7 Sabda Hidup/Urip Se-Jati.  (Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling Tentang Sangkan Paraning Dumadi – Kronologi Asal Mulanya Kejadian):

7 Sabda Hidup/Urip Se-Jati. (Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling Tentang Sangkan Paraning Dumadi – Kronologi Asal Mulanya Kejadian):
Oleh: Wong Edan Bagu.

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…

Gubug Jenggolo Manik. Mulai Pukul. 01:10 Sampai Pukul. 03:30. Hari Kamis. Tanggal 11. April 2019.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, ketahuilah dengan Kesadaranmu yang sadar.

Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono Yang lebih lugas di sebut Hidup, dan lebih di kenal dengan sebutan Guru Sejati atau Satriya Paningit Atau Imam Mahdi BerSabda;

Sabda dawuh nya Hidup/Urip yang merupakan intisaripatinya segala ilmu keTuhanan ini, memiliki tujuh tingkatan Sabda, yang masing-masing salin terkait bak mata rantai yang tidak bisa di pisahkan.

Dan masing-masing Sabda tersebut sebagai berikut;

Sabda ke;
1. Ananing Dzat Urip- Adanya Dzat Hidup.
Sabda ke;
2. Wahananing Dzat Urip – Tempatnya Dzat Hidup.
Sabda ke;
3. Kahananing Dzat Urip – Keadaannya Dzat Hidup.
Sabda ke;
4. Pambukaning tahta malige ing dalem betalmakmur – Pembukaan tahta dalam baitulmakmur.
Sabda ke;
5. Pambukaning tahta malige ing dalem betalmukarram – Pembukaan tahta dalam baitul mukarram.
Sabda ke;
6. Pambukaning tahta malige ing dalem betalmukadas – Pembukaan tahta dalam baitulmuqaddas.
Sabda ke;
7. Panetep santosaning iman – Penetapan kekuatannya iman.

Sabda ke;
1. Ananing Dzat Urip – Adanya Dzat Hidup.

Sajatine ora ana apa-apa awit duk maksih awang-uwung durung ana sawiji-wiji, kang ana dhingin Ingsun, sajatine Kang Maha Suci anglimputi ing sipatIngsun, anartani ing asmanIngsun, amratandhani ing apngalIngsun.

Artinya;
Sesungguhnya tidak ada apa-apa, ketika masih sunyi hampa belum ada sesuatu apapun, yang paling awal ada adalah “AKU” (HIDUP/Urip), sesungguhnya yang Maha Suci meliputi sifat-KU, menyertai nama-KU, menandakan perbuatan-KU.

Maksud dari Sabda Hidup atau Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono ini;
Menjelaskan, bahkan menunjukkan kepada kita, bahwa pada mulanya alam semesta ini tidak ada, semuanya masih sunyi hampa tidak ada apa-apapun, yang paling dahulu ada, adalah “AKU” (Hidup/Urip), jadi tidak ada sesuatu pun yang mendahului adanya “AKU” (Hidup/Urip).

Dalam ajaran agama, khususnya Islam, hal ini di bahasakan sebagai;
Bahwa Allah itu bersifat Qidam (Dahulu tidak ada yang mendahului), dan “AKU” (Allah) adalah sumber dari segala sesuatu.

Sabda ke;
2. Wahananing Dzat Urip – Tempatnya Dzat Hidup.

Sajatine Ingsun Dzat kang amurba amisesa, kang kawasa anitahake sawiji-wiji, dadi sanalika, sampurna saka kodrat Ingsun, ing kana wus kanyatan pratandhaning apngalIngsun, kang minangka bebukaning iradatIngsun, kang dhingin Ingsun anitahake kayu aran sajaratulyakin, tumuwuh ing sajroning alam ngadammakdum ajali abadi.

Nuli cahya aran nur muhammad, nuli kaca aran mirhatulkayai, nuli nyawa aran roh ilapi, nuli damar aran kandil, nuli sesotya aran darah, nuli dhindhing jalal aran kijab. Iku kang minangka warnaning kalaratIngsun.

Artinya;
Sesungguhnya “AKU” (Hidup/Urip) adalah dzat yang maha kuasa, yang kuasa menciptakan segala sesuatu, jadi seketika, sempurna berasal dari kuasa-KU, di situ telah nyata tanda perbuatan-KU, yang sebagai pembuka kehendak-KU, yang pertama “AKU” (Hidup/Urip) menciptakan kayu bernama Sajaratulyakin, tumbuh di dalam alam yang sejak jaman azali (dahulu) dan kekal adanya.

Kemudian Cahya bernama Nur Muhammad, berikutnya Kaca bernama Mir’atulhayai, selanjutnya Nyawa bernama Roh Idhofi, lalu Lentera bernama Kandil, lalu Permata bernama Darah, lalu dinding pembatas bernama Hijab. Itu sebagai tempat kekuasaan-KU.

Maksud dari Sabda Hidup atau Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono ini;
Menjelaskan bahkan menunjukkan kepada kita, bahwa “AKU” (Hidup/Urip) merupakan dzat yang maha kuasa, yang kuasa menciptakan segala sesuatu hanya dengan satu sabda saja yaitu; KUN, maka seketika jadi FA YAKUN, semua ciptaan-Nya sempurna sebagai pertanda perbuatan (af’al)-KU.

Pertama diciptakan adalah Pohon (kayu) bernama Sajaratulyakin, atau sajaratulkaun (pohon kejadian) yang merupakan awal dan asal mula penciptaan.

Kedua diciptakan Cahaya yang diberi nama Nur Muhammad.

Nur Muhammad ini merupakan bibit alam semesta.

Nur Muhammad yang dimaksudkan adalah bukan sebagai cahaya dari Muhammad, nabinya orang Islam, bukan,,,!!! melainkan secara bahasa berarti cahaya yang terpuji, sehingga dikatakan semua cipta’an pasti berasal dari Nur Muhammad ini, maksudnya; Mengandung Nur Muhammad.

Hal itu pula yang mengisyaratkan adanya pemahaman, bahwa dalam tingkatan tertentu, kebenaran hanyalah satu, adanya ajaran-ajaran yang berbeda setelah mencapai tahap tertentu, ternyata sama belaka, karena bersumber dari Cahaya yang terpuji, cahaya kebenaran, yaitu Nur Muhammad.

Ketiga “AKU” (Hidup/Urip) menciptakan Kaca bernama Miratulhayai (Cermin Kehidupan atau Cermin Malu).

Setelah diciptakannya Cermin ini, Nur Muhammad akhirnya dapat melihat wujudnya, yang mengakibatkan dirinya bergetar hebat dan berkeringat, dari tetesan keringat inilah makhluk hidup berasal.

Ke’empat diciptakan Nyawa yang diberi nama Roh Idhofi.

Kelima diciptakan Lentera yang diberi nama Kandil.

Ke’enam diciptakan Permata yang diberi nama Darah.

Ketujuh diciptakan dinding pembatas antara kehidupan fisik dan non fisik, antara yang kasar dan yang halus, yang disebut hijab.

Sesungguhnya manusia itu rahsa-KU dan “AKU” (Hidup/Urip) itu rahsanya manusia, karena “AKU” (Hidup/Urip) menciptakan Adam berasal dari empat perkara, yaitu; air, angin, api dan bumi.

Itu sebagai perwujudan sifat-KU, di sana “AKU” (Hidup/Urip) tempatkan lima perkara, yaitu; nur, rahsa, roh, nafsu dan budi.

Itulah sebagai perwujudan wajah-KU yang Maha Suci.

Sabda ke;
3. Kahananing Dzat Urip – Keadaannya Dzat Hidup.

Sajatine manungsa iku rahsanIngsun lan Ingsun iku rahsaning manungsa, karana Ingsun anitahake adam asal saka anasir patang prakara, yaitu; banyu, angin, geni, bumi.

Iku kang dadi kawujudaning sipat Ingsun, ing kana Ingsun panjingi pudah limang prakara, yaitu; nur, rahsa, roh, napsu lan budi. Iya iku minangka warnaning rupanIngsun kang Maha Suci.

Maksud dari Sabda Hidup atau Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono yang ketiga ini;
Menjelaskan bahkan menunjukkan kepada kita, bahwa;
Manusia diciptakan sebagai “Rahsa” (bukan rasa, sebab antara rasa dan rahsa dalam keilmuan, itu berbeda) dari Urip/Hidup, dan Hidup/Urip itu sebagai “Rahsa” dari manusia, bukan rasa, sebab rasa itu masih termasuk anasir.

Yang dimaksud “Rahsa” adalah; Bahwa Hidup/Urip menciptakan manusia menurut gambaran-Nya atau menurut citra-Nya.

Dan manusia diciptakan dari empat unsur yang merupakan gambaran sifat-Nya yaitu; air, angin, api dan bumi.

Air dalam tubuh kita;
Menjadikan empat elemen roh yaitu; roh hewani, roh nabati, roh rabbani dan roh nurrani.

Roh hewani;
Menumbuhkan kekuatan badan.

Roh nabati;
Menumbuhkan rambut, kuku, dan menghidupkan budi.

Roh rabbani;
Menumbuhkan rahsa (dzat hamba).

Roh nurrani;
Menumbuhkan cahaya.

Angin dalam tubuh kita;
Terwujud dalam empat hal yaitu; napas, tannapas, anapas dan nupus.

Napas;
Merupakan ikatan badan fisik, bertempat di hati suwedhi, yaitu jembatan hati, berpintu di lisan.

Tannapas;
Merupakan ikatan hati, bertempat di pusar, berpintu di hidung.

Anapas;
Merupakan ikatan roh, berpintu di telinga.

Nupus;
Merupakan ikatan rahsa, bertempat di hati puat yang putih yaitu; jembatan jantung, berpintu di mata.

Api dalam tubuh kita;
Menjadikan empat nafsu yaitu; mutmainah, aluamah, amarah dan supiyah.

Mutmainah dari Air berwatak;
Kesucian dan ketenangan, bersifat membangkitkan kekuatan untuk berpantang (tirakat – tarakbrata).

Aluamah dari Angin berwatak;
Suka terhadap makanan, sifatnya membangkitkan kekuatan badan.

Amarah dari Api berwatak;
Suka marah, emosi, sifatnya membangkitkan kekuatan kehendak (karep).

Supiyah dari Bumi berwatak;
Keinginan, keterpesonaan, keinginan memiliki, bersifat membangkitkan kekuatan pikir berupa akal.

Bumi dalam tubuh kita;
Berwujud pada hal-hal yang bersifat kedagingan, dan kedagingan ini, dibagi menjadi dua hal yaitu;
Yang merupakan unsur dari bapak, berupa tulang, otot, kulit dan otak, dan unsur dari ibu, berupa daging, darah, sungsum dan jerohan.

Setelah empat unsur alam terbentuk dalam tubuh manusia, kemudian “AKU” (Hidup/Urip) menempatkan pula lima hal dzat hamba (mudah) sebagai gambaran wajah-Nya yaitu; nur, rahsa, roh, nafsu dan budi.

Nur;
Merupakan terangnya cahya, jika mewakili Dzat Yang Maha Suci dapat menerangi lahir batin.

Rahsa;
Rahsa jika mewakili Dzat Yang Maha Suci dapat menumbuhkan daya ketenteraman lahir dan batin.

Roh;
Penglihatan roh jika mewakili Dzat Yang Maha Suci menjadikan penguasaan sempurna.

Nafsu;
Kekuatan nafsu jika mewakili Dzat Yang Maha Suci menumbuhkan kekuatan kehendak yang sentosa.

Budi;
Benciptaan budi jika mewakili Dzat Yang Maha Suci menumbuhkan daya cipta yang sentosa.

Oleh karena itulah di katakan, bahwa sesungguhnya manusia itu, mempunyai sifat-sifat Tuhan dan juga mempunyai ke-Suci-an wajah Tuhan.

Jadi, mustahil jikalau sampai tidak menyukai kebaikan dan keindahan serta kebenaran, hanya saja, karena sifat-sifat itu masih terselimuti ego, pamrih, arogan dan noda-noda hati yang lainnya, sehingganya belum bisa menyukai kebaikan dan keindahan serta kebenaran, apa lagi melakukannya.

Sabda ke;
4. Pambukaning tahta malige ing dalem betalmakmur – Pembukaan tahta dalam baitulmakmur.

Sajatine Ingsun anata malige ana sajroning betalmakmur, iku omah enggoning parameyanIngsun, jumeneng ana sirahing Adam.

