Rahasia Keampuhan Nasihat:


Bagi sebagian guru atau Ustadz, kadang mereka merasakan kesulitan dalam menasihati murid-muridnya yang membandel. Dan tidak sedikit pula para orang tua sekarang juga merasakan begitu sulitnya menasihati anak. Bahkan kita sering menjumpai sang anak justru sering membantah nasihat orang tuanya. Entah siapakah yang perlu disalahkan dalam proses tarbiyah yang ‘gagal’ seperti ini. Apakah mereka (para guru, ustadz atau orang tua) yang gagal memahami retorika menasihati anak? Ataukah anak-anak sekarang memang sulit menerima nasihat, karena saking parahnya kerusakan pergaulan masa kini?.

Sementara itu, kita kadang merasa tersentuh hati tatkala mendengarkan nasihat-nasihat berharga dari seorang ustadz atau orang yang kita hormati lainnya. Namun di saat yang lain, hati kita seolah-olah tidak bisa tersentuh dengan nasihat. Kata-kata yang meluncur dari lisan guru, ustadz, orang tua, atau mungkin teman dekat kita terasa hambar di telinga. Pepatah mengatakan “ibarat masuk telinga kanan keluar dari telinga kiri” artinya nasihat itu berlalu begitu saja tanpa sempat mengendap di hati. Kenapa hal ini bisa terjadi? Apakah hati kita sudah kadung keras, hingga sulit menerima nasihat? Ataukah orang yang memberi nasihat, kurang pintar mengolah kata?

Memang hati yang keras itu biasanya sulit menerima nasihat dan ilmu. Tapi sebuah nasihat itu akan lebih mudah diterima, manakala sang pemberi nasihat memiliki power of spiritual atau kekuatan spiritual berupa kejujuran dalam memberikan nasihat. Kejujuran nasihat yang dimaksudkan dalam pembahasan ini adalah kesesuaian antara yang di ucapkan dengan yang diamalkan.Dan kita semua sepakat bahwa nasihat itu akan lebih mengena dan menyentuh hati, kalau betul-betul bersumber dari hati yang ikhlas.

Ada kisah menarik yang bisa kita ambil hikmahnya berkaitan dengan permasalahan ini. Diceritakan bahwa Hasan Al-Basri duduk dalam majelisnya, dan biasanya setiap hari ia sering mengadakan majelis ditempat itu juga. Adapun Habib Al-Ajami duduk dalam majelisnya yang biasanya majelis itu sering didatangi oleh ahli dunia dan perdagangan. Ia lalai dengan menjelis ilmu yang diadakan oleh Hasan Al-Basri, dan ia tidak menoleh sedikitpun dengan apa yang disampaikan oleh Hasan Al-Basri. Hingga suatu hari ia ingin mengetahui apa yang disampaikan Hasan Al-Basri, maka dalam hati ia berkata: “Dalam majelis Hasan Al-Basri diceritakan tentang surga, neraka dan manusia diberi semangat untuk mendapatkan akhirat, dan ditanamkan sikap zuhud terhadap dunia (memfokuskan segala karunia Allah untuk akhirat)”. Maka perkataan ini menancap dalam hatinya, lalu ia pun berkata: “Mari kita mendatangi majelis Al-Hasan Al-Basri!” Orang-orang yang duduk dalam majelis ilmu berkata kepada Hasan Al-Basri: “Wahai Abu Said ini adalah Habih Al-Ajami menghadap kepadamu, nasehatilah ia.”

Lalu Habib Al-Ajami menghadap Hasan Al-Basri, dan Hasan Al-Basri pun menghadap kepadanya kemudian menasehati Habib Al-Ajami, ia ingatkan dengan Jannah, ia takut-takuti dengan neraka, ia hasung untuk melakukan kebaikan, ia ingatkan untuk berlaku zuhud di dunia.
Maka Habib Al-Ajami pun terpengaruh dengan nasehat itu, dan langsung bersedekah 40 ribu dinar. Ia pun berlaku qona’ah (menerima) dengan hal sedikit, dan ia terus beribadah kepada Allah hingga meninggal dunia. [Hilyatul Aulia 6/149 dengan sedikit perubahan, dan lihat Siyar ‘Alamun Nubala 6/144]

Dari sepenggal kisah di atas, kita melihat kejujuran Hasan Al-Basri (semoga Allah merahmati beliau) dalam dakwahnya, selamatnya tujuan dakwahnya, hingga nasihatnya membekas dalam hati Habib Al-Ajami. Nasihat yang jujur itu telah memindahkannya dari riuh suara di pasar dan perdagangan, hingga menjadi sorang ahli ibadah dan ahli zuhud yang mempunyai do’a yang mustajab (doa yang dikabulkan) dan karamah yang mulia. Ia seorang ahli bersedekah dan berinfak di jalan Allah Ta’ala.

Alangkah indahnya perkataan Malik bin Dinar mengenai hal ini: “Kejujuran itu nampak dalam hati yang lemah, lalu pemilik hati itupun mencarinya, dan Allah menambahnya hingga menjadikannya berbarakah pada dirinya, dan menjadilah perkataan/nasihatnya itu obat bagi orang-orang yang bersalah”. Lalu Malik berkata: “Hasan Al-Basri, Said bin Jubair dan semisal mereka itu, adalah mereka yang Allah hidupkan perkataannya kepada sekelompok manusia” [Hilyatul Aulia 2/359]

Begitu pula tatkala Zainal Abidin Ali bin Al-Husain mendengar nasehat Hasan Al-Basri, maka ia pun berkata: “Maha suci Allah ini adalah perkataan orang yang jujur” [Akhbarul Hasan Al-Basri Li Ibnul Jauzi hal. 2]

Salah seorang ulama ditanya: “Mengapa perkataan Salafus Shalih lebih bermanfaat dari perkataan kita?” Maka ia pun menjawab : “Karena mereka berbicara untuk kemuliaan Islam, untuk keselamatan jiwa, untuk mencari ridho Allah Yang Maha Pemurah, sedangkan kita berbicara untuk kemuliaan diri, mencari dunia dan mencari keridhaan mahluk” [Sifatu Sofwah karya Ibnul Jauzi 4/122]

Dan diantara sebab-sebab seseorang mendapatkan manfaat dari nasehat-nasehat Hasan Al-Basri dan dari majelis-majelisnya, bahwasanya Al-Hasan Al-Basri (semoga Allah merahmati beliau) adalah panutan yang baik, dan tidaklah termasuk orang-orang yang mengatakan apa yang tidak ia kerjakan.

Dikatakan kepada salah seorang dari teman Hasan Al-Basri: “Apakah sesuatu yang menyebabkan Hasan Al-Basri mencapai kedudukannya seperti ini? Padahal di antara kalian terdapat para ulama dan ahli-ahli fikih? Teman Hasan Al-Basri itupun berkata: “Adalah Al-Hasan Al-Basri jika memerintahkan suatu perkara maka ia adalah seorang manusia yang paling mengamalkan terhadap apa yang ia perintahkan, dan jika ia melarang dengan suatu kemungkaran maka ia adalah seorang manusia yang paling jauh meninggalkan larangan itu” [Tablis Iblis karya Ibnul Jauzi hal. 68].

Begitulah Hasan Al Basri dengan kejujurannya dalam memberikan nasihat. Nasihat yang jujur akan mampu menyentuh dan menggerakkan hati setiap pendengarnya. Dan Allah SWT mengingatkan orang yang tidak jujur dalam nasihatnya dengan firman-Nya, “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)-mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al Baqarah/2 : 44). (Ilham)

Ttd: Wong Edan Bagu

SIAPAKAH ANDA..?!


Siapakah orang yang sibuk?
Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu solatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s

Siapakah orang yang manis senyumanya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ditimpa musibah lalu dia berkata “Inna lillahi wainna illaihi rajiuun.” Lalu sambil berkata,”Ya Rabb, Aku redha dengan ketentuanMu ini”, sambil mengukir senyuman.

Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.

Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada selalu menumpuk-numpukkan harta.

Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikan.

Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan sejauh mata memandang.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikkan lalu kuburnya menghimpitnya.

Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni syurga kelak karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.

Siapakah orang yang PELIT ?
Orang yg pelit ialah org yg membiarkan tulisan ini begitu saja, malah dia tidak akan menyampaikan kepada org lain.

He he he . . . Edan Tenan, Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah selalu Luur…. Selamat pagi selamat beraktifitas, Semoga Sukses.

Ttd: Wong Edan BaGu

Kemana Hendak Lari ??


Kemana Engkau hendak pergi dari kematian (QS 81:26). Sungguh kematian yang kamu lari dari padanya pasti akan kamu temui (QS 62:8). Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, meskipun engkau bersembunyi di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh (QS 4:78). Malaikat Maut yang diserahi tugas mencabut nyawamu akan mematikanmu untuk dikembalikan kepada Rabbmu (QS 32:11).

Maka apabila ajal kematian telah datang , tidaklah dapat mengundurkan barang sesaatpun dan tidak pula medahulukannya (QS 16:61). Jika nafas seseorang telah mendesak sampai ke kerongkongan (QS 75:26), Malaikat akan memukul dengan tangannya kepada orang yang sedang sakaratul maut seraya berkata “Keluarkanlah Nyawamu” (QS 6:93). Dan itu terjadi jika orang orang tersebut adalah orang dlolim dalam tekanan-tekanan sakratulmaut.

Maka jika orang tersebut adalah orang yang bertakwa , Malaikat akan mencambut nyawanya dengan keadaan yang baek , dan Malaikatpun berkata kepada mereka: “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan(QS 16:31-32).

Dan disaat saat kematiannya orang orang yang benar benar istikomah dalam ketaatan, para malaikat akan turun sambil menghibur dan berkata : “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (QS 41:30). Kami lah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta(QS 42:31) Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang(QS 42: 32).

“Dan siapakah manusia yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah,dan mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS 41:33) ”
Salam Rahayu _/\_
Ttd: Wong Edan BaGu

WAHAI HATI…..DENGARLAH…………


Siapa yang mengakui indahnya bunga? Dengan warna yang menarik dan bau yang harum, ia sering menjadi idaman. Kadang-kadang ia juga menjadi perhiasan.Mata yang menilai pula mendapat tafsir tentang keindahan dari akalnya.akal yang baik dan cerdas adalah akal yang dipandu oleh kasih Allah dan Rasulnya. Bukankah ini yang dinamakan iman…………

Tidak seorang pun yang dapat menafikan, betapa indahnya mega petang. Warnanya yang begitu menawan, memukau setiap mata yang memandang, setiap hati yang terusik dan setiap jiwa yang rindukan kedamaian. Namun…. lebih indah lagi sekiranya hati kecilnya berkata: ‘Mahasuci Allah, tidak engkau jadikan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau ya Allah, lindungilah aku dari api neraka.’

Begitu juga dengan keindahan jeram-jeram di kali, dedaunan gugur dihembus angin. Peristiwa-peristiwa sebegini amat meniggalkan kesan kepada hati makhluk yang bergelar insan . Itulah hakikatnya, fitrah jiwa manusia . jiwanya cenderung kepada keindahan dan kecantikan. Biar apapun pangkat dan kedudukannya. Seorang kaya mungkin merasakan bahawa keindahan itu ialah rumahnya yang tersergam indah di atas bukit dan potretnya yang dilukis hebat. Seorang fakir pula mungkin
merasakan bahwa keindahan itu adalah dari riak wajah anak-anak kecilnya yang menunggu kepulangannya.

Namun tidak ramai yang mengetahui, tentang wujudnya satu keindahan hakiki…. indahnya ia membuahkan perasaan kasih sayang pada ibu dan ayah. Indahnya ia , melahirkan rasa kasih pada sahabat dan indahnya ia, memandu akal dan jiwa kepada etenangan, kedamaian, dan kerinduan kepada kebahagiaan. Itulah tanda kasih dan sayang pada Maha Pencipta dan Maha Pengasih. Itulah tanda kasih dan sayang pada Allah dan Rasulnya.

Hatinya berbisik; lagi……..’Ya Allah, banyaknya nikmat-Mu padaku.tapi ………. sedikitnya aku bersyukur, ya Allah , hatiku tahu nafsu jahat itu musuhku, tapi banyaknya jalan-jalannya yang telah aku turuti. Ya Allah, besarnya pengorbanan ayah, tingginya nilai kasih dan mesra ibu, tapi aduhai …..sedikitnya do’aku untuk mereka. Ampunkan, ampunkanlah
wahai yang Maha Pengasih’

Marilah kita bersama-sama memiliki keindahan iman ini. Milikilah ia dengan banyak merenung dan memikirkan nikmat-nikmat Allah…. Milikilah ia dengan ilmu yang mendalam, mudah-mudahan dengannya keindahan yang hakiki akan kita peroleh. Tidak
seperti keindahan dunia ini yang hanya bersifat sementara…………….
Ttd: Wong Edan BaGu

Menyikapi Kesulitan Hidup:


Ketika kesulitan hidup itu datang, hati berubah gundah, kesana-kemari seolah mencari sesuatu yang hilang. Tekanan darah naik, darah pun mengalir tak beraturan, menekan keras ke otak hingga membuatnya panas, lalu mengendap di dada menekan paru-paru hingga nafas terasa berat, detak jantung tidak menentu, dada berdebar-debar menekan balik darah.

Sementara itu keringat dingin pun membeku, dan sekujur tubuh terasa pegal. Emosi kian memuncak, dengan sorotan mata yang tajam dan pikiran berputar-putar mengitari tumpukan segala kegundahan.

Setiap orang pasti pernah mengalami saat-saat sulit dalam menjalani kehidupannya. Kadang kesulitan itu memang membuat seseorang frustasi, bingung, stres, panik, putus asa dan sikap negatif lainnya. Namun hal ini hanya terjadi pada kebanyakan orang yang hidupnya jauh dari tuntunan Al-Qur`an. Jauhnya mereka dari tuntunan Al Qur’an menyebabkan mereka gampang gelisah, tegang, dan marah. Mereka menjalani kehidupan ini dengan beban masalah dan tekanan batin yang luar biasa beratnya, sehingga menjauhkan mereka dari kebahagiaan hidup.

Seorang mukmin tentu berbeda dalam menyikapi berbagai kesulitan hidup yang dihadapinya.Mereka memahami bahwa kesulitan atau ujian diberikan oleh Allah dalam rangka menguji hamba-Nya. Dan mereka tahu bahwa kesulitan itu dibuat untuk membedakan antara mereka yang benar-benar beriman dan mereka yang memiliki penyakit di hatinya, yaitu mereka yang tidak tulus dalam meyakini keimanan mereka. Karena itu, ujian atau kesulitan yang hadir dalam kehidupan kita akan menunjukkan siapakah kita sebenarnya. Allah menjelaskan melalui firman-Nya, bahwa Dia akan menguji manusia untuk melihat siapakah yang benar-benar beriman.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 142)

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin)….”(al-Baqarah: 179)

Ketika membaca terjemahan ayat tersebut, hendaknya semakin menambah kesadaran kita bahwa kehidupan ini memang dipenuhi dengan aneka masalah dan berbagai kesulitan. Karena dunia ini merupakan Darut Taklif, maksudnya adalah tempat pembebanan. Tidak ada seorang pun yang terbebas dari masalah selama mereka hidup di dunia. Dan sungguh merugi orang yang larut dalam kesedihan, kesedihan yang panjang justru akan semakin menyulitkan diri dalam menghadapi masalah. Hanya dengan keberanian untuk bangkit dan bersabar, kesulitan itu akan terasa mudah.

Berbahagialah orang yang mampu bersabar dalam menghadapi setiap kesulitan hidup, karena Allah beserta orang-orang yang sabar.
Ttd: Wong Edan BaGu

Sebuah Muhasabah Diri:


Tuhanku,,,
Aku hanyalah sebutir pasir di gurun-MU yang luas
Aku hanyalah setetes embun di lautanMU yang meluap hingga ke seluruh samudra
Aku hanya sepotong rumput di padangMU yang memenuhi bumi
Aku hanya sebutir kerikil di gunung MU yang menjulang menyapa langit
Aku hanya seonggok bintang kecil yang reduo di samudra langit Mu yang tanpa batas

Tuhanku,,,
Hamba yang hina ini menyadari tiada artinya diri ini di hadapanMU
Tiada Engkau sedikitpun memerlukan akan tetapi …
hamba terus menggantungkan segunung harapan pada MU

Tuhanku…………..baktiku tiada arti, ibadahku hanya sepercik air
Bagaimana mungkin sepercik air itu dapat memadamkan api neraka MU
Betapa sadar diri begitu hina dihadapanMU
Jangan jadikan hamba hina dihadapan makhlukMU
Diri yang tangannya banyak maksiat ini,
Mulut yang banyak maksiat ini,
Mata yang banyak maksiat ini…
Hati yang telah terkotori oleh noda ini…memiliki keninginana setinggi langit
Mungkinkah hamba yang hina ini menatap wajahMu yang mulia???

Tuhan…Kami semua fakir di hadapan MU tapi juga kikir dalam mengabdi kepada MU
Semua makhlukMU meminta kepada MU dan pintaku….
Ampunilah aku dan sudara-saudariku yang telah memberi arti dalam hidupku
Sukseskanlah mereka mudahkanlah urusannya

Mungkin tanpa kami sadari , kamu pernah melanggar aturanMU
Melanggar aturtan qiyadah kami,bahkan terlena dan tak mau tahu akan amanah
Yang telah Tuhan percayakan kepada kami…Ampunilah kami

Pertemukan kami dalam syurga MU dalam bingkai kecintaan kepadaMU
Tuhanku….Siangku tak selalu dalam iman yang teguh
Malamku tak senantiasa dibasahi airmata taubat,
Pagiku tak selalu terhias oleh dzikir pada MU
Begitulah si lemah ini dalam upayanya yang sedikit
Janganlah kau cabut nyawaku dalam keadaan lupa pada Mu
Atau….dalam maksiat kepadaMU “Ya Tuhanku Tutuplah untuk kamu dengan sebaik-baiknya penutupan !!”

Dari saudara untuk saudara “Perbaiki diri Serulah Orang Lain”
Ttd: Wong Edan BaGu

Di Balik Detik Kehidupan:


Waktu adalah umur manusia, ia tersusun dari detik demi detik hingga meningkat menjadi menit lalu jam, hari, dan seterusnya. Hasan Al Bashri pernah berkata: “Wahai Bani Adam! Sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari-hari. Ketika hari telah berlalu,maka berlalu pulalah sebahagian dari dirimu”

Diantara sebab terpenting dari suksesnya para pendahulu kita dalam menapaki segala tantangan dan rintangan yang menghadang adalah kedisiplinan mereka mengisi waktu dengan menginterospeksi setiap detik yang berlalu. Lebih-lebih terhadap menit, jam ataupun hari. Maka pantaslah jika mereka (umat Islam saat Rasulullah masih hidup) menyandang gelar “Khoirul Ummah” (sebaik-baik generasi).

Demikian agungnya makna waktu dalam kehidupan manusia. Rosulullah SAW telah bersabda : “Tidaklah akan berpindah Kaki seorang hamba pada hari kiamat, sampai ia ditanya Tentang empat perkara. Tentang umurnya, bagaimana ia menghabiskannya, tentang jasadnya, bagaimana ia mempergunakannya tentang hartanya, dari mana ia mendapatkannya dan kemana ia menghabiskannya, dan tentang ilmunya, bagaimana ia mengamalkannya. (Ad Darimi: 538)

Manusia akan mempertanggungjawabkan sekecil apapun persoalannya di dunia ini. Maka sungguh mengherankan, bagaimana jam, hari dan tahun berlalu dengan sia-sia. Ibnu Mas’ud berkata: “Saya sangat membenci sekali, jika melihat seseorang yang leha-leha, tidak mengerjakan amalan untuk dunianya maupun untuk akhiratnya.”

Begitulah para salaf ash sholih, mereka selalu mengisi umurnya dengan tekun, baik dengan perkara dien ataupun dunia, tanpa letih dan jemu. Waktu yang terkait dengan tujuan penciptaan manusia, yaitu beribadah kepada Allah SWT.

“Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz. Dzariyat :56).

Ibadah kepada Allah tidak akan terwujud kecuali dengan penjagaan terhadap waktu. Jika seorang hamba memahami makna ibadah dan tujuan penciptaan makhluk, maka sudah pasti ia akan memahami pentingnya waktu. Dan jika waktu adalah barang yang berharga bagi orang yang berakal, itu tak lain karena waktu adalah umur manusia, sebuah kehidupan yang dimulai ketika saat kelahiran dan berakhir hingga detik-detik menjelang ajal.
Ttd: Wong Edan BaGu