Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling Tentang WPG dan WPL: (Bagian Satu)


Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling Tentang WPG dan WPL:
(Bagian Satu)
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 15:25. Hari Senin. Tanggal 18 Juni 2018.

Barang siapa mengenal Wahyu Panca Ghaib, akan mengenal Tuhan-nya.
Kalau bahasa awamnya…
Barang siapa mengenal diri, akan mengenal Rabb-nya.

Mengenal Wahyu Panca Ghaib, berarti mengenal identitas jati dirinya sendiri. Mengenal identitas jati dirinya sendiri, berarti mengenal Rabb-nya/Tuhan-nya, dan di dalam Laku Murni Menuju Suci, saya WEB bertanya;

Sudahkah Anda Mengenal Wahyu Panca Ghaib Anda…?!
Kalau bahasa awamnya…
Sudahkah Anda Mengenal Diri Anda…?!

Para Kadhang Kinasih-ku sekalian.
Dari sekian banyak kabar/informasi yang sudah saya sampaikan melalui Artikel dan Vidio di internet, mengenai Wahyu Panca Ghaib yang di Ibadahkan dengan Wahyu Panca Laku atau Taubat Iman, yang arti maksud simpelnya/singkatnya adalah Laku Murni Menuju Suci.

Intinya Tak lain dan tak bukan Adalah;
Sedulur Papat Kalima Pancernya kita sendiri, isi dari wujud/raganya kita sendiri, yang selama ini, menjadikan kita bisa itu dan ini, namun kita abaikan begitu saja dan kita anggap tidak penting serta bukan yang utama.

Dan istilah Manunggaling Kawula Gusti itu, yang di lantunkan dalam Kidung Wahyu Kalaseba Adalah;

Manunggaling Sedulur Papat Kalima Pancer atau Empat Anasir dan Hidup. Kawula atau Empat Anasir itu Sedulur Papat, dan Gusti atau Hidup itu Pancernya.

Manunggaling Kawula Gusti atau Manunggaling Empat Anasir dan Hidup atau Manunggaling Sedulur Papat Kalima Pancer atau Wahyu Panca Ghaib inilah yang di sebut Hidup.

Yang menjadi isi wujud/raga kita, identitas jati diri kita yang sebenarnya, yang selama ini menghidupi dan menghidupkan wujud/raga berserta semua atribut kita, sehingganya kita bisa itu dan ini.

Hidup ini, ada di dalam diri kita sendiri, bukan di luar diri kita, dan Hidup kita sendiri inilah, yang selama ini di sebut-sebut, sebagai Imam Mahdi atau Ratu Adil atau Satriya Paningit atau Guru Sejati atau Romo.

Dengan uraian diatas, berarti setiap manusia, tidak peduli apapun agamanya dan latar belakangnya, di sadari atau tidak di sadari, di sukai atau tidak di sukai, mau atau tidak mau, sebenarnya/sesungguhnya;

Memiliki Imam Mahdi sendiri-sendiri atau Ratu Adil sendiri-sendiri atau Satriya Paningit sendiri-sendiri atau Guru Sejati sendiri-sendiri atau Romo sendiri-sendiri atau Hidup sendiri-sendiri.

Jadi…
Tinggal manusianya sendiri;
Mau berTaubat lalu berIman apa tidak…?!

Kalau Mau berTaubat lalu berIman, pasti akan sadar diri, karena sadar diri, pasti bisa menyadari, bahwa di dalam dirinya itu, ada Imam Mahdi atau Ratu Adil atau Satriya Paningit atau Guru Sejati atau Romo atau Hidup.

Nah…
Dengan kesadaran inilah, manusia bisa mengenalnya secara nyata, adanya Imam Mahdi atau Ratu Adil atau Satriya Paningit atau Guru Sejati atau Romo atau Hidup yang bersemayam di dalam dirinya,

Sehingganya bisa merasakannya, menikmatinya, menghayatinya dan mengikutinya dengan sadar, tanpa tekanan dan paksaan apapun.

Karena sudah mengenalnya “jadi”
mengerti dan memahami serta mengetahui. Bahwa;

Imam Mahdi atau Ratu Adil atau Satriya Paningit atau Guru Sejati atau Romo atau Hidup ini, yang ada di dalam dirinya itu, melampaui semuanya dan segalanya yang ada di dunia ini, termasuk anak istri/suami.

Dengan penjelasan diatas, hal ini jadi sangat mudah di mengerti dan di pahami serta di ketahui kan…

Bahwasannya;
Kalau masih ada yang dianggap lebih penting dan utama di banding
Imam Mahdi atau Ratu Adil atau Satriya Paningit atau Guru Sejati atau Romo atau Hidup nya sendiri ini, berati belum mengenal identitas diri sejati nya sendiri, belum mengenal Wahyu Panca Ghaib nya sendiri.

Karena belum mengenal diri sejatinya, belum mengenal Wahyu Panca Ghaibnya, yang artinya belum mengenal Rabb-nya/Tuhan-nya; Sudah pasti…
Istri atau Suami, itu lebih penting dan lebih utama, daripada Wahyu Panca Ghaib.

Sebab belum mengenal diri sejatinya, belum mengenal Wahyu Panca Ghaibnya, yang artinya belum mengenal Rabb-nya/Tuhan-nya;
Sudah pasti…
Anak, itu lebih penting dan utama, daripada Kadhang.

Sebab Karena belum mengenal diri sejatinya, belum mengenal Wahyu Panca Ghaibnya, yang artinya belum mengenal Rabb-nya/Tuhan-nya;
Sudah pasti…
Kesibukan urusan duniawi, itu jauh lebih penting dan utama, dari pada keKadhangan.

Kalau masih asyik disitu dan tidak mau segera berTaubat dan berIman.

Sebab karena belum mengenal diri sejatinya, belum mengenal Wahyu Panca Ghaibnya, yang artinya belum mengenal Rabb-nya/Tuhan-nya “maka” bersiaplah untuk selalu menderita sebab akibat dari hancurnya kepalsuan yang dianggap penting dan utama itu.

Sudahkah Anda Mengenal Wahyu Panca Ghaib Anda…?!
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling)

Barang siapa mengenal Wahyu Panca Ghaib, akan mengenal Tuhan-nya.
Kalau bahasa awamnya…
Barang siapa mengenal diri, akan mengenal Rabb-nya.

Mengenal Wahyu Panca Ghaib, berarti mengenal identitas jati dirinya sendiri. Mengenal identitas jati dirinya sendiri, berarti mengenal Rabb-nya/Tuhan-nya, dan di dalam Laku Murni Menuju Suci, saya WEB bertanya;

Sudahkah Anda Mengenal Wahyu Panca Ghaib Anda…?!
Kalau bahasa awamnya…
Sudahkah Anda Mengenal Diri Anda…?!

Para Kadhang Kinasih-ku sekalian.
Dari sekian banyak kabar yang sudah saya sampaikan melalui Artikel dan Vidio di internet, mengenai Wahyu Panca Ghaib yang di Ibadahkan dengan Wahyu Panca Laku atau Taubat Iman, yang arti maksud simpelnya/singkatnya adalah Laku Murni Menuju Suci.

Tak lain dan tak bukan Adalah;
Sedulur Papat Kalima Pancernya kita sendiri, isi dari wujud/raganya kita sendiri, yang selama ini, menjadikan kita bisa itu dan ini, namun kita abaikan begitu saja dan kita anggap tidak penting serta bukan yang utama.

Dan istilah Manunggaling Kawula Gusti itu. Adalah;

Manunggaling Sedulur Papat Kalima Pancer atau Empat Anasir dan Hidup. Kawula atau Empat Anasir itu Sedulur Papat, dan Gusti atau Hidup itu Pancernya.

Manunggaling Kawula Gusti atau Manunggaling Empat Anasir dan Hidup atau Manunggaling Sedulur Papat Kalima Pancer atau Wahyu Panca Ghaib inilah yang di sebut Hidup.

Yang menjadi isi wujud/raga kita, identitas jati diri kita yang sebenarnya, yang selama ini menghidupi dan menghidupkan wujud/raga berserta semua atribut kita, sehingganya kita bisa itu dan ini.

Hidup ini, ada di dalam diri kita sendiri, bukan di luar diri kita, dan Hidup kita sendiri inilah, yang selama ini di sebut-sebut, sebagai Imam Mahdi atau Ratu Adil atau Satriya Paningit atau Guru Sejati atau Romo.

Dengan uraian diatas, berarti setiap manusia, tidak peduli apapun agamanya dan latar belakangnya, di sadari atau tidak di sadari, di sukai atau tidak di sukai, mau atau tidak mau, sebenarnya/sesungguhnya;

Memiliki Imam Mahdi sendiri-sendiri atau Ratu Adil sendiri-sendiri atau Satriya Paningit sendiri-sendiri atau Guru Sejati sendiri-sendiri atau Romo sendiri-sendiri atau Hidup sendiri-sendiri.

Jadi…
Tinggal manusianya sendiri;
Mau berTaubat lalu berIman apa tidak…?!

Kalau Mau berTaubat lalu berIman, pasti akan sadar diri, karena sadar diri, pasti bisa menyadari, bahwa di dalam dirinya itu, ada Imam Mahdi atau Ratu Adil atau Satriya Paningit atau Guru Sejati atau Romo atau Hidup.

Nah…
Dengan kesadaran inilah, manusia bisa mengenalnya secara nyata, adanya Imam Mahdi atau Ratu Adil atau Satriya Paningit atau Guru Sejati atau Romo atau Hidup yang bersemayam di dalam dirinya,

Sehingganya bisa merasakannya, menikmatinya, menghayatinya dan mengikutinya dengan sadar, tanpa tekanan dan paksaan apapun.

Karena sudah mengenalnya “jadi”
mengerti dan memahami serta mengetahui. Bahwa;

Imam Mahdi atau Ratu Adil atau Satriya Paningit atau Guru Sejati atau Romo atau Hidup ini, yang ada di dalam dirinya itu, melampaui semuanya dan segalanya yang ada di dunia ini, termasuk anak istri/suami.

Dengan penjelasan diatas, hal ini jadi sangat mudah di mengerti dan di pahami serta di ketahui kan…

Bahwasannya;
Kalau masih ada yang dianggap lebih penting dan utama di banding
Imam Mahdi atau Ratu Adil atau Satriya Paningit atau Guru Sejati atau Romo atau Hidup nya sendiri ini, berati belum mengenal identitas diri sejati nya sendiri, belum mengenal Wahyu Panca Ghaib nya sendiri.

Karena belum mengenal diri sejatinya, belum mengenal Wahyu Panca Ghaibnya, yang artinya belum mengenal Rabb-nya/Tuhan-nya; Sudah pasti…
Istri atau Suami, itu lebih penting dan lebih utama, daripada Wahyu Panca Ghaib.

Sebab belum mengenal diri sejatinya, belum mengenal Wahyu Panca Ghaibnya, yang artinya belum mengenal Rabb-nya/Tuhan-nya;
Sudah pasti…
Anak, itu lebih penting dan utama, daripada Kadhang.

Sebab Karena belum mengenal diri sejatinya, belum mengenal Wahyu Panca Ghaibnya, yang artinya belum mengenal Rabb-nya/Tuhan-nya;
Sudah pasti…
Kesibukan urusan duniawi, itu jauh lebih penting dan utama, dari pada keKadhangan.

Kalau masih asyik disitu dan tidak mau segera berTaubat dan berIman.

Sebab karena belum mengenal diri sejatinya, belum mengenal Wahyu Panca Ghaibnya, yang artinya belum mengenal Rabb-nya/Tuhan-nya “maka” bersiaplah untuk selalu menderita sebab akibat dari hancurnya kepalsuan yang dianggap penting dan utama itu.

Bagi yang segera mau berTaubat lalu berIman “berbahagialah” karena Urip wes Mijil-Hidup sudah hadir untukmu, jadi, tak perli bersusah paham mencarinya, tinggal merasakannya, menikmatinya, menghayatinya dan mengikutinya “Hidup” akan menuntun kita, kemana pun arah yang hendak kita tuju dengan benar-benar tepat dan nyata-nyata benar.

“BERSAMBUNG KE BAGIAN DUA”
Salam Rahayu Penuh Cinta Kasih Sayangku Untukmu Sekalian Dan
“Selamat_/!\_Selamat_/!\_Selamat” Untuk kita semuanya tanpa terkecuali.
Ttd: Toso Wijaya. D.
Lahir: Cirebon.
Hari: Rabu Pon.
Tanggal: 13 – 08 -1959
Di Gubug Jenggolo Manik.
Alamat:
Jl. Raya Pilangrejo.
Gang. Jenggolo.
Dusun. Ledok Kulon.
Rt/Rw: 004/001.
Ds: Pilangrejo.
Kec: Juwangi.
Kab: Boyolali.
Propinsi: Jawa Tengah.
Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Iklan

Urip Wes Mijil – Hidup Sudah Hadir:


Urip Wes Mijil – Hidup Sudah Hadir:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 01:48. Hari Sabtu. Tanggal 16 Juni 2018.

*Seringkali kita lupa Hidup untuk bisa Hidup#

Mengeluh mengenai apa yang ada sekarang, merasa paling menderita, menginginkan apa yang tak ada, tanpa mensyukuri apa yang sudah ada.

Dan setelah yang ada pergi, menyesali masa lalu “galau” kenapa yang dulu tak ada lagi, padahal dulupun ia tak disyukuri.

*Seringkali kita lupa Hidup untuk bisa Hidup#

Galau memikirkan masa depan, takut akan berbagai hal, padahal ia hadir pun belum, dan belum tentu juga akan terjadi, tapi khawatir sudah dari sekarang.

Dan kalau yang ditakutkan benar-benar terjadi, mulai lagi menyesali masa lalu, kenapa begini, kenapa begitu, seharusnya begini, seharusnya begitu, seandainya saja…

Lalu kapan kita Hidup untuk bisa Hidup…?!

Karena Sekarang Hidup Sudah Mijil, artinya sudah hadir;
Hadir di masa sekarang ini, detik demi detik, menikmati momen demi momen secara sadar dan nyata.

Menyadari setiap nafas yang keluar masuk melalui kerongkongan hingga ke dalam dada, berdebarnya jantung, mengalirnya darah.

Menikmati secara sadar dan nyata mata yang bisa melihat, hidung yang bisa mencium, mulut yang bisa berkata.

Menikmati secara sadar dan nyata saat ini, karena nanti belum tentu ada, dan yang ada belum tentu datang lagi.

Para Kadhang kinasih-ku sekalian. Hiduplah untuk detik saat ini.

Mencintai Mengasihi Menyayangi semua dan segalanya pemberian Hyang Maha Cinta Kasih Sayang.

Ketahuilah…
Urip Wes Mijil (Hidup Sudah Hadir)
Kini sudah saatnya dan sudah waktunya, inilah yang terbaik saat ini.

Yang kita pikir buruk bisa jadi yang terbaik, yang kita pikir baik bisa jadi yang terburuk, karena hanya Hidup yang tahu, dan kita tak perlu sok tahu.

Sakit…?!
Nikmati.
Rugi…?!
Nikmati.
Gagal…?!
Nikmati.
Perih…?!
Nikmati.
Malu…?!
Nikmati.
Pedih…?!
Nikmati.
Bla bla bla…?!
Nikmati.
Karena ada banyak keindahan dibalik semua itu, yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang mau berTaubat dan berIman hanya kepada-Nya.

Tanpa perlu menemukan hikmahnya, tanpa perlu menalar kenapa;
Sakit…?!
Rugi…?!
Gagal…?!
Perih…?!
Malu…?!
Pedih…?!
Bla bla bla…?!
Itu indah.

Cukup Hanya menyadari bahwa semua dan segalanya itu, adalah Kuasa Hidup.

Ayo…
Jangan tunggu lama dan buang waktu sia-sua, Hiduplah untuk Hidup kita, yang isinya berbagai nikmat dan karunia-Nya.

Yang kita pikir buruk, bisa jadi didambakan banyak orang, karena baju yang kau keluhkan hari ini,
bisa jadi permata bagi yang tak punya baju, mata yang kau rasa terlalu kecil, bisa jadi harapan semua orang buta.

Berhentilah mengeluh, mulailah menikmati dengan kesadaran Hidup apapun yang ada, dengan begitu kita bisa Hidup untuk Hidup dan Hidup kita akan lebih hidup lagi mulai detik saat ini. He he he . . . Edan Tenan.

Salam Rahayu Penuh Cinta Kasih Sayangku Untukmu Sekalian Dan
“Selamat_/!\_Selamat_/!\_Selamat” Untuk kita semuanya tanpa terkecuali.
Ttd: Toso Wijaya. D.
Lahir: Cirebon.
Hari: Rabu Pon.
Tanggal: 13 – 08 -1959
Di Gubug Jenggolo Manik.
Alamat:
Jl. Raya Pilangrejo.
Gang. Jenggolo.
Dusun. Ledok Kulon.
Rt/Rw: 004/001.
Ds: Pilangrejo.
Kec: Juwangi.
Kab: Boyolali.
Propinsi: Jawa Tengah.
Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Hidup Itu Proses. Bukan Protes:


Hidup Itu Proses. Bukan Protes:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 19:25. Hari Jumat. Tanggal 15 Juni 2018.

Para Kadhang Kinasih-ku sekalian.
Ketika saya berpikir negatif pada seseorang “maka” pada saat itu pula, saya telah menghakimi orang itu.

Itu baru berpikir negatif lo, apa lagi kalau lebih dari sekedar berpikir negatif, artinya, lebih dari sekedar telah menghakimi tentunya.

Mari kita coba merenung sejenak.
Kira-kira lebih mudah dan lebih mungkin yang mana…?!

Berusaha menyingkirkan semua kerikil tajam di sepanjang jalanan, atau memakai sepatu agar kaki kita tidak terluka…?!

Mari kita coba merenung lagi sejenak. Kira-kira lebih mudah dan lebih mungkin yang mana…?!

Berusaha mensteril semua tempat agar tak ada kuman, atau memperkuat daya tahan tubuh kita sendiri…?!

Mari kita coba merenung lagi.
Kira-kira ebih mudah dan lebih mungkin yang mana…?!

Berusaha mencegah setiap mulut agar tak bicara sembarangan,
atau menjaga hati kita sendiri agar tidak mudah tersinggung…?!

Mari kita coba merenung sejenak.
Kira-kira lebih penting mana…?!

Berusaha menguasai orang lain, atau belajar menguasai diri sendiri…?!

Yang penting bukan bagaimana orang harus baik padaku, melainkan bagaimana aku berusaha baik pada orang lain.

Bukan orang lain yang membuat aku bahagia, melainkan sikap diriku sendirilah yang menentukan, aku bahagia atau tidak.

Setiap waktu yang telah kita habiskan dalam hidup di kehidupan dunia ini, tidak akan pernah bisa terulang kembali, namun ada satu hal yang masih tetap bisa kita lakukan, yaitu;

BELAJAR…
Dari masa lalu untuk hari esok yang lebih baik, bukankah begitu Para kadhang dan para sedulur kinasih-ku sekalian…?!

Mudah mengawali, tapi susah mengakhiri, itu yang banyak dialami oleh orang pada umumnya.

Satu misal;
Banyak ide-ide bermunculan, namun tak satupun yang terselesaikan dengan sempurna.

Semua pekerjaan jadi menumpuk, lama-lama kian membusuk, dan kitapun mulai terpuruk.

Pada akhirnya banyak cacian kasar yang mengatakan “kamu hanya bermulut besar” sehingganya, hina’an dan terpa’an itu, membuat kita semakin takut dan menjadi pengecut.

Dan ujungnya kita hanya menjadi orang yang mudah mengawali, tapi susah mengakhiri, lalu kita komplain, protes sama Tuhan, bla, bla, bla bleng… He he he . . . Edan Tenan.

Kehidupan adalah PROSES, bukan protes, proses untuk apa…?!

Proses untuk BELAJAR, belajar untuk apa…?!

Belajar untuk Hidup.
Karena Hidup, Tan keno Pati (tidak mengenal mati). Melainkan sempurna.

Di dalam Belajar, kalau jatuh ya bangun, terjengkang, berdiri lagi to…

Kalah, ya mencoba lagi, gagal, ya berusaha lagi. Tidak ada yang tidak mungkin selagi hayat masih di kandung badan. Percayalah…!!!

Terbentur… Terbentur… Terbentuk.
Jadi,,, jangan mengeluh dulu, cobalah berhenti mengeluh, bertaubat dan berImanlah saja pada Dzat Maha Suci Hidup.

Semua datang dari-Nya dan bagaimanapun proses, tetap akan kembali kepada-Nya “Jadi” Kenapa harus risau…?!

Berbahagialah untuk setiap coba’an yang datang, karena itulah sekolah kehidupan, di mana tak ada yang bisa membeli soal ujiannya, Ujian hanya Dzat Maha Suci Hidup berikan pada orang-orang tertentu.

Syukurilah… Nikmatilah… Dengan kesadaran rasa kita yang sadar setiap ujian-Nya, dan janji-Nya selalu benar “karunia-Nya menanti siapapun yang mensyukuri cobaan-Nya.

Kalau harus berbicara Nasib…
Nasib setiap manusia itu, pada hakikatnya, telah ditentukan oleh-Nya sebelum seseorang tersebut dilahirkan ke muka bumi.

Oleh karena itu, yang namanya sedih, senang, khawatir, bangga, kecewa, bahagia, optimis, pesimis, dan berbagai rasa dan perasaan lainnya, sebagai respon dalam menyikapi setiap keadaan atau kejadian dalam hidup, dan ini tentunya hal yang sudah biasa.

Seperti adanya siang, sore, malam dan pagi yang silih berganti di setiap harinya, begitu juga keadaan hidup pada setiap diri seseorang, fluktuatif, mekanis, dan selalu berubah, bukan kah begitu Para kadhang dan para sedulur kinasih-ku sekalian…?!

Dalam pencapaian sukses pun, seseorang harus bekerja keras, berusaha cerdas, serta terus mengasah pengalaman dan keterampilan dengan senantiasa belajar dan terus-menerus belajar.

Dan nilai kesuksesannya pun, tidak dengan besarnya materi, jabatan, ataupun apapun atribut keduniawian ini.

Akan tetapi, tidak lebih ukuran kesuksesan seseorang ada pada kebahagiaan yang dapat di rasakannya, seperti halnya pada keadaan yang secara umum kelihatan menderita atau terpuruk pun, jika disikapi dengan kenikmatan Wahyu Panca Laku yang selama ini kita kenal dengan sebutan iman, itulah sebuah kebahagiaan hidup.

Namun percayalah Para kadhang dan para sedulur kinasih-ku sekalian, tidak ada satupun yang sia-sia dari setiap langkah-langkah yang sudah kita ambil, karena “tidak selembar daunpun yang jatuh ke bumi tanpa kehendak-Nya”
dan tanaman yang baik pasti akan dapat kita tuai kelak.

Sebab karenanya, tetapkan laku tetep idep madep mante (konsisten) dalam jalur-jalur kebenaran dan kebaikan, tidak merugikan orang lain, tidak menyakiti orang lain, ringan tangan dalam membantu mengurangi beban kesusahan orang lain.

Serta tetap berusaha dengan segala daya dan upaya untuk tidak mencabut pertaubatan dan menghentikan keimanan yang telah kita lakukan kepada Dzat Maha Suci Hidup, sehingga potensi serta kesempatan terbaik ini, dapat kita miliki dan kita gunakan dengan sebaik-baiknya hingga anak cucu kita nantinya.

Kalau sudah jelas begini “lalu” jika ada seseorang yang dengan bermodal keberanian dan kepercayaan dirinya, menawarkan bahkan menjanjikan bisa menggandakan uang seketika.

Lantas apakah Anda akan langsung bisa percaya begitu saja…?!

Hanya karena seseorang tadi berpenampilan layaknya pemuka agama, bertutur kata halus, dan terlihat baik.

Kebaikan memang bersifat universal, sekalipun tidak mengandung kebenaran. Itulah kenapa kebaikan lebih mudah diterima oleh setiap orang.

Namun….
Sekali lagi saya katakan, mari kita merenung sejenak, bahwasannya, segala sesuatu yang tercipta di dunia ini, tidak lahir begitu saja secara instan, tanpa sebuah alasan dan tanpa melewati sebuah proses.

Contohnya;
Kita lahir ke dunia, tidak langsung sebesar kita yang sekarang ini bukan…?!

Kupu-kupu yang indah pun tidak lepas dari proses metamorfosisnya.

Mie instan saja, begitu dibuka dari bungkusnya, tidak langsung tersaji seperti yang tergambar di bungkusnya kan…?!

Semuanya butuh proses, untuk mendapatkan gelar sarjana pun tetap harus melewati serangkaian proses, sekalipun kita membeli gelar dan ijazah, tetap makan proses.

Bahkan pinjam uang sekalipun, tidak serta merta peminjamnya memberikan begitu saja tanpa proses bahkan syarat, berharap dan menginginkan hasil lebih tanpa dibarengi usaha adalah sebuah kemustahilan dan menjadi penyakit yang mulai menjangkit sebagian dari kita.

Hidup memang butuh proses, bukan protes. Saat kita lapar, kemudian kita berdoa meminta dihapus rasa laparnya, apakah lantas hilang rasa lapar tadi…?! Oh…No.

Ada proses yang harus dilewati untuk menghilangkan lapar tadi, dengan makan misalnya, ketika kita merasa lelah dan letih, kemudian kita berdoa meminta dihilangkan rasa letih tadi, apakah rasa lelah dan letih kita seketika hilang…?! Oh… tidak.

Sekalipun kita berdoa siang malam, rasa lapar rasa lelah tadi tidak akan hilang, debab harus ada proses yang dilewati, lewat makan dan istirahat dan tidur untuk melepas lelah dan letih tadi.

Memang….
Tidak ada yang mustahil bagi Dzat Maha Suci Hidup, tapi… Hal ini hanya bisa di peroleh hanya dengan berTaubat dan berIman kepada-Nya saja, bukan selain itu.

Jadi…
Jika di luar nanti kita menemukan orang-orang yang hanya bermodalkan kepercayaan diri, keberanian, dan bermuka tebal, menawarkan janji-janji bisa menggandakan uang atau mendongkrak taraf perekonomian menjadi lebih baik hanya dengan sebuah ritual kasak kuduk, tanpa PerTaubatan Dan KeImanan, lebih baik tinggalkan saja orang tersebut.

Salam Rahayu Penuh Cinta Kasih Sayangku Untukmu Sekalian Dan
“Selamat_/!\_Selamat_/!\_Selamat” Untuk kita semuanya tanpa terkecuali.
Ttd: Toso Wijaya. D.
Lahir: Cirebon.
Hari: Rabu Pon.
Tanggal: 13 – 08 -1959
Di Gubug Jenggolo Manik.
Alamat:
Jl. Raya Pilangrejo.
Gang. Jenggolo.
Dusun. Ledok Kulon.
Rt/Rw: 004/001.
Ds: Pilangrejo.
Kec: Juwangi.
Kab: Boyolali.
Propinsi: Jawa Tengah.
Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Hakikat ROMO/RAMA yang Sebenarnya. (Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling):


Hakikat ROMO/RAMA yang Sebenarnya. (Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling):
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 12:21. Hari Selasa. Tanggal 12 Juni 2018.

Sudah waktunya dan sudah saatnya, seluruh Kadhang kinasih-ku, yang saya bimbing secara langsung atau secara online melalui media internet, tidak lagi memanggil saya dengan sebutan ROMO/RAMA.

Sebab karena, ROMO/RAMA yang terpakai di dalam Laku Murni Menuju Suci yang sedang kita pelajari dengan jalan berTaubat dan cara berIman ini, tidak sama dengan ROMO/RAMA yang pada umumnya diartikan sebagai Bapak atau Bopo.

Terkait hal ini;
Semua Pengetahuan-ku “sungguh” sudah saya sampaikan, baik secara langsung, maupun melalui media di internet, dengan ilmu pengertian dan pemahaman spiritual dari berbagai sudut pandang tanpa tedeng aling-aling (tanpa rahasia).

Bahwasannya;
ROMO/RAMA adalah Roh lan Komo, atau Roh Mono, atau Rasa Manunggal.

Masih ingat wejangan saya kan…?!
Wahyu Panca Ghaib itu apa…?!
Wahyu Panca Laku itu apa…?!
Yang pernah saya uraikan baik secara langsung maupun melalui artikel dan vidio yang saya kabarkan di internet, tentang Wahyu Tertua dan Pertama Kali Di Turunkan ke Bumi, penerimanya adalah Nabi ADAM.

Yang pada intinya, bahwa Wahyu Panca Ghaib itu, adalah isi raga kita sendiri, yang secara ilmu adatnya, lebih di kenal dengan sebutan Sedulur Papat Kalima Pancer dalam istilah ilmu spiritualnya atau Kawula Gusti dalam istilah ilmu kejawennya, atau empat Anasir dan Hidup kalau dalam istilah ilmu biologinya, atau empat malaikat dan Rasul dalam istilah ilmu agamanya, atau Kawah, Ari-ari, Puser, Getih lan Urip kalau istilah adat tradisinya, atau Wahyu Panca Ghaib kalau istilah Lakunya.

Nah…
Manunggalnya atau Menyatunya atau Bersatunya Sedulur Papat Kalima Pancer dalam istilah ilmu spiritualnya atau Kawula Gusti dalam istilah ilmu kejawennya, atau empat Anasir dan Hidup kalau dalam istilah ilmu biologinya, atau empat malaikat dan Rasul dalam istilah ilmu agamanya, atau Kawah, Ari-ari, Puser, Getih lan Urip kalau istilah adat tradisinya, atau Wahyu Panca Ghaib kalau istilah Lakunya, inilah yang di maksud ROMO/RAMA, jadi, jelas bukan Bapak atau Bopo kan…!!!

Karena sebab itu, saya mohon dengan kesadaran penuh cinta kasih sayang, robahlah cara panggilmu kepada saya, bapak WEB atau Pak WEB, itu sudah lebih dari Cukup, jangan di awali dengan
ROMO/RAMA, karena itu akan mempersulit Laku Murni Menuju Suci mu sendiri. Oke…

Kenapa saya tidak menjelaskan hal ini sejak awal…?!
Karena Panjenengan masih terlalu awam.

Karena semua Pengetahuan-ku “sungguh” sudah saya sampaikan, baik secara langsung, maupun melalui media di internet, dengan ilmu pengertian dan pemahaman spiritual dari berbagai sudut pandang tanpa tedeng aling-aling (tanpa rahasia).

Berarti sekarang panjenengan sudah tidak awam lagi dan bukan awam lagi, sebab itu sekarang saya katakan, agar supaya tidak mengalami kesulitan dalam bentuk apapun di dalam Laku Murni Menuju Suci.

Para Kadhang Kinasih-ku sekalian…

Tubuh kita sebagai wujud kasar manusia ini, bisa saya gambarkan seperti sangkar burung yang tertutup ‘maka’ ketahuilah burung yang ada di dalamnya.

Jika kita tidak mengetahuinya, kita tidak akan mengenalnya, kalau kita tidak mengenalnya, akan malang jadinya dan seluruh amal perbuatan kita, menjadi sia-sia semata jika kita tidak mengenalnya.

Sebab karena itu “galilah rasa yang meliputi seluruh tubuhmu, karena di dalam tubuhmu, ada firman/dawuh Tuhan, yang dapat menjadi jiwa ragamu, lahir bathinmu, hidup matimu dan dunia akheratmu”

Kalau lupa tentang ilmu pengertian dan pemahamannya, coba baca ulang artikel saya yang berjudul;

Ingin Mengenal Identitas Dirimu…?! Bukalah Hatimu. Lalu Masuklah kedalam Jiwamu.
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling Bagian Satu):

Lalu…

Ingin Mengenal Identitas Dirimu…?! Bukalah Hatimu. Lalu Masuklah kedalam Jiwamu.
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling Bagian Dua):

Buka dan baca ulang juga artikel saya yang berjudul;

Mari Kita Bersama-sama Mengenal Ruh dan Jiwa Kita (Wejangan Bagian Pertama):

Lalu…

Mari Kita Bersama-sama Mengenal Ruh dan Jiwa Kita (Wejangan Bagian Kedua):

Setelah mengerti dan paham, lalu segera Praktek-Kan!!!

“Selamat_/!\_Selamat_/!\_Selamat” Untuk kita semuanya tanpa terkecuali.
Ttd: Toso Wijaya. D.
Lahir: Cirebon.
Hari: Rabu Pon.
Tanggal: 13 – 08 -1959
Di Gubug Jenggolo Manik.
Alamat:
Jl. Raya Pilangrejo.
Gang. Jenggolo.
Dusun. Ledok Kulon.
Rt/Rw: 004/001.
Ds: Pilangrejo.
Kec: Juwangi.
Kab: Boyolali.
Propinsi: Jawa Tengah.
Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Kenapa dan Mengapa Mendiang Romo Semono Sastrohadijoyo berPesan “Ojo Cawe-cawe” (jangan ikut campur):


Kenapa dan Mengapa Mendiang Romo Semono Sastrohadijoyo berPesan “Ojo Cawe-cawe” (jangan ikut campur):
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Mulai Pukul: 15:15 hingga Pukul: 15:50. Pada Hari Rabu. Tanggal 6 Juni 2018.

Para Kadhang kinasihku mengerti dan paham serta tahu, kenapa dan mengapa mendiang Romo Semono Sastrohadijoyo berPesan pada semua Putro Romo “Ojo Cawe-Cawe” (Jangan Ikut Campur)

Bagi yang sudah mengerti dan memahami serta mengetahui, Rahayu selalu untuk panjenengan.

Bagi yang belum mengerti dan memahami serta mengetahuinya,
maka pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi ilmu pengetahuan terkait Sabda Ojo Cawe-Cawe atau Jangan Ikut Campur, sesuai hasil Praktek saya secara langsung di TKP.

Para Kadhang kinasihku sekalian…
Sabar merupakan sesuatu yang sulit untuk dilakukan bagi sebagian besar orang, karena sabar itu, adalah merupakan ilmu tingkat tinggi, di dalam sabar, ada takwa, ada patuh, ada taat, ada sembah kepada Tuhan.

Sebab itu, jika dilakukan, dapat membawa ketenangan hati (Ruh) dan pikiran (Jiwa).

Sebenarnya…
Sabar tidak ada batasnya, karena sabar adalah bagian dari sifat Tuhan yang Maha Sabar, tapi manusia lah yang membuat batasan-batasan tentang kesabaran tersebut.

Sebab karena itu, diam adalah tindakan terbaik yang dilakukan saat kita butuh bersabar, tapi diam yang dimaksud, bukanlah diam tanpa tindakan.

Diam yang dimaksud adalah sebagai ‘jeda’ untuk kita rehat sejenak, dari memikirkan masalah yang ada, kemudian memikirkan cara selanjutnya untuk menghadapi masalah tersebut, itu maksudnya.

Berikut ini;
Tujuh alasan kenapa dan mengapa Putro Romo tidak di perkenankan cawe-cawe/ikut campur.

1. Karena;
DIAM MENGAJARKAN KITA UNTUK LEBIH TENANG DALAM MENYELESAIKAN SEGALA MASALAH.

Maksudnya…
Tenang dalam diam, adalah salah satu cara untuk menyelesaikan masalah, terkadang kita tidak perlu menjadi seseorang yang terlalu aktif ketika ada masalah.

Cukup diam, dan pikirkanlah hal yang positif, ketika masalah itu datang menghampiri.

Dalam diam, kita bisa merenungkan apa yang menjadi kendala dalam menghadapi masalah.

Diam bukan berarti kalah atau menyerah, sebab diam, bisa digunakan sebagai salah satu cara untuk memenangkan sebuah pertandingan.

2. Karena;
BERSABAR ADALAH CARA YANG TEPAT UNTUK MENENANGKAN JIWA DAN MENYEHATKAN RAGA.

Maksudnya…
Bersabar dapat membuat jiwa lebih tenang dan damai, melalui kesabaran, kita tidak membiarkan diri kita terjerumus dalam sesuatu yang negatif.

Sabar membuat kita selalu memandang segalnya dari sisi yang positif dan universal.

Bahkan tidak hanya menenangkan, sabar juga dapat membuat raga kita menjadi lebih sehat dan terjaga.

Orang yang mempunyai sifat yang sabar, merupakan orang yang bermental kuat, bijaksana, dan menyenangkan.

Pikiran yang selalu positif, berdampak pada tubuh yang sehat, karena terhindar dari aura-aura negatif yang merugikan.

3. Karena;
AKAN ADA KEBAHAGIAAN JIKA KITA MAU BERSABAR.

Maksudnya…
Percayalah ujian hidup ini, hanya sementara, Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan umat-Nya.

Selama kita mau berlapang dada/legowo/rela menerima segala kejadian yang terjadi pada kita, kita pun akan dapat merasakan bahagia pada akhirnya.

Hal ini, karena tidak ada sejarah yang menceritakan ujian hidup yang terlalu lama.

Jadi…
Percayalah, ada kesenangan setelah kesulitan.

Jika kita mau bersabar, kita akan merasakan kebahagiaan yang manis, asal kita mau bertahan dan tidak menyerah pada keadaan, karena ujian hidup seberat apapun, pasti bisa kita lewati.

Ketika sudah berusaha sangat keras, jangan lupa bahwa kita telah berTaubat dan sedang berIman kepada Tuhan yang Maha Esa, karena hanya ibadah yang diiringi dengan pertaubatan dan iman lah, yang mampu mengubah keadaan.

4. Karena;
MASALAH YANG MENIMPA KITA ADALAH BAGIAN DARI RENCANA TUHAN, TIDAK ADA RENCANANYA YANG DAPAT MERUGIKAN MAHKLUKNYA.

“tidak selembar daunpun yang jatuh ke bumi ini, tanpa kehendak-Nya”

Maksudnya…
Segala sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan, begitupun segala masalah yang menimpa kita, hal tersebut tidak akan terjadi, jika bukan karena kehendak-Nya.

Dialah segala pencipta alam semesta seisinya, tidak ada satupun benda meski seukuran semut dapat bergerak jika bukan karena ijin-Nya.

Sebab karena itu, jangan pernah berburuk sangka terhadap kehendak Tuhan.

Percaya dan Yakinlah, tidak ada rencana Tuhan yang dibuat untuk merugikan umat-Nya.

Dialah Maha Pengatur rencana yang baik. BerIman-lah;
1. Pasrah kepada-Nya.
2. Menerima keputusan-Nya.
3. Mempersilahkan kuasa-Nya.
4. Merasakan kenyata’an-Nya.
5. Menebar cinta kasih sayang-Nya.

Kita hanya manusia yang bisa berencana, semua keputusan tetap di tangan-Nya. Bersabar adalah rayuan untuk meraih rida-Nya.

5. Karena;
KETAHUILAH ORANG-ORANG YANG BERSABAR AKAN MENDAPATKAN BALASAN YANG SETIMPAL.

Maksudnya…
Tuhan menjanjikan pahala bagi orang-orang yang memaafkan dan mau bersabar.

Tuhan tidak suka dengan orang yang membalas suatu kejahatan dengan kejahatan lainnya.

Tuhan adalah hakim yang paling adil, sebab karena itu, serahkanlah semua balasan hanya kepadaNya.

Pahala yang berlimpah, hanya ditujukan bagi orang-orang yang sabar dan mau memaafkan tanpa adanya rasa ingin membalas dendam pada orang yang telah menjahati atau menghalangi atau menganiaya kita (jika Wong Edan Bagu harus berbicara Pahala). Namun hal ini hanya sekedar Pahala, melainkan lebih dari sekedar itu.

6. Karena;
SABAR MENJAUHKANMU DARI PERILAKU TERCELA.

Maksudnya…
Sifat diam dan Sikap yang sabar, akan menjauhkan kita dari iri hati, dan benci kepada sesama mahkluk hidup, khususnya manusia.

Sebaik-baiknya manusia, ialah yang tetap menjaga persaudara’an dengan sesama manusia lainnya, meski ia telah tersakiti.

Jika kita masih merasa sulit untuk memaafkan, ada baiknya kita diam dan menjauh sejenak.

Kemudian, dekatilah kembali orang yang menyakiti kita, dengan perasaan tenang dan rasa cinta kasih sayang.

Karena, jika kita marah dan penuh kebencian, sipat dan sikap kita, menunjukan bahwa kita telah kalah.

Bersikaplah biasa pada orang yang telah menyakiti kita, hatinya pun akan perlahan terbuka setelah melihat tindakan kita yang tetap baik padanya, meski ia telah mengkhianati dan menyakiti kita hingga berulang kali.

Maka karena itu diamlah, dengan diam kita sudah sabar, dan dengan sabar itu, kita tidak akan melahirkan kebencian-kebencian lainnya.

7. Karena;
BERSABAR AKAN MENAHANMU DARI PERASAAN INGIN BALAS DENDAM.

Maksudnya…
Jika kita berniat melampiaskan dendam, itu semata hanya untuk kepentingan nafsu.

Balas dendam, hanya membuat dirimu terlihat sama rendahnya dengan orang yang telah melakukan kejahatan pada kita.

Tapi sebaliknya, jika kita memaafkan.

Tuhan justru akan memberi kemuliaan kepada kita, Sifat dan sikap memaafkan, dapat mewariskan kemuliaan lahir dan batin bagi diri kita sendiri maupun orang lain.

Tuhan saja memaafkan dosa-dosa kita, yang telah bertumpuk, masa kita tidak bisa memaafkan satu orang yang telah melakukan hanya satu kesalahan pada kita.

Iya nggak…?!

Sesungguhnya, ada banyak manfaat yang bisa didapatkan ketika kita mau diam bersabar.

Namun Pilihan kembali lagi ke diri kita masing-masing, apakah kita memilih diam bersabar sesuai Sabda Dawuhe Romo yang akibatnya akan menyelesaikan semuanya dengan Sempurna atau melampiaskan dendam demi untuk memenuhi hasrat dan nafsu sesaat yang akibatnya akan menghancurkan segalanya. Silahkan tentukan sendiri, karena itu HAM Anda.

Semoga Bermanfaat. Saya Wong Edan Bagu…. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Untukmu Yang Sedang Dihina. Dilecehkan Dan Diremehkan Tenang… Kesuksesan Menantimu Di Ujung Jalan:


Untukmu Yang Sedang Dihina. Dilecehkan Dan Diremehkan
Tenang… Kesuksesan Menantimu Di Ujung Jalan:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 21:07 hingga Pukul: 22:23. Pada
Hari Selasa. Tanggal 5 Juni 2018.

Heeemmmm….
Kita memang tidak bisa membuat semua orang suka kepada kita.

Ada kalanya kita harus menerima dari orang yang merasa tidak suka kepada kita, meski hal itu sama sekali tidak dibenarkan.

Ketika hina’an, cela’an atau pelecehan datang kepada kita, sakit hati, sudah pasti kita rasakan.

Namun jangan pernah jadikan hal tersebut sebagai beban yang menghambat kita untuk berkembang dan bergerak maju.

Kita boleh dihina, di cela atau di lecekan sekarang, dan kira boleh sakit hati.

Namun jadikan itu sebagai pemicu semangat kita, untuk membuktikan kepada mereka, yang meremehkan dan menghina kita, bahwa kita sama kuatnya dan akan lebih berhasil dari mereka.

Sakit hati ketika dibully atau di hina atau di lecehkan, itu pasti, tapi relakanlah hati untuk menjalani, karena Ada imbalan tersendiri dari ketabahan kita tentang itu.

Kamu sesat. Kamu kafir…
Jangan dekat-dekat!
Najis gue deket sama lu.

Bayangkan saja, bagaimana sakitnya saat ada orang yang ngomong seperti itu kepada kita.

Rasanya jelas bikin sakit hati dan perih banget.

Yang bikin kesel lagi, ketika kita ngelawan dan bales hina’annya, kita akan kena bully yang lebih hebat lagi.

Kalo udah begitu, kita bisa apa…?!

Ini memang terasa berat, tapi kita perlu rela hati dalam menerimanya.

Daripada marah-marah dan bikin ulah, malah kita akan di bully oleh yang lebih gila lagi.

Tenang saja, biasanya jika kita sabar, mereka akan mundur dengan sendirinya kok, percaya deh. Wong Edan Bagu sudah sering membuktikan kok.

Kalaupun mereka tidak mundur, kesabaran kerelaan hati kita untuk sabar, akan berbuah nantinya.

Yah…
Memang tidak langsung spontan saat itu juga sih.

Namun bukankah ada pepatah, Orang sayang akan disayang Tuhan.

Yakinlah.
Percayalah.
Tuhan akan memberikan imbalan.

Jadi…
Jangan tarik lari taubat mu.
Jangan hentikan iman mu.
Terus lanjutkan dengan Laku Murni Menuju Suci.

Mereka yang menghina kita, melecehkan kita, meremehkan kita, tidak selalu lebih baik dari kita,

Bisa saja mereka hanya iri dengan keberhasilan yang kita miliki. Umumnya kan seperti itu…

Hahahaha…
Sombong amat kamu, sok tau, anak kemaren sore, anak ingusan, masih bau kencur, baru belajar jalan, sudah ngomong selangit.

Kamu pernah dapet hina’an yang seperti itu…?!

Hina’an dan cacian serta makian dan pelecehan yang isinya adalah mengomentari apa yang kita lakukan, apa yang kita perbuat atau apa yang kita bicarakan.

Jika pernah gimana rasanya…?! Sakit kan, ya.

Tapi jangan biarkan rasa sakit tersebut, membuatmu larut berlama-lama.

Kita harus tetap positif dalam menghadapi hina’an, cela’an, makian atau pelecehan dalam bentuk apapun yang diberikan oleh mereka.

Cara gampangnya banget kok, anggap aja mereka iri dengan apa yang kita miliki.

hina’an, cela’an, makian atau pelecehan dalam bentuk apapun bentuknya, bukan cuman berarti kita jelek dan buruk serta tak layak untuk dikagumi.

Bisa jadi malah karena kita berbeda dan spesial, sehingga mereka iri dengan keadaan kita.

Itulah kenapa kita tidak perlu sampai memasukkan ke hati hina’an, cela’an, makian atau pelecehan dalam bentuk apapun yang kita terima, percayalah Wong Edan Bagu telah melaluinya.

Setidaknya dengan adanya mereka menghina kita, mencela kita, memakian kita, atau melecekan kita dalam bentuk apapun, artinya mereka juga memperhatikan kita. Kan…?!

Kesimpulan simpelnya…
Apapun itu, ambilah sisi positifnya dari setiap hina’an, cela’an, makian atau pelecehan dalam bentuk apapun yang ditujukan kepada kita.

Meski kita dibully, dihina, di cela, di maki, di lecehkan, dicerca dengan gencar oleh mereka-mereka yang membenci kita, kamu tidak perlu takut apalagi sampai depresi putus asa.

Cukup tabah dalam taubat keimanan lalu pandanglah segalanya dari sisi positifnya.

Hina’an, cela’an, makian atau pelecehan dalam bentuk apapun yang ditujukan kepada kita, adalah buah observasi yang mereka lakukan sendiri di setiap harinya.

Jadi…
Ya….
Anggap saja mereka mereka sedang perhatian banget kepada kita.

Jangan khawatir juga ketika mereka terus menghujanimu dengan hina’an, cela’an, makian atau pelecehan dalam bentuk apapun.

Itung-itung kita memberikan mereka kerjaan buat mikir tiap harinya, daripada nganggur kan? Nanti kalau kelamaan nganggur, bisa jadi kuncing garong lo….

Lagian dengan mendapat hina’an, cela’an, makian atau pelecehan dalam bentuk apapun dari mereka, kita bisa dapet transferan pahala, jika kita mau tetap sabar dalam keimanan dan tabah dalam taubat saat menghadapinya.

Sesat Yo Ben…
Kafir Yo Ben…
Najis Yo Ben…
Sombong Yo Ben…
Awam Yo Ben…
Bodoh Yo Ben…
Wantah Yo Ben…
Kuwur Yo Ben…
Dll Yo Ben…

Jelek Yo Ben…
Kalau tidak jelek, jadi artis, malah kemeng nanti kamu.

Aneh Yo Ben…
Kalau tidak aneh, bukan Wong Edan Bagu mananya. He he he . . . Edan Tenan.

Mungkin dalam setiap kesabaran iman dan ketabahan taubat yang kita jalani, kita pasti masih merasa sakit hati setelah dibully, dihina, di cela, di maki atau di lecehkan, itu kemungkinan masih ada.

Contoh misalnya, di luar sana bisa saja kita tampak biasa dan tanpa beban, tapi dalam hati seseorang, tidak ada yang tahu, kan…?!

Mungkin pada suatu titik, kita akan merasa tertekan, atas segala Hina’an, cela’an, makian atau pelecehan dalam bentuk apapun itu.

Kesal, brontak, marah dan sakit hati pasti masih melekat, karena kita adalah bangsa manusia, bukan dewa atau malaikat.

Namun kamu tidak perlu terlalu khawatir.

Ada banyak Kadhang yang sudah bertaubat dan beriman, yang selalu setia mendengar, menasehati, dan mendampingi kita, maka, temui Kadhang dan Kekadhanganlah kamu dengan Kadhang.

Kita bisa cerita segala keluh kesah yang kita rasa, seorang Kadhang akan selalu berusaha membantu dan memberi saran dengan pelukan cinta kasih sayang, bahkan saat satu dunia menginamu, mencelamu, msmakimu atau melecekanmu dalam bentuk apapun.

Ingat….
Kadhang yang sudah berTaubat dan berIman, bukan yang lain, kalau Kadhang yang belum bertaubat dan beriman, akan membantu mu untuk balas dendam, tapi Kadhang yang sudah bertaubat dan beriman, itulah Putro Romo, jadi, mustahil akan berbuat kerusakan.

Sebagai Putro Romo, pasti tahu mendiang Romo Semono Sastrohadijoyo kan…?!

Nah…
Minimal….
Tirulah beliau….
Maksimalnya, ya harus bisa sendiri, bukan sebatas biru thok.
Tetap semangat di dalam Pertaubatan dan KeImanan mu di dalam Laku Murni Menuju Suci, ya!

Semoga Bermanfaat. Saya Wong Edan Bagu…. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Revolusi Cinta Kasih Sayang Atau Perang BarataYuda…?!


Revolusi Cinta Kasih Sayang Atau Perang BarataYuda…?!
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 18:07 hingga Pukul: 18:30. Pada
Hari Senin. Tanggal 4 Juni 2018.

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasih-ku sekalian…
Pernahkah Anda mengetahui, bahwa dunia ini sedang berada dalam suatu revolusi besar…?!

Revolusi Besar…?!

Ya… Revolusi besar, dan revolusi besar yang sesungguhnya harus terjadi di dunia ini, bukan suatu perlawanan, pemberontakan, ataupun pembelotan terhadap siapa atau apa.

Melainkan hanyalah suatu perubahan kecil, namun bisa merubah segala sesuatunya dan mempengaruhi apapun, yang ada di sekitarnya, terutama dunia ini.

Dan revolusi itu adalah Cinta Kasih Sayang.

Mengapa cinta kasih sayang…?!

Apa yang istimewa dari sebuah cinta kasih sayang…?!

Lalu apakah pengaruhnya terhadap dunia ini…?!

Wahai Para Kadhang dan Para saudara/iku yang di muliakan Dzat Maha Suci Hidup, ketahuilah…

Cinta kasih sayang adalah anugerah Tuhan terhadap manusia yang paling luar biasa diantara anugerah-anugerah lainnya.

Saya mengerti kalau diantara kalian masih ada yang bingung, ataupun heran, mengapa saya berkata seperti itu, maka dari pada itu, di kesempatan kali ini, mari saya bantu jelaskan.

Apa itu Cinta Kasih Sayang…?!

Sebagian orang, menganggap bahwa mengartikan kata Cinta dan Kasih serta Sayang, hanyalah sebuah ikatan terhadap pasangan yang di cintainya atau yang ada hubungannya dengan yang di kasihi dan sayangi saja.

Hal ini pengertian yang terlalu sempit Para Kadhang dan Para Sedulur kinasih-ku sekalian.

Simpelnya;
Cinta adalah memberi.
Kasih adalah percaya.
Sayang adalah merasakan.

Cinta Kasih Sayang adalah Memberi Kepercayaan dengan Merasakan apa yang di berikan dan mengerti, memahami, mengetahui, mengenal apa yang di berikan.

Bukan hanya terhadap pasangan jenis kelamin saja, tapi jugs saudara/i kita yang lain, termasuk semua mahluk-mahluk Dzat Maha Suci Hidup yang ada di dunia ini.

Jangan lupa, bahwa cinta kasih sayang itu adalah kekuatan, dan ngatlah juga, bahwa cinta kasih sayang yang benar-benar cinta kasih sayang, tidak harus memiliki, dengan hanya kita mengerti dan menerapkan konsep-konsep tadi, maka mungkin kita tidak akan memiliki fisiknya, tapi kita pasti akan memiliki hatinya bahkan jiwanya.

Simpel bukan…?!
Bisa memahaminya kan…?!
Kemana arah tujuan dan maksudnya…!!!

Berbicara soal cinta kasih sayang, bukanlah menganggap, apa yang telah kita dapatkan dari dia ataupun yang lainnya, ini adalah suatu anggapan yang tidak tepat.

Yang sebenarnya kita harus tahu adalah, sesuatu apakah yang telah kita beri terhadap dia ataupun yang lainnya.

Ingatlah Para Kadhang dan Para Sedulur kinasih-ku sekalian, seberapa berartikah pemberian kita untuk orang yang kita cintai dan kasihi serta sayangi di dunia ini, entah itu suami/istri/anak atau saudara atau keluarga atau orang lain atau hewan, atau tumbuhan atau apapun itu statusnya.

Cinta Kasih Sayang adalah Memberi Kepercayaan dengan Merasakan apa yang di berikan dan mengerti, memahami, mengetahui serta mengenal apa yang di berikan.

Apa yang dia rasakan atau mereka rasakan, apakah itu sakit, sedih, ataupun bahagia, jika kita benar-benar mencintainya, mengasihinya, menyayanginya, maka kita akan bisa saling merasakan apa dan bagaimana yang dia atau mereka rasakan SEKARANG!

Cinta Kasih Sayang adalah Memberi Kepercayaan dengan Merasakan apa yang dia atau mereka rasakan, tidak ada perasaan saling cemburu ataupun sirik, iri, dengki, hasut, fitnah, bahkan benci dan dendam.

Kepercayaan yang kita berikan dengan Rasa kesadaran yang sadar, sangat berarti bagi dia dan mereka, dan dia atau mereka pun akan melakukan hal yang sama kepada kita.

Cinta Kasih Sayang adalah Memberi Kepercayaan dengan Merasakan apa yang di berikan dan mengerti, memahami, mengetahui, mengenal apa yang di berikan.

Hanya dengan itu, kita akan bisa dengan mudah memaafkan segala kesalahan diri sendiri dan sesama mahluk lainnya, yang telah kita buat di masa lalu pada dia atau pada mereka, dan yang dia atau mereka perbuat terhadap kita di masa yang lalu.

Lah….
Disinilah akan timbul/muncul rasa sadar diri, sehingga kita bisa merasakan kesadaran tertinggi, yaitu cinta kasih sayang yang tulus/murni antar sesama mahluk hidup tanpa terkecuali.

Sehingganya kita akan memiliki kemampuan yang kuat untuk bisa keluar dari kondisi yang bisa disebut, LEMAH.

Jika Cinta Kasih Sayang yang merupakan dimensi keLima dari Wahyu Panca Laku/Iman ini, kita gabungkan dengan keEmpat dimensi Wahyu Panca Laku/Iman yang lainnya, yaitu ke1-2-3-4, maka akan menciptakan keAjaiban, akan menjadi sesuatu kekuatan yang luar biasa.

Setelah kita Memberi Kepercayaan dengan merasakan apa yang di berikan dan mengerti, memahami, mengetahui, mengenal apa yang di beri kan, maka akan menciptakan keAjaiban.

KeAjaiban inilah sesuatu yang tidak bisa saya gambarkan atau saya umpamakan dengan apapun, pokoknya sesuatu kekuatan yang sangat luar biasa, yang bisa di gunakan untuk menyelamatkan apapun yang ada di dunia ini, terutama diri kita sendiri sekeluarga hingga tujuh turunan.

Seperti saudara/i kita yang menderita karena kelaparan, tidak punya tempat tinggal, miskin, tersingkirkan dari kondisi sosial, memiliki keterbatasan sosial dan masih banyak lagi yang lain-lainnya, bahkan bisa di gunakan untuk menyempurnakan apapun yang sudah mendahuli kita di akherat, para arwah leluhur misalnya.

Coba pikir dengan “ LOGIKA“mu dan Renungkan dengan “Kesadaran”mu.

Bukan hanya itu saja, kita juga akan selalu mendapatkan CINTA KASIH SAYANG dan LINDUNGAN Langsung dari Dzat Maha Suci Hidup, dimanapun dan sampai kapanpun.

Sehingganya, kita akan mudah menciptakan relaitas yang kita inginkan, dan mewujudkan apa yang kita inginkan dengan cepat dan tepat.

Kesimpulannya;
Revolusi yang sebenarnya, yang saya maksud diatas, hanyalah mengenai soal cinta kasih sayang, bukan yang lain. Jadi, berhentilah memandang cinta kasih sayang itu, sebagai suatu konsep yang sempit dan tidak berarti.

Berhentilah untuk berbuat dan melakukan kerusakan yang akibatnya akan di tanggung oleh seluruh mahluk hidup.

Sebab karena itu, perkuatkanlah cinta kasih sayang-mu dengan PerTaubatan Jiwa dan KeImanan Ruh-mu, dan jangan lupa untuk membagikannya untuk yang lainnya yang membutuhkannya.

Kalau Revolusi Cinta Kasih Sayang ini tidak Segera Terjadi. Makan Perang BarataYuda lah yang akan terjadi, sebuah Perang Pembersihan Dunia secara global, yang kehancurannya teramat sangat mengerikan yang pernah terjadi di Jaman MahaBarata.

Semoga Bermanfaat. Saya Wong Edan Bagu…. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya