LAKU PENCAPAIAN DALAM PROSES PENCARIAN JATI DIRI:

( SEDULUR 4 – 5 PANCER/ GURU SEJATI – HIDUP – TUHAN )
Oleh: Wong Edan Bagu
Pengembara Tanah Pasundan
Brebes. Jumat legi tgl 11-07-2014
SEMEDI - MEDITASI

Apapun yang ada di dunia, baik di dunia ga’ib maupun di dunia nyata, tidak ada satupun yang lepas dari tatanan/penata’an, hal ini bisa kita lihat buktinya, dari indahnya langit dan semua pirantinya, indahnya bumi beserta ube rampenya, indahnya samudra dengan semua katulistiwanya, mahkluk-mahkluk yang dengan kelebihan dan kekuranganya masing-masing. Sebab Tuhan selalu menciptakan apapun itu, dengan aturan dan penata’an serta susunan yang amat sangat rapih. karena itu, jika kita bisa memandangnya dengan iman yang tepat. Maka akan terlihat indah dan tidak ada satupun yang sia-sia… Sejak awal jaman hingga sekarang ini.

Pendidikan moral mengajarkan hal yang sama;
Jika kita mau menghadap sang Raja atau Persiden, akan tersebut bijak dan menjadi lebih mudah serta santun kalau kita menggunakan tata krama dan etikanya yang ada berlaku. Misalnya, kita menghadap bawahan-bawahanya dulu yang kemudian dengan aturannya, sampai di hadapan Persiden atau Raja secara terhormat.

Untuk bisa meraih Sarjana atau master, moralpun mengajarkan siapa saja tanpa terkecuali untuk sekolah dulu mulai dari TK nol kecil hingga perguruan tinggi, yang akhirnya menerima titelnya dengan syah/resmi.

Pendidikan akhlakpun menghajarkan hal yang serupa;
Jika kita hendak berdoa kepada Tuhan, alangkah baiknya bermujahaddah, dengan cara tahlil, berwasilah/Tawasul. Misalnya, berdoa dulu untuk orang tua dan para ahli waris leluhurnya, pada para wali/syekh, lalu pada para nabi/rasul hingga pada para malaikat dan sampailah kehadirat Tuhan dengan ketepatan iman.

Agama dan Spiritualpun mengajarkan sama;
Berdasarkan Riwayat hadist dan Firman Tuhan yang tersurat di dalam al-kitab dan tersirat alam semesta, yang kurang lebihnya berarti seperti ini; Jika engkau ingin mengenalku, maka kenalilah dirimu terlebih dulu. Karena sesungguhnya, AKU berada dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher/nadimu.

Karena itu… Para ahli merancang dan menciptakan cara tersebut dengan sedemikian rupanya. Ada yang menggunakan media wujud manusia, yang kemudian di pelajarinya, mulai dari bulu, kulit, darah, daging, tulang hingga ke sungsum. Ada yang menggunakan media panca indera, mulai dari mata, telinga, mulut, hidung, pikiran hingga ke hati/bathin. Kemudian di praktekannya dengan cara, berdoa, berwiridz, berpuasa bahkan bertapa dan hasilnya di wariskan pada penerus-penerusnya. Hingga dari jaman ke jaman seterusnya, melalui berbagai prosesnya. Tercipta dan tersusunlah cara yang lebih halus dan lebih mudah serta lebih simpel, hingga setiap diri yang berminat dan berniyat, bisa melakukannya, namun tetap tidak lepas dari lingkar aturan yang sudah tertata dan tersusun rapi sebelumnya, oleh sang penciptanya.

Cara yang lebih halus dan lebih mudah serta lebih simpel yang ke satu:
DARI PARA SYEKH; Yaitu dengan cara menggunakan doa wasilah secara khusu’ dan istiqomah, kepada empat malaikat yang di yakini oleh spiritual agama, sebagai malaikat utusan Allah yang 24 jam full, mendampingi manusia hidup dengan tugasnya masing-masing. Yaitu; Malaikat Jibril, Malaikat Ijro’il, Malaikat Mika’il dan Malaikat Isro’fil. Dengan doa didalam wasilah khusus yang di arahkan kepada ke empat malaikat tersebut, secara khusu’ dan istiqomah, jika mampu menghadapi prosesnya, si pelaku akan dapat dan bisa bertemu, dengan ke empat malaikat tersebut, yang kemudian di sampaikannya kepada rasulnya, dan rosulnya akan menghadapkan si pelaku kepada Allahnya. Hingga akhirnya si pelaku teranggap sebagai manusia pilihan, karena telah mengetahui siapa dirinya, siapa rasulnya dan siapa Tuhannya. Dan dengan bekal tiga pengetahuan tersebut, yang sudah berhasil di capainya, si pelaku akan bisa dan selalu bisa dalam segala halnya.

Cara yang lebih halus dan lebih mudah serta lebih simpel yang ke dua:
DARI PARA LELUHUR; Yaitu dengan cara menggunakan olah rasa, secara rutin dan terus menerus, mempelajari saudara empat yang diyakini oleh spiritual jawa , adahal senjata dan piranti/bekal dari Hyang Maha Suci, untuk setiap diri-diri manusia hidup, dengan masing-masing fungsi dimensinya. Yaitu; Saudara Mutma’inah, Saudara Alu’amah, Saudara Amarah dan Saudara Supiyah. Dengan olah rasa, menggali semua rasa yang terdapat di sekujur tubuhnya, yang berinti/bersumber pada ke empat saudara pribadi tersebut. Jika mampu menghadapi prosesnya, si pelaku akan dapat dan bisa bertemu, dengan ke empat saudara/sedulur pribadinya tersebut, yang kemudian di sampaikan kepada hidup (Guru sejatinya) dan guru sejatinya akan menghadapkan si pelaku kepada Hyang Maha Suci Hidupnya. Hingga akhirnya si pelaku tersebut sebagai manusia utama, karena telah mengetahui siapa dirinya, siapa guru sejatinya dan siapa Gustinya. Dan dengan bekal tiga pengetahuan tersebut, yang sudah berhasil di capainya, si pelaku akan bisa dan selalu bisa dalam segala halnya.

Dan saya sudah pernah menjalani semua proses laku yang tersebut diatas. Di dalam prosesnya… jangankan tingkatan yang berat, tinggkat yang lebih halus dan lebih mudah serta lebih simpelpun, terlalu amat banyak, termasuk saya, yang tidak mampu alias gagal, bahkan gagal total. Karena jika kita sudah masuk ke pelajaran tersebut, ada tiga anak tangga yang harus di lalui, tangga Pertama: HARTA. Tangga Kedua: TAHTA. Tangga Ketiga adalah WANITA. Hanya ada beberapa orang pilihan saja, yang mampu melalui ketiga anak tangga tersebut. Silahkan saudara-saudari renungkan sendiri, tentang apakan semua manusia hidup mampu, jika sudah di hadapkan tiga hal tersebut. HARTA. TAHTA. WANITA. Nanti akan tau sendiri, seberapa hebatnya, tiga anak tangga tersebut.

Dulu saya sempat kalap hingga beberapa waktu akibat dari ke gagalan itu, hingga pada akhirnya. Dengan usaha dan upaya saya sendiri yang memang suka tantangan tanpa menyerah. Saya menemukan yang sesungguhnya tidak berisiko gagal dan kalap seperti yang sudah dialami orang-orang termasuk saya pada sa’at itu… He he he . . . Edan Tenan.

Saudara-saudari saya, ingin tau caranya dan ingin bisa memahami dan mengerti apa itu sedulur papat kalima pancer? Yang tersebut; Mutma’inah, Alu’amah, Amarah dan Supiyah serta Guru sejati dan ingin bisa menemuinya? Biyar kenal dan bisa bercengkrama dengan mereka…!!!

Caranya tidak sulit dan tidak ribet, tidak berisiko gagal atau kalap, tak perlu puasa atau bertapa atau bermusyafir ria keliling jagat berziarah ke maqom dan keramat-keramat leluhur. Praktekan Cara dari saya di bawah ini:

LAKU PENCAPAIAN DALAM PROSES PENCARIAN JATI DIRI:

Langkah awal;
Sediakan Tempat atau Ruangan kusus, yang sekiranya tidak ada gangguan apapun, sehingganya, dikala kita duduk nantinya, kita bisa Nyaman Aman dan Rileks, tidak terganggu atau mengganggu siapapun dan apapun. Dan sediakan pula, Sebotol parfum/minyak wangi tanpa alkohol yang paling kita sukai.

Langkah kedua;
Pilih waktu tepat jam 18.05 menit. Entah itu petang atau pagi, silahkan dipilih mana yang pas. Setelah semuanya telah siap, duduklah bersilah, dilantai bisa, di kursi bisa di atas alas bantal atau tikar atau apa saja boleh, yang penting kita bisa nyaman dan enak dalam duduk… Setelah duduk,,, lalu tarik napas panjang dan dalam, lalu bacalah…..

“GUSTI… kula nyuwun tambahing pangestu lan pangayoman uga kasembadan, sekalian pasang keparenga marak sowan ing ngarsanipu sedulur papat …….”

Lalu,,, keluarkan napas panjang dan dalam sambil Konsentrasi ke niyat kita dalam hati, yaitu ingin menemui sedulur papat yang tersebut diatas……… Lalu, bacalah…….

“GUSTI… kula nyuwun tambahing pangestu lan pangayoman uga kasembadan, Keparenga kula caos bekti, lepat kekiranganipun nyuwun pangapura.”

Lalu,,, gunakan parfum/minyak wangi kesuka’an kita itu, untuk mewangi’i kedua daun telinga kita, tengkuk leher bagian belakang kita (Bahasa jawanya; Jithok/punuk) dan telapak kaki kita, terakhir kedua telapak tangan… Sambil membaca.

”GUSTI… kula nyuwun tambahing pangestu lan pangayoman uga kasembadan, hagni suci sucekna kamulyan ingsun, mulyakna kasucen ingsun, urupna uriping kawicaksanan ingsun.”

Lalu,,, letakan wadah minyaknya dan ciumlah aroma wangi kesuka’an kita yang terdapat di kedua tepak tangan dengan suka ria dan bahagia sambil….membaca….

“Jatimas tumana sidam sekaring bawana langgeng prapenku sela petak lengaku lenga mulya guyuhna kamulyan ingsun, tak jaluk rilamu sira sun sebar, gandamu mumbul ngawiyat ing ngarsaning GUSTI INGKANG MAHA SUCI tumurun dumateng…sejatining ingsun….”

Langkah ketiga;
Lalu duduklah dengan rileks dan santai. Bebaskan dan netralkan semua panca indera. Lalu, pertemukanlah kedua telapak tangan kanan dan kiri dan Letak antara jari2 tangan kanan dan kiri dengan sejajar dan bertepatan….lalu letakan telapak tangan yang telah di pertemukan tadi. Sperti yang nampak pada gambar saya, yang bertuliskan KUNCI. Ibu jari. Berada tepat di bawah lubang hidung. Jari telunjuk. Berada tepat di antara kening kedua alis……siku/sikut tangan…lurus sejajar dengan pundak kanan dan kiri…….posisi tubuh. Harus lurus tegak.. lalu dalam hati, bacalah Kunci 7.x
KUNCI

KUNCI,
“Gusti Ingkang Maha Suci. kula nyuwun pangapura dumateng Gusti Ingkang Maha Suci. Sirolah Datolah Sipatolah. Kula Sejatining Satria/Wanita (Satria untuk lelaki dan wanita untuk perempuan). nyuwun wicaksana nyuwun panguwasa. kangge tumindake Satria/wanita Sejati. Kula nyuwun kangge hanyirna’ake tumindak ingkang luput.”….7X.

Lalu turunkan tangan tepat ke tengan dada. Kondisi telapak tangan jangan sampai berubah. Letakan. Ruas ibu jarinya tepat di tengah lekukan dada….di antara payudara. Posisi tubuh masih tetap tegak. Sperti yang nampak pada gambar saya, yang bertuliskan PAWELING. Lalu bacalah Paweling 3.x
PAWELING

PAWELING,
“Siji-siji Loro-loro Telu-telonana.
Siji sekti loro dadi telu pandita.
Siji wahayu loro grat’trahino telu rejeki .” 3.x

Lalu heningkan cipta untuk beberapa sa’at lamanya. Minimal 15 menit…..

Lalu tariklah tangan kiri ke samping pinggang sebelah kiri……dengan ibu jari menyentuh ujung tulang rusuk paling bawah. Dan jari telunjuk menempel tepat dipuser perut.. posisi tubuh masih tetap tegak dan telapak tangan kanan, masih dalam posisi semula, yaitu di tengan dada. Sperti yang nampak pada gambar saya, yang bertuliskan Mijil. Lalu bacalah mijil 1x.
MIDJIL

MIJIL,
“………..(Asma Sejati) Jeneng sira mijila, panjenengan ingsun kagungan karsa. Arsa sipatemon kelawan sedulurku tuwa kang ana ing bang wetan. kang aran mutma’inah, sedulurku tuwa kang ana ing bang kidul kang aran aluamah, sedulurku tuwa kang ana ing bang kulon kang aran amarah, sedulurku tuwa kang ana ing bang lor. kang aran nafsu supiyah, reksanen murih kelaksanan kang dadi sediyane kanti teguh rahayu slamet”…1x

Lalu dalam posisi ini, mulailah bersamadi/bermeditasi……….dengan cara. Menenangkan angan/pikiran dan batin. fokus pada satu titik, yaitu menemui sedulur/saudara empat sembari Konsentrasi di keluar dan masuknya nafas.

Dalam beberapa sa’at kemudian, tubuh kita akan bergetar, mengalaminya, jangan goyah, jangan ragu dan jangan takut, terus rasakan getaran yang mulai menyelimuti sekujur tubuh tersebut, tak lama kemudian akan timbul rasa capek di bagian tubuh tertentu, jika capek itu muncul, misalnya munculnya di pinggang, maka segeralah memindahkan getaran itu, ke titik adanya capek tersebut, lalu satukan dan rasakan getaran yang sedang menyatu dengan capek itu, dengan kesadaran yang terkonsentrasi. INGAT…!!! jangan sampai lengah, jangan terlena atau terpengaruh oleh capek tersebut, karena di proses ini, akan muncul sebuah wejangan/pelajaran, tentang dari mana datangnya capek itu, kenapa capek dan kemana perginya capek itu, Jika kita lengah/terlena, maka tidak akan tau darimana datangnya capek dan mengapa capek serta tidak mengerti kemana perginya capek tersebut. Begitupun jika yang datang rasa selain capek, misalnya merinding, dingin atau panas dll, maka dengan hati-hati lalu kita mengalihkan getaran ke rasa yang ada hingga menyatu, lalu rasakan dengan sadar apa yang akan terjadi. Jika kita tidak tau dan mengerti karena kelengahan, maka kita harus mengulanginya dari awal lagi. Jika berhasil, teruskan samadinya dengan terus…

Merasakan apa yang teralami di sa’at kita bermeditasi tersebut. Karena kemungkinan besar, semua rasa yang pernah kita rasakan, akan hadir, bergantung seberapa taunya kita tentang rasa yang pernah kita rasakan, Jika datang rasa enak, maka terima dan rasakanlah enak itu. Namun jangan senang karena dapat enak. Terus rasakan dengan iman, hingga enak itu menuntun kita pada tujuan awal kita, yaitu menemui sedulur papat. Jika datang rasa yang tidak enak, maka terima dan rasakanlah tidak enak itu, namun jangan brontak karena dapat tidak enak. Terus rasakan dengan iman, hingga tidak enak itu menuntun kita pada tujuan awal kita, yaitu menemui sedulur papat. Tetap konsen dalam meditasi. Jangan sampai terlena dan melamun, usahakan selalu ingat niyat awalnya dengan amat sangat sadar.

Inti dari meditasi/samadinya adalah; kita harus mengingat semua proses meditasinya dengan sabar dan sadar, sejak awal hingga akhirnya selesai. Contoh. Missal kita mengalami capek sa’at meditasi tadi. Maka kita harus tau dan hapal. Bagaimana proses datangnya capek tersebut. Datangnya bagaimana, prosesnya bagaimana dan perginya bagaimana. Hal ini harus di perjuangkan dengan tekad keimanan kita. Jangan menyerah apapun yang terjadi, karena disinilah letak penentuannya, jika kita bisa mampu, maka kita akan masuk ke dimensi lain, yaitu dimensi alam kasukman, tanda dan ciri-ciri alam kasukman adalah, suwung/senyap, hampa atau kosong, tanpa ada apapun di sekitar kita, jika kita sudah berada di dimensi ini, Takut, ragu, was, merasa sendiri dan menebak-nebak akan muncul. Jangan tergoyahkan dengan kemunculannya, minimal 21 menit kita mampu bertahan tanpa goyah sedikitpun, tetep idep madep mantep, maka menit-menit berikutnya, satu persatu sedulur papat kita, akan muncul memperkenal masing-masing dirinya kepada kita, sehingga kita tidak merasa sendiri lagi, karena telah di dampingi sedulur-sedulur kita.

Setelah setelah merasa cukup. Lalu turunkan kedua tangan ke masing-masing posisi yang dalam sikon masih bersilah secara perlahan-lahan, tangan kanan ke lekukan kaki kanan (dengkul) tangan kiri ke lekukan kaki kiri (dengkul)… Netralkan kondisi badan dari semua ketegangan raga, bebaskan napas, pikiran/angan dan batin… lalu bukalah mata secara perlahan pula, lalu bebaskan posisi badan secara perlahan pula. Lalu bacalah Palungguh 3.x

“….(Asma Sejati) Lungguha ingkang prayuga. Ragane arsa tentrem. Sun sangoni basuki. Kalis ing sambikala. Oleha rejeki lumantar saking sangkan parang. Kanti teguh rahayu selamet.”

Bacalah berulang-ulang kali, singga rasanya klimax/plong.
Dengan cara; menempelkan telapak tangan kanan ke dada kiri, tepat di bagian yang terdapat ada detak jatungnya. Sperti yang nampak pada gambar saya, yang bertuliskan PALUNGGUH.
PALUNGGUH

Langkah ke empat :
Lakukan dan Jalankan serta Praktekan Cara diatas dengan iman kesadaran rutin kita, selama jumlah weton hari dan pasaran kelahiran kita. Misal kita lahir hari Rabu Pon, Rabu naptunya 7 dan Pon naptunya 7, jika di jumlah menjadi: 7 +7 = 14. Berati dalam hitungan jumlah 14 hari itulah kita akan berhasil… mengenal ke empat sedulur/saudara pribadi kita, hari ke 15nya, kita akan di pertemuka dengan guru sejati (Hidup) kita… SELESAI.

PERINGATAN:
CARA INI HANYA BERLAKU BAGI YANG SUDAH MEMAHAMI TATA CARA BERSAMADI/MEDITASI. TIDAK BERLAKU BAGI PEMULA, KECUALI DENGAN BIMBINGAN SECARA LANGSUNG;

Silahkan saudara-saudariku membuktikannya sendiri. Biyar mengalami sendiri dan tau sendiri hasilnya, bukan lagi dari katanya saya.
SEMOGA BERMANFA’AT DAN BERKAH. SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET. HORMAT SAYA;
Ttd: Wong Edan Bagu
Pengembara Tanah Pasundan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s