Jumbuhing Kawula Gusti atau Loro-Loroning Atunggil atau Kumpul Nunggal Suci/KUNCI:


Jumbuhing Kawula Gusti atau Loro-Loroning Atunggil atau Kumpul Nunggal Suci/KUNCI:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul. 15:34. Hari Selasa. Tanggal 12. Februari 2019.

Bagi saya Wong Edan Bagu Tuhan itu adalah Dzat Maha Suci, Ruh Maulana, Ruh Terbesar, Termulia, Tertinggi, Tersuci, Termaha dan tanpa kekurangan apapun, yang menjadi asal usul permulaan dari semua kejadian.

Itulah yang di Sebut Gusti, atau Allah atau Hyang Widhi atau Tuhan atau Ingsun atau Yahweh atau God dll, menjelma menjadi wujud manusia, hewan, tumbuhan, bumi, langit, samudera dll.

Sebab karena itu Tuhan atau Hyang Widhi atau Gusti, atau Allah dll itu, dikatakan ada di mana-mana, namun tidak di langit, tidak di bumi, tidak di samudera, tidak pula di utara atau selatan dll.

Manusia tidak akan bisa menemukan Tuhan walaupun keliling dunia, sekalipun Tuhan itu ada dimana-mana, karena…

Dzat Maha Suci atau Ruh Maulana ada dalam diri manusia, karena ruh manusia sebagai penjelmaan Ruh Maulana atau Dzat Maha Suci.

Sebagaimana dirinya yang sama-sama menggunakan hidup ini dengan indera, sedangkan jasad yang akan kembali pada asalnya, yaitu tanah, menjadi busuk, kotor dan hancur.

Jika manusia itu mati, ruhnya kembali bersatu kepada asalnya, yaitu Ruh Maulana atau Dzat Maha Suci, yang bebas dari segala penderitaan, karena tanpa adanya wujud yang dari tanah.

Sifat-sifat hakikat ruh manusia, adalah ruh suci, yang berasal dari Dzat Maha Suci, yang tidak berubah, tidak berawal, tidak berakhir, tidak bermula, ruh suci tidak lupa dan tidak tidur, dan tidak terikat dengan rangsangan indera yang meliputi jasad manusia.

Dan saya Wong Edan Bagu menyebutnya sebagai Hidup, yang menghidupi jasad dan menjadikan jasad bisa itu dan ini serta lain-lain.

“Aku adalah Tuhan, Tuhan adalah Aku”. Lihatlah… Tuhan ada dalam diriku, Aku ada dalam diri Tuhan. Lihatlah kedalam dirimu, engkau akan menyaksikan hal yang sama.

Jangan salah menilai dan memandang kataku diatas, karena saya tidak bermaksud sedang mengaku Tuhan, melainkan tentang kesadaran murni (Wahyu Panca Laku) yang tetap teguh/kuat sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan.

Hakikatnya semua makhluk itu, bersatu dengan Ruh Tuhan, kalau tidak, mana mungkin bisa hidup, memang ada sesuatu yang bisa Hidup tanpa Ruh Tuhan…?!

Ada persamaan antara ruh makhluk dengan Ruh Tuhan atau Dzat, keduanya bersatu di dalam setiap diri makhluk.

Persatuan antara Ruh Tuhan dengan ruh makhluk inilah, yang sering saya jelaskan sebagai “KUNCI” Kumpul Nunggal Suci.

Persatuan antara Ruh Tuhan dengan ruh makhluk, yang sering saya jelaskan sebagai “KUNCI” Kumpul Nunggal Suci ini, terbatas pada persatuan makhluk itu sendiri dengan Tuhan-nya, maksudnya, seberapa kesadaran manusia itu bisa menyadarinya.

Karena Persatuannya merupakan persatuan Dzat Sifat, Ruh Suci bersatu dengan Dzat Maha Suci, dalam gelombang energi dan frekuensi yang sama.

Jikalau Sir kesadarannya tidak murni, tidak akan bisa menyadarinya, dikarenakan Suci adanya, sehingganya tidak bisa di campuri atau di jangkau dengan apapun, kecuali murni.

Inilah yang di sebut Kunci atau keManunggalan atau Jumbuhing Kawula Gusti. Yaitu; Bersatunya dua menjadi satu, atau Dwi Tunggal, atau Loro-Loroning Atunggil, diumpamakan wiji wonten salebeting wit (biji ada di dalamnya pohon).

Yang di sebut jiwa, itu adalah kemanunggalan atau penyatuan empat anasir dengan Hidup atau Ruh Suci atau Ruh Kudus, dan penyatuan empat anasir dan Hidup yang di sebut jiwa ini, merupakan suara hati nurani manusia, yang merupakan ungkapan dari Dzat Maha Suci, sebab itu, saya katakan, hati nurani harus ditaati dan dituruti perintahnya.

Karena jiwa merupakan kehendak Tuhan, juga merupakan penjelmaan dari Dzat Maha Suci yang lebih di kenal sebagai Sejatinya Aku atau Aku yang Sejati, sebab karena itu raga disebut sebagai wajah Tuhan, (QS.al-Baqarah: 115; ….. Kemanapun kamu menghadap maka disitulah wajah Allah….).

Jiwa ini, mempunyai Dzat Sifat Tuhan, yakni kekal, sesudah manusia raganya mati, maka lepaslah jiwa dari belenggu raganya.

Sedangkan yang di sebut akal, angen-angan, budi dan pakarti, adalah sifat dari empat anasir yang belum manunggal/menyatu, lah inilah yang di namai sebagai Sukma, kebenarannya tidak sepenuhnya dapat dipercaya, karena selalu berubah-ubah.

Mungkin pengetahuan pribadi saya ini, berbeda dengan kebanyakan pengetahuan diluar sana, yang mengacu pada Ajaran Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang, karena Ajarannya Syekh Siti Jenar, itu menggunakan sistem keilmuan, sedangkan saya, menggunakan sistem kesadaran, yaitu Wahyu Panca Ghaib yang saya jalankan dengan Wahyu Panca Laku, sehingganya, lebih jelas dan detail serta mudah di cerna.

Itu sebabnya menjadi ada garis demarkasi antara pemahaman ilmu dan pemahaman kesadaran, yang menjadi pemisah antara hakikat jiwa dan sukma, dan hal ini bukan untuk di perdebatkan.

Namun jika ada yang mau mendebat, sebelum mendebat perbedaan ini, saya beri sedikit penjelasan terkait ini, sebagai bahan perenungan.

Menurut saya Wong Edan Bagu, hasil dari praktek di TKP, perbedaan antara Jiwa dan Sukma itu disini;
Jiwa terletak di luar nafsu, sedangkan Sukma letaknya berada di dalam nafsu.

Artinya;
Sukma, itu empat anasir yang belum manunggal/menyatu dengan Hidup, karena ada didalam nafsu, jadi, dikuasai oleh nafsu.
Sedangkan…
Jiwa, itu empat anasir yang sudah manunggal/menyatu dengan Hidup, jadi, nafsunya ada di luar, karena posisinya tergantikan oleh Hidup.

Sebab itu, Sukma di umpamakan seperti katak berselimut lubang, (kodhok kinemulan ing leng) atau wit jroning wiji (pohon ada di dalam biji).

Sedangkan jiwa umpama seperti katak menyelimuti lubang (kodhok angemuli ing leng) atau wiji jroning wit (biji ada di dalam pohon).

Paham kan… Kemana arah penjelasan dari saya Wong Edan Bagu…?!

Pengalaman menyadarkan saya, bahwasannya, pengetahuan itu datang secara bersamaan dengan munculnya kesadaran subyek terhadap obyek.

Maka pengetahuan mengenai kebenaran Tuhan akan diperoleh setiap seseorang bersama dengan penyadaran diri dari orang itu sendiri. (Sepiro lakumu yo semono olehe) seberapa spiritualmu ya segitu hasilnya.

Saran dari saya Wong Edan Bagu, Jika ingin mengetahui Tuhan-mu, ketahuilah terlebih dahulu dirimu sendiri, sebab karena Tuhan berfirman tentang hal itu;
“Barang siapa yang ingin mengenal-Ku, maka kenalilah dirimu sendiri”
“Barang siapa mengenal nafs (diri) nya, maka dia mengenal Tuhan nya”
“Barang siapa yang mencari Tuhan keluar dari dirinya sendiri, maka dia akan tersesat semakin jauh”

Kemampuan intuitif ini, sebenarnya sudah ada sejak awal penciptaan, dan akan munculnya bersamaan dengan aktifnya kesadaran dalam diri seseorang.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, sadarilah, bahwa kehidupan di dunia ini sesungguhnya adalah mati.

Mengapa saya katakan demikian…?!
He he he . . . Edan Tenan.

Sebab karena di kehidupan di dunia inilah, ada surga dan neraka yang tidak bisa ditolak oleh makhluk apapun dan manusia manapun.

Manusia yang mendapatkan surga, adalah mereka yang mendapatkan rasa tentram, kebahagiaan, ketenangan, kesenangan, kenyamanan.

Jika seorang manusia kehidupannya mulia, sehat, cukup pangan, sandang, papan, maka ia dalam surga.

Sebaliknya mereka yang perasaaanya bingung, kalut, muak, takut, risih, menderita, itulah neraka.

Jika seorang manusia kehidupannya melarat/miskin, tertekan, terhimpit, penyakitan, kelurangan pangan, sandang, papan, maka ia dalam neraka.

Akan tetapi kesenangan atau surga, penderitaan atau neraka di dunia ini, bersifat sementara atau sekejap saja, karena betapapun juga manusia dan semua sarana kehidupannya, pasti akan menemui kehancuran.

Karena kehidupan di dunia ini adalah kematian, berarti semuanya itu adalah mayat, buktinya tidak bisa menyadari dan merasakan hidupnya yang seumur hidupnya menjadikan dia bisa itu dan ini serta bla bla bla lainnya.

Manusia itu sesungguhnya mayat yang gentayangan untuk mencari pangan, pakaian dan papan serta mengejar kekayaan yang dapat menyenangkan jasmaninya.

Manusia bergembira atas apa yang ia raih, yang memuaskan dan menyenangkan jasmaninya, mereka tidak sadar, bahwa semua dan segala kesenangan yang dicari atau yang dimilikinya itu akan binasa.

Mereka begitu angkuh dan sombong serta bangga atas kepemilikan, tetapi tidak menyadari bahwa dirinya adalah bangkai mayat.

Manusia justru merasa dirinya mulia dan bahagia, karena manusia tidak menyadari bahwa harta bendanya merupakan penggoda manusia yang menyebabkan keterikatannya pada dunia, jika manusia tidak menyadari itu semua, hidup yang sesungguhnya adalah mewah dan luar biasa ini, berubah menjadi derita. Ingat…!!!

Hidup di dunia ini adalah mati, tempatnya surga dan neraka, baik dan buruk, sakit dan sehat, mujur dan celaka, bahagia dan tenteram, semua bercampur aduk menjadi satu, dengan adanya ikatan peraturan-peraturan itu, maka manusia menjadi terbebani belenggu sejak lahir hingga mati.

Laku Murni Menuju Suci, dengan mempraktekan atau menjalankan Wahyu Panca Ghaib menggunakan Kesadaran Wahyu Panca Laku.

Adalah upaya atau usaha terdekat dan tercepat bagi seluruh makhluk untuk hidup yang abadi dan agar supaya tahan mengalami dan menjalani kehidupan di dunia ini, apapun prosesnya, hingga sampai ada titik sempurna/mukswa/mosca.

Yakni; curigo manjing warongko – warongko manjing curigo. He he he . . . Edan Tenan.

Hidup di dunia ini mati, karena mati itu hidup, hidup yang sesungguhnya adalah, ketika manusia bebas dari segala beban dan derita, sebab hidup sesudah kematian inilah, hidup yang sejati, hidup yang sesungguhnya dan abadi.

Sebab karena itu, dengan Laku Murni Menuju Suci, yaitu; Wahyu Panca Ghaib yang di jalankan dengan menggunakan kesadaran Wahyu Panca Laku, jangan ragu apa lagi takut menghadapi dogma-dogma tentang neraka serta mengalami bujuk rayu tentang surga, saya berani jamin pasti bisa terbebas dari belenggu raga, akal angan budi pekerti, pada jiwa.

Sebab karena dogma-dogma surga neraka inilah, manusia menjadi terkungkung rutinitas lalu lupa diri dan gagal paham dalam upaya menemukan Tuhan-nya, agar supaya bisa Inna lillaahi wa Inna ilaihi Raji’un.

Surga dan neraka adalah dalam kehidupan di dunia ini, bukan merupakan balasan yang diberikan kepada manusia atas amal perbuatannya yang bakal diterima kelak sesudah kematian (akherat).

Jadi…
Sangat tidak tepat jikalau mengerjakan atau melakukan atau menjalankan ibadah, mengharap-harap surga dan terhindar dari neraka.

Berdoa minta apa, minta rizki…?! Tuhan tidak memberikam rizki lantaran berdoa kan…!!!

Surga dan neraka, susah dan senang, letaknya pada diri manusia masing-masing.

Walaupun seseorang bergelimang harta, hidupnya belum tentu bahagia, buktinya merasa selalu terancam oleh para pesaing bisnisnya, tidur tak nyeyak, makan tak enak, jalan pun gelisah, itulah neraka.

Sebaliknya, seorang petani di lereng gunung terpencil, hasil bercocok tanam, cukup untuk makan sekeluarga, menempati rumah kecil yang tenang, tiap sore dapat duduk bersantai di halaman rumah sambil memandang hamparan sawah hijau, hatinya sesejuk udaranya, tenang jiwanya, itulah surga.

Kehidupan di dunia ini telah memberi manusia mana surga dan mana neraka.

Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasihku sekalian, alam semesta ini, adalah sebagai makrokosmos dan mikrokosmos, sekurang-kurangnya kedua hal ini merupakan barang baru ciptaan Tuhan, yang sama-sama akan binasa, akan mengalami kerusakan, tidak kekal dan tidak abadi.

Sedangkan Manusia terdiri atas jiwa dan raga, yang intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan Dzat Maha Suci Hidup yang lebih di kenal sebagai Tuhan.

Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yang dilengkapi pancaindera, sebagai organ tubuh seperti daging, otot, darah, dan tulang.

Semua aspek keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman yang suatu saat, setelah manusia terlepas dari kematian di dunia ini, akan kembali ke asalnya masing-masing.

Aku bukanlah kehendak angan-angan, bukan ingatan, pikiran atau niat, hawa nafsu pun bukan, bukan pula kekosongan atau kehampaan.

Setelah Laku Murni Menuju Suci, penampilanku sekarang ini, adalah sebagai wujud bentuk mayat baruku.

Seandainya Aku menjadi gusti, tentu jasadku ini menjadi busuk bercampur debu, nafasku terhembus di segala penjuru dunia, tanah, api, air, kembali sebagai asalnya, yaitu kembali menjadi baru.

Semua yang berasal dan milik Tuhan, kembali kepada Tuhan menjadi Tuhan lagi. Sempurna. Tan kenaning owah gingsir. Abadi. Mulih Marang Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi. Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un. He he he . . . Edan Tenan.

Salam Se-Tuhan Penuh Cinta Kasih Sayang dari dalam Lubuk hati saya WEB yang paling dalam. Selamat🙏Selamat🙏Selamat🙏 Rahayu🙏Rahayu🙏Rahayu🙏Damai🙏Damai🙏 Damai🙏 Tenteram🙏
Saya❤️
Wong Edan Bagu❤️
Ngaturaken Sugeng Rahayu🙏
lir Ing Sambikolo🤝
Amanggih Yuwono🤝
Pinayungan Mring Ingkang Maha Suci🙏
Basuki❤️
Yuwono❤️
Teguh❤️
Rahayu❤️
Slamet❤️🙏❤️
BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏Om Shantih Shantih Shantih Om – Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu🙏
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Iklan