Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asalnya Kejadian Dengan Ketentraman Yang Sempurna. Bagian Kedua:


Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asalnya Kejadian Dengan Ketentraman Yang Sempurna. Bagian Kedua:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 17:00. Hari Kamis. Tanggal 19 Juli 2018.

Belenggu-belenggu dalam kehidupan kita, diakibatkan oleh karma-karma yang telah kita akumulasi, apapun yang kita lakukan dalam ketidak-sadaran, akan menghasilkan karma.

Setiap aksi yang dilakukan dalam ketidak-sadaran, akan menjadi karma, karena setiap aksi yang dilakukan dalam ketidak-sadaran, bukanlah aksi sama sekali, melainkan adalah reaksi.

Namun ketika kita melakukan sesuatu dengan kesadaran, itu bukan reaksi, tetapi aksi yang bersiat spontan dan total, tindakan semacam itu, tidak meninggalkan jejak karma, karena ia sudah lengkap dalam dirinya sendiri.

Jika suatu tindakan tidak lengkap atau belum selesai, maka suatu hari kita harus menyelesaikannya.

Jadi…
Jika dalam hidup ini kita bisa mempertahankan kesadaran kita, di sepanjang helaan nafas gerak tubuh, maka prarabdha kita, akan habis dan utang karma yang harus kita lunasi pun semakin berkurang.

Dan dalam beberapa masa kehidupan lagi, utang karma kita, bisa benar-benar terlunasi.

Laku Murni Menuju Suci;
Apa yang dimaksud dengan Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman…?!

Hal ini memang teramat sangat perlu harus dipahami, sebab karena itu, ada banyak artikel saya terdahulu, yang menguraikan detailnya Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman, agar supaya mengerti Prakteknya dan mengetahui maksud arah tujuannya.

Karena Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman, adalah merupakan sintesis teragung dari kesadaran manusia hidup. Sintesis dari tiga hal, yakni; Patrap Semedi. Kadhangan dan Darma Bakti.

Biasanya, ketika Patrap Semedi, mind/pikiran manusia, selalu berpindah dari satu objek ke objek lainnya, sangat jarang mind atau pikiran manusia ini, bisa berfokus pada satu objek saja, sebagai contoh; perhatian kita selalu berganti-ganti, selalu berubah maksudnya, sebenarnya yang seperti ini, ini, adalah keadaan yang biasa dari mind atau pikiran kita, jadi, jangan heran atau terheran-heran.

Untuk mengatasinya, kita tidak perlu neko-neko, cukup terapkan saja Wahyu Panca Laku ke1, ke2, ke3, lalu totalitas di Wahyu Panca Laku ke4, maksudnya adalah, setelah Pasrah. Menerima dan mempersilahkan, rasakan dan nikmati kesadaran kita itu selama mungkin.

Jika kesadaran kita mulai teralihkan, tak perlu gusar atau gugup, cukup kembalikan perhatian kita pada kesadaran lagi.

Kalau hal ini sudah terlatih, kebiasaan mind atau pikiran kita, yang selalu berganti-ganti perhatian itu, bisa terhentikan dan kita bisa mencapai sebuah integritas dan kristalisasi kesadaran murni.

Jika di dalam Patrap Semedi, nampak ada begitu banyak objek yang menjadi perhatianmu, itu juga akan memecah belah jiwa dan Ruh kita.

Karena titik objek perhatian kita banyak, sehingga sedulur papat kalima pancer kita, atau empat anasir dan hidup kita, jadi terpecah atau berpisah, untuk memperhatikan sendiri-sendiri.

Contoh misalnya;
Hari ini kita mencintai seorang wanita, besok kita mencintai wanita lain dan besoknya lagi, mencintai wanita lain lagi.

Hal ini akan memecah belah ruh dan jiwa kita, artinya, jiwa kita tidak bisa menjadi satu dengan Ruh kita, diri kita akan menjadi keramaian seperti banyaknya objek yang menjadi perhatian kita.

Sesungguhnya;
Pasangan suami istri itu, akan menjadi sepasang suami istri terus, selama banyak masa kehidupan, setiap lahir kembali selalu bertemu dan menikah dengan pria dan wanita yang sama, lagi dan lagi, serta terus begitu.

Dan hal ini, sebenarnya mampu memberikan integritas pada kesadaran kita, terlalu banyak perubahan akan menggerus dan memecah belah kepribadian kita, gaya hidup merekalah, yang menyebabkan itu semua.

Terlalu banyak perubahan terus-menerus dakam hidup mereka, semua dan segalanya berubah dengan cepat, tidak sadar…?! Maka akan tertinggal, kalau sudah tertinggal, akan meninggal/mati.

Jika objek perhatian dalam hidup kita selalu berubah-ubah, maka itu menandakan hidup kita selalu gelisah, kita tidak bisa memfokuskan perhatian kita pada satu hal dalam waktu yang lama, dan arus hidup kita pun menjadi sangat deras.

Dan jika sudah demikian, kita tidak akan mampu menancapkan akar dari pohon hidup kita sampai mencapai kedalaman yang cukup.

Akibatnya, hidup kita tidak akan pernah berakar dalam, karena kita terus mencabutnya dan memindahkannya ke tanah lain, pohon hidup kita, tidak akan pernah tumbuh, berbunga dan berbuah, jika cara hidup kita demikian.

Jadi. Kesimpulannya;
Yang di Maksud Konsentrasi dan Fokus itu, adalah;
Merasakan kesadaran, lalu menikmatinya pada satu objek selama mungkin, apa pun yang menjadi objeknya itu.

Contoh;
Jika pikiran kita ingat Hutang, ingat itu kan sadar, bisa nya ingat hutang, itu karena sadar, tidak mungkin bisa ingat, kalau tidak sadar, maka, terima kasihilah sadar kita itu, lalu rasakan, nikmati terus………..dengan sadar.

Jika kita merasakan perhatian kita teralihkan ke pekerjaan misalnya, kembalikan itu pada hutang lagi, lalu rasakan lagi, nikmati lagi terus………..dengan sadar.

Ketika perhatian sadar kita sudah mampu terpatri pada hutang tersebut dalam waktu yang lama, maka untuk pertama kalinya dalam hidup kita, kita akan tahu hakikat dari hutang tersebut, bahwasannya, hutang itu bukan hanya sekedar hutang.

Dzat Maha Suci Hidup telah ada di dalam hutang itu, sehingganya, hutang pun menjadi terlunaskan secara syah dan sempurna, akan tetapi selama ini, kamu tidak pernah ‘bersama’ dengan satu objek dalam waktu yang lama, sebab itu, semua masalah dan perkara, tidak satupun yang berhasil selesai dengan Syah dan Sempurna.

Jika kamu bersama dengan kekasihmu, bersamanya dalam arti yang sesungguhnya “jiwa dan Ruh serta ragamu” Tetapi selama ini kamu tidak pernah ‘bersama’ dengan satu objek dalam waktu yang lama.

Sehingga kamu melewatkan banyak hal berharga, jika kamu sedang bersama dengan seorang wanita, mind/pikiranmu berkeliaran memikirkan yang lain, bahkan ketika bercinta pun kamu tidak bisa bersama, dan kamu pun melewatkan banyak hal berharga.

Sebenarnya ada banyak pintu terbuka, tetapi pintu-pintu tersebut tertutup ketika kau kembali dari ‘jalan-jalan’mu itu.

Setiap saat kamu punya jutaan kesempatan untuk menyaksikan Dzat Maha Suci Hidup mu secara nyata, tetapi ketika Dzat Maha Suci Hidup datang, kamu tidak ada di rumah kesadaranmu.

Kamu sedang bermain-main di luar, kamu terus berkeliling dunia, sementara Dzat Maha Suci Hidup mu, selalu setia menunggumu di rumah kesadaranmu.

“keliaran semacam ini, harus dihentikan”

Itulah makna sesungguhnya dari Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman, yang tak lain dan tidak bukan adalah sintesis agung spiritual universal atau kesadaran murni.

BERSAMBUNG KE SELANJUTNYA JIKA DZAT MAHA SUCI MENGIJINKAN SAYA UNTUK MENGURAIKANNYA LEBIH RINCI DAN LEBIH DETAIL LAGI.

Saya 💓Wong Edan Bagu💓 Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai🙏Damai🙏 Damai🙏Selalu Tenteram🙏 Sembah nuwun🙏Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono🙏inayungan Mring Ingkang Maha Agung.Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet🙏 BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏 Aaamiin🙏Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Iklan

Jalan Terdekat Untuk Pulang Dan Cara Termudah Untuk Kembali:


Jalan Terdekat Untuk Pulang Dan Cara Termudah Untuk Kembali:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 10:11. Hari Rabu. Tanggal 18 Juli 2018.

Mereka yang hidup dalam masa depan, sesungguhnya hanya menganggap dirinya hidup, namun mereka berpura-pura, mereka hanya mengharapkan kehidupan, mereka ingin hidup, tetapi sebenarnya tidak pernah hidup.

Kemarin bukan milik kita, hari esok tidak pernah ada, yang ada hanya hari ini, yang ada hanyalah saat ini dan tempat ini, dia tidak bisa hidup dalam kekinian, itu sebabnya mereka melarikan diri dari kekinian.

Keinginan adalah sumber utamanya, yang membuat mereka melarikan diri dari kekinian, dari yang nyata ke yang tidak nyata.

Manusia yang berkeinginan, sebenarnya sedang melarikan diri.

Anehnya…
Saat ini, justru para pelaku spiritual yang dianggap melarikan diri. Heeemmmmmmm…

Laku Murni Menuju Suci, berarti melampaui keinginan, melampaui pikiran, Laku Murni Menuju Suci berarti menikmati kekinian, hidup dalam kekinian dengan kesadaran sepenuhnya.

Apa yang berasal dari luar bukanlah intuisi, intuisi adalah sesuatu yang berasal dari dalam diri sendiri dan memberikan kepuasan, kelegaan dan kebahagiaan serta ketenteraman.

Jika pikiran tidak menjadi penghalang, setiap orang akan menjadi intuitif.

Sesungguhnya intuisi jauh lebih alami dan mudah diperoleh dari pada logika yang dikejar oleh pikiran.

Kelemahan sekaligus kekuatan manusia adalah pikirannya sendiri, pikiran manusia merupakan alat perekam yang super canggih.

Sesuatu yang terekam pada pita pikiran, tidak gampang dihapus, selanjutnya, rekaman itulah yang menentukan kualitas hidup kita.

Alam bawah sadar adalah beban yang kita warisi sejak lahir, yang dalam adat tradisi, mereka menamakannya “Dosa Asal atau Karma” Dosa Asal atau Karma, bukanlah sesuatu yang kita warisi dari Adam dan Hawa leluhur kita.

Sejarah Adam dan Hawa bersifat metaforis, dan ular si penggoda Hawa, yang disebut-sebut sebagai manifestasi Setan, adalah pikiran kita sendiri.

Pikiran membuat kita cerdik, membuat kita sadar akan baik dan buruk, tetapi pada saat yang sama, juga merampas keluguan kita, pikiran pulalah yang merenggut kesederhanaan dan kepolosan kita.

Laku Munuju Suci atau Tobat Iman, berarti memberdayakan diri sendiri, dan pemberdayaan diri ini, harus kita lakukan sendiri, orang lain tidak dapat melakukannya untuk kita.

Ribuan tahun yang lalu, para resi, para begawan, para pinandita, menemukan bahwa terjadinya peningkatan kesadaran dalam diri manusia, menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan anatomis yang nyata, khususnya pada jaringan syaraf dan otak.

Untuk itu mereka menciptakan tahapan-tahapan proses lelaku, yang setelah di sempurnakan oleh manusia luar biasa bernama M. Semono Sastrohadijoyo, disebut;
1. Patrap Semedi.
2. Kekadhangan.
3. Darma Bakti.
Yang sering saya istilahkan sebagai Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman.

Tahapan-tahapan tersebut sangat dibutuhkan oleh seorang praktisi, agar supaya perubahan anatomis tidak seketika terjadi, sehingganya organ-organ tubuh yang lain tidak mengalami shock.

Tiga tahapan tersebut, tidak dapat dipisahkan dalam alasan apapun, sampai seseorang dapat dikatakan telah berhasil mencapai kesadaran murni/universal.

Sesungguhnya… Sebenarnya…
Dalam Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman ini, tidak ada istilah baru belajar atau sudah lama belajar, tidak ada guru atau murid, tidak ada pula istilah latihan untuk hal ini.

Yang ada hanya kesiapan diri seorang pelaku dan mau apa tidak.

Kesadaran Murni diri seorang Master, atau seorang yang telah lebih dulu sampai pada Kesadaran Murni, akan mengalir secara terus-menerus selama 24 jam full, kalau sedang berhadapan secara langsung dengan seorang yang sedang Laku Murni Menuju Suci, namun belum sampai pada Kesadaran Murni.

Namun pikiran akan selalu menghalangi setiap upaya Laku Murni Menuju Suci kita untuk hidup dalam kekinian, jika belum berhasil mencapai Kesadaran Murni.

Karena di dalam kekinian, pikiran tidak bisa eksis, pikiran hanya bisa eksis dalam masa lalu atau dalam masa depan, dalam kekinian, pikiran tidak dapat mempertahankan keberadaannya.

Ada banyak metode dan cara yang pernah saya lakukan untuk hal ini, diantaraya seperti tarik napas dan buang napas pelan-pelan, lalu mengalihkan seluruh kesadaran pada pernapasan, pada saat yang sama, berusaha untuk memikirkan sesuatu, hasilnya, selain sulit, lelah dan capek, itu pasti.

Saya juga pernah mencoba
metode melepaskan diri dari supremasi pikiran, yaitu dengan cara melelahkannya dan menghabiskannya, namun tetap nol hasil dan lelah belaka.

Berikut ini beberapa cara untuk melepaskan diri dari belenggu pikiran, yang di ciptakan oleh para ahli terdahulu dan saya pernah mencobanya.

Cara pertama adalah dengan mengalihkan Kesadaran pada napas.

Cara yang dipolpulerkan oleh Buddha Gautama ini, sudah teruji hasilnya, dan Dia menyebutnya Vipasana, yang artinya; Melihat ke Dalam Diri.

Pada zamannya dulu, cara ini memang merupakan cara yang paling efektif, tetapi sekarang ceritanya lain.

Karena tingkat kegelisahan manusia begitu tinggi, sehingga cara ini, hanya menjadi efektif, apabila terlebih dahulu kegelisahan dalam dirinya dimuntahkan keluar.

Cara kedua adalah dengan melelahkan pikiran, cara ini, tidak begitu efektif, hasilnya bersifat temporer, begitu pulih kembali, pikiran bekerja kembali, dan bukan hanya itu, setelah istirahat sebentar, pikiran menjadi segar kembali, artinya, dia semakin kuat.

Cara kedua ini banyak digunakan di Indonesia, dan terakhir dipopulerkan oleh Maharishi Mahesh Yogi, lewat apa yang beliau sebut Transcendental Meditation, dalam metode ini, kita diharapkan mengulangi satu-dua kata atau satu kalimat terus-menerus.

Ada yang menganjurkan waktu 20 menit seperti Maharishi, ada yang menganjurkan waktu 150 menit seperti Radha Soami.

Pada dasarnya, pengulangan kata tersebut, akan melelahkan pikiran, sampai ia ketiduran, bukan kita yang ketiduran, tetapi pikiran kita, kemudian kita merasa lega dan ringan. Ya,,, memang rileks, lega dan santai, akan tetapi hanya sesaat saja, setelahnya, kambuh lagi lalu kumat lagi.

Cara ketiga adalah dengan menghabiskan pikiran, cara ini merupakan Metode Milenia Mendatang, namun saya sudah mencobanya terlebih dulu, sebelum masa yang akan datang.

Cara ini akan menjadi semakin populer nantinya, pada dasarnya, manusia masa kini, kelebihan energi, pekerjaan fisik telah berkurang banyak, dan dengan perkembangan teknologi, pekerjaan fisik itu akan semakin berkurang.

Nah, energi yang berlebihan ini, semakin mengaktifkan
pikiran, pikiran semakin menjadi hiperaktif, sampai menyebabkan restlessness, kegelisahan.

Kendati demikian, membendung arus energi yang berlebihan hampir mustahil dan seterusnya, ujung-ujungnya stress jangka panjang.

Tapi dengan Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman, tidak perlu semua yang ribet sulit seperti yang sudah saya jelaskan diatas. Cukup;
1. Patrap Semedi.
2. Kekadhangan.
3. Darma Bakti.
Apapun tujuannya Dzat Maha Suci Hidup yang Atur, kita tahu beres dan terima bersih. Ayo buktikan…!!!

Para Kadhang kinasih-ku sekalian,
menurut pengalaman pribadi saya di TKP, seorang pencari selalu bertujuan, dia terobsesi dengan tujuannya itu, sehingga tidak memperhatikan apa pun juga, kecuali yang dicarinya itu, begitu banyak pengalaman yang dia lewati begitu saja, dia lupa memperkaya dirinya

Tapi bagi saya WEB, dari pada menjadi pencari, lebih baik menjadi seorang penemu, karena seorang penemu, bisa dapat menemukan begitu banyak setiap saat, dia akan menemukan sesuatu yang baru, pengalaman-pengalaman yang baru.

Apa gunanya meditasi yang Anda ajarkan…?!

Jika yang belajar pun belum sadar juga….!!!

Dan karena itu pula saya WEB, menganjurkan Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman, karena inilah yang terdekat dan termudah, gratis pula.

Pilihan ada di tangan Anda Sendiri, Mau mulai sekarang, silakan. Mau menunda-nunda, silakan. Silakan juga kalau Anda mau tidur terus. He he he . . . Edan Tenan.

Saya 💓Wong Edan Bagu💓 Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai🙏Damai🙏 Damai🙏Selalu Tenteram🙏 Sembah nuwun🙏Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono🙏inayungan Mring Ingkang Maha Agung.Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet🙏 BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏 Aaamiin🙏Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asal Mulanya Kejadian Dengan Ketentraman Yang Sempurna. Bagian Kesatu:


Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asal Mulanya Kejadian Dengan Ketentraman Yang Sempurna. Bagian Kesatu:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 21:00. Hari Senin. Tanggal 16 Juli 2018.

Para Kadhang Kinasih-ku sekalian.
Pulang kerumah kesejatian dengan ringan dan riang adalah suatu kebahagia’an yang tak tergambarkan indahnya.

Kebanyakan orang berpendapat banyak tentang kapan kematian datang menjelang, bahkan kitabnya pun, dibuat untuk membahas hal tersebut.

Pertama, kenapa harus repot-repot memikirkan kapan ajal menjemput…?!

Apa pentingnya…?!
Apa manfaatnya…?!

Jika kita bertanya pada para psikolog apa lagi orang awam pada umumnya, maka mereka akan selalu menyebut pikiran semacam itu, adalah sebagai kekhawatiran yang tidak wajar.

Kenapa harus repot-repot berpikir tentang kematian…?!

Hindari berpikir semacam itu, terus percayai bahwa kematian tidak akan datang, setidaknya tidak padamu, kematian selalu datang pada orang lain yang sedang sial/apes.

Kita telah melihat banyak orang mati, tetapi kau belum pernah melihat dirimu sendiri mati bukan…?!

Jadi…
Kenapa mesti takut…?!
Begitulah Jawaban Mereka.

He he he . . . Edan Tenan, oke,,, kita mungkin saja perkecualian yang tidak akan tersentuh oleh kematian, tetapi faktanya, tidak ada satu pun yang tidak tersentuh oleh kematian bukan…!!!

Bahkan kematian sudah terjadi sejak kelahiran manusia pada umumnya, jadi, tidak ada jalan bagi siapapun untuk menghindarinya.

Sekarang kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk kelahiran kita, ia berada di luar jangkauan kita, kelahiran kita sudah terjadi, tetapi kematian kita belum terjadi.

Artinya kita masih bisa melakukan sesuatu untuk menghadapinya.

Semua agama yang ada di dunia ini, bergantung pada gagasan tentang kematian, karena kematian adalah sesuatu yang akan terjadi dan masih ada kemungkinan untuk menghadapinya dengan benar.

Jika kita tahu kapan kita akan mati sebelum ajal itu benar-benar menjemput kita, maka kematian akan memberikan sesuatu yang agung kepada kita.

Banyak pintu kehidupan yang indah terbuka bagi kita, dan kita akan bisa menghadapi kematian itu dengan cara kita sendiri yang unik, dan lagi, kita tidak perlu terlahir kembali ke dunia ini. He he he Edan Tenan.

Itulah inti ajaran semua agama-agama dan kepercayaan yang ada di dunia ini, namun jalan dan caranya, tidak satupun agama dan kepercayaan bisa menemukannya.

Jadi…
Bagi peLaku Murni Menuju Suci, pemikiran tentang kematian, bukanlah sebagai kekhawatiran yang berlebihan.

Namun bagi Para peLaku Murni Menuju Suci, pemikiran dan gagasan tentang kematian, justru sangatlah penting dan berharga.

Karena ketika kita bisa melihat kematian dengan jelas ada di sekitar kita, maka sungguh bodoh jika kita tidak berpikir dan merenung tentang kematian.

Kematian akan datang menjemputmu. Itu pasti.

Dan saya WEB, berani menegaskan, kita bisa mengetahui harinya, jamnya, menitny adan detik kematian kita sendiri, kapan waktunya ia datang.

Jika kita mengetahui kapan kita mati, maka kita akan bisa bersiap menyambutnya.

Kematian semestinya disambut sebagai seorang Tamu Agung, kematian bukanlah musuh, sebaliknya, ia adalah hadiah yang sangat berharga, ia adalah sebuah kesempatan yang mestinya tidak kita lewatkan.

Kematian bisa menjadi sebuah lompatan besar, jika kita bisa menghadapinya dengan penuh kesadaran, maka kita tidak perlu lagi untuk terlahir kembali di dunia ini, dan kita tak akan pernah tersentuh oleh kematian lagi.

Tapi jika kita melewatkan kesempatan itu, maka kita akan terlahir lagi dan lagi ke dunia ini sampai kita sepenuhnya memahami pelajaran yang diberikan oleh kematian tersebut.

Seluruh Kehidupan ini, pada hakekatnya, tidak lain dan tak bukan, adalah sebuah pembelajaran untuk menghadapi kematian dan sebuah persiapan untuk menghadapi kematian.

Itulah mengapa kematian datang di akhir hayat.

Karena ia merupakan puncak dan klimaksnya dari seluruh proses perjalanan hidup.

Sebagai contoh nyata;
Disuatu ketika, saya pernah sampai, pada sebuah pengalaman, di dalam sebuah kegiatan seks, ketika saya berhasil mencapai sebuah puncak klimax dengan kesadaran penuh, sebuah orgasme agung yang benar-benar menyegarkan dan memberikan kepuasan yang begitu dalam, saya dapatkan dengan penuh kesadaran pula.

Setelah menikmati orgasme yang berhasil saya sadari itu, saya terbersihkan dan tersucikan, salah satu buktinya, saya menjadi muda kembali, menjadi segar kembali.

Semua debu-debu kerendahan di dalam diri saya, larut seolah-olah saya baru saja lahir dan mandi dengan menggunakan pancuran energi.

Tetapi para psikolog tersebut, terutama manusia-manusia awam yang beranggapan kematian itu tidaklah penting, namun ketakutan akan mati mencekam mereka, mereka belum sampai pada pemahaman.

Bahwa;
Sesungguhnya, kepuasan yang bisa didapat dari kegiatan seks sadar semacam yang sudah saya contohkan diatas, adalah miniatur dari orgasme, yang bisa dirasakan saat kematian.

Kita bisa merasakan orgasme ilahi, jika kita mati dalam keadaan hati kita penuh dengan kesadaran cinta kasih sayang Dzat Maha Suci Hidup.

Jadi…
Orgasme yang didapat dari kegiatan seks tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan orgasme yang bisa kita dapat dari kematian, yang kita hadapi dengan penuh kesadaran, karena kematian merupakan orgasme terAgung yang bisa kita alami dalam sepanjang sejarah proses kehidupan di dunia ini.

Kematian adalah pengalaman yang begitu intens, yang membuat hampir semua orang pada umumnya kehilangan kesadaran saat menghadapinya.

Karena ketika kita berhadap-hadapan langsung dengan kematian, kamu begitu takut, begitu gelisah dan berusaha menghindari pengalaman tersebut, sehingga kamu melewatkan pengalaman tersebut dalam ketidak-sadaran, sungguh meruginya orang-orang yang demikian itu.

Karena itu, saya WEB, berani katakan dengan tegas…!!!

Sembilan puluh sembilan persen, manusia mati dalam ketidak-sadaran, mereka melewatkan kesempatan yang sangat berharga tersebut.

Mengatahui kapan kita akan mati, pada dasarnya hanyalah sebuah metode untuk membantu kita, untuk bersiap, agar supaya saat kematian datang menjemput, kita dalam keadaan sepenuhnya sadar dan menikmati pengalaman yang agung tersebut.

Ketika kita sudah mampu menerima kematian dengan penuh kesadaran, maka tak akan ada lagi kelahiran kembali ke dunia ini, karena semua dan segalanya berHasil Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asal Mulanya Kejadian Dengan Sempurna.

Kita telah sepenuhnya berhasil mengambil pelajaran hidup yang paling utama.

Jadi…
Kita tidak perlu kembali ke sekolah lagi, karena pada hakekatnya hidup ini adalah sebuah sekolahan, tempat untuk belajar tentang kematian. He he he . . . Edan Tenan.

Jadi inti…
Semua agama dan kepercayaan, adalah tentang bagaimana menghadapi kematian, jika ada agama atau kepercayaan yang tidak membicarakan tentang kematian, maka ia bukanlah agama atau kepercayaan “Bisa jadi itu adalah ilmu sosial, ilmu etika dan moralitas, atau bahkan mungkin politik, yang tidak pernah bisa disebut agama atau kepercayaan.

Agama dan kepercayaan pada hakikatnya adalah, sebuah usaha pencarian terhadap sesuatu yang “tak tersentuh oleh kematian”.

Akan tetapi yang tak tersentuh oleh kematian itu, hanya bisa diraih melalui kematian itu sendiri.

Namun jalan dan caranya, tidak perlu menyiksa raga atau melakukan ritual sesaji puja puji yang menghabiskan puluhan juta uang.

Cukup Laku Murni Menuju Suci;
1. Patrap Semedi.
2. Kadhangan.
3. Darma Bakti.

1. Laku Pertama Patrap Semedi; Dengan melakukan Patrap Semedi, kedua jenis karma, baik yang aktif maupun yang tidak aktif, atau pada pertanda maupun isyarat-isyarat yang kita lihat dalam kehidupan kita, maka waktu kematian akan bisa diprediksi dengan tepat dan sempurna.

Ada tiga jenis karma;
Jenis pertama disebut sanchita. Sanchita artinya keseluruhan, keseluruhan dari semua masa kehidupan yang pernah kita jalani.

Apapun yang pernah di lakukan, bagaimana cara kita bereaksi terhadap berbagai situasi yang kita hadapi, apa yang pernah kita pikirkan, inginkan, raih dan lewatkan, semuanya dan keseluruhan dari semua tindakan, pikiran, perasaan di masa kehidupan yang kita lalui disebut, itulah yang disebut Karma Sanchita, yang bisa di sempurnakan.

Atau di Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un kan atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asal Mulanya Kejadian, dengan Laku Pertama yaitu Patrap Semedi.

Jenis kedua disebut prarabdha. Jenis karma kedua ini, adalah, bagian dari sanchita, yang harus kita alami dalam masa kelahiran kita kali ini, kita telah menjalani banyak masa kehidupan.

Dan kita telah mengumpulkan karma sangat banyak, ini dalam masa kelahiran kita kali ini, sebagian dari karma yang telah kita kumpulkan tersebut, harus kita alami dan lewati.

Hanya sebagian dari keseluruhan, karena masa hidup ini terbatas, bisa tujuh puluh, delapan puluh atau mungkin seratus tahun.

Dalam masa seratus tahun, kita tidak bisa mengalami semua karma yang telah terkumpul dari semua kehidupan kita yang lalu, itulah yang disebut Karma prarabdha, yang bisa di sempurnakan.

Atau di Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un kan atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asal Mulanya Kejadian, dengan Laku Kedua, yaitu Kekadhangan.

Dan jenis karma yang ketiga, disebut kriyaman, ini adalah karma harian, yang pertama diatas, adalah karma keseluruhan masa kehidupan, kemudian bagian dari keselurahan yang mesti kita jalani dalam masa kelahiran kita kali ini.

Dan kemudian, yang lebih kecil dari itu, yakni karma yang mesti kita hadapi hari ini atau bahkan saat ini, yaitu Karma kriyaman, di karma ini, setiap saat kita selalu punya kesempatan untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu.

Misal Contoh;
Ada orang yang memaki kita dan kita marah, kita bereaksi, kita melakukan sesuatu, namun jika kita sadar dan kita bisa mengamati amarah kita, maka kita tidak akan marah.

Kita akan tetap tenang mengamati apa yang terjadi, kita tidak beraksi, kita tidak membalas, maka orang yang memaki kita itu, tidak bisa memberikan gangguan apa pun kepada kita.

Jika kita gusar dan beraksi dengan membalas, maka Karma Kriyaman akan masuk kedalam simpanan sanchita.

Maka, lagi-lagi kita mengumpulkan karma untuk masa kehidupan yang akan datang, tetapi jika kita tidak membalas, maka lunaslah karma kita terhadap orang yang memaki kita itu.

Kejadian itu terjadi, karena sudah pasti kita pernah memakinya di masa kehidupan yang lalu.

Dalam hal ini, orang yang sadar, akan senang, karena dia tahu, bahwa paling tidak hutang pituang karmanya dengan orang itu, sudah lunas, dia bisa menjadi sedikit lebih bebas, itulah yang di sebut Karma Kriyaman, yang bisa di sempurnakan.

Atau di Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un kan atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asal Mulanya Kejadian, dengan Laku Ketiga, yaitu Darma Bakti.

Di Kisahkan;
Nabi Muhammad SWA, setiap kali masuk Masjid, selalu ada orang yang meludahi wajahnya, dan beliau berkata “Alhamdulillaah…”
orang yang meludahi itu heran, dan berkata “Dasar orang gila, di ludahi tiap kali masuk masjid, malah berkata Alhamdulillaah, Nabi Muhammad SWA menjawab “Ya, karena aku sudah lama menunggumu dengan kerinduan”

Di Kisahkan;
Sewaktu Yesus disalibkan, IA tidak hanya menanggung siksaan secara fisik, tapi batinNya juga terluka, hatinya tercabik-cabik. Betapa tdk, Yesus mengalami ejekan, olokan, hinaan, hujatan. Yesus diejek oleh para pemimpin agama, Yesus juga diolok oleh para prajurit, bahkan Yesus sampai dihujat oleh penjahat yang ada di sebelahNya, maka lengkaplah sdh penderitaan Yesus.

Namun bagaimana sikap Yesus terhadap semua yang Dia alami…?! “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” Yesus berdoa utk mereka yg sudah mengejek, menghina, mengolok dan bahkan menghujatNya.

Di Kisahkan;
Romo Semono Sastrohadijoyo, di bully, di fitnah, bahkan di penjara karena di tuduh PKI, namun apa yang di lakukan olehNya…?!

Sekalipun beliau seorang yang sakti mandraguna, tiada hentinya Dia mengucapkan Matur Nuwun, dan terus menerus menebar Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci Hidup kepada semuanya tanpa terkecuali, termasuk orang-orang yang membully dan memfitnahnya.

Di Kisahkan;
Seseorang datang dan memaki-maki Buddha, Buddha tetap tenang dan mendengarkan makian orang tersebut dengan seksama dan Ia berkata, “Terimakasih” orang yang memaki-maki itu bingung dan ia berkata, “Apa kamu sudah gila? Aku memakimu, menyakitimu tapi kamu malah mengucapkan terimakasih” Buddha menjawab, “Ya, karena aku sudah lama menunggumu.

Aku pernah memakimu di masa kehidupan yang lalu, dan kini aku menunggumu, kalau kamu tidak datang, maka aku tidak akan bisa sepenuhnya bebas, kau adalah orang terakhir, kini lunas sudah semua hutang-piutang karmaku.

Terimakasih karena sudah datang untuk memakiku, kalau kamu tidak datang untuk memakiku, mungkin aku harus menunggumu sampai masa kehidupan yang akan datang, sekarang sudah selesai semuanya, aku tak akan menciptakan rantai karma lagi.

Dengan begitu, maka Karma Kriyaman atau Karma Harian, tidak akan masuk lagi kedalam lumbung penyimpanan karma dan tidak menambahkan karma apapun padanya.

Sehingga lumbung karma pun menjadi berkurang, begitu juga dengan prarabdha karma yang harus kita hadapi dalam masa kehidupan ini.

Jika kita terus bereaksi dan membalas terhadap segala situasi yang kita hadapi, maka lumbung karma kita akan semakin penuh, kitapun harus lahir lagi dan lagi untuk menghabiskannya, karena kita telah menciptakan terlalu banyak rantai karma dan itu yang akan membelenggu kita dalam siklus kelahiran dan kematian. He he he . . . Edan Tenan.

BERSAMBUNG KE;
Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asal Mulanya Kejadian Dengan Ketentraman Yang Sempurna. Bagian Kedua:

Saya 💓Wong Edan Bagu💓 Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai🙏Damai🙏 Damai🙏Selalu Tenteram🙏 Sembah nuwun🙏Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono🙏inayungan Mring Ingkang Maha Agung.Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet🙏 BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏 Aaamiin🙏Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

“Diatas Langit Masih Ada Langit”


“Diatas Langit Masih Ada Langit”
(Artikel Khusus Untuk Para Sahabatku Seperguruanku Yang Masih Asyik dengan Dunia Kesaktian dan Belum Mau berTaubat dan berIman hanya kepada Dzat Maha Suci):
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 19:00. Hari Jumat. Tanggal 13 Juli 2018.

Diatas Langit Masih Ada Langit, itulah istilah bahasa ilmu yang tidak ada ujung pangkalnya, jika di miliki, akan merasa tersaingi kalau ada orang lain yang lebih tinggi ilmu, lalu berguru lagi, dan tetap akan berguru lagi kalau masih bisa di kalahkan oleh ilmu orang lain.

Oke… Baiklah… Sekarang begini. Berbagai anak cabang ilmu telah kau kuasai, bahkan pusatnya ilmu telah kau kuasai, tetapi apakah kau bisa mendengar Dia yang tak terdengar…?!

Merasakan Dia yang melampaui segala macam rasa dan perasaan serta mengetahui Dia yang berada di atas segala macam pengetahuan…?!

Apakah ilmu itu pun telah kau kuasai…?!

Tanah liat di seluruh dunia berada di luar jangkauan mu, namun, segumpal tanah liat yang berada dalam jangkauan mu, sama sekali tidak kau jamah.

Padahal, dengan mengetahui sifat segumpal itu, kau dapat mengetahui sifat tanah liat secara keseluruhan, secara utuh.

Dengan mempelajari sifat benda-benda yang berada dalam jangkauan mu, kau dapat mempelajari sifat Yang Tak Terjangkau.

Tanah liat itu digunakan untuk membuat berbagai macam peralatan, bahkan mainan, patung dan lain sebagainya.

Bentuk peralatan dan benda-benda itu memang beda, tetapi intinya satu dan sama, yaitu tanah liat.

Nama dan sebutan yang kita berikan pada setiap benda beda, namun perbedaan itu pun tidak mempengaruhi inti setiap benda.

Walau berbeda bentuk, wujud atau rupa, maupun nama dan sebutannya, bahan dasarnya masih tetap sama, yaitu tanah liat.

Contoh misalnya emas;
Kita menggunakannya untuk membuat berbagai macam perhiasan, setiap perhiasan beda bentuknya, beda pula sebutannya, namun bahan bakunya tetap satu dan sama.

Beda rupa dan nama adalah pemberian manusia, buatan manusia, nama dan rupa berasal dari manusia, bahan baku bersifat alami, nama dan rupa berbeda dan dapat berubah, bahan bakunya tetap sama, tidak ikut berubah.

Janganlah kau terjebak oleh lembaran kitab, pengetahuan yang kau peroleh dari kitab, hanyalah satu sisi dari Pengetahuan Sejati.

Keseluruhannya hanya untuk menyadarkan diri kita, bahwa masih ada yang jauh lebih tinggi, lebih penting, lebih mulia.

Yaitu sesuatu yang tak tertuliskan, tak terjelaskan lewat kata-kata.

Pengetahuan Sejati adalah Pengetahuan tentang Sifat yang Satu ini, segala sesuatu dalam alam ini, berasal dari Yang Satu Itu, untuk memahaminya, pelajarilah dirimu.

Gumpalan tanah liat itu adalah dirimu “Wong Urip” Manusia Hidup itulah dirimu.

Dengan mempelajari diri yang berada dalam jangkauan kita sendiri, kita akan dapat mengetahui sifat dasar Yang Tak Terjangkau Itu.

“Galilah rasa yang meliputi seluruh tubuhmu, di dalam tubuhmu, ada firman Tuhan, yang dapat menjamin jiwa ragamu-lahir bathinmu-hidup matimu-dunia akheratmu”

Caranya bagaimana…?!
1. Patrap Semedi.
2. Kedhangan.
3. Darma Bakti.

Selengkapnya, baca Artikel saya yang berjudul; “Kesadaran Murni Adalah Cara Bahagia Seumur Hidup” Atau klik link dibawah ini.
https://mobile.facebook.com/story.php?story_fbid=512796012499791&id=100013081895854&refid=17&_ft_=og_action_id.512796019166457%3Atop_level_post_id.512796012499791%3Atl_objid.512796012499791%3Athrowback_story_fbid.512796012499791%3Athid.100013081895854%3A306061129499414%3A2%3A0%3A1533106799%3A884373990014304797&__tn__=%2As-R

Saya 💓Wong Edan Bagu💓 Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai🙏Damai🙏 Damai🙏Selalu Tenteram🙏 Sembah nuwun🙏Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono🙏inayungan Mring Ingkang Maha Agung.Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet🙏 BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏 Aaamiin🙏Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Mati adalah Pengalaman Orgasme Terindah Bagi Yang Berkesadaran Murni:


Mati adalah Pengalaman Orgasme Terindah Bagi Yang Berkesadaran Murni:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 20:00. Hari Selasa. Tanggal 10 Juli 2018.

 

Para Kadhang Kinasih-ku sekalian.
Perasa’an takut adalah bagian dari inteligensi kita sebagai manusia yang belum sadar, tidak ada yang salah dengannya.

 

Perasa’an takut yang biasa dijangkiti manusia itu, biasanya adalah Kematian.

 

Kita takut mati, karena kita merasa tidak akan berada selamanya di sini, kita tidak abadi di sini, hidup tinggal beberapa hari lagi dan kita akan lenyap.

 

Dalam kenyata’annya, justru karena perasa’an takut inilah, manusia selalu berada dalam pencarian mendalam, tentang apa artinya menjadi religius/spiritual.

 

Jika tidak demikian, maka tidak akan ada tujuan yang akan dicapai.

 

Tidak ada binatang dan tumbuhan yang bersifat religius/spiritual, karena mereka tidak berada dalam ketakutan.

 

Tidak ada binatang dan tumbuhan yang dapat menjadi religius/spiritual, karena tak ada binatang dan tumbuhan yang dapat menyadari tentang kematian.

 

Manusia menyadari kematian. Pada setiap momen, ada kematian di sana, mengepung kita dari segala penjuru.

 

Kita dapat lenyap dari dunia ini, kapan saja, hal inilah yang membuat kita menjadi takut.

 

Akan tetapi, lagi-lagi yang nanya Ego “EGO kita akan berkata” Oh… Saya tidak takut, saya pemberani.

 

Kita berkata demikian, karena kita malu dikatakan sebagai seorang pengecut.

 

Perasa’an takut bukanlah untuk pengecut, maka,,, terimalah perasa’an takut itu, karena dia adalah bagian dari kedirian kita sendiri.

 

Satu hal yang mesti dipahami, ketika di saat kita merasa ketakutan, timbul dalam diri kita, amatilah perasa’an takut itu, kemudian nikmatilah.

 

Rasakan dan Nikmatilah dengan kesadaran murni kita yang penuh cinta kasih sayang, dalam pengamatan itu, kita akan mentransendensinya.

 

Kita akan melihat tubuh (kita) bergetar karena perasa’an takut itu, kita akan menyaksikan wujud pikiran kita yang merasa takut itu, akan tetapi, kita akan sampai untuk merasakan sebuah tujuan diri kita yang sesungguhnya.

 

Di sebuah pusat yang jauh dan dalam, yang tetap tidak terpengaruh dan tidak berubah oleh badai yang berlalu.

 

Namun jauh dalam diri kita, terdapat sebuah pusat yang tak tersentuh, sebuah pusat dari angin badai/topan itu.

 

Biarkanlah perasa’an takut itu tetap hadir, jangan memeranginya, tapi amatilah yang sedang terjadi dengan kesadaran murni kita, dan teruslah mengamatinya.

 

Ketika mata kesadaran murni kita sedang mengamati itu, semakin menembus dan semakin intens, sang tubuh akan bergetar semakin hebat, pikiran akan bergetar, tetapi jauh dalam diri kita, akan ada sebuah kesadaran murni yang merupakan sebuah kesaksian, yang hanya pengamatan-pengamatan, Ia tetap saja tidak tersentuh, seperti bunga lotus (teratai) dalam air.

 

Hanya ketika kita sampai pada itu, akan mencapai keadaan tanpa perasa’an takut (fearlessness).

 

Akan tetapi, keadaan tanpa perasa’an takut itu, bukan tanpa perasa’an takut, keadaan tanpa perasa’an takut itu, bukanlah keberanian.

 

Keada’an tanpa perasa’an takut itu, adalah sebuah realisasi (pemahaman utuh) bahwa kita terdiri dari dua bagian.

 

Sebuah bagian dari diri kita yang akan mati dan bagian yang lain dari diri kita akan abadi.

 

Bagian yang akan mati selalu berada dalam keadaan takut, sedangkan bagian yang tidak akan mati, tetap abadi, karena itu, tidak ada gunanya perasa’an takut itu.

 

Kita dapat menggunakan perasa’an takut untuk bersemedi, gunakan semua yang kita miliki untuk Patrap Semedhi, sehingga kita dapat melangkah sangat jauh.

 

Saya pernah bertanya ini kepada mendiang Guru Semedhi saya;
Guru…
Emosi paling kuat yang saya miliki adalah kebencian terhadap kematian. Saya ingin membunuh emosi ini, sekali dan untuk selamanya !!!!.

 

Guru saya menjawab pertanyaan saya ini;
Membenci kematian, sama dengan membenci kehidupan.

 

Keduanya tidak dalam keadaan terpisah dan keduanya tidak dapat dipisahkan.

 

Kematian dan kehidupan, eksis secara bersamaan, tidak ada cara untuk memisahkan keduanya.

 

Keterpisahan antara keduanya, hanyalah abstraksi dalam pikiran manusia saja, sepenuhnya palsu.

 

Kehidupan mengimplikasikan kematian, kematian mengimplikasikan kehidupan.

 

Keduanya adalah dua kutub yang bertentangan, tetapi saling melengkapi satu sama lain.

 

Kematian adalah puncak kehidupan, jika kita membenci kematian, bagaimana mungkin kita dapat mencintai kehidupan…?!

 

Kesalah pahaman inilah yang fatal.

 

Orang-orang yang berpikir bahwa mereka mencintai kehidupan, selalu membenci kematian, dan dengan membenci kematian, mereka tidak mampu untuk hidup.

 

Kemampuan untuk hidup, secara maksimal, akan muncul ketika kita telah siap untuk mati, dan sangat siap untuk mati, hal ini selalu bersifat proposional (sebanding).

 

Jika kita hidup setengah hati, kita akan mati setengah hati pula, jika kita hidup dengan sangat intens, total, berani menempuh bahaya, kita juga akan mati dalam keadaan orgasme yang mendalam.

 

Kematian adalah sebuah “Cressendo” (istilah musik; peningkatan intens dan pasti secara bertahap dalam volume suara) dari awal kehidupan sampai ke puncaknya dalam kematian.

 

Orgasme yang kita kenal melalui Percinta’an Sex, tidak dapat dibandingkan dengan orgasme yang disediakan oleh kematian.

 

Semua kegembiraan hidup adalah kecil jika dibandingkan dengan kegembiraan yang dibawa oleh kematian.

 

Apa persisnya kematian itu…?! Kematian adalah lenyapnya sebuah entitas palsu dalam diri kita, sang ego.

 

Kematian juga berlangsung dalam cinta kasih sayang dalam skala yang lebih kecil, dalam sebuah cara terpisah, atas dasar ini, terdapat keindahan cinta kasih sayang yang nikmatnya tiadatara.

 

Untuk sesaat, kita mati, untuk sesaat kita lenyap, untuk sesaat, kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, dan keutuhan (keseluruhan) menguasai diri kita.

 

Kita lenyap sebagai suatu bagian, kita bergerak secara ritmis dengan keseluruhan, kita tidak eksis sebagai riak-riak gelombang di samudra, kita eksis sebagai samudra itu sendiri.

 

Itulah mengapa seluruh pengalaman orgasme adalah pengalaman-pengalaman yang bersifat samudra, (dahsyat,luas,mendalam).

 

Hal yang sama terjadi dalam tidur nyenyak, dimana sang ego lenyap, pikiran tidak lagi berfungsi, kita jatuh dalam kegembiraan yang orisinal, akan tetapi, semua ini tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kematian.

 

Mereka semua ini adalah bagian-bagian yang parsial, tidur adalah suatu kematian kecil, setiap pagi, kita akan terbangun lagi.

 

Tetap saja, jika kita tidur sangat nyenyak, kegembiraan tetap menggelayuti seluruh hari, suatu kualitas tertentu dari ketenangan terus berlanjut di kedalaman hati kita, kita hidup secara sangat berbeda jika kita tertidur nyenyak.

 

Jika kita tidak dapat tertidur nyenyak, maka seluruh hari kita, esoknya, akan terganggu, kita merasa terganggu dan mudah tersinggung, tanpa ada alasan sama sekali.

 

Hal-hal kecil dan remeh menjadi gangguan besar, kitan marah, bukan pada seseorang secara khusus, kita hanya sekedar marah, energi kita tidak berada di rumah, ia terganggu, kita tercerabut.

 

Kematian adalah tidur yang sangat istimewa, seluruh gejolak kehidupan, tujuh puluh, delapan puluh, atau sembilan puluh tahun gejolak kehidupan, dan semua penderitaan hidup, dan semua kegairahan dan gangguan dan kecemasan akan lenyap, mereka semua tidak lagi relevan.

 

Kita kembali ke dalam kesatuan eksistensi yang orisinal, kita menjadi bagian dari bumi ini.

 

Tubuh kita lenyap ke dalam bumi, napas kita lenyap di udara, api kita kembali ke matahari, air kita kembali ke samudra, dan langit batin kita bertemu dengan langit luar.

 

Inilah kematian. Jadi…
Bagaimana mungkin seseorang bisa membenci kematian…?!

 

Kita pasti membawa kesalah pahaman, kita pasti membawa sebuah ide bahwa kematian adalah musuh yang harus di singkirkan dan di lenyap kan.

 

Kematian itu bukan musuh, kematian adalah sahabat terbesar kita, kematian harus disambut dengan hangat, kematian harus dinanti dengan hati penuh cinta kasih sayang.

 

Jika kita memikirkan kematian sebagai musuh, kita akan mati.

 

Setiap orang akan mati, proses berpikir kita tidak akan membuat perbedaan apapun, bahkan kita akan mati dengan menanggung rasa sakit dan kecewa yang sangat amat, karena kita menolaknya, karena kita memeranginya.

 

Dalam penolakan itu, dalam upaya memerangi itu, kita telah menghancurkan semua kegembiraan yang disediakan, yang hanya disediakan oleh kematian kepada kita.

 

Kematian yang dapat membawa kebahagiaan yang sangat mendalam, akan berubah menjadi rasa sakit (fisik dan mental) yang sangat tidak tertanggungkan.

 

Ketika rasa sakit yang tak tertanggungkan itu sedemikian parahnya, maka seseorang terjatuh dalam ketidaksadaran, terdapat sebuah batas yang dapat ditoleransi, seseorang hanya dapat menanggung sekian banyak rasa sakit.

 

Atas dasar ini, sembilan puluh sembilan persen dari seratus persen, akan mati dalam keadaan tidak sadar, mereka berjuang, mereka melawan (kematian) hingga detik-detik akhir.

 

Ketika ini tidak lagi mungkin untuk melawan, mereka meletakkan seluruh energi mereka dalam keadaan penuh resiko.

 

Mereka terjatuh ke dalam keadaan sejenis pingsan, mereka mengalami kematian yang tidak sadar.

 

Untuk mengalami kematian yang tidak sadar, merupakan sebuah bencana besar, karena kita tidak ingat apa yang telah terjadi, kita tidak akan ingat bahwa kematian adalah sebuah pintu Dzat, dan kita akan dibawa melalui pintu itu, tetapi bagi seorang yang diusung tandu, yang tidak sadar, dia akan kehilangan peluang yang sangat bernilai.

 

Itulah mengapa kita terus-menerus melupakan tentang kehidupan di masa lalu kita, jika kita mati dalam keadaan sadar, kita tidak akan lupa, karena tidak akan ada jurang (kesenjangan) disana, akan ada kontinyuitas di sana.

 

Kita akan mengingat kehidupan masa lalu kita, dan untuk mengingat kehidupan masa lalu itu, adalah impor yang sangat penting dalam proses penyempurnaan hidup.

 

Jika kita dapat mengingat kehidupan masa lalu kita, kita tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kali, jika kita melakukan kesalahan sekali lagi, maka kita akan terus bergerak dalam lingkaran salah itu, lingkaran yang sama, roda yang sama akan bergerak kembali, dan terus demikian.

 

Kita akan mengharap-harapkan ambisi-ambisi yang sama untuk kedua kalinya dan kita akan melakukan ketololan yang sama sekali lagi, karena kita akan berpikir bahwa ini adalah untuk pertama kalinya kita melakukan semua ini.

 

Sesungguhnya kita telah melakukan semua ini juta’an kali, tetapi setiap kita mati, sebuah jurang tampak menganga, karena kita dalam keadaan yang tidak sadar, kita menjadi terputus dengan masa lalu kita, kemudian, kehidupan mulai lagi dari ABC dan seterusnya.

 

Hal itulah mengapa kits tidak dapat berkembang menjadi Buddha, menjadi Yesus, menjadi Muhammad, menjadi Roh Suci lainnya, yang telah maju secara spiritual.

 

Evolusi kesempurnaan Hidup dan Mati, membutuhkan kesadaran murni yang terus-menerus akan masa lalu, sehingga kesalahan-kesalahan yang sama, tidak terulang kembali, secara perlahan-lahan, kesalahan-kesalahan akan lenyap, secara perlahan, kita menjadi sadar akan lingkaran reinkarnasi ini, secara perlahan, kita menjadi mampu untuk keluar darinya, menjadi sempurna abadi.

 

Jika kita mati dalam keadaan tidak sadar, kita akan terlahir kembali dalam keadaan tidak sadar, karena kematian adalah satu sisi dari sebuah pintu dan kelahiran adalah sisi lain dari sebuah pintu yang sama.

 

Dari satu sisi, sang pintu akan berkata,”Kematian” dan pada sisi yang lain, ia berkata ”Kelahiran” Ia adalah pintu masuk, ia adalah pintu keluar, ia adalah pintu yang sama.

 

Itulah mengapa kita telah lahir kembali, tetapi tidak mengingatnya, kita tidak ingat bahwa selama sembilan bulan berada dalam kandungan, kita tidak ingat telah lewat melalui kanal (terusan) kelahiran, kita tidak ingat rasa sakit saat meninggalkan dunia ini, kita tidak ingat trauma kelahiran kita.

 

Trauma kelahiran itu terus mempengaruhi kita di sepanjang kehidupan kita di dunia ini, seluruh kehidupan kita akan tetap dibayang-bayangi oleh trauma kelahiran kita sendiri.

 

Trauma itu harus dipahami, tetapi satu-satunya cara untuk memahaminya “adalah” dengan mengingatnya “kesadaran”

 

Bagaimana cara mengingatnya…?! Kita begitu takut akan kematian, an kita begitu takut akan kelahiran, bahwa ketakutan yang sama, mencegah kita dari melangkah ke dalamnya.

 

Ketika kita berkata, “Emosi paling kuat yang saya miliki adalah membenci kematian”.

 

Hal ini adalah kebencian kita akan hidup kita sendiri, cintailah, kasihlah, sayangilah hidup kita dalam kehidupan ini, maka cinta kasih sayang alami pada kematian akan muncul, karena hidup di kehidupan inilah yang membawa kematian.

 

Kematian tidak dipertentangkan dengan kehidupan, kematian adalah proses mekarnya semua yang dikandung oleh kehidupan sebagai sebuah biji.

 

Kematian tidak datang dari langit, kematian tumbuh dalam diri kita. Inilah proses mekarnya kita, mengembangnya kita.

 

Apakah Para Kadhang pernah melihat manusia yang benar-benar meninggal…?!

 

Adalah sangat jarang untuk melihat manusia-manusia yang benar-benar akan meninggal, tetapi, jika kita pernah melihatnya, kita akan dibuat surprise, bahwa kematian membuat seseorang begitu indah.

 

Dia tidak pernah tampak begitu indah sebelumnya, tidak juga di masa kanak-kanaknya, karena kemudian, dia menjadi lalai, tidak juga di masa mudanya, karena kemudian gairahnya begitu kuat, emosinya juga kuat, dipenuhi kesenangan-kesenangan yang bergelora, akan tetapi, ketika kematian datang, semua menjadi relaks.

 

Ketololan dari masa kanak-kanak tidak terjadi di sana, dan kegilaan dari masa muda juga lenyap, penderitaan dari masa tua, penyakit dan keterbatasan di usia senja, juga telah lenyap.

 

Seorang menjadi terbebaskan dari sang tubuh, kegembiraan yang luar biasa muncul dari inti batin terdalam, menyebar ke seluruh penjuru.

 

Di mata orang yang benar-benar akan meninggal, kita dapat melihat kilatan cahaya yang bukan berasal dari dunia ini pada wajahnya, kita dapat melihat kedahsyatan yang terkait dengan sesuatu yang melampaui dunia ini.

 

Kita dapat merasakan keheningan, keheningan yang tidak bersusah-payah, keheningan yang tidak menolak dari seorang yang bergerak perlahan, secara perlahan, menuju kematian, dengan rasa syukur yang mendalam dan sikap menerima sepenuhnya atas semua kehidupan yang telah diberikan kepadanya, dan atas semua yang eksistensi telah begitu bermurah hati, suatu rasa syukur telah melingkupi dia.

 

Kita akan menemukan suatu ruang yang berbeda sepenuhnya di sekitar dia, dia akan mati sebagaimana seseorang yang harus mati, dia akan melepaskan sejenis kebebasan di mana orang-orang yang berada dekat dengannya akan menjadi terpaku dan tercengang pada kebebasan itu, akan menjadi terpesona.

 

Di Timur, ini selalu menjadi peristiwa besar. Kapan saja bila seorang Master (guru spiritual) meninggal, ribuan, bahkan jutaan orang berkumpul bersama untuk menyaksikan fenomena agung ini.

 

Tinggal berada di sana dalam jarak dekat untuk melihat aroma yang sangat wangi dilepaskan, untuk melihat nyanyian terakhir yang dinyanyikan oleh sang Master, dan untuk melihat cahaya yang datang saat tubuh dan jiwa terpisah, hal ini sangat menakjubkan, sebuah pencahayaan yang sangat terang benderang.

 

Energi yang jauh lebih besar akan dilepaskan ketika sang tubuh dan jiwa dipisahkan, mereka (tubuh dan jiwa) telah berkumpul bersama selama jutaan tahun kehidupan, dan tiba-tiba ketika ajal menjemput, terjadi proses pemisahan yang mengakibatkan energi terlepas.

 

Energi yang dilepaskan itu dapat menjadi suatu gelombang yang sangat besar bagi siapa saja yang ingin untuk meluncur di atasnya, mereka akan mengalami pengalaman gembira yang sangat intens.

 

Wahai para Kadhang kinasih-ku sekalian, janganlah kau membenci kematian.

 

Saya tahu, ini bukan perkara mudah, namun percayalah, ini disebabkan karena kita selama ini, telah diajarkan filosofi yang salah kaprah.

 

Otak kita telah dijejalkan pendapat bahwa kematian itu bertentangan dengan kehidupan, padahal bukan demikian, selama ini kita selalu diajarkan bahwa kematian itu datang untuk menghancurkan kehidupan.

 

Semua itu adalah omong kosong. Kematian datang dan memenuhi kehidupan, jika kehidupan kita indah, kematian akan memperindahnya lebih indah lagi.

 

Jika hidup kita adalah kehidupan cinta kasih sayang, maka kematian akan memberi kita pengalaman cinta kasih sayang yang maksimal.

 

Jika hidup kita penuh dengan Semedhi, maka kematian akan membawa kita pada kesadaran penuh dengan kemurnian.

 

Kematian hanya meningkatkan dan memperbesarkannya, tentu saja bila hidup kita adalah kehidupan yang tidak tepat, maka kematian akan mengembangkan hal itu juga.

 

Kematian adalah memperbesar nilai sesuatu, ia seperti cermin, yang bersifat memantulkan, kematian hanya memantulkan fenomena.

 

Jangan membenci kematian, jika kita membencinya, kita akan kehilangan kematian dan kita akan kehilangan kehidupan juga.

 

Jangan pernah berpikir negatif, pemikiran negatif akan mengarah ke mana-mana, jangan membenci kegelapan dan hanya mencintai cahaya, suatu hari nanti kita akan terkejut, dan kita akan menyadari bahwa kegelapan juga bagian dari cahaya itu sendiri, ia suatu fase dari cahaya, suatu cahaya yang sedang tidak aktif. He he he . . . Edan Tenan.

 

Saya 💓Wong Edan Bagu💓 Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai🙏Damai🙏 Damai🙏Selalu Tenteram🙏 Sembah nuwun🙏Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono🙏inayungan Mring Ingkang Maha Agung.Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet🙏 BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏 Aaamiin🙏Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Kesadaran Murni Adalah Cara Bahagia Seumur Hidup:


Kesadaran Murni Adalah Cara Bahagia Seumur Hidup.
(wejangan tanpa tedeng aling-aling):
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 13:00. Hari Senin. Tanggal 9 Juli 2018.

Para Kadhang kinasih-ku sekalian, ada banyak cara untuk mempelajari Kesadaran hingga berhasil mencapai tingkatan murni di dalam ber-kesadaran, dan banyak yang bisa.

Namun untuk menjaganya atau memeliharanya, agar supaya selalu bin senantiasa tetap berkendaraan yang sadar atau kesadaran murni, hingga akhir menutup mata bin seumur hidup, jumlahnya bisa di hitung dengan jari tangan saja, alias sedikit.

Dan pada kesempatan kali ini, saya WEB “Wong Edan Bagu” akan membagikan ilmu pengetahuan dari pengalaman pribadi saya, tentang Cara untuk menjaga kesadaran yang sadar atau kesadaran murni selama-lamanya untuk Panjenengan semuanya Para Kadhang kinasih-ku sekalian.

Ber-kesadaran Murni selama-lamanya atau seumur hidup, berarti berbahagia, aman, nyaman, tenang, teguh/kuat, rahayu, selamat dan tenteram sempurna hingga akhir menutup mata.

Bahagia, aman, nyaman, tenang, teguh/kuat, rahayu, selamat dan tenteram sempurna seumur hidup, hingga akhir menutup mata, adalah pilihan Hidup kita yang sebenarnya atau yang sesungguhnya.

Ini bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan uang atau sesuatu yang bisa di tebus dengan lelaku apapun atau sesuatu yang asalnya dari luar diri kita, sebab segala sesuatu yang berasal dari luar, adalah fana/semu, tidak langgeng.

Ketahuilah, bahwa segala hal yang berasal dari luar diri sendiri, sifatnya sementara saja, jadi, mustahil kita mampu menjaga konsistensi sukacita selamanya, jikalau hal tersebut fana adanya.

Berikut ini adalah tiga langkah yang kita perlukan, untuk menjaga kesadaran yang sadar atau kesadaran murni kita, agar supaya tetap bahagia, aman, nyaman, tenang, teguh/kuat, rahayu, selamat dan tenteram sempurna hingga akhir menutup mata.

1. Patrap Semedi;
Kemampuan untuk senantiasa ber Kesadaran Murni, dapat dilakukan dengan cara melakukan Patrap Semedi Menjaga Hati. Membersihkan Hati dan Membuka Hati secara terus menerus/Istiqomah.

Karena pada hakikatnya, aktivitas bathin ini, adalah sebuah praktek, untuk meningkatkan kecerdasan Wahyu Panca Laku dalam mengibadahkan Wahyu Panca Ghaib kita, yang tak lain dan tak bukan adalah kesadaran murni itu sendiri.

Selain itu, juga berperan penting untuk menekan hawa nafsu yang tidak tepat, seperti lebay, kebinatangan dan keburukan serta kejahatan lainnya, yang terdapat dalam alam bawah sadar pikiran kita.

2. Kekadhangan;
Untuk menghasilkan sipat dan sikap yang berkesadaran sadar atau kesadaran murni, agar supaya konsistensi hati tetap dalam kadar bersih/murni/suci, adalah kadhangan.

Karena pada hakikatnya, aktivitas lahir bathin ini, adalah sebuah praktek untuk mengarahkan pikiran agar supaya tetap hanya menuju kepada Dzat Maha Suci Hidup.

3. Darma Bakti;
Kemampuan untuk senantiasa ber Kesadaran Murni yang ketiga, adalah ber-Darma Bakti terhadap sesama hidup.

Karena pada hakikatnya, aktivitas lahir ini, adalah sebuah praktek menjaga hati, membersihkan hati dan membuka hati secara langsung di lapangan TKP.

Seperti beramah-tamah, senyum, sapa, salam, tolong menolong, ber terima kasih, maaf, jujur, setia, rela, menjadi pendengar yang baik, konsisten, berbagi informasi, berbagi solusi dan lain sebagainya sesuai dengan sumber daya, potensi (kemampuan, bakat dan pekerjaan) yang kita miliki.

Dan ketiga Aktifitas inilah, yang di sebut Laku Murni Menuju Suci (Sampurnaning Pati lan Urip).

Semoga Bermanfaat. Saya Wong Edan Bagu…. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Renungan Tentang Berguru. (Dari Kisah Nyata Suami Istri):


Renungan Tentang Berguru.
(Dari Kisah Nyata Suami Istri):
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manuk. Pukul: 14:30. Hari Rabu. Tanggal 4 Juli 2018.

Sepasang suami istri sedang membuka catatan-catatan tentang “berguru” mereka berdiskusi tentang “berguru” sebagai bahan introspeksi.

Mereka paham bahwa pengetahuan itu, tidak akan berharga bila tidak dilakoni/dijalani.

Buku “Kunci The Power” karya Rm. Kh. Toso Wijaya D. Ms, dan artikel-artikel yang tersebar di media online internet, mereka jadikan sebagai referensi.

Mereka mengutip pandangan dalam berbagai referensi tersebut, agar tidak kehilangan esensi.

Sang Istri berkata;
Suamiku… Aku ingat sebuah wejangan tentang Sadguru, bahwa jalan spiritual, dan penunjuk jalan yang kita peroleh dalam hidup ini, sebenarnya adalah “hasil” dari pencarian kita sendiri.

Sedangkan Guru itu, hanya sekedar menunjukan jalan dan memberikan caranya.

Selama entah berapa abad, berapa lama, berapa masa kehidupan, jiwa mencari terus.

Akhirnya ia memperoleh apa yang dicarinya, dan, jiwa sadar sesadar-sadarnya, bila apa yang diperolehnya itu, adalah hasil dari pencariannya.

Ketika kita berhadapan dengan seorang pembimbing, kita tidak pernah ragu, kita langsung jatuh “jatuh hati”.

Keraguan muncul ketika ia mulai memandu, karena panduannya tidak sejalan dengan pola pikir kita yang lama, kesalahan seperti ini telah kita lakukan dari zaman ke zaman.

Apakah kita tidak diberi tanda-tanda yang tegas tentang sang pemberi peringatan…?!

Apakah kita tidak merasakan kehangatan persahabatan kita dengannya…?!

Kita diberi tanda-tanda yang jelas, kita melihat, kita merasakan, tapi, pikiran tidak menerima, “itu tanda-tanda yang salah, keliru, itu bukanlah perasaanmu yang sebenarnya, kejarlah perasaanmu yang sebenarnya.”

Pikiran justru menciptakan rasa palsu, yang lebih di kenal dengan sebutan perasaan, emosi buatannya sendiri, untuk menjauhkan kita, dari rasa segala rasa.

Kita lupa akan rasa itu, dan terbawa oleh napsu, emosi rendahan untuk kembali mengejar bayang-bayang.

Sang Suami menjawab;
Istriku… Aku baru saja membuka file wejangan-wejangan lama, tentang bagaimana cara mendekati seorang Sadguru dan tidak berlari menjauhi.

Dalam file artikel wejangan itu, guru kita Rm. Kh. Toso Wijaya D. Ms yang lebih di kenal secara umum sebagai Wong Edan Bagu, memberikan gambaran seperti ini.

Ada seorang yang datang dengan niyat berguru, tujuannya berguru untuk menjadi guru semedhi.

Dia tidak sadar bahwa tujuannya itu, keinginannya untuk menjadi sesuatu itu, justru menjadi penghalang utamanya.

Latihan-latihan yang diberikan oleh Sang Master kita itu “mainan” untuk membuat kita betah duduk bersamanya.

Artinya, yang terpenting itu, bukanlah latihan-latihannya itu, tetapi kebersamaan seorang murid dengan murshidnya, seorang shishya dengan gurunya.

Duduk bersama seorang master/murshid/guru, kita akan ketularan
“virus kesadaran murni-nya”

Karena saat kita duduk bersama seorang master/murshid/guru, sang master/murshid/guru, beliau tengah berbagi kesadaran murni, bukan yang lain.

Sang Istri menyambung perkataan;
Aku juga barusan membaca file artikel wejangan beliau, tentang tingkatan Wahyu Panca Laku atau iman tertinggi, yaitu Cinta Kasih Sayang yang ada di urutan kelima.

Yang intinya adalah Cinta Kasih Sayang tak Bersyarat dan Tak Terbatas.

Dicontohkan sebagai;
Seorang Guru yang duduk di tengah, sedangkan para siswa duduk melingkar, menghadapinya.

Apa arti pola duduk seperti itu…?! Sang murshid harus menjadi centerpoint hidup kita.

Titik tengah kehidupan kita. Dan jangan lupa, yang menjadi centerpoint bukanlah wujud dianya, tetapi apa yang diwakilinya.

Dan setiap guru, setiap murshid, itu mewakili hanya satu lembaga-lembaga Non-Lembaga Cinta Kasih Sayang.

Dengan semangat cinta kasih sayang, berupayalah untuk mencapai titik tengah di dalam diri sendiri, untuk menemukan cinta kasih sayang di dalam diri sendiri, guru di luar diri hanya mewakili Murshid di dalam diri setiap murid.

Sang Suami;
Dulu, aku pernah baca buku “Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena” buku itu menyampaikan;

Kehadiran seorang Guru dalam hidup kita, semata-mata untuk membantu kita, agar tidak menjadi egois.

Guru bagaikan katalisator, “perantara yang ada dan tidak ada” Dia bagaikan awan yang menyebabkan keteduhan untuk sejenak dan berlalu.

Awan tidak memberi keteduhan, ia tidak membuat teduh, ia hanya menjadi penyebab terjadinya teduh. Itulah Guru.

Bagi Maria, kesadaran identik dengan Guru, bagi dia, pencerahan identik dengan Yesus yang dicintainya, dikasihinya, disayanginya.

Di balik kejadian itu, ia tidak melihat andil dirinya sama sekali.

Ia tidak merasa melakukan sesuatu yang luar biasa untuk memperoleh pencerahan itu.

Apa yang terjadi atas dirinya semata-mata karena berkah, karena rahmat, karena anugerah Sang Guru!

Kelak, Nanak pun mengatakan hal yang sama, bertahun-tahun setelah kejadian, Sadguru Prasaad-Hyang Tunggal Itu kutemui berkat rahmat Guruku!

Sang Istri;
Oh iya, aku jadi ingat, dulupun aku pernah membaca buku Wedhatama bagi orang modern, dalam buku itu disampaikan……..

Seorang guru tidak lagi menggunakan pikirannya, ia hanya menyampaikan apa yang terdengar lewat nuraninya, yang selalu dalam keadaan mawas diri, yang dianugerahi dengan wahyu yang Hidup, hanya merekalah yang pantas disebut Guru, disebut Master, disebut Murshid, Mustafa.

Dan, Guru hanya akan bekerja untuk kita, apabila kita membuka diri sepenuhnya.

Dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara ” juga disampaikan, seorang Guru hanya akan work on us, “bekerja terhadap kita” bila kita membuka diri sepenuhnya.

Lapisan pengetahuan “semi” pengetahuan yang belum menjadi pengalaman, justru menutup diri kita.

Seorang Guru tidak pernah memaksakan diri, ia tidak akan memasuki diri kita secara paksa, ia akan menunggu di luar pintu hati kita, sebelum kita sendiri membukanya dan mengundang dia masuk.

Sang Suami;
Benar, kebanyakan dari kita merasa dekat dengan Guru, akan tetapi dekat dengan Guru berarti fokus sepenuhnya.

Badan bahkan tidak perlu parkir dekat Guru, tapi pikiran terpusatkan pada Guru, sehingga indra tidak liar, pikiran tidak gelisah pergi kesana-kemari.

Sementara ini kita hanya merasakan ketenangan sementara pikiran dan perasaan, karena badan berada dekat dengan Guru, ketenangan pikiran dan perasaan itu temporer.

Dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara” menyampaikan; Memenggal kepala-ego dan meletakkannya di bawah kaki sang guru, itu berarti menyerahkan segala beban kepadanya.

Wahyu Panca Laku atau Iman kita, mungkin belum cukup kuat, kita masih ragu-ragu, bimbang, bahkan takut, maka, sesungguhnya kita belum pantas menyebut diri sebagai murid.

Kita baru pelajar biasa. Sang murshid, sang guru, sang master siap sedia mengambil-alih seluruh bebanmu, asal kau siap menyerahkannya kepada dia.

Karena itu tugas dia…
Dia bagaikan perahu yang dapat mengantarmu ke seberang sana, bila kita sudah berada di dalam perahu, untuk apa lagi menyiksa diri dengan buntalan berat di atas kepala…?!

Turunkan buntalan itu dari kepala kita, letakkan di bawah, perahu kita, guru kita, murshid kita siap menerima tambahan beban itu, bahkan, ia sudah menerimanya, walau berada di atas kepala kita, sesungguhnya beban itu sudah membebani guru kita.

Sang Istri;
Dalam buku “ Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati atau Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal” disampaikan, bahwa;
Para sufi menggunakan “wujud” murshid sebagai gerbang untuk memasuki Tuhan.

Ketika Yesus menyatakan diri sebagai pintu untuk memasuki Kerajaan Allah, maksudnya ya itu.

Para lama di Tibet melakukan Guru Pooja, penghormatan khusus terhadap para guru, begitu pula dengan para “pencari” di dataran India.

Lewat Guru Bhakti atau cinta kasih sayang tak bersyarat dan tak terbatas terhadap seorang guru, mereka menemukan cinta kasih sayang yang sama di dalam diri mereka masing-masing.

Sesumgguhnya seorang guru tidak membutuhkan puja dan bakti, dia justru memberikan kesempatan bagi perkembangan puja dan bhakti di dalam diri kita masing-masing.

Puja dan bakti terhadap seorang guru tidak berarti mencium kaki atau tangannya, puja dan bakti semata-mata untuk mendekatkan diri kita dengan Ia yang bersemayam di dalam setiap makhluk.

Sang Suami;
Ya, wujud adalah sarana Gusti untuk menyampaikan kesatuan dan persatuan, maka wujud Sadguru dapat digunakan sebagai sarana Patrap Semedhi Mbekso oleh para panembah.

Dengan mengarahkan kesadaran pada wujud Sadguru, kita merasakan kesatuan dan persatuan dengan beliau yang sudah terlebih dahulu bersatu dengan semesta, ya, Demikianlah.

Dengan cara itu, sesungguhnya kita pun bersatu dengan alam semesta, namun untuk itu, dibutuhkan Wahyu Panca Laku secara total.

Meyakini dan mempercayai Sadguru, berarti meyakini pesan beliau, berWahyu Panca Laku kepada beliau, berarti ber Wahyu Panca Laku kepada apa yang beliau sampaikan dan menjalani hidup sesuai dengan pesan beliau.

Pesan beliau adalah pesan kebajikan, menjalani hidup sesuai dengan beliau, berarti menghidupi pesannya “maksudnya” menjalani kebijakan setiap saat.

Sang istri;
Setuju suamiku, cara itu memang khas yang pernah di wejangkan kepada kita, dan sangat penting, sangat bermanfaat bagiku khususnya, yang sedang belajar mengenal diri, supaya bisa menemukan jati diri.

Didalam patrap…
Kita pusatkan kesadaran kita hanya kepada Tuhan, tanpa mengharapkan sesuatu apa pun jua.

Didalam semedhi…
Kita lihat Dia dalam diri setiap makhluk.

Ketika itu terjadi…
Pikiran kita akan terpust dengan-Nya, maka disaat itu tercapailah tujuan hidup.

Didalam mbekso…
Kita rasakan/nikmati kesadaran kepada Dzat-Ku yang tak berwujud.

Ketika itu terjadi…
Kita akan sadar tentang-Nya, sehingganya kita bisa menyadari, bahwa Pengetahuan Sejati, Kesadaran Murni, Kebahagiaan Kekal Abadi, itulah kebenaran diri-Ku.

Namun, jika sulit merasakan/menikmati kesadaran kepada Dzat yang tak berwujud.

Maka pusatkanlah pada wujud-Ku yang satu ini, dan jari kaki hingga kepala-Ku sebagaimana kau melihat-Ku saat ini.

Biarlah wujud ini saja yang kaukenang sepanjang pagi, siang, dan malam.

Dengan cara ini pun kau dapat menenangkan pikiranmu dan mencapai tujuan yang sama.

Saat itu, sirnalah perpisahan antara patrap dan pelaku Patrap, antara semedi dan pelaku semedi, antara mbekso dan pelaku mbekso dan antara, Patrap, Semedi, Mbekso, Pelaku dan upaya Patrap, Semedi, Mbekso dari si pelakunya itu sendiri.

Itulah saat kau menyatu dengan Kesadaran Murni atau dengan Hidup atau Guru Sejati, atau dengan Romo.

Sang Suami;
Sepertinya kita telah lupa tradisi kuno ini, di mana seorang murid melakukan sungkem dan mencium tangan seorang Guru.

Kedua gerakan itu sarat dengan makna, jika harus diungkapkan, maknanya…

Sungkem bermakna;
Wahai Guru…
Sekarang kutundukkan kepalaku, egoku, pengetahuan yang telah kuperoleh selama ini, kutuangkan semuanya, karena semua itu tidak membantuku.

Wahai Guru…
Sekarang aku datang ke Pesanggrahanmu di Gubug Jenggolo Manik;
Ajarilah aku yang masih bodoh ini.

Cium tangan;
Saat mencium tangan seorang murshid, berarti kita sedang menyatakan kepercayaan kita terhadap segala karyanya, tanpa kepercayaan, kita tidak bisa berguru, “begitulah kurang lebih maknanya”

WEB-Wong Edan Bagu menyambut Keduanya;
Wahai Suami dan Istri…
Apa yang kalian berdua renungkan, itu sudah benar, namun kurang tepat.

Ketahuilah secara sadar, agar supaya kalian bisa mampu menyadarinya;

Patrap Semedhi tidak bisa di ajarkan. Patrap Semedhi bukanlah suatu pelajaran. Apa lagi Mbekso. Tidak Bisa!

Patrap Semedhi harus dialami/dijalani lalu dibagikan, dengan begitu, bisa memperoleh Mbekso.

Siapapun mastermu, gurumu, murshidmu, tidak akan bisa mengajarkan Patrap Semedhi dan Mbekso, karena Patrap Semedhi dan Mbekso, itu bukan pelajaran untuk diajarkan, melainkan kedadaran murni pengetahuan universal yang dialami untuk di bagikan.

Jadi, siapapun mastermu, gurumu, murshidmu “dekati” dia, tanpa kedekatan seperti itu, kalian tidak akan memperoleh hasil apapun.

Sesungguhnya, siapapun kita, bisa mendekati sang guru, walau fisik kita berada di ribuan kilometer jauh dari dia, sebaliknya, kita bisa juga tetap jauh, walau secara fisik sangat dekat, itulah “Kesadaran”

Hal-hal lain dalam kehidupan kita, masih bisa ditunda, tapi “kesadaran” tidak dapat ditunda lagi, tanpa kesadaran, apapun yang kita peroleh dari hidup dalam kehidupan ini, tidak memiliki makna dan arti apapun.

Benda-benda dalam kehidupan ini, ibarat peralatan elektronik, tidak berguna jika tanpa aliran listrik (kesadaran).

Semoga Bermanfaat. Saya Wong Edan Bagu…. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya