MANUSIA HIDUP Dan SAUDARA EMPATNYA:


MANUSIA HIDUP Dan SAUDARA EMPATNYA:
(Manungso Urip lan Sedulur Papate)
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Selasa Pahing. Tgl 30 Agustus 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian….
Ketahuilah dengan kesadaran murnimu, bahwa sesungguhnya, kita semua, maksudnya kita sebagai manusia hidup ini. Adalah unik. Semuanya unik, masing-masing memiliki keunikan sendiri-sendiri. Bagaimana tidak…?!

Mari kita sama-samma mengengok tentang masing-masing ke unikan kita itu. Sedulur papat kita, atau yang lebih di kenal dengan empat malaikat pendamping kita. Masing-masing memiliki keunikan sendiri-sendiri. Mereka tidak memiliki karakter yang sama, meskipun mereka menempati satu kubu, yaitu wujud raga kita.

Kakang Kawah saudara kita yang pertama, yang lebih di kenal dengan sebutan Mutmainah. Berciri khass dengan warna putih, dan condong ke arah timur, serta memiliki sipat dan sikap lemah lembut, halus dan penuh perasa’an.

Sedangkan Adi Ari-ari saudara kita yang kedua, yang lebih di kenal dengan sebutan Aluamah. Berciri khass dengan warna kuning, dan condong ke arah selatan, serta memiliki sipat dan sikap yang konsekwen dan tegas.

Sementara saudara kita yang ketiga, yaitu darah, yang lebih di kenal dengan sebutan Nafsu Amarah. Berciri khass warna merah, dan condong ke arah barat, memiliki sipat dan sikap keras dan emosional.

Saudara Tunggal Ketok Puser kita yang ke’empat, yang lebih di kenal dengan sebutan Nafsu Supiyah. Berciri khass dengan warna hitam, dan condong ke arah utara, serta memiliki sipat dan sikap pendiam dan pemalu.

Ke’empatnya, memiliki ilmu kesaktian yang berbeda-beda pula. Mutmainah berinti kesaktian air. Aluamah berinti kesaktian angin. Amarah berinti kesaktian api dan Supiyah berinti kesaktian bumi/tanah.

Ke’empatnya juga memiliki kebutuhan yang berbeda, namun sesuai dengan tugas yang di amanahkan oleh Dzat Maha Suci Tuhan kepada mereka masing-masing. Seperti Mutmainah, contoh misalnya, yang berinti kesaktian air, dia butuh di jaga dan di rawat serta di lestarikan atau di manfaatkan sesuai Firman Dzat Maha Suci Tuhan, yang di amanahkan kepadanya. Jika tidak di jaga dan di rawat serta di lestarikan atau dimanfaatkan sesuai Firman Dzat Maha Suci Tuhan. Sunami-lah yang akan terjadi. Begitu juga dengan ketiga saudara kita yang lainnya. Butuh di jaga dan di rawat serta di lestarikan atau di manfaatkan sesuai Firman Dzat Maha Suci Tuhan, yang di amanahkan kepadanya. Kalau tidak, jatuh bangunlah kita di dalam bergerak iktiyar/ibadah, panas dinginlah situasi dan kondisi kita dibuatnya.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Karakter sipat dan sikap serta kesaktian dari ke’empat saudara kita ini. Jika berhasil di manunggalkan, di satukan. Bukan saja hanya indah, bak tumbuhan di taman bunga. Tapi juga luar biasa hebat kekuatannya. Karena semua yang mereka miliki itu, baik sipat sikap dan ilmunya, asli dan langsung berasal dari Dzat Maha Suci, tanpa perantara apapun dan siapapun. Yang jelas dan pasti, kita punya hak untuk memiliki mereka, karena mereka adalah milik kita, dan berada di dalam diri kita, serta mereka berada dalam diri kita, karena mengemban tugas/amah dari Dzat Maha Suci Tuhan, untuk kita.

Coba renungkan, andai kita mengenal mereka berempat, dan memanunggalkan/menyatuka mereka berempat, kita tidak perlu puasa atau bertapa untuk mendapatkan ilmu brajamusti atau rawarontek atau braja teluh, karena kesaktian ke’empat saudara kita, tidak ada yang bisa menandingin, karena ilmu milik mereka berempat, adalah ilmu yang di berikan langsung oleh Dzat Maha Suci Tuhan kita.

Tapi jangan berpikir, bahwa siapapun orangnya, kalau sudah mengenal dan mengusai sedulur papatnya, pasti akan sombong, adigang adigung adiguna. Dimanapun berada akan mencari masalah dan gara-gara… Oh… TIDAK. Karena siapapun dia, jika berhasil mengenal dan memanunggalkan sedulur papatnya. Pasti akan seperti PADI. Artinya, semakin kita mengenal sedulur papat, sudah pasti akan semakin menunduk, itulah Padi, jika tidak menunduk, berati gabug, padi itu tak berisi. Karena keberhasilnya dalam menyatukan/memanunggalka sedulur papat, pasti akan bersua dengan Guru Sejatinya, yaitu Hidupnya sendiri. Jadi, sudah pasti tentu kan… apa yang akan dialaminya.

KESIMPULANNYA;
Kita tidak perlu menjatuhkan diri, dengan kekaguman yang berlebihan, kepada orang lain, sehingga menimbulkan perasa’an iri, dengkin, benci dll. Karena kita semua sama uniknya, sama-sama memiliki keunggulan masing-masing. Jika kita menginginkan sebuah keunggulan, maka tugas kita adalah menggali rasa yang meliputi seluruh tubuh kita, karena di dalam tubuh kita, ada Firman Dzat Maha Suci Tuhan kita, yang bisa menjamin Hidup Mati dan Dunia Akherat kita. Kita harus membangun potensi diri kita, agar menjadi unggul juga. Dengan Cara apapun, silahkan,,, asal Kita bisa berhasil. Mau dengan cara mengamalkan Wahyu Panca Gha’ib menggunakan Wahyu Panca Laku, atau hanya mengamalkan Wahyu Panca Gha’in thok, atau dengan cara agama, atau dengan cara kejawen, atau dengan cara kebatinan, atau dengan cara bertapa atau bla,,,bla,,,bla,,, lainnya. Silahkan… asalkan kita mampu menjalankannya, dengan iman yang sungguh-sungguh, dan baik serta benar-benar yakin kita bisa berhasil. SILAHKAN….

Jadi,,, usah kita buang dan jangan menghabiskan waktu dan kesempatan kita, untuk mengusik dan mengolok-olok agama atau kepercaya’an atau keyakinan atau ilmunya orang lain tanpa usaha dari diri sendiri untuk mengembangkan diri pribadinya sendiri. SETUJU….?!

Popularitas Laku Spiritual apapun itu Model dan Bentuknya, tidak untuk menunjukan keunggulan sebenarnya. Tidak perlu rendah diri. Tidak perlu tinggi diri. Apa lagi sampai lupa diri, semua orang memiliki potensi dan kesempatan serta hak yang sama besarnya, dengan keunikan masing-masing. Keunikan ini muncul dari ketertarikan kita untuk beriman satu saja. Yaitu Dzat Maha Suci Tuhan/Allah/Gusti dan bla,,,bla,,,bla,,, sebutan lainnya, dari Proses Perjalanan Spiritual Hidup Kita Sendiri, dan dari Sistem Cara Pandang Kita Sendiri. Inggat itu…!!!

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Iklan

KESIMPULANNYA ADALAH PEMBUKTIAN:


KESIMPULANNYA ADALAH PEMBUKTIAN:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Selasa Pahing. Tgl 30 Agustus 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Ada sebuah inbox bagus di facebook saya, beberapa waktu yang lalu, yang menarik buat saya, sehingganya, tertulislah artikel ini.

Begini isi kata-kata inboxnya;
Artikel pak WEB, sangat bagus dan menarik, juga cukup menggugah banyak kesadaran orang, termasuk saya sendiri. Cuman sayang Praktek-nya, bagaikan mencari satu jarum di tumpukan jerami 1 TON. Suliiiiittt,,, sekali pak WEB, untuk saya praktekan.

Itu adalah rangkuman komentar terhadap hampir semua posting saya di facebook. Hanya saja, di kirim melalui inbox/pesan, jadi lebih pribadi, kalau yang mengiri inbox ini, membaca artikel ini, mohon maafkan, bukannya saya membuka aib, tapi saya membagikan ilmu, ilmu pengalaman baru bagi saya, karena kata-kata saudaraku itu, bukanlah aib, melainkan ilmu yang berguna bagi saya dan mungkin bermanfaat bagi yang lainnya. Sekali lagi, maafkan saya.

Menurut pengalaman saya pribadi “Sulit” adalah kata yang seringkali keluar, saat kita akan melakukan sesuatu, yang kita angan-angankan/bayangkan seakan-akan mustahil.
Mungkin itu benar bagi sebagian orang, namun tidak semuanya. Kalau saya boleh bertanya,,, memang apa yang mudah…?! Adakah Laku yang mudah…?! Adakah Spiritual yang mudah…?! Atau,,, adakah bisnis yang mudah…?! Contoh misal, dengan modal kecil dan akan menghasilkan banyak uang dengan mudah…?! Kalau ada, pasti saya sudah mengalaminya dan menjalankan terlebih dulu, dan pastinya, ilmunya akan saya sebarkan di seluas mungkin. Setahu saya, dalam meraih sukses/berhasil, apapun itu sebutannya,pasti harus ada yang kita korbankan, kalau tidak uang, ya waktu atau tenaga atau pikiran yang harus kita korbankan.

Adalah sebuah fenomena yang bisa kita ambil hikmahnya, hampir semua orang, untuk mendapatkan cara yang mudah, dalam menghasilkan uang, sehingga dia akan disibukan oleh pekerjaan. Misalnya mencari cara mudah itu dan ini. Dia akan menghabiskan waktu untuk mencari sebuah “formula ajaib/spontan-alias bim sala bim” yang akan membuat kita cepat sukses/berhasil. Padahal,,, tanpa sadar, dia sudah membuang waktu, yang seharusnya bisa dia manfaatkan, untuk membangun usaha/upaya yang menurut dia sulit itu.

Dalam Proses Perjalan Hidup, sulit selalu menyertai kita. Tidak pernah ada orang sukses/berhasil, yang kesehariannya, hanya lenggang kangkung tanpa kesulitan. Justru hanya orang yang tidak bertindak, tidak akan mendapatkan kesulitan, meskipun dia akan mendapatkan kesulitan pada hal yang lain. Kira-kira ya seperti itu apa tidak Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…?! Coba renungkan sejenak dengan SADAR. Jangan sambil berhayal ya… He he he . . . Edan Tenan.

Orang sukses/berhasil, bukanlah orang yang hidupnya tanpa kesulitan, tetapi orang yang bisa mengatasi kesulitan tersebutlah, yang di sebut sukses/berhasil itu. Kalau pun kesulitan sampai membuat dia jatuh, orang sukses/berhasil, pasti akan bangkit kembali dengan iman, bukan dengan nafsu.

Sewaktu saya masih awam dalam Iman Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci Tuhan saya, saya dulu juga sering menyerah jika ada kesulitan. Misalnya saat akan berjualan sesuatu, saya mengira sudah ada saingan, bahkan banyak. Ada teman yang menawarkan yang belum ada saingan, saya berpikir susah/sulit menjualnya. Datang lagi teman yang lain, menawarkan usaha lain, saya mengatakan bahwa modalnya perlu besar, sulit cari modal dll. Akhirnya sampai sekarang, walau jamannya jaman bisnis, saya buta bisnis dan tidak punya rekan bisnis apapun, dan parahnya lagi, tidak punya ilmu pengalaman apa-apa dalam berdagang.

Kenapa? Karena saya seperti yang sudah saya uraikan diatas. Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, kesulitan selalu menyertai kita. Jika kita berusaha menghindari dari kesulitan, ibarat kita lari dari bayangan. Kemana pun kita pergi, sebagaimana bayangan, maka kesulitan akan selalu menyertai kita. Bayangan tidak akan mengikuti kita, hanya jika kita pergi ke tempat yang gelap selamanya. Nah…. Pertanya’annya sekarang. Maukah kita berada di tempat gelap selamanya…?!

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, ketahuilah…. Kesalahan Terhebat-nya Manusia Hidup itu. Ketika mengatakan “aku/saya tidak bisa, karena…”

Mungkin Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, akan membentak saya, jika kita salin berhadapan secara langsung.

Memang benar kok… “aku/saya tidak bisa, karena….” Menurut pengalaman pribadi saya, adalah kesalahan paling hebat, di bandingkan kesalahan-kesalahan lainnya. Kalau tidak percaya, cari dan baca saja, artikel-artikelnya orang-orang yang sukses di internet, kira-kira di benarkan apa tidak, kata-kata tersebut untuk meraih sukses/berhasil.

Atau mungkin Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian punya alasan, lalau Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, akan membela mati-matian, bahwa alasan Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian itu, adalah benar. Boleh saja, silahkan. Jika Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, mau bahwa alasan Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian itu benar, maka memang benar.

Namun yang perlu Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian perhatikan. Iyalah,,, meskipun Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian benar. Tetap saja tidak akan memperbaiki keada’an Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian kan…?!

Apakah alasan Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian benar atau salah. Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian tetap saja tidak bisa. Berati,,, duduk perkaranya, duduk persoalnya, bukan pada benar atau salahnya kan…?!

Duduk perkaranya dan duduk persoalnya itu, adalah iman/keyakinan. Tepatnya, keyakinan kita yang negatif. Namun ada hal yang lebih berbahaya ketimbang keyakinan yang negatif tersebut, yaitu tentang keyakinan kita, bahwa Baik itu berasal dari Tuhan, kalau buruk itu, berasal dari iblis, sementara kita iman/yakin kalau Tuhan it Esa/Tunggal alias satu. Sama halnya dengan keyakinan bahwa tidak ada jalan keluar atas alasan kita. Saat kita mengatakan tidak bisa, kemudian kita mengungkapkan suatu alasan dan yakin bahwa alasan kita benar, yang lebih parah, iyalah kita tidak mengambil alasan untuk mangatasi masalah kita itu.

Falsafah saya Wong Edan Bagu. Adalah “Baik Buruk berasal dari Satu, yaitu Dzat Maha Suci” Karena Dzat Maha Suci Tuhan itu, hanya satu, penguasa Tunggal dan Maha Segalanya”.“Selalu ada jalan keluar jika Dzat Maha Suci yang menjadi Penguasa saya”

Terlepas apakah alasan saya benar atau salah, saya memiliki iman/keyakinan bahwa selalu ada jalan keluar di setiap ketidakbisaan/ketidak mampuan saya. Saya yakin dan saya percaya. jika kita mau Pasrah kepada Dzat Maha Suci Tuhan kita, kita mau menerima Dzat Maha Suci Tuhan kita, kita mau mempersilahkan Dzat Maha Suci Tuhan kita. Kita akan mendapatkan jalan keluar yang sempurna. Namun sebelum itu, langkah awal yang perlu di terapkan. Adalah mengubah semua alasan kita dengan satu kata saja, yaitu “AKU”.

Sebagai contoh: “Saya tidak bisa karena AKU.” Artinya, kitalah yang menyebabkan bahwa kita tidak bisa, bukan orang lain, bukan lingkungan, bukan ilmu atau kejadian. Jika kita sudah bisa menerima kenyataan ini, maka kita akan mendapatkan jalan keluarnya yang sempurna di luar rancangan dan duga’an kita.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian. Ingat-ingatlah… Selama kita beralasan dengan alasan diluar diri kita, sampai kapan pun kita tidak akan pernah mendapatkan jalan keluar apapun, apa lagi kesempurna’an. Saat kita sudah mengalihkan alasan menjadi diri kita sendiri dan dari diri kita sendiri. Artinya; di sadari atau tidak di sadari, kita sudah memiliki kemampuan untuk meninggalkan alasan-alasan itu. Jika alasan itu adalah diri kita sendiri, sama artinya bahwa sudah tidak ada lagi alasan. Tinggal bagaimana kita mengibadahkan iman cinta kasih sayang Dzat Maha Suci tersebut.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian… Dengan munculnya alasan tertulisnya artikel ini, saya teringat masa kanak-kanak saya. Dulu,,, sewaktu saya masih kecil, saya sering di dongengi sama mendiang kakek saya. Maksunya, di beri cerita sebelum tidur. Ceritanya sangat-sangat lucu, bagi saya yang pada sa’at itu masih berusia anak-anak. Salah satu cerita dari mendiang kakek saya itu, ada yang berkesan dan menjadi ilmu bagi saya. Yaitu. Judul ceritanya Kerbau dan Harimau.

Ceritanya Begini;
Ada seekor kerbau, yang setiap pagi dibawa oleh seorang anak penggembala, yang masih kecil, menuju sawah yang akan dibajaknya. Jika tidak ada pekerjaan, kerbau itu oleh penggembala, dibawa ke daerah yang banyak rumputnya. Kemana pun kerbau itu dibawa, selalu saja nurut kepada majikannya yang seorang anak kecil itu.

Pada suatu ketika, saat si kerbau sedang sendirian, ada seekor harimau yang datang menghampiri kerbau itu. Si harimau berkata kepada si kerbau;

“Haeee kerbau, saya sudah beberapa hari mengamati kamu. Kamu selalu nurut saja dibawa-bawa atau disuruh-suruh oleh majikan kecilmu itu. Manusia majikanmu itu sangat kecil dibanding kamu, kenapa tidak kamu tubruk saja, pasti dia terpental jauh atau mati. Kamu jadi bebas seperti saya, bebas kemana pun saya mau, haaaauuuuuu” kata si harimau.

“Saya takut kepada anak kecil itu”. Jawab si kerbau.

“Hu… ha… ha… ha,,, dasar bodoh kamu. Masa badan kamu yang besar, takut kepada anak kecil?” ejek si harimau sambil menertawakan.

“Kamu juga akan takut jika kamu mengetahui kelebihan manusia” kata si kerbau menjelaskan.

“Apa sih kelebihan manusia itu, kok sampai bisa membuat kamu takut?” tanya si harimau penasaran.

Tidak lama kemudian, anak kecil si penggembala kerbau tersebut datang. Langsung saja si harimau menyapanya.

“Heeeeei anak manusia!! Kata si kerbau kamu mempunyai kelebihan yang membuat dia takut. Apa itu?” Tanya si harimau pada si anak pengembala.

Anak pengembala itu menjawab, “Saya sebagai manusia diberikan kelebihan oleh Sang Pencipta, yaitu berupa akal yang tidak dimiliki oleh makhluq lainnya, termasauk kamu harimau”

“Akal itu apa?
Boleh saya melihat akal kamu?
Jika kamu tidak menunjukkan, saya akan memakan kamu.” tanya harimau sambil mengancam.

“Wah saya tidak bisa memperlihatkannya, karena akal saya tertinggal di rumah”. jawab si pengembala dengan tenangnya.

“Kalau begitu kamu ambil dulu.” kata si harimau dengan nada mendesak.

“Saya bisa saja mengambilnya, tetapi percuma. Kamu akan lari.” Jawab si pengembala tidak mau kalah.

“Saya janji, saya tidak akan lari” kata si harimau dengan percaya diri.

“Sekarang kamu berkata demikian, setelah melihat saya membawa akal, kamu pasti lari. Bagaimana kalau kamu saya ikat? Supaya kamu tidak lari nantinya” kata si pengembala kepada si harimau.

“Setuju” jawab harimau.

Kemudian si anak penggembala kecil tersebut, mengikat harimau tersebut di sebuah pohon. Bukan saja tidak bisa lari, tetapi sampai tidak bisa bergerak leluasa. Setelah mengikat harimau si anak pun pergi. Kerbau yang mengamati dari tadi tertawa, melihat nasib harimau.

“Sekarang kamu bisa apa?” tanya si kerbau. Harimau tidak bisa menjawab, dia panik dan ingin melepaskan diri, tetapi tidak bisa.

“Itulah akal manusia. He he he Edan Tenan. kata si Wong Edan Bagu sambil melanjutkan tulisan artikel ini sampai selesai hingga disini. Dan silahkan di renungkan wahai Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian. Lalu BUKTIKAN Sekarang. Semuga Bermanfaat bagi kita bersama.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com