LAKU SUCI TEMUJU/MENUJU SEMPURNA/DZAT MAHA SUCI:


LAKU SUCI TEMUJU/MENUJU SEMPURNA/DZAT MAHA SUCI:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Yogyakarta. Hari Rabu. Tgl 08 Februari 2017

Wahyu Panca Gha’ib Dan Wahyu Panca Laku, adalah Laku Suci Menuju atau Tumuju Sempurna atau Dzat Maha Suci. Maksudnya. Wahyu Panca Gha’ib itu Dzat Maha Suci yang diTuju. Sedangkan Wahyu Panca Laku itu Cara untuk Menujunya. Sebab itu,,, siapapun dia, yang memiliki dan menjalankan Wahyu Panca Gha’ib. Mau tidak mau, relah tidak relah, suka atau tidak suka, percaya atau tidak percaya, yakin atau tidak yakin. Harus murni tan kemomoran (tidak ternodai), bersih, tulus, jujur, apa adanya. Jika tidak,,, bagaimana mungkin bisa alias tidak akan pernah bisa.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya akan kembali).

“Tiap-tiap yang berjiwa hidup akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai coba’an (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” ( QS. 21 : 35 )

Coba saja di pikir dengan logika yang nyata dan wajar;
Tuhan/Allah itu Dzat Maha Suci. Kita berasal dari Dzat Maha Suci. Kita milik Dzat Maha Suci, dan Kita akan kembali kepada Dzat Maha Suci (inna lillahi wa inna illaihi rojiun). Suci itu bukan warna, bukan bentuk dan sebutan, suci itu adalah sesuatu yang tidak bisa saya sebutkan gambaran perumpamaannya disini, saya hanya bisa mengatakan kalau suci itu, adalah sesuatu yang tidak bisa di campuri dan tercampuri serta tercemari oleh apapun dan dengan apapun, kecuali dengan suci dan oleh suci itu sendiri.

Terus… Kita ini berasal dari suci itu, kita ini milik suci itu. Lalu… mana mungkin dan apa mungkin bisa…?! jika kita tidak suci…?! kalau kita bukan suci…?!

Suci itu tidak bisa dicampuri, tidak bisa tercampuri serta tidak bisa tercemari dengan apapun dan oleh apapun, kecuali suci itu sendiri lo… Coba saja dipikir lalu di renungkan. Iya apa iya…!!!.

Disinilah babak penentuan Laku Spiritual Hakikat Hidup, sebenarnya bukan Cuma Hakikat Hidup saja, yang babak penentuannya di bagian ini, setahu saya, semua Ajaran, termasuk agama dan kepercaya’an, juga sama, penentuannya di bagian ini, namun karena gagal paham soal Suci dan tentang Sempurna. Jadi patah dan tumbang oleh ego aku-nya masing-masing.

Khusus untuk Para Kadhang kinasih saya yang memegang Buku Kunci The Power dan Para Kadhang kinasih bimbingan saya dimanapun berada. Tolong; Copy Paste Artikel ini. Untuk dipelajari secara mendalam dan penuh penghayatan rasa. Agar supaya. Panjenengan semuanya. Bisa mengerti dan Paham Serta mengetahuinya sendiri secara langsung. Bukan katanya Wong Edan Bagu. Tentang Semua dan segalanya soal Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku. (kalau masih katanya Wong Edan Bagu, berati masih belum benar dan tepat), karena itu, untuk bisa sendiri. Baca baik-baik Artikel ini, dengan sadar, jangan dengan melamun, supaya lebih mudah membacanya, salin atau copy paste Artikel ini.

LAKU SUCI TEMUJU/MENUJU SEMPURNA/DZAT MAHA SUCI;
Wahyu Panca Gha’ib Dan Wahyu Panca Laku, adalah Laku Suci Menuju atau Tumuju Sempurna atau Dzat Maha Suci. Maksudnya. Wahyu Panca Gha’ib itu Dzat Maha Suci yang diTuju. Sedangkan Wahyu Panca Laku itu Cara untuk Menujunya. Sebab itu,,, siapapun dia, yang memiliki dan menjalankan Wahyu Panca Gha’ib. Mau tidak mau, relah tidak relah, suka atau tidak suka, percaya atau tidak percaya, yakin atau tidak yakin. Harus murni tan kemomoran (tidak ternodai), bersih, tulus, jujur, apa adanya. Jika tidak,,, bagaimana mungkin bisa alias tidak akan pernah bisa.

Caranya bagaimana Pak WEB…?!
Caranya. Galilah rasa, yang meliputi seluruh tubuhmu, di dalam tubuhmu, ada firman Tuhan, yang dapat menjamin, jiwa ragamu, lahir bathinmu, dunia akheratmu dan hidup matimu. Mengibadahkan atau Menjalankan Wahyu Panca Gha’ib dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Di sadari atau tidak di sadarai, di sengaja atau tidak di sengaja niyatnya. Pada hakikatnya, itu sudah berupaya atau berusaha menggali rasa yang meliputi seluruh tubuh kita.

Prakteknya bagaimana Pak WEB…?!
Prakteknya. Langkah awal adalah mengenal Hati;
Semua orang pernah mendengar tentang mengenai hati, apa lagi yang ngefen dengan kiyai atau ustdaz AA Gim, karena tema dakwahnya, adalah tentang hati. Tapi sangat jarang yang benar-benar mengenal hati. Padahal, hati adalah bagian dari diri kita, sama seperti kaki, tangan, hidung, telinga, dan organ-organ tubuh lain, namun nyatanya, hampir semuanya, tidak mengenal hati, sebaik mengenal tangan, kaki, telinga, hidung dll-nya itu.

Bagi kita manusia, hati memiliki fungsi yang spesial, yang menentukan kita bisa atau tidaknya menjalani hidup di dunia ini, seperti dan sesuai Firman Dzat Maha Suci Hidup. Kita sudah tahu, bahwa fungsi kaki adalah untuk berjalan, tangan untuk memegang, telinga untuk mendengar, hidup untuk mencium, otak untuk berpikir, merancanakan, mengontrol jalannya mesin tubuh. Namun, tahukah kita apakah itu fungsi hati..?!

Hati, seperti yang kita sudah ketahui, adalah pusat dari semua organ. Kita dapat merasa, menyadari, mengalami dll, dengan menggunakan hati. Artinya, jika bicara mengenai rasa, hati adalah pusat rasa yang keluar masuk, tersebut rasa indah, rasa tenang, rasa damai, rasa nyaman, rasa bahagia. Jadi, hati adalah lapaknya hubungan sosial dengan sesama hidup dan hubungan spiritual dengan Sang Pencipta Segalanya. Karena rasa yang sejati, rasa yang sebenarnya, rasa yang sesungguhnya, bersemayan di Hati. Mari kita kupas lebih dalam lagi, ada apa di dalam Hati…

Firman Tuhan;
Dalam setiap rongga anak adam, Aku ciptakan suatu mahligai, yang di sebut dada. Di dalam dada ada hati (hati bagian luar), dalam hati, ada qalbu/benak (hati bagian dalam), di dalam qalbu/benak, ada fuad/nurani (hati paling dalam), dalam fuad/nurani, ada rasa, di dalam rasa, ada hidup, di dalam hidup, ada Sir, di dalam Sir, ada Dzat, di dalam Dzat, ada Sipat, di dalam Sipat, ada Aku. Tempat Aku menyimpan Rahasia-ku. “Al-Insanu Siri Wa Ana Siruhu” Rahasia kalian adalah rahasia-Ku.

Sebab itu saya selalu berpesan wanti-wanti;
“Jagalah Pikiranmu, karena Pikiran akan menjadi Perkata’anmu. Jagalah Perkata’anmu, karena Perkata’anmu akan menjadi Perbuatanmu. Jagalah Perbuatanmu, karena Perbuatanmu akan menjadi Kebiasa’anmu. Jagalah Kebiasa’anmu, karena Kebiasa’anmu akan membentuk Karaktermu. Jagalah Karaktermu, Karena Karaktermu akan membentuk Nasibmu. Maksimal Jagalah Hati/Qalbumu, karena Hati/Qalbumu akan menentukan Rasamu. Jagalah Rasamu, karena Rasamu akan menentukan Lakumu. Jagalah Lakumu, karena Lakumu akan menentukan Hyang Maha Suci Hidup-mu. Tuhan hantu apa hantu Tuhan atau hantu-hantuan apa Tuhan-Tuhanan”

Semua berlapak di Hati, segalanya bermuara di Hati. Ketenteraman ada di dalam diri kita. Kesucian ada di dalam diri kita. Kesempurnaan ada di dalam diri kita. Tuhan-pun ada di dalam diri kita. Yaitu di Hati. Janganlah mencarinya di luar diri kita, carilah kedalam diri kita. Yaitu Hati. Hati kita sendiri, bukan Hatinya orang lain, sebab itu dan karena itu. Hati-Hati-lah. Dengan Otak/Perasaan-mu.

Hati/Rasa dan Otak/Perasaan adalah dua piranti Hidup, yang kita peroleh dari Dzat Maha Suci, dimana hati adalah piranti utama, untuk kehidupan yang asli dan pasti. Selama ini, kita terbiasa menggunakan otak, untuk di hampir semua aktivitas, menyelesaikan persoalan, berhubungan antar sesama manusia, menghadapi tantangan, dan merespon situasi/kondisi di sekitar kita, bahkan berTuhan-pun, kita menggunakan otak, sebab itu, walau satu ajaran keyakinan, bisa salin sikut dan salin fitnah, karena otak yang di gunakan, Inilah yang menjadi sumber stres bahkan trauma, ketidak bahagiaan, ketidak puasan, kekuatiran, kejengkelan, ragu, takut dan hal-hal negatif lainnya, yang berujung pada pencarian kebahagiaan serta kepuasan yang semu dan sesaat.

Itulah ciri-ciri di mana saat kita hanya menggunakan otak/perasaan. Dengan lebih mengutamakan hati daripada otak, hal-hal negatif tersebut, akan berganti dengan rasa khas hati yang indah, tenang, damai, nyaman, bahagia, tenteram, sempurna. Dengan mengenali hati, kita bisa memanfaatkan hati untuk perbaikan segala aspek kehidupan yang sudah mendogma/mendogtrin otak, seperti kesehatan fisik, mental, emosional, sosial, dan spiritual.

Langkah Kedua adalah Membuka Hati;
Untuk dapat memanfaatkan hati, kita perlu belajar dan berlatih untuk menggunakannya. Sama persis seperti di saat kita belajar menggunakan kaki untuk merangkak, berdiri, berjalan, berlari, tangan untuk menyentuh, meraba, menggenggam, memegang, menjumput dll. Kita perlu mengasahnya seperti halnya kita mengasah otak dengan mempelajari beberapa ilmu pengetahuan, mulai dari TK, SD, SMA, sampai pendidikan lanjutan. Jika biasanya kita menyehatkan tubuh dengan olah raga, mencerdaskan otak dengan olah pikir, kita bisa memperkuat hati dengan olah rasa.

Menggunakan dan memanfaatkan hati adalah suatu keterampilan, yang dapat dilakukan oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun, dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Keterampilan ini dapat dipelajari oleh siapapun, tidak memandang usia, laki-laki, perempuan, agama, suku, dan lain lain, karena bersifat sangat universal dan caranya juga sangat sederhana, tidak ribet, tidak rumit, sulit dan berat. La wong cukup Patrap Wahyu Panca Gha’ib dengan menggunakan Wahyu Panca Laku, minimal dua kali dalam sehari semalam, sebelum tidur sekali dan setelah tidur sekali. Itulah Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku. Harus Murni tak ternoda. Harus tak tercampuri. Seperti yang sudah saya uraikan diatas.

Isi Hati itu selalu murni dan tidak dapat terkontaminasi oleh apa pun dan dengan apapun. ‘Sir atau Cinta’ adalah lapisan khusus yang melindungi hati dari pengaruh luar yang tidak murni. ‘Dat atau Kasih’ adalah lapisan penyaring atau filternya, dan ‘Sipat atau Sayang’ adalah lapisan penyempurnanya.

Mengapa harus Hati? Kok tidak langsung ke Rasa saja. Hati adalah lapaknya. Hati adalah muaranya. Tempatnya. Domisilinya. Siapapun bisa mempelajari rasa, sekalipun tidak menggunakan Wahyu Panca Gha’ib. Atau menggunakan Wahyu Panca Gha’ib, tapi tidak dengan Wahyu Panca Laku, tetap bisa mempelajari rasa… namun tidak akan abadi, tidak langgeng, tidak sempurna. Sebab,,, rasa yang berhasil di pelajarinya itu, selalu berubah-ubah, tidak tetap, tidak menetap, karena tidak berlapak, tidak muaranya, tidak berdomisili, gampangnya, tidak punya rumah.

Contoh misal;
Jika kita melihat motivasi di balik pikiran (otak) perasaan, dan tindakan sadar serta bawah sadar, motivasinya adalah untuk mendapatkan kebahagiaan. Namun kendati sukses secara duniawi dan sosial, kadang-kadang merasa kesepian, kosong, dan seolah-olah ada sesuatu yang hilang. Bahkan saat mengalami kebahagiaan, cenderung hanya sekejap saja.

Dalam menggunakan dan membuka hati, kita diberkahi, kita dirahmati, kita diridhoi, dengan anugera kedamaian dan kebahagiaan serta ketenteraman yang sempurna, yang dapat dirasakan secara nyata, sungguh-sungguh dalam hidup kita sehari-hari ini, bukan katanya, tidak nanti setelah mati di akherat. Kehidupan sehari-hari kita, sebenarnya adalah manifestasi dari seberapa sering dan seberapa kuat kita terhubung dengan Dzat Maha Suci. Dengan demikian, hati yang terbuka, dan selalu digunakannya dengan sadar, akan bertumbulah laku spiritualnya secara alami dan murni, tanpa harus di rancang dan di karang.

Didalam Hati, ada hubungan cinta kasih sayang yang indah dan sangat mesra, antara Dzat Maha Suci Hidup dan Dzat Maha Suci. Ini adalah hubungan yang sangat penting dan utama, yang perlu ditingkatkan terus menerus, untuk mendapatkan manfaat penuh dari Cahaya/Nur Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci, yang mengalir melalui hubungan indah dan mesrah itu. Hubungan Ilahi ini, mendefinisikan seberapa baik dan seringnya kita membuka dan menggunakan Hati kita, untuk terkoneksi dengan Dzat Maha Suci. Semakin sering kita membuka dan menggunakan Hati. Semakin indah dan mesra hubungan percintaan, kasih sayang Dzat Maha Suci Hidup kita dan Dzat Maha Suci kita. Semakin indah dan mesra, semakin Suci dan Sempurna semuanya dan segalanya.

Melalui hubungan yang indah dan mesra ini, yang kejadian proses di dalam hati ini, seluruh keberadaan kita, terus menerus, menerima Berkah kesempurnaan dari Dzat Maha Suci, yang merupakan sumber sukacita, kebahagiaan, ketenangan, kesehatan, kekayaan, kesaktian dan semua serta segala hal di dalam kehidupan ini. Melalui hubungan cinta kasih sayang didalam hati ini, kita sedang diurus dan di tanggung jawab oleh Dzat Maha Suci, secara langsung, tanpa wakil dan perantara apapun, jadi,,, tak perlu ragu, khawatir, takut. Karena Dzat Maha Suci adalah Maha Kuasa atas Segala-galanya.

Langkah Ketiga adalah Mencapai Tujuan Hidup Yang Sebenarnya;
Sebelum Mencapai Tujuan Hidup Yang Sebenarnya, hendaknya terlebih dahulu mengenali adanya kesadaran dalam diri kita. Secara spiritual, manusia memiliki setidaknya tiga kesadaran:
Kesadaran fisik-lahir, dengan otak sebagai pusat, (terletak di kepala)
Kesadaran jiwa-sukma, dengan Patrap sebagai pusat, (terletak di antara alis).
Kesadaran Ruh-Roh Suci atau kesadaran diri sejati, dengan rasa sebagai pusat (terletak di dalam hati). Ketiga kesadaran ini juga, dikenal sebagai Kesadaran Super atau Supra atau Atman.

Roh-Ruh Suci (diri sejati), bersemayam di dalam hati. Dari penjelasan saya tersebut diatas, dapat dilihat, bahwa di dalam tubuh manusia, terdapat jiwa-sukma, dan di dalam jiwa-sukma, terdapat Roh-Ruh Suci, yang lebih di kenal dengan sebutan Guru Sejati atau Hidup, dan keduanya itu, bermukim di hati. Wujud fisik, akan musnah jadi bangkai kalau tanpa adanya Jiwa-Sukma. Jiwa-Sukma, tidak bisa ada tanpa adanya Roh-Ruh Suci atau Hidup dan Hidup tidak akan mangejawantah jika tanpa Dzat Maha Suci.

Semasa kita hidup sebagai manusia, kesadaran fisik atau otak adalah lapisan luar dari kesadaran yang membungkus tingkat kesadaran yang lain didalamnya. Meskipun kesadaran terdalam jiwa-sukma, mengetahui apa yang terjadi, itu tetap hanya sebuah kesadaran fisik, yang dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitar kita. Kesadaran yang lebih tinggi atau lebih dalam, adalah kesadaran Ruh-Roh Suci, dan saya menyebutnya dengan istilah kesadaran murni. yang terletak di dalam hati, dia tidak memiliki kesempatan berinteraksi langsung dengan lingkungan, karena dia hanya milik Dzat Maha Suci, kecuali saat mengikuti ide atau gagasan dari tingkat kesadaran yang lebih tinggi dengan otak.

Begitu tubuh fisik berhenti bekerja, pusat kesadaran fisik-otak, langsung pergi begitu saja. Karena kesadaran jiwa-sukma, hanya bisa berinteraksi secara langsung dengan lingkungan. Maka Kesadaran jiwa-sukma inipun, menjadi tidak berfungsi. Kesadaran jiwa-sukma ini, juga dikenal sebagai kesadaran perantara, sebagai antarmuka, antara fisik dan Hidupnya, agar hidup dapat menggunakan tubuh fisik, untuk bergerak di bumi sebagai manusia.

Mengingat bahwa hati sangatlah penting, itu tidak berarti bahwa yang lain tidak penting. Kesadaran fisik dengan otak sebagai pusatnya, juga merupakan fasilitas yang luar biasa. Otak merupakan bagian dari alat-alat spiritual, yang diberikan oleh Dzat Maha Suci, sehingga kita dapat belajar melalui pengalaman, sebagai pelajaran spiritual di dunia, untuk membantu kita ingat dan memilih Dzat Maha Suci. Tetapi, tentu saja, ada alat spiritual khusus yang membantu kita ingat dan memilih Dzat Maha Suci, yang telah disediakan bagi kita, untuk benar-benar meningkatkan hubungan kita dengan Dzat Maha Suci. yaitu Rasa yang ada di dalam hati.

Bahkan, saat otak memilih Dzat Maha Suci, kita juga dapat dengan cepat dan tepat menggunakan fasilitas khusus itu, yang telah diberikan kepada kita, yaitu rasa, yang ada di dalam hati, yang menghubungkan kepada Dzat Maha Suci, serta dapat membantu Ruh-Roh Suci (Hidup), langsung terhubung secara langsung dengan segala sesuatu yang diperlukan. Hal ini adalah bagian dari hadiah indah dari tubuh fisik manusia dari Dzat Maha Suci, karena selain manusia, tidak diberi hadiah ini, dan inilah yang membedakan kita dengan mahluk-mahluk lainnya.

“Siapakah aku?”, “Mengapa aku di sini?”, dan “Di mana aku menuju?”
Adalah pertanyaan yang kita hadapi dewasa ini. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penting tersebut, perlu kita sadari, siapa diri kita sebenarnya. Maksudnya; Apakah kita adalah tubuh fisik manusia yang sementara, atau jiwa-sukma, atau Roh-Ruh Suci/Hidup?

Hayo… Siapa diri kita yang sebenarnya…?! Manakah yang ada lebih dulu, tubuh fisik manusia yang sementara, atau jiwa-sukma, atau Roh-Ruh Suci/Hidup…?! He he he . . . Edan Tenan.

Sebagian besar menganggap tubuh fisik manusia yang sementara ini, sebagai kita yang sebenarnya. Jika kita memandang tubuh fisik yang sementara ini, sebagai kita yang sebenarnya, sangatlah mudah untuk memahami mengapa kita memiliki begitu banyak kekhawatiran mengenai tubuh fisik yang sementara ini. Yang pasti tubuh fisik manusia ini, suatu hari akan sakit, tua, dan mati, lalu jadi santapan cacing tanah. Ini hanya masalah waktu.

Sebaliknya, jika kita mulai menyadari, bahwa diri kita yang sebenarnya, bukanlah tubuh fisik manusia yang sementara ini, tetapi sesuatu yang kekal dan ilahi, yang tidak bisa mati, dan memiliki tujuan yang indah untuk ada, maka tidak ada alasan untuk khawatir banyak hal, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan manusia.

Ya, diri kita yang sebenarnya bukanlah tubuh fisik yang sementara ini, tetapi yang ada di dalam hati, yang sudah saya uraikan diatas tadi, dan telah diberikan tubuh fisik ini, oleh Dzat Maha Suci, sebagai alat spiritual atau sebagai sarana indah, sehingga kita bisa melakukan perjalanan spiritual, sebagai manusia seutuhnya, untuk kembali kepada Dzat Maha Suci.

Segala sesuatu yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari, hanyalah sebuah kesempatan, untuk mencapai tujuan akhir dari keberadaan. Beberapa waktu yang lalu, sebelum memiliki tubuh manusia, kita diciptakan sebagai Hati, dan diberi Cinta Kasih Sayang, sebelum diberi tubuh manusia. Bahkan tubuh manusia dan jiwa-sukma diciptakan oleh Dzat Maha Suci, sebagai sarana indah, untuk membantu isi hati, yaitu Roh-Ruh Suci kita, belajar kembali kepada asal usul sangkan paraning dumadi yaitu Dzat Maha Suci.

Ketika kita datang dari Sumber Segalanya, kita ditakdirkan untuk bahagia dan tenteram secara sempurna. Karena Sumber Segalanya itu, adalah bahagia, tenteram dan sempurna.

Jika tidak menyadari siapa kita sebenarnya, kita akan bergerak menjauh dari Sumber bahagia, tenteram dan sempurna. Artinya. Sangat mustahil untuk bisa bahagia, tenteram dan sempurna. Kesimpulannya; Untuk bisa menyadari siapa diri kita sebenarnya. Adalah dengan Mengibadahkan atau Mempraktekan atau menjalankan Wahyu Panca Ghaib dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Ingat…!!! Wahyu Panca Laku. Maka pelajari dan Pahami benar-benar secara sadar dan sesadar-sadarnya. Tentang dan soal Wahyu Panca Laku. Yang saya wedarkan dalam Buku Kunci The Power atau yang saya wedarkan secara langsung. Sebab… itulah titik penentu yang bisa menentukan Berhasil atau Tidaknya.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666. SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Misteri Kabut Ghaib yang menyelimuti PIH (Pasar Ikan Higienis) Yogyakarta:


Misteri Kabut Ghaib yang menyelimuti PIH (Pasar Ikan Higienis) Yogyakarta:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Yogyakarta. Hari Rabu.Tgl 08 Februari 2017

Misteri Kabut Ghaib yang menyelimuti PIH (Pasar Ikan Higienis) Yogyakarta. Akhirnya Berhasil Saya Ungkap, dengan Wahyu Panca Gha’ib. Namun sayang, tidak bisa saya rekam dengan vidio, karena terkait dengan Sang Penguasa Laut Kidul. Maafkan… Jadi, Prosesnya hanya bisa saya bagikan dengan Tulisan ini. Semoga ada manfaat dan keberkahan di dalam kisahnya, sebagai ilmu pengetahuan.

PIH (Pasar Ikan Higienis), yang terletak di Jl. Tegalturi No. 2. Kel. Giwangan. Kec. Umbulharjo. Kota Yogyakarta. Tempa dimana saya berada saat ini. Karena di mohon bantuan spritualnya, untuk soal Perintasa PIH kembali, yang sudah pernah mengalami tiga kali mati suri selama kurang lebihnya 15 tahun ini. Awalnya adalah sebuah lokasi-lahan tanah kosong, lemah butuk’an-bahasa jawa. Artinya, (Tanah yang menggundug seperti bukit).

Dulu,,, lokasi/lahan ini, di kelola oleh warga setempat, untuk di tanami sayur mayur dan pala pendem, seperti ubi kayu, ubu jalar dll. Di sebelah utara butuk’an atau tanah yang menggundug ini, terdapat sebuah sumber mata air, yang tidak pernah kering oleh berubahan jaman apapun, sumber mata air ini, mengalir menadi dua cabang sungai, membelah dua desa, antara giwangan dan sorogenen, serta mengelilingi putuk’an atau tanah gundugkan, yang sekerang telah di bangun menjadi sebuah PIH.

Sumber mata air ini, sangat luar biasa, selain airnya yang jernih dan tidak pernah kering, juga memiliki daya kekuatan, tidak ubahnya seperti lumpur lapindo sidoarjo jatim. Aliran air yang keluar dari sumber ini, mampu mengikis tanah, kanan kiri yang terdapat di sepanjang pinggiran sungai, sebanyak 7 meter perbulanan, bisa di tebak kan, jika dibiyarkan, daerah istimewa yogyakarta dan sekitarnya, bisa menjadi danau, bahkan lautan. Sebab itu, dimanami giwangan, yang artinya, pinggiran sungai, yang lelau longsor terkikis oleh air yang mengalirinya.

Untuk menyelamatkan yogyakarta, khususnya dua desa yang merupakan daerah seni sejarah ini, yaitu Giwangan dan Sorogenen, lalu kasultanan ngayogyakarta, menutup lubang sumber mata air tersebut, dengan menggunakan gong sekaten yang paling besar. Di bantu oleh orang-orang yang ahli dalam bidangnya, kasultanan berhasil menutup sumber mata air tersebut. Sehingganya, air yang keluar dari sumber mata air itu, berubah menjadi sumber mata air, yang wajar, maksudnya, seperti pada umumnya sumber yang terdapat di dalam sumur dan sejenisnya, sehingga tidak membahayakan, dua desa pelopor yogyakarta pun, berhasil di selamatnya. Tapi,,, ternyata ini berbuntut panjang.

Entah Faktor kesengaja’an, karena ada unsur politik di dalamnya, atau Terpaksa, atau di karenakan kurangnya ketelitian dan waskita si Penangan Sumber Mata Air pada sa’at itu. Sehingganya,,, setelah penutupan sumber mata air itu, selalu terjadi ke anehan ke anehan, seperti,,, orang kecelakaan berkendaraan yang melintas di jalan sekitar itu, hilang dengan kendaraannya, (Contoh. Dua motor tabrakan, orang dan motornya langsung hilang tanpa bekas).

Para penjual makanan, seperti penjal mie atau bakso atau nasi goreng atau lesehan yang berlokasi di sepanjang jalanan tegalturi, di sapa, di suruh tutup dll, an membuat para pedagang tidak mau berjualan di sepanjang jalan tegalturi giwangan, bukan karena takutnya, tapi,,, soal tidak lakunya, tidak ada yang beli, karena menurut pengakuan dari beberapa orang yang biasa melintas di jalan tegalturi, ketika saya tanya, jawabnya, la wong tidak ada orang jualan apapun di sepanjang jalan itu. PIH juga, katanya tidak terlihat, jadi,,, hampir setiap orang yang melewati jl tegalturi giwangan, tahunya, di sepanjang jalan itu, tidak ada orang jualan apapun. Bangunan PIH yang begitu besar dan megahnya, tidak terlihat sama sekali. Jadi,,, sangat wajar, sewaktu PIH ini beroprasi hingga tiga kali, dan bangkrut, karena tidak ada pengunjung, bisanya tidak ada pengunjung, karena mereka tidak melihatnya.

Nah,,, selain hal tentang sumber mata air, yang hampir saja menenggelamkan daerah istimewa dan kejadian-kejadian mistiknya, kemudian tempat ini, cukup di kenal sebagai tempat paling mistik di wilayah yogyakarta. Yang kemudia, di manfaatkan oleh banyak Para Normal, khususnya Paranormal di wilayah yogyakarta. Sebagai tempat pembuangan para bangsa lelembut atau mahluk astral, hasil ritualnya, jadi,,, setiap paranormal atau dukun-dukun kampung yang berada di wilayah yogyakarta, kalau habis bekerja, membersihkan rumah, atau lahan, atau toko, atau hotel, atau apa saja, yang di kuasai oleh bangsa lelembut, itu di buangnya di putuk’an yang sudah saya ceritakan diatas.

Tapi itu tidak penting, karena, selain bukan yang utama, saya sudah berhasil menyempurnakan semuanya, sehingganya, semuanya telah kembali ke Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi-nya masing-masing mahluk. Dan selama tidak ada lagi Paranormal atau dukun yang membuang mahluk astral di PIH, saya jamin. PIH dan sekitarnya, steril dari semua mahluk astral. Yang Utama dan Penting, adalah ghaib yang menyelimuti PIH, yang membuat PIH dan sekitarnya, tidak bisa di lihat oleh semua orang secara bebas, khusunya orang-orang baru yang melalui tempat tersebut.

Karena keberadaan saya di PIH, untuk hal itu, maka,,, saya bekerja sesuai kemampuan biidang saya, melakukan apa yang diinginkan oleh pihak PIH. Selain kisah yang sudah saya ceritakan diatas, ternyata,,, yang membuat PIH tidak terlihat, termasuk para pedagang di sepanjang jalan yang terdapat di depan PIH, itu terselimuti, tertutupi kabut, dan asal kabut itu, dari lubang sumber mata air, yang sudah saya ceritakan diatas. Saya berusaha mengungkapnya, agar saya bisa menyelesaikan tugas saya, tentang masalah PIH.

Sungguh luar biasa, setelah saya masuk kedalamnya, ternyata, sumber mata air itu, merupakan jalur jalan alternatif, untuk keluar masuk menuju kedaton sitihinggil laut kidul. Jalan ini, biasanya di gunakan sebagai jalur, tugas cepat, tak kala para prajurit abdi kedaton sitihinggil, mendapat perintah tugas penting atau darurat dari Sang Ratu Abadi nan Jelita itu. Dan lantaran PIH ini, akhirnya,,, terpaksa, saya harus mengulang masa lalu saya, untuk masuk ke kedaton sitihinggi laut kidul, untuk kesekian kalinya. Namun… saya tetap menggunakan Wahyu Panca Gha’ib. Bukan yang lain, apa lagi masa lalu.

Dengan menutup sumber mata air itu, ngayugyokarto, telah melakukan kesalahan besar, yang dapat berisiko sangat negatif dan merugikan hubungan baik antara ngayugjakarta dengan kedaton sitihinggil, yang telah terjalin baik selama puluhan tahun dewasa ini. Padahal, sekalipun sumber itu tidak di tutup, tidak akan menenggelamkan daerah istimewa yogyakarta, malah akan menjadi sumber penghasilan yang membawa keberkahan banyak lapisan masyarakatnya, khususnya warga yogyakarta, karena sumber mata air itu, hanya akan mengancurkan dan menenggelamkan putuk’an atau tanah yang menggudug, yang kini sudah berubah menjadi bangunan PIH, kenapa Sang Ratu bermaksud menengelamkan putuk’an itu? Karena jika putuk’an itu tidak di tenggelamnya, akan menjadi anak gunung merapi, yang letusannya, tiga kali lipat di banding gunung merapi itu sendiri.

Dan bekas putuk’an, bisa di jadikan obyek wisata danau atau waduk, yang tak tertandingi keindhannya di seluruh tanah jawa. Sekarang,,, memang, anak gunung merapi itu, tidak adi tumbuh, karena di gusur dengan alat berat, dan telah berdiri sebuah bangunan mewah, tapi,,, ditutupnya sumber mata air, yang merupakan jalur penting ke kedaton sitihinggil, membuat kerugian besar bagi kedaton sitihinggil dan seluruh penghuninya, karena,,, selain tidak mungkin membuat/membangun jalur baru lagi, yang risikonya akan banyak memakan korban dari bangsa manusia. Sang Ratu sudah tidak punya waktu lagi, untuk hal-hal seperti itu, sebab usia dunia, tinggal Cuma seumur jagung.

Akibatnya… Kedaton Sitihinggil akan memutus hubungan dengan alam manusia, khususnya keraton ngayugyokarto, yang artinya, tidak akan peduli lagi dengan urusan-urusan manusia yang ada kalanya sangat membutuhkan bantuannya. Dan Pintu keluar masuk kedaton Sitihinggil laut kidul, yang berbentuk sumber mata air di giwangan dan sekitarnya, termasuk PIH, akan tetap manjadi misteri yang berdampak sangat merugikan dan menakutkan, selama-lamanya. Tapi,,, karena ada saya yang terlibat didalamnya, Sang Penguasa Kedaton Sitihinggil Laut Kidul, bersedia meluluskan usaha saya. Dengan Catatan… Pemerintah Daerah atau Walikota dan Karaton yogyakarta dan Pihak pengelola PIH, mau salin menjabat tangan, bekerja sama seirama dengan masyarakatnya. Dengan begitu, atas permohonan saya. Penguasa Kedaton Sitihinggil Laut Kidul, bersedia meluluskan Pekerjaan saya yang terkait dengan PIH.

Kalau tidak. Kedaton Sitihinggil akan memutus hubungan dengan alam manusia, khususnya keraton ngayugyokarto, yang artinya, tidak akan peduli lagi dengan urusan-urusan manusia yang ada kalanya sangat membutuhkan bantuannya. Dan Pintu keluar masuk kedaton Sitihinggil laut kidul, yang berbentuk sumber mata air di giwangan dan sekitarnya, termasuk PIH, akan tetap manjadi misteri yang berdampak sangat merugikan dan menakutkan, selama-lamanya, apa lagi yang di kelola di PIH, adalah mahluk paling utama yang berada di bawah kekuasa’an Sang Ratu Penghuni Kedaton Sitihinggil, yaitu IKAN, sudah pasti ini dianggap penting olehnya. Dan,,, saya pun, akan angkat tangan dan angkat kaki, pamit undur diri. Dengan sangat menyayangkan… Keputusannya di Tanggal 25 Februari 2017. Sebelum tanggal itu, saya masih menunggu, disini, di PIH.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu dan Terima kasih. Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666. SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Pelajaran tentang Hidup Dan Mati Dari Wong Edan Bagu:


Pelajaran tentang Hidup Dan Mati Dari Wong Edan Bagu:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Cirebon Jawa Barat. Hari Senin Pahing. Tgl 06 Februari 2017

Apa Anda Punya Perasaan Takut Mati?
Mengapa Kita Masih Suka dengan yang namanya Takut Mati…?!
Apa yang ada di pikiran Anda, ketika terlintas kata Mati…?!
Takut, biasa, atau malah memiliki pandangan lain, lebih bijaksana tentang kematian..?!

Suka tidak suka, rela tidak rela, takut atau berani. Kita semua pasti akan mati dan tidak ada dari kita yang tahu kapan itu akan terjadi. Beberapa orang mungkin diberi panjang umur, sementara ada yang lainnya, mungkin memiliki kehidupan yang pendek, tapi semua orang memiliki hak untuk dapat menjadikan hidup mereka lebih berarti. Kita dapat mengubah kehidupan kita hari ini, dengan belajar untuk tidak takut pada kematian. Dengan berkurangnya perasa’an takut akan kematian, maka kita menemukan arti dari makna kehidupan yang sebenarnya. Artikel saya kali ini, akan sedikit berbagi pengetahuan untuk memahami kematian.

Para Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian. Awalnya saya juga sangat takut dengan yang namanya mati, karena, kalau saya mati, istri saya yang cantik, akan di nikahi oleh orang lain, kalau saya mati, saya akan berpisah dan tidak bisa melihat anak-anak saya lagi dan bla,,, bla,,, bla,,, lainnya.

Saya terasa amat sangat tersiksa dengan ketakutan saya, akan kematian itu, karena tidak mau tersiksa oleh hal itu, kemudian saya berusaha mengungkap lalu mempelajarinya. Banyak cara yang sudah saya gunakan, untuk hal itu, dari berbagai guru pembimbing, namun kesimpulan ujungnya, harus mati kalau mau mengetahui tentang kematian, setelah mengerti memahami, bahwasannya Wahyu Panca Ghaib itu, bisa untuk apa saja, di akhir lelakon, sayapun menggunakan Wahyu Panca Ghaib, untuk mengungkap tentang kematian yang saya takuti selama bertahun-tahun itu, walaupun lakunya tidak mudah dan gampang, tetap saya lakukan, dari pada tersiksa karena takut.

Dengan mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib menggunakan Wahyu Panca Laku, saya mulai membiyarkan semua dan segalanya terjadi apa dengan apa adanya, alami, dan bukan dibuat-buat atau saya rencanakan, Doktrin/Dogma dari semua kotak dan segala bendara yang pernah saya ketahui, saya tanggalkan, lalu saya berusaha menggali rasa, yang meliputi seluruh bagian tubuh saya, saya menyelam, hingga ke dasar samudera Rasa kalbuku, pelajaran ini sangat sulit dan sangat rumit, sehingganya, saya harus berusaha belajar dan terus belajar dengan sangat tekun dan perenungan yang mendalam secara intuisi (menggali dan terus menggali, mengenali diri, menyelami kedalaman samudera Rasa, dan dengan ketekunan yang alami, tanpa doktrin/dogma dan apa adanya, tidak mengebu-gebu seperti mengejar suatu target, saya berhasil mencapai kesunyian diri sejati dan penyucian pikiran/angan-angan.

Dan Pengetahuan demi pengetahuan tentang kematian alias mati itu, berhasil saya peroleh, dan lagi, Terima Kasih Tuhan… Dan apa yang layak untuk saya bagikan secara umum, adalah di bawah ini.

Para Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian…
Jika Anda berhenti sejenak, untuk merenungkan banyak faktor yang memainkan peranan, adanya kehidupan di Bumi, Anda pasti akan terkejut. Planet Bumi memerlukan jarak yang tepat dari matahari dengan komposisi yang tepat dari materi-materi, untuk mendukung suatu kehidupan. Kehidupan ini juga, harus dipertahankan di Bumi, sambil kita terus bergerak melalui ruang dengan kecepatan tertentu, yang kita hanya dapat belajar dan terus berusaha belajar untuk memahami.

Alam memiliki pola untuk semua kehidupan. Diawali siklus kelahiran, diikuti pertumbuhan, reproduksi, dan akhirnya kematian. Namun, kematian bukanlah berakhir sekedar menjadi sisa-sisa organisme hewan, tumbuhan, serangga atau organisme hidup lain, kematian digunakan untuk memelihara dan menyediakan kehidupan organisme lain dalam siklus. Tanpa siklus ini, kehidupan yang berkelanjutan di permukaan bumi tidak mungkin terjadi.

Pikirkan tentang pohon, dan bagaimana ia melengkapi siklus hidupnya. Sebutir benih jatuh ke tanah, berakar, lalu tumbuh. Selama bertahun-tahun menumpuk daun yang membusuk untuk memperkaya tanah dimana pohon dan tanaman lainnya tumbuh. Bahkan ketika pohon tersebut tumbang, dalam kematian batang dan anggota badan tetap digunakan dalam rencana besar alam. Di dalam lautan ikan-ikan menetas, tumbuh dan makan, bereproduksi dan mati, kemudian tenggelam ke bawah, memberi makan spesies lain dari ikan dan organisme lain. Organisme dan ikan lebih kecil ini menjadi pakan ikan yang lebih besar, melanjutkan siklus berulang yang tidak pernah berakhir. Setiap bentuk kehidupan mengalami proses sirkuler yang sama, masing-masing bersimbiosis dan menyediakan rantai makanan untuk organisme selanjutnya.

Bagi saya Wong Edan Bagu. Kematian adalah Awal Kehidupan yang Baru.
Hewan, tanaman, dan organisme di alam tidak punya waktu untuk mengkhawatirkan tentang kematian. Ini disebabkan karena mereka hidup terlalu sibuk setiap hari. Hanya spesies manusia-lah, yang memiliki kekhawatiran, dan rasa takut akan kematian. Para peneliti telah menemukan dari pemangsa yang memangsa binatang, ketika terjebak oleh pemangsa, mereka berjuang untuk sementara waktu dan kemudian menyerah, menerima nasib mereka tanpa menyebabkan stres atau perjuangan yang meningkat. Seolah-olah mereka sudah memahami peran yang mereka mainkan dalam skema besar kehidupan di bawah Kekuasa’an Dzat Maha Suci.

Mungkin alasan manusia sekarang merasa takut akan kematian, adalah karena kita tidak lagi melihat diri kita sebagai bagian dari siklus alami. Tidak ada rasa takjub pada keajaiban kehidupan, dan tempat kita berada di dalam alam semesta. Fokus kita adalah pada apa yang kita dapat buktikan, apa yang paling trend, dan bagaimana penting dan esensial kita di dunia.
Masih ada beberapa budaya di dunia yang masih sangat menghargai Bumi dan merangkul pikiran tentang kematian hanya sebagai bagian lain dari suatu siklus. Mereka bukan hanya menerima kematian sebagai kejadian alami dalam hidup, tetapi mereka juga menunjukkan penghargaan dan apresiasi bagi leluhur mereka, yang telah pergi mendahului. Mereka mewarisi kebijaksanaan budaya, yang diwariskan dari generasi ke generasi, bukannya melupakan sebagai sesuatu yang tidak lagi relevan. Mereka mencari pemahaman di masa lalu, dan menghormati leluhur mereka.

Jika Anda merenungkan tentang kematian, kadang-kadang Anda akan menemukan pemikiran, itu adalah sebuah akhir, tapi itu juga merupakan awal yang baru. Kita tidak sadar, bahwa di dalam keseharian, kita juga mengalami proses kematian. Misalnya, kematian dalam sebuah hubungan, memungkinkan Anda untuk mencari hubungan-hubungan baru dalam hidup Anda, yang dapat membuat hubungan Anda menjadi lebih kuat, lebih mendukung, dan lebih baik untuk Anda. Ketika kita membuat pilihan berdasarkan pengalaman hidup kita, persepsi lama kita akan mati dan layu ketika muncul pemahaman baru yang lebih berkembang.

Ini juga diulang pada skala dunia. Budaya dan peradaban lama mati, untuk digantikan oleh budaya yang lebih maju. Peristiwa bencana seperti jatuhnya meteor, gunung meletus, sunami dll, mungkin akan menghapus sebagian besar kehidupan di planet ini, namun spesies lain yang lebih baik, yang mampu beradaptasi akan bangkit dari ‘kematian tersebut. Ide-ide dan filosofi baru akan menggantikan ide-ide yang mungkin telah dilihat sebagai satu-satunya jalan di masa lalu.

Daripada kita takut akan kematian, penting untuk melihat bahwa kematian sebagai bagian alamiah dari kehidupan. Dengan melepaskan rasa takut Anda akan kematian, Anda akan dapat menghargai dan menikmati kehidupan Anda sepenuhnya hari ini. Semua waktu yang Anda habiskan, untuk mengkhawatirkan tentang bagaimana kematian akan terjadi, justru akan menghambat kebijaksanaan Anda sebagai mahluk yang paling sempurna di bandingkan dengan mahluk-mahluk lainnya.

Ketika orang menghabiskan seluruh waktunya, mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi, mereka terlibat dalam proses yang dikenal sebagai proyeksi. Proyeksi adalah hal umum yang dirasakan pada orang yang takut mati, dan mereka biasanya tidak menyadari bahwa kekhawatiran mereka itu, sesungguhnya adalah penurunan kualitas hidup yang mereka alami. Melepaskan proyeksi dan menjalani hidup dengan penuh kesadaran murni, adalah pilihan terbaik. Menjalani kehidupan sebaik-baiknya dan melihat dari sudut pandang lebih luas terhadap kematian, adalah salah satu cara untuk membantu proyeksi ini, berhenti, karena Anda dapat yakin bahwa hal-hal tersebut akan tertangani dengan baik.

Sulit untuk menerima kenyataan, dengan melihat gambaran lebih luas, saat orang yang dicintai meninggal. Jangan mencoba untuk merasionalisasi dan menentukan mengapa kematian terjadi, yang terbaik adalah untuk mempertimbangkan, bahwa ada gambaran yang jauh lebih besar dalam kehidupan. Kita semua memiliki peran untuk dimainkan dalam drama/sinetron kehidupan Dzat Maha Suci, meskipun kita mungkin tidak sepenuhnya memahami peran kita. Seringkali kematian orang yang dicintai, adalah bagian dari pengalaman pembelajaran kita. Kita dapat belajar, bagaimana untuk berduka, bagaimana untuk melepaskan, atau bahkan menjadi lebih memahami arti ari sebuah makna kehidupan dengan menjadi manusia hidup yang berspiritual sempurna.

Bagi banyak budaya kematian, tidak dilihat sebagai akhir kehidupan, tetapi pelepasan roh dan Roh Suci dari pelajaran sementara di bumi. Dalam beberapa budaya kematian ini, sering diakui sebagai bagian dari perjalanan hidup, sehingga kehidupan di sisi lain, adalah kehidupan yang benar-benar indah. Bahkan untuk mereka yang mungkin tidak memiliki pandangan yang sama, tentang kematian dan akhirat/alam baka, menghabiskan waktu untuk gelisah dan mengkhawatirkan tentang kematian, akan merampas sebagian besar, waktu yang Anda miliki di sini. Nikmati hidup Anda, pastikan kehidupan tersebut, diisi dengan Laku Kembali Suci, kita berasal dari Suci, milik Suci, maka,,, kembalilah kepada Suci. Wahyu Panca Ghaib, itulah Jalannya, dan Wahyu Panca Laku, itulah Caranya. Jangan lagi mengkhawatirkan bagian dari kehidupan Anda, dimana Anda tidak memiliki kendali atasnya.

Para Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian… Ketahuilah.
Mereka yang selalu tergesa-gesa, tidak akan sanggup pergi jauh. Begitu semua orang tahu, apa yang dinamakan keindahan, maka dengan sendirinya kejelekan itu ada. Begitu semua orang tahu apa yang dinamakan kebaikan, maka dengan sendirinya kejahatan itu ada. Barang siapa memahami orang lain adalah bijak. Barang siapa memahami dirinya sendiri, adalah suci. Barang siapa mengalahkan orang lain, dia punya kekuatan fisik. Barang siapa menumbangkan dirinya sendiri, dialah yang kuat. (Ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa tetep Kunci-Ada apa-apa Kunci. Tidak ada apa-apa tetap Kunci). Maksudnya. Perlakukanlah mereka yang baik dengan kebaikan, dan perlakukan juga, mereka yang tidak baik, dengan kebaikan juga. Dengan demikian kebaikan akan kita peroleh. Jujurlah kepada orang-orang yang jujur, dan berlakulah jujur untuk mereka yang tidak jujur. Dengan demikian kejujuran akan kita dapatkan. Bukan sekedar Baca Kunci Thok.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666. SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Penderitaan Sesungguhnya Adalah Jalan Menuju Kesadaran:


Penderitaan Sesungguhnya Adalah Jalan Menuju Kesadaran:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Brebes Jawa Tengah. Hari Sabtu. Tgl 04 Februari 2017

Menurut Pengalaman Hasil Renungan Spiritual Pribadi saya dalam Patrap Semedi.

Derita merupakan fenomena alam yang bersipat universal, sehingganya, tidak mengenal ruang dan waktu, tidak peduli siapapun dan dimanapun. Penderitaan merupakan pelajaran hidup yang paling utama, yang diberikan oleh Sang Maha Segalanya, kepada manusia-manusia agung, yang menjadi tokoh dalam sejarah keagamaan dan kefilsafatan sepanjang sejarah dunia. Pernah dengar atau membaca sejarah Para Nabi atau Leluhur kita dan masih ingatkah…?! Bahwa mereka tidak satupun yang tidak menderita…!!!

Derita tak dapat dilepaskan dari adanya hasrat, yang merupakan bagian dari karakter nafsaniah, mengingat derita pada dasarnya, sering sebagai benih penguasaan dan jarang ditafsirkan sebagai benih pembebasan.

Menurut Pengertian Pribadi saya, derita, artinya “menahan” jadi, maksudnya adalah menahan persangkaan terhadap kenyataan, yang pada hakikatnya kosong, tanpa makna, atau sabar dalam menahan keinginan, meskipun terasa menyakitkan. Akan tetapi pada umumnya, penderitaan sering dikonotasikan negatif, sehingga penderitaan sering menjadi momok yang menakutkan. Seperti fakir, hina, kesengsaraan, lapar, sakit, prahara, bencana dan lain sebagainya. Berbagai kasus penderitaan terdapat di dalam hampir semua aspek kehidupan ini, sehingga penderitaan banyak mendasari tema besar agama dan kefilsafatan sepanjang sejarah manusia hidup. Edan pora…?!

Hampir didalam literatur setiap agama mengajarkan tentang betapa pentingnya arti penderitaan, untuk mencapai kebebasan dari jeratan nafsu, baik yang bersifat nafsaniah maupun hawaniah. Dalam ajaran Buddha, terdapat doktrin “Kebenaran Mulia Rangkap empat”, yang mana semua ajarannya, berkisar pada masalah penderitaan, yang dilihat dari empat segi, yang berbeda, yaitu; akar masalah, sebab-sebab masalah, penyelesaian masalah, dan jalan pembebasan dari masalah.

Penderitaan merupakan persoalan pelik, didalam setiap aspek kehidupan manusia, yang mana sebab-sebabnya berawal, dari hasrat atau keinginan dan terproyeksi dalam empat jenis, penderitaan fisik, yang berupa lahir, tua, sakit, dan mati, serta dalam tiga jenis penderitaan psikis, yang berupa berkumpul dengan sesuatu yang dibenci, berpisah dengan sesuatu yang dicintai, dan tidak mendapatkan apa-apa yang menjadi harapannya.

Penderitaan merupakan lima agregat, yang berupa bentuk fisik, emosi, persepsi, faktor kehendak kesadaran, yang tunduk pada keterikatan batin, yang mana setiap unsur agregat, merupakan suatu koleksi dari berbagai unsure. Itu diilustrasikan sebagai subyek bagi kemelekatan dalam jati diri yang berupa “aku”.

Semua pengalaman manusia hidup, dapat dianalisa dalam ke lima agregat tersebut, yang berupa “bukan milikku, bukan aku, dan bukan suatu diri”, itu semua hanyalah fenomena yang tak abadi, tak tetap, dan timbul tenggelam ,untuk berlalu dalam pergantian waktu yang relatif singkat.

Dalam ajaran Islam, penderitaan juga banyak ditekankan dalam upaya pembebasan dari nafsu lawwamah dan amarah, seperti yang tersurat dalam beberapa ayat Al-Qur’an.

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah (penderitaan)” (QS.90:4).

“Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad (melawan nafsunya) diantara kamu dan belum nyata orang-orang yang menderita” (QS.3:142), “…orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, ditengah peperangan, maka itulah orang-orang yang benar” (QS.2:177).

Serta dalam beberapa Hadits seperti, “Sesungguhnya seorang mukmin dalam dunia ini tidak akan mendapatkan apa-apa selain ibadah dan penderitaan” (HQ. Ali bin Abi Tholib), “Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah padanya suatu kebaikan, maka dibebaninya dengan penderitaan” (HR.Abu Hurairah),

“Wajiblah bagimu untuk menderita, karena penderitaan itu kuncinya hati…” (HR. Al-Hakim). Dan juga terdapat pada Atsar-atsar para Tabi’in seperti, “Barang siapa yang tidak menderita berarti tidak memiliki agama…”(Hasan al-Bisri),

“Sesungguhnya derita menjadi hiasan bagi malapetaka” (Abu Bakar as-Shidiq), dan “Ada 3 keistimewaan Allah yang tersimpan dalam dunia yaitu fakir, sakit, dan derita”(Ali al-Jurjaniy).

Didalam Laku Kembali Suci-pun, sudah disuratkan. “Lakune Putero Kuwi – Kesampar. Kesandung. Di ino lan fitnah. . Ning ojo uwas sumelang. Orausah Cawe-cawe. Sambato Rama-mu. Rama bakal ngrampungi. (Romo-Semono Sastrohadijoyo)

Setelah membaca Artikel ini.
Dimanakah Tingkat Kesadaran Murni-mu…?!
Pada Jati Diri-mu…?!
Pada Rama/Romo yang di kubur di gunung damar sejiwan purworejo…?!
atau ke Rasa Manunggal-mu…?!

Silahkan Direnungkan Sendiri-sendiri. Saya tidak berani Cawe-cawe. He he he . . . Edan Tenan.

Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666. SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Semua dan segalanya itu, adalah Esensi Dzat Maha Suci Hidup:


Semua dan segalanya itu, adalah Esensi Dzat Maha Suci Hidup:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Brebes Jawa Tengah. Hari Jumat. Tgl 03 Februari 2017

Apa yang kita anggap sebagai dunia materi fisik ini, sebenarnya, sama sekali bukan fisik atau materi, sama sekali bukan. Ini telah saya buktikan dari waktu ke waktu cap kali bersemedi, dan dengan pembuktian ini, saya jadi semakin yakin, karena ternyata, bukan cuma saya yang membuktikannya, juga dibuktikan oleh beberapa fisikawan pemenang Nobel (diantara banyak ilmuwan lain di seluruh dunia), salah satunya adalah Niels Bohr, yang bukunya pernah menjadi buku baca’an favorit saya dulu. Niels Bohr adalah seorang fisikawan Denmark, yang membuat kontribusi signifikan untuk memahami struktur atom dan teori kuantum, yang pernah saya baca bukunya.

Jadi… Jika mekanika kuantum membuat kita merasa asing, berarti kita belum memahami kehidupan dengan benar. Kalau kita kesulitan mencapai Tenteram disaat Patrap Semedi melakukan Wahyu Panca Gha’ib, berati kita belum mengerti Wahyu Panca Gha’ib dengan benar dan belum memahami hidup dengan tepat. Karena segala sesuatu yang kita sebut nyata ini, sebenarnya terbuat dari hal-hal yang tidak dapat dianggap nyata, semuanya hanya getaran energi dari esensi Dzat Maha Suci.

Ya, semuanya adalah getara energi dari esensi Dzat Maha Suci, termasuk Anda. Semua yang Anda lihat adalah getara energi dari esensi Dzat Maha Suci, dan ketika Anda mulai melihat diri Anda dengan cara ini dari sisi Spiritual, yang tak terbatas oleh ruang dan waktu, dan tidak dibatasi oleh badan fisik, hambatan dalam diri Anda, akan mulai menghilang. Sebuah cara yang bagus, untuk membantu kita mencapai tingkat persepsi ini, adalah melalui jalan Patrap Semedi Wahyu Panca Gha’ib yang di Praktekan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku.

Esensi Dzat Maha Suci yang membentuk tubuh kita ini, secara terus-menerus berputar pada tingkat/frekuensi yang sangat cepat. Jadi, jika kita berada dalam keadaan pikiran positif/baik/murni, kita akan bergetar saat Patrap Semedi pada frekuensi yang sangat tinggi, dan ini membuatnya sangat sulit, bagi setiap energi negatif untuk menyusupi kita. Tetapi jika kita tidak bahagia atau depresi, maka esensi yang berbentuk tubuh kita ini, bergetar pada tingkat/frekuensi yang sangat rendah dan lambat. Kita membuka jalan masuk semua jenis energi negatif, yang hanya akan berfungsi untuk membawa kita lebih menderita dan sakit.

Berdasarkan pengetahuan ini, berarti kita pada dasarnya adalah makhluk esensi Dzat Maha Suci yang terdiri dari energi murni/suci, dan secara kolektif, bergetar menciptakan realitas di sekitar kita. Pada dasarnya, alam semesta bergema dengan getaran apa pun yang kita lepaskan sendiri. Tidak peduli apakah itu vibrasi positif atau negatif, alam semesta akan beresonansi.

Keadaan dunia yang kita lihat sekarang, adalah hasil dari kesadaran manusia kolektif. Keadaan dunia adalah representasi langsung dari getaran yang dioperasikan manusia.
Perang, kelaparan, kelangkaan, kekerasan, kebencian, frustrasi dan konflik hingga ke bencana-bencana alam, yang semuanya kita saksikan di dunia, karena mereka ditimbulkan dari getaran energi dan niat manusia. Karena semuanya berasal dari esensi Dzat Maha Suci, maka niat dan pikiran kita juga esensi Dzat Maha Suci. Sehingga dapat menimbulkan tindakan positif dan negatif pada semua dan segalanya.

Namun di tengah-tengah semua konflik dunia, kita juga menyaksikan kemunculan sesuatu yang indah. Kita menyaksikan pertumbuhan, cinta kasih sayang, kebaikan, memaafkan, dan perubahan. Semua berasal dari keinginan yang timbul di kedalaman hati kita sendiri, untuk kembali ke keadaan yang sebenarnya, damai, bahagia, tenteram, sehingga kita bisa bergerak menuju masa depan, di mana semua kehidupan bisa tenteram. Ini adalah seperti kebangkitan energi esensi Dzat Maha Suci yang berbentuk wujud semua mahluk, yang saya rasakan disetiap kali saya Patrap Semedi Mijil Sowan, dan sedang terjadi di planet/dunia akhir-akhir ini.

Memahami alam semesta tidak akan membawa perubahan dengan sendirinya. Ini akan memungkinkan siapapun yang sedang belajar memahami, untuk melihat sifat sejati dari realitas dari diri kita sendiri dan lainnya. Transformasi yang benar, harus dimulai ketika kita mulai memahami prinsip-prinsip alam semesta, dan kemudian menerapkan prinsip-prinsip alam semesta tersebut, ke dalam kehidupan kita.

Maksud Utama dari informasi yang saya tulis ini, bukan bentuk kesombongan akan pengetahuan saya di dalam berspiritual, melainnya wujud dan bentuk keterbukaan atau kejujuran Laku Spiritual pribadi saya, bagimu sekalian yang membaca tulisan saya ini, agar bangkit, dan menyadari, dengan sesadar-sadarnya, bahwa kita semuanya adalah Esensi Dzat Maha Suci Hidup, yang memancarkan keunikan frekuensi kita sendiri. Rasa. Perasaan. Pikiran dan Emosi memainkan peran pentingnya masing-masing. Fisika kuantum membantu kita melihat pentingnya bagaimana kita semua bisa memiliki Rasa. Terasa. Merasa. Merasakan. Rasanya Hidup. (Rasa. Krasa. Rumangsa. Ngrasakake. Rasane Urip). Jika kita semua berada dalam keadaan tenteram, penuh iman cinta kasih sayang, tidak diragukan lagi, akan berdampak pula pada dunia di sekitar kita, dan mempengaruhi Rasa. Terasa. Merasa. Merasakan. Rasanya Hidupnya orang lain juga.

Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku sekalian… Mulai dari sekarang, rasakanlah Iman Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci dan kelimpahan positif/berkahnya, dan Anda akan menarik iman cinta kasih sayang dan kelimpahan-Nya juga. Habiskan waktu Anda untuk melakukan PERCINTA’AN hanya dengan Dzat Maha Suci, dengan Laku Murni/Suci. Anda pasti akan mewujudkan kehidupan yang WOW. Diluar duga’an yang telah Anda rancang sendiri.

Semua ini memberikan kontribusi langsung terhadap perubahan dunia. Dan sifat energi yang memiliki getaran lebih tinggi adalah cinta kasih sayang, “Semuanya Adalah Esensi Dzat Maha Suci, segalanya berasal hanya dari Dzat Maha Suci. Saya… Anda adalah Esensi Dzat Maha Suci yang berbentuk energi tubuh ini. Ubahlah energi Anda secara positif dan baik, maka Anda akan mengubah hidup Anda dan dunia ini. Saya Wong Edan Bagu… Salam Rahayu dan Terima Kasih.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666. SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com


Bagaimana Cara Menjadi Orang yang BerSpiritual Baik dan Tepat..?!
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Brebes Jawa Tengah. Hari Kamis. Tgl 02 Februari 2017

Banyak orang sering bingung antara spiritualitas dengan religius. Ada yang hidup menjalankan keduanya, beragama dan spiritual, ada juga yang beragama tanpa mengerti spiritual, atau menjadi spiritual tanpa beragama. Menurut saya pribadi, Agama dan Spritualitas adalah sama, memiliki tujuan satu, yaitu Tuhan. Hanya saja, keduanya memiliki perbedaan dalam pendekatan. agama adalah alat atau sarana untuk mencapai spiritualitas, dan Spiritualitas, merupakan jalan menuju Tuhan. Jadi, intinya adalah sama-sama alat atau sarananya. Mari kita kaji lebih dalam, tapi, hati-hati menyimaknya ya…

Misal; Saya berlatih ilmu tertentu, ingin memiliki kesaktian atau kelebihan, apakah itu menunjukkan saya adalah orang spiritual..?! atau Tidak…!!!

Misal; Saya berdoa setiap hari, tak pernah absen menjalankan ritual agama, apakah hal itu menunjukkan saya adalah orang spiritual..?! atau Tidak…!!!

Misal; Saya melakukan Yoga dan bermeditasi setiap hari, apakah ini sudah berarti saya adalah orang spiritual..?! atau Tidak juga…!!!

Misal; Saya masuk kedalam komunitas agama atau golongan kepercayaan atau kepribaden tertentu dan mengikuti ajaran sesuai golongan atau kepercayaan atau kapribaden itu, apakah ini berarti saya adalah seorang spiritual..?! atau Juga tidak…!!!

Lantas… apa Sebenarnya Spiritual itu?
Sebenarnya ada perbedaan cukup jelas yang membedakan antara religius dengan spiritual. Kita bisa mengujinya dengan satu pertanyaan saja. Jika pahala dan dosa tidak ada, apakah saya masih mau tunduk pada aturan Tuhan..?! Masih mau hidup harmonis dengan semua makhluk? masih mau melayani sesama? Pertanyaan yang sungguh sederhana, tapi sangat esensil. Jadi mari kita cermati dengan penghayatan Rasa. He he he . . . Edan Tenan.

Ada tiga kelompok atau golongan besar manusia di Bumi ini;
Satu; Adalah kelompok orang yang mematuhi aturan Tuhan, karena mengejar pahala.

Mereka menjalankan ritual, berbuat baik pada sesama demi pahala. Kelompok ini, adalah orang yang mematuhi aturan Tuhan, karena takut dengan dosa. Mereka takut dengan kengerian siksa neraka, jika membangkang pada Tuhan. Akhirnya mereka dengan terpaksa mematuhi aturan-aturan Tuhan dan melayani sesama karena KETAKUTAN.

Kedua; Adaalah kelompok manusia yang memiliki ego tinggi, demi kepentingan sendiri.
Di dunia ini, meskipun manusia sudah diiming-imingi dengan pahala serta diancam dengan dosa, tetapi masih banyak manusia menyakiti alam, Bumi tempat tinggalnya, manusia lain, dan sesama hidup, bahkan dirinya sendiri. Polusi di tanah, air, udara, juga di tingkat ether dari pikiran dan emosi negatif manusia. Penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, anarki, kompetisi, penipuan, diskriminasi, ketidakpedulian. Bahkan manusia tipe ini bersuka ria atas semua itu. Ini sungguh memprihatinkan bagi Wong Edan Bagu.

Ketiga; Adalah kelompok orang-orang yang mematuhi aturan Tuhan, hidup harmonis, melayani sesama, dengan tulus, jujur, apa adanya, penuh cinta kasih sayang iman, yang tumbuh dari hatinya, dengan rasa kesadaran murni, bukan karena apapun atau siapapun.

Semua yang mereka lakukan adalah buah ketulusan, bukan karena pahala dan dosa. Mereka melakukannya demi kepentingan bersama. Kelompok terakhir inilah, yang disebut dengan manusia spiritual. Mereka sadar dan mengerti serta paham dan tahu, intisari patinya spiritualitas, adalah Iman Cinta Kasih Sayang dengan Kesadaran Murni/Universal. Mereka paham bahwa setiap makhluk adalah satu, yaitu Esensi Tuhan. Dalam hatinya ada keyakinan bahwa jika mereka melayani sesama, mereka akan dilayani, jika mereka menyakiti, mereka akan disakiti, itu sudah jadi ketetapan Tuhan, prinsip dasar, karma, tak perlu iming-iming pahala atau ancaman dosa, murni kesadaran sebagai manusia yang seutuhnya.

Dari penjelasan singkat diatas, hasil pembuktian spiritual saya di TKP, kita bisa menyimpulkan, jika seseorang sudah sampai pada tahap spiritualitas tertentu, maka dia akan bisa naik ke tahap pembelajaran berikutnya. Jika pertanyaan yang tadi kita lontarkan pada setiap kelompok manusia di atas, maka kita akan bisa menerka, bahwa kelompok ketiga yang akan bisa menjawab dengan yakin, teguh rahayu selamat, dan tanpa sedikitpun ragu, bahwa meskipun ada atau tidak, pahala dan dosa, mereka akan senantiasa hidup mena;ati aturan Tuhan, selaras dengan seluruh makhluk dan melayani sesama hidup dengan tulus/rela/legowo.

Jadi, bagaimana belajar menjadi orang yang lebih spiritual…?!
Spiritual tak ada hubungannya dengan agama manapun dan golongan apapun. Berbeda dengan religius, spiritualitas adalah murni kualitas jiwa seseorang yang menuju satu titik saja, yaitu Dzat Maha Suci Hidup, bukan yang lainnya. Seberapa selaras dia dengan Penciptanya, seberapa harmonis kehidupannya dengan semua makhluk di dunia. Seharusnya agama-agama yang ada di Bumi dijadikan alat untuk mencapai tahapan spiritual yang seperti, yang berhasil saya temukan dan saya uraikan di kelompok yang ketiga diatas, bukan alat untuk saling memusuhi, serta memerangi pemeluk agama lainnya.

99.% Manusia didunia ini, masih belum mengerti apa maksud spiritualitas sesungguhnya. Kalau yang mengerti artinya banyak, yang mengetahui maksudnya, masih banyak jumlah ketombe di kepala saya. Mereka masih berpikir dalam kotak-kotak yang sempit, belum mampu berpikir merdeka/universal. Mereka tak menyadari bahwa mereka tak hidup sendiri di alam semesta yang amat luas ini. Hal penting yang harus kita ingat sendiri, ketika kita mencari pencerahan spiritual. Adalah,,, saya harus berjalan dengan cara saya sendiri, untuk mencari pengalaman, pengalaman inilah yang nantinya menjadi pencerahan. Jangan ikuti apapun atau siapa pun, jika kita tidak merasa nyaman atau bertolak belakang dengan keyakinan kita, biarkan Hidup yang menuntun kita. kita adalah tuan dari takdir kita sendiri, dan kitalah orang yang menciptakan realitas kehidupan kita sendiri.

Jika kita ingin menjadi orang yang spiritual, maka biarkan kejujuran yang tulus menjadi cahaya pembimbing kita – kebaikan terhadap diri sendiri, terhadap sesama, terhadap hewan dan seisi dunia ini. Terimalah bahwa hakikat Hidupnya kita semua memiliki cahaya Iman Cinta Kasih Sayang, bersumber satu, dari Dzat Maha Suci Hidup, yang hadir di dalam diri kita masing-masing dan semua mahluknya, serta belajarlah untuk menghayati Iman cinta kasih sayang itu, disetiap Laku, sehingga kita dapat mengetahui dan mengalami kesatuan. Saya Wong Edan Bagu. Salam Rahayu dan Terima Kasih.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666. SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

TUJUH ALAM AKU Dan TUJUH AYAT KUNCI. Di Dalam “Wahyu Panca Gha’ib”


TUJUH ALAM AKU Dan TUJUH AYAT KUNCI. Di Dalam “Wahyu Panca Gha’ib”
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Jumat Legi. Tgl 23 September 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian… Masih ingatkah, dengan wedaran saya, di beberapa artikel lama saya, yang sudah saya postingkan di internet. Yang pada intinya, saya mengatakan, bahwa Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan Agama. Ilmu. Kejawen. Kebathinan. Kepercaya’an. Golongan. Partai. Perguruan. Adat istiadat dan bla,,,bla,,,bla,,, lainnya. Wahyu Panca Gha’ib adalah Hidup. Hidup yang bisa menjamin, jiwa raga dan dunia kaherat, manusia hidup, siapapun dia dan dimanapun dia. Dan dengan Ijin Dzat Maha Suci, pada kesempatan kali ini, saya bagikan dengan Cinta Kasih Sayang, tentang kebenaran dari penemuan saya yang satu ini. Yaitu soal bukti daripada urainya saya, yang pernah mengatakan, bahwa Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan Agama. Ilmu. Kejawen. Kebathinan. Kepercaya’an. Golongan. Partai. Perguruan. Adat istiadat dan bla,,,bla,,,bla,,, lainnya. Wahyu Panca Gha’ib adalah Hidup. Hidup yang bisa menjamin, jiwa raga dan dunia kaherat, manusia hidup, siapapun dia dan dimanapun dia.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian… semua dan segalanya, soal dan tentang manusia hidup itu, ada tersejarah dengan sangat jelas dan nyata di dalam Wahyu Panca Gha’ib.

Maka….
Ketahuilah dengan kesadaran murni Rasamu. Bahwa, ketika kita masih bayi, dan berada di Alam Rahim, masih berbentuk sperman/mani “di dalam air ketuban” belum ada nyawa, baru ada Hidup, dari Alam Rahim, bayi pindah ke Alam Dunia, dan di dalam perpindahan ini. Hidup berubah sifat menjadi Roh/Ruh Suci, ketika kontak dengan Alam Dunia itulah, mulai ada sebutan Rasa/Nyawa, nyawa adalah Darah, yang bertempat di bawah kulit di atas permukaan daging, adanya Nafas, adalah, adanya Hidup, adanya Hidup, adalah, karena adanya Sir. Dzat dan Sipat. Dan Sir Dzat Sipat inilah, yang di sebut Jati Diri atau Diri Sejati, manusia Hidup.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Dibawah ini, uraian lengkap dari Tujuh Alam/Dimensi-nya manusia hidup yang sebenarnya/sesungguhnya, yang terdapat di dalam Wahyu Panca Gha’ib, dari awal hingga akhir Uni/Unen Kunci, yang terdiri dari tujuh ayat dan di baca tujuh kali, yang tak lain dan tak bukan, adalah Hakikat manusia hidup yang sesungguhnya/sebenarnya. Sebab itu, Wahyu Panca Panca Gha’ib, di sebut bukan apapun, kecuali Hidup kita sendiri.

TUJUH ALAM AKU Dan TUJUH AYAT KUNCI. Di Dalam “Wahyu Panca Gha’ib”
Ayat Pertama (1) Adalah; Gusti Ingkang Moho Suci.
Kalau artinya, saya percaya, semua orang jawa pasti tahu, asalkan jawanya belum hilang, akibat bergaulan yang melenakan, tapi kalau maksud dan tujuannnya, saya yakin, tidak semua orang tahu, sekalipun dia orang jawa. Maksud dari kalimat “Gusti Ingkang Moho Suci”. Adalah alam Awang Uwung, dalam istilah lainnya, di sebut juga sebagai Alam Gha’ibull-Guyyub, juga di sebut sebagai Alam Ahadiyah. Yaitu alam, di mana belum ada sifat, belum ada asma’ belum ada afa`al, dan belum ada apa-apa, dalam istilah pengertian ajaran agamanya, alam ini disebut sebagai Alam LA TA`YUN. Yang artinya adalah Dzat Al-hakki. “tidak ada apa-apa kecuali Dzat Maha Suci”. Alam ini adalah alam penegasan. Tujuan dari kalimah Gusti Ingkang Moho Suci”. Adalah memperkenalkan Diri-Nya, dalam memberi tanggungjawab, kepada cipta’annya, terutama manusia, serta di tajallikan-Nya Diri-Nya, dari satu peringkat ke peringkat lainnya, sampai lahirnya manusia berbadan rohani dan jasmani.

Adapun Alam/Dimensi Awang Uwung ini, terkandung di dalam Kunci, pada ayat pertama, yaitu (Gusti Ingkang Moho Suci), artinya. Esa pada Dzat semata-mata, maksudnya, masih belum ada apapun, kecuali Dzat Maha Suci itu sendiri, dan inilah yang di sebut Martabat Dzat, atau Alam Dzat, atau Dimensi Dzat yang Pertama. Pada alam/dimensi ini, diri Empunya Diri itu, (Zat Al-haki atau Dzat Maha Suci), semata-mata menamakan Diri-Nya Sendiri, sebagai. “Gusti Ingkang Moho Suci” yang maksudnya. Tidak ada permulaan dan tiada akhirnya, dan berwujud Hakiki Lagi Khodim.

Pada alam/dimensi ini, tidak ada sifat, tidak ada Asma, dan tidak ada Afa’al, serta tidak ada apa-apa, masih awang uwung, suwung/Kosong, kecuali Dzat Mutlak-Nya semata-mata, maka berdirilah Dzat itu, dengan Dia semata-mata, dari dalam keadaan ini, dinamakan “Gusti Ingkang Moho Suci”, artinya diri Dzat, atau juga di namakan Dzat Maha Suci, yang maksudnya, tidak bisa di campuri dan tercampuri oleh apapun, kecuali Suci itu sendiri.

Ayat Kedua (2) Adalah; Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci.
Maksud dari kalimah “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci”. Adalah Alam/Dimensi Laku, yang juga di sebut sebagai Alam/Dimensi Wahdah, yang merupakan proses pentajallian-Lakunya diri, yang arti dan maksudnya adalah. Empunya Diri, telah mentajallikan/memproseskan diri-Nya, dari alam awang uwung, suwung/kosong, ke suatu alam/dimensi sifat, yaitu “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci” sabagai noktah mutlak, adanya awal dan ada akhir.

Alam/Dimensi Laku ini, Juga ada yang menyebutnya, sebagai martabat atau alam/dimensi Wahdah, yang terkandung pada ayat kedua Kunci, yang berbunyi “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci” yang maksudnya tujuannya adalah, menjelaskan, tempatnya Dzat Maha Suci, tidak terselindung sedikit pun, meliputi tujuh perkara langit dan bumi seisinya.

Pada alam/dimensi kedua ini, Dzat Maha Suci, mulai bersifat. Sifat-Nya, adalah sifat bathin, jauh dari Nyata, bisa di umpamakan seperti sepohon kayu besar, yang subur, tapi masih di dalam biji. Artinya… Dia telah berwujud, wujudnya adalah biji, bukan pohon, sehingganya, pohon itu terkesan tidak nyata, tetapi nyata, nyatanya biji itu tadi, sebab itulah, pada alam/dimensi kedua ini, ayat kedua Kunci berbunyi. “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci” yang maksudnya adalah, tuan Empu-Nya Diri, tidak lagi Beras’ma, dan di alam/dimensi ini, terkumpulah Dzat Mutlak dan Sifat Bathin-Nya, telah sempurna, cukup lengkap segala-galanya, hanya terhimpun dan tersembunyi di balik hakikat-Nya “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci”.

Ayat Ketiga (3) Adalah; Sirolah Dzatolah Sipatolah.
Sama seperti yang lainnya. Kalau artinya, saya percaya, semua orang jawa pasti tahu, asalkan jawanya belum hilang, akibat bergaulan yang melenakan, tapi kalau maksud dan tujuannnya, saya yakin, tidak semua orang tahu, sekalipun dia orang jawa. Maksud dari kalimat “Sirolah Dzatolah Sipatolah”. Adalah Menjelaskan tentang Alam/Dimensi rahasia manusia, yang pada Alam/Dimensi ketiga ini. Setelah Empunya Diri kepada Diri, mentajallikan diri-Nya, ke satu alam/dimensi As’ma, sebagai Sir Dzat Sipat. atau dalam istilah lainnya, di sebut juga sebagai Hakikat Insan, yang artinya. keadaan tubuh diri rahasia manusia, telah terhimpun pada hakikinya Sir Dzat Sipat. Tujuannya untuk memperjelas letak masing-masing Hak-Nya, supaya bisa tepat, agar tidak salah arah dan tujuan.

1. Sir atau Ruh Suci, adalah (Hak Dzat Maha Suci).
Bentuknya Rasa. Tempatnya di hati (Bathin), jika Ruh ini keluar dari jasad, manusia akan mengalami kematian.

2. Dzat atau ruh ruhaniyah, adalah (Hak Hidup).
Bentuknya empat anasir. Tempatnya di dada (Jantung), dan pada 360 sendi/organ fital yang ada di seluruh tubuh/wujud badan manusia.

3. Sipat atau nyawa/sukma.
Adalah bentuknya angan-angan atau perasa’an. Tempatnya di kepala (Otak), ruh ini yang suka meninggalkan jasad, salah satunya saat tidur, lalu menimbulkan mimpi.

Sir. Dzat. Sipat ini, ada di dalam kunci ayat ketiga, yang berbunyi, “Sirolah. Dzatolah. Sipatolah”. Sedangkan maksud daripada Lah, adalah di olah, di gali, di pelajari, supaya mengerti dan paham, tentang ketiga inti piranti manusia hidup, tersebut Jati Diri atau Diri Sejati itu.

Hakikat nyawa/sukma, adalah Rasa jasmani, olahan dari empat anasir, tersebut. API – ANGIN – AIR – BUMI. pada waktu itu, mata terbuka belum bisa melihat, telinga belum bisa mendengar, hidung belum bisa mencium, mulut belum bisa berkata, hanya ada suaranya saja, setelah diberi asi atau makanan apa saja, yang berasal dari saripati Api, Angin, Air dan Bumi, maka dari saripati yang empat inilah, tercipta sipat nyawa atau sukma.

Empat Anasir;
1. Cahaya/Nur Darah Merah.
Berasal dari Saripatinya API, adanya pada DAGING, membesarkan dagingnya bayi, hawanya keluar melalui TELINGA hingga bisa mendengar.

2. Cahaya/Nur Dara Kuning.
Berasal dari Saripati ANGIN, adanya pada SUMSUM, membesarkan sumsum bayi, hawanya keluar melalui HIDUNG, hingga bisa mencium dan merasa.

3. Cahaya/Nur Darah Putih.
Berasal dari Saripati AIR, adanya pada TULANG, membesarkan tulang bayi, hawanya keluar melalui MATA, hingga bisa melihat.

4. Cahaya/Nur Darah Hitam.
Berasal dari Saripati BUMI, adanya pada KULIT, membesarkan kulitnya bayi, hawanya keluar melalui LIDAH/MULUT, hingga bisa berbicara.

Itulah hakikat hidupnya sedulur papat kita, yang berasal dari empat anasir. Tersebut; 1. NAFSU MUTHMAINAH, berdomisili pada HATI. 2. NAFSU ALUAMAH, berdomisili pada LIDAH. 3. NAFSU AMARAH, berdomisili pada TELINGA. 4. NAFSU SUPIYAH, berdomisili pada MATA. Sedangkan pancernya, adalah… Cahaya/Nur Darah Bening.

Ayat Ke’empat (4) Adalah; Kulo Sejatine Satriyo.
Kalau artinya, saya percaya, semua orang jawa pasti tahu, asalkan jawanya belum hilang, akibat bergaulan yang melenakan, tapi kalau maksud dan tujuannnya, saya yakin, tidak semua orang tahu, sekalipun dia orang jawa. Maksud dari kalimat “Kulo Sejatine Satriyo”. Adalah Alam/Dimensi Cahaya/Nur Darah Bening, atau juga bisa di sebut proses pertumbuhan/pengembangan. Setelah bayi membesar kulitnya, membesar dagingnya, membesar tulangnya, membesar sumsumnya, maka keluarlah hawa, sebagai pancernya. Sebab itu ayat ke’empat Kunci, berbunyi, “Kulo Sejatine Satriyo” yang artinya. Aku ini manusia hidup.

Singkat jelasnya seperti ini;
Kunci ayat ketiga, yang berbunyi “Sirolah. Dzatolah. Sipatolah”. Adalah alam/dimensi Jati Diri atau Diri Sejati “dan itulah, yang di sebut Jati Diri atau Diri Sejati-nya manusia hidup”. Sedangkan Kunci ayat ke’enam, yang berbunyi “Kangge Tumindake Satriyo Sejati” Adalah alam/dimensi AKU “ dan itulah yang di sebut Aku-nya manusia hidup”.

Ayat Kelima (5) Adalah; Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso.
Maksud dan tujuan dari kalimat “Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso”. Adalah memperjelas dan menegaskan tentang/soal roh. Yang pada alam/dimensi kelima ini. Empunya Diri, menyatakan dan mengolah diri-Nya, untuk membentuk satu batang tubuh halus, yang di sebut roh. Alam/Dimensi roh ini, juga di sebut sebagai Tubuh Hakikat Insan, yang mempunyai awal tiada berkesudahan. Dialah yang sebenarnya, yang dinamakan Diri Nyata Hakiki Rahasia Dzat Maha Suci, ada di dalam Diri Manusia. Jadi… Tubuh ini, merupakan tubuh bathin hakiki manusia, dimana bathin ini, sudah nyata Sirnya, Dzatnya dan Sifatnya, untuk menjadi sempurna.

Cukup lengkap seluruh anggota – anggota bathinnya, tidak cacat dan tiada cela. Tubuh ini, di sebut juga sebagai “Jisim Latiff” yang artinya adalah, satu batang tubuh yang liut lagi halus. Karena itu, ayat kelima dari Kunci. Berbunyi “Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso” yang maksud dan maksudnya. tidak akan mengalami cacat, cela, dan tidak mengalami suka, duka, sakit, menangis, asyik, dan hancur binasa. Dan berdirilah Dia, dengan diri tajalli Dzat Maha Suci, hingga hiduplah Dia, untuk selama-lamanya.

Ayat Ke’enam (6) Adalah; Kangge Tumindake Satriyo Sejati.
“Kangge Tumindake Satriyo Sejati”. Adalah Alam/Dimensi Perjanjian. Maksud dan tujuan kalimat “Kangge Tumindake Satriyo Sejati. Bahwa ”Empunya Diri, menyatakan rahasia diri-Nya, untuk di tanggung oleh manusia. Untuk menyatakan, bahwa diri-Nya adalah Dzat Maha Suci, terus menyatakan diri-Nya melalui diri rahasia-Nya, dengan lebih nyata, dengan membawa diri rahasia-Nya. Sebab itu, ayat ke’enam Kunci, berbunyi “Kangge Tumindake Satriyo Sejati” yang maksud dan tujuannya, perjanjian yang tidak boleh di lupakan dan di abaikan serta di umumkan, sebab Dia adalah “DI”, “Wadi”, “Mani” . “Sperma” yang hanya boleh di salurkan ke satu tempat, yang bersekutu di antara diri rahasia bathin (roh) dengan diri kasar Hakiki, di dalam tempat yang dinamakan rahim. Hingga terbentuklah apa yang di katakan “Maknikam” ketika berlakunya persetubuhan diantara laki-laki dengan perempuan (Ibu dan Bapa). Tubuh rahasia yang tersebut Satriyo Sejati atau AKU ini, tetap hidup sebagaimana awalnya, tetapi di dalam keadaan rupa yang elok dan tidak binasa, dan belum lahir. Dia tetap hidup tidak mengenal akan mati.

Ayat Ketujuh (7) Adalah; Kulo Nyuwun Kangge Hanyirna’ake Tumindake Ingkang Luput.
“Kulo Nyuwun Kangge Hanyirna’ake Tumindake Ingkang Luput”. Adalah Alam/Dimensi Kembali atau Kepulangan-Nya si empunya Diri/Aku. Pada alam/dimensi kembali ini, yang juga disebut martabat/alam/dimensi “Inssanul Kamil” yang artinya, batang diri rahasia Dzat Maha Suci telah di Kamilkan, dengan kata lain, Jati Diri atau Diri Sejati atau Aku Sejati atau Satriyo Sejati atau Sejatine Satriyo-nya manusia, menjadi “Kamilul Kamil”, yang maksudnya menjadi satu pada lahirnya, yaitu manunggal wujud/badan rohani dan jasmani, yang kemudian lahir sebagai seoarang insan melalui faraj ibu.

Pada alam/dimensi ke tujuh ini, yaitu alam Insanul Kamil ini. Dia terkandung di dalam ayat ketujuh Kunci, yang berbunyi “Kulo Nyuwun Kangge Hanyirna’ake Tumindake Ingkang Luput”, yang maksudnya, berkumpul-lah seluruh proses perwujudan dan pernyataan diri rahasia Dzat Maha Suci, di dalam tubuh badan Insan, yang mulai bernafas dan di lahirkan ke Alam Maya yang Fana ini.

Untuk mengumpulkan seluruh proses pentajallian diri rahasia Dzat Maha Suci, dan pengumpulan seluruh alam-alam yang di tempuhinya, dari satu peringkat ke satu peringkat lainnya, dan dari satu alam/dimensi ke satu alam/dimensi lainnya. Kerana Dia merupakan satu perkumpulan seluruh alam-alam itu.

Maka,,, sejak di lahirkannya manusia ke alam maya, yang fana ini, bermulalah tugas manusia, untuk menggembalikan balik, semua dan segala diri rahasia Dzat Maha Suci itu, kepada Tuan Empu-Nya Diri, dan proses penyerahan kembalinya semua dan segala rahasia Dzat Maha Suci ini, hendaknya, dimulai dari sejak awal di lahirkannya manusia ke alam Maya dunia ini. Karena penyerahan kembalinya semua dan segala rahasia Dzat Maha Suci ini. Bukanlah hal yang mudah dan ringan serta remeh juga sepele, sekalipun seumur jatah hidupnya manusia di dunia fana ini, di pergunakan untuk menyerah kembalikan semua dan segala rahasia Dzat Maha Suci. belumlah cukup. (kecuali atas kehendak-Nya)

Jadi,,,, bagi siapapun yang sudah melampaui masa bayi, hingga berusia belasan tahun bahkan puluhan tahun sekarang ini, namun belum juga memulainya, sungguh rugi besar yang tiada terkira, dan itulah yang di sebut kegagalan total yang takan bisa di tebus dengan cara apapun, lantaran karena, persiapan untuk balik/pulang/kembali pada asal usul sangkan paraning dumadi itu, tidaklah mudah/gampang/ringan dan sepele. Jadi,,, tidak bisa hanya dengan berlenggang kangkung saja, masudnya “santai”.

Tujuan Turunnya Wahyu Panca Gha’ib ke marca pada ini. Tak lain dan tak bukan. Untuk memahami dan memegang satu Iman Mutlak, bahwa diri kita ini “sebenarnya” bukanlah diri kita, dan harus di kembalikan ke asal mulanya, yaitu Dzat Maha Suci. Dan untuk memperjelas kajian, agar dapat mengetahui sendiri, Hakikat Hidup Jati Diri-nya, dari mana asal mula yang sebenarnya, hingganya kita lahir di alam dunia maya ini. Dan supaya mengerti serta memahami, Hakikat Hidup Diri Sejati-nya, kemana harus kembali dan apakah tujuan sebenarnya. AKU ini di lahirkan.

Dengan mengetahui dan mengerti serta memahami Wahyu Panca Gha’ib yang sebenarnya, yang sesungguhnya, dalam kata lainnya, bukan hanya sekedar memiliki Wahyu Panca Gha’ib dan sebatas menjalannya katanya belaka. maka sudah pastilah, kita dapat mengetahui bahwa diri kita ini, adalah Sir Dzat Sipat-Nya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah semata-mata. Diri sir dzat sifat yang di tajallikan, dalam pernyata’an Sir Dzat Sifat-Nya Sendiri. Dan Dzat Maha Suci Memuji Diri-Nya, dengan Asma’-Nya Sendiri, yaitu Wahyu Panca Gha’ib, dan Dzat Maha Suci Menguji Diri-Nya Sendiri, dengan Afa’al-Nya Sendiri. Yaitu Wahyu Panca Laku.

Seperti Firman-Nya:
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”
Yang Artinya; Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya akan kembali.
Yang Maksud; Sesungguhnya diri mu itu Allah (Tuhan Asal Diri Mu) dan hendaklah kamu pulang menjadi Tuhan kembali.

He he he . . . Edan Tenan. Setelah mengetahui dan memahami secara jelas, lagi terang, bahwa asal kita ini adalah Tuhan, dan harus kembali menjadi Tuhan Lagi. Apakah itu hal yang mudah dan gampang serta ringan…?!

Laku Mengembalikan diri, Atau dalam istilah kata liannya, Penyempurn’an atau Menyempurnakan Jati Diri atau Diri Sejati, berati menyucikan lahir bathin, dan mengembalikan rahasia kepada Tuan Empunya Rahasia, maka manusia itu semestinya, meningkatkan kesuciannya, kesadarannya, sampai ke peringkat asal mula kejadian rahasia Dzat Maha Suci. Bukan “warung kopi” yang hanya ada sejarah cerita iri, salin saing menyaingi-debat-gunjing menggunjing, iri-dengki-fitnah-benci-sikat sikut sana sini yang menimbulkan, angkara murka, dendam dll.

Ajaran apa yang mengajarkan hal ini, tentang ini dan soal ini…?!

Wahyu Panca Gha’ib…

Wahyu Panca Gha’ib yang mana dan yang bagaimana…?!

Bukankah sudah teramat banyak orang yang memiliki dan menjalankan Wahyu Panca Gha’ib…?!
Dan dengan itu, sudahkan berkurang permusuhan antar saudara diantara kita…!!!
Sudahkan kita salin Mencintai-Mengasihi-Menyayangi semuanya, khususnya sesama Hidup…!!!
Sudahkan kita Pasrah. Menerima dan Mempersilahkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah kita dalam segalah halnya kita…!!!

Wahyu Panca Ghaib sekalipun, jika tidak di ibadahkan dengan Wahyu Panca Laku. Artinya, tidak di jalankan – tidak di praktekan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Tidak akan pernah ketemu/bertemu ujung pangkalnya. please think about…

Sesunggunya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dalam mengenalkan diri-Nya, melalui lidah dan hati manusia, karena Dia telah mentajallikan Diri-Nya, menjadi rahasia kepada diri manusia. Maksudnya; “Manusia itu adalah rahasia-Ku dan AKU adalah rahasia manusia itu sendiri”. Jadi, selama lidah dan hati kita masih pecadal pecodol, pagi tahu, siang tempe, malamnya tauge. Hanya capek dan tambah bingunglah yang akan dialaminya.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com