HIMBAUAN Khusus Dari Wong Edan Bagu Tentang Wahyu Panca Ghaib:


presentation3

HIMBAUAN Khusus Dari Wong Edan Bagu Tentang Wahyu Panca Ghaib:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Rabu Pon. Tgl 09 November 2016

Kalau Saudara-Saudariku adalah Seorang Putero Romo, yang maksudnya, menjalankan Wahyu Panca Ghaib, entah dari siapapun itu. Jika di dalam kehidupan sehari-hari mengalami kesusahan, kesulitan, kegagalan, seperti sulit rejeki, misalnya rugi dalam dagang atau bisnis hingga berujung bangkrut, mengalami sakit tak kunjung sembuh, musibah, kecelaka’an, atau masalah yang tak kunjung selesai, malah bertambah parah, bahkan hancur, rumah tangga kacau atau keluarga berantakan dll, serta apapun yang intinya adalah kerugian dan kesakitan.

Waspada dan Berhati-hatilah…!!!

Sebab Saudara-Saudariku sedang mengalami proses pembersihan jiwa raga atau lahir bathin, dari semua Karma Salah dan Dosa serta Luput. Kenapa bisa begitu…?!

Karena Wahyu Panca Ghaib adalah Maha Suci, yang artinya tidak bisa di campuri dan tercampuri oleh apapun, kecuali dengan suci itu sendiri, jadi,,, siapapun yang bermaksud mendekati Maha Suci, maka mau tidak mau, akan di bersihkan dari semua Karma Salah dan Dosa serta Luput.

Tapi…
Hal ini hanya akan terjadi dan teralami oleh Putero Romo yang Kunci-nya kurang pas atau tidak tepat. Kalau Kunci-nya pas dan tepat, tidak akan mengalami kesusahan, kesulitan, kegagalan, seperti sulit rejeki, misalnya rugi dalam dagang atau bisnis hingga berujung bangkrut, mengalami sakit tak kunjung sembuh, musibah, kecelaka’an, atau masalah yang tak kunjung selesai, malah bertambah parah, bahkan hancur, rumah tangga kacau atau keluarga berantakan dll, serta apapun yang intinya adalah kerugian dan kesakitan.

Karena Wahyu Panca Ghaib adalah Penyempurna dari semua dan segala yang tidak sempurna, di dalamnya hanya ada Kesempurna’an, bukan selain Kesempurna’an, sebab sempurna berada dalam lingkaran Iman Cinta Kasih Sayang Tuhan. Rasanya sempurna itu, enak, senang, bahagia, aman, damai, nyaman, tenteram, bukan menyakitkan atau menyiksa dan merugikan.

Satu Misal, jika Wahyu Panca Ghaib di terima dan di jalankan oleh seseorang yang memiliki Karma Salah dan Dosa serta Luput setinggi langit sekalipun, akan sempurna seketika itu juga, tanpa terlebih dulu mengalami penyiksa’an jenis apapun. Semisal lagi, Wahyu Panca Ghaib di terima dan di jalankan oleh seseorang yang sulit rejekinya, susah bisnisnya, akan lancar dan mudah seketika itu juga, tanpa terlebih dulu mengalami penyiksa’an jenis apapun. Begitu juga jika Wahyu Panca Ghaib di terima dan di jalankan oleh seseorang yang berilmu, misalnya kiyai, ustadz, dukun, paranormal, ahli agama dan lain sebagainya, akan menjadi sempurna seketika itu juga, tanpa terlebih dulu mengalami penyiksa’an jenis apapun.

KESIMPULANNYA;
Kalau Saudara-Saudariku Menjalankan Wahyu Panca Ghaib, tapi dalam kehidupan sehari-hari mengalami kesusahan, kesulitan, kegagalan, seperti sulit rejeki, misalnya rugi dalam dagang atau bisnis hingga berujung bangkrut, mengalami sakit tak kunjung sembuh, musibah, kecelaka’an, atau masalah yang tak kunjung selesai, malah bertambah parah, bahkan hancur, rumah tangga kacau atau keluarga berantakan dll, serta apapun yang intinya adalah kerugian dan kesakitan. Sudah Jelas dan Pasti. Kunci-nya kurang pas atau tidak tepat.

Jadi… Temui Pembimbing Anda, maksudnya, orang yang memberi Saudara-Saudariku Wahyu Panca Ghaib. Bertanyalah tentang Hakikat Tauhidnya Wahyu Panca Ghaib yang sebenarnya. Jangan takut dan malu. Karena berani memberikan Wahyu Panca Ghaib ke orang lain, berati dia sudah berani bertanggung jawab untuk hal itu. Jika sulit menemui orang yang memberi Saudara-Saudariku Wahyu Panca Ghaib, carilah di sekitar Anda, orang yang sudah mumpuni bab Wahyu Panca Ghaib, lalu Kadhanganlah dengannya, sesering mungkin, untuk menggali Rasa yang meliputi seluruh tubuh Anda, dengan menggunakan Wahyu Panca Ghaib. Pasti Bisa. Karena Bisa. Adalah hak setiap Manusia Hidup.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi Pinayungan Maring Ingkang Maha Agung. Dzat Maha Suci Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966
BBM; D38851E6
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

PARADIGMA Wong Edan Bagu:


PARADIGMA Wong Edan Bagu:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Senin Legi. Tgl 07 November 2016

Paradigma adalah cara masing-masing orang memandang dunia, yang belum tentu cocok dengan kenyataan. Paradigma adalah petanya, bukan wilayahnya. Paradigma adalah lensa kita, lewat mana kita melihat segalanya, yang terbentuk oleh cara kita dibesarkan, pengalaman, serta pilihan-pilihan kita selama ini.

Allah, Tuhan, surga, neraka, atau Maha Suci, Gusti. Bagi saya, itu hanya nama saja, sebutan saja. Jika tidak dengan pedoman Merasakan, Melihat dan Bertemu dengan Obyek yang dimaksud, siapapun, dimanapun dan kapanpun, saya berani memastikan, masih belum benar.

Kegagalan logika. Pikiran atau Otak, untuk tahu akan hidup yang terbaik, adalah Bukti kuat pada setiap manusia, yang selalu dimulai hidup dari janin, bayi dalam kandungan, dimulai dari lahir hingga tengkurap. Tidak Pernah Tahu Akan Logika. Pikiran atau Otak, yang sifatnya selalu akal-akalan untuk menang.

Jadi,,, bila mau tetap sebagai manusia seutuhnya, sebenarnya, asli dari sononya, maka, siapapun dia, harus belajar dan berlatih seutuhnya, pada seluruh tubuhnya sendiri, dengan begitu, akan tahu dengan sempurna secara bertahap.

Fungsi Logika. Pikiran atau Otak, dalam kehidupan di alam semesta ini, adalah untuk memastikan kebenarannya, akurasinya Tepat apa tidak, Contoh misal, jika suatu obyek ada di bulan, maka, dilihat bulanya, di gunakan bulanya, lalu merasakan di bulan dan bertemu obyeknya di bulan.

Bila teknologi buatan, entah itu teknologi jaman dulu atau saat ini sebagai alat bantu, secanggih apapun teknologi ilmu spiritualnya, itu masih jauh dari yang terbaik dalam kehidupan ini, hanya untuk asal hidup menuju kematian saja, tidak lebih dari sekedar itu.

Kalau hanya mampu untuk melihat saja, tidak bisa merasakan, seperti apa dan bagaimananya, menurut saya, kurang tepat, kurang pas, tidak lengkap, kurang gimanaaaaaa,,,,, gitu. Bati ngiler thok. He he he . . . Edan Tenan.

Hanya dengan membaca doa, japa mantera, kalimah, sejerah dan cerita, terus semedi/meditasi, sembayang dan bla,,, bla,,, bla,,, lainnya, lalu dijadikan sebagai pedoman hidup, berati,,, dasarnya memang sangat lemah, contohnya, orang sakit, lebih percaya dengan rumah sakit, hingga rumah sakit semakin berkembang, dan parahnya, tukang doa, japa mantera, kalimah, sejerah dan ceritanya, juga kerumah sakit, ini fakta loh,,, dan masih banyak kegagalan yang lain diantaranya.

Itu akibat efek samping, dari hidup yang bergantung pada alat bantu. Heemmm… payah bin parah dah.

Agama atau Kepercaya’an, agama apapun itu, kepercaya’an apapun itu, setahu saya, selalu bermula dari titik awal kehidupan, lalu menuju ke arah mengetahui alam semesta ini, hingga jadi Pemilik Alam Semesta ini, dalam bidang kehidupan, bukan kekuasaan. Dasarnya,,, apa yang ada dalam tubuh manusia hidup sangat lengkap, coba saja pelajari dengan tata titi surti ngati-ati, lalu renungkan dan lakukan, jangan di pikirkan dengan diem saja, sebab tidak akan nyambung jika hanya mikir tanpa berbuat.

Ketahuilah… Salah Satu Tugas Manusia Hidup, adalah membuat Tubuh-nya Sendiri dan membangunnya, untuk bisa menjalani kehidupan, sesuai kodrat dan irodzat dengan tingkat kemampuan diri pribadinya masing-masing, kemampuan itu, berasal dari berlatih dan belajar tentang Hidupnya dalam berkehidupannya, bukan dari yang lainnya.

Jika bisa membuat Tubuh-nya Sendiri dan membangunnya, untuk bisa menjalani kehidupan, sesuai dengan kodrat irodzat tingkat kemampuannya, dari berlatih dan belajar tentang Hidup. Maka… LUAS ALAM SEMESTA HANYA SATU TELAPAK TANGAN SAJA.

Manusia hidup dengan organ tubuh yang selalu sama dan cara kerja organ tubuh yang sama pula, serta alat hidup yang sama juga, Maka hanya ada satu cara Hidup yang terbaik dan bisa di pastikan, ketenangan, keberhasilan, keselamatan, kebahagia’an dan ketenteraman, untuk mencapai Tingkat Tertinggi dalam Hidup. Merupakan Teknologi Tertinggi di Alam Semesta ini.

Bila sudah tahu akan Teknologi Kehidupan dan Teknologi Hidup, sebagaimana contoh, berputarnya, seluruh planet dan isinya, yang berarti Hidup. Wow,,, disinilah, semuanya dan segalanya akan terungkap, terjawab dengan amat sangat jelas dan nyata, asal jangan mengaku Tuhan saja ya… He he he . . . Edan Tenan.

Cara itu, hanya bisa di dapat dan di peroleh, dari belajar dan berlatih pada diri sendiri. Menuju Titik Pusat Kehidupan. Yaitu hanya Dzat Maha Suci, bukan yang lainnya, inilah Teknologi tercanggih dan tertinggi, yang berhasil saya dapatkan dengan Laku Wahyu Panca Gha’ib, sekarang. Bila masih, menggunakan alat bantu, apapun nama alat bantunya, tentu sulit untuk mencapainya, bahkan mungkin mustahil, karena tidak menjurus ke titik sasaran yang seharusnya/sebenarnya.

Jadilah PEMILIK ALAM SEMESTA INI, dalam bidang kehidupan, bukan kekuasa’an.

Hak hidup setiap manusia hidup, adalah tahu dirinya sendiri, hidupnya sendiri, dunianya sendiri, akheratnya sendiri, nerakanya sendiri, surganya sendiri,Tuhan-nya sendiri, tanpa ikut kelompok apapun. INGAT…!!! ini pesan saya untukmu sekalian anak-anak didik kinasihku. Pemilik Rumah, harus tahu isi dan seluk beluk rumahnya dong…. Bagaimana mungkin, rumahmu itu pantas dibilang milikmu, jika ada bagian dari rumahmu itu, yang tidak kau ketahui.

Caranya bagaimana…?!
Masak tidak tahu…!!! Masak tidak bisa…!!! kan sudah lengkap di dalam tubuh kita. “Galilah rasa, yang meliputi seluruh tubuhmu, di dalam tubuhmu, ada firman Tuhan, yang dapat menjamin dan menentukan hidup matimu dan dunia akheratmu”

Cukupkah hanya dengan itu dan begitu…?!
Kalau alat yang kita gunakan adalah Wahyu Panca Laku. Itu sudah lebih dari cukup. He he he . . . Edan Tenan.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi ini, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran kekuasa’an-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi Pinayungan Maring Ingkang Maha Agung. Dzat Maha Suci Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966
BBM; D38851E6
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Mengenal Tuhan/Allah Tanpa Tedeng Aling-Aling. (tutup-tutupan/rahasia):


Mengenal Tuhan/Allah Tanpa Tedeng Aling-Aling. (tutup-tutupan/rahasia):
Oleh Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Senin Legi. Tgl 07 November 2016

Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku sekalian. Saya pernah mendapatkan saloka dari almarhum pembimbing saya kiyai Murnawi dari Ciwaringin Cirebon jawa barat. “Andai kesusahan adalah hujan dan kesenangan adalah matahari, maka kita butuh keduanya untuk bisa melihat Pelangi”

Petapapun banyaknya, saudara-saudari kita yang bisa mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun, sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 156, dan mengerti artinya, namun percayalah, hanya sedikit yang memahami maksudnya. Ini terbukti, dari banyaknya mereka yang berlomba-lomba, menumpuk pahala, menekuni ibadah, bahkan berjihad, sampai-sampai berani dan rela mati, demo, bahkan melakukan bom bunuh diri, hanya demi untuk mendapatkan yang namanya Surga/sorga, yang didalamnya, terdapat sungai susu/madu, makanan dan minumnan lezat, yang akan disajikan dan dilayani oleh empat puluh satu bidadari cantik jelita, yang tidak pernah haid, dan akan kembali perawan lagi sesudah disetubuhi. Kalau begitu, Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 156, yang berbunyi “Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun” diganti dan robah saja, menjadi seperti ini “Innasurga wa inna bidadari raaji’uun” He he he . . . Edan Tenan.

Pertanya’annya… Kenapa bisa begitu…?!
Karena mereka tidak mengenal Tuhan-nya, tidak mengerti Tuhan-nya, tidak peham Tuhan-nya, tidak tahu Tuhan-nya. “Awalludin Ma’rifatullah” ,”Man Arofa Nafsahu Faqod Arofa Robbahu”. Sebaik baik dalam menjalankan ibadah kepada Allah, adalah dengan terlebih dahulu mengenal Allah.

Dewasa ini, banyak kalangan masyarakat yang saya jumpai, yang sepertinya enggan tuk lebih dalam mengenal Allah, dengan berbagai alasan, salah satunya dengan mengatakan bahwa semua sudah diatur dalam Al-quran dan Hadist, serta sudah dijalankan oleh Rasulullah, Sahabat dan para Ulama, kita tinggal menjalankannya, tanpa perlu tahu lebih dalam lagi mengenai Allah, asalkan hapal membaca al-quran, rajin sholat dan jakat ples naik haji, atau “gondelan sarunge kiyai” insya Allah dijamin masuk surga. Lupa Isi Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 156, yang berbunyi “Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun” Dipikirnya Allah itu Surga/Sorga.

Pertanya’annya… Ini salah siapa…?!
Heemmm,,, entah ini salah siapa, saya tidak kuasa untuk membahasnya, kiyai-nya, atau santri-nya yang bodoh, yang ngajarin atau yang di ajarin yang o’on, guru-nya apa murid-nya yang tolol, plis,,, di pikir sendiri-sendiri saja. He he he . . . Edan Tenan.

Lalu… Bagaimana mengenal Allah…?! He he he . . . Edan Tenan.
Dalam setiap rongga anak adam, Aku ciptakan suatu mahligai yang di sebut dada. Di dalam dada ada hati (hati bagian luar), dalam hati, ada qalbu/benak (hati bagian dalam), di dalam qalbu/benak, ada fuad/nurani (hati paling dalam), dalam fuad/nurani, ada jiwa/ruh, di dalam jiwa/ruh, ada rasa/suci/hidup, di dalam rasa/suci/hidup, ada Sir Dzat Sipat, dalam Sir Dzat Sipat, ada Aku. Tempat Aku menyimpan Rahasia-ku. “Al-Insanu Siri Wa Ana Siruhu” Rahasia kalian adalah rahasia-Ku.

Satu; Man Arofa Nafsahu Faqod Arofa Robahu “Barang siapa mengenal diri-nya, maka dia mengenal Tuhan-nya”

Dua; Man Tolabal Maolana BigoeriI Nafsi Faqoddola Dolalan Baida “Barang siapa yang mencari Tuhan keluar dari dirinya sendiri, maka dia akan tersesat semakin jauh”

Tiga; Iqro Kitab Baqo Kafa Binafsika Al Yaoma Alaika Hasbi “Bacalah kitab yang kekal, yang berada di dalam diri kalian sendiri”

Empat; Allahu Bathinul Insan, Al Insanu Dhohirullah “Allah itu bathinnya manusia, manusia adalah dhohirnya (kenyataannya) Allah”

Lima; Wa man Arofa Robabahu Faqod Jahilan Nafsuhu “Barang siapa mengenal Tuhan-nya, maka dia merasa bodoh.

Cukup Jelas Bukan…?
Surat dan Hadist yang saya sebutkan di atas, Surat dan Hadist diatas, menegaskan. Bahwa Untuk Lebih Mengenal Tuhan/Allah, maka kita haruslah Mengenal diri kita terlebuh dahulu. Mengenal diri kita, hanya bisa di lakukan dengan jalan dan cara Karunia Tuhan/Allah, yaitu. Hati dan Rasa. Bukan dengan pikiran dan perasa’an, Hati dan Rasa itu, adanya di dalam diri kita, bukan diluar diri kita.

Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku sekalian… Yakinlah. Laa Yarifallaahu Ghoirullah “Yang mengenal Allah hanya Allah”

Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku sekalian… Percayalah. Aroftu Robbi Bi Robbi “Aku mengenal Tuhan melalui Tuhan”

Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku sekalian, ketahuilah. Sungguh… Maa Arofnaka Haqqo Ma’rifataka “Aku tidak mengenal Engkau, kecuali sampai sebatas pengetahuan yang Engkau perintahkan”

Sudah waktunya kita tidak lagi mengidolakan surga/sorga, karena surga/sorga itu, adalah mahluk, sama seperti kita manusia hidup, lagi pula, kita bukan berasal dari surga/sorga, kenapa kita berlomba untuk bisa ke surga/sorga…?! Sudah saatnya kita mengidolakan Allah, karena kita berasal dari-Nya “Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun” kenapa kita tidak berlomba untuk bisa kembali hanya kepada-Nya…?!

Ingat…!!! Allah itu Maha Segalanya, lupakah dengan Peringatannya tentang hari akhir jaman/kiamat, bahwa semuanya akan di hancurkan… Tidak-kah terpikir oleh kita…?!
Dengan mendapatkan surga/sorga, itu belum tentu kita mendapatkan Allah, karena Allah itu bukan surga/sorga. Jika kita mendapatkan Allah, sudah pasti dan tentu kita akan mendapatkan surga/sorga. Silahkan pilih, mau isi apa kulitnya.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi ini, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran kekuasa’an-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi Pinayungan Maring Ingkang Maha Agung. Dzat Maha Suci Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966
BBM; D38851E6
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Cara Mempraktekan atau Menjalankan Wahyu Panca Gha’ib. Dengan menggunakan Wahyu Panca Laku (IMAN):


presentation1

Cara Mempraktekan atau Menjalankan Wahyu Panca Gha’ib.
Dengan menggunakan Wahyu Panca Laku (IMAN):
Oleh Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Kamis Pahing. Tgl 03 November 2016

01. Kunci;
Lakunya Kunci, itu Manembahing Kawula Gusti.
Manembahing Kawula Gusti itu, yang seperti apa pak WEB..?!
Manembahing kawula gusti itu, istilah lainnya adalah sembah raga/wujud (sembah-hyang). Manembah itu, artinya sujud atau sungkem. Kawula itu sedulur papat atau empat anasir. Gusti itu wujud atau raga kita.

Prosesnya seperti ini, di saat kita Patrap Kunci. Lakunya adalah mengajak belajar sedulur papat kita, agar mau mencintai dan mengasihi serta menyayangi wujud/raga kita, yang menjadi tempat berexpresinya. Agar sedulur papat kita sadar, bahwasannya, mereka berempat, tidak akan bisa berbuat apa-apa, jika tanpa wujud/raga.

Karena yang menjadi perantara mereka berempat bisa bergerak dan beraksi, adalah wujud/raga kita ini. Jadi, maksud dari Laku Manembahing Kawula Gusti itu, adalah mengkompromikan angan-angan, budi, pakarti dan panca indera kita, supaya bisa mencintai, mengasihi dan manyayangi raga kita, tidak lagi menyiksa raga kita, untuk melakukan hal-hal diluar kemampuannya, yang menyebabkan berpisahnya diri kita, dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Jadi. Intisaripati dari Laku Manembahing Kawulo Gusti itu. Adalah menata Jatidiri kita sendiri, yang di sebut Sedulur Papat Kalima Pancer atau angan-angan, budi, pakarti dan panca indera dan raga kita sendiri.

02. Paweling;
Lakunya Paweling, itu Manunggaling Kawula Gusti.
Manunggaling Kawula Gusti itu, yang seperti apa pak WEB..?!
Manunggaling Kawula Gusti itu, istilah lainnya adalah sembah qalbu/bathin (shalat daim). Manunggal itu, artinya menyatu jadi satu, Kawula itu sedulur papat atau empat anasir. Gusti itu wujud atau raga kita.

Prosesnya seperti ini, di saat kita Patrap Paweling. Lakunya adalah mengajak sedulur papat kalima pancer kita, agar mau bersatu atau menyatu dengan hidup kita, supaya setiap gerak tubuh/wujud/raga dan gerik rasa serta perasa’an kita, dapat selaras dengan hati/qalbu/Rasa atau sesuai dengan Sabda Hidup dan Firman Dzat Maha Suci Hidup.

Jadi. Intisaripati dari Laku Manembahing Kawulo Gusti itu. Adalah, menyatukan Sedulur Papat Kalima Pancer kita dengan Hidup kita, agar menjadi satu kesatuan, yang tak terpisahkan.

03. Asmo;
Lakunya Asmo itu. Leburing Kawula Gusti.
Leburing Kawula Gusti itu, yang seperti apa pak WEB..?!
Leburing Kawula Gusti itu, istilah lainnya adalah Semedi. (semelehe memedi). Lebur itu, artinya sirna, Kawula itu sedulur papat atau empat anasir. Gusti itu wujud atau raga kita sendiri.

Prosesnya seperti ini, di saat kita menyebut Asmo Sejati kita, Lakunya, adalah Nang. Neng. Ning. Nung, maksudnya, (tenang, diam, hening, manyatu), melenyapkan sedulur papat, melenyapkan tubuh/wujud/raga kita, dari semua kemelekatan dunia, apapun itu sebutannya, agar menjadi fitrah/bersih/suci, dari segala masalah yang tidak berhubungan dengan DZat Maha Suci Hidup, yang bisa menjadikan laku kita kemomoran/ternodai, lalu rasakan tak kala hati kita menyebut Asmo Sejati.

Jadi. Intisaripati dari Laku Leburing Kawulo Gusti itu. Adalah, mengkonexsikan Hidup kita dengan Dzat Maha Suci Hidup. Sehingganya, sudah tidak ada bedanya lagi, antara Hidup dan Maha Suci Hidup, seperti gula dan manisnya, seperti garam dan asinnya.

04. Mijil;
Lakunya Mijil itu. Sampurnaning Kawula Gusti.
Sampurnaning Kawula Gusti itu, yang seperti apa pak WEB..?!
Sampurna di dalam laku spiritual, itu beda dan berbeda dengan sempurna yang biasa digunakan dalam istilah makanan, pakaian, wujud, rupa atau barang dan bentuk kasat mata di dunia ini, dan kalau soal sampurnanya makanan, pakaian, wujud, rupa atau barang dan bentuk yang kasat mata di dunia ini, tidak perlu saya bahas, karena pasti sudah tahu seperti apa. Sempurna yang di maksud di dalam laku spiritual, adalah bisa mencapai titik tujuan, atau berhasil kembali kepada asal mulanya kejadian.

Dalam istilah lainnya; (Inna Lillaahi Wa Inna Illaaihi Rojiun), kita milik Allah, berasal dari Allah, dan akan kembali hanya kepada Allah, bukan yang lainnya. Jadi, sampurna yang di maksud disini, adalah bisa berhasil/sukses. Kawula itu sedulur papat atau empat anasir. Gusti itu wujud atau raga kita sendiri.

Prosesnya seperti ini, di saat kita Patrap Mijil. Lakunya, adalah nggelar jagat anyar (membuka dunia baru), yaitu jagat/dunia ketenteraman yang penuh dengan Iman Cinta Kasih Sayang Tuhan, terhadap apapun dan kepada siapapun serta diamanapun, dan nggulung jagat/dunia lawas/lama, yaitu jagat/dunia kacau balau, yang penuh dengan khayalan dan kemunafikan.

Jadi. Intisaripati dari Laku Sampurnaning Kawulo Gusti itu. Adalah, mengganti dunia lama yang penuh kebencian, dendam, sirik, dengki, fitnah dan sejenisnya itu, dengan dunia baru, dunia rasa, dunia nyata, bukan dunia perasaan yang penuh dengan hayalan dan kemunafikan, tentram, indah, nyaman, aman, bahagia, tenang, damai dll.

05. Singkir;
Lakunya Singkir itu. Sampurnaning Pati lan Urip.
Sampurnaning Kawula Gusti itu, yang seperti apa pak WEB..?!
Untuk soal yang satu ini, siapapun Anda dan dimanapun Anda, harus bisa bertemu secara langsung dengan saya, karena Sampurnaning Pati lan Urip atau (Sampurnanya Mati dan Hidup-Dunia Akherat), bukanlah hal yang sepele dan remeh, ini menyangkut Dunia Akherat kita. Jadi,,, tidak bisa di bahas melalui media apapun, harus bertemu langsung, salin berhadapan secara langsung. Karena ini, tentang kenyata’an, berbicara soal bukti, tidak boleh katanya, tidak bisa seandainya atau semisal. Mengungkap Singkir, berati mengungkap Sampurnaning Pati lan Urip (Sampurnanya Mati dan Hidup-dunia akherat).

Jadi… Mohon Maafkan, saya tidak bisa medar atau mejang atau menjelaskan apapun yang terkait dengan Singkir yang memiliki Laku Sampurnaning Pati lan Urip. Sebab ini, masalah khusus yang berurusan antara Hidup Dan Mati. Antara Dunia dan Akherat, yang berurusan langsung dengan Dzat Maha Suci Hidup Tuhan/Allah. Semoga Artikel ini, bermanfaat membantu kesulitan Para Kadhang dalam mengamalkan Wahyu Panca Ghaib. Disaat Patrap Semedi.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi ini, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi Pinayungan Maring Ingkang Maha Agung. Dzat Maha Suci Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966
BBM; D38851E6
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Kisah Nyata Perjalanan Spiritual Wong Edan Bagu. Di Desa Karangreja. Kecamatan. Tanjung. Kabupaten Brebes Jateng:


Kisah Nyata Perjalanan Spiritual Wong Edan Bagu.
Di Desa Karangreja. Kecamatan. Tanjung. Kabupaten Brebes Jateng:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Rabu Legi. Tgl 02 November 2016

“Bersama Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Bukan Berati Bebas dari Masalah” Itulah tema pada artikel saya kali ini;

Berawal dari laku manekung yang saya lakukan, di tahun 2014 hingga tahun 2016, bertempat di PCI “Perumahan Cigedog Indah” di salah satu rumah milik kadhang saya, di Ds. Cigedog. Kec. Kersana. Kab. Brebes Jawa Tengah, yang lokasinya sekitar dua ratus meter kurang lebihnya, di sebelah barat pasar kecamatan kersana, Selama tiga tahun kurang lebihnya, saya aman, nyaman, tenang dan bahagia tanpa masalah apapun di tempat tersebut. Setelah selesai, lalu saya berpindah tempat ke Desa Karangreja. Kec. Tanjung, yang juga masih berkabupaten Brebes Jawa Tengah. Jarak antara desa cigedog kecamatan kersana dan desa karangreja kecamatan tanjung, sekitar dua kilo meter kurang lebihnya, jika memalui jalur pedesa’an.

Tadinya, setelah selesai manekung, saya akan ke alas ketonggo. Karena, kegagalan saya, untuk mendirikan Pesanggrahan Spiritual di Brebes, akibat dana yang tidak memadai, saya beranggap, bahwa Tuhan tidak merestui saya, untuk mendirikan Pesanggrahan di wilayah Brebes. Sebab itu, saya mengarahkan tujuan perjalanan hidup saya, ke Alas Ketonggo, perbatasan jawa tengah jawa timur.

Tapi,,, beberapa orang, termasuk kadhang didikan saya, menyampaikan kabar ngeri, yang kalau di dengar oleh telinga orang awam, tentang desa karangreja, yang katanya, sedang dilanda wabah penyakit, wabah itu, menyerang warga setempat, dan barang siapa yang terserang sakit oleh wabah tersebut, kemungkinan besarnya akan meninggal dunia, dan meninggalnya, selalu membawa teman, maksudnya, jika ada yang meninggal hari ini, maka esoknya, dua atau tiga hari kemudianya, ada yang ikut meninggal dunia juga, hingga berjumlah sampai tiga orang bahkan lebih dalam kurun waktu tujuh hari.

Sebagai Pelaku Spiritual Hakikat Hidup, mendengar kabar tersebut, saya merasa terpanggil untuk membantu sesama hidup, yang tinggal di desa karangreja itu. Alasan inilah, yang menunda perjalanan hidup saya menuju Alas Ketonggo. Pikir saya, itung-itung belajar mempraktekan Iman. Yang baru saja, saya peroleh kebenarannya, saat manekung di PCI “Perumahan Cigedog Indah” selama tiga tahun kurang lebihnya.

Lalu,,, dengan modal nekad dan bekal seadanya, di bantu oleh beberapa kadhang yang sedang nganggur pada saat itu, saya boyongan/pindah tempat, dari perumahan cigedog indah kecamatan kersana, ke desa karangreja kecamatan tanjung. Karangreja adalah sebuah perkampungan plosok, yang sangat susah di jangkau dengan transportasi kendaraan umum.

Di desa karangreja, saya mendapatkan sebuah rumah kosong, yang hampir rusak, karena lama tidak di huni, pemiliknya pekerja di jakarta dan tinggal menetap di jakarta, dan saya rasakan, ada banyak mahluk halus, yang sudah menghuni rumah kososng tersebut, selama rumah itu di kosongkan, mengetahuinya, saya samakin tertarik untuk menempati rumah kosong yang hampir rusak itu, setelah mengetahui ada banyak setan yang menghuni rumah itu, dan sering mengganggu warga setempat, khususnya rumah yang berada di samping kanan kiri dan depan belakang rumah kosong tersebut.

Karena itu, walaupun rumahnya tidak layak huni, karena bocor di sana sini, saya bersedia mengontrak mahal, seharga lima juta lima ratus ribu, untuk satu tahunnya. Sebuah harga kontrakan yang cukup mahalnya, untuk di perkampungan pelosok, karena selain di desa plosok, rumahnya sudah tidak layak huni, serta tidak ada fasilitas apapun selain listrik, itupun harus di perbaiki terlebih dulu.

Tapi dengan Iman Cinta Kasih Sayang, saya bersedia, asalkan pembayarannya, tidak sekaligus, sebab, saya mencari uangnya, mendadakan, dan pada saat itu, saya tidak punya uang sepeserpun, bagaimana saya punya uang, la wong saya habis bertapa ngebleng selama tiga tahun kurang lebihnya, dan sebagai tanda jadi kontrak rumah, saya beri panjar delapan ratus ribu, sisanya,,, nunggu dapat rejeki, karena ada salah seorang yang berjanji akan membantu saya, dalam beberapa waktu kedepan.

Kesepakatan inipun, di setujui saya dan pemilik rumah yang tinggal di jakarta. Dan saya anggap, semuanya itu, tidak apa-apa dan bukan suatu masalah, yang penting saya bisa mengamankan wabah yang sedang melanda desa karangreja, yang telah berhasil merenggut beberapa nyawa saudara-saudari saya yang tinggal di desa karangreja.

Lalu, sesuai aturan negara yang berbangsa dan bertanah air, saya mengikuti prosedur yang berlaku di setiap daerah, saya bertamu dan meminta ijin kepada pak RT setempat, dengan menyerahkan data diri pribadi saya, seperti ktp dan surat-surat keterangan lainnya.

Terus,,, sayapun mulai menempati rumah tersebut, sambil berbenah, sehari dua hari selanjutnya, saya mulai bekerja keras, tanpa henti, memperbaiki dan membersihan rumah yang saya kontrak itu, agar layak huni, di hari ketiganya, muncul-lah sangka’an dan duga’an negatif tentang saya, dari beberapa omongan warga setempat, seperti yang pernah saya alami, di desa-desa lainnya, kalau ada pendatang baru, dengan alasan, banyaknya kejadian teror masuk desa. Karena itu, ada yang bertanya secara langsung kepada saya, dari mana dan apa tujuannya dll, sayapun memberikan jawaban dengan jelas dan apa adanya, kecuali soal wabah, karena menurut saya, hal itu tidak perlu di umumkan. Dan ada juga yang tidak bertanya secara langsung kepada saya, hanya menyangka dan mengira serta menduga dari kejauhan saja. Dan itu saya anggap wajar serta lumrah juga.

Namun ternyata, tidak seperti yang saya kira, orang-orang yang menyangka dan mengira serta menduga saya dari kejauhan itu, menjadi masalah, ada yang menyangka saya teroris, ada yang mengira saya menyembunyikan teroris, ada yang menduga saya adalah perakit bom, yang sedang diburu kepolisian, ada pula yang berkata, kalau saya sedang menyebarkan aliran kepercaya’an kejawen Sapto Darmo dll.

Sehari dua hari, karena tidak secara langsung menemui saya, saya anggap angin lalu saja, sehingganya, saya tetap asyik membenahi rumah kontrakan saya, sembari menelusuri ghaib yang menyelimuti desa karangreja, yang mengakibatkan munculnya wabah.

Tak kala, saya sedang asyik menelusuri ghaib di balik desa karangreja, yang menjadikan desa tersebut terserang wabah, sambil membenahi rumah kontrakan. Tiba-tiba,,, saya kedatangan dua orang tamu petugas polisi, yang memeriksa sikon saya, mereka datang, atas laporan warga desa, yang mengira saya teroris dan lain sebagainya, di susul selang sehari kemudian, datang juga seorang babinsa, yang juga untuk mencari tahu siapa saya, itu juga atas laporan dari warga, yang mengira saya teroris dan lain sebagainya.

Dengan dua kali di datangi petugas yang berwajib ini, saya jadi berpikir sejenak, bahwasannya, ini tidak bisa di pandang remeh, saya merenung dan mengoreksi diri. Apakah saya salah,,, kalau salah, letak salah saya dimana? Prosedur seorang tamu, yang datang tinggal di suatu desa, sudah saya penuhi, rumah kontrakan saya juga, tidak tertutup, 24 jam penuh, terbuka bebas untuk siapapun yang datang, khususnya para kadhang saya, yang setiap waktunya, datang silih berganti, dan mereka semuanya, bukan orang jauh, melainkan orang sekitar desa, yang sudah salin mengenal satu sama lainnya.

Belum selesai saya mengkoreksi diri, atas kejadian tersebut, si pemilik rumah, hampir setiap waktu, telpon dan sms, minta pelunasan kontrakan, padahal perjanjian awal, sudah salin di sepakati, seperti yang sudah saya uraikan diatas, tidak bisa tidak, harus segera di lunasi, jika tidak, saya di suruh keluar dari rumahnya.

Wow,,, sungguh luar biasa bukan, intisari pati iman, yang baru saja, berhasil saya dapatkan kebenarannya, selama manekung tiga tahun kurang lebihnya, di perumahan cigedog indah. Mendadak goyah,,, loh?,,, loh?,,, loh?, kok begini hasilnya? Kejadiannya kok begini? Dll…

Semakin saya membela diri, semakin sulit sikonnya, semakin sakit dan menyedihkan rasanya, semakin saya mencari pembenaran, semakin pilu dan memalukan kejadiannya. Dan tidak berhenti hanya sampai disitu saja, sayapun di panggil untuk menghadap kapolsek tanjung, untuk dimintai keterangan dan sabagainya, sesuai laporan dari warga setempat. Siang itu, saya mendapat surat panggilan dari kepolisian, yang intinya saya di minta datang menghadap, karena ada laporan dari warga, yang menyatakan, bahwa saya sedang merakit bom dan menyembunyikan buronan teroris.

Semalam suntuk, setelah menerima surat panggilan dari kepolisian itu, saya tidak bisa tidur, saya manembah kepada Dzat Maha Suci Tuhan saya, dengan menggunakan Wahyu Panca Gha’ib, yang saya Praktekan dengan Wahyu Panca Laku, saya mengadu dan mengeluh-kan, apa yang sedang saya alami, kenapa bisa begini, mengapa jadi begini. Bukan kah saya sudah beriman dan sedang mengamalkan iman tersebut, sesuai yang di firmankan, tapi,,, kenapa…?! mengapa….?!

Semakin saya mengadu dan mengeluh kepada Dzat Maha Suci. Marah, jengkel, benci, dendam bercampur sedih dan malu, berkecamuk menjadi satu, mengoyak jiwa raga saya pada malam itu, semakin saya membela diri, semakin sakit dan menyedihkan, semakin saya mencari pembenaran, semakin pilu dan memalukan… Akhirnya saya menerapkan HAKIKAT IMAN, yaitu Wahyu Panca Laku. Tersebut;
Pasrah kepada Allah.
Menerima Allah.
Mempersilahkan Allah.
Merasakan Allah.
Menebar Cinta Kasih Sayang Allah.

Dan,,, munculah dua keputusan yang mengaharuskan saya untuk memilih. Diantaranya… Tinggalkan Desa Karangreja dan masa bodoh dengan wabah yang sedang menggerogoti warganya, dan saya akan aman, nyaman, tenang tanpa harus menghadapi masalah-masalah konyol itu, tapi saya gagal beribadah kepada Dzat Maha Suci. Atau tetap bertahan, dengan Iman Cinta Kasih Sayang Tuhan/Allah, dan masalahnya akan menjadi aman, nyaman, tenang dan selesai tanpa marah, jengkel, benci, dendam bercampur sedih dan malu, serta bisa berhasil menyempurnakan wabah, yang sedang menggerogoti warga, yang tak lain dan tak bukan, adalah saudara-saudari saya sendiri. Karena pada hakikatnya. Olo ketoro. Becik ketitik. Siapa salah, bakal seleh. Dan dengan sadar kesadaran iman, saya memilih yang kedua, yaitu bertahan dengan Iman Cinta Kasih Sayang.

Paginya saya berangkat menghadap kapolsek tanjung, setelah bla,,,bla,,,bla,,, karena saya bukan teroris, dan tidak menyembunyikan apapun dan siapapun, buktipun tidak ada, saya di persilahkan kembali dengan hormat. Setelahnya,,, saya mengira sudah selesai, karena tidak ada bukti apapun dari tuduhan orang-orang tersebut kepada saya, lalu malamnya saya beriktiyar menelusuri ghaib yang sedang menyelimuti desa karangreja, supaya bisa menyempurnakan wabahnya, yang sedang melanda desa karangreja tersebut, dengan cara, menelusuri sebab akibatnya terlebih dahulu.

Dan Ternyata… Kabupaten brebes, khususnya kec kersana, ketanggungan dan tanjung, yang saya tempati selama bertahun-tahun, memiliki sejarah istimewa dan luar biasa, dan itu baru saya ketahui setelah saya berada di desa karangreja. Dibawah ini, sejarah singkatnya, yang berhasil saya ungkap di desa karangreja kec tanjung brebes jawa tengah;

Kersana, adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Terletak diwilayah barat jalur tengah Brebes, yang cukup strategis, karena sebagai daerah penghubung ke wilayah Brebes bagian selatan melalui Banjarharjo, serta akses menuju Ciledug Cirebon Jawa Barat. Di Kersana, terdapat bekas pabrik gula, yang sudah tidak beroperasi, peninggalan penjajahan Belanda, yang dibangun sekitar tahun 1809-1810an, beserta kompleks perumahaannya, yang masih dihuni oleh beberapa petugas PG Tersana Baru unit Ketanggungan Barat.

Sekitar tahun 1809-1810an dulu, wilayah Kersana dijadikan Belanda sebagai daerah khusus perkebunan tebu, pada zaman itu, dipimpin oleh seorang demang, karena wilayahnya merupakan tanah partikelir milik perusahaan Belanda. Dan pada waktu itu, pabrik gula kersana, menjadi satu-satunya pabrik penghasil gula terbaik. Karenanya, belanda berencana untuk membangun sebuah perumahan khusus dan mewah, di sebelah barat daya pabrik gula. Dan lokasi yang hendak dibangun perumahan mewah itu, sudah di huni oleh beberapa warga sipil, sejak lama, sejak pabrik gula kersana belum di bangun, karena menolak untuk di pindahkan, warga sipil ini, di usir paksa oleh belanda, yang melawan, di bunuh di tempat. Dan,,, berhasilah belanda menguasai wilayah itu, lalu di bersihkan dan di atur sedemikian rupa. Mulai dari jalan dan tatak letak perumahannya.

Dibalik keseriusan belanda yang sedang membangun perumahan pabrik, dengan mengerahkan pekerja paksa, yang tak lain dan tak bukan adalah warga kersana itu sendiri. Jauh di luar pengetahuannya. Sedang terjadi penyusuan kekuatan, yang berencana akan memberontak penjajah belanda itu.

Awalnya, ada tiga orang pendekar bersaudara, ketiga pendekar bersaudara yang tidak mau saya uraikan silsilah detilnya ini. Bernama Raden Safi’i. Raden Wangsanangga dan Raden Singawinata, Ketiga orang pendekar tersebut, turun dari pertapa’an mengemban tugas dari sang guru, untuk mengabdikan ilmunya, membebaskan bumi pertiwi dari penjajahan belanda. Raden Safi’i ke Karawang. RadenWangsanangga ke Cikeusal dan Raden Singawinata ke Kareo, yang sekarang menjadi desa Dukuh Tengah (sebelah selatan Ketanggungan).

Setelah bertahun-tahun berpisah dengan saudara-saudaranya, ketiga orang bersaudara itu, mengadakan pertemuan di sebuah tempat, yang bernama Cikeusal. Pada pertemuan ketiga bersaudara itu, diadakanlah musyawarah, dan mendapat suatu kesepakatan, atau perjanjian, yaitu Sapapait Samamanis, yang artinya, (sama-sama pahit, sama-sama manis), maksudnya, pahit atau manis dipikul bersama, dalam satu perjuangan melawan penjajah, yaitu Belanda.

Raden Wangsanangga ditugaskan untuk melakukan kekacauan/pemberontakan terhadap pemerintah Belanda di daerah Brebes sampai ke daerah Kuningan. Dalam perundingan ketiga bersaudara tersebut, telah disepakati, bahwa, yang dapat menangkap atau mengalahkan Raden Wangsanangga, hanya Raden Safi’i atau Raden Singawinata. Maka terjadilah pemberontakan yang sangat kuat, sehingga pemerintahan Belanda, menjadi kocar kacir dan berantakan. Pusat pimpinan pemberontak terletak di Cikeusal, dan sebagai panglimanya, yaitu Ki Malangjiwa dari Cikuya, Ki Sangla dari Malahayu, Raksabala dari Bumihieum (yang sekarang bernama desa Kubangjati/Ketanggungan). Ki Saragula dari Lemah Abang (Tanjung).

Karena tidak ada yang bisa memadamkan pemberontakan, maka pemerintah Belanda mengadakan sayembara. Isi dari sayembara tersebut, adalah ” Barang siapa yang dapat menangkap pemimpi pemberontakan, yaitu Raden Wangsanangga, akan diberi hadiah semintanya”. Mendengar berita sayembara dari pemerintah Belanda, Raden Safi’i dari Karawang dan Raden Singawinata dari tanah Kareo, mendaftarkan diri untuk mengikuti sayembara dari pemerintah Belanda itu. Dan kedua pendekar tersebut, bersatu melawan pemberontak, hingga akhirnya kepala pemberontak tersebut, yang tak lain adalah saudaranya sendiri, dapat di kalahkan, sesuai panjanjian yang telah di sepakati pada awalnya.

Tiga orang bersaudara tersebut telah memegang perjanjian ”Sapapait Samamanis”. Karena telah dapat mengalahkan Raden Wangsanangga, maka Raden Safi’i dan Raden Singawinata, mendapat hadiah sakersane (semaunya), dari pemerintahan Belanda, maka dimintanya oleh Raden Safi’i dan Raden Singawinata sebidang tanah. Pemerintah Belanda memberikan sebidang tanah yang diminta seluas 41-3 pal persegi. Penyerahan hadiah dilaksanakan bulan Nopember 1813 oleh Gubernur Jenderal Raffles, di daerah Ketanggungan Barat, yang sekarang bernama Kersana.

