Bagaimana Orang Bodoh Melihat Sebuah Peristiwa:


Bagaimana Orang Bodoh Melihat Sebuah Peristiwa:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Brebes Jateng. Kamis Wage. Tgl 19 Januari 2017

(… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (al-Baqarah: 216)

Bagaimana Melihat Kebaikan di Segala Hal..?!
Bagi Orang Beriman, Ada Kebaikan di Mana pun.
Alasan Mengapa Orang Tidak Dapat Melihat Kebaikan.
Teladan Kehidupan Para Nabi dan Orang-Orang Beriman.
Janji Allah dan Pertolongan-Nya untuk Orang Beriman.

Bagaimana Orang Bodoh Melihat Sebuah Peristiwa;
Secara umum, manusia cenderung memisahkan peristiwa yang terjadi dalam istilah “baik” dan “buruk”. Pemisahan tersebut sering bergantung pada kebiasaan atau tendensi peristiwa itu sendiri. Reaksi mereka terhadap peristiwa tersebut berubah-ubah tergantung pada kepelikan dan bentuk kejadian tersebut; bahkan apa yang akhirnya akan mereka rasakan dan alami biasanya ditentukan oleh kebiasaan sosial masyarakat.

Hampir semua orang memiliki sisa-sisa mimpi masa kecil, bahkan dalam hidup mereka selanjutnya, walaupun rencana-rencana ini tidak selalu terjadi sesuai dengan apa yang diharapkan atau direncanakan. Kita selalu cenderung kepada kejadian-kejadian yang tidak diharapkan dalam hidup. Peristiwa tersebut dapat sekejap saja melemparkan hidup kita ke dalam kekacauan. Ketika seseorang berniat untuk menjalankan hidupnya dengan normal, ia mungkin berhadapan dengan rangkaian perubahan yang pada awalnya terlihat negatif. Seseorang yang sehat bisa dengan tiba-tiba terserang penyakit yang fatal atau kehilangan kemampuan fisik karena kecelakaan. Sekali lagi, seseorang yang kaya bisa saja kehilangan seluruh kekayaannya dengan tiba-tiba.

Hidup seperti menaiki roller-coaster. Reaksi orang berbeda-beda ketika menaikinya. Jika kejadian yang muncul menyenangkan, reaksi mereka baik-baik saja. Akan tetapi, ketika dihadapkan pada hal-hal yang tidak diharapkan, mereka cenderung kecewa, bahkan marah. Kemarahan mereka itu bisa memuncak, bergantung pada sejauh mana mereka berhubungan dengan peristiwa tersebut dan pencapaian mereka dalam masalah ini. Kencenderungan ini biasa terjadi dalam masyarakat yang tenggelam dalam kebodohan.

Ada juga di antara mereka yang saat kecewa berkata, “Pasti ada kebaikan di dalamnya.” Bagaimanapun juga, kalimat yang diucapkan tanpa memahami arti sebenarnya hanya semata-mata kebiasaan masyarakat saja.

Masih ada sebagian orang yang memiliki keinginan untuk memikirkan maksud Ilahiah dalam setiap peristiwa, apakah yang mungkin terdapat dalam kejadian-kejadian yang sepele. Akan tetapi, ketika mereka dihadapkan pada peristiwa yang lebih besar, yang sangat mengganggu, tiba-tiba mereka melupakan niat tersebut. Sebagai contoh, seseorang mungkin tidak akan tertekan saat mesin mobilnya rusak tepat ketika ia harus berangkat ke kantor dan ia berusaha berprasangka baik terhadap kejadian tersebut. Akan tetapi, jika keterlambatannya itu membuat bosnya marah atau menjadi alasan hilangnya pekerjaan, ia lalu mencari-cari alasan untuk mengeluh. Dia mungkin akan bersikap sama jika kehilangan perhiasan atau jam mahal. Contoh-contoh ini menunjukkan kepada kita bahwa ada beberapa kejadian kecil yang menyebabkan orang bereaksi dengan wajar atau mereka mau berbaik sangka bahwa hal tersebut mengandung kebaikan. Akan tetapi, contoh-contoh lainnya yang tidak biasa dapat membuatnya mencari pembenaran atas keangkuhan dan kemarahan mereka.

Di sisi lain, sebagian orang hanya menghibur diri dengan berpikir demikian tanpa memiliki pegangan makna yang benar terhadap “melihat kebaikan dalam segala hal”. Dengan sikap demikian, mereka percaya bahwa hal tersebut dapat menjadi cara untuk menciptakan kenyamanan bagi mereka yang tengah tertimpa masalah. Misalnya yang terjadi pada anggota keluarga yang bisnisnya tengah berantakan atau seorang teman yang gagal dalam ujian. Bagaimanapun juga, jika kepentingan merekalah yang dipertaruhkan dan mereka terlihat tak sedikit pun memikirkan kebaikan apa yang ada di balik peristiwa tersebut, mereka telah berlaku bodoh.

Kegagalan untuk melihat kebaikan dalam peristiwa yang dialami seseorang muncul dari hilangnya keimanan seseorang. Kegagalannya untuk memahami bahwa Allahlah yang menakdirkan setiap kejadian dalam kehidupan seseorang, bahwa hidup di dunia ini tidak lain hanyalah ujian, inilah yang menghalangi dirinya untuk menyadari kebaikan apa pun dalam setiap peristiwa yang terjadi padanya.

Dalam bab berikut, kita akan menggali ide itu, yaitu memiliki keyakinan bahwa ada kebaikan dalam apa pun yang terjadi pada kita dan faktor-faktor tersebut penting sekali untuk kita lihat.

Sekali lagi saya katakan… Cobalah Untuk Merenung;
Sediakan beberapa menit dalam sehari untuk melakukan perenungan. Lakukan di pagi hari yang tenang, segera setelah bangun tidur. Atau di malam hari sesaat sebelum beranjak tidur. Merenunglah dalam keheningannya Rasa. Jangan gunakan pikiran untuk mencari berbagai jawaban. Dalam perenungan kita tidak mencari jawaban. Cukup berteman dengan ketenangan maka kita akan mendapatkan kejernihan pikiran.

Jawaban berasal dari pikiran kita yang bening. Selama berhari-hari kita disibukkan oleh berbagai hal. Sadarilah bahwa pikiran kita memerlukan istirahat. Tidak cukup hanya dengan tidur. Kita perlu tidur dalam keadaan terbangun. Merenunglah dan dapatkan ketentraman batinmu.

Pikiran yang digunakan itu bagaikan air sabun yang diaduk dalam sebuah gelas kaca. Semakin banyak sabun yang tercampur semakin keruh airnya. Semakin cepat kita mengaduk semakin kencang pusarannya. Merenung adalah menghentikan adukan. Dan membiarkan air berputar perlahan. Perhatikan partikel sabun turun satu persatu, menyentuh dasar gelas.

Benar-benar perlahan. Tanpa suara. Tanpa kata. Tanpa Politik. Tanpa Rekayasa. Yang ada hanya Rasa dan Rasa… Semua pasti bisa. Bahkan kita mampu mendengar luruhnya partikel sabun. Kini kita mendapatkan air jernih tersisa di permukaan. Bukankah air yang jernih mampu meneruskan cahaya. Demikian halnya dengan pikiran kita yang bening dengan Rasa.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666. SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

KUPASAN Singkat Tentang Empat Ilmu Tingkat Tinggi. Di Tanah Djawa Dwipa. Dan Wahyu Panca Gha’ib:


KUPASAN Singkat Tentang Empat Ilmu Tingkat Tinggi.
Di Tanah Djawa Dwipa. Dan Wahyu Panca Gha’ib:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Giwangan Jogjakarta. Hari Senin. Tgl 16 Januari 2017

Nomer 1.
Ilmu Tingkat Tinggi Yang Pernah Ada Di Tanah Djawa Dwipa, yang Pertama adalah; Serat Sastra Jendra Hayuning Rat Pangruwating Diyu. Sastra Jendra Hayuning Rat Pangruwating Diyu, adalah ilmu pengetahuan, tidak ubahnya dengan ilmu-ilmu yang pernah kita pelajari sewaktu di sekolahan. Seperti IPA (Ilmu Pengetahuan Alam dll), hanya saja, bedanya, kalau jaman dulu, di pelajarai di dalam goa sambil bertapa, kalau sekarang, di pelajari di dalam gedung sekolahan sambil suka ria.

Sastra Jendra Hayuning Rat Pangruwating Diyu, adalah sejenis ilmu pengetahuan, untuk mengetahui tentang, awal mulanya Dzat Maha Suci memproses semua yang di ciptakannya. Terutama manusia. Mulai dari awal proses hingga lahir kedunia.

Sastra Jendra Hayuning Rat Pangruwating Diyu, terakhir di pelajari oleh seorang Resi, bernama Begawan Wisrawa, namun gagal, karena di goda oleh muridnya sendiri dan tergoda pada muridnya sendiri, serta menyetubuhi muridnya sendiri, bernama Dewi Sukesi.

Pada jamannya, ilmu ini, ilmu khusus para bangsawan, orang sudera, tidak di perbolehkan untuk mempelajarinya, alasannya kenapa, sepele, karena pada jaman itu, yang memiliki kewenangan melalukan seks bebas, hanya kaum bangsawan saja, milikmu miliku, istirimu istriku, itu kan berlaku hanya untuk orang-orang yang berilmu tinggi dan sakti, karena kalau tidak sakti, pasti di rebut oleh yang lebih sakti tentunya. Kenapa bisa begitu, sebab, Laku Serat Sastra Jendra Hayuning Rat Pangruwating Diyu, bukan bertapa atau tirakat dll.

Melainkan.
Sampurnaning Pati lan Urip, (Menebar Iman Cinta Kasih Sayang), karena pada jaman itu, masih minimnya pengetahuan, mereka mengira, bahwa yang di maksud Menebar Iman Cinta Kasih Sayang itu, mengobral Cinta Kasih Sayang kemana-mana dan pada setiap lawan jenis, lalu bercumbu pless bermain seks diatas Ranjang/Tempat tidur atau dibawah pohon dll.

Nomer 2.
Ilmu Tingkat Tinggi Yang Pernah Ada Di Tanah Djawa Dwipa, yang Kedua adalah; Serat Sangkan Paraning Dumadi. Serat Sangkan Paraning Dumadi, juga sama seperti Serat Sastra Jendra Hayuning Rat Pangruwating Diyu, adalah ilmu pengetahuan, untuk mengetahui. Dari Mana asal usulnya, semua yang di ciptakan Dzat Maha Suci, terutama manusia, mulai dari yang kasat mata, hingga yang tidak kasat mata.

Serat Sangkan Paraning Dumadi, terakhir di pelajari oleh Prabu Ciung Wanara dan Sri Baduga Maha Raja Prabu Siliwangi, yang Bernama Asli Raden Pemanah Rasa. Raja Agung Pajajaran Tanah Pasundan. Juga Raja Malowopati. Prabu Angling Darma.

Pada jamannya, ilmu ini, ilmu khusus para Raja-Raja, pemegang dan pelaku amanah Dzat Maha Suci, itupun Raja yang masih berketurunan langsung dari Dewa, kalau bukan, tidak di perbolehkan untuk mempelajarinya. Kecuali Prabu Brawijaya kesatu, kedua, ketiga, dan ke’empat, karena Prabu Brawijaya kesatu, kedua, ketiga, dan ke’empat, di dampingi atau di momong Secara langsung oleh Sabda Palon Naya Genggong. Sang Pencipta Serat Sangkan Paraning Dumadi.

Laku Serat Sangkan Paraning Dumadi, bukan bertapa atau tirakat dll. Melainkan.
Sampurnaning Kawula Gusti, (Merasakan Dzat Maha Suci), yang benar-benar nyata ada, bukan gha’ib.

Lagi-lagi,,, karena pada jaman itu, masih minimnya pengetahuan, mereka mengira, bahwa yang di maksud Sampurnaning Kawula Gusti, yang dalam istilah kata lainnya. (Merasakan Dzat Maha Suci), yang benar-benar nyata ada, bukan gha’ib itu, nyaitu cara menyiksa diri. Sebab itu. Para Raja yang mendalami Serat Sangkan Paraning Dumadi. Pasti suka mengembara dan bertapa, meninggalkan kerajaan dan anak istrinya, tujuannya, agar raganya merasa tersiksa, dengan raga yang tersiksa, diharapkan bisa merasakan Dzat Maha Suci, yang disetiap sa’atnya, ada bersama’an dengan semua cipta’annya.

Nomer 3.
Ilmu Tingkat Tinggi Yang Pernah Ada Di Tanah Djawa Dwipa, yang Ketiga adalah; Serat Manunggaling Kawula Gusti. Serat Manunggaling Kawula Gusti, juga sama seperti Serat Sastra Jendra Hayuning Rat Pangruwating Diyu dan Serat Sangkan Paraning Dumadi, yaitu, ilmu pengetahuan, untuk mengetahui, jarak keberada’an Dzat Maha Suci dengan semua cipta’annya, terutama manusia , mulai dari yang kasat mata, hingga yang tidak kasat mata.

Serat Manunggaling Kawula Gusti, terakhir di pelajari oleh para wali, yang lebih di kenal dengan sebutan Wali Songo (9-10 penutup). Dan semuanya gagal.

Lakunya Serat Manunggaling Kawula Gusti, bukan bertapa atau tirakat, atau bersatu atau menyatu dengan Tuhan, dengan pemimpin, dengan masyarakat, dengan alam, dengan dunia dll. Melainkan. Leburing Kawula Gusti, (Mempersilahkan Dzat Maha Suci), atau dalam istilah lain, mengenolkan diri, mengosongkan diri atau nyuwungake sekabehing wewedi.

Lagi-lagi,,, karena pada jaman itu, masih minimnya pengetahuan, mereka mengira, bahwa yang di maksud Leburing Kawula Gusti, yang dalam istilah kata lain. Mempersilahkan Dzat Maha Suci itu, manunggal, atau menyatunya manusia dengan Tuhannya, akhirnya, para walipun terpecah belah, salin tuduh dan tuding, salin bermusuhan satu sama lainya, bahkan salin bunuh, dan semuanya gagal.

Nomer 4.
Ilmu Tingkat Tinggi Yang Pernah Ada Di Tanah Djawa Dwipa, yang Ke’empat adalah; Aji Mundi Jati Sasongko Jati. Aji Mundi Jati Sasongko Jati ini, tidak sama seperti Serat Sastra Jendra Hayuning Rat Pangruwating Diyu dan Serat Sangkan Paraning Dumadi, serta Serat Manunggaling Kawula Gusti. Sebab Aji Mundi Jati Sasongko Jati, bukan ilmu pengetahuan, untuk mengetahui suatu hal, layaknya seperti Serat Sastra Jendra Hayuning Rat Pangruwating Diyu dan Serat Sangkan Paraning Dumadi, serta Serat Manunggaling Kawula Gusti.

Melainkan ilmu pengertian dan pemahaman, Mengenai Dzat Maha Suci, dan semua serta segala the-thek bengeknya, mulai dari yang kasat mata, hingga yang tidak kasat mata. Aji Mundi Jati Sasongko Jati, pertama di pelajari oleh seorang, yang berawal dari kebencian dendam kesumat, karena ingin mengalahkan Prabu Angling Darma, namanya saya lupa, tapi saya pernah posting bab ilmu ini di blog dan wordpress saya, jika di perlukan, cari saja artikelnya yang Berjudul. Antara Aji Mundi Jati Sasongko Jati dan Wahyu Panca Ghaib, kalau tidak salah, pokoknya ada Mundi Jatinya.

Lakunya Aji Mundi Jati Sasongko Jati, sebenarnya bukan bertapa atau tirakat dll. Melainkan. Leburing Kawula Gusti, (Menerima Dzat Maha Suci). Dan Jaman itu. Menerima ini, di artikan sebagai Sabar atau Rela/Lego/ihklas, sebab itu, Aji Mundi Jati Sasongko Jati. Di pelajari oleh si pelaku dengan Cara Bertapa Ratusan tahun lamanya, dengan tujuan, agar semua nafsunya mati, kesabaran atau rela/legowo/ihklas itu, bisa termiliki. Namun tetap mencapai kegagalan, karena tak kala bertemu dengan Sang Prabu Angling Darma, kebencian dan dendamnya kambuh, lalu duel maut, dan ajalpun berpihak kepadanya.

Nomer 5.
Ilmu Tingkat Tinggi Yang Pernah Ada Di Tanah Djawa Dwipa, yang Kelima adalah; Wahyu Panca Ghaib. Wahyu Panca Ghaib ini. Bukan Ilmu Pengetahuan, juga bukan ilmu pengertian dan pemahaman tentang apapun dan soal apapun. Melainkan Kesadaran Murni setiap Mahluk Hidup. Sejak awal pertama dicipta hingga di kehendaki Dzat Maha Suci, lahir ke dunia ini. Sebab itu, di awali dengan Istilah kata Wahyu, yang artinya. Pemberian langsung dari Dzat Maha Suci, tanpa perantara apapun dan siapapun.

Juga bukan kalimah aji jampi-jampi dll, bukan juga Ajaran Agama, kepercaya’an, kejawen, adat, kapribaden, golongan, kebatinan, partai, perguruan dll. Melainkan Hidup, yang menempati wujud setiap Mahluk Hidup. Sejak awal pertama kali dicipta, hingga di kehendaki Dzat Maha Suci, lahir ke dunia ini. Sebab itu, di awali dengan Istilah kata Wahyu, yang artinya. Pemberian langsung dari Dzat Maha Suci, tanpa perantara apapun dan siapapun.

Masih ingat dengan Prakata atau Artikel saya, yang mengungkap tentang Pencipta’an Manusia Paling Sempurna Pertama. Yaitu ADAMU… Asal Dumadi Ananing Manungsa Urip…?!

Bahwa;
Di akhir pencipta’an. Lalu Dzat Maha Suci, meniupkan Roh Suci-Nya sendiri kepada Wujud/Tubuh/Raga ADAMU. Ini loh… Wahyu Panca Gha’ib.

Wahyu Panca Gha’ib, Pertama di Berikan oleh Dzat Maha Suci, kepada seorang Nabi yang di figurkan sebagai Tuhan. Lalu diambil kembali oleh Dzat Maha Suci, karena disalah maksudkan.

Lalu di Berikan kembali kepada seorang Tokoh sakti, namun memiliki sipat dan sikap kedewa’an/kemalaikatan, seorang Putra Mahkota yang tidak mau menduduki Tahtahnya, seorang sakti yang tidak mengakui kesaktiannya, seorang hebat yang tidak pernah menonjolkan kehebatannya, seorang yang tidak pernah berhenti belajar dan mempelajari apapun, sekalipun dia telah memiliki segalanya. Bernama M. Smono Sastro Hadidjojo.

Wahyu Panca Ghaib, lakunya juga bukan dengan cara bertapa atau tirakat, walaupun di saat beliau menerima Wahyu Panca Gha’ib, saat sedang bertapa. Lakunya Wahyu Panca Gha’ib. Adalah, dengan Iman. Dan M. Smono Sastro Hadidjojo. Tahu. Apa yang Maksud dari Iman itu. Bukan yakin atau percaya. Melainkan Wahyu Panca Laku; Yaitu…
Pasrah kepada Dzat Maha Suci.
Menerima Dzat Maha Suci.
Mempersilahkan Dzat Maha Suci.
Merasakan Dzat Maha Suci.
Menebar Iman Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci.
Dan Beliaupun Berhasil. Menyempurnakan Ke’empat Ilmu Tingkat Tinggi Yang Pernah Ada Di Tanah Djawa Dwipa diatas. Dengan tanpa kesulitan apapun, sebagai bukti keberhasilan, Semua dan segalanya di sempurnakan, lalu di Mijilkan pada Tahun 1955.

Dan kemudian di kabarkan/disampaikan kepada seluruh umat manusia hidup, tidak peduli apapun status dan latar belakang serta begronnya, sema persih seperti yang di lakukan oleh Sang Nabi Isa as. Dan… ada ribuan dan Juta’an bahkan mungkin Miliyaran Puteran Roso Manunggal (Putero Romo), yang juga mengfigurkannya sebagai Tuhan. Sama persis, seperti yang pernah dialami oleh Sang Nabi Isa as. Waktu itu dan Karena itu. Nabi Isa as di angkat/diambil kembali oleh Dzat Maha Suci.

Apakah kali ini Dzat Maha Suci, juga akan mengambil pula. Wahyu Panca Ghaib dari semuanya…?!

Karena Tidak sedikitnya yang berkiblat kepada M. Smono Sastro Hadidjojo…?!
Karena saking banyaknya yang beranggap kira tentang Wahyu Panca Gha’ib…?!
Karena mempraktekan atau mengibadahkan Wahyu Panca Gha’ib, bukan dengan Wahyu Panca Laku, melainkan dengan agama, dengan kepercayaan, dengan kejawen, dengan adat/tradisi, dengan kapribaden, dengan golongan, dengan ilmu, bahkan di gabung dengan berbagai macam ajaran, sebab dianggapnya Wahyu Panca Gha’ib itu ajaran dll.

Misalkan Dzat Maha Suci mengambil/mengangkat kembali Wahyu Panca Gha’ib dari marcapada/dunia ini, seperti yang pernah dilakukannya kepada Nabi Isa as. Sungguh, saya tidak akan menyesal, karena, selain saya sendiri sudah berhasil meraih kebenaran nyatanya Wahyu Panca Gha’ib, juga saya sudah mengabarkannya kepada banyak kadhang yang saya cintai, kasihi dan sayangi. Jadi… Sudah tidak ngefek apapun, kalau Dzat Maha Suci mengambil kembali Wahyu Panca Gha’ib dari dunia ini. Akhir Kata dari saya. Semuga Artikel Luas yang saya Singkat, hingga menjadi Padat namun Jelas, dan tenpa tedeng aling-aling ini. Ada manfaat yang memberkahi setiap yang membacanya.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666. SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

HIMBAUAN Wong Edan Bagu


presentation1

Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Kamis. Tgl 05 Januari 2017

SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Para Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian, yang senantiasa di Restui Dzat Maha Suci Hidup. Khusus untuk Kadhang Anom Didikan saya. Sungguh kemajuan Laku Spirituamu, sangat membahagiakan saya. saya merasa tidak sia-sia menggembar-gemborkan kebenaran Tuhan melalui internet ini. Sungguh saya merasa tidak Sia-sia, keliling menebar Cinta Kasih Sayang Tuhan, walau banyak hambatan, namun saya merasa tidak percuma, Teruslah melangkah melaju sampai berhasil menjadi satu dengan Penguasamu dunia wal akherat-mu. secara sempurna. jangan berhenti karena sudah mengerti dan paham, sebab mengerti dan paham itu, belum tentu tahu, belumlah cukup kalau tanpa bisa membuktikan sendiri.

Dan Untuk Para Sedulur dimanapun berada, perlu saya beritahukan lagi, apabilan menemukan saya di dunia internet, dengan masing-masing Modusnya, saya harap untuk tidak muah Percaya. Sebab, sudah sering bukan, saya mengatakan dengan kejujuran Cinta Kasih Sayang, bahwa saya sudah insyaf, saya sudah sadar, dan sejak pertama kali saya katakan itu, di pertengahan tahun 2016, tidak ada lagi yang saya lakukan, kecuali hanya menebar Iman Cinta Kasih Sayang Tuhan, tidak ada lagi yang dapat saya perbuat, selain hanya Laku menuju satu titik yaitu Tuhan. Saya sudah tidak bisa apa-apa, apa-apa juga saya sudah tidak bisa lagi seperti dulu. Selain memohon Ampunan Dzat Maha Suci Tuhan saya, dan Belajar Merintis jalan Pulang keHairatnya, saya tidak bisa.

Sebab itu, Jika ada website atau blogg atau Akun Facebook, twitter, google dll di internet, yang menggunakan Photo saya, nama saya, berhati-hatilah, itu belum tentu saya, apa lagi jelas ada Modusnya, sekalipun itu Nama saya Photo saya. Jika Nomer Telephonnya Bukan ini: (“Telephon; 0819-4610-8666. SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966. BBM; D38851E6”). Bukan saya, sekali lagi saya tegaskan “BUKAN SAYA”. Jika sampai tertarik dan terjadi hal-hal yang merugikan, saya tidak bertanggung jawab. Kalau tempat tinggal, bisa berpindah-pindah, sebab saya dalam Rangka membimbing, jadi, dimana ada Kadhang yang minta di Bimbing, disitulah saya berada. Namun Nomer Telephon. Tidak Pernah Ganti-ganti. Mohon Dimengerti.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666. SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Mulai Akhir Tahun 2016 dan Awal Tahun 2017 ini. Siapa yang Tidak JUJUR. Harus Siap Hancur:


Mulai Akhir Tahun 2016 dan Awal Tahun 2017 ini.
Siapa yang Tidak JUJUR. Harus Siap Hancur:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Kamis Kliwon. Tgl 01 Desember 2016

Para Kadhang Dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, ketahuilah dengan kesadaran murnimu. Bahwa akhir Tahun 2016, awal Tahun 2017. Sudah waktunya BENAR di ungkap secara menyeluruh. Sudah sa’atnya JUJUR menjadi tradisi yang menyeluruh pula. Mulai di masa tersebut, barang siapa yang tidak jujur, maka harus Siap Hancur dalam segala halnya. Nah… Untukmu sekalian, yang sebagai Pemimpin. Pembimbing. Pengajar. Pejabat dll. Terutama Penguwasa Negara. Wilayah. Daerah. Tempat dan Rakyat, atasan atau bawahan, pintar atau awam, kaya atau miskin, lelaki atau wanita, balita atau dewasa. Pembisnis atau petani. Semuanya,,, Kalau tidak Benar. Kalau tidak Jujur. Maka, bersiap-siaplah untuk Hancur. Karena BENAR dan JUJUR sudah waktunya dan sudah sa’atnya menjadi Sipat dan Sikap seluruh manusia hidup di dunia ini. Dan Bagi yang bisa Benari benar dan Jujur.

Hidup tidak selalu merisaukan tentang penampilan diri sendiri, dan khawatir tentang penilaian orang lain. Apa yang ada pada diri kita, tidak harus tergantung pada pemikiran orang lain, tetapi harus menjadi cerminan dari apa yang kita kerjakan sendiri. kita harus percaya pada diri kita sendiri, dan kita dapat melakukannya, hanya jika kita bisa jujur pada diri sendiri. Bila kita tidak jujur pada diri sendiri, kita tidak akan pernah mencapai kebahagiaan, apa lagi ketenteraman dan sempurna, tetapi kita juga akan merasa sulit untuk tetap jujur kepada orang-orang di sekitar kita, dan akan terus bersembunyi di belakang penilaian orang lain.

Tetap setia kepada diri sendiri, adalah hal yang paling penting dalam menjalani Hidup di dalam kehidupan, baik secara spiritual maupun non spiritual. Berikut adalah beberapa tanda-tanda bahwa kita tidak jujur pada diri sendiri, yang berhasil saya pelajari dan saya rangkum menjadi artikel ini, untuk di bagikan kepada Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian.

Menjadi jujur, meskipun itu menyakitkan adalah versi terbaik dari diri kita sendiri. Ini adalah keputusan tetap yang harus kita buat setiap hari, atau bahkan setiap kesempatan. Kadang-kadang kita membuat keputusan yang buruk. Kadang-kadang kita belajar. Kadang-kadang kita jujur pada diri sendiri. Kadang-kadang kita mengkhianati diri sejati kita sendiri. Nah, berikut saya bagikan pengalaman pribadi saya, mengenai Tandanya Kalau Kita Sudah Tidak Jujur Pada Diri Sendiri;

Pertama. Menertawakan sesuatu yang tidak lucu, hanya untuk ikut-ikutan. Kita semua melakukannya setidaknya sekali, tetapi semakin kita melakukannya, semakin sulit menjadi tulus, karena kita harus bertindak pura-pura ‘menyesuaikan diri’, padahal tidak sesuai dengan hati/rasa pribadi kita. Kita tidak secara alami menemukan sesuatu yang lucu, tentang seseorang, dan justru membohongi rasa/hati kita sendiri.

Kedua. Memberi pujian palsu. Jangan memberikan pujian palsu, hanya untuk disukai. Sakit hati yang ditimbulkan, ketika kebenaran keluar dari pujian palsu, jauh lebih melukai, daripada mengatakan hal yang sejujurnya. Lebih baik memilih diam, jika tidak dimintai pendapat, atau mengatakan secara halus, bahwa itu kurang sesuai.

Ketiga. Berbohong tentang sesuatu hanya untuk menyenangkan orang lain. Kebohongan seolah-olah menjadi tempat berlindung yang aman, padahal sama sekali bukan tempat tinggal yang menentramkan. Salah satu kebohongan mengarah ke kebohongan yang lain, sebelum kita menyadarinya, kita terus-menerus berada dalam jaringan kebohongan, dan akan menemukan kesulitan untuk menemukan kejujuran kita sendiri

Ke’empat. Berpura-pura bahagia ketika kita sengsara, atau sebaliknya, Cepat atau lambat, kepura-puraan akan berakhir. Kita akan muak, marah, dan frustrasi pada diri kita sendiri. Ada cara yang lebih baik, batasilah pergaulan dan kegiatan yang sekiranya menyebabkan atau membuat rasa kita sengsara, dan kelilingi diri kita, hanya dengan orang-orang yang membuat kita bahagia.

Kelima. Menyembunyikan kata hati kecil kita, demi meraih simpati. Percayalah pada diri sendiri. Jangan masuk ke dalam beberapa kotak atau bendera pemikiran orang lain. Jika kita berpikir secara berbeda, maka jadikan itu sebagai opini jujur kita. Kadang-kadang pendapat kita ikut arus, kadang-kadang menentang, lain waktu kolot. Lupakan apa yang sedang digemari saat ini. Beri apresiasi untuk penilaian kita sendiri, berdasarkan pengamatan jujur.

Ke’enam. Memaksa diri kita untuk melakukan hal-hal yang tidak kita sukai. Cukup katakan saja terus terang. Jika kita melakukan hal itu, dalam hubungan kita, maka kita merasa tertekan. Saatnya untuk mengatakan sebenarnya, daripada kita menderita di kemudian hari.

Ketujuh. kita terus-menerus mengubah pandangan kita, berdasarkan pandangan orang lain. Kita mungkin seorang idealis saat ini, tetapi karena berada ditengah-tengah orang yang suka menilai, akhirnya kita berubah menjadi bunglon, sesuai keinginan mereka. Ini tidak pernah bisa memberi kebaikan bagi pertumbuhan mental dan kepercayaan diri kita.

Berbohong bukanlah sifat sejati kita. Sikap berpura-pura tidak menjadikan kita merasa baik. Mengarang omong kosong dan menyembunyikan diri sejati kita, bukanlah hal yang membentuk identitas sejati kita. Diri sejati kita terdiri dari kualitas moral yang baik. Kita dapat memilih untuk menyinarinya, atau malah menyembunyikannya dalam kegelapan. Apa pun yang kita lakukan, jangan menyalahkan diri, apalagi mencaci-maki diri sendiri. Jangan lupa bahwa dibutuhkan keberanian untuk jujur pada siapa diri kita di dunia yang terburu-buru menilai kita. Mulai sekarang, kita dapat mengumpulkan keberanian untuk menjadi diri sejati kita, sebagai Putero Romo menjadi Romo Putero, jika kita membuat pikiran kita untuk melakukannya menjadi jujur pada diri sendiri, berati kita telah memberikan apa yang dirindukan hati dan jiwa kita. Menjadi jujur pada diri sendiri, adalah satu-satunya cara untuk mencapai kedamaian batin (Tenteram). Menjadi jujur pada diri sendiri, membuat kita bebas terlepas dari belenggu kotak, dan terlimpahnya kita dengan sukacita dan kebahagiaan yang menenteramkan secara sempurna.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966
BBM; D38851E6
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Cara mengetahui Usia Jiwa Kita Dan Cara Mengetahui. Apakah Jiwa Kita Pernah Mengalami Reinkarnasi atau Tidak:


Cara mengetahui Usia Jiwa Kita Dan Cara Mengetahui.
Apakah Jiwa Kita Pernah Mengalami Reinkarnasi atau Tidak:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Kamis Kliwon. Tgl 01 Desember 2016

Nomer (1). Cara mengetahui Usia Jiwa Kita;
Sebenarnya banyak sekali roh dari manusia, di kehidupannya yang sekarang ini, menjalani kehidupan ke sekian ratus, atau bahkan ke sekian ribu kalinya, sebagai wujud manusia. Memori kehidupan-kehidupan di masa lalu dari setiap manusia, sebenarnya telah ada tersimpan dengan rapi di dalam labirin otaknya. Hanya saja, tidak semua manusia bisa dengan mudah atau mampu untuk mengakses memori kehidupan masa lalunya (seolah-olah ada semacam tirai/hijab yang menyelimuti memori ini).

Dalam melakukan penjelajahan mencari sebuah pencerahan laku spiritual, manusia akan menempuh jalan yang berbeda-beda, karena memang spiritualitas, bersifat individualistis. Setiap manusia mempunyai sejarah hidup yang berbeda sejak dilahirkan, dan lingkungan adalah salah satu sebab terjadinya perbedaan tersebut. Hukum reinkarnasi akan menempatkan manusia pada perbedaan lingkungan sesuai karmanya. Walau demikian, perbedaan adalah sebuah keunikan. Setiap individu mempunyai kehendak bebas yang tidak bisa dipaksakan. Setiap manusia mempunyai cara masing-masing dalam mencari pencerahan batinnya. Jalan yang telah ditempuh orang lain, belum tentu baik untuk orang lain, karena kegelisahan seseorang dalam pencarian jati diri tentu berbeda-beda.

Wahyu Panca Gha’ib yang di Patrapkan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku, memori masa lalu di otak ini, bisa diakses kembali. Beberapa atribut kelebihan dan kekurangan yang Anda bawa dalam kehidupan ini, berasal dari kehidupan Anda sebelumnya. Karena semuanya merupakan pengalaman, yang akan bisa membuat Jiwa belajar dan berpengalaman, supaya menjadi ‘bijaksana’. Berikut adalah cara untuk menentukan usia jiwa Anda.

Pertama. Jiwa baru lahir. Jiwa yang baru lahir, adalah jiwa baru yang masih baru menjalani hidup pertama kali. Dalam hidup ini, jiwa difokuskan pada kelangsungan hidup, kematian, dan dalam beberapa kasus, mementingkan kecantikan/ketampanan penampilan. Jiwa baru lahir cenderung lucu, bersemangat, lugu, dan kadang liar, namun pada saat yang sama, sangat berorientasi pada keluarga dan berhati-hati.

Kedua. Jiwa bayi. Jiwa-jiwa bayi yang telah hidup dalam beberapa kehidupan, sangat banyak berfokus pada perasaan saling memiliki, berkumpul bersama teman/kelompok mereka. Mereka ingin belajar tentang aturan, peran, hubungan serta struktur sosial. Mereka cenderung mematuhi, disiplin, dan memiliki nilai yang kuat.

Ketiga. Jiwa muda. Sifat jiwa muda, sama seperti kita, saat remaja berusia 20 tahunan, berfokus pada kemerdekaan dan kemajuan pribadi. Jiwa muda memiliki keinginan untuk belajar, mengembangkan diri, dan mengekspresikan kehendak bebas mereka. Mereka ambisius, inovatif, giat, kadang-kadang egois dan berapi-api.

Ke’empat. Jiwa dewasa. Sifat Jiwa dewasa, seperti orang yang sudah berumur setengah baya. Mereka mencari keharmonisan dalam hidup mereka, dan memiliki fokus pada hubungan, kesadaran diri, dan berempati dengan orang lain. Mereka sensitif, diplomatik, dan kadang-kadang sedikit neurotik.

Kelima. Jiwa tua. Orang yang berjiwa tua, memiliki sifat lebih mencari spiritualitas, kedamaian batin, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, atau mementingkan rasa kesatuan universal dan saling keterkaitan dengan sesama makhluk. Mereka bijaksana, sadar lingkungan sekitar, dan tidak terikat dengan hal-hal. Mereka cenderung soliter, pendiam, dan filosofis. Mereka adalah akhir dari siklus reinkarnasi.

Reinkarnasi merupakan sebuah sistem maha dahsyat, yang diciptakan oleh otoritas tertinggi alam semesta (Dzat Maha Suci), yang mengikat secara pasti, bagi semua entitas roh, untuk terus-menerus berevolusi menuju kesempurnaan yang sempurna, dengan menempati makhluk-makhluk berdimensi ruang dan waktu di alam semesta ini. Reinkarnasi adalah hukum yang sangat sulit dijangkau oleh akal pikiran biasa manusia. Reinkarnasi hanya bisa dipahami oleh kesadaran tinggi atau murni manusia, yang telah memahami hakikat Hidup kehidupan dunia akherat. Dzat Yang Maha Pengampun, telah berkehendak, terhadap tiap-tiap makhluk untuk masuk dalam mekanisme reinkarnasi, jika belum mendapatkan yang sesungguhnya, yang sebenar-benarnya Inna Lillaahi Wa Inna Illaaihi Rojiun. Mekanisme ini merupakan pemakluman Dzat Maha Suci atas laku manusia yang menujunya, namun memiliki kecenderungan lalai. Semua ini adalah kehendak Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dan hanya kepada-Nya-lah segala sesuatu kembali.

Nomer (2). Cara mengetahui, apakah jiwa kita pernah mengalami Reinkarnasi atau Tidak;
Kepercaya’an tentang reinkarnasi, awalnya bertolak belakang dengan keyakinan saya. Sebelumnya, saya tidak pernah percaya/menerima apa itu reinkarnasi atau kelahiran berulang. Tapi, setelah mengalami sendiri dan melakukan penelitian tentang beberapa ‘keanehan’ yang saya alami sendiri, pengalaman-pengalaman laku spiritual pribadi saya tentang Hakikat Hidup, akhirnya saya mengerti bahwa reinkarnasi memang benar-benar nyata.

Jiwa yang sudah pernah mengalami reinkarnasi. Dalam tradisi Islam, kepercayaan adanya reinkarnasi ini banyak dianut kalangan sufi, termasuk saya sendiri tempo dahulu. Mereka percaya, bahwa banyak sisipan ayat-ayat dalam kitab Suci, yang menyiratkan kebenaran adanya reinkarnasi. Meskipun banyak penyair yang mengutarakannya, secara tersembunyi dalam syair-syair yang ditulisnya, seperti Jalaluddin Rumi, Ibnu al-arabi, maupun Saadi dari Shiraz. Reinkarnasi saat ini, telah menjadi pembahasan ilmiah kalangan intelektual barat. Dan beberapa perguruan tinggi di dunia barat mencantumkan permasalahan paranormal, termasuk didalamnya tentang reinkarnasi sebagai mata kuliah pada fakultas kedokteran dan psikologi.

Penelitian yang logis, objektif dan tentu saja netral telah mampu menepis secara perlahan tentang kemustahilan adanya reinkarnasi. Para peneliti telah menemukan bukti bahwa reinkarnasi bukanlah merupakan sesuatu yang takhayul, dan benar-benar ada dalam kehidupan manusia. Reinkarnasi berlaku untuk semua makhluk hidup, yang belum tanggung jawabnya di dunia belum terselesaikan. Hal ini didukung adanya fakta bahwa seluruh responden yang diterapi dengan metode regresi kehidupan lampau, yang membantu mengobati trauma atau sakit yang diderita, menunjukan reaksi yang diluar pemikiran akal, yaitu secara sadar, walau dalam kondisi terhipnosis, menceritakan fragmen-fragmen kehidupan mereka pada kehidupan sebelum saat ini.

Beberapa orang percaya bahwa ada jiwa-jiwa di antara kita, yang baru mengalami kehidupan pertama mereka di Bumi, (belum pernah inkarnasi) dan ada juga beberapa jiwa yang lebih berpengalaman yang telah tinggal berkali-kali sebelumnya (jiwa tua, biasanya dialami orang-orang Indigo).

Nah, ini adalah pertanyaan yang harus. Anda cari sendiri ketika mencoba untuk menentukan apakah Anda sudah pernah tinggal di kehidupan sebelumnya. Dibawah ini Ciri dan Tandanya, yang pernah saya pelajari.

Pertama. Kita memiliki mimpi yang sama berulang-ulang. Mimpi adalah refleksi dari hal-hal yang kita lihat dalam hidup kita, itu bukan sekedar ‘bunga tidur’. Apakah kita tahu, meski semua tampak sangat asing, setiap momen dalam mimpi kita, adalah kejadian yang telah kita lihat sebelumnya. Ini fakta yang memaksa saya untuk menambahkan soal mimpi sebagai tanda, api mimpi yang berulang kali teralami. Apakah Anda memiliki mimpi aneh, yang terjadi berulang-ulang ketika tidur? Apakah orang-orang dan tempat-tempat dalam mimpi ini, muncul untuk mewakili periode tertentu dalam sejarah? Dan ini merupakan tanda bahwa jiwa Anda, mengingat kenangan dari kehidupan Anda sebelumnya.

Kedua. Beberapa kenangan muncul kembali, dari tempat yang dikunjungi. Hal ini cukup sering terjadi, khususnya pada anak-anak. Anak-anak jauh lebih dekat ke titik persimpangan jiwa, daripada orang dewasa, dan mereka sering mampu mengingat lebih mudah, hal-hal dari masa lalu. Saat masih kecil atau sekarang. Apakah Anda memiliki kenangan saat Anda berkunjung ke suatu tempat tertentu? Seperti tiba-tiba muncul ikatan emosi dengan tempat itu? Memiliki tempat kenangan, sepertinya tidak asing umumnya terjadi pada orang yang telah memiliki kehidupan masa lalu, padahal kehidupan saat ini, belum pernah mengunjungi tempat itu.

Ketiga. Kita sangat empatik. Orang yang memiliki rasa empatik, memiliki sensitifitas tinggi. Mereka sering langsung merasakan pengalaman orang-orang di sekitar mereka. Kadang-kadang orang menggunakan empatinya, untuk melupakan masalah mereka sendiri, dan memiliki rasa welas asih kepada orang lain. Dan itu bisa menjadi tanda nyata, bahwa jiwa Anda memiliki reinkarnasi sebelumnya, dan lebih diarahkan untuk perdamaian dunia daripada diri sendiri.

Ke’empat. Kita “lebih bijaksana melampaui usia kita” Pengalaman ini disebut teori “Soul Age”, yang menjelaskan bahwa jiwa yang telah bereinkarnasi berkali-kali, mendapatkan usia yang jauh melampaui kepribadian kita. Jika Anda dilahirkan sebagai seorang jiwa yang baru, Anda mudah sekali terlihat dari perilaku dan cara bersikap dalam menyikapi masalah. Jika Anda seorang jiwa yang lebih tua, itu berarti menunjukkan, Anda telah bereinkarnasi berkali-kali. Salah satu tandanya adalah tidak suka menyalahkan dan selalu memiliki cara pandang dalam banyak sudut.

Kelima. Kita tidak memiliki hubungan kuat dengan orang tua kita. Yang satu ini, hampir secara pasti dialami anak-anak. Sebagai seorang anak, Anda mungkin seharusnya mencintai dan menghormati orang tua Anda, tetapi Anda tidak memiliki rasa ketertarikan untuk mereka. Mengapa? itu berarti inkarnasi Anda sebelumnya, mengalami kematian saat usia belia, dan belum sempat mengenal orang tua Anda. Apakah Anda pernah bermimpi memiliki orang tua lainnya? Bisakah Anda mengingat nama-nama mereka dan dimana mereka tinggal? Ini merupakan tanda yang mengarah bahwa Anda pernah lahir di kehidupan sebelumnya.

Ada banyak keyakinan tentang reinkarnasi. Beberapa orang percaya bahwa kita berulang kali bereinkarnasi sebagai manusia, sampai kita benar-benar belajar tentang pelajaran kehidupan sejati, dan kemudian berpindah ke dimensi lain, yang lebih tinggi dari keberadaan. Anda tidak harus percaya dengan artikel yang saya tulis ini. Tapi, akan lebih baik. Anda saya anjurkan untuk lebih percaya kepada ketentuan (qadha’ dan qadar) Dzat Maha Suci dan mencatat setiap pengalaman Anda sendiri, karena alam semesta ini, penuh dengan banyak misteri, yang kadang tidak masuk akal. Dalam kehidupan, kita tidak boleh berhenti belajar mengenali diri kita sendiri, dan hal-hal di sekitar kita. Karena setiap pengalaman, semasa kita hidup, adalah guru terbaik bagi kita, agar jauh lebih memahami hakikat Hidup didalam kehidupan ini.

Segala sesuatu yang saya tuliskan di artikel ini, tidak bermaksud lain, selain membagikan apa yang saya alami di sepanjang perjalanan laku spiritual hakikat hidup pribadi saya sendiri. Dengan niat yang tulus untuk berbagi tentang kesadaran, diluar batas sebagai organisasi, paham, atau bahkan agama. Saya netral menuliskan semuanya dalam iman cinta kasih sayang, dan saya yakin semua orang bisa merasakannya. Sekali lagi, satu-satunya sarana untuk mengenali kebenaran, hanyalah dengan menggunakan hati/rasa, di setiap kali membaca atau mendengar atau menerima informasi tertentu, tanyakan pada hati/rasa, apakah hal yang Anda terima sesuai dengan keyakinan diri sendiri? Jika jawabannya tidak, Anda bisa mengembalikannya kepada Dzat Maha Suci. Tanpa penilaian akal atau menghakimi apapun dan siapapun.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966
BBM; D38851E6
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Keinginan/Harapan. Cita-cita (Nafsu) Adalah Sumber Awal Karma:


Keinginan/Harapan. Cita-cita (Nafsu) Adalah Sumber Awal Karma:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Rabu Wage. Tgl 30 November 2016

Keinginan. Harapan. Cita-cita adalah sumber awal karma;
maka semakin terpaksa melakukan suatu perbuatan, karena sebuah Keinginan. Harapan. Cita-cinta (Nafsu), maka akan semakin kecil karma yang dihasilkan. Loh… maksudnya…?!

Maksudnya… Jika seseorang terpaksa melakukan perbuatan buruk, maka semakin kecil karma buruk yang dihasilkan dari perbuatannya. Demikian pula sebaliknya, bila seseorang terpaksa melakukan perbuatan baik, maka semakin kecil pula karma baik yang dihasilkan dari perbuatannya itu. Lebih jelasa dan detil serta rincinya…

Jika seseorang terpaksa berbohong, demi kebaikan seluruh mahluk, maka karma buruknya akan lebih ringan dibanding seseorang yang berbohong demi keuntungan dirinya.

Walau seseorang banyak berderma, tetapi demi nama baiknya, maka karma baiknya juga akan lebih kecil, dibanding dengan seseorang yang berderma kecil, tanpa kepentingan dirinya.

Walau seseorang banyak memberikan persembahan besar, di depan altar Budha, di hadapan patung yesus, di samping Ka’bah, tetapi bila pikirannya penuh dengan berbagai keinginan-keinginan, maka karma baiknya juga, akan lebih kecil, dibanding dengan seseorang yang memberikan,persembahan kecil di depan pengemis tua, dengan rasa syukur dan legowo/legawa (Rela).

Karma Tidak Dapat Dihapus;
Wahai Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, khususnya Para Pembina/Pembimbing Spiritual. Pahamilah kebenaran alamiah tentang Karma yang saya temukan dari berbagai lakon dan laku seumur hidup saya ini;
Ada sebab, ada akibat.
Apa yang ditanam, itulah yang akan dipetik.
Ada awal, ada akhirnya.
Apa yang di kuyah, itulah yang akan di cerna.
Walau Berkah Sejuta Buddha atau Sejuta Syafa’at Rasul atau Sejuta Restu Yesus. Tetap tidak akan bisa menghapus yang namanya KARMA.

Bagi para pembina/pembimbing. Kesadaran Sejati/Murni, akan memahani kebenaran alamiah karma yang sesungguhnya. Dimana tidak ada satupun berkah/syafaat/restu/pangestu. Pembinaan dan ajaran yang dapat menghilangkan atau menghapus karma. Bila ada sesuatu yang bisa menghilangkan dan menghapus karma, maka sejak awal jaman Budha/Yesus/Nabi, maka karma akan dihilangkan dan dihapuskan selamanya.

Sejak lampau hingga sekarang dan yang akan datang, para Pembimbing Sejati terus menurunkan berbagai macam ajaran Rasa/Hidup, agar para mahluk Hidup dapat memahami alamiah karma yang sebenarnya, sehingga para mahluk Hidup dapat keluar dari lingkaran karma yang tanpa awal dan akhir ini.

Demikianlah alamiah dari Pembinaan Ajaran Kesadaran Sejati, yang diturunkan langsung oleh Bunda Mulia, yang di sabdakan langsung oleh yang mulia Baginda Nabi Muhammad SAW, yang di firmankan langsung oleh Tuhan Yesus. Juga tidak akan pernah dapat menghilangkan atau menghapus karma-mu sekalian.

Tetapi dengan membina Ajaran Kesadaran Sejati, akan membantu para pembina untuk memahami alamiah karma lebih jelas dan jernih. Segala karma baik, karma buruk, dan karma-karma lainnya, yang timbul akan dapat dipahami dengan sebenarnya. Bila dapat memahami alamiah karma dengan sebenarnya, maka para pembina Kesadaran Sejati, akan dapat mengendalikan segala karma yang timbul, baik pada dirinya sendiri, maupun kepada yang di binanya.

Dengan demikian, pembina’an Ajaran Kesadaran Sejati, sangat penting untuk mengendalikan karma yang timbul. Dan bukan Karma yang timbul yang selalu mengendalikan kehidupan para mahluk, seperti halnya yang dialami oleh kebanyakan dari kita sekarang ini, oleh seluruh mahluk Hidup tanpa terkecuali, di alam semesta ini. Dengan kata lain, karma yang timbul, tetap tidak akan pernah dapat dikendalikan, tanpa adanya pembina’an Spiritual Hakikat Hidup, bahkan karma yang timbul selalu menguasai dan mengendalikan kehidupan para mahluk Hidup, termasuk pembinanya. Edan pora….?!

Jelas dan Terangnya….
Karma-lah yang telah mengendalikan kita didalam keseharian kita,bukan Hidup kita.

Dan kita sebagai Putro Romo atau yang mengaku atau merasa sudah Putro Romo. SILAHKAN PILIH… Karma yang mengendalikan kita, atau Kita yang mengendalikan karma, untuk menolong seluruh sesama mahluk Hidup. Dengan karma yang sama, atau dengan Wahyu Panca Laku, yang sangat berbeda dampaknya..?! He he he . . . Edan Tenan.

Inilah alamiah Pembina’an Kesadaran Sejati atau Kesadaran Murni. (Rasa/Hidup/Kunci) Yang di hasilkan Wahyu Panca Laku. Monggo… Silahkan Pilih Sendiri. Keputusan ada pada diri-diri Pribadi Anda-Anda Sekalian.

WEB;
Hanya satu Himbauan saya, yang perlu diketahui dengan Iman-mu;
Karma buruk dan karma baik, tidak dapat dihilangkan atau dimusnahkan atau di hapus. Tetapi karma buruk dan karma baik, dapat saling melengkapi satu dengan lainnya, jika kita mempraktekan/mengibadahkan semuanya dan segalanya dengan Wahyu Panca Laku.

Bagaikan keserasian Warna Pelangi yang saling melengkapi, menjadikan satu kesatuan ikatan yang sangat indah. Bila dapat melihat keindahan yang sebenarnya, merah kuning hijau biru putih hitam, tidak ada bedanya. Artinya; Karma buruk dan Karma baik, tidak lagi berbeda. Karena Dzat Hyang Maha Suci Hidup itu, Esa dan Kuasa atas segala dan semunya. Serta sumber segala yang ada dan tiada. Baik dari-Nya. Burukpun dari-Nya. Tidak ada selembar daunpun yang jatuh kebumi tanpa kehendak-Nya. Semua dan segalanya yang terjadi dan tidak terjadi, adalah kehendak-Nya jua. Semua dan segalanya berasal dari-Nya. Maka,,, rela tidak rela. Mau tidak mau, akan kembali hanya kepada-Nya saja. Bukan selain-Nya.

Jika/Bila mendapatkan kebaikan didalam Artikel ini. Silahkan Artikel ini di sebar luaskan sebagai pengalaman tambahan, tidak usah/perlu mencantumkan saya atau menyertakan link saya, akui bahwa ini adalah pengalaman/penemuan Pribadi Anda… Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi Pinayungan Maring Ingkang Maha Agung. Dzat Maha Suci Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966
BBM; D38851E6
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Mencari Sang Maha Gha’ib:


Mencari Sang Maha Gha’ib:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Rabu Wage. Tgl 30 November 2016

– GUSTI ALLAH… Panjenengan panggenanipun dhateng pundi…?!
+AKU ono ning teleging ati.
– GUSTI ALLAH… Kulo sampun nyusul Panjenengan dumugi dhateng teleging ati. Panjenengan kok mboten wonten. Panjenengan dhateng pundi…?!
+ Kowe ora bakal biso nggoleki AKU. AKU ono ning teleging urip. Kowe bisa ketemu kelawan AKU, yen wis titi mongsone.

Terjemahan:
– GUSTI ALLAH… Di manakah ENGKAU…?!
+ AKU ada di dasar hati. (sanubari)
– GUSTI ALLAH… Saya sudah menyusul ENGKAU di dasar hati. ENGKAU, kok tidak ada. Dimanakah ENGKAU…?!
+ Kamu tidak bakal bisa mencari AKU. AKU ada di dasar hidup. Kamu bisa ketemu AKU. jika sudah saatnya nanti.

Gambaran dialog di atas, menggambarkan betapa sulit dan berlikunya untuk bisa bertemu dengan Sang Hyang Maha Suci Hidup atau GUSTI ALLAH. Kita tidak akan bisa bertemu, apalagi bersatu dengan GUSTI ALLAH, jika belum sa’atnya. Namun, dari dialog itu, kita bisa tahu bahwa, ALLAH itu dekat. Seperti yang dijelaskan GUSTI ALLAH sendiri dalam Al’Quran “AKU tidak jauh dari urat lehermu sendiri.”

Namun orang Jawa memiliki falsafah tersendiri, agar tidak putus asa untuk bisa bertemu Sang Khalik. Falsafah tersebut berbunyi,”Sopo sing temen bakal tinemu.” Yang artinya, “Siapa yang benar-benar mencari, bakal menemukannya”. Falsafah tersebut, sangat besar artinya bagi para pendaki spiritual. Setidaknya, orang jawa merasa pasti bisa bertemu dengan GUSTI ALLAHmu, di alam kematian sa’at hidup di dunia ini.

Lho,,, hidup di dunia ini kok disebut alam kematian?
Karena orang hidup di dunia itu, hakekatnya adalah mati, dan orang yang sudah mati itu, hakekatnya hidup. Alasannya,,, kita hidup di dunia ini, selalu diperalat oleh kulit, daging, perut, mata, hidung, mulut, terutama di bawah pusar perut, yang bernama burung perkutut, otak dan lain-lainnya. Oleh karena itu, saat kita hidup di dunia ini, pasti membutuhkan makanan untuk kita makan. Sarana untuk bisa mendapatkan makanan, adalah dengan bekerja mencari duit. UUD.

Nah,,, kita makan itu, sebetulnya hanyalah untuk menunda kematian. Lantaran diperalat oleh indera, kulit, daging, perut, otak dan lainnya, maka kita ini disebut mati. Tetapi ketika seseorang itu mati, badan yang bersifat jasad ini ditinggalkan. Yang hidup hanyalah Ruh Suci nya. Ruh Suci tidak pernah butuh makan, tidur, apalagi butuh duit. Ruh Suci itu hanya butuh bertemu dengan si Pemilik Ruh Suci, bukan yang lainnya, karena Ruh Suci berasal dari Hyang Maha Suci Hidup. Dia menempati karena atas perintah-Nya. Anda bukan atas perintah-Nya. Sudah pasti Ruh Suci tidak sudi menempati si Tubuh yang penuh dengan perbudakan ini.

Di bagian lain, pada facebook, google, blog dan wordpres saya ini, pernah saya jelaskan perihal “belajarlah mati sebelum kematian itu datang”. Artinya, ketika kita hidup di dunia ini, hendaklah kita belajar mematikan hawa nafsu dan membersihkan segala hal, yang bersifat mengotori hati. Tujuannya, semata-mata hanya untuk bertemu dengan GUSTI ALLAH. Guna mengobati rasa kerinduan Ruh Suci kita, yang terpendam selama seumur hidup kita.

Mengapa kita mesti belajar mati?
Belajar mati sangatlah penting. Agar nanti ketika kita mati, tidak salah arah dan salah langkah. Lho…Bukankah orang mati itu ibarat tidur menunggu pengadilan dari Hyang Maha Agung hingga kiamat nanti?

Oh…Tidak.!!!
Sungguh malang sekali orang tersebut jika setelah mati raga, tidur menunggu pengadilan dari Hyang Maha Agung hingga kiamat nanti.

Orang mati itu justru memulai kembali perjalanan menuju ke Hyang Maha Suci Hidup. Orang Jawa mengatakan dalam kata-kata bijaksananya,”Urip iku ibarat wong mampir ngombe (Hidup itu seperti orang yang mampir minum)”. Kalau diibaratkan secara detil, orang hidup di dunia ini sebenarnya mirip seorang musafir yang berjalan, lalu kelelahan, istirahat dan minum di bawah pohon. Ketika rasa letih dan lelah itu sudah sirna, si musafir itupun harus kembali melanjutkan perjalanannya. Kemana? Tentu saja ke tempat tujuannya.

GUSTI ALLAH itu dekat, jika sang musafir senantiasa mengingat-ingat tentang GUSTI ALLAH. Tetapi sebaliknya, GUSTI ALLAH itu jauh ketika sang musafir tersebut lebih banyak berpikir tentang hal-hal lain yang bersifat duniawi selain GUSTI ALLAH. Seperti rumah makan padang, warteg, warkop, warnet, losmen, hotel, lesehan, dan reman-reman,,, di pinggir jalan pantura… He he he . . . Edan Tenan.

Pertanyaannya, Bagaimana untuk bisa bertemu dengan GUSTI ALLAH?

Ibarat kita hendak bertemu sang kekasih hati, gambaran wajahnya, bohainya, lenggak lenggoknya, gungung kembarnya, dan anunya, sang kekasih hati, sudah terlukis dalam benak kita, meski lama tak bertemu dan di lokasi yang jauh. “Jauh di mata, dekat di hati”. Oleh karena itu, pertama, GUSTI ALLAH harus selalu terlukis dalam benak kita. Artinya, kita harus senantiasa eling/ingat.

Kedua, GUSTI ALLAH itu bersifat Ghaib. “Mustahil bagi kita yang nyata ini bertemu dengan yang Ghaib,” begitu kata orang rasional. Tapi pendapat itu tidak berlaku bagi para pendaki spiritual hakikat hidup. Seseorang bisa bertemu dengan Sang Maha GHAIB, dengan menggunakan satu piranti khusus. Apakah itu? Piranti itu adalah Mata Bathin, bukan matanya raga/jasad. Sebab GUSTI ALLAH itu Gha’ib, artinya tidak bisa dipandang dengan mata raga/jasad.

Dari kedua cara tersebut, maka kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa kedua cara tersebut lebih mengandalkan pada piranti, yang lebih halus lagi, untuk bisa bertemu dengan GUSTI ALLAH, yaitu dengan RASA. Jika RASA itu sudah terbiasa diasah, maka akan menjadi RASA HIDUP, yang tajamnya melebihi mata pedang samurai. Tidak percaya…?! Buktikan saja, dengan cara berlatih mengasah RASA. Agar RASA itu menjadi Hidup, dengan sistem belajar mati sajeroning Urip.

Tapi… tunggu dulu, jika memang benar-benar ingin membuktinya, harus dengan Sarana Wahyu Panca Gha’ib. Sebab… hanya Wahyu Panca Gha’ib lah, yang menuju ke arah tersebut, dan asli menggunakan RASA. Bukan ilmu, bukan kesaktian, bukan politik, bukan agama, bukan kepercayaan atau kejawen, dan bukan bla… bla… bla… lainnya. Cuma RASA dan hanya RASA.

Itulah bedanya Wahyu Panca Gha’ib dengan lainnya. Tapi jika bin kalau Anda menemukan lainnya, selain Wahyu Panca Ghaib. Silahkan di amalkan, di praktekan, di ibadahkan. Sebab… Wahyu Panca Ghaib sekalipun, jika bin kalau tidak di amalkan, di praktekan, di ibadahkan dengan Wahyu Panca Laku, tidak ada bedanya dengan yang lain-lainnya, yaitu hanya sebatas dogma dan doktrin belaka. He he he . . . Edan Tenan. Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi Pinayungan Maring Ingkang Maha Agung. Dzat Maha Suci Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966
BBM; D38851E6
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com