Kisah Misteri Kehidupan Setelah Mati:


Kisah Misteri Kehidupan Setelah Mati:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Kamis Legi. Tgl 30 Juni 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian….
Seyogyanya, ketika kita tidur, kita harus ingat, bahwa tidur itu, adalah saudaranya mati.

Bagaimana tidak, apa yang bisa kita lakukan sa’at tidur?
Apa yang mampu kita ingat waktu tidur?

Oleh karena itulah pada saat ingin tidur, usahakan kita sungkem dulu kepada Hidup kita yang menguasai tidur, lalu sowan kepada Hyang Maha Suci Hidup yang mengusai segala dan semuanya. Agar supaya, kalau tidur kita tidak bangun lagi, kita sudah siap dalam segala halnya, misalkan kita tidur masih bisa bangun lagi, juga sudah siap dalam semua halnya.

Kita sering beranggap, bahwasanya ketika kita tidur, kita bisa menjamin besok kita masih bisa menikmati udara pagi, cahaya matahari, serta kicauan burung. Padahal tiada seorangpun bisa, bahkan jin dan malaikat pun, tidak bisa menjamin bahwa besok paginya kita masih hidup.

Betapa banyak dan seringnya kejadian disekitar kita, mereka yang hari ini sehat besoknya sudah tiada. Malam masih bercengkrama, besoknya sudah tak bernyawa. Tidak-kah cukup hal itu untuk dijadikan contoh dan peringatan…?!

Lagi pula, tiada salah dan jeleknya kan, jika kita senantiasa mengingat mati…?! Mengingat mati bukan berarti, harus menjadikan diri kita lemah. Menurut saya, jusru dengan mengingat mati, kita harus lebih bersemangat menghadapi kehidupan ini. Agar bisa memperoleh Sang Pemiliki segala dan semuanya ini. Coba pikir saja, iya apa iya….

Lantas… Kalau besok atau sekarang kita mati. Apa yang akan kita bawa…?!
Alangkah piciknya kita, jika hanya sibuk mempersiapkan diri, sebatas hari tua saja! Padahal, setelah hari tua, ada masa yang jauh lebih penting untuk kita persiapkan bekalnya. Yaitu masa setelah kematian menjemput kita. Masa ini jauh lebih lama, ketimbang masa tua kita. Bahkan kita akan kekal berada di dalamnya, jika layak untuk kekal.

Masa ini minta konsekuensi jauh lebih berat, ketimbang masa tua kita. Jika tak kita persiapkan denga matang, maka penderita’an yang sungguh-sungguh tak terelakkan, bakal menanti kita. Sayangnya, banyak di antara kita, yang lebih merasa gamang menghadapi masa lebih tua, ketimbang masa muda ini. Padahal masa itu, bisa saja datang dengan tiba-tiba atau saat kita berada di usia “emas”. Jadi berbekal-lah selagi sempat walai Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian….

Taman kematian… Yaitu kuburan, yang jasad-jasad lenyap dibawah tanah. Menunggu penghidupan kembali dan kebangkitan, serta ditiupkannya sangkakala atau kesempurna’annya, penduduknya berkumpul dibawah tanah yang lembab, tidak ada yang mengetahui keadaan mereka kecuali Dzat Maha Suci.

Ya… Kematian rupanya menjadi sebuah tantangan terbesar, dari Dzat Maha Suci untuk seluruh makhluk cipta’annya, semuanya di tantang dengan “MATI”. Tak pandang bulu, suku, ras, budaya, agama, budak atau raja, cendekiawan atau para mentri, kaum bangsawan ataupun rakyat jalata, orang kaya ataupun orang miskin, semuanya di tantang. BERANIKAH…!!!

Kematian… Adalah penghancur segala kelezatan dan kenikmatan, pemisah sebuah kumpulan/golongan, yang membuat yatim anak laki-laki dan perempuan, kematian memasuki setiap tempat, kamatian membinasakan setiap hamba. Dan dia bersipat pasti akan dihadapi oleh setiap makhluk, khususnya manusia yang hidup di dunia. Meskipun begitu, tak semua manusia yang mengingat hal itu dan mempersiapkan penyambutannya. Padahal kedatangannya sudah jelas, meskipun tidak akan pernah tahu kapan waktunya. Karenanya setiap kita mestinya ingat terhadap hal ini dan mempersiapkannya. Kalau sudah ingat… Adakah yang lebih penting dan utama dari Dzat Maha Suci…?! Tuhan yang kita sebut dengan beraneka warna nama itu…?!

Para Kadhang dan Selulur kinasihku sekalian… Ketahuilah, bahwa setelah mati, otak manusia tetap bekerja selama tujuh masa, masing-masing masa itu, memakan waktu lebih kurangnya satu menit? dan dalam tujuh masa itu, kita akan mengulang kembali, seluruh kejadian dalam hidup kita, dalam sebuah mimpi, yang mengerikan, kenapa saya sebut mimpi yang mengerikan, karena mengalami namun tak berdaya dan tanpa penolong.

Banyak informasi yang menyampaikan misteri ini, mulai dari kitab sejarah kuno tentang arwah dan buku-buku spiritual lainnya, tentang tuju masa kehidupan setelah kematian, yang akan dialami setiap manusia jika tiba waktunya mati, tapi saya yakin, darimanapun sumbernya, pasti baru sebatas katanya, sebab validnya misteri ini, harus mati dulu kan…?

Terlepas dari semua katanya itu, saya akan coba menguraikannya, sesuai pengetahuan yang pernah saya alami tempo dulu. Karena saya suka, jadi semuanya masih saya ingat hingga sekarang, sebab ini adalah saya satu bukti, yang saya dapatkan, bahwa Dunia dan Akherat serta Hidup dan kehidupan itu memang benar ada.

1. Dimasa Pertama;
Di masa pertama ini , kita akan mengalami kembali, masa ketika kita baru dilahirkan kedunia. Disini kita akan melihat, wajah orang pertama yang kita lihat ketika lahir, dokter yang membantu kelahiran kita , atau dukun bayi atau dukun beranak, bagi yang lahir secara tradisional di kampung.

Kita akan melihat wajah seorang wanita, yang telah menjadi ibu kita untuk pertama kalinya. Lalu kita akan melihat wajah seorang pria, yang telah menjadi babap kita untuk pertama kalinya, dengan senyum lebarnya.

Rasa Perasaan yang kita rasakan, saat melihat kedua orang tua kita di masa ini , bergantung pada apa, yang kita alami pada mereka disepanjang kehidupan kita. Bisa Cinta , atau Benci…

2. Dimasa Kedua;
Di masa kedua, kita akan mengulang kembali, pengalaman bersama teman-rekan atau sahabat kita, dari yang terbaik hingga yang terburuk. Masa ketika kita tertawa bersama, menangis, bercerita, saling mendukung, pertengkeran, berdebat, hingga perpisahan dengan mereka.

3. Dimasa Ketiga;
Di masa ketiga, kita akan mengingat, orang-orang yang pernah kita cintai, dalam menit ini, kita akan mengalami jatuh cinta lagi pada mereka semua. D ari mulai dengan cinta pertama, dimana untuk pertama kalinya kita sadar, bahwa kita jatuh cinta. Kita akan ingat, bagaimana senyumannya bisa membuat kita tergila- gila, bagaimana kita rela melakukan apa saja untuk membuatnya bahagia. bagaimana kita tak bisa jauh darinya.

Dilanjutkan dengan masa ketika kita patah hati, kecewa, menjalani masa-masa sendirian , masa dimana kita bersumpah, bahwa cinta itu tak pernah ada. Kemudian sampai ketika kita menemukan kembali, orang yang membuat kita jatuh cinta lagi.

4. Dimasa Ke’empat;
Di masa ke’empat ini, kita akan kembali ke masa-masa terburuk dalam hidup kita, kita akan kembali kemasa, ketika kita pertama kali merasakan patah hati. Masa ketika kita harus melihat orang-orang yang kita sayangi meninggal dunia.

Kita akan ingat , bagaimana kita membenci seseorang , dan dia juga membenci kita. Kita akan ingat bagaimana kita, menemukan seseorang yang kita cintai , tapi tak bisa kita miliki. Mana yang paling menyakitkan dari semua itu ? Kematian ? Patah hati ? Permusuhan ? Kita sendiri yang menentukan.

5. Dimasa Kelima;
Di masa kelima ini, kita akan ingat semua pelajaran yang pernah kita pelajari. Pelajaran sekolah ? Bukan..!!! Pelajaran Pondok Pesantren? Bukan…!!! Padepokan Perguruan? Juga Bukan…!!! Melainkan;

Pelajaran besar tentang hidup. Pelaran tentang kebahagian. Pelajaran tentang kesedihan. Pelajaran tentang persahabatan. Pelajaran tentang cinta kasih sayang. Pelajaran tentang kebencian dan iri sirik dengki dan dendam. Pelajaran tentang kehilangan…

6. Dimasa ke’enam;
Di masa ke’enam ini , kita akan mengalami kembali, segala sesuatu tentang diri kita. Bagaimana kita berbicara, berjalan, bernyanyi, tertawa, bergaul, menangis dan semua kebiasa;an aktifitar seumur hidup kita. Bagaimana bentuk wajah kita, tubuh kita. Apakah kita mensyukri atau tidak menerimanya ? Keputusannya ada pada diri kita sendiri.

7. Dimasa ketujuh;
Di masa terakhir ini , saya tidak menemukan dengan pasti, apa yang akan kita alami. Tapi yang jelas, dimenit terakhir ini, kita akan kembali ke kejadian yang paling berarti di sepanjang sejarah hidup kita. Bisa jadi kejadian baik atau buruk (asal-usul) atau kedatangan malaikat untuk mengadili lalu memasukan ke surga atau neraka atau “INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN” Apa “INNALILLAHI WA INNA ILAIHI SURGAUN” Atau “INNALILLAHI WA INNA ILAIHI BIDADARIUN”… Mohon maafkan, saya tidak bisa menceritakan tentang yang terkahir ini, yang jelas kita akan menemukan jawaban dari seluruh kehidupan kita. jawaban yang tak pernah kita dapat semasa hidup didunia fana ini.

Kesimpulannya;
Kitalah yang menentukan bagaimana tujuh masa kehidupan setelah mati itu, mau tidak mau, rela tidak relah, suka atau tidak suka, semuanya PASTI Mengalami. Maka, tentukan mulai sekarang, selagi mati itu belum datang tiba untuk-mu. “INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN” Apa “INNALILLAHI WA INNA ILAIHI SURGAUN” Atau “INNALILLAHI WA INNA ILAIHI BIDADARIUN” Ini bukan dogma, ini soal kenyata’an, nyatanya,,, silahkan saksikan sendiri, ada berapa ratus bahkan juta manusia hidup di dunia ini yang mati di setiap harinya.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

KISAH DI BALIK “TAUBATAN NASUHA” Wong Edan Bagu:


KISAH DI BALIK “TAUBATAN NASUHA” Wong Edan Bagu:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Sabtu Legi. Tgl 25 Juni 2016

Salam Rahayu Hayu Ayu Memayu Hayuning Karahayon Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku sekalian. Pada ksempatan kali ini. Saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya, sa’at bertaubat dari segala hal yang pernah saya perbuat kala belum mengetahui kebenaran Dzat Maha Suci yang sesungguhnya, dan dengan itu, saya rasa, kebanyakan dari kita, hanya mengetahui kata istilah taubat-nya saja atau taubatan nasuha-nya saja, sedang tentang kenyata’annya, belum mengerti, seperti saya dulu, saya tau apa itu taubat, namun saya tidak mau bertaubat juga, karena saya tidak mengerti, apa itu taubat, apa lagi memahami hakikatnya. Karena itu, pada kesempatan kali ini, saya akan membagikan pengalaman saya, yang pernah saya dapatkan kala bertaubat. Semoga bermanfaat buat kita semua ya.:-)

Di beberapa artikel saya yang sudah terposting di internet, khususnya biograi sejarah hidup saya, saya sudah menceritakan sebagian besar keburukan dan kejahatan saya secara terus terang. Dan jika di singkat. Tersebut jahat banget, kalau di ibaratkan warna, hitam banget, sudah hitam, pakai legam lagi. Walau semua bentuk kejahatan saya semuanya beralasan karena dendam, namun yang namanya jahat, tetap jahat, tidak ada kompromi. Dan ada satu kejahatan yang belum saya ceritakan, dan kejahatan yang satu inilah, yang membuat saya berniyat dan bertekad sungguh-sungguh untuk bertaubat. Apakah itu? Mari kita ikuti kisahnya.

Pada suatu saat, saya menggali kuburan seorang wanita, yang baru saja meninggal dunia dan hendak saya perkosa mayatnya. Kenapa saya begitu bernafsu untuk memperkosa mayat wanita itu?

Dulu,,, suami dari seorang wanita ini, adalah seorang lelaki pemilik ilmu pengasihan semar kuning, dan dengan karomah ilmu pngasihan semar kuning tersebut, dia suka merusak pagar ayu (mengganggu umah tangga orang lain, dan menggauli para wanita yang sudah bersuami) dan wanita-wanita yang di sukainya. Hingga pada suatu ketika, dia menjamah para tetangga tempat tinggal saya, sehingganya, banyak para suami-suami yang mengeluhkan ketidak setia’an istri-istrinya kepada saya, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena takut, sebab, selain memiliki pengasihan semar kuning, lelaki itu juga, kebal bacok, sehingganya, banyak rumah tangga tetangga saya yang berantakan bahkan bercerai karena hal itu.

Dan singkatannya cerita, karena sebab itulah, saya bermaksud membalas apa yang sering di lakukan oleh lelaki itu, agar dia dapat merasakan, seperti apa rasanya, memiliki istri di ganggu orang, jalan satu-satunya adalah mengganggu istrinya. Lalu saya temui lelaki itu, dan saya katakan dengan terang-terangnya, bahwa nanti malam, saya akan datang mencumbui dan menggauli istrinya, dan saya katakan pula, agar dia berusaha untuk mencegah saya, kalau merasa mampu mencegah, dan saya bersumpah, kalau gagal, saya akan berguru lagi.

Namun sayang,,, sebelum saya melakukannya malam itu, sorenya istri orang tersebut, meninggal dunia dan di kubur esok pagi harinya. Namun saya tidak peduli akan hal itu, setelah paginya di kubur, malamnya saya membongkar kuburan wanita tersebut.

Dan rupayanya, pada hari itu, ada dua orang wanita yang meninggal secara bersama’an, dan di kuburkan berdampingan pada hari it juga. Yang satu adalah wanita istri lelaki yang sangat saya benci itu, dan satunya adalah seorang gadis dari tetangga dusun sebelah, yang meninggal karena di gigit ular beracun.

Saya kebingungan, makam yang mana yang harus saya bongkar, karena tidak ada tanda yang membedakan, sayapun nekad membongkar salah satu kuburan itu. Lalu saya keluarkan dari kuburnya, dan saya telanjangi dari kain kapan yang membungkusnya, Dan ternyata, kuburan yang saya bongkar, bukan kuburan wanita yang saya maksud, melainkan kuburan seorang gadis yang meninggal karena di gigit ular beracun. Melihatnya saya tertarik, kaena selain masih gadis, juga cantik alami, dan tidak nampak seperti mayat, dan seketika mayat wanita itu terbangun dan berkata pada saya.

“Jangan kotori tubuhku ini, aku sudah meninggal, aku tidak mau tubuhku ini kotori oleh perbuatan orang jahat macam kau”

Seketika saya sangat terkejut dan saya berusaha menjauhi mayat wanita tersebut, dari situ saya benar-benar terkejut, mengapa mayat bisa berbicara, dan saya sadar, mayat wanita tersebut berbicara karena saking tidak inginnya kehormatannya dikotori oleh saya.

Berawal dari situ saya menangis dan saya menyadari semua kesalahan saya selama ini, bukan hanya itu saja, semua perbuatan-perbuatan bejad dan nista yang pernah saya lakukan dulu-dulu, bermunculan, teringat semuanya, seakan gambarannya ada di wajah mayat seorang gadis yang ada di hadapan saya itu, sambil menangis pebuh sesal, saya kuburkan kembali mayat gadis tersebut dengan rapi seperti semula.

Dan malam itu juga, saya mendatangi guru saya. Kyai Murnawi namanya, dan berkata pada Kyai Murnawi guru saya tersebut, bahwa saya sangat ingin bertaubat atas semua kesalahan saya, dan guru saya memberi syarat atas taubat saya, saya disuruh jalan kaki dari kuburan yang baru saja saya jahati itu, menuju masjid agung cipta rasa kasepuhan cirebon, dengan niyat untuk mensucikan diri, dan di sepanjang perjalanan itu, harus tidak ada niyat lain, kecuali bertaubat, jarak dari kuburan tempat saya berbuat jahat dan masjid agung cipta rasa kesepuhan cirebon, berjarak sekitar sembilan kilo meter kurang lebihnya.

Benar-benar sangat jauh dan menguras tenaga untuk ukuran orang yang sedang menyesali diri, apa lagi dengan sikon badan yang kotor setelah bongkar pasang kuburan, yang sudah pasti jadi perhatian setiap mata yang melihatnya, tetapi karena tekad saya yang benar-benar ingin bertaubat, saya turuti perkataan kyai tersebut, dan akhirnya sayapun kembali ke kuburan lagi, lalu berjalan menuju masjid agung, terus dan terus berjalan tanpa memikirkan dan berpikir apapun kecuali niyat bertaubat, mungkin di tengah perjalanan, karena fokus saya hanya ke taubat, sehingga apapun yang saya lalui di sepanjang perjalanan, tidak ada satupun yang saya sadari/ketahui, dan saya terkena musibah, ketenggor/kesrempet mobil, disini saya baru sadar, kalau saya baru saja kesrempet mobil, saya meraba mulut dan hidung saya yang mengeluarkan daras segar, dan banyak orang yang berdatangan mengerumuni saya, lalu beberapa sa’at kemudia, saya tidak tau lagi apa yang terjadi di tempat itu. Karena mendadak semuanya lenyap menghilang, dan beberapa sa’at kemudian, saya melihat tubuh saya sendiri, yang sedang di kerumuni banyak orang, dan semua orang itu, tidak ada satupun yang melihat dan menghiraukan saya, yang sedang berdiri diantara mereka.

Dan tiba-tiba,,, dihadapan saya, nampak taman yang sangat indah, keindahannya tak bisa saya gambarkan dengan apapun, lalu dibelakang saya, nampak pula api yang menjilat-jilat ke angkasa, yang ngeri panasnya juga tak bisa saya gambarkan dengan apapun, tak lama kemudian, munculah sesosok orang dari taman yang nan indah itu, tak berselang lama, muncul juga sesosok orang dari api yang mengerikan itu.

Lalu, keduanya memperebutkan saya, yang satu ingin membawa saya masuk ke taman indah itu, sedangkan yang satunya, bersih keras hendak membawa saya masuk ke dalam jilatan api yang mengerikan itu. Mereka berdebat, dan saya mendengarkan perdebatan mereka berdua dengan sangat jelas. Inti perdebatannya;

“Yang muncul dari api, dengan penuh emosi berkatakan dengan sangat keras, karena semua kejahatan yang pernah saya lakukan, itu sudah lebih dari cukup bagi saya untuk di bakar dengan api raksasa ini, tidak pantas berada di dalam taman itu”.

“Namun yang satunya. Yang muncul dari taman, beranggap lain, karena kesungguhan saya untuk bertaubat, sampai akhir hayat saya meninggal dalam keadaan bertaubat, walaupun saya sangat jahat, tetapi saya layak di tolong olehnya, untuk di masukan ke dalam taman indah itu, kesungguhan taubat saya, dianggap sudah cukup layak untuk menempati taman itu”

Dengan perdebatan mereka berdua inilah, saya jadi tau dengan sadar, bahwa saya telah mati, karena di tenggor/srempet mobil tadi, dan saya jadi mengerti, bahwa dua sosok orang itu, adalah dua malaikat yang pernah saya baca kisahnya di dalam al-qitab. Satunya adalah Malaikat Ridwan As penjaga Surga dan satunya adalah Malaikat Malik As penjaga Neraka.

Dan perdebatanpun di menangkan oleh Malaikat Ridwan, dan saya di bawa masuk ke dalam taman yang keindahannya tidak bisa saya gambarkan dengan apapun yang pernah saya temui di dunia ini.

Sesampainya di dalam taman itu, saya di sajikan banyak kenikmatan, mulai dari makanan, minuman hingga beraneka senek dan buah-buahan. Namun saya tidak tertarik sedikitpun, karena tidak memiliki selera makan dan minum, perut saya tidak merasa lapar maupun haus, walapun telah berhari-hari berada di taman tersebut. Jadi, bagaimana mungkin saya akan makan dan minum, kalau tidak lapar dan haus. Saya juga di layani banyak wanita dan lelaki sehat dan cantik rupawan, namun saya tidak tertarik sedikitpun, karena saya tidak merasa memiliki syahwat, jadi,,, bagaimana mungkin saya bisa tertarik dan menerima pelayanan tersebut, sehingganya, apapun yang ada di dalam taman tersebut, saya bisa saya nikmati dengan mata saja, dan hanya sebatas pandangan memandang, tidak lebih dari sekedar itu.

Tak kala saya sedang mengumbar mata, menikmati pemandangan indah yang belum pernah saya saksikan sebelumnya. Tiba-tiba muncuh suara yang bergema, saya tidak asing dengan suara itu, saya sangat kenal dengan suara itu, dan saya yakin, itu suara saya sendiri, namun saya tidak merasa berbicara atau bersuara. Dengan jelas dan tegas, suara itu berkata tujuh hal, dan sampai kini saya tetap ingat. Tidak bisa LUPA:
“1.Taubatmu AKU terima”.
”2. Ini bukan tempatmu”.
”3. Kembalilah ke tempatmu”.
”4. Ini bukan asalmu”.
”5. Pulanglah ke asalmu”.
”6. Selesaikan tugasmu”.
”7. Kelak AKU akan menjemput”.

Sesaat kemudian, setelah suara itu hening, dan saya mencari-cari suara saya sendiri yang hilang entah kemana itu, tiba-tiba mata saya terasa panas, lalu saya berusaha mengusap mata sambil mengedip-ngedipkan kelopak mata. Dan saat saya membuka mata, ketika rasa pedih di mata itu hilang, ternyata saya berada di RSUD Gunung Jati Cirebon. Dan sedang di bungkus kain kafan oleh lima orang suster. Mengetahui saya hal itu, lima suster terlihat sibuk mempersiapkan impus ditangan saya, dan memberikan alat bantu pernapasan di hidung saya. Setelahnya, suasan berubah menjadi hening, dan sayapun mulai merenung atas semua yang telah saya alami, semuanya saya ingat. Bak nonton sinetron televisi favorit saya tempo dulu, “Dokter Dewi Sartika” judulnya, yang di perankan oleh dua bintang kakak beradik, yaitu Dewi Yul dan Dwi Yul. Dari awal hingga akhir, saya bisa menghapal kisahnya dengan sangat sadar. Karena saya menyukai sinetron itu.

Selesai rawat inap di rumah sakit beberapa hari, lalu saya pulang dan menemui Kyai Murnawi guru saya, dan ternyata, guru saya itu, telah meninggal dunia, pada hari yang sama, bersama’an dengan hari diwaktu saya mengalami musibah kecelaka’an waktu itu. Lalu saya pergi menyepi di kaki gunung gundul, yang terletak di sebelah selatan kecamatan ciwaringin cirebon barat. Saya mengabil yempay di goa dalem dan bersemedi selama 2 hari 3 malam. Disinilah saya mendapatkan wejangan Wahyu Panca Laku, dari diri saya sendiri. Wahyu Panca Laku adalah satu-satunya cara untuk menerapkan atau mempraktekan gelar gulungnya Wahyu Panca Gha’ib, yang sudah saya jalani sebelumnya.

Dan dengan Mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib menggunakan Wahyu Panca Laku ini. Saya sudah tidak berguru lagi, kepada wujud sesama manusia hidup, karena apapun yang akan kedepan dan kebelakang. Selalu di bimbing oleh Hidup saya, dan sejak itulah, saya menjadikan Hidup saya sendiri sebagai Guru Sejati saya. Al-hasil,,, atas bimbingan Guru Sejati saya, yang tak lain adalah Hidup saya sendiri ini. Saya jadi Tau sendiri. Mengerti sendiri. Paham sendiri. Bukan katanya apapun dan siapapun selain Hidup saya sendiri.

Dalam artikel lain, saya pernah mengatakan, bahwa Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan agama, bukan kepercaya’an, bukan kebatikan, bukan kejawen, bukan kapribaden, bukan golongan, bukan partai, bukan perguruan dan bukan apapun itu sebutannya. Melainkan “Wahyu Panca Gha’ib”. “Wahyu” itu pemberian langsung dari Dzat Maha Suci tanpa perantara apapun. “Panca” itu Lima. “Gha’ib” itu. Dzat Maha Suci itu sendiri.

Pada Hakikat Hidupnya. Setiap manusia itu, memiliki Wahyu Panca Gha’ib. Tapi karena yang di imani/percayai/yakini terlalu banyak. Bukan Cuma Dzat Maha Suci saja. Sehingganya terlepas jauh dari kesadarannya sebagai manusia seutuhnya. Tapi karena terlalu banyak tujuannya, bukan Cuma Dzat Maha Suci saja. Jadinya meleset terlalu jauh dari apa yang telah di Firmankan Dzat Maha Suci, yang telah di sabdakan kepada Hidup, yang bertempat tinggal pada diri pribadinya sendiri.

Apa Buktinya,,, kalau setiap manusia itu sebenarnya memiliki Wahyu Panca Gha’ib…?!
Buktinya Apa,,, kalau setiap manusia itu sebenarnya memiliki Wahyu Panca Gha’ib…?!
Sebenarnya saya pernah mengungkap hal ini, hanya saja, saya sisipkan diantara wejangan lainnya, bagi yang teliti membacanya. Pasti ketemu… dan bagimu yang tidak teliti membacanya, akan saya ulangi lagi penjelasannya sebagai berikut.

Wujud/Raga Manusia adalah wadah, sedangkan isinya ada lima, yaitu Wahyu Panca Gha’ib.
Jelasnya seperti ini;

Dalam artikel lainnya, saya pernah menjelaskan tentang awal pencipta’an Manusia Hidup, tersebut ADAM, yang artinya “Asal Dumadi Ananing Manungsa” (asal terjadi adanya manusia). Menurut pengetahuan pribadi saya, di perkuat oleh al-kitab yang menyejarahkan tentang pencipta’an ADAM. Bahwa singkatnya; wujud/raga manusia, di cipta dari tanah. Setelah di bentuk menjadi wujud/raga manusia. Kala itu, tak bisa berbuat apapun, kecuali hanya diam, bak patung batu, juga belum di beri nama ADAM. Lalu Dzat Maha Suci mengambil empat anasir, tersebut sari-sarinya air, sari-sarinya angin, sari-sarinya api dan sari-sarinya bumi. Yang kemudian di cipta menjadi makhluk yang masing-masing memiliki keistimewa’an, lalu di sabdakan masuk ke dalam wujud/raga manusia itu. Kala itu, masih tetap belum bisa berbuat apapun, kecuali hanya diam, bak patung batu, juga masih belum di beri nama ADAM.

Kemudian Dzat Maha Suci berFirman. “AKU TIUPKAN ‘RUH’ SUCI” kedalam wujud/ragamu, lalu BerSabda “Kun Faya Kun”.”HIDUP” maka Hiduplah si wujud/raga manusia itu. Dan sejak itu wujud/raga manusia itu menjadi Hidup. Bisa bergerak, berdiri, duduk, melihat, mendengar, mencium, merasa dll. Dan memiliki sebutan nama “ADAM” yang artinya “Asal Dumadi Ananing Manungsa” (asal terjadi adanya manusia).

Cobalah baca berulang kali di bagian pencipta’an ADAM ini. Lalu renungkan dengan kesadaran rasamu.

Adakah sesuatu apapun yang asalnya bukan dari Dzat Maha Suci…?!
Apakah Dzat Maha Suci menggunakan perantara…?! seperti malaikat atau apa gitu…
Jawabannya TIDAK!!! Bukan?

Inilah yang saya maksud. Bahwa kita dan semua serta segalanya itu, berasal dari-Nya dan akan kembali hanya kepada-Nya. Inilah yang saya maksud. Bahwa Wahyu Panca Gha’ib itu. Bukan; bukan agama, bukan kepercaya’an, bukan kebatikan, bukan kejawen, bukan kapribaden, bukan golongan, bukan partai, bukan perguruan dan bukan apapun itu sebutannya Dan semua manusia hidup itu, pada hakikatnya memiliki Wahyu Panca Gha’ib. Bagaimana tidak. Empat anasir itu, adalah Paweling. Asmo. Mijil dan Singkir. Sedang Ruh Suci itu. Adalah Hidup.

Tapi karena yang di imani/percayai/yakini terlalu banyak. Bukan Cuma Dzat Maha Suci saja. Sehingganya terlepas jauh dari kesadarannya sebagai manusia seutuhnya. Tapi karena terlalu banyak tujuannya, bukan Cuma Dzat Maha Suci saja. Jadinya meleset terlalu jauh dari apa yang telah di Firmankan Dzat Maha Suci, yang telah di sabdakan kepada Hidup, yang bertempat tinggal pada diri pribadinya sendiri.

Kalau seperti ini;
Tidak akan pernah bisa sadar dan menyadari bahwa Dzat Maha Suci itu, adalah yang terpenting dan utama dari semua dan segalanya.

Jika seperti ini;
Tidak akan pernah bisa sadar dan menyadari. Apa itu Wahyu Panca Gha’ib. Apa itu Wahyu Panca Laku. Apa itu Agama. Apa itu Kejawen. Apa itu Kepercaya’an. Apa itu Ilmu. Apa itu Tuhan. Apa itu Romo. Apa itu Allah. Apa itu Dzat Maha Suci. Apa itu Asma’ul Husna. Apa itu Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono. Apa itu Gusti. Apa itu Kawulo. Apa itu Putro. Apa itu Al-qitab dll. Semuanya serba katanya, sedangkan buktinya adalah semu tanpa kenyata’an.

Kalau tidak bisa sadar dan menyadari. Apa itu Wahyu Panca Gha’ib. Apa itu Wahyu Panca Laku. Apa itu Agama. Apa itu Kejawen. Apa itu Kepercaya’an. Apa itu Ilmu. Apa itu Tuhan. Apa itu Romo. Apa itu Allah. Apa itu Dzat Maha Suci. Apa itu Asma’ul Husna. Apa itu Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono. Apa itu Gusti. Apa itu Kawulo. Apa itu Putro. Apa itu Al-qitab dll.

Ya… Tidak akan pernah mampu Pasrah kepada Dzat Maha Suci.
Ya… Tidak akan pernah mampu menerima Dzat Maha Suci.
Ya… Tidak akan pernah mampu mempersilahkan Dzat Maha Suci.
Ya… Tidak akan pernah mampu merasakan semua dan segala proses hidup yang di tugaskan oleh Dzat Maha Suci.
Ya… Tidak akan pernah mampu menebar Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci kepada siapapun dan apapun. Apa lagi bisa… wah, jauh bangetttttttttttttt… He he he Edan Tenan.

Mampunya hanya mengeluh, protes bahkan menentang, konyolnya, menduakan bahkan senyeribukan Dzat Maha Suci. Katanya iman/yakin/percaya kalau Tuhan itu Esa dan maha segalanya, di salahkan tidak mau, di ingatkan tersinggung, di singgung salah paham, tidak terima senang dan bla…bla…bla…prakgh, waduh,,, gelasnya jatuh rek, jadi tumpah deh wedangnya. He he he . . . Edan Tenan.

PERTANYA’AN;
Firman mana?
Surat apa dan ayat berapa yang menjelaskan ini?
Hadist dan dalil siapa yang memperkuat hal ini?

Jika Pertanya’an itu yang ada di dalam pikiran kepala. Jangan pernah Rindu Tenteram. Jangan pernah ingin Sempurna. Apa lagi mendapatkan bukti nyata benarnya, apa itu Wahyu Panca Gha’ib. Apa itu Wahyu Panca Laku. Apa itu Agama. Apa itu Kejawen. Apa itu Kepercaya’an. Apa itu Ilmu. Apa itu Tuhan. Apa itu Romo. Apa itu Allah. Apa itu Dzat Maha Suci. Apa itu Asma’ul Husna. Apa itu Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono. Apa itu Gusti. Apa itu Kawulo. Apa itu Putro. Apa itu Al-qitab dll. Karena selamanya, tidak akan pernah mendapatkan Bukti Nyata dari sebuah kebenaran yang sebenarnya. Yang ada hanya raba’an dan sangka’an serta duga’an belaka, yang berkepanjangan akan membelenggumu.

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian. Apapun yang sedang di pelajari selama ini. Mulai dari Syare’at. Thariqat. Tasyawuf. Haqikat. Ma’rifat hingga ke Taukhid. Baik dengan menggunakan agama atau kepercaya’an. “Kuwi Lungguhe Pengerten”. Maksudnya, Itu hanya sebatas ilmu pengertian. Cara untuk mengetahui, cara untuk mengerti, cara untuk memahami. Bukan cara untuk menemui dan memiliki.

Cara untuk mengetahui apa?
Cara untuk mengerti apa?
Cara untuk memahami apa?

Ini contohnya;
Misal saya ingin mengetahui rokok, mengerti rokok, memahami rokok.
Yang di sebut rokok itu seperti apa ya?
Yang di bilang rokok itu apa ya?
Rokok itu yang bagaimana dan yang seperti apa ya?

Yang di pelajari. Mulai dari Syare’at. Thariqat. Tasyawuf. Haqikat. Ma’rifat hingga ke Taukhid. Baik dengan menggunakan agama atau kepercaya’an, itulah cara untuk mengetahui rokok, mengerti rokok, memahami rokok itu apa dan seperti apa serta bagaimana. Dengan ilmu-ilmu pengertian itu, sehingganya jadi tau, jadi ngerti, jadi paham. O…. itu to rokok. O… ini to rokok. O… begitu to rokok. O… disana atau disini to rokok itu.

Lalu,,, kalau sudah tau mengerti dan paham kalau itu rokok, apa sudah cukup hanya dengan mengetahui rokok itu, mengerti rokok itu, memahami rokok itu…?!

Tidak inginkah memiliki rokok itu, agar bisa menikmatinya secara nyata, bukan Cuma katanya atau sebatas hayalan di dalam bayangan merokok…?!

Monggo di Pikir…
Bati ngileerrr thok rek…. He he he . . . Edan tenan.
Kalau bisa memiliki rokok itu, sudah pasti tau, pasti mengerti, pasti paham. Bahkan bisa membuat rokok sendiri. Mungkin bisa punya pabrik rokoknya juga. Logikanya kan begitu. Iya apa iya? Hayo…

Tidak capek-kah…?! mencari dan tersu mencari tau terus, mencari ngerti terus, mencari pemahaman terus. Setelah tau, setelah mengerti, setelah paham, di biyarkan berlalu begitu saja, tidak di genggam, tidak di peluk, tidak dinikmati, tidak di miliki. Sudah Cukup-kah hanya mengetahui, mengerti’i, memahami saja…?!

Prakteknya Mana…!!! Mana Prakteknya Bro…?!
Cara untuk bisa menemuinya, ya hanya Wahyu Panca Gha’ib. Karena hanya Wahyu Panca Gha’ib yang tidak bisa di politik dan di rekayasa sesuai kepentingan dan kebutuhan apapun. Sebab Wahyu Panca Gha’ib, adalah satu-satunya Wahyu yang Murni/Tulen dan tidak menggunakan perantara apapun serta siapapun sa’at penyampaiannya.

Cara untuk bisa memilikinya, ya dengan Mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib menggunakan Wahyu Panca Laku. Kerena hanya Wahyu Panca Laku lah, satu-satunya Laku yang hanya memuja dan memuji Dzat Maha Suci dan menuju hanya kepada Dzat Maha Suci. Bukan lainnya.

Ini bukan Promosi Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku, bukan… Ini bukan soal Pamer atau Sombong, juga bukan tentang Over PD. Bukan… tapi ini wujud bentuk Cinta Kasih Sayang saya yang tulus, terhadap sesama Hidup yang berasal sama dan akan kembali ke yang sama juga. Ini soal kasunyatan/kenyata’an. Ini tentang kebenaran yang sesungguhnya benar. Silahkan di Renungkan dengan Rasa, minimal dengan hati nurani sebagai manusia hidup. Jika sulit dan susah untuk menerimanya. Lupakan saja, jangan dipikir, tidak usah di gubris. Apa yang saya kabarkan ini, anggap saja sebagai angin lalu, yang tidak perlu di debat dan tidak harus di kritik. Selesai kan…

Untuk bisa memiliki apapun itu. Kita perlu Praktek, perlu Exsen, bukankah begitu? Bukan hanya melihat saja. Tapi kita harus melakukannya, tidak cukup hanya dengan mengetahui, mengerti’i, memahami saja. (Istilahnya). Jika menginginkan mutiara, ya harus menyelam ke dasar laut. Bukan Cuma nongkrong diatas perahu. Sudah diatas perahu, pakai katanya lagi, waduh bro… Capek deh. He he he . . . Edan Tenan.

Sebenarnya mau Pacaran apa mau Nikah sih…??! (ibaratanya) Pacaran saja-lah. Pacaran itu kan asyik. Kalau niyat tujuannya mau Pacaran…. Maaf. Ya silahkan, berputar-putar di bawah pohon pisang samping jembatan, itu hak Anda. Tapi ingat, jika terlalu lama pacarannya, Anda akan mendapat cela’an dari banyak orang, terutama orang tuanya, karena pacaran itu memiliki etikan dan aturan serta batasan-batasan tertentu. Jika sampai di langgar. Maka Anda Harus siap di Grebeg pak hansip bahkan di kroyok warga. Dan masih banyak risiko-risiko buruk tapi asyik lainnya. Tapi kalau niyat tujuannya menikah. Ya Anda akan terbebas dari etikan dan aturan serta batasan-batasan tertentu, karena semua tentangnya, adalah hak milikmu secara resmi dan syah.

Heeemmmmm…. Para Kadhang dan Sedulur kinasih saya sekalian.
Sekali lagi saya ulangi. Manusia di Cipta dengan Fitrah (Suci), sedangkan Hidup, berasal dari Dzat Maha Suci. Dan kembali hanya kepada-Nya dalam keadaan Fitrah (Suci) seperti awalnya. Manusia Hidup di lahirkan ke dunia ini, sebagai utusan, dengan mengemban dua tugas wajib, yang tidak bisa di campuri oleh apapun dan dengan apapun.

Yang pertama adalah beribadah hanya kepada Dzat Maha Suci. Maksud dari kata ibadah disini adalah; “menjalankan semua perintah-Nya, yang sudah di sabdakan kepada Hidup yang menempati diri kita. Sedangkan yang kedua yaitu, menjaga dan melestarikan dunia seisinya”.

Dengan dua Tugas tersebut, manusia hidup di beri bekal, karena memiliki bekal yang di berikan langsung oleh Dzat Maha Suci, tanpa perantara, tersebutlah, manusia hidup adalah makhluk yang sempurna dibandingkan dengan makhluk-mahkluk lainnya, karena manusia hidup, rasa dan perasa’an untuk laku, mempunyai akal untuk berfikir, mempunyai hati untuk menilai dan mempunyai nafsu untuk kebahagiaan. Tatkala manusia melihat kemungkaran dan mengikutinya, hati nurani manusia tau, bahwa itu keburukan untuk tidak dilakukan, namun nafsu menginginkannya, karena dibalik nafsu adalah mahkluk lain yang tidak sesempurna manusia hidup, yang sirik, iri, dengki bahkan benci akan kesempurna’an yang kita miliki, sedangkan akal menilai dengan rasional, sehingga beradalah ia dalam kubangan salah/dosa/luput. Karena hatinya terkalahkan dengan nafsunya.

Namun ada juga yang tau bahwa hal tersebut adalah salah/dosa/luput, namun masih tetap melakukannya. Ini di sebabkan adanya makhluk lain yang tidak rela satu pun keturunan adam bisa menjalankan dua tugas tersebut, karena dengan gagalnya menjalankan dua tugas tersebut, maka,,, gagal pula untuk kembali kepada Asal Usulnya terjadinya kita.

Sebab itu, makhluk yang tidak memiliki kesempurna’an seperti manusia hidup, berupaya untuk menjebak, dengan cara merubah perbuatan salah/dosa/luput, menjadi lebih menarik untuk dijalani, karena mayoritas manusia hidup yang belum mengenali hidupnya, melakukan sesuatu hal, karena ketertarikannya, senang dengan hal-hal yang menantang, perbuatan salah/dosa/luput salah satunya. Sehingganya manusia hidup yang belum mengenal hidupnya, menyukai hal-hal yang disegerakan (instan). Sehingganya, makhluk yang tidak memiliki kesempurna’an seperti manusia hidup ini, dapat dengan mudahnya, menawarkan kesenangan dunia yang semu, terkesan instan, padahal dusta. Senangnya tuh disini-tetapi sakitnya tuh di akhirat. Padahal, pada hakikatnya, manusia hidup itu, disini senang disana senang. Tapi karena terjebak belenggu egonya sendiri, akhirnya disini senang disana sakit, dan yang lebih parah lagi, disini susah disana sakit.

Kesimpulannya;
Tidak ada cara lain, tidak ada jalan lain dan tidak ada solusi lain, kecuali dengan “BerTAUBAT” taubat dalam bahasa arab, artinya adalah kembali kepada Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi, yaitu Dzat Maha Suci. Bukan yang lainnya. Setelah kita melakukan lupa atau khilap selama ini. Dan tidak mengulangi lupa atau khilap tersebut. Sehingga taubat adalah satu2xnya Pintu awal Fitrah (Suci) yang merupakan bahan dasar dan asal usul kita pada awal mulanya. Jika tidak fitrah/suci, apapun caranya, tidak akan bisa, fitrah/suci dalam arti untuk ukuran manusia hidup. Adalah; murni/tulen-hanya Dzat Maha Suci yang di Puja Puji dan diTuju. Bukan lainnya. Jadi,,, jika masih membagi iman/yakin/percaya dan tujuan dengan lainnya selain Dzat Maha Suci, tidak akan pernah bisa. Karena tidak fitrah/suci, buktinya masih tercampuri/ternodai bahkan terkotori. Sebab menduakan bahkan mempuluh-puluhkan “Dzat Maha Suci” yang Esa/Tunggal.

Contoh Misal;
Iman/yakin/percaya kepada Tuhan. Iman/yakin/percaya kepada malaikat Tuhan. Iman/yakin/percaya pada surga neraka. Iman/yakin/percaya kepada nabi/rasul. Iman/yakin/percaya kepada hari kiamat. Iman/yakin/percaya kepada kitab. Iman/yakin/percaya kepada bla…bla…bla… lainnya. Sudah terbagi berapa tuh Dzat Maha Suci-nya. Iman/yakin/percaya kok di bagi-bagi kayak matematika sampai ngebekin dompet.

Padahal… Kalau benar-benar iman/yakin/percaya kepada Dzat Maha Suci. Sudah pasti dan tentu sudah iman/yakin/percaya semuanya dan segala tektek bengeknya. Jadi, tidak perlu kita membagi-bagi iman/yakin/percaya kita. Karena justru itu sudah menduakan bahkan senyepuluhkan Dzat Maha Suci yang kita akui tunggal adanya.

Padahal… Kalau tujuannya hanya Dzat Maha Suci. Akan mendapatkan semuanya dan segalanya. Jadi,,, tidak perlu kita menyusun tujuan sebanyak mungkin. Bertujuan ingin kaya raya, hebat, sakti, berpahala, beramal, berkaliber, surga, bidadari dan bla…bla…bla… lainnya. Dzat Maha Suci kan Maha semuanya dan segalanya. Ngapain ribet ngrancang dan merencanakan tujuan. Dzat Maha Suci itu, kan Maha semuanya dan segalanya. Iya apa iya? Hayo… He he he . . . Edan Tenan.

Diluar kesadaran ego. Kita telah menyekutukan Tuhan. Silahkan di Pikir sendiri lalu katakan sendiri. Menyekutukan Tuhan itu, disebut apa….?! padahal Firman, ayat, surat, hadist sampai ke dalilnya, kita sudah tau, mengerti dan paham. Tapi kita tetap melakukan penyekutuan selain Dzat Maha Suci. Sungguh amat sangat keterlaluan bukan…

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

MANUSIA SEUTUHNYA DAN PENYEBAB. TERJADINYA MASALAH DALAM KEHIDUPAN:


MANUSIA SEUTUHNYA DAN PENYEBAB.
TERJADINYA MASALAH DALAM KEHIDUPAN:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Kamis Pahing. Tgl 16 Juni 2016

Nomer Satu. MANUSIA SEUTUHNYA:
Manusia Seutuhnya, adalah Manusia Hidup, sedangkan Manusia Hidup, adalah Manusia yang mengenal Hidupnya, bukan Manusia Hidup namanya, kalau tidak mengenal Hidupnya, sebab kalau tidak mengenal Hidupnya, itu bukan Manusia Hidup, melainkan Mayat Hidup, dan Mayat Hidup itu, bukan Manusia Seutuhnya. Menjalankan Spiritual Laku Hakikat Hidup dengan Wahyu Panca Gha’ib, di sadari maupun tidak disadari, menuntun manuisa, menjadi manusia seutuhnya, sebagaimana pada awal mulanya di ciptakan oleh Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Dan menurut saya. Manusia seutuhnya, adalah seseorang yang mengenal hidupnya, kalau belum mengenal, berati belum untuh dan tidak utuh, karena ada yang kurang, setidak-tidaknya yang telah mencapai Hakikat Hidupnya atau sekurang-kurangnya telah berhasil melenyapkan kekotoran Bathin, dan Kekotoran Batin itu ada tiga jenis macamnya. Yaitu;

1. Serakah atau keserakahan.
2. Benci atau kebencian.
3. Masa Bodoh atau kebodohan.

Hidup adalah merupakan tingkatan kesucian pertama, dimana seseorang telah berhasil melenyapkan tiga belenggu yang sudah saya sebutkan diatas, dari sepuluh belenggu batin. Manusia merupakan perpaduan antara lima gugus kehidupan, atau Panca khanda kalau istilah ilmunya, yang terdiri dari lima dibawah ini:

1. Jasmani.
2. Perasaan.
3. Penyerapan.
4. Kehendak.
5. Kesadaran.

Jadi, menurut saya manusia seutuhnya itu, bukan dilihat dari kesempurnaan fisik. Seseorang yang terlahir rupawan, sehat, tidak cacat, pintar secara intelektual, kaya materi dl, sebab itu belum tentu dapat disebut sebagai manusia seutuhnya. Manusia seutuhnya. Adalah manusia yang hidup dengan menjunjung tinggi dan menjalani nilai-nilai kemanusiaan, seperti kedermawanan, kebajikan, kemoralan, dan kebijaksanaan yang sesuai dengan penemuan pribadinya secara spiritual agama, kepercaya’an ataupun ilmu (Lelaku dan Laku).

Seorang manusia harus merenungi mengapa kita lahir ke dunia dan apa tujuan kita menjalani kehidupan kita. Apakah kehidupan yang kita jalankan bermakna atau tidak. Kalau kita mencermati bagaimana cara seseorang menjalani hidup, kita akan menemukan banyak jawaban untuk sebuah pertanyaan: apa tujuan hidupmu? Ada yang bertujuan hidup untuk memenuhi cita-cita karier dengan tujuan menghasilkan uang atau ketenaran. Ada sebagian yang bertujuan untuk mengumpulkan pahala demi kebahagiaan di surga kelak. Namun, banyak juga yang tidak punya tujuan yang jelas dll. Namun menurut saya. Manusia hidup di dunia memiliki tujuan antara lain:

1. Hidup harmonis antar sesama dengan mewujudkan cinta kasih sayang spiritual.
2. Membina Batin secara lahir maupun bayhin untuk mencapai tingkat kesucian spiritual.
3. Memanfaatkan berkah-berkah alam untuk membantu pencapaian kesucian spiritual.

Dan kualitas atau standar kemanusiaan kita dapat diukur, dengan praktek-praktek pengembangan moralitas spiritual kita sehari-hari. Alam manusia adalah alam yang paling menguntungkan, karena di dalamnya terdapat perpaduan antara suka dan duka, yang memberikan banyak kesempatan bagi kita untuk menyadari sifat sejati kehidupan. Di alam manusia ini, juga kita memiliki banyak kesempatan untuk berkarya suci dalam mengembangkan kebajikan dan kebenaran, melatih diri dalam pembinaan lahir batin, untuk bisa mencapai kesucian, sebagaimana kita berasal.

Karena itu… Berbahagia dan bersyukurlah tanpa syarat. Kita sering kali membuat syarat bagi kebahagiaan kita, syukur kita; saya belum bahagia, saya baru akan bahagia jika saya sudah lulus SMA, jika saya sudah kuliah, jika saya sudah bekerja, jika saya sudah menikah, jika saya sudah kaya, jika saya sudah bisa bayar hutang, jika saya punya anak lelaki dan bla… bla… bla… lainnya.

Dengan terus membuat syarat bagi datangnya kebahagia’an, kita tidak akan pernah benar-benar bahagia, kita takan pernah bisa bersyukur. Oleh sebab itu, berbahagia dan bersyukurlah sekarang, di sini dan saat ini juga.

Konsep lama. Sistem lama. Cara lama. Yang di dogmakan selalu membuat manusia hidup, penuh dengan tekanan batin dan ketakutan yang mencekam, akhirnya, jauh dari yang namanya bahagia dan tenteram, apa lagi sempurna yang di idamkannya.

Kita seringkali tidak mengerti apa yang kita pikirkan, ucapkan dan lakukan, karena kita tidak pernah benar-benar memberikan perhatian penuh terhadap diri kita; pikiran, perkata’an, dan perbuatan kita dll. Oleh sebab itu, seringkali kita melukai diri kita sendiri dan orang lain. Orang selalu penuh perhatian ke dalam diri, pasti akan mengucapkan syukur/terima kasih dan melakukan hal-hal yang baik, yang akan membuat dirinya selalu bahagia, bertaburan cinta kasih sayang dari siapapun dan apapun. Satu-satunya cara terpasti dan menjamin bisa berhasil dalam melatih perhatian kita, adalah dengan melakukan Semedi Patrap Wahyu Panca Ghaib menggunakan sistem Wahyu Panca Laku.

Masih ingat Wejangan saya akhir Tahun 2015 yang lalu?
Yang seperti ini intinya; “Jagalah Pikiranmu, karena Pikiran akan menjadi Perkata’anmu. Jagalah Perkata’anmu, karena Perkata’anmu akan menjadi Perbuatanmu. Jagalah Perbuatanmu, karena Perbuatanmu akan menjadi Kebiasa’anmu. Jagalah Kebiasa’anmu, karena Kebiasa’anmu akan membentuk Karaktermu. Jagalah Karaktermu, Karena Karaktermu akan membentuk Nasibmu. Maksimal Jagalah Hati/Qalbumu, karena Hati/Qalbumu akan menentukan Rasamu. Jagalah Rasamu, karena Rasamu akan menentukan Lakumu. Jagalah Lakumu, karena Lakumu akan menentukan Hyang Maha Suci Hidup-mu. Tuhan hantu apa hantu Tuhan atau hantu-hantuan apa Tuhan-Tuhanan”

Nah,,, pada kesempatan kali ini, saya akan mengungkap soal ini. Benarkah Nasib itu berawal dari Pikiran kita? Benarkah Tuhan itu di tentukan oleh Hati kita sendiri. Berikut Wejangan atau Wedaran riyilnya. Dengan judul “Penyebab Terjadinya Masalah Dalam Kehidupan”

Nomer Dua. Penyebab Terjadinya Masalah Dalam Kehidupan;
Setiap tindakan atau aktifitas fisik dan berpikir, akan menghasilkan energi, jika aktifitas kita dinyatakan oleh pikiran dan hati, sebagai aktiftas positif, maka akan menghasilkan energi positif, demikian juga sebaliknya. Energi positif ini akan tersimpan di dalam diri kita. Di sebuah bagian yang merupakan tubuh etherik, atau tubuh bioplasmik, atau tubuh halus, atau disebut juga sebagai tubuh energi. Inilah yang disebut sebagai Bathin atau Qalbu atau Jiwa atau Soul atau Roh Suci atau Hidup. Energi yang tersimpan di bagian jiwa ini, membawa informasi kehidupan kita. Baik kehidupan di masa lalu, masa kini atau bahkan informasi yang akan membentuk masa depan kita.

Inilah yang menurut saya awal mula terjadinya dari hukum karma. Baik karma positif dan negatif. Jika suatu saat tubuh fisik kita sudah tidak ada, proses ini disebut sebagai “meninggal dunia atau mati”, meninggalkan dunia, maka tubuh etherik kita, yaitu jiwa tersebut akan tetap ada. Jiwa atau Qalbu kita akan berpindah ke dimensi yang berbeda. Yang mengatur semua proses ini adalah Alam Semesta. Alam Semesta adalah Sistem yang maha dahsyat dan canggih serta rumit yang dibuat oleh Dzat Maha Suci atau Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono, untuk mengakomodir segala kehidupan yang ada di dalamnya. Multi Dimensi dan berlaku untuk semua cipta’an-Nya.

Penyebab Terjadinya masalah dalam kehidupan, akan bermula pada diri kita sendiri, dan ini akan sangat terkait dengan hukum energi alam semesta. Misal contoh; Suatu ketika kita berpikir, kemudian jiwa kita akan merespond. Timbul-lah “rasa”.

Yang terjadi pada pikiran kita : pikiran akan merespond/memproses semua informasi yang masuk melalui panca indera. Bisa lewat telinga kita, mata kita, hidung kita, mulut kita dan lain sebagainya. Informasi yang masuk akan diproses. Alam bawah sadar, adalah sebuah sistem yang mirip dengan RAM komputer yang ada di gadget kita. Tempat penyimpanan data sementara, sedangkan hardisknya atau tempat penyimpanan data utama, adalah di hati/qalbu/jiwa. Pikiran kita akan membandingkan data yang sudah ada (yang merupakan hasil dari pemrosesan yang terdahulu) dengan data yang diproses.

Jika suatu saat kita mengalami sebuah kejadian Misal contohnya; kita pernah beruntung ketika bekerja sama si A, nah otak kita akan menyimpan data informasi tersebut, dilengkapi dengan rasa yang muncul dari hati kita. Data ini akan disimpan sementara pada RAM/Alam Bawah Sadar dan akan disimpan selamanya di Hardisk/Jiwa. Jika suatu saat ada peristiwa yang hampir mirip, otak kita akan mencari perbandingan, atau referensi dari data informasi yang ada di Jiwa. Akhirnya kita mempunyai standar, mengenai siapa yang bisa kita ajak kerja sama supaya beruntung kembali, seperti apa keuntungan yang akan kita dapatkan. Dan seterusnya…

Otak – Pikiran akan menyimpulkan setiap informasi yang masuk melalui panca indera. Kesimpulan ini sering kita sebut sebagai asumsi. Yang sering terjadi adalah kita sering berasumsi negatif. Jika kita berasumsi negatif maka hati kita akan merespon dengan rasa tidak enak, tidak nyaman, tidak suka, bahkan benci dan lain sebagainya.

Dan yang sering terjadi adalah, kita akan dikendalikan oleh rasa tidak enak ini, akhirnya rasa tidak enak ini akan mendominasi. Salah satu bagian dalam tubuh kita, yang termasuk di tubuh etherik adalah pusat energi, yang ada di bagian ubun-ubun kita, adalah sebuah alat penghubung atau pemancar dan penerima energi, yang membawa informasi/data, dari diri kita ke alam semesta, ataupun sebaliknya. Jika kita mengirimkan asumsi negatif kita ke alam semesta, maka alam semesta akan merespond. Respondnya adalah energi yang membawa data dan termanifestasikan sebagai kejadian yang sama persis dengan asumsi kita.

Artinya; Penyebab segala masalah dalam kehidupan kita, adalah pikiran dan hati kita sendiri. Tanpa sadar kita menciptakan realita kehidupan berdasarkan asumsi pikiran dan rasa. Persepsi kita terhadap kehidupan kita sendiri, diciptakan oleh asumsi kita terhadap sebuah peristiwa. Dan kebanyakan, atau yang sering terjadi adalah kita berasumsi negatif, sehingga peristiwa yang kita hadapi, juga menjadi peristiwa negatif. Belum lagi kita menghadapi sebuah peristiwa, kita sudah membuat modal asumsi negatif, maka yang terjadi adalah munculnya kejadian negatif.

Yang lebih parah adalah, kita tidak dibiasakan oleh sistem pendidikan baik di level keluarga ataupun sekolah (baik di tingkat dasar sampai tingkat lanjut) untuk mengenal sistem tubuh kita dengan baik. Bagaimana Pikiran bekerja, bagaimana hati bekerja, bagaimana energi bekerja, malah yang terjadi adalah kita menyuburkan penggunaan asumsi negatif sebagai modal konstruksi berpikir kita. Iya apa iya? Hayo….

Yang barusan saya ungkap diatas itu, baru soal pikiran, belum lagi sistem hati/jiwa. Ini adalah sebuah sistem dalam diri kita yang tidak bisa dihilangkan, sama seperti pikiran negatif, atau asumsi negatif, ini tidak bisa dihilangkan, yang bisa kita lakukan adalah Sadar mengenalnya, lalu di Pilah-Pilih, terus di optimalkan dan Manfaatkan.

Hati atau jiwa kita ini terdiri dari bagian-bagian yang sering disebut juga sebagai nafsu. Nafsu baik dan buruk. Menurut keilmuan, yaitu keilmuan energi spiritual, Anatomi hati adalah; ( Dimulai dari bagian yang paling luar atau paling dekat dengan pikiran). Yaitu; Jiwa Amarah. Jiwa Keinginan. Jiwa Ego. Jiwa Tenang. Jiwa Bijak. Jiwa Murni. Jiwa Suci.

Tempat penyimpanan data kehidupan kita adalah di bagian ini. Sering sekali terjadi kita merespond asumsi baik positif atau negatif dari pikiran dengan menggunakan bagian jiwa yang tidak tertata dengan baik. Misalnya saja kita merespond segala kejadian dengan Jiwa Ego. Yang terjadi adalah dominasi Ego Pribadi atau Kelompok yang saat ini sering kita lihat terjadi pada keseharian, pada lingkup keluarga, ada ego suami dan ego istri, di level pekerjaan, ada ego perusahaan, ego karyawan. Di jalanan, ada ego pengguna motor, ego pengguna mobil dan banyak yang lain lagi. Kira-kira iya apa iya…?!

Jika saja kita terbiasa dalam menata pikiran dan hati, maka masalah akan bisa dihindari, kalaupun terjadi, maka kita akan kembali kepada diri kita, kita harus melakukan introspeksi diri dengan baik. Karena segala yang terjadi, baik positif atau negatif adalah karena diri kita sendiri, melalui proses berpikir dan bekerjanya hati.

Jadi… Penyebab terjadinya masalah dalam kehidupan kita, adalah dari diri kita sendiri. Untuk itulah, kita harus mulai memahami cara bekerjanya bagian-bagian dari diri kita, baik itu bagian tubuh fisik/wujud/tubuh (organ-organ tubuh bagian dalam dan luar ). Seperti Pikiran/mind, Hati/jiwa/rohani/soul dan Spirit/Ruhani.

Bagi saya, mengenali diri saya sendiri adalah sebuah awal dari kehidupan saya. Sebuah jalan untuk mengenali Dunia saya. Akherat saya. Kehidupan saya. Kematian saya dan Dzat Maha Suci Tuhan saya. Setiap kejadian yang terjadi, setiap masalah yang terjadi adalah sebuah cara atau tangga bagi kita, untuk lebih paham mengenai diri kita sendiri, lebih paham mengenai Alam Semesta, Lebih paham mengenai Dzat Maha Suci. Penyebab terjadinya masalah adalah diri kita sendiri, dan solusi atas masalah tersebut juga ada di dalam diri kita sendiri.

Karena itu;
“Jagalah Pikiranmu, karena Pikiran akan menjadi Perkata’anmu. Jagalah Perkata’anmu, karena Perkata’anmu akan menjadi Perbuatanmu. Jagalah Perbuatanmu, karena Perbuatanmu akan menjadi Kebiasa’anmu. Jagalah Kebiasa’anmu, karena Kebiasa’anmu akan membentuk Karaktermu. Jagalah Karaktermu, Karena Karaktermu akan membentuk Nasibmu. Maksimal Jagalah Hati/Qalbumu, karena Hati/Qalbumu akan menentukan Rasamu. Jagalah Rasamu, karena Rasamu akan menentukan Lakumu. Jagalah Lakumu, karena Lakumu akan menentukan Hyang Maha Suci Hidup-mu. Tuhan hantu apa hantu Tuhan atau hantu-hantuan apa Tuhan-Tuhanan”

Sebab… Segala tindakan kita akan menghasilkan energi, tidak hanya tindakan fisik, tetapi juga tindakan pada pikiran dan hati. Kita berpikir akan menghasilkan energi, kita merasakan sesuatupun akan menghasilkan energi. Awal mulanya, semua energi adalah murni, yang membuatnya menjadi positif dan negatif, adalah kita sendiri. Aktifitas yang dinyatakan sebagai aktifitas positif oleh pikiran kita, akan menghasilkan energi positif. Demikian juga sebaliknya.

Energi ini akan tersimpan di bagian jiwa/hati kita. Hati kita merupakan sebuah bank data informasi atau di gadget kita disebut sebagai hardisk. Energi yang tersimpan ini akan menarik datangnya energi yang sejenis dari alam semesta. Jika kita menyimpan banyak energi positif, maka kita akan menarik kejadian kejadian positif, tidak hanya itu saja. Tapi orang-orang yang memiliki kandungan energi positif tinggi, akan berdatangan ke sekitar kita. Demikian juga sebaliknya.

Nah,,, bagaimana jika energi yang tersimpan di dalam diri kita lebih banyak yang negatif? Inilah yang menjadi penyebab terjadinya masalah dalam kehidupan. Kita akan menarik datangnya berbagai masalah yang merupakan manifestasi dari energi negatif. Orang-orang yang negatif akan banyak berdatangan di sekitar kita.

Seringkali, ketika sedang ada banyak pikiran, kita ingin membuat diri kita lebih bombong/plong, lebih nyaman, lebih tenang, sedikit menghilangkan beban kita, dengan cara bercerita, curhat ke seseorang yang kita anggap mampu menerima curahan hati kita. Ketika sedang ada masalah ini, sebenarnya kita juga menyimpan banyak kandungan energi negatif di dalam diri kita. Karena itulah, tanpa sadar kita ingin sekali mengembalikan level energi dalam tubuh kita, menjadi positif kembali.

Nah,,, proses curhat tersebut juga begitu. Kita ingin membuang energi negatif. Energi negatif akan terbuang, yang bahaya adalah teman curhat kita, bisa-bisa energi negatif akan berpindah kepadanya. Karena itulah, untuk menjaga hal ini, biasanya kita diharuskan bertindak tenang, saat menerima curhatan orang lain. Jika tenang, informasi yang dibawa energi negatif, bisa dihalangi untuk terkonfirmasi lewat pikiran kita. Jika tidak bisa, maka biasanya kita akan tertular masalah yang sama dengan masalah yang dicurhatkan teman kita kepada diri kita.

“Jagalah Pikiranmu, karena Pikiran akan menjadi Perkata’anmu. Jagalah Perkata’anmu, karena Perkata’anmu akan menjadi Perbuatanmu. Jagalah Perbuatanmu, karena Perbuatanmu akan menjadi Kebiasa’anmu. Jagalah Kebiasa’anmu, karena Kebiasa’anmu akan membentuk Karaktermu. Jagalah Karaktermu, Karena Karaktermu akan membentuk Nasibmu. Maksimal Jagalah Hati/Qalbumu, karena Hati/Qalbumu akan menentukan Rasamu. Jagalah Rasamu, karena Rasamu akan menentukan Lakumu. Jagalah Lakumu, karena Lakumu akan menentukan Hyang Maha Suci Hidup-mu. Tuhan hantu apa hantu Tuhan atau hantu-hantuan apa Tuhan-Tuhanan”

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

KuPaS INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN DAN. WAHYU PANCA GHA’IB – PANCA LAKU:


KuPaS INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN DAN.
WAHYU PANCA GHA’IB – PANCA LAKU:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Selasa Kliwon. Tgl 14 Juni 2016

Bagi Wong Edan Bagu.
KUBUR ADALAH TEMPAT TERCANTIKU;
Dulu… Jenat Guru Spiritual saya, Ki Danan Jaya dari Panjalu jawa barat bagian selatan. Jika menjelang petang. Suka duduk di teras makam Raja-Raja Panjalu, yang letaknya di sebelah utara, berjarak sekitar 250 mtr kurang lebih, dari rumahnya. Pada suatu malam, saya menghapirinya dengan Pertanya’an-Pertanya’an;

WEB;
Guru,,, Menurut Guru, di dunia ini, di manakah tempat bersenang-senang, tempat yang paling indah?

Guru WEB;
Tempat yang paling indah itu terletak di sini “jawabnya”

WEB;
Disini…? Dikuburan…? “tanya saya lagi”

Guru WEB;
Ya betul. Menurut pendapat saya, tempat yang paling indah untuk bersenang-senang adalah di tanah pekuburan.

Saya terdiam, tidak mengerti apa maksud dari perkata’annya itu, karena saya merasa bersalah atas kelancangan pertanya’an yang tak berbobot itu, lalu saya sungkem di kakinya, untuk minta maaf. Lalu dengan lembut penuh cinta kasih sayang, tangan ramping berjari lentik dan berkulit keriputnya, mengelus ramput kepala saya, sambi berkata;

“Cung,,, (Le), kau tadi menanyakan pendapat saya. Tentu saja tempat yang paling indah bagi orang setua saya, ialah di tanah pekuburan. Apakah dengan umur saya, yang sudah setua ini, dapat mencari ketenangan di tempat-tempat hiburan. Jadi, kamu tidak salah, jadi,,, tidak perlu meminta maaf dan tidak perlu memaafkan”

Sejak itu, saya berpikir, bahwa kelak sayapun sama, seperti Guru saya, kurus, keriput dan tua, serta membutuhkan tempat indah, yaitu Kuburan, agar bangkai busuk saya tidak mengganggu setiap hidung yang masih bisa mengembus aroma. Karena yang namanya mati, adalah sesuatu yang pasti dan alami, bagi semua mahkluk hidup, pada suatu hari nanti. Meskipun sudah pasti, tapi tidak usah repot memikirkannya, kecuali membiasakan untuk selalu siap saja. Jika belum ada persiapan untuk kematian, secara bertahap benahilah apa-apa yang dianggap kurang. Maut kan tidak kenal orang sudah tobat atau belum, yang jelas kalau sudah tiba waktunya, ya itulah akhir hayat kita.

Hidup cuma sekali dan bukan sekedar untuk hura-hura serta mencari kesenangan dunia saja. Kita diciptakan oleh Dzat Maha Suci untuk beribadah kepada-Nya, bukankah semuan agama menganjurkan begitu? Dan Firman-Firman-Nya juga menjelaskan begitu?

Hidup kita di duniapun sudah digariskan oleh-Nya, jadi sangat naïf bila kita tidak mau menyembah-Nya dengan beribadah kepada-Nya. Apalagi dengan adanya hidup sesudah mati, waddduhh… jadi semakin ngeri nih, kalau belum tobat sa’at ajal menjemput.

Sejauh yang saya tahu, kematian itu datang bila seseorang sudah tidak punya mimpi dan gairah hidup lagi. Kan gampang saja bagi orang untuk mati, tapi kita tidak pernah mau kan? Kalau kita mati, kita kasihan sama keluarga kita yang telah membesarkan kita dan mau melihat kita sukses. Tidak tega sama anak-anak kita yang lucu-lucu dan istri kita yang cuantik denok deplon atau suami yang tampan dan gagah Perkosa. Eh,,, salah, maksudnya Perkasa. Pasti deh, kita tidak mau mati cepat, apalagi orang sekitar kita sering meledek, heemmmm,,, ingin ngebukti’in Aku dulu coy. He he he . . . Edan Tenan.

Dari Mana, Akan Kemana dan apa tujuan sebenarnya dari kehidupan ini ?
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya akan kembali).

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian. Ketahuilah… Dunia ini adalah Terminal. Hidup adalah kendara’annya. Sedangkan Laku adalah jalannya. Di terminal kita hanya mampir minum atau makan sekejap saja. Berhenti atau Lanjut adalah keputusannya. Sedangkan kita tau, terminal bukanlah tujuannya. Tujuan kita adalah rumah di kampung halaman, dan rumah kampung halaman itu, tidak berada di dalam terminal. Rumah kita adalah Dzat Maha Suci. Kampung halaman kita adalah Dzat Maha Suci.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya akan kembali).

“Tiap-tiap yang berjiwa hidup akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” ( QS. 21 : 35 )

Setiap orang, sekali waktu dalam kehidupan ini, pasti pernah mempertanyakan dalam dirinya tentang dari mana ia berasal, akan kemana, dan apa tujuan sebenarnya dari kehidupan ini. Oleh sebab itu. satu-satunya cara adalah dengan mengubah Pola Pikir manusia itu sendiri dan Penjelasan yang nyata, tentang pemikiran yang menyeluruh bab alam semesta dan isinya, terutaman manusia hidup dan kehidupan (di dunia dan akhirat).

Mengubah Pola Pikir;
“Jagalah Pikiranmu, karena Pikiran akan menjadi Perkata’anmu. Jagalah Perkata’anmu, karena Perkata’anmu akan menjadi Perbuatanmu. Jagalah Perbuatanmu, karena Perbuatanmu akan menjadi Kebiasa’anmu. Jagalah Kebiasa’anmu, karena Kebiasa’anmu akan membentuk Karaktermu. Jagalah Karaktermu, Karena Karaktermu akan membentuk Nasibmu. Maksimal Jagalah Hati/Qalbumu, karena Hati/Qalbumu akan menentukan Rasamu. Jagalah Rasamu, karena Rasamu akan menentukan Lakumu. Jagalah Lakumu, karena Lakumu akan menentukan Hyang Maha Suci Hidup-mu. Tuhan hantu apa hantu Tuhan atau hantu-hantuan apa Tuhan-Tuhanan”

Ini hanya bisa di lakukan dengan Wahyu Panca Gha’ib. Sebab diantara sekian banyak tuntunan, itu hanya Wahyu Panca Gha’ib yang mengajarkan Hidup dan Maha Hidup, dan hanya bisa di jalankan dengan Benar-Benar dan Sungguh-Sungguh. Karena Wahyu Panca Gha’ib. TITIK-nya hanya Dzat Maha Suci. Bukan dan Tidak selain-Nya. Karena itu, siapapun dia, dan dimanapun dia dan bagaimanapun politiknya. Kalau menjalankan Wahyu Panca Gha’ib, hanya sekedar iseng, coba-coba, atau pura-pura insyaf/tobat. PASTI akan mental bahkan tersungkur jatuh, kemungkinan besarnya MATI dengan cara mengerikan. Jadi, sangat tidak tepat kalau ada orang menghalangi apa lagi membenci orang yang sedang menjalankan Wahyu Panca Gha’ib. Karena orang yang menjalankan Wahyu Panca Gha’ib itu, adalah orang yang benar-benar telah bertaubat dan ingin menjadi benar secara sungguh-sungguh, bukan pura-pura. Kalau dia pura-pura. Pasti (FATAL) kualat kalau istilah jawanya.

Wahyu Panca Gha’ib, hanya bisa di jalankan oleh orang-orang yang benar-benar mau dan ingin bertobat/kapok secara sungguh-sungguh, bukan kapok lombok. Yang jika ada waktu dan kesempatan akan kumat lagi. Selain Wahyu Panca Gha’ib, bisa di perlakukan atau dijalan dengan cara iseng, coba-coba, atau pura-pura insyaf/tobat. Sekedar mencari Wah… Buktinya. Silahkan saksikan sendiri di sekitarmu. Mereka dengan bangganya bersembunyi di balik ajaran atau tuntunannya bahkan Tuhan yang di sembah dan di pujanya setiap sa’at. Dan mereka leha-leha saja. Justru malah semakin Wah… Ya apa iya…?!

Sedangkan Penjelasan yang nyata, tentang pemikiran yang menyeluruh bab alam semesta dan isinya, terutaman manusia hidup dan kehidupan (di dunia dan akhirat). Hanya bisa di dapat dengan cara mempraktekan Wahyu Panca Laku. Yaitu;

“Laku Pasrah kepada Dzat Maha Suci. Laku Menerima Dzat Maha Suci. Mempersilahkan Dzat Maha Suci. Merasakan semua Proses Dzat Maha Suci. Menebar Cinta Kasih Sayang kepada Apapun dan Piapapun”

Wahyu Panca Laku, itu bentuk lingkaran atau mata rantai yang salin terkait, tidak bisa terpisah atau berpisah “Sangkan Paraning Dumadi” sangkan paraning dumadi itu “lingkaran” Sangkan itu Asalnya berasal. Paran itu Tujuan. Dumadi itu kejadian. Asalnya dari Dzat Maha Suci. Tujuannya ya ke Dzat Maha Suci, karena Terjadinya juga dari Dzat Maha Suci. Jadi, kita tidak bisa lepas dan terlepas dari yang namanya lingkaran sangkan paraning dumadi Panca Laku. La kalau Wahyu Panca Gha’ib itu, yang di lingkari.

Jadi, kalau tidak dengan “Laku Pasrah kepada Dzat Maha Suci. Laku Menerima Dzat Maha Suci. Mempersilahkan Dzat Maha Suci. Merasakan semua Proses Dzat Maha Suci. Menebar Cinta Kasih Sayang kepada Apapun dan Piapapun” Apa bisa..?!

Wahyu Panca Gha’ib itu. Sangkan paraning dumadi. Sangkan paraning dumadi itu. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un itu lah. Wahyu Panca Gha’ib. Wahyu Panca Gha’ib atau Sangkan Paraning Dumadi atau Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Di lingkari oleh Wahyu Panca Laku. Apapun itu, tidak bisa lepas atau terlepas dari lingkaran ini. Tidak ada yang bisa terputus dan keluar dari lingkaran ini. Tinggal Tingkat Kesadaran kitanya saja. Sudah sampai di tingkat kesadaran apa dan dimana. Jadi, di sadari atau tidak di sadari, di akui atau tidak di akui, semua dan segalanya itu, terlingkari dan berada di dalam lingkaran ini. Artinya, semua dan segalanya itu, punya Wahyu Panca Gha’ib dan Panca Laku. Hanya saja, sudah menyadari apa belum, itu saja…

Pada saat Dzat Maha Suci menciptakan manusia, tidak meminta pendapat kita, apa perlu penciptaan itu atau tidak. Artinya Dzat Maha Suci itu Berkehendak. Dia telah memiliki tujuan yang mutlak berkena’an dengan penciptaan manusia. Tujuan hidup manusia adalah memeluk Dien yang hanif dan menyerahkan seluruh tujuan hidupnya kepada tujuan Dzat Maha Suci yang menciptakan. Seluruh kehidupan manusia hidup, harus menyerahkan seluruh kehendaknya kepada kehendak Dzat Maha Suci. Itulah yang disebut kehidupan mencari ridho Alloh, sesuai dengan kehendak dan tujuan Alloh menciptakan manusia.

“Maka apakah mereka mencari Dien yang lain dari Dien Alloh, padahal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Alloh-lah mereka dikembalikan”. (Qs.3/83)

Bagi orang yang menjalankan Wahyu Panca Gha’ib, tidak punya cita-cita lain dalam kehidupan di dunia ini, kecuali hanya satu yaitu “Ridho Alloh”.”Pangestune Romo” Kenikmatan hidup dan berkehidupan yang paling hakiki, terletak pada keridhoan Alloh “Pangestune Romo” dan itu adalah kebahagiaan sejati. Tenteram yang Sebenarnya-Sesungguhnya.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” Adalah kalimat Al-qitab yang di puja dan dipuji sebagai pedoman hidup, oleh seluruh umat muslim sedunia. untuk memperkuat dan menumbuhkan rasa penyerahan diri secara total tanpa syarat, pada Dzat Maha Suci Hyang Maha Segalanya, yang tidak diajarkan kepada Nabi/Rasul selain Nabi Muhammad SAW. Kalimat ini berdimensi vertikal dan horizontal. Kalimat ini juga yang disebut Ismul Azhom yang agung. Kalimat ini berdaya dobrak yang sangat kuat dalam percepatan penyelesaian segala masalah problematika kehidupan. Kalimat yang berati dasar (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya akan kembali).

Sudahkah kita benar-benar menyadarinya…?!
Tapi rupanya Kalimat ini, hanya bagi mereka yang mau membuka diri akan kedahsyatan Dzat Maha Suci dan samudra ilmu-NYA, yang tak terbatas pada yang tertulis saja. Saya rasa kita sudah sangat familiar dengan kalimat “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”. Baik secara arab maupun jawa atau indonesianya. Ketika ada orang meninggal. Namun sayangnya, secara umum kita hanya tahu untuk itu, sedangkan fungsinya lainnya dan Intisari Maksudnya apa dan bagaimana. ‘Embuh… He he he . . . Edan Tenan.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Apa dan Siapa itu Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono…?! Dan Apa Bedanya Allah dan Romo dan Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Smono…?!


Apa dan Siapa itu Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono…?!
Dan Apa Bedanya Allah dan Romo dan Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Smono…?!
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Rabu Wage. Tgl 08 Juni 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian… Artikel ini. Merupakan sambungan dari Artikel sebelumnya yang Berjudul; “APA ITU ROMO..?! Dan SIAPA ITU ROMO..?!”
Tentang Apa dan Siapa itu Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono…?!

Ini adalah Wedaran/Wejangan Tersulit dari saya untukmu sekalian Kadhang Didikan saya. Seharusnya Wejangan ini, hanya diperbolehkan oleh yang benar-benar sudah sampai di tingkatan makrifat. Namun karena saya percaya, kita semua adalah sama. Maka saya wedarkan/wejangkan disini/sekarang ini, dengan penuh Cinta Kasih Sayang untukmu sekalian. Karena itu, Berhati-hatilah. Gunakan Rasa-mu/Hati-mu. Jangan Akal-mu.

Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono, adalah nama dzat (ismu dzat) Tuhan Yang Maha Pencipta, memiliki beberapa sebutan atau nama-nama yang baik yaitu tersebut (asmaul husna) sebanyak 99. Nama-nama tersebut digunakan oleh Romo untuk mengagungkan Dia. Aku sebenarnya adalah Dia, Allah Azza wa Jalla. Romo ada kalau Dia senantiasa bersama Engkau. Romo itu bukan Allah Yang tidak ada Aku kecuali Dia, tetapi Allah itu adalah Romo Yang tidak ada Tuhan selain Dia.

Anda tahu di mana Aku?
Tapi Maaf… Anda pasti tidak tahu. Di mana keberadaan-Nya, bukan persoalan buat insan yang tak ada Aku di dalam dirinya. Anda bukanlah orang yang disayang oleh Romo, kalau tidak ada Dia menjadi Engkau Yang senantiasa mengagungkan Aku. Anda pasti bingung menangkap semua kalimat saya ini.

Mengapa?
Karena anda bukanlah Dia Yang senantiasa memuji Engkau sebagai Aku. Akal,,,? bagaimana engkau menangkap-Ku? Aku tidak bersamamu, akal!

Maaf… Anda sebenarnya pusing bin bingung jika semata-mata mengandalkan akal, tidak mau memahaminya lewat perantara’an hati/rasa. Akal itu hanya mengerti dengan kata-kata yang ril. Kata-kata atau kalimat abstrak, sangat sulit ditangkap. Padahal sesuatu yang abstrak, menjadikan yang ril mudah dipahami. Bila selalu ril dan mengabaikan yang abstrak, justru di situlah akal tak mampu melampaui semuanya. Maka, bahwa akal sesungguhnya hanya mampu sebatas yang ril, memang benar ada-Nya.

Maaf… Anda pasti belum memahami kata ‘ada-Nya’ dalam kalimat tersebut. Sementara ini anda selalu mengatakan: ‘benar, memang begitu ada-Nya’. Kalimat yang anda pakai tidak disadari, bahwa adanya adalah ada-Nya. Ada menunjuk kepada Allah SWT. Semua yang ada tak mungkin ada bila tidak ada Dia, Romo Yang Maha Ada. Dia adalah kedudukan Allah yang diganti dengan ‘Nya’. Kata ganti Dia adalah ‘Nya’ mengisyaratkan bahwa Dia benar-benar ada dalam kalimat tersebut.

Maafkan,,, anda mulai bertambah pusing bin bingung!
Sekali lagi maafkan, cobalah menggunakan hati/rasa, jangan terus menerus menggunakan akal ketika membaca kalimat-kalimat dalam artikel saya, terutama soal seperti di atas!

Sekalipun akal anda cerdas, bila memahami perkataan Romo atau bahasa seni Hidup, jangan selalu mengabaikan hati/rasa. Menemukan pemahaman atas kalimat-kalimat Romo harus dengan hati yang tenang, hati yang tenang itu adalah Rasa. tidak dengan dalam keadaan hati yang gelisah, hati yang gelisah itu adalah perasaan. Lama akan memahaminya bila dalam hati yang kosong dari mengingat nama-Nya. Anda bukan tidak mengerti, akan tetapi anda tidak akan memahami, secara mendalam apa yang sesungguhnya dari semua itu (kalimat-kalimat Romo).’Anda diam, Romo ada. Anda ada, Dia diam.’ Kalimat ini sulit dipahami!

Anda akan mudah memahami bila bertanya kepada hati/rasa. Contoh; ‘Hai hati/rasa, aku tak memahami apa makna dari kalimat tersebut, beritahukan aku!’ Maka,,, anda akan mendapatkan apa yang anda inginkan. Secara hati/rasa, kalimat “Anda diam, Romo ada. Anda ada, Dia diam” memiliki makna (bukan tafsir) dan hanya bisa di pahami oleh hati/rasa.

Maksud dari Kalimat “Anda diam, Romo ada. Anda ada, Dia diam, sebagai berikut: ‘Anda diam bermakna anda tak pernah berbuat sesuatu tentang yang diperintahkan oleh Romo. Sementara Romo adalah Tuhan Yang senantiasa ada di manapun. Allah Azza wa Jalla tidak akan diam bila anda berbuat sesuai dengan perintah-Nya. Maka, anda ada apabila Ada-Nya Romo yang berdiam di hatimu. Sangat mudah bagi Romo untuk berbuat sebagaimana kehendak-Nya.’

Perhatikan pemaknaan kalimat tersebut ketika hati memberitahu apa yang sebenarnya dari kandungan kalimat tersebut. Anda tak akan pernah memahami bila selalu menggunakan akal untuk menjangkaunya!

Akal anda tak lebih mengikuti bagaimana yang mengajak. Bila “Hati/Rasa” yang mengajak, maka akal menjadi cerdas dengan tunduk kepada Allah Azza wa Jalla. Tetapi, sebaliknya, bila “Pikiran/Perasaan” yang mengajak, maka akal akan menjelaskan dengan penuh tipu daya. Akal tidak mengakui apa yang datangnya dari hati apabila “Pikiran/Perasaan” sudah menguasainya. Sebaliknya, bila “Hati/Rasa” menjadi imam dalam diri, maka akal mengimaninya dengan segenap hati yang menjadi imamnya dalam jiwa.

Allah Azza wa Jalla akan senantiasa membimbing akal yang patuh kepada perintah-Nya dan yang menjauhi larangan-Nya. Allah Azza wa Jalla akan menunjukkan jalan terbaik menuju Romo, bagi akal apabila dia mau mengikuti hati, yang telah diberi petunjuk. Anda takkan mampu mengetahui sesuatu pun, bila tiadanya pentunjuk dari Allah yang dipancarkan ke hati anda. Mengetahui sesuatu sama sekali bukan pekerjaan mudah. Terkadang anda dapat mengetahui sesuatu, karena ada yang memberi tahu bukan. Tetapi, anda sendiri jarang mengetahuinya secara langsung.

Sebagai contoh, suatu ketika anda menulis tentang ilmu fisika. Anda sedang menggeluti bidang tersebut di kampus, sementara ilmu fisika yang anda pelajari berasal dari teori newton. Kemungkinan besar, anda pasti tidak akan mengetahui bila bukan karena dosen anda yang memberi tahu atau penulis buku yang menjelaskan teori newton tersebut. Sebab anda pasti tidak mungkin menemui newton yang sudah meninggal. Saya juga tidak mungkin mengetahui apa yang saya tulis, bila bukan karena adanya pesan-pesan yang muncul dari dalam hati, karena saya sudah tidak pernah membaca buku agama.

Saya hanya menuliskan apapun yang ada dari dalam hati/rasa. Saya mengetahui karena ada yang memberi tahu, bukan produk saya (akal) sendiri. Akal saya sudah tak mampu mengurai kalimat yang isinya berkaitan dengan petunjuk Romo.

Sekali lagi, anda hanya mengetahui setelah diberitahu. Anda tahu bukan karena akal anda. Akal berfungsi menampung informasi, mengolahnya, menganalisa, lalu menyimpulkan. Tetapi, awalnya, informasi itu bukan produk akal, melainkan berasal dari yang mempunyai informasi. Oleh karena itu, anda tidak semestinya bangga dengan semua produk akal anda. Karena akal, kalau tidak ada informasi tak mungkin berfungsi sebagaimana seharusnya. Secara kebetulan, informasi yang anda peroleh selalu di wilayah lahir (alam dunia yang tampak). Anda sesungguhnya mendapati informasi itu sebagai karunia juga, meski datangnya bukan dari hati. Hanya saja, kewaspadaan terhadap informasi itu, patut anda pertimbangkan.

Sekali lagi. Maaf… Anda sesungguhnya tidak mengetahui apa-apa kalau tidak diberitahu atau mencari tahu tentang sesuatu yang anda perlukan itu. Iya apa iya? Hayo….

Jadi, peradaban umat manusia, sesungguhnya bukan produk manusia saat ini, melainkan produk para pemikir terdahulu, yang telah menghasilkannya. Saat ini, produk-produk itu dikembangkan lebih jauh mengikuti perubahan global, yang sangat membutuhkan komunikasi lintas negara dan budaya. Ilmu matematika, ilmu elektronik, ilmu fisika, ilmu komunikasi, ilmu astronomi, ilmu peradaban, ilmu logika, ilmu metafisika, ilmu geologi, ilmu kedokteran, dan ilmu-ilmu lain, sesungguhnya telah ada jauh sebelum ada sekarang ini. Maka, sejalan dengan kebutuhan umat manusia, Allah Azza wa Jalla telah menyediakan seluruh keberadaan ciptaannya, baik di langit maupun di bumi, untuk menjadi bahan pemikiran bagi orang-orang yang berakal, yang meyakini akan kebenaran Romo sebagai Yang Menjadikan semua ini terjadi.

Aku adalah Engkau yang berada di wilayah-Ku. Apapun yang Aku kehendaki adalah itu kekuasaan-Ku, bukan milik makhluk-Ku. Aku bukan kamu, dan Dia juga bukan dirimu. Tetapi, aku adalah Diri-Ku bila Aku sayang kepadanya. Dia bukan engkau, tetapi aku adalah Dia sekiranya Romo berada di dalam dirinya. Allah bukan seperti dia, tetapi Dia adalah aku dalam pandangan-Nya. Allah Azza wa Jalla bukan Romo Yang Aku adalah dia, melainkan Dia adalah Allah Azza wa Jalla yang bersamanya.

“Saya bukan kamu, tetapi dia adalah aku, maka aku pasti adalah dia yang bukan saya maupun kamu”

Coba bagaimana anda memaknainya?
Apakah akal anda dapat memahami secara langsung semua uraian saya tersebut?
Bingung kan…?
Pusing kan…?

Karena semua yang saya ungkapkan bukan itu produk akal, melainkan produk hati/rasa. Anda pasti akan mengerti apa yang saya uraikan di atas, apabila saya memberitahukan penjelasan rinya. Anda baru bisa yakin.

Sekiranya tidak ada informasi, apakah akal anda dapat menangkapnya?
Semisal contoh; anda mengerti dengan apa yang saya uraikan diatas, karena anda sudah pernah membaca tulisan para ahli tasawuf di internet. Anda sesungguhnya mengetahui karena sudah ada informasi sebelum saya menguraikannya sekarang. Andaikan tidak ada informasi tentang ilmu tasawuf yang mengajari tentang kedudukan Aku, Engkau, dan Dia dalam kedudukan-Nya di antara Allah dan hamba-Nya, maka tak mungkin Anda mengerti.

Misal contoh lagi; anda menjadi semakin pusing bila mencernanya, dengan pandangan akal, yang tidak ada informasi sebelumnya. Akal anda akan mudah memahami, kalau sudah diberitahu!

“Saya pasti bukan kamu karena saya adalah aku, sedangkan kamu adalah engkau. Apabila dia sebagai aku, maka dia pun seperti aku sebagaimana aku saat ini. Untuk itu, aku dan dia pasti bukan saya apalagi kamu. Yang ada adalah dia itu aku, dan aku juga adalah dia dalam kedudukanku yang bila aku bagaikan dia” He he he . . . Edan Tenan.

Malaikat adalah perantara antara Kita dengan Allah, malaikat dan allah ini, sesungguhnya berada di dalam diri kita. kita sebenarnya ada di antara Allah dengan malaikat. Anda sendiri tidak menyadarinya. Bila suatu ketika anda ada di tengah hutan sendirian, maka malaikat menemani anda, sampai ada orang atau pertolongan datang. Sayangnya, sekali lagi Maafkan, anda tidak menyadarinya. Bagaimana anda mengenali bahwa ada malaikat pada diri anda?

Saya adalah manusia hidup yang wajar, tentu tak mungkin mengetahui jika tidak diberitahu oleh Allah Yang Maha Bijaksana. Anda ada di manapun, malaikat senantiasa bersama anda. Ada enam malaikat yang bersama kita setiap saatnya. Dia adalah Malaikat Jibril. Mika’il. Ijro’il dan Isrofil, yang dalam istilah jawanya dikenal dengan sebutan Mutmainah. Aluamah. Supiyah dan Amarah atau sedulur papats. Sedangkan yang duanya adalah Malaikat Rotib dan Atid. Malaikat atid ditugasi untuk mencatat seluruh amal perbuatan anda yang tidak baik. Sedangkan malaikat rokib menulis seluruh amal perbuatan anda yang baik.

Apakah mereka berenam selalu menjaga anda? Tentu saja, dia menemani anda dalam keadaan apapun. Romo menciptakan ke enamnya sama pada setiap diri manusia. Mereka berenam selalu melaporkan keadaan perbuatan manusia hidup yang dijaganya kepada Romo.

Manun sekali lagi mohon maakan saya. Anda selalu saja tidak tahu akan kehebatan Allah Azza wa Jalla. Meskipun sudah diberitahu, tetapi anda tidak mau tahu apapun yang seharusnya anda lakukan.

Mengapa anda selalu berat untuk menjalankannya?
Bukankah Romo telah memberi anda semua kebutuhan hidup?
Saya sendiri juga begitu. Sekiranya anda adalah saya, tentu akan berkata: “PASTI” bukan insya Allah, karena setiap manusia hidup, sesungguhnya tidak tahu apa-apa.’ Inilah selintas pengakuan saya dalam kedudukan sebagai manusia hidup yang wajar.

Anda, juga saya, tak lebih sebatas makhluk yang tak berarti apa-apa di hadapan kebesaran Romo. Allah Azza wa Jalla berada di mana-mana, sebenarnya senantiasa mengawasi, apakah ada di antara manusia dan jin yang berbuat untuk kebahagiaan kelak di alam keabadiannya?

Anda sama sekali tidak bakal pernah tahu apa-apa bila tidak diberitahu oleh Allah. Adakah manusia yang saat ini dengan intelegensi yang briliant mampu menciptakan daun sebagaimana Romo menciptakannya? Tidak ada bukan… Romo seakan menantang semua manusia hidup, karena manusia ciptaanya, selalu membangkang kepada-Nya. Anda sebenarnya mengakui secara jujur, bahwa anda tak mampu berbuat apa-apa, apabila saya adalah saya. Pasti anda bertambah bingung, bukannya dapat memahami apa makna dari pernyataan ‘saya adalah saya’.

Apalagi jika anda ditanya di mana Allah SWT berada. Anda bahkan belum tahu apa yang akan terjadi besok. Maka, apabila ada seorang manusia yang sombong di hadapan Romo, dia tak ubahnya dengan se onggok mayat hidup. Allah Azza wa Jalla berkehendak agar manusia mengikuti nenek moyangnya, yaitu Adam a.s, yang menangis menyesali perbuatannya, hanya karena beliau tidak mengikuti ajakan Allah Azza wa Jalla, untuk tidak mendekati sebuah pohon larangan.

Allah Azza wa Jalla berfirman: “Hai Adam diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang dzalim” (al-Baqarah:35).

Namun Adam terpedaya oleh kecantikan Hawa yang nan molek, sehingga dia lalai akan kebenaran Allah Azza wa Jalla, yang jauh lebih Cantik dan Molek dibandingkan dengan Hawa. Sehingganya, keduanya harus menanggung beban didunia fana ini. Namun Adam menyesalinya dengan penyesalan yang tiada henti-hentinya, begitupun dengan Hawa. Allah Azza wa Jalla berkehendak agar semua keturunan Adam mengikuti nenek moyangnya ini.

Sadarlah wahai manusia, hidup ini hanya sebentar. Sangat pendek berlalunya. Hanya tinggal menunggu waktu yang tak ada seorang pun tahu. Lebih lama tinggal di alam kelanggengan, alam mulanya kita di ciptakan, bahkan tak ada lagi peluang untuk kembali. Kekal di dalamnya. Seluruh manusia akan berakhir dengan pertanggungjawaban akan amal perbuatannya waktu hidup di dunia.

Jika anda bertanya, adakah pintu tobat bagi yang mau mengubah amal perbuatannya, dari yang tidak baik menjadi lebih baik? Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Menerima tobat orang-orang yang ingin berhenti dari perbuatan jahatnya. Karena itu. Romo akan menghapus dosa orang yang betul-betul bertobat (taubatan nasuha) sekalipun dosanya sebesar gunung uhud. PASTI, bukan insya Allah.

Kehidupan di dunia memang sangat terasa nikmat, bila dihadapkan dengan sejumlah perhiasan, uang, wanita/pria, jabatan, dan akan lebih mengasikan kalau di kombinasi dengan kebencian, dendam, iri dengki, fitnah kepada sesama mahkluk hidup, akan tetapi… Ketahuilah, dunia ini adalah ladang tempat menanam benih amal perbuatan (Karma) Bagaimana benih yang anda tanam, akan menentukan anda meraih buah amal perbuatan yang anda tanam.

Saya sadar bahwa sesungguhnya masalah ini sudah banyak yang membicarakan, tetapi anda tetap saja belum berubah. Bahkan andaikan anda dipaksa sekalipun, belum tentu dapat menerima keadaan yang sesungguhnya. Semuanya bergantung pada tingkat keyakinan anda. Allah Azza wa Jalla adalah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semua sudah pasti tahu. Akan tetapi, anda adalah manusia yang baru sampai mengetahui dari sisi perkataan saja, belum mengerti apa yang sebenarnya bahwa Allah Azza wa Jalla itu memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Bagaimana anda memaknai Allah Azza wa Jalla sebagai Tuhan anda, yang senantiasa ada dalam kekuasaan-Nya? Anda akan mengalami kesulitan, sekiranya dimintai untuk menjelaskannya. Anda adalah manusia biasa yang sulit mengerti bila anda belum mencapai tingkat dalam perbendaharaan asal-asul hadirnya manusia di muka bumi. Sulit adalah sebuah ancaman untuk menjauh dari kemampuan anda, untuk mudah memahami apapun. Sekiranya anda adalah manusia yang diberi ancaman akan persoalan hidup, maka bagi anda dunia itu akan menjerat anda, saya yakin, masih sulit untuk menangkap perkataan saya, apabila tidak saya jelaskan. Apalagi, anda dapat menangkap pengertian dari ayat-ayat di dalam al-Qur’an.

Mengapa banyak orang berusaha menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an?
Sesungguhnya karena ayat-ayat Allah itu sama sekali tidak ada yang dapat di mengerti secara langsung, apa yang sesungguhnya dari firman Allah Azza wa Jalla tersebut. Akan tetapi, bila anda termasuk yang diberi petunjuk oleh Romo Yang Maha Mengetahui. Pasti, tidak perlu menafsirkan pun akan diberitahu. Adakah yang dapat menyangkal pernyataan saya ini?

Sudahkah Pernah Pasrah kepada Allah Azza wa Jalla?
Sudahkah Pernah Menerima Allah Azza wa Jalla?
Sudahkan Pernah Mempersilahkan Allah Azza wa Jalla?
Sudahkah Pernah Merasakan Semua Proses Dari Allah Azza wa Jalla?
Dengan Cara Menebar Cinta Kasih Sayang Kepada Siapapun dan Apapun Demi/Karena Allah Azza wa Jalla?

Ya Allah…Yang Maha Mengetahui hal-hal goib. Yang Mengetahui persolan hidup manusia. Yang Tak Dapat dijangkau oleh panca indera. Yang Memelihara keyakinan orang-orang bertakwa. Yang Menyediakan kebutuhan manusia. Yang Maha Mendengarkan orang-orang yang berdo’a.

Yang senantiasa mengabulkan do’a orang-orang yang berdo’a, dengan penuh keyakinan. Salahkah bila aku senantiasa memuji-Mu dengan perkataan seperti itu? Segala puji hanya untuk-Mu. Semua makhluk di kerajaan langit dan bumi tunduk kepada-Mu. Haruskah aku bertanya dulu kepada-Mu? Tidak! Sudah pasti memang Engkau Yang Maha Terpuji,

Duhai Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono… Adakah yang memberiku petunjuk kalau bukan Engkau? Tak mungkin ya Allah selain diri-Mu! Adakah yang dapat menjadikan manusia merasakan bisa dengan sendirinya? Mustahil. Semua pasti karena Engkau!

Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono adalah Tuhan langit dan bumi serta siapapun dan apapun yang berada di dalamnya dan di antara keduanya, Akankah aku berlepas dari pertolongan-Mu? Naudzu billahi min dzalik. Sangat mustahil manusia hidup berlepas diri dari pertolongan-Mu.

Wahai Allah Azza wa Jalla… Kini aku sadari bahwa; hanya Engkaulah yang memberiku pertolongan, hanya Engkaulah yang memberiku makan, hanya Engkaulah yang dapat menjadikan manusia bisa apa-apa, hanya Engkaulah yang menunjukkan aku kepada jalan-Mu, hanya Engkaulah yang serba bisa.

Andaikan aku tidak ditolong oleh-Mu, maka pasti aku termasuk orang-orang yang merugi, maka pasti tak ada kemampuan apapun dalam diriku, maka pasti semua yang ada menjadi hujatan dan dakwaan padaku, maka pasti takkan mungkin aku mengerti petunjuk-Mu. Untuk itu, Wahai Allah Azza wa Jalla, berilah aku pertolongan-Mu, hanya dengan itu aku menjadi sebagaimana aku sekarang, hanya dengan itu aku dapat merasakan nikmatnya sebagai hamba, hanya dengan itu aku bukan termasuk orang-orang yang sombong kepada-Mu kabulkanlah do’aku ya Karim.

Apa dan Siapa itu Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono…?!
Dan Apa Bedanya Allah dan Romo dan Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Smono…?!

INI JAWABANNYA:
“Apa dan Siapa itu Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono…?!”

Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono. Adalah; Dzat Hyang Maha Suci atau Allah Azza wa Jalla. Seru sekalian alam dan isinya. Yang memiliki 99 sebutan naman dalam (asma’ul husna) temasuk Allah dan Romo serta Tuhan atau Gusti.

“Apa Bedanya Allah dan Romo dan Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Smono…?!”

Allah adalah Hidup; yang menempati setiap wujud yang Hidup. Sedangkan Romo; Adalah bersatunnya atau menyatunya Allah/Hidup dengan Hyang Maha Suci Hidup. Kalau Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono. Adalah; Dzat Hyang Maha Suci atau Allah Azza wa Jalla. Selesai.

Duh… Gusti Dzat Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd:Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Haqikat Hidup-nya Syare’at. Haqikat Hidup-nya Thariqat-Tasyawuf. Haqikat Hidup-nya Haqikat. Haqikat Hidup-nya Ma’rifat:


Haqikat Hidup-nya Syare’at. Haqikat Hidup-nya Thariqat-Tasyawuf. Haqikat Hidup-nya Haqikat. Haqikat Hidup-nya Ma’rifat.
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Selasa Legi. Tgl 07 Juni 2016

1. Haqikat Hidup-nya Syari’at:
Menurut saya. Hakikat Hidupnya Syari’at. Saya gambarkan seperti jalan setapak yang menuju saluran air. Dipelajari melalui ilmu fiqih dan usuluddin, yang artinya adalah ilmu Kepastian hukum ilmu Tata cara beribadah. Aqidah, perintah dan larangan. Yang berinti menjalin hubungan dengan Allah dan antar manusia hidup. Amal-ibadah dan olah lahir yang tujuannya membangun akhlak yang baik. Sumbernya dari wahyu Allah dan sunnah. Maksudnya adalah Firman Allah dan Sabda Rasul. Pemahamannya melalui otak kiri.

2. Haqikat Hidup-nya Thareqat atau Tasawuf:
Adalah Jalan dari saluran air menuju mata air. Riyadhoh. Suluk. Lelaku. Maksudnya adalah olah bathin, untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwa’an, melalui pengalaman spiritual yang dialami secara pribadi, bukan kata orang lain, melalui dzikir-semedi, olah bathin untuk pengembangan otak kanan.

3. Haqikat Hidup-nya Haqikat:
Adalah sudah mencapai sumber mata air. Mencari Sang Pencipta air. Tonggak terakhir, tajalli, mukasyafah, penyaksian dan penghayatan rahasia-rahasia keTuhanan melalui mata hatinya “Rasa”, bukan mata lahir.

4. Haqikat Hidup-nya Ma’rifat:
Adalah Sampai kepada Sang Pencipta air. Para pencari (Salik) , sampai pada Al-Haq.

5. Dan Wahyu Panca Gha’ib:
Bersama, menyatu, bersatu padu menjadi satu dengan Dzat Sang Pencipta dan Pemilik Air. Tanpa kata. Tanpa suara. Tanpa tapi apapun.

Ibarat buah kelapa;
Kulitnya adalah syari’at.
Dagingnya adalah thariqat atau tasyawuf.
Minyaknya adalah haqiqat.
Minyak kelapa bekas, yang dalam bahasa jawanya disebut. Jalan-Tah. Itulah jalannya. Yang pernah dilalui oleh Para Nabi dan manusia-manusia Hidup yang berhasil mencintai dan di cintai oleh Allah. Apapun itu, tidaklah penting. Yang penting dan terpenting adalah “Allah Mencintai-ku apa TIDAK”

Nabi Muhammad saw Bersabda:
Manusia dalam keadaan tidur, ketika mati dia terbangun . Ruh Suci-Hidup-nya bangkit.
Harus bisa mati sebelum mati, agar kesadaran Ruh Suci-Hidup-nya bangkit. Hanya Ruh Suci-Hidup yang bisa berkomunikasi dengan Allah.
Bacalah kitab yang kekal yang berada di dalam diri kalian.
Urusan dunia engkau lebih tahu, tapi tata cara beribadah ikutilah caraku…!!!

Suatu ketika ada yang bertanya kepada Rosulullah saw;
Ya Rosulullah apakah engkau Tuhan…?
Rosulullah menjawab;
Bukan, aku A-RAB tanpa huruf Ain… berarti Aku Rab.

Suatu ketika ada yang bertanya lagi kepada Rosulullah saw;
Ya Rosulullah apakah engkau Tuhan…?
Rosulullah menjawab;
Bukan, aku AHMAD tanpa Mim… berarti Aku Ahad.

FIRMAN ALLAH:
Tanda-tanda Kami disegenap penjuru, dan didalam diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al Qur’an itu benar… ( FUSHSHILAT 41 : 53 ).
……di dalam dirimu, apakah engkau tidak memperhatikan ( ADZ-DZARIYAT 51 : 21 ).
Setelah Aku sempurnakan kejadiannya, Aku tiupkan Ruh-Ku kepadanya ( Al Hijr 15 : 29 ).
Dia lah Jibril yang menurunkan Al Qur’an ke dalam Qolbu-mu ( Al Baqarah 2 : 97 ).
Ini adalah ayat-ayat yang nyata dalam hati ( qolbu ) orang-orang yang diberi ilmu ( Al Ankabut 29 : 49 ).
Ayat-ayat kami disegenap penjuru dan di dalam diri mereka sendiri (Fushshilat 41 : 53).

KESIMPULANNYA:
Berarti Essensi Dzat Ilahiah, berada di dalam semua cipta’an-NYA.
Barang siapa mengenal dirinya maka dia mengenal Tuhannya.
Barang siapa mengenal Tuhannya maka dia merasakan diri/Hidupnya.
Barang siapa yang mencari Tuhan keluar dari dirinya, maka dia akan tersesat semakin jauh.

Tauhid murni, adalah penglihatan atas Tuhan dalam semua benda. Bila kita tidak menyadari adanya Unsur-Unsur KeTuhanan yang tersembunyi di dalam setiap ciptaan-Nya, berarti islamnya adalah islam semu. Tapi bila menyadari adanya adanya Unsur-Unsur KeTuhanan yang tersembunyi di dalam setiap ciptaan-Nya. Maka dia akan mengatakan sama seperti Wong Edan Bagu dengan Sangat Berani TEGAS…!!!.

Aku tidak melihat segala sesuatu kecuali Allah.
Aku tidak melihat segala sesuatu tanpa Allah di dalamnya.
Sambil tertawa. He he he . . . Edan Tenan.

La kalau sudah begini. Layak-kah kita salin membenci…?! Pantas-kah kita salin membedakan…?! “Sirik Iri Dengki” Tidak bukan… yang ada Hanyalah. Pasrah kepada Hyang Maha Suci Hidup. Menerima Hyang Maha Suci Hidup. Mempersilahkan Hyang Maha Suci Hidup. Dan Merasakan semua Prosesnya dengan menebar Cinta Kasih Sayang kepada apapun dan siapapun (Wahyu Panca Laku). Walau hanya sedikit, masih ada waktu. Maka… Silahkah di Pikir pakai Logika sewajar dan seumum mungkin.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

KISAH PERJALANAN SPIRITUAL Wong Edan Bagu. DALAM MENEMUKAN TIGA TITIK PENENTU IMAN. Yaitu CINTA KASIH SAYANG Bagian Satu:


KISAH PERJALANAN SPIRITUAL Wong Edan Bagu. DALAM MENEMUKAN TIGA TITIK PENENTU IMAN. Yaitu CINTA KASIH SAYANG Bagian Satu:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Sabtu Kliwon. Tgl 04 Juni 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kenasihku sekalian. Mugio tansyah pinayungan Mring Dzat kang Maha Suci, kanti Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet untukmu sekalian. Ada banyak pengalaman yang pernah saya dapatkan di sepanjang perjalanan spiritual saya dulu, sebelum menjalankan Laku Hakikat Hidup, dan pada kesempatan kali ini, saya ingin membagikan pengalaman tersebut, kepadamu sekalian, dengan harapan, semoga bermanfaat bagi siapapun yang sedang menempuh proses perjalanan spiritual, sebagai wacana penambahan pengalaman.

Awal mula saya tiba di tanah jawa, tepatnya di telatah tanah pasundan cirebon, yaitu tanah kelahiran saya sendiri, setelah di kenalkan dengan ilmu syare’at, hakikat, tarekat, tasyawuf dan makrifat, oleh tiga orang guru yang membimbing saya kala itu, sehingganya berdasarkan bimbingan tiga guru inilah, saya semakin haus dengan yang namanya spiritual. Karena itu, saya merasa tidak cukup memiliki hanya tiga orang guru saja, selain melanglang buana untuk mencari guru-guru yang lebih hebat dan mumpuni dalam segala hal, saya juga rajin membaca qitab-qitab agama yang saya selami kedalamannya waktu itu, saya juga suka membaca buku-buku spiritual peninggalan para ahli spiritual jaman dulu, selain kisah perjalanan sejarah para Nabi, ada dua tokoh s[iritual yang cukup menggugah vital saya, diantaranya adalah; Jalaludin Rumi, seorang Ahli Spiritual dari kalangan Sufi dan Sidharta Gautama, seorang Ahli Spiritual dari kalangan Pertapa, yang pada akhirnya menjadi titik fokus ajaran Budha.

Dua Tokoh inilah yang telah berhasil menggugah organ vital keTuhan-nan saya, sehingganya, selalu haus untuk bisa mencapai puncaknya spiritual yang sebenarnya, apapun risikonya dan bagaimanapun caranya.

Lalu, seperti apakah sejarah perjalanan spiritual mereka berdua ini?
Sehingganya sampai bisa membangkitkan organ vital keTuhan-nan saya?
Mari kita simak wedarannya, yang tentunya sudah bercampur dengan perjalanan spiritual pribadi saya. Semoga bermanfa’at untukmu sekalian. Amiin.

Yang Pertama;
Para Kadhang dan Para Sedulur Kenasihku sekalian…
Tersurat di dalam sebuah buku spiritual kuno, yang awal terjadinya di sebelah selatan Nepal, di kaki gunung Himalaya, terdapat sebuah tempat suci bernama Lumbini, yaitu tempat di mana Sang Buddha lahir. Banyak sekali umat Buddha dari seluruh dunia berziarah ketempat tersebut, untuk memberikan hormat kepada seorang bijak, yang kisah hidupnya tidak lekang pudar oleh waktu. Terdapat banyak sekali cerita tentang Sang Buddha, di setiap tradisi, setiap budaya, setiap periode waktu, memiliki kisahnya sendiri tentang Sang Buddha. Kurang lebih lima ratus tahun setelah meninggalnya Sang Buddha, baru mulai ada materi tertulis mengenai biography Sang Budha. Jadi, selama kurang lebih lima ratus tahun silam, ajaran tentang Sang Buddha diajarkan secara oral atau lisan.

Tentunya ada seseorang yang berkorespondensi dengan Sang Buddha sehingga orang tersebut dapat menuliskan kisah tentang Sang Buddha, tetapi kita tidak tau siapa kah orang tersebut, apa kah apa yang dia paparkan tersebut benar atau jangan-jangan hanya dongeng belaka, berapa banyak dari kisah Sang Buddha yang benar-benar realita. Tetapi di luar dari semua itu, kisah perjalanan hidup Sang Buddha merupakan salah satu cara yang indah untuk menyampaikan ajaran Sang Buddha.

“Dia yang melihat ajaranku melihatku, dan dia yang melihatku melihat ajaranku”, demikian kata Sang Buddha.

Lahir lebih kurang lima ratus tahun sebelum kelahiran Nab Isa, yang oleh umat kristiani di sebut sebagai Yesus. Sang Buddha lahir dan diberi nama Sidharta Gautama, ayahnya bernama Raja Sudhodana. Selama kurang lebih tiga dekade Sang Buddha dibesarkan dengan sangat hati-hati oleh ayahnya, tinggal di istana dengan segala kemewahan layaknya seorang anak Raja, pergi ke mana-mana terlindung dari panas dan hujan. Ayahnya menginginkan Sidharta menjadi seorang Raja, menaklukkan dunia dan menjadi Kaisar India yang pada waktu itu terpecah menjadi tujuh belas kerajaan.

Istri Raja Sudhodana bernama Ratu Maya. Sebelum melahirkan Sang Buddha, Ratu Maya mendapatkan sebuah mimpi yang aneh, Ratu bermimpi ada empat orang Dewa Agung membawa Ratu ke gunung Himalaya, meletakkannya di bawah pohon Sala, kemudian Dewa Agung memandikan Ratu di danau Anotatta, selanjutnya Ratu di pimpin masuk ke sebuah istana emas yang indah sekali… dan kemudian Ratu dibaringkan di atas sebuah dipan, di tempat itu lah seekor gajah putih memegang sekuntum bunga teratai di belalainya masuk ke kamar, mengelilingi sang Ratu sebanyak tiga kali, kemudian masuk ke perut Sang Ratu melalui perut sebelah kanan.

Ratu Maya menceritakan mimpinya tersebut kepada Raja, kemudian Raja memanggil para Brahmana untuk menanyakan arti mimpi tersebut. Para Brahmana menjelaskan kepada Raja bahwa Ratu akan mengandung seorang bayi laki-laki yang kelak akan menjadi Cakkavati (Raja dari semua Raja) atau akan menjadi orang Suci. Kemudian Ratu Maya mengandung, sepuluh bulan kemudian dalam perjalanan menuju Devadaha, Ratu beristirahat di taman Lumbini, dan melahirkan Sidharta Gautama di bawah pohon Sala, waktu itu tepat bulan purnama di bulan Waisak. Tujuh hari kemudian, Ratu Maya meninggal, dan Raja kemudian menikahi Pajapati yang juga adik dari Ratu Maya untuk merawat Sidharta.

Raja Sudhodana sangat menginginkan Sidharta Gautama menjadi seorang Raja daripada menjadi seorang Suci. Para Brahmana mengingatkan Raja Sudhodana bahwa Sidharta Gautama tidak boleh melihat empat hal semasa hidupnya, yaitu orang tua, orang sakit, orang mati, dan pertapa. Karena apabila Sidharta Gautama melihat ke empat hal tersebut, dia akan menjalani hidup untuk menjadi seorang pertapa. Oleh karena itu, Raja menciptakan lingkungan artificial di sekeliling Sidharta Gautama. Ayahnya tidak menginginkan dia melihat bahwa ada yang tidak beres dengan kehidupan ini, supaya kelak Sidharta tumbuh sebagai seorang Maha Raja dan bukan sebagai seorang guru spiritual.

Hidup tanpa pernah melihat dan merasakan segala macam penderitaan, Sidharta menikmati kehidupan penuh dengan kesenangan dan kemewahan. Setiap keinginannya terpenuhi. “Saya mengenakan pakaian yang paling mahal, saya makan makanan yang paling lezat dan bergizi, saya di kelilingi oleh wanita-wanita cantik” Demikian kata Sang Buddha. Pada suatu musim hujan, Sidharta tinggal di istana dan sedang di hibur oleh para musisi dan wanita penari, tidak pernah terpikirkan olehnya untuk meninggalkan istana, kehidupan begitu sempurna. Ayahnya menikahkan Sidharta dengan Yasodhara yang kelak melahirkan anaknya yang diberi nama Rahula. Selama dua puluh sembilan tahun Sidharta menikmati kehidupan kerajaan penuh kemewahan hingga pada akhirnya gelembung kenikmatan dan kesenangan tersebut meletus.

Raja melakukan apa pun supaya Sidharta tidak melihat penderitaan hidup. Tetapi suatu hari Sidharta jalan-jalan keluar dari istana bersama beberapa pengawalnya. Di dalam perjalanannya yang pertama kali, dia melihat ada orang tua yang bungkuk di pinggir jalan, rambutnya putih, badannya kurus, kulitnya kasar dan keriputan. Kemudian dia bertanya kepada pengawalnya.

Siapa ini?
Kenapa dia terlihat berbeda dan lemah?”
Pelayannya menjawab, dia adalah orang tua, manusia tidak akan selamanya muda dan kuat, Tuanku.

Kemudian pada perjalanan berikutnya Sidharta melihat orang sakit terbaring di pinggir jalan, dan dia tidak mengerti apa yang sedang dia lihat. Kemudian dia bertanya kepada pengawalnya dan pengawalnya menjawab bahwa itu adalah orang sakit, dan itu terjadi pada kita semua, semua orang akan sakit, dan jangan berpikir bahwa anda adalah seorang pangeran maka anda tidak bisa sakit, ayah anda bisa sakit, ibu anda bisa sakit, semua orang akan sakit.

Sepulang dari perjalanannya yang ke dua, sesuatu berkecamuk di dalam diri Sidharta setelah dia melihat horor demi horor. Pada perjalanannya yang ke tiga, Sidharta melihat mayat dan mulai mengenal bahwa segala sesuatu dalam hidup ini tidak permanen dan kematian adalah nyata. Dua puluh sembilan tahun tertutup dari segala penderitaan manusia membuat Sidharta tergoncang hebat, dan dia berpikir…

“Ini semua akan terjadi juga pada diriku. Saya akan menjadi tua, saya juga akan menjadi sakit, dan saya juga akan mati”

Bagaimana caranya saya menghadapi semua ini?”
Itu adalah pertanyaan yang universal dari setiap manusia.

Kemudian pada perjalanannya yang ke empat, dia melihat seorang pertapa, seorang spiritual seeker. Orang yang hidup dengan cara yang berbeda dari orang pada umumnya, untuk melepaskan diri dari kehidupan yang tidak permanen dan tidak lepas dari penderitaan.
Usia dua puluh sembilan tahun, menemukan dirinya sedang berada dalam suatu masalah besar, Sidharta memutuskan untuk memahami sifat alami dari penderitaan, yang pada akhirnya membawa Sidharta meninggalkan Istana dan meninggalkan segala hal-hal keduniawian. Pada saat itu, istrinya Yasodhara melahirkan seorang bayi laki-laki, dan Sidharta memberi nama Rahula yang artinya adalah belenggu dan perubahan. Karena bagi Sidharta, bayi lelakinya akan membuat dirinya terpenjara.

Pada suatu malam di musim panas, Sidharta mengunjungi ruang tidur istrinya dan mendapatkan bahwa istrinya sedang tidur sambil merangkul bayinya Rahula. “Apabila saya mengangkat tangan istriku, menggendong anakku, pasti akan memberatkan langkah ku untuk meninggalkan mereka” pikir Sang Buddha. Maka, dia membalikkan badan dan memanjat turun dari Istana, dan pergi meninggalkan Istana bersama kuda kesayangannya yang bernama Kanthaka.

Pada saat Sidharta meninggalkan Istana, Mara dewa nafsu menghampiri Sidharta, mengatakan kepada Sidharta

“Kamu ditakdirkan untuk memerintah sebuah kerajaan yang BESAR, seluruh India… Kembali lah ke Istana dan segala kekuasaan di dunia ini akan menjadi milikmu”

Sidharta menolak, di dalam kegundahan hatinya saat meninggalkan orang tuanya, istrinya, dan anaknya yang baru saja lahir, Sidharta terus melaju bersama Kanthaka kudanya.

Tidak ada kebijaksanaan yang di dapatkan tanpa pengorbanan.
Untuk pertama kalinya Sidharta menjalani hidup sendirian, duduk di pinggir sungai Gangga.

“Meskipun ayah dan ibu ku bersedih dan bercucuran air mata, saya menutup mata dan telinga, memakai jubah saya, berangkat dari memiliki rumah menjadi gelandangan tanpa rumah, saya telah di lukai dengan dalam oleh kenikmatan duniawi, dan sekarang saya keluar untuk mencari kedamaian hidup”.

Suatu ketika sebagai seorang Pangeran yang di puja dan memiliki segalanya, sekarang menjadi seorang pengemis, hidup mengandalkan sumbangan dari orang asing yang tidak di kenal, tidur tanpa alas di atas tanah dan di tengah hutan belantara, tinggal bersama binatang buas, dan tempat di mana setan-setan dan roh-roh halus bergentayangan.

Pada saat itu, Sidharta adalah seorang “Pencari” (Sama seperti saya pada sa’at membaca buku kisahnya pada waktu itu). Hanya saja, “Bedanya” Dia belum memiliki doktrin di dalam dirinya, tidak memiliki pemahaman apa-apa, dan tidak memiliki solusi apa-apa, tetapi dia mengenali pokok permasalahannya, di dalam hidup, manusia akan menjadi tua, sakit, dan mati. Sedangkan saya, sudah memiliki doktrin, sudah memiliki pemahaman dari banyak guru, dan dan sudah memiliki solusi, tetapi saya tidak mengenali pokok permasalahan saya.

Selama berabad-abad, bahkan sebelum zaman Sang Buddha, sudah terdapat berbagai macam agama dengan masing-masing ritual keagamaannya. Pada saat Sidharta memutuskan untuk meninggalkan keduniawian, bergabung bersama ribuan petapa lainnya, melepaskan segala apa yang di miliki, melakukan praktik hidup yang keras tapi sederhana serta bermeditasi dengan tujuan supaya terlepas dari siklus hidup, mati, dan terlahirkan kembali, atau yang kita kenal dengan istilah reinkarnasi atau moksa.

Sayapun sama, atas keberhasilan Sidharta dalam mencapai tingkatan spiritual, sayapun meniru, saya tinggalkan semuanya dan segalanya tanpa terkecuali, hampir semua guru-guru pembimbing saya melarang, bahkan ada yang mengatakan kamu telah tersesat. Namun saya tidak peduli, tekad dan niyat saya. Sudah tidak bisa di ganggu gugat. Sama seperti Sidharta sa’at dihampiri Mara dewa nafsu, sayapun menolak tanpa peduli, dan sejak itu, saya berjalan dan bergerak serta berusaha mencari sendiri, tanpa guru tanpa pembimbing. Keluar masuk agama-agama untuk saya selami telaga ilmunya.

Sampailah pada Pemahaman yang memberikan pengertian, bahwa penderitaan itu, tidak berasal dari kelahiran, dan tidak berakhir pada saat kematian, penderitaan tidak ada akhirnya, kecuali seseorang menemukan jalan keluar dari siklus tersebut, yaitu menjadi tercerahkan/utusan.

Pada zaman tersebut di India, di yakini bahwa kematian bukan lah akhir dari segalanya, tetapi kematian membawa kepada penderitaan yang lebih menyiksa. Di kisahkan bahwa Sidharta pernah hidup di berbagai alam, sebelum hidup di alam manusia. Sidharta pernah hidup sebagai binatang, pernah menjadi manusia, baik pria mau pun wanita, pernah juga menjadi Dewa. Menjalani kehidupan dalam berbagai bentuk. Kemudian secara perlahan-lahan dengan latihan yang semakin dalam, dengan kebijaksanaan, sehingga akhirnya Sidharta menjadi tercerahkan/utusan dan menjadi Sang Buddha. Saya tertarik dalam kisahnya…

Di dalam perjalanannya, Sidharta bertemu dengan seorang guru spiritual dan beliau mengatakan kepada Sidharta “kebenaran tidak akan datang dari latihan dan ritual keagamaan. Tetapi kita harus hidup di dalam ajaran tersebut, kamu boleh ikut denganku kalau mau”.
Guru spiritual pada zaman itu sudah mengajarkan yoga dan meditasi, mengajarkan bagaimana pikiran dapat di jinakkan, dan pada zaman itu terdapat banyak sekali sekolah yoga dan meditasi. Yoga bukan hanya badan, tetapi Yoga memberikan benefit terhadap badan dengan berbagai cara, dan tujuan utama dari yoga adalah untuk mencapai keadaan meditatif yang mendalam, yang mana tidak bisa didapatkan dengan mudah dan cepat, tetapi melalui proses latihan yang disiplin.

Meskipun Yoga kelihatannya fokus pada kontrol terhadap badan, tetapi sebenarnya Yoga adalah disiplin spiritual kuno, yang tujuan utamanya adalah untuk menenangkan pikiran. Namun, praktik meditasi yoga tidak mensolusikan permasalahan bagi Sidharta, yaitu mengakhiri penderitaan, dan praktik meditasi hanya memberikan temporary solution, memberikan ketenangan yang bersifat sementara. Sidharta tidak puas dan kemudian Sidharta pergi meninggalkan gurunya yang pertama, kemudian ketemu dengan guru yang ke dua, hasilnya tetap sama. Sehingga Sidharta meninggalkan juga guru tersebut, sayapun sama, setelah masuk agama ini, tidak puas, lalu saya keluar dan masuk lagi ke agama yang lainnya.

Setelah saya rasakan semua agama yang saya pelajari dan perguruan yang pernah saya guri, tidak memuaskan saya, dalam menempuh kebebasan siklus kehidupan, lalu saya melanjutkan perjalanan sendiri, tanpa guru tanpa agama, mencari jawaban atas pertanyaan saya sendiri.

Kenapa manusia dihidupkan di dunia ini?
Yang kemudia di matikan dan di ganjar sesuai perbatan semasa hidup di dunia.
Apakah ada jalan keluar?
Apa benar reinkarnasi atau moksa itu ada dan saya bisa?
Saya mencoba, mencoba, dan mencoba.. selalu mencari dan mencari.

Saya pernah hidup di dalam kemewahan yang ekstrim, dan sekarang saya hidup di dalam “pembinasaan” yang ekstrim. Gunung. Goa. Situs. Punden. Keramat. Makam saya datangi dan saya huni. Dan di antara para pertapa yang meninggalkan keduniawian, terdapat sebuah praktik spiritual, yang dengan ketat melakukan hukuman terhadap badan. Di yakini bahwa menghukum badan merupakan cara untuk mendapatkan kebijaksanaan dan ketenangan.

Di dalam perjalanan, dan di tempat yang berbeda, saya bertemu dengan tiga orang teman, yang menjalankan praktik spiritual tersebut, dan sayapun ikut di dalam praktik tersebut. Memperlakukan diri dengan disiplin yang sangat tinggi dan keras, melakukan penyiksaan terhadap badan, menggantungkan diri di pohon dan bermeditasi dengan kepala menghadap ke bawah, tidak makan selama berhari-hari dll.

Badan di yakini merupakan sumber penderitaan, misalnya usia tua, membuat badan menjadi lemah dan rusak, penyakit menyebabkan sakit dan penderitaan pada badan, dan kematian merupakan pelepasan jiwa dari badan atau disfungsi dari badan, sehingga konsepnya adalah bahwa apabila seseorang sanggup untuk keras terhadap badannya sendiri dengan intensitas yang cukup, maka orang tersebut akan lepas dari penderitaan yang bisa dibawakan oleh keterbatasan badan, orang tersebut dapat melampaui keterbatasan badan, teman-teman saya pada saat itu, menjalankan praktik spiritual tersebut, dengan menurunkan kebutuhan hidup hingga ke level paling rendah, makan dan minum secukupnya, asal cukup untuk bertahan hidup, tidak ada proteksi terhadap badan dari panas dan dingin, duduk di tengah cuaca yang ekstrim dingin dan hujan, bermeditasi berjam-jam setiap hari, ini diyakini bahwa dengan menundukkan keinginan daging, maka bisa di dapatkan kekuatan spiritual.

Lambat laun, saya merasa lelah, saya menjalankan praktik spiritual seperti itu, dengan cara menghukum dirin selama enam bulan, saya menyiksa diri dan berusaha menghancurkan apa saja yang saya lihat, sebagai hal yang buruk di dalam diri saya, setiap hal-hal duniawi, setiap pikiran kemarahan, setiap nafsu, setiap keinginan, apabila seseorang sanggup menghapus semua itu dengan kekuatan keinginan, maka orang tersebut akan mengalami suatu proses transformasi yang membawa dirinya melampaui manusia biasa, yaitu lepas dari semua dan segala penderitaan.

Saya mencoba semua itu dan pada akhirnya, menjadi seorang pertapa yang paling ekstrim di bandingkan dengan ke tiga teman saya yang lain, yang sedang melakukan hal yang sama pula, namun di tempat yang berbeda, makan hanya satu butir nasi per hari, minum air kencingnya sendiri, berdiri bermeditasi dengan satu kaki selama berjam-jam di tengah cuaca yang ekstrim, tidur di atas tanah tanpa alas, tetapi semuanya itu saya lakukan dengan tekad dan keyakinan sepenuh hati.

Badan saya menjadi kurus kering, rambut saya kusut dan gimba, tulang-tulang saya menjadi sangat rapuh, menonjol keluar di lapisi hanya oleh kulit yang kering dan tipis, rona mata saya gelap seperti sumur, saya gemetar dan menggigil jika terhembusan angin dingin. Tetapi saya tetap melanjutkannya, mendorong badan saya sampai pada limit paling ekstrim, yang bisa saya tahan, sampai pada akhirnya, saya sadar dan menyadari, bahwa saya tidak bisa mendapatkan apa yang saya mau dari praktik spiritual seperti ini.

Menyiksa badan, badan menjadi sakit dan lemah, seluruh perhatian menjadi tertuju kepada badan, tidak ada yang lain. Akhirnya saya menyerah atas latihan yang keras tersebut, dan saya mengetahui, bahwa itu bukan jalan yang benar, lalu saya menyaksikan diri saya sendiri hampir mati, dan kemudian terbersit sebuah ingatan, saya ingat suatu moment saat masih kecil dulu, sewaktu saya di tuduh mencuri ayam tetangga, lalu karena tidak mau mengakui, saya di pukui, sampai-sampai bapak kandung saya, ikut memukuli saya, karena percaya dengan tuduhan itu, setelahnya, saya duduk melamun di pinggir sungai, sambil memandangi air sungai yang jernih dengan suaranya yang gemericik, karenanya, penyiksa’an yang baru saja saya alami, seketika sirna, tertebus oleh kesempurna’an dunia melalui jernih dan gemericiknya air sungai tersebut.

Disini saya mendapatkan satu jawaban, yaitu; Semua yang ada di dalam kehidupan dunia ini, adalah saling terkait satu sama lain. Dan untuk memelihara keterkaitan itu, agar tidak salin menyakitkan, adalah dengan kasih sayang, dengan kasih sayang yang mendalam terhadap setiap hal yang di temui, baik itu orang, binatang, tumbuhan, atau planet ini secara keseluruhan, seluruh makhluk hidup di bumi ini, pepohonan dan sungai, semuanya, segalanya terhubung satu sama lain.

Dan seketika itu, saya berhenti menjalankan praktik spiritual yang ekstrim itu, lalu saya beralih mempraktek penemuan baru itu, yaitu kasih sayang, saya turun dari gunung sumbing, lalau naik mendaki lagi ke gunung slamet, dengan lanjang kaki penuh kasih sayang, jika sampai ada se’ekor semut saja, yang terinjak dan mati, iar mata saya bercucuran, berderai menangisi si semut tersebut dll, saya berjalan melangka dan melangkah dengan kasih sayang, hingga berhasil mencapai puncak gunung slamet, tanpa buang waktu, pada sa’at itu juga, bertepatan dengan suatu hari yang indah, dengan cuaca yang cerah, saya duduk dengan cara bersilah diatas sebuah batu besar pipih di bawah pohon rindang puncak gunung slamet, memandang perkampungan dan perkota’an yang nampak dari puncak gunung slamet, terlihat kecil-kecil seperti butiran kacang kedelai, pikiran saya melayang-layang, kemudian dengan sedikit memaksa, saya memulai meditasi, menyalurkan kasih sayang keseluruh tubuh saya.

Dan sepertinya, alam memberikan tempat dan perlindungan kepada saya, seiring dengan berlalunya waktu, matahari berpindah posisi, bayangan pepohonan dan rerumputan bergeser, tetapi bayangan dari pohon, di mana saya sedang duduk berteduh bersemedi, tidak berpindah posisi dan terus menaungi saya dari sengatan matahari. Sa’at itu saya merasakan sukacita, dan kemudian terucap sebuah kata dalam hati saya “Saya tidak bisa terus menerus merasakan suka cita ini kalau saya tidak makan tidak minum, karena kalau saya tidak makan dan tidak minum, berati saya tidak kasih sayang pada bada saya ini, jadi, kalau saya memang kasih sayang pada badan ini, sebaiknya saya makan”

Tak berselang lama kemudia, ada serombongan pendaki gunung melintas di hadapan saya, lemudian memberi 3 bungkus roti dan sebotol air, kemurah-hatian orang yang memberikan roti dan iar kepada saya itu, saya lihat seperti cahaya obor yang memberikan rahmat (pengampunan dengan penuh kasih sayang) kepada saya. Selesai makan roti dan minum, saya merasakan sukacita, hati yang penuh syukur, saya merasakannya, dan saya merasa “cukup” pada saat itu. Dan kemudian saya melekat kepada rasa cukup tersebut.

Kemudian saya mengingat semakin jauh dan jauh, dan saya ingat bapak dan ibu saya juga akan anak dan istri saya, serta semua yang saya tinggalkan, Kemudian muncul kembali pertanyaan awalnya, saya menghela napas panjang, saya merasakan kehilangan dan rindu, dalam hati saya berontak dengan gebragan kata.

Apakah ini kasih sayang?
Kalau memang kasih sayang, bagaimana dengan bapa ibu dan anak istri saya juga yang liannya yang saya tinggalkan?
Apakah seperti ini kasih sayang itu?
Kalau memang kasih sayang, mengapa saya meninggalkan mereka?

Walau saya sudah merasakan cukup dan merasakan cukup, tapi masalah ini belum selesai, buktinya masih ada masalah, berati masalah ini belum selesai. Pasti ada yang lain, bukan Cuma kasih sayang. Saya harus mencarinya lagi, dan saya sudah tau secara sadar, penyiksaan diri yang ekstrim, bukanlah jalan dan cara yang tepat. Lalau saya mulai bergerak melangkah turun gunung, namun belum pnya tujuan pasti harus apa dan bagaimana, karena saya merasa semua jalan dan cara sudah saya tempuh. Nemun yang saya temukan masih belum sempurna, karena masih terasa ganjil, tidak genap.

Lalu saya duduk bersilah semedi di tepi sungai klawing purwokerto jateng. Saya bermeditasi sepanjang malam, dan seluruh ingatan kehidupan masa lampau datang silih berganti, saya ingat seluruh kehidupan masa lalu saya. Kesadaran saya semakin berkembang dan meluas hingga ke masa lalu, saya melihat proses kelahiran saya dulu dan kematian saya kelak, dan di lahirkan kembali, dan apa yang di lalui oleh semua makhluk hidup, saya seolah-olah di beri penglihatan tentang cara kerja alam semesta secara keseluruhan.

Pada saat matahari terbit, “Pikiran saya dalam keadaan yang tenang, tidak ada emosi tidak ada galau” hati saya berkata;

Mungkinkah saya telah tercerahkan, seperti Sidharta Gautama yang menjadi seorang buddha itu? Buktinya saya di beritau tentang proses kelahiran saya dulu dan kematian saya kelak, yang kemudian di lahirkan kembali, seperti yang di lalui oleh semua makhluk hidup, saya juga di beri penglihatan tentang cara kerja alam semesta secara keseluruhan.

Sungguh ini sesuatu yang baru saya alami selama berspiritual, saya merasakan bahwa saya nyata-nyata berada di dalam nirwana/surga, apa yang saya alami itu, saya rasa bukanlah suatu keadaan, yang baru dan yang lari dari realita yang ada, hanya saja, saya menyadari bahwa saya, merasa selalu ada di nirwana/surga, dan menurut saya, realita itu sendiri adalah nirwana/surga. Adalah ketidak-realita’an kita, dan ketidaktahuan kita, yang membuat kita terpisah dari alam semesta, dan sesungguhnya, kita sendiri inilah alam semesta.

Benar apa yang di katakan oleh Syekh Siti Jenar. Bahwa Surga dan Neraka itu. Ya didunia ini. disini ini. Nirwana/Surga adalah saat ini, di tempat ini, dan gerbangnya adalah sekarang ini, dan jalannya adalah badan dan pikiran kita ini, tidak ada yang perlu di tuju, tidak ada yang perlu di capai, nirwana/surga bukan lah sesuatu yang di targetkan untuk di capai sesudah kematian, tetapi sederhananya adalah kualitas kehidupan kita pada detik sekarang ini. Karenanya, kasih sayang itu, semakin tumbuh bersemi rindang di dalam jiwa saya.

Rasanya seperti ketika kita merasakan apa yang di rasakan oleh orang lain, kita tidak akan mau orang lain tersebut merasakan hal-hal yang buruk, seperti halnya ketika kita merasakan tangan kita, kita tidak akan meletakkan tangan kita di atas tungku api, kita mungkin tidak memiliki kasih sayang terhadap tangan, tetapi kita merasakan sakit sehingga kita tidak mau meletakkan tangan di atas tungku api. Sehingga ketika orang lain merasakan penderitaan, kita akan melakukan yang terbaik untuk membantu mereka.

Itulah Kasih Sayang yang saya maksud disini, dan yang pernah saya wedarkan di artikel yang pernah saya postingkan di internet. Namun kasih sayang itu, belum cukup tanpa adanya Cinta, masih terasa ganjil, seperti wedang yang kurang gula, atau masakan sayur yang kurang garam. Itulah Kasih Sayang Spiritual jika tanpa Cinta. Diatas itulah bukti riyil tentang Kasih Sayang yang pernah saya Ungkapkan di beberapa artikel saya. Dan sekarang, mari kita berlanjut ke Proses Penemuan Cinta, di dalam sejarah perjalanan spiritual Hakikat Hidup saya berikutnya. Bersambung ke Artikel KISAH PERJALANAN SPIRITUAL Wong Edan Bagu. DALAM MENEMUKAN TIGA TITIK PENENTU IMAN. Yaitu CINTA KASIH SAYANG Bagian Dua:

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com