KEBERANIAN ORANG YANG BERIMAN:


KEBERANIAN ORANG YANG BERIMAN:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Minggu Kliwon. Tgl 28 Agustus 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian… Ketahuilah.
Di dalam Laku/Ibadah, kita harus memiliki hubungan intim dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah kita terlebih dahulu. Jika tidak, kita tidak akan pernah bisa mampu menerima kejadian prosesnya. Jadi,,, minimal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu, harus menjadi kekasih kita, pacar kita, selingkuhan kita. Maksimalnya,,, adalah kebalikannya, yaitu menjadi kekasih Dzat Maha Suci Tuhan/Allah kita.

Kalau harus saya umpamakan seperti ini;
Ada seorang pria bernama Djaka Tolos, yang memutuskan untuk meminta Wong Edan Bagu, yang tidak pernah dia kenal sebelumnya, untuk memberikan kredit motor kepadanya. Kemungkinan untuk memperoleh persetujuan akan sangat kecil bagi Djakat Tolos, dengan asumsi bahwa Wong Edan Bagu tersebut, bukan seorang idiot tentunya. Akan tetapi, dalam kasus yang sama, jika Djaka Tolos itu adalah Csnya Wong Edan Bagu, mengajukan permohonan kredit motor itu, sudah pasti tidak akan ada masalah, bukan…?! Faktor ada atau tidaknya, hubungan-lah yang menjadi persoalannya, bukan begitu Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian..?!

Bagi Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, ketika seseorang benar-benar telah menjadi kekasih-Nya, menjadi milik Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Dia mengenal mereka satu persatu dan mendengarkan doa mereka.

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…
Ketika berdoa kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti kita, apakah Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian, sudah yakin/iman/percaya, bahwa Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian mengenal-Nya dan Dia mengenal Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…?!

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…
Apakah Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian, telah memiliki hubugan baik dengan-Nya, yang menjamin bahwa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti kita, akan menjawab doa-doa Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…?!

Jika iya Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian yakin mengenalnya. Mulailah sekarang juga, selagi masih ada waktu bin belum terlambat. Jalankan. Gunakan dan Amalkan tuntunan yang diajarkan oleh Agama-mu. Kepercaya’an-mu. Keyakinan-mu. Apapun itu nama dan jenis alirannya. Asalkan hanya menuju kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti. Sudah pasti itu benar. Maka,,, jalankanlah dengan segenap Iman Cinta Kasih Sayang-mu sesuai Firman-Nya.

Tapi kalau justru Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti kita, terasa begitu jauh, hanya menjadi sebuah konsep dalam kehidupan Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian, atau Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian, tidak yakin bahwa Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian, telah mengenal-Nya dengan baik, berikut adalah petunjuk bagaimana memulai suatu hubungan baik dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti kita, Dan Lakukan/Ibadahkan sekarang juga.

Pertama;
Pasrah-lah kepada-Nya. Serahkan semua dan segala masalamu hanya kepada-Nya.
Kedua;
Terima-lah Dia. Sepenuh jiwa segenap raga, sebagai kekasih tercinta, sahabat terkasih, saudara tersayang, pacar atau apapun, sehingganya, terasa takan bisa hidup bila tanpa-Nya.
Ketiga;
Persilahkan-lah Dia. Ijinkan Dia mengambil alih semua dan segala urusan dan masalahmu.
Ke’empat;
Rasakan dengan penuh kesadaran, ketiga Laku/Ibadah diatas dengan iman Cinta Kasih Sayang.
Kelima;
Tebarlah Iman Cinta Kasih Sayang kepada siapapun dan apapun serta dimanapun tanpa terkecuali.

Apakah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti Pasti akan Menjawab Doa kita…?!
Bagi mereka yang telah mengenal dan percaya kepada-Nya. “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan Firman-Ku tinggal di dalam-mu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya”

“Tinggal” didalam Dia dan firman-Nya tinggal didalam kita. Bukankah ini berarti kita harus menjalani kehidupan kita dengan kesadaran murni akan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti yang kita percayai itu.

Bukankah iman itu yakin/percaya?
Bukankah yakin atau percaya itu berani tegas?

INI-lah keberanian orang yang percaya/yakin kepada-Nya.
Bahwa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti Pasti mengabulkan doa. jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Dia mengabulkan apa saja yang di minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti menjawab doa kita yang sesuai dengan kehendak-Nya, dan sesuai dengan hikmah Cinta Kasih Sayang-Nya kepada kita, kesucian-Nya, dan lain-lain

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…
Terkadang kita menganggap kita mengetahui kehendak Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti, karena hal-hal tertentu, dan nampaknya itu, masuk akal bagi kita. Lalu kita berasumsi bahwa hanya ada satu “jawaban” yang benar bagi doa kita yang spesifik, asumsi itu tentu saja, bahwa Hal yang kita minta PASTILAH kehendak Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti kita.

Dan seringkali kita bersikeras. Kita hidup didalam waktu dan pengetahuan yang terbatas. Kita hanya tahu sedikit informasi tentang suatu situasi dan implikasinya, dimasa yang akan datang. Sementara Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti kita, memiliki pengertian yang tidak terbatas. Apa yang akan terjadi dalam kehidupan kita, hanya Dia yang tahu. Dia memiliki tujuan lebih jauh kedepan, dibanding yang dapat kita bayangkan. Dengan demikian, Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti kita, tidak melakukan suatu hal, dengan begitu sederhana, hanya karena kita menentukan bahwa ini pasti kehendak Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti kita. Ingat dan Sadarilah itu wahai Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian… Saya Pernah berkata, bahwa “Tidak selembar daunpun yang jatuh ke bumi ini tanpa kehendak-Nya”

Kalau kalimat ini harus di kupas, berati tidak ada satupun halaman atau ruangan yang tidak berisi tentang maksud Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti terhadap kita kan…?! Keseluruhan Al-kitab, adalah gambaran tentang hubungan seperti apa yang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti kita inginkan, kita alami bersama Dia dan Hidup seperti apa yang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti ingin berikan bagi kita. Sekali lagi,,,, Ingat dan Sadarilah itu wahai Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

TIGA PRINSIP IMAN Wong Edan Bagu:


TIGA PRINSIP IMAN Wong Edan Bagu:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Sabtu Wage Tgl 27 Agustus 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasih saya sekalian…
Ada sebuah Firman dari Al-qitab injil taurat, yang pernah saya baca, ayatnya sangat menarik. Seperti ini; “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku.. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal/sempurna kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku”

Di dalam firman itu, ada kalimat mengenal, tak kenal maka tak sayang, itu kata pujangga. Karena itu firman, yang artinya adalah kata ucapan-Nya Tuhan. Berati kalimat mengenal tersebut diatas, adalah soal dan tentang hubungan antara Manusia dan Tuhan-nya.

Sudahkan kita mengenal Tuhan yang kita sembah…?!
Kapan Waktunya buat mengenal Tuhan kita…?!
Dan bagaimana kita dapat memiliki sebuah hubungan baik dengan Tuhan…?!

Apakah menunggu di sambar kilat/petir terlebih dulu…?!
Atau menunggu kesandung dan jatuh ke dalam jurang dulu…?!
Atau menanti dan menunggu kalau sudah sekarat…?!

Apa harus memberikan dan menyerah serta mengorbankan diri kita, kepada perbuatan-perbuatan agamawi atau keperya’anwi atau keyakinanwi atau kejawenwi atau glonganwi bla,,, bla,,, bla,,, lainnyawi…?! yang tidak mementingkan diri sendiri dan yang tidak mengutamakan ego dll.

BUKAN…!!! Bukan itu semua. Dzat Maha Suci Tuhan kita, telah menjelaskannya di dalam Al-kitab, bagaimana kita dapat mengenal-Nya dan menjalin hubungan dengan-Nya. Maka,,, bacalah dan bacalah kembali al-qitab ajaran atau tuntunan-mu, jangan merasa sudah tamat atau selesai membacanya. Karena satu kata saja firman Dzat Maha Suci di dalam al-qitab, jika dijabarkan dengan tulisan, tidak akan pernah cukup, walapun seluruh air laut di jadikan tintanya dan semua daun dijadikan kertasnya.

Dalam kesempatan kali ini, di Artikel ini, saya akan berbagi Pengalaman dengan Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasih saya sekalian… Tentang bagaimana Kita dapat memulai suatu hubungan dengan Dzat Maha Suci secara pribadi/khusus.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasih saya sekalian… Sungguh, pada awalnya saya adalah manusia atheis, yang putus asa karena gagal mengenali Dzat Maha Suci dengan Cara apapun. Seperti yang sudah pernah saya akui dalam artikel biografi pribadi saya. Orang hina dan kotor serta papa, namun ingin berhasil menggenggam dunia dengan sukses, artinya tanpa kesulitan. Sehingganya, berbagai macan jenis aliran keilmuan dan tuntunan bahkan agama apapun, saya pelajari demi itu. Namun hancur pada akhirnya, saya jatuh, lalu saya bangkit lagi, jatuh lagi, bangung lagi, jatuh lagi, bangkit lagi, jatuh lagi, bahkan sampai hancur berantakan semuanya dan saya tinggalkan segalanya dalam keputus asa’an.

Walau putus asa dan kecewa akan kegagalan itu, tapi saya tetap iman/yakin/percaya, kalau Dzat Maha Suci itu memang ada dan kuasa atas segalanya. Hanya saja, saya belum menemukan cara dan jalannya. Iman atau Yakin atau Percaya-nya saya, memiliki TIGA PRINSIP IMAN. Dan dengan Tiga Prinsip Iman inilah, saya berhasil membuktikan apa yang saya rindukan seumur hidup saya. Yaitu Mengenal dan menjalin hubungan Cinta Kasih Sayang dengan Dzat Maha Suci sesembahan saya yang Esa/Tunggal dan Maha Segalanya.

Prinsip yang pertama;
“Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti itu, mengasihiku dan mempunyai suatu rencana yang indah bagi kehidupanku” Maksudnya…Dzat Maha Suci tidak hanya menciptakan saya, tapi Dia sangat mengasihi saya, sehingga Dia rindu kepada saya, agar mau mengenal-Nya.

Prinsip yang kedua;
“Saya mengakui dengan sesadar-sadarnya, bahwa diri ini, penuh dosa dan akibat dosa itu, saya jadi terpisah dari Dzat Maha Suci begitu lamanya, buktinya saya sulit bahkan gagal menggapainya” Maksudnya… saya telah merasakan keterpisahan itu, suatu jarak dengan dengan Dzat Maha Suci Tuhan saya karena dosa itu.

Lebih dari itu, sipat dan sikap saya, yang selalu melawan dan masa bodoh, terhadap Dzat Maha Suci akan cara dan jalan yang telah di firmankan-Nya, merupakan bukti dari apa yang Al-kitab sebut dengan dosa. Akibat dari dosa adalah maut, yang di sebut maut adalah, terpisahnya manusia dari Dzat Maha Sui untuk selama-lamanya. Walaupun saya telah berusaha untuk dekat dengan Dzat Maha Suci melalui berbagai macam usaha, tapi buktinya itu semua gagal.

Prinsip ketiga;
“Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti, adalah satu-satunya jalan keselamatan yang sempurna, yang telah di tentukan oleh Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti itu sendiri, untuk keampunan dosa manusia yang mau bertaubat dengan sadar, bukan dengan kepentingan ego. Hanya dengan melalui Dia dan menuju hanya kepada-Nya. Saya bisa” Artinya… mau tidak mau, rela tidak rela, saya harus Pasrah kepada-Nya. Lalu menerima-Nya. Lalu mempersilahkanya. Terus merasakan proses kekuasa’an-Nya yang Maha Dahsyat, sembari menebar iman cinta kasih sayang kepada siapapun dan apapun serta dimanapun tanpa terkecuali. Maksudnya… saya harus keluar dari kotak golongan apapun dan melipat bendera kepentingan apapun.

Daripada saya terus berusaha keras untuk mencari Dzat Maha Suci Tuhan saya, dengan berbagai macam dan segala cara otak atik rancangan dan perkira’an pikiran saya. Mending saya mempraktekan tiga prinsip ini. Dan… mulailah saya exsen mempraktekan Tuga Prinsip Iman yang sudah saya uraikan diatas. Tanpa menggunakan kotak tanpa menggunakan bendera, namun saya tidak meninggalkan kotak dan bendera itu.

Dan seiring berjalannya waktu yang setiap detiknya saya perjuangkan untuk mempraktekan Tiga Prinsip Iman yang sudah saya uraikan diatas tadi, saya berhasil Mengenal-Nya dan Menjalin Hubungan Khusus serta Pribadi dengan-Nya. Bukti dari mengenal dan menjali hubungan khusus saya dengan-Nya. Adalah banyaknya artikel yang sudah saya sebarkan di internet ini, mengenai-Nya.

Jadi, jika kita telah mempraktekan Tiga Prinsip diatas. Percayalah Dia telah masuk ke dalam hidup kita, seperti yang telah dijanjikan-Nya. Artinya, kita telah memulai sebuah hubungan pribadi dengan Dzat Maha Suci Tuhan kita, tinggal meningkatkan kesadaran-nya, semakin kita sadar, semakin bersih, semakin bersih, maka semakin murni, semakin murni, maka akan semakin jelas dan nyata. Bukti kebenaran-Nya. Sungguh Dia tidak ingkar janji.

Kalau sudah seperti ini, selanjutnya kita akan memulai suatu perjalanan yang panjang, menuju perubahan dan pertumbuhan spiritual lahir bathin, di setiap detik yang kita lalui. Pokok’e… Sungguh luar biasa uedannya. He he he . . . Edan Tenan.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

SEMAKIN KITA MENGENALNYA. SEMAKIN MUDAH KITA MEMPERCAYAINYA:


SEMAKIN KITA MENGENALNYA.
SEMAKIN MUDAH KITA MEMPERCAYAINYA:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Sabtu Wage Tgl 27 Agustus 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…
Manusia hidup di dalam kehidupan dunia ini, tentu saja tidak bisa terhindar dari yang namanya, mengalami sakit, karena penyakit, karena masalah, atau kesulitan-kesulitan lain dalam hidupan berkepentingan dan berkebutuhan. Lalu…?!

Dzat Maha Suci mengajarkan kita, untuk menyerahkan segala kekuatiran kita itu, hanya kepada-Nya saja, dalam situasi yang sulit sekalipun, “Serahkanlah segala kekuatiranmu hanya kepada-Nya, sebab Dialah pemelihara dan yang memelihara kita”

Keadaan mungkin bisa jadi terasa tidak terkendali, tetapi sebenarnya tidak, itu hanya perasa’an kita saja, obalah gunakan Rasa-nya, jangan perasa’annya, sudah sekian lamanya bukan, kita di permainkan oleh perasa’an, ketika dunia ini terasa mau runtuh.

Percayalah. Jangan takut. Usah kita hawatir. Asalkan kita bisa mau. Pasrah kepada-Nya. Menerima-Nya. Mempersilahkan-Nya. Merasakan Proses kekuasa’an-Nya dan menebar Iman Cinta Kasih Sayang-Nya dengan Sadar. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti, akan menjaga kita. Dalam sikon seperti inilah, setiap orang pasti akan sangat bersyukur, karena mereka mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti yang sesungguhnya.

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian… Ketahui dengan sadar. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti itu dekat. “Jadi, janganlah kita takut dan kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu, kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti, dalam doa dan laku/ibadah seraya mengucapan syukur. Damai sejahtera Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiran kita. Jika kita mau merawat hati dan pikiran kita sendiri, dari segara kotoran yang tak berwujud, seperti sirik-iri-dengki-fitnah-benci-dendam dan sejenisnya.

Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti, bisa saja memberikan jalan keluar, seperti mengatasi masalah yang sedang kita alami, melebihi yang kita bayangkan. Beberapa Kadhang atau Saudara kita, pasti ada yang mengalami hal seperti ini dalam kehidupan mereka. Tetapi jika keadaan tak kunjung membaik, Dzat Maha Suci masih bisa memberikan kita damai sejahtera-Nya, ditengah-tengah masalah yang kita hadapi.

“Sanadyan jenengsiro den idak-idak, den gebugi, MENENGO. Sambato Roso. Ojo sambat angen-angen. Sambato roso, jenengsiro amung Nyut. Nyut ing roso, yekti panjenenganingsun dumrojog tanpo larapan. soko Sunyoruri, yo Roso Sejati Sejatine Roso, kang ono ing ‘KENE’ mulo jenengsiro ojo was lan sumelang” (Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu).

Inilah intinya,,, ketika keadaan tidak kunjung membaik, bahwa Dzat Maha Suci meminta kita untuk tetap percaya hanya kepada-Nya (Ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa tetep Kunci) “Ono opo-opo Kunci. Ora ono opo-opo tetep Kunci”

Hidup karena percaya/iman/yakin, bukan karena melihat atau mendengar seperti yang Al-kitab katakan. Tetapi ini bukan iman membabi buta. Melainkan sesuai dengan setiap karakter yang dimiliki Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti kita.

Seperti sebuah Contoh misal yang pernah saya katakan di lain artikel. Saya hendak pergi mencari alamat toko, yang ada di kota jakarta. Dari cirebon membawa sebuah mobil dan sopir pribadi. Mobil pribadi adalah perumpama’an tuntunan yang sedang saya pelajari, sedang sopir pribadi adalah perumpam’an Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti saya. Karena yang menjadi sopir adalah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti saya. Haruskan dan pantaskah saya memandu sopir itu…?! Pir,,, di depan nanti belok kanan, lalu di belokan sebelah kiri ada warung, di depan warung ada pohon terongnya… nah, di sebelah warung itulah toko yang saya maksud. Kira-kira etis tidak, kita memperlakukan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti yang kita imani, kita yakinin, kita perayai adalah Maha diatas segala yang Maha.

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…
Dzat Maha Suci telah menawarkan untuk memberikan jawaban dan bukti dari semua doa bagi seluruh cipta’an-Nya. Mereka yang telah Pasrah dan Menerima-Nya serta Mempersilahkan-Nya, pasti mengikuti-Nya. Dia meminta kita untuk menyerahkan setiap masalah, kekuatiran kita kepada-Nya didalam doa dan laku/ibadah. Dia akan bertindak sesuai dengan kehendak-Nya. “Orausah melu cawe-cawe-Romo kang bakal tumindak” Ketika kita berada dalam kesulitan dan menyerahkan semuanya hanya kepada-Nya, maka kita akan menerima tenteram, damai sejahtera, dari-Nya, sekalipun keadaan tidak mendukung. Dasar dari pengharapan kita pada-Nya, adalah iman cinta kasih sayang atas karakter Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti itu sendiri. Semakin kita mengenal-Nya. Semakin mudah kita mempercayai-Nya. Semakin kita mudah mempercayai-Nya. Semakin tidak ada yang Mustahil bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

DASAR AGAR SUPAYA:


DASAR AGAR SUPAYA:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Sabtu Wage Tgl 27 Agustus 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…
Pernahkah kita mengenal seseorang yang sungguh-sungguh mempercayai Dzat Maha Suci, yang lebih kita kenal dengan sebutan Tuhan atau Allah atau Gusti atau Alah..?!

Dulu,,, ketika saya masih jadi seorang atheis, Saya mempunyai seorang sahabat, yang sangat sering berdoa, yang namanya berdoa, rajin banget. Setiap minggu sekali, dia pasti menceritakan kepada saya tentang iman-nya kepada Tuhan atau Allah atau Gusti atau Alah yang dipercayainya, dan dia menyebutnya sebagai Alloh zza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Dan sepertinya, dia ingin sekali membawa saya masuk ke dalam keyakinan doanya itu, sebab itu, dia selalu runtin menceritakan doa-doanya setian seminggu sekali kepada saya.

Dan setiap minggu pula, saya menyaksikan Dzat Maha Suci, dari cerita sahabat saya itu, melakukan sesuatu yang tidak biasa dalam menjawab doanya.

Tahukah Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…
Saya merasakan betapa sulitnya, bagi seorang atheis, melihat hal ini dari minggu ke minggu. Setelah berturut-turut menyaksikan hal itu, kata “kebetulan” terdengar seperti pendapat yang sangat lemah dan sepele, bagi saya kala itu.

Lalu mengapa Dzat Maha Suci menjawab doa sahabat saya itu?
Alasan terbesar adalah bahwa ia memiliki persekutuan kuat dengan Dzat Maha Suci Alloh zza wa Jalla Jalla Jalaluhu-nya itu. Ia ingin mengikuti Alloh zza wa Jalla Jalla Jalaluhu-nya itu, selalu. Ia juga bersungguh-sungguh mendengarkan apa yang Alloh zza wa Jalla Jalla Jalaluhu -nya katakan. Baginya, memiliki hak penuh untuk memimpin kehidupannya, dan dia membiarkan Alloh zza wa Jalla Jalla Jalaluhu Tuhan-nya itu, mengambil alih semuanya dan melakukannya!

Ketika dia berdoa untuk sesuatu, hal ini merupakan bagian alami dari hubungannya dengan Dzat Maha Suci Tuhan-nya. Dia merasa nyaman, membawa semua kebutuhannya, kegelisahannya, dan apapun hal yang sedang dialaminya kepada Tuhan-nya. Lebih jauh lagi, ia begitu mempercayai apa yang dibacanya dari Al-kitab, bahwa Dzat Maha Suci ingin agar dia mempercayai-Nya.

Dia seringkali memperlihatkan kepada saya, tentang apa yang dikatakan Al-kitab, “Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya, menurut kehendak-Nya. “Sebab mata Dzat Maha Suci tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka, yang minta tolong”

Jika demikian, Mengapa Dzat Maha Suci tidak Menjawab Doa Setiap Orang..?!

Hal ini disebabkan karena mereka tidak memiliki sebuah hubungan baik dengan Dzat Maha Suci Tuhan-nya. Sebaik Persekutuan Sahabat saya dengan Alloh zza wa Jalla Jalla Jalaluhu Tuhan-nya itu. Mereka mungkin percaya bahwa Dzat Maha Suci itu memang ada, bahkan mungkin mereka menyembah Dzat Maha Suci dari waktu ke waktu. Sesaui firman-firman-Nya di dalam al-qitab.

Tetapi mereka yang tidak pernah melihat doanya terjawab, mungkin tidak memiliki hubungan dengan-Nya. Lebih lanjut, Mereka belum pernah menerima pengampunan dari Dzat Maha Suci atas dosa-dosa mereka. Jika demikian,,, lalu apa yang harus kita lakukan..?!
Monggo… Silahkan di Pikir sendiri-sendiri ya. Saya hanya sebatas menggugah Rasa yang sedang tertidur dengan Pulasnya.

Karena menurut pengetahuan saya pribadi. Sesungguhnya, tangan Dzat Maha Suci itu, tidak kurang panjang untuk menyelamatkan kita, dan Telinga Dzat Maha Suci juga, tidak kurang lebar untuk mendengarkan doa-doa kita, juga tidak kurang tajam untuk melihat apapun dibawah kekuasa’an-Nya, tetapi yang merupakan pemisah antara Aku dan Tuhan-ku, adalah segala kejahatan-ku sendiri, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap-ku, sehingga aku tidak melihat dan mendengar, adalah segala dosa/karma-ku sendiri.

Saya rasa,,, itu hal yang wajar bukan? jika kita merasa terpisah dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah kita.

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…
Ketika seseorang meminta sesuatu kepada Dzat Maha Suci Tuhan-nya-Allah-nya, apa yang biasa terjadi…?!

Mereka memulai dengan berkata,”Tuhan/Allah/Gusti bla,,,bla,,,bla,,, saya sungguh memerlukan pertolongan-Mu dalam masalah ini…”Lalu kemudian ada jeda, diikuti dengan sebuah pernyataan “Saya menyadari bahwa saya tidak sempurna, sesungguhnya saya tidak layak meminta pada-Mu..” Ada sebuah kesadaran atas dosa pribadi.

Dan setiap orang tahu bahwa bukan hanya mereka, tetapi Dzat Maha Suci Tuhan-pun, tahu hal ini. Ada RASA… “Siapa yang saya permainkan?” yang mungkin tidak mereka ketahui adalah bahwa mereka dapat menerima pengampunan dari Dzat Maha Suci atas semua dosa/karma mereka. Mereka mungkin tidak tahu bahwa mereka bisa memiliki suatu hubungan dekat dengan Dzat Maha Suci, sehingga Dia akan mendengarkan mereka. Inilah Dasar “Agar Supaya” Dzat Maha Suci menjawab doa dan semua serta segala Pertanya’an masalah apapun dari Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian.

Dan Kesimpulannya; Mulailah sekarang juga, selagi masih ada waktu bin belum terlambat. Jalankan. Gunakan dan Amalkan tuntunan yang diajarkan oleh Agama-mu. Kepercaya’an-mu. Keyakinan-mu. Apapun itu nama dan jenis alirannya. Asalkan hanya menuju kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Sudah pasti itu benar. Maka,,, jalankanlah dengan segenap Iman Cinta Kasih Sayang-mu sesuai Firman-Nya.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

BACALAH DENGAN RASA. JANGAN DENGAN PERASA’AN:


BACALAH DENGAN RASA. JANGAN DENGAN PERASA’AN:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Kamis Pahing Tgl 25 Agustus 2016

“Suciningati Gandaning Manunggal”
Itulah judul tema dari artikel saya pada Hari Sabtu Kliwon. Tgl 16 Januari 2016 yang lalu, dan Hari ini. Kamis Pahing Tgl 25 Agustus 2016, sedikit saya edit, dengan Judul “BACALAH DENGAN RASA. JANGAN DENGAN PERASA’AN” biyar lebih jelas dan lebih mudah untuk dipahami, karena ada beberapa saudara kita yang kurang memahami arah pengertiannya. Kenapa saya menggunakan Judul “BACALAH DENGAN RASA. JANGAN DENGAN PERASA’AN” Karena kalau dibaca pakai Perasa’an. Anda akan menganggap saya sombong dan mengira benar sendiri dan menyalahkan yang lainnya. Sedangkan inti maksud kebenarannya. Tidak akan Anda Peroleh.

Para sedulur dan kadhang kinasih saya sekalian dimanapun berada, yang senantiasa di Restui Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Ketehui… Jangan Pernah mengaku Pintar. Jangan Pernah mengaku bisa. Jangan Pernah mangaku Pandai. Jangan Pernah mengaku mumpuni dan mahir dalam agama. Apa lagi mengaku Berilmu Tinggi.

Jika di dalam Hati, yang terletak dibaik dada kita. Masih Tersisip. Benci. Sirik. Iri. Dengki. Fitnah dan Dendam. Bila dalam Hati yang terletak dibaik dada kita. Masih Tersimpan. Buruk sangka. Menjelekan sesama hidup, mengolok-olok sesama hidup. Membicarakan keburukan sesama hidup. Mencela sesama hidup. Mengadu domba sesama hidup dan menyakiti sesama hidup. Karena orang yang benar-benar Pintar. bisa. Pandai. Mahir dan ahli dalam agama, serta berilmu Tinggi. Tidak akan mungkin melakukan hal-hal tersebut.

Para sedulur dan kadhang kinasih saya, ingat-ingatlah… dimanapun sedulur dan kadhang kinasihku bertemu seseorang yang mengaku Pintar. bisa. Pandai. Mahir dan ahli dalam agama, serta berilmu Tinggi. Namun di ketehui, masih memiliki Benci. Sirik. Iri. Dengki. Fitnah. Dendam dan masih Buruk sangka. Menjelekan sesama hidup, mengolok-olok sesama hidup. Membicarakan keburukan sesama hidup. Mencela sesama hidup. Mengadu domba sesama hidup dan menyakiti sesama hidup. Jagalah jarak imanmu. Jangan engkau terpedaya olehnya.

Karena itu… Para sedulur dan kadhang kinasih saya semuanya, tanpa terkecuali, jika benar-benar ingin mengenal dan memahami Dzat Hyang Maha Suci Hidup, dengan tepat dan benar, agar bisa sempurna dunia hingga akherat nanti.

Membersihkan Hati/Bathin kita, dari semua yang sudah saya sebutkan diatas. Hati/Bathin adalah, Pusara kita selagi Hidup di dunia ini. Jangan sampai ternoda atau ternodai, karena jika sampai ternoda oleh hal yang sudah saya sebutkan diatas. Jangan pernah bermimpi atau berkhayal tentang Manunggal atau Surga, apa lagi soal sempurna. Disini, saya meminjam gaya bahasanya Aa Gym.

“Jagalah hati, jangan kau nodai, jagalah hati, lentera hidup ini”
Yuk… kita budidayakan menebar Iman Cinta Kasih Sayang, terhadap sesama hidup dan antar sesama hidup.

Saya punya kesaksian tentang hal yang sudah saya ungkapkan diatas. Dibawah inilah pengertiannya. Bacalah dengan penghayatan iman hingga selesai. Agar bisa mengerti dan paham maksudnya. Tuhan Memberkahimu sekalian. Amiin…

Dan untuk beberapa Kadhang yang telah mengirim pesan inbox pertanya’an kepada saya. Tentang masing-masing pertanya’annya, sebagai berikut.
Pertanya’an No. 1; Pak WEB, saya sudah pahami dan jalani wejangan dari pak WEB, tapi kok, dalam mempraktekannya, masih sulit…. saja, susah pak. Ada apa dan kenapa dengan saya, apakah saya kebanyakan dosa/karma atau apa pak?

Pertanya’an No. 2; Pak WEB, saya merasakan seperti ada sesuatu yang menghalangi saya, sepertinya saya hampir bisa sampai, tapi sulit menggapainya, seakan ada dinding pemisah yang membuat saya kesulitan mencapainya, itu apa dan kenapa pak?

Pertanya’an No. 3; Pak WEB, saya sudah mengikuti dan membaca serta memahami wejangan-wejangan pak WEB, dan saya sudah menjalankannya sesuai dengan Bimbingan pak WEB, tapi masih sulit saja, susah, ada kalanya hambar rasanya, apa ada yang salah atau kurang dalam laku saya pak?

Pertanya’an No. 4; Pak WEB, semedi saya dalam laku Patrap Wahyu Panca Gha’ib, rasanya seperti bisul mau pecah, tapi ga pecah-pecah. Saya cari tau, ga ketemu letak penyebabnya apa dan dimana, mohon wedarannya mengenai hal ini pak?

Pertanya’an No. 5; Pak WEB, kok saya tambah seperti orang yang linglung, maksudnya, saya kan sudah banyak pemahaman dan pengertian dari pak WEB soal Laku, tapi, pikiran saya seperti bundel pak, kaya ada yang nutupin gitu, tapi, saya tidak tau, apa itu, semakin saya cari, semakin membuat saya bodoh, seperti orang yang ga pernah belajar. Mohon penjelasannya pak?

Pertanya’an No. 6; Pak, tekad saya sudah kuat dan bulat, saya ga pernah goyah atau terpengaruh oleh sikon apapun, saya tetep idep madep madep, menjalankan Wahyu Panca Gha’ib. Tapi kok, tidak sampai-sampai ke Intisari patinya, seperti yang pak WEB maksud itu pak, sepertinya saya tau dan melihatnya dengan sangat jelas, tapi, tangan saya seperti pendek, sehingga tidak sampai untuk meraihnya, kaki saya kaku, sehingga tidak bisa melangkah maju ke titik finis itu, kenapa dan ada apa dengan saya pak?

Dibawah inilah jawabannya. Bacalah dengan penghayatan iman hingga selesai. Agar bisa mengerti dan paham maksudnya. Tuhan Memberkahimu sekaian. Amiin…

Para sedulur dan kadhang kinasih saya dimanapun berada, yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup. Di beberapa artikel yang tersebar di media internet, saya sudah sering medar/mejang bab, apa itu Suci. Yang intinya. Bahwa Suci itu, bukanlah Bentuk dan Warna. Suci adalah sir dat sipat yang tidak tercampuri oleh apapun “Bebas Merdeka” tanpa terikat atau ikatan apapun. Atau dalam kata lain; Bersih-Murni-Tulus. Itulah kata singkat dan sederhana tentang Suci, yang bisa saya jelaskan untuk para sedulur dan kadhang kinasih saya.

Itu baru soal Suci. Bagaimana dengan Dzat Hyang Maha Suci…?!
Jawabannya; tentu berkali ber dari yang sudah saya jelaskan diatas.

Inilah yang membuat banyak para ahli Spiritual, gagal dalam mencapai puncaknya, yaitu Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Karena Dzat Hyang Maha Suci Hidup, memiliki Sipat dan Sikap Suci dalam segala halnya, yang tidak tercampuri oleh apapun dan tdiak bisa di campuri oleh siapapun. Karena itu Dzat Hyang Maha Suci. Maha Kuasa atas segala yang maha.

Inilah yang membuat banyak para Pemuja dan Pecinta Tuhan gagal dalam mengenali dan memahami Dzat Hyang Maha Suci Hidup Tuhan-nya. Karena Dzat Hyang Maha Suci Hidup, memiliki Kekuasa’an yang tidak Berkotak-kotak dan berbendera apapun.

Nekad menujunya?
Berati mau tidak mau, rela tidak rela, siap tidak siap, suka tidak suka, bisa atau tidak bisa. Harus sama. Jika tidak sama. Jangan bermimpi atau berkhayal untuk bisa berhasil menujunya, apa lagi manunggal/sempurna.

Kanapa tidak bisa Pak WEB?
Kan tadi sudah saya jelaskan. Bahwa Suci itu tidak bisa tercampuri atau dicampuri oleh apapun. Piye to iki… kok ga mudeng, jane diwoco pora. He he he . . . Edan Tenan.

Siapapun dia, dimanapun dia, bagaimanapun dia. Tidak akan pernah bisa, belajar Suci atau Memiliki Suci tanpa Kehendak-Nya. Karena Suci untuk para Makhluk, itu Laku, maksudnya Adalah Wahyu dari Dzat Hyang Maha Suci Hidup, jadi, tidak bisa di minta atau di kejar atau dinanti, bisanya di Lakukan Sesuai Firman-Nya.

Berati, selamanya tidak akan pernah ada manusia yang bisa berhasil mengenal dan memahami Dzat Hyang Maha Suci Hidup ya pak WEB?

Bukan begitu, dan tidak seperti itu brow… yang bisa berhasil mengenal dan memahami Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Itu ada, bahkan mungkin banyak, yang sampai berhasil mencapai ke tahap manunggal dan sempurna juga ada.

La terus gimana caranya mengenal dan memahami Dzat Hyang Maha Suci Hidup?
Katanya Suci itu tidak bisa dipelajari atau dimiliki oleh manusia manapun dan apapun. Piye to pak. Kok genten mbulet…

Caranya ya jangan belajar Suci. Jangan mencari Suci. Apa lagi Shok Suci.
Caranya cukup mudah. Jalankan Wahyu Panca Gha’ib dengan Menggunakan Wahyu Panca Laku, jangan dengan akal pikiran, apa lagi ego dan politik.

Apakah ada cara lain…?!
Tidak ada…!!!

Bukankah sangat banyak bahkan teramat banyak, ajaran dan pelajaran yang ada di muka bumi ini…?! kenapa tidak ada…!!! Selain Wahyu Panca Gha’ib yang di jalankan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku…?!

Percayalah,,, saya sudah menglanglang buana. Walalu tidak seluas dunia ini, saya sudah merasa cukup yakin, bahwa tidak ada yang lain selain Wahyu Panca Gha’ib, itupun jika di jalankan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Kalau tidak di jalankan dengan Wahyu Panca Laku. Wahyu Panca Gha’ib-pun. Sama dengan yang lainnya itu. Hanya sebatas sarana. Sedangkan Cara Prakteknya,,, agar bisa tepat dan benar sesuai firman-Nya. Tidak akan pernah bisa di mengerti dan di pahami jika tidak menggunakan Wahyu Panca Laku. Artinya; Wahyu Panca Gha’ib sekalipun, yang katanya WAH… sama saja dengan yang lainnya. Hanya sebatas sarana, itupun katanya. Tidak bisa membuktikannya.

Butuh Bukti…?! ini Buktinya…!!!
Sudah berapa puluh tahun kita belajar dan terus belajar tanpa henti, hingga ke negeri cina istilahnya. Semua aturan dan dogma kita lakukan dengan mantapnya, dengan iman, katakanlah begitu. Semua firmah Tuhan dan Sunah Rasul sudah kita ibadahkan dan kita terapkan dengan tak terhingga.

Sholat/Sembayang. Beramal. Bersedekah. Berkurban. Berhijrah. Berpuasa. Bertapa. Berdzikir. Berwiridz. Bertawasyul. Bertahayul. Berjihad. Berdoa. Bersesaji. Berpuja Puji, dan Ber kali ber bla,,,bla,,,bla,,, lainnya, yang jika saya tulisan semua disini, akan memperpanjang katanya yang tiada habisnya.

Apakah dengan semua itu, seumur hidup kita, di dalam keseharinnya…?!
Kita sudah tidak membenci sesama hidup kita…!!!
Kita sudah tidak mengfitnah dan dendam pada sesama hidup kita…!!!
Kita sudah tidak menghina dan meremehkan sesama hidup kita…!!!
Kita sudah tidak menyakiti, mengecewakan dan merugikan sesama hidup kita…!!!

Apakah dengan semua itu, seumur hidup kita, di dalam keseharinnya…?!
Kita sudah bisa salin mengasihi sesama hidup kita…!!!
Kita sudah bisa salin bantu dan peduli pada sesama hidup kita…!!!
Kita sudah bisa salin menghargai dan menghormati sesama hidup kita…!!!
Kita sudah bisa salin asah asih asuh pada sesama hidup kita…!!!

Sehingga kedamaian dan kebahagia’an serta ketenteraman tercipta dimana-mana dan dapat kita rasakan bersama. Tidak ada pelecehan, tidak ada pencurian, tidak ada penipuan, tidak ada penindasan, tidak ada kecurangan, tidak ada kesewenang-wenangan. Tidak ada pemerkosa’an. Tidak ada korupsi. Tidak ada ketidak adilan. Tidak ada pembunuhan. Tidak ada teror dan teroris. Tidak ada kerusuhan. Tidak ada kejahatan merajalela dimana-mana dan semua jenis ketidak nyamanan. Yang ada, hanya ketenteraman dan kebaikan yang tepat dan benar menuju kehadirat Dzat Maha Suci Allah/Tuhan.

Dan apa yang saya utarakan diatas, sudah lebih dari cukup, sebagai bukti. Bukan…?!

Tapi hanya dengan Wahyu Panca Gha’ib yang saya Jalankan/Praktekan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Saya bisa. Bisa membuktikan semua katanya al-qitab, semua katanya sejarah kejadian, semua katanya wejangan dari Para Guru Ahli Pembimbing saya, bahkan Tuhan yang saya sembah setiap waktunya saya tahu. Sehingganya, apapun rintangan dan risikonya, saya tetep idep madep mantep menebar Iman Cinta Kasih Sayang kepada apapun dan siapapun serta di manapun tanpa menyerah kalah. Tanpa kebencian, tanpa iri, tanpa fitnah, tanpa dendam, tanpa kekerasan, tanpa buruk sangka, tanpa fan tanpa apapun, yang ada hanya Iman Cinta Kasih Sayang antar sesama Hidup, yang berbangsa masing-masing dan bertanah air masing-masing pula.

Tidak-kah kecerdasa pola berpikir kita sampai ke hal tersebut…?! bukan-kah jaman ini semakin canggih dan modern…?! Tapi kenapa kita seperti katak dalam tempurung dalam memaknai Proses Hidup dalam Berkehidupan ini…!!! Coba renungkan dengan kecanggihan dan kemodernan otak pemikiran kita. Yang menurut kita logis dan logika itu.

Para sedulur dan kadhang kinasih saya sekalian dimanapun berada, yang senantiasa di Restui Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Ketehui… entah di sadarai atau tidak di sadari, kita sering bahkan amat sering mangaku beriman, apa lagi jika ada yang bertanya soal iman kita, kita dengan gigihnya menjawab tegas singkat padat dan wah,,,jempol tenan. Aku beriman bahwa Tuhan itu esa dan kuasa atas segalanya dan bla,,,bla,,,bla…

Tapi,,, dalam kenyata’annya;
Pernahkan kita memberikan kesempatan, sekali saja kepada Tuhan. Untuk menunjukan kuasanya atas masalah-masalah kehidupan kita…?!

Tapi,,, dalam kenyata’annya;
Pernahkan kita ragu, sedikit saja, tak kala hendak mencuri, menipu, berbohong, membenci, mengfitnah, menyakiti sesama hidup dan maksiat serta keburukan lainnya, bahwa Tuhan mengetahui semua itu…?! dan Tuhan akan memberikan balasan atas semuanya itu…?!

Kenyata’an-nya TIDAK bukan. Silahkan di pikir dan di renungkan sendiri. Jika bertanya akan hal itu. Tanyakan pada diri kita sendiri. Sudahkan begitu…?!!.

Para sedulur dan kadhang kinasih saya sekalian dimanapun berada, yang senantiasa di Restui Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Sudah sa’atnya dan waktunya kita menyerahkan segalanya dan semuanya hanya kepada Dzat Maha Suci Tuhan kita. Jika tidak, mau jadi apa bangsa dan negara terutama diri kita sendiri ini. Biyar Dia yang mengatur dan menata. Karena hanya Dzat Maha Suci Tuhanlah yang mampu dan bisa. Kita tak punya daya upaya apapun jika tanpa-Nya.

Dia adalah Sateriyo Paningit bagi setiap diri yang masih kedudukan Hidup. Dialah Pemimpin kita. Raja kita. Tujuan kita. Dan sudah waktunya. Sudah sa’atnya Mijil dan di Mijilkan, jangan di sembunyikan terus dalam hati, apa lagi di dalam dompet kita. Dengan tutup/tameng kepentingan politik apapun itu. Pasrah-lah pada-Nya. Terima DIA. Persilahkanlah DIA. Lalu Rasakan dengan Iman Cinta Kasih Sayang Bukti Nyata-Nya, yang akan kita terima sa’at Pasrah. Merima dan Memperilahkan-Nya.

Sekali lagi… Para sedulur dan kadhang kinasih saya sekalian dimanapun berada, yang senantiasa di Restui Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Beri kesempatan pada Dzat Hyang Maha Suci Tuhan kita, untuk menunjukan Kuasanya. Jangan disuruh diam di kamar terus, kita kan percaya, kalau Dzat Maha Suci Tuhan itu, adalah Maha diatas segala yang Maha. Kok kita terus yang selalu maju nonjol. Tuhan-nya, ga di kasih bagian, aslinya, yang kuasa itu, kita apa Dzat Maha Suci Tuhan? Hayo….!!!

Sekali lagi… Cukup dengan Wahyu Panca Gha’ib yang di jalankan/praktekan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku, tanpa ribet apapun. Kita akan dapat bukti aslinya. Bukan tiruannya. Bukan katanya. Dan Tidak perlu di otak atik atau di beri asesoris biyar indah, ditambahin bumbu biyar lebih sedap. Tidak…!!! tidak usah, karena hal itu, justru membuat kita, keluar dari jalur yang sebenarnya. Sebab belum tentu sesuai, dan akan menghilangkan kemurnian-Nya.

Jadi, tidak perlu neko-neko. Biyarkan Tuhan yang berbuat, kita cukup laku. Titik.

Kalau sudah Menjalankan/Mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Disadari tidak disadari. Diketahui atau tidak diketahui. Kita akan masuk ke dalam dimensi Proses.

Proses apa pak WEB?
Ya Proses penSucian.
Masak Proses persalinan bayi.
Piye to sampean iki.
Di dengerin dulu kalau saya lagi ngomong. Jangan di sela, jangan di potong, nanti kelalen bagaimana, la wong saya sudah pikun. He he he . . . Edan Tenan.

Yo wess monggo, di lanjut, saya tak ndlopong karo udud, ngrungoke Wong Edan Bagu ngomyang. He he he . . . Edan Tenan.

Husss… Itu gaya tertawaku, jangan di pakai, nanti cara ketawa saya gimana, kalau kamu pakai.

Huff…!!!

Disaat kita sudah berhasil memasuki dimensi Proses. Maka mulailah berlaku sebuah ayat yang menjelaskan;

“Aku adalah ‘dekat’ lebih ‘dekat’ daripada urat leher”.

“Apa bila mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta, apabila mendekatiku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa dan apabila dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari”

Artinya; disa’at kita sedang berada di dalam dimensi proses. Sebenarnya, kita sedang bersama Dzat Hyang Maha Suci. Jadi, sangatlah tidak pantas jika kita merasa ragu dan bimbang, apa lagi takut dalam sikon apapun. Tinggal kitanya, Teliti apa tidak, kalau teliti, pasti tau, kalau tau, pasti ngerti, kalau ngerti, pasti paham, kalau paham, pasti bisa merasakan keberada’an Dzat Hyang Maha Suci, yang kala itu sedang bersama kita.

Iya kalau tahu sedang berada di dalam dimensi proses pak WEB, kalau tidak tau, bahwa kita sedang berada di dalam dimensi proses, gimana coba, kan tidak tau apa yang sedang dialami itu, adalah Proses pak WEB. Hayo…

Kae ra… udah dibilang kalau saya lagi ngomong jangan di potong dulu, sebelum selesai, di potong lagi.

Yo wes yo wesss…. monggo dilanjut.

Awalnya kan sudah ada niyat, kan sudah di niyati dari awal, kok sampai tidak tau kalau itu proses, bagaimana ceritanya? Berati, niyatnya itu, kan niyat nglantur. Kalau tidak nglantur, pasti tau, kalau itu prosesnya dan sedang proses.

Hehe… ora nganggo edan tenan. Iya benar pak WEB. Prosesnya pak WEB, Proses pensuciannya gimana, maafkan nyela bentar, buat iklan. Lanjut…

Di dalam dimensi Proses inilah. Dzat Maha Suci, mensucikan lahir dan bathin kita, jiwa dan raga kita, dari semua keterikatan dunia, dan kotak-kotak kepentingan serta bendera keperluan, yang membuat lahir bathin kita, tertutup dan ternoda alias tidak suci lagi, seperti kala pertama kali dilahirkan.

Dan di dalam dimensi Proses pensucian inilah, yang membuat kebanyakan orang, memilih mundur dan menyerah serta ngaku kalah sebelum bertempur. Karena cara Dzat Hyang Maha Suci Hidup mensucikan, sangat mengejutkan. Berat, bahkan menyedihkan dan menyakitkan. Tapi bagi yang tidak mengerti, kalau dirinya sedang dalam proses, dan tidak menyadari kalau dirinya sesungguhnya sedang bersama Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Tapi bagi yang mengerti. Sungguh mengasyikan, indah dan sangat berkesan, karena hal itu, bisa di hadapi dengan “Ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa tetep Kunci” artinya”Ada apa-apa Kunci. Tidak ada apa-apa tetap Kunci”maksudnya”Ada masalah berTuhan. Tidak ada masalah ya tetap berTuhan.

Bagaimana dan seperti apakah, proses pensuciannya?
Sehingga membuat kebanyakan orang memilih mundur bahkan menyerah sebelum bertempur? He he he . . . Edan Tenan. “Yen wani aja wedi-wedi. Yen wedi aja wani-wani”.

Saya kasih gambaran.
Coba pikirkan. Maaf. Di pikir ya, jangan di bayangkan…!!!
Coba pikirkan, apa yang terjadi, jika Anda yang biasanya banyak uang, peribahasanya, garuk-garuk kepala saja, bisa dapat uang. Lalu tiba-tiba mengalami kesulitan untuk mendapakan uang.

Coba pikirkan, apa yang terjadi, jika Anda yang biasanya di sanjung, di hormati, di hargai 1000 tiga, tiba-tiba mengalami, di hina, di remehkan, di acuhkan, bahkan difitnah. Sudah ketemu jawabannya kan….

Di dalam dimensi proses pensucian ini. Dzat Hyang Maha Suci Hidup, akan menggunakan dan memanf a’atkan, semua yang melekat dalam jiwa kita, sebagai alat untuk mensucikan lahir bathin kita. Mulai dari orang yang tidak kita kenal, hingga sampai ke teman, sahabat, bos kita, anak buah kita, patner kita, sampai ke tetangga kita. Bisa jadi akan menfitnah kita, mengolok-olok kita, menghina kita, mengadu domba kita dll. Mulai dari keluarga kita, sampai anak atau istri kita, bahkan hingga ibu atau bapak kita. Bisa jadi membenci kita, meremehkan kita dll. Itulah diantara beberapa Alat Proses yang di gunakan oleh Dzat Hyang Maha Suci Hidup, yang bisa saya jelaskan untukmu sekalian.

Kalau dalam hal ini, kita tidak mengerti, bahwa kita sedang berada dalam dimensi proses pensucian, sudah tentu akan balik membenci, balik mengfitnah, balik menghina dan balas dendam. Kalau kita tidak menyadari, bahwa kita sedang bersama Dzat Hanya Maha Suci Hidup. Sudah Pasti, akan menyerah dan mundur serta mengaku kalah sebelum bertempur.

