MAKSUDNYA ROMO SEMONO KEPADA PUTERO ROMO:


Pesarean Romo Semono

MAKSUDNYA ROMO SEMONO KEPADA PUTERO ROMO:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Sabtu Wage. Tgl 23 Juli 2016

Salam Rahayu Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian….
Dulu,,, semasa Romo Semono Sastrohadidjoyo masih sugeng/Hidup, setiap waktu, beliau nyaris tidak pernah istirahat, karena di setiap waktunya, selalu ada Putero Romo yang datang menghadap beliau, baik secara lahir maupun secara bathin. Namun,,, sesibuk apapun, beliau tetap siap sedia sebagai Pandita Ratu. Beliau juga bisa bertani, seperti mengolah sawah, mulai dari menggarap, menanam hingga ke panen, disisi lain, beliau menerima tamu, disisi lain agi, beliau bersenda gurau bersama kedua istrinya, disisi lain, beliau Laku Patrap Semedi, manembah kepada Tuhan. Di samping menerima semua karakter tamu yang datang, khususnya Para Putero Romo, semua dan segala tetek bengeknya kehidupan manusia sewajarnya, tidak ada satupun yang terbengkalai.

Hal ini di lakukannya secara bersama’an. Sungguh luar biasa bukan? Jika kita tidak teleti, sudah pasti tidak akan mengrti, apa agi tau maksudnya. Maksud Romo Semono melakukan ini, bukan karena pamer kesaktian atau menunjukan kelebihannya, sebagai Pandita Ratu Piihan. Tapi mengajari kita semua, bahwa kita harus bisa mengetahui dengan sadar, mana kepentingan dan mana keperluan, karena dengan mengetahui, mana kepentingan dan mana keperluan, siapapun dia, apa lagi Putero Romo, pasti bisa meletakan kepentingan pada tempatnya kepentingannya, dan keperluan pada keperluannya secara tepat dan benar.

Seperti yang telah di contohkan oleh Romo Semono yang sudah saya jelaskan diatas, sehingganya, tidak ada satupun yang terbengkalai, semuanya menjadi laku, artinya tidak ada yang sia-sia dan percuma, serta berakhir dengan sempurna. Untuk itu, ketahuilah dengan sadar, mana yang penting dan mana yang perlu, lalu letakan pada tempatnya masing-masing, jangan di campur aduk menjadi satu, seperti es cendol campursari.

Romo Semono kan Pandito Ratu. Ya jelas bisa lah,,, pada sa’at yang bersama’an, bisa di sawah, bisa menerima tamu, bisa bersama istri dll, sedang kita apa? Tidak mungkin bisa…!!!

Apapun dan siapapun serta bagaimanapun itu Romo Semono. Hakikatnya adalah Wahyu Panca Gha’ib dan Syare’atnya adalah Wahyu Panca Laku. Tidak punya selain itu dan tidak menggunakan apapun selain itu. Artinya; apakah kita tidak punya, apa yang di miliki oleh Romo Semono? Bukankah kita memiliki yang sama?

Tapi Romo Semono kan manusia pilihan…
Semua manusia hidup itu, adalah pilihan, bukankah Tuhan sudah berfirman soal kesempurna’an kita sebagai manusia hidup, di banding mahkluk lainnya…!!! tidak ada alasan untuk tidak bisa, sementara kita memiliki dan melakukan hal yang sama. Berjalan di jalan yang sama dan menuju pada satu titik yang sama pula.

Mengenai hal ini, saya beri satu bahan mentah, agar mudah untuk mengetahui dan memilahnya. Ini bahannya: (Dzat Maha Suci Hidup itu Penting dan Isi dunia itu Perlu). Silahkan di olah sendiri, menurut masing-masing kemampuan. Ingat…!!! jangan di campur aduk, dan tempatkan pada tempatnya masing-masing. Jika kita bisa paham harus bagaimana sa’at berkepentingan dan harus bagaimana sa’at berkeperluan. KITA BISA. Romo bisa. Artinya kita juga bisa. Nabi bisa. Artinya kitapun bisa. Wali bisa. Artinya kita juga bisa. Titik.

Salam Rahayu Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian….
Ada lagi adegan yang pernah di peraga’an oleh Romo Semono, semasa beliau masih Hidup. Buat contoh bagi kita semuanya.

Seperti yang sudah saya jelaskan diatas, bahwa Romo Semono, setiap waktu di datangi para menusia-manusia hidup yang berkepentingan, khususnya Putero Romo. Ada tamu seorang pedagang, minta penglarisan, oleh Romo Semono di beri Kunci. Ada pejuang minta jimat untuk keselamatan, di beri Kunci oleh Romo Semono. Ada lelaki atau wanita ngorak yang belum mendapatkan jodoh, minta pengasihan, di beri Kunci oleh Romo Semono. Ada yang rumahnya angker, minta tumbal, biyar rumahnya jadi aman dan nyaman, di beri Kunci oleh Romo Semono. Ada yang sakit minta obat, di beri Kunci oleh Romo Semono. Ada yang minta ilmu kesaktian jaya kawijaya, di beri Kunci oleh Romo Semono. Bahkan ada yang ingin mengenal Tuhan yang di sembah dan di pujanya selama hidup, apapun agamanya atau kepercaya’annya, tetap di beri Kunci oleh Romo Semono.

Cukup membingungkan jika tidak sadar telitinya. Jika kita sadar dalam ketelitian, akan mengerti maksudnya Romo Semono melakukan ini, karena bersama’an sa’at Kunci di berikan. Romo Semono bersabda; Eling/Ingat “Ono opo-opo Kunci. Ora ono opo-opo tetep Kunci” (ada apa-apa Kunci. Tidak ada apa-apa tetap Kunci). Pasti slamet/pasti bisa/pasti sukses/pasti berhasil/pasti sampurno.

Inilah maksud dari Kalimat. Kalau Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan agama, bukan kepercaya’an, bukan kejawen, bukan kebathinan, bukan perguruan, bukan partai atau golongan, bukan adat istiadat dll, karena siapapun dia dan bagaimanapun dia, bisa jalankan Wahyu Panca Gha’ib. Sebab Wahyu Panca Gha’ib adalah Hidup. Hidup yang menempati semua wujud manusia Hidup, tidak peduli apapun agama dan kepercaya’an serta alirannya.

Ini maksud dari Kalimat. Bahwa Kunci itu bisa untuk apa saja. Bergantung si pelakunya mau berjalan ke arah mana dan menuju apa. Asalkan benar-benar dengan sadar “Ono opo-opo Kunci. Ora ono opo-opo tetep Kunci” (ada apa-apa Kunci. Tidak ada apa-apa tetap Kunci). Maksud lebih jelasnya adalah. Laku Patrap Semedi Panca Gha’ibnya. Jangan di saat ada masalah saja, di saat lagi tidak punya uang saja. Sekalipun lagi tidak ada masalah dan lagi punya banyak uang, tetap Laku Patrap Semedi Panca Gha’ib. Begitu bro,,, maksudnya.

Salam Rahayu Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian….
Ada lagi adegan yang pernah di peraga’an oleh Romo Semono, semasa beliau masih Hidup. Buat contoh bagi kita semuanya.

Pada waktu itu. Persiden ir Soekarno sedang sakit. Lalu beliau memerintahkan dua orang ajudannya, untuk memanggil Romo Semono datang ke jakarta, di istana kepersidenan, guna mengobati penyakit beliau, lalu, pergilah dua orang ajudan itu, menemui Romo Semono di sejiwan purworejo, dengan membawa mobil dimas Persiden. Setibanya, dihadapan Romo Semono, kedua ajudan yang dalam tugas ini, menyampaikan perintah Persiden. Namun di tolak oleh Romo Semono.

Lalu Romo berkata “Yang butuh itu siapa? Yang Peru itu siapa? Masak iya, sumur di suruh mendatangi timba” dengan begitu, lalu kedua ajudan itu, kembali ke jakarta dengan hampa, maksudnya tanpa berhasil membawa Romo Semono ke istana kepersidenan. Di sepanjang perjalanan, kedua ajudan ini, ketar ketir,,, harus melapor bagaimana nantinya. Setibanya di istana kepersidenan. Kedua ajudan ini, langsung menghadap dengan tekad untuk melapor. Namun betapa terkejutnya kedua ajudan itu, sa’at memasuki pintu dimana sang Persiden berbaring sakit. Kedua ajudan itu, melihat Romo Semono sedang duduk santai memberikan wejangan-wejangan pada sang Persiden, dan sudah selesai di sembuhkan. Mengertikah Anda, apa maksud dari adegan ini…?!

Romo Semono memberikan contoh pada kita semuanya, agar kita seperti kacang lupa kulitnya, atau sebaliknya. Romo Semono mengajari kita, agar bisa memilah dan menempatkan, mana yang perlu dan mana yang penting. Mana yang harus dan mana yang tidak harus. Walaupun Romo Semono bisa tau, mengerti dan paham akan hal itu, namun Romo Semono tetap melakukan darma baktinya sebagai Pandito Ratu, untuk itu, Romo Semono tetap datang menemui Persiden, karena dengan ketidak tauan sang Persiden itu. Romo Semono bisa menyampaikan Firman Tuhan kepada Persiden, walaupun hanya se ayat dua ayat. Sedangkan kedatangannya yang secara gha’ib itu, sebagai tanda, bahwa Putero Romo itu, bukanlah hal yang sepele dan remeh, jika di statuskan, jabatan Persiden, itu tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan status Putero Romo, sebab Putero Romo menguasai dengan sadar, pengetahuan tentang dan soal semua Hakikat Hidup dalam kehidupan di dimensi manapun dan apapun, sedangkan Persiden, hanya soal politik dunia, sedangkan akheratnya, bergantung sikon. Jadi,,, ga mentang hebat, lalu mengabaikan yang belum hebat, mentang-mentang tau dan bisa, lalu meninggalkan yang belum tau dan bisa.

Salam Rahayu Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian….
Ada lagi adegan yang pernah di peraga’an oleh Romo Semono, semasa beliau masih Hidup. Buat contoh bagi kita semuanya.

Kala itu… Kadhang kita, dokter Wahyono almarhum, sedang dalam tugas negara, di desa terpencil yang susah di angkau dengan transpot apapun, lalu beliau sowan secara gha’ib kepada Romo Semono, dan bertanya; “Romo,,, saya sedang menghadapi banyak pasien yang harus segera di tolong/diobati, sementara obat yang di perlukan, sudah tidak ada, apa yang harus saya lakukan Romo”. Romo Semono menjawab ” munduto tuyo sak ember, banjur sowan maring ramane, sabdanen tuyo kuwi, minongko gantine obat waras” (Ambilah air satu ember, lalu menghadap kepada Tuhanmu, sabdalah air itu, sebagai ganti obat sembuh). Mengertikah Anda, apa maksud dari adegan ini…?!

Salam Rahayu Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian….
Maksud dari adegan ini. Adalah sebagai berikut; Dengan ini Romo Semono memberikan contoh kepada kita semuanya. Dalam menghadapi masalah apapun dan bagaimanapun. Temuilah Tuhan terebih dahulu, dan dalam sikon sedang bersama Tuhan itulah, kau boleh lakukan apapun cukup dengan menyabda saja. Saya ulangi, cukup menyabda. Tidak ribet dan repot kan? Cukup Sabda. Tak harus mengeluarkan keringat dan tenaga dll, itu tidak penting. Asalkan kita bersama Tuhan. Semuanya tidak penting, jika di perlukan, cukup bersabda. Waras/Sembuh. Maka sembuhlah apapun yang sedang sakit. Begitu istimewa dan luar biasanya bukan… jika bisa bersama Tuhan selalu. Terus,,, kenapa kita tidak mau selalu bersama Tuhan? Bukankah Firmannya sudah jelas, bahwa kita tiada daya apapun jika tanpa Tuhan.

Dan masih banyak Adegan-Adegan Contoh dari Romo Semono yang pernah di peragakan secara langsung dan detail juga nyata, di hadapan Para Putero Romo Khususnya. Namun sayang, hanya sebatas kagum yang di munculkan, bukan pengkajian lakunya yang di gelar dan di gulung. Dan apa yang sudah saya jelaskan diatas, itu baru sekelumitnya. Maka… Jangan Asal.

Karena itu, dengan Wahyu Panca Gha’ib. Sudah kah kita selalu bersama Tuhan. Kalau sudah bersama Tuhan. Seperti ini atau seperti itukah sipat dan sikap laku kita kepada apapun dan terhadap siapapun…?!

Soal ini, mari kita sama-sama mengkaji diri, tidak usah risaukan yang lainnya, asalkan kita benar-benar bersama Tuhan, semuanya akan baik-baik saja. Kalau belum baik-baik saja, berati masih belum, maka Panca Laku-lah. He he he . . . Edan Tenan.

Kalau selalu bersama-Nya. Maka sipat dan sikap manusiawi-nya akan sesuai dengan Firman-Nya. Seperti dibawah ini:

Romo Pernah Ngudang/menimang Putero Romo seperti ini;
“Heh,,, Putraningsun sami. Pra satriya lan wanita. Mrenea sun jarwani. Mangertiya jenengsira. Wus Ingsun sabda dadi Kitab suci sejati. Adam makna wastanipun. Iku wujudira. Wulang-reh sejati. Iku uninira. Ber-budi bawa-leksana. Kadya lakunira. Pratanda jenengsira Putraningsun”.

WEJANGAN Tanpa Tedeng Aling-Aling:
Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian…. Ketahuilah;
Sapa kang manggula wentah ragane manungsa, iya Urip. Kang ngobahake ragane manungsa, iya Urip. kang muna muni, iya Urip. kang krasa-rumangsa-ngrasakake, iya Urip. Mula Urip kang pinilih sekalir. Kang sinembah Urip. Urip kang sinembah sakabehing Urip (sedarum) Marga Urip kang kagungan. Kang amengkoni sakabehing kahanan. Kahanane wujud wewujudan kang gumelar aneng ngalam dunya. Iku kabeh den wengkoni Urip. Urip kang kagungan purbawasesa. Kang nguwasani kabeh kahanan. Mula Urip kang gawe gelar gulung. Ana saka dene Urip. Datan ana, saka dening Urip. Urip iku yekti, Urip kang mahanani sakabehing kahanan. Mula sesembahan nyata, ora nana liya, Iya mung Urip. Bukti luhur luhuring Urip. kang sarwa tuwuh manuwuh, kang sarwo semi manyemi. Iku yektine Urip.

Gumelaring jagad anyar saisine pisan. Anane mung ringgit purwa. Lampahanipun. Manasuka Manunggal. Dalangipun. Bocah saka gunung Heru Cokro Semono. Iku kang mandegani pagelaran aneng jagad agung ngalam donya. Waranggane. Rasa Sejati. Gamelane dudu gamelan perunggu. Gamelan Lokananta. Swarane gemludug. Kang dewe-dewe muna munining Urip. Ringgit purwanipun waca. Elinga purwaning dumadi. Purwaning dumadi manungsa Urip .

Tan liya saka dening Roh Suci. Kang sinabda tumurun. Gumelar aneng ngalam donya. Kang sarwo tuwuh manuwuh. Dedalane Manunggal. Kinantenan sarwa MIJIL. Nora gampang lungguh aneng jagad anyar. Ora bisa den lakoni batin, agama lan ngelmu utawa amal jariyah. Tangeh lamun jenengsira bisa tumeka. Lamun jenengsira tan mangerti mring KUNCI nipun. Iku Kunci-ning gesang. Dzat Maha Suci sesebutan Ingsun. Iku tumrap sakabehing manungsa Urip. Kang tumitah aneng ngalam donya. Toging angga marsudia badan pribadi. sesolah bawane pribadi, panuntunipun raga kasar. Katone wujud, kang anggendong mondong yekti Urip. Yekti nyata nyatane nyata.

Jenengsira turu binantalan Urip. kinemulan Urip, kinasuran Urip. Samobahing ragane saka krentege kalbu, apa kang jenengsira sedya kudu pada. Jenengsira tumekeng wujud, datan ana bedane krenteg kang mahanani. Yekti pada ana.

Salam Rahayu Para Kadhang dan Sedulur kinasihku sekalian, jika engkau senantiasa Eling/Ingat dan Waspada. Maksudnya “Ingat pada Panca Gha’ib. Waspada pada Panca Laku”. Tumindak Tetep, Idep, madhep, mantep . Pasti bakal Mengerti dan Paham. Tentang Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling diatas. Ini sudah waktunya, berbahaya bagi kita semuanya jika tidak Eling lan Waspada “Eling marang Panca Gha’ib. Waspada marang Panca Laku”. Tebarlah Cinta Kasih Sayang kepada apapun dan siapapun sebisa mungkin dan semampunya. Jagalah hati dari segala penyakit Sirik. Iri. Dengki. Hasut. Fitnah. Benci dan Dendam. Jika terasa sulit, cukup jagalah Pikiranmu dari segala yang tidak baik dan tidak penting.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Tentang Tingkat Kesadaran Spiritual Dan Cara untuk Mengetahui Tingkat Kesadaran Spiritual:


Tentang Tingkat Kesadaran Spiritual Dan
Cara untuk Mengetahui Tingkat Kesadaran Spiritual:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Sabtu Pahing. Tgl 16 Juli 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian. Manusia Hidp adalah mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, diantara ciptaan-ciptaan Tuhan yang lainnya. Maka dari itu, manusia hidup memiliki kelebihan seperti; mampu berfikir, bersosialisasi, bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk dan masih banyak lagi kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh manusia hidup.

Dari kelebihan itu, Manusia hidup memiliki sebuah pemikiran tingkat tinggi, yang menyebabkan mereka mampu mengetahui dari mana ia diciptakan. Mulailah mereka tahu bahwa dari Tuhan-lah segala sesuatunya berasal, termasuk manusia hidup. Dengan mengetahui hal itu, mereka membalas jasa Tuhan dengan cara menyembah atau memuja-NYA.

Karena sebab itu, tidaklah aneh, jika setiap manusia hidup, memiliki caranya masing-masing dalam menyembah Tuhan. Dan mulailah manusia hidup itu, membentuk suatu perkumpulan yang didalamnya terdapat orang-orang yang memiliki suatu kepercayaan yang sama, yang sekarang lebih kita kenal dengan sebutan sebagai AGAMA. Dalam sejarah dunia, diketahui bahwa Agama Hindu merupakan agama tertua yang pernah ada, itu dibuktikan dari berbagai penemuan-penemuan yang telah di temukan di india.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian. Di zaman serba modern ini, Kepercayaan manusia dengan adanya tuhan mulai berkurang. Itu terlihat dari tingkat spiritual mereka, yang selalu berubah seiring dengan bertambahnya zaman. Kita ketahui bahwa, Spiritual itu merupakan hal-hal yang selalu berhubungan dengan jiwa dan kerohanian. Spiritual yang baik akan menciptakan kecerdasan spitritual yang baik pula. Apabila Kecerdasan spiritual ini telah mencapai pada tingkat tertinggi, maka membantunya untuk mengembangkan dirinya secara utuh, melalui penciptaan dan kemungkinan untuk selalu menerapkan nilai-nilai positif dalam kehidupannya.

Sebelum kita ingin mengetahui tingkat spiritual orang lain. Maka alangkah lebih baiknya, kita mengetahui tingkat spiritual diri kita sendiri terlebih dahulu. Cara mengetahui tingkat spiritual yang paling baik dan tepat, adalah dari segi doa yang kita mohon kepada Tuhan di setiap harinya dan kebiasa’an kita dalam pergaulan sehari-harinya.

Tingkat Kesadaran Spiritual atau Spiritual level, adalah gambaran tentang kedewasa’an atau kapasitas kesadaran spiritual seseorang. Istilah ini berfungsi sebagai skala untuk mendefinisikan, pertumbuhan spiritual dan memberikan perspektif tentang dimana kita berada dalam perjalanan spiritual kita. Semakin tinggi tingkat kesadaran spiritual seseorang, semakin banyak pula prinsip tentang Dzat Maha Suci, yang termanifestasi di dalam individu tersebut.

Dan menurut saya pribadi. Tingkat Kesadaran Spiritual tertinggi atau puncak dari pertumbuhan spiritual seseorang, yaitu Kesadaran akan Diri Sejati (Kesadaran Murni) atau mencapai Kesatuan dengan Dzat Maha Suci.

Mayoritas manusia di era saat ini, secara umum dikenal sebagai Era Perselisihan, berada dalam kategori tingkat kesadaran spiritual dua puuh persen, seseorang yang berada di atas tingkat kesadaran spiritual tujuh puluh persen, dikenal sebagai Orang Suci. Sama seperti kita memiliki orang-orang yang berada di posisi atas, pada tiap-tiap bidang dalam dunia materi, begitu juga para Orang Suci yang tinggal di Bumi, berada di posisi atas dalam hal Spiritualitas. Mereka bukan hanya para cendekiawan, melainkan mereka juga praktisi dari ilmu pengetahuan Spiritualitas dalam hidup sehari-hari, dan merupakan Jiwa-Jiwa Suci (Roh Sejati) yang telah mencapai kesadaran sejati atau kesadaran murni akan Dzat Maha Suci.

Orang-orang Suci yang aktif dalam mengajar Spiritualitas dan membimbing para pencari Tuhan dengan spiritualitas, untuk tumbuh secara spiritual, dikenal sebagai para Guru. Kurang dari sepuluh persen dari Orang-orang Suci, yang hidup di Bumi adalah Guru (Pembimbing Spiritual). Guru adalah wujud fisik dari prinsip Pengajar tentang Dzat Maha Suci, dan mereka bertindak sebagai mercu suar, bagi pemahaman spiritual di dunia kita yang sangat materialistik ini.

Tingkat kesadaran spiritual, tidak dapat diukur oleh peralatan ilmiah modern apapun, dan juga tidak dapat dipastikan secara intelektual oleh siapapun. Hanyalah Seorang Suci atau seorang Guru, yang dapat memastikan tingkat kesadaran spiritual seseorang, dengan indera ke’enam atau kemampuan persepsi-Nya yang mendalam.

Pertanya’an ini sudah cukup sering dipertanyaan kepada saya, baik secara langsung maupun melalui media internet. Yaitu “Bagaimana Seorang Suci atau Guru Pembimbing Spiritual dapat mengukur dengan akurat tingkat kesadaran spiritual seseorang?”

Sama seperti mata dengan kemampuan dasarnya, yang dapat dengan mudah membedakan antara suatu objek berwarna biru dan objek berwarna merah dengan ketepatan seratus persen, begitu pula Seorang Suci atau guru pembimbing spiritual, dengan kemampuan indera keenam-Nya, dapat dengan akurat mengukur tingkat kesadaran spiritual anak-anak didik/muridnya. Indera ke’enam membuat seseorang mampu menajamkan kesadaran dan mengukur dengan akurat dunia yang tak kasat-mata (alam spiritual/ghaib).

Seperti sekelumit penjelasan saya dibawah ini, yang kemungkinan bisa di jadikan sebagai tolak ukur, untuk mengetahui tingkatan spiritual pribadinya. Sudah seberapa persenkah kadar iman atau kemampuan spiritualnya. Seiring meningkatnya tingkat kesadaran spiritual seseorang, sikap dan perspektifnya tentang kehidupan berubah secara dramatis.

Nah, Pertanyaannya sekarang adalah;
Bagaimana Cara Mengetahui Tingkat Spiritual seseorang…?!
Lalu… Bagaimanakah Tingkat Kesadaran Spiritual diukur?
Berikut beberapa tingkatan-tingkatan spiritual pada umumnya, yang pernah saya alami dulu.

Pertama Tentang Ego dan Tingkat Kesadaran Spiritual;
Salah satu faktor penting, dalam tingkat kesadaran spiritual seseorang, adalah seberapa banyak ego atau kegelapan di sekitar Jiwanya (Roh Suci/Hidup) yang telah dilenyapkan, dan seberapa mampu ia mengidentifikasikan dirinya dengan Jiwanya (Roh Suci/Hidup) yang ada di dalam dirinya.

Maksud saya, dengan kegelapan di sekitar Jiwa atau Ego, adalah kecenderungan manusia, untuk melihat dirinya, hanya berdasarkan panca indera, pikiran dan intelek. Ego ini juga dikenal sebagai ketidaktahuan spiritual, akan Hakikat Manusia Hidup, yakni Jiwanya (Roh Suci/Hidup). Sistem edukasi modern dan masyarakat mengajari kita untuk mengidentifikasikan diri kita dengan tubuh fisik, pikiran dan intelek (akal budi), karena tidak tahu bahwa Hakikat Manusia Hidup sebenarnya adalah Jiwa (Roh Suci/Hidup).

Setelah mempelajari ilmu pengetahuan Spiritualitas, meskipun kita dapat memahami secara intelek, tentang keberadaan Jiwa (Roh Suci/Hidup) di dalam diri kita, kita belum dapat merasakan atau mengalaminya. Setelah kita melakukan latihan spiritual, kegelapan jiwa (ego) akan mulai berkurang, sampai kita mencapai tingkat kesadaran spiritual tertinggi, di mana kita dapat secara utuh, mengidentifikasikan diri dengan Jiwa (Roh Suci/Hidup) yang ada di dalam diri kita. Dengan praktek spiritual, ego kita mulai berkurang, yang mana berkaitan langsung dengan meningkatnya, tingkat kesadaran spiritual kita.

Pada tingkat kesadaran spiritual dua puluh persen, seseorang sangatlah egois, sadar hanya akan dirinya sendiri dan hanya berpikir tentang dirinya sendiri. Setelah kita melakukan latihan spiritual, kesadaran tentang tubuh fisik kita akan berkurang. Kita tidak hanya akan mampu bertahan dari ketidaknyamanan dan penderitaan, tetapi kita juga mampu untuk menerima pujian tanpa menjadi besar kepala.

Contoh misalnya suatu indikasi dari ego yang tinggi;
Ada seseorang tidak secara terbuka, mengakui bahwa ia melakukan latihan spiritual, karena hal itu mungkin membuatnya terasing dari teman-temannya. Dalam kebanyakan kasus, kita juga sering bereaksi negatif ketika orang lain menunjukkan kesalahan kita. Ketidak mampuan menerima kesalahan in, merupakan salah satu tanda dari ego.

Pada tingkat kesadaran spiritual tiga puluh persen, terdapat ketertarikan secara umum, untuk pergi ke tempat ziarah atau menyembah Dzat Maha Suci dengan cara ritualistik.

Pada tingkat kesadaran spiritual empat puluh persen, seseorang akan memiliki ketertarikan untuk mendapatkan pengetahuan spiritual dan menerapkannya. Mereka akan menghabiskan sejumlah waktu luangnya untuk pengejaran spiritual.

Pada tingkat kesadaran spiritual lima puluh persen, seseorang umumnya maju melampaui agama mereka sendiri, menuju Spiritualitas murni. Fokus utama dalam hidup orang tersebut, adalah untuk tumbuh secara spiritual, dan tidak lagi untuk pencapaian dan keterikatan duniawi. Seiring itu, mayoritas dari waktu mereka, akan dihabiskan untuk menerapkan Spiritualitas, tidak peduli apapun situasi kehidupannya, entah mereka pebisnis, ibu rumah tangga, buruh dll.

Jadi orang tersebut, yang sebelumnya sangat memperhatikan apa yang ia dapatkan dan apa yang orang pikirkan tentang dirinya, sekarang akan lebih tertarik pada apa yang Dzat Maha Suci pikirkan tentang dirinya.

Kedua Tentang Emosi Psikologis dan Tingkat Kesadaran Spiritual;
Dalam dunia kini yang egois dan kejam, memiliki emosi-emosi (perasaan) positif, khususnya mengenai orang lain adalah hal yang baik. Tetapi setelah mencapai tingkatan ini, walaupun lebih baik dibandingkan rata-rata orang yang kejam dan tidak berperasaan, seseorang harus mengingat bahwa hal itu belumlah puncak pencapaian.

Kenyata’annya, emosi psikologis adalah suatu fungsi dari pikiran yang merupakan bagian dari selubung gelap di sekitar Jiwa (Roh Suci/Hidup) kita, seperti yang sudah saya jelaskan di atas. Maka, emosi menjauhkan kita dari Jiwa/Roh Suci/Hidup yang ada di dalam diri kita.

Dzat Maha Suci melampaui emosi psikologis dan berada dalam kondisi kebahagia’an puncak/superlatif yaitu Bahagia Sejati. Ketika seseorang tumbuh secara spiritual, kemungkinan orang tersebut untuk bertindak secara emosional akan berkurang. Karen dia mencapai kondisi pikiran yang lebih seimbang dan tidak lagi dia akan terombang-ambing di antara kebahagiaan dan kesedihan, akibat peristiwa-peristiwa di sekitarnya.

Ketiga Tentang Emosi Spiritual dan Tingkat Kesadaran Spiritual;
Emosi spiritual terhadap Dzat Maha Suci, adalah mengalami kesadaran secara intensif, tentang keberadaan Dzat Maha Suci dalam segala hal, yaitu merasakan kehadiran Dzat Maha Suci, saat melakukan aktivitas sehari-hari dan mengalami hidup berdasarkan kesadaran tersebut.

Ketika emosi spiritual seseorang meningkat, orang tersebut akan semakin mampu untuk mengalami uluran tangan Dzat Maha Suci dalam setiap aspek kehidupan, dan oleh sebab itu, dia mampu untuk lebih berserah diri kepada Dzat Maha Suci. Setelah seseorang mencapai kondisi berserah diri tersebut, prinsip Dzat Maha Suci, kemudian dapat bekerja melaluinya. Prinsip ini menjadi semakin termanifestasi di dalam orang tersebut dan dia beserta orang-orang di sekitarnya, mengalami aliran Energi Ilahi Dzat Maha Suci, melalui diri orang tersebut.

CONTOH:
Seorang pada tingkat kesadaran spiritual dua puluh persen, akan merasa bangga akan dirinya dan kemampuan inteleknya, setelah menutup sebuah transaksi yang besar dan bergengsi. Dan kalau berdoa, doanya akan seperti di bawah ini;

“Ya Tuhan,,, berilah hambamu ini kebahagia’an, hambamu ini sangat miskin, berilah hamba harta yang banyak, agar aku bisa menikmati hidup yang telah engkau berikan kepadaku”

Nah,,, apabila Anda merasa bangga akan diri dan kemampuan intelek Anda, dan sering berdoa seperti diatas. Berati kesadaran spiritual atau kadar iman Anda baru mencapai dua puluh persen. Yaitu tingkat iman atau level spiritual terendah.

Sedangkan seseorang pada tingkat kesadaran spiritual tiga puluh persen, akan merasa sangat sulit untuk mencari waktu, dalam jadwal sibuknya, untuk menghadiri pengajian atau satu ceramah spiritual. Dan kalau berdoa, doanya akan seperti di bawah ini;

“Ya Tuhanku,,, aku memohon kepadamu. Berikanlah hambamu ini, keadilan, hukumlah orang-orang yang telah menyakiti hamba, melukai hamba dan menghianati hamba, sebagaiaman mestinya”

Apabila Anda mengalami kesulitan meluangkan waktu di setiap adwal kesibukan sehari-hari, untuk mengikuti pengajian atau secaramah spiritual dan sering berdoa seperti diatas. Berati kesadaran spiritual atau kadar iman Anda baru mencapai tiga puluh persen.

Tapi Orang yang sama dengan beban duniawi yang setara juga, setelah mencapai tingkat spiritual empat puluh persen, akan dengan mudah menemukan waktu secara teratur, untuk menghadiri ceramah-ceramah spiritual dan secara teratur membaca pelajaran teks-teks spiritual, baik itu berupa buku ataupun artikel di internet. Dan cara berdoa seperti di bawah ini;

“Ya Tuhanku,,, Berikanlah hambamu ini keselamatan lahir bathin, sehingga aku bisa menempuh segala macam rintangan yang engkau berikan kepadaku ya Tuhan”

Atau…
“Ya Tuhan,,, Berikanlah keluargaku keselamatan, kakak adiku, ibuku dan juga ayah bundaku, semoga selalu dalam lindunganmu”

Apabila Anda mengalami kemudahan dalam menemukan waktu secara teratur, untuk menghadiri ceramah-ceramah spiritual dan secara teratur membaca pelajaran teks-teks spiritual, baik itu berupa buku ataupun artikel di internet. Dan cara berdoa seperti diatas ini. Berati kesadaran spiritual atau kadar iman Anda telah mencapai empat puluh persen.

Dan seseorang pada tingkat kesadaran spiritual lima puluh persen, dalam keadaan beban duniawi yang sama, akan hanyut dalam emosi spiritual dan penuh rasa syukur kepada Dzat Maha Suci, untuk kebaikan-Nya dalam memberkatinya, serta cara berdoanya seperti di bawah ini;

“Ya Tuhan,,, Engkau maha pengasih dan penyayang, karuniailah seluruh mahluk hidup di dunia ini keselamatan dan kesadaran, sehingga dunia ini di penuhi hal-hal yang positif dan kedamaian”

Apabila Anda mengalami hanyut dalam emosi spiritual dan penuh rasa syukur kepada Dzat Maha Suci, untuk kebaikan-Nya dalam memberkatinya, serta cara berdoanya seperti di bawah ini. Berati kesadaran spiritual atau kadar iman Anda telah mencapai lima puluh persen.

Lain lagi jika seseorang yang tingkat kesadaran iman spiritualnya, telah mencapai kadar enam puluh persen keatas. Selain penuh rasa syukur kepada Dzat Maha Suci atas apapun itu, diapun sudah tidak mempermasalahkan lagi, tentang baik dan buruk, tidak membedakan lagi soal salah dan benar, karena dia telah mengetahui dengan sadar, bahwa baik dan buruk serta salah dan benar itu, berasal dari satu sumber, yaitu Dzat Maha Suci, jadi,,, tidak untuk di permasalahkan dan di bedakan, apa lagi di perdebatkan, melainkan di sikapi dengan kemurnian iman spiritual/Laku. Yang ada di dalam pikirannya, hanya tentang bagaimana caranya agar bisa menebar cinta kasih sayang terhadap sesama mahluk hidup, yang ada di dalam hatinya, hanya soal bagaimana caranya agar Dzat Maha Suci Mencintai. Mengasihi. Menyayangi nya. Dan doanyapun seperti di bawah ini;

“Ya Tuhan… Jika engkau menurukan hambamu ini ke dunia, untuk menebus segala dosa-dosa yang telah aku lakukan dahulu dan menyempurnakan karma-karma leluhurku. Berikanlah aku penderita’an dan rintangan, jangan berikan aku kebahagia’an dan kesenangan. Karena kebahagia’an dan kesenangan itu, hanya akan menambah dosa salah dan luputku”

Jadi,,, jika seseorang pada tingkat kesadaran spiritual lima puluh persen, hanyut dalam emosi spiritual dan penuh rasa syukur kepada Dzat Maha Suci, untuk kebaikan-Nya, jika kehilangan perjanjian, dia akan menjadi penuh dengan kejengkelan, rasa cemburu, dan ketidak bahagia’an. Namun, orang pada tingkat kesadaran spiritual enam puluh persen keatas, dalam sikon apapun, akan tetap mampu melihat uluran tangan Dzat Maha Suci dalam situasi bagaimanapun dan memahami bahwa apapun yang tersebut, telah dimenangkan, oleh yang layak dan dia akan berterima kasih kepada Dzat Maha Suci, untuk memberkatinya dengan sudut pandang Iman Cinta Kasih Sayang yang Murni.

Dan Semoga Pengalaman saya ini, bisa bermanfa’at bagi siapapun yang ingin mengetahui tingkat pencapaian spirtual pribadinya, tanpa harus malu bertanya kepada siapapun. Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

SEMPURNA ADALAH MELAMPAUI Segalanya:


SEMPURNA ADALAH MELAMPAUI Segalanya:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Sabtu Kliwon. Tgl 09 Juli 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Terkasihku sekalian…
Tidak sulit bagi semua orang untuk memahami, bahwa kemiskinan adalah penderitaan, Semua orang miskin berusaha keras untuk keluar dari penderitaannya itu. Serba kekurangan adalah kesulitan yang tidak perlu dijelaskan lagi, karena sudah pasti mengerti jawabannya. Saya contohkan pada diri saya sendiri. Yang mulainya dari kenakalan dini, saya terkucil, saya terusir, sehingga manjedai miskin segalanya. Berjuang hidup sediri sebagai anak terlantar yang tuna segalanya. Lalu saya berjuang dengan segala risiko kemampuan saya, untuk bisa bertahan hidup dan keluar dari penderita’an itu.

Walau saya berhasil bertahan hidup dan keluar dari penderita’an itu, namun sayang, keberhasilan saya, tanpa adanya Tuhan di dalamnya, karena keberhasilan itu, saya capai bukan dengan Iman Cinta Kasih Sayang. Melainkan dengan adigang adigung adigunanya ilmu jaya kawijayan. Sehingganya, menjadikan saya selalu haus akan Iman Cinta Kasih Sayang. Dan akhirnya, semua keberhasilan itu, saya korbankan segalanya demi untuk mendapatkan Iman Cinta Kasih Sayang yang selalu membuat saya haus.

Setelah Mendapatkan Wahyu Panca Gha’ib pless Panca Laku, secara nyata, bukan katanya, saya bisa merasakan Iman Cinta Kasih Sayang yang selama ini saya rindukan, yang selama ini saya dambakan dan saya idam-idamkan. Sehingganya saya sadar dan benar-benar sadar sepenuhnya. Bahwa kemakmuran tidak mampu membebaskan manusia dari kegagalan dan kesedihan. Kelimpahan materi sama sekali tidak bisa menyingkirkan ketegangan mental, sakit, usia tua, apalagi kematian. Kedudukan dan kekayaan memang bisa memberikan manfaat sosial, tetapi tidak mampu membebaskan manusia dari penderita’an, apa lagi yang namanya kematian. Dan sejak itu, saya tidak mau membagi Iman Cinta Kasih Sayang saya kepada Dzat Maha Suci, dengan apapun dan siapapun. Karena saya tau, itulah yang sebenar-benarnya musrik dan sirik. Karena itu, selain Dzat Maha Suci, cukup saya akui kebenarannya, bukan saya Cintai atau Kasihi atau Sayangi dengan Iman.

Sangat sering kita hanya berusaha menutup-nutupi penderitaan, dengan membuat kebahagiaan semu, yang hanya bertahan sementara. Kita selalu menutupi penderitaan dengan terus berpindah-pindah dari kebahagiaan yang satu menuju ke kebahagiaan yang lainnya. Dengan demikian, meskipun hidup dalam kelimpahan materi, penderitaan yang masih ada itu, bahkan yang makin membesar, tidak mudah disadari. Mengapa? Karena kita rajin menutupinya, bukan mengatasi. Sedangkan tatkala berada dalam kemiskinan usaha untuk menutupi penderitaan amatlah sulit, sehingga penderitaan amat mudah dialami dan difahami oleh siapapun dia, namun belum tentu bisa mengatasinya.

Awal mula pertama kali saya menyadari penderitaan dalam kemakmuran kehidupan. Hanya orang besar, yang mampu melihat adanya bahaya dalam kesejahteraan dan kenikmatan inderawi. Manusia biasa lainnya, seperti tertutup debu yang amat tebal di mata hatiku. saya menganggap makmur itu adalah kebahagiaan yang sebenarnya, meskipun harus selalu berlari dari satu sensasi sukses menuju ke sensasi sukses lain yang lebih sulit. Dan, tidak pernah berhenti!

Itu sebab, dengan legowo bahkan sangat rela, saya meninggalkan semuanya dan segalanya yang pernah saya miliki. untuk menjalani hidup sederhana, bahkan amat sederhana, berlatih pada banyak guru selama bertahun-tahun, mencari jalan kebebasan dari penderitaan. Hingga akhirnya berhasil mendapatkan Wahyu Panca Gha’ib. Tetapi apakah yang telah saya capai itu, adalah akhir dari semua penderitaan?

Ternyata, tidak! Amat tidak mudah sesungguhnya menyadari hal ini. Banyak para spiritualitas telah menganggap keheningan tanpa bentuk itu adalah kemanunggalan abadi dan tercapainya tujuan akhir perjalanan spiritual. Mereka menganggap pencapaian itu adalah kebahagiaan sejati. Tetapi bagi saya, semua itu hanyalah penekanan sementara saja, dari kelekatan napsu dan kotoran-kotoran mental penyebab penderitaan. Artinya; Penderita’an itu masih tetap ada.

Karena itu, walau saya sudah menemukan pelajaran benar, yaitu Wahyu Panca Gha’ib, saya masih tetap terus belajar dan belajar. Menggali rasa yang meliputi seluruh tubuh kehidupan saya, tak peduli dengan apapun, tujuan riyil panca indera saya, hanya satu, yaitu terarah hanya kepada Dzat Maha Suci, tidak ada apapun yang bisa mencampuri itu dari Niyat tujuan saya, dan sayapun tidak mencampurinya dengan apapun itu. Saya meninggalkan semua pencapaian ketenangan luar yang hanya berfungsi menekan itu, kemudian menggunakan kekuatan kesadaran murni saya, untuk membongkar gudang Wahyu Panca Gha’ib dan menghabiskan kotoran batin yang menjadi akar semua penderitaan saya. Hingga pada akhirnya, saya berhasil memperoleh Wahyu Panca Laku. Cara untuk mengamalkan/mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib.

Yaitu;
Manembahing Kawula Gusti.
Manunggaling Kawula Gusti.
Leburing Kawula Gusti.
Sampurnaning Kawula Gusti.
Sampurnaning Pati Urip-Urip Pati.

Dengan ini, saya tidak terlena dan terbelenggu dengan kebahagiaan semu yang berkotak-kotak, ini saya dapatkan bukan dari petunjuk yang diberikan orang lain atau bisikan para nabi, malaikat, wali, dewa ataupun kekuatan yang lainnya. Saya mengeri dan mengetahui serta memahaminya, karena kesadaran murni saya. Dan bukan hanya saya, Siapapun bisa, siapapun mampu, jika beum bisa dan belum mampu, datanglah temui saya, akan saya tuntun dan saya bimbing agar supaya bisa dan mampum. Karena ini bukan untuk pribadi saya, melainkan untuk semuanya tanpa terkecuali.

Inilah Kesempurna’an. Inilah kebenaran. Jalan Kebebasan kita dari semua Penderita’an. Pencerahan Sempurna yang membuat Jalan Kebebasan itu menjadi jelas, telah melampaui ketiga dimensi sekaligus. Yaitu; kemiskinan, kemakmuran, dan juga keheningan Laku Spiritual.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

CARA MENGHADIRKAN ROMO DI DALAM DIRI KITA:


CARA MENGHADIRKAN ROMO DI DALAM DIRI KITA:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Jumat Wage. Tgl 08 Juli 2016

Para Sedulur… Khususunya Para Kadhang kinasihku sekalian…
Sebagai Putro Romo. Disetiap kali malam Senin Pahing, kita di ingatkan pada lima peristiwa dalam kehidupan Romo Semono Sastrohadijoyo, dengan segala kecerahannya yang sempurna, sebagai manusia pertama yang memperkenalkan kebenaran Dzat Maha Suci, dengan bukti nyata dan detil/riyil.

Pertama, yaitu tentang kelahiran Romo Semono Sastrohadijoyo yang teramat panjang ceritanya, dan tak seorangpun bisa mengetahui ceritanya, kecuali beliau sendiri. Kedua, tentang kehidupan Romo Semono Sastrohadijoyo, yang berbeda dengan kehidupan manusia hidup pada umumnya. Yang Ketiga, tentang peristiwa turunnya Wahyu Panca Gha’ib. Ke’empat, tenteng peristiwa Mijile Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono. Dan yang Kelima adalah tentang mangkatnya Romo Semono Sastrohadijoyo yang begitu cerah dan sempurna.

Dan Hebatnya, Lima Peristiwa Sejarah Perjalanan Hidup Menuju Pulang Ke Maha Hidup ini, yang merupakan penggugah untuk semua makhluk hidup yang sedang tertidur pulas dan penyadara untuk sekalian alam seisinya yang terlena dan lupa ini. Terangkum satu jawaban di dalam saloka “ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa Kunci” bukan pada tapabrata, tirakat atau puasa, ritual atau rialat, agama atau kepercaya’an atau kebatinan, nyepi atau bertapa, namun bisa di temukan jawabannya hanya dengan saloka “ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa Kunci”

Keajaiban atau mujijat dari “ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa Kunci” sungguh di luar nalar pemikiran bahkan ilmu apapun. “ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa Kunci” sederhana bukan? Bahkan mungkin banyak diantara kita yang memandang remeh dan sepele. Padahal,,, secara syare’at maupun hakikat. “ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa Kunci” ini, adalah intisaripatinya lelaku Sangkan Paraning Dumadi atau Inna Lillaahi Wa Inna Illaihi Rojiun. Dasarnya samudra atau bumi, puncaknya angkasa atau langit. Dan tidak semua Putro Romo bisa menerapkan saloka “ana apa-apa Kunci. Laka apa-apa Kunci” di dalam kehidupan sehari-harinya hingga bab keluar masuknya napas hidupnya, apa lagi yang bukan Putro Romo.

Berjalan di atas bumi, di bawah langit, berarti berjalan dengan penuh kesadaran yang murni, tanpa embel-embel apapun. Menurut saya, kesadaran adalah jalan menuju kekekalan atau kesempurna’an. Adapun mereka yang tidak sadar seolah-olah telah mati, seperti mayat hidup (zombie). Dia bergerak tanpa sadar. Dan kalau sedang lengah, berdasarkan pengalaman nyata saya di lapangan, bisa banyak melakukan kesalahan-kesalahan, bahkan fatal. Sesungguhnya Romo merupakan tempat kita berlindung yang paling aman. Romo di sini adalah Hidup yang ada dalam setiap diri, yaitu kesadaran murni kita. Karena Romo adalah satu-satunya Utusan yang terkait langsung dengan Dzat Maha Suci, dan satu-satunya Rasul yang mendapat kuasa penuh akan Hidup Matinya setiap Makhluk, tanpa perantara apapun.

Romo adalah Guru Sejati-nya dan junjungan-nya para dewa dan manusia serta semua makhluk. Romo Semono Sastrohadijoyo memperkenalkan ini kepada semua dan segala makhluk tanpa terkecuali, sebab tidak ada satupun yang bisa menjamin kehidupan beserta embel-embelnya bisa kembali kepada asal usulnya terjadi, jika tanpa Romo/Hidup/Guru Sejati. Seluruh perjalanan hidup Beliau, mulai dari kelahiran sampai kemangkatan, dengan Wahyu Panca Gha’ib dan Panca Laku, telah memberikan petunjuk berharga dan terbaik dari semua yang pernah ada, kepada kita tentang bagaimana menghadirkan Romo/Hidup/Guru Sejati (dengan kesadaran murni-kesadaran seutuhnya sebagai manusia hidup, bukan sebagai hewan dll).

Kita semua tanpa terkecuali, sesungguhnya telah memiliki potensi untuk menjadi Romo. Bagaimana tidak, sejak di dalam kandungan, bahkan sebelum di cipta menjadi janin. Romo/Hidup/Guru Sejati, sudah bersemayan di dalam diri kita. Ada benih Romo/Hidup/Guru Sejati atau hakikat Romo/Hidup/Guru Sejati di dalam diri kita. Di akui atau tidak diakui, di sadari atau tidak di sadari. Itu dan begitulah nyata adanya. Renungkan saja di setiap pembelajaran-mu.

Benih Romo/Hidup/Guru Sejati yang ada dalam diri kita, ibarat matahari yang tertutup awan. Adapun awan yang menutupi hakikat Romo/Hidup/Guru Sejati kita, adalah akar dari noda batin, seperti keserakahan, kebencian, iri dengki, dendam, fitnah dan kebodohan serta kejahatan dan ketidak baikan. Kita seharusnya tidak membiarkan awan gelap menutupi sinar mentari yang kita miliki. Oleh karena itu, manakala emosi-emosi negatif muncul, seharusnyalah kita segera kembali pada kesadaran murni yang menjadi asal usul kita pada awal mulanya, yaitu “ana apa-apa Kunci-laka apa-apa Kunci”.

Caranya adalah dengan mengamati masuk dan keluarnya nafas kita disertai Laku “ana apa-apa Kunci-laka apa-apa Kunci” atau dengan melangkahkan kaki secara sadar di barengi Laku “ana apa-apa Kunci-laka apa-apa Kunci”. Setiap orang dapat berlatih bernafas dengan sadar dan menghasilkan kesadaran murni tan kemomoran. Setiap orang dapat berlatih melangkahkan kaki menyentuh bumi dengan sadar.

Dengan cara membiasakan untuk selalu Kunci dalam sikon apapun, enak hatinya Kunci, tidak enakpun hatinya tetap Kunci, tidak enak hatinya Kunci, enakpun hatinya tetap Kunci. Patrap Semedi Kunci 2-3-4-5-6-7 kali sekalipun dalam sehari semalam, tidaklah cukup, karena masih ada kemungkinan bisa lepas dari Romo yang pada hakikatnya adalah berada dalam diri kita. Buktinya, di saat patrap saja, ada kalanya kita lupa Romo, tidak ingat Romo, yang di ingat motornya, istrinya dll. Apa lagi di luar patrap, kakinya kesandung, misalnya, refleknya misuh-misuh, bukan Romo, makan, minum ingatnya enak dan lezatnya, bukan Romo. Tapi hati yang telah terisi dan berisi Kunci dalam sikon apapun “ana apa-apa Kunci-laka apa-apa Kunci”. Tidur pun bersama Romo, jadi, bagaimana bisa lupa…

Kita seharusnya menghadirkan Romo di dalam diri kita, di setiap keseharian kita, seraya dengan tarikan nafas. Karena kehadiran Romo secara kontinyu, selalu dapat menyelesaikan ketidaknyamanan akibat dari kemunculan emosi-emosi negatif dll.

Hidup berkesadaran murni, adalah untuk dilakukan sepanjang hari bagi setiap Putro Romo, dalam segala aktivitas. Dengan senantiasa memelihara kesadaran murni, untuk berdiam pada kekinian, maka kita akan memiliki perlindungan yang paling aman dan pasti serta menjamin.

KESIMPULANNYA;
Dan dengan pembuktian ini, saya berani mengatakan dengan tegas. “Bagi seseorang yang selalu “ana apa-apa Kunci-laka apa-apa Kunci”. Pasti sadar, dan sadarnya pasti murni, Artinya; Bagi seseorang yang sadar, selalu ada kebaikan. bagi seseorang yang sadar, kebahagiaan bertambah. bagi seseorang yang sadar, segala hal membaik, walaupun ia belum terbebas dari para musuh. Namun, ia yang baik siang maupun malam mendapatkan kebahagia’an dalam ketenteraman, karena memiliki kemampuan membagi cinta kasih sayang dengan semua yang hidup, ia tidak menemukan permusuhan dengan apapun dan siapa pun”.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Kisah Misteri Kehidupan Setelah Mati:


Kisah Misteri Kehidupan Setelah Mati:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Kamis Legi. Tgl 30 Juni 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian….
Seyogyanya, ketika kita tidur, kita harus ingat, bahwa tidur itu, adalah saudaranya mati.

Bagaimana tidak, apa yang bisa kita lakukan sa’at tidur?
Apa yang mampu kita ingat waktu tidur?

Oleh karena itulah pada saat ingin tidur, usahakan kita sungkem dulu kepada Hidup kita yang menguasai tidur, lalu sowan kepada Hyang Maha Suci Hidup yang mengusai segala dan semuanya. Agar supaya, kalau tidur kita tidak bangun lagi, kita sudah siap dalam segala halnya, misalkan kita tidur masih bisa bangun lagi, juga sudah siap dalam semua halnya.

Kita sering beranggap, bahwasanya ketika kita tidur, kita bisa menjamin besok kita masih bisa menikmati udara pagi, cahaya matahari, serta kicauan burung. Padahal tiada seorangpun bisa, bahkan jin dan malaikat pun, tidak bisa menjamin bahwa besok paginya kita masih hidup.

Betapa banyak dan seringnya kejadian disekitar kita, mereka yang hari ini sehat besoknya sudah tiada. Malam masih bercengkrama, besoknya sudah tak bernyawa. Tidak-kah cukup hal itu untuk dijadikan contoh dan peringatan…?!

Lagi pula, tiada salah dan jeleknya kan, jika kita senantiasa mengingat mati…?! Mengingat mati bukan berarti, harus menjadikan diri kita lemah. Menurut saya, jusru dengan mengingat mati, kita harus lebih bersemangat menghadapi kehidupan ini. Agar bisa memperoleh Sang Pemiliki segala dan semuanya ini. Coba pikir saja, iya apa iya….

Lantas… Kalau besok atau sekarang kita mati. Apa yang akan kita bawa…?!
Alangkah piciknya kita, jika hanya sibuk mempersiapkan diri, sebatas hari tua saja! Padahal, setelah hari tua, ada masa yang jauh lebih penting untuk kita persiapkan bekalnya. Yaitu masa setelah kematian menjemput kita. Masa ini jauh lebih lama, ketimbang masa tua kita. Bahkan kita akan kekal berada di dalamnya, jika layak untuk kekal.

Masa ini minta konsekuensi jauh lebih berat, ketimbang masa tua kita. Jika tak kita persiapkan denga matang, maka penderita’an yang sungguh-sungguh tak terelakkan, bakal menanti kita. Sayangnya, banyak di antara kita, yang lebih merasa gamang menghadapi masa lebih tua, ketimbang masa muda ini. Padahal masa itu, bisa saja datang dengan tiba-tiba atau saat kita berada di usia “emas”. Jadi berbekal-lah selagi sempat walai Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian….

Taman kematian… Yaitu kuburan, yang jasad-jasad lenyap dibawah tanah. Menunggu penghidupan kembali dan kebangkitan, serta ditiupkannya sangkakala atau kesempurna’annya, penduduknya berkumpul dibawah tanah yang lembab, tidak ada yang mengetahui keadaan mereka kecuali Dzat Maha Suci.

Ya… Kematian rupanya menjadi sebuah tantangan terbesar, dari Dzat Maha Suci untuk seluruh makhluk cipta’annya, semuanya di tantang dengan “MATI”. Tak pandang bulu, suku, ras, budaya, agama, budak atau raja, cendekiawan atau para mentri, kaum bangsawan ataupun rakyat jalata, orang kaya ataupun orang miskin, semuanya di tantang. BERANIKAH…!!!

Kematian… Adalah penghancur segala kelezatan dan kenikmatan, pemisah sebuah kumpulan/golongan, yang membuat yatim anak laki-laki dan perempuan, kematian memasuki setiap tempat, kamatian membinasakan setiap hamba. Dan dia bersipat pasti akan dihadapi oleh setiap makhluk, khususnya manusia yang hidup di dunia. Meskipun begitu, tak semua manusia yang mengingat hal itu dan mempersiapkan penyambutannya. Padahal kedatangannya sudah jelas, meskipun tidak akan pernah tahu kapan waktunya. Karenanya setiap kita mestinya ingat terhadap hal ini dan mempersiapkannya. Kalau sudah ingat… Adakah yang lebih penting dan utama dari Dzat Maha Suci…?! Tuhan yang kita sebut dengan beraneka warna nama itu…?!

Para Kadhang dan Selulur kinasihku sekalian… Ketahuilah, bahwa setelah mati, otak manusia tetap bekerja selama tujuh masa, masing-masing masa itu, memakan waktu lebih kurangnya satu menit? dan dalam tujuh masa itu, kita akan mengulang kembali, seluruh kejadian dalam hidup kita, dalam sebuah mimpi, yang mengerikan, kenapa saya sebut mimpi yang mengerikan, karena mengalami namun tak berdaya dan tanpa penolong.

Banyak informasi yang menyampaikan misteri ini, mulai dari kitab sejarah kuno tentang arwah dan buku-buku spiritual lainnya, tentang tuju masa kehidupan setelah kematian, yang akan dialami setiap manusia jika tiba waktunya mati, tapi saya yakin, darimanapun sumbernya, pasti baru sebatas katanya, sebab validnya misteri ini, harus mati dulu kan…?

Terlepas dari semua katanya itu, saya akan coba menguraikannya, sesuai pengetahuan yang pernah saya alami tempo dulu. Karena saya suka, jadi semuanya masih saya ingat hingga sekarang, sebab ini adalah saya satu bukti, yang saya dapatkan, bahwa Dunia dan Akherat serta Hidup dan kehidupan itu memang benar ada.

1. Dimasa Pertama;
Di masa pertama ini , kita akan mengalami kembali, masa ketika kita baru dilahirkan kedunia. Disini kita akan melihat, wajah orang pertama yang kita lihat ketika lahir, dokter yang membantu kelahiran kita , atau dukun bayi atau dukun beranak, bagi yang lahir secara tradisional di kampung.

Kita akan melihat wajah seorang wanita, yang telah menjadi ibu kita untuk pertama kalinya. Lalu kita akan melihat wajah seorang pria, yang telah menjadi babap kita untuk pertama kalinya, dengan senyum lebarnya.

Rasa Perasaan yang kita rasakan, saat melihat kedua orang tua kita di masa ini , bergantung pada apa, yang kita alami pada mereka disepanjang kehidupan kita. Bisa Cinta , atau Benci…

2. Dimasa Kedua;
Di masa kedua, kita akan mengulang kembali, pengalaman bersama teman-rekan atau sahabat kita, dari yang terbaik hingga yang terburuk. Masa ketika kita tertawa bersama, menangis, bercerita, saling mendukung, pertengkeran, berdebat, hingga perpisahan dengan mereka.

3. Dimasa Ketiga;
Di masa ketiga, kita akan mengingat, orang-orang yang pernah kita cintai, dalam menit ini, kita akan mengalami jatuh cinta lagi pada mereka semua. D ari mulai dengan cinta pertama, dimana untuk pertama kalinya kita sadar, bahwa kita jatuh cinta. Kita akan ingat, bagaimana senyumannya bisa membuat kita tergila- gila, bagaimana kita rela melakukan apa saja untuk membuatnya bahagia. bagaimana kita tak bisa jauh darinya.

Dilanjutkan dengan masa ketika kita patah hati, kecewa, menjalani masa-masa sendirian , masa dimana kita bersumpah, bahwa cinta itu tak pernah ada. Kemudian sampai ketika kita menemukan kembali, orang yang membuat kita jatuh cinta lagi.

4. Dimasa Ke’empat;
Di masa ke’empat ini, kita akan kembali ke masa-masa terburuk dalam hidup kita, kita akan kembali kemasa, ketika kita pertama kali merasakan patah hati. Masa ketika kita harus melihat orang-orang yang kita sayangi meninggal dunia.

Kita akan ingat , bagaimana kita membenci seseorang , dan dia juga membenci kita. Kita akan ingat bagaimana kita, menemukan seseorang yang kita cintai , tapi tak bisa kita miliki. Mana yang paling menyakitkan dari semua itu ? Kematian ? Patah hati ? Permusuhan ? Kita sendiri yang menentukan.

5. Dimasa Kelima;
Di masa kelima ini, kita akan ingat semua pelajaran yang pernah kita pelajari. Pelajaran sekolah ? Bukan..!!! Pelajaran Pondok Pesantren? Bukan…!!! Padepokan Perguruan? Juga Bukan…!!! Melainkan;

Pelajaran besar tentang hidup. Pelaran tentang kebahagian. Pelajaran tentang kesedihan. Pelajaran tentang persahabatan. Pelajaran tentang cinta kasih sayang. Pelajaran tentang kebencian dan iri sirik dengki dan dendam. Pelajaran tentang kehilangan…

6. Dimasa ke’enam;
Di masa ke’enam ini , kita akan mengalami kembali, segala sesuatu tentang diri kita. Bagaimana kita berbicara, berjalan, bernyanyi, tertawa, bergaul, menangis dan semua kebiasa;an aktifitar seumur hidup kita. Bagaimana bentuk wajah kita, tubuh kita. Apakah kita mensyukri atau tidak menerimanya ? Keputusannya ada pada diri kita sendiri.

7. Dimasa ketujuh;
Di masa terakhir ini , saya tidak menemukan dengan pasti, apa yang akan kita alami. Tapi yang jelas, dimenit terakhir ini, kita akan kembali ke kejadian yang paling berarti di sepanjang sejarah hidup kita. Bisa jadi kejadian baik atau buruk (asal-usul) atau kedatangan malaikat untuk mengadili lalu memasukan ke surga atau neraka atau “INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN” Apa “INNALILLAHI WA INNA ILAIHI SURGAUN” Atau “INNALILLAHI WA INNA ILAIHI BIDADARIUN”… Mohon maafkan, saya tidak bisa menceritakan tentang yang terkahir ini, yang jelas kita akan menemukan jawaban dari seluruh kehidupan kita. jawaban yang tak pernah kita dapat semasa hidup didunia fana ini.

Kesimpulannya;
Kitalah yang menentukan bagaimana tujuh masa kehidupan setelah mati itu, mau tidak mau, rela tidak relah, suka atau tidak suka, semuanya PASTI Mengalami. Maka, tentukan mulai sekarang, selagi mati itu belum datang tiba untuk-mu. “INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN” Apa “INNALILLAHI WA INNA ILAIHI SURGAUN” Atau “INNALILLAHI WA INNA ILAIHI BIDADARIUN” Ini bukan dogma, ini soal kenyata’an, nyatanya,,, silahkan saksikan sendiri, ada berapa ratus bahkan juta manusia hidup di dunia ini yang mati di setiap harinya.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

KISAH DI BALIK “TAUBATAN NASUHA” Wong Edan Bagu:


KISAH DI BALIK “TAUBATAN NASUHA” Wong Edan Bagu:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Sabtu Legi. Tgl 25 Juni 2016

Salam Rahayu Hayu Ayu Memayu Hayuning Karahayon Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku sekalian. Pada ksempatan kali ini. Saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya, sa’at bertaubat dari segala hal yang pernah saya perbuat kala belum mengetahui kebenaran Dzat Maha Suci yang sesungguhnya, dan dengan itu, saya rasa, kebanyakan dari kita, hanya mengetahui kata istilah taubat-nya saja atau taubatan nasuha-nya saja, sedang tentang kenyata’annya, belum mengerti, seperti saya dulu, saya tau apa itu taubat, namun saya tidak mau bertaubat juga, karena saya tidak mengerti, apa itu taubat, apa lagi memahami hakikatnya. Karena itu, pada kesempatan kali ini, saya akan membagikan pengalaman saya, yang pernah saya dapatkan kala bertaubat. Semoga bermanfaat buat kita semua ya.🙂

Di beberapa artikel saya yang sudah terposting di internet, khususnya biograi sejarah hidup saya, saya sudah menceritakan sebagian besar keburukan dan kejahatan saya secara terus terang. Dan jika di singkat. Tersebut jahat banget, kalau di ibaratkan warna, hitam banget, sudah hitam, pakai legam lagi. Walau semua bentuk kejahatan saya semuanya beralasan karena dendam, namun yang namanya jahat, tetap jahat, tidak ada kompromi. Dan ada satu kejahatan yang belum saya ceritakan, dan kejahatan yang satu inilah, yang membuat saya berniyat dan bertekad sungguh-sungguh untuk bertaubat. Apakah itu? Mari kita ikuti kisahnya.

Pada suatu saat, saya menggali kuburan seorang wanita, yang baru saja meninggal dunia dan hendak saya perkosa mayatnya. Kenapa saya begitu bernafsu untuk memperkosa mayat wanita itu?

Dulu,,, suami dari seorang wanita ini, adalah seorang lelaki pemilik ilmu pengasihan semar kuning, dan dengan karomah ilmu pngasihan semar kuning tersebut, dia suka merusak pagar ayu (mengganggu umah tangga orang lain, dan menggauli para wanita yang sudah bersuami) dan wanita-wanita yang di sukainya. Hingga pada suatu ketika, dia menjamah para tetangga tempat tinggal saya, sehingganya, banyak para suami-suami yang mengeluhkan ketidak setia’an istri-istrinya kepada saya, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena takut, sebab, selain memiliki pengasihan semar kuning, lelaki itu juga, kebal bacok, sehingganya, banyak rumah tangga tetangga saya yang berantakan bahkan bercerai karena hal itu.

Dan singkatannya cerita, karena sebab itulah, saya bermaksud membalas apa yang sering di lakukan oleh lelaki itu, agar dia dapat merasakan, seperti apa rasanya, memiliki istri di ganggu orang, jalan satu-satunya adalah mengganggu istrinya. Lalu saya temui lelaki itu, dan saya katakan dengan terang-terangnya, bahwa nanti malam, saya akan datang mencumbui dan menggauli istrinya, dan saya katakan pula, agar dia berusaha untuk mencegah saya, kalau merasa mampu mencegah, dan saya bersumpah, kalau gagal, saya akan berguru lagi.

Namun sayang,,, sebelum saya melakukannya malam itu, sorenya istri orang tersebut, meninggal dunia dan di kubur esok pagi harinya. Namun saya tidak peduli akan hal itu, setelah paginya di kubur, malamnya saya membongkar kuburan wanita tersebut.

Dan rupayanya, pada hari itu, ada dua orang wanita yang meninggal secara bersama’an, dan di kuburkan berdampingan pada hari it juga. Yang satu adalah wanita istri lelaki yang sangat saya benci itu, dan satunya adalah seorang gadis dari tetangga dusun sebelah, yang meninggal karena di gigit ular beracun.

Saya kebingungan, makam yang mana yang harus saya bongkar, karena tidak ada tanda yang membedakan, sayapun nekad membongkar salah satu kuburan itu. Lalu saya keluarkan dari kuburnya, dan saya telanjangi dari kain kapan yang membungkusnya, Dan ternyata, kuburan yang saya bongkar, bukan kuburan wanita yang saya maksud, melainkan kuburan seorang gadis yang meninggal karena di gigit ular beracun. Melihatnya saya tertarik, kaena selain masih gadis, juga cantik alami, dan tidak nampak seperti mayat, dan seketika mayat wanita itu terbangun dan berkata pada saya.

“Jangan kotori tubuhku ini, aku sudah meninggal, aku tidak mau tubuhku ini kotori oleh perbuatan orang jahat macam kau”

Seketika saya sangat terkejut dan saya berusaha menjauhi mayat wanita tersebut, dari situ saya benar-benar terkejut, mengapa mayat bisa berbicara, dan saya sadar, mayat wanita tersebut berbicara karena saking tidak inginnya kehormatannya dikotori oleh saya.

Berawal dari situ saya menangis dan saya menyadari semua kesalahan saya selama ini, bukan hanya itu saja, semua perbuatan-perbuatan bejad dan nista yang pernah saya lakukan dulu-dulu, bermunculan, teringat semuanya, seakan gambarannya ada di wajah mayat seorang gadis yang ada di hadapan saya itu, sambil menangis pebuh sesal, saya kuburkan kembali mayat gadis tersebut dengan rapi seperti semula.

Dan malam itu juga, saya mendatangi guru saya. Kyai Murnawi namanya, dan berkata pada Kyai Murnawi guru saya tersebut, bahwa saya sangat ingin bertaubat atas semua kesalahan saya, dan guru saya memberi syarat atas taubat saya, saya disuruh jalan kaki dari kuburan yang baru saja saya jahati itu, menuju masjid agung cipta rasa kasepuhan cirebon, dengan niyat untuk mensucikan diri, dan di sepanjang perjalanan itu, harus tidak ada niyat lain, kecuali bertaubat, jarak dari kuburan tempat saya berbuat jahat dan masjid agung cipta rasa kesepuhan cirebon, berjarak sekitar sembilan kilo meter kurang lebihnya.

Benar-benar sangat jauh dan menguras tenaga untuk ukuran orang yang sedang menyesali diri, apa lagi dengan sikon badan yang kotor setelah bongkar pasang kuburan, yang sudah pasti jadi perhatian setiap mata yang melihatnya, tetapi karena tekad saya yang benar-benar ingin bertaubat, saya turuti perkataan kyai tersebut, dan akhirnya sayapun kembali ke kuburan lagi, lalu berjalan menuju masjid agung, terus dan terus berjalan tanpa memikirkan dan berpikir apapun kecuali niyat bertaubat, mungkin di tengah perjalanan, karena fokus saya hanya ke taubat, sehingga apapun yang saya lalui di sepanjang perjalanan, tidak ada satupun yang saya sadari/ketahui, dan saya terkena musibah, ketenggor/kesrempet mobil, disini saya baru sadar, kalau saya baru saja kesrempet mobil, saya meraba mulut dan hidung saya yang mengeluarkan daras segar, dan banyak orang yang berdatangan mengerumuni saya, lalu beberapa sa’at kemudia, saya tidak tau lagi apa yang terjadi di tempat itu. Karena mendadak semuanya lenyap menghilang, dan beberapa sa’at kemudian, saya melihat tubuh saya sendiri, yang sedang di kerumuni banyak orang, dan semua orang itu, tidak ada satupun yang melihat dan menghiraukan saya, yang sedang berdiri diantara mereka.

Dan tiba-tiba,,, dihadapan saya, nampak taman yang sangat indah, keindahannya tak bisa saya gambarkan dengan apapun, lalu dibelakang saya, nampak pula api yang menjilat-jilat ke angkasa, yang ngeri panasnya juga tak bisa saya gambarkan dengan apapun, tak lama kemudian, munculah sesosok orang dari taman yang nan indah itu, tak berselang lama, muncul juga sesosok orang dari api yang mengerikan itu.

Lalu, keduanya memperebutkan saya, yang satu ingin membawa saya masuk ke taman indah itu, sedangkan yang satunya, bersih keras hendak membawa saya masuk ke dalam jilatan api yang mengerikan itu. Mereka berdebat, dan saya mendengarkan perdebatan mereka berdua dengan sangat jelas. Inti perdebatannya;

“Yang muncul dari api, dengan penuh emosi berkatakan dengan sangat keras, karena semua kejahatan yang pernah saya lakukan, itu sudah lebih dari cukup bagi saya untuk di bakar dengan api raksasa ini, tidak pantas berada di dalam taman itu”.

“Namun yang satunya. Yang muncul dari taman, beranggap lain, karena kesungguhan saya untuk bertaubat, sampai akhir hayat saya meninggal dalam keadaan bertaubat, walaupun saya sangat jahat, tetapi saya layak di tolong olehnya, untuk di masukan ke dalam taman indah itu, kesungguhan taubat saya, dianggap sudah cukup layak untuk menempati taman itu”

Dengan perdebatan mereka berdua inilah, saya jadi tau dengan sadar, bahwa saya telah mati, karena di tenggor/srempet mobil tadi, dan saya jadi mengerti, bahwa dua sosok orang itu, adalah dua malaikat yang pernah saya baca kisahnya di dalam al-qitab. Satunya adalah Malaikat Ridwan As penjaga Surga dan satunya adalah Malaikat Malik As penjaga Neraka.

Dan perdebatanpun di menangkan oleh Malaikat Ridwan, dan saya di bawa masuk ke dalam taman yang keindahannya tidak bisa saya gambarkan dengan apapun yang pernah saya temui di dunia ini.

Sesampainya di dalam taman itu, saya di sajikan banyak kenikmatan, mulai dari makanan, minuman hingga beraneka senek dan buah-buahan. Namun saya tidak tertarik sedikitpun, karena tidak memiliki selera makan dan minum, perut saya tidak merasa lapar maupun haus, walapun telah berhari-hari berada di taman tersebut. Jadi, bagaimana mungkin saya akan makan dan minum, kalau tidak lapar dan haus. Saya juga di layani banyak wanita dan lelaki sehat dan cantik rupawan, namun saya tidak tertarik sedikitpun, karena saya tidak merasa memiliki syahwat, jadi,,, bagaimana mungkin saya bisa tertarik dan menerima pelayanan tersebut, sehingganya, apapun yang ada di dalam taman tersebut, saya bisa saya nikmati dengan mata saja, dan hanya sebatas pandangan memandang, tidak lebih dari sekedar itu.

Tak kala saya sedang mengumbar mata, menikmati pemandangan indah yang belum pernah saya saksikan sebelumnya. Tiba-tiba muncuh suara yang bergema, saya tidak asing dengan suara itu, saya sangat kenal dengan suara itu, dan saya yakin, itu suara saya sendiri, namun saya tidak merasa berbicara atau bersuara. Dengan jelas dan tegas, suara itu berkata tujuh hal, dan sampai kini saya tetap ingat. Tidak bisa LUPA:
“1.Taubatmu AKU terima”.
”2. Ini bukan tempatmu”.
”3. Kembalilah ke tempatmu”.
”4. Ini bukan asalmu”.
”5. Pulanglah ke asalmu”.
”6. Selesaikan tugasmu”.
”7. Kelak AKU akan menjemput”.

Sesaat kemudian, setelah suara itu hening, dan saya mencari-cari suara saya sendiri yang hilang entah kemana itu, tiba-tiba mata saya terasa panas, lalu saya berusaha mengusap mata sambil mengedip-ngedipkan kelopak mata. Dan saat saya membuka mata, ketika rasa pedih di mata itu hilang, ternyata saya berada di RSUD Gunung Jati Cirebon. Dan sedang di bungkus kain kafan oleh lima orang suster. Mengetahui saya hal itu, lima suster terlihat sibuk mempersiapkan impus ditangan saya, dan memberikan alat bantu pernapasan di hidung saya. Setelahnya, suasan berubah menjadi hening, dan sayapun mulai merenung atas semua yang telah saya alami, semuanya saya ingat. Bak nonton sinetron televisi favorit saya tempo dulu, “Dokter Dewi Sartika” judulnya, yang di perankan oleh dua bintang kakak beradik, yaitu Dewi Yul dan Dwi Yul. Dari awal hingga akhir, saya bisa menghapal kisahnya dengan sangat sadar. Karena saya menyukai sinetron itu.

Selesai rawat inap di rumah sakit beberapa hari, lalu saya pulang dan menemui Kyai Murnawi guru saya, dan ternyata, guru saya itu, telah meninggal dunia, pada hari yang sama, bersama’an dengan hari diwaktu saya mengalami musibah kecelaka’an waktu itu. Lalu saya pergi menyepi di kaki gunung gundul, yang terletak di sebelah selatan kecamatan ciwaringin cirebon barat. Saya mengabil yempay di goa dalem dan bersemedi selama 2 hari 3 malam. Disinilah saya mendapatkan wejangan Wahyu Panca Laku, dari diri saya sendiri. Wahyu Panca Laku adalah satu-satunya cara untuk menerapkan atau mempraktekan gelar gulungnya Wahyu Panca Gha’ib, yang sudah saya jalani sebelumnya.

Dan dengan Mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib menggunakan Wahyu Panca Laku ini. Saya sudah tidak berguru lagi, kepada wujud sesama manusia hidup, karena apapun yang akan kedepan dan kebelakang. Selalu di bimbing oleh Hidup saya, dan sejak itulah, saya menjadikan Hidup saya sendiri sebagai Guru Sejati saya. Al-hasil,,, atas bimbingan Guru Sejati saya, yang tak lain adalah Hidup saya sendiri ini. Saya jadi Tau sendiri. Mengerti sendiri. Paham sendiri. Bukan katanya apapun dan siapapun selain Hidup saya sendiri.

Dalam artikel lain, saya pernah mengatakan, bahwa Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan agama, bukan kepercaya’an, bukan kebatikan, bukan kejawen, bukan kapribaden, bukan golongan, bukan partai, bukan perguruan dan bukan apapun itu sebutannya. Melainkan “Wahyu Panca Gha’ib”. “Wahyu” itu pemberian langsung dari Dzat Maha Suci tanpa perantara apapun. “Panca” itu Lima. “Gha’ib” itu. Dzat Maha Suci itu sendiri.

Pada Hakikat Hidupnya. Setiap manusia itu, memiliki Wahyu Panca Gha’ib. Tapi karena yang di imani/percayai/yakini terlalu banyak. Bukan Cuma Dzat Maha Suci saja. Sehingganya terlepas jauh dari kesadarannya sebagai manusia seutuhnya. Tapi karena terlalu banyak tujuannya, bukan Cuma Dzat Maha Suci saja. Jadinya meleset terlalu jauh dari apa yang telah di Firmankan Dzat Maha Suci, yang telah di sabdakan kepada Hidup, yang bertempat tinggal pada diri pribadinya sendiri.

Apa Buktinya,,, kalau setiap manusia itu sebenarnya memiliki Wahyu Panca Gha’ib…?!
Buktinya Apa,,, kalau setiap manusia itu sebenarnya memiliki Wahyu Panca Gha’ib…?!
Sebenarnya saya pernah mengungkap hal ini, hanya saja, saya sisipkan diantara wejangan lainnya, bagi yang teliti membacanya. Pasti ketemu… dan bagimu yang tidak teliti membacanya, akan saya ulangi lagi penjelasannya sebagai berikut.

Wujud/Raga Manusia adalah wadah, sedangkan isinya ada lima, yaitu Wahyu Panca Gha’ib.
Jelasnya seperti ini;

Dalam artikel lainnya, saya pernah menjelaskan tentang awal pencipta’an Manusia Hidup, tersebut ADAM, yang artinya “Asal Dumadi Ananing Manungsa” (asal terjadi adanya manusia). Menurut pengetahuan pribadi saya, di perkuat oleh al-kitab yang menyejarahkan tentang pencipta’an ADAM. Bahwa singkatnya; wujud/raga manusia, di cipta dari tanah. Setelah di bentuk menjadi wujud/raga manusia. Kala itu, tak bisa berbuat apapun, kecuali hanya diam, bak patung batu, juga belum di beri nama ADAM. Lalu Dzat Maha Suci mengambil empat anasir, tersebut sari-sarinya air, sari-sarinya angin, sari-sarinya api dan sari-sarinya bumi. Yang kemudian di cipta menjadi makhluk yang masing-masing memiliki keistimewa’an, lalu di sabdakan masuk ke dalam wujud/raga manusia itu. Kala itu, masih tetap belum bisa berbuat apapun, kecuali hanya diam, bak patung batu, juga masih belum di beri nama ADAM.

Kemudian Dzat Maha Suci berFirman. “AKU TIUPKAN ‘RUH’ SUCI” kedalam wujud/ragamu, lalu BerSabda “Kun Faya Kun”.”HIDUP” maka Hiduplah si wujud/raga manusia itu. Dan sejak itu wujud/raga manusia itu menjadi Hidup. Bisa bergerak, berdiri, duduk, melihat, mendengar, mencium, merasa dll. Dan memiliki sebutan nama “ADAM” yang artinya “Asal Dumadi Ananing Manungsa” (asal terjadi adanya manusia).

Cobalah baca berulang kali di bagian pencipta’an ADAM ini. Lalu renungkan dengan kesadaran rasamu.

Adakah sesuatu apapun yang asalnya bukan dari Dzat Maha Suci…?!
Apakah Dzat Maha Suci menggunakan perantara…?! seperti malaikat atau apa gitu…
Jawabannya TIDAK!!! Bukan?

Inilah yang saya maksud. Bahwa kita dan semua serta segalanya itu, berasal dari-Nya dan akan kembali hanya kepada-Nya. Inilah yang saya maksud. Bahwa Wahyu Panca Gha’ib itu. Bukan; bukan agama, bukan kepercaya’an, bukan kebatikan, bukan kejawen, bukan kapribaden, bukan golongan, bukan partai, bukan perguruan dan bukan apapun itu sebutannya Dan semua manusia hidup itu, pada hakikatnya memiliki Wahyu Panca Gha’ib. Bagaimana tidak. Empat anasir itu, adalah Paweling. Asmo. Mijil dan Singkir. Sedang Ruh Suci itu. Adalah Hidup.

Tapi karena yang di imani/percayai/yakini terlalu banyak. Bukan Cuma Dzat Maha Suci saja. Sehingganya terlepas jauh dari kesadarannya sebagai manusia seutuhnya. Tapi karena terlalu banyak tujuannya, bukan Cuma Dzat Maha Suci saja. Jadinya meleset terlalu jauh dari apa yang telah di Firmankan Dzat Maha Suci, yang telah di sabdakan kepada Hidup, yang bertempat tinggal pada diri pribadinya sendiri.

Kalau seperti ini;
Tidak akan pernah bisa sadar dan menyadari bahwa Dzat Maha Suci itu, adalah yang terpenting dan utama dari semua dan segalanya.

Jika seperti ini;
Tidak akan pernah bisa sadar dan menyadari. Apa itu Wahyu Panca Gha’ib. Apa itu Wahyu Panca Laku. Apa itu Agama. Apa itu Kejawen. Apa itu Kepercaya’an. Apa itu Ilmu. Apa itu Tuhan. Apa itu Romo. Apa itu Allah. Apa itu Dzat Maha Suci. Apa itu Asma’ul Husna. Apa itu Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono. Apa itu Gusti. Apa itu Kawulo. Apa itu Putro. Apa itu Al-qitab dll. Semuanya serba katanya, sedangkan buktinya adalah semu tanpa kenyata’an.

Kalau tidak bisa sadar dan menyadari. Apa itu Wahyu Panca Gha’ib. Apa itu Wahyu Panca Laku. Apa itu Agama. Apa itu Kejawen. Apa itu Kepercaya’an. Apa itu Ilmu. Apa itu Tuhan. Apa itu Romo. Apa itu Allah. Apa itu Dzat Maha Suci. Apa itu Asma’ul Husna. Apa itu Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono. Apa itu Gusti. Apa itu Kawulo. Apa itu Putro. Apa itu Al-qitab dll.

Ya… Tidak akan pernah mampu Pasrah kepada Dzat Maha Suci.
Ya… Tidak akan pernah mampu menerima Dzat Maha Suci.
Ya… Tidak akan pernah mampu mempersilahkan Dzat Maha Suci.
Ya… Tidak akan pernah mampu merasakan semua dan segala proses hidup yang di tugaskan oleh Dzat Maha Suci.
Ya… Tidak akan pernah mampu menebar Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci kepada siapapun dan apapun. Apa lagi bisa… wah, jauh bangetttttttttttttt… He he he Edan Tenan.

Mampunya hanya mengeluh, protes bahkan menentang, konyolnya, menduakan bahkan senyeribukan Dzat Maha Suci. Katanya iman/yakin/percaya kalau Tuhan itu Esa dan maha segalanya, di salahkan tidak mau, di ingatkan tersinggung, di singgung salah paham, tidak terima senang dan bla…bla…bla…prakgh, waduh,,, gelasnya jatuh rek, jadi tumpah deh wedangnya. He he he . . . Edan Tenan.

PERTANYA’AN;
Firman mana?
Surat apa dan ayat berapa yang menjelaskan ini?
Hadist dan dalil siapa yang memperkuat hal ini?

Jika Pertanya’an itu yang ada di dalam pikiran kepala. Jangan pernah Rindu Tenteram. Jangan pernah ingin Sempurna. Apa lagi mendapatkan bukti nyata benarnya, apa itu Wahyu Panca Gha’ib. Apa itu Wahyu Panca Laku. Apa itu Agama. Apa itu Kejawen. Apa itu Kepercaya’an. Apa itu Ilmu. Apa itu Tuhan. Apa itu Romo. Apa itu Allah. Apa itu Dzat Maha Suci. Apa itu Asma’ul Husna. Apa itu Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono. Apa itu Gusti. Apa itu Kawulo. Apa itu Putro. Apa itu Al-qitab dll. Karena selamanya, tidak akan pernah mendapatkan Bukti Nyata dari sebuah kebenaran yang sebenarnya. Yang ada hanya raba’an dan sangka’an serta duga’an belaka, yang berkepanjangan akan membelenggumu.

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian. Apapun yang sedang di pelajari selama ini. Mulai dari Syare’at. Thariqat. Tasyawuf. Haqikat. Ma’rifat hingga ke Taukhid. Baik dengan menggunakan agama atau kepercaya’an. “Kuwi Lungguhe Pengerten”. Maksudnya, Itu hanya sebatas ilmu pengertian. Cara untuk mengetahui, cara untuk mengerti, cara untuk memahami. Bukan cara untuk menemui dan memiliki.

Cara untuk mengetahui apa?
Cara untuk mengerti apa?
Cara untuk memahami apa?

Ini contohnya;
Misal saya ingin mengetahui rokok, mengerti rokok, memahami rokok.
Yang di sebut rokok itu seperti apa ya?
Yang di bilang rokok itu apa ya?
Rokok itu yang bagaimana dan yang seperti apa ya?

Yang di pelajari. Mulai dari Syare’at. Thariqat. Tasyawuf. Haqikat. Ma’rifat hingga ke Taukhid. Baik dengan menggunakan agama atau kepercaya’an, itulah cara untuk mengetahui rokok, mengerti rokok, memahami rokok itu apa dan seperti apa serta bagaimana. Dengan ilmu-ilmu pengertian itu, sehingganya jadi tau, jadi ngerti, jadi paham. O…. itu to rokok. O… ini to rokok. O… begitu to rokok. O… disana atau disini to rokok itu.

Lalu,,, kalau sudah tau mengerti dan paham kalau itu rokok, apa sudah cukup hanya dengan mengetahui rokok itu, mengerti rokok itu, memahami rokok itu…?!

Tidak inginkah memiliki rokok itu, agar bisa menikmatinya secara nyata, bukan Cuma katanya atau sebatas hayalan di dalam bayangan merokok…?!

Monggo di Pikir…
Bati ngileerrr thok rek…. He he he . . . Edan tenan.
Kalau bisa memiliki rokok itu, sudah pasti tau, pasti mengerti, pasti paham. Bahkan bisa membuat rokok sendiri. Mungkin bisa punya pabrik rokoknya juga. Logikanya kan begitu. Iya apa iya? Hayo…

Tidak capek-kah…?! mencari dan tersu mencari tau terus, mencari ngerti terus, mencari pemahaman terus. Setelah tau, setelah mengerti, setelah paham, di biyarkan berlalu begitu saja, tidak di genggam, tidak di peluk, tidak dinikmati, tidak di miliki. Sudah Cukup-kah hanya mengetahui, mengerti’i, memahami saja…?!

Prakteknya Mana…!!! Mana Prakteknya Bro…?!
Cara untuk bisa menemuinya, ya hanya Wahyu Panca Gha’ib. Karena hanya Wahyu Panca Gha’ib yang tidak bisa di politik dan di rekayasa sesuai kepentingan dan kebutuhan apapun. Sebab Wahyu Panca Gha’ib, adalah satu-satunya Wahyu yang Murni/Tulen dan tidak menggunakan perantara apapun serta siapapun sa’at penyampaiannya.

Cara untuk bisa memilikinya, ya dengan Mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib menggunakan Wahyu Panca Laku. Kerena hanya Wahyu Panca Laku lah, satu-satunya Laku yang hanya memuja dan memuji Dzat Maha Suci dan menuju hanya kepada Dzat Maha Suci. Bukan lainnya.

Ini bukan Promosi Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku, bukan… Ini bukan soal Pamer atau Sombong, juga bukan tentang Over PD. Bukan… tapi ini wujud bentuk Cinta Kasih Sayang saya yang tulus, terhadap sesama Hidup yang berasal sama dan akan kembali ke yang sama juga. Ini soal kasunyatan/kenyata’an. Ini tentang kebenaran yang sesungguhnya benar. Silahkan di Renungkan dengan Rasa, minimal dengan hati nurani sebagai manusia hidup. Jika sulit dan susah untuk menerimanya. Lupakan saja, jangan dipikir, tidak usah di gubris. Apa yang saya kabarkan ini, anggap saja sebagai angin lalu, yang tidak perlu di debat dan tidak harus di kritik. Selesai kan…

Untuk bisa memiliki apapun itu. Kita perlu Praktek, perlu Exsen, bukankah begitu? Bukan hanya melihat saja. Tapi kita harus melakukannya, tidak cukup hanya dengan mengetahui, mengerti’i, memahami saja. (Istilahnya). Jika menginginkan mutiara, ya harus menyelam ke dasar laut. Bukan Cuma nongkrong diatas perahu. Sudah diatas perahu, pakai katanya lagi, waduh bro… Capek deh. He he he . . . Edan Tenan.

Sebenarnya mau Pacaran apa mau Nikah sih…??! (ibaratanya) Pacaran saja-lah. Pacaran itu kan asyik. Kalau niyat tujuannya mau Pacaran…. Maaf. Ya silahkan, berputar-putar di bawah pohon pisang samping jembatan, itu hak Anda. Tapi ingat, jika terlalu lama pacarannya, Anda akan mendapat cela’an dari banyak orang, terutama orang tuanya, karena pacaran itu memiliki etikan dan aturan serta batasan-batasan tertentu. Jika sampai di langgar. Maka Anda Harus siap di Grebeg pak hansip bahkan di kroyok warga. Dan masih banyak risiko-risiko buruk tapi asyik lainnya. Tapi kalau niyat tujuannya menikah. Ya Anda akan terbebas dari etikan dan aturan serta batasan-batasan tertentu, karena semua tentangnya, adalah hak milikmu secara resmi dan syah.

Heeemmmmm…. Para Kadhang dan Sedulur kinasih saya sekalian.
Sekali lagi saya ulangi. Manusia di Cipta dengan Fitrah (Suci), sedangkan Hidup, berasal dari Dzat Maha Suci. Dan kembali hanya kepada-Nya dalam keadaan Fitrah (Suci) seperti awalnya. Manusia Hidup di lahirkan ke dunia ini, sebagai utusan, dengan mengemban dua tugas wajib, yang tidak bisa di campuri oleh apapun dan dengan apapun.

Yang pertama adalah beribadah hanya kepada Dzat Maha Suci. Maksud dari kata ibadah disini adalah; “menjalankan semua perintah-Nya, yang sudah di sabdakan kepada Hidup yang menempati diri kita. Sedangkan yang kedua yaitu, menjaga dan melestarikan dunia seisinya”.

Dengan dua Tugas tersebut, manusia hidup di beri bekal, karena memiliki bekal yang di berikan langsung oleh Dzat Maha Suci, tanpa perantara, tersebutlah, manusia hidup adalah makhluk yang sempurna dibandingkan dengan makhluk-mahkluk lainnya, karena manusia hidup, rasa dan perasa’an untuk laku, mempunyai akal untuk berfikir, mempunyai hati untuk menilai dan mempunyai nafsu untuk kebahagiaan. Tatkala manusia melihat kemungkaran dan mengikutinya, hati nurani manusia tau, bahwa itu keburukan untuk tidak dilakukan, namun nafsu menginginkannya, karena dibalik nafsu adalah mahkluk lain yang tidak sesempurna manusia hidup, yang sirik, iri, dengki bahkan benci akan kesempurna’an yang kita miliki, sedangkan akal menilai dengan rasional, sehingga beradalah ia dalam kubangan salah/dosa/luput. Karena hatinya terkalahkan dengan nafsunya.

Namun ada juga yang tau bahwa hal tersebut adalah salah/dosa/luput, namun masih tetap melakukannya. Ini di sebabkan adanya makhluk lain yang tidak rela satu pun keturunan adam bisa menjalankan dua tugas tersebut, karena dengan gagalnya menjalankan dua tugas tersebut, maka,,, gagal pula untuk kembali kepada Asal Usulnya terjadinya kita.

Sebab itu, makhluk yang tidak memiliki kesempurna’an seperti manusia hidup, berupaya untuk menjebak, dengan cara merubah perbuatan salah/dosa/luput, menjadi lebih menarik untuk dijalani, karena mayoritas manusia hidup yang belum mengenali hidupnya, melakukan sesuatu hal, karena ketertarikannya, senang dengan hal-hal yang menantang, perbuatan salah/dosa/luput salah satunya. Sehingganya manusia hidup yang belum mengenal hidupnya, menyukai hal-hal yang disegerakan (instan). Sehingganya, makhluk yang tidak memiliki kesempurna’an seperti manusia hidup ini, dapat dengan mudahnya, menawarkan kesenangan dunia yang semu, terkesan instan, padahal dusta. Senangnya tuh disini-tetapi sakitnya tuh di akhirat. Padahal, pada hakikatnya, manusia hidup itu, disini senang disana senang. Tapi karena terjebak belenggu egonya sendiri, akhirnya disini senang disana sakit, dan yang lebih parah lagi, disini susah disana sakit.

Kesimpulannya;
Tidak ada cara lain, tidak ada jalan lain dan tidak ada solusi lain, kecuali dengan “BerTAUBAT” taubat dalam bahasa arab, artinya adalah kembali kepada Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi, yaitu Dzat Maha Suci. Bukan yang lainnya. Setelah kita melakukan lupa atau khilap selama ini. Dan tidak mengulangi lupa atau khilap tersebut. Sehingga taubat adalah satu2xnya Pintu awal Fitrah (Suci) yang merupakan bahan dasar dan asal usul kita pada awal mulanya. Jika tidak fitrah/suci, apapun caranya, tidak akan bisa, fitrah/suci dalam arti untuk ukuran manusia hidup. Adalah; murni/tulen-hanya Dzat Maha Suci yang di Puja Puji dan diTuju. Bukan lainnya. Jadi,,, jika masih membagi iman/yakin/percaya dan tujuan dengan lainnya selain Dzat Maha Suci, tidak akan pernah bisa. Karena tidak fitrah/suci, buktinya masih tercampuri/ternodai bahkan terkotori. Sebab menduakan bahkan mempuluh-puluhkan “Dzat Maha Suci” yang Esa/Tunggal.

Contoh Misal;
Iman/yakin/percaya kepada Tuhan. Iman/yakin/percaya kepada malaikat Tuhan. Iman/yakin/percaya pada surga neraka. Iman/yakin/percaya kepada nabi/rasul. Iman/yakin/percaya kepada hari kiamat. Iman/yakin/percaya kepada kitab. Iman/yakin/percaya kepada bla…bla…bla… lainnya. Sudah terbagi berapa tuh Dzat Maha Suci-nya. Iman/yakin/percaya kok di bagi-bagi kayak matematika sampai ngebekin dompet.

Padahal… Kalau benar-benar iman/yakin/percaya kepada Dzat Maha Suci. Sudah pasti dan tentu sudah iman/yakin/percaya semuanya dan segala tektek bengeknya. Jadi, tidak perlu kita membagi-bagi iman/yakin/percaya kita. Karena justru itu sudah menduakan bahkan senyepuluhkan Dzat Maha Suci yang kita akui tunggal adanya.

Padahal… Kalau tujuannya hanya Dzat Maha Suci. Akan mendapatkan semuanya dan segalanya. Jadi,,, tidak perlu kita menyusun tujuan sebanyak mungkin. Bertujuan ingin kaya raya, hebat, sakti, berpahala, beramal, berkaliber, surga, bidadari dan bla…bla…bla… lainnya. Dzat Maha Suci kan Maha semuanya dan segalanya. Ngapain ribet ngrancang dan merencanakan tujuan. Dzat Maha Suci itu, kan Maha semuanya dan segalanya. Iya apa iya? Hayo… He he he . . . Edan Tenan.

Diluar kesadaran ego. Kita telah menyekutukan Tuhan. Silahkan di Pikir sendiri lalu katakan sendiri. Menyekutukan Tuhan itu, disebut apa….?! padahal Firman, ayat, surat, hadist sampai ke dalilnya, kita sudah tau, mengerti dan paham. Tapi kita tetap melakukan penyekutuan selain Dzat Maha Suci. Sungguh amat sangat keterlaluan bukan…

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

MANUSIA SEUTUHNYA DAN PENYEBAB. TERJADINYA MASALAH DALAM KEHIDUPAN:


MANUSIA SEUTUHNYA DAN PENYEBAB.
TERJADINYA MASALAH DALAM KEHIDUPAN:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Kamis Pahing. Tgl 16 Juni 2016

Nomer Satu. MANUSIA SEUTUHNYA:
Manusia Seutuhnya, adalah Manusia Hidup, sedangkan Manusia Hidup, adalah Manusia yang mengenal Hidupnya, bukan Manusia Hidup namanya, kalau tidak mengenal Hidupnya, sebab kalau tidak mengenal Hidupnya, itu bukan Manusia Hidup, melainkan Mayat Hidup, dan Mayat Hidup itu, bukan Manusia Seutuhnya. Menjalankan Spiritual Laku Hakikat Hidup dengan Wahyu Panca Gha’ib, di sadari maupun tidak disadari, menuntun manuisa, menjadi manusia seutuhnya, sebagaimana pada awal mulanya di ciptakan oleh Dzat Hyang Maha Suci Hidup. Dan menurut saya. Manusia seutuhnya, adalah seseorang yang mengenal hidupnya, kalau belum mengenal, berati belum untuh dan tidak utuh, karena ada yang kurang, setidak-tidaknya yang telah mencapai Hakikat Hidupnya atau sekurang-kurangnya telah berhasil melenyapkan kekotoran Bathin, dan Kekotoran Batin itu ada tiga jenis macamnya. Yaitu;

1. Serakah atau keserakahan.
2. Benci atau kebencian.
3. Masa Bodoh atau kebodohan.

Hidup adalah merupakan tingkatan kesucian pertama, dimana seseorang telah berhasil melenyapkan tiga belenggu yang sudah saya sebutkan diatas, dari sepuluh belenggu batin. Manusia merupakan perpaduan antara lima gugus kehidupan, atau Panca khanda kalau istilah ilmunya, yang terdiri dari lima dibawah ini:

1. Jasmani.
2. Perasaan.
3. Penyerapan.
4. Kehendak.
5. Kesadaran.

Jadi, menurut saya manusia seutuhnya itu, bukan dilihat dari kesempurnaan fisik. Seseorang yang terlahir rupawan, sehat, tidak cacat, pintar secara intelektual, kaya materi dl, sebab itu belum tentu dapat disebut sebagai manusia seutuhnya. Manusia seutuhnya. Adalah manusia yang hidup dengan menjunjung tinggi dan menjalani nilai-nilai kemanusiaan, seperti kedermawanan, kebajikan, kemoralan, dan kebijaksanaan yang sesuai dengan penemuan pribadinya secara spiritual agama, kepercaya’an ataupun ilmu (Lelaku dan Laku).

Seorang manusia harus merenungi mengapa kita lahir ke dunia dan apa tujuan kita menjalani kehidupan kita. Apakah kehidupan yang kita jalankan bermakna atau tidak. Kalau kita mencermati bagaimana cara seseorang menjalani hidup, kita akan menemukan banyak jawaban untuk sebuah pertanyaan: apa tujuan hidupmu? Ada yang bertujuan hidup untuk memenuhi cita-cita karier dengan tujuan menghasilkan uang atau ketenaran. Ada sebagian yang bertujuan untuk mengumpulkan pahala demi kebahagiaan di surga kelak. Namun, banyak juga yang tidak punya tujuan yang jelas dll. Namun menurut saya. Manusia hidup di dunia memiliki tujuan antara lain:

1. Hidup harmonis antar sesama dengan mewujudkan cinta kasih sayang spiritual.
2. Membina Batin secara lahir maupun bayhin untuk mencapai tingkat kesucian spiritual.
3. Memanfaatkan berkah-berkah alam untuk membantu pencapaian kesucian spiritual.

Dan kualitas atau standar kemanusiaan kita dapat diukur, dengan praktek-praktek pengembangan moralitas spiritual kita sehari-hari. Alam manusia adalah alam yang paling menguntungkan, karena di dalamnya terdapat perpaduan antara suka dan duka, yang memberikan banyak kesempatan bagi kita untuk menyadari sifat sejati kehidupan. Di alam manusia ini, juga kita memiliki banyak kesempatan untuk berkarya suci dalam mengembangkan kebajikan dan kebenaran, melatih diri dalam pembinaan lahir batin, untuk bisa mencapai kesucian, sebagaimana kita berasal.

Karena itu… Berbahagia dan bersyukurlah tanpa syarat. Kita sering kali membuat syarat bagi kebahagiaan kita, syukur kita; saya belum bahagia, saya baru akan bahagia jika saya sudah lulus SMA, jika saya sudah kuliah, jika saya sudah bekerja, jika saya sudah menikah, jika saya sudah kaya, jika saya sudah bisa bayar hutang, jika saya punya anak lelaki dan bla… bla… bla… lainnya.

Dengan terus membuat syarat bagi datangnya kebahagia’an, kita tidak akan pernah benar-benar bahagia, kita takan pernah bisa bersyukur. Oleh sebab itu, berbahagia dan bersyukurlah sekarang, di sini dan saat ini juga.

Konsep lama. Sistem lama. Cara lama. Yang di dogmakan selalu membuat manusia hidup, penuh dengan tekanan batin dan ketakutan yang mencekam, akhirnya, jauh dari yang namanya bahagia dan tenteram, apa lagi sempurna yang di idamkannya.

Kita seringkali tidak mengerti apa yang kita pikirkan, ucapkan dan lakukan, karena kita tidak pernah benar-benar memberikan perhatian penuh terhadap diri kita; pikiran, perkata’an, dan perbuatan kita dll. Oleh sebab itu, seringkali kita melukai diri kita sendiri dan orang lain. Orang selalu penuh perhatian ke dalam diri, pasti akan mengucapkan syukur/terima kasih dan melakukan hal-hal yang baik, yang akan membuat dirinya selalu bahagia, bertaburan cinta kasih sayang dari siapapun dan apapun. Satu-satunya cara terpasti dan menjamin bisa berhasil dalam melatih perhatian kita, adalah dengan melakukan Semedi Patrap Wahyu Panca Ghaib menggunakan sistem Wahyu Panca Laku.

Masih ingat Wejangan saya akhir Tahun 2015 yang lalu?
Yang seperti ini intinya; “Jagalah Pikiranmu, karena Pikiran akan menjadi Perkata’anmu. Jagalah Perkata’anmu, karena Perkata’anmu akan menjadi Perbuatanmu. Jagalah Perbuatanmu, karena Perbuatanmu akan menjadi Kebiasa’anmu. Jagalah Kebiasa’anmu, karena Kebiasa’anmu akan membentuk Karaktermu. Jagalah Karaktermu, Karena Karaktermu akan membentuk Nasibmu. Maksimal Jagalah Hati/Qalbumu, karena Hati/Qalbumu akan menentukan Rasamu. Jagalah Rasamu, karena Rasamu akan menentukan Lakumu. Jagalah Lakumu, karena Lakumu akan menentukan Hyang Maha Suci Hidup-mu. Tuhan hantu apa hantu Tuhan atau hantu-hantuan apa Tuhan-Tuhanan”

Nah,,, pada kesempatan kali ini, saya akan mengungkap soal ini. Benarkah Nasib itu berawal dari Pikiran kita? Benarkah Tuhan itu di tentukan oleh Hati kita sendiri. Berikut Wejangan atau Wedaran riyilnya. Dengan judul “Penyebab Terjadinya Masalah Dalam Kehidupan”

Nomer Dua. Penyebab Terjadinya Masalah Dalam Kehidupan;
Setiap tindakan atau aktifitas fisik dan berpikir, akan menghasilkan energi, jika aktifitas kita dinyatakan oleh pikiran dan hati, sebagai aktiftas positif, maka akan menghasilkan energi positif, demikian juga sebaliknya. Energi positif ini akan tersimpan di dalam diri kita. Di sebuah bagian yang merupakan tubuh etherik, atau tubuh bioplasmik, atau tubuh halus, atau disebut juga sebagai tubuh energi. Inilah yang disebut sebagai Bathin atau Qalbu atau Jiwa atau Soul atau Roh Suci atau Hidup. Energi yang tersimpan di bagian jiwa ini, membawa informasi kehidupan kita. Baik kehidupan di masa lalu, masa kini atau bahkan informasi yang akan membentuk masa depan kita.

Inilah yang menurut saya awal mula terjadinya dari hukum karma. Baik karma positif dan negatif. Jika suatu saat tubuh fisik kita sudah tidak ada, proses ini disebut sebagai “meninggal dunia atau mati”, meninggalkan dunia, maka tubuh etherik kita, yaitu jiwa tersebut akan tetap ada. Jiwa atau Qalbu kita akan berpindah ke dimensi yang berbeda. Yang mengatur semua proses ini adalah Alam Semesta. Alam Semesta adalah Sistem yang maha dahsyat dan canggih serta rumit yang dibuat oleh Dzat Maha Suci atau Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono, untuk mengakomodir segala kehidupan yang ada di dalamnya. Multi Dimensi dan berlaku untuk semua cipta’an-Nya.

Penyebab Terjadinya masalah dalam kehidupan, akan bermula pada diri kita sendiri, dan ini akan sangat terkait dengan hukum energi alam semesta. Misal contoh; Suatu ketika kita berpikir, kemudian jiwa kita akan merespond. Timbul-lah “rasa”.

Yang terjadi pada pikiran kita : pikiran akan merespond/memproses semua informasi yang masuk melalui panca indera. Bisa lewat telinga kita, mata kita, hidung kita, mulut kita dan lain sebagainya. Informasi yang masuk akan diproses. Alam bawah sadar, adalah sebuah sistem yang mirip dengan RAM komputer yang ada di gadget kita. Tempat penyimpanan data sementara, sedangkan hardisknya atau tempat penyimpanan data utama, adalah di hati/qalbu/jiwa. Pikiran kita akan membandingkan data yang sudah ada (yang merupakan hasil dari pemrosesan yang terdahulu) dengan data yang diproses.

Jika suatu saat kita mengalami sebuah kejadian Misal contohnya; kita pernah beruntung ketika bekerja sama si A, nah otak kita akan menyimpan data informasi tersebut, dilengkapi dengan rasa yang muncul dari hati kita. Data ini akan disimpan sementara pada RAM/Alam Bawah Sadar dan akan disimpan selamanya di Hardisk/Jiwa. Jika suatu saat ada peristiwa yang hampir mirip, otak kita akan mencari perbandingan, atau referensi dari data informasi yang ada di Jiwa. Akhirnya kita mempunyai standar, mengenai siapa yang bisa kita ajak kerja sama supaya beruntung kembali, seperti apa keuntungan yang akan kita dapatkan. Dan seterusnya…

Otak – Pikiran akan menyimpulkan setiap informasi yang masuk melalui panca indera. Kesimpulan ini sering kita sebut sebagai asumsi. Yang sering terjadi adalah kita sering berasumsi negatif. Jika kita berasumsi negatif maka hati kita akan merespon dengan rasa tidak enak, tidak nyaman, tidak suka, bahkan benci dan lain sebagainya.

Dan yang sering terjadi adalah, kita akan dikendalikan oleh rasa tidak enak ini, akhirnya rasa tidak enak ini akan mendominasi. Salah satu bagian dalam tubuh kita, yang termasuk di tubuh etherik adalah pusat energi, yang ada di bagian ubun-ubun kita, adalah sebuah alat penghubung atau pemancar dan penerima energi, yang membawa informasi/data, dari diri kita ke alam semesta, ataupun sebaliknya. Jika kita mengirimkan asumsi negatif kita ke alam semesta, maka alam semesta akan merespond. Respondnya adalah energi yang membawa data dan termanifestasikan sebagai kejadian yang sama persis dengan asumsi kita.

Artinya; Penyebab segala masalah dalam kehidupan kita, adalah pikiran dan hati kita sendiri. Tanpa sadar kita menciptakan realita kehidupan berdasarkan asumsi pikiran dan rasa. Persepsi kita terhadap kehidupan kita sendiri, diciptakan oleh asumsi kita terhadap sebuah peristiwa. Dan kebanyakan, atau yang sering terjadi adalah kita berasumsi negatif, sehingga peristiwa yang kita hadapi, juga menjadi peristiwa negatif. Belum lagi kita menghadapi sebuah peristiwa, kita sudah membuat modal asumsi negatif, maka yang terjadi adalah munculnya kejadian negatif.

Yang lebih parah adalah, kita tidak dibiasakan oleh sistem pendidikan baik di level keluarga ataupun sekolah (baik di tingkat dasar sampai tingkat lanjut) untuk mengenal sistem tubuh kita dengan baik. Bagaimana Pikiran bekerja, bagaimana hati bekerja, bagaimana energi bekerja, malah yang terjadi adalah kita menyuburkan penggunaan asumsi negatif sebagai modal konstruksi berpikir kita. Iya apa iya? Hayo….

Yang barusan saya ungkap diatas itu, baru soal pikiran, belum lagi sistem hati/jiwa. Ini adalah sebuah sistem dalam diri kita yang tidak bisa dihilangkan, sama seperti pikiran negatif, atau asumsi negatif, ini tidak bisa dihilangkan, yang bisa kita lakukan adalah Sadar mengenalnya, lalu di Pilah-Pilih, terus di optimalkan dan Manfaatkan.

Hati atau jiwa kita ini terdiri dari bagian-bagian yang sering disebut juga sebagai nafsu. Nafsu baik dan buruk. Menurut keilmuan, yaitu keilmuan energi spiritual, Anatomi hati adalah; ( Dimulai dari bagian yang paling luar atau paling dekat dengan pikiran). Yaitu; Jiwa Amarah. Jiwa Keinginan. Jiwa Ego. Jiwa Tenang. Jiwa Bijak. Jiwa Murni. Jiwa Suci.

Tempat penyimpanan data kehidupan kita adalah di bagian ini. Sering sekali terjadi kita merespond asumsi baik positif atau negatif dari pikiran dengan menggunakan bagian jiwa yang tidak tertata dengan baik. Misalnya saja kita merespond segala kejadian dengan Jiwa Ego. Yang terjadi adalah dominasi Ego Pribadi atau Kelompok yang saat ini sering kita lihat terjadi pada keseharian, pada lingkup keluarga, ada ego suami dan ego istri, di level pekerjaan, ada ego perusahaan, ego karyawan. Di jalanan, ada ego pengguna motor, ego pengguna mobil dan banyak yang lain lagi. Kira-kira iya apa iya…?!

Jika saja kita terbiasa dalam menata pikiran dan hati, maka masalah akan bisa dihindari, kalaupun terjadi, maka kita akan kembali kepada diri kita, kita harus melakukan introspeksi diri dengan baik. Karena segala yang terjadi, baik positif atau negatif adalah karena diri kita sendiri, melalui proses berpikir dan bekerjanya hati.

Jadi… Penyebab terjadinya masalah dalam kehidupan kita, adalah dari diri kita sendiri. Untuk itulah, kita harus mulai memahami cara bekerjanya bagian-bagian dari diri kita, baik itu bagian tubuh fisik/wujud/tubuh (organ-organ tubuh bagian dalam dan luar ). Seperti Pikiran/mind, Hati/jiwa/rohani/soul dan Spirit/Ruhani.

Bagi saya, mengenali diri saya sendiri adalah sebuah awal dari kehidupan saya. Sebuah jalan untuk mengenali Dunia saya. Akherat saya. Kehidupan saya. Kematian saya dan Dzat Maha Suci Tuhan saya. Setiap kejadian yang terjadi, setiap masalah yang terjadi adalah sebuah cara atau tangga bagi kita, untuk lebih paham mengenai diri kita sendiri, lebih paham mengenai Alam Semesta, Lebih paham mengenai Dzat Maha Suci. Penyebab terjadinya masalah adalah diri kita sendiri, dan solusi atas masalah tersebut juga ada di dalam diri kita sendiri.

Karena itu;
“Jagalah Pikiranmu, karena Pikiran akan menjadi Perkata’anmu. Jagalah Perkata’anmu, karena Perkata’anmu akan menjadi Perbuatanmu. Jagalah Perbuatanmu, karena Perbuatanmu akan menjadi Kebiasa’anmu. Jagalah Kebiasa’anmu, karena Kebiasa’anmu akan membentuk Karaktermu. Jagalah Karaktermu, Karena Karaktermu akan membentuk Nasibmu. Maksimal Jagalah Hati/Qalbumu, karena Hati/Qalbumu akan menentukan Rasamu. Jagalah Rasamu, karena Rasamu akan menentukan Lakumu. Jagalah Lakumu, karena Lakumu akan menentukan Hyang Maha Suci Hidup-mu. Tuhan hantu apa hantu Tuhan atau hantu-hantuan apa Tuhan-Tuhanan”

Sebab… Segala tindakan kita akan menghasilkan energi, tidak hanya tindakan fisik, tetapi juga tindakan pada pikiran dan hati. Kita berpikir akan menghasilkan energi, kita merasakan sesuatupun akan menghasilkan energi. Awal mulanya, semua energi adalah murni, yang membuatnya menjadi positif dan negatif, adalah kita sendiri. Aktifitas yang dinyatakan sebagai aktifitas positif oleh pikiran kita, akan menghasilkan energi positif. Demikian juga sebaliknya.

Energi ini akan tersimpan di bagian jiwa/hati kita. Hati kita merupakan sebuah bank data informasi atau di gadget kita disebut sebagai hardisk. Energi yang tersimpan ini akan menarik datangnya energi yang sejenis dari alam semesta. Jika kita menyimpan banyak energi positif, maka kita akan menarik kejadian kejadian positif, tidak hanya itu saja. Tapi orang-orang yang memiliki kandungan energi positif tinggi, akan berdatangan ke sekitar kita. Demikian juga sebaliknya.

Nah,,, bagaimana jika energi yang tersimpan di dalam diri kita lebih banyak yang negatif? Inilah yang menjadi penyebab terjadinya masalah dalam kehidupan. Kita akan menarik datangnya berbagai masalah yang merupakan manifestasi dari energi negatif. Orang-orang yang negatif akan banyak berdatangan di sekitar kita.

Seringkali, ketika sedang ada banyak pikiran, kita ingin membuat diri kita lebih bombong/plong, lebih nyaman, lebih tenang, sedikit menghilangkan beban kita, dengan cara bercerita, curhat ke seseorang yang kita anggap mampu menerima curahan hati kita. Ketika sedang ada masalah ini, sebenarnya kita juga menyimpan banyak kandungan energi negatif di dalam diri kita. Karena itulah, tanpa sadar kita ingin sekali mengembalikan level energi dalam tubuh kita, menjadi positif kembali.

Nah,,, proses curhat tersebut juga begitu. Kita ingin membuang energi negatif. Energi negatif akan terbuang, yang bahaya adalah teman curhat kita, bisa-bisa energi negatif akan berpindah kepadanya. Karena itulah, untuk menjaga hal ini, biasanya kita diharuskan bertindak tenang, saat menerima curhatan orang lain. Jika tenang, informasi yang dibawa energi negatif, bisa dihalangi untuk terkonfirmasi lewat pikiran kita. Jika tidak bisa, maka biasanya kita akan tertular masalah yang sama dengan masalah yang dicurhatkan teman kita kepada diri kita.

“Jagalah Pikiranmu, karena Pikiran akan menjadi Perkata’anmu. Jagalah Perkata’anmu, karena Perkata’anmu akan menjadi Perbuatanmu. Jagalah Perbuatanmu, karena Perbuatanmu akan menjadi Kebiasa’anmu. Jagalah Kebiasa’anmu, karena Kebiasa’anmu akan membentuk Karaktermu. Jagalah Karaktermu, Karena Karaktermu akan membentuk Nasibmu. Maksimal Jagalah Hati/Qalbumu, karena Hati/Qalbumu akan menentukan Rasamu. Jagalah Rasamu, karena Rasamu akan menentukan Lakumu. Jagalah Lakumu, karena Lakumu akan menentukan Hyang Maha Suci Hidup-mu. Tuhan hantu apa hantu Tuhan atau hantu-hantuan apa Tuhan-Tuhanan”

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com