Teroris…?! NKRI di Teror Lagi…?!

Teroris…?!
NKRI di Teror Lagi…?!
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Hari Minggu. Tanggal 13 Mei 2018.

Setiap kali aktif di internet, tiada henti-hentinya saya mensharekan bab Sadar dan Kesadaran hingga sampai ke kemurniannya, yaitu cinta kasih sayang universal di dalam semua hal, khususnya agama dan kepercayaan apapun labelnya.

Namun…
Begitu banyaknya yang menolak bahkan tidak menyukai saya, bahkan saya di anggap sesat di kira teroris, sampai-sampai, saking bencinya kepada saya, di gunakannya nama dan foto-foto saya untuk menipu orang-orang di internet.

Setelah waktu sudah saya anggap lebih dari cukup, sayapun berhenti, bukan karena menyerah, namun karena sudah waktunya saya diam dan tidak ikut campur lagi urusan duniawi.

Dan baru beberapa hari saya Manekung, meninggalkan urusan duniawi, mata saya terbelalak dengan kerusuhan yang terjadi di Markas Brimob dan Pengeboman di Gereja Surabaya, menggelitik telingaku.

Di tambah lagi banyaknya tulisan-tulisan dari saudara dan saudari saya di Facebook yang menyatakan belasungkawanya terhadap NKRI, sebagai tanda bukti, bahwa ternyata ada banyak yang memiliki rasa sama seperti saya, yaitu Cinta Panca Sila. Cinta NKRI, cinta kedamaian tanah air, membuat saya harus menulis kan hal ini.

Tuhan…
Apakah sudah Kau mulai Pembersihan Jagat Raya ini…?!

Atau karena Engkau belum mengijinkan saya untuk manekung…?!

Sehingga panca indera ku masih Kau Perlihatkan tentang kekacauan dunia yang sedang terjadi…?!

Jika Engkau belum mengijinkan saya Manekung, saya mohon, gerakan lah Para Pemerintah Pusat NKRI, untuk menyuruh seseorang menemui saya di alamat yang selalu saya cantumkan di setiap Artikel saya.

Memberi Surat Perintah Resmi kepada saya, untuk ikut berperan langsung di TKP, mengamankan dan membersihkan serta menyelamatkan NKRI tercinta ini dari Para Pengecut dan Pecundang yang berkedok Agama menteror NKRI.

Walaupun saya bukan perwira negara, dan tidak pernah berlatih seperti para tentara, seperti para polisi, seperti para militer, seperti brimob dllnya, namun percayalah, saya punya keahlian masa lalu untuk bisa menangkap, jika perlu menumpas Para Pengecut dan Pecundang yang berkedok Agama yang sedang memecah belah NKRI.

Saya tidak minta jabatan atau bayaran apapun untuk hal ini, di beri surat perintah mengenai hal tersebut, itu sudah lebih dari cukup, karena mengabdikan jiwa raga saya ini, hanya kepada Tuhan melalui NKRI, itu sudah menjadi tekad bulat saya.

Namun saya tidak akan bergerak, jika tidak memiliki surat perintah tugas, karena saya tahu, ada hukum di dalam NKRI, dan saya tidak mau melanggar UUD Hukum NKRI tersebut.

Numun jika ada surat perintah resmi, saya akan wudar dari manekung ini, saya tidak akan istirahat apa lagi berhenti, saya akan selalu bergerak keseluruh penjuru pelosok dunia, khususnya NKRI, menyampaikan pemahaman yang di melencengkan selama ini. Bahwa; Sebenarnya semua agama secara rasional adalah buatan manusia.

Ada warna politik, spiritual dan adat budaya, yang melandasi lahirnya setiap agama dan kepercayaan apapun labelnya, yang ada di seluruh dunia ini.

Untuk itu, maka semua klaim klaim adanya utusan Tuhan, apalagi Tuhan yang menjelma menjadi manusia, sejatinya semua adalah baru sebatas pengkultusan individu, yang kemampuan spiritual nya mumpuni di masanya dan latar belakang budayanya.

Jadi…
Sebenarnya sama saja dengan para Dewa Dewi dalam ajaran agama Timur, yang setelah mati lalu disucikan, disembah, dihormati dll, karena mereka memang nyata ada, pernah hidup sebagai manusia biasa, dan masih hidup di dimensi lain.

Banyak manusia selama ribuan tahun terjebak agamaku paling benar, agama lainnya salah semua, yang mengakibatkan selalu terjadi konflik dalam kehidupan antar sesama manusia, bahkan dengan yang satu agama namun beda pemahaman.

Akibatnya banyak manusia justru ketika mati malah membawa dosa kebencian, sifat sombong, iri, dendam, fitnah dan kejahatan lainnya atas nama agama.

Akibatnya, banyak orang yang sering bermimpi atau betul betul dibawa ke alam setelah kematian, kemudian menyaksikan sendiri, begitu banyak orang yang dihukum atas kebodohannya sendiri selama hidup menjadi manusia di dunia.

Sebenarnya itu adalah sebuah “PERINGATAN” karena menurut saya, mereka dihukum bukan karena tidak beragama apapun atau berkepercayaan manapun, melainkan karena seumur hidupnya tidak mau belajar sadar di dalam kesadaran agama atau kepercayaan yang di jalaninya.

Memahami dengan kesadaran hidup di dalam kehidupan dunia ini, dengan cara/sistem pandang yang menyeluruh/universal, adalah intisaripati hidup di dalam kehidupan yang sesungguhnya/sebenarnya/sejatinya.

Sebab karena itu, saya selalu mensharekan bab Sadar di dalam berkesadaran hingga sampai ke kemurniannya kesadaran dan sadar, karena inilah intisaripatinya.

Jikalau tidak ada yang berani tegas mensyiarkan secara universal dan umum, entah sampai kapan semua kebodohan spiritual ini akan berlangsung atau berakhir.

Karena setahu saya, baik secara kasat mata maupun non kadat mata, masih terlalu banyak yang belum bisa melepaskan diri dari belenggu perbudakan manusia melalui agama dan kepercayaan apapun labelnya.

Pada hakikatnya, tidak ada yang salah dengan beragama atau berkepercayaan, jikalau itu bisa membuat Anda “sadar diri” atau “mawas diri”.

Siapapun yang Anda sembah atau puja dan puji, mereka bisa memberikan balasan dengan kebaikan yang Anda butuhkan di dalam kehidupan ini.

Namun percayalah, mereka semua bukan lah Tuhan Semesta alam raya ini “jadi” Kebenaran agama bukan lah Kebenaran Mutlak, ada yang lebih mutlak, yaitu “Sang Maha Benar”.

Kalau Tuhan yang sesungguhnya, tidak ngurusin apapun, termasuk manusia, karena semua sudah ada sistemnya dan berjalan sendiri, sudah terscenario di (Lauhul Mahfud).

Jadi…
Janganlah terlalu “fanatik” merasa paling benar sendiri dalam beragama atau berkepercayaan.

Agama atau Kepercayaan itu, hanya sebuah titik awal saja, baru permulaan jalannys kehidupan manusia.

Agama bukanlah titik akhir atau solusi paling benar dalam menapaki jalan kehidupan manusia di dunia ini, jadi, ngapain sampai di bela-belain melakukan bom bunuh diri..

Dalam tahap awal pembelajaran ini, manusia harus juga mau berusaha belajar dengan cara lewat agama lain, maksudnya, belajar memahami apa kelebihan dan kekurangannya, membandingkan nya dengan agama yang diyakini, tentang kelebihan dan kekurangannya.

Jika ada kejujuran, obyektivitas dan konsistensi dalam mencerna pembelajaran spiritualnya, seseorang itu akan mampu lebih mengerti dan memahami serta mengetahui bahkan mengenal lebih dalam tentang hidup di dalam kehidupan di dunia yang sesungguhnya tidak bisa terlepas dari Sang Maha Segala-Nya.

Dan Saya Wong Edan Bagu…. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Toso Wijaya. D
Lahir: Cirebon Hari Rabu Pon Tanggal 13-08-1959
Alamat: Gubug Jenggolo Manik.
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s