“PADEPOKAN ONLINE PESONA JAGAT ALIT HAKIKAT HIDUP”


PADEPOKAN  ONLINE

“PADEPOKAN  ONLINE  PESONA  JAGAT ALIT  HAKIKAT  HIDUP”

‘KUNCI  THE  POWER’

MAU NGERTI  ILMU… MAU PAHAM GA’IB… ATAU MAU KAYA  DAN  SUKSES  SERTA  BANGKIT  BERJAYA  LAGI  DARI  KETERPURUKAN  DAN  KEBANGKRUTAN. TANPA  PUASA  TANPA BERTAPA  TANPA  TIRAKAT  DAN  UBERAMPE  ATAU  SARAT  RITUAL  YANG  MENGHABISKAN  PULUHAN  JUTA  RUPIYAH  TANPA TUMBAL…?!

DISINI SOLUSINYA. DAFTAR  DAN  IKUTI:

BIMBINGAN  SPIRITUALIST  SUPRANATURAL  DAN  SUPERNATURAL

KUNCI  THE  POWER  ILMU  PEMBANGKIT  SEDULUR  PAPAT  KALIMA  PANCER

DI “PADEPOKAN  ONLINE  PESONA  JAGAT ALIT  HAKIKAT  HIDUP”

Calon Peserta Yang Diterima Minimal Berusia 20tahun Keatas;

Disini Saya akan tawarkan jasa pelatihan Spiritual Supranatural dan Supernatural  baik secara syare’at maupun hakikat, dengan maksud mengamalkan kemampuan yang saya miliki secara tulus  untuk membantu saudara – saudari yang membutuhkan bimbingan, bisa dari suku manapun dan juga untuk agama apapun.  Pokoknya tak terbentur SARA.

Membuang Hawa Negatif :

sebuah kegiatan/gerakan fisik yang memporoskan pada gerakan alam bawah sadar yag telah lama terpendam dan membuat hati/pikiran berbeban berat dan mengalami strees. Pembersihan rumah dan tempat usaha bisa juga untuk memanggil  risky, memperlancar usaha/dagang/bisnis tanpa menggunakan sesajen ataupun tumbal.

Bimbingan spiritual supranatural dan supernatural ini,,, akan saya lakukan sendiri tanpa menggunakan wakli atau asisten, saya akan mendampingi anda dalam belajar spiritual supranatural dan supernatual secara pribadi, baik via online atau secara tatap muka langsung.

Dikhususkan bagi yang telah belajar kemana-mana namun belum bisa-bisa juga, Saya berani jamin  setelah mendapat bimbingan dan pemahamannya,  peserta bisa merasakan dan menggunakan kekuatan yang dia pelajari selama ini dan mengontrolnya. Dan dalam bimbingan itu nantinya juga akan diketahui bakat atau kelebihan apa yang dimiliki oleh peserta, jadi tidak pukul rata semua peserta sama cara belajarnya, bisa juga untuk belajar pengobatan atau ingin menekuni bidang supranatural dll.

Saya juga menangani pengobatan alternatif baik secara herbal maupun supranatural dan terapi dengan media pijit refleksi,  silahkan kontak jika anda membutuhkan jasa saya dalam hal pengobatan atau yang telah saya tulis diatas. Bisa datang langsung ke tempat saya. Atau mengundang saya datang.

Syarat yang harus dipenuhi:

  1. Nama lengkap + tanggal lahir
  2. Alamat lengkap + kode pos
  3. Pas Foto ukuran 4 x 6 + foto rumah
  4. Pesan/ keluhan/ Problem/ harapan yang diinginkan
  5. Mahar – Kontak/Telepon Indosat: 0858-6179-9966 Telkomsel: 0821-8735-7432

Kirimkan data-data berikut ini ke email;

djakatolos59@yahoo.co.id

toso.wijaya@yahoo.co.id
Mohon konfirmasinya ke telepon setelah mengirimkan data ke email tersebut:

“PADEPOKAN  ONLINE  PESONA  JAGAT ALIT  HAKIKAT  HIDUP”

“KUNCI  THE  POWER”

Ttd:

Wong Edan Bagu

Putera Rama Tanah Pasundan

HP: 0858-6179-9966

: 0821-8735-7432

https://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com

ALAMAT: Toso Wijaya

Tanah Abang Ds. Rusa Kencana Kec. Toili. Kab. Luwuk Banggai. Propinsi Sulawesi tengah.

Luwuk, Indonesia 94765

MEMBONGKAR HAKIKAT MEDITASI. DAMPAK NEGATIF DAN BAHAYANYA:


SEMEDI - MEDITASI
MEMBONGKAR HAKIKAT MEDITASI.
DAMPAK NEGATIF DAN BAHAYANYA:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes jumat tgl 17 januari 2015

SEDULUR… JANGAN DI KIRA SEMEDI/MEDITASI ITU TIDAK BERDAMPAK NEGATIF (BAHAYA).
Berikut ulasannya;
Semedi, meditasi, atau bertapa, merupakan sebuah praktek yang semakin populer dari jaman ke jaman hingga sampai pada masyarakat modern dewasa ini. Tradisi semedi awalnya berasal dari India dan meluas sebagai alternatif penenangan diri bagi masyarakat khususnya di Barat. Terdapat banyak usaha untuk memahami semedi dari perspektif sains ketika fenomena ini memasuki dunia barat yang rasional. Sebagai sebuah perilaku, ada dampak positif, dan ada pula dampak negatif dari semedi. Berikut tinjauan kritis mengenai dampak semedi bagi manusia, khususnya masyarakat modern.

Tinjauan dasar tentang Meditasi;
Meditasi memiliki banyak variasi. Pada dasarnya ia adalah perilaku berdiam diri dalam postur tertentu, umumnya duduk, dalam waktu tertentu yang cukup panjang. Tujuannya juga dapat bervariasi namun umumnya adalah meningkatkan kualitas diri pelaku, entah itu kewaspadaan, menyatu dengan alam, kedamaian diri, penghilangan nafsu, atau menahan diri untuk melakukan tindakan tertentu yang tidak diinginkan. Tinjauan positif negatif berikut tidak dapat digeneralisir untuk semua semedi. Pembaca harus memahami konteks semedi jenis apa yang bisa memunculkan dampak positif atau negatif yang dimaksud.

Dampak Positif;
Meditasi, diwariskan dari tradisi Buddha, saat ini mulai digunakan dalam psikologi Barat untuk mengangkat berbagai kondisi mental dan fisik. Penelitian ilmiah semedi umumnya ada dalam payung psikologi positif. Penelitian telah dilakukan selama 20 atau 30 tahun dan semakin meningkat dalam dekade terakhir. Tahun 2011, National Center for Complementary and Alternative Medicine (NCCAM) NIH melaporkan temuan studi dimana citra resonansi magnetik otak dari 16 partisipan 2 minggu sesudah dan setelah meditasi yang mengikuti program meditasi diambil oleh para peneliti dari Rumah Sakit Umum Massachusetts, Lembaga Citra Syaraf Bender di Jerman, dan Sekolah Medis Universitas Massachusetts. Penelitian ini menyimpulkan kalau:

“Temuan ini mewakili mekanisme otak yang berasosiasi dengan perbaikan kesehatan mental”

Sebuah studi bulan Januari 2011 di jurnal Psychiatry Research: Neuroimaging, berdasarkan pencitraan resonansi magnetik (MRI) dari partisipan Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR), menyatakan kalau “partisipasi dalam MBSR berasosiasi dengan perubahan konsentrasi materi abu-abu di daerah otak yang bertanggung jawab atas proses belajar dan mengingat, pengaturan emosi, proses referensi diri, dan pengambilan sudut pandang.”

Dampak Negatif Meditasi Berlebih;
Depersonalisasi.
Terdapat jenis meditasi khusus yang disebut meditasi disosiatif. Meditasi disosiatif adalah meditasi yang bertujuan untuk memisahkan individu sebagai pengamat fenomena ketimbang melibatkan individu ke dalam sebuah aktivitas. Biasanya meditasi semacam ini disebut meditasi pembebasan dengan maksud membebaskan jiwa pelaku dari sebuah pengikat, misalnya nafsu-nafsu jasmaniah dan dogma-dogma yang dianggapnya membelenggu jiwa si pelaku.

Meditasi model ini berfokus pada penghapsan ego atau self dan menjadi Semesta, atau Diri secara universal. Dua ribu tahun praktek ini dilakukan oleh masyarakat India. Praktek spiritual semacam ini telah begitu mengakar sehingga mereka lebih memandang dunia luar hanya sejauh ia ikut campur dalam kehidupan mereka secara langsung. Hal ini berakibat pada rendahnya kesadaran adanya subjek lain, sampai pada level hak dan tanggung jawab warga negara secara politik, sebuah mentalitas yang menyulitkan demokrasi dan memudahkan rezim otoriter berkuasa di level masyarakat.

Dalam psikologi, kepribadian semacam ini disebut kepribadian disosiatif. Gejala disosiatif adalah kondisi dimana seseorang merasa terlepas dari diri sendiri. Ia akan merasakan kalau dirinya atau lingkungannya sebagai sesuatu yang tidak nyata dan tidak penting. Ia akan merasakan tidak memiliki kontrol atas diri sendiri. Dalam pikirannya, dunia hanyalah sebuah perasa’an atau khayal atau juga panggung sandiwara yang muncul dari dalam dirinya sendiri.

Pertanya’annya menjadi:
Apakah saya merupakan masalah bagi tubuh ini, atau apakah tubuh ini merupakan masalah bagi saya? Pada tahap ekstrim, hal ini membawa pada bunuh diri dengan alasan membebaskan diri dari “belenggu” jasad… He he he . . . Edan Tenan.

Meditasi disosiatif bukanlah sebuah solusi yang masuk akal untuk menghadapi masalah yang dialami individu di masyarakat. Masalah penderitaan sosial adalah masalah yang nyata dan karenanya keterlibatan individu dalam masyarakat sangat dibutuhkan.

Hipoksia.
Meditasi biasanya dilakukan pada ruangan yang sepi dan sedikit mungkin derau dari luar. Kita memejamkan mata sehingga melihat langsung bintik-bintik reseptor cahaya di retina (derau seperti di layar televisi tanpa siaran). Dengan tindakan semacam ini, pikiran akan lebih mudah berfokus pada sensasi ketubuhan. Napas juga diatur sedemikian oleh pikiran (bukannya langsung tanpa sadar oleh otak). Napas yang diatur bukan hanya mengalihkan pikiran pada bagaimana bernapas yang baik namun juga membawa pada hipoksia. Hipoksia adalah kondisi dimana pasokan oksigen menjadi rendah di otak. Dalam kondisi hipoksia, pikiran menjadi sangat tenang dan napas menjadi sangat lembut. Semakin rendahnya pasokan oksigen ke otak, aktivitas otakpun semakin menurun. Jika pelaku merasakan kedamaian di saat ini, ini bukanlah kedamaian sesungguhnya secara psikis namun kedamaian buatan secara biologis.

Berfokus pada napas dan sensasi diri membuat pikiran tenang yang ditandai dengan hipoksia. Dengan adanya ketenangan pikiran, pelaku dapat berkonsentrasi pada merasakan sensasi ketubuhan. Goenka misalnya, mendaku kalau dalam kondisi ini, kita akan merasakan seluruh gerak individual molekul dan atom di tubuh kita sebagai tanda kita mulai mampu memisahkan antara jiwa dan raga. Hal ini tidak benar. Sensasi bergetar ketika berada dalam kondisi hipoksia disebabkan oleh kesemutan, hanya saja kesemutan ini berasal dari syaraf di dalam tubuh kita sendiri yang kekurangan aliran darah dan oksigen.

Lalu apa masalahnya dengan hipoksia?
Tentunya ketidaksiapan tubuh menghadapi kejutan. Seperti halnya mata yang tertutup lama tidak siap menghadapi cahaya terang, begitu juga tubuh yang terdiam pada waktu lama tidak siap untuk melakukan gerakan yang secara normal dapat kita lakukan. Jika dipaksakan, kita bisa mendapatkan serangan jantung atau setidaknya epilepsi.

Mengganggu Sistem Syaraf Otonom;
Reaktivitas otak pada sensasi inderawi merupakan hasil evolusi kita untuk bertahan hidup. Segera ketika tubuh merasakan sakit atau panas atau dingin atau kondisi berbahaya lainnya, otak memberi sinyal pada tubuh agar bereaksi sedemikian hingga menjauh dari kondisi bahaya tersebut. Ketika kita bersemedi dalam postur yang sama terus menerus misalnya, otak menganggap hal tersebut berbahaya bagi peredaran darah atau menekan beberapa syaraf penting. Karena alasan ini, otak menyuruh tubuh untuk berganti posisi.

Tindakan menahan diri dari keinginan untuk berganti posisi dengan alasan melatih diri agar tidak terpengaruh rangsangan dunia luar tubuh menjadi sebuah hal yang berbahaya. Memang beberapa reaksi tubuh dapat dipandang sebagai reaksi yang berbahaya bagi kehidupan sosial, misalnya marah, takut, egois, nafsu, agresi, stress, hiperaktivitas. Namun tubuh memiliki sistem otonomnya sendiri yang bekerja otomatis menyesuaikan berbagai banyak komponen syaraf yang mungkin tak diperhitungkan kita ketika membawanya ke ranah sadar. Ada alasan mengapa detak jantung berada di sistem syaraf otonom bukannya diatur secara sadar oleh kita. Jika hal ini diganggu, bahaya serangan jantung dapat menjadi nyata.

Ketenangan Pikiran;
Mungkin anda heran mengapa ketenangan pikiran dipandang sebagai dampak negatif. Hal ini memang cukup subjektif tetapi ketika kita bawa pada masyarakat modern sekarang, pikiran yang tidak tenang sungguh merupakan hal penting. Pikiran yang tidak tenang ditandai oleh banyaknya ucapan-ucapan saling tumpang tindih dalam otak. Dalam sekian detik, otak anda memikirkan tentang hal ini, dan sesaat kemudian pindah ke hal lain. Dalam satu menit, anda telah memikirkan banyak hal seperti masa kecil, kejadian tadi pagi, masa datang seperti apa, dan sebagainya, semua seperti potongan-potongan halaman dari ratusan buku yang bercerai berai dan disatukan secara acak dalam satu buku. Hal ini juga yang membuat “membaca pikiran” adalah sebuah tindakan yang hampir mustahil dilakukan oleh orang lain pada seseorang (profesor Xavier dalam X-Men misalnya).

Secara evolusioner, kompleksitas hidup manusia memang menuntut pola berpikir acak demikian. Otak hanya memikirkan apa yang dianggap bernilai. Adanya banyak pikiran acak bermakna ada banyak hal bernilai dalam pikiran yang harus diproses otak. Hal ini membawa pada satu kelebihan dari berpikir tidak tenang:

Ia merupakan sumber dari pemikiran kreatif. Dari sekian banyak hal tidak berhubungan yang dipikirkan seseorang dalam satu menit akan ada satu hubungan mendadak tak terduga. Ini sebuah pemikiran baru dan apabila individu memutuskan untuk memikirkannya lebih jauh, hal tersebut dapat menjadi hal yang mengejutkan (baik ataupun buruk) seperti penemuan solusi baru atas masalah penting atau penemuan ide untuk menjadi kaya. Dalam dunia penuh persaingan di masa modern, pemikiran kreatif sangat dibutuhkan.

Hilangnya Penghargaan Pada Estetika;
Dalam meditasi jenis tertentu, pelaku menjadi sangat terfokus pada dirinya sendiri. Dunia luar menjadi sesuatu yang sekunder. Akibatnya adalah individu menjadi egois sejati. Ia tidak memandang pemandangan alam, bintang-bintang, keluarga, seks, tetesan hujan, bunga-bunga, dan deburan ombak sebagai sesuatu yang indah. Mereka adalah nafsu. Pada taraf tertentu, mereka bahkan tiba pada kesimpulan kalau dunia ini hanya ilusi dan panggung sandiwara kehidupan. Walaupun hal tersebut merupakan perdebatan dalam ranah filsafat, satu hal yang pasti adalah hilangnya sistem nilai yang mengikat kemasyarakatan.

Kesimpulan;
Meditasi memiliki manfaat cukup baik bagi jiwa manusia, tetapi jika dilakukan tanpa pengertian dan pengetahuan secara mendalam serta tanpa pembimbing yang sudah memiliki ke ahlian tentang dan soal Meditasi/Semedi, hasilnya justru berbalik, bukan hanya berbahaya bagi jiwa tetapi juga bagi jasad. Beberapa bentuk meditasi bahkan bisa digantikan dengan bentuk penajaman konsentrasi lainnya. Diperlukan sebuah kebijaksana’an untuk mensikapi segala klaim yang datang dari jasa meditasi agar keinginan kita untuk menjadi lebih baik dapat terfasilitasi… Jadi, jangan asal Anda melakukan Meditasi/Semedi. Kenali dulu jenis Meditasi Anda dan Pahami dulu pengertian detilnya, untuk hal ini, kita butuh dan perlu Guru/Pembimbing secara langsung… HE HE HE . . . EDAN TENAN.:-) SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU SAUDARA-SAUDARIKU SEMUANYA TANPA TERKECUALI… SEMOGA POSTINGAN SAYA KALI INI. BISA LEBIH BERMANFAAT LAGI DARI ARTIKEL-ARTIKEL SEBELUMNYA…
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

https://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com

MEMBONGKAR HAKIKAT BERTAPA DAN BERI’TIKAF:


WONG EDAN BAGU

MEMBONGKAR HAKIKAT BERTAPA DAN BERI’TIKAF:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan
Brebes jumat tgl 17 januari 2015

Seperti yang sudah kita ketahui bersama,,, Sejak jaman bahula, jamannya Kearaja’an adigang adiguna sampai modern sekarang ini. Masih, banyak orang-orang baik itu jawa maupun arab india, kususnya jawa di negeri kita ini yang melakukan lelaku bertapa atau semedi. Berdiam diri di tempat-tempat yang dianggap keramat atau angker. Entah itu karena perintah guru spiritualnya, atau karena inisiatif sendiri. Bahkan ada juga yang bertapa atau bersemedi di tempat-tempat tertentu karena telah mendapatkan bisikan ghaib untuk melakukan lelaku tersebut.

Mereka meninggalkan kantor atau tempat kerja bahkan keluarga, serta mengosongkan waktu dari agenda dan aktifitas lainnya dalam beberapa hari untuk pergi ke suatu tempat dan berdiam diri di sana. Dan tidak hanya itu, mereka juga rela meninggalkan istri tercinta yang masih cantik molek geboy serta anak-anak tersayang yang lucu-lucu atau keluarga lainnya untuk melakukan pertapa’an.

Ada yang bermaksud untuk menenangkan diri, mengistirahatkan pikiran dari jadwal kerja yang membebani. Sebagaimana ada juga yang bertujuan untuk mencari ketenangan batin, mencari benda keramat, memburu wangsit, menggembleng diri, atau untuk memperoleh kesaktian dan kadikdaya’an bahkan harta atau benda (Kekaya’an), dan ada pula yang mengharapkan datangnya nomor buntut untuk pasang lotre atau togel… He he he . . . Edan Tenan.

Untuk mengikat pemahaman kita tentang bertapa, marilah kita simak definisi bertapa menurut Kamus Bahasa lndonesia. “Bertapa adalah pergi ke tempat yang sunyi dan lengang, menjauhkan diri dari keramaian untuk berkhalwat, menyucikan diri dari dosa, untuk memperoleh kesaktian, atau kekuatan batin.” (Kamus Umum Bahasa lndonesia: 1434). Dan dalam kamus lain, “Bertapa adalah mengasingkan diri dari keramaian dunia dengan menahan nafsu (makan, minum, tidur, birahi) untuk mencari ketenangan batin.” (Kamus Besar Bahasa lndonesia: 1142).

Adapun Semadi yang sering dilafazhkan dengan kata semedi mempunyai makna yang sedikit berbeda dengan bertapa. Bersemadi adalah memusatkan segenap pikiran dan perasaan. (Dengan meniadakan segala hasrat jasmaniah). (Kamus Besar Bahasa lndonesia: 1024). Makna semadi hampir sama dengan meditasi. Yaitu memusatkan pikiran dan perasaan untuk mencapai sesuatu. (Kamus Besar Bahasa lndonesia: 727).

Lalu apa kaitannya bertapa dan bersemadi dengan beri’tikaf yang merupakan ibadah kita sebagai umat beragama kususnya lslam?
Ada persama’an dan perbeda’an antara keduanya. Dan sebelum kita tarik benang persama’an dan perbeda’annya, marilah kita simak terlebih dahulu definisi I’tikaf itu sendiri.

lbnu Hajar berkata: “I’tikaf menurut bahasa adalah menempati suatu tempat dan menahan diri di tempat tersebut”. Sedangkan pengertian l’tikaf menurut syari’at lslam adalah berdiam di masjid yang dilakukan seseorang dengan niat tertentu dan dengan aturan tertentu.” (Fathul Bari: 4/271). Adapun ar-Raghib al-Ashfahani mengatakan: “l’tikaf menurut istilah adalah menahan diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri (kepada Allah).” (Gharibul Qur’an: 343).

Dari definisi tersebut, bisa disimpulkan bahwa bertapa ada persama’annya dengan beri’tikaf, walaupun ada juga perbedaan antara keduanya. Sedangkan bersemadi atau bermeditasi, hampir sama pengertiannya dengan bertafakkur atau berkhalwat. Sehingga di halaman lain Kamus Bahasa lndonesia menyebutkan bahwa Bermeditasi adalah melakukan Samedi atau tafakur dan berkhalwat. (Kamus Umum Bahasa lndonesia: 881 ).

Antara Bertapa dan Beri’tikaf;
Sebagian orang muslim yang suka bertapa atau bersemadi di tempat-tempat yang sunyi, terpencil atau yang beraroma keramat dan angker, atau tempat yang jauh dari keramaian dan kebisingan, mendasarkan perbuatan mereka atas perbuatan yang pernah dilakukan Rasulullah SAW. bahwa Rasulullah SAW. semasa hidupnya juga suka bertapa di goa Hiro’.

Dan ada juga yang mendasarkan ritual bertapa yang dilakukan pada pertapa’an yang telah dilakukan oleh Sunan Kalijaga sebagaimana yang ditayangkan di sinetron dan film-film walisongo, atau tertulis dalam buku-buku yang bercerita tentang sejarah kehidupan walisongo. Yang katanya ia bertapa di pinggir kali dengan menunggui tongkat gurunya (Sunan Bonang) samapai berlumut. Padahal ceriata belum tentu benar adanya, atau sekadar bumbu cerita. Dan seandainya cerita itu benar adanya, maka apa yang dilakukan Sunan Kalijaga saat itu tidak bisa kita jadikan sebagai dalil bahwa bertapa adalah ibadah. Karena dia bukanlah nabi atau rasul yang ma’shum.

Sebetulnya apa yang dilakukan Rasulullah SAW. di goa Hiro’ itu secara bahasa bisa dikatakan sebagai bertapa atau I’tikaf. Karena bilau berdiam diri di suatu tempat dan menjauhi serta memutuskan hubungan denga hal yang sifatnya duniawi. Tapi ada yang beliau lakukan tidak sama dengan pemahaman bertapa yang dilakukan sebagian ummat muslim dewasa ini. Berdiam diri di suatu tempat, baca mantra tertentu dan minta kekuatan dan kesaktian kepada penghuni tempat tersebut.

Rasulullah SAW. pergi ke goa Hiro’ itu untuk menyendiri, menjauhi hiruk-pikuk kejahiliyahan, lalu melakukan ibadah di sana dengan cara ibadah yang telah disyari’atkan kepada Nabi lbrahim. Dan itu pun beliau mulai sejak mendapatkan wahyu melalui mimpi-mimpi yang benar. Beliau tidaklah bermimpi pada malam hari, kecuali pagi harinya terbukti apa yang beliau mimpikan tersebut.

Keterangan seperti itu telah disampaikan Aisyah melalui beberapa hadits yang telah dibukukan para ulama’ hadits. Di antaranya, Aisyah berkata, “Pertama kali Rasulullah SAW. menerima wahyu adalah melalui mimpi-mimpi yang benar dalam tidurnya. Tidaklah beliau bermimpi kecuali paginya terbukti kebenarannya. Setelah itu beliau suka menyendiri. Beliau berkhalwat di goa Hiro’ seraya berbekal secukupnya, dan beribadah di dalamnya selama beberapa hari. Lalu kembali ke keluarganya (rumah Khadijah), kemudian pergi ke goa Hiro’ lagi seraya membawa bekal secukupnya. Hal itu terus beliau lakukan sampai beliau didatangi Malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu kepadanya …”. (HR. Bukhari, no. 2 dan 3).

lmam al-Baihaqi meriwayatkan bahwa beliau mengalami mimpi-mimpi kenabian itu selama 6 bulan lamanya, tepatnya dimulai pada bulan Rabi’ul awwal setelah umur beliau genap 40 tahun. Setelah itu, pada bulan Ramadhan dalam tahun tersebut, beliau baru mulai didatangi malaikat Jibril (di goa Hiro’) untuk menerima wahyu yang pertama dari Allah. (Kitab Fathul Bari: 1/27 dan Kitab ar-Rahiqul Makhtum: 66).

Dan semenjak beliau diangkat menjadi rasul, tidak ada satu riwayatpun yang menjelaskan bahwa beliau masih melakukan khalwat atau menyendiri dan mengasingkan diri dari komunitas para shahabatnya. Seakan-akan beliau telah memberitahukan kepada kita bahwa khalwat itu telah diganti dengan I’tikaf, sebagaimana yang beliau lakukan setiap sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan, atau pada hari dan momentum lainnya. Selamat tinggal bertapa dan selamat datang I’tikaf.

Dan pembahasan kita tentang topik ini adalah dalam prespektif agama lslam, bukan agama lainnya. Karena petunjuk kita adalah lslam, yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Dan ini adalah bahan introspeksi intern bagi kita ummat lslam. Karena masih banyaknya saudara-saudara kita yang masih menggandrungi lelaku bertapa, dan menjadikannya sebagai bagian dari ritual dalam hidupnya.

Persamaan Antara Bertapa Dan Beri’tikaf;
Secara bahasa, I’tikaf itu artinya berdiam diri, menempati suatu tempat untuk kebaikan atau keburukan. Karena dalam susunan redaksi ayat al-Qur’an, Allah juga menggunakan kata I’tikaf saat menjelaskan bahwa orang-orang kafir suka berdiam diri di depan patung-patung untuk menyembahnya.

Allah SWT. berfirman menceritakan sikap kaum nabi Musa yang tercela, “Dan Kami seberangkan Bani lsrail ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang (berdiam diri) tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)”. (QS. al-A’raf: 138).

Dan Allah juga menceritakan dalam surat yang lain tentang kemungkaran kaumnya Nabi lbrahim yang suka beri’tikaf di depan patung-patung untuk melakukan peribadatan,“ (lngatlah), ketika lbrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu berdiam diri (tekun) beribadah kepada-nya?” (QS. al-Anbiya’: 52).

Begitu juga dalam surat lainnya, Allah menggunakan bahasa I’tikaf bagi orang-orang yang berdiam diri di masjid untuk menyembah dan menghambakan diri kepada-Nya, “… (tetapi) Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya…”. (QS. al-Baqarah: 187).

Sehingga bisa kita simpulkan bahwa secara bahasa, beri’tikaf dan bertapa itu secara bahasa mempunyai kesamaan. Sebagai sarana untuk menyembah kepada Allah dan juga untuk menyembah kepada selain Allah. Orang yang bertapa di tempat tertentu untuk memohon kekuatan dan petunjuk syetan, secara bahasa juga bisa disebut dengan I’tikaf. tapi bila ditinjau dari kacamata syari’at lslam, antara keduanya tentu jauh berbeda.

Adapun sisi-sisi kesamaan antara bertapa dan beri’tikaf, di antaranya adalah.

1. Menempati tempat tertentu;
Orang yang beri’tikaf sama dengan orang yang bertapa, yaitu menempati tempat-tempat tertentu alias bukan sembarang tempat. Meskipun obyek tempat yang dituju oleh orang yang ber’itikaf dan yang bertapa berbeda. Orang yang beri’tikaf tempat yang dituju adalah masjid-masjid. Sedangkan orang yang bertapa, biasanya adalah tempat-tempat yang sunyi, jauh dari keramian atau terpencil. Atau tempat-tempat yang dianggap keramat atau wingit.

2. Memutuskan hubungan duniawi;
Orang yang beri’tikaf dan yang bertapa dianjurkan untuk memutuskan hubungan yang sifatnya duniawi untuk sementara waktu. Meskipun dalam hal ini, pantangan bagi orang yang bertapa lebih ekstrim. Sampai-sampai mereka tidak memperhatikan lagi kondisi badannya. Tidak mandi, bahkan ada yang tidak bergerak sama sekali. Jangankan untuk mencuci baju atau memotong rambutnya, untuk makan dan minum saja mereka tidak mempedulikannya lagi. Dan hal itu berbeda dengan orang yang beri’tikaf.

3. Disibukkan dengan ibadah tertentu;
Orang yang beri’tikaf dan bertapa sama-sama menyibukkan diri dengan ibadah tertentu. Mereka konsentrasi penuh untuk mendekatkan diri kepada yang selama ini diyakini mampu untuk melindungi dirinya atau memberi kekuatan lebih baginya. Dan tidak semua jenis ibadah boleh dilakukan orang yang sedang beri’tikaf, sebagaimana hal itu juga berlaku bagi orang yang sedang bertapa.

4. Mendekatkan diri kepada yang di atas;
Orang yang beri’tikaf dan yang bertapa sama-sama mempunyai tujuan, yaitu mendekatkan diri mereka kepada yang di atas. Walaupun yang dimakud dengan yang di atas di sini berbeda-beda, tergantung keyakinan. dan agama masing-masing. Bagi orang islam yang melakukan I’tikaf, tujuannya sangat jelas sekali, yaitu mendekatkan diri kepada Allah. Kalau ada orang yang beri’tikaf dan tujuannya Selain dari itu, berarti ada penyimpangan tujuan dalam ibadahnya.

