Delapan (8) Tips Mencegah Stress Berlebihan:

Posted in Uncategorized on 1 April 2014 by djanurgunungciremai

Mencegah stress berlebihan- tipsnya apa yach? Saya harap Anda tidak sedang merasakan stress berlebihan, frustasi atau putus asa saat ini dan mampu mengelola stres di masa-masa mendatang.

Stress memang tidak mungkin dieliminir dari hidup kita. Tidak ada orang yang tidak stress. Orang yang tidak stress mungkin adalah orang yang tidak peduli sama sekali, orang-orang yang apatis, tidak punya sasaran hidup.

Namun, itu tidak mungkin. Untuk sesuap nasi pun orang harus berpikir dan melakukan sesuatu. Setiap orang akan berhadapan dengan masalah hidup sehari-hari sekalipun tingkat kesulitannya beragam. Jadi, setiap orang akan mengalami stress.

Bagaimana Mencegah Stress Berlebihan?
Bagaimana mencegah stress berlebihan, yang bisa membuat Anda frustasi bahkan putus asa?

Kita mungkin telah melihat orang-orang demikian. Barangkali anggota keluarga, saudara, famili, teman, tetangga atau Anda sendiri pernah mengalaminya. Sedikit banyaknya, Anda mengetahui apa yang dikeluhkan dan dirasakan.

Secara umum, orang stress karena ia tidak mencapai sasaran pribadi; keinginannya tidak tercapai. Fakta tidak sesuai dengan harapan. Sekalipun sudah berusaha, target tidak tercapai. Akhirnya, stress bahkan stress berlebihan pun bisa muncul dan bila tidak dikelola dengan baik, ini bisa berbuntut frustasi, putus asa bahkan sampai bunuh diri.

Tips Pertama: Jangan Mengandalkan Diri Sendiri
Berikut ini adalah tips untuk mencegah stress yang berlebihan, frustasi apalagi putus asa sekalipun Anda tidak mencapai sasaran hidup atau keinginan Anda.

Pertama, usahakanlah agar Anda tidak mengandalkan diri sendiri.
Sudah natur kita untuk bergantung pada diri sendiri. Bahkan orang yang percaya kepada Tuhan sekalipun masih sering bergantung kepada dirinya sendiri. Kita merasa yakin dapat melakukan segala sesuatu dengan diri kita sendiri.

Kita pikir kita dapat mengatur hidup kita dan mencapai rencana-rencana kita tanpa pertolongan Tuhan. Kita lupa bahwa berhasil tidaknya rencana-rencana kita ada ditanganNya. Rencana-rencana sebaik apapun- hanya Tuhanlah yang menentukan hasil akhirnya.

Kedua, hindari sikap terlalu percaya diri (overconfidence).
Orang-orang yang punya otak yang encer, yang selalu juara di sekolah, punya IP rata-rata di atas 3.5 di kampus, punya pekerjaan dengan penghasilan besar, harta yang banyak, status sosial yang hebat di masa lalu- ini semua bisa memicu sikap terlalu percaya diri. Ini berbahaya.

Kita tidak selalu bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Sekalipun kita pintar, kaya, selalu sukses di masa lalu, kita bisa jatuh. Anda dan saya bisa gagal sebaik apapun usaha kita. Menghindari sikap terlalu percaya diri adalah salah satu teknik mencegah stress yang berlebihan ini.

Ketiga, buatlah sasaran yang realistis. Banyak orang membuat sasaran pribadi yang terlalu jauh tanpa memikirkan potensi dan fasilitas.

Akal sehat diabaikan. Perhitungan rasional disingkirkan. Bila Anda mempunyai kemampuan, bakat, dan keuangan yang baik, tetaplah menggunakan akal sehat untuk mencapai sasaran pribadi Anda. Benar kata sebuah nasihat, “Janganlah memikirkan melebihi dari apa yang sepatutnya kamu pikirkan.”

Tips Ke-empat: Hindari Membandingkan Diri Anda dengan Orang lain.
Keempat, hindari membandingkan diri Anda dengan orang lain.

Kita sering membandingkan diri kira dengan orang lain. Kita merasa lebih pintar atau lebih hebat dari orang lain, tapi pada faktanya orang lain lebih berhasil dari kita. Bisa juga kita merasa tidak pintar sehingga membuat kita menjadi minder. Singkirkanlah pikiran-pikiran seperti ini.

Jauhkan sikap membandingkan diri Anda dengan orang lain. Anda adalah Anda. Orang lain adalah orang lain. Di dunia ini hanya Anda seperti Anda; tidak ada duanya. Jalan hidup masing-masing tidak sama sekalipun pernah mengalami peristiwa yang sama: mengecap pendidikan di sekolah yang sama, kuliah di kampus yang sama, atau memiliki status sosial yang sama dan hal yang sama lainnya.

Bila orang lain lebih berhasil- itu tidak semata-mata karena ia lebih pintar atau lebih hebat dari Anda. Ada banyak faktor yang membuat orang kelihatan lebih berhasil dari yang lain. Yang jelas, peran Tuhan Yang Maha Esa tidak dapat diabaikan dari keberhasilan seseorang. Tidak membandingkan diri dengan orang lain akan mencegah stress berlebihan.

Kelima, terimalah bila sasaran Anda tidak tercapai dan lakukanlah sesuatu.
Bisa saja sasaran Anda tidak tercapai karena Anda kurang rajin, gigih, dan tekun. Mungkin juga karena Anda kurang peka akan pimpinan Tuhan Yang Maha Esa atau karena keinginan Anda tidak sinkron dengan keinginan-Nya.

Tidak semua rencana kita selalu disetujui oleh Tuhan. Rencana kita bisa berbeda dengan kehendakNya. Kita menghendaki ini dan itu, tetapi Tuhan berkehendak lain. Hanya dalam tangan-Nyalah berhasil tidaknya apa yang kita lakukan.

Keenam, sekalipun sulit, bersyukurlah bila Anda tidak mencapai hal yang Anda inginkan.
Selalu ada sesuatu hikmah dibalik setiap peristiwa. Kegagalanpun bisa menjadi pelajaran di masa-masa mendatang dan jadi berkat bagi orang lain. Setiap kegagalan selalu menyimpan hal yang baik. Ada misteri dibalik peristiwa.

Ada yang tidak kita ketahui dibalik kegagalan yang terjadi dalam hidup kita. Jadi, bersyukurlah sekalipun Anda tidak mencapai sasaran hidup Anda.

Ketujuh, usahakanlah untuk berolah raga. Sisihkanlah waktu Anda untuk berolah raga.
Banyak yang memberi nasihat bahwa olah raga yang teratur akan mencegah stress yang berlebihan. Anda bisa berjalan-jalan, lari atau melakukan olah raga lainnya secara teratur. Mantan Presiden George Bush Jr selalu mengambil waktu untuk berlari untuk mengurangi stress.

Kedelapan, bila Anda sudah menikah, ‘tidur’lah dengan pasangan Anda secara teratur.
Banyak survei menunjukkan bahwa suami isteri yang berhubungan seks secara teratur dapat mengurangi stres. Usahakanlah agar Anda dan pasangan hidup Anda melakukan berhubungan intim dan menikmatinya. Tetapi, saya tidak akan menganjurkan Anda yang belum menikah melakukan hal ini.

Bila Anda belum menikah, pertimbangkanlah untuk menikah. Carilah seorang lawan jenis sebagai pasangan hidup Anda kepada siapa Anda dapat menyalurkan perasaan cinta Anda sehingga Anda dapat juga mencegah stress berlebihan melalui hubungan intim dengan pasangan Anda.

Semoga tips ini dapat mencegah Anda dari stress yang berlebihan.
Salam Bahagia dan sukses selalu…
TtD: Wong Edan Bagu

Pekerjaan Sebagai Panggilan Hidup Anda:

Posted in Uncategorized on 1 April 2014 by djanurgunungciremai

Pekerjaan sebagai panggilan bukanlah konsep yang umum bagi masyarakat kita. Konsep kita terhadap pekerjaan masih bersifat tradisional seperti yang dijumpai di negara-negara yang belum atau sedang berkembang. Kita bertani, memelihara ternak, berdagang, mengelola hutan, mengelola perkebunan, menangkap ikan, membangun gedung, menata kota, berpolitik, mencipta lagu, dan berbagai pekerjaan lainnya.

Konsep mengenai kerja masih tradisionil. Sikap yang menonjol masih ‘yang-penting-kerja’, tanpa memikirkan akibat dari setiap pekerjaan terhadap bidang-bidang lain. Belum ada integrasi antara apa yang dikerjakan dengan yang dikerjakan orang lain.

Belum ada usaha-usaha untuk mensistemastiskan pekerjaan seperti yang telah dilakukan di Barat. Dengan mudah kita melihat sikap-sikap demikian terhadap pekerjaan. Minim unsur rasionalitas, keindahan, effisiensi, dan faktor-faktor yang membuat alam tertata dan terpelihara dengan baik.

Luther misalnya masih punya konsep tradisional terhadap pekerjaan. Luther menerima hidup dan pekerjaan itu apa adanya. Ia tidak memiliki konsep tentang pekerjaan yang harus dilakukan oleh seseorang selama ia hidup. Ia tidak mengembangkan konsep ‘talenta dan bakat yang harus digunakan sebaik dan semaksimal mungkin’. Dalam pikiran Luther belum muncul konsep pencarian pekerjaan yang sesuai dengan kehendak Tuhan; belum muncul konsep pekerjaan-sebagai-panggilan.

Pekerjaan Sebagai Panggilan versi Kaum Puritan;
Berbeda dengan Luther, Kaum Puritan tidak menerima konsep tradisionil terhadap pekerjaan. Mereka tidak menerima pekerjaan begitu saja dan tidak berhenti sampai pada pekerjaan secara alami. Mereka tidak berhenti pada pikiran ‘yang-penting-punya-pekerjaan’.

Mereka memikirkan apa yang harus mereka kerjakan dan mempertimbangkan apa yang dapat dilakukan dengan bakat yang dimiliki. Mereka menggumuli pekerjaan yang dapat berbuah banyak.

Bagi Kaum Puritan, pekerjaan adalah panggilan hidup, yang harus diraih dan harus dilakukan
dengan usaha-usaha yang serius dan
keras. Mereka menerima keyakinan
bahwa eksistensi manusia di
dunia ini adalah untuk
melaksanakan kehendak Tuhan
Yang Maha Esa. Manusia adalah buatan
Allah, diciptakan untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya dan berusaha hidup dalam rencana Allah.

Oleh sebab itu, konsep spesialisasi sangat berkembang di kalangan orang Puritan. Mereka mengembangkan bakat-bakat mereka sampai mencapai kesempurnaan. Mereka berpikir bahwa hanya dengan spesialisasi mereka akan jauh lebih efektif, lebih efisien dan lebih baik mengerjakan tugas; sebuah panggilan yang mulia.

Pentingnya spesialisasi bagi orang Puritan terangsang oleh teks-teks kuno seperti teks berikut, “Kamu melihat orang-orang yang cakap dalam pekerjaannya; di hadapan raja-raja mereka akan berdiri.”

Bagi orang Puritan, hanya mereka yang punya skill yang baik, khusus dan terlatih yang akan mampu memberikan gagasan-gagasan dan karya-karya yang baik, rasional dan jitu. Mereka punya keyakinan bahwa dengan keahlian-keahlian yang sangat baik mereka dapat mempengaruhi pejabat-pejabat yang duduk dalam posisi-posisi penting di pemerintahan dan memimpin perbaikan-perbaikan dunia.

Jadi, orang Puritan terus-menerus mengembangkan kemampuan dan keahlian mereka di bidang yang mereka minati untuk memperbaiki dunia secara berkelanjutan.

Renungan:

Apakah pekerjaan Anda sekarang merupakan panggilan hidup Anda?
Apakah ada pekerjaan lain, yang sudah Anda pikirkan, tetapi oleh karena beberapa hal, belum Anda tekuni?
Semoga Bermanfa’at
Ttd: Wong Edan Bagu

Falsafah Tentang Waktu Terpancar dari Sikap terhadap Kehidupan:

Posted in Uncategorized on 1 April 2014 by djanurgunungciremai

Falsafah tentang waktu akan menentukan sikap hidup seseorang terhadap diri, keluarga, pekerjaan, masyarakat dan negara. Bisa juga dikatakan bahwa apa yang Anda lakukan saat ini merupakan cerminan pandangan Anda terhadap waktu. Bila Anda menghargai waktu- ini tercermin dari pikiran, perkataan dan tindakan Anda. Bila Anda tidak menghargai waktu- ini juga akan terpancar dari setiap pikiran, perkataan dan tindakan Anda.

Ada dua falsafah waktu yang sangat penting. Pertama, waktu ibarat lingkaran. Waktu akan datang kembali; sejarah berulang. Orang yang hidup akan mati dan hidup kembali. Ada kelahiran kembali. Namun, bagaimana eksistensinya ketika ia hidup kembali- ini tergantung dari perbuatannya. Bila saat ini Ia hidup sebagai manusia biasa, kemudian mati, ia dapat hidup kembali berupa binatang atau berupa manusia yang lebih suci. Eksistensinya di kemudian hari tergantung dari perbuatannya ketika ia hidup. Eksistensinya di kemudian hari tergantung dari kualitas moralnya.

Falsafah yang kedua adalah bahwa waktu bersifat linier. Waktu ibarat garis lurus. Ada awal dan akhir.

Dalam falsafah waktu yang bersifat linier, kesementaraan akan ‘bergabung’
dengan kekekalan. Ada kontinuitas antara waktu saat ini dan kekekalan.

Sejarah berawal dan sejarah akan berakhir. Kerajaan-kerajaan atau dinasti-dinasti muncul dalam sejarah. Ada zaman keemasan, kemudian lenyap ditelan zaman. Kerajaan Mesir, Kerajaan Romawi, Dinasti Mongol, termasuk Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit mengalami apa yang disebut dengan awal dan akhir.

Dalam falsafah waktu yang bersifat linier, kesementaraan akan ‘bergabung’ dengan kekekalan. Ada kontinuitas antara waktu saat ini dan kekekalan. Tidak ada masa transisi dari kesementaraan ke kekekalan.

Namun, ada perbedaan dari kehidupan sekarang dengan kehidupan di masa mendatang. Manusia yang masuk ke dunia nanti akan tetap hidup, tetapi kehidupan mereka berbeda dengan kehidupan yang dikenal sekarang. Matahari, bulan, bintang dan planet-planet atau galaksi-galaksi lain tidak akan ada. Akan ada bumi dan langit yang baru sekalipun bumi dan langit yang baru nanti berbeda dengan yang kita lihat sekarang. Falsafah waktu yang bersifat linier menyimpan banyak misteri.

Saya pribadi mempunyai keyakinan bahwa waktu akan berakhir. Ada awal dan akhir dari segala sesuatu. Suatu saat manusia akan memberi pertanggungjawaban kepada Sang Khalik. Segala yang dilakukan setiap orang dalam waktu yang sementara ini akan dibuka kembali. Tidak ada yang
tersembunyi. Segala rahasia dalam hati atau pikiran, yang tidak diketahui siapapun, akan dipaparkan kembali. Tidak ada yang tertutup.

Falsafah tentang waktu Anda sangat menentukan sikap Anda terhadap kehidupan sehari-hari. Bila Anda yakin bahwa waktu akan berakhir- ini akan mempengaruhi hidup Anda. Anda akan menghargai waktu yang diberikan kepada Anda. Anda akan menggunakan waktu sebaik mungkin. Anda akan menggali potensi Anda. Anda memilih karir yang cocok dengan kepribadian Anda. Anda akan menjunjung tinggi nilai-nilai yang bermutu. Anda akan bekerja keras. Anda akan rajin dan tidak mau bermalas-malasan dalam pekerjaan Anda. Anda tidak akan melakukan sesuatu yang jahat dan hal-hal yang buruk. Anda tidak akan melakukan hal-hal yang tidak senonoh. Yang ada dalam pikiran Anda adalah ‘excellence.’

Sebaliknya, bila Anda tidak meyakini bahwa waktu tidak akan berakhir atau hanya tahu bahwa waktu akan berakhir- ini juga akan menentukan sikap hidup Anda di dunia ini. Anda mungkin mengetahui pentingnya menggali potensi Anda, tapi menggunakannya hanya untuk kepentingan pribadi. Anda akan menjunjung nilai-nilai yang luhur, tapi hanya bila tidak merugikan diri Anda.

Falsafah tentang waktu sangat menentukan sikap seseorang terhadap
kehidupan sehari-hari. Bila Anda yakin bahwa waktu akan berakhir- ini akan mempengaruhi hidup Anda.

Anda mungkin tidak menghormati orang tua Anda. Anda mungkin membiarkan nyawa orang lain melayang, melakukan hubungan seks dengan wanita lain, mengambil milik orang lain, mengatakan hal-hal yang tidak benar atau menginginkan milik orang lain- harta, isteri, pembantu atau apa saja yang dimiliki orang lain.

Falsafah tentang waktu Anda sungguh menentukan sikap Anda terhadap hidup ini. Bagaimana Anda menyikapi waktu- ini tergantung kepada Anda. Sikap Anda terhadap waktu terpancar dari sikap Anda sehari-hari.

Semoga Bermanfa’at
Ttd: Wong Edan Bagu

Bila Hari Terakhir Anda Adalah Hari Ini, Apa yang Akan Anda Lakukan…?!

Posted in Uncategorized on 1 April 2014 by djanurgunungciremai

Bila Hari Terakhir Anda Adalah Hari Ini, Apa yang Akan Anda Lakukan…?!
Bila hari Ini adalah hari terakhir Anda, apa yang akan Anda lakukan…!?

Tentulah pertanyaan ini tidak selalu terjadi pada setiap orang. Tidak semua orang punya nasib seperti ini. Namun, bukan tidak mungkin bahwa hari ini adalah waktu terakhir Anda. Dan bila itu benar-benar terjadi, apa yang akan Anda lakukan?

Ketika saya menuliskan pertanyaan itu, saya berpikir sejenak dan mencoba menjawap pertanyaan tersebut. Tidak mudah menjawabnya. Anda dan saya akan membutuhkan waktu yang relatif cukup banyak untuk memikirkan hal-hal yang paling penting dalam hidup. Mungkin Anda akan memberikan petuah bagi isteri dan anak-anak Anda atau nasihat-nasihat terakhir kepada mereka. Barangkali Anda akan mewariskan tugas yang belum selesai Anda kerjakan atau anda mengungkapkan rahasia yang selama ini Anda pendam dari isteri dan anak-anak Anda.

Tidak banyak yang punya falsafah hari-ini-adalah-hari-yang-terakhir. Sebagian beranggapan bahwa mereka akan hidup lama. Orang yang masih belasan tahun mungkin berpikir bahwa ia akan hidup seperti orang yang sudah berumur 70 atau 80 tahun. Karena ia melihat bahwa banyak orang yang menjadi tua ia berpikir bahwa ia akan menjadi tua juga. Belum tentu. Belum tentu Anda berumur panjang. Bisa saja Anda sakit tiba-tiba dan Anda menghadap Tuhan Yang Maha Esa.

Di halaman ini saya menuliskan beberapa tulisan yang diharapkan dapat memberikan Anda sebuah wawasan baru tentang waktu. Tentulah, wasasan seperti ini bukan sesungguhnya baru. Ini adalah pandangan yang sudah ada ratusan tahun bahkan ribuan tahun. Namun, saya perlu menyajikan kembali ke hadapan Anda pentingnya waktu bagi Anda dan saya sebab hari-hari terakhir Anda dan saya bisa saj semakin dekat.

Beberapa tulisan sudah saya siapkan buat Anda. Pertama, Falsafah Tentang Waktu Terpancar dari Sikap terhadap Kehidupan. Pada tulisan ini saya menyajikan ada dua falsafah penting dan kedua-duanya sama-sama menarik. Pertama, falsafah waktu yang bersifat lingkaran. Kedua, falsafah waktu yang bersifat linier.

Kedua, Berapa Nilai Waktu Anda? Pada tulisan ini saya mengangkat nilai waktu Anda menurut versi manusia atau perusahaan atau organisasi yang member gaji kepada Anda setiap bulan atas jasa yang Anda berikan.

Ketiga, Waktu Adalah Uang: Falsafah yang Keliru menceritakan secara singkat perkembangan falsafah ini di Abad 18.

Keempat, Meraih Pekerjaan yang Ideal dalam Waktu yang Sementara menyajikan prinsip pentingnya mencari dan menekuni pekerjaan yang ideal, yang sesuai dengan bakat dan talenta… Semoga Bermanfa’at…. Salam Sukses.
Ttd: Wong Edan Bagu

Waktu Adalah Uang:

Posted in Uncategorized on 1 April 2014 by djanurgunungciremai

Waktu Adalah Uang:
Bagi saya adalah Falsafah yang Keliru;

Ungkapan waktu adalah uang sudah tidak asing, khususnya bagi orang yang tinggal di kota. Derivatif ungkapan ini bisa dilihat dari salinan gaji yang Anda terima setiap bulan dari perusahaan atau organisasi tempat Anda bekerja. Waktu yang Anda berikan ke perusahaan atau organiasi Anda dikompensasikan dengan uang. Anda mendapat gaji bulanan, gajimingguan atau gaji harian, yang merupakan penghargaan atas jasa yang Anda berikan.

Falsafah waktu-adalah-uang banyak mempengaruhi banyak hal dalam kehidupan manusia. Misalnya, jadi tidaknya sebuah proyek dilaksanakan- ini bisa ditentukan oleh falsafah ini juga. Proyeksi ‘cash flow’ yang dihasilkan dari sebuah proyek dikonversikan ke Net Present Value dengan formula Time Value of Money. Apakah NPV positif atau negatif- ini menjadi dasar untuk mengambil keputusan ‘Go’ atau ‘No Go’ terhadap sebuah proyek.

Sejarah falsafah ini memang menarik. Ada yang mengatakan bahwa Benjamin Franklin adalah sosok yang paling penting di balik falsafah ini. Ia pernah mengatakan, “Ingat, waktu adalah uang; kejujuran bermanfaat dalam bisnis.”

Benjamin Franklin memang sangat mengagumi nilai-nilai Kaum Puritan yang hidup di Abad 17 dan 18. Kaum Puritan mengembangkan falsafah yang menghargai waktu, yang diadopsi dari pemikiran yang berkembang di Eropah pada abad 16.

Pada abad ini, pandangan orang terhadap waktu mulai berubah. Waktu tidak lagi dilihat hanya sebagai sebuah proses yang mekanis. Orang tidak lagi melihat waktu hanya milenium, abad, dekade, tahun, bulan, minggu, hari, jam atau menit atau detik, tetapi waktu mulai dilihat sebagai kesempatan. Peristiwa tertentu terjadi hanya satu kali, yang dalam konsep orang Yunani Kuno disebut kairos. Artinya, waktu adalah kesempatan. Kesempatan yang terjadi dalam waktu yang kronos hanya terjadi sekali. Dengan kata lain, tidak mungkin sebuah kejadian terjadi dua kali.

Pandangan waktu jenis kairos ini mempengaruhi semua hal- mulai dari pengharapan, penderitaan bahkan pekerjaan. Bagi Kaum Puritan misalnya, apa yang dilakukan dalam hidup ini harus dipertanggung jawabkan kelak. Tidak ada pikiran, perkataan atau tindakan yang akan lepas dari pertanggungjawaban. Jadi, pandangan terhadap waktu bagi orang yang hidup pada abad 16 serius.

Sikap untuk tidak membuang waktu makin dominan. Orang tidak lagi bermalas-malasan. Orang yang hidup pada zaman itu tidak lagi sembarangan bekerja. Mereka memikirkan pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan talenta mereka masing-masing.

Oleh karena waktu adalah terbatas dan kesempatan juga sekali, orang-orang pada zaman itu menghasilkan etos kerja yang sangat kuat. Kerajinan dan kekayaan merupakan dampak dari falsafah ini. Ketika waktu dihargai dan digabungkan dengan kerajinan, kekayaan materi turut serta mendampingi kehidupan mereka. Mereka lambat laun menjadi makmur. Waktu makin lama makin diidentikkan dengan uang.

Sangat disayangkan Benjamin Frankin “Ingat, waktu adalah uang; kejujuran bermanfaat dalam bisnis.” Ini pandangan yang tidak sepenuhnya benar. Waktu memang bisa dikonversikan dengan uang. Uang atau kekayaan bisa menjadi hasil dari falsafah waktu yang sangat ketat. Namun, ini tidak berarti bahwa waktu adalah uang. Waktu lebih dari uang. Waktu adalah kesempatan. Waktu adalah hidup.

Semoga Bermanfa’at…
Ttd: Wong Edan Bagu

Mengenal Diri: Langkah Awal Dalam Pengembangan Diri:

Posted in Uncategorized on 1 April 2014 by djanurgunungciremai

Apakah Anda mengenal diri Anda? Siapa ayah dan ibu kandung Anda? Tahun berapa Anda lahir? Di mana Anda lahir? Jawaban terhadap pertanyaan di atas relatif mudah.

Bagaimana kalau Anda berfilsafat sedikit? Misalnya Anda bertanya, ‘Siapa diri Anda? Apa yang seharusnya Anda tahu? Apa yang seharusnya Anda kerjakan? Apa pengharapan Anda?’ Keempat pertanyaan Immanuel Kant ini mungkin tidak akan pernah selesai Anda jawab sampai akhir hidup Anda’

Kita memang kurang bahkan mungkin tidak mengenal siapa diri kita. Kalaupun ada, pengenalan diri kita hanya sekilas. Kita jarang mengambil waktu dengan serius menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Kita terjebak dengan rutinitas pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, yang menyisihkan kita dari waktu untuk merenung tentang siapa diri kita.

Sangat penting mengenal diri. Pengembangan diri berawal di sini;
Kita menanyakan identitas kita, apa potensi-potensi yang tersimpan dalam diri kita, dari mana kita muncul, apa yang seharusnya kita tahu dan apa yang harus kita kerjakan dan jauh lebih penting adalah apa pengharapan Anda dan saya bila suatu saat kita meninggalkan dunia ini.

Pertanyaan Djaka Tolos aKan dijawab oleh Wong Edan Bagu. Menarik. Ia mengatakan bahwa hanya dua hal yang saya ingin tahu: Tuhan, Aku dan Hidup saya.

Memang hanya Tuhan dan jiwa kita yang paling penting perlu kita ketahui. Sebab bila pengenalan terhadap dua pribadi ini mantap, pengenalan atau pemahaman akan hal-hal lainnya akan menjadi lebih mudah. Paling tidak, mudah memahami apa relasi antara dunia dan diri kita dan dunia dan Allah.

Bukan tugas yang mudah untuk mengenal lingkungan kita, diri kita, terutama Allah. Berbahagialah Anda bila Anda mengenal ketiga-tiganya.
Pada kesempatan kali ini saya akan sajikan siapa manusia, siapa diri Anda dan saya.

Tubuh dan Jiwa- Inilah Unsur-Unsur Kemanusiaan Kita;
Manusia terdiri dari tubuh dan jiwa atau raga/wujud dan Hidup, Tubuh/raga adalah unsur yang kelihatan dan bersifat materi. Mulai dari kepala, mata, telinga, mulut, lidah, tangan, hidung, dan apa saja yang dapat dilihat dari luar atau apa yang dapat dilihat dengan bantuan alat teknologi seperti otak, jantung, hati, ginjal, paru-paru dan organ-organ tubuh lainnya- tubuh dapat dilihat.

Berbeda dengan tubuh yang tidak kelihatan dan bersifat materi, jiwa/Hidup tidak dapat dilihat. Ia eksis sekalipun tidak kelihatan. Tidak ada alat secanggih apapun yang bisa melihat jiwa/Hidup. Tidak ada yang bisa meneropong jiwa/Hidup dengan bantuan alat apapun seperti CT (Computerized Axial Tomografi) Scan.

Jiwa/Hidup hanya dapat ‘dikenal’ lewat aktifitas tubuh- lewat perkataan, tulisan dan tindakan.’ Ada pepatah, ‘Pohon baik atau tidak dapat dikenal dari buahnya.’ Dari tindakan seseorang dapat ‘dikenal’ jiwa seseorang.

Tanpa jiwa, manusia tidak dapat bergerak. Tanpa jiwa manusia menjadi mayat. Tidak ada aktifitas sekecil apapun yang dapat dilakukan oleh manusia kalau jiwanya tidak ada. Jiwalah yang menggerakkan mayoritas organ-organ tubuh kita. Ia memberikan tindakan apa yang harus dilakukan.

Tubuh dan jiwa saling mempengaruhi. Bagaimana jiwa mempengaruhi tubuh dan sebaliknya- ini memang sangat menarik. Sampai pada batas tertentu, kondisi tubuh dapat mempengaruhi jiwa juga.

Bila tubuh mengalami luka misalnya, kita bisa mengerang dan merasa kesakitan dan perasaan ini merupakan aktifitas dari jiwa. Bila ada alat-alat tubuh yang tidak berfungsi- jiwa bisa terganggu.

Namun, tidak selamanya kelemahan-kelemahan atau kesakitan dalam tubuh bisa mendikte jiwa. Jiwa bisa melampui kelemahan-kelemahan phisik.

Ini bisa dilihat dari orang-orang yang cacat yang berprestasi luar biasa. Penyanyi Steve Wonder yang buta bisa menggubah lagu dan menyanyikan lagu-lagu yang baik.

Hidup/Jiwa bisa eksis tanpa tubuh. Jiwa bisa berbicara, mengeluh, mengerang, bersukacita tanpa bersatu dengan tubuh. Jiwa dapat berkomunikasi dengan Pribadi Supranatural, khususnya dengan Pencipta jiwa itu sendiri.

Komunikasi ini tidak dapat diakses oleh manusia-manusia yang hidup di dunia ini. Mau doa sepanjang apapun- itu tidak dapat menjangkau jiwa-jiwa yang sudah terpisah dari tubuhnya.

Tidak ada artinya mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal. Arwah-arwah pahlawan tidak ada artinya didoakan. Sejarah orang yang jiwanya terpisah dengan tubuhnya sudah selesai pada saat kematiannya.

Misteri memang relasi antara jiwa dan tubuh. Jiwa tidak terpisah selamanya dengan tubuh. Bagi kalangan yang menerima kebangkitan pada akhir zaman, jiwa akan kembali disatukan dengan tubuh. Manusia yang telah mati akan dibangkitkan kembali.

Masih ada salah satu hal yang sangat unik melihat relasi dari tubuh dan jiwa, yaitu bagaimana melalui informasi yang diterima oleh mata dan telinga dapat membentuk pola pikir seseorang.

Mind set dibentuk melalui pengalaman, penglihatan atau pengalaman manusia itu sendiri. Ketika ia mendengar atau melihat sesuatu atau merasakan sesuatu- ini semua diolah dalam pikiran. Terjadi pembentukan pola pikir. Dan selama kita hidup, proses ini terus berlangsung; proses pembentikan pola pikir itu tidak terhenti sampai jiwa dan tubuh terpisah.

Pada pola pikir inilah- kualitas jiwa seseorang dapat dinilai. Bisa diterima bahwa ‘man is what he thinks.’ Bagaimana kita hidup ditentukan oleh pola pikir yang terbentuk dalam pikiran kita.

Mengherankan bagaimana hal ini bisa terjadi dalam diri manusia. Pengalaman sehari-hari ikut ambil bagian bahkan memberikan sumbangsih terbesar dalam membentuk pola pikir kita.

Jikalau demikian, manakah yang lebih penting dari kedua unsur tersebut? Jiwa kita. Ini tidak berarti bahwa tubuh dapat diabaikan. Dua-duanya- tubuh dan jiwa- butuh pemeliharaan. Menjaga tubuh penting, tapi jauh lebih penting adalah menjaga jiwa. Kesehatan pikiran dan tubuh harus berada dalam keadaan seimbang.

Penekanan terhadap salah satu aspek akan membuat ketimpangan. Melulu hanya memikirkan soal kebutuhan jiwa- ibarat manusia yang bertulang tapi tidak berdaging. Melulu hanya memikirkan tubuh- ibarat manusia yang berdaging tanpa tulang yang kuat… Semoga Bermanfa’at.
Ttd: Wong Edan Bagu

Nilai Diri Anda Tidak Dapat Diganti dengan Uang atau Apapun yang Anda Miliki:

Posted in Uncategorized on 1 April 2014 by djanurgunungciremai

Pernahkan Anda memikirkan berapa nilai diri Anda yang sesungguhnya? Referensi yang paling cepat, barangkali, adalah penghasilan Anda. Anda bisa mengetahui gaji setiap bulan dari slip gaji Anda. Di sana tertera angka yang memberikan fakta bagaimana perusahaan menghargai kontribusi Anda.

Ukuran lain yang sering digunakan khalayak umum untuk mengukur harga diri adalah harta, jabatan, gelar, status sosial, atau popularitas. Bila Anda memiliki nomor pajak wajib pajak (NPWP), dan secara rutin Anda memberikan laporan pajak Anda, banyaknya harta Anda tertera pada laporan Anda.

Begitu juga jabatan. Jabatan yang tertera pada kartu nama Anda bisa memberikan informasi kepada orang lain tentang apa yang Anda kerjakan sehari-hari di kantor. Gelar bisa Anda raih. Bila Anda mempunyai minat dan modal untuk studi di perguruan tinggi, Anda bisa mendapat gelar.

Status sosial Anda bisa ditelusuri lewat informasi tentang berapa baik Anda dikenal di masyarakat.

Begitu juga dengan popularitas ataupun pengaruh Anda; itu bisa ‘diukur’ lewat survey-survey kecil atau random atau dianalisa melalui perkataan, tulisan atau tindakan Anda.

Sekalipun penghasilan, harta, jabatan, gelar, status sosial, popularitas, atau pengaruh bisa memberi indikasi tentang nilai diri seseorang, ukuran ini tidaklah mutlak. Ukuran-ukuran ini sementara sifatnya. Penghasilan ataupun harta tidaklah abadi. Hari ini harta ada, besok bisa lenyap.

Perkataan kuno mengatakan, “Janganlah bersusah payah untuk menjadi kaya; tinggalkanlah niat seperti ini. Kalau engkau mengamat-amatinya lenyaplah ia karena ia tiba-tiba bersayap lalu terbang ke angkasa seperti rajawali.”

Begitu juga dengan jabatan. Hari ini Anda bisa memiliki jabatan, besok lusa jabatan Anda bisa diisi orang lain. Tahun ini Anda mendapat gelar, lima tahun kemudian, bila Anda tidak menekuni topik yang Anda pelajari, gelar itu sudah tidak lagi valid. Begitu juga status sosial, popularitas, dan pengaruh- semuanya bisa berubah.

Anda mungkin belum seberuntung orang lain. Anda telah melamar pekerjaan, tapi lamaran Anda belum dijawab. Anda sosok yang rajin di kantor dan memiliki hati nurani yang relatif bersih, tetapi Anda belum mendapatkan penghasilan yang ‘baik.’

Pekerjaan Anda tidak kelihatan begitu bonafit. Anda sudah bekerja keras, tetapi penghasilan Anda tetap kurang untuk menutupi kebutuhan rumah tangga Anda. Anda masih mencicil rumah atau baru bisa mengontrak rumah.

Anda tidak perlu risau, minder atau menganggap bahwa nilai diri Anda kurang berarti sekalipun kondisi Anda seperti salah satu yang saya sebut di atas. Penghasilan sekecil apapun, bila didapat dengan cara yang benar, itu jauh lebih baik dari pada penghasilan besar yang didapat dengan cara tidak benar.

Penghasilan besar, tapi dari hasil perampasan, penipuan, atau pemerasan, bukanlah penghasilan yang perlu Anda kagumi. “Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran, dari pada penghasilan banyak tanpa keadilan,” begitu pepatah kuno. Begitu juga harta yang didapat dengan cara tidak benar, gelar yang dibeli, dan popularitas semu- ini semua tidak ada artinya.

Namun, nilai diri Anda yang sesungguhnya tidak diukur dengan uang, harta, jabatan, status sosial, gelar atau popularitas. Sebanyak apapun penghasilan atau harta Anda, setinggi atau serendah apapun status sosial Anda, setinggi apapun gelar Anda, sehebat apapun popularitas Anda- ini tidak bisa menggantikan harga diri Anda yang sesungguhnya.

Martabat Anda yang sesungguhnya tak ternilai. Harga diri Anda tak
terhingga dan harga diri ini tidak diberikan oleh manusia atau malaikat, tetapi diberikan oleh Tuhan yang Maha Kuasa. Ia menanamkan kekekalan dalam diri kita masing-masing.

Namun, ini tidak berarti Anda dan saya menjadi pasif- menerima diri kita apa adanya. Masih banyak potensi-potensi yang belum kita ketahui atau sadari dan yang belum terungkap. Kita mungkin belum menemukan diri kita yang sesungguhnya. Kita harus menggali nilai diri yang tersimpan dalam diri kita masing-masing.

Anda dan saya diberikan tugas untuk mengaktualisasikan potensi diri kita masing-masing. Kita harus mengasah dan mempertajam keahlian kita. Kita harus terus mencari identitas kita yang sesungguhnya.

Tentu, pencarian identitas diri tidak berarti bahwa pada akhirnya kita akan selalu sama dengan orang lain. Tidak ada jaminan bahwa Anda harus berpenghasilan belasan, puluhan atau ratusan juta per bulan.

Bila Anda sudah mengerjakan pekerjaan sesuai bakat Anda dengan sungguh-sungguh dan Anda mengikuti etika untuk manusia dan hukum alam, Anda sudah melakukan hal yang terbaik sekalipun penghasilan Anda kecil.

Tiap orang punya rezekinya masing-masing; tiap orang mendapat karunia masing-masing. Kita hanya perlu mengenal diri kita, mengaktualisasikan nilai diri kita, menemukan dan mengasah karunia dalam diri, dan setia menggunakannya. Dengan demikian, nilai diri yang tertanam dalam diri bisa dinyatakan dalam kehidupan yang singkat ini… Semoga Bermanfa’at.
Ttd: Wong Edan Bagu

%d bloggers like this: