Penderitaan Sesungguhnya Adalah Jalan Menuju Kesadaran:


Penderitaan Sesungguhnya Adalah Jalan Menuju Kesadaran:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Brebes Jawa Tengah. Hari Sabtu. Tgl 04 Februari 2017

Menurut Pengalaman Hasil Renungan Spiritual Pribadi saya dalam Patrap Semedi.

Derita merupakan fenomena alam yang bersipat universal, sehingganya, tidak mengenal ruang dan waktu, tidak peduli siapapun dan dimanapun. Penderitaan merupakan pelajaran hidup yang paling utama, yang diberikan oleh Sang Maha Segalanya, kepada manusia-manusia agung, yang menjadi tokoh dalam sejarah keagamaan dan kefilsafatan sepanjang sejarah dunia. Pernah dengar atau membaca sejarah Para Nabi atau Leluhur kita dan masih ingatkah…?! Bahwa mereka tidak satupun yang tidak menderita…!!!

Derita tak dapat dilepaskan dari adanya hasrat, yang merupakan bagian dari karakter nafsaniah, mengingat derita pada dasarnya, sering sebagai benih penguasaan dan jarang ditafsirkan sebagai benih pembebasan.

Menurut Pengertian Pribadi saya, derita, artinya “menahan” jadi, maksudnya adalah menahan persangkaan terhadap kenyataan, yang pada hakikatnya kosong, tanpa makna, atau sabar dalam menahan keinginan, meskipun terasa menyakitkan. Akan tetapi pada umumnya, penderitaan sering dikonotasikan negatif, sehingga penderitaan sering menjadi momok yang menakutkan. Seperti fakir, hina, kesengsaraan, lapar, sakit, prahara, bencana dan lain sebagainya. Berbagai kasus penderitaan terdapat di dalam hampir semua aspek kehidupan ini, sehingga penderitaan banyak mendasari tema besar agama dan kefilsafatan sepanjang sejarah manusia hidup. Edan pora…?!

Hampir didalam literatur setiap agama mengajarkan tentang betapa pentingnya arti penderitaan, untuk mencapai kebebasan dari jeratan nafsu, baik yang bersifat nafsaniah maupun hawaniah. Dalam ajaran Buddha, terdapat doktrin “Kebenaran Mulia Rangkap empat”, yang mana semua ajarannya, berkisar pada masalah penderitaan, yang dilihat dari empat segi, yang berbeda, yaitu; akar masalah, sebab-sebab masalah, penyelesaian masalah, dan jalan pembebasan dari masalah.

Penderitaan merupakan persoalan pelik, didalam setiap aspek kehidupan manusia, yang mana sebab-sebabnya berawal, dari hasrat atau keinginan dan terproyeksi dalam empat jenis, penderitaan fisik, yang berupa lahir, tua, sakit, dan mati, serta dalam tiga jenis penderitaan psikis, yang berupa berkumpul dengan sesuatu yang dibenci, berpisah dengan sesuatu yang dicintai, dan tidak mendapatkan apa-apa yang menjadi harapannya.

Penderitaan merupakan lima agregat, yang berupa bentuk fisik, emosi, persepsi, faktor kehendak kesadaran, yang tunduk pada keterikatan batin, yang mana setiap unsur agregat, merupakan suatu koleksi dari berbagai unsure. Itu diilustrasikan sebagai subyek bagi kemelekatan dalam jati diri yang berupa “aku”.

Semua pengalaman manusia hidup, dapat dianalisa dalam ke lima agregat tersebut, yang berupa “bukan milikku, bukan aku, dan bukan suatu diri”, itu semua hanyalah fenomena yang tak abadi, tak tetap, dan timbul tenggelam ,untuk berlalu dalam pergantian waktu yang relatif singkat.

Dalam ajaran Islam, penderitaan juga banyak ditekankan dalam upaya pembebasan dari nafsu lawwamah dan amarah, seperti yang tersurat dalam beberapa ayat Al-Qur’an.

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah (penderitaan)” (QS.90:4).

“Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad (melawan nafsunya) diantara kamu dan belum nyata orang-orang yang menderita” (QS.3:142), “…orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, ditengah peperangan, maka itulah orang-orang yang benar” (QS.2:177).

Serta dalam beberapa Hadits seperti, “Sesungguhnya seorang mukmin dalam dunia ini tidak akan mendapatkan apa-apa selain ibadah dan penderitaan” (HQ. Ali bin Abi Tholib), “Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah padanya suatu kebaikan, maka dibebaninya dengan penderitaan” (HR.Abu Hurairah),

“Wajiblah bagimu untuk menderita, karena penderitaan itu kuncinya hati…” (HR. Al-Hakim). Dan juga terdapat pada Atsar-atsar para Tabi’in seperti, “Barang siapa yang tidak menderita berarti tidak memiliki agama…”(Hasan al-Bisri),

“Sesungguhnya derita menjadi hiasan bagi malapetaka” (Abu Bakar as-Shidiq), dan “Ada 3 keistimewaan Allah yang tersimpan dalam dunia yaitu fakir, sakit, dan derita”(Ali al-Jurjaniy).

Didalam Laku Kembali Suci-pun, sudah disuratkan. “Lakune Putero Kuwi – Kesampar. Kesandung. Di ino lan fitnah. . Ning ojo uwas sumelang. Orausah Cawe-cawe. Sambato Rama-mu. Rama bakal ngrampungi. (Romo-Semono Sastrohadijoyo)

Setelah membaca Artikel ini.
Dimanakah Tingkat Kesadaran Murni-mu…?!
Pada Jati Diri-mu…?!
Pada Rama/Romo yang di kubur di gunung damar sejiwan purworejo…?!
atau ke Rasa Manunggal-mu…?!

Silahkan Direnungkan Sendiri-sendiri. Saya tidak berani Cawe-cawe. He he he . . . Edan Tenan.

Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666. SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Semua dan segalanya itu, adalah Esensi Dzat Maha Suci Hidup:


Semua dan segalanya itu, adalah Esensi Dzat Maha Suci Hidup:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Brebes Jawa Tengah. Hari Jumat. Tgl 03 Februari 2017

Apa yang kita anggap sebagai dunia materi fisik ini, sebenarnya, sama sekali bukan fisik atau materi, sama sekali bukan. Ini telah saya buktikan dari waktu ke waktu cap kali bersemedi, dan dengan pembuktian ini, saya jadi semakin yakin, karena ternyata, bukan cuma saya yang membuktikannya, juga dibuktikan oleh beberapa fisikawan pemenang Nobel (diantara banyak ilmuwan lain di seluruh dunia), salah satunya adalah Niels Bohr, yang bukunya pernah menjadi buku baca’an favorit saya dulu. Niels Bohr adalah seorang fisikawan Denmark, yang membuat kontribusi signifikan untuk memahami struktur atom dan teori kuantum, yang pernah saya baca bukunya.

Jadi… Jika mekanika kuantum membuat kita merasa asing, berarti kita belum memahami kehidupan dengan benar. Kalau kita kesulitan mencapai Tenteram disaat Patrap Semedi melakukan Wahyu Panca Gha’ib, berati kita belum mengerti Wahyu Panca Gha’ib dengan benar dan belum memahami hidup dengan tepat. Karena segala sesuatu yang kita sebut nyata ini, sebenarnya terbuat dari hal-hal yang tidak dapat dianggap nyata, semuanya hanya getaran energi dari esensi Dzat Maha Suci.

Ya, semuanya adalah getara energi dari esensi Dzat Maha Suci, termasuk Anda. Semua yang Anda lihat adalah getara energi dari esensi Dzat Maha Suci, dan ketika Anda mulai melihat diri Anda dengan cara ini dari sisi Spiritual, yang tak terbatas oleh ruang dan waktu, dan tidak dibatasi oleh badan fisik, hambatan dalam diri Anda, akan mulai menghilang. Sebuah cara yang bagus, untuk membantu kita mencapai tingkat persepsi ini, adalah melalui jalan Patrap Semedi Wahyu Panca Gha’ib yang di Praktekan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku.

Esensi Dzat Maha Suci yang membentuk tubuh kita ini, secara terus-menerus berputar pada tingkat/frekuensi yang sangat cepat. Jadi, jika kita berada dalam keadaan pikiran positif/baik/murni, kita akan bergetar saat Patrap Semedi pada frekuensi yang sangat tinggi, dan ini membuatnya sangat sulit, bagi setiap energi negatif untuk menyusupi kita. Tetapi jika kita tidak bahagia atau depresi, maka esensi yang berbentuk tubuh kita ini, bergetar pada tingkat/frekuensi yang sangat rendah dan lambat. Kita membuka jalan masuk semua jenis energi negatif, yang hanya akan berfungsi untuk membawa kita lebih menderita dan sakit.

Berdasarkan pengetahuan ini, berarti kita pada dasarnya adalah makhluk esensi Dzat Maha Suci yang terdiri dari energi murni/suci, dan secara kolektif, bergetar menciptakan realitas di sekitar kita. Pada dasarnya, alam semesta bergema dengan getaran apa pun yang kita lepaskan sendiri. Tidak peduli apakah itu vibrasi positif atau negatif, alam semesta akan beresonansi.

Keadaan dunia yang kita lihat sekarang, adalah hasil dari kesadaran manusia kolektif. Keadaan dunia adalah representasi langsung dari getaran yang dioperasikan manusia.
Perang, kelaparan, kelangkaan, kekerasan, kebencian, frustrasi dan konflik hingga ke bencana-bencana alam, yang semuanya kita saksikan di dunia, karena mereka ditimbulkan dari getaran energi dan niat manusia. Karena semuanya berasal dari esensi Dzat Maha Suci, maka niat dan pikiran kita juga esensi Dzat Maha Suci. Sehingga dapat menimbulkan tindakan positif dan negatif pada semua dan segalanya.

Namun di tengah-tengah semua konflik dunia, kita juga menyaksikan kemunculan sesuatu yang indah. Kita menyaksikan pertumbuhan, cinta kasih sayang, kebaikan, memaafkan, dan perubahan. Semua berasal dari keinginan yang timbul di kedalaman hati kita sendiri, untuk kembali ke keadaan yang sebenarnya, damai, bahagia, tenteram, sehingga kita bisa bergerak menuju masa depan, di mana semua kehidupan bisa tenteram. Ini adalah seperti kebangkitan energi esensi Dzat Maha Suci yang berbentuk wujud semua mahluk, yang saya rasakan disetiap kali saya Patrap Semedi Mijil Sowan, dan sedang terjadi di planet/dunia akhir-akhir ini.

Memahami alam semesta tidak akan membawa perubahan dengan sendirinya. Ini akan memungkinkan siapapun yang sedang belajar memahami, untuk melihat sifat sejati dari realitas dari diri kita sendiri dan lainnya. Transformasi yang benar, harus dimulai ketika kita mulai memahami prinsip-prinsip alam semesta, dan kemudian menerapkan prinsip-prinsip alam semesta tersebut, ke dalam kehidupan kita.

Maksud Utama dari informasi yang saya tulis ini, bukan bentuk kesombongan akan pengetahuan saya di dalam berspiritual, melainnya wujud dan bentuk keterbukaan atau kejujuran Laku Spiritual pribadi saya, bagimu sekalian yang membaca tulisan saya ini, agar bangkit, dan menyadari, dengan sesadar-sadarnya, bahwa kita semuanya adalah Esensi Dzat Maha Suci Hidup, yang memancarkan keunikan frekuensi kita sendiri. Rasa. Perasaan. Pikiran dan Emosi memainkan peran pentingnya masing-masing. Fisika kuantum membantu kita melihat pentingnya bagaimana kita semua bisa memiliki Rasa. Terasa. Merasa. Merasakan. Rasanya Hidup. (Rasa. Krasa. Rumangsa. Ngrasakake. Rasane Urip). Jika kita semua berada dalam keadaan tenteram, penuh iman cinta kasih sayang, tidak diragukan lagi, akan berdampak pula pada dunia di sekitar kita, dan mempengaruhi Rasa. Terasa. Merasa. Merasakan. Rasanya Hidupnya orang lain juga.

Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku sekalian… Mulai dari sekarang, rasakanlah Iman Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci dan kelimpahan positif/berkahnya, dan Anda akan menarik iman cinta kasih sayang dan kelimpahan-Nya juga. Habiskan waktu Anda untuk melakukan PERCINTA’AN hanya dengan Dzat Maha Suci, dengan Laku Murni/Suci. Anda pasti akan mewujudkan kehidupan yang WOW. Diluar duga’an yang telah Anda rancang sendiri.

Semua ini memberikan kontribusi langsung terhadap perubahan dunia. Dan sifat energi yang memiliki getaran lebih tinggi adalah cinta kasih sayang, “Semuanya Adalah Esensi Dzat Maha Suci, segalanya berasal hanya dari Dzat Maha Suci. Saya… Anda adalah Esensi Dzat Maha Suci yang berbentuk energi tubuh ini. Ubahlah energi Anda secara positif dan baik, maka Anda akan mengubah hidup Anda dan dunia ini. Saya Wong Edan Bagu… Salam Rahayu dan Terima Kasih.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666. SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com


Bagaimana Cara Menjadi Orang yang BerSpiritual Baik dan Tepat..?!
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Brebes Jawa Tengah. Hari Kamis. Tgl 02 Februari 2017

Banyak orang sering bingung antara spiritualitas dengan religius. Ada yang hidup menjalankan keduanya, beragama dan spiritual, ada juga yang beragama tanpa mengerti spiritual, atau menjadi spiritual tanpa beragama. Menurut saya pribadi, Agama dan Spritualitas adalah sama, memiliki tujuan satu, yaitu Tuhan. Hanya saja, keduanya memiliki perbedaan dalam pendekatan. agama adalah alat atau sarana untuk mencapai spiritualitas, dan Spiritualitas, merupakan jalan menuju Tuhan. Jadi, intinya adalah sama-sama alat atau sarananya. Mari kita kaji lebih dalam, tapi, hati-hati menyimaknya ya…

Misal; Saya berlatih ilmu tertentu, ingin memiliki kesaktian atau kelebihan, apakah itu menunjukkan saya adalah orang spiritual..?! atau Tidak…!!!

Misal; Saya berdoa setiap hari, tak pernah absen menjalankan ritual agama, apakah hal itu menunjukkan saya adalah orang spiritual..?! atau Tidak…!!!

Misal; Saya melakukan Yoga dan bermeditasi setiap hari, apakah ini sudah berarti saya adalah orang spiritual..?! atau Tidak juga…!!!

Misal; Saya masuk kedalam komunitas agama atau golongan kepercayaan atau kepribaden tertentu dan mengikuti ajaran sesuai golongan atau kepercayaan atau kapribaden itu, apakah ini berarti saya adalah seorang spiritual..?! atau Juga tidak…!!!

Lantas… apa Sebenarnya Spiritual itu?
Sebenarnya ada perbedaan cukup jelas yang membedakan antara religius dengan spiritual. Kita bisa mengujinya dengan satu pertanyaan saja. Jika pahala dan dosa tidak ada, apakah saya masih mau tunduk pada aturan Tuhan..?! Masih mau hidup harmonis dengan semua makhluk? masih mau melayani sesama? Pertanyaan yang sungguh sederhana, tapi sangat esensil. Jadi mari kita cermati dengan penghayatan Rasa. He he he . . . Edan Tenan.

Ada tiga kelompok atau golongan besar manusia di Bumi ini;
Satu; Adalah kelompok orang yang mematuhi aturan Tuhan, karena mengejar pahala.

Mereka menjalankan ritual, berbuat baik pada sesama demi pahala. Kelompok ini, adalah orang yang mematuhi aturan Tuhan, karena takut dengan dosa. Mereka takut dengan kengerian siksa neraka, jika membangkang pada Tuhan. Akhirnya mereka dengan terpaksa mematuhi aturan-aturan Tuhan dan melayani sesama karena KETAKUTAN.

Kedua; Adaalah kelompok manusia yang memiliki ego tinggi, demi kepentingan sendiri.
Di dunia ini, meskipun manusia sudah diiming-imingi dengan pahala serta diancam dengan dosa, tetapi masih banyak manusia menyakiti alam, Bumi tempat tinggalnya, manusia lain, dan sesama hidup, bahkan dirinya sendiri. Polusi di tanah, air, udara, juga di tingkat ether dari pikiran dan emosi negatif manusia. Penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, anarki, kompetisi, penipuan, diskriminasi, ketidakpedulian. Bahkan manusia tipe ini bersuka ria atas semua itu. Ini sungguh memprihatinkan bagi Wong Edan Bagu.

Ketiga; Adalah kelompok orang-orang yang mematuhi aturan Tuhan, hidup harmonis, melayani sesama, dengan tulus, jujur, apa adanya, penuh cinta kasih sayang iman, yang tumbuh dari hatinya, dengan rasa kesadaran murni, bukan karena apapun atau siapapun.

Semua yang mereka lakukan adalah buah ketulusan, bukan karena pahala dan dosa. Mereka melakukannya demi kepentingan bersama. Kelompok terakhir inilah, yang disebut dengan manusia spiritual. Mereka sadar dan mengerti serta paham dan tahu, intisari patinya spiritualitas, adalah Iman Cinta Kasih Sayang dengan Kesadaran Murni/Universal. Mereka paham bahwa setiap makhluk adalah satu, yaitu Esensi Tuhan. Dalam hatinya ada keyakinan bahwa jika mereka melayani sesama, mereka akan dilayani, jika mereka menyakiti, mereka akan disakiti, itu sudah jadi ketetapan Tuhan, prinsip dasar, karma, tak perlu iming-iming pahala atau ancaman dosa, murni kesadaran sebagai manusia yang seutuhnya.

Dari penjelasan singkat diatas, hasil pembuktian spiritual saya di TKP, kita bisa menyimpulkan, jika seseorang sudah sampai pada tahap spiritualitas tertentu, maka dia akan bisa naik ke tahap pembelajaran berikutnya. Jika pertanyaan yang tadi kita lontarkan pada setiap kelompok manusia di atas, maka kita akan bisa menerka, bahwa kelompok ketiga yang akan bisa menjawab dengan yakin, teguh rahayu selamat, dan tanpa sedikitpun ragu, bahwa meskipun ada atau tidak, pahala dan dosa, mereka akan senantiasa hidup mena;ati aturan Tuhan, selaras dengan seluruh makhluk dan melayani sesama hidup dengan tulus/rela/legowo.

Jadi, bagaimana belajar menjadi orang yang lebih spiritual…?!
Spiritual tak ada hubungannya dengan agama manapun dan golongan apapun. Berbeda dengan religius, spiritualitas adalah murni kualitas jiwa seseorang yang menuju satu titik saja, yaitu Dzat Maha Suci Hidup, bukan yang lainnya. Seberapa selaras dia dengan Penciptanya, seberapa harmonis kehidupannya dengan semua makhluk di dunia. Seharusnya agama-agama yang ada di Bumi dijadikan alat untuk mencapai tahapan spiritual yang seperti, yang berhasil saya temukan dan saya uraikan di kelompok yang ketiga diatas, bukan alat untuk saling memusuhi, serta memerangi pemeluk agama lainnya.

99.% Manusia didunia ini, masih belum mengerti apa maksud spiritualitas sesungguhnya. Kalau yang mengerti artinya banyak, yang mengetahui maksudnya, masih banyak jumlah ketombe di kepala saya. Mereka masih berpikir dalam kotak-kotak yang sempit, belum mampu berpikir merdeka/universal. Mereka tak menyadari bahwa mereka tak hidup sendiri di alam semesta yang amat luas ini. Hal penting yang harus kita ingat sendiri, ketika kita mencari pencerahan spiritual. Adalah,,, saya harus berjalan dengan cara saya sendiri, untuk mencari pengalaman, pengalaman inilah yang nantinya menjadi pencerahan. Jangan ikuti apapun atau siapa pun, jika kita tidak merasa nyaman atau bertolak belakang dengan keyakinan kita, biarkan Hidup yang menuntun kita. kita adalah tuan dari takdir kita sendiri, dan kitalah orang yang menciptakan realitas kehidupan kita sendiri.

Jika kita ingin menjadi orang yang spiritual, maka biarkan kejujuran yang tulus menjadi cahaya pembimbing kita – kebaikan terhadap diri sendiri, terhadap sesama, terhadap hewan dan seisi dunia ini. Terimalah bahwa hakikat Hidupnya kita semua memiliki cahaya Iman Cinta Kasih Sayang, bersumber satu, dari Dzat Maha Suci Hidup, yang hadir di dalam diri kita masing-masing dan semua mahluknya, serta belajarlah untuk menghayati Iman cinta kasih sayang itu, disetiap Laku, sehingga kita dapat mengetahui dan mengalami kesatuan. Saya Wong Edan Bagu. Salam Rahayu dan Terima Kasih.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666. SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

TUJUH ALAM AKU Dan TUJUH AYAT KUNCI. Di Dalam “Wahyu Panca Gha’ib”


TUJUH ALAM AKU Dan TUJUH AYAT KUNCI. Di Dalam “Wahyu Panca Gha’ib”
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Jumat Legi. Tgl 23 September 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian… Masih ingatkah, dengan wedaran saya, di beberapa artikel lama saya, yang sudah saya postingkan di internet. Yang pada intinya, saya mengatakan, bahwa Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan Agama. Ilmu. Kejawen. Kebathinan. Kepercaya’an. Golongan. Partai. Perguruan. Adat istiadat dan bla,,,bla,,,bla,,, lainnya. Wahyu Panca Gha’ib adalah Hidup. Hidup yang bisa menjamin, jiwa raga dan dunia kaherat, manusia hidup, siapapun dia dan dimanapun dia. Dan dengan Ijin Dzat Maha Suci, pada kesempatan kali ini, saya bagikan dengan Cinta Kasih Sayang, tentang kebenaran dari penemuan saya yang satu ini. Yaitu soal bukti daripada urainya saya, yang pernah mengatakan, bahwa Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan Agama. Ilmu. Kejawen. Kebathinan. Kepercaya’an. Golongan. Partai. Perguruan. Adat istiadat dan bla,,,bla,,,bla,,, lainnya. Wahyu Panca Gha’ib adalah Hidup. Hidup yang bisa menjamin, jiwa raga dan dunia kaherat, manusia hidup, siapapun dia dan dimanapun dia.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian… semua dan segalanya, soal dan tentang manusia hidup itu, ada tersejarah dengan sangat jelas dan nyata di dalam Wahyu Panca Gha’ib.

Maka….
Ketahuilah dengan kesadaran murni Rasamu. Bahwa, ketika kita masih bayi, dan berada di Alam Rahim, masih berbentuk sperman/mani “di dalam air ketuban” belum ada nyawa, baru ada Hidup, dari Alam Rahim, bayi pindah ke Alam Dunia, dan di dalam perpindahan ini. Hidup berubah sifat menjadi Roh/Ruh Suci, ketika kontak dengan Alam Dunia itulah, mulai ada sebutan Rasa/Nyawa, nyawa adalah Darah, yang bertempat di bawah kulit di atas permukaan daging, adanya Nafas, adalah, adanya Hidup, adanya Hidup, adalah, karena adanya Sir. Dzat dan Sipat. Dan Sir Dzat Sipat inilah, yang di sebut Jati Diri atau Diri Sejati, manusia Hidup.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Dibawah ini, uraian lengkap dari Tujuh Alam/Dimensi-nya manusia hidup yang sebenarnya/sesungguhnya, yang terdapat di dalam Wahyu Panca Gha’ib, dari awal hingga akhir Uni/Unen Kunci, yang terdiri dari tujuh ayat dan di baca tujuh kali, yang tak lain dan tak bukan, adalah Hakikat manusia hidup yang sesungguhnya/sebenarnya. Sebab itu, Wahyu Panca Panca Gha’ib, di sebut bukan apapun, kecuali Hidup kita sendiri.

TUJUH ALAM AKU Dan TUJUH AYAT KUNCI. Di Dalam “Wahyu Panca Gha’ib”
Ayat Pertama (1) Adalah; Gusti Ingkang Moho Suci.
Kalau artinya, saya percaya, semua orang jawa pasti tahu, asalkan jawanya belum hilang, akibat bergaulan yang melenakan, tapi kalau maksud dan tujuannnya, saya yakin, tidak semua orang tahu, sekalipun dia orang jawa. Maksud dari kalimat “Gusti Ingkang Moho Suci”. Adalah alam Awang Uwung, dalam istilah lainnya, di sebut juga sebagai Alam Gha’ibull-Guyyub, juga di sebut sebagai Alam Ahadiyah. Yaitu alam, di mana belum ada sifat, belum ada asma’ belum ada afa`al, dan belum ada apa-apa, dalam istilah pengertian ajaran agamanya, alam ini disebut sebagai Alam LA TA`YUN. Yang artinya adalah Dzat Al-hakki. “tidak ada apa-apa kecuali Dzat Maha Suci”. Alam ini adalah alam penegasan. Tujuan dari kalimah Gusti Ingkang Moho Suci”. Adalah memperkenalkan Diri-Nya, dalam memberi tanggungjawab, kepada cipta’annya, terutama manusia, serta di tajallikan-Nya Diri-Nya, dari satu peringkat ke peringkat lainnya, sampai lahirnya manusia berbadan rohani dan jasmani.

Adapun Alam/Dimensi Awang Uwung ini, terkandung di dalam Kunci, pada ayat pertama, yaitu (Gusti Ingkang Moho Suci), artinya. Esa pada Dzat semata-mata, maksudnya, masih belum ada apapun, kecuali Dzat Maha Suci itu sendiri, dan inilah yang di sebut Martabat Dzat, atau Alam Dzat, atau Dimensi Dzat yang Pertama. Pada alam/dimensi ini, diri Empunya Diri itu, (Zat Al-haki atau Dzat Maha Suci), semata-mata menamakan Diri-Nya Sendiri, sebagai. “Gusti Ingkang Moho Suci” yang maksudnya. Tidak ada permulaan dan tiada akhirnya, dan berwujud Hakiki Lagi Khodim.

Pada alam/dimensi ini, tidak ada sifat, tidak ada Asma, dan tidak ada Afa’al, serta tidak ada apa-apa, masih awang uwung, suwung/Kosong, kecuali Dzat Mutlak-Nya semata-mata, maka berdirilah Dzat itu, dengan Dia semata-mata, dari dalam keadaan ini, dinamakan “Gusti Ingkang Moho Suci”, artinya diri Dzat, atau juga di namakan Dzat Maha Suci, yang maksudnya, tidak bisa di campuri dan tercampuri oleh apapun, kecuali Suci itu sendiri.

Ayat Kedua (2) Adalah; Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci.
Maksud dari kalimah “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci”. Adalah Alam/Dimensi Laku, yang juga di sebut sebagai Alam/Dimensi Wahdah, yang merupakan proses pentajallian-Lakunya diri, yang arti dan maksudnya adalah. Empunya Diri, telah mentajallikan/memproseskan diri-Nya, dari alam awang uwung, suwung/kosong, ke suatu alam/dimensi sifat, yaitu “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci” sabagai noktah mutlak, adanya awal dan ada akhir.

Alam/Dimensi Laku ini, Juga ada yang menyebutnya, sebagai martabat atau alam/dimensi Wahdah, yang terkandung pada ayat kedua Kunci, yang berbunyi “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci” yang maksudnya tujuannya adalah, menjelaskan, tempatnya Dzat Maha Suci, tidak terselindung sedikit pun, meliputi tujuh perkara langit dan bumi seisinya.

Pada alam/dimensi kedua ini, Dzat Maha Suci, mulai bersifat. Sifat-Nya, adalah sifat bathin, jauh dari Nyata, bisa di umpamakan seperti sepohon kayu besar, yang subur, tapi masih di dalam biji. Artinya… Dia telah berwujud, wujudnya adalah biji, bukan pohon, sehingganya, pohon itu terkesan tidak nyata, tetapi nyata, nyatanya biji itu tadi, sebab itulah, pada alam/dimensi kedua ini, ayat kedua Kunci berbunyi. “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci” yang maksudnya adalah, tuan Empu-Nya Diri, tidak lagi Beras’ma, dan di alam/dimensi ini, terkumpulah Dzat Mutlak dan Sifat Bathin-Nya, telah sempurna, cukup lengkap segala-galanya, hanya terhimpun dan tersembunyi di balik hakikat-Nya “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci”.

Ayat Ketiga (3) Adalah; Sirolah Dzatolah Sipatolah.
Sama seperti yang lainnya. Kalau artinya, saya percaya, semua orang jawa pasti tahu, asalkan jawanya belum hilang, akibat bergaulan yang melenakan, tapi kalau maksud dan tujuannnya, saya yakin, tidak semua orang tahu, sekalipun dia orang jawa. Maksud dari kalimat “Sirolah Dzatolah Sipatolah”. Adalah Menjelaskan tentang Alam/Dimensi rahasia manusia, yang pada Alam/Dimensi ketiga ini. Setelah Empunya Diri kepada Diri, mentajallikan diri-Nya, ke satu alam/dimensi As’ma, sebagai Sir Dzat Sipat. atau dalam istilah lainnya, di sebut juga sebagai Hakikat Insan, yang artinya. keadaan tubuh diri rahasia manusia, telah terhimpun pada hakikinya Sir Dzat Sipat. Tujuannya untuk memperjelas letak masing-masing Hak-Nya, supaya bisa tepat, agar tidak salah arah dan tujuan.

1. Sir atau Ruh Suci, adalah (Hak Dzat Maha Suci).
Bentuknya Rasa. Tempatnya di hati (Bathin), jika Ruh ini keluar dari jasad, manusia akan mengalami kematian.

2. Dzat atau ruh ruhaniyah, adalah (Hak Hidup).
Bentuknya empat anasir. Tempatnya di dada (Jantung), dan pada 360 sendi/organ fital yang ada di seluruh tubuh/wujud badan manusia.

3. Sipat atau nyawa/sukma.
Adalah bentuknya angan-angan atau perasa’an. Tempatnya di kepala (Otak), ruh ini yang suka meninggalkan jasad, salah satunya saat tidur, lalu menimbulkan mimpi.

Sir. Dzat. Sipat ini, ada di dalam kunci ayat ketiga, yang berbunyi, “Sirolah. Dzatolah. Sipatolah”. Sedangkan maksud daripada Lah, adalah di olah, di gali, di pelajari, supaya mengerti dan paham, tentang ketiga inti piranti manusia hidup, tersebut Jati Diri atau Diri Sejati itu.

Hakikat nyawa/sukma, adalah Rasa jasmani, olahan dari empat anasir, tersebut. API – ANGIN – AIR – BUMI. pada waktu itu, mata terbuka belum bisa melihat, telinga belum bisa mendengar, hidung belum bisa mencium, mulut belum bisa berkata, hanya ada suaranya saja, setelah diberi asi atau makanan apa saja, yang berasal dari saripati Api, Angin, Air dan Bumi, maka dari saripati yang empat inilah, tercipta sipat nyawa atau sukma.

Empat Anasir;
1. Cahaya/Nur Darah Merah.
Berasal dari Saripatinya API, adanya pada DAGING, membesarkan dagingnya bayi, hawanya keluar melalui TELINGA hingga bisa mendengar.

2. Cahaya/Nur Dara Kuning.
Berasal dari Saripati ANGIN, adanya pada SUMSUM, membesarkan sumsum bayi, hawanya keluar melalui HIDUNG, hingga bisa mencium dan merasa.

3. Cahaya/Nur Darah Putih.
Berasal dari Saripati AIR, adanya pada TULANG, membesarkan tulang bayi, hawanya keluar melalui MATA, hingga bisa melihat.

4. Cahaya/Nur Darah Hitam.
Berasal dari Saripati BUMI, adanya pada KULIT, membesarkan kulitnya bayi, hawanya keluar melalui LIDAH/MULUT, hingga bisa berbicara.

Itulah hakikat hidupnya sedulur papat kita, yang berasal dari empat anasir. Tersebut; 1. NAFSU MUTHMAINAH, berdomisili pada HATI. 2. NAFSU ALUAMAH, berdomisili pada LIDAH. 3. NAFSU AMARAH, berdomisili pada TELINGA. 4. NAFSU SUPIYAH, berdomisili pada MATA. Sedangkan pancernya, adalah… Cahaya/Nur Darah Bening.

Ayat Ke’empat (4) Adalah; Kulo Sejatine Satriyo.
Kalau artinya, saya percaya, semua orang jawa pasti tahu, asalkan jawanya belum hilang, akibat bergaulan yang melenakan, tapi kalau maksud dan tujuannnya, saya yakin, tidak semua orang tahu, sekalipun dia orang jawa. Maksud dari kalimat “Kulo Sejatine Satriyo”. Adalah Alam/Dimensi Cahaya/Nur Darah Bening, atau juga bisa di sebut proses pertumbuhan/pengembangan. Setelah bayi membesar kulitnya, membesar dagingnya, membesar tulangnya, membesar sumsumnya, maka keluarlah hawa, sebagai pancernya. Sebab itu ayat ke’empat Kunci, berbunyi, “Kulo Sejatine Satriyo” yang artinya. Aku ini manusia hidup.

Singkat jelasnya seperti ini;
Kunci ayat ketiga, yang berbunyi “Sirolah. Dzatolah. Sipatolah”. Adalah alam/dimensi Jati Diri atau Diri Sejati “dan itulah, yang di sebut Jati Diri atau Diri Sejati-nya manusia hidup”. Sedangkan Kunci ayat ke’enam, yang berbunyi “Kangge Tumindake Satriyo Sejati” Adalah alam/dimensi AKU “ dan itulah yang di sebut Aku-nya manusia hidup”.

Ayat Kelima (5) Adalah; Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso.
Maksud dan tujuan dari kalimat “Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso”. Adalah memperjelas dan menegaskan tentang/soal roh. Yang pada alam/dimensi kelima ini. Empunya Diri, menyatakan dan mengolah diri-Nya, untuk membentuk satu batang tubuh halus, yang di sebut roh. Alam/Dimensi roh ini, juga di sebut sebagai Tubuh Hakikat Insan, yang mempunyai awal tiada berkesudahan. Dialah yang sebenarnya, yang dinamakan Diri Nyata Hakiki Rahasia Dzat Maha Suci, ada di dalam Diri Manusia. Jadi… Tubuh ini, merupakan tubuh bathin hakiki manusia, dimana bathin ini, sudah nyata Sirnya, Dzatnya dan Sifatnya, untuk menjadi sempurna.

Cukup lengkap seluruh anggota – anggota bathinnya, tidak cacat dan tiada cela. Tubuh ini, di sebut juga sebagai “Jisim Latiff” yang artinya adalah, satu batang tubuh yang liut lagi halus. Karena itu, ayat kelima dari Kunci. Berbunyi “Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso” yang maksud dan maksudnya. tidak akan mengalami cacat, cela, dan tidak mengalami suka, duka, sakit, menangis, asyik, dan hancur binasa. Dan berdirilah Dia, dengan diri tajalli Dzat Maha Suci, hingga hiduplah Dia, untuk selama-lamanya.

Ayat Ke’enam (6) Adalah; Kangge Tumindake Satriyo Sejati.
“Kangge Tumindake Satriyo Sejati”. Adalah Alam/Dimensi Perjanjian. Maksud dan tujuan kalimat “Kangge Tumindake Satriyo Sejati. Bahwa ”Empunya Diri, menyatakan rahasia diri-Nya, untuk di tanggung oleh manusia. Untuk menyatakan, bahwa diri-Nya adalah Dzat Maha Suci, terus menyatakan diri-Nya melalui diri rahasia-Nya, dengan lebih nyata, dengan membawa diri rahasia-Nya. Sebab itu, ayat ke’enam Kunci, berbunyi “Kangge Tumindake Satriyo Sejati” yang maksud dan tujuannya, perjanjian yang tidak boleh di lupakan dan di abaikan serta di umumkan, sebab Dia adalah “DI”, “Wadi”, “Mani” . “Sperma” yang hanya boleh di salurkan ke satu tempat, yang bersekutu di antara diri rahasia bathin (roh) dengan diri kasar Hakiki, di dalam tempat yang dinamakan rahim. Hingga terbentuklah apa yang di katakan “Maknikam” ketika berlakunya persetubuhan diantara laki-laki dengan perempuan (Ibu dan Bapa). Tubuh rahasia yang tersebut Satriyo Sejati atau AKU ini, tetap hidup sebagaimana awalnya, tetapi di dalam keadaan rupa yang elok dan tidak binasa, dan belum lahir. Dia tetap hidup tidak mengenal akan mati.

Ayat Ketujuh (7) Adalah; Kulo Nyuwun Kangge Hanyirna’ake Tumindake Ingkang Luput.
“Kulo Nyuwun Kangge Hanyirna’ake Tumindake Ingkang Luput”. Adalah Alam/Dimensi Kembali atau Kepulangan-Nya si empunya Diri/Aku. Pada alam/dimensi kembali ini, yang juga disebut martabat/alam/dimensi “Inssanul Kamil” yang artinya, batang diri rahasia Dzat Maha Suci telah di Kamilkan, dengan kata lain, Jati Diri atau Diri Sejati atau Aku Sejati atau Satriyo Sejati atau Sejatine Satriyo-nya manusia, menjadi “Kamilul Kamil”, yang maksudnya menjadi satu pada lahirnya, yaitu manunggal wujud/badan rohani dan jasmani, yang kemudian lahir sebagai seoarang insan melalui faraj ibu.

Pada alam/dimensi ke tujuh ini, yaitu alam Insanul Kamil ini. Dia terkandung di dalam ayat ketujuh Kunci, yang berbunyi “Kulo Nyuwun Kangge Hanyirna’ake Tumindake Ingkang Luput”, yang maksudnya, berkumpul-lah seluruh proses perwujudan dan pernyataan diri rahasia Dzat Maha Suci, di dalam tubuh badan Insan, yang mulai bernafas dan di lahirkan ke Alam Maya yang Fana ini.

Untuk mengumpulkan seluruh proses pentajallian diri rahasia Dzat Maha Suci, dan pengumpulan seluruh alam-alam yang di tempuhinya, dari satu peringkat ke satu peringkat lainnya, dan dari satu alam/dimensi ke satu alam/dimensi lainnya. Kerana Dia merupakan satu perkumpulan seluruh alam-alam itu.

Maka,,, sejak di lahirkannya manusia ke alam maya, yang fana ini, bermulalah tugas manusia, untuk menggembalikan balik, semua dan segala diri rahasia Dzat Maha Suci itu, kepada Tuan Empu-Nya Diri, dan proses penyerahan kembalinya semua dan segala rahasia Dzat Maha Suci ini, hendaknya, dimulai dari sejak awal di lahirkannya manusia ke alam Maya dunia ini. Karena penyerahan kembalinya semua dan segala rahasia Dzat Maha Suci ini. Bukanlah hal yang mudah dan ringan serta remeh juga sepele, sekalipun seumur jatah hidupnya manusia di dunia fana ini, di pergunakan untuk menyerah kembalikan semua dan segala rahasia Dzat Maha Suci. belumlah cukup. (kecuali atas kehendak-Nya)

Jadi,,,, bagi siapapun yang sudah melampaui masa bayi, hingga berusia belasan tahun bahkan puluhan tahun sekarang ini, namun belum juga memulainya, sungguh rugi besar yang tiada terkira, dan itulah yang di sebut kegagalan total yang takan bisa di tebus dengan cara apapun, lantaran karena, persiapan untuk balik/pulang/kembali pada asal usul sangkan paraning dumadi itu, tidaklah mudah/gampang/ringan dan sepele. Jadi,,, tidak bisa hanya dengan berlenggang kangkung saja, masudnya “santai”.

Tujuan Turunnya Wahyu Panca Gha’ib ke marca pada ini. Tak lain dan tak bukan. Untuk memahami dan memegang satu Iman Mutlak, bahwa diri kita ini “sebenarnya” bukanlah diri kita, dan harus di kembalikan ke asal mulanya, yaitu Dzat Maha Suci. Dan untuk memperjelas kajian, agar dapat mengetahui sendiri, Hakikat Hidup Jati Diri-nya, dari mana asal mula yang sebenarnya, hingganya kita lahir di alam dunia maya ini. Dan supaya mengerti serta memahami, Hakikat Hidup Diri Sejati-nya, kemana harus kembali dan apakah tujuan sebenarnya. AKU ini di lahirkan.

Dengan mengetahui dan mengerti serta memahami Wahyu Panca Gha’ib yang sebenarnya, yang sesungguhnya, dalam kata lainnya, bukan hanya sekedar memiliki Wahyu Panca Gha’ib dan sebatas menjalannya katanya belaka. maka sudah pastilah, kita dapat mengetahui bahwa diri kita ini, adalah Sir Dzat Sipat-Nya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah semata-mata. Diri sir dzat sifat yang di tajallikan, dalam pernyata’an Sir Dzat Sifat-Nya Sendiri. Dan Dzat Maha Suci Memuji Diri-Nya, dengan Asma’-Nya Sendiri, yaitu Wahyu Panca Gha’ib, dan Dzat Maha Suci Menguji Diri-Nya Sendiri, dengan Afa’al-Nya Sendiri. Yaitu Wahyu Panca Laku.

Seperti Firman-Nya:
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”
Yang Artinya; Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya akan kembali.
Yang Maksud; Sesungguhnya diri mu itu Allah (Tuhan Asal Diri Mu) dan hendaklah kamu pulang menjadi Tuhan kembali.

He he he . . . Edan Tenan. Setelah mengetahui dan memahami secara jelas, lagi terang, bahwa asal kita ini adalah Tuhan, dan harus kembali menjadi Tuhan Lagi. Apakah itu hal yang mudah dan gampang serta ringan…?!

Laku Mengembalikan diri, Atau dalam istilah kata liannya, Penyempurn’an atau Menyempurnakan Jati Diri atau Diri Sejati, berati menyucikan lahir bathin, dan mengembalikan rahasia kepada Tuan Empunya Rahasia, maka manusia itu semestinya, meningkatkan kesuciannya, kesadarannya, sampai ke peringkat asal mula kejadian rahasia Dzat Maha Suci. Bukan “warung kopi” yang hanya ada sejarah cerita iri, salin saing menyaingi-debat-gunjing menggunjing, iri-dengki-fitnah-benci-sikat sikut sana sini yang menimbulkan, angkara murka, dendam dll.

Ajaran apa yang mengajarkan hal ini, tentang ini dan soal ini…?!

Wahyu Panca Gha’ib…

Wahyu Panca Gha’ib yang mana dan yang bagaimana…?!

Bukankah sudah teramat banyak orang yang memiliki dan menjalankan Wahyu Panca Gha’ib…?!
Dan dengan itu, sudahkan berkurang permusuhan antar saudara diantara kita…!!!
Sudahkan kita salin Mencintai-Mengasihi-Menyayangi semuanya, khususnya sesama Hidup…!!!
Sudahkan kita Pasrah. Menerima dan Mempersilahkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah kita dalam segalah halnya kita…!!!

Wahyu Panca Ghaib sekalipun, jika tidak di ibadahkan dengan Wahyu Panca Laku. Artinya, tidak di jalankan – tidak di praktekan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Tidak akan pernah ketemu/bertemu ujung pangkalnya. please think about…

Sesunggunya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dalam mengenalkan diri-Nya, melalui lidah dan hati manusia, karena Dia telah mentajallikan Diri-Nya, menjadi rahasia kepada diri manusia. Maksudnya; “Manusia itu adalah rahasia-Ku dan AKU adalah rahasia manusia itu sendiri”. Jadi, selama lidah dan hati kita masih pecadal pecodol, pagi tahu, siang tempe, malamnya tauge. Hanya capek dan tambah bingunglah yang akan dialaminya.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Perbeda’an Antara Belahan Jiwa dan Pasangan Hidup:


Perbeda’an Antara Belahan Jiwa dan Pasangan Hidup:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Giwangan Jogjakarta. Hari Selasa. Tgl 31 Januari 2017

Menurut Pengalaman Hasil Praktek Spiritual Pribadi saya di Lapangan. Kita memiliki banyak belahan jiwa dalam hidup ini, tujuan mereka sama. Mereka ada untuk menantang dan membangkitkan kesadaran kita, sehingga jiwa kita dapat berkembang menjadi keadaan kesadaran yang lebih tinggi. Apakah yang membedakan ‘Belahan Jiwa’ dan ‘Pasangan Hidup’?. Berikut saya akan mengungkapnya sedikit. Dan semoga dapat di mengerti dan dipahami. Mengapa saya sering berkata, tidak usah mengharap-harap saya datang, murnikan saja laku-mu. Dan saya pasti akan tertarik untuk datang.

Belahan Jiwa;
Seseorang yang selaras dengan jiwa Anda, dan datang untuk memberikan tantangan, membangkitkan, dan mengubah persepsi Anda, agar jiwa Anda, melampaui tingkat kesadaran dan kepedulian lebih tinggi. Setelah mereka memberi pelajaran baru, biasanya mereka pergi.

Pasangan Hidup;
Seorang pendamping, teman, individu yang stabil dan Anda merasa nyaman didekatnya, percaya dan saling bergantung untuk membantu Anda menjalani hidup. Ada perasaan saling cinta, rasa hormat, dan Anda berdua selaras satu sama lain terkait kebutuhan dan keinginan.

Belahan jiwa;
selalu hadir ketika kita siap untuk menerima hal baru, dan itu bukan kehendak kita sendiri. Mereka akan datang ketika sudah waktunya bagi kita untuk belajar menerima pelajaran baru yang sudah ditakdirkan untuk kita.

Belahan jiwa itu juga bisa saja teman, sahabat, kerabat, atau bahkan orang lain yang ‘tidak sengaja’ bertemu. Mereka tidak selalu harus menjadi hubungan percintaan. Terlepas dari hal ini, Anda akan selalu merasa mempunyai adanya ikatan emosi yang kuat, koneksi energi, atau ada sejarah kehidupan di masa lalu.

Banyak dari kita menghabiskan waktu mencari ‘belahan jiwa’, tetapi kita tidak pernah memahami bahwa orang-orang di sekitar kita sendiri itu merupakan belahan jiwa kita.

Jika Anda benar-benar ingin terhubung dengan belahan jiwa, Anda perlu belajar menyelaraskan jiwa Anda sendiri, Anda perlu mengenali diri Anda terlebih dulu. Menghormati diri Anda sendiri, dan mulai mengikuti hati nurani Anda sendiri. Dan ketika Anda mulai menyesuaikan diri sejati Anda. Artinya Anda telah menciptakan getaran energi rasa, untuk menarik belahan jiwa Anda datang. Kalau Anda sudah menyelesaikan pelajaran jiwa dan salin cocok dengan belahan jiwa Anda. Maka belahan jiwa ini, bisa bertindak sebagai pasangan untuk salin memahami dan berbagi sisa hidup dengan Iman Cinta Kasih Sayang Tuhan. Dan itulah Pasangan Hidup Anda. Semoga bermanfaat.

Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666. SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Lima Hal Penghalang Iman Cinta Kasih Sayang Tuhan:


Lima Hal Penghalang Iman Cinta Kasih Sayang Tuhan:
(Artikel Khusus Untuk Para Kadhang Didikan Saya)
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Giwangan Jogjakarta. Hari Senin. Tgl 30 Januari 2017
Para Kadhang Kinasihku sekalian. Tugas kita bukanlah menemukan Iman cinta kasih sayang Tuhan, tapi sepenuhnya mencari dan menemukan segala tembok/dinding penghalangIman Cinta Kasih Sayang Tuhan, (bagi kita untuk mendapatkan)Iman Cinta Kasih Sayang yang kita bangun di dalam diri kita sendiri.
Tidak peduli berapa usia Anda, latar belakang Anda, atau sistem kepercayaan spiritual Anda, Iman cinta kasih sayang sangat dibutuhkan semua orang. Kita semua di sini, untuk belajar mencintai, mengasihi, menyayangi, banyak metode penyembuhan diri kita, dalam kehidupan ini, berasal dari hubungan kita sendiri dengan Tuhan.
 
Iman Cinta Kasih Sayang Tuhan itu, sebenarnya mudah, namun kadang kita terlalu membebani diri kita sendiri, untuk menerima cinta kasih sayang Tuhan. Pengalaman dan sistem kepercaya’an, dapat menyebabkan rasa untuk mencintai, mengasihi, menyayangi Yuhan menjadi terhalang atau sulit.
 
Dianataranya…
Lima hal atau Faktor Penghambat Rasa untuk Mencintai Mengasihi Manyayangi Tuhan dibawah ini.
 
Satu. Takut Dikritik;
Apakah Anda merasa malu/marah ketika seseorang mengkritik Anda?
 
Apakah Anda mengalihkan atau mengubah percakapan ketika seseorang mengkritik penampilan Anda?
 
Belajar bagaimana untuk mengambil kritikan/pujian tanpa merasa bersalah atau merasa perlu untuk membalikkan, adalah salah satu langkah paling penting untuk membuka hati Anda untuk menerima lebih banyak cinta.
 
Jika Anda tidak dapat menerima pujian/atau kritikan dengan baik, Anda akan terhalang untuk menerima cinta kasih sayang Tuhan. Berlatih dan belajarlah selalu tentang bagaimana menyikapi, menghargai dan menerima diri sendiri untuk semua kritikan/dan pujian yang Anda terima.
 
Dua. Takut Membuka Hati;
Untuk menerima cinta kasih sayang Tuhan, Anda harus membuka hati untuk memberikan cinta kasih sayang. Membuka hati untuk memberikan cinta kasih sayang, berarti Anda tidak hanya mencintai, mengasihi, menyayangi dan percaya pada diri sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitar Anda.
 
Hal ini kadang menantang dan memerlukan waktu panjang, terutama jika Anda melihat dunia ini, sebagai tempat yang dingin dan keras. Tetapi semakin Anda mulai membuka ruang di dalam hati Anda, semakin Anda akan menarik pengalaman positif.
 
Untuk prakteknya, mulailah dengan memberikan senyum pada orang yang Anda temui di jalan. Tindakan kecil ini membantu untuk membuka hati Anda dan mengundang kepercayaan dan cinta kasih sayang ke dalam hidup Anda.
 
Tiga. Takut Tidak Menjadi Cukup Baik;
Setiap orang memiliki rasa takut, itu sangat normal dan menjadi bagian dari kehidupan. Caranya adalah dengan tidak membiarkan ketakutan Anda terus menakut-nakuti kehidupan Anda.
 
Bila Anda menyimpan rasa takut, bahwa Anda tidak cukup baik, cukup kaya, cukup pintar, atau cukup ganteng/cantik, Anda langsung memblokir aliran cinta kasih sayang Tuhan dan keberkahannya ke dalam hidup Anda.
 
Ketika Anda mau menerima diri sendiri, semua kekurangan dan kelebihan, Anda sudah membuka ruang di hati dan melepaskan penghambat yang menahan Anda untuk menerima cinta kasih sayang Tuhan.
 
Untuk prakteknya, Anda harus belajar memaafkan. Ini berarti Anda harus menerima dan memaafkan semua hal dalam diri yang selama ini membebani hati Anda. Dengan cara memaafkan, semua beban emosi tidak lagi menjadi bagian dari sistem kepercayaan Anda dan kemudian berganti dengan pikiran positif dan membahagiakan.
 
Empat. Suka Menghakimi Diri Sendiri dan Orang Lain;
Apakah Anda cepat menghakimi orang lain berdasarkan tindakan atau penampilan mereka?
 
Bila Anda memiliki kebiasaan suka menilai orang lain atau berbicara buruk tentang orang lain, itu tidak hanya menurunkan getaran rasa Anda, tetapi juga menutup hati Anda untuk mencintai, mengasihi dan menyayangi sesama hidup.
 
Menghakimi orang lain dengan perkataan kasar juga merupakan tanda bahwa Anda cepat untuk menilai diri sendiri dan tindakan Anda sendiri, yang justru mengarahkan Anda jauh dari cinta kasih sayang Tuhan dan dipenuhi ketakutan. Alih-alih menghakimi diri sendiri dan orang lain, cobalah untuk berlatih memberikan cinta kasih sayang. Jadilah lembut dengan diri sendiri dan mencoba untuk membawa rasa pemahaman baru tentang bagaimana Anda melihat orang lain.
 
Ini bukan berarti Anda perlu untuk mentolerir perilaku buruk, Anda harus menemukan cara yang damai dan penuh cinta kasih sayang untuk menangani semua situasi kehidupan Anda dan sekitarnya.
Lima. Kurangnya Aktualisasi Diri;
Apakah Anda tahu apa yang Anda inginkan?
Apakah Anda tahu apa yang benar-benar Anda cari?
 
Belajar untuk mengaktualisasikan diri, tidak hanya bermanfaat untuk orang lain, tetapi juga untuk diri sendiri. Itu adalah cara yang ampuh untuk membuka hati Anda.
Aktualisasi diri adalah kebutuhan naluriah pada manusia, untuk melakukan yang terbaik dari yang dia bisa. Tingkatan tertinggi dari perkembangan psikologis ini, bisa dicapai bila semua tujuan dasar, sudah dipenuhi dan memaksimalkan seluruh potensi dirinya, sehingga menarik energi positif lebih besar.
 
Temukan tujuan dasar diri sendiri dan manfaatkan potensinya, tanyakan pada hati Anda, apa yang paling berharga untuk saat ini. Mungkin hubungan atau mungkin juga waktu untuk meraih kesuksesan. Tanyakan semua tujuan Anda dengan rasa, itu adalah cara yang bagus untuk melepaskan penghalang.
 
Para Kadhang Kinasihku sekalian…
Berikan waktu dan ruang, (jeda), untuk mencintai diri sendiri, dan orang lain. Untuk yang muslim, sholat dan dzikir adalah bentuk dari jeda, Untuk Putero Romo. Patrap Semedi adalah bentuk jeda, dimana keadaan batin beralih dari mencengkeram urusan, menjadi melepaskannya. Saat kita tidak mau jeda, maka urusan dunia kita sendiri yang mengurus. Saat mau melakukan jeda, kesadaran kita bergeser ke kesadaran yang lebih luas menuju ke kondisi menerima dan urusan dunia akan di urus oleh Romo. Jadi, ketika di “Dalam” telah selesai, maka “diluar” akan selesai dengan sendirinya. Sesuai dengan janji-Nya, “Kerjakan urusanKu maka segala urusanmu AKU yang selesaikan”. Orausah melu cawe-cawe. Romo kang Bakal ngrampungi.
 
Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Gusti Ingkang Maha Suci. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semua Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666. SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”

Bagaimana Orang Bodoh Melihat Sebuah Peristiwa:


Bagaimana Orang Bodoh Melihat Sebuah Peristiwa:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Brebes Jateng. Kamis Wage. Tgl 19 Januari 2017

(… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu,
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (al-Baqarah: 216)

Bagaimana Melihat Kebaikan di Segala Hal..?!
Bagi Orang Beriman, Ada Kebaikan di Mana pun.
Alasan Mengapa Orang Tidak Dapat Melihat Kebaikan.
Teladan Kehidupan Para Nabi dan Orang-Orang Beriman.
Janji Allah dan Pertolongan-Nya untuk Orang Beriman.

Bagaimana Orang Bodoh Melihat Sebuah Peristiwa;
Secara umum, manusia cenderung memisahkan peristiwa yang terjadi dalam istilah “baik” dan “buruk”. Pemisahan tersebut sering bergantung pada kebiasaan atau tendensi peristiwa itu sendiri. Reaksi mereka terhadap peristiwa tersebut berubah-ubah tergantung pada kepelikan dan bentuk kejadian tersebut; bahkan apa yang akhirnya akan mereka rasakan dan alami biasanya ditentukan oleh kebiasaan sosial masyarakat.

Hampir semua orang memiliki sisa-sisa mimpi masa kecil, bahkan dalam hidup mereka selanjutnya, walaupun rencana-rencana ini tidak selalu terjadi sesuai dengan apa yang diharapkan atau direncanakan. Kita selalu cenderung kepada kejadian-kejadian yang tidak diharapkan dalam hidup. Peristiwa tersebut dapat sekejap saja melemparkan hidup kita ke dalam kekacauan. Ketika seseorang berniat untuk menjalankan hidupnya dengan normal, ia mungkin berhadapan dengan rangkaian perubahan yang pada awalnya terlihat negatif. Seseorang yang sehat bisa dengan tiba-tiba terserang penyakit yang fatal atau kehilangan kemampuan fisik karena kecelakaan. Sekali lagi, seseorang yang kaya bisa saja kehilangan seluruh kekayaannya dengan tiba-tiba.

Hidup seperti menaiki roller-coaster. Reaksi orang berbeda-beda ketika menaikinya. Jika kejadian yang muncul menyenangkan, reaksi mereka baik-baik saja. Akan tetapi, ketika dihadapkan pada hal-hal yang tidak diharapkan, mereka cenderung kecewa, bahkan marah. Kemarahan mereka itu bisa memuncak, bergantung pada sejauh mana mereka berhubungan dengan peristiwa tersebut dan pencapaian mereka dalam masalah ini. Kencenderungan ini biasa terjadi dalam masyarakat yang tenggelam dalam kebodohan.

Ada juga di antara mereka yang saat kecewa berkata, “Pasti ada kebaikan di dalamnya.” Bagaimanapun juga, kalimat yang diucapkan tanpa memahami arti sebenarnya hanya semata-mata kebiasaan masyarakat saja.

Masih ada sebagian orang yang memiliki keinginan untuk memikirkan maksud Ilahiah dalam setiap peristiwa, apakah yang mungkin terdapat dalam kejadian-kejadian yang sepele. Akan tetapi, ketika mereka dihadapkan pada peristiwa yang lebih besar, yang sangat mengganggu, tiba-tiba mereka melupakan niat tersebut. Sebagai contoh, seseorang mungkin tidak akan tertekan saat mesin mobilnya rusak tepat ketika ia harus berangkat ke kantor dan ia berusaha berprasangka baik terhadap kejadian tersebut. Akan tetapi, jika keterlambatannya itu membuat bosnya marah atau menjadi alasan hilangnya pekerjaan, ia lalu mencari-cari alasan untuk mengeluh. Dia mungkin akan bersikap sama jika kehilangan perhiasan atau jam mahal. Contoh-contoh ini menunjukkan kepada kita bahwa ada beberapa kejadian kecil yang menyebabkan orang bereaksi dengan wajar atau mereka mau berbaik sangka bahwa hal tersebut mengandung kebaikan. Akan tetapi, contoh-contoh lainnya yang tidak biasa dapat membuatnya mencari pembenaran atas keangkuhan dan kemarahan mereka.

Di sisi lain, sebagian orang hanya menghibur diri dengan berpikir demikian tanpa memiliki pegangan makna yang benar terhadap “melihat kebaikan dalam segala hal”. Dengan sikap demikian, mereka percaya bahwa hal tersebut dapat menjadi cara untuk menciptakan kenyamanan bagi mereka yang tengah tertimpa masalah. Misalnya yang terjadi pada anggota keluarga yang bisnisnya tengah berantakan atau seorang teman yang gagal dalam ujian. Bagaimanapun juga, jika kepentingan merekalah yang dipertaruhkan dan mereka terlihat tak sedikit pun memikirkan kebaikan apa yang ada di balik peristiwa tersebut, mereka telah berlaku bodoh.

Kegagalan untuk melihat kebaikan dalam peristiwa yang dialami seseorang muncul dari hilangnya keimanan seseorang. Kegagalannya untuk memahami bahwa Allahlah yang menakdirkan setiap kejadian dalam kehidupan seseorang, bahwa hidup di dunia ini tidak lain hanyalah ujian, inilah yang menghalangi dirinya untuk menyadari kebaikan apa pun dalam setiap peristiwa yang terjadi padanya.

Dalam bab berikut, kita akan menggali ide itu, yaitu memiliki keyakinan bahwa ada kebaikan dalam apa pun yang terjadi pada kita dan faktor-faktor tersebut penting sekali untuk kita lihat.

Sekali lagi saya katakan… Cobalah Untuk Merenung;
Sediakan beberapa menit dalam sehari untuk melakukan perenungan. Lakukan di pagi hari yang tenang, segera setelah bangun tidur. Atau di malam hari sesaat sebelum beranjak tidur. Merenunglah dalam keheningannya Rasa. Jangan gunakan pikiran untuk mencari berbagai jawaban. Dalam perenungan kita tidak mencari jawaban. Cukup berteman dengan ketenangan maka kita akan mendapatkan kejernihan pikiran.

Jawaban berasal dari pikiran kita yang bening. Selama berhari-hari kita disibukkan oleh berbagai hal. Sadarilah bahwa pikiran kita memerlukan istirahat. Tidak cukup hanya dengan tidur. Kita perlu tidur dalam keadaan terbangun. Merenunglah dan dapatkan ketentraman batinmu.

Pikiran yang digunakan itu bagaikan air sabun yang diaduk dalam sebuah gelas kaca. Semakin banyak sabun yang tercampur semakin keruh airnya. Semakin cepat kita mengaduk semakin kencang pusarannya. Merenung adalah menghentikan adukan. Dan membiarkan air berputar perlahan. Perhatikan partikel sabun turun satu persatu, menyentuh dasar gelas.

Benar-benar perlahan. Tanpa suara. Tanpa kata. Tanpa Politik. Tanpa Rekayasa. Yang ada hanya Rasa dan Rasa… Semua pasti bisa. Bahkan kita mampu mendengar luruhnya partikel sabun. Kini kita mendapatkan air jernih tersisa di permukaan. Bukankah air yang jernih mampu meneruskan cahaya. Demikian halnya dengan pikiran kita yang bening dengan Rasa.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666. SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com