5. Mencari ketenangan batin;
Termasuk sasaran yang dibidik orang yang beri’tikaf dan yang bertapa adalah mencari ketenangan batin. Mereka berusaha untuk mengistirahatkan pikiran dan jiwa mereka dari beban-beban dunia dan tugas-tugas harian yang melelahkan. Mereka berusaha untuk rehat dan relakasi ruhani serta mengevaluasi diri. Menguatkan ruhani dan batin serta menjauhkan diri dari dunia untuk sementara waktu.

6. Mengevaluasi diri;
Banyak orang yang bertapa di tempat yang sunyi dan sepi dan menjadikannya sebagai sarana evaluasi diri. Entah karena sering mengalami kegagalan dalam hidupnya, sering menjumpai kesialan dalam kesehariannya, atau sering menderita berbagai macam penyakit dan malapetaka lainnya. Dengan bertapa, mereka berusaha mengevaluasi perialanan hidupnya selama ini. Begitu juga orang yang beri’tikaf

7. Membersihkan kesalahan dan dosa;
Di antara tujuan orang yang bertapa adalah membersihkan kotoran diri yang selama ini mereka lakukan. Mereka ingin mensucikan diri dan meningkatkan kualitas ruhani, agar keinginan yang diharapkan bisa terkabul. Begitu juga orang yang beri’tikaf, mereka berharap dengan ibadah-ibadah yang dilaksanakan pada saat I’tikaf tersebut bisa melebur dosa dan kesalahan yang ada. Allah berfirman, “… Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk …”. (QS. Hud: 114).

Perbedaan Antara Bertapa Dan Beri’tikaf;
Kalau kita memperhatikan pengertian I’tikaf dari sisi bahasa, maka kita akan menjumpai beberapa persamaan antara I’tikaf dengan bertapa. Tapi kalau kita memperhatikannya dari sisi syari’atnya, maka sungguh berbeda antara I’tikaf dengan bertapa, meskipun sebagian orang yang melakukan pertapaan merasakan hasil yang mirip dengan hasil yang dicapai oleh orang yang beri’tikaf.

Adapun beberapa perbedaan antara keduanya adalah sebagai berikut.

1. lbadah dengan bukan ibadah;
I’tikaf adalah bagian dari ibadah yang telah disunnahkan oleh Rasulullah SAW. terutama I’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan, sebagaimana isi hadits yang telah disampaikan Aisyah. Sedangkan bertapa bukanlah bagian ibadah yang disyari’atkan lslam. Apalagi bila pertapaan itu dilakukan dalam waktu beberapa jam atau beberapa hari, dengan meninggalkan shalat dan ibadah wajib lainnya. Dan dewasa ini masih banyak saudara-saudara kita seislam yang melakukan pertapaan dengan tujuan dan maksud tertentu. Mereka lebih suka bertapa di tempat-tempat yang dianggap keramat daripada I’tikaf di masjid.

2. Niat mencari kesaktian, bukan mencari pahala;
Sebagaimana yang tertulis dalam beberapa buku yang menjelaskan tentang ilmu kesaktian dan kadigdayaan, mayoritas orang muslim yang melakukan pertapaan, niat utamanya adalah mencari kesaktian. Mengharap datangnya bisikan ghaib atau wangsit. Sedangkan orang yang I’tikaf niatnya adalah mendekatkan diri kepada Allah dan mencari pahala atau balasan dari-Nya. Bukan kesaktian dan kadikdayaan yang mereka cari, tapi ketaqwaan kepada Allah. Karena Allah telah menyatakan bahwa orang yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa, bukan yang paling sakti.

3. Tujuannya mendapatkan wangsit, bukan mendapatkan petunjuk;
Kalau kita mau berkunjung ke tempat-tempat yang dianggap keramat di penjuru negeri ini, niscaya akan kita dapatkan beberapa orang yang malah berhari-hari menetap di tempat tersebut. Mereka datang bukan untuk kunjungan sejarah atau wisata daerah, tapi untuk memburu wangsit dan bisikan ghaib yang ada di tempat tersebut. Mereka bertapa dan merapal (mewirid) bacaan atau mantra tertentu dan disertai dengan bawaan (sesajen) khusus.

Sedangkan orang yang beri’tikaf tujuannya adalah mencari dan mengharap petunjuk dari Allah. Dalam I’tikafnya, mereka melaksanakan shalat, membaca al-Quraan dan menelaah isi dan maknanya, memahami pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Membaca dzikir-dzikir yang telah diajarkan Rasulullah SAW. membaca buku dan mengkaji ilmu keislaman, sehingga ilmu keagamaannya bertambah. I’tikaf baginya berfungsi untuk perbaikan diri dan pembekalan ilmu untuk hidup yang akan datang.

4. Di masjid, bukan di tempat yang dianggap keramat;
Tidak ada tempat lain bagi orang yang melaksanakan I’tikaf, selain masjid. Sebagaimana yang difirmankan Allah SWT. “… Dan anganlah kamu campuri mereka itu (isteri), sedang kamu beri’tikaf dalam masjid …”. (QS. al-Baqarah: 187). Sedangkan tempat bertapa biasanya adalah tempat-tempat yang dianggap keramat. Seperti kuburan tokoh-tokoh besar, makam-makam kuno, di bawah pohon-pohon besar, pinggiran sungai atau laut, sekitar air terjun, goa-goa atau bukit-bukit, gunung-gunung dan hutan belantara, dan tempat lain sejenisnya.

5. Sunnah Rasul, Sunnah Leluhur;
I’tikaf adalah sunnah Rasulullah yang selalu beliau lakukan semenjak beliau hijrah ke Madinah, sampai akhir hayat beliau. Beliau juga mengajak keluarga dan isteri-isterinya untuk melakukan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Begitu juga para shahabat-shahabatnya serta generasi yang datang sesudahnya, mereka suka melakukan I’tikaf, bahkan banyak di antara mereka yang menjadikan I’tikaf sebagai obyek nadzar.

Sedangkan bertapa bukanlah sunnah Rasulullah SAW. Semenjak beliau diangkat sebagai nabi dan rasul, beliau tidak pernah melakukan pertapaan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang lslam dewasa ini. Kalau bertapa bukan sunnah Rasulullah, berarti itu adalah sunnah syetan. Orang yang beribadah dengan cara bertapa, berarti ia mendekatkan diri kepada syetan. Apabila ia mendapat kekuatan atau kesaktian pasca bertapanya, itu adalah kekuatan syetan. Kalau ia mengaku mendapatkan wangsit saat bertapa, itu adalah wangsit syetan dan bukan petunjuk Allah.

Dengan demikian, kini bukan saatnya lagi kita mencari petunjuk Allah dengan cara bertapa. Apabila ingin meningkatkan ketajaman spiritual, bukan dengan jalan bertapa. Apabila ingin mencari ketenangan batin, bukan dengan cara bertapa. Apabila ingin menghilangkan stress dan melakukan releksasi, bukan bertapa medianya. Tapi, I’tikaf. Ya…, I’tikaf. karena dalam I’tikaf kita bisa berhubungan langsung dengan Allah, secara lebih intens dan konsentrasi penuh. Sinyalnya tidak terganggu dengan hiruk pikuk keduniawian.

Dalam I’tikaf, kita bisa shalat, puasa, dzikr, baca al-Qur’an, belajar ilmu-ilmu agama, untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon tambahan petunjuknya. Kalau sudah ada I’tikaf, kenapa masih bertapa?

6. Bertapa Membahayakan Jiwa sedang I’tikaf Tidak;
Bertapa dengan tidak makan dan tidur berhari-hari dengan bersemedi ditempat yang terpencil dan berbahaya (didalam gua, dekat jurang, dipinggir laut yang dalam) dapat membahayakan jiwa, sedangkan I’tikaf sangat aman sebab tidak ada larangan tidak tidur atau makan berhari-hari atau ditempat yang ekstrim. Contoh kasus bertapa yang meman korban jiwa, bisa dibaca pada artikel dibawah ini.

Dikutip dari sini;
Pria tak beridentitas yang diperkirakan seorang pertapa ditemukan tewas mengenaskan. Selain sudah membusuk, sebagian tubuhnya sudah tak berbentuk lagi karena dagingnya mengelupas.

Pria yang diperkirakan berusia 35 tahun itu ditemukan di tepi laut dan diduga sebagai pertapa karena ditemukan di bibir Goa Cina, yang berlokasi di tepi pantai selatan, Dusun Rowoterate, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Diperkirakan, korban tewas akibat kelaparan setelah berhari-hari menjalani tirakat batin (pasa ngembleng/ tanpa makan dan minum).

Saatnya Beri’tikaf bukan Bertapa;
I’tikaf disunnahkan tidak hanya di bulan Ramadhan saja, ia juga bisa dilakukan pada bulan-bulan lain. Hanya saja ketika dalam bulan Ramadhan anjuran I’tikaf lebih ditenkankan lagi, terutama di sepuluh hari terakhir pada bulan suci tersebut. Dalam sebuah hadits dijelaskan. Aisyah berkata, “Apabila Rasulullah memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau menghidupkan malamnya, membanngunkan keluarganya, mengencangkan ikat pinggangnya (meningkatkan ibadahnya dan menjauhi isterinya).” (HR. Muslim, no. 2008, Bab I’tikaf).

Kita memerlukan waktu untuk melepas kepenatan yang selama ini cenderung menumpulkan ketajaman spiritual kita. Kita butuh waktu untuk menjauhi rutinitas kerja yang selama ini berpotensi mengotori kebersihan hati. Kita perlu waktu untuk beristirahat beberapa saat dari beban-beban yang terpanggul dalam pundak kita. Kita harus punya waktu untuk mengistirahatkan mata, telinga, mulut dan anggota badan lainnya dari gesekan dan percikan kemaksiatan yang bertaburan di sekitar kita. Dan waktu yang kita maksud di sini adalah waktu I’tikaf, bukan bertapa.

Bulan Ramadhan adalah momentum yang sangat tepat untuk melakukan I’tikaf. Berbulan-bulan lamanya, tenaga dan pikiran kia diporsir untuk kegiatan dakwah dan rutinitas lerja sehari-hari. Sekarang tibalah saatnya untuk mengevaluasi sejauh mana keberhasilan dakwah yang sudah kita lakukan. Merenungkan kegiatan sehari-hari yang terus melaju seakan tak mau berhenti, apakah semuanya itu dalam rangka ibadah kepada Allah atau malah menjauhkan kita dari Allah.

Berbulan-bulan lamanya, tenaga dan pikiran kita terkuras untuk berbagai macam aktifitas. Bukankah sekarang tiba saatnya untuk rehat sejenak, mengisi ulang perbendaharaan keilmuan kita, memulihkan stamina dan mengatur strategi kembali, demi kesuksesan dan keberhasilan aktifitas di masa yang akan datang. Pada bulan suci ini, kita bersihkan hati dari berbagai macam kotoran yang bisa merusak atau melumpuhkan motor tujuan hidup yang sejati, kita bekali diri dan kita menyusun strategi kembali, dengan melaksanakan I’tikaf beberapa hari.

Dalil Disyari’atkan I’tikaf;
Allah berfirman, “Dan janganlah kamu campuri mereka itu (isteri-isteri), sedang kamu beri’tikaf.” (QS. Al-Baqarah: 187). Dan beberapa riwayat berikut menjelaskan bahwa Rasulullah SAW. telah menjadikan I’tikaf sebagai ibadah tahunan, yaitu pada waktu memasuki sepuluh hari terakhir dalam bulan Ramadhan. Begitu juga keluarga dan para shahabatnya. Dan seharusnya kita juga.

Abu Hurairah berkata, “Di setiap bulan Ramadhan, Rasulullah senantiasa beri’tikaf selama sepuluh hari. Dan pada tahun beliau meninggal, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Bukhari, no. 1903).

Aisyah berkata: “Bahwasanya Rasulullah senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian para isterinya juga beri’tikaf sepeninggal beliau.” (HR. Bukhari, no. 1886).

Hukum I’tikaf;
lbnul Mundzir berkata: “Para ulama’ sepakat bahwa I’tikaf hukumnya sunnah, tidak diwajibkan bagi manusia kecuali yang mewajibkan diri, dengan bernadzar misalnya”. Lmam Ahmad berkata: “Yang saya ketahui, bahwa tidak seorang pun dari ulama yang tidak mengatakan bahwa I’tikaf hukumnya sunnah”.

lmam Malik berkata: “Kenapa kaum muslimin banyak yang meninggalkan ibadah ini, padahal Rasulullah tidak pernah meninggalkannya (di bulan Ramadhan)”. lbnu Syihab berkata: “Sikap orang-orang muslim sungguh mengherankan, mereka meninggalkan I’tikaf, padahal Rasulullah tidak pernah meninggalkannya sejak hijrah ke Madinah sampai wafatnya”. (Fathul Bari: 4/285).

Syarat-Syarat I’tikaf
1. Niat, berdasarkan hadits, “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Puasa, menurut lmam Malik dan Abu Hanifah. Berdasarkan hadia dari Aisyah, “Barangsiapa beri’tikaf, maka hendaklah ia puasa.” (HR. Abdur Razaq dengan sanad shahih). lbnu Qayryim berkata, “Belum pernah ada keterangan dari Rasulullah, bahwasanya beliau I’tikaf dalam kondisi tidak puasa.” Sedangkan lmam Syafi’i berpendapat: “Puasa bukanlah syarat sahnya I’tikaf”. Berdasarkan hadits, “Sesungguhnya Umar bernadzar untuk I’tikaf semalam, lalu Rasulullah menyuruhnya untuk menepati nadzarnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Waktu malam bukanlah waktu puasa, kalau puasa itu menjadi syarat sahnya I’tikaf, tentu Rasulullah menyeru Umar untuk berpuasa dalam I’tikaf malamnya.

3. Berada di masjid, dengan niat taqarrub kepada Allah dan berdiam diri disitu. lbnu Hajar berkata: “Masjid merupakan syarat sahnya I’tikaf.” (Fathul Bari: 4/277).

4. Tidak mengumpuli istrinya. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu campuri mereka itu (isteri-isteri), sedang kamu beri’tikaf.” (QS. Al-Baqarah: 187).

Kriteria Orang Mau Beri’tikaf;
Orang yang memenuhi syarat untuk I’tikaf adalah muslim, mukallaf mumayyiz dan berakal (akil baligh), suci dari hadats (jinabat, haidh, nifas).

Tempat Dibolehkannya I’tikaf;
Para ulama’ berbeda pendapat seputar Masjid yang memenuhi syarat untuk dijadikan sebagai tempat I’tikaf:

1. Tidak boleh I’tikaf kecuali di 3 masjid; Masjidil Haram, Masjidin Nabawi, Masjidil Aqsha. Pendapat ini disampaikan oleh Hudzaifah dan Sa’id bin Musayyib.

2. Boleh di setiap Masjid. lnilah pendapat lmam Syafi’i, lmam Ahmad, lmam Abu Hanifah, dan lmam Tsauri. Hanya saja lmam Abu Hanifah membolehkan wanita yang beri’tikaf di masjid (mushalla) rumahnya.

3. Hanya di masjid yang dipakai shalat jum’at. Inilah pendapat lmam Malik. Karena kalau dalam hari-hari I’tikaf itu ada hari Jum’at, maka ia tidak perlu meninggalkan tempat I’tikafnya untuk keluar melaksanakan shalat Jum’at.

Waktu Masuk I’tikaf (Memulainya)

1. Apabila niat I’tikaf berhari-hari, maka masuk masjidnya sebelum terbenamnya matahari (menurut lmam Malik, lmam Syaf i, lmam Abu Hanifah). Tapi bila hanya sehari, lmam Syafi’i berpendapat: “Masuknya sebelum terbit Fajar dan keluarnya setelah terbenam matahari.”

2. Masuknya sebelum terbitnya fajar, untuk sehari atau sebulan sama saja (menurut lmam Laits dan lmam Zufar).

3. Apabila I’tikafnya malam hari, masuknya sebelum terbenamnya matahari. Apabila I’tikafnya siang hari, masuknya sebelum terbitnya Fajar (menurut lmam Abu Tsaur).

4. Masuknya setelah shalat Shubuh, baik I’tikaf malam atau siang (menurut lmam Auza’i).

Waktu Keluar I’tikaf (Mengakhirinya)
1. Bagi yang I’tikaf 10 hari terakhir bulan Ramadhan keluarnya setelah shalat ‘Ied, tapi jika keluar setelah terbenamnya matahari tidak apa-apa (menurut lmam malik). Sedangkan lmam Syafi’i, Abu Hanifah berpendapat “Waktu keluarnya setelah terbenamnya matahari”.

2. Bila kembali ke rumah sebelum shalat ‘Ied, maka rusaklah I’tikafnya (menurut lmam Syahnun dan lbnu Majisun).

Ibadah Yang Dianjurkan Dalam I’tikaf;
Tidak semua jenis ibadah boleh dilakukan oleh seseorang saat beri’tikaf. Apalagi kalau ibadah tersebut pelaksanaannya harus keluar dari tempat I’tikaf. Lbadah yang dianjurkan adalah, shalat, membaca al-Qur’an, dzikrullah, belajar ilmu (membaca buku-buku islami).

Kegiatan Yang Dibolehkan Dalam I’tikaf;
Selain ibadah di atas, ada kegiatan lainnya yang manusiawi dan merupakan kebutuhan manusia, dan itu tetap dibolehkan dan tidak membatalkan I’tikaf. Keluar untuk buang hajat, seperti buang air besar atau kecil. Menyisir rambut atau merapikannya. Memakai wewangian, mandi, mencuci baju atau memotong rambut atau kuku. Membawa kasur atau bantal.

Kegiatan Yang Membatalkan I’tikaf;
Keluar dari masjid dengan sengaja tanpa ada udzur yang dibolehkan. Murtad. Gila, karena akalnya tidak berfungsi, begitu juga mabuk. Haidh dan Nifas. Bersetubuh dengan isterinya.

I’tikafnya Seorang Wanita;
Wanita diperbolehkan I’tikaf, berdasarkan riwayat, “Bahwasanya Rasulullah senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga wafat, kemudian para isterinya juga beri’tikaf sepeninggal beliau.” (HR. Bukhari). Pada dasarnya I’tikaf wanita sama dengan I’tikaf laki-laki, hanya saja perlu diperhatikan rambu-rambu berikut ini:

1. lzin ke suaminya, bila wanita tersebut sudah bersuami.

2. Wanita lebih utama kalau I’tikaf di masjid rumahnya (menurut Abu Hanifah). Kalau di masjid umum, diutamakan yang tempatnya paling dekat dengan rumahnya, dan ada tempat khusus perempuan.

3. Jika dia haidh atau nifas, maka otomatis I’tikafnya batal. Dan boleh baginya untuk melanjutkan lagi jika sudah suci.

4. Hendaklah tidak sendirian, tapi ada wanita lain yang menemaninya.

Keutamaan I’tikaf;
Tidak ada satu riwayat pun yang shahih dan menjelaskan secara langsung tentang keutamaan khusus bagi orang yang I’tikaf. Tapi ada hadits qudsi yang menjelaskan, “Apabila hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Apabila ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya satu ba’. Apabila ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari.” (HR. Bukhari dan Muslim)…. HE HE HE . . . EDAN TENAN.:-) SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU SAUDARA-SAUDARIKU SEMUANYA TANPA TERKECUALI… SEMOGA POSTINGAN SAYA KALI INI. BISA LEBIH BERMANFAAT LAGI DARI ARTIKEL-ARTIKEL SEBELUMNYA…
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

https://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com

AWAL.:-) PONDASI DASAR MEMPELAJARI ILMU GHA’IB JAWA:


PONDASI DASAR MEMPELAJARI ILMU GHA’IB JAWA:
Ilmu gaib adalah sebuah pelajaran spiritual tentang penjelajahan untuk menyingkap misteri alam gaib yang biasanya dipelajari oleh orang-orang yang ingin menguasainya dengan cara-cara tertentu yang dalam masyarakat Jawa disebut lelaku.

Dari hasil pengalaman saya setelah lama menelusuri berbagai macam metode lelaku dari beberapa paranormal asli Jawa dan pinisepuh asli jawa, akhirnya saya bisa menyimpulkan dasar-dasar utama mereka dalam mempelajari ilmu gaib jawa atau disebut ngelmu ghoib kejawen.

Sebelum mereka mempelajari ilmu kadigdayan baik itu ilmu kanuragan atau ilmu gaib metafisika apapun, dalam pelajaran asli orang jawa mereka diharuskan lebih dulu mengenali jati diri, siapa diri kita sesungguhnya. Ini adalah permula’an atau dasar bagi seseorang yang ingin mempelajari ilmu jawa. Dan hasil surfai saya di TKP dimanapun itu, selainnya ilmu jawa pun sama seperti itu… He he he . . . Edan Tenan.

Dalam proses mencari jati diri ini tidak mudah, karena memerlukan ketekunan dan kesabaran yang terus menerus dan henti hingga berhasil dan luar biasa dalam melatih diri untuk tirakat, yaitu tidak boleh melanggar aturan-aturan yang telah ditentukan, misalnya harus menghindari perbuatan maksiat dan sejenisnya. Dalam tahap ini harus ada guru pembimbing dari manusia wajar yang masih hidup dan benar-benar sudah mumpuni dalah bidang kejawen/jawa.

Proses ini meliputi perjalanan spiritual untuk menemukan kembaran diri, yaitu sedulur papat limo pancer kakang kawah adi ari-ari sedulur tunggal ketok puser kita sendiri. Ini merupakan pembentukan wadah atau pondasi yang kokoh agar kuat dalam menerima ilmu apapun nantinya. Jika tidak melakukan langkah awal ini, maka dikhawatirkan orang yang belajar ilmu jawa akan dikendalikan oleh ilmu mereka sendiri nantinya dan ini bisa berakibat tidak baik, misalnya akan menjadi orang jahat atau bisa juga bingung dan linglung, bahkan bisa gila… He he he . . . Edan Tenan.

Kenapa kalau sudah menemukan jadi diri dianggap aman ketika mendapat ilmu kesaktian lainnya? Karena jika sudah berhasil menemukan jati diri, maka gurunya sudah bukan manusia lagi, melainkan guru sejati yang ada pada dirinya sendiri. Dalam istilah jawa disebutkan Guru Sejati Dumunung Ono Ing Telenging Ati, artinya guru yang akan kita tanya ataupun yang akan selalu mengingatkan kita adalah Rasa/Hidup kita sendiri yang sudah kita kenali.

Bagaimana caranya guru sejati mengingatkan atau menjawab pertanyaan kita?
Inilah misteri yang paling dicari dan paling dibutuhkan oleh semua orang. Guru sejati adalah Roh Suci yang memiliki wujud dan bisa diajak berdialog dengan kita, tidak bisa diajak dialog oleh orang lain, wajahnya juga seperti kita, yang bisa menemuinya hanya kita sendiri, bukan orang lain.

Dalam istilah jawa guru sejati disebut kakang kawah, yaitu saudara tertua yang selalu mengajak berbuat baik. Dalam wujud fisik, kakang kawah adalah air ketuban yang pecah sebelum kita lahir untuk memberikan jalan kepada si jabang bayi, kemudian disusul bayi atau pancer, selanjutnya disusul ari-ari atau batur, yang berstatus sebagai adik karena keluarnya paling terakhir.

Menurut para pakar ilmu kejawen, kakang kawah dan adi ari-ari jumlahnya ada empat dan wajahnya semuanya seperti kita, masing-masing menempati empat penjuru mata angin, yang paling tua kakang kawah berada di timur, dan yang lainnya berada di selatan, barat dan utara, kemudian yang di tengah adalah pancer atau kita sendiri. Mereka berkumpul menghadap kearah kita dengan tujuan menjaga kita oleh perintah Gusti engkang murbeng dumadi, yaitu Tuhan yang maha esa.

Jika kita sudah gawok ( sudah mengenal mereka), kita bisa berdialog dengan mereka kapanpun dan dimanapun, karena mereka selalu menemani kita sejak dalam kandungan hingga mengantarkan kita menghadap yang maha kuasa kelak… He he he . . . Edan Tenan.

Keempat saudara kita ini menempati dimensi alam yang berbeda-beda, kakang kawah berada di dimensi tertinggi, yaitu berada di posisi paling atas dan lebih tinggi dari segala makhluk ciptaan tuhan lainnya. Kakang kawah inilah yang menjadi target utama untuk kita temui. Jika sudah pernah menemui kakang kawah di langit tertinggi yang dalam bahasa jawa disebut awang-awang uwung-uwung, maka kita bisa melihat semua makhluk-makhluk yang berada di level dibawahnya, seperti adi ari-ari dan ribuan alam gaib lainya.

Menurut para pakar ilmu kejawen dan beberapa guru wujud yang pernah membimbing saya dulu serta hasil pembuktian saya sendiri di TKP. Memang benar, jika sudah berada di level ini, kita dengan mudah bisa menemuai adi ari-ari, dan jika kita bisa menyatukan mereka dengan diri kita, maka kita memperoleh sabdo pandito ratu, yaitu kesaktian yang tiada tandingannya, bahkan apapun yang kita ucapkan bisa terkabul atas kehendak yang maha kuasa, kurang lebihnya seperti itu… He he he . . . Edan Tenan.

Ritual orang-orang jawa untuk menemui sedulur papat limo pancer ini dilakukan dengan cara rogosukmo, yaitu proses melepas sukma keluar dari tubuh untuk berangkat menuju alam roh yang berada di papan paling atas, dimana akan melintasi alam jin, alam kubur, dan ribuan alam ciptaan tuhan lainnya dengan kecepatan kilat menembus sinar menyilaukan dan tidak boleh berhenti hingga sampai bertemu dengan sang guru sejati di alam paling atas tersebut. Rogosukmo dilaksanakan dengan bertapa tengah malam menghadap ke arah timur dengan memusatkan segenap rasa dan perasa’an ke dalam batin, karena mereka mertopo ing sajroning sir, yaitu mereka berkumpul di dalam hati kita.Tapi ritual ini tidaklah mudah, karena memerlukan ketekunan dan kesabaran dalam duduk bersila selama berjam-jam dan berhari-hari, bergantung seberapa bersar tegak kita di dalam berniyat.

Jika sudah mencapai titik kesempurna’an, ketika sedang bersemedi atau bersila, maka kita akan mulai merasakan perpindahan alam, dimana kita mulai melihat penampakan alam yang samar, kemudian semakin jelas dan diikuti munculnya sebuah sinar kecil dan kemudian membesar hingga membelalakkan mata sampai kita terhisap kedalamnya sehingga terbawa dan menembus sinar itu dengan kecepatan yang mendebarkan jantung. Dan sampailah kita disuatu tempat yang paling akhir. Disitulah kita akan bertemu dengan jatidiri kita yang sesungguhnya. Berikutnya kita bisa menemui saudara-saudara sejati yang lainnya yang berada di dimensi di bawahnya, dan juga bisa memasuki berbagai alam gaib lain-lainnya.

Jika sudah berhasil menemui sedulur papat limo pancer dan bisa berdialog dengan sempurna dengannya, maka barulah kita bisa belajar memperdalam ilmu-ilmu ghaib lainnya, karena di dalam tradisi jawa, menemui sedulur papat limo pancer, merupakan modal dasar atau pelajaran awal dalam menyiapkan wadah yang kokoh untuk menerima segala ilmu, sehingga seseorang tidak akan di kuasai atau dikendalikan oleh ilmunya sendiri nantinya, dalam mempelajari ilmu kadigdayan baik itu ilmu kanuragan, ilmu kekaya’an atau ilmu gaib metafisika apapun…He he he . . . Edan Tenan.

Nah… Untuk inilah KUNCI THE POWER ILMU PEMBANGKIT SEDULUR PAPAT KALIMA PANCER Saya Ciptakan. Dengan KUNCI THE POWER, saya akan membimbing siapapun yang punya Tekat Kuat dan Niyat hebat, dengan sangat sederhana. Tanpa tapa dan tirakat/puasa. Mau kaya…? Mau Sukses…? Mau Sakti…? Mau tau sajeroning winarah…? Atau hal-hal Ga’ib lainnya yang mustahil menurut orang awam… Laku Berjuanglah Untuk bisa Bertemu dengan Guru Sejatimu seperti yang sudah saya jelaskan diatas… Tidak Kuat puasa. Tidak Kuat Tirakat/Puasa Dan Tidak ada waktu karena Tuntutan tanggung jawab pekerja’an sehari-hari yang tidak bisa di tinggalkan..?! Saya Sudah Cintapkan KUNCI THE POWER ILM PEMBANGKIT SEDULUR PAPAT KALIMA PANCER. Yang tanpa tapa brata. Tanpa tirakat/puasa, hanya dengan menebus sedekah yang akan di gunakan untuk membersihkan karmanya sendiri. Anda bisa… Maka… Silahkan Anda Berpikir Logis dan wajar/umum. Masih Kurangkah sarana yang saya tawarkan ini… HE HE HE . . . EDAN TENAN.:-) SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU SAUDARA-SAUDARIKU SEMUANYA TANPA TERKECUALI… SEMOGA POSTINGAN SAYA KALI INI. BISA LEBIH BERMANFAAT LAGI DARI ARTIKEL-ARTIKEL SEBELUMNYA…
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

https://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com

CURAHAN HATI WONG EDAN BAGU: TENTANG SUKA DUKA DI DALAM LAKU SPIRITUAL HAKIKAT HIDUP;


WEBshoth

CURAHAN HATI WONG EDAN BAGU:

TENTANG SUKA DUKA DI DALAM LAKU SPIRITUAL HAKIKAT HIDUP;

Semoga semua anak didik saya yang memiliki asilitas internet, bersedia meluangkan waktunya untuk membaca artikel saya yang satu ini. Dengan teliti secara keseluruhannya. Agar mengetahui keseharian saya selama mereka kenal, di dalam proses perjalanan laku spiritual sehari-hari. Sebagai bahan renungan dan bekal pengalaman pribadi, yang pastinya juga akan mengalami hal yang sama, seperti yang saya alami dan kebanyakan orang pada umumnya, dalam menjalani proses Hidup dan Kehidupan baik secara spiritual maupun non spiritual di dunia ini.

Sedulur… Seperti yang tertulis dalam Biografi Sejarah Hidup yang pernah saya postingkan di fcbook ini dan blog serta wordpress saya. Saya adalah manusia hidup yang berawal dari Tersisih dan berasal dari Terusir. Dulu sewaktu saya masih kecil, masa kanak-kanak. Saya tidak memiliki teman apa lagi sahabat, semua itu saya alami karena fitnah yang tidak berdasar. Dulu waktu saya masih kecil, masa kanak-kanak. Saya di usir oleh orang tua saya, itu saya alami karena fitnah yang tidak mendasar. Kejadian ini saya alami di kampung tempat tinggal saya, tepatnya di daerah transmigrasi Toili Kabupaten Luwuk Banggai Sulawesi Tengah, waktu itu saya masih berusai 8 tahun, saya sering di tuduh mencuri oleh semua orang di kampung tempat tinggal saya yang merasa kehilangan, padahal saya tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan, alasannya, mereka menuduh saya sebagai pencurinya, karena mereka melihat saya berada atau sedang melintas di tempat kejadian kehilangan. Saking seringnya di tuduh pencuri inilah, saya di jauhi oleh teman-teman saya, kususnya teman-teman bermain saya pada waktu kecil itu, sampai-sampai semua orang merasa jijik dan benci tiap kali melihat saya, hina’an dan cemohan tiada hentinya menghujani saya di setiap harinya. Dan karena merasa malu mempunyai anak seperti saya inilah, kemudia orang tua saya mengusir saya. Sa’at di usir oleh orang tua saya, saya masih berusia 10 tahun. Dan sejak itulah saya berjuang sendiri untuk mempertahankan Hidup saya dalam kehidupan ini.

Berbaur dan bergabung dengan anak-anak jalanan yang tuna wisma dan tak berkeluarga yang jelas, saya berusaha bertahan dari kerasnya kehidupan pada sa’at itu, diantara kesibukan orang yang sedang beraktifitas siang dan malam, bersama teman-teman sebaya dan senasib, saya mengemis, jika ada kesempatan, ada kalanya mencuri demi untuk mendapatkan penghasilan untuk mengganjal perut. Di luar aktifitas ini, saya menghabiskan waktu di tepi pantai pelabuhan untuk melamun, merenungi nasib saya yang begini amat. Harus berpisah dengan orang tua, keluarga, teman, cita-cita hancur, masa depan musnah dll. Semuanya ini karena fitnah yang kejam itu, mengapa merekah begitu kejamnya menfitnah saya tanpa perasa’an sedikitpun? tidak memberi kesempatan kepada saya untuk membela diri bahwa saya tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan, mengapa mereka tidak percaya saya? Mengapa orang tua saya juga ikut-ikutan tidak percaya saya? Bahkan sampai ikut kejam mengusir saya? Mengapa saya harus mengalai semua ini? MENGAPA…?! MENGAPA…?! MENGAPA…?!

Kini saya tidak punya siapa-siapa… sekarang saya tidak punya apa-apa… semuanya hancur, segalanya musnah, cita-cita, harapan, masa depan dan semuanya… semuanya… hancur dan musnah. Mereka kejam… sungguh mereka kejam. Begitulah jika saya sedang melamun di tepi pantai, berteriak,,, meratap,,, menangis,,, tersedu sendiri tanpa ada satupun yang peduli.

Waktu itu saya masih polos, tidak tau Tuhan, tidak tau doa, tidak mengerti hal-hal relegius. Yang saya tau, hanya Ibu dan Bapak, jadi, jika apa-apa, yang saya sebut hanya Ibu atau bapak. Singkat punya cerita… Tempa’an demi tempa’an, lamunan demi lamunan, renungan demi renungan yang sering saya lakukan di tepi pantai pelabuhan kota luwuk kala itu, membuat saya jadi bisa berpikir dendam. Membalas perbuatan mereka-mereka yang telah tega dan kejam menghancurkan kehidupan saya, dengan bahan informasih dari berbagai sumber suara yang menyampaikan pada telinga saya, tentang ilmu kebal, ilmu karate, ilmu bisa mengilang, ilmu bisa terbang. Membangungan pikiran saya untuk mencari seorang guru sakti, agar bisa balas dendam. Alhasil… saya bertemu dengan tiga orang guru sakti. Satu dari osing banyuwangi jawa timur, satu dari saluan suku asli sulawesi tengan, dan satunya dari borneo dayak kalimantan. Ketiga Tokoh inilah yang kala itu mendidik saya dalam hal ilmu olah kaguragan. Ilmu mantra osing menjangan wulung yang merupakan ilmu asli warisan banyuwangi/blambangan berhasil saya kuasai dengan sempurna. Ilmu mantra dayak borneo yang merupakan ilmu asli dayak kalimantan berhasil saya kuasa secara sempurna. Ilmu mantra pongkok yang merupakan ilmu saluan asli dayak sulawesi pun berhasil saya kuasai dengan sangat sempurna. Berbekal tiga ilmu olah kanuragan inilah, saya berhasil melampiaskan dendam kesumat saya pada semua orang yang sudah menghancurkan kehidupan masa depan saya kala itu. Dan sejak dendam itu terselesaikan, saya kembali menjadi manusia hidup pada umum, punya banyak teman dan saudara juga keluarga. Banyak yang tunduk dan hormat kepada saya. Namun semuanya itu palsu, karena mereka tunduk dan hormat kepada saya, karena takut, mereka mau berteman dan mengaku saya saudara karena takut. Namun kala itu saya tidak peduli, yang penting saya sudah puas, karena dendam sudah terbalas, hutang sudah terbayar.

Alhasil… Saya jadi terkenal dan terhormat, banyak orang yang membutuhkan jasa saya, untuk banyak kepentingan pribadi dengan imbalan yang lebih dari cukup. Hingga saya menjadi seorang pemimpin garong/perampok. Yang hampir setiap minggunya menerima setoran/upeti dari anak buah dari berbagai wilayah kekuasa’annya masing-masing. Semua itu saya tinggalkan setelah saya mempunyai anak dan istri. Namun suatu ketikan, sa’at dalam masalah kritis, saya kembali lagi ke dunia bejat itu, dan hijrah ke tanah jawa untuk menambah wawasan. Singkat punya cerita, dari kota ke kota, desa ke desa, daerah ke daerah, sampailah saya di pulau dewata bali. Di bali saya sempat menjadi orang terkenal sebagai gigolo tajir. Yang bisa menghasilnya uang juta’an rupiyah sekali melayani turis asing. Uang hasil upeti anak buah di sulawesi dan upah sebagai gigolo di bali, saya simpan di BANK dan tidak pernah saya sentuh sedikitpun. Perjalanan Bali sulawesi, sulawesi jawa/jakarta. Waktu itu sangatlah mudah dan gampang bagi saya. Hingga pada suatu sa’at. Entah bagaimana permula’annya, saya lupa… saking seringnya saya mendengar Kalimat Tuhan yang hampir setiap sa’at bergema di masjid-masjid, gereja-gereja, wihara-wihara sampai di tempat-tempat keramat seperti makam. Saya menjadi penasaran, tiba-tiba muncul ingin tau, apa itu Tuhan… Lalu tanpa berpikir panjang, saya pun memulai berjalan menuju ke masjid, gereja, wihara bahkan pura, setiap tempat ibadah yang saya datangi, agamanya pun saya pelajari hingga ke titik mentognya, sampai beralih ke Kepercaya’an nya, baik itu jawa, sunda, bali maupun dayak dll. Dan mulailah saya paham dan mengerti tentang apa itu Tuhan. Dan sejak itu pula saya sering berpikir dalam di setiap tindakan saya, karena munculnya sebuah pilihan yang melekat di kepala saya, yaitu tentang salah dan benar. Takutpun ikut muncul dalam benak saya, padahal… sebelumnya, sedikitpun tidak ada takut dalam diri saya.

Untuk mempelajari apa itu Tuhan, hanya untuk mencari tau tentang pengertian apa itu Tuhan. Lewat media agama dan kepercaya’an seperti yang saya ungkapkan diatas, saya sudah menguras puluhan juta rupiyah uang yang saya simpan di BANK.

Singkat punya cerita, semakin dalam saya mempelajarinya, semakin tertarik saya ke dalamnya. Hingga pada akhirnya, saya memutuskan untuk meninggalkan dunia bejat saya, dan beralih fokus pada Spiritual. Dimana saya mendengar ada tokoh mumpuni, pasti saya datangi untuk saya gurui. Mulai dari yang di sebut dukun cabul/lintrik, sesat/semprul sampai ke Kiyai/ustadz Habib, pendeta/biksu saya gurui hingga ke titik mentognya. Semakin Panas dan Penasaran… karena belum saya temukan Rasa puasnya. Lagi-lagi ilmu kanuragan, ilmu kesaktia, ilmu kebatinan yang saya dapatkan, lalu intinya dimana,,, sarinya dimana,,, belum saya temukan, kembalilah saya di jalan awal, saya mencoba mengulanginya lagi dari awal. Dengan harapan bisa mendapatkan IntiSarinya. Kali ini saya tidak ingin ada yang terlewati, kejelian dan ketelitian saya tambahkan. Mulai dari yang di sebut sesat hingga yang di cap sempurna saya datangi dan saya pelajari, apapun yang di didikan kepada saya, saya lakukan sepenuhnya tanpa merubah wejangannya.

Puasa mutih, puasa ngasrep, puasa ngelong, puasa ngetan, puasa senin kemis, puasa pati geni, tapa pendem, tapa kungkum, tapa gantung, tapa ngalong, tapa puasa bla… bla… bla… semua saya turut dan saya lakukan dengan penuh keyakinan. Mulai dari ilmu anjan kumayan, ilmu cinde amoh, gajah wulung, lembu sekilan, braja musti, ilmu langlang buana, ilmu jagat pramundita, ilmu begananda, pupuh bayu, ilmu welut putih, aji paweling, aji padmawara, aji bayu saketi, aji bumi segandu, aji jalasutra, aji pameleng, sampai ke ilmu santet braja teluh waluh ireng saya pelajari, Sapta darma, ilmu sejati, kejawen maneges, darmo gandul, hingga serat sastra jendra hayuningratpun dan lepas dari pembelajaran saya, dengan masing-masing lakonnya, menghabiskan biaya mahar sekitar tujuh ratus juta’an rupiyah, bahkan lebih. Tabungan saya selama bertahun-tahun sewaktu jadi begundal, sampai hampir habis. Karena guru yang saya timba ilmunya, ada 34 orang guru yang namanya sangat terkenal di tanah jawa ini. dan sekarang ini, yang 21 orang guru sudah meninggal dunia dan 13 orangnya masih hidup. Saya berhenti berguru setelah saya merasa capek, letih, jenuh dan bosan, karena sudah menghabiskan ratusan juta rupiyah, hasilnya cuma ilmu kesaktian dan hanya ilmu kesaktian melulu. Sedangkan IntiSari yang saya inginkan, tidak kunjung saya temukan.

Singkat punya cerita lagi,,, saya pergi ke jakarta, guna mencari pengalaman, di jakarta saya mencoba membuat pengalaman usaha, mulai dari menjadi pemulung, jualan, kuli, glandang/preman hingga bekerja sama dengan pejabat negara saya lakukan. Hasilnya… selain hanya sebatas pengalaman tidak ada yang memuaskan Rasa dan Perasa’an saya. Berdasarkan cerita rakyat dan bermodal tekad, saya menemui salah seorang guru yang paling saya kagumi dalam banyak halnya, untuk berpamit keliling jagat, dan atas ijin serta petunjuknya, saya bertekad menjadi seorang musyafir kelana, lalu saya mengembara dengan cara berjalan kaki keliling indonesia. Mendatangi tempat-tempat keramat dan bersejarah, seperti makam, situs, goa, gunung dan apapun yang berbaur mistik ga’ib. Berawal dari sinilah, saya berhasil menemukan titik-titik terang yang pada sa’at itu saya yakini akan membawa saya pada tujuan saya, yaitu IntiSari Tuhan. Pemahan dan Pengertiannya sudah cukup banyak saya terima dari banyak guru pembimbing, namun yang jadi masalah, saya tidak mengetahuinya sendiri, semuanya katanya guru-guru saya, sedang guru-guru saya katanya Firman yang tersurat dalam kitab yang mereka yakini. Hal inilah yang membuat saya tidak puas sama sekali, karena sebenar-benarnya katanya, lebih benar tau sendiri.

Sedikit demi sedikit, satu persatu, bukti nyata spiritual berhasil saya temukan dan saya kumpulkan sendiri, serta saya susun sendiri sesuai FirmanNYA. Hingga pada akhirnya saya terdampar di goa singa barong cilacap pulau nusa kambangan jawa tengah. Dan mendapatkan Pembelajaran, lanjutan dari wejangan seorang guru tempo dulu. Tentang Wahyu Panca Ga’ib.  Serta di goa singa barong nusa kambangan inilah Pengembara’an saya berakhir. Berbekal Wejangan Wahyu Panca Ga’ib dari Guru Wujud saya di daerah pekalongan jateng dan Guru Ga’ib dari goa singa barong nusa kambangan cilacap jateng. Yang kemudian saya olah sendiri menjadi Laku Spiritual Hakikat Hidup dengan segala bukti dan kesaksian yang saya peroleh sendiri selama mengembara, saya kembali bermasyarakat secara umum lagi. Sambil tapa ngrame bermasyarakat, saya kembali meng enolkan laku, semuanya saya hapus hingga bersih, melipat lembaran masa lalu dan membuka lembaran masa baru. Semua dan segalanya saya ulangai dan mulai dari awal/nol/kosong. Murni dengan menggunakan Wahyu Panca Ga’ib saya memulai laku spiritual lagi dari awal. Sejak itu saya kaitkan semuanya dan segalanya tanpa terkecualinya dengan Tuhan dan pada Tuhan. Hingga saya berulang kali berhasil mencapai tingkat titik finis yang di cari oleh manusia ahli laku sejagat raya ini. Dengan mendapatkan bukti berulang kali dapat mencapai titik finis Laku Spiritual yang banyak di gunjingkan para ahli inilah, saya jadi bisa tau sendiri benar dan tidaknya dari Perjuangan saya ini.

Sembari tetap laku tapa ngrame, saya keliling untuk menyampaikan keberhasilan saya dalam penemuan nyata-nyata benar ini, pada teman-teman saya, sahabat-sahabat saya yang dulu pernah mengembara bersama saya, yang pernah kenal saya, bahkan orang-orang yang baru kenal dengan saya, namun tiada Hakikat Hidupnya, saya beri kabar ini, secara gratis, tanpa puasa dan ritual apapun. Yang inginn ilmu kesaktian saya berikan ilmu kesaktian, yang butuh ilmu pengasihan saya berikan ilmu pengasihan yang perlu bimbingan Spiritual saya bimbing ke spiritual, bahkan yang ingin meraih kesuksesan saya tunjukan jalan kesuksesan sesuai laku yang pernah saya pelajari tempo dulu, secara gratis pula, walau dulu saya belajarnya tidak gratis, sebagai wujud Cinta kasih saya pada antar sesama Hidup setelah saya mengetahui yang benar sebenarnya. Keliling dan terus saya keliling untuk menyampaikan kabar keberhasilan saya ini. walau saya ajarkan secara gratis, namun ada juga yang menolak bahkan mengfitnah saya, dengan anggapan miring/negatif. ada yang saya bantu tapi malah mentung, ada yang saya tolong tapi malah mitnah, bahkan ada juga yang pura-pura iya di depan saya, namun di belakang saya menikam. Sungguh luar biasa suka dukanya.

Pernah di suatu ketika, ada seorang yang terlilit hutang, usahanya jatuh bangkrut, lalu mencari jalan pintas kaya mendadak dengan cara memuja Ratu pantai utara, yang di kenal dengan sebutan Dewi Lanjar, namun sampai habis modalnya, gonta ganti juru kunci, bukannya sukses malah jad modal madil hidupnya, di dalam keterpurukannya, bertemu saya di sebuah makam keramat ketika saya snggah untuk berjiarah, sebut saja namanya si A, kebetulan si A sedang puasa sekaligus sembunyi dari penagih hutang di makam keramat itu, singkat ceritanya, si A minta tolong kepada saya untuk di lantarkan pada Dewi Lanjar, apapun risikonya sudah siap, saya tidak tega dengan rengekannya, setelah saya telusuri, ada bibit kebaikan pada diri si A, lalu saya alihkan niyatnya muja dewi lanjar masuk ke dalam laku hakikat hidup, dengan janji saya akan membantu kesulitannya, setelah si A bersediya. Lalu saya bimbing si A dengan Wejangan Wahyu Panca Ga’ib, seiring berjalananya wejangan, hutangnya saya lunasi, saya beri modal untuk bisa memulai usaha lagi, setelah keberhasilan mulai di raihnya. Entah bagaimana asal ceritanya, ketika saya sedang singgah berjiarah di salah satu makam keramat, tiba-tiba ada sepasukan polisi dengan mobil patrolinya pless lengkap dengan senjatanya, datang menyerdan menyargap dan meringkus saya, persih sebuah penangkapan teroris, saya di naikan ke mobil patroli itu dengan tuduhan teroris yang sedang menyamar dan menyebarkan aliran sesat, sa’at itu, muka saya terasa di sayat sembilu, perih sekali, amat sangat malu, karena pada akhirnya, saya menyentuh dan menaiki mobil patroli, kendara’an yang paling saya benci. Setelah sampai di kantor, sayapun di intrograsi dengan tuduhan teroris dan penyebar aliran sesat, karena tidak mendapatkan bukti apapun, saya di lepaskan. Karena sudah terlanjur malu, kurang puas rasanya jika tidak tau siapa pelapornya. Betapa sesegnya napas saya, ketika di beritau siapa yang melaporkan saya. Jantung saya mendadak terhenti, ternyata yang melapor dengan tuduhan teroris dan penyebar aliran sesat itu, adalah si A, orang yang saya bantu dan saya didik dalam Laku Spiritual Hakikat Hidup. Kajadian ini, membuat saya merasa semakin dekat dengan Maha Suci Hidup. Setelah saya mendapatkan Hiqmah pelajaran dari kejadiannya, selang beberapa bulan kemudian, saya mendengan si A jatuh Strock, dan saya tidak ingin tau lagi kabar selanjutnya. Terserah apa kata Tuhan.

Di lain tempat lagi… Suatu ketika, ada 4 orang yang mendengar tentang saya dari mulut ke mulut, lalu mereka berempat yang sudah cukup lama belajar dari beberapa guru spiritualnya namun tidak kunjunga berhasil ini, nekad mencari saya untuk minta bimbingan spiritual dari saya. Karena Spiritual yang pernah mengantarkan saya berhasil mencapai titik finis adalah Wahyu Panca Ga’ib, saya bimbing mereka berempat dengan Wejangan Wahyu Panca Ga’ib.

Setelah berhasil, merekapun saya suruh kembali pulang ke rumahnya masing-masing, singkat punya cerita, karena saldo bekal saya sudah menipis, dan saya tidak punya keahlian lain kecuali tentang Pengobatan Tradisional Alternatif, sayapun mencoba untuk mencari penghasilan dengan cara membuka praktek konsultasi dan pengobatan di setiap tempat yang saya singgahi, hingga pada suatu ketika, sampailah saya di daerah tempat tinggal ke empat orang yang saya didik tersebut, bukalah praktek saya di tempat tersebut, karena mengingat kalau di tempat itu ada empat orang yang pernah saya didik, sayapun memberi kabar pada mereka, kalau saya ada di kotanya dan membuka praktek pengobatan, diluar pengetahuan saya, ada dua orang diantara empat orang yang saya didik itu, menjadi dukun muda di kampungnya, mengetahui kalau saya buka praktek pengobatan di wilayahnya. Maka dua orang itu merasa tersaingi dan menganggap saya telah merebut ladang pencahariannya. Diluar pengetahuan saya pula, mereka berdua berusaha memfitnah saya, mengusir saya secara halus dengan berbagai cara, sehingganya, saya berurusan dengan aparat desa setempat. Karena saya tidak mau ribet, sayapun pergi pindah tempat ke lain kota, betapa kecewanya saya, setelah beberapa hari kemudian mengetahui, bahwa orang yang mempermasalahkan saya itu, adalah dua orang yang pernah saya didik. Sungguh luar biasa sekali…

Pengalaman suka dan duka ketika saya membuka praktek pengobatan dan konsultasi di setiap tempat yang saya singgahi sebagai cara untuk mendapatkan penghasilan demi mencukupi kebutuhan sehari-hari saya, saya selalu mendapatkan pertentangan, dengan anggap menyaingi atau merebut ladang pencarian mereka yang berpropesi sama seperti saya, kalau bukan dari orang yang pernah saya didik atau saya tolong, ya dari teman atau sahabat spiritual saya sendiri, lama sekali saya terlilit di masalah yang satu ini, namun tetep tidak ketemu ujung pangkalnya, namun saya tetap berusaha bertahan… Di saat tidak ada tentangan, pasien yang datang kepada saya, selalu pasien-pasien gagal mantap pasien orang lain yang sudah kehabis biaya untuk berobat, contoh. Sewaktu punya uang,,,, mereka berobat kesana-sini, setelah sudah tidak punya uang, baru datang kepada saya, dengan sebuah bahasa, jika saya sembuh dan tertolong, pasti nanti ada terima kasih yang berwujud uang, sebagai imbal jasa, namun setelah berhasil sembuh, entah kemana kabarnya, sehingganya saya tekor terus dan terus tekor, begitu terus dan terus begitu, akhirnya tikarpun tergulung, kesimpulan akhirnya… berhenti, jika ada yang membutuhkan saya siap, jika tidak ada yang membutuhkan saya diam.

Lalu saya meninggalkan propesi tersebut dan lebih mengfokuskan ke Laku Spiritual Hakikat Hidup apapun yang terjadi, walau bekal sudah habis, namun saya tetap terus berusaha menyampaikan kabar keberhasilan saya ini kepada siapapun yang mau dan ingin. Keseharian saya, jika ada yang datang membawa rejeki ya saya makan minum dan ngrokok, jika tidak, yang saya tetap Laku tanpa menyerah, karena saya punya Prinsip jika bergerak pasti ada jejak, dan saya yakin, jika saya ingat Hidup maka akan Dihidupi. Keada’an ini saya alami selama berbulan bahkan tahun, Bertemu dengan orang bisnis barang antik saya ikuti, sembari mempelajarinya, ada begini saya iyakan sambil saya pelajari, ada orang begitu saya iyakan sambil saya pelajari dan lain sebagainya, sampai ke hal uang ga’ib dan harta karun saya dalami prosesnya. Berbicara uang muliyaran bahkan triliyunan sudah biasa di bibir dan telinga saya pada waktu itu, semuanya tidak ada satupun yang lepas dari pembelajaran saya. Semuanya dan segalanya saya masukan ke dalam Laku Spiritual Hakikat Hidup Berdasar Wahyu Panca Ga’ib. Sehingga saya benar-benar sadar telah mengalaminya sendiri dan tau sendiri, bukan katanya siapapun dan apapun.

Singkat punya cerita, walau banyak pertentangan, baik dari luar maupun dalam, bahkan orang yang saya cintaipun ada yang berkhianat dan berusaha menjatuhkan saya dengan masing-masing caranya mereka, semakin banyak pula orang yang tertarik dengan ungkapan bukti yang benar yang saya sampaikan, semakin banyak pula saudara yang saya miliki di berbagai daerah dan wilayah. Dengan itu, saya berkesimpulan, sudah sa’atnya dan waktunya saya berfokus mendidik mereka yang membutuhkan saya selagi saya masih mempunyai kesempatan hidup didunia ini. lalu semua itu saya tinggalkan, dan lebih fokus pada saudara-saudari yang membutuhkan didikan dari saya, sembari tetap belajar untuk diri saya sendiri guna mempertajam wawasan pengalaman saya pribadi, tiada hari dan waktu bagi saya, selain bermeditasi dan meditasi mendalami Wahyu Panca Ga’ib lebih dalam dan lebih dalam lagi. Setiap kali menemukan pengalaman di dalam Laku Spiritual saya, langsung saya sampaikan kepada semuanya, baik secara langsung maupun melalui media facebook, google, blog atau wordpress.

Pada suatu ketika, karena saudara-saudari yang saya didiknya, 99 %nya adalah orang-orang dibawah sukses sikonya. Timbulah sebuah usaha saya untuk mencari solusinya, agar mereka mendapatkan jalan kesuksesan dengan tidak terlalu berat dan rumit. Saya menyampingkan Laku keTuhanan saya demi hal tersebut, berbulan-bulan saya bermeditasi untuk mencari tau, apa yang membuat orang kesulitan mencapai kesuksesan dan mencari solusinya, bagaimana agar bisa mencapai kesuksesan dengan cara BerTuhan, bukan muja Jin atau Setan yang berisiko laknat. Dan… saya berhasil menemukannya, namun saya, keberhasilan saya tentang pencapaian sukses duniawi ini, di sambut dingin oleh banyak orang, termasuk anak-anak didik saya sendiri, maklum… sudah tidak sedikit korban kegagalan dalam hal harta kekaya’an ini. mulai dari muja/nyupang pesugihan hingga soal harta karun, teramat banyak yang tumbang kehidupannya gara-gara hal yang satu ini. Sayapun saya bisa tetap berusaha bertahan dengan keyakinan yang sudah saya buktikan sendiri, sembari tetap Laku Spiritual Hakikat Hidup. Ana apa-apa Kunci. Langka apa-apa Kunci… Hingga kini.

Saya menempati sebuah rumah kosong milik anak didik saya di brebes. Disinilah saya menghabiskan  waktu hari-hari saya, Di mulai dari bangun tidur sekitar jam satu atau jam dua siang, saya bersemedi, ada kalanya satu jam, ada kalanya dua jam, bergantung sikonnya, lalu istirahat sambil mandi, setelah mandi, jika ada makanan saya makan, jika tidak ada, saya duduk sembari olah napas mempelajari seni Hidup dan Kehidupan, jika ada peluang saya berusaha untuk meraih peluang tersebut, jika tidak ada peluang saya kembali bersemedi atau nonto tv atau jika ada tamu saya melayani tamu atau membuka internet jika ada pulsa. Hingga jam lima sore, lalu saya mandi lagi, setelah mandi dan berbenah, jam enam lima menit, saya bersemedi lagi hingga jam delapan malam, lalu istirahat sambil nonton tv, jika ada pulsa, saya membuka internet, jika tidak ada pulsa, saya mengetik pengalam hidup untuk saya postingkan di internet nantinya hingga jam sebelas malam, lalu istirahat sebentar, lalu jam setengah dua belas, saya bersemedi lagi sampai jam 1 atau jam dua, lalu istirahat lagi sebentar sambil membuka internet jika ada pulsa, jika tidak, saya duduk sambil mengolah napas mempelajari seni Hidup dan Kehidupan. Lalu kembali bersemedi lagi, hingga jam delapan atau jam sembilan pagi, lalu istirahat sebentar sambil mandi, jam sebelasnya saya tidur hingga jam satu atau jam dua siang.

Lalu saya bersemedi, ada kalanya satu jam, ada kalanya dua jam, bergantung sikonnya, lalu istirahat sambil mandi, setelah mandi, jika ada makanan saya makan, jika tidak ada, saya duduk sembari olah napas mempelajari seni Hidup dan Kehidupan, jika ada peluang saya berusaha untuk meraih peluang tersebut, jika tidak ada peluang saya kembali bersemedi atau nonto tv atau jika ada tamu saya melayani tamu atau membuka internet jika ada pulsa. Hingga jam lima sore, lalu saya mandi lagi, setelah mandi dan berbenah, jam enam lima menit, saya bersemedi lagi hingga jam delapan malam, lalu istirahat sambil nonton tv, jika ada pulsa, saya membuka internet, jika tidak ada pulsa, saya mengetik pengalam hidup untuk saya postingkan di internet nantinya hingga jam sebelas malam, lalu istirahat sebentar, lalu jam setengah dua belas, saya bersemedi lagi sampai jam 1 atau jam dua, lalu istirahat lagi sebentar sambil membuka internet jika ada pulsa, jika tidak, saya duduk sambil mengolah napas mempelajari seni Hidup dan Kehidupan. Lalu kembali bersemedi lagi, hingga jam delapan atau jam sembilan pagi, lalu istirahat sebentar sambil mandi, jam sebelasnya saya tidur hingga jam satu atau jam dua siang.

Begitu terus dan terus begitulah sehari-hari saya di sini. Di rumah anak didik saya di brebes. Jangankan terkena sinar cahayanya, melihat matahari atau bulan terbit dan tenggelam saja  nyaris tidak pernah. Sautuhnya dan sepenuhnya jiwa raga ini sudah saya abdikan kepada Maha Suci Hidup dan untuk Maha Suci Hidup. Dengan begini saya merasa sangat bahagia dan puas, karena masih bisa di beri kesempatan untuk mengawasi semua anak-anak didik saya secara langsung. Mengingatkan jika ada yang tidak tepat, mendidik jika ada yang masih membutuhkan didikan, ada yang benar-benar menjalankan didikan saya, ada juga yang hanya setengah-setengah, bahkan ada yang hanya sebatas coba-coba. Ada yang hormat, ada juga yang memandang sebelah mata, ada yang perhatian, ada juga yang masa bodoh, bahkan ada juga yang membenci, sungguh lengkap dan luar biasa suka duka yang saya alami dalam Laku Spiritual Hakikat Hidup ini, sangat sempurna, pas sesuai FirmaNYA, bahwa yang namanya sempurna itu, lengkap dan komplit.

Dengan Laku Spiritual Hakikat Hidup yang sedang saya jalani ini, saya diberi penglihatan  untuk bisa mengetahui semua yang terjadi dan dialami oleh anak-anak didik saya, namun saya tidak di beri kausa untuk berbuat banyak mengatasinya. Jadi,,, sebagai manusia umum yang wajar, jika mengetahui yang benar dari orang-orang yang saya kasihi, saya tersenyum bangga ucapkan terima kasih kepada Maha Suci Hidup. Namun jika mengetahui yang tidak benar dari orang-orang yang saya kasihi, saya menuduk sedih sebentar, lalu berusaha bangkit lagi untuk bisa tersenyum dan ucapkan terima kasih lagi, kepada Maha Suci Hidup.

Didalam proses Laku Spiritual Hakikat Hidup. Tidak ada satupun tarikan napas yang lepas dari perhatian dan pembelajaran saya, apapun itu, tanpa terkecuali, jangankan hal-hal yang menyenangkan dan menggembirakan, hal yang menyedihkan dan menyakitkan sekalipun, menjadi menu utama pembelajaran spiritual saya, mulai dari nyamuk yang menggigit tubuh saya sa’at tidur maupun meditasi karena tidak punya obat nyamuk, hingga sampai tamu yang datang membawa rokok hingga tamu yang datang hanya dengan ucapan salam, semuanya, semuanya saya libatkan dalam spiritual, sehingganya, tiada satupun yang lepas dari perhatian dan luput dari pembelajaran saya.Tempa’an demi tempa’an… proses demi proses yang saya alami di dalam keseharian disini, semakin mendewasakan saya, semakin menuakan dan menyepuhkan saya… Hingga pada akhirnya, saya berkesimpulan, untuk tidak apapun jika tidak bisa menyertakan Maha Suci Hidup di dalamnya… karena hanya akan sia-sia saja bagi saya sa’at ini disini. Karena saya sudah tau sendiri kepastiannya, maka prinsip saya,,, apapun yang terjadi, saya tidak akan berkedip sedikitpun, akan tetep idep madep mantep dalam Laku Spiritual Hakikat Hidup ini. yang percaya akan saya tunjukan, yang tidak percaya, saya tidak akan memaksa… yang sudah percaya, semua pengalaman Spiritual saya akan saya curahkan seluruhkan secara gratis.

Rumah anak didik saya ini, saksi bisu dalam Laku Spiritual Hakikat Hidup saya, di sinilah saya menjadi matang jika di ibaratkan makanan, di sini pula saya mendapatkan amat sangat banyak suka dan duka dalam proses laku dan menempa pengalamanan. Disini juga saya berhasil menciptakan beberapa Laku ilmu, salah satunya adalah KUNCI THE POWER ILMU PEMBANGKIT SEDULUR PAPAT KALIMA PANCER Dan banyak memperoleh serta mendapatkan wejangan-wejangan Hidup dalam kehidupan bersama dengan banyak orang-orang yang saya kasihi. Dan disinilah… Maha Suci Hidup memberikan banyak bukti dan kesaksian-kesaksian yang tidak bisa saya pungkiri dan ingkari.

Maha Suci Hidup menunjukan kepada saya, memberitahukan kepada saya, mendidik dan membimbing saya. Tentang bagaimana bermeditasi yang baik dan benar, tentang bagaimana melontarkan kalimat bermohon yang tepat kepadanya. Tentang cara agar mengetahui Firman dan Kehendaknya. Tentang cara yang benar menyebut namanya yang agung lagi mulia, Tentang cara yang tepat dan benar menyampaikan soalNYA kepada semua cipta’annya. Maha Suci Hidup juga menunjukan waktu dan sa’atnya, kapan saya akan meninggalkan raga watag ini untuk kembali kepadanya, dimana saya akan berada jika Hidup dan Raga ini telah terpisah atas kehendaknya. Maha Suci Hidup menggoda saya dengan berbagai dan banyak janji yang menyenangkan, menggembirakan, membahagiakan, mengasyikan. Maha Suci Hidup juga memberikan pilihan kepada saya. DIA…. atau selain DIA, sembari berbisik mesrah dalam kalbu saya, jika engkau memilih AKU, maka enyahkan rongsokan dunia selain DIRIKU itu, jika engkau memilih selain AKU, maka tinggalka Wahyu Panca Ga’ib mu, karena itu hanya akan membelenggu kehidupanmu, mengikat kaki dan tanganmu, sehingga engkau tak bisa bergerak dan bernapas lega.

Setelah mengetahui tentang semua itu dengan amat sangat jelas, saya jadi hanya bisa terenyuh jika ada suatu hal yang menghimpit sikon kehidupan orang-orang yang saya cintai, tekanan kehidupan yang terjadi pada orang-orang yang saya kasihi, karena saya tau, itu  sesungguhnya bukan ujian atau goda’an, melainkan wujud kasih dan kepedulian Maha Suci Hidup, itu adalah anak tangga pemberian Maha Suci Hidup secara langsung, untuk di naiki satu demi satu anak tangganya,  menuju kedewasa’an Proses Hidup dan Laku Spiritual Hakikat Hidup sesuai Firmannya. Disisi lain,,, saya tau, bahwa ada kemulia’an Hidup di dalam Kehidupan yang akan bersama merekan yang saya cintai, yang saya kasihi, namun butuh proses laku Perjuangan dan Pengorbanan yang Cukup mumpuni untuk bisa menggenggamnya segara, karena itu saya tidak bisa berbuat banyak, kecuali tetap bertahan. Bertahan di sini untuk mendidik dan membimbing yang saya cintai dan saya kasihi, agar yang saya cintai dan kasihi bisa mumpuni, hingga bisa mencapai titik itu dan mampu menggapai titik itu serta menggenggamnya dengan Iman Maha Suci Hidup, sesuai dengan yang telah di FirmankanNYA, secara SEMPURNA, tanpa cela dan cacat sedikitpun.

Walau saya harus mati kehabisan waktu dan tutup usia di rumah anak didik saya ini tanpa ada yang tau, kecuali anak didik yang saya yakini nantinya bisa menjadi pengganti saya. Saya sudah siap jiwa raga dan lahir batin, kapapun ajal itu datang menjemput, saya sudah siap menyambut… Karena hanya dengan ajal itulah, saya bisa memeluk dan mencurahkan kerinduan yang sarat ini, kepada Maha Suci Hidup, jantung hati dan napas Hidup saya, yang selama ini saya puja dan puji, yang utama bagi saya disini, adalah berusaha dan tetap selalu berusaha untuk bisa BERDIRI dan Selalu TEGAK BERDIRI dengan GAGAH dan JENTELMEN. Demi untuk selalu bisa Mendidik dan Mimbimbing, yang saya cintai dan saya kasihi hingga menjadi mumpuni, serta menyaksikan yang saya cintai dan kasihi berhasil menggenggam dunia sesuai Kehendak yang di Firmankan oleh Maha Suci Hidup.  SUNGGUH LUAR BIASA SUKA DAN DUKA DI DALAM LAKU SPIRITUAL HAKIKAT HIDUP YANG SAYA ALAMI SA’AT SEKARANG INI DISINI. SUNGGUH SEMPURNA… TAK ADA SATUPUN YANG TERLEWATI… SEMUANYA HADIR BERSAMA SEIRING ANA APA-APA KUNCI LANGKA APA-APA KUNCI. Semoga Pengalaman suka dan duka saya di dalam Laku ini, bisa diambil hiqmahnya sebagai bahan renungan menuju dimensi yang lebih baik bagi siapapun yang membecanya, terutama anak-anak didik saya. Terima kasih atas kesedia’an waktunya untuk membaca curahan hati saya hingga selesai. Salam Rahayu kanti Teguh Slamet Berkah Selalu dari saya untukmu sekalian.

Ttd:

Wong Edan Bagu

Putera Rama Tanah Pasundan

Jawa Dwipa Selasa Kliwon tgl 06 Januari 2015

https://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com

GA’IB…?!


DULU… SEWAKTU SAYA MASIH DALAM PENDIDIKAN TABIB. SAYA PERNAH MENDAPAT PEMBELAJARAN YANG AMAT KUSUS SA’AT UJIAN AKHIR… DAN BARU SA’AT INI SAYA KETAHUI MANFA’ATNYA. DI SA’AT SAYA SEDANG BELAJAR UNTUK MEMAHAMI DETAILNYA GA’AIB… BERBAHAN PELAJARAN ILMU KETABIBAN YANG PERNAH SAYA PELAJARI DULU… SAYA AKAN MENCOBA MEMPERKENALKAN ALAM GHAIB DENGAN NALAR. TANPA MISTIK DAN HOKUS-POKUS.

REALITA DALAM 1 PARAGRAF;
Alam nyata ini terdiri dari: ruang 3 dimensi, waktu dan materi atau energi (materi setara dengan energi secara E=mc2). Itu adalah batas-batas persepsi manusia secara umum terhadap realita dunia ini. Untuk materi, atom-atom dianggap materi terkecil di pendidikan sains dasar. Untuk tingkatan lebih lanjut (fisika quantum) ilmuwan sudah sepakat mendefinisikan penyusun atom-atom sebagai quark. Lebih jauh lagi, quark dicurigai hanya sebagai pusaran-pusaran gelombang elektromagnetik (standing wave). Hanya getaran. Untuk yang terakhir ini, masih diteliti dan belum semua ilmuwan sepakat.

ALAM GHAIB;
Ghaib itu tidak terlihat, non-material, maya. Titik!
Bagi saya… Matematika itu ghaib. Hukum-hukum dan aturan itu ghaib. Data dan informasi juga ghaib. Internet juga ghaib! Buku, CD, hardisk, modem, dll. hanya media; sebagai wadah dan sarana fisik untuk barang-barang ghaib yang dihasilkan oleh akal manusia tadi. Akal yang ghaib juga! Entitas ghaib ini bisa berpindah-pindah media dan digandakan tanpa mempengaruhi esensi aslinya. Karya seni dan teknologi adalah hasil dari perpaduan akal dan materi. Sama seperti otak, hanya perangkat fisik untuk mengkoneksi akal manusia yang ghaib dengan dunia materi.

Dengan model materi sebagai getaran (elektromagnetik maupun mekanik), maka akan ada banyak spektrum. Yaitu range frekuensi yang mempunyai sifat sejenis. Misalnya; untuk frekuensi 400~789 THz, persepsi manusia di-tune untuk menerimanya sebagai sinar berwarna-warni; 3~300 THz terasa sebagai panas; 20Hz-20kHz terdengar sebagai berbagai nada suara, dst. Dan sampai saat ini frekuensi di atas 300 EHz, atau panjang gelombang lebih kecil dari Planck length (1.616199{97}×10−35 meter) tidak mungkin terdeteksi, karena tidak dapat “dirasakan” oleh materi. Atau bisa dibilang di luar batas spektrum realita materi. Alam ghaib!
(Seandainya suatu saat terdeteksi pun, masih ada frekuensi yang lebih tinggi, sampai tak terbatas)

ALAM MANUSIA;
Menurut saya… Manusia 1/2 ghaib, 1/2 nyata. Kinerja otak dipengaruhi oleh akal ghaib manusia, dan juga dipengaruhi secara hormonal dari materi-materi yang bersifat rendah. Pikiran hormonal bekerja melalui zat-zat yang terkandung dalam darah, dan respon atas indra-indra fisik. Segala bentuk emosi (nafsu) adalah pikiran hormonal yang rendah. Dan pikiran yang jernih adalah kinerja dari akal yang tidak terpengaruh emosi.

Setan ghaib. Tapi setan bukan individu. Setan adalah simbol untuk suatu sifat (properties) kejelekan. Pikiran jelek adalah pikiran yang mengandung setan. Setan bisa “berkembang biak” dengan cara menulari pikiran lain. Pikiran hormonal (sarat emosi) lebih gampang tertular setan. Buah pikir jelek yang menjadi faham dan mempunyai pengaruh luas, itulah yang disebut setan besar. Setan besar bisa mempunyai organisasi, asset, dan pasukan yang terdiri orang-orang penganut faham itu. Secara individual setan bisa berupa manusia maupun jin.

ALAM JIN;

Menurut saya… Jin ghaib, bagi manusia. Tapi manusia tidak ghaib, bagi jin. Jin bisa melihat dan menampakkan diri ke realitas dunia manusia. Realitas alam jin hanya berbeda “spektrum material”nya dengan alam manusia, dalam panjang gelombang lebih kecil dari yang dapat terdeteksi. Mungkin selisih beberapa oktaf. Tempat dan waktunya bisa overlap. Saat menampakkan diri, frekuensi tinggi bisa dimodulasi dengan frekuensi lebih rendah. Secara logika, hal ini memungkinkan jika frekuesi realitas dunia jin lebih tinggi. Tetapi realita (alam) berfrekuensi rendah tidak bisa masuk ke alam berfrekuensi lebih tinggi. Mirip dengan modulasi gelombang AM pada radio. Frekuensi suara bisa dibawa/dibentuk oleh frekuensi gelombang radio, tapi frekuensi suara tidak bisa membawa/membentuk frekuensi gelombang radio.

ALAM LAIN-LAIN;
JADI… Dengan analogi yang sama, sangat memungkinan keberadaan alam-alam lain dengan spektrum yang lebih tinggi, yang mempunyai kendali terhadap spektrum-spektrum di bawahnya. Elemen-elemen pembatasnya juga bisa jadi lebih dari sekedar ruang, waktu dan materi (5 dimensi). Seperti ingatan misalnya; sebagai komponen akal, ingatan tidak terlalu terikat dimensi waktu dan tempat. Ingatan bisa bergerak mundur dan berpindah-pindah ke tempat lain. Realita akal, persepsi, dan kehidupan, sangat mungkin melibatkan dimensi yang jauh lebih kompleks. Teori superstring saat ini mendefinisikan sampai 10 dimensi. Dan itu bukan satu-satunya teori yang diterima secara luas.

SEDERHANA BUKAN…?
JADI… UNTUK MEMAHAMI APA ITU GA’IB. KITA TIDAK PERLU MIKIR NEKO-NEKO TENTANG DAN SOAL BAB GA’IB. KARENA… UNTUK MEMAHAMINYA. KITA TIDAK PERLU KEMENYAN DAN DUPA ATAU MEDITASI DAN RITUAL APAPUN… JIKA BISA MENCERNA GOMBAL SAYA DIATAS. SAYA JAMIN… GA’IB TIDAK AKAN MEMBINGUNGKAN DAN MEMUSINGKAN. DAN… KARENA TUHAN ITU GA’IB. MAKA TUHAN BERSAMA KITA DI DALAM DIRI KITA INI. JADI… RES BERES Ta’iye… HE HE HE . . . EDAN TENAN.:-) SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU SAUDARA-SAUDARIKU SEMUANYA TANPA TERKECUALI… SEMOGA POSTINGAN SAYA KALI INI. BISA LEBIH BERMANFAAT LAGI DARI ARTIKEL-ARTIKEL SEBELUMNYA…
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

https://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com

SUDAH SEBATAS MANAKAH PEMAHAMAN KITA DALAM MENGENAL PENDAMPING GHA’IB..?!


Dalam Firman di jelaskan… Allah telah menjadikan 600 alam berikut makhluk hidup di dalamnya. “Sesungguhnya Aku (Allah) ciptakan pasangan yang serasi/sepadan, kepada manusia agar mereka senang serta menyukainya” (Imam Ibnu Salam)
Secara Hakikat..Maksud teman serasi dalam dalil ini adalah pendamping Ghaib yang sepadan untuk mendampingi manusia atau membantu dalam segala sifat spiritualisnya.

Disini saya akan coba sedikit menjelaskan secara detail tentang tingkatan ilmu yang berlaku dan sudah berjalan sejak zaman Nabi Adam AS, hingga sampai kepada Baginda Rosululloh SAW dan seluruh umat di jaman modern sekarang ini. Dan bagian dari ciri sifat manusia dalam memahami batasan dan tingkatan ilmu bathiniyyah secara sempurna. Tahapan ini bisa dijadikan tolak ukur kita dalam pengenalan dunia bathin yang sebenarnya.

SUDAH SEBATAS MANAKAH PEMAHAMAN KITA DALAM MENGENAL PENDAMPING GHA’IB..?!

Inilah RUMUSNYA;
No. 1.
Ilmu Syareat… Batasanya hanya sekedar paham secara akal tanpa bisa mengalami/menyaksikan secara langsung perwujudan dari bisyaroh bangsa Ghoibiyyah. Sifatnya selalu memakai akal dan bukan berpegang pada hukum yang benar. Golongan ini tingkatannya di bawah bangsa lelembut terendah dan masih mudah di susupi makhluk tak kasat mata untuk mencelakakan dirinya, seperti terkena penyakit kesurupan, tertembus ilmu bangsa teluh dan tidak mampu menjadikan badanya stabil dalam segala pemahaman ilmu bangsa bathiniyyah khususnya. Sifat dari golongan ini suka berhayal tinggi tanpa bukti, mudah emosi dan suka berdebat/menghujat, sulit menahan keinginan dan selalu menyalahkan orang lain. Golongan ini disebut juga sebagai maqom awam atau maqom akal/akliyyah, sekalipun pribadinya ahli ibadah, namun bathinnya kropos (labil) seperti tulang tanpa sungsum.

INTINYA:
Golongan ini tahapannya hanya sebatas;
1. Mengenal hukum agama secara pandangan mata, belum sampai ke sifat asma’
2. Tidak memahami perjalanan asma’, tahu-nya Cuma amalan itu baik, tapi sama sekali tidak menguasainya.
3. Amalannya di ambil dari Google, FB, kyai dengan tanpa sanad keilmuan yang ada maupun buku serta lainnya.
4. Hayalannya sangat tinggi dan sifatnya mudah emosi atau menang sendiri secara akal, tanpa berpegang pada hukum yang sebenarnya.

Khodam yang mendampinginya terlahir dari bangsa Aswad (Khodam yang banyak mencelakakan dan menjerumuskan manusia) yaitu:
1. Bangsa jin
2. qorin Be’ad (bangsa pengganggu akal manusia)
3. Ahmar (sifatnya angin merah yang membawa penyakit)
4. Benalu (sejenis makhluk yang suka membisikkan manusia agar tersesat)
5. Makhluk Batara Karang (pencuci otak manusia agar inkar kepada Allah)

Bila kita masih mempunyai sifat diatas, maka cara mudah untuk merubahnya dengan memperbanyak diam, tidak ikut campur urusan orang lain dan banyak memohon ampunan kepada Allah,,, (KUNCI) “Ana apa-apa KUNCI Langka apa-apa KUNCI”. Dengan begitu dalam hitungan hari sifat kita akan berubah dengan sendirinya.

No. 2.
Ilmu Bathin/Iman….Batasanya hanya sekedar mimpi tanpa bisa merasakan kekuatan sesungguhnya. Tahapan ini hanya bisa mencapai sifat penyembuhan namun masih jauh dari pemahaman menuju ilmu bangsa Adzom/tinggi. Badannya masih labil, akalnya masih belum bisa mencapai pemahaman yang sebenarnya, sifatnya selalu asal-asalan tanpa mengikuti kaidah yang benar. Golongan ini bagian dari Paranormal zaman sekarang. Tingakatannya dibawah bangsa Ghaib dan para ratu lelembut. Sifat aslinya pemalas dan pengennya di hormati kalayak luas, senang akan ketenaran dan suka di puji. Hatinya masih rusak dan ilmunya jauh dari benar (hanya bermodal nekat). Sifatnya tidak mau disalahkan tapi suka menyalahkan orang lain.

INTINYA:
Golongan ini tahapannya hanya sebatas;
1. Mengerti amalan, tapi tidak paham sanad keilmuan.
2. Menjalankan amalan disertai pengharapan dan tujuan yang banyak.
3. Bangga pada amalan tapi hanya sebatas menjalankan, tanpa memahami tatanan ilmu yang sedang dijalankannya seperti apa (tanpa mau tahu KUNCInya)
4. Ibadahnya karena hanya ada tujuan, atau mau beribadah/berdzikir kalau ada maunya saja.

Khodam yang mendampinginya masih banyak menuntut kepada kita (harus selalu memakai prasarana, harus puasa sekian hari, harus dzikir dengan hitungan yang tepat dan lain sebagainya). Sifat khodamnya:
1. Bangsa Jin (sukanya menuntut)
2. Bangsa Qorin (bangsa ghaib yang sifatnya rendah)

Bila kita masih punya sifat diatas, cara merubahnya cukup melestarikan perbuatan baik kepada siapapun tanpa terkecuali. “Ana rusia aja binuka, rejeki setitik aja tinampik, rabi ayu aja sinarean”. Maka Allah akan memberikan hidayah kepada kita, hanya dengan hitungan hari saja.

No.3.
Ilmu Dzon/Solah….Batasanya sudah memahami ilmu bathin secara benar namun belum paham tentang amaliyyah bangsa Sir Asror. Sering kedapatan bisyaroh yang benar dan terkadang masih memakai akal dalam segala perbuatannya. Golongan semacam ini hatinya sudah tenang, tatapan matanya sangat kuat dan bathinnya sudah stabil, namun kekurangannya masih belum bisa menembus sifat alam bangsa Kamil Mukammil. Tingkatannya masih dibawah Mulukul Ardhi.

INTINYA:
Golongan ini tahapannya hanya sebatas;
1. Memahami amalan dan sanad muttasilnya ilmu, tapi belum paham makna Sir Asrornya asma’
2. Ibadahnya karena Allah, dan hatinya baik serta sifatnya dewasa penuh syafaqoh (kelembutan)
3. Ilmunya belum sempurna karena belum paham asma’ talaqqo pribadinya sendiri.
4. Hubungan bathinnya masih mengandalkan amalan, bukan dari hukum alam (HIIDUP) yang berlaku.

Khodam yang mendampinginya banyak membantu dalam kemaslahatan banyak ummat, namun masih belum stabil dalam pendalaman ilmu bersifat bathiniyyah, Khodamnya terdiri dari bangsa:
1. Adlun (Purwacarita/makhluk beraliran Kejawen)/Lelembut.
2. Mulukul Ardhi (bangsa penguasa laut) dan bumi.

Dari ketiga golongan diatas, sifatnya masih belum bisa dikatakan ahli ilmu bathin secara sempurna. Sebab jauh dari memahami Sir Asror bangsa Asma’ dan belum berpegang pada asma “KUNCI” Malaikatulloh sehingga apapun piranti yang kita buat nanti masih bisa di cabut oleh ahlul bathin yang mumpuni/musuh/orang yang tidak suka dengan kita.

Bila kita ingin merubah sifat diatas menuju yang lebih baik, cukup dengan manembah kepada Hidup dan Sungkem kepada ibu kandung, anak yatim atau janda miskin secara istikomah. Karena… Sesungguhnya, mengasihi mereka itu, bagian dari penghilang kejelekan manusia dan mengangkat derajat untuk lebih baik lagi ke depannya. “Yen wani aja wedi-wedi Yen wedi aja wani-wani”.

No.4.
Ilmu Wushul/Ahsan…..Batasanya sudah mencapai tatanan ilmu yang benar dan tinggal menjalankannya karena Allah, keluasannya sudah menguasai asma’ bangsa Sir Asror. Badannya sudah dekat dengan bangsa Malaikat, bathinnya sudah diatas bangsa Mulukul Ardhi. Golongan ini disebut bangsa Waliyulloh atau maqom Arifun (pelajaran Supranatural School Gold) Tingkatannya di atas bangsa Mulukul Ardhi dan dibawah bangsa Barqon (tangan kanan bangsa Malaikatulloh). Badannya bisa menaklukkan setingkat bangsa Raja maupun Ratu para lelembut dan mampu menjadikan bentuk piranti berkekuatan permanent. Namun dalam lakunya masih belum bisa di sebut sempurna. Karena baru sampai pada laku Krasa rumangsa, masih Belum mencapai Rasa Hidup yang sebenarnya.

Khodam yang mendampinginya sangat membantu sekali dalam kemaslahatan diri dihadapan Allah dan para ahlinya. Golongan ini khodamnya dari bangsa:
1. Barqon (khodam Malaikat)
2. Mawahib (bangsa Raja dan ratu alam lelembut Langit)
3. Malakutiyyah (bangsa Malaikatulloh dan Jabarut)

Maqom ini bagian dari awal kesempurna’an, baik tidaknya kita, akan membawa manfa’at buat orang lain. Sebab maqom ini sudah berpegang pada hukum yang benar. Bila mengalami hal ini dan ingin mencapai Rasa Hidup yang Sebenarnya. Maka Cukup dengan melakukan “ Tumindak apa bae Kinantenan sarwa MIJIL.

No.5.
Ilmu Rijalulloh/fana’/Syahadatul Kubro….Batasanya sudah menguasai alam Jabarut dan Malakut, hatinya hanya pasrah kepada Allah, sifatnya tinggal menjalankan semata. Kekuasaannya sudah jelas terpegang. Akhlaknya seperti bangsa Raja/Auliya Kamil/Wali Kamil (sempurna). Golongan ini disebut Wali Kamil. Tingkatanya di atas bangsa Barqon dan Malaikatulloh.

Khodam yang mendampinginya sangat bermanfaat bagi kita dan selalu mengingatkan akan kecintaan hamba kepada Allah SWT,,terdiri dari bangsa Qutub dan Quthbur Rijal:
1. Waliyulloh Kamalat (keluhuran)
2. Malaikatulloh Hafadzho (Nur Ilafi)
3. Nabiyulloh Ulul Azmi (sidkun/nyata/jujur)

Maqom ini sudah dikatakan sempurna, namun belum sejati. Mereka dengan sendirinya akan melaksanakan sifat terbaik dihadapan Rosulnya dengan mengikuti segala hukum yang di ketahuinya dan menjauhi segala larangan-Nya.

No.6.
Ilmu Tahkik Junudulloh/Siddikiyyah…..Batasannya sudah tidak membutuhkan makhluk lain, seperti wasilah kepada bangsa Malaikatulloh kecuali kepada Allah dan baginda Rosululloh SAW, hidupnya tidak memikirkan apa-apa kecuali kedekatan diri kepada Allah dan baginda Rosululloh. Golongan ini tidak mempunyai kematian dalam dirinya, kecuali sekedar pindah alam (selamanya hidup dan masih memberi syafaat kepada keluarga dan orang-orang Soleh di alam dunia.

Khodam yang mendampinginya selalu mengabarkan tentang segala alam yang bakal terjadi dan bagian dari hamba pilihannya Allah. Terdiri dari bangsa Bahrun Bimaujin.
1. Nabi Hidir AS (sulthonul Bahr)
2. Nabi Sulaiman (sulthonul Alam)
3. Bangsa Jabarutiyyah (Malaikat langit tertinggi)

Maqomnya sudah mencapai Wali kamil Mukammil. Tingkatannya setarap bangsa Malaikatulloh penjaga langit. Namun bukan sejatinya.

No.7.
Ilmu Basyariyyah/Qurbah….Batasannya sudah tidak mengenal makhluk, pandangannya selalu bijak tanpa melihat kejelekan manusia. Dalam pandangannya selalu berbaik sangka kepada siapapun juga dan keluasan akliyyahnya berpegang pada satu Husnuddzon (berbaik sangka) bahwa semua yang terjadi di dunia atas milik Allah. Hatinya sangat bersih dan akalnya tidak pernah mencela siapapun yang berbuat salah,,keyakinannya cuma satu.

Bahwa apapun yang terjadi pada manusia, sudah menjadi ijin Allah SWT, sehingga kita tidak boleh menghardik, mencela maupun ikut campur di dalamnya, kecuali memohon ampunan kepada Allah dan bersyukur atas segala nikmat yang diberikan kepada hamba. Tidak ada yang lainnya.

Golongan ini disebut sebagai Wali Wilayah. Tingkatannya bangsa Makhluk surga.
Khodam yang mendampinginya berwujud Nur langsung dari Allah SWT, tanpa pelantara Malaikat, maupun Makhluk agung lainnya kecuali Sir bangsa Ketuhanan/Allah.

JIKA MENGALI SEPERTI YANG PENJELASAN PADA ILMU NOMER 5 DAN 6 SERTA 7. MAKA… Jangan Berhenti hanya sampai di batas itu saja. Karena masih ada satu anak tangga lagi yang harus di tapaki. Maka… Lakulah Mencari WAHYU PANCA GA’IB. Karena hanya dengan Wahyu Panca Ga’ib lah, yang menjamin bisa sampai ke Ruang Benar dan Titik Sejati. (RASA)-(HIDUP)-(KUNCI) INGAT ya SEDULURR… Jagat raya diciptakan dengan kata-kata… Kun!
Atas dasar itu… Mari sama-sama kita baca tanah, air, api, udara, pohon, kecoa, ikan, babi, tikus, manusia, pelacur, pencuri, pembunuh, penjinah dan semuanya tanpa terkecuali… Kemudian kita rangkai lagi menjadi kalimat Hidup yang MenghiDupkan… Besi, plasik, kain, mesin, pesawat, robot, teori, rumus, filsafat, kristen, islam, hindu, budha, kejawen bahkan ajaran sesat sekalipun… Kemudian kita rankai lagi menjadi kalimat Hidup yang menghiDupkan. HE HE HE . . . EDAN TENAN.:-) SALAM RAHAYU KANTI TEGUH SLAMET BERKAH SELALU SAUDARA-SAUDARIKU SEMUANYA TANPA TERKECUALI… SEMOGA POSTINGAN SAYA KALI INI. BISA LEBIH BERMANFAAT LAGI DARI ARTIKEL-ARTIKEL SEBELUMNYA…
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Tanah Pasundan

https://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com