APA ITU ROMO…?! Dan SIAPA ITU ROMO…?!


APA ITU ROMO…?! Dan SIAPA ITU ROMO…?!
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Kamis Legi. Tgl 26 Mai 2016

Para Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian…
Yang terpenting itu, bukan tentang orang yang membenci kita atau orang yang mencintai kita. Yang utama itu, bukan soal apa agama kita dan setinggi apa ilmu yang kita miliki. Tapi yang terpenting dan utama itu. Hyang Maha Suci Hidup Cinta Kasih Sayang apa tidak kepada kita.

Apa itu Romo…?! Siapa itu Romo…?!
Banyak orang yang menggunakan sebutan Romo kepada orang yang di anggapnya mumpuni, dan terhormat, orang jawa khususnya. Ada anak yang memanggil Bapaknya dengan sebutan Romo. Ada santri atau murid yang memanggil gurunya dengan sebutan Romo. Ada juga, jema’at umat kristen yang mamanggil pendetanya dengan sebutan Romo. Terutama di dalam ajaran Laku Wahyu Panca Gha’ib, yang tersebut Putro Romo. Sudah pasti, mau tidak mau akan di dogma bahkan di paksa untuk nyambat/nyebut Romo didalam keluh kesahnya. Namun… Tapi… apa yang saya maksudkan diatas, sudah mengerti-kah dan sudah paham-kah, apa itu Romo…?!

Jika tidak mengerti akan hal ini, sudah bisa di pastikan, akan salah paham, yang bisa menimbulkan kontrofersi diri, yang berkecamuk diantara hati dan pikiran, akibatnya, salah langkah, salah arah dan tujuan, bahkan salah berTuhan. Singkatnya, membingungkan.

Sebab… Karena… Walau sama Romo sebutannya, namun ada dua maksudnya, walaupun sama sebutannya Romo, tapi ada dua maksud tujuannya.

Contoh; Bagi si anak, menganggap bahwa Romo itu, sebutan hormat untuk seorang bapak. Bagi si murid atau santri, menganggap bahwa romo itu, sebutan hormat untuk seorang guru atau kiyai. Bagi seorang jema’at, menganggap bahwa Romo itu, sebutan hormat untuk seorang pendeta.

Lain lagi bagi seorang pelaku Wahyu Panca Gha’ib, menganggap bahwa Romo itu. Nabi-nya pelaku Wahyu Panca Gha’ib, yang makamnya di gunung damar purworejo jateng, yang wajib di kenang dan di kunjungi, minimal satahun sekali, setiap tanggal 14 november, ada juga yang menganggap bahwa Romo itu, bapaknya para putro romo, yang harus di sambat sebut jika mengalami apa saja. Bahkan ada yang menganggap kalau Romo itu, Tuhan-nya penghayat kapribaden atau Putro Romo, tempat bersandar dan berharap serta bermohonya ples kiblatnya para Putro Romo alias tujuan dari Laku Wahyu Panca Gha’ib. Dan masih banyak lagi anggapan-anggapan lain tentang Romo.

Mari kita simak bersama liputannya….
Tapi saya tidak akan mengungkap istilah-istilah sebutan Romo bagi selain Putro Romo, atau sebutan-sebutan Romo yang biasa di gunakan oleh kebanyakan orang pada umumnya, yang bukan Putro Romo, karena itu tidak penting. Saya hanya akan mengungkap yang berkaitan dengan Putro Romo. Karena ini yang menjadi tema inti wedaran saya dalam Artikel ini.

Para Kadhang kinasihku sekalian, ketahuilah… Cukup lama saya mempelajari tentang hal ini dan soal ini, dan hasil Praktek saya di TKP. COBA Para Kadhang Renungkan soal pertama dibawah ini.

Kalau Romo itu Tuhan, kenapa di dalam kalimah Kunci, unen/bunyinya baca’an Kunci, di bait kedua. Menggunakan…

“Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci” Kalau Romo itu Tuhan, harusnya kalimah Kunci, unen/bunyinya baca’an Kunci itu seperti ini “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Romo” bukan “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci”

COBA Para Sedulur dan Para Kadhang Renungkan soal kedua dibawah ini. Kalau Romo itu bukan Tuhan, kenapa di dalam kalimah Mijil Sowan, unen/bunyinya baca’an Mijil Sowan di bait ketiga. Menggunakan…

“Arso Sowan Ingarsaning Kanjeng Romo” Kalau Romo itu bukan Tuhan, harusnya kalimah Mijil Sowan, unen/bunyinya baca’an Mijil Sowan itu seperti ini “Arso Sowan Ingarsaning Gusti Ingkang Moho suci” bukan “Arso Sowan Ingarsaning Kanjeng Romo”

Dari sini, seharusnya Para Putro Romo merenung, mencari ada tujuan dan maksud di baliknya. Apa itu Romo…?! Siapa itu Romo…?!. Iya apa iya…!!!

Coba saja di pikir dan di renungkan kata-kata saya diatas itu. Jika tidak, sama saja dengan seorang muslim yang sudah mengikrarkan dua kalimah syahadzat, namun tidak mengerti makna dan maksud tujuan dari dua kalimah syahadzat yang di ikrarkannya. Sehingganya, apapun yang dijalankan atas agamanya, hanya sebatas katanya. Kulak jare adoh ndean. Hasilnya, capek, pusing, bingung bahkan tambah waktu tambah ragu dan dimbang, karena apa yang telah di jalankannya, hanya sebatas membuang waktu dengan sia-sia. Lalu… Apa itu Romo…?! Siapa itu Romo…?!

Yang Pertama tentang Apa itu Romo…?!
Lama amat muter-muternya pak WEB… Bukan muter-muter, saya sedang berusaha menjelaskan, dengan dasar logika bukti dan kenyeta’an. Biyar mudah di mengerti dan bisa diterima akal pikiran secara wajar/umum, riyil dan masuk akal. Kalau ujug-ujug saya katakan apa dan siapa itu Romo. Pasti bingung dan menebak-nebak jangka panjang. Baiklah… INI DIA Jawaban tentang apa dan siapa itu ROMO.

Tulisannya Rama, dibaca dengan suaru bahasa jawa timur, menjadi Romo. Jika dibaca dengan suara bahasa jawa tengah, menjadi dua suara, ada yang Romo ada juga yang Rama. Kalau dibaca dengan suara bahasa jawat barat, menjadi tetap seperti tulisannya, yaitu Rama.

Ada bahan dasar dari Bapak M. Semono Sastrohadidjoyo. Bahwa Rama atau Romo, itu bermakna Rasa Manunggal. Makna Rasa Manunggal dari sebutan Rama/Romo ini. baku, tidak bisa di otak atik, apapun alasannya. Yang bisa di otak atik sesuai praktek di lapangan, adalah sistem atau cara untuk membuktikannya. Dan bukti yang berhasil saya peroleh dari TKP. Bahwa Rama/Romo itu, bukan Tuhan, bukan nabi juga bukan dewa atau bapak Bapak M. Semono Sastrohadidjoyo yang makamnya di purworejo jateng. Rama/Romo… adalah Rasa Manunggal. Pen… Titik… tidak bisa di ganggu gugat dengan cara apapun.

Karena maksud dari kata Rama/Romo itu adalah paten, yaitu Rasa Manunggal yang tidak bisa di ganggu gugat atau di otak atik dengan teori apapun. Seperti halnya dengan Unen Kunci, yang tidak bisa ditambahi atau di kurangi atau di otak atik alias di ubah. Jadi,,, yang menjadi soal dan duduk perkaranya, adalah… Putro Romo nya itu, yang hampir tiap waktu nyambat/nyebut Rama/Romo itu, ngerti apa tidak, apa itu Rasa…?! paham apa tidak, apa itu Manunggal…?!

Sebab, di dalam ilmu pengertian atau lelaku. Rasa itu memiliki seribu bahasa penyampean. Dan inilah yang membuat kebanyakan orang merasa sulit untuk mengetahui, Rasa yang manakah yang di maksud itu. Begitu juga dengan Manunggal, sama saja, memiliki seribu bahasa penyampean, sesuai dengan masing-masing kadar pengelaman si penyampenya. Tapi Rasa Manunggal yang merupakan maksud dari kata Rama/Romo. Tidaklah sama dengan seribu bahasa penyempean trsebut.

Sebab, Rasa yang dimaksud, adalah Hasil dari semua Rasa yang memilik seribu bahasa penyampean itu. Sebab, Manunggal yang dimaksud, adalah Hasil dari semua Manunggal yang memiliki seribu bahasa penyampean itu. Cukup rumit dan sulit untuk menjelaskan Soal Rama/Romo kalau hanya sebatas dengan tulisan atau bahasa, jika tidak salin berhadapan secara langsung, karena mengungkap Rama/Romo, berati mengungkap bukti nyata dengan seriyil-riyilnya “lebih dari sekedar Rasa”. Seperti saya mengungkap nikmatnya wedang jahe buatan saya, saya tidak akan bisa memberikan bukti nikmatnya, kalau tidak ikut minum wedang jahenya. Untuk bisa ikut minum wedang jahenya, berati harus sama-sama menghadap wedang jahe tersebut kan…

Namun sesulit dan serumit apapun, saya akan coba untuk menjelaskannya semudah mungkin, agar bisa di pahami, jika tidak paham juga apa yang saya maksud, berati hanya ada satu cara, kita salin berhadapan secara langsung dan berbicara secara langsung pula. Agar gerakan pembuktianyya bisa di saksikan secara kasat mata, bukan kira-kira atau umpama.

Lanjut Punya Wedaran….
Olah Rasa atau Menggali Rasa di setiap Gerak dan Gerik Tubuh, adalah merupakan keseharusan bagi siapapun yang menjalankan Wahyu Panca Gha’ib. Kenapa…?! maksudnya agar tau dan bisa mengeri serta paham semua jenis Rasa yang ada di seluruh tubuhnya sendiri… Huff,,, jangan salah sangka dulu.

Hakikat Rasa itu satu, yaitu tidak ada apa-apa “ora ono opo-opo” (Tenteram), suwung/kosong. Jika masih ada apa-apa, berati itu bukan Rasa. Sebab Rasa itu; tidak ada apa-apa “ora ono opo-opo” (Tenteram), suwung/kosong. Tapi seperti yang sudah saya jelaskan diatas, bahwa Rasa itu, memiliki seribu bahasa penyampaian. Misal contoh; Rasa asin. Rasa pedas. Rasa manis. Rasa pahit dll… oke.

Manunggal di setiap Laku Patrap, adalah merupakan keharusan bagi siapapun yang menjalankan Wahyu Panca Gha’ib. Kenapa…?! maksudnya agar tau dan bisa mengeri serta paham semua jenis Manunggal yang ada di seluruh ajaran lelaku… Huff,,, jangan salah sangka dulu.

Hakikat Manunggal itu satu, itu tidak ada apa-apa “ora ono opo-opo” (Tenteram), suwung/kosong. Jika masih ada apa-apa, berati itu bukan Manunggal. Sebab manunggal itu; itu tidak ada apa-apa “ora ono opo-opo” (Tenteram), suwung/kosong. Tapi seperti yang sudah saya jelaskan diatas, bahwa Manunggal itu, memiliki seribu bahasa penyampaian. Misal contoh; Manunggaling panca indera. Manunggaling budi pakarti. Manunggaling angan-angan. Manunggaling laku lelaku. Manunggaling kawula gusti dll… oke.

Dan Rasa yang di maksud dengan Rama/Romo, adalah, hasil dari semua olah Rasa tersebut. Dan Manunggal yang di maksud dengan Rama/Romo, adalah hasil dari semua Laku Patrap tersebut.

Dan ini hanya bisa di buktikan dengan Praktek, bukan dengan bahasa atau tulisan. Pada inti jelasnya. Rama/Romo. Itu bukan Tuhan atau Nabi atau Bapak atau apa saja. “Rama/Romo itu adalah Rasa Manunggal” Seperti halnya bahwa Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan agama, kepercaya’an, kejawen, kebatinan, ilmu, perguruan dll. “Wahyu Panca Gha’ib itu adalah Pedoman Hidup” dan pedoman hidup itu, Sarana untuk kembali kepada asal usul sangkan Paraning dumadi.

Jadi… Rama/Romo itu bukan sebutan. Rama/Romo itu, tidak sama dengan Allah. Awlloh. Tuhan Bapa Tuhan Anak. Gusti. Dewa dll, apa lagi yang di makamkan di gunung damar sejiwan purworejo. Sebab; Allah. Awlloh. Tuhan Bapa Tuhan Anak. Gusti. Dewa dll. Itu sebutan. Sedangkan Rama/Romo, itu bukan sebutan. Melainkan yang di sebut Allah. Awlloh. Tuhan Bapa Tuhan Anak. Gusti. Dewa dll itu.

Misal Contoh; setiap manusia hidup, kan memiliki nama sebutan bukan…?! Contoh saya sendiri. Manusia Hidup, itulah sebutan saya sebagai orang, untuk membedakan antara hewan dan tumbuhan serta mahkluk lainnya. Saya memiliki Nama Toso Wijaya, nama lahir saya Djaka Tolos. Toso Wijaya atau Djaka Tolos itulah sebutan saya sebagai Manusia Hidup, agar orang bisa mudah memanggil saya. “yang disebut Manusia Hidup itu Raga/Wujud saya. Yang dinamai Toso Wijaya atau Djaka Tolos itu, juga Raga/Wujud saya. Yang dibilang manusia juga tetap Raga/Wujud saya” coba kalau saya berbulu halus, berkaki empat, berekor dan bersuara meong,,,, sudah tentu Raga/Wujud saya tidak akan di sebut manusia hidup, tidak dinamai Toso Wijaya atau Djaka Tolos dan tidak mungkin di bilang orang. Pasti Hewan/Binatang Kucing tuh… iya apa iya…?! He he he . . . Edan Tenan.

Itulah penjabaran tentang Perbeda’an antara Rama/Romo dengan Tuhan Allah. Awlloh. Tuhan Bapa Tuhan Anak. Gusti. Dewa dllnya. Kalau Allah. Awlloh. Tuhan Bapa Tuhan Anak. Gusti. Dewa dllnya itu. Nama sebutan. Sedang Rama/Romo itu, yang dinamai atau yang disebut. Itulah sekelumit Wedaran Pengalaman dari saya, tentang Apa Itu Rama/Romo.

Yang kedua. soal Siapa itu Romo…?!
Rama/Romo itu bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Melainkan Hidup kita sendiri yang sedang bersama Maha Suci. Itu sebab tersebut Rasa Manunggal “Rama/Romo” karena Hidup dan Maha Suci sedang bersatu padu, antara Sang Maha Kuasa dan yang dikuasai sedang menyatu. Maha Suci sebagai Penguasanya dan Hidup sebagai yang dikuasai. Tersebut Hyang Maha Suci Hidup. Hyang itu bertemunya-menyatunya. Maha Suci itu penguasanya dan Hidup itu yang dikuwasainya. Atau, Hyang itu lampu neonnya. Maha Suci itu kabel positipnya. Hidup itu kabel negatinya. Dan Laku Patrap Wahyu Panca Gha’b itu, mesin disel yang menyalurkan setrumnya. Sedangkan kita ini, adalah cahaya lampu neon tersebut. Kalau digambarkan dengan listrik. Semuanya salin berperan, salin memberi dan salin terkait, salim sambung menyambung hingga menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Itulah yang di maksud Rama/Romo. Itulah Makna dan tujuan dari Kata atau kalimat Rama/Romo. Satu saja ada yang terputus, maka takan dapat berfungsi. Artinya, tidak akan ada reaksi apa-apa walau semiliyar kali menyebut Rama/Romo. Jadi benar kalimat dasarnya. Yaitu Rasa Manunggal, karena jika ada satu yang tidak manunggal, tidak bisa Rama/Romo, bukan Rama/Romo. Ampang total bak menyaksikan hambusan angin kentut, kita bisa mencium baunya seperti apa, dan mengetahui siapa yang kentut. Namun tak dapat melihatnya, jika dipaksa untuk bisa melihat, bukannya terlihat, malah perdebatan dan pertengkarang yang didapat.

KESIMPULANNYA;
Rama/Romo itu. Adalah Rasa Manunggal. Rasa Manunggal itu. Bersatunya atau menyatunya Hidup dengan Maha Suci. Maksudnya… Hidup dan Maha Suci, jika bersatu atau manyatu menjadi satu, itu di sebut Rama/Romo. Kalau tidak bersatu dan menyatu. Berati bukan Rama/Romo. Belum Rama/Romo. Itu sebab, nyebut Rama/Romo semeliyar kalipun, pasti ampang/hambar, juga tidak bisa sabdo dadi, apa yang diucap tidak bisa dinyatakan atau dibuktikan. Karena ampang/hambar dan tidak sabdo dadi, akhirnya, keraguan bahkan ketakutan muncul menghantui dihampir setiap sa’at. Dan berbagai tebakan dan sangkan berkecamuk. Ungkapannya juga, kulak jare adol ndean.

Dan selama Putro Romo Itu menganggap dan mengira Bahwa Rama/Romo itu, adalah Tuhan Allah. Awlloh. Tuhan Bapa Tuhan Anak. Gusti. Dewa dllnya, apa lagi yang di makamkan di purworejo, maka selama itu pula, tidak akan pernah mengerti dan paham tentang arti selamat dan makna sempurna, serta tidak akan pernah tau, siapa yang di sembahnya selama ini. “bak katak dalam tempurung yang merindukan bulan” Mau bukti…!!! Datang temui saya, akan saya kenalkan dengan Rama/Romo-mu.

Hemmmm…. ini masa lalu saya, dan saya tau, sebelum sampai di dimensi ini, setiap Putro Romo mengalami seperti yang pernah saya alami dulu, hanya saja. Munafiq, malu untuk mengakuinya dan enggan untuk mencari tau. Akibatnya, walau memiliki Wahyu Panca Gha’ib, lakunya seperti katak dalam tempurung yang merindukan bulan. Wahyu Panca Laku yang merupakan Sistem untuk mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib saja, tidak tau tidak mengert dan tidak paham. Parhanya lagi, sudah tau kalau tidak tau tidak mengerti dan tidak paham. Tidak mau bertanya/kadhangan, tidak mau lelaku mencari. Katanya malu, gengsi. Asalkan Wahyu Panca Ghaib dijalani, pasti selamat dan sempurna. He he he . . . Edan Tenan. Tidak semudah bibir tanpa tulang mengatakan itu Brow… lihat saja sendiri buktinya di sekitarmu, ada berapa banyak Putro Romo yang hancur karena kebodohannya sendiri. Apa itu yang disebut selamat dan sempurna…!!!

Di dalam Kalimah Mijil Sowan. Tersebut Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono. Ini bukan nama atau sebutan atau titel jabatan. Ini adalah Wejangan yang Menjelaskan Rasa Manunggal Rama/Romo, bertemu atau bersatunya antara Hidup dan Maha Suci. Ini harus di Cari oleh setiap Putro Romo, dengan Cara Mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib dengan sistem Wahyu Panca Laku, minimal Menebar Cinta Kasih Sayang kepada siapapun dan apapun. Dan jawabannya tidak boleh katanya, harus dapat sendiri dan harus mengalaminya sendiri serta tau sendiri, karena tidak ada katanya didalam Wahyu Panca Gha’ib, tidak ada kira-kira didalam Wahyu Panca Laku.

Jika tidak…!!! Maka kalimat Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono ini, akan menjadi PR momok seumur hidupnya, yang membuat keraguan dan ketakutan bisa muncul sewaktu-waktu, tak kala mendapat masalah dan menghadapi problema kehidupan. Sebab Rama/Romo itu. Tidak sama dengan Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono.

Kenapa Putro Romo kalau sowan. kepada Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono…?! kok bukan kepada Gusti Ingkang Moho Suci atau Romo…?! kalau tentang Gusti dan Romo, walau hanya sekelumit sudah saya wedarkan diatas. Tapi kalau soal Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono. Sampai jumpa di Artikel berikutnya. He he he . . . Edan Tenan. Bersambung ke Artikel selalunjut. Dengan judul. Apa dan Siapa itu Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono…?!

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

INTI AJARAN AGAMA dan AJARAN KEJAWEN Serta WAHYU PANCA GHA’IB:


INTI AJARAN AGAMA dan AJARAN KEJAWEN Serta WAHYU PANCA GHA’IB:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Senin Pon. Tgl 23 Mai 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian, di dalam beberapa artikel, saya pernah mengatakan, bahwa demi untuk mengenal lebih dalam, tentang siapa dan bagaamana Hyang Maha Suci Hidup, yang saya puja dan puji disetiap tarikan napas saya, saya pernah keluar masuk agama dan kepercaya’an adat. Tujuannya tak lain dan tak bukan, adalah untuk belajar.

Karena pindah-pindah agama, setiap agama yang saya tinggalkan setelah mengetahui apa yang menjadi inti ajaran dari agama tersebut, mengutuk saya, dengan perkata’an dosa, musrik, sirik, laknat bahkan kafir. Namun saya tak peduli, setelah saya menerima Wahyu Panca Gha’ib, yang menjadikan saya benar-benar mengerti dan memahami Hyang Maha Suci Hidup sesembahan saya, saya tersenyum dan bersyukur, karena kutukan-kutukan itu, telah mengantarkan saya, berhasil mencapai Tujuan saya, yaitu mengenal Hyang Maha Suci Hidup sesembahan saya, secara mendalam dan keseluruhan.

Dan pada kesempatan kali ini, saya akan membagikan pengalaman saya. Tentang Inti Ajaran Agama dan Ajaran Kejawen yang pernah saya Pelajari dulu… Semoga apa yang saya bagikan ini, bisa menjadi Tambahan Pengalaman/Pengetahuan bagi Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian dimanapun berada. Karena saya berawal dari islam, maka ureannya akan saya awali dari ISLAM. Selamat membaca;

Nomer Satu Adalah Islam;
Islam (Arab: al-islam) yang artinya adalah “berserah diri kepada Tuhan”) adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Dengan lebih dari satu seperempat miliar orang pengikut di seluruh dunia, menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen. Islam memiliki arti “penyerahan”, atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: Allah). Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim, yang berarti “seorang yang tunduk kepada Tuhan” atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan.

Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi/rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

Kepercayaan Islam adalah;
1. Lima Rukun Islam.
2. Enam Rukun Iman.

Ajaran Islam adalah;
1. Allah.
2. Al-Qur’an.
3. Nabi Muhammad S.A.W.

Kepercayaan dasar Islam dapat ditemukan pada dua kalimah syahadatain (“dua kalimat persaksian”), yaitu “asyhadu an-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah”. Yang arti; “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah”. Esensinya adalah prinsip keesaan Tuhan dan pengakuan terhadap kenabian Muhammad. Adapun bila seseorang meyakini dan kemudian mengucapkan dua kalimat persaksian ini, ia dapat dianggap telah menjadi seorang muslim dalam status sebagai mualaf (orang yang baru masuk Islam dari kepercayaan lamanya).

Kaum Muslim percaya bahwa Allah mengutus Muhammad sebagai Nabi terakhir setelah diutusnya Nabi Isa 6 abad sebelumnya. Agama Islam mempercayai bahwa al-Qur’an dan Sunnah (setiap perkataan dan perbuatan Muhammad) sebagai sumber hukum dan peraturan hidup yang fundamental. Mereka tidak menganggap Muhammad sebagai pengasas agama baru, melainkan sebagai penerus dan pembaharu kepercayaan monoteistik yang diturunkan kepada Ibrahim, Musa, Isa, dan nabi lainnya oleh Tuhan yang sama. Islam menegaskan, bahwa agama Yahudi dan Kristen belakangan, setelah kepergian para nabinya telah membelokkan wahyu yang Tuhan berikan kepada nabi-nabi ini, dengan mengubah teks dalam kitab suci, memperkenalkan intepretasi palsu, ataupun kedua-duanya.

Inti Ajaran Islam yaitu;
1. Tauhid atau berserah diri kepada Allah SWT.
2. Ta’at Kepada Allah SWT.
3. Baro’ah atau berlepas diri dari Perbuatan Syirik dan
dari pelakunya.

A. Tauhid atau berserah diri kepada Allah SWT;
Yaitu kerendahan diri dan tunduk kepada Allah dengan tauhid, yakni mengesakan Allah dalam setiap peribadahan. Tidak boleh menunjukkan satu saja dari jenis ibadah kepada selain-Nya.

B. Taat Kepada Allah SWT;
Yaitu ketundukan dan kepatuhan yang mutlak kepada Allah. Dan inilah sebenarnya yang merupakan bukti kebenaran pengakuan imannya. Penyerahan dan perendahan semata tidak cukup apabila tidak disertai ketundukan terhadap perintah-perintah Allah dan menjauhi apa-apa yang dilarang, semata-mata hanya karena taat kepada Allah dan hanya mengharap wajah-Nya semata, berharap dengan balasan yang ada di sisi-Nya serta takut akan adzab-Nya.

C. Baro’ah atau berlepas diri dari Perbuatan Syirik dan dari pelakunya;
Yaitu berlepas diri dan membenci perbuatan syirik dan pelakunya. Karena ia belum dikatakan beriman dengan sebenar-benarnya, sebelum ia mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah.

Sedangkan Intisarinya Ada Pada Tauhid;
Tauhid bukan hanya ajaran Nabi Muhammad saw, tetapi juga merupakan ajaran setiap nabi/rasul yang diutus Allah SWt. ( al-Anbiya’ 25 ).
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.”

Nabi Nuh mengajarkan tauhid ( al-A’raf 59 ).
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).

Nabi Hud mengajarkan tauhid ( Hud 50 ).
Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja.

Nabi Shalih mengajarkan tauhid ( Hud 61 ).
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).”

Nabi Syu’aib mengajarkan tauhid ( Hud 84 ).
Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”.

Nabi Musa mengajarkan tauhid ( Thoha 13-14 ).
“Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu)”.
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”

Nabi Ibrahim, Ishaq dan Ismail juga mengajarkan tauhid ( al-Baqarah 133 ).
“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

KESIMPULAN;
Islam adalah agama yang mengimani satu Tuhan yaitu Allah SWT.
Pokok-pokok ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan serta memperhatikan isi Al-Qur’an secara keseluruhan, maka dapat dikembangkan bahwa pada dasarnya pokok ajarannya, hanyalah kembali pada tiga hal yaitu tauhid, taat dan baro’ah/berlepas diri. Itulah intisari ajaran para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah kepada umat manusia. Maka barangsiapa yang mengaku islam, namun tidak melaksanakan ketiga hal ini, pada hakikatnya dia bukanlah pengikut dakwah para Nabi.

Nomer Dua.
Inti Ajaran Agama Hindu;
Agama Hindu merupakan agama yang mempunyai usia tertua dan merupakan agama yang pertama kali dikenal oleh manusia. Hindu mengajarkan banyak hal, baik ilmu yang berhubungan dengan dunia rohani maupun dunia material. Ajaran Hindu sangat luas , mulai dari hal yang sederhana hingga yang rumit, yang sulit dijangkau oleh pikiran biasa.

Bagi umat Hindu, agama Hindu dikenal dengan nama Sanatana Dharma, Artinya kebenaran yang abadi, namun orang umum menyebutnya sebagai Hindu, karena agama ini berasal dari lembah sungai Shindu. “Kata Hindu pertama kali digunakan oleh orang Persia dan kemudian dipopulerkan pada masa penjajahan Inggris” Namun yang jelas didalam Weda agama Hindu disebut dengan nama Sanatana Dharma.

Selain Hindu mengajarkan banyak hal ia pula memiliki banyak kitab suci, baik Sruti maupun Smriti (smerti) dan juga terdiri dari beberapa aliran seperti Shaivisme,Vaishnavisme dan Śrauta . Meskipun Hindu mengajarkan berbagai hal, sudah pasti dari keseluruhan ajaran yang terkandung memiliki inti atau pokok ajaran.

Dan Inti ajaran Hindu dikonsepkan kedalam “Tiga Kerangka Dasar” dan “Panca Sradha”. Tiga kerangka dasar tersebut terdiri dari Tattwa (Filsafat) Susila (Etika) Upacara (Yadnya).
Tattwa ¬ – Ajaran Hindu kaya akan Tattwa atau dalam ilmu modern disebut filsafat , secara khusus filsafat disebut Darsana. Dalam perkembangan agama Hindu atau kebudayaan veda terdapat Sembilan cabang filsafat yang disebut Nawa Darsana.

Pada masa Upanishad, akhirnya filsafat dalam kebudayaan veda dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu astika (kelompok yang mengakui veda sebagai ajaran tertinggi) dan nastika (kelompok yang tidak mengakui Veda ajaran tertinggi).

Terdapat enam cabang filsafat yang mengakui veda yang disebut Sad Darsana, (Saṁkhya, Yoga, Mimamsa, Nyaya, Vaisiseka, dan Vedanta) dan tiga cabang filsafat yang menentang veda yaitu Jaina, Carvaka dan Budha (agama Budha).

Susila – Secara harfiah susila diartikan sebagai etika . hal-hal yang tekandung yang dikelompokan kedalam susila memuat tata aturan kehidupan bermasyarakat yang pada intinya membahas perihal hukum agama. Mulai dari hukum dalam kehidupan sehari-sehari hingga hukum pidana (Kantaka Sodhana) dan hukum perdata (Dharmasthiya).

Upacara – Yang dimaksud upacara dalam agama Hindu adalah ritual keagamaan , sarana ritual keagamaan disebut Upakara , upakara di Bali disebut Banten. Upacara ini dapat dikelompok kedalam beberapa bentuk korban suci (Yajna) yang disebut Panca Yadnya (Panca Maha Yadnya). Ada banyak jenis panca Yadnya tergantung dari kitab mana uraian dari panca yadnya tersebut, artinya meskipun Panca Yadnya sama-sama terdiri dari lima jenis yadnya, namun bagian-bagian yang disebutkan berbeda-beda masing–masing uraian kitab suci Smrti.

Selain tiga kerangka dasar agama Hindu, ajaran hindu berlandaskan pada lima keyakinan yang disebut Panca Sradha (lima dasar keyakinan umat Hindu) yang melitputi : Widhi Tattwa, keyakinan terhadap Tuhan (Brahman). Atma Tattwa, keyakinan terhadap Atman (Roh). Karmaphala Tattwa, keyakinan pada Karmaphala (hukum sebab-akibat). Punarbawa Tattwa, keyakinan pada kelahiran kembali (reinkarnasi) dan Moksa Tattwa, keyakinan akan bersatunya Atman dengan Brahman

Nomer Tiga.
Inti Ajaran Agama Buddha;
1. Budha.
Budha Berasal dari bahasa sansekerta, Budha berarti menjadi sadar, kesadaran sepenuhnya, bijaksana. Perkataan Budha terbentuk dari kata kerja “Budh” yang artinya bangun; bangun dari dalam kesesatan dan keluar ditengah-tengan cahaya pemandangan yang benar. Budha adalah orang yang mendapat pengetahuan dengan tidak mendapat wahyu dari Tuhan dan bukan dari seorang guru, sebagaimana disebutkan dalam Mahavagga 1,67 : “Aku sendiri yang mencapai pengetahuan, akan kukatakan pengikut siapakah aku ini? Aku tak mempunyai guru, aku guru yang tak ada bandingannya”.

Budha bukan nama orang melainkan gelar. Nama pendiri agama Budha ini ialah Sidharta Gautma atau biasa juga disebut Cakyamuni, artinya orang tapa dari suku turunan Cakyas. Sidharta Gautama dilahirkan di Kapilawastu, sebelah utara Benares di daerah Nepal sekarang, di lereng pegunungan Himalaya pada tahun 566 SM. Sidharta Gautama anak raja Sudhodana.

2. Dharma.
Dharma adalah doktrin atau pokok ajaran, intisari ajaran agama Budha, dirumuskan dalam empat kebenaran mulia (Catur Arya Saccani), yaitu : Dukkha ialah penderitaan Samudya, ialah sebab penderitaan. Nirodha ialah peniadaan penderitaan. Marga ialah delapan jalan kebenaran.

Dharma mengandung empat makna utama;
1. Doktrin.
2. Hak, Keadilan, kebenaran.
3. Kondisi.
4. Barang yang kelihatan atau Fenomena.

Budha Dharma adalah suatu ajaran yang mengguraikan hakekat kehidupan, berdasarkan pandangan terang, yang dapat membebaskan manusia, dari kesesatan atau kegelapan bathin dan penderitaan yang disebabkan ketidakpuasan. Budha Dharma meliputi unsur-unsur agama, kebaktian, filosofi, psikologi, falsafah, kebatinan, metafisika, tata susila, etika.dll.

Tripitaka Mahayana termasuk dalam Budha Dharma.
Tripitaka.
Tripitaka adalah kitab suci agama Budha. “Tri” artinya “tiga” dan “Pitaka”artinya “keranjang”atau kumpulan, jadi Tripitaka adalah tiga keranjang. Tripitaka terdiri dari :

Vinaya Pitaka.
Vinaya Pitaka merupakan suatu kumpulan tata tertib dan peraturan cara hidup yang ditetapkan untuk mengatur murid-murid sang Budha yang telah diangkat menjadi Bhikku atau Bhikkuni ke dalam Sangha.

Sutta Pitaka.
Sutta Pitaka adalah kumpulan ceramah, dialog, atau berisi wejangan-wejangan sang Budha.

Adidharma Pitaka.
Adidharma Pitaka adalah kumpulan doktrin yang lebih, hasil susunan sistematis dan analisis skolastik dari bahan-bahan yang ditemukan dalam Sutta Pitaka. Adidharma Pitaka yang berisi penjelasan dogmatic yang didasarkan atas ajaran itu.

Triratna.
Triratna yang bermakna tiga permata adalah tiga buah pengakuan dari setiap penganut agama Budha. seperti halnya dengan Credo dalam Kristen, Syahadat dalam Islam. Tiga pengakuan di dalam agama Budha itu berbunyi :
“Buddham Saranam Gocchami”
“Dhamman Saranam Goccani”
“Sangham saranam dacchami”

Bermakna :
“Saya berlindung diri di bawah Budha
“Saya berlindung diri di Bawah Dharma”
“Saya berlindung diri di bawah Sangha”
Triratna harus diucapkan tiga kali. Pada kali yang kedua diawali dengan Dutiyam, yang bermakna : buat kedua kalinya. Pada kali yang ketiga diawali dengan Tatiyam, yang bermakna : buat ketiga kalinya.

Nomer Empat.
Inti Ajaran Agama Kristen;
Intisari iman Kristen adalah sebuah relasi yang didasarkan cinta kasih. Ketika kita mendengar hal ini, kesannya begitu sederhana, namun sebenarnya begitu kompleks. Di dalam dunia, ada empat unsur yang menyusun sebuah agama, yaitu: esksistensi Sang Ilahi, adanya wahyu yang diturunkan oleh Sang Ilahi, adanya penerima wahyu tersebut, dan adanya penganut ajaran yang diteruskan oleh penerima wahyu tersebut.

Dalam agama, manusia sebenarnya datang kepada pengajaran, bukan kepada pendiri agama. Pola pikir manusia seringkali didasarkan pada apakah manusia paham dan mengamalkan ajaran agama sehingga menyenangkan Tuhan. Pendiri agama hanya bertindak sebagai seorang guide (pemandu). Apabila si pendiri agama mati ataupun bangkit dari kematian pun, tidak seorangpun yang peduli. Contoh nyata hal ini adalah ajaran agama Hindu. Tidak seorangpun yang tahu siapa yang mendirikan agama Hindu, tapi Hindu tetap mempunyai banyak penganut, terutama di India dan Bali (Indonesia).

Lalu, apa bedanya ke-Kristen-an dengan agama-agama lain?
Yesus berkata; bahwa Dia adalah jalan dan kebenaran dan hidup (Yohanes 14:6). Keempat unsur ajaran di atas tidak bisa diterapkan pada diri Yesus. Yesus adalah Allah yang mewahyukan diri. Dengan demikian, keempat unsur di atas tidak dapat diterapkan pada kekristenan.

Kekristenan merupakan sebuah relasi: relasi antara Dia (Tuhan) dan aku. Seseorang disebut sebagai seorang Kristen apabila orang tersebut menerima Kristus. Menjadi Kristen bukan karena rajin pergi ke gereja, rajin baca Alkitab, rajin berdoa, dll, tapi adanya keintiman relasi bersama Yesus, relasi yang didasarkan pada cinta kasih. Banyak cerita di dunia yang mengisahkan tentang cinta kasih. Kita mungkin akrab dengan cerita-cerita cinta kasih dalam Walt Disney: Pocahontas, Beauty and the Beast, Snow White, dll.

Semua cerita cinta kasih di dunia hanyalah bayang-bayang dari cerita cinta kasih terbesar yang ada di dunia, yaitu cinta kasih Yesus yang meninggalkan takhta sorgawi dan mati di kayu salib. Dalam sebuah relasi cinta kasih, ada sebuah tuntutan yang begitu tinggi, yaitu: “tidak membagi cinta kasih” alias “tidak mendua”. Cinta Kasih menuntut untuk “tidak boleh dibagi”. Dalam perjalanan iman Kristen, kita tidak bisa menyangkal bahwa kita telah menduakan cinta kasih Tuhan. Kita telah memberhalakan sesuatu dan membagi cinta kasih Tuhan kepada yang lain.

Cinta Kasih pasti menuntut, cinta kasih pasti meminta ini dan itu, cinta kasih pasti mengatur. Misalnya orang tua yang mencintai anak, pasti menuntut banyak hal bagi si anak. Tidak mungkin orang tua yang mencintai anak, malah berkata kepada si anak: “Loe mau apa, silahkan kerjakan, emang gue pikirin”.

Banyak orang Kristen berkata mencintai Tuhan, tapi sebenarnya cinta itu bersifat narsis, untuk menguntungkan diri sendiri. Apabila hubungan kita dengan Tuhan adalah hubungan cinta kasih, maka ada tuntutan.

Ayah Pendeta Yohan, awalnya adalah seorang atheis yang bertobat menjadi seorang Kristen. Bagi Penddeta Yohan, pergi ke gereja, membaca Alkitab, dan berdoa menjadi sebuah tuntutan. Kekristenan dalam hidup Pendeta Yohan, dimulai dengan sebuah tuntutan, bukan relasi. Tapi bagi ayah Pendeta Yohan, tuntutan-tuntutan itu merupakan ekspresi cintanya kepada Tuhan. Dalam sebuah rumah tangga Kristen, sulit bagi anak-anak generasi kedua menjadi Kristen sebagai hasil relasi dengan Tuhan, tapi lebih kepada tuntutan.

Dalam sebuah relasi, kita memahami bahwa relasi harus ada tujuan mau kemana. Dalam sebuah rumah tangga, sebuah hal yang membuat rumah tangga rusak, adalah karena tidak ada tujuan yang jelas sampai keduanya dipanggil Tuhan. Sebuah relasi itu bagaikan minyak dan air dalam satu gelas. Apabila minyak dan air berhenti diaduk, maka keduanya terpisah. Apabila hubungan dengan Yesus adalah hubungan cinta kasih, maka kita bertanya: “Mau kemana hubungan ini?” Kita harus mengupayakan hubungan cinta kasih tersebut berjalan baik dalam tuntunan dan kasih karunia Tuhan sendiri, sehingga segala yang kita kerjakan adalah sebagai bentuk ekspresi cinta kasih kita kepada Tuhan. Sebagai umat kristen, entah itu Katolik maupun Protestan. Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing: “Dalam relasi dengan Yesus, apakah saya melihat keindahan-keindahan Kristus?”

Nomer Lima.
Inti Ajaran Kejawen;
Sebenarnya, kedjawen adalah ajaran Budi Pakerti Luhur Tanah Jawa. Budaya dan kebudayaan adalah jati diri suatu bangsa. Ajaran budi pakerti luhur dari sebuah pemikiran rasa cipta dan karsa dari manusia. Sebagai orang jawa, sudah sepatutnya budaya sebagai jati diri ini, digali dilestarikan dan diajarkan, bukan malah ditolak mentah-mentah, di sia-sia dianggap tak berharga. Perlu diketahui, yang membuat bangsa lain kagum kepada kita, bukanlah sekedar teknologi dan kemajuan, tapi adalah orisinilitas dalam pola tingkah laku, yaitu budaya kebudayaan ajaran budi pakerti luhur, sebagai identitas jati diri pribadi sebuah bangsa.

Kejawen (bahasa Jawa Kejawèn) adalah sebuah kepercayaan yang terutama dianut di pulau Jawa, oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya, yang menetap di Jawa. Kejawen hakikatnya adalah suatu filsafat dimana keberadaanya ada sejak orang Jawa (Bahasa Jawa: Wong Jawa , Krama: Tiyang Jawi) itu ada. Hal tersebut dapat dilihat dari ajarannya yang universal dan selalu melekat berdampingan dengan agama yang dianut pada zamannya. Kitab-kitab dan naskah kuno Kejawen tidak menegaskan ajarannya sebagai sebuah agama, meskipun memiliki laku. Kejawen juga tidak dapat dilepaskan dari agama yang dianut, karena filsafat Kejawen dilandaskankan pada ajaran agama yang dianut oleh filsuf Jawa.

Sejak dulu, orang Jawa mengakui keesaan Tuhan, sehingga menjadi inti ajaran Kejawen, yaitu mengarahkan insan. Sangkan Paraning Dumadhi; (Dari mana datang dan kembalinya hamba Tuhan) dan membentuk insan se-iya se-kata dengan Tuhan-nya. Manunggaling Kawula lan Gusthi; (Bersatunya Hamba dan Tuhan). Dari kemanunggalan itu, ajaran Kejawen memiliki misi sebagai berikut:

Mamayu Hayuning Pribadhi (sebagai rahmat bagi diri pribadi)
Mamayu Hayuning Kaluwarga (sebagai rahmat bagi keluarga)
Mamayu Hayuning Sasama (sebagai rahmat bagi sesama manusia)
Mamayu Hayuning Bhuwana (sebagai rahmat bagi alam semesta)

Berbeda dengan kaum abangan kaum kejawen relatif taat dengan agamanya, dengan menjauhi larangan agamanya dan melaksanakan perintah agamanya namun tetap menjaga jatidirinya sebagai orang pribumi, karena ajaran filsafat kejawen memang mendorong untuk taat terhadap Tuhan-nya. jadi tidak mengherankan jika ada banyak aliran filsafat kejawen menurut agamanya yang dianut seperti: Islam Kejawen, Hindu Kejawen, Kristen Kejawen, Budha Kejawen, Kejawen Kapitayan (Kepercayaan) dengan tetap melaksanakan adat dan budayanya yang tidak bertentangan dengan agamanya.

Nomer Enam.
Inti Ajaran Wahyu Panca Gha’ib;
Adalah percaya atau yakin. Bahwa hanya hidup, yang bisa menjadi jalan pulangnya jiwa dan raga kita, setelah meninggalkan kehidupan di dunia ini. karena hanya Hidup, yang berasal dari Hyang Maha Suci Hidup. Selain Hidup, diciptakan dengan bahan. Sedangkan Hidup, langsung berasal dari Hyang Maha Suci Hidup, dengan cara di tiupkan bersama Sabda Kun Faya Kun, pada awal pencipta’an.

Salokanya; “Kenalilah dirimu sendiri. Sebelum engkau mengenal AKU”

Bagi Pelaku Wahyu Panca Gha’ib. Hidup adalah Guru Sejati-nya. Penuntun-nya. Rasul-nya. Utusan yang mengemban amanah dan firman dari Hyang Maha Suci Hidup, secara langsung untuknya, tanpa perantara apapun dan siapapun. Jadi, tidak ada satupun yang bisa mengembalikan atau memulangkan atau bertanggung jawab, tentang jiwa raga lahir bathin kita, kecuali Hidup kita sendiri.

Salokanya; “Galilah Rasa yang meliputi seluruh tubuhmu. Karena di dalam tubuhmu. Ada Firman Tuhan yang bisa menjamin, hidup mati dan dunia akheratmu”

Semboyan-nya. Kita bisa melakukan apa saja. Karena Hidup. Bisa menyebut Tuhan/Allah. Nabi. Rasul. Bisa ngaji/baca alqur’an, bisa beramal dan beribadah, bisa makan minum dll, itu karena kita Hidup, coba kalau tidak Hidup, bisakah melakukan atau berbuat sesuatu… tidak bukan, paling tidak ya di kubur, karena kalau tidak Hidup, itu bukan manusia, melainkan mayat atau bangkai, yang layaknya hanya di kubur.

Salokanya; “Jangan sekali-kali mengaku manusia hidup. Jika tidak bisa merasakan hidupnya. Sebab kalau tidak bisa merasakan hidupnya, itu bukan manusia hidup. Melainkan mayat hidup”

Prinsipnya; “Jadi, sudah merupakan keharusan untuk mengenal Hidup dan Mengikuti Pentunjuknya, karena hanya petunjuk dari hiduplah, yang tidak meleset dari Firman Hyang Maha Suci Hidup”

Sebenarnya Wahyu Panca Gha’ib itu, lebih tepat disebut Laku, bukan ajaran. Laku itu, niyat pribadi yang sudah ada sejak sekian lama, lalu diarahkan hanya pada satu tujuan saja, yaitu Maha Suci Hidup. Bukan yang lain selainnya. Wahyu Panca Gha’ib juga tidak bisa disebut, agama atau kepercaya’an, juga bukan kejawen atau kebatinan, bukan golongan, bukan perguruan atau ilmu kesaktian jaya kawijayan, atau partai politik dan lain-lain sebagainya. Wahyu Panca Gha’ib, adalah Sarana untuk Laku Manunggal.

Apa itu Manunggal?
Manunggal itu menyatu atau bersatu.
Menyatu dan bersatu dengan apa dan siapa?
Menyatu atau bersatu dengan Hidup.
Apa yang disatukan dengan Hidup?
Kawula dan Gustinya atau Sedulur papat kalima Pancernya.
Apa itu kawula gusti atau sedulur papat kalima pancer?

Kawula atau Sedulur Papat itu, angan-angan, budi, pakarti dan panca indera, atau mutmainah, aluamah, supiyah, dan amarah. Gusti atau Pancer adalah Wujud/Raga. Itulah yang disatukan dengan Hidup, agar jiwa dan raganya dapat menyatu dengan Hidup, se iya sekata, menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam sikon apapun, seperti dikala Hyang Maha Suci Hidup menciptakan.

Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan agama atau kepercaya’an, bukan kejawen atau golongan, bukan perguruan atau kebathinan, bukan ilmu atau partai dan politik serta lain-lainnya. Wahyu Panca Gha’ib, adalah Sarana untuk kembali pulang ke asul usul sangkan paraning dumadi.

Apa itu asal usul sangkan paraning dumadi?
Proses asal usulnya manusia hidup.
Memang asal usulnya manusia hidup itu dari mana?
Dari Maha Suci.
Apa itu Maha Suci?
Penguwasa segalanya. Yang Maha diatas segala yang termaha, yang Langgeng dan Mutlak, tak bisa dicampuri dan tercampuri oleh apapun, kecuali yang berasal dari Maha Suci.
Apa yang berasal dari Maha Suci?
Hidup.

Apa itu Hidup?
Hidup itu… Yang bisa menjadikan Manusia Hidup, bisa bicara, makan, minum, lapa, kenyang dll, bisa bergerak, berpikir dll serta menjadikan manusia hidup memiliki Rasa. Krasa. Rumangsa. Ngrasakake Urip. Bisa menyebut Tuhan. Nabi. Agama. Bisa mengaku hebat, pintar pandai dll.

Nah,,, untuk mengarah ke Hidup-nya sendiri inilah “Wahyu Panca Gha’ib” karena hanya dengan Hidup yang berasal dari Maha Suci ini, kita bisa kembali ke asal usul kita. Sebab, hanya Hidup-lah yang bisa mengantar kita kembali ke Rahmatullah, yaitu Maha Suci Hidup. Bukan ilmu atau amal yang menumpuk atau ibadah yang hebat dll, karena semuanya itu, berbahan, yang tidak berbahan, yang murni dari Maha Suci itu, hanya Hidup.

Maka, hanya melalui Hidup yang bersemayan didalam wujud kita sendiri inilah. Kita bisa kembali pulang ke Rahmatullah. Kalau dalam istilah islamnya “Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Roji’un” kita milik Hyang Maha Suci Hidup, dan berasal dari Hyang Maha Suci Hidup. Tentu harus kembali hanya kepada Hyang Maha Suci Hidup, karena kita berasal dari-Nya. Bukan ke Sisi-Nya atau ke Surga-Nya dan yang lainnya selain Hyang Maha Suci Hidup, apa lagi ke gunung goa dan pepohonan. Kalau dalam istilah kejawennya “Curigo manjing warongko-Warongko manjing curigo” Sirna Sempurna tanpa Bekas apapun.

Inti Laku Ajaran Wahyu Panca Gha’ib, adalah tentang kesempurna segala hal yang hidup dan yang tidak hidup. Maksudnya… Sempurna selama masih Hidup di dalam kehidupan dunia ini, dan Sempurna di kehidupan setelah mati meninggalkan dunia ini. Inti Laku Ajaran Wahyu Panca Gha’ib ini, bisa di ketahui dari sistemnya manekung/maneges atau manembah/sembahyangnya. Yaitu “Wahyu Panca Laku” sebagai berikut;

Wahyu Panca Laku;
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti
5. Sampurnaning Pati Urip.

Wahyu Panca Ghaib dan Wahyu Panca Laku;
1. Kunci – Manembahing Kawula Gusti.
2. Paweling – Manunggaling Kawula Gusti.
3. Asmo – Leburing Kawula Gusti.
4. Mijil – Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Singkir – Sampurnaning Pati Urip.

Wahyu Panca Gha’ib tidak mengharuskan Pelakunya untuk begitu dan begini, meninggalkan agama atau kepercaya’annya dan menjauhi adat istiadat atau status serta identitas dan latar belakang-nya. Semuanya boleh dan di perkenankan, selagi benar dan tidak menyakiti serta merugikan apapun dan siapapun. Wahyu Panca Gha’ib hanya mengajak pelakunya untuk menggali Rasa yang meliputi seluru tubuhnya, karena dengan menggali Rasa yang meliputi seluruh tubuh inilah, kita bisa keluar dari kotak apapun sebutannya, dan membebaskan diri dari semua jenis dan bentuk ego kemelekatan. Sebab ego kemelekatan inilah, yang mempesulit kita, untuk bisa mengerti dan paham arti dan makna dari segalah hal yang sebenarnya. Dan kerena kesulitan yang kita buat sendiri inilah, kita jadi terlepas, bahkan terpisah jauh dari Hakikat Hidup-nya sendiri. Sehingga lupa pada asal usul sangkan paraning dumadi-nya sendiri, yang merupakan awal dan akhir kehidupan-nya.

Itu sebab Wahyu Panca Gha’ib tidak bisa disebut atau dibilang sebagai; agama atau kepercaya’an, kejawen atau golongan, perguruan atau kebathinan, ilmu atau partai dan politik serta lain-lainnya. Karena Wahyu Panca Gha’ib adalah. Hakikat-nya Maha Suci Hidup (Tuhan/Allah). Lakunya Tentang Hidup dan Prosesnya soal Rasa. Hidup dan Rasa ini, dimiliki oleh semua mahkluk hidup. Tidak peduli agama, adat, suku dan partai golongannya.

Sebab Inti Lelaku Ajaran Wahyu Panca Gha’ib, adalah tentang kesempurna segala hal yang hidup dan yang tidak hidup. Maksudnya… Sempurna selama masih Hidup di dalam kehidupan dunia ini, dan Sempurna di kehidupan setelah mati meninggalkan dunia ini. hingga tujuh turunan kekanan, kekiri, kedepan, kebelakang, keatas dan kebawah keluarga kita. Inti Lelaku Ajaran Wahyu Panca Gha’ib ini, bisa di ketahui dari caranya praktek di dalam kehidupan sehari-harinya sa’at berbaur/bermasyarakat. Yaitu sebagai berikut;

Praktek Wahyu Panca Gha’ib dengan menggunakan sistem Wahyu Panca Laku;
1. Pasrah kepada Maha Suci Hidup.
2. Menerima Maha Suci Hidup.
3. Mempersilahkan Maha Suci Hidup.
4. Merasakan Prosesnya.
5. Dengan Cara Menebar Cinta Kasih Sayang kepada apapun dan siapapun dimanapun.

KESIMPULANNYAL;
Karena Intisari ini. Hanya Ada Di Dalam Wahyu Panca Gha’ib. Dan Wahyu Panca Gha’ib bisa dimiliki dan di jalankan oleh semuanya, siapapun dan bagaimanapun dia, tanpa terkecuali. Tanpa harus meninggalkan agama atau ganti agama atau keluar dari agama dan bla… bla… bla… lainnya. Berati Wahyu Panca Gha’ib. Adalah Penyempurna Intisarinya, Ajaran-ajaran yang sudah saya uraikan diatas. Buktinya saya sendiri. Bukan orang lain. Dan… Silahkan direnungkan. Lalu Tentukan. Terus Lakukan jika menginginkan Bukti Nyatanya.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Apa Yang Seharusnya Dilakukan Oleh Manusia Hidup Di Dunia Ini..?! DAN Bagaimana Cara Menghadapi Masalah Dengan Benar dan Tepat…?!


Apa Yang Seharusnya Dilakukan Oleh Manusia Hidup Di Dunia Ini..?!
DAN Bagaimana Cara Menghadapi Masalah Dengan Benar dan Tepat…?!
Oleh Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Sabtu Wage. Tgl 14 Mai 2016

Djaka Tolos;
Pak WEB…
No. 01. Apa Yang Harus Dilakukan Oleh Manusia Hidup Di Dunia ini..?!

Wong Edan Bagu;
Yang Harus Dilakukan Oleh Manusia Hidup Di Dunia ini. Adalah merintis jalan pulang ke rumahnya sendiri, di kampung halaman sendiri, sembari mempersiapkan diri untuk kembali pulang ke rumahnya sendiri, di kampung halamannya sendiri. Dunia ini bukan rumah kita, bukan tempat kita, bukan kampung halaman kita, kita berada di dunia ini, karena angkara murka kita sendiri, karena angkara murka diri kita sendiri inilah, kita jadi terusir dari rumah dikampung halaman kita.

Masih ingat kisah ADAM dan HAWA pada mulanya bukan…
Kenapa dan mengapa Nenek Moyang kita itu terusir dari Surga…?!

Kita berada di dunia ini, sebagai kalifah yang sedang berjihad, jihad memerangi angkara murka, angkara murka yang bersembunyi dalam diri pribadi kita sendiri, bukan diluar diri pribadi kita, dan akibat dari angkara murka inilah, kita menjadi berada di dunia ini, bukan di tempat yang seharusnya kita tempati, tempat manusia hidup yang sesungguhnya, bukanlah di dunia ini, melainkan di surga, dunia ini tempatnya para hewan dan mahluk lainnya, selain manusia hidup. Sebab itu, semua manusia hidup di dunia ini, tidak ada satupun yang tidak punya masalah, karena di dunia ini bukan tempatnya, tapi tempatnya mahluk lain selain manusia hidup.

Senyaman-nyamannya dan sebahagia-bahagianya di tempat lain, tidak akan senyaman dan sebahagia di rumah sendiri dan di tempatnya sendiri, walau tempatnya di kampung pelosok, rumahnya gubug reyod, pasti nyaman dan bahagia, apa lagi semua kebetuhan tercukupi dan segala keperluan tersedia.

Tapi coba jika bukan di tempat dan rumahnya sendiri, misalnya rumah kontrakan atau menempati rumah dinas di kota atau dimanapun yang bukan kampungnya sendiri, sekalipun tercukupi dan terpenuhi, saya berani Pastikan, tidak akan nyaman atau bahagia, karena ada batasan-batasan tertentu, aturan-aturan tertentu, ikatan-ikatan tertentu, yang membuat kita tidak nyaman dan jauh dari bahagia, bukankah begitu…?!

Seperti itulah dunia yang sedang kita huni ini, yang sedang kita tempati ini. disini kita hanya sementara, bak musyafir yang sedang singgah minum, sekejap dan berlalu, Itu sebagai gambaran perumpama’annya saja. Selebihnya, jauh dari yang saya gambarkan diatas. Karena kenyata’an yang benar, bukanlah gambaran umpama atau kira-kira.

Djaka Tolos;
Lalu, bagaimana cara kita merintis jalan pulang ke rumah sendiri, di kampung halaman sendiri, sembari mempersiapkan diri untuk kembali pulang ke rumah sendiri, di kampung halamannya sendiri itu, pak WEB…?!

Wong Edan Bagu;
Untuk bisa merintis, membersihkan jalan, berati kita harus punya sarana alat untuk merintis dan membersihkan jalan, bukankah begitu…

Djaka Tolos;
Sarana alatnya apa pak WEB…?!

Wong Edan Bagu;
Sarana alatnya adalah Wahyu Panca Gha’ib. Yaitu; Kunci. Paweling. Asmo. Mijil dan Singkir.

Djaka Tolos;
Bagaimana teori untuk merintis jalan pulang ke rumah sendiri, di kampung halaman sendiri, sembari mempersiapkan diri untuk kembali pulang ke rumah sendiri, di kampung halamannya sendiri, dengan menggunakan sarana alat Wahyu Panca Gha’ib itu pak WEB…?!

Wong Edan Bagu;
Teorinya, jalankan Wahyu Panca Gha’ib dengan sistem Wahyu Panca Laku. Yaitu; Manembahing kawula gusti. Manunggaling kawula gusti. Leburing kawula gusti. Sampurnaning kawula gusti dan Sampurnaning urip-pati/pati-urip.

Djaka Tolos;
Maaf, apakah ada perbeda’an antara Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku itu pak WEB…?! Sepintas terkesan sama.

Wong Edan Bagu;
Wahyu Panca Gha’ib itu, sarana atau alat, sedangkan Wahyu Panca Laku itu, adalah cara atau sistem untuk menjalankan Wahyu Panca Gha’ib.

Djaka Tolos;
Bagaimana Praktek menjalankan Wahyu Panca Gha’ib yang tepat dan benar, dengan menggunakan sistem Wahyu Panca Laku itu, pak WEB…?!

Wong Edan Bagu;
Luangkan waktu, minimal satu jam dalam sehari semalam, untuk berSemedi “lebih lama lebih bagus”. Lalu Patrapkan Wahyu Panca Gha’ib dengan Sistem Wahyu Panca Laku.

Lakunya Kunci itu; Manembahing kawula gusti. Patrapkan itu…
Lakunya Paweling itu; Manunggaling kawula gusti. Patrapkan itu…
Lakunya Asmo itu; Leburing kawula gusti. Patrapkan itu…
Lakunya Mijil itu; Sampurnaning kawula gusti. Patrapkan itu…
Lakunya Singkir itu; Samprnaning urip-pati. Patrapkan itu…

Djaka Tolos;
Masih belum bisa di mengerti pak, bisa di jelaskan lebih rinci lagi, dengan bahasa yang lebih bisa dipahami lagi pak WEB…?!

Wong Edan Bagu;
Bisa… Patrap itu, cara bergerak atau gerakan yang dilakukan sa’at membaca kalimah-kalimah Wahyu Panca Gha’ib. Sedangkan Laku “Wahyu Panca Laku” itu, Sistemnya atau sikon sa’at bergerak membaca kalimah-kalimah Wahyu Panca Gha’ib yang terpakai sa’at berSemedi.
Djaka Tolos;
Contoh misalnya pak WEB…?!

Wong Edan Bagu;
Misal contohnya. Patrap Kunci, lakunya patrap Kunci itu, adalah manembahing kawula gusti. Manembahing itu. Nyembah atau sungkem. Kawula itu, sedulur papat kita, yaitu. Mutmainah. Aluamah. Amarah dan Supiyah atau Angan-angan. Budi. Pakarti dan Panca indera (jiwa kita). Gusti itu, wujud (raga kita). Karena Patrap Kunci itu Lakunya adalah Manembahing kawula gusti, yang artinya nyembahnya jiwa dan raganya kita. Ya harus tawaduk, harus sopan, harus santun, harus lembut, harus tunduk, harus andap asor, harus indah, harus bertata krama. Sebagaimana dikala kita Manembah/Sungkem kepada kedua orang tua kita sa’at Hari Raya Iddul Fitri.

Misal contohnya lagi. Patrap Paweling, lakunya patrap Paweling itu, adalah manunggaling kawula gusti. Manunggal itu. Menyatu atau bersatu. Kawula itu, sedulur papat kita, yaitu. Mutmainah. Aluamah. Amarah dan Supiyah atau Angan-angan. Budi. Pakarti dan Panca indera (jiwa kita). Gusti itu, wujud (raga kita). Karena Patrap Paweling itu Lakunya adalah Manunggaling kawula gusti, yang artinya. Menyatunya atau bersatunya jiwa dan raganya kita. Ya harus dengan penghayatan rasa, harus dengan ketelitian rasa, harus dengan kesadaran rasa. Sebagaimana dikala kita mencium kedua telapak tangan atau kaki kedua orang tua kita sa’at memohon doa restunya.

Misal contoh lagi. Patrap Asmo, lakunya patrap Asmo itu, adalah leburing kawula gusti. Lebur itu, lebur atau luluh. Kawula itu, sedulur papat kita, yaitu. Mutmainah. Aluamah. Amarah dan Supiyah atau Angan-angan. Budi. Pakarti dan Panca indera (jiwa kita). Gusti itu, wujud (raga kita). Karena Patrap Asmo itu Lakunya Leburing kawula gusti, yang artinya. Leburnya atau luluhnya jiwa dan raganya kita. Ya harus sepi, senyap, kosong, hening, suwung, tidak ada apa-apa. Sebagaimana dikala kita tenrenyuh meneteskan air mata, sa’at mendapat maaf dan doa restu dari kedua orang tua kita.

Begitu juga dengan Patarp Mijil, yang lakunya Patrap Mijil adalah Sampurnaning kawula gusti. Sampurna itu layak atau pantas. Kawula itu, sedulur papat kita, yaitu. Mutmainah. Aluamah. Amarah dan Supiyah atau Angan-angan. Budi. Pakarti dan Panca indera (jiwa kita). Gusti itu, wujud (raga kita). Karena Patrap Mijil itu Lakunya adalah Sampurnaning kawula gusti. Yang Artinya Layak atau Pantasnya jiwa dan raga kita, sebagai manusia hidup (Putro Romo). Maka harus hakul yakin, harus benar-benar beriman, percaya, sudah tidak ada lagi keraguan, ketakutan, menduga-duga, menebak-nebak, mengira itu dan ini. semuanya telah sempurna, yang ada hanya Cinta Kasih Sayang, tidak ada lagi perbeda’an, tidak ada lagi perselisihan, tidak ada lagi yang perlu di pertanyakan, semuanya sama, satu asal usul dan akan kembali kepada satu, asal usul yang sama, yaitu Hyang Maha Suci Hidup.

Dengan yang sudah saya uraikan diatas, semuanya bisa. Tidak peduli apapun agama dan latar belakangnya, statusnya, adatnya, sukunya, tempatnya, jenis kelaminnya. Karena ini berlaku untuk semua Manusia Hidup tanpa terkecuali. Maka… Pikirkanlah dengan nalar dan logika-mu yang wajar dan umum. Terima Kasih _/||\_

Djaka Tolos;
Apakah sudah cukup hanya dengan itu semua pak WEB…?!

Wong Edan Bagu;
Lebih dari cukup, karena dengan menjalankan Wahyu Panca Gha’ib dengan Sistem Wahyu Panca Laku. Akan di tuntun dan tertuntun oleh Guru Sejati/Hidupnya sendiri. Dan tuntunan terbaik dan terbenar untuk setiap diri manusia hidup, adalah Hidupnya sendiri.

Djaka Tolos;
No. 02. Bagaimana Cara Menghadapi Masalah Dengan Benar dan Tepat…?!
Karena kehidupan di dunia ini, tidaklah mungkin tanpa masalah, misalnya pekerja’an atau hutang piutang dan lain sebagaimanya, pak WEB juga pernah mengatakan, tidak ada satupun manusia hidup di dunia ini yang tanpa masalah, karena dunia ini sesungguhnya adalah masalah.

Wong Edan Bagu;
Langkah awal, jalankan apa yang sudah saya uraikan diatas, jangan berpikir apa lagi merancang sesuatu yang belum, apapun itu, karena milik kita adalah sekarang dan sa’at ini, kemaren dan esok, itu bukan milik kita. Jika sa’at sekarang ini mendapatkan masalah. Lakukan lima hal sebagai berikut.

1. Pasrah-lah kepada Hyang Maha Suci Hidup.
2. Menerima-lah dengan apapun Keputusan Hyang Maha Suci Hidup.
3. Persilahkan Hyang Maha Suci Hidup.
4. Rasakan Proses kejadiannya
5. Tebarlah Cinta Kasih Sayang kepada apapun dan siapapun.

Djaka Tolos;
Bisakah di uraikan satu persatu penjelasannya, dari kelima lelaku tersebut, dengan menggunakan contoh misal, agar lebih mudah untuk di pahami maksudnya, pak WEB…?!

Wong Edan Bagu;
Bisa…
Contoh misal. Saya punya masalah hutang. Pertama; Pasrahkan-serahkan hutang itu kepada Hyang Maha Suci Hidup, dengan cara Laku Patrap Kunci. Kedua: Terimalah Hyang Maha Suci Hidup sebagai Imam-mu, dengan cara Laku Patrap Paweling. Ketiga; Persilahkan Hyang Maha Suci Hidup, mengambil alih semua dan segala urusan kepentinganmu, dengan cara Laku Patrap Asmo. Ke’empat; Rasakan prosesnya dengan cara Laku Patrap Mijil. Nanti kau akan tau ending-nya, kalau sudah tau ending-nya, pasti ngerti klimax-nya. Kalau ngerti klimax-nya. Pasti Bisa…!!!

Jika kesulitan dalam merasakan prosesnya, karena alasan belum terbiasa atau karena masih awam.

Carilah rasa enak/nyaman dibalik proses Laku Patrap Mijilmu itu, jika berhasil mendapatkan rasa enak/nyaman, berati selesai sudah apa yang telah menjadi masalahmu itu. Akhiri dengan Patrap Palungguh. Kelima; Lalu tebarlah Cinta Kasih Sayang terhadap apapun dan kepada siapapun, dengan cara beraktifitas seperti biasanya, contoh misalnya; kerjalah jika ada pekerja’an, namun jangan mengharapkan hasilnya, apa lagi berpikir hasilnya untuk membayar hutang, kerja saja-lah, dengan iman. Ingat… hutangmu sudah di serahkan kepada Hyang Maha Suci Hidup, dan kau sudah yakin serta percaya Bahwa Hyang Maha Suci Hidup itu. Maha Segalanya, baginya tidak ada yang mustahil, maka jangan buang-buang waktumu untuk ikut campur urusannya.

Gambaran-Umpama;
Saya mau berangkat ke Jakarta. Menuju ke alamat rumah teman yang baru saja saya kenal, di jalan gajah mada nomer 2017. Rt/rw. 004/009. Kota Jakarta, dan ini untuk yang pertama kalinya saya akan berkunjung, misalnya; dengan mobil pribadi. Lalu saya Pasrah dan Menerima serta Mempersilahkan Hyang Maha Suci Hidup sebagai Supir mobil pribadi kita.

Karena Yang Menjadi Supir Mobil saya itu, adalah Hyang Maha Suci Hidup. Sesembahan Yang Maha Segala-Nya. Maka, saya tidak perlu pusing mikir makan di warung dan buang-buang waktu, mikirin isi bensin, mikir ban nggembes, ngasih tau Hyang Maha Suci Hidup, didepan ada belokan, ada lampu merah, untuk menuju ke alamat teman saya itu, nanti dari perempatan belok kiri, trus nanti ada gang, trus gang ke lima belok kanan, yang di bawah pohonnya, ada ayunan anak-anak, trus lurus bla…bla…bla… Wow… Ingat…!!! yang sedang menjadi supir itu Hyang Maha Suci Hidup. Bukan Wong Edan Bagu yang bisanya hanya kowar-kowar ngabarin tentang Cinta Kasih Sayang Hyang Maha Suci Hidup doang. Bukan…!!! He he he . . . Edan Tenan.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd:Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

RIWAYAT DAN DEBAT SEDULUR PAPAT KALIMA PANCER:


RIWAYAT DAN DEBAT SEDULUR PAPAT KALIMA PANCER:
Oleh Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Kamis Pahing. Tgl 12 Mai 2016Ayo Ngguyu

RIWAYAT SEDULUR PAPAT KALIMA PANCER;
Salam Rahayu Para Kadhang dan sedulur-sedulur semuanya tanpa terkecuali dimanapun berada. Ketahuilah… Bahwa, istilah sebutan sedulur papat kalima pancer itu, sebenarnya berlaku untuk semua mahluk apapun dan dimanapun, terutama manusia hidup, tak peduli latar belakang, suku, adat dan agamanya, hanya saja, beda istilah, dalam menyebutkannya. Dan saya pribadi, menyebutnya sebagai Kawula dan Gusti (kawula gusti). Istilah populer Sedulur 4 atau juga disebut Malaikta 4, kalau dalam istilah golongannya.

Di dalam sejarah keNabian disebut juga sebagai Jibril. Mika’il. Ijro’il dan Isrofil, sebagai kawulanya, dan Muhammad sebagai gusti nya. Di dalam sejarah kelahiran bayi dari rahim Ibu nya, di sebutnya dengan istilah Kakang Kawah. Adi Ari-ari. Sedulur Puser dan Sedulur Getih, sebagai kawulanya, dan wujud raga jabang bayi sebagai gusti nya. Dalam sejarah keilmuan juga disebutkan dengan istilah Mutmainah. Aluamah. Amarah dan Supiyah, sebagai kawulanya, dan raga yang sedang belajar ilmu sebagai gusti nya. Dan masih banyak istilah-istilah lainnya, yang pasti cukup memusingkan isi kepala siapapun jika mengetahui jumlah keseluruhan dari yang namanya sedulur papat kelima pancer tersebut.

Dan saya pribadi menyebutnya simpel, yaitu “Kawula Gusti” jika di bahasakan umum, termasuk bahasa sekolahan, dalam pelajaran tentang anatomi tubuh manusia hidup. Adalah; Angan-angan. Akal. Budi Pakarti dan panca indera, sebagai sedulur papatnya dan tubuh manusia hidup, sebagai gustinya. Singkatnya; “Kawula Gusti”

Para Kadhang dan Sedulur sekalian, pada awal mula kejadiannya, yaitu sa’at pertama kali manusia di ciptakan oleh Hyang Maha Suci Hidup. Sedulur papat ini, sengaja diberikan atau di bekalkan kepada manusia sebagai piranti atau alat bantu atau sarana, agar yang di sebut manusia hidup, memiliki kemampuan lebih atau ada perbeda’an, di bandingkan mahluk-mahluk lainnya. Para Kadhang dan Sedulur yang kebetulan membaca artikel saya ini, mungkin pernah mendengar riwayat pencipta’an Nabi Adam. Yang pada mulanya, wujud atau raga Adam yang terbuat dari tanah itu, setelah terbentuk menjadi wujud atau raga Manusia Adam, dalam kada’an tergeletak tak berdaya tanpa nyawa, lalu Hyang Maha Suci Hidup, menyambil empat inti alam. Yaitu; Air. Angin. Api dan Sari Bumi, yang lebih di kenal dalam bahasa ilmunya, sebagai empat anasir. Yang kemudian masing-masing di cipta menjadi roh, lalu dimasukan ke dalam wujud atau raga Adam, sebagai pelengkap sekaligus alat bantu atau sarana, yang merupakan bekal dari Hyang Maha Suci Hidup, bagi setiap manusia hidup yang di ciptakannya.

Walaupun Wujud atau Raga Adam telah di beri bekal empat piranti, tersebut sedulur papat yang berbahan dari empat anasir, dan masing-masing memiliki kesaktian luar biasa, namun kala itu, Wujud atau Raga Adam, masih tetap tergeletak, terbujur kaku tanpa daya dan upaya apapun. Dan pada sa’at itu, Wujud atau Raga Adam disebut manusia, yang artinya, wujud yang tanpa daya dan upaya apapun, Setelah Hyang Maha Suci Hidup, meniupkan napasnya dengan Sabda Kun Faya Kun. Lalu Wujud atau Raga Adam, bisa bergerak dan bersuara. Berangan-angan, berakal, berdudi pakarti dan berpanca indera. Dan mulai sa’at itulah, wujud atau raga Adam. Di perkenalkan pada seluruh alam dan isinya, dengan Sebutan Manusia Hidup Bernama ADAM. Yang artinya; “Asal Dumadi Ananing Manungsa” jika ditulis dengan aksara arab, menjadi “ADAMU” yang artinya; “Asal Dumadi Ananing Manungsa Urip”

Dalam riwayat ini, monggo,,, silahkan Para Kadhang dan Sedulur, berpikr sendiri, mana yang seharusnya berperan kendali penting. Sedulur Papat? Apa Pancer? Atau Napas Hyang Maha Suci Hidup yang ditiupkan pada Raga Adam?

Begitulah Riwayat asa usul kejadiannya Sedulur Papat Kalima Pancer. Yang berbahan dari sari-sarinya Air. Angin. Api dan Bumi, sebagai Sedulur Papat-nya dan Wujud atau Raga sebagai Pancer-nya. Yang saya ketuhui sendiri pembuktiannya, menggunakan Wahyu Panca Gha’ib dengan Wahyu Panca Laku. Bukan katanya apapun dan siapapun.

DEBAT SEDULUR PAPAT KALIMA PANCER;
Para Kadhang dan Sedulur sekalian, pada awal mulanya, sedulur papat kalima pancer ini, adalah seperangkat Wahyu dalam satu kemasan khusus dari Hyang Maha Suci Hidup, bukan dari yang lain selaian-Nya. Merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, mereka salin memberi dan menerima, sain bahu membahu, salin asah asih dan asuh. Karena selain telah di sumpah oleh Hyang Maha Suci Hidup sa’at pertama kali di ciptakan, untuk menjaga dan membantu wujud/raga yang hidup. Juga mereka berempat ini, di tundukan untuk patuh dan setia tuhu kepada wujud/raga yang hidup. Sehingganya, selama di dalam alam kandungan/rahim sang ibu, hanya ketenteraman yang dialaminya, selain tenteram, tidak ambil pusing, itu sebab, ketika bayi dilahirkan, langsung njerit menangis, karena merasa terusik oleh bisingnya dunia fana dan takut kehilangan tenteram yang selama 9 bulan 10 hari kurang lebihnya, dinikmatinya tanpa masalah.

Dan apa yang terjadi, semakin hari, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, dan tahun demi tahun, bertambah pengalaman, bertambah pengetahui pula, jadi bisa menyebut, mereka-reka, merancang, mengarang, menduga dll. Jadi tahu ilmu, tahu adat, tahu tata krama, tahu harga diri, tahu kehormatan, tahu agama, tahu rukun iman, tahu Tuhan dll. Semakin tahu, semakin pusing, semakin bingung, semakin buta dan tuli. Bahkan semakin hawatir dan takut. Dan yang lebih konyol lagi, semakin pintar dan pandai serta hebat. Semakin tersesat jauh keluar dari “ADAM” hingga lupa diri. Jangankan Tuhan. Dirinya sendiri saja. Lupa… buktinya, tidak tahu siapa diri kita yang sebenarnya.

Debat Sedulur Papat Kalima Pancer;
Kala itu… Aku Sedang Sukses…
Kala itu… Aku Sedang Bangkrut…
Kala itu… Aku Sedang Senang…
Kala itu… Aku Sedang Sedih…
Kala itu… Aku Sedang Pintar…
Kala itu… Aku Sedang Bodoh….
Kala itu… Aku Sedang berTuhan…
Kala itu… Aku Sedang Tidak berTuhan alias Kafir…
Kala itu… Aku Sedang bla… bla… bla… inilah yang menjadi kriwi’an dadi grojogan, berdebatnya sedulur papat.

1. Mutmainah, yang kejadiannya dari Kawah/Ketuban/air, putih warnanya. Berkata;
Diantara sedulur papat. Aku-lah yang utama. Aku menjamin, sang jabang bayi bebas bergerak bagaimanapun dan kemanapun. Hingga seluruh organ tubuhnya terangsang, untuk terus tumbuh dengan sempurna. Aku membantu daya pencerna’annya, kuatkan otot, tulang dan rangka, serta menjaga organ pernapasannya, agar dapat berkembang dengan leluasa pula. Aku… Mutmainah-lah, yang menjadi ruang istimewa, menghangati sang jabang bayi, sembari mencegah segala macam serang negatif yang membahayakan si jabang bayi, yang hendak melemahkan atau menghancurkan si jabang bayi. Akupun kompak, membuka rahim sang ibu, pada sa’at persalinan/kelahiran tiba, sebagai jalan si jabang bayi bisa menengok dunia walau hanya sekejap saja, lantas kita salin ucapakan janji setia, mengabdikan diri, membersihkan jalan itu, seperti sediakala.

2. Aluamah, yang kejadiannya dari Ari-ari/Sari bumi, hitam warnanya. Berkata;
Ketika si jabang bayi lahir, si jabang keluar bersamaku. Aku-lah yang mengantar, hingga jabang bayi sampai tujuannya, tanpa pengorbananku, si jabang bayi, tidak akan pernah sampai ke dunia. Aku-lah nahkoda pelayarannya, membawa kompas, hingga berhasil kepelabuhan kehidupan dunia. Aku… Aluamah, anasir-anasir kehidupan, hilir mudik dari tubuh bunda kekuasa’an jabang. Aku pula, yang menciptakan anasir-anasir itu, jadi. Aku-lah yang paling berjasa. Ha…ha…ha… Mengukir jiwa raganya.

3. Amarah, yang kejadiannya dari Darah/Api, merah warnanya. Berkata;
Haeeeeee…. Siapa bilang kalian…!!!. Aku-lah yang mempunyai fungsi terpenting…!!!. sebab Aku yang mengambil peran utama, dalam menyalurkan darah, nutrisi dan semua kebutuhan hidup sang jabang bayi…!!!. hanya melalui tangan dan tubuh Aku…!!!.

4. Supiyah, yang kejadiannya dari Pusar/Puser/Angin, kuning warnanya. Berkata;
Hi…hi…hi…. Tapi,,,, siapakah yang menghubungkan jaringan pengikat antara Ari-ari dan si jabang bayi…?. siapa pula, yang menjaga kehidupannya, ketika masih berada didalam kandungan ibunya…?. mendukung pertumbuhannya, ketika masih berwujud janin/embiyo…?. bukah itu semua Aku…?!. bahkan pembuangan senyawa sisa, pengangkutan mimpi hawa udara, saripati makanan dan minuman, semuanya melalui diriku…!!!.

“Amarah”: Bukan. Aku yang menyuapinya, itu bukti. Aku yang paling utama.
“Mutmainah”: Tidak. Tanpa Aku, dia bisa tersesat, jadi Aku yang utama.
“Aluamah”: Siapa yang melindungi dan menjaga kehangatannya. Aku paling utama.
“Supiyah”: Tidak. Aku yang utama.

“Mutmainah”: Siapa bilang kalian. Aku-lah…!!!.
“Amarah”: Bukan kamu. Aku…!!!.
“Aluamah”: Kamu…? lalu Aku…!!!
“Amarah”: Masa bodoh,,, bangsat…!!!. eh salah, embat…!!!. waduh salah lagi, sikat…!!!.
“Aluamah”: Loh, kamu berani…!!!
“Mutmainah”: Ah…. bedebah kamu…!!!.
“Supiyah”: Asem kecut gulo legi, tak ganyang, tak untal sak endog petarangane kamu…!!!.

Prang Pring Prung Brugg…. Perang saudara tak dapat dihindarkan. Terjadilah, maka terjadilah. Efeknya pada si Pancer. Pusing. Stres. Bingung. Hawatir. Takut. Dari berdebat jadi salin bakuhantam. Efeknya pada si Pancer jadi Sakit, lalu masuk rumah sakit raga dan rumah sakit jiwa bahkan bunuh diri, lalu “MATI” setelah di diadili dan di hakimi di akherat, sesuai amal perbuatannya di dunia, jadi arwah penasaran, gentayangan kemana-mana, tanpa arah dan tujuan yang pasti. Naudzu bilahimindalik.

Sang Pancer akhirnya angkat bicara dengan keluhannya, setelah semuanya hancur lebur berkeping-keping. Aduh….!!! Sakit sekali, tak ada umpama yang dapat untuk menggambarkan sakit ini. Sampai kapan ini akan terjadi dan teralami… Wahai Sang Pemimpin, yang menjadikan tubuh ini bisa bergerak dan bersuara, pemegang kendali dan tanggung jawab atas kami berlima, kami bermohon atas kuasamu kepada kami. Setiap kali rahim bunda berguncang, tolong ikat kami erat-erat dengan kuasamu atas diri kami, dan lindungi kami dengan belaian Cinta Kasih Sayangmu, agar tubuh lunaku tak terkoyakan sedikitpun, lalu jagalah kami, agar jiwa rapuhku tak terganggu sedikitpun.

Wahai sedulur papatku yang dulu selalu setia merawat dan memanjakanku, hanya kalianlah kiblatku, yang menghantarkanku pada kehidupan baru di dunia ini, tapi kenapa dan mengapa kini kalian salin berdebat, salin caci maki, salin benci, salin fitnah, iri dan dengki, salin terkam dan bakuhantam, bahkan salin menjatuhkan/membunuh, dimana sedulur-sedulurku yang dulu rukun sehati, seiya sekata, kemana sedulur-sedulurku yang dulu senantiasa berdekapan dengan penuh Cinta Kasih Sayang, apakah kalian tidak tahu, bahwa itu merugikan raga, apakah kalian tidak mengerti, bahwa itu melukai jiwa, apakah kalian tidak paham, bahwa itu mempersulit dirimu sendiri dalam mencapai kesempurna’an Hidup dan Kehidupan dunia akherat. Oh…. Sakit… Pedih… Perih… Saaaaakiiiitttttttt….!!!

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian dimanapun berada, begitu situasi sedulur papat dan kondisi pancer jika tidak mengenal Hidup yang menempati jiwa raga kita ini, karena yang kuasa bertanggung jawab atas jiwa raga kita ini, adalah Hidup, dan hanya Hiduplah yang memiliki kemampuan bisa. Bukan ilmu, bukan harta atau tahta, apa lagi wanita. Ingat… Hanya Hidup. Bukan yang lain.

Kesetia’an mereka berlima. Saya menyebutnya dengan istilah Manembahing Kawula Gusti, dalam “Wahyu Panca Laku”. Kerukunan mereka berlima. Saya menyebutnya dengan istilah Manunggaling Kawula Gusti, dalam “Wahyu Panca Laku”. Kesatuan dan kepaduan mereka berlima. Saya menyebutnya dengan istilah Leburing Kawula Gusti, dalam “Wahyu Panca Laku”. Dan masih ada dua tingkatan dimensi lagi setelah ini. Yaitu; Sampurnaning Kawula Gusti untuk ukuran Dunia dan Sampurnaning Pati Urip untuk ukuran Akheratnya.

“Jangan sekali-kali mengaku Manusia Hidup, kalau tidak bisa merasakan Hidup-nya. Sebab, kalau tidak bisa merasakan Hidup-nya, itu bukan manusia Hidup, tapi,,, mayat Hidup”

“Galilah rasa yang meliputi seluruh tubuhmu, di dalam tubuhmu, ada Firman Hyang Maha Suci Hidup, yang bisa menjamin, hidup mati dan dunia akheratmu”

“Kenalilah dirimu terlebih dulu, sebelum engkau mengenaliku” . “Sesungguhnya Aku berada dekat, bahkan lebih dekat dari urat lehermu”

Dan Slogan terkenal yang berbunyi “Sudahkah Anda Sholat sebelum di sholatkan” saya ganti menjadi “Sudahkan Anda mengenal Hidup Anda sebelum sholat” Sebab jika Anda sholat sebelum Anda mengenal Hidup Anda, bagaimana mungkin Bisa…?! Yang sholat itu siapa…?! He he he . . . Edan Tenan.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com