Perjalanan Mencari Jati Diri Sejati. (kisah nyata masa lalu Wong Edan Bagu):


Perjalanan Mencari Jati Diri Sejati. (kisah nyata masa lalu Wong Edan Bagu):
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Hari Jumat. Tanggal 1 Juni 2018.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasih-ku sekalian tahu…?!

Ada…
Berapa banyak orang yang beragama di dunia ini…?!
Berapa banyak tempat ibadah di dunia ini…?!
Berapa banyak orang yang taat menjalankan ritual agamanya…?!

Kita tahu jumlahnya luar biasa banyak bukan…?!

Namun mengapa…?!
Sejauh dan sepanjang sejarah dunia ini, kemiskinan, kelaparan, penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, peperangan dan bencana alam terus merajalela…?!

Sudah berapa banyak dari kita yang memohon, berdoa pada Tuhan, dengan berbagai macam cara dan ritual, untuk mengakhiri semua itu…?!

Tapi kegelapan tak kunjung sirna, bahkan manusia semakin individualis, bringas, melakukan teror dan giyat mencela bahkan salin hina, bencana alam kian mengganas.

Lalu…
Apakah yang keliru…?!

Tidak kah semua hal itu dapat menggugah kesadaran kita yang mengaku beriman dan berTuhan…?!

Ini karena mayoritas manusia di Bumi ini, lebih mementingkan dan selalu terfokus untuk mencari yang bukan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Heeemmmmm…
Dulu…
Sekitar tahun 1989, ketika saya masih dalam perjalanan mengembara, dalam proses pencarian jati diri, sampailah langkah kaki saya di suatu tempat atau daerah yang cukup menawan hati saya kala itu, pulau penyengat namanya.

Mengetahui nama pulau yang begitu menusuk lelaku spiritual saya ini, saya tidak berpikir panjang lagi, bersegeralah saya menelusuri bagian-bagian daerahnya hingga ke pelosoknya.

Pulau Penyengat adalah sebuah pulau kecil di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, yang berjarak kurang lebih 2 km dari pusat kota. Pulau ini berukuran panjang 2.000 meter dan lebar 850 meter, berjarak lebih kurang 35 km dari Pulau Batam.

Dan saya bertemu dengan seorang kakek jompo yang sedang duduk didepan teras rumahnya sambil menumbuk pinang untuk memerahi bibir keriputnya, bernama Kakek Alimin, yang akrab di panggil Datuk Alim.

Kakek Alimin atau Datuk Alim, berusia sekitar 90 tahunan, waktu itu, setelah salin memperkenalkan diri, saya berusaha mengorek keterangan dari Datuk Alim, mengenai seputar Pulau Sengat.

Ceritanya sangat panjang, membuat saya harus bermalam dan menginap di gubuk Datuk Alim yang terletak di bawah pohon rindang tepi pantai, di mana di depannya, terhampar lautan nan luar, yang menyandra setiap mata yang menatapnya.

Di penghujung cerita…
Datuk Alim bertanya kepada saya;

Datuk Alim;
Apa kau cari, sehingga harus mengembara sejauh ini nak..?!

WEB;
Sebenarnya saya tidak mencari apa-apa (jawab saya sambil menunduk) Saya hanya ingin mengenal jati diri saya yang sebenarnya.

Datuk Alim;
Maksudnya mu nak…?!

WEB;
Maksud saya, saya ingin mengetahui Siapa Aku yang sebenarnya, Dari Mana Aku, Mau Kemana Aku, dan Untuk Apa Aku ini.

Datuk Alim;
Dasar apa yang membuatmu ingin mengetahui hal itu nak…?!

WEB;
Perjalan kehidupan saya sangat gelap dan pahit, saya sudah capek dengan kegelapan dan kepahitan yang saya alami tiada henti, saya ingin bahagia, tenang, aman, nyaman dan tentram.

Lalu guru saya menyarankan saya belajar adat istiadat dan mendalami agama, sayapun mengikuti saran itu, tapi saya belum mendapatkan apa yang saya inginkan.

Pada suatu ketika, ada seorang alim ulama yang menjelaskan kepada saya, bahwa apa yang saya inginkan itu, adalah milik Tuhan, jadi, jika saya tidak mengenal Tuhan, bagaimana mungkin bisa bahagia, tenang, aman, nyaman dan tentram.

Lalu saya di tunjuki isi Al-qitab, yang berbunyi; Barang siapa mengenal diri, akan mengenal Rabb-nya.

Yang maksudnya;
Kalau saya ingin bahagia, tenang, aman, nyaman dan tentram, maka saya harus mengenal Tuhan, untuk bisa mengenal Tuhan, saya harus mengenal diri saya terlebih dulu, itu lah yang menjadikan saya harus mengembara.

Datuk Alim;
Sungguh kasihan.
Sudah kau menemukan itu nak…?!

WEB;
Belum

Lalu…
Sambil berjongkok gemetaran, Datuk Alim menghampiri sebuah kotak kecil yang ada di sudut meja, lalu membuka dan mengambil gulungan rontal dari dalam kotak itu, sambil menimang rontal, beliau berkata.

Datuk Alim;
Ini adalah salinan Gurindam 12.
Gurindam 12 adalah sekumpulan syair yang diciptakan oleh Raja Ali Haji di Pulau Penyengat ini.

Raja Ali Haji, adalah seorang sastrawan di Kepulauan Riau pada masanya dan diakui sebagai salah satu Pahlawan Nasional.

Raja Ali Haji menciptakan Gurindam 12 ini, sebagai mas kawin yang diberikan kepada Engku Puteri Hamidah, yang tinggal di Pulau Penyengat ini.

Mas kawin ini, dipahatkan di sebuah batu marmer, sebagai bukti rasa cintanya kepada Engku Puteri Hamidah, yang kemudian di salin ke dalam rontal oleh guruku, lalu di wariskan kepadaku, untuk di pelajari, dan sekarang, rontal ini saya serahkan kepadamu nak.

WEB;
Mohon maafkan Datuk, bukannya saya tidak mau, saya sudah capek belajar ilmu, saya hanya ingin bahagia, tenang, aman, nyaman dan tentram, bukan ilmu kesaktian macam manapun.

Datuk Alim;
Nak…
Ini Gurindam 12, apa yang kau inginkan itu, jawabannya ada di rontal ini, ini bukan rontal yang bertuliskan ilmu-ilmu kesaktian.

Rontal Gurindam 12 ini, berisi wejangan yang sangat berguna dan bersifat universal bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya bagi dirimu yang ingin mengenal diri sejatimu nak.

WEB;
Sambil tertunduk, saya berkata. Baiklah Datuk, kalau memang isinya adalah jawaban dari pencarian saya, saya bersedia mau menerimanya dan akan saya mempelajari isinya, sesuai yang Datuk perkenankan.

Setelah saya membuka dan mengamati satu demi satu rontal, saya mendapatkan bahasa yang di bentuk menjadi sebuah kata, lalu menjadi kalimat yang mempunyai makna yang terkandung di dalamnya sangat luar biasa, dan sepertinya saya butuh tempat untuk bisa menggali makna kedalamannya.

Dan Datuk Alim menyarankan saya untuk mencari Bukit Siguntang di Palembang, dan menepi disana untuk mempelajari Rontal Gurindam 12, sayapun berusaha untuk bisa menemukan Bukit Siguntang itu.

Setelah berminggu-minggu saya berjalan kaki dari kepulauan Riau ke Palembang, akhirnya saya berhasil menemukannya.

Dan ternyata;
Bukit Siguntang adalah sebuah tempat bersejarah di wilayah Palembang, bukitnya rimbun dan asri, bukit siguntang adalah merupakan titik tertinggi di Kota Palembang, dan menyimpan banyak cerita misteri masa lalu leluhur orang palembang.

Di Bukit Siguntang ini, terdapat 7 makam keramat yang memiliki aura mistis yang sangat luar biasa, rupanya Bukit Siguntang merupakan tempat pemakaman orang-orang penting Palembang zaman dahulu. Yaitu;

Makam Pertama;
1. Makam Panglima Tuan DjungDjungan.
Beliau merupakan ulama dari Arab yang datang ke tanah melayu (Swarnadwipa) untuk berkelana sambil menyiarkan agama Islam.

2. Radja Segentar Alam.
Nama aslinya adalah Iskandar Zulkarnain Alamsyah, yang berasal dari Kerajaan Mataram.

3. Putri Kembang Dadar.
Nama aslinya adalah Putri Bunga Melur, yang berasal dari Kayangan (langit)-(bidadari).

4. Putri Rambut Selako.
Rambut Selako, artinya rambut yang keemas-emasan (pirang), Nama aslinya adalah Putri Damar Kencana Wungsu, yang berasal dari Majapahit, anak dari Prabu Prawijaya.

5. Panglima Batu Api.
Beliau adalah seorang ulama yang berasal dari Jeddah (Arab Saudi) yang datang ke tanah melayu untuk berkelana dan menyiarkan agama Islam.

6. Panglima Bagus Kuning.
Berasal dari Mataram yang datang ke Palembang, untuk mengawal Radja Segentar Alam.

7. Panglima Bagus Karang.
Berasal dari Mataram yang datang ke Palembang, bersama Panglima Bagus Kuning untuk mengawal Radja Segentar Alam.

Dari makam-makam itu, membuktikan bahwa Bukit Siguntang, merupakan tempat yang sangat sakral, sehingga para bangsawan Palembang zaman dahulu, banyak yang dimakamkan di bukit tersebut.

Dan di bukit inilah saya menepi mempelajari makna yang terkandung di dalam Rontal Gurindam 12.

Di dalam setiap pasal di Gurindam 12, mempunyai dua baris/bait dalam serangkap atau beberapa baris/bait dalam serangkap.

Setiap baris/bait ke baris/bait di dalam gurindam 12, membawa makna yang lengkap dan saling berkesinambungan antara baris pertama terhadap baris/bait berikutnya.

Maksudnya;
Baris/bait pertama sebagai “syarat/tanya” dan baris/bait kedua sebagai “jawab/jawaban”.

Contoh misalnya;
Baris/bait pertama atau “syarat/tanya” menyatakan suatu peristiwa, sedangkan baris kedua atau “jawab/jawaban” menerangkan atau menjelaskan atau menjawan apa yang telah dinyatakan oleh baris/bait yang pertama tadi.

Berikut ini Gurindam 12 yang berhasil saya maknai dan berhasil memperkenalkan Aku dan Diri Sejatiku. Semoga Bermanfaat Bagi Banyak Orang dan Secara Umum.

“GURINDAM DUA BELAS”
Gurindam pasal. 1;
“Barang Siapa tiada memegang agama, sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama”

Maksudnya adalah;
Setiap insan yang hidup di dunia ini, harus memiliki agama/tuntunan, karena agama/tuntunan, adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia, orang yang tidak mempunyai agama/tuntunan, berarti orang yang tidak tahu arah dan petunujuk, sehingga tersesat dalam menjalani kehidupan.

“Barang siapa mengenal yang empat, maka ia itulah orang ma’rifat”

Maksudnya adalah;
Ada 4 hal yang menjadikan manusia yang sesungguhnya, yaitu; syariat, tarikat, hakikat dan ma’rifat, jika tahu tentang itu, maka dia juga akan mengenal Tuhannya.

“Barang siapa mengenal Tuhan,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah”

Maksudnya adalah;
Barang siapa yang bertaqwa kepada Tuhan, akan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya.

“Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri”

Maksudnya adalah;
Orang yang mengenal dirinya sendiri, maka ia mengenal Tuhan yang benar.

“Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang terpedaya”

Maksudnya adalah;
Orang yang mengetahui kebahagiaan di dunia, pasti mengerti bahwa itu hanya tipu daya belaka.

“Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah ia dunia melarat”

Maksudnya adalah;
Orang yang mengerti dan paham tentang kehidupan di akhirat, ia memahami bahwa kehidupan di dunia hanya sementara dan fana dibandingkan kehidupan di akhirat.

Gurindam pasal. 2;
“Barang siapa mengenal yang tersebut, tahulah ia makna takut”

Maksudnya adalah;
Orang yang taat kepada Tuhan, pasti takut dengan larangan Tuhan.

“Barang siapa meninggalkan sembahyang, seperti rumah tiada bertiang”

Maksudnya adalah;
Orang yang tidak sembahyang, maka hidupnya tidak akan mendapat ketenangan dari Tuhan, seperti rumah yang tidak bertiang.

“Barang siapa meninggalkan puasa, tidaklah mendapat dua temasya”

Maksudnya adalah;
Orang yang meninggalkan puasa, hidupnya pun sia-sia dan Tuhan tidak akan menjaganya di dunia maupun akhirat.

“Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat”

Maksudnya adalah;
Orang yang tidak berzakat, hartanya tidak bermanfaat, dan hidupnya tidak akan memperoleh kelimpahan kebaikan.

“Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji”

Maksudnya adalah;
Orang yang mampu pergi haji, namun tidak melaksanakanya, berarti ia telah ingkar janji dengan agamanya sendiri.

Gurindam pasal. 3;
“Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita’

Maksudnya adalah;
Orang yang tidak menjaga hawa nafsu, maka pastilah ia akan rugi.

“Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah damping”

Maksudnya adalah;
Sebagai manusia kita harus menjaga telinga, untuk mendengar pembicaraan yang baik, jangan hiraukan pembicaraan yang tidak penting dan tidak baik.

“Apabila terpelihara lidah,
nescaya dapat daripadanya faedah”

Maksudnya adalah;
Setiap manusia, harus menjaga setiap ucapan, supaya memperoleh kebaikan.

“Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan”

Maksudnya adalah;
Berhati-hati dalam berbuat segala sesuatu, tidak bertindak ceroboh.

“Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi’il yang tiada senonoh”

Maksudnya adalah;
Sesuatu yang berlebihan, akhirnya pasti akan membuat keburukan.

“Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat”

Maksudnya adalah;
Jika ingin mencapai sesuatu, jangan setengah-setengah, harus totalitas dalam menjalani sesuatu.

“Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjalan yang membawa rugi”

Maksudnya adalah;
Berhati-hati dalam melangkah atau mengambil suatu keputusan, supaya keputusan yang diambil tidak merugikan.

Gurindam pasal. 4;
“Hati kerajaan di dalam tubuh,
jikalau zalim, segala anggota pun roboh”

Maksudnya adalah;
Hati ibaratnya kerajaan di dalam tubuh, kalau sampai jahat, makan hancurlah seluruh tubuh.

“Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah”

Maksudnya adalah;
Perasaan iri dan dengki, akan mendapat penderitaan.

“Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir”

Maksudnya adalah;
Sebelum berbuat, berpikirlah terlebih dahulu,
Berpikir dahulu, agar ketika melakukan tidak terpeleset/salah.

“Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala”

Maksudnya adalah;
Orang yang melakukan sesuatu dengan emosi, tidak akan bisa berpikir dengan baik.

“Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong”

Maksudnya adalah;
Orang yang berbohong akan menerima akibat dari kebohongannya.

“Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka”

Maksudnya adalah;
Orang yang tidak menyadari aibnya sendiri, adalah orang yang paling celaka.

“Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah”

Maksudnya adalah;
Sifat buruk janganlah dipelihara, karena itulah pencuri yang berlagak baik, hendaknya segera dirubah.

“Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar”

Maksudnya adalah;
Orang yang memiliki kekuasaan, janganlah berlaku sewenang-wenang.

“Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur”

Maksudnya adalah;
Orang yang berkata tidak baik, akan mendapat predikat yang buruk.

“Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi”

Maksudnya adalah;
Mengetahui kesalahan diri sendiri dari penilaian orang lain”

Gurindam pasal. 5;
“Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa”

Maksudnya adalah;
Orang yang baik, bisa dilihat dari etika dan tutur bahasanya.

“Jika hendak mengenal orang berbahagia, sangat memeliharakan yang sia-sia”

Maksudnya adalah;
Orang yang berbahagia, tidak menyia-nyiakan apapun.

“Jika hendak mengenal orang mulia, lihatlah kepada kelakuan dia”

Maksudnya adalah;
Orang yang mulia itu, terlihat dari sipat dan sikap kelakuannya.

“Jika hendak mengenal orang berilmu, bertanya dan belajar tiadalah jemu”

Maksudnya adalah;
Orang yang berilmu adalah orang yang tidak putus asa dan selalu berusaha belajar tanpa bosan.

“Jika hendak mengenal orang yang berakal, di dalam dunia mengambil bekal”

Maksudnya adalah;
Orang yang berakal, akan mengumpulkan bekal untuk di akhirat.

“Jika hendak mengenal orang yang baik perangai, lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai”

Maksudnya adalah;
Orang yang baik, dapat dilihat dari cara ia berinteraksi dengan orang banyak.

Gurindam pasal. 6;
“Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat”

Maksudnya adalah;
Carilah sahabat yang selalu ada dalam situasi apapun.

“Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru”

Maksudnya adalah;
Carilah seorang guru, yang membimbing.

“Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh menyerahkan diri”

Maksudnya adalah;
Carilah pasangan yang baik dan rela berkorban.

“Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan”

Maksudnya adalah;
Carilah teman yang setia dan tidak berkhianat.

“Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi”

Maksudnya adalah;
Carilah seseorang yang memiliki budi pekerti baik.

Gurindam pasal. 7;
“Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta”

Maksudnya adalah;
Kalau orang banyak bicara, akan akan menemukan cara untuk bisa berbohong.

“Apabila banyak berlebih-lebihan suka, itulah tanda hampir duka”

Maksudnya adalah;
Kalau orang suka berlebih-lebihan, disitulah awal datangnya petaka.

“Apabila anak tidak dilatih,
jika besar bapaknya letih”

Maksudnya adalah;
Anak yang tidak dibimbing dengan baik sejak kecil, saat besar, pada orang tua tidak berbakti, bisa melawan orang tuanya.

“Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang”

Maksudnya adalah;
Orang yang suka mencela orang lain, tidak akan menyadari kekurangan dirinya sendiri.

“Apabila orang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur”

Maksudnya adalah;
Orang yang banyak/suka tidur, hidupnya akan sia-sia.

“Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar”

Maksudnya adalah;
Menghadapi sesuatu hal, hendaknya dengan penuh kesabaran.

“Apabila mendengar akan aduan,
membicarakannya itulah hendaklah cemburuan”

Maksudnya adalah;
Apabila ada yang membicarakan keburukan seseorang, lebih baik jangan hiraukan.

“Apabila perkataan lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut”

Maksudnya adalah;
Ikuti perilaku yang baik.

“Apabila perkataan yang amat kasar, lekaslah orang sekalian gusar”

Maksudnya adalah;
Jauhi perilaku yang buruk.

“Apabila pekerjaan yang amat benar, tidak boleh orang berbuat onar”

Maksudnya adalah;
Jangan mengacau jika ada orang yang hendak berbuat baik.

Gurindam pasal. 8;
“Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya”

Maksudnya adalah;
Jika kita telah membohongi diri sendiri, kita akan lebih keterlaluan dalam menghianati orang lain.

“Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya”

Maksudnya adalah;
Jangan percaya kepada orang yang menghancurkan dirinya sendiri.

“Lidah yang suka membenarkan dirinya, daripada yang lain dapat kesalahannya”

Maksudnya adalah;
Orang yang berbohong untuk menutupi kesalahan dan Orang yang menganggap dirinya lebih benar dibandingkan orang lain.

“Daripada memuji diri hendaklah sabar, biar pada orang datangnya khabar”

Maksudnya adalah;
Jika ingin mendapatkan sesuatu kabar yang baik hendaklah bersabar.

“Orang yang suka menampakkan jasa, setengah daripada syirik mengaku kuasa”

Maksudnya adalah;
Orang yang memamerkan yang telah diperbuat, itu berarti telah menyekutukan Tuhanya.

“Kejahatan diri disembunyikan,
kebaikan diri didiamkan”

Maksudnya adalah;
Alangkah baiknya menutupi sisi negatif dari diri sendiri dan juga tidak menunjukkan sisi positif dari diri sendiri.

“Keaiban orang jangan suka dibuka, keaiban diri hendaklah sangka”

Maksudnya adalah;
Lebih baik membuka aibnya sendiri, dari pada membuka aibnya orang lain.

Gurindam pasal. 9;
“Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan, bukannya manusia ya itulah syaitan”

Maksudnya adalah;
Orang yang tahu bahwa yang dia lakukan itu tidak benar, tetapi tetap ia lakukan, itu sama saja dengan syaitan.

“Kejahatan seorang perempuan tua, itulah iblis punya penggawa”

Maksudnya adalah;
Orang yang jahat sampai tua atau semasa hidupnya, itu sama saja pengikut iblis.

“Kepada segala hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja”

Maksudnya adalah;
Syaitan suka kepada orang yang bermalas-malasan.

“Kebanyakan orang yang muda-muda, di situlah syaitan tempat berkuda”

Maksudnya adalah;
Masa-masa muda penuh dengan godaan, yang dapat menjerumuskan diri sendiri, sehingga kita mudah dikendalikan oleh syaitan.

“Perkumpulan laki-laki dengan perempuan, di situlah syaitan punya jamuan”

Maksudnya adalah;
Jika laki-laki dengan perempuan yang bukan muhrim berduaan, maka akan menimbulkan dosa dan keduanya adalah syaitan.

“Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat”

Maksudnya adalah;
Syaitan tidak suka dengan orang yang hemat.

“Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru”

Maksudnya adalah;
Orang yang rajin menuntut ilmu dimasa muda, adalah musuhnya syaitan.

Gurindam pasal. 10;
“Dengan bapa jangan durhaka,
supaya Tuhan tidak murka”

Maksudnya adalah;
Harus patuh terhadap orang tua, agar mendapat ridha dari Tuhan.

“Dengan Ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat”

Maksudnya adalah;
Hormatilah ibumu, agar selamat dunia akhirat.

“Dengan anak janganlah lalai,
supaya boleh naik ke tengah balai”

Maksudnya adalah;
Jika ingin memiliki anak yang sukses, bimbinglah dengan baik sejak dini.

“Dengan isteri dan gundik janganlah alpa, supaya kemaluan jangan menerpa”

Maksudnya adalah;
Kita harus menjaga nafsu tehadap istri, apa lagi pada yang bukan istri, supaya syahwat tetap terjaga.

“Dengan kawan hendaklah adil,
supaya tangannya jadi kafill”

Maksudnya adalah;
Berbuatlah adil kepada siapapun.

Gurindam pasal. 11;
“Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa”

Maksudnya adalah;
Saling membantu dan berbakti kepada bangsa dan negara.

“Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela”

Maksudnya adalah;
Jadilah pemimpin yang baik dan membuang semua perbuatan yang tercela.

“Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat”

Maksudnya adalah;
Jalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.

“Hendak marah, dahulukan hajat”

Maksudnya adalah;
Janganlah mudah marah sebelum hajat terpenuhi.

“Hendak dimulai, jangan melalui”

Maksudnya adalah;
Jangan pernah menunda-nunda sesuatu.

“Hendak ramai, murahkan perangai”

Maksudnya adalah;
Berbuatlah baik jika ingin memiliki banyak teman.

Gurindam pasal. 12;
“Raja mufakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri”

Maksudnya adalah;
Jika kita bekerjasama, akan menjadi satu kesatuan yang kuat.

“Betul hati kepada raja, tanda jadi sebarang kerja”

Maksudnya adalah;
Berprasangka baiklah terhadap apapun, jangan buruk sangka.

“Hukum adil atas rakyat,
tanda raja beroleh inayat”

Maksudnya adalah;
Pemimpin harus bisa menegakkan dan menegaskan keadilan secara menyeluruh.

“Kasihkan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu”

Maksudnya adalah;
Orang yang berilmu, hidupnya akan dimudahkan dan memperoleh rahmat.

“Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai”

Maksudnya adalah;
Berteman dengan orang baik, akan mengetahui suatu kebaikan.

“Ingatkan dirinya mati, itulah asal berbuat bakti”

Maksudnya adalah;
Lakukan lah kebaikan sebelum kita mati.

“Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta”

Maksudnya adalah;
Orang yang sadar, mata hatinya tidak buta, akan menyadari bahwa setiap yang bernyawa itu benar-benar akan mati.

Itulah Gurindam 12 yang telah berjasa besar terhadap saya, karenanya, saya berhasil menemukan jati diri pribadi saya. Terima kasih Datuk Alim. Terima kasih Eyang Guru Datuk Alim dan Terima Kasih Paduka Raja Ali Haji.
Semoga Bermanfaat Bagi Banyak Orang Secara Umum.

Saya Wong Edan Bagu…. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Iklan

Ingin Mengenal Identitas Dirimu…?! Bukalah Hatimu. Lalu Masuklah kedalam Jiwamu. (Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling Bagian Dua):


Ingin Mengenal Identitas Dirimu…?! Bukalah Hatimu. Lalu Masuklah kedalam Jiwamu.
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling Bagian Dua):
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Hari Kamis. Tanggal 31 Mei 2018

Ingin Mengenal Identitas Diri…?! Jati Diri…?!
Diri Sejati…?!
Atau Sejatinya Diri…?!
Agar supaya bisa mengenal Tuhan.

Tidak perlu pergi mengembara jauh dan tak perlu bayar mahal.

Dimanapu kini berada.
Cukup diam di tempat.
Lalu Buka Hatimu.
Terus Masuklah kedalam Jiwamu.

Seperti penggambaran dalam pentas seni Wayang Purwa dengan lakon BIMA SUCI Vs DEWA RUCI. Selesai.

He he he . . . Edan Tenan.
Masuk ke dalam jiwa/sukma adalah perjalanan yang paling penting dari semua perjalanan hidup yang manusia lakukan.

Ini adalah perjalanan untuk menuju kebenaran yang sesungguhnya, perjalanan untuk menuju kepada sumber dari segala sumber yaitu Dzat Maha Suci Tuhan.

Ini adalah tempat dimana kita akan menemukan kekuatan spiritual dan mujijat kebijaksanaan yang sesungguhnya.

Untuk mengembangkan karakter yang bercahaya (pengetahuan spiritual universal) dan membersihkan pikiran negatif, juga kebiasaan buruk yang bisa merusak kondisi emosi kita menjadi negatif, termasuk membersihkan karma negatif/buruk.

Kita bisa melakukannya dengan cara bersemedi, memgibadahkan Wahyu panca ghaib dengan menggunakan Wahyu panca laku, seperti yang sudah saya kabarkan melalui rekaman Vidio di you tube berjudul Kunci The Power Level Satu untuk menjaga hati. Kunci The Power Level Dua untuk membersihkan hati, dan Kunci The Power Level Tiga untuk membuka hati.

Patrap semedi ini, bisa menenangkan pikiran (jiwa/sukma) dan menemukan ketenangan batin (Ruh/Hidup), pemahaman tentang spiritual, prinsip/hukum tentang penciptaan, yang mana nantinya semua itu bisa membuat harmonis dalam kehidupan kita sehari-hari secara universal.

Dalam Patrap semedi ini, kita akan terkoneksi dengan jiwa/sukma ples Ruh/Hidup kita sendiri, dan sesegera mungkin dengan Dzat Maha Suci Tuhan juga.

Karena Dzat Maha Suci Tuhan itu, ada di dalam hati kita, di dalam diri setiap mahluknya yang ada di seluruh semesta ini, bukan di luar diri kita.

Hati kita, ada di dalam diri kita, bukan diluar diri kita. Jiwa/Sukma kita, ada dalam diri kita, bukan diluar diri kita. Ruh/Hidup kita, juga ada di dalam diri kita, bukan diluar diri kita. Dzat Maha Suci Hidup/Tuhan pun, ada di dalam diri kita, bukan diluar diri kita. Bahkan semua yang ada di luar diri kita, itu bermula dari dalam diri kita sendiri.

Patrap Semedi ini juga, akan membuat kita mulai mengenal apa itu “kesadaran diri sendiri” dan membawa kita kedalam realisasi-diri (mengenai eksperesi diri sejati) yang sesungguhnya, yang sebenar-benarnya.

Jiwa/Sukma dan Ruh/Hidup kita, adalah rantai penghubung kita dengan Dzat Maha Suci Tuhan “Sang Sumber Segalanya” Yang kesemuanya itu, ada di dalam “HATI”

Jiwa/Sukma kita adalah alat dalam diri kita, yang bisa mengekspresikan segala sesuatu dan bisa menghasilkan apapun dengan nyata, senyata-nyatanya.

Kapanpun Jiwa/Sukma kita terkoneksi dengan Ruh/Hidup kita, kita adalah “higher self” dan dalam satu kesatuan hubungan dengan Dzat Maha Suci Tuhan.

Semua manusia hidup di dunia ini, adalah jiwa/sukma, kita ini adalah jiwa/sukma.

Semua manusia hidup di dunia ini, bahkan seluruh mahkluk tanpa terkecuali, adalah bagian dari Dzat Maha Suci Tuhan.

Karena sesungguhnya, kita dan semua serta segalanya tanpa terkecuali, itu berasal dari-NYA dan akan kembali kepada-NYA.

Ketika kita berhasil “masuk ke dalam diri” kita akan otomatis langsung terhubung dengan higher self kita (diri kita yang lebih tinggi, yaitu Ruh/Hidup).

Semakin sering kita terhubung dengannya, maka kesadaran, pengetahuan universal spiritual kita, akan semakin berkembang.

Lakukanlah cara Patrap Semedi ini, sesering mungkin, tanpa terikat waktu dan arah, agar kita bisa lebih sadar dan peka terhadap-NYA.

Karena kita adalah satu kamu, dan kamu adalah satu diriku, orang-orang lain, hewan dan tumbuhan, kita adalah saudara, kita berasal dari-NYA dan kita akan kembali lagi hanya kepada-NYA. Bersambung Ke Vidio di You Tube Yang Berjudul;
Kunci The Power Level Satu untuk menjaga hati. Kunci The Power Level Dua untuk membersihkan hati, dan Kunci The Power Level Tiga untuk membuka hati.

Semoga Bermanfaat. Saya Wong Edan Bagu…. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Ingin Mengenal Identitas Dirimu…?! Bukalah Hatimu. Lalu Masuklah kedalam Jiwamu. (Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling Bagian Satu):


Ingin Mengenal Identitas Dirimu…?! Bukalah Hatimu. Lalu Masuklah kedalam Jiwamu.
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling Bagian Satu):
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Hari Selasa. Tanggal 29 Mei 2018.

Ingin Mengenal Identitas Diri…?! Jati Diri…?! Diri Sejati…?! Atau Sejatinya Diri…?!

Tidak perlu pergi mengembara jauh dan bayar mahal.

Dimanapu kini berada…
Buka saja Hatimu.
Lalu Masuklah kedalam Jiwamu.

Seperti penggambaran dalam pentas seni Wayang Purwa dalam lakon BIMA SUCI Vs DEWA RUCI. Selesai. He he he . . . Edan Tenan.

Salam Rahayu Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasih-ku sekalian masih ingat Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling yang berjudul;
Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Rabb-nya (Tuhan), jelasnya…

Man‘ Arafa Nafsahu, Faqad‘ Arafa Rabbahu “Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Rabb-nya”

Begitulah kurang lebih makna dari sabda Rasulullah SAW tersebut. He he he . . . Edan Tenan.

Heeemmmm…
Apa maksud presisi kalimat tersebut…?!

Seperti apa mengenal diri itu…?! Bagaimana bisa dengan hanya mengenal diri sendiri lalu menjadi bisa mengenal Rabb/Tuhan…?!

Apakah diri ini adalah Rabb/Tuhan…?!

Apakah ini terkait dengan pantheisme—menyatunya wujud Tuhan dan wujud manusia…?!

Pasti itu yang berkecamuk dalam pikiran penalaran mereka yang super relegius.

Mari kita perhatikan sabda Beliau SAW tersebut;
“Man ‘arafa nafsahu” Siapa yang ‘arif akan nafs-nya/jiwa-nya.

Ini sebenarnya bukan sekadar mengenal, tapi ‘arif. ‘Arif akan jiwa-nya. ‘Arif, kurang lebih bermakna sangat memahami, maksudnya paham dengan sebenar-benarnya.

Sedangkan dalam “faqad arafa rabbahu” kata faqad, berarti, maka pastilah, atau sudah barang tentu.

Ada kadar kepastian yang tercakup di sana, jauh lebih pasti derajatnya dari sekedar akan. “Faqad ‘arafa rabbahu” berarti “maka pastilah akan ‘arif tentang Rabb -nya”.

“Siapa yang ‘arif akan jiwanya, maka pastilah akan ‘arif tentang Rabb -nya”, begitu kira-kira maknanya.

Lalu Apa maksudnya…?!

Diri kita yang sejati, sesungguhnya bukan wujud/bentuk tubuh kita yang bisa dibedah dengan pisau bedah atau dengan berbagai teori psikologi kepribadian oleh para psikolog.

Diri kita yang ini, yang kita gunakan dalam interaksi, dalam bekerja, dalam berhubungan sosial dengan orang lain dll, sesungguhnya merupakan bentukan dari lingkungan, orangtua, pemikiran, norma, tren, atau paradigma yang ada di zaman kita masing-masing.

Dengan kata lain, diri kita yang ini, yang wujud kasat mata ini, adalah hasil bentukan, dari dinamika lingkungan luar yang berinteraksi dengan aspek jasadi dan aspek psikis kita.

Paduan komposisi dari semua itulah yang membentuk diri kita yang berwujud bentuk lelaki atau wanita ini, dan diri kita yang ini, meski unik, tampan atau cantik sekalipun, adalah diri yang semu.

Ini bukan diri kita yang sesungguhnya atau yang sebenarnya.

Sedangkan, yang dimaksud atau dipanggil oleh Dzat Maha Suci Hidup sebagai diri pada manusia, sebenarnya/sejatinya adalah yang Dia sebut sebagai “nafs” di dalam Al-Qitab.

Nafs, dalam bahasa umumnya kita, adalah “jiwa” atau dalam istilah keilmuannya di sebut juga sebagai sedulur papat atau empat anasir atau sukma.

Nafs-lah, jiwa-jiwa-lah itulah yang dipanggil dan disumpah oleh Dzat Maha Suci Hidup, untuk mempersaksikan bahwa Dzat Maha Suci Hidup, adalah Rabb -nya.

“Dan ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam, dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa-jiwa mereka; “Bukankah Aku ini Rabb-mu?” Mereka menjawab; “Betul, sungguh kami bersaksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan; “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang tidak ingat terhadap ini.” – Q.S. Al-A’raaf [7]: 172

Seperti yang sudah pernah saya uraikan dengan sederhana di artikel yang berjudul “Mari Kita Bersama-sama Mengenal Ruh dan Jiwa Kita” Dan artikel-artikel terdahulu lainnya.

Bahwasannya;
Nafs atau Jiwa atau Sukma atau Sedulur Papat atau Empat anasir kita itu, sudah ada bahkan sebelum alam semesta ini ada.

Dialah yang terus akan melanjutkan kehidupan kita di alam barzakh dan alam-alam berikutnya, setelah kelak jasad kita dengan pikiran, hafalan dan semua gagasan yang menyertainya dan semua dinamika psikis yang terkait dengannya akan mati, lenyap, hancur terurai menjadi tanah.

Itulah sebabnya, akan sangat berbahaya jika kita memahami agama atau kepercayaan hanya berupa hafalan dalil dan konsep di kepala, namun tidak terpahami secara mengakar hingga ke jiwa.

Seiring dengan hancurnya otak kita, maka semua konsep di dalamnya pun akan lenyap, sementara jiwa kita, akan melanjutkan perjalanannya dengan tidak membawa apa-apa, tanpa jenis kelamin dan identitas apapun.

Nafs atau Jiwa sendiri berbeda dengan hawwa nafs, atau yang biasa kita sebut dengan hawa nafsu.

Sebagaimana namanya “hawa nafsu” adalah hawa dari nafs atau jiwa tersebut, hanya sekadar hawa keinginan dari nafs atau jiwa, hawa nafsu sesungguhnya adalah nafs yang palsu.

Karena keinginan-keinginannya sama-sama berasal dari dalam diri kita, sehingga kehendak hawa nafsu, tidak mudah dibedakan dari kehendak jiwa.

Jadi, kesimpulannya;
Diri kita yang sejati, bukanlah jasad dengan segala dinamika psikis maupun psikologisnya.

Diri kita yang sejati adalah nafs (jiwa) yang ada dalam diri kita masing-masing Jiwa, namun bukan sembarang jiwa.

Jiwa yang dimaksud sebagai diri manusia yang sejati, adalah jiwa yang sudah terbebas dari dominasi hawa nafsunya, dari ikatan keduniawian, maupun dari daya-daya syahwati jasadnya.

Nafs atau Jiwa yang telah terbebas dari perbudakan syahwat dan hawa nafsunya inilah, yang disebut “nafs atau jiwa-jiwa yang tenang” oleh Dzat Maha Suci Hidup di dalam al-qitab.

Nafs atau Jiwa yang tenang inilah ia bisa melihat kembali pengetahuan tentang siapa dirinya, untuk apa dia diciptakan dan apa tugasnya.

Semua pengetahuan yang pernah Dzat Maha Suci Hidup tanamkan kepadanyapun, akan terbuka kembali dan tampak dengan jelas baginya.

Nafs-lah atau Jiwa inilah yang dulu mempersaksikan diri kepada Dzat Maha Suci Hidup, berbicara dengan-Nya dan menerima seluruh pengetahuan untuk menunjang tugas-tugas penciptaan yang harus kita laksanakan di dunia.

Sedangkan diri kita yang jasad berwujud ini, termasuk dengan segala dinamika fisik, psikis, dan psikologisnya, sesungguhnya hanya kendaraan bagi sang nafs/jiwa untuk melaksanakan perannya di alam fisik ini.

Diri kita yang ini usianya terbatas. Kelak, ia akan hancur menjadi tanah.

Secerdas-cerdasnya atau sehebat-hebat dan seindah-indahnya jasad seseorang, pada hakikatnya itu hanya seperti kecerdasan dan keindahan seekor kuda, jika dibanding dengan kecerdasan dan keindahan jiwa Sang pengendaranya.

Kecerdasan dan keindahan jiwa, sesungguhnya jutaan kali lipat dibanding jasadnya, jika saja jiwa berhasil membebaskan diri dari perbudakan hawa nafsu dan syahwatnya, dan berhasil membuka kembali ilmu-ilmu ilahiah yang Dzat Maha Suci Hidup tanamkan dalam dadanya.

Nafs/Jiwa inilah yang harus kita kenali dengan se ’arif – ’arif -nya, karena di tataran nafs-lah/jiwa-lah Dzat Maha Suci Hidup, menanam bibit pengetahuan agung tentang siapa kita sebenarnya, untuk fungsi apa kita diciptakan-Nya, dan bagaimana memperoleh segala prasarana untuk menjalankan tugas penciptaan itu.

Bukan di jasad, bukan di otak, tapi di tataran nafs/jiwa, di dalam hati;
“Di dalam setiap rongga dada anak adam, terdapat segumpal daging, yang jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Sebaliknya, kalau ia buruk, maka buruk pula seluruh tubuhnya. Dan segumpal daging itu, tersebut hati. Tempat
AKU menyimpan rahasia-Ku.
“Al-Insanu Siri Wa Ana Siruhu”
(Rahasia kalian adalah rahasia-Ku)

“Dalam setiap rongga anak adam, Aku ciptakan suatu mahligai yang di sebut dada. Di dalam dada ada hati (hati bagian luar), dalam hati, ada qalbu/benak (hati bagian dalam), di dalam qalbu/benak, ada fuad/nurani (hati paling dalam), dalam fuad/nurani, ada jiwa/ruh, di dalam jiwa/ruh, ada rasa, di dalam rasa ada hidup, di dalam hidup, ada Sir Dzat Sipat, dan di dalam Sir Dzat Sipat, ada Aku. Tempat Aku menyimpan Rahasia-ku”

“Al-Insanu Siri Wa Ana Siruhu”
(Rahasia kalian adalah rahasia-Ku)

Tentu, langkah awal untuk mengenal nafs/jiwa, adalah dengan membebaskannya dulu dari waham, kemelekatan-kemelekatan duniawi, dari timbunan karat dosa, dari kungkungan sifat-sifat jasadi maupun dominasi syahwat dan hawa nafsu atas jiwa kita.

Kalau dalam bahasa agamanya, langkah ini disebut sebagai Perjalanan Taubat.

Perjalanan kembali kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah Ta’ala.

Taubat berasal dari kata “taaba” yang artinya kembali.

Sementara, alih-alih ‘arif akan jiwanya sendiri, sebagian besar manusia bukan saja belum mengenal jiwanya, mereka bahkan belum bisa membedakan mana hawa nafsu nya dan mana jiwanya sendiri, karena jiwanya sangat jauh terkubur dalam dosa dan sifat-sifat kejasadiahannya sendiri.

Jiwanya sudah terlalu lemah, karena tertimbun kemelekatan duniawi yang membuatnya lumpuh, buta dan tuli, sehingga tak kuasa lagi untuk mengambil alih kendali atas kendaraannya sendiri yaitu jasad-nya.

Pada umumnya, manusia sudah tidak lagi mampu membedakan mana suara hati nurani, mana kehendak hawa nafsu, mana keinginan syahwat, mana bisikan setan maupun mana kehendak jiwa.

Semua nampak dan terdengar sama saja dari hatinya. BERSAMBUNG KE – Ingin Mengenal Identitas Dirimu…?! Bukalah Hatimu. Lalu Masuklah kedalam Jiwamu.
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling Bagian Dua):

Semoga Bermanfaat. Saya Wong Edan Bagu…. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Mari Kita Bersama-sama Mengenal Ruh dan Jiwa Kita (Wejangan Bagian Kedua):


Mari Kita Bersama-sama Mengenal Ruh dan Jiwa Kita (Wejangan Bagian Kedua):

Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Candi Gedung Songo. Hari Jumat. Tanggal 18 Mei 2018.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasih-ku sekalian…
Setiap manusia pasti pernah berupaya mencari tahu, berbagai pertanyaan dasar, untuk mengetahui lebih dalam, dan lebih banyak lagi, pengetahuan dan pemahaman tentang identitas diri yang lebih popular dengan istilah jatidiri.

Hal ini adalah wajar, karena manusia memiliki rasa keingintahuan yang besar, tentang apapun, yang berkaitan dengan dirinya.

Dan dari keingintahuan yang besar ini juga, terdapat Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dimana ini adalah satu bagian instrument pemahaman dasar, yang dibekali Tuhan kepada ciptaan-Nya, agar manusia bukan hanya bisa mengenal dirinya, namun juga bisa mengenal Tuhan-Nya dan mahluk ciptaan lainnya.

Lalu hingga saat ini sudahkah Anda mengenal diri Anda…?!
atau…
Apakah juga kita sudah mengenal dzat yang menciptakan kita…?!

Tentunya kita masih amat asing, bahkan dengan diri kita sendiri.

Maka dengan ini, semoga kita bisa diberi pemahaman/pengetahuan universal, walau hanya melalui tulisan saya, namun semoga saja bermanfaat. Berikut ini ilmu pengertian dan ilmu pemahaman serta ilmu pengetahuan terkait Judul artikelnya Mari Kita Bersama-sama Mengenal Ruh dan Jiwa Kita.

Hakikat Manusia;
Bagaimana manusia bisa mengenal pencipta-Nya jika ia sendiri tidak mengenal dirinya secara utuh…?!

Sebuah ilmu dibutuhkan untuk mencapai pengetahuan sejati sifat-sifat kemanusiaan pada umumnya.

Ilmu itu diberi nama atau disebut sebagai ilmu pengertian universal dan ilmu pemahaman universal serta ilmu pengetahuan universal.

Yang dalam istilah agamanya disebut sebagai ilmu Syareat. Tarekat dan Hakikat.

Tergabungnya Tiga pelajaran inilah, yang disebut atau dinamai sebagai ilmu pengenalan diri atau jati diri, ilmu yang digunakan untuk memahami identitas diri.

Dan…
Berikut ini definisi masing-masing unsur pada manusia;

Hakikat Manusia.
1). Wujud atau Jasad fisik;
Wujud atau Jasad fisik, adalah yang memiliki bentuk atau wujud atau sosok yang tergambarkan, yang diciptakan dari tanah, yang dibentuk menjadi daging, tulang lalu membentuk; badan, kaki, tangan, panca indera dan sebagainya.

2). Jiwa/Jiva atau Sukma;
Jiwa/Jiva atau Sukma, adalah sesosok mahluk dalam wujud halus, alam yang dibentuk dari unsur alam min sulaatin min thiin atau ekstrak alam (sari-sari air, sari-sari angin, sari-sari api dan sari-sari tanah) yang hidup dan memiliki pemahaman, Pikiran, Perasaan, Intuisi, Emosi, dan Akal.

Bagian iilah yang di sebut sebagai sedulur papat atau kawula dalam istilah keilmuannya.

3). Roh/ruh Atau Hidup;
Roh/ruh Atau Hidup, adalah satu kejadian yang tidak bisa di nalar dengan apapun, kalau harus saya uraikan kejadiannya agar lebih mudah di mengerti dan dipahami.

Kejadian uap atau gas yang keluar dari dalam Dzat, uap atau gas itu, berjalan ke seluruh bagian urat saraf di dalam tubuh manusia.

Unsur ini adalah bagian rahasia Dzat itu sendiri, manusia tidak akan bisa menggapainya/menjangkaunya.

Bagian inilah yang di sebut sebagai Pancer atau Gusti dalam istilah keilmuannya. Dan…

Asal kejadian jiwa/Jiva atau Sukma inilah, yang perlu kita ikuti dan telusuri, dengan jalan berTaubat (Wahyu panca ghaib) dan dengan cara berIman (Wahyu panca laku).

Karena hanya dengan bagitu, kita akan mudah mengidentifikasi diri kita, jati diri kita, sehingganya kita bisa menjangkau atau menggapai dimensi alam Roh/Ruh atau Hidup yang bersifat ghaib atau yang di rahasiakan oleh Dzat.

Dan di dalam Al-qitab pun sama, meng-isyaratkan bahwa unsur kejadian manusia terdiri atas tiga hal yang sudah saya uraikan diatas.

Yaitu;
Unsur badan atau jasad dari Tanah. Unsur Jiwa/Jiva atau Sukma dari empat anasir. Dan
Unsur Roh/Ruh atau Hidup dari Dzat. Seperti yang sudah saya expresikan dalam Vidio dan Artikel yang saya kabarkan di internet tentang turunnya Wahyu pertama dengan menggunakan kronologi penciptaan ADAM.

Berikut tahapan pembentukan diri manusia menurut firman dan hadist yang tersurat di dalam al-qitab.

Mari Kita Bersama-sama Mengenal Ruh dan Jiwa Kita:
Ke1. Jiwa/Jiva atau Sukma;
Sebagai tahap awal, Dzat Maha Suci Tuhan/Allah mengambil sumpah kepada “jiwa” yang masih berada di alam ghaib.

Para jiwa ini belum dipasangkan ke dalam jasad, karenanya ia masih bebas beterbangan dan menunggu dipanggil untuk melaksanakan tugas.

Dzat Maha Suci Tuhan/Allah berfirman dalam surah (Al-Araaf; 172) yang maksudnya;
Dan Ingatlah, ketika Tuhan-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka seraya berfirman;
”Bukakankan Aku ini Tuhan mu”, mereka menjawab :”Bahkan engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi”. Kami lakukan demikaian agar di hari akhirat kelak kamu tidak mengatakan; sesunggunya kami adalah orang-orang lalai terhadap keEsa’an Mu.

Kondisi jiwa yang sudah disumpah ini mengakui Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, sebagai Dzat yang menciptakannya, dan jiwa juga mau menjadi saksi atas segala perbuatan jasad selama di dunia pada hari akhir nanti.

Setelah proses pengambilan sumpah, tahap berikutnya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, menjelaskan tentang tugas pokok, dalam kehidupan di dunia kelak.

Bahwa ia akan mengembang dua tugas pokok, yang mencakup jalan ketaqwaan dan jalan kefasikan. Surah Asy Syams (91:7-10) Firmannya yang bermaksud;
“Dan demi nafs (jiwa) serta penyempurnaannya, maka Dzat Maha Suci Tuhan/Allah ilhamkan kepada nafs itu jalan ketaqwaaan dan kefasikannya, Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikannya dan sesungguhnnya rugilah orang yang mengotorinya”

Ini menunjukan bahwa sebelum jasad manusia di susun, Dzat Maha Suci Tuhan/Allah terlebih dahulu mempersiapkan unsure pokok yang paling utama bagi sosok manusia, yaitu Jiwa, yang sudah diberi pemahaman syareat, tarekat, hakikat keTuhanan dan keilmuan.

Jiwa yang telah mengaku dan mengenal arti keEsaan, keAgungan dan keBesaran Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, dengan sepenuh‐penuhnya Iman (Wahyu panca laku).

Disamping itu juga, sudah mengerti fungsi dan tugas keruhaniahan, ia juga memiliki kemampuan pemahaman yang mendalam tentang ilmu Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang universal/luas, yaitu jiwa/nafs/sukma ini, bertugas untuk memberikan pemahaman memilih jalan yang akan ditempuh, apakah jalan itu menuju ketaqwaan atau menuju jalan kefasikan.

Dan jika manusia memiih pada jalan ketaqwaan, maka ia akan termasuk dalam golongan manusia beruntung, jika sebaliknya, maka ia akan menjadi manusia yang rugi.

Karena setiap jiwa sudah dibekali pemahaman dan kesadaran yang sama pada setiap hal yang dilakukannya.

Sebagaimana firman Dzat Maha Suci Tuhan/Allah dalam Surat at-Takwir ayat 1 berikut ini:
“Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.”
Dan setiap jiwa juga sudah dilengkapi dengan system kesadaran atas apa-apa yang dikerjakannya, apa yang dilalaikannya, dan apa yang di pilihnya.

Iman/wahyu panca laku yang melekat pada jiwa ini, adalah bahwa jiwa ini bersifat hidup dan mampu membuat keputusan sendiri, dan penuh kesadaran diri. Surat Al-Infitar ayat 1.
‘Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.”

Sampai disini, maka selesailah tahap pembentukan unsure Jiwa, untuk kemudian dipasangkan pada wujud jasad manusia.

Unsure jiwa ini, kini sudah memenuhi syarat untuk mengemban tugas kehidupan sebagai manusia.

Mari Kita Bersama-sama Mengenal Ruh dan Jiwa Kita:
Ke2. Jasad/fisik;
Tahap kedua adalah proses penyusunan jasad/fisik wujud jasmani atau tubuh manusia.

Unsur jasad atau jisim terdiri dari seluruh angggota tubuh manusia, mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut kepala pless bagian dalamnya, yaitu kepala, badan, tangan, kaki dll, yang terbuat dari salah satu unsure sari pati tanah liat, yang didalamnya mengandung unsure protein.

Ia dijadikan dari tanah liat yang sangat halus dan mempunyai bentuk dan wujud nyata, keadaan dan sifatnya; kasat mata, dapat di raba/sentuh, dapat berubah bentuk, dapat rusak dan dapat dimusnahkan.

Diciptakannya jasad ini, dalam rangka sebagai media/sarana diletakkannya unsur sebelumnya, yaitu jiwa.

Sosok jiwa yang sebelumnya, sudah ditanamkan berbagai pemahaman dan pengetahuan dasar kehidupan, lalu dipasangkan ke dalam jasad/fisik manusia, sehingga jadilah ia sesosok mahluk yang sadar.

Didalam jasad ini Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, melengkapinya dengan akal dan hati.

Akal digunakan sebagai panduan dan perpustakaan utama. Sedangkan hati sebagai bagian halus yang merasa dan memahami.

Unsur hati juga terbagi menjadi dua sisi; Hati Ruhaniah dan Hati Jasmaniah. Hati Ruhaniah adalah sesuatu yang halus, hati yang merasa, mengerti, memahami, dan mengetahui, ia merupakan tempat bersemayamnya iman (Wahyu Panca Laku).

Hati Jasmani adalah sepotong daging yang terletak di dada sebelah kiri, fungsinya untuk mengatur sistem metabolime tubuh/jasad.

Lalu didalam hati ruhaniah juga disematkan dua macam hawa nafsu, yaitu pertama, Nafsu yang menuju jalan cahaya kebenaran (mutmainah yang di bantu oleh supiyah) dan nafsu yang menuju jalan kegelapan ( Amarah yang di bantu oleh aluammah).

Dua nafsu ini akan menjadi jarum penentu arah kehidupan manusia, jika jarum menunju pada arah cahaya, maka ia akan menuju pada Tuhannya, sedangkan jika menuju pada arah kegelapan, maka ia akan menuju pada kesesatan.

Sampai di sini, manusia sudah dikatakan bisa hidup mandiri, namun bagi Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, kedua unsure ini belumlah cukup.

Sebagai konsekuensi di takdirkannya manusia sebagai pemimpin di muka bumi, sebagai mahluk paling sempurna di banding makhluk-makhluk lainnya, maka Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, sekali lagi membekali manusia dengan unsure ke tiga. Yaitu Ruh/Roh (Suci kepunyaan-Nya).

Unsur ini juga dimiliki oleh mahluk lainnya, namun perbedaannya, unsur ruhaniah yang dimiliki manusia ini, memiliki nilai khusus di mata Dzat Maha Suci Tuhan/Allah swt.

Ruh/Roh inilah, yang menyebabkan meningkatnya martabat anak manusia, sehingga menjadikan para malaikat/para ruh-ruh lainnya menghormatinya.

Yang kedua, ketinggian dzat yang disebut Ruh/Roh ini, terlihat dari bagaimana Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, mengatakannya bahwa ini Ruh/Roh-Ku (sebagian dari Ruh/Roh-Ku).

Dengan kehadiran Ruh/Roh-Nya yang suci itulah, manusia bisa menjadi khalifah dimuka bumi.

Mari Kita Bersama-sama Mengenal Ruh dan Jiwa Kita:
Ke3. Proses Penyatuan Ruh dan Jasad/jasmani;
Setelah selesai seluruh proses penyusunan lapisan materil jasad manusia dengan unsure jiwa, maka kemudian Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, memulai proses penyatuan unsure Ruhanian dengan jasad/fisik manusia.

Namun sebelum Ruh ditiupkan oleh Dzat Maha Suci Tuhan/Allah ke dalam jasad manusia melalui proses-Nya.

“Ketika jasad Nabi Adam a.s telah tercipta dengan sempurna, maka Dzat Maha Suci Tuhan/Allah memerintahkan Ruh/Roh untuk memasuki jasad Nabi Adam a.s.

Maka dengan enggan ia menerima perintah tersebut, Ruh/Roh pun akhirnya memasuki jasad dengan berat hati, karena harus masuk ke tempat yang gelap.

Akhirnya Roh/Ruh mendapat sabda Dzat Maha Suci Tuhan/Allah;
“Jika seandainya kamu mau masuk dengan senang, maka kamu nanti juga akan keluar dengan mudah dan senang, tetapi bila kamu masuk dengan paksa, maka kamupun akan keluar dengan terpaksa”.

Lalu Ruh/Roh memasuki melalui ubun-ubun, kemudian turun sampai ke batas mata, selanjutnya sampai ke hidung, mulut, dan seterusnya sampai ke ujung jari kaki.

Setiap anggota tubuh Adam yang dilalui Roh/Ruh menjadi hidup, bergerak, berucap, bersin dan memuji memuji serta lain-lainnya.

Bahkan di gambarkan dalam al-qitab, ketika Roh/Ruh sampai ke lutut, maka Adam sudah tergesa gesa ingin berdiri. Sebagaimana firman Dzat Maha Suci Tuhan/Allah;
“Manusia tercipta dalam ketergesa-gesaan” (Q.S.21:37).

Setelah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah meniupkan Roh/Ruh-Nya kedalam jasad tersebut, dan setelah berada didalam, Roh/Ruh itu, memberikan suatu kelebihan tambahan mengenai kemampuan melihat, mendengar dan hati, dan bagian tambahan ini, yang menjadi bagian kesempurnaan manusia.

Mengapa…?!
Karena tiga kemampuan ini hanya disematkan pada manusia dan tidak pada mahluk lain, dan ketiga kemampuan ini, adalah salah satu sifat kemuliaan milik Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang Maha Segala-Nya.

Namun sayangnya, kebanyakan manusia tidak menyadarinya;
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam tubuh/jasad Ruh/Roh-Nya, dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi kamu sedikit sekali bersyukur.”

Jadi setelah seluruh rangkaian pembentukan jasad yang sudah dilengkapi jiwa, mulailah masuk unsure Roh/Ruh-Nya kedalam jasad.

Sampai tahap ini, proses penyusunan jasad manusia sudah selesai dan dianggap sudah sempurna kejadiaannya, lalu Dzat Maha Suci Tuhan/Allah memerintahkan mahluk lain dan para malaikat untuk bersujud kepada Adam as;
“Dan apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan Roh/Ruh-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud.
(QS. Al Hijr:29).

Ketika Allah sudah menyempurnakan proses kejadian penyatuan jasad dan Ruh, maka perhatikan sepenggal kalimat yang menyiratnya kata-kata ‘meniupkan Roh/Ruh-Ku’ yang artinya bahwa didalam unsure Roh/Ruh ini, ada unsure suci, sehingga dikategorikan sebagai Makhluk paling sempurna di banding makhluk lainnya.

Jadi…
Roh/Ruh dalam diri jasad manusia itu, bukan lah Dzat Maha Suci Tuhan/Allah itu sendiri, melaikan sesosok mahluk suci, yang sudah dibekali tiga kemampuan lebih. Yaitu; Sir. Dzat. Sifat atau Nur Allah. Nur Muhammad. Dan Nur Ilmu Muhammad atau Cinta Kasih Sayang.

Roh/Ruh itu kepunyaan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah dan berasal dari-Nya, yang ditiup masuk ke dalam jasad manusia, dimana Roh/Ruh itu, dibekali kemampuan tambahan, yang tidak sama dengan yang di bekalkan pada Roh/Ruh yang ada pada hewan dan tumbuhan.

Roh/Ruh ini memiliki kemampuan penglihatan, pendengaran dan hati yang tajam, yang bersumber langsung dari-Nya.

Dan ketika manusia wafat, maka Roh/Ruh itu akan kembali ke pangkuan-Nya dalam keadaan sempurna tanpa proses apapun.
“akan tetapi di dalam diri manusia ada bashirah (yang tahu)” (QS 75:14).

Kata bashirah ini disebut sebagai yang tahu atas segala gerak manusia yang sekalipun sangat rahasia. Ia biasa menyebut diri (wujud)-nya adalah “Aku”.

Unsur suci yang dimaksud disini adalah bahwa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah menghembuskan tiga unsur suci yang ada pada 99 nama dan sifat terpuji Dzat Maha Suci Tuhan/Allah swt (asmanul husnah), yaitu Al – Samii’ (Maha Mendengar) dan Al – Bashiir (Maha Melihat) serta Hati yang berguna untuk merasa (mudah tersentuh, bergetar hatinya, bergejolak jiwanya) serta sebagai tempat datangnya ilmu, hikmah dan hidayah.

Ketiga unsure ini adalah unsure yang sangat suci dan memiliki tingkatan derajat yang tinggi, karena hanya manusia yang dilengkapi dengan sifat terpuji ini.

Dengan tujuan agar manusia dapat memiliki kemampuan penglihatan, pendengaran dan rasa/perasaan yang mendalam tentang hakikat keilmuan keTuhanan.

Itulah sebabnya kenapa kita disuruh melihat ke dalam diri (introspeksi diri) sebagimana firman Allah dalam surat az-Zariat ayat 21;
Yang Artinya;
“Dan di dalam diri kamu, apakah kamu tidak memperhatikannya.

Dzat Maha Suci Tuhan/Allah memerintahkan kepada manusia untuk memperhatikan ke dalam dirinya, disebabkan, karena di dalam diri manusia itu, Dzat Maha Suci Tuhan/Allah telah menciptakan sebuah mahligai, yang mana di dalamnya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah telah menanamkan rahasia-Nya sebagaimana sabda rasul-Nya;
“Di dalam setiap rongga dada anak adam, terdapat segumpal daging, yang jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Sebaliknya, kalau ia buruk, maka buruk pula seluruh tubuhnya. Dan segumpal daging itu, tersebut hati. Tempat
AKU menyimpan rahasia-Ku.
“Al-Insanu Siri Wa Ana Siruhu”
(Rahasia kalian adalah rahasia-Ku)

“Dalam setiap rongga anak adam, Aku ciptakan suatu mahligai yang di sebut dada. Di dalam dada ada hati (hati bagian luar), dalam hati, ada qalbu/benak (hati bagian dalam), di dalam qalbu/benak, ada fuad/nurani (hati paling dalam), dalam fuad/nurani, ada jiwa/ruh, di dalam jiwa/ruh, ada rasa, di dalam rasa ada hidup, di dalam hidup, ada Sir Dzat Sipat, dan di dalam Sir Dzat Sipat, ada Aku. Tempat Aku menyimpan Rahasia-ku”

“Al-Insanu Siri Wa Ana Siruhu”
(Rahasia kalian adalah rahasia-Ku)

Allah tidak menganugerahkan ini pada mahluk lainnya, dan inilah alasannya mengapa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah memerintahkan mahluk lain (bangsa jin dan malaikat) untuk bersujud kepada Nabi Adam as kala itu.

Serta inilah juga alasannya, mengapa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah hendak menjadikan manusia sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi.

Dan ini juga sebabnya, mengapa dalam berbagai firman-Nya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah selalu mengisaratkan, bahwa Dzat Maha Suci Tuhan/Allah mengetahui apa-pun yang dikerjakan manusia, yang besar atau kecil bahkan yang nampak ataupun yang tidak nampak.

Karena tiga unsur suci tertanam dalam diri manusia, ketiga unsure ini yang menjadikan manusia sangat istimewa dan sempurna jika dibandingkan mahluk lainnya, tidak kah Anda-Anda tersentuh sadar lalu segera berTaubat dan berIman hanya kepada-Nya saja…?!

Apa saja keistimewaan ketiganya yang melekat pada manusia tersebut…?!

Jika manusia pandai memanfaatkan ketiga keistimewaan yang diberikan ini, maka manusia itu akan mampu menjadi apapun yang diinginkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah terjadi atas dirinya.

Seluruh organ tubuhnya akan bergerak hanya karena Dzat Maha Suci Tuhan/Allah dan atas kehendak Dzat Maha Suci Tuhan/Allah semata. Dzat Maha Suci Tuhan/Allah berfirman;
“Tidaklah seorang hamba-Ku mendekati-Ku dengan terus menerus bersikap taat kecuali Aku akan mencintai-Nya dan jika Aku mencintainya maka Aku akan menjadi telinganya yang dengannya dia mendengar dan menjadi lidahnya yang dengannya dia bicara dan menjadi tangannya yang dengannya dia menggenggam”

Apakah dengan ini masih kurang…?!
Silahkan di pikir dan di renungkan dengan sadar, agar supaya bisa menyadari apa yang sudah saya uraikan dengan tanpa tedeng aling-aling diatas.

Saya Wong Edan Bagu…. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Keluarkan Isi Hatimu Dan Bebaskan Hatimu Dari Kemelekatan Lalu Persembahkan Hanya Untuk Tuhan:


Keluarkan Isi Hatimu Dan Bebaskan Hatimu Dari Kemelekatan Lalu Persembahkan Hanya Untuk Tuhan:

Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Hari Kamis. Tanggal 17 Mei 2018.

Para Kadhang kinasih-ku sekalian. Wahyu Panca Ghaib. Adalah; tentang isi hati, urusan isi hati, masalah isi hati, soal isi hati, perkara isi hati kita sendiri, bukan yang lain selain isi hati nya kita sendiri.

Karena Wahyu Panca Ghaib adalah Kawula Gusti nya kita sendiri, sedulur papat kalima pancer nya kita sendiri sendiri, empat anasir dan hidup nya kita sendiri.

Dan Wahyu Panca Ghaib atau Pemberian Lima Ruh tersebut – Kawula Gusti atau sedulur papat kalima pancer atau empat anasir dan hidup, bertempat/bermuara/bersemayam di hati kita, bukan di luar diri kita.

Seperti yang sudah saya jelaskan pada Artikel saya beberapa hari yang lalu. Bahwasannya;

“Di dalam setiap rongga dada anak adam, terdapat segumpal daging, yang jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Sebaliknya, kalau ia buruk, maka buruk pula seluruh tubuhnya. Dan segumpal daging itu, tersebut hati. Tempat
AKU menyimpan rahasia-Ku. Maka jaga dan pelihara lah ia.

“Al-Insanu Siri Wa Ana Siruhu”
(Rahasia kalian adalah rahasia-Ku)

Singkat padatnya;
Betapapun kita melakukan semiliyaran kebaikan amal ibadah hebat dan luar biasa di dunia ini, jika hatinya buruk, maka buruk pula semuanya dan segalanya itu.

“Dalam setiap rongga anak adam, Aku ciptakan suatu mahligai yang di sebut dada. Di dalam dada ada hati (hati bagian luar), dalam hati, ada qalbu/benak (hati bagian dalam), di dalam qalbu/benak, ada fuad/nurani (hati paling dalam), dalam fuad/nurani, ada jiwa/ruh, di dalam jiwa/ruh, ada rasa, di dalam rasa ada hidup, di dalam hidup, ada Sir Dzat Sipat, dan di dalam Sir Dzat Sipat, ada Aku. Tempat Aku menyimpan Rahasia-ku” Maka jaga dan pelihara lah ia.

“Al-Insanu Siri Wa Ana Siruhu”
(Rahasia kalian adalah rahasia-Ku)

Singkat padatnya;
Hati adalah alat untuk mencapai Tujuan Hidup Yang Sebenarnya, yang sesungguhnya, yang sejatinya.

Hati adalah muara dan penentu dari semua dan segalanya yang kita perbuat, baik yang di sengaja maupun yang tidak di sengaja.

Itu Lo… Wahyu Panca Ghaib.
Ini Lo… Wahyu Panca Ghaib.
Begitu Lo… Wahyu Panca Ghaib.
Begini Lo… Wahyu Panca Ghaib.
Wahyu Panca Ghaib bukan soal semua BLA BLA BLA lainnya. Melainkan; tentang isi hati, urusan isi hati, masalah isi hati, soal isi hati, perkara isi hati kita sendiri, bukan yang lain selain isi hati nya kita sendiri.

Kesimpulannya;
Mengibadahkan Wahyu Panca Ghaib (taubat) dengan menggunakan Wahyu Panca Laku (iman). Di mengerti atau tidak di mengerti, di pahami atau tidak di pahami, di ketahui atau tidak di ketahui. Berarti;
Mengharap dan menginginkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah berTahta di hatinya. Nah…

Mulai dari sinilah, mari kita merenung bersama dengan kesadaran yang sadar….

Kalau Mengharap dan menginginkan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah berTahta di hatinya, agar sempurna kehidupannya di dunia dan sempurna hidupnya di akherat.

Namun kok tidak pernah menjaga dan membersihkan hatinya dari noda dan kotoran hati, seperti kebencian, dendam, fitnah, iri, dengki, hasut, bohong, egois, sombong, pamrih, munafik dll…

Tidak mau membebaskan hati dari belenggu dan kemelekatan duniawi, seperti mencintai harta, tahta, wanita/lelaki dll…

Tidak mau mempersiapkan hatinya dan mempersembahkan hatinya untuk Dzat Maha Suci Tuhan/Allah untuk dijadikan tempat-Nya berTahta.

Kira-kira…!!!
Bisa apa tidak menurut Anda…?!
Mustahil apa tidak menurut Anda…?!

Ingin berTemu guru sejati, ingin mengenal identitas jadi diri pribadi sejatinya, ingin manunggal atau menyatu dengan kawula gustinya, namun hatinya kotor bahkan busuk. Kira-kira lucu apa tidak kalau menurut Anda…?!

Silahkan di renungkan dengan kesadaran yang sadar.

Untuk itu dan sebab itu serta karena itu “Take out all your heart” Keluarkan semua isi hatimu.

Dan…
“Free your heart from attachment” Bebaskan hatimu dari lampiran-lampiran kemelekatan duniawi.

Lalu…
“Present to God” Persembahkan untuk Dzat Maha Suci Tuhan/Allah, jika memang Anda mengharap Cinta Kasih Sayang-Nya.

Jangan ragu dan bimbang apalagi takut, walau isi hati Anda Hanya Tuhan, karena Dia Maha Segala-Nya. Artinya; Memiliki Tuhan dalam hati Anda, berarti Anda memiliki segalanya.

Jadi…
Tidak Rugi kan!

Saya Wong Edan Bagu…. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Mari Kita Bersama-sama Mengenal Ruh dan Jiwa Kita:


Mari Kita Bersama-sama Mengenal Ruh dan Jiwa Kita (Wejangan Bagian Pertama):

Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Candi Gedung Songo. Hari Rabu. Tanggal 16 Mei 2018.

Ruh dan Jiwa…?!
Ya… Ruh dan Jiwa, karena pada hakikatnya, manusia hidup itu, hanya terdiri dari tiga hal saja. Yaitu Raga atau Wujud Fisik, Jiwa atau Sukma dan Ruh/Roh Suci atau Hidup.

Kalau raga atau wujud fisik, siapa sih, yang tidak kenal wujud fisiknya sendiri yang di puk-puk, di bagus-bagus dan di manja-manja setiap saatnya, jadi, tak perlu lagi di pelajari, karena Anda pasti sudah kenal bahkan hapal.

Yang perlu kita pelajari agar supaya Anda mengenalnya, adalah Ruh dan Jiwa Anda, sebab karena, saya yakin 95% dari kita, belum mengenalnya, sebab karena itu, dunia ini selalu kacau balau, kalau 95% sudah mengenal, ah’ tidak usah 95%, 30% saja sudah mengenal Ruh dan Jiwanya, pasti Damai Sejahtera Gemah Ripah Loh Jinawi dan Rapah Repih Rapih.

Sek-sek pak WEB, tunggu dulu, saya kok jadi bingung bin keder, apa beda antara Ruh dan Jiwa manusia itu…?!

Jawaban:
Ya jelas beda to mas/mbak Bro. He he he . . . Edan Tenan.

Lantas…
Apa perbedaannya antara Ruh dan Jiwa itu..?!

Salam Rahayu Para Kadhang Dan Para Sedulur Kinasih-ku sekalian. Ketahuilah dengan sadar, sekali lagi, dengan sadar Lo ya?

Maksudnya jangan sambil berhayal atau melamun, supaya tidak gagal paham.

Setiap manusia yang lahir ke dunia ini, adalah mahluk pilihan, tidak percaya ya…?!

Oke, akan saya buktikan, untuk membuktikannya, tak perlu menggunakan laku spiritual, cukup dengan ilmu logika kedokteran saja.

Coba renungkan dengan sadar.
Saya ulang sekali lagi, “engan sadar Lo ya…”

Didalam rahim seorang ibu, dari jutaan sel telur yang berkumpul, lalu hanya ada satu saja, yang akan lolos dan bisa dibuahi, yaitu adalah Anda, apakah itu bukan Pilihan…?!

Lalu Anda tahu kenapa Anda yang dipilih dari jutaan calon anak yang lainnya itu…?!

Karena Anda adalah spesial dan Anda adalah orang yang Dzat Maha Suci Tuhan/Allah pilih untuk hadir ke dunia ini, dengan maksud dan tujuan mulia.

Sekali lagi…
Anda adalah janin yang dipilih Oleh Dzat Maha Suci Tuhan/Allah dan Anda adalah pemenangnya, yang layak hadir di muka bumi ini.

Tapi hingga hari ini, sudah mengertikah Anda dengan tujuan hidup Anda…?!

Sudah tahukah apa alasan Anda dipilih lalu dilahirkan dengan selamat dan tanpa cacat, untuk apa dan dalam rangka apa…?!

Namun… Bukan saja Anda belum mengerti dan memahami serta mengetahui, sehingga Anda sama sekali tidak mengena diri Anda sendiri, Anda juga sudah menodai keterpilihan Anda dan Mengingkarinya.

Akibatnya…
Ada banyak yang belum Anda mengerti dan pahami serta tahu, tapi Anda Sok mengerti, sok paham, sok tahu, padahal baru katanya, kulak jare adol ndean kalau istilah jawanya.

Sekarang…
Mari Bersama saya WEB Mengenal Ruh dan Jiwa Kita, dengan Jalan Laku Murni Menuju Suci dan dengan cara mengibadahkan Wahyu Panca Ghaib atau taubat, dengan menggunakan Wahyu Panca Laku atau iman, untuk mengenal Jiwa dan Ruh kita, sebab karena hanya dengan Jiwa dan Ruh kita bisa.

Bisa apa…?!
Bisa sesuai dengan maksudnya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang telah memilih Anda sebagai mahluk pilihannya. Yaitu Sempurna di dunia dan Sempurna di akherat.

Sudah saatnya Anda bangun dari mimpi jangka panjang yang penuh dengan khayalan dan bayangan semu, sudah waktunya Anda mencari tahu semua alasan tersebut, karena ada tanggung jawab moral didalamnya dan sudah waktunya Anda menyadari akan hal itu, secara syariat dan hakikatnya, agar termasuk pada golongan jiwa-jiwa yang tenang dalam keSempurnaan Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Pertanyaan;
Apa perbedaannya antara Ruh dan Jiwa..?!

Jawaban;
1. Ruh/Roh.
Ruh atau Roh berasal dari bahasa Arab, yang artinya “benih hidup atau bibit hidup”. Maksudnya “unsur non-materi yang ada dalam jasad, yang di utus atau di perintahkan Tuhan sebagai penyebab adanya kehidupan”

Kata “Ruh/Roh” merujuk pada aspek non-materi dari manusia, (Manusia memiliki Ruh, namun manusia bukan Ruh).

Ruh atau Roh adalah dzat hidup yang ada di dalam diri manusia, dan memiliki hubungan dekat dengan Dzat Maha Suci Hidup, karena dari sanalah ia berasal.

Arti kata “Ruh” yang paling mendasar adalah “Ruh Suci atau Ruh Kudus”

Setiap kali kata “Ruh” dipergunakan, kata itu merujuk pada bagian non-materi dari kehidupan manusia, termasuk jiwanya.

2. Jiwa/Jiva atau Sukma.
Jiwa atau Sukma, berasal dari bahasa Sanskerta, yang artinya ” benih atau bibit kehidupan”. Dalam berbagai filsafat, jiwa adalah bagian yang bukan jasmaniah dari seseorang.

Kata “Jiwa” merujuk bukan saja pada bagian non-materi dari manusia, namun juga bagian materi.

Jiwa atau Sukma, adalah elemen dari empat Anasir yang ada dalam diri manusia, berbeda dengan “Ruh” kalau jiwa, berasal dari 4 Anasir, sedangkan Ruh/Roh berasal dari DzatTuhan.

Arti kata “Jiwa” yang paling mendasar adalah “Empat Anasir atau Empat Elemen”

Namun demikian, dalam Alkitab, kata tersebut bukan hanya berarti itu saja, namun juga memiliki pengertian-pengertian lain, seperti sedulur 4, atau Sukma, atau Arwah, atau malaikat 4 atau kawula, sedangkan Pancer atau Gustinya adalah Ruh Suci atau Hidup.

Dengan penjelasan diatas, yang di sebut manusia adalah “Jiwa” bukan “Ruh” dan pada dasarnya, manusia itu jahat, dan jiwanya telah dikotori.

Kehidupan Jiwa akan berakhir pada saat kematian fisik, dan kematian fisik, di karenakan Ruh/Roh Sucinya atau Dzar Hidup nya keluar meninggalkan jasad/wujud fisik.

“Jiwa” dan “Ruh” itu pusat dari banyak ilmu pengalaman atau ilmu pengetahuan rohani dan emosional.

Setiap kali kata “Ruh” dipergunakan, kata tersebut dapat merujuk pada pribadi orang itu secara keseluruhan, entah itu kehidupannya maupun setelah kematian.

Kesimpulannya;
“Jiwa” dan “Ruh” itu sama dalam hal penggunaaannya pada kehidupan rohani seseorang yang berIman, hanya saja Berbeda dalam hal acuannya.

“Jiwa” itu pandangan manusia secara horizontal kepada dunia, sedangkan “Ruh” itu pandangan manusia secara vertikal kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah.

Adalah Penting untuk memahami bahwa keduanya merujuk pada bagian non-materi dari manusia, namun hanya “Ruh/Roh” yang merujuk pada kehidupan manusia dengan Tuhan-nya.

Sedangkan “Jiwa/Jiva” merujuk pada kehidupan manusia dalam dunia, baik secara materi maupun non-materi.

Maaf…
Berhubung saat ini saya masih sedang berkeperluan spiritual di Candi Gedong 9 Gunung Ungaran Bandungan Semarang. Maka, nantikan Kelanjutannya setelah saya kembali ke Gubug Jenggolo Manik Boyolali dari Candi Gedong 9 Gunung Ungaran Bandungan Semarang.

Jadi…
Bersambung Ke Mari Kita Bersama Mengenal Ruh dan Jiwa Kita (Bagian Kedua):

Saya Wong Edan Bagu…. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Antara Hantu Dan Tuhan:


Antara Hantu Dan Tuhan;
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Hari Senin. Tanggal 14 Mei 2018.

Tempatnya “Hantu” di tubuh manusia hidup itu. Ada di Pikiran kita. Karena sebab itu, kalau kita mempelajari jalannya kembali kepada Tuhan, menggunakan Pikiran kita, bisa jadi Hantu yang akan menuntun kita, sehingganya “jadi” semakin besar kepalan ego dan pamrih kita.

Tempatnya “Tuhan” di tubuh manusia hidup itu. Ada di Hati kita. Sebab karena itu, jika kita mempelajari jalannya kembali kepada Tuhan, menggunakan Hati-kita, sudah pasti Tuhan itu sendiri yang akan menuntun kita, sehingganya, semakin berImanlah kita.

“Di dalam setiap rongga dada anak adam, terdapat segumpal daging, yang jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Sebaliknya, kalau ia buruk, maka buruk pula seluruh tubuhnya. Dan segumpal daging itu, tersebut hati. Tempat
AKU menyimpan rahasia-Ku.
“Al-Insanu Siri Wa Ana Siruhu”
(Rahasia kalian adalah rahasia-Ku)

“Dalam setiap rongga anak adam, Aku ciptakan suatu mahligai yang di sebut dada. Di dalam dada ada hati (hati bagian luar), dalam hati, ada qalbu/benak (hati bagian dalam), di dalam qalbu/benak, ada fuad/nurani (hati paling dalam), dalam fuad/nurani, ada jiwa/ruh, di dalam jiwa/ruh, ada rasa, di dalam rasa ada hidup, di dalam hidup, ada Sir Dzat Sipat, dan di dalam Sir Dzat Sipat, ada Aku. Tempat Aku menyimpan Rahasia-ku”

“Al-Insanu Siri Wa Ana Siruhu”
(Rahasia kalian adalah rahasia-Ku)

Dengan dua Riwayat Hadist yang saya gabung menjadi satu diatas, yaitu (Hadis Bukhori) dan (Hadis Qudsi). Dan sudah saya perjelas agar supaya lebih bisa di cerna dengan mudah.

Harusnya kan bisa di simpulkan dengan sangat mudah dan sederhana, bahwa Hati, adalah satu-satunya poin penentu dari semua dan segala perbuatan tujuan hidup manusia di dalam kehidupan dunia ini.

Singkatnya. Hati adalah alat untuk mencapai Tujuan Hidup Yang Sebenarnya, yang sesungguhnya, yang sejatinya.

Betapapun kita melakukan semiliyar kebaikan di dunia, jika hatinya rusak, maka rusak pula semuanya dan segalanya kan….?!

Sekalipun 5 agama yang di resmikan oleh pemerintah dunia, kita jalankan semuanya. Percuma-Percuma.

Sekalipun semua kita korbankan, segalanya kita jihadkan, kalau hatinya buruk. Percuma-Purcuma.

Ilmu setinggi langit, amal setinggi gunung, pengetahuan seluas dunia, kalau hatinya buruk. Percuma-Percuma.

Sekalipun hapal Kitab, hapal Komix, hapal Koran, hapal Novel, hapal ayat, hapal, hadist, hapal riwayat, hapal sejarah hapal bla BLA BLA … Sekali lagi saya katakan. Kalau hatinya buruk. Percuma-Percuma. He he he . . . Edan Tenan. Betul…?!

La kalau hatinya tidak buruk, mana mungkin benci iri sirik dengki dendam fitnah munafik pecundang dan melakukan BOM Bunuh diri..?! Iya apa iya…?!

Saya Wong Edan Bagu…. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya