Memahami lika liku Laku Spiritual Dengan Filosofi Candi Gedong Songo


Memahami lika liku Laku Spiritual Dengan Filosofi Candi Gedong Songo:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Ungaran Semarang. Hari Minggu Wage. Tanggal 14 Maret 2017

Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku sekalian… Pada Hari Minggu Wage. Tanggal 14 Mei 2017 kemaren, saya menyempatkan diri untuk Napak Tilas Sejarah leluhur yang tersembunyi dibalik Candi Gedong Songo, yang berlokasi di desa Candi. Kecamatan Bandungan. Kabupaten Semarang. Jawa Tengah. Tepatnya di lereng Gunung Ungaran.

Dulu… Sekitar tahun 1988, sewaktu saya belum menjalankan laku murni menuju suci. Dengan menggunakan sarana Wahyu Panca Ghaib, yang saya Praktekan atau saya jalankan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Saya pernah mendatangi Candi Gedong Songo ini, namun,,, dengan segala upaya, saya gagal mengutik sejarah yang tersembunyi dibalik candi gedong songo ini. Dan atas ijin Dzat Maha Suci. Saya kembali lagi, dengan menggunakan Wahyu Panca Ghaib. Dan luar biasa,,, dalam waktu kurang labihnya 7 jam. Saya berhasil mengungkapnya secara detail. Saya hasilnya… yang saya uraikan dibawah ini. Semoga bermanfaat dan berguna sebagai Tambahan dan Belajar Memahi Spiritual Mengenal Sang Empunya.

Ternyata… Misteri yang tersembunyi dibalik candi gedong songo tersebut, memberikan jawaban kepada saya, dan penjelasannya, tidak sama dengan cerita masyarat setempat dan yang diriwayatkan oleh banyak nara sumber sejarah yang pernah mempelajari Mistik Candi Gedong Songo ini. Berikut kutipannya.

Candi Gedong Songo;
Candi Gedong Songo ini, sengaja dibuat oleh Oleh Prabu Sanjaya atau yang lebih di kenal dipasundan dengan sebutan Prabu Harisdarma. Pada jaman Kejayaan Wangsa Syailendra di abad ke-9 (tahun 927 masehi). Candi ini dibuat, untuk menggambarkan, atau sebagai gambaran tentang Tingkatan atau Lapisan Dimensi dan Lika Liku serta Pernak Pernik Sebuah Perjalanan Laku Spiritual, dalam Mengenal Tuhan melalui pembelajaran diri, sebenar-benarnya Diri Manusia, yang sedang berusaha Sadar untuk menyadari akan adanya hubungan Sang Pencipta dan yang diciptakannya. Mulai dari mengenal sedulur papat, atau empat anasir. Hidup atau Ruh/Roh Suci/Kudus. Hingga ke soal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Tingkatan Dimensi Laku Spiritual itu, di gambarkan atau di expresikan oleh Prabu Sanjaya, dengan sebuah Candi yang Berjumlah sembilah, dan sepuluh sebagai penutupnya. candi gedong songo di dirikan Prabu Sanjaya, pada masa Dinasti Sanjaya, yang bertahta di Kerajaan Mataram Kuno. Kerajaan mataram kuno, yang terletak di Jawa Tengah bagian utara (dinasti sanjaya) dan jawa tengah bagian selatan (dinasti saylendra). Kerajaan mataram kuno yang wilayahnya subur, karena dikelilingi gunung-gunung yang menghasilkan mata air yang bermanfaat bagi pertanian penduduk mataram kuno.

Mataram kuno didirikan sanjaya pada tahun 732 M. Prabu Sanjaya adalah kemenakan dari Sanna, penguasa sebelumnya. Prabu Sanjaya yang suka berlaku spiritual mengenal Tuhan ini, lalu mendirikan candi-candi untuk memuja Dewa Siwa. Diantaranya adalah Candi Gedong Songo ini. Prabu Sanjaya juga belajar agama Hindu Siwa dari para pendeta yang ia panggil. Prabu Sanjaya meninggal pada pertengahan abad ke-8 dan kedudukannya di Mataram, digantikan oleh Rakai Panangkaran ((760-780), dan terus berlanjut sampai masa Dyah Wawa (924-928), sebelum digantikan oleh Mpu Sindok (929) dari Dinasti Isyana.

Prabu Sanjaya mengetahui, bahwa setelah pemerintahannya nanti, akan ada sembilah tokoh spiritual, dengan masing-masing tingkatan spiritualnya, akan muncul di tanah jawa, dan berhasil menguasai tanah jawa untuk beberapa saat lamanya, yaitu yang lebih kita kenal dengan sebutan wali songo. Prabu Sanjaya juga, mengetahui masing-masing tingkatan ilmu spiritual yang dimiliki oleh sembilan tokoh spiritual yang di ramalkannya itu, lalu tingkat keahlian ilmu sembilan tokoh spiritual yang dimaksud itu, dikaitkan dengan sembilan pengetahuan laku spiritual yang pernah berhasil di laluinya selama belajar mengenal Tuhan.

Dan di expresikan dengan cara membangun Candi Gedhong Songo, tujuannya, untuk mengabarkan kepada semua orang, bahwa kelak setelahnya, akan ada sembilan tokoh spiritual, yang masing-masing tingkatan spiritualnya, sama persis dengan tingkatan yang pernah berhasil di lalui dalam laku spiritual menganal Tuhan itu, akan hadir di tanah jawa, mereka bersatu, salin mengisi dan melengkapi satu sama lainnya, hingga berhasil menguasai tanah jawa. Bercerai, berati runtuh atau gagal.

Dan setelah pembuatan Candi Gedong Songo, tak berselang lama kemudian. Prabu Sanjaya meninggalkan dunia. Yang kemuadian dilanjutkan oleh keturunan-keturunannya. Untuk mengetahui raja-raja keturunan dinasti sanjaya, dapat diketahui dari isi prasasti kedu atau mantyasih atau yang lebih di kenal dengan nama prasasti balitung tahun 907 M.

Sebagai Berikut Dynasty Sanjaya;
1. Sanjaya
2. Panangkaran
3. Panunggalan
4. Waruk
5. Garung
6. Rake Pikatan
7. Rake Kayuwangi
8. Watuhumalang
9. Watukuro Dyah Balitung

Kita kembali pada Pokok semula, yaitu Belajar Memahami Tingkatan Dimensi Laku Spiritual Dengan Filosofi Candi Gedong Songo, sejak jaman dulu hingga sampai kapapun, untuk bisa mengerti dan memahami serta mengenal hingga bertemu dengan Dzat Maha Suci Tuhan, seseorang harus mencapai sepuluh tingkatan Laku Spiritual terlebih dahulu. Tentang apa saja sepuluh tingkatan laku spiritual yang harus dilalui itu, mari kita telisik candi gedong songo sebagai filosofinya. Dan saya mulai dari Candi Nomer Satu atau candi yang pertama. Yaitu;

1

1. Candi Duraroha;
Yang Berati Bebas. Pada tahap awal ini, seorang pelaku spiritual harus melatih kualitas pembebasan dirinya, dari semua dan segala kemelekatan, maksudnya, semua dan segala yang dianggap penting dan perlu di dunia ini. harus tanggal, harus sirna, harus luluh, harus runtuh, tanggalnya, sirnanya, luluhnya, runtuhnya semua dan segala kemelekatan diri ini, di gambarkan dengan Candi Duraroha, candi ke 1 atau candi yang pertama, yang berupa reruntuhan bebatuan bahan pembangunan candi, yang terkumpul rapi disatu tempat, sebagai gambaran, runtuhnya semua dan segalanya kepentingan urusan duniawi yang melekat pada diri. Agar mudah prosesnya dan ringan lakunya.

2

2. Candi Baddhamana;
Yang Berati Bersih. Pada tahap kedua ini. Seorang pelaku spiritual, harus melatih diri, untuk Membersihkan semua dan segala kotoran atau noda di hati, seperti kebencian, hasut, fitnah, iri, dengki, dendam dll, agar supaya 20 sipat Dzat Maha Suci Tuhan, yang ada didalam dirinya sejak awal hingga kini, dapat tumbuh dan berfungsi sebagaimana mestinya, sehingganya, tidak ada keraguan dan ketakutan di dalam laku spiritual, bisa tetep idep madep mantep, tidak tergoyahkan. Bersihnya hati dan tumbuhnya sipat 20 Dzat Maha Suci Tuhan dalam diri ini, di gambarkan dengan Candi Baddhamana, yang berdiri kokoh dan indah.

3

3. Candi Pushpamandita;
Yang Berati Murni. Pada tahap ketiga ini. Seorang pelaku spiritual, harus belajar mengorbankan semua kepentingan yang hendak melekati dirinya yang telah terbebas dari semua dan segala kemelekatan duniawi itu, dan Harus belajar mengorbankan segala keperluan yang hendak mengotori dan menodai Hatinya yang telah bersih dari semua kotoran dan segala noda itu, agar supaya, yang melekati dirinya dan mengisi hatinya, hanya satu, yaitu Dzat Maha Suci Tuhan. Kemurnia Jiwa Raga yang hanya terisi satu ini, yaitu Dzat Maha Suci, di gambarkan dengan sebuah Candi ke 3. Candi Pushpamandita, yang berdiri kuat, kokoh, indah, bersih, rapih, elok, dan berwibawa.

4

4. Candi Rucira;
Yang Berati Patuh. Pada tahap ke empat ini. Seorang pelaku spiritual, harus belajar mengutamakan Dzat Maha Suci Tuhan dan mementingkan Dzat Maha Suci Tuhan, sedangkan yang lainnya, selain Dzat Maha Suci Tuhan, menjadi urutan tidak utama dan tidak penting. Serta belajar menahan diri, untuk tidak berbuat atau melakukan apapun, jika Dzat Maha Suci Tuhan, tidak mengehendaki. Menjalahkan semua kehendak Dzat Maha Suci Tuhan, dan menghentikan semua kehendak akal. Agar antara kawula dan gusti, atau antara jiwa dan raga, atau lahir dan bathin, bisa seiya sekata atau bisa setara. Dan kepatuhan dan kesetara’an jiwa raga dan lahir bathin ini. Digambarkan dengan Candi Rucira. Candi ke 4, yang terdiri dari dua buah candi, yang berdiri sejajar, sama kokok dan sama tingginya serta sama indahnya.

5

5. Candi Citravistara;
Yang Berati Pengetahuan. Pada tahap kelima ini. Seorang spitual yang telah berhasil membebaskan dirinya dari semua kemelekatan dan berhasil membersihkan hatinya dari semua noda, serta berhasil memurnikan lakunya dan menyetarakan lahir bathin atau jiwa raganya. Dia akan terhantar masuk ke dalam proses spiritual yang selanjutnyanya, yaitu laku spiritual yang sesungguhnya. Ini di gambarkan dengan lika liku dan pernak pernik yang ditemui di sepanjang perjalanan menuju Candi ke 5, di sepanjang perjanan menuju candi ke lima, akan tersaji beraneka pemandangan, mulai dari yang bagus hingga yang jelek, mulai dari yang buruk hingga yang indah, mulai dari yang berguna hingga yang remeh dan sepele, mulai dari yang menyenangkan hingga yang menyedihkan, menyebalkan dan melelahkan, semuanya dan segalanya tersaji, tersedia di sepanjang perjalanan menuju tingkat tahapan ke lima ini. Jika seorang pelaku spiritual tetep idep madep mantep, terus berjalan, tanpa sirih dan terganggu apa lagi tergiyur oleh lika liku dan pernak pernik semuanya itu, dia akan berhasil sampai pada sebuah persimpangan jalan. Yang menyajikan dua pilihan, ke kanan dulu? Apa ke kiri dulu?

Di sebelah kanan, terlihat kenapakan candi ke 5 yang sangat memukau keindahannya. Di sebelah kiri, terlihat kenapakan candi ke 8 yang sangat gagah menawan. Jika belok kiri, meuju candi ke 8, berati harus siap melawan arus aturan dunia, dengan segala risikonya, kalau belok kanan, menuju candi ke 5, berati harus rela meng enyahkan kegagahan candi ke 8 yang sangat menawan itu. Kebingungan akibat segudang pengetahuan ini, di gambarkan dengan sebuah persimpangan jalan menuju puncak tahapan ke lima di dalam laku spiritual.

Dan keberhasilan dari mengusai ilmu pengetahuan ini, digambarkan dengan sebuah candi ke 5. Candi Citravistara, yang berdiri teduh dan indah diantara pernak pernik keindahan yang ada di sekelilingnya, di tahap ke lima ini, bisa bernafas lega, duduk santai dan nyaman, tanpa tekanan apapun, sangat membahagiakan.

6

6. Candi Rupavati;
Yang Berati Sadar. Apapun yang terjadi dan teralami oleh si pelaku spiritual di tahap kelima ini, di candi ke 5 ini, yaitu Candi Citravistara, di sadari atau tidak di sadari, akan mengatarkan si pelaku spiritual sampai ke candi ke 6, masuk ke tahap spiritual selanjutnya, yaitu tahap ke enam. Candi Rupavati, yang berati sadar. Akibat dari tidak sadar, karena terlena oleh kebahagia’an yang teramat sangat di candi ke 5 itu. Di gambarkan dengan sebuah Candi Rupavati, yang berbentuk reruntuhan dari bebatuan bahan bangunan candi, yang berserakan di enam tempat dalam satu lokasi, yang terlihat tidak menarik sama sekali.

Bagi pelaku spiritual yang tidak sadar, akibat terlena akan kebahagia’an yang teramat sangat di candi ke 5, dia tidak akan tertarik untuk memperhatikan candi ke 6 ini, akibat dari tidak tertarik itu, maka tidak akan tahu, dimana letak candi yang ketuju, atau, mengetahui candi ke 7, tanpa memperdulikan candi ke enam, yang merupakan tahap urutan sebelum candi ke 7, sehingganya, terlewati dan kehilangan banyak ilmu pengetahuan dibagian ini, akibatnya, tergesa-gesa ingin segera sampai ke candi ke 8, setibanya di candi ke 8. Dia akan tergulai lemah, karena seluruh energinya, terkuras habis dalam pemaksa’an yang tidak semestinya. Dan kegagalan sadar ini. Di gambarkan dengan candi ke 6, yang berupa reruntuhan batu bahan bangunan Candi Rupavati.

7

7. Candi Durjaya;
Yang Berati Kesadaran. Bagi pelaku spiritual yang sadar, pasti akan tertarik untuk singgah dan memperhatikan reruntuhan batu Candi Rupavati, sehingganya dia tahu, ada apa dibalik reruntuhan tersebut, dan pengetahuannya yang sadar itu, akan mengantarnya menuju ke candi nomer 7, dengan tanpa risiko apapun, sehingganya, bisa mencapai candi ke 8 dengan tanpa risiko apapun. Keberhasilan sadar ini. Di gambarkan dengan Candi Durjaya, candi ke 7, yang berati kesadaran. Candi Durjaya berupan candi kecil, simpel, sederhana, namun sangat kokoh dan kuat, juga indah dan bersahaja, didukung alam sekitarnya yang sejuk dan hening serta nyaman, membantu pemulihan tenaga yang telah banyak terkuras dan hampir habis. Sehingganya, bisa melanjutkan perjalanan ke tahan selanjutnya, dengan rilekx, santai, tanpa beban yang menyapek-kan.

8

8. Candi Jammanidesa;
Yang Berati Kesadaran Murni. Pada tingkat ke delapan ini. Seorang pelaku sepiritual, harus selalu belajar dan terus melatih diri untuk sadar, agar bisa menyadari semua dan segalanya dengan murni, dalam arti lain, apapun yang dilakukan dan diperbuat, tidak ada satupun yang terlepas dari Kuasa Dzat Maha Suci. Isi raganya hanya jiwa, dan isi jiwanya hanya Dzat maha Suci Tuhan, bukan yang lain. Kesadaran murni ini. Di gambarkan dengan sebuah Candi ke 8, yaitu Candi Jammanidesa, yang berati Kesadaran Murni. Sebuah candi besar, yang berdiri kokoh dan indah serta berwibawah diatas puncak bukit.

Dari candi kedelapan ini, semua lika liku dan pernak pernik yang telah berhasil dilalui, bisa dilihat, segala keindahan dan ketidak sia-sia’an masa lalu diketahui, bahkan masa depan terpampang jelas dalam pandangan mata. Suka dan duka, suka cita, bahagia, sedih, susah, senang semuanya, segalanya, tercurah, klimax, selesai disini. Tidak ada satupun yang sia-sia, tidak ada satupun yang tidak berguna, semuanya, segalanya, berasal dari Dzat Maha Suci Tuhan, semua dan segalanya milik Dzat Maha Suci Tuhan, dan semua dan segalanya akan kembali hanya kepada Dzat Maha Suci Tuhan. Sehingganya, terasa ringan, mudah, bahkan gampang, tanpa beban apapun, plong, enak, nyaman, bahagia, tenteram.

9

9. Candi Yauvarajya;
Dan Ketenteraman itu. Di gambarkan dengan sebuah Candi ke 9. Tersebut Candi Yauvarajya, yang berati Kosong atau Suwung, kosong, suwung, tidak ada apa-apa, apa-apa itu tidak ada.
Bagi para pelaku spiritual yang berada di tahapan ke sembilan ini, jika kesadaran murninya, hanya kadhang kala saja, sekedar saja, kalau dalam bahasa humornya, pagi tempe siangnya tahu sorenya oncom, terlena pada tenteram itu, tidak mau mencari sejatinya tenteram itu, tidak mau mencari sejatinya kosong/suwung tersebut, dia tidak akan memperoleh apa-apa, tidak akan mendapatkan apa-apa, tidak akan menemukan apa-apa, tidak akan mengetahui apapun, selain hanya sebatas kekosongan untuk menyaksikan keruntuhan/kehancuran spiritualnya sendiri.

Kekosongan dan kehancuran ini. Di gambarkan dengan sebuah Candi ke 9, yaitu Candi Yauvarajya, yang beratti kosong/suwung. Berbentuk reruntuhan dari bebatuan bahan bangunan candi, yang nampak tidak berguna sama sekali, dimana sekelilingnya, hanya ada semak belukar tanpa tanam, tanpa keindahan, tanpa pemandangan. Buntu. Tidak ada jalan untuk kelanjutannya, selain jalan pulang untuk kembali dari awal lagi atau dari awal lagi.

10

10. Candi Abhisheka;
Yang Berati Isi/Inti. Namun bagi pelaku spiritual yang aktif, yang tetep idep madep mantep. Yang Kesadaran Murni-nya terus menerus tanpa henti. Dia akan berhasil menemukan sesuatu di dalam kekosongan/suwung itu, sehingganya, tidak putus nalar dan pikirannya, terus belajar dan belajar terus, tidak ada istilah lulus atau tamat. Melainkan terus laku dan laku terus. Hingga pada akhirnya, dia berhasil menemukan jalan untuk menuju ke inti/isi-nya kosong/suwung itu, yaitu Candi ke 10, yang merupakan candi penutup, yang merupakan Candi Inti dari Candi Gedong Songo. Keberhasilan ini. Di gambarkan dengan Candi ke 10, tersebut Candi Abhisheka, yang berati Isi/Inti.

Candi Abhisheka ini, terletak dan tersembunyi di puncak paling tinggi di atas candi gedong songo dan di tengah hutan belantara. Sehingganya, tidak semua orang mengetahui candi ke 10 ini, dan lagi. Candi ke 10 yang tersebut sebagai candi penutup ini, tidak berbentuk susunan rapi dari bebatuan seperti pada umumnya candi di Gedong Songo, melain berwujud Arca Anoman.

Dari Candi Abhisheka Yang Berati Isi/Inti dan berbentuk Arca Anoman ini. Bisa menyaksikan 4 candi yang berada di sebelah timur lereng gunung ungaran pless dengan lika liku dan pernak perniknya. Dan 5 candi yang berada di sebelah barat lereng gunung ungaran pelss dengan lika liku dan pernak perniknya. Yang keduanya terbatasi dengan keindahan gunung-gunung, kota, desa dan perkampungan yang nampak kecil dan indah untuk di nikmati. Sebagai gambaran terjawabnya semua teka-teki dan segala pertanya’an serta risalah ghaib. Dan Akhir Kata dari saya Wong Edan Bagu, semuga hal ini, bisa menjadi penambahan wawasan laku spiritual kita bersama dalam belajar mendewasakan diri. Untuk mengetahui Rekaman dari perjalan mengungkap Candi Gedong Songo ini. Bisa klik link ini untuk menontonnya. https://youtu.be/yg2Gxt4IELs

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Lungguhe atau Hakekatnya. Roh Kudus-Ruh Suci Atau Roh Sejati-Sejatining Roh. Atau Guru Sejati-Sejatining Guru:


Lungguhe atau Hakekatnya.
Roh Kudus-Ruh Suci Atau Roh Sejati-Sejatining Roh.
Atau Guru Sejati-Sejatining Guru:
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling).
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Cilacap Jateng. Hari Rabu. Tanggal 10 Mei 2017

Para Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian, ketahuilah dengan kesadaran manusiawimu. Roh Kudus atau Ruh Suci, atau Roh Sejati-Sejatining Roh, yang lebih di kenal dalam istilah umumnya, dengan sebutan Guru Sejati atau Sejatining Guru, dalam istilah agamisnya sebagai Nur Muhammad atau Rasullullah/Utusan Tuhan. Itu adalah Hidup kita sendiri, Hidup yang bersemayam di dalam diri/tubuh/jasad kita ini, yang menjadikan kita bisa bergerak, bernapas dll.

Di saat Kekuatan Dzat Maha Suci, mengalir pada Hidup kita, akan mengarahkan dan meningkatkan perkembangan laku spiritual kita, sehingga, inti laku spiritual kita, dapat mencapai tahap pemurnian secara otomatis, pada Intisari terdalam Hidup kita, yang terletak di atas kesadaran murni, maka Hidup akan berevolusi (mijil), hingga tumbuh tubuh Hidup di atas Kesadaran Sejati/murni. Hidup juga akan tercipta setelah mencapai kesempurnaan Sejati itu sendiri. Hidup adalah Intisaripati kesempurnaan dan kesucian serta kesadaran tertinggi dari roh-roh yang ada pada diri individu umat manusia yang masih kedudukan Hidup.

Hidup berada di dalam Rasa, namun bukan asal rasa atau sembarang rasa, melainkan rasa yang sadar, benar-benar sadar dan sungguh seutuhnya sadar (murni), bukan kesadaran yang penuh dengan beraneka pernak pernik keduniawian. Hidup berada didalam rasa, rasa berada di dalam hati, hati berada dibalik rongga dada tubuh/jasad/raga kita. Hidup yang ada di dalam rasa dan rasa yang berada di dalam hati ini, hanya akan bergerak menembus seluruh dimensi lapisan tubuh kita (sekujur badan), ketika kita sadar dan kesadaran kita sepenuhnya murni. Jika tidak, maka tidak pula, hal inilah yang menyebabkan tubuh kita, ada kalanya bisa terserang penyakit dan mengalami gangguan mental, karena ada bagian tubuh/raga kita, yang tidak terisi Hidup, sehingga mengalami mati rasa, dan akibat dari mati rasa itu, sakitlah bagian tubuh itu dan bisa dimanfaatkan oleh yang berada diluar tubuh kita.

Artinya… untuk bisa selalu sehat bergas waras, kalis ing sambikolo, tubuh/raga kita butuh sadar yang murni dan kontinyu, secara terus menerus di sepanjang siang dan malam selama seumur hidup kita. Dan jika di sepanjang hari dan di sepanjang malam kita bisa sadar, dan sadarnya kita itu murni, tanpa noda dan kotoran apapun yang menempel di hati. Maka…

Kita akan memiliki dan memegang kendali/panguwoso, serta menjadi Intisari dari pengendali segala dan semua hal yang positif maupun negatif, baik secara spiritual maupun fisik, dari diri manusia hidup kita sendiri. Sehingganya, kita selalu memiliki kesadaran sejati/murni yang akan Menuntun diri, untuk terhindar dari infeksi sipat jahat dan sikap kejam serta aura kotor. Menuntun diri kita ke tarap/ranah/dimensi hidup didalam berkehidupan, yang lebih baik dan layak serta ke jalan kebenaran menuju Dzat Maha Suci secara sempuna dunia wal akherat.

Bisa saya gambarkan seperti ini. Jika Hidup itu terletak di Perinium. Maka Dia seperti bunga teratai yang menyangga pemurnian, termasuk penyangga sedulur papat kalima pancer. Fungsinya sebagai penjaga dan pembangkit serta penstabil Alam Semesta Kehidupan kita.
Jika Hidup menumbuhkan bunga Ilmu Pengetahuan, maka Alam Semesta Kehidupan kita, akan menumbuhkan Kesadaran Murni-nya. Sehingganya, Ilmu Pengetahuan itu, tidak menjadikannya sombong dan mencelakai.

Kesadaran Murni Hidup kita juga, akan selalu mengalirkan ilmu pengetahuan yang kita butuhkan setiap waktunya, dan Ilmu Pengetahuan itu, akan mengalirkan keberlimpahan dan segala hal yang positif pada kehidupan secara nyata, dan jika tanpa terhambat oleh sifat jahat, maka kesempurnaan itu akan mudah terjadi, yaitu kesempurnaan kebahagiaan dalam hidup. Dengan afirmasi keberlimpahan rejeki, karena secara otomatis Hidup akan mengalirkan keberlimpahan pada diri. Akan tetapi, dengan adanya sifat jahat dan aura kotor, maka sifat jahat dan aura kotor tersebut, yang akan memblok bahkan memutus aliran energi dari kesejatian/kemurnian Hidup hidup kita.

Tapi Jika diri kita kembali ke dalam kekotoran hati atau jalan penyesatan akal/nalar/nurani, maka hal tersebut akan menyebabkan Hidup kita jatuh ke dalam kekotoran, akan terjadi kebocoran dan kerusakan pada Rasa, kemampuan Hidup akan musnah, dan Hidup menjadi pasif atau tidak berfungsi, maka Hidup akan kembali seukuran bola golf. Dan kembali kebentuk roh atau sukma orang biasa pada umumnya yang belum mengenal Wahyu Panca Ghaib dan Wahyu Panca Laku, dan kejadian ini, teramat sering saya temukan pada diri Putero Romo yang sangat saya kasihi. Sungguh eman-eman sekali, jika sampai mengalami hal ini, karena selain rugi, sungguh akan membuat menyesal seumur hidup di dunia hingga di akherat nanti, karena kesempatan kita, selagi masih berada di dunia ini, na,,, kalau kesempatanan di dunia ini, hanya kita habiskan untuk hal-hal yang tiada guna dan memusuhi sesama hidup bahkan membenci…!!!

Spiritual kita itu dimana…?!
Seumur Hidup saya melanglang buana, belum pernah dengar atau menemukan spiritual yang mengajarkan untuk salin benci, salin hina, salin sikut, salin singgung, salin sindir, salin fitnah, salin dendam, salin iri dan mbel nggedes lainnya, spiritual itu, ditentunkan oleh sikon hati pribadinya, seberapa bersih hatinya, sebegitu yang di perolehnya, jadi,,, untuk apa iri…?!

Tidak ada untungnya, menggunakan hati untuk menyinggung hati sesama hidup, untuk membenci sesama hidup, untuk menyekiti sesama hidup, untuk mengfitnah sesama hidup, untuk dendam dengan sesama hidup dll, tidak ada untungnya sama sekali, juga tidak menjadikan kita kaya raya, tambah hebat dan tambah sakti. Coba saya renungkan dengan Nalar Logikamu… ada orang bisa kaya raya dan sakti mandraguna dengan hal tersebut…?! ada ada justru banyak musuhnya… Dalam hal laku, jangan bersembunyi dibalik kata; “Tidak selembar daunpun yang jatuh kebumi, tanpa kehendaknya” kita bisa celaka dunia akherat dan anak keturunan kita akan ikut menanggungnya, sebab itu bukan hanya kata-kata pengertian yang cukup hanya dengan di pahami, melainkan Tututan Firman Tuhan, yang harus kita buktinya dengan benar dan nyata, seperti halnya Dua Kalimah Syahadat, kalau syahadat tauhidnya, okelah, tapi,,, bagaimana dengan syahadat rosulmu…?! Sebaiknya kita merenungkan ini dengan sadar. Bukan dengan ego…

Kalau didalam Sabda Dawuhnya Romo, baik di buku maupun di rekaman, selama saya mempelajarinya, tidak ada satupun dawuh yang mengajarkan untuk salin benci, salin hina, salin sikut, salin singgung, salin sindir, salin fitnah, salin dendam, salin iri dan mbel nggedes lainnya, spiritual itu, ditentunkan oleh laku pribadinya, seberapa murni lakunya, sebegitu yang di perolehnya, jadi,,, untuk apa iri…?! Sebaiknya kita merenungkan ini dengan sadar. Bukan dengan ego…

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Mari BELAJAR ILMU RASA Bersama saya Wong Edan Bagu



Mari BELAJAR ILMU RASA Bersama saya Wong Edan Bagu:
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling).
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Pangandaran. Hari Senin. Tanggal 08 Mei 2017

Saya sering Baca Artikel Tulisan Pak WEB, yang berbicara soal Rasa, tapi saya kurang nggeh, bahkan tidak mudeng alias tidak ngerti dan paham apa yang pak WEB bicarakan itu.
Rasa itu apa sih pak WEB..?

Rasa itu Hidup.

Rasa kok Hidup, buktinya apa kalau Rasa itu Hidup..?
Buktinya, kamu selagi hidup, kalau di cubit bisa merasakan sakit, bisa teriak aduh sakit, coba kalau mayat yang di cubit, bisa seperti itu….?

Hidup itu apa sih..?
Hidup itu yang menguasai diriku juga dirimu, yang bertenggung jawab atas diriku juga dirimu, yang bisa menjamin lahir bathinku juga lahir bathinmu dan dunia akheratku juga dunia akheratmu. Karena itu, wajib dan harus di ketahui.

Siapa yang mewajibkan dan mengharuskan?
Kepentingan dan keperluan serta kebutuhan dan masalah diriku dan dirimu.

Karena Hiduplah, yang mempunyai apa yang kita pentingkan, apa yang kita perlukan dan apa yang kita butuhkan serta yang kita permasalahkan. Jika kita tidak mempunyai dan memiliki kepentingan dan keperluan serta kebutuhan dan masalah. Tidak ada yang mewajibkan dan mengharuskan.

Sekarang pertanya’annya di balik. Apa kita punya dan memiliki.
Kepentingan…?
Keperluan…?
Kebutuhan…?
Masalah…?

Kalau punya dan memiliki. Maka wajib dan harus…!!!
Jika tidak…. (Lembur tanpo dadi) Bersiaplah untuk hancur dan sakit.

“Aja pisan-pisan ngaku wong Urip. Lamon tan bisa ngrasak’aken Uripe. Sebab, lamon ora bisa ngrasak’ake Uripe. Kuwi dudu wong Urip. Ananging mayit Urip”

Begitulah sebuah kalimat yang sering saya gembar gemborkan di facebook dan blogger, google serta wordpress saya di internet. Sebagai wujud kepedulian saya, dalam laku spiritual salin Asah Asih Asuh antar sesama Hidup. Sebanarnya ini bukan ilmu jawa atau kejawen atau wejangan Syekh Siti Jenar dan bla… bla… bla… lainya.

Malainkan peringatan dari Hidup untuk setiap Roh-Roh yang menempati seluruh wujud manusia tanpa terkecuali, kususnya bagi yang telah lupa Jatidiri asal usulnya. Seperti halnya Al-qitab jabbur, kitab jabur itu bukan ilmunya para rasul atau nabi-nabi dan kalangan ningrat saja, melainkan kabar kusus bagi siapa saja yang ingin Mengenal Dzat Maha Suci Hidup Dengak bukti nyata dan benar.

Para Kadhang kinasihku… Sesuai Bukti yang sudah saya Butikan di TKP buktinya. Tidak ada yang melebihi Hidup. Kecuali Dzat Maha Suci. Apapun itu nama, istilah dan sebutannya. Secantik dan setampan apapun, sehebat apapun, sesakti apapun, sekuat apapun, sekaya apapun, secerdas apapun, sekuasa apapun dan se bla… bla… bla… apapun. Jika di tinggal Hidupnya. Akan jadi bangkai mayat yang amat sangat menjijik-kan jika tidak segera di kubur. Itu pasti… tidak bisa di tawar apa lagi di tolak.

“Galilah Rasa yang meliputi seluruh tubuhmu. Karena di dalam tubuhmu. Ada firman Tuhan. Yang dapat menjamin hidup mati dan lahir bathin serta dunia akheratmu”

Itu juga sebuah kalimat yang sering saya gembar gemborkan di facebook dan blogger, google serta wordpress saya di internet. Sebagai wujud kepedulian saya dalam laku spiritual salin Asah Asih Asuh antar sesama Hidup.

“Galilah Rasa yang meliputi seluruh tubuhmu. Karena di dalam tubuhmu. Ada firman Tuhan. Yang dapat menjamin hidup mati dan lahir bathin serta dunia akheratmu” ini, sebenarnya juga bukan ilmu jawa atau kejawen, melainkan peringatan dari Hidup, untuk setiap Roh-Roh yang menempati seluruh wujud manusia tanpa terkecuali, kususnya bagi yang telah lupa Jatidiri asal usulnya. Seperti halnya kitab Al-qur’an. Al-qurna itu bukan ilmunya orang islam atau wejangannya umat muslim atau tuntunan dan pedomannya orang arab. Melainkan kabar gembira bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali.

Para Kadhang kinasihku sekalian… Sesuai Bukti yang sudah saya Butikan di TKP. Intisari nya ilmu itu. Baik itu secara syare’at maupun hakekat dan bla… bla… bla… lainya. Itu adalah Rasa. Puncaknya laku/spiritual apapun. Puncaknya ajaran dan intinya wejangan itu. Adalah Rasa. Tidak ada satupun ilmu atau laku/spiritual atau wejangan dan bla… bla… bla… apapun, yang lebih tinggi melebihi Rasa. Kecuali sang empunya Rasa itu sendiri.

(Mari BELAJAR ILMU RASA Bersama saya Wong Edan Bagu).
PERTAMA;
Para Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian…
Saya punya kebiasa’an. Kalau bangun tidur pagi-pagi. Sebelum melakukan apapun, Itu minum air putih. Minimal satu gelas besar, kebiasa’an ini, sudah saya lakukan selama berpuluh tahun. Ada kepuasan dan rasa nyaman setelahnya. Karena itulah saya suka melakukannya. Kalau tidak melakukanya… rasanya tidak enak. Tidak nyaman sampai-sampai kebingungan, jika bangun tidur pagi, tidak ada air putih untuk di minum.

Kalau sudah minum, rasanya plong… lega. Dahak yang bersarang di tenggorokan selama semalam suntuk, akibat rokok yang saya hisap di sepanjang harinya. Di buat ehem. Begitu saja langsung keluar, badan terasa fress, seperti habis jamu dan pijat urut. Dan saya menyakini, efek dari kebiasa’an minum air putih secara rutin tiap bangun tidur pagi inilah. Yang membuat saya tidak pernah di hinggapi penyaki-penyakit aneh, jarang sakit, bahkan nyaris tidak pernah, misalkan sakit, paling sakitnya, sakit kepala karena tidurnya tidak teratur, atau sakit perut karena makan, makanan yang tidak cocok dengan usus perut saya. Selain itu, teman-teman yang seusia dengan saya, mengatakan, katanya sih… saya nampak jauh lebih awet muda di bandingkan dengan mereka… He he he . . . Edan Tenan.

Di internet saya sering gembar gembor mengatakan, sebagai wujud kepedulian saya antar sesama hidup. Dengan sebuat kata… jika ingin selamat dari pengadilan karma. Jangan sekali-kali menyukai apapun itu, hingga mencapai kadar 100 % jika terpaksa harus menyukainnya, sukailah dengan kadar maksimalkan 99 % saja. Sisakan 1 % nya untuk Tuhan-mu. Agar supaya, jika nanti kamu teradili oleh karma yang kamu beri kadar 99 % itu, kamu punya tabungan 1 %, untuk Tuhan, agar sudi menolongmu. Syukur-syukur bisa sebaliknya. Karena… apapun yang di rahasiakan oleh Tuhan tentang hari esok kita, adalah akibat dari sebab yang kita buat di hari ini.

Nah… karena saya sedang laku murni menggali Rasa, untuk menuju suci. Sejak itu, kebiasa’an ini saya robah. Kebiasa’an yang saya sukai karena efek baiknya itu, saya robah, yang biasanya bangun tidur pagi minum air putih minimal satu gelas besar, saya tahan… bangun dari tidur, yang biasanya sejak awal membukan mata… pikirannya conex ke air, saya alihkan kepada Dzat Maha Suci…

Tangan yang biasanya dengan lincahnya dan otomatis maraih gelas isi air, saya alihkan untuk Patrap Palungguh 3x. Kunci 7x. Paweling 3x. Mijil Sowan 1x “lalu” semedi… didalam semedi, semua dan segala Kepentingan. Keperluan. Kebutuhan. Masalah, saya serahkan atau saya pasrahkan kepada Dzat Maha Suci, “lalu” apapun keputusan Dzat Maha Suci, saya terima “lalu” saya persilahkan Dzat Maha Suci, mengabil alih semua dan segala Kepentingan. Keperluan. Kebutuhan. Masalah saya “lalu” Perlahan saya mengingat Dzat Maha Suci, memikirkan Dzat Maha Suci, lalu membelainya, mendekapnya, merasakannya… seusainya, “lalu” perlahan saya bangkit dari duduk bersilah semedi, meraih gelas isi air putih dan saya minum sambil Memuji-Memuja Dzat Maha Suci. Mensyukuri atas segala dan semuanya akan diri lahir bathin dan jiwa raga saya ini. Bahwasanya adalah karena Dzat Maha Suci semata…

Dengan begitu dan seperti itulah,,, saya benar-benar dapat bisa merasakan selalu bersama Dzat Maha Suci. Sungguh luar biasa Para Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian… Rasanya jauh lebih nikmat, jauh lebih plong dan jauh lebih menyehatkan, di bandingkan sebelum saya melakukan hal ini. “lalu” Pengalaman ini, saya sebar, saya bagikan dengan semua dan segalanya tanpa terkecuali dengan penuh Cinta Kasih Sayang… Wow…. Sempurna. Sudah nikmat, karena tenggorokan kering yang tersirami air putih di pagi hari, Minumnya di temani bersama Dzat Maha Suci lagi… sambil di belai, di pangku dan di timan-timang oleh Tuhan yang Maha Segalanya itu… katanya berbisik di telinga saya… ( Sayang… kamu ga usah ragu dan bimbang apa lagi takut ya sayang,,, AKU akan selalu bersamamu dalam sikon seperti apapun dan dimanapun) Wahahahahahhaha…. Uedan Tenan Pokok’e…

KEDUA;
Para Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian… saya pecandu rokok. Penikmat rokok. Hampir di setiap kegiatan saya sehari-hari. Selalu rokok dan rokok, sampai-sampai, yang namanya rokok itu, seperti istri kedua saya, tidak lengkap rasanya jika tidak di temani rokok, apa lagi,,, kalau habis makan, makanya nasi, sayurnya, sayur asem atau sayur bening, sambel terasi, lauknya ikan peda atau ikan asin di goreng setengah matang. Wow… luar biasa nikmatnya, itulah menu favorit saya. Habis makan… duduk santai sambil medang teh hangat, rokoknya gudang garam surya 16… huuuuu…. jan edan tenan pokoknya.

Tapi… walaupun saya makan menu favorit saya itu, jika setelah makan tidak merokok, waduh… tunggu dulu,,, lebih baik puasa saja lah. Mending tidak makan sekalian, asalkan bisa merokok. Soalnya, jika habis makan tidak merokok… Ma’af. Rasanya seperti habis Be’ol tidak wawik. Mual dan muntah… ini menandakan kalau saya benar-benar penikmat rokok atau pecandu rokok. Apa lagi ngisepnya sambil nongkrong di wc… lubang di atas nyedot, lubang di bawah ngeden…. wahahahhahahaha…. Edan Tenan.

Karena saya sedang laku murni menggali Rasa, untuk menuju suci, sejak itulah kebiasa’an ini saya robah. Sa’at makan, seperti biasa rokok sudah saya siapkan di samping menu makanan. Setelah makan, pikiran dan tangan yang biasanya otomatis conex ke rokok, saya alihkan Patrap Palungguh 3x… saya diam sejenak “lalu” memuji dan memuja Dzat Maha Suci… Setelah saya temukan Dzat Maha Suci dan Dzat Maha Suci saya rasakan ada bersama saya “lalu” saya ucapkan syukur atas diri saya ini, segalanya adalah karena Dzat Maha Suci semata. Terima Kasih Tuhan… (Matur Nuwun Romo) Terima kasih Tuhan (Matur nuwun Romo) Semakin tulus saya ucapkab Terima kasih-Matur nuwun itu, Semakin Erat dan Mesrahnya Dzat Maha Suci Memeluk dan membelai saya. Disa’at Dzat Maha Suci Memeluk erat saya dengan kemesrahannya itulah, saya meraih Rokok dan menyalakannya “lalu” mengisapnya penuh dengan kesadaran. Dan klimaxlah laku murni saya pada sa’at itu…

Rasanya jauh lebih nikmat, jauh lebih wow… sungguh amat sangat luar-luar biasa. Dunia ini hanya milik saya dengan Dzat Maha Suci saja, seakan-akan yang lain Cuma numpang doang, itupun Cuma sebentar dengan kebuta’an panca inderanya. Bukan seakan-akan. Nyata-nyata benar loh… BUKTIKAN saja. Saya Wong Edan Bagu bisa… saudara-saudari Khususnya Para Kadhang kinasih saya. Pasti jauh lebih bisa… He he he . . . Edan Tenan.

Kedua contoh belajar menggali Rasa yang sudah saya ungkap diatas. Jika di praktekan, awalnya akan terasa ganjil, canggung dan kaku, karena kita sudah lama terdogma dengan kebiasa’an masa lalu, tapi itu hanya akan terjadi sekali atau dua kali saja, tiga kali dan selanjutkan sudah tidak akan lagi. Tapi, secanggung dan seganjil serta sekaku apapun, jika akan mendapatkan Ilmu Rasa yang seimbang bahkan lebih dari cukup jika harus di bandingkan dengan perjuangan usahanya untuk mau belajar.

Pamrih saya… dengan tertulis dan ter postingnya artikel ini, berharap. Anak-anak didik saya bisa lakukan cara ini. Kususnya yang sedang Berada dekat di samping saya. Cara ini, cara yang sedang saya gunakan dan saya jalankan selama ini. Dengan ini saya dapatkan kemudahan tanpa hambatan, tidak ribet dan tidak banyak neko-neko itu dan ini. Cukup dengan Tata. Titi. Surti ati – ati. Tetep. Idep. Madep Mantep maring Gustine, bukan lainya… INGAT… Maring GUSTINE. Pada TUHANNYA.

Dengan Menggali Rasa… kita akan mengerti Wahyu Panca Ghaib dan Dengan Menggali Rasa… kita akan paham Wahyu Panca Laku. Dengan Mengerti Wahyu Panca Ghaib dan paham Wahyu Panca Laku, kita akan mengenal Sedulur Papat Kalima Pancer kita, dengan mengenal sedulur papat kalima pancer kita, kita akan mengenal Hidup kita, yang merupakan guru sejati kita, yang bisa menjamin jiwa raga dan lahir bathin serta dunia akherat kita,, dan dengan mengenal Hidup/Guru sejati. Kita akan mengetahui Dzat Maha Suci Hidup Hyang Maha Segala-Nya.

Rasa itu Hidup, Hidup itu rasa, krasa, rumangsa, ngrasakaken, urip (Sedulur Papat Kalima Pancer) dimana ada Rasa, di situ ada Hidup, dimana ada Hidup, disitu ada kehidupan, dimana ada kehidupan. Maka disitu pula ada Dzat Maha Suci Hidup. Maka,,, ketahuilah… agar tak sia-sia dan percuma, sehingganya apapun yang kita perbuat bisa dan sesuai dengan yang di Firmankan oleh Hyang Dzat Maha Suci Hidup. Semoga Pengalaman Pribadi saya ini, bisa bermanfaat bagi Para Kadhang kinasihku sekalian. Salam Rahayu selalu dariku.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Ending Tersulit dan Terberat Dalam Laku Suci:


Ending Tersulit dan Terberat Dalam Laku Suci:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah
Pasundan
Cirebon Jabar. Hari Kamis. Tgl 13 April 2017

Para kadhang dan sedulur kinasihku sekalian. Selain Dzat Maha Suci, tidak ada satupun apapun itu yang suci di dunia ini, termasuk manusia.

Laku Suci… Berati menuju Dzat Maha Suci, bukan yang lain. Karena tidak ada satupun yang suci selain Dzat Maha Suci itu sendiri.

Seorang manusia hidup, bisa disebut suci, jika hatinya bersih dari semua niyatan baik maupun buruk (pamrih-ego), dan murni dari segala keterikatan yang melekat dalam hatinya.

Menuju Dzat Maha Suci, berati, suka tidak suka, mau atau tidak mau dan sadar atau tidak sadar. Harus murni niyatnya dan bersih hatinya.

Maksudnya cuma dan hanya Dzat Maha Suci Thok, yang menjadi isi hatinya dan niyat tujuan yang dituju, jika ada yang lain selain Dzat Maha Suci, baik di luar lahir maupun di dalam bathin, namanya tidak murni, tidak bersih, kalau tidak murni-bersih, bagaimana mungkin bisa suci, kalau tidak suci, mustahil bisa sampai kepada Dzat Maha Suci.

Disinilah letak ending Terberat dan Tersulitnya di dalam Laku Suci. Ketika kita berusaha mengeluarkan semua isi hati, yang telah mengisi hati selama ini, lalu membersihkannya dan menggantinya dengan satu isi saja, yaitu Dzat Maha Suci.

Ini Tidaklah remeh dan bukan hal mudah, coba pikirkan, kalau soal harga atau tahta dll nya, mungkin bisa di anggap sepele, tapi anak kita yang lucu-lucu, istri yang denog demplon atau suami yang maco alias maskulin, ibu bapak yang paling berjasa pada kita, yang semuanya itu amat kita cintai, kasihi, sayangi selama ini, harus keluar dari dalam hati kita dan di ganti Dzat Maha Suci yang menjadi isinya,

Kalau kita tidak mengeluarkan, namun bersi keras memasukan Dzat Maha Suci menjadi isi hati kita, maka, apapun yang ada dalam hati itu, akan semburat keluar dengan sendirinya. Sebab Dzat Maha Suci itu, tidak bisa di campuri dengan apapun dan tercampuri oleh apapun, kecuali dengan suci.

Anak yang tadinya patuh, jadi bandel, istri yang tadinya cantik jadi cerewet bshkan hianat, suami yang tadinya setia jadi tukang selingkuh, rejeki yang tadinya lancar jadi macet, bahkan nunggak hutang dimana mana, berdoa yang tadinya jitu jadi tuji, keluarga, teman, rekan, tetangga yang tadinya aman, berubah menjadi sinis dll.

Sehebat dan sekuat apapun keyakinan dan kepercayaan kita kepada Dzat Maha Suci Tuhan, tetap tidak akan terima senang dengan proses kejadian yang sedemikian rupa, tidak akan berani mengandalkan dan mengutamakan Dzat Maha Suci Tuhan dalam sikon segenting itu, yang kita alami. Sekalipun Dzat Maha Suci telah berkata, bahwa tidak ada satupun yang mustahil jika Aku berkehendak.

Ragu-ragu, maju mundur, sedih, sakit, kecewa, marah, duga menduga, jangan-jangan dan jangan-jangan lodeh, asem, garang, opor dll, tetap saja Tuhan-nya di dalam dompet.

Mengeluarkan beraneka isi hati itu, lalu menggantinya dengan satu isi saja, yaitu Dzat Maha Suci, tidaklah gampang dan mudah. Apa lagi kalau Dzat Maha Suci itu sendiri yang melakukannya. Percayalah… Jarang yang mampu, To-Ji. Sakyuto Siji.

Namun… Dengan Wahyu Panca Laku, saya bisa melalui semua dan segalanya itu, artinya,,, dengan Wahyu Panca Laku, siapapun dan dimanapun. BISA.

Soal Dzat Maha Suci, saya tidak bisa panatik, sebab saya tahu betul, tidak ada satupun tuntunan yang mengajarkan tentang keburukan baik itu moral maupun spiritual. Sebab itu. Karena itu. Untuk itu. Ibadahkan apapun Pedomanmu dengan Wahyu Panca Laku. Pasti BISA.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu dariku serta Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Jangan Pernah Saratus Persen Jika Tidak Ingin Bermasalah Didunia:


Jangan Pernah Saratus Persen Jika Tidak Ingin Bermasalah Didunia:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Brebes. Hari Sabtu Tgl 08 April 2017

Para kadhang dan para sedulur kinasihku sekalian, cara atau sistem yang menjadi andalan saya dalam belajar, adalah membaca, maksudnya, dalam belajar, saya suka dan rajin membaca, baik secara lahir maupun bathin, karena dari hasil menbaca itu juga, saya menjadi tahu, bahwa di sepanjang sejarah dunia, mulai dari ahli petani hingga ke ahli elektronik, mulai dari ahli agama dan spiritual, mulai dari para ahli fikih, tafsir, tokoh, propesor, doktor, wali, nabi dan ahli bla,,,bla,,,bla lainnya, itu suka dan rajin membaca, membaca apapun yang dilihatnya, didengarnya, dipikirnya, diciumnya, dirasakannya hingga yang di alaminya, sevab itu dan karena itu, saya suka dan rajin membaca, hampir tidak ada satupun yang tidak saya baca, hasilnya… Saya lebih mengetahui sendiri ketimbang katanya.

Salah satu buktinya ini;
Di beberapa artikel saya, ada yang mengedepankan soal jangan berlebihan dalam hal apapun, kecuali tentang Tuhan, mengapa begitu…?! Sungguh saya telah mengalaminya.

Secara umum, sesuatu yang dianggap paling bisa membahagiakan, adalah, ketika kita memiliki barang atau benda, atau harta, atau orang-orang yang kita cintai, kasihi dan sayangi, seperti anak istri, orang tua, keluarga, tetangga, lingkungan, teman, sahabat, sedulur, kadhang dan bla,,, bla,,, bla lainnya.

Namun dalam kenyataannya, ada berapa banyak orang-orang di luar sana, yang memiliki semua yang mereka cintai, kasihi dan sayangi, tidak bahagia, bahkan tidak sedikit yang mengalami, kesedihan, kecewa bahkan sakit dan putus asa, karena apa yang di cintainya, kasihinya, sayanginya, tidak seperti harapannya.

Itu semua karena berlebihan. Contoh seperti saya sendiri, yang kisahnya pernah saya paparkan di biografi sejarah perjalanan hidup saya, yang sudah saya bagikan di internet.

Dulu… Sewaktu saya belum menemukan hakikat hidupnya manusia, yang menjadi jatidiri pribadi sebagai manusia yang tidak bisa lepas dari Dzat Maha Suci Hidup.

Saya teramat sangat mencintai, mengasihi dan menyayangi anak istri saya, melebihi segalanya, bahkan saya pernah lupa ingatan, hidup enggan mati segan, ketika istri saya minta cerai hanya karena sebuah fitnah yang tidak ada bukti riyilnya, dan berawal dari peristiwa inilah, saya di tuntun oleh Tuhan, untuk menelusuri hakikatnya, dengan cara membaca apapun yang saya alami.

Setelah saya temukan, saya tidak begitu langsung percaya dan yakin begitu saja, saya buktikan terlebih dahulu di TKP.

Dengan laku spiritual saya yang menggunakan sistem Wahyu Panca Laku alias Iman, kerajinan saya dalam membaca, saya terapkan dengan Wahyu Panca Laku alias Iman.

Hasil Prosesnya Seperti INI;
Dimanapun saya berada, tak kala saya mencintai, mengasihi, menyayangi tempat itu, selalu saja bermasalah, kalau bukan warga desa setempatnya yang tidak menyukai saya, menyangka saya itu ini, yang teroris lah, sesat lah, dll, perangkat desa setempatnya yang tidak menyukai saya, atau sebaliknya, kalau warganya aman dan perangkat desanya aman, saya nya yang ndelalah tidak suka sama warganya atau perangkat desa setempatnya.

Namun, disaat saya biasa-biasa saja, tidak berlebihan, cinta ya cinta, kasih ya kasih, sayang ya saya sayang, tapi tidak berlebihan, tidak melebihi Tuhan, tetep idep madep mantep menuju Dzat Maha Suci, karena tidak ada yang lebih penting dan utama selain-Nya. Wow…. Aman, nyaman, bahagia, tenang, bahkab tenteram semuanya berkah, ketika jadwal spiritual ditempat itu selesai, baik warga atau aparat desanya, dengan cinta kasih sayang melepas kepergiannya saya, bahkan ada yang menahan saya untuk tidak pergi dengan air matanya. Ini berulah kali saya alami, hasilnya selalu sama seperti itu, dengan begitu, saya jadi percaya dan yakin, bahwa sesuatu yang berlebihan melebihi Tuhan itu, tidaklah baik dan tidak tepat, sebab itulah sebenar-benarnya masalah.

Selanjutnya;
Setiap kali saya mencintai, mengasihi, menyayangi seorang kadhang, khususnya yang sedang saya bimbing spiritualnya, dan tempat/rumahnya saya gunakan untuk ber istirahat dalam membimbingnya, pasti bermasalah, dimanapun sama, tidak peduli itu kadhang sepuh yang sudah munpuni maupun kadhang yang baru belajar laku, tak kala saya berlebihan, pasti akan muncul masalah yang rasanya sangat tidak enak.

Hasil Prosesnya Seperti INI;
Di Brebes, ada kadhang yang sedang saya bimbing, saya sangat mencintainya, mengasihinya, menyayanginya, bahkan saya berharap, dia bisa mewarisi ilmu pengobatan dari saya. Namun,,, di sepanjang prosesnya, apapun yang saya larang, karena hal itu dapat menodoi, mengotori laku murninya, sehebat apapun dia berkata iya siap dihadapan saya, di belakang saya, dia justru menyukai apa yang saya larang itu, apa yang saya bimbingkan untuk kesuksesan kesempurnaannta, dia tidak bisa tanggap, tidak ngerti-ngerti tidak paham-paham, tapi apa yang saya larang demi kebaikannya, karena hal itu akan menjadikan dia jauh dan keluar dari hakikat hidupnya dalam menuju Tuhan, justru dia asik bergelut dan bercengkrama dengan yang saya larang itu, sampai-sampai, pribadinya di gantungkan pada orang yang saya larang, bukan kepada Tuhan.

Di semarang, ada kadhang yang sedang saya bimbing, saya sangat mencintainya, mengasihinya, menyayanginya, dan diapun sama seperti saya, dia menyediakan kamar khusus buat saya, apapun kebutuhan saya di cukupi, semua keluarga menerima saya dan memohon bimbingan dari saya, namun saya tidak betah di semarang, selain terlalu ramai sikonnya, tempatnya juga terlalu mewah untuk ukuran seorang Wong Edan Bagu.

Di Madiun, ada kadhang yang saya cintai, kasihi dan sayangi secara berlebihan, diapun sama, dia mempersilahkan saya tinggal dirumahnya, sayapun mengiyakannya, namun ada tetangganya yang mengusik keberadaan saya, sehingganya, saya dan kadhang yang rumahnya saya tempati, menjadi tidak aman dan tidak nyaman.

Di Sidoarjo, ada kadhang yang saya cintai, kasihi dan sayangi secara berlebihan, yang sedang saya bimbing, diapun sama, sekeluarga sangat mencintai, mengasihi dan menyayangi saya, disana, saya di persilahkan untuk menempati satu rumah seorang diri, lokasinya strategis, rumahnya bagus, tempatnya nyaman, tapi,,,, setiap kadhang yang datang karena ingin bertemu saya, entah itu soal kadhangan atau Asmo, semuanya kesulitan mencari alamat tempat tinggal saya itu.

Di Kudus, ada kadhang yang sedang saya bimbing dan sangat saya cintai, kasihi sayangi, antara saya dan dia, sama-sama fer dan jujur terbuka, dia memberikan kebebasan keluar masuk dirumahnya kepada saya, kapanpun waktunya dan untuk selamanya, tapi,,, istrinya salah paham dalam mengartikan cinta kasih sayang saya, cinta kasih sayang laku yang saya berikan, diterimanya dengan cinta kasih sayang birahi.

Di Jombang, ada kadhang yang saya bimbing dengan cinta kasih sayang berlebihan, dan mempersilahkan saya untuk tinggal di rumahnya selama waktu yang di perlukan, sekeluarga fer dan baik segalanya, begitupun dengan lingkunganya, namun itu hanya mampu bertahan beberapa hari saja, karena sefer dan sebaik apapun sekeluarga itu, ndelalah, istrinya merasa pekewuh dan rikuh dll.

Dan masih banyak pembuktian-pembuktian lainnya, yang tidak mungkin saya tuliskan disini semuanya.

Di Malang. Di Blitar. Di Gresik. Di Surabaya. Di Cirebon. Di Jember. Di Banyuwangi. Di Kebumen. Dan Al-Khusus Di Prigen Pasuruan. Juga ada Kadhang yang sama seperti yang sudah saya uraikan diatas. Namun tidak berlebihan, sekedarnya saja, seperlunya saja, sewajarnya saja, dan hasilnya, semuanya dan segalanya aman, nyaman, lancar, mulus tanpa gendala dan masalah apapun. Begitupun soal uang dan tentang kebutuhan atau keperluan, disaat saya berlebihan, yang ada hanya tekanan-tekanan yang terasa menambah beratnya beban. Numun ketika saya tidak berlebihan, biasa-biasa saja, tetap mengutamakan dan mementingkan Dzat Maha Suci, apapun itu, jadi tidak masalah dan bukan masalah serta tanpa masalah apapun.

Hal ini berulang kali terjadi dan saya alami secara langsung di TKP, hingga seratus kali lebih, kalau saya tidak salah hitung, bagaimana saya tidak yakin, bagaimana saya tidak percaya, saya mengalaminya sendiri hingga berulang kali, seratus kali lebih. Dan hasilnya tetap sama begitu dan selalu seperti itu. Bahwa yang namanya Cinta Kasih Sayang terhadap apapun, jika Berlebihan, itu adalah masalah. Jadi….

Kesimpulannya;
Siapapun Anda…
Dimanapun Anda…
Jangan Pernah Mencintai. Mengasihi. Menyayangi. Apapun itu… Siapapun itu… Dengan Berlebihan, secukupnya saja, seperlunya saja, jika Cinta Kasih Sayang itu memiliki kadar, cukuplah 99% saja, sisakan 1% untuk Dzat Maha Suci. Syukur-syukur bisa sebaliknya. Kalau dalam lagunya si centil Fety Ferra seperti ini. Terlalu besar. Jangan. Terlalu kecil. Jangan. Terlalu panjang. Jangan. Terlalu pendek. Jangan. Yang sedang-sedang saja… He he he . . . Edan Tenan.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu dariku serta Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

PROSES PENYEMPURNAAN SEJARAH Eyang Buyut BANDUNG BONDOWOSO:


Toso Widjaya.32

PROSES PENYEMPURNAAN SEJARAH Eyang Buyut BANDUNG BONDOWOSO:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Banyuwangi-Bondowoso. Hari Jumat Kliwon. Tgl 31 Maret 2017

CERITA SINGKAT Tentang BANDUNG BONDOWOSO;
Berawal dari dua kerajaan Hindu di Tanah jawa dwipa, tersebut kerajaan Pengging dan Keraton Boko. Kerajaan Pengging, adalah kerajaan yang subur dan makmur, yang dipimpin oleh raja yang arif dan bijaksana, bernama Prabu Damar Moyo, dan memiliki seorang putra lelaki, yang bernama Raden Joko Bandung.

Sedangkan keraton Boko, yang berada di wilayah kerajaan Pengging, diperintah oleh seseorang raja yang kejam, dan berwujud denawa, tidak seperti manusia pada umumnya, tetapi seorang raksasa yang suka makan daging manusia, bernama Prabu Boko. Meski berwujud raksasa, Prabu Boko memiliki seorang putri yang cantik jelita, bernama Putri Loro Jonggrang. Dalam kerajaannya Prabu Boko memiliki seorang patih yang bernama Patih Gupolo, yang sakti mandraguna.

Suatu ketika, Prabu Boko dan Patih Gupolo, memberontak Kerajaan Pengging. Dan terjadilah peperangan yang dasyat, antara kedua kerajaan itu, singkatnya cerita, Pengging berhasil di taklukan,ditengah caruk maruk kekalaha akibat perang tersebut, putra mahkota bernama raden joko bandung, terpisah dari ibu dan pemomongan, ditemukan oleh parbu boko sedang tergeletak di tengah puing-puing reruntuhan perang, raden joko bandung yang pada saat itu masih balita, membuat Prabu Boko tergiyur untuk menyantapnya, namun ketika menyentuh tubuh bayi mungil itu, prabu boko tidak sampai hati untuk menguyahnya, lalu dibawalah bayi itu, pulang untuk dirawat hingga besar.

Sejak merawat raden joko bandung, prabu boko jadi sering sibuk, memperhatikan pertumbuhan raden joko bandung, harapannya, kelak akan dijadikan manusia taklukannya, yang patuh dan setia hanya kepadanya, sebab itu, raden joko bandung di dogma sejak kecil hingga remaja, dan di latih beraneka ilmu-ilmu kesaktian tingkat tinggi, yang penggemblengannya, berakhir diatas puncak GUNUNG RAUNG dan GUNUNG IJEN.

Cerita Singkat Tentang Gunung Raung dan Ijen;
Gunung Raung adalah sebuah gunung yang besar dan tertua, gunung raung merupakan bagian dari kelompok pegunungan Ijen, yang terdiri dari beberapa gunung, diantaranya, gunung suket, gunung raung, gunung pendil, gunung rante, gunung merapi, gunung remuk dan Gunung Kawah Ijen, dari gunung raung inilah Prabu Boko, manusia setengah siluman itu berasal. Gunung Raung adalah tempat tinggalnya dan Gunung Ijen adalah tempat penggemblengan ilmunya, gunung raung dan gunung ijen, termasuk gunung tua yang terletak di paling ujung pulau jawa, membatasi Kab. Banyuwangi dan Situbondo-bondowoso Jawa Timur. Gunungapi raksasa ini muncul di sebelah timur dari suatu deretan puing gunungapi yang berarah barat laut – tenggara. Keangkeran Gunung Raung dan Gunung Ijen, sudah terlihat dari nama-nama pos pendakian yang ada, mulai dari Pondok Sumur, Pondok Demit, Pondok Mayit dan Pondok Angin, yang semuanya itu, mempunyai sejarah sendiri-sendiri.

Situbondo-Bondowoso-Banyuwangi, hanyalah satu dari seribu legenda dari Pegunungan Ijen/Raung di ujung timur Pulau Jawa. Ada lagi legenda Banyupahit, Kawah Wurung, atau kisah menak seperti Dhamarwulan yang merupakan bagian dari pegunungan tersebut. Tanah bergunung-gunung yang nyaris tak tersentuh, terisolasi, dan bernuansa gelap ini, banyak melahirlah aneka dongeng dan kisah magis. Termasuk budaya santet yang paling ditakuti.

Dulu, Pegunungan Ijen adalah bagian dari Negeri Blambangan. Nama Blambangan mencuat dalam sejarah tatkala rajanya, Menak Jinggo menolak mengakui kekuasaan Majapahit. Perang antara Blambangan dan Majapahit, lalu melahirkan kisah Menak pada abad ke-14. Kisah yang menceritakan perjuangan Dhamarwulan, pemuda dari rakyat biasa yang menjadi tukang arit, pencari rumput, tapi mampu membunuh musuh kerajaan, yaitu Menak Jinggo. Dia lalu menikahi Ratu Majapahit, Dewi Kencono Wungu, dan menjadi raja.

Gunung Kawah Ijen, mulai tersentuh tatkala kompeni Belanda menyewakan tanah yang amat luas di daerah Besuki, Panarukan, Probolinggo dan sekitarnya, kepada saudagar dan kapten penduduk Cina di Surabaya yang kaya raya, Han Chan Pit dan saudaranya, Han Ki Ko. Untuk menarik minat pekerja, mereka membagi-bagikan beras gratis saat ada kelaparan. Dalam waktu singkat, datanglah 40 ribu pekerja asal Madura. Mereka membuka lahan, bertanam padi dan sayuran, menggunakan sistem irigasi yang teratur. Namun meletusnya pemberontakan para petani yang dipimpin Kiai Mas pada 1813 membuat tanah sewaan ini dibeli kembali oleh Rafles.

Pelaksanaan politik culturstelse oleh Belanda di akhir abad ke-19, memaksa pembukaan kembali lahan-lahan terpencil ini, termasuk Pegunungan Ijen, untuk dijadikan perkebunan kopi dan karet. Lagi-lagi didatangkan ribuan pekerja asal Madura. Maka terciptalah ‘Madura kecil’ yang menjadi pusat pemukiman orang Madura beserta adat, budaya, dan bahasanya. Madura kecil kini masih bisa kita jumpai di sebagian Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.

Dan di Gunung Kawah Ijen inilah, raden joko bandung di gembleng habis-habisan, ketika melemparkan tubuh raden joko bandung ke kawah ijen, prabu boko berseru, hae… anak manusia, jika engkau bisa selamat dari semua yang ada di kawah ijen ini, maka seluruh ilmuku akan berpindah kepadamu, dank au akan menjadi penggantiku-penerusku, tapi jika tidak, berate engkau memang manusia yang hanya layak untuk menjadi santapan makanku. Setelah melempar raden joko bandung ke kawah ijen, lalu prabu boko pergi begitu saja, kembali ke Keraton Boko.

Setelah berhasil melampaui segala proses di kawah ijen, dalam perjalanan pulang ke Keraton Boko, raden joko bandung tersesat ke gunung raung, dan bertemu dengan penguasa utama semua bangsa lelembut yang menghuni gunung raung, bernama Bondowoso, namun raden joko bandung berhasil mengalahkannya, dan sang raja lelembut itu, berjanji akan menjadi abdi setia raden joko bandung untuk selamanya. Keberhasilan raden joko bandung, dalam menaklukan kawah ijen dan seluruh penghuni gunung raung dan sekitarnya, membuat raja boko bangga dan salut, lalu diberinya nama Bandung Bandawasa/bondowoso. Yang berati. Kehebatan Mengusai Kekuatan Alam Ghaib.

Disisi lain, setelah Pengging menjadi daerah taklukan kerajaan boko, dan akibat kesewenang-wenangan Prabu Boko, yang suka menindas dan memeras juga menculik para bayi, untuk dijadikan santapan makan pagi siang dan malam, semua rakyat kerajaan Pengging, menjadi menderita dan kocar kacir, kelaparan dimana-mana.

Prabu Damar Moyo yang berhasil menyelamatkan diri, ketika perang berhasil dikalahkan oleh Prabu Boko, secara diam-diam, menghimpun kekuatan ulang bersama rakyat Pengging. Hingga pada suatu ketika, Karena sudah banyak rakyatnya yang menderita, disaat yang dianggap tepat, Prabu Damar Moyo memulai pemberontakan itu.

Sementara itu, raden joko bandung yang di rawat oleh prabu boko, sejak kecil, dan tumbuh menjadi seorang sateriya yang tangguh, gagah dan hebat, bahkan jauh lebih hebat di bandingkan patih gupolo andalannya, dan berubah nama menjadi Bandung Bondowoso.

Mengetahui Pengging hendak memberontak. Prabu Boko mengutus Bandung Bondowoso, untuk mendahului menggempur pengging. Ditengah pertempuran, damar moyo yang melihat ada tanda yang cukup dikenalnya, yaitu toh bromo di pundak kanan bandung bondowoso, menghentikan pertempuran itu, dan mencoba mencari tahu, siapa senopati sakti utusan prabu boko tersebut. Singkat punya cerita, akhirnya, bapak dan anakpun menjadi bertemu dan bersatu kembali di tengah medan pertempuran, selanjutnya, merasa telah di peralat, karena bapak dan anak di adudomba, bandung bondowoso sangat marah, lalu membunuh patih gupolo sebagai pelampiasan amarahnya.

Lalaku berbalik arah menyerang Keraton Boko, dan berhasil menaklukan bahkan membunuh Prabu Boko, yang telah memisahkannya dengan kedua orang tuanya selama bertahun-tahun dan dianggapnya telah mempermainkan dirinya.

Dan mengetahui kematian Prabu Boko. Putri Loro Jonggrang, sangat murka, namun tiada daya, karena dia adalah seorang wanita yang bukan ahli perang. Putri Loro Jonggrang hanya bisa sedih, mengetahui ayahandanya yang sudah meninggal. Bandung Bondowoso yang sedang mengobrak abrik keratin boko hingga akhirnya sampai ke kedaton Boko, disana ia bertemu dengan Putri Loro Jonggrang, dan amarahnya menjadi luluh, karena kecantikan Putri Loro Jonggrang, Bandung Bondowoso akhirnya malah tertarik dengan sang putri dan berniat untuk melamarnya, untuk dijadikan istri. Namun sang putri menolak, karena bandung bondowoso inilah, yang membunuh ayahandanya, maka ia membuat sebuah siasat untuk bisa membalas dendam kepada bandung bondowoso.

Sang putripun meminta dua buah hal syarat kepada Bandung Bondowoso. Yang pertama, adalah membuat sebuah sumur yang dalam. Dan dengan kesaktiannya, Bandung Bondowoso membuat sebuah sumur yang dalam, yang ia beri nama sumur Jala Tunda. Dan ia segera memanggil sang putri untuk melihat sumur yang sudah ia buatnya itu, lalu Putri Loro Jonggrang menyuruh Bandung Bondowoso untuk masuk kedalam sumur, dan setelah ia berada di dalam bumur, sang putri beserta pengikutnya, menimbun sumur tersebut dengan batu, supaya Bandung Bondowoso mati didalamnya. Namun ternyata kesaktian Bandung Bondowoso memang luar biasa, ia bisa meloloskan diri dari sumur itu dengan selamat.

Setelah selamat dari maut itu, ia langsung menuju ke Kedataon Boko, dengan amarah yang amat sangat. Bandung Bondowoso murka, karena tahu sang putri berusaha untuk membunuhnya. Namun, lagi-lagi karena kecantikan Putri Loro Jonggrang, maka redalah amarahnya. Dan mulailah Putri Loro jonggrang meminta janji yang kedua kepada Bandung Bondowoso. Yaitu meminta untuk dibuatkan 1000 buah candi dalam semalam, yang diperkirakan akan gagal dilaksanakan olehnya. dan Bandung Bondowoso setuju dengan permintaannya.

Dan dibantu oleh ribuan jin dari gunung raung dan kawah ijen, pengerjaan candi tersebut dimulai, menjelang tengah malam, pembangunan sudah hampir selesai, dan loro jonggrang yang ketakutan, akhirnya membuat siasat dengan membakar jerami, sehingga pemandangan menjadi lebih terang, sehingga berkokoklah ayam. Akhirnya jin yang membantu pengerjaan candi tersebut, melarikan diri, sedangkan candi yang dibangun sudah mencapai 999 buah.

Mengetahui usahanya gagal, karena ulah Putri Roro Jonggrang, maka murkalah Bandung Bondowoso dan mengutuklah Putri Roro Jonggrang, dengan berkata… Haeee,,, Loro Jonggrang, karena candi kurang satu, maka dirimulah yang akan menjadi candi yang ke seribunya, dan anehnya Putri Loro Jongran akhirnya menjadi sebuah Arca Batu.

Sedangkan bagi para gadis yang membantu membakar jerami untuk membantu Putri Loro Jonggrang, Raden Bandung Bondowoso mengutuknya menjadi perawan kasep alias perawan tua. Sebab itu, menurut kepercayaan orang dalu, melarang para gadis membakar jerami/meranga dan calon pengantin, mengunjung candi Prambanan/sewu, karena akan terkena kutukan Bandung Bondowoso.

HUBUNGAN WONG EDAN BAGU Dan BANDUNG BONDOWOSO;
Sesuai sejarah perjalanan proses hidup itu, bandung bondowoso, tidak mau kembali ke Pengging, menemui kedua orang tuanya, karena merasa malu, hargadirinya hilang dan ternoda, akibat dari cintanya yang di tolak Loro Jonggrang, kemudia dia mengembara keseluruh penjuru dunia, khususnya tanah jawa dwipa dan parahiyangan tanah pasundan. Usianya yang sangat panjang, hingga mencapai ratusan tahun, cukup sangat amat menyiksanya.

Hingga suatu ketika, terdampar di tanah pasundan, dan bertemu dengan Pangeran Cakra Buana. Sang Putra Mahkota dari Kerajaan Pajajaran. Yang kemudian di nikahkan dengan putrid tunggal dari Panglima Kumbang, satu-satunya Panglima Sakti dari golongan bangsa siluman harimau, yang diberi tugas khusus oleh Prabu Siliwangi, untuk menjaga seluruh kawasan hutan wilayah pajajaran. Dan hasil perkawinannya ini, Bandung Bondowoso dikarunia seorang Putra yang kemudia di beri nama Macan Ringgit. Hasil pernikahannya, macan ringgit memilik satu keturunan seorang putra yang di beri nama Luwung Ireng.

Setelah Kekuasa’an Panggeran Cakra Buana di gantikan oleh keponakan yang sekaligus juga menantunya, bernama Syarif Hidayatullah alias Sunan GunungJati. Tak lama kemudia di susul dengan mangkatnya Pangeran Cakra Buana. Bandung Bondowoso merasa kesepian, karena selain Pangeran Cakra Buana yang menurutnya sepaham dengannya, tidak ada, lalu beliau memutuskan untuk muksa. Meninggalkan wujud/raga tuanya, yang sudah tidak bisa banyak leluasa lagi itu.

Sebelum Muksa, Bandung Bondowoso berpesan kepada cucunya bernama Luwung Ireng, yang jika di artikan dalam bahasa indonesianya seperti ini “ Cucuku… walau kakek sehat, namun kakek sudah tidak bias banyak melalukan apa-apa lagi, sebab itu, kakek akan melakukan muksa, dengar baik-baik pesan kakek ini, dan sampaekan pesan ini kepada seluruh keturunan-mu yang merupakan garis keturunan kakek. Kakek tidak akan kembali kealam kesempurnaan, karena kakek tidak tahu jalannya dan tidak bisa caranya, setelah muksa nanti, kakek akan menunggu, salah satu keturunan kakek, entah yang keberapa, yang berhasil memperoleh Wahyu Kesempurna’an Hidup dan Mati dari Hyang Maha Segalanya, dan bisa menuntun kesempurnaan kakek menuju ke asal usul sangkan paraning dumadi, kakek akan menunggu di Kawah Ijen Gunung Raung, tempat dimana kakek mendapatkan ilmu yang membuat kakek bisa seperti ini hingga sekarang, sampai akhir jaman-pun, kakek tetap menunggunya disana, sebab kakek yakin, pasti ada salah satu keturunan kakek yang nantinya menerima wahyu kesempurnaan itu, ingat pesan kakek dan sampekan kepada seluruh keturunan-mu” setelahnya… Bandung Bondowoso Muksa. Mati sebelum ajal, meninggalkan raga dengan menggunakan ilmu. Sukma/Ruh-nya. Kembali dan berdomisili di Kawah Ijen. Sementara raganya di kebumikan di Dukuh Luwung Ireng Desa Gintunglor Kecamatan Susukan Kabupaten Cirebon Jawa Barat.

Selanjutnya, sepeninggalan Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunungjati, hasil pernikahannya, yang lama tidak memiliki keturunan, pada akhirnya di karuniai seorang putra, yang di beri nama Sarpani, yang kemudian Sarpani menurunkan Putra bernama Mat-salim, dan Mat-Salim yang menikahi Dewi Arimi, menurunkan seorang Putera yang di beri nama Djaka Tolos, yang dilahirkan saat perang penjejajahan DI di lereng gunung ciremai, dan berganti nama setelah berada di kota, menjadi Toso Widjaya. D. yang awal kehidupannya morat marit tidak karuan alias tidak jelas, namun kemudia insyaf bin berTaubat dengan Wahyu Panca Ghaib, yang berhasil di Ibadahkannya dengan menggunakan Wahyu Panca Laku Warisan Leluhur yang berpunjer di Dzat Maha Suci.

Dan karena itu serta sebab itu. Wong Edan Bagu berada di Gunung Kawah Ijen, yaitu untuk menutup usiakan Permohonan Terakhir leluhurnya tersebut Eyang Buyut Bandung Bondosowo/Bandawasa atau Raden Joko Bandung. Demikianlah sekilas sejarah mengenai Bandung Bondowoso yang bisa saya bagikan secara umum, untuk di ambil hikmahnya, dengan harapan semuga dapat bermanfaat guna dalam Laku Spiritual Hakikat Hidup. Untuk Proses Penyempurnaanya, lihat rekaman vidionya dan Mohon Maafkan atas ketidak sempurnaan rekaman vidionya, karena itu diluar kehendak saya, melainkan pembatasan dimensi atau ranah kehidupan antara yang bersipat umum dan pribadi.

Saya Wong Edan Bagu… Mengucapkan;
Salam Rahayu selalu, serta Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

(NYATA dan PENTING Tolong DiBaca Agar Anda Tidak Terjebak):


Cara Dzat Maha Suci, menarik saya, supaya tidak pernah perpisah dengan-Nya:
(NYATA dan PENTING Tolong DiBaca Agar Anda Tidak Terjebak):
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Prigen Pasuruan Jatim. Hari Minggu . Tgl 26 Maret 2017

Awalnya saya tidak percaya dan saya mengira, bahwa orang hebat itu, pasti memiliki ke hati-hatian dalam segala halnya, dimanapun dia berada, serta tidak memiliki sipat pecundang dan sikap pengecut. Kalau istilah jawanya. Toto. Titi. Surti ngati-ati di dalam lampah lelaku Eling lan Waspodo. Kenyata’annya tidaklah demikian.

Ternyata’anya;
Tidak semua orang hebat itu, memiliki kehati-hatian dan Toto. Titi. Surti ngati-ati di dalam lampah lelaku Eling lan Waspodo. Teka-teki ini, jawabannya saya dapatkan di internet.

Ada banyak orang hebat yang, berteman dengan saya, baik itu di facebook maupun yang mengikuti saya di google atau membaca artikel saya di blog atau wordpress, yang kurang berhati-hati, bahkan tidak teliti membaca tulisan saya, yang merupakan bentuk perkataan saya.
Ada yang baru membaca satu dua kata saja, mereka sudah menilai dan menyimpulkan, bahkan ada yang baru membaca judulnya, mereka sudah berkomentar menilai dan menyimpulkan ini dan itu, tentang saya yang menulisnya.

Akibatnya, yang muncul adalah EGO-nya, yang terucap dalam wujud tulisan itu, dan efeknya, sipat pecundang dan sikap pengecut-pun, menguasai status hebatnya, lalu menjatuhkan harga dirinya sendiri,broktak, iri, dengki, hasut, fitnah, mendebat, meremehkan, bahkan menghina dan anggapan-anggap miringpun bermunculan menguasai jiwa-sukmanya dll. Sehingganya, kebijaksaan rasa toleransi dan kehati-hatian, yang seharusnyaa di miliki oleh seorang yang hebat, tumbang, bahkan sirna lenyap termakan egonya, lalu berganti menjadi pecundang dan pengecut serta khianat.

Andai saja, mereka tetili dan hati-hati, mau mengambil tahu detail jelasnya kronologi biografi saya, sebelum berkomentar menilai dan menyimpulkan, mereka pasti tahu, kalau saya itu, seorang pembimbing yang sedang aktif membimbing, bukan anak kemaren sore yang sedang mencari-cari jatidirinya, bukan abg ingusan yang sedang berjuang mencari pembenaran, bukan anak muda yang sedang menelusuri pembelajaran, melainkan manusia yang awalnya bejat, penjelajah gila, petualang konyol, yang pernah troktour keliling ke seluruh penjuru dunia, sehingga sudah teramat kenyang makan asinnya garam, bahkan pahitnya empedu dan bahayanya racun, yang lalu bertaubat-insyaf, dengan semua dan segala pengorbanan yang tidak sepele dan remeh, demi taubatnya itu.

Karena pengertian dan pemahamannya itu, mereka pasti bijaksana menilai dan menyimpulkan mengenai saya dan tentang saya. Mereka pasti tidak akan tega, tidak akan sampai hati, menuduh saya itu ini dll. Mereka tidak akan sampai hati dan tega, menyerang saya dengan berbagai macam cara yang kejam dan keji, karena selain tidak ada manfaatnya dan sia-sia saja, sekalipun saya berhasil di matikan dan dijatuhkan, juga jatidirinya sendiri sebagai orang hebat-pun, akan menjadi sangat remeh dan lebih remeh, di banding anggapan mereka yang di tujukan kepada saya.

Namun…
Karena tidak ada kehati-hatiannya, mereka jadi tidak tahu, justru malah merasa tertantang, merasa perlu harus memusuhi saya, bahkan menyingkirkan saya. Akibatnya, tidak terima senang, malah semakin jadi, membenci, mencemoh, menfitnah dengan berbagai cara, paling halus, berusaha mencari-cari titik kelemahan kesalahan saya, untuk dibukan di tengah-tengah umum, bahkan ada yang berusaha mencelakai saya dari jarak jauh, menyerang dengan menggunakan ilmu-ilmu ghaibnya, seperti santet atau braja teluh dll.

Di hampir setiap malam, bahkan waktu dan di hari siang bolong pun, saya di hujani dengan serangan-serang dari merekan yang tidak berprikemanusia’an sama sekali, entah itu saya sedang mengendarai motor atau duduk atau bersamadi. Hal ini, saya alami disetiap saatnya, dari mereka yang sangat-sangat saya cintai, saya kasihi, saya sayangi dan saya hormati.

Karena saya tahu benar, bahwa; Tidak selembar daunpun yang jatuh kebumi ini, tanpa kehendak Dzat Maha Suci, dan setiap kehendak Dzat Maha Suci, itulah yang benar dan terjadi, saya tidak bisa berbuat apa-apa, selain menerapkan Wahyu Panca Ghaib dengan menggunakan Wahyu Panca Laku.

Coba Anda renungkan, seandainya laku saya bolong, sedetik saja,,,, entahlah, saya tidak bisa berkata, namun yang jelas, semakin saya mengalami hal-hal itu, semakin tidak ada jarak antara aku dan gustiku, karena jauh, berati celaka.

Tidak berhenti sampai disitu saja. Ada banyak situs di internet yang menggunakan Nama dan Photo saya. Mereka beriklan dan berprosi sesuka merekan. Ada situs webseit Dukuh Ahli Togel. Ada situs webseit Dukuh Pesugihan. Ada situs webseit Paranormal Sakti dan Hebat Ahli Pelet-Pengasihan. Ada situs webseit Penyedia layanan seks Pasutri. Sampai Forum Seks pun ada, dan semuanya itu, menggunakan nama saya dan photo saya. Salah satunya link tautan ini; http://dukunpelethandalterpercayaindonesia.blogspot.co.id/…

Klik saja link tautan itu kalau tidak percaya. Link tautan yang saya tulisankan diatas itu, adalah salah satu webseit terkonyol yang sudah saya telusuri, karena di webseit itu, menyediakan atau melayani jasa bantuan. Tentang; Ilmu pelet, santet, menggugurkan kandungan alias aborsi, pesugihan, tuyul, seks, dan entah apa lagi, pokok-nya konyol banget, saya, yang merasa memiliki nama dan photo yang di gunakan di webseit itu, namun merasa tidak memiliki webseit itu. Terbelalak, merinding, menangis, sedih, perih, marah dan semua ketidak enak’an, bercampur aduk menjadi satu tidak karuan.

Lagi-lagi…
Karena saya tahu benar, bahwa; Tidak selembar daunpun yang jatuh kebumi ini, tanpa kehendak Dzat Maha Suci, dan setiap kehendak Dzat Maha Suci, itulah yang benar dan terjadi, saya tidak bisa berbuat apa-apa, selain menerapkan Wahyu Panca Ghaib dengan menggunakan Wahyu Panca Laku.

Namun sebagai manusia hidup yang berWahyu Panca Ghaib dan menjalankannya dengan menggunakan Wahyu Panca Laku, saya merasa tidak ada salahnya, untuk mengingatkan Anda. Supaya tidak menjadi Korban penipuan mereka, yang sedang menjual Nama dan Photo saya di internet.

Begitulah cara Dzat Maha Suci, menarik saya, supaya tidak pernah perpisah dengan-Nya. I love you, full,,, untukmu sekalian yang telah berhasil membantu saya, untuk tidak pernah berpisah dengan Dzat Maha Suci-ku, dan untuk Para Kadhang Anom didikan saya dimanapun berada, ambilah hikmah dari Cara Dzat Maha Suci menarik saya, untuk tidak pernah berpisah dengan-Nya ini.

Lalu bagaimana caranya Pak WEB…?!
Untuk mengetahui itu situs webseit milik Pak WEB atau Bukan…?!
Sebenarnya mudah dan gampang. Caranya; Lihat Profilnya-Alamatnya. Atau iklannya. Nomer Telephon yang dicantumkan, nomer telephon milik saya apa bukan: Dan Ini Nomer Telephon Milik Saya: Nomer Telephon Khusus untuk Melayani Keluarga; 0819-4610-8666. Nomer Telephon Khusus Melayani Umum; 0858-6179-9966. Nomer Telephon Khusus Perbankan; 0821-8735-7432. Dan saya tidak pernah ganti-ganti nomer atau memiliki Nomer telephon lain, selain nomer telephon tersebut.

Contoh missal seperti Situs webseit ini; http://dukunpelethandalterpercayaindonesia.blogspot.co.id/…
Alamatnya seperti ini;
Ki Djaka Tolos
Alamat. Jl Koptu Ruswandi. No 127. Purwoharjo.
Kec. Tegaldlimo. Kab. Banyuwangi Jawa Timur.
Telephon; 0812-1003-3737.

Nomer telephonnya tidak sama dengan nomer telephon milik saya kan…
Jadi,,, walaupun Naman dan Photonya milik saya, jika bukan nomer telephon saya yang sudah saya tulis diatas yang dicantumkan. Ingat…!!! Itu bukan miliki saya, itu bukan saya, kalau Anda sampai tertipu dan menjadi korban penipuannya. Maaf-kan… Saya tidak mau tahu dan tidak bertanggung jawab jenis dan model apapun. Karena itu kesalahan Anda sendiri.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu dariku serta Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com