INTI AJARAN AGAMA dan AJARAN KEJAWEN Serta WAHYU PANCA GHA’IB:


INTI AJARAN AGAMA dan AJARAN KEJAWEN Serta WAHYU PANCA GHA’IB:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Senin Pon. Tgl 23 Mai 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian, di dalam beberapa artikel, saya pernah mengatakan, bahwa demi untuk mengenal lebih dalam, tentang siapa dan bagaamana Hyang Maha Suci Hidup, yang saya puja dan puji disetiap tarikan napas saya, saya pernah keluar masuk agama dan kepercaya’an adat. Tujuannya tak lain dan tak bukan, adalah untuk belajar.

Karena pindah-pindah agama, setiap agama yang saya tinggalkan setelah mengetahui apa yang menjadi inti ajaran dari agama tersebut, mengutuk saya, dengan perkata’an dosa, musrik, sirik, laknat bahkan kafir. Namun saya tak peduli, setelah saya menerima Wahyu Panca Gha’ib, yang menjadikan saya benar-benar mengerti dan memahami Hyang Maha Suci Hidup sesembahan saya, saya tersenyum dan bersyukur, karena kutukan-kutukan itu, telah mengantarkan saya, berhasil mencapai Tujuan saya, yaitu mengenal Hyang Maha Suci Hidup sesembahan saya, secara mendalam dan keseluruhan.

Dan pada kesempatan kali ini, saya akan membagikan pengalaman saya. Tentang Inti Ajaran Agama dan Ajaran Kejawen yang pernah saya Pelajari dulu… Semoga apa yang saya bagikan ini, bisa menjadi Tambahan Pengalaman/Pengetahuan bagi Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian dimanapun berada. Karena saya berawal dari islam, maka ureannya akan saya awali dari ISLAM. Selamat membaca;

Nomer Satu Adalah Islam;
Islam (Arab: al-islam) yang artinya adalah “berserah diri kepada Tuhan”) adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Dengan lebih dari satu seperempat miliar orang pengikut di seluruh dunia, menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen. Islam memiliki arti “penyerahan”, atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: Allah). Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim, yang berarti “seorang yang tunduk kepada Tuhan” atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan.

Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi/rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

Kepercayaan Islam adalah;
1. Lima Rukun Islam.
2. Enam Rukun Iman.

Ajaran Islam adalah;
1. Allah.
2. Al-Qur’an.
3. Nabi Muhammad S.A.W.

Kepercayaan dasar Islam dapat ditemukan pada dua kalimah syahadatain (“dua kalimat persaksian”), yaitu “asyhadu an-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah”. Yang arti; “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah”. Esensinya adalah prinsip keesaan Tuhan dan pengakuan terhadap kenabian Muhammad. Adapun bila seseorang meyakini dan kemudian mengucapkan dua kalimat persaksian ini, ia dapat dianggap telah menjadi seorang muslim dalam status sebagai mualaf (orang yang baru masuk Islam dari kepercayaan lamanya).

Kaum Muslim percaya bahwa Allah mengutus Muhammad sebagai Nabi terakhir setelah diutusnya Nabi Isa 6 abad sebelumnya. Agama Islam mempercayai bahwa al-Qur’an dan Sunnah (setiap perkataan dan perbuatan Muhammad) sebagai sumber hukum dan peraturan hidup yang fundamental. Mereka tidak menganggap Muhammad sebagai pengasas agama baru, melainkan sebagai penerus dan pembaharu kepercayaan monoteistik yang diturunkan kepada Ibrahim, Musa, Isa, dan nabi lainnya oleh Tuhan yang sama. Islam menegaskan, bahwa agama Yahudi dan Kristen belakangan, setelah kepergian para nabinya telah membelokkan wahyu yang Tuhan berikan kepada nabi-nabi ini, dengan mengubah teks dalam kitab suci, memperkenalkan intepretasi palsu, ataupun kedua-duanya.

Inti Ajaran Islam yaitu;
1. Tauhid atau berserah diri kepada Allah SWT.
2. Ta’at Kepada Allah SWT.
3. Baro’ah atau berlepas diri dari Perbuatan Syirik dan
dari pelakunya.

A. Tauhid atau berserah diri kepada Allah SWT;
Yaitu kerendahan diri dan tunduk kepada Allah dengan tauhid, yakni mengesakan Allah dalam setiap peribadahan. Tidak boleh menunjukkan satu saja dari jenis ibadah kepada selain-Nya.

B. Taat Kepada Allah SWT;
Yaitu ketundukan dan kepatuhan yang mutlak kepada Allah. Dan inilah sebenarnya yang merupakan bukti kebenaran pengakuan imannya. Penyerahan dan perendahan semata tidak cukup apabila tidak disertai ketundukan terhadap perintah-perintah Allah dan menjauhi apa-apa yang dilarang, semata-mata hanya karena taat kepada Allah dan hanya mengharap wajah-Nya semata, berharap dengan balasan yang ada di sisi-Nya serta takut akan adzab-Nya.

C. Baro’ah atau berlepas diri dari Perbuatan Syirik dan dari pelakunya;
Yaitu berlepas diri dan membenci perbuatan syirik dan pelakunya. Karena ia belum dikatakan beriman dengan sebenar-benarnya, sebelum ia mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah.

Sedangkan Intisarinya Ada Pada Tauhid;
Tauhid bukan hanya ajaran Nabi Muhammad saw, tetapi juga merupakan ajaran setiap nabi/rasul yang diutus Allah SWt. ( al-Anbiya’ 25 ).
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.”

Nabi Nuh mengajarkan tauhid ( al-A’raf 59 ).
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).

Nabi Hud mengajarkan tauhid ( Hud 50 ).
Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja.

Nabi Shalih mengajarkan tauhid ( Hud 61 ).
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).”

Nabi Syu’aib mengajarkan tauhid ( Hud 84 ).
Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”.

Nabi Musa mengajarkan tauhid ( Thoha 13-14 ).
“Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu)”.
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”

Nabi Ibrahim, Ishaq dan Ismail juga mengajarkan tauhid ( al-Baqarah 133 ).
“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

KESIMPULAN;
Islam adalah agama yang mengimani satu Tuhan yaitu Allah SWT.
Pokok-pokok ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan serta memperhatikan isi Al-Qur’an secara keseluruhan, maka dapat dikembangkan bahwa pada dasarnya pokok ajarannya, hanyalah kembali pada tiga hal yaitu tauhid, taat dan baro’ah/berlepas diri. Itulah intisari ajaran para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah kepada umat manusia. Maka barangsiapa yang mengaku islam, namun tidak melaksanakan ketiga hal ini, pada hakikatnya dia bukanlah pengikut dakwah para Nabi.

Nomer Dua.
Inti Ajaran Agama Hindu;
Agama Hindu merupakan agama yang mempunyai usia tertua dan merupakan agama yang pertama kali dikenal oleh manusia. Hindu mengajarkan banyak hal, baik ilmu yang berhubungan dengan dunia rohani maupun dunia material. Ajaran Hindu sangat luas , mulai dari hal yang sederhana hingga yang rumit, yang sulit dijangkau oleh pikiran biasa.

Bagi umat Hindu, agama Hindu dikenal dengan nama Sanatana Dharma, Artinya kebenaran yang abadi, namun orang umum menyebutnya sebagai Hindu, karena agama ini berasal dari lembah sungai Shindu. “Kata Hindu pertama kali digunakan oleh orang Persia dan kemudian dipopulerkan pada masa penjajahan Inggris” Namun yang jelas didalam Weda agama Hindu disebut dengan nama Sanatana Dharma.

Selain Hindu mengajarkan banyak hal ia pula memiliki banyak kitab suci, baik Sruti maupun Smriti (smerti) dan juga terdiri dari beberapa aliran seperti Shaivisme,Vaishnavisme dan Śrauta . Meskipun Hindu mengajarkan berbagai hal, sudah pasti dari keseluruhan ajaran yang terkandung memiliki inti atau pokok ajaran.

Dan Inti ajaran Hindu dikonsepkan kedalam “Tiga Kerangka Dasar” dan “Panca Sradha”. Tiga kerangka dasar tersebut terdiri dari Tattwa (Filsafat) Susila (Etika) Upacara (Yadnya).
Tattwa ¬ – Ajaran Hindu kaya akan Tattwa atau dalam ilmu modern disebut filsafat , secara khusus filsafat disebut Darsana. Dalam perkembangan agama Hindu atau kebudayaan veda terdapat Sembilan cabang filsafat yang disebut Nawa Darsana.

Pada masa Upanishad, akhirnya filsafat dalam kebudayaan veda dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu astika (kelompok yang mengakui veda sebagai ajaran tertinggi) dan nastika (kelompok yang tidak mengakui Veda ajaran tertinggi).

Terdapat enam cabang filsafat yang mengakui veda yang disebut Sad Darsana, (Saṁkhya, Yoga, Mimamsa, Nyaya, Vaisiseka, dan Vedanta) dan tiga cabang filsafat yang menentang veda yaitu Jaina, Carvaka dan Budha (agama Budha).

Susila – Secara harfiah susila diartikan sebagai etika . hal-hal yang tekandung yang dikelompokan kedalam susila memuat tata aturan kehidupan bermasyarakat yang pada intinya membahas perihal hukum agama. Mulai dari hukum dalam kehidupan sehari-sehari hingga hukum pidana (Kantaka Sodhana) dan hukum perdata (Dharmasthiya).

Upacara – Yang dimaksud upacara dalam agama Hindu adalah ritual keagamaan , sarana ritual keagamaan disebut Upakara , upakara di Bali disebut Banten. Upacara ini dapat dikelompok kedalam beberapa bentuk korban suci (Yajna) yang disebut Panca Yadnya (Panca Maha Yadnya). Ada banyak jenis panca Yadnya tergantung dari kitab mana uraian dari panca yadnya tersebut, artinya meskipun Panca Yadnya sama-sama terdiri dari lima jenis yadnya, namun bagian-bagian yang disebutkan berbeda-beda masing–masing uraian kitab suci Smrti.

Selain tiga kerangka dasar agama Hindu, ajaran hindu berlandaskan pada lima keyakinan yang disebut Panca Sradha (lima dasar keyakinan umat Hindu) yang melitputi : Widhi Tattwa, keyakinan terhadap Tuhan (Brahman). Atma Tattwa, keyakinan terhadap Atman (Roh). Karmaphala Tattwa, keyakinan pada Karmaphala (hukum sebab-akibat). Punarbawa Tattwa, keyakinan pada kelahiran kembali (reinkarnasi) dan Moksa Tattwa, keyakinan akan bersatunya Atman dengan Brahman

Nomer Tiga.
Inti Ajaran Agama Buddha;
1. Budha.
Budha Berasal dari bahasa sansekerta, Budha berarti menjadi sadar, kesadaran sepenuhnya, bijaksana. Perkataan Budha terbentuk dari kata kerja “Budh” yang artinya bangun; bangun dari dalam kesesatan dan keluar ditengah-tengan cahaya pemandangan yang benar. Budha adalah orang yang mendapat pengetahuan dengan tidak mendapat wahyu dari Tuhan dan bukan dari seorang guru, sebagaimana disebutkan dalam Mahavagga 1,67 : “Aku sendiri yang mencapai pengetahuan, akan kukatakan pengikut siapakah aku ini? Aku tak mempunyai guru, aku guru yang tak ada bandingannya”.

Budha bukan nama orang melainkan gelar. Nama pendiri agama Budha ini ialah Sidharta Gautma atau biasa juga disebut Cakyamuni, artinya orang tapa dari suku turunan Cakyas. Sidharta Gautama dilahirkan di Kapilawastu, sebelah utara Benares di daerah Nepal sekarang, di lereng pegunungan Himalaya pada tahun 566 SM. Sidharta Gautama anak raja Sudhodana.

2. Dharma.
Dharma adalah doktrin atau pokok ajaran, intisari ajaran agama Budha, dirumuskan dalam empat kebenaran mulia (Catur Arya Saccani), yaitu : Dukkha ialah penderitaan Samudya, ialah sebab penderitaan. Nirodha ialah peniadaan penderitaan. Marga ialah delapan jalan kebenaran.

Dharma mengandung empat makna utama;
1. Doktrin.
2. Hak, Keadilan, kebenaran.
3. Kondisi.
4. Barang yang kelihatan atau Fenomena.

Budha Dharma adalah suatu ajaran yang mengguraikan hakekat kehidupan, berdasarkan pandangan terang, yang dapat membebaskan manusia, dari kesesatan atau kegelapan bathin dan penderitaan yang disebabkan ketidakpuasan. Budha Dharma meliputi unsur-unsur agama, kebaktian, filosofi, psikologi, falsafah, kebatinan, metafisika, tata susila, etika.dll.

Tripitaka Mahayana termasuk dalam Budha Dharma.
Tripitaka.
Tripitaka adalah kitab suci agama Budha. “Tri” artinya “tiga” dan “Pitaka”artinya “keranjang”atau kumpulan, jadi Tripitaka adalah tiga keranjang. Tripitaka terdiri dari :

Vinaya Pitaka.
Vinaya Pitaka merupakan suatu kumpulan tata tertib dan peraturan cara hidup yang ditetapkan untuk mengatur murid-murid sang Budha yang telah diangkat menjadi Bhikku atau Bhikkuni ke dalam Sangha.

Sutta Pitaka.
Sutta Pitaka adalah kumpulan ceramah, dialog, atau berisi wejangan-wejangan sang Budha.

Adidharma Pitaka.
Adidharma Pitaka adalah kumpulan doktrin yang lebih, hasil susunan sistematis dan analisis skolastik dari bahan-bahan yang ditemukan dalam Sutta Pitaka. Adidharma Pitaka yang berisi penjelasan dogmatic yang didasarkan atas ajaran itu.

Triratna.
Triratna yang bermakna tiga permata adalah tiga buah pengakuan dari setiap penganut agama Budha. seperti halnya dengan Credo dalam Kristen, Syahadat dalam Islam. Tiga pengakuan di dalam agama Budha itu berbunyi :
“Buddham Saranam Gocchami”
“Dhamman Saranam Goccani”
“Sangham saranam dacchami”

Bermakna :
“Saya berlindung diri di bawah Budha
“Saya berlindung diri di Bawah Dharma”
“Saya berlindung diri di bawah Sangha”
Triratna harus diucapkan tiga kali. Pada kali yang kedua diawali dengan Dutiyam, yang bermakna : buat kedua kalinya. Pada kali yang ketiga diawali dengan Tatiyam, yang bermakna : buat ketiga kalinya.

Nomer Empat.
Inti Ajaran Agama Kristen;
Intisari iman Kristen adalah sebuah relasi yang didasarkan cinta kasih. Ketika kita mendengar hal ini, kesannya begitu sederhana, namun sebenarnya begitu kompleks. Di dalam dunia, ada empat unsur yang menyusun sebuah agama, yaitu: esksistensi Sang Ilahi, adanya wahyu yang diturunkan oleh Sang Ilahi, adanya penerima wahyu tersebut, dan adanya penganut ajaran yang diteruskan oleh penerima wahyu tersebut.

Dalam agama, manusia sebenarnya datang kepada pengajaran, bukan kepada pendiri agama. Pola pikir manusia seringkali didasarkan pada apakah manusia paham dan mengamalkan ajaran agama sehingga menyenangkan Tuhan. Pendiri agama hanya bertindak sebagai seorang guide (pemandu). Apabila si pendiri agama mati ataupun bangkit dari kematian pun, tidak seorangpun yang peduli. Contoh nyata hal ini adalah ajaran agama Hindu. Tidak seorangpun yang tahu siapa yang mendirikan agama Hindu, tapi Hindu tetap mempunyai banyak penganut, terutama di India dan Bali (Indonesia).

Lalu, apa bedanya ke-Kristen-an dengan agama-agama lain?
Yesus berkata; bahwa Dia adalah jalan dan kebenaran dan hidup (Yohanes 14:6). Keempat unsur ajaran di atas tidak bisa diterapkan pada diri Yesus. Yesus adalah Allah yang mewahyukan diri. Dengan demikian, keempat unsur di atas tidak dapat diterapkan pada kekristenan.

Kekristenan merupakan sebuah relasi: relasi antara Dia (Tuhan) dan aku. Seseorang disebut sebagai seorang Kristen apabila orang tersebut menerima Kristus. Menjadi Kristen bukan karena rajin pergi ke gereja, rajin baca Alkitab, rajin berdoa, dll, tapi adanya keintiman relasi bersama Yesus, relasi yang didasarkan pada cinta kasih. Banyak cerita di dunia yang mengisahkan tentang cinta kasih. Kita mungkin akrab dengan cerita-cerita cinta kasih dalam Walt Disney: Pocahontas, Beauty and the Beast, Snow White, dll.

Semua cerita cinta kasih di dunia hanyalah bayang-bayang dari cerita cinta kasih terbesar yang ada di dunia, yaitu cinta kasih Yesus yang meninggalkan takhta sorgawi dan mati di kayu salib. Dalam sebuah relasi cinta kasih, ada sebuah tuntutan yang begitu tinggi, yaitu: “tidak membagi cinta kasih” alias “tidak mendua”. Cinta Kasih menuntut untuk “tidak boleh dibagi”. Dalam perjalanan iman Kristen, kita tidak bisa menyangkal bahwa kita telah menduakan cinta kasih Tuhan. Kita telah memberhalakan sesuatu dan membagi cinta kasih Tuhan kepada yang lain.

Cinta Kasih pasti menuntut, cinta kasih pasti meminta ini dan itu, cinta kasih pasti mengatur. Misalnya orang tua yang mencintai anak, pasti menuntut banyak hal bagi si anak. Tidak mungkin orang tua yang mencintai anak, malah berkata kepada si anak: “Loe mau apa, silahkan kerjakan, emang gue pikirin”.

Banyak orang Kristen berkata mencintai Tuhan, tapi sebenarnya cinta itu bersifat narsis, untuk menguntungkan diri sendiri. Apabila hubungan kita dengan Tuhan adalah hubungan cinta kasih, maka ada tuntutan.

Ayah Pendeta Yohan, awalnya adalah seorang atheis yang bertobat menjadi seorang Kristen. Bagi Penddeta Yohan, pergi ke gereja, membaca Alkitab, dan berdoa menjadi sebuah tuntutan. Kekristenan dalam hidup Pendeta Yohan, dimulai dengan sebuah tuntutan, bukan relasi. Tapi bagi ayah Pendeta Yohan, tuntutan-tuntutan itu merupakan ekspresi cintanya kepada Tuhan. Dalam sebuah rumah tangga Kristen, sulit bagi anak-anak generasi kedua menjadi Kristen sebagai hasil relasi dengan Tuhan, tapi lebih kepada tuntutan.

Dalam sebuah relasi, kita memahami bahwa relasi harus ada tujuan mau kemana. Dalam sebuah rumah tangga, sebuah hal yang membuat rumah tangga rusak, adalah karena tidak ada tujuan yang jelas sampai keduanya dipanggil Tuhan. Sebuah relasi itu bagaikan minyak dan air dalam satu gelas. Apabila minyak dan air berhenti diaduk, maka keduanya terpisah. Apabila hubungan dengan Yesus adalah hubungan cinta kasih, maka kita bertanya: “Mau kemana hubungan ini?” Kita harus mengupayakan hubungan cinta kasih tersebut berjalan baik dalam tuntunan dan kasih karunia Tuhan sendiri, sehingga segala yang kita kerjakan adalah sebagai bentuk ekspresi cinta kasih kita kepada Tuhan. Sebagai umat kristen, entah itu Katolik maupun Protestan. Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing: “Dalam relasi dengan Yesus, apakah saya melihat keindahan-keindahan Kristus?”

Nomer Lima.
Inti Ajaran Kejawen;
Sebenarnya, kedjawen adalah ajaran Budi Pakerti Luhur Tanah Jawa. Budaya dan kebudayaan adalah jati diri suatu bangsa. Ajaran budi pakerti luhur dari sebuah pemikiran rasa cipta dan karsa dari manusia. Sebagai orang jawa, sudah sepatutnya budaya sebagai jati diri ini, digali dilestarikan dan diajarkan, bukan malah ditolak mentah-mentah, di sia-sia dianggap tak berharga. Perlu diketahui, yang membuat bangsa lain kagum kepada kita, bukanlah sekedar teknologi dan kemajuan, tapi adalah orisinilitas dalam pola tingkah laku, yaitu budaya kebudayaan ajaran budi pakerti luhur, sebagai identitas jati diri pribadi sebuah bangsa.

Kejawen (bahasa Jawa Kejawèn) adalah sebuah kepercayaan yang terutama dianut di pulau Jawa, oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya, yang menetap di Jawa. Kejawen hakikatnya adalah suatu filsafat dimana keberadaanya ada sejak orang Jawa (Bahasa Jawa: Wong Jawa , Krama: Tiyang Jawi) itu ada. Hal tersebut dapat dilihat dari ajarannya yang universal dan selalu melekat berdampingan dengan agama yang dianut pada zamannya. Kitab-kitab dan naskah kuno Kejawen tidak menegaskan ajarannya sebagai sebuah agama, meskipun memiliki laku. Kejawen juga tidak dapat dilepaskan dari agama yang dianut, karena filsafat Kejawen dilandaskankan pada ajaran agama yang dianut oleh filsuf Jawa.

Sejak dulu, orang Jawa mengakui keesaan Tuhan, sehingga menjadi inti ajaran Kejawen, yaitu mengarahkan insan. Sangkan Paraning Dumadhi; (Dari mana datang dan kembalinya hamba Tuhan) dan membentuk insan se-iya se-kata dengan Tuhan-nya. Manunggaling Kawula lan Gusthi; (Bersatunya Hamba dan Tuhan). Dari kemanunggalan itu, ajaran Kejawen memiliki misi sebagai berikut:

Mamayu Hayuning Pribadhi (sebagai rahmat bagi diri pribadi)
Mamayu Hayuning Kaluwarga (sebagai rahmat bagi keluarga)
Mamayu Hayuning Sasama (sebagai rahmat bagi sesama manusia)
Mamayu Hayuning Bhuwana (sebagai rahmat bagi alam semesta)

Berbeda dengan kaum abangan kaum kejawen relatif taat dengan agamanya, dengan menjauhi larangan agamanya dan melaksanakan perintah agamanya namun tetap menjaga jatidirinya sebagai orang pribumi, karena ajaran filsafat kejawen memang mendorong untuk taat terhadap Tuhan-nya. jadi tidak mengherankan jika ada banyak aliran filsafat kejawen menurut agamanya yang dianut seperti: Islam Kejawen, Hindu Kejawen, Kristen Kejawen, Budha Kejawen, Kejawen Kapitayan (Kepercayaan) dengan tetap melaksanakan adat dan budayanya yang tidak bertentangan dengan agamanya.

Nomer Enam.
Inti Ajaran Wahyu Panca Gha’ib;
Adalah percaya atau yakin. Bahwa hanya hidup, yang bisa menjadi jalan pulangnya jiwa dan raga kita, setelah meninggalkan kehidupan di dunia ini. karena hanya Hidup, yang berasal dari Hyang Maha Suci Hidup. Selain Hidup, diciptakan dengan bahan. Sedangkan Hidup, langsung berasal dari Hyang Maha Suci Hidup, dengan cara di tiupkan bersama Sabda Kun Faya Kun, pada awal pencipta’an.

Salokanya; “Kenalilah dirimu sendiri. Sebelum engkau mengenal AKU”

Bagi Pelaku Wahyu Panca Gha’ib. Hidup adalah Guru Sejati-nya. Penuntun-nya. Rasul-nya. Utusan yang mengemban amanah dan firman dari Hyang Maha Suci Hidup, secara langsung untuknya, tanpa perantara apapun dan siapapun. Jadi, tidak ada satupun yang bisa mengembalikan atau memulangkan atau bertanggung jawab, tentang jiwa raga lahir bathin kita, kecuali Hidup kita sendiri.

Salokanya; “Galilah Rasa yang meliputi seluruh tubuhmu. Karena di dalam tubuhmu. Ada Firman Tuhan yang bisa menjamin, hidup mati dan dunia akheratmu”

Semboyan-nya. Kita bisa melakukan apa saja. Karena Hidup. Bisa menyebut Tuhan/Allah. Nabi. Rasul. Bisa ngaji/baca alqur’an, bisa beramal dan beribadah, bisa makan minum dll, itu karena kita Hidup, coba kalau tidak Hidup, bisakah melakukan atau berbuat sesuatu… tidak bukan, paling tidak ya di kubur, karena kalau tidak Hidup, itu bukan manusia, melainkan mayat atau bangkai, yang layaknya hanya di kubur.

Salokanya; “Jangan sekali-kali mengaku manusia hidup. Jika tidak bisa merasakan hidupnya. Sebab kalau tidak bisa merasakan hidupnya, itu bukan manusia hidup. Melainkan mayat hidup”

Prinsipnya; “Jadi, sudah merupakan keharusan untuk mengenal Hidup dan Mengikuti Pentunjuknya, karena hanya petunjuk dari hiduplah, yang tidak meleset dari Firman Hyang Maha Suci Hidup”

Sebenarnya Wahyu Panca Gha’ib itu, lebih tepat disebut Laku, bukan ajaran. Laku itu, niyat pribadi yang sudah ada sejak sekian lama, lalu diarahkan hanya pada satu tujuan saja, yaitu Maha Suci Hidup. Bukan yang lain selainnya. Wahyu Panca Gha’ib juga tidak bisa disebut, agama atau kepercaya’an, juga bukan kejawen atau kebatinan, bukan golongan, bukan perguruan atau ilmu kesaktian jaya kawijayan, atau partai politik dan lain-lain sebagainya. Wahyu Panca Gha’ib, adalah Sarana untuk Laku Manunggal.

Apa itu Manunggal?
Manunggal itu menyatu atau bersatu.
Menyatu dan bersatu dengan apa dan siapa?
Menyatu atau bersatu dengan Hidup.
Apa yang disatukan dengan Hidup?
Kawula dan Gustinya atau Sedulur papat kalima Pancernya.
Apa itu kawula gusti atau sedulur papat kalima pancer?

Kawula atau Sedulur Papat itu, angan-angan, budi, pakarti dan panca indera, atau mutmainah, aluamah, supiyah, dan amarah. Gusti atau Pancer adalah Wujud/Raga. Itulah yang disatukan dengan Hidup, agar jiwa dan raganya dapat menyatu dengan Hidup, se iya sekata, menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam sikon apapun, seperti dikala Hyang Maha Suci Hidup menciptakan.

Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan agama atau kepercaya’an, bukan kejawen atau golongan, bukan perguruan atau kebathinan, bukan ilmu atau partai dan politik serta lain-lainnya. Wahyu Panca Gha’ib, adalah Sarana untuk kembali pulang ke asul usul sangkan paraning dumadi.

Apa itu asal usul sangkan paraning dumadi?
Proses asal usulnya manusia hidup.
Memang asal usulnya manusia hidup itu dari mana?
Dari Maha Suci.
Apa itu Maha Suci?
Penguwasa segalanya. Yang Maha diatas segala yang termaha, yang Langgeng dan Mutlak, tak bisa dicampuri dan tercampuri oleh apapun, kecuali yang berasal dari Maha Suci.
Apa yang berasal dari Maha Suci?
Hidup.

Apa itu Hidup?
Hidup itu… Yang bisa menjadikan Manusia Hidup, bisa bicara, makan, minum, lapa, kenyang dll, bisa bergerak, berpikir dll serta menjadikan manusia hidup memiliki Rasa. Krasa. Rumangsa. Ngrasakake Urip. Bisa menyebut Tuhan. Nabi. Agama. Bisa mengaku hebat, pintar pandai dll.

Nah,,, untuk mengarah ke Hidup-nya sendiri inilah “Wahyu Panca Gha’ib” karena hanya dengan Hidup yang berasal dari Maha Suci ini, kita bisa kembali ke asal usul kita. Sebab, hanya Hidup-lah yang bisa mengantar kita kembali ke Rahmatullah, yaitu Maha Suci Hidup. Bukan ilmu atau amal yang menumpuk atau ibadah yang hebat dll, karena semuanya itu, berbahan, yang tidak berbahan, yang murni dari Maha Suci itu, hanya Hidup.

Maka, hanya melalui Hidup yang bersemayan didalam wujud kita sendiri inilah. Kita bisa kembali pulang ke Rahmatullah. Kalau dalam istilah islamnya “Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Roji’un” kita milik Hyang Maha Suci Hidup, dan berasal dari Hyang Maha Suci Hidup. Tentu harus kembali hanya kepada Hyang Maha Suci Hidup, karena kita berasal dari-Nya. Bukan ke Sisi-Nya atau ke Surga-Nya dan yang lainnya selain Hyang Maha Suci Hidup, apa lagi ke gunung goa dan pepohonan. Kalau dalam istilah kejawennya “Curigo manjing warongko-Warongko manjing curigo” Sirna Sempurna tanpa Bekas apapun.

Inti Laku Ajaran Wahyu Panca Gha’ib, adalah tentang kesempurna segala hal yang hidup dan yang tidak hidup. Maksudnya… Sempurna selama masih Hidup di dalam kehidupan dunia ini, dan Sempurna di kehidupan setelah mati meninggalkan dunia ini. Inti Laku Ajaran Wahyu Panca Gha’ib ini, bisa di ketahui dari sistemnya manekung/maneges atau manembah/sembahyangnya. Yaitu “Wahyu Panca Laku” sebagai berikut;

Wahyu Panca Laku;
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti
5. Sampurnaning Pati Urip.

Wahyu Panca Ghaib dan Wahyu Panca Laku;
1. Kunci – Manembahing Kawula Gusti.
2. Paweling – Manunggaling Kawula Gusti.
3. Asmo – Leburing Kawula Gusti.
4. Mijil – Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Singkir – Sampurnaning Pati Urip.

Wahyu Panca Gha’ib tidak mengharuskan Pelakunya untuk begitu dan begini, meninggalkan agama atau kepercaya’annya dan menjauhi adat istiadat atau status serta identitas dan latar belakang-nya. Semuanya boleh dan di perkenankan, selagi benar dan tidak menyakiti serta merugikan apapun dan siapapun. Wahyu Panca Gha’ib hanya mengajak pelakunya untuk menggali Rasa yang meliputi seluru tubuhnya, karena dengan menggali Rasa yang meliputi seluruh tubuh inilah, kita bisa keluar dari kotak apapun sebutannya, dan membebaskan diri dari semua jenis dan bentuk ego kemelekatan. Sebab ego kemelekatan inilah, yang mempesulit kita, untuk bisa mengerti dan paham arti dan makna dari segalah hal yang sebenarnya. Dan kerena kesulitan yang kita buat sendiri inilah, kita jadi terlepas, bahkan terpisah jauh dari Hakikat Hidup-nya sendiri. Sehingga lupa pada asal usul sangkan paraning dumadi-nya sendiri, yang merupakan awal dan akhir kehidupan-nya.

Itu sebab Wahyu Panca Gha’ib tidak bisa disebut atau dibilang sebagai; agama atau kepercaya’an, kejawen atau golongan, perguruan atau kebathinan, ilmu atau partai dan politik serta lain-lainnya. Karena Wahyu Panca Gha’ib adalah. Hakikat-nya Maha Suci Hidup (Tuhan/Allah). Lakunya Tentang Hidup dan Prosesnya soal Rasa. Hidup dan Rasa ini, dimiliki oleh semua mahkluk hidup. Tidak peduli agama, adat, suku dan partai golongannya.

Sebab Inti Lelaku Ajaran Wahyu Panca Gha’ib, adalah tentang kesempurna segala hal yang hidup dan yang tidak hidup. Maksudnya… Sempurna selama masih Hidup di dalam kehidupan dunia ini, dan Sempurna di kehidupan setelah mati meninggalkan dunia ini. hingga tujuh turunan kekanan, kekiri, kedepan, kebelakang, keatas dan kebawah keluarga kita. Inti Lelaku Ajaran Wahyu Panca Gha’ib ini, bisa di ketahui dari caranya praktek di dalam kehidupan sehari-harinya sa’at berbaur/bermasyarakat. Yaitu sebagai berikut;

Praktek Wahyu Panca Gha’ib dengan menggunakan sistem Wahyu Panca Laku;
1. Pasrah kepada Maha Suci Hidup.
2. Menerima Maha Suci Hidup.
3. Mempersilahkan Maha Suci Hidup.
4. Merasakan Prosesnya.
5. Dengan Cara Menebar Cinta Kasih Sayang kepada apapun dan siapapun dimanapun.

KESIMPULANNYAL;
Karena Intisari ini. Hanya Ada Di Dalam Wahyu Panca Gha’ib. Dan Wahyu Panca Gha’ib bisa dimiliki dan di jalankan oleh semuanya, siapapun dan bagaimanapun dia, tanpa terkecuali. Tanpa harus meninggalkan agama atau ganti agama atau keluar dari agama dan bla… bla… bla… lainnya. Berati Wahyu Panca Gha’ib. Adalah Penyempurna Intisarinya, Ajaran-ajaran yang sudah saya uraikan diatas. Buktinya saya sendiri. Bukan orang lain. Dan… Silahkan direnungkan. Lalu Tentukan. Terus Lakukan jika menginginkan Bukti Nyatanya.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Apa Yang Seharusnya Dilakukan Oleh Manusia Hidup Di Dunia Ini..?! DAN Bagaimana Cara Menghadapi Masalah Dengan Benar dan Tepat…?!


Apa Yang Seharusnya Dilakukan Oleh Manusia Hidup Di Dunia Ini..?!
DAN Bagaimana Cara Menghadapi Masalah Dengan Benar dan Tepat…?!
Oleh Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Sabtu Wage. Tgl 14 Mai 2016

Djaka Tolos;
Pak WEB…
No. 01. Apa Yang Harus Dilakukan Oleh Manusia Hidup Di Dunia ini..?!

Wong Edan Bagu;
Yang Harus Dilakukan Oleh Manusia Hidup Di Dunia ini. Adalah merintis jalan pulang ke rumahnya sendiri, di kampung halaman sendiri, sembari mempersiapkan diri untuk kembali pulang ke rumahnya sendiri, di kampung halamannya sendiri. Dunia ini bukan rumah kita, bukan tempat kita, bukan kampung halaman kita, kita berada di dunia ini, karena angkara murka kita sendiri, karena angkara murka diri kita sendiri inilah, kita jadi terusir dari rumah dikampung halaman kita.

Masih ingat kisah ADAM dan HAWA pada mulanya bukan…
Kenapa dan mengapa Nenek Moyang kita itu terusir dari Surga…?!

Kita berada di dunia ini, sebagai kalifah yang sedang berjihad, jihad memerangi angkara murka, angkara murka yang bersembunyi dalam diri pribadi kita sendiri, bukan diluar diri pribadi kita, dan akibat dari angkara murka inilah, kita menjadi berada di dunia ini, bukan di tempat yang seharusnya kita tempati, tempat manusia hidup yang sesungguhnya, bukanlah di dunia ini, melainkan di surga, dunia ini tempatnya para hewan dan mahluk lainnya, selain manusia hidup. Sebab itu, semua manusia hidup di dunia ini, tidak ada satupun yang tidak punya masalah, karena di dunia ini bukan tempatnya, tapi tempatnya mahluk lain selain manusia hidup.

Senyaman-nyamannya dan sebahagia-bahagianya di tempat lain, tidak akan senyaman dan sebahagia di rumah sendiri dan di tempatnya sendiri, walau tempatnya di kampung pelosok, rumahnya gubug reyod, pasti nyaman dan bahagia, apa lagi semua kebetuhan tercukupi dan segala keperluan tersedia.

Tapi coba jika bukan di tempat dan rumahnya sendiri, misalnya rumah kontrakan atau menempati rumah dinas di kota atau dimanapun yang bukan kampungnya sendiri, sekalipun tercukupi dan terpenuhi, saya berani Pastikan, tidak akan nyaman atau bahagia, karena ada batasan-batasan tertentu, aturan-aturan tertentu, ikatan-ikatan tertentu, yang membuat kita tidak nyaman dan jauh dari bahagia, bukankah begitu…?!

Seperti itulah dunia yang sedang kita huni ini, yang sedang kita tempati ini. disini kita hanya sementara, bak musyafir yang sedang singgah minum, sekejap dan berlalu, Itu sebagai gambaran perumpama’annya saja. Selebihnya, jauh dari yang saya gambarkan diatas. Karena kenyata’an yang benar, bukanlah gambaran umpama atau kira-kira.

Djaka Tolos;
Lalu, bagaimana cara kita merintis jalan pulang ke rumah sendiri, di kampung halaman sendiri, sembari mempersiapkan diri untuk kembali pulang ke rumah sendiri, di kampung halamannya sendiri itu, pak WEB…?!

Wong Edan Bagu;
Untuk bisa merintis, membersihkan jalan, berati kita harus punya sarana alat untuk merintis dan membersihkan jalan, bukankah begitu…

Djaka Tolos;
Sarana alatnya apa pak WEB…?!

Wong Edan Bagu;
Sarana alatnya adalah Wahyu Panca Gha’ib. Yaitu; Kunci. Paweling. Asmo. Mijil dan Singkir.

Djaka Tolos;
Bagaimana teori untuk merintis jalan pulang ke rumah sendiri, di kampung halaman sendiri, sembari mempersiapkan diri untuk kembali pulang ke rumah sendiri, di kampung halamannya sendiri, dengan menggunakan sarana alat Wahyu Panca Gha’ib itu pak WEB…?!

Wong Edan Bagu;
Teorinya, jalankan Wahyu Panca Gha’ib dengan sistem Wahyu Panca Laku. Yaitu; Manembahing kawula gusti. Manunggaling kawula gusti. Leburing kawula gusti. Sampurnaning kawula gusti dan Sampurnaning urip-pati/pati-urip.

Djaka Tolos;
Maaf, apakah ada perbeda’an antara Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku itu pak WEB…?! Sepintas terkesan sama.

Wong Edan Bagu;
Wahyu Panca Gha’ib itu, sarana atau alat, sedangkan Wahyu Panca Laku itu, adalah cara atau sistem untuk menjalankan Wahyu Panca Gha’ib.

Djaka Tolos;
Bagaimana Praktek menjalankan Wahyu Panca Gha’ib yang tepat dan benar, dengan menggunakan sistem Wahyu Panca Laku itu, pak WEB…?!

Wong Edan Bagu;
Luangkan waktu, minimal satu jam dalam sehari semalam, untuk berSemedi “lebih lama lebih bagus”. Lalu Patrapkan Wahyu Panca Gha’ib dengan Sistem Wahyu Panca Laku.

Lakunya Kunci itu; Manembahing kawula gusti. Patrapkan itu…
Lakunya Paweling itu; Manunggaling kawula gusti. Patrapkan itu…
Lakunya Asmo itu; Leburing kawula gusti. Patrapkan itu…
Lakunya Mijil itu; Sampurnaning kawula gusti. Patrapkan itu…
Lakunya Singkir itu; Samprnaning urip-pati. Patrapkan itu…

Djaka Tolos;
Masih belum bisa di mengerti pak, bisa di jelaskan lebih rinci lagi, dengan bahasa yang lebih bisa dipahami lagi pak WEB…?!

Wong Edan Bagu;
Bisa… Patrap itu, cara bergerak atau gerakan yang dilakukan sa’at membaca kalimah-kalimah Wahyu Panca Gha’ib. Sedangkan Laku “Wahyu Panca Laku” itu, Sistemnya atau sikon sa’at bergerak membaca kalimah-kalimah Wahyu Panca Gha’ib yang terpakai sa’at berSemedi.
Djaka Tolos;
Contoh misalnya pak WEB…?!

Wong Edan Bagu;
Misal contohnya. Patrap Kunci, lakunya patrap Kunci itu, adalah manembahing kawula gusti. Manembahing itu. Nyembah atau sungkem. Kawula itu, sedulur papat kita, yaitu. Mutmainah. Aluamah. Amarah dan Supiyah atau Angan-angan. Budi. Pakarti dan Panca indera (jiwa kita). Gusti itu, wujud (raga kita). Karena Patrap Kunci itu Lakunya adalah Manembahing kawula gusti, yang artinya nyembahnya jiwa dan raganya kita. Ya harus tawaduk, harus sopan, harus santun, harus lembut, harus tunduk, harus andap asor, harus indah, harus bertata krama. Sebagaimana dikala kita Manembah/Sungkem kepada kedua orang tua kita sa’at Hari Raya Iddul Fitri.

Misal contohnya lagi. Patrap Paweling, lakunya patrap Paweling itu, adalah manunggaling kawula gusti. Manunggal itu. Menyatu atau bersatu. Kawula itu, sedulur papat kita, yaitu. Mutmainah. Aluamah. Amarah dan Supiyah atau Angan-angan. Budi. Pakarti dan Panca indera (jiwa kita). Gusti itu, wujud (raga kita). Karena Patrap Paweling itu Lakunya adalah Manunggaling kawula gusti, yang artinya. Menyatunya atau bersatunya jiwa dan raganya kita. Ya harus dengan penghayatan rasa, harus dengan ketelitian rasa, harus dengan kesadaran rasa. Sebagaimana dikala kita mencium kedua telapak tangan atau kaki kedua orang tua kita sa’at memohon doa restunya.

Misal contoh lagi. Patrap Asmo, lakunya patrap Asmo itu, adalah leburing kawula gusti. Lebur itu, lebur atau luluh. Kawula itu, sedulur papat kita, yaitu. Mutmainah. Aluamah. Amarah dan Supiyah atau Angan-angan. Budi. Pakarti dan Panca indera (jiwa kita). Gusti itu, wujud (raga kita). Karena Patrap Asmo itu Lakunya Leburing kawula gusti, yang artinya. Leburnya atau luluhnya jiwa dan raganya kita. Ya harus sepi, senyap, kosong, hening, suwung, tidak ada apa-apa. Sebagaimana dikala kita tenrenyuh meneteskan air mata, sa’at mendapat maaf dan doa restu dari kedua orang tua kita.

Begitu juga dengan Patarp Mijil, yang lakunya Patrap Mijil adalah Sampurnaning kawula gusti. Sampurna itu layak atau pantas. Kawula itu, sedulur papat kita, yaitu. Mutmainah. Aluamah. Amarah dan Supiyah atau Angan-angan. Budi. Pakarti dan Panca indera (jiwa kita). Gusti itu, wujud (raga kita). Karena Patrap Mijil itu Lakunya adalah Sampurnaning kawula gusti. Yang Artinya Layak atau Pantasnya jiwa dan raga kita, sebagai manusia hidup (Putro Romo). Maka harus hakul yakin, harus benar-benar beriman, percaya, sudah tidak ada lagi keraguan, ketakutan, menduga-duga, menebak-nebak, mengira itu dan ini. semuanya telah sempurna, yang ada hanya Cinta Kasih Sayang, tidak ada lagi perbeda’an, tidak ada lagi perselisihan, tidak ada lagi yang perlu di pertanyakan, semuanya sama, satu asal usul dan akan kembali kepada satu, asal usul yang sama, yaitu Hyang Maha Suci Hidup.

Dengan yang sudah saya uraikan diatas, semuanya bisa. Tidak peduli apapun agama dan latar belakangnya, statusnya, adatnya, sukunya, tempatnya, jenis kelaminnya. Karena ini berlaku untuk semua Manusia Hidup tanpa terkecuali. Maka… Pikirkanlah dengan nalar dan logika-mu yang wajar dan umum. Terima Kasih _/||\_

Djaka Tolos;
Apakah sudah cukup hanya dengan itu semua pak WEB…?!

Wong Edan Bagu;
Lebih dari cukup, karena dengan menjalankan Wahyu Panca Gha’ib dengan Sistem Wahyu Panca Laku. Akan di tuntun dan tertuntun oleh Guru Sejati/Hidupnya sendiri. Dan tuntunan terbaik dan terbenar untuk setiap diri manusia hidup, adalah Hidupnya sendiri.

Djaka Tolos;
No. 02. Bagaimana Cara Menghadapi Masalah Dengan Benar dan Tepat…?!
Karena kehidupan di dunia ini, tidaklah mungkin tanpa masalah, misalnya pekerja’an atau hutang piutang dan lain sebagaimanya, pak WEB juga pernah mengatakan, tidak ada satupun manusia hidup di dunia ini yang tanpa masalah, karena dunia ini sesungguhnya adalah masalah.

Wong Edan Bagu;
Langkah awal, jalankan apa yang sudah saya uraikan diatas, jangan berpikir apa lagi merancang sesuatu yang belum, apapun itu, karena milik kita adalah sekarang dan sa’at ini, kemaren dan esok, itu bukan milik kita. Jika sa’at sekarang ini mendapatkan masalah. Lakukan lima hal sebagai berikut.

1. Pasrah-lah kepada Hyang Maha Suci Hidup.
2. Menerima-lah dengan apapun Keputusan Hyang Maha Suci Hidup.
3. Persilahkan Hyang Maha Suci Hidup.
4. Rasakan Proses kejadiannya
5. Tebarlah Cinta Kasih Sayang kepada apapun dan siapapun.

Djaka Tolos;
Bisakah di uraikan satu persatu penjelasannya, dari kelima lelaku tersebut, dengan menggunakan contoh misal, agar lebih mudah untuk di pahami maksudnya, pak WEB…?!

Wong Edan Bagu;
Bisa…
Contoh misal. Saya punya masalah hutang. Pertama; Pasrahkan-serahkan hutang itu kepada Hyang Maha Suci Hidup, dengan cara Laku Patrap Kunci. Kedua: Terimalah Hyang Maha Suci Hidup sebagai Imam-mu, dengan cara Laku Patrap Paweling. Ketiga; Persilahkan Hyang Maha Suci Hidup, mengambil alih semua dan segala urusan kepentinganmu, dengan cara Laku Patrap Asmo. Ke’empat; Rasakan prosesnya dengan cara Laku Patrap Mijil. Nanti kau akan tau ending-nya, kalau sudah tau ending-nya, pasti ngerti klimax-nya. Kalau ngerti klimax-nya. Pasti Bisa…!!!

Jika kesulitan dalam merasakan prosesnya, karena alasan belum terbiasa atau karena masih awam.

Carilah rasa enak/nyaman dibalik proses Laku Patrap Mijilmu itu, jika berhasil mendapatkan rasa enak/nyaman, berati selesai sudah apa yang telah menjadi masalahmu itu. Akhiri dengan Patrap Palungguh. Kelima; Lalu tebarlah Cinta Kasih Sayang terhadap apapun dan kepada siapapun, dengan cara beraktifitas seperti biasanya, contoh misalnya; kerjalah jika ada pekerja’an, namun jangan mengharapkan hasilnya, apa lagi berpikir hasilnya untuk membayar hutang, kerja saja-lah, dengan iman. Ingat… hutangmu sudah di serahkan kepada Hyang Maha Suci Hidup, dan kau sudah yakin serta percaya Bahwa Hyang Maha Suci Hidup itu. Maha Segalanya, baginya tidak ada yang mustahil, maka jangan buang-buang waktumu untuk ikut campur urusannya.

Gambaran-Umpama;
Saya mau berangkat ke Jakarta. Menuju ke alamat rumah teman yang baru saja saya kenal, di jalan gajah mada nomer 2017. Rt/rw. 004/009. Kota Jakarta, dan ini untuk yang pertama kalinya saya akan berkunjung, misalnya; dengan mobil pribadi. Lalu saya Pasrah dan Menerima serta Mempersilahkan Hyang Maha Suci Hidup sebagai Supir mobil pribadi kita.

Karena Yang Menjadi Supir Mobil saya itu, adalah Hyang Maha Suci Hidup. Sesembahan Yang Maha Segala-Nya. Maka, saya tidak perlu pusing mikir makan di warung dan buang-buang waktu, mikirin isi bensin, mikir ban nggembes, ngasih tau Hyang Maha Suci Hidup, didepan ada belokan, ada lampu merah, untuk menuju ke alamat teman saya itu, nanti dari perempatan belok kiri, trus nanti ada gang, trus gang ke lima belok kanan, yang di bawah pohonnya, ada ayunan anak-anak, trus lurus bla…bla…bla… Wow… Ingat…!!! yang sedang menjadi supir itu Hyang Maha Suci Hidup. Bukan Wong Edan Bagu yang bisanya hanya kowar-kowar ngabarin tentang Cinta Kasih Sayang Hyang Maha Suci Hidup doang. Bukan…!!! He he he . . . Edan Tenan.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd:Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

RIWAYAT DAN DEBAT SEDULUR PAPAT KALIMA PANCER:


RIWAYAT DAN DEBAT SEDULUR PAPAT KALIMA PANCER:
Oleh Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Kamis Pahing. Tgl 12 Mai 2016Ayo Ngguyu

RIWAYAT SEDULUR PAPAT KALIMA PANCER;
Salam Rahayu Para Kadhang dan sedulur-sedulur semuanya tanpa terkecuali dimanapun berada. Ketahuilah… Bahwa, istilah sebutan sedulur papat kalima pancer itu, sebenarnya berlaku untuk semua mahluk apapun dan dimanapun, terutama manusia hidup, tak peduli latar belakang, suku, adat dan agamanya, hanya saja, beda istilah, dalam menyebutkannya. Dan saya pribadi, menyebutnya sebagai Kawula dan Gusti (kawula gusti). Istilah populer Sedulur 4 atau juga disebut Malaikta 4, kalau dalam istilah golongannya.

Di dalam sejarah keNabian disebut juga sebagai Jibril. Mika’il. Ijro’il dan Isrofil, sebagai kawulanya, dan Muhammad sebagai gusti nya. Di dalam sejarah kelahiran bayi dari rahim Ibu nya, di sebutnya dengan istilah Kakang Kawah. Adi Ari-ari. Sedulur Puser dan Sedulur Getih, sebagai kawulanya, dan wujud raga jabang bayi sebagai gusti nya. Dalam sejarah keilmuan juga disebutkan dengan istilah Mutmainah. Aluamah. Amarah dan Supiyah, sebagai kawulanya, dan raga yang sedang belajar ilmu sebagai gusti nya. Dan masih banyak istilah-istilah lainnya, yang pasti cukup memusingkan isi kepala siapapun jika mengetahui jumlah keseluruhan dari yang namanya sedulur papat kelima pancer tersebut.

Dan saya pribadi menyebutnya simpel, yaitu “Kawula Gusti” jika di bahasakan umum, termasuk bahasa sekolahan, dalam pelajaran tentang anatomi tubuh manusia hidup. Adalah; Angan-angan. Akal. Budi Pakarti dan panca indera, sebagai sedulur papatnya dan tubuh manusia hidup, sebagai gustinya. Singkatnya; “Kawula Gusti”

Para Kadhang dan Sedulur sekalian, pada awal mula kejadiannya, yaitu sa’at pertama kali manusia di ciptakan oleh Hyang Maha Suci Hidup. Sedulur papat ini, sengaja diberikan atau di bekalkan kepada manusia sebagai piranti atau alat bantu atau sarana, agar yang di sebut manusia hidup, memiliki kemampuan lebih atau ada perbeda’an, di bandingkan mahluk-mahluk lainnya. Para Kadhang dan Sedulur yang kebetulan membaca artikel saya ini, mungkin pernah mendengar riwayat pencipta’an Nabi Adam. Yang pada mulanya, wujud atau raga Adam yang terbuat dari tanah itu, setelah terbentuk menjadi wujud atau raga Manusia Adam, dalam kada’an tergeletak tak berdaya tanpa nyawa, lalu Hyang Maha Suci Hidup, menyambil empat inti alam. Yaitu; Air. Angin. Api dan Sari Bumi, yang lebih di kenal dalam bahasa ilmunya, sebagai empat anasir. Yang kemudian masing-masing di cipta menjadi roh, lalu dimasukan ke dalam wujud atau raga Adam, sebagai pelengkap sekaligus alat bantu atau sarana, yang merupakan bekal dari Hyang Maha Suci Hidup, bagi setiap manusia hidup yang di ciptakannya.

Walaupun Wujud atau Raga Adam telah di beri bekal empat piranti, tersebut sedulur papat yang berbahan dari empat anasir, dan masing-masing memiliki kesaktian luar biasa, namun kala itu, Wujud atau Raga Adam, masih tetap tergeletak, terbujur kaku tanpa daya dan upaya apapun. Dan pada sa’at itu, Wujud atau Raga Adam disebut manusia, yang artinya, wujud yang tanpa daya dan upaya apapun, Setelah Hyang Maha Suci Hidup, meniupkan napasnya dengan Sabda Kun Faya Kun. Lalu Wujud atau Raga Adam, bisa bergerak dan bersuara. Berangan-angan, berakal, berdudi pakarti dan berpanca indera. Dan mulai sa’at itulah, wujud atau raga Adam. Di perkenalkan pada seluruh alam dan isinya, dengan Sebutan Manusia Hidup Bernama ADAM. Yang artinya; “Asal Dumadi Ananing Manungsa” jika ditulis dengan aksara arab, menjadi “ADAMU” yang artinya; “Asal Dumadi Ananing Manungsa Urip”

Dalam riwayat ini, monggo,,, silahkan Para Kadhang dan Sedulur, berpikr sendiri, mana yang seharusnya berperan kendali penting. Sedulur Papat? Apa Pancer? Atau Napas Hyang Maha Suci Hidup yang ditiupkan pada Raga Adam?

Begitulah Riwayat asa usul kejadiannya Sedulur Papat Kalima Pancer. Yang berbahan dari sari-sarinya Air. Angin. Api dan Bumi, sebagai Sedulur Papat-nya dan Wujud atau Raga sebagai Pancer-nya. Yang saya ketuhui sendiri pembuktiannya, menggunakan Wahyu Panca Gha’ib dengan Wahyu Panca Laku. Bukan katanya apapun dan siapapun.

DEBAT SEDULUR PAPAT KALIMA PANCER;
Para Kadhang dan Sedulur sekalian, pada awal mulanya, sedulur papat kalima pancer ini, adalah seperangkat Wahyu dalam satu kemasan khusus dari Hyang Maha Suci Hidup, bukan dari yang lain selaian-Nya. Merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, mereka salin memberi dan menerima, sain bahu membahu, salin asah asih dan asuh. Karena selain telah di sumpah oleh Hyang Maha Suci Hidup sa’at pertama kali di ciptakan, untuk menjaga dan membantu wujud/raga yang hidup. Juga mereka berempat ini, di tundukan untuk patuh dan setia tuhu kepada wujud/raga yang hidup. Sehingganya, selama di dalam alam kandungan/rahim sang ibu, hanya ketenteraman yang dialaminya, selain tenteram, tidak ambil pusing, itu sebab, ketika bayi dilahirkan, langsung njerit menangis, karena merasa terusik oleh bisingnya dunia fana dan takut kehilangan tenteram yang selama 9 bulan 10 hari kurang lebihnya, dinikmatinya tanpa masalah.

Dan apa yang terjadi, semakin hari, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, dan tahun demi tahun, bertambah pengalaman, bertambah pengetahui pula, jadi bisa menyebut, mereka-reka, merancang, mengarang, menduga dll. Jadi tahu ilmu, tahu adat, tahu tata krama, tahu harga diri, tahu kehormatan, tahu agama, tahu rukun iman, tahu Tuhan dll. Semakin tahu, semakin pusing, semakin bingung, semakin buta dan tuli. Bahkan semakin hawatir dan takut. Dan yang lebih konyol lagi, semakin pintar dan pandai serta hebat. Semakin tersesat jauh keluar dari “ADAM” hingga lupa diri. Jangankan Tuhan. Dirinya sendiri saja. Lupa… buktinya, tidak tahu siapa diri kita yang sebenarnya.

Debat Sedulur Papat Kalima Pancer;
Kala itu… Aku Sedang Sukses…
Kala itu… Aku Sedang Bangkrut…
Kala itu… Aku Sedang Senang…
Kala itu… Aku Sedang Sedih…
Kala itu… Aku Sedang Pintar…
Kala itu… Aku Sedang Bodoh….
Kala itu… Aku Sedang berTuhan…
Kala itu… Aku Sedang Tidak berTuhan alias Kafir…
Kala itu… Aku Sedang bla… bla… bla… inilah yang menjadi kriwi’an dadi grojogan, berdebatnya sedulur papat.

1. Mutmainah, yang kejadiannya dari Kawah/Ketuban/air, putih warnanya. Berkata;
Diantara sedulur papat. Aku-lah yang utama. Aku menjamin, sang jabang bayi bebas bergerak bagaimanapun dan kemanapun. Hingga seluruh organ tubuhnya terangsang, untuk terus tumbuh dengan sempurna. Aku membantu daya pencerna’annya, kuatkan otot, tulang dan rangka, serta menjaga organ pernapasannya, agar dapat berkembang dengan leluasa pula. Aku… Mutmainah-lah, yang menjadi ruang istimewa, menghangati sang jabang bayi, sembari mencegah segala macam serang negatif yang membahayakan si jabang bayi, yang hendak melemahkan atau menghancurkan si jabang bayi. Akupun kompak, membuka rahim sang ibu, pada sa’at persalinan/kelahiran tiba, sebagai jalan si jabang bayi bisa menengok dunia walau hanya sekejap saja, lantas kita salin ucapakan janji setia, mengabdikan diri, membersihkan jalan itu, seperti sediakala.

2. Aluamah, yang kejadiannya dari Ari-ari/Sari bumi, hitam warnanya. Berkata;
Ketika si jabang bayi lahir, si jabang keluar bersamaku. Aku-lah yang mengantar, hingga jabang bayi sampai tujuannya, tanpa pengorbananku, si jabang bayi, tidak akan pernah sampai ke dunia. Aku-lah nahkoda pelayarannya, membawa kompas, hingga berhasil kepelabuhan kehidupan dunia. Aku… Aluamah, anasir-anasir kehidupan, hilir mudik dari tubuh bunda kekuasa’an jabang. Aku pula, yang menciptakan anasir-anasir itu, jadi. Aku-lah yang paling berjasa. Ha…ha…ha… Mengukir jiwa raganya.

3. Amarah, yang kejadiannya dari Darah/Api, merah warnanya. Berkata;
Haeeeeee…. Siapa bilang kalian…!!!. Aku-lah yang mempunyai fungsi terpenting…!!!. sebab Aku yang mengambil peran utama, dalam menyalurkan darah, nutrisi dan semua kebutuhan hidup sang jabang bayi…!!!. hanya melalui tangan dan tubuh Aku…!!!.

4. Supiyah, yang kejadiannya dari Pusar/Puser/Angin, kuning warnanya. Berkata;
Hi…hi…hi…. Tapi,,,, siapakah yang menghubungkan jaringan pengikat antara Ari-ari dan si jabang bayi…?. siapa pula, yang menjaga kehidupannya, ketika masih berada didalam kandungan ibunya…?. mendukung pertumbuhannya, ketika masih berwujud janin/embiyo…?. bukah itu semua Aku…?!. bahkan pembuangan senyawa sisa, pengangkutan mimpi hawa udara, saripati makanan dan minuman, semuanya melalui diriku…!!!.

“Amarah”: Bukan. Aku yang menyuapinya, itu bukti. Aku yang paling utama.
“Mutmainah”: Tidak. Tanpa Aku, dia bisa tersesat, jadi Aku yang utama.
“Aluamah”: Siapa yang melindungi dan menjaga kehangatannya. Aku paling utama.
“Supiyah”: Tidak. Aku yang utama.

“Mutmainah”: Siapa bilang kalian. Aku-lah…!!!.
“Amarah”: Bukan kamu. Aku…!!!.
“Aluamah”: Kamu…? lalu Aku…!!!
“Amarah”: Masa bodoh,,, bangsat…!!!. eh salah, embat…!!!. waduh salah lagi, sikat…!!!.
“Aluamah”: Loh, kamu berani…!!!
“Mutmainah”: Ah…. bedebah kamu…!!!.
“Supiyah”: Asem kecut gulo legi, tak ganyang, tak untal sak endog petarangane kamu…!!!.

Prang Pring Prung Brugg…. Perang saudara tak dapat dihindarkan. Terjadilah, maka terjadilah. Efeknya pada si Pancer. Pusing. Stres. Bingung. Hawatir. Takut. Dari berdebat jadi salin bakuhantam. Efeknya pada si Pancer jadi Sakit, lalu masuk rumah sakit raga dan rumah sakit jiwa bahkan bunuh diri, lalu “MATI” setelah di diadili dan di hakimi di akherat, sesuai amal perbuatannya di dunia, jadi arwah penasaran, gentayangan kemana-mana, tanpa arah dan tujuan yang pasti. Naudzu bilahimindalik.

Sang Pancer akhirnya angkat bicara dengan keluhannya, setelah semuanya hancur lebur berkeping-keping. Aduh….!!! Sakit sekali, tak ada umpama yang dapat untuk menggambarkan sakit ini. Sampai kapan ini akan terjadi dan teralami… Wahai Sang Pemimpin, yang menjadikan tubuh ini bisa bergerak dan bersuara, pemegang kendali dan tanggung jawab atas kami berlima, kami bermohon atas kuasamu kepada kami. Setiap kali rahim bunda berguncang, tolong ikat kami erat-erat dengan kuasamu atas diri kami, dan lindungi kami dengan belaian Cinta Kasih Sayangmu, agar tubuh lunaku tak terkoyakan sedikitpun, lalu jagalah kami, agar jiwa rapuhku tak terganggu sedikitpun.

Wahai sedulur papatku yang dulu selalu setia merawat dan memanjakanku, hanya kalianlah kiblatku, yang menghantarkanku pada kehidupan baru di dunia ini, tapi kenapa dan mengapa kini kalian salin berdebat, salin caci maki, salin benci, salin fitnah, iri dan dengki, salin terkam dan bakuhantam, bahkan salin menjatuhkan/membunuh, dimana sedulur-sedulurku yang dulu rukun sehati, seiya sekata, kemana sedulur-sedulurku yang dulu senantiasa berdekapan dengan penuh Cinta Kasih Sayang, apakah kalian tidak tahu, bahwa itu merugikan raga, apakah kalian tidak mengerti, bahwa itu melukai jiwa, apakah kalian tidak paham, bahwa itu mempersulit dirimu sendiri dalam mencapai kesempurna’an Hidup dan Kehidupan dunia akherat. Oh…. Sakit… Pedih… Perih… Saaaaakiiiitttttttt….!!!

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian dimanapun berada, begitu situasi sedulur papat dan kondisi pancer jika tidak mengenal Hidup yang menempati jiwa raga kita ini, karena yang kuasa bertanggung jawab atas jiwa raga kita ini, adalah Hidup, dan hanya Hiduplah yang memiliki kemampuan bisa. Bukan ilmu, bukan harta atau tahta, apa lagi wanita. Ingat… Hanya Hidup. Bukan yang lain.

Kesetia’an mereka berlima. Saya menyebutnya dengan istilah Manembahing Kawula Gusti, dalam “Wahyu Panca Laku”. Kerukunan mereka berlima. Saya menyebutnya dengan istilah Manunggaling Kawula Gusti, dalam “Wahyu Panca Laku”. Kesatuan dan kepaduan mereka berlima. Saya menyebutnya dengan istilah Leburing Kawula Gusti, dalam “Wahyu Panca Laku”. Dan masih ada dua tingkatan dimensi lagi setelah ini. Yaitu; Sampurnaning Kawula Gusti untuk ukuran Dunia dan Sampurnaning Pati Urip untuk ukuran Akheratnya.

“Jangan sekali-kali mengaku Manusia Hidup, kalau tidak bisa merasakan Hidup-nya. Sebab, kalau tidak bisa merasakan Hidup-nya, itu bukan manusia Hidup, tapi,,, mayat Hidup”

“Galilah rasa yang meliputi seluruh tubuhmu, di dalam tubuhmu, ada Firman Hyang Maha Suci Hidup, yang bisa menjamin, hidup mati dan dunia akheratmu”

“Kenalilah dirimu terlebih dulu, sebelum engkau mengenaliku” . “Sesungguhnya Aku berada dekat, bahkan lebih dekat dari urat lehermu”

Dan Slogan terkenal yang berbunyi “Sudahkah Anda Sholat sebelum di sholatkan” saya ganti menjadi “Sudahkan Anda mengenal Hidup Anda sebelum sholat” Sebab jika Anda sholat sebelum Anda mengenal Hidup Anda, bagaimana mungkin Bisa…?! Yang sholat itu siapa…?! He he he . . . Edan Tenan.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

PERSIAPKAN DIRIMU WAHAI PARA PUTERA RAMA:


PERSIAPKAN DIRIMU WAHAI PARA PUTERA RAMA:
(KESAKSIAN Wahyu Panca Gha’ib)
Oleh Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Sabtu Kliwon. Tgl 30 Mei 2016

Duh… Gusti ingkang moho suci, celikkan setiap mata hati yang buta, dan lembutkan setiap hati yang keras, serta ajari setiap putero untuk mengerti dan paham, apa yang Engkau sampaikan, kepadaku sa’at Manembah Sungkem Patrap Bersimpuh dihadapan-Mu, pada hari Jumat Wage Tanggal 29 April 2016. Engkau perlihatkan kepadaku sebuah gunung besar, yang siap untuk meletus sewaktu- waktu. Dan Engkau perlihatan pula kepadaku, banyak orang yang berlalu lalang disebuah jalan dekat gunung itu, mereka berlalu lalang dengan santainya, tanpa rasa takut, padahal gunung itu bisa meletus dahsyat sewaktu- waktu.

Aku mencoba berteriak kepada semua orang di sekitar gunung itu, tetapi sayangnya mereka tidak ada satupun yang memperdulikan peringatanku, karena enggan menyaksikan dengan apa yang akan terjadi detilnya, akupun menyudahi semediku, setelah palungguh, lalu aku bergegas bangkit dan pergi keluar dari tempat semedi, namun jangankan pergi keluar meninggalkan tempat semedi, bangkit berdiri saja tidak mampu, lemas lunglai seakan tak bertulang.

Tak lama kemudian, tiba-tiba mataku terbelalak menyaksikan bentangan samudera dihadapanku, aku melihat di tengah laut muncul sosok seperti malaikat yang pernah aku lihat di film-film bioskop, berbentuk AIR BAH dan API yang siap untuk menghancurkan dunia seluruhnya, aku berusaha untuk berpaling dari pemandangan itu, karena aku pikir itu hanya fikti hayalan atau halusinasi angan-anganku, namun mataku terpaku dan terasa dipaksa untuk menyaksikannya.

Sehingganya, mau tidak mau, aku menyaksikannya, tiba- tiba aku melihat, ditengah- tengah Api dan Air Bah itu, ada sepasang tangan yang sedang KUNCI, setelah aku amati tangan itu, ternyata adalah tangan-tangan orang-orang yang sedang Patrap Laku Wahyu Panca Gha’ib

Tiba- tiba aku melihat “ROMO” yang sedang mengumpulkan “PUTERO-PUTERO-Nya” dan membawanya masuk kesuatu tempat. Aku pun ikut masuk bersama yang lainnya itu, dan kulihat didalam tempat itu, ada istriku, ada anaku, ada kedua orang tuaku, ada adik kakaku, ada keluargaku, ada kakek neneku, ada seluruh leluhurku, dan beberapa orang lain yang tidak aku kenal, jumlahnya tidak banyak.

Tetapi saat aku hendak masuk ketempat itu, tiba- tiba ada sosok yang menarik kakiku dan menginginkan aku turun. Aku tidak mau turun, karena aku mau ikut “ROMO” Tetapi “ROMO” Berkata sambil tersenyum. Selesaikanlah dulu Tugas yang sudah AKU tetapkan bagimu.

Akhirnya aku turun kembali dengan dibekali tambahan Cinta Kasih Sayang, dan di sepanjang perjalanan turun, aku melihat pemandangan yang begitu menakutkan dan mengerikan….
PENYIKSAAN, PENGANIAYAAN dan KEJAHATAN TERJADI DIMANA- MANA…
Aku melihat seseorang yang dibelah wajahnya, anak kecil yang dikubur hidup- hidup, dan anak kecil yang ditenggelamkan di sungai dan dilakukan oleh orang- orang yang mereka kenal, ada murid atau santri yang di kawini guru atau kiyainya, ada anak gadis yang di perkosa bapak kandungnya, ada seorang ibu yang di perkosa anak kandungnya, ada orok yang hancurkan, ada bayi yang di cekik ibu kandung, ada saudara kandung yang salin bunuh karena rebutan warisan, teman makan teman, sahabat nikam sahabat dll…

Aku hanya bisa melihat dan tak bisa melakukan apa- apa, tiba- tiba aku melihat salah seorang Saudaraku ada disana. Aku berlari menghampirinya dan mengatakan, supaya dia segera Laku Wahyu Panca Gha’ib, tetapi sayangnya dia malah pergi meninggalkanku, sambil mengolok-olok dan menghinaku, aku melihat lagi ada salah seorang Kadhangku disana, lalu aku mencoba lagi untuk menasehatinya, agar Laku Kunci dengan tepat, namun sayang, lagi-lagi dia malah menghujatku, menghinaku dan meninggalkanku dengan sinis.

Setelah melihat semua kejadian yang mengerikan itu, aku berkata, ” Romo,,, cukup Romo,,, sudah cukup Romo,,,, aku tak sanggup lagi menyaksikan semuanya itu.”

Lalu dengan bergetar, aku berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaga, untuk bisa melakukan Patrap Laku Wahyu Panca Ghaib. Hingga selesai dengan Tenteram.

Ke Esokan Harinya, memasuki malam sabtu kliwon, Tgl 30 Mei 2016, jam 18:00 petang, aku melakukan Patrap Sungkem lagi, menggunakan Mijil Sowan. Dan apa yang sudah terurai diatas, terulang lagi, aku alami lagi, sama persih, hanya saja, kalau kemaren aku alami dengan tebakan dan ketakutan, namu yang keduanya, aku alami dengan iman dan kemantapan, sehingganya lebih detil dan jelas, sejelas yang sudah saya uraikan diatas.

Para Kadhang dan Sedulur semuanya tanpa terkecuali. Tidak lama lagi… Romo akan mengadakan mujizat-mujizat di langit dan di bumi, darah dan api serta gumpalan-gumpalan asap. Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah. Sebelum datangnya hari (……) yang hebat dan dahsyat itu.

Tetaplah berjaga dan waspada “Eling lan Mituhu” yang “tidur” segera “bangun” kita harus selalu Hidup dalam kebenaran-Nya, jaga hati dan jaga pkiran kita “Rasa dan Perasa’an” agar kelak saat Romo Mijil, Dia menjumpai kita tak bercacat cela dan layak untuk Manunggal bersama-Nya.. Jangan sampai tertinggal dan masuk dalam masa aniaya besar yang akan segera terjadi tidak lama lagi.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Benarkah Kita Butuh dan Perlu Kejujuran Dari Setiap Orang…?! Khusunya Orang-orang yang kita kenal…?!


Wong Edan Bagu

Benarkah Kita Butuh dan Perlu Kejujuran Dari Setiap Orang…?!
Khusunya Orang-orang yang kita kenal…?!
Ungkapan Rasa Wong Edan Bagu:
Oleh Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Kamis Pon. Tgl 28 April 2016

Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Sukses Selalu Para Sedulur dan Kadhang Kinasihku sekalian, dimanapun adanya. Mari kita sejenak merenung, tentang kejujuran, yang konon mitosnya banyak di gandrungi oleh banyak manusia hidup pada umumnya. Dengan kisah diri pribadi saya sendiri, karena dalam hal apapun, sekarang saya tidak mau sembunyi dibalik apapun dan siapapun, karena itu, saya menceritakan diri pribadi saya, sebagai bahan soal dalam hal apapun yang saya ungkap tentang Laku Spiritual Hakikat Hidup yang saya jalani.

Konon kabarnya, bisa dikatakan 99% dari kita, manusia hidup, sangat suka dan butuh kejujuran dari siapapun, terutama dari orang-orang yang dekat dengan kita khususnya, dan para pejabat sebagai pemimpin kita pada umumnya. Benarkah…?!

Sepertinya, tidak sepenuhnya benar. Hanya sebagian kecil saja, yang benar. Sebagiam besarnya, berontak, menolak, bahkan tidak terima senang, ketika mendapatkan sebuah kejujuran dari siapapun yang kita anggap ada.

Contohnya seperti yang saya alami sendiri sa’at-sa’at sekarang ini. selain di artikel umum. Di dalam Tulisan kisah nyata sejarah perjalanan hidup saya. Saya telah mengakui sepenuhnya, semua keburukan saya, kejelekan saya, kebejatan saya, kejahatan saya, dengan apa adanya, tanpa petutup apapun, blak kotak opo anane. Bahwasannya… saya adalah mantan penjahat yang benar-benar hitam riwayatnya, bagaimana tidak, hampir semua bentuk kejahatan dan keburukan pernah saya lakukan. Mulai dari mencuri sampai menipu, mulai dari merusak rumah tangga orang, sampai merusak anak gadis orang, jadi perampok, jadi mafia, jadi pengedar obat terlarang, jadi pencopet, jadi pemabuk, jadi gelandangan, jadi penjudi, jadi gay, jadi preman, jadi gigolo, hingga jadi pengacau. Semua saya akui satu persatu dengan sangat jujur, berulang kali saya akui dengan sangat sadar, tanpa tutup tanpa tedeng aling-aling, mulai dari biografi dan artikel hingga berupa rekaman vidio yang saya apload di you tube, tanpa malu, semuanya saya akui dan saya ceritakan dengan sadar dan penuh penyesalan.

Sampai-sampai saya wanti-wanti berpesan kepada siapapun yang membaca tulisan saya itu atau mendengar rekamannya, jangan sampai meniru, karena sungguh itu sangat bejat dan hitam. Cukup saya yang mengalami dan ambilah hikmah dari kisah perjalanan saya tersebut.

Tapi apa yang terjadi, ketika mendengar katanya orang, tentang masa lalu saya itu, wah,,, kebenciannya tak bertepi, tiada habis-habisnya mengolok-olok saya, tak ada henti-hentinya menyebarkan keburukan saya, dengan bumbu-bumbu racikannya sendiri, padahal hanya dari katanya orang, sebelum mendengar dan mendapatkan katanya orang, sudah lebih dulu mendapat pengakuan langsung dari saya, dengan jujur apa adanya, tentang masa lalu saya. Ditambah lagi, dengan selingan kata yang sering saya sisipkan diantar artikel kesaksian spiritual yang saya postingkan di internet.

Mungkin karena menurutnya, bahasa saya di setiap artikel yang saya postingkan di internet, terkesan sombong, mengaku benar sendiri, memojokan suatu golongan tertentu, pamer atau pamrih dll. Padahal itupun bentuk kejujuran saya.

Beberapa kali saya jelaskan, bahwa Wong Edan Bagu yang sekarang, bukan Wong Edan Bagu yang dulu lagi, sudah insyaf, sudah tobat, sudah tidak akan mengulangi masalalu yang bejat lagi hitam kelam itu, semuanya telah saya tinggalkan, semuanya telah saya korbankan, tidak ada satupun masa lalu yang saya bawa sekarang ini. kecuali jiwa raga dan iman, dan saya telah bertekad untuk menghabiskan sisa umur/usia saya, untuk mengabdi kepada Hyang Maha Suci Hidup dan menebar iman Cinta Kasih Sayang kepada siapapun dan apapun. Sembari mengabarkan semua hasil Laku Spiritual Wahyu Panca Gha’ib, yang saya peroleh setiap waktunya secara umum, tanpa kotak dan bendera apapun serta tedeng aling-aling. Juga menuntun siapapun yang mau menerima serta Laku bersama saya.

“Bukankah sebaik-baiknya Orang . . . . . Adalah yang sudah Bertobat?! Sudah kah Anda berTaubat…?!”

Berulang kali saya katakan, saya tidak akan mengurangi atau melebihi apapun yang saya peroleh dari Laku. Semuanya akan saya riwayatkan sesuai aslinya dengan apa adanya. Tanpa tutup dan tedeng aling-aling. Ini soal Rasa. Ini tentang Kejujuran. Bukan soal sombong atau tentang pamer. Tapi JUJUR. Namun rupanya tidak seperti yang kebanyakan di katakan. Ingin Jujur dan Butuh Jujur itu, ternyata hanya mitos belaka.

Jika saya berhasil mencapai kesempurna’an spiritual di dalam Laku. Lalu saya mengabarkannya dengan jujur apa adanya, sesuai yang saya peroleh, kesemua yang sedang membutuhkan bukti tentang adanya puncak spiritual. Apakah itu sombong..?!

Kalau saya mendapatkan kesaksian dan bukti tentang kebenaran Firman Hyang Maha Suci Hidup di dalam Laku. Lalu saya menyampaikannya sesuai Firman itu, tanpa saya kurang atau tanpa saya tambahi. Apakah itu pamer..?!

Kalau saya mengakui, bahwa saya bisa membimbing siapapun, untuk bisa mengenal Jati dirinya. Karena saya memang bisa. Apakah saya Sombong…?!
Kalau saya mengakui, bahwa saya tidak bisa meramal nasib atau masa depan seseorang atau meramal nomel togel. Karena memang saya tidak bisa. Apakah saya Sombong…?!

Jika saya mengatakan, saya bisa dan akan menuntun siapapun yang mau, bila ingin mengerti Sedulur Papat Kalima Pancer dan Memahami Guru Sejati-nya. Karena saya memang bisa dan bersedia menuntun siapapun yang mau. Apakah saya Pamer…?!

Jika saya mengatakan, saya akan memberikan bukti, akan kebenaran Hyang Maha Suci Hidup, yang nyata-nyata benar ada, kepada siapapun yang mau. Bila ingin mengenal Hyang Maha Suci Hidup Tuhan-nya. Karena memang saya bisa. Apakah saya Pamer…?!

Sekali lagi saya katakan dengan JUJUR, apa adanya, blak kotak, tanpa tedeng aling-aling. Mulai dari lima agama yang resmi dianggap oleh negara indonesia, sampai ke Kepercaya’an. Adat. Kejawen. Dan beberapa aliran atau ajaran keTuhanan yang ada di tanah air saya ini. Pernah saya masuki, pernah saya pelajari hingga sampai ke ujung pangkalnya. Mulai dari ilmu putih, ilmu hitam, ilmu kuning, ilmu merah, ilmu hijau sampai ke ilmu belang telon istilahnya, saya pelajari tanpa peduli kalimat musrik atau kafir, demi menyelami samudera pengetahuan Hyang Maha Suci Hidup. Semuanya saya korbankan, segalanya saya tinggalkan. Anehkah jika dengan semua lelaku saya itu, terus sekarang saya berhasil mencapai apa yang saya inginkan…?! Salahkan kalau saya ingin mengajarkan keberhasilan ini, kepada siapapun yang mau dan bersedia Laku…?!

Silahkan Para Sedulur Tercinta saya. Sumonggo Para Kadhang Kinasih saya. Direnungkan sendiri-sendiri. Sudah sa’atnya kita bersipat Dewasa. Sudah waktunya kita bersikap Positif. Benci. Dendam. Sirik. Iri. Dengki. Hasyut. Fitnah. Adu domba bersih dari Jiwa Kita-Kita yang mengaku sedang Berspiritual atau Iman Kepada Tuhan. Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku sekalian. Karena itu dan Untuk itu, sebagai manusia hidup yang mencintai, mengasihi dan menyayangi sesama manusia hidup, mengajak serta… Minimal… Jagalah Pikiranmu, karena Pikiran akan menjadi Perkata’anmu. Jagalah Perkata’anmu, karena Perkata’anmu akan menjadi Perbuatanmu. Jagalah Perbuatanmu, karena Perbuatanmu akan menjadi Kebiasa’anmu. Jagalah Kebiasa’anmu, karena Kebiasa’anmu akan membentuk Karaktermu. Jagalah Karaktermu, Karena Karaktermu akan membentuk Nasibmu. Maksimal Jagalah Hati/Qalbumu, karena Hati/Qalbumu akan menentukan Rasamu. Jagalah Rasamu, karena Rasamu akan menentukan Lakumu. Jagalah Lakumu, karena Lakumu akan menentukan Hyang Maha Suci Hidup-mu. tuhan hantu apa hantu tuhan atau hantu-hantuan apa tuhan-tuhanan dll…

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Teori atau Cara untuk Menjalankan Wahyu Panca Gha’ib. Dengan menggunakan Wahyu Panca Laku:


Teori atau Cara untuk Menjalankan Wahyu Panca Gha’ib.
Dengan menggunakan Wahyu Panca Laku:
Oleh Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Rabu Pon. Tgl 13 April 2016

01. Lakunya Kunci itu. Manembahing Kawula Gusti.
Manembahing Kawula Gusti itu, yang seperti apa pak WEB..?!
Manembahing kawula gusti itu, istilah lainnya adalah sembah raga/wujud (sembah-hyang). Manembah itu, artinya sujud atau sungkem. Kawula itu sedulur papat atau empat anasir. Gusti itu wujud atau raga kita. Lakunya, adalah mengajak belajar sedulur papat kita, agar mau mencintai dan mengasihi serta menyayangi wujud/raga kita, yang menjadi tempat berexpresinya. Agar sedulur papat sadar, bahwasannya, mereka berempat, tidak akan bisa berbuat apa-apa jika tanpa wujud/raga. Karena yang menjadi perantara mereka berempat bisa bergerak dan melancarkan aksinya, adalah wujud/raga kita ini. Titik puncaknya adalah mengetahui Hakikat Jatidiri kita yang sebenarnya.

02. Lakunya Paweling itu. Manunggaling Kawula Gusti.
Manunggaling Kawula Gusti itu, yang seperti apa pak WEB..?!
Manunggaling Kawula Gusti itu, istilah lainnya adalah sembah qalbu/bathin (shalat daim). Manunggal itu, artinya menyatu jadi satu, Kawula itu sedulur papat atau empat anasir. Gusti itu wujud atau raga kita. Lakunya, adalah mengajak belajar sedulur papat kita, agar mau bersatu atau menyatu dengan wujud/raga kita. Agar setiap gerak tubuh/wujud/raga dan gerik pikiran/perasa’an. Dapat selaras dengan hati/qalbu/Rasa. Titik puncaknya adalah mengerti Hakikat Sedulur Papat Kalima Pancer kita yang sebenarnya.

03. Lakunya Asmo itu. Leburing Kawula Gusti.
Leburing Kawula Gusti itu, yang seperti apa pak WEB..?!
Leburing Kawula Gusti itu, istilah lainnya adalah Patrap/Semedi. (semelehe memedi). Lebur itu, artinya sirna tanpa bekas, Kawula itu sedulur papat atau empat anasir. Gusti itu wujud atau raga kita. Lakunya, adalah Nang. Neng. Ning. Nung. (tenang, diam, hening, manyatu) melenyapkan sedulur papat dan menyenyapkan tubuh/wujud/raga kita, dari semua kemelekatan apapun itu, agar menjadi fitrah/bersih dari segala masalah yang tidak berhubungan dengan Hyang Maha Suci Hidup. Titik puncaknya adalah memahami Hakikat Guru Sejati kita yang sebenarnya.

04. Lakunya Mijil itu. Sampurnaning Kawula Gusti.
Sampurnaning Kawula Gusti itu, yang seperti apa pak WEB..?!
Sampurnaning Kawula Gusti itu, istilah lainnya adalah berhasil (Sukses) itu, Sampurna itu, artinya tenteram, Kawula itu sedulur papat atau empat anasir. Gusti itu wujud atau raga kita. Lakunya, adalah nggelar jagat/dunia anyar/baru, yaitu jagat/dunia ketenteraman yang penuh dengan Cinta Kasih Sayang terhadap apapun dan kepada siapapun, dan nggulung jagat/dunia lawas/lama, yaitu jagat/dunia kacau balau yang penuh dengan khayal dan kemunafikan. Titik puncaknya adalah mendapatkan Bukti nyata Tentang Hyang Maha Suci Hidup, sesembahan kita yang sebenarnya.

05. Lakunya Singkir itu. Sampurnaning Pati lan Urip.
Sampurnaning Kawula Gusti itu, yang seperti apa pak WEB..?!
Untuk soal yang satu ini, siapapun Anda, harus sudah berhasil dulu, melalui tiga level pelajaran Wahyu Panca Gha’ib, dan mengamalkan pelajaran level empatnya, walau hanya sepintas/sebentar saja. Sebelum itu… Maafkan, saya tidak bisa medar atau mejang atau menjelaskan apapun yang terkait dengan Lakunya Singkir. tersebut Sampurnaning Pati lan Urip. Sebab ini, masalah khusus yang berurusan antara Hidup Dan Mati. Antara Hyang Maha Suci Hidup dan Hidup yang menempati seluruh wujud yang Hidup.

Demikianlah Teori atau Cara untuk Menjalankan Wahyu Panca Gha’ib.
Dengan menggunakan Wahyu Panca Laku, kalau soal Prakteknya. Sudah saya kemas lengkap dan jelas berwujud Buku dengan Judul. Petunjuk dan Bimbingan Laku Spiritual Hakikat Hidup “Kunci The Power” dan untuk memperoleh Bukunya. Anda bisa Datang Langsung menemui saya “GRATIS” Dan bagi yang tidak bisa datang langsung, namun ingin belajar bisa hingga berhasil sukses. Bearti harus rela/berani memesan Via Paket JNE atau TIKI. Melalui SMS ke nomer telephon yang tercantum disetiap bagian akhir artikel saya. Dengan Mahar Rp. 550.000. sudah termasuk ongkos kirim paketnya untuk wilayah jawa dan luar jawa, tidak termasuk luar negeri/indonesia. Sekian dan Terima Kaksih. Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Kadhang dan Sedulur, khususnya Para Pemegang Buku Bimbingan Kunci The Power. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd:Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Tentang Buku Bimbingan Laku Spiritual Hakikat Hidup: “Kunci The Power”


Tentang Buku Bimbingan Laku Spiritual Hakikat Hidup:
“Kunci The Power”
Oleh Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Rabu Pon. Tgl 13 April 2016

Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Sukses Selalu untukmu sekalian, dimanapun berada, artikel ini, saya peruntukan khusus buat para pemilik buku bimbingan “Kunci The Power” dan atau yang belum memiliki tapi ingin memiliki buku “Kunti The Power”.

Apa itu Buku Bimbingan Kunci The Power..?.
Buku Bimbingan “Kunci The Power” adalah buku yang memuat pelajaran khusus bab Panca Gha’ib dan Panca Laku, dilengkapi dengan beberapa ilmu pengertian atau pemahaman yang menjelaskan tentang Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku, semua penjelasan menggunakan bahasa sederhana dan singkat, padat dan jelas. Buku Bimbingan “Kunci The Power” adalah hasil penemuan saya pribadi, didalam lelaku Spiritual Hakikat Hidup. Di dalamnya terdapat empat level Pelajaran Spiritual Hakikat Hidup. Yang pernah saya jalani dan berhasil mengantar saya hingga sampai ke titik finis tujuan hidup saya, hingga berulang kali.

Siapapun Anda, dan apapun tujuan Anda. Jika hendak mempelajari isi buku “Kunci The Power” untuk sementara waktu. Anda harus rela melipat dan menyimpan dulu, apapun ilmu pengertian yang Anda miliki sebelumnya, agar tidak bingung dan harus mau memulainya, dari awal atau tingkat level satu dulu, jika ingin berhasil dan tidak mengalami kesulitan dalam bentuk apapun. Sistem ini juga, berlaku bagi siapapun pemilik Buku Bimbingan “Kunci The Power”. Namun sudah Putro, artinya, sudah menjalankan Wahyu Panca Gha’ib sebelum mendapatkan Buku Bimbingan “Kunci The Power”. Karena ada perbeda’an disini. Bedannya dimana pak WEB..? Bedanya…. baca saja dulu tulisan saya ini, nanti akan tau dimana letak bedanya.

Dan,,, sebelum berhasil melalui tiga level yang terdapat didalam Buku Bimbingan “Kunci The Power”, masing-masing 7 hari berturut-turut, jangan sekali-kali berbicara soal hajat/tujuan, keinginan atau cita-cita dan sejenisnya terlebih dahulu. Karena itu justrus akan mempersulit-mu nantinya, jalankan dulu pelajaran “Kunci The Power” dengan Legowo/Legawa rela hati dari level satu hingga level tiga. Lalu amalkan/jalankan level empatnya sembari menata niyat atau tujuan atau keinganan Anda. Setelah Niyat atau Tujuannya pasti. Lalu hubungi saya, saya akan menunjukan Jalan dan Cara untuk meraih-nya.

Jadi, sebelum menjalankan Wahyu Panca Gha’ib hingga tiga level, dan sebelum berhasil mengamalkan Wahyu Panca Laku walau hanya sepintas. Tujuan untuk mengenal sedulur papat, mengerti jatidiri, memahami guru sejati, mengetahui Tuhan/Allah atau Hyang Maha Suci Hidup. Keinginan untuk bisa sakti, kaya raya, usaha sukses, dagangan laris dll. Simpan saja dulu, menunggu jika Anda sudah berhasil melalui tiga level pelajaran “Kunci The Power”.

Buku Bimbingan “Kunci The Power”, bisa di jalankan oleh siapapun dan dimanapun, tidak peduli apapun suku, ras, adat, agama, latar belakang, asal usul dllnya. Karena Buku Bimbingan “Kunci The Power” adalah hanya judul bukunya, didalamnya, tak lain dan tak bukan adalah Wahyu Panca Gha’ib. Yang sudah sering saya gembar gemborkan di internet, bahwa Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan agama, suku, adat, golongan, partai, kebatinan, kejawen, perguruan dll. Wahyu Panca Gha’ib adalah Hidup. Hidup yang menempati seluruh wujud yang Hidup. Tidak peduli apapun agama, suku, adat, golongan, partai, kebatinan, perguruan dll-mu, dan untuk mempelajari Wahyu Panca Gha’ib, tidak harus meninggalkan apapun agama, suku, adat, golongan, partai, kebatinan, kejawen, perguruan dll-mu.

Hanya saja… Wahyu Panca Gha’ib yang saya Syi’arkan berbentuk Buku Bimbingan “Kunci The Power” ini, saya kemas khusus dengan Spiritual Hakikat Hidup dan di Praktekan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Yang sudah saya buktikan sendiri kebenaran dan ketepatan serta hasilnya di TKP. Bukan katanya apapun dan siapapun. Jadi, bukan Wahyu Panca Gha’ib yang mungkin pernah Anda temui dan Anda dapatkan diluar sana, yang suka salin sikut antar agama dan keyakinan serta kepercaya’an, salin berebut benar, salin unggul-unggulan, salin fitnah, benci dan dendam antar golongan satu dan golongan lainnya, menghina atau melecehkan sesama, yang pastinya membingungkan Anda. “DISINILAH LETAK BEDANYA”

Dan Harapan saya, artikel saya yang satu ini, bisa di mengerti dan dipahami bagimu sekalian yang ingin tahu bab Buku Bimbingan “Kunci The Power” Karya Cipta saya. Sekian dan Terima Kaksih. Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Kadhang dan Sedulur, khususnya Para Pemegang Buku Bimbingan Kunci The Power. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com