CARA MELIHAT TUHAN:

CARA MELIHAT TUHAN (Exclusive dari WEB) Khusus Dewasa:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 0:05. Hari Minggu. Tanggal 30 Juli 2018.

Para Kadhang Kinasih-ku sekalian, pada kesempatan waktu kali ini, saya WEB, akan membagikan pengetahuan yang sesungguhnya bersifat pribadi.

Namun, karena Hidup itu melampaui semua dan segalanya, maka, tanpa ragu sedikitpun, saya bagikan yang satu ini secara umum, untuk diambil hikmahnya/hakikatnya secara universal, dan agar supaya tidak gagal paham, bacalah dengan kesadaran niyat belajar hingga selesai, jika perlu berulang kali.

Para Kadhang Kinasih-ku sekalian, sadarilah…

Tuhan itu benar-benar Maha Luas, dalam segalanya Dia tiada batas, maka, tidak lah berlebihan jika saya WEB, menganalogikan, bahwa kebenaran sejati itu, layaknya cermin yang pecah berantakan.

Kepercayaan atau keyakinan, agama, ajaran, tuntunan, budaya, ilmu pengetahuan, adat tradisi dll, masing-masing hanyalah memungut satu di antara serpihan cermin tersebut.

Empat dimensi (dimensi ruang ditambah dimensi waktu), yang pernah saya uraikan dalam artikel tahun 2016 yang lalu, berjudul; Perjalanan Menuju Kesempurnaan Mati Dan Hidup, sesungguhnya itu hanya ada di dalam dimensi wadag/wujud/fisik bumi/dunia ini.

Sedangkan didalam ghaib itu sendiri, menyimpan misteri yang Maha Luas dan tanpa batas, Dahsyat serta tak terhingga.

Karena didalam ghaib, sudah tidak ber-ruang lagi, dan di dalamnya, tidak lagi berlaku ruang dan waktu, tidak lagi ada jarak yang berlaku.

Itulah hakikat dari dimensi cahaya atau nur, bahkan kecepatan nyapun, melebihi kecepatan cahaya/nur.

Sehingganya, untuk bisa mencapai pergerakan maksimum di dimensi ruang, maka pergerakan di dimensi waktu harus nol, pada kondisi inilah, kecepatan benda menempuh dimensi ruang bisa maksimal.

Sesuai dengan teori relativitas khusus, bahwa kecepatan maksimal, adalah kecepatan cahaya.

Didalam Laku Murni Menuju Suci,
sesegera mungkin, kita akan menyadari, bahwa cahaya, sama sekali tidak bergerak pada dimensi ruang dan waktu, dengan kata lain, photons/foton tidak berumur.

Photons atau Foton yang dihasilkan semenjak alam semesta terbentuk sampai sekarang ini, umurnya tetap sama.

Ini terkait dengan salah satu formula teori relativitas khusus yang sangat terkenal; E=mc2, di mana E adalah energi, m adalah massa, dan c adalah konstanta kecepatan cahaya.

Formula tersebut, menjelaskan relasi langsung antara energi-massa (konservasi energi-massa).

Sebuah objek dengan massa m, bisa menghasilkan energi E sebesar mc2; dan karena c sebuah konstanta yang besar, massa yang kecil tetap akan menghasilkan energi yang besar.

Coba pikirkan dengan sadar, lalu kita renungkan dengan kesadaran.

Hiroshima tahun 1945, hancur akibat energi yang dihasilkan 1yari 2 pounds Uranium.

Di sisi lain, formula ini, memainkan peranan penting dalam pergerakan objek dalam 4-dimensi, benda yang bergerak memiliki energi kinetik, semakin tinggi kecepatannya, semakin besar energinya.

Saat kita paksa partikel muon mencapai kecepatan 99,9 kecepatan cahaya, muon memiliki energi yang besar.

Karena konservasi energi-massa, energi tadi meningkatkan massa muon 22 kali lebih massif daripada massa-diamnya (0.11 MeV).

Tentu saja semakin masif (pejal) benda, semakin susah untuk bergerak cepat.

Ketika kecepatannya dinaikkan menjadi 99,999 kecepatan cahaya, massanya bertambah 70.000 kali.

Muon semakin masif dan semakin cenderung untuk tidak bergerak, sehingga dibutuhkan energi yang tak berhingga untuk melewati kecepatan cahaya.

Jumlah energi yang tidak mungkin bagi sesuatupun yang ada di alam semesta ini.

Kecuali Jumlah Energi Sang Empu-Nya, yaitu; Dzat Maha Suci Hidup.

Roh Suci atau Ruh Kudus yang sering saya sebut sebagai Hidup atau Guru Sejati adalah “abadan cahaya atau nur atau cahya sejati”

Sehingganya, bagi Hidup, ke manapun Dia pergi, tidak membutuhkan ruang dan waktu lagi.

Ini pernah saya buktikan di TKP ketikan saya masih asyik berada di dalam dimensi keilmuan atau kasukman.

Kecepatan Hidup melesat dari satu tempat ke tempat lain, ketika saya meraga sukma, hanya memerlukan hitungan detik saja, dan mohon maafkan, ini hanya sekedar untuk menggambarkan, betapa di wilayah “ghaib” merupakan wahana cahaya, yang tidak menggunakan hitungan dimensi ruang dan waktu lagi.

Namun demikian, cahaya atau cahya sejati atau nur ilahi, masih belum hakikat Dzat Maha Suci Hidup, ia masih makhluk (ciptaan/retasan Dzat Maha Suci Hidup), sehingga tak bisa dibayangkan lagi bagaimana kecepatan Tuhan.

Mungkin beribu atau bermilyar kali lipat dari kecepatan cahaya, dan hanya sampai di situlah yang bisa dibayangkan oleh manusia pada umumnya.

Di atas cahya sejati (nurullah) adalah atma atau energi hidup/chayyu/kayun/kayu. Energi Hidup yang kecepatannya jauh melebihi cahaya, dan coba kita renungkan, betapa wownya…?!

Namun Atma sejati atau energi hidup ini, masih belumlah “intisaripati”, karena atma masih di dalam rengkuhan Hyang Dzat Maha Suci Tuhan.

Namun hal ini, setidaknya dapat terbuktikan, melalui Laku Murni Menuju Suci yang sensasional, yang membeberkan “rahasia besar” bahwa leluhur di alam barzah, sekalipun sudah mencapai derajat kamulyan yang paling tinggi (kamulyan sejati/abadan cahya sejati), belumlah bisa melihat/bertemu “wujud” Hyang Dzat Maha Suci Tuhan. Artinya; Belum Sempurna.

Para Kadhang Kinasih-ku sekalian.
Hyang Dzat Maha Suci Tuhan, tidak sesederhana itu.

Karena Hyang Dzat Maha Suci Tuhan itu…

Lebih-LEBIH dari sekedar Maha.
Lebih-LEBIH dari sekedar Suci.
Lebih-LEBIH dari sekedar Mulia.
Lebih-LEBIH dari sekedar Agung.
Lebih-LEBIH dari sekedar Kuasa.
Lebih-LEBIH dari sekedar Ghaib.
Lebih-LEBIH dari sekedar yang bisa di bayangkan dan di pikirkan oleh makhluknya.

Tidak sekedar sebagaimana yang manusia bayangkan melalui kitab-kitab suci yang ada.

Semakin manusia mengetahui kebesaran Tuhan, manusia semakin merasa tidak bisa membayangkan Tuhan itu seperti apa sesungguhnya.

Namun yang di luar bayangan imajinasi kita itu, tersebut Hidup, sungguh ada melekat di dalam diri kita, dalam diri manusia apapun agama, bahasa dan suku bangsanya.

Semakin manusia tahu Tuhan, semakin merasa kecil dan menundukan diri, jauh dari watak adigang adigung adiguna (mentang-mentang), jauh dari sifat iri, dengki, dendam, benci, fitnah, jauh dari sikap merasa paling benar, apapun yang menjadi sumber referensinya.

Melihat-Menyaksikan Tuhan yang saya maksudkan dalam artikel ini, hanyalah sekedar untuk pembuktian ilustratif saja, tentang bagaimana kemampuan manusia dalam menyaksikan/mengetahui/melihat/bertemu Tuhan-nya, sesuai pengetahuan pribadi saya di dalam Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman.

“CARA MELIHAT TUHAN”
Sebagai Berikut;
Bola Mata wadag kita bisa melihat suatu obyek yang berada di luar mata kita.

Namun…
Apakah bola mata kita bisa melihat apa yang ada di dalam bola mata kita sendiri…?!

Maka hanya dengan “rahsa” lah kita bisa “merasakan” apa yang ada di dalam bola mata kita sendiri.

Tuhan hanya bisa kita rasakan dengan “rahsa”, karena itulah kemampuan manusia hidup dalam “melihat” menyaksikan Tuhan-nya.

Tapi bukan sekedar rahsa pada umumnya, kalau hanya sekedar rahsa, semua manusia hidup, yang belum mati, punya rahsa.

Dan rahsa yang saya maksud adalah;
Rahsa Yang Berkesadaran Murni. Rahsa Yang Tidak Ternodai Oleh Apapun. Rahsa Yang Tidak Termelekati Oleh Apapun.

Seperti yang sudah sering saya uraikan di ratusan artikel saya di internet.

Kesimpulannya;
Untuk bisa merasakan Tuhan, kita harus memurnikan “rahsa” kita dengan kesadaran, semakin murni kesadarannya, semakin jelas Wujud Tuhan-nya, semakin jelas wujud Tuhan-nya, semakin terlihatlah, sehingga kita bisa menyaksikannya secara nyata, bukan khayalan dan bukan bayangan andai-andai katanya. He he he . . . Edan Tenan.

Mungkin Ada Yang Bertanya;
Apakah semudah itu…?!

Jawabannya. Ya!
Jika mau.

Secara lelaku ilmu atau keilmuan, sangat lah tidak semudah itu, karena untuk bisa melihat atau menyaksikan Tuhan (Ma’rifatullah) harus di mulai dari pengenalan jati diri atau diri sejati atau diri sebenar- benarnya diri.

Namun tidak dengan Laku Murni Menuju Suci atau Tobat Iman, karena dengan Tobat Iman atau Laku Murni Menuju Suci, bukan kita lagi yang Mengenal Tuhan, tapi Tuhan itu sendiri yang akan memperkenalkan Diri-Nya kepada kita.

Mungkin ada lagi yang Bertanya;
Sebenarnya Dzat Maha Suci Tuhan itu apa sih Wong Edan Bagu…?!

Dalam pendekatan rasio, dikenal suatu hukum alam, yang lebih populer dengan sebutan sebagai hukum sebab akibat atau karma, maka Dzat Maha Suci Tuhan adalah penyebab utama karma tanpa ada yang menyebabkan eksistensi-Nya.

Jika pendekatan melalui teori energi, maka Dzat Maha Suci Tuhan merupakan Episentrum dari segala episentrum dan energi yang ada di jagad semesta.

Soal Tuhan mana yang paling benar, atau sebutan nama Tuhan yang palsu apa…?!

Apakah Allah, Alloh, Tuhan, Pi khong, Brahman, God, Puang Alah, Yahweh, Dei dan seterusnya, itu soal kesadaran murni nya masing-masing penyebut. Namun, jika harus berbicara dalam konteks rasio, semua itu tentu saja masih berupa kebenaran yang bersifat relatif.

Karena nama-nama itu berkaitan dengan sistem budaya, yakni, bahasa sebagai alat komunikasi yang digunakan manusia.

Logikanya sebelum manusia mengenal bahasa, maka konsep nama-nama di atas, tentunya belum ada, dengan kata lain, causa prima (tuhan) belum punya nama apapun.

Jika uraian saya di atas ada yang menganggap statementnya kapir atau kopar, maka yang menjadi pertanyaannya;
Apakah gara-gara salah menyebut nama untuk Tuhan, maka akan mengakibatkan seseorang kecemplung neraka…?!

Bukankah kita semua ini memeluk salah satu agama, hanya karena faktor kebetulan saja, dan tak lebih karena faktor keturunan (warisan) orang tua kita.

Nah, apakah hanya faktor kebetulan, faktor keturunan, dan warisan orang tua tersebut, bisa menentukan seseorang masuk neraka atau surga…?!

BONUS;
~UNTUK DI RENUNGKAN~
“Kemanapun kamu menghadap maka disitulah wajah-Ku”
“Aku lebih dekat… daripada urat leher…”
“Barang siapa yang mencari-Ku keluar dari dirinya sendiri, maka dia akan tersesat semakin jauh”
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku”

1. Man Arofa Nafsahu Faqod Arofa Robbahu;
Barang siapa mengenal nafs (diri) nya, maka dia mengenal Tuhan nya.

2. Wa Man Arofa Robbahu Faqod Jahilan Nafsahu;
Barang siapa mengenal Tuhannya maka dia merasa bodoh.

3. Man Tolabal Maulana Bigoeri Nafsi Faqoddola Dolalan Baida;
Barang siapa yang mencari Tuhan keluar dari dirinya sendiri maka dia akan tersesat semakin jauh.

4. Iqro Kitab Baqo Kafa Binafsika Al Yaoma Alaika Hasbi;
Bacalah kitab yang kekal yang berada di dalam diri kalian sendiri.

5. Allahu Bathinul Insan Al Insanu Dhohirullah;
Allah itu bathinnya manusia, manusia adalah dhohirnya (kenyataannya) Allah.

6. Al Insanu Siri Wa Ana Siruhu;
Rahasia kalian adalah rahasia-Ku.

7. Laa Yarifallaahu Ghoirullah;
Yang mengenal Allah hanya Allah.

8. Aroftu Robbi Bi Robbi;
Aku mengenal Tuhan melalui Tuhan.

9. Maa Arofnaka Haqqo Ma’rifataka;
Aku tidak mengenal Engkau, kecuali sampai sebatas pengetahuan yang Engkau perintahkan.

Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.

Apabila ia mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya di dalam diri-Ku.

Dan apaila ia mengingat-Ku (menyebut nama-Ku) dalam suatu perkumpulan manusia, maka Aku akan menyebut namanya di dalam suatu perkumpulan yang lebih baik dari perkumpulannya.

Apabila ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya se-hasta, dan apabila ia mendekat kepada-Ku se-hasta maka Aku akan mendekat kepadanya se-depa.

Dan apabila ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari-lari kecil”

Silahkan Merenung Sendiri.
Saya 💓Wong Edan Bagu💓 Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai🙏Damai🙏 Damai🙏Selalu Tenteram🙏 Sembah nuwun🙏Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono🙏inayungan Mring Ingkang Maha Agung.Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet🙏 BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏 Aaamiin🙏Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s