Kyai Ageng Singoprono – Gunung Tugel Boyolali:


Wong Edan Bagu.5

 Kyai Ageng Singoprono – Gunung Tugel Boyolali:

Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Boyolali. Hari Minggu Tanggal 28 Mei 2017.

Gunung Tugel adalah tempat, bersemayamnya kyai singoprono, yang terletak di daerah nglembu kecamatan sambi kabupaten Boyolali.

Kyai singoprono adalah putra dari kyai Ageng Wongsoprono II, yang berdiam di desa Manglen, sekarang desa Manglen adalah Kelurahan Walen kecamatan Simo Boyolali.

Beliau adalah Putra Raden Djoko Dandun (Syaikh Bela Belu) Putra Raja Majapahit ( Brawijaya V). Kyai Singoprono adalah anak tunggal.

Kyai Singoprono mempunyai istri bernama Tasik wulan, mereka tinggal di daerah tersebut, kyai Singoprono adalah sosok yang berbudi luhur, suka menolong dan sakti mandraguna, pekerjaan nya adalah bercocok tanam, berjualan nasi dan dawet dipinggir jalan ± 4 km dari rumahnya.

Sifat baik hatinya terlihat apabila ada orang yang membutuhkan pertolongan, pasti beliau akan menolong, makanan yang dijualpun tidak sekedar di jual, tetapi juga diberikan kepada orang yang membutuhkan, walaupun demikian, tak membuat beliau gulung tikar, begitu pula dengan hasil bercocok tanam nya.

Sehingga banyak orang yang datang untuk meminta kepada Kyai Singoprono. Kyai Singoprono pun memberi tanpa mengharapkan kembali atas apa yang sudah diberikan.

Demikianlah kebaikan Kyai Singoprono tersebar sampai di seluruh daerah sekitar, tetapi ada yang tidak suka atas kebaikan dan kemurahan hati Kyai Singoprono, yang banyak disanjung – sanjung dan terkenal ke dermawannanya sampai keseluruh daerah sekitar.

Yang tidak suka Kyai Singoprono adalah Kyai Rogo runting, Kyai Rogo runting iri dengan keberhasilan Kyai Singoprono, sebenarnya mereka berdua adalah sahabat baik.

Pada suatu saat kyai Rogo runting ingin menunjukkan kekuatannya kepada Kyai singoprono, dengan cara mengaitkan benang dari pegunungan Rogo Runting ke selatan ( yang sekarang telah menjadi kelurahan Nglembu, kecamatan Sambi Boyolali ).

Diatas benang dililitkan sebutir telur, kemudian telur itu digulirkan di atas benang tersebut dan ajaibnya telur tersebut tidak jatuh, telur tersebut terus menggelinding diatas benang, lalu telur tersebut akhirnya membentur gunung sebelah selatan. Sehingga terdengar suara keras dan menggelegar dan mengakibatkan gunung tersebut tugel / putus puncaknya, karena itu, gunung tersebut dinamakan Gunung Tugel, nama itu masih terkenal sampai sekarang.

Wong Edan Bagu.3

Secara tidak langsung, kejadian tersebut sebagai alat untuk menunjukkan kesaktian Kyai Rogo runting kepada Kyai Singoprono, namun Kyai Singoprono tidak tergerak hatinya untuk membalas perbuatan Kyai Rogo runting tersebut.

Namun semakin di diamkan, Kyai Rogo runting semakin menjadi – jadi, kemudian secara halus Kyai Singoprono mengiyakan hal tersebut.

Maksudnya menanggapi Kyai rogo runting, tetapi Kyai Rogo runting mengaggap hal tersebut sebagai balasan dari Kyai singoprono. Kyai singoprono pun akhirnya marah, beliau menggunakan cara yang sama untuk membalas Kyai Rogo runting, dengan cara mengaitkan benang dari pegunungan tugel ke utara, di atas benang juga diletakkan sebuah telur, kemudian telur tersebut menggelinding tanpa terjatuh dan akhirnya membentur pegunungan Rogo runting, sehingga mengeluarkan suara keras dan menggelegar, tetapi kejadian tersebut, tidak mengakibatkan gunung tersebut rusak, namun Kyai Rogo runting tubuhnya tercerai berai atau tubuhnya terontang – anting.

Jasad Kyai Rogo runting kemudian dimakam kan di daerah perbatasan kecamatan Klego dan kecamatan Simo yang dikenal sebagai Pegunungan Rogo runting.

Hati Kyai Singoprono yang begitu baik, memberikan kesan bagi penduduk setempat, bahwa mungkin Kyai itu sebenarnya salah seorang Wali.

Pembicaraan demikian makin meluas sehingga wilayah tempat tinggal Kyai Singoprono sampai sekarang disebut Walen.

Kesaktian dan kebaikan hati Kyai Singoprono tersebar luas ke mana-mana sehingga Sultan Bintara di Demak pun tertarik mendengar cerita punggawa tentang Kyai itu.

Tidak mengherankan jika Bintara ingin mengunjungi Kyai Singoprono untuk membuktikan seberapa jauh kesaktian Kyai itu.

Agar kedatangannya tidak mencurigakan, Sultan Bintara menyamar sebagai pengemis. ketika tiba di depan rumah Kyai Singoprono , pada saat Sultan datang Kyai Singoprono sedang menjalankan Sholat di pelepah daun pisang. Dan tdk lama dari itu Kyai Singoprono pun masuk ke rumah.

Segera pengemis bertemu dan pengemis itu disambut dengan penuh hormat, bahkan disilakan duduk di balai-balai. Kyai Singoprono sendiri duduk di lantai tanah, bagaikan menghadap Raja. Setiap kali pengemis itu bertanya, dijawabnya dengan bahasa tinggi penuh hormat, serta dimulai dan diakhiri de­ngan sembah.

Setelah tiga kali berturut-turut Kyai Singoprono menyembah, pengemis itu tidak tahan lagi. Dia turun dari balai-balai dan Kyai Singoprono dipeluk serta dipuji sebagai Kyai yang Waskitha (tajam pengamatannya).

Bersamaan dengan itu, Demak mengemukakan bahwa ia akan menghajar Kebo Kenanga, Adipati Pengging yang congkak. Kyai Singoprono tidak menyetujui gagasan itu, karena Kebo Kenanga adalah orang yang sakti. Kenyal kulitnya, tidak bisa dilukai oleh senjata; keras tulangnya bagaikan besi dan kuat ototnya bagaikan kawat baja.

Adipati Pengging tersebut adalah pejabat yang jujur serta Kyai yang mempunyai Karomah dan berjuang di Kadipaten. Kyai Ageng Pengging hanya difitnah oleh orang yg mempunyai dendam. Untuk mengalahkannya harus diusahakan suatu cara tertentu.

Pen­deknya cerita. Sultan Bintara harus bersabar.

Saran ini ditafsirkan Sultan Bintara sebagai usaha Kyai Singoprono untuk menghalangi maksudnya, bahkan Sultan menuduhnya bersekutu dengan Kebo Kenanga. Kyai pun menunduk, sedih, lalu menggeiengkan kepala tiga kali.

Untuk menghindari perdebatan yang berkepanjangan, Kyai Singoprono segera berkata agar Sultan membuktikan ucapannya.

Caranya sebagai berikut. Jika menjelang penyerangan nanti pasukan Demak memukul bendhe (gong kecil) sebagai tanda penyerbuan dan bunyinya pelan, itu tanda serangan mereka akan gagal total. Jika berbunyi keras, akan lancar gempuran pasukan Demak, dan kemenangan jelas pada pihak Bintara.

Dengan agak jengkel, Sultan keluar dari rumah. la berjalan lebih tegap, tidak lagi sebagai pengemis. Akan tetapi, alangkah terkejut hatinya ketika tiba di suatu desa. Di sana ia menjumpai pasukan Demak bersiaga. Karena tidak tega, Pasukan Demak mengikuti perjalanan Sultan dari belakang sambil berlatih perang-perangan.

Kesetiaan pasukan itu dipuji Sultan. Sebagai tanda terima kasih, desa itu dinamakannya dusun Manggal. Kata ini berasal dari kata manggala, yang artinya pimpinan pasukan.

Tibalah saatnya bagi Sultan untuk membuktikan kata-kata Kyai Singoprono. Bendhe yang tergantung di pohon duwet diperintahkan untuk dipukul. Sultan heran, yang terdengar hanya suara goyangan bendhe bergesekan dengan ranting pohon duwet. Pukulan kedua menghasilkan bunyi aum, suara harimau.

Penduduk yang tinggal di desa lain, tidak jauh dari peristirahatan pasukan Demak, berteriak bahwa mereka mendengar suara simo (harimau). Oleh karena itu, desa itu hingga kini disebut desa Simo.

Suara aum dari gong akhirnya meyakinkan Sultan Bintara bahwa Kyai Singoprono memang benar-benar sakti dan membenarkan, jika masalah Kyai Kebo Kenongo hanya difitnah oleh orang yang punya dendam.

Dan Beliau pun bertitah kepada pasukannya agar kembali ke Demak bersamanya.

Tidak lama kemudian, Kyai Singoprono, yang sebenarnya sudah tua, merasa bahwa ajalnya hampir tiba. la berpesan kepada istrinya, Nyai Singoprono jika ia meninggal agar dikuburkan di gunung yang putus karena ledakan benturan panah Kyai Nogorunting.

Demikianlah, Kyai Singoprono akhirnya dimakamkan di Gunung Tugel. Oleh penduduk setempat, Kyai Singoprono juga disebut Kyai Singoprono Simowalen. Perlu diketahui, desa Simo yang terletak di sebelah timur dan desa Walen yang terletak di sebelah barat berjarak empat kilometer.

Gunung Tugel dijadikan tempat bersemedi atau bertapa orang – orang, barang siapa bersemedi di Gunung Tugel tapi orang tersebut tidak boleh mempunyai nafsu olo. Pasti akan mendapat berkah dari Kyai Singoprono.

Tetapi istri Kyai singoprono meninggal dan dimakamkan disebelah timur makam / Gunung Kyai Singoprono, kemudian makam tersebut di tendang oleh Kyai Sinoprono dan jatuh di Desa Krisik. Karena kyai Singoprono tidak mau disejajarkan denga istrinya , karena istri kyai Singoprono mempunyai watak yang tidak baik.

Wong Edan Bagu.1

Cerita tentang Gunung Tugel memang lebih tepat disebut legenda, karena kisahnya menjelaskan adanya peninggalan. Dari legenda ini kita dapat mengambil hikmah, bahwasanya dengki, dendam, dan iri hati itu, dapat menghancurkan diri sendiri, bahkan lebih dari itu.

Sedangkan kesabaran, kejujuran, dan kebaikan hati kepada sesama, mendatangkan ke­tenteraman serta kebahagiaan lahir dan batin untuk diri sendiri maupun orang lain.

Wong Edan Bagu.6

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu dariku serta Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

WEB Merenungi Hujan Di Cepu:


Wong Edan Bagu.6

WEB Merenungi Hujan Di Cepu:
Cepu. Hari Jumat. Tanggal 26 Mei 2017.

Sore hari ini. Kota cepu dan sekitarnya, diguyur hujan, sehingganya, membuatku harus berhenti berteduh di emperan toko yang ada di pinggiran jalan, sejanak aku merenung, dan teringatlah akan dongen kuno yang pernah aku dengan dari bibir keriput sesepuh sebrang yang pernah membimbingku dulu.

Dikisahkan, hiduplah seekor anak katak yang mulai tumbuh, setelah proses metamorfosa yang panjang, hingga menjadi anak katak kecil yang mungil.

Katak kecil itu membaur bersama kawanan katak-katak besar lainnya, disebuah tempat diantara kumpulan dedaunan layu yang jatuh diatas tanah. Untuk pertama kali katak kecil itu menemui kawanan katak dan bisa melihat luasnya dunia ini.

Namun tiba-tiba…
Awan hitam yang berputar datang,
kegembiraan sang katak kecil, tidak berlangsung lama, terlihat muram raut muka si katak kecil itu dan sangat jelas ekspresi khawatir dan takut dari sang katak, ketika melihat keatas langit.

Katak kecil melihat awan-awan diatasnya berubah menjadi hitam kelam, dengan perasaan gelisah, katak kecil itu meloncat-loncat dan bertanya kepada salah satu kata besar didekatnya;

“Apakah benda hitam yang berputar diatas kita itu? apakah itu pertanda bahwa kita akan binasa?” – tanya katak kecil bergetar takut.

Katak besar yang mendengar pertanyaan katak kecil itu tertawa dan menenangkan si katak kecil dengan belaian lembut sembari berkata;

“Wahai sobat kecilku, itu bukanlah pertanda buruk, malah sebaliknya! benda hitam diatas sana itu, adalah suatu pertanda baik untuk kita para katak”

Mendengar hal itu, katak kecil itupun menjadi tenang, lalu, tiba tiba, datang angin kencang yang menakutkan, membuat ketenangan katak kecil itu tidak berlangsung terlalu lama, dan beberapa saat kemudian, angin kencang yang bertiup, meliuk-liukkan pepohonan dan menerbangkan benda-benda disekitar kumpulan katak itu.

Sebuah pemandangan yang menakutkan untuk si katak kecil, mlompatlah katak kecil itu pada katak besar tadi dan berkata;

“Pemandangan apa lagi itu? apakah itu benar-benar sesuatu yang kita tunggu-tunggu dan anggap sebagai pertanda baik” sembari bersembunyi dibalik badan katak besar.

Katak besar itu kemudian tertawa dan menenangkan si katak kecil “Tenang sobat kecil! itu hanya angin dan benar itu adalah salah satu pertanda baik bahwa apa yang kita para katak tunggu-tunggu semakin dekat” – jawab katak besar menenangkan. Katak kecil itupun kembali tenang.

Petir dan suaranya yang menggelegar beberapa saat kemudian datanglah suara menggelegar “Blar! Blar!” suara menyeramkan dan kilatan putih menyambar kemana-mana bergemuruh dan membuat katak kecil gemetar menjadi-jadi.

Kali ini katak kecil bahkan tidak bisa berkata apa-apa. Matanya terpejam dan seluruh badannya bergetar. Katak kecil bergumam “Aku sangat takut.. aku takut sekali”

Katak besar yang melihat hal tersebut kemudian merangkul si katak kecil itu dan menenangkannya “Tenang sobat kecil, petir boleh saja terlihat menakutkan, namun pada dasarnya itu adalah tanda ketiga, dimana tak lama lagi apa yang kita para katak tunggu-tunggu akan datang!”

Rintik-rintik kecil hujan kemudian mulai berjatuhan dari langit yang kelam tersebut. Satu tetes air hujan menetes dikepala si katak kecil. Si katak kecil kemudian memberanikan diri untuk membuka kedua matanya.

Hujan semakin lebat dan para kumpulan katak mulai meloncat-loncat girang bermain diantara hujan. Katak besar kemudian menarik si katak kecil dan mengajaknya untuk turut serta.

“Ayo bersenang-senang, apa yang kita tunggu-tunggu telah tiba! hujan telah tiba!” teriak katak besar sambil meloncat-loncat gembira. Katak kecil itupun menjadi sumringah dan ikut serta bergembira menyambut hujan itu.

WEB….!!!
Apa yang bisa dipetik dari kisah diatas? Itukan dongen untuk anak balita.

Sabar….3x. Coba Renungkan Sejenak;
Segelintir kisah katak kecil dan datangnya hujan itu mungkin, terdengar sederhana, namun dari kisah itu, kita bisa mengambil hikmah yang baik untuk kita dapatkan.

Kita harus menyadari bahwa anugerah dan rahmat dari Dzat Maha Suci itu, tidak selalu datang bersama keindahan, merdunya suara-suara seruling dan syair atau disertai dengan hal-hal manis lainnya.

Bahkan terkadang rahmat dari-Nya datang bersama cobaan dan hal-hal yang kita tidak sukai. Bukahkan begitu…?!

Dengan menyadari hal itu, marilah kita sebagai orang yang beriman, untuk sadar, agar bisa menyadari akan kuasanya yang tiadatara, dan tidak menyerah atas rahmat Dzat Maha Suci, untuk belajar dan terus belajari memahami dan merenungi segala hal yang terjadi disekitar kita.

Kita harus tahu secara sadar, bahwa semua itu berasal dari-Nya, bahwa segala sesuatu yang terjadi itu atas kehendak-Nya dan memiliki pelajaran didalamnya. Janganlah kita mudah dipengaruhi keadaan, seperti apa yang dirasakan katak kecil dalam cerita diatas. Mari kita berbahagia dan tidak mudah menyerah untuk menyambut rahmat dari Dzat Maha Suci, apapun bentuknya. Semoga bermanfaat.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu dariku serta Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Biografi Manusia Hidup:


Wong Edan Bagu.4

Biografi Manusia Hidup:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Prigen Pasuruan. Hari Jumat Wage. Tanggal 19 Mei 2017.

Wahyu Panca Ghaib. Wahyu itu, maksudnya. Pemberian Dzat Maha Suci Tuhan, secara langsung. Panca itu, maksudnya. Lima. Ghaib itu, maksudnya. Roh/Ruh. Wahyu Panca Ghaib. Ber’arti Lima Ruh/Roh Perberian Dzat Maha Suci Tuhan, secara langsung, maksudnya, tanpa perantara.
Anda tahu apa itu Biografi…?!
Biografi adalah sebuah tulisan rinci, mengenai kehidupan seorang manusia, dan sebuah kisah riwayat hidup seorang manusia, atau sebuah keterangan kisah perjalanan hidup seorang manusia didalam kehidupan, yang kesemuanya itu, bersumber dari kisah nyata.

Dari biografi dapat ditemukan kejadian-kejadian hidup seseorang atau misteri hidup seseorang dengan penjelasan berupa tindakan atau perilaku dalam kehidupnya. Biografi dapat menceritakan hidup dan kehidupan, mulai dari yang penting hingga yang tidak penting, terkenal dan tidak terkenal.

Sebab itu dan karena itu. Semua bentuk pencarian, mulai dari Pencarian jati diri dan Pencarian identitas diri, hingga Pencarian Tuhan. Jawabannya berhasil ditemukan di dalam Wahyu Panca Ghaib.

Anda tahu apa itu sikap…?!
Sikap adalah tingkah laku seseorang, yang dapat dinilai orang lain dalam kehidupan sehari-hari dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.
Itulah Kunci.

Anda tahu apa itu Konsep…?!
Konsep adalah suatu hal umum yang menjelaskan atau menyusun suatu peristiwa, objek, situasi, ide, atau akal pikiran dengan tujuan untuk memudahkan komunikasi antar manusia dan memungkinkan manusia untuk berpikir lebih baik.

Pengertian lainnya mengenai konsep adalah abstraksi suatu ide atau gambaran mental, yang dinyatakan dalam suatu kata atau simbol. Konsep dinyatakan juga sebagai bagian dari pengetahuan yang dibangun dari berbagai macam karakteristik.
Itulah Paweling.

Anda tahu apa itu Sipat…?!
Sifat adalah karakteristik psikologis seseorang, yang berasal dari dalam diri seseorang.
Itulah Asmo Sejati.

Anda tahu apa itu Watak…?!
Watak adalah bentuk karakteristik seseorang, dalam berkepribadian dan bertingkah laku.
Itulah Mijil.

Anda tahu apa itu Filosofi atau Filsafat…?!
Filsafat atau filosofi. Secara simpel, pengertian, adalah cinta kasih sayang kepada ilmu pengetahuan, dan kebijksanaan. Dalam bahasa Arab, pengertian filsafat atau filosofi, adalah hikmah yang berarti pengetahuan dan kebijaksanaan.
Itulah Singkir.

Secara Pengertian Awam. Dengan dasar arti dan maksud diatas. Saya simpulkan. Bahwa Wahyu Panca Ghaib. Adalah Biografi manusia hidup. Ingat….!!! Ini Pengertian Awam lo… Maksudnya. Pengertian untuk yang masih Awam Pemahaman.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu dariku serta Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Sebab Akibat Resah Dan Gelisah:


Wong Edan Bagu.2

Sebab Akibat Resah Dan Gelisah:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Prigen Pasuruan. Hari Selasa Tanggal 23 Mei 2017.

Resah Dan Gelisah, adalah soal Rasa dan Perasaan. Hal ini bisa dialami oleh siapapun. Karena hal itu merupakan salah satu kodrat yang memang dimiliki oleh manusia hidup. Bedanya, ada manusia hidup yang mampu mengatasi rasa yang resah dan perasaan yang gelisah tersebut, dan ada pula yang tidak mampu mengatasinya.

Penyebab resah dan gelisah di dalam diri kita, dapat disebabkan oleh berbagai alasan dan faktor-faktor tertentu.

Apalagi dalam kehidupan yang semakin hingar-bingar seperti saat ini, di mana banyaknya pilihan ataupun hal-hal baru yang terkadang meragukan pikiran, sehingga membuat hatinya menjadi hatinya resah dan pikirannya gelisah.

Bahkan dalam beberapa waktu belakangan ini, saya di pertemukan dengan orang orang yang mengalami, kegelisahan hati dan pikiran tersebut, berkaitan dengan masalah keyakinan (agama), moral, dan perilaku-perilaku yang berhubungan dengan interaksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Masalah-masalah yang muncul tersebut, memang tidak dapat dipungkiri akan menimbulkan rasa resah dan perasaan gelisah di dalam hati, bukan hanya bagi orang-orang yang terlibat dalam masalah tersebut, tetapi kadang juga bagi orang-orang yang tidak ada sangkut pautnya sekalipun.

Setelah saya baca, maksudnya saya amati dan pelajari, Hal ini dikarenakan masalah yang muncul dan mengakibatkan hati menjadi resah dan gelisah itu, tidak hanya datang dari dalam diri sendiri, tetapi juga datang dari luar diri sendiri.

Sebenarnya bukan hal yang sulit untuk menyelesaikan masalah masalah yang muncul, yaitu cukup menyerahkannya kepada Dzat Maha Suci, lalu menerima apapun yang menjadi keputusan Dzat Maha Suci dan mempersilahkan-Nya untuk mengambil alih masalah masalah kita, bukan mengahadapinya untuk mencari dan menemukan solusinya, apa lagi malah menghindarinya.

Tetapi jutru seringkali banyak orang yang malah menghindari masalah yang muncul, atau memaksa diri seakan-akan punya kuasa untuk menyelesaikannya, sehingga membuat masalah tidak terselesaikan dan menjadi semakin rumit.

Padahal… Pada hakikatnya, manusia itu hanya seonggok patung tanah, yang tak punya daya dan upaya apapun jika tanpa Dzat Maha Suci Tuhan, efek inilah yang sering menyebabkan timbulnya rasa resah dan perasaan gelisah di dalam diri, di mana rasa resah dan perasaan gelisah di dalam diri tersebut, dapat berdampak pada melemahnya kreatifitas yang ada di dalam iman, sehingga harus selalu memiliki cara agar diri bisa tenang.

Dibawah inilah Penyebab Rasa resah dan Perasaan gelisah yang paling sering saya temukan disetiap diri seseorang yang saya temui;
1. Memudarnya Iman Kepada Dzat Maha Suci Tuhan.
2. Terlalu Sering Ikut Campur Urusan Dzat Maha Suci Tuhan.
3. Kurang Jeli/Teliti Ketika Laku Spiritual.
4. Terlalu Banyak Anggapan Tentang Dzat Maha Suci Tuhan.
5. Lupa Bersyukur Kepada Dzat Maha Suci Tuhan.
6. Mengingkari Dzat Maha Suci Tuhan.
7. Ibadahnya Tidak Menuju Dzat Maha Suci Tuhan.
8. Tidak Sedang Laku Menuju Dzat Maha Suci Tuhan.
9. Bukan Dzat Maha Suci Yang Menjadi Target Tujuan Hidupnya.

Nah… Bagimu Sekalian Yang Sudah Capek Dengan Keresahan dan Kegelisahan. Ingin Damai. Tenang. Sukses. Bahagia. Tenteram secara Sempurna Dunia Akherat. Robahlah Sembilah Penyebab Resah dan Gelisahnya yang sudah saya Uraikan Diatas.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu dariku serta Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Memahami lika liku Laku Spiritual Dengan Filosofi Candi Gedong Songo


Memahami lika liku Laku Spiritual Dengan Filosofi Candi Gedong Songo:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Ungaran Semarang. Hari Minggu Wage. Tanggal 14 Maret 2017

Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku sekalian… Pada Hari Minggu Wage. Tanggal 14 Mei 2017 kemaren, saya menyempatkan diri untuk Napak Tilas Sejarah leluhur yang tersembunyi dibalik Candi Gedong Songo, yang berlokasi di desa Candi. Kecamatan Bandungan. Kabupaten Semarang. Jawa Tengah. Tepatnya di lereng Gunung Ungaran.

Dulu… Sekitar tahun 1988, sewaktu saya belum menjalankan laku murni menuju suci. Dengan menggunakan sarana Wahyu Panca Ghaib, yang saya Praktekan atau saya jalankan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Saya pernah mendatangi Candi Gedong Songo ini, namun,,, dengan segala upaya, saya gagal mengutik sejarah yang tersembunyi dibalik candi gedong songo ini. Dan atas ijin Dzat Maha Suci. Saya kembali lagi, dengan menggunakan Wahyu Panca Ghaib. Dan luar biasa,,, dalam waktu kurang labihnya 7 jam. Saya berhasil mengungkapnya secara detail. Saya hasilnya… yang saya uraikan dibawah ini. Semoga bermanfaat dan berguna sebagai Tambahan dan Belajar Memahi Spiritual Mengenal Sang Empunya.

Ternyata… Misteri yang tersembunyi dibalik candi gedong songo tersebut, memberikan jawaban kepada saya, dan penjelasannya, tidak sama dengan cerita masyarat setempat dan yang diriwayatkan oleh banyak nara sumber sejarah yang pernah mempelajari Mistik Candi Gedong Songo ini. Berikut kutipannya.

Candi Gedong Songo;
Candi Gedong Songo ini, sengaja dibuat oleh Oleh Prabu Sanjaya atau yang lebih di kenal dipasundan dengan sebutan Prabu Harisdarma. Pada jaman Kejayaan Wangsa Syailendra di abad ke-9 (tahun 927 masehi). Candi ini dibuat, untuk menggambarkan, atau sebagai gambaran tentang Tingkatan atau Lapisan Dimensi dan Lika Liku serta Pernak Pernik Sebuah Perjalanan Laku Spiritual, dalam Mengenal Tuhan melalui pembelajaran diri, sebenar-benarnya Diri Manusia, yang sedang berusaha Sadar untuk menyadari akan adanya hubungan Sang Pencipta dan yang diciptakannya. Mulai dari mengenal sedulur papat, atau empat anasir. Hidup atau Ruh/Roh Suci/Kudus. Hingga ke soal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Tingkatan Dimensi Laku Spiritual itu, di gambarkan atau di expresikan oleh Prabu Sanjaya, dengan sebuah Candi yang Berjumlah sembilah, dan sepuluh sebagai penutupnya. candi gedong songo di dirikan Prabu Sanjaya, pada masa Dinasti Sanjaya, yang bertahta di Kerajaan Mataram Kuno. Kerajaan mataram kuno, yang terletak di Jawa Tengah bagian utara (dinasti sanjaya) dan jawa tengah bagian selatan (dinasti saylendra). Kerajaan mataram kuno yang wilayahnya subur, karena dikelilingi gunung-gunung yang menghasilkan mata air yang bermanfaat bagi pertanian penduduk mataram kuno.

Mataram kuno didirikan sanjaya pada tahun 732 M. Prabu Sanjaya adalah kemenakan dari Sanna, penguasa sebelumnya. Prabu Sanjaya yang suka berlaku spiritual mengenal Tuhan ini, lalu mendirikan candi-candi untuk memuja Dewa Siwa. Diantaranya adalah Candi Gedong Songo ini. Prabu Sanjaya juga belajar agama Hindu Siwa dari para pendeta yang ia panggil. Prabu Sanjaya meninggal pada pertengahan abad ke-8 dan kedudukannya di Mataram, digantikan oleh Rakai Panangkaran ((760-780), dan terus berlanjut sampai masa Dyah Wawa (924-928), sebelum digantikan oleh Mpu Sindok (929) dari Dinasti Isyana.

Prabu Sanjaya mengetahui, bahwa setelah pemerintahannya nanti, akan ada sembilah tokoh spiritual, dengan masing-masing tingkatan spiritualnya, akan muncul di tanah jawa, dan berhasil menguasai tanah jawa untuk beberapa saat lamanya, yaitu yang lebih kita kenal dengan sebutan wali songo. Prabu Sanjaya juga, mengetahui masing-masing tingkatan ilmu spiritual yang dimiliki oleh sembilan tokoh spiritual yang di ramalkannya itu, lalu tingkat keahlian ilmu sembilan tokoh spiritual yang dimaksud itu, dikaitkan dengan sembilan pengetahuan laku spiritual yang pernah berhasil di laluinya selama belajar mengenal Tuhan.

Dan di expresikan dengan cara membangun Candi Gedhong Songo, tujuannya, untuk mengabarkan kepada semua orang, bahwa kelak setelahnya, akan ada sembilan tokoh spiritual, yang masing-masing tingkatan spiritualnya, sama persis dengan tingkatan yang pernah berhasil di lalui dalam laku spiritual menganal Tuhan itu, akan hadir di tanah jawa, mereka bersatu, salin mengisi dan melengkapi satu sama lainnya, hingga berhasil menguasai tanah jawa. Bercerai, berati runtuh atau gagal.

Dan setelah pembuatan Candi Gedong Songo, tak berselang lama kemudian. Prabu Sanjaya meninggalkan dunia. Yang kemuadian dilanjutkan oleh keturunan-keturunannya. Untuk mengetahui raja-raja keturunan dinasti sanjaya, dapat diketahui dari isi prasasti kedu atau mantyasih atau yang lebih di kenal dengan nama prasasti balitung tahun 907 M.

Sebagai Berikut Dynasty Sanjaya;
1. Sanjaya
2. Panangkaran
3. Panunggalan
4. Waruk
5. Garung
6. Rake Pikatan
7. Rake Kayuwangi
8. Watuhumalang
9. Watukuro Dyah Balitung

Kita kembali pada Pokok semula, yaitu Belajar Memahami Tingkatan Dimensi Laku Spiritual Dengan Filosofi Candi Gedong Songo, sejak jaman dulu hingga sampai kapapun, untuk bisa mengerti dan memahami serta mengenal hingga bertemu dengan Dzat Maha Suci Tuhan, seseorang harus mencapai sepuluh tingkatan Laku Spiritual terlebih dahulu. Tentang apa saja sepuluh tingkatan laku spiritual yang harus dilalui itu, mari kita telisik candi gedong songo sebagai filosofinya. Dan saya mulai dari Candi Nomer Satu atau candi yang pertama. Yaitu;

1

1. Candi Duraroha;
Yang Berati Bebas. Pada tahap awal ini, seorang pelaku spiritual harus melatih kualitas pembebasan dirinya, dari semua dan segala kemelekatan, maksudnya, semua dan segala yang dianggap penting dan perlu di dunia ini. harus tanggal, harus sirna, harus luluh, harus runtuh, tanggalnya, sirnanya, luluhnya, runtuhnya semua dan segala kemelekatan diri ini, di gambarkan dengan Candi Duraroha, candi ke 1 atau candi yang pertama, yang berupa reruntuhan bebatuan bahan pembangunan candi, yang terkumpul rapi disatu tempat, sebagai gambaran, runtuhnya semua dan segalanya kepentingan urusan duniawi yang melekat pada diri. Agar mudah prosesnya dan ringan lakunya.

2

2. Candi Baddhamana;
Yang Berati Bersih. Pada tahap kedua ini. Seorang pelaku spiritual, harus melatih diri, untuk Membersihkan semua dan segala kotoran atau noda di hati, seperti kebencian, hasut, fitnah, iri, dengki, dendam dll, agar supaya 20 sipat Dzat Maha Suci Tuhan, yang ada didalam dirinya sejak awal hingga kini, dapat tumbuh dan berfungsi sebagaimana mestinya, sehingganya, tidak ada keraguan dan ketakutan di dalam laku spiritual, bisa tetep idep madep mantep, tidak tergoyahkan. Bersihnya hati dan tumbuhnya sipat 20 Dzat Maha Suci Tuhan dalam diri ini, di gambarkan dengan Candi Baddhamana, yang berdiri kokoh dan indah.

3

3. Candi Pushpamandita;
Yang Berati Murni. Pada tahap ketiga ini. Seorang pelaku spiritual, harus belajar mengorbankan semua kepentingan yang hendak melekati dirinya yang telah terbebas dari semua dan segala kemelekatan duniawi itu, dan Harus belajar mengorbankan segala keperluan yang hendak mengotori dan menodai Hatinya yang telah bersih dari semua kotoran dan segala noda itu, agar supaya, yang melekati dirinya dan mengisi hatinya, hanya satu, yaitu Dzat Maha Suci Tuhan. Kemurnia Jiwa Raga yang hanya terisi satu ini, yaitu Dzat Maha Suci, di gambarkan dengan sebuah Candi ke 3. Candi Pushpamandita, yang berdiri kuat, kokoh, indah, bersih, rapih, elok, dan berwibawa.

4

4. Candi Rucira;
Yang Berati Patuh. Pada tahap ke empat ini. Seorang pelaku spiritual, harus belajar mengutamakan Dzat Maha Suci Tuhan dan mementingkan Dzat Maha Suci Tuhan, sedangkan yang lainnya, selain Dzat Maha Suci Tuhan, menjadi urutan tidak utama dan tidak penting. Serta belajar menahan diri, untuk tidak berbuat atau melakukan apapun, jika Dzat Maha Suci Tuhan, tidak mengehendaki. Menjalahkan semua kehendak Dzat Maha Suci Tuhan, dan menghentikan semua kehendak akal. Agar antara kawula dan gusti, atau antara jiwa dan raga, atau lahir dan bathin, bisa seiya sekata atau bisa setara. Dan kepatuhan dan kesetara’an jiwa raga dan lahir bathin ini. Digambarkan dengan Candi Rucira. Candi ke 4, yang terdiri dari dua buah candi, yang berdiri sejajar, sama kokok dan sama tingginya serta sama indahnya.

5

5. Candi Citravistara;
Yang Berati Pengetahuan. Pada tahap kelima ini. Seorang spitual yang telah berhasil membebaskan dirinya dari semua kemelekatan dan berhasil membersihkan hatinya dari semua noda, serta berhasil memurnikan lakunya dan menyetarakan lahir bathin atau jiwa raganya. Dia akan terhantar masuk ke dalam proses spiritual yang selanjutnyanya, yaitu laku spiritual yang sesungguhnya. Ini di gambarkan dengan lika liku dan pernak pernik yang ditemui di sepanjang perjalanan menuju Candi ke 5, di sepanjang perjanan menuju candi ke lima, akan tersaji beraneka pemandangan, mulai dari yang bagus hingga yang jelek, mulai dari yang buruk hingga yang indah, mulai dari yang berguna hingga yang remeh dan sepele, mulai dari yang menyenangkan hingga yang menyedihkan, menyebalkan dan melelahkan, semuanya dan segalanya tersaji, tersedia di sepanjang perjalanan menuju tingkat tahapan ke lima ini. Jika seorang pelaku spiritual tetep idep madep mantep, terus berjalan, tanpa sirih dan terganggu apa lagi tergiyur oleh lika liku dan pernak pernik semuanya itu, dia akan berhasil sampai pada sebuah persimpangan jalan. Yang menyajikan dua pilihan, ke kanan dulu? Apa ke kiri dulu?

Di sebelah kanan, terlihat kenapakan candi ke 5 yang sangat memukau keindahannya. Di sebelah kiri, terlihat kenapakan candi ke 8 yang sangat gagah menawan. Jika belok kiri, meuju candi ke 8, berati harus siap melawan arus aturan dunia, dengan segala risikonya, kalau belok kanan, menuju candi ke 5, berati harus rela meng enyahkan kegagahan candi ke 8 yang sangat menawan itu. Kebingungan akibat segudang pengetahuan ini, di gambarkan dengan sebuah persimpangan jalan menuju puncak tahapan ke lima di dalam laku spiritual.

Dan keberhasilan dari mengusai ilmu pengetahuan ini, digambarkan dengan sebuah candi ke 5. Candi Citravistara, yang berdiri teduh dan indah diantara pernak pernik keindahan yang ada di sekelilingnya, di tahap ke lima ini, bisa bernafas lega, duduk santai dan nyaman, tanpa tekanan apapun, sangat membahagiakan.

6

6. Candi Rupavati;
Yang Berati Sadar. Apapun yang terjadi dan teralami oleh si pelaku spiritual di tahap kelima ini, di candi ke 5 ini, yaitu Candi Citravistara, di sadari atau tidak di sadari, akan mengatarkan si pelaku spiritual sampai ke candi ke 6, masuk ke tahap spiritual selanjutnya, yaitu tahap ke enam. Candi Rupavati, yang berati sadar. Akibat dari tidak sadar, karena terlena oleh kebahagia’an yang teramat sangat di candi ke 5 itu. Di gambarkan dengan sebuah Candi Rupavati, yang berbentuk reruntuhan dari bebatuan bahan bangunan candi, yang berserakan di enam tempat dalam satu lokasi, yang terlihat tidak menarik sama sekali.

Bagi pelaku spiritual yang tidak sadar, akibat terlena akan kebahagia’an yang teramat sangat di candi ke 5, dia tidak akan tertarik untuk memperhatikan candi ke 6 ini, akibat dari tidak tertarik itu, maka tidak akan tahu, dimana letak candi yang ketuju, atau, mengetahui candi ke 7, tanpa memperdulikan candi ke enam, yang merupakan tahap urutan sebelum candi ke 7, sehingganya, terlewati dan kehilangan banyak ilmu pengetahuan dibagian ini, akibatnya, tergesa-gesa ingin segera sampai ke candi ke 8, setibanya di candi ke 8. Dia akan tergulai lemah, karena seluruh energinya, terkuras habis dalam pemaksa’an yang tidak semestinya. Dan kegagalan sadar ini. Di gambarkan dengan candi ke 6, yang berupa reruntuhan batu bahan bangunan Candi Rupavati.

7

7. Candi Durjaya;
Yang Berati Kesadaran. Bagi pelaku spiritual yang sadar, pasti akan tertarik untuk singgah dan memperhatikan reruntuhan batu Candi Rupavati, sehingganya dia tahu, ada apa dibalik reruntuhan tersebut, dan pengetahuannya yang sadar itu, akan mengantarnya menuju ke candi nomer 7, dengan tanpa risiko apapun, sehingganya, bisa mencapai candi ke 8 dengan tanpa risiko apapun. Keberhasilan sadar ini. Di gambarkan dengan Candi Durjaya, candi ke 7, yang berati kesadaran. Candi Durjaya berupan candi kecil, simpel, sederhana, namun sangat kokoh dan kuat, juga indah dan bersahaja, didukung alam sekitarnya yang sejuk dan hening serta nyaman, membantu pemulihan tenaga yang telah banyak terkuras dan hampir habis. Sehingganya, bisa melanjutkan perjalanan ke tahan selanjutnya, dengan rilekx, santai, tanpa beban yang menyapek-kan.

8

8. Candi Jammanidesa;
Yang Berati Kesadaran Murni. Pada tingkat ke delapan ini. Seorang pelaku sepiritual, harus selalu belajar dan terus melatih diri untuk sadar, agar bisa menyadari semua dan segalanya dengan murni, dalam arti lain, apapun yang dilakukan dan diperbuat, tidak ada satupun yang terlepas dari Kuasa Dzat Maha Suci. Isi raganya hanya jiwa, dan isi jiwanya hanya Dzat maha Suci Tuhan, bukan yang lain. Kesadaran murni ini. Di gambarkan dengan sebuah Candi ke 8, yaitu Candi Jammanidesa, yang berati Kesadaran Murni. Sebuah candi besar, yang berdiri kokoh dan indah serta berwibawah diatas puncak bukit.

Dari candi kedelapan ini, semua lika liku dan pernak pernik yang telah berhasil dilalui, bisa dilihat, segala keindahan dan ketidak sia-sia’an masa lalu diketahui, bahkan masa depan terpampang jelas dalam pandangan mata. Suka dan duka, suka cita, bahagia, sedih, susah, senang semuanya, segalanya, tercurah, klimax, selesai disini. Tidak ada satupun yang sia-sia, tidak ada satupun yang tidak berguna, semuanya, segalanya, berasal dari Dzat Maha Suci Tuhan, semua dan segalanya milik Dzat Maha Suci Tuhan, dan semua dan segalanya akan kembali hanya kepada Dzat Maha Suci Tuhan. Sehingganya, terasa ringan, mudah, bahkan gampang, tanpa beban apapun, plong, enak, nyaman, bahagia, tenteram.

9

9. Candi Yauvarajya;
Dan Ketenteraman itu. Di gambarkan dengan sebuah Candi ke 9. Tersebut Candi Yauvarajya, yang berati Kosong atau Suwung, kosong, suwung, tidak ada apa-apa, apa-apa itu tidak ada.
Bagi para pelaku spiritual yang berada di tahapan ke sembilan ini, jika kesadaran murninya, hanya kadhang kala saja, sekedar saja, kalau dalam bahasa humornya, pagi tempe siangnya tahu sorenya oncom, terlena pada tenteram itu, tidak mau mencari sejatinya tenteram itu, tidak mau mencari sejatinya kosong/suwung tersebut, dia tidak akan memperoleh apa-apa, tidak akan mendapatkan apa-apa, tidak akan menemukan apa-apa, tidak akan mengetahui apapun, selain hanya sebatas kekosongan untuk menyaksikan keruntuhan/kehancuran spiritualnya sendiri.

Kekosongan dan kehancuran ini. Di gambarkan dengan sebuah Candi ke 9, yaitu Candi Yauvarajya, yang beratti kosong/suwung. Berbentuk reruntuhan dari bebatuan bahan bangunan candi, yang nampak tidak berguna sama sekali, dimana sekelilingnya, hanya ada semak belukar tanpa tanam, tanpa keindahan, tanpa pemandangan. Buntu. Tidak ada jalan untuk kelanjutannya, selain jalan pulang untuk kembali dari awal lagi atau dari awal lagi.

10

10. Candi Abhisheka;
Yang Berati Isi/Inti. Namun bagi pelaku spiritual yang aktif, yang tetep idep madep mantep. Yang Kesadaran Murni-nya terus menerus tanpa henti. Dia akan berhasil menemukan sesuatu di dalam kekosongan/suwung itu, sehingganya, tidak putus nalar dan pikirannya, terus belajar dan belajar terus, tidak ada istilah lulus atau tamat. Melainkan terus laku dan laku terus. Hingga pada akhirnya, dia berhasil menemukan jalan untuk menuju ke inti/isi-nya kosong/suwung itu, yaitu Candi ke 10, yang merupakan candi penutup, yang merupakan Candi Inti dari Candi Gedong Songo. Keberhasilan ini. Di gambarkan dengan Candi ke 10, tersebut Candi Abhisheka, yang berati Isi/Inti.

Candi Abhisheka ini, terletak dan tersembunyi di puncak paling tinggi di atas candi gedong songo dan di tengah hutan belantara. Sehingganya, tidak semua orang mengetahui candi ke 10 ini, dan lagi. Candi ke 10 yang tersebut sebagai candi penutup ini, tidak berbentuk susunan rapi dari bebatuan seperti pada umumnya candi di Gedong Songo, melain berwujud Arca Anoman.

Dari Candi Abhisheka Yang Berati Isi/Inti dan berbentuk Arca Anoman ini. Bisa menyaksikan 4 candi yang berada di sebelah timur lereng gunung ungaran pless dengan lika liku dan pernak perniknya. Dan 5 candi yang berada di sebelah barat lereng gunung ungaran pelss dengan lika liku dan pernak perniknya. Yang keduanya terbatasi dengan keindahan gunung-gunung, kota, desa dan perkampungan yang nampak kecil dan indah untuk di nikmati. Sebagai gambaran terjawabnya semua teka-teki dan segala pertanya’an serta risalah ghaib. Dan Akhir Kata dari saya Wong Edan Bagu, semuga hal ini, bisa menjadi penambahan wawasan laku spiritual kita bersama dalam belajar mendewasakan diri. Untuk mengetahui Rekaman dari perjalan mengungkap Candi Gedong Songo ini. Bisa klik link ini untuk menontonnya. https://youtu.be/yg2Gxt4IELs

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Lungguhe atau Hakekatnya. Roh Kudus-Ruh Suci Atau Roh Sejati-Sejatining Roh. Atau Guru Sejati-Sejatining Guru:


Lungguhe atau Hakekatnya.
Roh Kudus-Ruh Suci Atau Roh Sejati-Sejatining Roh.
Atau Guru Sejati-Sejatining Guru:
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling).
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Cilacap Jateng. Hari Rabu. Tanggal 10 Mei 2017

Para Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian, ketahuilah dengan kesadaran manusiawimu. Roh Kudus atau Ruh Suci, atau Roh Sejati-Sejatining Roh, yang lebih di kenal dalam istilah umumnya, dengan sebutan Guru Sejati atau Sejatining Guru, dalam istilah agamisnya sebagai Nur Muhammad atau Rasullullah/Utusan Tuhan. Itu adalah Hidup kita sendiri, Hidup yang bersemayam di dalam diri/tubuh/jasad kita ini, yang menjadikan kita bisa bergerak, bernapas dll.

Di saat Kekuatan Dzat Maha Suci, mengalir pada Hidup kita, akan mengarahkan dan meningkatkan perkembangan laku spiritual kita, sehingga, inti laku spiritual kita, dapat mencapai tahap pemurnian secara otomatis, pada Intisari terdalam Hidup kita, yang terletak di atas kesadaran murni, maka Hidup akan berevolusi (mijil), hingga tumbuh tubuh Hidup di atas Kesadaran Sejati/murni. Hidup juga akan tercipta setelah mencapai kesempurnaan Sejati itu sendiri. Hidup adalah Intisaripati kesempurnaan dan kesucian serta kesadaran tertinggi dari roh-roh yang ada pada diri individu umat manusia yang masih kedudukan Hidup.

Hidup berada di dalam Rasa, namun bukan asal rasa atau sembarang rasa, melainkan rasa yang sadar, benar-benar sadar dan sungguh seutuhnya sadar (murni), bukan kesadaran yang penuh dengan beraneka pernak pernik keduniawian. Hidup berada didalam rasa, rasa berada di dalam hati, hati berada dibalik rongga dada tubuh/jasad/raga kita. Hidup yang ada di dalam rasa dan rasa yang berada di dalam hati ini, hanya akan bergerak menembus seluruh dimensi lapisan tubuh kita (sekujur badan), ketika kita sadar dan kesadaran kita sepenuhnya murni. Jika tidak, maka tidak pula, hal inilah yang menyebabkan tubuh kita, ada kalanya bisa terserang penyakit dan mengalami gangguan mental, karena ada bagian tubuh/raga kita, yang tidak terisi Hidup, sehingga mengalami mati rasa, dan akibat dari mati rasa itu, sakitlah bagian tubuh itu dan bisa dimanfaatkan oleh yang berada diluar tubuh kita.

Artinya… untuk bisa selalu sehat bergas waras, kalis ing sambikolo, tubuh/raga kita butuh sadar yang murni dan kontinyu, secara terus menerus di sepanjang siang dan malam selama seumur hidup kita. Dan jika di sepanjang hari dan di sepanjang malam kita bisa sadar, dan sadarnya kita itu murni, tanpa noda dan kotoran apapun yang menempel di hati. Maka…

Kita akan memiliki dan memegang kendali/panguwoso, serta menjadi Intisari dari pengendali segala dan semua hal yang positif maupun negatif, baik secara spiritual maupun fisik, dari diri manusia hidup kita sendiri. Sehingganya, kita selalu memiliki kesadaran sejati/murni yang akan Menuntun diri, untuk terhindar dari infeksi sipat jahat dan sikap kejam serta aura kotor. Menuntun diri kita ke tarap/ranah/dimensi hidup didalam berkehidupan, yang lebih baik dan layak serta ke jalan kebenaran menuju Dzat Maha Suci secara sempuna dunia wal akherat.

Bisa saya gambarkan seperti ini. Jika Hidup itu terletak di Perinium. Maka Dia seperti bunga teratai yang menyangga pemurnian, termasuk penyangga sedulur papat kalima pancer. Fungsinya sebagai penjaga dan pembangkit serta penstabil Alam Semesta Kehidupan kita.
Jika Hidup menumbuhkan bunga Ilmu Pengetahuan, maka Alam Semesta Kehidupan kita, akan menumbuhkan Kesadaran Murni-nya. Sehingganya, Ilmu Pengetahuan itu, tidak menjadikannya sombong dan mencelakai.

Kesadaran Murni Hidup kita juga, akan selalu mengalirkan ilmu pengetahuan yang kita butuhkan setiap waktunya, dan Ilmu Pengetahuan itu, akan mengalirkan keberlimpahan dan segala hal yang positif pada kehidupan secara nyata, dan jika tanpa terhambat oleh sifat jahat, maka kesempurnaan itu akan mudah terjadi, yaitu kesempurnaan kebahagiaan dalam hidup. Dengan afirmasi keberlimpahan rejeki, karena secara otomatis Hidup akan mengalirkan keberlimpahan pada diri. Akan tetapi, dengan adanya sifat jahat dan aura kotor, maka sifat jahat dan aura kotor tersebut, yang akan memblok bahkan memutus aliran energi dari kesejatian/kemurnian Hidup hidup kita.

Tapi Jika diri kita kembali ke dalam kekotoran hati atau jalan penyesatan akal/nalar/nurani, maka hal tersebut akan menyebabkan Hidup kita jatuh ke dalam kekotoran, akan terjadi kebocoran dan kerusakan pada Rasa, kemampuan Hidup akan musnah, dan Hidup menjadi pasif atau tidak berfungsi, maka Hidup akan kembali seukuran bola golf. Dan kembali kebentuk roh atau sukma orang biasa pada umumnya yang belum mengenal Wahyu Panca Ghaib dan Wahyu Panca Laku, dan kejadian ini, teramat sering saya temukan pada diri Putero Romo yang sangat saya kasihi. Sungguh eman-eman sekali, jika sampai mengalami hal ini, karena selain rugi, sungguh akan membuat menyesal seumur hidup di dunia hingga di akherat nanti, karena kesempatan kita, selagi masih berada di dunia ini, na,,, kalau kesempatanan di dunia ini, hanya kita habiskan untuk hal-hal yang tiada guna dan memusuhi sesama hidup bahkan membenci…!!!

Spiritual kita itu dimana…?!
Seumur Hidup saya melanglang buana, belum pernah dengar atau menemukan spiritual yang mengajarkan untuk salin benci, salin hina, salin sikut, salin singgung, salin sindir, salin fitnah, salin dendam, salin iri dan mbel nggedes lainnya, spiritual itu, ditentunkan oleh sikon hati pribadinya, seberapa bersih hatinya, sebegitu yang di perolehnya, jadi,,, untuk apa iri…?!

Tidak ada untungnya, menggunakan hati untuk menyinggung hati sesama hidup, untuk membenci sesama hidup, untuk menyekiti sesama hidup, untuk mengfitnah sesama hidup, untuk dendam dengan sesama hidup dll, tidak ada untungnya sama sekali, juga tidak menjadikan kita kaya raya, tambah hebat dan tambah sakti. Coba saya renungkan dengan Nalar Logikamu… ada orang bisa kaya raya dan sakti mandraguna dengan hal tersebut…?! ada ada justru banyak musuhnya… Dalam hal laku, jangan bersembunyi dibalik kata; “Tidak selembar daunpun yang jatuh kebumi, tanpa kehendaknya” kita bisa celaka dunia akherat dan anak keturunan kita akan ikut menanggungnya, sebab itu bukan hanya kata-kata pengertian yang cukup hanya dengan di pahami, melainkan Tututan Firman Tuhan, yang harus kita buktinya dengan benar dan nyata, seperti halnya Dua Kalimah Syahadat, kalau syahadat tauhidnya, okelah, tapi,,, bagaimana dengan syahadat rosulmu…?! Sebaiknya kita merenungkan ini dengan sadar. Bukan dengan ego…

Kalau didalam Sabda Dawuhnya Romo, baik di buku maupun di rekaman, selama saya mempelajarinya, tidak ada satupun dawuh yang mengajarkan untuk salin benci, salin hina, salin sikut, salin singgung, salin sindir, salin fitnah, salin dendam, salin iri dan mbel nggedes lainnya, spiritual itu, ditentunkan oleh laku pribadinya, seberapa murni lakunya, sebegitu yang di perolehnya, jadi,,, untuk apa iri…?! Sebaiknya kita merenungkan ini dengan sadar. Bukan dengan ego…

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Mari BELAJAR ILMU RASA Bersama saya Wong Edan Bagu



Mari BELAJAR ILMU RASA Bersama saya Wong Edan Bagu:
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling).
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Pangandaran. Hari Senin. Tanggal 08 Mei 2017

Saya sering Baca Artikel Tulisan Pak WEB, yang berbicara soal Rasa, tapi saya kurang nggeh, bahkan tidak mudeng alias tidak ngerti dan paham apa yang pak WEB bicarakan itu.
Rasa itu apa sih pak WEB..?

Rasa itu Hidup.

Rasa kok Hidup, buktinya apa kalau Rasa itu Hidup..?
Buktinya, kamu selagi hidup, kalau di cubit bisa merasakan sakit, bisa teriak aduh sakit, coba kalau mayat yang di cubit, bisa seperti itu….?

Hidup itu apa sih..?
Hidup itu yang menguasai diriku juga dirimu, yang bertenggung jawab atas diriku juga dirimu, yang bisa menjamin lahir bathinku juga lahir bathinmu dan dunia akheratku juga dunia akheratmu. Karena itu, wajib dan harus di ketahui.

Siapa yang mewajibkan dan mengharuskan?
Kepentingan dan keperluan serta kebutuhan dan masalah diriku dan dirimu.

Karena Hiduplah, yang mempunyai apa yang kita pentingkan, apa yang kita perlukan dan apa yang kita butuhkan serta yang kita permasalahkan. Jika kita tidak mempunyai dan memiliki kepentingan dan keperluan serta kebutuhan dan masalah. Tidak ada yang mewajibkan dan mengharuskan.

Sekarang pertanya’annya di balik. Apa kita punya dan memiliki.
Kepentingan…?
Keperluan…?
Kebutuhan…?
Masalah…?

Kalau punya dan memiliki. Maka wajib dan harus…!!!
Jika tidak…. (Lembur tanpo dadi) Bersiaplah untuk hancur dan sakit.

“Aja pisan-pisan ngaku wong Urip. Lamon tan bisa ngrasak’aken Uripe. Sebab, lamon ora bisa ngrasak’ake Uripe. Kuwi dudu wong Urip. Ananging mayit Urip”

Begitulah sebuah kalimat yang sering saya gembar gemborkan di facebook dan blogger, google serta wordpress saya di internet. Sebagai wujud kepedulian saya, dalam laku spiritual salin Asah Asih Asuh antar sesama Hidup. Sebanarnya ini bukan ilmu jawa atau kejawen atau wejangan Syekh Siti Jenar dan bla… bla… bla… lainya.

Malainkan peringatan dari Hidup untuk setiap Roh-Roh yang menempati seluruh wujud manusia tanpa terkecuali, kususnya bagi yang telah lupa Jatidiri asal usulnya. Seperti halnya Al-qitab jabbur, kitab jabur itu bukan ilmunya para rasul atau nabi-nabi dan kalangan ningrat saja, melainkan kabar kusus bagi siapa saja yang ingin Mengenal Dzat Maha Suci Hidup Dengak bukti nyata dan benar.

Para Kadhang kinasihku… Sesuai Bukti yang sudah saya Butikan di TKP buktinya. Tidak ada yang melebihi Hidup. Kecuali Dzat Maha Suci. Apapun itu nama, istilah dan sebutannya. Secantik dan setampan apapun, sehebat apapun, sesakti apapun, sekuat apapun, sekaya apapun, secerdas apapun, sekuasa apapun dan se bla… bla… bla… apapun. Jika di tinggal Hidupnya. Akan jadi bangkai mayat yang amat sangat menjijik-kan jika tidak segera di kubur. Itu pasti… tidak bisa di tawar apa lagi di tolak.

“Galilah Rasa yang meliputi seluruh tubuhmu. Karena di dalam tubuhmu. Ada firman Tuhan. Yang dapat menjamin hidup mati dan lahir bathin serta dunia akheratmu”

Itu juga sebuah kalimat yang sering saya gembar gemborkan di facebook dan blogger, google serta wordpress saya di internet. Sebagai wujud kepedulian saya dalam laku spiritual salin Asah Asih Asuh antar sesama Hidup.

“Galilah Rasa yang meliputi seluruh tubuhmu. Karena di dalam tubuhmu. Ada firman Tuhan. Yang dapat menjamin hidup mati dan lahir bathin serta dunia akheratmu” ini, sebenarnya juga bukan ilmu jawa atau kejawen, melainkan peringatan dari Hidup, untuk setiap Roh-Roh yang menempati seluruh wujud manusia tanpa terkecuali, kususnya bagi yang telah lupa Jatidiri asal usulnya. Seperti halnya kitab Al-qur’an. Al-qurna itu bukan ilmunya orang islam atau wejangannya umat muslim atau tuntunan dan pedomannya orang arab. Melainkan kabar gembira bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali.

Para Kadhang kinasihku sekalian… Sesuai Bukti yang sudah saya Butikan di TKP. Intisari nya ilmu itu. Baik itu secara syare’at maupun hakekat dan bla… bla… bla… lainya. Itu adalah Rasa. Puncaknya laku/spiritual apapun. Puncaknya ajaran dan intinya wejangan itu. Adalah Rasa. Tidak ada satupun ilmu atau laku/spiritual atau wejangan dan bla… bla… bla… apapun, yang lebih tinggi melebihi Rasa. Kecuali sang empunya Rasa itu sendiri.

(Mari BELAJAR ILMU RASA Bersama saya Wong Edan Bagu).
PERTAMA;
Para Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian…
Saya punya kebiasa’an. Kalau bangun tidur pagi-pagi. Sebelum melakukan apapun, Itu minum air putih. Minimal satu gelas besar, kebiasa’an ini, sudah saya lakukan selama berpuluh tahun. Ada kepuasan dan rasa nyaman setelahnya. Karena itulah saya suka melakukannya. Kalau tidak melakukanya… rasanya tidak enak. Tidak nyaman sampai-sampai kebingungan, jika bangun tidur pagi, tidak ada air putih untuk di minum.

Kalau sudah minum, rasanya plong… lega. Dahak yang bersarang di tenggorokan selama semalam suntuk, akibat rokok yang saya hisap di sepanjang harinya. Di buat ehem. Begitu saja langsung keluar, badan terasa fress, seperti habis jamu dan pijat urut. Dan saya menyakini, efek dari kebiasa’an minum air putih secara rutin tiap bangun tidur pagi inilah. Yang membuat saya tidak pernah di hinggapi penyaki-penyakit aneh, jarang sakit, bahkan nyaris tidak pernah, misalkan sakit, paling sakitnya, sakit kepala karena tidurnya tidak teratur, atau sakit perut karena makan, makanan yang tidak cocok dengan usus perut saya. Selain itu, teman-teman yang seusia dengan saya, mengatakan, katanya sih… saya nampak jauh lebih awet muda di bandingkan dengan mereka… He he he . . . Edan Tenan.

Di internet saya sering gembar gembor mengatakan, sebagai wujud kepedulian saya antar sesama hidup. Dengan sebuat kata… jika ingin selamat dari pengadilan karma. Jangan sekali-kali menyukai apapun itu, hingga mencapai kadar 100 % jika terpaksa harus menyukainnya, sukailah dengan kadar maksimalkan 99 % saja. Sisakan 1 % nya untuk Tuhan-mu. Agar supaya, jika nanti kamu teradili oleh karma yang kamu beri kadar 99 % itu, kamu punya tabungan 1 %, untuk Tuhan, agar sudi menolongmu. Syukur-syukur bisa sebaliknya. Karena… apapun yang di rahasiakan oleh Tuhan tentang hari esok kita, adalah akibat dari sebab yang kita buat di hari ini.

Nah… karena saya sedang laku murni menggali Rasa, untuk menuju suci. Sejak itu, kebiasa’an ini saya robah. Kebiasa’an yang saya sukai karena efek baiknya itu, saya robah, yang biasanya bangun tidur pagi minum air putih minimal satu gelas besar, saya tahan… bangun dari tidur, yang biasanya sejak awal membukan mata… pikirannya conex ke air, saya alihkan kepada Dzat Maha Suci…

Tangan yang biasanya dengan lincahnya dan otomatis maraih gelas isi air, saya alihkan untuk Patrap Palungguh 3x. Kunci 7x. Paweling 3x. Mijil Sowan 1x “lalu” semedi… didalam semedi, semua dan segala Kepentingan. Keperluan. Kebutuhan. Masalah, saya serahkan atau saya pasrahkan kepada Dzat Maha Suci, “lalu” apapun keputusan Dzat Maha Suci, saya terima “lalu” saya persilahkan Dzat Maha Suci, mengabil alih semua dan segala Kepentingan. Keperluan. Kebutuhan. Masalah saya “lalu” Perlahan saya mengingat Dzat Maha Suci, memikirkan Dzat Maha Suci, lalu membelainya, mendekapnya, merasakannya… seusainya, “lalu” perlahan saya bangkit dari duduk bersilah semedi, meraih gelas isi air putih dan saya minum sambil Memuji-Memuja Dzat Maha Suci. Mensyukuri atas segala dan semuanya akan diri lahir bathin dan jiwa raga saya ini. Bahwasanya adalah karena Dzat Maha Suci semata…

Dengan begitu dan seperti itulah,,, saya benar-benar dapat bisa merasakan selalu bersama Dzat Maha Suci. Sungguh luar biasa Para Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian… Rasanya jauh lebih nikmat, jauh lebih plong dan jauh lebih menyehatkan, di bandingkan sebelum saya melakukan hal ini. “lalu” Pengalaman ini, saya sebar, saya bagikan dengan semua dan segalanya tanpa terkecuali dengan penuh Cinta Kasih Sayang… Wow…. Sempurna. Sudah nikmat, karena tenggorokan kering yang tersirami air putih di pagi hari, Minumnya di temani bersama Dzat Maha Suci lagi… sambil di belai, di pangku dan di timan-timang oleh Tuhan yang Maha Segalanya itu… katanya berbisik di telinga saya… ( Sayang… kamu ga usah ragu dan bimbang apa lagi takut ya sayang,,, AKU akan selalu bersamamu dalam sikon seperti apapun dan dimanapun) Wahahahahahhaha…. Uedan Tenan Pokok’e…

KEDUA;
Para Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian… saya pecandu rokok. Penikmat rokok. Hampir di setiap kegiatan saya sehari-hari. Selalu rokok dan rokok, sampai-sampai, yang namanya rokok itu, seperti istri kedua saya, tidak lengkap rasanya jika tidak di temani rokok, apa lagi,,, kalau habis makan, makanya nasi, sayurnya, sayur asem atau sayur bening, sambel terasi, lauknya ikan peda atau ikan asin di goreng setengah matang. Wow… luar biasa nikmatnya, itulah menu favorit saya. Habis makan… duduk santai sambil medang teh hangat, rokoknya gudang garam surya 16… huuuuu…. jan edan tenan pokoknya.

Tapi… walaupun saya makan menu favorit saya itu, jika setelah makan tidak merokok, waduh… tunggu dulu,,, lebih baik puasa saja lah. Mending tidak makan sekalian, asalkan bisa merokok. Soalnya, jika habis makan tidak merokok… Ma’af. Rasanya seperti habis Be’ol tidak wawik. Mual dan muntah… ini menandakan kalau saya benar-benar penikmat rokok atau pecandu rokok. Apa lagi ngisepnya sambil nongkrong di wc… lubang di atas nyedot, lubang di bawah ngeden…. wahahahhahahaha…. Edan Tenan.

Karena saya sedang laku murni menggali Rasa, untuk menuju suci, sejak itulah kebiasa’an ini saya robah. Sa’at makan, seperti biasa rokok sudah saya siapkan di samping menu makanan. Setelah makan, pikiran dan tangan yang biasanya otomatis conex ke rokok, saya alihkan Patrap Palungguh 3x… saya diam sejenak “lalu” memuji dan memuja Dzat Maha Suci… Setelah saya temukan Dzat Maha Suci dan Dzat Maha Suci saya rasakan ada bersama saya “lalu” saya ucapkan syukur atas diri saya ini, segalanya adalah karena Dzat Maha Suci semata. Terima Kasih Tuhan… (Matur Nuwun Romo) Terima kasih Tuhan (Matur nuwun Romo) Semakin tulus saya ucapkab Terima kasih-Matur nuwun itu, Semakin Erat dan Mesrahnya Dzat Maha Suci Memeluk dan membelai saya. Disa’at Dzat Maha Suci Memeluk erat saya dengan kemesrahannya itulah, saya meraih Rokok dan menyalakannya “lalu” mengisapnya penuh dengan kesadaran. Dan klimaxlah laku murni saya pada sa’at itu…

Rasanya jauh lebih nikmat, jauh lebih wow… sungguh amat sangat luar-luar biasa. Dunia ini hanya milik saya dengan Dzat Maha Suci saja, seakan-akan yang lain Cuma numpang doang, itupun Cuma sebentar dengan kebuta’an panca inderanya. Bukan seakan-akan. Nyata-nyata benar loh… BUKTIKAN saja. Saya Wong Edan Bagu bisa… saudara-saudari Khususnya Para Kadhang kinasih saya. Pasti jauh lebih bisa… He he he . . . Edan Tenan.

Kedua contoh belajar menggali Rasa yang sudah saya ungkap diatas. Jika di praktekan, awalnya akan terasa ganjil, canggung dan kaku, karena kita sudah lama terdogma dengan kebiasa’an masa lalu, tapi itu hanya akan terjadi sekali atau dua kali saja, tiga kali dan selanjutkan sudah tidak akan lagi. Tapi, secanggung dan seganjil serta sekaku apapun, jika akan mendapatkan Ilmu Rasa yang seimbang bahkan lebih dari cukup jika harus di bandingkan dengan perjuangan usahanya untuk mau belajar.

Pamrih saya… dengan tertulis dan ter postingnya artikel ini, berharap. Anak-anak didik saya bisa lakukan cara ini. Kususnya yang sedang Berada dekat di samping saya. Cara ini, cara yang sedang saya gunakan dan saya jalankan selama ini. Dengan ini saya dapatkan kemudahan tanpa hambatan, tidak ribet dan tidak banyak neko-neko itu dan ini. Cukup dengan Tata. Titi. Surti ati – ati. Tetep. Idep. Madep Mantep maring Gustine, bukan lainya… INGAT… Maring GUSTINE. Pada TUHANNYA.

Dengan Menggali Rasa… kita akan mengerti Wahyu Panca Ghaib dan Dengan Menggali Rasa… kita akan paham Wahyu Panca Laku. Dengan Mengerti Wahyu Panca Ghaib dan paham Wahyu Panca Laku, kita akan mengenal Sedulur Papat Kalima Pancer kita, dengan mengenal sedulur papat kalima pancer kita, kita akan mengenal Hidup kita, yang merupakan guru sejati kita, yang bisa menjamin jiwa raga dan lahir bathin serta dunia akherat kita,, dan dengan mengenal Hidup/Guru sejati. Kita akan mengetahui Dzat Maha Suci Hidup Hyang Maha Segala-Nya.

Rasa itu Hidup, Hidup itu rasa, krasa, rumangsa, ngrasakaken, urip (Sedulur Papat Kalima Pancer) dimana ada Rasa, di situ ada Hidup, dimana ada Hidup, disitu ada kehidupan, dimana ada kehidupan. Maka disitu pula ada Dzat Maha Suci Hidup. Maka,,, ketahuilah… agar tak sia-sia dan percuma, sehingganya apapun yang kita perbuat bisa dan sesuai dengan yang di Firmankan oleh Hyang Dzat Maha Suci Hidup. Semoga Pengalaman Pribadi saya ini, bisa bermanfaat bagi Para Kadhang kinasihku sekalian. Salam Rahayu selalu dariku.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com