Cinta Kasih Sayang adalah jalan terdekat menuju kematian: 


 

Cinta Kasih Sayang adalah jalan terdekat menuju kematian:
(Exclusive)
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Hari Rabu. Tanggal 24 Januari 2018.

Kata-kata di atas sengaja saya kutip dari pertemuan saya dengan Aku. Malam itu di saat Patrap semedi, saya ngobrol banyak persoalan perjalanan proses kreativitas laku murni menuju suci.

Cinta kasih sayang bagi pribadi Laku Murni Menuju Suci, adalah merupakan sebuah ruang yang tak bisa diselesaikan dengan rasionalitas.

Akan tetapi membutuhkan alat lain. Yaitu tidak usah “dipikirkan” karena semakin dipikirkan, cinta kasih sayang akan berbentuk tak menentu.

Kadang sejuk, dingin, kadang juga panas, kadang enak, nyaman, kadang juga tidak enak, sehingga membuat kita linglung dan tak berdaya.

Ingat…!!!
Cinta Kasih Sayang adalah tingkatan Iman/Wahyu Panca Laku paling tinggi/tertinggi. Maka hati-hatilah dengan Cinta Kasih Sayang, karena pada hakikatnya, Cinta Kasih Sayang adalah jalan terdekat dan termudah menuju kemantian.

Lalu pertanyaan yang kemudian muncul. Adalah; Apakah yang di maksud dengan kematian di sini…?!

Dan saya tidak akan membahas apa kematian tersebut, karena sudah terlalu banyak wejangan yang berupa artikel di internet dan wedaran secara langsung yang sudah saya sampaikan.

Jadi….
Lebih baik baca antologi Wahyu Panca Ghaib lalu Ibadahkan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku dalam Laku Murni Menuju Suci, saya jamin pasti menemukan makna dan maksud kematian yang ada kaitannya dengan Cinta Kasih Sayang.

Yang dapat saya lakukan saat ini, memberi pengantar, jalan, atau petunjuk untuk sampai ke pintu dan masuk di dalamnya dengan tidak “tersesat” sekalipun beragam diksi tersedia, yang terkadang membuat tertegun dan terhentak dengan diksi-diksi pilihan yang di tawarkan.

Setiap pelaku spiritual keTuhanan, memiliki dunia tersendiri, dalam mengembarakan imajinasinya.

Imajinasi merupakan sebuah makhluk yang diciptakan dan hidup di dunia para pelaku spiritual keTuhanan.

Imajinasi inilah yang kemudian membawa beragam bentuk kata-kata dan gelora pengertian dan pemahaman.

Maka dari itulah para pelaku spiritual keTuhanan, membutuhkan alat atau sarana dunia, untuk menyambut kelahiran atau kedatangan bentuk-bentuk yang di bawa imajinasi ke hadapan para pelaku spiritual keTuhanan.

Dan tidak sedikit para pelaku spiritual keTuhanan menyambutnya dengan gelora sebagai alat untuk mengendong.

Gelora ini berbentuk daun baru yang di dalamnya berisi kehijauan, sesaji, dupa, bunga, wewangian, air, laut, angin, batu, besi, bunga, kemiskinan, manusia, wanita, lelaki, matahari, bulan, langit dll.

Maka ketika berlaku spiritual, seseorang itu pasti menemukan diksi-diksi tersebut.

Artinya yang ada dalam antologi laku spiritual keTuhanan ini, sangat kompleks, dengan bahasa lain “imajinasi kompleks”.

Imajinasi kompleks ini, lahir dari pergolakan pikiran/angan-angan dan imajinasi spiritual keTuhanan, sehingga menemukan berbagai kompleksitas kemanusiaan.

Mulai dari modernitas, kapitalisme, teologi, sejarah, hedonisme, dan globalisme, inilah yang membuat para pelaku spiritual keTuhanan terhentak kaget dan teracak-acak, mana yang lebih dulu yang harus di lihat, semua merayu dengan wajah-wajah moleknya.

Pengalaman Pribadi Saya mengatakan, untuk melihat dan merespon hal itu, tidaklah cukup hanya dengan cara memberi ransangan pada pikiran, karena modernitas, kapitalisme hedonisme, dan globalisme yang membuat manusia milankoli dan cenging, sehingga melahirkan cinta kasih sayang yang cenging pula.

Sebab itu, dengan ilmu pengetahuan masa lalu saya, saya ingin memberi jalan lain untuk mengeksplorasi cinta kasih kasih sayang itu, ke dalam bentuk yang lebih kompleks, agar tidak hanya tenang-tenang saja dan damai dengan keadaan, padahal keadaan sudah mengancam dan ingin membunuh, mengapa kita masih tenang dan santai…?!

Maka penting untuk direfleksikan keadaan kita hari ini. Maka, mari kita lihat Apa yang terjadi…?!

Pertanyaan “apa yang terjadi” merupakan sebuah kecendrungan untuk terus mengembara di puncak paling menggetarkan, sehingga pecah berkeping-keping, dan kepingan-kepingan itu, kita melihatnya secara nyata, bukan imajinasi, benar-benar ada dan melihat sebagai cahaya, sebagai cinta kasih sayang dari beragam kepingan-kepingan tersebut.

Bertanya “apa yang terjadi” Adalah merupakan lahan yang paling cerdas untuk menemukan cela dari beragam kepingan-kepingan itu, termasuk bertanya tentang cinta kasih sayang dan kematian.

Dengan Bahan ini akan berlanjut untuk terus mengembara lewat angkasa dan bumi, maka kalau kita ingin berjalan dalam dunia laku spiritual keTuhanan yang sudah dikelilingi, maka kehati-hatian untuk melirik ke kanan ke kiri, penting dilakukan, karena di sana ada fenomenologi makna, yang terus bergeluyut mencekam dan menggoda sang pelaku spiritual keTuhanan.

Dari sinilah kita membutuhkan Wahyu Panca Ghaib dan Wahyu Panca Laku, agar supaya Mampu kuat menghadapi makna apapun yang tersurat dan tersirat, yang lahir dari jejak kepingan-kepingan sejarah hidup dalam kehidupan.

Dengan Wahyu Panca Ghaib yang di Ibadahkan dengan Wahyu Panca Laku, walaupun kilat petir dan badai-badai ada di depan, kita tidak akan diam apa lagi mundur, karena itu hanya gurauan semesta yang harus kita maknai dan kita baca.

Agar gurauan semesta itu beku, maka dibutuhkan Kesadaran Murni, untuk mencairkan semesta dalam bentuk karya spiritual Laku Murni Menuju Suci. Bukan bla,,,bla,,,bla,,,lainnya. Oke!!!

Dengan Wahyu Panca Ghaib yang di Ibadahkan dengan Wahyu Panca Laku, kita akan memiliki spirit spiritual yang luar biasa, untuk tetep idep madep mantep terus menerjam dan menerkam, karena di balik itu semua ada piranti Sadar. Menyadari dan Kesadaran.
Sungguh saya telah membuktikannya.

Para Kadhang dan Sedulur Kinasihku sekalian, ketahuilah, kegembiraan dan keringan itu, selalu memiliki ruang dan waktu kesedihan, yang harus disadari oleh kita, sebab kalau kita tidak sadar, bahwa setiap tatapan memiliki dua dunia.

Satu dunia akan membawa kita pada kesedihan, yang tak usai-usai, dengan ini Wahyu Panca Ghaib yang di Ibadahkan dengan Wahyu Panca Laku, menuntun kita untuk menyadari, bahwa hidup itu, harus selalu berpikir dan membaca dengan kesadaran.

Bukan dengan imajinasi, lamunan, khayalan, bayangan, andai-andai, andai kata, seandainya. Preetttt… He he he… Edan Tenan. Weleh, kepentut aku rek.

Dengan Sadar. Menyadari dan Kesadaran, kita akan memiliki kemurnian kesadaran atau kesadaran murni. Dan dengan kesadaran murni, kita akan berfungsi sebagai manusia hidup yang seutuhnya hidup memberikan kehidupan pada diri kita sendiri dan mahluk lainnya, dengan cinta kasih sayang.

Walau pun kadang cinta cinta kasih membuat kita tak berdaya dan linglung, tapi itulah cinta kasih sayang yang sesungguhnya, yang sebenarnya.

Ingat…!!!
Diatas saya sudah memberikan rambu-rambu, bahkan Cinta Kasih Sayang adalah tingkatan tertinggi dari Wahyu Panca Laku atau Iman.
Artinya; Cinta Kasih Sayang adalah cara untuk menemukan jalan yang sejati.

Kalau menurut Rumi Cinta Kasih Sayang merupakan manifestasi dari Tuhan, yang membuat manusia mampu naik mendekat pada Tuhan.

Maka Wong Edan Bagu melihat Cinta Kasih Sayang sebagai jalan untuk menuju kematian, entah dengan mati kita bertemu Tuhan atau justeru bertemu Malaikat yang hendak menyiksa…?! He he he… Edan Tenan.

Kesedihan para pelaku spiritual keTuhanan, membuka Jalan terdekat bagi cinta kasih sayangnya.

Bagaimana cara memperoleh jawaban dari cinta kasih sayang atas persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh wacana Tuhan dalam cinta kasih sayangnya…?!

Dengan ketenteraman. Maksudya; ketenteraman yang berada dalam tubuh cinta kasih sayang, bukan objek yang dapat dimengerti dalam bentuk-bentuk kepekaan ruang dan waktu.

Ketenteraman yang berada dalam tubuh cinta kasih sayang, dapat dihubungkan dengan suatu kausalitas, sehingga ketenteraman yang berada dalam tubuh cinta kasih sayang itu merupakan suatu ide Dzat Maha Suci.

Maka ini menandakan bahwa eksistensi Dzat Maha Suci merupakan tujuan yang utama, namun untuk sampai di sana, kita membutuhkan kesedihan (airmata yang sebenarnya). Bukan air mata buaya.

“Lakune Putro Kuwi, kesampar kesandung. Ning Ojo uwas sumelang. Sambat-to roso. Romo bakal tumindak ngrampungi”

Diksi airmata yang selama ini kita anggap tak bermakna, maka di tangan Wahyu Panca Ghaib dalam pelukan Wahyu Panca Laku, betapa airmata memiliki kekuatan yang sangat-sangat luar biasa.

Percayalah Para Kadhang dan Sedulur Kinasihku sekalian Bahwa;

Ketampanan dan kecantikan cuma sedalam kulit. Kesenangan dan keriangan cuma selebar bibir.
Kenikmatan dan kelezatan cuma sececap lidah. Status sosial dan kekayaan cuma sebatas ucapan. Kebahagiaan dan kedamaian cuma sehembus nafas Mata memejam.

Apa yang kau cari dari pertimbangkan. Apa yang kau kusutkan dari pikiranmu. Apa yang kau ragukan dalam hatimu.

Datanglah temui Aku.
Lalu Ceritakanlah padaku dengan jujur apa adanya.
Aku ingin tahu suara ungkapanmu.
Aku ingin mengerti kata-katamu.
Aku ingin paham apa yang membuatmu sulit.
Aku juga ingin menyaksikan kebulatan tekadmu.

Setelah kita berlama-lama bersama kebahagiaan, kita masih belum lengkap menjalani kehidupan, karena masih ada tanggungjawab sosial yang harus kita baca dan kita selesaikan.

Dewasa ini, zaman komtemporer atau apa yang disebut postmodern, sering kali mendewakan dengan cara ritual simbolitas, seperti merayakan produk-produk baru, sehingga ketika tidak menggunakan produk baru, dikatakan jadul, kuno, bahkan disebut menyimpang dan sesat.

Apa benar begitu…?!
Kalau saya harus menjawab “TIDAK” karena dibalik ritualitas itu, masih memiliki makna yang harus dimasuki iman, agar menemukan kebulatan makna atau keutuhan pemikiran.

Pembaca yang lain, tidak hanya membaca saja, lalu selesai, akan tetapi membaca merupakan sarana untuk berdialog dan terus berdialog tanpa henti hingga akhir hayat.

Aku telah berjuang Di jalan angin yang memabukkan, beribu badai juwitaku yang jelita melebihi wajahmu, kini Aku dengan rendah hati mengatakan cinta kasih sayang adalah Jalan terdekat menuju kematian.

Aku mencintaimu mengasihimu menyayangimu seperti mengecup maut. Aku dipenuhi ledakan-ledakan dan gelegar-gelegar. Aku di cambuk kilatan-kilatan dan sambaran-sambaran petir.

Namun aku terus merangkak maju Dengan kepingan-kepingan tubuhku Yang berhamburan di udara spiritual laku murni menuju suci. Semoga tercerahkan.

Duh… Hyang Dzat Maha Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan. Asal Usul Nenek Moyang Semua Mahluk. Saya telah menyampaikan Firman-Mu dengan apa adanya.

Maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu.

Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, sehingga dapat Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu.
Di.
Gubug Jenggolo Manik.
Alamat;
Oro-oro Jenggolo Manik. Gang Jenggolo. Dusun Ledok Kulon. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kab. Boyolali Jawa Tengah. 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Yuk… Kita Bercermin Pada Tokoh Punakawan:


Yuk… Kita Bercermin Pada Tokoh Punakawan:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Pesanggrahan Pesona Jagat Alit. Hari Rabu. Tanggal 17 Januari 2018.

Para Sedulur Dan Para Kadhang Kinasihku Sekalian… Ketahuilah.
Indonesia itu, sebenarnya sangat manusiawi, maksudnya; tidak neko-neko atau wajar-wajar saja alias blak kotak opo anane/apa adanya, bahkan sebelum Indonesia itu ada.

Tokoh Punakawan dalam pewayangan itu salah satu contoh buktinya. Untuk mu Sekalian yang suka menonton Pergelaran Wayang, salah satu budaya kesenian warisan dari leluhur tercinta kita.

Khususnya yang berpropesi sebagai dalang wayang, yang kemungkinannya belum mengetahui Hakikat dari Punakawan.

Mari bersama saya belajar bercermin pada Tokoh Punakawan ini.

Punakawan di pewayangan, baik itu wayang Jawa/Kulit atau wayang Sunda/golek atau wayang di Bali, tidak hanya bicara soal Epos, tapi juga tentang kearifan dari masyarakat itu sendiri.

Cerita yang ditampilkan dalam pewayangan, seaslinya adalah merupakan gubahan dan adopsi dari cerita abadi Mahabratha atau Ramayana, yang kemudian disisipkan kearifan-kearifan lokal, yang di perankan sebagai Punakawan.

Berbeda dari versi India, cerita yang disajikan lewat pewayangan, tidak hanya menggali nilai-nilai luhur dan mengemasnya dalam lakon raja-raja dan dewata, namun juga menampilkan dalam lakon yang lebih membumi seperti abdi dalem, pedagang, bahkan jongos.

Eksistensi punakawan adalah, simbol yang digunakan untuk menegaskan bahwa nilai-nilai luhur bisa dimiliki oleh siapapun.

Punakawan itu, terdiri dari dua kata saja. “Puna” yang berarti paham. “Kawan” berarti teman atau Sahabat atau sedulur/saudara.

Dalam pewayangan, Punakawan adalah abdi sekaligus pengasuh dari Raja-Raja ataupun dewa, yang dirinya sendiri sesungguhnya adalah dewa.

Dalam Kiprah Kisahnya;
1. Semar kalau istilah Jawa Sunda nya, dan Tualen dalam istilah Bali nya. Adalah; manifestasi Bathara Ismaya.

Semar nemiliki ciri yang paling menonjol, yaitu berkuncung putih, kuncung putih itu sebagai simbol, yang memiliki arti pikiran, gagasan yang jernih atau cipta hening.

Semar memiliki nama lengkap Semar Badranaya. “Badra” berarti rembulan atau keberuntungan baik. Sedangkan “Naya’ berarti prilaku bijaksana.

Semar Badranaya mengandung makna, bahwa di dalam sikap bijaksana, tersimpan keberuntungan baik.

Istilah kejatuhan rembulan. Sering dikisahkan pada tokoh semar, sebab itu, dalam kiprahnya, Semar menjadi rebutan para raja, karena dengan semar dipihaknya, mereka selalu memiliki keberuntungan yang baik.

Semar digambarkan memiliki kekuatan tersembunyi, karena di yakini sebagai titisan dewa, sering menjadi tokoh penengah dan penyelamat.

Meskipun hanya rakyat biasa dan seorang pembantu (punakawan), ia adalah pengayom sekaligus pendidik para bangsawan, khususnya keluarga besar Pandawa.

2. Petruk kalau istilah Jawa nya dan Cepot kalau istilah Sunda nya serta Merdah kalau istilah Bali nya, adalah manifestasi Bathara Wisnu.

Petruk memilik ciri khusus, yaitu kedua tangannya, jika digerakkan kedua tangannya seperti dua orang yang sedang bekerjasama dengan baik.

Tangan depan menunjuk, memillih apa yang dikehendaki, dan tangan belakang menggenggam erat-erat apa yang telah dipilih. Ini menyimbolkan atau berarti kehendak, keinginan dan karsa.

Cepot alias Petruk atau Merdah, adalah anak tertua dari Semar, tokoh ini memiliki sifat yang humoris, meskipun demikian, lewat humor humornya, dia memberikan nasehat petuah dan kritik, sehingga ia menjadi pusat lelucon setiap pertunjukkan lakon wayang.

Lakonnya biasanya dikeluarkan oleh Dalang di tengah kisah, untuk menyampaikan pesan bebas bagi pemirsa dan penonton, baik itu nasihat maupun sindiran, yang tentu saja disampaikan secara humor.

3. Bagong dalam istilah Jawa nya dan Dawala dalam istilah Sunda nya dan Delem dalam istilah Bali nya. adalah manifestasi Bhatara Brahma.

Bagong memiliki ciri, yaitu dua tangan yang kelima jarinya terbuka lebar, ini menyimbolkan atau berarti selalu bersedia untuk bekerja keras.

Bagong atau Dawala atau Delem ini, merupakan Punakawan yang digambarkan memiliki muka bersih putih, sabar, setia, dan penurut, tetapi kurang cerdas dan kurang begitu trampil.

4. Gareng kalau istilah Jawa Sunda nya, dan Sangut kalau istilah Bali nya, adalah manifestasi Bhatara Mahadewa.

Gareng memiliki ciri fisik bermata kero, bertangan cekot dan berkaki pincang.

Ketiga ciri fisik itu, memiliki arti atau meyimbolkan rasa. Mata kero berarti kewaspadaan, tangan cekot berarti ketelitian dan kaki pincang adalah kehati-hatian.

Tokoh Gareng, biasanya di keluarkan, sebagai hiburan antara tokoh wayang dengan audiens.

Karena eksistensinya adalah seorang Dewa dan sekaligus abdi, tokoh Punakawan merombak kehirarkisan struktur sosial, dengan pesan, bahwa menjadi manusia, berarti siap memimpin dan siap dipimpin, yang di sertai kearifan dan pengetahuan yang universal, itu bisa hadir dalam bentuk yang dalam masyarakat kini sering disepelekan.

Mereka adalah gambaran dari laku masing-masing diri kepribadian masyarakat setempat, sebab itu, sering kali Punakawan menjadi sangat lokal, namun sekaligus universal, karena begitu luasnya Nusantara, beda wilayah, beda pula lakon dan laku Punakawannya.

Di Bali sendiri dikenal empat punakawan: Tualen/Semar, Merdah/Petruk. Biasanya ada di sisi protagonis. Sedangkan Sangut/Bagong dan Delem/Gareng, ada di sisi antagonis.

Polarisasi ini menggambarkan pengertian Nusantara, bahwa manusia pada hakekatnya, memiliki dua sifat yang saling seimbang, Hitam dan Putih serta segala yang ada diantaranya.

Mereka “mewakili” sikap miliaran manusia yang dirangkum ke dalam empat gambaran umum.

Semar/Tualen, menggambarkan pribadi manusia yang “tidak tahu dirinya tahu”. Dia kontemplatif, murni bersandar pada batin, sederhana dan penuh kearifan.

Petruk/Merdah, menggambarkan pribadi manusia yang “tahu dirinya tahu”. Dia paham, berani dan penuh percaya diri.

Dari Petruk/Merdah kita belajar, sekalipun pemikiran kita sudah benar, kalau dipaksakan ke orang lain, cara memaksa inilah yang mengundang perdebatan dan arogansi..

Bagong/Sangut, menggambarkan pribadi yang “tahu dirinya tidak tahu”. Dia tidak paham, namun bersikap menerima ketidak pahamannya, mengakui kelebihan orang lain, penuh pertimbangan.

Sikap ini sering kali diremehkan sehingga mau tidak mau mengikuti arus.

Gareng/Delem, menggambarkan pribadi yang “tidak tahu dirinya tidak tahu”. Dia tidak tahu tapi merasa tahu, dia tidak tahu tapi tidak menerima pengetahuan orang lain, angkuh dan congkak di depan orang-orang, dan dia tidak bisa mengukur diri. Percaya diri di tengah ketakpahaman.

Dan Hakikat Punakawan ini, tak lain dan tak bukan. Adalah sedulur papat kalima pancer kita sendiri.

Sedulur papat adalah punakawan, dan Bendaranya/Ksatrianya. Adalah pancernya, yang teramat sering saya singgung di hampir setiap Artikel yang saya sebar di internet.

Kita sebagai manusia hidup di dunia ini, adalah pertarungan abadi antara keempat Punakawan tersebut.

Seiring dengan pertarungan, sering kali berubah jadi olok-olok, karena sifat-sifat tersebut, senantiasa ada pada diri kita, tapi kita sering tak sadarkan diri.

Maka dalam lakon pewayangan, biasanya keempat tokoh ini, muncul pada sela-sela pertunjukan dengan guyon.

Selain karena fungsinya sebagai pencair suasana (juga karena seringkali pesan yang dikemas dalam cerita wayang, masih mengikuti karakter sastra lama, yang puitik dan tidak gamblang, sehingga terkesan sangat serius dan berat).

Menurut saya pribadi, kenapa punakawan selalu ditampilkan dalam pribadi yang guyon, karena dari asalnya sendiri, adalah manifestasi dari Yang Dijunjung, yaitu Dewa, dan sekaligus Yang Menjunjung, yaitu abdi.

Karakter punakawan, senantiasa adalah humor. Pesan-pesan yang disampaikan lebih mudah dicerna oleh penonton, mulai dari kalangan masyarakat umum, hingga kalangan atas, karena ringan dan renyah.

Dari para punakawan ini, sadar atau tak sadar, kita sebagai pribadi manusia yang memiliki rasa dan perasaan, dapat memetik sikap: Kita memilih berperan seperti siapa?

Setidaknya, kita akan malu bercermin pada Gareng/Delem, yang selalu pongah dalam ketidaktahuannya.

Minimal kita bisa merenung, kalau tidak tahu sebaiknya kita “tahu kalau kita tidak tahu”, ini sikap Bagong/Sangut.

Idealnya kita seperti Semar/Tualen, sekalipun ia paham dan tahu, dia tidak bersikap absolut atau “tidak tahu dirinya tahu.

Di sini seseorang dituntut menjadi arif, sebab kenyataan dan kebenaran, tidak berwujud tunggal, maka, selalu ada yang mungkin lainnya.

Dalam dunia pewayangan, dari kaca mata para punakawan, dunia perasaan dan kemanusiaan diteliti dan dilihat dalam banyak perspektif rasa.

Gareng/Delem selalu jadi tertawaan, sebab Gareng/Delem, bersikap paling tahu di tengah ketidaktahuannya.

Petruk/Merdah yang “tahu dirinya tahu”, percaya diri dan berpengetahuan luas, cenderung tergoda memaksakan sikap dan pikirannya.

Dari Petruk/Merdah kita bisa belajar, bahwa sekalipun pemikiran kita yang benar, yang benar-benar lurus sekalipun, kalau dipaksakan ke orang lain, cara memaksa inilah, yang mengundang perdebatan.

Cara Petruk/Merdah yang paling tahu, membuat dia terpancing arogan.

Dari Petruk/Merdah kita diajak belajar, bahwa kebenaran harus dijalankan dengan cara-cara yang tepat.

Cara-cara yang tepat itu, ada pada Semar/Tualen, yang penuh kearifan membabarkan kebenaran, tanpa paksaan, tanpa menggurui, penuh kesantunan dan kesederhanaan serta cinta kasih sayang secara kontemplatif.

Kebenaran menjadi mentah dan tampak dangkal jika disampaikan dengan tutur keras dan perilaku bermusuhan.

Kebenaran menjadi sempurna dalam kesederhanaan tutur kata bahasa yang penuh cinta kasih sayang, kemuliaan hati, santunan, dan kesahajaan sikap dan dipat. Bukan Petruk/Merdah tapi Semar/Tualen. Semoga Bermanfaat.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Di….
Pesanggrahan Pesona Jagat Alit 2.
Alamat;
Oro-oro Jenggolo Manik. Gang Jenggolo. Dusun Ledok Kulon. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kab. Boyolali Jawa Tengah. 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

 

Misteri Oro-oro Jenggolo Manik:


Misteri Oro-oro Jenggolo Manik:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Pesanggrahan Pesona Jagat Alit 2. Hari Kamis. Tanggal 11. Januari 2018.

Selain Moksa nya Prabu Brawijaya yang meninggalkan Misteri Grojogan Sewu dan Prabu Siliwangi yang moksa dengan Keraton nya.

Ada sejarah lain yang tidak kalah misteriusnya, dan menjadi Teka Teki ghaib hingga sekarang ini,
yaitu Keraton Jenggala Manik.

Keraton Jenggala Manik, meski tak berumur lama, namun bagaimanapun, sejarah pernah mencatat keberadaan Kerajaan Jenggala Manik ini, yang konon pernah berdiri di wilayah yang sekarang menjadi Kabupaten Sidoarjo Jatim.

Misteri yang belum terungkap hingga saat ini. Adalah; dimanakah tepatnya lokasi pusat Keraton Jenggala Manik ini berada.

Memastikan hal riyil yang kasat mata saja, tidak gampang, apa lagi sejarah yang berbau mistik ghaib, Tentu tidak mudah memastikannya.

Pasalnya, hingga saat ini belum ditemukan, situs purbakala yang secara jelas menunjukkan bekas Keraton Jenggala Manik, di tambah lagi tidak adanya kitab-kitab peninggalan dari Kerajaan Jenggala Manik.

Menurut buku sejarah di musium Sidoarjo yang menghimpun Panitia Penggalian Sejarah Sidoarjo, (PAPENSE) di tahun 1970 an yang lalu, disebutkan, letak Keraton Jenggala Manik, berada di sekitar sungai Pepe, hal ini didasarkan pada penemuan beberapa arca di lokasi tersebut, yang pada saat ini lokasi yang diyakini sebagai Keraton Jenggala Manik itu, berada di wilayah Kecamatan Gedangan.

Ada lagi yang menyatakan, bahwa Keraton Jenggala Manik, berada di sekitar alun-alun, tepatnya, berada di lokasi yang kini menjadi rumah dinas Bupati Sidoarjo.

Pendapat ini berdasarkan bukti tentang adanya patung katak raksasa dan arca Sang Hyang Ismaya, yang masih berada disana hingga tahun 1975.

Sementara itu, berdasarkan analisa sejarah yang didapat dari berbagai sumber, menyebutkan pusat militer Janggala Manik, diperkirakan berada di daerah Larangan, Kecamatan Candi, peristiwa yang mendukung perkiraan itu, adalah penemuan beberapa benda purbakala, pada saat penggalian pondasi, untuk Pasar Larangan, yang terjadi di tahun 1980-an.

Benda-benda purbakala itu, berbentuk binggal (gelang lengan), pedang, perhiasan dan rompi perang, dari penemuan benda-benda keprajuritan itu, beberapa orang sejarahwan menyimpulkan, bahwa daerah Larangan, dulunya adalah merupakan komplek militer Jenggala Manik.

Beberapa pusat aktifitas Jenggala Manik lainnya, di temukan pula di kawasan kecamatan Taman, sebagai tempat rekreasi bagi para putra-putri kerajaan, diperkirakan di daerah Tropodo.

Sementara itu, Perpustakaan Kerajaan Jenggala Manik (dalam sebuah riwayat disebut sebagai Gedung Simpen) berada di Desa Ental sewu, Kecamatan Buduran.

Sebuah sumber menyatakan, lokasi perpustakaan ini berdasarkan lingua franca, kata Ental dengan TAL.

Tal adalah sejenis pohon yang daunnya digunakan menjadi alat tulis-menulis, adapun daun pohon Tal secara jamak disebut RONTAL (Ron; daun, Tal; pohon Tal). Sedangkan kata sewu (seribu) dibelakangnya lebih menunjukkan jumlah yang banyak.

Menurut sumber itu TAL SEWU berarti menunjukkan jumlah naskah-naskah yang banyak di seuatu tempat.

Masih berdasarkan lingua franca, pusat religi dan spiritual Jenggala Manik, diperkirakan berada di kawasan Buduran.

Sebuah sumber mengkaitkan ini, dengan kata Budur, yang dalam bahasa Sansekerta, berarti Biara, bila kata Budur ber-lingua franca dengan biara, maka Buduran, berarti sebuah komplek berkumpulnya satu atau lebih biara.

Dengan kata lain, Kecamatan Buduran dimasa Jenggala manik, adalah pemukiman bagi pemuka-pemuka agama.

Bahkan ada Juru tafsir sejarah, yang meramalkan, Keraton Jenggala Manik ada di “Dadapan” kecamatan Pagak Kabupaten Malang Jatim, Bukti-bukti peninggalan yang terdapat di Dadapan pun, cukup kuat dan mendukung, untuk meramalkan Keraton Jenggala Manik ada di tempat tersebut.

Dan masih banyak lagi penelusuran-penelusuran yang di dukung dengan bukti-bukti kuat, namun hingga kini masih tetap menjadi misteri yang belum terungkap kepastiannya.

Lalu dimanakah lokasi pusat keraton Jenggala Manik yang Sesungguhnya…?! Simak dulu kisahnya, supaya tidak penasaran. He he he . . . Edan Tenan.

“Sekilas Al-kisah Keraton Jenggala Manik yang Misterius”

Ke-1)…
Kisah Putri Mahkota Kahuripan;
Tersebutlah sebuah kerajaan bernama Kahuripan, dengan Seorang Rajanya yang Arif Bijaksana Bernama Airlangga atau Resi Gentayu.

Resi Gentayu atau Airlangga, memiliki Tiga Orang Anak;
Yang pertama seorang wanita bernama Putri Sanggramawijaya Tunggadewi yang cantik jelita
atau Dewi Kilisuci.

Yang kedua seorang lelaki bernama Lembu Amiluhur, yang sebagai Putra Mahkota bergelar Raden Inu Kertapati, berwajah rupawan dan sangat ramah kepada siapa saja, tanpa memandang status dan jabatannya. Dan yang ketiga seorang lelaki lagi bernama Lembu Perteng.

Putri Mahkota yang bernama Sanggramawijaya Tunggadewi, pewaris takhta Kahuripan, yang pada akhirnya memilih mengundurkan diri, menjadi seorang pertapa, dan bergelar Dewi Kili Suci ini, menjadikan rebutan para pangeran dan raja-raja, yang silih berganti datang untuk melamarnya.

Namun yang melamar bukan dari bangsa manusia sana, pada suatu ketika, Sanggramawijaya Tunggadewi, dilamar dua orang raja sakti berkepala lembu dan kerbau.

Karena yang satu berkepala lembu bernama Raja Lembu Suro dan satunya lagi berkepala kerbau bernama Mahesa Suro.

Untuk menolak lamaran tersebut,
Sanggramawijaya Tunggadewi, membuat sayembara yang tidak mungkin dikerjakan oleh manusia biasa, yaitu membuat dua sumur di atas puncak gunung Kelud, yang satu harus berbau amis dan yang satunya harus berbau wangi dan harus selesai dalam satu malam atau sampai ayam berkokok.

Akhirnya dengan kesaktian Mahesa Suro dan Lembu Suro, sayembara tersebut disanggupi.

Setelah berkerja semalaman, kedua-duanya menang dalam sayembara.

Tetapi Sang putri masih belum mau diperistri. Kemudian Sang putri mengajukan satu permintaan lagi.

Yakni kedua raja tersebut, harus membuktikan dahulu, bahwa kedua sumur tersebut benar-benar berbau wangi dan amis, dengan cara mereka berdua harus masuk ke dalam sumur.

Terpedaya oleh rayuan tersebut, keduanyapun masuk ke dalam sumur yang sangat dalam tersebut.

Begitu mereka sudah berada di dalam sumur, lalu Sanggramawijaya Tunggadewi memerintahkan prajurit Jenggala Manik, untuk menimbun keduanya di dalam sumur dengan batu, maka matilah Mahesa Suro dan Lembu Suro di dalam sumur.

Tetapi sebelum mati, Lembu Suro sempat bersumpah dengan mengatakan. “O-yoh, wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yoiku. Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung”

Artinya;
(Ya, orang Kediri kelak akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi danau).

Ke-2)…
Kisah Putra Mahkota Kahuripan;
Sang Putra mahkota bernama Lembu Amiluhur, yang bergelar Raden Inu Kertapati, bertunangan dengan Dewi Candra Kirana, putri Kerajaan Kediri. Dan…

Pada suatu ketika, Raden Inu Kertapati berangkat ke Kerajaan Kediri untuk menemui tunangannya bersama rombongan lengkap dengan perbekalan dan pengawal yang siap siaga.

Namun di tengah perjalanan, rombongan Raden Inu diberhentikan oleh gerombolan dari Negeri Asmarantaka, yang dipimpin oleh Panji Semirang.

Melihat ada orang yang
menyuruhnya berhenti, Raden Inu bersiap-siap seandainya harus bertempur.

Akan tetapi, gerombolan tersebut tidak menyerang mereka, mereka hanya meminta Raden Inu untuk bertemu dengan pemimpinnya, yaitu Panji Semirang.

Tanpa rasa takut, Raden Inu menemui Panji Semirang, yang menyambutnya dengan ramah, sehingga Raden Inu bertanya;

Rupanya engkau tidak seperti yang selama ini diceritakan orang-orang, wahai Panji Semirang…?!

Panji Semirangpun mengatakan bahwa selama ini dia hanya mengundang rombongan untuk bertemu dengannya, siapa yang tidak berkenan, maka tidak dipaksa.

Akhirnya Raden Inu melanjutkan perjalanannya, setelah menceritakan bahwa dia sedang menuju Negeri Kediri, untuk menemui calon istrinya, Dewi Candra Kirana.

Radin Inu baru pertama kali bertemu dengan Panji Semirang, namun selama pertemuan tersebut, dia merasa seperti sudah mengenalnya sebelumnya, sehingga langsung merasa akrab, hanya saja, Raden Inu tidak dapat mengingat kapan dan di mana dia mengenal Panji Semirang.

Setelah merasa cukup berbincang-bincang dengan Panji Semirang, Raden Inu pun melanjutkan perjalanannya menuju Kediri.

Tiba di Kediri, rombongan Raden Inu disambut dengan meriah, bahkan selir Raja Kediri yang bernama Dewi Liku, yang memiliki putri bernama Dewi Ajeng, ikut menyambut kehadiran Raden Inu Kertapati.

Hanya saja Raden Inu tidak melihat kehadiran Dewi Candra Kirana, ketika Raden Inu menanyakan keberadaan Dewi Candra Kirana, Dewi Ajeng mengatakan bahwa Dewi Candra Kirana menderita sakit ingatan dan sudah pergi lama dari kerajaan.

Mendengar keterangan kepergian Dewi Candra Kirana, Raden Inu kaget sekali, sehingga jatuh pingsan, iapun segera dibawa masuk ke dalam istana.

Memanfaatkan kesempatan ini, dan dengan tipu muslihatnya, akhirnya Dewi Liku berhasil memperdaya Raja Kediri, sehingga menikahkan Raden Inu Kertapati dengan Dewi Ajeng.

Menjelang acara pernikahan ini, segala macam persiapan diperintahkan oleh Raja Kediri, termasuk pesta yang sangat meriah.

Rupanya rencana jahat Dewi Liku tidak berhasil. Tiba-tiba terjadi kebakaran hebat yang menghancurkan seluruh persiapan pernikahan tersebut.

Melihat kejadian tersebut, Raden Inu dan rombonganpun meninggalkan istana, dan setelah berada jauh dari istana, diapun tersadar dan teringat kembali dengan Dewi Candra Kirana, yang sangat mirip sekali dengan Panji Semirang, dia berpikir bahwa bisa jadi Panji Semirang adalah Dewi Candra Kirana.

Kemudian dia dan seluruh rombongannya menuju Negeri Asmarantaka, tempat Panji Semirang berada.

Rupanya Panji Semirang sudah meninggalkan negeri tersebut, namun tanpa putus asa, Raden Inu mencari keberadaan Panji Semirang, hingga akhirnya tibalah mereka di Negeri Gegelang, yang rajanya masih kerabat dari Raja Kahuripan.

Di Negeri Gegelang ini, Raden Inu disambut dengan gembira, dan rupanya, Negeri Gegelang sedang menghadapi kesulitan, yaitu sedang diganggu oleh gerombolan perampok yang dipimpin oleh Lasan dan Setegal.

Akhirnya, Raden Inu Kertapati bersama-sama dengan pasukan dari Negeri Gegelang, menghadapi para perampok. Raden Inu mengerahkan segenap kemampuannya menghadapi perampok tersebut, dan berhasil mengalahkannya, hingga pimpinan perampok tersebut mati.

Pesta tujuh hari tujuh alam diadakan untuk menyambut kemenangan Raden Inu Kertapati dan pasukannya, pada malam terakhir pesta tersebut, Raja memanggil seorang ahli pantun, seorang pemuda bertubuh gemulai.

Pantun yang dibawakannya berisi cerita perjalanan hidup Dewi Candra Kirana dan Raden Inu Kertapati, hal yang membuat Raden Inu menjadi sangat penasaran sehingga akhirnya menyelediki siapa sebenarnya ahli pantun tersebut.

Selidik punya selidik, rupa-rupanya ahli pantun tersebut, adalah Panji Semirang alias Dewi Candra Kirana.

Dewi Candra Kirana bercerita bahwa memang Dewi Liku yang membuatnya hilang ingatan hingga akhirnya keluar dari istana Daha.

Dia disembuhkan oleh seorang pertapa yang memiliki kemampuan mengobati berbagai penyakit.

Setelah semua misteri terungkap jelas, akhirnya Raden Inu Kertapati kembali ke Negeri Kahuripan, untuk melangsungkan pernikahannya dengan meriah, dan menjadi sepasang suami istri yang hidup berbahagia. Hingga memiliki dua orang putra.

Nah…
Berawal dari sinilah, Kerajaan Kahuripan kemudian dibelah menjadi dua kerajaan. Yaitu; Janggala dan Kadiri, yang masing-masing dipimpin oleh kedua adik Sanggramawijaya Tunggadewi.

Yaitu Lembu Amiluhur atau
Raden Inu Kertapati sebagai Raja di Jenggala bergelar
Maha Panji Garasakan dan Lembu Peteng sebagai Raja di Kadiri bergelar Sri Samarawijaya.

Setelah Raja Airlangga membagi Kerajaan Kahuripan di bagi menjadi dua, untuk menghindari perang saudara. Yaitu Kadiri dan Jenggala.

Sebelum mangkat. Prabu Airlangga berpesan kepada kedua putranya, bahwa kedua kerajaan itu, harus disatukan kembali, karena jika tidak, akan menjadi musnah.

Maka kedua raja pun bersepakat menyatukan kembali kedua kerajaan, dengan cara menikahkan putera mahkota Jenggala, Raden Panji Asmarabangun dengan puteri Kadiri, Dewi Sekartaji.

Ibu tiri Sekartaji, selir raja Kadiri, tidak menghendaki Sekartaji menikah dengan Raden Panji, karena ia menginginkan puteri kandungnya sendiri, yang nantinya menjadi ratu Jenggala.

Maka ia menyekap dan menyembunyikan Sekartaji dan ibunya. Pada saat Raden Panji datang ke Kediri untuk menikah dengan Sekartaji, puteri itu sudah menghilang.

Raden Panji sangat kecewa. Ibu tiri Sekartaji membujuknya untuk tetap melangsungkan pernikahan dengan puterinya sebagai pengganti Sekartaji, namun Raden Panji menolak.

Raden Panji kemudian berkelana. Ia mengganti namanya menjadi Ande-Ande Lumut.

Pada suatu hari ia tiba di desa Dadapan. Ia bertemu dengan seorang janda yang biasa dipanggil Mbok Rondo Dadapan.

Mbok Rondo mengangkatnya sebagai anak dan sejak itu ia tinggal di rumah Mbok Rondo.

Ande-Ande Lumut kemudian minta ibu angkatnya untuk mengumumkan bahwa ia mencari calon isteri.

Maka berdatanganlah gadis-gadis dari desa-desa di sekitar Dadapan, untuk melamar Ande-Ande Lumut.

Namun tidak seorangpun yang ia terima sebagai isterinya.

Sementara itu, Sekartaji berhasil membebaskan diri dari sekapan ibu tirinya. Ia berniat untuk menemukan Raden Panji.

Ia berkelana hingga tiba di rumah seorang janda yang mempunyai tiga anak gadis, Klething Abang, Klething Ijo dan si bungsu Klething Biru. Ibu janda menerimanya sebagai anak dan diberi nama Klething Kuning.

Klething Kuning disuruh menyelesaikan pekerjaan sehari-hari dari membersihkan rumah, mencuci pakaian dan peralatan dapur.

Pada suatu hari, karena kelelahan Klething Kuning menangis. Tiba-tiba datang seekor bangau besar.

Klething Kuning hampir lari ketakutan. Namun bangau itu berkata, “Jangan takut, aku datang untuk membantumu”.

Bangau itu kemudian mengibaskan sayapnya dan pakaian yang harus dicuci Klething Kuning berubah menjadi bersih.

Peralatan dapur juga dibersihkannya. Setelah itu bangau terbang kembali.

Bangau itu kembali setiap hari untuk membantu Klething Kuning.

Pada suatu hari, bangau menceritakan tentang Ande-Ande Lumut kepada Klething Kuning dan menyuruhnya pergi melamar.

Klething Kuning minta ijin kepada ibu angkatnya untuk pergi ke Dadapan.

Ibunya mengijinkan ia pergi bila pekerjaannya sudah selesai.

Ia pun sengaja menyuruh Klething Kuning mencuci sebanyak mungkin pakaian, agar ia tidak dapat pergi.

Sementara itu, ibu janda mengajak ketiga anak gadisnya ke Dadapan, untuk melamar Ande-Ande Lumut.

Di perjalanan, mereka tiba di sebuah sungai yang sangat lebar.

Tidak ada jembatan atau perahu yang melintas. Mereka kebingungan.

Lalu mereka melihat seekor kepiting raksasa menghampiri mereka.
Namaku Yuyu Kangkang. Kalian mau kuseberangkan…?

Tentu saja kami mau.

Tapi kalian harus memberiku imbalan, jawab Yuyu kangkang.

Kau mau uang…? tanya ibu janda. Berapa…?

Aku tak mau uangmu. Anak gadismu cantik-cantik. Aku mau mereka menciumku.

Mereka terperanjat mendengar jawaban Yuyu Kangkang. Namun mereka tidak mempunyai pilihan lain. Akhirnya mereka setuju.

Kepiting raksasa itu menyeberangkan mereka satu persatu dan mereka pun memberikan ciuman sebagai imbalan.

Sesampainya di rumah mbok Rondo, mereka minta bertemu dengan Ande-Ande Lumut.

Mbok Rondo mengetuk kamar Ande-Ande Lumut, katanya; Puteraku, lihatlah, gadis-gadis cantik ini ingin melamarmu.
Pilihlah satu sebagai isterimu.

Ibu… Sahut Ande-Ande Lumut. Katakan kepada mereka, aku tidak mau mengambil kekasih Yuyu Kangkang sebagai isteriku.

Ibu Janda dan ketiga anak gadisnya terkejut mendengar jawaban Ande-Ande Lumut.

Bagaimana pemuda itu tahu bahwa mereka tadi bertemu dengan kepiting raksasa itu…?!

Dengan kecewa mereka pun pulang.

Di rumah, Klething Kuning sudah menyelesaikan semua tugasnya berkat bantuan bangau ajaib, dan sebelum bangau itu pergi, Klenthing Kuning di beri sebatang lidi.

Ketika ibu angkatnya kembali, Klething Kuning sekali lagi meminta ijin, untuk pergi menemui Ande-Ande Lumut.

Ibu angkatnya terpaksa mengijinkan, namun ia sengaja mengoleskan kotoran ayam ke punggung Klething Kuning.

Klething Kuning pun berangkat. Tibalah ia di sungai besar. Kepiting raksasa itu mendatanginya untuk menawarkan jasa membawanya ke seberang sungai.

Gadis cantik, kau mau ke seberang…? Mari kuantarkan,,, kata Yuyu Kangkang.

Tidak usah, terima kasih, kata Klething Kuning sambil berjalan menjauh.

Ayolah, kau tak perlu membayar… Yuyu Kangkang mengejarnya.
Cukup sebuah ciuman saja kok.

Klething Kuning mencambuk Yuyu Kangkang dengan lidi pemberian bangau.

Kepiting raksasa itu pun lari ketakutan. Klething Kuning kemudian mendekati tepi air sungai dan menyabetkan lidinya sekali lagi, dan air sungai terbelah, dan ia pun bisa berjalan di dasar sungai sampai ke seberang.

Klething Kuning akhirnya tiba di rumah Mbok Rondo.

Mbok Rondo menerimanya sambil mengernyitkan hidung, karena baju Klething Kuning bau kotoran ayam.

Ia pun menyilakan gadis itu masuk, lalu ia pergi ke kamar Ande-Ande Lumut.

Ande anakku, ada seorang gadis cantik, tetapi kau tak perlu menemuinya. Bajunya bau sekali, seperti bau kotoran ayam, biyar kusuruh ia pulang saja.

Aku akan menemuinya, Ibu,,, kata Ande-Ande Lumut.

Tetapi… ia…,” sahut Mbok Randa.

Ia satu-satunya gadis yang menyeberang tanpa bantuan Yuyu Kangkang, ibu, dialah gadis yang aku tunggu-tunggu selama ini.

Mbok Rondo pun terdiam. Ia mengikuti Ande-Ande Lumut menemui gadis itu. Klething Kuning terkejut sekali melihat Ande-Ande Lumut, adalah tunangannya, yaitu Raden Panji Asmarabangun.

Sekartaji, akhirnya kita bertemu lagi, kata Raden Panji.

Raden Panji kemudian membawa Dewi Sekartaji dan Mbok Rondo Dadapan ke Jenggala.

Raden Panji dan Dewi Sekartaji pun menikah. Kerajaan Kadiri dan Jenggala pun dipersatukan kembali. Menjadi Jenggala Manik.
Namun sampai disini, sejarah ini terputus, seakan sirna di telan bumi begitu saja.

Lalu dimanakah lokasi pusat keraton Jenggala Manik ini…?! Kalau Kahuripan dan Jenggala serta Kadiri, sudah jelas pada kisah diatas kan…!!! La kalau Jenggala Manik…?! Apa di malang Jatim Kah…?! Atau Sidoarjo Jatim kah…?! Seperti yang sedang sibuk di lacak para ahli sejarah itu…?!

Keraton Jenggala Manik moksa di Tempat. Di mana saya akan mendirikan Pesanggrahan Pesona Jagat Alit 2 Sekarang ini. Oro-oro Jenggolo Manik. Gang Jenggolo. Dusun Ledok Kulon. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kab. Boyolali Jawa Tengah. 57391.
He he he . . . Edan Tenan.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Di….
Pesanggrahan Pesona Jagat Alit 2.
Alamat;
Oro-oro Jenggolo Manik. Dusun Ledok Kulon. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kab. Boyolali Jawa Tengah. 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

 

Artikel Khusus Dari WEB Untuk Bangsa NKRI TerCintaKU:


Artikel Khusus Dari WEB Untuk Bangsa NKRI TerCinta:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Pesanggrahan Pesona Jagat Alit. Hari Jumat Kliwon. Tanggal 5 Januari 2018.

“Jangan Berbicara Agama kalau tidak mengerti Apa dan Bagaimana itu Agama. Jangan Berbicara Ilmu kalau tidak paham Apa dan Bagaimana itu Ilmu. Jangan Berbicara Adat Tradisi kalau tidak mengetahui Apa dan Bagaimana itu Adat Tradisi. Supaya tidak kelihatan banget-banget Gengsinya” Dari-WEB.

Para Sedulur dan Kadhang Kinasihku Sekalian, sebangsa dan setanah air, se asal usul dan setujuan akhir.

Sepertinya…
Keselamatan bangsa NKRI tercinta kita ini, sedang dalam keadaan terancam keamanan dan kenyamanannya bahkan keselamatan kesejahteraannya yang sepanjang sejarah meng Gemah Ripah Loh Jinawi-Rapah Repeh Rapih.

Seperti yang sama-sama kita saksikan dan rasakan dewasa ini, belakangan ini, entah itu di media cetak atau televisi, dan media sosial khususnya facebook, dipenuhi berbagai berita perdebatan, dan pembahasan tentang kelompok-kelompok masyarakat yang bersuara lantang, tentang berbagai hal.

Bahkan ibu kota kita Yang Terhormat Jakarta. Hampir tiap minggunya, jalanan dipenuhi oleh tuntutan-tuntutan yang memecahkan gendang telinga dalam unjuk rasa, yang tidak jarang menganggu ketertiban umum.

Udara di dunia maya maupun dunia nyata, menjadi pengap oleh ungkapan-ungkapan yang penuh polusi dan virus.

Memang… dalam HAM, tidak ada larangan bagi anggota masyarakat mana pun, untuk berbicara menyampaikan aspirasinya.

Namun, yang saya rasakan, suara-suara itu,,, semakin lama, kok semakin tak terkendali, dan sudah sampai pada tahap membahayakan kerukunan dan persatuan bangsa NKRI yang kita cintai ini.

Apa lagi kalau kita pautkan ke hal-hal yang peka, seperti kebinekaan, yang merupakan dasar dan ideologi negara yang kita cintai ini, serta kemajemukan yang menjadi landasan bagi keutuhan bangsa kita ini.

Pikiran dan waktu serta tenaga Para pemimpin kita semuanya, menjadi tercurahkan pada yang meresahkan ini kan, sementara itu, banyak urusan yang lebih penting, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat, yang memerlukan perhatian khusus dari Para Pemimpin kita, menjadi terabaikan.

Sementara kita yang sebagai rakyatnya, mengharap bahkan menuntut tanggung jawab dari Para Pemimpin, namun kitanya nyaris tidak pernah memberikan kesempatan pada para pemimpin kita, untuk bekerja secara tenang dan nyaman menunjuk kan kemampuannya, kalau di pikir sadar, sepertinya tidak lucu deh…

Saya yakin…
Terlalu besar biaya yang harus ditanggung rakyat, ketika aparat negara kita, habis waktunya untuk terus menerus berupaya mencegah kekacauan yang bisa ditimbulkan oleh perseteruan yang tidak perlu dan tidak penting ini.

Mari kita coba untuk merenungkan hal ini sejenak, sejenak saja, tak perlu lama…

Yang lebih membahayakan lagi, ketika yang disebut sebagai gerakan-gerakan masyarakat ini, kemudian menjurus kepada ekstremisme dalam bentuk hujatan kebencian, eksklusivisme, dan rasisme.

Tempat-tempat ibadah, yang seharusnya digunakan untuk mendekatkan diri kepada Dzat Maha Suci Tuhan, di salah gunakan untuk menyampaikan agitasi politik.

Tapi Wong Edan Bagu yang nyata-nyata secara terbuka, tenpa tedeng Aling-aling, mensyiarkan Hakikat Cinta Kasih Sayang Antar Sesama Hidup dan Maha Suci Hidup, tanpa politik, tanpa modus, tanpa kepentingan kubu partai apapun, yang di sadari atau tidak di sadari, adalah bentuk usaha untuk mempersatukan bangsa dan umat yang dewasa ini sudah tercerai berai dari NKRI, malah di curigai, diebat, di tentang, di halangi, bahkan dianggap menyimpang dan sesat.

Letak menyimpang dan sesatnya di mana…?!

Apa Cinta Kasih Sayang itu sudah lenyap dari seluruh kedirian umat manusia. Khususnya yang mengaku berAgama dan berIman…?! Sehingga cinta kasih sayang dianggap menyimpang dan sesat…!!!

Tidak lucunya…
Jangankan masyarakat awam, yang terdidik dan berpendidikan tinggi dan luas saja, ikut termakan oleh isu-isu berbau fitnah, yang disebarkan oleh kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab ini.

Sudah terlalu banyak contoh-contoh hancurnya sebuah negara, dengan akibat penderitaan jutaan rakyatnya, yang disebabkan oleh perselisihan antar warga negeri sendiri, yang tak terkendali.

Contoh Di Negeri kita sendiri. Adalah Perang Paregreg. Perang antara Majapahit istana barat, yang dipimpin Wikramawardhana. Melawan istana timur, yang dipimpin Bhre Wirabhumi, di sekitar tahun 1404-1406, dan Perang Paregreg inilah, yang menjadi penyebab utama kehancuran Majapahit berserta seluruh rakyatnya yang jadi korban.

Yang kedua Perang Bubat. Perang Bubat adalah perang yang terjadi pada tahun 1279 Saka atau 1357 M pada abad ke-14. Yaitu di masa pemerintahan raja Majapahit Hayam Wuruk.

Perang ini terjadi akibat perselisihan antara Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit dengan Prabu Maharaja Linggabuana dari Kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat, yang mengakibatkan tewasnya seluruh rombongan Sunda. Dan hingga kini masih meninggalkan kenangan pilu yang sangat pedih.

Contoh di luar Negeri;
Seperti yang terjadi di Afghanistan, Irak, Libya, dan Suriah. Ekstremisme yang ditandai dengan kekerasan verbal, kemudian berkembang menjadi kekerasan fisik.

Ketika kepentingan bangsa dan negara yang lebih besar terganggu dan terancam oleh ulah kelompok yang ingin merusak tatanan kehidupan yang berkeadaban, maka saatnya kita bangun untuk menertibkan yang tidak tertib.

Kita sebagai bangsa NKRI, sudah sepakat untuk menerapkan kehidupan berdemokrasi yang sehat bukan…?!

Demokrasi memang memberikan hak lebih kepada suara terbanyak, tetapi tidak berarti menghilangkan hak asasi kelompok kecil dan hak hidup orang kecil.

Setau saya, tidak ada hak khusus mayoritas dan minoritas di negeri kita ini, semua punya hak dan kewajiban yang sama di negara berhaluan ber Pancasila ini, semua penganut agama, baik kejawen atau Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, Konghucu, dan tradisi adat.

Dijamin oleh konstitusi bebas melaksanakan ibadah sesuai keyakinannya, dan penganutnya mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara.

Semua warga baik itu dari suku Jawa, Sunda, Madura, Batak, Aceh, Dayak, Lombok, Bugis, Papua, Tionghoa, Arab, India, dan lainnya “semuanya” semuanya mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai warga NKRI.

Hak untuk hidup layak, hak berpolitik, hak ekonomi, hak budaya, hak berbicara, hak untuk dapat perlindungan negara, hak untuk memilih, dan hak untuk dipilih dll.

Berpolitik boleh-boleh saja, mempunyai ambisi politik tidak dilarang, tetapi semua itu harus dilaksanakan dalam koridor konstitusi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta wajib dilakukan sesuai norma-norma kehidupan bermasyarakat yang sehat, yang menuntut kita untuk tetap santun, beretika, bermoral, dan berakhlak baik.

Bukan kah begitu Para Sedulur dan Kadhang Kinasihku…?!

Apa yang diklaim sebagai suara mayoritas juga harus dibuktikan dalam sistem demokrasi representatif, bukan dengan berbagai tekanan dan intimidasi di jalanan.

Hukum tanpa demokrasi berarti penindasan otoriter, sedangkan demokrasi tanpa hukum, berujung kepada anarkisme.

Toleransi dan penghormatan atas perbedaan keyakinan dan pendirian warga negara, harus terus dipelihara, bila kita ingin mempertahankan kerukunan hidup bersama secara aman, nyaman, damai, sejahtera, bahagia dan tenteram.

Dan menurut saya pribadi. Batas toleransi adalah intoleransi atau ketiadaan toleransi itu sendiri, pada saat mana kita harus bersikap untuk menghentikannya.

Para Sedulur dan Kadhang Kinasihku Sekalian setanah air NKRI. Untuk mewujudkan Kemerdekaan yang Sempurna, yang kita idam-idamkan selama ini, dimulai dari masing-masing diri kita sendiri.

Mari kita bersama-sama. Bersatu Menggunakan hati yang bersih dan nalar yang jernih serta niyat yang murni dalam menggapai cita-cita bersama kita. Untuk tetap tidak lepas dari kesadaran Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tidak tercerai berai dan sibuk mengobarkan kebencian, dendam dan fitnah, serta adu domba antar sesama, yang berujung pada berdebatan dan berakhir dengan perselisihan.

Mari kita jaga bersama negeri tercinta NKRI ini, agar selamat mencapai tujuan adil dan makmur seperti yang dicita-citaka oleh para pendiri bangsa ini Leluhur kita, dan mari kita jaga bersama dengan Iman, bangsa NKRI ini, agar tetap utuh bersatu dalam kebinekaan dari Sabang sampai Merauke, kita junjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa yang telah dengan arif dan bijak dititipkan kepada kita dalam sila-sila yang tercantum pada Pancasila Lambang Negara Kita.

Duh… Gusti Dzat Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan. Asal Usul Nenek Moyang Semua Mahluk. Sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup…_/\_…. Aaamiin. Terima Kasih. Terima Kasih Dan Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Pesanggrahan Pesona Jagat Alit.
Alamat; Desa. Karangreja. RT/Rw. 02/03. Kec. Tanjung. Kab. Brebes. Jawa Tengah Indonesia. 52254.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Kronologi Di Balik Misteri Merinding Dan Manangis:


Kronologi Di Balik Misteri Merinding Dan Manangis:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Pesanggrahan Pesona Jagat Alit. Hari Kamis. Tanggal 4 Januari 2018.

Sepertinya…
Semua orang pernah mengalami merinding dan menangis. Namun saya tidak akan mengungkap merinding yang karena takut dan menangis karena masalah, karena hal tersebut, sudah jelas sebab akibatnya.

Saya hanya akan mengungkap, merinding dan menangis yang tiba-tiba muncul tanpa sebab, yang sering dialami oleh seorang pelaku spiritual khususnya.

Karena dewasa ini, ada banyak para pelaku spiritual, yang mengalami merinding dan menangis tanpa sebab, juga berakibat sama seperti yang dialami oleh orang awam pada umumnya, yaitu bingung dan bertanya-tanya.

Khususnya bagi yang sedang laku murni menuju suci, karena di setiap saatnya, selalu menggali dan menggali rasa yang meliputi seluruh tubuhnya, di setiap gerak tubuh dan gerik hatinya di dalam kesehariannya, sudah pasti, merinding dan menangis tanpa sebab ini, akan teramat sering muncul secara tiba-tiba ini.

Dan inilah kronologi merinding dan menangis, yang datang tiba-tiba dan tanpa sebab saat laku murni menuju suci, yang berhasil saya temukan saat Praktek Langsung di TKP, untuk panjenengan semuanya.

Semoga bermanfaat, sebagai wawasan dan pengetahuan tambahan.

1). Tentang Merinding;
Para Kadhang Kinasihku Sekalian..
Saat seseorang mengalami merinding, tidak hanya rambut dan bulu yang berdiri, tapi juga disertai dengan munculnya gundukan-gundukan di tempat rambut/bulu tersebut tumbuh.

Tidak hanya itu, ada kalanya, merinding juga mempengaruhi banyak reaksi tubuh lainnya, seperti gemetar, dingin dll.

Tubuh yang merinding, bisa terjadi secara mendadak dan menghilang beberapa saat kemudian, dan tidak ada orang yang mampu mencegah merinding.

Terdapat dua sikon yang bisa menyebabkan rambut dan bulu berdiri (merinding), yaitu Rangsangan positif atau negatif, yang berada dekat di luar diri.

Dan sejauh ini, belum ada ilmu yang bisa mengetahui, mengapa ada orang yang merinding terhadap dua rangsangan ini, sementara yang lainnya tidak (belum tentu merinding).

Setelah saya pelajari dengan cara praktek langsung di TKP. Ternyata;
Merinding, adalah fenomena fisiologis warisan turun menurut dari nenek moyang kita, sejak zaman dahulu, dan dialami oleh semua mamalia khususnya manusia, merinding merupakan respons otomatis dari mekanisme kuasa hidup.

Maksudnya;
Ketika seseorang berada di alam bawah sadar (dalam lingkaran rasa), di sadari atau tidak di sadari, kesadaran seseorang itu, akan menjadi meningkat.

Artinya; Secara otomatis menjadi Exstra waspada. Exstra hati-hati, sehingganya. Rasa menjadi lebih sensitif dan agresif terhadap apapun yang ada di sekitar luar dirinya.

Merinding adalah refleks insting otomatis dari hidup, yang dipicu oleh panca indera yang buta/tidak peka/tidak tahu, dengan maksud membantu dan melindungi diri.

Melalui lubang pori-pori yang hanya di tutup dengan rambut-rambut halus. Positif dan Negatif dari luar diri, bisa masuk ke dalam diri.

Dan melalui seluruh lubang pori-pori yang hanya di tutupi bulu halus inilah, hidup selalu melindungi dan menjaga keseimbangan antara dalam diri dan luar diri, baik itu hal yang menguntungkan diri (positif atau hal yang merugikan diri (negatif).

Bagi yang sadar ketika mengalami merinding, pasti panca inderanya bisa menyadari, sehingga dapat mengetahui, menyaksikan dengan nyata kejadiannya.

Sehingga hal ini menjadi sebuah pengalaman yang luar biasa menyenangkan, karena reaksi merinding ini, dalam batas tertentu.

Dapat memicu reaksi terhadap tekanan kecepatan gerak tubuh, dalam mengatur keberanian, atau ketakutan saat menghadapi suatu masalah, sehingga memiliki pilihan yang tepat, untuk FIGHT (melawan) or FLIGHT (kabur) pada saat menghadapi masalah yang mengancam.

Wow… Keren bukan. Namun itu tidak begitu penting, yang terpenting adalah….

Setelah menyaksikan sendiri secara nyata. Bahwa Betapa Cinta Kasih Sayang nya Sang Hidup kita terhadap Diri kita. Jangankan yang buruk, yang merugikan diri (negatif). Yang baik, yang menguntungkan diri saja (positif). Di filter, di saring, di sempurnakan oleh Hidup, sebelum masuk ke dalam diri. Masih tidak terGugah-Kah untuk tidak segera mengenal Hidup…?! He he he . . . Edan Tenan.

2). Tentang Manangis;
Hampir semua manusia di dunia ini, tidak terlepas dari yang namanya menangis.

Ya,,, menangis merupakan salah satu bentuk luapan emosi yang terjadi, disaat seseorang merasa sedih, kesal, kecewa, bahagia, ataupun emosi, dimana pada umumnya merasa, dengan menangis, maka perasaan akan menjadi lebih lega dan tenang.

Namun bagaimana dengan menangis yang tiba-tiba muncul tanpa sebab masalah apapun,
Ketika Sedang Patrap Semedi…?!
Atau ketika sedang mbathin Kunci…?!

Menangis bukan hanya sebatas membuat perasaan menjadi tenang dan lega, tetapi juga mengeluarkan racun-racun dan kotoran-kotoran dari dalam tubuh, yang dapat merusak organ tubuh, khususnya hati, tempat dimana Rasa Hidup Yang Murni lagi Bersih itu bersemayam.

Air mata mengandung cairan protein spesifik, yang saya sendiri tidak tahu entah apa namanya, yang pasti zat cairan itu, bersifat antibakteri ego dan pembunuh bakteri pamrih dan bakteri-bakteri tercela lainnya yang dapat menutupi bahkan membutakan panca indera dan hati.

Cairan zat tersebut, mampu membunuh 95% bahkan 99% bakteri ego maksiat pada panca indera dan hati, dengan cara meng hancurkan dinding sel bakteri ego maksiat, serta dapat mencegah infeksi hati dan iritasi panca indera, akibat debu kedustaan dan asap kemunafikan, sehingga hati dan panca indera pun, terlindungi dari infeksi bakteri ego dan polusi maksiat dan pamrih dari lingkungan sekitar.

Bukan cuma itu saja, Pada saat menangis, maka organ-organ tubuh pun akan terpengaruh dan berkerja lebih maksimal, salah satunya adalah jantung.

Jumlah denyut jantung akan meningkat ketika menangis, sehingga dapat berguna untuk terapi otot-otot dada sekitar paru-paru, dan secara otomatis setelah berhenti menangis, denyut jantung akan kembali normal dan menimbulkan rasa fress, lega, plong, tenang, nyaman bahkan tenteram, stress akibat Tekanan Jiwa pun menjadi sembuh.

KESIMPULANNYA;
Merinding adalah bentuk respon kuasa Hidup, yang sedang berjuang melindungi diri, dari sesuatu yang Positif atau Negatif di luar diri, yang hendak menyerang diri, dengan cara menyaring dan mengfilter lalu menyempurnakannya, sehingga diri tetap aman terlindungi kemurniannya/keasliannya, tanpa tercampuri apapun yang asalnya dari luar diri.

Sedangkan Manangis adalah bentuk respon kuasa hidup, yang sedang berjuang membersihkan kotoran diri, dari segala sesuatu yang berasal dari luar diri, yang terlanjur masuk, sebelum laku murni menuju suci, yang menutupi panca indera kita, sehingga kita tidak bisa melihat kenyataan hidup kita sendiri, pless dengan the-thek bengeknya, yang benar-benar nyata ada.

Dan bentuk respon kuasa hidup, yang sedang berjuang membersihkan noda-noda kemelekatan hati, yang terlanjur masuk, sebelum laku murni menuju suci, yang menjadikan kita, kesulitan untuk mengenal Hidup yang merupakan Guru Sejati kita sendiri, pless Dzat Maha Suci.

Semakin sering Merinding ketika Patrap Semedi, semakin bersih jiwa raganya, semakin murni jiwa raganya, semakin jernih jiwa raganya.

Semakin sering Menangis ketika Patrap Semedi, semakin terbuka Hati dan Panca Inderanya, semakin tajam Hati dan Panca Inderanya, semakin Waskita Hati dan Panca Inderanya. He he he . . . Edan Tenan.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Di….
Pesanggrahan Pesona Jagat Alit.
Alamat; Desa. Karangreja. RT/Rw. 02/03. Kec. Tanjung. Kab. Brebes. Jawa Tengah Indonesia. 52254.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

MEMBUKA PENUTUP SEJARAH MISTIK SABDO PALON-NAYA GENGONG:


IMG_20180101_182840

MEMBUKA PENUTUP SEJARAH MISTIK SABDO PALON-NAYA GENGONG:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Pesanggrahan Pesona Jagat Alit. Hari Senin. Tanggal 1 Januari 2018.

SIAPAKAH SEBENARNYA SABDO PALON-NAYA GENGGONG…?!
Awak kisah di mulai dari Air Terjun Terindah di Jawa Tengah, yang Terletak di Kecamatan Tawang Mangu Solo, yang dulunya adalah tempat Tapa Bratanya Grojogan Sewu, dalam rangka mencapai Ilmu Kesempurnaan. Dan sejak itulah, air terjun itu, di namai sebagai Air Terjun Grojogan Sewu.

Grojogan Sewu adalah seorang sais dokar, kisah awalnya dimulai ketika beliau berkenalan dengang seorang pengembara bernama Rangga Seta yang menumpangi dokarnya.

Melihat pengembara itu menggunakan pakaian jubah dan sorban di kepala, yang kesannya berbeda dengan adat Jawa, maka beliau bertanya kepada pengembara itu.

Dari mana anda berasal…?!
Rangga Seta tidak menjawab dari mana ia berasal, tetapi menjawab pertanyaan tersebut dengan kalimat “Saya Saudara mu, karena semua manusia adalah anak keturunan Adam, maka kita adalah bersaudara” Mendengar jawaban tersebut, Grojogan Sewu tersentuh, karena orang yang baru dikenalnya, menganggap saudara, sekaligus penasaran dan kembali bertanya. Siapa Adam…?!

Adam adalah Nenek Moyang Saya, Anda dan semua Manusia.
Jawab Rangga Seta.

Mendengar jawaban seperti itu, Grojogan Sewu semakin tertarik lebih Jauh dan meminta Rangga Seta untuk bersedia mengajarkan Ilmu Pengetahuan Kepadanya, dan Rangga Seta balik bertanya kepada Grojogan Sewu.

Mengapa anda Ingin Belajar…?!
Tanya Rangga Seta.

Karena saya ingin cerdas dan ingin pandai.
Jawab Grojogan Sewu.

Memang manusia harus pandai, harus mau berpikir, karena itu perintah Ilahi.
Tegas Rangga Seta.

Melihat niat belajar dan sikap yang ingin tahu dan memang terlihat bakat kecerdasan dari Grojogan Sewu, maka Rangga Seta pun bersedia mengajarkan kepada Grojogan Sewu, dan proses belajar pun dimulai dengan materi Aji Kalimasada.

Karena memang bakat kecerdasan dan niat yang bersungguh-sungguh, maka proses belajar Grojogan Sewu pun berjalan dengan cepat.

Singkat punya cerita. Pada Saat pelajaran ujian terakhir. Grojogan Sewu di perintahkan untuk semedi di suatu tempat oleh Rangga Seta. Grojogan Sewu bertanya. Di manakah tempat semedi itu…?!

Kemudian Rangga Seta mengarahkan tangannya, menunjuk kesuatu tempat, maka terlihatlah air terjun dari kejauhan, bersemedilah kamu di sana, di balik air terjun itu ada Goa, dan Goa itulah tempatnya.

Mendengar perintah dari Rangga Seta, lalu Grojogan Sewu pun menyanggupinya. Perintah semedi ini, sekaligus perpisahan antara Grojogan Sewu dengan Rangga Seta.

Pada Saat itu, Rangga Seta mengatakan. Suatu saat kita akan bertemu lagi, dan beliau berpesan. Jadilah Insan yang bermanfaat dan tegakkanlah keadilan.

Setelah perpisahan tersebut, Grojogan Sewu kembali menoleh kearah di mana letak air terjun itu, namun air terjun itu tidak terlihat, dan Grojogan Sewu pun akhirnya menelusuri ke arah yang tadi ditunjukkan oleh Sang Guru.

Kisah proses pencarian lokasi semedi yang dilakukan Grojogan Sewu ini, sama halnya dengan Sri Manggana atau Kian Santang atau Pangeran Cakra Buana atau Walang Sungsang, ketika diperintahkan oleh Syaidina Ali, untuk mencari sebuah bukit, yang akhirnya tiba di wilayah Bukit Godog Suci Garut.

Setelah semedi Grojogan Sewu selesai, maka paripurnalah Aji Kalimasada-nya. Selain berguru kepada Rangga Seta, Grojogan Sewu pun belajar kepada Hyang Badranaya, yang kemudia beliau di beri sebuah Cemeti/Cambuk amarasuli, yang bentuknya seperti gagang tongkat. Hyang Badranaya adalah anak-nya Dang Hyang Semar.

Silsilahah;
Nabi Adam =>
Nabi Syis =>
Anwas dan Anwar =>
Hyang Nur Rasa =>
Hyang Wenang =>
Hyang Tunggal =>
Hyang Ismaya =>
Hyang Wungkuhan =>
Hyang Smarasanta (Semar)=>
Hyang Badranaya=>
Rahyang Somaita=>
Hyang Hasmara=>
Pu Walaing=>
Ki Buyut Wangkeng=>
Ki Buyut Sondong.

Hyang Wungkuhan memiliki dua orang Putra. 1. Hyang Smarasanta yang lebih di kenal sebagai Dang Hyang Semar atau Semar. 2. Hyang Manikmaya yang lebih di kenal sebagai Togog. Hyang Smarasanta atau Semar memiliki 3 orang Putra yaitu; 1. Rahyang Pathuk, 2. Rahyang Gareng, 3. Rahyang Somaita. Dari Rahyang Somaita ini, keturunan berikutnya berlanjut hingga berakhir pada Ki Buyut Sondong. Hyang Manikmaya atau Togog, juga memiliki 3 orang Putra juga yaitu; 1. Sang Bilung, 2. Sang Sarawita, 3. Sang Kere. Selengkapnya Baca Artikel saya yang Berjudul; (Mengungkap Sejarah Terselubung Kitab Purwakala Dan Purwacaraka Tanpa Tedeng Aling-Aling).

Lalu siapakah Grojogan Sewu…?!
Grojogan Sewu adalah pembimbing raja-raja Nusantara dan para Wali, karena beliau diberikan semacam wewenang/mandat Dari Hyang Badranaya, Putra nya Dang Hyang Semar sekaligus penerus ajaran Kapitayan, untuk mengajarkan Hikmah dan Ilmu Kesempurnaan kepada para raja-raja Dan para wali di Nusantara, bahkan sampai masa sekarang ini.

Siapakah yang pernah belajar kepada beliau…?!
Hampir semua raja-raja nusantara dibimbing oleh beliau, dan salah satunya adalah Raja Brawijaya, yang menghilang (moksa) di Puncak Gunung Lawu, dan Prabu Siliwangi Raja Pajajaran, yang Tilem Ngahiyang.

Nah… Di mulai dari sinilah, tampak benang merahnya, mengapa kisah Sabdo Palon dan Uga Wangsit Siliwangi, seperti pinang dibelah dunia, ibarat kunci dengan gembok-nya.

Apa hubungannya Kisah Grojogan Sewu dengan Sabdo Palon-Naya Genggong…?!

Grojogan Sewu adalah gelar seorang insan yang mampu mengajarkan Ilmu, mengucurkan ilmu, laksana air yang mengucur, Grojogan Sewu adalah Seorang yang mengucurkan ilmu atau orang berilmu (menguasai ajaran/mumpuni/Pintu ilmu pengetahuan/ Bab al-Ilmi) sehingga dia mendapatkan mandat/wewenang untuk mendidik para raja dan para Wali di Nusantara.

Setiap ucapan Grojogan Sewu atau ketika Dia mencurahkan ilmu nya, pada para muridnya, ucapan Grojogan Sewu itu, di sebut Sabdo.

Lalu Palon nya apa…?!
Palon artinya Filosofi (mengandung hikmah yang dalam). Kalau dalam bahasa kerennya. Kata Mutiara.

Jelasnya…
Pada saat Grojogan Sewu memberikan materi/pengajaran atau segala ucapan/sabdo yang mengandung hikmah yang amat dalam, pada para raja Nusantara maupun para wali, menjulukinya ucapan Grojogan Sewu ini, sebagai Sabdo Palon. Nah,,, sekarang tinggal Naya Genggong-nya.

Setiap Grojogan Sewu mengeluarkan sabda-sabdanya di hadapan raja-raja nusantara dan para wali, itu dilantunkan seperti tembang atau syair yang merdu, ada intonasinya, dan di iringi oleh gerakan tubuh maupun tangannya, Jadi nuansa pengajarannya itu, enak didengar dan dilihat, sehingga mudah dingat dan dipahami.

Jadi “Naya Genggong” itu adalah gaya mengajarnya Grojogan Sewu, ketika mengucapkan sabdanya, seperti melantunkan tembang dan dengan diiringi gerakan anggota tubuh. Bukan wujud seorang manusia jelmaan jin atau siluman.

Jadi kurang lebih ringkasannya seperti ini.
Grojogan Sewu…
Orang yang menguasai/memiliki ilmu/berpandangan luas/bijak, memiliki Kunci Ilmu, dan mampu mencurahkan ilmu nya seperti seribu grojogan/air terjun yang tiada habisnya.

Gorjogan Sewu adalah Predikat Seorang Guru Besar/Maha Guru/Tuan Guru/Para Hyang. Sabdo Palon. Berarti; Ucapan yang penuh hikmah dari Grojogan Sewu. Naya Genggong. Berarti; Gaya mengajar Grojogan Sewu.

Selain subtansi materi yang di sampaikan penuh hikmah (Sabdo Palon) penyampaiannya pun enak didengar dan mudah dipahami, karena dikemas seperti tembang dan diiringi penguatan oleh gerakan-gerakan anggota tubuh (Naya Genggong).

Jadi…
Sabdo Palon-Noyo Genggong itu, bukan dua tubuh sosok seorang manusia, jelmaan dari bangsa jin atau siluman, berusia ribuan tahun, reinkar nasi berkali-kali, yang mengabdi pada Prabu Brawijaya sekaligus Sahabat dan Penasehatnya. Bukan, Melainkan Wejangan dan Gaya Wejangan Grojogan Sewu saat membimbing Raja-Raja Jawa dan Para Wali, termasuk Prabu Brawijaya dan Prabu Siliwangi.

Grojogan Sewu = Guru dari Prabu Brawijaya.
Grojogan Sewu = Guru dari Prabu Siliwangi.
Grojogan Sewu = Guru dari Para Wali.

Grojogan Sewu adalah gelar dari Syaidina Ali bin Abi Thalib (Rangga Seta /Penunggang Kuda Putih) yang juga bergelar Pintu Kota Ilmu. (“Ana Madinatul Ilm wa Aliyun Babbuha” Hadits Nabi Muhammad Rasulullah SAW) Kedua Raja tersebut dibimbing oleh Grojogan Sewu, kedua raja tersebut meninggalkan cerita atau kisah kepada generasi yang akan datang (akhir jaman) dan pesannya pun sama.

Nah sekarang Siapakah Sejatinya Rangga Seta…?!
Dan…
Siapakah Sejatinya Hyang Badranaya…?!

Untuk mengetahui benang merah antara Hadist tentang Imam Mahdi, Cerita Uga Wangsit Siliwangi, Sabdo Palon, Jangka Jayabaya. Saya mencoba untuk membuat Silsilah ilmu terlebih dahulu dan kata kunci dari semua cerita-cerita tersebut.

Silsilah Ilmu dan Kata Kunci;
Rangga Seta = Guru dari Syekh Grojogan Sewu. Syekh Grojogan Sewu = Guru dari Raja-Raja Jawa, khususnya Prabu Brawijaya Majapahit dan Prabu Siliwangi Pajajaran.

Prabu Siliwangi = Menghilang di bagian Selatan Kerajaan Pajajaran.

Lelakon Prabu Siliwangi = Meninggalkan Cerita Uga Wangsit Siliwangi.

Prabu Brawijaya=Menghilang di bagian Selatan Kerajaan Majapahit.

Lelakon Prabu Brawijaya = Meninggalkan Cerita tentang Sabdo Palon Naya Genggong.

Kelak setelah lima ratus tahun, dia (Syekh Grojogan Sewu/Sabdo Palon Naya Genggong) akan kembali mengasuh Pemimpin Nusantara.

Lelakon Brawijaya mempunyai tokoh kunci yaitu Sabdo Palon Naya Genggong (Syekh Grojogan Sewu).

Cerita Uga Wangsit Siliwangi = Temui Ki Santang, karena kelak dari keturunan-keturunan yang pergi ke Barat-lah, yang akan mengingatkan saudara-saudari sedaerah dan yang sependirian.

Lelakon Prabu Siliwangi mempunyai tokoh kunci Kian Santang atau Walang Sungsang atau Pangeran Cakra Buana atau Sri Manggana atau Mbah Kuwu Cerbon Girang alias H. Abdul Iman atau Syekh Sunan Rohmat Suci.

Tokoh Kunci 1; Syekh Gojogan Sewu/Sabdo Palon Naya Genggong. Belajar kepada Rangga Seta, dan diperintahkan mencari Goa di belakang Air Terjun untuk bersemedhi, yang kelak air terjun itu menjadi terkenal dengan sebuatan Grojogan Sewu.

Tokoh Kunci 2; Syekh Sunan Rohmat Suci/Prabu Kian Santang. Belajar kepada Syaidina Ali Bin Abi Thalib, dan diperintahkan untuk mencari tempat untuk berdzikir dan bertafakur, yang akhirnya Kian Santang menemukan sebuah bukit yang di daerah Garut dan diberi Nama “Bukit Godog Suci”. “Godog” berarti “Proses pematangan ilmu”, Godog Ilmu/mengasah Ilmu, sedangkan Suci dinisbatkan kepada Nama Ki Santang sendiri. Yaitu Syekh Sunan Rohmat Suci Prabu Kian Santang atau Sri Manggana)

Tokoh 1; Grojogan Sewu merujuk kepada Rangga Seta. Rangga Seta belajar kepada Hyang Badranaya. Putra dari Hyang Smarasanta (Semar).

Tokoh 2; Ki Santang merujuk kepada Syaidina Ali Bin Abi Thalib.
Syaidina Ali belajar kepada Nabi Khidir As. Abi Abas Balya Bin Malkan.

Di Majapahit ada Syekh Grojogan Sewu. Di Pajajaran ada Syekh Sunan Rohmat Suci.

Hyang Badranaya = selalu ada di setiap Jaman sampai saat ini, mengasuh, kalimat menitis, itu bukan sukma atau raga yang menitis, tapi ilmu-ilmunya, yang membimbing dan ilmunya yang diturunkan atau dititiskan.

Nabi Khidir As Abi Abas Balya Bin Malkan = selalu ada di setiap jaman, mengasuh, membimbing sama seperti Hyang Badranaya.

Kisah Sabdo Palon Naya Genggong Dan Uga Wangsit Prabu Siliwangi, tentang Pemimpin Nusantara di Akhir Jaman, adalah Ciri dari Waskitanya Raja Brawijaya V dan Prabu Siliwangi VI. Kewaskitaan tersebut diajarkan oleh Syekh Grojogan Sewu. Syekh Grojogan Sewu diajar oleh Rangga Seta. Rangga Seta diajar oleh Hyang Badranaya.

Cerita Sabdo Palon Naya Genggong dan Uga Wangsit Prabu Siliwangi adalah, satu kesatuan yang tak terpisahkan. Satu naskah skenario dengan sumber yang sama, walaupun dari tempat yang berbeda, yaitu Majapahit dan Pajajaran.

Kedua kisah itu bak gayung bersambut, seperti Madu dengan Manisnya, seperti kata pepatah “asam di gunung daram di laut akhirnya dalam tempurung bertemu juga” yang berujung kepada dua tokoh Rangga Seta dan Hyang Badranaya.

Secara genealogis Prabu Siliwangi VI di Kemaharajaan Pajajaran dan Prabu Brawijaya V di Kemarajaan Purihita (Majapahit), sebenarnya juga masih saudara sepupu, satu keturunan dari Prabu Jaya Darma bin Prabu Darmasiksa dari kerajaan Sunda Galuh, yang merupakan cikal bakal Pakuan Pajajaran dan Majapahit.

Mengapa Prabu Siliwangi memerintahkan para pengikutnya, yang pergi ke Barat, untuk menemui Ki Santang, padahal konon katanya sejarah yang sudah terlanjur tersebar luas. Hilangnya Prabu Siliwangi beserta kedatonnya, itu karena terdesak oleh Ki Santang Putranya dan Syarif Hidayatullah cucunya. Logikanya; Kalau memang di kejar-kejar oleh Putra dan cucunya, karena mau di paksa untuk masuk islam.

Prabu Siliwangi memerintahkan kepada pengikutnya, yang pergi ke arat Barat, untuk menemui Ki Santang, seperti petikan berikut ini “Kalian yang di sebelah barat! Carilah oleh kalian Ki Santang! Sebab nanti, keturunan kalian yang akan mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya”…

Prabu Siliwangi dibimbing oleh Syekh Grojogan Sewu dengan Sistem Sabdo Palon Naya Genggong-nya, dan Syekh Grojogan Sewu dididik oleh Rangga Seta-Syaidina Ali.

Prabu Kian Santang juga dididik oleh Syaidina Ali bin Abi Thalib (Rangga Seta) di tanah Arab. Prabu Siliwangi dan Prabu Kian Santang, satu silsilah ilmu, hanya bedanya Prabu Siliwangi belajar melalui Syekh Grojogan Sewu, sedangkan Prabu Kian Santang belajar langsung kepada Syaidina Ali. Untuk itu mengapa Prabu Siliwangi memerintahkan kepada pengikutnya yang pergi kebarat untuk menemui Ki Santang. Kalau kata pepatah “Saguru Saelmu Ulah Nganganggu”, apalagi beliau punya hubungan anak dan ayah, mana mungkin berseteru, sudah se-ilmu, seguru, sekeluarga lagi.

Cerita pemaksaan agama Islam oleh Kian Santang kepada Bapaknya Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja/ Raden Pamanah Rasa), adalah mitos yang sengaja diciptakan oleh kolonial Belanda, untuk kepentingan Devide et Impera-nya kepada Bangsa Nusantara.

Kalau bukan politik.
Kenapa dalam Wangsit Prabu Siliwangi. Sang Prabu malah memerintahkan para pengikutnya, yang pergi ke barat, untuk menemui Ki Santang Putranya…?!

Masuk akal tidak…?!
tidak masuk akal bukan…?!

Begitu juga mengenai Sabda Palon Naya Genggong. Yang katanya Biksu dari tibet, berusia ribuan tahun, bereinkar nasi berkali-kali, lalu berdebat dengan sunan kali jaga, karena kalah, kemudian mengutuk Tanah jawa.

Coba renungkan dengan kesadaran penuh…!!!
Dimana letak debatnya Sunan Kalijaga dengan Sabdo Palon Naya Genggong…?!
“Kelak setelah lima ratus tahun, dia (Syekh Grojogan Sewu/Sabdo Palon Naya Genggong) akan kembali mengasuh Pemimpin Nusantara”. Ini bukan Sabda nya Sabdo Palon Naya Genggong yang di gambarkan sebagai manusia setengah jin abdinya Prabu Brawijaya, melainkan Sabda nya Sang Prabu Brawijaya itu sendiri, yang mengingatkan, Bahwah Sabda Palon Naya Genggong, yang pernah di perolehnya dari Syekh Grojogan Sewu, akan kembali untuk mengasuh Pemimpin Nusantara. Tidak ada kuntukan disitu.

Grojogan Sewu adalah gelar seorang insan yang mampu mengajarkan Ilmu, mengucurkan ilmu, laksana air yang mengucur, Grojogan Sewu-Seorang yang mengucurkan ilmu atau orang berilmu (menguasai ajaran/mumpuni/Pintu ilmu pengetahuan/ Bab al-Ilmi) sehingga dia mendapatkan mandat/wewenang untuk mendidik para raja dan para Wali di Nusantara.

Mana mungkin berdebat dengan sunan kali jaga, lalu kalah, kemudian mengutuk, sementara sunan kali jaga adalah muridnya jua.

Ingat Perang Bubat…!!!
Perang Bubat Antara Majapahit dan Pajajaran, adalah salah satu intrik politi kolonial belanda yang sukses dan berhasil mengadu domba bangsa kita. Ramalan Aji Jayabaya mengenai Sabdo Palon Naya Genggong, juga politik jangka panjang untuk mengadu domba antar kepercaya’an, khsusunya ajaran jawa, hindu dan islam.

Jadi…
Berpikirlah Cerdas. Jangan terdogma Intrik Politik masa lalu yang telah begitu Kejam nya mengadu domba Bangsa Kita. Bangsa Nusantara yang melingkar Sebagai NKRI.

Duh… Gusti Dzat Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan. Asal Usul Nenek Moyang Semua Mahluk.

Sungguh Murka Paduka yang hamba harap, Kalau penguraian Kitab Purwakala warisan Leluhur kami ini, yang hamba terjemahkan dalam bahasa Indonesia Merdeka (tanpa tedeng aling-aling), tidak sesuai dan tidak tepat dengan yang Aslinya.

Ini saya lakukan, demi cinta kasih sayang ku kepada-Mu dan seluruh mahluk-Mu. Supaya tidak ada lagi kecurangan dan kebohongan terkait tentang-Mu, dengan ini, saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi.

Maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup…_/\_…. Aaamiin. Terima Kasih. Terima Kasih Dan Terima Kasih*

Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya