Biografi Sejarah Perjalanan Ilmu  Kesempurnaan Hidup dan Mati (Ilmu Tingkat Tinggi Leluhur Jawa Kuno) Bagian 2:


Biografi Sejarah Perjalanan Ilmu Kesempurnaan Hidup dan Mati (Ilmu Tingkat Tinggi Leluhur Jawa Kuno) Bagian 2:
Oleh: Wong Edan Bagu.

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…

Gubug Jenggolo Manik. Pukul. 11:05. Hari Jumat. Tanggal 7. Maret 2019.

Para pengembang ajaran islam di
Pulau Jawa tempo dulu adalah; Wali 9, yang kala itu, tidak menolak tradisi jawa tersebut, justru malah
memanfaatkannya sebagi senjata dakwahnya.

Para Wali menyusun ilmu-ilmu jawa dengan tatacara lelaku menjadi keislaman, misalnya puasa, wirid mantra berbahasa campuran arab-jawa, yang intinya adalah berdo’a kepada Tuhan.

Mungkin alasan mengapa mantranya tidak disusun seluruhnya berbahasa Arab, adalah;
Agar supaya orang jawa tidak
merasa asing dengan ajaran-ajaran yang baru mereka kenal, yaitu; Islam.

Di Indonesia/Nusantara, khususnya orang jawa, pasti mengenal Sunan Kali Jaga, yang bernama asli Raden Said, dan Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang yang bernama asli Sayyid Abdul Jalil

Nah…
Mereka berdua inilah yang paling banyak mewarnai Islam Jawa, yang dianut orang-orang jawa jaman dulu hingga saat ini.

Syekh Siti Jenar menjadikan ilmu Jawa sebagai kendaraan dakwahnya, sedangkan Sunan Kali Jaga, menjadikan kesenian dan budaya jawa sebagai kendaraan dakwahnya.

Salah satu kendara’an Syekh Siti Jenar adalah Ilmu-ilmu Jawa, yang berhasil di kemasnya menjadi Ilmu Manunggaling Kawula Gusti, sedangkan Sunan Kali Jaga dalam penyebaran ajarannya, adalah; melalui tembang/kidung dan gamelan.

Kidung-kidung yang di ciptakan, oleh Sunan Kali Jaga mengandung ajaran ke-Tuhan-nan yang bersifat tasawuf, tarekat dan makrifat yang sangat luar biasa.

Ajaran islam yang luwes dan
menerima berbagai perbedaan, menjadikan agama-agama pendatang mengalami kemudahan dalam penyebarannya;
Syekh Siti Jenar berhasil menciptakan lelaku Manunggaling Kawula Gusti, sedangkan Sunan Kali Jaga berhasil menciptakan Kidung Rumeksa Ing Wengi.

Yang keduanya menurut saya Adalah; Adalah Ilmu Islam Jawa Kuno yang memiliki daya kekuatan Supranatural tingkat tinggi, sebab karena…
“AJI MUNDI JATI SASANGKA JATI”
Yang telah berReinkarnasi untuk yang ke’enam kalinya sebagai Ilmu Sangkan Paraning Dumadi yang menjadi acuan Utamanya.

Karena itu, siapapun orang yang mampu mengamalkan Ilmu ini, baik yang persi Asli Jawa maupun yang persi Islam Jawa, bisa di pastikan memiliki berbagai kekuatan atau kemampuan spiritual dan supranatural tingkat tinggi.

Aji Mundi Jati Sasangka Jati ini, memiliki 20 tingkat, termasuk
Tingkat awal dan Tingkat akhir, dan
masing-masing sebagai berikut;
Tingkat Awal, yaitu Japa Mantera untuk lelakunya;
Seperti Doa niyat mandi keramas, doa sebelum puasa dan sesudah puasa, doa ketikan melakukan pati geni, kungkum, ngebleng, doa sebelum berbuka dan sesudah berbuka puasa dll. Seperti Contoh berikut ini;

NIYAT MANDI SEBELUM PUASA;
Niyat ingsun arep adus, angedusi badan kayun, manggih tuya robani, dus lali dus mani, badan adus den dusi pada badan, roh adus den dusi pada roh, sukma adus den dusi pada sukma, dzat teles sukma ngalam, dzat urip tan kena kewoworan, urip sajerone karsa, ingsun adus banyu saking kudratullah, byur njaba suci sajronig badan robani, allah sakarsa allahu ngalaihi was-salam….bismillaahi rohman nirohim…..3.x.

NIYAT PUASA;
Niyat ingsun nutup rasa, sang sir rasa payungana ingsun, rasa mangan cahya, cahya mangan rasa, langgeng ing ciptaku, tetep madep mantep tan kena owah,…..bismillaahi rohman nirohim…3.x. Sup rasa sup sari ram sari wenang tininggal, budug basuh sira mungkura, mengko yen wis tumekane dong, tek adepna maring Negara karang panjang, ngenteni sepeken sepuluh dina.

