pintu.
Siapakah kau?
teriak Wiradapa dari dalam.

Apa pedulimu. Tak ada kesempatan untuk bermanis-manis dan sapa-menyapa. Buka pintu dan ikuti aku menghadap Anakmas Sawung Sariti, jawab yang di luar.

Aku bukan pegawainya. Buat apa aku menghadap? sahut Wiradapa dengan beraninya.

Mendengar jawaban itu Manahan dan Bagus Handaka saling berpandangan. Agaknya Wiradapa tidak berdiri di pihak Sawung Sariti. Tiba-tiba perasaan mereka jadi lega. Kalau sampai mereka terpaksa melibatkan diri, mereka tidak perlu segan-segan. Sebab mereka itu pasti tidak akan membantu anak Lembu Sora itu.

Sementara itu terdengarlah beberapa orang tertawa berderai. Dan kembali terdengar seseorang berkata, Kau terlalu sombong Wiradapa, apakah kau kira pintu rumahmu berlapis baja? Dan kau sendiri bertulang besi, sehingga berani membantah perintah ini?
Aku kira kau juga belum bertulang besi, jawab Wiradapa dengan beraninya. Karena itu buat apa aku takut? Cobalah pecahkan pintu. Aku ingin melihat kalau kau berani.

Agaknya yang di luar pun jadi ragu. Terdengarlah ia mengumpat dan kemudian berkata, Wiradapa, kalau kau jantan, keluarlah.

Sekarang terdengar suara Wiradapa menghina, Jangan bicara tentang kejantanan. Kalau kau datang sendiri sebagai jantan sejati, akan aku sambut di halaman dengan penuh kejantanan.
Kembali terdengar orang itu mengumpat-umpat. Kemudian berkatalah ia kepada anak buahnya, Biarlah ia hidup sampai esok pagi. Jagalah jangan sampai lolos. Juga orang-orang malas yang tidur di ruang belakang. Ada kerja buat mereka esok.
Baik Kakang, jawab yang lain.

Setelah itu terdengar derap kuda menjauh.

Tetapi tidak beberapa lama kemudian terdengar derap itu mendekat kembali. Bahkan lebih banyak lagi. Ketika kuda itu telah berhenti di halaman, terdengar suara yang sudah dikenal oleh Manahan dan Bagus Handaka. Yaitu suara Sawung Sariti.

Wiradapa, kau benar-benar tidak mau keluar? Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Kau mengkhianati kami, sehingga beberapa orang kami jadi korban.
Jangan coba putar-balikkan keadaan,
bantah Wiradapa dari dalam.
Bagus, kalau kau tak mau keluar, aku suruh bakar rumahmu ini, ancam Sawung Sariti, maka musnahlah Wiradapa sekeluarga.

Gila! teriak Wiradapa.

Begitukah cara putra kepala daerah perdikan yang besar memaksakan kehendaknya kepada orang lain?

Terdengar Sawung Sariti tertawa dengan nada yang tinggi. Kemudian katanya, Aku tidak perduli. Keluarlah. Rumah dan keluargamu akan selamat. Mungkin kau juga akan selamat kalau ternyata kau tak bersalah. Juga suruh orang-orang malas peliharaanmu itu pergi bersama kau. Ada pekerjaan untuknya.

Kemudian suasana dicengkam oleh kesepian. Bagus Handaka memandang Manahan dengan penuh pertanyaan. Hal itu diketahui oleh Manahan, sehingga terdengar ia berbisik, Kita ikuti mereka Handaka, Jaga dirimu baik-baik. Agaknya pada suatu saat kita harus bertindak.
Handaka mengangguk, ketika bersamaan dengan itu terdengar langkah menuju ke ruangan itu. Sesaat kemudian terdengar orang membentak-bentak, Ayo keluar! Keluar…!

 

261

SEKALI lagi Handaka memandang wajah Manahan yang tetap tenang, seperti air di telaga yang dilindungi oleh gunung-gunung dari gangguan angin. Ketika Manahan menganggukkan kepalanya, Handakapun berdiri, lalu bersama-sama melangkah ke arah pintu. Demikian pintu terbuka, menyerbulah beberapa orang masuk. Manahan dan Handaka segera didorong keluar dengan bentakan-bentakan yang kasar.

Di luar, gelap malam masih membalut seluruh pedukuhan kecil yang sepi itu. Namun saat itu digemparkan oleh kedatangan tamu-tamu dari Banyubiru yang agaknya membuat keributan.

Kemudian mereka digiring ke halaman depan, dan di sana ternyata Wiradapa pun terpaksa keluar rumah pula. Ia masih memperhitungkan keselamatan keluarganya, sehingga ketika rumahnya diancam akan dibakar, terpaksa ia mengambil keputusan lain.

Dengan dikawal kuat, mereka bertiga segera dibawa ke kalurahan. Sawung Sariti, dengan naik kuda, berlari mendahului.

Sampai di pendapa kelurahan, Manahan melihat beberapa orang bersenjata siap berjaga-jaga. Nampaknya mereka adalah gabungan dari laskar pedukuhan itu bersama-sama dengan Laskar Pamingit. Sedang diantara mereka tidak tampak seorang pun dari Banyubiru. Manahan yang tajam pandangannya, segera memperhitungkan keadaan itu.

Wiradapa kemudian sebagai seorang pesakitan dihadapkan kepada Sawung Sariti yang duduk di samping lurah pedukuhan itu.

Wiradapa… kata Sawung Sariti dengan lagak seorang hakim.

Sadarkah kau akan segala perbuatanmu?

Wiradapa memandang Sawung Sariti dengan penuh kebencian. Aku berbuat dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab untuk kebaikan nama pedukuhan yang telah aku bina berpuluh tahun.

Tutup mulutmu! bentak Sawung Sariti, Jangan coba berkata yang bukan-bukan. Aku bertanya dan minta pertanggungjawabanmu atas kematian orangku yang paling baik. Bukankah kau telah membuat gerombolan untuk merampok kami?
Wiradapa menggeram marah.

Setan pun tak akan percaya ocehanmu, jawabnya.
Sawung Sariti menjadi marah sekali. Dengan nada yang tinggi ia berkata hampir menjerit, Widarapa. Kau telah menghina rombongan kami. Apakah kau kira bahwa kami tak mampu bertindak? Dengarlah baik-baik. Rombongan kami dengan kekuatan cukup akan dapat memusnahkan seluruh pedukuhan ini. Tetapi kami tidak akan berbuat demikian. Kami tahu bahwa tidak seluruh penduduk ini bersalah, ternyata bahkan ada beberapa orang yang membantu kami. Dan aku akan berterima kasih kepada mereka itu. Sekarang katakan kepada kami siapakah yang turut dalam penyerbuan itu. Atau batangkali kau minta bantuan kepada salah satu gerombolan di sekitar daerah ini? Malahan mungkin dua orang yang kau sebut perantau malas itu adalah anggota gerombolan pula

Mata Wiradapa menjadi menyala-nyala. Dengan gigi gemeretak ia menyahut, Jangan banyak bicara. Apakah sebenarnya maksudmu? Membunuh aku atas permintaan lurah pengecut itu, supaya aku tidak selalu membayanginya? Aku menolak turut dalam permainan gila-gilaan itu, tetapi agaknya lurah yang tamak itu takut aku membuka rahasia.

Diam! bentak lurah yang sejak tadi berdiam diri.

Kau mau menyeret orang lain masuk ke jurang yang telah kau gali sendiri?

Wiradapa tertawa rendah, Pengecut!

Kau pengecut, sahut Sawung Sariti. Nah rakyat Gedangan…. Pedukuhanmu telah dinodai oleh Wiradapa. Untunglah bahwa aku tidak memusnahkan kalian. Tetapi aku menuntut kesetiaan kalian pada pedukuhanmu ini. Apakah yang dapat kau lakukan untuk membuktikan itu? Sedang sekarang di hadapanmu berdiri seorang pengkhianat.

Akibat kata-kata Sawung Sariti itu dalam sekali. Segera, semua mata orang yang hadir di pendapa tertuju kepada Wiradapa. Wajah-wajah itu kemudian menjadi semakin tegang, semakin tegang, disusul kata-kata lurah mereka, Atas nama pimpinanmu, bertindaklah.

Kata-kata itu merupakan aba-aba yang serentak menggerakkan orang-orang Gedangan yang berdiri di pendapa itu. Segera mereka melangkah maju dengan senjata di tangan siap untuk membunuh Wiradapa.

Manahan terkejut menyaksikan peristiwa itu. Segera ia teringat bagaimana ia sendiri pernah mengalami fitnah yang dituduhkan oleh Lembu Sora di Banyubiru. Untunglah pada saat itu Gajah Sora sempat mencegahnya. Tetapi kali ini, pimpinan mereka justru berdiri di pihak Sawung Sariti. Maka segera ia menggamit Bagus Handaka yang segera dapat menanggapi.

Maka berbisiklah Manahan, Handaka, kita bebaskan Wiradapa. Tetapi aku tetap ingin mengetahui siapakah yang terbunuh diantara rombongan Sawung Sariti. Karena itu marilah kita menarik perhatian mereka dengan melarikan diri. Tetapi ingat, kita harus tertangkap.

Lalu apakah mereka tidak akan membunuh kita? tanya Handaka.
Tidak, sebab ada sesuatu yang harus kita lakukan. Mungkin sesuatu yang sangat rahasia. Baru sesudah itu kita akan dibunuh, jawab Manahan.

Bagus Handaka menarik nafas. Tugas itu sebenarnya sangat berat dan berbahaya. Manahan dapat membaca perasaan Handaka itu, namun ia hanya tersenyum. Ketika orang-orang di pendapa sudah semakin ribut, tiba-tiba meloncatlah Manahan melarikan diri diikuti oleh Bagus Handaka. Tetapi mereka sama sekali tidak berusaha untuk bersembunyi. Dengan ketolol-tololan mereka berlari sepanjang jalan pedukuhan.

Melihat Manahan dan Bagus Handaka lari, beberapa orang berteriak-teriak memanggil, dan beberapa orang yang cepat berpikir segera mengejarnya. Perhatian seluruh isi pendapa kemudian terpusat kepada Manahan dan anaknya yang sedang berusaha melarikan diri.

Tangkap mereka… teriak Sawung Sariti.

 

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
262

TETAPI agaknya ia tidak begitu percaya kepada anak buahnya, sehingga ia sendiri kemudian melompat dengan tangkasnya, dan seperti anak panah ia terbang mendahului orang-orang yang telah lebih dahulu mengejar Manahan dan Handaka.
Manahan dan Handaka yang memang tidak benar-benar akan melarikan diri, sengaja memperlambat langkah mereka, setelah cukup jarak yang mereka tempuh untuk memberi kesempatan kepada Wiradapa melenyapkan dirinya. Tetapi telinga Manahan segera menangkap langkah yang sangat cekatan menyusulnya. Dengan agak terkejut Manahan menoleh. Dan dengan kagum ia melihat Sawung Sariti menghambur ke arahnya.

Berhenti! teriak anak muda itu.

Manahan dan Bagus Handaka masih berpura-pura lari. Namun dalam hati Manahan dihinggapi oleh suatu pertanyaan baru. Alangkah hebatnya anak itu. Menilik gerak serta langkahnya, agaknya Sawung Sariti telah memiliki ilmu yang cukup tinggi.

Sebentar kemudian anak muda itu telah dapat menyusul Manahan. Tangannya segera menyambar baju perantau yang malang itu, sedang tangannya yang lain terayun deras ke arah rahang Manahan. Manahan sama sekali tidak berusaha mengelak ketika sebuah pukulan yang keras mengenainya. Dengan keras ia terlontar ke belakang dan akhirnya ia jatuh berguling-guling sambil berteriak-teriak, Ampun Tuan Muda…, ampun.

Tetapi dalam pada itu ia dapat mengukur sampai dimana kekuatan Sawung Sariti, yang benar-benar membuatnya heran. Tenaga anak muda itu benar-benar mengagumkan. Untunglah bahwa yang dikenainya adalah Manahan. Kalau saja Manahan benar-benar seorang perantau, maka Sawung Sariti telah membuat suatu kesalahan, sebab kepala perantau itu pasti akan retak dibuatnya.

Sesaat ia telah mencoba-coba membanding-bandingkan anak itu dengan Bagus Handaka. Apakah Bagus Handaka juga memiliki kekuatan sebesar itu? Namun agaknya ia tidak perlu mencemaskan muridnya, meskipun ia belum yakin benar bahwa Handaka dapat melebihi kekuatan Sawung Sariti.

Kau mencoba untuk melarikan diri he…? Kemudian terdengar Sawung Sariti membentak-bentak marah. Sementara itu orang-orang yang lain berdatangan pula.

Tidak Tuan Muda, tidak, rintih Manahan, sedang Bagus Handaka berdiri tidak jauh darinya dengan gigi yang terkatub rapat.

Apa kau bilang? teriak Sawung Sariti. Dengan berbuat begitu kau masih ingkar bahwa kau akan melarikan diri?

Tidak Tuan Muda, aku tidak akan melarikan diri. Tetapi aku takut, jawab Manahan.

Takut? Apa yang kau takutkan? potong anak muda itu.

Aku takut melihat pembunuhan, sambung Manahan dengan suara gemetar.

Tanya jawab itu kemudian terhenti ketika kemudian datang pula beberapa orang berlari-lari.

Ada apa kalian menyusul? tanya Sawung Sariti marah.
Wiradapa melarikan diri, Tuan, jawab orang itu.

He, apa kau bilang? Mata Sawung Sariti kemudian menyala-nyala, dengan suara yang gemetar ia meneruskan, Kau bilang Wiradapa melarikan diri?

Ya, Tuan, jawab orang itu ketakutan.

Tiba-tiba semuanya dikejutkan oleh gerakan Sawung Sariti yang hampir tak terlihat kecepatannya, disusul oleh teriakan ngeri. Orang yang berdiri di hadapannya itu terlempar beberapa langkah dan kemudian terjatuh sambil mengerang kesakitan.
Setan…! gerutunya.

Apakah yang kalian kerjakan…? Dan buat apa aku mengupah kalian? Menjaga seekor tikus sakit-sakitan saja kalian tidak mampu. Ayo cari sampai ketemu. Kalau tidak, kalian jadi gantinya.

Beberapa orang berdiri bingung, sampai terdengar Sawung Sariti berteriak, Pergi, pergi monyet…!

Dan bubarlah orang-orang itu berlari bertebaran untuk mencari Wiradapa.
Setelah orang-orang itu pergi, Sawung Sariti memandang Manahan dan Handaka dengan geramnya. Dengan menahan kemarahan ia berdesis, Orang-orang gila inilah yang telah merusak rencanaku.

Kemudian katanya kepada salah seorang pengikutnya, Bawa mereka kembali ke kelurahan.

Beberapa orang segera bergerak menangkap tangan Manahan dan Handaka. Dengan kasarnya mereka didorong-dorong, bahkan kadang-kadang ditendang-tendang untuk pergi kembali ke pendapa kelurahan.

Sampai di pendapa kalurahan, Sawung Sariti membentak-bentak tak habis-habisnya. Beberapa buah tempat duduk dibanting-bantingnya hingga pecah berderak-derak. Semuanya memandang anak muda yang perkasa itu dengan ketakutan. Tetapi diantara segenap mata yang kecemasan itu, memancarlah keriangan di mata Bagus Handaka. Ia melihat kegesitan sikap Sawung Sariti. Dengan demikian ia menjadi gembira. Mudah-mudahan ia mendapat kesempatan yang baik.

Bapak… bisik Handaka perlahan-lahan, Anak muda itu hebat sekali. Mudah-mudahan aku mendapat kawan berlatih yang cukup baik.

Mendengar bisik muridnya, Manahan tersenyum, namun ditahannya. Hati-hatilah. Agaknya ia pun memiliki ilmu yang cukup.

Handaka masih akan berkata lagi, tetapi tidak jadi, karena terdengar Sawung Sariti berteriak, Paman Lurah Gedangan. Aku tidak mau rencanaku gagal sama sekali. Karena itu pekerjaan pemalas-pemalas itu tidak dapat ditunda sampai besok.

Lurah Gedangan yang ketakutan pula segera menjawab, Terserah Tuan.
Perintahkan pada orang-orang itu semua untuk berjaga-jaga di luar. Besok mereka harus mengubur orang-orangku yang gugur. Tak seorang pun boleh meninggalkan pendapa,
perintah Sawung Sariti lantang.

 

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
263

SEGERA Lurah Gedangan itu menirukan perintah Sawung Sariti, bahkan sampai pada kata-katanya pun ia tidak berani mengubahnya.

He Manahan dan Handaka… Terdengar Sawung Sariti memanggil. Aku mempunyai pekerjaan untukmu berdua. Aku tidak bisa menunggu sampai besok karena kau telah mencoba melarikan diri.

Manahan dan Handaka pun segera berdiri sambil mengangguk hormat. Jawab Manahan, Apapun yang diperintahkan kepada kami, selama kami mampu melakukannya, pasti akan kami junjung tinggi.

Diam! bentak Sawung Sariti.

Mau atau tidak mau bukanlah urusanku. Tetapi pekerjaan itu harus kau selesaikan. Mari ikuti aku.

Manahan jadi ragu sebentar, tetapi kemudian segera ia naik ke pendapa diikuti oleh Handaka. Tetapi langkah mereka terhenti ketika terjadi ribut-ribut di luar. Ketika mereka menoleh, tampaklah Wiradapa digiring ke pendapa. Dari pelipisnya mengalir darah segar. Sedang dua tiga orang yang menangkapnya menderita luka-luka pula. Agaknya Wiradapa telah melawan dengan gagah berani.

Monyet itu tertangkap pula, teriak Sawung Sariti.
Ya, Tuan Muda, jawab salah seorang diantaranya dengan bangga.
Bagus…. Nah, kau akan aku ikutsertakan dengan para pemalas sahabat-sahabatmu ini. Ayo ikuti aku, perintahnya pula kepada Wiradapa.

Kemudian beberapa orang mendorong Wiradapa dengan kuatnya sehingga hampir saja ia tertelungkup.
Kalau kau tidak mencoba lari, hidupmu masih mungkin aku pertimbangkan, gerutu Sawung Sariti.
Kemudian Manahan, Handaka dan Wiradapa segera dibawa masuk oleh Sawung Sariti dengan hanya diikuti oleh lurah Gedangan dan pengawalnya. Sampai di ruang dalam, mereka melihat tiga sosok mayat terbujur di lantai. Sambil menyeringai Sawung Sariti berkata, Lihat tiga diantara para korbanmu.

Wiradapa tidak menjawab, hanya wajahnya yang menegang. Sekali pukul aku sanggup memecahkan kepala kalian bertiga, katanya.
Setelah berkata demikian, Sawung Sariti membawa ketiga orang tawanan itu ke ruang yang lain. Mereka jadi terkejut pula ketika samar-samar di bawah sinar lampu mereka melihat pula sesosok tubuh terbaring diam.

Itulah pekerjaan kalian, katanya.

Kalian harus membawa mayat itu ke tempat yang akan ditunjukkan oleh Pak Lurah.
Wiradapa memandang lurahnya dengan mata yang memancarkan perasaan dendam tiada taranya. Sehingga dari mulutnya meluncurlah umpatan yang kasar, Kakang Lurah, kelakuanmu lebih rendah dari anjing. Dan sekarang kau mau mencuci bekas-bekasnya dengan melenyapkan aku.

Wiradapa terpental menubruk dinding. Meskipun Sawung Sariti tidak mengerahkan segenap kekuatannya, namun telah cukup menjadikan mata Wiradapa berkunang-kunang. Tetapi Manahan kagum akan ketetapan hatinya. Meskipun dengan susah payah ia bangkit namun wajahnya masih memancarkan dendam dan kebencian. Ia sama sekali tidak takut menghadapi segala macam bencana yang akan dialami.

Melihat sikap Wiradapa yang demikian, Sawung Sariti menjadi semakin marah. Wiradapa, lebih baik kau mempergunakan saat terakhirmu sebaik-baiknya. Atas kemurahan hatiku, sesudah kau bertiga mengubur mayat itu, kalian boleh memilih cara yang kau anggap baik untuk membunuh kalian, dengan demikian kalian tidak akan membuka rahasia tempat pemakaman nanti.

Mendengar kata-kata itu, hati Manahan berdesir hebat. Inilah agaknya permainan yang dilakukan oleh Sawung Sariti. Sampai sekian, beberapa hal telah dapat diduga oleh Manahan.

Agaknya Sawung Sariti telah bersekutu dengan lurah Gedangan. Lurah itu harus berhubungan dengan orang-orang yang harus menyerang mereka. Beberapa korban harus jatuh, dan diantaranya terdapat seorang yang penting. Orang itu pasti merupakan bayangan yang menakutkan bagi Sawung Sariti, sehingga harus disingkirkan dengan tidak meninggalkan kesan. Sampai kuburannya pun harus dirahasiakan pula.

Kalau kemudian ternyata diketahui, bahwa orang itu terbunuh, Sawung Sariti pun dapat cuci tangan. Pembunuhan itu dilakukan oleh gerombolan perampok yang akan merampok rombongan mereka, dan mayatnya tidak diketahui. Tetapi apabila mungkin orang itu hanya akan dinyatakan hilang, pergi tidak pamit dan sebagainya.

Dalam kesibukannya Manahan dikejutkan oleh bentakan Sawung Sariti, Ayo cepat, apa yang kalian tunggu lagi? Kalau kalian sampai berbuat aneh-aneh, maka akulah yang akan menentukan jalan kematian yang harus kau tempuh. Aku dapat berbuat apa saja yang mungkin tidak kalian duga-duga.

Agaknya Wiradapa berkeberatan dengan persetujuan itu. Ia lebih baik mati di tempat daripada harus menurut perintah gila-gilaan itu. Tetapi Manahan yang mula-mula melangkah maju disusul oleh Handaka. Wiradapa memandang Manahan dan Handaka dengan mata yang kecewa dan menghina.

Kalian mau melakukan perbuatan itu. Pengecut. Matilah sebagai seorang jantan… 

Sekali lagi kata Wiradapa terputus oleh sebuah pukulan yang keras. Tetapi kali ini ia mengelak. Bahkan ia membalas menyerang pula. Kembali Manahan kagum melihat kejantanan orang itu, meskipun ia yakin bahwa Sawung Sariti bukanlah lawannya.

Dan itu ternyata dalam beberapa saat yang pendek saja. Dengan cepatnya Sawung Sariti berhasil menangkap tangan Wiradapa, dan sekali putar Wiradapa sudah tidak berdaya lagi.

Orang gila! geram Sawung Sariti, dan kemudian katanya kepada Manahan, Kau akan mendapat pekerjaan baru nanti. Mengubur orang ini hidup-hidup.

Hati Manahan dan Handaka terlonjak mendengar perintah itu. Namun hal itu lebih baik. Sebab dengan demikian ada kesempatan baginya untuk menolong orang itu.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
264

KEMUDIAN justru Manahan dan Handaka yang tidak sabar lagi. Segera ia ingin mengetahui siapakah yang terbaring di hadapannya itu. Maka ketika ia sudah berdiri di samping mayat itu, cepat tangannya bergerak menarik kerudungnya.

He… teriak Sawung Sariti terkejut. Apa yang kau lakukan itu…? Apakah kau juga ingin mendapat hukuman yang sama dengan orang ini?

Tetapi Manahan sama sekali tak mempedulikan teriakan Sawung Sariti itu, sehingga akhirnya terbukalah kerudung mayat itu. Dengan demikian, di bawah sinar lampu yang samar-samar, yang seolah ikut serta berduka atas kematian beberapa orang yang tak berdosa, Manahan dan Handaka dapat melihat siapakah yang terbaring tak bergerak di hadapannya dengan wajah putih pucat serta membayangkan ketulusan hatinya. Melihat wajah yang pucat itu Manahan dan Bagus Handaka terlonjak. Hatinya bergelora seperti akan memecahkan dadanya, sehingga kemudian tubuhnya menggigil hebat.

Sementara itu terdengarlah Sawung Sariti menghardik penuh kemarahan, He, pemalas-pemalas yang tak tahu diri. Apa urusanmu dengan mayat itu, sehingga kau berani membuka kerudungnya? Ingat, bahwa aku dapat membunuhmu dengan cara yang lebih hebat daripada dikubur hidup-hidup.

Tetapi Manahan dan Bagus Handaka tidak mendengar suara itu. Mereka sedang berjuang untuk menguasai perasaannya. Namun agaknya Bagus Handaka sudah tidak kuasa lagi menahan dirinya. Seperti kilat ia meloncat dan sekejap kemudian ia sudah berdiri di hadapan Sawung Sariti.

Sawung Sariti, Lurah Gedangan, Wiradapa dan dua orang pengawal Sawung Sariti terkejut melihat gerakan itu. Apalagi ketika dengan gigi gemeretak Handaka berteriak nyaring, Sawung Sariti, kau benar-benar biadab. Apakah keuntunganmu dengan membunuh Paman Sawungrana? Mungkin kau takut bahwa pada suatu ketika orang mengetahui bahwa kau sama sekali tak berhak mengaku diri putra kepala tanah perdikan Banyubiru. Karena itu kau menganggap perlu untuk menyingkirkan orang yang paling mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Karena terkejut, untuk beberapa lama Sawung Sariti berdiri seperti patung. Tetapi kemudian tiba-tiba dengan tidak berkata apapun, ia langsung menyerang Handaka dengan hebatnya. Tangannya dengan keras mengarah ke rahang, sedang tangannya yang lain menyambar leher. Ia bermaksud melumpuhkan lawannya dengan sekali gerak. Tetapi ternyata anak perantau malas yang berdiri di hadapannya itu benar-benar telah membingungkan benaknya.

Dengan gerak yang tangkas Handaka menggeser tubuhnya sehingga serangan Sawung Sariti tidak mengenai sasarannya. Kembali Sawung Sariti terpaku. Tetapi hanya sesaat. Ia sadar bahwa ia harus menyelamatkan dirinya ketika Handaka membalas menyerangnya.

Sehingga sekejap kemudian terjadilah pertempuran diantara kedua anak muda itu. Namun sampai sekian Sawung Sariti masih sangat merendahkan lawannya.
Ketika para pengawalnya akan bertindak, ia berteriak dengan sombongnya, Biarkan anak yang sombong itu mengenal aku dengan baik. Jangan diganggu.

Maka berlangsunglah kemudian perkelahian yang sengit. Karena Sawung Sariti bertempur seorang diri, Manahan pun tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Malah tiba-tiba timbul keinginannya untuk mengetahui sampai di mana perbandingan ilmu yang dimiliki oleh kedua anak muda itu.

Beberapa saat kemudian, Sawung Sariti segera diganggu oleh kerisauan hatinya. Karena sama sekali ia tidak menduga bahwa anak perantau malas itu mampu melawannya sampai beberapa lama. Karena itu semakin mendidihlah darahnya. Timbullah berbagai dugaan mengenai anak itu. Sehingga sambil bertempur berteriaklah ia, Hei anak gila, apakah kau belum pernah mendengar nama Sawung Sariti dengan baik? Atau barangkali kau baru sekarat. Nah katakan kepadaku siapakah sebenarnya kau ini. Mungkin benar dugaanku bahwa kau adalah salah seorang dari gerombolan perampok, menilik ketangkasanmu. Tetapi jangan mimpi dapat meluputkan diri dari hukumanku atas kelancanganmu ini.

Bagus Handaka memberi kesempatan Sawung Sariti sampai habis berbicara, tetapi setelah itu seperti angin ribut ia menyerang dengan dahsyatnya. Sekali lagi Sawung Sariti terkejut. Dengan agak sibuk ia berusaha membebaskan dirinya. Untunglah bahwa ia pun memiliki kepandaian yang cukup sehingga dengan suatu gerakan melingkar dan meloncat ia dapat menghindari serangan Bagus Handaka.

Kemudian pertempuran itu menjadi semakin sengit. Sedang Sawung Sariti menjadi semakin heran pula melihat tandang lawannya. Tetapi Manahan yang menyaksikan pertempuran itu tidak pula kalah herannya. Ia melihat Sawung Sariti dapat mengimbangi muridnya. Ia tahu pasti bahwa seandainya ilmu yang diterimanya khusus dari ayahnya, maka mustahil bahwa dalam waktu yang singkat itu Sawung Sariti telah memiliki ilmu yang sedemikian tinggi.

Akhirnya Manahan sampai pada suatu kesimpulan yang sangat menggelisahkan, bahkan menyedihkan hatinya. Ia menduga bahwa sepeninggalnya, Ki Ageng Sora Dipayana telah kembali ke Banyubiru, dengan atau tanpa Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

 
NaGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
265

TETAPI menilik Sawung Sariti masih mencarinya, maka kemungkinan besar kedua keris itu masih belum diketemukan. Tetapi agaknya orang tua itu telah menerima keterangan yang salah tentang daerah perdikan itu.

Dengan licinnya Lembu Sora pasti membujuknya, sehingga orang tua itu percaya pada kisah yang disusunnya. Maka karena tidak ada keturunan lain yang dapat diharap meneruskan dan mewarisi ilmunya, maka Sawung Sariti telah menerima langsung pelajaran dari orang tua itu.

Pertempuran itu berlangsung semakin lama semakin dahsyat. Sedang hati Manahan semakin gelisah pula. Sebab ia melihat pertarungan antara hidup dan mati dari cabang perguruan Ki Ageng Sora Dipayana. Dua orang sahabat yang pada masa-masa yang silam selalu bekerja bersama untuk kesejahteraan umat manusia. Tetapi pada saat itu, ia tidak mampu berbuat apa-apa.

Manahan sama sekali tidak dapat melerainya, karena apa yang dilakukan oleh Sawung Sariti telah jauh menyimpang dari sifat keutamaan ilmu Ki Ageng Sora Dipayana. Sedang agaknya Kyai Ageng Sora Dipayana telah bekerja mati-matian menurunkan ilmu itu kepadanya. Ternyata dengan ketangkasan dan keperkasaan Sawung Sariti, yang dengan tangkasnya, bertempur melawan Bagus Handaka.

Untunglah bahwa Bagus Handaka pernah mengalami kemajuan yang pesat sekali, selama enam malam di pantai Tegal Arang. Dimana seorang yang berilmu mumpuni berpura-pura menyerangnya setiap malam berturut-turut. Kalau seandainya Bagus Handaka hanya melulu menerima pelajaran darinya tanpa suatu loncatan, maka bagaimana bisa muridnya itu mampu melawan murid Ki Ageng Sora Dipayana.

Tetapi ternyata bahwa kedua anak itu berimbang.

Mengalami perlawanan yang tidak kalah hebatnya dari ilmunya sendiri, Sawung Sariti menjadi gelisah. Ia menjadi curiga terhadap anak muda yang melawannya itu. Maka sekali lagi ia berteriak, He anak sombong, siapakah sebenarnya kau? Dan darimanakah kau mengenal bahwa yang gugur itu Paman Sawungrana?

Handaka menyeringai marah sambil menjawab, Buat apa kau tahu siapakah aku. Sebab sebentar lagi namamu akan terhapus dari muka bumi.
Sawung Sariti adalah seorang anak muda yang sombong. Selama hidupnya ia selalu dihormati dan dimanjakan. Karena itu ketika ia mendengar jawaban Bagus Handaka, hatinya bertambah menyala-nyala. Karena itu ia tidak lagi berpikir lain kecuali membinasakan lawannya. Ia tidak lagi mempedulikan apakah lawannya bersenjata atau tidak.

Cepat seperti kilat tangan Sawung Sariti menarik pedangnya dan diputarnya seperti baling-baling. Ternyata ketangkasannya mengolah senjata tidak mengecewakan pula.

Melihat lawannya bermain pedang, Handaka meloncat beberapa langkah mundur, dan dengan gerak yang tidak kalah cepatnya tangannya telah memegang sebuah ujung tombak bertangkai pendek. Itulah Kyai Bancak. Tanda kebesaran tanah perdikan Banyubiru.

Sawung Sariti sendiri belum pernah melihat tombak itu. Karena itu ia sama sekali tidak terkejut. Bahkan ia menyerang dengan garangnya. Perlawanan Bagus Handaka pun tidak kalah dahsyatnya. Agaknya salah seorang pengawalnya pernah mengenal tombak itu. Tombak yang mempunyai cahaya kebiru-biruan. Karena itu dengan gugup ia berteriak, Angger, itulah tombak Kyai Bancak.

Meskipun Sawung Sariti belum pernah melihat Kyai Bancak, ia pernah mendengarnya. Karena itu ketika ia mendengar nama itu disebutkan, ia pun menjadi terkejut dan meloncat mundur.

Bagus Handaka kini benar-benar sudah tidak dapat mengendalikan perasaannya lagi. Maka ketika ia mendengar seseorang menyebut nama tombaknya, ia menjadi bangga, dan dengan sengaja ia ingin menunjukkan kepada Sawung Sariti bahwa tombak kebesaran Banyubiru itu ada padanya. Karena itu segera ia berteriak menjawab, He orang yang berwajah hantu, kau mengenal tombak ini…?

Karena pengaruh tombak di tangan Bagus Handaka, tiba-tiba orang itu menjadi takut dan menjawab, ya, ya… anak muda, aku kenal tombak itu.

Ayo katakan siapakah yang pernah memiliki tombak ini? desak Handaka.
Orang yang ketakutan itu menjawab gugup, Ki Ageng Gajah Sora.

Bagus… jawab Bagus Handaka, Siapakah Gajah Sora itu?

Seperti orang yang kehilangan akal orang itu menjawab, Kepala Daerah Perdikan Banyubiru.

Bagus… ulang Bagus Handaka.

Kalau kau tahu itu, katakan kepada anak muda sombong yang mengaku putra kepala daerah perdikan Banyubiru dan Pamingit sekaligus, bahwa Banyubiru bukanlah miliknya.

Mendengar percakapan itu Sawung Sariti menjadi berdebar-debar. Ia memang pernah mendengar ceritera tentang tombak itu. Dan ia mengetahui pula bahwa kakak sepupunya hilang tak tentu perginya, membawa Kyai Bancak.

Dalam saat yang pendek itu otaknya berputar keras. Tidak mustahil bahwa yang berdiri di hadapannya itu adalah kakak sepupunya. Ia pernah bergaul pada waktu kecil. Tetapi setelah beberapa tahun tidak bertemu, memang ada kemungkinan untuk tidak mengenalnya lagi. Apalagi anak muda yang berdiri di hadapannya itu wajahnya kehitaman-hitaman terbakar terik matahari serta berpakaian lusuh dan jelek. Kalau demikian, lalu siapakah yang mengaku menjadi bapaknya itu…?

Akhirnya ia memutuskan untuk menanyakan saja kepada anak muda yang memegang tombak itu, Anak muda yang perkasa, adakah kau sebenarnya memang berhak atas tombak itu?

Adakah kau tahu seseorang yang berhak memilikinya kecuali aku? jawab Handaka.

Menurut pendengaranku, satu-satunya orang yang berhak atas tombak itu, kecuali Paman Gajah Sora yang sekarang masih di Demak, adalah putranya yang bernama Arya Salaka, sahut Sawung Sariti.

 

266

MENGIKUTI pembicaraan kedua anak muda yang sedang diamuk oleh kemarahan itu, Manahan menjadi agak cemas. Ternyata Sawung Sariti yang biasa bergaul dengan orang-orang pemerintahan mempunyai cara-cara yang licin dalam setiap pembicaraan, sedang Bagus Handaka yang hidup diantara para petani dan nelayan, memiliki kejujuran yang utuh. Sehingga ia sama sekali tidak sadar bahwa ia terseret ke dalam sebuah percakapan yang berbahaya. Manahan yang sadar akan itu, cepat berusaha untuk mencegah Bagus Handaka menjawab pertanyaan Sawung Sariti. Tetapi agaknya ia terlambat.

Sebab demikian tangannya bergerak untuk menggamit anak itu, terdengarlah mulut Bagus Handaka berkata, Akulah Arya Salaka, karena itu aku mengenal Paman Sawungrana yang gugur karena pokalmu.

Meskipun sebelumnya Sawung Sariti sudah menduga-duga, namun mendengar jawaban itu ia masih terkejut sekali sehingga tubuhnya bergetar. Dengan demikian sekaligus ia melihat bahaya yang lebih besar menghadang di depannya. Sepeninggal Sawungrana, sebenarnya ia telah mengurangi jurang yang menghalanginya untuk sampai pada kekuasaan yang penuh atas Banyubiru dan Pamingit sepeninggal ayahnya. Tetapi ternyata Arya Salaka yang memang masih diragukan itu, benar-benar masih hidup dan sekarang berdiri di hadapannya.

Karena itu, tidak ada tindakan yang lebih tepat dan baik menurut anggapannya kecuali melenyapkannya sama sekali. Maka segera ia berteriak nyaring, Bagus sekali, kalau kau benar-benar Arya Salaka. Maafkanlah aku Kakang, bahwa aku harus bertindak tegas meskipun terhadap saudara sepupuku sendiri, karena kau telah bersekutu dengan Wiradapa.

Kemudian terdengar Sawung Sariti berteriak lebih keras lagi, Hei orang-orang yang berada di pendapa, kepunglah rumah ini, jangan seorang pun boleh lari.

Lalu katanya kepada dua orang pembantunya beserta lurah Gedangan, Ayo tangkap Kakang Arya Salaka.

Mendengar perintah Sawung Sariti itu, barulah kedua orang pengawalnya itu sadar. Bagaimanapun juga mereka adalah pengikut-pengikut Sawung Sariti. Sehingga meskipun anak muda yang disebutnya melakukan perlawanan, tak ada pilihan lain selain menangkapnya hidup atau mati. Karena itu segera mereka berloncatan menyerbu.

Sementara itu orang-orang yang berada di pendapa Kalurahan itu pun sudah mulai bergerak. Memang sejak mereka mendengar suara ribut di ruang dalam, mereka menjadi bingung.

Tetapi karena mereka takut untuk meninggalkan pendapa itu, maka dengan gelisah mereka tetap saja tidak meninggalkan tempatnya. Baru ketika mendengar suara Sawung Sariti berteriak, maka seperti kuda yang dilepas dari kandang, mereka menghambur berlarian mengepung rumah lurah Gedangan, sebagian lagi menerobos masuk. Sehingga terdengar suara hiruk pikuk tak keruan.

Wiradapa menjadi keheran-heranan dan bingung melihat tingkah laku anak perantau malas itu, menjadi sadar pula akan bahaya. Tetapi ia sama sekali tidak berani mencampuri pertempuran antara kedua anak muda yang memiliki kepandaian yang jauh di atasnya. Maka yang dapat dikerjakan adalah mengurangi tenaga lawan Handaka. Dengan tanpa diduga-duga maka segera ia menyerang lurahnya yang sudah bersiap untuk membantu Sawung Sariti menangkap anak muda yang dikenalnya sebagai anak perantau malas.

Mendapat serangan yang tiba-tiba itu, lurah Gedangan terkejut, maka segera ia mengurungkan niatnya, dan terpaksa ia melayani Wiradapa, kawan yang telah sekian lama bersama-sama membangun pedukuhan Gedangan itu.

Sedang kedua pengawal Sawung Sariti ikut menyerang Bagus Handaka. Tetapi satu hal yang mereka lupakan, bahwa mereka sama sekali tak memperhitungkan kehadiran Manahan, yang justru adalah guru Bagus Handaka.

Sementara itu beberapa orang telah memasuki ruangan itu. Suasana kemudian berubah menjadi ribut tak keruan. Di ruang yang tak seberapa lebar itu berjejal-jejalan orang yang bersama-sama akan menangkap Bagus Handaka.

Ketika Manahan melihat dua orang pengawal Sawung Sariti beserta banyak orang yang lain mulai mengerubut muridnya, ia tidak dapat tinggal diam. Segera ia pun menerjunkan dirinya ke dalam kekalutan itu.

Melihat Manahan turut campur, marahlah kedua orang pengawal Sawung Sariti, yang mengira bahwa Manahan tidak lebih dari seorang yang hanya dapat berlari-lari saja. Maka dengan acuh tak acuh salah seorang darinya mendorong Manahan minggir. Tetapi betapa terkejutnya, ketika tangannya seolah-olah menyentuh dinding besi, bahkan ia sendiri terdorong surut. Maka segera orang itu mengerti, bahwa Manahan pun tidak kalah hebatnya dari anak yang telah bertempur melawan Sawung Sariti.

Karena itu, ia tidak dapat menganggap enteng lagi, bahwa musuhnya hanya seorang yang mampu berlari-lari saja. Dengan demikian terpaksa ia menyediakan tenaga sepenuhnya untuk melawan Manahan, dengan perhitungan bahwa biarlah Sawung Sariti mendapat bantuan dari orang-orang yang telah datang memasuki ruangan itu. Kemudian apabila ia telah dapat menyingkirkan Manahan, barulah Bagus Handaka akan diselesaikan.

Dengan demikian maka terjadilah tiga lingkaran pertempuran. Bagus Handaka melawan Sawung Sariti dibantu oleh beberapa orang, Manahan melawan dua orang pengawal Sawung Sariti, dan Wiradapa melawan lurahnya.

Sesaat kemudian ternyata dugaan para pengawal Sawung Sariti itu meleset. Mereka sama sekali tidak dapat dengan segera menyelesaikan pekerjaannya. Meskipun mereka bukanlah orang yang dapat diremehkan, namun untuk menundukkan Manahan bukanlah pekerjaan yang ringan.

Sedangkan Bagus Handaka, ketika harus mengalami lawan yang jumlahnya sama sekali tak seimbang, menjadi agak terdesak. Untunglah bahwa ia memiliki keuletan serta ketabahan hati.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
267

PERHATIAN Bagus Handaka pada berjenis-jenis binatang hutan yang sedang berkelahi, banyak memberi manfaat kepadanya. Tetapi ia tidak usah terlalu lama bercemas hati. Sebab perlahan-lahan tetapi pasti Manahan terus-menerus mendesak lawannya. Bahkan sebagian dari tenaganya telah dapat dipergunakannya untuk mengurangi tekanan pengeroyokan terhadap muridnya.

Wiradapa yang bertempur pula dalam keadaan berimbang dengan kekuatan lurah Gedangan. Mereka agaknya telah mencurahkan segala kemampuan mereka untuk segera mengalahkan lawannya. Tetapi disamping itu, bergolaklah kegelisahan diantara mereka. Baik Lurah Gedangan, Wiradapa maupun Sawung Sariti bersamaan para pengiringnya, meskipun sebabnya berbeda-beda. Sebagian dari mereka menjadi bertanya-tanya di dalam hati, siapakah sebenarnya kedua orang yang mereka anggap perantau malas itu. Sebab dalam keadaan yang demikian, ternyata bahwa kepandaian mereka dalam ilmu tata berkelahi tidak ada yang menandingi.

Beberapa saat kemudian Sawung Sariti yang cerdik, akhirnya merasa bahwa akhir dari pertempuran itu tidaklah seperti yang diharapkan. Ruangan yang sempit itu sama sekali tak menguntungkannya. Sebab beberapa orang yang mengeroyok lawannya itu, malahan kadang-kadang menganggunya. Sehingga terpaksa beberapa kali ia harus berteriak-teriak dan malahan beberapa kali pula ia terpaksa memukul orangnya sendiri yang sangat menjengkelkannya. Karena hal itulah maka akhirnya ia membuat perhitungan-perhitungan dengan seksama. Dalam waktu yang dekat ia harus dapat mengatasi keadaan, dan setidak-tidaknya menyelamatkan dirinya sendiri.

Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin ribut dan kacau. Apalagi ketika tiba-tiba pelita yang tergantung di dinding terlempar jatuh. Minyaknya yang tumpah berhamburan itu segera dijilat api, dan dalam sekejap telah menyala berkobar-kobar. Maka terjadilah keributan yang semakin kacau. Orang-orang di dalam ruangan itu tidak lagi memperhatikan lawan-lawan mereka, tetapi mereka segera berusaha untuk dapat keluar dan menghindarkan idri dari nyala api yang semakin lama semakin besar, bahkan akhirnya api itu telah merayap sepanjang dinding ruangan.

Dalam keadaan yang demikian, Bagus Handaka dan Manahan menjadi kehilangan pengamatan atas lawan-lawan utamanya. Beberapa orang yang berlari-lari kian kemari itu, sangat mengganggunya. Bahkan beberapa orang telah melanggar mereka dan mendorong-dorong mereka tanpa sengaja. Manahan yang segera dapat mengerti dan menguasai masalahnya menjadi sangat marah. Sebab ia yakin bahwa Sawung Sariti telah dengan sengaja membakar ruangan itu. Karena itulah maka dengan sekuat tenaga ia menerjang orang-orang yang menghalangi jalannya menerobos keluar sambil berteriak, Handaka, lawanmu telah berada di luar.

Mendengar suara gurunya, Handaka pun segera meloncat dan menyibakkan orang-orang yang sedang kacau itu. Beberapa orang jatuh bergulingan dan terinjak-injak kawan-kawan mereka sendiri. Namun Manahan dan Bagus Handaka sama sekali tak sempat memperdulikan mereka itu. Perhatiannya terpusat kepada Sawung Sariti, anak pamannya yang telah berkhianat kepada ayahnya.,

Namun alangkah kecewa mereka itu. Sebab demikian Manahan dan Bagus Handaka sampai di halaman, terdengarlah derap kuda menderu, dan seperti terbang lepaslah tiga buah bayangan orang berkuda melarikan diri.

Itulah dia… teriak Manahan, Marilah kita cari sisa kuda mereka.

Handaka tidak menunggu kalimat Manahan berakhir. Segera dia berlari ke halaman belakang. Tetapi ternyata kandang kuda itu telah kosong. Agaknya Sawung Sariti yang cerdik itu sempat menyingkirkan dan menakut-nakuti kuda yang lain, sehingga kuda-kuda itu lari berpencaran.

Bagus Handaka menjadi seperti orang yang kebingungan berlari-lari mengelilingi kandang kuda itu. Namun ia sama sekali tak menemukan seekor pun.

Gila! geramnya penuh kemarahan.

Manahan pun tidak kalah marahnya. Namun ia lebih dapat menguasai diri. Maka katanya kemudian kepada muridnya, Sudahlah Handaka, baiklah kita bicarakan apa yang harus kita kerjakan seterusnya.

Sementara itu, terdengarlah jerit dan teriakan diantara ledakan-ledakan kebakaran. Dalam waktu yang pendek, api telah menguasai hampir seluruh rumah kalurahan yang dibuat dari kayu, bambu dan ijuk itu. Beberapa orang berlari-larian menjauhi.

Diantara mereka tampaklah tertatih-tatih Wiradapa yang agaknya menderita luka-luka.

Melihat Wiradapa yang sudah hampir-hampir tak mampu lagi menjauhkan dirinya dari kemarahan api itu, hati Bagus Handaka dan Manahan bersama-sama tergetar. Cepat mereka meloncat dan memapahnya ke halaman belakang. Ketika Wiradapa sadar bahwa yang menolongnya itu adalah dua orang yang dianggapnya perantau malas dan ternyata telah sangat membingungkannya itu, cepat-cepat ia menjatuhkan diri sambil berkata perlahan-lahan, Tuan, maafkanlah aku. Aku tidak tahu siapakah sebenarnya tuan-tuan ini. Sedang tuan muda ini agaknya masih ada hubungan darah dengan tuan muda Sawung Sariti yang tamak itu.

Manahan cepat-cepat menangkap lengan Wiradapa dan menariknya berdiri. Kakang Wiradapa, kami adalah benar-benar dua orang perantau seperti apa yang kami katakan.

Wiradapa menggelengkan kepala. Aku telah mendengar perdebatan antara anak muda yang disebut-sebut bernama Arya Salaka, putra Ki Ageng Gajah Sora yang memiliki tombak Kyai Bancak, dengan Sawung Sariti yang mengaku dirinya putra kepala daerah perdikan Banyubiru.

Manahan mengangguk-anggukkan kepalanya, maka jawabnya, Baiklah Kakang, nanti saja saatnya Kakang akan tahu juga. Tetapi bagaimana sekarang dengan api itu?

Mendengar kata-kata Manahan itu, barulah Wiradapa sadar bahwa rumah lurah Gedangan hampir musnah dimakan api. Dalam keadaan itu, tak seorangpun yang mencoba untuk memadamkannya.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
268

SUASANA takut, cemas dan bermacam-macam lagi telah menguasai seluruh penduduk Gedangan, dengan kedatangan Sawung Sariti beserta rombongannya, yang tampak penuh mengandung rahasia. Itulah sebabnya tak seorangpun yang berani mendekati halaman kalurahan yang menjadi terang benderang oleh lidah api yang menyala-nyala seperti hendak menjilat langit.

Beberapa orang yang berdiri jauh dari tempat kebakaran, memandang api itu dengan mata yang sayu serta hati yang berdebar-debar. Selama ini mereka menganggap bahwa dari rumah itulah ketertiban dan kepemimpinan pedukuhan mereka dipancarkan. Sedang pada saat itu mereka melihat api dengan lahap telah menelannya, tanpa dapat berbuat sesuatu, karena mereka sama sekali telah kehilangan akal. Mereka sudah sama sekali tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya.

Tiba-tiba diantara gemeretak suara api yang menjadi semakin besar itu, terdengarlah suara tertawa yang menyeramkan.

Yang kemudian disusul dengan suara memanggil-manggil, Wiradapa… Adi Wiradapa yang bodoh. Kemarilah, kemarilah.

Wiradapa, Manahan dan Bagus Handaka terkejut mendengar suara itu. Segera mereka berjalan perlahan-lahan mengelilingi api dan mencari siapakah yang telah memanggil-manggil itu. Ketika mereka sampai di sisi rumah yang hampir habis itu, kembali terdengar suara orang tertawa terbahak-bahak.

Alangkah terkejut mereka, ketika mereka melihat lamat-lamat di atas pendapa yang telah hampir runtuh, seseorang yang berdiri bertolak pinggang. Berdesirlah dada mereka ketika mereka mengetahui bahwa yang berdiri sambil tertawa-tawa itu adalah lurah Gedangan.

Untuk sesaat mereka tertegun menyaksikan pemandangan yang menyeramkan itu. Apalagi ketika dengan mata kepala sendiri mereka melihat lurah Gedangan itu berkata nyaring, He, Adi Wiradapa… kenapa kau menolak bekerja sama dengan kami. Lihatlah kini rumahku sudah berdinding emas bertiang baja. Aku kini menjadi seorang yang kaya raya. Dan sebentar lagi aku akan diangkat menjadi bupati. Setelah itu kembali lurah Gedangan itu tertawa terbahak-bahak.

Kakang Lurah… Kakang Lurah…. Tiba-tiba Wiradapa berteriak.

Lurahnya yang berdiri di tengah-tengah api yang menyala-nyala itu sama sekali tak mendengar teriakannya. Malahan masih saja ia tertawa dan tertawa.
Kakang Lurah…! teriak Wiradapa sekali lagi, Tinggalkan pendapa itu, sebelum Kakang terbakar.

Tetapi kali ini pun suara Wiradapa itu sama sekali tidak terdengar oleh lurah Gedangan yang telah terganggu urat syarafnya itu. Ia masih saja berdiri bertolak pinggang sambil berkata-kata tak menentu lagi.

Tiba-tiba Manahan dan Handaka terkejut ketika mereka melihat Wiradapa meloncat ke arah pendapa. Untunglah cepat mereka berhasil menahannya. Tetapi Wiradapa agaknya kehilangan kesadarannya pula. Sambil meronta-ronta ia berteriak, Kakang Lurah… Kakang Lurah… Kemarilah. Rumah itu sudah terbakar. Turunlah, turunlah….

Namun akhirnya suaranya lenyap ditelan berderaknya suara pendapa itu runtuh.

Bersamaan dengan itu lenyap pula bayangan lurah Gedangan yang tenggelam ditelan oleh angan-angannya untuk menjadi kaya raya serta menjadi bupati.
Bersamaan dengan runtuhnya pendapa kalurahan itu, Wiradapa menutup mukanya dengan kedua belah telapak tangannya. Bagaimanapun, lurah Gedangan yang lenyap di dalam nyala pi itu adalah kawan seperjuangannya membangun pedukuhan itu.

Mereka bersama-sama mengalami jerit tangis serta tawa nyanyinya para perintis yang kemudian dapat membangunkan pedukuhan yang nampaknya menjadi semakin maju. Sedang pada saat itu di hadapan matanya, ia menyaksikan kawan senasib sepenanggungan itu lenyap di telan api.

Dengan tak terduga-duga, terdengarlah Wiradapa menggeram dan terisak. Meskipun terpaksa pada saat yang terakhir ia menempuh jalan yang berselisih dengan kawan sepenanggungan itu, namun apa yang pernah mereka alami ternyata telah begitu dalam menggores di dalam hatinya.

Sudahlah Kakang, bisik Manahan menghibur. Apa yang sudah terjadi biarlah terjadi. Yang penting apakah yang akan datang. Dengan peristiwa ini janganlah Kakang Wiradapa kehilangan akal dan tidak tahu apa yang akan dilakukan. Dengan hilangnya Kakang Lurah Gedangan, bukan berarti kewajiban Kakang Wiradapa untuk tampil ke depan terhenti. Sehingga apa yang pernah dicapai itu tidak akan tersia-sia saja.

Mendengar kata-kata Manahan, perlahan-lahan kesadaran Wiradapa berangsur-angsur utuh kembali. Bahkan dengan nasehat itu terasalah bahwa masa depan pedukuhan itu seolah-olah terletak di tangannya. Pasang surut serta timbul tenggelamnya pedukuhan Gedangan di kemudian hari berada di dalam tanggung jawabnya.

Karena itulah maka seolah-olah ia mendapat tenaga baru. Dengan tekad yang telah membulat di dalam dadanya, ditengadahkannya mukanya, memandang kepada nyala api yang masih saja berkobar-kobar menelan korbannya.

Tetapi mata Wiradapa kini sudah tidak sesayu tadi. Bahkan tampaklah memancar tekad yang teguh, bahwa ia akan bekerja keras untuk melaksanakan tugas yang maha berat itu.

Lewat matanya yang menyala-nyala yang mengimbangi nyala api yang membakar kalurahan itu, seolah-olah tersiratlah kata janjinya untuk meneruskan pembinaan pedukuhan kecil yang telah dirintisnya bersama-sama dengan orang yang kini telah luluh karena ketamakannya.

Kemudian tiba-tiba meloncatlah Wiradapa, berdiri tegak menghadap ke arah pendapa yang telah menelan lurahnya, dan terdengarlah dari mulutnya suara bergetar perlahan-lahan, Mudah-mudahan Tuhan selalu menuntunku, serta menunjukkan jalan yang benar bagiku. Demikian pula kepada rakyat Gedangan yang sedang ditelan kegelapan.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
269

MANAHAN dan Bagus Handaka merasakan bahwa Wiradapa benar-benar memiliki keluhuran budi. Karena itu mereka merasa terharu melihat sikapnya yang sama sekali tidak mendendam kepada lurahnya yang hampir saja menjerumuskannya ke dalam jurang kematian yang sangat mengerikan di tangan putra kepala daerah perdikan Pamingit, Sawung Sariti.

Berbareng dengan itu, di ujung timur fajar mulai mengembang. Cahaya yang kemerah-merahan dipancarkan ke seluruh permukaan bumi, membelah kehitaman malam. Di sana sini terdengar suara ayam jantan berkokok bersahut-sahutan, seolah-olah sama sekali tidak mempedulikan bahwa pernah terjadi suatu kegoncangan di dalam pedukuhan kecil yang biasanya damai dan tenang itu. Seakan-akan segan menghadapi tantangan cahaya pagi yang perkasa, api yang menelan seluruh isi kelurahan itu berangsur-angsur surut. Sedang Wiradapa, Manahan dan Bagus Handaka masih saja berada di halaman.

Tuan… kata Wiradapa kemudian, Apakah yang harus aku kerjakan pertama-tama?
Manahan sadar bahwa pertanyaan yang diucapkan dengan setulus hati itu, bersandar kepada keinginannya untuk mengetahui, siapakah sebenarnya mereka itu. Maka dengan bersungguh-sungguh Manahan menjawab, Kakang, menurut pendapatku, yang harus Kakang kerjakan pertama-tama adalah memulihkan kepercayaan rakyat kepada Kakang Wiradapa.

Akan kucoba. Aku merasa bahwa beberapa orang masih percaya sepenuhnya kepadaku. Kepada mereka akan aku bebankan pekerjaan itu. Mudah-mudahan mereka berhasil, sahut Wiradapa.

Selanjutnya ia meneruskan, Marilah Tuan beristirahat di pondokku. Barangkali Tuan sudi mengatakan siapakah sebenarnya Tuan-Tuan yang telah menyelamatkan pedukuhan ini dari ketamakan, keserakahan dan dari jalan yang sama sekali sesat, yang akan ditempuh Kakang Lurah.

Manahan serta Bagus Handaka tidak dapat menolak ajakan itu. Maka segera Bagus Handaka melangkah meningggalkan halaman serta rumah yang telah menjadi abu.

Tetapi sampai di regol dinding halaman, Bagus Handaka berhenti. Matanya kemudian menjadi semakin sayu. Mula-mula Manahan tidak tahu, kenapa muridnya berlaku demikian. Tetapi kemudian ia dapat menangkap apakah yang sedang bergolak di dalam dada anak itu.

Perlahan-lahan Handaka memutar tubuhnya menghadap ke sisa-sisa reruntuhan rumah yang sudah menjadi musna sama sekali. Dengan pandangan yang pedih tampaklah bibirnya bergerak-gerak menyebut nama Sawungrana. Seseorang yang pernah memberinya permainan pada masa kecilnya. Orang yang pernah menjadi kawannya berlatih. Juga seorang dari beberapa dari beberapa orang yang tak begitu banyak, yang merupakan pagar-pagar keamanan Perdikan Banyubiru. Ia adalah orang kedua setelah Wanamerta.

Kini orang itu telah tiada lagi. Jenazahnya pun tak dapat diselamatkan karena kekalutan yang terjadi. Manahan yang dapat merasakan sepenuhnya kepedihan hati muridnya itu merasa pula bersalah, bahwa dalam keributan itu sama sekali tak diingatnya untuk menyelamatkan jenasah Sawungrana. Namun adalah lebih baik demikian daripada dikubur disuatu tempat tanpa diketahui oleh seorangpun.

Handaka… kata Manahan meghibur hati muridnya, Marilah kita lepaskan pamanmu Sawungrana dengan hati yang ikhlas, agar perjalanannya menghadap Tuhan tidak terganggu.

Perlahan-lahan Handaka mengangguk kecil seolah-olah memberikan hormatnya yang terakhir kepada abu jenazah Sawungrana. Baru setelah itu ia melangkah meninggalkan halaman kelurahan itu bersama-sama dengan gurunya serta Wiradapa.

Melihat keseluruhan itu, Wiradapa menjadi semakin tidak mengerti. Apakah hubungan antara anak muda itu dengan orang yang terbunuh itu? Namun demikian ia tidak bertanya sesuatu. Maksudnya biarlah hal itu disimpannya sampai nanti di pondoknya. Sampai di rumahnya Wiradapa disambut dengan tangis oleh isrinya, yang menyangka bahwa suaminya telah lenyap dan tak akan dapat bertemu kembali.

Tetapi ternyata bahwa suaminya itu kini masih utuh berdiri di hadapannya, meskipun beberapa luka-luka yang cukup banyak menggores-gores tubuhnya.

Karena itulah maka, dengan kegirangan yang tiada terkatakan, Nyai Wiradapa segera menangkap beberapa ekor ayam, sebagai pesta keselamatan buat suaminya. Sehari itu Manahan dan Bagus Handaka sibuk melayani dan menjawab pertanyaan pertanyaan yang mengalir tanpa henti-hentinya dari Wiradapa dan beberapa orang kepercayaannya yang kemudian datang mengunjunginya. Mereka mendengarkan uraian Manahan dengan mulut ternganga dan hati yang berdebar-debar. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa dua orang yang mereka sangka perantau malas itu dapat menyelamatkan pedukuhan mereka dari kehancuran mutlak.

Bagus Handaka ternyata sudah tidak dapat menyembunyikan diri lagi. Terpaksa ia menyatakan dirinya sebagai putra Ki Ageng Gajah Sora yang bernama Arya Salaka. Sedangkan Mahesa jenar, meskipun kemudian diketahui bukan ayah Bagus Handaka, namun ia masih berhasil menyembunyikan dirinya yang sebenarnya.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
270

KETIKA orang-orang kepercayaan Wiradapa itu mengetahui keadaan sebenarnya, serta peran apakah yang telah dilakukan oleh Manahan bersama muridnya, serta setelah mereka menyaksikan sendiri betapa tinggi ilmu kedua orang itu, maka mereka serentak berpendapat, bahwa tak ada orang lain yang pantas melindungi pedukuhan kecil itu selain mereka berdua.

Tetapi sayang bahwa dengan rendah hati Manahan dan muridnya terpaksa menolak kepercayaan rakyat Gedangan, meskipun mereka sanggup untuk beberapa lama tinggal di situ.

Alangkah kecewanya mereka, ketika permintaan itu tak dapat dipenuhi, namun bagaimanapun mereka tetap menaruh harapan pada masa depan, di bawah pimpinan Wiradapa, serta untuk sementara mendapat bimbingan langsung dari Manahan serta muridnya.

Demikianlah sejak hari itu, pedukuhan Gedangan telah mendapatkan wajahnya yang baru. Pedukuhan kecil itu berhasil mencapai kedamaian dan ketenangannya kembali setelah beberapa orang kepercayaan Wiradapa bekerja mati-matian memberikan sesuluh yang diperlukan kepada mereka yang telah tersesat. Kepada mereka yang mendapat banyak janji dan harapan-harapan yang diberikan oleh lurah mereka yang lama, yang telah hilang ditelan api yang diminyaki oleh ketamakannya sendiri.

Berbeda dengan keadaan dipadukuhan kecil itu, perasaan Manahan dan Handaka sendiri selalu digelisahkan oleh angan-angan mereka tentang beberapa masalah yang belum terpecahkan. Apalagi ketika ternyata kehadiran Bagus Handaka telah diketahui oleh Sawung Sariti yang pasti akan sampai ke telinga Lembu Sora. Hal itu bukanlah suatu hal yang boleh diabaikan. Selama Lembu Sora masih mengingini daerah perdikan Banyubiru yang kelak akan dilintirkan kepada anaknya, selama itu nyawa Bagus Handaka selalu dikejar-kejarnya.

Manahan masih saja menebak-nebak, laskar mana sajakah yang telah dipergunakan oleh Sawung Sariti untuk membunuh Sawungrana. Mungkinkah ia mempergunakan laskar Pamingit atau laskar sewaan yang lain. Menurut perhitungan Manahan Sawung Sariti pasti telah mempergunakan dua golongan laskar yang saling tidak tahu-menahu. Laskar pertama adalah laskar Pamingit yang harus bertahan bersama-sama dengan laskar Gedangan, sedang laskar yang lain, harus menyerang rombongan mereka.

Dalam keributan itulah Sawung Sariti menghabisi jiwa Sawungrana. Mungkin dengan tangannya sendiri, mungkin dengan tangan kedua pengawalnya yang berwajah seram itu. Mereka mendapat perintah untuk dengan bersungguh-sungguh bertempur mengusir para penyerang, yang menurut lurah mereka akan merampok pedukuhan kecil itu. Bahkan dari lurah yang tamak itu, mereka mendapat janji menerima upah yang tinggi.

Hal ini adalah sama sekali tidak wajar, bahwa berjuang untuk tanah serta kampung halamannya dijanjikan orang untuk menerima hadiah.

Tetapi dalam beberapa hari saja, bekas-bekas peristiwa itu sudah mulai dilupakan orang. Mereka mulai bekerja keras membangun pedukuhan mereka dengan petunjuk-petunjuk Manahan dalam berbagai segi. Dari segi pertanian, perkebunan sampai pada segi-segi pertahanan dan pertempuran.

Beberapa orang yang memang berbakat serta mempunyai kemungkinan untuk menerima ilmu tata berkelahi, mendapat latihan-latihan kilat dari Manahan dan Bagus Handaka yang kemudian terpaksa mempergunakan namanya sendiri Arya Salaka. Tetapi agaknya anak itu lebih senang dipanggil Bagus Handaka.

Suasana yang tenang, damai namun penuh dengan daya gerak dan pencapaian nilai yang jauh lebih maju dalam segala segi itu, tiba-tiba menjadi sangat terganggu.
Pedukuhan kecil yang hampir tidak mempunyai banyak persoalan dengan lingkungan di luarnya, pada suatu saat mendadak telah dikacaukan oleh kedatangan orang-orang berkuda dari arah tenggara. Laskar berkuda itu tanpa sebab dan tanpa bertanya sesuatu langsung mengadakan pembunuhan dan pembakaran dengan ganasnya.

Pada suatu subuh yang kelam di permulaan musim ketiga, pedukuhan kecil itu digetarkan oleh suara titir dari setiap kentongan yang ada di pedukuhan itu. Setiap laki-laki mulai dari yang menginjak usia dewasa sampai mereka yang masih dapat tegak, segera berloncatan bangun dan berlari-larian berkumpul di halaman lurah mereka yang baru, Wiradapa, dengan senjata siap di tangan.

Di halaman itu tegak seperti batu karang, Manahan dan Bagus Handaka. Dahi mereka tampak berkerut-kerut penuh dengan teka-teki tentang serbuan dari orang-orang berkuda yang seolah-olah tanpa sebab dan tanpa wara-wara. Sedang Wiradapa sendiri sibuk mengatur barisan laskar Gedangan dibantu oleh beberapa orang kepercayaannya.

Dalam pada itu datanglah berlari-larian seorang pengawas yang melaporkan bahwa pasukan berkuda itu dipimpin oleh dua orang suami-istri. Tergetarlah dada Manahan mendengar laporan itu. Karena itu segera bertanya, Kau melihat kedua orang suami istri itu…?

Ya, Tuan… aku melihat sendiri. Beberapa kawan kami yang mencoba menahan serangannya, menjadi binasa hanya dengan sapuan tangan mereka, jawab pengawas itu.

Bagaimanakah bentuk tubuh mereka? tanya Manahan mendesak.

Si suami bertubuh gagah kekar, berambut lebat hampir menutupi seluruh wajahnya. Istrinya bertubuh tinggi ramping, berkuku panjang seperti seekor harimau betina, jawab orang itu pula.

Sima Rodra Gunung Tidar... desis Manahan.

Mendengar nama itu hati Wiradapa tergetar. Begitu pula mereka yang pernah mendengar nama itu termasuk Bagus Handaka.

 

271

BAGAIMANAPUN besar jiwa kepahlawanan penduduk Gedangan serta kecintaan mereka terhadap kampung halaman mereka, namun mendengar nama itu diucapkan hati mereka menjadi tergoncang. Sima Rodra Gunung Tidar di telinga mereka adalah seolah-olah nama hantu yang siap menerkam nyawa setiap orang yang melawan kehendaknya. Tetapi yang sama sekali tak mereka ketahui apakah salah mereka terhadap hantu-hantu itu, sehingga pedukuhan itu harus menjadi korbannya.

Tuan… kata Wiradapa, Lalu apakah yang mesti kami kerjakan apabila benar-benar yang datang itu Sima Rodra Gunung Tidar?

Manahan menyesal telah menyebut nama itu, sehingga telah menakut-nakuti dan memperkecil hati mereka. Karena itu untuk mengembalikan keberanian laskar Gedangan, Manahan menjawab dengan tertawa kecil, Kakang Wiradapa, bukankah kami sudah bertekad untuk mempertahankan setiap jengkal tanah dengan tetesan darah? Sedangkan mengenai suami-istri Sima Rodra itu serahkanlah kepadaku serta anakku Bagus Handaka. Mereka adalah kenalan lamaku. Mungkin ia akan berpendirian lain setelah melihat aku di sini.

Untuk beberapa saat mereka tampak ragu-ragu. Tetapi hati mereka kemudian menjadi tegar ketika mereka melihat Manahan melangkah diikuti oleh muridnya, dengan wajah yang tenang, ke arah api yang menyala-nyala di ujung pedukuhan itu.

Kakang Wiradapa… kata Manahan sebelum meninggalkan halaman. Kepunglah mereka. Hancurkan laskarnya sedapat mungkin. Biarkan pimpinannya aku layani dengan muridku ini.

Baiklah Tuan, jawab Wiradapa mantap.

Setelah itu dengan tengara kentongan, pasukan itu berpencar menurut siasat yang telah dipersiapkan. Dengan petunjuk Manahan pula atas pengalaman yang pernah diperoleh Ki Asem Gede, laskar Gedangan supaya menyerang dengan senjata jarak jauh. Panah dan api. Mereka supaya menghindari pertempuran perseorangan. Sebab nilai perseorangan laskar Gedangan tidak akan dapat mengimbangi nilai perseorangan laskar yang datang dari bukit hantu itu.

Sebentar kemudian terjadilah pertempuran yang dahsyat sekali. Agaknya cara-cara yang pernah dipakai oleh Ki Asem Gede itu benar-benar membingungkan laskar Sima Rodra. Karena itulah tiba-tiba terdengar Sima Rodra mengaum hebat menunjukkan kemarahannya. Setiap dada yang disinggung oleh getaran suara itu menjadi bergetaran seperti terhantam angin ribut.

Suara yang terlontar dari mulut harimau liar itu benar-benar dahsyat akibatnya. Laskar Gedangan, yang mula-mula berbesar hati melihat hasil perjuang-an mereka, tiba-tiba keberaniannya kuncup dan hampir lenyap. Apalagi ketika melihat seorang laki-laki bertubuh besar kekar di atas kudanya mengamuk sejadi-jadinya.

Tetapi pada saat mereka sudah hampir kehabisan akal, tiba-tiba muncul di dalam pertempuran, seseorang yang dengan tenangnya menyapa orang bertubuh besar kekar yang sedang mengamuk di atas kudanya itu.

Selamat datang Sima Rodra. Maafkanlah bahwa aku agak terlambat menyambutmu.

Kesan dari sapa itu adalah luar biasa pula. Sima Rodra tampaknya terkejut sekali, sehingga ia menjadi tertegun diam seperti patung. Ia sama sekali tidak mengira bahwa di pedukuhan terpencil itu ditemuinya orang yang menjadi musuh utamanya. Tidak saja musuh perseorangannya tetapi telah benar-benar menjadi musuh golongannya.

Melihat kesan wajah Sima Rodra itu, laskar Gedangan menjadi semakin tergugah semangatnya, disamping semakin besar tanda tanya yang mengetuk-ngetuk hati mereka. Agaknya orang yang menamakan dirinya Manahan itu benar-benar orang yang aneh, sehingga terhadap hantu Gunung Tidar itu pun sikapnya sangat meyakinkan.

Tiba-tiba menggelegarlah suara Sima Rodra, Apa kerjamu di sini Mahesa Jenar?

Mendengar nama itu disebutkan, terasa agak janggal bagi Manahan, yang telah membingungkan mereka.

Aku datang di pedukuhan ini sengaja menunggumu setelah beberapa lama kita tidak bertemu, jawab Manahan sambil tertawa pendek.

Sima Rodra terdengar menggeram marah. Jangan campuri urusanku untuk menumpas tikus-tikus yang telah berani membunuh beberapa orangku beberapa waktu yang lalu.

Berdesirlah hati Manahan oleh jawaban itu. Segera ia dapat menghubungkan kedatangan Sawung Sariti, serangan laskar yang tak dikenal serta keributan-keributan yang ditimbulkan. Karena itu segera ia menjawab sekaligus menebak, Sima Rodra, agaknya kau yang telah menjual diri kepada Sawung Sariti untuk membunuh Kakang Sawungrana?

Kembali Sima Rodra menggeram. Apa pedulimu…..?

Ketahuilah…. sahut Manahan, Akulah yang telah membunuh beberapa orang yang tak aku ketahui golongannya dalam keributan-keributan yang timbul. Aku sangka mereka adalah orang-orang Pamingit atau manapun yang tak kukenal. Dan mereka itu telah ditelan api yang dinyalakan oleh Sawung Sariti sendiri,

Mendengar keterangan Manahan, mata Sima Rodra Suami Istri menjadi merah menyala-nyala. Mereka yang belum pernah mengenal wajah itu menjadi menggigil ketakutan. Bagus Handaka, seorang yang hampir tak mengenal takut, hatinya menjadi berdebar-debar pula.

Kalau begitu…. terdengar suara Sima Rodra bergetar hebat, Kepadamulah aku harus menuntut balas.

Memang demikianlah adilnya, jawab Manahan. Karena itulah aku sudah bersedia melayanimu bersama-sama dengan anak angkatku ini.

Sekali lagi Sima Rodra menggeram hebat. Ia sama sekali tidak mau tersinggung kehormatannya sebagai seorang yang percaya kepada kekuatan diri. Karena itu segera ia berteriak gemuruh.

Hentikan pertempuran. Aku ingin mendapat penyelesaian yang adil dengan Mahesa Jenar.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
272

BAGUS….. sahut Mahesa Jenar. Agaknya kau dapat pula bersikap jantan.

Sesaat kemudian berhentilah pertempuran antara laskar Gedangan melawan laskar dari Bukit Tidar. Segera mereka berkerumun untuk menyaksikan pertunjukan yang jarang terjadi di pedukuhan kecil itu.

Tiba-tiba belum lagi mereka bertempur terdengarlah suara istri Sima Rodra itu melengking, Kyai…. serahkanlah orang itu kepadaku. Biarlah aku saja yang menyelesaikannya. Bukankah aku sekarang berbeda dengan dua tiga tahun yang lalu….?

Mendengar kata-kata itu hati Manahan berdesir, meskipun ia tahu bahwa maksud kata-kata itu untuk menakut-nakutinya. Tetapi tidaklah mustahil bahwa apa yang dikatakan itu mengandung kebenaran. Sebab selama itu, ayahnya, Sima Rodra tua dari Lodaya, pasti tidak tinggal diam. Ilmunya yang mengerikan, Macan Liwung, serta kecekatannya bergerak yang mirip seperti seekor harimau, sangat menakjubkan.

Kemudian terdengarlah Sima Rodra menjawab, Berikanlah kesempatan pertama kepadaku sebagai suatu kehormatan yang dapat kami berikan kepadanya yang terakhir.

Manahan benar-benar tersinggung mendengar kata-kata itu. Jangan berebut dahulu. Kalian akan mendapat giliran masing-masing. Tetapi kalau kalian masih membiasakan diri bertempur berpasangan, biarlah Bagus Handaka membantuku, sebab aku merasa pasti bahwa aku tidak akan mampu melawan kalian berdua.

Merahlah telinga Suami Istri Sima Rodra mendengar jawaban itu. Apalagi yang disebutnya dengan nama Handaka tidak lebih dari seorang anak-anak. Karena itu dengan marahnya Harimau Liar itu menjawab, Baiklah biarlah aku binasakan kau sampai kepada muridmu. Supaya untuk seterusnya kau tidak selalu mengganggu.

Selesai dengan kata-katanya itu, segera suami istri itu meloncat dari kudanya dan dengan gerakan seperti badai mereka menyerang Manahan dan Bagus Handaka. Sima Rodra bertempur melawan Manahan, sedang istrinya dengan marahnya menyerang Bagus Handaka.

Melihat gerakan mereka, Manahan agak terkejut. Memang ternyata mereka telah mendapat banyak kemajuan. Karena itu segera ia mencemaskan muridnya. Dalam kesempatan yang pendek ia berbisik, Handaka, hindari setiap benturan serta sentuhan dengan kuku-kuku harimau betina itu. Sebab kuku itu beracun. Aku hanya percaya kepada kecepatanmu bergerak. Bukan kekuatanmu.

Handaka maklum kepada nasehat gurunya. Segera ia sadar bahwa lawannya memiliki ketinggian ilmu di atasnya. Karena itu ia harus melayani dengan otaknya, tidak dengan tenaganya melulu.

Dan ternyata kemudian setelah mereka bertempur beberapa saat, segera Bagus Handaka merasa betapa angin yang sangat membingungkan melibatnya dari segenap arah. Untunglah bahwa ia banyak menaruh perhatian pada setiap gerak yang dianugerahkan kepada alam oleh Penciptanya, kepada setiap makhluk yang paling lemah sekalipun.

Kali ini Bagus Handaka benar-benar menjadi seekor kelinci yang harus menghindari terkaman serigala ganas, seperti yang pernah diamatinya dengan saksama. Atau seperti seekor kancil yang menyelinapkan hidupnya diantara kaki-kaki harimau yang garang.

Karena itulah maka ia tidak dapat bertempur di tempat yang sempit, Bagus Handaka kemudian berkisar dari tempatnya, menyusup pepohonan dan mempergunakan batang-batang pohon sebagai perisai.

Meskipun demikian, ternyata bahwa ia selalu berhasil menyelamatkan dirinya dari libatan gerakan-gerakan yang dahsyat dari Harimau Betina Gunung Tidar yang garang itu, meskipun ia terpaksa berlari-larian dan hanya sekali-sekali saja menyerang, apabila benar-benar ada kesempatan. Bahkan dengan demikian ia berhasil membuat istri Sima Rodra itu semakin marah dan menjerit-jerit tak habis-habisnya.

Sedangkan Manahan dengan tangguhnya bertempur melawan Sima Rodra. Dalam beberapa saat saja, Manahan benar-benar harus mengakui bahwa ilmu lawannya telah meningkat, sedang selama ini ilmunya sendiri tidak seberapa mengalami penambahan, sebab memang tak ada orang yang menuntunnya lebih lanjut. Hanya karena ketekunan diri saja maka Manahan menjadikan ilmunya lebih masak. Maka pertempuran antara dua orang perkasa itu pun berlangsung dengan dahsyatnya. Sima Rodra menjadi semakin garang, karena hatinya dibebani oleh dendam yang meluap-luap, sedang Manahan dengan penuh tekad serta janji kepada diri sendiri, untuk melenyapkan setiap unsur kejahatan yang merusak sendi-sendi penghidupan.

Kemudian mereka pun tidak dapat bertahan bertempur di titik yang sama.

Perlahan-lahan pertempuran itu berkisar dari satu lingkaran ke lingkaran yang lain, dengan menandai bekas-bekas yang mengerikan. Pohon-pohon berderakan roboh, serta batu-batu menghambur-hambur simpang-siur di udara. Kaki-kaki mereka telah memecahkan apa saja yang terinjak.

Medan pertempuran itu kemudian menjadi seolah-olah daerah angin prahara yang belit-membelit dan hantam-menghantam, bahkan kadang-kadang dibarengi dengan teriakan yang membahana seperti guntur disusul dengan benturan-benturan dahsyat dari tangan-tangan mereka yang saling menghantam.

Laskar dari kedua belah pihak yang menyaksikan pertempuran itu menjadi terpukau diam. Meskipun mereka pernah pula menyaksikan pertempuran-pertempuran dahsyat, apalagi laskar dari Gunung Tidar, namun kali ini merupakan suatu pertempuran yang benar-benar jarang terjadi.

Berbeda dengan pertempuran itu, Bagus Handaka masih saja bermain kucing-kucingan. Dengan cerdiknya ia memilih tempat-tempat yang gelap dan berpohon-pohon meskipun kadang-kadang ia dikejutkan oleh pukulan yang dahsyat dari Istri Sima Rodra, yang mematahkan pohon-pohon yang dipergunakan sebagai perisai.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
273

KEADAAN itu sebenarnya sangat menggetarkan hati Handaka. Namun adalah suatu keuntungan bahwa baik tubuhnya maupun jiwanya telah tertempa hebat, sehingga bagaimanapun ia tidak kehilangan akal.

Meskipun demikian, disamping melayani lawannya yang tangguh luar biasa, Manahan masih selalu mencemaskan muridnya. Hanya kadang-kadang saja ia sempat melirik Handaka yang berlari-larian di dekatnya, kemudian anak itu menyerang sekali dua kali, kemudian kembali berlindung di balik pohon-pohonan.

Namun bagaimanapun juga akhirnya Manahan terpaksa mengakui bahwa Handaka sama sekali tak akan dapat bertahan lebih lama lagi.

Karena itu Manahan telah berjuang semakin keras. Ia mengharap dapat segera menyelesaikan pertempuran. Dengan demikian ia akan dapat pula menyelamatkan Bagus Handaka. Tetapi ternyata Sima Rodra sekarang bukan lagi Sima Rodra tiga tahun yang alu. Sima Rodra itu ternyata telah memiliki berbagai macam ilmu yang belum dimilikinya dahulu. Gerakannya menjadi sangat garang, cekatan dan sangat berbahaya, sehingga untuk menandinginya, Manahan sudah harus memeras segenap ilmunya. Karena itu ia menjadi gelisah. Bagaimana jadinya Bagus Handaka kalau ia tidak segera dapat menolongnya.

Tetapi tiba-tiba terjadilah suatu hal di luar dugaan. Ketika Bagus Handaka telah benar-benar terdesak, dan tidak mampu untuk berbuat sesuatu, hati Manahan tergoncang hebat. Cepat ia meloncat mundur, menghindar dari lingkaran pertempuran.

Pada saat itu ia melihat tangan istri Sima Rodra itu telah terayun deras sekali, sedang Bagus Handaka yang baru saja kehilangan keseimbangan dan jatuh bergulingan, masih belum sempat meloncat berdiri.

Manahan tidak mempunyai kesempatan lagi untuk meloncat mendekati. Maka satu-satunya kemungkinan adalah menyelamatkan muridnya dari jarak jauh.
Untunglah bahwa ia masih sempat menyambar sebuah batu dan dengan sekuat tenaga batu itu dilemparkan ke arah istri Sima Rodra. Ternyata pertolongannya itu untuk sementara berhasil. Istri Sima Rodra terpaksa meloncat menghindari batu yang dengan derasnya menyambar kepalanya.

Saat yang sangat berharga itu ternyata dapat dipergunakan Handaka dengan baiknya. Cepat ia melenting berdiri dan dengan tangkasnya pula tangannya menyambar tombaknya, Kyai Bancak. Pada saat itu Manahan tidak dapat berbuat lebih banyak lagi. Sebab Sima Rodra telah menggeram dengan hebatnya dan menerkamnya sebagai seekor harimau yang kelaparan. Sehingga sesaat kemudian pertempuran telah berulang lagi dengan dahsyatnya.

Demikian juga Bagus Handaka, ia harus sudah bekerja mati-matian melawan istri Sima Rodra itu. Meskipun di tangannya telah tergenggam Tombak Pusaka Banyubiru, namun ia masih banyak mengalami kesulitan. Tetapi sedikit banyak tombak di tangannya itu akan dapat memperpanjang daya perlawanannya.

Tiba-tiba, ketika Bagus Handaka sekali lagi mengalami tekanan yang hebat, sedang Manahan masih belum sempat untuk menolongnya, datanglah sebuah bayangan yang seperti melayang memasuki lingkaran pertempuran.

Dengan tangan kirinya ia mendorong Bagus Handaka, sehingga anak itu jatuh terpelanting. Dan sesudah itu tanpa mengucapkan sepatah katapun ia langsung menyerang istri Sima Rodra. Bagus Handaka ketika kemudian telah dapat meloncat berdiri, memandang orang itu dengan penuh keheranan. Tenaganya meskipun terasa lunak, namun kuatnya bukan kepalang. Meskipun demikian, dalam keheranannya itu ia menjadi gembira pula.

Sebab menilik kekuatannya, ia mengharap bahwa orang itu dapat mengimbangi istri Sima Rodra. Kemudian dengan mulut ternganga ia memperhatikan pertempuran yang berlangsung dengan hebatnya. Kedua-duanya memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan, sehingga pertempuran itu seolah-olah berubah menjadi bayang-bayang daun yang bergerak-gerak ditiup angin pusaran.

Manahan dan Sima Rodra suami-istri pun tidak pula kalah herannya. Mereka sama sekali tidak mengenal siapakah orang yang telah berani ikut campur dalam pertempuran itu. Namun beberapa saat mereka tidak sempat memperhatikan lebih saksama lagi, karena masing-masing masih harus berjuang diantara hidup dan mati. Hanya kemudian terdengar istri Sima Rodra itu berteriak melengking karena marahnya. He, orang yang tak tahu diri. Siapakah kau yang berani mencampuri urusan kami?

Namun orang yang perkasa itu sama sekali tidak menjawab. Bahkan ia mempercepat gerakannya sehingga istri Sima Rodra itu terpaksa bekerja lebih keras lagi, sejalan dengan memuncaknya kemarahannya. Tetapi agaknya lawannya pun memiliki ketangkasan yang mengagumkan. Tangannya dengan lemasnya bergerak menyambar-nyambar seperti ujung ribuan cambuk yang bergerak bersama-sama, sehingga dengan demikian terasa bahwa serangan orang itu datangnya dari ribuan arah pula.

Hal yang sedemikian itu dapat dilihat pula oleh Sima Rodra. Ia kemudian agak mencemaskan istrinya. Maka sekarang ialah yang bekerja mati-matian untuk segera dapat menundukkan lawannya. Karena itu tandangnya menjadi semakin garang. Serangannya datang bergulung-gulung seperti ombak yang diguncang oleh badai. Namun ternyata lawannya tangguh seperti batu karang, yang sama sekali tak dapat ditundukkan.

Karena itu, maka tiba-tiba Harimau Hitam dari Gunung Tidar itu tidak sabar lagi. Dengan mengaum hebat, direntangkannya kedua belah tangannya, serta tubuhnya menggeletar dengan hebatnya. Itulah tandanya bahwa Hantu Gunung Tidar itu akan mempergunakan Aji Macan Liwung.

Melihat sikap lawannya, Manahan terkejut. Ia pernah melihat sikap yang demikian ketika ia melawan orang berkerudung kulit harimau hitam bersama-sama dengan Gajah Sora. Yang kemudian ternyata bahwa orang itu adalah Sima Rodra tua dari Lodaya. Ia mengenal gerak yang demikian, yang menurut seorang sakti dari Banyuwangi, Titis Anganten, adalah pemusatan tenaga untuk melontarkan Aji Macan Liwung. Karena itu untuk sesaat hatinya tergetar hebat. Tetapi Manahan tidak sempat berbuat banyak. Belum lagi ia sempat berbuat sesuatu, dilihatnya Sima Rodra itu telah meloncat dengan suatu auman yang mengerikan.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
274

UNTUNGLAH bahwa Manahan adalah murid Ki Ageng Pengging Sepuh yang mumpuni. Ditambah lagi dengan pengalaman yang telah menempa dirinya siang malam. Karena itu, melihat Sima Rodra menerkamnya dengan ajinya yang sangat berbahaya, Manahan tetap dapat menguasai dirinya. Dengan cermat ia mempelajari gerak lawannya untuk dengan tepat menghindarkan dirinya. Ketika kedua tangan Sima Rodra dengan kuku-kukunya yang mengembang itu melayang ke arahnya, cepat Manahan menjatuhkan diri dan berguling-guling ke arah yang berlawanan, justru lewat di bawah kaki Sima Rodra yang melayang di atas satu kakinya, kakinya yang lain ditekuk ke depan, sebuah tangannya menyilang dada dan yang lain diangkatnya tinggi-tinggi. Dengan gerak secepat petir menyambar, Manahan meloncat dan menghantamkan sisi telapak tangannya ke arah dada Sima Rodra yang baru saja berhasil memutar tubuhnya. Maka terjadilah suatu benturan yang maha dahsyat. Sima Rodra yang telah mengenal pula tanda-tanda yang mengerikan itu, segera mencoba menghimpun kekuatannya untuk melawan. Namun Sasra Birawa adalah suatu ilmu yang jarang ada tandingnya.

Itulah sebabnya maka tubuh Sima Rodra yang besar kekar itu terlempar beberapa langkah, dan kemudian seperti sebuah batu terbanting berguling-guling, dibarengi dengan pekik ngeri yang keluar sekaligus dari mulut istri Sima Rodra dan orang yang melawannya. Untuk beberapa kejap, orang yang bertempur melawan Harimau Betina Gunung Tidar itu diam mematung mengawasi tubuh Sima Rodra yang kemudian terbujur diam tak bergerak. Sedang mata yang membayangkan kengerian dan ketakutan tersirat di wajah istri Sima Rodra. Agaknya ia merasa, dengan kekalahan yang dialami oleh suaminya itu, merupakan suatu titik batas yang tak akan mampu lagi diatasi. Apalagi dengan demikian ia merasa bahwa ia harus berhadap-hadapan dengan orang yang telah berhasil membinasakan suaminya itu, di samping orang yang tak dikenalnya. Karena itu, meskipun dendamnya menggelegak sampai ke lehernya, maka ia lebih baik menghindarkan diri dari kebinasaan, untuk kelak dapat membalaskan sakit hati serta kematian suaminya. Maka selagi mereka masih belum sampai menarik perhatian atasnya, lebih baik ia melenyapkan diri.

Mendapat keputusan itu, secepatnya ia meloncat ke arah kudanya, dan dalam sekejap melontarkan diri ke punggung kuda itu, untuk seterusnya menarik kendali kudanya yang kemudian berlari seperti angin. Berbareng dengan itu mengumandanglah suara Harimau Betina itu berteriak, Tunggulah hari pembalasan akan datang.

Setelah derap suara kuda yang kemudian disusul oleh para pengawalnya itu lenyap, suasana menjadi hening sepi. Mereka kini ternyata telah berada agak jauh dari ujung desa, dimana pertempuran itu dimulai. Manahan, Bagus Handaka, orang yang takdikenal itu, beserta setiap orang yang berada di situ, berdiri diam seperti batu dengan wajah-wajah yang tegang.

Pandangan mereka berganti-ganti beralih dari Manahan, Bagus Handaka yang masih menggenggam Kyai Bancak, orang yang hanya tampak remang-remang dalam gelap malam, dan Sima Rodra yang terbujur diam, meskipun masih terdengar ia lamat-lamat mengerang menahan sakit dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada.

Untuk beberapa lama, orang itu mengawasi Sima Rodra pula. Tetapi kemudian, terjadilah suatu hal yang tak seorang pun menduganya. Dengan menggeram orang itu dengan dahsyatnya menjadi terkejut sekali. Untunglah bahwa ia cekatan, sehingga meskipun agak sulit, ia berhasil menghindarkan dirinya. Tetapi agaknya pemuda itu tidak mau berbicara lagi. Sekali lagi ia menyerang Manahan, sekali lagi dan sekali lagi berturut-turut.

Mula-mula Manahan yang masih bingung menebak-nebak, hanya selalu menghindar-hindar saja. Dengan suara bergetar ia mencoba bertanya, Ada apakah Ki Sanak menyerang aku?

Akibat dari pertanyaan itu mengherankan. Orang yang menyerang Manahan itu tiba-tiba terloncat selangkah mundur. Meskipun wajahnya tak begitu jelas dalam gelap malam, namun agaknya orang itu memperhatikan Manahan dengan saksama. Tetapi kemudian kembali ia mengejutkan tidak saja Manahan, juga orang-orang yang hadir menjadi semakin bertanya-tanya dalam hati. Sebab sesaat kemudian orang itu dengan tiba-tiba kembali meloncat menyerang Manahan dengan dahsyatnya.

Kembali Manahan dengan penuh pertanyaan mencoba menghindarkan diri dari serangan-serangan yang sangat berbahaya itu. Sekali dua kali Manahan masih berhasil meloncat-loncat seperti berpijak di atas batubara. Namun apa yang dapat dilakukan itu tidaklah lama. Sebab bagaimanapun juga orang itu ternyata memiliki ilmu yang tinggi pula, sehingga akhirnya Manahanpun menjadi jengkel. Akhirnya terpaksa Manahan pun mulai membalas serangan demi serangan. Dalam sekejap terjadilah kembali pertempuran yang dahsyat. Kedua-duanya memiliki tenaga serta kecepatan gerak yang mengagumkan.

Pertempuran ini pun tidak kalah dahsyatnya dengan pertempuran yang telah terjadi antara Manahan melawan Sim Rodra. Meskipun lawan Manahan ini belum memiliki kedahsyatan tenaga seperti Sima Rodra, namun kelincahannya sangat mengagumkan. Ia memiliki daya serang yang luar biasa serta membingungkan. Dua belah tangannya itu merupakan senjata yang sangat berbahaya.

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
275

KINI, Manahan seolah-olah kini berhadapan dengan seorang yang memiliki beberapa pasang tangan, yang bergerak bersama-sama menyerangnya.

Itulah sebabnya semakin lama Manahan semakin kehilangan kesabaran. Ia tidak mau menjadi korban dari suatu masalah yang gelap, yang sama sekali tak diketahuinya. Maka akhirnya, dengan mengerahkan kekuatannya, Manahan pun kemudian berjuang dengan hebatnya. Serangannya datang seperti asap yang bergulung-gulung melibat lawannya. Karena itu beberapa lama kemudian terasa bahwa Manahan akan dapat menguasai keadaan. Setapak demi setapak tetapi pasti, ia selalu berhasil mendesaknya.

Tetapi dalam pada itu lawannya pun segera mengerahkan segenap tenaganya. Gerakannya menjadi semakin lincah dan cepat. Agaknya ia pun menyadari bahwa lawannya memiliki beberapa kelebihan daripada dirinya. Karena itu ia bertempur dengan sangat berhati-hati.

Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu, termasuk Bagus Handaka, tidak habisnya keheran-heranan. Mereka sama sekali tidak tahu persoalan apa yang telah terjadi. Mula-mula mereka melihat seseorang membantu Bagus Handaka melawan istri Sima Rodra sehingga sepasang Harimau Gunung Tidar itu sudah dapat dikalahkan. Tetapi yang tiba-tiba saja malahan orang yang telah membantu itu dengan dahsyatnya berganti menyerang.

Namun demikian tak seorangpun berani berbuat sesuatu. Tak seorangpun yang berani mencoba melerainya. Jangankan para penduduk Gedangan, sedang Bagus Handaka pun melihat pertempuran itu dengan wajah yang kagum. Pada saat Manahan bertempur dengan Sima Rodra, ia sama sekali tidak sempat menyaksikannya, sebab ia sendiri harus selalu berloncat-loncatan menghindari serangan istri Sima Rodra.

Pada saat ia menyaksikan pertempuran antara orang yang menolongnya itu melawan istri Sima Rodra yang tak sehebat gurunya, iapun telah mengaguminya. Apalagi pertempuran itu. Diam-diam ia menjadi semakin kagum melihat keperkasaan Manahan, namun ia heran juga melihat orang dapat bertempur selincah lawan gurunya itu.

Tetapi yang tak seorang pun tahu, adalah kesibukan hati Manahan. Ketika lawannya telah sangat terdesak, dan melawannya dengan segenap ilmu yang dimilikinya, Manahan menjadi berdebar-debar. Agaknya ia pernah bertempur dengan seseorang yang memiliki ilmu yang demikian dahsyat serta lincah. Meskipun demikian sesaat ia masih bertempur sepenuh tenaga. Ia tak mau ditelan oleh angan-angannya, yang belum mendapat kepastian. Karena itulah ia masih saja mendesak maju, serta mempersempit setiap kesempatan bergerak dari lawan, yang bagaimanapun lincahnya, akhirnya merasakan juga ilmunya belum dapat disejajarkan dengan ilmu yang dimiliki oleh Manahan.

Akhirnya ketika ia sudah tidak mampu lagi melawan dengan tangannya, tiba-tiba memancarlah sebuah cahaya yang berkilat-kilat. Di tangan orang itu kemudian tergenggam sehelai pedang yang tipis, yang agak lebih kecil sedikit dibandingkan dengan pedang biasa.

Melihat pedang itu hati Manahan berdesir. Cepat ia meloncat mundur, dan dengan dada bergetaran ia akan mencoba untuk menghentikan pertempuran. Namun belum lagi mulutnya sempat mengucapkan kata-kata, orang itu telah meloncat menyerang dadanya. Tetapi sekarang Manahan tidak lagi berusaha untuk melawan, bahkan menghindar pun tidak.

Ketika ia melihat pedang itu, dan kemudian ia melihat ujung pedang itu selalu bergetar dalam tangan lawannya, ia sudah pasti, siapakah orang itu. Karena itu betapa menyesalnya, bahwa ia telah benar-benar bertempur, dan bahkan mungkin sudah menyakitinya pula.

Dalam sesaat itu, ia sudah dapat mengetahui hampir segala persoalan kenapa tiba-tiba ia diserangnya. Juga ia yakin bahwa lawannya telah pula mengetahui siapakah sebenarnya dirinya.

Sebaliknya, orang itupun terkejut ketika Manahan sama sekali tak menghindari mata pedangnya yang sudah hampir merobek dada itu. Kalau semula ia benar-benar marah dan dendam, namun ketika Manahan sama sekali seolah-olah pasrah diri, hatinya bergoncang.

Tiba-tiba saja timbullah suatu perasaan, bahwa tidak semestinyalah ia harus melukai orang itu, apalagi setelah lawannya itu pasrah. Lebih-lebih sampai mengambil jiwanya. Karena itu, kemudian dengan gugupnya ia mencoba untuk menarik serangannya.

Tetapi sayang bahwa lontaran tenaga loncatnya sedemikian besar. Maka yang dapat dilakukannya adalah mengubah arah pedangnya. Meskipun demikian, karena ujung pedangnya yang setajam pisau pencukur itu sudah hampir melekat dada, maka terpaksa ujung pedang itu masih menggores lengan Manahan.

Mengalami peristiwa itu, Manahan berdesis kecil sambil terdorong setapak ke samping oleh gerak naluriahnya. Tetapi setelah itu, kembali ia tegak seperti patung, tanpa suatu usaha untuk membalas, apalagi membinasakan lawannya.

Berdesirlah setiap dada, dari mereka yang mengelilingi arena pertempuran itu. Sedang diantara mereka, dada Handakalah yang paling terguncang. Tanpa disengajanya ia telah meloncat maju. Tetapi kemudian ia tidak berani melangkah, sebelum mendapat izin dari gurunya.

Meskipun keinginannya untuk melakukan apapun karena kemarahannya yang telah memuncak melihat gurunya dilukai, pada saat gurunya sudah menghentikan perlawanan. Sedangkan ia yakin bahwa kalau saja Manahan menghendaki, pasti ia berhasil menghindari tusukan pedang itu.

Tetapi lebih dari segala keanehan yang telah terjadi, orang-orang di sekitar arena pertempuran itu seolah-olah benar-benar melihat suatu pertunjukan yang sengaja untuk memusingkan kepala mereka. Sebab setelah itu, tiba-tiba ia melihat orang yang telah melukai Manahan itu pun berdiri pula seperti patung sambil menundukkan wajahnya dalam-dalam. Sebenarnyalah bahwa ia pun sangat menyesal bahwa Manahan telah terluka.

 

276

ORANG itu merasa bersalah, bahkan lebih dari itu, berbagai-bagai perasaan bergulat di dalam hatinya. Karena itu dengan tangan bergetar ia menyarungkan pedangnya perlahan-lahan. Setelah itu, tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya dan berlari ke arah Sima Rodra yang masih saja terlentang sambil mengerang kesakitan. Segera ia menjatuhkan dirinya, dan berlutut di sampingnya.

Suasana kemudian dicengkam oleh kesepian yang mendalam. Setiap orang seakan-akan mencoba untuk tidak melakukan suatu gerakan pun. Bahkan suara nafas mereka menjadi tertahan-tahan pula.

Tetapi tiba-tiba di dalam kesepian itu terdengarlah suara tangis yang tertahan. Beberapa orang hampir menjadi tak percaya kepada dirinya sendiri, bahwa mereka telah mendengar tangis seorang perempuan.

Ayah… terdengar suara di antara isak tangis itu.

Untunglah, bahwa pada saat itu sisi telapak tangan Manahan menghantam dada Sima Rodra, ia sedang dalam kesiagaan penuh untuk melontarkan ajinya Macan Liwung, sehingga daya kekuatannya pun telah dipergunakan hampir sepenuhnya. Dengan demikian ia telah terhindar dari kebinasaan yang mengerikan.  Bahkan karena kekuatan tubuhnya yang melampaui kekuatan manusia biasa, setelah mengalami penggemblengan dari mertuanya, Sima Rodra tua dari Lodaya, ia masih tetap hidup, meskipun keadaannya sudah sangat payah karena luka-luka di tubuhnya bagian dalam.

Karena itu ia masih dapat mendengar seseorang menangis di sampingnya. Ketika ia membukakan matanya, ia terkejut. Yang menangis berlutut di sampingnya itu adalah orang yang telah bertempur melawan istrinya. Maka dengan penuh keheranan ia memandanginya.

Apalagi sekali lagi ia mendengar orang itu memanggilnya dengan suara sayu, Ayah….

Bagaimanapun buasnya Harimau Gunung Tidar itu, ketika pada saat-saat jiwanya dalam bahaya, dan tiba-tiba seorang dengan sayu menangisinya, kebuasannya tiba-tiba menjadi luluh. Lebih-lebih lagi ketika ternyata suara itu adalah suara perempuan. Disamping perasaan sakit yang menyengat-nyengat hampir seluruh tubuhnya, hatinya diganggu oleh pertanyaan yang hampir tak masuk di akalnya, bahwa masih ada seorang perempuan kecuali istrinya, yang sudi menangisinya, justru baru saja ia bertempur mati-matian melawan istrinya itu.

Maka karena kebingungannya itulah dengan suara yang gemetar ia bertanya, Siapakah kau…?

Orang yang berlutut itu memandang wajah Sima Rodra dengan pandangan lembut penuh haru. Meskipun ia pernah mendendamnya, namun sekarang, di hadapan orang yang telah sama sekali tak mampu bergerak itu, segala perasaan dendamnya seperti lenyap dihanyutkan banjir.
Karena beberapa lama tidak terdengar jawaban, kembali Sima Rodra bertanya terputus-putus, Siapakah kau…?

Orang yang berlutut di hadapannya itu seperti tersadar dari mimpi. Maka dengan suara yang gemetar pula ia menjawab lirih, Ayah…, aku anakmu…, Rara Wilis.

Wilis, kau Rara Wilis…? tanya Sima Rodra dengan suara yang tergagap. Matanya terbelalak, memancarkan cahaya yang aneh.

Ya, ayah…. Aku Rara Wilis.

Wilis… Wilis…. Suara Sima Rodra mengulang-ulang nama itu seperti hendak meyakinkan kebenarannya. Dan mendadak ia berusaha untuk mengangkat kepalanya, namun tenaganya sudah tidak memungkinkan lagi, karena itu segera ia terjatuh kembali.

Untunglah Manahan yang dikenal oleh Sima Rodra dan Rara Wilis dengan nama Mahesa Jenar, dengan cepat menangkap kepala Sima Rodra, sehingga tidak terantuk tanah.

Melihat Mahesa Jenar berusaha menolongnya, Sima Rodra menggeram marah. Meskipun tubuhnya telah terlalu letih, namun ia memaki-maki juga. Pergilah kau Mahesa Jenar yang menyangka bahwa dirimu adalah manusia yang paling tulus di dunia ini. Jangan kau kotori tanganmu dengan kejahatan yang melekat pada tubuhku.

Meskipun demikian, Mahesa Jenar tidak melepaskan tangannya untuk menahan kepala Sima Rodra. Dan karena Sima Rodra tidak berdaya untuk menghindari maka akhirnya ia berdiam diri.

Tenangkanlah hatimu Sima Rodra, bisik Mahesa Jenar. Dalam saat yang demikian tidak seharusnya kau masih mendendam.

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu kembali Sima Rodra menggeram. Namun ia tidak berkata apa-apa. Akhirnya kembali matanya menatap orang yang mengaku diri anaknya. Maka meluncurlah dari bibirnya yang bergerak perlahan-lahan suatu keluhan singkat. Kemudian ia mencoba berkata pula, Wilis… benarkah kau anakku…?

Ya ayah, aku benar-benar anakmu yang kau tinggalkan bersama ibu, jawab Rara Wilis sedih.

Di mana ibumu sekarang? tanya Sima Rodra semakin lemah.

Kembali Rara Wilis terisak. Dengan kata-kata yang hampir tak terdengar ia membisiki ayahnya, Ibu telah meninggal, setahun sepeninggal ayah.

Sima Rodra menarik nafas dalam-dalam.
Wilis… katanya kemudian, Maafkanlah ayahmu ini. Mungkin kau telah mendengar segenap garis perjalanan hidupku yang dipenuhi oleh noda-noda hitam. Sampaikan pula permintaan maafku kepada kakekmu, Ki Santanu.

Ayah… sahut Rara Wilis, Lupakanlah apa yang pernah terjadi. Aku sudah berjuang dengan sepenuh tenagaku atas petunjuk dan bantuan kakek yang ternyata juga bernama Ki Ageng Pandan Alas. 

PANDAN Alas…? ulang Sima Rodra.
Ya ayah, Kakek Santanu adalah Ki Ageng Pandan Alas, jawab Rara Wilis menegaskan.

O… kembali Sima Rodra menarik nafas dalam-dalam. Suaranya semakin perlahan-lahan, meskipun cukup jelas, Alangkah bodohnya aku, dan agaknya mataku telah buta pula. Tetapi, benarkah bahwa Ki Santanu itu Ki Ageng Pandan Alas…? Agaknya daripadanya pula kau memperoleh ilmu yang dahsyat itu….

Rara Wilis mengangguk kecil. Aku pelajari dengan tekun, siang dan malam, untuk dapat merebut ayah kembali dari tangan Harimau Betina Gunung Tidar. Setelah cukup ilmuku, aku pergi merantau mencari ayah pula. Ketika aku mendengar di daerah ini, segera aku menyusul. Dan sekarang aku telah menemukan ayah dalam keadaan parah.

Kembali terdengar Rara Wilis menangis terisak-isak. Sedangkan mata Sima Rodra itu memancarkan sinar kemarahan yang tak terhingga kepada Mahesa Jenar.

Sudahlah Wilis… kata Sima Rodra, Kau adalah seorang gadis yang perkasa melampaui laki-laki biasa. Karena itu jangan menangis. Kalau kau bertemu dengan kakekmu, sampaikan baktiku. Ki Panutan yang telah mendurhaka. Tetapi dapatkah kau buktikan bahwa Ki Santanu adalah Ki Ageng Pandan Alas?

Perlahan-lahan Rara Wilis mengangguk. Ditariknya sebilah keris dari wrangka di lambungnya di balik bajunya. Sambil menunjukkan keris itu ia berkata, Inilah ayah.

Sigar Penjalin… desis Sima Rodra, Cobalah aku merabanya.

Segera keris itu diserahkan kepada Sima Rodra yang menerimanya dengan sisa tenaganya. Meskipun demikian, terjadilah sesuatu diluar dugaan mereka. Dengan tangannya yang lemah Sima Rodra mencoba menggoreskan keris yang sakti tiada taranya itu ke tangan Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar terkejut bukan kepalang. Demikian juga Rara Wilis yang sama sekali tidak menduga bahwa ayahnya akan berlaku demikian. Karena itu tidak sesadarnya ia memekik kecil.

Kenapa kau terkejut Wilis…? Biarlah aku mati bersama-sama dengan orang yang telah membunuhku. Adakah kau kenal dia…?

Rara Wilis mengangguk perlahan.

Melihat Rara Wilis mengangguk, Sima Rodra, yang mula-mula bernama Ki Panutan, mengernyitkan alisnya, Hem… desahnya. Siapakah orang ini sebenarnya…?

Sebagai yang ayah kenal, jawab Rara Wilis, Namanya Mahesa Jenar, yang mencoba melawan kejahatan. Menurut kakek, ia adalah bekas seorang prajurit yang bergelar Rangga Tohjaya.

Bekas prajurit…? ulang Ki Panutan, yang kemudian disebut Sima Rodra muda. Apakah hubunganmu atau kakekmu dengan dia?

Tak ada, sahut Rara Wilis.

Tetapi Kakang Mahesa Jenar itu pernah membebaskan aku dari kebuasan Jaka Soka Nusakambangan.

He… Sima Rodra terkejut, setelah itu tubuhnya bertambah lemah. Dengan suara yang hampir berbisik ia berkata, Syukurlah kau terlepas dari tangan Ular Laut yang keji itu.

Kemudian kepada Mahesa Jenar ia berkata, Maafkan aku Mahesa Jenar. Agaknya kau benar-benar telah berjuang untuk menegakkan sendi-sendi kebajikan. Kalau demikian biarlah dalam saat yang terakhir ini aku bercermin diri. Baik… kau Wilis… maupun kau Mahesa Jenar… telah menempatkan diriku pada titik kesadaran. Karena itu aku akan berlalu dengan hati yang lapang.

Ayah… potong Rara Wilis, Aku telah bersusah payah, berusaha untuk menemukan ayah. 

Ki Panutan itu tampak tersenyum.

Meskipun wajahnya yang ditumbuhi oleh rambut-rambutnya yang lebat, yang baru beberapa waktu berselang memancarkan cahaya yang mengerikan, sebagai seorang yang menamakan dirinya Sima Rodra, kini tiba-tiba telah berubah sama sekali.

Dengan mata yang bersih bening, serta senyum keikhlasan, ia berbisik perlahan sekali, Wilis… biarlah aku pergi. Puaslah sudah hatiku setelah aku mengetahui bahwa anakku telah menjadi seorang gadis yang perkasa, serta berhati bersih. Kau mau berlutut di sampingku meskipun kau tahu bahwa hidupku penuh diwarnai oleh noda dan dosa.

Setelah itu, nafasnya menjadi semakin sesak. Beberapa kali Ki Panutan itu menggeliat menahan sakit.

Ayah… ayah…. Rara Wilis hampir memekik.

Ki Panutan yang telah memejamkan matanya itu perlahan-lahan membukanya kembali. Sekali lagi ia tersenyum penuh keikhlasan.

Ayah, jangan pergi…. jerit Rara Wilis yang sudah kehilangan keperkasaannya menyaksikan keadaan ayahnya, tetapi ia telah berubah menjadi seorang gadis kembali yang menyaksikan saat-saat terakhir dari ayahnya yang selama ini dicarinya.

Tetapi tak seorang pun yang kuasa menahan renggutan maut. Demikianlah perlahan-lahan Ki Panutan itu menutup matanya. Ia masih sempat menyilangkan tangannya di dadanya sebagai suatu pernyataan keikhlasan hatinya. Diantara rambut yang tumbuh hampir memenuhi wajahnya itu, terseliplah bibirnya membayangkan senyum. Dan sesaat kemudian Ki Panutan yang telah menggemparkan dengan kebiasaannya menculik gadis-gadis untuk upacara-upacara kepercayaannya yang aneh-aneh, serta perampokan dan kejahatan-kejahatan yang pernah dilakukan di bawah nama Sima Rodra serta panji-panji bergambar harimau hitam, kini meninggal dunia di tangan musuh utamanya dengan penuh keikhlasan.

Bersamaan dengan itu terdengarlah Rara Wilis memekik tinggi. Dengan tangis yang memancarkan kekecewaan hatinya, ia menelungkup di atas tubuh ayahnya yang sudah membeku.

Melihat semuanya itu, serta setelah mendengar pembicaraan mereka, orang-orang Gedangan menjadi sedikit banyak dapat menangkap persoalan di antara mereka. Meskipun demikian mereka masih berdiri tegak seperti patung.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
278

BAGUS Handaka juga tidak beranjak dari tempatnya. Ia kini sudah teringat siapakah orang itu. Namun ia mengenalnya sebagai Pudak Wangi.

Maka terharulah sekalian yang menyaksikan peristiwa itu. Pertemuan pada saat-saat terakhir yang memilukan. Tidak ketinggalan pula hati Mahesa Jenar. Disamping itu ia tidak mengerti apa yang harus dilakukan.

Tiba-tiba kembali hatinya digetarkan oleh gadis anak Ki Panutan itu. Dengan tangkasnya gadis itu berdiri tegak. Tangan kirinya menggenggam Kyai Sigar Penjalin, sedangkan tangan kanannya menuding ke arah Mahesa Jenar dengan pandangan yang menyala-nyala.

Rara Wilis hampir saja tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Setelah bertahun-tahun ia bekerja keras untuk dapat merebut ayahnya dan kemudian berangan-angan untuk dapat hidup damai kembali di tempat asalnya, ternyata kini pada saat yang diimpi-impikan itu datang, ayahnya terbunuh oleh Mahesa Jenar.

Maka dengan gemetar penuh luapan perasaan ia berkata, Kakang Mahesa Jenar. Kau telah merampas seluruh masa depan yang kuangan-angankan selama ini. Karena itu Kakang, aku akan membuat suatu perhitungan hutang-piutang. Kau telah membebaskan diriku dari tangan Jaka Soka di hutan Tambak Baya. Tetapi kemudian kau binasakan ayahku pada saat aku menemukannya. Dengan demikian maka aku anggap bahwa hutang-piutang kita telah lunas. Sejak ini aku anggap bahwa aku adalah orang yang sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan Mahesa Jenar. Semua persoalan berikutnya adalah persoalan yang harus diperhitungkan tersendiri.

Wilis… jawab Mahesa Jenar. Tetapi ia tidak sempat berkata lebih banyak lagi, sebab sekejap kemudian Rara Wilis telah meloncat dengan kecepatan yang mengagumkan, menerobos ke dalam gelap malam, dan hilang di dalamnya.

Mahesa Jenar kemudian diam tertegun. Banyak hal yang sebenarnya akan diutarakan. Tetapi apa boleh buat. Sebenarnya ia sangat kecewa mendengar kata-kata Rara Wilis. Kalau ia membunuh Sima Rodra, adalah karena Sima Rodra telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Bertentangan dengan perikemanusiaan, apalagi dipandang dari segi Ketuhanan.

Namun demikian ia percaya, bahwa pada suatu saat Rara Wilis pasti akan dapat menginsyafi hal ini.

Melihat kekisruhan yang sedang membelit hati Mahesa Jenar, yang dikenal oleh penduduk Gedangan bernama Manahan, tak seorang pun berani mendekatinya, apalagi bertanya sesuatu kepadanya, termasuk Bagus Handaka. Baru kemudian ketika Manahan itu telah melangkah pergi dan mengajak muridnya, Wiradapa segera menjejerinya, meskipun ia masih berdiam diri.

Pada pagi hari berikutnya, atas permintaan Mahesa Jenar, diselenggarakanlah pemakaman Sima Rodra muda yang sebenarnya bernama Ki Panutan, dengan baik. Bagaimanapun jahatnya orang itu, namun pada saat terakhirnya, ia sudah menemukan dirinya kembali. Karena itu wajarlah bahwa terhadap jenazah itu tidak perlu dilakukan pembalasan dendam.

Namun bagaimanapun, pada hari itu perasaan Manahan seolah-olah sedang diselimuti oleh kabut tebal. Ia merasa bahwa dirinya telah dihanyutkan oleh keadaan yang sama sekali tak menguntungkan. Adalah suatu kebetulan yang sangat menyulitkan bahwa orang yang pertama-tama dibinasakan adalah Sima Rodra, ayah Rara Wilis.

Meskipun demikian, dengan penuh kesadaran Mahesa Jenar yang juga bernama Manahan itu, tetap pada pendiriannya. Bahwa mereka yang termasuk dalam golongan hitam harus dibinasakan, terutama pemimpinnya, yang mempunyai nama menggetarkan seperti Lawa Ijo, sepasang Uling dari Rawa Pening, Jaka Soka dari Nusakambangan, dan tidak ketinggalan Istri Sima Rodra yang masih tidak kalah berbahayanya.

Maka karena semuanya itu pula Mahesa Jenar teringat pada kesanggupannya untuk mencari Keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Diketemukannya kedua keris itu, akan dapat membuktikan pula bahwa Gajah Sora tidak bersalah.

Karena itu maka ia bermaksud untuk secepatnya meninggalkan Gedangan meneruskan perjalanan. Tetapi kemana…?

Dari Wiradapa ia pernah mendengar seorang yang menamakan diri Panembahan Ismaya. Menurut Wiradapa, berdasarkan kabar yang baru-baru saja didengarnya, orang itu adalah seorang yang sangat luas pengetahuannya.

Meskipun Panembahan Ismaya itu hampir tidak meninggalkan pertapaannya, namun ia adalah seorang yang sakti, yang mungkin dapat menunjukkan di manakah keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, atau setidak-tidaknya petunjuk ke mana ia harus mencari, atau bagaimanakah caranya untuk menemukannya.

Dengan demikian maka timbullah keinginan Manahan untuk bertemu dengan orang yang disebut Panembahan Ismaya itu. Seandainya orang itu tidak dapat menunjukkan pusaka-pusaka yang hilang itu, namun setidak-tidaknya pertemuan dengan seorang Panembahan akan banyak memberinya manfaat.
Maka segera Manahan mengemukakan hasratnya itu kepada Wiradapa, untuk mendapat petunjuk-petunjuk ke mana ia harus pergi serta syarat-syarat yang diperlukan untuk menemui Panembahan Ismaya.

Setelah ia mendapat beberapa petunjuk maka segera ia minta diri untuk menghadap Panembahan itu, serta seterusnya melanjutkan perjalanannya. Tentu saja Wiradapa merasa keberatan, tetapi bagaimanapun juga Manahan terpaksa meninggalkan padukuhan kecil itu.

Setelah Manahan memberikan beberapa petunjuk untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang mungkin datang, baik dari pihak Sawung Sariti maupun dari pihak istri Sima Rodra, dengan memberikan latihan-latihan singkat kepada beberapa orang, barulah Manahan tega meninggalkan pedukuhan Gedangan. Sebab kemungkinan yang paling baik adalah mempergunakan senjata-senjata jarak jauh dengan mengandalkan jumlah yang banyak. Sebab tidak mungkin mereka melakukan perlawanan perseorangan terhadap orang-orang seperti Sawung Sariti ataupun Istri Sima Rodra.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
279

DI suatu pagi yang cerah, berangkatlah Manahan dan Bagus Handaka meninggalkan Gedangan untuk menghadap seorang yang menamakan dirinya Panembahan Ismaya, dengan diantar oleh berduyun-duyun penduduk yang ditinggalkan sampai ke ujung desa. Mereka melepas Manahan bersama muridnya dengan hati yang berat. Sedang sebenarnya Manahan pun merasa khawatir pula. Tetapi ia mengharap bahwa apabila masih ada orang-orang yang mendendam, dendam mereka tidak ditujukan kepada rakyat Gedangan, tetapi kepada dirinya yang telah bertekad menghadapi segala akibat dari perbuatannya.

Sebaliknya, dengan perjalanan itu, Handaka menemukan kegembiraannya kembali. Berjalan di alam luas, di bawah langit yang terentang tanpa batas. Batu -batu yang menjorok di lereng-lereng bukit, serta semak-semak yang terserak-serak diantara padang-padang ilalang, tampaknya sangat mengagumkan di bawah cahaya pagi. Gemersik daun-daun yang bergerak ditiup angin, terdengar seperti suara orang yang berbisik-bisik, terpesona oleh kebesaran alam serta Maha Penciptanya.

Di lereng-lereng bukit, di kehijauan rumput yang basah oleh embun, tampak berloncat-loncatan, dan kemudian menghilang di dalam semak anak-anak kijang yang keriangan. Tetapi perjalanan mereka kali ini bukanlah perjalanan yang terlalu jauh. Setelah mereka bermalam satu malam di perjalanan, maka pada keesokan harinya, tanda-tanda yang pertama dari padepokan yang dicarinya telah tampak. Di sebuah puncak bukit kecil, tampaklah dari kejauhan sebatang pohon beringin tua yang menghijau diantara batu-batu padas yang berwarna sawo. Itulah padepokan yang dinamai oleh penghuninya Karang Tumaritis. Di situlah Panembahan Ismaya mengolah diri, bertapa mesuraga.
Belum lagi matahari mencapai titik tertinggi di langit, mereka telah menyusur jalan setapak yang melingkar-lingkar menaiki lereng bukit kecil itu.

Sampai di lambung bukit, Manahan dan Bagus Handaka telah dipesonakan oleh tanam-tanaman berbunga yang asri. Di sana sini tampaklah taman-taman yang teratur rapi, diwarnai oleh dedaunan yang berseling-seling. Tanam-tanaman yang berdaun lebar, berdaun sedang dan tanam-tanaman yan berdaun sempit. Dari yang berwarna hijau muda, hijau tua dan berwarna kemerah-merahan.

Demikianlah Manahan dan Bagus Handaka berjalan di antara keindahan taman bunga yang digarap oleh tangan yang pasti sangat mencintai alam. Beberapa lama kemudian tampaklah dua orang cantrik menuruni lereng itu. Wajahnya jernih cerah dan masih sangat muda, sebaya dengan Bagus Handaka. Meskipun pakaian mereka sangat sederhana, namun tampaknya bersih dan serasi.

Tetapi mereka menjadi terkejut sekali ketika mereka melihat Manahan dan Bagus Handaka menaiki bukit itu. Bahkan mereka kemudian terpaku seperti patung dengan pandangan yang bertanya-tanya. Melihat sikap mereka, segera Manahan mengetahuinya, bahwa pasti bukit kecil yang terpencil ini sangat jarang dikunjungi orang.

Untuk segera menghilangkan kesan yang kurang baik, segera Manahan dan Bagus Handaka mengangguk hormat.

Melihat tamunya mengangguk, kedua cantrik itupun segera menanggapinya, dan dengan ramahnya berkata, Tuan… apakah keperluan Tuan berdua mengunjungi tempat kami yang tak berarti ini?

Dengan ramah pula Manahan menjawab, Ki Sanak, kedatangan kami kemari adalah terdorong dari keinginan kami untuk menghadap yang terhormat Panembahan Ismaya yang bertapa di bukit Karang Tumaritis. Bukankah bukit ini yang bernama Karang …?

Kedua cantrik itu tersenyum. Salah seorang diantaranya menjawab, Benar Tuan, bukit kecil ini memang bernama Karang Tumaritis. Dan di bukit ini pula tinggal Panembahan Ismaya. Kami adalah cantrik-cantrik yang mengabdikan diri pada Panembahan. Kalau Tuan-tuan ingin menghadap, baiklah kami sampaikan nama Tuan-tuan berdua kepada Panembahan Ismaya. Sedang Tuan-tuan kami persilahkan untuk menanti di bawah beringin itu.

Baiklah Ki Sanak, sahut Manahan. Nama kami adalah Manahan dan Bagus Handaka.

Setelah mengangguk sekali lagi, segera kedua cantrik itu berlalu untuk menyampaikan permintaan kedua orang tamu yang akan menghadap Panembahan.

Di bawah beringin tua, Manahan dan Bagus Handaka menanti, sambil menikmati keindahan lembah dan ngarai yang terbentang di bawah bukit kecil itu. Pandangan mata mereka beredar dari relung-relung lembah, padang-padang rumput di dataran yang berseling dengan semak-semak, kemudian merayapi lereng-lereng bukit kecil itu sendiri dan akhirnya taman bunga di sekitar mereka.

Tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka melihat beberapa bagian dari taman itu tersulam beberapa jenis tanaman baru. Bukan karena jenis tanaman baru itu akan menambah keasriannya, tetapi jelas bahwa sulaman itu disebabkan karena kerusakan. Dugaan mereka bertambah kuat pula ketika mereka melihat pagar-pagar hidup yang membatasi jalan-jalan sempit di pekarangan itu terdapat beberapa sulaman pula. Siapakah kira-kira yang merusakkan tanaman-tanaman yang begitu rapi itu…?

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
280

BELUM lagi Manahan dan Bagus Handaka selesai menikmati seluruh isi halaman itu, tampaklah kedua cantrik yang menemuinya tadi berjalan mendekatinya.
Dua cantrik itu baru saja muncul dari sebuah rumah kecil yang berdinding kayu, dan beratap ijuk. Meskipun rumah itu sederhana saja, tetapi tampak betapa cermat pemeliharaannya.

Beberapa langkah di depannya, kedua cantrik itu berhenti. Dan setelah membungkuk hormat, berkatalah salah seorang, Tuan, marilah Tuan berdua kami persilahkan menungu di gubug kami dahulu. Panembahan tengah merendam diri di telaga Pangawikan di bagian selatan bukit ini. Nanti apabila matahari telah surut beliau baru kembali.

Ki Sanak… jawab Manahan, Biarlah kami menunggu di sini saja. Alangkah sejuknya udara, dan alangkah indahnya pemandangan.

Kedua cantrik itu tersenyum, maka berkata yang lain, Tuan terlalu memuji. Tetapi Panembahan selalu tidak puas dengan hasil kerja kami.

Pastilah Panembahan Ismaya seorang yang cinta pada alam, sahut Manahan.

Tuan benar, jawab salah seorang cantrik itu. Sesaat kemudian ia melanjutkan, Namun begitu marilah kami persilahkan beristirahat di gubug kecil itu sambil menunggu kedatangan Panembahan.

Tidak sepantasnyalah kalau Manahan menolak ajakan itu. Maka bersama-sama dengan Bagus Handaka segera mereka diantar memasuki rumah kayu yang beratap ijuk itu. Meskipun rumah itu pendek dan beratap ijuk, namun kesejukan udara terasa meresap ke dalamnya. Mereka berdua dipersilahkan duduk diatas bale-bale bambu yang besar di sisi pintu.

Tuan… kata salah seorang, Kami persilahkan Tuan menunggu sebentar, kami akan minta diri untuk menyelesaikan pekerjaan kami.

Silahkan, kata Manahan sambil mengangguk.

Kedua orang itu segera meninggalkan Manahan dan Bagus Handaka, tetapi sementara itu, muncullah seorang cantrik yang lain, yang agak lebih tua dari kedua cantrik tadi. Dengan senyum ramah pula ia menyapa, Tuankah yang bernama Mahesa Jenar dan Arya Salaka?

Mendengar pertanyaan itu Manahan dan Bagus Handaka serentak terbelalak karena terkejut. Mereka memperkenalkan diri sebagai Manahan dan Bagus Handaka, tetapi cantrik itu menyebut nama-nama mereka yang sebenarnya. Karena itu dada mereka jadi tergetar.

Sebaliknya, cantrik itupun menjadi terkejut pula. Ia tertegun berdiri di pintu seperti kebingungan. Tiba-tiba berkatalah ia, Tuan… kalau demikian agaknya aku salah duga. Mungkin ada tamu yang lain yang bernama seperti yang aku sebutkan tadi. Sebab Panembahan telah memerintahkan kepadaku untuk datang mendahului kemari menemui kedua orang tamu yang bernama Mahesa Jenar dan Arya Salaka, putra Kepala Daerah Perdikan Banyubiru. Maka maafkanlah kesalahan ini. Selanjutnya siapakah Tuan berdua yang barangkali akan menemui Panembahan?
Manahan dan Bagus Handaka menjadi semakin kisruh. Agaknya Panembahan Ismaya telah mengetahuinya, bahkan sampai pada orang tua Arya Salaka. Karena itu maka Manahan menjadi berterus terang, Ki Sanak, benarlah kami berdua yang bernama Mahesa Jenar dan Arya Salaka. Putra Kepala Daerah Perdikan Banyubiru.

Cantrik itulah kemudian yang tampak bingung. Lalu katanya dengan tarikan nafas dalam-dalam, Syukurlah, tetapi agaknya Tuan terkejut ketika aku menyebut nama Tuan.

Mendapat pertanyaan itu, Manahan bertambah sibuk. Namun akhirnya ia berkata dengan jujur, Ki Sanak, pada saat aku datang, aku memperkenalkan diriku dengan nama yang akhir-akhir ini kami pakai dalam pengembaraan kami, yaitu Manahan dan Bagus Handaka. Karena itulah kami terkejut ketika Ki Sanak menyebut nama-nama kami yang sebenarnya.

O…. desis cantrik itu. Aku juga tidak mengerti, dari mana Panembahan tahu nama-nama Tuan yang sebenarnya.

Mendengar keterangan itu, Manahan dan Bagus Handaka menjadi terpesona. Mereka merasa bahwa mereka benar-benar akan bertemu dengan Panembahan Ismaya yang waskita.

Kalau demikian… cantrik itu melanjutkan, Biarlah aku menemani Tuan-tuan di sini seperti perintah Panembahan, sebelum beliau datang.

Kemudian duduklah cantrik itu bersama-sama dengan Mahesa Jenar dan Arya Salaka. Dari cantrik itu pula, Mahesa Jenar tahu bahwa seorang cantrik telah memberitahukan kehadirannya kepada Panembahan yang sedang merendam diri di telaga Pangawikan, yang kemudian memerintahkan cantrik itu untuk menemuinya.

Maka kemudian mereka bercakap-cakap tentang berbagai-bagai masalah, bergeser dari yang satu kepada yang lain. Dari jenis tanam-tanaman sampai berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang mengandung manfaat untuk obat-obatan.

Akhirnya sampailah pembicaraan mereka kepada tanam-tanaman yang tumbuh di halaman serta sulaman-sulaman barunya.

Maka berkatalah cantrik yang bernama Jatirono, Tuan, beberapa waktu berselang, taman kami itu telah dirusakkan oleh beberapa orang berkuda yang tidak kenal keindahan. Mereka datang dengan kuda-kuda mereka menerjang tanaman kami setelah mereka marah-marah dan memaki-maki. Aku tidak tahu apakah sebabnya. Tetapi setelah mereka menghadap Panembahan, agaknya mereka merasa kecewa karena beberapa sebab. Lalu seorang diantaranya yang sebaya dengan Tuan Muda putra Banyubiru itu, marah-marah. Mereka tidak saja merusak taman kami, tetapi mereka juga merusak beberapa perabot rumah kami.

Tidakkah seorangpun dapat mencegahnya? tanya Arya Salaka, meskipun ia agak canggung atas sebutan yang diucapkan oleh cantrik itu.

Cantrik itu menggelengkan kepalanya. Siapakah diantara kami yang mampu mencegah seorang yang perkasa itu? Kami adalah orang-orang lemah yang bertekun diri di padepokan ini untuk suatu pengabdian rokhaniah. Karena itu kami hanya dapat menyaksikan apa yang dilakukan oleh anak muda itu dengan hati yang berdebar-debar.

 

281

MAHESA Jenar dan Arya Salaka yang sebenarnya lebih senang disebut Bagus Handaka, menarik nafas untuk mengendorkan perasaan mereka. Sebab mereka sudah pasti bahwa anak muda yang merusak-rusak itu adalah Sawung Sariti. Demikian sombongnya anak itu, sehingga mereka berani melakukan hal-hal yang sama sekali tak berkesopanan, di hadapan seorang Panembahan. Tetapi semuanya itu telah lampau, sehingga keduanya hanya dapat menahan perasaan mereka yang melonjak-lonjak.

Ketika mereka sedang bercakap-cakap dengan asyiknya, masuklah seorang gadis kecil menjinjing sebuah nampan berisi minuman dan makanan. Dengan cermatnya gadis itu menyuguhkan mangkok tanah yang berisi air jeruk serta makanan dan buah-buahan kepada tamunya. Dan kemudian membungkuk hormat, berjalan meninggalkan mereka.

Mahesa Jenar tersenyum melihat keprigelan gadis yang baru berumur belasan tahun itu, sehingga meloncatlah pertanyaannya, Alangkah tangkasnya gadis kecil itu. Apakah ia salah seorang endhang di padepokan ini?

Jatirono tertawa kecil. Gadis kecil itu adalah satu-satunya putri cucu Panembahan Ismaya. Saudaranya laki-laki adalah tetua kami para cantrik. Namanya Putut Karang Tunggal, yang sekarang sedang menemani Panembahan berendam di telaga Pangawikan.

O… sahut Mahesa Jenar. Karena itulah maka wajahnya bercahaya.

Siapakah nama gadis kecil cucu Panembahan itu?
Endang Widuri,
jawab Jatirono.
Endang Widuri? ulang Mahesa Jenar.

Suatu nama yang bagus. Tetapi lebih dari pada itu, Endang Widuri adalah seorang gadis yang lincah dan cakap, di bawah tuntunan yang sempurna pula.

Mudah-mudahan demikianlah, jawah Jatirono, Meskipun sebagai anak-anak, nakalnya bukan alang kepalang.

Demikianlah setelah Mahesa Jenar dan Arya Salaka menikmati hidangan yang disuguhkan oleh Endang Widuri, maka berkatalah Jatirono, Tuan berdua, kami persilahkan tuan beristirahat di sini. Sebentar lagi Panembahan Ismaya akan sudah dapat menerima Tuan-tuan. Karena itu biarlah aku menengoknya sebentar.

Maka pergilah Jatirono meninggalkan Mahesa Jenar dan Arya Salaka untuk menengok apakah Panembahan Ismaya telah siap menerima tamunya. Hanya sebentar kemudian masuklah ke dalam rumah kecil itu seorang pemuda tampan, bertubuh gagah serta berdada bidang.

Namun geraknya halus dan sopan. Ia tidak berpakaian seperti para cantrik yang lain, tetapi ia mengenakan sebuah jubah putih. Dengan penuh hormat ia berkata, Tuan, Eyang Panembahan Ismaya sudah selesai merendam diri. Sekarang beliau sedang bersiap untuk menerima Tuan-tuan. Karena itu kami persilahkan tuan bersama aku menghadap.

Bagaimanapun juga hati Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar. Ia adalah seorang ksatria yang biasa bergaul dengan para kesatria pula, sewaktu ia masih berada di lingkungan istana. Sehingga dengan demikian jaranglah baginya bergaul dengan seorang Panembahan seperti Panembahan Ismaya.

Sedang Arya Salaka, justru karena selama ini ia hidup diantara para petani dan nelayan, ia sama sekali tidak merasakan suatu kejanggalan apapun.

Meskipun dari gurunya ia selalu menerima petunjuk-petunjuk yang berharga tentang sopan santun dan tata pergaulan.

Dari pondok kecil itu mereka menyusur jalan sempit diantara tanam-tanaman hijau dihiasi oleh bunga-bunga dari berbagai warna, menuju ke sebuah pondok lain yang agak lebih besar. Namun pondok ini pun dibuatnya dari kayu dan beratap ijuk pula.

Di rumah itulah Eyang Panembahan akan menerima Tuan-tuan, kata pemuda yang bertubuh tegap itu.

Menilik sebutan yang diucapkan, maka Mahesa Jenar dapat mengetahui bahwa pemuda yang sedikit lebih tua dari Arya Salaka itulah yang bernama Putut Karang Tunggal, saudara laki-laki dari Endang Widuri.

Ketika mereka memasuki rumah itu segera mereka melihat seorang yang telah lanjut usia duduk di atas sebuah batu hitam yang dialasi oleh kulit kayu.

Meskipun kesan wajahnya yang telah tua, serta rambutnya telah memutih kapas, namun tubuhnya masih nampak segar. Agaknya orang itu tampak jauh lebih muda dari umur yang sesungguhnya.

Mahesa Jenar dan Arya Salaka segera mengerti, bahwa orang itulah yang disebut Panembahan Ismaya. Karena itu mereka berlaku sangat sopan dan hati-hati.

Tetapi Mahesa Jenar dan Arya Salaka terkejut ketika tiba-tiba, setelah Panembahan Ismaya itu melihat mereka, segera ia berdiri sambil tergesa-gesa menyongsongnya. Dengan sangat hormat ia menyambut tangan Mahesa Jenar untuk bersalaman. Mahesa Jenar menjadi agak kaku dan heran, kenapa seorang Panembahan sampai sedemikian menghormati tamunya. Apalagi dirinya yang tidak menunjukkan tanda-tanda kebesaran apapun, malahan agaknya tidak cukup pantas untuk mendapat kehormatan bertemu dengan seorang Panembahan.

Silahkan Anakmas, silahkan…. Panembahan Ismaya menyilahkan Mahesa Jenar dan Arya Salaka yang menjadi semakin keheran-heranan. Apalagi ketika Panembahan itu meneruskan, Alangkah bersyukurnya hari ini ketika aku mendapat kabar bahwa Anakmas akan mengunjungi tempat kami yang tak berarti ini.

Untuk menghilangkan kekakuan, Mahesa Jenar pun mengangguk dengan takzimnya sambil menjawab, Berbahagialah aku mendapat kesempatan untuk menghadap Panembahan.

Tetapi apa yang dikatakan oleh Panembahan Ismaya itu semakin mengejutkan Mahesa Jenar, Bagiku kedatangan Anakmas adalah suatu kurnia. Sebab aku sama sekali tidak bermimpi bahwa tempat ini akan mendapat kunjungan dari seorang perwira istana seperti Anakmas Rangga Tohjaya. 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
282

MAHESA Jenar menjadi semakin sibuk menduga-duga, alangkah jauh dari dugaannya tentang Panembahan itu. Namun demikian Mahesa Jenar menjadi bertambah tidak mengerti, darimanakah orang tua itu dapat mengenalnya sebagai seorang prajurit dan bernama Rangga Tohjaya?

Dalam kebingungan itu terdengar Panembahan Ismaya berkata kembali, Marilah Anakmas….

Seperti orang yang kehilangan kesadaran Mahesa Jenar melangkah masuk diikuti oleh Arya Salaka. Mereka berdua kemudian duduk pula di atas batu hitam yang juga beralaskan kulit kayu. Sedang pemuda tampan yang mengantar mereka tadi dengan takzimnya duduk bersila di lantai di belakang Panembahan Ismaya.

Setelah Panembahan Ismaya menanyakan keselamatan Mahesa Jenar, serta beberapa hal tentang dirinya serta perjalanannya mendaki bukit kecil itu, akhirnya Panembahan Ismaya sampai pada sebuah pertanyaan tentang keperluan Mahesa Jenar.

Untuk beberapa lama Mahesa Jenar diam. Ia masih ragu. Apakah perlu ia mengutarakan keperluannya. Bukankah Panembahan Ismaya yang bijaksana itu telah dapat membaca perasaan yang tersimpan di dalam dadanya.

Melihat Mahesa Jenar termangu berkatalah Panembahan itu, Anakmas, kedatangan Anakmas ke bukit kecil ini pastilah mempunyai suatu maksud. Meskipun tidak sewajarnya kalau aku yang tak berarti ini memberanikan diri untuk menerima pertanyaan Anakmas. Sebab apakah yang dapat aku kerjakan? Aku adalah seorang tua yang tak pernah meninggalkan bukit ini, sehingga pasti yang aku ketahui tidaklah lebih dari katak di bawah tempurung.

Namun bagaimanapun juga Mahesa Jenar menganggap bahwa Panembahan Ismaya itu seolah-olah memiliki indera keenam, yang dapat melihat barang yang tak kasatmata. Karena itu dengan takzimnya ia menjawab, Panembahan telah mengetahui apa yang tidak pernah aku katakan kepada Panembahan, yaitu tentang nama kami berdua. Tetapi karena ketajaman indera Panembahan, Panembahan telah dapat mengetahuinya. Adalah sama sekali tidak pantas kalau aku harus mengatakan keperluanku menghadap Panembahan, seolah-olah aku tidak percaya akan ketajaman pandangan Panembahan.

Mendengar kata Mahesa Jenar, Panembahan Ismaya itu tertawa lirih. Anakmas telah salah duga. Sebenarnya tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui perasaan orang lain dengan tepat, selain Yang Maha Tahu. Tentang nama Anakmas dan cucu Arya Salaka, bukanlah karena aku dapat melihat apa yang belum terjadi, tetapi karena semata-mata nama Anakmas berdua telah demikian tenarnya di sekitar bukit ini. Seorang cantrik yang turun untuk mendapatkan perbekalan kami telah mendengar nama Anakmas berdua sebagai penyelamat di padukuhan Gedangan. Dan hampir setiap mulut dari penduduk pedukuhan itu selalu menyebut nama Tuan yang rangkap, bahkan nama Anakmas sebagai bekas prajurit Demak. Bukankah nama itu disebut-sebut pula oleh anak Sima Rodra yang Anakmas bunuh?

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Hal itu memang mungkin sekali. Tetapi bagaimanapun juga Mahesa Jenar tidak dapat melarikan diri dari sinar mata tajam yang seolah-olah menusuk sampai ke segala relung jantungnya. Meskipun demikian, maka tak ada cara lain yang baik baginya daripada memenuhi permintaan Panembahan Ismaya, mengutarakan maksud kedatangannya.

Maka dengan agak berat Mahesa Jenar berkata, Bapa Panembahan, aku mendengar tentang kewaskitaan Panembahan dari seorang yang bernama Wiradapa, penduduk dan sekarang menjadi lurah di padukuhan Gedangan. Karena itu aku memberanikan diri menghadap Panembahan untuk memohon petunjuk, barangkali Panembahan berkenan memberitahukan kepada kami berdua, di manakah atau cara bagaimanakah kami berdua dapat menemukan Keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten yang lenyap dari perbendaharaan istana dan pernah menjadi rebutan dari mereka yang menggolongkan diri dalam suatu gerombolan yang ingin merebut pemerintahan dengan segala cara, termasuk Sima Rodra yang beberapa waktu lalu terbunuh di Gedangan.

Mendengar pertanyaan Mahesa Jenar itu Panembahan Ismaya mengernyitkan alisnya.

Perlahan-lahan ia mengangguk-anggukkan kepalanya, dan kemudian dengan tersenyum berkata, Anakmas, dalam waktu yang singkat ada dua orang yang mempunyai pertanyaan yang sama. Beberapa waktu yang lalu, datang padaku seorang yang menyatakan dirinya putra Kepala Daerah Perdikan Pamingit dan Banyubiru. Dan ternyata anak muda itu terlibat dalam suatu bentrokan dengan Anakmas berdua di Gedangan, menurut berita yang sampai di bukit ini. Anak muda yang bernama Sawung Sariti itu, ternyata menanyakan juga kedua keris yang bernama Nagasasra dan Sabuk Inten. Tetapi sayang bahwa aku tak dapat menunjukkannya, sehingga marahlah anak muda itu. Sekarang Anakmas datang pula dengan pertanyaan yang sama. Tentu saja pertanyaan itu amat mencemaskan hatiku. Sebab jangan-jangan Anakmas akan marah pula kepadaku.

Mahesa Jenar menundukkan kepalanya sambil menyahut, Bapa Panembahan, apakah hakku marah kepada Panembahan. Bahwa aku telah mendapat kesempatan untuk menghadap Panembahan, bagiku telah merupakan suatu kesempatan yang tak dapat aku lupakan.

Mendengar jawaban Mahesa Jenar, Panembahan Ismaya itu kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya pula, Aku sudah mengira, bahwa Anakmas tidak akan marah kepadaku seperti anak muda itu. Namun begitu aku sangat menyesal bahwa tak ada pengetahuanku tentang kedua keris itu, yang Anakmas kehendaki itu.

Bagaimanapun juga Mahesa Jenar mencoba menyembunyikan perasaannya namun di wajahnya membayang pula kekecewaan hatinya, apalagi Arya Salaka. Meskipun demikian, Mahesa Jenar sama sekali tak ada perasaan menyalahkan kepada Panembahan Ismaya. Sebab bagaimanapun juga waskitanya seseorang, namun pasti bahwa tidak semua sudut dunia ini dapat diketahuinya.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
283

AGAKNYA perasaan Mahesa Jenar itu dapat diketahui oleh Panembahan Ismaya, yang kemudian berkata meneruskan, Anakmas, aku tahu bahwa Anakmas menjadi kecewa. Hal itu disebabkan karena berita yang berlebih-lebihan tentang diriku. Orang menganggap bahwa aku dapat melihat segala isi dunia ini, dari yang paling kasar sampai yang paling halus. Meskipun demikian, aku mempunyai satu permintaan pada Anakmas berdua yang tidak aku sampaikan kepada anak muda yang bernama Sawung Sariti, untuk sementara tinggal bersama-sama aku di Bukit Karang Tumaritis ini. Aku tidak tahu apakah dengan demikian akan ada tanda-tanda yang dapat menunjukkan jalan atas maksud-maksud Anakmas itu. Tetapi pada saat aku melihat Anakmas berdua, aku merasa bahwa aku mempunyai kewajiban untuk membantu.

Mendengar keterangan Panembahan Ismaya yang terakhir itu, mata Mahesa Jenar menjadi bercahaya. Kata-kata itu diucapkan oleh seorang Panembahan. Karena itu ia yakin bahwa artinya pun tidak sesederhana kata-kata itu sendiri.

Maka karena itu segera ia menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil menjawab, Panembahan adalah bijaksana. Apa yang Panembahan anggap baik, pastilah amat baik bagi kami. Apalagi kemurahan hati Panembahan untuk memberikan tempat berteduh bagi kami berdua, pasti akan kami junjung tinggi.

Panembahan itu tersenyum, lalu katanya meneruskan, Anakmas berdua terlalu rendah hati. Namun janganlah Anakmas menjadi kecewa kalau akhirnya aku tak dapat berbuat apa-apa atas keinginanku membantu, yang hanya dibekali oleh kemauan melulu.

Sekali lagi Mahesa Jenar mengangguk sambil berkata, Kemauan Panembahan bagi kami adalah jauh lebih berharga dari apapun juga.

Akhirnya Mahesa Jenar dan Arya Salaka diperkenankan untuk beristirahat.

Selanjutnya memenuhi permintaan Panembahan Ismaya, mereka berdua untuk beberapa lama tinggal bersama-sama di Karang Tumaritis. Mereka berdua hidup dan bergaul dengan beberapa orang cantrik yang melayani Panembahan Ismaya dengan rajinnya di bawah pimpinan Putut Karang Tunggal.

Namun setelah tujuh hari mereka tinggal di situ, Panembahan Ismaya sama sekali belum pernah menyinggung- nyinggung tentang kedua pusaka itu. Kalau mereka bertemu, maka apa yang dibicarakan oleh Panembahan Ismaya adalah hal-hal yang sama sekali tak berarti. Bahkan kesempatan untuk bertemu pun sangat terbatas.

Panembahan Ismaya selalu menyepi di ruang samadinya.

Meskipun demikian Mahesa Jenar percaya, bahwa Panembahan Ismaya pada suatu hari akan dapat memberinya bantuan untuk menemukan kedua keris itu.

Selama mereka berada di Karang Tumaritis, mereka mendapat kesempatan untuk mengunjungi setiap lekuk liku pegunungan itu. Sebagai tuan rumah, para cantrik amatlah ramahnya, sehingga Mahesa Jenar dan Arya Salaka merasa seperti di rumah sendiri. Bahkan di bukit itu pun Arya Salaka masih sempat untuk menerima pelajaran-pelajaran dari gurunya, meskipun mereka terpaksa mencari tempat yang agak tersembunyi. Sebab ternyata penghuni bukit itu agaknya tidak pernah membayangkan adanya gerak-gerak kekerasan yang dapat bermanfaat bagi kehidupan mereka, kecuali menelaah masalah-masalah kerohanian di bawah tuntunan Panembahan Ismaya.

Tetapi pada beberapa hari kemudian, terjadilah suatu peristiwa yang sama sekali di luar dugaan Mahesa Jenar dan Arya Salaka. Ketika mereka sedang berjalan-jalan menyusur tebing bukit itu, dilihatnya agak jauh di lembah di belakang bukit itu, beberapa perkemahan yang sedang dipersiapkan.

Mula-mula mereka sama sekali tidak menaruh perhatian sama sekali, sebab mereka menyangka bahwa kemah dari batang-batang ilalang itu telah dibuat oleh para pemburu. Tetapi ketika ternyata di bagian-bagian yang lain di sekitar bukit itu dibuat pula kemah-kemah yang serupa, maka Mahesa Jemar mulai curiga. Apalagi ketika akhirnya ia mempunyai kesimpulan bahwa bukit Karang Tumaritis itu telah dikepung rapat, sehingga setiap jengkal tanah mendapat pengawasan dengan saksama.

Mau tidak mau Mahesa Jenar terpaksa menebak-nebak. Siapakah yang telah membuat perkemahan itu, dan apakah maksudnya.

Pada malam itu, hati Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar ketika ia mendapat undangan dari Panembahan Ismaya untuk menghadap. Maka bersama dengan Jatirono dan Arya Salaka Mahesa Jenar pergi memenuhi undangan itu.

Sebagai biasa Panembahan Ismaya menyambut kedatangannya dengan penuh hormat, serta mempersilahkan Mahesa Jenar dan Arya Salaka duduk di atas batu hitam yang beralaskan kulit kayu. Setelah itu dimintanya Jatirono meninggalkan mereka.

Anakmas… kata Panembahan Ismaya kemudian setelah menanyakan keadaan Mahesa Jenar selama tidak bertemu. Perkenankanlah aku menyampaikan suatu berita yang barangkali agak tidak kita harap-harapkan….

Panembahan Ismaya berhenti sejenak, sedang Mahesa Jenar dengan penuh perhatian mendengarkan setiap patah kata yang meluncur dari mulut orang tua itu. Tetapi meskipun Panembahan Ismaya belum menyampaikan berita apakah yang tidak menyenangkan itu, namun Mahesa Jenar sudah dapat meraba bahwa yang dimaksudkan pasti adanya beberapa perkemahan yang mengelilingi bukit itu. Dan ternyata apa yang dirabanya itu benar.

Di sekeliling bukit ini… Panembahan itu meneruskan, Ada beberapa orang yang membangun perkemahan. Barangkali hal itu telah dapat Anakmas lihat pula.

Benar Bapa Panembahan, jawab Mahesa Jenar. Aku telah melihat perkemahan itu, yang seolah-olah berusaha mengepung bukit kecil ini.

Panembahan Ismaya menarik nafas. Kemudian katanya pula, Tak ada diantara kita yang mengetahui apakah maksud orang-orang yang telah melakukan itu. Dan karena itulah maka aku ingin minta tolong kepada Anakmas.

Sampai sekian Panembahan tua itu berhenti pula.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
284

MENDENGAR permintaan itu, tentu saja Mahesa Jenar tidak akan menolaknya. Maka jawabnya, Bapa Panembahan, aku akan selalu bersedia untuk melakukan apapun yang mungkin. Apalagi apabila ada hubungannya dengan kemah-kemah yang memang sangat menarik hati itu.

Benar Anakmas, sambung Panembahan, Memang aku bermaksud untuk mengetahui siapakah yang telah membangun perkemahan itu. Aku kira mereka mempunyai maksud-maksud yang tidak dapat mereka katakan secara berterus terang. Sebab apabila demikian, maka mereka pasti tidak akan melakukannya. Kalau persoalan mereka dapat dilakukan dengan baik pastilah mereka akan langsung menaiki bukit ini.

Lalu apakah yang harus aku lakukan Bapa…? tanya Mahesa Jenar.

Anakmas… jawab Panembahan itu, Nanti apabila hari telah larut, aku ingin melihat perkemahan itu. Sudikah Anakmas mengantarkan aku?

Mendengar permintaan itu Mahesa Jenar terkejut. Panembahan Ismaya sendiri akan pergi melihat perkemahan dari orang-orang yang sama sekali belum dikenalnya. Karena itu segera ia menjawab, Bapa Panembahan. Sebenarnya tidaklah perlu Bapa Panembahan sendiri pergi untuk menyaksikan kemah-kemah itu. Biarlah aku dan Arya saja yang melakukan. Sedang hasilnya akan aku laporkan kepada Panembahan.

Panembahan Ismaya tersenyum mendengar jawaban Mahesa Jenar. Maka katanya, Hal itu tak dapat aku benarkan Anakmas. Anakmas adalah tamu di bukit ini. Bukankah tidak semestinya kalau aku sebagai tuan rumah membebankan suatu pekerjaan kepada tamunya melulu, sedang tuan rumah sendiri akan berpangku tangan.

Panembahan… sela Mahesa Jenar, Kalau demikian, bukankah Panembahan dapat menunjuk salah seorang cantrik pergi bersama kami?

Panembahan Ismaya menggelengkan kepala. Katanya, Itupun tidak mungkin. Para cantrik adalah anak-anak yang keselamatannya ada di dalam tanggungjawabku. Aku masih belum tahu, apakah pekerjaan yang akan kita lakukan itu berbahaya atau tidak. Karena itu aku tidak dapat menugaskan orang lain dalam hal ini. Kalau aku berani minta kepada Anakmas, adalah karena aku yakin bahwa Anakmas memiliki kemampuan melampaui manusia biasa. Terus terang saja, bahwa Anakmas mungkin akan dapat melindungi diriku apabila ada hal-hal yang sangat tidak menyenangkan, meskipun seharusnya aku percaya bahwa keselamatan seseorang sangat tergantung kepada garis yang telah digoreskan oleh Yang Maha Kuasa. Dan bukan pula seharusnya aku menaruh curiga kepada hal-hal yang belum pasti.

Hati Mahesa Jenar tergerak mendengar kata-kata itu. Meskipun Panembahan Ismaya itu telah sedemikian lanjut, namun sebagai seorang yang memegang pimpinan dalam bidangnya, ia sangat melindungi orang-orangnya. Karena itu, Mahesa Jenar merasa bahwa apabila ia terpaksa menolak, pasti akan menyinggung perasaan orang tua itu.

Maka yang dapat dikatakan hanyalah, Panembahan, kalau demikian maka aku tidak dapat berbuat lain dari pada memenuhi permintaan Bapa.
Nah, kalau demikian akan senanglah hatiku. Meskipun aku merasa bahwa di dalam hati Anakmas pasti mentertawakan aku, seorang yang menamakan dirinya Panembahan, namun masih mencemaskan keselamatannya.

Mahesa Jenar tidak menjawab, kecuali menunddukkan kepalanya. Sebenarnya ia agak tidak sependapat dengan pernyataan Panembahan Ismaya itu.

Sebagai seorang prajurit, ia membenarkan pada setiap usaha untuk keselamatan diri maupun pasukannya. Hal itu sama sekali bukanlah sesuatu yang perlu disesalkan. Tetapi disamping itu ia mencoba untuk memahami pula alam pikiran Panembahan Ismayaa yang tidak mementingkan persoalan lahiriah.

Maka ketika malam telah larut, Panembahan tua itu kemudian berkemas-kemas untuk turun dari bukit Karang Tumaritis. Orang tua itu sengaja melepaskan jubah putihnya, dan menggantinya dengan kain hitam supaya tidak jelas terlihat di dalam gelapnya malam.

Ketika itu di langit bertaburan jutaan bintang yang berkedip-kedip dengan cemerlangnya. Angin pegunungan yang silir, perlahan-lahan mengusap tubuh mereka yang dengan sangat hati-hati menuruni tebing-tebing bukit Karang Tumaritis.

Mereka, Panembahan Ismaya, Mahesa Jenar dan Arya Salaka, tidak melewati jalan-jalan yang biasa, tetapi mereka menempuh arah yang lain. Sebenarnya Mahesa Jenar sama sekali tak sampai hati melihat Panembahan Ismaya, pada malam yang gelap itu, tertatih-tatih dengan tongkatnya menuruni lambung bukit yang agak sulit itu. Namun kemauan orang itu sama sekali sudah tak dapat diubahnya. Bagi Mahesa Jenar, tebing itu sama sekali tak berarti apa-apa. Juga bagi Arya Salaka. Tetapi lainlah Panembahan Ismaya yang telah lanjut usia.

Karena itulah maka perjalanan mereka sangat perlahan-lahan. Seolah-olah mereka sama sekali tidak maju-maju dari satu titik. Kadang-kadang apabila tebing itu agak terlalu terjal, Mahesa Jenar dan Arya Salaka bersama-sama menolong Panembahan Ismaya, supaya tidak jatuh terperosok. Meskipun demikian, ketika bintang Gubug Penceng telah melampaui garis tegaknya, mereka bertiga telah sampai dikaki bukit kecil itu. Nafas Panembahan tua itu terdengar agak terlalu cepat karena kelelahan. Namun demikian sambil tersenyum ia berkata, Anakmas, bukankah aku mempunyai bakat untuk menjadi prajurit?

Mahesa Jenar tertawa lirih, lalu sahutnya, Kalau Panembahan masih semuda aku ini, barangkali Panembahan jauh lebih kuat daripadaku.

Mendengar jawaban Mahesa Jenar, Panembahan Ismaya tertawa terkekeh-kekeh, sehingga tubuhnya terguncang-guncang. Karena itulah Mahesa Jenar kemudian menjadi cemas, jangan-jangan suara itu didengar oleh orang-orang yang berada di dalam perkemahan yang sudah tidak begitu jauh lagi, sedangkan untuk menegurnya Mahesa Jenar agak segan.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
285

PANEMBAHAN Ismaya kemudian sadar dengan sendirinya. Katanya berbisik-bisik, Celaka…. Apakah mereka mendengar suaraku…?

Setelah mereka berdiam diri beberapa saat, ternyata mereka tak mendengar suara apapun. Maka legalah hati mereka, karena ternyata suara Panembahan Ismaya itu tak terdengar oleh orang-orang di dalam kemah-kemah di seberang padang ilalang.

Panembahan… kata Mahesa Jenar kemudian, Aku persilahkan Panembahan menunggu di sini. Biarlah aku mendekati salah satu dari perkemahan mereka yang terdekat itu.

Uh..! keluh Panembahan Ismaya, Aku sudah sampai di sini. Apakah salahnya kalau aku ikut serta.

Sebenarnya Mahesa Jenar agak cemas membiarkan Panembahan Ismaya mendekati perkemahan itu. Mereka masih belum tahu siapakah yang berada di dalamnya. Kalau mereka terdiri dari orang-orang yang cukup berilmu maka kedatangan mereka pasti akan ketahuan, sebab Panembahan Ismaya agaknya kurang dapat mengendalikan geraknya sebagai dirinya atau Arya Salaka, yang sudah biasa berlatih diri. Tetapi ia tidak dapat mengutarakan pikirannya itu berterus terang. Sehingga akhirnya ia terpaksa berkesimpulan, bahwa ia harus benar-benar melindungi Panembahan itu atas segala sesuatu yang mungkin terjadi.

Karena itu, maka kemudian mereka bersama-sama dengan hati-hati sekali mendekati kemah yang terdekat di depan mereka. Adalah suatu kebetulan bahwa kemah yang mereka pilih adalah kemah yang agak lebih besar dari kemah-kemah yang lain. Dengan sangat perlahan-lahan Mahesa Jenar merangkak paling depan menguakkan batang-batang ilalang dan kadang-kadang gerumbul-gerumbul kecil di garis perjalanannya. Di belakangnya merangkak pula Panembahan Ismaya, dan di belakang sekali Arya Salaka, yang kadang-kadang terpaksa tersenyum geli melihat orang tua di depannya.

Ketika jarak kemah itu sudah tidak begitu jauh, Mahesa Jenar sudah mulai mencium bau asap. Agaknya orang-orang itu sedang menghangatkan dirinya di tepi perapian. Karenanya Mahesa Jenar harus bertambah hati-hati. Ia berusaha bahwa setiap geraknya tidak menimbulkan suara. Baginya hal yang demikian itu tidak begitu sulit, namun tidaklah demikian bagi Panembahan Ismaya.

Untunglah bahwa sampai sedemikian jauh, kedatangan mereka masih belum diketahui.

Ketika sekali lagi Mahesa Jenar menguak batang-batang ilalang, maka tiba-tiba ia surut selangkah. Di depannya tampak dua tiga orang sedang duduk mengelilingi api yang sudah hampir padam. Meskipun perlahan-lahan namun percakapan mereka dapat didengar oleh Mahesa Jenar dengan jelas.

Dengan gerak Mahesa Jenar memberi tanda kepada Panembahan tua itu agar berhenti dan berhati-hati. Panembahan Ismaya agaknya mengetahui pula. Karena itu segera ia berhenti dan duduk bersila. Ia tampaknya sudah demikian lelah.

Mahesa Jenar pun segera duduk di sampingnya, dan agak ke dalam tampak Arya Salaka duduk sambil memeluk lututnya. Di situ mereka merasa aman terlindung oleh batang-batang ilalang yang cukup tinggi dan padat. Sedangkan dari tempat itu pula mereka dapat mendengar setiap pembicaraan dari ketiga orang yang sedang menghangatkan tubuhnya itu.

Untuk beberapa lama pembicaraan orang-orang itu sama sekali tidak menyangkut kepentingan mereka berkemah di situ. Mereka hanya membicarakan diri mereka masing-masing. Mereka saling menyombongkan diri tentang kecakapan mereka berburu, berolah senjata dan jumlah orang yang telah pernah mereka bunuh.

Meskipun demikian dari percakapan itu Mahesa Jenar dapat menerka bahwa rombongan itu bukanlah rombongan orang baik-baik. Rombongan itu pasti termasuk dalam golongan para penjahat, bahkan bukan penjahat-penjahat kecil, tetapi mereka termasuk dalam gerombolan yang cukup besar.

Mula-mula Mahesa Jenar hampir menganggap bahwa para penjahat itu hanya melulu menginginkan kekayaan yang mereka sangka banyak terdapat di puncak bukit kecil itu. Kalau demikian halnya maka soalnya akan menjadi sederhana dan mudah.

Arya Salaka sendiri mungkin akan sudah cukup untuk dapat menakut-nakuti mereka. Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar terperanjat oleh percakapan berikutnya. Ketika salah seorang dari mereka menguap dan berdiri akan meninggalkan perapian itu, berkatalah ia, Hati-hatilah kawan. Jangan sampai orang itu lolos. Aku akan tidur sebentar. Kalau lurah kita nanti kehilangan orang itu, mungkin kepala kalian yang akan menjadi gantinya. Ingat, jangan coba menyelesaikan sendiri. Pukul kentongan kalau kau lihat dia. Sebab baginya kau tidak lebih dari seekor tikus tak berarti.

Orang yang masih duduk di tepi perapian yang sudah hampir padam itu tertawa tinggi. Lalu jawabnya, Macam apakah orang itu, yang menganggap kita seekor tikus? Justru karena itu aku ingin melihat orangnya. Kalau ia kuat mengayunkan penggadaku ini dengan sebelah tangan seperti yang aku lakukan, aku akan menyembahnya tujuh kali.

Orang yang berdiri itulah kemudian yang tertawa nyaring. Katanya, Aku akan berdoa mudah-mudahan permintaanmu itu dapat terkabul. Setelah itu ia melangkah pergi memasuki kemah yang agak lebih besar dari kemah-kemah yang lain.

 

286

DUA orang yang masih duduk itu menggerutu tak habis-habisnya. Salah seorang darinya berkata, Aku kagumi ketangkasan Kakang Sakayon. Sayang hatinya terlalu kecil.

Mendengar kata-kata itu hati Mahesa Jenar berdesir hebat. Ia ingat dengan jelas bahwa orang yang bernama Sakayon adalah salah seorang dari kepercayaan Sima Rodra di Gunung Tidar. Kalau demikian maka orang-orang yang mengepung bukit itu pasti gerombolan Sima Rodra. Mendapat pikiran itu ia menjadi berdebar-debar.

Cepat ia menghubungkannya dengan peristiwa yang baru saja lampau, dimana Sima Rodra telah terbunuh olehnya di padukuhan Gedangan. Maka pikirannya bekerja dengan cepatnya. Yang dihadapi itu hanyalah anak buah gerombolan yang telah diketahui kekuatannya. Karena itu, apakah tidak lebih baik kalau gerombolan itu segera dihancurkannya sama sekali?

Panembahan Ismaya yang melihat kegelisahan Mahesa Jenar berbisik perlahan-lahan, Apakah yang telah Anakmas ketahui tentang percakapan mereka?

Panembahan… jawab Mahesa Jenar berbisik pula, Mereka adalah gerombolan Sima Rodra dari Gunung Tidar. Aku telah mengenal salah seorang diantara mereka. Dan aku mendapat pikiran untuk menghancurkan mereka sekaligus sekarang juga, kemah demi kemah tanpa mereka ketahui. Sebab benar-benar mereka tidak lebih daripada tikus-tikus yang sangat rakus.

Tiba-tiba Panembahan itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajahnya menjadi cemas. Katanya tergagap perlahan-lahan, Jangan anakmas, jangan dipakai kekerasan.

Mendengar kata-kata Panembahan Ismaya, Mahesa Jenar menjadi bingung. Bagaimana mungkin menghadapi gerombolan Sima Rodra itu tanpa kekerasan. Karena itu untuk beberapa saat ia menjadi kebingungan dan tidak tahu apa yang akan dikatakan. Dan karena Mahesa Jenar berdiam diri, Panembahan Ismaya meneruskan, Anakmas, bukankah dengan demikian akan terjadi pertempuran?

Hampir tidak sadar Mahesa Jenar berkata, Ya Panembahan, pertempuran dan pertumpahan darah.

O ngger…, aku akan mati ketakutan melihat pertempuran. Maksudku semata-mata hanyalah untuk mengetahui apakah maksud mereka mengepung bukit ini. Setelah itu biarlah aku selesaikan kemudian. Dengan mengetahui maksud itu, bukankah aku telah mempunyai ancang-ancang untuk berbicara dengan mereka?

Mahesa Jenar menjadi bertambah bingung. Meskipun ia dapat mengerti jalan pikiran Panembahan itu, namun sebenarnya ia sangat keberatan untuk melepaskan kesempatan ini.

Orang-orang dari gerombolan hitam yang dalam keadaan terpisah-pisah seperti itu, akan dengan mudahnya untuk digilas, seperti membunuh cacing. Ia dapat memasuki kemah demi kemah dan membinasakan isinya sebelum mereka sempat membunyikan tanda apapun. Kemudian ia akan menghadapi pimpinan mereka, istri Sima Rodra yang pasti akan dapat dibinasakannya pula.

Tetapi Panembahan Ismaya itu melarangnya untuk berbuat demikian.
Dalam kebingungan itu terdengar kembali Panembahan Ismaya berbisik, Anakmas, kita telah berhasil mengetahui maksud kedatangan mereka. Marilah kita kembali dan mempertimbangkan apa yang baik aku lakukan untuk menyelesaikan masalah ini.

Hati Mahesa Jenar bergolak hebat. Karena itu ia masih duduk diam tak bergerak.

Kalau Mahesa Jenar tidak dapat mengerti apa yang akan dilakukan, apalagi Arya Salaka. Meskipun ia berdiam diri, namun tubuhnya telah basah oleh keringat dingin. Bahkan terdengar giginya gemeretak menahan hati.

Melihat gelagat itu, maka Panembahan Ismaya menjadi bertambah cemas. Apalagi ketika ia mendengar Arya Salaka berdesis dengan suara yang gemetar.

Cucu Arya Salaka… bisik Panembahan Ismaya, Apakah rencanaku itu tidak dapat cucu mengerti?

Eyang Panembahan… jawab Arya Salaka memaksa diri untuk berkata, Apakah salahnya kalau sekarang juga aku bertindak. Menurut Paman Mahesa Jenar, darma seorang lelaki adalah termasuk menumpas kejahatan. Bukankah saat ini kesempatan itu ada…?

Kau betul cucu, kau betul. Dan pamanmu Mahesa Jenar pun betul pula. Tetapi adakah untuk menumpas kejahatan harus dilakukan dengan membinasakan mereka?

Bapa Panembahan… Mahesa Jenar menyahut, Setiap sisa dari kejahatan akan dapat menjadi benih pada masa yang akan datang.

Kau juga benar Anakmas, kau juga benar, jawab Panembahan Ismaya, nafasnya menjadi semakin memburu. Tetapi membunuh sebatang pohon tidak harus memotong dahan-dahan serta cabang-cabang saja. Yang penting akarnyalah yang harus dibinasakan.

Akan sampai juga saatnya kelak, potong Arya Salaka.

Cucu… sahut Panembahan Ismaya semakin bingung. Tetapi dari mulutnya meluncur kata-kata yang menunjukkan kedalaman tanggapannya atas keadaan yang dihadapinya.

Kalau kau mulai dengan orang-orang yang menurut pamanmu tidak lebih daripada tikus-tikus yang rakus itu, cucu, maka kau tidak akan menemukan rajanya. Atau kau akan diterkamnya tanpa sepengetahuanmu.

Mendengar kata-kata Panembahan tua itu, Mahesa Jenar menekan dadanya. Ia menjadi seperti orang yang tersadar dari sebuah angan-angan yang dahsyat. Gamblanglah baginya apa yang dikatakan oleh Panembahan Ismaya itu. Ternyata meskipun orang tua itu tidak cukup pengalaman dalam dunia keprajuritan, namun pandangannya yang jauh ternyata sangat bermanfaat.

Tetapi agaknya Arya Salaka sama sekali tidak dapat mengerti pikiran Panembahan Ismaya. Karena itu ia menjawab, Sekarang atau nanti, soalnya sudah jelas. Baik setiap anggota gerombolan itu atau setiap orang yang memegang pimpinan, harus kita binasakan. Apakah bedanya?

Arya… potong Mahesa Jenar dengan tenang, Biarlah kita urungkan niat kita. Biarlah kita dapat menangkap orang yang kita kehendaki tanpa korban yang terlalu banyak.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
287

MENDENGAR pendapat Mahesa Jenar, Arya Salaka terkejut bukan buatan. Ia sama sekali tidak mengira bahwa gurunya akan menjadi sedemikian lunak menghadapi gerombolan hitam yang memuakkan itu. Karena itu wajahnya jadi merah. Jawabnya, Guru… ijinkanlah aku bertindak atas namaku sendiri. Bukankah mereka telah bekerja sama dengan Paman Lembu Sora untuk mencelakakan ayahku…?

Sekali lagi Mahesa Jenar menekan dadanya. Ia dapat merasakan perasaan anak itu. Tetapi ia dapat pula merasakan betapa bijaksananya Panembahan Ismaya dengan pendapatnya. Maka dengan penuh kesabaran seorang guru terhadap murid yang dikasihinya, Mahesa Jenar berkata, Arya Salaka, kalau ada orang yang benci kepada golongan hitam, akulah orangnya yang akan berdiri di baris terdepan. Namun demikian, ada beberapa pertimbangan yang harus kita perhatikan.

Paman… potong Arya Salaka, Haruskah kita menunggu agar mereka menjadi bertambah kuat dan bersiaga dahulu…? Ataukah kita menunggu sampai mereka menggantung aku tinggi-tinggi di pohon beringin tua itu…?

O cucu, jangan sebut-sebut peristiwa-peristiwa yang mengerikan itu, sahut Panembahan Ismaya.

Tetapi hal itu bisa terjadi, Eyang, jawab Arya. Mula-mula ayahkulah yang menjadi korban, kemudian apa yang terjadi atas Paman Sawungrana menambah penjelasan. Dan apakah yang sudah mereka lakukan terhadap orang-orang Banyubiru dan Pamingit?

Arya… potong Mahesa Jenar, Biarlah aku selesaikan penjelasanku dahulu. Kita harus mempunyai beberapa pertimbangan. Pertama kita harus menghormati Bapa Panembahan sebagai tuan rumah. Kedua, kita tidak mau kehilangan pemimpin mereka. Kalau orang-orang itu telah kita binasakan, maka pimpinan mereka tidak akan menginjakkan kakinya di daerah ini. Dengan demikian pekerjaan kita akan bertambah sulit.

Kalau demikian biarlah kita tinggalkan padepokan ini, supaya kita tidak terikat lagi pada sopan santun. Setelah itu kita bebas untuk bertindak atas orang-orang dari gerombolan hitam itu, jawab Arya.

Sehabis ucapannya itu, tiba-tiba Arya sudah mulai bergerak untuk meninggalkan tempat itu.Melihat hal itu Mahesa Jenar terkejut sekali. Karena itu segera ia mencegahnya.

Arya, apa yang akan kau lakukan? Ingat aku adalah gurumu. Dan aku telah mengasuhmu sampai ketingkatan ini.

Mendengar suara gurunya yang sudah mulai keras itu Arya menjadi tergetar hatinya. Rupa-rupanya gurunya benar-benar mempunyai pendapat yang lain dari pendapatnya terhadap orang-orang dari gerombolan hitam yang tinggal memijat hancur itu.

Dalam pada itu, tiba-tiba lembah di kaki bukit Karang Tumaritis itu tergetar oleh suara tertawa yang tinggi nyaring. Suara itu jelas suara perempuan. Hati mereka yang sedang bersembunyi di dalam semak-semak itu tiba-tiba menjadi bergetaran dan berdebar-debar.

Mahesa Jenar dan Arya Salaka sama sekali tidak melupakan bahwa suara itu adalah suara Istri Sima Rodra dari Gunung Tidar. Suara itu kemudian disahut oleh suatu suara yang tenang berat, meskipun terdengar kurang menyenangkan. Sambil tertawa pendek terdengar laki-laki itu berkata, Seharusnya kau sedikit memelihara kecantikanmu daripada terus-menerus merendam kuku-kukumu itu di dalam racun. Dengan begitu aku tidak akan terlalu ngeri memandangmu.

Sekali lagi terdengar tertawa iblis betina itu, bahkan semakin dekat. Dan ketika sekali lagi terdengar suara laki-laki yang bersamanya, dada Mahesa Jenar bergoncang keras. Suara itu adalah suara berdesis dari Ular Laut Nusakambangan.

Jangan coba merayu aku, katanya, Kecuali kalau kau benar-benar dapat menangkap gadis yang kau sebut-sebut anak bekas suamimu yang terbunuh itu. Dengan demikian kau berdua akan aku ambil sekaligus sebagai isteri-isteriku.

Kau benar-benar serigala, jawab istri Sima Rodra, Tetapi apakah kau tidak takut kepada Pandan Alas?

Itu urusanmu. Kau boleh minta pertolongan ayahmu, Sima Rodra tua dari Lodaya, dan barangkali juga Paman Bugel Kaliki akan bersedia pula membantu.

Kenapa urusanku? tanya Istri Sima Rodra.
Banyak sebabnya, jawab Jaka Soka yang berwajah tampan itu. Pertama, Sima Rodra adalah ayahmu. Karena itu permintaanmu akan mendapat perhatiannya. Kedua, Bugel Kaliki adalah sahabat ayahmu itu. Dan ketiga, kau yang minta aku mengawinimu.

He… potong Istri Sima Rodra terkejut. Siapa bilang aku minta kau mengawini aku?

Lalu apa maksudmu menyeret aku kemari serta segala macam tingkah lakumu yang aneh-aneh itu? tanya Jaka Soka keheran-heranan.

Sekali lagi tertawa nyaring yang mengerikan itu meluncur dari mulut harimau betina liar Gunung Tidar itu. Jawabnya, Soka… kau benar-benar telah berubah menjadi seorang yang alim. Coba katakan kepadaku, pernahkah kau mengawini segenap perempuan yang kau kumpulkan di Nusakambangan? Sekarang kau tak usah berpura-pura. Aku juga tidak. Kita tidak usah mengikat diri dengan cara apapun. Sebab itu hanya akan menertawakan orang dan mengurangi kemerdekaan kita masing-masing.

Gila! gerutu Jaka Soka. Ternyata kau jauh lebih liar dari dugaanku. Tetapi bagaimanapun juga bentuk hubungan kita, namun syaratku tetap. Kau harus membawa gadis itu kepadaku. Terserah cara yang akan kau tempuh.
Kau terlalu menyakitkan hatiku, tetapi aku tidak akan marah kepadamu. Jangan takut, gadis itu akan kutangkap dan akan kujadikan umpan untuk memancingmu.

Lalu suara itu disusul oleh suara tawa dengan nada tinggi yang sangat menyakitkan telinga, yang semakin lama semakin menjauh dan ternyata kemudian memasuki kemah yang agak lebih besar dari kemah-kemah yang lain.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
288

MENDENGAR percakapan itu hati Mahesa Jenar seperti tertusuk sembilu. Ketika ia menoleh kearah Panembahan Ismaya, orang tua itu menggigil seperti orang kedinginan. Terdengarlah suaranya yang lemah gemetar, Ya ampun, ada juga manusia-manusia semacam itu di dunia ini.

Itulah pimpinan mereka, sahut Mahesa Jenar. Adakah Panembahan merasa bahwa orang-orang semacam itu dapat diajak berbicara?

Panembahan Ismaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab pertanyaan itu. Malahan ia bertanya tentang hal yang lain.

Katanya, Anakmas, pernahkah kau mendengar nama-nama yang disebut-sebut tadi? Pandan Alas, Sima Rodra tua dan Bugel Kaliki?

Sekali lagi Mahesa Jenar terasa seperti terbangunkan dari sebuah angan-angan yang hebat. Kalau orang-orang itu, Sima Rodra dan Bugel Kaliki, berada di tempat ini pula, maka akibatnya akan hebat sekali. Apakah yang dapat dilakukan terhadap kedua tokoh itu?

Bagaimanapun juga Mahesa Jenar bukan orang yang dengan mudahnya dapat ditelan oleh perasaan saja tanpa pertimbangan-pertimbangan dan perhitungan, sebagaimana harus dilakukan oleh seorang prajurit.

Bapa Panembahan… jawabnya, Orang-orang itu adalah orang-orang yang dahsyat, yang memiliki kesaktian luar biasa. Mereka seolah-olah mampu berbuat sesuatu diluar kemampuan manusia biasa.

Orang tua itu menjadi semakin cemas mendengar keterangan Mahesa Jenar.

Adakah orang-orang itu di tempat ini pula? sambungnya.

Mahesa Jenar menggelengkan kepala.

Entahlah, jawabnya.

Tetapi sesaat kemudian percakapan mereka terhenti oleh suatu suara, He, kau lihat tadi lurah kita?

Kemudian terdengar jawaban, yang ternyata adalah laki-laki yang sedang menghangatkan tubuh perapian yang hampir padam. Ya, aku lihat Nyi Lurah bersama-sama dengan Ular Laut yang sombong itu masuk ke dalam kemah. Apakah ada suatu keperluan?

Ya! jawab orang yang pertama. Sima Rodra tua ingin menemuinya.

Kata-kata yang diucapkan itu, telah cukup menggetarkan dada Mahesa Jenar. Sadarlah ia sekarang bahwa ia berhadapan dengan satu gerombolan lengkap dari Gunung Tidar yang di belakangnya berdiri orang-orang semacam Sima Rodra tua yang dahsyat itu.

Apalagi ketika laki-laki itu meneruskan, Katakan kepadanya bahwa ayahnya dan tamunya, si bongkok dari Lembah Gunung Cerme sudah menunggu.
Kemudian sepi kembali. Yang terdengar hanyalah langkah-langkah mereka yang sesaat kemudian telah lenyap ditelan sepi malam.

Di langit, bintang-bintang masih bermain dengan riangnya. Sekali-sekali selembar awan putih lewat di depan wajah langit yang biru tua, dihanyutkan oleh angin yang berhembus perlahan-lahan. Dingin malam yang dibasahi oleh tetesan embun terasa menyusup sampai ke tulang.

Sesaat Mahesa Jenar terkenang pada pertemuan golongan hitam beberapa tahun yang lampau, ketika ia berlima, dengan Gajah Alit, Paningron, Mantingan dan Wiraraga, terlibat dalam suatu pertempuran melawan Sima Rodra tua itu bersama Pasingsingan. Pada saat itu Sima Rodra dan Pasingsingan bertempur berdua hanya karena mereka bersama-sama ingin membunuh, bukan karena mereka terpaksa menggabungkan kekuatan mereka.

Sekarang, bukit kecil ini telah dikepung rapat oleh sejumlah laskar gerombolan hitam yang terkenal, ditambah lagi dengan kehadiran Sima Rodra dan Bugel Kaliki, disamping istri Sima Rodra muda dan Jaka Soka. Gabungan kekuatan mereka akan merupakan suatu tenaga dahsyat yang tak terbayangkan.

Disamping itu, ia merasa berterima kasih pula kepada Panembahan Ismaya, yang telah melarangnya bertindak, meskipun itu disebabkan oleh ketakutannya melihat kekerasan. Namun dengan demikian tanpa disengaja Panembahan tua itu telah menyelamatkannya beserta muridnya.

Sebentar kemudian kembali terdengar suara Istri Sima Rodra muda yang agaknya telah keluar dari kemahnya. Sakayon… katanya, Kau harus menjaga supaya orang itu tidak dapat lolos.

Baik Nyi Lurah, jawab Sakayon.

Aku akan tinggal di sini, sela suara yang lain, yang ternyata suara Jaka Soka.

Kalau ia akan mencoba menerobos, akulah yang akan membinasakan.

Kau benar, jawab Jaka Soka. Tetapi aku akan membunuhnya beramai-ramai. Bukankah di sini ada Sakayon dan kawan-kawannya…? Setidak-tidaknya aku akan dapat mencegahnya sampai ayahmu datang untuk membinasakannya.

Sekali lagi Harimau betina itu tertawa, sahutnya, Ternyata kau jujur menghadapi lawanmu. Tetapi jangan mimpi ayahku akan membinasakannya.

Kenapa? potong Jaka Soka.

Istri Sima Rodra muda itu tertawa lebih mengerikan lagi. Jawabnya sangat mengejutkan, Aku minta ayah menangkapnya hidup-hidup. Sayang, ia terlalu tampan untuk dibunuh.

Gila kau! bentak Jaka Soka. Dan bersamaan dengan itu dada Mahesa Jenar serasa akan pecah. Tubuhnya menggigil menahan kemuakan hatinya.

Hampir ia kehilangan pengamatan diri, kalau ia tidak mendengar Panembahan tua itu berdesis, Adakah Sima Rodra ayah perempuan itu?

Mahesa Jenar mengangguk, tetapi giginya gemeretak. Sementara itu terdengar suara perempuan itu semakin memuakkan, Jangan cemburu Soka. Aku juga tidak cemburu ketika kau ajukan syarat untuk menangkap gadis anak tiriku itu. Dan jangan kira aku tidak tahu, bahwa aku akan kau jadikan alat saja, dan sesudah itu akan kaulempar jauh-jauh. Tetapi kau tidak dapat melakukan itu. Ayahku akan mencekikmu bersama-sama dengan Pandan Alas. Kecuali kalau itu atas kehendakku.

Gila kau. Pergilah, pergilah ke ayahmu. Aku tidak mempedulikan apa yang akan kau lakukan. Tetapi ingat, sementara kau perlukan aku, syarat itu harus kau penuhi, jawab Jaka Soka.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
289

TERDENGAR kembali suara tertawa iblis betina itu, semakin lama semakin jauh dan kemudian hilang di kejauhan.

Pertunjukan yang dahsyat dan memuakkan itu telah berakhir.

Namun Panembahan tua itu masih menggigil, sedang dada Mahesa Jenar dan Arya Salaka serasa sesak oleh kemarahan dan kemuakan yang meluap-luap.
Anakmas… bisik Panembahan Ismaya, Sungguh mengerikan.

Panembahan… jawab Mahesa Jenar, Aku kira lebih baik Panembahan kembali ke padepokan. Agaknya disini terlalu berbahaya bagi Bapa.

O, ngger, sahut Panembahan itu, Aku tidak dapat berjalan sendiri. Tubuhku tiba-tiba jadi lemas seperti segenap otot bayuku dilolosi. Karena itu sudilah angger berdua menuntunku mendaki bukit kecil ini.

Mahesa Jenar tak dapat menolak permintaan itu. Meskipun ia sebenarnya masih ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang kekuatan laskar Gunung Tidar itu. Karena itu, maka perlahan-lahan mereka menggeser semakin dalam menyusup semak-semak dan batang ilalang, untuk kemudian membantu Panembahan tua itu kembali ke Padepokan diatas bukit.

Tak ada yang mereka percakapkan sepanjang jalan. Angan-angan mereka masing-masing dicengkam oleh kengerian dengan alasan yang berbeda-beda.

Dan karena itu pulalah maka Mahesa Jenar dan Arya Salaka seterusnya sama sekali tak dapat memejamkan mata sekejappun, meskipun mereka menghendaki. Pikiran mereka menjadi kalut tak karuan. Disamping itu, Mahesa Jenar pun harus berpikir pula, bagaimanakah sebaiknya ia menghadapi iblis-iblis yang berkumpul di sekitar bukit kecil itu.

Menilik persiapan mereka, maka sudah dapat dipastikan bahwa mereka akan melakukan pengepungan itu untuk waktu yang lama. Bagaimanapun juga orang-orang dari Gunung Tidar tidak mau menganggap Mahesa Jenar sebagai seorang yang tak berdaya menghadapi mereka. Lebih-lebih lagi setelah Mahesa Jenar mendengar percakapan Jaka Soka dengan Janda Sima Rodra.

Tanpa diketahuinya, bulu kuduknya meremang. Ia sama sekali tidak takut menghadapi kemungkinan yang paling berbahaya sekalipun.

Namun terhadap iblis betina itu ia merasa ngeri. Karena itulah dihabiskannya sisa malam itu dengan hati yang berdebar. Pada pagi harinya, sesaat setelah matahari terbit, datanglah Jatirono ke pondok Mahesa Jenar, untuk menyampaikan undangan Panembahan Ismaya. Mahesa Jenar merasa bahwa ada hal yang penting yang akan dibicarakan. Karena itu setelah membersihkan diri, bersama-sama dengan Arya Salaka ia pergi menghadap.

Anakmas… kata Panembahan itu kemudian, Agaknya keadaan sangat gawat bagi Anakmas. Tetapi untung lah bahwa mereka sama sekali tidak mengetahui dengan pasti bahwa Anakmas masih berada di atas bukit ini.

Aku kira tidak demikian Panembahan, jawab Mahesa Jenar. Persiapan mereka menunjukkan bahwa mereka yakin aku masih berada di sini. Hanya barangkali mereka menganggap bahwa untuk menangkap aku, mereka memerlukan waktu yang panjang. Sebab bukit ini banyak sekali relung likunya yang baik sekali untuk bersembunyi. Tetapi Bapa Panembahan, aku sama sekali tidak akan bersembunyi. Kalau mereka naik ke bukit itu, akau akan menemuinya dan apa yang terjadi terserahlah kepada kekuasaan Yang Maha Adil.

Panembahan Ismaya mengangguk-angguk.

Katanya, Angger memang seorang jantan tiada taranya. Yang tidak sisip dengan gelar yang Anakmas miliki, Rangga Tohjaya. Namun demikian anakmas, setiap usaha dibenarkan oleh Tuhan Yang Maha Agung. Juga usaha untuk menyelamatkan diri. Sebab tak ada yang dapat dicapai tanpa suatu usaha apapun.

Ucapan Panembahan tua itu mengena benar di hati Mahesa Jenar. Sebenarnya ia pun sependapat dengan pikiran itu. Bahkan menurut perhitungan, ia pun seharusnya berbuat demikian pula. Tetapi dengan demikian, Panembahan Ismaya akan mengalami akibatnya. Setidak-tidaknya bukit kecil yang telah dipeliharanya dengan baik itu, akan dibongkar oleh rombongan Gunung Tidar yang akan mencarinya.

Panembahan… jawab Mahesa Jenar, Pendapat Bapa adalah benar sama sekali. Tetapi aku tidak mau menyulitkan Panembahan karena kehadiranku di sini. Sebelum aku diketemukan, mereka pasti akan mengaduk Padepokan ini. Bahkan tidak mustahil kalau Panembahan akan mengalami hal-hal yang tidak diharapkan. Karena itu biarlah mereka menemukan diriku tanpa banyak kesulitan. Karena persoalannya adalah persoalanku, dan sama sekali tidak bersangkut paut dengan Panembahan. Karena aku menghadap kemari itulah sebabnya maka bukit kecil yang tenang dan damai itu mengalami kegoncangan. Karena itu, bahkan aku tidak akan menunggu mereka naik. Akulah yang akan berusaha, kalau mungkin menerobos kepungan mereka.

Sekali lagi Panembahan tua itu memancarkan pandangan kekaguman. Maka katanya, Sekali lagi aku menghormati kejantanan Anakmas. Namun meskipun demikian, berilah aku kesempatan berlaku sebagai tuan rumah yang baik. Aku harap Anakmas tidak menolak permintaanku, supaya aku tidak merasa bersedih. Bukankah aku yang menahan Anakmas supaya tinggal di bukit ini untuk beberapa lama? Nah, kalau demikian aku akan menunjukkan sebuah jalan, sebab menurut pendapatku, setelah aku mendengar keterangan dari Anakmas malam tadi, sulitlah untuk menerobos kepungan mereka. Meskipun aku tahu benar maksud Anakmas, bahwa dengan demikian orang-orang itu tidak lagi akan mendaki bukit ini. Dan Anakmas telah mengatakan pula, bahwa mereka tidak akan tergesa-gesa bertindak. 

 

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
290

ANAKMAS…, lanjut Panembahan Ismaya, Di lereng sebelah selatan bukit ini ada sebuah goa, Aku tidak tahu, siapakah yang telah membuatnya, atau barangkali hasil perbuatan alam. Goa itu ditakbiri sebuah gerumbul yang cukup besar. Di situ Anakmas dapat menyembunyikan diri dengan aman. Aku yakin bahwa tak seorangpun dapat menemukan mulut goa itu.

Mendengar keterangan Panembahan Ismaya, Mahesa Jenar menjadi terharu. Rupa-rupanya ia akan mempertanggungjawabkan segala sesuatu mengenai dirinya, hanya karena Panembahan tua itu telah menahannya untuk tetap tinggal dibukit kecil itu.

Panembahan… jawab Mahesa Jenar, Aku tidak akan dibenarkan oleh perasaanku, seandainya aku berbuat demikian. Dan adakah Panembahan telah memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi?

Sekali lagi aku minta, potong Panembahan Ismaya, Anakmas jangan membuat aku bersedih. Percayalah bahwa mereka tidak akan berbuat sesuatu atas diriku serta padepokan ini, sebab aku dapat mengingkari kedatangan Anakmas di bukit ini.

Untuk beberapa lama Mahesa Jenar bimbang, sedang Panembahan Ismaya selalu mendesak-desaknya saja.

Panembahan… akhirnya Mahesa Jenar berkata, Memang tidak sepantasnya aku menolak, tetapi bagaimanapun juga, aku ingin supaya aku tidak menyulitkan Bapa Panembahan. Karena itu apabila terjadi kesulitan atas Panembahan Ismaya, maka perkenankanlah aku bertindak atas pertimbanganku sendiri.

Baiklah Anakmas, saratmu aku terima, jawab Panembahan itu.

Setelah itu kemudian Panembahan Ismaya memerintahkan kepada cantrik-cantriknya untuk menyediakan perbekalan. Sebab Mahesa Jenar akan tinggal di dalam goa itu untuk waktu yang tidak tertentu.

Demikianlah pada hari itu Mahesa Jenar dan Arya Salaka diantar oleh seorang cantrik pergi ke goa di lereng selatan bukit kecil itu.

Setelah menyibakkan sebuah gerumbul yang cukup lebat, tampaklah di hadapan mereka sebuah mulut goa yang kecil. Seseorang hanya dapat memasukinya dengan merangkak.

Di dalam goa itulah kami biasa bermain-main, kata cantrik yang mengantarkan itu.

He…? Mahesa Jenar agak terkejut. Kalian bermain-main di dalam goa ini?

Ya, jawab Cantrik itu, Di dalam goa itu terdapat sebuah lobang yang tembus keatas. Dari situlah sinar matahari menerangi bagian dalam goa ini.
Kemanakah lubang goa ini tembus?
tanya Mahesa Jenar.

Kami tidak tahu, jawab Cantrik itu, Kami belum pernah menyusurnya jauh ke dalam. Sebab diujung sebelah dalam goa itu gelap sekali.

Setelah itu maka masuklah cantrik itu ke dalam goa sambil membawa beberapa macam bekal. Setelah itu baru Mahesa Jenar dan Arya Salaka merangkak masuk. Memang sebenarnyalah di dalam goa itu, agak ke dalam, tampak sinar jatuh dari lubang di atas.

Lubang itu tidak seberapa besarnya, namun terdapat lebih dari satu lubang. Sehingga dengan demikian, beberapa berkas sinar cukup untuk menerangi sebagian dari ruangan di dalam goa itu.

Goa itu sebenarnya tidaklah seperti kebiasaan goa-goa. Lantainya licin bersih. Dan yang lebih menyenangkan lagi, di dalam goa itu terdapat sebuah bale-bale bambu. Agaknya para cantrik yang sering bermain-main di dalam goa itu telah membuatnya sebuah bale-bale di dalam.

Nah, Tuan… kata cantrik itu kemudian, Sekarang perkenankanlah aku meninggalkan Tuan-tuan. Setiap kali aku akan dapat kemari untuk menengok perbekalan Tuan.

Menurut pesan Panembahan, tempat ini harus menjadi tempat rahasia. Sebab siapa tahu orang-orang yang mengepung bukit ini telah mengirimkan orang untuk memata-matai keadaan di sekitar bukit ini. Kalau aku terlalu sering datang kemari, atau Tuan keluar dari goa ini jangan-jangan orang-orang mereka dapat melihatnya.

Pergilah, jawab Mahesa Jenar, Berilah kami kabar apabila terjadi sesuatu atas padepokan ini, lebih-lebih Bapa Panembahan.

Cantrik itu mengangguk hormat. Pesan Tuan akan kami laksanakan dengan baik, katanya.

Kemudian pergilah ia keluar lewat lubang sempit itu, dan seterusnya menyibakkan daun-daun gerumbul yang menutup lubang goa itu.

Untuk beberapa saat Mahesa Jenar dan Arya Salaka mengamat-amati dinding goa itu. Dan kemudian mereka menemukan suatu ruangan yang agak lebar dengan lubang-lubang pula di atasnya.

Arya… kata Mahesa Jenar, Kita tidak tahu berapa lama kita harus meringkuk di dalam lubang ini. Tetapi aku kira sehari dua hari ini Sima Rodra masih belum akan bertindak.

Karena itu kita mempunyai cukup waktu untuk menyusur goa ini sebelum kita mendapat kabar dari cantrik tadi.

Arya Salaka adalah seorang anak yang ingin mengetahui segalanya. Karena itu segera ia menjawab, Paman, tidakkah kita mencoba melihat setiap segi goa ini?

Marilah, jawab Mahesa Jenar.

Maka segera dengan hati-hati mereka mulai memasuki ke bagian yang lebih dalam lagi. Di beberapa bagian, lubang-lubang yang menembus ke atas masih saja terdapat. Dan sepanjang bagian yang masih mendapat penerangan itu, ternyata terdapat bekas-bekas tempat bermain para cantrik.

Di situ terdapat pula alat-alat memasak dan beberapa perlengkapan lain. Tetapi ketika kemudian mereka sampai ke bagian yang lebih gelap, hilanglah semua bekas-bekas yang menunjukkan bahwa tempat itu pernah didatangi oleh para cantrik.

Perlahan-lahan Mahesa Jenar dan Arya Salaka menyusuri lubang goa yang semakin lama menjadi semakin sempit dan gelap.

291

PADA hari yang pertama, mereka menghentikan pengamatan mereka sampai di situ. Tak ada yang istimewa di dalamnya. Kecuali di beberapa tempat terdapat tetesan-tetesan air yang jernih. Agaknya para cantrik sering menampung air yang tetes itu pula, untuk masak-memasak.

Pada hari kedua, Mahesa Jenar dan Arya Salaka kembali menyusuri lubang goa itu jauh lebih ke dalam. Karena pandangan mereka yang sudah agak biasa di dalam gelap, maka meskipun remang-remang mereka dapat melihat di dalam goa itu. Namun yang tampak hanyalah bayangan batu-batu yang menjorok tak teratur. Ada yang runcing, ada yang seperti gerigi, dan ada yang halus licin seperti digosok.

Juga pada hari kedua mereka tak mendapatkan apapun yang menarik perhatian. Dengan perasaan jemu mereka kembali ke ujung goa, dimana mereka menemukan cantrik yang mengantarkan mereka, telah berada di situ.
Ada sesuatu yang terjadi? tanya Mahesa Jenar tak sabar.

Cantrik itu menggeleng tenang. Tak ada, jawabnya.

Lalu apakah yang dilakukan oleh orang-orang laskar Gunung Tidar itu selama ini? sambung Mahesa Jenar.

Menari dan menyanyi-nyanyi seperti orang gila, jawab cantrik itu. Mereka berbuat aneh-aneh. Kami tidak melihatnya dengan jelas. Tadi malam kami mencoba mengintip mereka, meskipun kami sama sekali tak berani mendekati.

Tetapi dari jarak yang sedang, kami melihat mereka menari-nari mengelilingi perapian dengan laku yang aneh-aneh. Lebih mengherankan lagi bahwa diantara mereka terdapat pula laskar-laskar perempuan. Dan apa yang kami lihat adalah sangat mengerikan. Kami hampir tak percaya pada mata kami. Lebih-lebih lagi, perempuan yang mereka anggap pimpinan mereka, yang mendapat gelar Harimau Betina dari Gunung Tidar.

Mendengar ceritera cantrik itu, mulut Mahesa Jenar serasa terkunci. Tak sepatah katapun ia menjawab. Dadanya berdentang-dentang dengan kerasnya. Apalagi ketika ia sadar bahwa tak ada sesuatu yang dapat dilakukan. Dengan adanya Sima Rodra dari Alas Lodaya dan Bugel Kaliki, maka setiap usahanya pasti akan sia-sia. Karena itu untuk sementara ia terpaksa membiarkan segalanya terjadi sampai ia menemukan suatu cara untuk mengatasinya.

Cantrik itu tidak lama tinggal di dalam goa. Segera setelah ia menambah bekal-bekal buat Mahesa Jenar, ia minta diri. Dengan hati-hati sekali ia mengendap keluar, dan kemudian hilang dibalik semak-semak di muka mulut goa.

Ceritera cantrik itu menambah prihatin Mahesa Jenar. Ia merasa seperti orang yang sama sekali tak berarti. Alangkah bodoh dan picik pengetahuan yang dimilikinya, sehingga ia terpaksa membiarkan kemaksiatan itu berlaku di hadapannya tanpa suatu daya apapun untuk mencegahnya.

Karena kejemuannya pula, maka pada hari ketiga Mahesa Jenar dan Arya Salaka memasuki goa itu lebih dalam lagi. Batu-batu runcing bertebaran di sepanjang dindingnya.

Ketika mereka sampai di bagian lebih dalam lagi, tiba-tiba langkah mereka terhenti. Lamat-lamat mereka mendengar gemerisik halus di sekitar tempat itu.

Dengan ketajaman pancainderanya Mahesa Jenar mencoba untuk mengetahui sumber bunyi itu. Tetapi sebentar kemudian bunyi itu telah lenyap. Namun meskipun demikian Mahesa Jenar dan Arya Salaka menjadi bertambah berhati-hati.

Apalagi sesaat kemudian bunyi itu terdengar lagi. Agak lebih dekat. Sekarang jelas bagi Mahesa Jenar, bahwa bunyi itu bunyi langkah manusia. Karena itu ia menggamit Arya Salaka, dan dengan isyarat ia menyuruhnya untuk waspada. Tetapi kemudian suara itu lenyap kembali.

Kemudian Mahesa Jenar dan Arya Salaka pun tidak mau berkisar dari tempatnya. Mereka berdua perlahan-lahan sekali mendekat pada dinding goa. Untuk beberapa lama mereka bertahan di situ. Mereka menunggu setiap kemungkinan yang dapat terjadi.

Dan apa yang mereka tunggu-tunggu tiba-tiba muncullah. Di dalam gelap mereka melihat sesosok tubuh berjalan perlahan-lahan sekali dan sangat hati-hati. Tetapi agaknya ia masih belum melihat Mahesa Jenar dan Arya Salaka yang berdiri melekat dinding, meskipun barangkali orang itu telah mendengar langkah mereka, sebab ternyata orang itu berjalan mendekati mereka.

Tetapi ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah, agaknya orang itu dapat pula melihat Mahesa Jenar dan Arya Salaka. Cepat ia menghentikan langkahnya, dan tiba-tiba ia meloncat dan berlari menjauh.

Mahesa Jenar dan Arya Salaka menjadi curiga. Karena segera mereka menyusulnya. Namun orang itu berlari terus meskipun tidak begitu cepat karena gelap. Sedang Mahesa Jenar dan Arya Salaka tidak dapat berlari cepat.

Karang-karang yang runcing terbujur lintang tak tentu arah. Meskipun demikian langkah Mahesa Jenar setidak-tidaknya dapat menyamai langkah orang yang dikejarnya, sehingga jarak mereka tidak menjadi semakin jauh.
Ketika orang itu sadar bahwa ia dikejar, maka ia pun mempercepat langkahnya. Belum sedemikian jauh ia berusaha untuk melenyapkan dirinya, masuk ke dalam sebuah lekuk. Tetapi ternyata bahwa lekuk itu hanya merupakan sebuah mulut saja dari cabang goa itu yang cukup dalam pula. Mula-mula Mahesa Jenar agak ragu. Tetapi karena keinginannya untuk mengetahui siapakah orang itu, maka segera ia mengejarnya ke dalam cabang goa itu.

Beberapa lama mereka berkejar-kejaran. Orang itu agaknya sudah amat mengenal keadaan di dalam goa sehingga dengan mudahnya ia memasuki hampir setiap lobang yang ada. Ternyata di dalam goa itu tidak saja terdapat satu dua jalur lubang, tetapi berpuluh-puluh. Karena itulah Mahesa Jenar menjadi sulit untuk mengejar orang yang sudah mengenal tempat itu dengan baik.

Akhirnya ketika ia merasa bahwa usahanya tidak akan berhasil, dan orang yang dikejarnya itu sudah tidak nampak pula, segera ia menghentikan langkahnya. Peluh dinginnya telah merembes hampir membasahi seluruh tubuhnya.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
292

TETAPI yang lebih mengejutkan lagi, ketika ia menoleh, Arya Salaka tidak dilihat bersamanya. Mahesa Jenar tertegun untuk beberapa saat. Namun kemudian ia sadar bahwa mungkin anak itu tidak dapat mengikuti kecepatannya.

Dalam pada itu Mahesa Jenar jadi gelisah. Gelisah karena kehadiran orang lain didalam goa itu, ditambah dengan terpisahnya Arya Salaka. Karena itu, untuk beberapa saat ia menanti. Mungkin Arya akan segera menyusulnya, atau orang yang dikejarnya itu muncul kembali. Tetapi usahanya itu sia-sia. Telah beberapa lama ia tinggal di situ, namun tak seorang pun yang nampak.
Mahesa Jenar kemudian bertambah gelisah lagi. Jangan-jangan Arya Salaka tak dapat menemukan jalan. Bukan itu saja, tetapi dirinya sendiripun menjadi kebingungan pula.

Ketika kemudian ia meninggalkan tempat itu dan berusaha kembali ke mulut goa kembali. Beberapa kali ia berputar-putar melingkar-lingkar, namun yang dicarinya tidak dapat diketemukannya. Dengan demikian ia pun yakin bahwa Arya Salakapun pasti kehilangan jalan.

Dalam kegelisahannya, kemudian Mahesa Jenar berteriak memanggil-manggil. Namun ia sama sekali tak mendengar suara Arya menyahut. Beberapa kali suaranya sendiri melingkar-lingkar dan kembali meraung-raung di dalam relung-relung goa itu. Akhirnya ia pun kelelahan sendiri. Dibantingkannya dirinya di atas sebuah batu dengan masgulnya. Disekitarnya takbir kegelapan merubunginya. Di sana-sini meremang batu-batu yang menjorok seperti bayangan-bayangan hantu yang akan menerkamnya.

Mahesa Jenar sama sekali tidak takut menghadapi keadaan sekitarnya. Tetapi ia bingung karena kehilangan muridnya. Apapun yang terjadi atasnya bukanlah soal, sedangkan Arya masih memiliki masa depan yang panjang dengan penuh harapan-harapan.

Sekali lagi ia masih mencoba memanggil Arya. Namun suaranya memercik kembali berulang-ulang. Bagi Mahesa Jenar pantulan suaranya itu terdengar seperti guruh yang memukul-mukul dadanya yang gelisah.

Tiba-tiba dalam keriuhan perasaan itu, Mahesa Jenar dikejutkan oleh suara orang tertawa. Suara itu perlahan-lahan sekali, tetapi jelas dan dekat disekitarnya. Mendengar suara itu darah Mahesa Jenar berdesir hebat. Karena itu segera ia meloncat berdiri dan bersiaga. Namun kemudian, suara itu terhenti dan tidak ada apa-apa lagi yang terdengar.

Oleh peristiwa itu hatinya menjadi bertambah gelisah. Ia mempunyai dugaan, bahwa seseorang telah sengaja memancingnya sampai ke tempat yang membingungkan ini. Dan mungkin sekaligus memisahkannya dari muridnya.
Ketika kemudian suara tertawa itu terdengar lagi, Mahesa Jenar menjadi marah bukan buatan. Dipusatkannya segenap inderanya untuk mengetahui arah suara yang mengganggunya. Mahesa Jenar adalah seorang yang terlatih baik, jasmaniah dan rohaniah. Karena itu, meskipun perlahan-lahan akhirnya ia dapat menemukan sumber suara itu. Maka perlahan-lahan sekali ia berkisar dari tempatnya, menuju ke arah suara yang menyeramkan.

Beberapa langkah kemudian ia berhenti di tikungan. Suara itu berasal dari sebuah lubang dinding cabang goa itu. Dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan ia memasukinya dengan melekatkan tubuhnya di dinding.

Tiba-tiba hampir ia terlonjak ketika suara itu terdengar kembali hampir melekat di hidungnya. Dan bersamaan dengan itu dilihatnya sebuah bayangan bergerak-gerak di hadapannya.

Tetapi agaknya orang itu pun terkejut pula atas kehadiran Mahesa Jenar yang tiba-tiba itu. Ternyata suara tertawanya terputus, dan bayangan itu pun segera bergerak menjauh. Kali ini Mahesa Jenar tidak mau melepaskannya lagi. Ia telah kehilangan muridnya karena mengejar-ngejar bayangan itu. Maka sekarang ia harus menangkapnya untuk dipaksanya menunjukkan segala liku-liku goa untuk mencari muridnya.

Kembali terjadi kejar-mengejar di dalam goa yang gelap. Untunglah bahwa penglihatan Mahesa Jenar tajamnya melampaui mata burung hantu, sehingga meskipun agak sulit ia masih dapat terus-menerus membayangi buruannya. Tetapi seperti semula amat sulitlah untuk mendekatinya. Goa itu mempunyai beratus-ratus tikungan yang sangat membingungkan.

Hampir meledaklah dada Mahesa Jenar ketika sekali lagi ia kehilangan orang yang dikejarnya itu. Tubuhnya menggigil seperti orang kedinginan. Giginya gemeretak. Kedua tangannya mengepal tinju. Tetapi tak seorang pun yang dihadapinya.

Dalam keadaan yang serupa itu, tiba-tiba sekali lagi Mahesa Jenar terperanjat. Tidak beberapa jauh di hadapannya, ia melihat sebuah bayangan sinar yang meremang. Segera perhatiannya beralih kepada bayangan itu.

Cepat-cepat ia melangkah mendekati. Dan apa yang diketemukan adalah sebuah lubang yang agak besar. Yang lebih mendebarkan hatinya adalah, di seberang lubang itu, ia melihat cahaya yang lebih terang dari keadaan di dalam goa. Maka dengan hati-hati ia berjongkok dan mengintip keluar. Namun tak ada sesuatu yang mencurigakan.

Akhirnya Mahesa Jenar mengambil keputusan untuk memasuki lubang itu. Dengan penuh kewaspadaan akhirnya ia merangkak masuk. Tetapi alangkah terkejutnya. Ketika seluruh kepalanya telah berada diluar lubang, pertama-tama benda yang disentuhnya adalah batang ilalang. Karena itu segera seperti meloncat ia melontarkan seluruh tubuhnya.

Pada saat itulah angin senja menghembus tubuhnya dengan segarnya. Batang-batang ilalang di sekitarnya, yang tingginya melampaui tubuhnya, bergoyang-goyang ditiup angin. Di sebelah barat masih membayang warna-warna merah, tetapi matahari telah tenggelam di bawah kaki langit.

Untuk sementara Mahesa Jenar tertegun heran. Tiba-tiba saja ia telah berdiri di luar goa. Tetapi mulut goa ini bukanlah mulut goa dari mana ia masuk.
Bagaimanapun juga ia menjadi agak bimbang. Apakah sekarang yang akan dilakukan. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk menghadap Panembahan Ismaya, sebab ia yakin bahwa ia masih berada di bukit Karang Tumaritis.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja

293

KETIKA Mahesa Jenar mulai bergerak, kembali ia tertegun. Didengarnya agak jauh di bawah suara kuda meringkik, disusul oleh gelak tertawa dan sorak sorai yang riuh. Sekali lagi perhatiannya teralih.

Mahesa Jenar tiba-tiba ingin melihat apakah yang terjadi, dan sekaligus ia mengharap dapat memecahkan teka-tekinya sendiri, serta hilangnya Arya Salaka.

Karena itu segera ia melangkahkan kakinya dengan hati-hati ke arah suara yang ramai itu. Ketika suara itu telah semakin dekat, Mahesa Jenar mulai merangkak diantara batang-batang ilalang. Dan pada saat terakhir, ketika ia menyibakkan daun ilalang, ia melihat suatu pemandangan yang hampir membuatnya pingsan.

Yang mula-mula dilihatnya adalah perapian. Meskipun malam baru menginjak diambang pintu. Kemudian di dekat perapian itu ia melihat Janda Sima Rodra berdiri bertolak pinggang, sedang di hadapannya, di atas sebuah batu tampak Jaka Soka duduk memandang lidah api yang menjilat-jilat. Sikapnya acuh tak acuh saja kepada Harimau Betina yang buas itu.

Soka… kata Janda Sima Rodra, Syaratmu telah aku penuhi.

Bohong! jawab Jaka Soka masih acuh tak acuh.

Jangan pura-pura tidak tahu. Aku lihat pada wajah serigalamu itu suatu kerakusan yang tak tertahan-tahan lagi. Jangan begitu. Gadis itu hanya sekadar syarat. Syaratku. Jadi jelas, akulah yang penting, sahut perempuan itu.

Jaka Soka menoleh. Lalu dipandangnya orang-orang yang berada di sekitarnya. Kenapa kalian berhenti berteriak-teriak? Tetapi tak seorang pun menjawab. Karena tak seorang pun menjawab, ia melanjutkan, Teruskan, teruskan. Aku akan ikut serta.

Jawab pertanyaanku, potong Harimau Betina itu.

Bagus. Bagus kau, jawab Jaka Soka. Aku tak pernah mengingkari janji. Tetapi tunjukkan syarat itu di hadapanku. Terdengarlah tertawa iblis betina itu. Sangat mengerikan.

Kau tidak percaya kepada Sima Rodra tua dari Lodaya? Dan juga Bugel Kaliki dari Lembah Gunung Cerme?

Siapa bilang tidak percaya? sahut Jaka Soka cepat-cepat. Aku hanya minta kau tunjukkan itu kepadaku.

Bagus, jawab Janda Sima Rodra muda. Sakayon… perintahnya, Bawa bunga pandan itu kemari. Awas Soka, durinya sangat tajam.

Jaka Soka tidak menjawab. Ia hanya tersenyum saja. Senyuman yang sudah pernah dikenal oleh Mahesa Jenar sebagai senyuman Ular yang bisanya tajam bukan buatan. Dan karena senyuman itu pulalah dahulu ia mengikutinya sampai ke tengah-tengah hutan Tambak Baya, sehingga ia dapat menyelamatkan Rara Wilis. Dan sekarang, agaknya Ular Laut itu masih belum menyerah. Dengan segala cara ia agaknya berhasil memperalat Janda Sima Rodra itu untuk menangkap gadis itu.

Sebentar kemudian darah Mahesa Jenar serasa berhenti mengalir. Tiba-tiba saja dadanya bergetaran dan kepalanya menjadi pening ketika ia melihat dari dalam salah sebuah kemah, seorang yang digiring keluar dengan tangan terikat. Orang itu tidak lain adalah Pudak Wangi, yang dikenalnya dalam keadaannya sebagai seorang gadis bernama Rara Wilis.

Sampai di tepi lingkaran laskar Gunung Tidar, Pudak Wangi itu berhenti. Matanya yang merah menyala-nyala karena marahnya, beredar pada setiap wajah yang berada di lingkaran itu. Pada saat itu seorang pengawal dengan sombongnya mendorong punggung Pudak Wangi dengan kerasnya. Karena itu Pudak Wangi yang tidak bersedia, terdorong dua langkah ke depan. Tetapi setelah itu tiba-tiba ia memutar tubuhnya, dan dengan cepatnya kakinya bergerak. Malanglah nasib pengawal yang sombong itu, ketika tumit Pudak Wangi mengenai perutnya. Meskipun tendangan itu tidak terlalu keras, tetapi karena tepat mengenai arah ulu hati, maka segera orang itu jatuh tersungkur tak sadarkan diri.

Melihat peristiwa itu, dengan cepatnya Janda Sima Rodra meloncat maju, dengan marahnya. Teriaknya, Dalam keadaanmu itu kau masih berani menyombongkan diri di hadapanku? Tetapi sebelum Harimau Betina itu dengan kuku-kukunya menyobek wajah Pudak Wangi, terdengar tertawa yang rendah memuakkan. Dan terdengarlah Jaka Soka berkata, Kau benar-benar seorang pemarah. Kalau syarat yang kau bawa itu kau rusakkan, batallah perjanjian kita.

Langkah Janda Sima Rodra muda terhenti. Setelah merenung sejenak ia menjawab, Ular Laut, kau benar-benar membuat aku gila dan berbuat hal-hal yang sangat bertentangan dengan kehendakku. Tetapi biarlah. Akan aku serahkan umpan ini dengan utuh kepadamu.

Sekali lagi terdengar Jaka Soka tertawa pendek. Matanya yang redup tetapi memancarkan sinar yang mengerikan memandangi Pudak Wangi dari ujung rambutnya sampai ke ujung kakinya.

Jangan memandang begitu, kata Janda Sima Rodra, Kalau aku yang kau pandang demikian, mungkin aku sudah pingsan.

Jaka Soka tidak menjawab. Tetapi ia berdiri dan melangkah ke arah Pudak Wangi yang masih berdiri terpaku dengan wajah yang merah membara. Ketika Janda Sima Rodra muda itu melihatnya, maka dengan tertawa nyaring berkata, Jaka Soka, aku masih belum menyerahkannya kepadamu.

Apa lagi yang ditunggu? sahut Jaka Soka.

Aku akan menyerahkan kepadamu dalam satu upacara resmi di hadapan laskarku sebagai saksi. Tetapi tidak sekarang. Aku masih memerlukannya. Sebab dengan adanya gadis itu di dalam tanganku, aku mengharap kehadiran seorang lagi.

Wajah Jaka Soka seketika berubah menjadi merah. Tetapi ia masih mengendalikan dirinya. Kau benar-benar setan betina. Terserahlah kepadamu. Kalau dengan demikian kau akan mengangkat harga diriku, kau akan kecewa. Sebab kedatanganku kemari adalah atas permintaanmu.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
294

SEKALI lagi keadaan jadi tenang karena suara tertawa Iblis betina yang bergetar membentur dinding-dinding pegunungan memenuhi lembah. Lalu kemudian ia berkata lantang, Marilah kita berpesta. Kita ajak tamu kita ini serta, mungkin dengan demikian ia akan mendapatkan kegembiraan.
Sesaat kemudian ia telah memerintahkan kepada laskarnya untuk mulai dengan teriakan-teriakan dan nyanyian-nyanyian yang sama sekali tak menyedapkan.

Pada saat itu, Mahesa Jenar yang bersembunyi di belakang semak-semak menjadi gemetar.

Ia ingat pada peritiwa yang pernah diketemukan bekas-bekasnya di atas Gunung Ijo, Prambanan. Pada saat itu ia masih belum dapat membayangkan, apakah yang terjadi. Tetapi sekarang, barulah agak jelas baginya, bahwa benar-benar rombongan Sima Rodra yang sering menculik gadis-gadis itu mempunyai kebiasaan yang mengerikan.

Mengingat kerangka-kerangka gadis-gadis di Gunung Ijo itu bulu Mahesa Jenar meremang. Dan sekarang dihadapannya ia melihat upacara itu berlangsung.

Teriakan-teriakan dan nyanyian-nyanyian yang tak sedap, yang keluar dari mulut-mulut yang kasar itu semakin lama semakin menjadi-jadi. Mereka bergerak semakin cepat mengelilingi perapian. Janda Sima Rodra dan Jaka Soka yang berdiri sebelah-menyebelah dengan Pudak Wangi, berada di luar lingkaran. Tetapi wajah mereka membayangkan bahwa perasaan mereka telah hanyut pula dalam keadaan yang hampir tak sadar.

Melihat hal itu Mahesa Jenar menjadi sangat cemas. Cemas akan keselamatan Pudak Wangi. Sebab dalam keadaan serupa itu, bisa saja malapetaka menimpanya setiap saat, meskipun selama Janda Sima Rodra itu masih berada di situ, keselamatannya agaknya masih terjamin.

Meskipun demikian, Mahesa Jenar telah bersiaga penuh. Kalau terjadi sesuatu atas gadis yang berpakaian mirip seorang laki-laki itu, dalam loncatan pertama ia sudah siap mempergunakan aji Sasra Birawanya, meskipun seterusnya akan sangat membahayakan jiwanya sendiri. Sebab ia yakin bahwa Sima Rodra tua dan Bugel Kaliki berada di sekitar tempat itu pula.

Tetapi apa boleh buat.

Sementara itu, upacara gila-gilaan itu menjadi semakin panas. Dan tiba-tiba lingkaran upacara itu melebar dan melingkar di luar tempat Harimau Betina itu berdiri. Dalam keadaan yang demikian tampaklah betapa cemasnya Pudak Wangi.

Dalam keadaan hampir tak sadar tiba-tiba Janda Sima Rodra itu kemudian menarik tangan Jaka Soka dan diseretnya untuk ikut serta melonjak-lonjak dan berteriak-teriak. Agaknya Jaka Soka pun menjadi seperti seorang yang tak berperasaan lagi. Tanpa membantah ia pun langsung ikut serta dalam pesta-pesta yang mengerikan itu.

Sesaat kemudian Pudak Wangi memalingkan wajahnya. Upacara itu benar-benar telah menjadi-jadi. Tetapi kemanapun ia memandang, ia melihat keadaan yang serupa. Sehingga akhirnya ia memejamkan matanya.
Mahesa Jenar akhirnya tak tahan lagi. Darahnya yang sudah mendidih itu sudah tidak dapat disabarkan. Karena itulah segera ia bersiap untuk bertindak.

Tetapi sebelum ia bergerak, terdengarlah derap suara seekor kuda. Semakin lama semakin dekat. Orang-orang yang sedang melakukan perbuatan-perbuatan gila itu sama sekali tidak mendengar derap itu. Sehingga kuda itu telah menjadi dekat sekali. Dengan mata yang tajam, Mahesa Jenar melihat seseorang diatas seekor kuda merah kehitam-hitaman meluncur seperti anak panah ke arah api yang masih menyala-nyala.

Sesaat orang itu mengekang kudanya agak jauh dari perapian itu, tetapi sesaat kemudian seperti angin kuda itu meluncur kembali langsung menerjang orang-orang yang sedang sibuk dengan kelakuan-kelakuan mereka yang gila itu. Karena itu, ketika seekor kuda merah kehitam-hitaman menerjang mereka, mereka menjadi kalang kabut dan untuk sementara kehilangan akal.

Namun tidak demikianlah Harimau Betina Gunung Tidar dan Jaka Soka.

Meskipun mereka baru saja tenggelam dalam irama kegilaan, namun dalam waktu sekejap mereka telah dapat menguasai diri mereka kembali.

Karena itu segera mereka berloncatan mundur sambil bersiaga, sehingga ketika orang berkuda itu mengulangi serangannya, mereka sudah siap pula menghindar.

Maka sesaat kemudian terdengarlah Janda Sima Rodra itu berteriak dengan marahnya. Dan dalam keadaan yang demikian, segera tampak jari-jarinya yang memiliki kuku-kuku yang panjang itu berkembang mengerikan. Sedang Jaka Sokapun merasa terhina pula. Dengan hebatnya ia menggeram, dan sesaat kemudian ia telah meloncat menghadang kuda yang telah berputar pula.

Ketika wajah orang berkuda itu kemudian menjadi jelas oleh api yang menyala ditengah-tengah mereka, segera terdengar suara Pudak Wangi nyaring, Kakang Sarayuda….

Suara Pudak Wangi yang melengking lembut itu bagi Mahesa Jenar ternyata mempunyai akibat yang hebat sekali. Dalam saat yang bersamaan, ia telah mengenal pula wajah itu. Sarayuda, yang membuatnya berdebar-debar.

Bagaimanapun juga Mahesa Jenar tidak dapat melupakan, bahwa pemuda yang perkasa itu telah pernah mengecewakannya, meskipun mungkin sama sekali tidak disengaja. Dan kehadirannya saat inipun telah menimbulkan suatu persoalan baru di dalam dadanya.

Dalam saat yang tegang itu terdengarlah Jaka Soka berteriak kasar, Hai Janda Sima Rodra, adakah orang ini yang kau pancing dengan umpanmu itu?

Terdengarlah suara Janda Sima Rodra itu menjawab, Aku tak kenal orang ini. Betapapun gagahnya, namun ia adalah sombong sekali.

Pada saat itu, kuda merah kehitam-hitaman itu dengan garangnya menyambar Jaka Soka. Tetapi Ular Laut itu, bukanlah anak-anak kemarin sore yang baru mampu bermain kucing-kucingan. Dengan menarik tubuhnya satu langkah ke samping, ia telah bebas dari serangan lawannya. Sambil berjongkok ia menyodok perut kuda itu dengan tongkat hitamnya. Akibatnya hebat sekali. Kuda itu terkejut dan memekik berdiri. Saat yang demikian memang ditunggunya. Dengan cepatnya ia melompat dan menghantam punggung Sarayuda.

Tetapi Demang Gunung Kidul itupun bukan pula anak ingusan. Ia adalah murid tertua Ki Ageng Pandan Alas.

 
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
295

KETIKA Demang Gunung Kidul merasa sebuah serangan mengarah ke punggung, sedang kudanya belum dapat dikuasainya, maka dengan kecepatan yang sama ia telah berhasil meloncat dan jatuh berguling, untuk kemudian melenting bangkit dan bersiaga.

Dalam sekejap kemudian terjadilah pertempuran yang seru. Jaka Soka, Bajak Laut yang ditakuti di daerah perairan Nusakambangan dan mendapat julukan Ular Laut, menyerang dengan ganasnya, sedang Sarayuda bertempur dengan gagahnya pula. Dengan teguhnya ia berdiri di atas kedua kakinya yang lincah menari-nari membingungkan lawannya.

Pada saat yang demikian itu terdengarlah suara Janda Sima Rodra kepada laskarnya, Sakayon, jagalah tawanan ini. Kepung rapat-rapat dan jangan beri kesempatan bergerak. Biar aku membantu Jaka Soka membinasakan tamu yang sombong itu.

Sesaat kemudian, berloncatanlah anak buah Sima Rodra dengan senjata terhunus berdiri rapat-rapat melingkari Pudak Wangi yang terikat tangannya.
Kemudian, Janda Sima Rodra itu pun, dengan kuku-kukunya yang tajam beracun mulai melibatkan diri dalam pertempuran melawan Sarayuda.

Sarayuda adalah seorang yang tangkas, tangguh dan perkasa. Namun demikian, ketika ia harus melawan Ular Laut dan Janda Sima Rodra itu bersama-sama, segera terasa bahwa memang kekuatan mereka tidak berimbang, karena Ular Laut dan Janda Sima Rodra itu masing-masing juga merupakan tokoh-tokoh perkasa dari golongan hitam.

Dalam keadaan yang terdesak, Sarayuda segera mencabut pedangnya. Pedang yang gemerlapan itu berputar-putar memancar berkilat-kilat karena cahaya api. Sinarnya yang putih, serta pantulan sinar kemerah-merahan, menjadikan pedang itu seperti memancarkan bunga-bunga api. Sarayuda, murid Ki Ageng Pandan Alas itu, kemudian menyerang dengan tangkasnya. Pedangnya bergetaran dalam ilmu khusus perguruan Ki Ageng Pandan Alas, terasa sangat membingungkan lawannya.

Tetapi dalam pada itu, segera tampak pula sinar putih bergulung-gulung belit-membelit dengan bayangan yang kehitam-hitaman melawan pedang Sarayuda. Itulah senjata Jaka Soka. Pedang kecil yang lentur, yang dicabutnya dari dalam tongkat hitamnya di tangan kanan, dan tongkat itu sendiri ditangan kiri, merupakan sepasang senjata yang menakjubkan.

Dibarengi dengan 10 batang kuku-kuku berbisa diujung jari Harimau Betina dari Gunung Tidar, senjata-senjata itu merupakan gabungan kekuatan yang mengerikan.

Untuk sesaat Mahesa Jenar terpesona memandangi pertempuran yang hebat itu.

Ia kagum akan ketangkasan Sarayuda dan memuji kelincahan Jaka Soka, yang bertempur dengan gerakan-gerakan yang cepat, melingkar, menyerang dan mematuk-matuk, benar-benar seperti laku seekor Ular yang berbahaya.
Mahesa Jenar baru sadar ketika dilihatnya bahwa Sarayuda benar-benar dalam keadaan yang sangat berbahaya.

Dalam keadaan yang sedemikian, tiba-tiba sekali lagi Mahesa Jenar dikejutkan oleh suatu pemandangan yang tidak diduganya. Di tempat yang agak jauh dari lingkaran pertempuran itu, yang hanya dapat dicapai oleh cahaya api yang sangat lemah, dilihatnya pula seseorang bertempur melawan dua orang. Tetapi pertempuran ini jauh berbeda dengan pertempuran antara Sarayuda melawan kedua lawannya. Pertempuran yang dilihatnya kemudian itu seolah-olah hanyalah sebuah permainan lontar-melontar yang kadang-kadang diseling dengan pukulan-pukulan lamban. Namun agaknya gerak-gerak itu merupakan gerak-gerak yang meloncatkan kekuatan tiada taranya.

Sesaat kemudian Mahesa Jenar segera dapat mengenalnya. Yang seorang itu adalah Ki Ageng Pandan Alas, sedang kedua lawannya adalah Sima Rodra tua dari Lodaya dan Bugel Kaliki dari Lembah Gunung Cerme.

Melihat pertempuran itu Mahesa Jenar menjadi bertambah cemas. Ki Ageng Pandan Alas yang datang untuk menolong cucunya, ternyata menjumpai lawan yang seangkatan dan berdua pula.

Meskipun apa yang terjadi diantara mereka adalah diatas kemampuannya, namun Mahesa Jenar dapat pula melihat, bahwa Ki Ageng Pandan Alas pun menemui kesulitan untuk melawan kedua tokoh tua dari golongan hitam itu, sebagaimana Sarayuda juga menemui kesulitan dalam perjuangannya melawan Jaka Soka dan Janda Sima Rodra muda.

Dalam waktu yang singkat itu terjadilah suatu pergolakan di dalam dada Mahesa Jenar. Sudah pasti, bahwa ia tidak akan berguna sama sekali apabila ia berani mencoba-coba mencampuri urusan Ki Ageng Pandan Alas. Apa yang dapat dikerjakan hanyalah untuk sementara memperingan pekerjaan orang tua itu. Untuk sementara saja. Sebab kemudian ia akan segera binasa. Maka yang mungkin dilakukan hanyalah melibatkan diri dalam lingkaran pertempuran antara Sarayuda dan lawan-lawannya. Meskipun sebagai manusia biasa, terdapat beberapa benih keseganan untuk membantunya, namun darah kesatria yang mengalir di dalam tubuhnya telah melanda kepicikan pandangan itu.

Dengan merapatkan giginya, Mahesa Jenar berusaha untuk melupakan apa yang pernah dialaminya. Persoalan-persoalan pribadi antara dirinya dan Demang Gunung Kidul itu. Sehingga sesaat kemudian telah bulatlah hatinya untuk terjun langsung membantu Sarayuda. Ia mengharap bahwa dengan aji Sasra Birawa dan Aji Cunda Manik yang dimiliki oleh Sarayuda akan mempercepat penyelesaian, sehingga ia mengharap dapat menyelamatkan Pudak Wangi. Setelah itu, ia mengharap pula bahwa Ki Ageng Pandan Alas dapat menyelamatkan dirinya sendiri.

Meskipun apa yang akan dilakukan itu mengandung bahaya yang maha besar, namun tak ada pilihan lain daripada berjuang untuk membebaskan gadis cucu Pandan Alas itu. Memang akan mungkin sekali, untuk sementara salah seorang lawan Pandan Alas meninggalkan orang tua itu untuk membantu Jaka Soka dan Janda Sima Rodra, yang berarti kebinasaan baginya dan bagi Sarayuda. Tetapi itu akan merupakan sebuah pertanggungjawaban dari perjuangan. Karena itu segera Mahesa Jenar menggulung lengan bajunya dan menyangkutkan kainnya.

 

296

KEMBALI dada Mahesa Jenar digetarkan oleh suatu peristiwa yang tak dapat dimengertinya.

Ketika ia sudah mulai bergerak untuk meloncat, tiba-tiba didengarnya gemerisik halus di bekalangnya. Cepat ia bersiaga dan membalikkan tubuhnya. Tetapi apa yang dilihatnya hampir tak masuk diakalnya.

Dalam remang-remang cahaya bintang serta sinar api yang menyusup di celah-celah daun ilalang, Mahesa Jenar melihat sebuah bayangan yang seolah-olah dirinya sendiri sedang terbang dan melontar cepat lewat disampingnya.

Dengan pandangan yang penuh kebingungan, matanya mengikuti bayangan itu dengan tanpa berkedip. Apalagi ketika ia melihat bayangan itu dengan lincahnya meloncat diatas batu karang tidak jauh dari perapian yang masih menyala-nyala. Dengan tangan bertolak pinggang serta kaki renggang, terdengarlah bayangan itu tertawa nyaring. Suaranya mengumandang seperti guntur yang menggelegar membentur dinding pegunungan, sambil berkata:

Inilah murid Ki Ageng Pengging Sepuh yang dikenal dengan nama Mahesa Jenar serta bergelar Rangga Tohjaya.

Mendengar suara yang mengguruh itu, isi dada Mahesa Jenar seperti diguncang-guncang. Cepat ia memusatkan kekuatan batinnya untuk melawan pengaruh suara yang aneh itu. Ia pernah mendengar Pasingsingan menghantamnya dengan suara tertawa yang mengerikan di alun-alun Banyu BIru.

Dan sekarang, suara orang yang berdiri diatas batu karang itu tidak pula kalah dahsyatnya menghantam dadanya.

Agaknya bukan saja Mahesa Jenar yang merasa terpukul oleh getaran suara yang dilontarkan dengan landasan kekuatan batin yang tinggi itu. Sarayuda, Jaka Soka dan Janda Sima Rodra yang sedang bertempur itupun segera berloncatan mundur dan mempergunakan kekuatan batinnya untuk menahan supaya dadanya tidak rontok.

Pudak Wangipun tampak menundukkan kepala sambil memejamkan matanya. Agaknya cucu dan sekaligus murid Pandan Alas yang muda itupun berusaha untuk membebaskan diri dari getaran yang memukul-mukul dadanya. Bahkan lebih dari pada itu, Pandan Alas, Sima Rodra dan Bugel Kaliki, tokoh-tokoh tua yang sudah banyak makan pahit asinnya penghidupan itupun menjadi terkejut pula.

Ternyata bahwa karena itu pertempuran mereka jadi terhenti. Dengan pandangan yang keheran-heranan mereka memperhatikan orang yang berdiri diatas batu karang dengan kaki renggang dan kedua tangan bertolak pinggang.

Mahesa Jenar yang telah lebih dahulu melihat orang yang menyebut dirinya Mahesa Jenar, murid Ki Ageng Pengging Sepuh itu, ketika sinar api mencapai wajahnya, segera ia mengenalnya, bahwa wajah itu sama sekali tidak jelas.

Rambut yang kasar tumbuh lebat hampir melingkari seluruh muka, bersambungan dengan kumis dan janggut yang rapat tak teratur.

Dalam pada itu Mahesa Jenar telah berusaha keras untuk tidak tenggelam dalam suatu perasaan yang aneh, bahwa hampir-hampir ia merasa bahwa orang yang berdiri diatas batu karang itu adalah dirinya sendiri, yang dalam keadaan puncak keprihatinan, sehingga sama sekali tidak sempat memelihara diri. Meskipun beberapa kali Mahesa Jenar sudah pernah melihat wajahnya di permukaan air, namun ia dalam saat yang aneh itu, harus berjuang mati-matian untuk dapat mengenal dirinya kembali, dan membedakannya dengan orang yang berdiri diatas batu karang itu.

Untunglah bahwa Mahesa Jenar mempunyai kekuatan batin yang tinggi pula, sehingga dalam sesaat ia telah berhasil menguasai dirinya kembali. Semakin lama ia menjaid semakin jelas melihat batas antara dirinya dan orang itu. Bahkan akhirnya ia dapat memperhitungkan berbagai masalah mengenai dirinya dan orang yang mengaku Mahesa Jenar itu. Orang itu pasti sengaja memakai rambut, kumis dan janggut yang kasar dan lebat, supaya wajahnya tidak segera dikenal. Tetapi, yang Mahesa Jenar masih belum dapat menemukan jawabnya, adalah gerak gerik orang itu hampir mirip bahkan tepat seperti gerak geriknya, tapi berada diatas kemampuannya. Dan hal itulah kemudian yang menjadi teka-teki yang tak dapat dipecahkannya.

Sudah untuk kedua kalinya Mahesa Jenar mengalami hal yang serupa. Ketika ia harus bertempur berlima melawan Sima Rodra dan Pasingsingan, tiba-tiba saja ia melihat dua orang Mahesa Jenar melibatkan diri. Kedua orang itu ternyata Ki Paniling atau yang nama sebenarnya adalah Radite dan Darba atau Anggara.

Namun bagaimanapun juga akhirnya ia dapat mengenal kedua orang itu.
Tetapi ternyata orang yang menyerupai dirinya kali ini lebih membingungkannya. Sebab gerak geriknya mirip sekali dengan geraknya sendiri dalam ilmu warisan Ki Ageng Pengging Sepuh.

Dalam keadaan yang demikian, suasana menjadi hening tegang. Kecuali suara berderai yang meluncur dari mulut orang yang berdiri diatas batu karang itu, selainnya sunyi.

Tetapi tiba-tiba orang itu meloncat mirip seekor garuda yang terbang menukik dari atas batu karang itu langsung ke arah Pudak Wangi yang masih berdiri mematung.

Sarayuda, Jaka Soka dan Janda Sima Rodra itupun segera tahu maksudnya. Sebab di mata mereka, orang itu tidak lain adalah Mahesa Jenar yang sedang berusaha untuk membebaskan Rara Wilis. Maka kemudian terdengar suara Janda Sima Rodra itu nyaring, Soka, tamuku sudah datang. Tolong, tangkap dia. Sesudah itu kau boleh mengambil kami berdua sebagai istrimu. Tapi ingat, aku tidak mau kau ikat.(perkawinan)

Jaka Sokapun kemudian teringat apa yang pernah tejadi di hutan Tambak Baya. Orang yang menamakan diri Mahesa Jenar telah menggagalkan niatnya, waktu ia hendak menculik Rara Wilis. Karena pada waktu itu, ia tidak berhasil mengalahkannya. Tetapi sekarang ia telah bekerja keras untuk menambah ilmunya.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
297

JAKA SOKA merasa bahwa ia tidak perlu takut lagi kepada Mahesa Jenar, meskipun terhadap Sasra Birawa ia masih harus sangat hati-hati dan yang dapat dilakukannya hanyalah menghindarkan diri. Apalagi sekarang ia dapat bekerja sama dengan Janda Sima Rodra.

Sedangkan Sarayuda, ia mengharap bahwa salah seorang dari Sima Rodra tua atau Bugel Kaliki mengurusnya.

Juga terhadap Mahesa Jenar itu akhirnya, apabila dirinya menemui kesulitan, meskipun ia bekerja sama dengan Janda Sima Rodra, Jaka Soka mengharap Sima Rodra Tua mau membantu menangkapnya untuk kepentingan anaknya.

Dalam pada itu, Janda Sima Rodra itu menjadi gembira. Ia ingin Mahesa Jenar tertangkap hidup-hidup. Ia ingin membalas sakit hatinya karena suaminya terbunuh. Tetapi lebih daripada itu, keliarannya telah mendorongnya untuk melakukan niat yang memuakkan. Tetapi ketika ia melihat wajah Mahesa Jenar yang kasar dan berambut lebat itu ia menjadi agak kecewa. Namun demikian ia sama sekali tidak mengurungkan niatnya.

Orang ketiga, yang berdiri di dalam arena itu adalah Sarayuda. Ia mempunyai tanggapan sendiri atas kehadiran Mahesa Jenar. Meskipun ia menduga bahwa kehadiran Mahesa Jenar kali inipun bermaksud untuk menyelamatkan Pudak Wangi, namun tiba-tiba menjalarlah suatu perasaan cemburu yang meluap-luap.

Beberapa tahun yang lalu ia pernah bertempur dengan Mahesa Jenar ketika ia menolong Arya Salaka. Pada saat itu, ia merasakan suatu perhubungan yang aneh dengan orang itu. Apalagi ketika tiba-tiba saja Mahesa Jenar pergi meninggalkan pondok Ki Ageng Pandan Alas tanpa pamit. Dan sejak itulah ia mempunyai perasaan bersaing. Meskipun sejak itu Mahesa Jenar tidak pernah muncul kembali dan agaknya Ki Ageng Pandan Alaspun sangat membesarkan hatinya, namun Pudak Wangi sendiri tidak pernah membuka hatinya.Ia yakin kalau hal itu disebabkan karena hati itu telah dirampas oleh orang yang bernama Mahesa Jenar.

Berbeda dengan perasaan Mahesa Jenar sendiri, yang meskipun ia memiliki perasaan yang sama dengan Sarayuda, namun ia mendahulukan keselamatan Pudak Wangi dari perasaannya yang mengganggu. Ia memang sudah membiasakan diri, berkorban untuk kepentingan yang lebih besar dan luas tanpa pamrih, daripada kepentingan diri sendiri.

Karena perasaan itulah maka Sarayuda justru merasa tersinggung karena hadirnya Mahesa Jenar. Apalagi setelah ia berjuang mati-matian untuk membebaskan gadis cucu gurunya, namun tidak ada tanda-tanda akan berhasil, bahkan akhirnya gurunya sendiri menemui kesulitan pula karena hadirnya kecuali Sima Rodra tua yang memang sudah diduga sebelumnya, juga Bugel Kaliki.

Maka sebelum orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu sampai ke tengah-tengah arena itu, ia berteriak, Mahesa Jenar, murid utama Ki Ageng Pengging Sepuh, janganlah mengganggu permainan kami. Biarlah kami yang sudah dewasa ini mencoba menyelesaikan persoalan kami sendiri.

Terdengarlah orang itu tertawa pendek sambil berhenti beberapa langkah dari mereka.

Aku datang untuk membantumu, katanya.
Aku tidak perlu bantuanmu, potong Sarayuda.

Orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu mengerutkan alisnya. Kemudian ia berkata pula, Jangan lekas tersinggung. Bukankah kita masing-masing berjanji di dalam hati untuk menghancurkan setiap kejahatan…? Apapun persoalan yang ada di antara kita jangan menjadi sebab, bahwa kita tidak bisa bekerja bersama. Sebab juga menjadi kewajibanku untuk membebaskan Adi Pudak Wangi.

Mendengar nama itu disebut, hati Sarayuda menjadi bertambah berdebar-debar. Lalu katanya, Pergilah, jangan ikut campur.

Tetapi orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu tidak pergi, malahan ia berkata kepada semua yang ada di arena itu, Dengarlah, aku datang untuk membebaskan Pudak Wangi. Siapun yang menghalangi, tidak peduli siapa saja, akan berhadapan dengan Mahesa Jenar.

Setelah itu kembali ia bergerak maju. Pada saat itu, Jaka Soka dan Janda Sima Rodra yang paling berkepentingan untuk menangkap Mahesa Jenar itu dan menggagalkan maksudnya. Karena itulah maka mereka berloncatan maju menghalangi. Sedang Sarayuda menjadi ragu, dan untuk beberapa saat ia kehilangan pegangan, apakah yang akan dilakukannya. Sementara itu orang-orang tua yang menyaksikan perbantahan mereka menjadi tertegun heran. Sima Rodra dan Pandan Alas, dengan jelas mengetahui sampai di mana tingkat ilmu Mahesa Jenar itu, mereka menjadi agak keheran-heranan.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
298

MEREKA yakin, bahwa segala gerakan Mahesa Jenar itu adalah khusus peninggalan Ki Ageng Pengging Sepuh yang dahsyat itu.

Tetapi yang paling heran diantara mereka adalah Mahesa Jenar sendiri. Apalagi setelah ia menyaksikan orang itu bertempur melawan Jaka Soka dan Janda Sima Rodra. Setiap gerak tubuhnya, sampai ke ujung bulunya, adalah tepat sekali apa yang selalu dilakukannya atas dasar ilmu gurunya.

Karena itulah maka Jaka Soka dan Janda Sima Rodra yang memang benar-benar pernah bertempur dengan Mahesa Jenar, sama sekali tidak mempunyai curiga apapun terhadap lawannya. Namun Jaka Soka yang merasa bahwa setelah beberapa tahun ia menekuni ilmunya, yang diduganya telah dapat melampaui ilmu Mahesa Jenar, ternyata menjadi kecewa. Sebab Mahesa Jenar yang dihadapinya saat itu, bahkan berdua dengan Janda Sima Rodra, adalah Mahesa Jenar yang memiliki ilmu yang belum dapat disamai dengan jarak yang seolah-olah tidak berubah seperti pada saat ia bertempur di Tambak Baya beberapa tahun berselang. Demikianlah pertempuran itu menjadi semakin lama semakin dahsyat.

Orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu bertempur laksana burung Rajawali yang menyambar-nyambar melawan Ular Laut yang bertempur bersama-sama dengan seekor Harimau Liar.

Bagaimanapun, Jaka Sokapun ternyata memiliki ilmu yang luar biasa. Ketika pertempuran itu menjadi semakin hebat, gerakan-gerakan Jaka Soka menjadi bertambah membingungkan.

Serangan-serangan Jaka Soka yang sebagian besar mengarah ke perut lawannya, dibarengi dengan sambaran-sambaran sinar putih yang belit membelit dengan bayangan hitam, merupakan tarian maut yang mengerikan.

Sedangkan Janda Sima Rodra yang bersenjatakan kuku-kukunya terdengar beberapa kali menjerit-jerit sambil menerkam dengan garangnya. Jari-jarinya yang mengembang dan kukunya yang gemerlapan merupakan jaringan-jaringan maut yang sukar dapat ditembus. Apalagi mereka berdua dengan Jaka Soka, selalu berusaha isi mengisi kelemahan masing-masing.

Tetapi orang yang menamakan dirinya Mahesa Jenar itu, dalam keadaan yang demikian, bahkan seolah-olah berubah menjadi Wisnu dalam bentuknya sebagai Kresna penggembala, yang menari-nari di atas seekor ular Naga yang berkepala tujuh. Namun perlahan-lahan tetapi pasti, satu demi satu kepala-kepala ular itu dipangkasnya.

Demikianlah, Jaka Soka dan Janda Sima Rodra itu semakin lama menjadi semakin terdesak. Tenaga mereka yang dicurahkan habis-habisan, tanpa memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, menjadi semakin lama semakin surut. Sedang lawan mereka, malahan tampak menjadi semakin garang.

Sesaat kemudian jelaslah apa yang akan terjadi dengan pertempuran itu. Hal itu dilihat pula oleh Sima Rodra tua dan Bugel Kaliki. Sudah tentu mereka tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Sedangkan Pandan Alas menjadi termangu-mangu. Ia dapat membaca perasaan kedua orang itu. Mahesa Jenar dan Sarayuda. Sedangkan ia sendiri tidak dapat memihak salah seorang diantaranya. Sehingga dengan demikian, ketika ia mendengar perbantahan Sarayuda dan Mahesa Jenar, menjadi agak bingung.

Namun bagaimanapun juga keselamatan cucunya adalah suatu hal yang mutlak baginya. Karena itulah maka ketika ia melihat Sima Rodra tua dan Bugel Kaliki mulai bersiap-siap, iapun bersiap pula.

Tetapi belum mereka berbuat sesuatu, mereka dikejutkan oleh seseorang yang terjun dalam arena pertempuran itu. Ia adalah Sarayuda. Dengan menggeram marah ia berkata, Mahesa Jenar, sekali lagi aku minta kau tinggalkan pertempuran ini. Kau yang selama ini tidak berbuat apa-apa, sekarang kau akan berlagak menjadi pahlawan. Akulah yang pertama-tama bertindak untuk keselamatan Pudak Wangi. Biarlah urusanku itu aku selesaikan.

Bukan main terkejutnya orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu ketika Sarayuda membentak-bentaknya dengan kasar. Sambil meloncat mundur ia menjawab, Sadarkah kau dengan tindakanmu itu?

Jaka Soka dan Janda Sima Rodra pun menjadi tercengang-cengang. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa Sarayuda dan orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu akan bertengkar sendiri.

Dalam pada itu tiba-tiba Ular Laut yang tampan itu tersenyum-senyum sambil berkata, Kita mempunyai kepentingan yang sama. Aku, tamu kita yang bernama Sarayuda dan Mahesa jenar. Diantara kita bertiga, ternyata akulah yang paling rendah tingkat kepandaianku.

Alangkah senangnya kalau aku dapat menarik keuntungan dari perang tanding antara kedua tokoh yang sempurna ini. Tetapi agaknya akupun telah dapat memperhitungkan siapakah yang akan menang. Sebab aku telah bertempur dengan kalian berdua berganti-ganti. Sarayuda bukan tandingan Mahesa Jenar.

Sarayuda merasakan dengan tepat singgungan kata-kata itu. Ia memang merasa bahwa ilmunya berada di bawah tingkat kepandaian Mahesa jenar. Hal yang serupa telah dirasakannya pula pada saat ia bertempur dahulu. Justru karena itulah dadanya serasa terbelah.

Dengan tidak menghiraukan apapapun lagi, dengan wajah yang menyala-nyala ia bersiap menyerang Mahesa jenar yang masih berdiri mematung. Berbareng dengan itu, terdengarlah jerit Pudak Wangi yang sejak tadi berdiam diri kebingungan. Bertempurlah kalian…, bertempurlah sampai binasa. Setelah itu arwah kalian akan puas melihat aku binasa pula dengan hinanya di tengah-tengah iblis ini.

Suara itu jelas merupakan luapan hati seorang gadis yang mencemaskan kehormatannya, bukan nyawanya.

Sebagai cucu dan murid Ki Ageng Pandan Alas, Pudak Wangi bukanlah seorang pengecut, yang merengek-rengek menghadapi kematian. Tetapi terhadap Ular Laut dari Nusakambangan itu, ia benar-benar menjadi ngeri.
Sarayuda tersentak hatinya. Ia tegak seperti patung, dadanya digoncang oleh kebingungan yang bergelora. Tetapi dalam pada itu, orang yang menamakan dirinya Mahesa jenar merasa bahwa ia tidak mempunyai banyak waktu.
NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
299

ORANG itu sadar, bahwa apa yang dilakukan oleh Sarayuda adalah luapan perasaannya saja. Karena itu, tiba-tiba orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu, sekali lagi meloncat mundur, seterusnya apa yang dilakukan sama sekali tak dapat dilihat dengan jelas. Sekali lagi seperti seekor Rajawali, orang itu terbang dengan kecepatan kilat, menyambar Pudak Wangi.

Orang-orang yang berdiri memagari gadis itu, yang sebagian telah diruntuhkan perasaannya dengan suara tertawa yang menghentak-hentak dada, dapat ditembus dengan mudahnya. Kemudian berubahlah Rajawali itu menjadi bayangan hantu menyambar Pudak Wangi, yang seterusnya lenyap ke dalam kegelapan bayang-bayang gerumbul-gerumbul lebat di sekitar tempat itu.
Kejadian itu hanya berlangsung dalam waktu yang sangat singkat. Bahkan merupakan sebuah pesona yang seolah-olah merampas kesadaran dari semua orang yang menyaksikan. Pandan Alas, Sima Rodra tua dan Bugel Kaliki pun sampai beberapa saat berdiri seperti patung. Baru setelah bayangan itu terbang, mereka menjadi tersadar dari sebuah mimpi yang hebat. Dan sadar pulalah mereka bahwa apa yang mereka usahakan selama itu, menjadi lenyap di hadapan hidungnya.

Sima Rodra dan Bugel Kaliki yang sudah bersusah payah menangkapnya, dan Pandan Alas yang bersusah payah pula mencari cucunya itu, ditambah lagi dengan Jaka Soka dan Sarayuda yang mempunyai kepentingan yang sama pada saat itu, seolah-olah digerakkan oleh satu daya penggerak, berloncatanlah mereka menyusul ke arah hilangnya bayang-bayang itu.

Sesaat kemudian, seperti dihisap oleh kegelapan malam, lenyaplah semua orang yang mula-mula dengan riuhnya mengelilingi perapian, yang sampai saat itu, apinya sudah jauh surut. Maka sepilah suasana di tempat itu, setelah semua orang berlari-larian pergi. Yang terdengar kemudian kecuali keretak sisa-sisa kayu yang dimakan api, adalah napas Mahesa Jenar yang tersengal-sengal seperti berebut dahulu meloloskan diri dari tubuhnya yang gemetar.

Apa yang disaksikan itu, bagi Mahesa Jenar seperti gambaran di dalam mimpi. Namun bagaimanapun, gambaran-gambaran itu telah membingungkannya. Apa yang dilakukan oleh orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu adalah tepat seperti apa yang akan dilakukannya seandainya ia mampu. Sebab secara jujur, ia mengakui, bahwa orang yang menyerupainya itu mempunyai kemampuan yang luar biasa sehingga ia dapat melakukan pekerjaan itu di hadapan segerombolan orang yang sudah siap untuk menghalang-halangi.

Dalam pada itu kembali Mahesa Jenar ragu. Apakah yang dilihat selama itu hanyalah khayalan-khayalan saja. Berkali-kali ia mengusap-usap matanya.

Namun cahaya api yang redup itu masih saja mengganggu kegelapan malam. Ataukah jiwanya sendiri yang telah meloncat keluar dari tubuhnya, dan kemudian melakukan segala pekerjaan itu untuknya? Mahesa Jenar menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia bukan pemimpi. Karena itu segera ia sadar, bahwa memang telah ada seseorang yang melakukannya. Hanya yang aneh baginya, setiap gerak, setiap kata yang diucapkan, tepat seperti yang terkandung di dalam hatinya.

Untuk beberapa lama Mahesa Jenar masih merenung-renung di dalam lindungan batang-batang ilalang. Bahkan semakin lama hal itu direnungkan, semakin kaburlah perasaannya. Tetapi lebih dari pada itu, di dalam sudut hatinya yang paling dalam, muncullah perasaan kecewanya. Pudak Wangi, yang sebenarnya bernama Rara Wilis itu, untuk kesekian kalinya ia telah menyakiti hati gadis itu.

Sewaktu ayah gadis itu terbunuh olehnya, dan sekarang, gadis itu lenyap di hadapannya dibawa oleh seseorang yang menyerupai dirinya. Karena itulah maka sekali lagi ia merasa kehilangan atas sesuatu yang belum pernah dimilikinya, namun sebaliknya, telah merampas seluruh hatinya.

Dalam kekalutan pikiran itu, tiba-tiba terdengarlah suara tertawa lunak perlahan di belakangnya. Tersentak Mahesa Jenar berdiri dan bersiaga. Tetapi kemudian kembali ia menjadi bingung, ketika di hadapannya berdiri orang yang menamakan diri Mahesa Jenar.

Orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itupun memandanginya dengan saksama dari ujung kaki sampai ke ujung kepalanya. Kemudian terdengarlah ia berkata, Ki Sanak, apakah yang kau lakukan di sini? Dan siapakah kau sebenarnya?

Mendapat pertanyaan itu Mahesa Jenar menjadi bingung. Ia sendiri sama sekali tidak bermaksud untuk melakukan sesuatu di tempat itu. Ia hanya tertarik oleh suara-suara riuh, serta keinginannya untuk mendapat jejak dalam usahanya mencari Arya Salaka. Sekarang, tiba-tiba seseorang, yang sejak semula telah membingungkannya, menanyakan keperluannya.
Untuk beberapa saat Mahesa Jenar tidak menjawab, sehingga kembali orang itu berkata, Agaknya kau terkejut melihat kehadiranku di sini?

Ya, jawab Mahesa Jenar dengan jujur. Aku datang ke tempat ini tanpa aku sengaja.

Sekali lagi orang itu tertawa lunak. Adalah suatu kemustahilan bahwa seseorang sampai ke tempat ini tanpa sengaja. Aku kira kau datang ke tempat ini untuk mengintip apa yang terjadi di padang rumput itu. Ataukah kau memang salah seorang diantaranya?

Bagaimanapun juga Mahesa Jenar merasa tersinggung oleh pertanyaan itu. Maka jawabnya, Ki Sanak, memang aku telah mengintip apa yang terjadi. Aku kagum keperkasaanmu. Kau mampu melepaskan diri dari tangan-tangan Jaka Soka, Janda Sima Rodra ditambah kemudian dengan Sarayuda. Bahkan kau berhasil melepaskan dirimu pula dari kejaran orang-orang seperti Sima Rodra dan Bugel Kaliki, apalagi kau membawa beban seseorang.

Hem… Orang itu menarik nafas. Kau terlalu memuji. Tetapi kau sendiri agaknya seorang yang luar biasa sehingga kehadiranmu sama sekali tak diketahui oleh seorangpun diantara mereka.

He… sambung orang itu tiba-tiba seperti orang terkejut, Kau kenal kepada setiap orang yang ada di padang rumput itu? Siapakah kau sebenarnya? 

 

NAGASASRA dan SABUK INTEN
Karya SH Mintarja
300

SEKALI lagi Mahesa Jenar termangu-mangu. Namun bagaimanapun juga ia harus menjawab pertanyaan itu. Maka katanya, Akulah yang sebenarnya bernama Mahesa Jenar. Bukankah nama itu telah kau pinjam pada saat kau mengadakan pameran kekuatan?

Orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu tampak terkejut bukan buatan. Sekali lagi ia memandang Mahesa Jenar dari ujung kakinya sampai ke ujung kepalanya. Dengan suara yang bergetar ia berkata, Kau bernama Mahesa Jenar…?

Mahesa Jenar mengangguk.

Kalau demikian… sambung orang itu, Kita bersamaan nama. Aku juga bernama Mahesa Jenar. Memang demikian. Bukan nama pinjaman seperti dugaanmu.

Ia berhenti sebentar, lalu meneruskan, Tetapi tak apalah. Banyak orang di dunia ini mempunyai nama yang sama.

Mahesa Jenar menggelengkan kepala. Lalu katanya, Jangan pura-pura terkejut, dan jangan katakan tentang nama yang sama. Kau telah menyebut dirimu lengkap seperti diriku. Kau mengaku murid Ki Ageng Pengging Sepuh dan bernama Mahesa Jenar yang bergelar Rangga Tohjaya. Tidak sahabat. Tidak mungkin persamaan di antara kita sampai sedemikian jauhnya.

Kembali wajah orang itu membayangkan keheranan. Matanya menatap dengan tajamnya.

Kemudian hampir berdesis ia berkata, Ki Sanak, janganlah mencari persoalan. Kita belum saling mengenal sebelumnya. Apakah sebabnya maka Ki Sanak bersikap sedemikian terhadapku. Dalam keadaanku seperti sekarang ini, sebenarnya aku memerlukan perlindungan dan sahabat. Barangkali kau dapat melihat apa yang telah aku lakukan. Aku sedang berusaha menyelamatkan Pudak Wangi dari tangan para penjahat itu. Dan gadis itu sudah berhasil aku sembunyikan. Muridku yang bernama Arya Salaka telah hilang. Dan sekarang aku sedang berusaha mencarinya.

Mendengar uraian itu dada Mahesa Jenar bergetar dahsyat. Tetapi Mahesa Jenar adalah seseorang yang berotak cemerlang. Karena itu segera ia menjawab sambil menebak, Kalau demikian, kaulah yang telah memancingku dan melibatkan diriku dalam goa yang mempunyai ratusan cabang yang membingungkan itu, sehingga kau dapat mengetahui dengan tepat bahwa muridku telah hilang.

Kembali orang itu terkejut. Katanya kemudian, Anehlah yang aku alami selama ini. Apa yang seharusnya aku katakan, sudah kau katakan. Sedang kau merasa bahwa apa yang akan kau katakan, sudah aku katakan. Jangan memutar balik keadaan. Sekarang tunjukkan kepadaku, di mana Arya Salaka. geram Mahesa Jenar yang mulai kehilangan kesabaran.

Jangan mengigau, bentak orang itu. Dengan igauanmu itu kau bisa membuat aku gila.

Mendengar orang itu membentak-bentak, darah Mahesa Jenar bertambah cepat mengalir. Segera ia merasa bahwa suatu bentrokan jasmaniah sukar dihindarkan. Karena itu segera iapun bersiaga penuh, sebab seperti telah disaksikan sendiri, orang yang berdiri di hadapannya memiliki tingkat ilmu yang tinggi.

Namun bagaimanapun juga, Mahesa Jenar harus menghadapi setiap kemungkinan dengan kejantanan. Maka iapun kemudian membentak pula, Apakah keuntunganmu dengan segala macam ceritera isapan jempol itu? Nah, sekarang katakan kepadaku, kepada Mahesa Jenar yang bergelar Rangga Tohjaya, di mana muridku Arya Salaka dan di mana Pudak Wangi kau sembunyikan?

Orang itu menarik alisnya. Kemudian warna merah tersirat di wajahnya. Maka sahutnya, Tak kusangka bahwa di dunia ini ada orang semacam kau ini. Orang yang senang pada pertengkaran tanpa sebab. Aku juga tidak tahu, apakah keuntunganmu dengan kelakuanmu yang aneh-aneh itu. Meskipun demikian apa boleh buat. Agaknya kau hanya ingin mengetahui, benarkah Mahesa Jenar, murid Ki Ageng Pengging Sepuh ini dapat menjunjung tinggi nama perguruannya.

Dada Mahesa Jenar menjadi semakin bergelora ketika nama gurunya disebut-sebut, sehingga ia tak dapat menahan diri.

Dengan meloncat ia berteriak, Baiklah kita lihat, siapakah murid Ki Ageng Pengging Sepuh.

Agaknya orang itu telah bersiaga pula. Ketika serangan Mahesa Jenar tiba, segera ia mengelakkan diri. Bahkan dengan gerakan yang tidak kalah cepatnya, orang itu pun telah membalas menyerang. Sesaat kemudian terjadilah pertempuran yang sengit. Pertempuran antara dua orang perkasa yang mempergunakan satu jenis ilmu keturunan dari Ki Ageng Pengging Sepuh.

Yang memusingkan kepala Mahesa Jenar adalah orang itu dapat bergerak dan mempergunakan ilmu peninggalan gurunya dengan sempurna. Bahkan dalam beberapa hal, orang itu memiliki kelebihan-kelebihan dari Mahesa Jenar.

Demikianlah kedua orang itu berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan kebenaran kata masing-masing.

Mahesa Jenar yang bertubuh tegap kekar berjuang dengan tangguhnya seperti seekor banteng yang tak surut menghadapi segala macam bahaya, sedang lawannya pun berjuang seperti seekor banteng yang tak mengenal mundur. Sehingga perang tanding itu merupakan perang tanding yang maha dahsyat. Apalagi seolah-olah bagi kedua-duanya sudah saling dapat memperhitungkan gerakan-gerakan lawan.

Dengan demikian yang terjadi seakan-akan hanyalah suatu adu kekuatan. Kalau dalam beberapa pertempuran mereka kadang-kadang berhasil menembus kelemahan lawan dengan unsur-unsur gerak yang membingungkan, tetapi kali ini mereka sama sekali tidak dapat saling mencuri kesempatan.

Sebab mereka seakan-akan mempunyai satu otak yang menggerakkan dua belah anak permainan macanan dengan tangan kanan di sebelah dan tangan kiri di sebelah lain.

Namun bagaimanapun juga kedua orang itu adalah orang yang berbeda, sehingga dalam kenyataannya, mereka pun tidak sama seluruhnya.

 

301
LAWAN Mahesa Jenar yang mengaku juga bernama Mahesa Jenar itu ternyata memiliki kekuatan tubuh yang melampaui kekuatan tubuh Mahesa Jenar, sehingga setelah mereka bertempur berputar-putar, akhirnya terasalah bahwa Mahesa Jenar mulai terdesak. Hal ini terasa pula olehnya, sehingga dengan demikian ia menjadi gelisah. Apapun yang dilakukan, segala macam unsur gerak yang pernah dipelajari, tidak dapat menolongnya, sebab orang itupun mampu melakukannya. Bahkan kemudian terasa oleh Mahesa Jenar, bahwa seolah-olah ia telah berjalan mundur beberapa tahun. Kalau beberapa orang sakti dapat menambah ilmu hampir setiap saat, baginya, setelah sekian tahun terpisah dari gurunya, seakan-akan sama sekali tak suatupun yang dicapainya.

Meskipun demikian Mahesa Jenar tidak segera kehilangan akal. Jiwa kesatriaannya bergelora memenuhi dadanya, sehingga apapun yang terjadi, sama sekali ia tidak gentar.

Beberapa saat kemudian, di langit ujung Timur, terpencarlah warna kemerah-merahan fajar. Perlahan-lahan malam yang kelam mulai berangsur surut. Semburat merah yang mewarnai daun-daun ilalang hijau segera telah menimbulkan kesan tersendiri. Dalam pada itu kedua orang yang bertempur itu masih saja berjuang mati-matian. Di tengah-tengah rumpun-rumpun ilalang itu, terjadilah semacam sawah yang baru dibajak oleh bekas-bekas kaki yang bertempur dengan dahsyatnya.

Tetapi bagaimanapun juga akhirnya Mahesa Jenar harus mengakui keunggulan lawannya, setelah ia berjuang sekuat tenaga. Namun demikian ia sama sekali tidak mau mengorbankan diri. Dalam setiap kemungkinan antara hidup dan mati, akhirnya terpaksalah ia mempergunakan setiap kemungkinan untuk menolong jiwanya, selama itu tidak melanggar kehormatan darah kesatriaannya. Maka karena itulah sesaat kemudian, tampaklah ia mengangkat sebelah kakinya, tangan kirinya menyilang dada, sedang tangan yang lain diangkatnya tinggi-tinggi.

Melihat sikap itu, lawan Mahesa Jenar yang mengaku bernama Mahesa Jenar itu terkejut. Tetapi ia tidak sempat berbuat sesuatu, sebab segera Mahesa Jenar meloncat maju dan melontarkan pukulan Sasra Birawanya yang dahsyat. Ia hanya sempat melihat lawannya itu menyilangkan kedua tangannya, dan sesudah itu, orang itu terlempar beberapa langkah surut, dan kemudian jatuh terguling-guling.

Mahesa Jenar, setelah melihat akibat pukulannya, berdiri mematung. Matanya tajam memandangi lawannya yang dijatuhkannya itu. Tetapi sesaat kemudian ia terkejut, ketika ia melihat orang itu tertatih-tatih berdiri. Agaknya pukulannya tidak membinasakan lawannya. Tetapi setelah terkejut, iapun berlega hati, melihat lawannya masih hidup. Sebab bagaimanapun juga, bukanlah maksudnya untuk membunuh hanya karena sekedar ingin membunuh. Kalau ia terpaksa mempergunakan aji Sasra Birawanya, adalah karena ia tidak mau terbunuh. Justru karena itulah, ketika ia melihat orang yang dihantamnya itu masih hidup ia jadi berbesar hati. Juga karena dengan demikian ia akan dapat menanyakan dimana muridnya dan Pudak Wangi disembunyikan.

Tetapi kemudian kembali ia terkejut ketika orang yang dianggapnya sudah tak mampu lagi berbuat sesuatu karena pukulannya, kecuali hanya berdiri itu, membalikkan diri dan kemudian meloncat pergi. Sudah tentu Mahesa Jenar tidak membiarkannya. Kalau orang itu tidak terbunuh oleh pukulannya, ia sudah heran. Apalagi orang itu masih dapat berlari. Alangkah hebatnya daya tahan tubuhnya.

Karena itu, maka segera Mahesa Jenarpun meloncat mengejar orang itu, yang ternyata masih dapat berlari cepat. Maka terjadilah kejar-mengejar diantara batang-batang ilalang yang tumbuh lebat melampaui tubuh manusia. Tetapi pendengaran dan penglihatan Mahesa Jenar cukup tajam.
Apalagi cahaya matahari sudah semakin terang. Maka tampaklah setiap ujung batang-batang ilalang yang tergoyangkan oleh sentuhan tubuh orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu.
Karena orang yang dikejarnya itu agaknya telah terluka, maka semakin lama jarak merekapun semakin pendek pula, sehingga Mahesa Jenar percaya, bahwa ia pasti akan dapat menangkap orang itu. Tetapi kemudian ia menjadi kecewa, ketika ia tinggal meloncat saja beberapa langkah, orang yang dikejarnya itu tiba-tiba merunduk dan seolah-olah lenyap diantara batu-batu. Itulah lobang goa, tempat Mahesa Jenar menembus keluar.

Untuk beberapa saat Mahesa Jenar berdiri termangu-mangu. Namun ia tidak mau kehilangan waktu. Segera ia berjongkok dan mendengarkan setiap desir di dalam goa itu, kalau-kalau lawannya telah memancingnya, dan kemudian membinasakannya pada saat ia merangkak masuk. Tetapi kemudian Mahesa Jenar mendengar suara terbatuk-batuk, tidak di depan mulut goa. Agaknya lawannya telah mengalami luka di dalam dadanya, dan sekaligus ia mengetahui bahwa lawannya tidak pula berada di muka mulut goa itu, sehingga dengan demikian segera ia melontarkan diri masuk ke dalamnya.

Untuk beberapa saat ia membiasakan matanya di dalam gelapnya goa. Dan setelah itu ia perlahan-lahan berjalan sambil memperhatikan setiap suara yang didengarnya. Sekali lagi ia mendengar suara lawannya terbatuk-batuk. Dan karena itulah ia dapat mengenal arahnya.

302

DENGAN hati-hati Mahesa Jenar menyusur dinding goa mendekati arah suara itu. Dan karena ketajaman telinganya, akhirnya Mahesa Jenar menjadi semakin dekat. Tetapi agaknya orang itupun bergerak pula semakin lama semakin dalam dan melewati berpuluh-puluh cabang yang membingungkan.

Namun Mahesa Jenar telah bertekad untuk mengikuti orang itu sampai ditangkapnya. Sebab ia yakin bahwa lukanya tidak akan mengijinkan orang itu bergerak leluasa.

Beberapa langkah kemudian, tiba-tiba Mahesa Jenar tertegun. Ia sampai pada suatu ruangan yang agak lebar dan tidak terlalu gelap. Ketika ia melihat ke atas, tampaklah beberapa lobang-lobang yang tembus. Dari sanalah cahaya pagi jatuh menerangi ruangan itu seperti ruangan-ruangan yang sering dipergunakan bermain-main oleh para cantrik.

Untuk beberapa lama, sekali lagi Mahesa Jenar kebingungan. Sekarang ia sama sekali tidak lagi mendengar suara apapun. Juga suara batuk-batuk orang yang dikejarnya itupun telah lenyap.

Karena itulah maka Mahesa Jenar menjadi marah kembali. Dengan saksama ditelitinya dinding ruangan itu kalau-kalau ada yang mencurigakan. Tetapi selain pintu masuk yang dilewatinya tadi, sama sekali tak diketemukannya lubang yang lain.

Dengan demikian ia menduga bahwa orang yang dicarinya masih berada di dalam ruangan itu pula. Maka sekali lagi Mahesa Jenar meneliti setiap relung ruang itu dengan lebih saksama lagi, sambil tetap mengawasi satu-satunya lobang masuk ke dalam ruang itu.

Dan dugaannya ternyata benar. Ia terkejut sampai terlonjak ketika di belakangnya terdengar suara tertawa yang lunak perlahan.

Cepat-cepat ia memutar diri dan bersiaga. Benarlah bahwa yang berdiri di hadapannya, di samping sebuah batu yang besar, adalah orang yang dicari-carinya.

“Kau tak akan dapat melepaskan diri,” kata Mahesa Jenar.

Orang itu tidak menjawab. Ia maju beberapa langkah mendekati Mahesa Jenar. Langkahnya tetap, tegap dan cekatan. Karena itu maka Mahesa Jenar terkejut karenanya. Kalau demikian, maka orang itu dapat melenyapkan luka-lukanya hanya dalam waktu yang sangat singkat.

Namun demikian Mahesa Jenar masih belum yakin, bahwa orang itu telah terbebas sama sekali dari akibat pukulannya. Maka katanya sekali lagi, “Katakan sekarang, di mana Arya Salaka.”

Orang itu berhenti beberapa langkah di hadapannya dalam keremangan. Terdengarlah kembali ia tertawa perlahan. Kemudian jawabnya,

“Kau telah mencoba menirukan aji Sasra Birawa. Tetapi sayang, jelek sekali.”

Mendengar ejekan itu darah Mahesa Jenar menggelegak sampai ke kepala. Ia tidak dapat lagi mengendalikan perasaannya. Karena itu sekali lagi ia meloncat menyerang dengan sengitnya. Kembali terjadi sebuah pertarungan yang hebat. Dua kekuatan yang tangguh saling berjuang untuk mempertahankan nama masing-masing.

Tetapi beberapa saat kemudian Mahesa Jenar menjadi gelisah kembali. Orang itu sama sekali telah terbebas dari luka-luka akibat pukulan yang luar biasa. Disamping itu kemarahan Mahesa Jenar semakin membakar hatinya. Dan apa yang dilakukannya kemudian adalah mengulangi apa yang pernah dilakukan. Dipusatkannya segala kekuatan batinnya, disilangkannya satu tangannya, sedang tangan yang lain diangkatnya tinggi-tinggi, sambil menekuk satu kaki ke depan, ia menggeram hebat siap mengayunkan ajinya Sasra Birawa.

Sesaat sebelum tangannya menghantam lawannya, dadanya terasa berdesir hebat ketika ia dalam sekejap melihat lawannya, yang mengaku bernama Mahesa Jenar, murid Ki Ageng Pengging Sepuh itu, ternyata juga mengangkat satu kaki, menyilangkan tangan kirinya di muka dada, serta mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

Meskipun demikian Mahesa Jenar sudah tidak sempat lagi membuat bermacam-macam pertimbangan. Apa yang dilakukannya kemudian adalah, dengan garangnya ia meloncat dan menghantam lawannya dengan sepenuh kekuatan dialasi dengan ajinya Sasra Birawa yang dahsyat.

Tiba-tiba pada saat itu pula ia melihat lawannya itupun berbuat demikian pula sehingga terjadilah benturan yang maha dahsyat. Mahesa Jenar merasakan seolah-olah berpuluh-puluh petir meledak  bersama-sama di hadapan wajahnya. Udara yang panas yang jauh lebih panas dari api, terasa memercik membakar seluruh tubuhnya. Setelah itu, pemandangannya menjadi kuning berputar-putar, semakin lama semakin gelap. Akhirnya tanah tempatnya berpijak seolah-olah berguguran jatuh ke dalam jurang yang dalamnya tak terhingga. Sesudah itu tak satupun yang diingatnya.

Ia tidak tahu, berapa lama ia pingsan.

Yang mula-mula terasa olehnya adalah tetesan-tetesan air yang membasahi wajahnya.

Perlahan-lahan Mahesa Jenar mencoba membuka matanya. Mula-mula pemandangan di sekitarnya masih tampak hitam melulu. Tetapi lambat laun, tampaklah samar-samar cahaya matahari yang menembus lubang-lubang diatas ruangan itu, semakin lama semakin terang. Sejalan dengan perkembangan kesadarannya.

Kemudian, ketika pikirannya sudah semakin terang, terasalah bahwa seluruh tubuhnya basah kuyup. Agaknya seseorang telah menyiramkan air untuk membangunkannya.

Perlahan-lahan Mahesa Jenar berusaha untuk mengingat-ingat apa yang terjadi. Ketika segala sesuatunya menjadi semakin jelas, maka segera ia berusaha untuk bangkit. Tetapi agaknya tubuhnya serasa dicopoti segala tulang-tulangnya. Karena itu ketika ia mencoba mengangkat kepalanya, kembali ia jatuh terbaring.

Darahnya serasa menguap ketika ia mendengar di sampingnya suara tertawa lunak perlahan. Segera ia mengenal, siapakah orang itu. Namun bagaimanapun juga ia sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa.

303

“KI SANAK…” Terdengar orang itu berkata.

“Jangan mencoba-coba menjadi rangkapan Mahesa Jenar, murid Ki Ageng Pengging Sepuh. Meskipun tiruan itu sudah kau lakukan dengan saksama, namun kalau kebetulan kau bertemu dengan orangnya, seperti sekarang ini, segera akan dapat dikenal kepalsuanmu. Meskipun demikian aku menjadi heran pula bahwa apa yang kau lakukan sudah hampir dapat menyamai apa yang aku lakukan. Dan agaknya kau telah mencoba pula mendalami ilmu Sasra Birawa. Aku tidak tahu dari mana kau pelajari ilmu itu, namun dalam beberapa hal, telah benar-benar mirip dengan Sasra Birawa yang sebenarnya.”

Mendengar ucapan-ucapan itu telinga Mahesa Jenar rasanya menjadi terbakar. Ia menggeram beberapa kali, namun ia sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu. Ia hanya dapat menggerakkan kepalanya dan melihat orang yang mengaku bernama Mahesa Jenar itu duduk dengan enaknya di atas sebuah batu padas, disampingnya.

Beberapa saat kemudian orang itu kembali berkata, Aku tidak sabar menunggui orang tidur terlalu lama, karena itu aku menyirammu dengan air. Ternyata kau terbangun karenanya.”

Mahesa Jenar ingin berteriak memaki-maki. Namun suaranya tersumbat di kerongkongan. Yang terdengar hanyalah sebuah desis kemarahan. “Bagaimanapun juga, aku hormati ketebalan tekadmu”, sambung orang itu, “Dalam keadaan yang demikian kau masih tetap pada pendirianmu. Karena itulah aku belum membunuhmu. Sebab aku ingin mengetahui siapakah orang yang telah berkeras hati mengaku bernama Mahesa Jenar.”

Sekali lagi Mahesa Jenar menggeram. Perlahan-lahan, ia mencoba menjawab, “Jangan kau takut-takuti aku dengan kematian, sebab kematian bukanlah suatu hal yang perlu ditakuti.”

Bagus…!” Tiba-tiba orang itu meloncat berdiri. “Kau sendiri yang mengatakan. Jangan salahkan aku kalau aku membunuhmu sekarang.”

Mahesa Jenar bukan seorang penakut. Apapun yang akan terjadi atasnya bukanlah suatu hal yang perlu dicemaskan. Meskipun demikian ia menjadi gelisah ketika teringat oleh Arya Salaka. Ia tidak tahu di mana anak itu sekarang berada. Apakah ia masih hidup ataukah sudah mati di dalam relung dan lekuk-lekuk goa yang membingungkan itu. Karena perasaan yang demikian itulah tiba-tiba tanpa disengajanya ia berkata, ” Kau bunuh aku atau tidak, itu bukanlah urusanku, tetapi itu adalah urusanmu. Namun demikian katakan kepadaku apakah Arya Salaka masih hidup atau sudah kau bunuh pula?”

Orang itu tertegun sejenak. Tetapi hanya sejenak. Kemudian terdengar ia tertawa. “Jangan kau persulit dirimu, dan jangan kau kotori jalan kematianmu dengan dongengan-dongengan yang kisruh itu. Ataukah barangkali kau mengharap aku mengampuni kau untuk membantuku mencari muridku itu?”

“Cukup!” tiba-tiba Mahesa Jenar berteriak nyaring. Seluruh sisa kekuatannya telah mendorongnya berbuat demikian karena kemarahan yang tak tertahankan. “Kau mau membunuh, bunuhlah. Jangan membual.”

Sekali lagi terdengar suara tertawa. Lunak dan hanya perlahan-lahan. Sesudah itu, orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu melangkah justru menjauhi Mahesa Jenar. Katanya kemudian setelah ia sampai ke mulut ruang itu, “Aku tidak mau mengotori tanganku dengan membunuh orang semacam kau. Biarlah alam membunuhmu. Kau tidak akan dapat keluar dari ruangan ini sampai ajalmu tiba.”

Setelah itu orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu segera meloncat keluar dan terdengarlah suara berguguran. Beberapa batu besar jatuh tertimbun menutupi lubang ruangan itu. Bersamaan dengan itu, berguguran pulalah rasanya isi dada Mahesa Jenar. Ia ditinggalkan dalam ruangan tertutup dalam keadaan yang demikian. Bukan main. Suatu penghinaan yang tiada taranya. Sebagai seorang laki-laki ia lebih senang hancur di dalam suatu pertempuran daripada dibiarkan mati kelaparan di dalam sebuah goa.

Karena itulah dirasanya seluruh tubuhnya mendidih. Seluruh isi rongga dadanya menggelegak seperti akan meledak. Terasa betapa darahnya mengalir cepat dua kali lipat. Tetapi karena itu pulalah terasa kekuatannya timbul kembali oleh dorongan perasaan yang meluap-luap.

Dengan demikian maka sedikit demi sedikit Mahesa Jenar mulai dapat menggerakkan tubuhnya, sehingga beberapa saat kemudian ia telah mampu untuk mengangkat tubuhnya dan duduk tegak.

Matahari yang telah mencapai titik tengah, sinarnya langsung tegak lurus menembus lubang-lubang di atas ruangan itu dan membuat lingkaran-lingkaran di lantai. Udara yang lembab di dalam goa itu rasa-rasanya jadi menguap oleh panas matahari.

Mahesa Jenar kemudian menjadi gelisah karenanya. Ia tidak mau menyerah pada keadaan. Ia tidak mau membiarkan dirinya mati kelaparan di dalam goa itu tanpa perlawanan. Maka dengan segenap tenaga yang ada ia pun berdiri dan dengan terhuyung-huyung berjalan sekeliling ruangan itu berpegangan dinding. Dua tiga langkah ia masih terus beristirahat, sebab dadanya masih terasa nyeri, disamping pertanyaan yang selalu memukul-mukul kepalanya. Siapakah gerangan orang yang telah mengaku bernama Mahesa Jenar, murid Ki Ageng Pengging Sepuh, yang mampu mempergunakan ilmu Sasra Birawa, dan justru lebih hebat dari ilmunya.

Menurut ceritera almarhum gurunya, maka Ki Ageng Pengging Sepuh itu tidak mempunyai murid lain kecuali dirinya dan Ki Ageng Pengging yang bernama Kebo Kenanga, almarhum, putera gurunya sendiri. Tiba-tiba sekarang ia bertemu dengan seseorang yang memiliki ilmu gurunya itu dengan sempurna. Bahkan orang itu telah mengaku bernama Mahesa Jenar dan mempunyai seorang murid yang bernama Arya Salaka. Seolah-olah orang itu ingin menyindir akan ketidakmampuannya sebagai seorang murid dari perguruan Pengging.

304

KARENA pertanyaan-pertanyaan itu, maka kembali Mahesa Jenar merasa bahwa perkembangannya seolah-olah berhenti setelah ia terpisah dari gurunya. Sejak itu, ia hanya berusaha untuk mengamalkan ilmunya saja, tanpa berusaha untuk menambahnya. Dengan demikian maka ia tidak akan dapat mencapai tingkat seperti gurunya. Apabila hal yang demikian berlaku juga untuk murid-muridnya kelak, maka perguruan Pengging semakin lama akan menjadi semakin surut. Padahal seharusnya setiap murid akhirnya harus melampaui gurunya. Dengan demikian ilmu akan berkembang terus.

Hati Mahesa Jenar tiba-tiba menjadi pedih. Pedih sekali. Justru kesadaran itu timbul ketika dirinya sudah terkurung di dalam sebuah ruangan yang tertutup rapat. Mungkin ia dapat menghantam di dinding-dinding ruangan itu dengan Sasra Birawa dan membuat lubang untuk menemukan jalan keluar, tetapi agaknya sampai ia mati kehabisan tenaga, usahanya mustahil akan berhasil.

Dalam penelitiannya itu, Mahesa Jenar menemukan sebuah mata air kecil di belakang sebuah batu. Segera ia berjongkok, dan membasahi kerongkongannya yang serasa kering dan panas. Setelah itu terasa tubuhnya menjadi bertambah sehat.

Tetapi perasaannyalah yang tidak berkembang seperti tubuhnya. Perasaannya yang pedih masih saja menyayat. Tetapi tiba-tiba memancarlah suatu tekad. Tekad yang membawanya pada suatu ketetapan hati, bahwa justru dalam keadaannya yang sekarang, ia akan mengisi sisa hidupnya dengan suatu ketekunan, mendalami ilmunya mati-matian. Dalam keadaannya itu tiba-tiba ia terkejut melihat bayangan yang tegak berdiri pada sebuah relung dinding goa itu, sehingga ia terlonjak berdiri.

Tetapi ketika Mahesa Jenar semakin jelas melihat menembus keremangan relung itu, sadarlah ia bahwa yang berdiri di situ hanyalah sebuah patung batu yang belum sempurna. Meskipun demikian hatinya tertarik pula untuk melihatnya. Siapakah yang sudah membuat patung itu, justru di dalam sebuah ruangan jauh di dalam goa? Akh, mungkin orang aneh yang telah menamakan diri Mahesa Jenar itu.

Ketika ia telah semakin dekat, makin jelaslah bahwa patung batu itu masih belum siap seluruhnya. Dan ketika ia meraba-rabanya, tampaklah perubahan pada beberapa bagian. Pada bagian tubuhnya ia melihat lumut-lumut liar merayapi hampir seluruh bagian, tetapi di bagian kepalanya tampaklah luka-luka baru dari sebuah pahatan.

Tiba-tiba, ketika ia memandang kepala patung itu, hatinya berdebar-debar. Ia melihat bunga melati terselip di atas kupingnya sebelah kanan. Rambutnya berjuntai sebatang-sebatang sangat jarang, sedang ikat kepalanya hanya dikalungkan di lehernya. Itu adalah ciri-ciri khusus dari gurunya, Ki Ageng Pengging Sepuh, yang semula bergelar Pangeran Handayaningrat.

Dan tiba-tiba, dari wajah patung itu seolah-olah memancar suatu tuntutan darinya kepada Mahesa Jenar, apakah yang dapat dicapainya sepeninggalnya.

Oleh pemandangan yang tak disangka-sangka itu, hati Mahesa Jenar seperti dicengkam oleh suatu keadaan gaib. Tanpa sesadarnya ia berjongkok dan menunduk hormat di hadapan patung itu. Seolah-olah ia merasa berhadapan dengan almarhum gurunya.

Beberapa lama kemudian barulah ia tersadar. Yang berdiri di hadapannya tidak lebih dari sebuah patung. Patung yang mempunyai ciri-ciri khusus seperti gurunya, meskipun pahatan wajahnya tidak sempurna. Namun demikian, Mahesa Jenar merasa, bahwa patung itu dapat menjadi daya pengantar untuk mencapai suatu pemusatan pikiran terhadap gurunya. Sekali lagi Mahesa Jenar merasa berada dalam suatu alam yang gaib.

Lewat patung itu ia mengenang seluruh jasa-jasa gurunya. Seluruh cinta kasih yang pernah dilimpahkan kepadanya. Dan seluruh pelajaran-pelajaran yang pernah diberikan. Dari huruf pertama sampai huruf terakhir dalam ilmu tata berkelahi, jaya kawijayan dan kasantikan. Ia telah menerima pelajaran pula, bagaimana ia harus merangkai huruf itu menjadi kata-kata, dan kata-kata menjadi kalimat.

Dengan demikian sebenarnya ia telah mendapat dasar-dasar pendidikan sepenuhnya. Bahkan sampai pada aji Sasra Birawa yang dahsyat itu pun telah dapat dikuasainya. Soalnya kemudian, bagaimana ia dapat mengendapkan ilmunya untuk mendapatkan inti sarinya.

Dalam keadaan yang demikian itulah, hati Mahesa Jenar menyala berkobar-kobar. Tiba-tiba sekali lagi ia dikuasai oleh keadaan yang khusus. Dengan menyebut kebesaran nama Allah, maka tanpa sesadarnya ia mulai menggerakkan tubuhnya. Dimulailah gerakan-gerakan yang pernah dipelajari, dari unsur gerak yang paling sederhana. Satu demi satu. Kemudian unsur-unsur yang semakin sukar. Seolah-olah ia sedang menempuh ujian di hadapan gurunya sendiri.

Demikianlah akhirnya Mahesa Jenar bergerak semakin lama semakin cepat dan hebat. Orang yang bertempur dengan dirinya, yang menamakan diri Mahesa Jenar itu ternyata telah melengkapi unsur-unsur gerak yang telah hampir dilupakannya. Demikianlah maka Mahesa Jenar tenggelam dalam satu pemusatan pikiran untuk menyempurnakan seluruh ilmunya.

Dalam keadaannya itu Mahesa Jenar lupa pada segala-galanya. Lupa pada keadaannya, lupa pada waktu, lupa pada orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu, bahkan ia lupa pula tentang apa yang dilakukan itu. Demikianlah ia berjuang sebaik-baiknya, mengungkap segala ilmu yang pernah dimiliki.

Tetapi Mahesa Jenar sekarang, bukanlah Mahesa Jenar pada saat ia sedang mulai belajar dari gerakan pertama, kedua dan berturut-turut. Sekarang, kecuali segala macam unsur-unsur gerak yang pernah dipelajari, iapun pernah menempuh pengalaman yang luar biasa, sehingga dengan demikian, tak disengajanya pula, segala macam pengalaman itu menyusup masuk, melengkapi ilmunya sendiri.

Dalam pengembaraannya, ia pernah bertemu dengan tunas-tunas dari perguruan putih dan hitam yang bermacam-macam. Ia pernah bertempur dengan Sarayuda dari cabang Perguruan Pandan Alas yang terkenal dari Klurak, yang justru sebenarnya orang Gunung Kidul, Gajah Sora, anak dan sekaligus murid Ki Ageng Sora Dipayana, Banyubiru.

305

Ia pernah bertempur dengan murid-murid Pasingsingan seorang tokoh golongan hitam yang memiliki bermacam-macam ilmu dari golongan putih, Sima Rodra dari Gunung Tidar, Jaka Soka dari jenis perguruan golongan hitam di Nusakambangan, sepasang Uling dari Rawa Pening yang mempunyai cara bertempur yang aneh dan berpasangan.

Mau tidak mau. semua jenis ilmu gerak itu saling mempengaruhi. Juga bersama-sama dengan muridnya, Arya Salaka, Mahesa Jenar pernah menekuni gerak gerik binatang hutan yang paling lemah, sampai yang paling buas. Bagaimana yang lemah berusaha melepaskan diri dari kekuasaan binatang yang buas dan kuat. Juga pertarungan antara hidup dan mati antara binatang buas yang sama kuat, pertarungan maut antara burung rajawali dengan ular naga yang besar.

Demikianlah Mahesa Jenar yang menjadi seolah olah bergerak dengan sendirinya itu, tanpa setahunya telah mengungkapkan satu jenis ilmu tata berkelahi yang maha dahsyat. Pemusatan pikiran yang luar biasa dengan perantaraan patung disampingnya itu, seolah olah Mahesa Jenar sedang mempertanggung jawabkan dirinya dihadapan gurunya sendiri.

Matahari yang mula-mula memancar dengan teriknya, semakin lama semakin jauh menjelajah kearah barat. Dan pada saat mega putih berarak arak ke arah selatan, Matahari itu dengan lelahnya menyusup kearah garis cakrawala, meninggalkan warna lembayung yang tersirat dibalik mega-mega mewarnai wajah langit.

Pada saat itulah ruangan yang dipergunakan oleh Mahesa Jenar itu dicengram oleh kehitaman warna-warna yang lemah lembayung dilangit sama sekali tidak dapat menembus masuk kedalamnya. Apalagi sebentar kemudian malam telah menjadi semakin kelam. Pada saat itulah Mahesa Jenar baru merasa seluruh tubuhnya menjadi lelah. Kecuali keadaan tubuh yang memang belum pulih benar akibat benturan aji Sasra Birawa, juga ia telah mencurahkan tenaga melampaui batas.

Karena itulah, maka Mahesa Jenar menghentikan latihannya. Dengan meraba-raba dinding ia menyelusur kearah mata air didalam ruangan itu dibelakang sebuah batu. Karena kelelahan dan haus maka Mahesa Jenar segera minum sepuas-puasnya. Setelah itu iapun segera kembali kemuka patung yang mempunyai ciri gurunya. Dihadapan patung itulah Mahesa Jenar merebahkan dirinya untuk beristirahat.

Tetapi meskipun demikian, perasaannya yang sudah terikat pada patung itu, seolah-olah mempunyai kewajiban untuk menjaganya.

Maka ketika diluar goa itu binatang malam mulai meraja di padang ilalang dan lapangan rumput, mulailah Mahesa Jenar tenggelam kealam mimpi.

Ia tertidur karena kelelahan…

Di langit bintang menari-nari dengan riangnya diiringi dendang angin yang berhembus lemah. Lubang lubang diatas ruang yang banyakterdapat didalam goa itu karena hembusan angin, menimbulkan bunyi-bunyi yang beraneka warna. Dari nada rendah sampai nada tinggi.

Mahesa Jenar terbangun pada saat matahari melemparkan sinarnya yang pertama. Dari lubang-lubang diatas ruangan itu Mahesa Jenar dapat melihat betapa riangnya langit menerima senyuman Matahari pagi.

Bersamaan dengan itu, terasa seakan akan datanglah waktunya bagi Mahesa Jenar untuk memulai lagi kewajibannya terhadap gurunya. Dengan khidmat ia berjongkok dimuka patung batu itu, dengan perantaraannya mulailah ia memusatkan pikirannya atas semua ajaran almarhum gurunya. Apabila pikirannya telah benar-benar terpusat, serta dalam pendekatan diri setinggi-tingginya kepada Tuhan Yang Maha Esa, mulailah ia dengan pendalaman ilmu yang pernah diterimanya.

Demikianlah apa yang dilakukan Mahesa Jenar. Tekun melatih diri. Mengulangi dan menghubungkan satu sama lain untuk kemudian mencari intisarinya.

Hari demi hari telah dilampauinya. Bagaimanapun kuat tubuh Mahesa Jenar, namun dalam kerja yang sedemikian keras dan tekun, hanya dengan minum saja, tanpa sebutir makananpun, akhirnya tubuhnya menjadi semakin lemah. Tetapi tidak demikian dengan jiwanya. Perkembangan jiwanya bertentangan dengan perkembangan tubuhnya. Semakin lemah keadaan tubuhnya, jiwanya bertambah membaja. Akhirnya, ketika pada suatu saat tubuhnya telah menjadi lemah benar karena telah berulang kali memperdahsyat aji Sasra Birawanya. Mahesa Jenar tidak lagi dapat berbuat banyak.

Jasmaninya adalah wadag yang terbatas.

Maka yang dilakukan kemudian, adalah dengan tenangnya ia duduk bersila disamping batu itu. Ditutupnya kesembilan lubang tubuhnya, matanya yang redup tertanam pada ujung hidungnya. Seolah olah hilanglah dirinya, meloncat keluar dari tubuhnya yang lemah itu. Kemudian, seolah-olah dirinya yang hidup dialam lain itulah yang dengan dahsyatnya bergerak, dengan gerakan-gerakan yang luar biasa yang tak pernah mampu dilakukan wadagnya. Gerakan-gerakan yang mempunyai watak agak lain dengan gerakan-gerakan yang pernah dilakukan dialam wadag.

 

306

TIBA-TIBA diri Mahesa Jenar dalam alam yang lain itu, memancar dengan terangnya, menyinari tubuhnya. Pada saat itulah Mahesa Jenar merasa bahwa timbul sesuatu di dalam dirinya. Pada saat itulah ia merasa, menguasai benar setiap watak dari setiap gerak yang dilakukan, yang dilakukan oleh dirinya di luar wadagnya, yang sebenarnya adalah perwujudan dari kedahsyatan daya khayalnya dalam menekuni ilmunya, tanpa ikut sertanya wadag itu sendiri.

Pada saat itulah Mahesa Jenar menemukan suatu kekuatan yang jauh melampaui kekuatan wadagnya, dengan menguasai setiap watak dari setiap gerak. Sedang apa yang pernah dilakukan selama ini adalah penguasaan gerak itu sebagai suatu gerak jasmaniah melulu.

Pada saat yang terakhir, dirinya diluar wadagnya itu berdiri tegak di atas kedua kaki. Kemudian dengan gerak yang mengagumkan menyilangkan satu tangannya di muka dada, mengangkat tangannya yang lain tinggi-tinggi.

Ditekuknya satu kakinya ke depan, siap menghantamkan aji Sasra Birawa. Pada saat itu, terasa seolah-olah wadagnya terbang melayang mendekati dirinya diluar wadag itu. Sehingga jarak antara wadag dan kedahsyatan daya khayalnya dalam kebulatan tekat semakin lama semakin dekat.

Pada saat pertemuan diantara kedua dirinya dalam bentuknya yang berbeda itu, Mahesa Jenar mendapat suatu perasaan nikmat yang luar biasa. Perasaan yang tak dapat dilukiskan.

Persenyawaan diri dari unsur-unsur yang seolah-olah memiliki watak yang berbeda itu telah memecahkan masa hidupnya selama ini.

Kemudian seolah-olah lahirlah seorang Mahesa Jenar yang baru. Pada saat itulah, tiba-tiba bersenyawa pula gerakan-gerakan yang dilihatnya pada diri diluar wadagnya itu dengan wadagnya. Karena itulah maka yang ada kemudian hanya seorang Mahesa Jenar, dengan tubuh yang kurus pucat, tetapi berjiwa sekeras baja, berdiri diatas satu kakinya, satu tangannya menyilang dada dan satu tangannya terangkat tinggi-tinggi.

Kemudian dengan satu loncatan lemah, Mahesa Jenar mengayunkan tangannya menghantam batu yang bertimbun-timbun menutupi pintu satu-satunya dari ruangan itu. Akibatnya adalah dahsyat sekali.

Meskipun dengan tubuh yang lemah, namun kekuatan Mahesa Jenar rasanya menjadi berlipat-lipat. Batu-batu itupun segera pecah berhamburan. Dan tampaklah kemudian sebuah lubang, yang semula tertutup oleh guguran-guguran batu yang bertimbun-timbun, meskipun tidak menganga seluruhnya.

Pada saat itu, pada saat Mahesa Jenar sedang mengagumi tenaganya sendiri, terdengarlah sebuah suara tertawa yang lemah perlahan-lahan di belakangnya. Mahesa Jenar terkejut bukan main, dan dengan segera ia memutar tubuhnya, menghadap arah suara itu. Tetapi pada saat itu, ruang di dalam goa itu sudah mulai gelap, sehingga Mahesa Jenar tidak segera melihat sesuatu.

“Suatu latihan yang hebat,” tiba-tiba terdengar suara dari arah patung batu.

Mendengar suara itu Mahesa Jenar seperti orang bermimpi. Kata-kata itulah yang sering diucapkan oleh gurunya. Adakah patung batu itu benar-benar telah berubah menjadi gurunya?

Sesaat kemudian kembali terdengar suara, “Beristirahatlah, hari masih panjang.”

Sekali lagi Mahesa Jenar tersentak. Gurunya selalu menasehatinya demikian kalau ia terlalu letih berlatih.

Perlahan-lahan Mahesa Jenar melangkah maju mendekati patung itu. Ia menjadi ragu.

Bagaimanapun juga, patung itu baginya tidak lebih daripada batu-batu biasa. Yang kebetulan dapat dipergunakan sebagai pancatan untuk memusatkan pikirannya. Tidak lebih dari pada itu. Tetapi kalau tiba-tiba patung itu dapat berbicara adalah diluar nalar.

Tetapi tiba-tiba ia menjadi terkejut sekali lagi. Ia melihat bayangan yang bergerak-gerak di belakang patung itu. Dan di dalam relung itu dilihatnya pula bayangan yang lebih kelam dari sekitarnya. Cepat Mahesa Jenar dapat mengetahui, bahwa di belakang patung itu ternyata ada sebuah pintu yang dapat ditutup dan dibuka, yang dibuat dari batu-batu pula, sehingga tidak diketahuinya sebelum itu.

“Siapakah kau…?” desis Mahesa Jenar bertanya.

“Jangan bertanya demikian,” jawab suara itu.

“Seharusnya kau sudah tahu bahwa Mahesa Jenar datang menjengukmu.”

Mendengar jawaban itu hati Mahesa Jenar tergetar. Tetapi sekarang ia sudah mendapat suatu keyakinan tentang dirinya, sehingga dengan demikian ia menjadi bertambah tenang. Maka katanya kemudian, “Adakah yang menarik hati bagimu, sehingga kau perlukan menjenguk aku?”

“Ada,” jawab orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu.

“Lewat lubang itu aku dapat mengintip apa yang selama ini kau lakukan.”

“Kau keberatan?” sahut Mahesa Jenar.

“Tidak,” jawabnya, “Aku tidak pernah keberatan terhadap kelakuan orang lain yang tidak merugikan diriku, apalagi tidak merugikan orang banyak. Apa yang kau lakukan tidak lebih dari sebuah pertunjukan yang menyenangkan.”

Meskipun Mahesa Jenar tidak senang mendengar kata-kata itu, namun ia masih diam saja.

“Dengan pertunjukanmu itu aku pasti…” sambung orang itu, “Bahwa kau pernah membaca lontar kisah Mahabarata. Kisah seseorang yang tak berhasil berguru kepada seorang Pandeta yang bernama Kombayana.

Orang itu, yang bernama Bambang Ekalaya atau lebih terkenal dengan nama Palgunadi, kemudian membuat patung. Patung Pendeta itu. Pada patung itu ia berguru. Dan akhirnya benarlah ia dapat menyamai kesaktian murid Kombayana yang paling dahsyat dalam olah jemparing, yaitu Raden Arjuna.”

307

MAHESA JENAR merenung sebentar. Memang ia pernah mendengar ceritera itu. Dan apa yang dilakukan memang mirip sekali. Tetapi pada saat ia memulainya, ia sama sekali tidak pernah berpikir, apalagi sengaja menirukan apa yang pernah dilakukan oleh Bambang Palgunadi.

Mengingat peristiwa itu ia menjadi geli sendiri. Lalu jawabnya, “Kau benar. Mudah-mudahan akupun berhasil pula seperti Palgunadi.”

Tiba-tiba orang itu tertawa tinggi. Katanya, “Kau benar-benar pemimpi.

Yang bisa terjadi semacam itu, hanyalah didalam suatu dongeng saja.

Dan kau agaknya ingin menjadi salah seorang tokoh dongeng-dongeng semacam itu.”

Mahesa Jenar mengangkat pundaknya. Jawabnya, “Aku tidak tahu. Aku hanya mencoba.”

“Bagus,” sahut orang itu melengking dengan nada yang berbeda. “Aku akan melihat apakah kau berhasil,” sambungnya.

Setelah itu tiba-tiba ia meloncat maju. Meskipun ruangan itu sudah menjadi semakin gelap, namun Mahesa Jenar masih melihat orang itu menyilangkan satu tangannya, tangannya yang lain diangkatnya tinggi-tinggi, sedang satu kakinya dingkatnya dan ditekuk ke depan.

Mahesa Jenar terkejut bukan kepalang. Ia sama sekali tidak menduga bahwa dalam gerakan yang pertama orang itu telah menyiapkan suatu bentuk aji yang mirip dengan ajinya Sasra Birawa, bahkan orang itupun menamainya demikian.

Dalam pada itu Mahesa Jenar sadar bahwa kekuatan aji orang itu adalah sangat dahsyatnya. Beberapa hari yang lalu, ia menjadi pingsan karena benturan yang hebat. Sekarang tiba-tiba orang itu akan mengulanginya kembali. Tetapi Mahesa Jenar tidak dapat berbuat lain daripada berusaha menyelamatkan diri.

Karena itu, segera iapun berbuat hal yang sama dengan tubuhnya yang lemah. Ia mengharap setidak-tidaknya, dengan perlawanannya itu, akan dapat mengurangi tekanan yang dideritanya karena pukulan aji lawannya.

Sesaat kemudian ia melihat orang itu meloncat ke depan, dan dengan derasnya mengayunkan tangan kanannya. Pada saat yang bersamaan, Mahesa Jenar pun dengan segenap kekuatan lahir batin yang disalurkan dalam aji Sasra Birawa, menghantam tangan yang terayun ke arah kepalanya itu.

Maka terjadilah suatu benturan yang maha dahsyat. Dua macam kekuatan ilmu sakti yang oleh para pemiliknya dinamai Aji Sasra Birawa telah berbenturan. Dan benturan kali ini lebih dahsyat dari benturan kedua kekuatan sakti itu beberapa waktu yang lalu, karena Mahesa Jenar telah menemukan inti kekuatan ilmunya.

Meskipun demikian bagaimanapun juga, keadaan jasmaniah mereka mempengaruhi pula. Mahesa Jenar yang telah sekian lama tersekap di dalam goa itu tanpa sebutir makananpun, harus berbenturan melawan seorang yang segar bugar. Namun pancaran kekuatan yang tersembunyi di balik kekuatan jasmaniah, ternyata memiliki kemampuan yang nggegirisi.

Demikianlah ketika benturan itu terjadi, ternyata kedua orang itu bersama terlempar surut. Orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu, merasakan pula betapa hebat pukulan lawannya, sehingga ia terpaksa jatuh sekali berguling, barulah ia dapat tegak kembali. Tetapi dalam pada itu, Mahesa Jenar sendiri terdorong jauh ke belakang sehingga tubuhnya membentur dinding goa.

Setelah itu dengan lemahnya Mahesa Jenar terduduk di lantai. Tetapi dalam pada itu terbesitlah suatu perasaan yang aneh dalam dirinya. Meskipun ia terlempar sampai membentur dinding goa, dan kemudian dengan lemahnya terduduk di lantai seperti orang yang kehilangan seluruh tulang-tulangnya, namun dalam benturan itu ia tidak lagi merasakan percikan panas yang membakar seluruh tubuhnya seperti yang dialaminya dahulu. Juga kali inipun kepalanya tidak menjadi pening berkunang-kunang dan ia tidak pingsan. Dengan demikian, timbul pulalah suatu pikiran di dalam kepalanya, seandainya keadaan jasmaniahnya tidak terlalu jelek, mungkin akan dapat mengimbangi pukulan lawannya.

Tetapi disamping perasaan gembira yang membersit di dalam dadanya itu, iapun menjadi cemas kalau-kalau lawannya itu akan mengulangi serangannya untuk membinasakannya. Meskipun ia sama sekali tidak takut mati, namun ia masih menginginkan untuk menurunkan ilmu Perguruan Pengging itu kepada Arya Salaka.

Dan karena itulah, terdorong oleh kemauannya yang keras dan tekad yang mantap, terasalah bahwa perlahan-lahan kekuatannya timbul kembali. Sehingga meskipun ia masih harus berpegangan pada dinding goa, namun iapun berhasil untuk berdiri dan menanti apa yang akan terjadi.

Disamping itu ia bersyukur pula, bahwa kini di dalam ruangan itu telah menjadi semakin gelap. Dengan demikian ia mengharap bahwa orang itu tidak lagi akan menyerang segera.

Kalau saja orang itu menundanya sampai esok, mungkin ia telah mendapatkan sebagian dari kekuatannya kembali. Dalam kegelapan itu, maka Mahesa Jenar yang tajam, masih mampu menangkap bayangan samar-samar di hadapannya. Tetapi sampai sekian lama ia menyaksikan bayangan itu tegak tak bergerak.

Dan kemudian ternyatalah, apa yang diharapkan Mahesa Jenar. Sebab ruangan yang semakin kelam, maka orang itu pun berkata, “Untunglah bagimu, ruangan ini menjadi amat gelap sehingga aku berhasrat untuk menunda umurmu sampai besok. Tetapi bagaimanapun juga aku jadi heran. Iblis mana yang telah merasuk dalam tanganmu, sehingga kau mampu melawan Sasra Birawa tanpa cidera.”

Mahesa Jenar menarik nafas. Ia menjadi lega oleh keputusan lawannya.

Tetapi ia menjawab sindiran itu, “Bukankah kau telah berceritera tentang Ekalaya dan Pendeta Kombayana?”

Tiba-tiba orang itu tertawa. Nyaring dan panjang. Katanya kemudian,

“Bagus, kau telah menghidupkan sebuah cerita petikan dari Mahabarata.

Dan aku ingin melihat akhir dari cerita ini. Apakah kau benar-benar mampu menandingi aku.”

“Mudah-mudahan,” jawab Mahesa Jenar pendek.

308

SEKALI lagi orang itu tertawa. Kemudian sambungnya, “Tetapi aku ingin bertindak adil. Aku tidak mau memenangkan pertempuran ini melawan seseorang yang hampir mati kelaparan. Tunggulah kau di sini, aku akan membawa makanan untukmu.”

Kemudian terdengarlah orang itu melangkah pergi.

Mahesa Jenar berdiri termangu-mangu. Ia semakin tidak mengerti kelakuan orang yang juga menamakan diri Mahesa Jenar itu.

Sesaat kemudian, apa yang dijanjikan orang itu terjadilah. Ia masuk kembali lewat mulut goa yang mula-mula ditutupinya dengan reruntuhan batu-batu, yang kemudian terbuka kembali karena tangan Mahesa Jenar.

Di tangan kanannya ia memegang sebuah obor dan di tangan kirinya sebuah bungkusan daun pisang.

Ia langsung duduk di tengah-tengah ruangan itu, sambil membuka bungkusannya ia berkata, “Kemarilah. Duduklah dan makanlah bersama aku.”

Mahesa Jenar tidak membantah. Tetapi mula-mula ia pergi dahulu ke mata air. Sesudah minum beberapa teguk baru ia duduk di depan orang yang juga menamakan diri Mahesa Jenar itu.

“Makanlah,” desak orang itu. “Atau kau takut aku meracunmu?”

Mahesa Jenar menggeleng. “Tidak,” jawabnya. “Orang semacam kau ini pasti tidak akan meracun orang. Sebab kau terlalu yakin akan kesaktianmu.”

Sejenak kemudian mereka berdiam diri sambil menikmati isi bungkusan yang dibawa oleh orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu, yang ternyata adalah seonggok nasi dengan lauk pauknya. Goreng ikan gurami.

Mula-mula Mahesa Jenar tidak menaruh perhatian sama sekali kepada jenis makanan ini. Tetapi beberapa saat kemudian ia mulai berpikir.

Dari manakah orang itu mendapat goreng ikan gurami. Ataukah di dalam goa ini terdapat alat untuk menggoreng dan kolam ikan gurami?

“Kau telah berbuat suatu kesalahan,” desisnya.

Orang itu terkejut. “Kesalahan…?” ia bertanya.

Mahesa Jenar mengangguk. Sambil menunjuk sisa ikan gurami itu ia berkata, “Mahesa Jenar yang kehilangan muridnya di dalam goa ini tidak akan menemukan goreng ikan gurami dengan demikian mudahnya.”

Kembali orang itu terkejut. Tetapi hanya sebentar, sebab sebentar kemudian ia tertawa tinggi.

Sambil masih menyuapi mulutnya ia menjawab, “Kau memang suka ngotak-atik. Apa salahnya kalau aku mendapat goreng ikan gurami? Aku tangkap ikan ini di kolam di sebelah selatan goa ini.”

“Dari mana kau dapat minyak?” potong Mahesa Jenar.

Orang itu terdiam sebentar, lalu katanya, “Sekarang ternyata kalau kau tak tahu sama sekali ujung pangkal tempat ini. Aku berada di dalam goa ini atas petunjuk seorang pendeta sakti yang bernama Panembahan Ismaya bersama muridku Arya Salaka. Tetapi sesaaat kemudian muridku itu hilang.”

“Adakah seorang Mahesa Jenar, murid Ki Ageng Pengging Sepuh perlu bersembunyi di dalam goa?” bantah Mahesa Jenar.

Sekali lagi orang itu terdiam. Setelah berpikir sebentar barulah ia menjawab, “Kalau kau mengaku pula bernama Mahesa Jenar, apa pula kerjamu di sini?”

Mahesa Jenar membetulkan duduknya. Ia merasa mendapat sesuatu dari percakapan itu. Jawabnya, “Aku masuk ke dalam goa ini karena aku mengejar kau, orang yang mengaku bernama Mahesa Jenar.”

“Tetapi menurut katamu…” sahut orang itu, “Kau telah berada di dalam goa ini sebelumnya. Bukankah kau menuduh aku memancingmu, memisahkanmu dari seorang yang kau aku menjadi muridmu?”

“Kalau begitu, kita telah menghuni goa ini bersama-sama. Namun ada bedanya,” jawab Mahesa Jenar. “Kau agaknya telah mengenal segenap lekuk liku goa ini. Aku belum.”

“Aku berada dalam goa ini karena ijin yang memiliki,” potong orang itu. “Kau agaknya seorang penghuni gelap?”

Mahesa Jenar tertawa pendek. Ia merasa kehilangan jalan. Karena itu ia berdiam diri.

Suasana kemudian menjadi hening. Namun dalam keheningan itu, Mahesa Jenar tidak luput dari suatu keadaan yang sibuk. Sibuk berpikir dan menebak-nebak. Ia merasa bahwa pasti ada suatu maksud yang tersembunyi. Mungkin orang itu sudah tahu bahwa dialah sebenarnya yang
bernama Mahesa Jenar.

Tiba-tiba Mahesa Jenar bertanya menyentak, “Kau belum menjawab pertanyaanku, dari mana kau mendapat minyak goreng?”

Orang itu pun terkejut. Jawabnya, “Sudah aku katakan, dari cantrik padepokan Karang Tumaritis.”

“Kenapa kau bersembunyi dalam goa ini?” desak Mahesa Jenar cepat.

“Beberapa orang sakti mencari aku untuk membalas dendam,” jawabnya secepat pertanyaan Mahesa Jenar.

“Kau takut?” desak Mahesa Jenar pula.

“Tidak. Tetapi aku tidak akan mampu melawan mereka.”

“Bohong!” bentak Mahesa Jenar.

Orang itu terkejut. Pandangannya jadi semakin tajam.

“Kau sudah berada diantara mereka. Dan mereka tidak dapat menangkapmu.” potong Mahesa Jenar.

Tiba-tiba mata orang itu menjadi merah. Agaknya ia menjadi marah.

Tetapi Mahesa Jenar tidak peduli. Ia berkata terus, “Ada beberapa pertentangan dalam ocehanmu. Kau bersembunyi karena orang-orang sakti yang mengejarmu untuk membalas dendam, tetapi kau telah berada diantara mereka, dan mereka ternyata tak dapat berbuat sesuatu.

Kemudian kau katakan bahwa kau kehilangan muridmu di dalam goa ini, sedang agaknya kau mengenal segala lekuk-likunya, sehingga mustahillah bahwa kau tak dapat menemukannya. Ataupun kalau murid yang kau katakan itu hilang diluar goa ini, kau akan dapat minta tolong kepada Panembahan Ismaya dan cantrik-cantriknya untuk mencarinya. Nah, sekarang katakan kepadaku. Apakah maksudmu sebenarnya dengan mengaku bernama Mahesa Jenar, murid Ki Ageng Pengging Sepuh?”

 

309

ORANG itu menjadi semakin marah mendengar kata-kata Mahesa Jenar yang menghambur seperti bendungan pecah. Tetapi Mahesa Jenar masih belum berhenti, sambungnya, “Apalagi kau dapat berceritera tentang semua pengalaman dan peristiwa yang aku alami. Bahkan sampai pada ke persoalan hubungan antara aku dan orang-orang sakti yang mengejarku?”

Orang itu sudah tidak sabar lagi. Dengan kerasnya ia membentak, “Cukup!”.

Lalu tubuhnya menjadi gemetar, dan tiba-tiba ia meloncat berdiri.

Katanya melanjutkan dengan suara gemetar, “Kau memancing kemarahanku.

Aku sudah ingin menunda umurmu sampai besok. Tetapi ternyata kau ingin menyerahkannya sekarang. Berdirilah, dan jangan mati berpangku tangan.

Apakah kau akan membanggakan Sasra Birawa tiruan yang hanya mampu memecah batu itu. Itu hanyalah suatu pameran jasmaniah yang sama sekali tak berharga.”

Setelah itu ia mencari sebuah batu untuk menyandarkan obornya.

Kemudian sambil mempersiapkan diri ia berkata, “Marilah kita mulai. Jangan lewatkan waktu dengan sia-sia.”

Sekali lagi Mahesa Jenar terkejut bukan kepalang. Kalimat itu adalah kalimat yang sering diucapkan oleh gurunya pula. Sudah beberapa kali ia mendengar orang yang menamakan dirinya Mahesa Jenar itu pasti mempunyai hubungan dengan gurunya. Kalau tidak, tidak akan ia menyebut beberapa kata-kata yang bersamaan. Yang selalu ditujukan kepada dirinya dan saudara seperguruannya almarhum.

Sebelum ia menemukan suatu jawaban, terdengar orang itu berkata pula, “Berdirilah, dan pergunakan Sasra Birawa buatanmu yang tidak lebih dari sebuah pedang yang tumpul. Dengan pedang yang berat dan tumpul itu, kau dapat mematahkan besi gligen, dengan mengandalkan kekuatan jasmaniah. Tetapi kalau ada sehelai kapuk yang melayang-layang dibawa angin, pedangmu itu tidak akan berguna. Kau tidak akan mampu membelah helaian kapuk itu bagaimanapun kuatnya tenaga jasmanimu. Tetapi untuk memotongnya, kau perlukan sebuah pedang yang tidak perlu berat dan kuat, namun ia harus tajam setajam perasaanmu.”

Sekali lagi Mahesa Jenar tersentak. Kata-kata itu sama sekali bukan kata-kata seorang yang marah dan akan membunuhnya. Tetapi justru kata-kata yang sangat diperlukannya. Dengan mesu raga, ia sekarang mampu menangkap isi katakata itu. Bahkan justru sebagai penjelasan
atas perbedaan watak dari gerak-gerak wadagnya dan gerak-gerak dirinya yang dilihatnya di luar wadagnya. Tetapi sekali. Dua buah pedang yang berat, kuat namun tumpul, yang mampu memecah henda apapun, dan yang lain pedang yang ringan, tetapi bermata tajam. Hanya dengan pedang semacam itulah ia akan mampu memotong sehelai kapuk yang diterbangkan angin.

Apalagi di dalam kata-katanya, orang itu ternyata menganggapnya, betapa tajam perasaannya. Sehingga untuk memangkas kapuk yang diterbangkan angin diperlukan pedang setajam perasaannya. Sesaat kemudian kembali orang itu berkata, “Berdirilah, aku sudah hampir
mulai.”

Tetapi Mahesa Jenar tidak juga mau berdiri. Ditatapnya saja wajah orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu, seolah-olah sampai menembus ke dalam otaknya. Didalam cahaya obor yang masih menyala-nyala disamping mereka. Mahesa Jenar dapat melihat wajah itu dengan agak jelas. Kalau orang itu dihilangkan rambut-rambut yang melingkari mukanya, ia akan dapat memastikan, bahwa tak seorangpun akan mengenalnya sebagai Mahesa Jenar. Tetapi yang mengherankan, segala gerak, tingkah-laku serta setiap unsur gerak yang dilakukan
adalah tepat seperti yang dikenal dan dilakukannya. Bahkan tidaklah mungkin, bahwa secara kebetulan orang itu mengulang kata-kata gurunya sampai beberapa kali.

Karena itulah maka ia sampai pada suatu kesimpulan, bahwa orang itu pasti mempunyai hubungan dengan gurunya. Apapun sifatnya. Dengan demikian maka tidak sewajarnyalah kalau ia melawannya.

Bahkan ketika sekali lagi orang yang berdiri dihadapannya itu menyuruhnya berdiri, Mahesa Jenar menjawab, “Tidak. Aku lebih senang duduk menikmati makanan yang kau bawa.”

“Kau takut menghadapi kematian?” tanya orang itu.

“Sejak semula aku berkata, bahwa kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan,” jawab Mahesa Jenar.

“Kalau begitu kau menunggu apa lagi?” desak orang itu tidak sabar.

“Kau benar-benar mau berkelahi?” tanya Mahesa Jenar kemudian.

“Sebagaimana kau lihat. Aku sudah siap,” jawabnya.

“Aku tidak,” potong Mahesa Jenar.

“Kau takut?” sahut orang itu.

Mahesa Jenar menggeleng. Katanya, “Aku tidak takut. Tetapi aku tidak akan dapat menyamai kesaktianmu. Tidak ada gunanya.”

Mendengar jawaban itu, orang yang menamakan diri Mahesa Jenar itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Nah, kalau begitu kau mengaku sekarang, bahwa kau bukanlah Mahesa Jenar, murid Ki Ageng Pengging Sepuh. Sebab Mahesa Jenar bukanlah seorang pengecut.”

Siapa bilang?,” bantah Mahesa Jenar. “Aku tidak mengatakan bahwa aku bukan Mahesa Jenar. Tetapi bukan berarti bahwa di dunia ini tak ada seorangpun yang melampaui kesaktianku. Diantaranya kau.

 

310

Tiba-tiba orang itu jadi kesal sekali. Karena itu ia membentak, “aku akan membunuhmu. Melawan atau tidak melawan.”

Ki sanak,” jawab Mahesa Jenar dengan tenangnya. Agaknya ia sudah menemukan jalan untuk mendapatkan suatu ketegasan. “Aku mempunyai usul. Kenapa persoalan ini harus diselesaikan dengan sebuah perkelahian? Menurut katamu kau disembunyikan disini oleh seorang Panembahan sakti yang bernama Panembahan Ismaya. Akupun seharusnya berkata demikian pula kepadamu. Karena itu biarlah Panembahan itu yang memilih satu diantara kita, siapakah yang dianggapnya benar-benar Mahesa Jenar.”

“Tidak perlu pihak ketiga. Marilah kita selesaikan soal kita sendiri.”

Mendengar jawaban itu Mahesa Jenar tersenyum. Jawabnya, “aku makin yakin sekarang bahwa aku tidak perlu berkelahi. Sebab kau sama sekali tidak bermaksud bertempur untuk mempertahankan suatu kebenaran dan keyakinan, tetapi kau ingin bertempur karena nafsu ketamakanmu. Nafsu ingin mempertunjukkan kemenanganmu dan kesaktianmu.”

Omong kosong,” potong orang itu.

Aku menantangmu karena kau telah menamakan dirimu Mahesa Jenar. Bukankah dengan demikian kau meniadakan adaku sebagai Mahesa Jenar yang sebenarnya?.”

Sekali lagi Mahesa Jenar tersenyum. Ternyata karena keyakinan pada dirinya sudah bertambah sempurna sehingga ia tidak lagi bersikap menentang dan tidak lagi membiarkan perasaannya bergolak. Jawabnya, “kau menganggap dirimu Mahesa Jenar ?.

Aku tidak menganggap demikian,” bantah orang itu, “sebab aku memang demikian sebenarnya.

Kau dapat berkata demikian kepada orang lain, bahkan kepadaku. Kepada Mahesa Jenar murid Ki Ageng Pengging Sepuh, ” sahut Mahesa Jenar. “Tetapi dapatkan kau berkata demikian kepada dirimu sendiri. Kepada hatimu ?”

Orang itu tiba-tiba menjadi gelisah. tetapi ia diam saja.

Nah ki sanak. Sebenarnya kau tak usah mempersulit dirimu, ” sambung Mahesa Jenar. “Kau dapat berbuat sekehendakmu tanpa suatu kesaksianpun disini. Apakah kau menamakan dirimu Mahesa Jenar atau bukan dihadapanku, sesudah kau berhasil membunuhku, akibatnya akan sama saja.”

“Aku jadi yakin terhadap suatu kebenaran tentang dirimu,” tiba-tiba orang itu berkata. “bahwa otakmu memang tidak jelek.”

Sekali lagi Mahesa Jenar terguncang. Orang yang menamakan dirinya Mahesa Jenar itu sekali lagi membuat heran dengan kalimat kalimat yang pernah diucapkan gurunya. Sehingga dengan demikian Mahesa Jenar menjadi semakin yakin pula bahwa orang itu pasti mempunyai hubungan dengan gurunya. Karena itu ia tidak mau memperpanjang keadaan dalam belitan pertanyaan-pertanyaan.

Karena itu segera Mahesa Jenar memperbaiki duduknya menghadap kearah orang yang menamakan dirinya Mahesa Jenar, yang berdiri tegak dihadapannya. Dengan hidmadnya ia membungkuk hormat sambil berkata,” tuan, sudah beberapa kali aku mendengar tuan mengucapkan kalimat-kalimat yang sering diucapkan oleh almarhum guruku, ki Ageng Pengging Sepuh. Karena itu aku mengharap agar tuan tidak terlalu lama mengaduk otakku dengan teka-teki yang tuan berikan mengenai diri tuan.”

Orang itu memandang Mahesa Jenar dengan tajamnya. Tetapi mata itu makin lama semakin menjadi lunak. Dengan sebuah senyuman ia menjawab, “Jadi kau benar-benar percaya bahwa aku bernama Mahesa Jenar? Bukankah kau akui bahwa aku dapat menirukan beberapa kalimat yang pernah diucapkan oleh guruku ki Ageng Pengging Sepuh?.”

Maafkanlah,” jawab Mahesa Jenar, “bagaimana aku dapat percaya bahwa diriku dapat dipecah menjadi dua orang. Aku dan tuan. Tetapi bahwa tuan dapat menirukan kalimat-kalimat ki Ageng Pengging Sepuh, aku tidak akan membantah, karena itu aku ingin tuan memecahkan jawaban itu.”

Sekali lagi orang itu tersenyum. Lalu perlahan-lahan berjalan mendekap Mahesa Jenar.

Kalau kau tidak percaya bahwa aku Mahesa Jenar, lau siapakah aku menurut pendapatmu?,” katanya.

Aku tidak tahu,” jawab Mahesa Jenar.

Aku terlalu membiarkan perasaan marahmu menjalari otakmu, sehingga kau tidak dapat lagi melihat lebih saksama. Tetapi sekarang akgaknya kau telah berhasil mengendapkan diri, karena itu dengan gembira aku melihat, bahwa kau tidak lagi mudah dipaksa untuk berkelahi, tanpa tujuan.”

Mahesa Jenar. Tidakkah kau dapat mengingat-ingat lagi, siapakah yang memiliki ilmu Sasra Birawa di dunia ini ?”

Mahesa Jenar seperti terbangun dari mimpi yang membingungkan. Seharusnya sejak semula ia harus sudah mengingat-ingat hal itu. Dengan teliti ia mulai mengenangkan masa lampau. Suatu lingkungan kecil didalam padepokan di Pengging dimana ia bersama kakak seperguruannya menuntut ilmu jaya kawijayan dan kesaktian, sebagai bekal hidupnya kelak. Tetapi bagaimanapun ia mengingat-ingat, namun yang diingatnya hanyalah, didalam padepokan itu, kecuali dirinya dan almarhum Kebo Kenanga tidak ada seorang muridpun lagi.

Akhirnya ia mulai mengingat siapakah yang sering datang ke padepokan itu. Orang-orang lain yang mempunyai hubungan erat dengan gurunya. Tetapi gurunya sangat teliti, sehingga tidak mungkin ada orang lain yang dapat mencuri ilmu sakti tiu tanpa setahunya.

Tiba-tiba Mahesa Jenar tersentak. Ya, orang itu ada orang yang selalu datang ke padepokan itu melihat-lihat gurunya menurunkan ilmu kepadanya.

Karena ingatan itulah maka mata Mahesa Jenar menjadi berkilat-kilat. Sekali lagi ia membungkuk hormat. Katanya, ” Tuan, baru sekarang agaknya otakku dapat bekerja dengan baik. Perkenankanlah aku menebak siapakah sebenarnya tuan?.”

 

311
ORANG itu mengangguk. Kemudian katanya, “Kau telah berhasil mengingat kembali orang-orang yang memiliki aji Sasra Birawa?”

Sudah, Tuan,” jawab Mahesa Jenar,

“Pertama adalah guru. Kedua dan ketiga adalah murid-muridnya. Aku dan almarhum Ki Ageng Pengging, Ki Kebo Kenanga. Dan keempat adalah saudara muda seperguruan Guru, yang tidak lain adalah putra guru yang tua, kakak Ki Kebo Kenanga. Karena itu aku berani memastikan bahwa Tuan adalah orang yang keempat itu.”

Orang itu mengangguk-angguk. Sahutnya, “Ingatanmu masih baik kalau kau pergunakan. Ternyata kau menebak tepat.”

Sekali lagi Mahesa Jenar membungkuk hormat. Dengan hikmat ia berkata, “Maafkanlah kelancanganku. Sudah berapa puluh tahun Tuan meninggalkan kami sehingga aku tidak dapat mengenal Tuan kembali.”

“Tidak ada yang perlu aku maafkan. Semuanya memang aku kehendaki demikian,” jawab orang itu.

Mahesa Jenar tiba-tiba merasakan suatu yang bergelora didalam dadanya. Suatu campur baur dari bermacam-macam perasaan. Sedih, gembira, bangga, terharu. Lebih dari pada itu, ia beberapa kali mengucap syukur kepada Tuhan di dalam hatinya.

Dalam suatu saat yang tak disangka sangka, ia bertemu dengan putra gurunya yang tua, yang dalam perguruan menjadi adik seperguruan gurunya. Orang itu bernama Ki Kebo Kanigara, yang lenyap beberapa tahun sebelum gurunya meninggal. Dari gurunya ia pernah mendengar bahwa ilmu Ki Kebo Kanigara itu sama sekali tidak berada dibawah gurunya. Bahkan, karena kegemarannya mengembara, ia dapat menambah ilmu itu dengan bermacam-macam bentuk dan isi.

Sekarang ia bertemu dengan orang itu dalam suatu suasana yang seolah-olah mengandung pertentangan. Karena itu maka Mahesa Jenar bertanya seterusnya, “Kakang Kebo Kanigara, kalau sejak selama aku dapat berpikir dengan tenang, maka sejak semula aku tak akan berani melawan, meskipun aku tidak dapat mengerti maksud kakang dengan mempergunakan nama serta gelarku.”

Kebo Kanigara tersenyum. Lalu duduk disamping Mahesa Jenar. Dengan perlahan-lahan ia menjawab, “Mahesa Jenar, kalau kau mengenal aku sejak semula, maka keadaanmu akan berbeda pula. Apa yang kau capai selama beberapa hari ini, justru karena kau tidak mengenalku.”

Sadarlah Mahesa Jenar, bahwa Kebo Kanigara telah memaksa dengan caranya, supaya ia menekuni ilmunya lebih dalam lagi. Tetapi meskipun demikian ia masih bertanya, “Kakang, bukankah Kakang dapat menuntun aku tanpa teka-teki yang hampir memecahkan kepalaku itu.”

Sekali lagi Kebo Kanigara tersenyum. Jawabnya, “Dengan demikian keprihatinanmu akan jauh berbeda. Kau akan mendalami ilmumu dengan tahap-tahap yang biasa. Tetapi, dengan keadaanmu seperti yang kau alami, kau benar-benar membanting tulang untuk memperdalam ilmu itu. Justru dengan demikian kau benar-benar telah menemukan sarinya dalam waktu yang singkat.”

Tetapi Kakang…” bertanya pula Mahesa Jenar, “Dari mana Kakang dapat mengetahui semua keadaan yang pernah aku alami. Bagaimana Kakang tahu bahwa Panembahan Ismaya telah menyembunyikan aku di sini, dan bagaimana Kakang dapat mengenal hampir setiap orang yang pernah aku kenal pula?”

Kebo Kanigara mengerutkan keningnya. Ia tampak ragu-ragu. Namun kemudian ia menjawab pula, “Mahesa Jenar… ketahuilah bahwa aku memang merupakan salah seorang dari penghuni padepokan ini. Apa yang aku lakukan semuanya atas ijin Panembahan. Dan dari Panembahan pula aku mendapatkan beberapa petunjuk tentang kau.”

“Siapakah sebenarnya Panembahan Ismaya itu?” tanya Mahesa Jenar.

Kebo Kanigara menarik nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Jawabnya, “Pertanyaanmu aneh Mahesa Jenar. Kau bertanya tentang seseorang yang telah kau sebut namanya. Bukankah ia Panembahan Ismaya. Panembahan sakti yang mengepalai padepokan Karang Tumaritis ini?”

Dari jawaban itu Mahesa Jenar dapat mengetahui bahwa ada sesuatu yang tersembunyi, yang tak seorangpun boleh mengetahui. Karena itu ia tidak bertanya lebih lanjut. Tetapi ia bertekad untuk pada suatu waktu dapat mengetahuinya pula, siapakah sebenarnya orang tua yang seolah-olah
telah menyisihkan diri dari dunia ramai itu.

Kakang…” Mahesa Jenar memulai lagi, “Kalau demikian, di manakah muridku Kakang sembunyikan?”

Kebo Kanigara tertawa. Lunak dan perlahan-lahan. Jawabnya, “Benarkah kau bertanya tentang muridmu?”

Mahesa Jenar menjadi heran. Sambil mengangguk-angguk ia menegaskan, “Ya Kakang. Aku bertanya tentang muridku?”

Sesudah itu kau pasti akan menanyakan seorang lagi kepadaku,” sahut Kebo Kanigara sambil tersenyum. “Malahan barangkali yang lebih penting bagimu.

Ah,” desis Mahesa Jenar. Tetapi ia tidak melanjutkan kata-katanya.

Sekali lagi Kebo Kanigara tertawa lunak dan perlahan-lahan. Tetapi ia tidak melanjutkan pertanyaannya.

Kemudian Mahesa Jenar berkata untuk mengalihkan pembicaraan, “Kakang, apakah menurut pendapat kakang Kanigara, ilmuku telah meningkat selama ini?”

Kau telah merasakannya sendiri,” jawab Kebo Kanigara.

“Tetapi menurut penilaianku, kau telah memenuhi harapanku. Sebab menurut pendapatku, supaya Perguruan Pengging tidak menjadi semakin pudar, maka murid-muridnya harus dapat selalu melampaui ilmu gurunya. Demikian berturut-turut. Dan sekarang kau telah mendapatkan itu.”

Kalau ada guntur menggelegar di telinganya, Mahesa Jenar tidak akan terkejut seperti saat itu. Memang ia telah merasakan sesuatu perkembangan yang menggembirakan dalam latihan-latihan yang dilakukan selama ini dengan tekunnya. Tetapi ketika ia mendengar pernyataan Kebo Kanigara, Saudara muda seperguruan gurunya, yang memiliki ilmu lebih sempurna dari gurunya sendiri, mengatakan, bahwa ia telah dapat menyamai kesaktian almarhum gurunya.

 

312

”KAKANG berkata sebenarnya?” tanya Mahesa Jenar dengan nada kurang percaya.

Kebo Kanigara tersenyum. Jawabnya, ”Aku berkata sebenarnya. Dan aku telah mencobanya. Juga terhadap gurumu, ayah Pengging Sepuhpun aku pernah mencoba ilmunya, khusus Sasra Birawa, dan memperbandingkan dengan kekuatan ilmu yang aku miliki.

Mahesa Jenar menjadi terdiam oleh perasaan yang bergulat di dalam dadanya. Ia tiba-tiba menjadi sangat bergembira. Tetapi hanya sesaat.

Sesaat kemudian, ia telah memanjatkan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pencipta Alam yang telah menunjukkan jalan kepadanya lewat adik seperguruan gurunya. Dan karena itu pulalah hatinya menjadi tenang. Setenang air telaga yang tidak dapat dijajagi seberapa dalamnya.

Untuk beberapa lama ruangan itu dikuasai oleh keheningan Lampu obor yang menyala-nyala dengan lincahnya, melemparkan sinarnya yang seolah-olah menari di dinding goa itu. Mahesa Jenar yang masih hanyut dalam angan-angan duduk sambil menundukkan kepala. Di dalam hatinya, terucapkanlah sebuah janji, bahwa dengan kematangan yang dicapainya, ia harus lebih banyak menyerahkan darma baktinya untuk manusia dan kemanusiaan, untuk tanah dimana ia dilahirkan dan untuk bangsa yang hidup diatasnya. Dan sekaligus ia berjanji di dalam hatinya itu, bahwa dengan segenap kemampuan yang telah dimiliki itu, ia harus menumpas segala kejahatan dan pelanggaran atas keharusan dalam hidup bernegara dan bertata masyarakat. Sehingga terpancarlah api cinta sejati di atas bumi.

Kemudian angan-angannya itu dipecahkan oleh suara Kebo Kanigara, ”Mahesa Jenar… sekarang sudah sampai waktumu untuk meninggalkan ruang samadimu ini. Biarlah patung batu itu tinggal sendiri, menjadi saksi bisu atas apa yang pernah terjadi di sini.”

Mahesa Jenar mengangguk satu kali. Kemudian perlahan-lahan ia berdiri dan memandang patung batu itu dengan tajamnya. Kebo Kanigara pun kemudian berdiri.

Marilah…” katanya, ”Ikutilah aku. Sekarang kau tak usah marah lagi. Aku akan membawa obor ini, supaya kau tak kehilangan jalan.”

Mahesa Jenar mengikuti Kebo Kanigara itu dengan langkah yang berat.

Seolah-olah ia segan meninggalkan patung batu itu kesepian. Tetapi ia tidak berkata sepatah pun. Karena Mahesa Jenar tidak menjawab, Kebo Kanigara meneruskan, ”Mau kau apakan patung batu itu…? Ia tidak bersedih hati kau tinggalkan di ruangan ini.”

Mahesa Jenar tersenyum dan melangkah mengikuti Kebo Kanigara meninggalkan ruangan itu.

Mahesa Jenar…” kata Kebo Kanigara kemudian sambil berjalan menyusur goa yang memiliki beratus-ratus cabang yang membingungkan itu, ”Ada beberapa maksud, karena aku terpaksa mempergunakan nama serta gelarmu.

Pertama-tama seperti yang telah aku katakan kepadamu. Kedua, aku ingin seseorang tidak merasa berhutang budi kepada orang lain kecuali kepada Mahesa Jenar.”

Kali ini benar-benar Mahesa Jenar tidak dapat menjawab. Sampai Kebo Kanigara meneruskan,

Untunglah bahwa aku dapat meyakinkan diriku bahwa aku benar-benar bukan orang yang bernama Mahesa Jenar.”

Nanti akan diketahuinya pula Kakang,” jawab Mahesa Jenar kemudian,
Bahwa bukan Mahesa Jenar yang sebenarnyalah yang telah berbuat jasa itu.”

Jangan Mahesa Jenar,” sela Kebo Kanigara, ”Aku telah bersusah payah berperan sebaik-baiknya sebagai Mahesa Jenar.”

Tetapi bagaimanapun juga orang akan tahu juga, bahwa yang telah melakukan suatu perbuatan yang dahsyat itu pasti bukan aku,” jawab Mahesa Jenar pula. ”Sebab Kakang Kebu Kanigara telah menggunakan sekian banyak orang. Apakah aku dapat melakukan pekerjaan seperti
itu?”

”Kau masih belum dapat mengerti tentang dirimu sendiri,” sahut Kebu Kanigara.

”Dengan samadimu itu, kau akan mampu melakukan apa yang dilakukan olehku dalam perananku sebagai Mahesa Jenar. Juga terhadap Bugel Kaliki dan Sima Rodra, kau sekarang tidak berada di bawahnya.”

Sekali lagi dada Mahesa Jenar bergetar. Dan sekali lagi hatinya berjanji untuk membinasakan orang-orang itu.

Tiba-tiba Mahesa Jenar teringat kepada muridnya. Apakah kira-kira yang telah dilakukannya selama ini. Maka bertanyalah ia, ”Kakang Kebo Kanigara. Lalu bagaimanakah keadaan muridku?”

”Agaknya kau benar-benar sayang kepada anak itu,” jawab Kebo Kanigara.

Aku tidak tanggung-tanggung dalam perananku.” Ia meneruskan, ”Juga terhadap muridmu aku telah memaksanya untuk meningkatkan ilmunya dengan cara yang pernah aku tempuh.”

”Cara yang pernah Kakang tempuh?” ulang Mahesa Jenar dengan herannya.

Adakah Kakang pernah bertemu dengan anak itu?”

Kebo Kanigara tertawa pendek. ”Pernah,” jawabnya. ”Aku selalu bertemu dengan anak itu di mana-mana. Karena itu aku banyak mengetahui tentang kau dan muridmu. Dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk dari Panembahan Ismaya.”

Dalam pada itu tiba-tiba Mahesa Jenar teringat akan peristiwa-peristiwa yang pernah disaksikan atas muridnya. Maka dibayangkanlah bentuk orang yang pernah melakukan perbuatan perbuatan aneh di pantai Tegal Arang. Seorang yang mempergunakan 6 wajah, menyerang muridnya setiap malam berturut-turut. Orang itu bertubuh besar dan kekar. Dan sekarang orang yang berjalan di hadapannya itu pun bertubuh besar dan kekar.

Kakang…” seru Mahesa Jenar sesaat kemudian. ”Aku sekarang berani memastikan bahwa Kakang telah menolong muridku untuk suatu loncatan yang tingkatan ilmunya di pantai Tegal Arang dengan cara kakang yang aneh.”

 

313
TERDENGAR Kebo Kanigara tertawa pendek. Jawabnya, “Aku tidak telaten melihat anak itu maju setapak demi setapak. Sejak aku dengar kabar bahwa ayah Handayaningrat meninggal dunia, aku jadi gelisah. Jangan-jangan tak seorang pun yang akan mewarisi dari perguruan Pengging. Karena adi Kebo Kenanga meninggal pula, maka satu-satunya yang ada adalah kau. Kemudian kaupun menghilang. Mati-matian aku mencarimu. Dan akhirnya aku ketemukan kau. Malahan kau telah mempunyai seorang murid yang berbakat baik. Tetapi kau pergunakan cara-cara ayah Pengging Sepuh untuk meningkatkan ilmu muridmu. Selangkah kecil demi selangkah kecil. Maka akupun berusaha membantumu dengan caraku.”

“Kakang…” sahut Mahesa Jenar. “Sudah sewajarnyalah kalau aku mengucapkan beribu-ribu terima kasih.”

“Jangan katakan itu,” potong Kebo Kanigara. “Kewajibanmu dan kewajibanku dalam hal ini tidak ada bedanya. Juga kali ini terhadap muridmu itu aku isikan ilmu dari perguruan Pengging. Berurutan seperti rencana yang akan kau berikan. Hanya caraku berbeda dengan caramu.”

Mendengar keterangan Kebo Kanigara, Mahesa Jenar berdiam diri. Ia sekarang, barangkali setelah mempelajari ilmunya lebih tekun dengan suatu cara yang tidak direncanakannya lebih dahulu, tidak akan lagi mengajari muridnya dengan cara yang pernah dilakukan sebelumnya. Di mana muridnya harus menerima pelajaran setingkat demi setingkat tanpa mengikutsertakan kemampuan daya cipta muridnya itu sendiri.

“Mahesa Jenar…” kata Kebo Kanigara kemudian, “Marilah kita melihat muridmu itu berlatih. Aku telah minta kepada seseorang untuk meneternya dan memperbandingkan dengan ilmu perguruan lain.”

“Ilmu perguruan lain?” ulang Mahesa Jenar keheran-heranan. “Adakah seseorang di sini dan perguruan lain?”

“Akan kau lihat nanti,” jawab Kebo Kanigara. “Aku telah melakukan apa saja yang mungkin atas muridmu itu dalam masa pembajaan dirinya. Aku sendiri suatu waktu datang melawannya. Dan pada saat lain aku datang sebagai gurunya, Mahesa Jenar, untuk memberinya petunjuk petunjuk. Kadang kadang aku hadapkan Arya Salaka dengan ilmu dari perguruan lain.”

Mahesa Jenar tidak menjawab lagi. Tiba-tiba saja ia menjadi rindu sekali kepada satu-satunya murid yang telah dibawanya menjelajah daerah daerah serta mengalami kesukaran lahir dan batin. Dalam hatinya ia mengucapkan terima kasih tak habis-habisnya kepada Kebo Kanigara yang telah membantu mematangkan ilmu muridnya. Dengan demikian ia mengharap seorang yang tidak kalah saktinya, Ki Ageng Sora Dipayana dari Banyubiru.

Setelah Mahesa Jenar mengikuti Kebo Kanigara menempuh jalan yang berliku-liku, maka sampailah mereka kepada satu gang yang menuju ke dalam sebuah ruang yang agak luas seperti ruang yang dipergunakan untuk mengurung Mahesa Jenar. Dalam pada itu Kebo Kanigara berbisik, “Mahesa Jenar, ingat muridmu selama ini belum pernah terpisah dari gurunya.”

“Lalu apa yang pernah dilakukan oleh gurunya?” tanya Mahesa Jenar.

“Melatihnya dan menurunkan segala sifat-sifat keluhuran budi dan kepahlawanan. Gurunya telah mengatakan kepada anak itu bahwa dalam masa-masa yang dekat, harus sudah menurunkan api kejantanan dan kesetiaan pada janji seorang ksatria, supaya api yang menyala didalam dada angkatan tua itu tidak padam kehabisan minyak. Sebab apabila datang waktunya kita meninggalkan mereka, api itu harus sudah mereka miliki. Bahkan harus berkobar lebih hebat dari semula.”

Mahesa Jenar benar-benar tersentuh hatinya mendengar ucapan itu. Karena iapun tak akan berbuat lain daripada itu.

“Kakang…” tanya Mahesa Jenar pula, “Tidakkah anak itu mengenal Kakang bukan sebagai gurunya?”

“Tidak Mahesa Jenar,” jawab Kebo Kanigara, “Aku selalu datang padanya, apabila ruangan itu sudah mulai gelap. Aku tidak pernah membawa obor yang cukup menerangi ruangan itu.

Disamping itu aku jarang-jarang sekali bercakap-cakap dengan anak itu. Aku paksa ia bekerja keras untuk mendalami ilmunya. Nah sekarang kaupun telah memiliki rambut yang memenuhi mukamu. Aku mengharap bahwa Arya Salaka tidak sempat membeda-bedakan antara kita. Hanya mungkin aku agak lebih kasar daripadamu.”

“Mungkin ada juga terselip beberapa pertanyaan dalam hatinya,” kata Mahesa Jenar kemudian,

“Karena perbedaan sifat dan cara dari apa yang pernah aku berikan kepadanya.”

“Mahesa Jenar…” Kebo Kanigara meneruskan, “Sebelumnya baiklah kita tunggu sampai esok. Lihatlah bagaimana ia berlatih dengan seseorang dari perguruan lain didalam ruangan itu. Aku sudah menyuruhnya tinggal di situ terus menerus sampai aku, Mahesa Jenar, membawanya keluar.”

Bagaimanapun mendesaknya keinginan Mahesa Jenar untuk bertemu dengan muridnya, namun ia harus menyabarkannya sampai esok. Tetapi hari esok itu tidak akan terlalu lama datang.

Meskipun demikian, Mahesa Jenar merasa bahwa ia telah menunggu terlalu lama. Agaknya matahari menjadi bertambah malas, sehingga agak kesiangan terbit. Namun lambat laun, terasalah bahwa fajar telah pecah di timur. Selama itu ia mengisi waktunya dengan mendengarkan ceritera Kebo Kanigara tentang muridnya, dan tentang peranannya sebagai Mahesa Jenar.

“Ingat Mahesa Jenar…” kata Kebo Kanigara, “Kau waktu itu marah kepada muridmu, karena ia kehilangan jalan. Seharusnya ia dapat berjalan lebih cepat di belakangmu. Karena itulah maka kau kurung muridmu dalam ruangan itu untuk dengan keras berusaha membajakan diri. Ternyata muridmu adalah seorang murid yang patuh. Ia tidak pernah mengeluh, meskipun kadang-kadang ia berlatih sampai hampir pingsan. Kaulah yang membawa makan dan minumnya. Disamping itu, satu halyang penting dan seharusnya akuminta maaf kepadamu bahwa Arya Salaka telah menerima dasar – dasar ilmu khusus perguruan Pengging, Sasra Birawa”.

314

MAHESA JENAR terkejut mendengar ceritera itu. Karena itu ia bertanya, Adakah anak sebesar Arya Salaka telah cukup kuat untuk memiliki aji itu?

Muridmu luar biasa, jawab Kebo Kanigara. Memang aku kira akibatnya akan tidak baik kalau kau dalam tingkat sebelum samadimu, memberikan ilmu itu kepadanya. Tetapi sekarang tidak. Juga aku merasa tidak. Apalagi ketika aku tunjukkan bagaimana ia harus mengatur pernafasan, pemusatan pikiran dan tenaga, aku jadi yakin bahwa mungkin ia mempunyai bakat lebih baik daripada kita.
Nah, sekarang kau telah menyadari kematanganmu. Aku harap kau lanjutkan dasar-dasar ilmu Sasra Birawa. Meskipun dalam pelaksanaannya barulah dalam tingkat kekuatan lahiriah saja.

Itu sudah cukup Kakang, sela Mahesa Jenar, Sudah terlalu banyak bagi seorang anak-anak sebesar Arya Salaka yang baru berumur lebih kurang 16 sampai 17 tahun itu. Bukankah kecuali persiapan jasmaniah diperlukan pula persiapan rokhaniah, supaya tidak ada penyalahgunaan di kemudian hari.
Kebo Kanigara tersenyum mendengar pendapat Mahesa Jenar. Kau benar-benar seorang yang teliti terhadap segala akibat dari suatu perbuatan. Tetapi khusus muridmu itu, aku kira ia telah cukup mempunyai persiapan lahir batin.
Mungkin karena pengalaman-pengalamannya serta tekanan-tekanan yang dialami dalam usianya yang masih muda itu, ia menjadi agak terlampau cepat masak.

Mahesa Jenar mengangguk membenarkan. Memang pengaruh penghidupan yang dialami, sangat terasa pula kematangan jiwa muridnya. Ia dapat berpikir hampir seperti seorang dewasa dengan menanggapi suatu kejadian,  karena itulah maka tiba-tiba timbul pulalah rasa ibanya terhadap Arya Salaka yang seakan-akan telah kehilangan sebagian dari tataran hidupnya, sebagian dari masa mudanya.

Ketika itu terasalah bahwa pagi telah datang. Obor yang dibawa oleh Kebo Kanigara telah lama padam. Kemudian mereka melanjutkan menyusur lubang-lubang gua itu mendekati ruang tempat Arya berlatih. Dari sebuah lubang mereka dapat mengintip ke dalam ruangan itu. Dari sanalah Mahesa Jenar itu melihat muridnya. Yang mula-mula memukul dadanya adalah suatu perasaan haru ketika ia melihat Arya Salaka menjadi kurus dan pucat. Tetapi kemudian ia tersenyum. Juga senyum haru. Disamping Arya Salaka ia melihat seorang pemuda yang gagah, berwajah bening dan berdada bidang.

Ia adalah Putut Karang Tunggal yang agaknya menemani Arya Salaka. Kalau bukan aku dalam perananku sebagai Mahesa Jenar, anak itulah yang membawa makanan untuk Arya, bisik Kebo Kanigara.

Mahesa Jenar jadi bergembira ketika ia melihat muridnya bersahabat dengan Putut yang mengepalai para cantrik itu.

Mereka berdua mempunyai banyak persamaan, bisik Kebo Kanigara lebih lanjut,  Keduanya tabah dan penuh semangat. Karena itu mereka tekun berlatih bersama.

Berlatih bersama…? ulang Mahesa Jenar terkejut, Jadi Putut Karang Tunggal juga memiliki ilmu yang cukup tinggi?

Kebo Kanigara mengangguk.

Aku tidak mengira. Ia terlalu halus dan sopan. Muridku adalah seorang anak yang biasa hidup dalam pergaulan yang kasar. Diantara para petani dan nelayan, sambung Mahesa Jenar.

Kebo Kanigara tersenyum aneh. Tetapi karena itulah muridmu menjadi seorang anak yang jujur, yang tidak memandang setiap persoalan dengan berbelit-belit, sahut Kebo Kanigara.

Nah, tunggu sebentar… ia melanjutkan, Mereka pasti sedang mempersiapkan diri untuk berlatih bersama. Aku mengijinkan Arya Salaka melakukan tanpa pengawasanku. Dan kepada Putut Karang Tunggal itu pun aku pesankan agar tidak mengatakan kepada Arya Salaka siapakah aku sebenarnya.

Mahesa Jenar kemudian berdiam diri. Ia memang mengharap untuk menyaksikan muridnya berlatih. Ia ingin mengetahui sampai dimana sekarang tingkat kepandaiannya.

Hal itu perlu pula untuk menghilangkan kesan-kesan yang mungkin timbul, apabila ia telah kembali kepada anak itu sebagai seorang guru yang pernah diantarai oleh orang lain tanpa setahu anak itu sendiri.

Benarlah apa yang dikatakan oleh Kebo Kanigara. Sesaat kemudian ia melihat Arya dan Putut Karang Tunggal mempersiapkan dirinya untuk memulai dengan latihan-latihan yang berat yang mereka lakukan hampir setiap hari.

Melihat langkah Arya yang sedang pergi ke tengah ruangan itupun Mahesa Jenar telah merasakan betapa perubahan yang terjadi pada muridnya, sehingga ia semakin lekas ingin mengetahui, gerakan-gerakan yang akan dilakukan.

Kemudian setelah mereka masing-masing bersiap, maka latihan itupun dibuka dengan sebuah serangan yang mengejutkan dari Putut Karang Tunggal. Mahesa Jenar sendiri menjadi terkejut pula. Ia sama sekali tidak mengira bahwa anak yang halus, sopan dan sama sekali tidak menunjukkan kekasaran jasmaniah itu dapat berbuat sedemikian.

Tetapi yang lebih mengejutkan lagi adalah Arya Salaka. Ia dengan tangkasnya dapat mengelakkan serangan itu, bahkan dengan suatu gerak yang sangat lincah ia sudah memulai dengan serangannya.

Demikian latihan itu semakin lama menjadi semakin cepat. Selangkah demi selangkah mereka bergeser dari satu titik ke titik yang lain memenuhi ruangan itu.

Dalam pada itu, terjadilah gelora di dalam dada Mahesa Jenar. Ia sama sekali tidak menduga bahwa anak muridnya dapat mencapai tingkat yang sedemikian dalam waktu yang singkat. Perasaan bangga dan gembira berputar-putar di seluruh rongga dadanya.

315

MURIDNYA itu kini benar-benar merupakan banteng muda yang tangkas dan kuat. Sepasang kakinya yang cepat itu, suatu waktu dapat tegak diatas tanah bagaikan tonggak besi yang tak tergerakkan. Tangannya yang hanya sepasang itu tampak bergerak dengan cepatnya, melingkar-lingkar dan mematuk-matuk dengan dahsyatnya. Tetapi lawannya berlatih bukan pula anak kemarin sore. Iapun telah menguasai ilmunya hampir sempurna. Karena itu maka latihan itu berlangsung dengan serunya. Mereka masing-masing mempunyai kekuatan dalam bentuknya masing-masing. Arya Salaka ternyata tangguh bukan main. Tubuhnya cukup kuat dan setiap gerakannya menimbulkan desir dalam dada Mahesa Jenar.

Sedangkan Putut Karang Tunggal sangat mencengangkannya. Gerakannya semakin lama menjadi semakin lincah dan cepat. Bahkan kemudian tubuhnya menjadi seakan-akan sangat ringan dan sekali-sekali seperti terbang ia meloncat-loncat membingungkan. Namun Arya Salaka dapat menanggapinya dengan baik. Iapun menjadi seolah-olah memiliki beberapa pasang mata yang terserak-serak di tubuhnya, sehingga kemana bayangan itu melontar, ia selalu dapat melihatnya dan segera menghadapinya.

Dalam pada itu, semakin lama Mahesa Jenar dapat semakin melihat jelas kekuatan-kekuatan yang tersimpan pada setiap gerak kedua anak muda itu. Bagi Arya Salaka ia hanya dapat berbangga hati, sebab setiap geraknya adalah gerak-gerak dari perguruan Pengging ditambah dengan segala macam pengalaman Arya Salaka yang dipetiknya dari gerak-gerak alam yang pernah ditekuni bersama, yang dapat disusunnya sendiri dalam satu senyawa yang serasi. Tetapi yang semakin mengetuk-ngetuk hatinya adalah setiap gerakan Putut Karang Tunggal yang cepat lincah itu.

Tiba-tiba Mahesa Jenar seolah-olah melihat kedua anak muda yang sedang berlatih itu seperti pernah terjadi belasan tahun yang lalu. Meskipun tidak tepat benar, namun ia pernah menyaksikan ilmu yang dimiliki oleh Putut Karang Tunggal itu. Akhirnya ketika ia menjadi semakin jelas, tergetarlah tubuhnya. Hampir saja ia berteriak menyebutkan sebuah nama, kalau ia tidak segera teringat bahwa pada saat itu ia masih belum waktunya menampakkan diri.

Namun bagaimanapun juga ia merasa bahwa kedua anak muda itu berlatih mirip seperti dirinya sendiri berlatih bersama sahabatnya pada waktu mudanya, Mahesa Jenar dan Sela Enom. Dan pada saat itulah ia mendapat kepastian bahwa anak yang menamakan diri Putut Karang Tunggal itu pasti ada sangkut pautnya dengan Ki Ageng Sela Enom yang pada masa kanak-kanaknya bernama Anis. Tetapi menilik kedahsyatannya maka ia tidak yakin bahwa anak itu adalah murid Ki Ageng Sela. Sebab bagaimana tingginya ilmu Ki Ageng Sela itu, namun ia pasti tidak akan mampu membentuk Putut Karang Tunggal sampai menjadi anak yang sedemikian mencengangkan.

Karena itu Mahesa Jenar tidak mau berteka-teki lagi. Akhirnya iapun bertanya kepada Kebo Kanigara, Kakang, siapakah sebenarnya Karang Tunggal itu?

Kebo Kanigara tersenyum, jawabnya perlahan-lahan, Adakah sesuatu yang kau lihat padanya?

Ya, sambung Mahesa Jenar. Aku melihat perguruan Sela ada padanya.

Tepat, jawab Kebo Kanigara. Ia adalah murid Ki Ageng Sela.

Mahesa Jenar menarik nafasnya. Namun ia masih bertanya lagi, Adakah Ki Ageng Sela mampu membentuk Karang Tunggal menjadi sedemikian mengagumkan?

Ki Ageng Sela yang mana yang kau tanyakan, sahut Kebo Kanigara. Kalau yang kau maksud Sela Enom, maka kau benar, meskipun Sela Enom itupun sekarang telah mampu melakukan hampir seperti apa yang pernah dilakukan oleh ayahnya.

Menangkap petir, potong Mahesa Jenar.

Kebo Kanigara tertawa perlahan. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, Bukankah ceritera tentang kecakapan menangkap petir itu sudah dimiliki oleh Sela Enom sejak mudanya? Agaknya bakat turun tumurun itu tidak perlu dipelajarinya terlalu lama.

Mahesa Jenarpun tersenyum pula mendengar jawaban itu.

Tidak hanya itu… Kebo Kanigara meneruskan, Tetapi berbagai ilmu yang lain. Ia memiliki kedahsyatan tangan seperti yang dipancarkan oleh Sasra Birawa. Ki Ageng Sela menamakannya aji Narantaka.

Agaknya ia mengagumi tokoh Gatutkaca, potong Mahesa Jenar.
Mungkin, jawab Kebo Kanigara.

Kemudian mereka berdiam diri. Arya Salaka dan Putut Karang Tunggal masih sibuk berlatih. Agaknya latihan-latihan serupa itu telah sering dilakukan sehingga bagaimanapun hebatnya, namun tidaklah sangat berbahaya.

Ketika matahari telah tegak di langit, agaknya kedua anak muda itu merasa telah cukup lama berlatih. Karena itu, terdengar Putut Karang Tunggal bersiul nyaring, dan berloncatanlah mereka surut. Meskipun tubuh masing-masing dibasahi oleh peluh yang mengalir deras sekali, namun wajah-wajah mereka menunjukkan kegembiraan.

Dalam pada itu, sekali lagi terdengar Mahesa Jenar bertanya, Kakang Kanigara. Siapakah sebenarnya Karang Tunggal itu? Bagaimanapun juga aku masih melihat beberapa kelebihan yang dimilikinya daripada Arya Salaka.

Untuk beberapa lama Kebo Kanigara tidak menjawab. Ia agaknya menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian terdengar Mahesa Jenar mendesak, Aku merasa bahwa anak itu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh anak muda pada umumnya. Cahaya wajahnya yang terang seperti memancarkan wibawa yang mengagumkan.

Ia juga murid Ki Ageng Sela Sepuh, jawab Kanigara.

Aku sudah mengira, sahut Mahesa Jenar, Tetapi siapakah dia?

Putut Karang Tunggal, jawab Kanigara pula sambil tersenyum.

Akh…! desis Mahesa Jenar. Kakang Kanigara memang mempunyai kegemaran berteka-teki. Tetapi teka-teki yang pertama telah aku tebak dengan tepat. Sekarang aku menyerah. Sebab pada saat aku meninggalkan Demak, aku tidak sempat menanyakan kepada Nis Sela, apakah ia mempunyai murid yang sekaligus menjadi adik seperguruan.     

 

316
MAHESA JENAR… bisik Kebo Kanigara bersungguh-sungguh, Kau pasti pernah mengenal anak itu. Bukankah sepeninggal Adi Kebo Kenanga kau masih beberapa tahun lagi tinggal di Demak, sebelum keadaan memburuk?

Mahesa Jenar mengangguk.

Kalau demikian kau pasti mengenalnya, sambung Kebo Kanigara. Anak itu adalah anak yang aneh. Sebenarnya ia tidak betah untuk tinggal terlalu lama di sesuatu tempat. Ia datang berguru hanya apabila ia inginkan. Ia datang sewaktu-waktu tanpa aturan. Meskipun demikian kecerdasannya sangat mengagumkan. Ia dapat menguasai segala ilmu hanya dalam waktu yang sangat singkat. Sepersepuluh dari waktu yang diperlukan oleh anak-anak muda yang lain. Bahkan kurang dari itu.
Ia datang kemari mencari aku, untuk minta diri. Ia mendapat nasehat dari seorang Wali yang terkemuka untuk mengabdikan diri di Kraton Demak, ketika Wali itu melihatnya menunggui padi gaga di ladang.

Seorang Wali? tanya Mahesa Jenar. Siapakah dia?

Seorang yang bertubuh tinggi besar, berikat kepala Wulung dan berbaju Wulung pula, jawab Kebo Kanigara.

Sunan Kali Jaga…? gumam Mahesa Jenar.

Ya, Kebo Kanigara menegaskan. Ia baru saja datang dari Pamancingan di Pantai Selatan menuju ke Demak. Pada saat itulah ia berkata kepada Putut itu, Hai anak yang mendapat anugerah Allah. Pulanglah dan pergilah ke Demak. Jangan asyik menunggui pagagan, sebab kelak kau akan menduduki tahta. Demikian nasehat Sunan Kali. Dan agaknya anak itu akan mencoba memenuhinya. Ia datang untuk minta diri kepadaku, dan sekedar menambah bekal bagi masa depannya.

Dada Mahesa Jenar berdebar-debar mendengar ceritera itu. Seorang yang diramalkan untuk memegang tahta.

Adakah ia mempunyai hubungan dengan Kakang Kanigara? tanya Mahesa Jenar pula.

Ada, jawab Kanigara. Dan barangkali aku belum menyebutkan hubungan itu. Ia adalah putra Adi Kebo Kenanga.

He… Mahesa Jenar terkejut. Putra Kakang Kebo Kenanga. Adakah dia Si Karebet yang nakal itu.

Kebo Kanigara mengangguk.

Karebet yang kemudian dikenal bernama Jaka Tingkir setelah ia dipelihara oleh Nyai Ageng Tingkir, kakak perempuan Nyai Kebo Kenanga.

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Tanpa disangka-sangka sebelumnya ia akan dapat bertemu dengan anak kakak seperguruannya. Yang bahkan oleh seorang Wali yang terkenal diramalkan untuk menjadi raja.

Nah, Kakang… kata Mahesa Jenar kemudian, Marilah kita temui mereka.

Kebo Kanigara menggeleng.

Tidak mungkin… jawabnya. Muridmu akan menjadi heran melihat ada dua orang yang menamakan diri Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar tertegun.

Lalu bagaimana? ia bertanya.

Dan ingat, kau harus membersihkan janggut dan kumismu di hadapan anak itu, supaya ia mendapatkan wajah Mahesa Jenar yang sebenarnya tanpa curiga. Akupun akan berbuat demikian. Tentu saja di tempat lain. Sehingga apabila aku kemudian bertemu dengan anak itu, ia tidak akan mengenal aku lagi.

Sekali lagi Mahesa Jenar terpaksa tersenyum, meskipun ia sebenarnya ingin segera dapat menemui kedua anak muda itu. Namun bagaimanapun ia terpaksa menuruti nasehat Kebo Kanigara.

Sehari itu Mahesa Jenar menunggu saja. Matahari di langit rasanya berjalan sangat lambatnya. Seolah-olah dengan segannya mengarungi langit menurut garis edarnya. Lingkaran-lingkaran cahayanya yang menembus lubang-lubang di atas ruang itu dengan lesunya berjalan ke arah yang berlawanan.

Ketika matahari telah condong, Putut Karang Tunggal meninggalkan Arya Salaka seorang diri.
Anak itu oleh gurunya, yang sebenarnya adalah Kebo Kanigara, dilarang meninggalkan ruangan itu, sebagai suatu cara berprihatin. Dan apa yang dicapainya adalah sangat menggembirakan meskipun kadang-kadang terselip juga beberapa pertanyaan mengenai gurunya.

Ketika Putut Karang Tunggal itu hilang ke balik lorong pintu ruangan itu berbisiklah Kebo Kanigara, Mahesa Jenar, kau dapat menemui Karebet. Itu saja dahulu.

Sekarang? tanya Mahesa Jenar.
Ya. Ikutlah aku, jawab Kebo Kanigara. Muridmu itu tak akan hilang di situ.

Kemudian Mahesa Jenar melangkah mengikuti Kebo Kanigara, melingkar sepanjang lubang goa yang gelap, dan yang sebentar kemudian muncul di sebuah ruangan lain yang agak lebar pula yang banyak terdapat di sepanjang saluran goa itu.

Di dalam ruangan itu pulalah mereka bertemu dengan Putut Karang Tunggal yang sedang berjalan keluar. Ketika ia melihat kedua orang itu, ia terkejut. Tetapi kemudian ia mengangguk hormat.

Selamat sore paman berdua.

Selamat sore Karang Tunggal. Permainanku sudah hampir selesai. Ini adalah pamanmu yang sebenarnya, sahut Kanigara.

Karang Tunggal sekali lagi membungkuk hormat kepada Mahesa Jenar sambil berkata, Baktiku untuk Paman Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar tersenyum. Ia melangkah maju. Sambil menepuk bahu anak muda itu ia berkata, Permainanmu sudah sempurna Karebet. Ketika aku datang mula-mula di bukit ini, benar-benar aku tidak menduga bahwa kaulah yang menamakan diri Karang Tunggal.
Paman Kebo Kanigara yang mengatur semuanya bersama Eyang Ismaya,
jawab Karang Tunggal.

 

317

MAHESA JENAR menoleh kepada Kebo Kanigara sambil berkata, Untunglah bahwa kepalaku belum pecah memikirkan permainan kalian yang aneh itu.

Kemudian kepada Karang Tunggal ia meneruskan, Nah Karebet, kau sudah banyak mendengar tentang aku, tentang seorang Wali yang menasehatkan kepadamu untuk mengabdi ke Demak.

Karebet menundukkan kepalanya. Katanya lirih, Mudah-mudahan paman melimpahkan pangestu kepadaku. Meskipun semuanya itu hanyalah sebuah mimpi yang cemerlang, namun setidak-tidaknya aku akan dapat mengabdikan diri pada tanah kelahiran ini.

Bagus… sahut Mahesa Jenar, Kau harus mulai dengan semangat pengabdian. Jangan kau mulai dengan suatu tekad yang berlebih-lebihan supaya kau tidak mudah menjadi kecewa.
Akan aku junjung tinggi segala pesan paman Mahesa Jenar, jawab Putut Karang Tunggal sambil membungkukkan tubuhnya sebagai suatu pernyataan janji. Tidak saja kepada Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, tetapi juga kepada diri sendiri.

Mahesa Jenar… sela Kebo Kanigara kemudian, Bawalah pisauku ini. Sebentar lagi apabila ruangan-ruangan ini telah gelap, masuklah ke dalam ruang muridmu. Kau dapat menyusur lubang itu, dan akan sampai ke dalamnya tanpa cabang yang lain. Aku akan menunggumu di ruang sebelah ini. Kemudian kita keluar bersama-sama supaya kau tidak usah mencari-cari jalan.

Baiklah Kakang, jawab Mahesa Jenar.

Jangan banyak berkata tentang waktu lampau. Ajaklah ia keluar karena segala sesuatu telah kau anggap cukup. Kanigara menyambung. Dan seterusnya kau dapat menuntunnya dengan suatu cara yang lebih baik dari yang pernah kau pergunakan.

Baiklah Kakang, jawab Mahesa Jenar sekali lagi.

Aku menunggu kau di sebelah. Dari ruangan ini kau akan dapat melihat sinar obor yang akan segera aku nyalakan kalau ruangan itu telah gelap benar. Berkata kanigara pula, Aku juga selalu datang pada saat-saat semacam itu, meskipun hanya karena aku harus menyembunyikan wajahku.

Setelah itu Kebo Kanigara segera melangkah pergi diikuti oleh Putut Karang Tunggal. Untuk sesaat Mahesa Jenar mengagumi anak kakang seperguruannya itu, sampai hilang ke dalam sebuah mulut lubang goa itu.

Kemudian Mahesa Jenar mempersiapkan dirinya untuk segera menemui muridnya, supaya perasaannya tidak menggelora.

Sesaat kemudian, udara menjadi semakin sejuk. Semburat merah telah memancar di langit, sebagai sisa-sisa cahaya matahari yang telah membenamkan dirinya. Ia tidak sabar untuk menunggu lebih lama lagi, karena itu segera iapun berjalan menyusur gang sempit menuju ke ruang dimana Arya Salaka sedang membajakan dirinya.

Ketika ia sampai di mulut gang itu, ia mendengar langkah-langkah di dalamnya. Agaknya Arya Salaka masih mempergunakan waktunya untuk berlatih. Sebab di dalam ruangan yang sepi itu ia benar-benar tidak mau menyia-nyiakan waktu. Karena itu ia mempergunakan setiap waktunya untuk melatih diri agar segera dapat dicapai suatu tingkatan yang dikehendaki oleh gurunya.

Mula-mula ia bermaksud demikian agar dapat segera meninggalkan ruangan yang menjemukan itu, tetapi lambat laun ia berpendapat lain. Ia semakin menjadi tertarik dan bersemangat mendalami ilmunya karena ilmu itu sendiri, bukan karena kejemuan dan kesunyian.

Dengan hati-hati Mahesa Jenar melangkah masuk, sehingga tidak menimbulkan sesuatu suara yang menarik perhatian muridnya yang sedang tekun. Apalagi sesaat kemudian, anak itu agaknya sedang memusatkan segenap perhatiannya, mengatur jalan pernafasannya, dan disilangkannya satu tangannya di depan dada, satu lagi diangkat tinggi-tinggi, dan satu kakinya ditekuknya ke depan.

Sesaat kemudian tubuhnya sebagai anak panah melontar maju, tangannya yang diangkat tinggi-tinggi itu terayun deras mengarah kepada sebuah batu padas di dinding goa itu. Maka kemudian terjadilah suatu benturan yang dahsyat, dan disusul dengan lontaran pecahan batu padas itu berserak-serakan. Itulah pukulan Sasra Birawa yang telah dimiliki pula oleh seorang anak sebesar Arya Salaka.

Melihat hasil yang dicapai oleh muridnya itu, hampir Mahesa Jenar tidak dapat menahan diri. Apa yang dicapainya dengan cara penurunan ilmu Ki Ageng Pengging Sepuh, sampai bertahun-tahun itu, dapat dipelajari Arya Salaka kurang lebih hanya satu bulan saja, dengan cara penurunan ilmu adik seperguruan gurunya. Karena itu ia sekarang percaya, bahwa Kebo Kanigara benar-benar melampaui Ki Ageng Pengging Sepuh, yang kebetulan adalah gurunya, yang bergelar Pangeran Handayaningrat.

Meskipun demikian, apa yang terlahir dari mulutnya adalah berbeda sekali dengan perasaannya. Maka katanya lantang, Ulangi!

Arya Salaka terkejut. Segera ia menoleh dan membungkuk hormat kepada gurunya yang dirasanya pada saat-saat terakhir mempunyai kebiasaan yang jauh berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya. Ketika ia mendengar gurunya mengucapkan kata-kata itu wajahnya segera menjadi muram. Ia merasa bahwa apa yang baru saja dilakukan sama sekali tidak memuaskan gurunya.

318

“JELEK sekali,” gumam Mahesa Jenar, meskipun sebenarnya hatinya memuji. Sebab apa yang dilakukan Arya pada waktu itu, sama sekali tidak jauh berselisih dengan apa yang dapat dilakukannya sebelum ia melakukan samadi dan menemukan hakekat dari watak setiap unsur gerak dari ilmunya, sehingga menurut Kebo Kanigara, ia telah dapat menyamai gurunya sendiri.

Mendengar suara gurunya itu Arya Salaka menundukkan kepalanya. Ia sangat bersedih bahwa ia mengecewakan.

Melihat sikap Arya, Mahesa Jenar menjadi sangat terharu. Hampir saja ia meloncat dan membelai kepala muridnya. Untunglah bahwa ia dapat menahan diri. Sambil mengatur perasaannya ia berkata, “Arya, lihat batu hitam itu.”

Dengan mata yang suram, Arya memandang sebuah batu hitam sebesar kepalanya dalam keremangan petang, yang terselip diantara batu-batu padas yang menjorok pada dinding goa.

“Apa yang kau lihat itu? “ bentak Mahesa Jenar.”

“Sebuah batu hitam yang terjepit diantara batu-batu padas,” jawab Arya dengan suara yang dalam.

“Itulah sebabnya kau tidak dapat maju,” bentak Mahesa Jenar pula. “Perhatianmu terpecah-pecah pada semua masalah yang tak berarti. Aku bilang, lihat batu hitam itu. Aku sama sekali tidak menanyakan apakah batu itu terjepit batu padas, atau terletak di atas tanah. Seharusnya kaupun hanya melihat batu hitam itu. Batu hitam itu saja yang menjadi pusat perhatianmu. Tidak perduli apakah batu itu tergantung di langit atau apapun.”

Sekali lagi Arya menundukkan kepalanya. Tetapi ia mendapat suatu petunjuk yang sangat berarti dalam hidupnya. Bahwa ia tidak boleh memandang setiap masalah tanpa pemusatan persoalan, sehingga masalah pokoknya dapat menjadi kabur karena masalah tetek bengek yang dapat membelokkan perhatiannya.

“Arya…” kata Mahesa Jenar kemudian, “Ulangi, dan pecahkan batu hitam itu.”

Sekali ini Arya Salaka tidak mau mengecewakan gurunya lagi. Dengan penuh tekad, ia membulatkan perhatiannya, mengatur pernafasannya. Satu kakinya diangkatnya dan ditekuknya ke depan, satu tangan menyilang dada, dan satu lagi diangkatnya tinggi-tinggi. Dengan satu loncatan yang dahsyat Arya Salaka mengayunkan tangannya diikuti sebuah teriakan nyaring. Dan, batu hitam yang terjepit diantara batu-batu padas itupun hancurlah berbongkah-bongkah.

Sekali lagi Mahesa Jenar terguncang hatinya. Anak itu benar-benar telah menguasai Sasra Birawa dengan baik dalam bentuk lahirnya. Tetapi baginya adalah sudah terlalu cukup. Namun ia masih mencoba menahan perasaannya.

Seakan-akan ia sama sekali tidak menaruh perhatian atas muridnya itu, tetapi ia bahkan duduk di tengah dengan enaknya sambil mengeluarkan pisaunya. Dengan tenangnya Mahesa Jenar mulai mencukur janggut dan kumisnya.

Arya mula-mula tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh gurunya. Tetapi sikap acuh tak acuh itu telah mengecilkan hatinya pula, dan disamping itu ia semakin tidak mengerti pada sifat gurunya yang menjadi aneh dan lain.

Dalam kebimbangan itu, kadang-kadang terselip di sudut hatinya suatu pertanyaan, apakah orang yang menuntunnya selama ini benar-benar gurunya yang membawanya mengembara dari satu tempat ke tempat lain, sejak melarikannya dari Banyubiru? Alangkah jauh bedanya. Sejak ia terpisah di dalam salah sebuah saluran di dalam goa ini, kemudian tersesat masuk ke dalam ruangan ini, ia merasakan bahwa gurunya menjadi berubah sifat.

Beberapa hari ia tinggal sendiri didalam ruangan ini, sampai kemudian gurunya menemukannya disini. Yang mula-mula di dengar dari mulut gurunya bukanlah pernyataan gembira, tetapi bentakan-bentakan kasar dan marah. Apakah Mahesa Jenar dapat berbuat demikian…? Dan apakah dalam beberapa hari itu, sudah cukup waktu untuk menjadikan gurunya berwajah gelap oleh kumis dan janggut yang tumbuh demikian lebatnya…?

Sekarang ia melihat orang yang meragukan itu mencukur janggut dan kumisnya. Tetapi kemudian ia menjadi kecewa sekali. Sebab setelah orang yang diragukan itu berwajah bersih, benarlah, ia adalah Mahesa Jenar. Gurunya yang membawanya pergi dari Banyubiru. Yang menuntunnya dengan penuh kasih sayang. Tetapi yang akhir-akhir ini selalu kecewa kepadanya. Kecewa kepada kelambatannya.

Sampai beberapa saat ia masih saja kaku berdiri memandangi Mahesa Jenar membersihkan wajahnya. Sekarang Arya tidak ragu-ragu lagi. Memang orang itulah Mahesa Jenar. Meskipun ruang itu sudah semakin suram, namun garis-garis wajah itu sudah sangat dikenalnya.

“Arya… tiba-tiba ia mendengar gurunya berkata, Meskipun tingkat ilmunya masih agak mengecewakan, tetapi pada saat ini aku sudah menganggap cukup. Kau sudah dapat melayani Putut Karang Tunggal meskipun belum seimbang benar. Dan barangkali jarak yang ada di antara kau berdua tidak semakin pendek, bahkan akan menjadi semakin jauh, karena Putut itu bukanlah anak-anak sewajarnya. Apa yang kau pertunjukkan pada saat terakhir tadi telah menunjukkan kemajuan yang besar selama kau berada di dalam ruang ini. Karena itu, sebentar lagi kau boleh mengikuti aku keluar dari ruang ini.”

Mendengar kata-kata gurunya, Arya menjadi gembira sekali. Kegembiraan yang hampir tak dapat ditahankan, sehingga hampir-hampir saja ia menjerit kegirangan. Tetapi segera ia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya.

Ia tidak tahu apakah halyang demikian itu akan dibenarkan oleh gurunya. Karena itulah maka, yang terpancar kemudian hanyalah nyala di matanya. Bahkan mata itu kemudian menjadi basah. Dan hampir saja Arya Salaka yang telah mampu memecahkan batu sebesar kepalanya itu menangis.

Untunglah bahwa ruang itu telah menjadi semakin gelap sehingga Mahesa Jenar tidak lagi melihat mata itu. Tidak lagi melihat air yang membayang di mata muridnya. Sebab apabila mata yang sayu itu dilihatnya menjadi basah, mungkin Mahesa Jenar tidak lagi dapat menahan perasaannya. Perasaan seorang guru, ia bahkan hampir seperti perasaan seorang bapa terhadap anak tunggalnya yang selama ini dibawanya merantau untuk menyelamatkan dari usaha-usaha untuk membinasakannya.

319

SEKARANG Mahesa Jenar melihat kemungkinan menjadi lain. Anak itu sekarang sudah dapat menjaga dirinya sendiri, serta mempunyai bekal yang cukup buat masa depannya.

Demikianlah Mahesa Jenar menjadi berbangga atas muridnya itu. Kalau nanti pada suatu ketika, ia bertemu dengan Gajah Sora, maka ia akan dapat menyerahkan Arya Salaka tanpa mengecewakan sahabatnya itu.

Sesaat kemudian Mahesa Jenarpun berdiri dan melangkah keluar ruangan sambil berkata acuh tak acuh, Arya, ikutilah.

Sekali lagi kegembiraan melonjak didalam dada Arya. Segera ia pun mengikuti gurunya dekat-dekat supaya ia tidak lagi kehilangan jalan.

Kemudian sampailah mereka ke dalam ruangan dimana Mahesa Jenar bertemu dengan Putut Karang Tunggal waktu ia berjalan bersama Kebo Kanigara. Benarlah dari ruangan itu ia melihat bayangan cahaya api. Segera Mahesa Jenar berjalan menyusur jalan-jalan goa yang sempit ke arah api itu.

Ketika mereka sampai, dilihatnya Putut Karang Tunggal seorang diri memegangi sebuah obor.
Selamat sore Paman Mahesa Jenar, sapanya sambil membungkuk hormat.

Selamat sore Karang Tunggal, jawab Mahesa Jenar. Mula-mula ia ingin menanyakan di mana Kebo Kanigara. Tetapi maksud itu diurungkan. Namun bagaimanapun juga ia menjadi sangat berterima kasih di dalam hatinya, bahwa untuk kepentingannya serta muridnya, Kebo Kanigara bekerja keras dan melakukan hal-hal yang aneh. Tetapi lebih dari pada itu adalah untuk kesuburan persemaian perguruan Pengging.

Sejenak kemudian Putut itu berkata pula, Paman, marilah kita tinggalkan goa ini. Ada sesuatu yang penting yang akan disampaikan oleh Eyang Ismaya.

Mahesa Jenar menjadi beragu. Ia tidak tahu apakah Putut itu berkata sebenarnya, ataukah hanya merupakan suatu alasan untuk membawanya keluar dari dalam goa itu. Karena itu ia berdiam diri sampai Putut itu melanjutkan, Seseorang yang baru saja datang kemari ingin bertemu dengan Paman.

Siapakah dia? tanya Mahesa Jenar sekenanya.
Paman Kebo Kanigara, jawab Putut Karang Tunggal.
Itukah yang penting? tanya Mahesa Jenar pula.
Bukan itu saja, jawab Putut Karang Tunggal. Ada dua tiga soal yang lain.

Mahesa Jenar tidak menjawab lagi. Dipersilahkannya Putut yang membawa obor itu berjalan dahulu, kemudian ia pun mengikutinya bersama Arya Salaka yang masih berdiam diri saja.
Setelah mereka berjalan berliku-liku, akhirnya sampailah mereka ke ruang yang sering dipergunakannya bermain para cantrik. Dari sana mereka menerobos sebuah lubang yang diluarnya tertutup oleh dedaunan yang rimbun.

Demikian mereka tegak di luar goa itu, terasalah udara malam yang segar memercik ke wajah mereka. Sedang di atas kepala mereka, bertaburan bintang-bintang yang berpencaran memenuhi langit yang biru hitam. Seleret awan putih membujur dari kutub ke kutub seolah-olah membagi langit menjadi dua bagian. Sedang dari semak-semak di sekitar mereka, terdengarlah bunyi jangkrik bersautan di antara nyanyi belalang. Bersamaan dengan itu terlonjak pula hati Arya Salaka, yang merasa telah menyelesaikan suatu kewajiban yang berat. Kalau mula-mula ia menjadi bingung atas kelakuan gurunya, maka akhirnya ia mengira bahwa hal itu adalah merupakan suatu tahap yang memang harus dilalui. Tetapi sebenarnya bukan saja Arya Salaka yang mempunyai perasaan demikian. Mahesa Jenar pun seolah-olah merasa terlepas dari suatu daerah sepi yang penuh dengan pemerasan keringat dan pikiran.

Mengingat hal itu Mahesa Jenar menjadi tersenyum sendiri. Apalagi kalau ia dengan sepintas lalu memandang wajah Arya Salaka. Ia menjadi geli. Anak itu merasa seolah-olah telah mendapat gemblengan yang berat dari padanya, padahal ia sendiri sedang melakukan hal yang serupa. Menggembleng diri sendiri.

Beberapa lama kemudian sampailah mereka ke rumah dimana mereka selalu diterima oleh Panembahan Ismaya.

Di dalam rumah itu tampak memancar cahaya pelita yang berkedip-kedip karena permainan angin pegunungan. Cahayanya yang kuning kemerahan menembus lubang-lubang dinding membuat garis-garis lurus yang berpencaran.

Ketika mereka memasuki rumah itu, tampaklah Panembahan Ismaya duduk di atas batu hitamnya yang dialasi dengan kulit kayu. Demikian orang tua itu melihat kehadirannya segera ia bangkit dan menyambut dengan hormatnya, sambil mempersilahkannya duduk.

Agaknya Anakmas tidak begitu senang tinggal di dalam goa yang gelap itu, kata Ismaya kemudian. Ternyata Anakmas dan Cucu Arya Salaka menjadi kurus.

Mahesa Jenar tersenyum. Ia menjadi agak sulit untuk menjawab, karena itu katanya, Tidak Panembahan, kami senang tinggal di dalam goa itu.

Panembahan tua itu mengangguk-angguk. Lalu sambungnya, Tetapi aku girang bahwa Anakmas dan Cucu Arya Salaka tetap segar. Bukankah tiada sesuatu selama ini?

Tidak Panembahan, tidak, jawab Mahesa Jenar.

Demikianlah yang aku kehendaki, sahut Panembahan Ismaya pula. Tetapi ketahuilah Anakmas, apa yang anakmas takutkan ternyata benar-benar terjadi. Orang-orang yang mengepung bukit ini menyerbu naik.

Dada Mahesa Jenar tergetar mendengar keterangan itu. Maka iapun bertanya pula, Adakah mereka memperlakukan Panembahan dengan kasar?

Tidak begitu kasar, jawab Panembahan Ismaya. Tetapi mereka mengaduk hampir segala sudut bukit ini.

Dan Panembahan tidak memberitahukan itu kepadaku…? sahut Mahesa Jenar.

Aku hanya memberitahukan kepada Anakmas kalau mereka akan menyakiti kami, jawab Panembahan itu pula. Tetapi ternyata mereka hanya mencari-cari saja.

320

MAHESA JENAR akan mendesak pula dengan berbagai pertanyaan, tetapi diurungkannya ketika ia ingat bahwa di sini ada Kebo Kanigara dan Putut Karang Tunggal. Sehingga seandainya Panembahan Ismaya ingin melawannya dengan kekerasan, maka tidak pula ada perlunya untuk memanggilnya.

Karena itu kemudian ia tidak berkata-kata lagi. Ia bahkan merasa malu bahwa seolah-olah di bukit kecil itu tak ada orang lain yang mampu menyelamatkannya selain daripada dirinya.

Maka untuk beberapa saat suasana menjadi hening sepi. Desir angin di dedaunan menimbulkan suara lirih seperti dendang seorang ibu yang menidurkan anaknya.

Maka kemudian kesepian itu dipecahkan oleh suara Panembahan Ismaya yang berkata, Anakmas, agaknya malam telah larut. Karena itu beristirahat di pondok lain.

Baiklah Panembahan, jawab Mahesa Jenar.

Kalau Anakmas keluar dari ruangan ini, Anakmas akan melihat rumah di sebelah barat. Di situlah Anakmas beristirahat, sambung Panembahan Ismaya pula. Di sana Anakmas akan beristirahat bersama dengan Kebo Kanigara.

Setelah sekali lagi Mahesa Jenar mengiyakan, maka melangkahlah ia keluar ruangan itu. Tidak beberapa jauh di sebelah barat tampak sebuah rumah yang lebih kecil dari rumah itu. Dari dalamnya memancar pula cahaya api yang redup.

Di dalam rumah itu ditemuinya Kebo Kanigara telah membaringkan dirinya. Ketika ia melihat Mahesa Jenar berkatalah ia, Mahesa Jenar, duduklah. Tutup pintu itu supaya tidak terlalu dingin. Dan dengarlah aku berceritera.

Mahesa Jenar memandang wajah Kanigara yang tersenyum-senyum dan sudah bersih pula seperti wajahnya. Ia menjadi curiga. Tetapi ia melangkah juga menutup pintu dan kemudian duduk di sampingnya.

Kau ingat pada waktu aku pertama-tama kaulihat? tanya Kebo Kanigara.
Ya,jawab Mahesa Jenar singkat sambil mengangguk.

Di mana muridmu sekarang? tanya Kanigara tiba-tiba.

Di rumah sebelah bersama-sama dengan Karang Tunggal, jawabnya singkat.

Bagus, suatu kebetulan. Karang Tunggal itu suka sekali berceritera. Pengetahuannya sangat luas, sebab ia sangat gemar menyepi dan merantau. Jarang-jarang sekali ia tinggal di rumah. Sehingga ibu angkatnya, Nyai Tingkir selalu marah kepadanya.

Kanigara berhenti sebentar lalu meneruskan, Arya akan senang bersama dia. Lalu seterusnya mengenai urusanmu. Dengarlah. Kau lihat bahwa aku pada saat itu atas nama Mahesa Jenar melarikan seorang gadis?

Mendengar pertanyaan itu hati Mahesa Jenar berdesir. Dengan kaku ia mengangguk mengiyakan.

Gadis itu aku sembunyikan. Sejak malam itu aku belum pernah menemuinya. Aku takut kalau ia mengenal aku yang ternyata bukan Mahesa Jenar. Dan aku juga takut kalau tiba-tiba aku merasa bahwa akulah sebenarnya Mahesa Jenar itu. Kanigara meneruskan sambil tersenyum. Mahesa Jenarpun tersenyum pula. Tersenyum kaku.

Kau harus menemuinya, sambung Kanigara pula.

Mahesa Jenar mengangguk saja tanpa sesadarnya.

Biarlah anakku mengantarkanmu nanti, kata Kanigara pula. Mahesa Jenar terperanjat. Sehingga ia pun bertanya, Siapakah Kakang Kanigara itu?

Seorang anak perempuan, jawab Kanigara, Namanya Widuri.

Widuri…? Endang Widuri? Jadi adakah anak itu putri Kakang Kanigara? tanya Mahesa Jenar pula.

Ya, jawab Kanigara singkat.

Aku belum pernah mendengar sebelumnya, kata Mahesa Jenar. Adakah anak itu dilahirkan di Demak?

Aku meninggalkan Demak sejauh umur anak itu, jawab Kanigara. Sebenarnya aku tidak pernah menginginkan untuk meninggalkan kota itu. Tetapi keadaan memaksa aku berbuat demikian.

Mahesa Jenar mendengarkan dengan penuh perhatian. Agaknya karena itulah maka Kebo Kanigara belasan tahun yang lalu lenyap dari pecaturan masyarakat Demak.

Sesaat kemudian Kanigara meneruskan, Kemudian aku bawa istriku meninggalkan Demak. Anak itu lahir di perjalanan. Sedang beberapa tahun kemudian ibunya meninggal dunia. Untunglah bahwa aku bertemu dengan seseorang yang kemudian menerima kami tinggal bersama, Panembahan Ismaya.

Terbayanglah di mata Kebo Kanigara, suatu masa yang pahit di dalam hidupnya. Kehilangan istri pada masa putrinya masih memerlukan kasih sayang seorang ibu.

Bahkan beberapa tahun kemudian… kata Kanigara pula, Aku sudah harus mewakili menunggu bukit kecil ini kalau Panembahan Ismaya harus bepergian jauh untuk mencari obat-obatan dan menambah kewaskitaannya di hampir seluruh sudut negeri ini. Dan sejak itu pula tak pernah menampakkan diriku lagi di antara tata masyarakat Demak.

Kanigara kemudian diam, Mahesa Jenar pun diam. Betapa hati mereka mengenyam kembali masa-masa yang silam itu. Masa-masa yang penuh dengan kesedihan bagi Kebo Kanigara.

Tetapi tiba-tiba Kebo Kanigara berkata nyaring, He, aku telah membelok dari arah pembicaraan semula. Aku akan berceritera tentang seorang gadis yang aku larikan, bukan tentang aku.

Mahesa Jenar terkejut juga mendengar arah percakapan yang tiba-tiba menikung tegak. Sehingga duduknya tergeser maju. Namun kemudian iapun tersenyum kecut. Tetapi bersamaan dengan itu denyut jantungnya bertambah cepat.

Nah Mahesa Jenar… sambung Kanigara tiba-tiba, Kau akan dapat menemuinya bersama Widuri.

Mahesa Jenar tidak menjawab, namun hatinya bergetar hebat.

Tidak banyak yang harus aku pesankan kepadamu. Sebab aku tidak pernah berkata satu patah katapun. Karena itu anggaplah bahwa memang sebelum ini kau belum pernah bertemu dengannya. Kanigara meneruskan, Kecuali pada saat kau melarikan malam itu.  

 

321
MAHESA JENAR  Jenar masih belum menjawab. Tetapi Kanigara pun tidak meneruskan kata-katanya. Dengan malasnya ia bangkit dan kemudian berjalan mondar-mandir. Akhirnya ia berhenti dan memasang telinganya baik-baik.

“Kau mendengar suara tembang?” tiba-tiba ia bertanya.

Mahesa Jenar kemudian mencoba menangkap setiap suara yang menyusup ke dalam pondok kecil itu. Jawabnya kemudian, “Ya aku dengar. Jauh sekali.”

“Kau tahu tembang apa itu?” tanya Kanigara pula.

Sekali lagi Mahesa Jenar memperhatikan suara lagu yang hanya lamat-lamat sampai. Ketika ia sudah mendapat suatu kepastian, hatinya menjadi berdebar-debar. “Dandanggula,” desisnya.

“Ya, Dandanggula,” ulang Kanigara. “Sudah beberapa malam berturut-turut aku mendengar lagu itu dari arah yang berbeda-beda.”

Tiba-tiba Mahesa Jenar berdiri tegak. Mula-mula ia ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu. Tetapi karena sinar mata Kanigara yang seolah-olah mendesaknya, akhirnya ia berkata, “Kau kenal orang itu.”

“Ki Ageng Pandan Alas,” jawab Mahesa Jenar.

“Pandan Alas?” tanya Kanigara pula, tetapi ia tidak terkejut. “Aku kagumi suaranya. Meskipun ia sudah tua, namun suaranya masih mengingatkan aku kepadanya belasan tahun yang lalu. Ya sahabat ayahku.”

Mahesa Jenar mengangguk mengiyakan.

“Apakah yang dicarinya?” kata Kanigara kosong, meskipun ia sudah mengerti jawabnya. Sebab ia tahu betul bahwa Pudak Wangi, yang nama sebenarnya Rara Wilis, adalah cucu orang tua itu.

“Ia pasti mengira bahwa aku masih disini. Dengan demikian ia mengharap aku datang kepadanya mengembalikan cucunya yang dikiranya benar-benar aku larikan,” jawab Mahesa Jenar.

Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia bertanya, “Nah terserah kepadamu. Apakah gadis itu akan kau kembalikan apa tidak.”

“Kenapa baru beberapa hari ini ia datang?” tanya Mahesa Jenar, seolah-olah kepada dirinya sendiri.

“Mungkin ia menunggu sampai rombongan Sima Rodra itu meninggalkan bukit ini, setelah mencarimu dengan sia-sia,” jawab Kanigara.

“Tidakkah Kakang menangkap mereka?” tanya Mahesa Jenar pula.

“Aku juga bersembunyi. Panembahan Ismaya  tidak mau melihat pertumpahan darah di atas padepokan Karang Tumaritis,” jawabnya.

Mahesa Jenar tidak bertanya lebih lanjut tentang gerombolan Sima Rodra dan Jaka Soka.

Pikirannya sedang dikacaukan oleh suara tembang itu. Ia menjadi bimbang, apakah sebaiknya ia datang menemui atau tidak.

Di dalam kebimbangan itu, ia mendengar suara Dandang Gula itu semakin jelas.

Suara itu tiba-tiba menyusul ke dalam dada Mahesa Jenar, membawa suatu kenangan pada masa-masa yang silam. Yang mula-mula diingatnya adalah, Ki Ageng Pandan Alas pernah marah kepadanya ketika ia meninggalkan Rara Wilis tanpa pamit. Ia tahu betapa sakit hati orang tua itu, oleh tuduhannya yang barangkali sama sekali tak beralasan tentang cucunya. Tetapi bagaimanapun juga, ia merasa bahwa tidak enaklah rasanya menerima kemarahan itu.

Didalam kesepian malam itu, semakin mengumandanglah suara Ki Ageng Pandan Alas. Seorang tokoh sakti sahabat gurunya yang pernah kecewa terhadapnya. Namun tiba-tiba diingatnya pula, pertama kali ia mendengar suara itu. Pada saat jiwanya sudah berada di ujung tangan seorang tokoh hitam yang menamakan dirinya Pasingsingan, yang sebenarnya bernama Umbaran, maka terdengarlah suara itu. Dan karena suara itu pula agaknya Umbaran mengurungkan niatnya untuk membunuhnya. Karena itu tiba-tiba terasalah bahwa bagaimanapun juga orang tua itu pernah menyelamatkannya.

“Aku akan datang kepadanya,” gumamnya seolah-olah belum merupakan suatu kepastian.

Kanigara tersenyum. “Datanglah. Jangan kau bawa dahulu cucunya. Barangkali ada beberapa hal yang akan kau bicarakan dengan orang tua itu. Sebab sepengetahuanku, ada orang ketiga yang berdiri diantara kau dan gadis itu,” katanya.

Mahesa Jenar memandang Kanigara dengan tajamnya. Ia agak heran mengapa orang itu mengetahui hampir segala seluk beluk hidupnya.

Tetapi ia tidak bertanya sesuatu ketika dilihatnya Kanigara tersenyum sambil berkata pula, “Jangan memandang aku begitu tajam. Aku jadi takut karenanya. Nah, pergilah. Kalau kau tak keberatan aku akan ikut serta.”

“Tidak, sama sekali tak keberatan,” jawab Mahesa Jenar.

“Akulah satu-satunya orang yang berhak jadi wakil orang tuamu,” sambung Kanigara sambil tertawa pendek.

“Ah…” Mahesa Jenar tidak meneruskan.

“Kenapa kau mengeluh?” tanya Kanigara seperti bersungguh-sungguh.

“Tidak,” sahut Mahesa Jenar. “Suara tertawa Kakang yang lunak itu amat memusingkan kepalaku.”

Sekali lagi Kanigara tertawa. “Ayolah,” katanya.

322

MEREKA berdua pergi menembus hitam malam ke arah suara Ki Ageng Pandan Alas yang seolah-olah melingkar-lingkar menyusur lereng-lereng bukit Karang Tumaritis. Tetapi karena telinga Kanigara dan Mahesa Jenar sedemikian tajamnya, maka segera mereka mengetahui darimana datangnya sumber suara itu.

Ketika jarak mereka sudah tidak begitu jauh lagi, segera mereka berhenti. Mereka menunggu sampai Pandan Alas selesai dengan lagunya. Tetapi agaknya orang tua itu sudah mengetahui kehadirannya, sehingga belum lagi kalimat yang terakhir diucapkan ia sudah berhenti.

Perlahan-lahan ia bangkit dari tempat duduknya, seonggok batu padas. Sapanya, Agaknya kau datang juga Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar dan Kanigara bersama-sama berdiri sambil membungkuk hormat.

Sebelum mereka menjawab Pandan Alas meneruskan, Sudah beberapa hari aku mencarimu dengan caraku ini. Sebab aku yakin bahwa kau sudah mengenal suaraku.

Baru sekarang aku dapat datang Ki Ageng, jawab Mahesa Jenar. Maafkanlah, mudah-mudahan aku tidak mengecewakan.

Pandan Alas tertawa pendek. Kemudian iapun duduk pula diatas sebuah batu.  Duduklah, katanya. Mungkin percakapan kita tidak segera selesai.

Mahesa Jenar dan Kanigara pun segera duduk pula di muka orang tua itu. Di dalam gelap malam, terasalah bahwa Ki Ageng Pandan Alas sedang mencoba mengetahui siapakah kawan Mahesa Jenar itu. Namun agaknya ia belum mengenalnya sehingga akhirnya ia bertanya, Mahesa Jenar, tidakkah aku kau perkenalkan dengan sahabatmu itu?

Mahesa Jenar tersadar dari kekeliruannya. Tetapi sebelum ia menjawab, Kanigara sudah mendahului. Baiklah aku memperkenalkan diriku Ki Ageng. Aku adalah salah seorang sahabat Panembahan Ismaya. Namaku Putut Karang Jati.

 

323

PANDAN ALAS menarik nafas dalam-dalam. Dirinyalah sekarang yang berada dalam puncak kesulitan. Ia tahu benar hubungan yang belit-membelit antara satu-satunya cucu yang sangat disayanginya, murid pertama yang dikasihaninya dan Mahesa Jenar seorang yang dikenal sebagai ksatria yang utama, bahkan yang telah menyelamatkan cucunya dari tangan Jaka Soka sampai dua kali dalam pengertiannya.

Meskipun ia pernah merasa kecewa terhadap sikap Mahesa Jenar yang perasaannya mudah patah dalam hubungan itu, namun  ia tidak pernah benar-benar marah dan melepaskan perasaan kagumnya. Tetapi muridnya itupun merupakan harapan masa datang bagi perguruannya disamping Pudak Wangi sendiri.

Sekarang ia melihat suatu benturan perasaan telah terjadi. Apalagi ketika tiba-tiba ia mendengar Sarayuda berkata, Guru, apakah Guru sudah menyatakan kepada Mahesa Jenar, agar Pudak Wangi dikembalikan kepada perguruan Pandan Alas?

Pandan Alas menjadi bingung. Sedang Mahesa Jenar dan Kanigara menjadi tidak begitu senang melihat sikap itu.

Dalam kecemasannya, kemudian Pandan Alas berkata, Sarayuda, biarlah kita bicarakan segala sesuatunya dengan baik. Bukankah kita sudah tidak mempunyai pekerjaan lain?

Tetapi agaknya Sarayuda tidak setuju, jawabnya, Ki Ageng, aku telah terlalu lama meninggalkan pekerjaanku. Dalam waktu kira-kira satu tahun, aku sudah dua kali menemui Ki Ageng. Kali ini aku ingin semuanya selesai dengan segera. Supaya aku dapat segera pula kembali ke Gunung Kidul dengan suatu ketetapan hati.

Aku mengerti Sarayuda, jawab Pandan Alas. Tetapi tidak perlukah kiranya kalau pembicaran kita inipun menjadi tergesa-gesa. Sebab seandainya kau mundur satu haripun aku kira tidak begitu besar pengaruhnya.

Sarayuda tidak dapat membantah lagi. Karena itu ia diam, meskipun perasaannya bergetar terus.

Duduklah Sarayuda… Pandan Alas mempersilahkan.

Dengan gerak kosong Sarayuda duduk pula diantara mereka. Namun tampaklah bahwa ia gelisah.
Ki Ageng Pandan Alas… kata Mahesa Jenar kemudian, Maafkanlah bahwa aku tidak dapat mempersilahkan Ki Ageng pada tempat yang lebih baik, sebab akupun orang asing di sini.
Tidak apalah Mahesa Jenar,
sahut Pandan Alas. Tetapi disamping itu terasa kaki Kanigara menginjak kaki Mahesa Jenar. Katanya, Akulah tuan rumah di sini. Karena itu kalau tuan-tuan sudi, marilah aku persilahkan singgah di pondokku.

Yang cepat-cepat menjawab adalah Sarayuda, katanya, Terimakasih Putut Karang Jati, bukankah namamu Putut Karang Jati?

Ya,  ya Tuan, jawab Kanigara.

Tak ada bedanya. Di sini atau di pondokmu, sambung Sarayuda.

Pandan Alas yang sedianya akan memenuhi ajakan itu menjdi terdiam. Tetapi kecemasannya semakin membelit hati. Ia berpikir keras untuk dapat menyelesaikan masalah cucunya dengan baik, tanpa suatu singgungan perasaan di kedua belah pihak. Tetapi rasa-rasanya tidaklah mungkin. Meskipun demikian ia harus berusaha.

Ki Ageng… desak Sarayuda kemudian, Marilah kita bicarakan apa yang seharusnya kita bicarakan, meskipun bagiku tak ada lagi persoalan. Bagiku hanyalah ada satu permintaan yang aku tujukan kepada yang terhormat, Kakang Mahesa Jenar, untuk menyerahkan murid perguruan Pandan Alas kepada yang berhak.

Sekali lagi perasaan Ki Ageng Pandan Alas terguncang. Namun iapun menyambung, Mahesa Jenar, aku belum mendengar jawabmu. Apakah yang akan kau lakukan, setelah kau berhasil membebaskan cucuku dari tangan Sima Rodra dan Bugel Kaliki?

Tidak demikian Ki Ageng…. Sarayuda menyanggah. Ia merasa bahwa kata-kata gurunya itu terlalu menguntungkan Mahesa Jenar, sambungnya, Itu terlalu berlebih-lebihan. Kecuali kalau Ki Ageng bermaksud untuk terlalu berendah diri. Sebab ketika Mahesa Jenar membawa Pudak Wangi, tak seorangpun dapat menghalangi. Sima Rodra tua dan Bugel Kaliki terikat dalam pertempuran dengan Ki Ageng, sedang janda Sima Rodra muda dan Jaka Soka bertempur melawan aku.

Ki Ageng Pandan Alas menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar adat muridnya. Sebagai seorang Demang di daerahnya, segala kemauannya hampir tak terbantah. Mendengar sanggahan muridnya itupun Pandan Alas hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

Namun dalam pada itu Mahesa Jenar dan Kanigara menjadi semakin tidak senang terhadap kata-kata Sarayuda, meskipun mereka berdua dapat mengerti sepenuhnya, bahwa semuanya itu terdorong oleh suatu perasaan ketakutan. Takut akan kehilangan adik seperguruannya, cucu gurunya. Tetapi bagaimanapun juga hati Mahesa Jenar menjadi kalut. Kalau Demang yang kaya raya itu tidak dapat dicegah tindakannya, sehingga ia berbuat sesuatu yang tidak sepantasnya, maka ia tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan.

Dengan keadaan yang sekarang, maka Sarayuda bukanlah lawannya. Tetapi kalau sampai Sarayuda dikalahkannya di hadapan gurunya sendiri, maka akibatnya akan lain. Ki Ageng Pandan Alas pasti tidak dapat menyaksikan kekalahan muridnya. Bagaimanapun juga perguruan Pandan Alas pasti mempunyai harga diri. Kalaupun terjadi demikian, perasaannyapun akan tersayat pula. Sebab terhadap dirinya sendiri ia tidak dapat mengingkari. Ia tidak ingin melepaskan Pudak Wangi kali ini.

 

324
ANGIN malam berhembus lemah. Di langit bintang gemintang gemerlapan tiada henti-hentinya. Sekali dua kali tampaklah seleret bintang berpindah tempat menggores langit. Sekejap saja, lalu lenyap terbenam dalam pelukan selembar awan. Suara jengkerik masih saja bersahutan di sela-sela kemersik daun kering yang diterbangkan angin pegunungan.

Keempat orang yang duduk saling berhadapan itu untuk beberapa saat saling berdiam diri. Mereka masing-masing tenggelam dalam angan-angannya sendiri.

Yang mula-mula memecahkan kesepian adalah Sarayuda, Masihkah ada yang kau nanti Kakang Mahesa Jenar?

Tidak ada, jawab Mahesa Jenar kosong.

Kalau demikian, marilah, serahkan Pudak Wangi kepada gurunya, sahut Sarayuda.

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia menjadi bingung. Tetapi akhirnya ia berkata kepada Ki Ageng Pandan Alas, Ki Ageng, Pudak Wangi adalah cucu Ki Ageng, dan murid Ki Ageng. Karena itu yang paling berhak menentukan adalah Ki Ageng sendiri.
Bagus…
sahut Sarayuda tiba-tiba, Sekarang kita nantikan putusan Ki Ageng Pandan Alas.
Pandan Alas menjadi bertambah bingung. Benar-benar ia dihadapkan pada satu keharusan memilih yang amat sulit, seperti ceritera tentang buah bersayap yang jatuh dipangkuan seorang gadis. Dimakan bapa mati, tidak dimakan ibu mati.

Tetapi kemudian Pandan Alas menemukan persoalan yang sewajarnya. Karena itu ia ingin berbicara wajar, tidak dengan aling-aling. Ia tahu benar bahwa masalah yang dikemukakan Sarayuda pun sebenarnya bukan masalah perguruan, tetapi terlalu bersifat pribadi.

Maka kemudian ia ingin menerapkan persoalannya pada tempat yang sebenarnya. Katanya, Anakku berdua. Sarayuda dan Mahesa Jenar. Marilah kita berbicara antara hati, perasaan dan pikiran. Marilah kita berbicara dengan bahasa yang sewajarnya. Aku, sebagai seorang yang telah kenyang berjemur panas matahari, pernah juga merasakan betapa kisruhnya perasaan yang sedang bergulat melawan pikiran. Nah, kalian berdua, kenapa kalian tidak berterus terang saja, bahwa kalian berdua sama-sama menghendaki Pudak Wangi, bukan sebagai murid Pandan Alas tetapi sebagai seorang gadis yang bernama Rara Wilis…?

Kata-kata itu langsung menusuk perasaan Mahesa Jenar dan Sarayuda. Mereka menjadi terdiam karenanya. Sebab apa yang dikatakan oleh orangtua itu adalah hakekat dari perasaan mereka masing-masing.

Kanigara yang mendengarkan pembicaraan itu menjadi tersenyum kecil. Ia memuji di dalam hati kebijaksanaan Ki Ageng Pandan Alas, yang dapat melepaskan diri dari persoalan yang sulit. Tetapi dengan demikian ada juga bahayanya. Sebab apabila persoalan mereka menjadi keras, sulitlah dihindarkan. Karena dengan demikian Ki Ageng Pandan Alas telah menghadapkan kedua orang itu langsung.

Tetapi kemudian Ki Ageng Pandan Alas melengkapi pendapatnya, Anakku berdua… kalau kalian setuju dengan pendapatku maka keputusan terakhir tidak ada padaku. Sebab masalahnya bukan masalah antara guru dan murid. Menurutku pendapatku, keputusan terakhir berada di tangan Wilis sendiri.

Hati Mahesa Jenar dan Sarayuda bergetar bersama-sama. Mereka merasakan kebenaran kata-kata Pandan Alas. Tetapi dengan demikian Sarayuda merasa aneh terhadap sikap gurunya. Bagi Pandan Alas, Mahesa Jenar adalah orang lain. Orang yang dijumpainya di perjalanan hidup tanpa sentuhan-sentuhan tertentu seperti beribu-ribu orang lainnya. Dirinya adalah murid orang tua itu.

Murid yang sudah bertahun-tahun menyerahkan diri serta masa depannya kepadanya. Sekarang, dalam persoalan ini, gurunya itu sama sekali tidak memberikan keuntungan apapun kepadanya. Sebab Ki Ageng Pandan Alas itu seolah-olah sudah tidak mau turut mencampuri masalah itu.

Karena itu, bagaimanapun juga timbullah suatu tuntutan batin, bahwa seharusnya gurunya itu berada di pihaknya. Sebab apabila demikian masalahnya akan mudah sekali. Mahesa Jenar harus mengembalikan Pudak Wangi. Seterusnya Pandan Alas menyerahkan Pudak Wangi kepadanya.

Tuntutan batin itu sedemikian kuatnya sehingga akhirnya ia tidak dapat merendamnya lagi. Maka kemudian meledaklah kata-katanya, Ki Ageng Pandan Alas, sebenarnya Ki Ageng dapat mempermudah persoalan ini. Meskipun apa yang dikatakan Ki Ageng Pandan Alas itu benar seluruhnya, bahwa hakekatnya, masalahnya adalah masalah pribadi. Namun keputusan Ki Ageng pun akan merupakan keputusan yang menentukan. Pudak Wangi tidak akan menanyakan banyak masalah bila Ki Ageng menjatuhkan keputusan. Sedang Mahesa Jenar pun tidak akan mengganggu gugat. Dalam segala bentuk.

Dada Kanigara berdesir. Apa yang diduganya agaknya akan menjadi kenyataan. Sarayuda rupanya sudah terlalu sulit untuk mengendalikan kata-katanya yang memancarkan kesulitan pula untuk mengendalikan perasaannya. Sedang Mahesa Jenar sedang berusaha untuk menenangkan dirinya. Meskipun ia tidak begitu senang mendengar segala-galanya, baik sikap maupun kata-kata Sarayuda. Namun karena ia mempunyai keyakinan yang semakin teguh tentang dirinya maka dipandangnya Sarayuda semakin lama semakin bertambah kecil.

Justru karena itulah maka akhirnya ia merasa bahwa ia sama sekali tidak perlu melayani. Karena itulah maka Mahesa Jenar menjadi semakin tenang.

Sebaliknya, Pandan Alas merasa bahwa Sarayuda telah mendesaknya untuk mengambil keputusan sesuai dengan kehendaknya sendiri, serta berusaha untuk memaksanya menyingkirkan Mahesa Jenar dengan kekerasan. Sehingga dengan demikian ia menjadi semakin cemas.
Apalagi ketika Sarayuda mendesaknya pula, Masih adakah yang meragukan Ki Ageng…? 

 

325
SARAYUDA…. jawab Ki Ageng Pandan Alas, Kalau demikian maka soalnya memang sangat sederhana. Tetapi masalahnya lain. Tidak sesederhana itu. Pudak Wangi adalah seorang seperti kita, mempunyai perasaan. Ia barangkali memang tidak akan menanyakan dengan hati terbuka. Mungkin ia akan menjalani keputusan itu hanya sekadar sebagai cucu atau murid yang patuh. Kalau demikian maka hidup anak itu seterusnya akan menjadi kering tanpa cita-cita dan harapan. Ia akan menjalani kehidupan ini tanpa hati. Ia akan melihat matahari terbit seperti memang seharusnya demikian setiap hari, setiap pagi tanpa gairah. Serta ia akan merasa bahwa purnama di setiap pertengahan bulan itu bukan miliknya tetapi milik mereka yang berbahagia.

Untuk beberapa saat kemudian mereka kembali terdiam. Kata-kata Pandan Alas adalah kata-kata yang penuh pengalaman hidup. Penuh pengertian akan harapan, cita-cita dan cinta.

Namun selanjutnya, cinta Sarayuda ternyata tidak dapat membedakan ujung serta pangkal.

Demikianlah arus cinta yang bergelora di dalam dada Demang kaya raya itu. Meskipun kata-kata gurunya itu mula-mula menggetarkan hatinya, namun kemudian tertindih perasaan itu dengan suatu gelora yang lebih dahsyat.

Kemudian katanya, Ki Ageng, ternyata bijaksana. Aku keberatan kalau seandainya Adi Pudak Wangi yang harus menentukan, siapakah diantara kita yang dikehendakinya. Namun demikian seterusnya ia harus mempertimbangkan pula ketenteraman diri. Karena itulah Pudak Wangi harus menilai, kecuali kenangan atas masa lalu serta harapan dan cita-cita bagi masa datang. Juga harus dipertimbangkan apakah kita masing-masing akan dapat melindungi dirinya.

Beberapa titik keringat dingin telah mengalir di punggung Ki Ageng Pandan Alas. Namun demikian ia merasakan kebenaran kata-kata Sarayuda sebagai laki-laki, meskipun ia tidak seluruhnya melihat keharusan penjelasan yang demikian.

Kalau saja Pudak Wangi dapat melihat manfaat dari keunggulan ilmu, maka soalnya akan dapat dipecahkan dengan cara demikian. Tetapi ia sudah tidak dapat melihat cara lain, yang harus diyakinkan adalah, bahwa dengan demikian soalnya harus selesai. Tanpa perasaan dendam dan benci. Karena bagaimanapun, Sarayuda adalah muridnya. Ia bergaul dengan muridnya itu sejak Sarayuda menjelang dewasa. Ia telah bekerja keras agar muridnya kelak dapat memanfaatkan ilmu yang diturunkan itu sebaik-baiknya. Kalau saja muridnya dan Mahesa Jenar dapat menepati cara penjelasan itu dengan jujur, serta Pudak Wangi menyetujuinya serta melihat manfaatnya. Tetapi apakah demikian …?

Dalam saat-saat ia mempertimbangkan segala segi yang mungkin terjadi, terdengarlah Sarayuda mendesaknya, Bukankah usulku adil?

Ki Ageng Pandan Alas menarik nafas panjang. Ia memandang muridnya dengan tajam, seolah-olah melihat apakah ia sudah siap. Pada saat-saat terakhir memang ia selalu menambah beberapa pokok pengetahuan kepada Sarayuda untuk menambah kekuatannya lahir dan batin. Kalau sampai ditempuh jalan yang dikehendaki, adakah ia tidak akan memalukan?

Mula-mula ia merasa bahwa Mahesa Jenar yang dilihatnya pada saat ia membebaskan Pudak Wangi adalah luar biasa. Tetapi kemudian ia mempertimbangkan juga pendapat Sarayuda.

Meskipun ia tidak menutup mata bahwa sebenarnya Mahesa Jenar telah mencapai tingkatan yang lebih tinggi, namun benar-benar pada saat itu orang-orang lain sedang terikat di tempat masing-masing.

Setelah Pandan Alas mempertimbangkan beberapa segi dan kemungkinan, kemudian ia ingin menawarkan usul Sarayuda kepada Mahesa Jenar dan Pudak Wangi. Mahesa Jenar sendiri pada saat itu dihinggapi pula oleh berbagai perasaan. Tetapi bagaimanapun ia harus mengambil suatu ketetapan. Tetapi belum lagi ia dapat suatu keputusan apapun, terdengarlah Pandan Alas bertanya kepadanya, Anakmas Mahesa Jenar, bagaimanakah pertimbanganmu atas usul Sarayuda?

Mahesa Jenar membetulkan duduknya. Kemudian dijawabnya perlahan sekali, Ki Ageng, aku masih menyangsikan apakah seseorang dapat mempengaruhi perasaan yang paling dalam dengan berkelahi.

Mendengar jawaban itu, Sarayuda terkejut, sehingga ia terloncat berdiri.
Jangan berpura-pura Mahesa Jenar. Kau adalah murid utama almarhum Pangeran Handayaningrat yang bergelegar Ki Ageng Pengging Sepuh. Buat apa kau berguru kepadanya kalau kau tidak melihat manfaatnya orang berkelahi?

Sarayuda…. jawab Mahesa Jenar. Aku memang melihat manfaat orang berkelahi. Aku juga melihat bahwa orang dapat memaksakan kehendaknya dengan berkelahi. Dengan keunggulan ilmu tata pertempuran. Tetapi manfaat itu hanyalah manfaat lahiriah. Tetapi katakan kepadaku Sarayuda yang perkasa, dapatkah kau mengubah ketetapan hati seseorang atau suatu hubungan perasaan dengan perkelahian? Sarayuda… hubungan yang ada diantara kita adalah hubungan yang saling bertali. Seandainya, seandainya Sarayuda… Seandainya seseorang terpaksa memilih salah satu diantara kita karena keunggulannya, tetapi sebenarnya hatinya terikat kepada yang lain, apa katamu? Aku tidak mau, meskipun kemudian aku terpilih. Aku tidak mau menerima seseorang hanya ujud jasmaniahnya, tanpa hati dan perasaan pasrah yang tulus.

Omong kosong! potong Sarayuda. Sejak kapan hatimu menjadi sekecil hati perempuan? Agaknya kau seorang yang mendamba cinta sebagai mahkota bidadari di sorga yang mulus tanpa cela. Mahesa Jenar, aku bukan seorang yang cengeng, yang merajuk dalam bercinta. Sejak dewasa, di pinggangku telah tergantung pedang perguruan Pandan Alas. Dengan pedang aku mendapat kekuatan di Gunung Kidul. Sekarang, dengan pedang pula aku ingin melengkapi kamukten-ku. Dengan pedang aku ingin menemukan cinta.

Suara Sarayuda bergetar seperti guruh yang menggelegar di lereng pegunungan, berkumandang melingkar-lingkar di lembah-lembah sekitarnya. Kata-kata yang diucapkan itu adalah tekad yang sudah tak dapat ditawar lagi.

 

326

MENDENGAR kata-kata yang terucapkan oleh mulut Sarayuda itu semuanya jadi terdiam. Pandan Alas, Mahesa Jenar dan Kanigara seolah-olah terpesona oleh pancaran perasaan mereka atas peristiwa itu agak berlainan. Pandan Alas, gurunya, tiba-tiba menjadi berbangga hati melihat ketetapan hati muridnya yang penuh kejantanan. Wanita bagi seorang laki-laki adalah tidak ubahnya pusaka, yang kalau perlu rela bertaruh nyawa.

Kanigara dan Mahesa Jenar pun mula-mula mengaguminya. Tetapi kemudian sebagai laki-laki berhati jantan, tersentuhlah perasaan mereka. Karena itulah maka dada Mahesa Jenar bergelora hebat. Hampir ia melepaskan, perhitungan untuk memenuhi kepuasan hatinya. Sedangkan Kanigara menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh Sarayuda sudah terlalu sukar untuk mendapat perubahan bentuk. Ia sudah bertekad bulat, apapun yang akan terjadi.

Demikianlah Sarayuda berdiri dengan gagahnya pada kedua kakinya yang kokoh kuat. Satu tangannya tergantung di sisi tubuhnya, sedang tangannya yang lain melekat di hulu pedangnya. Dengan suatu keyakinan yang pasti ia menanti akibat dari kata-katanya.

Tetapi yang terjadi adalah diluar dugaan. Pada saat Mahesa Jenar sedang berjuang untuk tidak tenggelam dalam arus perasaannya, tiba-tiba terdengar suara tertawa lirih tertahan. Alangkah terkejut mereka yang mendengar suara itu. Hampir saja keempat orang bersama-sama bergerak dalam satu kejapan mata menghadap ke arah suara itu. Diantara mereka yang mula-mula berteriak adalah Kanigara. Suaranya lantang mengandung penjelasan, Kau Karang Tunggal…. Agaknya penyakitmu kambuh lagi. Datanglah kemari.

Mendengar nama itu disebutkan, Mahesa Jenar terkejut pula. Apalagi ketika ia melihat dua anak muda muncul dari balik gerumbul di sebelah. Anak muda itu adalah Putut Karang Tunggal dan Arya Salaka. Dengan tunduk ketakutan mereka berjalan mendekati Kanigara. Sedang tangan Karang Tunggal masih melekat di mulutnya.

Dengan suara gemetar menahan marah, Kanigara berkata, Apa yang kau lakukan itu Karang Tunggal? Aku kira kau telah benar-benar sembuh dari penyakitmu. Melihat sikapmu beberapa bulan terakhir aku sudah senang. Tetapi agaknya kau belum dapat melupakan kelakuanmu yang keterlaluan itu.

Karang Tunggal dan Arya Salaka masih diam ketakutan. Kemudian terdengarlah Mahesa Jenar berkata kepada muridnya, Kenapa kau datang kemari Arya…?

Arya Salaka menjadi gemetar. Ia belum melupakan kelakuan gurunya yang tiba-tiba berubah menjadi kasar setelah mereka berada di dalam goa, tetapi sebelum ia menjawab, terdengar suara Putut Karang Tunggal menyahut, Adi Arya Salaka tidak bersalah, Paman. Akulah yang membawanya kemari. Tetapi aku sama sekali tidak sengaja mengintip pertemuan ini.

Tutup mulutmu! bentak Sarayuda yang hatinya lebih parah dari semuanya. Tidak hanya Karang Tunggal yang terkejut mendengar bentakan itu, tetapi juga semua yang hadir. Kanigara yang semula akan marah kepada Karang Tunggal, tiba-tiba menjadi urung. Sebab bagaimanapun ia sama sekali tidak senang kalau ada orang yang membentak-bentak kemenakannya itu.

Karang Tunggal ternyata benar-benar mempunyai sifat yang aneh. Kalau mula-mula Mahesa Jenar melihat sikapnya yang halus sopan itu agaknya seperti apa yang dimaksud oleh Kanigara sebagai penyakit yang setiap saat dapat kambuh kembali. Sebab ternyata ketika Sarayuda membentaknya, justru ia mengangkat wajahnya. Karena itu segera ia tunduk kembali dan dengan sudut matanya ia memandang mata Kanigara.

Kanigara yang kecewa atas kelancangan Sarayuda, kemudian menjadi acuh tak acuh. Ia tidak jadi mencegah kemenakannya untuk tidak berbuat yang aneh-aneh. Bahkan kemudian dengan tidak peduli ia duduk kembali.

Mahesa Jenar mengerti perasaan yang bergetar di dalam hati Kanigara. Karena itu ia menjadi bertambah gelisah. Jangan-jangan persoalannya menjadi lain. Meskipun ia juga menyesali tindakan Sarayuda yang berlebihan itu.

Ki Ageng Pandan Alas terkejut pula mendengar Sarayuda membentak Karang Tunggal justru pada saat orang yang menyebut dirinya Karang Jati, yang pasti mempunyai hubungan satu sama lain itu sedang marah pula kepada anak muda itu. Ia mengerti sepenuhnya seperti Mahesa Jenar juga,  kenapa Kanigara kemudian menjadi acuh tak acuh. Karena itu segera ia mencoba mencegah hal-hal yang tak diinginkan. Sudahlah Sarayuda. Serahkanlah anak itu kepada yang berwenang. Bukankah Karang Jati dapat mengajarnya untuk tidak mengganggu kita lagi?

Tetapi agaknya pikiran Sarayuda telah benar-benar kacau. Sebab kemudian ia menjawab, Putut Karang Jati itu hanya dapat membentak-bentak marah saja, tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu terhadap orangnya yang sudah berbuat salah. Bukankah ia mengintip dan kemudian menertawakan aku? Menertawakan kata-kataku…?

Kemudian kepada Kanigara ia berkata, Karang Jati, dapatkah kau sedikit memberi pelajaran kepada orangmu itu? Atau barangkali kau perlu bantuanku?

Kata-kata itu semakin tidak menyenangkan perasaan Kanigara. Maka dijawabnya kata-kata Sarayuda dengan berterus terang, Tuan, mula-mula aku marah kepada anakku. Tetapi aku kecewa kepada sikap Tuan, bahwa Tuan ikut memarahinya.

Sarayuda menjadi tersinggung perasaannya. Ia telah biasa marah kepada setiap orang yang tidak memenuhi perintahnya, di daerahnya. Karena itu, ketika ia mendengar jawaban Kanigara yang berterus terang menyesalinya itu, ia sama sekali tidak mau mendengarkan. Bahkan dengan semakin marah ia berkata, Lalu apa maumu? Mestikah aku membiarkan anak yang katamu anakmu itu menghina aku? Menertawakan aku? Baiklah katakan kepadaku bahwa kau tidak mampu mengajarnya. Dan, katakan pula kepadaku bahwa kau perlu bantuanku untuk mengajarnya. Ayo… katakan supaya aku tidak kau anggap salah lagi kalau aku mengajarnya sedikit kesopanan.

 

327

KANIGARA menganggap bahwa kata-kata Sarayuda itu sudah berlebih-lebihan. Karena itu bagaimanapun ia menyabarkan diri namun ia menjadi jengkel pula karenanya. Maka kemudian dijawabnya. Terserahlah kepada Tuan, kalau Tuan mempunyai waktu untuk mengajarnya. Itu kalau Tuan merasa mampu.

Dada Mahesa Jenar berdesir mendengar jawaban Kanigara, sebab dengan demikian berarti bahwa ia mengijinkan Karang Tunggal melayani Sarayuda. Bagi Mahesa Jenar ada dua hal yang menggelisahkan. Pertama, apakah Karang Tunggal tidak akan mengalami cidera, sebab pada saat itu Sarayuda sedang dalam puncak kemarahannya, sehingga sulitlah baginya untuk mengendalikan dirinya, meskipun ia hanya berhadapan dengan anak-anak. Kedua, bagaimanakah pendapat Panembahan Ismaya yang sama sekali tak menghendaki adanya kekerasan. Apalagi dilakukan oleh seorang yang selalu berada di dekatnya, Putut Karang Tunggal.

Tetapi ia tidak dapat berpikir lebih jauh, sebab pada saat itu terdengarlah Sarayuda tertawa, meskipun sama sekali bukan karena perasaan gembira. Di sela-sela tertawanya ia berkata, Baiklah, sekarang kau yang menghina aku. Kau sangka aku tidak mampu mengajar anakmu. Meskipun andaikata anakmu kekasih dewa-dewa.

Tak seorang pun dapat mencegahnya lagi. Ki Ageng Pandan Alas pun tidak. Apalagi memang orang tua itu tidak berusaha mencegahnya, ketika ia mendengar Kanigara meragukan kemampuan muridnya. Hanya saja ia selalu waspada, kalau-kalau Sarayuda akan berbuat keterlaluan terhadap Putut Karang Tunggal.

Dalam pada itu, mula-mula Karang Tunggal menjadi ragu-ragu. Ia tidak mengerti apa maksud pamannya itu. Sehingga dengan wajah yang bertanya-tanya ia memandang Kebo Kanigara tanpa berkedip minta penjelasan. Untuk beberapa saat Kanigara menunggu perkembangan suasana. Ketika ia sudah tahu benar bahwa Ki Ageng Pandan Alas tidak mencegah muridnya, maka kemudian ia pun mengangguk kecil kepada Putut Karang Tunggal.

Putut Karang Tunggal tiba-tiba menjadi gembira sekali. Matanya yang bulat bercahaya itu menjadi berseri-seri. Sejak mengunjungi pamannya di bukit kecil itu, ia merasa sangat terkekang. Ia mulai dapat melemaskan tulang-tulangnya ketika ia mendapat kawan bermain, Arya Salaka. Tetapi apa yang dilakukan adalah sangat terbatas, sekarang ia mendapat kawan bermain. Barangkali dengan orang itu ia akan dapat bertindak lebih leluasa lagi.

Meskipun demikian dengan tersenyum-senyum ia mengangguk hormat kepada Sarayuda yang sudah mulai melangkah mendekatinya dengan gigi yang gemeretak dan mulut terkatup rapat. Tuan, yang dipinggangnya tergantung perguruan Pandan Alas… perkenankan aku minta maaf. Sebenarnya aku sama sekali tidak bermaksud menertawakan Tuan. Hanya karena kelakuan Tuan-lah sebenarnya, maka aku tidak berhasil menahan geli.

Hati Sarayuda yang sedang marah, mendengar kata-kata itu seperti disiram api. Telinganya seketika menjadi panas, dan bibirnya bergetaran.
Mahesa Jenar tidak menduga sama sekali bahwa Putut Karang Tunggal akan berkata demikian, sehingga hampir saja ia melangkah maju untuk mencegahnya. Tetapi diurungkan ketika Kanigara menggamit tangannya sambil menggelengkan kepalanya.

Meskipun demikian hati Mahesa Jenar menjadi sangat berdebar-debar. Ia telah melihat persoalannya membelok dari arah semula. Sebab sebelum hal ini terjadi, ia masih dapat mengerti tuntutan perasaan Sarayuda. Tetapi kemudian agaknya ia sudah dikendalikan oleh nafsu yang terlepas dari pengamatan pikiran.

Sarayuda yang sudah berada dalam puncak kemarahannya itu, segera meloncat dan menampar mulut Karang Tunggal dengan suatu gerakan yang cepat sekali. Melihat gerak tangan Sarayuda, hati Mahesa Jenar berdesir. Sebab gerakan itu sedemikian cepat sehingga tak mungkin untuk dihindari.
Tetapi apa yang disaksikan sangat mengguncangkan hatinya. Ia melihat pukulan itu menyambar pipi Karang Tunggal, bahkan ia melihat suatu benturan yang keras.
Namun demikian Karang Tunggal sama sekali tak tergetar. Bahkan dengan suatu gerak yang cepat pula ia meloncat mundur menjauhi. Juga gerak itu sangat mengagumkan.

Putut Karang Tunggal dapat bergerak mundur dengan tangkas, seolah-olah tidak menggerakkan anggota badannya.

Demikian herannya sehingga Mahesa Jenar bergeser maju selangkah, seolah-olah ia ingin melihat bahwa suatu kenyataan yang aneh telah terjadi di hadapannya. Agaknya demikian juga Ki Ageng Pandan Alas, yang memandang perkelahian itu dengan mulut ternganga.

Sarayuda yang sedang terbakar hatinya, tidak begitu memperhatikan kenyataan yang aneh itu. Bahkan ia menjadi semakin bernafsu ketika ia merasa serangannya yang pertama itu gagal. Sehingga kemudian ia pun menyerang lebih dahsyat lagi. Sekarang Putut Karang Tunggal telah siap untuk menerima serangan Sarayuda, sehingga ia tidak menjadi sasaran saja. Dengan cepat ia mengelak dan dengan cepat pula ia membalas serangan Sarayuda dengan serangan yang cepat pula.

Maka sesaat kemudian terjadilah perkelahian yang sengit. Suatu perkelahian antara dua orang yang memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan. Seperti apa yang pernah disaksikan oleh Mahesa Jenar, Putut Karang Tunggal dengan lincahnya menari-nari seperti melihat lawannya dari arah yang sama sekali tak terduga-duga.

Tetapi Sarayuda bukan anak kecil yang kagum melihat burung terbang di udara. Ia telah hampir masak dalam ilmunya. Ilmu yang ditakuti lawan dan disegani kawan. Apalagi ia sendiri telah menempuh pengalaman luas, sehingga dengan demikian ilmunya menjadi bertambah sempurna. Karena itulah maka ia sama sekali tidak menjadi bingung. Kemana bayangan Karang Tunggal meluncur, Sarayuda telah siap untuk menghadapinya.

Bahkan semakin lama serangannya semakin mengerikan. Kalau semula ia masih belum mempergunakan segenap kecakapannya, maka setelah ia bertempur beberapa lama maka dengan sendirinya segenap ilmunya dikerahkannya pula.

 

328

MESKIPUN demikian apa yang dilakukan Sarayuda sama sekali bukanlah semacam seseorang yang mengajari sedikit kesopanan kepada Karang Tunggal. Tetapi benar-benar telah terlibat dalam satu perkelahian dengan seorang yang sama sekali tidak diduganya akan dapat mengimbanginya dengan sangat baik.

Karena itu Sarayuda menjadi semakin heran, marah dan benci bercampur aduk. Ia menjadi heran karena anak itu benar-benar tidak diduganya mempunyai kemampuan yang sedemikian tinggi. Dan karena itulah ia menjadi marah sekali. Ia merasa bahwa anak itu dengan sengaja telah menghinanya dan menariknya ke dalam suatu pertentangan.
Karena itulah maka ia tidak mau lagi mengekang dirinya. Seperti badai yang dahsyat, serangan Sarayuda kemudian datang bergulung-gulung, mengerikan sekali.

Pandan Alas yang menyaksikan pertempuran itu dengan mulut ternganga menjadi tersadar, bahwa masalahnya bukanlah masalah main-main lagi. Seperti Sarayuda, ia pun tidak mengira sama sekali bahwa anak yang nakal itu dapat bertempur sedemikian gigihnya. Sehingga timbullah suatu kecurigaan di dalam hatinya, bahwa ia benar-benar hanya seorang Putut yang mengabdikan hidupnya kepada seorang Panembahan di daerah terasing seperti Karang Tumaritis, dimana segala sesuatunya lebih diberatkan pada masalah-masalah rohaniah.

Pandan Alas semakin curiga pula pada orang yang mengaku bernama Karang Jati itu. Kalau saja anaknya dapat berbuat demikian, apakah kira-kira yang dapat dilakukan oleh ayahnya…? Karena itu mau tidak mau Pandan Alas harus mawas diri. Meskipun sebenarnya ia malu mencampuri perkara anak-anak, tetapi siapa tahu kalau masalahnya menjadi berlarut-larut.

Dalam pada itu ia telah hampir melupakan Mahesa Jenar. Bahwa sebenarnya dengan orang itulah ia berkepentingan, sehingga ia datang ke padepokan di atas bukit kecil ini.

Sementara itu pertempuran antara Karang Tunggal yang tidak lain adalah Mas Karebet yang juga dikenal dengan nama Jaka Tingkir, yang telah diramalkan oleh seorang Wali yang waskita, Sunan Kalijaba, bahwa kelak akan menduduki tahta kerajaan, melawan murid tertua dan terpercaya dari Perguruan Pandan Alas, yang terkenal sebagai seorang sakti dari Klurak.

Keduanya memiliki pegangan yang kuat serta pengalaman yang luas. Karena itu semakin lama pertempuran itu menjadi semakin dahsyat.
Putut Karang Tunggal tidak lagi nampak sebagai seorang anak muda yang sedang tumbuh, tetapi ia benar-benar telah siap menjadi seorang laki-laki yang lincah, tegap, kuat dan perkasa. Sedang lawannya adalah seorang yang telah lama menjadi seorang ternama, apalagi di daerahnya.

Mahesa Jenar lah yang pada saat itu menjadi paling gelisah dan bingung. Tidak saja ia kagum atas apa yang dilihatnya pada Karang Tunggal, tetapi ia bingung pula atas perkembangan masalah yang menjurus pada hal-hal yang sama sekali tak dikehendaki. Namun ia masih sempat berdiri keheranan melihat gerak-gerak keturunan dari Perguruan sela seperti yang pernah dikenalnya dengan baik dan yang telah disaksikan pula sewaktu Karang Tunggal berlatih dengan Arya Salaka.

Tetapi ketika pertempuran itu menjadi semakin dahsyat, segera tampaklah berbagai macam ilmu bercampur aduk menjadi satu dan bersenyawa demikian serasinya, terbayang dalam gerakan Karang Tunggal. Malahan kadang-kadang tampaklah hal-hal yang tidak mungkin dapat terjadi. Dengan demikian ia dapat mengetahui bahwa anak itu benar-benar memiliki ilmu yang jauh lebih lengkap daripada apa yang pernah disaksikan.

Sedangkan yang paling mengherankan adalah, hampir setiap serangan Sarayuda, bagaimanapun tepatnya mengenai sasaran, namun anak itu seolah-olah tidak merasakan sesuatu yang menyentuh tubuhnya. Ditambah lagi dengan gerak loncatnya yang aneh.

Ketika Sarayuda menyerangnya dengan garang ke arah kepala, Karang Tunggal terpaksa merendahkan diri, sekaligus ia mendapat serangan kaki ke arah lambung, dan sekaligus gerak yang aneh, ia dapat melontar mundur sambil berjongkok. Gerakan ini adalah gerakan yang sulit. Namun anak itu dapat melakukannya dengan sederhana dan wajar.
Kanigara melihat keheranan yang terbayang di wajah Mahesa Jenar. Meskipun ia nampaknya masih acuh tak acuh saja, tetapi sebenarnya ia pun mengagumi kemenakannya itu. Kemenakannya yang nakal dan sulit dikendalikan sehingga ibu angkatnya Nyi Ageng Tingkir menjadi bersedih atas kelakuannya.

Dengan kegemarannya pergi meninggalkan rumahnya sampai berhari-hari, bahkan sampai berbulan-bulan menyusur hutan dan padang, bahkan menyepi ke daerah-daerah yang tak pernah dikunjungi manusia, menempuh daerah-daerah bahaya dan sengaja masuk ke dalam sarang-sarang penjahat, telah menjadikan Karebet seorang yang benar-benar tertempa lahir dan batin.

Akhirnya Mahesa Jenar tidak tahan lagi untuk tetap menyaksikan saja keperkasaan Karang Tunggal, sehingga akhirnya ia perlahan-lahan pergi mendekati Kanigara, untuk menanyakan beberapa hal mengenai anak yang aneh itu.

Ketika Mahesa Jenar telah berdiri di sampingnya, dengan mata yang tak berkedip memandang perkelahian itu, Kanigara mengetahui maksudnya. Maka sebelum Mahesa Jenar bertanya, Kanigara telah berbisik lirih, Apakah kau menjadi heran?

Mahesa Jenar mengangguk.

Jangan heran… Kanigara melanjutkan, Meskipun aku sendiri tidak tahu dari mana ia mendapatkannya. Tetapi ia memiliki ilmu yang disebutnya Lembu Sekilan.
Lembu Sekilan…?
ulang Mahesa Jenar. Ilmu yang pernah dimiliki oleh Empu Mada?

Demikian. Karena itu ia seolah-olah menjadi kebal. Meskipun ilmu itu belum sempurna. Ia masih dapat dikenai serangan yang cukup tajam dari ilmu yang kuat. Apalagi ia nanti dapat menyempurnakan ilmu itu. Setidak-tidaknya mendekati apa yang dimiliki oleh Gajah Mada. Maka ia pun akan menjadi orang yang tak terkalahkan seperti Gajah Mada.

 

329
MAHESA JENAR menggeleng-gelengkan kepala. Seorang anak yang masih semuda itu telah memiliki suatu jenis ilmu yang sudah jarang sekali terdapat diantara para sakti sekalipun. Karena itulah maka ia melihat serangan Sarayuda yang tepat dapat mengenainya, tetapi sama sekali tak menggetarkan kulitnya.

Tetapi dengan demikian ia semakin cemas. Untunglah bahwa Sarayuda pun memiliki ketangkasan yang luar biasa, sehingga Karang Tunggal terlalu sulit untuk menyentuh kulitnya. Meskipun demikian kemarahan Sarayuda setiap saat menjadi semakin menyala-nyala. Ia menjadi malu kepada dirinya sendiri, kepada gurunya dan kepada semua orang yang menyaksikan. Bahwa melawan seorang anak-anak itu saja ia tak berhasil mengalahkan. Karena itulah maka kemudian ia benar-benar bertempur dengan seluruh tenaga, kemampuan dan ilmu yang dimilikinya. Ia kini tidak merasa lagi berkelahi sekadar sebagai suatu pernyataan marah, tetapi ia telah bertempur benar-benar diantara hidup dan mati.

Itulah sebabnya maka mereka yang menyaksikannya tidak dapat tetap acuh tak acuh. Kanigara pun kemudian bangkit berdiri, dan mengikuti jalannya perkelahian dengan seksama.

Tetapi yang beranggapan lain dari semuanya adalah Arya Salaka. Ia pun menjadi gembira sekali dapat menyaksikan pertempuran yang dahsyat itu. Meskipun dalam beberapa hal ia menjadi keheran-heranan melihat gerak-gerak yang belum pernah disaksikan, namun ia dapat mengikuti sebagian besar dengan baik. Setelah ilmunya sendiri meningkat dengan pesatnya, maka ia kemudian tidak lagi mengagumi Sarayuda sebagai seorang yang terlalu tangguh. Sebab apabila gurunya mengijinkan, dalam tingkatannya yang sekarang ia pun bersedia untuk melawannya, meskipun barangkali tidak sebaik Putut Karang Tunggal.

Karena itu Arya Salaka melihat pertempuran yang hebat itu dengan bergeser-geser mengikuti setiap geseran titik pertempuran. Bahkan kadang-kadang ia berlari-lari mengelilingi untuk mengambil sudut pandangan yang jelas. Karena ia sendiri sering melakukan latihan dengan Karang Tunggal maka ia dapat melihat betapa berbahayanya gerak serangan yang dilakukannya. Apalagi ketika pertempuran itu telah berlangsung lama. Tidak hanya Arya Salaka, tetapi semua yang hadir di sekitar arena pertempuran itu menyaksikan suatu hal yang tak terduga sebelumnya.

Ketika Sarayuda tidak lagi mengekang dirinya, dan bertempur dengan segenap tenaganya dan kemampuannya, maka Putut Karang Tunggal pun menanggapinya. Maka dalam saat-saat terakhir, ternyata ia berhasil mendesak lawan dengan hebatnya. Gerakannya menjadi semakin cepat dan lincah. Sebaliknya Sarayuda tenaganya sudah mulai surut setelah diperas habis-habisan.

Kemudian terjadilah hal yang sangat mengejutkan. Putut Karang Tunggal yang akhirnya juga menjadi kehilangan kesabaran, tiba-tiba dari matanya yang bulat memancar seolah-olah cahaya merah kebiru-biruan. Cahaya yang mempunyai pengaruh luar biasa sebagai pancaran gaib yang melontar dari dalam dirinya. Bersamaan dengan itu geraknya pun menjadi semakin garang sebagai topan yang mengalir deras dibarengi petir yang menyebar maut.

Ki Ageng Pandan Alas adalah seorang tua yang penuh pengalaman dalam perjalanan hidupnya. Banyak hal yang pernah dilihat dan dirasainya. Hal-hal yang kasar, yang halus, yang kasat mata dan yang tidak. Itulah sebabnya maka ketika ia melihat sorot mata Putut Karang Tunggal yang seakan-akan memancarkan cahaya merah kebiru-biruan itu, hatinya tergetar cepat. Segera ia dapat merasakan suatu kegaiban dari cahaya itu. Apalagi yang dilihatnya benar-benar suatu hal yang tak mungkin terjadi dalam keadaan yang wajar.
Seorang anak muda yang memiliki ketangkasan demikian mengagumkan. Tidak saja melampaui muridnya, namun apabila ia benar-benar marah, ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Sarayuda.

Meskipun Pandan Alas belum pernah berkenalan, apalagi mempelajari semacam ilmu yang dimiliki oleh Putut Karang Tunggal, namun sebagai seorang yang banyak mengetahui berbagai macam ilmu, ia pun dapat menerka bahwa ilmu yang dipergunakan Karang Tunggal adalah ilmu yang luar biasa.

Bahkan ia pun telah menduga bahwa Putut Karang Tunggal memiliki ilmu yang hampir merupakan dongengan, Lembu Sekilan. Sebab apapun yang dilakukan Sarayuda, dan tampak benar-benar mengena, namun anak itu seolah-olah sama sekali tak merasakannya. Meskipun dalam beberapa kali, apabila Sarayuda berhasil melontarkan serangan yang tajam dan sepenuh tenaga, tampak juga betapa Karang Tunggal bertegang wajah, menerapkan ilmunya dengan sepenuh usaha.

Dengan demikian Pandan Alas dapat menduga bahwa ilmu Putut Karang Tunggal itu masih belum sempurna. Tetapi yang pernah didengarnya, seperti yang pernah didengar oleh hampir semua tokoh-tokoh sakti, yang mersudi olah jaya kawijaya guna kasantikan, bahwa Lembu Sekilan adalah salah satu ilmu yang pernah dimiliki Maha Patih Gajah Mada.
Berdasarkan apa yang disaksikan itulah maka akhirnya Pandan Alas merasa bahwa bagaimanapun hebatnya Sarayuda, namun ia tak akan berhasil menandingi anak muda yang perkasa dan luar biasa itu. Karena itu ia memutuskan untuk mencegah Sarayuda bertempur lebih lama lagi. Maka kemudian terdengarlah ia berkata nyaring, Sarayuda… cukuplah.

 

330

MAHESA JENAR dan Kanigara terkejut mendengar seruan itu. Namun dalam hati mereka menaruh hormat kepada orang tua yang bijaksana itu. Kalau semula mereka menyangka bahwa apabila ada salah mengerti padanya, persoalan pasti akan berlarut-larut. Tetapi ternyata Pandan Alas telah berbuat suatu hal yang terpuji. Dengan demikian maka persoalannya akan dapat dibatasi.

Karena itu, Kebo Kanigara yang juga cukup bijaksana segera memanggil kemenakannya. “Karang Tunggal… sudahlah. Mintalah maaf kepadanya, supaya kau dibebaskan dari kemarahannya.”

Putut Karang Tunggal yang bagaimanapun nakalnya, apalagi pada saat itu, hatinya sedang dipenuhi oleh perasaan marah, namun benar-benar takut kepada pamannya. Karena itu dengan sangat kecewa ia terpaksa memenuhi perintahnya. Dengan satu lontaran mundur yang jauh ia melepaskan diri dari libatan lawannya.

Tetapi tidaklah demikian Sarayuda. Hatinya telah diamuk oleh suatu perasaan yang tak dapat diurai lagi. Bercampuraduknya segala macam perasaan yang dapat membakar dadanya. Marah, benci, dendam, dan segala macam. Sehingga dengan demikian meskipun ia mendengar suara gurunya, namun ia sama sekali tak menaruh perhatian.

Sebagai seorang yang mempunyai kekuasaan yang cukup besar, ia sama sekali tidak mau namanya menjadi cacat. Apalagi dalam perkelahian yang memerlukan segenap pemusatan pikiran dan kekuatan, ia seolah-olah tidak dapat melihat keajaiban-keajaiban yang dipancarkan lawannya, meskipun dalam beberapa hal ia merasa heran juga kalau serangan-serangannya seolah tak pernah dapat menyentuh kulit lawannya. Tetapi justru karena itulah ia menjadi semakin bernafsu, berjuang mati-matian.

Demikianlah, ketika Sarayuda melihat Putut Karang Tunggal melontarkan diri surut, ia sama sekali tidak menjauhkan dirinya, bahkan ia pun memburunya dan sekaligus melontarkan suatu serangan yang dahsyat.

Putut Karang Tunggal tak mengira hal yang demikian itu terjadi. Ia tidak menduga sama sekali bahwa ia akan mendapat serangan justru pada saat ia mengundurkan dirinya. Karena itulah ia tidak bersiaga. Ilmunya yang bernama Lembu Sekilan yang belum sempurna benar itu sudah mulai dikendorkan. Karena itulah maka ketika ia menerima serangan yang tak diduganya, terasalah seolah-olah sebuah bukit karang berguguran menimpanya pada saat ia sedang lelap tidur.

Itulah sebabnya, bagaimanapun ia berusaha menerapkan ilmunya Lembu Sekilan, namun dalam waktu yang mendadak itu tidak banyak berarti. Meskipun berhasil menolongnya dari cidera, tetapi ia terlempar juga beberapa langkah dan terbanting jatuh. Ternyata ilmunya itu masih belum mampu bekerja sendiri apabila sebuah perangsang menyentuhnya.

Semua yang menyaksikan kelakuan Sarayuda itu terkejut. Dada mereka berdebaran, dan darah mereka seperti berhenti mengalir. Bahkan Kanigara dan Mahesa Jenar menjadi seolah-olah terpaku di tempatnya dan tidak percaya atas apa yang dilihatnya. Ki Ageng Pandan Alas pun kemudian sampai terloncat maju, dan dengan lantangnya berteriak, “Sarayuda… sadarkah kau bahwa kau telah berlaku kurang bijaksana?”

Sekali lagi Sarayuda tak mau mendengar suara gurunya. Bahkan masih saja ia meloncat dan menyerang Putut Karang Tunggal yang sedang berusaha untuk bangkit. Karena itulah maka keadaannya menjadi sangat berbahaya.

Untunglah otaknya cerdas dan cepat. Segera ia menghentikan geraknya. Ia lebih baik tetap berjongkok, namun dengan sekuat tenaga diterapkannya ilmunya Lembu Sekilan. Meskipun demikian serangan Sarayuda yang ganas itu menggoncangkan tubuhnya sehingga hampir saja ia terjatuh kembali.

Pada saat Sarayuda akan mengulangi serangannya kembali, tiba-tiba meloncatlah bayangan dengan cepat menyerangnya dari lambung. Meskipun kecepatannya tidak dapat disamakan dengan kecepatan karang Tunggal, namun terasa betapa kuat serangan itu. Karena itu Sarayuda segera memutar tubuhnya, dan mengurungkan serangannya atas Putut Karang Tunggal.

Bayangan itu adalah Arya Salaka yang telah memiliki ilmu yang maju dengan pesatnya. Karena itulah maka sekali lagi Sarayuda terkejut. Anak yang kedua ini tidak kurang berbahayanya, karena itu ia menghadapinya dengan sepenuh tenaga.

Pada saat itulah Kanigara dikecewakan oleh Sarayuda. Kalau mula-mula ia ingin mencegah kemenakannya supaya tidak menyelesaikan pertempuran itu, sekarang ia berpikir sebaliknya. Biarlah anak nakal itu menghajar orang yang sama sekali tak tahu diri.

Sebaliknya, Mahesa Jenar menjadi terkejut dan cemas melihat Arya Salaka melibatkan diri dalam perkelahian itu. Namun demikian ia menjadi keheranan juga, bahwa muridnya itu dapat bertempur demikian baiknya sehingga sama sekali tak diduganya. Tetapi Arya Salaka tidak perlu berjuang terlalu lama. Sebab pada saat itu Putut Karang Tunggal telah bersiap kembali. Maka sesaat kemudian terdengarlah ia berteriak nyaring, “Adi Arya Salaka, minggirlah. Aku tidak mau diperlakukan demikian. Biarlah kami berhadapan sebagai seorang laki-laki dengan laki-laki.”

Suara Putut Karang Tunggal itu pun mengherankan pula. Getarannya bagaikan getaran guruh yang menggelegar menggoyangkan bukit-bukit kecil yang bertebaran di sana-sini. Bahkan suara itu seolah-olah telah mengejutkan matahari yang sedang tidur dengan nyenyaknya di balik cakrawala. Karena itu, di ujung timur fajar mulai menjenguk dan melemparkan cahayanya yang kemerahan.

Agak jauh di Padepokan Karang Tumaritis di puncak bukit itu, terdengarlah suara ayam jantan yang berkokok bersahutan. Seolah-olah mereka sedang membanggakan diri masing-masing dengan berteriak, Ini dadaku, mana dadamu…?

 

331

DEMIKIAN pula ayam jantan dari Pengging yang bernama Karebet itu, menjadi semakin marah atas kelakuan lawannya. Karena itu apapun yang terjadi, ia bertekad untuk bertempur mati-matian. Sehingga ketika Arya Salaka telah meloncat minggir, anak muda itu tegak berdiri dengan gagahnya, dengan kaki renggang dan dada menengadah. Wajahnya menjadi semakin cerah, melampaui cerahnya fajar. Sedangkan cahaya merah kebiru-biruan yang menyorot dari matanya yang bulat cemerlang itu menjadi semakin menyala-nyala.

Tiba-tiba Sarayuda yang telah bersiap pula, merasakan keanehan yang ada pada lawannya. Sekarang ia melihat sorot mata yang ajaib. Juga ia semakin merasakan bahwa serangan-serangannya menjadi seolah-olah lenyap tak berbekas. Tetapi akibat dari tanggapannya atas kenyataan yang dihadapinya itu menjadikannya semakin mata gelap. Ia sudah tidak dapat berpikir lain, kecuali membinasakan lawannya. Karena itulah maka tiba-tiba ia berbuat sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, baik oleh Mahesa Jenar, Kanigara maupun gurunya sendiri Ki Ageng Pandan Alas.

Sarayuda yang dibakar oleh api kemarahan yang menyala-nyala di dalam dadanya, tiba-tiba berdiri tegak. Wajahnya terangkat dan matanya menjadi redup setengah terpejam. Ia menyalurkan segala tenaganya dilambari dengan pemusatan pikiran untuk kemudian meletakkan satu tangannya di atas dada, sedangkan tangan lainnya menjulur ke depan lurus-lurus. Itulah suatu sikap untuk melepaskan ilmunya yang dahsyat, ilmu pamungkas Cundha Manik, dari Perguruan Pandan Alas.

Mahesa Jenar pernah menyaksikan kedahsyatan ilmu itu, bahkan ia pernah menempurnya dengan aji Sasra Birawa. Akibatnya adalah mengerikan sekali. Sekarang, beberapa tahun kemudian, pastilah Cunda Manik itu menjadi bertambah dahsyat. Karena itu, ia menjadi pucat, dan melintaslah seleret bayangan yang mengerikan. Sebab bagaimanapun teguhnya ilmu Lembu Sekilan yang belum sempurna itu namun karena nafsu kemarahan yang tidaklah mungkin anak itu dapat bertahan diri terhadap kedahsyatan aji Cunda Manik. Karena itulah maka Mahesa Jenar tidak mau melihat pembunuhan yang tidak adil hanya karena nafsu kemarahan yang tak terkendalikan.

Dengan demikian ketika ilmu Cunda Manik itu telah terhimpun di dalam tangannya serta ketika dilihatnya Sarayuda telah siap meloncat dan mengayunkan tangannya, Mahesa Jenar pun segera meloncat dengan garangnya menghadang langkah Sarayuda tepat di depan Putut Karang Tunggal dengan satu tangan bersilang di hadapan dadanya, satu tangan terangkat tinggi-tinggi. Sedang sebelah kakinya ditekuknya ke depan, siap untuk melawan Cunda Manik itu dengan ajinya yang telah jauh meningkat, Sasra Birawa.

Dalam pada itu bayangan lain pun telah melontar pula, dekat di sampingnya, juga berusaha berdiri diantara Sarayuda dan Putut Karang Tunggal, bahkan agak lebih cepat sedikit darinya dengan sikap yang sama. Satu tangan bersilang, tangan yang lain terangkat tinggi-tinggi, sedang sebelah kakinya ditekuk ke depan. Itulah Kanigara yang juga berusaha melindungi kemenakannya dengan jenis ilmu yang sama, Sasra Birawa yang sempurna.

Dalam sekejap mata Sarayuda melihat pula kedua orang yang telah berdiri berjajar rapat di hadapan lawannya. Namun segalanya telah terlanjur. Ilmu itu telah terhimpun dan siap dilontarkan.

Karena itu ia menjadi tidak peduli lagi siapakah yang akan binasa karenanya, apakah dirinya sendiri, Putut yang telah dianggap menghinanya, ataukah Mahesa jenar, ataukah orang yang bernama Karang Jati itu. Maka dengan mata yang hampir terpejam ia meloncat dengan dahsyatnya.

Pada saat itu, pada saat Mahesa Jenar dan Kanigara telah mulai menjulurkan kekuatannya lewat sisi telapak tangan untuk menerima aji yang dahsyat itu, kembali mereka dikejutkan oleh bayangan lain yang dengan dahsyatnya mendahului membentur Sarayuda dengan kekuatan yang luar biasa pula. Sehingga terjadilah bentrokan kekuatan yang mengerikan sekali. Akibatnya pun sangat mengejutkan. Untunglah bahwa Mahesa Jenar dan Kanigara masih sempat mengendorkan diri sehingga mereka pun tidak perlu ikut serta dalam benturan yang terjadi, dan tidak terduga-duga itu.

Sarayuda, karena akibat benturan itu terlempar jauh ke belakang dan terbanting di atas batu karang. Suara tubuhnya ambruk hebat. Dan setelah itu ia sama sekali tidak bergerak lagi.

Sementara itu bayangan yang membenturnya, yang tidak lain adalah gurunya sendiri, Ki Ageng Pandan Alas, segera berlari-lari memburunya, dan langsung berjongkok di sampingnya.

Kanigara, Mahesa Jenar, Karang Tunggal dan Arya Salaka terguncang hatinya. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa akhir peristiwa itu demikian. Benturan langsung antara murid dan gurunya dengan akibat yang tak diduga pula.

Perlahan-lahan mereka berjalan mendekati Ki Ageng Pandan Alas yang duduk tertunduk di samping muridnya. Wajahnya suram sesuram seorang ayah yang kehilangan anaknya tersayang. Bahkan dari mata orang tua itu membayangkan titik-titik air yang berkilat-kilat kena lemparan cahaya matahari pagi.

Dari bibirnya yang bergetaran terdengarlah suaranya yang terputus-putus, Sarayuda… kenapa kau sampai kehilangan akal, sehingga aku terpaksa mencegahmu…? Aku pernah mengharap kau menjadi sambungan yang kuat dari perguruanku. Sekarang….

Wajah orang tua itu menjadi semakin suram. Matanya yang kemudian terangkat dan memandang kepada Mahesa Jenar, Kanigara, Putut Karang Tunggal dan Arya Salaka, yang telah berjongkok pula mengitari tubuh Sarayuda yang gilang-gilang bermandikan cahaya matahari.

Angin pag