Tentang Olah Laku Spiritual dan Soal Lakon Kebatinan:


Tentang Olah Laku Spiritual dan Soal Lakon Kebatinan:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Telatah jawa dwipa. Hari rabu kliwon. Tgl 23. September 2015

Pengertian Umum Olah Laku Spiritual.
Sama dengan istilah kebatinan yang pada masa sekarang sudah banyak terjadi kesalah pahaman orang tentang artinya, begitu juga dengan laku spiritual dan lakon spiritualitas.

Lakon meditasi adalah salah satu bentuk lakon yang banyak dijalani oleh orang-orang di dunia spiritual, tetapi karena kesalah pahaman orang kemudian dianggap kalau ia ingin belajar spiritual maka ia harus latihan meditasi, dan kalau orang sudah latihan meditasi dianggap ia sudah menekuni olah spiritual.

Tapi sebenarnya spiritual dan olah spiritual lebih dari sekedar itu. Meditasi saja tidak cukup untuk orang dianggap sudah latihan spiritual. Dan jangan dianggap bahwa jika kita sudah latihan meditasi maka berarti kita juga sudah latihan spiritual. Meditasi saja tidak cukup signifikan menambah spiritualitas kita. Bahkan seorang master ahli meditasi sekalipun, belum tentu ia memiliki spiritualitas yang tinggi dan benar.

Laku spiritual berkaitan dengan pengolahan kekuatan olah spiritual manusia, olah kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang gaib secara spiritual, asal-usul tentang sesuatu, kejadian-kejadian pada masa lalu atau kejadian-kejadian yang akan datang, sampai olah kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang tidak tampak mata dan berdimensi gaib tinggi.

Dalam mempelajari sesuatu, di dalam olah spiritual, orang akan mempelajari dan dapat mencapai pengetahuan tentang sesuatu bukan hanya sebatas kulitnya saja, tetapi juga dapat sampai kepada hakekatnya (aspek filosofis dan kesejatian dari sesuatu tersebut).

Lakon Spiritualitas adalah mengenai segala sesuatu pengetahuan yang dengan laku spiritualnya pengetahuan itu berhasil dipahami atau orangnya bisa menemukan sendiri kebenarannya (bukan karena diberitahu atau katanya apapun itu).

Spiritualitas tidak sama dengan pengetahuan yang dimiliki/didapatkan seseorang dari suatu sumber atau dengan ia mendalami suatu ilmu/pengetahuan. Itu hanya sebanding dengan pengetahuan dan kebijaksanaan saja. Spiritualitas adalah pengetahuan dan kesadaran yang didapatkan oleh seseorang dengan ia menjalani sendiri olah laku spiritual yang dengan lakunya itu orangnya bisa sendiri menemukan kebenarannya, tidak pakai/menggunakan katanya guru/kiyai/kitab dll.

Apa saja yang menjadi isi spiritualitas seseorang adalah apa saja objek spiritual/pengetahuan yang menjadi interest orang itu yang ditindaklanjutinya sendiri dengan laku spiritualnya. Spiritualitas setiap orang pelaku spiritual tidak semuanya sama, karena masing-masing objek/bidang interest orang juga tidak sama. Dan pada bidang/objek spiritual yang sama masing-masing orang juga tidak sama tingkat pencapaian spiritualitasnya. Spiritual dan Spiritualitas tinggi, hanya ada satu sumber saja, yaitu dari Tuhan/Allah/Hyang Maha Suci Hidup, dan setahu saya; Wong Edan Bagu, hanya ada satu dijaman moderen ini, yaitu… Olah lakon Spiritualitas KUNCI dan laku spiritual Hakikat Hidup, yang murni menggunakan satu sumber saja, yaitu Hyang Maha Suci Hidup, dan itu hanya terdapat dalam pelajaran Wahyu Panca Gha’ib saja, bukan yang lainnya, karena selain Wahyu Panca Gha’ib, menggunakan beberapa Sumber, pless rekayasa dan politik yang di sesuaikan dengan kepentingan masing-masing pribadi yang menjalankannya.

Olah meditasi dan perenungan adalah contoh bentuk lakon yang banyak dilakukan orang dalam laku spiritual sampai dengan lakunya itu orang menemukan sendiri kesejatian dari sesuatu yang dipelajarinya. Sesudah itu barulah lakon spiritualitasnya terbentuk.

Cakra-cakra tubuh yang bekerja adalah cakra-cakra yang berada di leher, di dahi dan yang di ubun-ubun kepala.

Di atas ubun-ubun kepala ada cakra mahkota, yaitu sebentuk energi seperti corong bersusun 2 yang hanya terbentuk sesudah cakra di ubun-ubun kepala kuat dan terbuka serta aktif bekerja, dan orangnya juga aktif menjelajahi kegaiban tingkat tinggi (ini hanya terdapat dalam lakon spiritualitas KUNCI dan laku spiritual Hakikat Hidup). Jadi cakra mahkota itu sebenarnya adalah “energi” yang terbentuk dari kuatnya laku spiritual, sesudah cakra di ubun-ubun kepala kuat dan terbuka serta aktif bekerja, dan orangnya aktif menjelajahi kegaiban tingkat tinggi. Dengan cakra di ubun-ubun dan cakra mahkota orang bisa menyerap energi spiritual alam semesta dan bisa menangkap intisari alam spiritual, sehingga bisa mengetahui rahasia alam semesta/kehidupan dan rahasia hidup bahkan Hyang Maha Suci Hidup.

Olah kemampuan untuk mengetahui kesejatian dari suatu pengetahuan yang didapat sendiri dari olah spiritual inilah yang membedakan Laku Spiritual Hakikat Hidup (KUNCI) dengan ilmu-ilmu kebatinan umum dan ilmu-ilmu kegaiban yang lain, dan apa saja pengetahuan/kebenaran yang diperolehnya itu, akan menjadi isi spiritualitas seseorang tersebut, secara umum akan menjadi suatu hikmat kebijaksanaan yang bersifat kesepuhan… He he he . . . Edan Tenan.

Olah spiritual juga menghasilkan kekuatan, yaitu kekuatan spiritual, yang berasal dari cakra di ubun-ubun dan cakra mahkota, yang dapat disalurkan melalui kekuatan pikiran. Selain berasal dari kesadarannya sendiri, kekuatan itu juga berasal dari kekuatan Roh, (roh pancer/Hidup dan sedulur papatnya sendiri) yang seolah-olah berada di belakangnya (di belakang kepalanya) dan menyatukan kekuatannya dengan kekuatan orangnya menjadi satu kesatuan kekuatan bathin dan pikiran.

Kegaiban kekuatan spiritual seseorang akan memampukannya membuka tabir-tabir kegaiban dan rahasia-rahasia yang bagi orang-orang umum masih tertutup. Bila digunakan untuk berhadapan dengan kekuatan mahluk halus, kekuatannya itu dapat untuk mendeteksi dan menyerang mahluk halus, bukan hanya yang tingkatnya rendah, tetapi juga yang berkekuatan dan berdimensi gaib tinggi, yang dimensinya dan kesaktiannya lebih daripada buto/iblis sekalipun. He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang kinasihku yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. SEMOGA POSTINGAN SAYA KALI INI. Bermanfaat untuk Para Kadhang yang belum mengetahui ini dan Bisa menggugah Rasa Hidup siapapun yang membacanya . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Perbeda’an Antara. Olah Lakon Spiritual Kebatinan dan Olah Laku Spiritual Hakikat Hidup:


Kekadhangan
Perbeda’an Antara.
Olah Lakon Spiritual Kebatinan dan
Olah Laku Spiritual Hakikat Hidup:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Telatah jawa dwipa. Hari kamis legi. Tgl 24. September 2015

1. Olah Lakon Spiritual Kebatinan;
Olah Kebatinan, berkaitan dengan pengolahan potensi kebatinan manusia, potensi kegaiban sukma manusia, disertai dengan landasan filosofi spiritual kebatinan, misalnya dalam dunia kebatinan kejawen ada cerita saudara kembar sedulur papat kalima pancer, filosofi dalam pewayangan, ilmu kasampurnan (kesempurnaan), konsep manunggaling kawula lan Gusti, dsb.

Bagi orang-orang yang mempelajari kebatinan, berbagai cerita dalam filosofi spiritual kebatinan tersebut di atas adalah dasar tuntunan untuk berperilaku (budi pekerti), tuntunan kerohanian, sasaran/tujuan pencapaian ilmu dan bumbu cerita spiritual kebatinan. Pengetahuan gaib atau tentang kejadian-kejadian yang akan datang, dsb, seringkali didapatkan dari istilah ilham/bisikan gaib/wangsit (dari kegaiban sukmanya/roh sedulur papatnya sendiri) yang ditindaklanjuti sampai ketemu kebenarannya.

Tetapi banyak para pemula (termasuk praktisi kebatinan, orang-orang yang mengaku pinter dan spiritualis yang sebenarnya keilmuan kebatinannya masih tingkat dasar) yang bisa bercerita banyak tentang hal-hal filosofis di atas, tetapi sebenarnya mereka sendiri belum sampai pada kemampuan untuk mengetahui sendiri kebenarannya, dan banyak orang yang bisa melihat gaib, tetapi tidak tahu kesejatian dari apa yang dilihatnya itu, apalagi yang hanya sekedar ‘ngecap’ saja alias katanya bin kulak jare adol ndean… He he he . . . Edan Tenan, seolah-olah mereka benar sudah mumpuni menguasai ilmunya atau mengetahui sendiri kebenarannya, padahal baru katanya.

Mereka yang mendalami suatu olah kebatinan, biasanya juga memahami aspek spiritual dari olah kebatinan yang ditekuninya. Tetapi aspek spiritual lain yang lebih tinggi biasanya tidak ditekuni, karena biasanya lakonya hanya berkonsentrasi pada aspek spiritual yang terkait dengan apa yang sedang dijalani saja. Tetapi para tokoh kebatinan, yang menemukan konsep-konsep kebatinan, yang kemudian mengajarkannya kepada murid-murid atau para pengikutnya, jika Olah Spiritual Kebatinan ini tidak berhenti, artinya terus mencari tau dan mendalami semua pelajarannya. Akan sampai pada Olah Spiritual Hakikat Hidup, dan selanjutnya akan menguasai aspek spiritual dari kebatinannya secara mendalam dan juga memiliki spiritualitas yang tinggi, berbagai cerita dalam filosofi spiritual kebatinan yang tersebut di atas bukan lagi menjadi dasar tuntunan untuk berperilaku (budi pekerti), sasaran/tujuan pencapaian ilmu dan bumbu cerita spiritual kebatinan, tetapi mereka sendiri memiliki kemampuan untuk mengetahui kebenarannya, dan biasanya mereka juga menguasai aspek spiritual lain yang lebih tinggi, hingga mencapai ke yang sebenarnya/sejatinya.

2. Olah Laku Spiritual Hakikat Hidup;
Olah Spiritual Hakikat Hidup, berkaitan dengan pengolahan potensi spiritual hakikat Hidup manusia, olah kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang gaib, asal-usul tentang sesuatu, kejadian-kejadian pada masa lalu atau kejadian-kejadian yang akan datang, sampai pada olah kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang tidak tampak mata dan berdimensi gaib tinggi. Dalam mempelajari sesuatu, dalam olah laku spiritual hakikat hidup, orang akan mempelajari bukan hanya sebatas kulitnya saja, tetapi juga sampai kepada hakekatnya (aspek filosofis dan kesejatian dari sesuatu tersebut).

Dan setahu saya; Wong Edan Bagu. Orang yang menekuni Laku Spiritual Hakikat Hidup, bersamaan atau sebagai kelanjutan dari laku kebatinannya. Termasuk dalam lakon kebatinan untuk kanuragan/kesaktian, olah Laku Spiritual Hakikat Hidup dilakukan bersamaan atau sebagai kelanjutan lakon kebatinannya untuk menelisik lebih dalam sisi spiritual/kesejatian dan potensi dari keilmuannya. Begitu juga lakon kebatinan keTuhanan, yang seharusnya kemudian dilanjutkan menjadi laku kebatinan-spiritual keTuhanan, untuk menelisik kesejatian dan kebenaran dari jalan keTuhanannya. Dengan demikian dari lakon kebatinan dan Laku spiritualnya, orang tersebut bisa menguasai sekaligus, sisi Spiritual kebatinannya dan sisi Spiritual Hakikat Hidup nya, menguasai kekuatan kebatinan dan kekuatan spiritualnya, dan kekuatan sukmanya, yang juga berasal dari kekuatan kebatinan dan spiritual tersebut.

Pada orang-orang yang sudah menekuni tahapan laku spiritual, berbagai cerita dalam filosofi spiritual kebatinan yang tersebut di atas bukan hanya menjadi dasar tuntunan untuk berperilaku (budi pekerti), atau hanya sebatas sasaran/tujuan pencapaian ilmu dan bumbu cerita kebatinan spiritual saja, tetapi menjadi tujuan untuk dicaritahu kebenarannya, sehingga mereka bisa memiliki kemampuan untuk mengetahui sendiri kebenarannya. Cerita-cerita tersebut bukan hanya menjadi kisah cerita belaka atau menjadi bumbu pelajaran ilmu saja, tetapi mereka juga mempelajari kebenarannya berikut aspek filosofis di dalamnya.

Banyak orang yang baru mempelajari sesuatu ilmu, baru sepotong atau baru sebatas kulitnya saja sudah sesumbar seolah-olah ilmunya sudah mumpuni, bagi saya; Wong Edan Bagu. Dia hanya bersensasi saja. Air beriak tanda tak dalam. Tetapi orang yang sudah dalam ilmunya, justru lebih memilih diam dan diam-diam ia dapat mengukur kedalaman/ketinggian ilmu orang lain.

Orang ‘berisi’ yang memilih diam biasanya ilmunya lebih dapat berkembang, karena ia memiliki banyak waktu untuk memperhatikan lingkungan dan belajar dari kehidupan sehari-hari atau dari pengalaman orang lain… He he he . . . Edan Tenan. Contohnya saya… karena senengannya koar-koar mengungkap kebenaran yang sebenarnya, jadi, sudah pasti saya; Wong Edan Bagu ini, masih duuuuuaaaaangkal buuuuaaaanget, jadinya, banyak nggedebusnya, anggap saja tong kosong nyaring bunyinya ya luur,,, tapi lumayan, bisa buat tabuhan mengiringi tembang galau… He he he . . . Edan Tenan.

Kebanyakan orang hanya ingin mempraktekkan ilmunya saja dan mempertunjukkan ilmunya, sehingga dirinya dipandang hebat, tapi ia tidak berusaha mengembangkannya, apalagi setelah berpisah dari gurunya. Dengan demikian orang tersebut tidak akan bisa mencapai tingkatan seperti gurunya atau melebihinya. Apabila suatu saat nanti orang tersebut mempunyai murid, dan murid-muridnya itu sama juga perilakunya sepertinya, maka dunia keilmuan semakin lama akan semakin surut. Padahal, seharusnya setiap murid harus bisa melebihi gurunya, sehingga dunia keilmuan akan berkembang terus dan semakin oke. Namun sayang,,, kesadaran seperti itu, seringkali tidak dimiliki oleh kebanyakan orang, termasuk iyong dewek… He he he . . . Edan Tenan.

Tetapi orang-orang yang sudah mendalami sisi spiritual dari sesuatu dan mampu menguasainya, walaupun hanya sebagian saja, kemudian akan lebih banyak diam, tidak pamer atau menonjolkan diri, karena mereka sendiri sadar bahwa mereka lebih mengetahui daripada orang lain, seringkali dianggap lebih baik untuk diam, tidak pamer, dan tidak mempertentangkannya dengan orang lain.

Diperibahasakan seperti ilmu padi : ” makin berisi makin merunduk “. Inilah yang kemudian menjadi suatu kebijaksanaan yang bersifat kesepuhan.

Olah Spiritual Hakikat Hidup sebenarnya adalah bagian dari kelanjutan Olah Spiritual Kebatinan. Tetapi karena pada masa sekarang ini banyak orang yang membedakan spiritual dengan kebatinan, apalagi ada juga orang yang mempelajari spiritual secara khusus yang tatacara pengolahannya tidak sama dengan olah kebatinan yang umum, maka dalam Tulisan saya kali ini, saya tuliskan tentang pengertian spiritual itu, yang sisi pengolahannya dan sifat-sifatnya berbeda dengan kebatinan yang umum.

Tetapi jangan dilupakan bahwa sebenarnya Olah Spiritual Hakikat Hidup adalah satu kesatuan dengan Olah Spirituan Kebatinan, termasuk dalam hal tatacara mempelajarinya, dan sesungguhnya memang begitu. Kebatinan dan spiritual jangan dianggap sebagai sesuatu yang berdiri sendiri-sendiri.

Olah Spiritual Kebatinan dan Olah Spiritual Hakikat Hidup sebenarnya merupakan satu kesatuan laku yang dilakukan bersama-sama, satu kesatuan laku yang tidak terpisahkan, dalam menjalankannya, hanya proporsinya saja yang berbeda-beda. Di satu saat mungkin lakunya lebih besar proporsinya untuk kebatinan. Di saat yang lain mungkin porsinya lebih besar untuk spiritualitas, tergantung objek dan tujuan dari lakon yang sedang dilakukannya.

Saya; Wong Edan Bagu, menekuni Laku Spiritual Hakikat Hidup sebagai kelanjutan dari lakon Spiritual kebatinan, yang awalnya saya pelajari sebelum Laku Spiritual Hakikat Hidup. Termasuk dalam lakon kebatinan untuk plah kanuragan/kesaktian yang dulu pernah saya pelajari dari berbagai karakter Guru.

Lakon Spiritual Kebatinan dan Laku Spiritual Hakikat Hidup, saya lakukan bersamaan, alasannya untuk menelisik lebih dalam sisi Kesejatian Spiritual pribadi saya dan untuk mengetahui potensi dari Keilmuan Kesejatian Spiritual pribadi saya. Keduanya saya dasari dengan Wahyu Panca Gha’ib, Wahyu Panca Gha’ib sebagai busurnya, Laku Spiritual Hakikat Hidup sebagai tali busunya dan Lakon Spiritual Kebatinan sebagai anak panahnya. Dengan ini saya berhasil menelisik dan menembus dimensi tanpa batas, tentang kesejatian dan kebenaran yang benar dari iman keTuhanan saya.

Dengan demikian saya bisa menguasai sekaligus memeliki sisi kebatinan dan sisi spiritual pribadi saya, menguasai kekuatan kebatinan dan kekuatan spiritual pribadi saya, dan kekuatan Hidup dan kehidupan pribadi saya… Ingat..!!! Pribadi saya, bukan orang lain… He he he . . . Edan Tenan.

Menurut hasil pengalaman saya di TKP. Biasanya, kalau tidak berhenti di sampai disitu saja, walaupun proses lakon yang dijalani oleh seseorang adalah olah kebatinan, hasilnya akan merupakan kombinasi dari kebatinan dan spiritual. Karena, menurut saya, dalam setiap sisi kebatinan yang ditekuni sesorang, selalu terkandung makna spiritual yang juga harus dikuasai. Dan dalam penggunaan kekuatan kebatinan, biasanya juga disalurkan melalui kekuatan pikiran, sehingga biasanya orang-orang yang menekuni kebatinan, lakon kebatinannya itu bukan hanya membentuk kekuatan kebatinan, tapi juga membentuk kekuatan gaib spiritualnya. Dan biasanya lagi, para tokoh kebatinan dan para praktisi kebatinan, orang-orang yang benar-benar menekuni kebatinan, mempunyai kemampuan spiritual juga, namun sayang, kebanyakan dari mereka, tidak menyadari akan hal tersebut.

Pengetahuan yang didapat dari lakon kebatinan bersifat dalam, berupa penghayatan kesejatian akan sesuatu, sehingga pengetahuannya itu tidak dangkal, tidak mengawang-awang, tidak berisi dogma dan pengkultusan, artinya, sudah tidak lagi berada di dalam kotak-kotak atau derada di bawah warna bendera, pengetahuan itu, juga bisa dibuktikan oleh orang lain yang sama-sama mempelajari kesejatiannya.

Dengan olah laku spiritual suatu pengetahuan yang secara kebatinan sudah diketahui itu, ditindaklanjuti lagi untuk menelisik kesejatiannya yang lebih tinggi lagi. Karena itu olah laku spiritual adalah kelanjutan pencarian kesejatian yang lebih tinggi dari suatu objek pengetahuan yang secara kebatinan sudah diketahui kesejatiannya. Karena itu orang-orang yang tekun di dalam olah kebatinan dan spiritual akan memiliki penghayatan atas sesuatu secara mendalam, sekaligus juga tinggi, dibandingkan pemahaman orang lain yang umum atas suatu objek yang sama.

Seseorang yang menjalani laku kebatinan akan merasakan kekuatan kebatinannya di dada. Sesuai penguasaan dan pencapaiannya, kekuatan kebatinannya itu akan mengisi kekuatan tangan, kaki, tubuh, menjadi kekuatan gaib yang melipatgandakan kesaktian kanuragan seseorang. Selain itu kegaiban sukma dari lakon kebatinannya akan membentuk dirinya menjadi seorang yang linuwih dan waskita. Pada penggunaannya, selain kekuatan itu digunakan sebagai kekuatan yang mengisi tubuh untuk kanuragan, kekuatan itu juga dipusatkan di kepala, menjadi kekuatan spiritual.

Dalam proses awal lakon kebatinan dan laku spiritual, orang memusatkan perhatiannya secara batin, memusatkan rasa terasa merasa dan merasakan rasa Hidupnya pada suatu objek tertentu yang menjadi perhatiannya. Pada proses selanjutnya, memusatkan perhatiannya di kepala, mempertegas apa yang ada di “awang-awang”, untuk menindaklanjuti ide/ilham dan bisikan gaib/wangsit, untuk mempelajari lebih lanjut kesejatian spiritual dari objek yang menjadi perhatiannya itu sampai kepada aspek hakekatnya.

Selanjutnya berdasarkan objek perhatian yang sudah dikuasai pengetahuannya itu, dengan mendayagunakan aliran rasa sebagai sumber inspirasinya, orang itu akan melanjutkan pencariannya kepada objek-objek pengetahuan selanjutnya, hingga ke dimensi spiritual yang lebih tinggi lagi. Yang ukurannya tanpa batas ruang dan waktu. Karena itu kebanyakan lakon kebatinan dan laku spiritual seseorang akan menciptakan suatu kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang sifatnya tinggi bagi orang kebanyakan yang mengantarkannya menjadi seorang yang linuwih dan waskita.

Dalam proses pencarian jati diri itulah, olah Olah Spiritual Kebatinan dan olah Spiritual Hakikat Hidup, dilakukan secara bersama-sama, sehingga lakon kebatinan dan laku spiritual menjadi satu kesatuan kelakuan yang tidak dapat dipisahkan.

Tetapi isi spiritualitas setiap orang tidak sama, tergantung pada objek spiritual yang menjadi interest-nya. Untuk objek spiritual yang sama yang membedakan pencapaian masing-masing orang hanyalah sejauhmana lakon kebatinan dan laku spiritual itu dilakukan oleh seseorang dan seberapa besar minat seseorang mempelajari sampai mendalam apa yang menjadi interest-nya itu.

Selain itu, pencapaian setiap orang juga dipengaruhi oleh “kecerdasan hati”-nya dan kepekaan hati-nya. Ingat..!!! Kecerdasan Hati dan Kepeka’an Hati, bukan otak bukan pikiran. untuk mendapatkan ide/ilham/wangsit sebagai bahan untuk ditindaklanjuti. Energi di dada, cakra di ubun-ubun kepala dan cakra mahkota akan bekerja dengan sendirinya mengikuti proses lakon kebatinan dan laku spiritual orang tersebut.

Tetapi tidak semua orang yang menjalani olah kebatinan, paham dan tau serta mengerti hal ini, kebanyakan hanya berhenti sampai di batin saja, tidak dilanjutkan hingga ke Hidup dan mentog Hyang Maha Suci Hidup, sudah bisa menerawang togel saja, sudah puas, lalu berhenti dan menikmatinya sebagai mata pencaharian nafkan lahirnya. Dia tidak mau laku spiritual, bahkan konyolnya, dia menganggap Spiritual itu sesat/hitam/musrik dan bla,,, bla,,, lainnya. Edan pora hayo…

Pada jaman dulu, di Jawa, ketika manusia masih hidup di jaman kesaktian, kekuatan kebatinan memang merupakan sumber utama kekuatan yang melandasi kesaktian kanuragan, bukan ilmu gaib dan ilmu khodam dan bukan tenaga dalam. Pada tingkat kesaktian yang tinggi orang melatih keilmuannya dengan lambaran kekuatan kebatinan. Lakon prihatin, berpuasa bahkan tapa brata akan mengisi sehari-hari lakonnya.

Di kalangan kesaktian kanuragan itu kebanyakan olah lakon kebatinan mereka tidak secara khusus dilakukan untuk juga mempelajari olah spiritual, tetapi olah lakon kebatinannya lebih ditujukan untuk meningkatkan kesaktian kanuragannya, sehingga sekalipun kesaktian kanuragan mereka tinggi, tetapi tingkat spiritualitas dan kekuatan sukmanya terbatas dibandingkan orang-orang yang benar-benar menekuni olah kebatinan dan laku spiritual yang mengolah kekuatan dan kegaiban sukmanya.

Pada jaman dulu… Laku spiritual yang tinggi kebanyakan dijalani oleh orang-orang yang sudah menepi, yang sudah mandito, para pertapa, resi atau panembahan, yang sudah tidak lagi melulu mengedepankan kesaktian kanuragan untuk lebih mengedepankan lakon kebatinan keTuhanan, yang kemudian dilanjutkan dengan olah laku spiritual keTuhanan. Spiritualitas yang tinggi biasanya adalah hasil dari lakon kebatinan dan laku spiritual seseorang dalam rangka pencarian jati diri keTuhanan (karena Tuhan adalah materi spiritualitas yang tertinggi).

Karena itu orang-orang jaman dulu yang menekuni kebatinan dan spiritual biasanya adalah juga orang-orang yang berilmu kesaktian tinggi, yang sudah melewati masa-masa pelatihan olah kanuragan atau tenaga dalam tingkat berkali ber… He he he . . . Edan Tenan.

Bahkan banyak kemudian yang pada masa tuanya mengaso meninggalkan keduniawiannya, mandito, dan menepi, menjadi seorang panembahan atau pertapa, untuk lebih menekuni dunia kerohanian keTuhanan nya. Karena itu seorang panembahan atau pertapa biasanya adalah orang-orang yang mumpuni dalam ilmu kesaktian dan kebatinan, hanya saja kemudian kesaktiannya itu tidak kelihatan, karena mereka lebih mengedepankan sikap dan penampilan sebagai orang yang sudah mandito, yang kelihatan lebih menekuni dunia kerohanian, tidak lagi melulu menonjolkan kejayaan keduniawian. Dan… lagi-lagi namun sayangnya lagi, kebanyakan dari mereka itu, mengakhiri riwayat Hidup dan kehidupannya dengan cara moksa, bukan,,, Inna lillaahi wa inna illayhi roji’un, sungguh sangat di sayangkan bukan? Heeeemmmm… Edan Tenan.

Tidak seperti di jaman sekarang yang orang memandang olah spiritual sebagai jenis keilmuan tersendiri yang berbeda dengan olah kebatinan yang kemudian secara khusus diajarkan/diwujudkan dalam kursus/perguruan meditasi pembangkitan kundalini, reiki, dsb, tapi bagi saya pribadi, orang yang benar-benar menekuni dunia spiritual, pasti memahami bahwa olah lakon kebatinan dan olah laku spiritual adalah sesuatu yang menyatu, merupakan satu kesatuan proses yang salah satunya tidak boleh diabaikan, apa lagi di pisahkan. Ini menurutku,,, menurut Wong Edan Bagu lo… Menurutmu, ya terserah sampean to, mau menggunakan kacamata apa dan kacamata mana, silahkan. Hikz.

Lakon kebatinan dan laku spiritual bukanlah jenis-jenis keilmuan yang berdiri sendiri-sendiri. Begitu juga dengan olah kalakuannya. Olah lakon kebatinan menjadi dasar untuk ditindaklanjuti dengan olah laku spiritual, atau laku spiritual adalah kelanjutan dari lakon kebatinan seseorang. Penggunaan kekuatan spiritual juga sebenarnya adalah kekuatan kebatinan yang kekuatannya difokuskan di kepala. Kekuatan spiritual yang di pusatkan ke rasa. Tingkat spiritualitas seseorang akan lemah jika tidak didasari dengan olah lakon kebatinan. Jadi… Jelasnya. Olah lakon kebatinan merupakan pondasi bagi kemampuan laku spiritual seseorang.

Dengan demikian olah laku spiritual biasanya dijalani orang bersama-sama atau merupakan kelanjutan dari laku kebatinan, sehingga olah spiritual itu sebenarnya bukanlah suatu jenis ilmu yang berdiri sendiri-sendiri yang dipelajari secara sendiri-sendiri seperti yang pada masa sekarang diajarkan dalam pelajaran praktis meditasi kundalini dan reiki dsb. Olah laku spiritual sebenarnya berhubungan dan menjadi satu kesatuan dengan olah lakon kebatinan dan merupakan tindak lanjut dari lakon kebatinan.

Dengan demikian seseorang yang menjalani laku spiritual biasanya adalah bagian dan kelanjutan dari lakon kebatinannya dan seseorang yang menjalani lakon kebatinan biasanya juga menguasai tingkat spiritualitas tertentu, sesuai pencapaian spiritualnya pada bidang interest-nya masing-masing.

Begitu juga dalam proses melatih energi kekuatan spiritual, biasanya juga dijalani dengan kombinasi kebatinan. Pada jaman dulu orang-orang yang sedang khusus menjalani lakon kebatinan (olah batin) biasanya akan melakukannya dengan jalan menyepi, berpuasa, atau tapa brata. Selain dilakukan untuk tujuan mendapatkan pencerahan kebatinan yang terkait dengan kesaktian atau dunia spiritual dan untuk menambah tinggi kekuatan kesaktian dan spiritualitas mereka, kekuatan dari lakon mereka itu juga akan menambah tinggi kekuatan sukma mereka.

Karena itu jika kita sudah masuk ke dunia kebatinan, jangan berhenti sampai disitu saja, saya sarankan, sebaiknya kita juga mempelajari sisi spiritual dari apa yang sedang kita jalani itu, supaya kita juga mengetahui secara mendalam apa yang sedang kita jalani itu dan kita bisa mengetahui potensi dan arah pengembangannya dari apa yang menjadi interest kita itu… He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang kinasihku yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. SEMOGA POSTINGAN SAYA KALI INI. Bermanfaat untuk Para Kadhang yang belum mengetahui ini dan Bisa menggugah Rasa Hidup siapapun yang membacanya . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Soal Lakon Kebatinan dan Tentang Laku Spiritual Pencarian Tuhan:


Soal Lakon Kebatinan dan Tentang Laku Spiritual Pencarian Tuhan:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Telatah jawa dwipa. Hari jumat pahing. Tgl 25. September 2015

Tuhan/Allah/God/Gusti dll (Sosok Tuhan, Pribadi yang menjadi Tuhan, kesejatianNya dan keberadaanNya) adalah hakikat materi spiritual yang tertinggi. Karena itu tidak banyak orang yang mampu mencapai pengetahuannya, tidak banyak orang yang mampu dengan benar mengenal Tuhan (Sosok, Pribadi Tuhan dan kesejatianNya), bahkan banyak orang yang walaupun agamis, tetapi tidak tahu siapa sesungguhnya Tuhannya?. Lebih banyak orang yang untuk menutupi ketidaktahuannya tentang Tuhan mereka, memunculkan dogma dan pengkultusan tentang Tuhan seolah-olah mereka benar tahu Tuhan. Karena itulah kebanyakan orang yang menekuni kebatinan/spiritual ketuhanan untuk melakukan pencarian keTuhanan banyak yang mempunyai lingkaran halo di belakang kepalanya sebagai tanda kuatnya laku kebatinan/spiritual mereka.

Saya; Wong Edan Bagu, sudah menuliskan di banyak tulisan tentang Tuhan dan keTuhanan dan spiritualitas keTuhanan, baik itu di facebook/google/blogger/wordpres hingga twitter, bahwa dari tempat keberadaanNya Tuhan/Allah memancarkan “Energi”-Nya ke seluruh penjuru bumi, sehingga semua orang di berbagai penjuru bumi bisa merasakan adanya tarikan Rasa untuk berTuhan dan untuk berkeTuhanan, iya apa nggeh? Hayo,,, ini diluar kesadaran lo… He he he . . . Edan Tenan. Artinya; di akui atau tidak di akui, di ketahui atau tidak di ketahui.

Pancaran ‘Energi’ Tuhan itu disebut Roh Agung Alam Semesta, yang dengan Roh Agung Alam Semesta nya, orang bisa merasakannya dimana-mana dan dimanapun ia berada di seluruh belahan bumi ini, karena pancaran Energi-Nya itu, memang juga terpancar kemana-mana ke seluruh penjuru dimensi, menjadi Roh Dimensi Tanpa Batas. Roh Agung Alam Semesta atau Roh Dimensi Tanpa Batas itu, disembah orang dalam banyak bentuk agama dan jalan keTuhanan.

Dari sifat-sifat Rasa Energi-Nya itu orang bisa “merasakan” sifat-sifat Tuhan/Allah, dan bisa dirasakan juga kehendak-kehendak Tuhan/Allah, disebut orang sebagai Cahaya Allah. Itulah yang umumnya dirasakan oleh orang-orang yang berusaha menyelami sifat-sifat Tuhan/Allah dan yang mendalami agama, yaitu Cahaya Allah atau Cahaya Illaahi, sifat-sifat Allah yang dirasakan orang dari Rasa ‘Energi’ yang dipancarkan oleh Roh Agung Alam Semesta, yang Cahaya Allah itu dirasakan menyelimuti semua kehidupan di dunia dan akherat.

Itulah yang umumnya diajarkan sebagai agama, yaitu Tuhan (Roh Agung Alam Semesta) dan Cahaya Allah yang menggambarkan sifat-sifat dan kehendak-kehendak Allah, ajaran agama yang didasarkan pada kesepuhan keTuhanan. Pengetahuan mereka hanya sedikit, karena mereka belum sampai pada pengetahuan tentang Sosok Allah, Pribadi yang menjadi Allah dan KeberadaanNya, dan mereka juga belum bisa tersambung langsung (kontak Rasa) dengan Tuhan, sehingga mereka tidak sungguh-sungguh mengetahui apa sesungguhnya yang menjadi kehendak Allah (mereka akan banyak memunculkan pemikiran dan pendapat sendiri dan dogma dan pengkultusan tentang Tuhan dan kehendak-kehendakNya), di sesuaikan dengan kepentingan pribadinya atau jema’ah/golonganya.

Tetapi pengetahuan tentang Tuhan yang hanya sebatas Roh Agung Alam Semesta itu, tidak memuaskan bagi para pelaku pencari Tuhan. Dengan Rohnya, dengan olah lakon kebatinan dan laku spiritual, mereka berusaha mencari Tuhan sampai bisa ditemukan seperti apa SosokNya, siapa sesungguhnya Pribadi yang menjadi Tuhan dan dimana tepatnya keberadaanNya.

Dengan demikian mereka berharap bahwa nantinya mereka akan bisa lebih baik lagi dalam mereka menyelaraskan diri dan Hidup dan kehidupan mereka sesuai dengan yang menjadi kehendak Tuhan serta akan semakin terbuka peluang untuk nantinya mereka bisa kembali kepada sangkan paraning dumading Urip/Hidup (Asal Usul Terjadinya Jadi)

Tetapi Tuhan/Allah mempunyai jalanNya sendiri. Shingganya tidak semua orang yang mencari Tuhan itu berhasil dalam usahanya. Kecuali jika Menggunakan Saran Hidup, yaitu Wahyu Panca Gha’ib. Apalagi Tuhan juga tidak kepada semua orang Ia berkenan menunjukkan diriNya. Kecuali orang yang sudah KUNCI. Dengan demikian pengetahuan orang-orang tersebut masih tetap hanya sebatas Tuhan sebagai Roh Agung Alam Semesta saja dan sifat-sifat Tuhan dari Cahaya-Nya yang diajarkan sebagai agama/kepercayaan keTuhanan.

Tetapi diluar itu, selain kisah para nabi dan wali, ada tokoh-tokoh jawa, sebelum datangnya agama Islam, yang berhasil “bertemu” dengan Tuhan dalam “Penampakkan”-Nya serupa bola energi besar bercahaya kuning terang benderang, mereka menyebutnya (Roh Kudus/Suci) yang itu hanya bisa dilihat secara batin dan roh saja. Mereka juga bisa tersambung kontak Rasa dan batin dengan Tuhan, bisa mendapatkan pengajaran-pengajaran langsung dari Tuhan, dsb, sehingga mereka bisa mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang kesejatian manusia, kesejatian Hidup, dsb, yang itu kemudian mereka ajarkan dalam banyak nama dan istilah dalam kepercayaan agama jawa.

Karena itu selain tuntunan kerohanian dan keagamaan yang diberikan oleh tokoh-tokoh agamanya, agama-agama jawa mengajarkan para penganutnya untuk bisa fokus batin kontak Rasa langsung dengan Tuhan dan untuk bisa mendapatkan pengajaran-pengajaran langsung dari Tuhan, olah roso untuk manunggaling kawula lan Gusti, sehingga mereka masing-masing secara pribadi bisa menjadi lebih mengerti sifat-sifat Tuhan dan kehendak Tuhan atas kehidupan mereka, dan pemahaman itu mereka jalankan dalam kehidupan mereka sehari-hari, mereka menyelaraskan kehidupan mereka dengan kehidupan yang menjadi kehendak Tuhan. Dengan demikian mereka tidak membutuhkan Nabi dan Wali sert kitab suci apapun, karena hubungan mereka dengan Tuhan bersifat langsung, pribadi dan personal… He he he . . . Edan Tenan.

Pencapaian keTuhanan orang-orang Jawa itu, belum bisa disebut sebagai manunggal dengan Tuhan, belum mencapai tahap kasampurnan. Walaupun mereka sudah bisa tersambung dengan Tuhan, tetapi ternyata Tuhan masih belum berkenan manunggal dengan mereka, karena Tuhan mempunyai JalanNya sendiri. Buktinya, tidak sedikit bukan, orang jawa yang tidak tau jawanya…

Tapi saya salut pada mereka lo… Karena ketekunan mereka dalam usaha mereka mengenal langsung Tuhannya, yang berusaha senantiasa tersambung kontak Rasa dan batin dengan Tuhan serta sepenuh hati menyelaraskan pemahaman keTuhanan mereka dalam kehidupan mereka sehari-hari, sudah mendapatkan perhatian tersendiri dari Tuhan. Usaha mereka tidak ada yang sia-sia, karena dibandingkan manusia-manusia lain di tempat-tempat dan belahan bumi lain mereka dan tanah Jawa khususnya, mendapatkan nilai tersendiri di mata Tuhan, mereka akan mendapatkan kemuliaan dan kemurahan tersendiri dari Tuhan pada akhir zaman, saya yakin itu.

Dan dengan jalan kebatinan keTuhanan mereka itu, mereka memiliki pemahaman sendiri yang cukup mendalam tentang Tuhan, tidak perlu memunculkan dogma dan pengkultusan tentang Tuhan, seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak tahu tapi sok tahu tentang Tuhan.

Apapun agama yang mereka anut, mereka memiliki pemahaman sendiri tentang Tuhan, dan pemahaman itu mereka wujudkan dalam keseharian kehidupan mereka. Mereka berusaha mendekatkan hati mereka dengan Tuhan dan berusaha menyelaraskan jalan hidup di dalam kehidupan dan perbuatan-perbuatan mereka dengan yang menjadi kehendak Tuhan, sesuai yang mereka pahami. Pengertian Manunggaling Kawula Lan Gusti dalam konsep kejawen adalah hubungan manusia dengan Tuhannya secara langsung dan pribadi, hal ini hanya bisa di lakukan dengan Rasa, bukan sekedar bathin saja. Ingat..!!! dengan rasa , bukan dengan sekedar batin. Dan Pelajaran Rasa, hanya ada di dalam Wahyu Panca Gha’ib, bukan yang lainnya. Kalau hanya yang disebut Agama Kaweruh, kaweruh, belum ke Rasa, masih perasa’an, misal berhasil ke rasa, tetap bukan yang sebenarnya/sejatinya.

Kalau masih di dalam lingkaran/dimensi kehidupan manusia, tidak akan pernah bisa nggeh tentang Rasa dan Soal Rasa, karena Rasa itu Hidup, dan Hidup itu, adalah KUNCI. ( Kumpul Nunggal Suci) dan KUNCI itu hanya ada di Wahyu Panca Gha’ib, bukan di lain Wahyu Panca Gha’ib. Jadi… hanya Manusia Hidup yang sudah KUNCI, yang bisa, memiliki pemahaman yang dalam tentang agamanya dan tentang Tuhan sesembahannya. Silahkan direnungkan… Ingat..!!! di renungkan ya, jangan di bayangkan, kalau di bayangkan,,, bisa jadi khayalan yang terbawa mimpi menakutkan nanatinya. He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang kinasihku yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. SEMOGA POSTINGAN SAYA KALI INI. Bermanfaat untuk Para Kadhang yang belum mengetahui ini dan Bisa menggugah Rasa Hidup siapapun yang membacanya . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Tentang Kebatinan dan Soal Ilmu Kesaktian:


Web Kadhangan
Tentang Kebatinan dan Soal Ilmu Kesaktian:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Telatah jawa dwipa. Hari Sabtu pon. Tgl 26. September 2015

Umumnya kelompok-kelompok kebatinan dalam bentuk aliran-aliran kebatinan atau aliran kepercayaan tidak secara langsung mengajarkan kesaktian, biasanya hanya murni mengajarkan penghayatan keTuhanan saja, tetapi kekuatan dan kegaiban sukma mereka yang berasal dari penghayatan keTuhanan itu dapat juga dipergunakan untuk keilmuan gaib dan kesaktian. Karena itu di dalam aliran-aliran kebatinan, selain diajarkan penghayatan keTuhanan, juga diajarkan hal-hal yang bersifat keilmuan, sebagiannya berupa amalan-amalan untuk mengsugesti/menggerakkan kegaiban sukma untuk menciptakan kejadian-kejadian gaib seperti dalam keilmuan gaib dan khodam. Dalam hal ini, sumber kekuatannya adalah kekuatan sukma mereka sendiri. Seandainya pun mereka memiliki khodam pendamping atau khodam ilmu, keberadaannya hanya sebagai penambah kegaiban ilmunya saja, kegaiban yang utama tetap berasal dari kekuatan kebatinannya sendiri.

Sebagian besar aliran kebatinan tidak mengajarkan hal-hal yang langsung bersifat mengagungkan kesaktian. Yang diajarkan biasanya hanyalah kemampuan-kemampuan tertentu saja, sebagai bekal ilmu dalam kehidupan sehari-hari, seperti ilmu pengobatan (pengobatan sakit fisik maupun gangguan gaib), ilmu menangkal dan menaklukkan serangan gaib, membuat perisai pagaran gaib dari berbagai macam bentuk serangan, dan membentuk karisma kesepuhan dan perbawa kebatinan untuk menaklukkan sifat-sifat dan perilaku jahat manusia (menundukkan kejahatan dengan wibawa pengayoman, kebaikan dan kerendahan hati). Dengan demikian, selain mereka memiliki kegaiban yang murni berasal dari penghayatan keselarasan sukmanya dengan keillahian Tuhan, mereka juga memiliki kemampuan lain sebagai bekal menjadi seorang yang linuwih dan waskita.

Di sisi lain, ada juga pelajaran kebatinan untuk orang-orang yang bergerak di dunia kesaktian/persilatan. Dalam hal ini perkumpulan mereka bukanlah aliran kebatinan yang mengajarkan ilmu-ilmu kesaktian, tetapi adalah perguruan kanuragan yang berlatar belakang kebatinan.

Di India dan di Cina contohnya, kebanyakan para pelaku keilmuan kesaktian bermula dari pelajaran olah gerak dan tenaga dalam (chi, prana, kundalini). Ketika keilmuannya sudah mencapai tingkatan yang tinggi barulah mereka mendalami olah kebatinan sebagai kekuatan yang melipat-gandakan kekuatan keilmuan kesaktian mereka. Ketika sudah sampai pada tingkatan itu, mereka akan banyak melakukan semadi, meditasi, bahkan tapa brata. Contoh yang terkenal adalah perguruan silat Shaolin.

Sebelum berkembangnya agama Islam, di Jawa juga banyak perguruan silat seperti itu. Selain mengajarkan hal-hal yang bersifat kesaktian, mereka juga mengajarkan hal-hal yang bersifat kebatinan kerohanian untuk membentuk kepribadian yang berbudi pekerti dan berwatak ksatria. Cerita awal terbentuknya perguruan-perguruan itu juga mirip dengan perguruan Shaolin di atas. Tetapi umumnya ilmu kesaktian di Jawa itu sejak awal pelajarannya maupun sesudah mereka mencapai tataran keilmuan yang tinggi, olah kebatinan menjadi sesuatu yang utama sebagai pengganda kekuatan kesaktian, bukan tenaga dalam (tenaga dalam tidak secara khusus dipelajari), yang lakon kebatinan itu sekaligus juga menjadi jalan keagamaan manusia saat itu, sehingga lakon tirakat, semadi, meditasi, bahkan tapa brata menjadi sesuatu yang biasa dijalani orang sejak masa mudanya.

Perguruan-perguruan itu mengajarkan keilmuan persilatan dan keilmuan gaib, didasari dengan ajaran kebatinan. Adanya unsur olah batin menyebabkan kekuatan batin dan sukma mereka menjadi tinggi, yang juga berguna untuk menjadi unsur kegaiban yang melipatgandakan kekuatan fisik kanuragan dan tenaga dalam. Dalam hal ini selain mereka menguasai kesaktian kanuragan, diri mereka sendiri juga mengandung kegaiban dari kebatinan yang menjadikan kekuatan gaib dan kanuragan mereka menjadi tinggi, yang jelas berbeda dengan orang-orang yang hanya mempelajari olah kanuragan saja, tenaga dalam atau ilmu gaib saja.

Perguruan-perguruan tersebut di Jawa biasanya bermula dari adanya seorang Panembahan/Resi/Begawan yang membangun sebuah padepokan kecil. Karena seorang Panembahan adalah juga seorang spiritualis agama, maka kemudian banyak orang yang datang untuk mengabdi, belajar agama, ngenger menjadi cantrik-cantrik yang melayani keperluan sang Panembahan sehari-hari.

Seiring berjalannya waktu yang datang belajar di padepokan itu bukan hanya rakyat biasa, tetapi juga para ksatria dunia persilatan, prajurit, senopati dan pejabat-pejabat kerajaan. Ketika tidak sedang bertugas mereka menyempatkan diri untuk tinggal di padepokan dan belajar agama (agama pada waktu itu). Mulailah disitu ada yang belajar dan ada yang mengajarkan ilmu beladiri dan keprajuritan. Sang Panembahan sendiri biasanya hanya mengajarkan penghayatan kebatinan keagamaan saja, tetapi kepada murid-murid yang sudah senior Panembahan itu juga membentuk watak ksatria dan membimbing keilmuan kanuragan mereka sehingga kesaktian mereka menjadi drastis meningkat tajam. Dengan demikian selain pelajaran penghayatan kebatinan keagamaan, para murid juga mendapatkan bimbingan dalam olah kanuragan dan keilmuan batin sebagai landasan keilmuan kanuragan mereka, membentuk mereka menjadi seorang ksatria. Lakon prihatin dan puasa/tirakat, semadi dan tapa brata akan mengisi laku olah batin dan olah kanuragan mereka.

Dalam hal keilmuan kesaktian, di tanah Jawa, termasuk Jawa Barat daerah tempat tingal saya, sebelum berkembangnya agama Islam, secara umum sifat kesaktian kanuragan manusianya mengedepankan olah gerak (pencak silat) yang dilambari dengan kekuatan kebatinan. Secara umum penekanan penggunaan kekuatan tenaga dalam sangat minim, tenaga dalam bersifat intrinsik menyatu dengan kekuatan kanuragan, tidak secara khusus dipelajari, mungkin malah sama sekali tidak ada pelajaran dan pengetahuan khusus tentang itu, karena kekuatan yang mendasari kesaktian dominan berasal dari olah kebatinan.

Sebelum berkembangnya agama Islam, di Jawa banyak perguruan silat yang mendasarkan pengajaran kesaktian dengan lambaran keilmuan kebatinan. Selain mengajarkan kesaktian, mereka juga mengajarkan kebatinan kerohanian untuk membentuk kepribadian yang berbudi pekerti dan berwatak ksatria. Umumnya dalam keilmuan kesaktian di Jawa sejak awal pelajarannya maupun sesudah mereka mencapai tataran keilmuan yang tinggi olah kebatinan menjadi sesuatu yang utama sebagai pengganda kekuatan kesaktian, bukan tenaga dalam (tenaga dalam tidak secara khusus dipelajari), yang laku kebatinan itu sekaligus juga menjadi jalan keagamaan manusia saat itu, sehingga laku tirakat, semadi, meditasi, bahkan tapa brata menjadi sesuatu yang biasa dijalani orang.

Perguruan-perguruan itu mengajarkan keilmuan persilatan dan keilmuan gaib, didasarkan pada ajaran kebatinan kerohanian. Adanya unsur olah batin menyebabkan kekuatan batin dan sukma mereka menjadi tinggi, yang juga menjadi unsur kegaiban yang melipatgandakan kekuatan kanuragan. Dalam hal ini selain mereka menguasai kesaktian kanuragan, diri mereka sendiri juga mengandung kegaiban dari kebatinan yang menjadikan kekuatan gaib dan kanuragan mereka menjadi tinggi, yang jelas berbeda dengan orang-orang yang hanya mempelajari olah kanuragan saja, tenaga dalam atau ilmu gaib saja.

Olah lakon kebatinan adalah sesuatu yang utama yang mendasari kekuatan kesaktian di Jawa, termasuk Jawa Barat tempat tinggal saya, sejak awal mereka belajar ilmu kesaktian/kanuragan maupun sesudah mereka mencapai tataran keilmuan yang tinggi, bukan tenaga dalam, yang lakon kebatinan itu sekaligus juga menjadi jalan keagamaan manusia saat itu, sehingga laku berprihatin, tirakat, semadi, meditasi, bahkan tapa brata menjadi sesuatu yang biasa dijalani orang sejak masih muda. Ilmu gaib dan khodam dan aji-aji kesaktian umumnya berasal dari olah kebatinan, bukan dari mantra-mantra ilmu gaib dan ilmu khodam (ilmu gaib kejawen) atau perdukunan yang umumnya ilmu-ilmu itu saat itu hanya berkembang di kalangan bawah saja dan orang melakukannya dengan bersembunyi, tidak ditampakkan di hadapan orang-orang berilmu kebatinan.

Tokoh-tokoh dunia persilatan pada masa itu umumnya adalah tokoh-tokoh kebatinan, baik yang dari golongan putih maupun golongan hitam (golongan yang baik maupun yang jahat). Mereka juga mengenal mahluk halus tingkat tinggi untuk dijadikan khodam ilmu mereka, dan mampu menyatukan kegaiban pusaka-pusaka mereka (keris) dengan kesaktian mereka (baca juga : Keris/jimat dan Kesaktian).

Olah lakon kebatinan menjadikan kekuatan sukma manusia jawa jauh lebih tinggi daripada manusia lain di manapun di dunia, dan sudah juga menjadikan kesaktian kanuragan mereka menjadi tinggi, sehingga orang-orang dari tanah Mongol dan Cina yang terkenal sekali dengan ilmu kesaktian kanuragannya pun sulit sekali untuk bisa menaklukkan Jawa dengan kesaktian mereka.

Daerah India dan sekitarnya sampai sekarang tetap merupakan daerah dengan budaya kebatinan dan spiritual nomor 1 tertinggi di dunia. Tetapi itu adalah budaya , yang masyarakatnya disana sangat kental kehidupannya dengan lakon kebatinan dan laku spiritual berdimensi tinggi dan mengenal juga mahluk-mahluk halus berdimensi gaib tinggi seperti dewa dan buto dan wahyu-wahyu dewa, yang lakon kebatinan dan laku spiritual itu adalah juga jalan keagamaan mereka.

Tetapi di seluruh dunia olah laku dan pencapaian kebatinan tertinggi per individu dicapai oleh orang-orang jawa, baik kebatinan kanuragan maupun kebatinan keTuhanan. Begitu juga dengan pencapaian kekuatan sukma di alam gaib, kekuatan sukma orang-orang jawa itu adalah yang tertinggi di dunia. Sekalipun seringkali dikatakan bahwa kebatinan dan keagamaan manusia jawa itu banyak dipengaruhi oleh ajaran agama Hindu (pengenalan dewa-dewa dan wahyu dewa) dan Budha, tetapi pencapaian per individu orang-orang Jawa itu jauh melebihi orang-orang Hindu dan Budha dimanapun di dunia.

Pada jaman dulu kehidupan manusia kental berhubungan dengan kesaktian. Pada tingkat kesaktian yang tinggi orang tidak hanya melatih keilmuannya dengan olah kanuragan dan tenaga dalam, tetapi juga dengan lakon kebatinan. Lakon prihatin, berpuasa bahkan tapa brata akan mengisi lakunya. Karena itu orang-orang jaman dulu yang sangat dalam menekuni olah kebatinan biasanya adalah juga orang-orang yang berilmu kesaktian tinggi, yang sudah melewati masa-masa pelatihan olah kanuragan dan tenaga dalam. Bahkan banyak kemudian yang pada masa tuanya mengaso meninggalkan keduniawiannya, mandito, dan menepi, menjadi seorang pertapa, panembahan atau begawan, untuk lebih menekuni kerohanian/kebatinan dan laku spiritual ketuhanan.

Pada jaman dulu seseorang yang menekuni dan mendalami kebatinan biasanya akan memiliki kegaiban dan kekuatan batin yang tinggi, yang berasal dari keyakinan batin dan keselarasan dengan ke-maha-kuasa-an Tuhan, dan menjadi orang-orang yang linuwih dan waskita. Mereka membentuk pribadi dan sukma yang selaras dengan keillahian Tuhan. Mereka membebaskan diri dari belenggu keduniawian, sehingga berpuasa dan hidup prihatin tidak makan dan minum selama berhari-hari bukanlah beban berat bagi mereka, dan melepaskan keterikatan roh mereka dari tubuh biologis mereka, kemampuan melolos sukma, bukanlah sesuatu yang istimewa. Bahkan banyak di antara mereka yang kemudian moksa, bersama raganya berpindah dari alam manusia ke alam roh tanpa terlebih dulu mengalami kematian.

Orang-orang yang menekuni ilmu kebatinan dan spiritual, terutama keilmuan yang berasal dari kesejatian diri, akan mengandalkan kekuatan dari dirinya sendiri, bukan kekuatan dari gaib lain (khodam), sehingga mereka akan menempa diri untuk bisa memiliki kekuatan dan kemampuan sendiri, dan seringkali kekuatan keilmuan mereka menjadi jauh di atas kekuatan ilmu-ilmu gaib dan khodam kebanyakan orang.

Karena itu seringkali kesaktian dari orang-orang yang benar menekuni olah lakon kebatinan dan laku spiritual kekuatan sukmanya akan jauh lebih tinggi dibandingkan yang menekuni ilmu gaib dan khodam. Contohnya seperti para Pandawa, selama hidupnya di dunia ataupun sukmanya sekarang di alam roh, yang kesaktiannya lebih tinggi daripada bangsa buto. Atau Budha Gautama yang kesaktiannya berada jauh sekali di atas para Pandawa. Atau dari tanah jawa, ada Prabu Airlangga yang kesaktiannya melebihi buto. Atau Ki Ageng Pengging yang ternyata jauh lebih sakti daripada para Pandawa. Atau juga Resi Mayangkara yang bahkan berhasil meningkatkan kesaktian Dewa Hanoman menjadi dua kali lipat daripada sebelumnya. Selain itu masih ada banyak orang yang kesaktiannya tinggi, tetapi sayangnya mereka tidak dikenal umum.

Sifat kekuatan yang mendasari kesaktian tingkat tinggi manusia jaman dulu, baik keilmuan aliran putih maupun aliran hitam (golongan yang baik dan yang jahat), adalah dominan dari kebatinan, bukan semata-mata berasal dari kanuragan dan tenaga dalam saja atau ilmu gaib dan khodam saja. Contoh-contoh di atas adalah contoh tokoh-tokoh pelaku kebatinan yang dianggap berwatak baik, tetapi selain mereka, ada banyak tokoh-tokoh kebatinan yang berwatak jahat, yang dulunya hidup sebagai tokoh-tokoh kebatinan dan tokoh-tokoh persilatan golongan hitam (golongan jahat).

Dengan demikian kita menjadi paham bahwa tidak semua pelaku kebatinan adalah tokoh-tokoh manusia yang baik, dan tidak semua lakon kebatinan bertujuan baik, karena ada juga lakon kebatinan dari aliran hitam, dan lakon kebatinan itu adalah jalan yang mereka tempuh dalam ambisi mereka mendapatkan kekuatan, kesaktian dan kekuasaan. Dengan demikian harus kita sadari bahwa ada banyak sosok-sosok jahat manusia yang sekarang sukmanya di alam gaib berkesaktian tinggi, hanya saja sosok-sosok sakti dari jenis sukma manusia secara umum lebih jarang diketahui interaksinya. Yang paling sering diketahui interaksinya dengan manusia adalah yang dari jenis bangsa jin atau mahluk halus lainnya yang umum.

Setelah berkembangnya agama Islam, di tanah Jawa, orang sudah mulai beralih memeluk agama Islam dan meninggalkan jalan keTuhanan sebelumnya yang berupa penghayatan kebatinan. Olah lakon kebatinan yang untuk kesaktian juga sudah mulai ditinggalkan, digantikan dengan ilmu gaib dan ilmu khodam. Ada yang masih menekuni pencak silat yang sama dengan ajaran lama aslinya, biasanya menjadi ilmu keluarga yang diajarkan turun-temurun, tetapi olah lakonnya sudah tidak sama lagi dengan aslinya dulu. Ada juga pada masa sekarang orang mengkombinasikan tenaga dalam dengan amalan gaib, tetapi banyak kejadian sekalipun mempelajari tenaga dalam, kebanyakan tenaga dalam orangnya tidak seberapa, yang lebih kuat adalah sugesti amalan gaibnya.

Pada jaman ini manusia sudah tidak lagi memiliki kekuatan sukma yang tinggi, lebih banyak mengandalkan khodam yang untuk kesaktian. Mereka juga sudah tidak mampu lagi mengenal mahluk halus berkesaktian tinggi dan berdimensi tinggi, karena tidak menguasai kebatinan dan spiritual yang tinggi, sehingga pengetahuan tentang mahluk halus dan kegaiban berdimensi tinggi lebih banyak hanya berupa dongeng, dogma dan pengkultusan saja. Kegaiban pusaka juga sudah tidak lagi menyatu dengan kesaktian. Kekuatan gaib pusaka lebih banyak digunakan untuk keperluan ilmu gaib dan perdukunan. Kegaiban pusaka sebagai pengganda kesaktian sudah banyak digantikan dengan susuk dan jimat untuk kekuatan dan kekebalan.

Kebatinan Pada Jaman Sekarang;
Pada jaman dulu kebatinan yang bersifat kerohanian secara umum tujuannya adalah untuk kebatinan pribadi, merupakan jalan yang ditempuh orang untuk lakunya berkeTuhanan/berkeagamaan. Jika itu dilakukan di dalam suatu kelompok yang sehaluan, maka kelompok itu akan menjadi sebuah kelompok/paguyuban kebatinan yang pada masa sekarang sering disebut sebagai aliran kebatinan atau aliran kepercayaan, atau pada masa sekarang menjadi aliran dan kelompok di dalam agama yang masing-masing tokohnya mempunyai umat/pengikut. Sedangkan lakon kebatinan yang bersifat keilmuan tujuan utamanya adalah untuk mengolah potensi kebatinan manusia (kekuatan sukma) untuk dijadikan sumber kekuatan yang melandasi kesaktian kanuragan maupun kesaktian gaib.

Tetapi pada masa sekarang ini sudah jarang ada orang yang menekuni olah lakon kebatinan, bahkan jarang sekali pada jaman sekarang ini ada orang yang memiliki pemahaman yang benar tentang kebatinan, apalagi yang memiliki kemampuan kebatinan yang tinggi dan mengajarkan/menularkan keilmuan kebatinannya itu kepada orang lain. Pemahaman tentang kebatinan saja belum tentu benar, apalagi memiliki kemampuan kebatinan yang tinggi.

Pada masa sekarang ini lebih banyak orang yang hanya bisa membuat dogma dan pengkultusan saja tentang kebatinan dan elemen-elemen di dalamnya, tetapi tidak mampu menelisik benar-tidaknya, apalagi mengetahui sendiri kesejatiannya, karena tidak menguasai lakon kebatinan dan laku spiritual yang tinggi yang menjadi syarat dasarnya. Padahal di dunia kebatinan dan spiritual tidak ada banyak pengkultusan, karena mereka harus bisa mengetahui sendiri kebenarannya yang itu adalah bagian dari tujuan dan laku keilmuan mereka.

Karena itu pada masa sekarang banyak sudah terjadi kesalah-pahaman dan pendegradasian dalam citra dan pemikiran orang tentang kebatinan. Sebagian berupa pencitraan pengkultusan yang bersifat melebih-lebihkan, sebagian lagi berupa pencitraan negatif (dan fitnah) yang menjelek-jelekkan kebatinan.

Pada jaman sekarang kebanyakan istilah keilmuan kebatinan disamakan orang dengan ilmu klenik perdukunan, dianggap sama dengan ilmu gaib kejawen, yang identik dengan amalan dan mantra, dan sesaji, dan keris. Dan orang yang sedang ngelmu gaib, atau bertirakat di tempat-tempat angker, atau yang sedang ngalap berkah, dianggap orang itu sedang menjalani lakon kebatinan.

Selain itu banyak juga orang yang mempertentangkan kebatinan dengan agama, memandang sempit kebatinan hanya sebagai aliran kebatinan/kepercayaan saja, atau menganggapnya sama dengan paham animisme/dinamisme, dianggap musuh dari agama, yang harus diberantas, karena dianggap bisa merusak keimanan seseorang.

Ada juga pengkultusan orang tentang kebatinan yang mengatakan bahwa jika ingin belajar kebatinan orangnya harus sudah lebih dulu bisa membersihkan hati dan batinnya. Harus sudah sepuh umur dan kepribadiannya. Padahal olah laku dan penghayatan kebatinan itu justru adalah sarana untuk orang membersihkan hati dan batinnya, menjadi sarana untuk membentuk hati, jiwa dan kepribadian yang bijak dan sepuh.

Juga ada yang menganggap bahwa orang-orang yang ilmunya bersifat kebatinan/kejawen maka ilmunya itu baik, apalagi bila orangnya sering menyampaikan petuah-petuah kesepuhan jawa. Padahal belum tentu ilmu orang itu adalah benar kebatinan, mungkin ilmunya yang sebenarnya adalah ilmu gaib kejawen. Adanya petuah-petuah kesepuhan jawa tidak menandakan ilmu yang kebatinan, karena petuah-petuah seperti itu memang sudah umum dijadikan bumbu pelajaran ilmu. Dan belum tentu orang-orang yang sedang bertirakat adalah karena orangnya sedang menjalani laku kebatinan, mungkin saja tujuannya adalah ngelmu gaib.

Ada juga pengkultusan kebatinan dan ilmu kebatinan sebagai sesuatu yang baik dan mulia. Bahkan ada yang mencitrakannya sebagai ilmunya orang-orang mulia jaman dulu, ilmunya para Wali, sufi, aulia, dsb. Padahal sama dengan jenis keilmuan yang lain, tidak semuanya kebatinan dan ilmu-ilmunya bersifat baik, tergantung siapa pelakunya, apa isi lakunya dan apa tujuannya, karena ada juga penghayat kebatinan dan ilmu kebatinan aliran hitam (aliran sesat).

Tidak semua lakon kebatinan bersifat baik, karena ada juga lakon kebatinan aliran hitam (aliran sesat) yang pada jaman dulu sudah memunculkan orang-orang sakti golongan hitam (golongan jahat). Dan sugesti kebatinannya juga tidak semuanya kepada Tuhan, karena ada juga yang sugestinya adalah kepada sosok-sosok mahluk halus tertentu, atau kepada kekuatan alam seperti gunung, laut, bulan, matahari, dsb (animisme/dinamisme). Olah kebatinan yang seperti itu juga mendatangkan kekuatan bagi para pelakunya, entah pelakunya itu dari golongan yang baik ataupun dari golongan yang jahat.

Begitu juga dengan banyaknya tulisan yang membabarkan lakon kebatinan dan laku spiritualitas kejawen. Tulisan-tulisan itu kebanyakan adalah sudut pandang orang jaman sekarang tentang kebatinan dan spiritualitas jawa, yang tulisan-tulisan itu sebenarnya hanyalah mengupas kulitnya saja, hanya mengupas petuah-petuah kesepuhan jawa saja, tidak sungguh-sungguh masuk ke dalam kebatinan dan spiritualitas kejawen itu sendiri. Begitu juga dengan budaya dan ritual-ritual masyarakat jawa yang sampai sekarang masih dilakukan orang. Itu pun sudah tidak lagi murni berdasarkan budaya kebatinan jawa yang asli, karena ke dalamnya sudah masuk unsur-unsur agama Islam, sudah menjadi budaya Islam kejawen, bukan asli jawa lagi.

Sekalipun ada juga tulisan-tulisan tentang lakon kebatinan jawa yang ditulis oleh orang-orang jawa jaman dulu, tetapi jika penulisnya adalah orang-orang yang dulu hidup pada jaman kerajaan Demak atau sesudahnya, kebanyakan isi tulisannya sifatnya hanya membabarkan petuah-petuah kesepuhan jawa saja, hanya kulitnya saja, tidak benar-benar dalam masuk ke dalam kebatinan jawa itu sendiri, karena mungkin orang-orang itu sendiri tidak benar-benar menekuni kebatinan jawa, karena sudah menganut agama modern.

Tetapi ada juga aliran kebatinan jawa yang masih berkembang dan dijalani orang pada masa sekarang. Ada aliran kebatinan yang masih asli merupakan aliran penghayat keTuhanan jawa, tetapi mungkin tidak semua lakon kebatinannya dituliskan dalam bentuk bacaan yang boleh dibaca oleh orang umum. Mereka menjalani dan menghayati, tetapi isi dan laku kebatinan keTuhanan mereka itu mungkin tidak semuanya dituliskan, karena itu bersifat pribadi hanya untuk para penganutnya saja. Sebagian besar isi ajarannya tidak dituliskan, yang dituliskan mungkin hanya panduan lakon dan pokok-pokok penghayatannya saja. Jenis aliran kebatinan yang asli penghayat keTuhanan jawa ini jika para penganutnya benar menjadikannya jalan untuk penghayatan keTuhanan, apapun agama mereka yang sebenarnya mereka anut, ketekunannya itu akan menjadikan sukma mereka berkekuatan tinggi dan diri mereka mengandung kegaiban dan orangnya sendiri akan mempunyai penghayatan yang dalam tentang Tuhan sesuai jalan kebatinan jawa.

Ada juga aliran lain kebatinan jawa pada masa sekarang yang di dalamnya sudah diadaptasikan ajaran dari agama-agama modern, sudah tidak lagi seperti aslinya kebatinan jawa yang berupa penghayatan kepercayaan kepada Tuhan di atas sana (Roh Agung Alam Semesta).

Begitu juga dengan maraknya tulisan-tulisan orang tentang ilmu-ilmu kebatinan jawa yang sebenarnya itu adalah ilmu gaib kejawen (dan perdukunan), bukan ilmu kebatinan jawa. Dalam tulisan-tulisan itu banyak orang yang menganggap ilmu kebatinan sama dengan ilmu gaib dan ilmu khodam, atau dianggap sama dengan ilmu perdukunan. Tetapi yang sebenarnya ilmu kebatinan sebenarnya sama sekali tidak bisa disamakan dengan ilmu gaib dan ilmu khodam, apalagi perdukunan, karena sifat keilmuannya berbeda, karena ilmu-ilmu itu tidak seperti ilmu kebatinan yang mengolah potensi kekuatan kebatinan dan kegaiban sukma manusia.

Yang sekarang masih banyak dijalani dan dipraktekkan orang, yang sering dikatakan sebagai ilmu kebatinan seperti ilmu kejawen atau ilmu Islam kejawen, kebanyakan proporsinya sebagai ilmu kebatinan sangat kecil, mungkin 10%-nya saja tidak sampai. Sekalipun dalam ilmu-ilmu tersebut di dalamnya ada banyak bentuk laku keilmuan yang mirip, seperti adanya amalan gaib, puasa dan tirakat, dsb, ilmu-ilmu itu sebenarnya lebih banyak bersifat sebagai ilmu gaib dan ilmu khodam, bukan kebatinan. Mengenai pengertian ilmu gaib dan ilmu khodam untuk bisa lebih jelas kita membedakannya dengan keilmuan kebatinan tentang itu saya sudah menuliskannya dalam halaman tersendiri berjudul Perbedaan Karakteristik Kebatinan dan Ilmu Gaib/Khodam.

Begitu juga dengan banyaknya laku yang dilakukan orang di tempat-tempat yang wingit dan angker. Walaupun itu sering dikatakan orang sebagai laku kebatinan, tetapi sebenarnya itu lebih banyak arahnya pada usaha “ngelmu gaib”, yaitu usaha untuk mendapatkan suatu ilmu gaib/khodam atau ilmu kesaktian berkhodam, atau itu adalah suatu bentuk lakon dalam rangka orang “ngalap berkah”, bukan kebatinan.

Bagi para pembaca yang interest dengan cerita-cerita, tokoh-tokoh dan ajaran-ajaran kebatinan/spiritual bisa sendiri membaca-baca tulisan-tulisan yang terkait dengan itu di internet ataupun lewat buku-buku bacaan atau mengikuti cerita dan filosofi dalam pewayangan. Saya tidak secara khusus menuliskan tentang itu, karena itu nantinya secara dangkal akan dikonotasikan sama dengan ajaran/aliran kebatinan, apalagi kalau ada yang sengaja mempertentangkannya dengan agama.

Untuk kita mengetahui sikap penghayatan kebatinan kejawen dalam berkeTuhanan yang dalam dunia kebatinan jawa disebut olah roso untuk manunggaling kawula lan Gusti, yang menjadi jalan penghayatan kebatinan keTuhanan mereka, apapun agama yang mereka anut, sehingga ibadah mereka benar-benar sangat dalam menghayati kedekatan mereka dengan Tuhan.

Jika para pembaca berminat dengan lakon kebatinan keTuhanan yang sudah disesuaikan dengan kehidupan jaman sekarang, apapun agama Anda, Penulis mengharapkan para pembaca menjalani apa yang sudah saya tuliskan dalam Postingan yang berjudul Kebatinan dalam Keagamaan. SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang kinasihku yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. SEMOGA POSTINGAN SAYA KALI INI. Bisa menggugah Rasa Hidupmu atau siapapun yang membacanya . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Perbedaan Antara Karakteristik Kebatinan dan Ilmu Gaib/Khodam:


Tentang…
Perbedaan Antara Karakteristik Kebatinan dan Ilmu Gaib/Khodam:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Telatah jawa dwipa. Hari Sabtu pon. Tgl 26. September 2015

Di dalam semua jenis ilmu, ada semacam penjurusan dalam pelajarannya, termasuk di dalam keilmuan lakon kebatinan dan laku spiritual.

Yang pertama adalah aspek pengetahuan yang mengarah kepada aspek filosofi atau spiritual yang mendasari suatu keilmuan (yang menjadi ukuran kedalaman ilmu seseorang).

Yang kedua adalah ilmu-ilmu/kekuatan dari keilmuan itu sendiri (yang menjadi ukuran ketinggian ilmu seseorang).

Dalam lakon mengolah kekuatan kebatinan dan sukma banyak dilakukan kegiatan-kegiatan yang panjang dan membosankan, seperti lakon puasa (puasa mutih, ngrowot, ngebleng, pati geni), menyepi, lakon prihatin dan tirakat, semadi/meditasi, tapa brata, pembacaan amalan/doa kebatinan, dsb. Seringkali lakon-lakon tersebut dianggap hanya sebagai keharusan/formalitas ilmu, dan tidak banyak orang yang dapat merasakan manfaatnya secara langsung, karena tidak banyak orang yang dapat mengukur kekuatan kebatinan yang telah dicapainya. Akibatnya, mereka yang mempelajari kebatinan, terutama kalangan muda, akan membelokkan perhatiannya untuk tidak menekuni olah kekuatan kebatinan, tetapi menekuni ilmu-ilmu kebatinan saja, seperti ilmu-ilmu untuk kekuatan/kesaktian (kanuragan), pengasihan, pelet, pelaris dagangan, pengobatan gaib, dsb. Pelajaran ilmu-ilmu itu memang lebih menyenangkan, dapat segera dilihat hasilnya, dan dapat dipraktekkan/dipertunjukkan kepada orang lain. Dengan demikian kemudian orang berbelok menjadi menekuni ilmu gaib dan ilmu khodam saja, termasuk ilmu gaib yang berlatar belakangkan kebatinan atau agama dan tenaga dalam.

Tujuan dalam mempelajari ilmu gaib penekanannya adalah langsung pada hasil yang ingin dicapai, yaitu keberhasilan dalam menguasai dan mempraktekkan ilmu-ilmu gaib tertentu sesuai tujuannya berilmu, bukan untuk mengoptimalkan potensi diri atau mengolah kebatinan, juga dalam pembelajarannya tidak diperlukan filosofi-filosofi kebatinan untuk membentuk kerohanian/kebatinan pelakunya.

Dengan kata lain, ilmu gaib adalah jenis ilmu terapan, yaitu ilmu yang tujuan mempelajarinya adalah untuk langsung bisa mempraktekkan kegaiban, untuk langsung bisa melakukan perbuatan-perbuatan gaib, dengan mengamalkan mantra-mantra atau amalan gaib.

Jenis keilmuan ini tidak dijalani dengan lakon kebatinan seperti yang dilakukan oleh orang-orang kebatinan, walaupun ada juga lakonnya yang mirip, tapi tidak persis sama. Kebanyakan jenis keilmuan ini dilakukan orang sebagai jalan pintas untuk bisa cepat memiliki kemampuan gaib dan untuk bisa langsung mempraktekkannya, dengan hanya menghapalkan dan mewirid mantra/amalan gaib.

Karena tujuannya adalah bukan untuk mengolah potensi kebatinan dan lakon yang dijalani juga tidak persis sama dengan lakon kebatinan, maka jenis ilmu gaib dan ilmu khodam ini tidaklah sama dengan ilmu kebatinan. Kepekaan Rasa dan batin, peka sasmita/wangsit, kekuatan kebatinan/spiritual, dsb, yang bisa mengantarkan seseorang menjadi mumpuni dalam hal kebatinan dan kegaiban, linuwih dan waskita, dan kekuatan sukma yang mampu berkuasa atas roh-roh gaib tanpa perlu bantuan khodam, tidak akan dicapai dengan menjalani keilmuan ini.

Dalam keilmuan gaib dan khodam ada juga mantra-mantra seperti dalam ilmu kebatinan yang terkait dengan pendayagunaan roh sedulur papat sebagai khodam bagi seseorang. Tetapi ilmu itu hanya akan bekerja jika sedulur papat seseorang sudah cukup kuat, sehingga bisa menjadi khodam baginya. Pada masa sekarang kondisi kuatnya sedulur papat itu, sekalipun seseorang mengikuti perkumpulan kebatinan, kelihatannya akan sulit dicapai, karena pembelajarannya dan orientasi pesertanya sudah banyak berubah, tidak lagi berorientasi pada lakon memperkuat kebatinan, tetapi mengarah pada keinginan untuk menguasai ilmu gaib saja, yang di Jawa bisa mewujud dalam bentuk aliran ilmu gaib kejawen atau aliran Islam kejawen. Karena itu kegaiban yang kemudian bekerja bukanlah berasal dari sedulur papatnya, tetapi dari khodam yang dibekalkan kepada masing-masing pesertanya.

Pada jaman dulu orang mengikuti perkumpulan kebatinan seperti yang sekarang dikenal seperti Sapto Darmo, Pangestu, dsb, bukan semata-mata sebagai olah keilmuan kebatinan, tetapi merupakan laku keTuhanan, menjadi jalan mereka berkeTuhanan, sehingga para peserta yang menekuninya bisa memiliki kebatinan dan sukma yang kuat. Sedangkan pada masa sekarang orang sudah menganut agama sendiri-sendiri, sehingga kepengikutannya dalam perkumpulan-perkumpulan kejawen seperti itu tidak lagi ditekuni dengan semestinya, bukan lagi menjadi sarana laku keTuhanan, tetapi mengarah pada keinginan atas keilmuan gaib saja. Akibatnya para pesertanya tidak lagi memiliki kekuatan kebatinan yang tinggi seperti yang seharusnya.

Karena itu lakunya kemudian bukan lagi untuk olah kebatinan, tetapi mengarah pada keilmuan gaib saja, dan kekuatan gaibnya, walaupun juga ada menggunakan mantra-mantra sedulur papat, tetapi yang bekerja bukanlah sedulur papatnya, tetapi adalah khodam ilmu yang dibekalkan kepada masing-masing pesertanya.

Orang-orang yang menjalani ilmu gaib dan ilmu khodam juga bisa peka Rasa dan mengerti kegaiban, dan mempunyai kekuatan gaib, tetapi kebanyakan kadarnya rendah, hanya akan sama dengan tingkatan dasar dalam olah kebatinan. Kelebihan utama ilmu gaib dan ilmu khodam adalah pada usaha yang lebih mudah dalam mempelajarinya, yaitu dengan hanya menghapalkan dan mewirid mantra/amalan ilmu gaib saja. Dalam tempo yang relatif singkat orang akan sudah bisa mempraktekkan kemampuannya dalam keilmuan gaib dengan hanya mengamalkan amalan dan mantra dan khodam ilmu yang dibekalkan kepada mereka.

Sebenarnya, ilmu gaib dan ilmu khodam adalah bagian dari ilmu kebatinan, yaitu bagian dari ilmu kebatinan yang menekankan pada kekuatan sugesti (disebut ilmu sugesti, yaitu praktek ilmu yang menekankan pada kemampuan bersugesti pada kekuatan pikiran, atau kekuatan mengsugesti amalan gaib dan mantra dan kekuatan mengsugesti khodamnya). Dalam mengamalkan ilmu-ilmu tersebut juga digunakan kekuatan/fokus batin untuk mengsugesti amalan-amalan gaib dan mantra dan untuk mengsugesti kegaiban khodamnya. Tetapi biasanya tujuan orang-orang yang menekuni ilmu gaib dan ilmu khodam adalah murni untuk keberhasilannya mempraktekkan keilmuan gaib, bukan dalam rangka olah lakon kebatinan atau laku spiritual, walaupun berlatar belakangkan kebatinan atau agama.

Ada juga pada masa sekarang perguruan dan orang-orang yang mengajarkan ilmu persilatan dan keilmuan gaib. Sekalipun juga mengajarkan kerohanian/agama dan tenaga dalam, tapi tidak mengajarkan olah batin untuk mengolah kegaiban sukma. Dalam hal ini perguruan tersebut tidak termasuk sebagai aliran/perguruan kebatinan, tetapi tergolong sebagai perguruan silat saja, atau perguruan ilmu gaib dan ilmu khodam saja, walaupun berlatar belakangkan kebatinan atau agama dan tenaga dalam.

Tujuan utama orang-orang yang menekuni kebatinan adalah murni untuk lakon kebatinan atau untuk kesaktian kanuragan, bukan untuk tujuan keilmuan gaib, tetapi kegaiban sukma mereka yang berasal dari penghayatan kebatinan itu juga bisa digunakan untuk tujuan keilmuan gaib. Di antara mereka juga ada yang berkecimpung di bidang keilmuan kesaktian. Mereka juga menekuni olah kanuragan, tenaga dalam, dsb, dan setelah kegaiban sukma mereka disatukan dalam keilmuan kesaktian mereka, menyebabkan kekuatan keilmuan mereka menjadi tinggi. Kekuatan keilmuan gaib pada orang-orang tersebut terutama adalah berasal dari kegaiban sukma mereka sendiri, ditambah dengan olah kanuragan, tenaga dalam, dan kekuatan sugesti ilmu gaib dan khodam.

Sedangkan tujuan orang-orang yang menekuni ilmu gaib dan ilmu khodam biasanya adalah murni untuk keberhasilan menguasai/mempraktekkan keilmuan gaibnya itu, bukan dalam rangka lakon kebatinan dan laku spiritual. Dengan demikian ilmu gaib dan ilmu khodam ini bersifat ilmu terapan yang menekankan pada keberhasilan prakteknya. Sekalipun dalam pembelajarannya berlatar belakang kerohanian atau agama dan tenaga dalam, tetapi kekuatan keilmuan gaib mereka terutama hanya dari kekuatan sugesti mereka pada amalan gaib dan mantra dan kekuatan mereka mengsugesti kegaiban khodamnya.

Karena perbedaan-perbedaan dasar itulah maka dalam tulisan ini dilakukan pembedaan antara keilmuan yang berdasarkan lakon kebatinan dan laku spiritual dan yang murni bersifat ilmu gaib dan ilmu khodam. Sekalipun dilakukan pembedaan, bila hanya dilihat dari bentuk-bentuk perbuatannya saja, secara sepintas perbedaan ilmu gaib dan ilmu khodam dengan ilmu kebatinan akan kelihatan sangat tipis, karena semuanya berhubungan dengan kegaiban, dan karena di dalamnya juga ada mantra-mantra atau amalan-amalan gaib, puasa dan tirakat, maka pengertian dan istilah kebatinan, spiritual, ilmu gaib dan ilmu khodam, seringkali dianggap sama, walaupun sifat dasar keilmuannya berbeda.

Untuk tahu dengan pasti apakah keilmuan seseorang adalah jenis ilmu gaib/khodam atau kebatinan/spiritual adalah dengan melihat sumber kekuatan yang mewujudkan pelaksanaan ilmunya apakah kegaibannya berasal dari kekuatan dan kegaiban sukmanya (kebatinan/spiritual), dari kekuatan pikiran dan sugesti, atau dari kekuatan mantra dan khodam.

Tetapi ada satu hal pokok yang menyebabkan keilmuan kebatinan berbeda dengan yang murni berupa ilmu gaib dan ilmu khodam, yaitu :

Satu…
Pada orang-orang yang menekuni olah kebatinan, sugesti kebatinan mereka lebih ditujukan “ke dalam” (ke dalam batin sendiri), berupa penghayatan kebatinan yang juga menyentuh relung batin yang paling dalam, jiwanya, sukmanya, sehingga proses lakon mereka “membangunkan” inner power, yaitu kekuatan dari batin, jiwa, sukma, yang setelah dijalani dengan olah kebatinan menjadikan kekuatan sukma dan kebatinan mereka tinggi. Dan kekuatan kegaiban sukma mereka jelas berbeda dibandingkan orang-orang lain yang tidak menekuni kebatinan.

Dua…
Sedangkan orang-orang yang menekuni ilmu gaib dan ilmu khodam, sugesti kebatinan mereka lebih banyak ditujukan “ke luar”, yaitu difokuskan untuk mengsugesti amalan-amalan dan mantra ilmu gaib dan mengsugesti kegaiban khodam mereka, sehingga tidak membangun apa yang ada “di dalam”, yaitu kekuatan dari batin, jiwa, sukma. Walaupun proses lakon mereka itu juga menambah kekuatan sukma mereka, tetapi tidak banyak.

Karena adanya perbedaan pokok di atas itulah, maka sekalipun para praktisi ilmu gaib dan ilmu khodam seringkali menyebut keilmuan mereka sebagai ilmu batin atau ilmu kebatinan, tetapi fakta-fakta di bawah ini akan membuktikan apakah keilmuan mereka benar merupakan ilmu batin/kebatinan… He he he . . . Edan Tenan.

Jika tidak mempunyai amalan ilmunya, atau tidak membacakan amalan ilmunya, atau lupa dengan amalan ilmunya, orang-orang yang menekuni kebatinan tetap dapat melakukan keilmuan gaib mereka dengan mengandalkan kemampuan mengsugesti kegaiban batin/sukma mereka (kekuatan niat dan kehendak), dan orang-orang yang menjalani keilmuan tenaga dalam tetap dapat menunjukkan kekuatan tenaga dalamnya.

Sedangkan para praktisi ilmu gaib, kekuatan ilmunya ada pada kekuatan mengsugesti amalan ilmu dan mantra, sehingga tanpa amalan ilmu atau lupa mantranya seringkali mereka tidak dapat berbuat apa-apa (apa yang harus disugestikan kalau tidak punya amalannya atau lupa bunyi mantranya).

Namun praktisi ilmu gaib berkhodam (dan yang mempunyai khodam ilmu / pendamping), tanpa amalan ilmunya atau lupa pada mantranya, kemampuan gaibnya akan tergantung pada khodamnya apakah khodamnya itu akan tetap berinisiatif bertindak walaupun tidak dibacakan amalan ilmunya. Jika khodamnya itu tidak berbuat apa-apa, maka mereka juga tidak mampu berbuat apa-apa.

Bentuk-bentuk ilmu dalam ilmu kebatinan bisa sama dengan ilmu-ilmu dalam ilmu gaib dan ilmu khodam. Bedanya adalah pada sumber kekuatan ilmunya itu.

Kegaiban yang dihasilkan dalam ilmu kebatinan berasal dari kegaiban sukmanya, ditambah dari kekuatannya mengsugesti amalan-amalan, doa dan mantra sebagai kekuatan sugesti yang menghasilkan kegaiban ilmu-ilmu kebatinan, ditambah kegaiban dari khodamnya, kalau orangnya juga berkhodam. Tetapi walaupun orangnya berkhodam, keberadaan khodamnya itu hanya sebagai penambah kekuatan ilmunya saja, tidak menjadi tempat bergantung ampuhnya ilmu. Kegaiban yang utama tetap berasal dari kekuatan kebatinannya.

Sedangkan pada orang-orang yang menekuni ilmu gaib dan ilmu khodam, kegaiban keilmuannya berasal dari kekuatannya mengsugesti amalan-amalan gaib, doa dan mantra, atau kekuatannya mengsugesti kegaiban khodam ilmunya saja, bukan dari kekuatan kebatinannya, karena tidak didasarkan pada olah batin/sukma. Dalam mengamalkan ilmunya, orang-orang itu harus hapal dengan bacaan mantra/amalan ilmunya, dan dirinya harus berkhodam, karena khodamnya itulah yang menentukan ampuhnya ilmunya.

Dalam mengamalkan suatu amalan ilmu, misalnya amalan ilmu untuk kekuatan, pada seseorang yang menganut ilmu kebatinan, setelah ilmu tersebut diturunkan kepadanya, dalam penggunaannya orang tersebut masih harus menghayati isi dan arti amalan tersebut untuk menyelaraskan / mengsugesti batinnya supaya sukmanya dapat melakukan apa yang tersugesti dalam amalan ilmu tersebut. Kekuatan ilmunya tergantung pada kekuatan sukmanya dan penghayatan / sugesti dirinya dalam mengamalkan ilmu tersebut.

Karena bersifat kebatinan, maka dalam mengamalkannya seseorang harus menghayati isi dan arti suatu amalan ilmu untuk menyelaraskan/mengsugesti batinnya supaya sukmanya dapat melakukannya sesuai yang tersugesti dalam amalan ilmu tersebut. Kekuatan ilmunya tergantung pada kekuatan sukmanya dan penghayatan/sugesti dirinya dalam mengamalkan ilmu tersebut. Jadi yang utama harus dimiliki adalah kekuatan sukma dan penghayatan dan kemampuan sugesti untuk menggerakkan sukmanya menjalankan ilmu tersebut. Ilmu itu akan bekerja sesuai penghayatan seseorang pada bentuk ilmunya, walaupun tidak hapal dengan bacaan mantra/amalan ilmunya. Dan sugesti ilmu itu perlu dilatih secara berkala supaya ketajaman/keselarasan sukmanya dengan ilmunya itu tidak melemah.

Salah satu kelebihan dalam olah kebatinan adalah adanya tahapan olah Rasa dan sugesti, sehingga seseorang yang sudah menguasai olah Rasa dan sugesti, maka ia akan dengan mudah mengsugesti batinnya, dan membentuk/menyelaraskan sukmanya sesuai penghayatannya pada bentuk ilmunya, walaupun tidak hapal dengan bunyi mantranya. Dalam olah ilmu gaib dan ilmu khodam juga ada olah Rasa, terutama ditujukan pada Rasa ketika mengsugesti suatu amalan ilmu gaib.

Secara kebatinan, seseorang tidak membutuhkan banyak amalan ilmu, tidak perlu mengkoleksi banyak amalan ilmu, karena yang paling utama adalah kemampuan sugesti dan pemahaman/penghayatan pada suatu bentuk keilmuan, tidak harus hapal bunyi mantranya, tapi harus tahu isi/sifat bentuk dan tujuan keilmuannya. Dia juga akan dengan mudah menciptakan ilmu-ilmu baru sesuai pemahaman dari ilham yang didapatnya. Dan bila menemukan/menerima suatu amalan ilmu baru, dia akan dapat mengamalkannya sesuai kemampuannya mengsugesti sukmanya, walaupun tidak memiliki khodam ilmunya.

Untuk memperkuat keilmuannya, secara kebatinan orang tersebut harus memperdalam penghayatan dan menguatkan kekuatan kebatinannya dan meningkatkan kepekaan Rasa dan kemampuan sugestinya pada bentuk-bentuk keilmuan. Kekuatan ilmunya akan sejalan dengan kemampuannya mengsugesti sukmanya untuk menyatu dalam penghayatan kebatinannya. Untuk maksud itu para penganut kebatinan akan banyak melakukan perenungan-perenungan, lakon tirakat dan puasa, menyepi, semadi, bahkan tapa brata.

Amalan tersebut di atas (amalan ilmu yang sama), bila dilakukan oleh orang yang menganut ilmu gaib dan ilmu khodam, setelah ilmu tersebut diturunkan kepadanya, orang tersebut hanya perlu keyakinan/sugesti bahwa kapan saja ilmu itu diamalkan, ilmu itu akan bekerja. Orang tersebut tidak mengandalkan kekuatan sukmanya, karena yang bekerja adalah kekuatan sugesti pada amalan ilmu dan khodamnya, bukan sukmanya, dan tidak perlu tahu arti kalimat-kalimat dalam amalannya, hanya perlu menghapalkannya dan mengsugesti dirinya bahwa ilmu itu akan bekerja kapan saja amalannya diamalkan. Kekuatan ilmunya tergantung pada kekuatan (konsentrasi) sugestinya dan penyatuan dengan khodamnya. Dalam hal ini penerapan ilmu gaib dan ilmu khodam memiliki kelebihan kepraktisan dalam penggunaannya dibandingkan ilmu kebatinan, tetapi pada saat mempraktekkannya, orang tersebut harus hapal dengan bacaan mantra/amalan ilmunya, tidak boleh lupa.

Karena bersifat ilmu gaib dan ilmu khodam, mantra-mantra hanya akan bekerja dengan baik pada orang-orang yang mempunyai kekuatan sugesti pada amalannya dan yang telah menerima transfer energi/khodam ilmunya (diijazahkan). Bagi yang ingin belajar sendiri, belajar jarak jauh, dan belum mempunyai kekuatan sugesti pada amalannya, atau belum menerima khodam ilmunya/transfer energi, dengan usahanya sendiri membaca/mewirid suatu amalan ilmu biasanya tidak akan banyak berguna. Sekalipun ada kegaiban sesudahnya, biasanya tidak besar kekuatannya. Karena itu untuk keberhasilannya penganut ilmu gaib dan ilmu khodam akan banyak bergantung pada sosok guru yang memberi ilmu, dan untuk menambah keilmuannya orang-orang itu akan belajar kepada banyak guru dan akan mengkoleksi banyak amalan ilmu.

Contoh lain, misalnya ilmu pengasihan dan penglaris dagangan;
Pada orang-orang yang menekuni ilmu gaib dan ilmu khodam, mereka akan membacakan/mewirid amalan gaib untuk ilmu pengasihan dan penglaris dagangan itu. Kekuatan ilmunya bergantung pada kemampuan mereka mengsugesti amalan ilmu gaibnya atau mengsugesti kegaiban khodamnya untuk melaksanakan ilmu pengasihan dan penglaris dagangan (ditambah sesaji tertentu untuk khodamnya). Mereka harus hapal dengan bunyi mantranya (apa yang harus diwirid kalau tidak hapal bunyi mantranya ? ).

Pada orang-orang yang menekuni kebatinan, mereka tidak perlu hafal dengan bunyi mantranya (kalau tahu dan hafal mantranya akan lebih baik). Mereka hanya harus mengerti maksud ilmunya dan tahu cara kerjanya. Dengan demikian yang mereka lakukan adalah mengsugesti sukmanya untuk menciptakan suasana gaib yang teduh dan menyenangkan bagi banyak orang yang menyebabkan orang-orang suka kepadanya, suka datang ke tempat usahanya, mengobrol dan berbelanja. Suasana gaib itu disugestikan memancar dalam radius 5 meter, 10 meter, 100 meter, dsb (seperti penggunaan tenaga dalam murni).

Contoh lain.
Pengasihan atau kewibawaan, baik dengan cara ilmu gaib/khodam ataupun dengan cara kebatinan semuanya sifatnya sama, yaitu sebagai ilmu sugesti, bisa dilakukan secara kebatinan, bisa juga dengan amalan gaib.

Amalannya bisa diambilkan dari sumber mana saja asal fungsinya sesuai.
Tapi untuk anda pribadi sebaiknya dipilih yang berimbang.

Pengasihan yang terlalu kuat bisa membuat anda kehilangan kewibawaan.
Begitu juga sebaliknya, kewibawaan yang terlalu kuat bisa membuat anda tampak tidak punya rasa pengasihan.

Kalau anda punya bawahan (atau murid-murid jika anda menjadi seorang guru/dosen), selain pengasihan dan kewibawaan, sebaiknya dibentuk juga karakter kesepuhan yang bersifat mengayomi, sehingga anda akan dihormati juga sebagai orang yang dituakan.

Jika dilakukan dengan cara kebatinan, maka sugesti dan amalannya ditujukan ke dalam diri sendiri, ke dalam batin/sukma kita sendiri, dipilih yang isi sugestinya kita mengerti, untuk mengsugesti batin kita menjalankan isi sugesti yang kita inginkan.
Secara kebatinan sugestinya adalah untuk membentuk batin/sukma kita supaya berkarakter sama dengan yang kita sugestikan yang karakter itu akan bisa dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita atau oleh orang yang kita tuju.

Kalau sudah menyimpan energi (energi potensial di tubuh), atau sukmanya sudah berkekuatan gaib, maka sugestinya dilakukan selain untuk membentuk karakter kita sendiri, juga untuk membentuk pancaran energi sukma kita yang sifatnya sama dengan isi sugesti kita, dan pancaran energinya bisa kita atur sendiri seberapa kekuatan pancarannya, seberapa kekuatan pengaruhnya, dan seberapa jauh pancarannya. Bisa juga kita atur kapan kita memancarkan pengasihan, kapan kita memancarkan kewibawaan/penundukkan, karena itu berhubungan juga dengan siapa kita berhadapan.

Dengan kata lain, secara kebatinan bentuk sugesti dan amalan itu berfungsi untuk membentuk karakter kita sendiri supaya kita menjadi berkarakter sama dengan isi sugestinya, karena kita sendiri yang harus bersifat pengasihan/kewibawaan yang sama dengan sugesti yang kita inginkan, atau untuk membentuk pancaran energi sukma kita supaya sifat pancarannya sama dengan sugesti yang kita inginkan.

Tapi kalau kita memancarkan energi, maka semakin lama semakin berkurang energi kita, sehingga nantinya energinya harus disi ulang.

Jika dilakukan dengan cara ilmu gaib/khodam, yang sugesti dan amalannya ditujukan langsung kepada khodamnya atau langsung kepada jimat kita, tidak harus dipilih yang isi sugestinya kita mengerti, karena yang menjalankannya adalah khodam kita, bukan kita sendiri.

Secara ilmu gaib/khodam, sugestinya adalah untuk memerintahkan khodam kita supaya ia memunculkan penampakan karakter kita yang sama dengan yang kita sugestikan, atau supaya ia memancarkan hawa energi yang sifatnya sama dengan yang kita sugestikan.

Dan untuk mengatur kapan kita pengasihan dan kapan kewibawaan/penundukkan, harus dibaca dulu amalannya. Jadi kita harus punya koleksi ilmu/amalannya.

Tujuan dari dilakukannya pembedaan antara ilmu-ilmu kebatinan dengan yang asli ilmu gaib dan ilmu khodam adalah supaya kita dapat dengan benar membedakan pengertiannya, mengetahui sisi spiritual keilmuannya, mengetahui masing-masing kelebihannya (untuk ditingkatkan) dan kekurangannya (untuk dilengkapi), dan untuk mengetahui cara-cara mengembangkannya atau untuk meningkatkan kualitas keilmuannya, sesuai jenis keilmuan masing-masing yang digeluti.

Kelebihan utama lakon kebatinan dan laku spiritual terhadap yang murni sebagai ilmu gaib dan ilmu khodam adalah pada kekuatan gaib batin dan sukma manusia yang biasanya jauh melebihi kekuatan gaib ilmu gaib dan ilmu khodam. Kegaiban batin dan sukma mereka juga menyebabkan mereka tidak bergantung pada adanya sosok khodam ilmu dan khodam pendamping, karena kegaiban batin dan sukma mereka sendiri sudah menjadi “khodam” bagi mereka (roh pancer dan sedulur papatnya bisa menjadi khodam bagi mereka).

Kelebihan lainnya adalah pada kekuatan batin dan kemampuan olah Rasa dan sugesti (dan visualisasi) untuk menggerakkan kegaiban batin dan sukma mereka untuk melakukan banyak kegaiban seperti dalam ilmu-ilmu gaib dan khodam, tanpa perlu harus berlama-lama dan berlelah-lelah mewirid suatu amalan gaib.

Misalnya, sekalipun seorang praktisi ilmu kebatinan tidak membutuhkan adanya khodam gaib, tetapi jika memang dibutuhkan, dengan kekuatan kebatinannya, dan kekuatan Rasa dan sugesti, dan kontak batin, mereka dapat menghadirkan sesosok khodam dengan seketika, tidak perlu berlama-lama dan berlelah-lelah mewirid amalan gaib hanya untuk mendatangkan sesosok gaib, atau hanya untuk mengisikan khodam gaib ke dalam sebuah benda jimat. Atau jika sudah mengetahui sosok gaib yang diinginkannya, dengan kekuatan kebatinannya dia dapat menariknya dengan seketika untuk menjadikannya khodamnya atau memasukkannya ke dalam benda gaibnya.

Begitu juga untuk melakukan pembersihan gaib, dengan kekuatan kebatinannya mereka hanya perlu bersugesti untuk membuat bola pagaran gaib dengan kekuatan tertentu atau memancarkan energi untuk mengusir roh-roh jahat, atau jika sudah mengetahui sosok gaib yang diinginkannya, dengan kekuatan kebatinannya dia dapat menariknya dengan seketika untuk menjadikannya khodam pembersihan gaib, tidak perlu berlama-lama dan berlelah-lelah mewirid amalan gaib hanya untuk pembersihan gaib atau untuk membuat pagaran gaib yang juga belum tentu bagus kekuatannya.

Khodam-khodam ilmu dan pendamping yang kekuatannya tinggi bagi para pelaku ilmu gaib akan terlalu rendah kekuatannya bagi yang benar menekuni kebatinan yang akan dapat dengan mudah mereka hapuskan keberadaannya. Dan untuk keperluan pembersihan gaib secara kebatinan orang akan bisa mengukur kekuatannya sendiri ketika berhadapan dengan sosok-sosok gaib tertentu. Jika seseorang sudah mempunyai kekuatan kebatinan yang cukup tinggi, melakukannya tidak perlu dengan bisa melihat gaib, cukup dengan cara kontak Rasa untuk mendeteksi sasarannya (keberadaan gaibnya), kemudian memancarkan kekuatan kebatinan untuk mengusirnya.

Dalam hal kejadian di atas, para praktisi kebatinan dapat mengukur tingkat kekuatan gaib yang dibutuhkannya dan dapat menilai karakter sosok gaibnya. Misalnya dalam mengisikan khodam ke dalam benda gaib, para praktisi ilmu kebatinan biasanya dapat mengukur kekuatan khodamnya dan dapat menilai baik-tidaknya karakter sosok gaib tersebut, sedangkan para praktisi ilmu gaib seringkali malah tidak tahu apa dan siapa sosok gaib yang masuk ke dalam benda gaibnya itu, karena hanya mewirid amalannya saja.

Kelebihan lainnya adalah kombinasi dari kegaiban batin dan sukma mereka dan kemampuan olah Rasa dan sugesti dapat mengantarkan mereka menjadi orang-orang yang linuwih dan waskita, mengerti kegaiban hidup dan kegaiban alam.
Sedangkan kelemahan utama ilmu kebatinan dan spiritual terhadap yang murni sebagai ilmu gaib dan ilmu khodam adalah pada usaha yang lebih berat dalam mempelajari dan menekuninya, yang menyebabkan orang-orang menjadi tidak tertarik untuk menjalaninya. Kelemahan lainnya adalah kurangnya variasi dalam keilmuan gaib mereka dibandingkan yang dipelajari dalam ilmu gaib dan ilmu khodam, karena tujuan keilmuan mereka memang bukan untuk keilmuan gaib/khodam, tetapi untuk penghayatan kebatinan dan spiritual, atau untuk menjadi pengganda kekuatan kesaktian kanuragan.

Kelebihan utama ilmu yang murni sebagai ilmu gaib dan ilmu khodam terhadap lakon kebatinan dan laku spiritual adalah pada usaha yang lebih ringan dalam mempelajari dan menekuninya, yang menyebabkan orang-orang menjadi lebih tertarik untuk menjalaninya. Kelebihan lainnya adalah pada banyaknya variasi dalam keilmuan gaib (banyaknya variasi amalan dan mantra) dan hasilnya bisa langsung dipraktekkan dan dipertunjukkan, karena tujuan mereka berilmu memang untuk keberhasilan menguasai dan mempraktekkan keilmuan gaib/khodam.

Sedangkan kelemahan utama ilmu gaib dan ilmu khodam terhadap ilmu kebatinan dan spiritual terutama adalah pada kekuatan gaib ilmunya yang jauh lebih rendah (pada ilmu yang sejenis). Orang lebih suka mempelajari ilmu-ilmu kebatinan secara tersendiri, yang kemudian mewujud menjadi ilmu gaib dan ilmu khodam, yang seringkali tidak dilandasi dengan kekuatan kebatinan, karena tidak didasari dengan olah kebatinan, hanya menghapalkan dan mewirid mantra/amalan ilmu gaib dan mantra/amalan ilmu khodam saja.

Walaupun variasi ilmunya banyak, khodamnya banyak dan ilmunya berlapis-lapis, tetapi karena kekuatan gaibnya lebih rendah, biasanya praktek keilmuan mereka dapat dengan mudah dilunturkan keampuhannya (dan seringkali tidak dapat digunakan untuk menyerang orang-orang kebatinan dan spiritual).

Masing-masing jenis keilmuan mempunyai kelebihan dan kelemahan sendiri-sendiri. Segala bentuk keilmuan kebatinan maupun gaib akan sangat bergantung pada sumber kekuatan ilmunya dan perbendaharaan jenis ilmu. Untuk dapat menguasai suatu keilmuan secara sempurna dengan daya kekuatan yang tinggi seseorang juga harus mengenal sumber kekuatan keilmuannya, meningkatkan kekuatan ilmunya dan melengkapi kekurangannya.

Kemampuan untuk mengsugesti batin/sukma, kemampuan untuk bersugesti pada amalan gaib dan mantra, dan kemampuan mengsugesti kegaiban khodamnya adalah hal-hal pokok yang harus dikuasai dalam semua keilmuan batin/gaib. Tetapi untuk meningkatkan kekuatan keilmuannya jangan hanya berfokus pada praktek sugesti amalan gaib saja, sumber kekuatan ilmunya harus juga diketahui dan harus ditingkatkan kualitasnya supaya kekuatan keilmuannya menjadi tinggi.

Orang-orang yang menekuni ilmu gaib atau ilmu batin yang kegaibannya berdasarkan pada kekuatan batin/sukma (lakon kebatinan dan laku spiritual), untuk meningkatkan kekuatan ilmunya, orang tersebut harus meningkatkan kekuatan batin/sukmanya dan penghayatan pada ilmunya (supaya ketika disugestikan untuk keilmuan tertentu, kekuatan ilmunya tinggi), dan menambah perbendaharaan jenis-jenis keilmuan gaib (menambah pengetahuan pada jenis-jenis ilmu dan amalan ilmu).

Orang-orang yang menekuni ilmu gaib atau ilmu batin yang kegaibannya berdasarkan pada kekuatan roh pancer dan sedulur papat, harus meningkatkan kekuatan dan ketajaman batin/sukma dan meningkatkan penyatuannya dengan kekuatan roh sedulur papatnya, supaya ketika disugestikan untuk keilmuan tertentu, kekuatan ilmunya tinggi.

Orang-orang yang menekuni ilmu gaib yang kegaibannya berdasarkan pada kekuatan sugesti amalan gaib atau mantra, harus meningkatkan kekuatan sugestinya ( / konsentrasi), meningkatkan kekuatan kebatinannya, atau mencari mantra/amalan ilmu gaib lain yang lebih tinggi kadar kekuatannya.

Orang-orang yang menekuni ilmu gaib yang kegaibannya berdasarkan pada kekuatan khodam ilmu, harus meningkatkan kekuatan khodamnya (atau mencari sosok gaib lain yang lebih tinggi kekuatan gaibnya) dan meningkatkan kemampuannya mengsugesti khodam ilmunya, atau mencari mantra/amalan gaib yang lebih tinggi kadar kekuatannya, supaya ketika disugestikan untuk keilmuan gaib tertentu, kekuatan ilmunya bertambah tinggi. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang kinasihku yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. SEMOGA POSTINGAN SAYA KALI INI. Bermanfaat untuk Para Kadhang yang belum mengetahui ini dan Bisa menggugah Rasa Hidup siapapun yang membacanya . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Tentang Batin dan Soal Lakon Kebatinan:


Kekadhangan
Tentang Batin dan Soal Lakon Kebatinan:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Telatah jawa dwipa. Hari minggu wage. Tgl 27. September 2015

Di dalam potingan yang lalu, yang saya beri judul Perbeda’an Antara. Olah Lakon Spiritual Kebatinan dan Olah Laku Spiritual Hakikat Hidup Dan Olah Lakon Kebatinan dan Olah Laku Spiritual Pencarian Tuhan, saya sudah menjelaskan banyak hal terkait soal/tentang ini, tapi di postingan yang ini, saya ingin menekankan bahwa pengertian kebatinan dan spiritual bersifat luas, bukan hanya kebatinan dan spiritual kegaiban, ilmu kebatinan dan ilmu spiritual, ilmu gaib kejawen atau ilmu-ilmu duniawi lainnya, tetapi juga kebatinan dan spiritual keagamaan/ketuhanan yang dijalani oleh banyak orang, dan tergantung juga pada para pelaku yang bersangkutan apakah kemampuan yang terbangkitkan, jika ada, termasuk dari lakonya berkebatinan keagamaan/ketuhanan itu apakah akan digunakannya murni untuk urusan keagamaan/ketuhanan ataukah juga akan digunakannya untuk tujuan keilmuan dan kegaiban.

Kebatinan Bersifat Universal;
Lakon Kebatinan adalah mengenai segala sesuatu yang dirasakan manusia Hidup pada batinnya yang paling dalam.

Lakon Kebatinan terutama berisi penghayatan seseorang terhadap apa yang dirasakannya di dalam batinnya atas segala sesuatu aspek dalam hidupnya, termasuk yang berkenaan dengan agama dan kepercayaan, karir dan pekerjaan, kehidupan keluarga dan kehidupan sosialnya. Apa saja yang dihayatinya, itu bersifat pribadi, akan mengisi sikap batinnya dalam kehidupannya sehari-hari. Apa saja yang dihayatinya itu akan menjadi bagian dari kepribadiannya.

Lakon Kebatinan dan Laku Spiritual tidak hanya terkait dengan keilmuan kebatinan / spiritual, atau keagamaan dan aliran kepercayaan, tetapi bersifat universal, berkaitan dengan segala sesuatu yang dirasakan manusia hidup pada batinnya yang paling dalam. Di dalam kebatinan masing-masing orang terkandung keyakinan dan kepercayaan pribadi, pandangan dan pendapat pribadi, prinsip dan sikap hidup pribadi. Kebatinan melandasi kehidupan manusia sehari-hari, menjadi bagian dari kepribadian seseorang yang tercermin dan melandasi perbuatan dan perilakunya sehari-hari.

Lakon Kebatinan bukan hanya yang bersifat pribadi, tetapi juga sikap batin atas segala sesuatu yang dipercaya dan diyakini oleh sekelompok masyarakat. Kebatinan dan spiritual tidak hanya terkait dengan keilmuan kebatinan, kepercayaan tentang hal-hal gaib, mitos dan legenda, atau kepercayaan keagamaan dan kerohanian, tetapi lebih dari itu. Karena itu lakon kebatinan dan laku spiritual jangan dipandang secara sempit dan dangkal dengan hanya menganggapnya sama dengan keilmuan kebatinan/spiritual, atau hanya menganggapnya sama dengan aliran kepercayaan.

Lakon Kebatinan termasuk juga mengenai penghayatan atas apa yang dirasakan oleh orang-orang yang sangat tekun dalam beribadah dan murni dalam agamanya, karena setiap agama pun mengajarkan juga tentang apa yang dirasakan hati dan batin, mengajarkan untuk selalu membersihkan hati dan batin, bagaimana harus berpikir dan bersikap, dsb, dan di dalam setiap firman dan sabda terkandung makna lakon kebatinan dan laku spiritual yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya. Bahkan panggilan hati yang dirasakan orang untuk beribadah, itu juga batin. Dan dalam batin itu sendiri tersimpan sebuah kekuatan yang besar jika sengaja dilatih dan diolah.

Kekuatan batin menjadi kekuatan hati dalam menjalani hidup dan memperkuat keimanan seseorang. Sebagian besar penghayatan lakon kebatinan dan aliran kebatinan yang ada (di seluruh dunia) adalah bersifat kerohanian dan keagamaan, berisi upaya penghayatan manusia terhadap Tuhan (Roh Agung Alam Semesta) dengan cara pemahaman mereka masing-masing. Tujuan tertinggi penghayatan lakon kebatinan mereka adalah untuk mencapai kesatuan (manunggaling) dan keselarasan dengan Sang Pribadi Tertinggi (Tuhan). Oleh sebab itu para penganut kebatinan berusaha mencapai tujuan utamanya, menyatu dengan Tuhan, menyelaraskan jiwa manusia dengan Tuhan, melalui olah batin, laku rohani dan lakon berprihatin, menjauhi (tidak mengutamakan) kenikmatan hidup keduniawian, menjauhi perbuatan-perbuatan yang terlarang dan menyelaraskan cara hidup mereka dengan cara hidup yang menjadi kehendak Tuhan.

Dan di dalam sikap hidup orang berkebatinan ada lakon dan ritual yang dilakukan orang. Contohnya adalah lakon dan ritual di dalam orang beragama dan beribadah seperti lakon memperingati hari-hari besar agamanya, mengikuti perkumpulan doa/pengajian, tahlilan, dsb, atau lakon-lakon kebatinan dalam kepercayaan dan tradisi seperti yang dilakukan masyarakat budaya kejawen seperti mengadakan peringatan suroan, selametan, bersih desa, sekatenan, dsb. Ada juga lakon-lakon kebatinan pribadi sesuai kepercayaan kebatinan masing-masing orangnya, seperti puasa mutih, puasa senin-kamis, wetonan, wiridan / zikir, mengaji, dsb. Tetapi tidak semua sikap dan lakon orang dalam berkebatinan selalu tampak dalam lakon-lakon yang kelihatan mata seperti itu, karena kebatinan terutama berisi sikap hati dan pandangan-pandangan pribadi yang semuanya tidak selalu terwujud dalam lakon dan ritual yang kelihatan mata. Lebih banyak yang bersifat pribadi daripada yang kelihatan mata.

Secara tradisional sikap kebatinan di dalam masyarakat banyak yang diwujudkan dalam bentuk cerita-cerita legenda, mitos dan tahayul, dan pengkultusan. Tetapi secara pribadi setiap manusia di dalam peradabannya masing-masing memiliki sikap lakon kebatinan dan laku spiritual sendiri-sendiri dan secara positif sikap kebatinan tentang budi pekerti, sopan santun, tata krama dan adat istiadat, menjadi tatalakon dan aturan yang harus dijalankan oleh semua anggota masyarakat dalam kehidupan yang berperadaban, yang itu secara tradisional sudah banyak diwujudkan menjadi hukum adat, dan dalam kehidupan yang lebih modern itu menjadi dasar dari sistem hukum modern. Sikap dan pandangan hidup yang sederhana, tradisional, sampai yang rasional dan modern, sikap hidup manusia di negara-negara yang terbelakang sampai di negara-negara maju dan modern, itu adalah sikap-sikap kebatinan yang mengisi kepribadian masing-masing manusianya dalam hidup mereka sehari-hari. Sekalai lagi,,,, dengan semua penjelasan diatas. Jadi; Kebatinan bersifat universal.

Kesalahpahaman Tentang Kebatinan;
Pada masa sekarang ini sudah jarang ada orang yang menekuni olah lakon kebatinan, bahkan jarang sekali ada orang yang memiliki pemahaman yang benar tentang kebatinan, apalagi memiliki kemampuan kebatinan yang tinggi dan bisa mengajarkan/menularkan keilmuan kebatinannya itu kepada orang lain. Pemahaman tentang kebatinan saja belum tentu benar, apalagi memiliki kemampuan kebatinan yang tinggi. Lebih banyak orang yang hanya bisa membuat dogma dan pengkultusan saja tentang kebatinan dan elemen-elemen di dalamnya, tetapi tidak mampu menelisik benar-tidaknya, apalagi mengetahui sendiri kesejatiannya, karena tidak menguasai lakon kebatinan dan laku spiritual yang tinggi yang menjadi syarat dasar utamanya.

Karena itu, pada masa sekarang banyak sekali terjadi kesalah-pahaman dan pendegradasian dalam citra dan pemikiran orang tentang kebatinan. Sebagian berupa pencitraan pengkultusan yang bersifat melebih-lebihkan, sebagian lagi berupa pencitraan negatif (dan fitnah) yang menjelek-jelekkan kebatinan.

Ada pengkultusan dogmatis orang tentang kebatinan yang mengatakan bahwa jika ingin belajar kebatinan orangnya harus sudah lebih dulu bisa membersihkan hati dan batinnya, orangnya harus sudah dewasa. Dan dikatakan kebatinan hanya cocok untuk orang-orang yang kepribadiannya sudah sepuh saja (dikatakan yang usianya sudah 50 tahun atau lebih). Padahal olah lakon dan penghayatan kebatinan itu justru adalah sarana untuk orang membersihkan hati dan batinnya dan sarana untuk orang membentuk kepribadian yang sepuh. Jangan menjadi orang yang berumur tua tetapi tidak sepuh.

Dalam pengkultusan itu kebatinan dan ilmu kebatinan dianggap sebagai sesuatu yang baik dan mulia. Bahkan ada yang mencitrakannya sebagai ilmunya orang-orang mulia jaman dulu, ilmunya para Wali, sufi, aulia, dsb. Padahal sama dengan jenis keilmuan yang lain, tidak semuanya kebatinan dan ilmu-ilmunya bersifat baik, tergantung siapa pelakunya dan apa saja isi lakon dan tujuannya, karena ada juga penghayatan kebatinan dan ilmu kebatinan aliran hitam (aliran jahat/sesat) yang pada jaman dulu sudah memunculkan orang-orang sakti golongan hitam (golongan jahat).

Tetapi pada jaman sekarang ini pencitraan orang terhadap kebatinan dan ilmu-ilmu kebatinan kebanyakan bersifat negatif. Ada yang niatnya sebenarnya tidak negatif, tapi ternyata perbuatannya itu sudah membuat rendah arti dan citra kebatinan. Ada juga pencitraan orang yang sifatnya sengaja menjelek-jelekkan (dan fitnah).

Ada orang-orang yang ilmunya sebenarnya adalah aliran ilmu perdukunan, ilmu khodam, dan ilmu kejawen tetapi mengaku-aku bahwa ilmunya adalah kebatinan, karena tidak mau ilmunya dikatakan klenik/perdukunan, atau tidak mau dikatakan menduakan Tuhan, bersekutu dengan selain Allah. Pengakuan mereka itu sudah menyebabkan ilmu kebatinan dianggap orang sama dengan ilmu klenik perdukunan, dianggap sama dengan ilmu khodam dan ilmu kejawen yang identik dengan amalan dan mantra, dan sesaji, dan mahluk halus khodam/prewangan dan keris dll. Dan orang yang sedang ngelmu gaib, bertirakat di tempat-tempat angker, atau yang sedang ngalap berkah, dianggap orang itu sedang menjalani lakon kebatinan.

Selain itu banyak juga orang yang sengaja mempertentangkan kebatinan dengan agama, memandang secara sempit kebatinan hanya sebagai aliran kebatinan/kepercayaan, atau menganggapnya sama dengan paham animisme/dinamisme, dianggap musuh dari agama, yang harus diberantas, karena dianggap bisa merusak keimanan seseorang.

Begitu juga dengan banyaknya tulisan yang membabarkan kebatinan dan spiritualitas kejawen. Tulisan-tulisan itu kebanyakan adalah sudut pandang orang jaman sekarang tentang kebatinan dan spiritualitas jawa, hanya mengupas wejangan-wejangan dan petuah-petuah kesepuhan jawa saja, hanya mengupas kulitnya saja, tidak sungguh-sungguh masuk ke dalam kebatinan dan spiritualitas kejawen yang sesungguhnya.

Begitu juga dengan maraknya tulisan-tulisan orang tentang ilmu kebatinan jawa yang itu sebenarnya adalah ilmu gaib kejawen, bukan ilmu kebatinan jawa. Malah dalam tulisan-tulisan itu banyak orang yang menganggap ilmu kebatinan sama dengan ilmu gaib dan ilmu khodam, atau dianggap sama dengan keilmuan perdukunan, sehingga orang-orang yang ilmunya adalah limu gaib kejawen, ilmu perdukunan, atau termasuk aliran ilmu gaib dan khodam banyak yang mengaku-aku bahwa ilmu mereka adalah ilmu kebatinan. Tapi setelah saya perhatikan, sebenarnya itu keliru. Ilmu kebatinan sama sekali tidak bisa disamakan dengan ilmu gaib dan ilmu khodam, apalagi perdukunan, karena sifat dan sikap proses keilmuannya berbeda.

Yang sekarang masih banyak dijalani dan dipraktekkan orang, yang sering dikatakan sebagai ilmu kebatinan, seperti ilmu kejawen atau ilmu Islam kejawen, kebanyakan proporsinya sebagai ilmu kebatinan sangat kecil, mungkin 10%-nya saja tidak sampai. Sekalipun di dalam ilmu-ilmu tersebut ada banyak bentuk lakon keilmuan yang mirip, seperti adanya mantra dan amalan-amalan gaib, lakon prihatin, puasa dan tirakat, dsb, ilmu-ilmu itu sebenarnya lebih banyak bersifat sebagai ilmu gaib dan ilmu khodam, bukan kebatinan.

Pada jaman sekarang konotasi pemahaman orang tentang ilmu kebatinan memang adalah sama dengan ilmu gaib dan ilmu khodam, sejenis ilmu kegaiban yang penuh dengan amalan gaib dan mantra, yang konotasinya sama dengan ilmu perdukunan, yang dalam prakteknya sangat mengandalkan wiridan doa amalan dan mantra-mantra. Apalagi banyak pelaku ilmu gaib dan ilmu khodam yang sering mengatakan bahwa ilmu mereka adalah ilmu batin/kebatinan. Tetapi ternyata sebenarnya tidak begitu. Ilmu kebatinan tidaklah sama dengan ilmu gaib dan ilmu khodam yang sering di tampilkan melalui media yang tersedia buat kita di setiap saat.

Mengenai pengertian ilmu gaib dan ilmu khodam, supaya kita bisa lebih jelas membedakannya dengan ilmu kebatinan saya sudah menuliskannya di dalam postingan yang tersendiri yang berjudul Tentang Ilmu Gaib dan Ilmu Khodam.

Begitu juga dengan banyaknya lakon yang dilakukan orang di tempat-tempat yang wingit dan angker. Walaupun itu sering dikatakan orang sebagai lakon kebatinan, tetapi sebenarnya itu lebih banyak arahnya pada usaha “ngelmu gaib”, yaitu usaha untuk mendapatkan suatu ilmu gaib/khodam atau ilmu kesaktian berkhodam, atau suatu bentuk lakon dalam rangka orang “ngalap berkah”, bukan kebatinan.

Budaya dan ritual-ritual masyarakat jawa yang sampai sekarang masih dilakukan orang pun sudah tidak lagi murni dilakukan berdasarkan budaya kebatinan jawa yang asli, karena ke dalamnya sudah masuk unsur-unsur agama, sikap batin dalam melakukannya sudah diisi dengan sikap keagamaan, sudah menjadi budaya keagama’an kejawen, bukan asli jawa lagi.

Kebatinan, Prakata;
Pada jaman dulu kebatinan dan lakon kebatinan yang dilakukan orang ada 2 penggolongan besarnya, yaitu :
1. Lakon Kebatinan dan Laku Spiritual kerohanian (penghayatan keTuhanan / kesepuhan)
2. Lakon Kebatinan untuk keilmuan (kanuragan dan kesaktian gaib).

Pada jaman dulu kebatinan yang bersifat kerohanian (ketuhanan/kesepuhan) secara umum tujuannya adalah untuk kebatinan pribadi, merupakan jalan yang ditempuh orang untuk lakonya berkeTuhanan/berkeagamaan. Jika itu dilakukan di dalam suatu kelompok yang sehaluan, maka kelompok itu akan menjadi sebuah kelompok/paguyuban kebatinan yang pada masa sekarang kelompok itu sering disebut sebagai aliran kebatinan atau aliran kepercayaan, atau aliran dan perkumpulan di dalam agama (aliran dan sekte agama, ormas-ormas, dsb) yang masing-masing tokohnya mempunyai umat/pengikut.

Sedangkan lakon kebatinan yang bersifat keilmuan tujuan utamanya adalah untuk menggali dan mengolah potensi kebatinan manusia (kekuatan sukma) untuk dijadikan sumber kekuatan yang melandasi kesaktian kanuragan maupun kesaktian gaib.

Tetapi ada juga orang-orang yang khusus menekuni keilmuan gaib dan khodam, menekuni amalan dan mantra untuk memerintah khodam dan mahluk halus, yang kemudian itu mewujud menjadi ilmu gaib kejawen (dan perdukunan). Itu bukan kebatinan, tetapi adalah aliran ilmu gaib (dan perdukunan).

Tetapi pada jaman sekarang ini orang memandang istilah kebatinan secara dangkal, hanya memandangnya dari kulitnya saja, apalagi bila ada tendensi negatif di dalamnya. Kebatinan yang bersifat kerohanian dan kesepuhan sengaja dipertentangkan dengan agama, karena kebatinan dianggap sederajat dengan agama, dianggap saingan dari agama, padahal kebatinan lebih dalam daripada agama. Kebatinan yang bersifat keilmuan dikonotasikan orang sama dengan ilmu klenik perdukunan, dianggap sama dengan ilmu gaib/khodam dan ilmu gaib kejawen yang identik dengan amalan dan mantra, dan sesaji, dan mahluk halus khodam/prewangan dan keris (jimat).

Dunia kebatinan pada masa sekarang memang sudah dianggap “haram” untuk diperbincangkan, karena orang berpandangan sempit dan dangkal tentang kebatinan. Orang tidak punya pengertian yang benar tentang kebatinan, hanya menganggapnya sama dengan bentuk aliran kepercayaan saja, yang berbeda dengan jalan agamanya, sehingga segala sesuatu yang berbau kebatinan dianggap sebagai sesuatu yang harus diberantas, karena dianggap bisa melemahkan/meracuni/merusak keimanan agama.

Perilaku berkebatinan (seperti kejawen atau perkumpulan-perkumpulan kebatinan/spiritual baru di jaman sekarang ini) yang dilakukan oleh seseorang yang beragama, seringkali memang dipertentangkan orang, dianggap bertentangan dengan agama, atau bahkan dianggap sebagai ajaran/aliran sesat atau dianggap sebagai ajaran/aliran yang bisa merusak keimanan seseorang. Padahal, penghayatan kebatinan yang bersifat kerohanian pada dasarnya adalah pemahaman dan penghayatan kepercayaan manusia terhadap Tuhan walaupun berbeda jalan dengan agama. Penghayatan keTuhanan itu bukanlah agama, tetapi seseorang beragama yang menjalaninya justru bisa mendapatkan pemahaman yang dalam tentang agamanya dan Tuhan setelah menjalani kebatinan tersebut, dan seseorang bisa mendapatkan pencerahan tentang agamanya, walaupun pencerahan itu didapatkannya dari luar agamanya.

Kebatinan terutama berisi penghayatan seseorang terhadap apa yang dirasakannya di dalam batinnya, termasuk yang berkenaan dengan agama dan kepercayaannya, karena di dalam masing-masing agama dan kepercayaan juga terkandung sisi kebatinan yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya. Seperti Pengucapan Dua Kalimah Syahadzat contohnya. Kalimah Syahadzat Pertama yang berbunyi Ash-hadhu ala illaaha illallah, tanpa batin sekalipun bisa di cerna dan dipahami oleh si pengucapnya, tapi Kalimah Syahadzat yang kedua, yang berbunyi Wa ash-hadhu anna muhammadur rasullullah, tanpa kebatinan, tidak akan bisa di cerna dan dipahami oleh siapapun,,, hayo… iya apa nggeh? He he he . . . Edan Tenan.

Seseorang yang banyak menghayati isi hatinya, atau isi pikirannya, akan lebih banyak “masuk” ke dalam dirinya sendiri, menjadikan dirinya lebih “sepuh” dibandingkan jika ia mengabaikannya. Selanjutnya apa saja isi penghayatannya itu akan menjadi sikap batinnya dalam kehidupannya sehari-hari, akan menjadi bagian yang sepuh dari kepribadiannya.

Kebatinan terutama berisi pengimanan/penghayatan seseorang terhadap apa yang dirasakannya di dalam batinnya, apapun agama atau kepercayaan yang dianutnya. Di dalam masing-masing agama dan kepercayaan juga terkandung sisi kebatinan yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya. Di dalam setiap firman dan sabda selalu terkandung makna lakon kebatinan dan laku spiritual yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya. Tetapi sikap kebatinan dalam berkeagamaan ini sudah banyak orang yang meninggalkannya, sudah banyak digantikan dengan ajaran tata lakon ibadah formal saja dan dogma/doktrin ke-Aku-an agama. Orang lebih memilih menjalani kehidupan yang formal agamis dan menjalankan sisi peribadatan yang formal dan wajib saja. Sisi kebatinan dari agamanya sendiri seringkali tidak ditekuni bahkan di tinggalkan,,, weleh-weleh,,, pancen uedan tenan rek…

Sikap berkebatinan dalam beragama saja jarang ada orang yang menekuni. Orang lebih suka menjalani/mempelajari agama dan tatalaku ibadahnya yang bersifat formal saja dan banyak orang yang hanya mengikuti saja dogma dan doktrin dalam agama. Sekalipun banyak orang hafal dan fasih ayat-ayat suci dan hadist, tetapi tidak banyak yang mengerti sisi kebatinan dan spiritualnya, akibatnya pengkultusan dan dogma dalam kehidupan beragama terasa sangat mendominasi kehidupan beragama, membuat buntu spiritualitas beragama, sehingga banyak sekali memunculkan perbedaan pandang dan pertentangan di kalangan mereka sendiri. Banyaknya aliran dan sekte dalam suatu agama adalah bentuk dari ketidak-seragaman kebatinan dan spiritual para penganut agama itu sendiri, buktinya sudah terlalu amat buanyak bukan..?!

Perilaku berkebatinan, termasuk berkebatinan dalam beragama, apapun agama dan kepercayaan yang dianutnya, sebenarnya baik sekali untuk dilakukan, supaya seseorang mengerti betul ajaran yang dianutnya, supaya tidak dangkal pemahamannya, apalagi hanya ikut-ikutan saja, tetapi materi kebatinannya harus dicermati dan di-“filter”, dan memiliki kebijaksanaan spiritual untuk memilih yang baik dan memperbaiki yang tidak baik, sehingga kemudian orang dapat menjadi pribadi yang mengerti agama dan kepercayaannya dengan benar dan tepat.

Memang perlu bahwa manusia memiliki keyakinan dan prinsip hidup yang kuat sebagai bagian dari kepribadian yang kuat, termasuk dalam hal agama. Tetapi jangan sekedar mengikuti saja dogma dan doktrin dalam agama. Dan jangan membodohi diri dengan berpikiran dangkal dan sempit dan jangan mengkondisikan diri untuk mudah dibodohi dan dihasut, apalagi disesatkan. Seorang penganut agama/kepercayaan yang tekun mendalami sisi kebatinan dalam agama dan kepercayaannya akan memiliki penghayatan dan kekuatan batin yang lebih dibandingkan yang hanya menjalani kepercayaannya secara formalitas saja, apalagi dibandingkan yang mengabaikannya.

Aspek kebatinan bukan hanya ada dalam dunia kepercayaan/keagamaan saja atau hanya dalam bentuk keilmuan kebatinan saja. Sisi kebatinan ada dalam semua sisi kehidupan manusia dan menjadi bagian dari kepribadian seseorang. Tetapi yang dominan menambah nilai pada kekuatan kebatinan seseorang adalah keyakinan terhadap sesuatu dan keyakinan itu konsisten dijalaninya sepenuh hati dalam hidupnya. Dan bila keyakinan itu konsisten dijalaninya, semakin banyaknya godaan/gangguan, jika ia mampu melawan, mampu menolaknya, akan semakin bertambah kekuatan dan kekerasan batinnya.

Aspek kebatinan akan menambah kekuatan batin seseorang bila dilandasi sikap keyakinan di dalamnya dan dilaksanakan sepenuh hati dalam kehidupannya sehari-hari. Kalau tidak begitu, maka itu hanya akan menjadi sebuah konsep atau prinsip hidup, tetapi tidak menambah nilai pada kebatinannya. Dan yang jelas berpengaruh sekali pada kekuatan kebatinan seseorang adalah keyakinan yang dominan dalam kehidupan seseorang, seperti keyakinan pada agama, atau keyakinan pada suatu bentuk keilmuan.

Kekuatan kebatinan dan kegaiban kebatinan sebenarnya tidak perlu dicari kemana-mana. Kekuatan kebatinan dan kegaiban kebatinan sebenarnya berasal dari diri sendiri, berasal dari kekuatan penghayatan atas sesuatu yang kita yakini, dan sugesti keyakinan itu akan menciptakan suatu kegaiban tersendiri. Kita sendiri bisa mengalaminya. Misalnya dalam kehidupan kita beragama, cukup satu saja firman atau sabda dalam kitab suci agama kita, kita hayati maknanya, kita imani dan kita perdalam dengan dibaca berulang-ulang di dalam hati (atau diwirid) dengan penghayatan. Penghayatan kita itu kita pegang teguh dalam kehidupan sehari-hari, menyatu dan mengisi hati dan batin kita. Setelah itu kita akan dapat merasakan adanya Rasa kegaiban tersendiri, kekuatan batin tersendiri, dan itu hanya kita sendiri yang menjalaninya saja yang tahu dan merasakannya. Seberapa kuat penghayatan kita itu dan seberapa dalam keyakinan keimanan kita itu akan menciptakan suatu kekuatan batin dan kegaiban tersendiri.

Manusia yang menekuni dan memperdalam kebatinan tertentu, termasuk kebatinan agama, akan memiliki lebih banyak penghayatan dan pemahaman tentang kegaiban hidup dan kegaiban alam, akan memiliki kepekaan dan kekuatan batin tertentu, dan akan memiliki kegaiban-kegaiban tertentu. Dalam laku manusia menekuni dan memperdalam kebatinan itu, secara pribadi maupun melalui suatu perkumpulan atau kelompok keagamaan, manusia akan menemukan suatu kekuatan yang bersifat batin, kekuatan kebatinan, suatu kekuatan sugesti yang berasal dari keyakinan dan kekuatan kepercayaan, yang setelah ditekuni, diolah secara khusus, ketika itu diamalkan akan dapat mewujudkan suatu kegaiban atau mukjizat tersendiri, dapat juga disugestikan menjadi ilmu-ilmu kebatinan.

Jadi, di dalam lakon olah kebatinan , apapun bentuk dan lakon kebatinannya, ada 2 hal pokok di dalamnya, yaitu pengolahan penghayatan kebatinan (pemahaman dan penghayatan) dan pengolahan kekuatan kebatinan.

Tetapi dalam kehidupan jaman sekarang perilaku kehidupan berkebatinan sudah digantikan dengan kehidupan agamis formal, dan olah batin sudah digantikan dengan hanya membaca (dan menghafal) ayat-ayat suci dan firman-firman saja (atau amalan doa). Orang lebih suka mempelajari kegaiban dan ilmu-ilmu kebatinan secara tersendiri, yang kemudian mewujud menjadi ilmu gaib dan ilmu khodam, yang seringkali tidak dilandasi dengan kekuatan kebatinan, karena tidak didasari dengan olah batin, hanya menghapal dan mewirid mantra dan amalan ilmu gaib/khodam saja untuk tujuan keilmuan tertentu.

Penghayatan Kebatinan;
Sekali lagi, Lakon Kebatinan adalah mengenai segala sesuatu yang dirasakan manusia hidup pada batinnya yang paling dalam.

Kebatinan terutama berisi penghayatan seseorang terhadap apa yang dirasakannya di dalam batinnya atas segala sesuatu aspek dalam hidupnya, termasuk yang berkenaan dengan agama dan kepercayaan, karena di dalam masing-masing firman dan sabda juga terkandung sisi kebatinan yang harus dihayati dan diamalkan oleh para penganutnya. Apa saja yang dihayatinya itu selanjutnya akan menjadi bersifat pribadi, akan mengisi sikap batinnya dalam kehidupannya sehari-hari, akan menjadi bagian yang sepuh dari kepribadiannya.

Orang yang memiliki hikmat dan penghayatan tertentu, biasanya psikologisnya akan menjadi lebih “sepuh”. Biasanya juga ia akan semakin banyak diam, semakin banyak “masuk” ke dalam dirinya, semakin banyak menggali dari dalam dirinya. Itulah yang disebut kebatinan.

Seseorang yang banyak menghayati isi hatinya, atau isi pikirannya, ia akan lebih banyak “masuk” ke dalam dirinya sendiri, menjadikan dirinya lebih “sepuh” dibandingkan jika ia mengabaikannya. Apa saja isi penghayatannya itu akan menjadi sikap batinnya dalam kehidupannya sehari-hari, akan menjadi bagian yang sepuh dari kepribadiannya.

Semua lakon yang bersifat kebatinan di dalamnya selalu disebutkan tujuannya (termasuk tujuan sugestinya) dan selalu mengedepankan penghayatan, baik itu lakon kebatinan kerohanian/ketuhanan/keagamaan, maupun yang bersifat keilmuan, bukan mengedepankan kepintaran berpikir dan berlogika, bukan sebatas terlaksananya bentuk laku formalnya, bukan juga mengedepankan amalan doa dan mantra. Pemahaman seseorang akan tujuan lakonnya dan kualitas penghayatan dan penjiwaannya dalam lakonnya itu, selain ketekunannya, akan sangat membedakan hasil dan prestasi yang mampu diraihnya dibandingkan orang lain yang sama-sama melakukan aktivitas yang sama.

Karena itu jika seseorang menjalani suatu lakon yang bersifat kebatinan, baik kerohanian maupun keilmuan, selalu dituntut supaya orangnya memahami tujuan dari lakonnya itu dan mampu menghayati lakonnya, sehingga jika orang itu mengalami kesulitan dalam ia menjalani lakonnya itu, kemungkinan penyebabnya adalah karena ia belum bisa menghayati lakonnya (atau belum tahu tujuan dari lakonnya sehingga penghayatannya menjadi tidak tepat).

Jika seseorang sudah bisa menghayati lakonnya, maka ia akan menemukan suatu Rasa yang bersifat khusus, yang itu hanya ada dalam lakonnya itu saja, tidak ada dalam aktivitasnya yang lain, yang kemudian setelah semakin didalami dan matang, maka itu akan mewujud menjadi kekuatan Rasa.

Kekuatan Rasa setelah semakin didalami dan matang, jika seseorang menerapkan itu dalam semua aktivitas kehidupannya maka semua perbuatan-perbuatannya akan mengandung suatu kegaiban yang akan bisa dirasakan perbedaan kegaibannya dibanding jika ia melakukan perbuatan yang sama dengan sikap batin yang biasa saja.

Pada tahap selanjutnya dalam penggunaan kekuatan Rasa untuk melakukan suatu perbuatan dalam lakonnya itu, ia melakukannya dengan cara bersugesti, yaitu mengkondisikan sikap batinnya secara khusus , mendayagunakan penghayatan Rasa untuk melakukan suatu perbuatan tertentu, mendayagunakan kekuatan Rasa.

Penghayatan, olah Rasa dan olah sugesti adalah dasar-dasar dalam lakon kebatinan dan laku spiritual, selalu ada dalam semua lakon yang bersifat lakon kebatinan dan laku spiritual, yang itu harus lebih dulu bisa dikuasai oleh para pelakunya sebelum menapak ke tingkatan yang lebih tinggi. Sekalipun sudah banyak ilmunya, sudah tinggi kekuatan sukmanya, orang akan kesulitan menjajagi lakon kebatinan dan laku spiritual yang lebih tinggi, jika kemampuan penghayatan, olah Rasa dan olah sugesti belum dikuasai, karena itu adalah pondasinya.

Karena itu jika para pembaca ingin mempelajari dan menjalani suatu lakon yang bersifat kebatinan dan Laku Spiritual Hakikat Hidup, maka poin-poin di atas harus lebih dulu sudah dimengerti dan dikuasai dan harus diterapkan dalam lakon kabatinannya itu, supaya lakonnya itu lebih bisa diharapkan keberhasilannya dibanding jika poin-poin itu belum dikuasai.

Pemahaman anda atas tujuan lakonnya akan menuntun laku anda ke arah tujuan yang benar, penghayatan lakonnya menjadi tepat, tidak mengambang mengawang-awang tak tentu arah. Dan selain ketekunan anda, kualitas penghayatan dan penjiwaan anda akan sangat membedakan hasil dan prestasi yang mampu anda raih dibandingkan orang lain yang sama-sama melakukan aktivitas yang sama.

Jika kita bisa menghayati lakonnya, kita akan menemukan suatu Rasa yang bersifat khusus, yang itu hanya ada dalam lakon itu saja, tidak ada dalam aktivitas kita yang lain. Kualitas kita atas penghayatan dan penjiwaan itu akan sangat membedakan kondisi batin kita sebelumnya, selama dan sesudah kita melakukannya, akan ada pencerahan tersendiri dalam kerohanian kita dan itu akan membedakan kita dengan orang lain yang sama-sama melakukan aktivitas yang sama. Sesudahnya setiap kita menjalani lakon yang sama diharapkan agar kita selalu mampu menghayati lakon kita itu, supaya juga dapat memperbaiki kualitas pencapaian kita. Kalau sesudah kita menjalani lakonnya ternyata kita tidak mendapatkan pencerahan apa-apa, kemungkinan besar penyebabnya adalah karena kita belum tahu tujuan lakonnya atau belum bisa menghayati peran di dalam lakonnya. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang kinasihku yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. SEMOGA POSTINGAN SAYA KALI INI. Bermanfaat untuk Para Kadhang yang belum mengetahui ini dan Bisa menggugah Rasa Hidup siapapun yang membacanya . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

ANTARA: Mempelajari Allah Ta’ala dengan pasti dan benar. Serta… Mempelajari Allah Ta’ala dengan sebatas katannya:


ANTARA:
Mempelajari Allah Ta’ala dengan pasti dan benar. Dan…
Mempelajari Allah Ta’ala dengan sebatas katannya:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan.

BAGI SAYA… Wong edan Bagu.
CINTA KASIH SAYANG HYANG MAHA SUCI HIDUP (ALLAH TA’ALA)
Itu melebihi segalanya, semuanya… karena itu, saya lebih memilih, Cintanya Allah, Kasihnya Allah dan Sayangnya Allah dari apapun itu alasannya;

Sedulurrr… Alangkah dekatnya Tuhanmu kepada dirimu.
Sedangkan engkau tak mau mendekati-Nya.
Alangkah cintanya Dia kepadamu, sedangkan engkau tak mau mencintai-Nya.
Alangkah besarnya kasih sayang-Nya kepadamu, sedangkan engkau melupakan kasih-sayang-Nya.

Sesungguhnya Ia telah berkata dalam hadist qudsi:
“Aku menuruti keyakinan (sangka) hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku selalu menyertainya bila ia mengingat-Ku. Maka jika ia mengingat Daku dalam dirinya, Aku pun mengingatnya didalam diri-Ku, dan jika dia mengingat-Ku ketika dia sedang berada di tengah-tengah khalayak ramai, niscaya Kuingat dia di dalam kumpulan orang yang lebih baik daripada mereka itu. Bila ia mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta, dan bila ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka aku mendekat kepadanya sedepa, dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang kepadanya dengan berlari”. (HR : Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Dan dalam hadist qudsi yang lain :
“Wahai anak Adam! Berdirilah engkau untuk mendekati Aku niscaya Aku akan berjalan mendekatimu, dan berjalanlah untuk mendekati-Ku niscaya Aku akan berlari mendekatimu”. (HR : Ahmad).

Rasulullah Shallahu alaihi wassalam bersabda :
“Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla membuka tangan-Nya pada waktu malam, supaya bertaubat orang yang melakukan kesalahan pada siang hari, dan Ia membuka tangan-Nya pada waktu siang supaya bertaubat orang yang melakukan kesalahan pada malam hari. Begitulah hingga matahari terbit dari barat (kiamat).” (HR : Muslim).

Yang demikian itu, bagi saya, sudah lebih dari cukup sebagai bukti, bahwa betapa besarnya kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang melebihi kasih ibu kepada anak tunggal yang disayanginya.. melebihi cinta seorang pacar dunia akherat yang cantik lagi bohay
Subhanalloh… Maka. Pelajarilah Allah mu, agar engkau mengenal dan memahaminya dengan Baik. Pasti dan Benar. Tapi ingat….!!! Jangan Kaget ya Lurr… Karena.

Mempelajari Allah Ta’ala dengan pasti dan benar, itu tidak semudah dan segampang dengan cara, mempelajari Allah Ta’ala dengan sebatas katannya.

Kalau mempelajari Allah Ta’alan hanya dengan sebatas katanya, itu gampang dan sangat mudah. Tinggal lakukan saja, sholat berjama’ah di masjid atau musholah, lalau beritau teman-teman kita, bahwa barusan saja Anda berjama’ah di masjid atau musholah, rutin mengikuti majelis taklim atau pengajian-pengajian yang ada arisannya. Dan bacalah kitab suci al-quran dengan suara lantang dan kerasnya speaker, jika perlu di perlombakan diatas pentas, dengan begitu, Anda akan memiliki banyak teman dan pendukung yang sehati, seiman dan seagama serta seTuhan. Gampang dan Mudah bukan…?!

Kalau mempelajari Allah Ta’alan hanya dengan sebatas katanya, itu gampang dan sangat mudah.Tinggal lakukan saja, amal dan ibadah yang telah di beritaukan oleh bapak KH. Ustadz dan syekh, lalu syiarkan melalui pengeras suara di masjid atau musholah, kalau Anda, baru saja memberi beras kepada faqir miskin, kalau Anda baru saja memberikan sedekah kapada anak yatim, atau menulis titel kiyai dan haji, di kemeja atau jas Anda. Lalu, secara rutin berangkat jumatan, melewati rumah-umah teman-teman Anda, jika pintu rumah tetangga Anda ada yang tertutup, mondar-mandirlah berulang kali di depan rumahnya, hingga si pemilik rumah itu, melihat dan mengetahui kalau Anda akan berangkat jumatan. Dengan begitu, Anda akan mendapat banyak pujian dan sanjungan serta penghormatan dari seluruh warga sekampun dan sekecamatan serta sekabupaten. Gampang dan Mudah bukan…?!

Tapi… Mempelajari Allah Ta’ala dengan pasti dan benar. Tidak semudah dan segampang itu. Karena,,, mau tidak mau, rela tidak rela, sadar tidak sadar, di Tuntut untuk beriman/meyakini, bahkan baik buruk, salah atau benar, itu bersumber dari satu Dzat, Hyang Maha Suci Hidup, yaitu (Allah Ta’ala) Semata. Karena Allah itu Esa.

Sedangkan bagi yang mempelajari Allah Ta’ala dengan hanya sebatas katanya, mau tidak mau, rela tidak rela, sadar tidak sadar, di Paksa untuk beriman/meyakini, bahkan baik buruk, salah atau benar, itu, berasal dari dua Dzat Hyang Maha Kuasa, yaitu… Allah sebagai sumber datangnya kebaikan dan Iblis/Setan sebagai sumber datangnya keburukan.

Jadi,,, sudah pasti akan, di benci, di hujat, di hina, di tentang, bahkan di katakan kafir, oleh tetangga, teman, anak, istri/suami keluarga bahkan kedua orang tua Anda. Karena menurut mereka yang mempelajari Allah Ta’ala dengan sebatas katanya, itu sangat aneh dan tidak masuk akal, jadi,,, salah kaprah menurutnya.

Walaupun Mereka Sudah Membaca:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), “Aku itu dekat”. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186) Atau “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” [QS. Qaaf : 16]. Atau“Dan Kami lebih dekat dengannya daripada kamu” [QS. Al-Waqi’ah : 85]. Mereka tetap enggan dan tidak mau menggali dan mempelajarinya dengan pasti dan benar. Tetap lebih memilih yang tidak pasti dan katanya, tidak mau mencari sendiri, agar mendapatkan bukti kebenarannya. Justru semakin asyik menikmati pujian dan kehormatan yang semu itu, demi amannya ego dan lancarnya kepentingan.

Walau mereka tau Artinya Rukun Iman yang ke’enam, mereka tetap tidak mau mengerti. Walau mereka mengerti apa maknanya Innalillaahi wa inna illayhi roji’un, mereka tetap tidak akan mau paham. Walau mereka paham Firman yang menjelaskan. Bahwa tidak selembar daunpun yang jatuh ke bumi tanpa kehendak Allah, mereka tetap lebih suka kesulitan untuk menerima Kebenaran dan Kepastian yang baru saja di dengarnya itu, di lihatnya itu, di temuinya itu. Karena,,, mereka yang terbiasa dengan ketidak pastian dan terlanjur menyukai katanya.

Kenapa bisa begitu…?!
Inilah Hukum alamnya, yang sudah terjadi sejak awal jaman, yang telah di alami oleh semua leluhur-leluhur kita yang benar-benar telah mengenal Allah Ta’ala dengan pasti dan benar.

Kenapa bisa begitu…?!
Karena hampir semuanya, sudah terdogma oleh katanya, terbiasa dengan yang tidak benar dan tidak pasti, jadi,,, begitu, mendapat yang pasti, jadi shok, ketika mengetahui yang benar, jadi bingung. Butuh Proses untuk bisa menerimanya, perlu laku untuk dapat memahaminya.

Allah Ta’alan firman: “Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk ke dalam surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam goncangan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang bersamanya : Bilakah datang pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah amatlah dekat.” (QS. Al Baqarah : 214)

Kesabaran merupakan perkara yang amat dicintai oleh Allah dan sangat dibutuhkan seorang muslim dalam menghadapi ujian atau cobaan yang dialaminya. Sebagaimana dalam firman-Nya : “…Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Al Imran : 146)

Siapakah yang akan mendapatkan ujian terberat …
Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata;
“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab;
“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan;
“Cobaan yang semakin berat akan senantiasa menimpa seorang mukmin yang sholih untuk meninggikan derajatnya dan agar ia semakin mendapatkan ganjaran yang besar.”

Al Munawi mengatakan pula;
“Barangsiapa yang menyangka bahwa apabila seorang hamba ditimpa ujian yang berat, itu adalah suatu kehinaan; maka sungguh akalnya telah hilang dan hatinya telah buta. Betapa banyak orang sholih (ulama besar) yang mendapatkan berbagai ujian yang menyulitkan. Tidakkah kita melihat mengenai kisah disembelihnya Nabi Allah Yahya bin Zakariya, terbunuhnya tiga Khulafa’ur Rosyidin, terbunuhnya Al Husain, Ibnu Zubair dan Ibnu Jabir. Begitu juga tidakkah kita perhatikan kisah Abu Hanifah yang dipenjara sehingga mati di dalam buih, Imam Malik yang dibuat telanjang kemudian dicambuk dan tangannya ditarik sehingga lepaslah bahunya, begitu juga kisah Imam Ahmad yang disiksa hingga pingsan dan kulitnya disayat dalam keadaan hidup. … Dan masih banyak kisah lainnya.” Silahkan Anda Menyimpulkannya sendiri, keputusan penuh, ada pada diri Anda Sendiri. He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang kinasihku yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. SEMOGA POSTINGAN SAYA KALI INI. Bisa menggugah Rasa Hidupmu atau siapapun yang membacanya . Terima Kasih.
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com