“LAKU SEORANG PUTRO ROMO”


“LAKU SEORANG PUTRO ROMO”
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Selasa Kliwon. Tgl 27 September 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur tahu Garam/Uyah..?!
Garam/Uyah, selain untuk melezatkan makanan dan minuman, garam lazim digunakan untuk mengawetkan makanan, mencegah pembusukan. Garam adalah alternatif terbaik untuk menghalau kuman dan mencegah infeksi, karena gigitan serangga dll. Garam juga bisa digunakan untuk memadamkan api, mencairkan salju yang membeku. Dan masih banyak manfaat lainnya seputar garam/uyah, jika kita tanyakan pada mbah google.

Setelah saya renungi secara mendalam, sepertinya,,, Laku Putro Romo itu, tidak ubahnya seperti garam/uyah ini, garam yang memberi banyak manfaat, Romo ingin Putro hangayomi kehidupan banyak orang. Namun, hakikat garam itu, bersifat laten atau tersembunyi. Maksudnya, samar, tidak kentara. Bukankah garam itu melezatkan makanan dan minuman, tanpa pernah menjadi makanan atau minuman itu sendiri..?!

Dan ingat… Jangan sampai lupa. Cukup secukupnya saja, karena, jika berlebihan, garam/uyah itu, akan merusak apapun yang seharusnya lezat, dan lagi, tidak semua makanan dan minuman, bisa di lezatkan dengan garam.

Itulah Laku Putro Romo menurut hasil renungan spiritual pribadi saya, dengan dasar Sabda Dawuhe Romo, tentang Kapribaden atau Pribadi. Artinya. Kapribaden atau Pribadi itu, bukan kepercaya’an atau golongan, melainkan Laku Seorang Putro Romo.

Menjadi garam atau menjadi putro romo itu, menuntut Putro dalam hangayomi, tidak menonjolkan diri, memberi manfaat tanpa pamer, Tidak tampak superior, tidak populer, bahkan tanpa pamrih. Karena Putro bukanlah superstar, tetapi dipilih Romo, untuk membukakan jalan, bagi seorang bintang. Putronya, tetap tersembunyi, meskipun sumbangsih Putro menyemarakkan dunia. Putro mewarnai keberhasilan orang lain, tanpa menerima piala atau medali. Putro adalah pahlawan tak dikenal, yang memerdekakan kehidupan orang lain, dan menyempurnakan hidup tujuh keturunannya dan para leluhurnya, keatas dan kebawahnya hingga tujuh keturunannya pula.

Tahukah Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku Sekalian…?!
Di balik sebutir garam itu, tersembunyi kerendahan hati. Menjadi garam “menjadi putro” itu Laku dengan benar dan tepat, meski kelicikan dan kepicikan meruyak di negeri katenteman ini.

Sebagai Putro Romo… Siapkah menggarami orang-orang di sekitar Anda…?!
Termasuk mereka yang menolak Anda..?!
He he he . . . Edan Tenan.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

TUJUH ALAM AKU Dan TUJUH AYAT KUNCI. Di Dalam “Wahyu Panca Gha’ib”


TUJUH ALAM AKU Dan TUJUH AYAT KUNCI. Di Dalam “Wahyu Panca Gha’ib”
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Jumat Legi. Tgl 23 September 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian… Masih ingatkah, dengan wedaran saya, di beberapa artikel lama saya, yang sudah saya postingkan di internet. Yang pada intinya, saya mengatakan, bahwa Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan Agama. Ilmu. Kejawen. Kebathinan. Kepercaya’an. Golongan. Partai. Perguruan. Adat istiadat dan bla,,,bla,,,bla,,, lainnya. Wahyu Panca Gha’ib adalah Hidup. Hidup yang bisa menjamin, jiwa raga dan dunia kaherat, manusia hidup, siapapun dia dan dimanapun dia. Dan dengan Ijin Dzat Maha Suci, pada kesempatan kali ini, saya bagikan dengan Cinta Kasih Sayang, tentang kebenaran dari penemuan saya yang satu ini. Yaitu soal bukti daripada urainya saya, yang pernah mengatakan, bahwa Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan Agama. Ilmu. Kejawen. Kebathinan. Kepercaya’an. Golongan. Partai. Perguruan. Adat istiadat dan bla,,,bla,,,bla,,, lainnya. Wahyu Panca Gha’ib adalah Hidup. Hidup yang bisa menjamin, jiwa raga dan dunia kaherat, manusia hidup, siapapun dia dan dimanapun dia.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian… semua dan segalanya, soal dan tentang manusia hidup itu, ada tersejarah dengan sangat jelas dan nyata di dalam Wahyu Panca Gha’ib.

Maka….
Ketahuilah dengan kesadaran murni Rasamu. Bahwa, ketika kita masih bayi, dan berada di Alam Rahim, masih berbentuk sperman/mani “di dalam air ketuban” belum ada nyawa, baru ada Hidup, dari Alam Rahim, bayi pindah ke Alam Dunia, dan di dalam perpindahan ini. Hidup berubah sifat menjadi Roh/Ruh Suci, ketika kontak dengan Alam Dunia itulah, mulai ada sebutan Rasa/Nyawa, nyawa adalah Darah, yang bertempat di bawah kulit di atas permukaan daging, adanya Nafas, adalah, adanya Hidup, adanya Hidup, adalah, karena adanya Sir. Dzat dan Sipat. Dan Sir Dzat Sipat inilah, yang di sebut Jati Diri atau Diri Sejati, manusia Hidup.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Dibawah ini, uraian lengkap dari Tujuh Alam/Dimensi-nya manusia hidup yang sebenarnya/sesungguhnya, yang terdapat di dalam Wahyu Panca Gha’ib, dari awal hingga akhir Uni/Unen Kunci, yang terdiri dari tujuh ayat dan di baca tujuh kali, yang tak lain dan tak bukan, adalah Hakikat manusia hidup yang sesungguhnya/sebenarnya. Sebab itu, Wahyu Panca Panca Gha’ib, di sebut bukan apapun, kecuali Hidup kita sendiri.

TUJUH ALAM AKU Dan TUJUH AYAT KUNCI. Di Dalam “Wahyu Panca Gha’ib”
Ayat Pertama (1) Adalah; Gusti Ingkang Moho Suci.
Kalau artinya, saya percaya, semua orang jawa pasti tahu, asalkan jawanya belum hilang, akibat bergaulan yang melenakan, tapi kalau maksud dan tujuannnya, saya yakin, tidak semua orang tahu, sekalipun dia orang jawa. Maksud dari kalimat “Gusti Ingkang Moho Suci”. Adalah alam Awang Uwung, dalam istilah lainnya, di sebut juga sebagai Alam Gha’ibull-Guyyub, juga di sebut sebagai Alam Ahadiyah. Yaitu alam, di mana belum ada sifat, belum ada asma’ belum ada afa`al, dan belum ada apa-apa, dalam istilah pengertian ajaran agamanya, alam ini disebut sebagai Alam LA TA`YUN. Yang artinya adalah Dzat Al-hakki. “tidak ada apa-apa kecuali Dzat Maha Suci”. Alam ini adalah alam penegasan. Tujuan dari kalimah Gusti Ingkang Moho Suci”. Adalah memperkenalkan Diri-Nya, dalam memberi tanggungjawab, kepada cipta’annya, terutama manusia, serta di tajallikan-Nya Diri-Nya, dari satu peringkat ke peringkat lainnya, sampai lahirnya manusia berbadan rohani dan jasmani.

Adapun Alam/Dimensi Awang Uwung ini, terkandung di dalam Kunci, pada ayat pertama, yaitu (Gusti Ingkang Moho Suci), artinya. Esa pada Dzat semata-mata, maksudnya, masih belum ada apapun, kecuali Dzat Maha Suci itu sendiri, dan inilah yang di sebut Martabat Dzat, atau Alam Dzat, atau Dimensi Dzat yang Pertama. Pada alam/dimensi ini, diri Empunya Diri itu, (Zat Al-haki atau Dzat Maha Suci), semata-mata menamakan Diri-Nya Sendiri, sebagai. “Gusti Ingkang Moho Suci” yang maksudnya. Tidak ada permulaan dan tiada akhirnya, dan berwujud Hakiki Lagi Khodim.

Pada alam/dimensi ini, tidak ada sifat, tidak ada Asma, dan tidak ada Afa’al, serta tidak ada apa-apa, masih awang uwung, suwung/Kosong, kecuali Dzat Mutlak-Nya semata-mata, maka berdirilah Dzat itu, dengan Dia semata-mata, dari dalam keadaan ini, dinamakan “Gusti Ingkang Moho Suci”, artinya diri Dzat, atau juga di namakan Dzat Maha Suci, yang maksudnya, tidak bisa di campuri dan tercampuri oleh apapun, kecuali Suci itu sendiri.

Ayat Kedua (2) Adalah; Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci.
Maksud dari kalimah “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci”. Adalah Alam/Dimensi Laku, yang juga di sebut sebagai Alam/Dimensi Wahdah, yang merupakan proses pentajallian-Lakunya diri, yang arti dan maksudnya adalah. Empunya Diri, telah mentajallikan/memproseskan diri-Nya, dari alam awang uwung, suwung/kosong, ke suatu alam/dimensi sifat, yaitu “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci” sabagai noktah mutlak, adanya awal dan ada akhir.

Alam/Dimensi Laku ini, Juga ada yang menyebutnya, sebagai martabat atau alam/dimensi Wahdah, yang terkandung pada ayat kedua Kunci, yang berbunyi “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci” yang maksudnya tujuannya adalah, menjelaskan, tempatnya Dzat Maha Suci, tidak terselindung sedikit pun, meliputi tujuh perkara langit dan bumi seisinya.

Pada alam/dimensi kedua ini, Dzat Maha Suci, mulai bersifat. Sifat-Nya, adalah sifat bathin, jauh dari Nyata, bisa di umpamakan seperti sepohon kayu besar, yang subur, tapi masih di dalam biji. Artinya… Dia telah berwujud, wujudnya adalah biji, bukan pohon, sehingganya, pohon itu terkesan tidak nyata, tetapi nyata, nyatanya biji itu tadi, sebab itulah, pada alam/dimensi kedua ini, ayat kedua Kunci berbunyi. “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci” yang maksudnya adalah, tuan Empu-Nya Diri, tidak lagi Beras’ma, dan di alam/dimensi ini, terkumpulah Dzat Mutlak dan Sifat Bathin-Nya, telah sempurna, cukup lengkap segala-galanya, hanya terhimpun dan tersembunyi di balik hakikat-Nya “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci”.

Ayat Ketiga (3) Adalah; Sirolah Dzatolah Sipatolah.
Sama seperti yang lainnya. Kalau artinya, saya percaya, semua orang jawa pasti tahu, asalkan jawanya belum hilang, akibat bergaulan yang melenakan, tapi kalau maksud dan tujuannnya, saya yakin, tidak semua orang tahu, sekalipun dia orang jawa. Maksud dari kalimat “Sirolah Dzatolah Sipatolah”. Adalah Menjelaskan tentang Alam/Dimensi rahasia manusia, yang pada Alam/Dimensi ketiga ini. Setelah Empunya Diri kepada Diri, mentajallikan diri-Nya, ke satu alam/dimensi As’ma, sebagai Sir Dzat Sipat. atau dalam istilah lainnya, di sebut juga sebagai Hakikat Insan, yang artinya. keadaan tubuh diri rahasia manusia, telah terhimpun pada hakikinya Sir Dzat Sipat. Tujuannya untuk memperjelas letak masing-masing Hak-Nya, supaya bisa tepat, agar tidak salah arah dan tujuan.

1. Sir atau Ruh Suci, adalah (Hak Dzat Maha Suci).
Bentuknya Rasa. Tempatnya di hati (Bathin), jika Ruh ini keluar dari jasad, manusia akan mengalami kematian.

2. Dzat atau ruh ruhaniyah, adalah (Hak Hidup).
Bentuknya empat anasir. Tempatnya di dada (Jantung), dan pada 360 sendi/organ fital yang ada di seluruh tubuh/wujud badan manusia.

3. Sipat atau nyawa/sukma.
Adalah bentuknya angan-angan atau perasa’an. Tempatnya di kepala (Otak), ruh ini yang suka meninggalkan jasad, salah satunya saat tidur, lalu menimbulkan mimpi.

Sir. Dzat. Sipat ini, ada di dalam kunci ayat ketiga, yang berbunyi, “Sirolah. Dzatolah. Sipatolah”. Sedangkan maksud daripada Lah, adalah di olah, di gali, di pelajari, supaya mengerti dan paham, tentang ketiga inti piranti manusia hidup, tersebut Jati Diri atau Diri Sejati itu.

Hakikat nyawa/sukma, adalah Rasa jasmani, olahan dari empat anasir, tersebut. API – ANGIN – AIR – BUMI. pada waktu itu, mata terbuka belum bisa melihat, telinga belum bisa mendengar, hidung belum bisa mencium, mulut belum bisa berkata, hanya ada suaranya saja, setelah diberi asi atau makanan apa saja, yang berasal dari saripati Api, Angin, Air dan Bumi, maka dari saripati yang empat inilah, tercipta sipat nyawa atau sukma.

Empat Anasir;
1. Cahaya/Nur Darah Merah.
Berasal dari Saripatinya API, adanya pada DAGING, membesarkan dagingnya bayi, hawanya keluar melalui TELINGA hingga bisa mendengar.

2. Cahaya/Nur Dara Kuning.
Berasal dari Saripati ANGIN, adanya pada SUMSUM, membesarkan sumsum bayi, hawanya keluar melalui HIDUNG, hingga bisa mencium dan merasa.

3. Cahaya/Nur Darah Putih.
Berasal dari Saripati AIR, adanya pada TULANG, membesarkan tulang bayi, hawanya keluar melalui MATA, hingga bisa melihat.

4. Cahaya/Nur Darah Hitam.
Berasal dari Saripati BUMI, adanya pada KULIT, membesarkan kulitnya bayi, hawanya keluar melalui LIDAH/MULUT, hingga bisa berbicara.

Itulah hakikat hidupnya sedulur papat kita, yang berasal dari empat anasir. Tersebut; 1. NAFSU MUTHMAINAH, berdomisili pada HATI. 2. NAFSU ALUAMAH, berdomisili pada LIDAH. 3. NAFSU AMARAH, berdomisili pada TELINGA. 4. NAFSU SUPIYAH, berdomisili pada MATA. Sedangkan pancernya, adalah… Cahaya/Nur Darah Bening.

Ayat Ke’empat (4) Adalah; Kulo Sejatine Satriyo.
Kalau artinya, saya percaya, semua orang jawa pasti tahu, asalkan jawanya belum hilang, akibat bergaulan yang melenakan, tapi kalau maksud dan tujuannnya, saya yakin, tidak semua orang tahu, sekalipun dia orang jawa. Maksud dari kalimat “Kulo Sejatine Satriyo”. Adalah Alam/Dimensi Cahaya/Nur Darah Bening, atau juga bisa di sebut proses pertumbuhan/pengembangan. Setelah bayi membesar kulitnya, membesar dagingnya, membesar tulangnya, membesar sumsumnya, maka keluarlah hawa, sebagai pancernya. Sebab itu ayat ke’empat Kunci, berbunyi, “Kulo Sejatine Satriyo” yang artinya. Aku ini manusia hidup.

Singkat jelasnya seperti ini;
Kunci ayat ketiga, yang berbunyi “Sirolah. Dzatolah. Sipatolah”. Adalah alam/dimensi Jati Diri atau Diri Sejati “dan itulah, yang di sebut Jati Diri atau Diri Sejati-nya manusia hidup”. Sedangkan Kunci ayat ke’enam, yang berbunyi “Kangge Tumindake Satriyo Sejati” Adalah alam/dimensi AKU “ dan itulah yang di sebut Aku-nya manusia hidup”.

Ayat Kelima (5) Adalah; Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso.
Maksud dan tujuan dari kalimat “Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso”. Adalah memperjelas dan menegaskan tentang/soal roh. Yang pada alam/dimensi kelima ini. Empunya Diri, menyatakan dan mengolah diri-Nya, untuk membentuk satu batang tubuh halus, yang di sebut roh. Alam/Dimensi roh ini, juga di sebut sebagai Tubuh Hakikat Insan, yang mempunyai awal tiada berkesudahan. Dialah yang sebenarnya, yang dinamakan Diri Nyata Hakiki Rahasia Dzat Maha Suci, ada di dalam Diri Manusia. Jadi… Tubuh ini, merupakan tubuh bathin hakiki manusia, dimana bathin ini, sudah nyata Sirnya, Dzatnya dan Sifatnya, untuk menjadi sempurna.

Cukup lengkap seluruh anggota – anggota bathinnya, tidak cacat dan tiada cela. Tubuh ini, di sebut juga sebagai “Jisim Latiff” yang artinya adalah, satu batang tubuh yang liut lagi halus. Karena itu, ayat kelima dari Kunci. Berbunyi “Nyuwun Wicaksono Nyuwun Panguwoso” yang maksud dan maksudnya. tidak akan mengalami cacat, cela, dan tidak mengalami suka, duka, sakit, menangis, asyik, dan hancur binasa. Dan berdirilah Dia, dengan diri tajalli Dzat Maha Suci, hingga hiduplah Dia, untuk selama-lamanya.

Ayat Ke’enam (6) Adalah; Kangge Tumindake Satriyo Sejati.
“Kangge Tumindake Satriyo Sejati”. Adalah Alam/Dimensi Perjanjian. Maksud dan tujuan kalimat “Kangge Tumindake Satriyo Sejati. Bahwa ”Empunya Diri, menyatakan rahasia diri-Nya, untuk di tanggung oleh manusia. Untuk menyatakan, bahwa diri-Nya adalah Dzat Maha Suci, terus menyatakan diri-Nya melalui diri rahasia-Nya, dengan lebih nyata, dengan membawa diri rahasia-Nya. Sebab itu, ayat ke’enam Kunci, berbunyi “Kangge Tumindake Satriyo Sejati” yang maksud dan tujuannya, perjanjian yang tidak boleh di lupakan dan di abaikan serta di umumkan, sebab Dia adalah “DI”, “Wadi”, “Mani” . “Sperma” yang hanya boleh di salurkan ke satu tempat, yang bersekutu di antara diri rahasia bathin (roh) dengan diri kasar Hakiki, di dalam tempat yang dinamakan rahim. Hingga terbentuklah apa yang di katakan “Maknikam” ketika berlakunya persetubuhan diantara laki-laki dengan perempuan (Ibu dan Bapa). Tubuh rahasia yang tersebut Satriyo Sejati atau AKU ini, tetap hidup sebagaimana awalnya, tetapi di dalam keadaan rupa yang elok dan tidak binasa, dan belum lahir. Dia tetap hidup tidak mengenal akan mati.

Ayat Ketujuh (7) Adalah; Kulo Nyuwun Kangge Hanyirna’ake Tumindake Ingkang Luput.
“Kulo Nyuwun Kangge Hanyirna’ake Tumindake Ingkang Luput”. Adalah Alam/Dimensi Kembali atau Kepulangan-Nya si empunya Diri/Aku. Pada alam/dimensi kembali ini, yang juga disebut martabat/alam/dimensi “Inssanul Kamil” yang artinya, batang diri rahasia Dzat Maha Suci telah di Kamilkan, dengan kata lain, Jati Diri atau Diri Sejati atau Aku Sejati atau Satriyo Sejati atau Sejatine Satriyo-nya manusia, menjadi “Kamilul Kamil”, yang maksudnya menjadi satu pada lahirnya, yaitu manunggal wujud/badan rohani dan jasmani, yang kemudian lahir sebagai seoarang insan melalui faraj ibu.

Pada alam/dimensi ke tujuh ini, yaitu alam Insanul Kamil ini. Dia terkandung di dalam ayat ketujuh Kunci, yang berbunyi “Kulo Nyuwun Kangge Hanyirna’ake Tumindake Ingkang Luput”, yang maksudnya, berkumpul-lah seluruh proses perwujudan dan pernyataan diri rahasia Dzat Maha Suci, di dalam tubuh badan Insan, yang mulai bernafas dan di lahirkan ke Alam Maya yang Fana ini.

Untuk mengumpulkan seluruh proses pentajallian diri rahasia Dzat Maha Suci, dan pengumpulan seluruh alam-alam yang di tempuhinya, dari satu peringkat ke satu peringkat lainnya, dan dari satu alam/dimensi ke satu alam/dimensi lainnya. Kerana Dia merupakan satu perkumpulan seluruh alam-alam itu.

Maka,,, sejak di lahirkannya manusia ke alam maya, yang fana ini, bermulalah tugas manusia, untuk menggembalikan balik, semua dan segala diri rahasia Dzat Maha Suci itu, kepada Tuan Empu-Nya Diri, dan proses penyerahan kembalinya semua dan segala rahasia Dzat Maha Suci ini, hendaknya, dimulai dari sejak awal di lahirkannya manusia ke alam Maya dunia ini. Karena penyerahan kembalinya semua dan segala rahasia Dzat Maha Suci ini. Bukanlah hal yang mudah dan ringan serta remeh juga sepele, sekalipun seumur jatah hidupnya manusia di dunia fana ini, di pergunakan untuk menyerah kembalikan semua dan segala rahasia Dzat Maha Suci. belumlah cukup. (kecuali atas kehendak-Nya)

Jadi,,,, bagi siapapun yang sudah melampaui masa bayi, hingga berusia belasan tahun bahkan puluhan tahun sekarang ini, namun belum juga memulainya, sungguh rugi besar yang tiada terkira, dan itulah yang di sebut kegagalan total yang takan bisa di tebus dengan cara apapun, lantaran karena, persiapan untuk balik/pulang/kembali pada asal usul sangkan paraning dumadi itu, tidaklah mudah/gampang/ringan dan sepele. Jadi,,, tidak bisa hanya dengan berlenggang kangkung saja, masudnya “santai”.

Tujuan Turunnya Wahyu Panca Gha’ib ke marca pada ini. Tak lain dan tak bukan. Untuk memahami dan memegang satu Iman Mutlak, bahwa diri kita ini “sebenarnya” bukanlah diri kita, dan harus di kembalikan ke asal mulanya, yaitu Dzat Maha Suci. Dan untuk memperjelas kajian, agar dapat mengetahui sendiri, Hakikat Hidup Jati Diri-nya, dari mana asal mula yang sebenarnya, hingganya kita lahir di alam dunia maya ini. Dan supaya mengerti serta memahami, Hakikat Hidup Diri Sejati-nya, kemana harus kembali dan apakah tujuan sebenarnya. AKU ini di lahirkan.

Dengan mengetahui dan mengerti serta memahami Wahyu Panca Gha’ib yang sebenarnya, yang sesungguhnya, dalam kata lainnya, bukan hanya sekedar memiliki Wahyu Panca Gha’ib dan sebatas menjalannya katanya belaka. maka sudah pastilah, kita dapat mengetahui bahwa diri kita ini, adalah Sir Dzat Sipat-Nya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah semata-mata. Diri sir dzat sifat yang di tajallikan, dalam pernyata’an Sir Dzat Sifat-Nya Sendiri. Dan Dzat Maha Suci Memuji Diri-Nya, dengan Asma’-Nya Sendiri, yaitu Wahyu Panca Gha’ib, dan Dzat Maha Suci Menguji Diri-Nya Sendiri, dengan Afa’al-Nya Sendiri. Yaitu Wahyu Panca Laku.

Seperti Firman-Nya:
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”
Yang Artinya; Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya akan kembali.
Yang Maksud; Sesungguhnya diri mu itu Allah (Tuhan Asal Diri Mu) dan hendaklah kamu pulang menjadi Tuhan kembali.

He he he . . . Edan Tenan. Setelah mengetahui dan memahami secara jelas, lagi terang, bahwa asal kita ini adalah Tuhan, dan harus kembali menjadi Tuhan Lagi. Apakah itu hal yang mudah dan gampang serta ringan…?!

Laku Mengembalikan diri, Atau dalam istilah kata liannya, Penyempurn’an atau Menyempurnakan Jati Diri atau Diri Sejati, berati menyucikan lahir bathin, dan mengembalikan rahasia kepada Tuan Empunya Rahasia, maka manusia itu semestinya, meningkatkan kesuciannya, kesadarannya, sampai ke peringkat asal mula kejadian rahasia Dzat Maha Suci. Bukan “warung kopi” yang hanya ada sejarah cerita iri, salin saing menyaingi-debat-gunjing menggunjing, iri-dengki-fitnah-benci-sikat sikut sana sini yang menimbulkan, angkara murka, dendam dll.

Ajaran apa yang mengajarkan hal ini, tentang ini dan soal ini…?!

Wahyu Panca Gha’ib…

Wahyu Panca Gha’ib yang mana dan yang bagaimana…?!

Bukankah sudah teramat banyak orang yang memiliki dan menjalankan Wahyu Panca Gha’ib…?!
Dan dengan itu, sudahkan berkurang permusuhan antar saudara diantara kita…!!!
Sudahkan kita salin Mencintai-Mengasihi-Menyayangi semuanya, khususnya sesama Hidup…!!!
Sudahkan kita Pasrah. Menerima dan Mempersilahkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah kita dalam segalah halnya kita…!!!

Wahyu Panca Ghaib sekalipun, jika tidak di ibadahkan dengan Wahyu Panca Laku. Artinya, tidak di jalankan – tidak di praktekan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Tidak akan pernah ketemu/bertemu ujung pangkalnya. please think about…

Sesunggunya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dalam mengenalkan diri-Nya, melalui lidah dan hati manusia, karena Dia telah mentajallikan Diri-Nya, menjadi rahasia kepada diri manusia. Maksudnya; “Manusia itu adalah rahasia-Ku dan AKU adalah rahasia manusia itu sendiri”. Jadi, selama lidah dan hati kita masih pecadal pecodol, pagi tahu, siang tempe, malamnya tauge. Hanya capek dan tambah bingunglah yang akan dialaminya.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Hakikat Hidupnya Jati Diri atau Diri Sejati Dan Aku Sejati atau Sejati-Nya Aku:


Hakikat Hidupnya Jati Diri atau Diri Sejati Dan Aku Sejati atau Sejati-Nya Aku:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Selasa Pon. Tgl 20 September 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Ketahuilah dengan kesadaran murnimu. Bahwasannya. Badan kita yang dzahir/nyata ini, yang bisa dilihat dan di sentuh ini, adalah perwujudan Hidup kita yang gha’ib, yang tidak bisa pandangan mata dan tidak bisa disentuh. Untuk bisa melihat dan menyentuh Hidup kita yang gha’ib itu, diperlukan bayangannya hidup tersebut, yaitu badan kita yang dzahir/nyata ini. Maka dari itulah, dikatakan, badan kasar kita ini, hanya ‘sarung’ atau ‘tunggangan’ atau ‘sangkar’ bagi Hidup kita yang ghaib itu.

Apabila Hidup itu keluar dari badan kita ini, maka tertinggal-lah badan itu, dan lama kelama’an, jadi hancur lebur. Tapi ada yang tidak hancur setelah di tinggalkan Hidup, yati roh, yang lebih di kenal dengan sebutan sedulur papat atau mutmainah, aluamah, amarah, supiyah. Mungkin Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, pernah mendengar cerita, ada orang melihat dalam dunia ini ‘bayangan’ atau ‘badan’ orang yang telah lama meninggal dunia, muncul berlakon dan beraksi sebagaimana hidupnya dalam dunia dahulu, sebenarnya itu bukanlah badan orang itu yang sebenarnya. Karena, firman-Nya, badan akan hancur binasa setelah di tinggalkan Hidup. Jadi, ‘bayangan’ atau ‘badan’ itu, adalah roh, dan roh inilah, yang akan menghadapi pengadilan Dzat Maha Suci di akherat, untuk mempertanggung jawabkan, semua dan segala amal perbuatannya selama di dunia.

Itu sebab disebutkan, bahwa Diri kita ini, terdiri dari tiga unsur. Pertama, yaitu unsur badan kita, yang berasal dari tanah, dan akan mengalami proses hancur, jika di tinggal Hidup kita. Kedua, yaitu unsur roh kita, yang berasal dari empat anasir dan tidak bisa hancur, karena harus mengalami proses pengadilan akherat, atas amal perbuatan kita selama di dunia, setelah di tinggal Hidup kita. Ketiga, unsur Roh Suci atau Roh Kudus atau Hidup kita, yang berasal dari Dzat Maha Suci, dan akan kembali kepada Dzat Maha Suci tanpa proses apapun.

Dan tiga unsur inilah, yang saya sebut Jati Diri atau Diri Sejati, yang pengertiannya sering saya uraikan di beberapa artikel saya, di internet. Untuk itu, jika Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, membaca artikel saya, dan menemukan istilah kata Jati Diri atau Diri Sejati. Berati mencakup tiga unsur itu. Yaitu raga atau wujud dan empat anasir atau roh serta Hidup atau Roh Suci.

Setiap orang, hendaklah mengenal akan jati diri atau diri yang sebenar-benarnya, yaitu yang berunsur berunsur tiga, yang sudah saya uraikan diatas, agar supaya tidak mensia-siakan kehidupannya selama di dunia fana ini. Karena kehidupan kita, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan akan berkelanjutan ke akherta nanti, dan dunia akherat itu, kekal dan abadi, tiada ujung dan berakhir. Nilai buruk atau baik, bukan dilihat dari segi kekayaan harta, pangkat atau jabatan yang diperoleh di dunia ini. Melainkan dari IMAN kita yang tidak terduakan, dan soal iman itu apa dan bagaimana, di artikel lainnya, saya sudah pernah mengungkapnya. Dengan kenalnya kita kepada Diri atau Jati Diri yang sebenar-benarnya, maka kita tidak akan kenal dengan yang namanya putus asa, kita tidak akan takut, tidak bimbang, tidak ragu, dalam mengarungi bahtera kehidupan kita yang fana/pana ini.

Hal ini, di karenakan, kita tahu sendiri, bukan katanya, bahwa Diri kita ini, adalah kekasih Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Dan sebenarnya… Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, mengasih diri kita lebih dari ibu yang mengasihi anak kesayangannya.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian. Sungguh… Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu. Maha Cinta Kasih Sayang terhadap hamba-hambanya, tanpa terkecuali. Untuk itu, kenalilah dirimu, ketahuilah jati dirimu, agar tahu sendiri, bukan katanya. Maka,,, tidaklah kita takabur, sombong, congkak, dengki, iri hati, khianat, karena kita tahu siapa diri kita sebenarnya.

Sebenarnya kita Tenteram “tiada apa-apa” hanya ayat-ayat-Nya saja. Sejatinya diri kita adalah penguasa dan pengurus.
Sesungguhnya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, menjadikan alam dan makhluk untuk kita, dan menjadikan kita untuk Dia. Sebab itu ada ayat al-qitab yang menegaskan”inna lillaahi wa inna illaaihi rojiun”

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian. Kalau sudah mengerti dan memahami tiga unsur yang di sebut Jati Diri atau Diri Sejati ini. Jangan berhenti. Teruslah belajar dan berlatih. Karena masih ada kelanjutan seterusnya lagi. Yaitu tentang AKU. Maksudnya, setelah Jati Diri atau Diri Sejati ini sudah di mengerti dan di pahami, akan muncul AKU, atau Aku Sejati atau Sejatinya Aku.

AKU atau Aku Sejati atau Sejatinya Aku yang hakiki ini, mempunyai ilmu. Ilmunya adalah limpahan dari ilmu Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Seluruh alam ini, ada di dalam AKU. Dalam AKU, ada surga, neraka, dunia, akhirat, malaikat, iblis bahkan seluruh cipta’an Dzat Maha Suci TuhanAllah lainnya. Semua ini ada di dalam AKU, karena AKU tahu semua itu. AKU telah diberitahu melalui ayat-ayat Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang tersurat dan tersirat, bahwa semua perkara tersebut ada, dan AKU ‘merasai’ adanya. Oleh karena itulah. AKU ini mempunyai ilmu yang meliputi segala-galanya. Semua itu adalah limpahan karunia Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

AKU sebenarnya, hanya mengagungkan dan memuja serta menuju Dzat Maha Suci Tuhan/Allah saja, tidak dan bukan yang lain. AKU tidak mengagungkan apa-apa pun jua selain Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Pada pandangan AKU, tidak ada yang kuat dan gagah melainkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Tidak ada yang bijaksana melainkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Tidak ada yang kaya melainkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Semua kekayaan, kegagahan, kebijaksanaan, keindahan adalah “Pangestu lan Pangayomaning Gusti” Maksudnya sebagai limpahan karunia Dzat Maha Suci Tuhan/Allah semata-mata. Oleh karena itu, AKU tetap dengan puja dan puji hanya kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah saja, tidak akan membagi-bagi Iman Cinta Kasih Sayangnya kepada apapun dengan apapun selain Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
AKU tetap melihat Dzat Maha Suci Tuhan/Allah di balik segala yang maujud atau perkara yang ada. Apapun yang “nampak” perbuatan dan kelakuan dan arah mana memandang disana “nampak” Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Oleh karena itu. AKU tidak akan membalas benci dengan balik membenci. AKU tidak akan membalas Fitnah dengan mengfitnah balik. AKU tidak akan menghina siapapun yang menghina.

AKU hanya tunduk kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah saja. AKU tidak dikuasai oleh siapapun dan apapun jua. Alam ini tunduk kepada AKU. Semua makhluk tunduk kepada AKU atas perintah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. AKU adalah Khalifah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah atau wakil Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang mengurus makhluk dengan isinya. Segala yang ada di langit dan di bumi semua untuk AKU. Kalau dunia ini ladang. Maka AKU pengurusnya dan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang empunya ladang itu.Namun Dzat Maha Suci Tuhan/Allah tidak perlu apa-apa. Hanya AKU yang memerlukan Dia. Hanya AKU yang memerlukan dunia. Sebab itu Makhluk yang ada di dunia adalah untuk AKU. Semuanya adalah karunia dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah untuk AKU. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah jadikan semua makhluk untuk AKU. Demikian mulianya AKU.

AKU itu berilmu. Ilmunya adalah limpahan ilmu Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Ilmu itu meliputi yang diketahui. Apa yang diketahui itu adalah kandungan ilmu. Oleh karena AKU adalah ilmunya, dan yang diketahuinya adalah sebenarnya ‘bersatu’, ‘bersama’, dan tiada bercerai. AKU itu tahu. Apa yang AKU tahu itulah kandungan ilmu AKU. Bermacam-macam yang diketahui oleh AKU. Semua itu kandungan ilmu AKU. Semua itu tiada terpisahkan dari AKU. AKU tidak megah dan tidak bangga. Orang yang telah kenal AKUnya, tidak memiliki sifat-sifat yang tercela seperti takabbur, congkak, sombong, kikir, iri, dengki, fitnah, dendam, khianat, mengumpat dan semua penyakit hati. Karena AKU tahu. Sifat-sifat tercela itu tidak perlu baginya. Segala sifat tercela itu dengan sendirinya hilang dan diganti dengan sifat-sifat terpuji. Apa yang hendak dimegah-megahkan, dikhawatirkan, ditakutkan?, karena AKU ini sebenarnya tiada apa-apa. AKU itu kosong belaka. Yang ada hanya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah memiliki segala-galanya. Dia yang patut dipuji dan dipuja.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Walaupun dari segi kehidupan dunia ini, seseorang itu miskin harta, tetapi kalau jiwanya kenal diri sejatinya dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah-nya, ia tetap kaya. Kaya pada rasaannya.Walaupun susah kehidupan dunianya,. AKUnya tetap merasa bahagia. Walaupun badannya lemah. AKUnya tetap kuat. Walaupun kesunyian tanpa rekan, namun tetap damai. AKU yang telah ‘menyerap’ dalam Yang Maha AKU, atau jiwa yang ‘menyerap’ dalam Jiwa Semesta atau rasa yang ‘menyerap’ dalam Perasaan Sejagat Raya, atau diri yang ‘menyerap’ dalam Diri Semesta Raya. Maka tidak akan merasa lemah, tidak akan merasa susah, tidak akan merasa jatuh, tidak akan merasa duka, dan tidak akan merasa sunyi.

Tujuan AKU ialah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, bukan sorga, neraka, hutan, jembatan, rumah kosong atau reinkarnasi. Yang diharapnya ialah Pangestu dan Pengayoman-Nya, maksudnya keredhaan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.Yang diminta ialah keampunan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Pada pandangan AKU, kehidupan akhirat itulah yang utama. Kembali ke hadirat Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itulah yang diidamkannya. AKU tidak takut berpisah nyawa dari badan karena ‘mati’ sebenarnya berpindah alam, dari alam dunia ke alam barzakh. AKU tetap AKU juga. Walaupun badan hancur, tetapi AKU tidak hancur. AKU akan peduli ketika hijab-hijab pada jasad telah hilang dan pengadilan akan roh telah uasi. AKU tidak merasa hina karena miskin papa atau buruk rupa atau cacat tubuh atau tidak berpangkat atau tidak banyak kawan atau tiada harta benda sedikitpun jua. Semua itu berkaitan dengan keduniaan dan kebendaan, tidak ada sangkut pautnya dengan AKU yang bersifat kerohanian. AKU hina jika menduakan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. AKU hina jika membagi iman kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah dengan selain Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. AKU hina jika tidak beriman dan tidak bertakwa, itulah kehinaan pada AKU yang sebenar-benarnya.

AKU tidak megah dengan harta benda, uang, pangkat jabatan, kekuasaan, sanak, famili, anak, istri, suami, saudara, keluarga bahkan kedua orang tua, selain hanya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. AKU tidak iri hati dengan orang kaya. tidak dengki dengan orang-orang berpangkat tinggi. Pada pandangan AKU, segala harta benda, uang, pangkat jabatan, istri, anak pinak, saudara dan sebagainya itu, adalah milik Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang dianugerahkan-Nya, kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dia yang menentukan siapa yang patut diberi harta banyak dan siapa yang patut diberi-Nya harta yang sedikit. Semua itu Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang menentukan. Ketentuan-Nya tidak dapat disanggah dan dipermasaalahkan. Kenapa AKU mesti gusar dan iri hati dengan ketentuan-Nya. Dia yang AKU puji dan puja, tentulah AKU redha dengan ketentuan-Nya.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
AKU itu diri sejati. Diri manusia itu banyak, tetapi berasal dari Diri Yang Satu. Diri itu roh. roh itu banyak, tetapi berasal dari Satu Roh yaitu AL-ROH. Al-Roh itu diberi gelar oleh orang-orang Sufi sebagai Hakekatul Muhammadiyah atau juga di beri gelar sebagai Insan Kamil atau Insan Kabir.

AKU tidak kagum dengan kemajuan manusia. Tidak kagum dengan kemajuan sains dan teknologi, kemajuan perniagaan dan perindustrian. Bahkan AKU tidak heran dengan segala urusan keduniaan. Yang diherankan oleh AKU, ialah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, Bijaksanaan-Nya yang melimpahkan segala ilham atas kemajuan itu. Sebenarnya Dialah yang maju dan Dialah yang bijaksana. Dia yang memiliki segala ilham. Sumber ilham kemajuan itu dari Yang Memiliki Ilham itu sendiri, yaitu Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

AKU berasal dari tempat yang tinggi dan mulia, yaitu Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Kemudian datang sebentar ke alam bumi dan di-jasad-kan dengan badan jasmani, untuk waktu yang ditentukan, seperti merantau sebentar di alam bumi ini. Apabila sudah cukup waktunya berada di perantauan, AKU pun kembali pulang menuju ke tempat asal. Ibarat perantau kembali ke kampung halaman. Tidaklah terkira hati berasa nyaman. Tetapi jika diperdalam, direnung dan dikaji. AKU tetap berada di tempat sendiri. Bukan dari mana dan ke mana pergi. Kapan dan di manapun juga. AKU tetap di tempat sendiri. AKU datang dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, tidak bercerai walaupun seinci dan sesaat. AKU tetap bersama setiap masa dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Dulu AKU bersama dengan-Nya, sekarang pun bersama dengan-Nya, akan datang pun bersama dengan-Nya. Senantiasa AKU terus bersama-sama dengan-Nya. AKU ini tetap AKU, bersama Dzat Maha Suci Tuhan/Allah senantiasa. Hanya alam-alam yang ditempuh saja yang berbeda , dari satu alam ke satu alam yang lain. AKU senantiasa kekal dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah , walaupun di alam mana pun AKU berada.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
AKU senantiasa menyerahkan diri hanya kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Penyerahan total, bulat sepenuhnya. AKU menyerahkan diri kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, ibarat bayi menyerahkan dirinya kepada ibunya, ibarat mayat menyerahkan dirinya kepada pemandi mayat, ibarat ombak mem-fana-kan atau melenyapkan dirinya kedalam lautan. Bahkan lebih dari sekedar dari itu lagi. Tidak dapat digambarkan lagi.

Hubungan AKU dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, ibarat hubungan matahari dengan cahayanya, ibarat ombak dengan laut, ibarat gula dengan manisnya. Semua ini menunjukkan betapa rapat AKU itu dengan Khaliknya. Kalau mau di ibaratkan lagi, ialah seperti pelukis dengan lukisan, pengukir dengan ukiran, pengarang dengan karangan, pencipta dengan ciptaannya. Ini adalah ibarat untuk menunjukkan bahwa AKU dengan alam semesta raya ini, adalah tanda-tanda atau manifestasi Wujud Dzat Maha Suci Tuhan/AllahYang Esa itu. AKU ini suci, karena AKU limpahan Nur Dzat Maha Suci, dan yang di sebut suci itu, bukan warna bukan bentuk, melainkan Roh Suci/Kudus yang tidak bisa di campuri dan tercampuri oleh apapun, jika ingin mendekati dan menemui suci atau manunggal/menyatu dengan AKU/SUCI, maka harus suci Jati Diri atau suci Diri Sejatinya.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Ketahuilah,,, akan siapakah yang disebut AKU ini. Karena AKU inilah, kita barulah bisa tahu dan mengenal akan hakikat sebenarnya Rahsia keTuhananmu.

Maka dengan ini ku uraikan suatu keterangan buatmu sekalian dan ku bukakan tabir rahsia untukmu sekalian, agar Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian… tahu dan mengerti apakah dan siapakah yang dimaksudkan kepada AKU. AKU. Adalah satu kalimah, dan Dia tidak mewakili berbagai jenis kelamin lelaki atau pun wanita, dan lagi, Dia terlepas dari anggapan itu. AKU adalah satu hal yang tidak ada padanya gambaran yang nyata, kerana Dia bersifat tidak nyata (GHA”IB), dan sesungguhnya AKU itu, adalah satu rahasia yang di tajjallikan oleh Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Dia menjadi penyata bagi Zatullah. AKU adalah merupakan Sifat keTuhanan yang terbit dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Padanya pula terdiri akan Sifat-Sifat Kebesaran dan Kekuasaan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, kerana Dia (aku) itu, adalah Penyata bagi Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, atau dengan kata lain Dia (aku) itulah Kenyataan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Sesungguhnya Dzat Maha Suci itu, tidaklah dapat kita ketahui, akan keadaan diri-Nya, dan jauh sekali, untuk kita mengatakan. Dia itu berupa dan dab serupa macam-macam anggapan, kerana Dia tidak menyerupai dengan sesuatu apa pun. Oleh kerana itulah. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, mau memperkenalkan DIRINYA, maka Dia telah menyatakan akan Sifat keTuhanan-Nya, dan Dia yang bernama AKU. Dalam ilmu hakikat agama. AKU ini digelarkan oleh mereka, dengan nama AMAR ROBBI , artinya urusan Tuhan, dan ia membawa makna kepada keadaan Tuhan padanya.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Jangan salah paham dan Perlu di ingat. Bahwa AKU itu, bukanlah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, akan tetapi. Dia adalah Penyata yang dinyatakan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, agar Dia nyata, maka apabila Dia (aku) nyata, maka nyatalah Kebesaran Kuasa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu. Maksudnya begitu, kerana kalau Dia tidak nyata, maka Kebesaran Kuasa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu, tidak akan nyata, dan kita tidak akan tahu kalau Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu ada, walaupun Dia ada.

Dengan Spiritual Hakikat Hidup, didalam Wahyu Panca Gha’ib, yang saya praktekan dengan munggunakan Wahyu Panca Laku, yang sedang saya pelajari sekarang ini. saya ingin menyatakan bahwa AKU itu, adalah “IMAN” dan dia merupakan titik pertama yang dinyatakan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, pada jasadku ini. Apabila Dia berada didalam badan diri ini, maka Dia telah menjadi DIRI pula. AKU yang tadinya merupakan titik atau noktah awal, kini telah berkembang menjadi DIRI dan diri itulah Cahaya Ketuhanan atau Iman, yang dinyatakan-Nya, daripada-Nyalah (AKU) mendatangkan kehidupan kepada badanku ini.

Pada AKU itu, ada berbagai macam rahasia, dan Dia merupakan satu amanah/utusan dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah kepada kita ini. Asal kita mau, pasti kita akan dapat sesuatu darinya, tetapi dengan syarat, kita mesti mengenal dan mengetahui akan keadaaan-nya terlebih dahulu. AKU yang tidak berupa dan berwarna ini, hanya mampu kau tahu saja, kerana Dianya satu hal yang terahasia dari keadaan sifat kezahiran rupa paras dan bentuk. Oleh itu kita hanya mampu tahu dan merasai saja, akan keberadaan AKU pada badan diri kita ini. AKU merupakan induk kepada kehidupan kita ini, tanpa AKU kita akan mati.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Ketahuilah, bahwa AKU itu, adalah Iman. Iman itu Hidup. Hidup itu berasal dari Dzat Maha Suci, serta hanya akan kembali kepada Dzat Maha Suci. Dzat Maha Suci adalah asal usul kita. AKU adalah satu-satu pengantar yang bisa mengatarkan kita pulang kepada asal usul kita, yaitu Dzat Maha Suci, kerana itulah asal diri kita, dan asal dibalik asal kita itu, adalah dari Dzat Maha Suci, serta semua yang ada ini, berasal dari-Nya jua. Karena itu, usah kita berdebat tentang-Nya, jangan bicara soal keadaan Dzat Maha Suci, sebab tidak ada satupun yang mampu untuk itu, cukuplah kita bicara Tentang AKU dan Soal AKU. kerana Dia adalah asal mula diri kita, dan dari-Nya diri kita terbit, kata singkat dariku. Pandai- pandailah “mengenal diri mengenal Tuhan” dan AKU itulah Dzat Maha Suci bagi diri, dan diri itu kenyataan AKU.

AKU…….adalah kenyataan Dzat Maha Suci, dan Dia adalah sifat kesempunaan-Nya, bila AKU menerima badan, maka diriku terbit mendatang pula, dan aku lenyap didalamnya, itulah saya Wong Edan Bagu, mengatakan ianya adalah Dzat diri, bukan Dzat Maha Suci, kerana AKU adalah AKU dan AKU bukan TUHAN dan TUHAN adalah TUHAN dan TUHAN bukan AKU, akan tetapi AKU datangnya dari TUHAN. He he he . . . Edan Tenan.

Renungilah olehmu wahai Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Dengan pandangan basirahmu, agar kau tahu dan mengerti serta paham, lalu temuilah AKU-mu, kehidupan yang kita ada ini, merupakan dalil penyataan dari perbuatan AKU, yang mana Dia terjadi melalui proses-proses semulanya jadi. AKU…..yang menanggung amanah dari Tuhan, membawa dan menerima suatu tugas yang besar, didalam menjalani kehidupan didunia maupun akhirat.

Ingat-ingatlah wahai Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Dalam perjalanan spiritualmu itu, pastikan kita meletakkan semua pengharapan kepada AKU, kerana AKU itu cukup mencukupi bagi kita, rahasia Dzta Maha Suci Tuhan/Allamu, yang Maha Kuasa atas segalanya itu, yang menjadi bekal kita. AKU……..yang hidup tiada mati, kekal tiada binasa, menjadi diri bagi badan kita sendiri, dan kini AKU bergerak pada jalanku, yiaitu jalan rahasia Dzat Maha Suci menuju Dzat Maha Suci. Itulah Hakikat Hidupnya Jati Diri atau Diri Sejati Dan Aku Sejati atau Sejati-Nya Aku , yang bisa saya uraikan dengan apa adanya, sesuai yang saya ketahui dari Bukti nyata, hasil Praktek Laku Spiritual Hakikat Hidup pribadi saya di TKP. Sampai jumpa di artikel selanjutnya, tentang Tujuh Alam atau Dimensi AKU, yang berhasil saya temukan juga, didalam Wahyu Panca Gha’ib. Dengan Judul Artikel; TUJUH ALAM AKU Dan TUJUH AYAT KUNCI. Di Dalam “Wahyu Panca Gha’ib”

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Detik-Detik Perjalanan Spiritual Wong Edan Bagu:


Detik-Detik Perjalanan Spiritual Wong Edan Bagu:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Rabu Pahing. Tgl 14 September 2016

Salam Rahayu Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian… Secara spiritual pada umumnya, baik itu Syare’at maupun Hakikat, Thareqat atau Tasawuf maupun Ma’rifat, sayapun sama seperti pada umumnya para pembelajar ilmu atau penghayat kepercaya’an, saya panatik, mudah tersinggung jika ada yang menganggap remeh apa yang sedang saya pelajari, apa lagi jika menyangkut agama yang saya yakini, saya berani berdebat habis-habisan. Walau saya tidak faseh/fasik dalam membaca ayat-ayat al-qitab, tapi saya mengerti dan paham makna dan arah serta maksud dari sebuah ayat yang tersirat di dalam al-qitab. Jadi, kalau ada yang bertentangan dengan ayat-ayat al-qitab yang saya yakini kebenarannya, saya langsung melabraknya.

Jika ada tetangga yang tidak beribadah/sembahyang, dengan mudahnya saya langsung katakan kafir, calon intip neraka jahanam, kalau ada orang yang berdoa di kuburan atau tempat-tempat keramat, tahlil atau manakip yang tidak sesuai dengan tuntunan yang semestinya, dengan gampangnya saya katakan bit’ah, sirik, musrik, sesat dll. Bertemu teman atau sahabat, tidak peduli di mana tempatnya, saya ceramahi dengan dalil-dalil serta ayat-ayat yang saya ketahui, lalu saya ajak untuk mengikuti apa yang saya yakini, baik secara halus maupun paksa. Neraka dan Surga, selalu jadi pacuan andalan saya, untuk menakuti dan mengiming-imingi siapapun yang menurut saya, sedang saya ajak ke jalan yang baik dan benar. Dan pada umumnya,,, sama seperti saya ini.

Hingga pada suatu ketika, saya merasa capek dengan semua itu, karena menurut pemikiran saya pada sa’at itu. Saya gembar gemborkan neraka dan surga, namun saya sendiri, belum tahu benar tentang neraka dan surga itu, saya baru sebatas katanya al-qitab dan para guru pembimbing saya, lagi pula, Tuhan adalah Maha Kuasa, bahkan Maha diatas segala yang Maha. Artinya… Jika Tuhan mau, Dia tinggal berkata bim salabim. Selesai dan TamaT.

Lalu,,, apa gunanya saya membela Tuhan? Apa manfaatnya saya lantang berbicara neraka dan surga, hingga saya habis-habisan, bahkan mati-matian berdebat, bertengkar, berselisih, salin sinis dan benci satu sama lain, bahkan bermusuhan dengan orang-orang, yang pada hakikatnya, adalah saudara-saudari saya sendiri, karena satu kakek nenek moyang, yaitu Adam dan Hawa. Kalau ini saya terus-teruskan, saya bisa senewen sendiri, dan sama halnya, saya menganggap Tuhan itu tidak kuasa dan bodoh, sehingga perlu saya bela dan di pembela.

Karena itulah, kemudian, pemikiran itu saya buang jauh-jauh. Dan saya rubah, menjadi diam, apapun yang saya lihat dan apapun yang saya dengar, cukup saya anggap angin lalu saja, sehingganya, tidak ada perdebatan, tidak ada pertengkaran, dan tidak ada lagi permusuhan. Dan menitikan fokus hanya kepada Tuhan, bukan yang lainnya.

Karena sudah enggan pada para guru yang membimbing saya pada sa’at itu, sebab saya hanya di beri pelajaran yang tak ubahnya seperti teka teki silang, yang ujungnya harus saya cari sendiri. Lalu saya memilih, untuk mempraktekan ayat-ayat al-qitab yang terkait langsung dengan Tuhan, yang saya hapal kalimah dan artinya.

Pertama. Dua kalimah syahadat;
Yang berbunyi “Asyhadu allaa ilaaha illallah-Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah” dan kurang lebihnya berarti seperti ini. “Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah-Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”

Kedua. Surat Al-baqarah ayat 115;
Yang berbunyi “Walillahil masyriqu wal maghribu fa-ainamaa tuwalluu wajhullahi innallaha waasi’un aliimun” dan kurang lebihnya berarti seperti ini. “Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap maka disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas (rahmatNya) lagi Mahamengetahui”

Ketiga. Surat al-baqarah ayat 156;
Yang berbunyi “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” dan kurang lebihnya berarti seperti ini. “Sesungguhnya kami adalah kepunya’an Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali”

Ke’empat. Dua Sabda Rasullullah shallallahu alaihi wa sallam dalam Al-qitab hadist;
Yang kurang lebih artinya seperti ini. “Allah Ta’ala berfirman; Aku sesuai persangka’an hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat sendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

Berbekal Bahan Dua Kalimah Syahadat dan Dua Ayat Al-qitab serta Dua Hadist inilah. Saya keliling menjelajah luasnya dunia ilmu spiritual. Fokus saya baca. Fokus saya pikir dan saya bathin. Fokus saya kaji. Fokus saya hayati. Fokus saya pelajari. Fokus saya resapi. Lebih dalam dan jauh lebih mendalam lagi. Semuanya saya tanggalkan, segalanya saya tinggalkan, hanya Tuhan/Allah yang ada, semuanya saya anggap tidak penting dan tidak perlu.

Dari satu tempat ke tempat lainnya, yang di katakan oleh kebanyakan orang, angker, wingit, bahaya dll, saya tidak peduli. Saya datangi dan saya tempati untuk mempelajari dan mempraktekan Dua Kalimah syahadat dan dua Ayat serta dua Hadist yang sudah saya sebutkan diatas tadi. Walau banyak rintangan dan hambatan yang menderai saya, dan saya berjuang tanpa menyerah, Hingga akhirnya saya berhasil menemukan Hakikat Hidupnya Dua Kalimah syahadat dan dua Ayat serta dua Hadist tersebut, yang sebenarnya, jadi, bukan hanya sekedar katanya al-qitab dan hadist belaka.

Lalu, dari pengasingan, saya kembali berbaur dengan masyarakat umum, dengan berbangga diri, karena menurut saya, mereka yang amalnya hebat dan luar biasa, ibadahnya tekun, belum tentu mengetahui dan mengerti apa yang mereka geluti itu, mereka yang selalu berteriak memperdebatkan neraka surga dan Tuhan, tapi mereka belum memahami, apa yang mereka perdebatkan itu, karena saya tahu betul, untuk mengetahui semua itu, tidaklah mudah, tidak cukup hanya dengan hapal al-qitab dan hadist serta beramal dan beribadah saja. Melainkan perlu tekad pengorbanan dan niyat yang tulus serta fokus hanya pada satu titik saja, yaitu Tuhan. Tidak bisa di campuri dengan apapun dan tercampuri oleh apapun. Itupun jika tanpa praktek, tidak bisa.

Dan… ternyata benar, yang mengetahui wali itu, adalah wali itu sendiri, artinya, yang mengetahui kalau seorang itu wali, adalah seorang wali juga. Tanpa saya beriklan kesana sini, banyak sahabat-sahabat saya, semusyafir, seperjalanan saat mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya, sebuk mencari saya, dan berdatangan silih berganti, untuk salin asah asih asuh dalam belajar, sehingga kamipun, salin berbagi pengalaman. Dan bagian inilah,,, kesadaran murni saya terkikis hingga habis. Mentang-mentang saya sudah tahu, bahwa tidak selembar daunpun, yang jatuh kebumi tanpa kehendak Tuhan. Yang artinya, bahwa semua dan segalanya itu adalah perwujudan Tuhan. Yang wajib di pelajari dan di ibadahi sesuai Firman-Nya, etika sipat dan sikap saya sebagai manusia hidup, tidak terpakai. Saya lupa dan tidak ingat, kalau saya ini, bukanlah seorang Nabi atau Malaikat. Melainkan manusia hidup di dunia fana, yang memiliki tanggung jawab dalam kehidupan yang wajar dan murni serta asli dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Sehingganya, saya sering melakukan kebohongan-kebohongan kepada banyak pihak, salah satu contohnya, jika ada yang datang ingin belajar mengenal Tuhan, saya atur sedemikian rupa, karena mengingat, lelaku saya yang tidak mudah dan ringan, saya berbelit-belit, maksudnya tidak langsung tutup poin saja, muter-muter dulu, dengan politik dan ego saya, tujuannya baik, untuk menguji iman dan tekad niyat seseorang itu, seberapa kuatnya. Jika sudah saya uji dengan berbagai macan ego kepentingan saya, termasuk soal duit/uang, seseorang itu, tetap bertekad dan berniyat belajar mengenal Tuhan, baru saya ajari, itupun sedikit demi sedikit, karena ego saya mengatakan, watirnya seseorang itu, tidak kuat/mampun, jadi, biyar kuat dan mampu, harus sediki demi sedikit, kan lama-lama menjadi bukit. Begitu dan selalu begitu tiap ada seseorang yang datang menemui saya, untuk minta di bimbing dalam mengenal Tuhan.

Selain itu, juga kalau ada seseorang yang datang, untuk meminta pertolongan tentang kesembuhan suatu pengakit atau penyelesaian masalah, saya sugesti mereka dengan benda-benda pusaka, seperti keris, batu akik, atau rajahan-rajahan tertuliskan aksara arab yang saya buat sendiri atau hasil karya sahabat saya. Tidak langsung di mohonkan kepada Tuhan, saya dogma dan saya segesti dulu dengan berbagai macan ego kepentingan saya, yang ujung-ujungnya duit. Bahkan tidak jarang, saya beri mereka kesan tentang arwah atau roh gentayangan yang bisa mengganggu manusia, hingga berakibat sakit dan tertimpa masalah.

Dan lagi juga, jika ada seseorang yang datang belajar, atau ada seseorang yang datang untuk minta tolong atau bantuan soal masalah, entah itu masalah penyakit maupun bisnis, kalau seseorang itu aalah wanita, apa lagi cantik dan bla…bla…bla… saya perlakukan lebih dari sekedar yang sudah saya ungkapkan diatas. Pernah pada suatu ketika, ada seorang wanita asal dari jakarta, datang menemui saya di pekalongan, karena pada saat itu, saya sedang berada di pekalingan jawa tengah. Wanita itu datang bersama suaminya,,, untuk keperluan soal bisnis. Saya hampir terjebak melakukan perjinahan, andai saja,,, wanita itu tidak sedang haid. Pernah lagi, di suatu ketika, ada seorang wanita muda, dari lamongan jawa timur, datang menemui saya di kebumen, karena pada waktu itu, saya sedang berada di kebumen jawa tengah. Untuk belajar mengenal Tuhan. Yang ujungnya saya jatuh cinta pada wanita itu, walau tidak sampai terjadi perjinahan, namun hubungan antara saya dan wanita itu, layaknya seorang pacar atau kekasih.

Semakin lama, saya semakin asyik dalam dunia bodoh dan konyol itu, namun saya tidak juga sadar, justru malah semakin asyik dan mengasyikan. Hingga pada akhrinya, saya jatuh tersungkur secara total. Bagaimana tidak, semua ilmu pengetahuan saya, tiba-tiba buntu dan mengilang tanpa bekas, kekuatan spiritual saya jadi lemah total, saya sering bingung dan gugup, dalam menjawab pertanya’an-pertanya’an soal Tuhan dan tentang Tuhan, yang di lontarkan oleh setiap orang yang bertanya kepada saya. Semakin lama, saya merasakan semakin jauh dari Tuhan, seakan di tinggalkan begitu saja. Jangankan untuk mengajari bab Tuhan, menjawab pertanya’an soal Tuhan saja, saya kelimpungan, seperti cacing keinjak. Tanpa buang waktu, sebelum ada yang mengetahui, bergegas saya naik ke gunung kramat, untuk menguji kemampuan yang saya miliki, dan hasilnya,,, ternyata saya memang sudah nol total. Kosong dan bodoh serta dungu.

Saya menangis tersedu haru, menyesali diri, atas semua yang sudah saya perbuat. Saya terlena dan lupa, bahwa itu adalah tidak benar. Karena, orang yang mengetahui bahwa. Tidak selembar daunpun, yang jatuh kebumi tanpa kehendak Tuhan. Yang artinya, bahwa semua dan segalanya itu adalah perwujudan Tuhan. Yang wajib di pelajari dan di ibadahi sesuai Firman-Nya. Seseorang itu, justru bermoral dan beretika sebagai manusia hidup yang seutuhnya/sebenarnya, bukan mentang-mentang dan tidak memakainya.

Berhari-hari saya termenung menyesali diri, diatas puncak gunung sumbing wonosobo jawa tengah. Berhari-hari pula, tak ada satupun solusi dan jalan keluar yang datang menghampiri saya, saya putus asa, karena, kalimat doa-doa saya, yang tadinya memiliki sabda, kini kosong tak berfungsi apa-apa, sampai berbusa mulut saya memohon ampunan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, tapi tak ada tanda-tanda apapun, yang ada hanya semakin melemahnya tubuh saya, karena menaham lapar dan haus serta tiupan angin gunung yang teramat dingin menusuk hingga ke sungsum saya. Selain berserah diri meminta mati, tidak ada lagi yang saya harapkan, hendak mengulangi lelaku seperti yang pernah saya jalani dulu, tidaklah mungkin, karena faktor usia yang telah memakan fisik saya menjadi lemah, tidak sekuat dulu.

Saya benar-benar putus asa dan menyerah, lalu, dengan sisa-sisa tenaga yang saya miliki, saya mencoba merangkak menuju sebongkah batu besar, yang bertengger di tepi jurang gunung sumbing wonosobo jawa tengah. Di atas batu itu, saya mencoba untuk berdiri tegak, terbesit dalam pikiran saya, andai tubuh saya jatuh ke jurang ini, sudah pasti akan hancur berkeping-keping. Tapi,,, sudah pasti juga, bukan hanya di benci, tapi juga akan di laknat Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Lalu saya menatap jauh perkampungan kabupaten wonosobo yang manpa kecil dari atas gunung. Lalu saya memandang langit yang luar tanpa batas, dan… Teringat saya akan Firman Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang pernah di Sabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam sebuah hadist panjang, yang kurang lebihnya seperti ini artinya;

“Telah diperlihatkan kepada diriku umat-umat manusia. Aku melihat seorang Nabi yang bersamanya beberapa orang dan bersamanya satu dan dua orang, serta seorang Nabi yang tidak ada seorang pun bersamanya. Tiba-tiba ditampakkan kepada diriku, sekelompok manusia yang berjumlah banyak, dan aku pun mengira bahwa mereka adalah umatku. Tetapi dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah Musa bersama kaumnya’. Lalu tiba-tiba aku melihat sekelompok manusia yang banyak pula. Kemudian dikatakan kepadaku ini adalah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab”.

Dan lagi, bangikt samangat saya, saya mungkin tidak mendapatkan ampuni dari Tuhan, karena kesalahan saya yang fatal. Yang penting saya telah bertaubat, artinya tidak akan mengulanginya lagi, serta akan memperbaiki diri dan membersihkannya dari noda yang tidak layak itu, karena saya tetap masih memiliki kesempatan untuk bisa kembali kepada asal usul sangkan paraning dumadi saya, tanpa hisab dan adzab, seperti Firman-Nya. Saya lupakan yang sudah terjadi, dan saya biyarkan dia berlalu, saya ambil hikmahnya, dan saya bangkit lagi untuk belajar dan berlatih lagi, mulai dari nol awal.

Lalu saya memulai mengembara lagi. Nelerusuri jejak-jejak spiritual yang pernah saya lalui dulu, yang pernah menjadikan saya bisa berhasil, jika tajuh, saya bangun lagi, kalau gagal, saya berusaha bangkit lagi, begitu terus dan selalu terus begitu, tanpa ngenal capek, lelah dan putus asa. Dulu saya Berbekal Bahan Dua Kalimah Syahadat dan Dua Ayat Al-qitab serta Dua Hadist. Kini saya Berbekal Iman. Hanya Iman. Tidak ada yang lainnya. Saya belajar dan Berlatih mencari tahu dan mengerti serta memahami. Apa itu Iman dan bagaimana Iman itu.

Dalam perjalanan ini, saya mendapatkan Tuntunan Hidup, tersebut Wahyu Panca Gha’ib. Di daerah kampung rambutan jakarta, yang kemudian saya dalami di pekalongan jawa tengah. Dengan tiga orang pembimbing, Sama seperti sebelumnya, walau dengan Wahyu Panca Gha’ib, yang katanya wah, hebat, mantap dan lain-lainnya, saya mengalami pasang surut dan jatuh bangun. Maksudnya… Ada kalanya saya menyerah, ada kalanya saya putus asa, ada kalanya saya lelah, ada kalanya saya protes, ada kalanya saya berdebat unggul-unggulan pengerten/pengertian, ada kalanya saya iri, sirik, dengki, benci, dendam, ada kalanya saya meremehkan orang lain, menyalahkan ajaran agama, sikut sana sikat sini, dan bla…bla…bla… lainnya. Di sadari atau tidak di sadari, di akui atau tidak di akui, memang begitu dan seperti itulah kehidupan di dunia fana ini. Tinggal bagaimana kita menyikapinya, dan memandangan menggunakan kacamata apa.

Namun, apapun yang terjadi dan yang saya alami, tetap saya berusaha dan berusaha untuk kuat, berdiri kokoh dan tegar, bak batu karang di pantai. Istilahnya, tingginya gunung saya daki, panjangnya jalan saya lalui, dalamnya laut saya selami, luasnya bumi saya tapaki, namun tetap saja saya jatuh dan jatuh lagi, namun saya selalu merangkak dan bangun lagi, saya tidak kapok, walau saya tahu saya akan jatuh lagi, tapi saya selalu bangkit bediri dan berjalan lagi, untuk selalu berlatih dan belajar, mempelajari Iman itu apa dan bagaimana . Hingga pada akhirnya….

Saya terjatuh dan benar-benar tidak mampu lagi untuk bangkit berdiri. Karena suatu hal yang teramat sangat sarat, dan tidak bisa saya katakan di artikel ini, kecuali secara langsung.

Karena sudah tak mampu dan tidak sanggup bangkit untuk berdiri lagi. Saya menyerah… Semuanya dan segalanya tentang saya. Niyat saya, tujuan saya, cita-cita saya, harapan saya, keinginan saya, kepentingan saya, kebutuhan saya, masalah saya, keperluan saya, keluarga saya, perbuatan saya dan bla,,,bla,,,bla,,, terkait saya. Saya Serahkan/Pasrahkan kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Dan saya terima, apapun keputusan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah soal saya. Lalu,,, saya Persilahkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, melakukan apapun itu kepada saya. Apakan saya mau di bunuh, di siksa, di laknat, di masukan neraka, atau mau di apakan saja, saya Persilahkan… intinya, saya sudah kalah dan nyerah.

Lalu, saya menunduk patuh dengan ratapan Rindu akan Cinta Kasih Sayang-Nya yang agung lagi mulia, yang pernah di Firmankan-Nya dalam al-qitab. Lalu,,, tak berselang lama kemudia, saya merasakan, ada tangan Cinta Kasih Sayang, yang memeluk seluruh tubuh saya, dengan Cinta Kasih Sayang yang Agung itu. Tenteram saya rasakan, bahagia, damai, aman, nyaman, dan enaknya,,, tidak bisa saya gambarkan dengan sebuah kata-kata apapun, soal yang satu ini. Pokonya… Wah. Saya tahu itu adalah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah saya.

Selama dalam pelukan Cinta Kasih Sayang-Nya inilah. Saya mendapatkan Wejangan tentang dan soal apa itu Iman dan bagaimana iman itu. Ternyata Iman itu, bukan hanya sekedar yakin atau percaya atau haq-kul yakin saja. Ternyata Iman itu, tidak cukup hanya dengan menjalankan perintah Tuhan atau meninggalkan larangan Tuhan, atau Beramal dan beribadah kepada Tuhan saja. Karena itu hanya pernak-perniknya Iman, assesoriesnya Iman, pirantinya Iman. Sedangkan Iman itu sendiri. Adalah…. Wahyu Panca Laku.

Wahyu Panca Laku;
1. Pasrah kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.
2. Menerima Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.
3. Mempersilahkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.
4. Merasakan semua dan segala Kuasa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.
5. Beribadah dengan Iman Cinta Kasih Sayang kepada apapun dan terhadap siapapun dimanapun atas Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Prakteknya seperti yang sudah saya uraikan diatas, sa’at saya jatuh dan tidak mampu untuk bangkit lagi.

Dan dengan Wahyu Panca Laku inilah, saya bisa mampu Menjalankan Perintah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah dan Meninggalkan Larangan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Serta Mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib tanpa tapi. Yang sudah saya buktikan tidak ribet, lebih ringan, lebih mudah dan tidak sulit. Tinggal Wahyu Panca Laku-nya di gunakan untuk mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib. Selesai.

Dan dengan Wahyu Panca Laku ini juga, saya berhasil membuka gha’ibnya Wahyu Panca Gha’ib. Dan lagi,,, ternyata. Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan apapun yang sering di sangkakan oleh Para Putero yang menjalankan Wahyu Panca Gha’ib itu sendiri.

Dengan bukti pengetahuan yang nyata saya dapatkan sendiri ini, saya berani memastikan, siapapun dia, apa lagi seorang putero romo, jikalau sudah berhasil mencapai dimensi/tingkatan atau kahanan ini. Yaitu Kesadaran Murni “SUCI/HIDUP” yang artinya, sudah mengerti, telah memahami Hakikat Hidup-nya Wahyu Panca Gha’ib yang sebenar-benarnya/sesungguhnya. Saya berani pastikan. Jangankan orang yang beragama dan berkepercaya’an, orang yang kafir sekalipun. Pasti akan di peluknya dengan penuh Iman Cinta Kasih Sayang. Jangankan orang yang tidak di kenal berlaku kasar padanya, musuh yang nyata-nyata telah menghancurkan kehidupan keluarganya saja. Pasti akan di peluknya dengan penuh Iman Cinta Kasih Sayang. Itu Pasti.

Jika tidak, berati masih belum… Apa lagi tanpa Wahyu Panca Laku, yang artinya. Wahyu Panca Gha’ib-nya. Hanya sebatas obat gengsi dan jika kepepet saja. Masih terlalu amat jauh sekali. Tapi itu bukan berati salah dan tidak akan berhasil mencapai kesempurna’an hidup di dalam kehidupannya. Bukan,,, asalkan mau membukan diri “menanggalkan ego”, dan tiada bosan-bosannya untuk selalu terus berlatih dalam belajar, lambat laun pasti berhasil mencapai tingkat kesempurna’an hidup di dunia hingga akherat nanti. Tapi kalau tidak mau membuka diri “menanggalkan ego”, dan tidak berlatih dalam belajar, saya tidak tahu, hanya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang punya hak untuk menjawabnya. Sebab hanya Dia Yang Maha diatas segala yang Maha. Saya hanya sebatas berusaha, mengamalkan Cinta Kasih Sayang-Nya yang Agung, yang diamanahkan kepada saya, untuk siapapun yang mau menerima, selebihnya, bukan kuasa saya.

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian…
Dulu saya pernah, minta di ajari caranya nglungguhake asmo, kepada tiga pembimbing Wahyu Panca Gha’ib saya, bukannya saya diajari, malah di lempar kesana sini, seperti bola. Yang satunya nyuruh bertanya kepada satunya, satunya lagi menyuruh belajar pada yang satunya lagi, sedang yang satunya berkata, halah,,, itu tidak penting, nanti juga bisa sendiri kalau sudah ketemu Romo. Saya diam dan menunduk. Karena saya beranggap, bahwa ini adalah tantangan dari tiga pembimbing saya buat saya. Untuk dewasa, artinya, ceker dewe/mencari sendiri, agar tahu sendiri, bukan katanya dan biyar bisa sendiri, bukan meniru.

Dengan mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib menggunakan Wahyu Panca Laku. Ternyata benar, saya jadi bisa tahu sendiri. Bukan katanya tiga pembimbing saya, dan tidak meniru tiga pembimbing saya. Pada awalnya, saya mengira, bahwa keahlian nglungguhake asmo itu, adalah amanah atau mandat atau perintah atau kuasa yang di berikan oleh Romo, kepada Putero yang sudah sepuh/mumpuni. Ternyata tidak begitu. Keahlian nglungguhake Asmo itu, di karena sudah mengerti dan memahami serta tahu sendiri, hakikat-nya Asmo tersebut.

Contoh gambarannya seperti ini “Saya sudah tahu baju dan celana itu apa dan bagaimana. Serta saya juga sudah memakai baju dan celana itu setiap sa’at. Cara mencuci dan merawatnya juga saya tahu. Hingga saya hapal betul tentang baju dan soal celana itu. Karena saya sudah hapal sebab sudah tahu, saya bisa memperkenalkan dan memakaikan baju dan celana itu, pada anak yang belum mengerti baju dan celana dan belum bisa memakai baju dan celana” Seperti itu kurang lebih gambarannya. He he he . . . Edan Tenan.

Para kadhang dan Para Sedulur kinasih sekalian…. Ketahuilah. Wahyu Panca Gha’ib tanpa Wahyu Panca Laku, tidak ubahnya seperti aliran dalam sebuah ajaran individu, yang tak berujung pangkal, membingungkan, memusingkan, jika sedang bahagia, bisa percaya dan yakin mantap, tapi kalau sedang susah, karena suatu masalah, jadi bimbang, ragu hingga goyah dan terjebak ego politik yang mengerikan. Sebab itu… Ambilah hikmah dari Detik-Detik Perjalanan Spiritual saya ini. Semoga bermanfaat. Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

WUJUD DAN BENTUK IMAN yang SEBENARNYA:


WUJUD DAN BENTUK IMAN yang SEBENARNYA:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Kamis Legi. Tgl 08 September 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian,,,, sepertinya, diantara kita semuanya tanpa terkeuali, pasti tahulah, apa itu iman atau kata/istilah iman atau kalimat iman. Karena,,, Tulisan iman atau kata iman ini, populer di ucapkan oleh banyak orang, dan tertuliskan di kitab, buku, bahkan tersebar di seluruh jaringan internet.

Tapi,,, sejauh itu, mengertikah apa itu iman…?!
Pahamkah, apa itu Iman…?!
Iman itu, yang seperti apa dan bagaimanakah…?!

Apakah iman itu cukup hanya dengan yakin atau percaya atau Haq-kul yakin?
Atau menjalankan perintah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah dan meninggalkan larangannya, atau beribadah kepada-Nya sudah bisa di sebut beriman?

He he he . . . Edan Tenan. Sebelumnya, mari kita jalan-jalan sebentar ya…
Ada sebuah pepatah bijak yang mengatakan seperti ini, (hidup dimulai pada usia 40 tahun). Salah satu artinya adalah: sebelum umur 40 tahun, seseorang masih boleh bereksperimen sesuka kehendaknya, contoh misal, berganti-ganti karier dan profesi. Namun setelah umur 40 tahun, dia harus sudah mantap di satu tempat, menekuni kariernya. Sebab, jika di usia itu dia masih berpindah tempat tinggal dan berganti profesi, ia akan cenderung tak meraih apa-apa. Iya tidak? Ini logika lo…

Emh…Emh…Emh….
Siapakah yang Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian andalkan dalam Hidup yang berkehidupan ini…?! Katakanlah,,, tidak usah malu tidak perlu takut. Bukankah yang di andalkan itu, mestinya bukan yang memalukan dan mengecewakan, jadi,,, untuk apa malu dan takut. Katakan dengan tegas. Saya ingin melihat seperti apa Dia. He he he . . . Edan Tenan.

Kita pasti rindu bisa ”melihat-Nya” Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang kita puja puji setiap sa’at, ada dan hadir di hidup kita bukan. Tapi kita bingung,,, seperti siapa mencari siapa, sehingganya kita takut untuk sedemikian dekat kepada-Nya. Kita mengikuti ibadah diam-diam, duduk sendiri,,, berharap tidak dikenali, enggan bahkan terlibat dalam kuasanya. Salah satu contohnya, merasa berdosa. Faktanya,,, kita merasa tidak layak atau bahwa orang-orang tidak senang dengan perubahan yang kita alami. Iya apa iya? Hayo…

Sehingganya, kita eperti se’ekor kucing, yang sedang keasyikan mengejar ekornya sendiri. Berputar-putar, dan berputar-putar lagi, berharap segera mendapati ekornya tertangkap. dia pikir, ketika ia sudah mendapatkan ekornya, dia akan bahagia, akan tenang, akan nyaman, akan aman. Dia kira, setelah mendapatkan ekornya, dia tidak akan khawatir kehilangan ekor, karena dia telah memegang ekornya.

Sadar atau tidak sadar, kerap kali orang memakai waktu hidupnya, hanya untuk banyak mengejar kesuksesan, kekayaan, pengakuan, kebenaran dan sebagainya, agar hidupnya bahagia, damai, nyaman, aman dll. Bahkan konyolnya. Tuhan-pun di burunya. Segala upaya, waktu, dan energi, dicurahkannya untuk mengejar hal-hal tersebut. Seperti kucing mengejar ekornya tadi… He he he . . . Edan Tenan.

Padahal, itu adalah target yang sama sekali tidak tepat…!!!
Segala target yang tidak bernilai kekal, tidak layak kita kejar sedemikian rupa. Kita malah kehilangan target yang utama, yang Dzat Maha Suci Tuhan ingin, agar kita raih dan miliki, supaya hidup kita berarti sempurna.

Padahal itu tidak sama sekali…!!!
Berputar sampai pingsan pun, dia takkan dapat menangkap ekornya. Ia hanya akan kelelahan. Dan sesungguhnya, bukankah tanpa dikejar pun, ekor itu selalu setia mengikutinya? Iya Apa iya? Hayo…

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian,,,,
Romo Tidak Akan Tinggal Diam. Ketika Meminta Putronya untuk Tidak Cawe-cawe.
Mungkin Para Kadhang Dan Para Sedulur Kinasih saya. Pernah terbesik bertanya’an dalam pemikiran seperti ini. Mengapa Dzat Maha Suci Tuhan, menaruh kita di posisi yang tidak berdaya, mengapa Dzat Maha Suci Tuhan, seolah-olah melukai ego kita, dan tidak membiarkan kita bangkit.

Karena menurut bukti dari pengalaman Laku Spiritual Hakikat Hidup pribadi saya, ada saatnya ketidak berdaya’an itu, membantu proses kita diselamatkan dari bahaya yang sangat besar. Kita memang di posisikan Dzat Maha Suci Tuhan, untuk tidak berdaya, tetapi bukan berarti Dzat Maha Suci Tuhan juga sedang tanpa daya.

Dapat saya gambarkan seperti ini. Untuk bisa menyelamatkan seseorang yang sedang tenggelam di laut, kita harus memukul tengkuknya hingga pingsan, karena jika tidak, kita akan kesulitan untuk menolongnya, sebab dia akan meronta-ronta, dan bisa jadi, kitapun ikut tenggelam bersamanya. Ketika ia dibuat tak berdaya, kita bisa merangkul leher seseorang itu dan berenang membawanya ke pantai. Itulah,,, kenapa kita di posisikan oleh Dzat Maha Suci Tuhan, di sudut yang tidak berdaya. Sebab di sudut yang tak berdaya inilah. Iman di Perlukan dan di Butuhkan.

Lalu… Iman itu apa dan bagaimana?
Apakah iman itu cukup hanya dengan yakin atau percaya atau Haq-kul yakin?
Atau menjalankan perintah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah dan meninggalkan larangannya, atau beribadah kepada-Nya sudah bisa di sebut beriman?

Kesimpulannya;
Menurut hasil Laku Spiritual Hakikat Hidup pribadi saya, yang saya Praktekan sendiri di TKP. “IMAN” bukanlah hanya sebatas meyakini atau mempercayai atau haq-kul yakin saja, yang tidak perlu dibuktikan. “IMAN” Adalah; menanggalkan Keyakinan diri sendiri. Lalu mempercayakannya hanya kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang Maha Segalanya. Jika kita meyakini segala sesuatu tetap dalam kendali Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, Jika kita mempercayai semuanya adalah kuasa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Kalau kita memang benar haq-kul yakin kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Maka,,, Mari kita sama-sama belajar menyerah hanya kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, tanpa takut dan ragu. Pasrahlah segalanya dan semuanya hanya kepada-Nya… Terimalah Kehadiran-Nya yang Penuh Cinta Kasih Sayang Nan Tulus… Lalu Persilahkanlah Dia mengambil alih kemudi kendara’an, apapun jenis dan sebutannya, yang kita yakini hebat. Kalau memang ingin selamat secara sempurna. Karena, sehebat apapun, tidak akan melebihi Kehebatan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Setelah itu, kita cukup beribadah hanya kepada-Nya saja, dengan cara menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya, tanpa perlu ikut campur segala urusan pribadi-Nya yang Maha Kuasa atas segalanya dan semuanya. Itulah Wujud dan Bentuk Iman yang sebenarnya.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

SPIRITUAL Dan SUPRANATURAL Menurut Wong Edan Bagu:


SPIRITUAL Dan SUPRANATURAL Menurut Wong Edan Bagu:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Sabtu Pon. Tgl 09 September 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian… Mungkin banyak yang sudah mengerti istilah kata Spiritual dan Supranatural, namun,,, sepertinya, masih banyak yang belum memahami, apa itu Spiritual dan Supranatural, dan artikel saya kali ini, adalah merupakan jawaban dari beberapa pertanya dari Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, yang bertanya melalui email dan inbox pesan di facebook, tentang apa itu Spiritual dan Supranatural.

Spiritual;
Apa itu Spiritual…?! Ada dua istilah umum disini, spirit dan spiritual, keduanya memiliki arti yang sama, namun berbeda makna dasar dan intinya. arti spirit dan spiritual, adalah sama, yaitu semangat. Kalau makna dasar spirit, itu semangat yang tidak harus di dasari dengan iman, sedangkan spiritual, harus di dasari dengan iman. Kalau inti dari spirit, itu semangat, yang memperjuangankan sesuatu, yang di lakukan di dunia ini. Salah satu contohnya adalah pekerja’an. Kalau inti dari spiritual, itu semangat untuk mempelajari keghaiban/rahasia Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, supaya tahu, mengerti, paham, dan mengenalnya dengan baik, sebaik kita mengenal nasi, di saat lapar, bukan sebatas kira-kira dan katanya, serta kelak di akhir hayat, bisa menuju kepada-Nya dengan tepat dan benar.

Supranatural;
Apa itu Supranatural…?! Inipun ada dua istilah umum, yaitu supra x dan supranatural, kalau supra x, itu kendaraan bermotor produksi dari honda. Kalau supranatural itu, adalah ilmu ghaib yang berasa dari kekuatan diri sendiri, supranatural biasa juga disebut dengan ilmu kebatinan atau ilmu gaib, ilmu supranatural adalah ilmu tentang kemampuan yang digunakan oleh manusia, di luar kemampuan alamiah pada umumnya manusia. ilmu ini berasal dari dalam diri pribadi sendiri. Bukan dari luar diri pribdainya. Kalau dari luar diri, itu bukan supranatural, tapi parewangan atau al-hikmah kalau istilah umumnya.

Ilmu suranatural ini, dapat dikembangkan dalam beberapa cara, seperti mantra dan doa, ritual, pensucian diri, atau meditasi dan rialat-rialat lainnya, ilmu ini juga, dapat dibangun sendiri dari dalam diri dan juga bisa di bangun oleh bantuan orang lain, tetapi ada juga yang bisa memiliki ilmu supranatural secara instan, tanpa niyat untuk mempelajarinya.

Maksudnya, alami di dapat dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dan diterima secara instan/spontan, tanpa adanya niatan mau mempelajari ilmu supranatural, dan datangnya tidak di sangka-sangka. Dan salah satu kelebihan ilmu supranatural adalah, mampu menembus alam ghaib, bahkan memasuki dimensi-dimensi alam ghaib, tanpa kesulitan dan ritual uborampe.

Gerbang Dimensi Alam Gha’ib;
Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian… Mungkin pernah mendengar, cerita atau menyaksikan secara langsung, ada anak kecil atau orang dewasa, yang tiba-tiba menghilang tanpa sebab, misalnya minggat atau pergi tanpa pamit maksudnya. Misalnya,,, sedang bermain di suatu tempat, tiba-tiba hilang tanpa bekas, apakah mereka hilang begitu saja dan lenyap …?!

Tentu tidak, pasti ada penjelasan dimana orang yang tiba-tiba menghilang itu, ada dua penjelasannya, pertama di culik oleh bangsa jin atau siluman, kedua, dia menyentuh atau memasuki area yang terdapat pintu gerbang alam gha’ib, sehingganya,,, sa’at berada di tempa tersebut, jadi berpindah alam (dimensi).

Gerbang dimensi alam gha’ib, dalah suatu pusaran energi, yang meghubungkan atara dimensi alam nyata dan dimensi alam gaib, gerbang alam gha’ib ini, tidak dapat dilihat oleh mata telanjang, tetapi dapat dideteksi oleh alat-alat pendeteksi energi atau para manusia yang memiliki kemampuan supranatural, karena pancaran energi yang dikeluarkan oleh gerbang dimensi gha’ib ini, sangat besar, gerbang dimensi ini juga mirip dengan lubang puseran air deras, dan kekuatany berkali-kali dibandingkan dengan pusaran air di sungai, hingga dapat menarik manusia awam, masuk kedalamnya, di luar keinginan dan kesadarannya.

Gerbang dimensi ghaib ini, biasanya terbentuk akibat penumpukan energi alam yang besar, dan bertemu di suatu titik, dengan energi gaib yang besar pula. Atau sengaja di buat oleh seseorang yang sudah ahli dalam bidang spirital supranatural, dan tentunya, hanya orang yang luar biasalah, yang mampu melakukannya, dikarenakan butuh kekuatan yang besar, untuk menyerap energi alam, dan memfokuskannya di satu titik saka, dimana tepat menyatu dengan energi gaib.

Seperti para wali-wali Allah misalnya, agar tidak kemanungsan, maksudnya tidak terusik oleh orang-arang awam, mereka membuatnya dan menggunakannya untuk tempat bersemedi, mempelajari alam ghaib, guna perjalanan ruh setelah mati nantinya. Gerbang dimensi ghaib ini, bisa dibuat, namun tidak bisa di hilangkan atau di musnahkan setelahnya, artinya, masih ada sejak jaman dahulu, yang sengaja dibuat dan masih ada hingga sekarang, hanya saja, kekuatan energinya yang kadang melemah dan kadang menguat. Bergantung dari seberapa wingitnya tempat tersebut, semakin sering di jamah seseorang, maka semakin melemahlah energinya.

Keberadaan gerbang dimensi gah’ib ini, biasanya berada di tempat-temat yang jarang di kunjungi manusia atau bahkan tidak pernah di kunjungi manusia, atau berada di pusat-pusat tempat meditasi atau pusat tempat beribadah. Contoh misalnya;

Di tengah hutan belantara.
Di tengah lautan.
Di dalam goa.
Di dalam sungai.
Di petilasan atau makam-makam keramat kuno/jaman dulu.
Di pura atau masjid, gereja dan tempat beribadah lainnya.
Dan di atas ka’bah.

Karena besarnya energi yang di keluarkan oleh gerbang dimensi gaib ini, maka biasanya di setiap gerbang dimensi gha’ib, ada jin atau pusaka yang sengaja ditugaskan untuk menjaga gerbang tersebut.

Penggunaan gerbang dimensi gha’ib ini, kalau secara di sengaja, apa bila energi yang bekumpul di gerbang dimensi gha’ib tersebut kecil, maka harus ada ritual atau mantra-mantra yang di bacakan, agar gerbang tersebut dapat di gunakan, tetapi apabila energi yang dipancarkannya besar, maka orang bisa secara tidak sengaja masuk dalam gebang dimensi gha’ib tersebut.

Bangsa jin dan bangsa manusia adalah sama-sama mahluk ciptaan Dzat Maha Suci Than/Allah. Dengan diciptakannya jin dan manusia. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, telah memberikan juga kemampuan yang berbeda-beda.

Banyak sekali kemampuan luar biasa yang di miliki oleh bangsa jin, tetapi hanya sedikit yang dapat di ketahui olah manusia karena jin adalah mahluk gaib yang sangat tersembunyi, beberapa diantaranya;

1. Jin mampu bergerak dengan cepat, yaitu seperti berpindah-pindah tempat dengan sangat cepat. Sangat cepat hampir menyamai kecepatan cahaya, hal ini di karenakan, jin di ciptakan dari api, dan hawa panas dapat menyebabkan jin, dapat bergerak dengan sangat leluasa dengan wujud yang sangat ringan.

2. Jin dapat hidup dan tinggal di dalam air dan darat serta angkasa, tumbuhan bahkan tubuh manusia. Hal ini di karenakan oleh kodrat jin yang tidak bernafas layaknya manusia. Para bangsa jin dapat bernapas dengan cara yang istimewa, sehingga mereka bisa berada di dalam air atau tempat hampa udara sekalipun, semau mereka.

3. Jin dapat merubah bentuk menjadi apa pun.. Merubah bentuk menjadi manusia, hewan, benda, dan bahkan menjadi bentuk yang belum pernah kita lihat. Juga jin dapat merubah wujudnya dalam bentuk gaib maupun berpindah dimensi menjadi bentuk manusia nyata.

4. Kemampuan yang paling berbahaya dari jin, adalah jin dapat membaca isi hati dan pikiran manusia, sehingga jin sangat mengetahui apa yang manusia inginkan. Hal ini sangat memudahkan jin, untuk melakukan tugasnya, yaitu menggoda manusia dan menjerumuskan serta menyesatkannya.

Sesungguhnya, manusia memiliki kemampuan yang jauh lebih hebat di bandingkan bangsa jin, sebab itu, manusia mendapat stempel syah dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Sebagai mahluk paling sempurna di banding mahluk-mahluk lainnya. Hanya saja, caranya yang tidak mudah dan ringan. Karena untuk menggali dan menimba kemampuan yang jauh lebih hebat dari bangsa jin itu, manusia harus lelaku laku mengenal sedulur papat kalima pancernya sendiri. Agar bisa mendapatkan bmbingan langsung dari Guru Sejatinya, yaitu Hidup-nya sendiri, yang juga gha’ib, sama seperti Jin, hanya bedanya, kalau jin itu berasal dari api, sedangkan Hidup, berasa dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, jadi,,, jelas jauh lebih hebat. Bukan…

Agar kita dapat berkomunikasi/berbicara satu sama lainnya dengan bangsa jin, maka dibutuhkan pengetahuan khusus. Yaitu Laku Hakikat Hidup, agar bisa menangkap obyek-obyek di luar diri manusia. Salah satu obyek itu adalah Hidup kita sendiri. Keahlian itu adalah keahlian olah Rasa/Bathin kita sendiri, Laku Hakikat Hidup itu, sebagai tahap pertama, dalam penyingkiran semua tabir/hal, yang mengganggu pandangan bathin kita, sehingga nantinya, kita bisa menangkap/melihat dengan secara jelas, penampakan obyek kita, yaitu Guru Sejati/Hidup kita sendiri.

Laku Pertama;
Menyingkirkan segala sesuatu yang subyektif. Seperti ego keangkuhan kita. Karena keangkuhan adalah, salah satu pintu penutup kita melihat kegaiban. Sikap kita harus obyektif, terbuka untuk gejala-gejala yang akan diajak bicara.

Laku Kedua;
Menyingkirkan seluruh pengetahuan tentang obyek yang diselidiki, yang diperoleh dari sumber yang lain, semua teori dan hipotesis yang sudah ada. Untuk sementara. Setelah kita mampu melakukan penyingkiran keakuan/ego, lalu semua teori dan hipotesis ditanggalkan. Tahap kita harus NOL. “tidak tahu tentang apa-apa”.

Laku ketiga;
Menyingkirkan seluruh tradisi pengetahuan, termasuk pengetahuan dan praktek mistik, yang pernah di pelajari dengan totalitas penghayatan. Segala sesuatu yang sudah dikatakan tentang gha’ib, harus dilupakan untuk sementara waktu. Kita memasuki kondisi nol. Yaitu kondisi ketika kita tidak berpikir apa-apa tentang gha’ib, dan tidak memiliki pengetahuan apa-apa soal gha’ib, namun tetap dalam totalitas sadar-ku terhadap “ADAM-U” Lalu duduklah bersemedi di tempat yang aman dan nyaman, dengan cara sebagai berikut;

Persiapan Sebelum Memulai Meditasi;
Carilah tempat yang sepi agar kita bisa lebih mudah untuk konsentrasi(Tujuannya agar kita tidak akan terganggu, dengan orang-orang yang mungkin memengaruhi kita sa’at semedi).
Dan ikuti segala sesuatu yang alami, jangan menebak apa lagi merancang dan membayang atau berhayal itu dan ini. (Ikuti saja aliran alam yang akan mengikuti aliran darah/nafas kita).

Cara Bersemedi;
1. Duduklah dengan cara bersilah dan badan lurus tegak, cari posisi yang nyaman bagi kita.
2. Letakkan tangan dengan posisi yang nyaman juga bagi kita.
3. Pejamkan separuh mata kita, (tidak tertutup sepenuhnya).
4. Arah pandangan lurus ke depan (kita juga boleh mengedipkan mata sesekali, jika terasa peih).
5. Berkonsentrasilah, agar tidak ada hal apapun, yang akan menganggu kita saat bersemedi.
6. Pusatkan fokus kita ke pada keluar masuknya nafas di hidung. Pertahankan sampai kita merasakan sesuatu di ubun-ubun, yang membuat rambut kita serasa berdiri.
7. Pindahkan konsentrasi ke antara dua alis. Pertahankan sampai kita merasakan gerakan-gerakan berdenyut di sekeliling dahi.

Kalau kita sudah dapat merasakan rambut kita terasa berdiri/terangkat, itu tandanya cakra kita sudah aktif mengalir keseluruh tubuh kita. Kalau kita sudah bisa merasakan denyut diantara dahi, antara dua alis. Itu tandanya gerbang dimensi gha’ib, telah terbuka untuk kita.

Kalau tiga Laku Hakikat Hidup yang sudah saya jelaskan diatas berhasil. Dan tujuh cara Semedi yang juga sudah saya jelakan diatas, sudah berhasil. Maka semua dan segala penampakan gha’ib, mulai dari setan, jin, sedulur papat dll, akan nampak terlihat dengan sendirinya. Tinggal terserah Anda, mau menentukan arah niyatnya kemana, mau terkoneksi dengan sedulur papat, apa mau terkoneksi dengan setan/jin dllnya itu. Kalau koneksi diarahkan ke sedulur papat, berati akan bertemu Guru Sejati, yaitu Hidup kita sendiri, kalau koneksi diarahkan ke setan/jin dllnya itu, kita akan bisa berkomuniksai bahkan bersenda gurau dengannya.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

EGO Yang BERSIPAT Religius Dan BERSIKAP Spiritual:


EGO Yang BERSIPAT Religius Dan BERSIKAP Spiritual:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Kamis Legi. Tgl 08 September 2016

Para Kadhang dan Para Sdulur Kinasihku Sekalin dimanapun berada, masih ingatkah, dengan artikel saya yang berjudul Sejatining NENG. NING. NUNG. NANG. Yang saya postingkan pada Hari Senin Pon. Tgl 14 Maret 2016. Di dalam artikel tersebut, saya menjabarkan tentang apa itu sejatining Neng. Ning. Nung. Nang.

Neng. Ning. Nung. Nang ini, bukan hanya sekedar saloka jawa belaka, selain lelaku yang pernah di gunakan oleh Syekh Siti Jenar, dalam mencapai tingkat spiritual kemanunggalan-nya dengan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah secara sempurna. Neng. Ning. Nung. Nang ini, juga merupakan ciri khas sistem pengajaran dari Sunan Bonang, terhadap para santri/murid, khususnya Sunan Kali Jaga, ketika menjalani tapa brata di tepi sungai hingga tapa pendem, untuk membersihkan hati dan menjernihkan bathin, dari segala noda dosa, sehingga dapat tercerahkan atau terahmati oleh Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Karena untuk bisa makrifatullah, iman kita harus murni, dan dasar paling utama kemurnian iman itu, adalah bersih hati dan bathin yang jernih.

Kalimat lain dari Neng. Ning. Nung. Nang, adalah. Syare’at. Tarekat. Hakikat. Makrifat. Jelas singkatnya seperti berikut ini. Tapi maaf,,, saya tidak akan mengungkap detil lengkapnya, karena sudah pernah saya ungkap di artikel yang saya posting pada Hari Senin Pon. Tgl 14 Maret 2016 yang lalu, berjudul Sejatining NENG. NING. NUNG. NANG, jadi, saya ambil yang terkaitnya saja, biyar tidak membingungkan.

1. Neng, adalah Syare’at; artinya jumeneng, berdiri, sadar atau bangun untuk melakukan tirakat, dzikir atau semedi, maladihening, atau mesu budi. Maksudnya, konsentrasi untuk membangkitkan kesadaran batin, serta mematikan kesadaran jasad, sebagai upaya menangkap dan menyelaraskan diri dalam frekuensi gelombang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Jika Dzat Maha Suci Tuhan/Allah Firman Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu di ibaratnya sebuah siaran radio atau televisi.

2. Ning, adalah Tarekat; artinya dalam jumeneng kita mengheningkan daya cipta (akal-budi) agar menyambung dengan daya rasa- sejati, yang menjadi sumber cahaya nan suci. Tersambungnya antara cipta dengan rahsa, akan membangun keadaan yang wening. Dalam keadaan “mati raga” kita menciptakan keadaan batin (hawa/jiwa/nafs) yang hening, khusuk, bagai di alam “awang-uwung” namun jiwa tetap terjaga dalam kesadaran batiniah. Sehingga kita dapat menangkap sinyal gaib dari sukma sejati atau Roh Suci/Hidup kita.

3. Nung, adalah Hakikat; artinya kesinungan. Bagi siapapun yang melakukan Neng, lalu berhasil menciptakan Ning, maka akan kesinungan (terpilih dan pinilih) untuk mendapatkan anugrah agung dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Dalam Nung yang sejati, akan datang cahaya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, yang lebih di kenal secara umumnya. Nurlullah atau Nur Ilahi, melalui rahsa, lalu ditangkap Roh Suci/Kudus atau sukma sejati atau Hidup, diteruskan kepada jiwa, untuk diolah oleh jasad yang telah bersih/jernih, menjadi manifestasi perilaku utama (lakutama). Perilakunya selalu konstruktif dan hidupnya selalu bermanfaat untuk sesama hidup dalam kehidupan dunia.

4. Nang, adalah Makrifat; artinya menang; orang yang terpilih dan pinilih (kesinungan), akan selalu terjaga amal perbuatannya. sehingga amal perbuatan yang tak terhitung lagi, akan menjadi benteng untuk diri sendiri. Ini merupakan buah kemenangan dalam lelaku prihatin. Kemenangan yang berupa anugrah, kenikmatan, dalam segala bentuknya, serta meraih kehidupan sejati dunia akherat, kehidupan yang dapat memberi manfaat (rahmat) untuk seluruh makhluk serta alam semesta. Seseorang akan meraih kehidupan sejati, selalu kecukupan, tenteram lahir batin, tak bisa dicelakai orang lain, serta selalu menemukan keberuntungan yang berkah dalam hidup (meraih ngelmu beja).

Neng adalah syariatnya, Ning adalah tarekatnya, Nung adalah hakekatnya, Nang adalah makrifatnya. Ujung dari empat tahap lelaku atau proses menuju kesempurna’an tersebut, adalah kodrat (sastrajendra hayuning Rat pangruwating diyu).

Lalu, sesuai judul artikel ini, lantas Bagaimana Seluk Beluk Ego Yang Bersipat Religius dan Bersikap Spiritual itu…?!

Menurut pengalaman spiritual pribadi saya,,, ego akan berhasil di kuasai, ketika kita berhasil melampaui dimensi lelaku/proses Neng. Lalu akan balik mengusai kita lagi, ketika kita naik ke dimensi lelaku/proses Ning, dengan cara lebih halus lagi, sehingganya, sulit dan sukar untuk di ketahui secara sadar. Karena gaya ego yang mirip dengan benar. (Hanya orang-orang yang beriman yang bisa mampu membedakan antara Rasa dan Perasa’an), itulah ego yang datang lagi untuk yang kedua kalinya. Sehingganya, kita tidak lagi ingat apa itu, dan menjadi buta, kita tidak dapat melihat saudara, keluarga, anak, istri/suami, teman bahkan guru/murid kita bahkan lebih dari sekedar itu.

Para Kadhang dan Para Sdulur Kinasihku Sekalin…
Kebanyakan dari kita, adalah orang-orang yang ahli spiritual kan,,, namun yang banyak itu, tidak mengerti dan tidak paham, kalau dirinya telah mencapai titik balik. Sehingga tidak sadar, dia menikmatinya dengan sangat bangganya. Tidak tahu kalau yang di nikmati itu adalah kelas Taman kanak-kanak, jika di umpamakan sebuah pendidikan sekolahan. Dia lupa, bahwa pelajaran yang sedang di pelajari di Kampus itu, adalah pelajaran-pelajaran yang pernah kita dapatkan sewaktu di taman kanak-kanak atau sekolah dasar dulu.

Sehingganya, banyak lelaku/proses kehidupan yang lalu, terbengkalai, bahkan terbuang sia-sia. Padahal,,, untuk menyelesaikan skripsi atau apa kalau istilah kuliyahannya itu, kita tidak perlu kembali ke masa lalu atau menjadi anak-anak lagi, istilahnya. Artinta, tidak harus turun ke titik rendah. Tapi karena telah di kuasai oleh ego yang harus dan lembut, sehingga terlena, tidak bisa lagi ingat, bagaimana rasanya menjadi manusia yang terjebak dalam ilusi ego. Sehingganya kita selalu mencari penyelesaian atau keamanan atau hak milik di dunia material yang fana ini, yang palsu ini.

Salah satu buktinya, yaitu sulitnya kita, untuk memahami dan menunjukkan Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, kepada orang di sekitar kita, yang kita lihat hanya kondisi outpicturing, kalau istilah bahasanya Kadhang kinasih saya Pak Eskamto dari brebes, yang artinya, kita dapat dengan jelas melihat, namun kita akan membatasi diri dan tidak pernah dapat menjadi penyebab segala jenis pemenuhan.

Dalam hal ini, tentu saja kita benar, tetapi kita tidak tepat, ketika kita melewati garis halus berpikir, karena kita bisa melihatnya, orang lain juga harus dapat melihatnya bukan…?! kalau hanya kita thok yang melihatnya, sedangkan orang lain tidak bisa melihatnya, apakah itu bisa di katakan benar/nyata…?! itu fikti, tahayul, hayalan kan…?!

Kita harus menyadari, bahwa alasan mengapa kita dapat melihat sesuatu, adalah karena kita telah sampai ke realisasi batin. Namun orang-orang lainnya, belum sampai ke realisasi batin itu, kita harus bisa membantu orang-orang yang belum sampai itu, jika mereka meminta untuk di beri tahu, supaya bisa sampai dan mengetahuinya sendiri, bukan katanya dan bukan malah di manfaatkan untuk kepentingan pribadi kita, jangan takut tersaingi, jangan takut nanti kehabisan murid, karena ilmu itu, semakin di amalkan, sama halnya telah mengasah, kalau di ibaratkan pisau, semakin di asah, ya semakin tajam, banyak pisau, tapi soal tajamnya pisau, kan bergantung pengasahannya.

Jadi, jangan takut di saingi murid atau di kalahkan oleh murid nantinya, dalam mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, tidak ada istilah guru dan murid, tidak ada kiyai dan santri, yang ada hanya Salin asah asih asuh, lagi pula, belajar mmengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, tidak akan mungkin, yang kita bimbing akan berkhianat atau murtad atau melawan kita, kalau sudah lulus, jika sampai terjadi kemurtadab, berati dia gagal kan, artikel, tetap lebih mumpuni Pembimbingnya, jadi,,, untuk apa takut tersaing atau dilawan oleh yang di bimbing… Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, kan memerintahkan kita untuk salin berbagi, satu sama lainnya…

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, ketahuilah, realisasi batin itu, tidak berpengaruh oleh apapun. Kesadaran murni itu, tidak tercampuri oleh apapun dan tidak bisa di campuri dengan apapun. Bukan kesadaran murni namanya, jika masih tercampuri dan bisa dicampuri. Banyak umat yang mumpuni berjihad/berjuang mati-matian, untuk menyadarkan sesama umat, namun sayang,,, merekah tersesat dalam ilusi ego, dan kesesatan ini, di luar kesadarannya. Dikiranya riligius. Dianggapnya sedang berspiritual, tidak tahunya,,, riligius spiritualnya, adalah riligisu spiritual dalam ilusi ego.

Mereka tergoda oleh ilusi dualitas, iman-nya terbagi-bagi, padahal mereka yakin, bahkan Haqkul Yakin, kalau Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu. Esa. Tunggal. Tidak beranak dan di peranakan. Mereka beranggap bahwa Buruk itu berasal dari Setan. Mereka mengira kalau Baik itu berasal dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Padahal mereka Yakin, bahkan Haqkul Yakin, kalau Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu Satu.

Di luar kesadarannya, mereka telah menduakan Tuhan/Allah. Tanpa sadar mereka telah mengatakan, bahwa ada dua Tuhan/Allah, yaitu Tuhan/Allah yang menciptakan buruk, tersebut setan, dan Tuhan/Allah yang menciptakan baik, tersebut Tuhan/Allah, ilusi dualitas ego ini, akan menyeret kita untuk mempercayai, bahwa itu akan lebih baik, memaksa orang lain untuk diselamatkan, itu benar.

Dan dengan demikian, kita mulai percaya, bahwa orang lain harus mulai menjalani kehidupan mereka, sesuai dengan realisasi batin kita. Jika tidak, kita merasa tidak cocok, risih, muak, karena tidak selaras, karena beda agama, karena beda keyakinan, karena bla,,,bla,,,bla,,, lainnya. Yang membuat kita jadi benci dan sirik pada mereka.

Dan kalau sudah demikian… Artinya kita menjadi terjebak dalam permainan ilusi dualitas ego, yang kita dapatkan dalam ajaran apapun, yang dianggapnya paling utama, mulai dari berusaha ingin mengubah perilaku atau keyakinan masyarakat, agar sesuai dengan kehendak kita dan sejalan dengan kita, bukannya mengikuti sinyal gaib dari sukma sejati atau Roh Suci atau Guru Sejati/Hidup kita, yang merupakan satu-satunya pengasah, untuk ketajaman, kemajuan atau pertumbuhan spiritulanya. Malah di bela-belai berdebat rebutan benar. Bahkan meledakan Bom Bunuh diri di gereja, masjid, hotel dan tempat-tepat dimana mereka yang tidak sejalan dan seagama sedang berkumpul. Sungguh amat kasihan,,, mengharukan.

Apakah kita benar-benar melihat secara nyata,,, seperti halnya Nabi Ibrahim As, yang di perintahkan untuk menyembelih putra kesayangannya Ismail…?! yang marasa bahwa apa yang kita lakukan itu, memaksa orang lain supaya seagama dan sekeyakinan dengan kita, adalah benar…?! Di perintah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, sehingga kita harus perlu dan penting untuk mendebat merebut benar bahkan membunuh…?!

Sehingga tak usah ada belas kasihan untuk menjatuhkan sesama makhluk, dan rupanya banyak dari mereka, benar-benar percaya mereka melakukan ini untuk tujuan yang lebih baik dan besar. Mereka melakukan hal itu karena hal itu benar, itu adalah demi kepentingan terbaik dari semua orang. Hal ini bahkan di percayai sebagai kepentingan terbaik dari penyingkapan rencana Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Dianggapnya… Dikiranya. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu, tidak bisa memahami rencana-Nya sendiri dan ciptaan-Nya sendiri. Padahal, sesungguhnya,,, makhluk itu, telah jatuh dan patah dalam pemahamannya, yang tidak lebih baik dari Sang Pencipta itu sendiri.

Waspadalah terhadap kehalusan ego, kebutaan utama dari ego. Karena itu saya menulis artikel ini, semuanya sama-sama tahu, mengerti dan paham, saya pernah mengalaminnya, sebab itu saya bisa menceritakannya, jangan sampai selain saya mengalaminya, karena sungguh amat sulit untuk bisa keluarnya, ini adalah kesadaran murni, untuk menyadari, bahwa tujuan itu, dapat menghalalkan segala cara, dan yang namanya tujuan itulah, yang di seara halusnya “ego” sangat persuasif. Dan itu sangat meresap dalam gerakan-gerakan ajaran apapun dan spiritual, bahkan dalam organisasi sekalipun.

Jika kita bisa teliti akan kesadaran murni, kita akan tahu, mengerti dan paham, bahwa dalam pelajari apapun, pasti ada kecenderungan yang sangat jelas, untuk percaya dan mempercayai, bahwa apa yang di pelajari itu, adalah pelajaran yang bermutu, yang paling benar, paling tepat, paling hebat dll, itulah ego, inilah seluk beluk ego. Inilah jawaban dari pertanya’an. Bagaimana Seluk Beluk Ego Yang Bersipat Religius dan Bersikap Spiritual itu…?!

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian….
Hasil dari Praktek saya di TKP. Bahwa berpikir itu bisa membuktikan, bahwa ini adalah yang benar, mutlak, sempurna untuk sistem keyakinan di Bumi/dunia, itu adalah sebuah kesalahan.

Sebab,,, agi yang sadar diri, tidak akan mendapatkan kepuasan sepenuhnya. Sehingganya, dia akan terus belajar dan beratih menggali dan dan mengkaji hingga sampai ke hakikat terhalus, yaitu Hakikat Hidup. Namun bagi yang yidak sadar diri, dapat terbujuk untuk mengejar penyebabnya, untuk waktu yang sangat lama, sebelum dia mulai menyadari, bahwa itu adalah tidak benar dan tidak tepat serta tidak sesuai dengan apa yang sedang di carinya.

Untuk itu,,, mulai sekarang, lestarikan Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dan Budidayakan kebersihan hati serta kejernihan bathin, agar kesadaran murni kita, bekal mutlak dari Dzat Maha Suci Tuhan/Allah kepada kita. Bangkit dari kuburnya… sehingga kita bisa selalu sadar untuk menyadari, bahwa harus ada nilai lebih kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dari apa yang dapat ditangkap dalam sistem kepercayaan di Bumi.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian….
Dan dengan pengalaman ini, pengalaman terbaru saya, yang saya peroleh diawal bulan september 2016 ini, hasil dari perkembangan/kemajuan Laku Spiritual Hakikat Hidup pribadi saya, saya mengetahui, bahwa Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, merupakan bagian dari inisiatif baru, untuk menjadi lebih dewasa, khususnya dalam olah spiritual. Saya tidak mengatakan ini dalam rangka mendorong perasa’an superioritas, tapi saya mengatakan itu sebagai anak tangga atau jalan. Soal Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian akan menggunakannya, untuk membangun Rasa superioritas atau Perasa’an superioritas, itu hak masing-masing diri pribadi Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian….

Tapi jika boleh saya memberi saran, bagi siapapun yang sedang belajar, jangan terjebak dan jangan menjadi mangsa jebakan, berpikir bahwa kita harus mengubah ajaran lain ke dalam sistem kita, dan sistem yang sekarang kita pelajari, adalah satu-satunya yang paling benar. Karena kalau itu kita perayai, kita akan seperti katak dalam tempurung. “Untuk apa benar, kalau itu bukan jalan pulang untuk kembali kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah” Nah,,, itu adalah kesadaran murni, kesadaran Hidup, kesadaran spiritual, kesadaran Ilahi, kesadaran Roh Suci/Kudus, Guru Sejati kita sendiri, yang akan menuntun jiwa raga kita dan menjamin dunia akherat kita.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com