NASEHAT Spiritual dan MOTIVASI Wong Edan Bagu:


12670830_994311677289646_3347638061303015910_n

NASEHAT Spiritual dan MOTIVASI Wong Edan Bagu:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Rabu Wage. Tgl 30 Maret 2016

Dengarkanlah baik-baik wahai Anak Cucuku, duhai Sanak Kadhangku. Masukkan dalam hatimu… lalu Kerjakanlah.

Jangalah tidur jika belum bersih tubuhhmu dan suci hatimu. Jangan berjalan bila tidak menyimpan kehidupanmu kepada Sang Khalik. Karena keburukan berbarengan dengan kebaikan. Lakulah yang memilih, mana yang akan dikuti…

Bersujud atau Manembah itu “Bukan Sekedar Kepada Saja” sujudkan Jiwa serta Ragamu. Tidak ada duanya, tidak ada samanya Gusti Ingkang Moho Suci. Engkau angkat tanganmu, lalu melepaskan kotak-kotak kepentingan dan keperluan duniamu, Karena Hyang Maha Suci Hidup, sudah menunggumu sangat lama, lalu engkau menyebut-Nya.

Raga/Wudhumu akan jadi pembersih Jiwa/Tubuhmu. Patrapmu akan jadi Pembersih hatimu. Lakumu akan jadi pembersih Pikiranmu. Cinta Kasih Sayangmu akan menjadi pembersih kotak-kotak kepentinga dan keperluan duniamu. Lilo Legowo, Sabar Narimo akan menjadi Pembersih ego akumu.
Biarlah geger Dunia, Becerai berai Negeri. Tetep Idep Madep Manteplah
Dalam Belajar/Berguru kepada Hyang Maha Suci Hidup.

Tiada hari tanpa Cinta Kasih Sayang, kita di ciptakan dengan Cinta Kasih Sayang, kita di besarkan dengan Cinta Kasih Sayang, kita hidup dengan Cinta Kasih Sayang, bukan dengan kebencian, dendam atau fitnah. Selalu berlapang dada dan mengalah. Hidup ceria, bebas, leluasa dalam iman Cinta Kasih Sayang. Tidak ada satupun yang tidak bisa direlakan, karena semuanya itu adalah titipan. Tidak ada sakit hati yang tidak bisa dimaafkan. Tidak ada dendam yang tidak bisa terhapus. Jalanilah hidup ini dengan segala sifat positif yang kita miliki. Jalanilah kehidupan ini dengan sikap Cinta Kasih Sayang yang kita punyai. Jika hati sejernih air, jangan biarkan ia keruh. Jika hati seputih awan, jangan biarkan ia mendung. Jika hati seindah bulan, hiasi dengan Cinta Kasih Sayang.

Patrap, dapat membuat diri kita kuat. Kunci, dapat membuat diri kita murah hati. Paweling dapat membuat diri kita diberkahi. Asmo, dapat membuat diri kita sehat. Mijil, dapat membuat diri kita bijak. Singkir, dapat membuat diri kita diridhai. Cinta Kasih Sayang dapat membuat diri kita mengerti dan memahami arti Hidup di dalam kehidupan dunia akherat.

Orang hebat tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan dan ketenangan, tetapi mereka di bentuk melalui kesukaran, tantangan dan air mata. Jangan menyerah hanya karena hal itu, karena itu adalah anak tangga yang harus kita tapaki satu persatu, sewaktu kita merasa seakan semua sulit untuk kita jalani, percayalah bahwa Hyang Maha Suci Hidup akan memberikan kemampuan kepada kita untuk menjalaninya. Bersama Hyang Maha Suci Hidup, kita menjadi orang yang hebat, lebih dari sekedar pemenang kompetisi.

Cinta Kasih Sayang adalah buah yang tidak kenal musim, dapat di petik tiap orang kapan saja. Walau Cinta Kasih Sayang tidak selalu di balas manis, tetapi jangan pernah berhenti Menebar Cinta Kasih Sayang pada siapapun dan apapun. Hiduplah dalam Cinta Kasih Sayang, karena Cinta Kasih Sayang itu indah, membawa damai, nyaman, tenang, bahagia, sukacita dan harapan indah di setiap harinya.

Jangan menjadi palsu dengan meniru orang lain yang bukan diri kita yang sebenarnya. Kita adalah pribadi yang istimewa dan unik. Kita memiliki kelebihan yang mungkin tidak dimiliki orang lain. Banggalah menjadi diri sendiri. Jika kita tahu bahwa mengeluh tidak akan menghasilkan sesuatu yang berguna, untuk apa kita masih mengeluh?

Mari jalani hidup ini dengan sebuah tindakan nyata dan bukan keluhan semata. Tindakan kita lebih bernilai daripada keluhan kita. Sirami tanaman kita dengan Wahyu Panca Gha’ib, dan kita akan menuainya. Kembangkan potensi kita dengan Wahyu Panca Laku, dan kita akan berhasil.

Apa yang keluar dari mulut kita dengan Cinta Kasih Sayang, dapat menjadi berkah dan motivasi, atau sebaliknya dapat menjadi sebuah malapetaka. Hati-hati dengan mulut kita. Iri hati bisa timbul ketika kita kehilangan rasa syukur atas apa yang Hyang Maha Suci Hidup berikan. Kasih menjadi luntur, berganti Perasa’an tidak aman dan curiga. Jika kita mulai mengalaminya, waspadalah. Jangan buang waktu, segeralah Patra Kunci.

Di setiap langkah ada tujuan. Di setiap nafas ada kehidupan. Di setiap harapan ada kepastian. Di setiap doa ada jawaban. Di setiap laku ada kesempurna’an. Hyang Maha Suci Hidup menghadirkan benci agar kita tahu arti menyayangi. Hyang Maha Suci Hidup menghadirkan duka agar kita tahu arti senyuman. Hyang Maha Suci Hidup menghadirkan salah supaya kita tahu arti memaafkan. Hyang Maha Suci Hidup menghadirkan kesendirian supaya kita tahu arti kebersamaan. Hyang Maha Suci Hidup Mewahyukan Panca Gha’ib supaya kita mengerti arti Hyang Maha Suci Hidup. Panca Laku supaya kita paham Maksud Hyang Maha Suci Hidup.

Dari air kita belajar ketenangan. Dari batu kita belajar ketegaran. Dari tanah kita belajar kehidupan. Dari kupu-kupu kita belajar merubah diri. Dari padi kita belajar rendah hati. Dari Hyang Maha Suci Hidup kita belajar tentang Cinta Sasih Sayang yang sempurna.

Melihat ke atas, memperoleh semangat untuk maju. Melihat ke bawah, bersyukur atas semua yang ada. Melihat ke samping, semangat kebersamaan. Melihat ke belakang, sebagai pengalaman berharga. Melihat ke dalam, untuk introspeksi. Melihat ke depan, untuk menjadi lebih baik.

Ingat…!!! Hyang Maha Suci Hidup tidak pernah menjanjikan hari-hari kita berlalu tanpa sakit, berhias tawa tanpa air mata, berselimut senang tanpa kesulitan, lautan tenang tanpa badai. Tetapi Dia menjanjikan kekuatan untuk mengarungi kehidupan kita hari ke hari. Dan janji itu harus kita rengkuh dengan Wahyu Panca Gha’ib sebagai Hakikatnya dan Wahyu Panca Laku sebagai Syare’atnya. Tetaplah setia pada asal usul kita, yaitu Cinta Kasih Sayang, jadilah pemenang-Nya.

Mungkin ada banyak hal yang tidak dapat kita lakukan. Tetapi kita dapat melakukan hal-hal yang dapat kita lakukan bukan…?! Jadi, tidak ada alasan untuk katakan tidak bisa.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd:Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Wahyu Panca Gha’ib. Wahyu Panca Laku. Aji Mundi Jati Sasongko Jati:


Wahyu Panca Gha’ib. Wahyu Panca Laku. Aji Mundi Jati Sasongko Jati:
3 In 1; “Tri Tunggal” . “Tri Sula”
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Jumat Wage. Tgl 25 Maret 2016

Keterkaitan Aji Mundi Jati Sasongko Jati Atau Wahyu Panca Laku.
Dengan Wahyu Panca Gha’ib;

Aji Mundi Jati Sasongko Jati adalah Puncak Ilmu dari Segala Ilmu di Tanah Jawa Dwipa, dulu, pada masanya, ilmu ini sangatlah rahasia dan dirahasiakan, serta hanya di miliki oleh seorang saja, yaitu si penciptanya ilmu itu sendiri, dan itupun tidak sampai ke titik finisnya, maksudnya, tidak sampai selesai, karena lelaku akhir dari ilmu ini, adalah penerapan Cinta Kasih Sayang “Nggelar Cinta Kasih Sayang” antar sesama makhluk hidup, sedang si pelaku/pencipta ilmu Aji Mundi Jati Sasongko Jati, adalah seorang resi, yang awalnya merana dan kecewa, karena di khianati sang istri tercintanya, sehingganya, benci dan dendam serta sakit hati yang mendapat, mempersulit lelaku akhrinya, sebab tetap membengkas dihatinya, sukar di bersihkan, hal inilah, yang menjadikan Aji Mundi Jati Sasongko Jati yang dimilikinya kurang sempurna, dan hanya muncul sekejap saja di dunia Persilatan dan Spiritual keTuhanan, lalu,,, menghilang dan musnah kembali ke asal usulnya bersama sang penciptanya.

Namun sebelum musnah, konon Aji Mundi Jati Sasongko Jati, sempat di ajarkan secara paksa, pada seorang putera mahkota titisan dewa, yang kala itu sedang dilanda asmara dunia, namun tetap memiliki sipat dan sikap arif bijaksana, penuh Cinta Kasih Sayang, terhadap apapun tanpa terkecuali, karena dia adalah titisan dewa, dan putera mahkota inilah, yang berhasil mengusai Aji Mundi Jati Sasongko Jati, hingga ketingkatan sempurna.

Proses penyempurna’annya, cukup sederhana, bukan dengan bertapa atau melanglang buana dan sebagainya, seperti yang pernah dilakukan oleh sang resi sa’at lelaku menyempurnakan ilmu Aji Mundi Jati Sasongko Jati cipta’annya, diluar kesengaja’an, karena sang putera mahkota titisan dewa itu, memiliki sipat dan sikap penuh Cinta Kasih Sayang terhadap apapun tanpa terkecuali.

Peribahasanya (jangankan terhadap sesama manusia, pada nyamuk yang menggigit dan menghisap darahnya saja, konon tidak di bunuhnya, melainkan di biyarkan hingga si nyamuk kenyang dan pergi dengan sendirinya).

Sehingganya, diluar kesadarannya, sipat dan sikap Cinta Kasih Sayang yang dimilikinya itu, menyelesaikan tahap akhir dari lelaku Aji Mundi Jati Sasongko Jati.

Dan setelah dimiliki oleh sang putera mahkota tersebut, tidak ada seorangpun yang mampu mewarisi Puncak Ilmu dari segala Ilmu itu, karena tidak bisa menerapkan Cinta Kasih Sayang setepat Cinta Kasih Sayang yang pernah, di miliki oleh sang putera mahkota titisan dewa tersebut.

Karena pada masa itu “Cinta Kasih Sayang” hanya dimiliki oleh para Resi Ahli Pertapa, yang sudah tidak tertarik lagi, dengan urusan duniawi. Sehingganya, tidak berminat untuk mempelajari Aji Mundi Jati Sasongko Jati, yang konon, dulu sempat jadi buruan para jawara dan pendekar pilih tanding.

Kemudian Aji Mundi Jati Sasongko Jati, muncul kembali beserta ajaran Jowo Sanyoto, Aji Mundi Jati Sasongko Jati digelar kembali, sebagai upaya para leluhur bangsa jawa, yaitu Naya Genggong Sabda Palon, untuk menjabarkan keada’an jati diri atau guru sejati.

Sebagaimana kebiasaan leluhur nenek moyang jawa, dengan tujuan agar supaya, kawruh lan ngelmu sejatining jowo sanyoto, lebih mudah dipahami para generasi penerus bangsa jawa, maka digunakanlah sanepo/sanepa, saloka/kiasan, perumpama’an atau perlambang.

Dalam acara ritual atau upacara tradisi. Perlambang, saloka atau sanepa ini, diwujudkan ke dalam wejangan Wahyu Panca Laku. Inti dari isi Wejangan Wahyu Panca Laku ini, menggelar arti dari kalimat kiasan (saloka Aji mundi jati sasongko jati), yakni perumpamaan mengenai suatu makna yang dimanifestasikan dalam bentuk peribahasa. Mulai dari eksistensi yang dicipta-Yang mencipta, eksistensi Hidup dan jiwa atau sukma, hingga eksistensi akal budi pekerti. Yang bisa meneguhkan keyakinan/iman kepada Gusti Pengeran (Tuhan Yang Maha Suci. Maha dari segala Yang Maha Mulia).

Peribahasa dalam terminologi Jawa sebagai “PasemoN” atau kiasan. Kiasan diciptakan sebagai pisau analisa, di samping memberi kemudahan pemahaman akan suatu makna yang sangat dalam, rumit dicerna dan sulit dibayangkan dengan imajinasi akal-budi. Berikut ini adalah Wejangan Wahyu Panca Laku dari Saloka Aji Mundi Jati Sasongko Jati, yang pernah saya pelajari dan saya praktek-kan di TKP, yang digunakan dalam berbagai wacana falsafah Jawa Sanyata (Jowo Sanyoto). Warisan dari leluhur jawa Mbah Buyut Naya Genggong Sabda Palon.

Gigiring Punglu; Gigiring mimis;
Merupakan perumpamaan akan ke-elokan Zat Tuhan. Yakni perumpama’an hidup kita, tanpa titik kiblat dan tanpa tempat, hanya berada di dalam hidup kita pribadi.

Tambining Pucang;
Menunjukkan ke-elokan Zat Tuhan, ke-ada-an Tuhan itu dibahasakan bukan laki-laki bukan perempuan atau kedua-duanya. Dan bukan apa-apa, seperti apa sifat sebenarnya, terproyeksikan dalam sifat sejatinya hidup kita pribadi.

Wekasaning Langit; Batas langit;
Umpama batas jangkauan pancaran cahaya. Yakni pancaran cahaya kita. Sedangkan tiadanya batas jangkauan cahaya, menggambarkan keadaan sifat kita.

Wekasaning Samodra tanpa tepi; Berakhirnya samodra tiada bertepi;
Maksudnya ibarat batas akhir daya jangkauan rahsa atau rasa (sirr). Mengalir sampai ke dalam sejatinya warna kita.

Galihing Kangkung;
Galih adalah bagian kayu yang keras atau intisari di dalam pohon) galihnya pohon kangkung (kosong), maksudnya, perumpamaan ke-ada-an sukma, yang merasuk ke dalam jasad kita. Ada namun tiada.

Latu sakonang angasataken samodra; Bara api setungku membuat surut air samodra;
Menggambarkan keluarnya nafsu yang bersinggasana di dalam pancaindra, dapat membuat sirna segala kebaikan.

Peksi miber angungkuli langit; Burung terbang melampaui langit;
Menggambarkan kekuatan akal budi kita yang bersemayam di dalam penguasaan nafsu, namun sesungguhnya akal budi mampu mengalahkan nafsu.

Baita amot samodra; Perahu memuat samodra;
Baita atau perahu kiasan untuk badan kita, sedangkan samodra merupakan kiasan untuk hati kita. Secara fisik hati berada di dalam jasad. Tetapi secara substansi jasad lah yang lebih kecil dari hati.

Angin katarik ing baita; Angin ditarik oleh perahu;
Menggambarkan pemberhentian nafas kita dalam jasad, sedangkan keluarnya nafas dari dalam jasad kita pula. Dalam jagad besar, prinsip fisika merumuskan angin lah yang menarik atau mendorong perahu. Sebaliknya dalam jagad kecil, rumus biologis maka badan lan yang menarik angin. Ini menggambarkan prinsip imbal balik jagad besar dan jagad kecil.

Susuhing angin; Sarangnya angin;
Menggambarkan terminal sirkulasi nafas kita berada dalam jantung.

Bumi kapethak ing salebeting siti; Bumi ditanam di dalam tanah;
Menggambarkan asal muasal jasad kita berasal dari tanah, kelak pasti akan kembali (terkubur) menjadi tanah.

Mendhet latu adadamar; Mengambil bara sambil membawa api;
Latu wonten salebeting latu; Bara di dalam bara;
Latu binesmi ing latu; Bara terbakar oleh bara;
Menggambarkan badan kita berasal dari bara api, selalu mengeluarkan api, keadaan untuk menggambarkan sumber dan keluarnya hawa nafsu kita.

Barat katiup angin; Angin anginte prahara; Angin tertiup angin;
Menggambarkan wahana yang menghidupkan badan kita berasal dari udara, selalu mengeluarkan udara, yakni nafas kita.

Tirta kinum ing toya; Air tertelan oleh air;
Ngangsu rembatan toya; Menimba dengan air;
Toya salebeting toya; Air di dalam air;
Menggambarkan badan kita berasal dari air, selalu dialiri dan mengalirkan air, maksudnya darah kita.

Srengenge pinepe; Kaca angemu srengenge;
Matahari terjemur; Kaca mengandung matahari;
Artinya bahwa adanya cahaya karena sinar dari sang surya. Surya itu sendiri berada di dalam cahaya. Hal ini menggambarkan keadaan indera mata atau netra kita ; mata itu seperti matahari, namun mata dapat melihat karena selalu disinari oleh sang surya.

Wiji wonten salabeting wit; Biji berada dalam pohon;
Wit wonten salebeting wiji; Pohon berada di dalam biji;
Dinamakan pula “peleburan papan tulis”. Menggambarkan keadaan bahwa ZAT Tuhan berada dalam wahana makhluk, dan makhluk berada dalam wahana Tuhan (Jumbuhing kawula-Gusti).

Kakang barep adhine wuragil; Kakaknya sulung, adiknya bungsu;
Menggambarkan martabat insan kamil, keadaan sejatinya diri kita. Hakekat kehidupan kita sebagai “akhiran” dan sekaligus sebagai “awalan”. Pada saat manusia lahir dari rahim ibu merupakan awal kehidupannya di dunia, sekaligusakhir dari sebuah proses triwikrama atau tiga kali menitisnya “Dewa Wisnu” menjadi manusia melewati 4 zaman; kertayuga, tirtayuga, dwaparayuga, kaliyuga/mercapadha/bumi. Sedangkan ajal, merupakan akhir dari kehidupan (dunia), namun ajal merupakan awal dari kehidupan baru yang sejati, azali abadi.

Busana kencana retna boten boseni; Busana wrasta tanpa seret;
Gambaran jasad yang dibungkus kulit sebagai “busana”. Kita tidak pernah bosan biarpun tidak pernah ganti “busana” atau kulit kita. Kulit merupakan “busana” pelindung dari tubuh kita.

Tugu manik ing samodra;
Menggambarkan daya cipta yang terus menerus berporos hingga pelupuk mata. Daya cipta akal budi manusia jangkauannya umpama luasnya samodra namun konsentrasinya terfokus pada mata batin.

Sawanganing samodra retna; Pemandangan intan samodra;
Menggambarkan pintu pembuka kepada keadaan Tuhan. Tabir pembuka hakekat Zat. Yakni “babahan hawa sanga” atau sembilan titik yang terdapat di dalam diri manusia sebagai penghubung kepada Zat Maha Kuasa. Disebut juga kori selamatangkeb; melar-mingkupnya maras atau membuka-menutupnya mulut).

Samodra winotan kilat; Samudra berjembatan kilat;
Dalam Islam disebut jembatan “siratal mustaqim”.
Menggambarkan pesatnya yatma sampai padangabyantaraning Hyang Widhi. Adapula yang mengartikan “jembatan kilat”, sebagai perlambang keluarnya ucapan mulut manusia.

Bale tawang gantungan; Rumah atau tempatnya langit bergantung;
(Dalam terminologi Islam disebut arsy atau aras kursi atau kursi kekuasaan Tuhan). Namun bukan dibayangkan sebagai singgasana yang diduduki Tuhan bertempat di atas langit (ke 7), imajinasi demikian justru memberhalakan Tuhan sebagaimana makhluk-Nya saja. Dalam konteks ini, aras atau tawang gantungan adalah perumpamaan kekuasaan, yang menjadi “wajah” Tuhan. Hakekatnya sebagai “balai sidang” Zat, keberadaannya di dalam kepala dan dada. Sedangkan kursi, atau dilambangkan bale, merupakan perumpamaan singgasana (palenggahan) Zat. Letaknya ada di otak danjantung. Singkatnya, kepala dan dada sebagaitawang gantungan, sedangkan otak dan jantung sebagai bale-nya.

Wiji tuwuh ing sela; Biji tumbuh di atas batu;
Dalam termonologi Islam di istilahkan laufhul mahfudz loh-kalam. Loh/laufhul itu artinya papan atau tempat, sedangkan al makhfudz berarti dijaga/kareksa. Maknanya adalah tempat yang selalu dijaga Tuhann. Yakni hakekat dari “sifat” Zat yang terletak di dalam jasad yang selalu dijaga “malaikat” Kariban. Malaikat merupakan perlambang dari nur suci (nurullah) ataucahyo sejati. Cahyo sejati menjadi pelita bagi rasa sejati atau sirr. Sedangkan loh-kalam artinya bayangan atau angan-angan Zat letaknya di dalam budi, tumbuhnya angan-angan, dijaga oleh malaikat Katiban. Malaikat katiban adalah pralambang darisukma sejati yang selalu menjaga budi agar tidak mengikuti nafsu.

Tengahing arah; Titik tengahnya arah;
Ibarat mijanatau traju. Yakni ujung dari sebuah senjata tajam. Menggambarkan hakekat dari neraca (alat penimbang) Zat. Traju terletak pada instrumen pancaindra yakni; netra (penglihatan), telinga (pendengaran), hidung (pembauan), lidah dan kulit (perasa). Dalam pewayangan dilambangkan sebagai Pendawa Lima; Yudhistira, Bima/Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Makna untuk menggambarkanpanimbang (alat penimbang) hidup kita yang berada pada pancaindra.

Katingal pisah; Terkesan pisah;
Menggambarkan keadaan antara Zat (Pencipta) dengan sifatnya (makhluk) seolah-olah terpisah. Sejatinya antara Zat dengan sifat tak dapat dipisahkan. Sebab biji dapat tumbuh tanpa cangkok. Sebaliknya cangkok tidak tumbuh bila tanpa biji. Biji menggambarkan eksistensi Tuhan, sedangkan cangkok menggambarkan eksistensi manusia. Kiasan ini menggambarkan hubungan antara kawula dengan Gusti. Walaupun seolah eksis sendiri-sendiri, namun sesungguhnya manunggal tak terpisahkan dalam pengertian “dwi tunggal” (loroning atunggil).

Katingal boten pisah; Tampak tidak terpisah;
Menggambarkan solah dan bawa. Solah adalah gerak-gerik badan. Bawa atau krenteg adalah gerak-gerik batin. Solah dan bawa tampak seolah tidak terpisah, namun keduanya tergantung rasa. Solah merupakan rahsaning karep (nafsu/jasad), sedangkan bawa merupakan kareping rahsa(pancaran Zat sebagai rasa sejati). Keduanya dapat berjalan sendiri-sendiri. Namun demikian idealnya adalah Solah harus mengikuti Bawa.

Katingal tunggal; Tampak satu;
Menggambarkan zat pramana (mata batin), dengan sifatnya yakni netra (mata wadag) tidaklah berbeda. Artinya, penglihatan mata wadag dipengaruhi oleh mata batin.

Medhal katingal;
Menggambarkan keluarnya sifat hakekat (Tuhan) ke dalam zat sifat (makhluk), yakni ditandai dengan ucapan lisan menimbulkan suara.

Katingal amedhalaken;
menggambarkan keluarnya nafas. Sedangkan kenyataannya menghirup atau memasukkan udara, yang seolah-olah mengeluarkan.

Menawi pejah mboten kenging risak; Bila mati tidak boleh rusak;
Ibarat sukma dengan raga. Bila raga rusak, sukmanya tetap abadi. Dalam terminologi Islam disebut alif muttakallimun wakhid. Sifat yang berbicara sepatah tanpa lisan. Berupa kesejatian yang berada dalam sukma, yakni roh kita sendiri.

Menawi karisak mboten saget pejah; Bila dirusak tidak bisa mati;
Perumpamaan untuk hubungan nafsu danrasa. Walaupun nafsu dapat kita dikendalikan, namun rasa secara alamiah tidak dapat disirnakan. Karena rasa dalam cipta masih terasa, terletak dalam rahsa/sirr kita pribadi. Berhasil menahan nafsu dapat diukur dari perbuatannya; raganya tidak melakukan pemenuhan nafsu, tetapi rasa ingin memenuhi kenikmatan jasad tetap masih ada di dalam hati. Saloka ini untuk memberi warning agar kitawaspadha dalam “berjihad” melawan nafsu diri pribadi. Karena kesucian sejati baru dapat diraih apabila keingingan jasad (rahsaning karep) sudah sirna berganti keinginan rahsa sejati (kareping rahsa).

Sukalila tega ing pejah ; sukarela dan tega untuk mati;
Menggambarkan orang mau mati, dengan menjalani tiga perkara; pertama, sikap senang seperti merasa akan mendapat kegembiraan di alam kasampurnan. Kedua, rela untuk meninggalkan semua harta bendanya dan barang berharga. Ketiga, setelah tega meninggalkan semua yang dicinta, disayang dan segala yang memuaskan nafsu dan keinginan, semuanya ditinggal. Mati di sini berarti secara lugas maupun arti kiasan. Orang yang berhasil meredam hawa nafsu dan meraih kesucian sejati hakekatnyaorang hidup dalam kematian. Sebaliknya orang yang selalu diperbudak nafsu hakekatnya orang yang sudah mati dalam hidupnya. Yakni kematian nur atau cahaya sejati.

Semua yang disebut; besar, luas, tinggi, panjang, lebih, ialah bahasa yang digunakan untuk mengumpamakan keadaan Tuhan. Sebaliknya, semua yang disebut kecil, sempit, rendah, pendek, kurang, dan seterusnya ialah bahasa yang dugunakan untuk menggambarkan “sifat” yakni wujudnya kawula (manusia).
Gambaran menyeluruh namun ringkas mengenai keadaan Zat-sifat (kawula-Gusti) sebagaimana “cangkriman” berikut ini;

Bothok banteng winungkus ing godhong asem kabiting alu bengkong;
Bothok : sejenis pepesan untuk lauk, terdiri dari parutan kelapa, bumbu-bumbu, lalu dibungkus daun pisang dan dikukus. Bothok berbeda dengan pepes atau pelas, cirikhasnya ada rasa pedas. Campurannya menentukan nama bothok, misalnya campur ikan teri, menjadi bothok teri. Lamtoro, menjadi bothok lamtoro. Udang, menjadi bothok udang. Adonan bothok lalu dibungkus dengan daun pisang. Dan digunakan potongan lidi sebagai pengunci lipatan daun pembungkus.

Nah… Wejangan Wahyu Panca Laku dalam Saloka Aji Mundi Jati Sasongko Jati inilah, bahan untuk membuat bothok banteng. Sedangkan Bothok Banteng itu, adalah Wahyu Panca Gha’ib. Dibungkus dengan daun asem jawa, yang sangat kecil/sempit. Sedangkan tusuk penguncinya menggunakan alu semacam lingga terbuat dari kayu sebagai alat tumbuk padi. Alu itu panjang dan lurus, namun alu di sini bengkok. Jadi mana mungkin digunakan sebagai bothok.

Wejangan Wahyu Panca Laku dalam Saloka Aji Mundi Jati Sasongko Jati di atas. Menggambarkan keada,an yang tampak mustahil jika dipahami hanya menggunakan akal budi saja. Bothok banteng maknanya adalah menggambarkan adanya Zat, yang tidak lain adalah Hidup kita pribadi. Godhong asem, menggambarkan keada’an sifat, yakni sebagai bingkai Hidup kita, kenyataan dari beragamnya manusia. Alu bengkong, menggambarkan afngal semua, yakni angan-angan, budi, pekerti dan panca indera hidup kita.

Singkatnya, berdirinya/adanya Hidup kita ini, asisinglon warna kita, tampak dari solah dan bawa. Selain makna di atas, bothok banteng diartikan sebagai Wahyu Panca Gha’ib. Godhong asem, adalah Wahyu Panca Laku. Alu bengkong adalah lelakunya “Anggelar Cinta Kasih Sayang”.

Wejangan Wahyu Panca Laku dalam Saloka Aji Mundi Jati Sasongko Jati. Puncaknya ilmu dari segala ilmu ini, pernah jadi buruan Raja-Raja Jawa, setelah dibawa lenyap oleh leluhur kita “Naya genggong Sabda palon” Karena dianggap satu-satunya Ilmu Kesempaurna’an yang paling Sempurna. namun sejauh pembelajarannya, tidak ada satupun yang berhasil.

Selama berabad-abad lamanya, Wejangan Wahyu Panca Laku dalam Saloka Aji Mundi Jati Sasongko Jati, lenyap bak di telan bumi bersama “Naya genggong Sabda palon” leluhur jawa, menjadi mitos yang dianggap tidak nyata, karena siapapun yang mempelajarinya, dapat di pastikan gagal, sebab sudah kemomoran dengan ajaran-ajaran baru yang di bawa oleh para pendatang/perantau dan berusaha menguasa Tanah/Bumi Jawa.

Kemudian muncul lagi dijaman Proklamasi. Dimiliki oleh seorang Opsir Angkatan Laut, yang masih keturunan Raja majapahit yang menghilang dari kedaton. Yang Pinilih lan Pininto oleh Hyang Maha Suci Hidup, untuk menjadi manusia Pertama, menerima Wahyu Panca Gha’ib. Dengan kesempurna’an Wahyu Panca Laku yang dibawanya sejak lahir. Bernama Pangeran Smana/Smono Sastrohadijoyo.

Namun sayang,,, setelah sepeninggalan Beliau “Pangeran Smana/Smono Sastrohadijoyo”. Hanya ada beberapa Pewaris saja, yang berhasil mencapai Sampurnaning Kawula Gusti dan Sampurnaning Pati Urip. Selebihnya, baru sampai ditahapan Saring Sinaring Saring (Belum Tentu).

Di karenakan, tidak tepatnya anggapan bab Wahyu Panca Gha’ib, bahkan salah menafsirkan Wahyu Panca Gha’ib, dianggap itu, disangka ini dan itu ini dll. Sehingganya, jangankan bertemu dengan Wahyu Panca Laku, yang merupakan sistem pengguna’an atau penerapan Wahyu Panca Gha’ib. Untuk Berproses Ke Sempurnaning Kawula Gusti dan Sampurnaning Pati Urip. Soal Wahyu Panca Gha’ib-nya saja, yang menjadi bibit sakawitnya, simpang siyur sesuai kepentingan pribadinya masing-masing.

Dengan Pengalaman atau Pengetahuan Pribadi yang berhasil saya temukan ini. Saya berharap… Seluruh Manusia Hidup, khususnya Pewaris Wahyu Panca Gha’ib dimanapun berada. Bisa tergugah dan tergerak Hatinya/Rasanya, untuk mempertahankan dan menyebar luaskan. Kebenaran yang berhasil saya ungkap kebenarnnya ini, kepada siapapun tanpa terkecuali, dengan Iman Cinta Kasih Sayang, bukan dengan yang lainnya. Tapi,,, harus tau sendiri dulu, harus mengalami sendiri dulu, jika masih katanya saya, sebaiknya tidak usah neko-neko. Karena itu akan lebih mempersulit sikon pribadinya sendiri. Jadi, cukup simpan dan pertahankan, dan kalau sewaktu-waktu sudah tau buktinya sendiri, baru di sebar luaskan…
Hormat saya:
Wong Edan Bagu.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, maafkan lah saya, jika apa yang saya tulis dan saya sebarkan melalui media internet ini, adalah kesalahan yang tidak saya sengaja. saya hanya ingin menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang saya dapatkan dari-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di dunia ini. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin dan, Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Awal Mula Munculnya BerkeTuhanan. Dan Kunci The Power:


Awal Mula Munculnya BerkeTuhanan.
Dan Kunci The Power:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Minggu Wage. Tgl 20 Maret 2016

Awal Mula Munculnya BerkeTuhanan;
Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku sekalian dimanapun berada. Secara umum, kebutuhan manusia hidup ada dua hal. Pertama kebutuhan biologis jasmaniah. Yaitu sandang, pangan, papan dan pasangan. Kedua kebutuhan psikologis bathiniah. Yaitu rasa aman, nyaman, bahagia, tenang dan damai.

Untuk memenuhi kebutuhan psikologis atau kebutuhan bathin ini, manusia mulai mencari sesuatu apapun bentuknya, yang dianggapnya mempunyai kekuatan yang luar biasa, yang bisa membantu atau menolong dirinya, yang bisa melindungi dirinya, sehingga dia merasa aman dan nyaman. Sesuatu yang dianggap mempunyai kekuatan mistik itu, menjadi sesuatu yang dirindui, dipuja dan dipuji serta disembah oleh mereka.

Pada awalnya,,, manusia primitip mengakui hanya ada satu Tuhan Yang Maha Tinggi yang disembah. Namun dalam perkembangannya, karena Tuhan tersebut tidak pernah bisa hadir dalam kehidupan mereka sehari-hari, maka mereka mulai menggantinya dari satu Tuhan menjadi beberapa tuhan yang mudah untuk dikenali dan mudah dijangkau oleh pola pikir mereka saat itu. Keyakinan kepada beberapa tuhan dinamakan polytheisme.

Sejak saat itu dalam benak manusia, dalam pikiran manusia, muncul suatu konsep berTuhan. Konsep berTuhan itu, turun-temurun diyakini, walaupun yang ada di dalam pikiran manusia itu, bukan Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan. Seperti Firman-Nya dalam al-qitab dibawah ini;

Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa ( AL HAJJ 22 : 74 )

Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya, Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu ( YUSUF 12 : 40 )

Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapakmu mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuknya, mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan hawa nafsunya
( AN NAJM 53 : 23 ).

Kita semua belum pernah berjumpa dengan Tuhan bukan?
Lalu bagaimana kita bisa kenal nama-Nya. Enak aja… He he he . . . Edan Tenan.

Tak jumpa maka tak kenal, tak kenal maka tak cinta, tak cinta maka tak sayang, tak sayang maka mana mungkin bisa iman… masuk akal tidak…?!

Tuhan yang sebenarnya tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia, Dia tidak serupa dengan apapun yang di kira dan di sangka-sangka serta di duga-duga, tidak ada sesuatu apapun disisi-Nya, Dia berdiri dengan sendirinya tanpa penolong. Dia bukan laki-laki dan juga bukan perempuan. Orang Arab atau orang Timur Tengah menyebut nama Tuhannya Al-Ilah artinya yang disembah, akhirnya muncul kata Allah. Berarti pada awalnya yang memberi nama Tuhan Allah adalah manusia juga.

Kata Allah menurut gramatika bahasa Arab, berarti bentuk laki-laki (maskulin), Bapa, namun kata Al Dzat, berarti bentuk perempuan (feminin), Bunda.

Jadi,,, kata Allah ini, sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim, sejak sebelum agama Islam muncul. Kemudian Nabi Ibrahim yang berpikiran kritis, berusaha mencari Tuhan tanpa alat-alat canggih. Di abad sekarang ini, kebenaran keberadaan Allah, kebenaran Al-Quran, mulai terbukti dengan adanya penelitian luar angkasa, penelitian atom dan energi, penelitian DNA, penelitian air dan bla…bla…bla…lainya.

Sejak zaman primitif, setelah manusia memiliki konsep berkeTuhanan, mereka kemudian membuat aturan-aturan dan tata cara penyembahan, tata cara peribadatan yang disebut Agama, yang berasal dari kata A artinya tidak dan gama. Yang artinya; kacau. Agama adalah aturan agar tidak kacau. Melalui keberagama’an inilah, diharapkan kehidupan masyarakat tidak kacau, aman tentram dan damai.

Demikian juga Nabi Muhammad, membuat tata cara beribadah, tata cara sholat sebagai syareat Islam, setelah beliau bermukim di Madinah. Seiring dengan perkembangan zaman, dari zaman purba sampai zaman sekarang, tata-cara keberagama’an pun banyak mengalami perubahan. Pada abad modern ini, hampir semua umat di dunia berkeyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dari polytheisme menjadi monotheisme.

Pada zaman Nabi Ibrahim, Al-Ilah mereka adalah berhala-berhala yang kemudian dihancurkan oleh Nabi Ibrahim. Kemudian Ibrahim mengajarkan agama samawi, yaitu agama wahyu, menyembah Allah Tuhan Yang Maha Esa. Begitu pula pada saat zaman Nabi Muhammad, masyarakat jahiliyah tidak menolak nama Tuhan Yang Maha Tinggi adalah Allah, yang mereka tolak adalah karena Nabi Muhammad mengajak mereka dan melarang mereka menyembah Tuhan-Tuhan lainnya selain Allah Tuhan Yang Maha Esa.

Pada zaman Pra Islam, Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim di dekat sumber air keramat Zamzam, adalah sebagai kuil untuk menyembah Allah, Tuhan Tertinggi bangsa Arab.

Disekitar nya banyak berhala-berhala sebagai Tuhan-Tuhan yang lain. Mekah sudah dianggap sebagai kota suci, dimana dalam radius 20 mil dari Ka’bah, dilarang adanya segala macam kekerasan, perkelahian apalagi pertumpahan darah. Pada saat itu, sudah ada kebiasaan tawaf dan ibadah haji yang dilakukan setiap tahun, pada saat musim gugur. Ibadah haji di awali di Ka’bah, kemudian diluar Mekah, untuk menghormati Tuhan-Tuhan yang lain, kemudian acara di Arafah, dan melemparkan batu ke arah tiga pilar di Mina. Pada musim haji ada gencatan senjata, setiap suku dijamin keamanannya, untuk melakukan ibadah haji di Mekah.

Sebagai bukti sederhana, bahwa kata Allah sudah tidak asing lagi di masyarakat Arab jahiliyah, adalah bahwa ayahanda Nabi Muhammad bernama Abdullah.

Sesungguhnya, kita tidak tahu Tuhan itu apa, dan ada dimana, adalah rahasia. Nama diberikan bila sesuatu ada wujudnya. Segala sesuatu yang berwujud lebih dari satu, harus diberi nama agar kita tidak keliru, agar tidak salah alamat. Bukankah begitu…?! berawal dari sinilah, asma’ul husna di rancang.

Tuhan tidak punya nama, karena tidak berwujud. Namun Dia Yang Maha Esa adalah Dzat Wajibul Wujud, wajib adanya. Dia juga Dzat Mumkinu Wujud, mungkin adanya. Dia adalah transenden, tak terjangkau oleh akal dan pikiran. Nama Tuhan yang sebenarnya, tidak bisa diucapkan dan tidak bisa dituliskan.

Walaupun demikian, bila penyembahan semua umat tertuju kepada-Nya, tidak akan salah sasaran, karena Dia Maha Tunggal. Oleh karena Tuhan tidak punya nama, maka kita pun bebas memanggil atau menyebut nama Tuhan dengan nama apa saja. Boleh panggil Bapa atau Bunda atau Yesus atau Hyang Widi, pokoknya dengan nama apa saja, termasuk (Asma’ul husna) dll. Nggak masalah, jadi, nggak usah sewot atau cemburu jika ada yang menyebut Nama Tuhan dengan masing-masing seleranya…Tuhan juga tidak pernah marah akan hal itu. Seperti Firman-Nya dibawah ini;

Katakanlah: Seru-lah Allah atau seru-lah Ar-Rahman, dengan nama yang mana saja kamu seru, dia mempunyai nama Al-Asma’ul Husna … ( AL-ISRA 17 : 110 ).

Kita pun yakin bahwa Tuhan Maha Pengampun, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, bukan Tuhan Maha Pemurka. Tuhan tidak pernah menyusahkan umatnya, atau mempersulit umatnya. Semua Nama yang menggambarkan sifat-sifat dualitas-Nya dan saling bertentangan itu, berada dalam ke-Esa-an Dzat-nya. Misalnya sifat Jamal ( Terang ) dan Jalal ( Gelap ), Al Hadi, Yang Memberi Petunjuk dan Al Mudzil, Yang Menyesatkan, tidak berarti Tuhan ada dua, Dia tetap Yang Maha Tunggal. Yang kita sembah bukan nama-Nya, tapi Dzat-Nya yang Essensi-Nya berada didalam setiap mahluk cipta’annya.

Karena Dialah Al Muhit, Yang Maha Meliputi Segala Sesuatu. Dia ada di mana-mana, namun dalam ke Esa-an-Nya. Dia tidak ke mana-mana, Dia berada di dalam diri kita semua. Kemana kita menghadap, disitulah wajah Tuhan. Dimana ada kehidupan, disitulah ada Tuhan. Kemana kita mengahadap, disitulah wajah Tuhan. Kepan kita menyebut, pada sa’at itulah Tuhan Berlaku.

Bagi saya, alam semesta seisinya, adalah guru saya, khususnya manusia hidup, karena itu, saya memperlakukan setiap orang, sama persis seperti saya ingin di perlakukan oleh orang. Hal ini bukan karena saya menghormatinya sebagai manusia hidup, akan tetapi, karena saya melihat ada Guru Sejati di setiap diri manusia hidup. Saya mengetahui ada Cahaya Tuhan, disetiap diri manusia hidup. Saya melihat Cahaya Tuhan bersinar di setiap diri manusia hidup.

Pembukti nyata inilah, yang membuat saya, semakin Cinta kepada semua makhluk hidup, yang membuat saya, semakin Kasih kepada semua makhluk hidup, yang membuat saya, semakin Sayang kepada semua makhluk hidup, terutama sesama Manusia Hidup. Bagi saya, mencubitnya, sama halnya saya mencubit Wujud Tuhan saya sendiri.

Kunci The Power;
Karena itu, saya berpesan penuh Cinta Kasih Sayang, kepada semuanya tanpa terkecuali, lebih baik berhati-hatilah. Tuhan ada dimana-mana, di makhluk hidup, di tetumbuhan hidup, di hewan-hewan hidup, dan semuanya serta segalanya yang hidup, ada Tuhan di dalamnya, mencubitnya, menghinanya, menyakitinya, membencinya. Berati; mencubit, menghina, menyakiti, dan membenci Tuhan Hyang Maha Suci Hidup, yang sedang kita puja dan puji serta kita rindukan penyatuannya selama ini.

Sebab di semua diri manusia hidup, memiliki Hakikat keTuhanan. Artinya, semuanya manusia hidup, bisa dan bisa, Itu sebab saya berkeinginan, menunjukan bukti kebenarannya, kepada semuanya, karena semuanya juga bisa. Bisa apa? Bisa apa saja…

Dengan ini, saya beritakan sekali lai, saya sampaikan sekali lagi, saya tegaskan sekali lagi. Saya tidak bisa membantu siapapun Anda, dengan cara memberi apa yang Anda dibutuhkan/Perlukan, tapi saya bisa mengajari Anda untuk bisa mendapatkan apa yang Anda Butuhkan/Perlukan.

Dengan Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku. Salah satu Ajaran Hakikat Hidup, yang sudah saya buktikan sendiri kemurniannya, bukan katanya. Yang lalu bukti-buktinya saya rangkai secara khusus, sesuai Pembuktian sa’at saya Praktek di TKP. Yang saya beri judul “Kunci The Power” siapapun Anda. Pasti “BISA” dengan Laku Hakikat Hidup “Kunci The Power” apapun yang Anda Butuhkan dan Anda Perlukan, bisa tercapai berdukun, berkiyai, bersuhu, tanpa uborampe, tanpa tumbal, tanpa puasa/tirakat, tanpa Efek dan Risiko Negatif apapun.

Hanya dengan Membeli Buku Bimbingan “Kunci The Power” (Bagi yang tidak bisa datang langsung menemui saya). Seharga Rp. 550.000. Anda bisa mengenal Jati Diri Pribadi. Bisa Memiliki Guru Sejati. Bisa Paham tentang Hal-hal yang bersipat Gha’ib. Bisa Mengerti Hyang Maha Suci Hidup (Tuhan).

Rp. 550.000. Sungguh bukanlah kerugian yang amat sangat besar. Karena dulu, saya belajar tentang hal ini, kalau di nilai hitung dengan uang, sungguh tidak ternilai dan terhitung jumlahnya, sebab bukan cuma uang saja, tapi juga anak istri keluarga dan pekerja’an bahkan harga diri, saya korbankan untuk bisa sampai mencapai ini.

Dan cobalah Anda telisik sendiri keluar sana. Berapa juta yang mereka habiskan untuk belajar di pesantren, padepokan, perguruan dll selama bertahun-tahun. Tapi hasilnya, masih tetap katanya. Berapa juta yang mereka habiskan untuk mencari pesugihan di tempat-tempat keramat, di tambah harus mengorbankan anak istri keluarga hingga tetangga, namun hasilnya belum tentu. Berapa juta yang mereka habiskan untuk berdukun, berembah, bersuhu, berkiyai, hanya demi penyakit, nomer togel, pengasihan dll, tapi hasilnya apa…?!

Hanya dengan Rp. 550.000 saja. Anda bisa menyelesaikannya sendiri, tanpa berdukun, bertapa, beritual dan ber bla…bla…lainnya, tanpa risiko negatif apapun, selain itu, bisa mengenal Jati diri/Guru Sejati dan ilmu-ilmu keTuhanan, yang sedang di gandrungi dan buru oleh miliyaran manusia pencinta Tuhan. Anda masih berpikir eman-eman dengan uang Rp. 550.000 itu, dan mamilih yang gratis dan yang lebih mahal, karena yang lebih mahal pasti lebih hebat dan bla…bla…lainnya. berati sungguh Anda telah di takdirkan oleh Tuhan, untuk menjadi manusia-manusia Hidup, yang selama Hidupnya, untuk di perbudak oleh sesama manusia hidup. Karena itu, saya tidak akan memaksakan kehendak saya.

Saya cukupkan sampai disini, ini artikel terakhir saya, tentang syi’ar “Kunci The Power” setelah ini, saya tidak akan menawarkan lagi, saya tidak akan mengajak lagi, apa lagi memaksa, karena kita sudah sama-sama tuanya, artinya, sama-sama bisa mikirnya, tau mana yang baik mana yang tidak. Waktu untuk bersyi’ar sudah habis, waktu untuk mengbarkan sudah selesai. Jadi, setelah artikel ini, saya tidak akan menceritakan atau mengungkap bab soal “Kunci The Power” lagi. Jika ada yang minta nomer togel. Minta ilmu pelet, pengasihan, penglarisan, penyembuhan, naik jabatan, atau bertanya tentang hal-hal gha’ib, guru sejati, jati diri dllnya, sungguh, dengan amat sangat sedih, saya tidak akan menanggapi lebih, karena saya sudah berulang kali memberikan peluang, menawarkan Kunci The Power, agar bisa sendiri, tapi dianggap meraup keuntungan pribadi. Saya Tinggal Ucapkan Lakum Dinukum Waliyadin.

Jadi…. Silahkan di pikir selogika mungkin, adakah yang semurah Wong Edan Bagu…?! Murah, bukan berati murahan, murah saya, karena Cinta Kasih Sayang. Adakah yang seterbukan Wong Edan Bagu…?!

Membeli buku Bimbingan Laku Hakikat Hidup “Kunci The Powr” semahar Rp. 550.000 itu, kalau dalam belajarnya, tidak bisa datang ke tempat saya, karena sibuk bekerja atau karena kepentingan lain-lainya, kalau bisa datang langsung ke tempat saya. GRATIS. Buku saya berikan secara Cuma-Cuma. Kurang apa coba…?!

Jika maunya, enjoy di rumah atau tetap bisa sibuk kerja ditempat, kumpul sama keluarga, tapi bisa sambil belajar, terus buku bimbingannya di kirim secara gratis. Dengan alasan, katanya syiar, katanya Cinta Kasih Sayang. Berati kan, harus rela mengirim buku gratis dan siap melayani bimbingan dari jarak jauh. He he he . . . Edan Tenan. Silahkan dipikir saja. Kira-kira menurut nalar Anda bagaimana…

Bagi yang sudah berhasil memiliki Buku Bimbingan “Kunci The Power”. Tolong…7x, berkomunikasihlah dengan saya selalu, agar tidak mengalami kesulitan, tanyakan jika ada yang tidak dipahami. Agar saya bisa menjelaskannya. Jangan sekali-kali merubah apa yang sudah saya Pakemkan dalam buku tersebut, karena semuanya sudah saya Racik Pas. Dan jangan karena sudah memiliki bukunya, lalu diam saja dan merasa cukup dengan buku tersebut. Saya ingin siapapun yang sudah berhasil memiliki Buku Bimbingan “Kunci The Power” bisa berhasil tanpa mengalami kesulitan apapun, hal ini, hanya bisa di lakukan dengan cara berkomunikasih selalu. Bukan diam saja. Seklian dan Terima Kasih.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, maafkan lah saya, jika apa yang saya tulis dan saya sebarkan melalui media internet ini, adalah kesalahan yang tidak saya sengaja. saya hanya ingin menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang saya dapatkan dari-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di dunia ini. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin dan, Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Curigo manjing warongko -Wahyu Panca Gha’ib; Warongko manjing curigo – Wahyu Panca Laku;


Curigo manjing warongko -Wahyu Panca Gha’ib;
Warongko manjing curigo – Wahyu Panca Laku;
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Kamis Legi. Tgl 17 Maret 2016

Seluruh manusia, dalam benaknya memiliki rasa keingintahuan tentang wujud Tuhan. Maka lazim lah manusia membayangkan bagaimana gambaran keadaan Tuhan itu sebenarnya. Dalam beberapa agama samawi, menggambarkan keadaan Tuhan adalah “ranah terlarang” atau ruang lingkup yang musti dihindari, tidak menjadi pembahasan dengan obyek dzat secara datail dan gamblang. Dengan alasan bahwa Tuhan sebagai dzat yang amat sangat sakral. Maka menggambarkan keadaan dzat Tuhan pun manusia dianggap tidak akan mampu dan akan menemui kesalahan persepsi, yang dianggap beresiko dapat membelokkan pemahaman.

Hal itu wajar karena menggambarkan Tuhan secara vulgar dapat mengakibatkan konsekuensi buruk. Tidak menutup kemungkinan akan terjadi pembenda’an. Tuhan sebagai upaya manusia mengkonstruksi imajinasinya secara konkrit.

Maka atas alasan tersebut terdapat asumsi bahwa upaya manusia menggambarkan keada’an Tuhan denga cara apapun pasti salah. Namun demikian, lain halnya dengan agama-agama bumi dan ajaran atau kearifan-kearifan lokal yang berusaha menggambarkan keada’an Tuhan dengan cara arif dan hati-hati. Di setiap Patrap Wahyu Panca Gha’ib, tak kala saya memperoleh kesaksian nyata tentang Tuhan, atas dasar Cinta Kasih Sayang saya berusaha mengabarkan kepada sesama hidup, dengan penjelasan secara logic dalam asas hierarchis, sesuai dengan kemampuan nalar awam, akal budi pakarti pada umumnya, dan hati nurani yang dimiliki manusia keseluruhan.

Walau begitu, tentu saja tidak bisa lepas dari tempuhan Laku Spiritual Hakikat Hidup Pribadinya sendiri. Karena tanpa Laku Spiritual Hakikat Hidupnya sendiri, tidak akan bisa kalau hanya sebatas katanya saya, sebab, benar itu tau sendiri, mengerti sendiri, memahami sendiri (mengalami sendiri) bukan katanya apapun dan siapapun.

Pijakana Sasmita;
Dzat adalah mutlak, Jumenengnya Dzat Maha Wisesa kang Langgeng Tan Kenaning Owah Gingsir, dalam bahasa Timteng umumnya disebut Qadim, yang azali/abadi. Kalimat ini mempunyai maksud berdirinya sesuatu tanpa nama, yang ada, mandiri dan paling berkuasa, mengatasi jagad raya sejak masih awang-uwung. Di sebut maha kuasa.

Artinya;
Dzat yang tanpa wujud, berada merasuk ke dalam energi hidup kita.
Tetapi banyak yang tidak mengerti dan memahami, karena keberada’annya lebih dari sekedar samar, tanpa arah tanpa papan (gigiring punglu), tanpa teman, tanpa rupa, sepi dari bau, warna, rupa, bersifat elok, bukan laki-laki bukan perempuan, juga bukan banci.

Dzat dilambangkan sebagai. Kombang anganjap ing tawang, kumbang hinggap di awang-awang, hakikatnya tersebutlah “latekyun” oleh karena keada’an yang belum nyata.

Artinya;
Hidup adalah sifat dari Hyang Maha Suci Hidup, menyusup, meliputi secara komplet atas jagad raya dan isinya. Tidak ada tempat yang tanpa pancaran Dzat. Seluruh jagad raya penuh oleh Dzat, tiada celah yang terlewatkan oleh Dzat, baik di luar maupun di dalam. Dzat menyusup, meliputi dan mengelilingi jagad raya seisinya. Demikianlah perumpama’an keberada’an Pangeran (Tuhan) Yang Maha Suci Hidup, ialah yang terpancar di dalam Hidup kita Pribadi.

Dzat merupakan sumber dari segala sumber, adanya jagad raya seisinya. Retasan dari Dzat Yang Maha Suci Hidup dalam mewujud makhluk cipta’an-Nya, dapat digambarkan dalam alur yang bersifat hirarkhis sebagai berikut;

Dzat; Hyang Maha Suci Hidup. Maha Kuasa.
Dzatullah;
Sumber dari segala sumber adanya jagad raya dan seluruh isinya.

Nalika awang-awang -uwung-uwung, dereng wonten punepe-punepe, Hyang Maha Suci manggen wonten satengahing kawontenan, nyipta dumadosing pasthi. Wonten swanten ambengung ngebegi jagad, kados swantening gentha kekeleng. Ingriku wonten cahya pacihang gumebyar mungser bunder kados antiga (tigan/endhog) gumandhul tanpa canthelan. Enggal dipun asta dening Hyang Maha Kawasa, dipun puja. Lalu meretaslah Kayyun.

1. Kayu/kayyun;
Yang hidup/atma/wasesa, menjadi perwujudan dari Dzat yang sejati, memancarkan energi hidup. Kayun yang mewujud karena disinari oleh Dzat sejati. Dilambangkan sebagai kusuma anjrah ing tawang, yakni bunga yang tumbuh di awang-awang, dalam martabatnya, disebut takyun awal, kenyata’an awal muasal. Segala yang hidup disusupi dan diliputi energi kayu/yang hidup.

2. Cahaya dan teja-Nur, nurullah;
Pancaran lebih konkrit dari kayun. Teja menjadi perwujudan segala yang hidup, karena disinari kekuasaan atma sejati. Dilambangkan sebagai tunjung tanpo telogo, bunga teratai yang hidup tanpa air. Berbeda dengan api, cahaya tidak memerlukan bahan bakar. Cahaya mewujud sebagai hakikat pancaran dari yang hidup. Di dalam cahaya tidak ada unsur api (nafsu) maka hakikat cahaya adalah jenjem-jinem, ketenangan sejati, suci, tidak punya rasa punya.

Hakikatnya hanyalah sujud/manembah, yang digerakkan oleh energi hidup/kayun, yakni untuk manembah kepada Dzat yang Maha Suci Hidup. Dalam martabatnya disebut takyunsani, kenyata’an mewujud yang pertama. Ruh yang mencapai kamulyan sejati, di dalam alam ruh kembali pada hakikat cahaya. Sebagai sifat hakikat malaikat.

3. Rahsa, rasa, sir, sirullah;
Sebagai perwujudan lebih nyata dari cahaya. Sumber rahsa berasal dari terangnya cahaya sejati. Dilambangkan isine wuluh wungwang.

Artinya tidak kentara/samar;
Tidak dapat dilihat tetapi dapat dirasakan. Maka dalam martabat disebut akyansabitah. Ketetapan menitis, menetes, dalam eksistensi sebagai sir. Yakni menetes/jatuhnya cahaya menjadi rasa.

Roh, nyawa, sukma, ruh, ruhullah. Sebagai perwujudan dari hakikat rasa. Sebab dari terpancarnya rasa sejati, diumpamakan sebagai tapaking kuntul nglayang.

Artinya;
Eksistensi maya yang tidak terdapat bekas, maka di dalam martabat disebut sebagai akyankarijiyah. Rasa yang sesungguhnya, keluar dalam bentuk kenyata’an maya. Karena ruh diliputi rahsa, wujud ruh adalah eksistensi yang mempunyai rasa dan kehendak, yakni kareping rahsa (kehendak rasa).

Tugas ruh sejati adalah mengikuti kareping rahsa atau kehendak rasa, bukan sebaliknya mengikuti rasanya kehendak (nafsu). Ruh sejati/roh suci/ruhul kuddus harus menundukkan nafsu.

Nepsu, angkara, sebagai wujud derivasi dari roh, yang terpancar dari sinar sukma sejati. Hakikat nafsu dilambangkan sebagai latu murup ing telenging samudra. Nafsu merupakan setitik kekuatan “nyalanya api” di dalam air samudra yang sangat luas.

Artinya;
Nafsu dapat menjadi sumber keburukan/angkara (nila setitik) yang dapat “menyala” di dalam dinginnya air samudra/sukma sejati nan suci (rusak susu sebelanga). Disebut pula sebagai akyanmukawiyah, (nafsu) sebagai kenyataan yang “hidup” dalam eksistensinya. Paradoks dari tugas roh, apabila nafsu lah yang menundukkan roh, maka manusia hanya menjadi tumpukan sampah atau hawa nafsu angkara. Mengikuti rasanya keinginan (rahsaning karep).

4. Akal-budi, disebut juga indera;
Keberadaan nafsu menjadi wahana adanya akal-budi. Dilambangkan sebagai kudha ngerap ing pandengan, kudha nyander kang kakarungan. Akal-budi letaknya di dalam nafsu, di ibaratkan sebagai orang lumpuh mengelilingi bumi. Adalah tugas yang amat berat bagi akal-budi, yakni menuntun hawa nafsu angkara kepada yang positif/putih (mutmainah). Sehingga di umpamakan wong lumpuh angideri jagad, orang lumpuh yang mengelilingi bumi. Disebut juga akyanmaknawiyah. Kemenangan akal-budi menuntun hawa nafsu ke arah yang positif dan tidak merusak, maka akan melahirkan nafsu baru, yakni nafsul mutmainah.

