Benarkah Kita Butuh dan Perlu Kejujuran Dari Setiap Orang…?! Khusunya Orang-orang yang kita kenal…?!


Wong Edan Bagu

Benarkah Kita Butuh dan Perlu Kejujuran Dari Setiap Orang…?!
Khusunya Orang-orang yang kita kenal…?!
Ungkapan Rasa Wong Edan Bagu:
Oleh Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Kamis Pon. Tgl 28 April 2016

Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Sukses Selalu Para Sedulur dan Kadhang Kinasihku sekalian, dimanapun adanya. Mari kita sejenak merenung, tentang kejujuran, yang konon mitosnya banyak di gandrungi oleh banyak manusia hidup pada umumnya. Dengan kisah diri pribadi saya sendiri, karena dalam hal apapun, sekarang saya tidak mau sembunyi dibalik apapun dan siapapun, karena itu, saya menceritakan diri pribadi saya, sebagai bahan soal dalam hal apapun yang saya ungkap tentang Laku Spiritual Hakikat Hidup yang saya jalani.

Konon kabarnya, bisa dikatakan 99% dari kita, manusia hidup, sangat suka dan butuh kejujuran dari siapapun, terutama dari orang-orang yang dekat dengan kita khususnya, dan para pejabat sebagai pemimpin kita pada umumnya. Benarkah…?!

Sepertinya, tidak sepenuhnya benar. Hanya sebagian kecil saja, yang benar. Sebagiam besarnya, berontak, menolak, bahkan tidak terima senang, ketika mendapatkan sebuah kejujuran dari siapapun yang kita anggap ada.

Contohnya seperti yang saya alami sendiri sa’at-sa’at sekarang ini. selain di artikel umum. Di dalam Tulisan kisah nyata sejarah perjalanan hidup saya. Saya telah mengakui sepenuhnya, semua keburukan saya, kejelekan saya, kebejatan saya, kejahatan saya, dengan apa adanya, tanpa petutup apapun, blak kotak opo anane. Bahwasannya… saya adalah mantan penjahat yang benar-benar hitam riwayatnya, bagaimana tidak, hampir semua bentuk kejahatan dan keburukan pernah saya lakukan. Mulai dari mencuri sampai menipu, mulai dari merusak rumah tangga orang, sampai merusak anak gadis orang, jadi perampok, jadi mafia, jadi pengedar obat terlarang, jadi pencopet, jadi pemabuk, jadi gelandangan, jadi penjudi, jadi gay, jadi preman, jadi gigolo, hingga jadi pengacau. Semua saya akui satu persatu dengan sangat jujur, berulang kali saya akui dengan sangat sadar, tanpa tutup tanpa tedeng aling-aling, mulai dari biografi dan artikel hingga berupa rekaman vidio yang saya apload di you tube, tanpa malu, semuanya saya akui dan saya ceritakan dengan sadar dan penuh penyesalan.

Sampai-sampai saya wanti-wanti berpesan kepada siapapun yang membaca tulisan saya itu atau mendengar rekamannya, jangan sampai meniru, karena sungguh itu sangat bejat dan hitam. Cukup saya yang mengalami dan ambilah hikmah dari kisah perjalanan saya tersebut.

Tapi apa yang terjadi, ketika mendengar katanya orang, tentang masa lalu saya itu, wah,,, kebenciannya tak bertepi, tiada habis-habisnya mengolok-olok saya, tak ada henti-hentinya menyebarkan keburukan saya, dengan bumbu-bumbu racikannya sendiri, padahal hanya dari katanya orang, sebelum mendengar dan mendapatkan katanya orang, sudah lebih dulu mendapat pengakuan langsung dari saya, dengan jujur apa adanya, tentang masa lalu saya. Ditambah lagi, dengan selingan kata yang sering saya sisipkan diantar artikel kesaksian spiritual yang saya postingkan di internet.

Mungkin karena menurutnya, bahasa saya di setiap artikel yang saya postingkan di internet, terkesan sombong, mengaku benar sendiri, memojokan suatu golongan tertentu, pamer atau pamrih dll. Padahal itupun bentuk kejujuran saya.

Beberapa kali saya jelaskan, bahwa Wong Edan Bagu yang sekarang, bukan Wong Edan Bagu yang dulu lagi, sudah insyaf, sudah tobat, sudah tidak akan mengulangi masalalu yang bejat lagi hitam kelam itu, semuanya telah saya tinggalkan, semuanya telah saya korbankan, tidak ada satupun masa lalu yang saya bawa sekarang ini. kecuali jiwa raga dan iman, dan saya telah bertekad untuk menghabiskan sisa umur/usia saya, untuk mengabdi kepada Hyang Maha Suci Hidup dan menebar iman Cinta Kasih Sayang kepada siapapun dan apapun. Sembari mengabarkan semua hasil Laku Spiritual Wahyu Panca Gha’ib, yang saya peroleh setiap waktunya secara umum, tanpa kotak dan bendera apapun serta tedeng aling-aling. Juga menuntun siapapun yang mau menerima serta Laku bersama saya.

“Bukankah sebaik-baiknya Orang . . . . . Adalah yang sudah Bertobat?! Sudah kah Anda berTaubat…?!”

Berulang kali saya katakan, saya tidak akan mengurangi atau melebihi apapun yang saya peroleh dari Laku. Semuanya akan saya riwayatkan sesuai aslinya dengan apa adanya. Tanpa tutup dan tedeng aling-aling. Ini soal Rasa. Ini tentang Kejujuran. Bukan soal sombong atau tentang pamer. Tapi JUJUR. Namun rupanya tidak seperti yang kebanyakan di katakan. Ingin Jujur dan Butuh Jujur itu, ternyata hanya mitos belaka.

Jika saya berhasil mencapai kesempurna’an spiritual di dalam Laku. Lalu saya mengabarkannya dengan jujur apa adanya, sesuai yang saya peroleh, kesemua yang sedang membutuhkan bukti tentang adanya puncak spiritual. Apakah itu sombong..?!

Kalau saya mendapatkan kesaksian dan bukti tentang kebenaran Firman Hyang Maha Suci Hidup di dalam Laku. Lalu saya menyampaikannya sesuai Firman itu, tanpa saya kurang atau tanpa saya tambahi. Apakah itu pamer..?!

Kalau saya mengakui, bahwa saya bisa membimbing siapapun, untuk bisa mengenal Jati dirinya. Karena saya memang bisa. Apakah saya Sombong…?!
Kalau saya mengakui, bahwa saya tidak bisa meramal nasib atau masa depan seseorang atau meramal nomel togel. Karena memang saya tidak bisa. Apakah saya Sombong…?!

Jika saya mengatakan, saya bisa dan akan menuntun siapapun yang mau, bila ingin mengerti Sedulur Papat Kalima Pancer dan Memahami Guru Sejati-nya. Karena saya memang bisa dan bersedia menuntun siapapun yang mau. Apakah saya Pamer…?!

Jika saya mengatakan, saya akan memberikan bukti, akan kebenaran Hyang Maha Suci Hidup, yang nyata-nyata benar ada, kepada siapapun yang mau. Bila ingin mengenal Hyang Maha Suci Hidup Tuhan-nya. Karena memang saya bisa. Apakah saya Pamer…?!

Sekali lagi saya katakan dengan JUJUR, apa adanya, blak kotak, tanpa tedeng aling-aling. Mulai dari lima agama yang resmi dianggap oleh negara indonesia, sampai ke Kepercaya’an. Adat. Kejawen. Dan beberapa aliran atau ajaran keTuhanan yang ada di tanah air saya ini. Pernah saya masuki, pernah saya pelajari hingga sampai ke ujung pangkalnya. Mulai dari ilmu putih, ilmu hitam, ilmu kuning, ilmu merah, ilmu hijau sampai ke ilmu belang telon istilahnya, saya pelajari tanpa peduli kalimat musrik atau kafir, demi menyelami samudera pengetahuan Hyang Maha Suci Hidup. Semuanya saya korbankan, segalanya saya tinggalkan. Anehkah jika dengan semua lelaku saya itu, terus sekarang saya berhasil mencapai apa yang saya inginkan…?! Salahkan kalau saya ingin mengajarkan keberhasilan ini, kepada siapapun yang mau dan bersedia Laku…?!

Silahkan Para Sedulur Tercinta saya. Sumonggo Para Kadhang Kinasih saya. Direnungkan sendiri-sendiri. Sudah sa’atnya kita bersipat Dewasa. Sudah waktunya kita bersikap Positif. Benci. Dendam. Sirik. Iri. Dengki. Hasyut. Fitnah. Adu domba bersih dari Jiwa Kita-Kita yang mengaku sedang Berspiritual atau Iman Kepada Tuhan. Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku sekalian. Karena itu dan Untuk itu, sebagai manusia hidup yang mencintai, mengasihi dan menyayangi sesama manusia hidup, mengajak serta… Minimal… Jagalah Pikiranmu, karena Pikiran akan menjadi Perkata’anmu. Jagalah Perkata’anmu, karena Perkata’anmu akan menjadi Perbuatanmu. Jagalah Perbuatanmu, karena Perbuatanmu akan menjadi Kebiasa’anmu. Jagalah Kebiasa’anmu, karena Kebiasa’anmu akan membentuk Karaktermu. Jagalah Karaktermu, Karena Karaktermu akan membentuk Nasibmu. Maksimal Jagalah Hati/Qalbumu, karena Hati/Qalbumu akan menentukan Rasamu. Jagalah Rasamu, karena Rasamu akan menentukan Lakumu. Jagalah Lakumu, karena Lakumu akan menentukan Hyang Maha Suci Hidup-mu. tuhan hantu apa hantu tuhan atau hantu-hantuan apa tuhan-tuhanan dll…

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Teori atau Cara untuk Menjalankan Wahyu Panca Gha’ib. Dengan menggunakan Wahyu Panca Laku:


Teori atau Cara untuk Menjalankan Wahyu Panca Gha’ib.
Dengan menggunakan Wahyu Panca Laku:
Oleh Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Rabu Pon. Tgl 13 April 2016

01. Lakunya Kunci itu. Manembahing Kawula Gusti.
Manembahing Kawula Gusti itu, yang seperti apa pak WEB..?!
Manembahing kawula gusti itu, istilah lainnya adalah sembah raga/wujud (sembah-hyang). Manembah itu, artinya sujud atau sungkem. Kawula itu sedulur papat atau empat anasir. Gusti itu wujud atau raga kita. Lakunya, adalah mengajak belajar sedulur papat kita, agar mau mencintai dan mengasihi serta menyayangi wujud/raga kita, yang menjadi tempat berexpresinya. Agar sedulur papat sadar, bahwasannya, mereka berempat, tidak akan bisa berbuat apa-apa jika tanpa wujud/raga. Karena yang menjadi perantara mereka berempat bisa bergerak dan melancarkan aksinya, adalah wujud/raga kita ini. Titik puncaknya adalah mengetahui Hakikat Jatidiri kita yang sebenarnya.

02. Lakunya Paweling itu. Manunggaling Kawula Gusti.
Manunggaling Kawula Gusti itu, yang seperti apa pak WEB..?!
Manunggaling Kawula Gusti itu, istilah lainnya adalah sembah qalbu/bathin (shalat daim). Manunggal itu, artinya menyatu jadi satu, Kawula itu sedulur papat atau empat anasir. Gusti itu wujud atau raga kita. Lakunya, adalah mengajak belajar sedulur papat kita, agar mau bersatu atau menyatu dengan wujud/raga kita. Agar setiap gerak tubuh/wujud/raga dan gerik pikiran/perasa’an. Dapat selaras dengan hati/qalbu/Rasa. Titik puncaknya adalah mengerti Hakikat Sedulur Papat Kalima Pancer kita yang sebenarnya.

03. Lakunya Asmo itu. Leburing Kawula Gusti.
Leburing Kawula Gusti itu, yang seperti apa pak WEB..?!
Leburing Kawula Gusti itu, istilah lainnya adalah Patrap/Semedi. (semelehe memedi). Lebur itu, artinya sirna tanpa bekas, Kawula itu sedulur papat atau empat anasir. Gusti itu wujud atau raga kita. Lakunya, adalah Nang. Neng. Ning. Nung. (tenang, diam, hening, manyatu) melenyapkan sedulur papat dan menyenyapkan tubuh/wujud/raga kita, dari semua kemelekatan apapun itu, agar menjadi fitrah/bersih dari segala masalah yang tidak berhubungan dengan Hyang Maha Suci Hidup. Titik puncaknya adalah memahami Hakikat Guru Sejati kita yang sebenarnya.

04. Lakunya Mijil itu. Sampurnaning Kawula Gusti.
Sampurnaning Kawula Gusti itu, yang seperti apa pak WEB..?!
Sampurnaning Kawula Gusti itu, istilah lainnya adalah berhasil (Sukses) itu, Sampurna itu, artinya tenteram, Kawula itu sedulur papat atau empat anasir. Gusti itu wujud atau raga kita. Lakunya, adalah nggelar jagat/dunia anyar/baru, yaitu jagat/dunia ketenteraman yang penuh dengan Cinta Kasih Sayang terhadap apapun dan kepada siapapun, dan nggulung jagat/dunia lawas/lama, yaitu jagat/dunia kacau balau yang penuh dengan khayal dan kemunafikan. Titik puncaknya adalah mendapatkan Bukti nyata Tentang Hyang Maha Suci Hidup, sesembahan kita yang sebenarnya.

05. Lakunya Singkir itu. Sampurnaning Pati lan Urip.
Sampurnaning Kawula Gusti itu, yang seperti apa pak WEB..?!
Untuk soal yang satu ini, siapapun Anda, harus sudah berhasil dulu, melalui tiga level pelajaran Wahyu Panca Gha’ib, dan mengamalkan pelajaran level empatnya, walau hanya sepintas/sebentar saja. Sebelum itu… Maafkan, saya tidak bisa medar atau mejang atau menjelaskan apapun yang terkait dengan Lakunya Singkir. tersebut Sampurnaning Pati lan Urip. Sebab ini, masalah khusus yang berurusan antara Hidup Dan Mati. Antara Hyang Maha Suci Hidup dan Hidup yang menempati seluruh wujud yang Hidup.

Demikianlah Teori atau Cara untuk Menjalankan Wahyu Panca Gha’ib.
Dengan menggunakan Wahyu Panca Laku, kalau soal Prakteknya. Sudah saya kemas lengkap dan jelas berwujud Buku dengan Judul. Petunjuk dan Bimbingan Laku Spiritual Hakikat Hidup “Kunci The Power” dan untuk memperoleh Bukunya. Anda bisa Datang Langsung menemui saya “GRATIS” Dan bagi yang tidak bisa datang langsung, namun ingin belajar bisa hingga berhasil sukses. Bearti harus rela/berani memesan Via Paket JNE atau TIKI. Melalui SMS ke nomer telephon yang tercantum disetiap bagian akhir artikel saya. Dengan Mahar Rp. 550.000. sudah termasuk ongkos kirim paketnya untuk wilayah jawa dan luar jawa, tidak termasuk luar negeri/indonesia. Sekian dan Terima Kaksih. Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Kadhang dan Sedulur, khususnya Para Pemegang Buku Bimbingan Kunci The Power. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd:Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Tentang Buku Bimbingan Laku Spiritual Hakikat Hidup: “Kunci The Power”


Tentang Buku Bimbingan Laku Spiritual Hakikat Hidup:
“Kunci The Power”
Oleh Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Rabu Pon. Tgl 13 April 2016

Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Sukses Selalu untukmu sekalian, dimanapun berada, artikel ini, saya peruntukan khusus buat para pemilik buku bimbingan “Kunci The Power” dan atau yang belum memiliki tapi ingin memiliki buku “Kunti The Power”.

Apa itu Buku Bimbingan Kunci The Power..?.
Buku Bimbingan “Kunci The Power” adalah buku yang memuat pelajaran khusus bab Panca Gha’ib dan Panca Laku, dilengkapi dengan beberapa ilmu pengertian atau pemahaman yang menjelaskan tentang Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku, semua penjelasan menggunakan bahasa sederhana dan singkat, padat dan jelas. Buku Bimbingan “Kunci The Power” adalah hasil penemuan saya pribadi, didalam lelaku Spiritual Hakikat Hidup. Di dalamnya terdapat empat level Pelajaran Spiritual Hakikat Hidup. Yang pernah saya jalani dan berhasil mengantar saya hingga sampai ke titik finis tujuan hidup saya, hingga berulang kali.

Siapapun Anda, dan apapun tujuan Anda. Jika hendak mempelajari isi buku “Kunci The Power” untuk sementara waktu. Anda harus rela melipat dan menyimpan dulu, apapun ilmu pengertian yang Anda miliki sebelumnya, agar tidak bingung dan harus mau memulainya, dari awal atau tingkat level satu dulu, jika ingin berhasil dan tidak mengalami kesulitan dalam bentuk apapun. Sistem ini juga, berlaku bagi siapapun pemilik Buku Bimbingan “Kunci The Power”. Namun sudah Putro, artinya, sudah menjalankan Wahyu Panca Gha’ib sebelum mendapatkan Buku Bimbingan “Kunci The Power”. Karena ada perbeda’an disini. Bedannya dimana pak WEB..? Bedanya…. baca saja dulu tulisan saya ini, nanti akan tau dimana letak bedanya.

Dan,,, sebelum berhasil melalui tiga level yang terdapat didalam Buku Bimbingan “Kunci The Power”, masing-masing 7 hari berturut-turut, jangan sekali-kali berbicara soal hajat/tujuan, keinginan atau cita-cita dan sejenisnya terlebih dahulu. Karena itu justrus akan mempersulit-mu nantinya, jalankan dulu pelajaran “Kunci The Power” dengan Legowo/Legawa rela hati dari level satu hingga level tiga. Lalu amalkan/jalankan level empatnya sembari menata niyat atau tujuan atau keinganan Anda. Setelah Niyat atau Tujuannya pasti. Lalu hubungi saya, saya akan menunjukan Jalan dan Cara untuk meraih-nya.

Jadi, sebelum menjalankan Wahyu Panca Gha’ib hingga tiga level, dan sebelum berhasil mengamalkan Wahyu Panca Laku walau hanya sepintas. Tujuan untuk mengenal sedulur papat, mengerti jatidiri, memahami guru sejati, mengetahui Tuhan/Allah atau Hyang Maha Suci Hidup. Keinginan untuk bisa sakti, kaya raya, usaha sukses, dagangan laris dll. Simpan saja dulu, menunggu jika Anda sudah berhasil melalui tiga level pelajaran “Kunci The Power”.

Buku Bimbingan “Kunci The Power”, bisa di jalankan oleh siapapun dan dimanapun, tidak peduli apapun suku, ras, adat, agama, latar belakang, asal usul dllnya. Karena Buku Bimbingan “Kunci The Power” adalah hanya judul bukunya, didalamnya, tak lain dan tak bukan adalah Wahyu Panca Gha’ib. Yang sudah sering saya gembar gemborkan di internet, bahwa Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan agama, suku, adat, golongan, partai, kebatinan, kejawen, perguruan dll. Wahyu Panca Gha’ib adalah Hidup. Hidup yang menempati seluruh wujud yang Hidup. Tidak peduli apapun agama, suku, adat, golongan, partai, kebatinan, perguruan dll-mu, dan untuk mempelajari Wahyu Panca Gha’ib, tidak harus meninggalkan apapun agama, suku, adat, golongan, partai, kebatinan, kejawen, perguruan dll-mu.

Hanya saja… Wahyu Panca Gha’ib yang saya Syi’arkan berbentuk Buku Bimbingan “Kunci The Power” ini, saya kemas khusus dengan Spiritual Hakikat Hidup dan di Praktekan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Yang sudah saya buktikan sendiri kebenaran dan ketepatan serta hasilnya di TKP. Bukan katanya apapun dan siapapun. Jadi, bukan Wahyu Panca Gha’ib yang mungkin pernah Anda temui dan Anda dapatkan diluar sana, yang suka salin sikut antar agama dan keyakinan serta kepercaya’an, salin berebut benar, salin unggul-unggulan, salin fitnah, benci dan dendam antar golongan satu dan golongan lainnya, menghina atau melecehkan sesama, yang pastinya membingungkan Anda. “DISINILAH LETAK BEDANYA”

Dan Harapan saya, artikel saya yang satu ini, bisa di mengerti dan dipahami bagimu sekalian yang ingin tahu bab Buku Bimbingan “Kunci The Power” Karya Cipta saya. Sekian dan Terima Kaksih. Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Kadhang dan Sedulur, khususnya Para Pemegang Buku Bimbingan Kunci The Power. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Bagaimana Aku harus memandang Tuhan..?! Bagaimana Aku harus mencari dan menemui Tuhan..?!


Bagaimana Aku harus memandang Tuhan..?!
Bagaimana Aku harus mencari dan menemui Tuhan..?!
Oleh Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Selasa Kiwon. Tgl 05 April 2016

01. Bagaimana Aku harus memandang Tuhan..?!
Dalam Wahyu Panca Gha’ib. Bagaimana Aku harus memandang Tuhan WEB…?!
Dengan bakti/sungkem yang Hidup. Sebab Aku adalah manusia Hidup. Bukan manusia Mati. Jadi… Bukan dengan bakti/sungkem yang mati.

Bakti/Sungkem yang Hidup itu, yang bagaiamana WEB…?!
Bakti/Sungkem yang Hidup itu, adalah Laku. Laku itu, bergerak selalu-selalu bergerak, menuju Hyang Maha Suci Hidup, bukan yang lainnya, selain-Nya.

Prakteknya Laku itu, bagaimana WEB…?!
“Ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa Kunci”

Maksud Jelasnya WEB…?!
Ada masalah apapun Patrap Wahyu Panca Gha’ib. Tidak ada masalahpun, tetap Patrap Wahyu Panca Gha’ib. Dengan begitu, bakti/sungkemku akan selalu Hidup. Tidak pernah berhenti atau Mati. Karena bakti/sungkemku selalu Hidup. Maka kadar/porsi bakti/sungkemku, selalu bertambah dan meningkat di setiap harinya.

Semakin bakti/sungkemku bertambah, semakin Aku nampak jelas, semakin bakti/sungkemku meningkat, semakin Aku bisa melihat, semakin Aku bisa melihat, maka semakin Aku tahu, dan semakin Aku tahu, semakin Aku bisa mengerti semuanya dan memahami segalanya dengan benar.

Dengan mengerti semuanya dan memahami segalanya itulah. Aku menjadi sadar, dengan sadar inilah. Aku akan menyadari. Bahwa Hyang Maha Suci Hidup itu, benar-benar lebih dekat dari urat leher.

02. Bagaimana Aku harus mencari dan menemui Tuhan..?!
Dalam Wahyu Panca Gha’ib. Bagaimana Aku harus mencari dan menemui Tuhan..?!
Dengan Wahyu Panca Laku. Maka, jalankan/praktekan Wahyu Panca Gha’ib dengan Wahyu Panca Laku.

Apa itu Wahyu Panca Laku WEB..?!
Wahyu Panca Laku adalah, lima alat atau lima sarana atau lima lelaku/lakon, untuk menjalankan atau mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib.

Lima alat atau lima sarana atau lima lelaku/lakon didalam Wahyu Panca Laku itu, apa saja WEB..?!
Wahyu Panca Laku;
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti
5. Sampurnaning Pati Urip.

Bagaimana caranya menjalankan Wahyu Panca Gha’ib dengan menggunakan Wahyu Panca Laku WEB..?!
Syare’atnya; Menebar Cinta Kasih Sayang kepada semuanya tanpa terkecuali, terutama terhadap sesama manusia Hidup. Hakikatnya; Galilah Rasa yang meliputi seluruh tubuh.

1. Manembahing Kawula Gusti itu. Apa WEB..?!
1. Manembahing Kawula Gusti. Adalah Kunci.

2. Manunggaling Kawula Gusti itu. Apa WEB..?!
2. Manunggaling Kawula Gusti. Adalah Paweling.

3. Leburing Kawula Gusti itu. Apa WEB..?!
3. Leburing Kawula Gusti. Adalah Asmo.

4. Sampurnaning Kawula Gusti itu. Apa WEB..?!
4. Sampurnaning Kawula Gusti. Adalah Mijil.

5. Sampurnaning Pati Urip itu. Apa WEB..?!
5. Sampurnaning Pati Urip. Adalah Singkir.

Dengan Menjalankan Wahyu Panca Gha’ib, menggunakan sarana Wahyu Panca Laku. Aku bisa, berati, yang lainnya juga bisa. Sebab Aku adalah manusia Hidup, yang lainnya pun sama, yaitu manusia Hidup. Karena sama-sama manusia Hidup-nya. Pasti Bisa.

Sungguh Hyang Maha Suci Hidup itu, sangat elok dan menawan, jauh lebih tampan dan jauh lebih cantik serta menarik dibandingkan dengan pacar/kekasih/istri/anak/harta/tahta/ilmu dan semua serta segalanya yang terkagumi di dunia ini.

Sehingganya, sepintas saja bisa mengetahui-Nya, dijamin pasti akan selalu ingin bertemu, ingin selalu bersanding, ingin selalu bersua, bahkan ingin selalu bersama-sama dalam sikon apapun dan bagaimanapun selama-lamanya.

Wong Edan Bagu:
Jika ingin mencari dan menemui Hyang Maha Suci Hidup, yang adanya lebih dekat dari urat leherku. Maka Aku harus mengarahkan pandanganku ke dalam diri pribadiku, bukan keluar.

Kalau Aku merindukan Hyang Maha Suci Hidup. Maka Aku harus menangis seperti anak sapi memanggil induknya, yang telah meninggalkannya, bersama kawanan sapi lain. Aku harus meratap seperti wanita setia, yang kehilangan suami dan menangis sedih karena berpisah. Aku harus menjerit memohon kepada Hyang Maha Suci Hidup, seperti suami istri yang tidak punya anak, memohon dengan sangat amat agar dikaruniai anak.

Aku harus selalu Toto Titi Surti Ngati-Ati dan mawas diri, apakah Aku mengikuti jalan satunya pikiran?, perkataan?, dan perbuatan ini?. Jika Aku intropeksi/memeriksa diriku sendiri dengan jujur. Aku akan mengakui bahwa hampir selalu ketiga unsur itu mengikuti arah yang berbeda, tidak ada kesatuan. Kalau pikiran lain, kata-kata lain, dan perbuatan lain pula, maka Aku akan memiliki sifat jahat sikap duratma. Dan Sipat Jahat dan Sikap Duratma inilah, yang merugikan Aku dan menjauhkan Aku dari Hyang Maha Suci Hidup.

Percayalah…!!!
Hanya dengan Cinta Kasih Sayang Aku dapat menghayati Hyang Maha Suci Hidup, karena Aku Berasal dari Cinta Kasih Sayang, berbahan Cinta Kasih Sayang, dicipta dengan Cinta Kasih Sayang, dilahirkan dengan Cinta Kasih Sayang dan di besarkan dengan Cinta Kasih Sayang serta akan kembali kepada Cinta Kasih Sayang. Dan… Hyang Maha Suci Hidup itu… Adalah Cinta Kasih Sayang itu sendiri. Karena kasucilan saddhaning rumaksa ika.

Kehadiran Sipat dan Sikap Cinta Kasih Sayang dalam Wahyu Panca Laku sa’at mempraktekan/menjalankan Wahyu Panca Gha’ib, akan Mijilake Hyang Maha Suci Hidup, dengan segala manifestasinya. Begitulah benarnya Laku Patrap Wahyu Panca Gha’ib. Bila engkau mendengarkan/membaca kalimat diatas dengan benar dan betul-betul memahaminya serta mengamalkannya, engkau akan dapat mencapai apapun tujuanmu dengan benar/tepat.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 –9966

https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

 

NASEHAT Spiritual dan MOTIVASI Wong Edan Bagu:


12670830_994311677289646_3347638061303015910_n

NASEHAT Spiritual dan MOTIVASI Wong Edan Bagu:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Rabu Wage. Tgl 30 Maret 2016

Dengarkanlah baik-baik wahai Anak Cucuku, duhai Sanak Kadhangku. Masukkan dalam hatimu… lalu Kerjakanlah.

Jangalah tidur jika belum bersih tubuhhmu dan suci hatimu. Jangan berjalan bila tidak menyimpan kehidupanmu kepada Sang Khalik. Karena keburukan berbarengan dengan kebaikan. Lakulah yang memilih, mana yang akan dikuti…

Bersujud atau Manembah itu “Bukan Sekedar Kepada Saja” sujudkan Jiwa serta Ragamu. Tidak ada duanya, tidak ada samanya Gusti Ingkang Moho Suci. Engkau angkat tanganmu, lalu melepaskan kotak-kotak kepentingan dan keperluan duniamu, Karena Hyang Maha Suci Hidup, sudah menunggumu sangat lama, lalu engkau menyebut-Nya.

Raga/Wudhumu akan jadi pembersih Jiwa/Tubuhmu. Patrapmu akan jadi Pembersih hatimu. Lakumu akan jadi pembersih Pikiranmu. Cinta Kasih Sayangmu akan menjadi pembersih kotak-kotak kepentinga dan keperluan duniamu. Lilo Legowo, Sabar Narimo akan menjadi Pembersih ego akumu.
Biarlah geger Dunia, Becerai berai Negeri. Tetep Idep Madep Manteplah
Dalam Belajar/Berguru kepada Hyang Maha Suci Hidup.

Tiada hari tanpa Cinta Kasih Sayang, kita di ciptakan dengan Cinta Kasih Sayang, kita di besarkan dengan Cinta Kasih Sayang, kita hidup dengan Cinta Kasih Sayang, bukan dengan kebencian, dendam atau fitnah. Selalu berlapang dada dan mengalah. Hidup ceria, bebas, leluasa dalam iman Cinta Kasih Sayang. Tidak ada satupun yang tidak bisa direlakan, karena semuanya itu adalah titipan. Tidak ada sakit hati yang tidak bisa dimaafkan. Tidak ada dendam yang tidak bisa terhapus. Jalanilah hidup ini dengan segala sifat positif yang kita miliki. Jalanilah kehidupan ini dengan sikap Cinta Kasih Sayang yang kita punyai. Jika hati sejernih air, jangan biarkan ia keruh. Jika hati seputih awan, jangan biarkan ia mendung. Jika hati seindah bulan, hiasi dengan Cinta Kasih Sayang.

Patrap, dapat membuat diri kita kuat. Kunci, dapat membuat diri kita murah hati. Paweling dapat membuat diri kita diberkahi. Asmo, dapat membuat diri kita sehat. Mijil, dapat membuat diri kita bijak. Singkir, dapat membuat diri kita diridhai. Cinta Kasih Sayang dapat membuat diri kita mengerti dan memahami arti Hidup di dalam kehidupan dunia akherat.

Orang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan dan ketenangan, tetapi mereka di bentuk melalui kesukaran, tantangan dan air mata. Jangan menyerah hanya karena hal itu, karena itu adalah anak tangga yang harus kita tapaki satu persatu, sewaktu kita merasa seakan semua sulit untuk kita jalani, percayalah bahwa Hyang Maha Suci Hidup akan memberikan kemampuan kepada kita untuk menjalaninya. Bersama Hyang Maha Suci Hidup, kita menjadi orang yang hebat, lebih dari sekedar pemenang kompetisi.

Cinta Kasih Sayang adalah buah yang tidak kenal musim, dapat di petik tiap orang kapan saja. Walau Cinta Kasih Sayang tidak selalu di balas manis, tetapi jangan pernah berhenti Menebar Cinta Kasih Sayang pada siapapun dan apapun. Hiduplah dalam Cinta Kasih Sayang, karena Cinta Kasih Sayang itu indah, membawa damai, nyaman, tenang, bahagia, sukacita dan harapan indah di setiap harinya.

Jangan menjadi palsu dengan meniru orang lain yang bukan diri kita yang sebenarnya. Kita adalah pribadi yang istimewa dan unik. Kita memiliki kelebihan yang mungkin tidak dimiliki orang lain. Banggalah menjadi diri sendiri. Jika kita tahu bahwa mengeluh tidak akan menghasilkan sesuatu yang berguna, untuk apa kita masih mengeluh?

Mari jalani hidup ini dengan sebuah tindakan nyata dan bukan keluhan semata. Tindakan kita lebih bernilai daripada keluhan kita. Sirami tanaman kita dengan Wahyu Panca Gha’ib, dan kita akan menuainya. Kembangkan potensi kita dengan Wahyu Panca Laku, dan kita akan berhasil.

Apa yang keluar dari mulut kita dengan Cinta Kasih Sayang, dapat menjadi berkah dan motivasi, atau sebaliknya dapat menjadi sebuah malapetaka. Hati-hati dengan mulut kita. Iri hati bisa timbul ketika kita kehilangan rasa syukur atas apa yang Hyang Maha Suci Hidup berikan. Kasih menjadi luntur, berganti Perasa’an tidak aman dan curiga. Jika kita mulai mengalaminya, waspadalah. Jangan buang waktu, segeralah Patra Kunci.

Di setiap langkah ada tujuan. Di setiap nafas ada kehidupan. Di setiap harapan ada kepastian. Di setiap doa ada jawaban. Di setiap laku ada kesempurna’an. Hyang Maha Suci Hidup menghadirkan benci agar kita tahu arti menyayangi. Hyang Maha Suci Hidup menghadirkan duka agar kita tahu arti senyuman. Hyang Maha Suci Hidup menghadirkan salah supaya kita tahu arti memaafkan. Hyang Maha Suci Hidup menghadirkan kesendirian supaya kita tahu arti kebersamaan. Hyang Maha Suci Hidup Mewahyukan Panca Gha’ib supaya kita mengerti arti Hyang Maha Suci Hidup. Panca Laku supaya kita paham Maksud Hyang Maha Suci Hidup.

Dari air kita belajar ketenangan. Dari batu kita belajar ketegaran. Dari tanah kita belajar kehidupan. Dari kupu-kupu kita belajar merubah diri. Dari padi kita belajar rendah hati. Dari Hyang Maha Suci Hidup kita belajar tentang Cinta Sasih Sayang yang sempurna.

Melihat ke atas, memperoleh semangat untuk maju. Melihat ke bawah, bersyukur atas semua yang ada. Melihat ke samping, semangat kebersamaan. Melihat ke belakang, sebagai pengalaman berharga. Melihat ke dalam, untuk introspeksi. Melihat ke depan, untuk menjadi lebih baik.

Ingat…!!! Hyang Maha Suci Hidup tidak pernah menjanjikan hari-hari kita berlalu tanpa sakit, berhias tawa tanpa air mata, berselimut senang tanpa kesulitan, lautan tenang tanpa badai. Tetapi Dia menjanjikan kekuatan untuk mengarungi kehidupan kita hari ke hari. Dan janji itu harus kita rengkuh dengan Wahyu Panca Gha’ib sebagai Hakikatnya dan Wahyu Panca Laku sebagai Syare’atnya. Tetaplah setia pada asal usul kita, yaitu Cinta Kasih Sayang, jadilah pemenang-Nya.

Mungkin ada banyak hal yang tidak dapat kita lakukan. Tetapi kita dapat melakukan hal-hal yang dapat kita lakukan bukan…?! Jadi, tidak ada alasan untuk katakan tidak bisa.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd:Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Wahyu Panca Gha’ib. Wahyu Panca Laku. Aji Mundi Jati Sasongko Jati:


Wahyu Panca Gha’ib. Wahyu Panca Laku. Aji Mundi Jati Sasongko Jati:
3 In 1; “Tri Tunggal” . “Tri Sula”
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Jumat Wage. Tgl 25 Maret 2016

Keterkaitan Aji Mundi Jati Sasongko Jati Atau Wahyu Panca Laku.
Dengan Wahyu Panca Gha’ib;

Aji Mundi Jati Sasongko Jati adalah Puncak Ilmu dari Segala Ilmu di Tanah Jawa Dwipa, dulu, pada masanya, ilmu ini sangatlah rahasia dan dirahasiakan, serta hanya di miliki oleh seorang saja, yaitu si penciptanya ilmu itu sendiri, dan itupun tidak sampai ke titik finisnya, maksudnya, tidak sampai selesai, karena lelaku akhir dari ilmu ini, adalah penerapan Cinta Kasih Sayang “Nggelar Cinta Kasih Sayang” antar sesama makhluk hidup, sedang si pelaku/pencipta ilmu Aji Mundi Jati Sasongko Jati, adalah seorang resi, yang awalnya merana dan kecewa, karena di khianati sang istri tercintanya, sehingganya, benci dan dendam serta sakit hati yang mendapat, mempersulit lelaku akhrinya, sebab tetap membengkas dihatinya, sukar di bersihkan, hal inilah, yang menjadikan Aji Mundi Jati Sasongko Jati yang dimilikinya kurang sempurna, dan hanya muncul sekejap saja di dunia Persilatan dan Spiritual keTuhanan, lalu,,, menghilang dan musnah kembali ke asal usulnya bersama sang penciptanya.

Namun sebelum musnah, konon Aji Mundi Jati Sasongko Jati, sempat di ajarkan secara paksa, pada seorang putera mahkota titisan dewa, yang kala itu sedang dilanda asmara dunia, namun tetap memiliki sipat dan sikap arif bijaksana, penuh Cinta Kasih Sayang, terhadap apapun tanpa terkecuali, karena dia adalah titisan dewa, dan putera mahkota inilah, yang berhasil mengusai Aji Mundi Jati Sasongko Jati, hingga ketingkatan sempurna.

Proses penyempurna’annya, cukup sederhana, bukan dengan bertapa atau melanglang buana dan sebagainya, seperti yang pernah dilakukan oleh sang resi sa’at lelaku menyempurnakan ilmu Aji Mundi Jati Sasongko Jati cipta’annya, diluar kesengaja’an, karena sang putera mahkota titisan dewa itu, memiliki sipat dan sikap penuh Cinta Kasih Sayang terhadap apapun tanpa terkecuali.

Peribahasanya (jangankan terhadap sesama manusia, pada nyamuk yang menggigit dan menghisap darahnya saja, konon tidak di bunuhnya, melainkan di biyarkan hingga si nyamuk kenyang dan pergi dengan sendirinya).

Sehingganya, diluar kesadarannya, sipat dan sikap Cinta Kasih Sayang yang dimilikinya itu, menyelesaikan tahap akhir dari lelaku Aji Mundi Jati Sasongko Jati.

Dan setelah dimiliki oleh sang putera mahkota tersebut, tidak ada seorangpun yang mampu mewarisi Puncak Ilmu dari segala Ilmu itu, karena tidak bisa menerapkan Cinta Kasih Sayang setepat Cinta Kasih Sayang yang pernah, di miliki oleh sang putera mahkota titisan dewa tersebut.

Karena pada masa itu “Cinta Kasih Sayang” hanya dimiliki oleh para Resi Ahli Pertapa, yang sudah tidak tertarik lagi, dengan urusan duniawi. Sehingganya, tidak berminat untuk mempelajari Aji Mundi Jati Sasongko Jati, yang konon, dulu sempat jadi buruan para jawara dan pendekar pilih tanding.

Kemudian Aji Mundi Jati Sasongko Jati, muncul kembali beserta ajaran Jowo Sanyoto, Aji Mundi Jati Sasongko Jati digelar kembali, sebagai upaya para leluhur bangsa jawa, yaitu Naya Genggong Sabda Palon, untuk menjabarkan keada’an jati diri atau guru sejati.

Sebagaimana kebiasaan leluhur nenek moyang jawa, dengan tujuan agar supaya, kawruh lan ngelmu sejatining jowo sanyoto, lebih mudah dipahami para generasi penerus bangsa jawa, maka digunakanlah sanepo/sanepa, saloka/kiasan, perumpama’an atau perlambang.

Dalam acara ritual atau upacara tradisi. Perlambang, saloka atau sanepa ini, diwujudkan ke dalam wejangan Wahyu Panca Laku. Inti dari isi Wejangan Wahyu Panca Laku ini, menggelar arti dari kalimat kiasan (saloka Aji mundi jati sasongko jati), yakni perumpamaan mengenai suatu makna yang dimanifestasikan dalam bentuk peribahasa. Mulai dari eksistensi yang dicipta-Yang mencipta, eksistensi Hidup dan jiwa atau sukma, hingga eksistensi akal budi pekerti. Yang bisa meneguhkan keyakinan/iman kepada Gusti Pengeran (Tuhan Yang Maha Suci. Maha dari segala Yang Maha Mulia).

Peribahasa dalam terminologi Jawa sebagai “PasemoN” atau kiasan. Kiasan diciptakan sebagai pisau analisa, di samping memberi kemudahan pemahaman akan suatu makna yang sangat dalam, rumit dicerna dan sulit dibayangkan dengan imajinasi akal-budi. Berikut ini adalah Wejangan Wahyu Panca Laku dari Saloka Aji Mundi Jati Sasongko Jati, yang pernah saya pelajari dan saya praktek-kan di TKP, yang digunakan dalam berbagai wacana falsafah Jawa Sanyata (Jowo Sanyoto). Warisan dari leluhur jawa Mbah Buyut Naya Genggong Sabda Palon.

Gigiring Punglu; Gigiring mimis;
Merupakan perumpamaan akan ke-elokan Zat Tuhan. Yakni perumpama’an hidup kita, tanpa titik kiblat dan tanpa tempat, hanya berada di dalam hidup kita pribadi.

Tambining Pucang;
Menunjukkan ke-elokan Zat Tuhan, ke-ada-an Tuhan itu dibahasakan bukan laki-laki bukan perempuan atau kedua-duanya. Dan bukan apa-apa, seperti apa sifat sebenarnya, terproyeksikan dalam sifat sejatinya hidup kita pribadi.

Wekasaning Langit; Batas langit;
Umpama batas jangkauan pancaran cahaya. Yakni pancaran cahaya kita. Sedangkan tiadanya batas jangkauan cahaya, menggambarkan keadaan sifat kita.

Wekasaning Samodra tanpa tepi; Berakhirnya samodra tiada bertepi;
Maksudnya ibarat batas akhir daya jangkauan rahsa atau rasa (sirr). Mengalir sampai ke dalam sejatinya warna kita.

Galihing Kangkung;
Galih adalah bagian kayu yang keras atau intisari di dalam pohon) galihnya pohon kangkung (kosong), maksudnya, perumpamaan ke-ada-an sukma, yang merasuk ke dalam jasad kita. Ada namun tiada.

Latu sakonang angasataken samodra; Bara api setungku membuat surut air samodra;
Menggambarkan keluarnya nafsu yang bersinggasana di dalam pancaindra, dapat membuat sirna segala kebaikan.

Peksi miber angungkuli langit; Burung terbang melampaui langit;
Menggambarkan kekuatan akal budi kita yang bersemayam di dalam penguasaan nafsu, namun sesungguhnya akal budi mampu mengalahkan nafsu.

Baita amot samodra; Perahu memuat samodra;
Baita atau perahu kiasan untuk badan kita, sedangkan samodra merupakan kiasan untuk hati kita. Secara fisik hati berada di dalam jasad. Tetapi secara substansi jasad lah yang lebih kecil dari hati.

Angin katarik ing baita; Angin ditarik oleh perahu;
Menggambarkan pemberhentian nafas kita dalam jasad, sedangkan keluarnya nafas dari dalam jasad kita pula. Dalam jagad besar, prinsip fisika merumuskan angin lah yang menarik atau mendorong perahu. Sebaliknya dalam jagad kecil, rumus biologis maka badan lan yang menarik angin. Ini menggambarkan prinsip imbal balik jagad besar dan jagad kecil.

Susuhing angin; Sarangnya angin;
Menggambarkan terminal sirkulasi nafas kita berada dalam jantung.

Bumi kapethak ing salebeting siti; Bumi ditanam di dalam tanah;
Menggambarkan asal muasal jasad kita berasal dari tanah, kelak pasti akan kembali (terkubur) menjadi tanah.

Mendhet latu adadamar; Mengambil bara sambil membawa api;
Latu wonten salebeting latu; Bara di dalam bara;
Latu binesmi ing latu; Bara terbakar oleh bara;
Menggambarkan badan kita berasal dari bara api, selalu mengeluarkan api, keadaan untuk menggambarkan sumber dan keluarnya hawa nafsu kita.

Barat katiup angin; Angin anginte prahara; Angin tertiup angin;
Menggambarkan wahana yang menghidupkan badan kita berasal dari udara, selalu mengeluarkan udara, yakni nafas kita.

Tirta kinum ing toya; Air tertelan oleh air;
Ngangsu rembatan toya; Menimba dengan air;
Toya salebeting toya; Air di dalam air;
Menggambarkan badan kita berasal dari air, selalu dialiri dan mengalirkan air, maksudnya darah kita.

Srengenge pinepe; Kaca angemu srengenge;
Matahari terjemur; Kaca mengandung matahari;
Artinya bahwa adanya cahaya karena sinar dari sang surya. Surya itu sendiri berada di dalam cahaya. Hal ini menggambarkan keadaan indera mata atau netra kita ; mata itu seperti matahari, namun mata dapat melihat karena selalu disinari oleh sang surya.

Wiji wonten salabeting wit; Biji berada dalam pohon;
Wit wonten salebeting wiji; Pohon berada di dalam biji;
Dinamakan pula “peleburan papan tulis”. Menggambarkan keadaan bahwa ZAT Tuhan berada dalam wahana makhluk, dan makhluk berada dalam wahana Tuhan (Jumbuhing kawula-Gusti).

Kakang barep adhine wuragil; Kakaknya sulung, adiknya bungsu;
Menggambarkan martabat insan kamil, keadaan sejatinya diri kita. Hakekat kehidupan kita sebagai “akhiran” dan sekaligus sebagai “awalan”. Pada saat manusia lahir dari rahim ibu merupakan awal kehidupannya di dunia, sekaligusakhir dari sebuah proses triwikrama atau tiga kali menitisnya “Dewa Wisnu” menjadi manusia melewati 4 zaman; kertayuga, tirtayuga, dwaparayuga, kaliyuga/mercapadha/bumi. Sedangkan ajal, merupakan akhir dari kehidupan (dunia), namun ajal merupakan awal dari kehidupan baru yang sejati, azali abadi.

Busana kencana retna boten boseni; Busana wrasta tanpa seret;
Gambaran jasad yang dibungkus kulit sebagai “busana”. Kita tidak pernah bosan biarpun tidak pernah ganti “busana” atau kulit kita. Kulit merupakan “busana” pelindung dari tubuh kita.

Tugu manik ing samodra;
Menggambarkan daya cipta yang terus menerus berporos hingga pelupuk mata. Daya cipta akal budi manusia jangkauannya umpama luasnya samodra namun konsentrasinya terfokus pada mata batin.

Sawanganing samodra retna; Pemandangan intan samodra;
Menggambarkan pintu pembuka kepada keadaan Tuhan. Tabir pembuka hakekat Zat. Yakni “babahan hawa sanga” atau sembilan titik yang terdapat di dalam diri manusia sebagai penghubung kepada Zat Maha Kuasa. Disebut juga kori selamatangkeb; melar-mingkupnya maras atau membuka-menutupnya mulut).

Samodra winotan kilat; Samudra berjembatan kilat;
Dalam Islam disebut jembatan “siratal mustaqim”.
Menggambarkan pesatnya yatma sampai padangabyantaraning Hyang Widhi. Adapula yang mengartikan “jembatan kilat”, sebagai perlambang keluarnya ucapan mulut manusia.

Bale tawang gantungan; Rumah atau tempatnya langit bergantung;
(Dalam terminologi Islam disebut arsy atau aras kursi atau kursi kekuasaan Tuhan). Namun bukan dibayangkan sebagai singgasana yang diduduki Tuhan bertempat di atas langit (ke 7), imajinasi demikian justru memberhalakan Tuhan sebagaimana makhluk-Nya saja. Dalam konteks ini, aras atau tawang gantungan adalah perumpamaan kekuasaan, yang menjadi “wajah” Tuhan. Hakekatnya sebagai “balai sidang” Zat, keberadaannya di dalam kepala dan dada. Sedangkan kursi, atau dilambangkan bale, merupakan perumpamaan singgasana (palenggahan) Zat. Letaknya ada di otak danjantung. Singkatnya, kepala dan dada sebagaitawang gantungan, sedangkan otak dan jantung sebagai bale-nya.

Wiji tuwuh ing sela; Biji tumbuh di atas batu;
Dalam termonologi Islam di istilahkan laufhul mahfudz loh-kalam. Loh/laufhul itu artinya papan atau tempat, sedangkan al makhfudz berarti dijaga/kareksa. Maknanya adalah tempat yang selalu dijaga Tuhann. Yakni hakekat dari “sifat” Zat yang terletak di dalam jasad yang selalu dijaga “malaikat” Kariban. Malaikat merupakan perlambang dari nur suci (nurullah) ataucahyo sejati. Cahyo sejati menjadi pelita bagi rasa sejati atau sirr. Sedangkan loh-kalam artinya bayangan atau angan-angan Zat letaknya di dalam budi, tumbuhnya angan-angan, dijaga oleh malaikat Katiban. Malaikat katiban adalah pralambang darisukma sejati yang selalu menjaga budi agar tidak mengikuti nafsu.

Tengahing arah; Titik tengahnya arah;
Ibarat mijanatau traju. Yakni ujung dari sebuah senjata tajam. Menggambarkan hakekat dari neraca (alat penimbang) Zat. Traju terletak pada instrumen pancaindra yakni; netra (penglihatan), telinga (pendengaran), hidung (pembauan), lidah dan kulit (perasa). Dalam pewayangan dilambangkan sebagai Pendawa Lima; Yudhistira, Bima/Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Makna untuk menggambarkanpanimbang (alat penimbang) hidup kita yang berada pada pancaindra.

Katingal pisah; Terkesan pisah;
Menggambarkan keadaan antara Zat (Pencipta) dengan sifatnya (makhluk) seolah-olah terpisah. Sejatinya antara Zat dengan sifat tak dapat dipisahkan. Sebab biji dapat tumbuh tanpa cangkok. Sebaliknya cangkok tidak tumbuh bila tanpa biji. Biji menggambarkan eksistensi Tuhan, sedangkan cangkok menggambarkan eksistensi manusia. Kiasan ini menggambarkan hubungan antara kawula dengan Gusti. Walaupun seolah eksis sendiri-sendiri, namun sesungguhnya manunggal tak terpisahkan dalam pengertian “dwi tunggal” (loroning atunggil).

Katingal boten pisah; Tampak tidak terpisah;
Menggambarkan solah dan bawa. Solah adalah gerak-gerik badan. Bawa atau krenteg adalah gerak-gerik batin. Solah dan bawa tampak seolah tidak terpisah, namun keduanya tergantung rasa. Solah merupakan rahsaning karep (nafsu/jasad), sedangkan bawa merupakan kareping rahsa(pancaran Zat sebagai rasa sejati). Keduanya dapat berjalan sendiri-sendiri. Namun demikian idealnya adalah Solah harus mengikuti Bawa.

Katingal tunggal; Tampak satu;
Menggambarkan zat pramana (mata batin), dengan sifatnya yakni netra (mata wadag) tidaklah berbeda. Artinya, penglihatan mata wadag dipengaruhi oleh mata batin.

Medhal katingal;
Menggambarkan keluarnya sifat hakekat (Tuhan) ke dalam zat sifat (makhluk), yakni ditandai dengan ucapan lisan menimbulkan suara.

Katingal amedhalaken;
menggambarkan keluarnya nafas. Sedangkan kenyataannya menghirup atau memasukkan udara, yang seolah-olah mengeluarkan.

Menawi pejah mboten kenging risak; Bila mati tidak boleh rusak;
Ibarat sukma dengan raga. Bila raga rusak, sukmanya tetap abadi. Dalam terminologi Islam disebut alif muttakallimun wakhid. Sifat yang berbicara sepatah tanpa lisan. Berupa kesejatian yang berada dalam sukma, yakni roh kita sendiri.

Menawi karisak mboten saget pejah; Bila dirusak tidak bisa mati;
Perumpamaan untuk hubungan nafsu danrasa. Walaupun nafsu dapat kita dikendalikan, namun rasa secara alamiah tidak dapat disirnakan. Karena rasa dalam cipta masih terasa, terletak dalam rahsa/sirr kita pribadi. Berhasil menahan nafsu dapat diukur dari perbuatannya; raganya tidak melakukan pemenuhan nafsu, tetapi rasa ingin memenuhi kenikmatan jasad tetap masih ada di dalam hati. Saloka ini untuk memberi warning agar kitawaspadha dalam “berjihad” melawan nafsu diri pribadi. Karena kesucian sejati baru dapat diraih apabila keingingan jasad (rahsaning karep) sudah sirna berganti keinginan rahsa sejati (kareping rahsa).

Sukalila tega ing pejah ; sukarela dan tega untuk mati;
Menggambarkan orang mau mati, dengan menjalani tiga perkara; pertama, sikap senang seperti merasa akan mendapat kegembiraan di alam kasampurnan. Kedua, rela untuk meninggalkan semua harta bendanya dan barang berharga. Ketiga, setelah tega meninggalkan semua yang dicinta, disayang dan segala yang memuaskan nafsu dan keinginan, semuanya ditinggal. Mati di sini berarti secara lugas maupun arti kiasan. Orang yang berhasil meredam hawa nafsu dan meraih kesucian sejati hakekatnyaorang hidup dalam kematian. Sebaliknya orang yang selalu diperbudak nafsu hakekatnya orang yang sudah mati dalam hidupnya. Yakni kematian nur atau cahaya sejati.

Semua yang disebut; besar, luas, tinggi, panjang, lebih, ialah bahasa yang digunakan untuk mengumpamakan keadaan Tuhan. Sebaliknya, semua yang disebut kecil, sempit, rendah, pendek, kurang, dan seterusnya ialah bahasa yang dugunakan untuk menggambarkan “sifat” yakni wujudnya kawula (manusia).
Gambaran menyeluruh namun ringkas mengenai keadaan Zat-sifat (kawula-Gusti) sebagaimana “cangkriman” berikut ini;

Bothok banteng winungkus ing godhong asem kabiting alu bengkong;
Bothok : sejenis pepesan untuk lauk, terdiri dari parutan kelapa, bumbu-bumbu, lalu dibungkus daun pisang dan dikukus. Bothok berbeda dengan pepes atau pelas, cirikhasnya ada rasa pedas. Campurannya menentukan nama bothok, misalnya campur ikan teri, menjadi bothok teri. Lamtoro, menjadi bothok lamtoro. Udang, menjadi bothok udang. Adonan bothok lalu dibungkus dengan daun pisang. Dan digunakan potongan lidi sebagai pengunci lipatan daun pembungkus.

Nah… Wejangan Wahyu Panca Laku dalam Saloka Aji Mundi Jati Sasongko Jati inilah, bahan untuk membuat bothok banteng. Sedangkan Bothok Banteng itu, adalah Wahyu Panca Gha’ib. Dibungkus dengan daun asem jawa, yang sangat kecil/sempit. Sedangkan tusuk penguncinya menggunakan alu semacam lingga terbuat dari kayu sebagai alat tumbuk padi. Alu itu panjang dan lurus, namun alu di sini bengkok. Jadi mana mungkin digunakan sebagai bothok.

Wejangan Wahyu Panca Laku dalam Saloka Aji Mundi Jati Sasongko Jati di atas. Menggambarkan keada,an yang tampak mustahil jika dipahami hanya menggunakan akal budi saja. Bothok banteng maknanya adalah menggambarkan adanya Zat, yang tidak lain adalah Hidup kita pribadi. Godhong asem, menggambarkan keada’an sifat, yakni sebagai bingkai Hidup kita, kenyataan dari beragamnya manusia. Alu bengkong, menggambarkan afngal semua, yakni angan-angan, budi, pekerti dan panca indera hidup kita.

Singkatnya, berdirinya/adanya Hidup kita ini, asisinglon warna kita, tampak dari solah dan bawa. Selain makna di atas, bothok banteng diartikan sebagai Wahyu Panca Gha’ib. Godhong asem, adalah Wahyu Panca Laku. Alu bengkong adalah lelakunya “Anggelar Cinta Kasih Sayang”.

Wejangan Wahyu Panca Laku dalam Saloka Aji Mundi Jati Sasongko Jati. Puncaknya ilmu dari segala ilmu ini, pernah jadi buruan Raja-Raja Jawa, setelah dibawa lenyap oleh leluhur kita “Naya genggong Sabda palon” Karena dianggap satu-satunya Ilmu Kesempaurna’an yang paling Sempurna. namun sejauh pembelajarannya, tidak ada satupun yang berhasil.

Selama berabad-abad lamanya, Wejangan Wahyu Panca Laku dalam Saloka Aji Mundi Jati Sasongko Jati, lenyap bak di telan bumi bersama “Naya genggong Sabda palon” leluhur jawa, menjadi mitos yang dianggap tidak nyata, karena siapapun yang mempelajarinya, dapat di pastikan gagal, sebab sudah kemomoran dengan ajaran-ajaran baru yang di bawa oleh para pendatang/perantau dan berusaha menguasa Tanah/Bumi Jawa.

Kemudian muncul lagi dijaman Proklamasi. Dimiliki oleh seorang Opsir Angkatan Laut, yang masih keturunan Raja majapahit yang menghilang dari kedaton. Yang Pinilih lan Pininto oleh Hyang Maha Suci Hidup, untuk menjadi manusia Pertama, menerima Wahyu Panca Gha’ib. Dengan kesempurna’an Wahyu Panca Laku yang dibawanya sejak lahir. Bernama Pangeran Smana/Smono Sastrohadijoyo.

Namun sayang,,, setelah sepeninggalan Beliau “Pangeran Smana/Smono Sastrohadijoyo”. Hanya ada beberapa Pewaris saja, yang berhasil mencapai Sampurnaning Kawula Gusti dan Sampurnaning Pati Urip. Selebihnya, baru sampai ditahapan Saring Sinaring Saring (Belum Tentu).

Di karenakan, tidak tepatnya anggapan bab Wahyu Panca Gha’ib, bahkan salah menafsirkan Wahyu Panca Gha’ib, dianggap itu, disangka ini dan itu ini dll. Sehingganya, jangankan bertemu dengan Wahyu Panca Laku, yang merupakan sistem pengguna’an atau penerapan Wahyu Panca Gha’ib. Untuk Berproses Ke Sempurnaning Kawula Gusti dan Sampurnaning Pati Urip. Soal Wahyu Panca Gha’ib-nya saja, yang menjadi bibit sakawitnya, simpang siyur sesuai kepentingan pribadinya masing-masing.

Dengan Pengalaman atau Pengetahuan Pribadi yang berhasil saya temukan ini. Saya berharap… Seluruh Manusia Hidup, khususnya Pewaris Wahyu Panca Gha’ib dimanapun berada. Bisa tergugah dan tergerak Hatinya/Rasanya, untuk mempertahankan dan menyebar luaskan. Kebenaran yang berhasil saya ungkap kebenarnnya ini, kepada siapapun tanpa terkecuali, dengan Iman Cinta Kasih Sayang, bukan dengan yang lainnya. Tapi,,, harus tau sendiri dulu, harus mengalami sendiri dulu, jika masih katanya saya, sebaiknya tidak usah neko-neko. Karena itu akan lebih mempersulit sikon pribadinya sendiri. Jadi, cukup simpan dan pertahankan, dan kalau sewaktu-waktu sudah tau buktinya sendiri, baru di sebar luaskan…
Hormat saya:
Wong Edan Bagu.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, maafkan lah saya, jika apa yang saya tulis dan saya sebarkan melalui media internet ini, adalah kesalahan yang tidak saya sengaja. saya hanya ingin menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang saya dapatkan dari-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di dunia ini. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin dan, Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Awal Mula Munculnya BerkeTuhanan. Dan Kunci The Power:


Awal Mula Munculnya BerkeTuhanan.
Dan Kunci The Power:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Minggu Wage. Tgl 20 Maret 2016

Awal Mula Munculnya BerkeTuhanan;
Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku sekalian dimanapun berada. Secara umum, kebutuhan manusia hidup ada dua hal. Pertama kebutuhan biologis jasmaniah. Yaitu sandang, pangan, papan dan pasangan. Kedua kebutuhan psikologis bathiniah. Yaitu rasa aman, nyaman, bahagia, tenang dan damai.

Untuk memenuhi kebutuhan psikologis atau kebutuhan bathin ini, manusia mulai mencari sesuatu apapun bentuknya, yang dianggapnya mempunyai kekuatan yang luar biasa, yang bisa membantu atau menolong dirinya, yang bisa melindungi dirinya, sehingga dia merasa aman dan nyaman. Sesuatu yang dianggap mempunyai kekuatan mistik itu, menjadi sesuatu yang dirindui, dipuja dan dipuji serta disembah oleh mereka.

Pada awalnya,,, manusia primitip mengakui hanya ada satu Tuhan Yang Maha Tinggi yang disembah. Namun dalam perkembangannya, karena Tuhan tersebut tidak pernah bisa hadir dalam kehidupan mereka sehari-hari, maka mereka mulai menggantinya dari satu Tuhan menjadi beberapa tuhan yang mudah untuk dikenali dan mudah dijangkau oleh pola pikir mereka saat itu. Keyakinan kepada beberapa tuhan dinamakan polytheisme.

Sejak saat itu dalam benak manusia, dalam pikiran manusia, muncul suatu konsep berTuhan. Konsep berTuhan itu, turun-temurun diyakini, walaupun yang ada di dalam pikiran manusia itu, bukan Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan. Seperti Firman-Nya dalam al-qitab dibawah ini;

Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa ( AL HAJJ 22 : 74 )

Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya, Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu ( YUSUF 12 : 40 )

Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapakmu mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuknya, mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan hawa nafsunya
( AN NAJM 53 : 23 ).

Kita semua belum pernah berjumpa dengan Tuhan bukan?
Lalu bagaimana kita bisa kenal nama-Nya. Enak aja… He he he . . . Edan Tenan.

Tak jumpa maka tak kenal, tak kenal maka tak cinta, tak cinta maka tak sayang, tak sayang maka mana mungkin bisa iman… masuk akal tidak…?!

Tuhan yang sebenarnya tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia, Dia tidak serupa dengan apapun yang di kira dan di sangka-sangka serta di duga-duga, tidak ada sesuatu apapun disisi-Nya, Dia berdiri dengan sendirinya tanpa penolong. Dia bukan laki-laki dan juga bukan perempuan. Orang Arab atau orang Timur Tengah menyebut nama Tuhannya Al-Ilah artinya yang disembah, akhirnya muncul kata Allah. Berarti pada awalnya yang memberi nama Tuhan Allah adalah manusia juga.

Kata Allah menurut gramatika bahasa Arab, berarti bentuk laki-laki (maskulin), Bapa, namun kata Al Dzat, berarti bentuk perempuan (feminin), Bunda.

Jadi,,, kata Allah ini, sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim, sejak sebelum agama Islam muncul. Kemudian Nabi Ibrahim yang berpikiran kritis, berusaha mencari Tuhan tanpa alat-alat canggih. Di abad sekarang ini, kebenaran keberadaan Allah, kebenaran Al-Quran, mulai terbukti dengan adanya penelitian luar angkasa, penelitian atom dan energi, penelitian DNA, penelitian air dan bla…bla…bla…lainya.

Sejak zaman primitif, setelah manusia memiliki konsep berkeTuhanan, mereka kemudian membuat aturan-aturan dan tata cara penyembahan, tata cara peribadatan yang disebut Agama, yang berasal dari kata A artinya tidak dan gama. Yang artinya; kacau. Agama adalah aturan agar tidak kacau. Melalui keberagama’an inilah, diharapkan kehidupan masyarakat tidak kacau, aman tentram dan damai.

Demikian juga Nabi Muhammad, membuat tata cara beribadah, tata cara sholat sebagai syareat Islam, setelah beliau bermukim di Madinah. Seiring dengan perkembangan zaman, dari zaman purba sampai zaman sekarang, tata-cara keberagama’an pun banyak mengalami perubahan. Pada abad modern ini, hampir semua umat di dunia berkeyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dari polytheisme menjadi monotheisme.

Pada zaman Nabi Ibrahim, Al-Ilah mereka adalah berhala-berhala yang kemudian dihancurkan oleh Nabi Ibrahim. Kemudian Ibrahim mengajarkan agama samawi, yaitu agama wahyu, menyembah Allah Tuhan Yang Maha Esa. Begitu pula pada saat zaman Nabi Muhammad, masyarakat jahiliyah tidak menolak nama Tuhan Yang Maha Tinggi adalah Allah, yang mereka tolak adalah karena Nabi Muhammad mengajak mereka dan melarang mereka menyembah Tuhan-Tuhan lainnya selain Allah Tuhan Yang Maha Esa.

Pada zaman Pra Islam, Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim di dekat sumber air keramat Zamzam, adalah sebagai kuil untuk menyembah Allah, Tuhan Tertinggi bangsa Arab.

Disekitar nya banyak berhala-berhala sebagai Tuhan-Tuhan yang lain. Mekah sudah dianggap sebagai kota suci, dimana dalam radius 20 mil dari Ka’bah, dilarang adanya segala macam kekerasan, perkelahian apalagi pertumpahan darah. Pada saat itu, sudah ada kebiasaan tawaf dan ibadah haji yang dilakukan setiap tahun, pada saat musim gugur. Ibadah haji di awali di Ka’bah, kemudian diluar Mekah, untuk menghormati Tuhan-Tuhan yang lain, kemudian acara di Arafah, dan melemparkan batu ke arah tiga pilar di Mina. Pada musim haji ada gencatan senjata, setiap suku dijamin keamanannya, untuk melakukan ibadah haji di Mekah.

Sebagai bukti sederhana, bahwa kata Allah sudah tidak asing lagi di masyarakat Arab jahiliyah, adalah bahwa ayahanda Nabi Muhammad bernama Abdullah.

Sesungguhnya, kita tidak tahu Tuhan itu apa, dan ada dimana, adalah rahasia. Nama diberikan bila sesuatu ada wujudnya. Segala sesuatu yang berwujud lebih dari satu, harus diberi nama agar kita tidak keliru, agar tidak salah alamat. Bukankah begitu…?! berawal dari sinilah, asma’ul husna di rancang.

Tuhan tidak punya nama, karena tidak berwujud. Namun Dia Yang Maha Esa adalah Dzat Wajibul Wujud, wajib adanya. Dia juga Dzat Mumkinu Wujud, mungkin adanya. Dia adalah transenden, tak terjangkau oleh akal dan pikiran. Nama Tuhan yang sebenarnya, tidak bisa diucapkan dan tidak bisa dituliskan.

Walaupun demikian, bila penyembahan semua umat tertuju kepada-Nya, tidak akan salah sasaran, karena Dia Maha Tunggal. Oleh karena Tuhan tidak punya nama, maka kita pun bebas memanggil atau menyebut nama Tuhan dengan nama apa saja. Boleh panggil Bapa atau Bunda atau Yesus atau Hyang Widi, pokoknya dengan nama apa saja, termasuk (Asma’ul husna) dll. Nggak masalah, jadi, nggak usah sewot atau cemburu jika ada yang menyebut Nama Tuhan dengan masing-masing seleranya…Tuhan juga tidak pernah marah akan hal itu. Seperti Firman-Nya dibawah ini;

Katakanlah: Seru-lah Allah atau seru-lah Ar-Rahman, dengan nama yang mana saja kamu seru, dia mempunyai nama Al-Asma’ul Husna … ( AL-ISRA 17 : 110 ).

Kita pun yakin bahwa Tuhan Maha Pengampun, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, bukan Tuhan Maha Pemurka. Tuhan tidak pernah menyusahkan umatnya, atau mempersulit umatnya. Semua Nama yang menggambarkan sifat-sifat dualitas-Nya dan saling bertentangan itu, berada dalam ke-Esa-an Dzat-nya. Misalnya sifat Jamal ( Terang ) dan Jalal ( Gelap ), Al Hadi, Yang Memberi Petunjuk dan Al Mudzil, Yang Menyesatkan, tidak berarti Tuhan ada dua, Dia tetap Yang Maha Tunggal. Yang kita sembah bukan nama-Nya, tapi Dzat-Nya yang Essensi-Nya berada didalam setiap mahluk cipta’annya.

Karena Dialah Al Muhit, Yang Maha Meliputi Segala Sesuatu. Dia ada di mana-mana, namun dalam ke Esa-an-Nya. Dia tidak ke mana-mana, Dia berada di dalam diri kita semua. Kemana kita menghadap, disitulah wajah Tuhan. Dimana ada kehidupan, disitulah ada Tuhan. Kemana kita mengahadap, disitulah wajah Tuhan. Kepan kita menyebut, pada sa’at itulah Tuhan Berlaku.

Bagi saya, alam semesta seisinya, adalah guru saya, khususnya manusia hidup, karena itu, saya memperlakukan setiap orang, sama persis seperti saya ingin di perlakukan oleh orang. Hal ini bukan karena saya menghormatinya sebagai manusia hidup, akan tetapi, karena saya melihat ada Guru Sejati di setiap diri manusia hidup. Saya mengetahui ada Cahaya Tuhan, disetiap diri manusia hidup. Saya melihat Cahaya Tuhan bersinar di setiap diri manusia hidup.

Pembukti nyata inilah, yang membuat saya, semakin Cinta kepada semua makhluk hidup, yang membuat saya, semakin Kasih kepada semua makhluk hidup, yang membuat saya, semakin Sayang kepada semua makhluk hidup, terutama sesama Manusia Hidup. Bagi saya, mencubitnya, sama halnya saya mencubit Wujud Tuhan saya sendiri.

Kunci The Power;
Karena itu, saya berpesan penuh Cinta Kasih Sayang, kepada semuanya tanpa terkecuali, lebih baik berhati-hatilah. Tuhan ada dimana-mana, di makhluk hidup, di tetumbuhan hidup, di hewan-hewan hidup, dan semuanya serta segalanya yang hidup, ada Tuhan di dalamnya, mencubitnya, menghinanya, menyakitinya, membencinya. Berati; mencubit, menghina, menyakiti, dan membenci Tuhan Hyang Maha Suci Hidup, yang sedang kita puja dan puji serta kita rindukan penyatuannya selama ini.

Sebab di semua diri manusia hidup, memiliki Hakikat keTuhanan. Artinya, semuanya manusia hidup, bisa dan bisa, Itu sebab saya berkeinginan, menunjukan bukti kebenarannya, kepada semuanya, karena semuanya juga bisa. Bisa apa? Bisa apa saja…

Dengan ini, saya beritakan sekali lai, saya sampaikan sekali lagi, saya tegaskan sekali lagi. Saya tidak bisa membantu siapapun Anda, dengan cara memberi apa yang Anda dibutuhkan/Perlukan, tapi saya bisa mengajari Anda untuk bisa mendapatkan apa yang Anda Butuhkan/Perlukan.

Dengan Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku. Salah satu Ajaran Hakikat Hidup, yang sudah saya buktikan sendiri kemurniannya, bukan katanya. Yang lalu bukti-buktinya saya rangkai secara khusus, sesuai Pembuktian sa’at saya Praktek di TKP. Yang saya beri judul “Kunci The Power” siapapun Anda. Pasti “BISA” dengan Laku Hakikat Hidup “Kunci The Power” apapun yang Anda Butuhkan dan Anda Perlukan, bisa tercapai berdukun, berkiyai, bersuhu, tanpa uborampe, tanpa tumbal, tanpa puasa/tirakat, tanpa Efek dan Risiko Negatif apapun.

Hanya dengan Membeli Buku Bimbingan “Kunci The Power” (Bagi yang tidak bisa datang langsung menemui saya). Seharga Rp. 550.000. Anda bisa mengenal Jati Diri Pribadi. Bisa Memiliki Guru Sejati. Bisa Paham tentang Hal-hal yang bersipat Gha’ib. Bisa Mengerti Hyang Maha Suci Hidup (Tuhan).

Rp. 550.000. Sungguh bukanlah kerugian yang amat sangat besar. Karena dulu, saya belajar tentang hal ini, kalau di nilai hitung dengan uang, sungguh tidak ternilai dan terhitung jumlahnya, sebab bukan cuma uang saja, tapi juga anak istri keluarga dan pekerja’an bahkan harga diri, saya korbankan untuk bisa sampai mencapai ini.

Dan cobalah Anda telisik sendiri keluar sana. Berapa juta yang mereka habiskan untuk belajar di pesantren, padepokan, perguruan dll selama bertahun-tahun. Tapi hasilnya, masih tetap katanya. Berapa juta yang mereka habiskan untuk mencari pesugihan di tempat-tempat keramat, di tambah harus mengorbankan anak istri keluarga hingga tetangga, namun hasilnya belum tentu. Berapa juta yang mereka habiskan untuk berdukun, berembah, bersuhu, berkiyai, hanya demi penyakit, nomer togel, pengasihan dll, tapi hasilnya apa…?!

Hanya dengan Rp. 550.000 saja. Anda bisa menyelesaikannya sendiri, tanpa berdukun, bertapa, beritual dan ber bla…bla…lainnya, tanpa risiko negatif apapun, selain itu, bisa mengenal Jati diri/Guru Sejati dan ilmu-ilmu keTuhanan, yang sedang di gandrungi dan buru oleh miliyaran manusia pencinta Tuhan. Anda masih berpikir eman-eman dengan uang Rp. 550.000 itu, dan mamilih yang gratis dan yang lebih mahal, karena yang lebih mahal pasti lebih hebat dan bla…bla…lainnya. berati sungguh Anda telah di takdirkan oleh Tuhan, untuk menjadi manusia-manusia Hidup, yang selama Hidupnya, untuk di perbudak oleh sesama manusia hidup. Karena itu, saya tidak akan memaksakan kehendak saya.

Saya cukupkan sampai disini, ini artikel terakhir saya, tentang syi’ar “Kunci The Power” setelah ini, saya tidak akan menawarkan lagi, saya tidak akan mengajak lagi, apa lagi memaksa, karena kita sudah sama-sama tuanya, artinya, sama-sama bisa mikirnya, tau mana yang baik mana yang tidak. Waktu untuk bersyi’ar sudah habis, waktu untuk mengbarkan sudah selesai. Jadi, setelah artikel ini, saya tidak akan menceritakan atau mengungkap bab soal “Kunci The Power” lagi. Jika ada yang minta nomer togel. Minta ilmu pelet, pengasihan, penglarisan, penyembuhan, naik jabatan, atau bertanya tentang hal-hal gha’ib, guru sejati, jati diri dllnya, sungguh, dengan amat sangat sedih, saya tidak akan menanggapi lebih, karena saya sudah berulang kali memberikan peluang, menawarkan Kunci The Power, agar bisa sendiri, tapi dianggap meraup keuntungan pribadi. Saya Tinggal Ucapkan Lakum Dinukum Waliyadin.

Jadi…. Silahkan di pikir selogika mungkin, adakah yang semurah Wong Edan Bagu…?! Murah, bukan berati murahan, murah saya, karena Cinta Kasih Sayang. Adakah yang seterbukan Wong Edan Bagu…?!

Membeli buku Bimbingan Laku Hakikat Hidup “Kunci The Powr” semahar Rp. 550.000 itu, kalau dalam belajarnya, tidak bisa datang ke tempat saya, karena sibuk bekerja atau karena kepentingan lain-lainya, kalau bisa datang langsung ke tempat saya. GRATIS. Buku saya berikan secara Cuma-Cuma. Kurang apa coba…?!

Jika maunya, enjoy di rumah atau tetap bisa sibuk kerja ditempat, kumpul sama keluarga, tapi bisa sambil belajar, terus buku bimbingannya di kirim secara gratis. Dengan alasan, katanya syiar, katanya Cinta Kasih Sayang. Berati kan, harus rela mengirim buku gratis dan siap melayani bimbingan dari jarak jauh. He he he . . . Edan Tenan. Silahkan dipikir saja. Kira-kira menurut nalar Anda bagaimana…

Bagi yang sudah berhasil memiliki Buku Bimbingan “Kunci The Power”. Tolong…7x, berkomunikasihlah dengan saya selalu, agar tidak mengalami kesulitan, tanyakan jika ada yang tidak dipahami. Agar saya bisa menjelaskannya. Jangan sekali-kali merubah apa yang sudah saya Pakemkan dalam buku tersebut, karena semuanya sudah saya Racik Pas. Dan jangan karena sudah memiliki bukunya, lalu diam saja dan merasa cukup dengan buku tersebut. Saya ingin siapapun yang sudah berhasil memiliki Buku Bimbingan “Kunci The Power” bisa berhasil tanpa mengalami kesulitan apapun, hal ini, hanya bisa di lakukan dengan cara berkomunikasih selalu. Bukan diam saja. Seklian dan Terima Kasih.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, maafkan lah saya, jika apa yang saya tulis dan saya sebarkan melalui media internet ini, adalah kesalahan yang tidak saya sengaja. saya hanya ingin menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang saya dapatkan dari-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di dunia ini. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin dan, Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com