Oleh Raden Safi’i dan putranya (Raden Singosari Sayidina Panatagama), tanah Kersana diberikan kepada Raden Singawinata dan Raden Wangsanangga. yang kemudian Putra Raden Safi’i (Raden Singosari Sayidina Panatagama), menikahi putri RadenWangsanangga, yang bernama (Raden Ayu Dumeling). Raden Singosari Sayidina Panatagama, berganti nama menjadi Kanjeng Adipati Aria Singosari Panatayuda I, dan Raden Singawinata diangkat menjadi Demang di Kersana.

Nah,,, karena ketidak rela’an bangsa belanda, atas kekalahan dan jatuhnya wilayah, yang ada pabrik gulanya itu, dan perumahan mewah yang masih dalam tahap pembangunan itu, lalu belanda menyewa orang-orang sakti, yang memiliki kemampuan supranatural, lalu, di perintahkan, untuk mendatangkan bangsa jin yang jahat dan sakti, kemudian, para jin itu, di tempatkan di pabrik gula yang terdapat di Kersana, yaitu wilayah tanah yang di jadikannya sebagai hadiyah sayembara itu, termasuk perumahan mewah yang baru saja dalam proses pembangunan itu, dan warga sipil yang pernah di usir paksa dulunya, yang sudah kembali menghuni bekas bangunan perumahan mewah pabrik gula kersana itu, yang sekarang di sebut desa karanganyar atau karangreja. Mengalami gangguan dari bangsa jin, yang sengaja di tempatkan di wilayah tersebut, atas perintah bangsa belanda.

Sebab itu, sejak awal menjadi hak milik Raden Singawinata dan Raden Wangsanangga. Pabrik gula kersana, di kenal angger dan gawat keliwat, karena tidak sedikit, warga setempat, khususnya para pekerja pabrik, yang kemasukan jin atau mengalami kecelaka’an kerja, lalu jatuh sakit yang tidak terobati, dan berakhir meninggal dunia.

Dan karena alasan itulah, pabrik gula kersana, sejak itu hingga sekarang, ditutup, berhenti beroprasi, karena untuk menghidari, banyaknya korban, sebab, setiap kali beroprasi, minimal ada 9 nyawa orang yang meninggal dunia, akibat kecelaka’an kerja atau kerasukan jin. Begitu juga dengan perumahan mewah pabrik yang gagal di bangun, warga sipil yang pernah di usir paksa dulunya, dan kembali menghuni tanah bekas bangunan perumahan mewah pabrik gula kersana itu, yang sekarang di sebut desa karanganyar atau karangreja. Mengalami gangguan dari bangsa jin. Hingga tiada aman dan nyamanya, selama menjadi penduduk di desa karanganyar atau karangreja. Dan dari sinilah, awal mulanya wabah yang sedang menggerogoti desa karangreja, yang saya maksudkan diatas.

Wilayah Kecamatan Ketanggungan. Kersana. Tanjung, merupakan dataran rendah, yang cukup landai dengan ketinggian 11 meter diatas permukaan laut, yang sebagian besar adalah tanah daratan, yang digunakan sebagai hunian, serta untuk sektor pertanian dan perkebunan. Penduduk Kecamatan Ketanggungan. Kersana. Tanjung, sebagian besar adalah suku Jawa, yang menggunakan Bahasa Jawa Brebes, serta suku sunda, yang menggunakan bahasa Sunda Brebes. Namun terdapat juga suku pendatang, seperti, keturuann thionghoa, yang sebagian besar sebagai pedagang, serta keturunan suku Madura.

Sebagian besar orangnya memeluk agama Islam, semuanya hidup rukun, berdampingan dengan pemeluk Kristen, Katolik , Budha serta Khonghucu. Kulinernya. Ada Alang-alang, Rujak Belut. Bakso Royal. Empal Gentong. Mendoan, dan Telur asin serta Bawang, dll. Irigasi/Perairan; Balong Kradenan, Balong Kubang Pari, Balong Cikandang, Balong Kersana. Selain itu, ada satu desa, yang masyarakatnya, secara bersamaan, menggunakan dua bahasa saja, yaitu Bahasa Sunda Brebes dan Bahasa Jawa, yang biasanya dikenal dengan Bahasa Jawa Brebes. yaitu Desa Kubangpari. Atas fenomena ini, saya katakan secara kultur, brebes merupakan suatu ciri, yang unik, apabila dikaji lebih lanjut mengenai pengaruh penggunaan bahasa di wilayah ketiga kecamatan ini, dikaitkan dengan kebudayaan yang memengaruhi, yaitu budaya Sunda dan budaya Jawa. Namun sayang, saya tidak tertarik untuk mengetahui lebih dalam an lebih jauh lagi, karena tujuan saya, hanya mencari tahu, asal usul atau sebab akibat wabah, yang sedang menyerang warga di desa karanganyar/karangreja.

Dan atas ijin Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Saya berhasil menyempurnakan wabah desa karangreja, termasuk jin setan prayangan, yang bersarang di rumah yang saya tempati, tanpa syarat, tanpa ritual dan risiko negatif apapun yang berdampak kepada warga. Melainkan kepada diri saya sendiri dampaknya, karena malamnya saya berhasil menyempurnakan wabah, paginya saya di usir oleh salah seorang warga, yang mengaku di suruh oleh tuan rumah kontrakan, dengan alasan, karena saya tidak mampu membayar kontrakan rumah yang saya kontrak itu, saya merasa sangat kecewa sekali, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Dan karena itu, spiritual saya berprinsip aneh, bahwasannya, saya tidak mau meninggalkan desa karangreja pada saat itu, kalau dalam hati kecil saya, masih tersisip kecewa dan benci, walaupun hanya secuil, saya mau keluar dari desa karangreja, jika murni karena selesainya perjalanan hidup spiritual saya, bukan karena kecewa, tidak suka, tidak cocok, apa lagi karena benci, itu sebab,,, saya bersikeras untuk tetap bertahan di desa karangreja, apapun kejadiannya.

Dan bersama’an itu, seorang kepala desa karangreja, yang sedikit banyaknya, mengetahui saya, karena pernah menyaksikan, sewaktu saya di introgasi di kapolsek waktu itu, berbaik hati membantu saya, mencarikan tempat tinggal baru, yang tetap di desa karangreja, dan atas bantuan kepala desa inilah, saya mendapatkan rumah kosong, yang letaknya tidak jauh dari kontrakan lama dan masih di dalam desa karangreja, walau sikon rumahnya jauh lebih parah, di banding rumah sebelumnya, karena, pemilik rumah, keduanya sudah meninggal dunia, sedangkan anak-anaknya, merantau bersama keluarganya masing-masing, tidak berani menempati rumah tersebut, akibat trauma atas meninggalnya kedua orang tuanya di rumah tersebut.

Karena di kosongkan selama bertahun-tahun, sudah pasti rusak dan di huni mahluk halus, tapi bukan masalah buat saya, yang penting saya masih tetap ada di desa karangreja. Dan seperti pada awalnya, sebelum di tempati, saya harus membersihkan dan membenahinya terlebih dulu, mulai dari pintu, jendela, kamar, gentengnya, halamannya, yang sudah seperti hutan dll. Setelah selesai, sayapun tinggal di rumah tersebut, tanpa ngontrak. Dan dirumah yang kedua inilah, saya menggembleng iman saya, lebih dalam lagi, lebih serius lagi.

Sembari membimbing siapapun yang datang minta di bimbing. Dan lambat laun, karena saya tidak pernah bermasalah dan menciptakan masalah apapun, serta tidak pernah neko-neko di desa karangreja, warga setempatpun, mulai mengerti dan memahami, tentang bagaimana saya.

Namun,,, walaupun begitu, masih saja ada yang itu ini, alias tidak suka kepada saya, entah apa masalahnya, terbukti dari rusak dan hilangnya papan tulisan yang saya pasang di pinggir jalan.

Jadi gini, karena saya sudah bertaubat alias insyaf bin kapot, supaya tidak merepotkan siapapun, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saya, saya memasang tulisan pijat urut dipinggir jalan, tepat ke arah masuk tempat tinggal saya, dan tulisan itu, hanya bertahan tiga bulan saja, karena, yang satu di rusak, dan satunya di cabut, entah di buang kemana, ini menandakan, walau semua tuduhan negatif yang mengarah kepada saya, tidak terbukti kebenarannya, namun, masih saja ada orang yang tidak menyukai saya berada di desa karangreja, tidak banyak, hanya sedikit, banyak yang tidaknya, namun sayangnya, yang banyak itu, ikut terpengaruh oleh yang sedikit tersebut, tapi lagi, itu sudah bukan masalah buat saya, sudah tidak ngefek dan mempengaruhi keimanan saya lagi, saya anggap wajar, dan bukan masalah, namanya juga kehidupan di dunia, ya begitulah adanya dunia. Jadi, bukanlah hal yang aneh bagi saya, dan tidak kaget lagi, sebab memang itulah isi dunia ini.

Hari demi hari yang saya pelajari dengan ibadah kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Walaupun masih saja, ada suara-suara sumbang yang berkumandang dan bertebaran di sana sini, tentang saya di desa karangreja, itu tidak mengurangi Iman Cinta Kasih Sayang saya kepada Tuhan, tidak mempengaruhi laku saya lagi, sudah tidak ngefek lagi, toh itu hanya diluar sana, tidak secara langsung dihadapan saya, dan dengan itu semua, saya semakin tunduk kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah saya, semakin saya Pasrah kepada Tuhan, semakin saya menerima Tuhan, semakin saya mempersilahkan Tuhan, semakin saya merasakan kuasa Tuhan dan saya semakin bisa enjoy dalam menebar Cinta Kasih Sayang Tuhan, kepada siapapun dan apapun serta dimanapun.

Saya tidak berani berpisah dengan-Nya, walau sedetikpun. Parsah kepada Allah. Menerima Allah. Mempersilahkan Allah. Merasakan Allah dan Menebar Cinta Kasih Sayang-Nya Allah. Semakin saya jadikan makanan pokok dan menu wajib di setiap gerak tubuh dan tarikan nafas saya.

Saya sudah tidak peduli lagi dengan hiruk pikuknya masalah itu lagi, yang penting saya tidak membuat masalah, tidak menciptakan masalah, dan tidak merugikan siapapun, khususnya warga karangreja yang sedang saya tempati. Dan yang paling utama, saya sudah berhasil menyempurnakan Wabah, yang menggerogoti warga desa karangreja di pertengahan tahun 2016 ini, sehingga desa karangreja, sekarang sudah terbebas dari wabah itu. Artinya, niyat tujuan saya ada di desa karangreja ini. Telah selesai, karena awal tujuan saya masuk desa karangreja, adalah itu.

Tapi,,, Aku-nya yang belum selesai, karena, dengan kejadian demi kejadian, yang menghujani saya, selama tinggal di desa karangreja. Sebagai manusia wajar, ada sedikit kecewa dalam hati saya, bagaimana tidak, saya berjuang tanpa bekal apapun, dan tidak ada yang membayarnya, hanya berbekal Iman dan menggunakan Allah, untuk membersihkan Wabah di desa karangreja, hingga sempurna tanpa risiko, tapi warga desanya, mengoyak Iman Cinta Kasih Sayang saya, dengan cara yang sangat memalukan, baik secara umum maupun pribadi. Walau begitu, bukan benci dan dendam yang ada dalam hati saya, hanya kecewa, itupun hanya sedikit, tidak banyak.

Sepintas saya pernah berpikir dengan Iman Cinta Kasih Sayang, untuk mewariskan Wahyu Panca Ghaib dan Wahyu Panca Laku, pada setiap saudara atau saudari yang menjadi warga menetap di desa karangreja, khususnya yang sudah mengenal saya, selain sebagai kenang-kenangan spiritual hakikat hidup, juga sebagai Laku Hidup pribadinya sekeluarga, yang bisa menuntun kehidupan meraka masing-masing, dalam menuju asal usul sangkan paraning dumadi dengan sempurna. Serta Iman Cinta Kasih Sayang dalam diri mereka, dapat tumbuh sebagai mana layaknya manusia hidup yang berTuhan.

Namun… Rupanya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, tidak menjatuhkan Wahyunya di desa karangreja, sehingganya, tidak ada yang tertarik dengan wejangan-wejangan yang saya syi’arkan di setiap orang yang datang menemui saya, selama saya berada di desa karangreja. Walau ada banyak orang yang datang mencari dan menemui saya, ada yang dari jakarta, surabaya, jogja, semarang, blitar, malang, banyuwangi, sumatera, kalimantan, bali dll, yang jauh naik pesawat, yang dekat naik kendaraan umum, ada yang membawa kendaraan pribadi, mereka meninggalkan semuanya, dari jauh datang ke brebes untuk menemui saya, hanya untuk belajar mengenal Tuhan secara pribadi, dengan Hakikat Hidup.

Hakikat yang khusus berurusan hanya dengan Tuhan dan berhubungan langsung hanya dengan Tuhan, bukan yang lainnya, jangankan yang tidak pernah datang dan bertemu dengan saya secara langsung, yang sering datang dan ikut mendengarkan wejangan-wejangan saya, diwaktu saya membimbing para kadhang didikan saya saja, mereka tidak tertarik dan tidak tergugah sama sekali, mereka tetap asik dengan kepentingan dan urusan dunia semunya masing-masing, serta membuang waktunya dengan sia-sia, untuk memperhatikan saya dari kejauhan, baik secara langsung maupun melalui internet, mencari-cari kelemahan dan kesalahan saya.

Pernah disuatu ketikan, ada salah satunya yang berhasil menemukan potho saya yang tidak pakai baju di internet, lalu di sebar luaskan di desa, dijadikan bahan cemohan dan gunjingan, yang katanya porno-lah, itu-lah dll, Walau pengeras suara yang terdapat di musholah dan masjid yang ada di desa karangreja tempat mereka berdomisili, yang hampir setiap waktunya, mengumandangkan ajaran agama, soal firman dan hadist al-kitab, yang setahu saya, sangatlah anggun dan sempurna, tapi saya tidak melihat ada Iman Cinta Kasih Sayang diantara mereka, sebagaimana layaknya sesama umat muslim/islam, apa lagi soal Tuhan/Allah yang sebenarnya.

Namun saya sudah tidak mempermasalahkan apapun yang ada dan terjadi di desa Karangreja, karena sudah selesai, saya akan pergi meninggalkan desa karangreja, melanjutkan perjalanan spiritual hidup saya, sebab, kecewa itu sudah bersih dari hati saya. Artinya, saya bisa keluar meninggalkan Desa Karangreja Kec Tanjung Brebes, dengan Iman Cinta Kasih Sayang, bukan dengan kekecewa’an atau kebencian. Dengan sikon persiapan untuk meninggalkan desa karangreja pada tanggal 14 November 2016 nanti, guna melanjutkan perjalanan hidup saya, menuju alas ketonggo, perbatasan jateng jatim, yang sebelumnya saya akan singgah terlebih dulu di Purworejo, untuk sowan hatur… saya ucapkan dengan Sadar Iman dan Kesadaran Cinta Kasih Sayang. Terima kasih yang tak terhingga, atas semua dan segalanya itu… Karena Karangreja, sungguh luar biasa bagi saya. AKU suka Desa Karangreja.

Ada dua kadhang kinasih didikan saya di Desa Karangreja. Dan saya yakin serta percaya, kedua kadhang didikan saya ini. Mampu mengibadahkan Wahyu Panca Gha’ib dengan Wahyu Panca Laku, khususnya di desanya sendiri, terutama untuk keluarganya sendiri. Agar tercipta Iman yang sesungguhnya, agama yang sebenarnya an Tuhan/Allah yang sejatinya, dan Cinta Kasih Sayang antar sesama hidup, dapat tercipta dimanapun. Sehingga Iri. Sirik. Dengki. Fitnah. Dendam. Benci yang dapat menimbukan kekufuran bathin, sirna dari Desa Karangreja, yang memiliki sejarah masa lalu yang sangat luar biasa unik ini.

KESIMPULANNYA:
Sekalipun kita senantiasa bersama Dzat Maha Suci Tuhan/Allah dalam sikon apapun dan dimanapun serta bagaimanapun. Walaupun kita selalu menyertakan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah dalam semua dan segala halnya. Bukan berati kita terbebas dan lepas dari yang namanya masalah, atau tidak punya masalah apapun. Sebab, sejak awal kita lahir ke dunia ini, itulah masalah. Jadi,,, masalah tetap masalah. Tapi kita bisa menyikapinya, mengahadapi, dan menyelesaikannya bersama Dzat Maha Suci Tuhan/Allah dengan Cinta Kasih Sayang yang maha segalanya. Bukan dengan yang lainnya. Sehingganya, apapun yang tejadi dan kejadiannya, semuanya indah, segalanya nikmat dan manfaat, tak satupun yang sia-sia, sebab, kita tahu secara nyata, kalau kita sedang bersama Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, untuk semua dan segala halnya itu. “tidak selembar daunpun yang jatuh ke bumi ini, tanpa kehendak Tuhan, dan setiap kehendah Tuhan, itulah yang terbaik dan benar bagi sekalian alam seisinya” apapun itu, adalah ilmu untuk kita pelajari, atau anak tangga untuk kita pijaki, agar lebih baik dalam menuju kehadirat Dzat Maha Suci Tuhan/Allah secara tepat dan sempurna. Bukan ujian atau goda’an. Siapapun yang membaca artikel saya ini, khususnya kadhang didikan saya yang tinggal di Desa Karangreja atau sekitarnya. Ambilah hikmah dari perjalanan spiritual hakikat hidup saya yang satu ini. Semoga bermanfaat dan sukses bahagia selalu untukmu sekalian.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi ini, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi Pinayungan Maring Ingkang Maha Agung. Dzat Maha Suci Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966
BBM; D38851E6
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Wahyu Panca Gha’ib Surat Pertama “KUNCI”


Wahyu Panca Gha’ib Surat Pertama “KUNCI”:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Selasa Legi. Tgl 18 Oktober 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian dimanapun berada, khususnya Kadhang Anom didikan saya, ditempatnya masing-masing. Artikel ini, merupakan artikel kedua saya, yang mengungkap secara khusus bab “KUNCI” karena saya pernah mengupasnya di artikel lainnya beberapa bulan yang lalu, namun masih menggunakan moral, maksudnya, masih ada yang saya tutupi dan tidak detail, buktinya, masih ada banyak yang tidak bisa mengerti dan paham. Pada kesempatan kali ini. Saya ungkap dan saya uraikan ulang, dengan lebih singkat, detail dan jelas. Sehingga bisa lebih mudah untuk di mengerti dan dipahami, dan dibawah ini uraiannya. Selamat menghayati dengan Rasa.

KUNCI:
1. Ayat Pertama; “Gusti Ingkang Moho Suci” Maksudnya…
Sebelum Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, menciptakan Alam-alam atau Dimensi-dimensi, termasuk Alam Semesta, Dimensi Arasy, Bumi dan Langit beserta isinya, yang ada hanyalah Dzat di Kesunyian Sejati Hyang Maha Suci. Alam Tunggal Sejati atau Alam Kumpul Nunggal Suci “KUNCI”. Dalam istilah lainnya “Ghaibul Ghaib”.

KUNCI:
2. Ayat Kedua; “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci” Maksudnya…
Kulo itu sipatnya manusia. Nyuwun pangapuro itu sikapnya manusia. Dumateng itu jarak jauh dekatnya manusia dan Tuhan-nya. Gusti Ingkang Maha Suci itu. Dzat Tuhan/Allah. Pada hakikatnya, manusia itu, tidak bisa apa-apa, kecuali Nyuwun Pangapuro “Mohon Ampunan” kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah-nya.

KUNCI:
3. Ayat Ketiga; “Sirolah Datolah Sipatolah” Maksudnya…
SIR adalah Sabda-Nya, yaitu Kunci. Paweling. Asmo. Mijil. Singkir “Wahyu Panca Gha’ib”. Dat itu Dzat “ Maha Suci”. SIFAT adalah bukti adanya kehidupan Hidup, pohon nyawa/sukma, wadah amal/ibadah, kubur/maqom sejati. Hidup-nya segala rupa dan wujud. Seluruh isi tujuh lapis bumi dan tujuh lapis langit, asalnya dari satu cahaya saja, yaitu Cahaya Allah, yang lebih di kenal dengan sebutan Nurrullah, kemudian Nurrullah berkehendak, dan kehendak inilah, yang di sebut-sebut Nurr Muhammad. Jadi,,, artinya Nur Muhammad itu, adalah kehendak-Nya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dalam kata lainnya Rasullullah, yang artinya “Utusan Maha Agung”. Maksud dari Utusan, adalah Cinta. Maksud dari Maha, adalah Kasih. Maksud dari Agung, adalah Sayang.

Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang sedang bergerak sebagai/menjadi Nurrullah ini, kemudian berkehendak/Nur Muhammad. Kehendak yang di sebut Nur Muhammad inilah, yang menjadikan Alam Dunia dan isinya.

Dzat Maha Suci dan Nurrullah dan Nur Muhammad. Atau Cinta Kasih Sayang atau Sir Dat Sipat ini. Tidak bisa Pisah dan Tidak bisa Jauh. Karena ketiganya salin terkait dan berkait, dan hakikatnya adalah Satu. Itu Sebab di sebut “KUNCI” yang maksudnya Kumpul Nunggal Suci “Satu Kesatuan Suci”

Seperti Bentuk/Wujud Gula dan Rasanya;
SIR adalah Sebutannya Gula. DZAT adalah Manisnya Gula, SIFAT adalah bentuk/wujud Gulanya. SIR adalah Namanya Bunga. DZAT adalah Wanginya Bunga, SIFAT adalah Bentuk/Wujudnya Bunga. SIR dan DZAT serta SIFAT, adalah PASTI. TIDAK AKAN ADA SIR, jika tidak ada DZAT, tidak ada DZAT kalau tidak ada Sipat. Begitupun sebaliknya.

KUNCI:
4. Ayat Ke’empat; “Kulo Sejatine Sateriyo” Maksudnya…
Sir Dat Sipat atau Cinta Kasih Sayang ini. Jika bersatu/manunggal, menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan, seperti pada hakikat awalnya. Yaitu “Dzat Maha Suci”.”Nurrullah”.”Nur Muhammad”. Maka akan mengeluarkan cahaya empat rupa. Yaitu; Merah, Kuning, Putih, Hitam, empat cahaya ini, lebih di kenal dengan sebutan sedulur papat, tersebut kakang kawah, adi ari-ari, sedulur puser lan getih, atau Mutmainah. Aluamah. Amarah dan Supiyah, atau malaikat empat, tersebut jibril, mikail, ijroil dan isrofil, dan empat cahaya inilah, yang disebut Nur Ilmu Muhammad. yaitu Hakikatnya Adam. Asal Dumadi Ananing Manungsa. Bibit untuk Alam Dhohir/Lahir.

“Kulo Sejatine Sateriyo” adalah bekerja samanya atau manunggalnya atau menyatunya atau bersatunya Dzat Maha Suci. Nurrullah. Nur Muhammad atau Sir Dat Sipat atau Cinta Kasih Sayang yang di olah, maksudnya di pelajari. Jadi… “Kulo Sejatine Sateriyo” itu, adalah Nur Ilmu Muhammad-nya Nur Muhammad “Ilmu-nya Hidup”.

Untuk lebih singkat dan jelasnya. Yang di sebut Nur Ilmu Muhammad itu, adalah sedulur papat. Yang di sebut Nur Muhammad itu, adalah Hidup atau pancer. Yang di sebut Nurrullah itu, adalah yang menghidupkan atau yang memerintah atau yang menguasai. Dalam kata lain; Sedulur papat itu ilmunya Hidup, dan Hidup itu Utusan Dzat Maha Suci.

Kalau di kembalikan pada kalimat awal. Cinta itu Dzat Maha Suci. Kasih itu Hidup. Sayang itu Sedulur Papat. Atau… Cinta atau Dzat Maha Suci itu yang mengutus. Kasih atau Hidup itu yang di utus. Sayang atau sedulur papat itu bekal ilmunya.

KUNCI:
5. Ayat Kelima; “Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso” Maksudnya…
Bukan memohon agar terlaksana maksud tujuan/hajatnya dan meminta kekuasa’an. Bukan… Maksud dari Ayat “Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso” Adalah; Nyuwun itu Laku. Wicaksono itu Nur Ilmu Muhammad atau sedulur papat “Sayang”. Panguwoso itu Nur Muhammad atau Hidup/Pancer “Kasih”. Tepatnya. Obah Polah atau Bergeraknya seluruh anggota badan/tubuh kita, yang di kendalikan oleh Nur Muhammad/Hidup, dengan menggunakan Sedulur Papat/Nur Ilmu Muhammad, sebagai alat/senjatanya. Amarah dari Daging, kuasanya keluar melalui Telingan. Aluamah dari Sungsum, kuasanya keluar menuju Mata. Supiyah dari Kulit, kuasanya keluar menuju Mulut. Mutmainah dari Tulang, kuasanya keluar menuju Hidung.

KUNCI:
6. Ayat Ke’enam; “Kangge Tumindake Sateriyo Sejati” Maksudnya…
Tumindak itu, perbuatan sipat dan sikap. Sateriyo itu, manusia. Sejati itu, Hidup. Jadi, maksud daripada “Kangge Tumindake Sateriyo Sejati” adalah, perbuatan sipat dan sikapnya manusia Hidup, yaitu diri kita ini. Kalau di gabung atau di sambungkan dengan ayat kelima; “Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso”. “Kangge Tumindake Sateriyo Sejati”.

Maksudnya adalah;
Obah Polah atau Bergeraknya seluruh anggota badan/tubuh kita, yang di kendalikan oleh Nur Muhammad/Hidup, dengan menggunakan Sedulur Papat/Nur Ilmu Muhammad. Untuk Perbuatan sipat dan sikap-nya manusia Hidup, bukan manusia mati. Manusia Hidup. Pasti selamat. Sebab hakikat Manusia Hidup, adalah tidak bisa pisah dan tidak bisa jauh dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Seperti yang sudah diungkap pada bagian atas tadi. Jadi,,, tidak mungkin celaka. Kecuali jika berpisah jauh dengan Dzat Maha Suci. Karena hakikat dari berpisah dan jauh dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Itulah manusia-manusia mati. Jadi,,, sudah pasti hanya celakalah yang merekan temui dan dapatkan.

Sir Dzat Sipat inilah, yang memangku/menopang Alam Semesta Dunia Seisinya, semuanya terliputi oleh tiga cahaya yang menyatu menjadi satu kesatuan. Yaitu; Sir. Dzat. Sipat. atau Cinta Kasih Sayang. atau Nurrullah. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad. Atau Dzat Maha Suci. Hidup. Sedulur Papat.

KUNCI:
7. Ayat Ketujuh; “Kulo Nyuwun Kangge Hanyirna’ake Tumindak Ingkang Luput” Maksudnya…
Luput itu tidak tepat/melesed. Jika kita Manusia Hidup, kita bersama Dzat Maha Suci Tuhan/Allah kita, yang Maha diatas segala yang Maha. Mustahil melesed. Semua bala bencana yang melukai, segalah hiruk pikuk yang mencelakai. Akan sirna lebur tanpo dadi. Yang ada hanya kesempurna’an Iman Cinta Kasih Sayang yang mengglobal, bukan terpuruk dalam kotak dibawah bendera.

“Wa kawa ‘Idul Imani, wajibul wajib”
Semua umat Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, wajib marifat, harus tahu tentang iman sejati, maksudnya iman yang sebenarnya ini, iman yang hanya menuju satu titik, yaitu Dzat Maha Suci Hidup, bukan yang lainnya. Agar tidak luput/melesed. Itulah maksud dari ayat ke tujuh yang berbunyi “Kulo Nyuwun Kangge Hanyirna’ake Tumindak Ingkang Luput”

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian… Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, hanya bisa dikenal, jika Dia sendiri berkehendak untuk dikenali. Jika Iman-mu kemomoran/terbagi, tidak murni, kita akan selalu melesed, tidak tepat, sehingganya, selalu capek, jenuh, ragu bahkan takut. Jika sudah melesed, kita tidak akan bisa pulang, pulang kembali kepada Dzat, hakikatnya manusia berasal dari Dzat, akan tetapi manusia tidak perlu tahu kepada Dzat, tetapi carilah utusan Dzat, yang disebut Nur Muhammad atau Roh Suci atau Roh Kudus atau sedulur Pancer atau Guru Sejati alias Hidup kita sendiri. Inilah jalan pulang yang paling sempurna.

“Illa anna awalla’nafsah fardhu ‘ain”
Pertama hal ibadah adalah tahu kepada Sejatinya Hidup, sifat dan sikap hidup yang sebenarnya harus di dapat. Sejatinya Hidup adalah bibit segala rupa. Samudra Ilmu dan Kehidupan. “Ru’yatullahi Ta’ala fi dunya bi’ainil qolbi” INGAT ITU.

Sebab itu, mendiang Romo Semono Sastrohadijoyo dawuh. “Kunci Keno Kanggo Opo Wae” artinya, kunci bisa untuk apa saja, bagaimana tidak, di dalam Kunci ada tiga INTISARIPATI segala dan semuanya. Yaitu Dzat Maha Suci. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad atau Sir. Dzat. Sipat atau Cinta Kasih Sayang. Tapi ingat,,, “Waton Ora Tumindak Luput” maksudnya, tidak melesed dari sasaran, yaitu; “Inna lillaahi wa inna illaaihi rojiun” atau “Sangkan paraning dumadi” kita berasal dari Dzat Maha Suci dan Milik Dzat Maha Suci serta akan kembali hanya kepada Dzat Maha Suci. Titik. Tidak bisa di tawar. Menawar. Sakit. Bahkan celaka.

Memandang Hakikat Dzat Maha Suci Tuhan/Allah di Dunia dengan mata Bathin/Rasa. Bila Qolbu manusia hidup, sudah menggunakan Nur Ilmu Muhammad, Qolbunya bisa dipakai untuk tempat bersua, melihat/menemui/memeluk Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dimanapun dan kapanpun, sehingga bisa merasakan secara nyata, ni’matnya tenteram dari Dunia sampai di Akhirat, tidak merasakan berpisah dengan Dzat Maha Suci. Nur Muhammad. Nur Ilmu Muhammad, lantaran tiga wujud itu, telah menyatu/manunggal, menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan, seperti pada awal mulanya terjadi. Siang dan malam Qolbu ditempati oleh Sifat dan sikap Nur Ilmu Muhammad, untuk senantiasa bisa bersua, melihat/menemui/memeluk Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, bercumbu mesrah.

Sebenarnya…
Melalui jalan Syariat, Tharekat, Hakikat dan Ma’rifat serta Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqih, Ushul Fiqih dan Ilmu Tasawuf bahkan kepercaya’an kejawen. Juga bisa, namun tidak istimewa, selain terikat sebab akibat, juga harus melalui antek-anteknya Dzat Maha Suci terlebih dahulu, ibaratnya, kita hendak menemui seorang raja atau persiden, maka harus melalui bawahan-bawahannya terlebih dahulu “Bertawasyul”, tapi “Wahyu Panca Gha’ib” sangat itimewa dan sempurna. Karena bisa langsung tanpa perantara apapun dan siapapun.

Jasmani. Jas, artinya adalah baju/badan/raga, mani artinya Rohani/Roh Suci/Hidup, baju adalah bungkus, bungkusnya Rohani, manusia tidak akan mendapatkan hasil, jika hanya mengetahui badan nyatanya saja, harus di buka dulu bajunya, supaya bisa ketemu dengan isinya, badan jasmani adalah hijabnya kepada Dzat Yang Maha Suci, jika tidak hilang wujudnya dulu, maka isinya tidak akan ketemu, diibaratkan kucing, maksud kucing hendak ngintip tikus keluar dari liangnya, tapi kucingnya diam di depan liang tikus, akhirnya tikus malah mati karena tidak bisa keluar, tentu saja tidak akan hasil, kucing diibaratkan jasad, tikus diibaratkan Hidup, tidak akan ketemu jika perasaan jasad tidak hilang.

Jika kucing menginginkan agar tikusnya keluar dari liang, tentu saja kucing harus pergi menjauhi liang tikus, barulah tikusnya keluar, sama seperti di diri manusia, jika ingin ma’rifatullah, harus memiliki Roso. Kroso. Rumongso. Ngrasak’ake Urip. “Rasa. Terasa. Merasa. Merasakan Hidup” bagaimana kita bisa merasakan hidup, tahu dan kenal hidup saja tidak, artinya, mau tidak mau, suka tidak suka, cocok tidak cocok, harus mengenal Hidup, mengenal Nur Muhammad, agar bisa menggunakan Nur Ilmu Muhammad. La… Terus. Adakah Pelajaran yang Mengajarkan Tentang Hidup dan Soal Hidup secara Khusus/Murni dan Otak-atik politik dan campursari lainnya. Selain Wahyu Panca Gha’ib…?!!. He he he . . . Edan Tenan.

“Waman aroffa nafsahu, faqod aroffa robbahu…man aroffa robbaha, faqod jahilan nafsah”
“Lahaula wala quwata, illa billahil aliyil ‘adim”

Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya, barang siapa mengenal Tuhannya pastilah bodoh dirinya. Karena hanya memiliki Iman Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi ini, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi Pinayungan Maring Ingkang Maha Agung. Dzat Maha Suci Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon/WhatsApp/Line; 0858 – 6179 – 9966. BBM; D38851E6
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Untukmu yang masih tertipu tentang SUCI… Dan. Bagimu yang masih salah dalam memahami soal Iman:


Untukmu yang masih tertipu tentang SUCI… Dan.
Bagimu yang masih salah dalam memahami soal Iman:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Sabtu Pon. Tgl 15 Oktober 2016

PERTAMA. Tentang Suci;
Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Pernah mendengar kalimat atau kata Suci…?!

Banyak diantara kita mengerti dan paham apa itu suci, namun,,, percayalah. Hanya sedikit yang tahu maksud dari kalimat kata suci ini.

Dalam kenyata’annya;
Hampir di setiap lantai masjid atau musholah, agar sandal pengunjung tidak di bawa masuk dan mengotoori lantai bagian dalam, lalu di teras, di beri pembatas. Dengan tulisan “BATAS SUCI” tidak berhenti disitu saja, agar tempat ibadah terkesan suci, lalu di pasangi keramik warna putih, dan masih banyak kisah-kisah lainnya, yang menunjukan, betapa tidak tahunya kita, tentang apa dan bagaimana itu suci.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Ketahuilah… Suci itu bukan Bentuk atau Warna. Suci itu ghaib, suci itu tentang isi hati, yaitu qalbu, soal rasa, jadi, tidak ada kaitannya dengan bentuk dan warna, suci itu murni, tidak bisa tercampuri oleh apapun, dan tidak bisa di campuri dengan apapun, terbebas dari semua dan segala bentuk dan warna.

Suci dalam Contoh pada manusianya, adalah bayi yang baru lahir, bayi yang baru lahir, walaupun masih berlumuran darah dan kotoran lainnya dari kelamin sang ibunya, disebut suci, karena belum terasupi oleh apapun, setelah di bersihkan dan menelan ASI, maka suci itu menjadi terselubung/terbungkus bersih, semakin bertumbuh si bayi, semakin terkotori jiwa raganya, semakin terkotori jiwa raganya, semakin hilang bersihnya, semakin menghilang bersihnya, semakin tertutup Sucinya.

Suci dan bersih itu tidak sama, dan sangat berbeda. Kalau suci itu di gambarkan sebuah barang, biyar lebih mudah dipahaminya. Suci adalah terbebasnya barang dari apapun itu. Sedangkan bersih, terbebasnya barang dari kotoran.

Ada dua katagori Suci;
Yang pertama. Adalah Suci-Nya Tuhan/Allah. Suci-Nya Tuhan/Allah, tidak bisa di pelajari dengan cara apapun. Karena Suci-Nya Tuhan/Allah, adalah Maha Murni. Maha Suci. Artinya, tidak bisa dicampuri atau terampuri oleh apapun, kecuali dengan Suci atau oleh Suci itu sendiri.

Yang kedua. Adalah Suci-nya Hidup/Roh, yang di sabdakan oleh Tuhan/Allah, untuk menempati wujud mahluk cipta’annya, terutama manusia. Suci-nya Hidup yang menempati diri kita ini. Bisa di pelajari, dan cara mempelajarinya, dengan Laku Suci/Murni. Laku Suci/Murni itu, bukan bertapa, bukan puasa, bukan bersemedi atau meditasi atau dzikir wiridz miliyaran jumlah hitungannya, bukan juga pergi haji, atau beramal banyak. Bukan… Maksudnya, niyat, yang hanya menuju kepada Tuhan/Allah. Bukan yang lainnya.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian… Ingat…!!!. hanya dengan Suci-nya Hidup kita sendirilah, kita bisa mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah kita. Bukan yang lainnya. “Sesungguhnya. Aku berada sangat dekat, bahkan lebih dekat dari urat lehermu”.“Barang siapa yang mengenal dirinya. Niscaya dia akan mengenal Tuhan-nya”. INGAT…!!! “Inna Lillaahi Wa Inna Illaihi Rojiun” Siapapun dia, tidak akan bisa kembali kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Jika tidak Suci. Karena Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu. Maha Suci, yang tidak bisa di campuri atau tercampuri oleh apapun, kecuali dengan Suci itu sendiri. Suci yang kita miliki, adalah Hidup. Suci yang bisa kita pelajari, adalah Hidup. Tidak mengenal Hidup, berati tidak bisa Suci, tidak bisa Suci. Berati tidak bisa kembali kerahmatullah.

Ingin Mengenal Hidup. Berati, mau tidak mau, harus Laku Suci/Murni. . Laku Suci/Murni itu, bukan bertapa, bukan puasa, bukan bersemedi atau meditasi atau dzikir wiridz miliyaran jumlah hitungannya, bukan juga pergi haji, atau beramal banyak. Bukan… Maksudnya, niyat, yang hanya menuju kepada Tuhan/Allah. Bukan yang lainnya.

KEDUA. Soal IMAN;
Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Pernah mendengar kalimat atau kata Iman…?!

Banyak diantara kita mengerti dan paham apa itu iman, namun,,, percayalah. Hanya sedikit yang tahu maksud dari kalimat kata iman ini.

Dalam kenyata’annya;
Tidak sedikit diantara kita, yang ingkar bahkan membangkang atau melawan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, buktinya, banyak yang lari ke dukun dan paranormal, takkala sedang dalam masalah rumit dan sulit yang dianggapnya berat, ketibang kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang di ibadahi setiap waktunya, ini membuktikan, bahwa betapa tidak tahunya kita, tentang apa dan bagaimana itu iman.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Ketahuilah… Iman itu, bukan yakin atau percaya atau hakqul yakin, yakin itu sipatnya manusia, percaya itu sikapnya manusia, dan yakin atau percaya, masih bisa di manipulasi, masih bisa di kompromi sesaui kepentingan dan kebutuhan. Kalau iman, itu Hidupnya manusia, dan Hidup itu, tidak bisa di otak atik dengan cara apapun.

Suka tidak suka, di sadari atau tidak di sadari, jika kita bertakwa, akan bertambah kadarnya, kalau kita ingkar, akan berkurang kadarnya. Itulah iman. Titik.

Iman adalah Hidup, yang lebih di kenal dengan sebutan Roh Suci atau Roh Kudus. Hidup itu tidak bisa di otak atik atau di tawar-tawar dengan politik apapun. Iman atau Hidup atau Roh Suci atau Roh Kudus, adalah Jati Diri Manusia yang sebenarnya, yang lebih di kenal dengan sebutan AKU, iman atau Hidup atau Roh Suci atau AKU ini, meliputi perkata’an/sifat dan perbuatan/sikap lahir bathinnya manusia.

Kadar Iman, yang lebih di kenal dengan istilah cahaya atau nur, bisa bertambah dan bisa berkurang. Bertambah karena sebab takwa, dan berkurang karena sebab ingkar. Takwa adalah menjaga, memelihara, melindungi, maksudnya daripada taqwa adalah, menjaga, memelihara, melindungi iman, sedangkan Ingkar, adalah menutupi, menyembunyikan dan membohongi iman. Globalnya perkata’an/sifat iman bathinnya manusia, adalah. “menerima”. Sedangkan globalnya perbuatan/sikap iman lahirnya manusia, adalah. “tunduk”.

Didalam ayat/surat peringatan yang tersirat di dalam al-kitab. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, selalu berseru. “Hai orang-orang beriman”. Maksudnya adalah… Hai manusia-manusia hidup, bukan manusia mati. Ada lagi ayat/surat peringatan. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, selalu berseru “Hai orang-orang yang bertaqwa”. Maksudnya adalah… Hai orang-orang yang menjaga, memelihara, melindungi Iman/Hidup/Roh Suci/Roh Kudus/Aku, bukan manusia-manusia yang menutupi, menyembunyikan dan membohongi Iman/Hidup/Roh Suci/Roh Kudus/Aku. Ada juga ayat/surat pemberitahuan. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, menegaskan “Sesungguhnya, aku hanya berlaku bagi orang-orang yang beriman”. Maksudnya adalah, bagi manusia-manusia hidup, bukan manusia-manusia mati.

Nabi Isa As pernah bersabda tentang iman, yang kurang lebih artinya seperti ini “Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada gunung ini, Pindah dari tempat ini kesana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil”. Maksudnya adalah, sekiranya kadar/cahaya/nur Hidupmu bertambah sebesar biji sesawi saja…

Mengungkap Suci. Berati mengungkap Hidup. Mengungkap Hidup. Berati mengungkap Wahyu Panca Gha’ib. Mengungkap Wahyu Panca Gha’ib. Berati mengungkap Dzat Maha Suci. Mengungkap Dzat Maha Suci. Berati mengungkap Iman. Mengungkap Iman. Berati mengungkap Wahyu Panca Laku. Dan jangan sekali-kali mengaku telah berIman. Kalau belum Pernah PMMMM “Wahyu Panca Laku”

Wahyu Panca Laku;
Pasrah kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.
Menerima Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.
Mempersilahkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.
Merasakan Kekuasa’annya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.
Menebar Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Barang Siapa yang sedang mengibadahkan Wahyu Panca Gha’ib dengan Menggunakan Wahyu Panca Laku. Berati sedang menapaki Syare’at dan Hakikat serta Tauhid-nya “Inna Lillaahi Wa Inna Illaihi Rojiun” Dan barang siapa yang menapaki Syare’at dan Hakikat serta Tauhid-nya “Inna Lillaahi Wa Inna Illaihi Rojiun” Berati akan mendapat sambutan istimewa dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Dan, sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Jadi,,, tidak ada ragu dan bimbang apa lagi takut. TERIMA KASIH Dan SALAM RAHAYU SELALU Dari Saya Untukmu Sekalian…

“Tidak ada Tuhan selain AKU. Akulah Hakikat Dzat Hyang Maha Suci, yang meliputi Sifat-Ku, yang menyertai (ASMA/ASMO) Nama-Ku, dan yang menandai (AF’AL) perbuatan-perbuatan-Ku”.-. “ Sesungguhnya AKU ini adalah Allah, Tidak Ada Tuhan (yang hak), selain AKU, maka SEMBAHLAH AKU, dan Dirikanlah Shalat untuk mengingat AKU”. (At -Thaahaa : 14)

AKU Dzat/Nurullah, Sifat Laisa kamishlihi syaiun, Dzat yang tidak dapat diserupai oleh sesuatu apapun, tidak ada umpamanya.

BILLA HAEFFIN; artinya tak berwarna dan tak berupa, tidak merah tidak hitam, tidak gelap tidak pula terang.

BILLA MAKANIN; artinya tidak berarah tidak bertempat, tidak di barat tidak di timur, tidak di utara maupun di selatan, tidak di atas maupun di bawah.

DZAT yang berdiri sendiri tanpa adanya ketergantungan kepada mahluk lain ciptaan-Nya, berbeda dengan manusia yang membutuhkan Tuhan/Allah, untuk bisa selamat di kehidupan Dunia dan Akhiratnya, adanya Alam semesta, Dunia, Arasy, Malaikat, Idajil/Azazil, Iblis, Setan, Jin dan Manusia, dan semua ciptaan-Nya yang ada, adalah karena akibat dari adanya Dzat Maha Suci.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi ini, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi Pinayungan Maring Ingkang Maha Agung. Dzat Maha Suci Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon/Watshap/Line; 0858 – 6179 – 9966. BBM; D38851E6
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com