KUMPULAN KATA MOTIVASI KEHIDUPAN

Berhentilah Jadi Gelas.

oleh Wong Edan BaGu pada 30 Juni 2011 jam 2:08

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnyabelakangan ini selalu tampak murung.”Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah didunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya.

“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuktersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sangmurid muda.

Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”

Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaangurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kataSang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.” Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum airasin.”Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.”Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masihmeringis. Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.”

 

Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekattempat mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.”Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludahdi hadapan gurunya, begitu pikirnya.”Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru sambilmencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggirdanau. Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, danmembawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingindan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanyakepadanya, “Bagaimana rasanya?””Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya denganpunggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumberair di atas sana.

 

Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yangtersisa di mulutnya.”Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?””Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air danmeminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya,membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.”Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. “Segala masalahdalam hidup itu seperti segenggam garam.

 

Tidak kurang, tidak lebih.Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang haruskau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuaiuntuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurangdan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pundemikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yangbebas dari penderitaan dan masalah.”Si murid terdiam, mendengarkan.”Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangattergantung dari besarnya ‘qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itujadi sebesar danau.”

 

Ulat Kecil Yang Berani:

oleh Wong Edan BaGu pada 29 Juni 2011 jam 9:46

Dikisahkan, ada seekor ulat kecil sejak lahir menetap di daerah yang tidak cukup air, sehingga sepanjang hidupnya, dia selalu kekurangan makanan. Di dalam hati kecilnya ada keinginan untuk pindah dari rumah lamanya demi mencari kehidupan dan lingkungan yang baru.

 

Tapi dari hari ke hari dia tidak juga memilikikeberanian untuk melaksanakan niatnya. Hingga suatu hari, karena kondisi alam yang semakin tidak bersahabat, si ulat terpaksa membulatkan tekat memberanikan diri keluar dari rumahnya, mulai merayap ke depan tanpa berpaling lagi ke belakang. Setelah berjalan agak jauh, dia mulai merasa bimbang,katanya dalam hati “Jika aku sekarang berbalik kembali ke rumah lama rasanya masih keburu, mumpung aku belum berjalan terlalu jauh. Karena kalau aku berjalan lebih jauh lagi, jangan-jangan jalan pulang pun takkan kutemukan lagi, mungkin aku akhirnya aku tersesat dan… entah bagaimana nasibku nanti!

 

Ketika si ulat sedang maju mundur penuh kebimbangan dan pertimbangan, tiba-tiba ada sebuah suara menyapa di dekatnya “Halo ulat kecil! Apa kabar? Aku adalah kepik. Senang sekali melihatmu keluar dari rumah lamamu. Aku tahu, engkau tentu bosan kekurangan makan karena musim dan cuara yang tidak baik terus menerus. Kepergianmu tentu untuk mencari kehidupan yang lebih baik, kan?”.

 

Si ulat pun bertanya kepada si kepik yang sok tau, “Benar kepik. Aku memutuskan pergi dari sarangku untuk kehidupan yang lebih baik. Apakah engkau tau, apa yang ada di depan sana?” ;

“Oh…Akutahu, jalan ke depan yang akan kau lalui, walaupun tidak terlalu jauh tetapi terjal dan berliku, dan lebih jauh di sana ada sebuah goa yang gelap yang harus kau lalui, tetapi setelah kamu mampu melewati kegelapan, aku beritahu, pintu goa sebelah sana terbentang sebuah tempat yang terang, indah dan sangat subur. Kamu pasti menyukainya. Di sana

kau pasti bisa hidup dengan baik seperti yang kamu inginkan”. Si kepik dengan bersemangat memberi dorongan kepada ulat yang tampak ragu dan ketakutan.

“Kepik, apakah tidak ada jalan pintas untuk sampai ke sana?” Tanya ulat. “Tidak sobat. Jika kamu ingin hidup lebih baik dari hari ini, kamu harus melewati semua tantangan itu. Nasehatku, tetaplah berjalan langkah demilangkah, fokuskan pada tujuanmu dan tetaplah berjalan.Niscaya kamu akan tiba di sana dengan selamat. Selamat jalan dan selamat berjuang sobat!” sambil berteriak penuh semangat, si kepik pun meninggalkan ulat.

 

Pembaca yang budiman,

Memang benar…. kemenangan , kesuksesan adalah milik mereka yang secara sadar, tau apa yang menjadi keinginannya sekaligus siap menghadapi rintangan apapun yang menghadang serta mau memperjuangkannya habis habisan melalui cara2 yang benar sampai mencapai tujuan akhir yaitu kesuksesan. Pengertian sukses secara sederhana demikian, telah di praktekan oleh manusia sukses berabad abad lampau sampai saat ini sesuai dengan bidangnya masing2. Maka …untuk meraih kesuksesan yang maksimal, kita tidak memerlukan teori teori kosong yang rumit. Cukup tau akan nilai yang akan di capai dan take action! Ambil tindakan!

Salam Sukses Luar Biasa!!!

 

Anak Ayam & Rajawali.

oleh Wong Edan BaGu pada 29 Juni 2011 jam 9:47

Alkisah adalah sebuah telur rajawali yang jatuh di kandang ayam.  Telur rajawali itu lalu dierami oleh induk ayam. Beberapa minggu kemudian menetaslah telur itu dan lahirlah seekor anak rajawali.

 

Anak rajawali pun belajar hidup bersama anak-anak ayam yang lain. Karena tidak menyadari bahwa dirinya adalah seekor rajawali, sang rajawali pun belajar mengkais-kais tanah untuk mencari cacing makanan kegemarannya.  Ia tidak pernah belajar untuk terbang karena induk dan teman-temannya tidak melatihnya untuk terbang. Ia pun mulai berbicara cip?..cip?. memanggil induknya

 

Suatu hari lewatlah seekor burung rajawali di atas kandang ayam itu. Meliuk ke kiri, ke kanan sambil sesekali melempar pandangannya ke kandang ayam. Anak rajawali pun melihat burung yang paling perkasa itu dan lalu bertanya pada induk ayamnya, ” Bu, burung apa itu? ” “Oh itu burung rajawali”, jawah ibunya  “Bisakah aku terbang seperti dia Bu?” tanya si anak rajawali lagi “Ha…ha?.ha, kamu, ibu, dan adik-adikmu yang lain semuanya sama, tidak ada yang bisa terbang. Sudah takdir kita untuk tidak dapat terbang. Hidup kita ya hanya bisa mengkais-kais tanah mencari cacing. Sudah cepat masuk ke dalam, sudah mulai gelap, sebentar lagi pandangan kita kabur”

 

Andai saja si anak rajawali tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh dunianya?..  Bagaimana dengan Anda?

Cerita diambil dari cerita anonymous. Dari cerita ini diharapkan anda dapat menyadari potensi anda yang sebenarnya dan lalu mulai membangun motivasi anda bangkit dari seekor anak ayam menjadi seekor rajawali

 

Sifat Kepiting.

oleh Wong Edan BaGu pada 28 Juni 2011 jam 23:03

Mungkin banyak yang tahu wujud kepiting, tapi tidak banyak yang tahu sifat kepiting. Semoga Anda tidak memiliki sifat kepiting yang dengki.

 

Di Filipina, masyarakat pedesaan gemar sekali menangkap dan memakan kepiting sawah. Kepiting itu ukurannya kecil namun rasanya cukup lezat. Kepiting-kepiting itu dengan mudah ditangkap di malam hari, lalu dimasukkan ke dalam baskom/wadah, tanpa diikat.

 

Keesokkan harinya, kepiting-kepiting ini akan direbus dan lalu disantap untuk lauk selama beberapa hari. Yang paling menarik dari kebiasaan ini, kepiting-kepiting itu akan selalu berusaha untuk keluar dari baskom, sekuat tenaga mereka, dengan menggunakan capit-capitnya yang kuat. Namun seorang penangkap kepiting yang handal selalu tenang meskipun hasil buruannya selalu berusaha meloloskan diri.

 

Resepnya hanya satu, yaitu si pemburu tahu betul sifat si kepiting.

Bila ada seekor kepiting yang hampir meloloskan diri keluar dari baskom, teman-temannya pasti akan menariknya lagi kembali ke dasar. Jika ada lagi yang naik dengan cepat ke mulut baskom, lagi-lagi temannya akan menariknya turun… dan begitu seterusnya sampai akhirnya tidak ada yang berhasil keluar. Keesokan harinya sang pemburu tinggal merebus mereka semua dan matilah sekawanan kepiting yang dengki itu.

 

Begitu pula dalam kehidupan ini…

tanpa sadar kita juga terkadang menjadi seperti kepiting-kepiting itu. Yang seharusnya bergembira jika teman atau saudara kita mengalami kesuksesan kita malahan mencurigai, jangan-jangan kesuksesan itu diraih dengan jalan yang nggak bener. Apalagi di dalam bisnis atau hal lain yang mengandung unsur kompetisi, sifat iri, dengki, atau munafik akan semakin nyata dan kalau tidak segera kita sadari tanpa sadar kita sudah membunuh diri kita sendiri.

Kesuksesan akan datang kalau kita bisa menyadari bahwa di dalam bisnis atau persaingan yang penting bukan siapa yang menang, namun terlebih penting dari itu seberapa jauh kita bisa mengembangkan diri kita seutuhnya. Jika kita berkembang, kita mungkin bisa menang atau bisa juga kalah dalam suatu persaingan, namun yang pasti kita menang dalam kehidupan ini.

 

Pertanda seseorang adalah ‘kepiting’:

1. Selalu mengingat kesalahan pihak luar (bisa orang lain atau situasi) yang sudah lampau dan menjadikannya suatu prinsip/pedoman dalam bertindak

2. Banyak mengkritik tapi tidak ada perubahan

3. Hobi membicarakan kelemahan orang lain tapi tidak mengetahui kelemahan dirinya sendiri sehingga ia hanya sibuk menarik kepiting-kepiting yang akan keluar dari baskom dan melupakan usaha pelolosan dirinya sendiri.

…Seharusnya kepiting-kepiting itu tolong-menolong keluar dari baskom, namun yach… dibutuhkan jiwa yang besar untuk melakukannya…

 

Tanpa sadari sebetulnya banyak kepiting-kepiting disekeliling kita yang secara tidak kita sadari telah menjadi “dream stealer” (pencuri mimpi) anda secara perlahan. Coba renungkan berapa waktu yang Anda pakai untuk memikirkan cara-cara menjadi pemenang. Dalam kehidupan sosial, bisnis, sekolah, atau agama. Dan gantilah waktu itu untuk memikirkan cara-cara pengembangan diri Anda menjadi pribadi yang sehat dan sukses.

 

Semut dan Lalat….

oleh Wong Edan BaGu pada 28 Juni 2011 jam 23:01

Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta diatas sebuah tong sampah didepan sebuah rumah. Suatu ketikaanak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah kemudian nampak seekor lalat bergegasterbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat.”Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar” katanya.

 

Setelah kenyang si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah terutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yangmelambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.

 

Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan dan esok paginya Nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai.

 

Tak jauh dari tempat itu nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untukmencari makan dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.

 

Dalam perjalanan seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua “Ada apa dengan lalat ini Pak?, mengapa dia sekarat?”.

 

“Oh.. itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini, sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu kaca itu namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita” Semut kecil itu Nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi “Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? kenapa tidak berhasil?”.

 

Masih sambil berjalan dan memanggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab “Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama”. Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya namun kali ini dengan mimik & nada lebih serius “Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama namun mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini”.

 

“Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda”.

 

 

Belajar Kehidupan dari Sebuah Pohon Tua.

oleh Wong Edan BaGu pada 28 Juni 2011 jam 4:21

Hidup ini adalah sebuah proses. Hadapilah dengan TEGAR!

Alkisah ada seorang anak yang baru lulus dari sekolah hendak pergi ke kota. Tujuan utamanya untuk mencari pekerjaan. Dan tentu saja merubah nasib. Dia hanya seorang anak petani biasa. Setiap hari dia selalu terbiasa dengan hidup yang sangat sederhana. Orang tuanya sudah terlalu tua untuk diandalkan.

 

Akhirnya menjelang kepergiannya ke kota. Dia pun bertemu dengan bapaknya untuk meminta nasehat. ”Bapak, besok subuh anakmu ini mau berangkat mencari kerja ke kota. Kiranya bapak mengizinkan aku untuk pergi”. Bapak itu pun berkata,” Anakku, bapak tidak bisa membekalimu apa-apa? Tapi sebelum engkau pergi. Bapak mau menunjukkan sesuatu kepada kamu.” Si anak pun melihat bapaknya dengan penuh tanda tanya. ”Apakah itu, Bapak?”. Si Bapak tidak menjawab. Dia tersenyum dan berkata,”Mari ikut aku?”. Lalu dia pun berjalan. Diikuti oleh anaknya dari belakang dengan penuh tanda tanya.

 

Ternyata mereka pergi ke belakang halaman rumah. Disitu ada sebuah pohon tua yang sangat besar. Umurnya mungkin sudah ratusan tahun. Mereka pun sampai. Dan berdiri persis di depan pohon tua tersebut. Si bapakpun berkata,” Anakku coba kau perhatikan pohon tua ini?”. Si anak pun mulai memperhatikan pohon tua itu.

 

Yang bisa dilihatnya hanya sebuah pohon tua tidak mempunyai arti. Batangnya pun sangat sulit dipeluk dengan mengandalkan seorang diri. Butuh tiga sampai lima orang. Pohon ini pun tidak tahu termasuk jenis tanaman apa? Yang dia tahu pohon ini sudah ada sejak dia masih kecil. Bisa jadi sebelum dia lahir. ” Bapak, aku tidak melihat yang istimewa dari pohon ini”. Jawab si anak. Si bapak pun secara perlahan-lahan mulai mendekati pohon itu lebih dekat lagi. Dan tangannya pun menyentuh akar pohon tersebut. Lalu dia pun berkata,” Pohon itu begitu kokoh berdiri sampai dengan sekarang. Padahal kita tidak pernah merawatnya. Diapun tumbuh secara alamiah. Ketika hujan dia pun menjadi basah. Kemaraupun pun dia menjadi kekeringan. Tapi lewat proses kehujanan dan kekeringan membuat dia menjadi kokoh dan kuat.”

 

Si bapak memandang wajah anaknya dengan penuh arti. Sambil melanjutkan perkataannya,” Setiap kali kamu menghadapi persoalan ketika kamu di kota. Ingatlah pohon ini? Dia bisa melewati semuanya dengan baik. Walaupun kamu mengalami persoalan besar sekalipun. Itu semua menjadikan kamu lebih kuat dan tegar. Tidak terhempas oleh angin yang besar. Andalkan Sang Pencipta untuk membantu hidupmu. Bila engkau hanya mengandalkan dirimu sendiri dan orang lain itu hanya bersifat sementara. Kamu lebih banyak kecewa. Tapi bila engkau mengandalkan Sang Pencipta kamu tidak pernah kecewa.” Si bapak pun mengakhiri percakapan dengan si anaknya. Si anakpun mulai mengerti. Bahwa di kota nanti dia harus siap menghadapi setiap kesulitan. Dan hanya mengandalkan Sang Pencipta dia pasti berhasil meraih impiannya.

 

Pembaca yang budiman

Dalam kehidupan kita zaman sekarang ini. Kita selalu teransang untuk mencapai kesuksesan secara cepat. Istilah kerennya secara instan. Tanpa mau bersusah payah. Padahal kita semua tahu bahwa ada satu hukum alam yang tidak mungkin kita hindari yaitu hukum proses. Coba ingat ketika kita masih bayi. Kita pun mulai dari belajar merangkak. Lewat proses jatuh bangun beberapa kali. Mungkin bisa juga ratusan kali. Kita baru bisa belajar berdiri. Setelah kedua kaki kita kokoh dan kuat. Barulah kita mulai melangkah. Mulai dari satu, dua, tiga sampai proses melangkah lancar. Barulah kita mulai bisa berjalan. Setelah kita lancar berjalan, maka kita berlari, memanjat, melompat dan semua aktivitas lainnya yang bisa kita lakukan. Apakah semuanya secara instan? Jawabnya pasti. TIDAK!. Semuanya lewat sebuah PROSES perjuangan.

 

Pertanyaan saya, bagaimana supaya kita bisa melewati proses kehidupan ini secara kuat dan kokoh? Tentu saja kita harus siap menghadapi setiap kesulitan yang datang. Bukan menghindarinya. Lihat saja batu karang yang keras. Bisa tembus lewat proses tetesan air secara terus menerus. Dengan diuji membuat mental kita menjadi kuat. Disinilah timbul kekuatan mental kita seperti keberanian, keuletan, kesetiaan, dll. Dan satu lagi yang membuat kita kuat adalah kita harus mempunyai MENTOR. Orang yang siap memberikan masukan bagi setiap kemajuan kita. Mentor yang paling setia adalah orang tua kita. Merekalah pendorong buat kita lebih maju. Kita pun bisa memilih mentor, orang yang sudah mempunyai prestasi dan reputasi dibidang yang kita geluti. Tidak hanya memberikan kritikan. Tapi dia juga mampu membimbing kita menjadi sukses. Dan tak lupa sang mentor sejati adalah Sang Pencipta sendiri. Kita harus selalu mendengarkan nasehatnya. Melalui doa secara rutin. Tak lupa kita bersyukur atas permberiannya setiap hari.

 

Mari Belajar Pada Beruang.

oleh Wong Edan BaGu pada 28 Juni 2011 jam 4:20

SEEKOR beruang yang bertubuh besar sedang menunggu seharian dengan sabar di tepi sungai deras. Waktu itu memang tidak sedang musim ikan. Sejak pagi ia berdiri di sana mencoba meraih ikan yang meloncat keluar air. Namun, tak satu juga ikan yang berhasil ia tangkap.

Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya… hup… ia dapat menangkap seekor ikan kecil. Ikan yang tertangkap menjerit-jerit ketakutan. Si ikan kecil itu meratap pada sang beruang, “Wahai beruang, tolong lepaskan aku.”

 

“Mengapa,” tanya sang beruang.

“Tidakkah kau lihat, aku ini terlalu kecil, bahkan bisa lolos lewat celah-celah gigimu,” rintih sang ikan.

“Lalu kenapa?” tanya beruang lagi.

“Begini saja, tolong kembalikan aku ke sungai. Setelah beberapa bulan aku akan tumbuh menjadi ikan yang besar. Di saat itu kau bisa menangkapku dan memakanku untuk memenuhi seleramu,” kata ikan.

“Wahai ikan, kau tahu mengapa aku bisa tumbuh begitu besar?” tanya beruang.

“Mengapa?” ikan balas bertanya sambil menggeleng-geleng kepalanya.

“Karena aku tak pernah menyerah walau sekecil apa pun keberuntungan yang telah tergenggam di tangan!” jawab beruang sambil tersenyum mantap.

“Ops!” teriak sang ikan, nyaris tersedak.

 

Dalam hidup, kita diberi banyak pilihan dan kesempatan. Namun jika kita tidak mau membuka hati dan mata kita untuk melihat dan menerima kesempatan yang Tuhan berikan maka kesempatan itu akan hilang begitu saja. Dan hal ini hanya akan menciptakan penyesalan yang tiada guna di kemudian hari, saat kita harus berucap : “Ohhh….Andaikan aku tidak menyia2kan kesempatan itu dulu…?”

 

Maka bijaksanalah pada hidup, hargai setiap detil kesempatan dalam hidup kita. Di saat sulit, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan; di saat sedih, selalu ada kesempatan untuk meraih kembali kebahagiaan; di saat jatuh selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali; dan dalam kesempatan untuk meraih kembali yang terbaik untuk hidup kita.

Bila kita setia pada perkara yang kecil maka kita akan mendapat perkara yang besar. Bila kita menghargai kesempatan yang kecil, maka ia akan menjadi sebuah kesempatan yang besar.

 

 

Jadilah Orang Yang Keras Kepala!

oleh Wong Edan BaGu pada 26 Juni 2011 jam 20:45

Dua begawan Donald Trump dan Robert Kiyosaki sempat wanti-wanti, baik dalam kehidupan sehari-hari, bisnis, investasi, karya maupun bidang lainnya, kita mesti berpikir untuk menang, bukan sekedar tidak kalah. Terkait itu, saya sreg sekali dengan General Electric (GE) -perusahaan terbesar nomor dua di dunia. Berawal pada tahun 1876, mengandalkan kekuatan teknologinya, GE kemudian merambah peralatan rumah tangga, lampu listrik, finansial, mesin jet pesawat, pembangkit nuklir, dan lain-lain.

 

Lantaran seradak-seruduk di segala lahan, mulai dekade 1970-an GE menjelma menjadi raksasa gemuk yang tidak lincah dan boros. Untunglah, pada tahun 1981 GE dinahkodai figur luar biasa bernama Jack Welch. Dengan teriakan, “Fix, close, sell!” ia pun melego 200 anak perusahaannya dan mengakuisisi 1.700 perusahaan lainnya. Kriteria melego atau mengakuisisinya sederhana saja, menjadi nomor satu atau nomor dua di bidangnya. Apabila tidak, GE akan melupakan bidang tersebut. Istilah lainnya, memastikan menang, bukan sekedar tidak kalah.

 

Saat Jack masuk, nilai GE adalah US$ 14 miliar. Sewaktu ia keluar 20 tahun kemudian, nilainya meloncat setinggi US$ 130 miliar. Kalau boleh sombong, tidak ada seorang pun pemimpin bisnis di muka bumi ini yang sanggup melipatgandakan nilai seperti itu, selain dirinya. Akhir-akhir ini, GE dinilai sebesar setengah trilliun dolar dan tahun 2006 merek GE dihargai sebesar US$ 48.907 juta. Jadilah GE salah satu merek paling mahal di jagat ini. Dan ini semua berakar dari filosofi menang, bukan sekedar tidak kalah.

 

Di tanah air, sedikit-banyak Ciputra Group, Kem Chicks, dan Astra Internasional juga mengamalkan falsafah itu. Di segala medan, mereka bertarung untuk menang, bukan sekedar tidak kalah. Dan percaya atau tidak, pijakan utama untuk meraihnya adalah dengan menjadi orang yang keras kepala. Tentunya, dalam artian gigih, bukan ndableg asal-asalan. Tolong di-highlight itu. Sayangnya, selama ini Indonesia lebih dikenal sebagai bangsa yang ramah, bukan bangsa yang gigih. Kalau Jepang dan Korea, barulah disebut-sebut sebagai bangsa yang gigih.

 

Catatlah, baik Ciputra, Bob Sadino, maupun William Soerjadjaja juga pernah pailit bahkan terbelit utang. Tidak terkecuali. Setidak-tidaknya pada periode-periode tertentu. Akan tetapi, mereka sama sekali tidak kepikir untuk balik kampung. Alih-alih begitu, mereka malah terus maju. Kini, mereka adalah ikon di jalurnya masing-masing.

 

Seorang ekonom asal Bangladesh -Muhammad Yunus- akan menunjukkan kepada kita semua apa yang dimaksud dengan gigih. Obsesinya ketika itu adalah bagaimana bank-bank setempat dapat menyalurkan dan mengulurkan kredit kepada warga yang sangat miskin. Bayangkan saja, banyak di antara mereka mengharapkan pinjaman berkisar 12.000 rupiah.

 

Ide yang sangat mulia ini sempat ia sodorkan ke mana-mana, namun ternyata semua pihak cuma menggelengkan kepala. Sepintar apapun ia berargumen, tetap saja bankir dan pejabat pemerintah berdalih, “Orang melarat tidak layak dikucur kredit.” Untunglah, ia termasuk orang yang gigih. Ia tanggalkan dan tinggalkan cara pandang seekor burung. Alih-alih begitu, ia malah mengenakan cara pandang seekor cacing, di mana ia berusaha mengetahui apa yang terhampar tepat di depan mata. Dengan mengendusnya. Dengan menyentuhnya.

 

Mulanya, ia hanya menjadi semacam penjamin bagi warga yang sangat miskin. Lama-kelamaan, ia malah merintis banknya sendiri -tentu saja sesuai dengan konsep yang ia cita-citakan sedari awal. Namanya Grameen Bank. Tanpa diduga-duga, kini bank itu berhasil menangani 46.000 desa di Bangladesh melalui lebih dari 1.200 cabang. Atas jasanya yang tidak mengenal lelah tersebut, ia pun dianugerahi Nobel Perdamaian. Itulah buah dari kegigihan.

 

 

Berfokus Pada Kelebihan Diri.

oleh Wong Edan BaGu pada 26 Juni 2011 jam 20:44

“Anak-anak, coba tuliskan tiga kelebihanmu, ” kata seorang guru yang hari itu menjadi pembimbing retreat bagi anak-anak sekolah dasar.

Menit demi menit berlalu namun anak-anak itu seakan masih bingung.

Dengan setengah berakting, sang guru kemudian bersuara keras : “Ayo, tuliskan! Kalau ngga, kertasmu saya sobek lo.” Anak-anak manis itu seketika menjadi salah tingkah.

Beberapa di antara mereka, memang tampak mulai menulis. Salah satu di antara mereka menulis di atas kertas, “Kadang-kadang nurutin kata ibu. Kadang-kadang bantu ibu. Kadang-kadang nyuapin adik makan.”

Penuh rasa penasaran, sang guru bertanya kepadanya : “Kenapa tulisnya kadang-kadang? “. Dengan wajah penuh keluguan, sang bocah hanya berkata : “Emang cuma kadang-kadang, pak guru”

Ketika semua anak telah menuliskan kelebihan dirinya, sang guru kemudian melanjutkan instruksi berikutnya : “Sekarang anak-anak, coba tuliskan tiga kelemahanmu atau hal-hal yang buruk dalam dirimu.”

Seketika ruangan kelas menjadi gaduh. Anak-anak tampak bersemangat. Salah satu dari mereka angkat tangan dan bertanya : “Tiga saja, pak guru?”. “Ya, tiga saja!” jawab pak guru. Anak tadi langsung menyambung : “Pak guru, jangankan tiga, sepuluh juga bisa!”.

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari cerita sederhana itu? Saya menangkap setidaknya ada beberapa hal penting yang bisa kita pelajari. Salah satunya, kita sering tidak menyadari apa kelebihan diri kita karena lingkungan dan orang di sekitar kita jauh lebih sering mengkomunikasikan kepada kita kejelekan dan kekurangan kita.

Baru-baru ini, saya dan istri saya menyaksikan di sebuah televisi swasta pertunjukkan seni dari para penyandang cacat. Kami benar-benar terharu. Ada orang buta yang begitu piawai bermain piano atau kecapi. Pria tanpa lengan dan wanita muda yang tuli dapat menari dengan begitu indahnya. “Luar biasa, dia bisa menari dengan penuh penghayatan. Yang membuat saya heran, dia kan tuli tapi kok bisa mengikuti irama lagu dengan sangat tepat?”, kata istri saya terkagum-kagum.

Seorang pria buta yang bernyanyi dengan nada merdu sempat berkata, “Saudaraku, saya memiliki dua mata seperti Anda. Namun yang ada di depan saya hanyalah kegelapan. Ibu saya mengatakan saya bisa bernyanyi, dan ia memberi saya semangat untuk bernyanyi.”

Benarlah apa yang dikatakan Alexander Graham Bell : “Setelah satu pintu tertutup, pintu lainnya terbuka; tetapi kerap kali kita terlalu lama memandangi dan menyesali pintu yang telah tertutup sehingga kita tidak melihat pintu yang telah dibuka untuk kita.”

Fokuskan perhatian pada kelebihan kita dan bukan kelemahan kita.

 

 

Keyakinan Yang Membawa Hasil.

oleh Wong Edan BaGu pada 24 Juni 2011 jam 9:52

Untuk menggapai kesuksesan dalam suatu usaha dibutuhkan satu sikap yang sangat penting, yaitu keyakinan terhadap apa yang kita lakukan atau kita jalani. Demikian juga sebagai networker, apabila kita sendiri tidak yakin dengan perusahaan tempat kita bergabung, maka tidak seorang pun yang dapat kita yakini.

 

Sebagai contoh, apabila anda adalah seorang laki-laki, kemudian ada seorang yang berkata kepada anda bahwa anda itu adalah wanita. Tentu dengan lantang anda akan berkata saya laki-laki. Kemudian ada 10 orang yang mengatakan bahwa anda wanita, dengan tegas anda menjawab bahwa anda laki-laki. Bagaimana kalau yang mengatakan hal tersebut 100 orang bahkan 1.000 orang? Anda tidak perlu pulang ke rumah, masuk ke kamar kecil dan memeriksa apakah sebenarnya anda itu laki-laki atau wanita. Karena sudah pasti anda itu laki-laki. Demikianlah sikap yang harus anda miliki sebagai networker.

 

Situasi yang dihadapi oleh para networker dapat dianalogikan dengan situasi dimana pada suatu waktu semua orang percaya bahwa bumi adalah pusat dari tata surya dan bentuknya adalah datar. Pada saat ilmuwan Nicolas Copernicus mengatakan bahwa matahari adalah pusat dari tata surya dan Christopher Columbus berusaha meyakinkan orang bahwa bumi adalah bulat. Reaksi masyarakat pada waktu itu adalah mengatakan kedua orang ini adalah orang gila. Tapi hal ini tidak menyurutkan keyakinan mereka.

Demikian juga dengan apa yang sering kita alami, karena bisnis jaringan seperti membalikkan paradigma yang sudah ada saat ini, bahwa bisnis itu harus bermodal besar, kalau dibawah Rp100juta, tidak akan dipandang. Harus ada karyawannya, ada kantornya dan lain sebagainya. Orang masih curiga terhadap bisnis jaringan dan tidak percaya bahwa dia bisa berhasil serta mensejahterakan orang lain.

Akan sangat susah bagi anda untuk melawan arus tersebut apalagi kalau keyakinan yang anda miliki tidak besar.

Banyak sekali fasilitas yang kita miliki saat ini lahir dari suatu keyakinan besar untuk melawan arus :

Anda tidak bisa berpergian dengan nyaman dan cepat dengan pesawat terbang seandainya Wright bersaudara tidak tahan terhadap cemoohan orang mengenai logam yang berat jenisnya lebih besar dari udara dapat melayang. Anda tidak bisa berkomunikasi dengan nyaman lewat telepon seandainya Alexander Graham Bell tidak tahan terhadap cemoohan orang bahwa mana mungkin bisa mengantar suara orang lewat udara.

 

ARTI KESIBUKAN ;

oleh Wong Edan BaGu pada 26 Juni 2011 jam 20:43

Suatu hari, seorang ahli ‘Managemen Waktu’ berbicara

di depan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia

memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah

dilupakan oleh para siswanya.

 

Ketika dia berdiri dihadapan

siswanya dia berkata, “Baiklah, sekarang waktunya kuis. “Kemudian

dia mengeluarkan toples berukuran galon yg bermulut cukup

lebar, dan meletakkannya di atas meja. Lalu ia juga mengeluarkan

sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan

meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu ke dalam toples.

 

Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak

ada batu lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya,

“Apakah toples ini sudah penuh?” Semua siswanya serentak

menjawab, “Sudah!” Kemudian dia berkata, “Benarkah?” Dia lalu

meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia

memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit

mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat

tempat di antara celah-celah batu-batu itu. Lalu ia bertanya

kepada siswanya sekali lagi, “Apakah toples ini sudah penuh?”Kali

ini para siswanya hanya tertegun. “Mungkin belum!”, salah satu

dari siswanya menjawab. “Bagus!” jawabnya.

 

Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan

sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam

toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruangruang

kosong diantara kerikil dan bebatuan.

 

Sekali lagi dia

bertanya, “Apakah toples ini sudah penuh?” “Belum!” serentak para

siswanya menjawab. Sekali lagi dia berkata, “Bagus!” Lalu ia

mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam

toples, sampai toples itu terisi penuh hingga keujung atas.

 

Lalu

si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kepada para siswanya

dan bertanya, “Apakah maksud dari ilustrasi ini?” Seorang

siswanya yg antusiaslangsung menjawab, “Maksudnya,

betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih

dapat menyisipkan jadwal lain ke dalamnya!” “Bukan!”, jawab si

ahli, “Bukan itu maksudnya.

 

Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan

kita bahwa JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU

MASUKKAN,MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT

MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES TERSEBUT.”

 

Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu,

suami/ istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persahabatanmu,

kesehatanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling

berharga dalam hidupmu. Ingatlah untuk selalu meletakkan

batu-batu besar tersebut sebagai yg pertama, atau kamu tidak

akanpernah punya waktu untuk memperhatikannya.

 

Jika kamu

mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktumu, maka

kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil, kamu

tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan

berharga dalam hidupmu………^_^

 

 

Mengekspansi Pikiran ;

oleh Wong Edan BaGu pada 24 Juni 2011 jam 9:55

Berhentilah Hidup dalam Kamar Gelap, Pengap, dan Sempit!

Pikiran kita merupakan suatu alat yang benar-benar menakjubkan! Apapun yang kita inginkan untuk miliki, lakukan atau ingin jadi seperti apa kita kelak, pikiran kita dapat mewujudkannya. Saya lebih suka menyebut GAGAL ITU MUSTAHIL KETIKA ANDA PERCAYA!

 

Namun kenyataannya adalah banyak orang yang tidak menggunakan kekuatan yang dimilikinya ini. Kita sudah banyak mendengar banyak teori bahwa kita hanya menggunakan 10% dari kapasitas otak kita. Hanya 10%! Itu belum seberapa dengan munculnya penelitian terbaru yang menyatakan bahwa kita bahkan menggunakan kemampuan otak kita kurang dari 10%. Bahkan penelitian terbaru ini menyatakan bahwa kita hanya menggunakannya

 

hanya mendekati 1% saja dari seluruh kapasitas otak kita! Luar biasa!Jadi mengapa kita tidak menggunakan lebih banyak kemampuan otak dan pikiran kita? Saya percaya kita belum menggunakannya karena kita hanya tidak menyadari seberapa besar kemampuan kita. Kita memiliki semua alat yang diperlukan untuk memenuhi hampir semua tujuan yang kita tetapkan untuk diri kita saat ini. Kebanyakan orang hanya tidak mengetahuinya.

 

Saya dapat gambarkan seperti di bawah ini:

Saat ini, tepat saat ini, Anda tinggal di rumah yang sangat besar dan mewah seharga 100 milyard rupiah. Rumah tersebut memiliki 5 kamar tidur eksekutif dengan kamar mandi ber-bath tub di dalamnya, 25 kamar tidur lengkap dengan kamar mandi di dalamnya, 5 kamar mandi luar, sebuah kolam renang air panas, ruang dapur dan ruang makan, ruang senam, ruang multi media home theatre, ruang bermain anak, ruang santai keluarga, ruang home office, ruang tamu yang luas, taman di depan rumah dengan lapangan parkir yang mampu menampung lebih 50 mobil, halaman belakang rumah yang luas hingga dapat digunakan untuk pesta kebun, garasi dapat untuk 10 buah mobil dan seluruh ruangan lengkap dengan AC dan furniture yang berkelas. Percayalah, Anda memiliki semua itu dalam diri Anda!

 

Masalahnya adalah Anda tidak mengetahuinya. Karena Anda tidak mengetahuinya maka Anda hidup dalam kamar yang gelap, pengap dan sangat sempit. Saat ini jika Anda mengetahui tentang rumah Anda yang sebenarnya, bersediakah Anda akan keluar dari kamar itu dalam hitungan kurang dari 1 detik?

 

Sayangnya kebanyakan orang tidak mengetahui rumah mereka yang sebenarnya sehingga mereka hidup frustasi dalam kamar yang gelap, pengap dan sangat sempit. Mereka merasa terjebak, miskin, tidak bahagia dan lebih parah lagi bila mereka merasa bahwa Tuhan tidak adil terhadap diri mereka. Padahal sebenarnya Tuhan sudah memberikan rumah yang besar dan mewah untuk mereka namun mereka yang tidak mau meninggalkan kamar mereka kamar yang gelap, pengap dan sangat sempit.Hebat! Saat ini Anda sudah tahu rumah yang besar dan mewah dalam diri Anda! Jadi bagaimana selanjutnya?

 

Sekali Anda menyadari bahwa Anda telah memiliki POTENSI yang begitu luar biasa, tahap selanjutnya adalah menggunakan teknik yang sederhana namun sangat dahsyat untuk mendukung pikiran BAWAH SADAR Anda untuk mengubah potensi Anda menjadi KENYATAAN. Teknik pikiran ini sudah ada sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu, namun sedikit orang yang mengetahuinya dan bahkan sangat sedikit yang benar-benar menerapkan dalam kehidupannya. Bila Anda membaca atau mendengar biografi pribadi yang sukses, Anda akan segera menyadari bahwa mereka menggunakan teknik pikiran dalam praktik kehidupan mereka sehari-hari.Pikirkan saja: apakah Anda ingin menjadi milyarder, pribadi yang bertubuh langsing dan menarik, lebih percaya diri, bisnis yang sukses atau apapun juga, ANDA DAPAT MEMILIKINYA! ANDA DAPAT MERAIHNYA!

 

Terapkan saja teknik pikiran ini akan mengembalikan Anda menjadi pribadi yang full charge and full power! (seperti baterai yang baru diisi)Saat ini bila Anda menempatkan diri Anda untuk menerapkan teknik yang akan saya bahas dalam tulisan saya selanjutnya, dengan rahmat dan karunia Tuhan yang Maha Segalanya, Anda pasti tidak akan mengecewakan diri Anda sendiri.Teknik yang akan saya bahas dalam tulisan berikutnya adalah teknik “Afirmasi”. Teknik ini pasti sudah banyak Anda baca atau dengar, namun sekali lagi: APAKAH ANDA MAU UNTUK MENINGGALKAN KAMAR ANDA YANG GELAP, PENGAP DAN SANGAT SEMPIT SAAT INI?………..Salam……….Rahayu

 

 

Renungan Hidup dgn Uang Receh.

oleh Wong Edan BaGu pada 20 Juni 2011 jam 23:18

Petang itu dalam sebuah meeting yang dihadiri sejumlah top management suasana agak tegang saat salah seorang General Manager akan dicopot dari jabatannya oleh sang Bos dikarenakan beberapa kasus dan prestasi buruk sepanjang tahun. Di ruangan yang dingin itu dibahas hal-hal apa saja yang akan dilakukan untuk pembenahan operasional salah satu anak perusahaan, termasuk menentukan siapa calon penggantinya.

 

Dipastikan ada seseorang yang harus meninggalkan perusahaan tapi di sisi lain ada peluang yang akan membuat seseorang mendapatkan promosi. Di tengah-tengah rapat sang Bos bertanya kepada orang-orang kepercayaannya tentang siapa calon pengganti yang pantas. “Silahkan usulkan, sebut saja nama, malam ini juga kita harus bikin keputusan”

 

Nama demi nama disebutkan oleh peserta rapat di ruangan itu, dari beberapa nama yang muncul ke permukaan terlihat beragam reaksi dari si Bos, mulai dari nama yang tak dikenal sama sekali, ada yang agak dikenal, ada yang lupa-lupa ingat, hingga yang dikenal dengan sangat baik karena reputasinya yang baik atau sebaliknya.

 

Nampak si Bos bimbang dalam menetapkan hingga salah seorang direkturmembicarakan nama seseorang yang tadi paling banyak disebut. Kening si Bos nampak berkerut namun matanya bersinar menunjukkan ketertarikannya “Oh ya, saya ingat, dia pernah menjemput saya di bandara, kelihatannya orang ini cukup baik, bagaimana ?” Beberapa komentar mulai terucap “Saat kunjungan di lapangan, orang ini sangat dikenal baik oleh pelanggan-pelanggan kita” komentar seorang kepala divisi disusul nada positif lain mulai dari prestasinya, kepemimpinan, attitude, karakter, hingga komentar-komentar yang bersifat agak pribadi. Dan si Bos pun setuju memutuskan orang tersebut dipromosi menjadi GM dan minta dihubungi malam itu juga untuk besok pagi-pagi berangkat ke Jakarta untuk proses serah terima dengan GM yang akan digantikannya.

 

Sejenak saya tertegun menyaksikan proses pencarian calon pengganti yang juga proses promosi seseorang, sampai salah seorang direktur yang ada di dekat saya berbisik “Kamu tahu? Ini yang dinamakan mengumpulkan uang receh”, Apa maksudnya Pak?” tanya saya penasaran.. “Ya, disadari atau tidak, ada banyak hal positif yang selama ini dilakukan oleh Bernard dan hal-hal kecil yang dilakukannya membuat banyak orang disini terkesan. Sekalipun itu hal-hal kecil, ibarat uang receh yang pada saat terkumpul dan dilakukan penghitungan, ternyata nilainya sangat tinggi”

 

Dalam hidup ini anda tidak harus melakukan hal besar sekaligus, ada banyak hal-hal kecil positif yang bisa kita lakukan dan saat waktunya tiba, nilai dari kumpulan uang receh itu sungguh diluar dugaan.

 

 

Renungan Hidup dgn Uang Seratus Ribu.

oleh Wong Edan BaGu pada 20 Juni 2011 jam 23:16

Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000 apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan!

 

Betapa lamanya melayani Allah selama lima belas menit namun betapa singkatnya kalau kita melihat film.

 

Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar / teman tanpa harus berpikir panjang-panjang.

 

Betapa asyiknya apabila pertandingan bola diperpanjang waktunya ekstra namun kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa. Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-qur’an tapi betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.

 

Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun lebih senang berada di saf paling belakang ketika berada di Masjid

 

Betapa Mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata, namun alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa.

 

Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu untuk sholat 5 waktu; namun betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saatterakhir untuk event yangmenyenangkan.

 

Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang terkandung di dalam al qur’an; namun betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.

 

Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran namun betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci AlQuran.

 

Betapa setiap orang ingin masuk sorga seandainya tidak perlu untuk percaya atau berpikir,atau mengatakan apa-apa,atau berbuat apa-apa…….Smoga manfa’at. Salam Rahayu……._/\_

 

 

Hidup adalah sebuah pilihan.

oleh Wong Edan BaGu pada 17 Juni 2011 jam 0:28

Jerry adalah seorang manager restoran di Amerika. Dia

selalu dalam semangat yangbaik dan selalu punya hal

positif untuk dikatakan. Jika seseorang bertanya

kepadanya tentang apa yang sedang dia kerjakan, dia

akan selalu menjawab, ” Jika aku dapat yang lebih

baik, aku lebih suka menjadi orang kembar!”

 

 

Banyak pelayan di restorannya keluar jika Jerry pindah

kerja, sehingga mereka dapat tetap mengikutinya dari

satu restoran ke restoran yang lain. Alasan mengapa

para pelayan restoran tersebut keluar mengikuti Jerry

adalah karena sikapnya.

 

Jerry adalah seorang motivator alami. jika karyawannya

sedang mengalami hari yang buruk, dia selalu ada di

sana

, memberitahu karyawan tersebut bagaimana melihat

sisi positif dari situasi yang tengah dialamai.

 

Melihat gaya

tersebut benar-benar membuat aku

penasaran, jadi suatu hari aku temui Jerry dan

bertanya padanya, “Aku tidak mengerti! Tidak mungkin

seseorang menjadi orang yang berpikiran positif

sepanjang waktu.

 

 

Bagaimana kamu dapat melakukannya?” Jerry menjawab,

“Tiap pagi aku bangun dan berkata pada diriku, aku

punya dua pilihan hari ini. Aku dapat memilih untuk

ada di dalam suasana yang baik atau memilih dalam

suasana yang jelek. Aku selalu memilih dalam suasana

yang baik. Tiap kali sesuatu terjadi, aku dapat

memilih untuk menjadi korban atau aku belajar dari

kejadian itu. Aku selalu memilih

belajar dari hal itu. Setiap ada sesorang menyampaikan

keluhan, aku dapat memilih untuk menerima keluhan

mereka atau aku dapat mengambil sisi positifnya..

 

Aku selalu memilih sisi positifnya.”

 

“Tetapi tidak selalu semudah itu,” protesku. “Ya,

memang begitu,” kata Jerry, “Hidup adalah sebuah

pilihan. Saat kamu membuang seluruh masalah, setiap

keadaan adalah sebuah pilihan. Kamu memilih bagaimana

bereaksi terhadap semua keadaan.

Kamu memilih bagaimana orang-orang disekelilingmu

terpengaruh oleh keadaanmu.

 

Kamu memilih untuk ada dalam keadaan yang baik atau

buruk. Itu adalah pilihanmu, bagaimana kamu hidup.”

 

Beberapa tahun kemudian, aku dengar Jerry mengalami

musibah yang tak pernah terpikirkan terjadi dalam

bisnis restoran: membiarkan pintu belakang tidak

terkunci pada suatu pagi dan dirampok oleh tiga orang

bersenjata. Saat mencoba membuka brankas, tangannya

gemetaran karena gugup dan salah memutar nomor

kombinasi. Para

perampok panik dan menembaknya.

Untungnya, Jerry cepat ditemukan dan segera dibawa ke

rumah sakit.

 

 

Setelah menjalani operasi selama 18 jam dan seminggu

perawatan intensif, Jerry dapat meninggalkan rumah

sakit dengan beberapa bagian peluru masih berada di

dalam tubuhnya. Aku melihat Jerry enam bulan setelah

musibah tersebut.

 

Saat aku tanya Jerry bagaimana keadaannya, dia

menjawab, “Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih

suka menjadi orang kembar. Mau melihat bekas

luka-lukaku?” Aku menunduk untuk melihat luka-lukanya,

tetapi aku masih juga bertanya apa yang

dia pikirkan saat terjadinya perampokan.

 

“Hal pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah

bahwa aku harus mengunci pintu belakang,” jawab Jerry.

“Kemudian setelah mereka menembak dan aku

tergeletak di lantai, aku ingat bahwa aku punya dua

pilihan: aku dapat memilih untuk hidup atau mati. Aku

memilih untuk hidup.”

 

“Apakah kamu tidak takut?” tanyaku. Jerry melanjutkan,

” Para

ahli medisnya hebat. Mereka terus berkata bahwa

aku akan sembuh. Tapi saat mereka mendorongku ke ruang

gawat darurat dan melihat ekspresi wajah para dokter

dan suster aku jadi takut. Mata mereka berkata ‘Orang

ini akan mati’. Aku tahu aku harus mengambil

tindakan.”

 

“Apa yang kamu lakukan?” tanya saya. “Disana ada

suster gemuk yang bertanya padaku,” kata Jerry. “Dia

bertanya apakah aku punya alergi. ‘Ya’ jawabku..

 

Para

dokter dan suster berhenti bekerja dan mereka

menunggu jawabanku. Aku menarik nafas dalam-dalam dan

berteriak, ‘Peluru!’ Ditengah tertawa mereka aku

katakan, ‘ Aku memilih untuk hidup. Tolong aku

dioperasi sebagai orang hidup, bukan orang mati’.”

 

Jerry dapat hidup karena keahlian para dokter, tetapi

juga karena sikapnya hidupnya yang mengagumkan. Aku

belajar dari dia bahwa tiap hari kamu dapat memilih

apakah kamu akan menikmati hidupmu atau membencinya.

 

Satu hal yang benar-benar milikmu yang tidak bisa

dikontrol oleh orang lain adalah sikap hidupmu,

sehingga jika kamu bisa mengendalikannya dan segala

hal

dalam hidup akan jadi lebih mudah…………

 

Bukan Belum Punya Uang, Tapi Belum Ada Ide

oleh Wong Edan BaGu pada 17 Juni 2011 jam 0:21

Bukan Belum Punya Uang, Tapi Belum Ada Ide………..

Resep Jitu Mewujudkan Ide

Ide merupakan kunci utama untuk berhasil. Coba perhatikan sekeliling anda. Ada pena, jam tangan, baju, celana, komputer, hp. Apakah semuanya langsung ada? Tentu saja tidak. Semuanya berasal dari satu ide kecil. Wright Bersaudara ketika sedang bermain layangan. Dalam pikirannya timbul ide seandainya manusia bisa terbang. Dan ternyata bisa terwujud. Sekarang yang menjadi pertanyaan bagaimana caranya ide kita bisa muncul setiap saat?

 

Thomas Alfa Edison salah satu penemu terbesar di abad 20. Sampai sekarang mempunyai hak paten lebih dari seribu produk lebih. Salah satu kunci keberhasilan Edison bisa membuat penemuan yang begitu banyak. Cukup unik dan mudah. Setiap kali mau menemukan ide untuk memecahkan masalahnya. Biasanya Edison duduk di atas kursi dengan batu yang tertekan diantara kedua lututnya. Dan di bawah diletakkan sebuah ember besar yang berisi air.

 

Dalam keadaan tenang dan sangat relaks. Edison menanyakan kepada pikiran bawah sadarnya, masalah-masalah yang dihadapinya. Dan pada saat dia mendapatkan jawabannya. Maka secara cepat dia menuliskannya. Mengapa Edison meletakkan batu di antara kedua lututnya? Jawabannya supaya dia bisa terbangun. Begitu dia bangun maka ide tersebut langsung ditulis dan dilaksanakan. Dalam keadaan relaks pikiran sangat fokus dan begitu banyak ide yang dikeluarkan.

 

Robert Schuler dalam bukunya Tough Times Never Last, But Tough People Do! Dengan secara praktis dan sederhana mampu menguraikan mewujudkan sebuah ide.

 

Ada 4 siklus untuk mewujudkan ide:

 

1.Tahapan Sarang

Tahapan sarang merupakan saat ide timbul dalam pikiran seperti munculnya telur dan tersimpan dalam sarang burung. Beberapa orang hanya mengalami siklus pertama saja. Bagi banyak orang, keyakinan tidak pernah beranjak dari sarang. Telur yang tidak dierami akan membusuk dalam sarang. Ide hanya akan berlalu saja dalam pikiran tanpa diwujudkan.

 

2.Tahap Pengujian

Tidak ada yang tidak mengalami kesukaran untuk maju bersama setiap ide yang melintas dalam pikirannya. Ide harus diuji. Ide yang positif memunculkan pertanyaan seperti ”Apa ini sungguh-sungguh perlu?”. Bila ada kekurangan sempurnakan ide anda.

 

3.Tahap Penanaman

Yakinlah terhadap ide anda. Disini saatnya kita harus mendukung ide kita dengan kerja keras. Hadapilah semua. Pasti banyak yang menolak, mencaci maki, tidak masuk akal. Saat anda yakin. Semuanya pasti terwujud.

 

4.Tahap Hasil

Bila kita menanamnya secara benar. Maka ide itu akan menghasilkan kelimpahan bagi kita. Saatnya menuai telah tiba. Selamat mencoba menemukan ide dalam pikiran anda. Percaya dan yakinlah! Tidak ada kata gagal. Hanya belum terbiasa saja.

 

Pertanyaan:

Ide apa yang mau anda wujudkan dalam waktu dekat?

 

 

Orang Brengsek Guru Sejati.

oleh Wong Edan BaGu pada 14 Juni 2011 jam 18:50

Orang Brengsek Guru Sejati…………..

Entah apa dan di mana menariknya, Bank Indonesia amat senang mengundang saya untuk menyampaikan presentasi dengan judul Dealing With Difficult People. Yang jelas, ada ratusan staf bank sentral ini yang demikian tertarik dan tekunnya mendengar ocehan saya. Motifnya, apa lagi kalau bukan dengan niat untuk sesegera mungkin jauh dan bebas dari manusia-manusia sulit seperti keras kepala, suka menghina, menang sendiri, tidak mau kerja sama dll.

 

Di awal presentasi, hampir semua orang bernafsu sekali untuk membuat manusia sulit jadi baik. Dalam satu hal jelas, mereka yang datang menemui saya menganggap dirinya bukan manusia sulit, dan orang lain di luar sana sebagian adalah manusia sulit.

 

Namun, begitu mereka saya minta berdiskusi di antara mereka sendiri untuk memecahkan persoalan kontroversial, tidak sedikit yang memamerkan perilaku-perilaku manusia sulit. Bila saya tunjukkan perilaku mereka – seperti keras kepala, menang sendiri, dll ? Dan kemudian saya tanya apakah itu termasuk perilaku manusia sulit, sebagian dari mereka hanya tersenyum kecut.

 

Bertolak dari sinilah, maka sering saya menganjurkan untuk membersihkan kaca mata terlebih dahulu, sebelum melihat orang lain.

Dalam banyak kasus, karena kita tidak sadar dengan kotornya kaca mata maka orangpun kelihatan kotor.

Dengan kata lain, sebelum menyebut orang lain sulit, yakinlah kalau bukan Anda sendiri yang sulit. Karena Anda amat keras kepala, maka orang berbeda pendapat sedikitpun jadi sulit.

Karena Anda amat mudah tersinggung, maka orang yang tersenyum sedikit saja sudah membuat Anda jadi kesal.

 

Nah, pembicaraan mengenai manusia sulit hanya boleh dibicarakan dalam keadaan kaca mata bersih dan bening. Setelah itu, saya ingin mengajak Anda masuk ke dalam sebuah pemahaman tentang manusia sulit. Dengan meyakini bahwa setiap orang yang kita temui dalam hidup adalah guru kehidupan, maka guru terbaik kita sebenarnya adalah manusia-manusia super sulit. Terutama karena beberapa alasan.

 

Pertama, manusia super sulit sedang mengajari kita dengan menunjukkan betapa menjengkelkannya mereka. Bayangkan, ketika orang-orang ramai menyatukan pendapat, ia mau menang sendiri.Tatkala orang belajar melihat dari segi positif, ia malah mencaci dan menghina orang lain. Semakin sering kita bertemu orang-orang seperti ini, sebenarnya kita sedang semakin diingatkan untuk tidak berperilaku sejelek dan sebrengsek itu.

 

Saya berterimakasih sekali ke puteri Ibu kost saya yang amat kasar dan suka menghina dulu. Sebab, dari sana saya pernah berjanji untuk tidak mengizinkan putera-puteri saya sekasar dia kelak.

 

Sekarang, bayangan tentang anak kecil yang kasar dan suka menghina, menjadi inspirasi yang amat membantu pendidikan anak-anak di rumah. Sebab, saya pernah merasakan sendiri betapa sakit hati dan tidak enaknya dihina anak kecil.

 

Kedua, manusia super sulit adalah sparring partner dalam membuat kita jadi orang sabar. Sebagaimana sering saya ceritakan, badan dan jiwa ini seperti karet. Pertama ditarik melawan,namun begitu sering ditarik maka ia akan longgar juga. Dengan demikian, semakin sering kita dibuat panas kepala, mengurut-urut dada, atau menarik nafas panjang oleh manusia super sulit, itu berarti kita sedang

menarik karet ini (baca : tubuh dan jiwa ini) menjadi lebih longgar (sabar).

Saya pernah mengajar sekumpulan anak-anak muda yang tidak saja amat pintar, namun juga amat rajin mengkritik. Setiap di depan kelas saya diuji,dimaki bahkan kadang dihujat. Awalnya memang membuat tubuh ini susah tidur. Tetapi lama kelamaan, tubuh ini jadi kebal.

 

Seorang anggota keluarga yang mengenal latar belakang masa kecil saya, pernah heran dengan cara saya menangani hujatan-hujatan orang lain. Dan gurunya ya itu tadi, manusia-manusia pintar tukang hujat di atas.

 

Ketiga, manusia super sulit sering mendidik kita jadi pemimpin jempolan. Semakin sering dan semakin banyak kita memimpin dan dipimpin manusia sulit, ia akan menjadi Universitas Kesulitan yang mengagumkan daya kontribusinya.

 

Saya tidak mengecilkan peran sekolah bisnis, tetapi pengalaman memimpin dan dipimpin oleh manusia sulit, sudah terbukti membuat banyak sekali orang menjadi pemimpin jempolan. Rekan saya menjadi jauh lebih asertif setelah dipimpin lama oleh purnawirawan jendral yang amat keras dan diktator.

 

Keempat, disadari maupun tidak manusia sulit sedang memproduksi kita menjadi orang dewasa. Lihat saja, berhadapan dengan tukang hina tentu saja kita memaksa diri untuk tidak menghina balik. Bertemu dengan orang yang berhobi menjelekkan orang lain tentu membuat kita berefleksi, betapa tidak enaknya dihina orang lain.

 

Kelima, dengan sedikit rasa dendam yang positif, manusia super sulit sebenarnya sedang membuat kita jadi hebat. Dimasa kecil,saya termasuk orang yang dibesarkan oleh penghina-penghina saya. Sebab, hinaan mereka membuat saya lari kencang dalam belajar dan berusaha. Dan kemudian, kalau ada kesempatan saya bantu orang-orang yang menghina tadi. Dan betapa besar dan hebatnya diri ini

rasanya, kalau berhasil membantu orang yangtadinya menghina kita.

 

Terakhir dan yang paling penting, manusia super sulit sebenarnya menunjukkan jalan ke surga, serta mendoakan kita masuk surga. Pasalnya, kalau kita berhasil membalas hinaan dengan senyuman, batu dengan bunga, bau busuk dengan bau harum, bukankah kemungkinan masuk surga menjadi lebih tinggi ?.

 

 

Anda adalah Apa yang Anda Pikirkan

oleh Wong Edan BaGu pada 14 Juni 2011 jam 18:44

Dikisahkan, seorang ibu muda memiliki 2 orang putra. Sayangnya si putra bungsu mengalami pertumbuhan kemampuan berpikir yang lamban, tidak memiliki kecerdasan seperti sang kakak. Jadilah dia anak yang pemalu, rendah diri dan sering dilecehkan oleh teman2 di sekolahnya.

 

Tugas sebagai ibu merangkap tulang punggung keluarga, membuatnya kelelahan, sehingga kelambanan si bungsu pun sering menjadi sasaran kemarahan dan kejengkelannya. Kata-kata kasar, seperti: “dasar anak bodoh” dan sejenisnya seolah menjadi santapan sehari-hari buat si bungsu.

 

Ucapan sang ibu maupun ejekan dari teman-teman, meyakinkan si bungsu bahwa dirinya anak yang menyusahkan dan memalukan keluarganya. Kekecewaan terhadap diri sendiri tercermin pada kegiatan yang dilakukan dari hari ke hari. Setiap bangun pagi, saat menatap wajah sendiri dari pantulan kaca cermin, dia memulai kegiatan dengan menyapa diri yang ada di cermin sambil berucap lirih dan sedih, “Si bodoh sedang mencuci muka”, “Si bodoh mulai menyikat gigi,” “Si bodoh lagi mandi,” “Si bodoh berangkat ke sekolah,” dan seterusnya.

 

Waktu terus berjalan …

 

Diceritakan, sebagai warga negara dewasa, ada wajib militer yang harus dijalani. Maka, si putra bungsu ini pun mendaftar dan mulai mengikuti berbagai tes: tes kesehatan, tes kemampuan fisik, dan tes yang lain. Saat hari pengumuman, dia dipanggil menghadap ke dewan penguji.

 

“Ah… Aku si bodoh, bisakah lolos tes kali ini?” katanya dalam hati, sambil memasuki ruangan dengan kepala tertunduk. Sungguh tidak diduga sama sekali, hasil tesnya ternyata mendapat pujian tertinggi dari dewan penguji. “Selamat anak muda! Hasil tes Anda luar biasa!! Anda sungguh pemuda yang hebat dan berbakat.” Mendapat pujian seperti itu, dia seolah tidak mempercayai telinganya sendiri. Kata-kata dewan penguji adalah penemuan sisi baru dirinya yang tidak diketahui sebelumnya. Suara itu terus bergema di pikirannya, menumbuhkan kebanggaan, memotivasi setiap sikap dan tindakannya yang mencerminkan bahwa dirinya orang hebat dan luar biasa. Mulailah siklus hariannya berubah, “Aku, orang hebat sedang mandi,” “Si hebat mencuci muka,” “Pemuda berbakat lagi mengosok gigi,” dan seterusnya. Kepercayaan diri dan citra dirinya meningkat luar biasa.

 

Hingga20 tahun kemudian, si bungsu membuktikan dirinya sebagai salah seorang pengusaha sukses yang disegani, dihormati, dan menerima banyak penghargaan.

————————

 

Netter yang Luar Biasa!

Pola pikir dan keyakinan adalah kekuatan di belakang sistem sukses yang ada di dalam diri kita. Apapun yang kita bayangkan dan kita yakini terus menerus dalam benakkita, pada akhirnya akan terwujud dalam kenyataan. Itulah hukum pikiran universal yang berlaku.

 

Kalau kita selalu berkata: “Mana mungkin aku bisa sukses?”, “Aku sulit berhasil,” maka kecenderungan sikap mental seperti itu akan disusul oleh kenyataan berupa kegagalan. Sebaliknya kalau kita berkata pada diri sendiri, “Aku bisa sukses, “Aku mampu,” besar kemungkinan kita akan berusaha keras dengan berbagai cara sehingga kesuksesan bisa diraih persis seperti yang diyakini dan kita pikirkan.

 

Jadi tepat sekali ungkapan yang mengatakan YOU ARE WHAT YOU THINK. Anda adalah seperti apa yang Anda pikirkan! Mari, miliki citra diri yang sehat! Miliki keyakinan diri yang mantap!

Salam sukses luar biasa!!………….Rahayu

 

 

Belajar Dari Burung & Cacing……..

Bila kita sedang mengalami kesulitan hidup karena

himpitan kebutuhan materi, maka cobalah kita ingat

pada burung dan cacing.

 

Kita lihat burung tiap pagi keluar dari sarangnya

untuk mencari makan. Tidak terbayang sebelumnya kemana

dan dimana ia harus mencari makanan yang diperlukan.

Karena itu kadangkala sore hari ia pulang dengan perut

kenyang dan bisa membawa makanan buat keluarganya,

tapi kadang makanan itu cuma cukup buat keluarganya,

sementara ia harus “puasa”.

 

Bahkan seringkali ia

pulang tanpa membawa apa-apa buat keluarganya sehingga

ia dan keluarganya harus “berpuasa”. Meskipun burung

lebih sering mengalami kekurangan makanan karena tidak

punya “kantor” yang tetap, apalagi setelah lahannya

banyak yang diserobot manusia, namun yang jelas kita

tidak pernah melihat ada burung yang berusaha untuk

bunuh diri.

 

Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba

menukik membenturkan kepalanya ke batu cadas. Kita

tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba

menenggelamkan diri ke sungai. Kita tidak pernah

melihat ada burung yang memilih meminum racun untuk

mengakhiri penderitaannya. Kita lihat burung tetap

optimis akan rizki yang dijanjikan Allah.

 

Kita lihat, walaupun kelaparan, tiap pagi ia tetap

berkicau dengan merdunya. Tampaknya burung menyadari

benar bahwa demikianlah hidup, suatu waktu berada

diatas dan dilain waktu terhempas ke bawah. Suatu

waktu kelebihan dan di lain waktu kekurangan. Suatu

waktu kekenyangan dan dilain waktu kelaparan.

 

Sekarang marilah kita lihat hewan yang lebih lemah

dari burung, yaitu cacing.

 

Kalau kita perhatikan, binatang ini seolah-olah tidak

mempunyai sarana yang layak untuk survive atau

bertahan hidup. Ia tidak mempunyai kaki, tangan,

tanduk atau bahkan mungkin ia juga tidak mempunyai

mata dan telinga. Tetapi ia adalah makhluk hidup juga

dan, sama dengan makhluk hidup lainnya, ia mempunyai

perut yang apabila tidak diisi maka ia akan mati. Tapi

kita lihat, dengan segala keterbatasannya, cacing

tidak pernah putus asa dan frustasi untuk mencari

rizki. Tidak pernah kita menyaksikan cacing yang

membentur-benturkan kepalanya ke batu.

 

Sekarang kita lihat manusia. Kalau kita bandingkan

dengan burung atau cacing, maka sarana yang dimiliki

manusia untuk mencari nafkah jauh lebih canggih.

 

Tetapi kenapa manusia yang dibekali banyak kelebihan

ini seringkali kalah dari burung atau cacing?

 

Mengapa manusia banyak yang putus asa lalu bunuh diri

menghadapi kesulitan yang dihadapi?

Padahal rasa-rasanya belum pernah kita lihat cacing

yang berusaha bunuh diri karena putus asa.

Rupa-rupanya kita perlu banyak belajar dari burung dan cacing.

 

 

Kisah Seekor Belalang………..

Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya.

 

Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain. Namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.

 

Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya, “Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk tubuh ?”.

 

Belalang itu pun menjawabnya dengan pertanyaan, “Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang

aku lakukan”.

 

Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

 

Renungan :

Kadang-kadang kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang.

 

Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan yang beruntun, perkataan teman atau pendapat tetangga, seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang

membatasi semua kelebihan kita. Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kita tanpa pernah berpikir benarkah Anda separah itu?

Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.

 

Tidakkah Anda pernah mempertanyakan kepada nurani bahwa Anda bisa “melompat lebih tinggi dan lebih jauh” kalau Anda mau menyingkirkan “kotak” itu? Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai sesuatu yang selama ini Anda anggap diluar batas kemampuan Anda?

 

Beruntung sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuan untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa yang kita alami. Karena itu teman, teruslah berusaha mencapai apapun yang Anda ingin capai. Sakit memang, lelah memang, tapi bila Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar.

 

Kehidupan Anda akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup pilihan Anda. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan untuk Anda.

 

 

BERCERMIN PADA SETITIK AIR………….

Tak selamanya kebenaran dibawa oleh banyaknya gelombang manusia

tak pasti pula kebenaran selalu hinggapi mereka yang mengaku langka coba tegakkannya

coba tanyakan pada air yang mengalir karenaNya

Dia, Yang Ciptakan Kebenaran itu sendiri…

Saat banyak manusia di sekitarku

Inginkan tuk cepat sambut pagi

Kenapa diri ini Inginkan malam agar tak cepat berlalu

Entah mengapa………

Sesekali kutemui diri ini berbeda

Saat banyak manusia di sekitarku

Inginkan agar waktu terulang kembali

Kenapa diri ini Inginkan hari tuk sambut wujudnya yang baru

Entah mengapa……….

Terkadang kutemui diri ini berbeda

Ketika penghuni Bumi

Bisikkan rendah suaranya

Mengapa jiwa ini

Lantangkan teriakannya

Ku tak tahu sebabnya

Tak jarang diri ini berlaku tak sama

Ketika penghuni Bumi

Mendongak tertawa bahagia

Mengapa jiwa ini

Tertunduk ratapi jalan hidup tak semestinya

Ku tak tahu sebabnya

Terlampau sering diri ini berlaku tak sama

Aneh,Memang tidak seharusnya terjadi

Ku sadar akan hal ini

Tapi apa kuasaku

Bukan Tuhan diriku

Tentukan apa yang seharusnya terjadi

Tak bisa kumengerti

Kuingin berlari

Kala semua orang

Nikmati langkah berjalan

Tak bisa kupahami

Kuingin berontak lawan

Kala semua orang

Patuhi apa yang mereka sebut aturan

Tak bisa kuakui…….

Kala aku masih sibuk mencari

Bagaimana bisa semua orang

Sudah temukan tentang keyakinan

Tak bisa kuresapi

Kala aku sedang berkutat dengan nurani

Bagaimana bisa semua orang

Sudah sempurnakan kesimpulan hakiki

Lelah aku bertanya

Pada diri yang haus akan jawaban

Sampai kapankah

Bermain dalam lingkar perbedaan

Apa memang ini Yang Penguasa alam kehendaki

Apa memang ini Yang Penguasa waktu ingini

Entahlah……….

Aku hanyalah sebuah pion

Sedang Dia

Yang punyai percaturan semesta

Tak sanggup ku ketahui

Aku hanyalah seorang pemain

Sedang Dia………

Yang punyai panggung fana dunia

Tapi kumengerti

Aku bagian dari setitik air

Yang paham pula kuakui

Bagian dalam milyaran arus makhlukNya

Buatku resahkan satu hal

Bisakah aku bertahan

Tegar resapi birunya lautan

Sanggupkah titik air ini melawan

Menampar angin yang menghajarnya

Angin yang terus hembuskannya

Hingga tersesat tanpa tujuan

Sanggupkah titik air ini teguh tergenang

Hiraukan mentari yang inginkannya

Mentari yang terus mencari kawan

Yang ternamakan awan

Tuhan, lelah aku mendebat diri ini

Kembalikan tanya pada diri sendiri

Tuhan, tolong dengarkan aku

Jawab segala tanyaku

Bisakah aku tetap melaju

Meski aku hanyalah setitik air

Bisakah aku terus melangkah

Lawan semua arus yang berbalik menahan

Mungkinkah setitik air

Buat mimpinya di tengah damai lautan

Meski milyaran arus gelombang

Berusaha balikkanku ke daratan

Tuhan bukankah Engkau

Yang liputi 7 langit

Tuhan bukankah Engkau

Yang kuasai 7 lautan

Satu pintaku padaMu

Yakinkan segenap diri ini

Akan apa yang sedang kujalani

Kuatkan segenap diri ini

Untuk lalui apa yang akan tersudahi

Tuhan, Ijinkanku utarakan

Apa yang sedang usik khawatirku

Sebelum benar benar kuakhiri lamunanku

Ada di manakah sebenarnya aku ini

Pada siapakah Kau berpihak

Benarkah apa yang sedang kulampaui

Adakah ridhaMu atasku

Tuhanku, Allah..

Kuucap lagi satu harapku padaMu

Di manapun aku saat ini

Pada siapapun Kau berpihak

Buatlah aku, tolong pastikan aku

Untuk terus mengalir sesuai kuasaMu

Untuk terus hidupi Bumi tulus karenaMu

Hingga nanti berakhir di sisiMu……..AMIN

 

ARTIKEL INI SAYA KUMPULKAN DARI BERBAGAI NARA SUMBER DI BEBERAPA JEJARING SOSIAL……SEMOGA BERMANFA’AT…..Salam Rahayu

2 thoughts on “KUMPULAN KATA MOTIVASI KEHIDUPAN

  1. sony irwanto mengatakan:

    ijin share ya pak……

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s