Bertamu Di Dunia. Negeri Penuh Rekayasa:


Bertamu Di Dunia. Negeri Penuh Rekayasa;
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes. Malam selasa kliwon. Tgl 4 agustus 2015

Malam Selasa Kliwon tanggal 4 agustus 2015, saya Kekadhangan di Malahayu Brebes jawa tengah. Bersama 10 orang anak didik saya, di rumah kadhang di malahayu yang kami datangi itu, saya mangambil tema kekadhang tentang falsafal “Urip mung mampir ngombe” yang saya beri judul, Menjadi Tamu Dunia Di Negeri Penuh Rekayasa. Saya sepintas mengungkap tentang perjalanan spiritual di dunia dan proses setelah meninggalkan dunia yang penuh rekayasa ini. Mulai dari jam 21:09 manit, hingga tanpa perhatian jam waktu telah menunjukan pukul 02:45 manit. Karena sudah menjelang pagi dan ungkapan demi ungkapan kekadhang telah selesai, kamipun berpamit undur diri untuk pulang ke rumah masing-masing.

Dan setibanya dirumah, seusai manembah ingarsaning Hyang Maha Suci Hidup, saya duduk di tempat tidur saya, saya mengambil sebatang rokok dan korek apinya, lalu menyalakan dan menikmatinya isapan demi isapan, karena kerongkongan terasa kurang segar, sayapun spontan refelks mengambil air minum dan meminumnya, sambil nongkrong di samping tempat air minum, saya memandangi gelas kosong bekas air minum yang baru saja saya minum. Tiba-tiba Perasa’an saya berkata;

Perasa’an:
Para pujangga piawai dalam mengungkapkan apa yang terjadi pada zamannya dan menawarkan solusi yang bijaksana, bagaimana mensikapi ungkapan para leluhur yang telah merakyat seperti “Urip mung mampir ngombe”, Hidup hanya sesaat yang seakan hanya untuk minum beberapa tegukan saja, kemudian melanjutkan perjalanannya. Bukankah bangsa kita dalam keadaan carut marut, seperti ini juga dikarenakan ketidakpedulian sebagian masyarakat, yang hanya bisa mengeluh tanpa berkontribusi memperbaiki keadaan negerinya?

Saya menghela napas panang,,, dan tiba-tiba pula, Rasa saya berkata;
Rasa:
Sebagian masyarakat hanya memahami ungkapan sepotong-sepotong saja. Para leluhur juga mempunyai ungkapan “Sopo sing nandur winih bakal panen wohing penggawe”, Siapa yang menanam benih akan memetik buah tindakannya. Itu adalah ajaran untuk bertanggung jawab atas segala hal yang telah kita lakukan sebelumnya. Apa pun yang kita terima adalah akibat dari tindakan masa lalu kita. Tidak peduli itu buruk ataupun baik.

Perasa’an:
Benar juga, kita harus pandai memahami secara keseluruhan. Bukankah Sayidina Umar sang panglima perang pun sangat “Jawa”, karena beliau berkata bahwa “Pada hakikatnya setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu dan uang yang dimilikinya adalah pinjaman”. Seorang tamu pastilah cepat atau lambat akan pergi, dan pinjaman harus dikembalikan. Sayidina Umar pun berbicara tentang hukum aksi reaksi, hukum sebab akibat, yang pinjam akan mengembalikan.

Rasa:
Saya ingat pada buku “Ah, Hridaya Sutra” yang mengambil contoh Sang Sariputra, murid Sang Buddha Gautama, yang pernah saya baca sekitar tahun 2000 yang lalu.

Tinggal di Hotel Bumi ini, jadilah seorang tamu seperti Sariputra. Sadar sepenuhnya dan bertindak sesuai dengan kesadarannya, dia tidak perlu dibelenggu dengan rantai peraturan dan hukum hotel yang ditamuinya. Seorang tamu seperti Sariputra akan dipercayai penuh oleh manajemen hotel yang diinapinya. Mereka yakin bahwa ia tidak akan mencuri handuk dalam kamar mandinya. Tidak akan mencuri asbak dari ruangan tamunya. Tidak akan merusak penutup klosetnya. Ia dipercayai akan menjaga kebutuhan dan keindahan kamar yang disewanya.

Perasa’an:
Iya ya,,, mereka yang sadar tidak akan merusak bumi, tidak merusak lingkungan hidup, tidak merugikan masyarakat, tidak merekayasa tayangan, tidak menjadi makelar kasus pada profesinya……

Akan tetapi, bagaimana seandainya tamu tersebut mampir di Hotel Bumi yang berwujud negara penuh rekayasa ini ya… Raksasa masih jelas wujudnya, akan tetapi rekayasa? Mafia? Wajah bak satria tetapi berkelakuan raksasa. Kepala negara pun menyebut tentang pemberantasan “Mafia”. Satgas Pemberantasan Mafia Hukum yang dibentuk Kepala Negara menengarai di berbagai bidang terjadi “Mafia”. Disebutkan ada sembilan “big fish” yaitu mafia peradilan, mafia korupsi, mafia pajak dan bea cukai, mafia kehutanan, mafia tambang dan energi, mafia tanah, mafia perbankan dan pasar modal, mafia perikanan, mafia narkoba, sampai mafia Vagina dan Penis.

Kalau ada “big fish”, bagaimana “medium” dan “small fish”-nya. Pasti sudah menyebar ke mana-mana………

Mafia Asli sendiri mungkin geleng-geleng kepala melihat ilmunya berkembang luar biasa. Apakah “seorang tamu yang sadar” cukup “tidak ikut terlibat” dan segera melanjutkan perjalanannya?

Rasa:
Jujur saya tidak tahu persisnya. Tetapi leluhur kita menekankan dunia ini adalah sebuah panggung dan ada dalang, ada sutradaranya. Setiap orang diberi dharma, peran di atas panggung dunia yang harus dimainkannya. Sang pemain harus selalu ingat pada Sang Sutradara, untuk memahami peran apa yang harus dilakukannya. Agar selalu ingat pada Sang Sutradara, sang pemain harus berkawan, berada dalam kelompok, sangha yang selalu mengingat Sang Sutradara. Seorang pemain yang sadar akan melakukan peran yang dibebankan Ilahi kepadanya secara sebaik-baiknya.

Perasa’an:
Seseorang yang melakukan peran penyebar kebaikan, mengingatkan teman-teman atau murid-muridnya akan Kebenaran. Kemudian beliau mendapatkan ketidakadilan di negeri penuh rekayasa ala mafia di mana dia tengah melakukan sebuah peran. Peran yang diberikan Ilahi kepadanya yang harus dia mainkan.

Rasa:
Pengetahuan kita baru sebatas hukum sebab-akibat dan hukum evolusi. Kita belum tahu peraturan bagi “mereka” yang sudah melampauinya. Hukum diapers yang berlaku bagi para bayi yang masih suka ngompol, sudah tidak berlaku lagi bagi seorang anak yang 3-4 tahun usianya. Demikian pula dengan dharma. Dharma seorang bayi lain dengan dharma orang dewasa. Dharma “Para Suci” lain pula. Hukum alam berlaku selama kita masih berada dalam dunia. Dan dharma atau hukum alam memang bersifat sementara. Ada peraturan baru, dan peraturan lama pun ditinggalkannya. Ada yang kurang baik, maka diperbaikinya. Ada yang dikurangi, ada juga yang ditambahnya. Selama kita masih “terikat” dengan alam, mau tak mau kita harus tunduk pada hukumnya. “Para Suci” telah melampaui mind, telah melampaui dualitas, hukum mereka lain pula.

Perasa’an:
Itulah perlunya seorang Pemandu Spiritual bagi kita. Apakah kita berani mengatakan Sang Buddha Gautama meninggal karena racun yang diakibatkan oleh hukum sebab-akibat masa lalunya?

Apakah kita berani mengatakan Gusti Yesus disalib dan sebelumnya diperintah mengangkat salibnya sendiri karena karma?

Tidak,,, kita tidak berani karena kita tidak paham dengannya. Dharma mereka lain dengan dharma kita, hukum bagi mereka tidak sama dengan hukum bagi kita. Masyarakat menganggap Syeh Siti Jenar dan Al Halaq dibunuh karena kesalahan mereka, apakah demikian bagi Gusti Yang Maha Kuasa? Wallahu alam bisawab, Gusti yang mengetahuinya.

Rasa:
Benar,,, ya benar, kita masih terkurung dalam lapisan-lapisan pikiran kita. Lapisan pola pikiran pertama kita warisi dari kelahiran sebelumnya. Obsesi-obsesi dari masa lalu, keinginan-keinginan yang tidak tercapai dalam masa kelahiran sebelumnya, yang melekat sebagai sifat bawaan kita……. Heeemmmmm,,,,,edan tenan.

Lapisan pola pikiran kedua terbentuk dalam kelahiran kini. Keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi dalam kehidupan saat ini. Lapisan pola pikiran ketiga kita peroleh dari masyarakat, hukum negara, dogma agama, kode etik yang semuanya ikut membentuk lapisan yang ketiga ini. Lapisan-lapisan tersebut bagaikan kurungan diri. Kita belum hidup bebas sejati.

Perasa’an:
Bukankah dalam Kitab Srimad Bhagavatam dikisahkan, bahwa Penjaga Istana Vaikunta Jaya dan Wijaya, harus lahir sebagai Hiranyaksa dan Hiranyaksipu, kemudian lahir lagi sebagai Rahwana dan Kumbakarna dan terakhir lahir sebagai Sisupala dan Dantavakra? Kita melihat mereka sebagai tokoh-tokoh yang jahat, padahal mereka sedang memainkan peran Ilahi yang diamanatkan kepada mereka. Dan mereka menjalankan peran sebaik-baiknya.

Rasa:
Berikut ini adalah penjelasan yang saya ingat dari buku “Ah, Hridaya Sutra”. “Hukum Alam” bersifat ganda ada dan tidak ada. Persis seperti pertunjukan film. Sebagai “pertunjukan” ada, nyata. Tetapi, keber-“ada”-annya, ke-“nyata”-annya hanya “sebatas” pertunjukan film saja. Peran jelek tidak ikut menjelekkan kepribadiannya. Peran bagus tidak ikut memperbaiki kepribadiannya pula. Dan kita semua sedang berperan di atas film dunia. Tidak ada peran yang jelek dan peran yang baik sesungguhnya.

Perasa’an:
Benar,,, ya benar begitu, seorang pemain film, pemain sinetron, pemain teater tahu persis bahwa tidak ada peran yang jelek, yang “kotor” dan tidak ada peran yang baik, yang “bersih” adanya. Peran adalah peran, tergantung bagaimana dimainkannya. “Seorang pemain yang sadar”, memahami bahwa kepribadiannya tidak akan terpengaruh oleh peran yang dimainkannya…………..

Jati diri kita adalah suci, murni dan tidak terpengaruh apa pun juga.
Rasa:
Hukum Sebab-Akibat hanya berlaku bagi jenis kehidupan yang memiliki mind. Karena yang menciptakan dualitas antara baik dan buruk, antara panas dan dingin adalah mind. Pengalaman-pengalaman spiritual para santa, santo, wali, pujangga, yogi membuktikan bahwa manusia bisa hidup “tanpa mind”………

Dan, bahkan lebih baik kualitasnya! Penggunaan mind bisa diminimalkan, cukup untuk mengatur anggaran belanja dan sebagainya. Untuk hal-hal yang masih membutuhkan perhitungan dan matematika…… Hingga pada suatu ketika, mind tidak dibutuhkan sama sekali. Bila mind sering-sering mengalami “kematian”, entah lewat “tidur pulas” atau lewat meditasi, lama-lama ia akan “beneran” mati… He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU SAUDARA-SAUDARI SAYA SEMUANYA TANPA TERKECUALI… MUGA POSTINGAN SAYA INI. ADA MANFAAT DAN HIQMAHNYA . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com
https://padepokanonlinekuncithepower.wordpress.com

Moksha. Mati Sajroning Ngaurip:


Moksha. Mati Sajroning Ngaurip:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes. Hari selasa kliwon. Tgl 4 agustus 2015

Jivan-Mukta, Moksha Selagi Hayat Masih Dikandung Badan;
Di depan sebuah laptop, saya membuka situs web Blog dan wordpress milik saya sendiri, saya bermaksud mau posting artikel tentang dialog antara Rasa dan Perasa’an saya, yang saya alami di malam selasa keliwon tgl 4 agustus 2015, tentang “Urip mung mampir ngombe”,
Ketika conexsi internet saya aktifkan, lebih dari satu jam, saya tidak bisa membuka situs web milik saya, karena jaringan internetnya sedang trobel, leletnya minta ampun. Ketika saya mendesah kesal, tiba-tiba Rasa saya berkata mengajak Perasa’an saya;

Rasa:
Mari kita lihat lihat lembarang buku lama tentang perjalanan kehidupan. Sambil menunggu jaringan internetnya normal. Bukan suatu kebetulan bila seorang teman, di kala mahasiswa mengirimkan penjelasan Tembang Jawa secara kronologis, sesuai tahapan kehidupan. Diawali Tembang “Maskumambang”, emas yang “kumambang”, terapung, saat manusia berwujud janin yang terapung dalam air ketuban. Kedua “Mijil” berarti keluar dari goa garbanya sang ibu, di saat kelahiran. Dilanjutkan “Kinanti”, di-“kanthi”, digandeng tangannya diajari berjalan menapaki kehidupan. Kemudian “Sinom”, menjadi “nom-noman”, remaja usia belasan. Setelah itu “Asmaradhana”, gelora asmara sewaktu dewasa, dalam rangka mencari pasangan.

Selanjutnya memasuki “Gambuh” gabungan, membentuk rumah tangga untuk membuat anak keturunan. Selanjutnya “Durma”, aktif berdharma bhakti bagi negara sebagai pahlawan.

Diteruskan “Dhandhanggula”, mengolah “gula”, menikmati manisan kehidupan. Kemudian sudah saatnya “Pangkur”, mungkur, undur diri dari keduniawian. Diteruskan “Megatruh”, persiapan “megat” ruh, memisahkan ruh dari badan. Akhirnya “Pocung”, dipocong ditutupi kain kafan.

Perasa’an:
Benar juga kata para orang tua, bahwa banyak orang yang lupa “Jawa”-nya, lupa etika tata krama dan tahapan kehidupannya. Melupakan kronologis, tahapan kehidupan dari Tembang Jawa. Sudah “sepuh”, tua tetapi tak mau “mungkur” juga, tak berkeinginan mengundurkan diri dari jabatannya. Tidak bisa mempercayai generasi muda, karena masih ingin memperpanjang “Dhandhanggula”, menikmati manisnya kekuasaannya. Orang yang semestinya menyanyikan lagu pucung yang penuh canda ria, gembira dipanggil Yang Maha Kuasa, masih menembangkan “Kinanthi”, tidak berani memberdaya diri sendiri juga. Bahkan ada juga yang hidupnya seperti “Maskumambang”, menangis terombang-ambing ombak kehidupan dunia… He he he . . . Edan Tenan.

Rasa:
Saya ingat nasehat almarhum Yth Guru spiritual saya dari jung jatim banyuwangi, bahwa kehidupan batin seseorang, semestinya lebih tua daripada kondisi fisiknya. Usia boleh tiga puluhan, tetapi sebaiknya sudah empat puluhan usia kehidupan batinnya. Usia boleh empat puluh limaan, tetapi sudah pensiunan kehidupan batinnya. Sayangnya kebalikannya yang sering terjadi. Usia setengah baya pergi ke disko setiap hari. Kijang tua karoseri tahun 80-an dipakai “ngebut pol” di jalan tol, motor butut di pakai balapan di gang kampung yang banyak anak-anak balita sedang bermain, Berapa lama sih daya tahan diri?

Perasa’an:
Yth guru mu itu sudah memahami antara kedewasaan dan ketahanan diri. Tetapi mengapa beliau tidak lebih progresif lagi? Mengapa setelah tua baru berpikir mati? Mengapa tidak berpikir tentang mati pada saat ini? Bukankah fisik manusia tidak abadi? Sedangkan keinginan tidak punya batasan. Sehingga menjelang ajal selalu ada kekecewaan. Terlambat sudah datangnya penyesalan.

Rasa:
Para leluhur mempunyai ungkapan “mati sajroning ngaurip”, selagi hidup sudah mati. Hampir sama dengan istilah zuhud, melepaskan keterikatan terhadap duniawi. Bagi musafir perjalanan Ilahi, mengikatkan diri pada keduniawian, berarti perjalanan terhenti. Ada juga ungkapan leluhur, bahwa hidup hanya sekedar mampir minum, berhenti sejenak lalu melanjutkan perjalanan lagi. Intinya hidup perlu dijalani tanpa keterikatan pada hal-hal yang bersifat duniawi………

Perasa’an:
Benar juga tuh, selama masih mempunyai keterikatan, hidup yang nampak “bebas” dalam dunia tidak menjamin kebebasan bagi jiwa. Sesungguhnya, dunia ini sendiri merupakan kurungan bagi jiwa. Jiwa kita jauh lebih luas daripada dunia di mana kita berada. Dunia kita sangat sempit dan menyesakkan jiwa. Kebahagiaan datang dari kebebasan jiwa. Jiwa yang masih belum bebas, yang masih terkurung, tidak paham Kebebasan itu apa dan bagaimana? Merdeka itu apa dan bagaimana? Tenteram itu apa dan bagaimana?

Kita takut mati seperti narapidana yang sedang menunggu hukuman mati. Narapidana tersebut lupa arti kebebasan diri. Yang dikejar hanyalah kesenangan-kesenangan tak berarti dalam bui. Kesenangan di tengah ketakutan akan datangnya hukuman mati. Kita sudah terbiasa hidup dalam penjara diri. Meski terbelenggu konsep-konsep keliru, dan terpenjara oleh tradisi-tradisi yang memperbudak jiwa, tetap saja tidak kita sadari. Padahal penjara diri hanya berupa pola pikiran tertanam yang bisa dilampaui. Manusia bisa keluar dari belenggu pikiran menuju kebebasan sejati.

Rasa:
Dulu saya pernah baca buku, tentang Sri Mangkunagoro IV dalam kitab Wedhatama menyatakan bahwa seseorang yang tidak sadar adalah orang yang sakit, tidak sehat jiwanya. Beliau tidak menjatuhkan vonis, bahwa orang yang tidak sadar itu berdosa. Pandangan Beliau akan dibenarkan para ahli ilmu jiwa. Yang sakit jiwa, merasa dirinya hampa, akan selalu mengejar tahta, ketenaran dan harta. Sedang sakit, seseorang ingin menonjolkan dirinya. Yang sakit jiwa merasa begitu kosong, tak berdaya, sehingga membutuhkan pengakuan dari masyarakatnya. Padahal tahta, ketenaran, harta, wanita atau lelaki dan pengakuan masyarakat adalah keterikatan nyata. Tanpa itu semua, dia tidak bahagia. Dia terpenjara oleh keterikatannya. Dan konyolnya, dia tidak sadar bahwa dirinya sedang sakit jiwa.

Perasa’an:
Moksha atau Kebebasan bukanlah sesuatu yang harus dikerjakan menjelang akhir kehidupan. Moksha tidak berada di ujung kehidupan sebelum datangnya kematian. Moksha harus diupayakan saat ini juga. “Jivan-Mukta” atau “Bebas dalam Hidup” adalah sesuatu yang tidak dapat ditunda. Tanpa kebebasan itu, manusia tidak mampu untuk mengungkapkan kesempurnaannya.

Rasa:
Sebetulnya, setiap agama mengajak kita untuk mengalami kematian selagi masih hidup, masih bernyawa. Kematian yang dimaksud adalah kematian ego kita, keangkuhan kita, kesombongan kita, kesia-siaan kita, kebodohan kita, ketaksadaran kita, keserakahan kita, kebencian kita, keirian kita, kecemburuan kita, dan lain sebagainya. Banyak yang malas untuk mengupayakan surga dalam kehidupannya. Mereka yang masih terbakar oleh hawa nafsu dan enggan untuk mematikan api tersebut, sudah pasti menolak Moksha.

Perasa’an:
Kebebasan yang disebut Nirwana, adalah padamnya api nafsu yang menyebabkan derita. Nirwana pun haruslah terjadi selagi kita masih bernyawa. Paripurna atau Maha Nirwana, Nirvana Yang Sempurna yang terjadi saat kematian, hanyalah bersifat simbolik saja. Semacam pengukuhan dari semesta yang diperoleh setelah seorang suci mengalaminya terlebih dahulu dalam kehidupannya. Moksha, Nirwana, Surga, Kerajaan Allah dan banyak istilah lainnya, namun yang dimaksud adalah satu dan sama …… “The Blossoming of Human Excellence”,
Berkembangnya kemanusiaan dalam diri Manusia. Itulah Kesempurnaan Diri Manusia.

Rasa:
Moksha, dalam pemahaman Vedaanta, bukanlah pembebasan dari pikiran-pikiran rendah dan hina saja, tetapi pembebasan dari pikiran itu sendiri. Tidak pula berarti bahwa kita harus membenci pikiran atau menafikan sama sekali…..

Pikiran perlu dibebaskan dari segala macam keinginan. Bukan saja keinginan untuk mendapatkan kedudukan dan ketenaran, keinginan untuk mati syahid pun keinginan. Keinginan untuk menemukan Tuhan pun keinginan. Sesungguhnya keinginan-keinginan kita itu justru memisahkan kita dari-Nya. Keinginan untuk menemukan sesuatu yang sebetulnya ada. Hilangnya Tuhan dari hidup kita betul-betul karena keinginan kita untuk menemukan-Nya. Karena “kehilangan Tuhan” itu terjadi dalam pikiran kita. Kehilangan itu adalah ilusi pikiran kita. Untuk menemukan kembali apa yang “terasa” hilang itu, kita harus menaklukkan perasaan kita. Kita harus mengoreksi sendiri pikiran kita… He he he . . . Edan Tenan.

Vedaanta menyatakan bahwa pikiran bukanlah segalanya. Logika adalah hasil dari sebagian otak saja. Dari bagian kiri otak, dan masih ada bagian kanan yang sama besarnya. Masih ada juga batang otak yang bekerja untuk mengkoordinasikan apa yang ada di otak kanan dan otak kirinya. Masih ada bagian lymbic yang berisi insting-insting dasar manusia. Vedaanta melihat manusia sebagai satu kesatuan. Pikiran adalah bagian kecil dari kesatuan. Dan, logika adalah bagian kecil dari pikiran. Jika menjalani hidup berdasarkan logika saja, maka tak akan meraih kesempurnaan. Jelas tidak bisa, karena hanya mengembangkan satu bagian. Bebaskan diri dari kekerdilan! demikianlah seruan Vedaanta. Bebaskan diri dari ketergantungan pada logika. Karena, apa yang disebut logika atau pikiran logis itu hanyalah berdasarkan ilmu yang diperoleh selama hidupnya. Yang ada keterbatasannya.

Perasa’an:
Moksha bukanlah urusan akhirat, urusan laduni atau dunia lainnya. Moksha adalah urusan dunia. Jiwa yang tidak bebas hanya dapat berhamba. la sangat miskin dan tidak mampu berbuat sesuatu yang berharga. Sebab itu, terlebih dahulu ia harus mengupayakan kebebasan bagi dirinya. Moksha adalah Kebebasan untuk Berpikir, Kebebasan untuk Merasakan, Kebebasan untuk Berkarya. Hanyalah seorang Manusia Bebas yang dapat mengungkapkan Kemanusiaannya. Namun, Kebebasan yang dimaksud bukanlah Kebebasan anarkis juga. Kebebasan yang dimaksud adalah Kebebasan yang Bertanggung-Jawab, Kebebasan yang Menguntungkan bagi Seluruh Jagad Raya.

Rasa:
Bumi berputar tiada hentinya. Dia tak punya keterikatan dengan peristiwa yang terjadi di atas permukaan dirinya. Matahari pun selalu bersinar. Tidak punya keterikatan, tidak terpengaruh banyaknya orang sadar maupun tak sadar. Apa yang terjadi bila bumi beristirahat sebentar? Semua yang ada di atas permukaan bumi terlempar. Apa yang terjadi bila matahari jenuh bersinar? Semua makhluk kedinginan dan punah, tak ada kehidupan yang mekar……

Bisakah kita meneladani mereka. Bertindak luhur, penuh kasih dan mulia. Tidak punya keterikatan dengan apa pun juga. Merekalah contoh yang tidak punya keterikatan selain menjalankan dharmanya…….

Usia boleh menua, akhirnya fisik akan di daur ulang Sang Kala. Akan tetapi Kasih dalam diri abadi sepanjang masa. Setiap saat penuh Kasih terhadap alam semesta, hidup dalam kekinian, lepas dari jerat putaran Sang Kala. Terus berkarya dalam putaran Dharma. “Mati sajroning ngaurip”, sudah mati keinginan pribadi terhadap keduniawian yang fana. “Mati sajroning ngaurip” merupakan ajaran luhur, yang telah lama terkubur, saatnya bangkit dari “tidur”…… dan berjalan kembali… He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU SAUDARA-SAUDARI SAYA SEMUANYA TANPA TERKECUALI… MUGA POSTINGAN SAYA INI. ADA MANFAAT DAN HIQMAHNYA . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com
https://padepokanonlinekuncithepower.wordpress.com

Sesal dan Kuatir:


Sesal dan Kuatir.
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes. Hari Rabu Tgl 29-Juli-2015
Menyesal ialah takut akan pengalaman yang telah dialami. Khawatir ialah takut akan pengalaman yang belum dialami. Menyesal dan khawatir ini yang menyebabkan orang bersedih hati, prihatin, hingga merasa berdosa, salah, bahkan celaka.

Contoh dari menyesal:
“Andaikata dulu aku bertindak demikian, bahagialah sudah aku ini”
Tidakah berdosa, salah, dan celaka kah jika begini…?!

Menyesal ialah takut akan pengalaman masa lampau yang menyebabkannya jatuh celaka, susah selamanya dalam keadaan miskin, hina, lemah. Bila orang mengerti bahwa hidup itu abadi, pasti dapatlah ia menasehati dirinya sebagai berikut:
“Walaupun dulu bagaimana saja, pasti rasanya sebentar senang sebentar susah.”
Kemudian lenyaplah penyesalan semacam tadi.

Berlarut-larutnya penyesalan ini sampai menimbulkan ketakutan pada hal yang makin aneh ialah takut hidupnya tersesat:
“Andaikata dulu tidak menjadi anak ibu dan ayah ini, pasti aku bahagia”
Dan tidakah berdosa, salah, dan celaka kah bila seperti ini…?!

Tetapi bila saja tau dan mengerti serta memahami bawa Hidup itu abadi, ia dapat menasehati dirinya sendiri:
“Walaupun dulu menjadi anak ibu-ayah ini atau tidak, tentu rasanya sebentar senang sebentar susah” Maka lenyaplah penyesalan tadi.

“Andaikata dulu aku tidak salah memperoleh suami/isteri dan anak si kunyuk (si dogol) itu, pastilah aku bahagia dan tidaklah celaka.”
Tetapi bila ia mengerti bahwa Hidup itu abadi, dapatlah ia menyadarkan dirinya:
“Walaupun dulu aku mempunyai suami/isteri dan anak seperti kunyuk-kunyuk itu atau tidak, rasaku tentu sebentar senang, sebentar susah,” Maka lenyaplah penyesalan tadi.

Demikian pula kekhawatiran yang berupa takut akan pengalaman yang belum dialami, contohnya: “Bagaimanakah nanti akhirnya bila aku tidak mencapai kebahagiaan yang kucita-citakan, tetapi tetap celaka seperti sekarang ini”
Tetapi jika orang mengerti bahwa Hidup itu abadi, dapatlah ia menyadarkan dirinya: “Walaupun kelak akan terjadi apa saja, rasanya pasti sebentar senang sebentar susah,” Maka lenyaplah kekhawatiran tadi.

Sedulurrr…
Kegembira’an, duka cita, panas dingin, adalah pengalaman sementara yang muncul ke luar dari hubungan dengan obyek indera, wahai Putera Rama. Kamu harus belajar memahami hal itu wahai keturunan Cinta Bapak Dan Ibu.

Yang berubah dengan waktu tidak bisa dianggap abadi dan bukan merupakan kebenaran, karena kebenaran itu tidak bersifat sementara maupun berubah, dan dia tak termusnahkan. Ini adalah kesimpulan para bijak yang telah mewaspadai aspek keduanya.

Rasa itu Abadi, Kesadaran itu Abadi, hanya dapat diperoleh dengan jalan rangkap tiga, yaitu:
Krasa. Rumangsa. Ngrasakaken.
membuang Krasa: Keinginan. Naluri. Dorongan, atau ketagihan yang ada dalam pikiran bawah sadar).

Melenyapkan Rumangsa: Kumpulan pikiran. Emosi, atau ego, yang menyebabkan diri terbelenggu oleh Perasa’an).

Menganalisis pengalaman untuk memahami kenyataan, membuat created mind yang benar. Yaitu Ngrasakaken. Tanpa ketiga hal ini, penghayatan tentang Rasa Abadi tidak akan timbul. Krasa mendesak Rumangsa manusia menuju dunia yang berhubungan dengan indera dan mengikat manusia pada kegembiraan serta kesengsaraan. Karena itu, Krasa dan Rumangsa harus dipadamkan, agar bisa Ngrasakaken/Merasakan. He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU SAUDARA-SAUDARI SAYA SEMUANYA TANPA TERKECUALI… MUGA POSTINGAN SAYA INI. ADA MANFAAT DAN HIQMAHNYA . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com
https://padepokanonlinekuncithepower.wordpress.com

TAKUT…!!! APA ITU TAKUT…???


Web Kadhangan
TAKUT…!!! APA ITU TAKUT…???
Berikut ini PENJELASAN Tentang Takut dan Soal Takut.
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Iddu Fitri 1436. H. Hari Jumat Pahing. Tgl 17 Juli 2015

Sedikit Soal Definisi “TAKUT”
1. Takut: Merasa Gentar ngeri menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan bencana; Jika Istri/Suami marah/minta cerai nantinya, jika anak kecewa, jika celaka, jika tidak berhasil, jika tidak makan, jika tidak selamat dll. Akhirnya, tidak punya nyali atau keberanian untuk ber HAM. Sehingganya jadi pengecut dan pecundang; Keinginan, cita-cita dan harapan menjadi pupus dan sirna. (TERPURUK) Pamungkasnya TRAUMA.

2. Takut-Takut: Merasa tidak yakin/percaya sehingga Setengah-setengah dalam berkesimpulan/berkeputusan; Jangan2x Istri/Suami curiga, jangan2x tidak bisa, jangan2x berakibat fatal, jangan2x tambah parah, jangan2x dan jangan2x dll. Akhirnya, bimbang, gelisah, khawatir, kacau-balau, ragu-ragu, segan atau segan-segan, malu atau malu-malu dll. Semangat dan selera jadi hilang dan lenyap (TERBELENGGU) Pamungkasnya TRAUMA.

Sedikit Tentang Hakikat ”TAKUT”
Takut itu ibarat dari kepedihan dan kebakaran hati, disebabkan terjadinya yang tidak disukai pada masa depan atau hari esok yang dikiranya, yang disangkanya, yang diduganya akan seperti egonya. Padahal itu belum tentu, karena masa depan dan hari esok, adalah masih milik Hyang Maha Suci Hidup.

Sekali lagi saya katakan; sesungguhnya takut adalah ibarat dari kepiluan hati dan kebakaran hati. Dan kebakaran hati itu, ialah Takut;
Barang siapa yang hatinya jinak hanya kepada Allah, bukan kepada selain Allah dan hatinya memiliki kebenaran yang Hidup, maka jadilah ia anak zamannya yang menyaksikan ke elokan al-Haq secara terus menerus, maka tiadalah ia akan menoleh kepada masa yang akan datang. Maka tidak terdapat dalam dirinya suatu perasaan takut maupun ragu, akan masa depan, masa yang akan datang atau hari esok yang belum menjadi milik kita tersebut.

TAKUT:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Ketika Aku bertemu dengan kalajengking atau mungkin binatang yang lebih mengerikan lagi seperti kecoa, Aku membunuhnya. karena takut.
Ketika Aku bertemu dengan Harimau atau Singa atau ular berbisa, Akupun melarikan diri karena takut.
Ketika Aku di olok-olok oleh teman bahwa aku penakut, maka kupukul temanku itu. Aku tidak takut karena Aku merasa kesal dan marah. Demi untuk mempertahankan harga diriku.

Ketika Aku sedang beribadah. Sholat/semedi dllnya. Aku menundanya ketikan Sang Permaisuruku memanggil, menyuruh dll. Karena Aku takut kalau istriku akan marah dan tersinggung jika tidak lebih di pentingkan. Aku takut kalau permaisuriku akan minta cerai jika marahnya sudah kelewat. Aku takut kehilangan sang permaisuriku yang denog deblon moblong-moblong yang bohay itu.

Ketika Aku Mendapat kabar teman atau tetanggaku sakit.
Namun Aku lebih memilih pekerja’anku. Karena Aku takut tidak mendapat penghasilan yang nantinya akan membuatku jadi tidak bisa makan dan merokok.

Ketika Aku Mengetahui ada acara kekadhangan/pengajian akbar.
Namun aku lebih memilih menghibur/ngeloni anak astriku. Karena Aku takut anaku menangis dan istriku kecewa. Karena Aku takut anaku sakit hati dan istriku tidak ngasih jatah birahiku.

Ketika Aku diajak ngobrol soal Tuhan dan tentang Tuhan.
Namun Aku lebih memilih menepati janjiku kepada rekan bisnisku, dengan pacarku. Karena Aku takut nama baiku akan tercemar dan harga diriku rusak.

Ketika Aku ingin laku mendekatkan diri kepada Tuhan.
Namun Aku lebih memilih mendekatkan diri pada istriku, anaku, keluargaku, temanku, pacarku, kepertinganku, keperluanku dll. Karena Aku takut kehilangan dan mengecewakan semua itu.

Ketika Aku melihat kebaikan dan kebenaran disuatu ketika.
Namun Aku lebih memilih berpaling dan menghindar karena kebaikan dan kebenaran itu datangnya dari sesuatu yang tidak saya suka, dari orang yang saya benci. Karena Aku takut dianggap remeh dan sepele (GENGSI)

Pernah kucoba membunuh takut dalam diriku ini, dengan cara melakukan bunuh diri. tapi tidak jadi, karena Aku takut mati.

Akupun tetap hidup dan menemukan ketakutan-ketakutan lainya, aku takut menjadi miskin, aku takut tidak mendapat pekerjaan, takut anaku tidak makan, takut istriku berpaling, takut tidak mendapat kepercaya’an dari sesama, takut jadi pengangguran,,, bla,,,bla,,,bla,,, dll.

Dan Aku masih bertahan hidup demi takut itu.
Dan semakin takut, akhirnya trauma itu membelenggu diriku. Lama-lama Aku berpikir bagaimana jika kelak aku takut hidup. Dan akhirnya aku benar-benar takut hidup.

Dan kucoba lakukan bunuh diri untuk yang kedua kali, tapi aku takut matinya nanti masuk neraka… Disini saya tertawa… He he he . . . Edan Tenan.

Ternyata aku telah di permainkan dan diolok-olok oleh takutku sendiri. Aku mulai kesal, dan menyesal, berani memukul orang yang pernah mengolok-olokku dulu, ternyata itu tidak benar. Yang benar adalah aku harus memukul takutku sendiri, karena yang mempermainkan Aku adalah takutku sendiri, bukan orang-orang itu.

Mengapa aku selalu ditakut-takuti oleh hal-hal yang ada di imajinasiku sendiri. Oleh duga’anku sendiri, oleh sangka’anku sendiri, oleh raba’anku sendiri. Oleh sesuatu yang belum tentu terjadi benar.

Aku jadi ingat dulu ketika aku menyukai seorang perempuan dan aku takut untuk mengatakanya. Tapi kupaksa diriku mengatakanya dan memintanya menjadi pacarku karena aku punya keinginan yang kuat untuk memilikinya.

Dan ternyata dia tidak semenakutkan yang saya duga dan sangka.
Kesimpulanku adalah ; Takut adalah suatu kekhawatiran tanpa dasar sama sekali. Takut adalah malu. Takut adalah ketidaksiapan. Takut adalah mengetahui kekuatan-kekuatan yang lebih besar diluar diri kita. Takut adalah aib. Akhirnya kutemukan cara agar tidak takut, yaitu menjadi sesuatu yang menakutkan. Wahahahhaha…… Edan Tenan. Tapi ingat… yen wani aja wedi-wedi. Yeng wedi aja wani-wani.

Ketika Aku lebih menakutkan dari apapun diluar sana. Maka semua menjadi kadhangku, segalanya menjadi kekasihku, termasuk setan dan pasukanya, termasuk cacing, ulat bulu, kucing, tikus, cicak dan hal-hal lain yang sangat menakutkan lainnya… “MAKA”…. Jadikan Dirimu Semenakutkan mungkin dan kau akan kalahkan sendiri takutmu itu, dengan sangat Mudah.

Orang yang pemberani adalah orang yang tidak memiliki kekhawatiran/keraguan akan apapun, karena dia lah yang sungguh sangat menakutkan. Cobalah dan jangan takut salah, kalaupun kau salah jangan takut untuk mengakuinya. SELESAI.

Bagi saya Wong Edan Bagu. Di dunia ini dan akherat nanti. Tidak sada satupun yang menakutkan. Hanya satu yang kutakutkan di dunia ini dan di akherat nanti, tapi bukan karena DIA sangat menakutkan, namun karena Aku tidak bisa membuatNYA “takut” Yaitu Hyang Maha Suci Hidup. He he he . . . Edan Tenan. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Sukses selalu untukmu sekalian Pro Kadhang Kinasihku Semuanya tanpa Terkecuali. Selamat Merayakan Hari Raya Iddul Fitri 1436. H. Minal Aidzin wal faizin. Mohon Ma’afkan Kesalah dan Dosa serta Luput saya lahir hingga bathin ya. Sebaliknya, sebelum dimintai ma’af. Dengan ketulusan kasih hati. Sayapun telah ma’afkan Jua. Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com
https://padepokanonlinekuncithepower.wordpress.com

Jalan dan Proses Paling Rumit dan Sulit. Bagi Para Pelaku keTuhanan:


11014821_874474305940051_6594944861690781623_n
Jalan dan Proses Paling Rumit dan Sulit.
Bagi Para Pelaku keTuhanan:
Oleh Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes. Hari Selasa wage Tgl. 14-Juli-2015
Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Sukses Selalu untuk sekalian saudara-saudariku semuanya tanpa terkecuali. Tau tidak…?! Apa yang membuat para pelaku keTuhanan itu sedih dan pedih Bahkan merasa hancur dan lebur? Ketika berhasil mengenali Tuhannya. Memahami Tuhannya. Mengerti tentang Tuhannya…

Kesedihan dan Kepedihan bagi Para Pelaku keTuhanan yang sudah berhasil mencapai puncaknya. Adalah… Ketika Tuhan memberitahunya, bahwa ada keluarga atau saudaranya yang di cintai dan di sayangi tidak mendapatkan Ridha/Restu atau pengampunan dari Tuhan. Istilah dalam agamanya, tidak mendapat surga, melainkan masuk ke neraka.

Tidak dipungkiri bahwa kedudukan para Nabi dan Rasul itu tinggi di mata Allah. Namun hal itu bukanlah sebagai jaminan bahwa seluruh keluarga Nabi dan Rasul mendapatkan petunjuk dan keselamatan serta aman dari ancaman siksa neraka karena keterkaitan hubungan keluarga dan nasab. Allah telah berfirman tentang kekafiran anak Nabi Nuh ‘alaihis-salaam yang akhirnya termasuk orang-orang yang ditenggelamkan Allah bersama orang-orang kafir:

Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim “.

Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”.

Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” [QS. Huud : 44-46].

Allah juga berfirman tentang keingkaran Azar ayah Nabi Ibrahim ’alaihis-salaam :
Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun” [QS. At-Taubah : 114].

Dan Allah pun berfirman tentang istri Nabi Luth sebagai orang yang dibinasakan oleh adzab Allah :
Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). [QS. Al-A’raf : 83].

Tidak terkecuali hal itu terjadi pada kedua orang tua Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam. Mereka berdua – sesuai dengan kehendak kauni Allah ta’ala – mati dalam keadaan kafir. Hal itu ditegaskan oleh beberapa nash di antaranya:

Al-Qur’an Al-Kariim:
Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam” [QS. At-Taubah : 113].

Sababun-Nuzul (sebab turunnya) ayat ini adalah berkaitan dengan permohonan Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam kepada Allah ta’ala untuk memintakan ampun ibunya (namun kemudian Allah tidak mengijinkannya) [Lihat Tafsir Ath-Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir QS. At-Taubah : 113].

Begitupun dengan apa yang saya alami.
Dulu… Sewaktu saya pertama kali mengetahuinya. Saya terasa hancur berkeping-keping. Serasa semuanya sia-sia dan tanpa guna. Ketika di beritahu. Bahwa tidak ada satupun keluarga saya, yang tidak mendapat jatah Wahyu Panca Gha’ib. Terpilih menjadi Putera Rama yang memiliki KUNCI alias Pelaku Hakikat Hidup. Bertahun-tahun saya terbelenggu di dimensi ini. Upaya apapun saya lakukan, agar supaya keluarga saya, bisa terpilih. Terutama Bapak dan Ibu saya.

Namun… Seiring berjalannya waktu yang teramat panjang dan proses yang terus menerus tanpa henti, sampailah saya pada Kesaksian yang baru saja saya alami sendiri Di Ruang Klinik Rawat Inap no 7. PKU Muhammadiyah Ibnu Shina. Jl. Merdeka no. 29. Banjarharjo Bebes Jateng. Pada malam Rabu Pon tgl. 8 juli 2015. Tepat di hari weton kelahiran saya sendiri. Subhanallah… Dan sejak hari itu, Saya menjadi benar-benar IMAN dan BerIMAN. Sehingganya… Perasa’an Takut. Wass. Ragu. Bingungpun, berhasil saya kuasai.

Disinilah letak bedanya dan Inilah yang membedakan Wahyu Panca Gha’ib (KUNCI) Dengan Ajaran dan Pelajaran apapun itu benderanya. Di KUNCI… Walau tidak satupun keluarga yang kita cintai tidak terpilih, tidak menjapatkan jatah. Tapi kitanya yang mendapatkan jatah dan terpilih sebagai Pelaku Wahyu Panca Gha’ib (KUNCI). Mendapatkan Haq dan Memiliki Haq. Untuk menyempurnakan mereka yang kita cintai dan sayangi itu… Subhanallah… bener-bener uedan tenan…he he he. KUNCI… Edan Tenan… PERCAYALAH.
SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU SAUDARA-SAUDARI SAYA SEMUANYA TANPA TERKECUALI… Monggo Kerso Njih… Keputusan ada pada diri Anda sendiri. Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com
https://padepokanonlinekuncithepower.wordpress.com

Sakaratul Maut, Adalah, Detik-Detik Yang Menegangkan Dan Menyakitkan:


22330_2496443948640_483704772_n
Sakaratul Maut, Adalah, Detik-Detik Yang Menegangkan Dan Menyakitkan.
Bagi setiap makhluk hidup tanpa terkecuali.
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes Jateng Hari Jumat Kliwon Tgl. 10 Juli 2015

SAKARATUL MAUT, DETIK-DETIK YANG MENEGANGKAN LAGI MENYAKITKAN. Kematian itu, datangnya dengan tiba-tiba, tidak peduli waktu dan tempat serta tidak pandang bulu, usia, jenis kelamin, keada’an, harta, tahta, pangkat derajat, ilmu dll.

Kematian akan menghadang bagi setiap makhluk hidup. Proses tercabutnya ruh manusia, akan diawali dengan detik-detik menegangkan lagi menyakitkan. Peristiwa ini dikenal sebagai sakaratul maut. Saya telah mengalaminya sendiri. Di Ruang Klinik Rawat Inap no 7. PKU Muhammadiyah Ibnu Shina. Jl. Merdeka no. 29. Banjarharjo Bebes Jateng. Pada malam Rabu Pon tgl. 8 juli 2015. Tepat di hari weton kelahiran saya sendiri. Subhanallah.

PENDAHULUAN:
Datangnya Kematian Menurut Al Qur’an :
1. Kematian bersifat memaksa dan siap menghampiri manusia walaupun kita berusaha menghindarkan resiko-resiko kematian.
Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS Ali Imran, 3:154)

2. Kematian akan mengejar siapapun meskipun ia berlindung di balik benteng yang kokoh atau berlindung di balik teknologi kedokteran yang canggih serta ratusan dokter terbaik yang ada di muka bumi ini.
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? (QS An-Nisa 4:7 8)

3. Kematian akan mengejar siapapun walaupun ia lari menghindar.
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS al-Jumu’ah, 62: 8)

4. Kematian datang secara tiba-tiba.
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS, Luqman 31:34)

5. Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS, Al-Munafiqun, 63:11)

Ibnu Abi Ad-Dunya rahimahullah meriwayatkan dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kematian adalah kengerian yang paling dahsyat di dunia dan akhirat bagi orang yang beriman. Kematian lebih menyakitkan dari goresan gergaji, sayatan gunting, panasnya air mendidih di bejana. Seandainya ada mayat yang dibangkitkan dan menceritakan kepada penduduk dunia tentang sakitnya kematian, niscaya, penghuni dunia tidak akan nyaman dengan hidupnya dan tidak nyenyak dalam tidurnya” ternyata… riwayat ini benar, saya telah membuktikannya sendiri… saya telah mengalaminya sendiri. Di Ruang Klinik Rawat Inap no 7. PKU Muhammadiyah Ibnu Shina. Jl. Merdeka no. 29. Banjarharjo Bebes Jateng. Pada malam Rabu Pon tgl. 8 juli 2015. Tepat di hari weton kelahiran saya sendiri. Subhanallah.

Di antara dalil yang menegaskan terjadinya proses sakaratul maut yang mengiringi perpisahan jasad dengan ruhnya, firman Allah:
وَجَآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَاكُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya”. [Qaaf: 19]

Maksud sakaratul maut adalah kedahsyatan, tekanan, dan himpitan kekuatan kematian yang mengalahkan manusia dan menguasai akal sehatnya. Makna bil haq (perkara yang benar) adalah perkara akhirat, sehingga manusia sadar, yakin dan mengetahuinya. Ada yang berpendapat al haq adalah hakikat keimanan sehingga maknanya menjadi telah tiba sakaratul maut dengan kematian.

Juga ayat:
كَلآ إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ {26} وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ {27} وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ {28} وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ {29} إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ

“Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan”. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). Dan kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau”. [Al Qiyamah: 26-30]

Syaikh Sa’di menjelaskan: “Allah mengingatkan para hamba-Nya dengan keadan orang yang akan tercabut nyawanya, bahwa ketika ruh sampai pada taraqi yaitu tulang-tulang yang meliputi ujung leher (kerongkongan), maka pada saat itulah penderitaan mulai berat, (ia) mencari segala sarana yang dianggap menyebabkan kesembuhan atau kenyamanan. Karena itu Allah berfiman: “Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang akan menyembuhkan?” artinya siapa yang akan meruqyahnya dari kata ruqyah. Pasalnya, mereka telah kehilangan segala terapi umum yang mereka pikirkan, sehingga mereka bergantung sekali pada terapi ilahi. Namun qadha dan qadar jika datang dan tiba, maka tidak dapat ditolak. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan dengan dunia. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), maksudnya kesengsaraan jadi satu dan berkumpul. Urusan menjadi berbahaya, penderitaan semakin sulit, nyawa diharapkan keluar dari badan yang telah ia huni dan masih bersamanya. Maka dihalau menuju Allah Ta’ala untuk dibalasi amalannya, dan mengakui perbuatannya. Peringatan yang Allah sebutkan ini akan dapat mendorong hati-hati untuk bergegas menuju keselamatannya, dan menahannya dari perkara yang menjadi kebinasaannya. Tetapi, orang yang menantang, orang yang tidak mendapat manfaat dari ayat-ayat, senantiasa berbuat sesat dan kekufuran dan penentangan”.

Sedangkan beberapa hadits Nabi yang menguatkan fenomena sakaratul maut:
Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma, ia bercerita (menjelang ajal menjemput Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam)
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ رَكْوَةٌ أَوْ عُلْبَةٌ فِيهَا مَاءٌ فَجَعَلَ يُدْخِلُ يَدَيْهِ فِي الْمَاءِ فَيَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ وَيَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ فَجَعَلَ يَقُولُ فِي أخرجه البخاري ك الرقاق باب سكرات الموت و في المغازي باب مرض النبي ووفاته. الرَّفِيقِ الْأَعْلَى حَتَّى قُبِضَ وَمَالَتْ

“Bahwa di hadapan Rasulullah ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata: “Laa Ilaaha Illa Allah. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut”. Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata: “Menuju Rafiqil A’la”. Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas”.

Dari Anas Radhiyallahu anhu, berkata:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ لَمَّا ثَقُلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَعَلَ يَتَغَشَّاهُ فَقَالَتْ فَاطِمَةُ عَلَيْهَا السَّلَام وَا أخرجه البخاري في المغازي باب مرض النبي ووفاته.اليَوْمِ َرْبَ أَبَاهُ فَقَالَ لَهَا لَيْسَ عَلَى أَبِيكِ كَرْبٌ بَعْدَ

“Tatkala kondisi Nabi makin memburuk, Fathimah berkata: “Alangkah berat penderitaanmu ayahku”. Beliau menjawab: “Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini…[al hadits]”

Dalam riwayat Tirmidzi dengan, ‘Aisyah menceritakan:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا أَغْبِطُ أَحَدًا بِهَوْنِ مَوْتٍ بَعْدَ الَّذِي رَأَيْتُ مِنْ شِدَّةِ مَوْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أخرجه الترمذي ك الجنائز باب ما جاء في التشديد عند الموت وصححه الألباني

“Aku tidak iri kepada siapapun atas kemudahan kematian(nya), sesudah aku melihat kepedihan kematian pada Rasulullah”.

Dan penderitaan yang terjadi selama pencabutan nyawa akan dialami setiap makhluk. Dalil penguatnya, keumuman firman Allah: “Setiap jiwa akan merasakan mati”. (Ali ‘Imran: 185). Dan sabda Nabi: “Sesungguhnya kematian ada kepedihannya”. Namun tingkat kepedihan setiap orang berbeda-beda. Dan ternyata itu adalah benar, saya sudah membuktikannya sneidir bin mengalaminya sendiri. Di Ruang Klinik Rawat Inap no 7. PKU Muhammadiyah Ibnu Shina. Jl. Merdeka no. 29. Banjarharjo Bebes Jateng. Pada malam Rabu Pon tgl. 8 juli 2015. Tepat di hari weton kelahiran saya sendiri. Subhanallah.

MENGAPA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM MENDERITA SAAT SAKARATUL MAUT?
Kondisi umum proses pencabutan nyawa seorang mukmin mudah lagi ringan. Namun kadang-kadang derita sakarul maut juga mendera sebagian orang sholeh. Tujuannya untuk menghapus dosa-dosa dan juga mengangkat kedudukannya. Sebagaimana yang dialami Rasulullah. Beliau Shallallallahu ‘alaihi wa sallam merasakan pedihnya sakaratul maut seperti diungkapkan Bukhari dalam hadits ‘Aisyah di atas.

Ibnu Hajar mengatakan: “Dalam hadits tersebut, kesengsaran (dalam) sakaratul maut bukan petunjuk atas kehinaan martabat (seseorang). Dalam konteks orang yang beriman bisa untuk menambah kebaikannya atau menghapus kesalahan-kesalahannya”

Menurut Al Qurthubi dahsyatnya kematian dan sakaratul maut yang menimpa para nabi, maka mengandung manfaat :

Pertama : Supaya orang-orang mengetahui kadar sakitnya kematian dan ia (sakaratul maut) tidak kasat mata. Kadang ada seseorang melihat orang lain yang akan meninggal. Tidak ada gerakan atau keguncangan. Terlihat ruh keluar dengan mudah. Sehingga ia berfikir, perkara ini (sakaratul maut) ringan. Ia tidak mengetahui apa yang terjadi pada mayat (sebenarnya). Tatkala para nabi, mengabarkan tentang dahsyatnya penderitaan dalam kematian, kendati mereka mulia di sisi Allah, dan kemudahannya untuk sebagian mereka, maka orang akan yakin dengan kepedihan kematian yang akan ia rasakan dan dihadapi mayit secara mutlak, berdasarkan kabar dari para nabi yang jujur kecuali orang yang mati syahid.

Kedua : Agar terbetik di benak sebagian orang, mereka adalah para kekasih Allah dan para nabi dan rasul-Nya, mengapa mengalami kesengsaraan yang berat ini?. Padahal Allah mampu meringankannya bagi mereka?. Jawabnya, bahwa orang yang paling berat ujiannya di dunia adalah para nabi kemudian orang yang menyerupai mereka dan orang yang semakin mirip dengan mereka seperti dikatakan Nabi kita. Hadits ini dikeluarkan Bukhari dan lainnya. Allah ingin menguji mereka untuk melengkapi keutamaan dan peningkatan derajat mereka di sisi-Nya. Ini bukan sebuah aib bagi mereka juga bukan bentuk siksaan. Allah menginginkan menutup hidup mereka dengan penderitaan ini meski mampu meringankan dan mengurangi (kadar penderitaan) mereka dengan tujuan mengangkat kedudukan mereka dan memperbesar pahala-pahala mereka sebelum meninggal. Tapi bukan berarti Allah mempersulit proses kematian mereka melebihi kepedihan orang-orang yang bermaksiat. Sebab (kepedihan) ini adalah hukuman bagi mereka dan sanksi untuk kejahatan mereka. Maka tidak bisa disamakan”.

Maha dahsyat rasa sakit saat sakratul maut tidak dapat digambarkan apa lagi dirasakan dengan pasti kecuali oleh orang yang telah menemui ajal (mengalaminya). Saat ujung jari telunjuk tertusuk jarum, yang merasakan sakit adalah jiwanya, demikian rasa sakit pada anggota tubuh lainnya.

Orang yang menghadapi sakratul maut adalah saat detik-detik ruh ditarik dari jasadnya, pada saat jiwa terlepas dari jasad, maka yang merasakan sakit adalah jiwanya, sampai jiwa tersebut benar-benar terpisah dari jasatnya. Sakratul maut adalah ungkapan tentang rasa sakit yang menyerang jiwanya, sehingga tidak ada lagi, satu pun bagian jiwa yang terbebas dari rasa sakit itu. Rasa sakit tertusuk jarum, hanya menjalar pada bagian jiwa yang terletak pada anggota badan yang tertusuk jarum tersebut. Akan tetapi, rasa sakit yang dirasakan selama sakratul maut, menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh bagian badan, sehingga bagian orang yang sedang sekarat, merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendihan, hingga dari setiap akar rambut mulai dari kulit kepala hingga ujung kaki. maka tidak terbayangkan sakitnya orang yang sedang sakratul maut. Demi Allah… Sungguh saya telah mengalaminya sendiri. Di Ruang Klinik Rawat Inap no 7. PKU Muhammadiyah Ibnu Shina. Jl. Merdeka no. 29. Banjarharjo Bebes Jateng. Pada malam Rabu Pon tgl. 8 juli 2015. Tepat di hari weton kelahiran saya sendiri. Subhanallah.

Sakaratul maut, lebih sakit daripada tusukan pedang, gergaji, atau sayatan gunting bahkan silet sekalipun. Sedangkan suara dan jeritan orang yang sekarat terputus karena rasa sakit yang amat sangat dan rasa sakit itu telah memuncak sehingga tenaga menjadi hilang, semua anggota tubuh melemah dan tidak ada lagi daya untuk berteriak minta pertolongan. Rasa sakit itu telah melumpuhkan akal budi pakartinya, logikanya, ilmunya, pengalamannya, pengetahuannya, membuat lidahnya terdiam kelu, melemahkan semua raganya. Orang yang menemui sakaratul mautnya, sangat ingin sekali meratap, berteriak, dan menjerit meminta tolong, namun ia tak kuasa lagi melakukan itu. Satu-satunya tenaga yang masih tersisa hanyalah suara lenguhan dan gemertak yang terdengar pada saat ruhnya dicabut dari raganya. Demi Allah… Sakaratul Maut sungguh mengerikan.

Saking dahsyatnya rasa sakitnya tersebut, warna kulitnya juga berubah dan menjadi keabu-abuan menyerupai tanah liat, tanah yang menjadi asal-usulnya jasad. Setiap pembuluh darah dicerabut bersamaan dengan menjalarnya rasa pedih ke seluruh permuka’an dan bagian dalamnya, sehingga bola matanya terbelalak ke atas kelopaknya, bibirnya tertarik ke belakang, lidahnya mengerut, kedua buah zakar naik, dan ujung jemari berubah warna menjadi hitam kehijauan. Demi Allah… Sakaratul Maut sungguh mengerikan.

Keadaan semua itu akibat dari semua pembuluh darah tertarik dengan dicabutnya ruh, tercerabutnya pembuluh darah dan syaraf dari dalam tubuh hingga permukaan kulit. Setelah itu, satu per satu anggota tubuh tidak berfungsi, lalu telapak kakinya menjadi dingin, kemudian betis dan pahanya juga demikian. Rasa sakit tersebut akan berhenti jika ruh telah keluar dari jazatnya dan saat itu pula pintu taubat ditutup dan dia pun diliputi oleh rasa sedih dan penyesalan yang amat sangat. Rasulullah SAW. bersabda: ”Taubat seorang manusia tetap diterima selama dia belum sampai pada Sakratul Maut”. Ternyata ini benar adanya… saya telah menyaksikannya sendiri. Mengalaminya sendiri. Demi Allah… Sungguh saya telah mengalaminya sendiri. Di Ruang Klinik Rawat Inap no 7. PKU Muhammadiyah Ibnu Shina. Jl. Merdeka no. 29. Banjarharjo Bebes Jateng. Pada malam Rabu Pon tgl. 8 juli 2015. Tepat di hari weton kelahiran saya sendiri. Demi Allah… Sakaratul Maut sungguh mengerikan.

Suatu ketika Rasulullah SAW. ditanyai tentang pedihnya kematian. Dan beliau menjawab, ”Kematian yang paling mudah adalah serupa dengan sebatang pohon duri yang menancap di lembar kain sutra. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutra yang terkoyak?” Rasulullah SAW. bersabda seraya memberitakan penyaksiannya seorang sahabat yang mengalami sakratul maut, ”Aku tahu apa yang sedang dialaminya,. Tak ada satu pembuluh pun yang tidak merasakan pedihnya derita kematian”. Oleh karenanya, disaat kita masih bisa merasakan nikmat yang begitu melimpahnya di dunia ini, ingatlah bahwa semua yang hidup di dunia ini akan bertemu dengan ajalnya. Oleh karena itu, janganlah menyombongkan diri. Jangan neko-neko. Jangan salin sirik sikut dan dengki. Jangan adigang adigung adiguna dan Jangan pernah lupakan Hyang Maha Suci Hidup walau sedetikpun.

Setiap orang yang teledor di dunia ini, baik dengan kekufuran maupun perbuatan maksiat lainnya, akan dilanda gulungan penyesalan, dan akan meminta dikembalikan ke dunia meski sejenak saja, untuk menjadi orang yang insan muslim yang sholeh. Namun kesempatan untuk itu sudah hilang, tidak mungkin disusul lagi.

SAKARATUL MAUT:
Oleh: Wong Edan Bagu
Awalnya… saya ada acara pribadi dan penting ke Cirebon jawa barat. Tapi saya menundanya, karena sikon badan kurang nyaman, setelah pijat urut dan sedikit terasa nyaman, Pada hari selasa legi, tgl 6 juli 2015, jam 10 siang, saya berangkat ke cirebon dengan menggunakan sepeda motor, sendirian, karena perut tidak terasa lapar, lagi pula sedang bulan puasa, saya tidak ingat makanan. Saya berhenti di pom bensi losari brebes untuk mengisi BBM.

Saya minum krating daeng 1 botol, lalu luncur ke cirebon, setelah sampai di cirebon, saya masih tidak ingat makanan, karena masih terasa kenyang, lalu, usai perlu di Masjid Agung Cipta Rasa kasepuhan cirebon, saya minum krating daeng 1 botol lagi. Dan melanjutkan perjalanan ke Astana Gunung Jati cirebon, setelah istirahat sejenak, saya minum krating daeng lagi 1 botol. Lalu melanjutkan perjalanan lagi menuju ke Cikedung Indramayu. Sesampainya di tempat, saya minum krating daeng lagi 1 botol, lalu, di rumah kadhang yang saya tuju, walau belum terasa lapar, saya sempat makan nasi, setelah selesai perlu, sekitar jam 01:00 dini hari, saya berpamit untuk kembali ke brebes lagi, meluncurlah saya menuju ke brebes. Sesampainya di terminal Harjamukti cirebon, saya terasa dingin, lalu saya minum krating daeng lagi 1 botol. Setelah sedikit terasa hangat, lalu saya melanjutkan perjalanan menuju brebes, sampai di tempat, sekitar jam 06:07 pagi. Setelah memasukan motor ke dalam rumah, sebelum istirahat, saya mencuci muka, ketika tangan saya menyentuh air. Saya terkejut,,, karena merasakan dingin yang teramat sangat. Lalu saya bergegas merebahkan badan ke tempat tidur. Sambil mengingat ingat, berapa botol krating daeng yang sudah saya minum dalam sehari semalam. Ternyata 5 botol.

Semakin saya rasa, semakin tidak karuan, kepala pening, mata kabur, perut kaku dan panas, sekujur tubuh nggreges-nggreges. Keseimbangan tubuh jadi hilang seketika, lalu saya minum bodrex 2 biji dan neo remasil 2 biji sekaligus, tapi tidak ada reaksi apapun, padahal, biasanya, kalau habis minum bodrex dan remasil masing-masing 2 biji, langsung keluar keringat, trus terasa ringan dan kembali segar. Tapi ini, tidak ada reaksi sama sekali, lalu saya minum lagi decolgen 2 biji. Masih tetap tidak ada reaksi, saya berusaha menghubungi beberapa orang untuk datang, tapi gagal. Sementara apa yang saya alami semakin membuat saya tidak karuan, lalu,,, tanpa berpikir panjang, saya mengeluarkan motor lagi, dan menggunakan sisa-sisa tenaga saya untuk mengendarai motor menuju rumah sakit terdekat.

Setibanya… saya langsung menuju ke ruang pendaftaran pasien, untuk minta tolong, bertepatan dengan itu, sedang ada dokter yang sedang mengontrol pasien rawat inap. Jadi,,, saya bisa langsung berhadapan dengan dokter, saya di masukan ke ruang gawat darurat untuk di periksa, dan infus segera di pasang, lalu saya di tanyai apa yang di rasa sambil di periksa. Dan saya di haruskan untuk di rawat inap, masuklah saya di ruang rawat inap, lalu saya di periksa lagi secara detil, oleh dokter Muhammad Farid Fahda, dan beliau mengatakan, bahwa saya positif terserang magh akut, ada dua titik luka di bagian laumbung atas dan bawah.

Kemudian di tinggalkan di ruang rawat inap sendirian untuk beristirahat, karena sendirian itulah, saya memberi kabar kepada orang-orang yang saya kenal dengan baik, yaitu anak-anak didik saya. Trus sorenya, sebelum anak-anak didik saya ada yang datang menjenguk, saya di periksa lagi oleh dokter Wiwik Sukiranto, untuk yang ketiga kalinya, dan beliau mengatakan, kalau Faal Hati Sgot saya, 32 U/L Opt 37C. Sedang Faal Hati SGPT saya, 59* U/L Opt 37C. Normalnya Faal Hati; Sgot 38 U/L Opt 37C dan Normalnya Faal Hati; SGPT 41 U/L Opt 37*C. Menurutnya keterangan beliau, Hati saya berfungsi melebihi batas normal dan maksimal. Ini disebabkan karena terlalu sering menggunakan hati dari pada otak/pikiran di dalam segala halnya. Sehingganya, ketika hati lebih sering di gunakan, tubuh menjadi lemah, karena kekurangan asupan gizi, dan terjadi ketidak setabilan, ketika hati di gunakan secara serius. Akibatnya,,, Lambungnya dan hati jadi luka.

Setelah di suntik dan minum obat, agak mendingan, anak-anak didik sayapun mulai berdatangan setelah hari berganti malam. Dan sayapun mulai marasakan kebaikan… disini saya mendapatkan ilmu pengalaman, tentang orang yang sedang sakit, di datangi oleh orang-orang yang di kenal menjenguk, terutama jika yang datang menjenguk itu, adalah orang yang di kasihi. Ada rasa yang wah… sedangkan jika yang di kasihi tidak kunjung datang juga, rasanya wah… Ternyata benar, apa yang di katakan dan di ucapkan oleh Para Nabi… Ternyata benar, apa yang di sarankan oleh Para Rasul. Tentang… Agar kita menyempatkan waktu untuk menjenguk saudara atau saudari kita yang sedang sakit. Karena,,, si sakit, jika di jenguk, merasa bahagia, merasa terhibur, merasa ada yang memperhatikan, merasa ada yang peduli dll, dengan begitu, semangat untuk sembuh bisa membesar dan kuat.

Sungguh luar biasa. Disini sayapun mengalami hal yang sama seperti mereka, serta saya yakin, mereka pun sama seperti yang saya rasa. Ketika orang yang saya kenal datang menjenguk… wah… seperti datang sesuatu yang amat sangat berharga. Apa lagi yang datang yang saya kenal. Sungguh luar biasa rasanya, tapi itu belum seberapa, ketika orang yang saya kasihi datang, orang yang saya sayangi datang menjenguk… Subhanallah… seperti mendapat sejuta berkah rasanya. Tapi lagi,,, jika yang saya kasihi tidak datang,,, menilai negatif, berprasangkan tidak baik, bermunculan menggerogoti isi kepada saya. Ini jujur saya katakan. Dan saya yakin,,, merekah yang sakit juga, mengalami dan merasakan hal yang sama seperti saya, jika mendapat jengukan atau tidak dari orang-orang sekitarnya dala sakit. He he he . . . Edan Tenan.

Lanjut punya cerita… waktu itu, anak-anak didik saya yang datang menjenguk, sebagian besarnya pada pulang, tinggal tersisa tiga orang saja, sebelum jam 12 malam waktu untuk beristirahat, saya meminum obat sirup yang di sediakan oleh dokter untuk di minum 3 x sehari sebelum makan. Saya meminumnya dua sendok, lalu… jarak beberapa detik, di bawah dada sebelah kanan, terasa semengkring, seperti duri di telapak kaki yang tersentuh, semakin lama, rasa semengkring itu semakin menjadi, dan berusa seperti hendak kentut, tapi kentut itu tidak mau keluar, hanya mulek saja di perut, muter-muter mengelilingi perut. Rasanya nyeseg dan sakit, saya montang manting menahannya, ke tiga anak didik saya pun kebingungan, ada yang mijitin kaki, ada yang ngelus-ngelus perut, ada yang mijitin tangan, sementara saya kelimpungan kesana sini, tidak lama kemudia, angin yang saya rasakan muter-muter di perut itu, naik melewati tenggorokan, saya kira mau keluar lewat mulut, ternyata tidak, malah menembus ke kepala, rasanya tidak bisa di gambarkan, setelah itu, hilanglah kesadaran saya, saya tidak melihat 3 orang anak didik saya lagi. Yang saya lihat hanya alam kosong dan sepi.

Tak lama kemudian… saya melihat bereneka macam hal yang menggiyurkan, menggoda, seperti tempat indah, mewah. Di setiap tempat yang indah dan mewah itu, saya melihat ada bangunan rumah yang indah dan mewahnya melebihi hotel, vila, istana, di masing-masing rumah itu, ada orang-orang yang meminta maaf kepada saya, dan menawarkan agar saya mau mampir dan singgah menginap di rumah tempat tinggalnya. Di dalamnya,,, ada beraneka kebutuhan yang saya perlukan dan saya inginkan di setiap tempat yang di tawarkan kepada saya, mulai dari harta tahta wanita dll.

Semakin saya memperhatikan, keindahan dan kemewahan itu, semakin wah… semua keindahan dan kemewahan yang pernah saya ketahui di dunia ini, tidak ada apa-apanya. Namun anehnya, sedikitpun saya tidak tertarik. Saya terus memperhatikan sekeliling saya, hingga pada akhirnya, muncul seberkah cahaya, yang belum pernah saya lihat sebelumnya, cahaya itu, sangat menarik perhatian saya, seakan saya di suruhnya mendekat. Tanpa berpikir panjang, sayapun segera bangkit berdiri dari pembaringan, ketika kaki saya hendak melangkah, di belakang saya mendengar tangisan seseorang yang saya kenal, lalu perlahan saya menolehnya, dan saya melihat, diri saya sendiri tergeletak/terbaring di atas tempat tidur pasien rumah sakit, saya melihat tiga orang anak didik saya, yang satu memegangi kaki saya sambil memijat-mijat, satunya memegangi tangan saya sambil memijat-mijat dan yang satunya memeluk saya sambil menangis diatas dada saya, saya perhatikan seluruh ruangannya, saya hapal dan ingat benar, kalau itu adalah kamar rumah sakit dan saya sedang berada di rumah sakit itu, untuk di rawat inap. Saya ingat semua prosesnya, mulai dari saya masih di rumah hingga sampai di rumah sakit tersebut, dan anehnya,,, sedikitpun saya tidak merasa heran dengan semua yang terjadi itu.

Tanpa ragu,,, dan dengan rela hati, saya beranjak meninggalkan tempat menuju ke seberkas sinar yang menarik perhatian saya tersebut, semakin jauh saya melangkah mendekati sinar itu, semakin saya merasakan ketentraman menyelimuti seluruh jiwa dan raga saya, dan ketika itu, saya melihat ada sesuatu di dalam tubuh saya yang sedang di tangisi oleh ketiga anak didik saya, dan sesuatu itu, mohon maafkan, saya tidak bisa menceritakannya di artikel ini.

Seiring dengan kaki saya yang sedang melangkah. Di samping kanan kiri saya. Nampak berbagai keindahan dan kemewahan yang di tawarkan kepada saya. Tidak ada secuilpun yang nampak buruk dan mengerikan serta menakutkan di pandangan mata saya, semuanya mengenakan, menyenangkan, membahagiakan, mendamaikan. Namun saya tidak tergiyur, saya tertarik pada tentrang dan di pancarkan oleh cahaya yang tidak bisa saya gambarkan detilnya di artikel ini.

Dan setibanya…
Seakan saya berkata kepada cahaya itu, padahal bibir dan mulut saya terkunci, tidak bisa bicara sama sekali, hanya bisa merasakan dan merasakan semua yang terjadi, dan saya sangat sadar betul, tidak ada satupun yang terlewatkan dari kesadaran saya, tapi,,, walau tanpa suara, seaka ada kata-kata yang keluar dari seluruh tubuh saya, melalui lubang pori-pori di seluruh tubuh saya, yang mengatakan “Saya ingin pulang/kembali ke rumahku” Dan seakan pula cahaya itu menjawabnya. “Apakah kamu tidak tertarik dan menginginkan apa yang sudah aku tawarkan di setiap langkahmu sa’at mendekatiku tadi” dan seakan spontanitas pula saya menjawabnya. “Tidak..!!! Selain aku bukan berasal dari semuanya itu, saya hanya ingin kembali/pulang ke rumahku, ke kampung halamanku, ke tempat tinggalku, ke asal usulku” Seakan lagi, cahaya itu berbicara,,, memberikan penjelasan dan pengertian serta pemahaman, dan lagi-lagi,,, mohon maafkan… saya tidak bisa menceritakan penjelasan dan pengertian serta pemahaman itu, di artike ini. Kecuali secara langsung. Yang pasti… saya di beritahu… Tentang perjalanan akhir dunia dan awal akhirat. Mulai dari Sakaratul Maut hingga Setelah Sakaratul Maut. Bagi yang Laku Kunci dan Bukan Laku Kunci. Dan dengan ini, saya hanya bisa BERPESAN:

Bagi yang Laku “KUNCI”. Terus… Galilah rasa, yang meliputi seluruh tubuhmu, karena di dalam tubuhmu, ada Firman Tuhan, yang menjamin hidup mati dan dunia akheratmu. Didalam lakon; Yen wani aja wedi-wedi. Yen wedi aja wani-wani. Didalam laku; Aja suka neko-neko. Aja seneng cawe-cawe. Luwih Becik. Samubarang tumindak, kinantenan sarwa mijil. Tansyah elinga Mring “KUNCI” ne; Ana apa-apa Kunci. Langka apa-apa Kunci. Agar bisa diwafatkan dalam keadaan memegang Firman Allah. Dan dimatikan dengan Sempurna.

Bagi yang tidak Laku “KUNCI”. Persiapan harus dilakukan sejak dini, agar dapat selalu dikaruniai hidayah-Nya, berada dalam jalan yang benar, selalu istiqomah dalam iman dan keimanan, agar termasuk umat yang dimudahkan-Nya, selama hidup di dunia dan di akhir hidup nanti, yaitu ketika sakaratul maut itu tiba, di alam barzakh, di Padang Mahsyar, di jembatan-jembatan Sirath-al mustaqim, dan seterusnya. Hingga hari Akhir yang di janjikan Allah, yaitu Kiamat. TIBA.

He he he . . . Edan Tenan… Lanjut punya Cerita;
Saya tertegun menyaksikan kesaksian yang nyata terjadi didepan hidung saya tersebut. Ada kalanya saya menangis, tak kala menyaksikan, yang seharusnya tidak di tempuh oleh setiap orang dimasa kehidupannya, selama di dunia nyata. Ada kalanya saya tersenyum pula, di saat menyaksikan, yang seharusnya di tempuh oleh setiap makhluk hidup di dunia nyata ini.

Dan… ketertegunan itu, mendadak sirna, ketika Cahaya yeng meliputi seluruh tubuh saya itu, berubah kata beralih bicara. “ Jika yang kau pilih dan kau mau adalah AKU, berati belum sa’atnya, belum waktunya, ada tanggung jawab disana yang harus kau selesaikan terlebih dahulu” . “INGAT… JANGAN LEPASKAN APA YANG SUDAH KAU GENGGAM ITU” . “ JANGAN RUBAH APA YANG SUDAH KAU PAKAI ITU” . “JANGAN BERALIH DARI APA YANG SUDAH KAU JALANI ITU” . “Jika kau ingin kembali ke rumah asalmu” . “Kecuali jika kau tidak ingin pulang ke rumahmu”

Lalu… Mendadak kaki saya melangkah dengan sendirinya, tidak bisa saya kendalikan, semakin jauh meninggalkan Cahaya itu, saya menangis karena merasa benar-benar ingin pulang, tapi kaki saya, membawa saya mendatangi saya yang tergeletak diatas dipan rumah sakit, yang sedang di tangis oleh ketiga anak didik saya. Dan ketika saya masuk ke tubuh saya, saya meronta tidak mau, ingin pulang dan ingin pulang, pokoknya ingin pulang, hanya itulah yang ada di dalam kesadaran saya sa’at itu, sehingganya, terjadi proses kesulitan ketika saya memasuki tubuh saya…

Proses ini bisa saya gambarkan seperti ini; Mungkin saudara-saudariku, ada yang pernah makan ubi jalar yang di rebus, tanpa minum air. Kalau bahasa jawanya seret,,, seperti itulah rasanya. Karena saya tidak ingin merasakan seret ini lebih lama, lalu saya berusaha untuk bisa duduk bersilah, di bantu oleh ketiga anak didik saya, sayapun berhasil duduk bersilah. Lalu saya Patrap Kunci. Patrap Paweling dan Patrap Mijil Toto Lenggah. Setelah berhasil manunggal. Lalu saya tutup dengan Palungguh dan sayapun tergulai lemah. Saya pandangi seluruh ruangan, saya tatap satu persatu wajah ketiga anak didik saya itu, saya cium mereka sambil mengucapkan. Terima Kasih yang tak terhingga. Karena telah menjadi saksi. Dari proses Laku Hidup yang baru saja saya alami ini. Sungguh Luar Biasa. He he he . . . Edan Tanan.

“Demi Allah… Seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri”. (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).

“Saya yakin… Seandainya ada mayat yang hidup kembali. Dia pasti akan menceritakan hal yang sama persis seperti yang saya alami dan saya ceritakan di artikel ini”.

Allaahumma innaa nas aluka Salaamatan Fiddiin Wa ‘Aafiyatan Fil Jasadi Wa Ziyaadatan Fil ‘Ilmi Wa Barakatan Fir Rizqi Wa Taubatan Qablal Maut Wa Rahmatan Indal Maut Wa Maghfiratam Ba’dal Maut Allaahumma Hawwin ‘Alainaa Fii Sakaraatil Maut Wan Najaata Minnannar Wal ‘Afwa Indal Hisab Rabbanaa Laa Tuzigh Quluubanaa Ba’da Idzhadaitanaa Wa Hab Lanaa Milladunka Rahmatan Innaka Antal Wahhaab.

Amiiieen Allahumma Amin..Wassallamualaikumm warohmatullah wabbarokatuh saudara-saudariku semuanya tanpa terkecuali. Semoga Pengalaman nyata saya ini, bermanfaat bagi kita semua. dan mempersiapkan diri dalam mengharap ridho ALLAH sebelum datang kematian yang sangat dahsyat perih’nya bagi orang-orang yang merugi.
Dengan ijin dan ridha Hyang Maha Suci Hidup… Mulai Hari ini,,, dan untuk seterusnya bin selamanya… Saudara-saudariku mendapatkan hiqmah, dari pengalaman pribadi saya ini.
Pesan saya… khusus untukmu sekalian anak-anak didiku;
BERPIKIRLAH SEBELUM BERTINDAK. JANGAN GEGABAH/SEMBRONO.
SEBAB GEGABAH/SEMBRONO. HANYA AKAN MENDATANGKAN MUSIBAH. Ingat…!!! “Yen wani aja wedi-wedi. Yen wedi aja wani-wani”.
Memang… KASIH TUHAN ITU Memerdekakan/MEMBEBASKAN.
TETAPI TIDAK MEMBABLASKAN. Untuk itu, kemudikanlah dengan Laku. “Ana apa-apa Kunci. Langka apa-apa Kunci. Sebab Kunci kena kanggo apa bae. Waton ora tumindak Luput”. . . . …. SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU SAUDARA-SAUDARI SAYA SEMUANYA TANPA TERKECUALI… SEMOGA POSTINGAN SAYA KALI INI. Bisa Berguna dan Ada Manfaatnya . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com
https://padepokanonlinekuncithepower.wordpress.com

KELUH…?!. KESAH….?!


WebVidiosme 036

WebVidiosme 036


KELUH…?!. KESAH….?!
Oleh. Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasunda
Kembeng. Jombang Jatim Senin Tgl. 29-06-2015

Salahkah aku berkeluh kesah pada yang lain?
Aku tiada punya kesempatan untuk menyampaikan perasaanku.
Baik suka maupun duka harus diam bagaikan patung tak berasa.
Sampai pada suatu ketika, kudapat seorang kawan/sahabat.
Walau jauh di tempat lain, dia begitu bisa mendengar keluhanku dan menghiburku.
Memang itu fana,,, namun sangat membantu aku untuk kembali menghadapi dunia nyata ku.
Lalu salahkah aku?

Dulu… dan duluuuuu…. sekali, Setiap kali ada Pendeta atau Kiyai yang berkhotbah, dan khotbahnya, saya anggap kurang atau tidak tepat. Saya suka mengkritik khotbah tersebut, setelahnya. Hingga pada suatu sa’at, ada yang mengkritik balik kepada saya,

“Apa maksudmu selalu mengkritik khotbah, termasuk aku?”
Tanya orang yang mengkritik balik saya.

“Maaf,,, sebenarnya, saya tak bermaksud apa-apa. Tapi ketahuilah, saya adalah Wong Edan Bagu, saya biasa dan sudah terbiasa memperdebatkan Al-kitab. Setiap kali saya mengkritik, berharap Bapak menyanggah kritikan saya, supaya terjadi dialog yang menarik. Dari situ kita bisa makin akrab!”
Jawab saya.

Sejak dulu, saya biasa berdialog terbuka kepada Tuhan maupun sesama. Saat berdoa, saya berani membahas segala topik, termasuk yang tidak menyenangkan: kekecewaan, keluh-kesah bahkan kemarahan.

Karena menurut saya pribadi, itu adalah bagian dari syair-syair Mazmur, yang perlu di kaji, agar bisa tau dan mengerti serta paham.

Ratapan,,, dari doa Ayub.
Ia mengeluh karena hari-hari hidupnya terasa hampa dan sia-sia (ayat 1-7). Ia ingin segera mati (ayat 8-10). Ia menuduh Tuhan memberinya mimpi buruk waktu tidur (ayat 12-15). Ia kecewa Tuhan membuatnya menderita, padahal ia hidup baik-baik (ayat 20-21).
Tidak semua perkataan Ayub benar bukan…?

Sampai pada suatu ketika.
Tuhan menegur kata-katanya yang “tidak berpengetahuan” (Ayub 38:2).
Namun, keluh kesahnya didengar! Dengan jujur mencurahkan isi hati, Ayub dapat menghadapi kekecewaan dengan cara sehat. Ia tidak membenci Tuhan atau melukai diri sendiri… He he he . . . Edan Tenan.

Apakah Anda… kecewa terhadap seseorang? Kerja’an? Waktu? dll?
Daripada bersungut-sungut di depan orang diluar sana, lebih baik curahkan isi hati Anda kepada Hyang Maha Suci Hidup. Tuhan mu… Allah mu. Karena hanyaNYA yang bisa mengerti dan memahamimu. Dan DIA akan menghibur sekaligus menegur cara pandang Anda yang keliru. Damai pun akan kembali hadir di hati Anda. BERKELUH-KESAH TIDAKLAH SALAH. ASAL DISAMPAIKAN KEPADA MAHA SUCI HIDUP ALLAH.

Janganlah hendaknya Anda khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginan Anda kepada Allah, dalam doa dan ucapan syukur Anda.

Doa adalah napasnya Laku Hidup kita.” Siapapun pasti setuju dengan perkatakan ini, jika hanya sepintas lalu membacanya. Tetapi akan merasa bersalah karenanya, jika teliti membacanya. Bagaimana tidak…

Bernapas mengacu pada aktivitas yang terus-menerus, dan tanpanya kita mati. Lantas bagaimana doa kita? Jangankan terus-menerus, tak jarang ada hari-hari yang kita lewatkan tanpa doa.

Saya jenuh dan merasa “kehabisan bahan”. Tampaknya, ada yang salah dengan kehidupan doa saya. Atau, mungkin ada yang salah dengan konsep doa saya. Buktinya… melesed terus, nyaris tidak ada yang tepat dengan yang saya doakan. Sehingganya… terpaksa saya mencari tempat curhat lain selain Allah… He he he . . . Edan Tenan.

Saudara-saudariku… Maha Suci Hidup, menciptakan kita dengan cinta dan kasih sayangnya yang menentramkan, Nah… Cinta dan kasih sayang yang menentramkan inilah, penangkis kecenderungan kita untuk bisa tidak khawatir dan kecewa.

Jika kita sudi mengintip, melirik, apa lagi sampai memandang cinta dan kasih sayang itu,,,, bila kita mau peduli mencari tau tentang Tenteram itu…. Dunia Akherat dan isinya, ada di dalamnya. Di dalam lingkaran cinta dan kasih sayang yang menentramkan itu, dan… Ketika kita membacanya, itulah bahan doa, yang bisa kita doakan kapanpun dan dalam keadaan apa pun, kita dapat menyatakannya kepada Allah seketika itu juga, tanpa harus membersihkan diri dan berpakaian indah/bersih lalu berlari ke kamar doa dulu.
BERDOA… IALAH… MENCURAHKAN ISI HATI KEPADA MAHA SUCI HIDUP TUHAN KITA. MAKA… CURAHKANLAH SEPERTI KETIKA KITA CURHAT KEPADA PACAR. KEKASIH. SUAMI/ISTRI. TEMAN. SAHABAT Atau KEDUA ORANG TUA KITA. SEBAB… MAHA SUCI HIDUP TUHAN KITA. Lebih dari sekedar pacar kita, kekasih kita, suami/istri kita, teman kita, sahabat kita atau kedua orang tua kita. Jika kita telah mengenal dan memahami Tuhan kita dengan baik dan benar. PERCAYALAH…

SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU dari saya untukmu sekalian SAUDARA-SAUDARI SEMUANYA TANPA TERKECUALI… SEMOGA POSTINGAN SAYA INI. Bisa Berguna dan Ada Manfaatnya bagi kita semua. Sebagai renungan dan pengertian tambahan. Amiin dan Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://padepokanonlinekuncithepower.wordpress.com
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com