HAKIKAT HIDUP Loro-Loroning Atunggil:


HAKIKAT HIDUP Loro-Loroning Atunggil:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul. 19:34. Hari Sabtu. Tanggal 9. Februari 2019.

Kita sama-sama sadar dan percaya, bahwa di bumi nusantara, tempat dimana kita tinggal ini, sangat kaya akan ilmu spiritual, tetapi ironisnya, banyak yang gagal paham dalam pencapaian spiritualitas, yang berhasil, malah justru orang-orang pendatang dari luar Nusantara.

Contohnya…
Semua orang bersemangat untuk memeluk agama, ketika agama itu datang tersaji, akan tetapi, gagal dalam menjadi agama itu.

Wajah negeri yang dahulu dicap sebagai negeri multi agama, multi etnis, multi kultur tetapi solid bersatu di atas slogan Bhineka Tunggal Ika, karena rakyatnya memiliki watak toleransi.

Negeri yang subur makmur gemah ripah loh jinawi rapah repeh rapih.

Lautan diumpamakan kolam susu, dan dikiaskan bahwa tongkat kayu pun dapat tumbuh karena saking suburnya tanah daratan.

Hawanya sejuk, banyak hujan, kaya akan hutan belantara sebagai paru-paru dunia.

Hampir tak ada bencana alam; tanah longsor, banjir, gempa bumi, angin lesus atau badai topan, kebakaran, kekeringan.

Tetapi realitasnya di masa kini sangat kontradiktif, justru kita semua sering menyaksikan di media masa maupun realitas obyektif sosial-politik sehari-hari.

Negeri ini telah berubah karakter menjadi negeri yang berwajah beringas, mengerikan, angker, berapi-api, anti toleran, waton gasak, asal sikat, nafsu merusak dan menghancurkan bahkan membunuh, sangat semangat untuk menebar kebencian di mana-mana.

Sangat disayangkan justru dilakukan oleh para sosok figur yang menyandang nama sebagai panutan masyarakat, pembela agama, dan juru dakwah yang memiliki banyak pengikut.

Ini sungguh berbahaya, karena semakin dekat dan cepat membawa negeri ini ke ambang kehancuran fatal.

Alam pun turut bergolak, seolah tidak terima diinjak-injak penghuninya yang hilang sifat manusianya.

Sehingga bencana dan musibah datang silih berganti, tiada henti, bertubi-tubi membuat miris penghuni negeri ini.

Lantas di mana wajah negeri impian yang tentram, damai, subur, sejuk, makmur tempo dulu…?!

Apakah ini sudah benar-benar hukuman atau bebendu dari Dzat Maha Suci Hidup, atau Hukum Alam atau Karma Alam atau Manusia nya itu sendiri…?!

Sebagaimana sudah diperingatkan oleh para leluhur kita yg bijaksana dan waskita sejak masa silam, masihkah kita akan mengingkari nasehat tersebut, dengan mengatasnamakan kebenaran, namun kita tidak pernah BerKebenaran…?!

Jangan serta merta menganggapnya sebagai ramalan yang tidak boleh dipercaya, karena dekat dengan syirik dan musyrik.

Tidak kah kita sadari, bahwa sikap seperti itu justru menjauhkan kita dari watak arif dan bijaksana.

Namun apapun kisahnya, musibah, bencana, wabah, dan seterusnya, tengah melanda negeri ini sekarang, masih kita berkutat di pemikiran itu…?!

Bersegeralah Praktek memPraktekan kebenaran, waktunya sudah hampir habis.

Sembari menyadari bahwa semua ini adalah kekuasaan Dzat Maha Suci Hidup/Tuhan.

Karena hanya dengan demikian, akan menambah kesadaran kita, dan dapat menjadi sarana instropeksi diri, dan otokritik yang bijak, agar kita lebih pandai mensyukuri nikmat dan anugrah Tuhan.

Sebaliknya anggapan bahwa ini semua sebagai cobaan dan ujian bagi keimanan kita, merupakan pendapat yang terlalu naif, innocent.

Kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan menjadi ndableg, lancang, kurang waspada dan tidak eling.

Sejak kapan kita bisa mengukur keimanan kita…?!

Parameter apa yang dipakai untuk mengukurnya…?!

Seberapa persen keimanan kita hanya dapat diukur dengan perspektif yang hanya Tuhan miliki.

Kita menjadi sok tahu, teralu percaya diri dengan tingkat keimanan kita, lalu oper dosis, jadinya sombong “aja dumeh eling lan waspada” jangan sok ingat dan waspada, karena begitulah awalnya manusia menjadi keblinger.

Selalu ingin mencari menangnya sendiri, mencari benernya sendiri, mencari butuhnya sendiri, tanpa peduli dengan yang lain di sekitarnya.

Manusia seperti itu tidak akan pernah bisa menyadari sesungguhnya Aku dirinya, sehingga prakteknya menyembah angen-angen/angan-angan.

Itulah makna dari apa yang disebut Penyekuan Tuhan, yakni nuruti RAHSANING KAREP (nafsu).

Merasa sudah tinggi ilmunya, padahal ilmunya tidak mumpuni, buktinya bukan Wahyu Panca Laku yang terpraktekan, namun ego pamrih yang di tonjolkan, merasa sudah sampai di puncak spiritual, namun hasilnya mencela, mengkritik, mencari-cari kesalahan orang lain, dan masih gemar menebar kebencian, bukan cinta kasih sayang.

Bukankah Ilmu Tuhan itu ibarat air laut yang mengisi seluruh samudra di jagad raya ini…!!!

Sedangkan ilmu manusia hanya setetes air laut itu…!!!

Dan dari setetes air laut itu, sudah seberapa persenkah yang kita miliki…?!

Mari kita sama-sama membuka pintu hati tanpa batas, menuju kemanunggalan, penyatuan, kesatuan, bukan perpisahan apapun bentuk alasannya, karena semua itu berasal dari 1.

Satu ciri khas orang yang tidak gagal paham alias bisa mampu memahami Hakikat Hidup adalah;
Terus tetep idep madep mantep belajar Patrap Semedi tanpa merasa sudah bisa.

Mematrapkan Wahyu Panca Ghaib dengan menggunakan Wahyu Panca Laku tanpa merasa lulus dan terus menerus membuka diri “welcome” untuk semua dan segala hal, karena semua dan segala hal itulah Sang Guru yang paling luar biasa.

Untuk memudahkan kita “Lebur Dening Pangastuti, menyatu/bersatu dengan hakikat dzat Tuhan, Dalam peleburan itu, nurani/kesadaran akan mentransformasi sifat hakikat dzat Tuhan.

Sehingganya…
Terbukalah pintu hakikat kemanunggalan atau penyatuan antara Hidup dan Maha Hidup, sebagai wujud bukti dari makna “dwi tunggal atau loro-loroning atunggil. He he he . . . Edan Tenan.

Salam Se-Tuhan Penuh Cinta Kasih Sayang dari dalam Lubuk hati saya WEB yang paling dalam. Selamat🙏Selamat🙏Selamat🙏 Rahayu🙏Rahayu🙏Rahayu🙏Damai🙏Damai🙏 Damai🙏 Tenteram🙏
Saya❤️
Wong Edan Bagu❤️
Ngaturaken Sugeng Rahayu🙏
lir Ing Sambikolo🤝
Amanggih Yuwono🤝
Pinayungan Mring Ingkang Maha Suci🙏
Basuki❤️
Yuwono❤️
Teguh❤️
Rahayu❤️
Slamet❤️🙏❤️
BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏Om Shantih Shantih Shantih Om – Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu🙏
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Terima Kasih🤝❤️🤝
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Iklan