Sekenario Tuhan – The Grand Design Life:


Sekenario Tuhan – The Grand Design Life:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul.00:10. Hari Senin. Tanggal 20 Agustus 2018.

Pertanyaan;
Dalam artikel, pak WEB mengatakan, bahwa penciptaan Nabi Adam itu, di Pulau Jawa dan Tinggal di Pulau Jawa, sedangkan dalam alqitab sejarah Nabi-Nabi tidak menjelaskan begitu, bukti apa yang mendukung uraian pak WEB dalam artikel tersebut…?!

Jawaban sederhana;
Kalau berdasarkan keterangan Kitab, Adam diciptakan dari tanah liat (at-thin).

Sekarang bahan pemikirannya;
Kira-kira tanah liat yang dipakai untuk memoles tubuh Adam itu, berasal dari mana…?!

Apakah dari Mekah, Iran, Irak, Bagdad atau daerah Timur Tengah lainnya…?!

Secara ilmu pengetahuan apapun,
bahkan orang awam saja, tidak akan percaya, bahwa tanah liat itu dari negeri yang gersang.

Tidak mungkin lah, karena untuk bikin “cetakannya manusia” yang berupa Adam, harus dibutuhkan tanah lempung atau tanah liat, yang kualitasnya super wahid.

Lemah lempung/tanah liat, yang bisa untuk bikin kerajinan gentong, kendi, genteng dan gerabah-gerabah lainnya, tidak mungkin diambilkan dari tanah yang tak mempunyai kandungan air.

Karena tanah itu dikatakan tidak liat, sebab tanpa air, bila tanpa air, bahan baku kita itu bersifat powder atau semacam bedak yang bisa ditaburkan, iya apa betul…?!

Dikatakan at-thin atau tanah liat, karena tujuh puluh persen kandungan tanah itu berupa air. Ini bisa anda kaitkan dengan tubuh manusia yang didominasi oleh air, dan katanya ilmu kedokteran, bisa sampai tujuh puluh persen.

Juga kategori teori mickrokosmos yang berujar bahwa bumi itu replica dari jasad manusia, sehingga bisa dipersamakan kandungan airnya jika dilihat dari luasan bumi yang dihuni air mencapai tujuh puluh persen.

Maka tidak mungkin tanah itu diambilkan dari daerah Timur Tengah yang jarang hujan itu, yang saya tahu, tanah liat itu dipungut di dataran paling subur di dunia, yakni di Djawadwipa.

Jika tidak Puas dengan uraian sederhana dari saya ini, silahkan panjenengan bisa melacak masalah kesuburan tanah, dengan membanding-bandingkannya dengan wilayah negara manapun, maka bisa saya pastikan, tidak akan mungkin panjenengan mendapatkan tanah yang suburnya sebanding dengan kesuburan tanah NKRI kita.

Terus apa hubungan antara tanah liat dengan tanah subur…?!

Ya jelas ada hubungannya to brow…

Karena tanah liat sifatnya banyak mengandung air, sedangkan Allah sendiri berfirman bahwa ia menurunkan air hujan itu untuk menumbuhkan segala hal yang ada di bumi ini.

Air menjadi dalang penumbuh itu, kalau ia sudah meresap dalam tanah, bisa diserap akar-akar dan disimpannya menjadi penyangga hidup tumbuhan, untuk bahan proses fotosintesis.

Air menelusup ke dalam tanah, menjadi pelicin bagi mikroorganisme, yang bersemangat untuk menyuburkan tanah.

Air juga mengendap didasar tanah, dan digali oleh manusia untuk diambili, karena kebutuhan manusia untuk kesuburannya, lingkungan dan anak cucunya.

Maka sebenarnya teori penciptaan dari “tanah liat” itu, dalam arti lain, bahwa manusia itu, dibikin/didesain dari dominasi air dan sedikit tanah.

Makanya Allah selalu bilang bahwa, selepas penciptaan manusia versi tanah liat, Ia menegaskan bahwa manusia itu diciptakan dari air yang memancar, dan beberapa istilah air yang lain yang digunakan dalam al-Qur’an.

Di Timur Tengah tanahnya gersang, kebanyakan disana padang pasir, dalam ilmu tanah, dikatakan bahwa kesuburan tanah itu, karena tingginya keasaman tanah dan banyak mengandung air.

Tanah yang tanpa air, tak bisa diurai oleh cacing yang anatomi tubuhnya juga mengandung banyak air, air yang selamat dari jamahan cacing, maka celaka, karena pasti akan kering kerontang, tak akan pernah menemukan anugrah kesuburan.

Secara teori pun, dalam sejarah disebutkan, bahwa negeri yang paling subur di kawasan buana ini, adalah negeri yang banyak terdapat jajaran gunung berapi.

Kalau masih belum puas juga…
Panjenengan bisa melacak sejarah, peradaban manusia pertama sebelum Yunani, dan bisa saya pastikan, panjenengan akan menemukan penjelasan yang mengatakan, bahwa sumbernya, adalah di wilayah yang banyak gunung berapinya.

Ini indikasi bahwa Jawa memang sebagai akarnya semua manusia sedunia.

Panjenengan bisa keliling mencari tahu lewat google earth, atau melacak sejarah pegunungan, maka hanya didapati daerah yang kaya gunung berapinya adalah di Kawasan NKRI kita ini.

Kita juga bisa menggunakan fasilitas google earth untuk berkeliling sekedar melihat warna tanah di beberapa negara, lalu bandingkan di antara wilayah-wilayah mana, yang hijaunya lebih memikat dibandingkan dengan kawasan NKRI kita ini.

Sebab karena itu NKRI kita ini, dijuluki sebagai zamrud katulistiwa.

“..dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz)”. (QS; Al- An’aam. 59)

Sekenario Tuhan “The Grand Design Life”

Adam dijadikan oleh Allah sebagai
khalifatullah fil arld, yang akan mengkhilafahi bumi, menyuburkan bumi, mengelola bumi, mengembang biakkan peradaban bumi, maka pada dirinyalah letak kesuburannya.

Maka, tidak mungkin kan…
Adam yang didapuk/didesain untuk menyuburkan bumi, tapi dirinya tak subur.

Karena Adam akan dijadikan Khalifah di muka bumi, maka ia tidak bisa tidak harus berbahan baku dari bumi, karena kalau bahan bakunya dari surga, maka tidak familier dong, he he he . . . Edan Tenan.

Sebagaimaan iblis yang tercipta dari api, maka ia lebih familier menjadi khalifah di neraka, dan malaikat-malaikat lainnya yang tercipta dari cahaya, mereka bersifat “frekwensi” tidak bisa menjadi khalifah di bumi, yang terkait dengan ruang dan waktu.

Jika ada yang mengatakan kalau Adam diturunkan ke bumi ini, karena dia melanggar perintah dari Allah, Wong Edan Bagu yang akan Protes.

La wong sebelum ada acara menerobos peringatan Allah, untuk tidak memakan buah khuldi, Allah sudah bisik-bisik sama para malaikat lebih dulu, bahwa dirinya akan menciptakan makhluk, yang akan menjadi Khalifah di bumi, bukan di Sorga.

Jadi sebelum ada scenario/desain dari Allah tentang “jeratan iblis” sudah lebih dulu Allah berencana, bahkan rencananya disharingkan kepada para malaikat.

Waktu itu, malaikat juga sempat protes, karena makhluk yang baru itu, menurut persepsi malaikat, kerjaannya hanya akan selalu merusak bumi dan menumpahkan darah.

Tapi Allah Maha Tahu apa yang ia rencanakan, karena semua dan segalanya itu, adalah Sekenario-Nya “The Grand Design Life”

Dengan “barang bumi” berupa tanah liat, maka bisa dikatakan bahwa tanah liat itu, bisa bermakna tanah yang subur, maka diulang-ulang lagi bahwa hanya di NKRIlah tanah yang paling subur.

Maka sudah sepantasnya Mbah Buyut Adam berbahan baku lempung nasional cap Jawadwipa.

Belum lagi jika kita singgung masalah rasionalitas jenis kulit yang dipake orang jawa, kenapa kok sawo matang…?!

Karena kalau Adam dan Hawa berkulit putih, maka anak turunnya tak mungkin berkulit hitam legam.

Dengan kulit sawo matang, maka ada dua kemungkinan, melahirkan anak cucu yang berkulit putih, kalau campuran putihnya lebih banyak dari hitamnya, sebaliknya anak cucunya ada yang berkulit legam, karena ibarat kopi susu, kopinya lebih banyak dibandingkan dengan susunya. He he he . . . Edan Tenan.

Saya 💓Wong Edan Bagu💓 Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai🙏Damai🙏 Damai🙏Selalu Tenteram🙏 Sembah nuwun🙏Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono🙏inayungan Mring Ingkang Maha Agung.Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet🙏 BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏 Aaamiin🙏Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Iklan

Sebelas Misteri Tanah Jawa Dwipa Yang Belum Terungkap:


Sebelas Misteri Tanah Jawa Dwipa Yang Belum Terungkap:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Denpasar Bali. Pukul: 10:30. Hari Selasa. Tanggal 7 Agustus 2018.

Para Kadhang Dan Para Sedulur Kinasih-ku sekalian. Berikut ini; Sebelah Misteri Tanah Jawa Dwipa Yang Belum Terpecahkan atau Belum Terungkap hingga Sekarang Ini. Semoga Bermanfaat sebagai Wawasan Tambahan ya…

Sesuatu yang tidak bisa di pungkiri hingga saat ini, adalah bahwa tanah Nusantara kita ini, penuh dengan misteri.

Mulai dari Alamnya. Pulaunya, bahkan juga manusia-manusia penghuni Nusantara ini juga kerap diselubungi misteri. Itulah Jawa Dwipa.

Bagaimana tidak…
Coba saja perhatikan dengan kesadaran kita yang sadar, mau cari hutang, pergi ke dukun dulu, mau nagih hutang, pergi ke dukun dulu, mau berobat, pergi ke dukun, mau jualan, ke dukun, mau nikah, ke dukun, mau hajatan, ke dukun, semuanya serba ke dukun terlebih dulu.

Menjadi sebuah tradisi kemelekatan yang mengkristal, hingga tak mudah untuk di hapus begitu saja dan sulit di pecahkan. Namanya juga misteri.

Karena tidak bisa dipecahkan dan sulit di hapus, akhirnya semuanya pun tinggal dalam misteri itu sendiri.

Demikian juga dengan tanah Jawa Dwipa yang hendak diulas dalam tulisan saya kali ini, yang penuh dengan misteri itu.

Kata di Pulau Jawa ini, dulunya merupakan koloni dari bangsa Atlantis, kemudian karena bangsa dan peradaban atlantis hancur, lalu tinggal Jawa seperti ini, kemudian, juga asal-usul orang Jawa sendiri, yang hingga kini juga masih diselimuti kabut misteri yang belum terpecahkan.

Selanjutnya misteri apakah yang ada di balik semua ini…?!

No 1;
Misteri dewa-dewi.
Sebelum manusia sakti, ada juga misteri, bahwa di tanah Jawa ini, selama ratusan ribu tahun lalu, dihuni oleh dewa-dewi yang menguasai daratan dan lautan tanah jawa.

Para dewa dewi itu, kembali ke nirwana, setelah manusia-manusia sakti mulai menguasai tanah Jawa.

No 2;
Misteri Semar.
Sebagai Dahyang Paling Tua di Tanah Jawa, semar merupakan tokoh wayang nan sakti, eyang sepuh dari pandawa lima yang sangat populer, sekaligus dalam pertokohan ini.

Dia itu kedudukannya sebagai ayah dari Petruk, Gareng serta Bagong, yang tak lain dan tak bukan, itu adalah sosok demit yang paling tua usianya di kawasan tanah Jawa.

No 3;
Misteri Masuknya Islam.
Apakah Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasih-ku sekalian tahu Islam masuk ke tanah Jawa itu kapan…?!

Konon kabarnya sih, ajaran tersebut, masuk pada abad 13.

Ada juga sumber yang mengatakan kalau Islam itu masuk ke Tanah Jawa, sebagaimana juga masuk ke Nusantara selama Nabi Muhamad masih hidup.

Konon Syekh Subakir sebagai utusan ulama dari kekaisaran ottoman yang datang, dengan menenteng batu hitam yang telah dirajah dari kawasan jazirah Arab.

No 4;
Misteri Peredaman Pengaruh Negatif Makhluk Halus.
Banyak kekuatan makhluk halus yang mengganggu kehidupan manusia di tanah Jawa.

Mereka semua membawa pengaruh negatif kepada warga sekitarnya, namun untungnya di puncak gunung Tidar, ada rajah Aji Kalacakra, yang mampu menangkalnya saat itu.

Yang kemudian diteruskan oleh para Wali Songo (9). Sehingga ilmu ulama tersebut, bisa meredam pengaruh negatif makhluk itu juga.

No 5;
Misteri Tersingkirnya Hantu.
Seiring berjalannya waktu, jumlah populasi manusia semakin banyak, hutan, sawah, perkebunan pun kini telah berubah menjadi tempat tinggal, maupun perumahan.

Sehingga para hantu dan sejenisnya tersingkir, serta pindah ke dasar laut selatan ataupun disekitar kawah gunung-gunung berapi.

No 6;
Misteri Ritual Tradisional.
Ritual tradisional yang biasa kita kenal dengan nama Slametan, itu ada kaitannya dengan kisah jin paling tua di tanah Jawa.

Tidak sedikit yang berkata, kalau kita melakukan ritual seperti itu, maka para dedemit akan melindungi warga, apalagi jika dalam meminta bantuan disertai dengan tangisan, maka permintaannya akan segera terkabulkan.

No 7;
Misteri Babad Tanah Jawi/Jawa.
Masyarakat bisa mengetahui silsilah raja zaman dahulu, seperti pada Singasari, kerajaan Padjajaran, Mataram, Majapahit, Demak, maupun yang lainnya dengan membaca buku babad tanah Jawi/Jawa.

Bahkan ada juga cerita mengenai para nabi, yang dulunya dianggap oleh warga kerajaan Mataram Islam sebagai nenek moyang mereka.

No 8;
Misteri Gugur Gunung.
Tujuan gugur gunung dilakukan oleh masyarakat di tanah Jawa, adalah agar kita mengetahui betapa pentingnya kebersamaan.

Kata tersebut, ibarat mengarahkan pada suatu permasalahan yang dialami seseorang, kalau dipecahkan secara bersama, pasti akan terasa ringan.

Seperti itulah kiranya gambaran mengenai kebiasaan sesepuh kita zaman dahulu.

Kalau sekarang ini, kita lebih mengenalnya dengan kata gotong royong, kerja sama saling membantu, meringankan pekerjaan secara bersama-sama.

No 9;
Misteri Banyak Ahli Sejarah yang Mengkajinya.
Banyak para ahli yang tertarik untuk mengkaji mengenai kisah tanah Jawa.

Contoh Misalnya;
Ahli sejarah yang bernama HJ de Graaf, beliau sudah banyak sekali belajar tentang peristiwa yang terjadi di tanah jawa, sejak zaman kerajaan Pajang.

Akan tetapi hasilnya tak berani beliau sebutkan pada masyarakat umum, sebab kabarnya sangat berkaitan dengan kosmologi, dongeng, serta mitologi.

No 10;
Misteri Syirik.
Menurut sebagian orang, kisah jin di tanah Jawa itu, mengarahkan kita pada kesyirikan.

Sebab tempatnya berdoa itu, hanyalah kepada Alloh semata, bukan memberikan sesaji dan sebagainya pada makhluk halus.

Dan semua itu, di klaim sebagai dosa besar yang tak akan mungkin dimaafkan, saat di akherat nanti tempatnya yang kekal yaitu di neraka.

Sebaiknya Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasih-ku sekalian, jangan ikut-ikutan mengklaim demikian, karena itu adalah bagian dari misteri ghaib tanah Jawa, yang belum terungkap hingga kini, kebenarannya, maka dari itu janganlah Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasih-ku sekalian mencobannya, jika tidak ingin menjadi bagian dari misterinya.

No 11;
Misteri Aji Saka.
Salah satu sejarah Jawa yang sangat populer. Yaitu; kisah Aji Saka.

Karena di dalamnya, menceritakan mengenai asal mula adanya aksara Jawa.

Banyak legenda cerita yang mengatakan Aji Saka itu, orang paling sakti dari India, yang membangun kerjaaan pertama di tanah Jawa.

Selain itu juga, menggambarkan tentang kedatangan peradaban di tanah Jawa, yang mulai dirintis oleh Aji Saka itu, dan hingga kini, kerajaan yang dibangun Aji Saka itu, masih bersifat sangat mistis.

Sehingganya;
Timbulah berbagai pendapat mengenai darimana asal ceritanya, ada yang bilang kalau itu berasal dari pulau Bawean, ada pula yang kabar hal tersebut dari Jawa Tengah, dan masih banyak lagi anggapan lainya.

Nah…
Para Kadhang Dan Para Sedulur Kinasih-ku sekalian. Itulah; Sebelas Misteri Tanah Jawa Dwipa yang saya maksud dalam Artikel ini. Sebagai Misteri Yang Belum Terpecahkan atau Belum Terungkap hingga Sekarang Ini.

Dua diantaranya;
Berhasil saya ungkap. Yaitu;
No 1;
Misteri dewa-dewi.
Dan…
No 2;
Misteri Semar.
Namun hanya sedikit yang mendapat ijin untuk saya bagikan secara online di internet Tanpa Tedeng Aling-aling.

Silahkan Baca Artikelnya yang Berjudul; MEMBUKA PENUTUP SEJARAH MISTIK SABDO PALON-NAYA GENGONG Dan Sejarah Singkat Turunnya Wahyu Tertua/Pertama Turun Kebumi. Semoga Bermanfaat untuk menambah wawasan kita ya…

Saya 💓Wong Edan Bagu💓 Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai🙏Damai🙏 Damai🙏Selalu Tenteram🙏 Sembah nuwun🙏Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono🙏inayungan Mring Ingkang Maha Agung.Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet🙏 BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏 Aaamiin🙏Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Mari Sejenak Mengenal Ilmu Kejawen bersama WEB:


Mari Sejenak Mengenal Ilmu Kejawen bersama WEB;
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Potroyudan Jepara. Pukul: 01:30. Hari Minggu. Tanggal 5 Agustus 2018.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasih-ku sekalian…
Pasti sudah pernah mendengar istilah ‘Ilmu Kejawen’ kan…?!

Bahkan mungkin Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasih-ku sekalian sudah mengenal beberapa nama Ilmu Kejawen beserta keutamaan-keutamaannya.

Namun terlepas dari namanya yang berkesan familiar itu, apakah
Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasih-ku sekalian sudah benar-benar mengerti, memahami, mengetahui apa dan bagaimana itu ‘Ilmu Kejawen’ sebaik Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasih-ku sekalian sendiri mengenal tubuhnya sendiri…?!

Soalnya…
Sejauh kaki saya melangkah, ada terlalu banyak orang yang tidak tepat memaknai ‘Ilmu Kejawen’

Jika kata ‘Ilmu Kejawen’ diartikan sebagai segala sesuatu yang berhubungan dengan adat atau kepercayaan Jawa, maka Ilmu Kejawen dapat diterjemahkan sebagai ilmu yang terlahir dari budaya, tradisi dan filosofi masyarakat Jawa itu sendiri.

Banyak diantara kita yang menyalah artikan ‘Ilmu Kejawen’ sebagai sebuah agama, sehingganya tidak sedikit yang berpendapat bahwa mengamalkan ‘Ilmu Kejawen’ merupakan perbuatan syirik, iya tidak…?!

Padahal para pelaku ‘Ilmu Kejawen’ itu sendiri, tidak ada yang menganggap ajaran yang dianutnya sebagai sebuah agama, melainkan sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi sejumlah lelaku, untuk menuju kesempurnaan hidup dan mati.

Karena ‘Ilmu Kejawen’ bukanlah sebuah agama, maka dalam ajarannya, tidak dikenal kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk memperluas ajaran, seperti dakwah atau visi dan misi.

Dalam ‘Ilmu Kejawen’ terdapat bacaan mantra dan ritual-ritual tertentu, seperti puasa dan tapa atau manekung, yang sering saya sebut sebagai Samadi atau Semedi yang di dalam istilah agamanya disebut sebagai Tafakur.

Karena didalam ajaran ‘Ilmu Kejawen’ Puasa dan tapa atau manekung (semedi-tafakur), merupakan dua hal yang sangat penting dalam proses peningkatan spiritual.

Dan di semua ajaran agama juga, mengenal ritual puasa, meski dengan nama dan versi yang berbeda-beda.

Jika digali lebih dalam, puasa memang memiliki efek yang sangat baik bagi tubuh maupun pikiran, karena dengan berpuasa, seseorang dapat mengubah sistem molekul tubuh dan menaikkan vibrasi atau getarannya sehingga menjadi lebih sensitif terhadap energi dan kekuatan supranatural.

Bahkan kemampuan indra ke’enam dapat pula dibangkitkan dengan cara berpuasa, sebab semua energi negatif dalam tubuh seseorang, akan terbuang dengan sendirinya seiring puasa yang dijalankan oleh orang tersebut.

Dan di dalam ‘Ilmu Kejawen’ Puasa adalah lelaku untuk mencapai Manembahing Kawula Gusti atau menundukan Sedulur papat atau Empat Anasir kepada Hidup yang sebagai Pancernya atau Gustinya.

Begitu Sedulur papat atau Empat Anasir tunduk kepada Hidup yang sebagai Pancernya atau Gustinya, berarti tubuh telah bersih dari energi negatif, sehingganya, secara otomatis akan menjadi lebih peka terhadap gejala-gejala atau fenomena spiritual dan supranatural yang terjadi di sekelilingnya.

Sedangkan tapa atau manekung (semedi-tafakur), adalah pemusatan batin dari seluruh hakikat tujuan.

Namun sayangnya…
Kebanyakan orang, termasuk para pelaku ‘Ilmu Kejawen’ itu sendiri, cenderung menafsirkan makna tapa atau manekung (semedi-tafakur) sebagai sebuah ritual, yang mengharuskan pelakunya untuk tidak makan, tidak minum dan tidak tidur, sambil melepaskan diri dari segala nafsu dan membebaskan tugas segala indera, atau yang juga disebut menyumbat sembilan lubang tubuh atau babahan hawa sanga.

Dalam ‘Ilmu Kejawen’ tapa atau manekung (semedi-tafakur) adalah lelaku untuk mencapai tahapan Manunggaling Kawula Gusti atau penyatuan antara Sedulur papat atau Empat Anasir dengan Hidup, yang sebagai Pancernya atau Gustinya.

Manunggaling Kawula Gusti bukan berarti bahwa seorang hamba telah menyatu secara wujud dengan Tuhannya, tidak juga berarti bahwa seseorang yang telah mencapai Manunggaling Kawula Gusti adalah Tuhan.

Dalam diri tiap-tiap manusia terdapat Roh Suci atau Ruh Kudus, yang sering saya bahasakan sebagai Hidup, yang berasal dari Dzat Maha Suci Tuhan,

Nah…
Dengan Roh Suci atau Ruh Kudus atau Hidup inilah seseorang menyatukan diri dari Sedulur Papat atau Empat Anasirnya.

Kenapa dan mengapa kita harus me manunggalnya kawula dengan Gusti nya…?! Atau sedulur papat kalima pancernya dulu…?!

Karena Tuhan itu adalah Dzat Suci, yang tidak bisa terkontaminasi oleh apapun, tidak bisa tercampuri dan di campuri dengan apapun, selain dengan Dzat yang Suci.

Sedangkan sedulur papat kita atau empat anasir kita, adalah berbuat noda dan kotoran yang melekat di hati kita, jadi, maka mungkin bisa kita kembali kepada Dzat Suci, mendekat saja, sangat mustahil.

Sebab itu, sedulur papat atau empat anasir atau kawula kita ini, harus manunggal dulu dengan Hidup kita, dengan pancernya, karena hanya dengan begitu, mereka bisa lebur dan berubah menjadi suci (leburing kawula gusti).

Sehingganya, bisa kembali kepada asal kita, yaitu Dzat Maha Suci Hidup, tempat semua makhluk akan kembali.

Sebelum belajar ‘Ilmu Kejawen’ pasti diharuskan untuk mengenal jati diri atau mengenal siapa diri kita yang sesungguhnya terlebih dulu.

Pengenalan jati diri ini, merupakan modal awal untuk belajar ‘Ilmu Kejawen’

Dalam tahap pencarian jati diri inilah, si pelaku memerlukan bimbingan seorang guru, sebab karena prosesnya, sama sekali tidak mudah, diperlukan ketekunan dan dibutuhksn kesabaran yang luar biasa dalam melatih diri, tanpa melanggar aturan-aturan yang telah ditentukan.

Contohnya;
Seperti keharusan untuk menghindari M5 dan perbuatan maksiat, perbuatan buruk, perbuatan tercela, perbuatan yang merugikan orang lain dan diri sendiri dll.

Dengan mengenal siapa sejatinya dirinya, maka si pelaku akan memiliki dasar pondasi yang kokoh untuk menerima segala macam ‘lmu Kejawen’ Sebaliknya, tanpa adanya seorang guru yang membimbing dalam fase pencarian jati diri ini, dikhawatirkan sipelaku yang belajar ‘Ilmu Kejawen’ justru akan dikendalikan oleh ‘Ilmu Kejawen’ yang ia pelajari tersebut.

Sebagai akibatnya si pengamal bisa saja menjadi orang jahat atau bahkan mengalami gangguan kejiwaan yang membuatnya gila/stress alias tidak waras, disinilah Pentingnya peranan seorang guru dalam proses pembelajaran ‘Ilmu Kejawen’

Setelah melewati fase pencarian jati diri dalam ‘Ilmu Kejawen’ bisa dikatakan bahwa seorang pengamal ‘Ilmu Kejawen’ telah mencapai tahap yang ‘aman’ untuk mempelajari suatu keilmuan tingkat tinggi.

Kenapa demikian…?!
Karena setelah benar-benar memahami siapa diri kita yang sesungguhnya, maka guru yang kita butuhkan, bukan lagi guru dalam wujud seorang manusia, melainkan guru sejati yang berada dalam diri tiap-tiap insan, yaitu Hidup.

Istilah Jawa menyebutkan “Guru Sejati Dumunung Ono Ing Telenging Ati”
Artinya adalah bahwa guru mutlak yang dapat kita tanyai segala macam pertanyaan dan mengingatkan segala tindak-tanduk kita adalah Hidup kita sendiri yang telah dengan sangat baik kita kenali.

Bersamaan dengan ditemukannya jati diri, maka akan ditemukan juga kembaran diri, yaitu; sedulur papat lima pancer yang sudah manunggal menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan oleh suka dan duka dalam bentuk persoalan apapun.

Itulah ‘Ilmu Kejawen’ yang pernah saya Wong Edan Bagu pelajari sebelum Laku Murni Menuju Suci.

Dan bagi Wong Edan Bagu…
Ajaran ‘Ilmu Kejawen’ memang layak untuk terus dan dihidupkan keberadaannya, karena ada segudang kebijaksanaan dan nilai-nilai luhur berusia ribuan tahun, yang terkandung didalamnya, merupakan harta warisan Leluhur Jawa yang luar biasa, untuk dimiliki khususnya orang Jawa, sebagai bekal menjalani hidup di dalam kehidupan ini.

Namun sungguh sangat di sayangkan;
Para pelaku ‘Ilmu Kejawen’ setelah berhasil mencapai level tertingginya.
Yaitu; Dapat bertemu dan berdialog dengan Guru Sejati, yang tak lain dan tak bukan adalah Hidup nya sendiri, bisa saya pastikan hampir semuanya lelai, dan disalah gunakan.

Bukannya mempertahankan Kemanunggalan Sedulur Papat Kalima Pancer nya atau Kawula Gusti nya untuk Dipergunakan sebagai Laku Murni Menuju Suci;
Mencapai;
Kesempurnaan Hidup Dan Mati.
Bali Mring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi.
Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un.

Malah di pergunakan untuk
meragasukma, melepaskan sukmanya keluar dari tubuhnya, untuk berangkat menuju alam roh yang berada di tempat-tempat ghaib.

Menerawang masa lalu, meramal masa depan dan jenis-jenis kepuasan dunia lainnya yang mengakibatkan Sedulur Papat nya atau Empat Anasirnya terpisah lagi dengan Pacernya-Hidupnya.

Mereka asyik melintasi alam jin, alam kubur dan ribuan alam ciptaan Dzat Maha Suci Hidup, mereka asyik berdialog dengan sukmanya, tentang segala ilmu-ilmu ghaib yang berhasil ia miliki, hingga pada akhirnya dikuasai atau diperbudak oleh ilmunya sendiri.

Kemanunggalan Kawula Gusti yang seharusnya memerdekaan jiwa nya dari kungkungan Sukma, justru sebaliknya, malah kembali menjadikan dirinya terbelenggu di dalam kotak tempurung buatan sendiri, tersebut Alam Kasukman.

BerTaubat Dan BerImanlah…
Kembalilah… Kembalilah… Kembalilah… Pada Pokoknya/Intinya. Yaitu; Hidup/Guru Sejati.
Sebab tanpa Hidup/Guru Sejati, kita tidak akan bisa Laku Murni Menuju Suci, dan Jalannya serta Caranya untuk ke Dzat Suci, hanyalah Laku Murni Menuju Suci, dan untuk bisa menapaki Laku Murni Menuju Suci, hanya dengan Hidup/Guru Sejati. Bukan yang lainnya.

He he he . . . Edan Tenan.
Saya 💓Wong Edan Bagu💓 Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai🙏Damai🙏 Damai🙏Selalu Tenteram🙏 Sembah nuwun🙏Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono🙏inayungan Mring Ingkang Maha Agung.Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet🙏 BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏 Aaamiin🙏Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

CARA MELIHAT TUHAN:


CARA MELIHAT TUHAN (Exclusive dari WEB) Khusus Dewasa:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 0:05. Hari Minggu. Tanggal 30 Juli 2018.

Para Kadhang Kinasih-ku sekalian, pada kesempatan waktu kali ini, saya WEB, akan membagikan pengetahuan yang sesungguhnya bersifat pribadi.

Namun, karena Hidup itu melampaui semua dan segalanya, maka, tanpa ragu sedikitpun, saya bagikan yang satu ini secara umum, untuk diambil hikmahnya/hakikatnya secara universal, dan agar supaya tidak gagal paham, bacalah dengan kesadaran niyat belajar hingga selesai, jika perlu berulang kali.

Para Kadhang Kinasih-ku sekalian, sadarilah…

Tuhan itu benar-benar Maha Luas, dalam segalanya Dia tiada batas, maka, tidak lah berlebihan jika saya WEB, menganalogikan, bahwa kebenaran sejati itu, layaknya cermin yang pecah berantakan.

Kepercayaan atau keyakinan, agama, ajaran, tuntunan, budaya, ilmu pengetahuan, adat tradisi dll, masing-masing hanyalah memungut satu di antara serpihan cermin tersebut.

Empat dimensi (dimensi ruang ditambah dimensi waktu), yang pernah saya uraikan dalam artikel tahun 2016 yang lalu, berjudul; Perjalanan Menuju Kesempurnaan Mati Dan Hidup, sesungguhnya itu hanya ada di dalam dimensi wadag/wujud/fisik bumi/dunia ini.

Sedangkan didalam ghaib itu sendiri, menyimpan misteri yang Maha Luas dan tanpa batas, Dahsyat serta tak terhingga.

Karena didalam ghaib, sudah tidak ber-ruang lagi, dan di dalamnya, tidak lagi berlaku ruang dan waktu, tidak lagi ada jarak yang berlaku.

Itulah hakikat dari dimensi cahaya atau nur, bahkan kecepatan nyapun, melebihi kecepatan cahaya/nur.

Sehingganya, untuk bisa mencapai pergerakan maksimum di dimensi ruang, maka pergerakan di dimensi waktu harus nol, pada kondisi inilah, kecepatan benda menempuh dimensi ruang bisa maksimal.

Sesuai dengan teori relativitas khusus, bahwa kecepatan maksimal, adalah kecepatan cahaya.

Didalam Laku Murni Menuju Suci,
sesegera mungkin, kita akan menyadari, bahwa cahaya, sama sekali tidak bergerak pada dimensi ruang dan waktu, dengan kata lain, photons/foton tidak berumur.

Photons atau Foton yang dihasilkan semenjak alam semesta terbentuk sampai sekarang ini, umurnya tetap sama.

Ini terkait dengan salah satu formula teori relativitas khusus yang sangat terkenal; E=mc2, di mana E adalah energi, m adalah massa, dan c adalah konstanta kecepatan cahaya.

Formula tersebut, menjelaskan relasi langsung antara energi-massa (konservasi energi-massa).

Sebuah objek dengan massa m, bisa menghasilkan energi E sebesar mc2; dan karena c sebuah konstanta yang besar, massa yang kecil tetap akan menghasilkan energi yang besar.

Coba pikirkan dengan sadar, lalu kita renungkan dengan kesadaran.

Hiroshima tahun 1945, hancur akibat energi yang dihasilkan 1yari 2 pounds Uranium.

Di sisi lain, formula ini, memainkan peranan penting dalam pergerakan objek dalam 4-dimensi, benda yang bergerak memiliki energi kinetik, semakin tinggi kecepatannya, semakin besar energinya.

Saat kita paksa partikel muon mencapai kecepatan 99,9 kecepatan cahaya, muon memiliki energi yang besar.

Karena konservasi energi-massa, energi tadi meningkatkan massa muon 22 kali lebih massif daripada massa-diamnya (0.11 MeV).

Tentu saja semakin masif (pejal) benda, semakin susah untuk bergerak cepat.

Ketika kecepatannya dinaikkan menjadi 99,999 kecepatan cahaya, massanya bertambah 70.000 kali.

Muon semakin masif dan semakin cenderung untuk tidak bergerak, sehingga dibutuhkan energi yang tak berhingga untuk melewati kecepatan cahaya.

Jumlah energi yang tidak mungkin bagi sesuatupun yang ada di alam semesta ini.

Kecuali Jumlah Energi Sang Empu-Nya, yaitu; Dzat Maha Suci Hidup.

Roh Suci atau Ruh Kudus yang sering saya sebut sebagai Hidup atau Guru Sejati adalah “abadan cahaya atau nur atau cahya sejati”

Sehingganya, bagi Hidup, ke manapun Dia pergi, tidak membutuhkan ruang dan waktu lagi.

Ini pernah saya buktikan di TKP ketikan saya masih asyik berada di dalam dimensi keilmuan atau kasukman.

Kecepatan Hidup melesat dari satu tempat ke tempat lain, ketika saya meraga sukma, hanya memerlukan hitungan detik saja, dan mohon maafkan, ini hanya sekedar untuk menggambarkan, betapa di wilayah “ghaib” merupakan wahana cahaya, yang tidak menggunakan hitungan dimensi ruang dan waktu lagi.

Namun demikian, cahaya atau cahya sejati atau nur ilahi, masih belum hakikat Dzat Maha Suci Hidup, ia masih makhluk (ciptaan/retasan Dzat Maha Suci Hidup), sehingga tak bisa dibayangkan lagi bagaimana kecepatan Tuhan.

Mungkin beribu atau bermilyar kali lipat dari kecepatan cahaya, dan hanya sampai di situlah yang bisa dibayangkan oleh manusia pada umumnya.

Di atas cahya sejati (nurullah) adalah atma atau energi hidup/chayyu/kayun/kayu. Energi Hidup yang kecepatannya jauh melebihi cahaya, dan coba kita renungkan, betapa wownya…?!

Namun Atma sejati atau energi hidup ini, masih belumlah “intisaripati”, karena atma masih di dalam rengkuhan Hyang Dzat Maha Suci Tuhan.

Namun hal ini, setidaknya dapat terbuktikan, melalui Laku Murni Menuju Suci yang sensasional, yang membeberkan “rahasia besar” bahwa leluhur di alam barzah, sekalipun sudah mencapai derajat kamulyan yang paling tinggi (kamulyan sejati/abadan cahya sejati), belumlah bisa melihat/bertemu “wujud” Hyang Dzat Maha Suci Tuhan. Artinya; Belum Sempurna.

Para Kadhang Kinasih-ku sekalian.
Hyang Dzat Maha Suci Tuhan, tidak sesederhana itu.

Karena Hyang Dzat Maha Suci Tuhan itu…

Lebih-LEBIH dari sekedar Maha.
Lebih-LEBIH dari sekedar Suci.
Lebih-LEBIH dari sekedar Mulia.
Lebih-LEBIH dari sekedar Agung.
Lebih-LEBIH dari sekedar Kuasa.
Lebih-LEBIH dari sekedar Ghaib.
Lebih-LEBIH dari sekedar yang bisa di bayangkan dan di pikirkan oleh makhluknya.

Tidak sekedar sebagaimana yang manusia bayangkan melalui kitab-kitab suci yang ada.

Semakin manusia mengetahui kebesaran Tuhan, manusia semakin merasa tidak bisa membayangkan Tuhan itu seperti apa sesungguhnya.

Namun yang di luar bayangan imajinasi kita itu, tersebut Hidup, sungguh ada melekat di dalam diri kita, dalam diri manusia apapun agama, bahasa dan suku bangsanya.

Semakin manusia tahu Tuhan, semakin merasa kecil dan menundukan diri, jauh dari watak adigang adigung adiguna (mentang-mentang), jauh dari sifat iri, dengki, dendam, benci, fitnah, jauh dari sikap merasa paling benar, apapun yang menjadi sumber referensinya.

Melihat-Menyaksikan Tuhan yang saya maksudkan dalam artikel ini, hanyalah sekedar untuk pembuktian ilustratif saja, tentang bagaimana kemampuan manusia dalam menyaksikan/mengetahui/melihat/bertemu Tuhan-nya, sesuai pengetahuan pribadi saya di dalam Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman.

“CARA MELIHAT TUHAN”
Sebagai Berikut;
Bola Mata wadag kita bisa melihat suatu obyek yang berada di luar mata kita.

Namun…
Apakah bola mata kita bisa melihat apa yang ada di dalam bola mata kita sendiri…?!

Maka hanya dengan “rahsa” lah kita bisa “merasakan” apa yang ada di dalam bola mata kita sendiri.

Tuhan hanya bisa kita rasakan dengan “rahsa”, karena itulah kemampuan manusia hidup dalam “melihat” menyaksikan Tuhan-nya.

Tapi bukan sekedar rahsa pada umumnya, kalau hanya sekedar rahsa, semua manusia hidup, yang belum mati, punya rahsa.

Dan rahsa yang saya maksud adalah;
Rahsa Yang Berkesadaran Murni. Rahsa Yang Tidak Ternodai Oleh Apapun. Rahsa Yang Tidak Termelekati Oleh Apapun.

Seperti yang sudah sering saya uraikan di ratusan artikel saya di internet.

Kesimpulannya;
Untuk bisa merasakan Tuhan, kita harus memurnikan “rahsa” kita dengan kesadaran, semakin murni kesadarannya, semakin jelas Wujud Tuhan-nya, semakin jelas wujud Tuhan-nya, semakin terlihatlah, sehingga kita bisa menyaksikannya secara nyata, bukan khayalan dan bukan bayangan andai-andai katanya. He he he . . . Edan Tenan.

Mungkin Ada Yang Bertanya;
Apakah semudah itu…?!

Jawabannya. Ya!
Jika mau.

Secara lelaku ilmu atau keilmuan, sangat lah tidak semudah itu, karena untuk bisa melihat atau menyaksikan Tuhan (Ma’rifatullah) harus di mulai dari pengenalan jati diri atau diri sejati atau diri sebenar- benarnya diri.

Namun tidak dengan Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman, karena dengan Tobat Iman atau Laku Murni Menuju Suci, bukan kita lagi yang Mengenal Tuhan, tapi Tuhan itu sendiri yang akan memperkenalkan Diri-Nya kepada kita.

Mungkin ada lagi yang Bertanya;
Sebenarnya Dzat Maha Suci Tuhan itu apa sih Wong Edan Bagu…?!

Dalam pendekatan rasio, dikenal suatu hukum alam, yang lebih populer dengan sebutan sebagai hukum sebab akibat atau karma, maka Dzat Maha Suci Tuhan adalah penyebab utama karma tanpa ada yang menyebabkan eksistensi-Nya.

Jika pendekatan melalui teori energi, maka Dzat Maha Suci Tuhan merupakan Episentrum dari segala episentrum dan energi yang ada di jagad semesta.

Soal Tuhan mana yang paling benar, atau sebutan nama Tuhan yang palsu apa…?!

Apakah Allah, Alloh, Tuhan, Pi khong, Brahman, God, Puang Alah, Yahweh, Dei dan seterusnya, itu soal kesadaran murni nya masing-masing penyebut. Namun, jika harus berbicara dalam konteks rasio, semua itu tentu saja masih berupa kebenaran yang bersifat relatif.

Karena nama-nama itu berkaitan dengan sistem budaya, yakni, bahasa sebagai alat komunikasi yang digunakan manusia.

Logikanya sebelum manusia mengenal bahasa, maka konsep nama-nama di atas, tentunya belum ada, dengan kata lain, causa prima (tuhan) belum punya nama apapun.

Jika uraian saya di atas ada yang menganggap statementnya kapir atau kopar, maka yang menjadi pertanyaannya;
Apakah gara-gara salah menyebut nama untuk Tuhan, maka akan mengakibatkan seseorang kecemplung neraka…?!

Bukankah kita semua ini memeluk salah satu agama, hanya karena faktor kebetulan saja, dan tak lebih karena faktor keturunan (warisan) orang tua kita.

Nah, apakah hanya faktor kebetulan, faktor keturunan, dan warisan orang tua tersebut, bisa menentukan seseorang masuk neraka atau surga…?!

BONUS;
~UNTUK DI RENUNGKAN~
“Kemanapun kamu menghadap maka disitulah wajah-Ku”
“Aku lebih dekat… daripada urat leher…”
“Barang siapa yang mencari-Ku keluar dari dirinya sendiri, maka dia akan tersesat semakin jauh”
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku”

1. Man Arofa Nafsahu Faqod Arofa Robbahu;
Barang siapa mengenal nafs (diri) nya, maka dia mengenal Tuhan nya.

2. Wa Man Arofa Robbahu Faqod Jahilan Nafsahu;
Barang siapa mengenal Tuhannya maka dia merasa bodoh.

3. Man Tolabal Maulana Bigoeri Nafsi Faqoddola Dolalan Baida;
Barang siapa yang mencari Tuhan keluar dari dirinya sendiri maka dia akan tersesat semakin jauh.

4. Iqro Kitab Baqo Kafa Binafsika Al Yaoma Alaika Hasbi;
Bacalah kitab yang kekal yang berada di dalam diri kalian sendiri.

5. Allahu Bathinul Insan Al Insanu Dhohirullah;
Allah itu bathinnya manusia, manusia adalah dhohirnya (kenyataannya) Allah.

6. Al Insanu Siri Wa Ana Siruhu;
Rahasia kalian adalah rahasia-Ku.

7. Laa Yarifallaahu Ghoirullah;
Yang mengenal Allah hanya Allah.

8. Aroftu Robbi Bi Robbi;
Aku mengenal Tuhan melalui Tuhan.

9. Maa Arofnaka Haqqo Ma’rifataka;
Aku tidak mengenal Engkau, kecuali sampai sebatas pengetahuan yang Engkau perintahkan.

Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.

Apabila ia mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya di dalam diri-Ku.

Dan apaila ia mengingat-Ku (menyebut nama-Ku) dalam suatu perkumpulan manusia, maka Aku akan menyebut namanya di dalam suatu perkumpulan yang lebih baik dari perkumpulannya.

Apabila ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya se-hasta, dan apabila ia mendekat kepada-Ku se-hasta maka Aku akan mendekat kepadanya se-depa.

Dan apabila ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari-lari kecil”

Silahkan Merenung Sendiri.
Saya 💓Wong Edan Bagu💓 Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai🙏Damai🙏 Damai🙏Selalu Tenteram🙏 Sembah nuwun🙏Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono🙏inayungan Mring Ingkang Maha Agung.Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet🙏 BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏 Aaamiin🙏Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Sebenar-Benarnya Benar (Bener-Benere Bener):


Sebenar-Benarnya Benar (Bener-Benere Bener):
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 18:50. Hari Kamis. Tanggal 26 Juli 2018.

Hidup itu melampaui semua dan segalanya, hidup itu terkait dan mengaiti semua dan segalanya, tidak ada satupun yang bisa hidup jika tanpa hidup, bahkan Tuhan pun menjadi tidak ada tanpa adanya Hidup.

Hanya saja…
Kesombongan. Kemunafikan. Keangkuhan Ego kita, terlalu besar dan tinggi untuk mengakuinya, bahwa tanpa Hidup, kita tidak ubahnya seonggok mayat, yang hanya layak untuk di kubur.

Sejak di dalam kandungan/rahim sang Ibu hingga saat sekarang ini bahkan ajal nanti, kita berada di dalam hukum kuasa hidup.

Semua dan segala yang kita lakukan atau yang tidak kita lakukan, yang kita perbuat atau yang tidak kita perbuat, yang kita pikirkan atau yang tidak kita pikirkan, yang bathin atau yang tidak kita bathin itu dan ini, adalah kuasanya gerak hidup.

Namun sekali lagi saya katakan…
Kesombongan. Kemunafikan. Keangkuhan Ego kita, terlalu besar dan tinggi untuk mengakuinya, bahwa tanpa Hidup, kita tidak ubahnya seonggok mayat, yang hanya layak untuk di kubur.

Hidup adalah kehidupan.
Hidup adalah kebenaran.
Hidup adalah kebaikan.
Hidup adalah kenyataan.
Hidup adalah kesehatan.
Hidup adalah kesuksesan.
Hidup adalah kebahagiaan.
Hidup adalah kekayaan.
Hidup adalah harta benda.
Hidup adalah kesadaran.
Hidup adalah keindahan.
Hidup adalah kebersihan.
Hidup adalah keilmuan.
Hidup adalah tampan.
Hidup adalah kesucian.
Hidup adalah cantik.
Hidup adalah kesempurnaan.
Hidup adalah cinta kasih sayang.
Hidup adalah semua dan segalanya tanpa terkecuali bla bla bla apapun. Dan…

Selama ini, kita selalu mencari dan berebut yang sudah saya uraikan diatas tentang Hidup, Ini Loh… Yang Sebenar-Benarnya Benar (bener-benere bener). Mari sekarang kita BERKEBENARAN, jangan rebutan lagi.

Semua dan segalanya itu, ada di dalam diri kita masing-masing, jadi, tidak perlu berlomba-lomba rebutan, la wong sudah punya sendiri-sendiri.

Jangan gengsi, ini Hidup-Hidupnya kita sendiri, bukan Hidup nya orang lain, kenapa musti gengsi malu dan takut…?!

Jangan malu, karena Hidup, bukan yang memalukan.
Jangan takut, karena Hidup, bukan yang menakutkan.

Cobalah sedikit berpikir cerdas;
Bisa kah kita beragama, berdoa, beribadah berkaliber dll jika tanpa Hidup…?!

Sungguh…
Terlalu Mewah Hidup itu, untuk kita biyarkan berlalu begitu saja, sebab karena, semua dan segalanya itu, di gerak-kan oleh kuasa Hidup.

Dan sejak awal hingga akhir hayat nanti, Hidup itu berada di dalam diri kita masing-masing yang masih hidup, bukan di luar diri kita, dan tidak pernah beranjak dari tempatnya, kenapa dan mengapa kita berebut dan memperjuangkan yang semu di luar diri kita.

“Kemanapun kamu menghadap maka disitulah wajah-Ku”

“Aku lebih dekat… daripada urat leher…”

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku.

Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.

Apabila ia mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya di dalam diri-Ku.

Dan apaila ia mengingat-Ku (menyebut nama-Ku) dalam suatu perkumpulan manusia, maka Aku akan menyebut namanya di dalam suatu perkumpulan yang lebih baik dari perkumpulannya.

Apabila ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya se-hasta, dan apabila ia mendekat kepada-Ku se-hasta maka Aku akan mendekat kepadanya se-depa.

Dan apabila ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari-lari kecil”

MAN ‘Arafa Nafsahu, Faqad Arafa Rabbahu;
“Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Rabb -nya”

Dan…

“Barang siapa yang mencari-Ku keluar dari dirinya sendiri, maka dia akan tersesat semakin jauh”

He he he . . . Edan Tenan.
Saya 💓Wong Edan Bagu💓 Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai🙏Damai🙏 Damai🙏Selalu Tenteram🙏 Sembah nuwun🙏Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono🙏inayungan Mring Ingkang Maha Agung.Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet🙏 BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏 Aaamiin🙏Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asalnya Kejadian Dengan Ketentraman Yang Sempurna. Bagian Kedua:


Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asalnya Kejadian Dengan Ketentraman Yang Sempurna. Bagian Kedua:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 17:00. Hari Kamis. Tanggal 19 Juli 2018.

Belenggu-belenggu dalam kehidupan kita, diakibatkan oleh karma-karma yang telah kita akumulasi, apapun yang kita lakukan dalam ketidak-sadaran, akan menghasilkan karma.

Setiap aksi yang dilakukan dalam ketidak-sadaran, akan menjadi karma, karena setiap aksi yang dilakukan dalam ketidak-sadaran, bukanlah aksi sama sekali, melainkan adalah reaksi.

Namun ketika kita melakukan sesuatu dengan kesadaran, itu bukan reaksi, tetapi aksi yang bersiat spontan dan total, tindakan semacam itu, tidak meninggalkan jejak karma, karena ia sudah lengkap dalam dirinya sendiri.

Jika suatu tindakan tidak lengkap atau belum selesai, maka suatu hari kita harus menyelesaikannya.

Jadi…
Jika dalam hidup ini kita bisa mempertahankan kesadaran kita, di sepanjang helaan nafas gerak tubuh, maka prarabdha kita, akan habis dan utang karma yang harus kita lunasi pun semakin berkurang.

Dan dalam beberapa masa kehidupan lagi, utang karma kita, bisa benar-benar terlunasi.

Laku Murni Menuju Suci;
Apa yang dimaksud dengan Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman…?!

Hal ini memang teramat sangat perlu harus dipahami, sebab karena itu, ada banyak artikel saya terdahulu, yang menguraikan detailnya Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman, agar supaya mengerti Prakteknya dan mengetahui maksud arah tujuannya.

Karena Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman, adalah merupakan sintesis teragung dari kesadaran manusia hidup. Sintesis dari tiga hal, yakni; Patrap Semedi. Kadhangan dan Darma Bakti.

Biasanya, ketika Patrap Semedi, mind/pikiran manusia, selalu berpindah dari satu objek ke objek lainnya, sangat jarang mind atau pikiran manusia ini, bisa berfokus pada satu objek saja, sebagai contoh; perhatian kita selalu berganti-ganti, selalu berubah maksudnya, sebenarnya yang seperti ini, ini, adalah keadaan yang biasa dari mind atau pikiran kita, jadi, jangan heran atau terheran-heran.

Untuk mengatasinya, kita tidak perlu neko-neko, cukup terapkan saja Wahyu Panca Laku ke1, ke2, ke3, lalu totalitas di Wahyu Panca Laku ke4, maksudnya adalah, setelah Pasrah. Menerima dan mempersilahkan, rasakan dan nikmati kesadaran kita itu selama mungkin.

Jika kesadaran kita mulai teralihkan, tak perlu gusar atau gugup, cukup kembalikan perhatian kita pada kesadaran lagi.

Kalau hal ini sudah terlatih, kebiasaan mind atau pikiran kita, yang selalu berganti-ganti perhatian itu, bisa terhentikan dan kita bisa mencapai sebuah integritas dan kristalisasi kesadaran murni.

Jika di dalam Patrap Semedi, nampak ada begitu banyak objek yang menjadi perhatianmu, itu juga akan memecah belah jiwa dan Ruh kita.

Karena titik objek perhatian kita banyak, sehingga sedulur papat kalima pancer kita, atau empat anasir dan hidup kita, jadi terpecah atau berpisah, untuk memperhatikan sendiri-sendiri.

Contoh misalnya;
Hari ini kita mencintai seorang wanita, besok kita mencintai wanita lain dan besoknya lagi, mencintai wanita lain lagi.

Hal ini akan memecah belah ruh dan jiwa kita, artinya, jiwa kita tidak bisa menjadi satu dengan Ruh kita, diri kita akan menjadi keramaian seperti banyaknya objek yang menjadi perhatian kita.

Sesungguhnya;
Pasangan suami istri itu, akan menjadi sepasang suami istri terus, selama banyak masa kehidupan, setiap lahir kembali selalu bertemu dan menikah dengan pria dan wanita yang sama, lagi dan lagi, serta terus begitu.

Dan hal ini, sebenarnya mampu memberikan integritas pada kesadaran kita, terlalu banyak perubahan akan menggerus dan memecah belah kepribadian kita, gaya hidup merekalah, yang menyebabkan itu semua.

Terlalu banyak perubahan terus-menerus dakam hidup mereka, semua dan segalanya berubah dengan cepat, tidak sadar…?! Maka akan tertinggal, kalau sudah tertinggal, akan meninggal/mati.

Jika objek perhatian dalam hidup kita selalu berubah-ubah, maka itu menandakan hidup kita selalu gelisah, kita tidak bisa memfokuskan perhatian kita pada satu hal dalam waktu yang lama, dan arus hidup kita pun menjadi sangat deras.

Dan jika sudah demikian, kita tidak akan mampu menancapkan akar dari pohon hidup kita sampai mencapai kedalaman yang cukup.

Akibatnya, hidup kita tidak akan pernah berakar dalam, karena kita terus mencabutnya dan memindahkannya ke tanah lain, pohon hidup kita, tidak akan pernah tumbuh, berbunga dan berbuah, jika cara hidup kita demikian.

Jadi. Kesimpulannya;
Yang di Maksud Konsentrasi dan Fokus itu, adalah;
Merasakan kesadaran, lalu menikmatinya pada satu objek selama mungkin, apa pun yang menjadi objeknya itu.

Contoh;
Jika pikiran kita ingat Hutang, ingat itu kan sadar, bisa nya ingat hutang, itu karena sadar, tidak mungkin bisa ingat, kalau tidak sadar, maka, terima kasihilah sadar kita itu, lalu rasakan, nikmati terus………..dengan sadar.

Jika kita merasakan perhatian kita teralihkan ke pekerjaan misalnya, kembalikan itu pada hutang lagi, lalu rasakan lagi, nikmati lagi terus………..dengan sadar.

Ketika perhatian sadar kita sudah mampu terpatri pada hutang tersebut dalam waktu yang lama, maka untuk pertama kalinya dalam hidup kita, kita akan tahu hakikat dari hutang tersebut, bahwasannya, hutang itu bukan hanya sekedar hutang.

Dzat Maha Suci Hidup telah ada di dalam hutang itu, sehingganya, hutang pun menjadi terlunaskan secara syah dan sempurna, akan tetapi selama ini, kamu tidak pernah ‘bersama’ dengan satu objek dalam waktu yang lama, sebab itu, semua masalah dan perkara, tidak satupun yang berhasil selesai dengan Syah dan Sempurna.

Jika kamu bersama dengan kekasihmu, bersamanya dalam arti yang sesungguhnya “jiwa dan Ruh serta ragamu” Tetapi selama ini kamu tidak pernah ‘bersama’ dengan satu objek dalam waktu yang lama.

Sehingga kamu melewatkan banyak hal berharga, jika kamu sedang bersama dengan seorang wanita, mind/pikiranmu berkeliaran memikirkan yang lain, bahkan ketika bercinta pun kamu tidak bisa bersama, dan kamu pun melewatkan banyak hal berharga.

Sebenarnya ada banyak pintu terbuka, tetapi pintu-pintu tersebut tertutup ketika kau kembali dari ‘jalan-jalan’mu itu.

Setiap saat kamu punya jutaan kesempatan untuk menyaksikan Dzat Maha Suci Hidup mu secara nyata, tetapi ketika Dzat Maha Suci Hidup datang, kamu tidak ada di rumah kesadaranmu.

Kamu sedang bermain-main di luar, kamu terus berkeliling dunia, sementara Dzat Maha Suci Hidup mu, selalu setia menunggumu di rumah kesadaranmu.

“keliaran semacam ini, harus dihentikan”

Itulah makna sesungguhnya dari Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman, yang tak lain dan tidak bukan adalah sintesis agung spiritual universal atau kesadaran murni.

BERSAMBUNG KE SELANJUTNYA JIKA DZAT MAHA SUCI MENGIJINKAN SAYA UNTUK MENGURAIKANNYA LEBIH RINCI DAN LEBIH DETAIL LAGI.

Saya 💓Wong Edan Bagu💓 Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai🙏Damai🙏 Damai🙏Selalu Tenteram🙏 Sembah nuwun🙏Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono🙏inayungan Mring Ingkang Maha Agung.Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet🙏 BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏 Aaamiin🙏Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Jalan Terdekat Untuk Pulang Dan Cara Termudah Untuk Kembali:


Jalan Terdekat Untuk Pulang Dan Cara Termudah Untuk Kembali:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 10:11. Hari Rabu. Tanggal 18 Juli 2018.

Mereka yang hidup dalam masa depan, sesungguhnya hanya menganggap dirinya hidup, namun mereka berpura-pura, mereka hanya mengharapkan kehidupan, mereka ingin hidup, tetapi sebenarnya tidak pernah hidup.

Kemarin bukan milik kita, hari esok tidak pernah ada, yang ada hanya hari ini, yang ada hanyalah saat ini dan tempat ini, dia tidak bisa hidup dalam kekinian, itu sebabnya mereka melarikan diri dari kekinian.

Keinginan adalah sumber utamanya, yang membuat mereka melarikan diri dari kekinian, dari yang nyata ke yang tidak nyata.

Manusia yang berkeinginan, sebenarnya sedang melarikan diri.

Anehnya…
Saat ini, justru para pelaku spiritual yang dianggap melarikan diri. Heeemmmmmmm…

Laku Murni Menuju Suci, berarti melampaui keinginan, melampaui pikiran, Laku Murni Menuju Suci berarti menikmati kekinian, hidup dalam kekinian dengan kesadaran sepenuhnya.

Apa yang berasal dari luar bukanlah intuisi, intuisi adalah sesuatu yang berasal dari dalam diri sendiri dan memberikan kepuasan, kelegaan dan kebahagiaan serta ketenteraman.

Jika pikiran tidak menjadi penghalang, setiap orang akan menjadi intuitif.

Sesungguhnya intuisi jauh lebih alami dan mudah diperoleh dari pada logika yang dikejar oleh pikiran.

Kelemahan sekaligus kekuatan manusia adalah pikirannya sendiri, pikiran manusia merupakan alat perekam yang super canggih.

Sesuatu yang terekam pada pita pikiran, tidak gampang dihapus, selanjutnya, rekaman itulah yang menentukan kualitas hidup kita.

Alam bawah sadar adalah beban yang kita warisi sejak lahir, yang dalam adat tradisi, mereka menamakannya “Dosa Asal atau Karma” Dosa Asal atau Karma, bukanlah sesuatu yang kita warisi dari Adam dan Hawa leluhur kita.

Sejarah Adam dan Hawa bersifat metaforis, dan ular si penggoda Hawa, yang disebut-sebut sebagai manifestasi Setan, adalah pikiran kita sendiri.

Pikiran membuat kita cerdik, membuat kita sadar akan baik dan buruk, tetapi pada saat yang sama, juga merampas keluguan kita, pikiran pulalah yang merenggut kesederhanaan dan kepolosan kita.

Laku Munuju Suci atau Tobat Iman, berarti memberdayakan diri sendiri, dan pemberdayaan diri ini, harus kita lakukan sendiri, orang lain tidak dapat melakukannya untuk kita.

Ribuan tahun yang lalu, para resi, para begawan, para pinandita, menemukan bahwa terjadinya peningkatan kesadaran dalam diri manusia, menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan anatomis yang nyata, khususnya pada jaringan syaraf dan otak.

Untuk itu mereka menciptakan tahapan-tahapan proses lelaku, yang setelah di sempurnakan oleh manusia luar biasa bernama M. Semono Sastrohadijoyo, disebut;
1. Patrap Semedi.
2. Kekadhangan.
3. Darma Bakti.
Yang sering saya istilahkan sebagai Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman.

Tahapan-tahapan tersebut sangat dibutuhkan oleh seorang praktisi, agar supaya perubahan anatomis tidak seketika terjadi, sehingganya organ-organ tubuh yang lain tidak mengalami shock.

Tiga tahapan tersebut, tidak dapat dipisahkan dalam alasan apapun, sampai seseorang dapat dikatakan telah berhasil mencapai kesadaran murni/universal.

Sesungguhnya… Sebenarnya…
Dalam Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman ini, tidak ada istilah baru belajar atau sudah lama belajar, tidak ada guru atau murid, tidak ada pula istilah latihan untuk hal ini.

Yang ada hanya kesiapan diri seorang pelaku dan mau apa tidak.

Kesadaran Murni diri seorang Master, atau seorang yang telah lebih dulu sampai pada Kesadaran Murni, akan mengalir secara terus-menerus selama 24 jam full, kalau sedang berhadapan secara langsung dengan seorang yang sedang Laku Murni Menuju Suci, namun belum sampai pada Kesadaran Murni.

Namun pikiran akan selalu menghalangi setiap upaya Laku Murni Menuju Suci kita untuk hidup dalam kekinian, jika belum berhasil mencapai Kesadaran Murni.

Karena di dalam kekinian, pikiran tidak bisa eksis, pikiran hanya bisa eksis dalam masa lalu atau dalam masa depan, dalam kekinian, pikiran tidak dapat mempertahankan keberadaannya.

Ada banyak metode dan cara yang pernah saya lakukan untuk hal ini, diantaraya seperti tarik napas dan buang napas pelan-pelan, lalu mengalihkan seluruh kesadaran pada pernapasan, pada saat yang sama, berusaha untuk memikirkan sesuatu, hasilnya, selain sulit, lelah dan capek, itu pasti.

Saya juga pernah mencoba
metode melepaskan diri dari supremasi pikiran, yaitu dengan cara melelahkannya dan menghabiskannya, namun tetap nol hasil dan lelah belaka.

Berikut ini beberapa cara untuk melepaskan diri dari belenggu pikiran, yang di ciptakan oleh para ahli terdahulu dan saya pernah mencobanya.

Cara pertama adalah dengan mengalihkan Kesadaran pada napas.

Cara yang dipolpulerkan oleh Buddha Gautama ini, sudah teruji hasilnya, dan Dia menyebutnya Vipasana, yang artinya; Melihat ke Dalam Diri.

Pada zamannya dulu, cara ini memang merupakan cara yang paling efektif, tetapi sekarang ceritanya lain.

Karena tingkat kegelisahan manusia begitu tinggi, sehingga cara ini, hanya menjadi efektif, apabila terlebih dahulu kegelisahan dalam dirinya dimuntahkan keluar.

Cara kedua adalah dengan melelahkan pikiran, cara ini, tidak begitu efektif, hasilnya bersifat temporer, begitu pulih kembali, pikiran bekerja kembali, dan bukan hanya itu, setelah istirahat sebentar, pikiran menjadi segar kembali, artinya, dia semakin kuat.

Cara kedua ini banyak digunakan di Indonesia, dan terakhir dipopulerkan oleh Maharishi Mahesh Yogi, lewat apa yang beliau sebut Transcendental Meditation, dalam metode ini, kita diharapkan mengulangi satu-dua kata atau satu kalimat terus-menerus.

Ada yang menganjurkan waktu 20 menit seperti Maharishi, ada yang menganjurkan waktu 150 menit seperti Radha Soami.

Pada dasarnya, pengulangan kata tersebut, akan melelahkan pikiran, sampai ia ketiduran, bukan kita yang ketiduran, tetapi pikiran kita, kemudian kita merasa lega dan ringan. Ya,,, memang rileks, lega dan santai, akan tetapi hanya sesaat saja, setelahnya, kambuh lagi lalu kumat lagi.

Cara ketiga adalah dengan menghabiskan pikiran, cara ini merupakan Metode Milenia Mendatang, namun saya sudah mencobanya terlebih dulu, sebelum masa yang akan datang.

Cara ini akan menjadi semakin populer nantinya, pada dasarnya, manusia masa kini, kelebihan energi, pekerjaan fisik telah berkurang banyak, dan dengan perkembangan teknologi, pekerjaan fisik itu akan semakin berkurang.

Nah, energi yang berlebihan ini, semakin mengaktifkan
pikiran, pikiran semakin menjadi hiperaktif, sampai menyebabkan restlessness, kegelisahan.

Kendati demikian, membendung arus energi yang berlebihan hampir mustahil dan seterusnya, ujung-ujungnya stress jangka panjang.

Tapi dengan Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman, tidak perlu semua yang ribet sulit seperti yang sudah saya jelaskan diatas. Cukup;
1. Patrap Semedi.
2. Kekadhangan.
3. Darma Bakti.
Apapun tujuannya Dzat Maha Suci Hidup yang Atur, kita tahu beres dan terima bersih. Ayo buktikan…!!!

Para Kadhang kinasih-ku sekalian,
menurut pengalaman pribadi saya di TKP, seorang pencari selalu bertujuan, dia terobsesi dengan tujuannya itu, sehingga tidak memperhatikan apa pun juga, kecuali yang dicarinya itu, begitu banyak pengalaman yang dia lewati begitu saja, dia lupa memperkaya dirinya

Tapi bagi saya WEB, dari pada menjadi pencari, lebih baik menjadi seorang penemu, karena seorang penemu, bisa dapat menemukan begitu banyak setiap saat, dia akan menemukan sesuatu yang baru, pengalaman-pengalaman yang baru.

Apa gunanya meditasi yang Anda ajarkan…?!

Jika yang belajar pun belum sadar juga….!!!

Dan karena itu pula saya WEB, menganjurkan Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman, karena inilah yang terdekat dan termudah, gratis pula.

Pilihan ada di tangan Anda Sendiri, Mau mulai sekarang, silakan. Mau menunda-nunda, silakan. Silakan juga kalau Anda mau tidur terus. He he he . . . Edan Tenan.

Saya 💓Wong Edan Bagu💓 Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai🙏Damai🙏 Damai🙏Selalu Tenteram🙏 Sembah nuwun🙏Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono🙏inayungan Mring Ingkang Maha Agung.Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet🙏 BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏 Aaamiin🙏Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya