Ingin Mengenal Identitas Dirimu…?! Bukalah Hatimu. Lalu Masuklah kedalam Jiwamu. (Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling Bagian Satu):

Ingin Mengenal Identitas Dirimu…?! Bukalah Hatimu. Lalu Masuklah kedalam Jiwamu.
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling Bagian Satu):
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Hari Selasa. Tanggal 29 Mei 2018.

Ingin Mengenal Identitas Diri…?! Jati Diri…?! Diri Sejati…?! Atau Sejatinya Diri…?!

Tidak perlu pergi mengembara jauh dan bayar mahal.

Dimanapu kini berada…
Buka saja Hatimu.
Lalu Masuklah kedalam Jiwamu.

Seperti penggambaran dalam pentas seni Wayang Purwa dalam lakon BIMA SUCI Vs DEWA RUCI. Selesai. He he he . . . Edan Tenan.

Salam Rahayu Para Kadhang dan Para Sedulur Kinasih-ku sekalian masih ingat Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling yang berjudul;
Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Rabb-nya (Tuhan), jelasnya…

Man‘ Arafa Nafsahu, Faqad‘ Arafa Rabbahu “Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Rabb-nya”

Begitulah kurang lebih makna dari sabda Rasulullah SAW tersebut. He he he . . . Edan Tenan.

Heeemmmm…
Apa maksud presisi kalimat tersebut…?!

Seperti apa mengenal diri itu…?! Bagaimana bisa dengan hanya mengenal diri sendiri lalu menjadi bisa mengenal Rabb/Tuhan…?!

Apakah diri ini adalah Rabb/Tuhan…?!

Apakah ini terkait dengan pantheisme—menyatunya wujud Tuhan dan wujud manusia…?!

Pasti itu yang berkecamuk dalam pikiran penalaran mereka yang super relegius.

Mari kita perhatikan sabda Beliau SAW tersebut;
“Man ‘arafa nafsahu” Siapa yang ‘arif akan nafs-nya/jiwa-nya.

Ini sebenarnya bukan sekadar mengenal, tapi ‘arif. ‘Arif akan jiwa-nya. ‘Arif, kurang lebih bermakna sangat memahami, maksudnya paham dengan sebenar-benarnya.

Sedangkan dalam “faqad arafa rabbahu” kata faqad, berarti, maka pastilah, atau sudah barang tentu.

Ada kadar kepastian yang tercakup di sana, jauh lebih pasti derajatnya dari sekedar akan. “Faqad ‘arafa rabbahu” berarti “maka pastilah akan ‘arif tentang Rabb -nya”.

“Siapa yang ‘arif akan jiwanya, maka pastilah akan ‘arif tentang Rabb -nya”, begitu kira-kira maknanya.

Lalu Apa maksudnya…?!

Diri kita yang sejati, sesungguhnya bukan wujud/bentuk tubuh kita yang bisa dibedah dengan pisau bedah atau dengan berbagai teori psikologi kepribadian oleh para psikolog.

Diri kita yang ini, yang kita gunakan dalam interaksi, dalam bekerja, dalam berhubungan sosial dengan orang lain dll, sesungguhnya merupakan bentukan dari lingkungan, orangtua, pemikiran, norma, tren, atau paradigma yang ada di zaman kita masing-masing.

Dengan kata lain, diri kita yang ini, yang wujud kasat mata ini, adalah hasil bentukan, dari dinamika lingkungan luar yang berinteraksi dengan aspek jasadi dan aspek psikis kita.

Paduan komposisi dari semua itulah yang membentuk diri kita yang berwujud bentuk lelaki atau wanita ini, dan diri kita yang ini, meski unik, tampan atau cantik sekalipun, adalah diri yang semu.

Ini bukan diri kita yang sesungguhnya atau yang sebenarnya.

Sedangkan, yang dimaksud atau dipanggil oleh Dzat Maha Suci Hidup sebagai diri pada manusia, sebenarnya/sejatinya adalah yang Dia sebut sebagai “nafs” di dalam Al-Qitab.

Nafs, dalam bahasa umumnya kita, adalah “jiwa” atau dalam istilah keilmuannya di sebut juga sebagai sedulur papat atau empat anasir atau sukma.

Nafs-lah, jiwa-jiwa-lah itulah yang dipanggil dan disumpah oleh Dzat Maha Suci Hidup, untuk mempersaksikan bahwa Dzat Maha Suci Hidup, adalah Rabb -nya.

“Dan ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam, dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa-jiwa mereka; “Bukankah Aku ini Rabb-mu?” Mereka menjawab; “Betul, sungguh kami bersaksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan; “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang tidak ingat terhadap ini.” – Q.S. Al-A’raaf [7]: 172

Seperti yang sudah pernah saya uraikan dengan sederhana di artikel yang berjudul “Mari Kita Bersama-sama Mengenal Ruh dan Jiwa Kita” Dan artikel-artikel terdahulu lainnya.

Bahwasannya;
Nafs atau Jiwa atau Sukma atau Sedulur Papat atau Empat anasir kita itu, sudah ada bahkan sebelum alam semesta ini ada.

Dialah yang terus akan melanjutkan kehidupan kita di alam barzakh dan alam-alam berikutnya, setelah kelak jasad kita dengan pikiran, hafalan dan semua gagasan yang menyertainya dan semua dinamika psikis yang terkait dengannya akan mati, lenyap, hancur terurai menjadi tanah.

Itulah sebabnya, akan sangat berbahaya jika kita memahami agama atau kepercayaan hanya berupa hafalan dalil dan konsep di kepala, namun tidak terpahami secara mengakar hingga ke jiwa.

Seiring dengan hancurnya otak kita, maka semua konsep di dalamnya pun akan lenyap, sementara jiwa kita, akan melanjutkan perjalanannya dengan tidak membawa apa-apa, tanpa jenis kelamin dan identitas apapun.

Nafs atau Jiwa sendiri berbeda dengan hawwa nafs, atau yang biasa kita sebut dengan hawa nafsu.

Sebagaimana namanya “hawa nafsu” adalah hawa dari nafs atau jiwa tersebut, hanya sekadar hawa keinginan dari nafs atau jiwa, hawa nafsu sesungguhnya adalah nafs yang palsu.

Karena keinginan-keinginannya sama-sama berasal dari dalam diri kita, sehingga kehendak hawa nafsu, tidak mudah dibedakan dari kehendak jiwa.

Jadi, kesimpulannya;
Diri kita yang sejati, bukanlah jasad dengan segala dinamika psikis maupun psikologisnya.

Diri kita yang sejati adalah nafs (jiwa) yang ada dalam diri kita masing-masing Jiwa, namun bukan sembarang jiwa.

Jiwa yang dimaksud sebagai diri manusia yang sejati, adalah jiwa yang sudah terbebas dari dominasi hawa nafsunya, dari ikatan keduniawian, maupun dari daya-daya syahwati jasadnya.

Nafs atau Jiwa yang telah terbebas dari perbudakan syahwat dan hawa nafsunya inilah, yang disebut “nafs atau jiwa-jiwa yang tenang” oleh Dzat Maha Suci Hidup di dalam al-qitab.

Nafs atau Jiwa yang tenang inilah ia bisa melihat kembali pengetahuan tentang siapa dirinya, untuk apa dia diciptakan dan apa tugasnya.

Semua pengetahuan yang pernah Dzat Maha Suci Hidup tanamkan kepadanyapun, akan terbuka kembali dan tampak dengan jelas baginya.

Nafs-lah atau Jiwa inilah yang dulu mempersaksikan diri kepada Dzat Maha Suci Hidup, berbicara dengan-Nya dan menerima seluruh pengetahuan untuk menunjang tugas-tugas penciptaan yang harus kita laksanakan di dunia.

Sedangkan diri kita yang jasad berwujud ini, termasuk dengan segala dinamika fisik, psikis, dan psikologisnya, sesungguhnya hanya kendaraan bagi sang nafs/jiwa untuk melaksanakan perannya di alam fisik ini.

Diri kita yang ini usianya terbatas. Kelak, ia akan hancur menjadi tanah.

Secerdas-cerdasnya atau sehebat-hebat dan seindah-indahnya jasad seseorang, pada hakikatnya itu hanya seperti kecerdasan dan keindahan seekor kuda, jika dibanding dengan kecerdasan dan keindahan jiwa Sang pengendaranya.

Kecerdasan dan keindahan jiwa, sesungguhnya jutaan kali lipat dibanding jasadnya, jika saja jiwa berhasil membebaskan diri dari perbudakan hawa nafsu dan syahwatnya, dan berhasil membuka kembali ilmu-ilmu ilahiah yang Dzat Maha Suci Hidup tanamkan dalam dadanya.

Nafs/Jiwa inilah yang harus kita kenali dengan se ’arif – ’arif -nya, karena di tataran nafs-lah/jiwa-lah Dzat Maha Suci Hidup, menanam bibit pengetahuan agung tentang siapa kita sebenarnya, untuk fungsi apa kita diciptakan-Nya, dan bagaimana memperoleh segala prasarana untuk menjalankan tugas penciptaan itu.

Bukan di jasad, bukan di otak, tapi di tataran nafs/jiwa, di dalam hati;
“Di dalam setiap rongga dada anak adam, terdapat segumpal daging, yang jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Sebaliknya, kalau ia buruk, maka buruk pula seluruh tubuhnya. Dan segumpal daging itu, tersebut hati. Tempat
AKU menyimpan rahasia-Ku.
“Al-Insanu Siri Wa Ana Siruhu”
(Rahasia kalian adalah rahasia-Ku)

“Dalam setiap rongga anak adam, Aku ciptakan suatu mahligai yang di sebut dada. Di dalam dada ada hati (hati bagian luar), dalam hati, ada qalbu/benak (hati bagian dalam), di dalam qalbu/benak, ada fuad/nurani (hati paling dalam), dalam fuad/nurani, ada jiwa/ruh, di dalam jiwa/ruh, ada rasa, di dalam rasa ada hidup, di dalam hidup, ada Sir Dzat Sipat, dan di dalam Sir Dzat Sipat, ada Aku. Tempat Aku menyimpan Rahasia-ku”

“Al-Insanu Siri Wa Ana Siruhu”
(Rahasia kalian adalah rahasia-Ku)

Tentu, langkah awal untuk mengenal nafs/jiwa, adalah dengan membebaskannya dulu dari waham, kemelekatan-kemelekatan duniawi, dari timbunan karat dosa, dari kungkungan sifat-sifat jasadi maupun dominasi syahwat dan hawa nafsu atas jiwa kita.

Kalau dalam bahasa agamanya, langkah ini disebut sebagai Perjalanan Taubat.

Perjalanan kembali kepada Dzat Maha Suci Tuhan/Allah Ta’ala.

Taubat berasal dari kata “taaba” yang artinya kembali.

Sementara, alih-alih ‘arif akan jiwanya sendiri, sebagian besar manusia bukan saja belum mengenal jiwanya, mereka bahkan belum bisa membedakan mana hawa nafsu nya dan mana jiwanya sendiri, karena jiwanya sangat jauh terkubur dalam dosa dan sifat-sifat kejasadiahannya sendiri.

Jiwanya sudah terlalu lemah, karena tertimbun kemelekatan duniawi yang membuatnya lumpuh, buta dan tuli, sehingga tak kuasa lagi untuk mengambil alih kendali atas kendaraannya sendiri yaitu jasad-nya.

Pada umumnya, manusia sudah tidak lagi mampu membedakan mana suara hati nurani, mana kehendak hawa nafsu, mana keinginan syahwat, mana bisikan setan maupun mana kehendak jiwa.

Semua nampak dan terdengar sama saja dari hatinya. BERSAMBUNG KE – Ingin Mengenal Identitas Dirimu…?! Bukalah Hatimu. Lalu Masuklah kedalam Jiwamu.
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-aling Bagian Dua):

Semoga Bermanfaat. Saya Wong Edan Bagu…. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s