Sejarah Singkat Turunnya Wahyu Tertua/Pertama Turun Kebumi:  (Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling Bagian Kedua)


25587239_408895006223226_4772694128373983166_o

Sejarah Singkat Turunnya Wahyu Tertua/Pertama Turun Kebumi:
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling Bagian Kedua)
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Di Pesanggrahan Pesona Jagat Alit. Hari Jumat. Tanggal 22 Desember 2017.

Para Kadhang Kinasihku Sekalian..
Nabi Adam adalah Raja Parahyangan, nenek moyangnya orang Jawa Sunda dan seluruh manusia setelah Adam. Leluhurnya orang Jawa Sunda dan seluruh manusia setelah Adam.

Asal muasal peradaban dari Jayadewata Tanah Pasunda, dan sekarang kembali di Jayadewata Tanah Pasundan.

(3). Sejarah kerajaan tertua;
Kerajaan Parahyangan adalah, kerajaan Tertua di Dunia. Karena Kerajaan Parahyangan adalah kerajaan pertama bani Adam, yang berpusat di Bandung Jawa Barat, dengan Nabi Adam sebagai rajanya.

Sejarah kerajaan tidak terlepas dari sejarah kenabian dan kewalian. Kalaupun yang menjadi raja bukan nabi, maka raja bertanggung jawab kepada nabi atau wali.

Kerajaan tertua kedua adalah Kerajaan Kahyangan Pasunda, yang berpusat di Kabuyutan Galunggung Tasik Jawa Barat, dengan Nabi Nuh sebagai rajanya.

Setelah peradaban pada jaman Nabi Nuh, habis ditelan banjir besar, berikutnya Nabi Nuh yang perahunya terdampar di gunung Galunggung Tasik Jawa barat, membuat peradaban baru.

Berikutnya Kerajaan Kahyangan Pasundan, diteruskan oleh Kerajaan Pasundan yang berpusat di Kabuyutan Ciburuy Garut Jawa Barat, dengan Nabi Ibrahim sebagai rajanya.

Nabi Adam adalah Raja Parahyangan, kalau Nabi Nuh adalah Raja Kahyangan Pasunda, sedangkan Nabi Ibrahim adalah Raja Pasundan.

Penerus terakhir Kerajaan Pasundan adalah Kerajaan Pajajaran, yang berpusat di Bogor Jawa Barat, yang kemudian dihilangkan peradabannya (ngahiyang ) untuk dimunculkan kembali di akhir jaman (sekarang).

Kemunculan kembali Kerajaan Pajajaran di akhir jaman ini, akan berubah wujud menjadi kerajaan baru, yang super modern dan berubah nama menjadi Kerajaan Atlantis yang nantinya akan berpusat di Bandung Jawa Barat.

Setelah terjadi banjir besar pada jaman Nabi Nuh, semua peradaban di bumi hancur, yang selamat hanya Nabi Nuh beserta sebagian keluarga dan para pengikutnya yang setiatuhu.

Perahu Nabi Nuh terdampar di gunung Galunggung Tasik Jawa Barat atau sering juga disebut sebagai Kabuyutan Galunggung.

Kabuyutan Galunggung disebut juga sebagai Sundaland, atau lebih tepatnya Kabuyutan Galunggung adalah bagian dari wilayah Sundaland.

Nabi Nuh beserta pengikutnya dan orang-orang Kabuyutan Galunggung pun, kemudian membangun kerajaan Kahyangan Pasundan, yang kemudian menjadi pusat peradaban dunia, dikenal sebagai Peradaban Atlantis.

Nabi Nuh sebenarnya bukan membangun dari nol, akan tapi membangun kembali peradaban yang sudah ada sebelumnya, yaitu peradaban atlantis, yang telah di bangun oleh Kerajaan Parahyangan.

Jadi, meskipun Kahyangan Pasundan menjadi pusat peradaban dunia, tapi tetap akarnya adalah peradaban atlantis.

(4). Sejarah agama tertua;
Agama Tertua adalah Jatisunda, yang Dibawa oleh Nabi Nuh,
Sejak Nabi Adam hingga Nabi Idris sampai Nabi Nuh, belum ada nama syariat (agama) karena pada jaman itu, hanya ada satu agama yang dibawa oleh Nabi Adam.

Ketika jaman Nabi Nuh, umatnya mulai melakukan penyimpangan syariat, dengan membuat ajaran agama tanpa bersandar kepada Nabi.

Maka Nabi Nuh menamakan syariat (agama) yang dibawanya dengan nama Jatisunda, untuk membedakan dari ajaran syariat lain yang menyimpang.

Bukan hanya penamaan syariat (amalan lahir) tapi juga Nabi Nuh menamakan tarekat (amalan batin) yang dibawanya dengan nama Karahayuan, untuk membedakan dengan tarekat lain yang tidak bersandar kepada Nabi.

Suatu ajaran syariat atau tarekat, dikatakan menyimpang patokannya, apabila ajarannya tidak mempunyai sanad (sandaran) atau mata rantai ijazah (ijin) sampai ke Nabi.

Sanad atau mata rantai ijazah diperlukan dalam menyebarkan ajaran syariat atau tarekat kepada umat, untuk menjaga kemurnian ajaran, sehingga tidak terjadi penyimpangan.

Agama Tertua Kedua adalah Sunda Wiwitan, yang Dibawa oleh Nabi Ibrahim. Pada jaman Nabi Ibrahim, ada perubahan syariat (amalan lahir) dan nama dari agama Jatisunda, yang dibawa oleh Nabi Nuh menjadi agama.

Perubahan syariat dan nama agama bisa terjadi, karena di sesuaikan dengan kondisi umat Nabi pada jaman itu.

Perubahan syariat dari Jatisunda menjadi Sunda Wiwitan, juga diikuti oleh perubahan tarekat dari Karahayuan menjadi dua cabang, yaitu Tarekat Sundaniyah dan Kejawen.

Meskipun nama agama berubah dan tarekat menjadi bercabang dua, hakikatnya sama, yaitu mengajak umat untuk mulih ka jati, mulang ka asal.

Bahkan Nabi Muhammad pun, meski sudah membawa syariat Islam, tapi tetap disuruh untuk mengikuti millah ibrahim (ajaran ibrahim).

Nabi Muhammad bukan disuruh mengikuti syariat Sunda Wiwitan, tapi disuruh untuk mengikuti tarekat sundaniyah atau kejawen yang berakar ke tarekat karahayuan.

Intinya, millah ibrahim itu adalah ajaran ilmu mulih ka jati mulang ka asal, Inna lillaahi wa Inna ilaihi Raji’un.

Meskipun para nabi tertentu, setelah Nabi Nuh, membawa syariat yang berbeda-beda dengan syariat sebelumnya, tapi semua syariat yang dibawa oleh para nabi itu, induknya Sunda Wiwitan, akarnya adalah Jatisunda, sedangkan intisarinya adalah Kapitayan ageman Sunda.

(5). Sejarah tarekat tertua;
Tarekat Karahayuan yang dibawa oleh Nabi Nuh, mempunyai sanad (sandaran) atau mata rantai ijazah (ijin) hingga ke Nabi Adam.

Tarekat adalah bagian yang tidak terpisahkan dari agama yang dibawa oleh para nabi.

Agama yang dibawa oleh para nabi, terdiri dari syariat (amalan lahir) dan tarekat (amalan batin).

Untuk kembali kepada Tuhan, tidak cukup dengan syariat saja atau tarekat saja, tapi harus mensucikan lahiriah dengan amalan lahir (syariat) dan mensucikan batin dengan amalan batin (tarekat).

Bedanya para nabi itu, menyebarkan syariat secara umum dan terbuka, sedangkan tarekat secara khusus dan tertutup.

Untuk syariat siapapun bisa melakukannya, tapi untuk tarekat, hanya orang-orang yang terpanggil dan sungguh-sungguh ingin pulang atau kembali kepada Tuhan yang bisa melakukannya.

Setelah melakukan syariat, berikutnya adalah melakukan tarekat, karena tarekat adalah jalan untuk pulang kepada Tuhan, dari jisum ke ruh ke asma ke sifat dan berakhir di zat.

Ketika jaman Nabi Ibrahim, tarekat karahayuan bercabang menjadi dua yaitu tarekat sundaniyah dan tarekat kejawen.

Meskipun jadi bercabang dua, tapi isinya sama, hanya beda penamaan dan bahasa saja.

Tarekat Sundaniyah itu ha-na-ca-ra-ka . Da-ta-sa-wa-la, kalau Tarekat Kejawen itu ho-no-co-ro-ko . do-to-so-wo-lo. Hanya itu letak bedanya.

Perubahan penamaan dan bahasa tarekat itu, seiring dengan penyebaran umat yang semakin meluas serta perubahan bahasa dan budaya setempat.

Setelah mensucikan lahiriah dengan melakukan amalan syariat, untuk pulang menuju Tuhan, berikutnya adalah mensucikan batin, dengan melakukan amalan tarekat.

Setelah melakukan syariat, maka tarekat adalah satu-satunya jalan pulang menuju Tuhan, ke dalam diri, melalui martabat alam ruh, asma, sifat dan zat.

Untuk pulang jalannya adalah ke dalam diri bukan ke luar diri. Tidak akan pernah bisa pulang kalau melalui jalan ke luar diri.

Meskipun sekarang banyak sekali jumlah atau cabang tarekat, tapi semua tarekat menginduk ke tarekat karahayuan.

(6). Sejarah Kewalian Tertua;
Syekh Sanusi dari Tasik adalah Wali Mursyid (Sunan) Tertua Tarekat Karahayuan.

Syekh Sanusi adalah wali mursyid pertama yang mempunyai ijazah (ijin) dari Nabi Nuh, untuk menyebarkan tarekat karahayuan.

Pewaris atau penerus yang mempunyai sanad ke nabi ada dua jalur, yaitu penerus penyebar syariat yang disebut faqih dan penerus penyebar tarekat yang disebut mursyid (wali mursyid/sunan).

Ada lima tingkatan manusia yang melakukan perjalanan pulang menuju Tuhan;
1. Basyar. Adalah orang yang masih berada di martabat alam jisim.

2. Annas. Adalah orang yang sudah masuk martabat alam ruh.

3. Insan. Adalah orang yang sudah masuk martabat alam asma.

4. Insan Kamil. Adalah orang yang sudah masuk martabat alam sifat.

5. Kamil Mukamil. Adalah orang yang sudah masuk martabat alam zat.

Ada lima tingkatan hati orang yang melakukan perjalanan pulang;
1. Basyar, itu belum mempunyai hati, karena belum masuk martabat alam ruh.
2. Shadr, adalah hatinya annas.
3. Qalbu, adalah hatinya insan.
4. Fuad, adalah hatinya insan kamil.
5. Lub, adalah hatinya kamil mukamil.

Sunan Rohmat dari Garut adalah Wali Mursyid (Sunan) Tertua Tarekat Sundaniyah.

Sunan Rohmat adalah sunan pertama yang mempunyai ijazah (ijin) dari Nabi Ibrahim, untuk menyebarkan Tarekat Sundaniyah.

Maksudnya Sunan. Sunan adalah orang yang sudah pulang menuju Tuhan, yang kemudian diberi ijazah (ijin) untuk mengantar orang lain pulang.

Sunan disebut juga sebagai mursyid (pembimbing) atau wali mursyid.

Wali adalah orang yang sudah pulang batinnya. Sedangkan mursyid adalah wali yang diberi tugas untuk mengantar batin orang lain untuk pulang.

Tidak semua wali ditunjuk menjadi mursyid. Jumlah wali jauh lebih banyak daripada mursyid.

Jadi, mursyid itu pasti wali tapi wali belum tentu mursyid.

Begitupun dengan Nabi, nabi pasti mursyid tapi mursyid belum tentu nabi. Jumlah mursyid itu jauh lebih banyak dari nabi.

Semua wali dan mursyid tarekat menginduk ke Sunan Rohmat dan mengakar ke Syekh Sanusi.

Maksudnya adalah Syekh Sanusi yang mengesahkan kewalian seseorang, sedangkan Sunan Rohmat yang mengesahkan ke-mursyid-an seorang wali.

(7). Sejarah Leluhur Tertua;
Penduduk Asli Kabuyutan Galunggung Tasik Jawa Barat, yang Selamat dari Banjir Nuh, adalah Leluhur Tertua di Dunia.

Beberapa penduduk asli kabuyutan galunggung, yang selamat dari banjir Nuh, menjadi leluhur tertua di dunia, karena mereka adalah orang asli Sundaland, keturunan Nabi Adam dari Peradaban Atlantis yang berpusat di Bandung Jawa Barat.

Sedangkan dari Nabi Nuh yang terdampar di kabuyutan galunggung, menjadi leluhur tertua kedua, yang kemudian menurunkan berbagai ras, yang menyebar ke seluruh dunia.

Keturunan asli kabuyutan galunggung disebutnya Bani Sunda. Sedangkan keturunan dari Nabi Nuh disebutnya Bani Nuh.

Jadi, Bani Nuh adalah bani tertua di dunia, tapi akarnya adalah dari Bani Sunda.

(8). Sejarah Kampung Halaman Tertua;
Kampung Halaman Seluruh Manusia Sedunia adalah Tanah Pasundan yang berbeda di Sundaland (Bandung).

Kampung halaman seluruh manusia sedunia adalah Sundaland. Sedangkan wilayah utama Sundaland adalah Jawa Barat (Tatar Sunda atau Tanah Pasundan).

Jayadewata Tanah Pasundan, bukan hanya mengajarkan cara pulang secara batin dengan Sundayana (ilmu mulih ka jati mulang ka asal) tapi juga Jayadewata Tanah Pasundan (Sundaland) adalah tempat pulang (kampung halaman) secara lahir.

(9). Sejarah Budaya Tertua;
Budaya Tertua di Dunia adalah Budaya Sunda, karena budaya sunda adalah budaya yang berasal dari peradaban tertua, yaitu peradaban atlantis.

Budaya adalah hasil kegiatan lahiriyah atau hasil yang tampak (lahiriyah) sebagai perwujudan (manifestasi) dari batiniyah.

Bentuk hasilnya berupa nilai-nilai, norma, karakter, pola fikir, adat istiadat, bahasa, kesenian dan sopan santun.

Bentuk hasil yang lebih luas lagi, adalah sistem pendidikan, ekonomi, politik, sosial, sains dan teknologi.

Bentuk hasil yang semakin kaya dan meluas yang dilakukan berabad-abad bisa membentuk sebuah peradaban.

Peradaban Sunda Modern akan Dimulai oleh Kerajaan Atlantis, yang Berpusat di Bandung.

Setelah memahami bahwa asal muasal (akar/sejarah tertua) peradaban dari sunda, maka berikutnya peradaban baru super modern akan muncul dari sunda.

Dimulai dengan berdirinya Kerajaan Atlantis di Bandung yang akan membentuk peradaban surgawi. Kerajaan Atlantis akan dipimpin oleh Sajatining Ratu Adil (Raja Adil) beserta ratunya, ysitu Ratu Adil.

Banyak sebutan untuk Raja Adil dan Ratu Adil, diantaranya satria piningit, satrio pinanditho sinisihan wahyu, putera batara indra, cah angon, budak janggotan, nonoman sunda, kalki awatara, budha, iman mahdhi, maitreya, ulul albab dll.

Raja Adil dan Ratu Adil akan tampil bukan dengan raga manusia biasa seperti pada umumnya, tapi Raja dan Ratu Adil akan tampil dengan sajatining raga (raga yang sempurna).

Raga yang sempurna ini akan tampak seperti berusia 33 tahun, terus menerus tidak menua , dan abadi selamanya hingga akhir jaman.

Raja dan Ratu Adil hakikatnya satu, Raja Adil adalah perwujudan Jatiraga (kesempurnaan lahir/mahadewa) dan Ratu Adil adalah perwujudan Jatiwanda (kesempurnaan batin/mahadewi).

Sedangkan penyatuan kesempurnaan lahir batin disebutnya Jatisunda (mahabaratha).

Raja dan Ratu adil bukan hanya abadi raganya, tapi juga abadi alamnya. Alam keabadian ini disebutnya Alam Sunda (alam surgawi).

Kerajaan Atlantis yang dipimpinnya akan membentuk peradaban abadi, yaitu Peradaban Sunda (peradaban surgawi).

Raja dan Ratu adil secara zahir asalnya manusia biasa, tapi karena dia telah melakukan perjalanan Laku Murni Menuju Suci “mulih ka jati, mulang ka asal” Inna lillaahi wa Inna ilaihi rajiun, secara sempurna, maka dia berhasil mendapat buah (hasil) yang sempurna.

Raja Adil adalah bapak hakiki seluruh umat manusia, sedangkan Ratu Adil adalah ibu hakiki seluruh umat manusia.

Kalau Adam dan Hawa, itu bapak dan ibu secara zahir seluruh umat manusia, bukan bapak dan ibu secara hakiki.

Ratu Adil itu secara hakikat berasal dari batin (wujud batinnya) Raja Adil, sedangkan Siti Hawa itu berasal dari tulang rusuk Adam bukan dari batin Adam.

Penyatuan Raja dan Ratu Adil secara hakiki pun menghasilkan “buah batin (buah Jatisunda)” yaitu para bidadara (buah Jatiraga) dan bidadari (buah Jatiwanda).

Dan yang terpenting dari semuanya adalah bahwa Dzat Maha Suci “mihape awak (nitip badan)” ke Raja Adil sebagai zatil wujudullah lahir dan Ratu Adil sebagai zatil wujudullah batin, karena untuk melihat zatil wujudullah (wujud zat Allah) asli tidak akan ada satupun manusia yang mampu melihatnya.

Maka bertemu Raja dan Ratu Adil, pada hakikatnya adalah bertemu dengan Dzat Maha Suci yang sering di sebut sebagai Tuhan dan di namai sebagai Allah.

Akan tetapi, Dzat Maha Suci juga, memberikan kekuasaan penuh kepada Raja Adil dengan menyerahkan “pena lauh mahfudz” untuk mengatur takdir seluruh makhluk dan semesta alam jagad raya.

Sehingga energi yang dimiliki oleh Raja Adil, bukan lagi energi murni atau energi anti materi, melainkan energi ilahiyah.

Dengan adanya Raja dan Ratu Adil, secara hakikat adalah turunnya Dzat Maha Suci ke bumi, untuk menjemput seluruh manusia masuk ke dalam surga-Nya.

Inilah rahmat (cinta kasih sayang) Dzat Maha Suci yang tidak terbatas, semua perjalanan laku murni menuju suci “mulih ka jati, mulang ka asal” Inna lillaahi wa Inna ilaihi Raji’un nya umat manusia, ditebus melalui Raja dan Ratu Adil.

Karena tidak ada satu orang pun yang sanggup melakukan perjalanan laku murni menuju suci “mulih ka jati, mulang ka asal” Inna lillaahi wa Inna ilaihi Raji’un hingga mencapai Jatiwanda (kesempurnaan batin), Jatiraga (kesempurnaan lahir) dan Jatisunda (kesempurnaan lahir dan batin).

Kalau alam surga sudah diturunkan ke bumi.
Apakah masih akan terjadi kiamat…?!
Apakah masih ada kematian…?!
Apakah ada pengumpulan manusia di padang mahsyar…?!

Apakah ada yang masuk neraka…?!

Jawabannya adalah sekarang semua terserah Raja Adil, karena Dzat Maha Suci sudah memberikan kekuasaan penuh kepada Raja Adil untuk mengatur takdir setiap makhluk dan alam semesta jagad raya melalui “pena lauh mahfudz” Selesai.

Duh… Gusti Dzat Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan. Asal Usul Nenek Moyang Semua Mahluk. Sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup…_/\_…. Aaamiin. Terima Kasih. Terima Kasih Dan Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Pesanggrahan Pesona Jagat Alit.
Alamat; Desa. Karangreja. RT/Rw. 02/03. Kec. Tanjung. Kab. Brebes. Jawa Tengah Indonesia. 52254.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Iklan

Sejarah Singkat Turunnya Wahyu Tertua/Pertama Turun Kebumi: (Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling Bagian Pertama)


25587239_408895006223226_4772694128373983166_o

Sejarah Singkat Turunnya Wahyu Tertua/Pertama Turun Kebumi:
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling Bagian Pertama)
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Di Pesanggrahan Pesona Jagat Alit. Hari Jumat. Tanggal 22 Desember 2017.

Para Sedulur dan Kadhang Kinasihku Sekalian. Ketahuilah;
Peradaban Sunda adalah Akar dari Seluruh Peradaban Dunia.
1. Sejarah ilmu tertua.
2. Sejarah kenabian tertua.
3. Sejarah kerajaan tertua.
4. Sejarah agama tertua.
5. Sejarah tarekat tertua.
6. Sejarah kewalian tertua.
7 Sejarah leluhur tertua.
8. Sejarah kampung halaman tertua.
9. Sejarah budaya tertua.

Berawal dari Tanah Pasundan atau Sunda inilah. Kepercayaan atau keyakinan Asli Manusia Jawa bermula, tersebut Kapitayan, yang artinya hampa atau kosong/suwung.

Kapitayan adalah ajaran pertama yang ada di tanah jawa, sebagai Bukti bahwa Para Nabi Pernah diutus di Tanah Jawa.

Jika ada yang bertanya, ajaran apa yang pertama kali ada…?!
Jawabannya adalah ajaran Kapitayan, ajaran paling awal dan pertama kali ada di dunia dan berkembangnya di Tanah Jawa.

Pelakunya Adalah Adam dan Hawa.
Kapitayan adalah sebuah ajaran yang memuja sesembahan utama yang disebut, “Sanghyang Taya” yang bermakna hampa atau kosong/suwung.

Leluhur kita sudah sadar diri, jauh sebelum ajaran agama samawi hadir di tanah Jawa. Ini terbukti dari visi dan misi Kapitayan yang menjadi ajarannya.

Visi Ajaran Kapitayan;
1. Mulih ka jati Mulang ka Asal.
Misi Ajaran Kapitayan;
1. Urang sunda apal kana jati sundana.
2. Urang sunda apal kana jati dirina.
3. Urang sunda apal yen asal muasal peradaban ti sunda, bakal balik deui ka sunda.

Para leluhur jawa, merasa bahwa Visi dan Misi Ajaran Kapitayan itu, adalah untuk di percaya/yakini dan di lakukan, bukannya menjadi bahan perdebatan atau malah dicarikan eksistensinya, itulah alasan kenapa ajaran Jawa tidak perlu di deklarasikan menjadi aliran agama apapun.

Masyarakat Jawa yang ramah dan santun, juga menerima dengan baik ajaran agama yang dibawa oleh kaum migran, seperti Hindu, Budha, Islam, Nasrani dll, selama mempunyai konteks yang sama dengan satu ujung yaitu Tuhan.

Sebab inilah banyak agama yang dibawa kaum migran, lebih banyak memilih basis dakwahnya di tanah Jawa.

Namun ironisnya Ajaran Jawa sebagai tuan rumah, pernah bahkan sering di tekan hebat oleh para tamunya itu.

Padahal, andai mau sadar diri menelisik sejarah perjalanan kehidupan dunia. Adalah Jawa.
Ini buktinya…

(1). Sejarah ilmu tertua;
1. Mun neang nu bener bakal neang oge nu salah, ahirna meunangna kabeneran jeung kasalahan, tungtungna lain mulang tapi malah pasea, tah kieu mun neang ka luar diri.

2. Mun neang nu sabenerna moal aya nu sasalahna, ahirna meunang bebeneran moal meunang sasalahan, tungtungna mulang moal aya pasea, tah kieu mun neang ka jero diri.

3. Matak mun neang ka jero diri mah moal kabobodo tenjo kasamaran tingali sabab meunang bukti nu nyari (eusi) bukti nu nyata (kulit).

4. Sabab mun saukur nempo kulit teu nempo eusi mah tungtungna lain mulang tapi malah jadi agul ku payung butut.

5. Da ari geus mulang mah tong boro bukti nu ka tukang, bukti nu ka hareup ge geus nyampak.

6. Tapi nu agul ku payung butut mah tong boro bukti nu ka hareup, bukti nu ka tukang ge moal meunang.

7. Sabab hirup mah ayeuna, lain kamari lain isuk.

Kapitayan yang lebih dikenal masyarakat umum sebagai Ilmu Sundayana, adalah Ilmu Tertua di dunia, Ilmu Sundayana, adalah ilmu keabadian yang diperlukan oleh Nabi Adam dan Siti Hawa agar bisa hidup abadi di surga.

Kenapa Adam dan Hawa belum hidup abadi…?!
Karena posisinya masih di surga taman (jannatullah/taman Allah), bukan di surga rumah (baitullah/rumah Allah).

Sebab, kalau di jannatullah masih ada larangan, yaitu mendekati pohon khuldi (pohon keabadian) apalagi memakan buahnya, sedangkan kalau di baitullah, tidak ada larangan apapun.

Hakikat pohon khuldi, adalah ilmu keabadian, agar bisa masuk baitullah. Sedangkan hakikat buah khuldi, adalah hasil keabadian, yaitu bertemu dengan wujudullah,
(wujud Allah) pemilik baitullah.

Kenapa Adam dan Hawa Diturunkan ke Dunia…?!
Adam dan Hawa diturunkan ke dunia, karena telah mendekati pohon khuldi dan memakan buahnya tanpa memahami hakikatnya terlebih dulu.

Tujuan diturunkan ke dunia, agar belajar untuk memahami hakikat pohon khuldi (ilmu keabadian) dan buah khuldi (hasil keabadian).

Apa itu ilmu keabadian…?!
Ilmu keabadian adalah ilmu mulih ka jati, mulang ka asal. Yang di dalam istilah qitabnya, Inna Illaihi wa Inna ilaihi Raji’un, istilah spiritualnya, Sangkang Paraning dumadi. Yang arti maksudnya; Asal dari Tuhan kembali ke Tuhan.

Istilah mulih ka jati, mulang ka asal atau Inna lillaahi wa Inna ilaihi Raji’un atau Sangkan Paraning dumadi, berasal dari tarekat tertua, yaitu tarekat karahayuan pada jaman Nabi Nuh.

Tarekat adalah bagian dari agama, karena agama itu meliputi syariat (amalan lahir) dan tarekat (amalan batin).

Kenapa ada dua jenis amalan…?!
Karena manusia terdiri dari dua unsur, yaitu jasmani (jasad) dan rohani (ruh). Sebab itu ada ilmu syariat (ilmu lahir/ilmu kulit) dan ilmu hakikat (ilmu batin/ilmu isi).

Apa itu ilmu mulih ka jati, mulang ka asal atau Inna lillaahi wa Inna ilaihi Raji’un atau Sangkan Paraning dumadi…?!

Ilmu mulih ka jati, mulang ka asal atau Inna lillaahi wa Inna ilaihi Raji’un atau Sangkan Paraning dumadi, adalah ilmu “pulang” maksudnya yaitu pulang ke Tuhan, yang sering saya kabarkan di internet dengan menggunakan bahasa istilah Laku Murni Menuju Suci.

Lengkapnya adalah Mulih ka jati, mulang ka asal, dipunut ku Gusti, dicandak ku nu rahayu.
Pulangnya lewat mana…?!

Lewatnya ke dalam diri, bukan ke luar diri. Jalurnya dari martabat alam terendah hingga martabat alam tertinggi, yang ringkas singkat istilahnya “Laku Murni Menuju Suci”.

Ada lima martabat alam dari yang tertinggi hingga yang terendah. Yaitu;
1. Martabat alam zat-kunci-lakunya Pasrah kepada Tuhan.

2. Martabat alam sifat-paweling-lakunya menerima keputusan Tuhan.

3. Martabat alam asma-asmo-lakunya mempersilahkan kuasa Tuhan.

4. Martabat alam ruh-mijil-lakunya merasakan kenyataan Tuhan.

5. Martabat alam jisim-singkir-lakunya menebar cinta kasih sayang Tuhan.

Alias Wahyu Panca Ghaib – Wahyu Panca Laku Bin Sedulur Papat Kalima Pancer-nya Sendiri.

Jadi “asal dari Tuhan, kembali ke Tuhan” adalah dari zat ke sifat ke asma ke ruh ke jisim, kemudian kembali lagi dari jisim ke ruh ke asma ke sifat ke zat. (Nyungsang buana balik)-(curiga Nanjing warangka, warangka Nanjing curiga).

Alam keabadian adanya di martabat alam zat. Jadi “asal dari zat, kembali ke zat” atau bisa disebut juga “asal dari alam keabadian, kembali ke alam keabadian”.
Jalur pulangnya adalah;
1. Mulih ka jati, yaitu dari jisim ke ruh.
2. Mulang ka asal, yaitu dari ruh ke asma.
3. Dipunut ku Gusti, yaitu dari asma ke sifat.
4. Dicandak ku nu rahayu, yaitu dari sifat ke zat.

Jadi…
Ilmu mulih ka jati, mulang ka asal, dipunut ku gusti, dicandak ku nu rahayu, disebut juga sebagai Sundayana (ajaran sunda-jawa kuno). Paling tua.

Utusan Ke-9 Setelah Nabi Adam, Adalah Semar. Sang Pembawa Ajaran Langit untuk Tanah Jawa.

Adalah satu kekeliruan, jika kita beranggapan Leluhur jawa, adalah penganut animisme, penyembah benda-benda alam.

Leluhur jawa di masa purba, telah memiliki keyakinan monotheisme, yang disebut “Ajaran Kapitayan”.

Berbagai kajian telah dilakukan untuk mencari data tentang Etnis penghuni jawa (Nusantara), bahwa sejak masa “Berburu” pada jaman Purba, manusia sudah mengenal keyakinan dan harapan yang menjadi cikal bakal Agama Purba.

Sejak jaman Pleistosen akhir para penghuni jawa (Nusantara) sudah mengenal peradaban yang berkaitan dengan Agama, dari berbagai hasil budaya batu purba seperti Menhir, Dolmen, Yupa, Sarkofagus, dan punden berundak, membuktikan bahwa penghuni tanah jawa sudah mengenal Agama dengan berbagai ritual pemujaanya.

Berlanjut ke jaman perunggu sampai ke jaman logam, banyak ditemukan hasil galian yang berhubungan dengan penguburan mayat dan kegiatan sosial, yang mengindikasikan bahwa ada hubungan antara prilaku sosial dan Agama pada kehidupan penghuni tanah jawa.

Pada zaman purbakala, pernah terdapat kesatuan kebudayaan pada wilayah yang luas meliputi India, Indochina, dan Jawa, termasuk kepulauan di wilayah Pasifik.

Mereka percaya kepada sesuatu yang ghaib dibalik benda-benda yang besar dan luas yang telah memberi keberuntungan atau kesialan dalam kehidupan mereka.

Juga percaya bahwa ada orang-orang tertentu yang memiliki kedaulatan untuk memanggil, mendamaikan atau mengusir kekuatan ghaib tersebut.

Kepercayaan tersebut yang disalah artikan oleh Ilmuan Orientalis dengan istilah Animisme dan Dinamisme.

Kepercayaan yang disebut sebagai Animisme Dinamisme tersebut, pada hakikatnya adalah Agama Kuno penduduk jawa (Nusantara) yang dalam istilah jawa dikenal dengan nama Kapitayan.

Agama yang sudah dianut sekian lama sejak Masa Paleolitikum hingga zaman Modern dengan nama yang berbeda-beda di setiap wilayahnya, seiring dengan perkembangan ras manusia dan membentuk suku-suku di seluruh Nusantara.

Seperti berbeda-bedanya bahasa di setiap suku, Nama agama ini pun menjadi berbeda-beda di setiap wilayahnya seperti Istilah Sunda Wiwitan pada suku Sunda, Kejawen pada suku Jawa, Kaharingan/Tjilik Riwut pada suku Dayak, Ugamo Malim pada suku Batak dan nama yang lain pada setiap suku yang berbeda sebelum datangnya pengaruh Industan dan China pada awal abad Masehi dan membentuk kerajaan-kerajaan baru dengan agama baru.

Dalam keyakinan penganut kapitayan di Jawa, leluhur yang pertama kali dikenal sebagai penganjur Kapitayan adalah Danghyang Semar, keturunan tegas dari Manusia Modern (Homo Sapiens) pertama yang di turunkan ke dunia yaitu Adam.

Dalam kitab kuno Pramayoga dan Pustakaraja Purwa Silsilah Nabi Adam sampai Danghyang semar Sebagai berikut;
Nabi Adam.
Nabi Syis.
Anwas dan Anwar.
Hyang Nur Rasa.
Hyang Wenang.
Hyang Tunggal.
Hyang Ismaya.
Wungkuhan.
Smarasanta (Semar)
Jejak ini dapat di telusuri di Situs Semar Di Sirah Cipaku Sumedang.

Dalam keyakinan penganut Kapitayan, leluhur yang pertama kali sebagai penyebar Kapitayan adalah Dang Hyang Semar putera Sang Hyang Wungkuham keturunan Sang Hyang Ismaya.

Yang mengungsi ke Tanah Jawa bersama saudaranya Sang Hantaga (Togog) akibat banjir besar di Negara asalnya dan akhirnya Semar tinggal di Jawa dan Togog di luar Jawa.
Sedangkan saudaranya yang lain yaitu Sang Hyang Manikmaya, menjadi penguasa alam ghaib, kediaman para leluhur yang disebut Ka-Hyang-an.

Secara sederhana, Kapitayan dapat digambarkan sebagai suatu ajaran yang memuja sembahan utama yang disebut Sanghyang Taya, yang bermakna hampa, kosong, suwung, awang uwung.

Taya bermakna yang Absolute, yang tidak bisa dipikirkan dan dibayang bayangkan, tidak bisa didekati dengan panca indera.

Orang jawa kuno mendefinisikan Sanghyang Taya dalam satu kalimat “Tan kena Kinaya Ngapa” yang artinya tidak bisa diapa-apakan keberadaan-Nya.

Kata Taya bermakna tidak ada tapi ada, ada tetapi tidak ada. Untuk itu agar bisa dikenal dan disembah manusia, Sanghyang Taya digambarkan mempribadi dalam nama dan sifat yang disebut Tu atau To, yang bermakna seutas benang, daya ghaib yang bersifat Adikodrati.

Tu atau To adalah tunggal dalam dzat, Satu pribadi. Tu Lazim disebut Sanghyang Tu-nggal, Dia memiliki dua sifat, yaitu kebaikan dan ke-tidak baikan.

Tu yang bersifat baik disebut Tu-han dengan nama Sanghyang Wenang.

Tu yang bersifat tidak baik disebut han-Tu dengan nama Sang Manikmaya.

Baik Sanghyang Wenang dan Sang Manikmaya adalah sifat saja dari sanghyang Tunggal yang Ghaib.

Oleh karena Sanghyang Tunggal dengan dua sifat utamanya itu bersifat ghaib, untuk memujanya dibutuhkan sarana yang bisa didekati oleh panca indera dan alam pikiran manusia.

Demikianlah, dalam ajaran kapitayan dikenal keyakinan yang menyatakan bahwa kekuatan Sang Taya yang mempribadi dalam Tu atau To itu ada dibalik segala sesuatu yang memiliki nama Tu atau To.

Seperti; wa-Tu (Batu), Tu-lang, Tu-ndak (bangunan berundak), Tu-tud (hati,limpa), To-san (pusaka), Tu-ban (mata air), To-peng, Tu-rumbuk (pohon beringin), Tu-gu dll.

Dalam melakukan puja bakti sesembahan kepada Sanghyang Taya, maka disediakan sesaji Tu-mpeng dalam Tu-mpi (keranjang anyaman bambu), Tu-ak (arak), Tu-kung (sejenis ayam) untuk dipersembahkan kepada sanghyang Tu-nggal yang sifat gaibnya tersembunyi dibalik sesuatu yang memiliki daya ghaib seperti wa-Tu, Tu-gu, Tu-rumbuk, Tu-lang, Tu-ndak, To-san, To-ya.

Namun untuk melakukan permohonan yang tidak baik, persembahan ini akan ditujukan kepada han-Tu yang bernama Sang Manikmaya, dengan persembahan yang buruk bernama Tu-mbal.

Berbeda dengan persembahan sesaji kepada Sanghyang Tu-nggal yang merupakan puja bakti melalui pelantara, para Rohaniawan kapitayan melakukan sembah-Hyang, langsung kepada Sanghyang Tu-nggal.

Di suatu ruangan khusus bernama Sanggar, bangunan persegi empat beratap Tu-mpang, dengan Tu-tuk (lubang) di dinding sebelah timur sebagai lambang kehampaan Sanghyang Taya, dengan mengikuti aturan tertentu.

Mula mula sang Rohaniawan melakukan Tu-lajeg (berdiri tegak) menghadap Tu-tuk (lubang) dengan kedua tangan diangkat keatas menghadirkan Sanghyang Taya kedalam Tu-tud (hati), setelah merasa Sanghyang taya hadir didalam hati, kedua tangan diturunkan di dada tepat pada Tu-tud (hati).

Posisi ini disebut Swadikep (sidakep/memegang ke-akuan diri), proses Tulajeg ini dilakukan dalam tempo lama.

Setelah tulajeg selesai, sembahyang dilanjutkan dengan posisi Tu-ngkul (membungkuk memandang kebawah) yang juga dilakukan dalam tempo yang relatif lama.

Lalu dilanjut kan dengan posisi Tu-lumpuk (bersimpuh dengan kedua tumit diduduki) dilakukan dalam relatif lama.

Yang terakhir, dilakukan dengan posisi To-ndhem (bersujud seperti bayi dalam perut ibunya) juga dilakukan dalam tempo yang lama.

Setelah melakukan sembahyang yang begitu lama itu, Rohaniawan Kapitayan dengan segenap rasa dan perasaan, berusaha menjaga keberlangsungan Sanghyang taya yang sudah disemayamkan didalam Tu-tud (hati).

Seorang pemuja Sanghyang Taya yang dianggap saleh akan dikaruniai Tu-ah (kekuatan gaib yang bersifat positif) dan Tu-lah (kekuatan gaib penangkal negatif).

Mereka yang memiliki Tu-ah dan Tu-lah itulah yang dianggap berhak menjadi pemimpin masyarakat dengan gelar ra-Tu atau dha-Tu.

Dalam ajaran kapitayan, para ra-Tu atau dha-Tu yang sudah dikaruniai Tu-ah dan Tu-lah setiap gerak geriknya akan ditandai oleh Pi, yaitu kekuatan dari sanghyang taya yang tersembunyi.

itu sebabnya ra-Tu atau dha-Tu menyebut diri dengan kata ganti Pi-nakahulun.
Jika berbicara disebut Pi-dha-Tu (Pi-dato).
Jika memberi pengajaran disebut Pi-wulang.
Jika memberi petunjuk disebut Pi-tuduh.
Jika memberi nasihat disebut Pi-tutur.
Jika memberi hukuman disebut Pi-dana.
Jika memancarkan wibawa disebut Pi-deksa.
Jika meninggal dunia disebut Pi-tara.

Seorang ra-Tu atau dha-Tu adalah pengejawantahan kekuatan ghaib Sanghyang Taya, Citra pribadi sanghyang Tunggal.

Demikianlah ajaran yang dianut oleh orang jawa sejak zaman purba dan masih bertahan sampai hari ini dengan nama dan cara yang berbeda seiring dengan perkembangan ras manusia beserta kebudayaanya.

Pada masa Modern, ajaran tersebut masih secara utuh dianut oleh sebagian masyarakat suku pedalaman dengan istilahnya masing-masing. Seperti;
Sunda Wiwitan pada suku Sunda. Kejawen pada suku Jawa. Kaharingan/Tjilik Riwut pada suku Dayak. Ugamo Malim pada suku Batak dll.

Adapun agama-agama yang sekarang ada, adalah pengaruh dari luar yang baru datang sejak awal Abad Masehi, seperti Agama Hindu dan Budha dari India dan China, Agama Kristen dari Eropa, dan Agama Islam yang merupakan pengaruh dari berbagai negeri seperti Persia, Arab, Rum, Gujarat, Tiongkok dll.

(2). Sejarah kenabian tertua;
Ilmu keabadian, adalah; Sundayana (Wahyu Panca Ghaib). Sedangkan buah keabadian, adalah; mulih ka jati, mulang ka asal, congo nyurup dina puhu, dalitna kuring jeung kuring, sirnaning pati rawayan jati, disebut juga sebagai Rawayan Jati (Wahyu Panca Laku).

Sundayana (Wahyu Panca Ghaib). Adalah; pohonnya, maksudnya, hakikatnya pohon khuldi.

Sedangkan Rawayan Jati (Wahyu Panca Laku). Adalah; buahnya, maksudnya, hakikatnya buah khuldi.

Sundayana (pohon/ilmu) dan Rawayan Jati (buah/hasil) menjadi satu pondasi jalan hidup yang disebut kapitayan ageman Sunda. Pelakunya adalah Adam dan Hawa.

Jadi….
Sundayana membentuk. Jatiwanda (kesempurnaan jiwa) sedangkan Rawayan Jati, membentuk. Jatiraga (kesempurnaan raga).

Kapitayan ageman Sunda yang dibawa oleh Nabi Adam, adalah; ajaran intisaripatinya dari semua ajaran/tuntunan yang dibawa oleh para nabi (Para Utusan), karena hakikatnya, semua ajaran/tuntunan samawi, menyuruh umatnya untuk kembali atau pulang kepada Tuhannya, hingga sempurna jiwa raganya.

Darimana asal muasalnya ilmu…?!
Mulih ka jati. Mulang ka asal.
Maksudnya. Yaitu; dari tarekat tertua yang bernama Karahayuan dengan wali mursyid tertua yang bernama Syekh Sanusi.

Tarekat Karahayuan yang dibawa Syekh Sanusi ini, mempunyai sanad (sandaran) atau mata rantai ijazah (ijin) dari Nabi Nuh, kemudian Nabi Idris hingga ke Nabi Adam.

Nama tarekat berkaitan dengan nama syariat. Sebelum jaman Nabi Nuh, belum ada nama syariat atau nama agama apapun, karena pada waktu itu, hanya ada satu ajaran yang dibawa oleh Nabi Adam. Yaitu Kapitayan.

Nama syariat dan tarekat, baru muncul ketika jaman Nabi Nuh, karena pada waktu itu, umat Nabi Nuh, mulai berbuat syirik, dengan membuat ajaran agama sendiri tanpa sanad ke Nabi.
Jadi, pembawa asli pertama atau pelopor utama tarekat Karahayuan adalah Nabi Adam, bertempat di tatar tanah pasundan.

Pada jaman Nabi Adam, belum ada nama syariat dan tarekat, hanya ada satu ajaran. Yaitu ajaran intisaripati hidup. Tersebut Kapitayan ageman Sunda.

Nabi Adam dan Hawa di Turunkan ke Dunia. Tujuannya adalah untuk belajar ilmu keabadian. Yaitu; ilmu mulih ka jati, mulang ka asal” dan buahnya hasil dari ilmu keabadian.

Ilmu mulih ka jati, mulang ka asal atau Sundayana atau ilmu keabadian. Dan di pelajari oleh Adam dan Hawa di Tatar Tanah Pasundan…????

Kalau memang benar. Apakah ada jejak atau simbol-simbol yang bisa di jadikan sebagai buktinya…?!
Jika ada, dimanakah letaknya…?!

Sundayana (Wahyu Panca Ghaib)
Pohon Khuldi;
1. Simbol; Mulih ka jati. Adalah cai kahuripan yang terletak di Gua Pamijahan Tasik, Jawa Barat.

2. Simbol; Mulang ka asal. Adalah cai kadigjayaan yang terletak di Gua Pamijahan Tasik, Jawa Barat.

3. Simbol; Dipunut ku Gusti. Adalah tirta kamandanu yang terletak di Kediri, Jawa Timur.

4. Simbol; Dicandak ku nu rahayu/congo nyurup dina puhu. Adalah air abadi yang terletak di Gunung Bromo, Jawa Timur.

Rawayan Jati (Wahyu Panca Laku)
Buah Khuldi;
5. Simbol; Dalitna kuring jeung kuring. Adalah air arsyil ‘azhim sumur bandung titik 0 yang terletak di jalan Cikapundung Bandung, Jawa Barat.

6. Simbol; Sirnaning pati rawayan jati. Adalah air kalimasada (air opat kalima pancer) Sumur Bandung titik 1 yang ada di belakang gedung Palaguna alun-alun Bandung, Jawa Barat.

Apa arti dari simbol-simbol tersebut…?!
1. Cai kahuripan. Adalah; ilmu untuk memahami alam ruh. Yaitu dengan menghilangkan segala sesuatu selain Tuhan di dalam diri.

2. Cai kadigjayaan. Adalah; ilmu untuk memahami alam asma. Yaitu dengan meniadakan diri (pasrah) atau menghilangkan keakuan.

3. Tirta kamandanu. Adalah; ilmu untuk memahami alam sifat. Yaitu hilangnya keakuan dan segala sesuatu selain Tuhan.

4. Air abadi. Adalah; ilmu untuk memahami alam zat. Yaitu alam anti materi.

5. Air arsyil ‘azhim. Yaitu buah batin/jiwa dari ilmu keabadian ( jatiwanda ) yaitu bertemu dengan wujudullah (wujud Allah) secara batiniyah.

6. Air kalimasada. Yaitu buah lahir/raga dari ilmu keabadian (jatiraga) yaitu bertemu dengan wujudullah secara zahir.

Dimana Pintu Keluar dan Tempat Diturunkannya Adam dan Hawa Ketika Keluar dari Jannatullah…?!

Pintu keluar jannatullah adalah di Laut Kidul Bungbulang Garut, Jawa Barat.

Adam dan Hawa ditempatkan terpisah, Adam di Gunung Halu Padalarang, Jawa Barat.

Sedangkan Hawa di Laut Kidul Pelabuan Ratu Sukabumi, Jawa Barat.

Adam dan Hawa belajar ilmu mulih ka jati mulang ka asal, setelah memahami ilmu mulih ka jati mulang ka asal, berikutnya adalah memahami buah (hasil) dari ilmu mulih ka jati mulang ka asal yang letaknya di Bandung Jawa Barat.

Karena Bandung Jawa Barat adalah Baitullah. Hakikat air ‘arsyil ‘azhim dan air kalimasada.

Adam dan Hawa masing-masing belajar di tatar Sunda, hingga akhirnya bertemu di Padang Arafah, Arab Saudi.

Jadi, di Arab itu tempat bertemunya dan sifatnya safar (bepergian), kalau kampung halaman Adam dan Hawa adalah di Tatar Tanah Sunda atau Pasundan.

Kemudian sundayana di wariskan di Arab Saudi, menjadi Inna lillaahi wa Inna ilaihi Raji’un, lalu di copy paste oleh orang Hindustan India, Sundayana berubah menjadi Wahyu Mahkota Rama, lalu kembali lagi ke tanah Jawa, Sundayana berubah menjadi Sangkan Paraning dumadi, Karena di salah artikan dan di salah arahkan, kemudian menghilang untuk beberapa saat bersama moksa nya Nabi Isa.

Kemudian kehilangannya di buru oleh para ilmuwan ahli tapa Jawa dan India serta Arab saudi, namun yang di temukan hanyalah jejaknya, dan jejak itu kemudian di sebut sebagai Aji Mundi jati oleh orang India dan Sasongko jati oleh orang Jawa serta Ilmu Tasawuf oleh orang Arab Saudi.

Kemudian muncul kembali di Bumi Jawa pada abad modern, sebagai Wahyu Panca Ghaib. Penerimanya adalah seorang manusia linuwih titisan leluhur seluruh Jawa. Yaitu; Raden Muhammad Timur atau M. Smono Sastrohadijoyo.

Bagaimana hubungannya dengan Ka’bah sebagai Baitullah yang terletak di Mekah…?!

Ka’bah itu Baitullah syariat, kalau Bandung itu Baitullah hakikat.

Sebab itu, kerajaan tertua adalah Kerajaan Parahyangan yang berpusat di Bandung Jawa Barat, dengan Nabi Adam sebagai Rajanya.

Nabi Adam adalah Raja Parahyangan, nenek moyangnya orang Jawa Sunda dan seluruh manusia setelah Adam. Leluhurnya orang Jawa Sunda dan seluruh manusia setelah Adam.

Asal muasal peradaban dari Jayadewata Tanah Pasunda, dan sekarang kembali di Jayadewata Tanah Pasundan. Bersambung Ke Bagian Dua….

Duh… Gusti Dzat Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan. Asal Usul Nenek Moyang Semua Mahluk. Sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup…_/\_…. Aaamiin. Terima Kasih. Terima Kasih Dan Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Pesanggrahan Pesona Jagat Alit.
Alamat; Desa. Karangreja. RT/Rw. 02/03. Kec. Tanjung. Kab. Brebes. Jawa Tengah Indonesia. 52254.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Ini bukan Ramalan atau Prediksi: (Melainkan Realita Kenyataan yang sedang terjadi dewasa ini) 


Ini bukan Ramalan atau Prediksi:
(Melainkan Realita Kenyataan yang sedang terjadi dewasa ini)

25358557_406580166454710_5720944707046623856_o

Ini bukan Ramalan atau Prediksi:
(Melainkan Realita Kenyataan yang sedang terjadi dewasa ini)
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Di Pesanggrahan Pesona Jagat Alit. Senin Pahing. Tanggal 17 Desember 2017.

25497948_406580316454695_8664286861376407784_n

Para Sedulur dan Kadhang kinasihku sekalian, ketahuilah dengan kesadaran murnimu. Ini bukan ramalan dari Wong Edan Bagu, bukan juga prediksi nya Wong Edan Bagu. Melainkan realita kenyata’an yang sedang terjadi dewasa ini.

Bahwa di abad modern ini, semua agama, semua kepercaya’an, semua keyakinan, apapun label sebutannya, termasuk Putro Romo dll.

Sedang menghadapi fase, goncangan dan kemunduran di titik nadir, sebab akibat dari pengakuan iman, namun praktekan tidak sesuai dengan iman dari akumulasi ratusan tahun keterpurukan.

Sampai- sampai orang yang paling pesimis dalam barisan agama, kepercayaan, keyakinan, adat istiadat, putro romo dll, tidak mengira, bahwa, akan sejauh ini dekadensi itu.

Goncangan yang menimpa seluruh umat manusia beragama atau berkepercayaan dan berkeyakikanan dll ini, sampai yang tidak beragama atau berkepercayaan dan berkeyakikanan sekalipun.

Bertubi-tubi menerjang, ujian-ujian yang mematahkan semangat dan tegad, kejadian-kejadian yang cepat dan sporadis menggetarkan eksistensinya.

Semua ini menyebabkan trauma yang mendalam dalam diri setiap umat manusia, apapun agama dan keyakinan serta kepercaya’annya, mengalami keraguan bahkan ketakutan yang ekstrem.

Dan sepertinya, rasa takut ini berhasil menciutkan mental seluruh manusia, apapun latar belakang dan agamanya serta kepercaya’anya, melumpuhkannya, menjatuhkan panji-panjinya, menggoyang keyakinannya, dan mengubah kesatuan menjadi perpecahan dan perselisihan berkepanjangan.

Dan yang lebih menyakitkan dari goncangan ini, adalah hilangnya Qiyadah (kepimpinan) ‘Alamiyah agama atau kepercayaan yang di yakininya, lenyap bersama gelapnya fitnah dan pertempuran moral dan akidah.

Manusia berjalan sempoyongan, menahan serbuan musuh dari segala penjuru, sampai-sampai manusia ini berteriak dengan kuat.

Dimana pemimpin kami…!!!
Siapa yang menyelamatkan kami…!!!
Dimana jalan keluar…!!!
Apakah masih ada harapan…?!

Dalam kondisi seperti ini, ada di antara manusia yang beragama atau berkepercayaan atau berkeyakinan, apapun agama atau kepercayaan atau keyakinan yang di anutnya, mencari-cari jalan keluar dengan menghibur diri dalam khayalan dan mimpi.

Sebagian yang lain, menunggu munculnya satrio paningit, menanti kapan datangnya Imam Mahdi, yang mereka kira mampu mengubah keadaan sebuah negeri.

Sebagian yang lain, asyik bernyanyi dengan masa lalunya. Dulu kami… dulu aku…

Hingga pada akhirnya, waktupun habis terbuang dengan sia-sia untuk melempar tuduhan-tuduhan kepada selain dari komunitasnya, atau yang tidak sependapat dengannya.

Ada juga yang merasa sudah tidak punya harapan, bahkan mereka sudah “kafir dan kufur” dengan istilah harapan itu, bagi mereka, tidak ada cahaya kebaikan, semua telah habis digerogoti dengan penyakit putus asa.

İni belum termasuk umat manusia beragama, berkepercayaan, berkeyakinan yang salah memilih jalan, mereka menganggap bahwa, mengfitnah, iri, dengkit, dendam, adu domba, kebencian, sikut sana, sikut ini, embat sana, embat sini, sikat sana, sikat sini, debat sana, debat sini, hina menghina, leceh melecehkan, kekerasan, pemerkosaan, bahkan pembunuhan, adalah menjadi satu-satunya jalan untuk kebahagiaan. “Membunuh atau Bunuh diri”

Tidak ada dalam kamus mereka bahwa agama atau kepercaayaan atau keyakinan itu. Adalah Rahmatan Lil Alamin. Artinya cinta kasih sayang untuk semesta alam.

Macam-macam corak pikiran dan pemikiran umat manusia yang mengaku beriman, beragama, berkepercayaan, berkeyakikan bahkan berilmu kelihatan aneh.

Namun yang lebih aneh dan ajaib lagi. Adalah; Ada di antara manusia yang mengaku beriman, beragama, berkepercayaan, berkeyakikan, berilmu, ber Putro Romo, beradat. Tidak menyadari imannya, agamanya, kepercayaannya, keyakinannya, keputroannya, adatnya.

Sehingga tidak mengetahui bahwa sekarang imannya, agamanya, kepercayaannya, keyakikannya, ilmunya, keputroannya, adatnya, sedang digoncang, tidak ada goncangan itu menurut mereka.

Mereka lupa bahwa Dzat Maha Suci sudah memproklamirkan secara tersurat dalam Al-qitab dan tersirat dalam semesta alam;

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu, mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan bermacam-macam cobaan”

Dzat Maha Suci berfirman kepada malaikat-Nya; “Pergilah kepada hamba-hamba-Ku. Lalu timpalah bermacam-macam ujian kepadanya, kerana Aku mau mendengar suaranya”

Dzat Maha Suci berfirman di dalam Al-qitab. Surat Al-Ankabut, ayat 2-3; “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja, setelah mengatakan ‘Kami telah beriman’ sedang mereka belum diuji”

“Dan sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi itu sebagai perhiasan, untuk menguji mereka, siapakah di antara mereka yang terbaik amal perbuatannya.” (QS Al-Kahfi:7-8).

“Dan kami akan uji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai anak tangga dan kepada Kamilah kamu akan kembali.” (QS al-Anbiya:35).

Para Sedulur dan Kadhang kinasihku sekalian, seluruh umat manusia yang mengaku berIman, apapun agamanya, kepercayaannya, keyakinannya, ilmunya, adatnya, yang belum mau bertaubat dan mengabdi diri sepenuhnya kepada dzat maha suci, tidak akan menyadari realita ini.

Karena ketidaktahuan itu, sehingganya, atas goncangan itu, akan mudah ditimpa kepenasaran, kebimbangan dan kegelisahan, bahkan keraguan dan ketakutan, mereka akan kehilangan keseimbangan, lalu akan merubah titik tolak dalam perjalanan hidupnya.

Kalau tidak percaya;
Perhatikan saja, lalu Hayati dengan kesadaran murni Anda. Anda akan menyasikannya dengan mata kelapa Anda sendiri tentang kenyataan realita yang sedang terjadi ini. Bahkan mungkin, Anda sendiri sedang mengalaminya…

Para Sedulur dan Kadhang kinasihku sekalian, Ujian ini akan terulang lagi dan berulang lagi serta terulang kembali, kepada kita semuanya tanpa terkecuali, saking saratnya, sampai-sampai mereka berseru…!!!

Di mana Tuhan/Allah/Gusti/Romo…?!
Kenapa Tuhan/Allah/Gusti/Romo rela ketika agamanya, kepercayaannya, keyakinannya, ilmunya, putronya, adatnya dihina…?! Dihancurkan…!!!

Umatnya dibantai…?!
Kenapa Tuhan/Allah/Gusti/Romo tidak memberi karomah dan mukjizat-Nya…?!
Kenapa Tuhan/Allah/Gusti/Romo tidak menghabisi semua musuh-musuh-Nya…?!
Kenapa….?! kenapa….?!

Pertanyaan seperti ini sering terlontar di setiap dada umat manusia yang mengaku telah beriman, apapun agamanya, kepercayaannya, keyakinannya, ilmunya, adatnya dllnya.

Bagi yang sudah bertaubat dan mau mengabdikan diri sepenuhnya kepada dzat maha suci. Dia akan sadar, sehingga bisa menyadari, bahwa sebenarnya, teriakan itu, menggambarkan kualitas tauhid keimanannya, seakan-akan iman kita adalah iman bersyarat.

Kami beriman jika tidak ada ujian. Kami beriman tanpa perlu penyaringan.
Kami beriman dengan syarat jauh dari gangguan.
Kami beriman namun harus terealisasi semua keinginan dan harapan.
Dll…

Inilah fakta, ini bukti kalau kita belum bertaubat dan tidak mau mengabdi kepada-Nya.

Jalan ini panjang lagi berat, proses ini lama lagi syarat, berjuang untuk bisa berdiri di atas kesungguhan dan pengorbanan, berhamparkan duri, peluh, dan darah. Menuntut kesabaran, ketegaran, dan dedikasi penuh untuk Dzat Maha Suci Hidup.

Ini bukan ramalan dari Wong Edan Bagu. Juga Bukan Prediksinya Wong Edan Bagu. Melainkan Realita Kenyataan yang sedang terjadi dewasa ini, dan entah sampai kapan berakhirnya. Hanya Dzat Maha Suci Hidup yang tahu.

Ini saya kabarkan secara luas dan umum di media online, karena saya tidak kuasa menahan keterenyuhan yang teramat sangat syarat dan mendalam, ketika menyaksikan yang sudah saya uraikan diatas, dialami oleh hampir semua saudara-saudariku dan kadhangku di luar kesadaran pengetahuan imannya.

Kewajiban kita adalah tetap ber Iman-ber Wahyu Panca Laku untuk memahami secara sadar, realita Wahyu Panca Ghaib yang merupakan Sumber-Nya Dzat Maha Suci yang “SEMPURNA”

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Di….
Pesanggrahan Pesona Jagat Alit.
Alamat; Desa. Karangreja. RT/Rw. 02/03. Kec. Tanjung. Kab. Brebes. Jawa Tengah Indonesia. 52254.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blog: www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Apakah Anda Sudah Mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah…?!


Apakah Anda Sudah Mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah…?!
(Bagian Ke Tiga)
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Di Pesanggrahan Pesona Jagat Alit. Hari Kamis. Tanggal 21 Desember 2017.

Apakah Anda Sudah Mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah…?!
Pertanyaan ini, mungkin jarang sekali kita dengar. Bahkan, bagi kebanyakan orang, akan terasa aneh dan terkesan tidak penting.

Padahal, mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang kita puja puji setiap waktu, itu penting dan utama serta wajib hukumnya, karena mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, merupakan sumber ketentraman hidup di dunia dan kesempurnaan di akherat.

Para Kadhang kinasihku sekalian, dan Apa yang terjadi pada diri kita jika proses laku murni menuju suci kita, sudah pada jalur yang tepat…?!

Siapapun dia, apapun latar belakangannya, jika di dalam lalu murni menuju suci nya telah berhasil mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Selain seperti yang sudah saya uraikan di Bagian Ke Dua Artikel ini, dia akan menyaksikan secara langsung dan nyata, iman nya sendiri. Artinya; Bertemu dengan Sang Guru Sejatinya.

Dan bisa menyaksikan secara langsung dan nyata, kehidupan dari orang-orang yang sedang berusaha mengenalan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, mulai dari yang berhasil mengenal hingga yang gagal mengenal. Bahkan bisa menyaksikan secara langsung apapun yang terjadi dalam kehidupan dunia ini dan di akherat.

Dengan pengetahuannya yang global/universan ini, kita menjadi sensitif akan kehendak kehendak Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dan kehendak Dzat Maha Suci Tuhan/Allah inilah barometernya kehidupan kita.

Karena itu ia akan menjadi peka dalam melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan di dunia ini, baik dirinya sendiri maupun mahluk lain, akan melihat seluruh kehidupan dan segala aspeknya dengan kacamata Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Sehingganya, apapun itu, semuanya dan segala hal yang terjadi dalam kehidupan adalah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu sendiri “tidak selembar daunpun yang jatuh kebumi tanpa kehendak-Nya. Kemana engkau menghadap disitulah wajah-Ku” Ini benar-benar nyata akan kita saksikan.

Sehingganya, tidak ada waktu dan kesempatan apapun alasannya untuk tanpa Dzat Maha Suci Si Nenek Moyang seluruh mahluk.

Gerak geriknya sesuai dengan kehendak Tuhan, apapun yang kita lakukan kita tahu Dzat Maha Suci yang kehendaki. Subahanallah. Matur nuwun Romo…

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Di….
Pesanggrahan Pesona Jagat Alit.
Alamat; Desa. Karangreja. RT/Rw. 02/03. Kec. Tanjung. Kab. Brebes. Jawa Tengah Indonesia. 52254.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blog: www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Apakah Anda Sudah Mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah…?!


Apakah Anda Sudah Mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah…?!
(Bagian Ke Dua)
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Di Pesanggrahan Pesona Jagat Alit. Hari Rabu. Tanggal 20 Desember 2017.

Apakah Anda Sudah Mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah…?!
Pertanyaan ini, mungkin jarang sekali kita dengar. Bahkan, bagi kebanyakan orang, akan terasa aneh dan terkesan tidak penting.

Padahal, mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang kita puja puji setiap waktu, itu penting dan utama serta wajib hukumnya, karena mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, merupakan sumber ketentraman hidup di dunia dan kesempurnaan di akherat.

Para kadhang kinasihku sekalian,
orang yang tidak mengenal Allah, niscaya tidak akan mengenal kemaslahatan dirinya, melanggar hak-hak orang lain, menzalimi dirinya sendiri dan orang lain, serta menebarkan kerusakan di atas muka bumi tanpa sedikitpun mengenal rasa malu.

Seperti apakan tanda dan cirinya bahwa seseorang itu telah mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah…?!

Berikut ini, ciri-ciri atau indikasi dari Al-qitab yang sudah saya buktikan sendiri di TKP;

Pertama;
Orang Yang Mengenal Allah… Merasa Takut Kepada-Nya
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah orang-orang yang berilmu saja.” (QS. Fathir: 28)

Setelah saya buktikan di TKP, ternyata ini benar, rasa takut kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, akan di temui dan di peroleh setiap hamba yang berhasil mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah untuk yang pertama kalinya.

Kurangnya rasa takut kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, itu muncul akibat kurangnya pengenalan/ma’rifat yang dimiliki seorang hamba kepada-Nya.

Oleh sebab itu, orang yang pertama kali mengenal
Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dialah yang paling takut kepada
Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Semakin mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, maksudnya semakin akrab dalam mengenal-Nya, takut itu berubah menjadi rasa malu kepada-Nya, semakin dalam rasa malunya kepada-Nya, berubah menjadi rasa cinta kasih sayang, yang begitu dalam dan kuat kepada-Nya.

Kedua;
Membersihkan Hati dari semua noda dan segala kotoran penyakit hati Dan Menjaga Hati dari dari semua noda dan segala kotoran yang menjadi penyebab penyakit hati.

Semakin dalam dan kuat cinta kasih sayang nya kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, menjadi selalu mencurigai Dirinya Sendiri.

Sehingganya, di setiap hembusan nafas yang keluar dari tubuhnya, selalu di pelajari, agar supaya manfaat dan tidak menjadi sia-sia, setiap tarikan nafas yang masuk ke dalam tubuhnya, selalu selalu di perhatikan, di baca, di pelajari, di saring, agar supaya tidak menjadi kemunafikan yang bisa menempel di hati sanubarinya.

Ketiga;
Selalu ingat Ajal/Mati dan Selalu sibuk mempersiapkan diri untuk menyambut Ajal/Mati yang sewaktu-waktu akan datang menjemput.

Semakin memperhatikan dan mempelari setiap hembusan keluar masuknya nafas dari tubuh.
Semakin terawasi semua dan segala gerak gerik hatinya, jangankan setitik noda, sebutir debu yang mengotori hatinya, bisa tahu.

Semakin mengawasi gerak gerik hatinya. Semakin dia di sibukkan dengan cinta kasih sayang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, semakin sibuk dengan cinta kasih sayang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, semakin kenal, semakin akrab, semakin dekat, semakin erat tak terpisahkan. Dan Semakin manunggal tunggal. Semakin tunggal manunggal.

Semakin manunggal. Semakin tunggal. Akan bisa merasakan lezatnya wahyu panca laku atau iman, bisa merasakan nikmatnya wahyu panca laku atau iman, bisa merasakan segarnya wahyu panca laku atau iman, bisa merasakan sejuknya wahyu panca laku atau iman, dan bisa merasakan bahwa tidak ada yang melebihi wahyu panca laku atau iman dalam laku murni menuju suci (mengenal dzat maha suci).

Karena sudah mengetahui sendiri rasanya, bukan katanya lagi. Maka, tiada satupun ingatan yang mendahului pikirannya, selain ingat ajal/mati, tidak ada satupun kesibukan yang mendalui gerakannya, selain sibuk mempersiapkan diri menyambut datangnya ajal/mati, yang bisa datang kapanpun waktunya.

Karena hanya Ajal/Mati itulah yang merupakan satu-satunya yang bisa menyelesaikan ketiga uraian diatas.

Anda mengetahui ada orang yang memiliki tiga ciri diatas…?!
Itulah tanda bahwa sudah mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Atau Anda sendiri yang mengalami tiga ciri yang sudah saya uraikan diatas…?!
Itulah tanda bahwa sudah mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Mengalami kok sampai tidak tahu…?!
Karena bukan Wahyu Panca Ghaib yang di ibadahkan, dan mengibadahkannya tidak menggunakan Wahyu Panca Laku atau Iman, sehingganya, kesadarannya tidak tersentuh atau tidak terkait.

Karena kesadarannya tidak tersentuh atau tidak terkait, jadinya tidak murni, alias tercampuri oleh suatu hal yang berada di luar kesadarannya yang selain Dzat Maha Suci Tuhan/Allah. Bersambung Ke Bagian Tiga…

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Di….
Pesanggrahan Pesona Jagat Alit.
Alamat; Desa. Karangreja. RT/Rw. 02/03. Kec. Tanjung. Kab. Brebes. Jawa Tengah Indonesia. 52254.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blog: www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Apakah Anda Sudah Mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah…?!


Apakah Anda Sudah Mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah…?!
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Di Pesanggrahan Pesona Jagat Alit. Hari Selasa. Tanggal 19 Desember 2017.

Apakah Anda Sudah Mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah…?!

He he he… Edan Tenan…🙂
Pertanyaan ini, mungkin jarang sekali kita dengar. Bahkan, bagi kebanyakan orang, akan terasa aneh dan terkesan tidak penting.

Padahal, mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang kita puja puji setiap waktu, itu penting dan utama serta wajib hukumnya, karena mengenal Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, merupakan sumber ketentraman hidup di dunia dan kesempurnaan di akherat.

Para kadhang kinasihku sekalian, janganlah sampai lalai dan terlena, karena di setiap harinya,
fitnah-fitnah menempel dalam lubuk hati manusia, sedikit demi sedikit, bagaikan tenunan sehelai tikar.

Hati yang menerimanya, niscaya timbul bercak (noktah) hitam, sedangkan hati yang mengingkarinya (menolak fitnah tersebut), niscaya akan tetap putih (cemerlang).

Sehingga hati menjadi dua; Yaitu hati yang putih seperti batu yang halus lagi licin, tidak ada fitnah yang membahayakannya selama langit dan bumi masih ada.

Adapun hati yang terkena bercak (noktah) hitam, maka (sedikit demi sedikit) akan menjadi hitam legam bagaikan panci yang tertelungkup (terbalik), tidak lagi mengenal yang kebaikan, dan tidak mengingkari kemungkaran, alias cenderung mengikuti apa yang dicintai oleh hawa nafsunya.

Menurut bahasa umum, kata fitnah, adalah bentuk tunggal dari kata fitan, yang berarti musibah atau coba’an dan ujian.

Menurut istilah (terminologi), kata fitnah disebutkan berulang dalam al-qur’an, pada 72 ayat, dan seluruh maknanya berkisar sebagai berikut; “Aku uji perak dan emas dengan api, agar dapat dibedakan antara yang buruk dan yang baik”

Setiap hari hati manusia didera oleh fitnah, dan fitnah yang di maksud, terbagi dari dua macam, yaitu fitnah syahwat dan fitnah syubhat (ini merupakan fitnah yang paling besar). Dan keduanya bisa ada dalam diri seseorang, atau hanya salah satunya saja.

1). Fitnah syahwat adalah; fitnah keduniaan, seperti harta, tahta, pujian, sanjungan, wanita/lelaki, anak, istri/suami dan yang lainnya.

2). Fitnah syubhat adalah; fitnah pada pemahaman, spiritual, ilmu, keyakinan, aliran, agama, kepercayaan, adat dan tradisi yang menyimpang, menyimpang dalam arti maksudnya,tidak menjurus/menuju dzat maha suci Tuhan.

“Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya”

“Janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya”

“Janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya”

“Tetapi jika memang harus bermegah. Bermegahlah karena sudah memahami dan mengenal Aku, bahwa Aku-lah Dzat yang menunjukkan cinta kasih sayang, keadilan dan kebenaran di bumi, sungguh, semuanya itu Ku-sukai”

Bahasa hidup diatas, mengajarkan pada kita semua, bahwa kemegahan seseorang itu, bukanlah karena bijaksana atau kekuatan atau kekayaannya, melainkan karena pengenalannya pada dzat maha suci Tuhan.

Jangan kecolongan…!!!
Tahu dan kenal adalah hal yang berbeda.

Sebagai contoh;
Kita bisa tahu Persiden Joko Widodo, tetapi kita tidak kenal dengannya.

Kita tidak berbincang-bincang dengan dia, kita tidak makan siang bersamanya, kita hanya tahu dia sebagai Persiden RI, artinya, mengetahui tidak menjamin kita mengenal, sebab itu, jangan berhenti di pengertia dan pemahaman serta pengetahuan saja.

Saudara-saudari tahu bahwa Yesus adalah Tuhan dan juru selamat bagi umat kristiani, akan tetapi, kenalkah saudara-saudari dengan Dia…!!!

Saudara-saudari tahu bahwa Muhammad adalah Rahmat dan Syafaat bagi umat islam, akan tetapi, kenalkah saudara-saudari dengan Dia…!!!

Saudara-saudari tahu bahwa Siddhartha Gautama adalah Budha (yang berati kesadaran) bagi umat Hindu/Budha, akan tetapi, kenalkah saudara-saudari dengan Dia…!!!

Para Kadhang Kontho dan Kanthi tahu bahwa M. Smono Sastrohadijoyo adalah kesempurna’an bagi Putero, akan tetapi, kenalkah Para Kadhang Kontho dan Kanthi dengan Dia…!!!

Berbincang-bincangkah engkau dengan Dia…?!

Sudahkah ada hubungan yang dibangun dan terus bertumbuh dengan Dia…?!

Kenalkah engkau pada sifat dan sikapnya…?! Termasuk apa yang Dia sukai atau yang tidak…?!

Kalau merasa Sudah… Cobalah bertanya kepada rasa dan perasaan mu. Seperti ini;

1. Sudahkan aku melakukan perintah-Nya…?!
2. Sudahkah aku tidak lagi hidup didalam dosa…?!
3. Sudahkah aku hidup dalam cinta kasih sayang…?!

Itulah tiga pertanyaan yang harus engkau jawab dengan kesadaran yang sejujur-jujurnya!

Dan tiga pertanya’an untuk rasa dan perasa’an diatas ini, sudah lebih dari cukup untuk membuktikan, bahwa kita benar sudah kenal atau cuma aku-akuan karena ego gengsi. Bersambung ke Bagian keDua…

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Di….
Pesanggrahan Pesona Jagat Alit.
Alamat; Desa. Karangreja. RT/Rw. 02/03. Kec. Tanjung. Kab. Brebes. Jawa Tengah Indonesia. 52254.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blog: www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Curahan Rindu WEB Terhadap Kematian:


24312482_401027190343341_7717446635438932114_n

Curahan Rindu WEB Terhadap Kematian:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Di Pesanggrahan Pesona Jagat Alit. Hari Rabu. Tanggal 6 Desember 2017.

Lahir dengan membawa tangisan.
Ibarat sebuah kesedihan pada alam kehidupan. Lalu tumbuh besarlah sang bayi kesayangan.
Menjelma menjadi manusia penuh permasalahan.

Mengapa hidup…?!
Hanya sebatas mengenyangkan perutkah…?!

Atau menuruti dahaga kehausan…?!
Atau sekedar berketurunan,
Berkembang biak seperti hewan…?!

Mengapa aku hidup…?!
Seberapa arti hidup aku untuk orang lain…?!

Hehe.🙂 Aku membenamkan diriku ke dalam sendang maniloka untuk membasuh rindu akan kematianku. Namun Aku lupa, kalau aku tak bisa berenang.

Jika kematian adalah niscaya…!!!
Mengapa hidup terasa tak berdaya…?!

Jika kematian adalah kodrat…!!!
Mengapa harus berdoa…?!

Carut marut hitam putihnya dunia.
Menyelimuti sang alam fana.
Kematian datang menatap rasa.

Inikah kehidupan…?!

Kalau iya…
Sungguh tipis bedanya dengan kematian.

Kalung-kalung perpisahan. Melingkari leher-leher pertemuan.
Lalu mengikatnya seperti budak perhambaan. Kematian lah pintu keabadian.

Wahai maut…
Datang dan dekaplah jasad jadahku ini…

Meski dosa akan melumatkan tulang belulangku, namun jemputlah aku dalam sepiku,
sebelum ia menjadi milikku,
agar tak ada lagi air mata rindu yang menetes dari sudut mataku.

Kain putih sekian meter, balutlah tubuh hinaku ini…

Tubuh yang tidak dialiri darah najis lagi, namun bukan berarti suci, kotor tetaplah kotor, hina tetaplah hina, hanya saja memang tidak mengalir lagi, karena sydah membeku menjadi gumpalan dosa.

Aku juga rindu pada tanah yang akan menimpa tubuhku, pada gelegar murka penanya alam barzah, dan cambukan pada dosa
yang telah melelapkan diri dalam kemungkaran, hingga tubuh jadah ini, hancur lebur dan utuh kembali.

Aku merindukan kematian itu, sungguh aku merindukannya,
karena nafas busuk ini, telah cukup melelahkan.

Aku merindukan kematian…!!!
Berikan…!!!
Berikan aku kematian Wahai Sang Maha Mematikan.

Saya Wong Edan Bagu Yang Sedang Rindu Mati. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Di….
Pesanggrahan Pesona Jagat Alit.
Alamat; Desa. Karangreja. RT/Rw. 02/03. Kec. Tanjung. Kab. Brebes. Jawa Tengah Indonesia. 52254.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blog: www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya