AR RAHMAAN – AR RAHIIM:

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَ ّحْمَنِ اارَّحِي

Jika murahnya Allah, oleh perkara hal dunia, mengapa buktinya berbeda-beda, ada yang kaya ada yang miskin, yang senang dan yang susah, jadi, jika begitu, sepertinya Allah pilih kasih tidak ke semua manusia, murahnya dipilih, malahan kepada umatnya Allah, kepada umatnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alahi wassalam, kelihatan bedanya, kebanyakan yang berduka karena kurangnya rizki, tidak seperti bangsa lain, hidupnya melimpah, apalagi di bangsa Islam, selalu menghadapi duka lara dan prihatin dan hidupnya sengsara.

Katanya tadi Allah Maha Suci, tapi murahnya tidak ke semua makhluknya, tapi buktinya, tidak cocok, katanya Muhammad Nabi, kekasih Allah, segala diturut, mengapa buktinya bersebrangan dengan bangsa lain, sepertinya mereka mulia sekali.

Kemurahan Allah, kepada semua makhluk, sudah nyata ada di diri, Allah Maha Suci, memulyakan kepada makhluk-makhluknya, tidak ada kekurangannya, serta sudah cukup dan tidak pilih kasih, biarpun kepada hewan, sudah di beri cukup dengan martabatnya.

Allah sudah memberi pada wujud, tangan dan kaki, penciuman dan penglihatan, pendengaran dan perkataan itu sudah bukti, budi dan akal, inilah kemurahan Allah Maha Agung, sama semuanya, murahnya bukan karena memberikan rejeki, berupa barang dan uang, bukan itu pasal rejeki, tentu saja tiap manusia berbeda-beda tidak akan sama, ada yang banyak dan sedikit.

Perkara rejeki adalah bagaimana caranya memanfaatkan anggota badan, jika bersungguh-sungguh menggunakan anggota badan, jalan senang sudah pasti, yang sebelumnya bertemu dengan kesusahan.

Bangsa lain menjadi kaya karena mereka bersungguh-sungguh mau bertemu dengan kesusahan, mempergunakan kemurahan Allah, mau berpikir dan prakteknya. Maka pantas jadi kaya raya, karena tidak bosan oleh susah, tidak malas oleh cape, dikerjakan dengan sungguh-sungguh, jika belum hasil yang dimaksud, maka siang malam di pikir, lama kelamaan mau mikir, sudah pasti bisa kejadian.

Waman Thalaba kauni, Saian Jiddan Fawajiddahu, artinya siapapun yang sering munajat kepada Allah, meminta dengan diiringi prakteknya, sudah pasti awal akhir Allah akan mengabulkan maksud dan tujuan, sebaliknya jika kurang munajatnya dan kurang bersungguh-sungguh dan tidak dengan prakteknya, cepat bosan, tidak mau berpikir, malas dll tentu saja Allah tidak akan mengabulkan kemauan manusia, janganlah iri kepada orang lain yang kaya raya apalagi jika menyebut bahwa Allah tidak berlaku adil, sebenarnya manusialah yang salah menerima

Ar-Rohiim, nyatanya adalah di badan, bisa di rasakan, Akhirat adalah ALAM RASA. Ar-Rohiim kepada semuanya, keadaan di alam dhohir di darat dan di air, yang manis, yang lezat, yang pahit, yang asin, dan pedas, kemana keluar masuknya? Masuknya kepada RASA jalannya melalui yang empat yaitu penciuman dan penglihatan, pendengaran dan perkataan, diterima oleh rasa, terasa Allah Maha Pengasih, tidak ada lagi yang menerima, hanya RASA RASULULLAH

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :

“Jibril baru saja tadi keluar dari tempatku, dan ia berkata :.
“Yaa Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam,…Demi Dzat yang mengutusmu dengan hak menjadi Nabi, bahwasanya ada seorang manusia yang beribadah kepada Allah sejak 500 tahun diatas sebuah bukit yang dilingkari oleh laut.

Baginya telah disediakan oleh Allah sebuah mata air tawar yang sejuk di kaki bukit, dan sebuah pohon delima yang setiap hari berbuah satu buahnya.

Setiap sore hari ia turun ke mata air itu, berwudlu, sekaligus memetik buah delima dan memakannya. Selanjutnya ia shalat dan berdo’a memohon kepada Allah agar ia mati dalam keadaan bersujud, dengan tubuh tidak tersentuh oleh bumi ataupun lainnya, sampai kemudian ia dibangkitkan dari kubur-pun masih dalam keadaan bersujud.
Dan do’anya pun kemudian dikabulkan oleh Allah swt.

Hal seperti itu dibuktikan pula oleh Jibril as. dengan katanya,… “Kami melintasinya di saat naik atau pun turun, ia tetap dalam keadaan seperti itu (bersujud) dan kami dapati ia di hari kiamat dibangkitkan berhenti di hadapan Allah swt.
Lalu Allah Ta’ala berfirman : “Masukkanlah hambaKu ini ke dalam surga berkat rahmatKu!..”
Namun seorang abid itu berkata : “Tetapi berkat amal taatku sendiri…”

Lalu kemudian Allah ta’ala menyuruh para malaikat…supaya menimbang amal taatnya dengan karunia ni’mat Allah kepadanya.ternyata dengan karunia ni’mat Allah berupa pandangan mata saja, amal ibadah yang selama 500 tahun belum dapat memadai, apalagi dengan karunia nikmat Allah lainnya, yang berarti ia banyak menikmati karunia Allah tanpa di imbangi amal taat kepada-Nya.

Maka Allah Ta’ala berfirman : “Wahai para malaikat,….
Masukkanlah ia ke dalam Neraka.”
Jibril as. berkata : “Mereka pun kemudian melemparkannya ke dalam Neraka.”

Dengan demikian ia pun menyadari akan kelemahannya, lalu ia menyeru dan memanggil seraya berkata :
“Dengan Rahmat-Mu,…yaa Allah,…Masukkanlah hamba ke Surga…”

Akhirnya para malaikat disuruh mengembalikannya ke hadapan Allah swt, Dan Allah swt kemudian berfirman :
“Wahai hambaKu, siapakah yang menciptakanmu, sebelum engkau ada?..”
Ia menjawab : “Engkau Ya Rabbku…”
“Lalu, penciptaan atas dirimu itu dengan amal perbuatanmu ataukah berkat rahmat-Ku?…”
Ia menjawab : “Bahkan dengan rahmatMu, Ya Rabbku…”
“Lalu siapakah yang menguatkan engkau beribadah selama 500 tahun itu?…
Dan yang menempatkanmu di atas bukit yang dilingkari oleh laut?…
Dan yang memancarkan mata air tawar di tengah-tengah air laut yang asin?…
Dan yang mengeluarkan buah delima setiap petangnya,
padahal menurut umumnya musim berbuahnya hanya sekali dalam setahun?…
Dan yang mencabut ruhmu, padahal engkau dalam keadaan sujud?….”
Ia menjawab,.. “Semua itu Engkau yang menciptakan ,Yaa Rabbku…”

Allah Ta’ala kemudian berfirman : “Semua itu adalah dengan berkat RAHMAT-Ku, dan berkat RAHMAT-Ku pula masuklah kamu ke surga.”
(Duuratun Nasihin)

Seseorang masuk Surga,
bukan karena ilmunya…
bukan karena shalatnya…
bukan karena amalnya…
bukan karena pahalanya…
bukan karena kebaikannya…
tapi berkat RIDHO dan RAHMAT-Nya…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s