Keinginan. Harapan. Cita-cita (Nafsu) Adalah Sumber Awal Karma:


Keinginan. Harapan. Cita-cita (Nafsu) Adalah Sumber Awal Karma:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Kamis Wage. Tgl 26 November 2015

Keinginan. Harapan. Cita-cita adalah sumber awal karma;
maka semakin terpaksa melakukan suatu perbuatan, karena sebuah Keinginan. Harapan. Cita-cinta (Nafsu), maka akan semakin kecil karma yang dihasilkan. Loh… maksudnya…?!

Maksudnya… Jika seseorang terpaksa melakukan perbuatan buruk, maka semakin kecil karma buruk yang dihasilkan dari perbuatannya. Demikian pula sebaliknya, bila seseorang terpaksa melakukan perbuatan baik, maka semakin kecil pula karma baik yang dihasilkan dari perbuatannya itu. Lebih jelasa dan detil serta rincinya…

Jika seseorang terpaksa berbohong, demi kebaikan seluruh mahluk, maka karma buruknya akan lebih ringan dibanding seseorang yang berbohong demi keuntungan dirinya.

Walau seseorang banyak berderma, tetapi demi nama baiknya, maka karma baiknya juga akan lebih kecil, dibanding dengan seseorang yang berderma kecil, tanpa kepentingan dirinya.

Walau seseorang banyak memberikan persembahan besar, di depan altar Budha, di hadapan patung yesus, di samping Ka’bah, tetapi bila pikirannya penuh dengan berbagai keinginan-keinginan, maka karma baiknya juga, akan lebih kecil, dibanding dengan seseorang yang memberikan, persembahan kecil di depan pengemis tua, dengan rasa syukur dan legowo/legawa (Rela).

Karma Tidak Dapat Dihapus;
Wahai para Pembina/Pembimbinga Spiritual. Pahamilah kebenaran alamiah tentang Karma yang saya temukan dari berbagai lakon dan laku seumur hidup saya ini;
Ada sebab, ada akibat.
Apa yang ditanam, itulah yang akan dipetik.
Ada awal, ada akhirnya.
Apa yang di kuyah, itulah yang akan di cerna.
Walau Berkah Sejuta Buddha atau Sejuta Syafa’at Rasul atau Sejuta Restu Yesus. Tetap tidak akan bisa menghapus yang namanya KARMA.

Bagi para pembina/pembimbing. Kesadaran Sejati akan memahani kebenaran alamiah karma yang sesungguhnya. Dimana tidak ada satupun berkah/syafaat/restu/pangestu. Pembinaan dan ajaran yang dapat menghilangkan atau menghapus karma. Bila ada sesuatu yang bisa menghilangkan dan menghapus karma, maka sejak awal Budha/Yesus/Nabi pertama, maka karma akan dihilangkan dan dihapuskan selamanya.

Sejak lampau hingga sekarang dan yang akan datang, para Pembimbing sejati terus menurunkan berbagai macam ajaran Rasa/Hidup, agar para mahluk Hidup dapat memahami alamiah karma yang sebenarnya, sehingga para mahluk Hidup dapat keluar dari lingkaran karma yang tanpa awal dan akhir ini.

Demikianlah alamiah dari pembinaan Ajaran Kesadaran Sejati yang diturunkan langsung oleh Bunda Mulia, yang di sabdakan langsung oleh yang mulia Baginda Nabi Muhammad SAW, yang di firmankan langsung oleh Tuhan Yesus. Juga tidak akan pernah dapat menghilangkan atau menghapus karma.

Tetapi dengan membina Ajaran Kesadaran Sejati, akan membantu para pembina untuk memahami alamiah karma lebih jelas dan jernih. Segala karma baik, karma buruk, dan karma-karma lainnya, yang timbul akan dapat dipahami dengan sebenarnya. Bila dapat memahami alamiah karma dengan sebenarnya, maka para pembina Kesadaran Sejati akan dapat mengendalikan segala karma yang timbul, baik pada dirinya sendiri, maupun kepada yang di binanya.

Dengan demikian, pembina’an Ajaran Kesadaran Sejati, sangat penting untuk mengendalikan karma yang timbul. Dan bukan Karma yang timbul yang selalu mengendalikan kehidupan para mahluk, seperti halnya yang dialami sekarang ini, oleh seluruh mahluk Hidup tanpa terkecuali, di alam semesta ini. Dengan kata lain, karma yang timbul tetap tidak akan pernah dapat dikendalikan, tanpa adanya pembina’an Spiritual Hakikat Hidup, bahkan karma yang timbul selalu menguasai dan mengendalikan kehidupan para mahluk Hidup, termasuk pembinanya. Edan pora….?!

Jelas dan Terangnya….
Karma lah yang telah mengendalikan kita didalam keseharian kita, bukan Hidup kita.

Dan kita sebagai Putera Rama (Putro Romo) atau yang mengaku atau merasa sudah Putro Romo. SILAHKAN PILIH… Karma yang mengendalikan kita atau Kita yang mengendalikan karma untuk menolong seluruh sesama mahluk Hidup. Dengan karma yang sama, atau dengan Wahyu Panca Gha’ib, yang sangat berbeda dampaknya..?!! He he he . . . Edan Tenan.

Inilah alamiah Pembina’an Ajaran Kesadaran Sejati (Rasa/Hidup/Kunci) Di Dalam Wahyu Panca Gha’ib. Monggo… Silahkan Pilih Sendiri. Keputusan ada pada diri-diri Pribadi Anda-Anda Sekalian.

WEB;
Hanya satu Himbauan saya, yang perlu diketahui dengan Iman-mu;
Karma buruk dan karma baik, tidak dapat dihilangkan atau dimusnahkan atau di hapus. Tetapi karma buruk dan karma baik, dapat saling melengkapi satu dengan lainnya.

Bagaikan keserasian Warna Pelangi yang saling melengkapi, menjadikan satu kesatuan ikatan yang sangat indah. Bila dapat melihat keindahan yang sebenarnya, merah kuning hijau biru putih hitam, tidak ada bedanya. Artinya; Karma buruk dan Karma baik, tidak lagi berbeda. Karena Hyang Maha Suci Hidup itu Esa dan Kuasa atas segala dan semunya. Serta sumber segala yang ada dan tiada. Baik dari-Nya burukpun dari-Nya. Tidak ada selembar daunpun yang jatuh kebumi tanpa kehendak-Nya. Semua dan segalanya yang terjadi dan tidak terjadi, adalah kehendak-Nya jua. Semua dan segalanya berasal dari-Nya. Maka,,, rela tidak rela. Mau tidak mau, akan kembali hanya kepada-Nya saja. Bukan selain-Nya.

Jika/Bila mendapatkan kebaikan didalam Artikel ini. Silahkan Artikel ini di sebar luaskan sebagai pengalaman tambahan, tidak usah/perlu mencantumkan saya atau menyertakan link saya, akui bahwa ini adalah pengalaman/penemuan Pribadi Anda… SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh kinasih saya, yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Pamrih saya berharap POSTINGAN SAYA KALI INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup nya siapapun yang membacanya.
*Matur Nuwun ROMO….._/\_…..Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

YEN WANI AJA WEDI-WEDI. YEN WEDI AJA WANI-WANI:


YEN WANI AJA WEDI-WEDI. YEN WEDI AJA WANI-WANI:
Dengan Wahyu Panca Gha’ib.
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Selasa. tgl 24. November. Tahun 2015

Saya sering Berkata…
YEN WANI AJA WEDI-WEDI.
YEN WEDI AJA WANI-WANI.
Entah itu di postingan atau di dalam photo sampul dan profil facebook saya.
Apa Arti dan maksud dari kalimat itu..?

Dalam belajar Laku Spiritual hakikat hidup, terdapat satu tembang Jawa yang singkat, namun sangat bermakna. Laku Spiritual Hakikat Hidup, adalah Kesadaran untuk mempelajari kesempurna’an Hidup dan kehidupan. Karena hanya dengan itu dan begitu kita bisa mengenal Hyang Maha Suci Hidup seutuhnya, seluruhnya, bukan separuh atau sepotong-sepotong seperti roti tawar. He he he . . . Edan Tenan.

“Yen siro wis nglakoni Kasampurnaning Urip. Siro mesti ngerti kasampurnaning pati. Lamon siro wis ngerti sampurnaning pati. Siro mesti biso muleh”
Artinya;
Kalau kamu sudah mengerti kesempurna’an Hidup. Maka kamu mesti memahami kesempurna’an Mati. Jika sudah memahami kesempurna’an mati. Maka kamu bisa pulang.

Apa itu kesempurna’an Hidup?
He he he . . . Edan Tenan. Sabar to brow…
Manusia dikatakan mempunyai kesempurna’an Hidup, jika ia mengetahui, memahami, mengerti Hidup nya, karena dengan mengetahui, memahami serta mengerti Hidup nya, berati ia benar-benar Manusia Hidup, Hidup bersama dengan Hyang Maha Suci Hidup. Ini kesempurna’an Hidup yang sebenaranya.

Oleh karena itu, Laku spiritual hakikat Hidup, memiliki makna, kesadaran yang mempelajari cara/lakon untuk menuju pada Hyang Maha Suci Hidup. Bukan sekedar mendekat disisinya.

Dalam belajar kesadaran Laku Spiritual Hakikat Hidup, terdapat satu tembang Jawa lagi yang berbunyi:

“Tak uwisi gunem iki. Niatku mung aweh wikan. Kebatinan akeh lire. Lan gawat ka liwat-liwat. Mulo dipun prayitno. Ojo keliru pamilihmu. Lamun mardi kebatinan”

Artinya;
Saya akhiri pembicaraan ini, saya hanya ingin memberi tahu, kabatinan banyak macamnya,
dan artinya sangat gawat, maka itu berhati-hatilah, jangan kamu salah pilih, kalau belajar kebatinan. (maksud dari keta kebatinan, adalah Kesadaran).

Dari tembang tersebut, dapat diketahui bahwa untuk belajar Sadar dengan Laku Spiritual Hakikat Hidup (Wahyu Panca Gha’ib), yang merupakan satu-satunya Kesadaran Hidup Dan Kehidupan, sangatlah gawat. Karena Wahyu Panca Gha’ib sudah hampir memenuhi Jagat raya ini, dan tidak sedikit Wahyu Panca Gha’ib yang bungkus dengan ego kepentingan masing-masing pribadi, dengan sangat amat rapih sekali, hingga sangat sulit untuk di ketahui kemurniannya/keasliannya. Ini bukan berarti menakut-nakuti orang yang hendak belajar Wahyu Panca Gha’ib lo….

Semata-mata tembang tersebut adalah mengingatkan bagi orang yang hendak belajar Sadar pada Hidup dan Kehidupan nya.

Tembang tersebut juga bisa bermakna:
Yen Siro wedhi, ojo sepisan-sepisan wani.
Yen Siro Wani, ojo sepisan-sepisan wedhi.
(YEN WANI AJA WEDI-WEDI. YEN WEDI AJA WANI-WANI)

Artinya;
Kalau kamu takut, jangan sekali-sekali berani.
Kalau kamu berani, jangan sekali-sekali takut.
Jika iya. Katakan iya. Bila tidak. Katakan tidak.

Artinya, saat hendak berniat untuk belajar. Pasti kita akan di ingatkan akan pilihan, apakah kita berani atau tidak. Kalau berani, jangan sekali-kali timbul Perasa’an takut. Kalau takut, janganlah memaksakan diri untuk berani. Hal itu juga berarti, bahwa di dalam bertindak, hendaknya kita tidak ragu-ragu… He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh kinasihku, yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Pamrih saya berharap POSTINGAN SAYA KALI INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup nya siapapun yang membacanya.
*Matur Nuwun ROMO….._/\_…..Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

ANTARA BENAR DAN SALAH. BAIK DAN BURUK. MAU ATAU TIDAK..?!!


Artikel Bebas Untuk Umum:
ANTARA BENAR DAN SALAH. BAIK DAN BURUK. MAU ATAU TIDAK..?!!
Ketika sebuah persepsi menempel di kepala kita, itulah pilihan yang sudah kita ambil. Repotnya, tidak selamanya keputusan kita ini, berdasarkan kenyataan yang ada. Apalagi jika ditambah dengan pengalaman kita sebelumnya, dalam berhubungan dengan orang tersebut. Sekali menipu, selamanya penipu, demikian jalannya otak kita. Sekali jahat, selamanya kamu jahat ! Sekali berbohong, dua tiga kali akan terjadi lagi. Parahnya, tindakan negatif terhadap pribadi kita, ternyata lebih dalam pengaruhnya, terhadap persepsi yang sudah kita bangun.

Ketika kita mempunyai pilihan, untuk melanjutkan hubungan tersebut atau tidak, maka dengan mudah kita dapat mengambil keputusan. Sebaliknya jika tidak ada pilihan, maka terpaksa kita Hidup dengan persepsi yang belum tentu benar. Contohnya ? Apa lagi jika bukan pekerjaan kita ?

Delapan jam sehari kita tidur, dan delapan jam sehari juga kita berada di tempat kerja kita. Setiap hari kita berbicara dengan rekan kerja kita, dipanggil atasan kita, dan memerintah bawahan kita. Sebagian dari mereka kita sukai karena ramah, ringan tangan, dan lucu. Lebih dari separuhnya kita benci karena mereka sok tau, tukang perintah, dan suka menjegal !

Kadang, dengan senang hati kita berbicara dengan mereka dan lebih sering kita berkomunikasi karena membutuhkan mereka. Semuanya telah kita cap sebagai “teman”, “lawan”, dan “tidak jelas.”

“Lawan” adalah rekan kerja yang harus kita singkirkan dan jauhi. Masalahnya jika lawan kita tersebut adalah atasan kita, maka tidak ada sesuatu yang dapat kita lakukan….wah…gawat dong! Iya…nek satu level sih gampang….gak usah dianggap dan ditanggapi. Pokok’e ojok ganggu aku dan aku gak bakalan ganggu kamu. Sak karep-karepmu dewe, selesai !

Tapi ini bos kita….wah…mau gimana lagi ? Bukan aku yang bisa menyingkirkan dia, tetapi dia yang bisa menyingkirkan diriku ini. Parahnya…..hak untuk memiliki persepsi ini, bukan hanya hak saya seorang, atasan kita juga bisa membentuk persepsinya sendiri. Dan pilihan untuk berpresepsi negatif atau positif terhadap diriku, menentukan karier pekerjaanku.

Apakah yang harus saya lakukan ?
Berikan saya jalan keluar pak WEB ?
Tolonglah…. diriku yang sedang dilanda kekalutan ini…. akan kuberikan apa saja…. (sungguh??? Everything ? Semuanya….??? Segalaaanya) . . . (wakakakakak….. Edan Tenan)

Jawaban singkatnya adalah; ganti persepsi negatif bos anda menjadi positif.

Hah ? Boro-boro ? Wong aku aja gak iso merubah persepsi negatif terhadap bosku, kok malahan disuruh merubah persepsi atasanku tentang diriku ? Wes…wes… mari… mari… gak usah dilanjutno…. gak masuk akal blas pak WEB!!
Dasar Wong Edan Bagu… sejare dewe….wek. gemblung ko… He he he . . . Edan Tenan.

Iya….
Memang betul…
Berbicara itu mudah..
Di bandingkan dengan bertindak.
Dan tidak mudah untuk merubah persepsi kita mengenai seseorang. Lebih susah lagi merubah persepsi seseorang tentang diri kita. Tetapi jika kita tahu rahasianya, bahwa persepsi itu adalah sebuah duga’an yang tidak berdasarkan fakta, maka kita bisa membuatnya menjadi lebih mudah untuk dilakukan. Jika persepsi bos kamu itu raja telat, maka buatlah daftar absen anda lima menit lebih pagi dan lima menit lebih lama waktu pulang nya.

Jangan lupa,,, tunjukkan muka culun Anda kepadanya (alias ngatok!) setiap masuk dan keluar kerja. Lakukan dengan disiplin dan teratur ! Dengan cara ini Anda menunjukkan, bahwa persepsi atasan Anda salah. Jika ada satu persepsi yang salah, maka si bos pelan – pelan akan membuka selubung persepsinya mengenai diri Anda. Begitu satu persepsi terpatahkan, maka persepsi negatif lainnya akan mulai dipertanyakan dalam otak si bos.

Bener nggak ?
Betul atau nggak yaa omongannya si A tentang kamu ?
Masa sih dia seperti itu ?
Padahal tak liat dengan mata kepalaku sendiri nggak seperti yang diomongkan ? Hmm….mungkin saya perlu membuktikan beberapa hal lagi….

Nah inilah kelemahan sebuah persepsi. Memang persepsi itu lemah, karena tidak berdasarkan kenyata’an/fakta. Begitu kenyata’an yang terjadi bertentangan dengan persepsi yang ada, maka yang menang adalah yang kelihatan !

Permasalahannya adalah kebanyakan orang melupakan unsur waktu dan kepribadian. Ada atasan yang bisa merubah persepsinya secara mendadak dan ada juga pimpinan yang memerlukan bukti, bukti, bukti, dan bukti lebih lanjut. Kemudian, dari sisi kita sendiri, sering menyerah karena tidak ada perubahan yang signifikan. Padahal kenyataan yang ada adalah terlalu sering kita berhenti lebih cepat.

Sebuah buku yang pernah saya baca mengatakan bahwa :
Di awal pekerjaan, kita begitu bersemangat dan menggebu-gebu.
Di pertengahan, kita mulai kelelahan dan meragukan pekerjaan kita.
Di titik 90% perjalanan kita mengalami dilema dahsyat mengenai berhenti mencoba dan berusaha. Berpikir Positif atau positive thinking.

Jikalau Om Thomas Alfa Edison berhenti memecahkan lampu yang ke 9.998 maka kita tidak akan bisa menikmati terangnya malam hari ini. Hanya kurang 1 lampu lagi dia berhasil !

Sungguh sayang bukan ?
Masalah sebenarnya yang kita hadapi dengan persepsi adalah mau atau tidak terus mencoba ? Toh tidak ada lampu yang harus kita pecahkan bukan !

Terlalu sering kita berusaha untuk merubah apa yang tidak dapat kita rubah dan terlalu jarang kita merubah apa yang dapat kita rubah, yaitu diri kita ! Saya yakin perubahan itu tidak dimulai dari orang lain, melainkan dari diri kita terlebih dulu. Begitu kita merubah persepsi kita, maka sikap kita dengan sendirinya akan berubah. Perubahan diri kita pada akhirnya akan merubah persepsi orang mengenai kita dan ujung-ujungnya merubah sikap mereka terhadap diri kita ! Ingatlah, persepsi hanyala sebuah pilihan. Pilihan untuk berpikir positif atau berpikir negatif…. Hayooo… He he he . . . Edan Tenan… SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh kinasihku, yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Pamrih saya berharap POSTINGAN SAYA KALI INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup nya siapapun yang membacanya.
*Matur Nuwun ROMO….._/\_…..Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Membedakan Pingin (Perasa’an ) dan Kersaning GUSTI (Rasa)


Membedakan Pingin (Perasa’an ) dan Kersaning GUSTI (Rasa)
Dengan Wahyu Panca Gha’ib
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Selasa. tgl 24. November. Tahun 2015

Setiap manusia sarat dengan nafsu. Nafsu tersebut, senantiasa ada di setiap waktu. Dan nafsu yang identik itu, agar supaya tersandang baik oleh manusia pada umumnya, lalu,,, di perhalus sebutannya, menjadi keinginan, kurang puas, lalu di perhalus lagi, menjadi harapan, masih kurang lagi, lalu lebih di perhalus lagi, menjadi cita-cita. Kalau kita lihat hati kita, maka setiap saat, yang namanya keinginan, harapan, cita-cita bin Nafsu kita terhadap ini dan itu, akan terus bertambah, tidak akan ada habisnya, sebelum menaiki kereta kencana roda empat manusia menuju rumah goa di perumahan keramat. Manusia memang ditakdirkan menjadi makhluk yang tidak bisa terlepas dari yang namanya kodrat irodat, jika kedua hal ini, tidak selaras dan seimbang, sudah pasti, kodratnya tidak akan pernah merasa puas.

Itulah yang disebut dengan keinginan, harapan, cita-cita alias (Perasa’an bin Nafsu). Dalam bahasa jawanya, keinginan itu disebut kepingin atau biasa disingkat pingin. Pingin ini, pingin itu dan pingin banyak lagi yang lainnya. Setiap manusia pasti memiliki kepinginan, harapan atau cita-cita.

Sementara itu, kersaning GUSTI, kehendak nya Rasa/Hidup. Merupakan hak prerogatif dari Hyang Maha Suci Hidup. Kita tidak bisa melakukan hal, yang lebih maksimal, jika sudah menjadi kersaning GUSTI, kehendak nya Rasa/Hidup, yang dicapai hanya segitu.

Dengan itu… Pertanyaan yang kini muncul adalah?
Apakah perbedaan pingin (Perasa’an) dan kersaning GUSTI (Rasa)?
Perbeda’annya, pingin (Perasa’an) atau kepinginan itu dari setiap manusia senantiasa berada di bawah pengaruh hawa nafsu nya.

Sedangkan kersaning GUSTI (Rasa). Itu yang sudah dilakukan, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Lebih jelasnya….(Rasa) Kersaning GUSTI, lebih cenderung pada kepasrahan manusia, setelah melakukan ikhtiar semaksimal mungkin.

Namun Pada kenyata’annya, banyak manusia yang salah mengartikan. Mereka tidak melakukan ikhtiar/usaha (lakon/laku) apapun, tapi mengakui/menyebut, hal itu sebagai kersaning GUSTI… Coba renungkan itu dengan iman. Caranya; Palungguh 3x lalu diam merenung. itu contoh yang sangat amat paling sederhana, diantara sekian banyak cara yang pernah saya pelajari dan saya praktekan. Jadi,,, pasti tau dan bisa Membedakan Mana Pingin (Perasa’an/Nafsu ) dan Mana Kersaning GUSTI (Rasa/Hidup), Ingat ya, direnungkan setelah Palungguh, jangan di bayangkan setelah menghayal. He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh kinasihku, yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Pamrih saya berharap POSTINGAN SAYA KALI INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup nya siapapun yang membacanya.
*Matur Nuwun ROMO….._/\_…..Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Cara Termudah Mencapai Titik Nol: Dengan Wahyu Panca Gha’ib.




Cara Termudah Mencapai Titik Nol:
Dengan Wahyu Panca Gha’ib.
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Documents Hari Jumat. tgl 12. Sept, Tahun 2014

Sebelumnya saya pernah mengulas hal ini pada postingan saya di websit saya https://putraramasejati.wordpress.com Dan di http://wongedanbagu.blogspot.com juga di catatan dokumen facebook saya ini, dan sekarang saya lengkapi dengan sebuah rekaman vidio MPEG4, karena masih saja banyak Sahabat-Sahabat yang bertanya soal ini, melalui email, maka saya akan coba mengulangnya lagi dengan lebih singkat namun tetap jelas dan mudah di pahami. Para kadhang Konto dan Kantiku sekalian… Kususnya Para Kadhang anom didik saya terkasih. Ketahuilah,,, bahwa Nol merupakan Gembognya Kunci Laku Hakikat Hidup, untuk menuju kepada Hyang Maha Suci Hidup. Bagi pemula, dalam hal samadhi sangatlah sulit untuk bisa mencapai kondisi suwung atau titik Nol. Tetapi bagi yang sudah pernah mengalaminya, maka akan dengan mudah mencapai kondisi Nol, karena sudah hafal betul dengan proses atau cara untuk mencapai kondisi tersebut.

Mengapa harus kondisi Nol..?
Pada kondisi yang Nol, manusia sudah tidak terpikirkan lagi pada kebutuhannya, angan-angannya, budinya, pakartinya, panca inderanya dan lain sebagainya. Otak menjadi istirahat. Inilah yang di maksud wudho, dalam sabda dawuhe ROMO. Yang artinya telanjang, bukan telanjang tubuh, tapi telanjang jiwa, dari semua dan segala kemelekan dunia dan akherat.

Ada banyak kadhang pernah berkata mengenai kondisi Nol itu kepada saya, dan diantara yang banyak itu, hanya sedikit yang tidak mengatakan,”meneng tanpa mikir iku susah.”(berdiam diri dalam meditasi tanpa memikirkan apapun, itu sulit katanya).

Kunci nya adalah Wahyu Panca Gha’ib. Gembog nya adalah Nol. Jalannya adalah Laku Patrap. Caranya adalah Kekadhangan. Prakteknya adalah berlatih secara kontinyu. Dengan begitu, maka kondisi itu akan bisa dirasakan setiap manusia. Khususnya Putero Romo. Langkah yang harus ditempuh adalah carilah Rasa ENAK dengan posisi duduk bersilah yang relaks dan badan tegak, sa’at Patrap Semedi Kunci Paweling Asmo Mijil.

Sebelum melakukannya. Palungguh dulu dan mintalah Pangestu dan Pengayoman terlebih dulu pada Hyang Maha Suci Hidup. (Palungguh hingga plong lalu Panyuwun) Khusus untuk Kadhang anom didik saya, Cara ini sudah pernah saya Ajarkan. Kadhang dulu dengan angen-angen, budi, pakarti, panca indera, setelah cukup, lalu Palungguh hingga plong, lalu Panyuwun, Terus pejamkan mata, baru Patrap KUNCI.

Saat memejamkan mata (Dalam Patrap KUNCI), maka ingatan pikiran pasti akan bergerak kesana-kemari, itu PASTI. Umumnya, ketika berdiam diri, pikiran akan menggoda dengan mengatakan berbagai kewajiban yang harus kita lakukan. Contohnya: “uang sekolah belum dibayar”, “susunya anak sudah habis”, “waktunya membayar hutang kredit” teringat pacar/istri dan lain sebagainya, yang menggoda konsentrasi kita untuk menuju ke titik nol, ini proses alami yang tidak bisa di hindari oleh siapapun dia, sekalipun sudah ahli.

Kalau kita mendapat proses seperti itu, maka biarkanlah pikiran itu bercerita sepuasnya. Tetapi kita jangan berlarut-larut mendengarkan perkataannya. Yang penting kita mengetahui kewajiban yang harus kita lakukan, dari apa-apa yang dikatakan pikiran. Setelah tahu semua yang dikatakan pikiran, maka kendalinya ada pada diri kita sendiri. Mau asyik mikirin itu, apa mau lanjut dalam semedi.

Jika sudah mengetahui semuanya, namun tidak bisa di kendalikan juga, masih tetep asyik bercengkrama disitu, maka katakan dengan tegas, pada sedulur papat/pikiran kita,”SEMUANYA DIAM..!!!”.

Maka kita, akan kembali lagi ke titik konsentrasi. Dalam konsentrasi itu, tidak ada lagi yang kita pikirkan. Semuanya tertuju pada satu titik. Tidak ada lagi permasalahan duniawi. Yang ada hanya jalan menujukan diri pada Hyang Maha Suci Hidup.

Pada saat itulah, kita akan lebih berkonsentrasi secara intens lagi. Konsentrasi yang terbilang lebih dalam, sehingga kita tidak lagi merasakan digigit nyamuk atau gatal pada kulit kita atau keram dikaki kita. Semuanya terasa hampa. Lambat laun kesadaran kita akan berkurang dan kita bak merasa ngantuk, tetapi bukan ngantuk dan tidak tertidur. Apabila diteruskan, maka kita akan mencapai titik Nol, dimana hanya ada Rasa Tenteram dan kedamaian yang dalam… Itulah yang di maksud Titik Nol. Itulah yang disebut Titik Nol. He he he . . . Edan Tenan. Tapi ingat…!!! jangan sampai terlena, harus tetap sadar. Karena Titik Nol sungguh sangat melenakan jiwa-jiwa yang sedang haus ketenangan. Jadi, tidak sedikit yang terlena di Titil Nol itu, yang akhirnya, nol beneran, artinya tidak dapat hasil apapun, kecuali kebingungan setelahnya.

Jika kita tidak Terlena dan tidak asyik dengan ketentraman dan kedamaian itu, maka kita akan menyaksikan, bahwa pada sa’at itu, yang ada hanya Anda dan Guru Sejati (Hidup Anda)… Selanjutnya,,, Terserah Anda … He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh kinasihku, yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Pamrih saya berharap. POSTINGAN SAYA KALI INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang kinasihku sekalian tanpa terkecuali, yang belum mengetahui ini, dan Bisa Menggugah Rasa Hidup nya siapapun yang membacanya.
*Matur Nuwun ROMO….._/\_…..Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

MARI KITA MENONTON DIRI SENDIRI:


MB
MARI KITA MENONTON DIRI SENDIRI:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
Documents Hari Rabu. tgl 03. Sept, Tahun 2014

Demikian beragam tontonan menguras perhatian kita selama ini. Betapa banyak diantara kita terbius oleh tontonan televisi, aneka pernak-pernik, kemilau duniawi yang serbaneka, pertunjukan para pemimpin yang tengah bertarung merebut kursi panas, dan seterusnya. Bahkan artikel internet khususnya Status-status facebook yang salin berebut benar katanya benar. Makin banyaknya tontonan yang tergelar sarat sensasi di hadapan kita, kadang membuat kita lupa menonton diri sendiri. Inilah saatnya kita menonton diri sendiri, memosisikan diri sebagai obyek yang ditonton. Bagaimana cara menonton? He he he . . . Edan Tenan

Menonton membutuhkan mata dan cahaya. Tanpa mata dan cahaya kita tak bisa menonton. Meski cahaya benderang menyinari kehidupan kita, namun tanpa didukung mata, niscaya obyek yang ditonton tak bisa dilihat. Sebaliknya, andai mata sehat, namun tak ada cahaya yang membersit, kita pun tak bisa menonton. Karena itu, ketika hendak menonton perlu memadukan kekuatan mata dan cahaya.

Mata perlambang dari mata hati (akal wajar/manusiawi) bukan akal bulsit. Saat kita hendak menonton diri sendiri, hidupkan mata hati, sehingga bisa melihat secara gamblang film kehidupan kita sendiri. Cahaya simbol dari cahaya Ilahi (Hyang Maha Suci Hidup). Cahaya Ilahi berupa petunjuk Hyang Maha Suci Hidup (Ilahi). Bersandarlah sepenuhnya pada Hyang Maha Suci Hidup (Ilahi), dan Hyang Maha Suci Hidup (Ilahi), akan membersit dalam hati/jiwa kita. Andai cahaya Hyang Maha Suci Hidup (Ilahi), belum menghinggapi jiwa kita, berusahalah, berdampingan dengan sosok mulia, yang telah tersaluri cahaya Hyang Maha Suci Hidup (Ilahi). Yaitu Hidup. Hidup yang menempati raga kita sejak awal hingga kini, jika belum mengetahui atau mengenal Hidup yang sejak awal hingga kini bersama kita, carilah Pembimbing/Guru wujud. Yang telah tersaluri cahaya Hyang Maha Suci Hidup (Ilahi) mintalah bimbingannya untuk hal tersebut “Rasulullah saw bersabda, “Orang beriman adalah cermin bagi orang yang beriman.”

Cermin tempat kita berkaca, tentang diri secara sederhana. Cermin akan memantulkan sosok kita yang sejati. Lewat cermin pula kita bisa mengukur, menimbang, dan menilai diri kita secara jernih. Sosok yang jernih dan terliput kebenaran, patut dijadikan cermin, karena darinya terpancar magnet kebaikan yang berdaya pesona alami, bukan rekayasa.

Sebelum menonton diri sendiri, kita perlu menghidupkan mata hati dengan cara menggerus biji egoisme, yang masih bersarang dalam kesadaran kita. Karena egoisme sering menghalangi mata hati untuk melihat diri secara gamblang. Buatlah kita berjarak dengan diri sendiri, kita menonton diri seperti menonton orang lain. Duduk bersilah dengan santai/rileks, lalu Palungguh. Patrap Kunci 7x. Paweling 3x lalu diam. Tataplah lekat-lekat diri kita dengan mata hati, maka kita akan mengetahui secara jernih, siapa diri kita yang sebenarnya. Boleh kita memutar kembali film masa lalu yang pernah ditapaki. Dari rentetan film itu, kita bakal memahami secara dekat, karakter dan kebiasa’an kita. Setelah itu kita memperoleh pemahaman “siapa diri kita”.

Ketika kita terbiasa menonton diri dengan cara membuat jarak terhadap diri sendiri, maka kita tak akan terlalu terikat oleh keada’an yang datang silih berganti, entah musibah atau nikmat. Seperti kita menonton televisi, ada saja lintasan kesedihan dan kebahagiaan mewarnai penggalan demi penggalan adegan tersebut. Ketika kita menonton diri sendiri secara utuh, akan ditemukan keindahan-keindahan yang tak terlukiskan kata-kata. Juga dengan menonton diri sendiri, kita bakal menemukan kenyata’an menakjubkan yang tak bisa dikadar dengan akal yang berlimit. Kebiasaan kita menonton diri sendiri juga akan memandu kita untuk menggerus jalan setapak sempit “berupa keakuan” bergantikan jalan raya ditandai oleh terbangunnya jiwa universal, cinta universal, dan Hidup universal. Hidup yang tergabung dengan jiwa kemanusia’an, bahkan jiwa semesta. Edan Tenan. Pokok’e… He he he.

Buktikan. Buktikan saja jika tidak percaya. Ini adalah ilmu saya melepaskan diri dari semua kemelekatan yang pernah membelengguh jiwa raga saya selama puluhan tahun, saya bisa, Anda pasti bisa. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh kinasihku, yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Pamrih saya berharap POSTINGAN SAYA KALI INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup nya siapapun yang membacanya.
*Matur Nuwun ROMO….._/\_…..Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

MARI KITA MEMELUK DIRI SENDIRI:


MS
MARI KITA MEMELUK DIRI SENDIRI:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
Documents Hari Rabu. tgl 03. Sept, Tahun 2014

Setiap saat perhatian kita tersita oleh urusan-urusan di luar diri sendiri. Terkait dengan target yang harus dicapai. Menjajahi beragam hiburan untuk menyegarkan otak. Atau tersita oleh permainan yang berguna sebatas untuk melepaskan keletihan otak, yang hampir hank, karena kepenuhan data. Setiap hari manusia terus dipacu aneka rencana yang menggelorakan semangatnya, untuk bekerja keras, sehingga tak ada kesempatan berhenti sejenak pun, untuk mengistirahatkan pikiran dan menjernihkan hati. Siang hari dihabiskan seluruhnya untuk menuntaskan seabrek tugas yang harus diselesaikan, dan malam hari dihamburkan untuk menonton televisi atau kelon, sekadar untuk menyegarkan pikiran. Kelihatannya seluruh kegiatan itu untuk memenuhi diri sendiri, akan tetapi, nyatanya, menghempaskan atau menggerus kesegaran diri sejati.

Bukankah semua kecenderungan itu hanya untuk pemenuhan hawa nafsu?
Dimana manusia bisa mengasuh kesegaran bagi jiwanya?

Saban hari manusia didera oleh sasaran dan rencana kerja yang terinspirasi oleh impian yang melambung tinggi. Ia terikat dengan masa depan. Dia pun tidak bisa menghayati dan merasakan keindahan yang terhidang hari ini, lantaran perhatiannya hanya tertuju pada masa depan berikut ilusi yang menyelubungi pikirannya. Bagaikan orang yang telah memesan menu yang paling lezat di sebuah restoran, setelah menu itu berada di depan meja, dan siap disantap, tiba-tiba pikiran terbajak oleh rencana yang harus dijalankan beberapa saat kemudian. Karena pikirannya terjerat oleh urusan berikutnya, maka saat itu dia tidak bisa menikmati kelezatan makanan yang terhidang di depannya. Begitulah, makanan yang mahal dan amat lezat, lantaran tidak diikuti oleh Rasa mahal dan lezat, dia pun gagal untuk mencerap kelezatan makanan tersebut. .. He he he . . . Edan Tenan.

Saat ini kita berada dalam sebuah ruang publik yang amat kecil (mini-sphere), seolah-olah ruang aktivitas manusia makin meluas, hanya saja sering menyempitkan ruang hati. Jaringan manusia makin meningkat, meluas, akan tetapi esensinya rapuh, garing, dan tak berasa.

Saat teknologi mempermudah manusia untuk menjalin relasi, maka manusia terus disibukkan oleh komunikasi lewat beragam karakter manusia. Seakan dunia tidak pernah berada dalam kesepian, kesunyian, atau kesenyapan, akan tetapi selalu dipenuhi dengan suasana riuh rendah dan ramainya komunikasi yang hampir tanpa jeda. Adanya ponsel telah menggerus perhatian manusia terhadap dirinya sendiri, karena akan terus ada proses komunikasi yang tak pernah berhenti, kecuali bagi orang yang disiplin mengelola komunikasi. Tambah lagi, dunia maya pun tak ketinggalan menawarkan berbagai teknologi yang memudahkan kita berbagi perasa’an GALAU, berbagi foto, hingga berbagi selera lewat e-mail, facebook, blog yang membuat manusia haus untuk makin memperluas jaringan. Sebuah jaringan yang kiranya bisa menyuguhkan kesenangan dan menyapu Perasa’an kesepiannya. He he he . . . .Uedan… Tenan. Saya bisa bicara dan ngomong, karena ikut mengalaminya, tapi setelah sadar mengetahuinya, jadi mesem karo ngguyu koyo nonton (DKI) Dono Kasino Indro pedot kolore.

Apabila manusia telah berada di pusaran keramaian yang tak berkesudahan ini, dampaknya mereka akan mengalami kesulitan untuk menyapa, mencium, dan memeluk diri sendiri. Ketika kita menghabiskan waktu untuk berbicara dengan orang lain, niscaya kita tidak memiliki waktu untuk bisa berbicara atau berdialog dengan diri yang terdalam (silolukai). Padahal, bila semangat dialog dengan suara terdalam telah terhambat, kekeriangan batin terasa meruap, dan goncangan pun tak henti-hentinya mendera perasaan jiwa kita. Ada kehampaan yang menyebar begitu saja ke dalam hati. Karena itu, jarak manusia dengan dirinya sendiri makin menganga. Kadang ia lebih mengenal orang lain ketimbang dirinya sendiri. Sampa-sampai, dia lebih bisa melihat belexnya orang lain dari pada belexnya sendiri.

Mengapa begitu?
Karena sudut pandangnya hanya dipergunakan untuk meneropong keada’an di luar dirinya, dan dia tidak bisa meresapi setiap keada’an yang mewarnai perjalanan hidupnya sendiri. Makin hari hatinya makin mengalami kehampa’an dan kekeringan, lantaran tidak pernah bisa berdialog dengan kejernihan yang bermukim dalam hati/dirinya.

Bagaimana agar kita bisa berdialog bahkan bisa memeluk diri sendiri?
Diri kita adalah aset utama yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Andaikan kita tidak bisa menghargai aset paling agung ini, niscaya kita bakal tergerak untuk mengagungkan aset selain diri sejati. Andaikan kita menyadari diri kita sebagai aset yang paling berharga, maka kita harus memiliki waktu istimewa untuk bisa menyapa diri kita lebih dekat .

Lepaskanlah sekat-sekat yang membuat kita sering berjarak dengan diri sendiri. Rasakan setiap kenikmatan yang dianugerahkan pada kita, bahkan kita terus menghayati dari aras jasmani hingga aras rohani. Saat kita bisa menghayati dan menikmati proses penjelajahan dari luar ke dalam, dari dalam ke luar itu, niscaya kita bakal merasakan suatu hal yang agung, dimana didalamnya, bermukim seluruh harapan inti-sari pati yang didamba oleh seluruh manusia Hidup, berupa kebahagia’an/Tenteram.

Ada saat prima kita bisa menyapa diri sendiri, misalnya selepas shalat, selepas sembahyang, selepas memuja, selepas wiridz, selepas kebaktian, selepas bersamadi, selepas tafakkur, selepas bersesaji, selepas persembahan. Kita meluangkan waktu sejenak, menyelami keada’an diri, menyapa kesegaran batin lewat upaya KUNCI. Mungkinkah dari setiap lintasan aktivitas yang dijalani selama ini, ada suatu yang menorehkan luka di hati orang lain, atau membekaskan Perasa’an gelisah di dalam hati kita sendiri? Sembari menggemakan KUNCI, kita terus merasakan kedamaian yang meruap dari kedalaman hati/jiwa. Bangunlah Rasa hormat pada diri sendiri, perlahan-lahan suara keagungan pun, berdentang dari diri kita.
Buktikan… Butktikan saja kalau tidak Percaya. Ini ilmu saya dalam menggali Rasa sejati Urip, sejatine Rasa Urip.

Suara keagungan itu mengekspresikan suara kebijaksana’an yang ditunggu untuk menenangkan jiwa. Terpenting setiap hari kita meluangkan waktu untuk berbicara dengan diri sendiri, entah di pagi hari, di siang hari, terutama di malam hari, untuk bisa mengevaluasi diri secara ketat, agar kita bisa menemukan kelembutan yang bermukim di hati/jiwa kita. Sa’at sepertiga malam yang penuh Pangestu dan Pangayoman, kita berusaha menyusup ke dalam diri sendiri, mengorek segala sesuatu yang perlu diperbaiki, hingga di siang harinya, ada kecerahan yang terpancar dari wajah kita. Manakala kita bisa mengevaluasi diri sendiri disertai ketulusan yang sadar untuk mengenal kedalaman diri sendiri, maka kebahagia’an keHidupan dan Ketenteraman Hidup, perlahan-lahan bakal menghiasi roh dan Roh kita, raga dan jiwa kita, perasa’an dan Rasa kita… He he he . . . Edan Tenan. SALAM RAHAYU HAYU MEMAYU HAYUNING KARAHAYON KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU Untukmu Sekalian para Kadhang Konto dan Kanti Anom maupun Sepuh kinasihku, yang senantiasa di Ridhoi ALLAH Azza wa Jalla Jalla Jalaluhu. Pamrih saya berharap POSTINGAN SAYA KALI INI. Dapat Bermanfaat untuk semua Kadhang kinasihku sekalian tanpa terkecuali yang belum mengetahui ini dan Bisa Menggugah Rasa Hidup nya siapapun yang membacanya.
*Matur Nuwun ROMO….._/\_…..Terima Kasih.Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com