LIHAT KE BELAKANG DENGAN PANDANGAN JERNIH dan JANGAN MELIHAT KE DEPAN DENGAN MATA BUTA “_2024_”

??????????????????????

??????????????????????

LIHAT KE BELAKANG DENGAN PANDANGAN JERNIH dan JANGAN MELIHAT KE DEPAN DENGAN MATA BUTA “_2024_”
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Minggu Wage. Tgl 01 November 2015

Ramalan Joyoboyo Kedelapan dan Reinkarnasi.
Noyo Genggong Sabdo Palon;
Noyo Genggong dan Sabdo Palon, Dua pendeta penasihat sekaligus punakawan kerajaan Majapahit ini, memang bukan tokoh sembarangan. Selama ini ditafsirkan sebagai makhluk halus. Wadag atau tubuhnya memang sebagaimana lazimnya orang biasa. Namun Roh Suci atau Roh Gaibnya yang luar biasa, ia mampu bereinkarnasi ribuan kali sejak manusia pertama tinggal di bumi.

Sebagai pendeta Buddha Jawa (Jowo Sanyoto, agama negara Majapahit) utamanya di kerajaan Majapahit, ilmu agamanya sempurna bahkan lebih sempurna dibanding para pengikut utama Dalai Lama di Tibet. Dari jaman ke jaman Noyo Genggong Sabdo Palon, terus-menerus berganti raga (wadag), yakni pada saat raganya memang sudah tua dan meninggal dunia.

Wadag baru pilihan itu, tidak atas kemauan pribadi Roh Noyo Genggong Sabdo Palon. akan tetapi atas kehendak Sang Hyang Wenang ing Jagad… He he he . . . Edan Tenan.

Jadi,,, sebenarnya walau Majapahit runtuh, Sabdo Palon dan pendahulunya Noyo Genggong tidak pernah murca atau hilang, dia hidup sebagai manusia biasa di bumi manusia ini. Silsilah Sabdo Palon dalam 2500 tahun terakhir mengayomi tanah Jawa, dan bumi bagian Selatan (Man Yang) adalah sebagai berikut.: Pertama Semar. Kedua Humarmoyo. Ketiga Manikmoyo. Ke’empat Sang Hyang Ismoyo. Kelima Noyo Genggong. Dan Ke’enamnya Sabdo Palon, dan di tahun 2015 ini ……???! dan di Tahun 2024 nanti…?!!!. He he he . . . Edan Tenan.

Ramalan Sri Aji Joyoboyo kedelapan, bahwa Noyo Genggong Sabdo Palon akan kembali ke Nusantara, tentu ditafsirkan Noyo Genggong Sabdo Palon kelak berkiprah kembali sebagai pendamping dan penasihat, daripada pemimpin negeri suatu kerajaan Jowo Sanyoto.

Tatkala Majapahit pada era keruntuhannya sekitar 1478, di hadapan Sang Natapraja Prabu Brawijaya, yang kala itu berganti haluan memeluk Islam, sedangkan Noyo Genggong Sabdo Palon tetap bertahan sebagai titah dengan Jowo Sanyoto. Sebelum murca (lenyap) Noyo Genggong Sabdo Palon berjanji, “Yang Mulia, kita ditakdirkan untuk berpisah, tetapi harap Yang Mulia ingat, limaratus tahun lagi, aku akan kembali ke marcapada bumi Nusantara untuk menjalankan titah-Nya.”

Tepat waktu sebagaimana dijanjikan Noyo Genggong Sabdo Palon, maka pada 1978. (500 tahun sejak Majapahit runtuh berikut murcanya Noyo Genggong Sabdo Palon ) Seorang Putera Mahkota yang Hilang dari kedaton, karena suatu Politik, wadagnya dipergunakan oleh Noyo Genggong Sabdo Palon lengkap dengan Jowo Sanyoto-nya, lelaki itu menyebut dirinya MSS.

Sejak awal dilahirkan, sosoknya yang sebagai Bocah Angon soko Gunung, anak hilang itu, (Putera Mahkota Yang tak Terdaftar itu) berstamina dan memiliki energi besar, ditambah daya intelijensinya yang sangat kuat dan luar biasa. Hingga sampai dimasa tuanyapun tidak berubah sedikitpun, Bicaranya menyihir barang siapa saja yang mendengarkannya.

Noyo Genggong Sabdo Palon yang satu ini, membawa ajaran dalam Kitab Hidup tanpa wujud dan tulis. Ajaran “SUCI” (HIDUP) Adam Makna (bukan Betaljemur Adam Makna) atau (Al-qur’an atau Injil atau at-taurat dll) Salah satu isi kitab itu ialah, tentang penjabaran daripada “RASA” . “ HIDUP” . “ SUCI” (yang bagi semua manusia Hidup tanpa terkecuali, sangat penting sekali, karena merupakan satu-satunya ilmu tertinggi dalam dunia kebathinan dan falsafah di Nusantara).

Dan Persiden Republik Indonesia yang pertama, yaitu ir. Soekarno, sempat menjadi momongannya. Beliau MSS meninggal pada Hari Selasa Pon Tanggal 3 Maret 1981. Dan tentu saja, ia tidak pernah mengumumkan jatidirinya kepada siapapun, kecuali orang-orang yang dipilihnya saja, Sosoknya yang biasa-biasa saja, Bak bocah Angon soko Gunung, namun keistimewa’annya, teresohor hingga ke manca negara, dalam usianya yang sudah tua, menjelang ajalnya, stamina tubuhnya tetap luarbiasa, apalagi saat ia berbicara, seolah menyihir para pendengarnya. Dan keberaniannya berbicara menghadapi tokoh apapun dan manapun sangat luar biasa.

Semasa jaman Majapahit dalam wasiatnya Noyo Genggong Sabdo Palon. Beliau mengatakan; “Hanya atas kehendak Sang Hyang Wenang ing Jagad, yang maha menentukan manusia pilihan sebagai wadag baru Noyo Genggong Sabdo Palon.”

Proses perpindahan Noyo Genggong Sabdo Palon ke wadag barunya, berbeda dengan reinkarnasi pendeta Buddha Tibet.

Noyo Genggong Sabdo Palon memasuki tubuh remaja atau dewasa yang telah ditakdirkan, atau di pilih oleh Sang Hyang Wenang ing Jagad, meninggal dunia dan atas kehendakNya pula tubuh tersebut hidup kembali sebagai reinkarnasi Sabdo Palon baru dengan nama baru pula. Tapi pada reinkarnasi pendeta Tibet, terjadi sejak dalam kandungan ibunya, hingga lahir ke dunia sebagai bayi reinkarnasi pendeta Buddha Tibet.

Kejayaan Nusantara dalam ramalan Sri Aji Joyoboyo, akan terjadi tatkala munculnya kembali Sabdo Palon dan Noyo Genggong. “Kejayaan Nusantara yang lebih dahsyat daripada kerajaan Majapahit, akan terwujud bila dunia mengalami goro-goro besar, semacam perang dunia dahsyat atau bencana alam berskala besar, misalnya jatuhnya benda angkasa, meletusnya gunung berapi, dan lain-lain. Usai goro-goro terjadi, maka dunia akan kembali seperti sediakala. Pada saat itulah tatanan politik dunia baru akan terbentuk dan jauh berbeda dari peta dunia modern sebelumnya. Pasca goro-goro itulah di Nusantara akan muncul Ratu adil dan Noyo Genggong Sabdo Palon berdampingan menentukan nasib Nusantara dan bumi bagian selatan (Man Yang) dalam satu tata pusat pemerintahan baru,” demikian ucapan orisinil MSS pada 1980 Sebelum Beliau Meninggalkan Dunia.

MASJID KORAT-KARIT. LANGGAR BUBAR;
Istilah ini dulu pernah didengungkan oleh para leluhur atau nenek moyang Majapahit. Di Jawa, sangat dikenal ditelinga sewaktu menceritakan kedatangan saudagar Arab yang menumpang Pedagang Gujarat India (mungkin faham Islam Ahmadiyah, tapi ingat ya, ini hanya analisa), karena di Arab tidak mengenal Kapal laut. Arab sendiri paham Wahabi (ini juga analisa terserah mereka mau paham apa). Akhirnya sekarang ahmadiyah disesatkan karena tidak mengikuti adat/syareat Islam Arab Mekkah.

Pada jaman Majapahit orang Arab sudah datang berdagang, tapi islam (pahamnya) belum berkembang. Setelah melihat orang-orang jaman Majapahit jujur, lugu dan bodoh, mereka ingin menguasai Negeri Nusantara dengan pahamnya (bisa dilihat betapa bodohnya bangsa kita yang lugu, masih ada hingga sa`at ini. Entah…bagaimana pikiran Babah Patah mau menghancurkan leluhurnya, setelah dibujuk rayu oleh para syekh/wali/sunan hingga ada sejarah Kerajaan Islam Demak. tetapi leluhur tidak terima, maka keluarlah kutukan yang dikenal dengan sebutan SABDO PALON. Biarpun sebagian besar rakyat Jawa tidak percaya karena sudah tiap hari kena sejarah dan budaya serta bahasa Arab, tapi terbukti Islam cuma menguasai 75% dan hanya 75 Tahun saja, dan keraton Demak yang di rancang sebagai satu-satunya keraja’an islam di tanah jawapun sirna tanpa bekas, kecuali puing-puing peninggalannya, yang sebagai bukti, bahwa keraja’an demak pernah ada. Mengapa ?.

Itulah kepintaran bangsa Arab, yang terkenal dulu 1000 tahun Jahilliyah, memanfaatkan keadaan, karena kerajaan itu harus satu yakni Arab dan lainnya dicap kerajaan kafir, Mending Bangsa Eropa, hingga 350 tahun, karen, masih mau melaksanakan adat budaya jawa dan melindungi tempat leluhurnya, sampai datang tentara Budha Jepang, itupun hanya 3 setengah tahun. hingga Bung Karno Putra Nusantara, yang nota bene keturunan Majapahit, bukan Eropa atau Arab, yang menjadi salah satu pejuang kemerdekaan, biarpun harus beragama Import karena memang harus Impor, karena Ageman bangsa ini ditinggalkan. yakni SIWA BUDA, WISNU BUDA. Dan terbukti sampai sekarang, yang tidak mengikuti adat budaya dan ageman bangsa Arab, dicap sesat kafir dan sebagainya, padahal jangankan melaksanakan RUKUN ISLAM dan IMAN nya, mengakupun mereka kawula ini, sebagian besar tidak tahu darimana cara melaksanakan ajaran Asing dengan bahasa arabnya.

Setelah limaratus tahun runtuhnya Majapahit, para Leluhur memberikan ultimatum akan datang menyebarkan Agama Buda lagi hingga tentram seperti pada walanya dulu, karena Majapahit. Teorinya diklaim Hindu (India) tapi prakteknya Siwa Buda Majapahit, tidak identik sama sekali dengan India, di Bali Ritualnya, Adat budayanya lebih lengkap, masalah Ke Tuhan/ Ida Hyang Widhi Wasa/Allwoh/Allah/Thian ataupun sebutan yang lain kalau memang Tuhan itu satu, seperti adzannya orang Islam (Tiada Tuhan selain Allwoh).

Hingga terjadi banyak musibah dan kejadian alam sebagai salah satu bukti leluhur bangsa ini sudah bisa merumuskan akan yang terjadi. Berhubung keturunannya tidak boleh percaya dengan kitabnya sendiri, maka semua ini dianggap Takhayul, tapi terbukti. Semua kaum atau bangsa punya kitab sendiri-sendiri, tapi penjajahan di Negeri ini menyebabkan kita mengenal kitab-kita yang diimport (tapi itu Hak asasi).

Di Majapahit ada kitab Sutasoma dan lainnya yang di pakai. Pancasila sebagai dasar negara inipun mau diganti, karena tidak sesuai dengan sareat Arab (kata Nordin yang ingin ngetop tapi sudah tewas ketemu Mungkar Nakir di jemput bidadari katanya (betapa tololnya, tapi itu Hak asasi mereka). Inilah cuplikan Ramalan Hyang Sabda Palon. Mesjit korat-karit langgar bubar. Kalau kena gempa kan ambruk dan bubar. Kasihan…tapi salut mereka bilang ini sudah takdir dari Allwoh.. He he he . . . Edan Tenan.

Kapankah terjadinya goro-goro besar dan munculnya ratu adil?
Pertanyaan itu akan terjawab setelah ada jawaban atas pertanyaan berikut, “Siapakah yang kini dipilih oleh Sang Hyang Wenang ing Jagad, menjadi manusia pilihan-Nya sebagai wadag terbaru daripada reinkarnasi Sabdo Palon?”
Dan… Beliaulah sumber jawabannya. Namun Tanda-Tandanya… Seperti Sabda Beliau Dibawah ini;

TERJEMAHAN BEBAS RAMALAN NOYO GENGGONG SABDA PALON YANG DULU DILARANG TANPA ALASAN YANG JELAS.
Sedulur… Para Ahli Spiritual dan Sejarah dimanapun berada…
Masih Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.

1. Sang Prabu Brawijaya, Sabdanira arum manis, Nuntun dhatêng punakawan, Sabda Palon paran karsi, Jênêngsun sapuniki, Wus ngrasuk agama Rasul, Heh ta kakang manira, Meluwa agama suci, Luwih bêcik iki agama kang mulya.

Artinya: Kala itu…
Sang Prabu Brawijaya, Bersabda dengan lemah lembut, Mengharapkan kepada kedua punakawan (pengiring dekat)-nya, Tapi Sabda Palon tetap menolak, Diriku ini sekarang, Sudah memeluk Agama Rasul (Islam), Wahai kalian kakang berdua, Ikutlah memeluk agama suci, Lebih baik karena ini agama yang mulia.

2. Sabda palon matur sugal, Yen kawula boten arsi, Ngrasuka agama Islam, Wit kula puniki yêkti, Ratuning Dang Hyang Jawi, Momong marang anak putu, Sagung kang para Nata, Kang jumênêng ing tanah Jawi, Wus pinasthi sayêkti kula pisahan.

Artinya: Lalu…
Sabda Palon menghaturkan kata-kata agak keras, Hamba tidak mau, Memeluk agama Islam, Sebab hamba ini sesungguhnya, Raja Dang Hyang (Penguasa Gaib) tanah Jawa, Memelihara kelestarian anak cucu (penghuni tanah Jawa), (Serta) semua Para Raja, Yang memerintah di tanah Jawa, Sudah menjadi suratan karma (wahai Sang Prabu), kita harus berpisah.

3. Klawan Paduka sang Nata, Wangsul maring sunyaruri, Mung kula matur petungna, Ing benjang sakpungkur mami, Yen wus prapta kang wanci, Jangkêp gangsal atus taun, Wit ing dintên punika, Kula gantos agami, Gama Budi kula sêbar ing tanah Jawa.

Artinya:
Dengan Paduka Wahai Sang Raja, Kembali ke Sunyaruri (Alam kosong tapi ber-‘isi’; Alam yang tidak ada tapi ada), Hanya saja saya menghaturkan sebuah pesan agar Paduka menghitung, Kelak sepeninggal hamba, Apabila sudah datang waktunya, Genap lima ratus tahun, Mulai hari ini, Akan saya ganti agama (di Jawa), Gama Budi akan saya sebarkan di tanah Jawa.

4. Sintên tan purun nganggeya, Yêkti kula rusak sami, Sun sajakkên putu kula, Brêkasakan rupi-rupi, Dereng lêga kang ati, Yen durung lêbur atêmpur, Kula damêl pratandha, Pratandha têmbayan mami, Hardi Mrapi yen wus njêblug mili lahar.

Artinya:
Siapa saja yang tidak mau memakai, Akan saya hancurkan, Akan saya berikan kepada cucu saya sebagai tumbal, Makhluk halus berwarna-warni (Kekuatan negatif alam), Belum puas hati hamba, Apabila belum hancur lebur, Saya akan membuat pertanda, Pertanda sebagai janji serius saya, Gunung Mêrapi apabila sudah meletus mengeluarkan lahar.

5. Ngidul ngilen purugira, Nggada bangêr ingkang warih, Nggih punika wêkdal kula, Wus nyêbar agama Budi, Mêrapi janji mami, Anggêrêng jagad satuhu, Karsanireng Jawata, Sadaya gilir gumanti, Botên kenging kalamunta kaowahan.

Artinya:
Ke arah selatan barat mengalirnya, Berbau busuk air laharnya, Itulah waktu saya, Sudah mulai menyebarkan Agama Budi, Mêrapi janji saya, Menggelegar seluruh jagad, Kehendak Tuhan, (Karena) segalanya (pasti akan) berganti, Tidak mungkin untuk dirubah lagi.

6. Sangêt-sangêting sangsara, Kang tuwuh ing tanah Jawi, Sinêngkalan tahunira, Lawon Sapta Ngêsthi Aji, Upami nyabarang kali, Prapteng têngah-têngahipun, Kaline banjir bandhang, Jêrone ngelebna jalmi, Kathah sirna manungsa prapteng pralaya.

Artinya:
Sangat sangat sengsara, Yang hidup di tanah Jawa, Perlambang tahun kedatangannya, LAWON SAPTA NGĒSTHI AJI (LAWON ; 8, SAPTA ; 7, NGĒSTHI ; 9, AJI ; 1 = 1978 Syaka atau 2056 Masehi), Seandainya menyeberangi sebuah sungai, Ketika masih berada di tengah-tengah, Banjir bandhang akan datang tiba-tiba, Tingginya air mampu menenggelamkan manusia, Banyak manusia sirna karena mati.

7. Bêbaya ingkang tumêka, Warata sa Tanah Jawi, Ginawe Kang Paring Gêsang, Tan kenging dipun singgahi, Wit ing donya puniki, Wontên ing sakwasanipun, Sadaya pra Jawata, Kinarya amêrtandhani, Jagad iki yêkti ana kang akarya.

Artinya:
Bahaya yang datang, Merata diseluruh tanah Jawa, Diciptakan oleh Yang Memberikan Hidup, Tidak bisa untuk ditolak, Sebab didunia ini, Di bawah kekuasaan, Tuhan dan Para Dewa, Sebagai bukti, Jagad ini ada yang menciptakan.

8. Warna-warna kang bêbaya, Angrusakên Tanah Jawi, Sagung tiyang nambut karya, Pamêdal boten nyêkapi, Priyayi keh bêranti, Sudagar tuna sadarum, Wong glidhik ora mingsra, Wong tani ora nyukupi, Pamêtune akeh sirna aneng wana.

Artinya:
Bermacam-macam mara bahaya, Merusak tanah Jawa, Semua yang bekerja, Hasilnya tidak mencukupi, Pejabat banyak yang lupa daratan, Pedagang mengalami kerugian, Yang berkelakuan jahat semakin banyak, Yang bertani tidak mengahsilkan apa-apa, Hasilnya banyak terbuang percuma dihutan.

9. Bumi ilang bêrkatira, Ama kathah kang ndhatêngi, Kayu kathah ingkang ilang, Cinolong dening sujanmi, Pan risaknya nglangkungi, Karana rêbut rinêbut, Risak tataning janma, Yen dalu grimis keh maling, Yen rina-wa kathah têtiyang ambegal.

Artinya:
Bumi hilang berkahnya, Banyak hama mendatangi, Pepohonan banyak yang hilang, Dicuri manusia, Kerusakannya sangat parah, Sebab saling berebut, Rusak tatanan moral, Apabila malam turun hujan banyak pencuri, pabila siang banyak perampok.

10. Heru hara sakeh janma, Rêbutan ngupaya kasil, Pan rusak anggêring praja, Tan tahan pêrihing ati, Katungka praptaneki, Pagêblug ingkang linangkung, Lêlara ngambra-ambara, Waradin sak-tanah Jawi, Enjing sakit sorenya sampun pralaya.

Artinya:
Huru hara seluruh manusia, Berebut mencari hidup, Rusak tatanan negara, Tidak tahan pedihnya hati, Disusul datangnya, Wabah yang sangat mengerikan, Penyakit berjangkit ke mana-mana, Merata seluruh tanah Jawa, Pagi sakit sorenya mati.

11. Kêsandhung wohing pralaya, Kasêlak banjir ngêmasi, Udan barat salah mangsa, Angin gung anggêgirisi, Kayu gung brastha sami, Tinêmpuhing angin agung, Kathah rêbah amblasah, Lepen-lepen samya banjir, Lamun tinon pan kados samodra bêna.

Artinya:
Belum selesai wabah kematian, Ditambah banjir bandhang semakin menggenapi, Hujan besar salah waktu, Angin besar mengerikan, Pepohonan besar bertumbangan, Disapu angin yang badai, Banyak yang roboh berserakan, Sungai-sungai banyak yang banjir, Apabila dilihat bagaikan lautan meluap.

12. Alun minggah ing daratan, Karya rusak têpis wiring, Kang dumunung kering kanan, Kajêng akeh ingkang keli, Kang tumuwuh apinggir, Samya kentir trusing laut, Sela gêng sami brastha, Kabalêbêg katut keli, Gumalundhung gumludhug suwaranira.

Artinya:
Ombak naik ke daratan, Membuat rusak pesisir pantai, Yang berada dikiri kanannya, Pohon banyak yang hanyut, Yang tumbuh dipesisir, Hanyut ke tengah lautan, Bebatuan besar hancur berantakan, Tersapu ikut hanyut, Bergemuruh nyaring suaranya.

13. Hardi agung-agung samya, Huru-hara nggêgirisi, Gumalêgêr swaranira, Lahar wutah kanan kering, Ambleber angêlêbi, Nrajang wana lan desagung, Manungsanya keh brastha, Kêbo sapi samya gusis, Sirna gêmpang tan wontên mangga puliha.

Artinya:
Gunung berapi semua, Huru hara mengerikan, Menggelegar suaranya, Lahar tumpah kekanan dan kekirinya, Menenggelamkan, Menerjang hutan dan perkotaan, Manusia banyak yang tewas, Kerbau dan Sapi habis, Sirna hilang tak bisa dipulihkan lagi.

14. Lindhu ping pitu sadina, Karya sisahing sujanmi, Sitinipun samya nêla, Brêkasakan kang ngêlêsi, Anyeret sagung janmi, Manungsa pating galuruh, Kathah kang nandhang roga, Warna-warna ingkang sakit, Awis waras akeh kang prapteng pralaya.

Artinya:
Gempa bumi sehari tujuh kali, Membuat ketakutan manusia, Tanah banyak yang retak-retak, Makhluk halus (Kekuatan negatif alam) yang menghabisi, Menyeret semua manusia, Manusia menjerit-jerit, Banyak yang terkena penyakit, Bermacam-macam sakitnya, Jarang yang bisa sembuh malahan banyak yang menemui kematian.

15. Sabda Palon nulya mukswa, Sakêdhap botên kaeksi, Wangsul ing zaman limunan, Langkung ngungun Sri Bupati, Njêgrêg tan bisa angling, Ing manah langkung gêgêtun, Kêdhuwung lêpatira, Mupus karsaning Dewadi, Kodrat iku sayêkti tan kêna owah.

Artinya:
Sabda Palon kemudian menghilang, Sekejap mata tidak terlihat sudah, Kembali ke alam misteri, Sangat keheranan Sang Prabu, Terpaku tidak bisa berkata-kata, Dalam hati merasa menyesal, Merasa telah berbuat salah, Akhirnya hanya bisa berserah kepada Adi Dewa (Tuhan), Janji yang telah terucapkan itu sesungguhnya tak akan bisa diubah lagi.

Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang sebentar tidak tampak lagi diriya. Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin diubahnya lagi. Atas kesalahannya itu, Sang Prabu lalu menjalankan Ritual laku di beberapa tempat keramat, hingga berakhir Moksa di puncak Gunung lawu, sebagai penebusan atas kesalahan Fatalnya itu, namun nasi sudah terlanjur menjadi bubur, tidak mungkin bisa di tanak lagi. Akhirnya… sehebat apapun Perjuangan dan Pengorbanan Sang Prabu Brawijaya. Tidak dapat mengubah Sabda Palon Naya Genggong yang telah Tersirat.

Prabu Siliwangi dan Maung Dalam Masyarakat Sunda;
Dalam khazanah kebudayaan masyarakat tatar Sunda, maung atau harimau merupakan simbol yang tidak asing lagi. Beberapa hal yang berkaitan dengan kebudayaan dan eksistensi masyarakat Sunda dikorelasikan dengan simbol maung, baik simbol verbal maupun non-verbal seperti nama daerah (Cimacan), simbol Komando Daerah Militer (Kodam) Siliwangi, hingga julukan bagi klub sepak bola kebanggaan warga kota Bandung (Persib) yang sering dijuluki Maung Bandung. Lantas, bagaimana asal-muasal melekatnya simbol maung pada masyarakat Sunda? Apa makna sesungguhnya dari simbol hewan karnivora tersebut?

Simbol maung dalam masyarakat Sunda terkait erat dengan legenda menghilangnya (nga-hyang) Prabu Siliwangi dan Kerajaan Pajajaran yang dipimpinnya pasca penyerbuan pasukan Islam Banten dan Cirebon yang juga dipimpin oleh keturunan Prabu Siliwangi. Konon, untuk menghindari pertumpahan darah dengan anak cucunya yang telah memeluk Islam, Prabu Siliwangi beserta para pengikutnya yang masih setia memilih untuk tapadrawa di hutan sebelum akhirnya nga-hyang. Berdasarkan kepercayaan yang hidup di sebagian masyarakat Sunda, sebelum Prabu Siliwangi nga-hyang bersama para pengikutnya, beliau meninggalkan pesan atau wangsit yang dikemudian hari dikenal sebagai “wangsit siliwangi”.

Salah satu bunyi wangsit yang populer di kalangan masyarakat Sunda adalah: “Lamun aing geus euweuh marengan sira, tuh deuleu tingkah polah maung”.

Ada hal menarik berkaitan dengan kata-kata dalam wangsit tersebut: kata-kata itu termasuk kategori bahasa sunda yang kasar bila merujuk pada strata bahasa yang digunakan oleh masyarakat Sunda Priangan (Undak Usuk Basa). Mengapa seorang raja berucap dalam bahasa yang tergolong “kasar”? Bukti sejarah menunjukkan bahwa kemunculan undak usuk basa dalam masyarakat Sunda terjadi karena adanya hegemoni budaya dan politik Mataram yang memang kental nuansa feodal, dan itu baru terjadi pada abad 17—beberapa sekian abad pasca Prabu Siliwangi tiada atau nga-hyang.

Namun tinjauan historis tersebut bukanlah bertujuan melegitimasi wangsit itu sebagai kenyataan sejarah. Bagaimanapun, masih banyak kalangan yang mempertanyakan validitas dari wangsit itu sebagai fakta sejarah, termasuk saya sendiri.

Wangsit, yang bagi sebagian masyarakat Sunda itu sarat dengan filosofi kehidupan, menjadi semacam keyakinan bahwa Prabu Siliwangi telah bermetamorfosa menjadi maung (harimau) setelah tapadrawa (bertapa hingga akhir hidup) di hutan belantara. Yang menjadi pertanyaan besar: apakah memang pernyataan atau wangsit Siliwangi itu bermakna sebenarnya ataukah hanya kiasan? Realitasnya, hingga kini masih banyak masyarakat Sunda (bahkan juga yang non-Sunda) meyakini metamorfosa Prabu Siliwangi menjadi harimau. Selain itu, wangsit tersebut juga menjadi pedoman hidup bagi sebagian orang Sunda yang menganggap sifat-sifat maung seperti pemberani dan tegas, namun sangat menyayangi keluarga sebagai lelaku yang harus dijalani dalam kehidupan nyata.

Dari sini kita melihat terungkapnya sistem nilai dari simbol maung dalam masyarakat Sunda. Ternyata maung yang memiliki sifat-sifat seperti yang telah disebutkan sebelumnya menyimpan suatu tata nilai yang terdapat pada kebudayaan masyarakat Sunda, khususnya yang berkaitan dengan aspek perilaku (behaviour).

Prabu Siliwangi yang hidup pada abad keenambelas masehi (1500‐an), penguasa tanah Pasundan, raja besar kerajaan Hindu Sunda‐Galuh, Pakuan‐Pajajaran, meninggalkan wasiat berupa ramalan masa depan bagi rakyatnya. Di abad keenambelas masehi (1500‐an) itu bangsa Eropa kulit putih sudah berhasil berlayar mencapai wilayah Nusantara. Perseteruan antara kerajaan Islam dengan bangsa Eropa itu menempatkan kerajaan Pajajaran yang Hindu dalam posisi sulit, alias dimusuhi keduabelah pihak yang berseteru, Prabu Siliwangi cukup bijak dalam memilih dengan memihak Portugis dalam menghadapi serbuan Demak‐Banten.

Portugis yang tengah mencari pangkalan di Nusantara bagi armada lautnya menyambut uluran persahabatan Pajajaran, dan dengan modal pakta persahabatan yang telah diraih, maka Portugis pada 1527 berupaya mendaratkan armada lautnya lengkap di Sunda Kelapa. Sayang sekali armada tersebut ditimpa naas terkena bencana topanbadai dahsyat tatkala tengah berlayar menuju Sunda Kelapa, sehingga porak‐porandalah armada Portugis tersebut dan akhirnya gagal memenuhi janji persahabatan dengan kerajaan Pajajaran.

Untuk selamanya armada laut Portugis tidak mau mendarat lagi di Sunda Kelapa karena tidak sudi mengulangi kegagalan pertama, selanjutnya Portugis mencari pelabuhan lain di wilayah Nusantara yang bersahabat atau kalau perlu dipaksa untuk menjadi sahabat dalam upaya armada Eropa Barat itu mendirikan pangkalan laut guna menguasai jalur laut menuju pulau rempah‐rempah di kepulauan Maluku.

Pajajaran sebuah negeri pedalaman yang sangat kuat pertahanannya sudah disadari oleh Mahapatih Gajahmada bahwa sangatsulit untuk menghadapi pasukan Pajajaran yang berjumlah besar hanya mengandalkan angkatan laut Majapahit. Diperkirakan akan memakan
waktu dan biaya besar untuk mengerahkan pasukan Majapahit dalam jumlah besar melalui laut ditambah lagi dengan perjalanan darat yang makan waktu berhari‐hari. Dan sebaliknya bagi Pajajaran yang tidak memiliki armada laut itu tentu tidak pernah terlintas untuk menyerang wilayah lain melalui laut. Satu‐satunya pilihan bagi Pajajaran selalu memperkuat pasukan darat untuk persiapan menahan serbuan musuh.

Strategi perang yang dijalankan oleh Prabu Siliwangi memang sesuai dengan geografis dan topografis tanah Pasundan yang bergunung dan sebagian besar terdiri dari dataran tinggi, berhawa sejuk, konon terkenal rakyatnya paling tampan dan cantik se‐Asia Tenggara. Maka
tidaklah mengherankan pilihan strategi paling jitu, dan paling tepat yang dilakukan oleh Majapahit dalam upaya melebarkan pengaruh politiknya di Jawa Barat ialah melalui jalan perkawinan kerajaan. Akan tetapi upaya itu gagal karena dalam tahap akhir pelaksanaan misi
tersebut akibat terjadinya Perang Bubat yang menewaskan calon pengantin berikut keluarga kerajaan Pajajaran yang turut mengiringinya.

Prabu Siliwangi yang memerintah Pajajaran setelah terjadinya perang Bubat, merasa sendiri dalam menghadapi serbuan kerajaan non‐Hindu. Majapahit telah runtuh beberapa puluh tahun sebelum sang Prabu marak menduduki singgasana Pakuan Pajajaran. Dan dengan
runtuhnya Majapahit maka sasaran tembak kerajaan Demak dan Banten mengarah tepat ke ibukota kerajaan Sunda‐Galuh tersebut. Sebagai benteng terakhir kerajaan Hindu setelah Majapahit, sang Prabu sudah merasa bahwa takdir sejarah memihak yang baru dan memunahkan yang lama. Runtuhnya kerajaan Hindu digantikan oleh kerajaan Islam adalah atas kehendak sejarah.

Prabu Siliwangi berjanji kelak di masa depan akan selalu hadir dalam bentuk “wewangian yang harum semerbak” guna melindungi rakyatnya tertentu. yakni yang berhati baik. Keraton kerajaan Pakuan Pajajaran yang berlokasi dalam radius beberapa ratus meter dari prasasti Batutulis Bogor pada empat mata angin rakyat yang setia pada Prabu Siliwangi akan menyebarkan dirinya telah diberikan gambaran mengenai masa depan mereka.

Dari arah utara keraton kelak digambarkan kedatangan para tamu dalam jumlah besar yang selalu merepotkan para penduduk. Di mulai dengan Gubernur Jenderal Hindia‐Belanda yang menempati istana Bogor, sampai dengan Presiden Sukarno yang mendirikan dua istana,
Istana Cipanas dan Istana Bogor. Keduanya datang dari utara, Jakarta. Dan kini para penduduk Jakarta yang cukup mapan selalu mengarahkan kendaraan pribadinya berlibur ke Bogor‐Puncak dan membikin jalanan macet pada hari libur, mereka itulah yang disebut oleh Prabu Siliwangi sebagai tamu yang cukup merepotkan penduduk setempat.

Dari arah Timur keraton Batutulis itu pada masa pemerintahan Sultan Agung Mataram pada abad enambelas datang perintah bagi rakyat Pajajaran untuk mengerahkan pasukan guna menyerbu Batavia yang tengah diduduki oleh pasukan Belanda. Serbuan pasukan ditambah
dengan membendung sungai Ciliwung yang dilakukan olah Dipati Ukur pimpinan pasukan Mataram wakil dari tanah Pasundan itu tidak berhasil mengusir Belanda.

Ke arah Barat keraton Pajajaran para pengikut Prabu Siliwangi yang mengundurkan diri ke daerah Lebak itu merasa aman berkat kedisiplinan mereka menjaga mandala kerajaan. Mereka secara ketattidak menggunakan api yang menimbulkan asap yang mudah dideteksi
musuh dari jarak jauh. Suku Baduy dalam yang merupakan turunan langsung rakyat Pajajaran di masa Prabu Siliwangi hingga hari ini terus menunggu isyarat berupa teriakan minta tolong di tengah malam datang dari arah Gunung Halimun, sebagai pertanda datangnya sosok pemimpin bijak. Suku Baduy paling dalam melarang diri dalam menggunakan peralatan modern antara lain listrik, dan kendaraan bermotor, yang mereka anggap adalah api yang itu juga (bisa memberi petunjuk posisi mereka pada musuh).

Ke arah Selatan tempat arah yang dipilih Prabu Siliwangi berikut rakyat yang mengikutinya memang sangat tepat dijadikan basis pertahanan sekaligus membaurkan diri dengan mendiami lembah, dan dataran tingginya. Basis ini memiliki modal utama hawa yang sejuk dan tanah yang sangat subur di masa sekitar tahun enampuluhan adalah basis Darul Islam‐Tentara Islam Indonesia. Dan juga pimpinan tertinggi Partai Komunis Indonesia juga memanfaatkan wilayah tertentu di Jawa Barat untuk eksperimen rahasia sebagai daerah basis pertanian berupa sistem pertanian kolektif seperti di Uni Soviet dan Republik Rakyat
Tiongkok.

Di samping itu juga sejak tahun enampuluhan hingga awal milinneum ketiga wilayah yang bergunung dan subur itu telah menjadi basis rebutan bagi Negara Islam Indonesia, HTI, maupun aliran Ahmadiyah, dan yang lainnya. Di masa revolusi kemerdekaan Pasukan
Siliwangi yang hijrah ke Jawa Tengah jadi andalan kabinet Mohammad Hatta untuk menggempur pasukan komunis dan pasukan lainnya yang tidak setuju kebijakan pemerintah Soekarno‐Hatta. Dalam konflik 1965. pasukan Siliwangi sebagian besar setia pada Bung Karno, di samping sebagian kecil yang mendukung Orde Baru Jenderal Soeharto. Semua itu
terakumulasi di wilayah tanah Pasundan, tidak mengherankan karena hutan‐hutan dan alamnya relatif lebih terjaga dibandingkan di daerah lain di Pulau Jawa bagian Tengah dan Timur yang rusak parah.

Juga dari arah Selatan itu menurut Prabu Siliwangi kelak akan datang dan asal Si Bocah Angon ‐‐ seorang penulis sejarah ‐‐ adalah si Satria Piningit atau Satrio Piningit yang mengetahui rahasia mengenai Ratu Adil. Si Bocah Angon yang rumahnya di ujung sungai, dan rumahnya berlantai tiga berpintu setinggi batu pada lantai kedua gemar memelihara tanaman dalam pot berupa pohon handeuleum yang berkhasiat menyembuhkan wasir, daunnya merah hati tua. Dan satu lagi pohon hanjuang, daunnya berwarna persis sama merah hati tua atau merah marun. Si bocah angon ini akan dijadikan sebagai tumbal, akan tetapi ia selalu berhasil meloloskan diri, berjalan menuju ke arah barat dan menghilang, bersama seorang lain berwajah penuh rambut, dan berpakaian serba hitam, dan yang pernah dipenjarakan oleh pemerintah karena dianggap sebagai pengacau keamanan.

Mereka berdua yang bisa “melawan penguasa sambil tertawa” itulah yang sebenarnya Satria
Piningit atau Satrio Piningit dan pendampingnya yang memegang rahasia mengenai Ratu Adil yang kelak muncul setelah timbulnya bencana alam berupa meletusnya tujuh gunung ditambah sebuah gunung lagi, terdekat di arah sebelah selatan daripada keraton Prabu Siliwangi. Dengan kehadiran sang Ratu Adil, maka kejayaan Nusantara yang adil makmur sesuai keinginan dan ditunggu selama berabad‐abad oleh rakyat jelata akan kesampaian.

Demikian inti wasiat uga wangsit Prabu Siliwangi, bagi segenap rakyat Pakuan Pajajaran khususnya dan umumnya bagi segenap rakyat Tanah Pasundan, Jawa Kulon. Bung Karno di akhir masa pemerintahannya memilih istana Bogor (tak jauh dari istana Pajajaran di sekitar Batutulis) dan sempat memberi wasiat, beliau ingin dikebumikan di sekitar daerah Batutulis,
Bogor, (di bawah pohon rindang dengan pemandangan lembah dangunung nan indah) lebih memilih dirinya tenggelam daripada mengorbankan rakyatnya. Prabu Siliwangi yang dikebumikan di Rancamaya (dengan pemandangan lembah dan gunung nan indah) juga
setali tiga uang lebih memilih dirinya tenggelam dengan alasan serupa.

Sosok Bung Karno yang ibunya berasal dari pulau Dewata termaktub juga dalam uga wangsit Prabu Siliwangi. Dan tentu dengan sendirinya Bung Karno juga mengetahui hal demikian. Barangkali itu yang menjadi, alasan beliau dalam membuktikan kebenaran uga wangsit Prabu Siliwangi, maka memilih Batutulis sebagai tempat peristirahatan abadinya.LALU…..

Ada apa dan akan Terjadi apa di tahun 2024?
Kalau ada yang nanya “apa kamu tau apa yang bakal terjadi esok?”
Mungkin kebanyakan dari kita bakal jawab, “hari esok adalah misteri, ga pernah ada yang benar-benar tau akan hal itu”, dan mungkin itu jugalah jawaban paling bijak yang paling bisa kita pikirkan, karena dalam kenyata’annya, milik kita adalah hari ini, hari kemaren bukanlah milik kita lagi, jadi, tak perlu di pikirkan, sedangkan hari esok adalah misteri, milik Tuhan, jadi, tidak usah di pusingkan dulu. Yang harus kita pikirkan adalah hari ini, sebab hari ini adalah milik kita, tempat kita dan sikon kita sekarang.

Kemudian bila pertanyaan selanjutnya, “apa yang bakalan terjadi 10 tahun yang akan datang?”, mungkin jawabannya juga tidak jauh berbeda, “hanya Tuhan yang tau” atau bahkan “saya bukan Mama Lorent, atau Ki Joko Bodo.” He he he . . . Edan Tenan. Saya Wong Edan Bagu. Bukan Ki Kusumo Cs.

Tapi kemungkin juga banyak dari kita yang tau. Salah satu contohnya seorang brazilian yang namanya Jucellino (kalau tidak salah), yang mengaku kalau dia itu bisa melihat masa depan dunia. Banyak ramalan yang sudah dia nyatakan ke banyak media, berbagai gambaran yang dia lihat dalam mimpinya, salah satunya kematian Lady Day, kejadian 11 september sampai diramalkannya pemberian nobel ke Al Gore. Ia mungkin bisa menyebut dirinya sebagai manusia yang diberikan karunia, yang teramat besar, karena mampu melihat kejadian-kejadian besar di masa depan. ( yahh,,, percaya nggak percaya sih, bergantung pakai kaca mata yang mana) He he he . . . Edan Tenan.

Dan Di tahun 2014-2015 ini, ada Tokoh Spiritual yang juga Termasuk Paranorma/Peramal handal asal Mancanegara, namanya lupa saya, tapi saya pernah bertemu sekali, sa’at acara di Hotel Mangga Dua jakarta, yang intinya meramalkan tentang Indonesia di tahun 2024 nanti. Dan ramalnya itu, dikait-kaitkan dengan Wangsit Prabu Siliwangi Dan Noyo Genggong Sabdo Palon. Kurang Lebihnya Seperti ini jika saya tidak salah dengar;

Menurutnya;
Ramalan Jayabaya dalam periode Akhir tersebut, cukup akurat dalam meramalkan bangkit dan runtuhnya kerajaan-kerajaan Jawa (Indonesia), naik-turunnya para Raja-raja dan Ratu-ratunya atau Pemimpinnya, yang terbagi dalam tiap seratus tahun sejarah, yaitu Kala-jangga (1401-1500 Masehi), Kala-sakti (1501-1600 M), Kala-jaya (1601-1700 M), Kala-bendu (1701-1800 M), Kala-suba (1801-1900 M), Kala-sumbaga (1901-2000), dan Kala-surasa (2001-2100 M).

Munculnya Presiden Sukarno sebagai Pemimpin Indonesia, Pendiri Republik Indonesia dalam periode Kala-sumbaga (1901-2000) diramalkan secara cukup akurat. Beliau digambarkan sebagai seorang Raja yang memakai kopiah warna hitam (kethu bengi), sudah tidak memiliki ayah (yatim) dan bergelar serba mulia (Pemimpin Besar Revolusi).

Naik-turunnya Preside RI ke-2 Suharto juga secara jelas diramalkan oleh Prabu Jayabaya pada Bagian Akhir tembang Jawa butir 11 sampai 16 sebagai berikut: Ana jalmo ngaku-aku dadi ratu duwe bala lan prajurit negara ambane saprowulan panganggone godhong pring anom atenger kartikapaksi nyekeli gegaman uleg wesi pandhereke padha nyangklong once gineret kreta tanpa turangga nanging kaobah asilake swara gumerenggeng pindha tawon nung sing nglanglang Gatotkaca kembar sewu sungsum iwak lodan munggah ing dharatan. Tutupe warsa Jawa lu nga lu (wolu / telu sanga wolu / telu) warsa srani nga nem nem (sanga nenem nenem) alangan tutup kwali lumuten kinepung lumut seganten.

Beliau muncul sebagai Pemimpin yang didukung oleh Angkatan Bersenjata RI (darat, udara dan laut), berlambang Kartikapaksi, memakai topi baja hijau (tutup kwali lumuten) pada tahun 1966. Zaman pemerintahan Presiden Suharto (Orde Baru) berlangsung selama 30 tahun.

Setelah lenyapnya kekuasaan tiga raja tersebut diatas, Jayabaya meramalkan datangnya seorang Pemimpin baru dari negeri seberang, yaitu dari Nusa Srenggi (Sulawesi), ialah Presiden BJ Habibie.

Ramalan Jayabaya bagi Indonesia setelah tahun 2001 Indonesia akan menjadi sebuah negeri yang aman, makmur, adil dan sejahtera sebagai akhir dari Ramalan Jayabaya (Kala-surasa, 2001-2100 M), zaman yang tidak menentu (Kalabendu) berganti dengan zaman yang penuh kemuliaan, sehingga seluruh dunia menaruh hormat. Akan muncul seorang Satriya Piningit sebagai Pemimpin baru Indonesia dengan ciri-ciri sudah tidak punya ayah-ibu, namun telah lulus Weda Jawa, bersenjatakan Trisula yang ketiga ujungnya sangat tajam, sbb:

Di zaman modern abad ke-21 saat ini dengan berbagai persenjataan modern dan alat tempur yang canggih, mulai dari senjata nuklir, roket, peluru kendali, dan lain-lainnya, maka senjata Trisula Weda mungkin bukanlah senjata dalam arti harafiah, tetapi adalah senjata dalam arti kiasan, tiga kekuatan yang mebuat seorang Pemimpin disegani segenap Rakyatnya. Bisa saja itu adalah tiga sifat-sifat sang Pemimpin, seperti: Benar, Lurus, Jujur (bener, jejeg, jujur) seperti yang diungkapkan dalam tembang-tembang Ramalan Jayabaya.

Demikian pula tentang sosok sang Pemimpin yang digambarkan sebagai Satriya Piningit, bukanlah seseorang yang tiba-tiba muncul, tetapi Ia adalah seorang Pemimpin Indonesia yang sifatnya tidak mau menonjolkan diri, tetapi Ia bekerja tanpa pamrih, menyumbangkan tenaga dan pikirannya bagi kemajuan bangsa dan negara. mengantarkan Indonesia kepada Cita-cita para Pendiri Bangsa sebagaimana tercantum dalam Mukadimah UUD 1945, yaitu negeri yang aman, makmur, adil dan sejahtera bagi segenap Rakyat Indonesia.

Dia meramalkan satu negara terpadat di Asia Pacific dibawah garis tengah (Indonesia?) akan terjadi revolusi besar, 20 tahun setelah kedua kalinya perang besar, 33 tahun kemudian akan terjadi revolusi kedua yang akan digantikan seorang boneka. Boneka ini akan memimpin selama 1 tahun dan akan digantikan dengan damai oleh seorang yang keras. 3 bulan (akhir tahun 1999?) setelah pemimpin baru ini memimpin, negara ini yang sudah bernapas dalam lumpur akan semakin tengelam dan akan terjadi revolusi ketiga yang sangat-sangat berdarah. Pada revolusi ketiga ini akan langsung bersambung dengan Perang Besar ketiga. Dan 16 tahun kemudian revolusi keempat akan berlangsung damai.

Dia mengambarkan, pada revoulusi pertama, 20 tahun setelah perang besar, akan terbunuh 500.000 orang yang bukan asli dari negara itu dan 25 wanita akan diperkosa. Pada revolusi kedua akan terdapat 500 orang terbunuh yang bukan asli dari negara itu dan akan ada 250 wanita yang diperkosa. Pada revolusi ketiga akan tedapat 500.500 (lima ratu ribu lima ratus) orang yang terbunuh bukan asli dari negara itu dan akan ada 2500 wanita yang akan diperkosa.

Perang ketiga Besar akan mulai tahun 00 (mungkin tahun 2000 yg dimaksud). Dimulai dengan terbunuhnya seorang presiden di negara Timur Tengah. Tapi perang besar ini akan menjadi besar sekali setelah 2 tahun terjadi perperangan di Timur Tengah karena Negara besar di Utara (Amerika?/Rusia? atau keduanya?) akan ikut campur dalam perperangan ini setelah negaranya banyak terjadi ledakan mobil dan ledakan bunuh diri yang dilakukan oleh orang-orang dari negara Timur Tengah ini. Perang ini akan melibatkan 125 negara didunia dan akan berlangsung 9 tahun.

Ledakan besar buatan manusia (nuklir?) akan hanya terjadi 5 kali dalam sejarah yang pada akhirnya akan membunuh 30 juta orang total dan semuanya hanya terjadi di Asia. Kita sudah menyaksikan 2 kali diledakan di Jepang. Dan akan ada 3 kali lagi.

Malaysia akan menjadi satu dengan Indonesia karena dijajah oleh negara besar itu juga. Selama 15 tahun Indonesia dan Malaysia akan digabung dijadikan satu dan dijajah negara raksasa ini. Akan terbunuh total 21.000.000 warga asli yang sebagian besar dari Indonesia. Keadaan akan sangat sangat brutal karena akan banyak penyakit yang disebar lewat udara disemburkan lewat burung yang terbuat dari besi.

Sejarah terhitam dalam negara yang dijajah ini akan merubah wajah negara ini selamanya. Setelah 15 tahun dijajah, negara ini akhirnya akan dipimpin oleh seorang yang bukan asli (orang Cina?) dan pemimpin ini melakukan revolusi keempat mengeluarkan penjajah dengan damai. Akan hanya ada 20 orang yang akan terbunuh dalam revolusi damai ini.

Pemimpin baru ini akan memimpin selama 12 tahun. Seorang pemimpin berkulit sangat gelap akan mengantikannya membawa negara ini menjadi negara contoh teladan di Asia. Dia akan memimpin selama 8 tahun dan akan digantikan oleh seorang yang sangat keras berdarah bangsawan. Negara mengalami sedikit kemunduran selama 4 tahun masa kepemimpinannya dan akan digantikan oleh seorang bukan asli negara itu kembali, segala menjadi baik dan negara ini akan dibagi menjadi 8 negara bagian dan masing-masing nantinya akan dipimpin oleh gubenur gubenur untuk setiap negara bagian dan satu presiden itu.

Masa Cepot Antara Tahun 2010-2020;
Indonesia berada di masa transisi krusial, Dimana terjadi perubahan besar di dunia berkenaan dengan Revolusi Teknologi Informasi. Krisis identitas kebangsaan terjadi, Nilai-nilai tradisional, Nilai Liberalisme Barat, Nilai Sosialisme bahkan komunisme, dan Nilai-nilai Islam saling tarik menarik keras. Indonesia mengikuti pusaran pertempuran dunia antara dua idelogi yang sedang tarik menarik yaitu idelolgi Liberalisme dan Idelogi Islam. Isu terorisme, kebangkitan Islam menjadi suatu hal yang lumrah dan menjadi bahas yang panas sampai ke dunia maya/internet.

Masa Cepot, akan banyak kejadian besar yang menimpa dunia dan Indonesia dari isu terorisme hingga sampai perang opini di segala bidang IPOLEKSOSBUDHANKAM dalam masyarakat akibat pergesekan dua idelogi yang sedang panas2nya tersebut, namun belum sampe kepada perang saudara walaupun di dunia perang Irak,Afghanistan, Pakistan masih terus bergelolak.

2. Masa Repot Antara Tahun 2020-2024
Masa ini merupakan masa yang benar-benar membuat repot Indonesia, karena benturan-benturan kepentingan antar kelompok terutama yang membawa nilai-nilai nasionalisme, Liberalisme dan Nilai Islam sudah mencapai puncaknya terjadi perang saudara yang besar yang banyak memakan korban, Trend ini mengikuti dunia dimana satu ideology mengalami banyak penguatan dan satu idelogi mengalami penurunan terus menerus dari tahun 2000 hingga tahun 2020.

Masa Repot di tandai pula munculnya tokoh-tokoh baru Indonesia yang mempengaruhi pemikiran dunia yang berasal dari Neo-liberalisme (yang memperbaharui nilai-nilai liberalisme lama) dan dari Neo-Islam (yang membawa kemurnian nilai-nilai Islam sebagaimana zaman Khulafaur Rasyidin) Hingga terjadi perang antar saudara dan agama. Yang banyak memakan korban dari bangsa sendiri dan suku sendiri bahkan dari keluarganya sendiri. Disinilah Sabdo Palon Naya Genggong dan Prabu Siliwangi di Kaitkan. Dan… Waktu terjadinya perang inilah yang belum bisa terprediksi, apakah di tahun 2024 atau justru sebelum tahun 2024.

3. Masa Kolot Antara Tahun 2025-2050
Inilah zaman keemasan dunia, khususnya INDONESIA. Dimana hanya ada satu pemerintahan, satu Undang Undang dan satu Kepemimpinan dan satu Wilayah Dunia. Dimana fase2 kritis yang terjadi tahun 2025 di Indonesia sudah melebur dengan permasalahan2 dunia. Perintisan terjadi awal 2030 dan terus mengalami pergolakan dan peperangan hingga tahun 2050 mencapai masa keemasan hingga terus menurun hingga tahun 2850, masa pasca 2850 inipun terjadi Armageddon (Perang Dunia yang melibatkan wilayah-wilayah yang ingin bebas dari imperium) yang sangat besar hingga burung dan lalat pun tak bisa luput dari terpaan senjata modern. Pasca Armageddon zaman ini manusia kembali ke zaman batu. Pedang dan kuda seperti waktu ribuan tahun yang lalu kembali terjadi…
He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang kinasihku yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. SEMOGA POSTINGAN SAYA KALI INI. Bermanfaat untuk Para Kadhang yang belum mengetahui ini. Khususnya yang sengaja Bertanya Soal Hal ini Serta Bisa menggugah Rasa Hidup nya siapapun yang membacanya. Terima Kasih.

Lo… Lo… Lo… Tunggu dulu pak WEB. Cara untuk menyikapinya bagaimana donk…?! Terus terang dan jujur nih, saya kepikiran dan takut Pak…

Lah… Diatas tadi kan sudah saya kasih tau, cara untuk menyikapinya, bacanya kurang teliti ya… hayo… baiklah, saya ulangi lagi ya. Hari kemaren, bukan milik kita lagi, jadi,,, untuk apa di pikirkan, toh tidak akan bisa diulang lagi, hari esok juga bukan milik kita, lalu untuk apa kita pikirkan, toh belum tentu umur kita sampai hingga hari esok, milik kita adalah hari ini, karena kita sedang berada di hari ini, dan sedang di sikon hari ini. Maka… Nikmatilah hari ini dengan Iman Lakon Kadhangan dan Syukur lah hari ini dengan Iman Laku Kunci. Biyarkan Hyang Maha Suci Hidup Berkarya dengan Kuasa-Nya Sendiri. Kita tak perlu ikut Campur urusan-Nya. Toh kita tidak bisa apa-apa. Mung sedermo nglakoni. Cukup; Tetep Idep Madep Mantep ing Lakon gelar lan ing Laku Gulung.

Lakon Gelar;
1. ANA RUSIA AJA BINUKA. RABI AYU AJA SINAREAN. REJEKI SETITIK AJA TINAMPIK.
2. GAGILAH RASA KANG ANGLIMPUTI SEKUJUR BADANMU.ING SAJERONING BADANMU. ANA DAWUHING GUSTI. KANG BISA NJAMIN. PATI URIPMU LAN NDUNYA AKHERATMU.

Laku Gulung;
I. ANA APA-APA KUNCI. LANGKA APA-APA KUNCI.
2. SAMUBARANG TUMINDAK KINANTENAN SARWA MIJIL.
3. YEN WANI AJA WEDI-WEDI. YEN WEDI AJA WANI-WANI.

Coba Kau Renungi Kata Saya ini; Pada Akhirnya. Yang Mati yang akan Mengubur Yang Mati: Para Kadhang kinasihku sekalian… Mendung itu tidak berarti hujan. Tidak mendung juga bukan berarti panas terik.Menang tidak berarti jagoan.Kalah juga bukan berarti pecundang.

Terkadang menangis bukan berarti sedih dan ketawa tidak harus selalu bahagia.
Melihat tidak berarti harus percaya, tapi hanya dengan percaya kita akan melihat.
Terpejam tidak berarti gelap, namun terang walau kadang tak terlihat.

Hanya bisa berdiri sendiri di tengah aliran waktu, berjalan tapi tak melaju, bermimpi tapi tak berlari, hanya bisa menoleh ke belakang, tanpa tahu apa yang ditangisi, memandang tapi tak melihat, bersuara tapi tak mendengar, hanya bisa serahkan, pasrahkan, biarkan yang mati yang akan mengubur yang mati. Kita Tetap KUNCI.
Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com