Barometer Laku Murni Menuju Suci:


Barometer Laku Murni Menuju Suci:
Oleh: Wong Edan Bagu.

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…

Jakarta. Pukul. 09:40. Hari Jumat. Tanggal 26. April 2019.

Tidak pernah belajar rasa.
Tidak pernah belajar baik.
Tidak pernah belajar anggah unggu atau sopan santun.
Tidak pernah belajar jujur.
Tidak pernah belajar sabar.
Tidak pernah belajar ilmu.
Tidak pernah belajar ikhlas.
Tidak pernah belajar tulus.
Tidak pernah belajar rela.
Tidak pernah belajar indah.
Tidak pernah belajar bersih.
Tidak pernah belajar bagus.
Tidak pernah belajar teliti.
Tidak pernah belajar jeli.
Tidak pernah belajar waspada.
Tidak pernah belajar berpikir.
Tidak pernah belajar sadar.
Tidak pernah belajar dermawan.
Tidak pernah belajar mengalah.
Tidak pernah belajar budi pakarti.
Tidak pernah belajar kebatinan.
Tidak pernah belajar mencintai.
Tidak pernah belajar mengasihi.
Tidak pernah belajar menyayangi.
Tidak pernah belajar menghormati.
Tidak pernah belajar menghargai.

Jika Tujuan Menuju nya Adalah Dzat Maha Suci Hidup, bukan yang lain selain Dzat Maha Suci Hidup, Dan Caranya menggunakan Wahyu Panca Ghaib yang tak lain dan tak bukan adalah;
Sedulur Papat Kalima Pancer nya Sendiri atau Empat Anasir dan Hidup nya sendiri yang Ada di dalam dirinya sendiri, dengan menggunakan Wahyu Panca Laku, yang tak bukan dan tak lain adalah;
Sifat dan Sikapnya Wahyu Panca Ghaib itu sendiri.

Otomatis Pasti Bisa…!!!
Bisa rasa.
Bisa baik.
Bisa sopan santun.
Bisa jujur.
Bisa sabar.
Bisa ilmu.
Bisa ikhlas.
Bisa tulus.
Bisa rela.
Bisa indah.
Bisa bersih.
Bisa bagus.
Bisa teliti.
Bisa jeli.
Bisa waspada.
Bisa berpikir.
Bisa sadar.
Bisa dermawan.
Bisa mengalah.
Bisa budi pakarti.
Bisa kebatinan.
Bisa mencintai.
Bisa mengasihi.
Bisa menyayangi.
Bisa menghormati.
Bisa menghargai.

Kalau Sampai Tidak Bisa.
Berarti Telah Tersesat jauuhhhhh…

Kenapa Sampai Tersesat…?!
Padahal menggunakan Wahyu Panca Ghaib…?!

Sebab Karena…
Bukan Wahyu Panca Laku yang di gunakan untuk meng-Ibadah-kan Wahyu Panca Ghaib “Aku Mengenal Tuhan dengan menggunakan Tuhan”

Perhatikan Saja…!!!
Sebab Akibat nya, tidak perlu itu dan ini, cukup perhatikan “Sebab Akibat Nya” dengan Rasa Kesadaran Yang Sadar.

Pasti Bisa Menyaksikan sendiri, bukan katanya. OTW__Ke__Gubug Jenggolo Manik Boyolali Jateng.
Salam Se-Tuhan Penuh Cinta Kasih Sayang dari dalam Lubuk hati saya WEB yang paling dalam. Selamat🙏Selamat🙏Selamat🙏 Rahayu🙏Rahayu🙏Rahayu🙏Damai🙏Damai🙏 Damai🙏 Tenteram🙏
Saya❤️
Wong Edan Bagu❤️
Ngaturaken Sugeng Rahayu🙏
lir Ing Sambikolo🤝
Amanggih Yuwono🤝
Pinayungan Mring Ingkang Maha Suci🙏
Basuki❤️
Yuwono❤️
Teguh❤️
Rahayu❤️
Slamet❤️🙏❤️
BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏Om Shantih Shantih Shantih Om – Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu🙏
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Iklan

Ini Bukan Dogma Atau Dogtrin:


Ini Bukan Dogma Atau Dogtrin:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul. 11:11. Hari Senin. Tanggal 15. April 2019.

Salam Selamat Rahayu dari saya Wong Edan Bagu untuk Panjenengan semuanya tanpa terKecuali, khususnya untuk Para Kadhang Kontho dan Kanthi yang sedang belajar bersama saya;
Bagaimana…?!

Panjenengan sudah membaca Artikel atau menyimak Vidio saya yang berjudul;
7 Sabda Hidup Sejati…?!

Kalau sudah, mengerti dan paham kah, maksud tujuan dari Artikel atau Vidio tersebut…?!

Para Kadhang Kinasihku sekalian.
Untuk bisa Manunggal atau menyatu agar supaya menjadi satu kesatuan dengan Hidup/Urip atau Guru Sejati yang tak lain dan tak bukan adalah Utusan Dzat Maha Suci Hidup.

Mau tidak mau, atau suka tidak suka, kita harus melalui satu persatu dimensi demi dimensi yang sudah ada sejak awal hingga sampai kapanpun.

Sebab karena memang itulah tahapan proses perjalanannya.

Hal ini di Suratkan dalam Sejarah Agung Nabi Muhammad di Perjalanan Spiritual Lahir Bathin nya, yang berJudul Isra’ Mi’raj.
Bahwasannya;

Ketika Sang Nabi Isra’;
Menempuh perjalanan dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsho Yerusalem, yang kemudian dilanjutkan Mi’raj;
Menempuh perjalanan ke Sidratul Muntaha, yang sebelumnya melewati dan singgah sejenak di langit ke 1 dan bla bla bla lainnya hingga sampai ke titik akhirnya. Yaitu; 
Sidratul Muntaha.

Inilah dan begitulah proses Perjalanan Abadi, yang suka tidak suka, mau tidak mau harus dan akan dialami oleh siapapun yang sedang melakukan Perjalanan Abadi atau Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un atau Bali Mring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi.

Jadi, Isra’ Mi’raj adalah penggambaran Titik-titik Tempat atau Dimensi yang nantinya akan di datangi, di singgahi dan di lewati oleh siapapun yang sedang Melakukan Perjalanan Abadi atau 
Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un atau Bali Mring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi.

Nah…
Titik-titik ini, kita harus tahu, itu sebab riwayat Nabi di Suratkan dalam Alkitab, maksudnya agar supaya di mengerti, dipahami dan diketahui serta di hapal dengan iman.

Jikalau sampai tidak mengerti, tidak paham dan tidak hapal dengan, sudah pasti akan kebingungan, sebab karena ketika sampai di titik tersebut, kita tidak tahu harus apa dan bagaimana.

Misal contoh;
Dalam perjalanan saya sampai di kamar, setelah masuk ke dalam kamar, karena kita tidak mengerti, tidak paham serta tidak hapal kalau itu kamar, kita jadi tidak tahu harus apa dan bagaimana di dalam kamar itu.

Lalu…
Kita pipis di kamar itu, bahkan lebih parahnya lagi, kita be’ol di dalam kamar itu, padahal fungsi kamar itu bukan untuk pipis dan be’ol, melainkan untuk istirahat tidur.

Contoh misal lagi;
Dalam perjalanan saya sampai di Toilet, setelah masuk ke dalam Toilet, karena kita tidak mengerti, tidak paham serta tidak hapal kalau itu Toilet, kita kita tidak tahu harus apa dan bagaimana di dalam Toilet itu.

Lalu…
Kita tidur di Toilet itu, bahkan lebih parahnya lagi, kita berSamadi di dalam Toilet itu, padahal fungsi Toiler itu bukan untuk Tidur dan berSamadi, melainkan untuk Pipis dan Be’ol atau Mandi.

Itu semua terjadi di sebab karenakan kita tidak mengerti, tidak paham serta tidak hapal, sehingganya tidak mengetahui.

Para Kadhang Kinasihku sekalian…
Ada beberapa titik dimensi atau tahapan atau partikel atau lapisan di dalam tubuh kita yang di tempati oleh “AKU” Hidup/Urip atau Guru Sejati Sang Utusan Dzat Maha Suci Hidup.

Dan titik-titik dimensi atau tahapan atau partikel atau lapisan di dalam tubuh kita yang di tempati oleh “AKU” Hidup/Urip atau Guru Sejati Sang Utusan Dzat Maha Suci Hidup, sudah saya kabarkan secara umum di medsos Tanpa Tedeng Aling-aling, dengan judul; 
“7 Sabda/Dawuh Hidup/Urip Se-Jati”

Ingat…!!!
Itu bukan Dogma atau Dogtrin, melainkan Nama-nama titik dimensi atau tahapan atau partikel atau lapisan di dalam tubuh kita yang di tempati oleh “AKU” Hidup/Urip atau Guru Sejati Sang Utusan Dzat Maha Suci Hidup.

Yang nantinya akan kita datangi, kita singgahi dan kita lewati dalam Perjalanan Abadi atau 
Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un atau Bali Mring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi.

Sebab karena itu, kita harus mengerti, harus paham serta harus hapal dengan Iman, sehingganya kita bisa mengetahui dengan pasti.

Dan untuk memastikan kepastian itu, maka saya buat lagi Artikel dan Vidio ini;
Dalam Artikel dan Vidio yang berJudul; 7 Sabda Hidup Sejati, saya mengabarkan ada 7 Sabda Hidup, sesuai Judul; yaitu 7 Sabda Hidup, namun intisarinya ada di Sabda Nomer 4 dan Nomer 5, sedangkan Pati nya, ada di Sabda Nomer 6.

Sedangkan Sabda-Sabda Lainnya, “kecuali nomer 4-5-6”, itu hanya sebuah penjelasan dan penegasan tentang proses kejadian, jadi, cukup di mengerti dan di pahami serta di ketahui saja, tidak perlu di hapal.

Misal Contoh;
Pada Sabda Hidup nomer 4, saya mengabarkan…

4. “AKU” (Hidup/Urip) Bertahta atau bersinggasana di dalam Baitul Makmur, yang berada di dalam kepala Adam.

Baitul Makmur Atau Cakra Mahkota;
Yang pertama “Otak” (Ubun-ubun).
Di dalam ubun-ubun “Manik”
Di dalam manik “Budi”
Di dalam budi “Nafsu”
Di dalam nafsu “Suksma”
Di dalam suksma “Rahsa”
Di dalam rahsa “AKU” (Hidup/Urip).

Contoh misal lagi;
Pada Sabda Hidup nomer 5, saya mengabarkan…

5. “AKU” (Hidup/Urip) Bertahta dalam Baitul Mukarram, itu rumah tempat larangan-KU, berdiri di dalam dada Adam.

Baitul Mukarram Atau Cakra Jantung;
Pertama “Hati” (kalbu).
Di antara hati “Jantung”
Di dalam jantung “Budi”
Di dalam budi “Angan-angan”
Di dalam angan-angan “Suksma”
Di dalam suksma “Rahsa”
Di dalam rahsa “AKU” (Hidup/Urip).

Nah…
Berusahalah untuk bisa menghapal Titik-titik intisari yang saya ulang kedua kalinya ini, agar supaya tidak bingung nantinya, ketika sudah sampai di titik tersebut.

Sehingga tidak berulang-ulang kali sampai di tempat yang sama, bahkan terus terusan berada di tempat itu-itu saja, tanpa peningkatan selanjutnya, sebab karena ketidak tahuan kita.

Jikalau sudah hapal, berjuanglah untuk segera menemui saya atau mengundang saya datang, untuk mendapatkan Pati nya yaitu; Sabda Hidup yang ke 6, selagi saya masih Hidup di Dunia ini.

Sebab karena waktu saya tidak banyak, tinggal sedikit lagi di Dunia ini, kalau bukan dari saya;
“Mohon Maafkan” 
Kemungkinan Besar nya, Panjenengan akan di Politiki dengan kepentingan pribadinya atau golongannya, bukan apa adanya atau yang sebenarnya.

Karena selama ini, saya belum menemukan sesuatu yang Blak Kotak Tanpa Tedeng Aling-Aling tentang Tuhan yang sebenarnya, selain Artikel dan Vidio dari saya “Sekali Lagi Mohon Maafkan” Begitulah kenyataannya.

Salam Se-Tu-Han Penuh Cinta Kasih Sayang dari dalam Lubuk hati saya WEB yang paling dalam. Selamat🙏Selamat🙏Selamat🙏 Rahayu🙏Rahayu🙏Rahayu🙏Damai🙏Damai🙏 Damai🙏 Tenteram🙏
Saya❤️
Wong Edan Bagu❤️
Ngaturaken Sugeng Rahayu🙏
lir Ing Sambikolo🤝
Amanggih Yuwono🤝
Pinayungan Mring Ingkang Maha Suci🙏
Basuki❤️
Yuwono❤️
Teguh❤️
Rahayu❤️
Slamet❤️🙏❤️
BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏Om Shantih Shantih Shantih Om – Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu🙏
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959 
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: www.wongedanbagu.com
WordPress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

7 Sabda Hidup/Urip Se-Jati.  (Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling Tentang Sangkan Paraning Dumadi – Kronologi Asal Mulanya Kejadian):


7 Sabda Hidup/Urip Se-Jati. (Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling Tentang Sangkan Paraning Dumadi – Kronologi Asal Mulanya Kejadian):
Oleh: Wong Edan Bagu.

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…

Gubug Jenggolo Manik. Mulai Pukul. 01:10 Sampai Pukul. 03:30. Hari Kamis. Tanggal 11. April 2019.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, ketahuilah dengan Kesadaranmu yang sadar.

Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono Yang lebih lugas di sebut Hidup, dan lebih di kenal dengan sebutan Guru Sejati atau Satriya Paningit Atau Imam Mahdi BerSabda;

Sabda dawuh nya Hidup/Urip yang merupakan intisaripatinya segala ilmu keTuhanan ini, memiliki tujuh tingkatan Sabda, yang masing-masing salin terkait bak mata rantai yang tidak bisa di pisahkan.

Dan masing-masing Sabda tersebut sebagai berikut;

Sabda ke;
1. Ananing Dzat Urip- Adanya Dzat Hidup.
Sabda ke;
2. Wahananing Dzat Urip – Tempatnya Dzat Hidup.
Sabda ke;
3. Kahananing Dzat Urip – Keadaannya Dzat Hidup.
Sabda ke;
4. Pambukaning tahta malige ing dalem betalmakmur – Pembukaan tahta dalam baitulmakmur.
Sabda ke;
5. Pambukaning tahta malige ing dalem betalmukarram – Pembukaan tahta dalam baitul mukarram.
Sabda ke;
6. Pambukaning tahta malige ing dalem betalmukadas – Pembukaan tahta dalam baitulmuqaddas.
Sabda ke;
7. Panetep santosaning iman – Penetapan kekuatannya iman.

Sabda ke;
1. Ananing Dzat Urip – Adanya Dzat Hidup.

Sajatine ora ana apa-apa awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhingin Ingsun, sajatine Kang Maha Suci anglimputi ing sipatIngsun, anartani ing asmanIngsun, amratandhani ing apngalIngsun.

Artinya;
Sesungguhnya tidak ada apa-apa, ketika masih sunyi hampa belum ada sesuatu apapun, yang paling awal ada adalah “AKU” (HIDUP/Urip), sesungguhnya yang Maha Suci meliputi sifat-KU, menyertai nama-KU, menandakan perbuatan-KU.

Maksud dari Sabda Hidup atau Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono ini;
Menjelaskan, bahkan menunjukkan kepada kita, bahwa pada mulanya alam semesta ini tidak ada, semuanya masih sunyi hampa tidak ada apa-apapun, yang paling dahulu ada, adalah “AKU” (Hidup/Urip), jadi tidak ada sesuatu pun yang mendahului adanya “AKU” (Hidup/Urip).

Dalam ajaran agama, khususnya Islam, hal ini di bahasakan sebagai;
Bahwa Allah itu bersifat Qidam (Dahulu tidak ada yang mendahului), dan “AKU” (Allah) adalah sumber dari segala sesuatu.

Sabda ke;
2. Wahananing Dzat Urip – Tempatnya Dzat Hidup.

Sajatine Ingsun Dzat kang amurba amisesa, kang kawasa anitahake sawiji-wiji, dadi sanalika, sampurna saka kodrat Ingsun, ing kana wus kanyatan pratandhaning apngalIngsun, kang minangka bebukaning iradatIngsun, kang dhingin Ingsun anitahake kayu aran sajaratulyakin, tumuwuh ing sajroning alam ngadammakdum ajali abadi.

Nuli cahya aran nur muhammad, nuli kaca aran mirhatulkayai, nuli nyawa aran roh ilapi, nuli damar aran kandil, nuli sesotya aran darah, nuli dhindhing jalal aran kijab. Iku kang minangka warnaning kalaratIngsun.

Artinya;
Sesungguhnya “AKU” (Hidup/Urip) adalah dzat yang maha kuasa, yang kuasa menciptakan segala sesuatu, jadi seketika, sempurna berasal dari kuasa-KU, di situ telah nyata tanda perbuatan-KU, yang sebagai pembuka kehendak-KU, yang pertama “AKU” (Hidup/Urip) menciptakan kayu bernama Sajaratulyakin, tumbuh di dalam alam yang sejak jaman azali (dahulu) dan kekal adanya.

Kemudian Cahya bernama Nur Muhammad, berikutnya Kaca bernama Mir’atulhayai, selanjutnya Nyawa bernama Roh Idhofi, lalu Lentera bernama Kandil, lalu Permata bernama Darah, lalu dinding pembatas bernama Hijab. Itu sebagai tempat kekuasaan-KU.

Maksud dari Sabda Hidup atau Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono ini;
Menjelaskan bahkan menunjukkan kepada kita, bahwa “AKU” (Hidup/Urip) merupakan dzat yang maha kuasa, yang kuasa menciptakan segala sesuatu hanya dengan satu sabda saja yaitu; KUN, maka seketika jadi FA YAKUN, semua ciptaan-Nya sempurna sebagai pertanda perbuatan (af’al)-KU.

Pertama diciptakan adalah Pohon (kayu) bernama Sajaratulyakin, atau sajaratulkaun (pohon kejadian) yang merupakan awal dan asal mula penciptaan.

Kedua diciptakan Cahaya yang diberi nama Nur Muhammad.

Nur Muhammad ini merupakan bibit alam semesta.

Nur Muhammad yang dimaksudkan adalah bukan sebagai cahaya dari Muhammad, nabinya orang Islam, bukan,,,!!! melainkan secara bahasa berarti cahaya yang terpuji, sehingga dikatakan semua cipta’an pasti berasal dari Nur Muhammad ini, maksudnya; Mengandung Nur Muhammad.

Hal itu pula yang mengisyaratkan adanya pemahaman, bahwa dalam tingkatan tertentu, kebenaran hanyalah satu, adanya ajaran-ajaran yang berbeda setelah mencapai tahap tertentu, ternyata sama belaka, karena bersumber dari Cahaya yang terpuji, cahaya kebenaran, yaitu Nur Muhammad.

Ketiga “AKU” (Hidup/Urip) menciptakan Kaca bernama Miratulhayai (Cermin Kehidupan atau Cermin Malu).

Setelah diciptakannya Cermin ini, Nur Muhammad akhirnya dapat melihat wujudnya, yang mengakibatkan dirinya bergetar hebat dan berkeringat, dari tetesan keringat inilah makhluk hidup berasal.

Ke’empat diciptakan Nyawa yang diberi nama Roh Idhofi.

Kelima diciptakan Lentera yang diberi nama Kandil.

Ke’enam diciptakan Permata yang diberi nama Darah.

Ketujuh diciptakan dinding pembatas antara kehidupan fisik dan non fisik, antara yang kasar dan yang halus, yang disebut hijab.

Sesungguhnya manusia itu rahsa-KU dan “AKU” (Hidup/Urip) itu rahsanya manusia, karena “AKU” (Hidup/Urip) menciptakan Adam berasal dari empat perkara, yaitu; air, angin, api dan bumi.

Itu sebagai perwujudan sifat-KU, di sana “AKU” (Hidup/Urip) tempatkan lima perkara, yaitu; nur, rahsa, roh, nafsu dan budi.

Itulah sebagai perwujudan wajah-KU yang Maha Suci.

Sabda ke;
3. Kahananing Dzat Urip – Keadaannya Dzat Hidup.

Sajatine manungsa iku rahsanIngsun lan Ingsun iku rahsaning manungsa, karana Ingsun anitahake adam asal saka anasir patang prakara, yaitu; banyu, angin, geni, bumi.

Iku kang dadi kawujudaning sipat Ingsun, ing kana Ingsun panjingi pudah limang prakara, yaitu; nur, rahsa, roh, napsu lan budi. Iya iku minangka warnaning rupanIngsun kang Maha Suci.

Maksud dari Sabda Hidup atau Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono yang ketiga ini;
Menjelaskan bahkan menunjukkan kepada kita, bahwa;
Manusia diciptakan sebagai “Rahsa” (bukan rasa, sebab antara rasa dan rahsa dalam keilmuan, itu berbeda) dari Urip/Hidup, dan Hidup/Urip itu sebagai “Rahsa” dari manusia, bukan rasa, sebab rasa itu masih termasuk anasir.

Yang dimaksud “Rahsa” adalah; Bahwa Hidup/Urip menciptakan manusia menurut gambaran-Nya atau menurut citra-Nya.

Dan manusia diciptakan dari empat unsur yang merupakan gambaran sifat-Nya yaitu; air, angin, api dan bumi.

Air dalam tubuh kita;
Menjadikan empat elemen roh yaitu; roh hewani, roh nabati, roh rabbani dan roh nurrani.

Roh hewani;
Menumbuhkan kekuatan badan.

Roh nabati;
Menumbuhkan rambut, kuku, dan menghidupkan budi.

Roh rabbani;
Menumbuhkan rahsa (dzat hamba).

Roh nurrani;
Menumbuhkan cahaya.

Angin dalam tubuh kita;
Terwujud dalam empat hal yaitu; napas, tannapas, anapas dan nupus.

Napas;
Merupakan ikatan badan fisik, bertempat di hati suwedhi, yaitu jembatan hati, berpintu di lisan.

Tannapas;
Merupakan ikatan hati, bertempat di pusar, berpintu di hidung.

Anapas;
Merupakan ikatan roh, berpintu di telinga.

Nupus;
Merupakan ikatan rahsa, bertempat di hati puat yang putih yaitu; jembatan jantung, berpintu di mata.

Api dalam tubuh kita;
Menjadikan empat nafsu yaitu; mutmainah, aluamah, amarah dan supiyah.

Mutmainah dari Air berwatak;
Kesucian dan ketenangan, bersifat membangkitkan kekuatan untuk berpantang (tirakat – tarakbrata).

Aluamah dari Angin berwatak;
Suka terhadap makanan, sifatnya membangkitkan kekuatan badan.

Amarah dari Api berwatak;
Suka marah, emosi, sifatnya membangkitkan kekuatan kehendak (karep).

Supiyah dari Bumi berwatak;
Keinginan, keterpesonaan, keinginan memiliki, bersifat membangkitkan kekuatan pikir berupa akal.

Bumi dalam tubuh kita;
Berwujud pada hal-hal yang bersifat kedagingan, dan kedagingan ini, dibagi menjadi dua hal yaitu;
Yang merupakan unsur dari bapak, berupa tulang, otot, kulit dan otak, dan unsur dari ibu, berupa daging, darah, sungsum dan jerohan.

Setelah empat unsur alam terbentuk dalam tubuh manusia, kemudian “AKU” (Hidup/Urip) menempatkan pula lima hal dzat hamba (mudah) sebagai gambaran wajah-Nya yaitu; nur, rahsa, roh, nafsu dan budi.

Nur;
Merupakan terangnya cahya, jika mewakili Dzat Yang Maha Suci dapat menerangi lahir batin.

Rahsa;
Rahsa jika mewakili Dzat Yang Maha Suci dapat menumbuhkan daya ketenteraman lahir dan batin.

Roh;
Penglihatan roh jika mewakili Dzat Yang Maha Suci menjadikan penguasaan sempurna.

Nafsu;
Kekuatan nafsu jika mewakili Dzat Yang Maha Suci menumbuhkan kekuatan kehendak yang sentosa.

Budi;
Benciptaan budi jika mewakili Dzat Yang Maha Suci menumbuhkan daya cipta yang sentosa.

Oleh karena itulah di katakan, bahwa sesungguhnya manusia itu, mempunyai sifat-sifat Tuhan dan juga mempunyai ke-Suci-an wajah Tuhan.

Jadi, mustahil jikalau sampai tidak menyukai kebaikan dan keindahan serta kebenaran, hanya saja, karena sifat-sifat itu masih terselimuti ego, pamrih, arogan dan noda-noda hati yang lainnya, sehingganya belum bisa menyukai kebaikan dan keindahan serta kebenaran, apa lagi melakukannya.

Sabda ke;
4. Pambukaning tahta malige ing dalem betalmakmur – Pembukaan tahta dalam baitulmakmur.

Sajatine Ingsun anata malige ana sajroning betalmakmur, iku omah enggoning parameyanIngsun, jumeneng ana sirahing Adam.

Kang ana sajroning sirah iku dimak, yaiku utek, kang ana antaraning utek iku manik, sajroning manik iku budi, sajroning budi iku napsu, sajroning napsu iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran anging Ingsun, Dzat kang anglimputi ing kahanan jati.

Artinya;
Sesungguhnya “AKU” (Hidup/Urip) bertahta dalam baitulmakmur, itu rumah tempat pesta-KU, berdiri di dalam kepala Adam.

Yang pertama dalam kepala itu “Dimak” yaitu otak, yang ada di antara otak itu “Manik” di dalam manik itu “Budi” di dalam budi itu “Nafsu” di dalam nafsu itu “Suksma” di dalam suksma itu “Rahsa” di dalam rahsa itu “AKU” (Hidup/Urip).

Tidak ada Tuhan selain hanya “AKU” (Hidup/Urip) Dzat yang meliputi keberada’an yang sesungguhnya.

Sabda Hidup atau Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono yang ke empat ini, menyatakan bahwa; Hidup/Urip bertahta atau bersinggasana di dalam baitul makmur, yang berada di dalam kepala manusia.

Yang dimaksud dengan baitul makmur adalah cakra mahkota yang ada di puncak kepala (ubun-ubun).

Di dalam kepala manusia terdapat otak, di antara otak itu sendiri terdapat lapisan-lapisan sebagai berikut;
Yang pertama “Manik”
Di dalam manik terdapat “Budi”
Di dalam budi terdapat “Nafsu”
Di dalam nafsu terdapat “Suksma”
Di dalam suksma terdapat “Rahsa”
Di dalam rahsa terdapat “AKU” (Hidup/Urip).

Dan sesungguhnya tidak ada “Tuhan” selain hanya “AKU” (Hidup/Urip) Dzat yang meliputi segalanya.

Sabda ke;
5. Pambukaning tahta malige ing dalem betalmukarram – Pembukaan tahta dalam baitul mukarram.

Sajatine Ingsun anata malige sajroning betalmukarram, iku omah enggoning lalaranganIngsun, jumeneng ana ing dhadhaning adam.

Kang ana sajroning dhadha iku “Ati, kang ana antaraning ati iku “Jantung” sajroning jantung iku “Budi” sajroning budi iku “Jinem” yaiku “Angen-angen” sajroning angen-angen iku “Suksma” sajroning suksma iku “Rahsa” sajroning rahsa iku “Ingsun”

Ora ana pangeran anging Ingsun Dzat kang anglimputi ing kahanan jati.

Artinya;
Sesungguhnya “AKU” (Hidup/Urip) bertahta dalam baitulmukarram, itu rumah tempat larangan-KU, berdiri di dalam dada adam.

Yang ada di dalam dada itu “Hati” yang ada di antara hati itu “Jantung” dalam jantung itu “Budi” Di dalam budi itu “Jinem” atau “Angan-angan, di dalam angan-angan itu “Suksma” di dalam suksma itu “Rahsa, dalam rahsa itu “AKU” (Hidup/Urip).

Tidak ada “Tuhan” kecuali hanya “AKU” (Hidup/Urip) Dzat yang meliputi keberadaan yang sesungguhnya.

Sabda Hidup atau Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono yang ini menyatakan bahkan menegaskan bahwa;
Diri-Nya bertahta di baitul muharram, yang menjadi tempat larangan, berada di dalam dada manusia.

Maksudnya adalah cakra jantung. Disebutkan bahwa di dalam dada manusia itu terdapat susunan sebagai berikut;
Pertama “Hati” (kalbu).
Di antara Hati terdapat “Jantung”
Di dalam jantung ada “Budi”
Di dalam budi ada “Angan-angan”
Di dalam angan-angan ada “Suksma”
Di dalam suksma ada “Rahsa”
Di dalam rahsa ada “AKU” (Hidup/Urip).

Jantung yang terdapat diantara Hati yang dimaksud adalah;
Bukanlah liver atau hati secara fisik, melainkan hati secara maknawi, karena pada diri manusia ada terdapat lebih dari satu hati, yang menurut keilmuan spiritual, ada yang namanya hati puat, hati suwedhi, dll.

Berulang kali ditegaskan bahwa tidak ada Tuhan selain “AKU” (Hidup/Urip) Dzat yang meliputi keberadaan sesungguhnya (kahanan jati).

Mengapa Hidup atau Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono perlu menegaskan kalimat tersebut hingga berulang-ulang kali…?!

Karena untuk menghindari salah pengertian bagi mereka yang telah mencapai pencerahan tingkat tinggi (universal), agar supaya tidak sampai;
Karena merasa bahwa “AKU” (Allah/Hidup/Urip) bertahta di kepala dan di dalam manusia, lalu mengaku dirinya sebagai Tuhan, jikalau itu yang terjadi, maka manusia tersebut telah jauh tersesat.

Sabda ke;
6. Pambukaning tahta malige ing dalem betalmukadas – Pembukaan tahta dalam baitulmuqaddas.

Mohon Maafkan, berhubung Wejangan yang ke 6 ini, merupakan
Wejangan intisari, penentu Wejangan Sari Patinya, yang harus di sampaikan secara langsung, tidak bisa melalui media perantara apapun, maka di bagian ini, saya blokir.

Sabda ke;
7. Panetep santosaning iman – Penetapan kekuatannya iman.

Ingsun anekseni satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun lan anekseni Ingsun satuhune muhammad iku utusan Ingsun.

Artinya;
“AKU” (Hidup/Urip) menyaksikan bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali hanya “AKU” (Hidup/Urip) dan “AKU” (Hidup/Urip) menyaksikan sesungguhnya muhammad itu adalah utusan-KU.

Di Sabda Hidup atau Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono yang ke 7 ini, yang merupakan Sabda terakhir ini;
Benar-benar di tegaskan senyata-nyatanya dan setegas-tegasnya Bahwa;
“AKU” (Hidup/Urip( menyatakan kesaksian-Nya yang ditujukan kepada makhluk ciptaan-Nya, bahwa tidak ada Tuhan yang lain kecuali hanya Dia semata, dan muhammad adalah rasul atau utusan-Nya.

“Ingsun anekseni ing DzatIngsun dhewe, satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun, lan anekseni Ingsun satuhune muhammad iku utusanIngsun”

“Iya sejatine kang aran Allah iku badanIngsun, rasul iku rahsanNingsun, muhammad iku cahyaNingsun”

“Iya Ingsun kang urip tan kena ing pati, iya Ingsun kang eling tan kena ing lali, iya Ingsun kang langgeng ora kena owah gingsir ing kahanan jati, iya Ingsun kang waskitha, ora kasamaran ing sawiji-wiji”

“Iya Ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana ora kekurangan ing pakerthi, byar sampurna padhang terawangan, ora karasa apa-apa, ora ana katon apa-apa, amung Ingsun kang anglimputi ing alam kabeh kalawan kodratIngsun”

Artinya;
“AKU” menyaksikan pada Dzat-KU sendiri, sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali “AKU”
dan menyaksikan “AKU” sesungguhnya muhammad itu utusan-KU”

“Sesungguhnya yang bernama Allah itu badan-KU, rasul itu rahsa-KU, muhammad itu cahaya-KU”

AKU-lah yang “Hidup” tidak bisa mati, AKU-lah yang “Ingat” tidak bisa lupa, AKU-lah yang “Kekal” tidak bisa berubah dalam keberadaan yang sesungguhnya, AKU-lah “Waskita” tidak tersamar pada sesuatu apapun.

“AKU-lah yang berkuasa berkehendak, yang kuasa, bijaksana, tidak kurang dalam tindakan, terang sempurna, jelas terlihat, tidak terasa apa pun, tidak kelihatan apa pun, kecuali hanya “AKU” yang meliputi alam semua dengan kuasa (kodrat)-KU”

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekaluan@@@####;
Wejangan satu hingga ke tujuh tadi, merupakan satu rangkaian yang tidak boleh putus apa lagi diputus, sebagaimana baca’an “KUNCI” yang harus dibaca hingga tujuh kali berturut-turut, sebab karena jikalau sampai terputus, maka pemahamannya akan terputus pula.

Bacalah artikel ini atau simaklah Vidio ini hingga berulang-ulang kali, sampai benar-benar meresap masuk ke dalam qalbu relung hati yang paling dalam, setelah benar-benar meresap.

Lalu berjuanglah sekuat upayamu untuk bisa menemui saya secara langsung, guna untuk mendapatkan Wejangan Ke 6-nya, yang merupakan Babak Penentunya. Yaitu;
Pambukaning tata malige ing dalem betalmukadas – Pembukaan tahta dalam baitulmuqaddas.

Agar supaya bisa menempati Sabda Hidup yang ke 7-nya.
Yaitu;
Panetep santosaning iman – Penetapan kekuatannya iman.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Raga itu Abdinya Sang Hidup/Urip, dan itu bersifat baru, dilengkapi pancaindra sebagai barang pinjaman, bila diminta pemiliknya kembali, menjadi tanah dan membusuk, hancur dan bersifat najis, karena sifatnya itu, Pancaindra tak dapat dipakai sebagai pedoman.

Budi, pikiran, angan-angan, kesadaran, satu wujud dengan akal bisa menjadi gila, sedih, bingung, lupa, tidur, tidak jujur, dendam, iri, fitnah, dengki, sirik terhadap sesama untuk kebahagiaan sendiri, menimbulkan kejahatan dan kesombongan ke lembah nista nodai nama dan citra.

Manusia hidup yang hakiki adalah wujud hak, kemandirian dan kodrat
berdiri dengan sendirinya,
sukma menjelma sebagai hamba,
hamba menjelma pada sukma,
napas sirna menuju ketiadaan,
badan kembali sebagai tanah.

Adanya kehidupan itu karena pribadi ditetapkan oleh pribadi,
ditetapkan oleh kehendak nyata,
hidup tanpa sukma, tiada merasakan sakit atau lelah,
suka duka pun musnah,
berdiri sendiri menurut karsa-Nya
Hidup/Urip sesuai kehendak-Nya.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Yang harus diikuti oleh tiap seorang manusia adalah;
Petunjuk yang paling baik dari Hidup-nya sendiri.

Hidup-lah yang bisa memberikan petunjuk yang paling baik (beciking becik) dan paling benar (benering bener) bagi tiap seorang manusia, secara individual (pribadi).

Karena Hidup itu yang berasal dari Maha Hidup, yaitu Tuhan Yang Maha Esa (Hidup yang meliputi, menggerakkan dan menguasai alam semesta seisinya – Urip kang ngalimpudhi, ngobahake lan nguwasani jagad raya saisine).

Dan hanya Hidup, yang nantinya kembali (seharusnya) kepada Tuhan Yang Maha Esa, bukan ke lain selain-Nya.

Hidup yang tahu, apa dan bagaimana Raganya manusia setiap saat harus berbuat apa, selama masih di dunia, agar senantiasa dalam keadaan Bahagia Sejati (tenteram).

Bahagia Sejati itu adalah dalam Rasa yang kita alami secara sadar, bukan yang hayalan atau bayangan yang berubah-ubah.

Kalau kita menjalani kehidupan dan penghidupan di dunia ini, mengikuti jalannya Hidup, maka kita akan menjalani kehidupan dan penghidupan kita dengan diliputi selalu Rasa Bahagia yang sejati (tenteram).

Selain itu, “perjalanan hidup” kita, tidak akan menyimpang dari lingkaran Hidup itu sendiri. Artinya; kita tidak membawa Sang Hidup untuk menyimpang dari “perjalanan“ yang seharusnya ditempuh, yaitu dari Tuhan, milik Tuhan, lalu berada di dunia dengan raganya, kemudian lepas dari raganya, dan langsung bisa kembali ke asalnya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Tanpa harus tersesat menunggu juta’an tahun.

Tidak sedikit, manusia yang hidup sekarang ini, dijaman yang dikatakan maju, modern, canggih, cerdas, sekalipun terpenuhi segala kebutuhan materiilnya, bahkan kebutuhan emosionalnya, tetapi kehilangan Rasa Bahagianya yang sejati.

Paling paling hanya akan merasakan senang sebentar, lalu hilang dan berusaha mencari senang lagi, dan seterusnya begitu.

Tidak sedikit, keluarga-keluarga yang sudah kehilangan keharmonisan, keserasian, kebahagiaan dalam berkeluarga.

Sesuatu yang didambakan setiap orang saat ingin membangun suatu keluarga.

Semua itu, karena manusia melupakan, bahwa dalam dirinya ada Hidup (Rokh, Soul)-nya.

Tanpa Hidup, segala yang ada tidak berarti dan tidak punya nilai lagi.

Sekalipun Manusia merasa, masih ingin, dan bahkan berusaha melakukan hubungan dengan Tuhan nya, tetapi dalam segala tindakannya, terlepas dari hubungan itu.

Semua tindakannya, didasarkan hanya atas dasar akal-pikirannya sendiri, atas dasar apa yang dianggapnya baik dan benar.

Tidak mau tahu, apa yang sebenarnya baik dan benar bagi dirinya menurut Tuhan nya.

Dengan menjalani Laku Murni Menuju Suci Kinantenan Sarwo Mijil, manusia akan selalu diberi petunjuk, diberi tahu, apa yang baik dan benar untuk dilakukan dirinya, setiap saat.

Yang memberi tahu, Hidupnya sendiri, karena Hidup lah yang, bisa menangkap kehendak Tuhan setiap saat.

Bagi yang merasa tidak cocok dengan tulisan dan Vidio saya ini, janganlah diingat lagi, dan anggap saja tidak pernah membaca tulisan saya dan melihat Vidio saya ini.

Bagi yang merasa cocok, silahkan kalau mau digunakan, cari lah Artikel saya di google yang berJudul; PETUNJUK DAN BIMBINGAN SPIRITUAL HAKIKAT HIDUP. DALAM LAKU MURNI MENUJU SUCI “KUNCI THE POWER” Level Satu (untuk menjaga hati) dan Level Dua (untuk membersihkan hati) serta Level Tiga (untuk membuka hati).

Lalu copy paste ketiga level Bimbingan itu dan di print, kemudian di jilid seperti buku, agar supaya lebih mudah membacanya, kemudia pelajarilah dengan seksama, kalau sudah mengerti dan memahami, segera praktekan selagi masih ada kesempatan waktu untuk berTaubat dan berIman.

Sebab Karena, hanya Laku Murni Menuju Suci saja. Yaitu;
Meng-Ibadah-kan Wahyu Panca Ghaib dengan menggunakan Wahyu Panca Laku yang bisa Lakukan keSempurna’an Sangkang Paraning Dumadi atau Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un ini, dan Laku Murni Murni Menuju Suci memiliki tiga tahap atau level yang masing-masing;
Level Satu (untuk menjaga hati) Level Dua (untuk membersihkan hati).
Level Tiga (untuk membuka hati).
Dan ketiganya harus di lalui terlebih dahulu sebelum masuk ke Tujuh Wejangan ini.

Salam Se-Tuhan Penuh Cinta Kasih Sayang dari dalam Lubuk hati saya WEB yang paling dalam. Selamat🙏Selamat🙏Selamat🙏 Rahayu🙏Rahayu🙏Rahayu🙏Damai🙏Damai🙏 Damai🙏 Tenteram🙏
Saya❤️
Wong Edan Bagu❤️
Ngaturaken Sugeng Rahayu🙏
lir Ing Sambikolo🤝
Amanggih Yuwono🤝
Pinayungan Mring Ingkang Maha Suci🙏
Basuki❤️
Yuwono❤️
Teguh❤️
Rahayu❤️
Slamet❤️🙏❤️
BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏Om Shantih Shantih Shantih Om – Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu🙏
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Mijile Putera Rama – Putero Romo:


Mijile Putera Rama – Putero Romo:
Oleh: Wong Edan Bagu.

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…

Gubug Jenggolo Manik. Pukul. 20:01. Hari Senin. Tanggal 08. April 2019.

Kunci;
Gusti ingkang Maha Suci.
Kula nyuwun pangapura dumateng Gusti ingkang Maha Suci.
Sirolah, Datolah, Sipatolah.
Kula sejatine satriya/wanita. Nyuwun wicaksana, nyuwun panguwasa.
Kangge tumindak satriya/wanita sejati.
Kula nyuwun kangge anyirna’ake tumindak ingkang luput.

Demikian lah uni atau unen-unen/baca’an “Kunci” Salah satu Kalimat utama dari 5 kalimah yang lainya, yang wajib di manunggalkan oleh seorang Putera Rama.

Manakala tengah bertemu untuk berkumpul bersama (keKadhangan), dalam cipta manunggal, satu hati satu rasa, guna membersihkan diri agar supaya bisa memasuki ranah suci nya jiwa.

Demikianlah yang diajarkan oleh M. Semono Sastrohadijoyo, yang ketika itu di ikrarkan Pada Hari Selasa Malam Senin Pahing Tanggal 14 Nopember 1955.

Yang merupakan turunnya Wahyu Panca Ghaib terhadap diri M. Semono Sastrohadijoyo dan manjing/mijil atau masuknya ke dalam Hati Romo Semono Sastrohadijoyo, sebagai Juru Selamat bagi sesama makhluk Hidup dan sekaligus Penyempurna dari semua lelaku tanpa terkecuali.

Uni/unen atau baca’an “Kunci” bukan hanya diucapkan dalam mulut saja, melainkan sepenuhnya harus di resapi/hayati dengan kesadaran Rasa dalam hati yang paling dalam.

Juga wajib di manunggalkan manakala hendak mengerjakan sesuatu kegiatan hingga menyudahi kegiatan setiap harinya.

Artinya, ada apa-apa maupun tidak ada apa-apa tetap harus “Kunci” di lafadkan, dari menjelang tidur sampai terbangun kembali, dengan selalu palungguh diawal dan dialhirnya, (telapak tangan kanannya memegang ulu hati).

Manfaat setiap saat selalu melafadkan Uni/unen atau baca’an “Kunci” di maksudkan agar hati ini senantiasa mengakui, menyadari dan mengingat dan merasakan adanya kemanunggalan antara makhluk dan Tuhan-nya Dzat Maha Suci Hidup di setiap gerak tubuh dan gerik hati.

Ini adalah wewarah atau pelajaran dari Mendiang M. Semono Sastrohadijoyo, yang disebut sebagai sangu urip lan pati, bekal hidup dan mati.

Sebelum Putera Rama Mijil, waktu itu Wahyu Panca Ghaib masih tersebut sebagai Wahyu Eka Buana atau Wahyu Mahkota Rama, sedangkan Penerimanya bernama M. Semono Sastrohadijoyo, saat berTapa di Goa Singa Barong Nusa Kambangan Cilacap Jawa Tengah, sekitar tahun 1945-1949.

Setelah Putera Rama Mijil Pada Hari Senin Pahing Tanggal 14 Nopember 1955 di Perak Surabaya Jawa Timur.

Wahyu Eka Buana atau Wahyu Mahkota Rama berganti menjadi Wahyu Panca Ghaib dan yang berhasil Mijilake/Memijilkan atau menyempurnakan Adalah;
M. Semono Sastrohadijoyo. bergelar Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono.

Dan sejak itulah beliau M. Semono Sastrohadijoyo Putra angkat ke tiga dari dua bersaudara anak kandung ulama besar, yang juga tokoh spiritual di jaman kolonialis Belanda. Bernama; Kyai Kasan Dikromo.

Yang namanya saat itu cukup terkenal di wilayah Banyuwangi, Jawa Timur, dengan sebutan sebagai Romo Smono, ketika beliau masih mengabdikan dirinya sebagai TNI AL, selama 7 tahun (1955) sebelum dinyatakan resmi purnawiran sebagai prajurit KKO TNI AL dengan pangkat terakhirnya Kapten (1962).

Suami dari Dua Orang Istri bernama Ibu Ngarinem dan Tumirah/Tumirin ini, mengajarkan wewarah ajaran Hidup kepada mereka para rekan prajurit ABRI maupun masayarakat Jawa Timur pada umumnya.

Meskipun beristri dua orang wanita yang nan cantik jelita, namun Romo Smono oleh Gusti Kang Murbeng Dumadi, tidak diberikan momongan seorang anak.

Namun demikian, lantaran ribuan jumlah pengikutnya pada waktu itu hingga sekarang ini, bagi Romo Smono, yang terlahir di Purworejo sekitar tahun 1900 dan meninggal 3 Maret 1981 ini, kesemua pengikutnya diangkat untuk dijadikan sebagai anak (Tersebut) Putera Rama – Putero Romo, yang…

Artinya;
Putera/Putero – Put itu Puteran.
Ra/Ro itu Rasa.
Putera/Putero berartinya Puteran Rasa.

Sedangkan Rama/Romo.
Ra/Ro itu Rasa atau Romo.
Ma/Mo itu Manunggal.
Romo berarti Rasa Manunggal.
(Putera Rama. Berarti Puteran Rasa Manunggal).

Lahir lah Putera Rama atau Putero Romo dan mulai lah berkembang ajaran “pitutur urip bener benering bener” di seluruh Pulau Jawa dan sekitarnya.

Setiap kali Seorang Putera Rama datang, entah Lelaki atau Wanita, entah besar, kecil atau tua dan muda. Romo Smono selalu BerUcap Kata;

Heh putraningsun sami.
Pra satriya lan wanita.
Mrenea sun jarwani.

Mangertiya jenengsira.
Wus Ingsun sabda dadi
Kitab suci sejati.
Adam makna wastanipun.
Iku wujudiro.

Wulang-reh sejati.
Iku uniniro.
Ber-budi bawa-leksana.
Kadya lakunira.

Pratanda Jeneng Siro Putraningsun Sejati.

Tak pelak, pemerintah di jaman peralihan pun dibuatnya gusar.

Oleh Presiden Soeharto yang waktu itu selaku penguasa Negara (1966) dicekalah Romo Smono berserta pengikut ajarannya.

Untungnya, setelah diadakan perundingan yang cukup alot, kesalah pahaman itu bisa kembali diterima pemerintah.

Segera saja 5 tahun kemudian 1971, Paguyuban Manunggal Rasa resmi diakui pemerintah dan dicatatkan pada “Penghayat Kepercayaan Kepada Tuhan yang Maha Esa”

Untuk lebih mengakrabkan lagi antar sesama anggota Paguyuban Manunggal Rasa yang tersebar di seluruh Tanah Air, dibentuklah sebuah Yayasan Tri Sakti yang berkepentingan untuk menjaga, melestarikan dan melaksanakan wewarah, wewuruk bener benering bener ini.

Dan merawat peninggalan adiluhung Romo Smono (M. Semono Sastrohadijoyo) ini, yang berPusara di Puncak Gunung Damar. Desa Kalinongko, Kec. Loano. Kab. Purworejo Jawa Tengah. Semoga Bermanfaat.

Dan Dari Lubuk Hati❤️saya Yang Paling Dalam Mengucapkan Salam Rahayu Penuh Cinta Kasih Sayang❤️Selamat🙏Selamat🙏Selamat🙏 Rahayu🙏Rahayu🙏Rahayu🙏Damai🙏Damai🙏 Damai🙏 Tenteram🙏
Saya❤️
Wong Edan Bagu❤️
Ngaturaken Sugeng Rahayu🙏
lir Ing Sambikolo🤝
Amanggih Yuwono🤝
Pinayungan Mring Ingkang Maha Suci🙏
Basuki❤️
Yuwono❤️
Teguh❤️
Rahayu❤️
Slamet❤️🙏❤️
BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏Om Shantih Shantih Shantih Om – Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu🙏
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Menyelami Samudera Laku Murni Menuju Suci:


Menyelami Samudera Laku Murni Menuju Suci:
Oleh: Wong Edan Bagu.

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…

Gubug Jenggolo Manik. Pukul. 22:40. Hari Kamis. Tanggal 04. April 2019.

Dimana kah Allah/Tuhan…?!
Aku sudah mejankan semua perintah-Nya dan mencegah segala larangan-Nya, namun belum juga aku melihat-Nya.

Allah/Tuhan dimana kah…?!
Katanya Allah/Tuhan itu ada, kok saya belum pernah melihatnya, benar kah Allah/Tuhan itu ada…?!
Kalau ada, lalu dimana…?!

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian;
Allahu ala kulli syai’in kodir. Artinya;
“Allah meliputi segala sesuatu”

Menyelami Samudera Cinta Kasih Sayang Di Dalam Laku Murni Menuju Suci Dzat-Nya Hyang Maha Segala-Nya.
Bisa saya ibaratkan seperti ini;
“Kalau kesusahan itu adalah “HUJAN” dan kesenangan itu adalah “MATAHARI” maka kita membutuhkan keduanya untuk bisa melihat “PELANGI”

Dan keduanya itu, tidak cukup hanya kita butuhkan saja, melainkan harus di Amini dengan Rasa Sadar, Rasa Kesadaran, dan Rasa Kesadaran Murni.

Sebab karena hanya dengan Rasa Sadar, Rasa Kesadaran, dan Rasa Kesadaran Murni lah, semua dan segala hal bisa di saksikan dan di nyatakan keaslinya.

“…apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang “AKU” maka (jawablah) bahwasanya “AKU” adalah dekat“
(QS. Al-Baqarah [2]:186)

“…Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya”
(QS. Qaaf [50] :16)

Ya,,, aku pernah membaca ayat tersebut, namun, aku juga pernah membaca ayat yang lainnys, yaitu;
Awaludini Ma’rifatullah.
Artinya; Permulaan Agama adalah mengenal Allah, tapi…

Bagaimana aku bisa mengenal…?!La melihat saja tidak…!!!
Di ayat yang lain juga menegaskan
“Wama Kholaqol Insanaa Lil Ma’rifatihi”
Yang artinya;
Dan Tidaklah Aku Ciptakan Manusia Melainkan Untuk Ma’rifat (mengenal) ke pada-KU.

Bagaimana aku bisa mengenal…!!!Melihat saja tidak…!!!

Jadi, walaupun firman-Nya atau ayatnya atau hadistnya atau bla blanya menjelaskan begitu, tetapi aku benar-benar tidak melihatnya.

Aku yakin dan percaya Allah/Tuhan itu ada, tapi aku butuh melihatnya, agar semakin yakin diri ini, kalau hanya sebatas katanya…

Katanya kitab, hadist, koran, medsos, kiyai, ustadz, dukun atau apapun sebutan dan alasannya, aku belum seratus persen yakin, kalau aku belum melihat dan menyaksikannya sendiri.

Ya,,, jelas tidak akan pernah bisa melihat dan menyaksikan serta mengenal-Nya, la mencarinya keluar diri…

Man Tholabal Maulana Bighoiri Nafsi Faqoddola Dolalan Baida.
Yang artinya;
Barang siapa yang mencari Allah/Tuhan, keluar dari dirinya sendiri, maka dia akan tersesat semakin jauh.

Aku juga sudah baca ayat itu, dan mempraktekannya, namun tetap belum bisa, seperti menggali rasa, menghayati rasa, mempelajari rasa dan bla bla bla seperti yang pak WEB terangkan, namun belum bisa juga.

Sebenarnya, ketika seseorang mencari Allah/Tuhan kedalam dirinya sendiri, di sadari atau tidak, seseorang itu telah bertemu dengan Allah/Tuhan, namun belum melihat, belum menyaksikan.

Kenapa…?!
Karena Laku Murni Menuju Suci di butuhkan untuk itu.

Apa itu Laku Murni Menuju Suci…?!
Masih kurang kah ratusan artikel dan puluhan Vidio saya yang mengabarkan tentang hal itu di internet…!!!

Saya sudah membacanya dan mempraktekannya kok pak WEB…!!!

Bohong…!!!
Buktinya masih ujuk gigi (arogan), masih merasa bisa itu dan ini, bahkan Laku Murni Menuju Suci nya di bungkus ego dan di balut pamrih-pamrih.

Man Arofa Nafsahu Faqod Arofa Robbahu;
Barang siapa mengenal nafs (diri) nya, maka dia mengenal Tuhan nya.

Wa Man Arofa Robbahu Faqod Jahilan Nafsahu;
Barang siapa mengenal Tuhannya maka dia merasa bodoh.

Kenapa dan mengapa merasa bisa melakukan semua perintah Allah/Tuhan dan mencegah larangnya…?!
Sehingganya;
Menjadikan ego dan pamrih itu bisa muncul dengan kuatnya.

Bahwasanya semua dan segalanya itu dilakukan semata-mata hanya karena ingin melihat, menyaksikan, mengenal Allah/Tuhan.

Kalau bukan karena ingin melihat, menyaksikan, mengenal Allah/Tuhan, tidak mau melakukan semua perintah Allah/Tuhan dan mencegah larang-Nya.

Hayo…!!!
Tidak kah kita sadari hal ini…?!
Apa kah Laku Murni Menuju Suci mu ber misi dan ber visi seperti itu…?!

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian “Bacalah kitab yang kekal yang berada di dalam diri kalian sendiri (hati)” Sebab Karena;
Allah/Tuhan itu bathinnya manusia, manusia adalah dhohirnya (kenyataannya) Allah/Tuhan “Al-Insanu Siri Wa Anna Siruhu” Rahasia kalian adalah rahasia-Ku.

Didalam Sebuah Hadits Qudsi Allah/Tuhan Berfirman yang Artinya;
“Aku adalah Rahasiah (Perbendaharaan) yang tersembunyi, lalu Aku berkeinginan agar dikenal, kemudian aku ciptakan alam serta makhluk (Muhammad) tidak lain agar mereka bisa Ma’rifat (mengenal) kepada Aku”

Laku Murni Menuju Suci adalah;
“Aroftu Robbi Bi Robbi”
Mengenal Allah/Tuhan melalui Allah/Tuhan.

Sebab karena itu Laku Murni Menuju Suci yaitu Meng-Ibadah-kan Wahyu Panca Ghaib menggunakan Wahyu Panca Laku/Iman, tentang hati dan soal isi hati, bermula dari hati, bermuara di hati dan berakhir di hati pula, bukan tentang agama apapun dan soal keyakinan apapun dan yang lain-lainnya. Bukan!

Di dalam setiap rongga dada anak Adam, Aku ciptakan suatu mahligai yang disebut dada, di dalam dada ada kolbu, di dalam kolbu ada fuad, di dalam fuad ada syagofa, di dalam syagofa ada sir, di dalam sir ada Aku tempat Aku menyimpan rahasia.

Para Kadhang Dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Ketahuilah;
Sungguh di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuh. Jika rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah Hati. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

“…Aku tidak bisa berada di bumi ataupun di langit, tapi aku bisa berada dalam hati seorang mukmin yang benar”
“Qalbul mukmin Baitullah.”
Hati orang yang beriman itu adalah rumah ALLAH/TUHAN.
“…Tidak dapat memuat dzat-Ku bumi dan langit-Ku, kecuali “Hati” hamba-Ku yang mukmin, lunak dan tenang“ (HR Abu Dawud ).

Masihkah Membuang Waktu akan hal ini, dengan sibuk berpikir itu dan ini, sedangkan semuanya sudah jelas dan tinggal Praktek thok…?!

Jikalau masih iya. Maka;
Jagalah Pikiranmu, karena Pikiran akan menjadi Perkata’anmu.
Jagalah Perkata’anmu, karena Perkata’anmu akan menjadi Perbuatanmu.
Jagalah Perbuatanmu, karena Perbuatanmu akan menjadi Kebiasa’anmu.
Jagalah Kebiasa’anmu, karena Kebiasa’anmu akan membentuk Karaktermu.
Jagalah Karaktermu, Karena Karaktermu akan menentukan Nasibmu.

Jagalah Nasibmu, karena Nasib, akan menentukan suana Hatimu.
Jagalah Hatimu, karena Hatimu akan menentukan Rasamu.
Jagalah Rasamu, karena Rasamu akan menentukan Lakumu.
Jagalah Lakumu, karena Lakumu akan menentukan Tuhan-mu.
Tuhan hantu, apa hantu Tuhan, apa Tuhan Tuhanan atau hantu hantuan.
TTD: Wong Edan Bagu

Salam Se-Tu-Han Penuh Cinta Kasih Sayang dari dalam Lubuk hati saya WEB yang paling dalam. Selamat🙏Selamat🙏Selamat🙏 Rahayu🙏Rahayu🙏Rahayu🙏Damai🙏Damai🙏 Damai🙏 Tenteram🙏
Saya❤️
Wong Edan Bagu❤️
Ngaturaken Sugeng Rahayu🙏
lir Ing Sambikolo🤝
Amanggih Yuwono🤝
Pinayungan Mring Ingkang Maha Suci🙏
Basuki❤️
Yuwono❤️
Teguh❤️
Rahayu❤️
Slamet❤️🙏❤️
BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏Om Shantih Shantih Shantih Om – Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu🙏
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Sebuah Analogi Kunci Yang Hilang:


Sebuah Analogi Kunci Yang Hilang:
(Kisah Nyata Masa Laluku Yang Terangkat lagi Saat ini):
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul. 15:15. Hari Rabu. Tanggal 3. April 2019.

Dulu…
Tempoe Doeloe….sekali.
Saya pernah terlibat proses lelaku pencarian harga karun peninggalan Bung Karno Sang Legendaris Presiden pertama NKRI.

Dalam prosesnya pencariannya, suatu ketika, saya dan sembilan orang kru saya, terjebak dalam satu ruangan yang terkunci rapat secara otomatis.

Tidak ada jendela, tidak ada ventilasi, dan tidak ada jalan keluar dari ruangan tersebut kecuali melalui pintu yang terkunci rapat secara otomatis itu, yang kunci nya entah dimana tersimpannya, tidak satupun yang mengetahui.

Dan untuk hal tersebut, tentunya jika kami semua ingin keluar dari ruangan yang terkunci itu, kami harus menemukan kunci yang tak tau rimbanya tersebut, dan akhirnya semua orang dalam ruangan tersebut sibuk mencari-cari kunci itu.

Ada yang mencari di pojok kanan, pojok kiri, depan, belakang, bahkan ada yang mencari di kolong bangku, meja, di bawah karpet, di dalam almari, laci, semua mencari.

Ketika semua sedang sibuk mencari, salah satu dari kami, ada yang menemukan sebuah kunci.

Wow…
Selain bersyukur ucapkan terima kasih kepada si penemu, saking senangnya, kami bersujud bahkan bersembah pada seseorang itu atas keberhasilannya menemukan kunci.

Namun…
Sayang seribu kali sayang, kunci yang sudah ditemukan itu, tidak pas dengan lubang pintu ruangan tersebut, walaupun kami sudah bersusah-payah mencari.

Ketika kunci yang ditemukan tidak terpakai, ya,,, kami salin menundukkan kepala karena suka tidak suka, mau tidak mau harus menerima dengan lapang dada, ketika kunci tersebut tidak terpakai.

Ya…
Apa boleh buat kan…???
La memang kunci itu bukan kuncinya pintu ruangan tersebut.

Mau di apakan…!!!
Masa iya harus memaksa menggunakan kunci itu…!!!

Tetapi saya pribadi tidak menyesal atas penemuan kunci itu yang tidak pas itu, karena pikir saya, mungkin setelah ruangan ini, ada ruangan lain yang juga berpintu otomatis, dan mungkin kunci ini akan bermanfaat untuk membuka pintu-pintu yang lain itu, setelah berhasil keluar dari satu ruangan ini.

Hari sudah semakin gelap, tetapi kami belum menemukan kunci yang cocok untuk membuka pintu ruangan brankas tempat kami terkurung, namun tidak ada yang berhenti mencari, semua berusaha menemukan kunci.

Akhirnya, berkat kegigihan kami semua yang ada dalam ruangan tersebut, yang telah mencari tiada henti, saya menemukan kunci yang cocok dan kami semuanya bisa keluar dari ruangan brankas otomatis tersebut.

Semua senang, semua bergembira, semua bahagia.

Hikmah dari uraianya saya di atas adalah;
Sebuah analogi ketika kita dalam sebuah rapat atau musyawarah, tidak peduli ide siapa yang dipakai, tidak peduli siapa yang menemukan, yang terpenting adalah semua bisa merasakan kebaikan dan kebenaran ide yang di peroleh dan digunakan.

Bukan maksud untuk memaksakan ide yang sudah diungkapkan sebelumnya.

Namun, jika ide yang diungkapkan tersebut tidak sesuai, maka mencari ide lain, mecari alternatif lain, adalah sebuah keharusan.

Pikirkan dengan Sadar…!!!
Jika pada kisah di atas, mereka memaksakan menggunakan kunci yang pertama ditemukan, walau kunci tersebut tidak sesuai dengan lubang pintunya, tentu mereka tetap tidak akan bisa keluar atau bahkan menambah masalah baru.

Misal, kunci yang dipaksa digunakan patah dan patahannya tertinggal di dalam lubang pintu.

Tidak masalah bagi orang yang pertama menemukan ide jika idenya tidak digunakan, tidak ada rasa penyesalan, selama ia dapat merasakan kebaikan dan kebenaran ide yang diungkapkan orang lain.

Pada intinya adalah;
Bukan tentang siapa yang menemukan ide tersebut atau ide siapa yang digunakan, akan tetapi, cocokkah ide tersebut dengan apa yang yang sedang terjadi dihadapi.

Di sinalah letak musyawarah, ketika ada dua ide kuat, bukan dicari mana ide yang paling kuat dan bagus serta yang paling banyak memilih.

Akan tetapi dari kedua sisi dicari kebaikan-kebaikan sehingga pada akhirnya, kedua belah pihak mendapatkan satu pemikiran untuk memilih salah satu ide.

Irupun ketika memilih salah satu ide, pertimbanganya tentu bukan siapa yang mengeluarkan ide tersebut, melainkan apakah ide tersebut relevan atau tidak dengan kondisi yang sedang dihadapi, memungkinkan atau tidak untuk diterapkan.

Kesimpulannya;
Yang terPenting adalah APA KUNCINYA, BUKAN SIAPA YANG MENEMUKAN KUNCI-NYA.

Memang tidak mudah untuk menemukan kesamaan dalam kemajemukan, tetapi ketika kita memiliki kunci KELAPANGAN untuk menerima kebaikan dan kebenaran universal, maka keharmonisan dalam sebuah organisasi bahkan NKRI ini, bukan hanya menjadi sebuah impian, melainkan wujud nyata dari kesempurnaan yang nyata pula.

Bukan Mahkota Mayang Kara.
(Lambang Bayangan Semu)
Bukan khayalan maksudnya…!!!

Semuga bermanfaat dan berguna bagi kita semua yang sedang mengalami krisis kesadaran karena panasnya sesuatu yang akan di pilih oleh NKRI di tanggal 17/4/2019 ini.
Ttd; Wong Edan Bagu

Salam Se-Tu-Han Penuh Cinta Kasih Sayang dari dalam Lubuk hati saya WEB yang paling dalam. Selamat🙏Selamat🙏Selamat🙏 Rahayu🙏Rahayu🙏Rahayu🙏Damai🙏Damai🙏 Damai🙏 Tenteram🙏
Saya❤️
Wong Edan Bagu❤️
Ngaturaken Sugeng Rahayu🙏
lir Ing Sambikolo🤝
Amanggih Yuwono🤝
Pinayungan Mring Ingkang Maha Suci🙏
Basuki❤️
Yuwono❤️
Teguh❤️
Rahayu❤️
Slamet❤️🙏❤️
BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏Om Shantih Shantih Shantih Om – Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu🙏
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya