Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asal Mulanya Kejadian Dengan Ketentraman Yang Sempurna. Bagian Kesatu:

Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asal Mulanya Kejadian Dengan Ketentraman Yang Sempurna. Bagian Kesatu:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Pukul: 21:00. Hari Senin. Tanggal 16 Juli 2018.

Para Kadhang Kinasih-ku sekalian.
Pulang kerumah kesejatian dengan ringan dan riang adalah suatu kebahagia’an yang tak tergambarkan indahnya.

Kebanyakan orang berpendapat banyak tentang kapan kematian datang menjelang, bahkan kitabnya pun, dibuat untuk membahas hal tersebut.

Pertama, kenapa harus repot-repot memikirkan kapan ajal menjemput…?!

Apa pentingnya…?!
Apa manfaatnya…?!

Jika kita bertanya pada para psikolog apa lagi orang awam pada umumnya, maka mereka akan selalu menyebut pikiran semacam itu, adalah sebagai kekhawatiran yang tidak wajar.

Kenapa harus repot-repot berpikir tentang kematian…?!

Hindari berpikir semacam itu, terus percayai bahwa kematian tidak akan datang, setidaknya tidak padamu, kematian selalu datang pada orang lain yang sedang sial/apes.

Kita telah melihat banyak orang mati, tetapi kau belum pernah melihat dirimu sendiri mati bukan…?!

Jadi…
Kenapa mesti takut…?!
Begitulah Jawaban Mereka.

He he he . . . Edan Tenan, oke,,, kita mungkin saja perkecualian yang tidak akan tersentuh oleh kematian, tetapi faktanya, tidak ada satu pun yang tidak tersentuh oleh kematian bukan…!!!

Bahkan kematian sudah terjadi sejak kelahiran manusia pada umumnya, jadi, tidak ada jalan bagi siapapun untuk menghindarinya.

Sekarang kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk kelahiran kita, ia berada di luar jangkauan kita, kelahiran kita sudah terjadi, tetapi kematian kita belum terjadi.

Artinya kita masih bisa melakukan sesuatu untuk menghadapinya.

Semua agama yang ada di dunia ini, bergantung pada gagasan tentang kematian, karena kematian adalah sesuatu yang akan terjadi dan masih ada kemungkinan untuk menghadapinya dengan benar.

Jika kita tahu kapan kita akan mati sebelum ajal itu benar-benar menjemput kita, maka kematian akan memberikan sesuatu yang agung kepada kita.

Banyak pintu kehidupan yang indah terbuka bagi kita, dan kita akan bisa menghadapi kematian itu dengan cara kita sendiri yang unik, dan lagi, kita tidak perlu terlahir kembali ke dunia ini. He he he Edan Tenan.

Itulah inti ajaran semua agama-agama dan kepercayaan yang ada di dunia ini, namun jalan dan caranya, tidak satupun agama dan kepercayaan bisa menemukannya.

Jadi…
Bagi peLaku Murni Menuju Suci, pemikiran tentang kematian, bukanlah sebagai kekhawatiran yang berlebihan.

Namun bagi Para peLaku Murni Menuju Suci, pemikiran dan gagasan tentang kematian, justru sangatlah penting dan berharga.

Karena ketika kita bisa melihat kematian dengan jelas ada di sekitar kita, maka sungguh bodoh jika kita tidak berpikir dan merenung tentang kematian.

Kematian akan datang menjemputmu. Itu pasti.

Dan saya WEB, berani menegaskan, kita bisa mengetahui harinya, jamnya, menitny adan detik kematian kita sendiri, kapan waktunya ia datang.

Jika kita mengetahui kapan kita mati, maka kita akan bisa bersiap menyambutnya.

Kematian semestinya disambut sebagai seorang Tamu Agung, kematian bukanlah musuh, sebaliknya, ia adalah hadiah yang sangat berharga, ia adalah sebuah kesempatan yang mestinya tidak kita lewatkan.

Kematian bisa menjadi sebuah lompatan besar, jika kita bisa menghadapinya dengan penuh kesadaran, maka kita tidak perlu lagi untuk terlahir kembali di dunia ini, dan kita tak akan pernah tersentuh oleh kematian lagi.

Tapi jika kita melewatkan kesempatan itu, maka kita akan terlahir lagi dan lagi ke dunia ini sampai kita sepenuhnya memahami pelajaran yang diberikan oleh kematian tersebut.

Seluruh Kehidupan ini, pada hakekatnya, tidak lain dan tak bukan, adalah sebuah pembelajaran untuk menghadapi kematian dan sebuah persiapan untuk menghadapi kematian.

Itulah mengapa kematian datang di akhir hayat.

Karena ia merupakan puncak dan klimaksnya dari seluruh proses perjalanan hidup.

Sebagai contoh nyata;
Disuatu ketika, saya pernah sampai, pada sebuah pengalaman, di dalam sebuah kegiatan seks, ketika saya berhasil mencapai sebuah puncak klimax dengan kesadaran penuh, sebuah orgasme agung yang benar-benar menyegarkan dan memberikan kepuasan yang begitu dalam, saya dapatkan dengan penuh kesadaran pula.

Setelah menikmati orgasme yang berhasil saya sadari itu, saya terbersihkan dan tersucikan, salah satu buktinya, saya menjadi muda kembali, menjadi segar kembali.

Semua debu-debu kerendahan di dalam diri saya, larut seolah-olah saya baru saja lahir dan mandi dengan menggunakan pancuran energi.

Tetapi para psikolog tersebut, terutama manusia-manusia awam yang beranggapan kematian itu tidaklah penting, namun ketakutan akan mati mencekam mereka, mereka belum sampai pada pemahaman.

Bahwa;
Sesungguhnya, kepuasan yang bisa didapat dari kegiatan seks sadar semacam yang sudah saya contohkan diatas, adalah miniatur dari orgasme, yang bisa dirasakan saat kematian.

Kita bisa merasakan orgasme ilahi, jika kita mati dalam keadaan hati kita penuh dengan kesadaran cinta kasih sayang Dzat Maha Suci Hidup.

Jadi…
Orgasme yang didapat dari kegiatan seks tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan orgasme yang bisa kita dapat dari kematian, yang kita hadapi dengan penuh kesadaran, karena kematian merupakan orgasme terAgung yang bisa kita alami dalam sepanjang sejarah proses kehidupan di dunia ini.

Kematian adalah pengalaman yang begitu intens, yang membuat hampir semua orang pada umumnya kehilangan kesadaran saat menghadapinya.

Karena ketika kita berhadap-hadapan langsung dengan kematian, kamu begitu takut, begitu gelisah dan berusaha menghindari pengalaman tersebut, sehingga kamu melewatkan pengalaman tersebut dalam ketidak-sadaran, sungguh meruginya orang-orang yang demikian itu.

Karena itu, saya WEB, berani katakan dengan tegas…!!!

Sembilan puluh sembilan persen, manusia mati dalam ketidak-sadaran, mereka melewatkan kesempatan yang sangat berharga tersebut.

Mengatahui kapan kita akan mati, pada dasarnya hanyalah sebuah metode untuk membantu kita, untuk bersiap, agar supaya saat kematian datang menjemput, kita dalam keadaan sepenuhnya sadar dan menikmati pengalaman yang agung tersebut.

Ketika kita sudah mampu menerima kematian dengan penuh kesadaran, maka tak akan ada lagi kelahiran kembali ke dunia ini, karena semua dan segalanya berHasil Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asal Mulanya Kejadian Dengan Sempurna.

Kita telah sepenuhnya berhasil mengambil pelajaran hidup yang paling utama.

Jadi…
Kita tidak perlu kembali ke sekolah lagi, karena pada hakekatnya hidup ini adalah sebuah sekolahan, tempat untuk belajar tentang kematian. He he he . . . Edan Tenan.

Jadi inti…
Semua agama dan kepercayaan, adalah tentang bagaimana menghadapi kematian, jika ada agama atau kepercayaan yang tidak membicarakan tentang kematian, maka ia bukanlah agama atau kepercayaan “Bisa jadi itu adalah ilmu sosial, ilmu etika dan moralitas, atau bahkan mungkin politik, yang tidak pernah bisa disebut agama atau kepercayaan.

Agama dan kepercayaan pada hakikatnya adalah, sebuah usaha pencarian terhadap sesuatu yang “tak tersentuh oleh kematian”.

Akan tetapi yang tak tersentuh oleh kematian itu, hanya bisa diraih melalui kematian itu sendiri.

Namun jalan dan caranya, tidak perlu menyiksa raga atau melakukan ritual sesaji puja puji yang menghabiskan puluhan juta uang.

Cukup Laku Murni Menuju Suci;
1. Patrap Semedi.
2. Kadhangan.
3. Darma Bakti.

1. Laku Pertama Patrap Semedi; Dengan melakukan Patrap Semedi, kedua jenis karma, baik yang aktif maupun yang tidak aktif, atau pada pertanda maupun isyarat-isyarat yang kita lihat dalam kehidupan kita, maka waktu kematian akan bisa diprediksi dengan tepat dan sempurna.

Ada tiga jenis karma;
Jenis pertama disebut sanchita. Sanchita artinya keseluruhan, keseluruhan dari semua masa kehidupan yang pernah kita jalani.

Apapun yang pernah di lakukan, bagaimana cara kita bereaksi terhadap berbagai situasi yang kita hadapi, apa yang pernah kita pikirkan, inginkan, raih dan lewatkan, semuanya dan keseluruhan dari semua tindakan, pikiran, perasaan di masa kehidupan yang kita lalui disebut, itulah yang disebut Karma Sanchita, yang bisa di sempurnakan.

Atau di Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un kan atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asal Mulanya Kejadian, dengan Laku Pertama yaitu Patrap Semedi.

Jenis kedua disebut prarabdha. Jenis karma kedua ini, adalah, bagian dari sanchita, yang harus kita alami dalam masa kelahiran kita kali ini, kita telah menjalani banyak masa kehidupan.

Dan kita telah mengumpulkan karma sangat banyak, ini dalam masa kelahiran kita kali ini, sebagian dari karma yang telah kita kumpulkan tersebut, harus kita alami dan lewati.

Hanya sebagian dari keseluruhan, karena masa hidup ini terbatas, bisa tujuh puluh, delapan puluh atau mungkin seratus tahun.

Dalam masa seratus tahun, kita tidak bisa mengalami semua karma yang telah terkumpul dari semua kehidupan kita yang lalu, itulah yang disebut Karma prarabdha, yang bisa di sempurnakan.

Atau di Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un kan atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asal Mulanya Kejadian, dengan Laku Kedua, yaitu Kekadhangan.

Dan jenis karma yang ketiga, disebut kriyaman, ini adalah karma harian, yang pertama diatas, adalah karma keseluruhan masa kehidupan, kemudian bagian dari keselurahan yang mesti kita jalani dalam masa kelahiran kita kali ini.

Dan kemudian, yang lebih kecil dari itu, yakni karma yang mesti kita hadapi hari ini atau bahkan saat ini, yaitu Karma kriyaman, di karma ini, setiap saat kita selalu punya kesempatan untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu.

Misal Contoh;
Ada orang yang memaki kita dan kita marah, kita bereaksi, kita melakukan sesuatu, namun jika kita sadar dan kita bisa mengamati amarah kita, maka kita tidak akan marah.

Kita akan tetap tenang mengamati apa yang terjadi, kita tidak beraksi, kita tidak membalas, maka orang yang memaki kita itu, tidak bisa memberikan gangguan apa pun kepada kita.

Jika kita gusar dan beraksi dengan membalas, maka Karma Kriyaman akan masuk kedalam simpanan sanchita.

Maka, lagi-lagi kita mengumpulkan karma untuk masa kehidupan yang akan datang, tetapi jika kita tidak membalas, maka lunaslah karma kita terhadap orang yang memaki kita itu.

Kejadian itu terjadi, karena sudah pasti kita pernah memakinya di masa kehidupan yang lalu.

Dalam hal ini, orang yang sadar, akan senang, karena dia tahu, bahwa paling tidak hutang pituang karmanya dengan orang itu, sudah lunas, dia bisa menjadi sedikit lebih bebas, itulah yang di sebut Karma Kriyaman, yang bisa di sempurnakan.

Atau di Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un kan atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asal Mulanya Kejadian, dengan Laku Ketiga, yaitu Darma Bakti.

Di Kisahkan;
Nabi Muhammad SWA, setiap kali masuk Masjid, selalu ada orang yang meludahi wajahnya, dan beliau berkata “Alhamdulillaah…”
orang yang meludahi itu heran, dan berkata “Dasar orang gila, di ludahi tiap kali masuk masjid, malah berkata Alhamdulillaah, Nabi Muhammad SWA menjawab “Ya, karena aku sudah lama menunggumu dengan kerinduan”

Di Kisahkan;
Sewaktu Yesus disalibkan, IA tidak hanya menanggung siksaan secara fisik, tapi batinNya juga terluka, hatinya tercabik-cabik. Betapa tdk, Yesus mengalami ejekan, olokan, hinaan, hujatan. Yesus diejek oleh para pemimpin agama, Yesus juga diolok oleh para prajurit, bahkan Yesus sampai dihujat oleh penjahat yang ada di sebelahNya, maka lengkaplah sdh penderitaan Yesus.

Namun bagaimana sikap Yesus terhadap semua yang Dia alami…?! “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” Yesus berdoa utk mereka yg sudah mengejek, menghina, mengolok dan bahkan menghujatNya.

Di Kisahkan;
Romo Semono Sastrohadijoyo, di bully, di fitnah, bahkan di penjara karena di tuduh PKI, namun apa yang di lakukan olehNya…?!

Sekalipun beliau seorang yang sakti mandraguna, tiada hentinya Dia mengucapkan Matur Nuwun, dan terus menerus menebar Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci Hidup kepada semuanya tanpa terkecuali, termasuk orang-orang yang membully dan memfitnahnya.

Di Kisahkan;
Seseorang datang dan memaki-maki Buddha, Buddha tetap tenang dan mendengarkan makian orang tersebut dengan seksama dan Ia berkata, “Terimakasih” orang yang memaki-maki itu bingung dan ia berkata, “Apa kamu sudah gila? Aku memakimu, menyakitimu tapi kamu malah mengucapkan terimakasih” Buddha menjawab, “Ya, karena aku sudah lama menunggumu.

Aku pernah memakimu di masa kehidupan yang lalu, dan kini aku menunggumu, kalau kamu tidak datang, maka aku tidak akan bisa sepenuhnya bebas, kau adalah orang terakhir, kini lunas sudah semua hutang-piutang karmaku.

Terimakasih karena sudah datang untuk memakiku, kalau kamu tidak datang untuk memakiku, mungkin aku harus menunggumu sampai masa kehidupan yang akan datang, sekarang sudah selesai semuanya, aku tak akan menciptakan rantai karma lagi.

Dengan begitu, maka Karma Kriyaman atau Karma Harian, tidak akan masuk lagi kedalam lumbung penyimpanan karma dan tidak menambahkan karma apapun padanya.

Sehingga lumbung karma pun menjadi berkurang, begitu juga dengan prarabdha karma yang harus kita hadapi dalam masa kehidupan ini.

Jika kita terus bereaksi dan membalas terhadap segala situasi yang kita hadapi, maka lumbung karma kita akan semakin penuh, kitapun harus lahir lagi dan lagi untuk menghabiskannya, karena kita telah menciptakan terlalu banyak rantai karma dan itu yang akan membelenggu kita dalam siklus kelahiran dan kematian. He he he . . . Edan Tenan.

BERSAMBUNG KE;
Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’un atau Bali Maring Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi Atau Kembali Kepada Asal Mulanya Kejadian Dengan Ketentraman Yang Sempurna. Bagian Kedua:

Saya 💓Wong Edan Bagu💓 Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai🙏Damai🙏 Damai🙏Selalu Tenteram🙏 Sembah nuwun🙏Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono🙏inayungan Mring Ingkang Maha Agung.Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet🙏 BERKAH SELALU Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup🙏 Aaamiin🙏Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️Terima Kasih❤️
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s