KuPaS INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN DAN. WAHYU PANCA GHA’IB – PANCA LAKU:


KuPaS INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN DAN.
WAHYU PANCA GHA’IB – PANCA LAKU:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Selasa Kliwon. Tgl 14 Juni 2016

Bagi Wong Edan Bagu.
KUBUR ADALAH TEMPAT TERCANTIKU;
Dulu… Jenat Guru Spiritual saya, Ki Danan Jaya dari Panjalu jawa barat bagian selatan. Jika menjelang petang. Suka duduk di teras makam Raja-Raja Panjalu, yang letaknya di sebelah utara, berjarak sekitar 250 mtr kurang lebih, dari rumahnya. Pada suatu malam, saya menghapirinya dengan Pertanya’an-Pertanya’an;

WEB;
Guru,,, Menurut Guru, di dunia ini, di manakah tempat bersenang-senang, tempat yang paling indah?

Guru WEB;
Tempat yang paling indah itu terletak di sini “jawabnya”

WEB;
Disini…? Dikuburan…? “tanya saya lagi”

Guru WEB;
Ya betul. Menurut pendapat saya, tempat yang paling indah untuk bersenang-senang adalah di tanah pekuburan.

Saya terdiam, tidak mengerti apa maksud dari perkata’annya itu, karena saya merasa bersalah atas kelancangan pertanya’an yang tak berbobot itu, lalu saya sungkem di kakinya, untuk minta maaf. Lalu dengan lembut penuh cinta kasih sayang, tangan ramping berjari lentik dan berkulit keriputnya, mengelus ramput kepala saya, sambi berkata;

“Cung,,, (Le), kau tadi menanyakan pendapat saya. Tentu saja tempat yang paling indah bagi orang setua saya, ialah di tanah pekuburan. Apakah dengan umur saya, yang sudah setua ini, dapat mencari ketenangan di tempat-tempat hiburan. Jadi, kamu tidak salah, jadi,,, tidak perlu meminta maaf dan tidak perlu memaafkan”

Sejak itu, saya berpikir, bahwa kelak sayapun sama, seperti Guru saya, kurus, keriput dan tua, serta membutuhkan tempat indah, yaitu Kuburan, agar bangkai busuk saya tidak mengganggu setiap hidung yang masih bisa mengembus aroma. Karena yang namanya mati, adalah sesuatu yang pasti dan alami, bagi semua mahkluk hidup, pada suatu hari nanti. Meskipun sudah pasti, tapi tidak usah repot memikirkannya, kecuali membiasakan untuk selalu siap saja. Jika belum ada persiapan untuk kematian, secara bertahap benahilah apa-apa yang dianggap kurang. Maut kan tidak kenal orang sudah tobat atau belum, yang jelas kalau sudah tiba waktunya, ya itulah akhir hayat kita.

Hidup cuma sekali dan bukan sekedar untuk hura-hura serta mencari kesenangan dunia saja. Kita diciptakan oleh Dzat Maha Suci untuk beribadah kepada-Nya, bukankah semuan agama menganjurkan begitu? Dan Firman-Firman-Nya juga menjelaskan begitu?

Hidup kita di duniapun sudah digariskan oleh-Nya, jadi sangat naïf bila kita tidak mau menyembah-Nya dengan beribadah kepada-Nya. Apalagi dengan adanya hidup sesudah mati, waddduhh… jadi semakin ngeri nih, kalau belum tobat sa’at ajal menjemput.

Sejauh yang saya tahu, kematian itu datang bila seseorang sudah tidak punya mimpi dan gairah hidup lagi. Kan gampang saja bagi orang untuk mati, tapi kita tidak pernah mau kan? Kalau kita mati, kita kasihan sama keluarga kita yang telah membesarkan kita dan mau melihat kita sukses. Tidak tega sama anak-anak kita yang lucu-lucu dan istri kita yang cuantik denok deplon atau suami yang tampan dan gagah Perkosa. Eh,,, salah, maksudnya Perkasa. Pasti deh, kita tidak mau mati cepat, apalagi orang sekitar kita sering meledek, heemmmm,,, ingin ngebukti’in Aku dulu coy. He he he . . . Edan Tenan.

Dari Mana, Akan Kemana dan apa tujuan sebenarnya dari kehidupan ini ?
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya akan kembali).

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian. Ketahuilah… Dunia ini adalah Terminal. Hidup adalah kendara’annya. Sedangkan Laku adalah jalannya. Di terminal kita hanya mampir minum atau makan sekejap saja. Berhenti atau Lanjut adalah keputusannya. Sedangkan kita tau, terminal bukanlah tujuannya. Tujuan kita adalah rumah di kampung halaman, dan rumah kampung halaman itu, tidak berada di dalam terminal. Rumah kita adalah Dzat Maha Suci. Kampung halaman kita adalah Dzat Maha Suci.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya akan kembali).

“Tiap-tiap yang berjiwa hidup akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” ( QS. 21 : 35 )

Setiap orang, sekali waktu dalam kehidupan ini, pasti pernah mempertanyakan dalam dirinya tentang dari mana ia berasal, akan kemana, dan apa tujuan sebenarnya dari kehidupan ini. Oleh sebab itu. satu-satunya cara adalah dengan mengubah Pola Pikir manusia itu sendiri dan Penjelasan yang nyata, tentang pemikiran yang menyeluruh bab alam semesta dan isinya, terutaman manusia hidup dan kehidupan (di dunia dan akhirat).

Mengubah Pola Pikir;
“Jagalah Pikiranmu, karena Pikiran akan menjadi Perkata’anmu. Jagalah Perkata’anmu, karena Perkata’anmu akan menjadi Perbuatanmu. Jagalah Perbuatanmu, karena Perbuatanmu akan menjadi Kebiasa’anmu. Jagalah Kebiasa’anmu, karena Kebiasa’anmu akan membentuk Karaktermu. Jagalah Karaktermu, Karena Karaktermu akan membentuk Nasibmu. Maksimal Jagalah Hati/Qalbumu, karena Hati/Qalbumu akan menentukan Rasamu. Jagalah Rasamu, karena Rasamu akan menentukan Lakumu. Jagalah Lakumu, karena Lakumu akan menentukan Hyang Maha Suci Hidup-mu. Tuhan hantu apa hantu Tuhan atau hantu-hantuan apa Tuhan-Tuhanan”

Ini hanya bisa di lakukan dengan Wahyu Panca Gha’ib. Sebab diantara sekian banyak tuntunan, itu hanya Wahyu Panca Gha’ib yang mengajarkan Hidup dan Maha Hidup, dan hanya bisa di jalankan dengan Benar-Benar dan Sungguh-Sungguh. Karena Wahyu Panca Gha’ib. TITIK-nya hanya Dzat Maha Suci. Bukan dan Tidak selain-Nya. Karena itu, siapapun dia, dan dimanapun dia dan bagaimanapun politiknya. Kalau menjalankan Wahyu Panca Gha’ib, hanya sekedar iseng, coba-coba, atau pura-pura insyaf/tobat. PASTI akan mental bahkan tersungkur jatuh, kemungkinan besarnya MATI dengan cara mengerikan. Jadi, sangat tidak tepat kalau ada orang menghalangi apa lagi membenci orang yang sedang menjalankan Wahyu Panca Gha’ib. Karena orang yang menjalankan Wahyu Panca Gha’ib itu, adalah orang yang benar-benar telah bertaubat dan ingin menjadi benar secara sungguh-sungguh, bukan pura-pura. Kalau dia pura-pura. Pasti (FATAL) kualat kalau istilah jawanya.

Wahyu Panca Gha’ib, hanya bisa di jalankan oleh orang-orang yang benar-benar mau dan ingin bertobat/kapok secara sungguh-sungguh, bukan kapok lombok. Yang jika ada waktu dan kesempatan akan kumat lagi. Selain Wahyu Panca Gha’ib, bisa di perlakukan atau dijalan dengan cara iseng, coba-coba, atau pura-pura insyaf/tobat. Sekedar mencari Wah… Buktinya. Silahkan saksikan sendiri di sekitarmu. Mereka dengan bangganya bersembunyi di balik ajaran atau tuntunannya bahkan Tuhan yang di sembah dan di pujanya setiap sa’at. Dan mereka leha-leha saja. Justru malah semakin Wah… Ya apa iya…?!

Sedangkan Penjelasan yang nyata, tentang pemikiran yang menyeluruh bab alam semesta dan isinya, terutaman manusia hidup dan kehidupan (di dunia dan akhirat). Hanya bisa di dapat dengan cara mempraktekan Wahyu Panca Laku. Yaitu;

“Laku Pasrah kepada Dzat Maha Suci. Laku Menerima Dzat Maha Suci. Mempersilahkan Dzat Maha Suci. Merasakan semua Proses Dzat Maha Suci. Menebar Cinta Kasih Sayang kepada Apapun dan Piapapun”

Wahyu Panca Laku, itu bentuk lingkaran atau mata rantai yang salin terkait, tidak bisa terpisah atau berpisah “Sangkan Paraning Dumadi” sangkan paraning dumadi itu “lingkaran” Sangkan itu Asalnya berasal. Paran itu Tujuan. Dumadi itu kejadian. Asalnya dari Dzat Maha Suci. Tujuannya ya ke Dzat Maha Suci, karena Terjadinya juga dari Dzat Maha Suci. Jadi, kita tidak bisa lepas dan terlepas dari yang namanya lingkaran sangkan paraning dumadi Panca Laku. La kalau Wahyu Panca Gha’ib itu, yang di lingkari.

Jadi, kalau tidak dengan “Laku Pasrah kepada Dzat Maha Suci. Laku Menerima Dzat Maha Suci. Mempersilahkan Dzat Maha Suci. Merasakan semua Proses Dzat Maha Suci. Menebar Cinta Kasih Sayang kepada Apapun dan Piapapun” Apa bisa..?!

Wahyu Panca Gha’ib itu. Sangkan paraning dumadi. Sangkan paraning dumadi itu. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un itu lah. Wahyu Panca Gha’ib. Wahyu Panca Gha’ib atau Sangkan Paraning Dumadi atau Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Di lingkari oleh Wahyu Panca Laku. Apapun itu, tidak bisa lepas atau terlepas dari lingkaran ini. Tidak ada yang bisa terputus dan keluar dari lingkaran ini. Tinggal Tingkat Kesadaran kitanya saja. Sudah sampai di tingkat kesadaran apa dan dimana. Jadi, di sadari atau tidak di sadari, di akui atau tidak di akui, semua dan segalanya itu, terlingkari dan berada di dalam lingkaran ini. Artinya, semua dan segalanya itu, punya Wahyu Panca Gha’ib dan Panca Laku. Hanya saja, sudah menyadari apa belum, itu saja…

Pada saat Dzat Maha Suci menciptakan manusia, tidak meminta pendapat kita, apa perlu penciptaan itu atau tidak. Artinya Dzat Maha Suci itu Berkehendak. Dia telah memiliki tujuan yang mutlak berkena’an dengan penciptaan manusia. Tujuan hidup manusia adalah memeluk Dien yang hanif dan menyerahkan seluruh tujuan hidupnya kepada tujuan Dzat Maha Suci yang menciptakan. Seluruh kehidupan manusia hidup, harus menyerahkan seluruh kehendaknya kepada kehendak Dzat Maha Suci. Itulah yang disebut kehidupan mencari ridho Alloh, sesuai dengan kehendak dan tujuan Alloh menciptakan manusia.

“Maka apakah mereka mencari Dien yang lain dari Dien Alloh, padahal kepada-Nyalah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Alloh-lah mereka dikembalikan”. (Qs.3/83)

Bagi orang yang menjalankan Wahyu Panca Gha’ib, tidak punya cita-cita lain dalam kehidupan di dunia ini, kecuali hanya satu yaitu “Ridho Alloh”.”Pangestune Romo” Kenikmatan hidup dan berkehidupan yang paling hakiki, terletak pada keridhoan Alloh “Pangestune Romo” dan itu adalah kebahagiaan sejati. Tenteram yang Sebenarnya-Sesungguhnya.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un” Adalah kalimat Al-qitab yang di puja dan dipuji sebagai pedoman hidup, oleh seluruh umat muslim sedunia. untuk memperkuat dan menumbuhkan rasa penyerahan diri secara total tanpa syarat, pada Dzat Maha Suci Hyang Maha Segalanya, yang tidak diajarkan kepada Nabi/Rasul selain Nabi Muhammad SAW. Kalimat ini berdimensi vertikal dan horizontal. Kalimat ini juga yang disebut Ismul Azhom yang agung. Kalimat ini berdaya dobrak yang sangat kuat dalam percepatan penyelesaian segala masalah problematika kehidupan. Kalimat yang berati dasar (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya akan kembali).

Sudahkah kita benar-benar menyadarinya…?!
Tapi rupanya Kalimat ini, hanya bagi mereka yang mau membuka diri akan kedahsyatan Dzat Maha Suci dan samudra ilmu-NYA, yang tak terbatas pada yang tertulis saja. Saya rasa kita sudah sangat familiar dengan kalimat “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”. Baik secara arab maupun jawa atau indonesianya. Ketika ada orang meninggal. Namun sayangnya, secara umum kita hanya tahu untuk itu, sedangkan fungsinya lainnya dan Intisari Maksudnya apa dan bagaimana. ‘Embuh… He he he . . . Edan Tenan.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Apa dan Siapa itu Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono…?! Dan Apa Bedanya Allah dan Romo dan Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Smono…?!


Apa dan Siapa itu Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono…?!
Dan Apa Bedanya Allah dan Romo dan Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Smono…?!
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Rabu Wage. Tgl 08 Juni 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian… Artikel ini. Merupakan sambungan dari Artikel sebelumnya yang Berjudul; “APA ITU ROMO..?! Dan SIAPA ITU ROMO..?!”
Tentang Apa dan Siapa itu Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono…?!

Ini adalah Wedaran/Wejangan Tersulit dari saya untukmu sekalian Kadhang Didikan saya. Seharusnya Wejangan ini, hanya diperbolehkan oleh yang benar-benar sudah sampai di tingkatan makrifat. Namun karena saya percaya, kita semua adalah sama. Maka saya wedarkan/wejangkan disini/sekarang ini, dengan penuh Cinta Kasih Sayang untukmu sekalian. Karena itu, Berhati-hatilah. Gunakan Rasa-mu/Hati-mu. Jangan Akal-mu.

Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono, adalah nama dzat (ismu dzat) Tuhan Yang Maha Pencipta, memiliki beberapa sebutan atau nama-nama yang baik yaitu tersebut (asmaul husna) sebanyak 99. Nama-nama tersebut digunakan oleh Romo untuk mengagungkan Dia. Aku sebenarnya adalah Dia, Allah Azza wa Jalla. Romo ada kalau Dia senantiasa bersama Engkau. Romo itu bukan Allah Yang tidak ada Aku kecuali Dia, tetapi Allah itu adalah Romo Yang tidak ada Tuhan selain Dia.

Anda tahu di mana Aku?
Tapi Maaf… Anda pasti tidak tahu. Di mana keberadaan-Nya, bukan persoalan buat insan yang tak ada Aku di dalam dirinya. Anda bukanlah orang yang disayang oleh Romo, kalau tidak ada Dia menjadi Engkau Yang senantiasa mengagungkan Aku. Anda pasti bingung menangkap semua kalimat saya ini.

Mengapa?
Karena anda bukanlah Dia Yang senantiasa memuji Engkau sebagai Aku. Akal,,,? bagaimana engkau menangkap-Ku? Aku tidak bersamamu, akal!

Maaf… Anda sebenarnya pusing bin bingung jika semata-mata mengandalkan akal, tidak mau memahaminya lewat perantara’an hati/rasa. Akal itu hanya mengerti dengan kata-kata yang ril. Kata-kata atau kalimat abstrak, sangat sulit ditangkap. Padahal sesuatu yang abstrak, menjadikan yang ril mudah dipahami. Bila selalu ril dan mengabaikan yang abstrak, justru di situlah akal tak mampu melampaui semuanya. Maka, bahwa akal sesungguhnya hanya mampu sebatas yang ril, memang benar ada-Nya.

Maaf… Anda pasti belum memahami kata ‘ada-Nya’ dalam kalimat tersebut. Sementara ini anda selalu mengatakan: ‘benar, memang begitu ada-Nya’. Kalimat yang anda pakai tidak disadari, bahwa adanya adalah ada-Nya. Ada menunjuk kepada Allah SWT. Semua yang ada tak mungkin ada bila tidak ada Dia, Romo Yang Maha Ada. Dia adalah kedudukan Allah yang diganti dengan ‘Nya’. Kata ganti Dia adalah ‘Nya’ mengisyaratkan bahwa Dia benar-benar ada dalam kalimat tersebut.

Maafkan,,, anda mulai bertambah pusing bin bingung!
Sekali lagi maafkan, cobalah menggunakan hati/rasa, jangan terus menerus menggunakan akal ketika membaca kalimat-kalimat dalam artikel saya, terutama soal seperti di atas!

Sekalipun akal anda cerdas, bila memahami perkataan Romo atau bahasa seni Hidup, jangan selalu mengabaikan hati/rasa. Menemukan pemahaman atas kalimat-kalimat Romo harus dengan hati yang tenang, hati yang tenang itu adalah Rasa. tidak dengan dalam keadaan hati yang gelisah, hati yang gelisah itu adalah perasaan. Lama akan memahaminya bila dalam hati yang kosong dari mengingat nama-Nya. Anda bukan tidak mengerti, akan tetapi anda tidak akan memahami, secara mendalam apa yang sesungguhnya dari semua itu (kalimat-kalimat Romo).’Anda diam, Romo ada. Anda ada, Dia diam.’ Kalimat ini sulit dipahami!

Anda akan mudah memahami bila bertanya kepada hati/rasa. Contoh; ‘Hai hati/rasa, aku tak memahami apa makna dari kalimat tersebut, beritahukan aku!’ Maka,,, anda akan mendapatkan apa yang anda inginkan. Secara hati/rasa, kalimat “Anda diam, Romo ada. Anda ada, Dia diam” memiliki makna (bukan tafsir) dan hanya bisa di pahami oleh hati/rasa.

Maksud dari Kalimat “Anda diam, Romo ada. Anda ada, Dia diam, sebagai berikut: ‘Anda diam bermakna anda tak pernah berbuat sesuatu tentang yang diperintahkan oleh Romo. Sementara Romo adalah Tuhan Yang senantiasa ada di manapun. Allah Azza wa Jalla tidak akan diam bila anda berbuat sesuai dengan perintah-Nya. Maka, anda ada apabila Ada-Nya Romo yang berdiam di hatimu. Sangat mudah bagi Romo untuk berbuat sebagaimana kehendak-Nya.’

Perhatikan pemaknaan kalimat tersebut ketika hati memberitahu apa yang sebenarnya dari kandungan kalimat tersebut. Anda tak akan pernah memahami bila selalu menggunakan akal untuk menjangkaunya!

Akal anda tak lebih mengikuti bagaimana yang mengajak. Bila “Hati/Rasa” yang mengajak, maka akal menjadi cerdas dengan tunduk kepada Allah Azza wa Jalla. Tetapi, sebaliknya, bila “Pikiran/Perasaan” yang mengajak, maka akal akan menjelaskan dengan penuh tipu daya. Akal tidak mengakui apa yang datangnya dari hati apabila “Pikiran/Perasaan” sudah menguasainya. Sebaliknya, bila “Hati/Rasa” menjadi imam dalam diri, maka akal mengimaninya dengan segenap hati yang menjadi imamnya dalam jiwa.

Allah Azza wa Jalla akan senantiasa membimbing akal yang patuh kepada perintah-Nya dan yang menjauhi larangan-Nya. Allah Azza wa Jalla akan menunjukkan jalan terbaik menuju Romo, bagi akal apabila dia mau mengikuti hati, yang telah diberi petunjuk. Anda takkan mampu mengetahui sesuatu pun, bila tiadanya pentunjuk dari Allah yang dipancarkan ke hati anda. Mengetahui sesuatu sama sekali bukan pekerjaan mudah. Terkadang anda dapat mengetahui sesuatu, karena ada yang memberi tahu bukan. Tetapi, anda sendiri jarang mengetahuinya secara langsung.

Sebagai contoh, suatu ketika anda menulis tentang ilmu fisika. Anda sedang menggeluti bidang tersebut di kampus, sementara ilmu fisika yang anda pelajari berasal dari teori newton. Kemungkinan besar, anda pasti tidak akan mengetahui bila bukan karena dosen anda yang memberi tahu atau penulis buku yang menjelaskan teori newton tersebut. Sebab anda pasti tidak mungkin menemui newton yang sudah meninggal. Saya juga tidak mungkin mengetahui apa yang saya tulis, bila bukan karena adanya pesan-pesan yang muncul dari dalam hati, karena saya sudah tidak pernah membaca buku agama.

Saya hanya menuliskan apapun yang ada dari dalam hati/rasa. Saya mengetahui karena ada yang memberi tahu, bukan produk saya (akal) sendiri. Akal saya sudah tak mampu mengurai kalimat yang isinya berkaitan dengan petunjuk Romo.

Sekali lagi, anda hanya mengetahui setelah diberitahu. Anda tahu bukan karena akal anda. Akal berfungsi menampung informasi, mengolahnya, menganalisa, lalu menyimpulkan. Tetapi, awalnya, informasi itu bukan produk akal, melainkan berasal dari yang mempunyai informasi. Oleh karena itu, anda tidak semestinya bangga dengan semua produk akal anda. Karena akal, kalau tidak ada informasi tak mungkin berfungsi sebagaimana seharusnya. Secara kebetulan, informasi yang anda peroleh selalu di wilayah lahir (alam dunia yang tampak). Anda sesungguhnya mendapati informasi itu sebagai karunia juga, meski datangnya bukan dari hati. Hanya saja, kewaspadaan terhadap informasi itu, patut anda pertimbangkan.

Sekali lagi. Maaf… Anda sesungguhnya tidak mengetahui apa-apa kalau tidak diberitahu atau mencari tahu tentang sesuatu yang anda perlukan itu. Iya apa iya? Hayo….

Jadi, peradaban umat manusia, sesungguhnya bukan produk manusia saat ini, melainkan produk para pemikir terdahulu, yang telah menghasilkannya. Saat ini, produk-produk itu dikembangkan lebih jauh mengikuti perubahan global, yang sangat membutuhkan komunikasi lintas negara dan budaya. Ilmu matematika, ilmu elektronik, ilmu fisika, ilmu komunikasi, ilmu astronomi, ilmu peradaban, ilmu logika, ilmu metafisika, ilmu geologi, ilmu kedokteran, dan ilmu-ilmu lain, sesungguhnya telah ada jauh sebelum ada sekarang ini. Maka, sejalan dengan kebutuhan umat manusia, Allah Azza wa Jalla telah menyediakan seluruh keberadaan ciptaannya, baik di langit maupun di bumi, untuk menjadi bahan pemikiran bagi orang-orang yang berakal, yang meyakini akan kebenaran Romo sebagai Yang Menjadikan semua ini terjadi.

Aku adalah Engkau yang berada di wilayah-Ku. Apapun yang Aku kehendaki adalah itu kekuasaan-Ku, bukan milik makhluk-Ku. Aku bukan kamu, dan Dia juga bukan dirimu. Tetapi, aku adalah Diri-Ku bila Aku sayang kepadanya. Dia bukan engkau, tetapi aku adalah Dia sekiranya Romo berada di dalam dirinya. Allah bukan seperti dia, tetapi Dia adalah aku dalam pandangan-Nya. Allah Azza wa Jalla bukan Romo Yang Aku adalah dia, melainkan Dia adalah Allah Azza wa Jalla yang bersamanya.

“Saya bukan kamu, tetapi dia adalah aku, maka aku pasti adalah dia yang bukan saya maupun kamu”

Coba bagaimana anda memaknainya?
Apakah akal anda dapat memahami secara langsung semua uraian saya tersebut?
Bingung kan…?
Pusing kan…?

Karena semua yang saya ungkapkan bukan itu produk akal, melainkan produk hati/rasa. Anda pasti akan mengerti apa yang saya uraikan di atas, apabila saya memberitahukan penjelasan rinya. Anda baru bisa yakin.

Sekiranya tidak ada informasi, apakah akal anda dapat menangkapnya?
Semisal contoh; anda mengerti dengan apa yang saya uraikan diatas, karena anda sudah pernah membaca tulisan para ahli tasawuf di internet. Anda sesungguhnya mengetahui karena sudah ada informasi sebelum saya menguraikannya sekarang. Andaikan tidak ada informasi tentang ilmu tasawuf yang mengajari tentang kedudukan Aku, Engkau, dan Dia dalam kedudukan-Nya di antara Allah dan hamba-Nya, maka tak mungkin Anda mengerti.

Misal contoh lagi; anda menjadi semakin pusing bila mencernanya, dengan pandangan akal, yang tidak ada informasi sebelumnya. Akal anda akan mudah memahami, kalau sudah diberitahu!

“Saya pasti bukan kamu karena saya adalah aku, sedangkan kamu adalah engkau. Apabila dia sebagai aku, maka dia pun seperti aku sebagaimana aku saat ini. Untuk itu, aku dan dia pasti bukan saya apalagi kamu. Yang ada adalah dia itu aku, dan aku juga adalah dia dalam kedudukanku yang bila aku bagaikan dia” He he he . . . Edan Tenan.

Malaikat adalah perantara antara Kita dengan Allah, malaikat dan allah ini, sesungguhnya berada di dalam diri kita. kita sebenarnya ada di antara Allah dengan malaikat. Anda sendiri tidak menyadarinya. Bila suatu ketika anda ada di tengah hutan sendirian, maka malaikat menemani anda, sampai ada orang atau pertolongan datang. Sayangnya, sekali lagi Maafkan, anda tidak menyadarinya. Bagaimana anda mengenali bahwa ada malaikat pada diri anda?

Saya adalah manusia hidup yang wajar, tentu tak mungkin mengetahui jika tidak diberitahu oleh Allah Yang Maha Bijaksana. Anda ada di manapun, malaikat senantiasa bersama anda. Ada enam malaikat yang bersama kita setiap saatnya. Dia adalah Malaikat Jibril. Mika’il. Ijro’il dan Isrofil, yang dalam istilah jawanya dikenal dengan sebutan Mutmainah. Aluamah. Supiyah dan Amarah atau sedulur papats. Sedangkan yang duanya adalah Malaikat Rotib dan Atid. Malaikat atid ditugasi untuk mencatat seluruh amal perbuatan anda yang tidak baik. Sedangkan malaikat rokib menulis seluruh amal perbuatan anda yang baik.

Apakah mereka berenam selalu menjaga anda? Tentu saja, dia menemani anda dalam keadaan apapun. Romo menciptakan ke enamnya sama pada setiap diri manusia. Mereka berenam selalu melaporkan keadaan perbuatan manusia hidup yang dijaganya kepada Romo.

Manun sekali lagi mohon maakan saya. Anda selalu saja tidak tahu akan kehebatan Allah Azza wa Jalla. Meskipun sudah diberitahu, tetapi anda tidak mau tahu apapun yang seharusnya anda lakukan.

Mengapa anda selalu berat untuk menjalankannya?
Bukankah Romo telah memberi anda semua kebutuhan hidup?
Saya sendiri juga begitu. Sekiranya anda adalah saya, tentu akan berkata: “PASTI” bukan insya Allah, karena setiap manusia hidup, sesungguhnya tidak tahu apa-apa.’ Inilah selintas pengakuan saya dalam kedudukan sebagai manusia hidup yang wajar.

Anda, juga saya, tak lebih sebatas makhluk yang tak berarti apa-apa di hadapan kebesaran Romo. Allah Azza wa Jalla berada di mana-mana, sebenarnya senantiasa mengawasi, apakah ada di antara manusia dan jin yang berbuat untuk kebahagiaan kelak di alam keabadiannya?

Anda sama sekali tidak bakal pernah tahu apa-apa bila tidak diberitahu oleh Allah. Adakah manusia yang saat ini dengan intelegensi yang briliant mampu menciptakan daun sebagaimana Romo menciptakannya? Tidak ada bukan… Romo seakan menantang semua manusia hidup, karena manusia ciptaanya, selalu membangkang kepada-Nya. Anda sebenarnya mengakui secara jujur, bahwa anda tak mampu berbuat apa-apa, apabila saya adalah saya. Pasti anda bertambah bingung, bukannya dapat memahami apa makna dari pernyataan ‘saya adalah saya’.

Apalagi jika anda ditanya di mana Allah SWT berada. Anda bahkan belum tahu apa yang akan terjadi besok. Maka, apabila ada seorang manusia yang sombong di hadapan Romo, dia tak ubahnya dengan se onggok mayat hidup. Allah Azza wa Jalla berkehendak agar manusia mengikuti nenek moyangnya, yaitu Adam a.s, yang menangis menyesali perbuatannya, hanya karena beliau tidak mengikuti ajakan Allah Azza wa Jalla, untuk tidak mendekati sebuah pohon larangan.

Allah Azza wa Jalla berfirman: “Hai Adam diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang dzalim” (al-Baqarah:35).

Namun Adam terpedaya oleh kecantikan Hawa yang nan molek, sehingga dia lalai akan kebenaran Allah Azza wa Jalla, yang jauh lebih Cantik dan Molek dibandingkan dengan Hawa. Sehingganya, keduanya harus menanggung beban didunia fana ini. Namun Adam menyesalinya dengan penyesalan yang tiada henti-hentinya, begitupun dengan Hawa. Allah Azza wa Jalla berkehendak agar semua keturunan Adam mengikuti nenek moyangnya ini.

Sadarlah wahai manusia, hidup ini hanya sebentar. Sangat pendek berlalunya. Hanya tinggal menunggu waktu yang tak ada seorang pun tahu. Lebih lama tinggal di alam kelanggengan, alam mulanya kita di ciptakan, bahkan tak ada lagi peluang untuk kembali. Kekal di dalamnya. Seluruh manusia akan berakhir dengan pertanggungjawaban akan amal perbuatannya waktu hidup di dunia.

Jika anda bertanya, adakah pintu tobat bagi yang mau mengubah amal perbuatannya, dari yang tidak baik menjadi lebih baik? Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Menerima tobat orang-orang yang ingin berhenti dari perbuatan jahatnya. Karena itu. Romo akan menghapus dosa orang yang betul-betul bertobat (taubatan nasuha) sekalipun dosanya sebesar gunung uhud. PASTI, bukan insya Allah.

Kehidupan di dunia memang sangat terasa nikmat, bila dihadapkan dengan sejumlah perhiasan, uang, wanita/pria, jabatan, dan akan lebih mengasikan kalau di kombinasi dengan kebencian, dendam, iri dengki, fitnah kepada sesama mahkluk hidup, akan tetapi… Ketahuilah, dunia ini adalah ladang tempat menanam benih amal perbuatan (Karma) Bagaimana benih yang anda tanam, akan menentukan anda meraih buah amal perbuatan yang anda tanam.

Saya sadar bahwa sesungguhnya masalah ini sudah banyak yang membicarakan, tetapi anda tetap saja belum berubah. Bahkan andaikan anda dipaksa sekalipun, belum tentu dapat menerima keadaan yang sesungguhnya. Semuanya bergantung pada tingkat keyakinan anda. Allah Azza wa Jalla adalah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semua sudah pasti tahu. Akan tetapi, anda adalah manusia yang baru sampai mengetahui dari sisi perkataan saja, belum mengerti apa yang sebenarnya bahwa Allah Azza wa Jalla itu memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Bagaimana anda memaknai Allah Azza wa Jalla sebagai Tuhan anda, yang senantiasa ada dalam kekuasaan-Nya? Anda akan mengalami kesulitan, sekiranya dimintai untuk menjelaskannya. Anda adalah manusia biasa yang sulit mengerti bila anda belum mencapai tingkat dalam perbendaharaan asal-asul hadirnya manusia di muka bumi. Sulit adalah sebuah ancaman untuk menjauh dari kemampuan anda, untuk mudah memahami apapun. Sekiranya anda adalah manusia yang diberi ancaman akan persoalan hidup, maka bagi anda dunia itu akan menjerat anda, saya yakin, masih sulit untuk menangkap perkataan saya, apabila tidak saya jelaskan. Apalagi, anda dapat menangkap pengertian dari ayat-ayat di dalam al-Qur’an.

Mengapa banyak orang berusaha menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an?
Sesungguhnya karena ayat-ayat Allah itu sama sekali tidak ada yang dapat di mengerti secara langsung, apa yang sesungguhnya dari firman Allah Azza wa Jalla tersebut. Akan tetapi, bila anda termasuk yang diberi petunjuk oleh Romo Yang Maha Mengetahui. Pasti, tidak perlu menafsirkan pun akan diberitahu. Adakah yang dapat menyangkal pernyataan saya ini?

Sudahkah Pernah Pasrah kepada Allah Azza wa Jalla?
Sudahkah Pernah Menerima Allah Azza wa Jalla?
Sudahkan Pernah Mempersilahkan Allah Azza wa Jalla?
Sudahkah Pernah Merasakan Semua Proses Dari Allah Azza wa Jalla?
Dengan Cara Menebar Cinta Kasih Sayang Kepada Siapapun dan Apapun Demi/Karena Allah Azza wa Jalla?

Ya Allah…Yang Maha Mengetahui hal-hal goib. Yang Mengetahui persolan hidup manusia. Yang Tak Dapat dijangkau oleh panca indera. Yang Memelihara keyakinan orang-orang bertakwa. Yang Menyediakan kebutuhan manusia. Yang Maha Mendengarkan orang-orang yang berdo’a.

Yang senantiasa mengabulkan do’a orang-orang yang berdo’a, dengan penuh keyakinan. Salahkah bila aku senantiasa memuji-Mu dengan perkataan seperti itu? Segala puji hanya untuk-Mu. Semua makhluk di kerajaan langit dan bumi tunduk kepada-Mu. Haruskah aku bertanya dulu kepada-Mu? Tidak! Sudah pasti memang Engkau Yang Maha Terpuji,

Duhai Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono… Adakah yang memberiku petunjuk kalau bukan Engkau? Tak mungkin ya Allah selain diri-Mu! Adakah yang dapat menjadikan manusia merasakan bisa dengan sendirinya? Mustahil. Semua pasti karena Engkau!

Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono adalah Tuhan langit dan bumi serta siapapun dan apapun yang berada di dalamnya dan di antara keduanya, Akankah aku berlepas dari pertolongan-Mu? Naudzu billahi min dzalik. Sangat mustahil manusia hidup berlepas diri dari pertolongan-Mu.

Wahai Allah Azza wa Jalla… Kini aku sadari bahwa; hanya Engkaulah yang memberiku pertolongan, hanya Engkaulah yang memberiku makan, hanya Engkaulah yang dapat menjadikan manusia bisa apa-apa, hanya Engkaulah yang menunjukkan aku kepada jalan-Mu, hanya Engkaulah yang serba bisa.

Andaikan aku tidak ditolong oleh-Mu, maka pasti aku termasuk orang-orang yang merugi, maka pasti tak ada kemampuan apapun dalam diriku, maka pasti semua yang ada menjadi hujatan dan dakwaan padaku, maka pasti takkan mungkin aku mengerti petunjuk-Mu. Untuk itu, Wahai Allah Azza wa Jalla, berilah aku pertolongan-Mu, hanya dengan itu aku menjadi sebagaimana aku sekarang, hanya dengan itu aku dapat merasakan nikmatnya sebagai hamba, hanya dengan itu aku bukan termasuk orang-orang yang sombong kepada-Mu kabulkanlah do’aku ya Karim.

Apa dan Siapa itu Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono…?!
Dan Apa Bedanya Allah dan Romo dan Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Smono…?!

INI JAWABANNYA:
“Apa dan Siapa itu Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono…?!”

Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono. Adalah; Dzat Hyang Maha Suci atau Allah Azza wa Jalla. Seru sekalian alam dan isinya. Yang memiliki 99 sebutan naman dalam (asma’ul husna) temasuk Allah dan Romo serta Tuhan atau Gusti.

“Apa Bedanya Allah dan Romo dan Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Smono…?!”

Allah adalah Hidup; yang menempati setiap wujud yang Hidup. Sedangkan Romo; Adalah bersatunnya atau menyatunya Allah/Hidup dengan Hyang Maha Suci Hidup. Kalau Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono. Adalah; Dzat Hyang Maha Suci atau Allah Azza wa Jalla. Selesai.

Duh… Gusti Dzat Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd:Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Haqikat Hidup-nya Syare’at. Haqikat Hidup-nya Thariqat-Tasyawuf. Haqikat Hidup-nya Haqikat. Haqikat Hidup-nya Ma’rifat:


Haqikat Hidup-nya Syare’at. Haqikat Hidup-nya Thariqat-Tasyawuf. Haqikat Hidup-nya Haqikat. Haqikat Hidup-nya Ma’rifat.
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Selasa Legi. Tgl 07 Juni 2016

1. Haqikat Hidup-nya Syari’at:
Menurut saya. Hakikat Hidupnya Syari’at. Saya gambarkan seperti jalan setapak yang menuju saluran air. Dipelajari melalui ilmu fiqih dan usuluddin, yang artinya adalah ilmu Kepastian hukum ilmu Tata cara beribadah. Aqidah, perintah dan larangan. Yang berinti menjalin hubungan dengan Allah dan antar manusia hidup. Amal-ibadah dan olah lahir yang tujuannya membangun akhlak yang baik. Sumbernya dari wahyu Allah dan sunnah. Maksudnya adalah Firman Allah dan Sabda Rasul. Pemahamannya melalui otak kiri.

2. Haqikat Hidup-nya Thareqat atau Tasawuf:
Adalah Jalan dari saluran air menuju mata air. Riyadhoh. Suluk. Lelaku. Maksudnya adalah olah bathin, untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwa’an, melalui pengalaman spiritual yang dialami secara pribadi, bukan kata orang lain, melalui dzikir-semedi, olah bathin untuk pengembangan otak kanan.

3. Haqikat Hidup-nya Haqikat:
Adalah sudah mencapai sumber mata air. Mencari Sang Pencipta air. Tonggak terakhir, tajalli, mukasyafah, penyaksian dan penghayatan rahasia-rahasia keTuhanan melalui mata hatinya “Rasa”, bukan mata lahir.

4. Haqikat Hidup-nya Ma’rifat:
Adalah Sampai kepada Sang Pencipta air. Para pencari (Salik) , sampai pada Al-Haq.

5. Dan Wahyu Panca Gha’ib:
Bersama, menyatu, bersatu padu menjadi satu dengan Dzat Sang Pencipta dan Pemilik Air. Tanpa kata. Tanpa suara. Tanpa tapi apapun.

Ibarat buah kelapa;
Kulitnya adalah syari’at.
Dagingnya adalah thariqat atau tasyawuf.
Minyaknya adalah haqiqat.
Minyak kelapa bekas, yang dalam bahasa jawanya disebut. Jalan-Tah. Itulah jalannya. Yang pernah dilalui oleh Para Nabi dan manusia-manusia Hidup yang berhasil mencintai dan di cintai oleh Allah. Apapun itu, tidaklah penting. Yang penting dan terpenting adalah “Allah Mencintai-ku apa TIDAK”

Nabi Muhammad saw Bersabda:
Manusia dalam keadaan tidur, ketika mati dia terbangun . Ruh Suci-Hidup-nya bangkit.
Harus bisa mati sebelum mati, agar kesadaran Ruh Suci-Hidup-nya bangkit. Hanya Ruh Suci-Hidup yang bisa berkomunikasi dengan Allah.
Bacalah kitab yang kekal yang berada di dalam diri kalian.
Urusan dunia engkau lebih tahu, tapi tata cara beribadah ikutilah caraku…!!!

Suatu ketika ada yang bertanya kepada Rosulullah saw;
Ya Rosulullah apakah engkau Tuhan…?
Rosulullah menjawab;
Bukan, aku A-RAB tanpa huruf Ain… berarti Aku Rab.

Suatu ketika ada yang bertanya lagi kepada Rosulullah saw;
Ya Rosulullah apakah engkau Tuhan…?
Rosulullah menjawab;
Bukan, aku AHMAD tanpa Mim… berarti Aku Ahad.

FIRMAN ALLAH:
Tanda-tanda Kami disegenap penjuru, dan didalam diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al Qur’an itu benar… ( FUSHSHILAT 41 : 53 ).
……di dalam dirimu, apakah engkau tidak memperhatikan ( ADZ-DZARIYAT 51 : 21 ).
Setelah Aku sempurnakan kejadiannya, Aku tiupkan Ruh-Ku kepadanya ( Al Hijr 15 : 29 ).
Dia lah Jibril yang menurunkan Al Qur’an ke dalam Qolbu-mu ( Al Baqarah 2 : 97 ).
Ini adalah ayat-ayat yang nyata dalam hati ( qolbu ) orang-orang yang diberi ilmu ( Al Ankabut 29 : 49 ).
Ayat-ayat kami disegenap penjuru dan di dalam diri mereka sendiri (Fushshilat 41 : 53).

KESIMPULANNYA:
Berarti Essensi Dzat Ilahiah, berada di dalam semua cipta’an-NYA.
Barang siapa mengenal dirinya maka dia mengenal Tuhannya.
Barang siapa mengenal Tuhannya maka dia merasakan diri/Hidupnya.
Barang siapa yang mencari Tuhan keluar dari dirinya, maka dia akan tersesat semakin jauh.

Tauhid murni, adalah penglihatan atas Tuhan dalam semua benda. Bila kita tidak menyadari adanya Unsur-Unsur KeTuhanan yang tersembunyi di dalam setiap ciptaan-Nya, berarti islamnya adalah islam semu. Tapi bila menyadari adanya adanya Unsur-Unsur KeTuhanan yang tersembunyi di dalam setiap ciptaan-Nya. Maka dia akan mengatakan sama seperti Wong Edan Bagu dengan Sangat Berani TEGAS…!!!.

Aku tidak melihat segala sesuatu kecuali Allah.
Aku tidak melihat segala sesuatu tanpa Allah di dalamnya.
Sambil tertawa. He he he . . . Edan Tenan.

La kalau sudah begini. Layak-kah kita salin membenci…?! Pantas-kah kita salin membedakan…?! “Sirik Iri Dengki” Tidak bukan… yang ada Hanyalah. Pasrah kepada Hyang Maha Suci Hidup. Menerima Hyang Maha Suci Hidup. Mempersilahkan Hyang Maha Suci Hidup. Dan Merasakan semua Prosesnya dengan menebar Cinta Kasih Sayang kepada apapun dan siapapun (Wahyu Panca Laku). Walau hanya sedikit, masih ada waktu. Maka… Silahkah di Pikir pakai Logika sewajar dan seumum mungkin.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

KISAH PERJALANAN SPIRITUAL Wong Edan Bagu. DALAM MENEMUKAN TIGA TITIK PENENTU IMAN. Yaitu CINTA KASIH SAYANG Bagian Satu:


KISAH PERJALANAN SPIRITUAL Wong Edan Bagu. DALAM MENEMUKAN TIGA TITIK PENENTU IMAN. Yaitu CINTA KASIH SAYANG Bagian Satu:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Sabtu Kliwon. Tgl 04 Juni 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur Kenasihku sekalian. Mugio tansyah pinayungan Mring Dzat kang Maha Suci, kanti Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet untukmu sekalian. Ada banyak pengalaman yang pernah saya dapatkan di sepanjang perjalanan spiritual saya dulu, sebelum menjalankan Laku Hakikat Hidup, dan pada kesempatan kali ini, saya ingin membagikan pengalaman tersebut, kepadamu sekalian, dengan harapan, semoga bermanfaat bagi siapapun yang sedang menempuh proses perjalanan spiritual, sebagai wacana penambahan pengalaman.

Awal mula saya tiba di tanah jawa, tepatnya di telatah tanah pasundan cirebon, yaitu tanah kelahiran saya sendiri, setelah di kenalkan dengan ilmu syare’at, hakikat, tarekat, tasyawuf dan makrifat, oleh tiga orang guru yang membimbing saya kala itu, sehingganya berdasarkan bimbingan tiga guru inilah, saya semakin haus dengan yang namanya spiritual. Karena itu, saya merasa tidak cukup memiliki hanya tiga orang guru saja, selain melanglang buana untuk mencari guru-guru yang lebih hebat dan mumpuni dalam segala hal, saya juga rajin membaca qitab-qitab agama yang saya selami kedalamannya waktu itu, saya juga suka membaca buku-buku spiritual peninggalan para ahli spiritual jaman dulu, selain kisah perjalanan sejarah para Nabi, ada dua tokoh s[iritual yang cukup menggugah vital saya, diantaranya adalah; Jalaludin Rumi, seorang Ahli Spiritual dari kalangan Sufi dan Sidharta Gautama, seorang Ahli Spiritual dari kalangan Pertapa, yang pada akhirnya menjadi titik fokus ajaran Budha.

Dua Tokoh inilah yang telah berhasil menggugah organ vital keTuhan-nan saya, sehingganya, selalu haus untuk bisa mencapai puncaknya spiritual yang sebenarnya, apapun risikonya dan bagaimanapun caranya.

Lalu, seperti apakah sejarah perjalanan spiritual mereka berdua ini?
Sehingganya sampai bisa membangkitkan organ vital keTuhan-nan saya?
Mari kita simak wedarannya, yang tentunya sudah bercampur dengan perjalanan spiritual pribadi saya. Semoga bermanfa’at untukmu sekalian. Amiin.

Yang Pertama;
Para Kadhang dan Para Sedulur Kenasihku sekalian…
Tersurat di dalam sebuah buku spiritual kuno, yang awal terjadinya di sebelah selatan Nepal, di kaki gunung Himalaya, terdapat sebuah tempat suci bernama Lumbini, yaitu tempat di mana Sang Buddha lahir. Banyak sekali umat Buddha dari seluruh dunia berziarah ketempat tersebut, untuk memberikan hormat kepada seorang bijak, yang kisah hidupnya tidak lekang pudar oleh waktu. Terdapat banyak sekali cerita tentang Sang Buddha, di setiap tradisi, setiap budaya, setiap periode waktu, memiliki kisahnya sendiri tentang Sang Buddha. Kurang lebih lima ratus tahun setelah meninggalnya Sang Buddha, baru mulai ada materi tertulis mengenai biography Sang Budha. Jadi, selama kurang lebih lima ratus tahun silam, ajaran tentang Sang Buddha diajarkan secara oral atau lisan.

Tentunya ada seseorang yang berkorespondensi dengan Sang Buddha sehingga orang tersebut dapat menuliskan kisah tentang Sang Buddha, tetapi kita tidak tau siapa kah orang tersebut, apa kah apa yang dia paparkan tersebut benar atau jangan-jangan hanya dongeng belaka, berapa banyak dari kisah Sang Buddha yang benar-benar realita. Tetapi di luar dari semua itu, kisah perjalanan hidup Sang Buddha merupakan salah satu cara yang indah untuk menyampaikan ajaran Sang Buddha.

“Dia yang melihat ajaranku melihatku, dan dia yang melihatku melihat ajaranku”, demikian kata Sang Buddha.

Lahir lebih kurang lima ratus tahun sebelum kelahiran Nab Isa, yang oleh umat kristiani di sebut sebagai Yesus. Sang Buddha lahir dan diberi nama Sidharta Gautama, ayahnya bernama Raja Sudhodana. Selama kurang lebih tiga dekade Sang Buddha dibesarkan dengan sangat hati-hati oleh ayahnya, tinggal di istana dengan segala kemewahan layaknya seorang anak Raja, pergi ke mana-mana terlindung dari panas dan hujan. Ayahnya menginginkan Sidharta menjadi seorang Raja, menaklukkan dunia dan menjadi Kaisar India yang pada waktu itu terpecah menjadi tujuh belas kerajaan.

Istri Raja Sudhodana bernama Ratu Maya. Sebelum melahirkan Sang Buddha, Ratu Maya mendapatkan sebuah mimpi yang aneh, Ratu bermimpi ada empat orang Dewa Agung membawa Ratu ke gunung Himalaya, meletakkannya di bawah pohon Sala, kemudian Dewa Agung memandikan Ratu di danau Anotatta, selanjutnya Ratu di pimpin masuk ke sebuah istana emas yang indah sekali… dan kemudian Ratu dibaringkan di atas sebuah dipan, di tempat itu lah seekor gajah putih memegang sekuntum bunga teratai di belalainya masuk ke kamar, mengelilingi sang Ratu sebanyak tiga kali, kemudian masuk ke perut Sang Ratu melalui perut sebelah kanan.

Ratu Maya menceritakan mimpinya tersebut kepada Raja, kemudian Raja memanggil para Brahmana untuk menanyakan arti mimpi tersebut. Para Brahmana menjelaskan kepada Raja bahwa Ratu akan mengandung seorang bayi laki-laki yang kelak akan menjadi Cakkavati (Raja dari semua Raja) atau akan menjadi orang Suci. Kemudian Ratu Maya mengandung, sepuluh bulan kemudian dalam perjalanan menuju Devadaha, Ratu beristirahat di taman Lumbini, dan melahirkan Sidharta Gautama di bawah pohon Sala, waktu itu tepat bulan purnama di bulan Waisak. Tujuh hari kemudian, Ratu Maya meninggal, dan Raja kemudian menikahi Pajapati yang juga adik dari Ratu Maya untuk merawat Sidharta.

Raja Sudhodana sangat menginginkan Sidharta Gautama menjadi seorang Raja daripada menjadi seorang Suci. Para Brahmana mengingatkan Raja Sudhodana bahwa Sidharta Gautama tidak boleh melihat empat hal semasa hidupnya, yaitu orang tua, orang sakit, orang mati, dan pertapa. Karena apabila Sidharta Gautama melihat ke empat hal tersebut, dia akan menjalani hidup untuk menjadi seorang pertapa. Oleh karena itu, Raja menciptakan lingkungan artificial di sekeliling Sidharta Gautama. Ayahnya tidak menginginkan dia melihat bahwa ada yang tidak beres dengan kehidupan ini, supaya kelak Sidharta tumbuh sebagai seorang Maha Raja dan bukan sebagai seorang guru spiritual.

Hidup tanpa pernah melihat dan merasakan segala macam penderitaan, Sidharta menikmati kehidupan penuh dengan kesenangan dan kemewahan. Setiap keinginannya terpenuhi. “Saya mengenakan pakaian yang paling mahal, saya makan makanan yang paling lezat dan bergizi, saya di kelilingi oleh wanita-wanita cantik” Demikian kata Sang Buddha. Pada suatu musim hujan, Sidharta tinggal di istana dan sedang di hibur oleh para musisi dan wanita penari, tidak pernah terpikirkan olehnya untuk meninggalkan istana, kehidupan begitu sempurna. Ayahnya menikahkan Sidharta dengan Yasodhara yang kelak melahirkan anaknya yang diberi nama Rahula. Selama dua puluh sembilan tahun Sidharta menikmati kehidupan kerajaan penuh kemewahan hingga pada akhirnya gelembung kenikmatan dan kesenangan tersebut meletus.

Raja melakukan apa pun supaya Sidharta tidak melihat penderitaan hidup. Tetapi suatu hari Sidharta jalan-jalan keluar dari istana bersama beberapa pengawalnya. Di dalam perjalanannya yang pertama kali, dia melihat ada orang tua yang bungkuk di pinggir jalan, rambutnya putih, badannya kurus, kulitnya kasar dan keriputan. Kemudian dia bertanya kepada pengawalnya.

Siapa ini?
Kenapa dia terlihat berbeda dan lemah?”
Pelayannya menjawab, dia adalah orang tua, manusia tidak akan selamanya muda dan kuat, Tuanku.

Kemudian pada perjalanan berikutnya Sidharta melihat orang sakit terbaring di pinggir jalan, dan dia tidak mengerti apa yang sedang dia lihat. Kemudian dia bertanya kepada pengawalnya dan pengawalnya menjawab bahwa itu adalah orang sakit, dan itu terjadi pada kita semua, semua orang akan sakit, dan jangan berpikir bahwa anda adalah seorang pangeran maka anda tidak bisa sakit, ayah anda bisa sakit, ibu anda bisa sakit, semua orang akan sakit.

Sepulang dari perjalanannya yang ke dua, sesuatu berkecamuk di dalam diri Sidharta setelah dia melihat horor demi horor. Pada perjalanannya yang ke tiga, Sidharta melihat mayat dan mulai mengenal bahwa segala sesuatu dalam hidup ini tidak permanen dan kematian adalah nyata. Dua puluh sembilan tahun tertutup dari segala penderitaan manusia membuat Sidharta tergoncang hebat, dan dia berpikir…

“Ini semua akan terjadi juga pada diriku. Saya akan menjadi tua, saya juga akan menjadi sakit, dan saya juga akan mati”

Bagaimana caranya saya menghadapi semua ini?”
Itu adalah pertanyaan yang universal dari setiap manusia.

Kemudian pada perjalanannya yang ke empat, dia melihat seorang pertapa, seorang spiritual seeker. Orang yang hidup dengan cara yang berbeda dari orang pada umumnya, untuk melepaskan diri dari kehidupan yang tidak permanen dan tidak lepas dari penderitaan.
Usia dua puluh sembilan tahun, menemukan dirinya sedang berada dalam suatu masalah besar, Sidharta memutuskan untuk memahami sifat alami dari penderitaan, yang pada akhirnya membawa Sidharta meninggalkan Istana dan meninggalkan segala hal-hal keduniawian. Pada saat itu, istrinya Yasodhara melahirkan seorang bayi laki-laki, dan Sidharta memberi nama Rahula yang artinya adalah belenggu dan perubahan. Karena bagi Sidharta, bayi lelakinya akan membuat dirinya terpenjara.

Pada suatu malam di musim panas, Sidharta mengunjungi ruang tidur istrinya dan mendapatkan bahwa istrinya sedang tidur sambil merangkul bayinya Rahula. “Apabila saya mengangkat tangan istriku, menggendong anakku, pasti akan memberatkan langkah ku untuk meninggalkan mereka” pikir Sang Buddha. Maka, dia membalikkan badan dan memanjat turun dari Istana, dan pergi meninggalkan Istana bersama kuda kesayangannya yang bernama Kanthaka.

Pada saat Sidharta meninggalkan Istana, Mara dewa nafsu menghampiri Sidharta, mengatakan kepada Sidharta

“Kamu ditakdirkan untuk memerintah sebuah kerajaan yang BESAR, seluruh India… Kembali lah ke Istana dan segala kekuasaan di dunia ini akan menjadi milikmu”

Sidharta menolak, di dalam kegundahan hatinya saat meninggalkan orang tuanya, istrinya, dan anaknya yang baru saja lahir, Sidharta terus melaju bersama Kanthaka kudanya.

Tidak ada kebijaksanaan yang di dapatkan tanpa pengorbanan.
Untuk pertama kalinya Sidharta menjalani hidup sendirian, duduk di pinggir sungai Gangga.

“Meskipun ayah dan ibu ku bersedih dan bercucuran air mata, saya menutup mata dan telinga, memakai jubah saya, berangkat dari memiliki rumah menjadi gelandangan tanpa rumah, saya telah di lukai dengan dalam oleh kenikmatan duniawi, dan sekarang saya keluar untuk mencari kedamaian hidup”.

Suatu ketika sebagai seorang Pangeran yang di puja dan memiliki segalanya, sekarang menjadi seorang pengemis, hidup mengandalkan sumbangan dari orang asing yang tidak di kenal, tidur tanpa alas di atas tanah dan di tengah hutan belantara, tinggal bersama binatang buas, dan tempat di mana setan-setan dan roh-roh halus bergentayangan.

Pada saat itu, Sidharta adalah seorang “Pencari” (Sama seperti saya pada sa’at membaca buku kisahnya pada waktu itu). Hanya saja, “Bedanya” Dia belum memiliki doktrin di dalam dirinya, tidak memiliki pemahaman apa-apa, dan tidak memiliki solusi apa-apa, tetapi dia mengenali pokok permasalahannya, di dalam hidup, manusia akan menjadi tua, sakit, dan mati. Sedangkan saya, sudah memiliki doktrin, sudah memiliki pemahaman dari banyak guru, dan dan sudah memiliki solusi, tetapi saya tidak mengenali pokok permasalahan saya.

Selama berabad-abad, bahkan sebelum zaman Sang Buddha, sudah terdapat berbagai macam agama dengan masing-masing ritual keagamaannya. Pada saat Sidharta memutuskan untuk meninggalkan keduniawian, bergabung bersama ribuan petapa lainnya, melepaskan segala apa yang di miliki, melakukan praktik hidup yang keras tapi sederhana serta bermeditasi dengan tujuan supaya terlepas dari siklus hidup, mati, dan terlahirkan kembali, atau yang kita kenal dengan istilah reinkarnasi atau moksa.

Sayapun sama, atas keberhasilan Sidharta dalam mencapai tingkatan spiritual, sayapun meniru, saya tinggalkan semuanya dan segalanya tanpa terkecuali, hampir semua guru-guru pembimbing saya melarang, bahkan ada yang mengatakan kamu telah tersesat. Namun saya tidak peduli, tekad dan niyat saya. Sudah tidak bisa di ganggu gugat. Sama seperti Sidharta sa’at dihampiri Mara dewa nafsu, sayapun menolak tanpa peduli, dan sejak itu, saya berjalan dan bergerak serta berusaha mencari sendiri, tanpa guru tanpa pembimbing. Keluar masuk agama-agama untuk saya selami telaga ilmunya.

Sampailah pada Pemahaman yang memberikan pengertian, bahwa penderitaan itu, tidak berasal dari kelahiran, dan tidak berakhir pada saat kematian, penderitaan tidak ada akhirnya, kecuali seseorang menemukan jalan keluar dari siklus tersebut, yaitu menjadi tercerahkan/utusan.

Pada zaman tersebut di India, di yakini bahwa kematian bukan lah akhir dari segalanya, tetapi kematian membawa kepada penderitaan yang lebih menyiksa. Di kisahkan bahwa Sidharta pernah hidup di berbagai alam, sebelum hidup di alam manusia. Sidharta pernah hidup sebagai binatang, pernah menjadi manusia, baik pria mau pun wanita, pernah juga menjadi Dewa. Menjalani kehidupan dalam berbagai bentuk. Kemudian secara perlahan-lahan dengan latihan yang semakin dalam, dengan kebijaksanaan, sehingga akhirnya Sidharta menjadi tercerahkan/utusan dan menjadi Sang Buddha. Saya tertarik dalam kisahnya…

Di dalam perjalanannya, Sidharta bertemu dengan seorang guru spiritual dan beliau mengatakan kepada Sidharta “kebenaran tidak akan datang dari latihan dan ritual keagamaan. Tetapi kita harus hidup di dalam ajaran tersebut, kamu boleh ikut denganku kalau mau”.
Guru spiritual pada zaman itu sudah mengajarkan yoga dan meditasi, mengajarkan bagaimana pikiran dapat di jinakkan, dan pada zaman itu terdapat banyak sekali sekolah yoga dan meditasi. Yoga bukan hanya badan, tetapi Yoga memberikan benefit terhadap badan dengan berbagai cara, dan tujuan utama dari yoga adalah untuk mencapai keadaan meditatif yang mendalam, yang mana tidak bisa didapatkan dengan mudah dan cepat, tetapi melalui proses latihan yang disiplin.

Meskipun Yoga kelihatannya fokus pada kontrol terhadap badan, tetapi sebenarnya Yoga adalah disiplin spiritual kuno, yang tujuan utamanya adalah untuk menenangkan pikiran. Namun, praktik meditasi yoga tidak mensolusikan permasalahan bagi Sidharta, yaitu mengakhiri penderitaan, dan praktik meditasi hanya memberikan temporary solution, memberikan ketenangan yang bersifat sementara. Sidharta tidak puas dan kemudian Sidharta pergi meninggalkan gurunya yang pertama, kemudian ketemu dengan guru yang ke dua, hasilnya tetap sama. Sehingga Sidharta meninggalkan juga guru tersebut, sayapun sama, setelah masuk agama ini, tidak puas, lalu saya keluar dan masuk lagi ke agama yang lainnya.

Setelah saya rasakan semua agama yang saya pelajari dan perguruan yang pernah saya guri, tidak memuaskan saya, dalam menempuh kebebasan siklus kehidupan, lalu saya melanjutkan perjalanan sendiri, tanpa guru tanpa agama, mencari jawaban atas pertanyaan saya sendiri.

Kenapa manusia dihidupkan di dunia ini?
Yang kemudia di matikan dan di ganjar sesuai perbatan semasa hidup di dunia.
Apakah ada jalan keluar?
Apa benar reinkarnasi atau moksa itu ada dan saya bisa?
Saya mencoba, mencoba, dan mencoba.. selalu mencari dan mencari.

Saya pernah hidup di dalam kemewahan yang ekstrim, dan sekarang saya hidup di dalam “pembinasaan” yang ekstrim. Gunung. Goa. Situs. Punden. Keramat. Makam saya datangi dan saya huni. Dan di antara para pertapa yang meninggalkan keduniawian, terdapat sebuah praktik spiritual, yang dengan ketat melakukan hukuman terhadap badan. Di yakini bahwa menghukum badan merupakan cara untuk mendapatkan kebijaksanaan dan ketenangan.

Di dalam perjalanan, dan di tempat yang berbeda, saya bertemu dengan tiga orang teman, yang menjalankan praktik spiritual tersebut, dan sayapun ikut di dalam praktik tersebut. Memperlakukan diri dengan disiplin yang sangat tinggi dan keras, melakukan penyiksaan terhadap badan, menggantungkan diri di pohon dan bermeditasi dengan kepala menghadap ke bawah, tidak makan selama berhari-hari dll.

Badan di yakini merupakan sumber penderitaan, misalnya usia tua, membuat badan menjadi lemah dan rusak, penyakit menyebabkan sakit dan penderitaan pada badan, dan kematian merupakan pelepasan jiwa dari badan atau disfungsi dari badan, sehingga konsepnya adalah bahwa apabila seseorang sanggup untuk keras terhadap badannya sendiri dengan intensitas yang cukup, maka orang tersebut akan lepas dari penderitaan yang bisa dibawakan oleh keterbatasan badan, orang tersebut dapat melampaui keterbatasan badan, teman-teman saya pada saat itu, menjalankan praktik spiritual tersebut, dengan menurunkan kebutuhan hidup hingga ke level paling rendah, makan dan minum secukupnya, asal cukup untuk bertahan hidup, tidak ada proteksi terhadap badan dari panas dan dingin, duduk di tengah cuaca yang ekstrim dingin dan hujan, bermeditasi berjam-jam setiap hari, ini diyakini bahwa dengan menundukkan keinginan daging, maka bisa di dapatkan kekuatan spiritual.

Lambat laun, saya merasa lelah, saya menjalankan praktik spiritual seperti itu, dengan cara menghukum dirin selama enam bulan, saya menyiksa diri dan berusaha menghancurkan apa saja yang saya lihat, sebagai hal yang buruk di dalam diri saya, setiap hal-hal duniawi, setiap pikiran kemarahan, setiap nafsu, setiap keinginan, apabila seseorang sanggup menghapus semua itu dengan kekuatan keinginan, maka orang tersebut akan mengalami suatu proses transformasi yang membawa dirinya melampaui manusia biasa, yaitu lepas dari semua dan segala penderitaan.

Saya mencoba semua itu dan pada akhirnya, menjadi seorang pertapa yang paling ekstrim di bandingkan dengan ke tiga teman saya yang lain, yang sedang melakukan hal yang sama pula, namun di tempat yang berbeda, makan hanya satu butir nasi per hari, minum air kencingnya sendiri, berdiri bermeditasi dengan satu kaki selama berjam-jam di tengah cuaca yang ekstrim, tidur di atas tanah tanpa alas, tetapi semuanya itu saya lakukan dengan tekad dan keyakinan sepenuh hati.

Badan saya menjadi kurus kering, rambut saya kusut dan gimba, tulang-tulang saya menjadi sangat rapuh, menonjol keluar di lapisi hanya oleh kulit yang kering dan tipis, rona mata saya gelap seperti sumur, saya gemetar dan menggigil jika terhembusan angin dingin. Tetapi saya tetap melanjutkannya, mendorong badan saya sampai pada limit paling ekstrim, yang bisa saya tahan, sampai pada akhirnya, saya sadar dan menyadari, bahwa saya tidak bisa mendapatkan apa yang saya mau dari praktik spiritual seperti ini.

Menyiksa badan, badan menjadi sakit dan lemah, seluruh perhatian menjadi tertuju kepada badan, tidak ada yang lain. Akhirnya saya menyerah atas latihan yang keras tersebut, dan saya mengetahui, bahwa itu bukan jalan yang benar, lalu saya menyaksikan diri saya sendiri hampir mati, dan kemudian terbersit sebuah ingatan, saya ingat suatu moment saat masih kecil dulu, sewaktu saya di tuduh mencuri ayam tetangga, lalu karena tidak mau mengakui, saya di pukui, sampai-sampai bapak kandung saya, ikut memukuli saya, karena percaya dengan tuduhan itu, setelahnya, saya duduk melamun di pinggir sungai, sambil memandangi air sungai yang jernih dengan suaranya yang gemericik, karenanya, penyiksa’an yang baru saja saya alami, seketika sirna, tertebus oleh kesempurna’an dunia melalui jernih dan gemericiknya air sungai tersebut.

Disini saya mendapatkan satu jawaban, yaitu; Semua yang ada di dalam kehidupan dunia ini, adalah saling terkait satu sama lain. Dan untuk memelihara keterkaitan itu, agar tidak salin menyakitkan, adalah dengan kasih sayang, dengan kasih sayang yang mendalam terhadap setiap hal yang di temui, baik itu orang, binatang, tumbuhan, atau planet ini secara keseluruhan, seluruh makhluk hidup di bumi ini, pepohonan dan sungai, semuanya, segalanya terhubung satu sama lain.

Dan seketika itu, saya berhenti menjalankan praktik spiritual yang ekstrim itu, lalu saya beralih mempraktek penemuan baru itu, yaitu kasih sayang, saya turun dari gunung sumbing, lalau naik mendaki lagi ke gunung slamet, dengan lanjang kaki penuh kasih sayang, jika sampai ada se’ekor semut saja, yang terinjak dan mati, iar mata saya bercucuran, berderai menangisi si semut tersebut dll, saya berjalan melangka dan melangkah dengan kasih sayang, hingga berhasil mencapai puncak gunung slamet, tanpa buang waktu, pada sa’at itu juga, bertepatan dengan suatu hari yang indah, dengan cuaca yang cerah, saya duduk dengan cara bersilah diatas sebuah batu besar pipih di bawah pohon rindang puncak gunung slamet, memandang perkampungan dan perkota’an yang nampak dari puncak gunung slamet, terlihat kecil-kecil seperti butiran kacang kedelai, pikiran saya melayang-layang, kemudian dengan sedikit memaksa, saya memulai meditasi, menyalurkan kasih sayang keseluruh tubuh saya.

Dan sepertinya, alam memberikan tempat dan perlindungan kepada saya, seiring dengan berlalunya waktu, matahari berpindah posisi, bayangan pepohonan dan rerumputan bergeser, tetapi bayangan dari pohon, di mana saya sedang duduk berteduh bersemedi, tidak berpindah posisi dan terus menaungi saya dari sengatan matahari. Sa’at itu saya merasakan sukacita, dan kemudian terucap sebuah kata dalam hati saya “Saya tidak bisa terus menerus merasakan suka cita ini kalau saya tidak makan tidak minum, karena kalau saya tidak makan dan tidak minum, berati saya tidak kasih sayang pada bada saya ini, jadi, kalau saya memang kasih sayang pada badan ini, sebaiknya saya makan”

Tak berselang lama kemudia, ada serombongan pendaki gunung melintas di hadapan saya, lemudian memberi 3 bungkus roti dan sebotol air, kemurah-hatian orang yang memberikan roti dan iar kepada saya itu, saya lihat seperti cahaya obor yang memberikan rahmat (pengampunan dengan penuh kasih sayang) kepada saya. Selesai makan roti dan minum, saya merasakan sukacita, hati yang penuh syukur, saya merasakannya, dan saya merasa “cukup” pada saat itu. Dan kemudian saya melekat kepada rasa cukup tersebut.

Kemudian saya mengingat semakin jauh dan jauh, dan saya ingat bapak dan ibu saya juga akan anak dan istri saya, serta semua yang saya tinggalkan, Kemudian muncul kembali pertanyaan awalnya, saya menghela napas panjang, saya merasakan kehilangan dan rindu, dalam hati saya berontak dengan gebragan kata.

Apakah ini kasih sayang?
Kalau memang kasih sayang, bagaimana dengan bapa ibu dan anak istri saya juga yang liannya yang saya tinggalkan?
Apakah seperti ini kasih sayang itu?
Kalau memang kasih sayang, mengapa saya meninggalkan mereka?

Walau saya sudah merasakan cukup dan merasakan cukup, tapi masalah ini belum selesai, buktinya masih ada masalah, berati masalah ini belum selesai. Pasti ada yang lain, bukan Cuma kasih sayang. Saya harus mencarinya lagi, dan saya sudah tau secara sadar, penyiksaan diri yang ekstrim, bukanlah jalan dan cara yang tepat. Lalau saya mulai bergerak melangkah turun gunung, namun belum pnya tujuan pasti harus apa dan bagaimana, karena saya merasa semua jalan dan cara sudah saya tempuh. Nemun yang saya temukan masih belum sempurna, karena masih terasa ganjil, tidak genap.

Lalu saya duduk bersilah semedi di tepi sungai klawing purwokerto jateng. Saya bermeditasi sepanjang malam, dan seluruh ingatan kehidupan masa lampau datang silih berganti, saya ingat seluruh kehidupan masa lalu saya. Kesadaran saya semakin berkembang dan meluas hingga ke masa lalu, saya melihat proses kelahiran saya dulu dan kematian saya kelak, dan di lahirkan kembali, dan apa yang di lalui oleh semua makhluk hidup, saya seolah-olah di beri penglihatan tentang cara kerja alam semesta secara keseluruhan.

Pada saat matahari terbit, “Pikiran saya dalam keadaan yang tenang, tidak ada emosi tidak ada galau” hati saya berkata;

Mungkinkah saya telah tercerahkan, seperti Sidharta Gautama yang menjadi seorang buddha itu? Buktinya saya di beritau tentang proses kelahiran saya dulu dan kematian saya kelak, yang kemudian di lahirkan kembali, seperti yang di lalui oleh semua makhluk hidup, saya juga di beri penglihatan tentang cara kerja alam semesta secara keseluruhan.

Sungguh ini sesuatu yang baru saya alami selama berspiritual, saya merasakan bahwa saya nyata-nyata berada di dalam nirwana/surga, apa yang saya alami itu, saya rasa bukanlah suatu keadaan, yang baru dan yang lari dari realita yang ada, hanya saja, saya menyadari bahwa saya, merasa selalu ada di nirwana/surga, dan menurut saya, realita itu sendiri adalah nirwana/surga. Adalah ketidak-realita’an kita, dan ketidaktahuan kita, yang membuat kita terpisah dari alam semesta, dan sesungguhnya, kita sendiri inilah alam semesta.

Benar apa yang di katakan oleh Syekh Siti Jenar. Bahwa Surga dan Neraka itu. Ya didunia ini. disini ini. Nirwana/Surga adalah saat ini, di tempat ini, dan gerbangnya adalah sekarang ini, dan jalannya adalah badan dan pikiran kita ini, tidak ada yang perlu di tuju, tidak ada yang perlu di capai, nirwana/surga bukan lah sesuatu yang di targetkan untuk di capai sesudah kematian, tetapi sederhananya adalah kualitas kehidupan kita pada detik sekarang ini. Karenanya, kasih sayang itu, semakin tumbuh bersemi rindang di dalam jiwa saya.

Rasanya seperti ketika kita merasakan apa yang di rasakan oleh orang lain, kita tidak akan mau orang lain tersebut merasakan hal-hal yang buruk, seperti halnya ketika kita merasakan tangan kita, kita tidak akan meletakkan tangan kita di atas tungku api, kita mungkin tidak memiliki kasih sayang terhadap tangan, tetapi kita merasakan sakit sehingga kita tidak mau meletakkan tangan di atas tungku api. Sehingga ketika orang lain merasakan penderitaan, kita akan melakukan yang terbaik untuk membantu mereka.

Itulah Kasih Sayang yang saya maksud disini, dan yang pernah saya wedarkan di artikel yang pernah saya postingkan di internet. Namun kasih sayang itu, belum cukup tanpa adanya Cinta, masih terasa ganjil, seperti wedang yang kurang gula, atau masakan sayur yang kurang garam. Itulah Kasih Sayang Spiritual jika tanpa Cinta. Diatas itulah bukti riyil tentang Kasih Sayang yang pernah saya Ungkapkan di beberapa artikel saya. Dan sekarang, mari kita berlanjut ke Proses Penemuan Cinta, di dalam sejarah perjalanan spiritual Hakikat Hidup saya berikutnya. Bersambung ke Artikel KISAH PERJALANAN SPIRITUAL Wong Edan Bagu. DALAM MENEMUKAN TIGA TITIK PENENTU IMAN. Yaitu CINTA KASIH SAYANG Bagian Dua:

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

KISAH PERJALANAN SPIRITUAL Wong Edan Bagu. DALAM MENEMUKAN TIGA TITIK PENENTU IMAN. Yaitu CINTA KASIH SAYANG Bagian Dua:


KISAH PERJALANAN SPIRITUAL Wong Edan Bagu. DALAM MENEMUKAN TIGA TITIK PENENTU IMAN. Yaitu CINTA KASIH SAYANG Bagian Dua:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Sabtu Kliwon. Tgl 04 Juni 2016

Yang Kedua;
Para Kadhang dan Para Sedulur Kenasihku sekalian…
Menurut pemikiran Jalaluddin Rumi, seorang Tokoh Spiriyual Sufi. Bahwa hanya hati dan kalbu serta pensucian jiwa adalah satu-satunya sumber dan media bagi manusia hidup untuk menggapai pengetahuan, makrifat, dan ilmu hakiki terhadap objek-objek dan realitas-realitas eksternal.

Jalaluddin Rumi meletakkan akal dan pengetahuan lahiriah tersebut sebagai pendahuluan dan “jembatan” bagi pengetahuan yang lebih tinggi dan sempurna, akan tetapi bukan sebagai puncak dan kesempurnaan pengetahuan. Rumi tidak mengecam akal dan ilmu-ilmu lahiriah, bahkan memandang wajib untuk dituntut oleh semua orang. Dan sayapun setuju akan hal itu.

Namun, menurut saya,,, menuntut ilmu-ilmu tersebut dan penguasaan argumen-argumen rasional akan menjadi sangat urgen, penting, dan bermanfaat apabila mendukung pencapaian-pencapaian kesempurnaan manusia hidup dan pensucian jiwa serta pencerahan hati, bukan untuk kebanggaan, kesombongan, kekuasaan, dan kekayaan duniawi, serta pemuasan kebutuhan-kebutuhan jasmani dan syahwat belaka.

Penderitaan dan upaya keras dalam mencari ilmu dan pengetahuan hanyalah diarahkan untuk tujuan yang suci dan transenden yakni menggapai kebahagiaan insani dan kesempurnaan Ilahi. Dengan demikian, pengetahuan lahiriah dan akal menempati posisinya tersendiri dan merupakan nikmat-nikmat Hyang Maha Suci Hidup, yang mesti dimanfaatkan untuk membantu manusia hidup lainya mencapai kebutuhan-kebutuhan spiritual dan tujuan hakiki penciptaannya, minimalnya sebagai tahapan awal bagi perjalanan kesempurnaan manusia dan pengenalan konsepsional terhadap Hyang Maha Suci Hidup, sifat-sifat-Nya, dan manifestasi-manifestasi-Nya. dan ini hanya bisa di Praktikan dengan Cinta, bukan dengan emosi/amarah dendam dan kebencian.

Dan berawal dari sejarah perjalanan spiritual Jalaluddin Rumi inilah, saya berhasil menggali Cinta yang sebenarnya. Pelengkap dan penyempurna Kasih Sayang yang sudah saya ungkap di atas tadi. Jalaluddin Rumi adalah seorang sufi besar sepanjang zaman, yang telah membaktikan lebih dari separuh hidupnya, untuk mencari kebenaran-kebenaran terdalam dari ajaran agama, kekuatan dari kebenaran tersebut sebagai pendorong dan pembimbing umat manusia dalam membentuk kebudayaan dan peradaban besar yang langgeng. Pencarian yang panjang itu telah membawa sang sufi, ke dalam penjelajahan dan pengembaraan ruhani yang berliku-liku dan penuh rintangan, namun buahnya adalah pengalaman dan kebahagiaan ruhaniah yang lezat dan tidak ternilai harganya.

Semua itu memperkuat keyakinan sang sufi bahwa, seperti yang dikatakan oleh al-Qur’an (50:6), “Tuhan lebih dekat (pada manusia) dibanding urat lehermu sendiri” dan “Dia selalu bersamamu (“wa huwa ma`akum ayna-ma kuntum QS 57:4) ). Lagi, “Ke mana pun kau memandang, akan tampak wajah Allah” (QS 2:115).

Rumi juga pernah berujar dalam bukunya, semua realitas ini, merupakan bagian dari realitas yang lain, maksudnya. Apapun yang ada di dunia ini berasal dari sana (Hyang Maha Suci Hidup). Itu sebab, apapun yang ada du dunia ini, semua salin berkaitan, jadi, jika saya membenci tetangga saya, sesungguhnya saya telah membenci diri saya juga.

Kandungan ayat suci tersebut, menurut Rumi tidak dapat ditafsirkan sebagai ungkapan pantheistik, sebab yang dimaksud sebagai wajah Allah ialah ‘wajah rohani’ atau ‘rupa batin’ Tuhan yang hanya dapat disaksikan dalam perenungan yang dalam, yaitu sifat Pengasih dan Penyayang-Nya (al-rahman dan al-rahim), yang terdapat kalimah Basmallah dan ayat kedua Surat al-Fatihah. Para sufi menyebut sifat-sifat ilahiyah ini, baik sebagai mahabbah maupun `isyq. Keduanya sama-sama berarti cinta, namun `isyq adalah cinta yang berlipat ganda dan sangat kuat hingga menimbulkan dorongan kreatif untuk menjelmakan sesuatu sebagai bukti kecintaannya yang mendalam. Inilah tema penting dan pokok artikel saya kali ini.

Al-Rahman; adalah cinta Allah yang dilimpahkan bagi segenap makhluk-Nya tanpa pilih bulu, sedangkan al-rahim adalah cinta yang diperuntukkan bagi orang yang bertaqwa, beriman dan beramal saleh. Dari kata-kata al-rahim inilah kata-kata rahim dalam bahasa Melayu/Indonesia berasal. Cinta Tuhan kepada orang mukmin yang taqwa dan beramal saleh, merupakan cinta yang istimewa dan wajib diberikan sebagaimana cinta seorang ibu kepada anak kandungnya. Dan inilah Cinta yang saya maksud, yang pernah bahkan sering saya kabarkan melalui artikel saya di internet.

Cinta sebagai sifat Tuhan dan sekaligus wujud batinnya itu, dipandang oleh para sufi sebagai asas kejadian atau penciptaan alam semesta, sebab tanpa al-rahman dan al-rahim-Nya, tidak mungkin alam dunia yang begitu menakjubkan dan penuh kenikmatan ini, dicipta oleh Yang Maha Kuasa yang sekaligus Maha Pengasih dan Penyayang. Selain itu, cinta juga merupakan asas bagi perkembangan dan pertumbuhan, serta perluasan dan pertahanan dari keberadaan makhluq-makhluq-Nya, terutama manusia.

Ahli-ahli tasawuf juga, percaya bahwa cinta merupakan asas dan dasar terpenting dari keimanan dan ketaqwaan seseorang kepada Tuhan. Tanpa cinta yang mendalam, ketaqwaan dan keimanan seseorang akan rapuh. Hilangnya cinta dalam segala bentuknya, dalam diri sebuah umat, akan membuat peradaban dan kebudayaan dari umat tersebut, akan rapuh dan mudah runtuh.

Di lain hal, dalam mencapai rahasia ketuhanan, jalan cinta melengkapi jalan ilmu atau pengetahuan. Peradaban dan kebudayaan umat manusia, tidak akan berkembang subur apabila hanya didasarkan pada ilmu beserta metodologi dan tehnologi yang dihasilkan dari ilmu. Cinta menyempurnakan jalan ilmu, sebab cinta merupakan dorongan terpendam dalam diri manusia untuk selalu mencari yang sempurna dalam hidupnya. Dorongan menimbulkan kehendak, hasrat dan kerinduan mendalam, dan dengan demikian cinta menggerakkan manusia berikhtiar sekuat tenaga dengan segala kemampuan yang ada pada dirinya. Jalan ilmu yang dilengkapi Cinta Kasih Sayang, juga membuat seseorang mampu mencapai makrifat (ma`rifa) atau kebenaran tertinggi yang merupakan rahasia terdalam dari ajaran agama dan ilmu apapun. Percayalah. Saya sudah membuktikannya.

Selanjutnya. Tentang jalan ilmu dan jalan Cinta Kasih Sayang sebagai berikut.
Ada tiga bentuk pengetahuan;

“Pertama Pengetahuan intelektual, yang dalam kenyataan berisi informasi dan kumpulan fakta-fakta serta teori belaka, dan apabila pengetahuan ini digunakan untuk mencapai konsep-konsep intelektual melampaui batasnya, maka ia disebut intelektualisme”

“Yang kedua menyusul pengetahuan tentang keadaan-keadaan, mencakup baik perasaan emosional dan perasaan asing, di mana orang mengira telah menyerap sesuatu yang tinggi. Namun orang yang memiliki ilmu ini, tidak dapat memanfaatkan untuk keperluan hidupnya sendiri. Inilah yang disebut emosionalisme”

“Yang ketiga ialah pengetahuannya yang disebut Pengetahuan tentang Hakikat Hidup. Pengetahuan ini membuat manusia dapat menyerap apa yang betul dan apa yang benar, mengatasi batasan-batasan pikiran biasa dan pengalaman empiris”

Para sarjana dan ilmuwan memusatkan perhatian pada bentuk pengetahuan pertama. Kaum emosionalis dan eksperimentalis menggunakan bentuk kedua. Yang lain memadukan keduanya, atau memakai salah satu dari keduanya secara berganti-ganti. Akan tetapi orang yang telah mencapai kebenaran, ialah mereka yang tahu bagaimana menghubungkan dirinya dengan hakikat hidup yang terletak di balik kedua bentuk pengetahuan ini. Itulah sufi sejati, darwish yang telah mencapai makrifat dalam arti sebenarnya.

Cinta juga memiliki kekuatan transformatif, yaitu kekuatan merubah keadaan jiwa manusia yang negatif menjadi positif. Itulah antara lain yang diajarkan Jalaluddin Rumi dan sufi-sufi lain pada abad ke-13 M, ketika umat Islam di Dunia Arab dan Persia berada dalam periode paling buruk dalam sejarah klasiknya. Di sebelah barat Perang Salib yang telah berlangsung sejak akhir abad ke-11 M belum kunjung berakhir dan terus mencabik-cabik kehidupan kaum Muslimin. Di sebelah timur bangsa Mongol di bawah pimpinan Jengis Khan dan anak-cucunya menyapu bersih dan memporak-porandakan kerajaan-kerajaan Islam. Puncaknya adalah serbuan besar-besaran Hulagu Khan, cucu Jengis Khan, dari Transoksiana pada tahun 1256 M. Kota Baghdad luluh lantak menjadi puing-puing dan ratusan ribu penduduknya dibantai sehingga bekas ibukota kekhalifatan Abbasiyah dan pusat utama peradaban Islam ketika itu berubah menjadi kota mati untuk belasan tahun lamanya.

Rumi sebagaimana yang telah saya kemukakan diatas, berpendapat bahwa untuk memahami kehidupan dan asal usul ketuhanan dirinya, manusia dapat melakukannya melalui Jalan Cinta, tidak semata-mata melalui Jalan Pengetahuan. Cinta adalah asas penciptaan alam semesta dan kehidupan. Cinta adalah keinginan yang kuat untuk mencapai sesuatu, untuk menjelmakan diri. Rumi malahan menyamakan cinta dengan pengetahuan intuitif. Secara teologis, cinta diberi makna keimanan, yang hasilnya ialah haqq al-yaqin, keyakinan yang penuh kepada Yang Haqq. Cinta adalah penggerak kehidupan dan perputaran alam semesta.

Cinta yang sejati dan mendalam, kata Rumi, dapat membawa seseorang mengenal hakikat sesuatu secara mendalam, yaitu hakikat hidup dan kehidupan yang tersembunyi di balik bentuk-bentuk formal dunia nyata mauoun dunia ghaib. Karena cinta dapat membawa kepada kebenaran tertinggi, Rumi berpendapat bahwa cinta merupakan sarana manusia terpenting dalam menstransendensikan dirinya, terbang tinggi menuju Yang Satu. Coba Para Kadhang dan Para Sedulur Renungkan. Jika Cinta ini Bergabung/Manunggal dengan yamg namnanya Kasih Sayang, yang sudah saya uraikan di artikel bagian Satu. Adakah yang lebih Tinggi dari ini…?! adakah yang lebih Pasti dari ini…?! dan yang terpenting… Apakah ini salah dan sesat…?!

Dalam bukunya yang pernah saya baca. Jalaluddin Rumi meletakkan akal dan pengetahuan lahiriah tersebut sebagai pendahuluan dan “jembatan” bagi pengetahuan yang lebih tinggi, akan tetapi bukan sebagai puncak dan kesempurnaan pengetahuan. Rumi tidak mengecam akal dan ilmu-ilmu lahiriah, bahkan memandang wajib untuk dituntut oleh semua orang. Namun, menurutnya, menuntut ilmu-ilmu tersebut dan penguasaan argumen-argumen rasional akan menjadi sangat urgen, penting, dan bermanfaat apabila mendukung pencapaian-pencapaian kesempurnaan manusia, pensucian jiwa, dan pencerahan hati, bukan untuk kebanggaan, kesombongan, kekuasaan, dan kekayaan duniawi, serta pemuasan kebutuhan-kebutuhan jasmani dan syahwat. Sayapun setuju akan hal ini.

Namun… Penderitaan dan upaya keras dalam mencari ilmu dan pengetahuan, harus hanyalah diarahkan untuk tujuan yang suci dan transenden saja, yakni menggapai kebahagiaan insani dan kesempurnaan Ilahi. Dengan demikian, pengetahuan lahiriah dan akal menempati posisinya tersendiri dan merupakan nikmat-nikmat Tuhan, yang mesti dimanfaatkan, untuk membantu manusia, mencapai kebutuhan-kebutuhan spiritual dan tujuan hakiki penciptaannya, minimalnya sebagai tahapan awal bagi perjalanan kesempurnaan manusia dan pengenalan konsepsional terhadap Tuhan, sifat-sifat-Nya, dan manifestasi-manifestasi-Nya secara jujur dan terbuka tanpa tedeng aling-aling.

Wahyu Panca Ghaib dan Wahyu Panca Laku;
1. Kunci – Manembahing Kawula Gusti.
2. Paweling – Manunggaling Kawula Gusti.
3. Asmo – Leburing Kawula Gusti.
4. Mijil – Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Singkir – Sampurnaning Pati Urip.

Dengan mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib menggunakan sistem Wahyu Panca Laku. Yaitu; Pasrah kepada Hyang Maha Suci Hidup.
Menerima Hyang Maha Suci Hidup.
Mempersilahkan Hyang Maha Suci Hidup.
Dan…
Merasakan semua Proses dengan cara menebar Cinta Kasih Sayang kepada apapun dan siapapun. Saya jadi bisa sendiri, tau sendiri, ngerti sendiri, paham sendiri, bukti kebenarannya. Bukan katanya apapun dan siapapun. Bahwa;

Ternyata Hidup di dunia ini hanya sekedar bermain lalu mampir minum. Yang namanya mampir minum, sudah tentu hanya sebentar dan harus pergi… pergi kemana…?!

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka”
( AL AN’AM 6 : 32 ) ( AL ANKABUT 29 : 64 ) ( MUHAMMAD 47 : 36 )
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati” ( ALI IMRAN 3 : 13 )

KESIMPULAN:
Kitab apapun yang di pelajari, itu ibarat perahu, yang membawa kita berlayar ke tengah lautan keTuhanan. Bila ingin mutiaranya, kita harus menyelam ke dasarnya. Tidak hanya duduk bersilah/berdzikir diatas perahu. Lepaskan aksara galilah Rasa… Katupkan bibirmu, tutup matamu, sumbat telingamu… Tertawakan aku… He he he . . . Edan Tenan, manakala engkau tidak bisa melihat rahasia Al-Haq.

Dari Allah kembali kepada Allah. Dari Sang Pencipta kembali kepada Sang Pencipta.
Semua cipta’an-NYA disebut Mahluk. Surga itu cipta’an Allah. Surga adalah mahluk.
Ada apa di surga…??? Hanya ada kesenangan fisik. Air yang mengalir, makanan dan minuman, kasur yang empuk, gadis-gadis montok dan bidadari dan bla…bla…bla… Berarti surga itu hanya untuk laki-laki. Yang wanita… Kasihan deh lu.

Padahal Setelah kita mati, jasmaninya dikubur atau dibakar…
Ruh tanpa jasmani, apakah Ruh ada kelaminnya…?!
Tanpa jasmani, apakah Ruh bisa menikmati bidadari…?!
Apakah Ruh bisa menikmati kesenangan fisik di Surga…?!

Apakah kita akan kembali kepada Allah… Ataukah ke surga …??? Monggo… Untuk keridhoan Allah gratis…!!! Asal jangan minta transfer atau kirim paket. Silahkan datang langsung. Alamatnya di Desa Karangreja. Kecamatan Tanjung. Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Nomer telephon ada tercantum di setiap Artikel saya bagian bawah. Atau di Profil facebook saya ini.

Perhatikan firman-firman ALLAH dari Al-qitab dibawah ini:
1. Katakanlah bahwa Aku dekat ( Al Baqarah 2 : 186 ).
2. Lebih dekat Aku dari pada urat leher ( Al Qaf 50 : 16 ).
3. Tanda-tanda Kami disegenap penjuru dan pada diri mereka ( Fushshilat 41 : 53 )
4. Dzat Allah meliputi segala sesuatu ( Fushshilat 41 : 54 )
5. Dia bersamamu dimanapun kamu berada ( Al Hadid 57 : 4 . )
6. Kami telah mengutus seorang utusan dalam diri-mu ( At Taubah 9 : 128)
7. Di dalam dirimu apakah engkau tidak memperhatikan ( Azzariyat 51 : 21 )
8. Tuhan menempatkan diri antara manusia dengan kolbunya ( Al Anfal 8:24 )
9. Tanda-tanda Kami disegenap penjuru, dan didalam diri mereka sendiri ( FUSHSHILAT 41 : 53 )
10. Di dalam dirimu, apakah engkau tidak memperhatikan ( ADZ-DZARIYAT 51 : 21 ).
11. Setelah Aku sempurnakan kejadiannya, Aku tiupkan Ruh-Ku kepadanya (Al Hijr 15 :29)

Berati Allah itu bukan di Mekah atau di Cina atau di jawa atau di india. Berarti Ruh/Hidup itu berasal dari Dzat Illahiah. Karena Ruh berasal dari Dzat Illahiah, maka Ruh-lah yang bisa berkomunikasi dengan Allah, dan bertanggung jawab akan setiap diri yang berwujud jasmani.

Bukan jasmaninya atau amal ibadahnya… karena jasmani dari tanah, bukan dari Allah, karena amal ibadah dari kita, bukan dari Allah. Maka… PIKIRKANLAH sebelum Terlambat.
SELESAI.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd:Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

APA ITU ROMO…?! Dan SIAPA ITU ROMO…?!


APA ITU ROMO…?! Dan SIAPA ITU ROMO…?!
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Kamis Legi. Tgl 26 Mai 2016

Para Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian…
Yang terpenting itu, bukan tentang orang yang membenci kita atau orang yang mencintai kita. Yang utama itu, bukan soal apa agama kita dan setinggi apa ilmu yang kita miliki. Tapi yang terpenting dan utama itu. Hyang Maha Suci Hidup Cinta Kasih Sayang apa tidak kepada kita.

Apa itu Romo…?! Siapa itu Romo…?!
Banyak orang yang menggunakan sebutan Romo kepada orang yang di anggapnya mumpuni, dan terhormat, orang jawa khususnya. Ada anak yang memanggil Bapaknya dengan sebutan Romo. Ada santri atau murid yang memanggil gurunya dengan sebutan Romo. Ada juga, jema’at umat kristen yang mamanggil pendetanya dengan sebutan Romo. Terutama di dalam ajaran Laku Wahyu Panca Gha’ib, yang tersebut Putro Romo. Sudah pasti, mau tidak mau akan di dogma bahkan di paksa untuk nyambat/nyebut Romo didalam keluh kesahnya. Namun… Tapi… apa yang saya maksudkan diatas, sudah mengerti-kah dan sudah paham-kah, apa itu Romo…?!

Jika tidak mengerti akan hal ini, sudah bisa di pastikan, akan salah paham, yang bisa menimbulkan kontrofersi diri, yang berkecamuk diantara hati dan pikiran, akibatnya, salah langkah, salah arah dan tujuan, bahkan salah berTuhan. Singkatnya, membingungkan.

Sebab… Karena… Walau sama Romo sebutannya, namun ada dua maksudnya, walaupun sama sebutannya Romo, tapi ada dua maksud tujuannya.

Contoh; Bagi si anak, menganggap bahwa Romo itu, sebutan hormat untuk seorang bapak. Bagi si murid atau santri, menganggap bahwa romo itu, sebutan hormat untuk seorang guru atau kiyai. Bagi seorang jema’at, menganggap bahwa Romo itu, sebutan hormat untuk seorang pendeta.

Lain lagi bagi seorang pelaku Wahyu Panca Gha’ib, menganggap bahwa Romo itu. Nabi-nya pelaku Wahyu Panca Gha’ib, yang makamnya di gunung damar purworejo jateng, yang wajib di kenang dan di kunjungi, minimal satahun sekali, setiap tanggal 14 november, ada juga yang menganggap bahwa Romo itu, bapaknya para putro romo, yang harus di sambat sebut jika mengalami apa saja. Bahkan ada yang menganggap kalau Romo itu, Tuhan-nya penghayat kapribaden atau Putro Romo, tempat bersandar dan berharap serta bermohonya ples kiblatnya para Putro Romo alias tujuan dari Laku Wahyu Panca Gha’ib. Dan masih banyak lagi anggapan-anggapan lain tentang Romo.

Mari kita simak bersama liputannya….
Tapi saya tidak akan mengungkap istilah-istilah sebutan Romo bagi selain Putro Romo, atau sebutan-sebutan Romo yang biasa di gunakan oleh kebanyakan orang pada umumnya, yang bukan Putro Romo, karena itu tidak penting. Saya hanya akan mengungkap yang berkaitan dengan Putro Romo. Karena ini yang menjadi tema inti wedaran saya dalam Artikel ini.

Para Kadhang kinasihku sekalian, ketahuilah… Cukup lama saya mempelajari tentang hal ini dan soal ini, dan hasil Praktek saya di TKP. COBA Para Kadhang Renungkan soal pertama dibawah ini.

Kalau Romo itu Tuhan, kenapa di dalam kalimah Kunci, unen/bunyinya baca’an Kunci, di bait kedua. Menggunakan…

“Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci” Kalau Romo itu Tuhan, harusnya kalimah Kunci, unen/bunyinya baca’an Kunci itu seperti ini “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Romo” bukan “Kulo Nyuwun Pangapuro Dumateng Gusti Ingkang Moho Suci”

COBA Para Sedulur dan Para Kadhang Renungkan soal kedua dibawah ini. Kalau Romo itu bukan Tuhan, kenapa di dalam kalimah Mijil Sowan, unen/bunyinya baca’an Mijil Sowan di bait ketiga. Menggunakan…

“Arso Sowan Ingarsaning Kanjeng Romo” Kalau Romo itu bukan Tuhan, harusnya kalimah Mijil Sowan, unen/bunyinya baca’an Mijil Sowan itu seperti ini “Arso Sowan Ingarsaning Gusti Ingkang Moho suci” bukan “Arso Sowan Ingarsaning Kanjeng Romo”

Dari sini, seharusnya Para Putro Romo merenung, mencari ada tujuan dan maksud di baliknya. Apa itu Romo…?! Siapa itu Romo…?!. Iya apa iya…!!!

Coba saja di pikir dan di renungkan kata-kata saya diatas itu. Jika tidak, sama saja dengan seorang muslim yang sudah mengikrarkan dua kalimah syahadzat, namun tidak mengerti makna dan maksud tujuan dari dua kalimah syahadzat yang di ikrarkannya. Sehingganya, apapun yang dijalankan atas agamanya, hanya sebatas katanya. Kulak jare adoh ndean. Hasilnya, capek, pusing, bingung bahkan tambah waktu tambah ragu dan dimbang, karena apa yang telah di jalankannya, hanya sebatas membuang waktu dengan sia-sia. Lalu… Apa itu Romo…?! Siapa itu Romo…?!

Yang Pertama tentang Apa itu Romo…?!
Lama amat muter-muternya pak WEB… Bukan muter-muter, saya sedang berusaha menjelaskan, dengan dasar logika bukti dan kenyeta’an. Biyar mudah di mengerti dan bisa diterima akal pikiran secara wajar/umum, riyil dan masuk akal. Kalau ujug-ujug saya katakan apa dan siapa itu Romo. Pasti bingung dan menebak-nebak jangka panjang. Baiklah… INI DIA Jawaban tentang apa dan siapa itu ROMO.

Tulisannya Rama, dibaca dengan suaru bahasa jawa timur, menjadi Romo. Jika dibaca dengan suara bahasa jawa tengah, menjadi dua suara, ada yang Romo ada juga yang Rama. Kalau dibaca dengan suara bahasa jawat barat, menjadi tetap seperti tulisannya, yaitu Rama.

Ada bahan dasar dari Bapak M. Semono Sastrohadidjoyo. Bahwa Rama atau Romo, itu bermakna Rasa Manunggal. Makna Rasa Manunggal dari sebutan Rama/Romo ini. baku, tidak bisa di otak atik, apapun alasannya. Yang bisa di otak atik sesuai praktek di lapangan, adalah sistem atau cara untuk membuktikannya. Dan bukti yang berhasil saya peroleh dari TKP. Bahwa Rama/Romo itu, bukan Tuhan, bukan nabi juga bukan dewa atau bapak Bapak M. Semono Sastrohadidjoyo yang makamnya di purworejo jateng. Rama/Romo… adalah Rasa Manunggal. Pen… Titik… tidak bisa di ganggu gugat dengan cara apapun.

Karena maksud dari kata Rama/Romo itu adalah paten, yaitu Rasa Manunggal yang tidak bisa di ganggu gugat atau di otak atik dengan teori apapun. Seperti halnya dengan Unen Kunci, yang tidak bisa ditambahi atau di kurangi atau di otak atik alias di ubah. Jadi,,, yang menjadi soal dan duduk perkaranya, adalah… Putro Romo nya itu, yang hampir tiap waktu nyambat/nyebut Rama/Romo itu, ngerti apa tidak, apa itu Rasa…?! paham apa tidak, apa itu Manunggal…?!

Sebab, di dalam ilmu pengertian atau lelaku. Rasa itu memiliki seribu bahasa penyampean. Dan inilah yang membuat kebanyakan orang merasa sulit untuk mengetahui, Rasa yang manakah yang di maksud itu. Begitu juga dengan Manunggal, sama saja, memiliki seribu bahasa penyampean, sesuai dengan masing-masing kadar pengelaman si penyampenya. Tapi Rasa Manunggal yang merupakan maksud dari kata Rama/Romo. Tidaklah sama dengan seribu bahasa penyempean trsebut.

Sebab, Rasa yang dimaksud, adalah Hasil dari semua Rasa yang memilik seribu bahasa penyampean itu. Sebab, Manunggal yang dimaksud, adalah Hasil dari semua Manunggal yang memiliki seribu bahasa penyampean itu. Cukup rumit dan sulit untuk menjelaskan Soal Rama/Romo kalau hanya sebatas dengan tulisan atau bahasa, jika tidak salin berhadapan secara langsung, karena mengungkap Rama/Romo, berati mengungkap bukti nyata dengan seriyil-riyilnya “lebih dari sekedar Rasa”. Seperti saya mengungkap nikmatnya wedang jahe buatan saya, saya tidak akan bisa memberikan bukti nikmatnya, kalau tidak ikut minum wedang jahenya. Untuk bisa ikut minum wedang jahenya, berati harus sama-sama menghadap wedang jahe tersebut kan…

Namun sesulit dan serumit apapun, saya akan coba untuk menjelaskannya semudah mungkin, agar bisa di pahami, jika tidak paham juga apa yang saya maksud, berati hanya ada satu cara, kita salin berhadapan secara langsung dan berbicara secara langsung pula. Agar gerakan pembuktianyya bisa di saksikan secara kasat mata, bukan kira-kira atau umpama.

Lanjut Punya Wedaran….
Olah Rasa atau Menggali Rasa di setiap Gerak dan Gerik Tubuh, adalah merupakan keseharusan bagi siapapun yang menjalankan Wahyu Panca Gha’ib. Kenapa…?! maksudnya agar tau dan bisa mengeri serta paham semua jenis Rasa yang ada di seluruh tubuhnya sendiri… Huff,,, jangan salah sangka dulu.

Hakikat Rasa itu satu, yaitu tidak ada apa-apa “ora ono opo-opo” (Tenteram), suwung/kosong. Jika masih ada apa-apa, berati itu bukan Rasa. Sebab Rasa itu; tidak ada apa-apa “ora ono opo-opo” (Tenteram), suwung/kosong. Tapi seperti yang sudah saya jelaskan diatas, bahwa Rasa itu, memiliki seribu bahasa penyampaian. Misal contoh; Rasa asin. Rasa pedas. Rasa manis. Rasa pahit dll… oke.

Manunggal di setiap Laku Patrap, adalah merupakan keharusan bagi siapapun yang menjalankan Wahyu Panca Gha’ib. Kenapa…?! maksudnya agar tau dan bisa mengeri serta paham semua jenis Manunggal yang ada di seluruh ajaran lelaku… Huff,,, jangan salah sangka dulu.

Hakikat Manunggal itu satu, itu tidak ada apa-apa “ora ono opo-opo” (Tenteram), suwung/kosong. Jika masih ada apa-apa, berati itu bukan Manunggal. Sebab manunggal itu; itu tidak ada apa-apa “ora ono opo-opo” (Tenteram), suwung/kosong. Tapi seperti yang sudah saya jelaskan diatas, bahwa Manunggal itu, memiliki seribu bahasa penyampaian. Misal contoh; Manunggaling panca indera. Manunggaling budi pakarti. Manunggaling angan-angan. Manunggaling laku lelaku. Manunggaling kawula gusti dll… oke.

Dan Rasa yang di maksud dengan Rama/Romo, adalah, hasil dari semua olah Rasa tersebut. Dan Manunggal yang di maksud dengan Rama/Romo, adalah hasil dari semua Laku Patrap tersebut.

Dan ini hanya bisa di buktikan dengan Praktek, bukan dengan bahasa atau tulisan. Pada inti jelasnya. Rama/Romo. Itu bukan Tuhan atau Nabi atau Bapak atau apa saja. “Rama/Romo itu adalah Rasa Manunggal” Seperti halnya bahwa Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan agama, kepercaya’an, kejawen, kebatinan, ilmu, perguruan dll. “Wahyu Panca Gha’ib itu adalah Pedoman Hidup” dan pedoman hidup itu, Sarana untuk kembali kepada asal usul sangkan Paraning dumadi.

Jadi… Rama/Romo itu bukan sebutan. Rama/Romo itu, tidak sama dengan Allah. Awlloh. Tuhan Bapa Tuhan Anak. Gusti. Dewa dll, apa lagi yang di makamkan di gunung damar sejiwan purworejo. Sebab; Allah. Awlloh. Tuhan Bapa Tuhan Anak. Gusti. Dewa dll. Itu sebutan. Sedangkan Rama/Romo, itu bukan sebutan. Melainkan yang di sebut Allah. Awlloh. Tuhan Bapa Tuhan Anak. Gusti. Dewa dll itu.

Misal Contoh; setiap manusia hidup, kan memiliki nama sebutan bukan…?! Contoh saya sendiri. Manusia Hidup, itulah sebutan saya sebagai orang, untuk membedakan antara hewan dan tumbuhan serta mahkluk lainnya. Saya memiliki Nama Toso Wijaya, nama lahir saya Djaka Tolos. Toso Wijaya atau Djaka Tolos itulah sebutan saya sebagai Manusia Hidup, agar orang bisa mudah memanggil saya. “yang disebut Manusia Hidup itu Raga/Wujud saya. Yang dinamai Toso Wijaya atau Djaka Tolos itu, juga Raga/Wujud saya. Yang dibilang manusia juga tetap Raga/Wujud saya” coba kalau saya berbulu halus, berkaki empat, berekor dan bersuara meong,,,, sudah tentu Raga/Wujud saya tidak akan di sebut manusia hidup, tidak dinamai Toso Wijaya atau Djaka Tolos dan tidak mungkin di bilang orang. Pasti Hewan/Binatang Kucing tuh… iya apa iya…?! He he he . . . Edan Tenan.

Itulah penjabaran tentang Perbeda’an antara Rama/Romo dengan Tuhan Allah. Awlloh. Tuhan Bapa Tuhan Anak. Gusti. Dewa dllnya. Kalau Allah. Awlloh. Tuhan Bapa Tuhan Anak. Gusti. Dewa dllnya itu. Nama sebutan. Sedang Rama/Romo itu, yang dinamai atau yang disebut. Itulah sekelumit Wedaran Pengalaman dari saya, tentang Apa Itu Rama/Romo.

Yang kedua. soal Siapa itu Romo…?!
Rama/Romo itu bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Melainkan Hidup kita sendiri yang sedang bersama Maha Suci. Itu sebab tersebut Rasa Manunggal “Rama/Romo” karena Hidup dan Maha Suci sedang bersatu padu, antara Sang Maha Kuasa dan yang dikuasai sedang menyatu. Maha Suci sebagai Penguasanya dan Hidup sebagai yang dikuasai. Tersebut Hyang Maha Suci Hidup. Hyang itu bertemunya-menyatunya. Maha Suci itu penguasanya dan Hidup itu yang dikuwasainya. Atau, Hyang itu lampu neonnya. Maha Suci itu kabel positipnya. Hidup itu kabel negatinya. Dan Laku Patrap Wahyu Panca Gha’b itu, mesin disel yang menyalurkan setrumnya. Sedangkan kita ini, adalah cahaya lampu neon tersebut. Kalau digambarkan dengan listrik. Semuanya salin berperan, salin memberi dan salin terkait, salim sambung menyambung hingga menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Itulah yang di maksud Rama/Romo. Itulah Makna dan tujuan dari Kata atau kalimat Rama/Romo. Satu saja ada yang terputus, maka takan dapat berfungsi. Artinya, tidak akan ada reaksi apa-apa walau semiliyar kali menyebut Rama/Romo. Jadi benar kalimat dasarnya. Yaitu Rasa Manunggal, karena jika ada satu yang tidak manunggal, tidak bisa Rama/Romo, bukan Rama/Romo. Ampang total bak menyaksikan hambusan angin kentut, kita bisa mencium baunya seperti apa, dan mengetahui siapa yang kentut. Namun tak dapat melihatnya, jika dipaksa untuk bisa melihat, bukannya terlihat, malah perdebatan dan pertengkarang yang didapat.

KESIMPULANNYA;
Rama/Romo itu. Adalah Rasa Manunggal. Rasa Manunggal itu. Bersatunya atau menyatunya Hidup dengan Maha Suci. Maksudnya… Hidup dan Maha Suci, jika bersatu atau manyatu menjadi satu, itu di sebut Rama/Romo. Kalau tidak bersatu dan menyatu. Berati bukan Rama/Romo. Belum Rama/Romo. Itu sebab, nyebut Rama/Romo semeliyar kalipun, pasti ampang/hambar, juga tidak bisa sabdo dadi, apa yang diucap tidak bisa dinyatakan atau dibuktikan. Karena ampang/hambar dan tidak sabdo dadi, akhirnya, keraguan bahkan ketakutan muncul menghantui dihampir setiap sa’at. Dan berbagai tebakan dan sangkan berkecamuk. Ungkapannya juga, kulak jare adol ndean.

Dan selama Putro Romo Itu menganggap dan mengira Bahwa Rama/Romo itu, adalah Tuhan Allah. Awlloh. Tuhan Bapa Tuhan Anak. Gusti. Dewa dllnya, apa lagi yang di makamkan di purworejo, maka selama itu pula, tidak akan pernah mengerti dan paham tentang arti selamat dan makna sempurna, serta tidak akan pernah tau, siapa yang di sembahnya selama ini. “bak katak dalam tempurung yang merindukan bulan” Mau bukti…!!! Datang temui saya, akan saya kenalkan dengan Rama/Romo-mu.

Hemmmm…. ini masa lalu saya, dan saya tau, sebelum sampai di dimensi ini, setiap Putro Romo mengalami seperti yang pernah saya alami dulu, hanya saja. Munafiq, malu untuk mengakuinya dan enggan untuk mencari tau. Akibatnya, walau memiliki Wahyu Panca Gha’ib, lakunya seperti katak dalam tempurung yang merindukan bulan. Wahyu Panca Laku yang merupakan Sistem untuk mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib saja, tidak tau tidak mengert dan tidak paham. Parhanya lagi, sudah tau kalau tidak tau tidak mengerti dan tidak paham. Tidak mau bertanya/kadhangan, tidak mau lelaku mencari. Katanya malu, gengsi. Asalkan Wahyu Panca Ghaib dijalani, pasti selamat dan sempurna. He he he . . . Edan Tenan. Tidak semudah bibir tanpa tulang mengatakan itu Brow… lihat saja sendiri buktinya di sekitarmu, ada berapa banyak Putro Romo yang hancur karena kebodohannya sendiri. Apa itu yang disebut selamat dan sempurna…!!!

Di dalam Kalimah Mijil Sowan. Tersebut Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono. Ini bukan nama atau sebutan atau titel jabatan. Ini adalah Wejangan yang Menjelaskan Rasa Manunggal Rama/Romo, bertemu atau bersatunya antara Hidup dan Maha Suci. Ini harus di Cari oleh setiap Putro Romo, dengan Cara Mempraktekan Wahyu Panca Gha’ib dengan sistem Wahyu Panca Laku, minimal Menebar Cinta Kasih Sayang kepada siapapun dan apapun. Dan jawabannya tidak boleh katanya, harus dapat sendiri dan harus mengalaminya sendiri serta tau sendiri, karena tidak ada katanya didalam Wahyu Panca Gha’ib, tidak ada kira-kira didalam Wahyu Panca Laku.

Jika tidak…!!! Maka kalimat Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono ini, akan menjadi PR momok seumur hidupnya, yang membuat keraguan dan ketakutan bisa muncul sewaktu-waktu, tak kala mendapat masalah dan menghadapi problema kehidupan. Sebab Rama/Romo itu. Tidak sama dengan Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono.

Kenapa Putro Romo kalau sowan. kepada Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono…?! kok bukan kepada Gusti Ingkang Moho Suci atau Romo…?! kalau tentang Gusti dan Romo, walau hanya sekelumit sudah saya wedarkan diatas. Tapi kalau soal Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono. Sampai jumpa di Artikel berikutnya. He he he . . . Edan Tenan. Bersambung ke Artikel selalunjut. Dengan judul. Apa dan Siapa itu Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono…?!

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

INTI AJARAN AGAMA dan AJARAN KEJAWEN Serta WAHYU PANCA GHA’IB:


INTI AJARAN AGAMA dan AJARAN KEJAWEN Serta WAHYU PANCA GHA’IB:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa Hari Senin Pon. Tgl 23 Mai 2016

Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian, di dalam beberapa artikel, saya pernah mengatakan, bahwa demi untuk mengenal lebih dalam, tentang siapa dan bagaamana Hyang Maha Suci Hidup, yang saya puja dan puji disetiap tarikan napas saya, saya pernah keluar masuk agama dan kepercaya’an adat. Tujuannya tak lain dan tak bukan, adalah untuk belajar.

Karena pindah-pindah agama, setiap agama yang saya tinggalkan setelah mengetahui apa yang menjadi inti ajaran dari agama tersebut, mengutuk saya, dengan perkata’an dosa, musrik, sirik, laknat bahkan kafir. Namun saya tak peduli, setelah saya menerima Wahyu Panca Gha’ib, yang menjadikan saya benar-benar mengerti dan memahami Hyang Maha Suci Hidup sesembahan saya, saya tersenyum dan bersyukur, karena kutukan-kutukan itu, telah mengantarkan saya, berhasil mencapai Tujuan saya, yaitu mengenal Hyang Maha Suci Hidup sesembahan saya, secara mendalam dan keseluruhan.

Dan pada kesempatan kali ini, saya akan membagikan pengalaman saya. Tentang Inti Ajaran Agama dan Ajaran Kejawen yang pernah saya Pelajari dulu… Semoga apa yang saya bagikan ini, bisa menjadi Tambahan Pengalaman/Pengetahuan bagi Para Kadhang dan Para Sedulur kinasihku sekalian dimanapun berada. Karena saya berawal dari islam, maka ureannya akan saya awali dari ISLAM. Selamat membaca;

Nomer Satu Adalah Islam;
Islam (Arab: al-islam) yang artinya adalah “berserah diri kepada Tuhan”) adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Dengan lebih dari satu seperempat miliar orang pengikut di seluruh dunia, menjadikan Islam sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen. Islam memiliki arti “penyerahan”, atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: Allah). Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim, yang berarti “seorang yang tunduk kepada Tuhan” atau lebih lengkapnya adalah Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan.

Islam mengajarkan bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi/rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.

Kepercayaan Islam adalah;
1. Lima Rukun Islam.
2. Enam Rukun Iman.

Ajaran Islam adalah;
1. Allah.
2. Al-Qur’an.
3. Nabi Muhammad S.A.W.

Kepercayaan dasar Islam dapat ditemukan pada dua kalimah syahadatain (“dua kalimat persaksian”), yaitu “asyhadu an-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah”. Yang arti; “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah utusan Allah”. Esensinya adalah prinsip keesaan Tuhan dan pengakuan terhadap kenabian Muhammad. Adapun bila seseorang meyakini dan kemudian mengucapkan dua kalimat persaksian ini, ia dapat dianggap telah menjadi seorang muslim dalam status sebagai mualaf (orang yang baru masuk Islam dari kepercayaan lamanya).

Kaum Muslim percaya bahwa Allah mengutus Muhammad sebagai Nabi terakhir setelah diutusnya Nabi Isa 6 abad sebelumnya. Agama Islam mempercayai bahwa al-Qur’an dan Sunnah (setiap perkataan dan perbuatan Muhammad) sebagai sumber hukum dan peraturan hidup yang fundamental. Mereka tidak menganggap Muhammad sebagai pengasas agama baru, melainkan sebagai penerus dan pembaharu kepercayaan monoteistik yang diturunkan kepada Ibrahim, Musa, Isa, dan nabi lainnya oleh Tuhan yang sama. Islam menegaskan, bahwa agama Yahudi dan Kristen belakangan, setelah kepergian para nabinya telah membelokkan wahyu yang Tuhan berikan kepada nabi-nabi ini, dengan mengubah teks dalam kitab suci, memperkenalkan intepretasi palsu, ataupun kedua-duanya.

Inti Ajaran Islam yaitu;
1. Tauhid atau berserah diri kepada Allah SWT.
2. Ta’at Kepada Allah SWT.
3. Baro’ah atau berlepas diri dari Perbuatan Syirik dan
dari pelakunya.

A. Tauhid atau berserah diri kepada Allah SWT;
Yaitu kerendahan diri dan tunduk kepada Allah dengan tauhid, yakni mengesakan Allah dalam setiap peribadahan. Tidak boleh menunjukkan satu saja dari jenis ibadah kepada selain-Nya.

B. Taat Kepada Allah SWT;
Yaitu ketundukan dan kepatuhan yang mutlak kepada Allah. Dan inilah sebenarnya yang merupakan bukti kebenaran pengakuan imannya. Penyerahan dan perendahan semata tidak cukup apabila tidak disertai ketundukan terhadap perintah-perintah Allah dan menjauhi apa-apa yang dilarang, semata-mata hanya karena taat kepada Allah dan hanya mengharap wajah-Nya semata, berharap dengan balasan yang ada di sisi-Nya serta takut akan adzab-Nya.

C. Baro’ah atau berlepas diri dari Perbuatan Syirik dan dari pelakunya;
Yaitu berlepas diri dan membenci perbuatan syirik dan pelakunya. Karena ia belum dikatakan beriman dengan sebenar-benarnya, sebelum ia mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dibenci Allah.

Sedangkan Intisarinya Ada Pada Tauhid;
Tauhid bukan hanya ajaran Nabi Muhammad saw, tetapi juga merupakan ajaran setiap nabi/rasul yang diutus Allah SWt. ( al-Anbiya’ 25 ).
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.”

Nabi Nuh mengajarkan tauhid ( al-A’raf 59 ).
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).

Nabi Hud mengajarkan tauhid ( Hud 50 ).
Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja.

Nabi Shalih mengajarkan tauhid ( Hud 61 ).
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).”

Nabi Syu’aib mengajarkan tauhid ( Hud 84 ).
Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”.

Nabi Musa mengajarkan tauhid ( Thoha 13-14 ).
“Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu)”.
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”

Nabi Ibrahim, Ishaq dan Ismail juga mengajarkan tauhid ( al-Baqarah 133 ).
“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

KESIMPULAN;
Islam adalah agama yang mengimani satu Tuhan yaitu Allah SWT.
Pokok-pokok ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan serta memperhatikan isi Al-Qur’an secara keseluruhan, maka dapat dikembangkan bahwa pada dasarnya pokok ajarannya, hanyalah kembali pada tiga hal yaitu tauhid, taat dan baro’ah/berlepas diri. Itulah intisari ajaran para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah kepada umat manusia. Maka barangsiapa yang mengaku islam, namun tidak melaksanakan ketiga hal ini, pada hakikatnya dia bukanlah pengikut dakwah para Nabi.

Nomer Dua.
Inti Ajaran Agama Hindu;
Agama Hindu merupakan agama yang mempunyai usia tertua dan merupakan agama yang pertama kali dikenal oleh manusia. Hindu mengajarkan banyak hal, baik ilmu yang berhubungan dengan dunia rohani maupun dunia material. Ajaran Hindu sangat luas , mulai dari hal yang sederhana hingga yang rumit, yang sulit dijangkau oleh pikiran biasa.

Bagi umat Hindu, agama Hindu dikenal dengan nama Sanatana Dharma, Artinya kebenaran yang abadi, namun orang umum menyebutnya sebagai Hindu, karena agama ini berasal dari lembah sungai Shindu. “Kata Hindu pertama kali digunakan oleh orang Persia dan kemudian dipopulerkan pada masa penjajahan Inggris” Namun yang jelas didalam Weda agama Hindu disebut dengan nama Sanatana Dharma.

Selain Hindu mengajarkan banyak hal ia pula memiliki banyak kitab suci, baik Sruti maupun Smriti (smerti) dan juga terdiri dari beberapa aliran seperti Shaivisme,Vaishnavisme dan Śrauta . Meskipun Hindu mengajarkan berbagai hal, sudah pasti dari keseluruhan ajaran yang terkandung memiliki inti atau pokok ajaran.

Dan Inti ajaran Hindu dikonsepkan kedalam “Tiga Kerangka Dasar” dan “Panca Sradha”. Tiga kerangka dasar tersebut terdiri dari Tattwa (Filsafat) Susila (Etika) Upacara (Yadnya).
Tattwa ¬ – Ajaran Hindu kaya akan Tattwa atau dalam ilmu modern disebut filsafat , secara khusus filsafat disebut Darsana. Dalam perkembangan agama Hindu atau kebudayaan veda terdapat Sembilan cabang filsafat yang disebut Nawa Darsana.

Pada masa Upanishad, akhirnya filsafat dalam kebudayaan veda dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu astika (kelompok yang mengakui veda sebagai ajaran tertinggi) dan nastika (kelompok yang tidak mengakui Veda ajaran tertinggi).

Terdapat enam cabang filsafat yang mengakui veda yang disebut Sad Darsana, (Saṁkhya, Yoga, Mimamsa, Nyaya, Vaisiseka, dan Vedanta) dan tiga cabang filsafat yang menentang veda yaitu Jaina, Carvaka dan Budha (agama Budha).

Susila – Secara harfiah susila diartikan sebagai etika . hal-hal yang tekandung yang dikelompokan kedalam susila memuat tata aturan kehidupan bermasyarakat yang pada intinya membahas perihal hukum agama. Mulai dari hukum dalam kehidupan sehari-sehari hingga hukum pidana (Kantaka Sodhana) dan hukum perdata (Dharmasthiya).

Upacara – Yang dimaksud upacara dalam agama Hindu adalah ritual keagamaan , sarana ritual keagamaan disebut Upakara , upakara di Bali disebut Banten. Upacara ini dapat dikelompok kedalam beberapa bentuk korban suci (Yajna) yang disebut Panca Yadnya (Panca Maha Yadnya). Ada banyak jenis panca Yadnya tergantung dari kitab mana uraian dari panca yadnya tersebut, artinya meskipun Panca Yadnya sama-sama terdiri dari lima jenis yadnya, namun bagian-bagian yang disebutkan berbeda-beda masing–masing uraian kitab suci Smrti.

Selain tiga kerangka dasar agama Hindu, ajaran hindu berlandaskan pada lima keyakinan yang disebut Panca Sradha (lima dasar keyakinan umat Hindu) yang melitputi : Widhi Tattwa, keyakinan terhadap Tuhan (Brahman). Atma Tattwa, keyakinan terhadap Atman (Roh). Karmaphala Tattwa, keyakinan pada Karmaphala (hukum sebab-akibat). Punarbawa Tattwa, keyakinan pada kelahiran kembali (reinkarnasi) dan Moksa Tattwa, keyakinan akan bersatunya Atman dengan Brahman

Nomer Tiga.
Inti Ajaran Agama Buddha;
1. Budha.
Budha Berasal dari bahasa sansekerta, Budha berarti menjadi sadar, kesadaran sepenuhnya, bijaksana. Perkataan Budha terbentuk dari kata kerja “Budh” yang artinya bangun; bangun dari dalam kesesatan dan keluar ditengah-tengan cahaya pemandangan yang benar. Budha adalah orang yang mendapat pengetahuan dengan tidak mendapat wahyu dari Tuhan dan bukan dari seorang guru, sebagaimana disebutkan dalam Mahavagga 1,67 : “Aku sendiri yang mencapai pengetahuan, akan kukatakan pengikut siapakah aku ini? Aku tak mempunyai guru, aku guru yang tak ada bandingannya”.

Budha bukan nama orang melainkan gelar. Nama pendiri agama Budha ini ialah Sidharta Gautma atau biasa juga disebut Cakyamuni, artinya orang tapa dari suku turunan Cakyas. Sidharta Gautama dilahirkan di Kapilawastu, sebelah utara Benares di daerah Nepal sekarang, di lereng pegunungan Himalaya pada tahun 566 SM. Sidharta Gautama anak raja Sudhodana.

2. Dharma.
Dharma adalah doktrin atau pokok ajaran, intisari ajaran agama Budha, dirumuskan dalam empat kebenaran mulia (Catur Arya Saccani), yaitu : Dukkha ialah penderitaan Samudya, ialah sebab penderitaan. Nirodha ialah peniadaan penderitaan. Marga ialah delapan jalan kebenaran.

Dharma mengandung empat makna utama;
1. Doktrin.
2. Hak, Keadilan, kebenaran.
3. Kondisi.
4. Barang yang kelihatan atau Fenomena.

Budha Dharma adalah suatu ajaran yang mengguraikan hakekat kehidupan, berdasarkan pandangan terang, yang dapat membebaskan manusia, dari kesesatan atau kegelapan bathin dan penderitaan yang disebabkan ketidakpuasan. Budha Dharma meliputi unsur-unsur agama, kebaktian, filosofi, psikologi, falsafah, kebatinan, metafisika, tata susila, etika.dll.

Tripitaka Mahayana termasuk dalam Budha Dharma.
Tripitaka.
Tripitaka adalah kitab suci agama Budha. “Tri” artinya “tiga” dan “Pitaka”artinya “keranjang”atau kumpulan, jadi Tripitaka adalah tiga keranjang. Tripitaka terdiri dari :

Vinaya Pitaka.
Vinaya Pitaka merupakan suatu kumpulan tata tertib dan peraturan cara hidup yang ditetapkan untuk mengatur murid-murid sang Budha yang telah diangkat menjadi Bhikku atau Bhikkuni ke dalam Sangha.

Sutta Pitaka.
Sutta Pitaka adalah kumpulan ceramah, dialog, atau berisi wejangan-wejangan sang Budha.

Adidharma Pitaka.
Adidharma Pitaka adalah kumpulan doktrin yang lebih, hasil susunan sistematis dan analisis skolastik dari bahan-bahan yang ditemukan dalam Sutta Pitaka. Adidharma Pitaka yang berisi penjelasan dogmatic yang didasarkan atas ajaran itu.

Triratna.
Triratna yang bermakna tiga permata adalah tiga buah pengakuan dari setiap penganut agama Budha. seperti halnya dengan Credo dalam Kristen, Syahadat dalam Islam. Tiga pengakuan di dalam agama Budha itu berbunyi :
“Buddham Saranam Gocchami”
“Dhamman Saranam Goccani”
“Sangham saranam dacchami”

Bermakna :
“Saya berlindung diri di bawah Budha
“Saya berlindung diri di Bawah Dharma”
“Saya berlindung diri di bawah Sangha”
Triratna harus diucapkan tiga kali. Pada kali yang kedua diawali dengan Dutiyam, yang bermakna : buat kedua kalinya. Pada kali yang ketiga diawali dengan Tatiyam, yang bermakna : buat ketiga kalinya.

Nomer Empat.
Inti Ajaran Agama Kristen;
Intisari iman Kristen adalah sebuah relasi yang didasarkan cinta kasih. Ketika kita mendengar hal ini, kesannya begitu sederhana, namun sebenarnya begitu kompleks. Di dalam dunia, ada empat unsur yang menyusun sebuah agama, yaitu: esksistensi Sang Ilahi, adanya wahyu yang diturunkan oleh Sang Ilahi, adanya penerima wahyu tersebut, dan adanya penganut ajaran yang diteruskan oleh penerima wahyu tersebut.

Dalam agama, manusia sebenarnya datang kepada pengajaran, bukan kepada pendiri agama. Pola pikir manusia seringkali didasarkan pada apakah manusia paham dan mengamalkan ajaran agama sehingga menyenangkan Tuhan. Pendiri agama hanya bertindak sebagai seorang guide (pemandu). Apabila si pendiri agama mati ataupun bangkit dari kematian pun, tidak seorangpun yang peduli. Contoh nyata hal ini adalah ajaran agama Hindu. Tidak seorangpun yang tahu siapa yang mendirikan agama Hindu, tapi Hindu tetap mempunyai banyak penganut, terutama di India dan Bali (Indonesia).

Lalu, apa bedanya ke-Kristen-an dengan agama-agama lain?
Yesus berkata; bahwa Dia adalah jalan dan kebenaran dan hidup (Yohanes 14:6). Keempat unsur ajaran di atas tidak bisa diterapkan pada diri Yesus. Yesus adalah Allah yang mewahyukan diri. Dengan demikian, keempat unsur di atas tidak dapat diterapkan pada kekristenan.

Kekristenan merupakan sebuah relasi: relasi antara Dia (Tuhan) dan aku. Seseorang disebut sebagai seorang Kristen apabila orang tersebut menerima Kristus. Menjadi Kristen bukan karena rajin pergi ke gereja, rajin baca Alkitab, rajin berdoa, dll, tapi adanya keintiman relasi bersama Yesus, relasi yang didasarkan pada cinta kasih. Banyak cerita di dunia yang mengisahkan tentang cinta kasih. Kita mungkin akrab dengan cerita-cerita cinta kasih dalam Walt Disney: Pocahontas, Beauty and the Beast, Snow White, dll.

Semua cerita cinta kasih di dunia hanyalah bayang-bayang dari cerita cinta kasih terbesar yang ada di dunia, yaitu cinta kasih Yesus yang meninggalkan takhta sorgawi dan mati di kayu salib. Dalam sebuah relasi cinta kasih, ada sebuah tuntutan yang begitu tinggi, yaitu: “tidak membagi cinta kasih” alias “tidak mendua”. Cinta Kasih menuntut untuk “tidak boleh dibagi”. Dalam perjalanan iman Kristen, kita tidak bisa menyangkal bahwa kita telah menduakan cinta kasih Tuhan. Kita telah memberhalakan sesuatu dan membagi cinta kasih Tuhan kepada yang lain.

Cinta Kasih pasti menuntut, cinta kasih pasti meminta ini dan itu, cinta kasih pasti mengatur. Misalnya orang tua yang mencintai anak, pasti menuntut banyak hal bagi si anak. Tidak mungkin orang tua yang mencintai anak, malah berkata kepada si anak: “Loe mau apa, silahkan kerjakan, emang gue pikirin”.

Banyak orang Kristen berkata mencintai Tuhan, tapi sebenarnya cinta itu bersifat narsis, untuk menguntungkan diri sendiri. Apabila hubungan kita dengan Tuhan adalah hubungan cinta kasih, maka ada tuntutan.

Ayah Pendeta Yohan, awalnya adalah seorang atheis yang bertobat menjadi seorang Kristen. Bagi Penddeta Yohan, pergi ke gereja, membaca Alkitab, dan berdoa menjadi sebuah tuntutan. Kekristenan dalam hidup Pendeta Yohan, dimulai dengan sebuah tuntutan, bukan relasi. Tapi bagi ayah Pendeta Yohan, tuntutan-tuntutan itu merupakan ekspresi cintanya kepada Tuhan. Dalam sebuah rumah tangga Kristen, sulit bagi anak-anak generasi kedua menjadi Kristen sebagai hasil relasi dengan Tuhan, tapi lebih kepada tuntutan.

Dalam sebuah relasi, kita memahami bahwa relasi harus ada tujuan mau kemana. Dalam sebuah rumah tangga, sebuah hal yang membuat rumah tangga rusak, adalah karena tidak ada tujuan yang jelas sampai keduanya dipanggil Tuhan. Sebuah relasi itu bagaikan minyak dan air dalam satu gelas. Apabila minyak dan air berhenti diaduk, maka keduanya terpisah. Apabila hubungan dengan Yesus adalah hubungan cinta kasih, maka kita bertanya: “Mau kemana hubungan ini?” Kita harus mengupayakan hubungan cinta kasih tersebut berjalan baik dalam tuntunan dan kasih karunia Tuhan sendiri, sehingga segala yang kita kerjakan adalah sebagai bentuk ekspresi cinta kasih kita kepada Tuhan. Sebagai umat kristen, entah itu Katolik maupun Protestan. Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing: “Dalam relasi dengan Yesus, apakah saya melihat keindahan-keindahan Kristus?”

Nomer Lima.
Inti Ajaran Kejawen;
Sebenarnya, kedjawen adalah ajaran Budi Pakerti Luhur Tanah Jawa. Budaya dan kebudayaan adalah jati diri suatu bangsa. Ajaran budi pakerti luhur dari sebuah pemikiran rasa cipta dan karsa dari manusia. Sebagai orang jawa, sudah sepatutnya budaya sebagai jati diri ini, digali dilestarikan dan diajarkan, bukan malah ditolak mentah-mentah, di sia-sia dianggap tak berharga. Perlu diketahui, yang membuat bangsa lain kagum kepada kita, bukanlah sekedar teknologi dan kemajuan, tapi adalah orisinilitas dalam pola tingkah laku, yaitu budaya kebudayaan ajaran budi pakerti luhur, sebagai identitas jati diri pribadi sebuah bangsa.

Kejawen (bahasa Jawa Kejawèn) adalah sebuah kepercayaan yang terutama dianut di pulau Jawa, oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya, yang menetap di Jawa. Kejawen hakikatnya adalah suatu filsafat dimana keberadaanya ada sejak orang Jawa (Bahasa Jawa: Wong Jawa , Krama: Tiyang Jawi) itu ada. Hal tersebut dapat dilihat dari ajarannya yang universal dan selalu melekat berdampingan dengan agama yang dianut pada zamannya. Kitab-kitab dan naskah kuno Kejawen tidak menegaskan ajarannya sebagai sebuah agama, meskipun memiliki laku. Kejawen juga tidak dapat dilepaskan dari agama yang dianut, karena filsafat Kejawen dilandaskankan pada ajaran agama yang dianut oleh filsuf Jawa.

Sejak dulu, orang Jawa mengakui keesaan Tuhan, sehingga menjadi inti ajaran Kejawen, yaitu mengarahkan insan. Sangkan Paraning Dumadhi; (Dari mana datang dan kembalinya hamba Tuhan) dan membentuk insan se-iya se-kata dengan Tuhan-nya. Manunggaling Kawula lan Gusthi; (Bersatunya Hamba dan Tuhan). Dari kemanunggalan itu, ajaran Kejawen memiliki misi sebagai berikut:

Mamayu Hayuning Pribadhi (sebagai rahmat bagi diri pribadi)
Mamayu Hayuning Kaluwarga (sebagai rahmat bagi keluarga)
Mamayu Hayuning Sasama (sebagai rahmat bagi sesama manusia)
Mamayu Hayuning Bhuwana (sebagai rahmat bagi alam semesta)

Berbeda dengan kaum abangan kaum kejawen relatif taat dengan agamanya, dengan menjauhi larangan agamanya dan melaksanakan perintah agamanya namun tetap menjaga jatidirinya sebagai orang pribumi, karena ajaran filsafat kejawen memang mendorong untuk taat terhadap Tuhan-nya. jadi tidak mengherankan jika ada banyak aliran filsafat kejawen menurut agamanya yang dianut seperti: Islam Kejawen, Hindu Kejawen, Kristen Kejawen, Budha Kejawen, Kejawen Kapitayan (Kepercayaan) dengan tetap melaksanakan adat dan budayanya yang tidak bertentangan dengan agamanya.

Nomer Enam.
Inti Ajaran Wahyu Panca Gha’ib;
Adalah percaya atau yakin. Bahwa hanya hidup, yang bisa menjadi jalan pulangnya jiwa dan raga kita, setelah meninggalkan kehidupan di dunia ini. karena hanya Hidup, yang berasal dari Hyang Maha Suci Hidup. Selain Hidup, diciptakan dengan bahan. Sedangkan Hidup, langsung berasal dari Hyang Maha Suci Hidup, dengan cara di tiupkan bersama Sabda Kun Faya Kun, pada awal pencipta’an.

Salokanya; “Kenalilah dirimu sendiri. Sebelum engkau mengenal AKU”

Bagi Pelaku Wahyu Panca Gha’ib. Hidup adalah Guru Sejati-nya. Penuntun-nya. Rasul-nya. Utusan yang mengemban amanah dan firman dari Hyang Maha Suci Hidup, secara langsung untuknya, tanpa perantara apapun dan siapapun. Jadi, tidak ada satupun yang bisa mengembalikan atau memulangkan atau bertanggung jawab, tentang jiwa raga lahir bathin kita, kecuali Hidup kita sendiri.

Salokanya; “Galilah Rasa yang meliputi seluruh tubuhmu. Karena di dalam tubuhmu. Ada Firman Tuhan yang bisa menjamin, hidup mati dan dunia akheratmu”

Semboyan-nya. Kita bisa melakukan apa saja. Karena Hidup. Bisa menyebut Tuhan/Allah. Nabi. Rasul. Bisa ngaji/baca alqur’an, bisa beramal dan beribadah, bisa makan minum dll, itu karena kita Hidup, coba kalau tidak Hidup, bisakah melakukan atau berbuat sesuatu… tidak bukan, paling tidak ya di kubur, karena kalau tidak Hidup, itu bukan manusia, melainkan mayat atau bangkai, yang layaknya hanya di kubur.

Salokanya; “Jangan sekali-kali mengaku manusia hidup. Jika tidak bisa merasakan hidupnya. Sebab kalau tidak bisa merasakan hidupnya, itu bukan manusia hidup. Melainkan mayat hidup”

Prinsipnya; “Jadi, sudah merupakan keharusan untuk mengenal Hidup dan Mengikuti Pentunjuknya, karena hanya petunjuk dari hiduplah, yang tidak meleset dari Firman Hyang Maha Suci Hidup”

Sebenarnya Wahyu Panca Gha’ib itu, lebih tepat disebut Laku, bukan ajaran. Laku itu, niyat pribadi yang sudah ada sejak sekian lama, lalu diarahkan hanya pada satu tujuan saja, yaitu Maha Suci Hidup. Bukan yang lain selainnya. Wahyu Panca Gha’ib juga tidak bisa disebut, agama atau kepercaya’an, juga bukan kejawen atau kebatinan, bukan golongan, bukan perguruan atau ilmu kesaktian jaya kawijayan, atau partai politik dan lain-lain sebagainya. Wahyu Panca Gha’ib, adalah Sarana untuk Laku Manunggal.

Apa itu Manunggal?
Manunggal itu menyatu atau bersatu.
Menyatu dan bersatu dengan apa dan siapa?
Menyatu atau bersatu dengan Hidup.
Apa yang disatukan dengan Hidup?
Kawula dan Gustinya atau Sedulur papat kalima Pancernya.
Apa itu kawula gusti atau sedulur papat kalima pancer?

Kawula atau Sedulur Papat itu, angan-angan, budi, pakarti dan panca indera, atau mutmainah, aluamah, supiyah, dan amarah. Gusti atau Pancer adalah Wujud/Raga. Itulah yang disatukan dengan Hidup, agar jiwa dan raganya dapat menyatu dengan Hidup, se iya sekata, menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam sikon apapun, seperti dikala Hyang Maha Suci Hidup menciptakan.

Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan agama atau kepercaya’an, bukan kejawen atau golongan, bukan perguruan atau kebathinan, bukan ilmu atau partai dan politik serta lain-lainnya. Wahyu Panca Gha’ib, adalah Sarana untuk kembali pulang ke asul usul sangkan paraning dumadi.

Apa itu asal usul sangkan paraning dumadi?
Proses asal usulnya manusia hidup.
Memang asal usulnya manusia hidup itu dari mana?
Dari Maha Suci.
Apa itu Maha Suci?
Penguwasa segalanya. Yang Maha diatas segala yang termaha, yang Langgeng dan Mutlak, tak bisa dicampuri dan tercampuri oleh apapun, kecuali yang berasal dari Maha Suci.
Apa yang berasal dari Maha Suci?
Hidup.

Apa itu Hidup?
Hidup itu… Yang bisa menjadikan Manusia Hidup, bisa bicara, makan, minum, lapa, kenyang dll, bisa bergerak, berpikir dll serta menjadikan manusia hidup memiliki Rasa. Krasa. Rumangsa. Ngrasakake Urip. Bisa menyebut Tuhan. Nabi. Agama. Bisa mengaku hebat, pintar pandai dll.

Nah,,, untuk mengarah ke Hidup-nya sendiri inilah “Wahyu Panca Gha’ib” karena hanya dengan Hidup yang berasal dari Maha Suci ini, kita bisa kembali ke asal usul kita. Sebab, hanya Hidup-lah yang bisa mengantar kita kembali ke Rahmatullah, yaitu Maha Suci Hidup. Bukan ilmu atau amal yang menumpuk atau ibadah yang hebat dll, karena semuanya itu, berbahan, yang tidak berbahan, yang murni dari Maha Suci itu, hanya Hidup.

Maka, hanya melalui Hidup yang bersemayan didalam wujud kita sendiri inilah. Kita bisa kembali pulang ke Rahmatullah. Kalau dalam istilah islamnya “Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Roji’un” kita milik Hyang Maha Suci Hidup, dan berasal dari Hyang Maha Suci Hidup. Tentu harus kembali hanya kepada Hyang Maha Suci Hidup, karena kita berasal dari-Nya. Bukan ke Sisi-Nya atau ke Surga-Nya dan yang lainnya selain Hyang Maha Suci Hidup, apa lagi ke gunung goa dan pepohonan. Kalau dalam istilah kejawennya “Curigo manjing warongko-Warongko manjing curigo” Sirna Sempurna tanpa Bekas apapun.

Inti Laku Ajaran Wahyu Panca Gha’ib, adalah tentang kesempurna segala hal yang hidup dan yang tidak hidup. Maksudnya… Sempurna selama masih Hidup di dalam kehidupan dunia ini, dan Sempurna di kehidupan setelah mati meninggalkan dunia ini. Inti Laku Ajaran Wahyu Panca Gha’ib ini, bisa di ketahui dari sistemnya manekung/maneges atau manembah/sembahyangnya. Yaitu “Wahyu Panca Laku” sebagai berikut;

Wahyu Panca Laku;
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti
5. Sampurnaning Pati Urip.

Wahyu Panca Ghaib dan Wahyu Panca Laku;
1. Kunci – Manembahing Kawula Gusti.
2. Paweling – Manunggaling Kawula Gusti.
3. Asmo – Leburing Kawula Gusti.
4. Mijil – Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Singkir – Sampurnaning Pati Urip.

Wahyu Panca Gha’ib tidak mengharuskan Pelakunya untuk begitu dan begini, meninggalkan agama atau kepercaya’annya dan menjauhi adat istiadat atau status serta identitas dan latar belakang-nya. Semuanya boleh dan di perkenankan, selagi benar dan tidak menyakiti serta merugikan apapun dan siapapun. Wahyu Panca Gha’ib hanya mengajak pelakunya untuk menggali Rasa yang meliputi seluru tubuhnya, karena dengan menggali Rasa yang meliputi seluruh tubuh inilah, kita bisa keluar dari kotak apapun sebutannya, dan membebaskan diri dari semua jenis dan bentuk ego kemelekatan. Sebab ego kemelekatan inilah, yang mempesulit kita, untuk bisa mengerti dan paham arti dan makna dari segalah hal yang sebenarnya. Dan kerena kesulitan yang kita buat sendiri inilah, kita jadi terlepas, bahkan terpisah jauh dari Hakikat Hidup-nya sendiri. Sehingga lupa pada asal usul sangkan paraning dumadi-nya sendiri, yang merupakan awal dan akhir kehidupan-nya.

Itu sebab Wahyu Panca Gha’ib tidak bisa disebut atau dibilang sebagai; agama atau kepercaya’an, kejawen atau golongan, perguruan atau kebathinan, ilmu atau partai dan politik serta lain-lainnya. Karena Wahyu Panca Gha’ib adalah. Hakikat-nya Maha Suci Hidup (Tuhan/Allah). Lakunya Tentang Hidup dan Prosesnya soal Rasa. Hidup dan Rasa ini, dimiliki oleh semua mahkluk hidup. Tidak peduli agama, adat, suku dan partai golongannya.

Sebab Inti Lelaku Ajaran Wahyu Panca Gha’ib, adalah tentang kesempurna segala hal yang hidup dan yang tidak hidup. Maksudnya… Sempurna selama masih Hidup di dalam kehidupan dunia ini, dan Sempurna di kehidupan setelah mati meninggalkan dunia ini. hingga tujuh turunan kekanan, kekiri, kedepan, kebelakang, keatas dan kebawah keluarga kita. Inti Lelaku Ajaran Wahyu Panca Gha’ib ini, bisa di ketahui dari caranya praktek di dalam kehidupan sehari-harinya sa’at berbaur/bermasyarakat. Yaitu sebagai berikut;

Praktek Wahyu Panca Gha’ib dengan menggunakan sistem Wahyu Panca Laku;
1. Pasrah kepada Maha Suci Hidup.
2. Menerima Maha Suci Hidup.
3. Mempersilahkan Maha Suci Hidup.
4. Merasakan Prosesnya.
5. Dengan Cara Menebar Cinta Kasih Sayang kepada apapun dan siapapun dimanapun.

KESIMPULANNYAL;
Karena Intisari ini. Hanya Ada Di Dalam Wahyu Panca Gha’ib. Dan Wahyu Panca Gha’ib bisa dimiliki dan di jalankan oleh semuanya, siapapun dan bagaimanapun dia, tanpa terkecuali. Tanpa harus meninggalkan agama atau ganti agama atau keluar dari agama dan bla… bla… bla… lainnya. Berati Wahyu Panca Gha’ib. Adalah Penyempurna Intisarinya, Ajaran-ajaran yang sudah saya uraikan diatas. Buktinya saya sendiri. Bukan orang lain. Dan… Silahkan direnungkan. Lalu Tentukan. Terus Lakukan jika menginginkan Bukti Nyatanya.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com