5. Jasad/badan/raga;
Merupakan perwujudan paling konkrit dari ruh (mahujud), dan retasan berasal dari derivasi terdekatnya, yakni panca indera sejati. Jasad menjadi wahana adanya sifat. Jasad menjadi bingkai sifat, diumpamakan sebagai kodhok kinemulan ing leng. Kodhok personifikasi dari sifat manusia yang rendah, karena cenderung mengikuti hawa nafsu (rasaning karep), diselimuti oleh liang/rumah kodhok; liang adalah personifikasi dari jasad. Sifat-sifat manusia yang masih tunduk oleh jasad, merupakan gambaran Dzat sifat yang masih terhalang dan dikendalikan oleh sifat ke-makhluk-an.

Sifat-sifat Dzat Hyang Maha Suci Hidup, dalam diri manusia, masih diliputi oleh sifat kedirian manusia. Sebaliknya, pencapaian kemuliaan hidup manusia, dilambangkan sebagai kodhok angemuli ing leng, kodok menyelimuti liangnya, apabila jasad keberada’annya sudah di dalam.

Artinya;
Hakekat manusia sudah diliputi oleh sifat Dzat Hyang Maha Suci Hidup.

Laku Menuju Dzat;
Ketetapan jasad ditarik oleh akal.
Ketetapan akal ditarik oleh nafsu.
Ketetapan nafsu ditarik oleh roh.
Ketetapan roh ditarik oleh sir.
Ketetapan sir ditarik oleh nur.
Ketetapan nur ditarik oleh kayun.
Ketetapan kayu/kayun ditarik oleh Dzat.

Sangkan Paraning Dumadi adalah anak Tangga untuk Bertemu Hyang Maha Suci Hidup:

Dari uraian di atas, tampak jelas bahwa manusia memiliki dua kutub yang saling bertentangan. Di satu sisi, kutub badan kasar atau jasad yang menyelimuti akal budi sekaligus nafsu angkara. Jasad (fisik) juga merupakan tempat bersarangnya badan halus/astral/ruh (metafisik).

Di lain sisi. Manusia diumpamakan berdiri di persimpangan jalan. Tugas manusia adalah memilih jalan mana yang akan dilalui. Hyang Maha Suci Hidup, menciptakan semua rumus (kodrat), sebagai rambu-rambu manusia dalam menata Hidup Sejati (Hidup yang Sebenarnya).

Masing-masing rumus memiliki hukum sebab-akibat (Karma). Golongan manusia yang berada dalam kodrat Tuhan, adalah mereka yang menjalankan hidup sesuai rumus-rumus Tuhan. Setiap menjalankan rumus Tuhan, akan mendapatkan akibat, berupa kemuliaan Hidup, sebaliknya pengingkaran terhadap rumus akan mendapatkan akibat buruk (dosa), sebagai konsekuensinya.

Misalnya; siapa menanam; mengetam. Rajin pangkal pandai dll.

Tugas manusia adalah menyelaraskan sifat-sifat kediriannya ke dalam gelombang Dzat sifat Tuhan Hyang Maha Suci Hidup. Dalam ajaran Kejawen lazim disebut manunggaling kawula gusti, dua menjadi satu, atau dwi tunggal.

Kodrat manusia yang lahir ke bumi adalah mensucikan jasad, jasad yang diliputi oleh Dzat sifat Tuhan, melalui tahapan-tahapan sebagai berikut;

Jasad dituntun oleh keutamaan budi, budi terhirup oleh hawanya nafsu, nafsu (rahsaning karep) diredam oleh kekuasaan sukma sejati, sukma diserap mengikuti rasa sejati (kareping rahsa), rahsa luluh melebur disucikan oleh cahaya, cahaya terpelihara oleh atma (energi yang hidup), atma berpulang ke dalam Dzat, Dzat adalah qadim ajali/abadi, hal ini hanya ada di dalam Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku. Untuk lebih jelasnya. Lihat dan baca artikel yang berjudul “Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku”.

Wahyu Panca Laku;
Wahyu Panca Laku, adalah ilmu Pengajaran tentang tata cara menghargai diri sendiri, dengan Wahyu Panca Gha’ib, untuk mensucikan raga dari nafsu angkara murka (amarah), nafsu mengejar kenikmatan (supiyah), dan nafsu serakah (lauwamah). Pribadi membangun raga yang suci dengan menjadikan raga sebagai reserviornafsul mutmainah. Agar supaya jika manusia mati, raganya dapat menyatu dengan badan halus atau ruhani atau badan sukma.

Hakikat kesucian, badan wadag atau raga, tidak boleh pisah dengan badan halus, karena raga dan sukma menyatu “curigo manjing warongko”, pada saat manusia lahir dari rahim ibu. Sebaliknya, manusia yang berhasil menjadi kalifah Tuhan, selalu menjaga kesucian (bersih dari dosa), jika mati kelak badan wadag, akan luluh melebur ke dalam badan halus yang diliputi oleh kayu dhaim, atau Hyang Maha Suci Hidup, yang tetap ada dalam diri kita pribadi, bukan dimakan cacing tanah dll.

Maka dilambangkan dengan “warongko manjing curigo”. Maksudnya, badan wadag melebur ke dalam badan halus. Pada saat manusia hidup di dunia (mercapada), dilambangkan dengan “curigo manjing warongko”; maksudnya badan halus masih berada di dalam badan wadag. Maka dari itu terdapat pribahasa sebagai berikut;

Jasad pengikat budi, budi pengikat nafsu, nafsu pengikat karsa (kemauan), karsa pengikat sukma, sukma pengikat rasa, rasa pengikat cipta, cipta pengikat penguasa, penguasa pengikat Yang Maha Kuasa.

Sebagai contoh;
Jasad jika mengalami kerusakan karena sakit atau celaka, maka tali pengikat budi menjadi putus. Orang yang amat sangat menderita kesakitan tentu saja tidak akan bisa berpikir jernih lagi. Maka putuslah tali budi sebagai pengikat nafsu. Maka orang yang sangat menderita kesakitan, hilanglah semua nafsu-nafsunya, misalnya amarah, nafsu seks, dan nafsu makan. Jika tali nafsu sudah hilang atau putus, maka untuk mempertahankan nyawanya, tinggal tersisa tali karsa atau kemauan.

Hal ini, untuk Para Sedulur dan Kadhang kinasih saya semuanya, yang kebetulan membaca artikel ini, dapat membuktikannya dengan cara menyaksikan sendiri, setiap orang yang menderita sakit parah, energi untuk bertahan hidup, tinggalah kemauan atau semangat untuk sembuh.

Apabila karsa atau kemauan, dalam bentuk semangat untuk sembuh sudah hilang, maka hilanglah tali pengikat sukma, akibatnya sukma terlepas dari badan wadag, dengan kata lain, orang tersebut mengalami kematian. Namun demikian, sukma masih mengikat rasa, dalam artian sukma sebenarnya masih memiliki rasa, dalam bentuk rasa sukma yang berbeda dengan rasa ragawi. Bagi penganut kejawen, percaya dengan rasa sukma ini.

Maka di dalam tradisi Jawa, tidak boleh menyianyiakan jasad orang yang sudah meninggal. Karena dipercaya sukmanya yang sudah keluar dari badan, masih bisa merasakannya. Rasa yang dimiliki sukma ini, lebih lanjut dijelaskan karena sukma masih berada di dalam dimensi bumi, belum melanjutkan perjalanan ke alam barzah atau alam ruh.

Rahsa atau rasa, merupakan hakikat Dzat (Yang Maha Kuasa) yang mewujud ke dalam diri manusia. Dzat adalah Yang Maha Tinggi, Yang Maha Kuasa, Tuhan Sang Pencipta alam semesta. Urutan dari yang tertinggi ke yang lebih rendah adalah sebagai berikut;

Dzat (Dzatullah) Tuhan Yang Maha Suci, meretas menjadi;
Kayu Dhaim (Kayyun) Energi Yang Hidup, meretas menjadi;
Cahya atau cahaya (Nurullah), meretas menjadi;
Rahsa atau rasa atau sir (Sirrullah), meretas menjadi ;
Sukma atau ruh (Ruhullah).

Wedaran diatas adalah retasan dari Dzat, Tuhan Yang Maha Kuasa, maka ruh bersifat abadi, cahaya bersifat mandiri tanpa perlu bahan bakar. Ruh yang suci yang akan melanjutkan perjalanannya menuju ke haribaan Hyang Maha Suci Hidup, dan akan melewati alam ruh atau alam barzah, di mana suasana menjadi jengjem jinem, tak ada rasa lapar-haus, emosi, amarah, sakit, sedih, dsb.

Sebelum masuk ke dimensi barzah, ruh melepaskan tali rasa, kemudian ruh masuk ke dalam dimensi alam barzah menjadi hakikat cahaya tanpa rasa, dan tanpa karsa. Yang ada hanyalah ketenangan sejati, manembah kepada gelombang Dzat, lebur dening pangastuti.

Sebaliknya, ruh yang masih berada di dalam dimensi gaibnya bumi, masih memiliki tali rasa, misalnya rasa penasaran, karena masih ada tanggung jawab di bumi, yang belum terselesaikan, atau jalan hidup, atau hutang yang belum terselesaikan, menyebabkan rasa penasaran. Oleh karena itu dalam konsep Laku Hakikat Hidup “Wahyu Panca Gha’ib” Percaya adanya arwah penasaran, yang masih berada di dalam dimensi gaibnya bumi. Sehingga tak jarang masuk ke dalam raga orang lain yang masih hidup, yang dijadikan sebagai media komunikasi, karena kenyata’an bahwa raganya sendiri telah rusak dan hancur. Itulah sebabnya mengapa di dalam Laku Wahyu Panca Gha’ib terdapat tata cara Penyempurna’an arwah (penasaran) tersebut.

Karena mati penasaran, aalah kebalikan dari mati sempurna. Dalam kajian Laku Wahyu Panca Gha’ib, mati dalam puncak kesempurna’an, adalah Selesai. Habis atau Tamat, tanpa sisa tanpa bekas apapun. Yakni warangka (raga) manjing curigo (ruh). Raga yang suci, adalah yang tunduk kepada kesucian Dzat yang terderivasi ke dalam ruh. Ruh suci/roh kudus (ruhul kuddus) sebagai retasan dari hakikat Dzat, memiliki 20 sifat yang senada dengan 20 sifat Dzat, misalnya kodrat, iradat, berkehendak, mandiri, abadi, dst. Sebaliknya, ruh yang tunduk kepada raga hanya akan menjadi budak nafsu duniawi, sebagaimana sifat hakikat ragawi, yang akan hancur, tidak abadi, dan destruktif. Menjadi raga yang nista, berbanding terbalik dengan gelombang Dzat Yang Maha Suci.

Oleh karena itu, menjadi tugas utama manusia, yakni memenangkan perang Baratayudha di Padang Kurusetra, antara Pendawa (kebaikan yang lahir dari akal budi dan panca indera) dengan musuhnya Kurawa (nafsu angkara murka). Perang inilah yang dimaksud pula dalam ajaran Islam sebagai Jihad Fii Sabilillah, bukan perang antar agama, atau antar suku dan adat dengan segala bentuk terorisme.

Adapun ajaran untuk menggapai kesucian diri, atau Jihad secara Laku, yakni mengendalikan hawa nafsu, serta menjalankan budi (bebuden) yang luhur nilai kemanusiannya (habluminannas) yaknil rela (rilo), ikhlas (legowo), menerima/qonaah (narimo ing pandum), jujur dan benar (temen lan bener), menjaga kesusilaan (trapsilo) dan jalan hidup yang mengutamakan budi yang luhur (lakutama) Penuh Cinta Kasih Sayang. Adalah pitutur sebagai pengingat-ingat agar supaya manusia selalu eling atau selalu mengingat Hyang Maha Suci Hidup, untuk menjaga kesucian dirinya.

Seperti dalam falsafah Kejawen berikut ini;
Jagad bumi alam kabeh sumurupo marang badan, badan sumurupo marang budi, budi sumurupo marang napsu, napsu sumurupo marang nyowo, nyowo sumurupo marang rahso, rahso sumurupo marang cahyo, cahyo sumurupo marang atmo, atmo sumurupo marang ingsun, ingsun jumeneng pribadi.

Artinya;
(jagad bumi seisinya pahamilah badan, badan pahamilah budi, budi pahamilah nafsu, nafsu pahamilah nyawa, nyawa pahamilah karsa, karsa pahamilah rahsa, rahsa pahamilah cahya, cahya pahamilah Yang Hidup, Yang Hidup pahamilah Aku, Aku berdiri sendiri (Dzat).

Maksudnya;
Bahwa manusia sebagai derivasi terakhir yang berasal dari Dzat Sang Pencipta harus (wajib) memiliki kesadaran mikrokosmis danmakrokosmis yakni “sangkan paraning dumadi” serta tunduk, patuh dan hormat (manembah) kepada Dzat Tuhan Pencipta jagad raya.

Selain kesadaran di atas, untuk menggapai kesucian, manusia hidup harus tetap berada di dalam koridor yang merupakan Jalan tembus menuju Yang Maha Suci Hidup. Adalah Memiliki lima Perkara dan Menjalankan Perkara lima dengan Iman Cinta Kasih Sayang. Yakni;

Wahyu Panca Gha’ib;
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Asmo.
4. Mijil.
5. Singkir.

Dan.

Wahyu Panca Laku;
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Sampurnaning Pati Urip.

Wahyu Panca Ghaib dan Wahyu Panca Laku;
1. Kunci – Manembahing Kawula Gusti.
2. Paweling – Manunggaling Kawula Gusti.
3. Asmo – Leburing Kawula Gusti.
4. Mijil – Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Singkir – Sampurnaning Pati Urip.

Demikian lah… Pengertian untuk Memahami Curigo manjing warongko-Warongko manjing curigo. Wahyu Panca Gha’ib-Wahyu Panca Laku yang bisa saya jelaskan, untuk selebihnya. Sedulur dan Kadhang kinasih saya, harus Laku Sendiri, biyar tau sendiri, mengerti sendiri, paham sendiri, mengalamu sendiri, bukan hanya sebatas katanya.

Sebab pada dasarnya perilaku Hidup di dalam kehidupan dunia ini itu, ibarat suara yang kita kumandangkan, akan menimbulkan gema. Artinya; apapun perbuatan kita kepada orang lain, sejatinya akan berbalik mengenai diri kita sendiri. Jika perbuatan kita baik pada orang lain, maka akan menimbulkan Gema, berupa kebaikan yang lebih besar, yang akan kita dapatkan dari orang lainnya lagi. Hal ini dapat dipahami sebagaimana dalam peribahasa sebagai berikut;

Barang siapa menabur angin, akan menuai badai. Siapa menanam, akan mengetam. Barang siapa gemar menolong, akan selalu mendapatkan kemudahan. Barang siapa gemar sedekah kepada yang susah. Rejekinya akan menjadi lapang. Orang pelit. Pasti pailit. Pemurah hati,. Akan mukti. Begitu juga jika kita gemar menebar Cinta Kasih Sayang, terhadap sesama mahkluk hidup. “Ageng-agenging dosa punika tiyang ulah ilmu makripat ingkang magel. Awit saking dereng kabuko ing pambudi, dados boten sumerep ing suraosipun”

Bagi yang sudah memiliki Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku, sudah tentu dapat menerima ilmu “Sangkan paraning dumadi” dan menemui kemulia’an Sempurnaning Kawula Gusti, yang selangkah lagi bisa mencapai Sampurnaning Pati Urip.

Siapa yang sunguh-sungguh mengetahui Tuhannya, sesungguhnya dapat mengetahui di dalam badanya sendiri. Siapa yang sungguh-sunggun mengetahui badannya sendiri, sesungguhnya mengetahui Tuhannya.

Artinya;
Siapa yang mengetahui Tuhannya, ia lah yang mengetahui semua ilmu kajaten (makrifat). Siapa yang sunguh-sungguh mengetahui sejatinya badannya sendiri, ia lah yang dapat mengetahui akan Hidup jiwa raganya sendiri.

Yang Pling mendasar adalah, kita harus selalu ingat, bahwa hidup ini, tidak akan menemui sejatinya ajal, sebab kematian hanyalah terkelupasnya isi dari kulit. Isi badan melepas kulit yang telah rusak, kemudian isi bertugas melanjutkan perjalanan ke alam keabadian. Hanya raga yang suci yang tidak akan rusak dan mampu menyertai perjalanan isi. Sebab raga yang suci, berada dalam gelombang Dzat Illahi yang Maha Abadi. Inilah sejatining Wahyu Panca Gha’ib. Maka, ketahuilah… sebelum terlambat. Terlambat…!!! tidak selamat.

Maka dari itu, jangan terputus dalam lautan manembah kepada Gusti Pangeran Ingkang Sinembah. Agar supaya menggapai peleburan tertinggi, lebur dening pangastuti, yakni raga dan jiwa melebur ke dalam Cahaya yang Suci, di sanalah manusia dan Dzat menyatu dalam irama yang sama, yakni Sampurnaning kawulo gusti dan Sampurnaning Pati Urip.

Dengan Sarana “Wahyu Panca Gha’ib” dan sistem “Wahyu Panca Laku”. Menyeiramakan diri pada Sariraning Bathara, Dzat Yang Maha Suci. Agung. Maha Kuasa diatas segala yang kuasa, yang disebut sebagai “Pangabekti Ingkang Langgeng” Laku Patrap tanpa kenal waktu dan kiblat, sambung-menyambung dalam satu irama nafas, selalu eling/ingat/sadar dengan Iman Cinta Kasih Sayang menyebut Dzat Yang serba Maha.

Patrap ngiras nyambut damel, lenggah sinambi lumampah, lumajeng salebeting kendel, ambisu kaliyan wicanten, kesahan kaliyan tilem, tilem kaliyan melek.

(Laku sambil bekerja, duduk sambil berjalan, berjalan di dalam diam, membisu dengan bicara, bepergian dengan tidur, tidur sembari melek).

Jika Semua Manusia Hidup, dapat dan bisa melaksanakan Lima dari Lima ini, yaitu Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku. Secara benar dan tepat juga bersungguh-sungguh, berkah Hyang Maha Suci Hidup, setiap orang dapat meraih kesempurna’an Waluyo Jati, Paworing Kawulo Gusti di dunia wal kaherat. Tidak tergantung apa Agamanya dan berapa Amalnya.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, maafkan lah saya, jika apa yang saya tulis dan saya sebarkan melalui media internet ini, adalah kesalahan yang tidak saya sengaja. saya hanya ingin menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang saya dapatkan dari-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di dunia ini. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin dan, Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

SEKELUMIT PERJALANAN SPIRITUAL WEB. Tentang MERINDING atau MRINDING:


SEKELUMIT PERJALANAN SPIRITUAL WEB.
Tentang MERINDING atau MRINDING:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Rabu Kliwon. Tgl 16 Maret 2016

Mengapa Kita Bisa Merinding..?!
Para Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian. Pasti tau dan pernah mengalami Merinding. Khususnya para Putro Romo. Tapi,,, taukah Anda soal Merinding itu? Berikut ini, pengalaman saya tentang Merinding.

Pada Umumnya, merinding adalah beberapa kondisi tertentu yang dialami seperti ketakutan atau kedinginan bisa menimbulkan reaksi tubuh merinding. Kenapa fenomena ini bisa terjadi?

Merinding adalah fenomena fisiologis yang diwarisi oleh nenek moyang sejak zaman dahulu dan dialami oleh semua mamalia.

Saat orang merasa merinding, tidak hanya rambut di kulit yang berdiri tapi juga disertai dengan munculnya gundukan-gundukan di tempat rambut tersebut tumbuh. Timbulnya gundukan tersebut akibat adanya kontraksi dari otot yang kecil.

Seperti dikutip dari Scientificamerican, merinding terjadi karena alam bawah sadar seseorang melepaskan hormon stres yang disebut dengan adrenalin. Adrenalin yang dihasilkan oleh manusia melalui dua kelenjar kecil di atas ginjal tidak hanya menyebabkan kontraksi otot, tapi juga mempengaruhi banyak reaksi tubuh lainnya.

Selain itu merinding juga bisa muncul sebagai akibat dari kontraksi otot erector kecil yang ada di dalam kulit. Ketika rangsangan ini menghasilkan perubahan saraf, maka terjadi kontraksi pada otot sehingga rambut di atas kulit menjadi berdiri.

Tubuh yang merinding bisa terjadi sementara dan menghilang beberapa saat kemudian. Dan setiap orang tidak mampu mencegah tubuh yang merinding, sama halnya dengan muka yang memerah dan juga tubuh berkeringat.

Terdapat beberapa kondisi tubuh yang bisa menyebabkan rambut di kulit berdiri, yaitu:

Rangsangan udara dingin;
Berdasarkan sebuah artikel yang ditulis oleh Eric Sonstroem dari Indiana University dalam website “A Moment of Science”, merinding adalah suatu reaksi primitif yang timbul dari sistem limbik otak. Ketika ada rangsangan udara dingin, maka rambut di ujung kulitnya akan berdiri untuk membantu menghangatkan tubuhnya.

Reaksi emosional;
Beberapa reaksi emosional bisa menyebabkan tubuh merinding, seperti ketakutan, menonton film, melihat sebuah karya seni atau mendengar suatu konser musik. Emosi yang timbul bisa menyebabkan piloerection dari akar rambut menjadi bervariasi dan kompleks. Namun sampai saat ini belum diketahui mengapa ada orang yang merinding terhadap suatu rangsangan tertentu, sementara yang lainnya tidak.

Fight atau flight;
Merinding menjadi respons dari mekanisme “fight or light”. Ketika manusia merasa waspada terhadap adanya suatu bahaya, maka akan mengeluarkan adrenalin dan darah yang dipompa ke dalam otot menjadi meningkat sehingga tubuh menjadi merinding.

Sejatining Merinding/Mrinding Sa’at Laku/Mijil;
Tapi ada merinding yang di luar jangkauan dari yang sudah terjabarkan diatas, yaitu, merinding sa’at Patrap Mijil. Secara awam, merinding bisa di jelaskan seperti yang telah terjabarkan diatas, namun merinding ketika Patrap Mijil. Sungguh benar-benar gha’ib.

Saya punya kisah nyata tentang hal ini, dulu,,, sebelum saya Menjalankan Laku Spiritual Hakikat Hidup dengan Wahyu Panca Gha’ib dan Wahyu Panca Laku. Masih asyik di dunia adigang adigung adiguna. Saya,,, saya pernah di tundukan oleh salah seorang yang saya anggap sangat sakti madraguna. Bagaimana tidak, dalam sekejap saja, dia bisa merubah wujudnya, menjadi manusia raksasa.

Awal kejadianya seperti ini,,, singkat punya cerita, saya ada perjanjian dengan bangsa jin, agar saya tidak ingkar janji kepada bangsa jin tersebut, lalu perut saya di ikat dengan besel/jimat berupa kendit. Selama besel/jimat berupa kendit itu masih melingkar di pinggang saya, saya tidak bisa memiliki kebebasan seperti pada umumnya manusia hidup, terkekang, terbatas, seperti katak dalam tempurung paribahasanya. Sebab itu, saya sering berkelana keliling nusantara, dengan harapan, bisa bertemu orang sakti, selain berguru, juga minta tolong untuk memutuskan atau melumpuhkan kekuatan gha’ib, berupa besel/jimat kendit yang mengikat pinggang saya tersebut.

Namun,,, selama saya berkelana keliling nusantara, tak satupun yang bisa melumpuhkan besel/jimat berwujud kendit tersebut, apa lagi sampai memutuskan, pada akhirnya, saya nyerah, dengan kesimpulan, mungkin ini sudah menjadi takdir saya, harus menjadi budak bangsa jin, dan sayapun pasrah.

Sampai pada suatu ketika, berawal dari salin menguji keilmuan, ada seorang dari pekalongan bernama Khosim, dan dialah yang berhasil melumpuhkan sekaligus memutuskan kendit sakti yang bertahun-tahun mengikat pinggang saya itu, hanya dengan membaca Kunci x saja, karena itu, saya merasa kagum dengan Wahyu Panca Gha’ib, yang mampu melumpuhkan sekaligus memutuskan besel/jimat pengikat dari alam jin itu.

Sejak itu, saya mempelajari Wahyu Panca Gha’ib. Namun pada waktu itu, saya tidak tau, kalau Wahyu Panca Gha’ib itu, adalah Laku Hakikat Hidup. Bukan ilmu atau apapun. Saya mengira, bahwa Wahyu Panca Gha’ib, adalah puncaknya ilmu kesaktian jaya kawijayan. Yang di tanah jawa dwipa, lebih di kenal dengan sebutan Aji Mundi Jati Sasongko Jati. Puncak Ilmu Dari Segala Ilmu.

Setelah berhasil menghapal seluruh kalimah japa mantera Wahyu Panca Gha’ib dan wejangan-wejangan intisarinya, dari tiga Guru saya di Pekalongan. Yaitu; Yth Bambang Hudiyoko. Yth Bambang Prasetiyo. Yth Bambang Handoyo. Sayapun pergi mengasingkan diri, menepi di gua Singa Barong Pulau Nusa Kambangan Cilacap Jawa Tengah, saya melakukan tapa selama 90 hari 90 malam, untuk menebus lelakunya.

Guna menyempurnakan, manjingake/memasukan Wahyu Panca Gha’ib ke jiwa raga saya. Setelah berhasil, lalu saya malang melintang lagi, untuk menguji ilmu yang baru saja berhasil saya sempurnakan itu, untuk mengetahui sudah seberapa hebat Wahyu Panca Gha’ib, ilmu baru yang sudah saya meliki itu, saya sengaja mendatangi orang-orang yang saya ketahui orang sakti, untuk saya ajak adu ilmu kesaktian. Sayapun selalu mendapatkan pembuktian menang, saya tidak pernah mengalami kekalahan sa’at adu ilmu kesaktian.

Rupanya hal ini, di ketahui oleh tiga Guru saya dari Pekalongan tersebut, lalu, tiga Guru saya itu, berusaha mendatangkan saya ke tempatnya di Pekalongan, tujuannya adalah menyadarkan dan mengingatkan saya, bahwa bukan itu Tujuan Wahyu Panca Gha’ib yang sebenarnya, dan diluar kesadaran saya, sayapun datang sowan ke rumah tiga Guru saya di Pekalongan, karena mungkin, tiga guru saya itu, merasa enggan mengingatkan saya, lalu saya di bawa ke Jepara jawa tengah, di pertemukan dengan orang yang bernama pak Jatmiko. Pak Jatmiko adalah Gurunya tiga Guru saya tersebut. Seseorang yang sudah sangat ahli dan mumpuni soal Wahyu Panca Gha’ib.

Singkat punya cerita, tanpa basa basi, pak Jatmiko, mengajak saya, untuk mengukur dalamnya Samudera Minang Qalbu. Saya tanggap bahwa ini bahasa tantangan untuk adu ilmu kesaktian. Tanpa buang waktu, sayapun siap matek aji. Namun tidak ada satupun yang mampu menyentuh tubuh Jatmiko. Hingga pada akhirnya, saya menggunakan Wahyu Panca Gha’ib, sebagai Ajian Pamungkas saya. Pada sa’at itu, saya melihat seluruh tubuh Jatmiko, merinding. Tanpa ragu saya menyerangnya. Namun apa yang terjadi, tubuh Pak Jatmiko yang merinding itu, terlihat bening, sebening kaca yang baru saja di bersihkan, tembus pandang, Rumah tak berdinding. Sehingganya, serang model apapun yang saya arahkan kepadanya, selalu blong… tembus tapi tak mencedirai/melukai. Padahal, pak Jatmiko hanya diam saja, tak melakukan apapun.

Semakin saya penasaran semakin tubuhnya membesar dan meninggi. Semakin saya serang dengan seluruh kekuatan saya, semakin tinggi dan besar tubuhnya. Hingga hampir separuh kota Jepara wujud bentuk tubuhnya, namun saya tetap menyerangnya tanpa henti, hal ini mungkin yang membuat pak Jatmiko merasa sudah cukup untuk mengalah, lalu,,, pak Jatmiko menggeram. Geraman itulah, yang seakan melunturkan dan memusnahkan seluruh kemampuan dan kekuatan saya, lalu saya lari meninggalkan tempa itu, dan menepi lagi, mencarai jawaban atas kejadian tersebut. Berawal dari sinilah, saya mengerti sejatining Wahyu Panca Gha’ib dan berhasil mengungkap Wahyu Panca Laku yang berada dibalik Wahyu Panca Gha’ib.

Dan sampai sekarang ini, saya tidak bisa mengetahui detilnya Merinding disa’at Mijil. Dan atas dasar pembuktian inilah, saya bisa mengatakan, bahwa Merinding Sa’at Mijil itu, adalah Gha’ib, Gha’ib yang tidak bisa di analisa seperti Merinding-merinding pada umumnya, seperti yang sudah terjabarkan diatas. Gha’ibnya saya sudah ketemu dan tau, namun saya tidak bisa menjelaskan, apa lagi menggambarkan atau mengumpamakan, karena ini benar-benar Sejatinya Gha’ib. Yang hanya bisa di ungkap oleh Hidup dan Maha Suci Hidup, yang tidak bisa di tebak-tebak atau di sangka-sangka. Jika kita benar-benar Mijil. Pasti Tau. Mengerti. Paham…!!!

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, maafkan lah saya, jika apa yang saya tulis dan saya sebarkan melalui media internet ini, adalah kesalahan yang tidak saya sengaja. saya hanya ingin menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang saya dapatkan dari-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di dunia ini. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin dan, Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Sejatining NENG. NING. NUNG. NANG. Adalah Lelaku Menuju Laku Mengenal Jati Diri:


Sejatining NENG. NING. NUNG. NANG.
Adalah Lelaku Menuju Laku Mengenal Jati Diri:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Senin Pon. Tgl 14 Maret 2016

Para sedulur dan kadhang kinasih saya dimanapun berada, mungkin sedulur dan para kadhang saya, pernah membaca artikel saya, yang diantaranya tersisip Kalimat Neng. Ning. Nung. Nang. Namun saya tidak menjabarkan detilnya, tentang apa itu Neng. Ning. Nung. Nang. Nah, pada kesempatan kali ini, saya akan mencoba menjabarkan makna dari kalimat Neng. Ning. Nung. Nang.

Sebenranya… Neng. Ning. Nung. Nang ini, bukan hanya sekedar kalimat saloka belaka, melainkan lelaku pencapaian yang menjurus kepada kejernihan bathin/qalbu dalam mengenal jati diri pribadi, untuk mencapai tingkat kesempurna’an lelaku menuju Hyang Maha Suci Hidup. Kalimat lain dari Neng. Ning. Nung. Nang adalah Syare’at. Tarekat. Hakikat. Makrifat. Jelasnya seperti berikut ini;

1. Neng; Artinya; Sembah raga. Maksudnya; Jumeneng.
Jumeneng menjalankan “syariat”. Namun makna syariat di sini, mempunyai dimensi luas. Yakni dimensi “vertikal” individual kepada Tuhan, maupun dimensi sosial “horisontal” kepada sesama makhluk. Neng, pada hakekatnya sebatas melatih dan membiasakan diri melakukan perbuatan yang baik dan bermanfaat untuk diri pribadi, dan lebih utama untuk sesama tanpa pilih kasih. Misalnya seseorang melaksanakan sembahyang dan manembah kepada Tuhan dengan cara sebanyak nafasnya, guna membangun sikap eling dan waspadha.

Neng adalah tingkat dasar, barulah setara “sembah raga” misalnya menyucikan diri dengan air, mencuci badan dengan cara mandi, wudlu, gosok gigi, upacara jamasan, tradisi siraman dsb. Termasuk mencuci pakaian dan tempat tinggal. Orang dalam tingkat “neng”, menyebut dan “menyaksikan” Tuhan barulah melalui pernyataan dan ucapan mulut saja. Kebaikan masih dalam rangka melatih diri mengendalikan hawa nafsu, dengan bermacam cara misalnya puasa, semadi, bertapa, mengulang-ulang menyebut nama Tuhan dll.

Contoh misal; Melatih diri mengendalikan hawa nafsu agar bersifat positif dengan cara misalnya sedekah, amal jariah, zakat, gotong royong, peduli kasih, kepedulian sosial dll. Melatih diri untuk menghargai dan mengormati leluhur, dengan cara ziarah kubur, pergi haji, mengunjungi situs-situs sejarah, belajar dan memahami sejarah, dst. Melatih diri menghargai dan menjaga alam semesta sebagai anugrah Tuhan, dengan cara upacara-upacara ritual, ruwatan bumi, larung sesaji, dst. Tahapan ini dilakukan oleh raga kita, namun belum tentu melibatkan Hati dan Bathin kita secara benar dan tepat.

Kehidupan sehari-harinya dalam rangka latihan menggapai tataran lebih tinggi, artinya harus berbuat apa saja yang bukan perbuatan melawan rumus Tuhan. Tidak hanya berteori, kata kitab, kata buku, menurut pasal, menurut ayat dst. Namun berusaha dimanifestasikan dalam perilaku dan perbuatan kehidupan sehari-hari. Perbuatannya mencerminkan perilaku sipat zat (makhluk) yang selaras dengan sifat hakekat (Tuhan).

Tanda pencapaiannya tampak pada solah. Solah artinya perilaku atau perbuatan jasadiah yang tampak oleh mata misalnya; tidak mencelakai orang lain, misal menitnah, mengadu domba dll, perilaku dan tutur kata menentramkan, sopan dan santun, wajah ramah, ngadi busana atau cara berpakaian yang pantas dan luwes menghargai badan. Akan tetapi perilaku tersebut belum tentu dilakukan secara sinkron dengan Bawa-nya. Bawa yakni “perilaku” batiniah yang tidak tampak oleh mata secara visual.

Titik Lemah Sembah Raga;
Pada tataran awal ini, meskipun seseorang seolah-olah terkesan baik, namun belum menjamin pencapaian tataran spiritual yang memadai, dan belum tentu diberkahi Tuhan. Sebab seseorang melakukan kebaikan terkadang masih diselimuti rahsaning karep atau nafsu negatif, rasa ingin diakui, mendapat nama baik atau pujian. Bahkan seseorang melakukan suatu kebaikan agar kepentingan pribadinya dapat terwujud. Maka akibat yang sering timbul biasanya muncul rasa kecewa, tersinggung, marah, bila tidak diakui dan tidak mendapat pujian. Kebaikan seperti ini, boleh jadi bermanfaat dan mungkin baik di mata orang lain. Akan tetapi dapat diumpamakan belum mendapat tempat di “hati” Tuhan. Point nya masih nihil.

Banyak orang merasa sudah berbuat baik, beramal, sodaqah, suka menolong, membantu sesama, rajin doa, sembahyang. Tetapi sering dirundung kesialan, kesulitan, tertimpa kesedihan, segala urusannya mengalami kebuntuan dan kegagalan. Lantas dengan segera menyimpulkan bahwa musibah atau bencana ini sebagai cobaan (bagi orang-orang beriman).

Pada tataran ini, seseorang masih rentan dikuasai nafsu ke-aku-an (api/nar/iblis). Diri sendiri dianggap tahu segalanya, merasa suci dan harus dihormati. Siapa yang berbeda pendapat dianggap sesat dan kafir. Konsekuensinya, bila memperdebatkan (kulit luarnya) ia menganggap diri paling benar dan suci, lantas muncul sikap golek benere dewe, golek menange dewe, golek butuhe dewe. Ini sebagai ciri seseorang yang belum sampai pada intisari ajaran yang dicarinya. Durung becus keselak besus !

2. Ning. Artinya; Sembah qalbu. Maksudnya; Wening atau hening.
Ibarat mati sajroning urip, kematian di dalam hidup. Tataran ini sepadan dengan tarekat. Menggambarkan keadaan hati yang selalu bersih dan batinnya selalu eling lan waspadha. Eling adalah sadar dan memahami akan sangkan paraning dumadi (asal usul tujuan manusia) yang digambarkan sebagai “kakangne mbarep adine wuragil”

Waspadha terhadap apa saja yang dapat menjadi penghalang dalam upaya “menemukan” Tuhan (wushul). Yakni penghalang proses penyelarasan kehidupan sehari-hari (sifat zat) dengan sifat hakekat (Tuhan). Ning dicapai setelah hati dapat dilibatkan dalam menjalankan ibadah tingkat awal atau Neng; yakni hati yg ikhlas dan tulus, hati yang sudah tunduk dan patuh kepada sukma sejati yang suci dari semua nafsu negatif. Hati semacam ini tersambung dengan kesadaran batin maupun akal budi bahwa amal perbuatan bukan semata-mata mengaharap-harap upah (pahala) dan takut ancaman (neraka). Melainkan kesadaran memenuhi kodrat Tuhan, serta menjaga keharmonisan serta sinergi aura magis antara jagad kecil (diri pribadi) dan jagad besar (alam semesta).

Tataran ini dicapai melalui empat macam bertapa; tapa ngeli, tapa geniara, tapa banyuara, tapa mendhem atau ngluwat.

1. Tapa ngeli; harmonisasi vertikal dan horisontal. Yakni berserah diri dan menselaraskan dengan kehendak Tuhan. Lalu mensinergikan jagad kecil (manusia) dengan jagad besar (alam semesta).

2. Tapa geniara; tidak terbakar oleh api (nar) atau nafsu negatif yakni ke-aku-an. Karena ke-aku-an itu tidak lain hakekat iblis dalam hati.

3. Tapa banyuara; mampu menyaring tutur kata orang lain, mampu mendiagnosis suatu masalah, dan tidak mudah terprovokasi orang lain. Tidak bersikap reaksioner (ora kagetan), tidak berwatak mudah terheran-heran (ora gumunan).

4. Tapa mendhem; tidak membangga-banggakan kebaikan, jasa dan amalnya sendiri. Terhadap sesama selalu rendah hati, tidak sombong dan takabur. Sadar bahwa manusia derajatnya sama di hadapan Tuhan tidak tergantung suku, ras, golongan, ajaran, bangsa maupun negaranya. Tapa mendhem juga berarti selalu mengubur semua amal kebaikannya dari ingatannya sendiri.

Dengan demikian seseorang tidak suka membangkit-bangkit jasa baiknya. Kalimat pepatah Jawa sbb: tulislah kebaikan orang lain kepada Anda di atas batu, dan tulislah kebaikan Anda pada orang lain di atas tanah agar mudah terhapus dari ingatan.

Titik Lemah Sembah Qalbu;
Jangan lekas puas dulu bila merasa sudah sukses menjalankan tataran ini. Sebab pencapaian tataran kedua ini, semakin banyak ranjau dan lobang kelemahan yang kapan saja siap memakan korban, apabila kita lengah. Penekanan di sini adalah pentingnya sikap eling dan waspadha. Sebab kelemahan manusia adalah lengah, lalai, terlena, terbuai, merasa lekas puas diri.

Tataran kedua ini melibatkan hati dalam melaksanakan segala kebaikan dalam perbuatan baik sehari-hari. Yakni hati harus tulus dan ikhlas. Namun..ketulusan dan keikhlasan ini seringkali masih menjadi jargon, karena mudah diucapkan oleh siapapun, sementara pelaksanaannya justru keteteran. Dalam falsafah hidup Kejawen, setiap saat orang harus selalu belajar ikhlas dan tulus setiap saat sepanjang usia.

Belajar ketulusan merupakan mata pelajaran yang tak pernah usai sepanjang masa. Karena keberhasilan kita untuk tulus ikhlas dalam tiap-tiap kasus belum tentu berhasil sama kadarnya. Keikhlasan dipengaruhi oleh pihak yang terlibat, situasi dan kondisi obyektifnya, atau situasi dan kondisi subyek mental kita saat itu.

3. Nung. Artinya Sembah cipta. Maksudnya; Kesinungan.
Yakni dipercaya Tuhan untuk mendapatkan anugrah tertentu. Orang yang telah mencapai tataran Kesinungan, dialah yang mendapatkan “hadiah” atas amal kebaikan yang ia lakukan. Ini mensyaratkan amal kebaikan yang memenuhi syarat, yakni kekompakan serta sinkronisasi lahir dan batin dalam mewujudkan segala niat baik menjadi tindakan konkrit. Yakni tindakan konkrit dalam segala hal yang baik misalnya membantu & menolong sesama. Syarat utamanya; harus dilakukan terus-menerus hingga menyatu dalam prinsip hidup, dan tanpa terasa lagi menjadi kebiasaan sehari-hari.

Pencapaian tataran ini, sudah masuk ke laku Hakekat Hidup, sudah bukan Lelaku lagi. Laku hakekat hidup adalah meliputi keadaan hati dan batin, sabar, tawakal, tulus, ikhlas, pembicaraannya menjadi kesejatian (kebenaran), yang sejati menjadi kosong, hilang lenyap menjadi ada. Tataran ini ditandai oleh pencapaian kemuliaan yang sejati, seseorang mendapatkan kebahagiaan dan kemuliaan di dunia dan kelak setelah ajal.

Pada tahap ini manusia sudah mengenal akan jati dirinya dan mengenal lebih jauh sejatinya Tuhan. Manusia yang telah lebih jauh memahami Tuhan tidak akan berfikir sempit, kerdil, sombong, picik dan fanatik. Tidak munafik dan menyekutukan Tuhan. Ia justru bersikap toleran, tenggang rasa, hormat menghormati keyakinan orang lain.

Sikap ini tumbuh karena kesadaran spiritual bahwa ilmu sejati, yang nyata-nyata bersumber pada Yang Maha Tunggal, hakekatnya adalah sama. Cara atau jalan mana yang ditempuh adalah persoalan teknis. Banyaknya jalan atau cara menemukan Tuhan merupakan bukti bahwa Tuhan itu Mahaluas tiada batasnya. Ibarat sungai yang ada di dunia ini jumlahnya sangat banyak dan beragam bentuknya; ada yang dangkal, ada yang dalam, berkelok, pendek dan singkat, bahkan ada yang lebar dan berputar-putar. Toh semuanya akan bermuara kepada Yang Tunggal yakni “samudra luas”.

NAH, orang seperti ini akan “menuai” amal kebaikannya. Berkat rumus Tuhan di mana kebaikan akan berbuah kebaikan pula. Kebaikan yg anda berikan, “buahnya” akan anda terima pula. Namun demikian kebaikan yang anda terima belum tentu datang dari orang yang sama, malah biasanya dari pihak lainnya. Kebaikan yang anda peroleh itu merupakan “buah” dari “pohon kebaikan” yang pernah anda tanam sebelumnya. Selebihnya, kebaikan yang anda lakukan akan menjadi pagar gaib yang selalu menyelimuti diri anda.

Singkat kata, pencapaian Nung, ditandai dengan diperolehnya kemudahan dan hikmah yang baik dalam segala urusan. Pagar ghaib itu akan membuat kita tidak dapat dicelakai orang lain. Sebaliknya selalu mendapatkan keberuntungan. Dalam terminologi Jawa inilah yang disebut sebagai “ngelmu beja”.

Untuk meraih tataran ini, terlebih dahulu kita harus mengenal jati diri secara benar. Dalam diri manusia setidaknya terdapat 7 lapis bumi yang harus diketahui manusia. Jika tidak diketahui maka menjadi manusia cacad dan akan gagal mencapai tataran ini. Bumi 7 lapis tersebut adalah; retna, kalbu, jantung, budi, jinem, suksma, dan ketujuhnya yakni bumi rahmat.

1. Bumi Retna; jasad dan dada manusia sesungguhnya istana atau gedung mulia.
2. Bumi Kalbu; artinya istana iman sejati.
3. Bumi Jantung; merupakan istana semua ilmu.
4. Bumi budi; artinya istana puji dan zikir.
5. Bumi Jinem; istananya Cinta kasih sayang sejati.
6. Bumi suksma; yakni istana kesabaran dan rasa sukur kepada Tuhan.
7. Bumi Rahmat; istana rasa mulia/rahsa sejati.

Titik Lemah Sembah Cipta;
Nung, setara dengan Hakekat, di sini ibarat puncak kemuliaan. Semakin tinggi tataran spiritual, maka sedikit saja godaan sudah dapat menggugurkan pencapaiannya. Maka, semakin tinggi puncak dan kemuliaan seseorang, maka semakin besar resiko tertiup angin dan jatuh. Seseorang yang merasa sudah Puas dan Bangga dengan pencapaian hakekat hidup ini, bersiko terlena. Lantas menganggap orang lain remeh dan rendah. Yang paling berbahaya adalah menganggap tataran ini merupakan tataran tertinggi, sehingga orang tidak perlu lagi berusaha menggapai tataran yang lebih tinggi.

4. Nang; Artinya Sembah rahsa. Maksudnya; Kemenangan.
Nang merupakan kemenangan. Kemenangan adalah anugrah yang kita terima. Yakni kemenangan kita dari medan perang. Perang antara nafsu negatif dengan positif.

Kemenangan Nur (cahya sejati nan suci) mengalahkan Nar (api ke-aku-an). Manusia Nar adalah seteru Tuhan (tersebut iblis laknat).

Sebaliknya; manusia Nur adalah memenuhi janji atas kesaksian yang pernah ia ucapkan di mulut dan hati. Manusia Nur memenuhi kodratnya ke dalam kodrat Ilahi, sipat zat yang mengikuti sifat hakekat, menselaraskan gelombang batin manusia dengan gelombang energi Tuhan.

Sifat zat (manusia) menyatu dengan sifat hakekat (Tuhan) menjadi “loroning atunggil“. Yang menjadi jumbuh (campur tak bisa dipilah) antara kawula dengan Gusti. Inilah pertanda akan kemenangan manusia dalam “berjihad” yang sesungguhnya. Yakni kemenangan terindah dalam kemanunggalan. “Manunggaling Kawula Gusti“. Bila Anda muslim, di situlah tataran makrifat dapat ditemukan.

MENGENALI JATI DIRI.
Dengan Lelaku Neng, Ning dan Laku Nung, Nang;

Siapa sejatinya diri kita sebagai manusia ?
Para sedulur dan Kadhang kinasihku sekalian. Pertanyaan ini sederhana, dapat dikemukakan jawaban paling sederhana, maupun jawaban yang lebih rumit dan rinci. Jawaban masing-masing orang tidak bisa diukur secara benar atau salah.

Cara menjawab siapa diri manusia hanya akan mencerminkan tingkat pemahaman seseorang terhadap kesejatian Tuhan. Hal ini sangat dipermaklumkan. karena berkena’an dengan eksistensi Tuhan sendiri. yang begitu penuh dengan misteri besar. Upaya manusia mengenali Sang Pencipta, ibarat jarum yang menyusup ke dalam samudra dunia. Yang hanya mengerti atas apa yang bersentuhan dengannya. Itupun belum tentu benar dan tepat dalam mendefinisikan. Tuhan memang lebih dari Maha Besar. Sedangkan manusia hanya selembut molekul garam. Begitulah jika diperbandingkan antara Tuhan dengan makhluk-Nya. Namun begitu kiranya lebih baik mengerti dan memahami-Nya sekalipun hanya sedikit dan kurang berarti, ketimbang tidak sama sekali.

Secara garis besar dalam diri manusia memiliki dua unsur entitas yang sangat berbeda. Dalam pandangan ekstrim dikatakan dua unsur pembentuk manusia saling bertentangan satu sama lainnya. Tetapi kedua unsur tidak dapat dipisahkan, karena keduanya sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Terpisahnya di antara kedua unsur pembentuk manusia akan merubah eksistensi ke-manusia-an itu sendiri. Yakni di satu sisi terjadi kerusakan/pembusukan dan di sisi lain keabadian.

Umpama batu-baterai yang memiliki dua dimensi berbeda, yakni fisiknya dan energinya. Kedua dimensi itu menyatu menjadi eksistensi batu-baterai berikut fungsinya. Dua unsur dalam manusia yakni, immaterial dan material, metafisik dan fisik, roh dan jasad, rohani dan jasmani, unsur Tuhan dan unsur bumi (unsur gaib dan unsur wadag). Marilah kita urai satu persatu kedua unsur pembentuk eksistensi manusia tersebut.

Unsur Bumi;
Jasad manusia wujudnya disusun berdasarkan unsur-unsur material bumi (air, tanah, udara, api). Unsur air dan tanah dalam tubuh terurai secara alami melalui proses ilmiah (rumus ilmu pengetahuan manusia) dan rumus alamiah (yang sudah berproses melalui rumus-rumus buatan Tuhan).

Unsur tanah dan air yang sudah berproses akan berubah bentuk dan wujudnya sebagai bahan baku utama jasad yang terdiri dari empat unsur yakni; daging, tulang, sungsum dan darah. Sedangkan unsur udara akan berproses menjadi kegiatan bernafas, lalu berubah menjadi molekul oksigen dalam darah dan sel-sel tubuh. Unsur api akan menjadi alat pembakaran dalam proses produksi jasad, tenaga, energi magnetis, dan semua energi yang terlibat dalam memproses atau mengolah unsur tanah dan air menjadi bahan baku jasad.

Jasad wadag menurut istilah barat sebagai body atau corpus, merupakan wadah atau bungkus unsur Tuhan dalam diri manusia. Unsur wadah tidak bersifat langgeng (baqa’), sebab unsur wadah terdiri dari bahan baku bumi, maka ia terkena rumus mengalami kerusakan sebagaimana rumus bumi.

Unsur Tuhan;
Sebaliknya, unsur Tuhan bersifat kekal abadi tidak terjadi rumus kerusakan. Unsur Tuhan (Zat Tuhan) dalam tubuh manusia diwakili oleh metafisik manusia yakni unsur roh (spirit atau spiritus). Roh merupakan derivasi unsur Tuhan yang paling paling akhir dan paling erat dengan bahan baku metafisik manusia (Baca Posting; Mengungkap Misteri Tuhan). Dan spirit diartikan sebagai roh, ruh atau sukma. Roh bersifat suci (roh kudus/ruhul kuddus), tidak tercemar oleh “polusi” dan kelemahan-kelemahan duniawi. Karakter roh adalah berkiblat atau berorientasi kepada martabat kesucian Tuhan. Arti kata roh sangat berbeda dengan entitas jiwa (soul), hawa atau nafas (nafs), animus atau anemos (Yunani), dalam bahasa Jawa apa yang lazim disebut nyawa. Sekalipun berbeda istilah, tetapi memiliki makna yang nyaris sama.

Pertemuan Unsur Bumi dan Unsur Tuhan;
Dalam tubuh manusia terdiri atas dua unsur besar yakni unsur bumi dan unsur Tuhan. Di antara kedua unsur tersebut terdapat “bahan penyambung”, dalam literatur barat disebut soul atau jiwa (yang ini terasa kurang pas), Islam; nafs, Yunani; anemos, dan dalam bahasa Indonesia; hawa, Jawa; nyawa (badan alus). Hawa, jiwa, anemos, soul, atau nyawa merupakan satu entitas yang kira-kira tidak berbeda maknanya, berfungsi sebagai media persentuhan atau “lem perekat” antara roh (spirit) dengan jasad (body/corpus). Hawa, nafs, anemos, soul, jiwa, nyawabermakna sesuatu yang hidup (bernafas) yang ditiupkan ke dalam corpus (wadah atau bungkus).

Dalam khasanah hermeneutika dan bahasa yang ada di nusantara tampak simpang siur dan tumpang tindih dalam memaknai jiwa, sukma, roh, dan nyawa. Ini sekaligus membuktikan bahwa memahami unsur Tuhan dalam diri manusia memang tidak sederhana dan semudah yang disebutkan. Karena obyeknya bersifat gaib, bukan obyek material. Cara pandang dan penafsiran dari sisi yang berbeda-beda, menimbulkan konsekuensi beragamnya makna yang kadang justru saling kontradiktif.

Dengan alasan tersebut akan saya paparkan lebih jelas pemetaan tentang jiwa atau hawa dari sudut pandang budi-daya yang diperoleh melalui berbagai pengalaman obyek metafisika, dan intuisi, agar lebih netral dan mudah dipahami oleh siapa saja tanpa membedakan latar belakang agama. Dengan asumsi tersebut diperlukan perspektif yang sederhana namun mudah dipahami. Kami akan memaparkan melalui perspektif Javanism atau kejawen, dengan cara penulisan yang sederhana dan “membumi”.

Hubungan Unsur Tuhan dengan Unsur Bumi dalam Lelaku Prihatin;
Setiap bayi lahir memiliki tingkat kesucian yang dapat diumpamakan sebagai kertas putih bersih. Kesucian berada dalam wahana nafs atau hawa yang masih bersih belum tercemar oleh “polusi” keduniawian. Hawa/nyawa/nafs diuji bolak-balik di antara dua kutub; yakni kutub jasmaniah yang berpusat di jasad (corpus) dan kutub ruhaniyah yang berpusat pada roh (spirit).

Unsur roh bersifat suci dan tidak tersentuh oleh kelemahan-kelemahan material duniawi (dosa). Roh suci sebagai “utusan” Tuhan dalam diri manusia yang dapat membawa ketetapan/pedoman hidup. Sehingga roh dapat berperan sebagai obor yang memancarkan cahaya (spektrum) kebenaran dari Tuhan. Dalam perspektif Jawa roh suci (utusan Tuhan) tidak lain adalah apa yang disebut sebagai Guru Sejati. Guru Sejati tampil sebagai juru nasehat untuk hawa, jiwa atau nafs.

Hawa Nafsu. Ibarat Satu Keping Mata Uang;
Hawa (nafs) atau jiwa yang tunduk kepada roh suci (guru sejati) akan menghasilkan hawa (nafs) yang disebut nafsu positif (meminjam istilah Arab)- sebagai an-nafs al-muthmainah..

Sebaliknya jiwa atau hawa yang tunduk pada keinginan jasad disebut sebagai nafsu negatif. Nafsu negatif terdiri tiga macam; nafsu lauwamah(kepuasan biologis; makan, minum, tidur dst), nafsuamarah (amarah/angkara murka), dan nafsu sufiyah(mengejar kenikmatan psikis; contohnya seks, sombong, narsism, gemar dipuji-puji). Hawa memiliki dua kutub nafsu yang bertentangan ibarat satu keping mata uang yang memiliki dua sisi.

Akan tetapi kedua sisi tidak dapat dipisahkan atau dilihat secara berbarengan. Apabila kita ingin menampilkan gambar angka, maka letakkan nilai nominal di sisi atas, sebaliknya jika kita berkehendak melihat gambar burung kita letakkan gambar angka di bawah. Apabila seseorang mengaku bisa melihat kedua sisi satu keping mata uang dalam waktu yang sama, maka seseorang dikatakan berjiwa munafik alias kehidupan yang palsu hanya berdasarkan pengaku-akuan bohong.

Manusia Bebas Memilih;
Pada setiap bayi lahir, Tuhan telah menciptakan hawa dalam keadaan putih/suci. Manusia memiliki kebebasan menentukan apakah hawa nafsunya akan berkiblat kepada kesucian yang bersumber pada roh suci (ruhul kuddus), atau sebaliknya ingin berkiblat kepada kemungkaran jasad/raga (unsur duniawi).Apabila seseorang berkiblat pada kemungkaran akan menjadi seteru Tuhan dan memiliki konsekuensi (dosa/karma/hukuman) yang akan dirasakan kelak setelah menemui ajal (akhirat), bisa juga dirasakan sewaktu masih hidup di dunia.

Maka peranan semua agama yang ada di muka bumi adalah pendidikan yang ditujukan kepada hawa/nafs/jiwa manusia agar selalu berkiblat kepada rumus Tuhan atau qodratullah. Sumber dari ilmu dan “rumus Tuhan” (qodratullah) bisa kita temukan dalam “perpustakaan” atau gudang ilmu yang terdekat dengan diri kita, yakni roh suci (Ruhul-Kuddus/Guru-Sejati/Sukma-Sejati/Rahsa-Sejati.

Kadang kala Tuhan Maha Pemurah, menganugerahkan seseorang untuk mendapat “bocoran soal” akan rahasia “ilmu Tuhan” melalui pintu hati (qalb) yang di sinari oleh cahyo sejati (nurullah). Yang lazim disebut sebagai ungkapan dari (hati) nurani. Petunjuk dari Tuhan ini diartikan sebagai wirayat, wahyu, risalah, sasmita gaib, ilham, wisik dan sebagainya. Dalam posting ini kami tidak membahas model dan macam petunjuk Tuhan tersebut.

Lelaku Prihatin adalah Jihad Sejati;
“Penundukan” roh terhadap hawa nafsu negatif adalah penundukkan terhadap segala yang berhubungan dengan material (syahwat) atau kenikmatan ragawi. Dengan kata lain yakni penundukan unsur “Tuhan” terhadap unsur bumi. Dalam ilmu Jawa dikatakan sebagai jiwa yang tunduk pada kareping rahsa/rasa sejati (kehendak Guru Sejati/kehendak Tuhan), serta meredam rahsaning karep (kemauan hawa nafsu negatif). Segenap upaya yang mendukung proses “penundukan” unsur Tuhan terhadap unsur bumi dalam khasanah Jawa disebut sebagai laku prihatin. Dengan laku prihatin, seseorang berharap jiwanya tidak dikendalikan oleh keinginan jasad. Maka di dalam khasanah spiritual Kejawen, laku prihatin merupakan syarat utama yang harus dilakukan seseorang menggapai tingkatan spiritualitas sejati.

Seperti ditegaskan dalam serat Wedhatama (Jawa; Wredhotomo) karya KGPAA Mangkunegoro IV; bahwa ngelmu iku kalakone kanthi Lelaku. Lelaku prihatin dalam istilah Arab sebagai aqabah, yakni jalan terjal mendaki dan sulit, karena seseorang yang menjalani laku prihatin harus membebaskan diri dari perbudakan syahwat dan hawa nafsu yang negatif.

Di mana ia sebagai sumber kenikmatan keduniawian. Maka apa yang disebut sebagai Jihad yang sesungguhnya adalah perang tanding didalam kalbu antara tentara nafsu positif menawan tentara nafsu negatif. Disebut kemenangan dalam berjihad apabila seseorang telah berhasil “meledakkan bom” di pusat kekuasaan setan (hawa nafsu negatif) dalam hati kita. “Bahan peledaknya” bernama laku prihatin dan olah batin (wara’dan amr ma’ruf nahi munkar).

Target Utama dalam “Berjihad” (Lelaku Prihatin);
Perjalanan spiritual dalam bentuk laku prihatin, mempunyai target membentuk hawa nafsu positif ataunafsul muthmainnah. Karena si nafs atau hawa tersebut telah stabil dalam koridor rumus Tuhan (qodrat atau qudrah diri) atau dalam bahasa sansekerta lazimnya disebut sebagai swadharma. Roh yang berada pada tataran pencapaian ini, dalam bahasa Ibrani, ruh disebut sebagai syekinah yang diturunkan ke dalam kalbu dan berhasil merebut (amr) kebaikan (ma’ruf). Jika hawa tidak berdaya karena kuatnya arus nafsu negatif yang dimasukkan jasad lewat pintu panca indera, maka kepribadian manusia dikuasai oleh “milisi” kekuatan batin yang oleh Freud diberi nama ego.

Ego cenderung berkiblat pada jasad (duniawi). Maka sudah menjadi tugas hawa (id) untuk membangkang dari keinginan ego agar supaya membelot kepada kekuatan hawa positif (super ego). Hasilnya maka manusia dapat dikendalikan sesuai dengan kodrat dirinya sebagai khalifah Tuhan. Jadilah manusia yang tetap berada pada orbitNya (qodrat/rumus Tuhan), yakni apa yang dimaksud menjadi titah jalma menungsa kang sejati, yaiku nggayuh kasampurnaning gesang,(untuk meraih) sastra jendra hayuningrat pangruwating diyu.

Sangat terasa bahwa Tuhan sungguh lebih dari Maha Adil, setiap manusia tanpa kecuali dapat menemukan Tuhan melalui pintu nafs, jiwa, atau hawanya masing-masing, karena Tuhan telah membekali jiwa manusia akan kemampuan menangkap sinyal-sinyal suci dari Hyang Mahasuci. Sinyal suci yang diletakkan di dalam rahsa sejati (sirullah) dan roh sejati (ruhullah). Sudah merupakan rumus (Tuhan), apabila seseorang dapat meraih dharma-nya atau kodrat-dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, maka kehidupannya akan selalu menemui kemudahan. Sebaliknya hawa nafsu negatif (setan) senantiasa menggoda hawa/nafs manusia agar supaya hawanya berkiblat kepada unsur bumi.

Menjadi Pribadi yang Menang;
Sepanjang hidup manusia selalu berada di dalam arena peperangan “Baratayudha/Brontoyudho” (jihad) antara kekuatan nafsu positif (Pendawa Lima) melawan nafsu negatif (100 pasukan Kurawa). Perang berlangsung di medan perang yang bernama “Padang Kurusetra” (Kalbu). Peperangan yang paling berat dan merupakan sejatinya perang (jihad fi sabilillah) atau perang di jalan kebenaran.

Kemenangan Pendawa Lima diraih tidak mudah. Dan sekalipun kalah pasukan Kurawa 100 selamanya sulit dibrantas tuntas hingga musnah. Maknanya sekalipun hawa nafsu positif telah diraih, artinya hawa nafsu negatif (setan) akan selalu mengincar kapan saja si hawa lengah. Kejawen mengajarkan berbagai macam cara untuk memenangkan peperangan besar tersebut.

Di antaranya dengan laku prihatin untuk meraih kemenangan melalui empat tahapan yang harus dilaksanakan secara tuntas. Empat tahapan tersebut dikiaskan ke dalam nada suara salah instrumen Gamelan Jawa yang dinamakan Kempul atau Kenong dan Bonang yang menimbulkan bunyi; Neng, Ning, Nung, Nang.

1. Neng; artinya jumeneng, berdiri, sadar atau bangun untuk melakukan tirakat, semedi, maladihening, atau mesu budi. Konsentrasi untuk membangkitkan kesadaran batin, serta mematikan kesadaran jasad sebagai upaya menangkap dan menyelaraskan diri dalam frekuensi gelombang Tuhan.

2. Ning; artinya dalam jumeneng kita mengheningkan daya cipta (akal-budi) agar menyambung dengan daya rasa- sejati yang menjadi sumber cahaya nan suci. Tersambungnya antara cipta dengan rahsa akan membangun keadaan yangwening. Dalam keadaan “mati raga” kita menciptakan keadaan batin (hawa/jiwa/nafs) yang hening, khusuk, bagai di alam “awang-uwung” namun jiwa tetap terjaga dalam kesadaran batiniah. Sehingga kita dapat menangkap sinyal gaib dari sukma sejati.

3. Nung; artinya kesinungan. Bagi siapapun yang melakukan Neng, lalu berhasil menciptakan Ning, maka akan kesinungan (terpilih dan pinilih) untuk mendapatkan anugrah agung dari Tuhan Yang Mahasuci. Dalam Nung yang sejati, akan datang cahaya Hyang Mahasuci melalui rahsa lalu ditangkap roh atau sukma sejati, diteruskan kepada jiwa, untuk diolah oleh jasad yang suci menjadi manifestasi perilaku utama (lakutama). Perilakunya selalu konstruktif dan hidupnya selalu bermanfaat untuk orang banyak.

4. Nang; artinya menang; orang yang terpilih dan pinilih (kesinungan), akan selalu terjaga amal perbuatan baiknya. sehingga amal perbuatan baik yang tak terhitung lagi akan menjadi benteng untuk diri sendiri. Ini merupakan buah kemenangan dalam laku prihatin. Kemenangan yang berupa anugrah, kenikmatan, dalam segala bentuknya serta meraih kehidupan sejati, kehidupan yang dapat memberi manfaat (rahmat) untuk seluruh makhluk serta alam semesta. Seseorang akan meraih kehidupan sejati, selalu kecukupan, tentram lahir batin, tak bisa dicelakai orang lain, serta selalu menemukan keberuntungan dalam hidup (meraih ngelmu beja).

Neng adalah syariatnya, Ning adalah tarekatnya, Nung adalah hakekatnya, Nang adalah makrifatnya. Ujung dari empat tahap tersebut adalah kodrat (sastrajendra hayuning Rat pangruwating diyu).

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, maafkan lah saya, jika apa yang saya tulis dan saya sebarkan melalui media internet ini, adalah kesalahan yang tidak saya sengaja. saya hanya ingin menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang saya dapatkan dari-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di dunia ini. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin dan, Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

WAHYU PANCA GHA’IB DAN WAHYU PANCA LAKU:


WAHYU PANCA GHA’IB DAN WAHYU PANCA LAKU:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Djawa dwipa. Hari Rabu Pon. Tgl 09 Maret 2016

Wahyu Panca Gha’ib Menurut Penemuan Pribadi WEB:
Apakah yang dimaksudkan dengan Wahyu Panca Gha’ib itu..?!
Wahyu Panca Gha’ib itu, bukan agama atau kepercaya’an, bukan kejawen atau golongan, bukan perguruan atau kebathinan, bukan ilmu atau atau partai dan politik serta lain-lainnya. Wahyu Panca Gha’ib, adalah Sarana untuk Laku Manunggal, Manunggal itu apa? Manunggal itu menyatu atau bersatu, menyatu dan bersatu dengan apa dan siapa? Menyatu atau bersatu dengan Hidup. Apa yang disatukan dengan Hidup. Kawula dan Gustinya atau Sedulur papat kalima Pancernya. Apa itu kawula gusti atau sedulur papat kalima pancer?

Kawula atau Sedulur Papat itu, angan-angan, budi, pakarti dan panca indera, atau mutmainah, aluamah, supiyah, dan amarah. Gusti atau Pancer adalah Wujud/Raga. Itulah yang disatukan dengan Hidup, agar jiwa raganya menyatu dengan Hidup, menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam sikon apapun, seperti dikala Hyang Maha Suci Hidup menciptakan dan dilahirkan oleh Ibu.

Apa manfaat dan keuntungannya kalau sedulur papat kalima pancer atau kawula gusti itu menyatu atau bersatu dengan hidup?

Manfa’atnya. Pertama; akan pantas dan layak di sebut sebagai manusia hidup, cipta’an Hyang Maha Suci Hidup. Kedua; bisa tau, mengerti dan paham Firman Hyang Maha Suci Hidup. Sehingga bisa menjalankan apa yang telah di firmankan Hyang Maha Suci Hidup, baik yang tersurat maupun yang tersirat, dengan tepat dan benar sesuai firman-Nya, dan masih banyak manfa’at-manfa’at dan keuntungan lainnya,,, Sempurna dunia akherat hingga tujuh keturunannya, ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, ke atas dan kebawah yang terlibat dalam ikatan saudara dengan kita, akan ikut Sempurna.

WAHYU PANCA GHA’IB:
Wahyu Panca Gha’ib memiliki lima Kalimah/Mantera Gha’ib yang tersebut di bawah ini;
1. Kunci.
2. Paweling.
3. Asmo.
4. Mijil.
5. Singkir.

Lima Kalimah/Mantera Gha’ib inilah yang disebut Wahyu Panca Gha’ib. Wahyu itu Pemberian Hyang Maha Suci Hidup. Panca itu Lima. Gha’ib itu Laku Kasampurnan/Kesempurna’an Hidup.

Kunci, yang merupakan Firman-Nya Hyang Maha Suci Hidup. Sebagai Pancernya/Gusti-Nya. Dan Paweling/Asmo/Mijil/Singkir, yang merupakan Sabda-Nya Hidup. Sebagai Sedulur Papat/Kawula-Nya.

Wahyu Panca Gha’ib adalah, sebuah Pengetahuan yang bersumber dari Hyang Maha Suci Hidup, serta Budaya hasil karya Hidup, yang bersemayan disetiap diri pribadi masing-masing manusia Hidup. Banyak jenis pengetahuan yang dapat dipelajari, diantaranya;

A. Kejawen yang mengupas tentang Budaya.
1. Kejawen yang mengupas tentang Kasusilan ( Hablaminnanas ).
2. Kejawen yang mengupas tentang Seni Tari, Pahat, Ukir, Sastra dll.
3. Kejawen yang mengupas tentang Kepercayaan/KeTuhanan.
4. Kejawen yang mengupas tentang Wesi Aji, Watu Aji, dll.
5. Kejawen yang mengupas tentang Kanuragan/Kebatinan. Dll.

B. Kejawen yang mengupas tentang Adat adalah, peraturan yang ada dan tidak tertulis (Konvensi) namun sangat dita’ati oleh masyarakat setempat, yang mana semua itu, dibuat dan diakui bersama, serta dita’ati secara turun temurun, walau kadang-kadang mengandung unsur mistis.

Namun berbeda dan tidak sama dengan Wahyu Panca Gha’ib. Karena Wahyu Panca Gha’ib, menggunakan budaya Hidup, yang bersumber dari satu sumber saja, yaitu Hyang Maha Suci Hidup. Sang Kuasa dari segala yang Maha. Yang lebih di kenal secara umumnya. Dengan sebutan Tuhan/Allah dll.

Apakah benar bahwa di dalam Kejawen itu memiliki dua Kitab Suci ?

Benar,,, kalau yang di tanyakan adalah kejawen.
1. Kitab Suci Kering, yaitu Kitab Suci yang tertulis, seperti misal;
Sastro Jenro Hayu Ningrat Pangruwating Diyu, Serat Sangkan Paraning Dumadi, Serat Centhini, Hamamangayu Hayuning Bawana, Sasongko Jati, Serat Wirit Hidayat Jati, dll.

2. Kitab Suci Basah, yaitu petuah-petuah dari para pinisepuh, biasanya banyak yang merujuk ke falsafah. Misal;
Aja pada rumangsa bisa, ananging pada bisa rumangsa, marga rumangsa bisa iku manggon ana ing pikirmu, ananging bisa rumangsa iku manggon ana ing atimu.

Artinya;
Janganlah merasa bisa, akan tetapi bisa merasa, sebab merasa bisa itu terletak di pikiranmu, akantetapi bisa merasa itu terletak pada hatimu.

Suro diro Jaya ningrat Lebur dening Pangastuti.
Yang artinya adalah Kejahatan itu akan terkalahkan dengan Kebaikan. Dll.

Tapi tidak dengan Wahyu Panca Gha’ib, karena Wahyu Panca Gha’ib. menggunakan pedoman Hidup, yang bersemayan di dalam diri pribadi, dan Hidup itu, mengetahui firman Hyang Maha Suci Hidup, secara langsung, tanpa perantara dan tanpa tersurat atau tersirat, tidak bisa diracang atau di politik atau di kira-kira atau di rekayasa. Datangnya tiba-tiba cap kali Hyang Maha Suci Hidup berFirman, dan Firman ini hanya diketahui oleh Hidup yang bersemayan di setiap diri manusia Hidup yang memiliki Laku Wahyu Panca Gha’ib.

Jadi, tidak ada kitab/buku di dalam Wahyu Panca Gha’ib, kecuali diri pribadinya dan alam semesta, yang ada di dalam Wahyu Panca Gha’ib, adalah Wahyu Panca Laku, yang dalam istilah keilmuan disebut “Aji Mundi Jati Sasongko Jati” dan lebih dikenal dengan sebutan kitab suci adamakna, kitab suci adamakna ini, bukan berupa lembaran buku yang di penuhi tulisan-tulisan pena, melainkan diri pribadinya sendiri dengan semesta alam.

Galilah rasa, yang meliputi seluruh tubuhmu. Karena di dalam tubuhmu. Ada Firman Tuhan. Yang dapat menjamin Dunia Akherat dan Hidup Matimu. Itulah semboyan dalam Laku Kasampurnan (Wahyu Panca Gha’ib) di kesehariannya, terutama disa’at Patrap Kunci. Paweling. Asmo. Mijil dan Singkir. Maksudnya, jangan terburu-buru, jangan menggunakan perasa’an, sa’at mengamalkannya, gunakan rasa, penuh penghayatan iman, sadar, toto titi surti ngati-ngati, rasakan dan rasakan proses baca’annya, dari kalimat demi kalimat yang dibaca. Agar bisa mengetahui proses dan ending serta klimaxnya di dalam Patrap Laku Wahyu Panca Gha’ib.

Itu sebab, pelaku Wahyu Panca Gha’ib, diharuskan tidak terburu-buru, sa’at membaca Kalimah/Mantera Gha’ib. Kunci. Paweling. Asmo. Mijil. Dan Singkir. Dan menggunakan rasa, bukan perasa’an, tidak boleh menebak-nebak atau menduga-duga, merancang, tentang apapun yang terjadi sa’at patrap Laku Wahyu Panca Gha’ib. Melainkan dihayati dan rasakan prosesnya, agar mengetahui ending dan klimaxnya, kalau bisa merasakan prosesnya, pasti tau endingnya, jika mengetahui endingnya, pasti mengerti klimaxnya, kalau mengerti klimaxnya, akan paham, bahwa ada Wahyu Panca Laku, yang tersembunyi, disetiap celah-celah huruf bunyinya, baca’an kalimah/mantera Wahyu Panca Gha’ib, yang perlu dan harus diketahui sendiri, tidak boleh katanya apapun dan siapapun.

Gha’ib apa yang tersembunyi di setiap celah-celah baca’an kalimah/mantera Wahyu Panca Gha’ib? Wahyu Panca Laku. Wahyu Panca Laku inilah, yang nantinya akan menuntun si Palaku Wahyu Panca Gha’ib, ke titik finis tujuan yang di idamkan, apapun itu tujuannya.

Wahyu Panca Laku, memiliki lima Tingkatan Hakikat Hidup. Mengapa disebut tingkatan? Karena disetiap tingkatan dimensinya, itu berbeda pengertian dan Lelakunya, di bawah ini Wahyu Panca Laku yang tersembunyi di dalam Wahyu Panca Gha’ib.

Wahyu Panca Laku;
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampurnaning Kawula Gusti
5. Sampurnaning Pati Urip.

Kelima tingkat Hakikat Hidup inilah, yang akan menuntun Pelaku Wahyu Panca Ghaib, menuju Asal Dumadining Ananing Manungsa Urip (ADAMU) dengan PASTI SEMPURNA. Yaitu Hyang Maha Suci Hidup. Bukan kitab suci atau kitab-kitab lainnya. Isi dari Wahyu Panca Laku ini, adalah Firman Hyang Maha Suci Hidup, tanpa tulis, yang dapat di ketahui oleh setiap pelaku Wahyu Panca Gha’ib, melalui Sabdanya Hidup yang bersemayan di diri pribadinya.

Wahyu Panca Ghaib dan Wahyu Panca Laku;
1. Kunci – Manembahing Kawula Gusti.
2. Paweling – Manunggaling Kawula Gusti.
3. Asmo – Leburing Kawula Gusti.
4. Mijil – Sampurnaning Kawula Gusti.
5. Singkir – Sampurnaning Pati Urip.

1. Manembahing Kawula Gusti… “Obahe Pikir, kasebut Kareb”.
2. Manunggaling Kawula Gusti… “Obahe Kareb, kasebut Rasa”.
3. Leburing Kawula Gusti… “Obahe Rasa, kasebut Bathin”.
4. Sampurnaning Kawula Gusti… “Obahe Bathin, kasebut Osik”.
5. Sampurnaning Pati Urip… “Obahe Osik, kasebut Nurullah”.

1. Obahe Pikir, kasebut Kareb – Niyat kang saka pikir iku kasebut Karsa”.
2. Obahe Kareb, kasebut Rasa – Niyat kang saka Kareb kasebut Karya”.
3. Obahe Rasa, kasebut Bathin – Niyat kang saka Rasa kasebut Manteb”.
4. Obahe Bathin, kasebut Osik – Niyat kang saka Bathin kasebut Meneb”.
5. Obahe Osik, kasebut Nurullah – Niyat kang saka Osik kasebut Sujud/Pasrah.

Artinya;
1.Bergeraknya Pikir itu disebut Keinginan.
2. Bergeraknya Keinginan disebut Rasa.
3. Bergeraknya Rasa disebut Bathin.
4. Bergeraknya Bathin disebut Osik.
5. Bergeraknya Osik disebut Nurullah.

1. Niyat yang dari Pikir disebut Kemaunan.
2. Niyat yang dari Keinginan disebut Karya.
3. Niyat yang dari Rasa disebut Mantap.
4. Niyat yang dari Bathin disebut Menep.
5. Niyat yang dari Osik disebut Sujud tunduk Pasrah. Sujud/Tunduk/Pasrah inilah Nurullah, yang disebut Menyatunya Diri/Hidup dengan Hyang Maha Suci Hidup.

Maksudnya;
Segala sesuatu yang berasal karena pemikiran, tanpa didasari dengan rasa yang terdalam, maka semua hanya mencari keuntungan semata, mencari Nama, mendapatkan ketenaran belaka, yang semua itu adalah duniawi, namun jika kita melakukan sesuatu, dengan niat kedalam (sampai tingkat bathin saja) maka semakin kedalam semakin tunduk orang tersebut, apa lagi lebih dalam dari sekedar bathin.

Pikir dan Keinginan, dimiliki oleh orang pada tingkat Manembah. Syareat/Kamadhatu, karena pada tataran ini, masih duniawi, Rasa dan Bathin, dimiliki oleh orang pada tataran Manunggal. Hakikat/Rupadhatu, yang sudah mengurangi Duniawi, Osik dan Nurullah dimiliki oleh orang pada tataran Lebur. Makrifat/Arupadhatu. Sedangkan Cipta Rasa. Krasa. Rumangsa. Ngrasakake ananing Urip, dimiliki oleh orang pada tataran Sempurna (Suci).

Raga itu diciptakan oleh Hyang Maha Suci Hidup, berbahan dari cinta kasih sayang Bapa dan Ibu. Sedang Sukma di ciptakan oleh Hyang Maha Suci Hidup, berbahan dari roh empat intisari/anasir.

Raga yang diutus oleh Hyang Maha Suci Hidup, turun ke dunia, menjadi kalifahnya. Disebut Manusia Hidup (Wong Urip).

Roh yang diutus oleh Hyang Maha Suci Hidup, sebagai utusan Manusia dengan Tuhan-nya disebut Malaikat.

Roh yang diutus oleh Hyang Maha Suci Hidup, untuk menggoda Manusia. Disebut Jin atau Iblis.

Roh yang diutus oleh Hyang Maha Suci Hidup, tinggal didalam tubuh Manusia Hidup. Disebut Sukma.

Roh yang diutus oleh Hyang Maha Suci Hidup, untuk keluar dari tubuh Manusia Hidup. Disebut Arwah.

Doa;
Adalah sebuah permohonan kepada Hyang Maha Suci Hidup, tanpa melakukan gerakan, biasanya dilakukan secara spontan.

Sembahyang;
Adalah suatu permohonan kepada Hyang Maha Suci Hidup, yang dilakukan dengan sebuah gerakan.

Mantera;
Adalah suatu permohonan kepada Hyang Maha Suci Hidup, yang biasanya berguna untuk membuka akan Ilmu Hyang Maha Suci Hidup.

Dzikir;
Adalah suatu permohonan kepada Hyang Maha Suci Hidup, dengan menyebut asma Hyang Maha Suci Hidup, dengan cara mengulang-ulang.

PATRAP dan SEMEDHI;
Patrap atau pepatrap hampir sama dengan Semedhi, namun terdapat sedikit perbedaan pada sisi pernafasan, jika patrap kurang memfokuskan pada sisi aturan pernafasan, tetapi Semedhi, lebih memfokuskan pada aturan/pernafasan, Semedi lebih fokus pada Doa. Patrap tidak.

Dalam Wahyu Panca Laku tingkatan pertama, yaitu Manembahing Kawula Gusti, terbagi menjadi tiga unsur yaitu :

1. Hubungan antara Aku dan Hyang Maha Suci Hidup – Yang bisa menghasilkan timbul/tumbuhnya Iman secara alami.

2. Hubungan antara Aku dan sesama Manusia Hidup – Yang bisa menghasilkan timbul/tumbuhnya Cinta Kasih Sayang secara alami.

3. Hubungan antara Aku dan Alam semesta – Yang bisa menimbulkan/menumbuhkan Cipta Rasa. Krasa. Rumangsa. Ngrasakake ananing Urip secara alami.

Cipta Rasa. Krasa. Rumangsa. Ngrasakake ananing Urip, akan terkupas secara alami pula, pada tingkatan Manunggaling Kawula Gusti, sedangkan pada Leburing Kawula Gusti, akan terbahas dengan sendirinya secara alami pula, di tingkatan Sampurnaning Kawula Gusti, yang akan mengajarkan tentang sipat dan sikap berpasrah diri, pada Hyang Maha Suci Hidup, dalam menjemput kematian manusia itu sendiri, yang disebutnya dengan Ilmu Kasampurnan.

Wahyu Panca Laku Yang Pertama, yaitu;
Manembahing Kawula Gusti.
Dalam tingkatan Manembahing Kawula Gusti ini, pelaku Wahyu Panca Gha’ib, akan ditempa oleh Hyang Maha Suci Hidup, dan di ajari oleh Hidupnya sendiri, yang sebagai Guru Sejatinya. Tentang;

Pengetahuan tentang Kasasujudan/Sasujud ( hubungan antara Manusia dengan Gusti Hyang Maha Suci ), lazimnya orang Jawa menyebutnya sebagai Dedalaning Gusti atau Jalan Allah, atau jika dirumuskan sebagai berikut;

Ingsun /Aku + Gusti Allah = Iman.

1. Pengetahuan tentang Kasusilan/Susila ( hubungan Manusia dengan Manusia atau hubungan antar sesama ), atau jika dirumuskan sebagai berikut;

Ingsun/Aku + Sesama Manusia = Budi Pekerti.

2. Kasamaden/Semedi (hubungan Manusia dengan Alam), atau jika dirumuskan sebagai berikut;

Ingsun/Aku + Alam = Cipta Rasa. Krasa. Rumangsa. Ngrasakake ananing Urip.

Cipta Rasa. Krasa. Rumangsa. Ngrasakake ananing Urip. akan diperdalam pada tingkatan Laku Manunggaling Kawula Gusti.

Pada tataran Manembahing Kawula Gusti, siapapun dia, pola kemauannya masih pada PIKIR dan KEINGINAN, karena itu, butuh dan perlu Kunci. seperti contoh pengertian di bawah ini;

Obahe Pikir, iku kasebut Kareb, obahe Kareb, kasebut Rasa,
Niyat kang saka pikir, iku kasebut Karsa, niyat kang saka Kareb, kasebut Karya.

Artinya; Bergeraknya Pikir, itu disebut Keinginan, Bergeraknya Keinginan, disebut Rasa, Niyat yang dari Pikir, disebut Kemaunan, Niyat yang dari Keinginan, disebut Karya.

Maksudnya; Pada tataran ini, jiwa mereka masih berkemauan, yang hasilnya kadang mau menjalankan kadang tidak, atau jika sudah bisa mengerti akan agama/pelajaran, maka dia akan berkarya untuk dirinya sendiri.

Perlu diketahui, bahwa pengetahuan Kasusilan dalam Manembahing Kawula Gusti, itu sangat penting, disebabkan karena hubungan antara Manusialah, sebagai pangkal dari kekisruhan, yang ada dalam dunia ini, maka penekanan sikap dalam ajaran Manembahing Kawula Gusti ini, diantaranya dalam petuah sebagai berikut;

Agama iku satemene mung sadrema Buku, ananging Agama kang sejati iku lakumu, marga laku kang becik iku ibarat Madep Gusti kang tanpa Sujud.

Artinya; Agama itu hanya sekedar Buku, tetapi Agama yang sejati itu, tingkah perbuatanmumu, sebab perbuatan yang baik ibarat menghadap/sholat tanpa kiblat.

Maksudnya; Manembah itu, dalam mempelajari Agama atau kata lain, syare’at, tarekat, hakikat, ma’rifat dan tasyawuf, itu hanya sekedar belajar buku/qitab, atau hanya mempelajari akan Tulisan Firman Hyang Maha Suci Hidup saja, sebab semua itu tidak berarti, jika tidak diamalkan dalam bentuk laku hidup di dalam kehidupan sehari-hari, yang sesuai dengan petunjuk dalam Agama atau Buku/Qitab dengan tanpa pamrih.

Sebab tanpa mengenal akan Firman Hyang Maha Suci Hidup-pun, jika seseorang dalam kehidupan antar sesesama Mahkluk Cipta’an Hyang Maha Suci Hidup, khususnya Manusia, merupakan pencerminan sikap akan pengenalan Jalan Hyang Maha Suci Hidup, yang tanpa bersujud/kiblat, perlu diketahui penekanan dalam mengulas atau menjabarkan Agama, dalam sikap manembah harus didasari oleh Bahasa Hati/Rasa dan dilarang menggunakan bahasa Pikir/Perasa’an, Mengapa ? Karena didalam Wahyu Panca Laku. Menjelaskan;

Dumununge Syetan ing wadag Manungsa iku ana ing Pikirmu, ananging dumununge Gusti ing wadag manungsa iku ana ing Atimu, mulane yen mangonceki dedalaning Gusti nganggo pikirmu, bisa wae Syetan kang nyetir, mula dadi gede ing karebmu, ananging yen mangoncei nganggo atimu, Gusti kang nuntun dadi meneping atimu.

Artinya; Tinggalnya Syetan ditubuh Manusia itu ada di Pikiranmu, tetapi tinggalnya Hyang Maha Suci Hidup ditubuh Manusia itu di Hatimu, maka kalau mengupas Jalan Hyang Maha Suci Hidup dengan pikirmu, akan besar dalam keinginanmu, tetapi kalau mengupasnya lewat Hatimu, Hyang Maha Suci Hidup yang membimbing menjadi heningnya hatimu.)

Maksudnya; Wahyu Panca Laku menjelaskan, jika ingin mengupas akan Sikap Manembahing Kawula Gusti/Jalan Hyang Maha Suci Hidup, haruslah lewat Hati/Qalbu, tidak diperpolehkan lewat pikir, sebab jika lewat pikiran, maka kita akan dipengaruhi dengan bayang-bayang Syetan, seperti kita minta dihormati, dikagumi, bisa terkenal, berpamrih, karena semua itu berdampak akan materi semata, merasa dirinya yang benar, sehingga mudah melakukan perdebatan tafsir dengan yang tidak selaras dengan jalannya, berbeda pendapat satu dengan yang lain, hingga timbul perdebatan antar Jalan Hyang Maha Suci Hidup satu dengan yang lainnya.

Gusti pepering Ruh dening Manungsa, sak jroning Ruhmu iku ana Sukma, Sakjroning Sukmamu ana Nyawa, sakjroning Nyawamu ana Rasa, sakjroning Rasamu ana Rahsa/Sirrullah, sakjroning Rahsamu ana Dzatullah, sakjroning Dzatullahmu ana Allah.

Artinya; Hyang Maha Suci Hidup memberikan Roh pada Manusia, didalam Ruhmu itu ada Sukma, didalam Sukmamu itu ada Nyawa, didalam Nyawamu itu ada Rasa, didalam Rasamu itu ada Rahsa, didalam Rahsamu itu ada Dzatullah, didalam Dzatullahmu itu ada Hyang Maha Suci Hidup.

Pengertian diatas menunjukkan bahwa Hyang Maha Suci Hidup, ada dalam Hati/Qalbu kita masing-masing, yang mana kita tidak diperbolehkan menyakiti orang lain, karena Hyang Maha Suci Hidup juga tinggal dihati orang tersebut, maka jika kita menyakitinya, sama artinya kita menyakiti Hyang Maha Suci Hidup, demikian pula jika kita menipu orang lain, sama artinya dengan menipu Hyang Maha Suci Hidup, dll.

Banyak orang takut dengan Harimau karena tatapan matanya, tapi,,, yang paling di takuti oleh Manusia adalah Kareb (Keinginan)nya, padahal jika kita mau menyimak kekisruhan tentang kondisi dunia sekarang, semua ini sebenarnya hanyalah Kareb atau Keinginan penyebabnya, yang bersumber dari Pikiran.

Sebab itu Wahyu Panca Gha’ib memberikan petuah di dalam Wahyu Panca Laku yang pertama, yaitu Manembahing Kawula Gusti, sebagai berikut;

Usrege ndonya iku, sejatine mung sakecape lambe, yoiku “KAREP”, ananging tentreming ndonya, iku uga sakecape lambe, yoiku “ELING”, lelakua nganggo kekarepanmu, ananging tetekena nganggo Elingmu.

Artinya; Kesemrawutan dunia ini, itu sebenarnya Cuma sekecap bibir saja, yaitu Ingin, tetapi tentramnya dunia ini, sebetulnya juga sekecap bibir saja, yaitu Ingat, berjalanlah dengan keinginanmu, tetapi pakailah dengan tongkat keingatanmu.

Maksudnya; Jika kita memiliki suatu keinginan, silahkan jalankan jika itu sudah sesuai dengan kekuatanmu, agar tidak memeras akal pikiran maupun tenaga, yang akhirnya akan menjerumuskan dalam penyimpangan pada Jalan Hyang Maha Suci Hidup.

Wahyu Panca Laku Yang Kedua, yaitu;
Manunggaling Kawula Gusti.
Pada Tingkatan Laku Manunggaling Kawula Gusti ini, pada Hakikatnya. Ngonceki atau ambuka sesanguning urip ( Mengupas atau membuka bekal hidup).

Pada tataran ini, pengertian sikap Manembah kita sudah kuat, atau menginjak pada tingkat RASA dan BATHIN, demikian pula keniyatannya, niyat kang saka Rasa kasebut Manteb, niyat kang saka Bathin kasebut Meneb.

Niyat yang dari Rasa disebut Mantap, Niyat yang dari Bathin disebut Menep.
Artinya; Seseorang yang sudah memasuki pada tingkat ini, diharuskan tidak ragu-ragu atau berani, dan tidak diperbolehkan bersipat Adigang, adigung, adiguna atau merasa sombong.

Seperti telah dijelaskan diatas. bahwa Raga/Tubuh adalah Buatan Manusia. (Bapa dan Ibu), sedang Sukma adalah buatan Hyang Maha Suci Hidup.

Jika bersekolah itu sama artinya memintarkan akan diri kita (Raga), karena Raga adalah buatan Bapa dan Ibu (Orang Tua) kita, maka yang membiayai sekolah, adalah Orang tua, selaku penanggung jawab adanya Raga ini, untuk hidup didunia, karena selaku penanggung jawab atas buatannya, maka Orang Tua akan memberikan bekal kepandaian, agar kepandaian tersebut dapat dipergunakan sebagai “Bekal ” atau Sangu saat dia ” Hidup ” dalam ” Dunia Baru ” yang akan ditempatinya yaitu Berkeluarga, tentunya selain memberikan makan setiap harinya, demikian halnya Hyang Maha Suci Hidup.

Hyang Maha Suci Hidup-pun, sudah pasti akan bertanggung jawab atas Roh/Sukma yang dibuatnya, untuk itulah, maka Hyang Maha Suci Hidup telah memberikan Sangu atau Bekal yang diberikan, dan sangu tersebut yang menerima serta yang membawa adalah Sukma (Roh Suci yang disuruh tinggal dalam Tubuh Manusia), maka dalam peringkat Manunggaling Kawula Gusti ini, melalui Wahyu Panca Laku, guru sejati kita, akan banyak menuntun kita ke pelajaran tentang Sangu atau Bekal yang diberikan Hyang Maha Suci Hidup, yang dibawa oleh Sukma, dalam menempuh Kehidupan di dunia, yang disebut dengan Sesanguning Urip.

Karena Manunggaling Kawula Gusti, itu mengupas tentang Sesanguning Urip (Bekal Hidup), maka secara otomatis pula, kita selalu berhubungan dengan Sukma, praktis dan otomatis akan berhubungan dengan bathin kita, atau hal-hal yang tidak kasat mata (tidak terlihat).

Dalam mengupas Manunggaling Kawula Gusti, haruslah mengerti dan paham terlebih dahulu tentang Menembahing Kawula Gusti, hal itu sangat diperlukan agar tidak kesasar ing tembe (salah arah dikemudian), dalam artian. Patrap Kunci-nya benar-benar sudah benar.

Apalagi jika sudah mengupas tentang RAGA dan SUKMA, dimana akan ada kemampuan Manusia, tentunya dengan seijin Hyang Maha Suci Hidup, untuk melakukan tehnik pemanggilan, bahkan komunikasi dengan Ruh atau Sukma yang dalam pengertian tersebut, disebut dengan NGGEROG SUKMA, dalam Nggerok Sukma sendiri, terbagi menjadi tiga katagori. Yaitu;

1. Raga Sukma, yaitu mewujudkan akan Ruhnya sendiri, yang lazim disebut Sukma Sejati, namun jika si Sukma memberikan akan Nasehat atau Kekuatannya, itulah yang disebut Guru Sejati.

2. Rogoh Sukma, yaitu mengambil atau memanggil Ruh orang lain.
3. Nggedok Sukma, yaitu memanggil Ruh lain, selain manusia atau Ruh orang yang telah meninggal atau mengupas kekuatan Hyang Maha Suci Hidup yang lain, dimana kekuatan atau Ilmu Hyang Maha Suci Hidup itu, jika dilihat dari Firman-Nya; Ilmu Hyang Maha Suci Hidup itu, jika ditulis di semua daun sedunia ini, dengan tintanya air sesamodra, tidak akan cukup.

Seperti yang sudah pernah saya wedarkan dalam Wejangan Tanpa Tedeng aling-aling, soal Manunggaling Kawula Gusti, selalu saya mengatakan “Ingsun iku Allah, Allah uga Ingsun”, bukan berarti Saya ini Allah/Tuhan atau Hyang Maha Suci Hidup, namun mengillustrasikan/mengajarkan bahwa yang dimaksud akan Ingsun disini adalah Diri kita, semua yang mendengarkan saat itu, hal tersebut seperti yang lazim disebutkan oleh kebanyakan orang “Kita harus selalu memohon pada yang Diatas ” mereka menyebut itu sambil jari telunjuknya menunjuk keatas, Apakah itu berati Allah ada diatas ? diatas manakah itu ?, pengertian ini menjelaskan bahwa Hyang Maha Suci Hidup ada diatas Segala-galanya, itu maksudnya.

Wahyu Panca Laku Yang Ketiga, yaitu;
Leburing Kawula Gusti.
Leburing Kawula Gusti, adalah Patrap/tingkatan dalam Wahyu Panca Laku yang cukup tinggi, karena Leburing Kawula Gusti, adalah umpak/pondasinya Asmo, untuk memasuki serta mendalami akan Leburing Kawula Gusti ini, siapapun dia, haruslah Benar-benar telah memahami Laku kesatu dan kedua, yaitu Manembahing Kawula Gusti dan Manunggaling Kawula Gusti, dalam artinya. Kunci dan Paweling-nya. Benar-benar sudah benar.

Laku Leburing Kawula Gusti ini, bisa dikatakan sudah tidak mengharapkan apa-apa, dan dapat pula dikatakan, pada posisi tingkatan ini, adalah suatu sipat dan sikap dalam menyongsong akan kematian diri pribadi, dengan tingkat Kasampurnan.

Artinya; Bahwa pada tingkatan ini, si pelaku Wahyu Panca Gha’ib, hanya memohon atau menggugat pada Hyang Maha Suci Hidup, mengapa Hyang Maha Suci Hidup yang digugat..?

Menggugat disini, memiliki arti, bahwa Ruh yang diberikan Hyang Maha Suci Hidup, pada saat Raga masih dalam kandungan (Janin) dan Ruh mengikuti Raga tersebut, keluar dari Gua Garba Ibu, untuk hidup didunia ini, maka jika kelak Raga/Wujud Manusia mati, atau Ruh Suci kembali ke hariba’an Hyang Maha Suci Hidup, maka dimohonkan, kiranya Hyang Maha Suci Hidup, mengabulkan, agar Ruh Suci atau Hidup, membawa pula Jiwa Raga-nya atau dalam istilah lain di sebut, sedulur papat kalima pancer atau Kawula Gusti-nya.

Inilah yang di sebut-sebut oleh kebanyakan orang, sebagai. MUKSA atau KAMUKSAN, yang artinya, mati tanpa meninggalkan bekas Raga/Jasad. Sempurna/Habis/Tamat tanpa bekas tanpa sisa. Tuntunan untuk kedua hal ini, hanya bisa di peroleh, jika telah sampai ke tingkatan “Wahyu Panca Laku” Hakikat Hidup ke empat dan kelima, yaitu Sampurnaning Kawula Gusti dan Sampurnaning Pati Urip.

Pembelajaran Khusus untuk Tahapan Ke’empat dan Kelima ini. Tentang Sampurnaning Kawula Gusti dan Sampurnaning Pati Urip. telah saya rangkum secara Khusus pula, dalam satu buku karya Pribadi saya. Yang Berjudul “KUNCI THE POWER” dengan maksud dan tujuan, untuk mempermudah Syi’ar saya, dalam menyampaikan keBenaran Hyang Maha Suci Hidup. Dengan Iman Cinta Kasih sayang.

Sebab…
Tentang Dua Tahap Laku inilah, yang tidak bisa saya syi’arkan dengan Bebas tanpa kendali. Maksudnya, tanpa adanya bimbingan dari saya, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Karena, risikonya yang sangat tinggi dan dalam, serta bisa berakibat fatal jika sampai salah dalam Penerapan Pembelajaranya. Dengan alasan itulah, saya berkesimpulan, untuk membukukannya, agar saya tetap bisa mensyi’arkan kebenaran ini, walau tidak berhadapan secara langsung, karena dengan Buku tersebut, mau tidak mau, akan terjalin kemunikasi tanya jawab, antara saya dan yang sedang belajar, untuk itu, saya INGATkan. Bagi para Kadhang Kinasih saya, yang telah berhasil memiliki Buku “Kunci The Power” dari saya. Tolong… Bertanyalah kepada saya, jika ada yang tidak di Pahami, jangan berusaha mencari sendiri kalau tidak Mengerti. Sekian dan Terima Kasih _/\_

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, maafkan lah saya, jika apa yang saya tulis dan saya sebarkan melalui media internet ini, adalah kesalahan yang tidak saya sengaja. saya hanya ingin menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang saya dapatkan dari-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di dunia ini. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin dan, Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan BaGu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Handphon: 0858 – 6179 – 9966
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com