Kang ana sajroning sirah iku dimak, yaiku utek, kang ana antaraning utek iku manik, sajroning manik iku budi, sajroning budi iku napsu, sajroning napsu iku suksma, sajroning suksma iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran anging Ingsun, Dzat kang anglimputi ing kahanan jati.

Artinya;
Sesungguhnya “AKU” (Hidup/Urip) bertahta dalam baitulmakmur, itu rumah tempat pesta-KU, berdiri di dalam kepala Adam.

Yang pertama dalam kepala itu “Dimak” yaitu otak, yang ada di antara otak itu “Manik” di dalam manik itu “Budi” di dalam budi itu “Nafsu” di dalam nafsu itu “Suksma” di dalam suksma itu “Rahsa” di dalam rahsa itu “AKU” (Hidup/Urip).

Tidak ada Tuhan selain hanya “AKU” (Hidup/Urip) Dzat yang meliputi keberada’an yang sesungguhnya.

Sabda Hidup atau Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono yang ke empat ini, menyatakan bahwa; Hidup/Urip bertahta atau bersinggasana di dalam baitul makmur, yang berada di dalam kepala manusia.

Yang dimaksud dengan baitul makmur adalah cakra mahkota yang ada di puncak kepala (ubun-ubun).

Di dalam kepala manusia terdapat otak, di antara otak itu sendiri terdapat lapisan-lapisan sebagai berikut;
Yang pertama “Manik”
Di dalam manik terdapat “Budi”
Di dalam budi terdapat “Nafsu”
Di dalam nafsu terdapat “Suksma”
Di dalam suksma terdapat “Rahsa”
Di dalam rahsa terdapat “AKU” (Hidup/Urip).

Dan sesungguhnya tidak ada “Tuhan” selain hanya “AKU” (Hidup/Urip) Dzat yang meliputi segalanya.

Sabda ke;
5. Pambukaning tahta malige ing dalem betalmukarram – Pembukaan tahta dalam baitul mukarram.

Sajatine Ingsun anata malige sajroning betalmukarram, iku omah enggoning lalaranganIngsun, jumeneng ana ing dhadhaning adam.

Kang ana sajroning dhadha iku “Ati, kang ana antaraning ati iku “Jantung” sajroning jantung iku “Budi” sajroning budi iku “Jinem” yaiku “Angen-angen” sajroning angen-angen iku “Suksma” sajroning suksma iku “Rahsa” sajroning rahsa iku “Ingsun”

Ora ana pangeran anging Ingsun Dzat kang anglimputi ing kahanan jati.

Artinya;
Sesungguhnya “AKU” (Hidup/Urip) bertahta dalam baitulmukarram, itu rumah tempat larangan-KU, berdiri di dalam dada adam.

Yang ada di dalam dada itu “Hati” yang ada di antara hati itu “Jantung” dalam jantung itu “Budi” Di dalam budi itu “Jinem” atau “Angan-angan, di dalam angan-angan itu “Suksma” di dalam suksma itu “Rahsa, dalam rahsa itu “AKU” (Hidup/Urip).

Tidak ada “Tuhan” kecuali hanya “AKU” (Hidup/Urip) Dzat yang meliputi keberadaan yang sesungguhnya.

Sabda Hidup atau Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono yang ini menyatakan bahkan menegaskan bahwa;
Diri-Nya bertahta di baitul muharram, yang menjadi tempat larangan, berada di dalam dada manusia.

Maksudnya adalah cakra jantung. Disebutkan bahwa di dalam dada manusia itu terdapat susunan sebagai berikut;
Pertama “Hati” (kalbu).
Di antara Hati terdapat “Jantung”
Di dalam jantung ada “Budi”
Di dalam budi ada “Angan-angan”
Di dalam angan-angan ada “Suksma”
Di dalam suksma ada “Rahsa”
Di dalam rahsa ada “AKU” (Hidup/Urip).

Jantung yang terdapat diantara Hati yang dimaksud adalah;
Bukanlah liver atau hati secara fisik, melainkan hati secara maknawi, karena pada diri manusia ada terdapat lebih dari satu hati, yang menurut keilmuan spiritual, ada yang namanya hati puat, hati suwedhi, dll.

Berulang kali ditegaskan bahwa tidak ada Tuhan selain “AKU” (Hidup/Urip) Dzat yang meliputi keberadaan sesungguhnya (kahanan jati).

Mengapa Hidup atau Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono perlu menegaskan kalimat tersebut hingga berulang-ulang kali…?!

Karena untuk menghindari salah pengertian bagi mereka yang telah mencapai pencerahan tingkat tinggi (universal), agar supaya tidak sampai;
Karena merasa bahwa “AKU” (Allah/Hidup/Urip) bertahta di kepala dan di dalam manusia, lalu mengaku dirinya sebagai Tuhan, jikalau itu yang terjadi, maka manusia tersebut telah jauh tersesat.

Sabda ke;
6. Pambukaning tahta malige ing dalem betalmukadas – Pembukaan tahta dalam baitulmuqaddas.

Mohon Maafkan, berhubung Wejangan yang ke 6 ini, merupakan
Wejangan intisari, penentu Wejangan Sari Patinya, yang harus di sampaikan secara langsung, tidak bisa melalui media perantara apapun, maka di bagian ini, saya blokir.

Sabda ke;
7. Panetep santosaning iman – Penetapan kekuatannya iman.

Ingsun anekseni satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun lan anekseni Ingsun satuhune muhammad iku utusan Ingsun.

Artinya;
“AKU” (Hidup/Urip) menyaksikan bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali hanya “AKU” (Hidup/Urip) dan “AKU” (Hidup/Urip) menyaksikan sesungguhnya muhammad itu adalah utusan-KU.

Di Sabda Hidup atau Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono yang ke 7 ini, yang merupakan Sabda terakhir ini;
Benar-benar di tegaskan senyata-nyatanya dan setegas-tegasnya Bahwa;
“AKU” (Hidup/Urip( menyatakan kesaksian-Nya yang ditujukan kepada makhluk ciptaan-Nya, bahwa tidak ada Tuhan yang lain kecuali hanya Dia semata, dan muhammad adalah rasul atau utusan-Nya.

“Ingsun anekseni ing DzatIngsun dhewe, satuhune ora ana Pangeran anging Ingsun, lan anekseni Ingsun satuhune muhammad iku utusanIngsun”

“Iya sejatine kang aran Allah iku badanIngsun, rasul iku rahsanNingsun, muhammad iku cahyaNingsun”

“Iya Ingsun kang urip tan kena ing pati, iya Ingsun kang eling tan kena ing lali, iya Ingsun kang langgeng ora kena owah gingsir ing kahanan jati, iya Ingsun kang waskitha, ora kasamaran ing sawiji-wiji”

“Iya Ingsun kang amurba amisesa, kang kawasa wicaksana ora kekurangan ing pakerthi, byar sampurna padhang terawangan, ora karasa apa-apa, ora ana katon apa-apa, amung Ingsun kang anglimputi ing alam kabeh kalawan kodratIngsun”

Artinya;
“AKU” menyaksikan pada Dzat-KU sendiri, sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali “AKU”
dan menyaksikan “AKU” sesungguhnya muhammad itu utusan-KU”

“Sesungguhnya yang bernama Allah itu badan-KU, rasul itu rahsa-KU, muhammad itu cahaya-KU”

AKU-lah yang “Hidup” tidak bisa mati, AKU-lah yang “Ingat” tidak bisa lupa, AKU-lah yang “Kekal” tidak bisa berubah dalam keberadaan yang sesungguhnya, AKU-lah “Waskita” tidak tersamar pada sesuatu apapun.

“AKU-lah yang berkuasa berkehendak, yang kuasa, bijaksana, tidak kurang dalam tindakan, terang sempurna, jelas terlihat, tidak terasa apa pun, tidak kelihatan apa pun, kecuali hanya “AKU” yang meliputi alam semua dengan kuasa (kodrat)-KU”

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekaluan@@@####;
Wejangan satu hingga ke tujuh tadi, merupakan satu rangkaian yang tidak boleh putus apa lagi diputus, sebagaimana baca’an “KUNCI” yang harus dibaca hingga tujuh kali berturut-turut, sebab karena jikalau sampai terputus, maka pemahamannya akan terputus pula.

Bacalah artikel ini atau simaklah Vidio ini hingga berulang-ulang kali, sampai benar-benar meresap masuk ke dalam qalbu relung hati yang paling dalam, setelah benar-benar meresap.

Lalu berjuanglah sekuat upayamu untuk bisa menemui saya secara langsung, guna untuk mendapatkan Wejangan Ke 6-nya, yang merupakan Babak Penentunya. Yaitu;
Pambukaning tata malige ing dalem betalmukadas – Pembukaan tahta dalam baitulmuqaddas.

Agar supaya bisa menempati Sabda Hidup yang ke 7-nya.
Yaitu;
Panetep santosaning iman – Penetapan kekuatannya iman.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Raga itu Abdinya Sang Hidup/Urip, dan itu bersifat baru, dilengkapi pancaindra sebagai barang pinjaman, bila diminta pemiliknya kembali, menjadi tanah dan membusuk, hancur dan bersifat najis, karena sifatnya itu, Pancaindra tak dapat dipakai sebagai pedoman.

Budi, pikiran, angan-angan, kesadaran, satu wujud dengan akal bisa menjadi gila, sedih, bingung, lupa, tidur, tidak jujur, dendam, iri, fitnah, dengki, sirik terhadap sesama untuk kebahagiaan sendiri, menimbulkan kejahatan dan kesombongan ke lembah nista nodai nama dan citra.

Manusia hidup yang hakiki adalah wujud hak, kemandirian dan kodrat
berdiri dengan sendirinya,
sukma menjelma sebagai hamba,
hamba menjelma pada sukma,
napas sirna menuju ketiadaan,
badan kembali sebagai tanah.

Adanya kehidupan itu karena pribadi ditetapkan oleh pribadi,
ditetapkan oleh kehendak nyata,
hidup tanpa sukma, tiada merasakan sakit atau lelah,
suka duka pun musnah,
berdiri sendiri menurut karsa-Nya
Hidup/Urip sesuai kehendak-Nya.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian…
Yang harus diikuti oleh tiap seorang manusia adalah;
Petunjuk yang paling baik dari Hidup-nya sendiri.

Hidup-lah yang bisa memberikan petunjuk yang paling baik (beciking becik) dan paling benar (benering bener) bagi tiap seorang manusia, secara individual (pribadi).

Karena Hidup itu yang berasal dari Maha Hidup, yaitu Tuhan Yang Maha Esa (Hidup yang meliputi, menggerakkan dan menguasai alam semesta seisinya – Urip kang ngalimpudhi, ngobahake lan nguwasani jagad raya saisine).

Dan hanya Hidup, yang nantinya kembali (seharusnya) kepada Tuhan Yang Maha Esa, bukan ke lain selain-Nya.

Hidup yang tahu, apa dan bagaimana Raganya manusia setiap saat harus berbuat apa, selama masih di dunia, agar senantiasa dalam keadaan Bahagia Sejati (tenteram).

Bahagia Sejati itu adalah dalam Rasa yang kita alami secara sadar, bukan yang hayalan atau bayangan yang berubah-ubah.

Kalau kita menjalani kehidupan dan penghidupan di dunia ini, mengikuti jalannya Hidup, maka kita akan menjalani kehidupan dan penghidupan kita dengan diliputi selalu Rasa Bahagia yang sejati (tenteram).

Selain itu, “perjalanan hidup” kita, tidak akan menyimpang dari lingkaran Hidup itu sendiri. Artinya; kita tidak membawa Sang Hidup untuk menyimpang dari “perjalanan“ yang seharusnya ditempuh, yaitu dari Tuhan, milik Tuhan, lalu berada di dunia dengan raganya, kemudian lepas dari raganya, dan langsung bisa kembali ke asalnya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Tanpa harus tersesat menunggu juta’an tahun.

Tidak sedikit, manusia yang hidup sekarang ini, dijaman yang dikatakan maju, modern, canggih, cerdas, sekalipun terpenuhi segala kebutuhan materiilnya, bahkan kebutuhan emosionalnya, tetapi kehilangan Rasa Bahagianya yang sejati.

Paling paling hanya akan merasakan senang sebentar, lalu hilang dan berusaha mencari senang lagi, dan seterusnya begitu.

Tidak sedikit, keluarga-keluarga yang sudah kehilangan keharmonisan, keserasian, kebahagiaan dalam berkeluarga.

Sesuatu yang didambakan setiap orang saat ingin membangun suatu keluarga.

Semua itu, karena manusia melupakan, bahwa dalam dirinya ada Hidup (Rokh, Soul)-nya.

Tanpa Hidup, segala yang ada tidak berarti dan tidak punya nilai lagi.

Sekalipun Manusia merasa, masih ingin, dan bahkan berusaha melakukan hubungan dengan Tuhan nya, tetapi dalam segala tindakannya, terlepas dari hubungan itu.

Semua tindakannya, didasarkan hanya atas dasar akal-pikirannya sendiri, atas dasar apa yang dianggapnya baik dan benar.

Tidak mau tahu, apa yang sebenarnya baik dan benar bagi dirinya menurut Tuhan nya.

Dengan menjalani Laku Murni Menuju Suci Kinantenan Sarwo Mijil, manusia akan selalu diberi petunjuk, diberi tahu, apa yang baik dan benar untuk dilakukan dirinya, setiap saat.

Yang memberi tahu, Hidupnya sendiri, karena Hidup lah yang, bisa menangkap kehendak Tuhan setiap saat.

Bagi yang merasa tidak cocok dengan tulisan dan Vidio saya ini, janganlah diingat lagi, dan anggap saja tidak pernah membaca tulisan saya dan melihat Vidio saya ini.

Bagi yang merasa cocok, silahkan kalau mau digunakan, cari lah Artikel saya di google yang berJudul; PETUNJUK DAN BIMBINGAN SPIRITUAL HAKIKAT HIDUP. DALAM LAKU MURNI MENUJU SUCI “KUNCI THE POWER” Level Satu (untuk menjaga hati) dan Level Dua (untuk membersihkan hati) serta Level Tiga (untuk membuka hati).

Lalu copy paste ketiga level Bimbingan itu dan di print, kemudian di jilid seperti buku, agar supaya lebih mudah membacanya, kemudia pelajarilah dengan seksama, kalau sudah mengerti dan memahami, segera praktekan selagi masih ada kesempatan waktu untuk berTaubat dan berIman.

Sebab Karena, hanya Laku Murni Menuju Suci saja. Yaitu;
Meng-Ibadah-kan Wahyu Panca Ghaib dengan menggunakan Wahyu Panca Laku yang bisa Lakukan keSempurna’an Sangkang Paraning Dumadi atau Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un ini, dan Laku Murni Murni Menuju Suci memiliki tiga tahap atau level yang masing-masing;
Level Satu (untuk menjaga hati) Level Dua (untuk membersihkan hati).
Level Tiga (untuk membuka hati).
Dan ketiganya harus di lalui terlebih dahulu sebelum masuk ke Tujuh Wejangan ini.

Salam Se-Tuhan Penuh Cinta Kasih Sayang dari dalam Lubuk hati saya WEB yang paling dalam. Selamat🙏Selamat🙏Selamat🙏 Rahayu🙏Rahayu🙏Rahayu🙏Damai🙏Damai🙏 Damai🙏 Tenteram🙏
Saya❤️
Wong Edan Bagu❤️
Ngaturaken Sugeng Rahayu🙏
lir Ing Sambikolo🤝
Amanggih Yuwono🤝
Pinayungan Mring Ingkang Maha Suci🙏
Basuki❤️
Yuwono❤️
Teguh❤️
Rahayu❤️
Slamet❤️🙏❤️
BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏Om Shantih Shantih Shantih Om – Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu🙏
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Iklan

One thought on “7 Sabda Hidup/Urip Se-Jati.  (Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling Tentang Sangkan Paraning Dumadi – Kronologi Asal Mulanya Kejadian):

  1. andi suroto berkata:

    itu tulisan /rangkuman dari berbagai sumber,
    ada bahasa dri siti jenar yg keyakinan nya berlawanan dgn islam( muhammad) tpi disatukan ya,,,bikin sesat,,,bukankah
    keyakinan sifatnya pribadi lalu kenapa dicampur aduk..? ada banyak pengkotakan arti dn makna,,
    salam…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s