Jebakan Laku Spiritual keTuhanan:


Jebakan Laku Spiritual keTuhanan:

Oleh: Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

Djawa dwipa. Hari Jumat Pon. Tgl 29 Januari 2016

Pintu Gerbang Masuk ke Ranah Awang Uwung (Dimensi KOSONG) Sebelum ada apa-apa. Kecuali Satu Titik Tuhan. Yang pernah saya pelajari tempo dahulu, menyiratkan, Bahwa;  “Orang dapat meninggalkan keduniawian, setelah melepas ambisi duniawi. Orang dapat memasuki kebijakan, setelah melepaskan ambisi spiritual. Orang dapat manunggal/menyatu dengan diri pribadinya, setelah meniadakan ambisi keTuhanan”

Dengan itu, saya merasa di ingatkan, bahwa menjadikan tujuan spiritual sebagai ambisi, itu  dapat mengganggu. Karena “ambisi duniawi” dan “ambisi sipritual,” serta”ambisi keTuhanan,  ketiganya dapat menghambat Laku/Proses Kesempurna/an seseorang pelaku.

Sebenarnya apa yang saya dimaksud ambisi spiritual?Ini menjadi sangat menarik, karena adanya sebutan  “ambisi spiritual”, di samping “ambisi duniawi, ”diantara ambisi keTuhanan. Hal ini mengesankan adanya tiga “ambisi” yang berbeda. Seolah-olah, lepas dari ambisi duniawi, spiritual, keTuhanan. Seseorang belum tentu lepas dari suatu tipe ambisi lainnya, yang siap menjebaknya.

Ambisi dapat dilihat atau di nilai sebagai dorongan, untuk mencapai suatu hasrat, atau keinginan obsesif tertentu, dengan tujuan untuk memperoleh kepuasan. Seseorang yang dikuasai oleh ambisinya, menjadi kehilangan kendali atas dirinya,  karena setiap perilakunya, semata-mata diarahkan, untuk mencapai ambisinya semata. Orang itu berada dalam kesesatan dan kegelapan menurut saya pribadi.

Oleh karena itu, ambisi dapat menjebak seseorang untuk menjadi melekat akan dorongan sesaat, sehingga akhirnya, justru menciptakan kemerosotan pada batin/rasa seseorang.

Akhir-akhir ini. Setelah saya perhatikan, “ambisi spiritual” dimengerti secara keliru, sebagai dorongan yang mulia, terutama oleh beberapa praktisi spiritual, yang melakukannya semata-mata jenuh, akan aktivitas sehari-harinya, baik sebagai pekerja , pelajar, pengusaha ataupun ibu rumah tangga. Sebagai manusia modern, yang hidup dalam sistem kapitalisme, yang kesehariannya, disiapkan hanya untuk melayani kepentingan ekonomi, timbul rasa hampa dalam dirinya. Kehampaan tersebut, kemudian mendorong mereka, untuk berpetualang dalam berbagai aktivitas yang berbeda. Sebagian darinya kemudian memilih praktik spiritual sebagai cara pelarian tersebut.

Bukan hanya itu, ambisi spiritual, juga dapat muncul pada beberapa praktisi, yang tidak mengikuti pola di atas, namun menunjukkan cara berpikir, sebagai contoh, seperti berikut ini:

  1. Dengan mencapai tingkat pemahaman spiritual tertentu, saya akan meraih kekuatan gaib tertentu, menjadi manusia super yang berada di atas semua manusia.

Ketika seseorang berpikir demikian, maka ia dikuasai oleh hasrat akan kekuasaan atas orang lain dan segala hal. Ia dijangkiti oleh ambisi, untuk berkuasa melalui kekuatan supernya. Jika kemudian ia mencapai kekuatan gaib tertentu, ia berusaha memamerkannya, agar dikagumi oleh orang lain. Selain itu, ada juga yang kemudian tenggelam dalam ambisi untuk mencapai kekuatan super, sebagai satu-satunya tujuan.

  1. Dengan mencapai tingkat pemahaman spiritual tertentu, saya akan menjadi guru yang memiliki banyak pengikut. Dengan mencapai tingkat pemahaman spiritual tertentu, saya akan. Saya akan dan saya akan. Akam dan akan-akan lainnya.

Dengan memimpikan atau menidamkan sebagai guru yang dipatuhi oleh murid-muridnya dan mengharapkan didengarkan oleh banyak orang tanpa penolakan, ia akhirnya terjebak pada hasrat akan kekuasaan atas orang lain.

Oleh sebab itu, saya berani menyimpulkan. Bahwa “ambisi spiritual” dapat mempengaruhi siapapun, tanpa mempedulikan aliran metode apapun, yang dipraktikkannya. Kadang-kadang,  ia muncul dalam bentuk yang paling halus sebagai “cita-cita mulia” yang dibaliknya tersimpan hasrat, akan kekuasaan dan kepemilikan. Karena itu, “ambisi spiritual” sulit dikenali. Sebabnya adalah, orang yang dijangkiti oleh “ambisi sipiritual” seringkali diikuti dengan usaha menipu diri pribadi-nya sendiri. Maka untuk mengenali ambisi spiritual di dalam dirinya, seseorang harus lepas dari kecenderungannya untuk menipu diri.

Dengan cara lelaku; Ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa tetep Kunci (ada apa-apa kunci. Tidak ada apa-apa tetap kunci)

Kondisi yang kurang lebihnya sama dengan “ambisi spiritual” yang saya maksudkan di atas, namun terjadinya lebih halus lagi,  adalah “memperdayai diri kita, dengan cara, membuat kita mengira, sedang berkembang secara spiritual, padahal, kita sedang memperkuat egosentrisme kita melalui teknik-teknik spiritual.

Seperti apakah bentuk penipuan diri tersebut? Proses penipuan diri, berusaha meyakinkan pelakunya, dengan mengatakan bahwa dirinya, tidak lagi memiliki hasrat, kekuasaan atau kepemilikan apapun lagi, karena ia telah berusaha menolak, keduniawian dan berusaha menjadi bijaksana. Ia merasa ambisi tersebut cukup dihapus dengan tekad dan keyakinan diri yang kuat. Cara berpikir demikian, membuat ia menjadi tidak peka lagi, dengan ambisi yang ada dalam dirinya. Akhirnya, setiap ambisi tersebut, muncul dalam dirinya, ia berusaha menolaknya. Namun apa daya, jika tanpa Wahyu Panca Gha’ib, tidaklah mungkin.

Jika Kita Hidup, dibesarkan dalam lingkungan yang konsisten mencintai dan mendukung, maka, itu adalah hasil dari jiwa Kita. Tapi jika sebaliknya, lingkungan Kita dibesarkan di non-mencintai-mendukung atau bahkan mengancam-mengecam, akan menimbulkan energy negatif, serta reaksi kita kepada mereka (yang mungkin masih hidup di dalam diri kita) harus dirilis dengan cara Patrap Laku Wahyu Panca Ghaib, agar memperoleh kehidupan dalam kesejahtera’an, bahwa Kita begitu sangat layak, untuk hidup riang gembira dan bahagia (Tenteram)”

Ketahuilah… Tidak ada suatu kemudahan, jikalau kita tidak membuatnya menjadi mudah. Suatu keberhasilan tidak akan pernah terjadi, jika kita tidak mau melalui prosesnya.

Wahyu di dalam suatu pemahaman, menurut saya adalah kecerdasan yang diberikan oleh Tuhan kepada umatnya, yang mana sesuatu yang rumit, dapat di buat menjadi lebih simpel dan sederhana, tetapi tidak menghilangkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Itulah “Wahyu Panca Ghai’b” Kabeh dadi gampang, ning ora nggampangake. (semuanya menjadi mudah, namun tidak meremehkan yang mudah tersebut)

Pengetahuan yang kita dapatkan oleh hasil pengalaman pribadi, maupun dari pengalaman seseorang, adalah mampu membawa kondisi kita, ke ranah “Yen wani aja wedi-wedi. Yen wedi aja wani-wani” Jadi,,, disaat seseorang memerlukan pengetahuan, yang mungkin kita mengetahui sesuai kebutuhannya, maka berikanlah dengan dasar Cinta dan Kasih. Bukan dengan dasar ego gengsi. Karena kemungkinannya, apa yang kita sampaikan itu, berarti untuk dia, yang mampu membawanya, menuju Kesempurna’an Hidup, di semua keHidupan.

Karena itu… Para sedulur dan Kadhang kinasihku sekalian… Mari kita sama-sama menebar kasih sayang antar sesama Hidup dan bersama-sama kita berusaha membersihkan hati kita dari pada karat-karat kebencian dan noda-noda sirik, dengki, iri, hasut dan fitnah, serta segala bentuk maksiat. dengan cara diasuh dan dididik atau di biasakan mengikuti Rasa. Terasa. Merasa. Merasakan Hidup (rasa, krasa, rumangsa, ngrasakake urip). Sejalan Laku Spiritual Hakikat Hidup Wahyu Panca Gha’ib. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU  Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh  kinasih saya, yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup. Pamrih saya berharap ARTIKEL Saya Kali INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang  kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup-nya siapapun yang membacanya.

*Matur Nuwun ROMO….._/\_…..Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*

Ttd: Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

Handphon:  0858 – 6179 – 9966

https://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com

 

 

 

 

Ketika Al-Qur’an Berbicara Tentang Ruh:


Ketika Al-Qur’an Berbicara Tentang Ruh:

Oleh: Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

Djawa dwipa. Hari Senin Wage. Tgl 25 Januari 2016

 

Ketika Al-Qur’an Berbicara Tentang Ruh. Allah Berfirman dalam Surat Al-Isra’ ayat. 85, yang lebih kurang, artinya seperti ini:

 

“Dan mereka bertanya kepadamu ( Muhammad ) tentang ruh. Katakanlah itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.”

 

Tafsir;

Wahai Muhammad, kaummu yang mendapat nasihat, dari orang-orang Yahudi, bertanya kepadamu tentang hakikat rûh (roh). Katakan, “Hanya Allah yang mengetahui ihwal roh. Aku hanya diberi sedikit sekali dari ilmu Allah tentang hal itu”.

 

Ayat dan Tafsir diatas, menjelaskan, bahwa betapa sukarnya, menggambarkan yang di sebut ruh/roh. Makna/Maksud kata Ar Ruh dalam Al Quran. Karena setelah di pelajari dan di renungi, kemudian membuka referensi tentang kata dalam Al Quran, ternyata kata Ar Ruh mempunyai makna yang banyak (tidak hanya satu arti). Dengan demikian, maka diharapkan, kita tidak salah dalam memahami kata Ar-Ruh.

 

Beberapa pemahaman/persepsi tentang Ar Ruh dalam Al Quran dan Hadist. Diantaranya makna kata Ar Ruh adalah :

 

  1. Nafas;

Seseorang yang masih bernafas dan bergerak, maka orang tersebut masih ada ruh-nya. Kata nafas dan ruh dalam bahasa indonesia, diterjemahkan sebagai nyawa, yang artinya bahwa seseorang masih hidup, kalau orang tersebut ada nyawanya. Dan kita tidak mengetahui, seperti apa wujud/bentuk dari nyawa tersebut.

 

  1. Jibril; 

Seperti halnya dalam surat Al-Qadr 1-5, yang artinya:

“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

 

Didalam ayat ke-4 yang berbunyi;

“Tanajjalul malaaaikatu warruuhu fiihaa” dimana kata “warruuhu”

 

Diterjemahkan sebagai Jibril. Bukankah Jibril adalah malaikat, namun kenapa dalam ayat tersebut, Jibril disebutkan secara khusus. Dalam ilmu tafsir, diterangkan bahwa menyebut yang khusus setelah yang umum, menunjukkan bahwa yang khusus tadi, mempunyai keistimewa’an, yang harus diperhatikan. Sehingga jibril yang berada di tengah-tengah malaikat, adalah yang terdepan, Jibril sebagai pemimpin para malaikat.

 

Didalam surat lain, yaitu surat ke 26 Ash-Shu’ara ayat 192-195 yang artinya;

“Dan sesungguhnya. Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh. Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.”

 

Dimana dalam surat tersebut dijelaskan bahwa Malaikat Jibril sebagai pembawa wahyu Allah swt (Al Quran) disebutkan dengan kata Ar Ruh Al Amin.

 

  1. Nabi Isa as;

Seperti dalam firman Allah swt yang berbunyi “Wa rohun minhu” yang artinya “Dan ruh darinya (maksud-nya Isa as)”.

 

Lalu yang menjadi pertanyaan, kenapa nabi Isa as, disebut Ruh? Diantara mukjizat Nabi Isa as, selain menyembuhkan orang sakit, yaitu Nabi Isa as mempunyai mukjizat, mampu menghidupkan orang yang sudah mati, yang tentunya atas ijin Allah swt. Maka Nabi Isa as disebut Ruh, karena seolah-olah Nabi Isa bisa menghadirkan kembali ruh orang yang sudah meninggal. Pada dasarnya, jika seseorang meninggal dunia, maka ruh orang tersebut, pergi dari jasad-nya. Seperti halnya jika seseorang tidur, maka dalam keadaan tidur itu, ruhnya sedang pergi dari jasadnya. Dan ketika bangun, ruhnya telah kembali ke jasadnya.

 

  1. Al Quran;

Seperti halnya dalam surat Asy-Syuura (42) ayat 52 

“wakadzaalika awhaynaa ilayka ruuhan min amrinaa …” yang artinya secara lengkap 1 ayat “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”

 

Kenapa Al Quran disebut sebagai Ruh? Karena Al Quran, adalah pedoman kehidupan yang hakiki, untuk umat manusia, terutama di akhirat nanti. Sehingga seseorang yang hidup bersama Al Quran, membaca, mendengar, merenungi, memahami, manghafalkan dan mendakwakan Al Quran, maka orang tersebut akan mendapatkan kehidupan yang hakiki. Seperti halnya dalam surat Al-Ankabut ayat 64 yang artinya “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

 

Mari kita sama-sama merenung sejenak dengan iman, saya akan sedikit mengungkap tentang ruh ini, sesuai pembuktian yang saya dapatkan di dalam Laku Spiritual Hakikat Hidup “Wahyu Panca Gha’ib”

 

Rasulullah Dalam Qitab Hadistnya, membuat bandingan akan Firman Allah dalam Surat Al-Isra’ ayat 85 tersebut. Seperti ini sabdanya:

“Sesungguhnya, dalam tubuh anak Adam itu, ada seketul daging, bila baik ia, niscaya baiklah seluruh anggotanya, dan bila jahat ia, niscaya jahatlah seluruh anggotanya. Ketahuilah itu adalah Qalbu.”

 

Dan menurut saya, hasil dari pengkajian Laku Pribadi saya. Qalbu sebagai raja yang memerintah, yang dita’ati oleh anggota-anggota lahir lainnya. Qalbu saya ibaratkan sebuah pemerintah atau raja, yang harus dita’ati oleh semua rakyatnya. Jika pemerintah atau raja itu baik, maka baiklah sekalian rakyatnya. Lalu… Apa itu Qalbu..?!

 

Para sedulur dan Kadhang kinasihku sekalian…

“Sesungguhnya, dalam tubuh anak Adam itu, ada seketul daging. Seketul daging itu, umum kita namai sebagai hati. Namun Qalbu itu, bukanlah hati, melainkan isi dari Hati itu.

 

Hati adalah Keratonnya Hidup, sedangkan Qalbu atau isi Hati, adalah tempat bertahtanya hidup. Hidup yang menjadikan kita bisa ini dan itu. Dan apa bila Qalbu atau isi Hati kita, bersih, maka, bersihlah seluruh Keraton Keraja’an tersebut. Sebaliknya… jika Qalbu atau isi Hati kita kotor, maka, kotorlah seluruh Keraton Kerja’an tersebut.

 

Para sedulur dan Kadhang kinasihku sekalian…

Ketahuilah, tidak kurang dan tidak sedikit, yang namanya ilmu mengenal diri pribadi, ilmu mengenal guru sejati, ilmu mengenal Tuhan, ilmu kemanunggalan bahkan kesempurna’an dunia wal akherat, telah ada banyak dan tersebar di seluruh penjuru dunia.

 

Namun percayalah, yang banyak itu, tidak mengetahui jalan utama yang sebenarnya.  Mereka mengira dan menyangka. Bahwa; Jalan utama yang benar, untuk mengenal diri pribadi, mengenal guru sejati, mengenal Tuhan/Allah. Jalan manunggal dan sempurna dunia wal akherat, itu. Melalui tirakat/tapa, wirid/dzikir, amal/ibadah, semedi/meditasi, syare’at/tarekat, dan masih banyak lagi uberampe dan ritual yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu disini, makan tempat dan menghabiskan waktu.

 

Padahal tidak seperti itu dan tidak begitu, al-qitab telah menjelaskan, al-qur’an telah memberitahukan. Hyang Maha Suci Hidup Allah telah berfirman pada tiap-tiap diri manusia hidup. Bahwa jalan utama yang benar menuju kesitu, hanya ada satu saja. Yang lainnya itu, bukan jalan, melainkan sebatas syarat jika engkau mampu, kalau tidak mampu, Hyang Maha Suci Hidup Allah, tidak pernah memaksa kita. Kecuali jalan utama yang benar ini. mau tidak mau, rela tidak rela, suka tidak suka, jika kita hendak menujunya. Maka harus melakukan.

 

Apa jalan utama yang benar itu..?! dan harus melakukan apa..?!

“Sesungguhnya, dalam tubuh anak Adam itu, ada seketul daging, bila baik ia, niscaya baiklah seluruh anggotanya, dan bila jahat ia, niscaya jahatlah seluruh anggotanya. Ketahuilah itu adalah Qalbu.”

 

Qalbu adalah satu-satunya jalan utama yang benar. Untuk mengenal diri pribadi, mengenal guru sejati, mengenal Tuhan/Allah. Jalan manunggal dan sempurna dunia wal akherat. Bahkan ilmu kesaktian jaya kawijayanpun, yang benar itu, melalui qalbu, jika tidak melalui qalbu, berati sesat, karena sesat, maka tersesatlah, karena tersesat, maka ilmunya di gunakan untuk adigang adigung adiguna.

 

Siapapun dia dan dimanapun dia, jangankan masuk dan melalui qalbu, menyentuh qalbu saja, tidak akan mungkin bisa mampu, jika Sirik. Iri. Dengki. Fitnah. Benci. Dendam. Hasut. Adu domba. Masih menghiasi hati. Karena qalbu adalah isi hati, dan hanya akan menyala dan siap dimanfaatkan jika hatinya telah bersih dari keburukan tersebut.

 

Selagi hati masih Berhias. Berdinding. Sirik. Iri. Dengki. Fitnah. Benci. Dendam. Hasut. Adu domba. Qalbu tidak akan bangkit/bangun, tidak akan menyala/bercahaya, tidak akan pernah siap di lalui. Jadi… Bagaimana bisa kita mengenal diri pribadi, mengenal guru sejati, mengenal Tuhan/Allah. Jalan manunggal dan sempurna dunia wal akherat..?! Mustahil… ini logika dan nyata. Saya sudah membuktikannya sendiri. Bukan katanya apapun dan siapapun.

 

Banyak orang menafsirkan bahwa qalbu adalah segumpal daging dalam diri manusia, dan itu tidaklah salah, karena berdasarkan perkira’an Nabi yang kesulitan memaknai ruh kala itu.

 

Qalbu adalah sebuah latifah atau titik sensor atau god spot, titik keTuhanan yang tidak mempunyai bentuk dan warna, karena itu, tidak bisa di pahami dan di nalar logika akal, karena tidak semudah mereka menafsirkan tentang qalbu, karena Hyang Maha Suci Hidup sudah menjelaskannya. “Dan mereka bertanya kepadamu ( Muhammad ) tentang ruh. Katakanlah itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.”

 

Saya pernah 5 kali mengungkap bab Suci ini, yang intinya, bahwa suci itu, bukan bentuk dan warna, tidak bisa di campuri atau tercampuri oleh apapun sebutannya, kecuali Hyang Maha Suci Hidup. Inilah yang di sebut qalbu. Qalbu adalah “SUCI” bertempat di dalam Hati. Sekali lagi… Qalbu adalah Suci. Suci adalah god spot atau titik Tuhan yang berada di setiap diri manusia hidup.

 

Jadi… Para sedulur dan Kadhang kinasihku sekalian…

Tidak ada jalan lain, dalam mengenal diri pribadi, mengenal guru sejati, mengenal Tuhan/Allah. manunggal atau sempurna dunia wal akherat, selain melalui Qalbu/Suci. Kalau tidak dengan qalbu/Suci, lalu mau kemana… la wong Cuma ini jalannya. Caranya ya hanya ini.

(lebih menjamin jika dengan sarana Wahyu Panca Ghaib) karena hanya Wahyu Panca Ghaib yang menjurus ke ranah tersebut.

 

Sebab itu,,, dengan kasih saya mengabarkan ini dan sekaligus mengajak siapapun yang bersedia. Mari kita sama-sama bersama  membersihkan Hati, yang menjadi tempat bermukimnya qalbu/suci. Dari yang namanya;  Sirik. Iri. Dengki. Fitnah. Benci. Dendam. Hasut. Adu domba. Terserah dengan cara apapun yang Anda yakini. Tidak harus dengan Wahyu Panca Ghaib, yang saya jalani dan telah berhasil menuntun saya, hingga sampai ke dimensi ini.

 

Yang penting tema dan judul serta inti lakonnya. Adalah membersihkan hati dari Sirik. Iri. Dengki. Fitnah. Benci. Dendam. Hasut. Adu domba dan semua sebutan yang merugikan diri sendiri dan orang lainnya.

 

Karena hanya dengan cara itulah, yang namanya qalbu/suci, bisa bangkit bercahaya serta siap dilalui oleh kita, dalam mengenal diri pribadi, mengenal guru sejati, mengenal Tuhan/Allah. manunggal atau sempurna dunia wal akherat. Selain itu, tidak bisa, jika mengaku dan merasa sudah mengenal diri pribadi, mengenal guru sejati, mengenal Tuhan/Allah sudah berhasil manunggal atau sempurna dunia wal akherat, namun ada didalam hati kita masih ada Sirik. Iri. Dengki. Fitnah. Benci. Dendam. Hasut. Adu domba.

 

Percayalah; Anda telah tersesat. Entah diri pribadi, guru sejati, Tuhan/Allah. manunggal atau sempurna dunia wal akherat yang mana, yang telah engkau capai itu, karena yang saya tau, yang sudah saya buktikan sendiri. Bahwa siapapun yang telah mengenal diri pribadi, mengenal guru sejati, mengenal Tuhan/Allah. manunggal atau sempurna dunia wal akherat. Tidak akan memiliki isi hati yang seperti itu, agama apapun menjelaskan sama.

 

Para sedulur dan Kadhang kinasihku sekalian… Mari kita sama-sama menebar kasih sayang antar sesama Hidup dan bersama-sama kita berusaha membersihkan hati kita dari pada karat-karat kebencian dan noda-noda sirik, dengki, iri, hasut dan fitnah, serta segala bentuk maksiat. dengan cara diasuh dan dididik atau di biasakan mengikuti Rasa. Terasa. Merasa. Merasakan Hidu (rasa, krasa, rumangsa, ngrasakake urip). Sejalan Laku Spiritual Hakikat Hidup Wahyu Panca Gha’ib. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU  Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh  kinasih saya, yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup. Pamrih saya berharap ARTIKEL Saya Kali INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang  kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup-nya siapapun yang membacanya.

*Matur Nuwun ROMO….._/\_…..Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*

Ttd: Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

Handphon:  0858 – 6179 – 9966

https://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com

 

 

MONGGO KERSO:


WEB

Dalam Laku Wahyu Panca Gha’ib. Saya sudah banyak dan sering mengungkap  rahasiannya. Namun mengapa… Para Kadhang masih saja memakai penghalang itu…?!

Dalam Lakon Ilmu Agama dan Kepercaya’an. Saya juga sudah banyak dan sering pula mengungkap rahasianya. Tapi kenapa Para sedulur masih saja tetap menggunakan pelindung itu…?!

Ingatlah… Para Kadhang dan Para Sedulurku sekalian. Jika ada seseorang manusia Hidup, yang percaya kepada kesatuan lain, selain Hyang Maha Suci Hidup, maka ia akan kecewa pada akhirnya, karena dia tidak akan memperoleh apa yang dia inginkan.

Percayalah Para Kadhang dan Para Sedulurku sekalian. Keberada’an dzat itu, hanya ada beserta kemantapan hati yang bersih dalam merengkuh Tuhan/Allah. Dalam diri tidak ada apa-apa, kecuali menjadikan menunggal sebagai niat, dan yang mewarnai segala hal, yang berhubungan dengan asma’, sifat dan af’al Pribadi. Inilah yang aku maksud.

Kemanunggalan tidak akan berhasil, jika hanya mengandalkan perangkat syari’at dan tarekat. Apalagi sekedar syari’at lahiriyah. Kemanunggalan akan berhasil, seiring dengan tekad hati yang bersih dan keseluruhan Pribadi dalam merengkuh Allah/Tuhan, sebagaimana Roh Allah pada awalnya, ditiupkan atas setiap pribadi manusia.

Jadi… tidak usah kebanyakan bicara dan teori keTuhanan, nanti tambah bingung sampean, bingung dan memusingkan, melelahkan. Tapi… kalau panjenengan masih merasa Asyik disitu, belum mau, ke yang sebenarnya. Yo wes,,,, ya sudah. Terserah Sampean dan Panjenenagn Serta Anda. Yang penting, sebagai sesama manusia Hidup yang menyakini adanya Sang Maha Segalanya. Saya sudah mewujudnya kasih sayang saya, dengan cara mengingatkan. Soal keputusan dan kesimpulan, tetap ada pada pribadi masing-masing diri. tapi jangan lupa, Malaikat Juru Pati, nyaris tidak pernah jauh dari samping setiap diri manusia. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU  Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh  kinasih saya, yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup. Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*

*Matur Nuwun ROMO….._/\_…..

Ttd: Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

Handphon:  0858 – 6179 – 9966

https://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com

Suciningati Gandaning Manunggal:


Wong Edan Bagu,

Suciningati Gandaning Manunggal:

Oleh: Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

Djawa dwipa. Hari Sabtu Kliwon. Tgl 16 Januari 2016

Para sedulur dan kadhang kinasih saya sekalian dimanapun berada, yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup. Ketehui… Jangan Pernah mengaku Pintar. Jangan Pernah mengaku bisa. Jangan Pernah mangaku Pandai. Jangan Pernah mengaku mumpuni dan mahir dalam agama. Apa lagi mengaku Berilmu Tinggi.

Jika di dalam Hati, yang terletak dibaik dada kita. Masih Tersisip. Benci. Sirik. Iri. Dengki. Fitnah dan Dendam. Bila dalam Hati yang terletak dibaik dada kita. Masih Tersimpan. Buruk sangka. Menjelekan sesama hidup, mengolok-olok sesama hidup. Membicarakan keburukan sesama hidup. Mencela sesama hidup. Mengadu domba sesama hidup dan menyakiti sesama hidup. Karena orang yang benar-benar  Pintar. bisa. Pandai. Mahir dan ahli dalam agama, serta berilmu Tinggi. Tidak akan mungkin melakukan hal-hal tersebut.

Para sedulur dan kadhang kinasih saya, ingat-ingatlah… dimanapun sedulur dan kadhang kinasihku bertemu seseorang yang mengaku Pintar. bisa. Pandai. Mahir dan ahli dalam agama, serta berilmu Tinggi. Namun di ketehui, masih memiliki Benci. Sirik. Iri. Dengki. Fitnah. Dendam dan masih Buruk sangka. Menjelekan sesama hidup, mengolok-olok sesama hidup. Membicarakan keburukan sesama hidup. Mencela sesama hidup. Mengadu domba sesama hidup dan menyakiti sesama hidup. Jagalah jarak imanmu. Jangan engkau terpedaya olehnya.

Karena itu… Para sedulur dan kadhang kinasih saya semuanya, tanpa terkecuali, jika benar-benar ingin mengenal dan memahami Hyang Maha Suci Hidup, agar bisa  sempurna dunia hingga akherat nanti.

Yuk… kita budidayakan menebar kasih terhadap sesama hidup dan menyebar sayang antar sesama hidup: Dengan cara; Membersihkan Hati/Bathin kita, dari semua yang sudah saya sebutkan diatas. Hati/Bathin adalah, Pusara kita selagi Hidup di dunia ini. Jangan sampai ternoda atau ternodai, karena jika sampai ternoda oleh hal yang sudah saya sebutkan diatas. Jangan pernah bermimpi atau berkhayal  tentang Manunggal atau Surga, apa lagi soal sempurna. Disini, saya meminjam gaya bahasanya Aa Gym.

“Jagalah hati, jangan kau nodai, jagalah hati, lentera hidup ini”

Saya punya kesaksian tentang hal yang sudah saya ungkapkan diatas. Dibawah inilah  pengertiannya. Bacalah dengan penghayatan iman hingga selesai. Agar bisa mengerti dan paham maksudnya. Tuhan Memberkahimu sekaian. Amiin…

Dan untuk beberapa Kadhang yang telah mengirim pesan inbox pertanya’an kepada saya. Tentang masing-masing pertanya’annya,  sebagai berikut.

Pertanya’an No. 1; Pak WEB, saya sudah pahami dan jalani wejangan dari pak WEB, tapi kok, dalam mempraktekannya, masih sulit…. saja, susah pak. Ada apa dan kenapa dengan saya, apakah saya kebanyakan dosa/karma atau apa pak?

Pertanya’an No. 2; Pak WEB, saya merasakan seperti ada sesuatu yang menghalangi saya, sepertinya saya hampir bisa sampai, tapi sulit menggapainya, seakan ada dinding pemisah yang membuat saya kesulitan mencapainya, itu apa dan kenapa pak?

Pertanya’an No. 3; Pak WEB, saya sudah mengikuti dan membaca serta memahami wejangan-wejangan pak WEB, dan saya sudah menjalankannya sesuai dengan Bimbingan pak WEB, tapi masih sulit saja, susah, ada kalanya hambar rasanya, apa ada yang salah atau kurang dalam laku saya pak?

Pertanya’an No. 4; Pak WEB, semedi saya dalam laku Patrap Wahyu Panca Gha’ib, rasanya seperti bisul mau pecah, tapi ga pecah-pecah. Saya cari tau, ga ketemu letak penyebabnya apa dan dimana, mohon wedarannya mengenai hal ini pak?

Pertanya’an No. 5; Pak WEB, kok saya tambah seperti orang yang linglung, maksudnya, saya kan sudah banyak pemahaman dan pengertian dari pak WEB soal Laku, tapi, pikiran saya seperti bundel pak, kaya ada yang nutupin gitu, tapi, saya tidak tau, apa itu, semakin saya cari, semakin membuat saya bodoh, seperti orang yang ga pernah belajar. Mohon penjelasannya pak?

Pertanya’an No. 6; Pak, tekad saya sudah kuat dan bulat, saya ga pernah goyah atau terpengaruh oleh sikon apapun, saya tetep idep madep madep, menjalankan Wahyu Panca Gha’ib. Tapi kok, tidak sampai-sampai ke Intisari patinya, seperti yang pak WEB maksud itu pak, sepertinya saya tau dan melihatnya dengan sangat jelas, tapi, tangan saya seperti pendek, sehingga tidak sampai untuk meraihnya, kaki saya kaku, sehingga tidak bisa melangkah maju ke titik finis itu, kenapa dan ada apa dengan saya pak?

Dibawah inilah jawabannya. Bacalah dengan penghayatan iman hingga selesai. Agar bisa mengerti dan paham maksudnya. Tuhan Memberkahimu sekaian. Amiin…

Para sedulur dan kadhang kinasih saya dimanapun berada, yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup. Di beberapa artikel yang telah berlalu, saya sudah sering medar/mejang bab, apa itu Suci. Yang intinya. Bahwa Suci itu, bukanlah Bersih atau Bentuk dan Warna.  Suci adalah sipat yang tidak tercampuri oleh apapun dan sikap yang tidak bisa dicampuri dengan apapun “Bebas Merdeka”  tanpa terikat atau ikatan apapun. Atau dalam kata lain; Murni-Asli. Itulah kata singkat tentang Suci, yang bisa saya jelaskan untuk para sedulur dan kadhang kinasih saya.

Itu baru soal Suci. Bagaimana dengan Hyang Maha Suci Hidup?

Jawabannya; tentu berkali ber dari yang sudah saya jelaskan diatas.

Inilah yang membuat banyak para ahli Spiritual, gagal dalam mencapai puncaknya, yaitu Hyang Maha Suci Hidup. Karena Hyang Maha Suci Hidup, memiliki Sipat Suci,  yang tidak tercampuri oleh apapun.

Inilah yang membuat banyak para Pemuja dan Pecinta Tuhan gagal dalam mengenali dan memahami Hyang Maha Suci Hidup. Karena Hyang Maha Suci Hidup, memiliki Sikap Suci yang tidak bisa dicampuri oleh apapun.

Nekad menujunya?

Berati mau tidak mau, rela tidak rela, siap tidak siap, suka tidak suka, bisa atau tidak bisa. Harus sama. Jika tidak sama. Jangan bermimpi atau berkhayal untuk bisa berhasil.

Kanapa tidak bisa Pak WEB?

Kan tadi sudah saya jelaskan. Bahwa Suci itu tidak bisa tercampuri atau dicampuri oleh apapun. Piye to iki… kok ga mudeng, jane diwoco pora. He he he . . . Edan Tenan.

Siapapun dia, dimanapun dia, bagaimanapun dia. Tidak akan pernah bisa, belajar Suci atau Memiliki Suci tanpa Kehendak-Nya. Karena Suci untuk Makhluk. Adalah Wahyu dari Hyang Maha Suci Hidup.

Berati, selamanya tidak akan pernah ada manusia yang bisa berhasil mengenal dan memahami Hyang Maha Suci Hidup ya pak WEB?

Bukan begitu, dan tidak seperti itu brow… yang bisa berhasil mengenal dan memahami Hyang Maha Suci Hidup. Itu ada, bahkan mungkin banyak, yang sampai berhasil mencapai ke tahap manunggal dan sempurna juga ada.

La terus gimana caranya mengenal dan memahami Hyang Maha Suci Hidup?

Katanya Suci itu tidak bisa dipelajari atau dimiliki oleh manusia. Piye to pak. Kok genten mbulet…

Caranya ya jangan belajar Suci. Jangan mencari Suci. Apa lagi Shok Suci.

Caranya cukup mudah. Munculkan niyat dengan kesungguhan/iman, lalu…  Ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa tetep Kunci. “Ada apa-apa Kunci. Tidak ada apa-apa tetap Kunci”.

Awasss…!!! Ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa tetap Kunci. “Ada apa-apa Kunci. Tidak ada apa-apa tetap Kunci” ini.  Jangan di salah artikan. Sebab; Ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa tetap Kunci. “Ada apa-apa Kunci. Tidak ada apa-apa tetap Kunci” itu. Hakikatnya Manunggal/Menyatu. Artinya: Laku terus, tersu laku, tiada hentinya.

Dalam istilah kata lain. Baca Firman-Nya, lalu jalankan Sabda Rasul-Nya, dengan iman yang istiqomah dan apa adanya. Maksunya… Tanpa rekayasa dan politik apapun.

Biyarkan Hyang Maha Suci Hidup yang Berbuat dan Bertindak, kita cukup Laku Ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa tetap Kunci. “Ada apa-apa Kunci. Tidak ada apa-apa tetap Kunci” saja.

Beri kesempatan pada Hyang Maha Suci Hidup, untuk menunjukan Kuasanya. Jangan disuruh diam di kamar terus, kita kan percaya, kalau Hyang Maha Suci Hidup itu, adalah Maha diatas segala yang Maha. Kok kita terus yang selalu maju nonjol, Hyang Maha Suci Hidup-nya, ga di kasih bagian, aslinya, yang kuasa itu, kita apa Hyang Maha Suci Hidup? Hayo….

Sekali lagi… Cukup Laku Ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa tetap Kunci. “Ada apa-apa Kunci. Tidak ada apa-apa tetap Kunci”  atau dalam istilah kata lainnya. Baca Firman-Nya, lalu jalankan Sabda Rasul-Nya, dengan iman yang istiqomah dan apa adanya.

Tidak perlu di otak atik atau di beri asesoris biyar indah, ditambahin bumbu biyar lebih sedap. Tidak…!!! tidak usah, karena hal itu, justru membuat kita, keluar dari jalur yang sebenarnya. Sebab belum tentu sesuai, dan akan menghilangkan kemurnian-Nya.

Jadi, tidak perlu neko-neko. Biyarkan Tuhan yang berbuat, kita cukup laku. Titik.

Kalau sudah sesuai dengan Firman-Nya dan Sabda Rasul-Nya. Disadari tidak disadari. Diketahui atau tidak diketahui. Kita akan masuk ke dalam dimensi Proses.

Proses apa pak WEB?

Ya Proses penSucian. Masak Proses persalinan bayi. Piye to sampean iki. Di dengerin dulu kalau saya lagi ngomong. Jangan di sela, jangan di potong, nanti kelalen bagaimana, la wong saya sudah pikun. He he he . . . Edan Tenan.

Yo wess monggo, di lanjut, saya tak ndlopong  karo udud, ngrungoke Wong Edan ngomyang. He he he . . . Edan Tenan.

Husss… Itu Tawaku, jangan di pakai, nanti cara ketawa saya gimana, kalau kamu pakai.

Huff…!!!

Disaat kita sudah berhasil memasuki dimensi Proses. Maka mulailah berlaku sebuah ayat yang menjelaskan;

“Aku adalah ‘dekat’ lebih ‘dekat’ daripada urat leher”.

“Apa bila mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta, apabila mendekatiku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa dan apabila dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari”

Artinya; disa’at kita sedang berada di dalam dimensi proses. Sebenarnya, kita sedang bersama Hyang Maha Suci Hidup. Jadi, sangatlah tidak pantas jika kita merasa ragu dan bimbang, apa lagi takut dalam sikon apapun. Tinggal kitanya, Teliti apa tidak, kalau teliti, pasti tau, minimal merasakan keberada’an Hyang Maha Suci Hidup, yang kala itu sedang bersama kita.

Iya kalau tahu sedang berada di dalam dimensi proses pak WEB, kalau tidak tau, bahwa kita sedang berada di dalam dimensi proses, gimana coba, kan tidak tau apa yang sedang dialami itu, adalah Proses pak WEB. Hayo…

Kae ra… udah dibilang kalau saya lagi ngomong jangan di potong dulu, sebelum selesai, di potong lagi.

Yo wes yo wesss…. monggo dilanjut.

Awalnya kan sudah ada niyat, kan sudah di niyati dari awal, kok sampai tidak tau kalau itu proses, bagaimana ceritanya? Berati, niyatnya itu, kan niyat nglantur. Kalau tidak nglantur, pasti tau, kalau itu prosesnya dan sedang proses.

Hehe… ora nganggo edan tenan. Iya benar pak WEB. Prosesnya pak WEB, Proses pensuciannya gimana, maafkan nyela bentar, buat iklan. Lanjut…

Di dalam dimensi Proses inilah. Hyang Maha Suci Hidup, mensucikan lahir dan bathin kita, jiwa dan raga kita, dari semua keterikatan dunia, dan kotak-kotak kepentingan serta bendera keperluan, yang membuat lahir bathin kita, ternoda alias tidak suci lagi, seperti kala pertama kali dilahirkan.

Dan di dalam dimensi Proses pensucian inilah, yang membuat kebanyakan orang, memilih mundur dan menyerah serta ngaku kalah sebelum bertempur. Karena cara Hyang Maha Suci Hidup mensucikan, sangat mengejutkan. Berat, bahkan menyedihkan dan menyakitkan, bagi yang tidak mengerti, kalau dirinya sedang dalam proses, dan tidak menyadari kalau dirinya sesungguhnya sedang bersama Hyang Maha Suci Hidup.

Bagaimana dan seperti apakah, proses pensuciannya?

Sehingga membuat kebanyakan orang memilih mundur bahkan menyerah sebelum bertempur? He he he . . . Edan Tenan. “Yen wani aja wedi-wedi. Yen wedi aja wani-wani”.

Saya kasih gambaran.

Coba pikirkan. Maaf. Di pikir ya, jangan di bayangkan…!!!

Coba pikirkan, apa yang terjadi, jika Anda yang biasanya banyak uang, peribasanya, garuk-garuk kepala saja, bisa dapat uang. Lalau tiba-tiba mengalami kesulitan untuk mendapakan uang.

Coba pikirkan,  apa yang terjadi, jika Anda yang biasanya di sanjung, di hormati, di hargai 1000 tiga, tiba-tiba mengalami, di hina, di remehkan, di acuhkan, bahkan difitnah. Sudah ketemu jawabannya kan….

Di dalam dimensi proses pensucian ini. Hyang Maha Suci Hidup, akan menggunakan dan memanf a’atkan, semua yang melekat dalam jiwa kita, sebagai alat untuk mensucikan kita. Mulai dari orang yang tidak kita kenal, hingga sampai ke teman, sahabat, bos kita, anak buah kita, patner kita, sampai ke tetangga kita. Bisa jadi  akan menfitnah kita, mengolok-olok kita, menghina kita, mengadu domba kita dll. Mulai dari keluarga kita, sampai anak atau istri kita, bahkan hingga ibu atau bapak kita. Bisa jadi membenci kita, meremehkan kita dll. Itulah diantara beberapa Proses yang di gunakan oleh Hyang Maha Suci Hidup, yang bisa saya jelaskan untukmu sekalian.

Kalau dalam hal ini, kita tidak mengerti, bahwa kita sedang berada dalam dimensi proses pensucian, sudah tentu akan balik membenci, balik mengfitnah, balik menghina dan balas dendam. Kalau kita tidak menyadari, bahwa kita sedang bersama Hanya Maha Suci Hidup. Sudah Pasti, akan menyerah dan mundur serta  mengaku kalah sebelum bertempur.

Tapi kalau kita mengerti, bahwa kita sedang berada dalam dimensi proses pensucian, dan menyadari, bahwa kita sedang bersama Hyang Maha Suci Hidup. Pasti Rela/Legowo, tetap iman. Kalau Rela/Legowo, tetap iman, dengan apapun yang sedang terjadi. Maka berati,,, kita sedang berjalan mendekat dan mendekat lebih mendekat dan dekat, rekat erat, “pulet pinuletan” bersama Hyang Maha Suci Hidup.

La,,, kalau sudah dekat dan semakin dekat, hinggat rekat/erat bersama Hyang Maha Suci Hidup, guampang banget kok, tak kasih contoh nih…

Misalnya… saya sedang berjalan di depan rumahnya orang kaya. Biasanya, orang kaya itu, kan miara anjing galak, dan biasanya lagi, jaga pintu gerbang pagar teralis besi rumahnya kan, terus, pas kita lagi lewat, di gonggongin sama si anjing galak itu. Nah,,, kita jangan balik nggongongin anjing itu, capek deh… Tinggal bilang saja sama tuannya. Pak… anjingnya mengganggu saya tuh. Tolong diamin. SELESAI kan.

“Apa bila mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta, apabila mendekatiku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa dan apabila dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari”

Mari kita sejenak menelisik kembali sejarah, adakah Seorang Nabi yang tidak mengalami seperti yang saya ceritakan diatas?

Itu Nabi, karena Nabi adalah utusan, pilihannya Hyang Maha Suci Hidup itu sendiri, harusnya kan, tidak perlu di Bersihkan/Sucikan bukan? Tapi dalam kenyata’annya. Mereka semuanya mengalami Fitnah, hina’an, cemohan, adu domba dll. Itu Nabi. Pilihannya Hyang Maha Suci Hidup, apa lagi iyong dan kita-kita. Cukup kuat untuk dijadikan alasan penguat iman dan tekad kita kan.

Artinya; Pasti Rela/Legowo, tetap iman. Karena apapun yang dialami, hanya sepintas saja, hanya proses. Artinya, tidak akan lama, pasti selesai dalam waktu yang amat teramat singkat. Dan berubah menjadi keajaiban yang luar biasa berkahnya.

Kalau berhasil, Tapi tetap jangan berbangga diri dan sombong hati, mentang-mentang sudah manunggal dengan Hyang Maha Suci Hidup, terus,,, sakit kepala, pakainya bim salabim abra kada bra, ga mau minum bodrex. He he he . . . Edan Tenan.

Sebab disini… Hyang Maha Suci Hidup. Akan memberikan 6 Pilihan untuk kita. Yaitu: Suci. Ilmu. Harta. Tahta. Wanita.

Jika kita  memilih tetap Suci, yang baru saja berhasil di dapat itu. Maka… akan bersama Hyang Maha Suci Hidup. Artinya… akan memperoleh Ilmu. Harta. Tahta dan Wanita. Karena Hyang Maha Suci Hidup. Adalah pemilik segalanya dan semuanya, termasuk Ilmu. Harta. Tahta. Wanita tersebut. Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Roji’un, akan menjadi kodrat irodat mutlak kita, dalam meniti kesempurna’an Hidup sekarang dan Mati kelak.

Tapi jika memilih Ilmu atau Harta atau Tahta atau Wanita. Maka Suci yang baru saja di peroleh itu, akan sirna diambil kembali oleh Hyang Maha Suci Hidup. Artinya. Jangan berharap tentang manunggal. Apa lagi soal sempurna, jangan mimpikan itu. Karena…”PERCUMA”. He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU  Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh  kinasih saya, yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup. Pamrih saya berharap ARTIKEL Saya Kali INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang  kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup-nya siapapun yang membacanya.

*Matur Nuwun ROMO….._/\_…..Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*

Ttd: Wong Edan Bagu

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan

Handphon:  0858 – 6179 – 9966

https://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com