Cara Gampang Melihat Jin Untuk PemulA;



1. Banyak orang yang menyepelekan “bayangan hitam yang ada di samping mata Anda”… bayangan tersebut bisa berwarna hitam atau hanya sekelebat… tapi pas ditengok bayangan itu hilang
kadang2 kita beranggapan mata kita lagi siwer atau lagi sakit…
fact nya adalah 50% itulah mahluk yang sedang anda cari… untuk tahu apakah ini jin atau bukan lihat dibawah…lirik perlahan kesamping.

2. Kurang tidur, kurang makan, membuat frekuensi manusia sedikit “bergeser” sehingga bertemu dengan frekuensi alam lain. Itulah mengapa banyak ritual2 memerlukan puasa tidak makan dan minum ataupun tidak boleh tidur.

3. Antara Anda sadar dan tertidur.. kalau Anda sedikit berlatih… cobalah dengar dengan teliti kalau Ada suara2 yang entah dari mana asalnya… kadang2 percakapan antara 2 orang atau lebih… kadang2 percakapan itu dengan bahasa yang aneh.. kemudian semakin lama Anda dapat memahami suara tersebut… kadang2 “Mereka pun berusaha utk bercakap2 dengan Anda”.

4. Kamar mandi, kolam, sungai, dan tempat2 yang banyak air dan lembab adalah tempat yang disenangi oleh mahluk tsb… dan berdasarkan survey “sumber”(bukan TS) 95% kamar mandi di rumah2 orang ada jinnya…

5. Tempat2 bau menyengat… kotoran hewan sampai manusia… mereka juga seneng ditempat2 beginian…
Tapi ada juga jin2 yang berbeda tingkatannya justru menyenangi tempat2 yang wangi… pengalaman “sumber”… kekuatan jin tipe ini diatas kekuatan jin yang berada di tempat2 kumuh

TAHAP 1: MENDETEKSI
1. kalau kebetulan Anda melewati bagian di rumah Anda yang tiba2 Anda melihat sosok hitam dari pandangan mata samping Anda… biasanya ada sosok yg sdang duduk di sofa/ kursi… Naah coba Anda berada di dekatnya sampai kira 2 jengkal tangan.
2.Jangan berimajinasi/ berhayal tidak2 utk mendapatkan tingkat objektivitas tinggi
3.Oke … sekarang coba Anda ajak bicara… kayak… halo.. apa kabar ? lagi ngapain di sini ? mungkin pertama2 anda akan tertawa dan menganggap diri anda sinting berbicara dengan sesuatu yang tidak dilihat… tapi tunggu saja kalo tiba2 Anda merinding ding ding..
4. kalo tiba2 bulu tengkuk ANda seakan mau berlari meninggalkan Anda…sampe2 bulu ketek pun merinding (yang ini hiperbola )
walau Anda tidak membayangkan hal2 yang menakutkan sebelumnya… Maka 100% itulah jin /penunggu… sekarang Anda bisa kabur dari tempat itu sambil berteriak MAMAA !!

TAHAP 2: MELIHAT
Oke… kini Anda udah bisa membedakan mana jin atau bukan secara sederhana.. sekarang tahap yang paling seru, yaitu melihat mereka…
1. duduk / berada di dekat bayangan tersebut… tetap usahakan agar Anda tidak membayangkan sesuatu terlebih dahulu…
2. Pejamkan mata Anda… dan cobalah berkata… “tolong perlihatkan rupamu…”… kemudian coba Anda lihat dalam “Mata Batin”(maksudnya melihat dengan mata tertutup), pertama kita deteksi dulu, pas udah tahu “dia ” ada dimana, tutup mata kita, ganti dengan mata batin(melihat dengan mata tertutup). setelah terlihat dengan mata tertutup, terus buka mata kita, cek ulang wujudnya sama apa gak.tapi gak perlu waktu lama utk melihat, dan kemudian merem lagi.
*mata batin akan muncul dengan sendirinya jika kegiatan tersebut terus diulang2. Dengan cara mengulang2 melihat pakai mata tertutup dengan melihat pakai mata terbuka, dan kemudian menyocokannya(sama apa enggaknya).
3. Tahap yang lebih tinggi… perhatikan bayangan hitam tersebut dari mata samping Anda… kemudian coba atur fokus dengan tidak langsung menoleh ke arahnya… Pada Awalnya mungkin hanya berbentuk bayangan hitam saja… namun lama kelamaan akan terlihat detil2 lainnya. Perhatikan detil2 yang perlahan2 muncul, mulai dari pakaian yang mereka pakai, warna kulit, bentuk muka, ekspresi tersenyum, marah, atau datar.
4. Tahap Advanced… setelah sering berlatih tahap 2 dan 3 kini usahakan Anda menghadap langsung ke arahnya… Anda dapat melihat diteil selengkap2nya jin tersebut, mulai dari gigi, rambut per helai, atau lubang2 kecil pada wajahnya… bila Anda telah sukses tahap ini maka Anda sudah dapat melihat mereka demikian pula sebaliknya
SELAMAT.. KINI ANDA SUDAH BISA MELIHAT JIN

Makam Temenggung Purwodiningrat dinganjuk dijiaraihi Para calon anggota legislatif (caleg) Tiap kali mendekati Pemilu;



NGANJUK — Para calon anggota legislatif (caleg) mendekati Pemilu 9 April mendatang nampaknya melakukan berbagai macam cara, untuk bisa terpilih menjadi anggota legislatif.

Selain melakukan kampanye untuk merayu memperoleh dukungan masyarakat, mereka juga melakukan hal-hal yang bersifat supra natural. Seperti misalnya mendatangi makam-makam keramat, terutama makam para penguasa tempo dulu.

Seperti yang terjadi di Makam Pakuncen, Kecamatan Patihanrowo, Kabupaten Nganjuk. Sejak memasuki masa kampanye Pemilu terbuka beberapa hari lalu, makam ini banyak dikunjungi para caleg. Para caleg tersebut berasal dari berbagai daerah, termasuk dari luar Jawa Timur. Saat berada dalam komplek makam tersebut, mereka melakukan ziarah ke makam Tumenggung Purwodiningrat, Bupati Pertama Kertosono.

Temenggung Purwodiningrat ini, merupakan kerabat Pangeran Puger, Raja Mataram. Ia mendapat perintah dari Pangeran Puger untuk mendirikan kadipaten di barat Sungai Brantas. Tujuan mendirikan kadipaten ini untuk menaklukan sejumlah daerah di Jawa Timur yang belum mengakui Mataram, seperti Surabaya dan Madura.

Nandir, Juru Kunci Makam Pakuncen menyatakan, dirinya hanya bisa melayani, ketika ada peziarah datang ke makam tersebut. Ia mengaku tidak tahu apa maksud dari peziarah itu.

“Sebagai juru kunci, saat ada orang datang ingin berziarah dan ingin berziarah, saya buka kunci Makam. Lalu mereka saya antar ke dalam makam. Saya tidak tahu apa maksudnya. Cuma yang saya tahu, mereka sepertinya berdoa di Makam Tumenggung,” ujar Nandir, keturunan ketujuh Nur Jalipah, yang diberi tanah perdikan Keraton Mataram, di Desa Pakuncen tersebut.

Dijelaskan dia, biasanya mereka datang pada malam hari. Banyak diantara mereka datang secara rombongan.

Buku tamu makam Pakuncen yang dilihat Republika menyebutkan, sejak beberap hari terakhir jumlah pengunjung mencapai ratusan. Menurut Nandir, banyak peziarah yang enggan menulis di buku tamu. Sehingga, masih banyak peziarah yang tidak bisa dideteksi.

Salah seorang Caleg dari partai tertentu menjelaskan, dirinya mendatangi makam para penguasan tempo dulu tersebut bertujuan untuk ngalab berkah. Selain itu juga untuk menenangkan jiwa.

“Di tengah persaingan keras seperti ini, sering saya setres. Makanya kami mencari ketenangan,” ujar salah seorang Caleg, yang enggan disebutkan namanya.

Selain itu, kata dia, berziarah ke makam penguasa tempo dulu sudah menjadi kebiasaan, bagi orang yang ingin mendapatkan pangkat. “Para pejabat itu kan secara diam-diam, sering berziarah ke makam Bupati-Bupati dan raja tempo dulu,” tandas dia.

Selain makam Pakuncen, makam keramat yang banyak didatangi para Caleg, adalah makam Kanjeng Jimat, Bupati Pertama Nganjuk, di Berbek. Namun demikian, kedatangan para Caleg tersebut sulit dideteksi, karena mereka berbaur dengan para peziarah lain. Makam ini selalu ramai dikunjungi orang, baik dari Nganjuk maupun dari luar daerah, terutama pada malam Jumat dan Selasa Pon.

Pesugihan Pandan Segegek diwilayah KULON PROGO;



Pesugihan, satu kalimat yang sudah teramat akrab di sebagian besar masyarakat Nusantara. Tak heran, jika hampir di seluruh daerah selalu ditemui tempat tempat mistis untuk ritual pesugihan itu. Misalnya di Pandansegegek, Kulonprogo, Jogjakarta. Bagaimana prosesi ritual dan tanggapannya dari tokoh spiritualis? Berikut liputannya.

pantai Pandansegegek adalah kawasan di sepanjang barat Pantai Trisik. Sebagai daerah wisata alam, Pantai Pandansegegek nyaris tak dikenal. Selain pemandangannya jauh dari kesan indah, kawasan itu juga cukup terpencil dan terpisah dari penduduk asli setempat. Pandansegegek, kini merupakan desa transmigran lokal di wilayah kabupaten Kulonprogo. Karena belum memenuhi persyaratan sebuah desa, pemukiman trans-lokal itu secara administratif menginduk atau masuk wilayah desa Karangsewu, kecamatan Galur.

Meski tak dikenal dan jauh dari kesan indah, Pandansegegek menjadi terkesan asing. Tetapi, rasa asing itu bisa memudar, ketika seseorang mengetahui sebuah lokasi gumuk atau dataran tinggi yang menyerupai gunung, di ujung barat pemukiman Trans-lokal Ring II. Gumuk itulah titik pusat dari yang disebut Pandansegegek, tempat ritual mencari pesugihan.

Dari kejauhan, Gumuk Pandansegegek tak nampak sebagai tempat ritual. Sebab, kawasan itu dikepung gundukan kotoran binatang, yang sengaja ditimbun untuk keperluan pupuk. Tak urung, tempat ritual itu pun dikerubungi jutaan lalat, kontras dengan bayangan orang tentang sebuah tempat ritual yang seharusnya bersih dan keramat. Ada dua gubuk reyot di puncaknya, yang sengaja dibuat untuk para pelaku tirakat yang hendak bertapa.

Berada di puncak Gumuk Pandansegegek, suasana angker lebih terasa karena adanya sejumlah sesaji dan tungku tempat pembakaran dupa. Selebihnya, situasi angker tercipta karena rimbunnya pepohonan yang didominasi oleh ilalang yang tumbuh liar. Tak ada benda keramat di tempat itu, kecuali sebuah batu cadas yang terlihat sengaja dipasang sekedar tanda tempat menaruh sesaji. Sulit mempercayai tempat itu sebagai tempat ritual, bila tak melihat langsung seseorang yang sedang laku tirakat di tempat itu. Beruntung, belum lama ini kami mendapati seorang perempuan usia 30-an tahun yang sudah 3 hari bertapa.

Ujub Kepada Ibu Ratu Kidul

Dari berbagai penelusuran yang dilakukan, Pandansegegek tak memiliki juru kunci baku. Para pelaku tirakat lebih sering datang dari jauh, dan atas petunjuk guru spiritualnya. Sugondo (30), warga asal Cepogo, Boyolali, yang kami temui di lokasi ritual mengatakan, kedatangannya ke Pandansegegek hanya untuk mengantar seorang teman. Kepada posmo, jujur Sugondo mengakui, temannya yang ketika itu sedang bertapa di dalam gubuk, bertujuan untuk mencari kekayaan. Teman Sugondo itu adalah perempuan, pedagang sayuran di pasar Giwangan, Jogjakarta.

“Teman saya itu dulu kaya. Tapi mendadak bangkrut. Lalu, dia nekat bertirakat. Sudah tiga hari ini teman saya puasa pati geni. Tidak makan tidak minum dan tidak boleh terkena ataupun melihat cahaya. Rencananya, empat hari ritual itu baru selesai. Tapi, tergantung apa sudah dapat wisik atau belum”, kata Sugondo.

Sugondo menyambung, permintaan di Pandansegegek ditujukan kepada Ibu Ratu Kidul alias Nyai Loro Kidul, penguasa Laut Selatan. Dari berbagai cerita pengalaman, kata Sugondo, godaan laku tirakat di Pandansegegek sangat berat. Misalnya, melihat mayat digotong secara berulang-ulang. Penampakan kepiting sebesar sepeda motor dan beberapa penampakan lain yang mengerikan. Jika sudah berhasil, menurutnya, pelaku akan mendapat wisik atau pesan gaib melalui mimpi.

Pandansegegek ternyata tak hanya dikenal sebagai tempat ritual pesugihan tuyul. Tapi, juga pesugihan jenis lain seperti Genderuwo atau Buto Ijo. Untuk pesugihan tuyul, warga sekitar mengatakan, pelaku tirakat yang berhasli akan bisa melihat wujud tuyul dan harus segera memasukkannya ke dalam sebutir batu atau kerikil. Dengan cara itu tuyul kemudian dibawa pulang.

Jika laku dan godaan ritual mencari pesugihan di Pandansegegek teramat berat, apakah hasil yang diperoleh cukup sepadan? Sugondo mengatakan, dari pengalaman beberapa orang hasilnya memang sangat memuaskan. Lantas, bagaimana dengan resikonya? Sugondo mengaku tidak tahu. “Setahu saya, jika gagal hanya pulang tanpa hasil. Itu saja”, ujarnya.

Sungguhkah laku ritual di Pandansegegek itu luput dari resiko? Jangan gegabah. Sebuah ritual pastilah ada sejumlah mahar yang harus dibayar. Berhasil maupun tidak, mahar dalam bentuk apapun tetap harus diberikan. Ibarat harus memilih, pelaku tirakat hanya punya dua pilihan, mukti atau mati. Ki Santoso Sejati, spiritualis di Jogjakarta yang kebetulan berasal dari Kulonprogo, mengaku sering mengobati pasien lumpuh yang diakibatkan oleh kegagalan laku tirakat di Pandansegegek. Menurutnya, laku ritual di Pandansegegek tergolong musyrik. “Meminta kepada selain Alloh itu berarti menyekutukan Tuhan. Dosanya tidak terampuni ”, tegasnya.

Ki Santoso Sejati menyambung, berhasil atau tidak, seseorang yang sudah mencoba ritual itu secara otomatis namanya langsung tercatat di alam gaib sebagai pengikut syetan. Jika gagal ritual, dampak negatif langsung bisa dirasakan. Misalnya, hidup menjadi tambah susah dan tidak jarang mengalami sakit berat yang tak bisa disembuhkan secara medis. Kalau berhasil, akibatnya setelah mati akan menjadi budak syetan. “Alam gaib itu memang ada. Demikian pula Ratu Kidul. Tapi perilaku manusia terhadap alam gaib yang tidak tepat, justru membawa pada kesesatan. Ibu Ratu Kidul tidak salah, manusianya yang salah. Lagi pula setelah saya deteksi, di Pandansegegek ini hanya ada beberapa Jim anak buah Ratu Kidul.”, pungkasnya.

Gunungku Tempat Uangku ( pesugihan G.kemukus )



Gunungku Tempat Uangku ( pesugihan G.kemukus )
Gunung Kemukus, Sragen, Jawa Tengah. Kawasan itu dikenal bukan karena keindahan alamnya. Ratusan bahkan ribuan dari berbagai kota datang ke sana hanya untuk berziarah dan ritual pesugihan. Pelaksanaan ritual sebenarnya bisa dilaksanakan setiap hari. Namun, terdapat hari-hari tertentu yang dipercaya membawa berkah tersendiri. Misalnya, saat malam Jumat Pon dan malam Satu Suro.

Lokasi utama yang dituju para peziarah adalah makam Pangeran Samudro dan para pengawalnya. Konon, Pangeran Samudro adalah seorang pangeran dari Kerajaan Majapahit. Tapi ada pula yang menyebut dia dari zaman Pajang. Dia jatuh cinta kepada ibu tirinya, Dewi Ontrowulan. Ayahnya yang mengetahui hubungan anak-ibu itu menjadi murka. Pangeran Samudro lantas diusir. Dalam kenastapaannya, dia mencoba melupakan kesedihannya dengan melanglang buana. Akhirnya ia sampai ke Gunung
Kemukus.

Tak lama kemudian, sang ibu menyusul anaknya ke Gunung Kemukus untuk melepaskan kerinduan. Namun nahas, sebelum sempat berhubungan badan, penduduk sekitar memergokinya. Keduanya dirajam beramai-ramai hingga akhirnya tewas. Keduanya kemudian dikuburkan dalam satu liang lahat di gunung itu. Tapi menurut cerita, sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir Pangeran Samudro sempat meninggalkan sebuah pesan. Ia berujar,”siapa saja yang dapat melanjutkan hubungan suami-istrinya yang tidak sempat terlaksana itu akan terkabul semua permintaannya”.

Ada pula yang meyakini kuburan itu adalah milik Syeikh Siti Djenar. Dia dihukum para wali karena dianggap menyebarkan ajaran sesat. “Dia dieksekusi di situ,” kata KRHT Kresno Handayaningrat, tokoh budaya setempat.

Memang, tak ada catatan sejarah mengenai sosok Pangeran Samudro. Namun, mitos telah telanjur berkembang. Orang yang mengunjungi makam Sang Pangeran dipercaya memperoleh berkah, berupa jabatan dan harta kekayaan.

Tentu saja menjalankan ritual pesugihan di tempat itu adalah hak masing-masing peziarah. Sayangnya, ritual itu kemudian berkembang dengan bumbu seks bebas yang dilakoni sebagian peziarah. Lagi-lagi kegiatan menyimpang tersebut dipengaruhi mitos. Pangeran Samudero juga berbuat yang sama dengan ibu tirinya di sana.

Nanti malam adalah malam Jumat Pon. Para peziarah mulai bersiap untuk melakukan ritual pesugihan di Makam Pangeran Samudro. Sebelum memasuki arel makam, para peziarah harus mengunjungi Sendang Ontrowulan dan Sendang Taruno. Di sana, mereka membersihkan diri, seperti yang dilakukan Dewi Ontrowulan ketika akan menemui Pangeran Samudro.

Jika pembersihan diri telah dilaksanakan, para penziarah menemui kuncen Sendang. Mereka meminta restu dan mengutarakan permintaan sebelum mendatangi makam. Saat itu, sebagian peziarah membawa pasangan di luar nikah. Kelak, beberapa pasangan dadakan tersebut akan berhubungan seks yang dipercaya sebagai prasyarat ritual.

Lain lagi menurut Hasto Pratomo, juru kunci atau kuncen senior makam. “Tidak ada syarat tertentu hanya bawa bunga. Dengan panduan juru kunci kita berdoa. Tawassul atau tahlil supaya dapat barokah,” kata dia.

Kini, tiba saatnya bagi para peziarah untuk melaksanakan ritual di makam Pangeran Samudro. Tidak ada panduan resmi, bagaimana ritual harus dilakukan. Yang jelas, para peziarah harus menyampaikan maksud kedatangan dan mengutarakan permintaan yang diinginkan. Tentu saja, tidak semua peziarah melakukan seks bebas usai melakukan ritual di makam Sang Pangeran. Namun, tak sedikit di antara mereka melakukan hal itu.

Bagi peziarah yang percaya harus melakukan seks bebas di sekitar komplek makam, tersedia kamar-kamar yang disewakan. Jika kebetulan tidak mempunyai pasangan dadakan, para penyedia jasa penyewaan kamar juga menyediakan wanita teman kencan. “Awalnya malu, tapi kalau dua kali tiga kali sudah biasa dan seperti suami isteri,” Miswan, seorang peziarah.

Mitos tentang seks bebas sebagai prasyarat pesugihan di Gunung Kemukus akhirnya menyuburkan prostitusi. Para pekerja seks komersial menjadi teman kencan bagi para penziarah yang tidak mempunyai pasangan. Tak ada yang melarang aktivitas seks atau sekedar minum minuman keras dan berjudi di sana. “Meski ada plang larangan judi, asusila, dan minum, buktinya tidak apa-apa,” kata Wuni, seorang PSK.

Masyarakat di sana juga tidak merasa terganggu. Apalagi, mereka mendapatkan uang dari aktivitas itu. “Pendapatan masyarakat dari sewa, jual makanan. Masalah gituan tidak ada masalah,” ujar Dharmanto, kepala Dusun Kemukus.

Prostitusi sebagai dampak mitos ritual seks bebas di Gunung Kemukus sebenarnya telah disadari pemerintah dan kepolisian Sragen. Namun, sejauh ini kedua instansi tak berdaya karena keuntungan ekonomis dari kegiatan tersebut telah menjadi sumber pendapatan warga sekitar.

Meski demikian, bukan berarti aktivitas itu dibiarkan. “Kita tidak mungkin melakukan secara frontal, harus ada pembelajaran yang manusiawi dengan mengangkat kesejahteraan warga,” tutur Kepala Kepolisian Sragen Ajun Komisaris Besar Polisi Charles Ngili.

~ oleh bungkang di/pada 23 April 2010.
Ditulis dalam pesugihan
Tag: KemukuS, ritual, SeKs

Ritual Aneh Memamerkan Payudara di Umbul Manding;



Ada larangan tak tertulis bagi kaum perempuan yang mandi di sumber air yang dikeramatkan ini. Mereka dilarang menutupi payudaranya. Alhasil, ritual pamer payudara pun semarak. Terutama di malam Jum’at Legi….

Ritual Payudara Umbul Manding sumber air bersih yang ada di Desa Semanding, Keca. Pucanglaban, Kab. Tulungagung, Jawa Tengah. Sejak dulu debit air di tempat ini memang besar. Bahkan, saat kemarau panjang sekalipun, umbul ini tak pernah kekurangan air.

Karena debit airnya yang relatif besar dan bersih, maka sumber air ini sejak dulu dimanfaatkan warga Desa Semanding dan sekitarnya. Terutama untuk masak, mandi, mencuci, bahkan untuk mengairi sawah. Maklum saja, Umbul Manding memang berada di daerah pegunungan yang amat sulit air.

Yang dapat dikatakan unik, tempat yang biasanya digunakan untuk mandi sejak dulu sengaja dibiarkan terbuka. Tidak ditutupi apa-apa. Padahal, yang mandi disitu tidak hanya laki-laki, tapi juga perempuan. Mereka berbaur menjadi satu untuk mandi bersama.

Adakah rasa kikuk atau malu pada diri mereka? Mungkin karena sudah menjadi kebiasaan, maka tidak ada yang merasa malu jika dilihat orang, terutama lawan jenis. Bahkan kalau kaum perempuan sedang mandi mereka sama sekali tidak perlu merasa repot menyembunyikan payudaranya. Bahkan, ada kesan payudara itu sengaja dipamerkan.

Bagi warga pendatang yang belum terbiasa, kalau mandi di Umbul terpaksa menutupi payudaranya. Salah satunya seperti dialami Darsini, seorang guru SD yang ditugaskan mengajar di daerah itu.

Bu Darsini mengaku pada awalnya sangat malu kalau mandi di umbul. Namun, karena tidak ada sumber air di desa tempatnya mengabdi selain umbul itu, dia terpaksa mandi disitu juga. Karena masih malu, pada awalnya kalau mandi terpaksa dia memakai baju. Lama-lama karena sudah biasa bajunya dilepas, begitu juga BH-nya. Akhirnya, kalau mandi telanjang dada.

“Tidak tahu kenapa, tapi mungkin karena kebiasaan, sekarang kalau mandi saya ikut dengan warga. Semuanya pamer payudara,” kata Bu Darsini sambil tersenyum. Walau didekatnya ada Pak Guru dia tidak merasa malu lagi. “Biarin, dari pada dilihat orang lain, lebih baik dilihat teman sendiri,” selorohnya.

Karena ritual mandi telanjang dada ini, maka siapa saja yang kebetulan lewat bisa melihat dengan jelas payudara wanita-wanita desa setempat.

Dilihat dari dekat, masyarakat Desa Semanding memang tergolong masih kolot. Contohnya, warga di sana masih percaya dengan berbagai kepercayaan kuno. Umpamanya, perawan sebelum datang bulan yang pertama, giginya harus dipungur. Alasannya, kalau sudah datang bulan payudaranya supaya cepat besar. Kalau sudah begitu, perawan tersebut biar cepat laku.

Karena masih percaya dengan adat dan kepercayaan tersebut, jumlah wanita di sana yang tidak bisa menyelesaikan pendidikan dasar masih sangat tinggi. Sebab walau masih SD kalau payudaranya sudah kelihatan besar langsung ditikahkan. Umumnya orang tua disana merasa malu kalau punya anak perawan yang payudaranya sudah kelihatan besar, tapi belum menikah.

Anehnya lagi, bagi yang sudah tidak perawan, pulang mandi dari umbul selalu telanjang dada.

“Nanti kalau tidak telanjang dada malah dikira masih perawan. Padahal anak saya sudah tiga,” kata Yu Sayem ketika minta keterangan oleh Misteri.

Kenapa tempat mandi di Umbul Manding dibiarkan terbuka? Dan, kenapa juga kalau mandi kaum perempuan harus bertelanjang dada?

Rupanya hal ini berkaitan dengan sebuah legenda masyarakat Semanding. Mereka percaya dengan kisah perawan desa yang bernama Srikunti.

Alkisah, beberapa puluh tahun silam, Srikunti ikut daftar jadi calon PNS. Ternyata dia diterima. Bahkan kemudian bunga desa ini menjadi guru di SD Semanding.

Walau Srikunti sudah menjadi guru namun dia tidak berubah. Terhadap siapa saja dia tetap tidak membeda-bedakan. Sehingga banyak orang yang simpati kepadanya. Salah satunya adalah mandor hutan yang bernama Basman. Cinta Basman diterima Srikunti. Keduanya berjanji akan hidup bersama.

Akhirnya setelah menikah, Srikunti diboyong Basman ke rumah orang tuanya yang juga ada di Desa Semanding. Mula-mula penganten ini hidup rukun. Srikunti sendiri waktu itu sudah kerasan hidup di rumah mertuanya.

Tetapi yang namanya hidup berrumah tangga ada saja rintangannya. Suatu ketika Srikunti mendengar kabar kalau suaminya suka mabuk-mabukkan. Walau dia sudah mengingatkan, suaminya tetap saja tidak mau mendengar. Hampir setiap hari Basman malah pulang sempoyongan karena mabuk.

Karena merasa kecewa, diam-diam Srikunti nekad pergi meninggalkan rumah. Supaya tidak terlihat orang setelah Maghrib dia baru berangkat. Namun setelah dia sampai di Umbul Munding malah berhenti. Lalu dia duduk di tepi umbul. Angan-angannnya pergi entah kemana. Dia teringat orang tuannya dan adik-adiknya. Hatinya susah.

Tidak terasa, sudah begitu lama Srikunti duduk melamun di tepi umbul. Sewaktu dia akan meninggalkan umbul, tiba-tiba dari dalam air muncul seorang puteri yang naik bulus raksasa. Sang putri menghampiri Srikunti.

“Kamu jangan mupus (putus asa) dan harus tetap tabah,” kata puteri itu. “Aku datang mau menolong kamu. Sekarang pulanglah ke rumah orang tuamu. Sediakan bunga tujuh warna. Besok bawa ke sini. Apa yang kamu minta bakal kesampaian,” sambungnya.

Setelah berkata begitu, puteri cantik tadi hilang entah kemana. Yang kelihatan di depan Srikunti tinggal bulus yang tadi dinaiki sang puteri.

Sementara itu, di rumah Basman bingung mencari isterinya. Sudah dicari kemana-mana tapi tidak ada.

Waktu tengah malam, Basman mendengar kabar kalau ada seorang wanita pingsan di dekat Umbul Munding. Dia cepat-cepat pergi kesana. Ternyata, wanita yang pingsan di dekat umbul adalah isterinya.

Setelah sadar, Srikunti menceritakan apa yang dialaminya. Mendengar kisah Srikunti, muncul kepercayaan dia sudah dibawa pergi siluman Bulus Putih. Sementara, Basman berjanji tidak akan mabuk-mabukan lagi.

Srikunti menjalankan pesan putri gaib yang menemuinya. Dia menyediakan bunga tujuh warna. Setelah itu, dibawa ke umbul dengan ditemani Basman, suaminya.

Keduanya menunggu datangnya sang puteri. Tetapi di tunggu sampai jauh malam sang puteri tak kunjung datang.

“Apakah sang puteri menipu saya, sehingga dia tidak datang?” Gumam Srikunti.

Karena tidak ada tanda-tanda sang putri akan datang, Srikunti dan Basman memutuskan meninggalkan umbul. Tetapi baru saja melangkah, tiba-tiba terdengar ada suara yang memanggil mereka.

“Kalau kamu ingin harta banyak jangan tergesa-gesa!” Kata suara dari dalam umbul.

“Kamu siapa?” Tanya Srikunti.

“Saya siluman Bulus Putih yang menunggu Umbul Manding.”

Srikunti dan Basman terdiam. Di hadapan mereka tampak sesosok putri cantik jelita.

“Kalau kamu ingin kaya, jaga umbul ini supaya sumbernya tetap besar!” Kata sang putri lagi.

“Bagaimana caranya?” Tanya Srikunti.

“Caranya gampang. Semua wanita yang di sini kalau mandi jangan ada yang menutupi payudara. Sebab, kalau ada yang berani menutupi payudaranya, siluman Bulus Putih akan marah.”

Setelah memberi pesan demikian, sang putri menghilang.

Entah bagaimana, cerita dari mulut ke mulut ini akhirnya dipercaya oleh banyak orang. Terutama warga Desa Semanding dan sekitarnya.

Ya, karena masih banyak yang percaya, sampai sekarang masih banyak orang yang ngalap berkah ke Umbul Manding. Apa lagi kalau malam Jum’at Legi, banyak warga luar Desa Semanding yang datang. Mereka melakukan ritual pamer payudara.

Pemandangan unik bisa saja kita saksikan. Selepas mandi dari Umbul Manding, banyak yang pulang dengan telanjang dada. Payudaranya dibiarkan dilihat orang…

Misteri Makam Gajah Mada;



Kebesaran Gajah Mada sebagai patih Majapahit memang tak perlu diragukan lagi. Sumpah Palapa-nya yang mengawali kejayaan Kerajaan Majapahit bahkan jadi panutan. Tapi kematiannya sampai sekarang masih penuh misteri, termasuk soal lokasi makamnya.

Ada beberapa versi yang berkaitan dengan letak makam patih gajah Mada. Tercatat di Makam Panjang, situs Troloyo yang ada di Trowuan, Mojokerto, Jawa Timur ada sebuah makam yang diakui sebagai makam sang maha patih. Disamping itu, di desa Majapahit, Kecamatan Batauga, peisisr pulau Buton, Sulawesi Tenggara, terdapat makam yang juga dianggap sebagai makam Gajah Mada. Sedangkan di Lombok tepatnya di makam Selaparang yang disebut juga makam raja Selaparang, 2 jam dari Mataram, terdapat sebuah makam yang lagi-lagi dikabarkan sebagai peristirahatan terakhir patih Gajah Mada yang wafat pada tahun 1364 M itu.

Dimakam Selaparang memang terdapat beberapa makam raja-raja dari seluruh penjuru Nusantara. Masing-masing makam tersebut bercirikan batu nisan yang memiliki bentuk tersendiri. Batu nisan yang berbeda satu sama lain ini menggambarkan keragaman daerah asal para raja yang dimakamkan di sini. Yang paling unik tentu saja nisan dari makam Gajah Mada. Bentuknya seperti sumur bundar dengan sususan batu sungai berukuran sedang yang di tata rapi, tanpa tulisan apapun. Menurut juru kunci, sejak dulu kompleks ini tidak berubah susunanya, termsuk keunikan makam berbentuk sumur bundar itu. Sehingga ketika dilakukan renovasi, mereka cuman menambahkan semen dan batuan untuk merapikannya.

Sekarang hanya pihak kelurga raja Selaparang yang bisa dimakamkan disini, demikian juga dengan status juru kunci juga harus berdasarkan keturunan raja Selaparang. Karena itu, kunjungan ke makan harus sepengetahuan juru kunci. Biasanya dimasa Lebaran, banyak penduduk Lombok dan berbagai daerah lainya berziarah ke sini. Soal kebenaran makam Gajah Mada belum bisa diketahui secara pasti. Yang jelas kedatangan Gajah Mada ke Lombok pada tahun 1357 memang tercatat pada prasasti Bencangah Punan yang ditulis dalam aksara Jejawan. Masa itu di catat sebagai zaman mulainya tradisi sastra di Lombok.

Saat cerita ini dikonfirmasikan pada sang juru kunci, dengan bijak ia mengatakan bahwa bagaimanapun juga, keberadan makam Gajah Mada ini diharapkan memberi spirit untuk bersatunya anak negeri di Bumi Pertiwi ini. “Kalau kita tidak mau bersatu dan selalu terpecah belah, bagaimana nantinya negeri ini?” ujarnya pelan namun pasti….

Misteri Makam Ki Jenggot



Ki Jenggot adalah legenda masyarakat Situ Burung dan Pelabuhan Bulan. Nama-nama yang aneh ini terdapat di kawasan Katapang, Kabupaten Bandung. Ki Jenggot adalah pendekar pilih tanding. Kesaktiannya menggaung melewati batas-batas wilayah sendiri. Sehingga banyak pendekar ketika itu memilih menghindar daripada harus berurusan dengannya. Setelah wafat, Ki Jenggot dimakamkan di sudut Situ Burung dan makamnya dilarang untuk diziarahi. Mengapa ?

Kisah Ki Jenggot merupakan satu kesatuan kisah bersama legenda Situ Burung dan Pelabuhan Bulan. Pelabuhan Bulan merupakan pusat kekuatan mistis kawasan Situ Burung, yang kini tak lebih dari sebidang tanah mirip bukit mini. Dulunya, Pelabuhan Bulan adalah pulau mungil yang terletak di tengah danau yang bernama Situ Burung. Kini sudah mengering dan jadi areal pesawahan.

Di tempat inilah dahulu kala, para pembesar sering beristirahat sambil menikmati kesenian gamelan dan wayang golek. Sesekali mereka melayari danau yang kala itu berair jernih. Tatang Suparman (65), perangkat Desa Katapang, menuturkan bila Pelabuhan Bulan adalah pusatnya Situ Burung. Tak jelas benar, mengapa pulau kecil itu dinamakan Pelabuhan Bulan.

Tapi yang pasti, pada masa itu, areal tanah sekitar danau dikuasai desa. Dan untuk membiayai pemerintahan dan pembangunan desa, tanah-tanah itu disewakan kepada penduduk untuk digarap. Saratnya, si penyewa menyerahkan sekian persen hasil panen untuk lumbung desa sebagai pajak.

Hanya saja, keadaan ekonomi menyebabkan banyak warga menunggak pajak. Maka desa menarik kembali tanah-tanah itu dari penggarapnya. Situ Situ Burung sendiri, kala itu sudah dikenal sanget alias tempat angker. Konon, bila ada yang memancing di Situ Burung sambil membakar menyan hitam, ia pasti akan mendapat banyak ikan. Tentu saja, selain membakar menyan hitam tadi, ada mantera-mantera yang harus dibaca.

Pemandangan Situ Burung memang indah. Tidak heran bila banyak pelancong dan para pembesar datang untuk kongkow-kongkow di sana. Mereka pelesiran sambil melayari danau diiringi gamelan. Tatang Suparman yang juga Kaur Kesra Desa Katapang ini menceritakan, suatu ketika terjadilah musibah besar. Ketika itu, satu grup gamelan yang tengah menghibur para pembesar dari atas perahu mengalami nahas.

Entah mengapa tiba-tiba saja terjadi bencana. Muncul putaran air di sekitar mata air yang terletak dekat Pelabuhan Bulan. Putaran air itu membesar, dan menyebabkan danau bergelora. Tak pelak, perahu yang mengangkut kelompok kesenian gamelan terombang-ambing. Fatalnya, perahu pun karam, lalu tenggelam. Sinden dan para pengiringnya turut tenggelam. Jenazah mereka pun tak pernah ditemukan. “Mungkin karena mereka mati penasaran, sewaktu-waktu di Situ Burung sering terdengar suara gamelan gaib,” tutur Tatang.

Makam Ki Jenggot

Seiring perjalanan waktu, banyak yang menginginkan danau (Situ Burung) dikeringkan dan dijadikan sawah agar lebih produktif. Penguasa gaib kawasan itu setuju, dengan sarat, setiap tahu harus memberangkatkan haji dua warga Situ Burung ke tanah suci Mekkah. Itulah syarat, sekaligus menjadi tumbal untuk mengeringkan air danau. Setelah terjadi kesepakatan, maka air Situ Burung pun dikeringkan. Sumber mata air yang terletak di Pelabuhan Bulan ditutup. Lantas tanah bekas danau yang mengering itu dikavling-kavling dan dijadikan areal persawahan.

Ketika itu terjadilah rebutan penguasaan sumber mata air yang terletak di Pelabuhan Bulan. Sebab sumber mata air itu berhubungan dengan Situ Patenggang. Bila sumber mata air tidak ditutup, ada kemungkinan danau Situ Patenggang di Ciwidey, akan mengering. Karena itulah, pendekar di sana meminta agar mata air Situ Burung ditutup lalu dijadikan sawah. Sebaliknya, untuk mengairi sawah di Situ Burung, air Situ Patenggang akan dialirkan melalui mata air yang ada di Pelabuhan Bulan.

Terjadilah pertarungan antar pendekar saat memperebutkan mata air tersebut. Dalam pertarungan yang terjadi di Pelabuhan Bulan, banyak pendekar berguguran. Jumlah mereka banyak. Setelah tewas, para pendekar itu dimakamkan secara massal di sudut danau. Kini lokasi pemakaman itu menjadi bangunan STM di blok Ceuri, Situ Burung. Bukti kuburan massal itu adalah saat penggalian sumur di sekolah itu beberapa waktu lalu. Para penggali menemukan tulang belulang dan tengkorak manusia dalam jumlah banyak.

Nah, untuk menghentikan pertumpahan darah ketika itu, para pendekar Situ Burung berikrar, bila jagoan mereka Ki Jenggot bisa dikalahkan, maka mata air Pelabuhan Bulan akan diserahkan. Akhirnya dalam sebuah pertarungan, Ki Jenggot yang terkenal sebagai pendekar pilih tanding bisa dikalahkan.
Kabarnya, Ki Jenggot sengaja mengalah supaya tidak terjadi pertumpahan darah lagi. Mayatnya lalu dimakamkan di Blok Pasung, tak jauh dari Pelabuhan Bulan. Hingga kini makam Ki Jenggot masih ada dan dikeramatkan orang. Namun uniknya, makam itu tak pernah terlihat diziarahi orang. Sebab warga di sana termasuk keturunan Ki Jenggot tidak membolehkan makamnya diziarahi.

Menurut H Saidin, anak buyut Ki Jenggot, selain oleh anggota keluarga, orang lain tidak boleh menziarahi makamnya. Dengan alasan untuk menghindari adanya pengkultusan terhadap sosok Ki Jenggot. “Jangan sampai ada yang menyalahgunakan ziarah kubur untuk perbuatan syirik,” tandas H Saidin. Makam Ki Jenggot sendiri, kata H Saidin, sering menunjukkan kejanggalan. Misalnya, bila tangan dimasukkan ke dalam tanah makam, ketika dicabut selalu muncul bau harum yang merebak ke mana-mana.