CARA MELIHAT TUHAN:


CARA MELIHAT TUHAN (Exclusive dari WEB) Khusus Dewasa:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 0:05. Hari Minggu. Tanggal 30 Juli 2018.

Para Kadhang Kinasih-ku sekalian, pada kesempatan waktu kali ini, saya WEB, akan membagikan pengetahuan yang sesungguhnya bersifat pribadi.

Namun, karena Hidup itu melampaui semua dan segalanya, maka, tanpa ragu sedikitpun, saya bagikan yang satu ini secara umum, untuk diambil hikmahnya/hakikatnya secara universal, dan agar supaya tidak gagal paham, bacalah dengan kesadaran niyat belajar hingga selesai, jika perlu berulang kali.

Para Kadhang Kinasih-ku sekalian, sadarilah…

Tuhan itu benar-benar Maha Luas, dalam segalanya Dia tiada batas, maka, tidak lah berlebihan jika saya WEB, menganalogikan, bahwa kebenaran sejati itu, layaknya cermin yang pecah berantakan.

Kepercayaan atau keyakinan, agama, ajaran, tuntunan, budaya, ilmu pengetahuan, adat tradisi dll, masing-masing hanyalah memungut satu di antara serpihan cermin tersebut.

Empat dimensi (dimensi ruang ditambah dimensi waktu), yang pernah saya uraikan dalam artikel tahun 2016 yang lalu, berjudul; Perjalanan Menuju Kesempurnaan Mati Dan Hidup, sesungguhnya itu hanya ada di dalam dimensi wadag/wujud/fisik bumi/dunia ini.

Sedangkan didalam ghaib itu sendiri, menyimpan misteri yang Maha Luas dan tanpa batas, Dahsyat serta tak terhingga.

Karena didalam ghaib, sudah tidak ber-ruang lagi, dan di dalamnya, tidak lagi berlaku ruang dan waktu, tidak lagi ada jarak yang berlaku.

Itulah hakikat dari dimensi cahaya atau nur, bahkan kecepatan nyapun, melebihi kecepatan cahaya/nur.

Sehingganya, untuk bisa mencapai pergerakan maksimum di dimensi ruang, maka pergerakan di dimensi waktu harus nol, pada kondisi inilah, kecepatan benda menempuh dimensi ruang bisa maksimal.

Sesuai dengan teori relativitas khusus, bahwa kecepatan maksimal, adalah kecepatan cahaya.

Didalam Laku Murni Menuju Suci,
sesegera mungkin, kita akan menyadari, bahwa cahaya, sama sekali tidak bergerak pada dimensi ruang dan waktu, dengan kata lain, photons/foton tidak berumur.

Photons atau Foton yang dihasilkan semenjak alam semesta terbentuk sampai sekarang ini, umurnya tetap sama.

Ini terkait dengan salah satu formula teori relativitas khusus yang sangat terkenal; E=mc2, di mana E adalah energi, m adalah massa, dan c adalah konstanta kecepatan cahaya.

Formula tersebut, menjelaskan relasi langsung antara energi-massa (konservasi energi-massa).

Sebuah objek dengan massa m, bisa menghasilkan energi E sebesar mc2; dan karena c sebuah konstanta yang besar, massa yang kecil tetap akan menghasilkan energi yang besar.

Coba pikirkan dengan sadar, lalu kita renungkan dengan kesadaran.

Hiroshima tahun 1945, hancur akibat energi yang dihasilkan 1yari 2 pounds Uranium.

Di sisi lain, formula ini, memainkan peranan penting dalam pergerakan objek dalam 4-dimensi, benda yang bergerak memiliki energi kinetik, semakin tinggi kecepatannya, semakin besar energinya.

Saat kita paksa partikel muon mencapai kecepatan 99,9 kecepatan cahaya, muon memiliki energi yang besar.

Karena konservasi energi-massa, energi tadi meningkatkan massa muon 22 kali lebih massif daripada massa-diamnya (0.11 MeV).

Tentu saja semakin masif (pejal) benda, semakin susah untuk bergerak cepat.

Ketika kecepatannya dinaikkan menjadi 99,999 kecepatan cahaya, massanya bertambah 70.000 kali.

Muon semakin masif dan semakin cenderung untuk tidak bergerak, sehingga dibutuhkan energi yang tak berhingga untuk melewati kecepatan cahaya.

Jumlah energi yang tidak mungkin bagi sesuatupun yang ada di alam semesta ini.

Kecuali Jumlah Energi Sang Empu-Nya, yaitu; Dzat Maha Suci Hidup.

Roh Suci atau Ruh Kudus yang sering saya sebut sebagai Hidup atau Guru Sejati adalah “abadan cahaya atau nur atau cahya sejati”

Sehingganya, bagi Hidup, ke manapun Dia pergi, tidak membutuhkan ruang dan waktu lagi.

Ini pernah saya buktikan di TKP ketikan saya masih asyik berada di dalam dimensi keilmuan atau kasukman.

Kecepatan Hidup melesat dari satu tempat ke tempat lain, ketika saya meraga sukma, hanya memerlukan hitungan detik saja, dan mohon maafkan, ini hanya sekedar untuk menggambarkan, betapa di wilayah “ghaib” merupakan wahana cahaya, yang tidak menggunakan hitungan dimensi ruang dan waktu lagi.

Namun demikian, cahaya atau cahya sejati atau nur ilahi, masih belum hakikat Dzat Maha Suci Hidup, ia masih makhluk (ciptaan/retasan Dzat Maha Suci Hidup), sehingga tak bisa dibayangkan lagi bagaimana kecepatan Tuhan.

Mungkin beribu atau bermilyar kali lipat dari kecepatan cahaya, dan hanya sampai di situlah yang bisa dibayangkan oleh manusia pada umumnya.

Di atas cahya sejati (nurullah) adalah atma atau energi hidup/chayyu/kayun/kayu. Energi Hidup yang kecepatannya jauh melebihi cahaya, dan coba kita renungkan, betapa wownya…?!

Namun Atma sejati atau energi hidup ini, masih belumlah “intisaripati”, karena atma masih di dalam rengkuhan Hyang Dzat Maha Suci Tuhan.

Namun hal ini, setidaknya dapat terbuktikan, melalui Laku Murni Menuju Suci yang sensasional, yang membeberkan “rahasia besar” bahwa leluhur di alam barzah, sekalipun sudah mencapai derajat kamulyan yang paling tinggi (kamulyan sejati/abadan cahya sejati), belumlah bisa melihat/bertemu “wujud” Hyang Dzat Maha Suci Tuhan. Artinya; Belum Sempurna.

Para Kadhang Kinasih-ku sekalian.
Hyang Dzat Maha Suci Tuhan, tidak sesederhana itu.

Karena Hyang Dzat Maha Suci Tuhan itu…

Lebih-LEBIH dari sekedar Maha.
Lebih-LEBIH dari sekedar Suci.
Lebih-LEBIH dari sekedar Mulia.
Lebih-LEBIH dari sekedar Agung.
Lebih-LEBIH dari sekedar Kuasa.
Lebih-LEBIH dari sekedar Ghaib.
Lebih-LEBIH dari sekedar yang bisa di bayangkan dan di pikirkan oleh makhluknya.

Tidak sekedar sebagaimana yang manusia bayangkan melalui kitab-kitab suci yang ada.

Semakin manusia mengetahui kebesaran Tuhan, manusia semakin merasa tidak bisa membayangkan Tuhan itu seperti apa sesungguhnya.

Namun yang di luar bayangan imajinasi kita itu, tersebut Hidup, sungguh ada melekat di dalam diri kita, dalam diri manusia apapun agama, bahasa dan suku bangsanya.

Semakin manusia tahu Tuhan, semakin merasa kecil dan menundukan diri, jauh dari watak adigang adigung adiguna (mentang-mentang), jauh dari sifat iri, dengki, dendam, benci, fitnah, jauh dari sikap merasa paling benar, apapun yang menjadi sumber referensinya.

Melihat-Menyaksikan Tuhan yang saya maksudkan dalam artikel ini, hanyalah sekedar untuk pembuktian ilustratif saja, tentang bagaimana kemampuan manusia dalam menyaksikan/mengetahui/melihat/bertemu Tuhan-nya, sesuai pengetahuan pribadi saya di dalam Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman.

“CARA MELIHAT TUHAN”
Sebagai Berikut;
Bola Mata wadag kita bisa melihat suatu obyek yang berada di luar mata kita.

Namun…
Apakah bola mata kita bisa melihat apa yang ada di dalam bola mata kita sendiri…?!

Maka hanya dengan “rahsa” lah kita bisa “merasakan” apa yang ada di dalam bola mata kita sendiri.

Tuhan hanya bisa kita rasakan dengan “rahsa”, karena itulah kemampuan manusia hidup dalam “melihat” menyaksikan Tuhan-nya.

Tapi bukan sekedar rahsa pada umumnya, kalau hanya sekedar rahsa, semua manusia hidup, yang belum mati, punya rahsa.

Dan rahsa yang saya maksud adalah;
Rahsa Yang Berkesadaran Murni. Rahsa Yang Tidak Ternodai Oleh Apapun. Rahsa Yang Tidak Termelekati Oleh Apapun.

Seperti yang sudah sering saya uraikan di ratusan artikel saya di internet.

Kesimpulannya;
Untuk bisa merasakan Tuhan, kita harus memurnikan “rahsa” kita dengan kesadaran, semakin murni kesadarannya, semakin jelas Wujud Tuhan-nya, semakin jelas wujud Tuhan-nya, semakin terlihatlah, sehingga kita bisa menyaksikannya secara nyata, bukan khayalan dan bukan bayangan andai-andai katanya. He he he . . . Edan Tenan.

Mungkin Ada Yang Bertanya;
Apakah semudah itu…?!

Jawabannya. Ya!
Jika mau.

Secara lelaku ilmu atau keilmuan, sangat lah tidak semudah itu, karena untuk bisa melihat atau menyaksikan Tuhan (Ma’rifatullah) harus di mulai dari pengenalan jati diri atau diri sejati atau diri sebenar- benarnya diri.

Namun tidak dengan Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman, karena dengan Tobat Iman atau Laku Murni Menuju Suci, bukan kita lagi yang Mengenal Tuhan, tapi Tuhan itu sendiri yang akan memperkenalkan Diri-Nya kepada kita.

Mungkin ada lagi yang Bertanya;
Sebenarnya Dzat Maha Suci Tuhan itu apa sih Wong Edan Bagu…?!

Dalam pendekatan rasio, dikenal suatu hukum alam, yang lebih populer dengan sebutan sebagai hukum sebab akibat atau karma, maka Dzat Maha Suci Tuhan adalah penyebab utama karma tanpa ada yang menyebabkan eksistensi-Nya.

Jika pendekatan melalui teori energi, maka Dzat Maha Suci Tuhan merupakan Episentrum dari segala episentrum dan energi yang ada di jagad semesta.

Soal Tuhan mana yang paling benar, atau sebutan nama Tuhan yang palsu apa…?!

Apakah Allah, Alloh, Tuhan, Pi khong, Brahman, God, Puang Alah, Yahweh, Dei dan seterusnya, itu soal kesadaran murni nya masing-masing penyebut. Namun, jika harus berbicara dalam konteks rasio, semua itu tentu saja masih berupa kebenaran yang bersifat relatif.

Karena nama-nama itu berkaitan dengan sistem budaya, yakni, bahasa sebagai alat komunikasi yang digunakan manusia.

Logikanya sebelum manusia mengenal bahasa, maka konsep nama-nama di atas, tentunya belum ada, dengan kata lain, causa prima (tuhan) belum punya nama apapun.

Jika uraian saya di atas ada yang menganggap statementnya kapir atau kopar, maka yang menjadi pertanyaannya;
Apakah gara-gara salah menyebut nama untuk Tuhan, maka akan mengakibatkan seseorang kecemplung neraka…?!

Bukankah kita semua ini memeluk salah satu agama, hanya karena faktor kebetulan saja, dan tak lebih karena faktor keturunan (warisan) orang tua kita.

Nah, apakah hanya faktor kebetulan, faktor keturunan, dan warisan orang tua tersebut, bisa menentukan seseorang masuk neraka atau surga…?!

BONUS;
~UNTUK DI RENUNGKAN~
“Kemanapun kamu menghadap maka disitulah wajah-Ku”
“Aku lebih dekat… daripada urat leher…”
“Barang siapa yang mencari-Ku keluar dari dirinya sendiri, maka dia akan tersesat semakin jauh”
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku”

1. Man Arofa Nafsahu Faqod Arofa Robbahu;
Barang siapa mengenal nafs (diri) nya, maka dia mengenal Tuhan nya.

2. Wa Man Arofa Robbahu Faqod Jahilan Nafsahu;
Barang siapa mengenal Tuhannya maka dia merasa bodoh.

3. Man Tolabal Maulana Bigoeri Nafsi Faqoddola Dolalan Baida;
Barang siapa yang mencari Tuhan keluar dari dirinya sendiri maka dia akan tersesat semakin jauh.

4. Iqro Kitab Baqo Kafa Binafsika Al Yaoma Alaika Hasbi;
Bacalah kitab yang kekal yang berada di dalam diri kalian sendiri.

5. Allahu Bathinul Insan Al Insanu Dhohirullah;
Allah itu bathinnya manusia, manusia adalah dhohirnya (kenyataannya) Allah.

6. Al Insanu Siri Wa Ana Siruhu;
Rahasia kalian adalah rahasia-Ku.

7. Laa Yarifallaahu Ghoirullah;
Yang mengenal Allah hanya Allah.

8. Aroftu Robbi Bi Robbi;
Aku mengenal Tuhan melalui Tuhan.

9. Maa Arofnaka Haqqo Ma’rifataka;
Aku tidak mengenal Engkau, kecuali sampai sebatas pengetahuan yang Engkau perintahkan.

Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.

Apabila ia mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya di dalam diri-Ku.

Dan apaila ia mengingat-Ku (menyebut nama-Ku) dalam suatu perkumpulan manusia, maka Aku akan menyebut namanya di dalam suatu perkumpulan yang lebih baik dari perkumpulannya.

Apabila ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya se-hasta, dan apabila ia mendekat kepada-Ku se-hasta maka Aku akan mendekat kepadanya se-depa.

Dan apabila ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari-lari kecil”

Silahkan Merenung Sendiri.
Saya 💓Wong Edan Bagu💓 Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai🙏Damai🙏 Damai🙏Selalu Tenteram🙏 Sembah nuwun🙏Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono🙏inayungan Mring Ingkang Maha Agung.Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet🙏 BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏 Aaamiin🙏Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Sebenar-Benarnya Benar (Bener-Benere Bener):


Sebenar-Benarnya Benar (Bener-Benere Bener):
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 18:50. Hari Kamis. Tanggal 26 Juli 2018.

Hidup itu melampaui semua dan segalanya, hidup itu terkait dan mengaiti semua dan segalanya, tidak ada satupun yang bisa hidup jika tanpa hidup, bahkan Tuhan pun menjadi tidak ada tanpa adanya Hidup.

Hanya saja…
Kesombongan. Kemunafikan. Keangkuhan Ego kita, terlalu besar dan tinggi untuk mengakuinya, bahwa tanpa Hidup, kita tidak ubahnya seonggok mayat, yang hanya layak untuk di kubur.

Sejak di dalam kandungan/rahim sang Ibu hingga saat sekarang ini bahkan ajal nanti, kita berada di dalam hukum kuasa hidup.

Semua dan segala yang kita lakukan atau yang tidak kita lakukan, yang kita perbuat atau yang tidak kita perbuat, yang kita pikirkan atau yang tidak kita pikirkan, yang bathin atau yang tidak kita bathin itu dan ini, adalah kuasanya gerak hidup.

Namun sekali lagi saya katakan…
Kesombongan. Kemunafikan. Keangkuhan Ego kita, terlalu besar dan tinggi untuk mengakuinya, bahwa tanpa Hidup, kita tidak ubahnya seonggok mayat, yang hanya layak untuk di kubur.

Hidup adalah kehidupan.
Hidup adalah kebenaran.
Hidup adalah kebaikan.
Hidup adalah kenyataan.
Hidup adalah kesehatan.
Hidup adalah kesuksesan.
Hidup adalah kebahagiaan.
Hidup adalah kekayaan.
Hidup adalah harta benda.
Hidup adalah kesadaran.
Hidup adalah keindahan.
Hidup adalah kebersihan.
Hidup adalah keilmuan.
Hidup adalah tampan.
Hidup adalah kesucian.
Hidup adalah cantik.
Hidup adalah kesempurnaan.
Hidup adalah cinta kasih sayang.
Hidup adalah semua dan segalanya tanpa terkecuali bla bla bla apapun. Dan…

Selama ini, kita selalu mencari dan berebut yang sudah saya uraikan diatas tentang Hidup, Ini Loh… Yang Sebenar-Benarnya Benar (bener-benere bener). Mari sekarang kita BERKEBENARAN, jangan rebutan lagi.

Semua dan segalanya itu, ada di dalam diri kita masing-masing, jadi, tidak perlu berlomba-lomba rebutan, la wong sudah punya sendiri-sendiri.

Jangan gengsi, ini Hidup-Hidupnya kita sendiri, bukan Hidup nya orang lain, kenapa musti gengsi malu dan takut…?!

Jangan malu, karena Hidup, bukan yang memalukan.
Jangan takut, karena Hidup, bukan yang menakutkan.

Cobalah sedikit berpikir cerdas;
Bisa kah kita beragama, berdoa, beribadah berkaliber dll jika tanpa Hidup…?!

Sungguh…
Terlalu Mewah Hidup itu, untuk kita biyarkan berlalu begitu saja, sebab karena, semua dan segalanya itu, di gerak-kan oleh kuasa Hidup.

Dan sejak awal hingga akhir hayat nanti, Hidup itu berada di dalam diri kita masing-masing yang masih hidup, bukan di luar diri kita, dan tidak pernah beranjak dari tempatnya, kenapa dan mengapa kita berebut dan memperjuangkan yang semu di luar diri kita.

“Kemanapun kamu menghadap maka disitulah wajah-Ku”

“Aku lebih dekat… daripada urat leher…”

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku.

Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.

Apabila ia mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya di dalam diri-Ku.

Dan apaila ia mengingat-Ku (menyebut nama-Ku) dalam suatu perkumpulan manusia, maka Aku akan menyebut namanya di dalam suatu perkumpulan yang lebih baik dari perkumpulannya.

Apabila ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya se-hasta, dan apabila ia mendekat kepada-Ku se-hasta maka Aku akan mendekat kepadanya se-depa.

Dan apabila ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari-lari kecil”

MAN ‘Arafa Nafsahu, Faqad Arafa Rabbahu;
“Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Rabb -nya”

Dan…

“Barang siapa yang mencari-Ku keluar dari dirinya sendiri, maka dia akan tersesat semakin jauh”

He he he . . . Edan Tenan.
Saya 💓Wong Edan Bagu💓 Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai🙏Damai🙏 Damai🙏Selalu Tenteram🙏 Sembah nuwun🙏Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono🙏inayungan Mring Ingkang Maha Agung.Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet🙏 BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏 Aaamiin🙏Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asalnya Kejadian Dengan Ketentraman Yang Sempurna. Bagian Kedua:


Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asalnya Kejadian Dengan Ketentraman Yang Sempurna. Bagian Kedua:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 17:00. Hari Kamis. Tanggal 19 Juli 2018.

Belenggu-belenggu dalam kehidupan kita, diakibatkan oleh karma-karma yang telah kita akumulasi, apapun yang kita lakukan dalam ketidak-sadaran, akan menghasilkan karma.

Setiap aksi yang dilakukan dalam ketidak-sadaran, akan menjadi karma, karena setiap aksi yang dilakukan dalam ketidak-sadaran, bukanlah aksi sama sekali, melainkan adalah reaksi.

Namun ketika kita melakukan sesuatu dengan kesadaran, itu bukan reaksi, tetapi aksi yang bersiat spontan dan total, tindakan semacam itu, tidak meninggalkan jejak karma, karena ia sudah lengkap dalam dirinya sendiri.

Jika suatu tindakan tidak lengkap atau belum selesai, maka suatu hari kita harus menyelesaikannya.

Jadi…
Jika dalam hidup ini kita bisa mempertahankan kesadaran kita, di sepanjang helaan nafas gerak tubuh, maka prarabdha kita, akan habis dan utang karma yang harus kita lunasi pun semakin berkurang.

Dan dalam beberapa masa kehidupan lagi, utang karma kita, bisa benar-benar terlunasi.

Laku Murni Menuju Suci;
Apa yang dimaksud dengan Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman…?!

Hal ini memang teramat sangat perlu harus dipahami, sebab karena itu, ada banyak artikel saya terdahulu, yang menguraikan detailnya Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman, agar supaya mengerti Prakteknya dan mengetahui maksud arah tujuannya.

Karena Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman, adalah merupakan sintesis teragung dari kesadaran manusia hidup. Sintesis dari tiga hal, yakni; Patrap Semedi. Kadhangan dan Darma Bakti.

Biasanya, ketika Patrap Semedi, mind/pikiran manusia, selalu berpindah dari satu objek ke objek lainnya, sangat jarang mind atau pikiran manusia ini, bisa berfokus pada satu objek saja, sebagai contoh; perhatian kita selalu berganti-ganti, selalu berubah maksudnya, sebenarnya yang seperti ini, ini, adalah keadaan yang biasa dari mind atau pikiran kita, jadi, jangan heran atau terheran-heran.

Untuk mengatasinya, kita tidak perlu neko-neko, cukup terapkan saja Wahyu Panca Laku ke1, ke2, ke3, lalu totalitas di Wahyu Panca Laku ke4, maksudnya adalah, setelah Pasrah. Menerima dan mempersilahkan, rasakan dan nikmati kesadaran kita itu selama mungkin.

Jika kesadaran kita mulai teralihkan, tak perlu gusar atau gugup, cukup kembalikan perhatian kita pada kesadaran lagi.

Kalau hal ini sudah terlatih, kebiasaan mind atau pikiran kita, yang selalu berganti-ganti perhatian itu, bisa terhentikan dan kita bisa mencapai sebuah integritas dan kristalisasi kesadaran murni.

Jika di dalam Patrap Semedi, nampak ada begitu banyak objek yang menjadi perhatianmu, itu juga akan memecah belah jiwa dan Ruh kita.

Karena titik objek perhatian kita banyak, sehingga sedulur papat kalima pancer kita, atau empat anasir dan hidup kita, jadi terpecah atau berpisah, untuk memperhatikan sendiri-sendiri.

Contoh misalnya;
Hari ini kita mencintai seorang wanita, besok kita mencintai wanita lain dan besoknya lagi, mencintai wanita lain lagi.

Hal ini akan memecah belah ruh dan jiwa kita, artinya, jiwa kita tidak bisa menjadi satu dengan Ruh kita, diri kita akan menjadi keramaian seperti banyaknya objek yang menjadi perhatian kita.

Sesungguhnya;
Pasangan suami istri itu, akan menjadi sepasang suami istri terus, selama banyak masa kehidupan, setiap lahir kembali selalu bertemu dan menikah dengan pria dan wanita yang sama, lagi dan lagi, serta terus begitu.

Dan hal ini, sebenarnya mampu memberikan integritas pada kesadaran kita, terlalu banyak perubahan akan menggerus dan memecah belah kepribadian kita, gaya hidup merekalah, yang menyebabkan itu semua.

Terlalu banyak perubahan terus-menerus dakam hidup mereka, semua dan segalanya berubah dengan cepat, tidak sadar…?! Maka akan tertinggal, kalau sudah tertinggal, akan meninggal/mati.

Jika objek perhatian dalam hidup kita selalu berubah-ubah, maka itu menandakan hidup kita selalu gelisah, kita tidak bisa memfokuskan perhatian kita pada satu hal dalam waktu yang lama, dan arus hidup kita pun menjadi sangat deras.

Dan jika sudah demikian, kita tidak akan mampu menancapkan akar dari pohon hidup kita sampai mencapai kedalaman yang cukup.

Akibatnya, hidup kita tidak akan pernah berakar dalam, karena kita terus mencabutnya dan memindahkannya ke tanah lain, pohon hidup kita, tidak akan pernah tumbuh, berbunga dan berbuah, jika cara hidup kita demikian.

Jadi. Kesimpulannya;
Yang di Maksud Konsentrasi dan Fokus itu, adalah;
Merasakan kesadaran, lalu menikmatinya pada satu objek selama mungkin, apa pun yang menjadi objeknya itu.

Contoh;
Jika pikiran kita ingat Hutang, ingat itu kan sadar, bisa nya ingat hutang, itu karena sadar, tidak mungkin bisa ingat, kalau tidak sadar, maka, terima kasihilah sadar kita itu, lalu rasakan, nikmati terus………..dengan sadar.

Jika kita merasakan perhatian kita teralihkan ke pekerjaan misalnya, kembalikan itu pada hutang lagi, lalu rasakan lagi, nikmati lagi terus………..dengan sadar.

Ketika perhatian sadar kita sudah mampu terpatri pada hutang tersebut dalam waktu yang lama, maka untuk pertama kalinya dalam hidup kita, kita akan tahu hakikat dari hutang tersebut, bahwasannya, hutang itu bukan hanya sekedar hutang.

Dzat Maha Suci Hidup telah ada di dalam hutang itu, sehingganya, hutang pun menjadi terlunaskan secara syah dan sempurna, akan tetapi selama ini, kamu tidak pernah ‘bersama’ dengan satu objek dalam waktu yang lama, sebab itu, semua masalah dan perkara, tidak satupun yang berhasil selesai dengan Syah dan Sempurna.

Jika kamu bersama dengan kekasihmu, bersamanya dalam arti yang sesungguhnya “jiwa dan Ruh serta ragamu” Tetapi selama ini kamu tidak pernah ‘bersama’ dengan satu objek dalam waktu yang lama.

Sehingga kamu melewatkan banyak hal berharga, jika kamu sedang bersama dengan seorang wanita, mind/pikiranmu berkeliaran memikirkan yang lain, bahkan ketika bercinta pun kamu tidak bisa bersama, dan kamu pun melewatkan banyak hal berharga.

Sebenarnya ada banyak pintu terbuka, tetapi pintu-pintu tersebut tertutup ketika kau kembali dari ‘jalan-jalan’mu itu.

Setiap saat kamu punya jutaan kesempatan untuk menyaksikan Dzat Maha Suci Hidup mu secara nyata, tetapi ketika Dzat Maha Suci Hidup datang, kamu tidak ada di rumah kesadaranmu.

Kamu sedang bermain-main di luar, kamu terus berkeliling dunia, sementara Dzat Maha Suci Hidup mu, selalu setia menunggumu di rumah kesadaranmu.

“keliaran semacam ini, harus dihentikan”

Itulah makna sesungguhnya dari Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman, yang tak lain dan tidak bukan adalah sintesis agung spiritual universal atau kesadaran murni.

BERSAMBUNG KE SELANJUTNYA JIKA DZAT MAHA SUCI MENGIJINKAN SAYA UNTUK MENGURAIKANNYA LEBIH RINCI DAN LEBIH DETAIL LAGI.

Saya 💓Wong Edan Bagu💓 Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai🙏Damai🙏 Damai🙏Selalu Tenteram🙏 Sembah nuwun🙏Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono🙏inayungan Mring Ingkang Maha Agung.Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet🙏 BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏 Aaamiin🙏Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Jalan Terdekat Untuk Pulang Dan Cara Termudah Untuk Kembali:


Jalan Terdekat Untuk Pulang Dan Cara Termudah Untuk Kembali:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 10:11. Hari Rabu. Tanggal 18 Juli 2018.

Mereka yang hidup dalam masa depan, sesungguhnya hanya menganggap dirinya hidup, namun mereka berpura-pura, mereka hanya mengharapkan kehidupan, mereka ingin hidup, tetapi sebenarnya tidak pernah hidup.

Kemarin bukan milik kita, hari esok tidak pernah ada, yang ada hanya hari ini, yang ada hanyalah saat ini dan tempat ini, dia tidak bisa hidup dalam kekinian, itu sebabnya mereka melarikan diri dari kekinian.

Keinginan adalah sumber utamanya, yang membuat mereka melarikan diri dari kekinian, dari yang nyata ke yang tidak nyata.

Manusia yang berkeinginan, sebenarnya sedang melarikan diri.

Anehnya…
Saat ini, justru para pelaku spiritual yang dianggap melarikan diri. Heeemmmmmmm…

Laku Murni Menuju Suci, berarti melampaui keinginan, melampaui pikiran, Laku Murni Menuju Suci berarti menikmati kekinian, hidup dalam kekinian dengan kesadaran sepenuhnya.

Apa yang berasal dari luar bukanlah intuisi, intuisi adalah sesuatu yang berasal dari dalam diri sendiri dan memberikan kepuasan, kelegaan dan kebahagiaan serta ketenteraman.

Jika pikiran tidak menjadi penghalang, setiap orang akan menjadi intuitif.

Sesungguhnya intuisi jauh lebih alami dan mudah diperoleh dari pada logika yang dikejar oleh pikiran.

Kelemahan sekaligus kekuatan manusia adalah pikirannya sendiri, pikiran manusia merupakan alat perekam yang super canggih.

Sesuatu yang terekam pada pita pikiran, tidak gampang dihapus, selanjutnya, rekaman itulah yang menentukan kualitas hidup kita.

Alam bawah sadar adalah beban yang kita warisi sejak lahir, yang dalam adat tradisi, mereka menamakannya “Dosa Asal atau Karma” Dosa Asal atau Karma, bukanlah sesuatu yang kita warisi dari Adam dan Hawa leluhur kita.

Sejarah Adam dan Hawa bersifat metaforis, dan ular si penggoda Hawa, yang disebut-sebut sebagai manifestasi Setan, adalah pikiran kita sendiri.

Pikiran membuat kita cerdik, membuat kita sadar akan baik dan buruk, tetapi pada saat yang sama, juga merampas keluguan kita, pikiran pulalah yang merenggut kesederhanaan dan kepolosan kita.

Laku Munuju Suci atau Tobat Iman, berarti memberdayakan diri sendiri, dan pemberdayaan diri ini, harus kita lakukan sendiri, orang lain tidak dapat melakukannya untuk kita.

Ribuan tahun yang lalu, para resi, para begawan, para pinandita, menemukan bahwa terjadinya peningkatan kesadaran dalam diri manusia, menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan anatomis yang nyata, khususnya pada jaringan syaraf dan otak.

Untuk itu mereka menciptakan tahapan-tahapan proses lelaku, yang setelah di sempurnakan oleh manusia luar biasa bernama M. Semono Sastrohadijoyo, disebut;
1. Patrap Semedi.
2. Kekadhangan.
3. Darma Bakti.
Yang sering saya istilahkan sebagai Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman.

Tahapan-tahapan tersebut sangat dibutuhkan oleh seorang praktisi, agar supaya perubahan anatomis tidak seketika terjadi, sehingganya organ-organ tubuh yang lain tidak mengalami shock.

Tiga tahapan tersebut, tidak dapat dipisahkan dalam alasan apapun, sampai seseorang dapat dikatakan telah berhasil mencapai kesadaran murni/universal.

Sesungguhnya… Sebenarnya…
Dalam Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman ini, tidak ada istilah baru belajar atau sudah lama belajar, tidak ada guru atau murid, tidak ada pula istilah latihan untuk hal ini.

Yang ada hanya kesiapan diri seorang pelaku dan mau apa tidak.

Kesadaran Murni diri seorang Master, atau seorang yang telah lebih dulu sampai pada Kesadaran Murni, akan mengalir secara terus-menerus selama 24 jam full, kalau sedang berhadapan secara langsung dengan seorang yang sedang Laku Murni Menuju Suci, namun belum sampai pada Kesadaran Murni.

Namun pikiran akan selalu menghalangi setiap upaya Laku Murni Menuju Suci kita untuk hidup dalam kekinian, jika belum berhasil mencapai Kesadaran Murni.

Karena di dalam kekinian, pikiran tidak bisa eksis, pikiran hanya bisa eksis dalam masa lalu atau dalam masa depan, dalam kekinian, pikiran tidak dapat mempertahankan keberadaannya.

Ada banyak metode dan cara yang pernah saya lakukan untuk hal ini, diantaraya seperti tarik napas dan buang napas pelan-pelan, lalu mengalihkan seluruh kesadaran pada pernapasan, pada saat yang sama, berusaha untuk memikirkan sesuatu, hasilnya, selain sulit, lelah dan capek, itu pasti.

Saya juga pernah mencoba
metode melepaskan diri dari supremasi pikiran, yaitu dengan cara melelahkannya dan menghabiskannya, namun tetap nol hasil dan lelah belaka.

Berikut ini beberapa cara untuk melepaskan diri dari belenggu pikiran, yang di ciptakan oleh para ahli terdahulu dan saya pernah mencobanya.

Cara pertama adalah dengan mengalihkan Kesadaran pada napas.

Cara yang dipolpulerkan oleh Buddha Gautama ini, sudah teruji hasilnya, dan Dia menyebutnya Vipasana, yang artinya; Melihat ke Dalam Diri.

Pada zamannya dulu, cara ini memang merupakan cara yang paling efektif, tetapi sekarang ceritanya lain.

Karena tingkat kegelisahan manusia begitu tinggi, sehingga cara ini, hanya menjadi efektif, apabila terlebih dahulu kegelisahan dalam dirinya dimuntahkan keluar.

Cara kedua adalah dengan melelahkan pikiran, cara ini, tidak begitu efektif, hasilnya bersifat temporer, begitu pulih kembali, pikiran bekerja kembali, dan bukan hanya itu, setelah istirahat sebentar, pikiran menjadi segar kembali, artinya, dia semakin kuat.

Cara kedua ini banyak digunakan di Indonesia, dan terakhir dipopulerkan oleh Maharishi Mahesh Yogi, lewat apa yang beliau sebut Transcendental Meditation, dalam metode ini, kita diharapkan mengulangi satu-dua kata atau satu kalimat terus-menerus.

Ada yang menganjurkan waktu 20 menit seperti Maharishi, ada yang menganjurkan waktu 150 menit seperti Radha Soami.

Pada dasarnya, pengulangan kata tersebut, akan melelahkan pikiran, sampai ia ketiduran, bukan kita yang ketiduran, tetapi pikiran kita, kemudian kita merasa lega dan ringan. Ya,,, memang rileks, lega dan santai, akan tetapi hanya sesaat saja, setelahnya, kambuh lagi lalu kumat lagi.

Cara ketiga adalah dengan menghabiskan pikiran, cara ini merupakan Metode Milenia Mendatang, namun saya sudah mencobanya terlebih dulu, sebelum masa yang akan datang.

Cara ini akan menjadi semakin populer nantinya, pada dasarnya, manusia masa kini, kelebihan energi, pekerjaan fisik telah berkurang banyak, dan dengan perkembangan teknologi, pekerjaan fisik itu akan semakin berkurang.

Nah, energi yang berlebihan ini, semakin mengaktifkan
pikiran, pikiran semakin menjadi hiperaktif, sampai menyebabkan restlessness, kegelisahan.

Kendati demikian, membendung arus energi yang berlebihan hampir mustahil dan seterusnya, ujung-ujungnya stress jangka panjang.

Tapi dengan Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman, tidak perlu semua yang ribet sulit seperti yang sudah saya jelaskan diatas. Cukup;
1. Patrap Semedi.
2. Kekadhangan.
3. Darma Bakti.
Apapun tujuannya Dzat Maha Suci Hidup yang Atur, kita tahu beres dan terima bersih. Ayo buktikan…!!!

Para Kadhang kinasih-ku sekalian,
menurut pengalaman pribadi saya di TKP, seorang pencari selalu bertujuan, dia terobsesi dengan tujuannya itu, sehingga tidak memperhatikan apa pun juga, kecuali yang dicarinya itu, begitu banyak pengalaman yang dia lewati begitu saja, dia lupa memperkaya dirinya

Tapi bagi saya WEB, dari pada menjadi pencari, lebih baik menjadi seorang penemu, karena seorang penemu, bisa dapat menemukan begitu banyak setiap saat, dia akan menemukan sesuatu yang baru, pengalaman-pengalaman yang baru.

Apa gunanya meditasi yang Anda ajarkan…?!

Jika yang belajar pun belum sadar juga….!!!

Dan karena itu pula saya WEB, menganjurkan Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman, karena inilah yang terdekat dan termudah, gratis pula.

Pilihan ada di tangan Anda Sendiri, Mau mulai sekarang, silakan. Mau menunda-nunda, silakan. Silakan juga kalau Anda mau tidur terus. He he he . . . Edan Tenan.

Saya 💓Wong Edan Bagu💓 Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai🙏Damai🙏 Damai🙏Selalu Tenteram🙏 Sembah nuwun🙏Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono🙏inayungan Mring Ingkang Maha Agung.Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet🙏 BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏 Aaamiin🙏Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya