Keinginan/Harapan. Cita-cita (Nafsu) Adalah Sumber Awal Karma:


Keinginan/Harapan. Cita-cita (Nafsu) Adalah Sumber Awal Karma:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Rabu Wage. Tgl 30 November 2016

Keinginan. Harapan. Cita-cita adalah sumber awal karma;
maka semakin terpaksa melakukan suatu perbuatan, karena sebuah Keinginan. Harapan. Cita-cinta (Nafsu), maka akan semakin kecil karma yang dihasilkan. Loh… maksudnya…?!

Maksudnya… Jika seseorang terpaksa melakukan perbuatan buruk, maka semakin kecil karma buruk yang dihasilkan dari perbuatannya. Demikian pula sebaliknya, bila seseorang terpaksa melakukan perbuatan baik, maka semakin kecil pula karma baik yang dihasilkan dari perbuatannya itu. Lebih jelasa dan detil serta rincinya…

Jika seseorang terpaksa berbohong, demi kebaikan seluruh mahluk, maka karma buruknya akan lebih ringan dibanding seseorang yang berbohong demi keuntungan dirinya.

Walau seseorang banyak berderma, tetapi demi nama baiknya, maka karma baiknya juga akan lebih kecil, dibanding dengan seseorang yang berderma kecil, tanpa kepentingan dirinya.

Walau seseorang banyak memberikan persembahan besar, di depan altar Budha, di hadapan patung yesus, di samping Ka’bah, tetapi bila pikirannya penuh dengan berbagai keinginan-keinginan, maka karma baiknya juga, akan lebih kecil, dibanding dengan seseorang yang memberikan,persembahan kecil di depan pengemis tua, dengan rasa syukur dan legowo/legawa (Rela).

Karma Tidak Dapat Dihapus;
Wahai Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, khususnya Para Pembina/Pembimbing Spiritual. Pahamilah kebenaran alamiah tentang Karma yang saya temukan dari berbagai lakon dan laku seumur hidup saya ini;
Ada sebab, ada akibat.
Apa yang ditanam, itulah yang akan dipetik.
Ada awal, ada akhirnya.
Apa yang di kuyah, itulah yang akan di cerna.
Walau Berkah Sejuta Buddha atau Sejuta Syafa’at Rasul atau Sejuta Restu Yesus. Tetap tidak akan bisa menghapus yang namanya KARMA.

Bagi para pembina/pembimbing. Kesadaran Sejati/Murni, akan memahani kebenaran alamiah karma yang sesungguhnya. Dimana tidak ada satupun berkah/syafaat/restu/pangestu. Pembinaan dan ajaran yang dapat menghilangkan atau menghapus karma. Bila ada sesuatu yang bisa menghilangkan dan menghapus karma, maka sejak awal jaman Budha/Yesus/Nabi, maka karma akan dihilangkan dan dihapuskan selamanya.

Sejak lampau hingga sekarang dan yang akan datang, para Pembimbing Sejati terus menurunkan berbagai macam ajaran Rasa/Hidup, agar para mahluk Hidup dapat memahami alamiah karma yang sebenarnya, sehingga para mahluk Hidup dapat keluar dari lingkaran karma yang tanpa awal dan akhir ini.

Demikianlah alamiah dari Pembinaan Ajaran Kesadaran Sejati, yang diturunkan langsung oleh Bunda Mulia, yang di sabdakan langsung oleh yang mulia Baginda Nabi Muhammad SAW, yang di firmankan langsung oleh Tuhan Yesus. Juga tidak akan pernah dapat menghilangkan atau menghapus karma-mu sekalian.

Tetapi dengan membina Ajaran Kesadaran Sejati, akan membantu para pembina untuk memahami alamiah karma lebih jelas dan jernih. Segala karma baik, karma buruk, dan karma-karma lainnya, yang timbul akan dapat dipahami dengan sebenarnya. Bila dapat memahami alamiah karma dengan sebenarnya, maka para pembina Kesadaran Sejati, akan dapat mengendalikan segala karma yang timbul, baik pada dirinya sendiri, maupun kepada yang di binanya.

Dengan demikian, pembina’an Ajaran Kesadaran Sejati, sangat penting untuk mengendalikan karma yang timbul. Dan bukan Karma yang timbul yang selalu mengendalikan kehidupan para mahluk, seperti halnya yang dialami oleh kebanyakan dari kita sekarang ini, oleh seluruh mahluk Hidup tanpa terkecuali, di alam semesta ini. Dengan kata lain, karma yang timbul, tetap tidak akan pernah dapat dikendalikan, tanpa adanya pembina’an Spiritual Hakikat Hidup, bahkan karma yang timbul selalu menguasai dan mengendalikan kehidupan para mahluk Hidup, termasuk pembinanya. Edan pora….?!

Jelas dan Terangnya….
Karma-lah yang telah mengendalikan kita didalam keseharian kita,bukan Hidup kita.

Dan kita sebagai Putro Romo atau yang mengaku atau merasa sudah Putro Romo. SILAHKAN PILIH… Karma yang mengendalikan kita, atau Kita yang mengendalikan karma, untuk menolong seluruh sesama mahluk Hidup. Dengan karma yang sama, atau dengan Wahyu Panca Laku, yang sangat berbeda dampaknya..?! He he he . . . Edan Tenan.

Inilah alamiah Pembina’an Kesadaran Sejati atau Kesadaran Murni. (Rasa/Hidup/Kunci) Yang di hasilkan Wahyu Panca Laku. Monggo… Silahkan Pilih Sendiri. Keputusan ada pada diri-diri Pribadi Anda-Anda Sekalian.

WEB;
Hanya satu Himbauan saya, yang perlu diketahui dengan Iman-mu;
Karma buruk dan karma baik, tidak dapat dihilangkan atau dimusnahkan atau di hapus. Tetapi karma buruk dan karma baik, dapat saling melengkapi satu dengan lainnya, jika kita mempraktekan/mengibadahkan semuanya dan segalanya dengan Wahyu Panca Laku.

Bagaikan keserasian Warna Pelangi yang saling melengkapi, menjadikan satu kesatuan ikatan yang sangat indah. Bila dapat melihat keindahan yang sebenarnya, merah kuning hijau biru putih hitam, tidak ada bedanya. Artinya; Karma buruk dan Karma baik, tidak lagi berbeda. Karena Dzat Hyang Maha Suci Hidup itu, Esa dan Kuasa atas segala dan semunya. Serta sumber segala yang ada dan tiada. Baik dari-Nya. Burukpun dari-Nya. Tidak ada selembar daunpun yang jatuh kebumi tanpa kehendak-Nya. Semua dan segalanya yang terjadi dan tidak terjadi, adalah kehendak-Nya jua. Semua dan segalanya berasal dari-Nya. Maka,,, rela tidak rela. Mau tidak mau, akan kembali hanya kepada-Nya saja. Bukan selain-Nya.

Jika/Bila mendapatkan kebaikan didalam Artikel ini. Silahkan Artikel ini di sebar luaskan sebagai pengalaman tambahan, tidak usah/perlu mencantumkan saya atau menyertakan link saya, akui bahwa ini adalah pengalaman/penemuan Pribadi Anda… Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi Pinayungan Maring Ingkang Maha Agung. Dzat Maha Suci Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966
BBM; D38851E6
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Mencari Sang Maha Gha’ib:


Mencari Sang Maha Gha’ib:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Rabu Wage. Tgl 30 November 2016

– GUSTI ALLAH… Panjenengan panggenanipun dhateng pundi…?!
+AKU ono ning teleging ati.
– GUSTI ALLAH… Kulo sampun nyusul Panjenengan dumugi dhateng teleging ati. Panjenengan kok mboten wonten. Panjenengan dhateng pundi…?!
+ Kowe ora bakal biso nggoleki AKU. AKU ono ning teleging urip. Kowe bisa ketemu kelawan AKU, yen wis titi mongsone.

Terjemahan:
– GUSTI ALLAH… Di manakah ENGKAU…?!
+ AKU ada di dasar hati. (sanubari)
– GUSTI ALLAH… Saya sudah menyusul ENGKAU di dasar hati. ENGKAU, kok tidak ada. Dimanakah ENGKAU…?!
+ Kamu tidak bakal bisa mencari AKU. AKU ada di dasar hidup. Kamu bisa ketemu AKU. jika sudah saatnya nanti.

Gambaran dialog di atas, menggambarkan betapa sulit dan berlikunya untuk bisa bertemu dengan Sang Hyang Maha Suci Hidup atau GUSTI ALLAH. Kita tidak akan bisa bertemu, apalagi bersatu dengan GUSTI ALLAH, jika belum sa’atnya. Namun, dari dialog itu, kita bisa tahu bahwa, ALLAH itu dekat. Seperti yang dijelaskan GUSTI ALLAH sendiri dalam Al’Quran “AKU tidak jauh dari urat lehermu sendiri.”

Namun orang Jawa memiliki falsafah tersendiri, agar tidak putus asa untuk bisa bertemu Sang Khalik. Falsafah tersebut berbunyi,”Sopo sing temen bakal tinemu.” Yang artinya, “Siapa yang benar-benar mencari, bakal menemukannya”. Falsafah tersebut, sangat besar artinya bagi para pendaki spiritual. Setidaknya, orang jawa merasa pasti bisa bertemu dengan GUSTI ALLAHmu, di alam kematian sa’at hidup di dunia ini.

Lho,,, hidup di dunia ini kok disebut alam kematian?
Karena orang hidup di dunia itu, hakekatnya adalah mati, dan orang yang sudah mati itu, hakekatnya hidup. Alasannya,,, kita hidup di dunia ini, selalu diperalat oleh kulit, daging, perut, mata, hidung, mulut, terutama di bawah pusar perut, yang bernama burung perkutut, otak dan lain-lainnya. Oleh karena itu, saat kita hidup di dunia ini, pasti membutuhkan makanan untuk kita makan. Sarana untuk bisa mendapatkan makanan, adalah dengan bekerja mencari duit. UUD.

Nah,,, kita makan itu, sebetulnya hanyalah untuk menunda kematian. Lantaran diperalat oleh indera, kulit, daging, perut, otak dan lainnya, maka kita ini disebut mati. Tetapi ketika seseorang itu mati, badan yang bersifat jasad ini ditinggalkan. Yang hidup hanyalah Ruh Suci nya. Ruh Suci tidak pernah butuh makan, tidur, apalagi butuh duit. Ruh Suci itu hanya butuh bertemu dengan si Pemilik Ruh Suci, bukan yang lainnya, karena Ruh Suci berasal dari Hyang Maha Suci Hidup. Dia menempati karena atas perintah-Nya. Anda bukan atas perintah-Nya. Sudah pasti Ruh Suci tidak sudi menempati si Tubuh yang penuh dengan perbudakan ini.

Di bagian lain, pada facebook, google, blog dan wordpres saya ini, pernah saya jelaskan perihal “belajarlah mati sebelum kematian itu datang”. Artinya, ketika kita hidup di dunia ini, hendaklah kita belajar mematikan hawa nafsu dan membersihkan segala hal, yang bersifat mengotori hati. Tujuannya, semata-mata hanya untuk bertemu dengan GUSTI ALLAH. Guna mengobati rasa kerinduan Ruh Suci kita, yang terpendam selama seumur hidup kita.

Mengapa kita mesti belajar mati?
Belajar mati sangatlah penting. Agar nanti ketika kita mati, tidak salah arah dan salah langkah. Lho…Bukankah orang mati itu ibarat tidur menunggu pengadilan dari Hyang Maha Agung hingga kiamat nanti?

Oh…Tidak.!!!
Sungguh malang sekali orang tersebut jika setelah mati raga, tidur menunggu pengadilan dari Hyang Maha Agung hingga kiamat nanti.

Orang mati itu justru memulai kembali perjalanan menuju ke Hyang Maha Suci Hidup. Orang Jawa mengatakan dalam kata-kata bijaksananya,”Urip iku ibarat wong mampir ngombe (Hidup itu seperti orang yang mampir minum)”. Kalau diibaratkan secara detil, orang hidup di dunia ini sebenarnya mirip seorang musafir yang berjalan, lalu kelelahan, istirahat dan minum di bawah pohon. Ketika rasa letih dan lelah itu sudah sirna, si musafir itupun harus kembali melanjutkan perjalanannya. Kemana? Tentu saja ke tempat tujuannya.

GUSTI ALLAH itu dekat, jika sang musafir senantiasa mengingat-ingat tentang GUSTI ALLAH. Tetapi sebaliknya, GUSTI ALLAH itu jauh ketika sang musafir tersebut lebih banyak berpikir tentang hal-hal lain yang bersifat duniawi selain GUSTI ALLAH. Seperti rumah makan padang, warteg, warkop, warnet, losmen, hotel, lesehan, dan reman-reman,,, di pinggir jalan pantura… He he he . . . Edan Tenan.

Pertanyaannya, Bagaimana untuk bisa bertemu dengan GUSTI ALLAH?

Ibarat kita hendak bertemu sang kekasih hati, gambaran wajahnya, bohainya, lenggak lenggoknya, gungung kembarnya, dan anunya, sang kekasih hati, sudah terlukis dalam benak kita, meski lama tak bertemu dan di lokasi yang jauh. “Jauh di mata, dekat di hati”. Oleh karena itu, pertama, GUSTI ALLAH harus selalu terlukis dalam benak kita. Artinya, kita harus senantiasa eling/ingat.

Kedua, GUSTI ALLAH itu bersifat Ghaib. “Mustahil bagi kita yang nyata ini bertemu dengan yang Ghaib,” begitu kata orang rasional. Tapi pendapat itu tidak berlaku bagi para pendaki spiritual hakikat hidup. Seseorang bisa bertemu dengan Sang Maha GHAIB, dengan menggunakan satu piranti khusus. Apakah itu? Piranti itu adalah Mata Bathin, bukan matanya raga/jasad. Sebab GUSTI ALLAH itu Gha’ib, artinya tidak bisa dipandang dengan mata raga/jasad.

Dari kedua cara tersebut, maka kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa kedua cara tersebut lebih mengandalkan pada piranti, yang lebih halus lagi, untuk bisa bertemu dengan GUSTI ALLAH, yaitu dengan RASA. Jika RASA itu sudah terbiasa diasah, maka akan menjadi RASA HIDUP, yang tajamnya melebihi mata pedang samurai. Tidak percaya…?! Buktikan saja, dengan cara berlatih mengasah RASA. Agar RASA itu menjadi Hidup, dengan sistem belajar mati sajeroning Urip.

Tapi… tunggu dulu, jika memang benar-benar ingin membuktinya, harus dengan Sarana Wahyu Panca Gha’ib. Sebab… hanya Wahyu Panca Gha’ib lah, yang menuju ke arah tersebut, dan asli menggunakan RASA. Bukan ilmu, bukan kesaktian, bukan politik, bukan agama, bukan kepercayaan atau kejawen, dan bukan bla… bla… bla… lainnya. Cuma RASA dan hanya RASA.

Itulah bedanya Wahyu Panca Gha’ib dengan lainnya. Tapi jika bin kalau Anda menemukan lainnya, selain Wahyu Panca Ghaib. Silahkan di amalkan, di praktekan, di ibadahkan. Sebab… Wahyu Panca Ghaib sekalipun, jika bin kalau tidak di amalkan, di praktekan, di ibadahkan dengan Wahyu Panca Laku, tidak ada bedanya dengan yang lain-lainnya, yaitu hanya sebatas dogma dan doktrin belaka. He he he . . . Edan Tenan. Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi Pinayungan Maring Ingkang Maha Agung. Dzat Maha Suci Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966
BBM; D38851E6
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Hakikat Hidup-nya ANA APA-APA KUNCI. LAKA APA-APA KUNCI. (Hakikat Hidup-nya Ada Apa-apa Kunci. Tidak Ada Apa-apa Kunci)


Hakikat Hidup-nya ANA APA-APA KUNCI. LAKA APA-APA KUNCI:
(Hakikat Hidup-nya Ada Apa-apa Kunci. Tidak Ada Apa-apa Kunci)
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Senin Pahing. Tgl 28 November 2016

Hakikat Hidup-nya ANA APA-APA KUNCI. LAKA APA-APA KUNCI (Hakikat Hidup-nya Ada Apa-apa Kunci. Tidak Ada Apa-apa Kunci). Adalah Cara Praktek untuk mengusai diri dalam segala sikon dan semua hal, simpelnya MENYIKAPI SEGALA HAL DENGAN MENGENDALIKAN DIRI.

Para Kadhang dan Sedulur Kinasihku sekalian…
Mengapa seseorang sulit mengendalikan dirinya?
Mengapa seseorang mudah tergoda oleh hawa nafsu?

O… Ternyata salah satu penyebabnya, adalah karena kita tidak tahu, bahwa kita diberikan-Nya 4 alat bantu atau Asisten dan 1 Manajer, yang akan membantu meningkatkan kualitas kita sebagai Abdullah dan Kholifatullah. (Putero-Romo).

Ke’empat asisten dan satu manajer itu adalah : Mutmainah. Aluamah. Supiyah. Amarah, sebagai Asisten-nya, dan Hidup atau Asmo Sejati (Konto/Kanti) sebagai Manajer-nya, atau kalau disingkat asisten/alat bantu itu bernama MASA. ini hanyalah ASISTEN, dan bukanlah ANDA. DAN ini hanyalah Wejangan. Jangan di telan mentah-mentah. Racik dan masaklah terlebih dahulu. Ingat itu… He he he . . . Edan Tenan.

Jadi, Anda bukanlah Penampilan Anda, Anda bukanlah Pikiran Anda, Anda bukanlah Perasaan Anda, Anda Bukanlah Agama Anda, Anda bukanlah Keyakinan Anda, Anda bukanlah Kepercayaan Anda, Anda bukanlah keimanan Anda, tapi Anda adalah Abddullah dan Kholifatullah (Putero-Romo), Abddullaah itu Putero. Romo itu Kholifatullah, yang dibekali 4 asisten yang bernama MASA.

Njur… Tugas Anda sebagai Abddullah dan Kholifatullah atau Putero-Romo. Adalah menggunakan potensi MASA ini, secara seimbang dan proporsional, yaitu dengan Praktek ANA APA-APA KUNCI. LAKA APA-APA KUNCI (Ada Apa-apa Kunci. Tidak Ada Apa-apa Kunci). Jika tidak seimbang dan proporsional. Maka hasilnya selalu melesed dan tidak tepat sasaran finisnya. Istilah tembung jare dan katanya serta kira-kira yang memusing kepala Anda, tidak akan pernah meninggalkan isi kepala Anda, bahkan mengacak-acak isi hati Anda. Buktikan saja kalau tidak percaya.

1.Contoh Misal;
Ketika Anda mau berpakaian, maka gunakanlah Asisten Mutmainah-mu, agar Pakaian yang Anda gunakan terlihat indah dan menutup aurat.

2. Contoh Misal;
Jika Anda menemukan masalah, matematis dan sains, maka gunakanlah asisten Aluamah-mu. Jangan Anda hitung soal matematika dengan menggunakan alat bantu (asisten) Aluamah. Misal : “7 x 135 perasaan 800 deh… “. Oh… Duniamu pasti akan kacau, jika begitu.

3.Contoh Misal;
Jika Anda bertemu dengan istri Anda, maka gunakanlah asisten Supiyah-mu, tapi jika Anda bertemu istri orang atau gadis bohai di jalanan, maka jangan gunakanlah asisten Supiyah-mu, biyar tidak kangen sama istri orang atau gadis bohai di pinggir jalan tadi.

4.Contoh Misal;
Jika Anda hendak bekerja atau berbisnis atau berkarya, maka gunakanlah asisten Amarah-mu. Jangan Anda Hitung soal untung ruginya, dengan menggunakan alat bantu asisten Amarah-mu. Misal : Saya belanja bawang 5.000 perkilo, kalau saya jual 10.000 ribu, berati hasil/untung 5.000. Wah… bisa berantakan bisnis/Usahamu kalau begitu.

Nah,,, sistem dari pengendalian diri adalah, ketika Anda menggunakan asisten yang ada secara proporsional, dan gagalnya pengendalian diri, jika Anda gagal atau salah menggunakan alat bantu yang ada tersebut. Maka,,, segera kendalikanlah ke’empat asisten yang ada di dalam diri Anda secara proporsional. Dengan menggunakan Hidup atau Asmo Sejati Konto/Kanti-mu.

Dengan demikian, mulai hari ini, jangan katakan “kesulitan ini membuat saya bersedih” , tapi katakanlah “saya merasa sedih karena saya menggunakan “ asisten” tanpa manajer. sehingganya, berlebihan dan tidak tepat, tapi jika saya menggunakan “asisten” dengan manajer, maka kesulitan ini, sedang membersihkan dosa-dosa (LUPUT) saya, saya bersyukur sekali. He he he . . . Edan Tenan.

Yang sedih itu bukan Anda, tapi perasaan Anda. Maka jangan pedulikan perasaan Anda, jangan di gubris, jika Anda anggap, bahwa kesedihan Anda, tidak membuat Anda menjadi lebih baik dan lebih dekat kepada Dzat Hyang Maha Suci Hidup.

Jika Anda senang, maka janganlah terlalu senang. Sebab jika Anda terlalu senang, maka Anda bisa menutup jalan menuju Kesempurna’an. Segeralah turunkan intesitas kesenangan Anda, lalu ubahlah menjadi Rasa syukur dengan menggunakan manajer, bukan asisten. Sehingga dapat selaras dan seimbanglah antara keselarasan dan keseimbangan. Antara gelar dan gulung. Antara dunia dan akherat.

Ingat Dua Firman ini saja. Sudah lebih dari sekedar cukup, untuk pengendalian apapun itu, jika benar-benar di pahami dan di mengerti serta tahu arahnya. (1) “Inna lillaahi wa inna illaahi roji’un” (2) “Tidak selembar daunpun yang jatuh kebumi tanpa kehendak-Nya”

Di Dalam Al-Qur’an Surat Al Hadid: 22-23. Menjelaskan.
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri ”

Diatas kesemuanya yang sudah saya jelaskan secara singkat, namun cukup jelas, itulah… HAKIKAT HIDUP-NYA ANA APA-APA KUNCI. LAKA APA-APA KUNCI atau Hakikat Hidup-nya Ada Apa-apa Kunci. Tidak Ada Apa-apa Kunci, yang sebenarnya. Kesimpulan-nya. Menjalankan Wahyu Panca Gha’ib tanpa Wahyu Panca Laku. Sama halnya, menggunakan empat asisten tanpa manajer, sudah pasti semrawut bukan.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966
BBM; D38851E6
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

MARI KITA MENONTON DIRI SENDIRI:


MARI KITA MENONTON DIRI SENDIRI:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Rabu Pahing . Tgl 23 November 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Demikian beragam tontonan, yang menguras perhatian kita selama ini. Betapa banyak diantara kita terbius, oleh tontonan televisi, aneka pernak-pernik, kemilau duniawi, yang serbaneka, pertunjukan para pemimpin yang tengah bertarung merebut kursi panas, salin adu politik dan seterusnya. Bahkan artikel internet-pun, khususnya Status-status facebook yang salin berebut benar dari katanya yang benar.

Saking banyaknya tontonan yang tergelar sarat sensasi di hadapan kita, kadang membuat kita lupa menonton diri sendiri. Kinilah saatnya kita menonton diri sendiri, memosisikan diri sebagai obyek yang ditonton. Bagaimana cara menonton? He he he . . . Edan Tenan

Menonton membutuhkan mata dan cahaya. Tanpa mata dan cahaya, kita tak bisa menonton. Meski cahaya benderang menyinari kehidupan kita, namun tanpa didukung mata, niscaya obyek yang ditonton tak bisa dilihat. Sebaliknya, andai mata sehat, namun tak ada cahaya yang membersit, kita pun tak bisa menonton. Karena itu, ketika hendak menonton, kita perlu memadukan kekuatan mata dan cahaya.

Mata perlambang dari mata hati atau Rasa (akal wajar/manusiawi) bukan akal bulsit. Saat kita hendak menonton diri sendiri, hidupkan mata hati kita, sehingga bisa melihat secara gamblang film kehidupan kita sendiri. Cahaya simbol dari cahaya Ilahi (Dzat Maha Suci). Cahaya Ilahi berupa petunjuk Dzat Maha Suci, (Ilahi). Bersandarlah sepenuhnya pada Dzat Maha Suci, (Tuhan kita), dan DZat Maha Suci, akan membersit dalam hati/jiwa kita. Andai cahaya Dzat Maha Suci, belum menghinggapi jiwa kita, berusahalah, berdampingan dengan sosok mulia tersebut, yang telah tersaluri cahaya Dzat Maha Suci. Yaitu Hidup. Hidup yang menempati raga kita sejak awal hingga kini, jika belum mengetahui atau mengenal Hidup yang sejak awal hingga kini bersama kita, carilah Pembimbing/Guru wujud. Yang telah tersaluri cahaya Dzat Maha Suci, mintalah bimbingannya untuk hal tersebut. Silahkan dengan cara apapun yang di yakini dan di percayai, asalkan bisa. Bukan masalah…

“Rasulullah saw bersabda, “Orang beriman adalah cermin bagi orang yang beriman.”
Cermin tempat kita berkaca, tentang diri secara sederhana. Cermin akan memantulkan sosok kita yang sejati. Lewat cermin pula kita bisa mengukur, menimbang, dan menilai diri kita secara jernih. Sosok yang jernih dan terliput kebenaran, patut dijadikan cermin, karena darinya terpancar magnet kebaikan yang berdaya pesona alami, bukan rekayasa.

Sebelum menonton diri sendiri, kita perlu menghidupkan mata hati dengan cara menggerus biji egoisme dan panatisme, yang masih bersarang dalam kesadaran murni kita. Karena egoisme dan panatisme, sering menghalangi mata hati untuk melihat diri secara gamblang. Buatlah kita berjarak dengan diri sendiri, kita menonton diri seperti menonton orang lain. Duduk bersilah dengan santai/rileks, lalu Palungguh. Lalu Patrap, baca Kunci 7x. Paweling 3x lalu diam. Tataplah lekat-lekat diri kita dengan mata hati/rasa, maka kita akan mengetahui secara jernih, siapa diri kita yang sebenarnya. Boleh kita memutar kembali film masa lalu yang pernah ditapaki. Dari rentetan film itu, kita bakal memahami secara dekat, karakter dan kebiasa’an kita. Setelah itu, kita memperoleh pemahaman “siapa diri kita”.

Ketika kita terbiasa menonton diri dengan cara membuat jarak terhadap diri sendiri, maka kita tak akan terlalu terikat oleh keada’an yang datang silih berganti, entah musibah atau nikmat, suka atau tidak suka dll. Seperti kita menonton televisi, ada saja lintasan kesedihan dan kebahagiaan mewarnai penggalan demi penggalan adegan tersebut. Ketika kita menonton diri sendiri secara utuh, akan ditemukan keindahan-keindahan yang tak terlukiskan kata-kata. Juga dengan menonton diri sendiri, kita bakal menemukan kenyata’an menakjubkan yang tak bisa dikadar dengan akal yang berlimit. Kebiasaan kita menonton diri sendiri, juga akan memandu kita untuk merehab jalan setapak sempit “berupa keakuan” bergantikan jalan raya ditandai oleh terbangunnya jiwa universal, cinta universal, kasih universal, sayang universal, dan Hidup universal. Hidup yang tergabung dengan jiwa kemanusia’an, bahkan jiwa semesta. Edan Tenan. Pokok’e… He he he.

Buktikan. Buktikan saja jika tidak percaya. Ini adalah ilmu saya, tak kala melepaskan diri, dari semua berhala hati dan kemelekatan yang pernah membelengguh jiwa raga saya, selama puluhan tahun, saya bisa, Anda juga pasti bisa. Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi Pinayungan Maring Ingkang Maha Agung. Dzat Maha Suci Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966
BBM; D38851E6
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

MARI KITA MEMELUK DIRI SENDIRI:


MARI KITA MEMELUK DIRI SENDIRI:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Rabu Pahing . Tgl 23 November 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Setiap saat perhatian kita tersita oleh urusan-urusan di luar diri sendiri. Terkait dengan target yang harus dicapai. Menjajahi beragam hiburan untuk menyegarkan otak. Atau tersita oleh permainan yang berguna sebatas, untuk melepaskan keletihan otak, yang hampir hank ata blenk, karena kepenuhan data. Setiap hari manusia terus dipacu aneka rencana yang menggelorakan semangatnya, untuk bekerja keras, sehingga tak ada kesempatan berhenti sejenak pun, untuk mengistirahatkan pikiran dan menjernihkan hati. Siang hari dihabiskan seluruhnya untuk menuntaskan seabrek tugas yang dianggap penting dan harus diselesaikan, dan malam hari dihamburkan untuk menonton televisi atau kelonan, sekadar untuk menyegarkan pikiran. Kelihatannya seluruh kegiatan itu, untuk memenuhi diri sendiri, akan tetapi, nyatanya, menghempaskan atau menggerus kesegaran diri sejati.

Bukankah semua kecenderungan itu hanya untuk pemenuhan hawa nafsu belaka…?! Dimana manusia bisa mengasuh kesegaran bagi jiwanya…?!

Saban hari manusia didera oleh sasaran dan rencana kerja, yang terinspirasi oleh impian yang melambung tinggi. Ia terikat dengan masa depan. Dia pun tidak bisa menghayati dan merasakan keindahan yang terhidang hari ini, lantaran perhatiannya hanya tertuju pada masa depan berikut ilusi yang menyelubungi pikirannya. Bagaikan orang yang telah memesan menu yang paling lezat di sebuah restoran, setelah menu itu berada di depan meja, dan siap disantap, tiba-tiba pikiran terbajak oleh rencana yang harus dijalankan beberapa saat kemudian. Karena pikirannya terjerat oleh urusan berikutnya, maka saat itu dia tidak bisa menikmati kelezatan makanan yang terhidang di depannya. Begitulah, makanan yang mahal dan amat lezat, lantaran tidak diikuti oleh Rasa mahal dan lezat pula, dia pun gagal untuk menyerap kelezatan makanan tersebut. .. He he he . . . Edan Tenan.

Saat ini kita berada dalam sebuah ruang publik yang amat kecil (mini-sphere), seolah-olah ruang aktivitas manusia makin meluas, hanya saja sering menyempitkan ruang hati. Jaringan manusia makin meningkat, meluas, akan tetapi esensinya rapuh, garing, gersang dan tak berasa/ampang.

Saat teknologi mempermudah manusia untuk menjalin relasi, maka manusia terus disibukkan oleh komunikasi lewat beragam karakter manusia. Seakan dunia tidak pernah berada dalam kesepian, kesunyian, atau kesenyapan, akan tetapi selalu dipenuhi dengan suasana riuh rendah dan ramainya komunikasi yang hampir tanpa jeda. Adanya ponsel telah menggerus perhatian manusia terhadap dirinya sendiri, karena akan terus ada proses komunikasi yang tak pernah berhenti, kecuali bagi orang yang disiplin mengelola komunikasi. Tambah lagi, dunia maya pun tak ketinggalan menawarkan berbagai teknologi yang memudahkan kita berbagi perasa’an GALAU, berbagi foto, hingga berbagi selera lewat e-mail, facebook, blog yang membuat manusia haus untuk makin memperluas jaringan.

Sampai-sampai, datang ke Makam Romo Semono Sastrohadidoyo. Hanya untuk selvi saja, guna di aplup ke facebook, agar yang lainnya, yang tidak bisa datang, mengetahui kalau dirinya sedang berada di Makam Keramat yang wah…. Edan Pora.

Sungguh sebuah jaringan yang kiranya bisa menyuguhkan kesenangan dan menyapu Perasa’an kesepiannya. Saya bisa bicara dan ngomong, karena pernah mengalaminya, tapi setelah saya sadar dan mengetahuinya, kini saya menonton hampir semua saudara-saudariku termasuk Para Kadhang kinasihku seperti saya tempo dulu,,, jadi mesem karo ngguyu koyo nonton (DKI) Dono Kasino Indro pedot kolore. He he he . . . .Uedan… Tenan.

Apabila manusia telah berada di pusaran keramaian yang tak berkesudahan ini, dampaknya mereka akan mengalami kesulitan untuk menyapa, mencium, dan memeluk diri sendiri. Ketika kita menghabiskan waktu untuk berbicara dengan orang lain, niscaya kita tidak memiliki waktu untuk bisa berbicara atau berdialog dengan diri yang terdalam (silolukai). Padahal, bila semangat dialog dengan suara terdalam telah terhambat, kekeringan batin terasa meruap, dan goncangan pun tak henti-hentinya mendera perasaan jiwa kita. Ada kehampaan yang menyebar begitu saja ke dalam hati. Karena itu, jarak manusia dengan dirinya sendiri makin menganga. Kadang ia lebih mengenal orang lain, ketimbang dirinya sendiri. Sampai-sampai, dia lebih bisa melihat belexnya orang lain dari pada belexnya sendiri. He he he . . . Edan Tenan.

Mengapa begitu?
Karena sudut pandangnya hanya dipergunakan untuk meneropong keada’an di luar dirinya, dan dia tidak bisa meresapi setiap keada’an yang mewarnai perjalanan hidupnya sendiri. Makin hari hatinya makin mengalami kehampa’an dan kekeringan, lantaran tidak pernah bisa berdialog dengan kejernihan yang bermukim dalam hati/dirinya sendiri.

Bagaimana agar kita bisa berdialog bahkan bisa memeluk diri sendiri?

Diri kita adalah aset utama yang dianugerahkan oleh Dzat Maha Suci Tuhan kita. Andaikan kita tidak bisa menghargai aset paling agung ini, niscaya kita bakal tergerak untuk mengagungkan aset selain diri sejati. Andaikan kita menyadari diri kita, sebagai aset yang paling berharga, maka kita harus memiliki waktu istimewa untuk bisa menyapa diri kita lebih dekat. Ingat ITU.

Lepaskanlah sekat-sekat yang membuat kita sering berjarak dengan diri sendiri. Rasakan setiap kenikmatan yang dianugerahkan pada kita, bahkan kita terus menghayati dari aras jasmani hingga aras rohani. Saat kita bisa menghayati dan menikmati proses penjelajahan dari luar ke dalam, dari dalam ke luar itu, niscaya kita bakal merasakan suatu hal yang agung, dimana didalamnya, bermukim seluruh harapan inti-sari pati yang didamba oleh seluruh umat manusia Hidup, berupa kebahagia’an/Ketenteraman yang sempurna.

Ada saat prima kita bisa menyapa diri sendiri, misalnya selepas shalat, selepas sembahyang, selepas semedi, selepas patrap, selepas memuja, selepas wiridz, selepas kebaktian, selepas tafakkur, selepas bersesaji, selepas persembahan. Kita meluangkan waktu sejenak, menyelami keada’an diri, menyapa kesegaran batin dengan Wahyu Panca Ghaib lewat upaya Wahyu Panca Laku. Heeemmmm… Edan Tenan.

Mungkinkah dari setiap lintasan aktivitas yang dijalani selama ini, ada sesuatu yang menorehkan luka di hati orang lain…?! atau membekaskan Perasa’an gelisah di dalam hati kita sendiri…?!

Sembari menggemakan KUNCI, kita terus merasakan kedamaian yang meruap dari kedalaman hati/jiwa. Bangunlah Rasa hormat pada diri sendiri, perlahan-lahan suara keagungan pun, berdentang dari diri kita. Buktikan… Butktikan saja kalau tidak Percaya. Ini ilmu saya dalam menggali Rasa Sejati. Sejatining Rasa Urip. Saya bisa. Andapun Pasti Bisa.

Suara keagungan itu mengekspresikan suara kebijaksana’an yang ditunggu untuk menenangkan jiwa. Terpenting setiap hari kita meluangkan waktu untuk berbicara dengan diri sendiri, entah di pagi hari, di siang hari, terutama di malam hari, untuk bisa mengevaluasi diri secara ketat, agar kita bisa menemukan kelembutan yang bermukim di hati/jiwa kita. Sa’at sepertiga malam yang penuh Pangestu dan Pangayoman Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono, kita berusaha menyusup ke dalam diri sendiri, mengorek segala sesuatu yang perlu diperbaiki, hingga di siang harinya, ada kecerahan yang terpancar dari wajah kita.

Manakala kita bisa mengevaluasi diri sendiri disertai ketulusan yang sadar, untuk mengenal kedalaman diri sendiri, maka kebahagia’an dalam keHidupan dan Ketenteraman Hidup, perlahan-lahan bakal menghiasi roh dan Roh kita, raga dan jiwa kita, perasa’an dan Rasa kita… He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh kinasihku sekalian. Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi Pinayungan Maring Ingkang Maha Agung. Dzat Maha Suci Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966
BBM; D38851E6
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

KECERDASAN SPIRITUAL:


KECERDASAN SPIRITUAL:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Sabtu Pon. Tgl 19 November 2016

Ilmu Pengetahuan Spiritual keTuhanan, adalah sesuatu yang akan selalu kita butuhkan. Saat kita memiliki Ilmu Pengetahuan Spiritual keTuhanan, kita harus mengajarkannya kepada sesama hidup. Saat kita memiliki Ilmu Pengetahuan Spiritual keTuhanan, gunakanlah ia untuk menciptakan sesuatu yang tidak lepas dari Tuhan. Ilmu Pengetahuan Spiritual keTuhanan, adalah senter yang dapat menerangi jalan kehidupan kita yang gelap. jadilah orang berilmu Pengetahuan Spiritual keTuhanan, agar kita, keluarga kita, dan lingkungan kita menjadi lebih baik. tidak ada kata berhenti untuk menuntut Ilmu Pengetahuan Spiritual keTuhanan, karena setiap saat, sampai kita meninggal, kita selalu membutuhkan-nya.

Jika kita berhenti menuntut Ilmu Pengetahuan Spiritual keTuhanan, maka kita akan tertinggal oleh orang lain. Menuntut Ilmu Pengetahuan Spiritual keTuhanan harus setiap saat, dimanapun dan kapapun, tapi sekolah, tidak harus terus menerus, saat bekerja atau tidurpun, kita bisa memetik Ilmu Pengetahuan Spiritual keTuhanan. Kalau kita selalu gagal dan gagal melakukan sesuatu, itu berati ada Ilmu Pengetahuan Spiritual keTuhanan, yang belum kita ketahui, dan harus kita ketahui.

Didalam laku, kita punya dua pilihan, yaitu antara ilmu dan harta, maka, pilihlah ilmu, karena Ilmu Pengetahuan Spiritual keTuhanan, dapat melahirkan harta, tapi harta, tidak bisa melahirkan ilmu. Andai saja orang-orang jaman dulu malas menuntut Ilmu Pengetahuan Spiritual keTuhanan, mungkin hingga saat ini, kita masih berkeliyara di hutan berburu hewan dengan batu sebagai pisaunya.

Ingat…!!!
Ilmu Pengetahuan Spiritual keTuhanan, tidak akan kita peroleh hanya dengan bermalas-malas. Banyak orang belajar keras di sekolah dan pesantren, tapi melupakan semuanya saat dewasa, siapapun Anda. Belajarlah untuk tidak melupakan “Ilmu Pengetahuan Spiritual keTuhanan-mu” yang pada hakikatnya, sudah ada dan kau bawa sejak awal, sebelum di lahirkan ke dunia ini.

Ingat…!!!
Semakin Anda sombong dan berbangga diri, merasa paling benar. Semakin Anda terperosok kedalam jurang kebodohan, jika Anda merasa sudah sangat pintar, berati sudah lama Anda tidak mempelajari sebuah bidang ilmu yang baru, semakin banyak yang Anda tahu, semakin Anda merasa banyak hal yang tidak Anda ketahui.

Jika Ilmu Pengetahuan Spiritual keTuhanan di tarik dari muka bumi ini, maka manusia adalah “HewaN” paling lemah diantara semuanya, dan seandainya hewan di dunia ini, secerdas manusia, mampukah kita mengalahkan semut yang jumlahnya satu juta kali lebih banyak…?!

Kalau Anda tidak merasa, bahwa Ilmu Pengetahuan Spiritual keTuhanan itu “PentinG” Saya berani pastikan, bahwa Anda bukan apa-apa dan belum apa-apa. Kalau Anda memiliki waktu yang luang dan kosong, maka, gunakan untuk merenung, mencari Ilmu Pengetahuan Spiritual keTuhanan, jangan salah ya,,, merenung, bukan melamun. Dengan memiliki Akun Internet. Sebenarnya Anda telah mengumpulkan banyak informasi dasar dari berbagai narasumber, Artikel saya saja, saya rasa, sudah cukup banyak yang saya sebarkan di internet dengan suka rela, belum lagi dari yang lain-lainnya, yang bisa dijadikan pengetahuan Baru. Itulah “KECERDASAN SPIRITUAL”

PESAN WEB;
Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian. Ketahuilah dengan sadar… Belajar adalah sikap berani menantang segala ketidakmungkinan, bahwa Ilmu Pengetahuan Spiritual keTuhanan, yang tidak dikuasai, akan menjelma di dalam tiap diri manusia, menjadi sebuah ketakutan, belajar dengan keras, dan selalu belajar, hanya bisa dilakukan oleh sesorang yang bukan penakut.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian. Renungkan dengan kesadaran murnimu… Kalau Tuhan tidak menjadikan perhambaan dan perbudakan, tentu tidak akan timbul keinginan hendak mengejar kemerdeka’an. Kalau tiada kesakitan, orang tidak mempunyai keinginan untuk mengejar kesenangan, karena sebab itu, tidak keterlaluan bukan, jika saya katakan, bahwa sakit dan pedih serta masalah derita itu, sesungguhnya adalah anak tangga buat kita menuju kejayaan yang sempurna.

“Hamba yang paling celaka dan merugi, adalah hamba yang berwajah dan bermulut dua, ia memuji saudaranya di hadapannya, dan menghibahnya di belakangnya, jika saudaranya itu dianugerahi nikmat, ia iri dan jika ia ditimpa musibah, ia menghinanya”

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian. Dewasa ini…
Perbuatan-perbuatan salah adalah biasa bagi manusia, tetapi perbuatan pura-pura, itulah sebenarnya yang menimbulkan permusuhan dan pengkhianatan diantara sesama hidup.

Untuk itu… Waspadalah terhadap tiga karakter ini. Seorang Pengkhianat. Pelaku zalim, dan Pengadu domba. Sebab, seorang yang berkhianat demi dirimu, ia akan berkhianat terhadapmu, dan seorang yang berbuat zalim demi dirimu, ia akan berbuat zalim terhadapmu, Juga seorang yang mengadu domba demi dirimu, ia pun akan melakukan hal yang sama terhadapmu.

Wahae Para Kadhang Kinasihku sekalian… Sing Tetep Idep Madep Mantep hanya kepada Dzat Maha Suci Tuhan-mu. Patrapkanlah Wahyu Panca Ghaib dengan menggunakan Wahyu Panca Laku “IMAN” Dan Engkau akan Tenteram. Sukses. Bahagia. Teguh. Rahayu. Selamat. Dengan “SEMPURNA”

Wahae Para Sedulur kinasihku sekalian…. Jangan isi ragamu dengan selain Dzat Maha Suci Tuhan-mu. Jangan isi hatimu dengan selain Dzat Maha Suci Tuhan-mu. Jangan isi jiwamu dengan selain Dzat Maha Suci Tuhan-mu. Dan Engkau akan berhasil dengan “SELAMAT”

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi ini, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi Pinayungan Maring Ingkang Maha Agung. Dzat Maha Suci Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966
BBM; D38851E6
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

ABADI… Apa itu Abadi..?!


ABADI… Apa itu Abadi..?!
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Rabu Kliwon. Tgl 16 November 2016

Keabadian berasal dari kata ‘abadi’ merupakan kata serapan dari bahasa Arab, yang mendapat awalan ke-dan akhiran-an. (abadi —> ke – abadi – an). Kata ‘abadi’ dalam bahasa arabnya (Al-Abad) mengandung empat arti sebagai berikut;

1. Ad-Dahr, artinya; waktu yang lama, atau lama masanya.
2. Al-Qodiim, artinya; keberadaannya dalam waktu yang lama, atau keberadaannya sudah ada sejak lama.
3. Al-Azali, artinya; keberadaannya sejak awal, atau keberadaannya tidak ada awalnya.
4. Ad-Daim, artinya; yang tetap setiap waktu, atau yang tidak berubah setiap saat.

Pengertian abadi, berkenaan dengan waktu yang lama, atau berkenaan dengan waktu yang tidak terbatas, atau malaa nihaayah lah, artinya yang kekal, yang tiada berkesudahan.

Jadi, pengertian keabadian iyalah; sesuatu yang bersifat kekal, dan keberadaannya dalam waktu yang tiada terhingga, serta bersifat tetap, tidak berubah setiap saatnya.

Keberadaan sesuatu, jika sifat kekalnya dan sifat tetapnya terbatas, hanya dalam waktu tertentu, atau terjadi perubahan seiring dengan berjalannya waktu, menjadi sesuatu yang lain, atau menjadi rusak, hancur atau sirna. Maka keterbatasan waktu dalam sifat kekalnya, atau perubahan dengan berjalannya waktu, keduanya menunjukkan kefanaan. (kefanaan-tiada keterbatasan)

Keabadian berkorelasi dengan waktu, tetapi keabadian tidak dapat dihitung, tidak dapat diukur dan tidak dapat diperkirakan, karena keabadian tiada terhingga, tiada terbatas dan tiada berkesudahan. Adapun waktu dapat diukur, dapat dihitung dan dapat diperkirakan, ukuran waktu terpendek adalah detik, dan ukuran waktu terpanjang adalah abad. (satu abad-seribu tahun, satu tahun-dua belas bulan).

Terdapatnya sebuah asumsi yang mengatakan, “Bahwa semua berubah, tidak ada yang tetap, “Abadi” yang tetap hanyalah perubahan itu sendiri” Asumsi ini, dengan jelas menunjukkan, bahwa semua berada dalam kefanaan.

Timbul pertanyaan; Apakah kita saat ini berada dalam kefanaan..?!
Adakah keabadian dalam kehidupan ini..?!

Kapan akan terjadinya perubahan pada sesuatu, sebagai bukti kefanaan, mungkin dapat diprediksi, diramalkan dan diperkirakan. Menurut kebiasaan, semua ramalan dan perkiraan tersebut, seringkali menarik perhatian dan terkadang dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan sesuatu.

Timbul pertanyaan lagi; Bagaimana kalau ramalan dan perkiraan tersebut tidak tepat, atau meleset..?!

Apa yang akan terjadi pada waktu mendatang, jika ramalan dan perkiraan yang tidak logis dan tidak rasional dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan..?!

Sejak jaman dahulu kala, telah banyak orang yang membuat perkiraan dan ramalan tentang masa depan, tetapi sampai saat ini, kebanyakan ramalan mereka tidak tepat, tidak terbukti atau meleset. Dan kemungkinan untuk selanjutnya, akan selalu ada orang yang membuat ramalan tentang masa depan. Ramalan tentang masa depan, adalah suatu metode kuno, atau metode yang telah ada sejak sebelum jaman batu (Pra-megalitikum) yang semula dimaksudkan, untuk menguak keabadian, atau untuk mengetahui terjadinya keabadian.

Timbul pertanyaan ketiga; Apakah keabadian itu mustahil..?!
Bukankah di dunia ini tidak ada yang mustahil..?!

Beberapa contoh keabadian yang di dambakan dalam kehidupan dunia;
Setiap orang, siapa saja, pasti sangat menginginkan atau mendambakan suatu keabadian dalam kehidupannya, maka berbagai rayuan yang berisi tentang keabadian akan selalu menarik perhatian dan menggiurkan siapa saja. Adapun hal-hal yang didambakan keabadian dalam kehidupan ini, antara lain;

1. Umur yang panjang.
Setiap orang, siapa saja, walaupun sudah lanjut usia, tentu masih mengharapkan umur yang panjang, dan masih betah untuk hidup lebih lama lagi di dunia ini. Berbagai usaha telah dilaksanakan oleh banyak orang. Pada setiap agama, terdapat doa untuk memohon panjang umur, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

2. Kecantikan yang Abadi.
3. Kegagahan yang abadi.
4. Percintaan yang abadi.
5. Kemujuran atau hoki yang selalu ada.
6. Keamanan dan kerukunan masyarakat secara langgeng.
7. Dll…

Kesimpulannya;
Setiap orang yang tidak memahami tentang permasalahan keabadian, dapat mempengaruhi tingkah lakunya, perubahan tingkah laku tersebut, dapat dibagi dalam tiga kelompok;

1. Mereka yang sangat mendambakan keabadian, tanpa memperhatikan kebutuhan, kepentingan dan kebaikan dirinya, keluarganya dan masyarakat sekelilingnya.

2. Mereka yang tidak mendambakan keabadian dalam kehidupannya, tanpa ada upaya nyata untuk mengatasi setiap perubahan secara rasional.

3.Mereka yang banyak berangan-angan secara egoisme, atau panjang angan-angan dengan sangat terobsesi dan berambisi; tanpa menyadari bahwa mereka berada dalam kefanaan atau dalam situasi dan kondisi yang selalu berubah dengan cepat setiap saat.

Perubahan tingkah laku pada setiap kelompok tersebut, disebabkan mereka banyak mengalami kekecewaan, stres dan depresi dalam waktu yang lama, maka sebaiknya mereka semua diperiksakan kesehatan jiwanya. He he he . . . Edan Tenan.

Siapapun dia, sebaiknya selalu mawas diri, intropeksi diri, koreksi diri, jangan sampai terhanyut oleh permainan duniawi yang mengasyikkan atau oleh rayuan gombal dari kefanaan yang menggiurkan. Kiranya membatasi diri untuk kesehatan, akan lebih baik daripada memperturutkan berbagai hawa nafsu, emosi, dan ambisi, yang tanpa kendali atau yang tanpa batas, yang hanya mengakibatkan kesengsaraan bagi diri sendiri dan anak cucu mendatang. Itulah maksud dari kata kalimat SEMPURNA yang sering saya singgung di hampir setiap artikel saya, yang dapat saya bagikan secara umum di internet. Dan dengan memahami perbeda’an antara keabadian dan kefanaan dengan segala persoalannya, (dan dengan merenungkan berbagai pertanyaan yang timbul), diharapkan kita semua menjadi lebih bijaksana dalam menyikapi kefana’an, sehingga lebih sedikit mengalami kekecewa’an, dan lebih bahagia dalam menjalani kehidupan ini selanjutnya dengan Iman Cinta Kasih Sayang.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi ini, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi Pinayungan Maring Ingkang Maha Agung. Dzat Maha Suci Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966
BBM; D38851E6
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com