Tapi kalau kita mengerti, paham, tahu bahwa kita sedang berada dalam dimensi proses pensucian, dan menyadari, bahwa kita sedang bersama Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Pasti Rela/Legowo, tetap iman. Kalau Rela/Legowo, tetap iman, dengan apapun yang sedang terjadi. Maka berati,,, kita sedang berjalan mendekat dan mendekat lebih mendekat dan dekat, rekat erat, “pulet pinuletan” bersama Dzat Hyang Maha Suci Hidup. He he he . . . Edan Tenan.

La,,, kalau sudah dekat dan semakin dekat, hinggat rekat/erat bersama Dzat Hyang Maha Suci Hidup, guampang banget kok, tak kasih tahu contoh nih…

Misalnya… saya sedang berjalan di depan rumahnya orang kaya. Biasanya, orang kaya itu, kan miara anjing galak, dan biasanya lagi, anjing itu disuruh jaga pintu gerbang pagar teralis besi rumahnya kan, terus, pas kita lagi lewat, di gonggongin sama si anjing galak itu. Guk-guk-guk. Nah,,, kita jangan balik nggongongin anjing itu, capek deh… Tinggal bilang saja sama tuannya. Pak… anjingnya mengganggu saya tuh. Tolong diamin. SELESAI kan. He he he . . . Edan Tenan.

“Apa bila mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta, apabila mendekatiku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa dan apabila dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari”

Mari kita sejenak menelisik kembali sejarah, adakah Seorang Nabi yang tidak mengalami seperti yang saya ceritakan diatas?

Itu Nabi, karena Nabi adalah utusan, pilihannya Dzat Hyang Maha Suci Hidup itu sendiri, harusnya kan, tidak perlu di Bersihkan/Sucikan bukan? Tapi dalam kenyata’annya. Mereka semuanya mengalami Fitnah, hina’an, cemohan, adu domba dll. Itu Nabi. Pilihannya Dzat Hyang Maha Suci Hidup, apa lagi iyong dan kita-kita ini. Cukup kuat untuk dijadikan alasan penguat iman dan tekad kita bukan.

Artinya; Pasti Rela/Legowo, tetap iman. Karena apapun yang dialami, hanya sepintas saja, hanya proses, sementara, sekejap saja. Artinya, tidak akan lama, pasti selesai dalam waktu yang amat teramat singkat. Dan berubah menjadi keajaiban yang luar biasa berkahnya.

Kalau berhasil, Tapi tetap jangan berbangga diri dan sombong hati, mentang-mentang sudah manunggal dengan Dzat Hyang Maha Suci Hidup, terus,,, sakit kepala, pakainya bim salabim abra kada bra, ga mau minum bodrex. He he he . . . Edan Tenan. Kalau seperti itu, hanya sedetik keberhasilanmu. Dan akan kembali ke awal lagi, yang jauh lebih rumit prosesnya.

Sebab disini… Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Akan memberikan 5 Pilihan untuk kita. Yaitu: Suci. Ilmu. Harta. Tahta. Wanita.

Jika kita memilih tetap Suci, yang baru saja berhasil di dapat itu. Maka… akan bersama Dzat Hyang Maha Suci Hidup selama-lamanya. Artinya… akan memperoleh Ilmu. Harta. Tahta dan Wanita dan semuanya serta segalanya. Karena Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Adalah pemilik segalanya dan semuanya itu, termasuk Ilmu. Harta. Tahta. Wanita tersebut. Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Roji’un, akan menjadi kodrat irodat mutlak kita, dalam meniti kesempurna’an Hidup sekarang dan kelak setelah Mati.

Tapi jika memilih Ilmu atau Harta atau Tahta atau Wanita. Maka Suci yang baru saja di peroleh itu, akan sirna diambil kembali oleh Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Artinya. Jangan berharap tentang manunggal apa lagi Sempurna, jangan mimpikan itu. Karena…”PERCUMA”. He he he . . . Edan Tenan.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

TIGA Jebakan Spiritual keTuhanan:


TIGA Jebakan Spiritual keTuhanan:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Minggu Pon. Tgl 21 Agustus 2016

Pintu Gerbang Masuk ke Ranah Awang Uwung (Dimensi KOSONG) Sebelum ada apa-apa. Kecuali Satu Titik, yaitu Dzat Maha Suci. Yang pernah saya pelajari tempo dahulu, menyiratkan, Bahwa; “Orang dapat meninggalkan keduniawian, setelah melepas ambisi duniawi-nya. Orang dapat memasuki kebijakan, setelah melepaskan ambisi spiritual-nya. Orang dapat manunggal/menyatu dengan diri pribadinya, setelah meniadakan ambisi keTuhanan-nya” ini menurut pengalaman saya pribadi dan bukti dari praktek saya di TKP.

Dengan itu, saya merasa di ingatkan, bahwa menjadikan tujuan spiritual sebagai ambisi, itu dapat mengganggu. Karena “ambisi duniawi” dan “ambisi sipritual,” serta”ambisi keTuhanan, ketiganya sama saja dan dapat menghambat Laku Kesempurna’an seorang pelaku.

Sebenarnya apa yang saya dimaksud ambisi spiritual itu?
Ini menjadi sangat menarik, karena adanya sebutan “ambisi spiritual”, di samping “ambisi duniawi, ”diantara ambisi keTuhanan. Hal ini mengesankan adanya tiga “ambisi” yang berbeda. Seolah-olah, lepas dari ambisi duniawi, spiritual, keTuhanan. Seseorang belum tentu lepas dari suatu tipe ambisi lainnya, yang siap menjebaknya.

Ambisi dapat dilihat atau di nilai sebagai dorongan, untuk mencapai suatu hasrat tjuan, atau keinginan obsesif tertentu, dengan tujuan untuk memperoleh kepuasan. Danmenurt saya pribadi, seseorang yang dikuasai oleh ambisinya, menjadi kehilangan kendali atas dirinya, karena setiap perilakunya, semata-mata diarahkan, untuk mencapai ambisinya semata. Orang itu berada dalam kesesatan dan kegelapan menurut saya pribadi.

Oleh karena itu, ambisi dapat menjebak seseorang untuk menjadi melekat akan dorongan sesaat, sehingga akhirnya, justru menciptakan kemerosotan laky pada batin/rasa seseorang.

Akhir-akhir ini. Setelah saya perhatikan, “ambisi spiritual” dimengerti secara keliru, sebagai dorongan yang mulia, terutama oleh beberapa praktisi spiritual, yang melakukannya semata-mata jenuh, akan aktivitas sehari-harinya, baik sebagai pekerja , pelajar, pengusaha ataupun ibu rumah tangga. Sebagai manusia modern, yang hidup dalam sistem kapitalisme, yang kesehariannya, disiapkan hanya untuk melayani kepentingan ekonomi, timbul rasa hampa dalam dirinya. Kehampaan tersebut, kemudian mendorong mereka, untuk berpetualang dalam berbagai aktivitas yang berbeda. Sebagian darinya kemudian memilih praktek spiritual sebagai cara pelarian tersebut.

Bukan hanya itu, ambisi spiritual, juga dapat muncul pada beberapa praktisi, yang tidak mengikuti pola di atas, namun menunjukkan cara berpikir, sebagai contoh, seperti berikut ini:

1. Dengan mencapai tingkat pemahaman spiritual tertentu, saya akan meraih kekuatan gaib tertentu, menjadi manusia super yang berada di atas semua manusia lainya.

Ketika seseorang berpikir demikian, maka ia dikuasai oleh hasrat akan kekuasaan atas orang lain dan segala halnya. Ia dijangkiti oleh ambisi, untuk berkuasa melalui kekuatan supernya. Jika kemudian ia mencapai kekuatan gaib tertentu, ia berusaha memamerkannya, agar dikagumi oleh orang lain. Selain itu, ada juga yang kemudian tenggelam dalam ambisi untuk mencapai kekuatan super, sebagai satu-satunya tujuan.

2. Dengan mencapai tingkat pemahaman spiritual tertentu, saya akan menjadi guru yang memiliki banyak pengikut. Dengan mencapai tingkat pemahaman spiritual tertentu, saya akan. Saya akan dan saya akan. Akan dan akan-akan lainnya.

Dengan memimpikan atau mengidamkan sebagai guru yang dipatuhi oleh murid-muridnya, dan mengharapkan didengarkan oleh banyak orang tanpa penolakan, ia akhirnya terjebak pada hasrat akan kekuasaan atas orang lain.

Oleh sebab itu, saya berani menyimpulkan. Bahwa “ambisi spiritual” dapat mempengaruhi siapapun, tanpa mempedulikan aliran metode apapun, yang dipraktek-kannya. Kadang-kadang, ia muncul dalam bentuk yang paling halus sebagai “cita-cita mulia” yang dibaliknya tersimpan hasrat, akan kekuasaan dan kepemilikan. Karena itu, “ambisi spiritual” sulit dikenali. Sebabnya adalah, orang yang dijangkiti oleh “ambisi sipiritual” seringkali diikuti dengan usaha menipu diri pribadi-nya sendiri. Maka untuk mengenali ambisi spiritual di dalam dirinya, seseorang harus lepas dari kecenderungannya untuk menipu diri. Dan inilah pengertian intisari pati yang berhasil saya temukan dari Wahyu Panca Gha’ib dengan menggunakan Wahyu Panca Laku, mulai dari pertengahan tahun 2015 hingga agustus tahn 2016 sekarang.

Pak Semono Sastrohadijoyo bernah bersabda “Ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa Kunci” – “Ono opo-opo Kunci/ Ora ono opo-opo Kunci” (Yang maksdnya; ada apa-apa kunci. Tidak ada apa-apa tetap kunci)

Ternyata adalah Kondisi yang kurang lebihnya sama dengan “ambisi spiritual” yang saya maksudkan di atas, namun terjadinya lebih halus lagi, adalah “memperdayai diri sendiri, dengan cara, membuat kita mengira, sedang berkembang secara spiritual, padahal, kita sedang memperkuat egosentrisme kita melalui teknik-teknik spiritual, bahkan konyolnya bab teka teki spirital.

Seperti apakah bentuk penipuan diri tersebut?
Proses penipuan diri itu, berusaha meyakinkan pelakunya, dengan mengatakan bahwa dirinya, tidak lagi memiliki hasrat, kekuasaan atau kepemilikan apapun lagi, karena ia telah berusaha menolak, keduniawian dan berusaha menjadi bijaksana. Ia merasa ambisi tersebut cukup dihapus dengan tekad dan keyakinan diri yang kuat. Cara berpikir demikian, membuat ia menjadi tidak peka lagi, dengan ambisi yang ada dalam dirinya. Akhirnya, setiap ambisi tersebut, muncul dalam dirinya, ia berusaha menolaknya. Namun apa daya, jika tanpa Wahyu Panca Gha’ib yang di Praktekan dengan Wahyu Panca Laku. Adalah tidaklah mungkin.

Jika Kita Hidup, dibesarkan dalam lingkungan yang konsisten mencintai dan mendukung, maka, itu adalah hasil dari jiwa Kita. Tapi jika sebaliknya, lingkungan Kita dibesarkan di non-mencintai-mendukung atau bahkan mengancam-mengecam, akan menimbulkan energy negatif, serta reaksi kita kepada mereka (yang mungkin masih hidup di dalam diri kita) harus dirilis dengan cara Patrap Laku Wahyu Panca Ghaib menggunakan Wahyu Panca Laku, agar memperoleh kehidupan dalam kesejahtera’an, bahwa Kita begitu sangat layak, untuk Hidup Tenteram, bukan sekedar gembira, bahagia dan senang saja.

Ketahuilah… Tidak ada suatu kemudahan, jikalau kita tidak membuatnya menjadi mudah.
Suatu keberhasilan tidak akan pernah terjadi, jika kita tidak mau melalui prosesnya.
Wahyu di dalam suatu pemahaman, menurut saya adalah kecerdasan yang diberikan oleh Tuhan kepada umatnya, yang mana sesuatu yang rumit, dapat di buat menjadi lebih simpel dan sederhana, tetapi tidak menghilangkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Itulah “Wahyu Panca Ghai’b” menurut saya pribadi, berdasarkan bukti praktek di TKP. Kabeh dadi gampang, ning ora nggampangake. (semuanya menjadi mudah, namun tidak meremehkan yang mudah tersebut). Coba saja renungkan, iya apa iya…?!

Pengetahuan yang kita dapatkan oleh hasil pengalaman pribadi, maupun dari pengalaman seseorang, adalah mampu membawa kondisi kita, ke ranah “Yen wani aja wedi-wedi. Yen wedi aja wani-wani” Jadi,,, disaat seseorang memerlukan pengetahuan, yang mungkin kita mengetahui sesuai kebutuhannya, maka berikanlah dengan dasar Iman Cinta Kasih Sayang. Bukan dengan dasar ego gengsi, apalagi dengan ambisi bla…bla…bla…

Karena kemungkinannya, apa yang kita sampaikan itu, berarti untuk dia, yang mampu membawanya, menuju Kesempurna’an Hidup, di semua dimensi keHidupan.

Karena itu… Para Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian… Mari kita sama-sama menebar Cinta Kasih Sayang antar sesama Hidup, dan bersama-sama kita berusaha membersihkan hati kita, dari pada karat-karat kebencian dan noda-noda sirik, dengki, iri, hasut dan fitnah, serta segala bentuk maksiat. dengan cara diasuh dan dididik atau di biasakan mengikuti Rasa, agar Terasa, supaya Merasa, dapat Merasakan Hidup (rasa, krasa, rumangsa, ngrasakake urip). Sejalan Laku Spiritual Hakikat Hidup, angudi dayaning sedulur papat kalima pancer. Wahyu Panca Gha’ib di Praktekan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Pasti BISA…!!!

SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh kinasih saya, yang senantiasa di Restui Dzat Maha. Saya Harapan saya. ARTIKEL Saya Kali INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang dan sedulr kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup-nya siapapun yang membacanya.

*Matur Nuwun ROMO….._/\_
Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

CARA YANG PALING TEPAT DAN TERBAIK:


CARA YANG PALING TEPAT DAN TERBAIK:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Jumat Wage. Tgl 12 Agustus 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku Sekalian…
Menurut pengalaman spiritual pribadi saya. Tidak ada satupun cara yang paling tepat, kecuali caranya Dzat Maha Suci. Dan Tidak ada jalan yang lebih baik, selain jalan menuju Dzat Maha Suci.

Jiwa sering kali gelisah, karena suatu perkara. Hati selalu merana, karena suatu masalah.
Padahal, jalan keluarnya teramat sangat mudah, seperti mengurai ikatan yang telah lepas ibaratnya. Letak sulit dan beratnya dimana… La wong tinggal Pasrah dan Menerima Dzat Maha Suci. Lalu mempersilahkan-Nya mengambil alih Perkara atau Masalah kita. Terus kita tinggal duduk manis merasakan Prosesnya dengan Iman Cinta Kasih Sayang. Kalau ini dianggap berat dan di kira sulit. Berati Iman atau Yakin Anda bahwa Dzat Maha Suci itu Maha Kuasa, adalah BOHONG… hanya sebatas di bibir belaka. Kalau tidak Bohong. Harusnya tidak sulit dan tidak rumit.

Tenteram;
Apakah Tenteram itu…?! apa sejenis tenang atau bahagia atau gembira…?! Benarkah Tenteram itu terletak pada harta…?! Ataukah Tenteram itu ada pada pangkat dan jabatan…?! Jawabannya TIDAK…!!!

Marilah kita simak sejenak perjalanan pribadi kehidupan saya dimasa lalu. Singkatnya cerita, dulu saya adalah seorang anak kecil yang bandelnya ga ketulungan, karena kebandelan itulah, banyak orang yang berprasangka buruk kepada saya, tidak sedikit orang-orang yang kehilangan piara’an, tanaman dan barang-barang miliknya, selalu menuduh sayalah yang mencurinya. Akibatnya, saya selalu dapat hukuman penyiksa’an, baik dari orang-orang yang kehilangan maupun dari orang tua kandung saya sendiri. Karena saking seringnya saya mengalami hal tersebut, orang tua saya merasa malu, karena malu mempunyai anak seperti saya, lalu saya diusir dari rumah untuk pergi entah kemana yang saya mau. Waktu itu saya masih berusia sembilan tahun kurang lebihnya.

Dan sejak itulah, saya berusaha untuk mempertahankan hidup, seorang diri, di kota kabupaten kecil, di daerah transmigarsi sulawesi tengah. Kejadiannya sekitar tahun 1968. Diusia sembilan tahun itu, saya berjuang sendiri, berusaha sendiri, menghadapi keras dan kejamnya kota, walau kota kecil, namun yang namanya kota, tetap saja,,, ada banyak ketidak nyamanan yang tersembnyi disetiap sudut yang tersembunyi atau lepas dari pantauan aparat keamanan. Dan demi untuk mendapatkan sesuap nasi dan seteguk minum, saya harus mengemis, ada kalanya mencuri, ada kalanya mencari sisa-sisa makanan di tempat sampah dan lain-lain.

Sehari dua hari, seminggu dua minggu, sebulan dua bulan, mulailah saya rasakan, betapa menderita dan menyedihkannya, jauh dari kedua orang tua dan keluarga, mau mengadu, kepada siapa harus mengadu, mau minta tolong, kepada siapa harus minta tolong, minta makanan dan minum saja, jika yang saya mintai itu, sudah hapal wujud saya, yang sehari-hari keleleran mondar-mandir di situ-situ saja, mereka sudah tidak mau memberi lagi. Tidur di emperan, di pinggir jalan, di bawah pohon, di bawah jembatan, pokoknya dimana ada tempat dan saya mengantuk, disitulah saya memejamkan mata, yang namanya di marahin orang, di sia-sia orang, bahkan di pukul orang, karena rupa dan wujud saya yang tidak layak dengan umumnya anak-anak seusia saya. Sangat sering, bahkan hampir setiap hari saya mengalaminya, saya tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menangis dan menangis bingung, tidak tau harus bagaimana. Hingga pada akhirnya, saya bertemu dengan sekumpulan anak-anak gelandangan kota, lalu saya bergabung dengan mereka. Untuk menjalani kehidupan yang sangat keras dan brutal, hingga beberapa tahun lamanya.

Dengan pengalaman hidup yang pahit dan amat sangat menyiksa, yang terekam kuat dalam benak saya inilah, tumbuh kebencian dan dendam dalam diri saya. Saya benci pada semua orang-orang yang penah menfitnah saya waktu di kampung, yang membuat saya di usir dari rumah, berpisah dengan keluarga dan mengalami kenista’an di kota, saya ingin sekali membalas semua yang sudah mereka lalukan kepada saya waktu itu, dan saya bersumpah untuk itu.

Sembari menjalani kehidupan sebagai gelendangan bersama teman-teman, saya pasang telinga dan mata, mencari informasi tentang keberada’an orang-orang berilmu sakti, untuk berguru, dan brhasilah saya menemukan seorang guru, bergurulah saya, saya tidak peduli ilmu apakah yang saya pelajari sa’at itu, yang penting saya bisa memiliki ilmu kesaktian, untuk membalas dendam pada orang-orang yang saya benci. Setelah berhasil berguru pada empat orang yang sakti didaerah saya pada sa’at itu, saya bertemu jodoh, menikahlah saya dengan anak gadis guru saya sendiri. Dan rupanya, pernikahan ini, mampu meredam kebencian saya, mampu memadamkan api dendam saya. Karena selama saya memiliki istri, terlebih lagi memiliki anak, benci dan dendam yang pernah berkobar membara dalam jiwa saya, terlupakan. Namun sayang, hal tu terjadi hanya tiga tahun saja, tidak lebih tidak kurang.

Saya di fitnah selingkuh dan diam-diam menikah lagi di kampung sebrang, akibatnya rumah tangga saya berantakan, saya berpisah dengan anak dan istri saya karena itu. Dan sebab inilah, kebencian dan dendam itu membara lagi. Dengan ilmu yang sudah saya miliki dari empat orang guru, termasuk mertua saya sendiri, saya beraksi sebagai manusia kejam bin tega.

Saya menggunakan ilmu leak yang pernah saya pelajari dari seorang guru asal bali, untuk meneror semua orang yang saya benci, yang pernah membuat saya kehilangan masa depan dan harus mengalami penderita’an tiada akhir. Saya menggunakan ilmu santet yang pernah saya pelajari dari seorang guru asal banyuwangi, untuk menyiksa mereka. Dan saya menggunakan ilmu kesaktian yang saya pelajari dari seorang guru asli sulawesi, untuk melawan jika ada yang mengetahui aksi saya. Juga saya menggunakan ilmu kanuragan yang pernah saya pelajari dari seorang guru asal cimande bandung dan perantau dari cina yang tinggal menetap di sulawesi. Untuk menghajar mereka secara fisik, alias duel.

Semuanya… saya balas, jauh lebih parah dari apa yang pernah mereka lakukan, kepada saya dulu. Sampai-sampai orang tua kandung saya sendiri, ketakutan, kalau-kalau saya juga akan membalas perbuatannya dulu kepada saya. Dan berhasilah saya melampiaskan dendam kebencian itu, namun tidak ada sedikipun rasa puas, walau dendam sudah terbalas, saya semakin menjadi, dimanapun saya berada, dan kemanapun saya pergi, selalu adigang adigung adiguna-lah yang saya lakukan. Banyak orang-orang yang mendekati saya, ada yang ingin berteman, bersahabat bahkan bersaudara, tapi saya tau betul, itu bukan niyat murni mereka, merekan lakukan itu, karena takut kepada saya.

Hingga pada akhirnya, kebencian dan dendam itu, merambah kepada para wanita, karena saya benci dan dendam pada istri saya, saya benci dan dendam kaena kakak perempuan saya, yang sering di permainkan oleh lelaki, hingga mengalami janda berulang kali, saya ingin ada janda-janda lain selain kakak perempuan saya, saya ingin ada wanita yang ikut merasakan apa yang saya rasakan akibat di kehancuran rumah tangga saya, karena fitnah. Dan beraksilah saya, hingga pada akhirnya. Pada pernikahan yang sekian kalinya. Saya sedang bertengkar dengan istri saya, saya berkata mengancam istri saya. “Aku akan membuatmu sengsara!”
“Kamu tidak akan bisa melakukan itu!”, jawab isteri saya dengan tenang. Sontak amarah saya memuncak, karena merasa tertantang, “Mengapa tidak?” jawab saya. Lalau isteri saya menjawab, “Jika ketentraman itu terletak pada harta, mungkin engkau bisa mencegahnya dariku. Demikian pula jika ketentraman ada pada perhiasan, barangkali engkau juga bisa menahannya, agar tidak sampai kepadaku. Namun, ketentramanku, bukanlah tergantung pada apapun yang engkau miliki, atau dimiliki manusia lainnya. Sebab aku menemukan ketentraman itu, dalam keimananku, yang bersemayam kukuh di dalam hatiku, dan tiada yang berkuasa atas hatiku selain Tuhanku”.

Mendadak saya tergulai lemah ke tanah, seakan tak memiliki tulang dan otot, saya menunduk berpikir dalam, karena kata Iman dan Tuhan itu, baru saja saya dengar sekali itu, dan pada sa’at itu, serta hanya dari mulut istri saya sendiri, yang tujuannya akan saya sengsarakan hidupnya, sebagai media dendam saya. Sejak itu saya merasa tergugah, terbangun dari sebuah tidur panjang yang lelap, saya merasa tenteram, untuk yang pertama kalinya, tanpa menunda waktu, saya langsung tunduk bersujud di hadapan istri saya. Dan berkata, ajari aku tentang iman dan Tuhan itu.

Dan singkatnya cerita, setelah saya mengerti tentang apa itu Iman, setelah saya memahami apa itu Tuhan. Sungguh saya telah merasakannya sendiri, karena telah mengalaminya sendiri. Bukan katanya siapapun dan apapun, bahwa Ternyata… yang namanya Tenteram itu “SEMPURNA” dan Sempurna itu, melampaui segalanya dan semuanya. Karena di dalam “TENTERAM atau SEMPURNA” itu, ada bahagia, ada senang, ada ceria, ada damai, ada tenang, ada nyaman, ada aman, ada enak, ada plong dan semua serta segalanya yang di butuhkan dan di perlukan manusia hidup. Dan saya tidak berhenti hanya sampai disitu, saya selami, saya telusuri, saya hayati, saya ingin menemukan, siapa pemiliknya, siapa si empunya “TENTERAM atau SEMPURNA”

Karena telah mendapatkan buktikannya, saya jadi tahu, itulah yang hakiki, itulah yang terbaik, itulah yang tepat, itulan yang benar, sebenar-benarnya benar. Karena itu, semua manusia bergerat usaha dan berjuang, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala istilahnya, bahkan ada yang sampai menjual harga diri bahkan dirinya, untuk apa? Karena apa? Untuk mendapatkan Tenteram, untuk memperoleh Tenteram, mereka pikir, dengan memiliki banyak harta, bisa tenteram, nyatanya, malah bingung ngurusnya, mereka pikir banyak istri cantik, bisa tenteram, nyatanya pusing bagi waktunya, mereka pikir banyak harta bisa tenteram, nyatanya kalap untuk menjaganya, mereka pikir tinggi ilmu bisa tenteram, nyatanya semakin besar curiganya, mereka pikir banyak uang itu tenteram, nyatanya bingung menyimpan dan bla…bla…bla… lainnya.

Sampai-sampai berebut benar, berdebat keyakinan, dan beramal ibadah model apapun, sesungguhnya Tenteram itulah yang di butuhkan dan di perlukannya. Karena Tenteram itulah keada’an awal mulanya kita, sa’at dalam kandungan sang ibunda. Kita merindukan Tenteram itu, namun tidak tau, apa itu Tenteram, sehingga bahagialah yang di cari, kesenanganlah yang di buru. Bahagia atau senang itu tidak sama dengan Tenteram. Tapi Tenteram sudah termasuk Bahagia dan Senang. Bahagia, senang, aman, nyaman, tenang dan bla…bla…bla… itu, kulitnya Tenteram.

Tenteram bisa saya gambarkan seperti Tidur. Coba renungkan, apakan kita bisa tidur, jika mengingat-ingat saat bahagia waktu berjumpa pacar siang tadi di bawah kreteg ngunengan…?! apakah kita bisa tidur jika kepikiran soal dapat uang banyak waktu gajian pagi tadi…?! apakah kita bisa tidur kalau selalu kepikiran tentang senang punya istri cantik dan mobil mewah…?! Tidak akan bisa Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian, tidak akan bisa, bisanya tidur kalau pikiran kita sudah lelah dan capek mengingat semuanya itu. Tenteram itulah, yang di idamkan oleh seluruh mahkluk hidup. Karena dengan Tenteram, semuanya dan segalanya akan nampak jelas dan nyata terlihat serta bisa di buktikan. Sehingga tidak ada yang mustahil. Karena sebab kita punya “IMAN-TUHAN” yang Maha Sempurna.

Dan Ternyata, untuk meraihnya agar kita bisa mendapatkannya. Itu hanya dengan Mempraktekan Wahyu Panca Laku. Jangan panatik dan berkerut dulu hanya karena Namanya adalah Wahyu Panca Laku. Karena saya yakin Anda belum tahu apa itu Wahyu Panca Laku. Tak kenal maka tak sayang… maka cari tahu dulu, sebelum menyimpulkan. Wahyu Panca Laku itu, harus di miliki oleh sekalian mahkluk, khususnya orang-orang yang mengaku berTuhan. Karena Wahyu Panca Laku adalah Pembuktian-Bukti dari pengakuan berTuhan.

“Inilah Wahyu Panca Laku yang Berhasil saya Dapatkan dengan Wahyu Panca Gha’ib”
Wahyu Panca Laku;
1.Pasrah kepada Dzat Maha Suci (Allah/Tuhan/Gusti dll). Lalu…
2.Menerima Dzat Maha Suci (Allah/Tuhan/Gusti dll). Lalu…
3.Mempersilahkan Dzat Maha Suci (Allah/Tuhan/Gusti dll). Lalu…
4.Merasakan Prosesnya Dzat Maha Suci (Allah/Tuhan/Gusti dll). Dengan cara…
5.Menebar Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci (Allah/Tuhan/Gusti dll).

Jalan apapun yang kita tempuh. Cara apapun yang kita gunakan. Termasuk Wahyu Panca Gha’Sebesar apapun tekad kita. Termasuk Wahyu Panca Gha’ib. Bisakah sampai ke hadirat Tuhan jika tanpa itu…?! layak dan pantaskan di sebut berTuhan kalau tanpa itu…?! Monggo… Silahkan Di Renungkan Sendiri.

Dengan Wahyu Panca Laku. Tidak itu Masalah dan Perkara sulit, rumit, berat, susah, mustahil, la semuanya dan segalanya itu Tuhan yang Lakukan jeh. Yang ada hanya Tangga/Jalan. Tinggal kitanya, mau menaiki/melaluinya apa tidak. Itu saja….!!!

Dan rupanya,,, Wahyu Panca Laku. Hanya bisa dirasakan dan di lakukan oleh orang-orang yang di dalam hatinya, jiwanya dan pikirannya mengalir cinta kasih sayang-nya Dzat Maha Suci saja. Betapa pun, sumber utama adalah hanya-Dia Yang Maha Esa lagi Segalanya.

Adapun mereka yang tidak mengetahui dengan sadar tentang ini, niscaya hari-hari mereka akan dihiasi dengan kesedihan, harta mereka akan menjadi sumber petaka, dan amal-amal perbuatan mereka akan menjadi penyesalan. Tragisnya lagi, akibat yang akan mereka terima nanti adalah sebuah kehinaan dan kenistaan dari Sang Pemilik Sumber. Sungguh mengeneskan.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com