NIYAT PUASA MUTIH;
Niyat ingsun arep puasa mutih, mutihake badan kang reget, putih kaya dene bocah mentas lair, dipun ijabahi dening gusti allah.

NIYAT PUASA NGEBLENG;
Niyat ingsun arep puasa ngebleng, perlu kanggo manjingake…….ilmu saka gusti allah kang agung, sababe karma allah ta’ala.

NIYAT PUASA PATI GENI;
Niyat ingsun arep puasa patigeni, amateni hawa napsu amarah ing badan ingsun,Bamateni genine angkara murka, karana allah ta’ala,…….bismillaahi rohman nirohim….3.x sir sari rasa maut. ima ilang nang napsune ingsun dewe, sir langgeng urip tanpa rusak salawase, tetep idep tetep madep tetep mantep.

DOA MANDI SA’AT PUASA;
Wenang wening sari wening sarining bayu, aci wening acining bayu, roh wening rohing bayu, miyak mega cunduk lintang, cahyaku kaya lintang kamiyullah, masup tangan kiwa mancring cahaya, masup tangan tengen mancring syahadat, ashadzu ala ilaaha illallah wa ashadzu anna muhamadur rosullullah, juhri binta saw.

DOA MAKAN atau MINUM atau TIDUR selama PUASA;
Niyat ingsun arep dahar atau nginum atau sare, ora dahar/nginum/sare, rowangingsun tapa kang dahar/nginum/sare, ora sare/nginum/dahar, rowangingsun tapa kang sare/nginum/dahar, krana ingsun iki wis kawengku ing alam nasut, malakut jabarut yaiku kang dahar/nginum/sare, jagate sahir kabir, cahya mangan rasa, rasa mangan cahya, cahya mulya rasa sempurna……bismillaahi rohman nirohim…3.x.

NIYAT TAPA PENDEM;
Was-syahadzu muaya dua, illallah ngansaiji, pangeran sowan allah, ing kana ana jenenge dat lanang pengeran kudratullah, ing kana ana jenenge dat wadon, rasa kudratullah, ing kana ana jenenge ngelmu, syahadzat kalimah loro, apa waktune di gapar,……….astaghfirullahal adzim………..3.x.

NIYAT TAPA KUNGKUM;
Bismillaahi rohman nirohim, ya aku sejatine manungsa, kang teguh ing banyu, nur ing allah, nur ing rosul, nur Muhammad nur ing pengeran, nur gusti kang mengkoni, kun faya kun, cahya wis aneng saliraku, allah rosul Muhammad kang pilenggah ana sajerone saliraku,
( trus kungkum sambil membaca ).
As-salamu alaikum wr/wb, putih-putih ing mripatku sayyidina qhidir, ireng-ireng ing mripatku kanjang sunan kalijaga, telenging mripatku kanjeng nabi Muhammad.

NIYAT TAPA NGALONG;
Bismillaahi mustikaning roh, ya allah kang masta lungguha pangandikaning roh, masjid agung cecantele ki jaka tawa, kang lungguh ing intil-intil, ingsun anjubleg sira tangia, bisa’a teka.
Dll…

Itu beberapa diantara Japa Mantera di tingkat Awal atau Pertama dari Aji Mundi Jati Sasangka Jati, sedangkan 1 hingga tingkat akhirnya, berupa Japa Mantera Ilmu-ilmunya sebagai berikut;

1. Tingkat Satu;
Ilmu Aji Petak Ambyah.
2. Tingkat Dua;
Ilmu Aji Gajah Wulung.
3. Tingkat Tiga;
Ilmu Aji Arya Bangah.
4. Tingkat Empat;
Ilmu Aji Anjan Kumayan.
5. Tingkat Lima;
Ilmu Aji Cinde Amoh.
6. Tingkat Enam;
Ilmu Aji Nalagati.
7. Tingkat Tujuh;
Ilmu Aji Dipa.
8. Tingkat Delapan;
Ilmu Aji Lembu Sekilan.
9. Tingkat Sembilan;
Ilmu Aji Welut Putih.
10. Tingkat Sepuluh;
Ilmu Aji Begananda.
11. Tingkat Sebelas;
Ilmu Aji Braja Mukti.
12. Tingkat Dua Belas;
Ilmu Aji Pupuh Bayu.
13. Tingkat Tiga Belas;
Ilmu Aji Supi Angin.
14. Tingkat Empat belas;
Ilmu Aji Halimunan.
15. Tingkat Lima belas;
Ilmu Aji Serat Jiwa.
16. Tingkat Enam belas;
Ilmu Aji Karang.
17. Tingkat Tujuh belas;
Ilmu Aji Panca Sona.
18. Tingkat Delapan belas;
Ilmu Aji Rawa Rontek.
19. Tingkat Sembilan belas;
Ilmu Aji Bandung Bandawasa.
20. Tingkat Dua Puluh;
Ilmu Aji Pengasihan/Kamasutra.
Dan Tingkat Akhir nya Adalah;
“AJI MUNDI JATI SASANGKA JATI”

Dan di setiap tingkatannya, itu memiliki 7 tingkatan lagi.

Contoh misal;
Ilmu Aji Braja Mukti, itu memiliki tujuh tingkatan, tingkat pertama, rambut atau kukunya tidak mempan di potong, tingkat kedua, kulitnya tidak bisa di lukai atau kebal senjata, tingkat ketiga bisa menghancurkan senjata, tingkat empat bisa melarutkan senjata dll.

Misal contoh lagi;
Ilmu Aji Pengasihan/Kamasutra.
Ada Semar mesem, Semar kuning, Semar Ireng, Semar Putih, Jaran Goyang dll.

Yang masing-masing nya itu, memiliki Japa mantera sendiri-sendiri dan fungsinya masing-masing, begitu juga dengan tingkatan-tingkatan ilmu lainnya, sama memliki tujuh tingkatan dan memiliki fungsi yang berbeda pula.

Sebab itu, separuh usia saya, habis untuk belajar tentang ini, karena tidak sedikit Doa atau Japa mantera yang harus di hapal, dan lelakunya, itu lebih cocok di sebut tapa, bukan tirakat, la wong sampai berbulan-bulan bahkan tahunan, kalau tirakat, kan cuma sehari dua hari tiga hari, puasa, maksimalnya sebulan, di tingkat awal saja, sudah memiliki banyak doa Japa mantera dengan fungsinya yang berbeda-beda.

Namun soal Japa Mantera nya, tidak usah saya sharekan ya… Sepertinya kurang etis, lagi pula, ini kan hanya sebagai tambahan pengetahuan saja.

Selanjutnya;
Walaupun dengan berbagai macam cara dan upaya yang telah di perjuangkan oleh para pendahulu kita, namun Aji Mundi Jati Sasangka Jati, tetap tidak bisa di miliki dengan cara mudah dan gampang.

Terlebih lagi, semakin moderen jamannya, semakin langka bahkan tidak ada yang mampu bertapa, jangankan bertapa, tirakat saja, sudah kalap.

Dan luar biasanya…
Dzat Maha Suci Hidup, tiada henti-hentinya mencintai, mengasihi dan menyayangi makhluknya, terutama yang disebut manusia, sebagai makhluk paling sempurna di banding makhluk-makhluk lainnya.

Buktinya…!!!
DIA meReinkarnasi kan lagi Aji Mundi Jati Sasangka Jati atau Ilmu Kesempurnaan Hidup dan Mati ini, untuk yang ke Tujuh kalinya. Dan…

Manusia Pertama yang terpilih sebagai penerimanya adalah;
M. Semono Sastrohadijoyo, yang saat ini di kenal oleh kalangan umum sebagai Romo Semono. Beliau adalah;
Sang Putra Mahkota dari Majapahit yang terakhir, yang tidak mau menduduki Tahta Warisan Kerajaan, dan lebih memilih bertapa di Goa Singabarong Pulau Nusa Kambangan Cilacap.

Dan “AJI MUNDI JATI SASANGKA JATI” Kembali Turun untuk yang Ke-7 Xnya.

Sebagai Wahyu Mahkota Rama atau Wahyu Mahkuto Romo, lalu seiring perkembangan jaman, berhasil di sempurnakan oleh beliau menjadi Wahyu Eka Buana atau Wahyu Eko Buono.

Yang kemudian berhasil berhasil lagi di Mijil-kan pada Tahun 1955 menjadi Wahyu Panca Ghaib (Laku Murni Menuju Suci).

Hingga sampai kepada kita-kita sebagai Pelaku Murni Menuju Suci nya Dzat Maha Suci sekarang ini.

Namun…
Tapi…
Lagi-lagi saya katakan sungguh teramat sayang beribu kali sayang, ada banyak yang menyalah gunakan Awal dan Akhir dari semua dan segalanya ini.

Semisal Contoh;
Di gunakan sebagai ilmu perdukunan, ilmu ramalan, ilmu klenik, di jadikan organisasi, golongan, kaum dan sejenisnya, ada juga yang menggunakannya untuk menarik atau memproses barang ghaib, seperti pusaka, harta karun, bahkan ada yang menggunakannya untuk merugikan dan menyakiti sesama hidup.

Sehingganya;
Walaupun sudah memiliki Intisari Pati dari Semuanya dan Puncak dari Segalanya, masih saja tetap asyik mencemooh dan membuli sesesama hidup, fitnah, benci, menilai, membedakan, sirik, iri, dengki, dendam masih selalu menjadi menu makanan dan minuman sehari-hari.

Saya Wong Edan Bagu yang merasa mengerti dan memahami serta mengetahui Wahyu Panca Ghaib yang sebenarnya, yang sesungguhnya, yang sejatinya, ketika menyaksikan secara langsung di TKP, tentang semua hal tersebut diatas dengan mata kepalanya sendiri, menjadi renungan terdalam.

Karena saya sendiri, ada kalanya melakukan hal yang sama seperti kebanyakan mereka itu, jika masa lalu saya terpancing oleh sesuatu yang tidak cocok dengan hatinya.

Lalu saya melakukan manekung, dan memperoleh ketegasan, bahwa Yang ke-7 Xnya ini, adalah yang terakhir, artinya, jika manusia Hidup gagal Nglungguhake Wahyu Panca Ghaib secara gelar/syariat lan Mijilake Wahyu Panca Ghaib secara gulung/hakikat.

Maka Wahyu Panca Ghaib akan diAngkat sebagaimana ketika Dzat Maha Suci Hidup mengAngkat Nabi Isa ketika di tolak oleh umat-Nya dan tidak akan pernah di Turun kan kembali ke Dunia. Artinya; Tamat lah riwayat dunia.

Mendapatkan ketegasan tersebut, lalu saya nekad Napak tilas pertapaan M. Semono Sastrohadijoyo di Pulau Nusa Kambangan Cilacap selama 91 hari.

Dan mendapatkan keberhasilan mengungkap sejati nya IMAN, yang selama ini di percaya sebagai keYakinan, yang tak lain dan tak bukan Adalah:
Wahyu Panca Laku;
1. Pasrah kepada Tuhan.
2. Menerima keputusan Tuhan.
3. Mempersilahkan kuasa Tuhan.
4. Merasakan kenyataan Tuhan.
5. Menebar cinta kasih sayang Tuhan.

Yang ternyata Adalah Satu-satunya Cara untuk Meng-ibadah-kan atau menjalankan atau mempraktekan Wahyu Panca Ghaib.

Dan ternyata berhasil;
Dengan Meng-ibadah-kan atau menjalankan atau mempraktekan Wahyu Panca Ghaib menggunakan Kesadaran Wahyu Panca Laku yang selama ini disebut-sebut sebagai Iman.

Seiring berjalannya Waktu;
Sudah tidak terhitung jumlahnya Orang-orang di tempatnya masing-masing, sudah tidak lagi salin mencemooh dan membuli sesama makhluk hidup, fitnah, benci, salin menilai, membedakan, memilih, memilah, sirik, iri, dengki, dendam dan sejenisnya, sudah mulai nampak sirna di berbagai telatah kepulauan.

Bahkan jika dirinya yang di mencemooh dan membuli, di fitnah, di benci dan sejenis, memilih diam tidak membalas, malah di mohonkan ampunan kepada Dzat Maha Suci Hidup Sang Empu-Nya semua dan segalanya. Terima kasih Romo…

Dan Dari Lubuk Hati❤️saya Yang Paling Dalam Mengucapkan Salam Rahayu Penuh Cinta Kasih Sayang❤️Selamat🙏Selamat🙏Selamat🙏 Rahayu🙏Rahayu🙏Rahayu🙏Damai🙏Damai🙏 Damai🙏 Tenteram🙏
Saya❤️
Wong Edan Bagu❤️
Ngaturaken Sugeng Rahayu🙏
lir Ing Sambikolo🤝
Amanggih Yuwono🤝
Pinayungan Mring Ingkang Maha Suci🙏
Basuki❤️
Yuwono❤️
Teguh❤️
Rahayu❤️
Slamet❤️🙏❤️
BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏Om Shantih Shantih Shantih Om – Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu🙏
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Biografi Sejarah Perjalanan Ilmu  Kesempurnaan Hidup dan Mati (Ilmu Tingkat Tinggi Leluhur Jawa Kuno) Bagian 1:


Biografi Sejarah Perjalanan Ilmu Kesempurnaan Hidup dan Mati (Ilmu Tingkat Tinggi Leluhur Jawa Kuno) Bagian 1:
Oleh: Wong Edan Bagu.

Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…

Gubug Jenggolo Manik. Pukul. 13:04. Hari Rabu. Tanggal 6. Maret 2019.

Mengulas Riyilnya Ilmu Kasampurnan Urip lan Pati atau Kesempurnaan Hidup dan Mati, yang merupakan Ilmu Tertinggi atau Ilmu Tingkat Tinggi di seluruh penjuru Dunia, yang sering saya bahasakan sebagai “Laku Murni Menuju Suci” Berarti; Harus menelisik Sejarah Kehidupan Masa Lalu Manusia, Mulai dari Jaman Kuno hingga Jaman Modern sekarang ini.

Dari sisi kehidupan, kita harus menelisik Sejarah awal terciptanya Adam sebagai Bibit Manusia pertama, dan perihal ini, saya sudah pernah mengulasnya hingga beberapa kali dalam artikel dan vidio. Sedangkan…

Dari sisi spiritual, harus menelisik Sejarah ilmu-ilmu Jawa kuno yang pertama kali di pelajari oleh para Leluhur Jawa kita tempo dulu.

Dan ilmu tertinggi jaman kuno pada waktu itu di Jawa. Adalah; “AJI MUNDI JATI SASANGKA JATI”

Aji Mundi Jati Sasangka Jati ini,
Adalah satu-satunya ilmu tertinggi dan paling tinggi dari masa ke masa atau dari jaman ke jaman kehidupan bangsa di bumi.

Dan Aji Mundi Jati Sasangka Jati ini, memiliki 20 tingkatan, dan masing-masing tingkatannya, memiliki tujuh tingkatan, hingga pada akhirnya, di sebut sebagai “AJI MUNDI JATI SASANGKA JATI” sebagai puncaknya, yang tak lagi dan tak bukan adalah; Ilmu Kesempurnaan Hidup dan Mati, yang sering saya bahasakan sebagai Laku Murni Menuju Suci (Wahyu Panca Ghaib-Wahyu Panca Laku) dan Berikut ini Biografi Sejarah Perjalanannya Sejak awal hingga sekarang ini, yang berhasil saya abadikan sebagai bagian dari sejarah hidup perjalanan spiritual pribadi saya.

Aji Mundi Jati Sasangka Jati, adalah Ilmu Tingkat Tinggi di seluruh dunia, bahkan Tertinggi dari seluruh Ilmu yang ada di dunia, serta di dalam aliran atau pelajaran apapun.

Karena di dalamnya, terkandung pelajaran awal dan akhir tentang semua kehidupan makhluk dan segala sesuatu yang ada dan tiada di dalam lapisan partikel-partikel Ke-Tuhan-an.

Di dalam ajaran Agama Hindu, Aji Mundi Jati Sasangka Jati ini, disebut Sebagai “MOKSA TATTWA”

Pengertian Moksa Tattwa;
Moksa Tattwa adalah; merupakan
bersatunya Atman dengan Brahman, suatu keadaan di mana jiwa terasa tenang dan menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya, karena tidak terikat lagi oleh berbagai macam nafsu maupun benda material apapun.

Aji Mundi Jati Sasangka Jati ini, di dalam ajaran Agama Budha disebut Sebagai “NIBBANA”

Pengertian Nibbana;
Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi, atau suatu keadaan kebahagiaan yang luar biasa, kebahagiaan Nibbana tidak dapat dialami dengan memanjakan indra, tetapi dengan memadamkannya.

Nibbana adalah tujuan akhir ajaran Buddha. Lantas; Apakah Nibbana itu..?!

Tidak mudah untuk mengetahui apa Nibbana itu sebenarnya; lebih mudah mengetahui apa yang bukan Nibbana.

Nibbana bukanlah ketiadaan atau kepenuhan atau juga keabadian, bukan pula surga, berapa abad setelah Buddha menggambarkan Nibbana sebagai surga.

Tujuan nya menyetarakan Nibbana dengan alam surgawi, adalah; untuk meyakinkan orang yang “kurang pintar” lalu menarik mereka pada ajaran aliran Buddhisme.

Yang kemudian berjuang menuju Nibbana, berarti menjadi mencari suatu tempat yang indah, dimana semua hal baik adanya dan semua orang bahagia di dalamnya untuk selama-selamanya.

Di dalam ajaran Agama Kristen, Aji Mundi Jati Sasangka Jati ini, disebut Sebagai “PERSEKUTUAN”

Pengertian Persekutuan;
Persekutuan adalah Seiya Se-Kata-nya antara Hidup dan Maha Hidup.

Kenapa dan mengapa Hidup dan Maha Hidup harus bersekutu…?!

Sebab pada awalnya, Hidup dan Maha Hidup, itu bersatu dan menyatu, karena Hidup adalah Roh/Ruh Kudus/Suci Maha Hidup itu sendiri, Hidup berpisah dengan Maha Hidup, karena di utus oleh Maha Hidup.

Jadi…
Hidup itu, selain bagaian dari Tuhan itu sendiri, juga sebagai Rasul/Utusan-Nya.

Dalam ajaran Kristen, Hidup di sebut sebagai anak Allah/Tuhan, dan Tuhan/Allah sebagai Bapa nya Hidup, atau Utusan Allah/Tuhan dan Allah/Tuhan sebagai yang mengutus Hidup yang tak lain dan tak bukan adalah anak atau Ruh/Roh Tuhan/Allah itu sendiri.

Nah…
Antara Anak dan bapa atau Hidup dan Maha Hidup inilah yang berSekutu Kembali Kepada Desain Yang Sejati.

Karena Dzat Maha Suci Hidup tidak pernah berhenti untuk mencintai, mengasihi dan menyayangi yang di sebut manusia, yang melawan diri-Nya dan tidak mengindahkan kemuliaan-Nya, maka Dia selalu dan tiada henti-hentinya menurunkan utusan-utusan-Nya ke bumi/dunia ini.

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan” (Kolose 1:15).

“Barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa”(Yohanes 14:9).

Kristus adalah jalan dimana manusia kembali kepada Allah/Tuhan, jalan untuk tunduk kepada Allah/Tuhan yang sejati, dengan tunduk kepada Kristus, karena Ia adalah gambar Allah yang sejati;
“… barang siapa yang melihat-Nya maka Ia melihat Bapa, dan barang siapa yang percaya kepada Kristus, maka ia terhitung percaya kepada Bapa, dan barang siapa yang tunduk kepada titah Yesus, maka Ia tunduk kepada Bapa”

Tanpa Kristus tidak mungkin manusia akan kembali kepada Sang Penciptanya, Seperti yang Yesus Kristus katakan;
“Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6).

Al-kitab menjelaskan lebih lagi, dengan tunduk kepada Kristus. Maka, juga tunduk kepada Pencipta secara langsung, karena Kristus adalah Sang Anak, yang juga adalah Sang Pencipta alam semesta yang menjelma menjadi manusia;
“Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.” (Kolose 1:16).

Ketundukan kepada Kristus dengan percaya kepada-Nya, bukan hanya ketundukan terhadap otoritas Allah Bapa, melainkan juga ketundukan terhadap otoritas Allah Anak, dan setiap mereka yang “…di dalam Dia (Kristus) kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.” (Efesus 1:13).

Artinya saat percaya kepada seruan Kristus “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Matius 3:2) dengan menjadikan Dia sebagai Raja yang memrintah, pada momen itu juga menjadikan Allah Tritunggal atau menjadi tuan atas hidup.

Pada momen itu pula manusia kembali kepada desain penciptaan yang sejatinya, yaitu Allah menjadi Allah dan manusia menjadi manusia.

Manusia berhenti menuhankan diri manusianya, dengan menyerahkan tahta pemerintahan yang ada di hati kepada Allah, sehingga manusia dapat berkata “bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Galatia 2:20).

Pada momen itu pula manusia untuk pertama kalinya memuliakan Allah, karena saat Allah berdiam di dalam hati manusia sebagai bait-Nya, maka “kamu bukan milik kamu sendiri, sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1Korintus 6:19-20)

Sama Persis Inti Tujuannya Dengan Inti Ajaran Islam. Yaitu;
“INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UN”

Pengertian Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un;
Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un
Adalah; Potongan dari ayat Al-Quran, dari Surah Al-Baqarah 2:156).
Yang artinya; Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali.

Bacaan tersebut dikenal dengan sebutan Istirja atau Tarji.

Istirja’ merupakan frase umat Islam, apabila mengalami suatu masalah/musibah sekaligus Inti Sari Pati Segala Awal dan Semua Akhir isi Al-Qur’an.

Namun sayang seribu kali kata sayang, Istirja’ ini, hanya biasa diucapkan apabila menerima kabar duka cita seseorang, tidak lebih dari sekedar itu.

Umat Islam banyak yang meyakini bahwa Allah adalah Esa, yang memberikan dan Dia jugalah yang mengambil, namun yang banyak itu, mereka tidak menyadari, bahwa yang di maksud dari yang memberi dan Dia pula yang mengambil, itu termasuk jiwa dan raganya juga, artinya; bukan cuma ilmu, harta, tahta, wanita/lelaki saja.

Hal ini sama persis dengan Ajaran Jawa, yaitu;
“ILMU SANGKAN PARANING DUMADI”

Pengertian Ilmu Sangkan Paraning Dumadi;
Sangkan Paraning Dumadi adalah, ilmu yang menjelaskan tentang dari mana asal usul awal kita dan untuk apa kita di cipta serta hendak kemana tujuan akhir kita.

Dalam kehidupan di dunia ini, khususnya masyarakat Jawa, senantiasa di ingatkan untuk memahami filosofi jawa, tentang Sangkan Paroning Dumadi ini.

Apa sebenarnya makna dari Sangkan Paraning Dumadi itu…?!

Hampir semua orang mengerti dan memahami apa itu “Sangkan Paraning Dumadi” khususnya orang Jawa, namun tidak banyak orang yang mengetahui filosofi detail yang sesungguhnya.

Sebab karena itu orang awam banyak yang mengklaimnya sebagai ilmu mistik Jawa atau ilmu kejawen, bahkan ada yang tanpa ragu memberinya stempel sesat, dan anehnya, yang nyetempel itu, adalah orang Jawa.

Siapapun dia, terlepas dari orang Jawa atau bukan, jika mempelajari tentang Ilmu Sangkan Paraning Dumadi ini, maka dia akan mengerti dari mana asal usulnya, akan memahami untuk apa di adakan di dunia ini, dan akan mengetahui hendak kemana tujuan akhirnya setelah hidup nya berakhir di dunia ini.

Inti Sari singkat nya “Ilmu Sangkan Paraning Dumadi” adalah pengetahuan tentang dari mana kita berasal dan untuk apa kita diadakan serta ke mana tujuan kita nantinya.

Lebih mudahnya adalah; Ilmu Tentang Jalan Pulang, di mana kampung dan rumah asal usul kita sebenarnya, maka ke sanalah kita akan pulang.

Semua yang terurai diatas tadi adalah tentang;
“AJI MUNDI JATI SASANGKA JATI”

Aji – Berarti – Terhormat atau Berharga atau Ternilai.
Mundi – Berarti – Memuji atau Memuja.
Jati – Berarti – Sejati (Sesungguhnya atau sebenarnya).
Sasangka – Berarti – Pengetahuan.
Jati – Berarti – Sejati (Sesungguhnya atau sebenarnya).

Ini lo…!!!
Ilmu Tingkat Tinggi di seluruh dunia, bahkan Tertinggi dari seluruh Ilmu yang ada di dunia serta di dalam aliran pelajaran apapun, yang sebagai bentuk/wujud cinta kasih sayang Dzat Maha Suci kepada Seluruh Makhluknya.

Sehingganya terus menerus berReinkarnasi mengikuti dan menyesuaikan perkembangan dan kemajuan jaman.

Mulai dari;
1. “AJI MUNDI JATI SASANGKA JATI”
Kemudian berReinkarnasi menjadi;
2. “MOKSA TATTWA”
Lalu Reinkarnasi Lagi Sebagai…
3. “NIBBANA”
Lalu Reinkarnasi Lagi Sebagai…
4. “PERSEKUTUAN”
Lalu Reinkarnasi Lagi Sebagai…
5. “INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UN”
Lalu Reinkarnasi Lagi Sebagai…
6. “SANGKAN PARANING DUMADI”
Lalu Reinkarnasi Lagi Sebagai…
7. “WAHYU PANCA GHAIB” Yang pada Tahun 1955 di kenal sebagai “Laku Kasampurnan atau “ILMU KASAMPURNAN”

Pada mulanya “ILMU SANGKAN PARANING DUMADI” Warisan Dahyang Jawa yaitu; Sanghyang Ismaya yang lebih di kenal dengan sebutan Semar ini.

Oleh Para Pendahulu kita, seperti Para Ahli Tapa, Para Brahmana, Para Wali, Para Syekh, yang begitu cinta kasih sayang kepada kita sebagai penerusnya.

Di Perjelaslah Pelajarannya, tujuannya agar supaya lebih mudah di mengerti dan di pahami gelar gulungnya atau syariat hakikatnya.

Dengan menggunakan Ilmu Pengetahuan yang lebih di kenal dengan istilah sebutan;
1. Aji Pameleng.
2. Aji Padmawara.
3. Serat Sastra Jendra Hayu Ningrat Pangruwating Diyu.
4. Serat Centhini.
5. Manunggaling Kawula Gusti.
6. Layang Muslimat Muslimin.
7. Gatoloco.
8. Tasyawuf.
9. Tarekat.
Dan sepertinya masih ada yang lainnya lagi yang belum sempat saya pelajari selain sembilan yang saya sebutkan diatas.

Namun Kesemuanya itu, adalah tentang pendetailan untuk “AJI MUNDI JATI SASANGKA JATI” atau “WAHYU PANCA GHAIB”

Sedangkan yang asli Jawa, tetap bersekukuh pada warisan Leluhur Dahnyang Tanah Jawa Sanghyang Ismaya/Semar yaitu; “Ilmu Sangkan Paraning Dumadi”

Ilmu Sangkan Paraning Dumadi ini, Akhirnya menjadi Ilmu Kontroversial, karena di terjemahnya dengan cara apapun dan bagaimanapun, tetap sulit di nalar menggunakan logika pikiran.

Namun masing-masing ingin mempermudah pembelajarannya, agar supaya anak cucunya kelak, yang menjadi penerusnya, tidak mengalami kesulitan dalam bentuk apapun ketika menempuhnya.

Sehingganya terus tetap berlanjut Proses Perjalanannya, hingga pada akhirnya menjadi dua persi saja. Yaitu;
1. Persi Jawa.
Dan…
2. Persi Islam Jawa.

AJI MUNDI JATI SASANGKA JATI, baik yang persi Jawa maupun yang persi Islam Jawa, keduanya sudah pernah saya jalani/tempuh pembelajarannya.

Tentang hal ini, saya mau berbagi pengetahuan, tapi yang dari persi Islam Jawa nya saja, kalau yang Persi Jawa aslinya, tidak bisa, karena dulu, saya mempelajarinya tidak menggunakan teks/tulisan atau seratan, melainkan lolohan kalau istilah jawanya, maksudnya secara langsung dari hati ke hati.

Jadi…
Bagaimana mungkin saya bisa mengabarkannya melalui tulisan atau suara tanpa bertatap wajah, tentu tidaklah etis bukan…?!

Pengertian Ilmu Sangkan Paraning Dumadi Persi Islam Jawa;

Ilmu Sangkan Paraning Dumadi.
Adalah; Kemampuan melakukan sesuatu yang tidak wajar, melebihi
kemampuan manusia biasa pada umumnya, sebab karena itu, sering disebut sebagai Ilmu Ghaib atau Ilmu Metafisika atau Ilmu Supranatural atau Ilmu Kebatinan, karena menyangkut hal-hal yang tidak nampak oleh mata.

Beberapa kalangan menganggap Ilmu Islam Jawa Kuno ini, sebagai
hal yang sakral, keramat dan mistik.

Karenanya…
Orang awam memuliakan orang yang memilikinya Ilmu Islam Jawa Kuno ini, bahkan menganggapnya sebagai wali atau orang suci.

Dalam hasanah perkembangan
Ilmu Islam Jawa Kuno Indonesia, khususnya di pulau Jawa, kita mengenal dua aliran utama yaitu; Aliran Hikmah dan Aliran Kejawen.

Aliran Hikmah berkembang di kalangan pesantren dengan ciri khas doa mantra yang murni
berbahasa Arab, kebanyakan bersumber dari Al-Quran.

Sedangkan aliran Kejawen yang ada sekarang, sebetulnya sudah tidak murni kejawen lagi,
melainkan sudah bercampur dengan tradisi islam, dan saya menyebutnya Islam Jawa atau Jawa Islam.

Ini terjawab dari Japa Mantera Ilmu Sangkan Paraning Dumadi yang pernah saya pelajari, dimana Japa Mantranya, yang indentik di awali dengan bacaan basmalah atau dua kalimat syahadat, yang kemudian dilanjutkan dengan mantra jawa, oleh kerena itu, saya menyebutnya sebagai Ilmu Islam Jawa Kuno.

Tradisi Islam Jawa inilah yang lebih banyak mewarnai keilmuan Silat Rohani di Indonesia atau Nusantara jaman sekarang.

Jadi…
Ilmu Islam Jawa Kuno itu adalah; bersumber dari alkulturasi (penggabungan) budaya jawa dan nilai-nilai agama islam. Pelakunya adalah Para Wali atau Wali 9 yang kala itu syia’ar di Jawa.

Ciri khasnya dalah;
Japa Mantera nya diawali dengan basmalah atau shalawat, yang kemudian dilanjutkan dengan kalimat bahasa jawa, kemudian diakhiri dengan dua kalimat syahadat atau shalawat.

Ilmu Islam Jawa Kuno ini, tumbuh
subur di desa-desa yang kental dengan kegiatan keagamaan, terutama di pesantren yang masih tradisional.

Awal mula Ilmu Islam Jawa Kuno ini, adalah; budaya masyarakat jawa sesudah islam datang,
yang memang menyukai kegiatan mistik dan melakukan ritual untuk
mendapatkan kemampuan suparantural.

Para pengembang ajaran islam di
Pulau Jawa tempo dulu adalah; Wali 9, yang kala itu, tidak menolak tradisi jawa tersebut, justru malah
memanfaatkannya sebagi senjata dakwahnya.

Bersambung Di Artikel;
Biografi Sejarah Perjalanan Ilmu Kesempurnaan Hidup dan Mati (Ilmu Tingkat Tinggi Leluhur Jawa Kuno) Bagian 2:

Dan Dari Lubuk Hati❤️saya Yang Paling Dalam Mengucapkan Salam Rahayu Penuh Cinta Kasih Sayang❤️Selamat🙏Selamat🙏Selamat🙏 Rahayu🙏Rahayu🙏Rahayu🙏Damai🙏Damai🙏 Damai🙏 Tenteram🙏
Saya❤️
Wong Edan Bagu❤️
Ngaturaken Sugeng Rahayu🙏
lir Ing Sambikolo🤝
Amanggih Yuwono🤝
Pinayungan Mring Ingkang Maha Suci🙏
Basuki❤️
Yuwono❤️
Teguh❤️
Rahayu❤️
Slamet❤️🙏❤️
BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏Om Shantih Shantih Shantih Om – Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu🙏
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya