Tuhan Bagi Sekalian Semesta Alam dan Seluruh Isinya:

Tuhan Bagi Sekalian Semesta Alam dan Seluruh Isinya:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Hari Minggu. Tanggal 4 Maret 2018.

Dzat Maha Suci yang lebih kita kenal dengan sebutan Tuhan dengan beraneka macam Nama. Seperti Allah. Hyang Widi. God. Awlloh dll, memang sungguh luar biasa, benar-benar Maha Segala-Nya.

Sangat tepat sekali, kalau Dia di beri julukan Esa dan Maha Segala-Nya.

Kekuasaan-Nya meliputi seluruh alam semesta, semua dan segala-Nya yang ada maupun yang tidak ada. Keindahan Cinta Kasih Sayang-Nya yang Agung, terasa di setiap gerak tubuh dan gerik hati kita. Kesempurnaan Kuasa-Nya yang Esa, terjawab di setiap helaan nafas kita.

Dia mengemas suatu hal yang sepele, yang dianggap biasa dan tidak berguna, menjadi sesuatu yang sangat luar biasa sempurna.

Sepanjang kita mau menyelami samudera rasa-Nya yang Maha Ghaib, dan Selama kita mau berdamai dengan cinta kasih sayang-Nya. Niscaya; Misteri Hidup di dalam keHidupan ini, bisa di lalui dengan Kenyataan Iman yang tepat.

Simple memang kelihatannya, namun tidak sederhana. Karena di perlukan Perjuangan yang hebat. Yaitu Taubat dan Pengorbanan yang hebat pula. Yaitu Iman.

Ingatkah kita ketika kemarau panjang…?!

Hujan yang hadir dengan kesejukan ketika itu, kita melihatnya sebagai anugerah dari-Nya yang tak terhingga bagi jiwa raga kita dan semesta alam, namun segera setelah hujan itu turun tiada henti, sesegera mungkin pula kita berhenti melihatnya sebagai anugerah-Nya, melainkan bencana kutukan dari-Nya.

Namun bagi jiwa raga sang pemiliki hati yang telah tersadarkan akan alam semesta-Nya. Dia akan tetap ber-Iman tanpa berubah sedikitpun;
“Iman/WPL”
Menyerah Pasrah kepada-Nya.
Menerima keputusan-Nya.
Mempersilahkan kuasa-Nya.
Merasakan kebenaran-Nya.
Menebar cinta kasih sayang-Nya.

Sehingganya, dia akan merasakan semua dan segalanya itu, dengan kebahagiaan dan ketentraman yang sama di luar diri maupun di dalam dirinya.Yaitu; Ketentraman yang Sempurna.

Karena rasa dan perasaan nya telah terbebas dari mebelantaraan hutan dualitas di luar diri dan dualisme di dalam dirinya, sehingga bibirnya mampu bergetar dengan bahasa hidup “inilah rumah semestaku, dimana aku sendiri ada didalamnya, sehingga aku tak perlu lagi mencarinya kemana-mana” Cukup menyaksikan dan Merasakan kenyataan-Nya yang benar-benar sungguh luar biasa Nyata itu, dengan kebahagiaan yang sempurna bersama Dzat Maha Suci Hidup.

Jika itu masih kurang, sehingga masih mengharap kebahagiaan di Surga atau penderitaan di Neraka.

Maka bangunlah Surga atau Neraka itu, dengan Sipat Iman dan perilaku Sikapmu sendiri, selama masih hidup di dunia ini.

Sebab itu dan karena itu, saya sering menghimbau dan mengingatkan…

Jagalah Pikiranmu, karena Pikiran akan menjadi Perkata’anmu. Jagalah Perkata’anmu, karena Perkata’anmu akan menjadi Perbuatanmu. Jagalah Perbuatanmu, karena Perbuatanmu akan menjadi Kebiasa’anmu. Jagalah Kebiasa’anmu, karena Kebiasa’anmu akan membentuk Karaktermu.Jagalah Karaktermu, Karena Karaktermu akan menentukan Nasibmu. Jagalah Nasibmu, karena Nasib, akan menentukan suana Hatimu.
Jagalah Hatimu, karena Hatimu akan menentukan Rasamu.
Jagalah Rasamu, karena Rasamu akan menentukan Lakumu.
Jagalah Lakumu, karena Lakumu akan menentukan Surga-mu dan Neraka-mu bahkan Tuhan-mu.

Karena Surga dan Neraka serta Tuhan yang akan kau temui nanti. Tak lain dan tak bukan, adalah Surga dan Neraka serta Tuhan yang kau bangun dengan cara dan perilaku Sipat dan Sikap yang sudah saya uraikan diatas. Dan itulah Laku Murni Menuju Suci yang seringkali saya uraikan di hampir setiap Artikel saya.

Tidak ada sejarah yang meriwayatkan Kebahagiaan di Surga itu, di Bangun dengan perilaku Sipat dan Sikap pikiran dan hati yang kotor ternoda, membenci, mengfitnah, mengadu domba, sirik, iri, dengki, kebohongan, bermusuhan, tipu sana, tipu sini, hasut sana, hasut ini, cela sana cela sini, salin menghina, salin meremehkan, salin bermusuhan dll. Kecuali jika Penderitaan di Neraka yang di inginkan.

Melainkan dengan cara membahagiakan kehidupan diri sendiri dan kehidupan mahluk lain, tidak mungkin kita menciptakan Rasa manis dari garam dan menciptakan asin dari gula.

Tidaklah mudah, menciptakan rasa pahit dari cabe, karena setiap bahan, akan menciptakan cita rasa sendiri-sendiri. Begitu juga dengan Surga dan Neraka, yang hakikatnya adalah bangunan karya senimu sendiri dari perilaku Sipat hati dan sikap pikiranmu semasa hidup di dunia ini. Apa lagi bab Dzat Maha Suci Hidup Tuhan-mu.

Kolong jembatan dan TPA bisa menjadi Surga bagi yang mampu menjalankan Laku Murni Menuju Suci di dalam kehidupannya. Atau menjadi Neraka bagi yang tidak mampu menjalankan Laku Murni Menuju Suci di dalam kehidupannya.

Begitu juga dengan suasana di luar diri yang beraneka ragam carut marutnya. Yang tentu dan pasti akan menghasilkan rasa yang beraneka ragam dan carut marut pula di dalam diri. Laku Murni Menuju Suci mu yang akan menentukan mampu atau tidaknya kita mencerna kesemuanya itu.

Maka…
Berhentilah memaksakan surga mu bagi orang lain dan memaksakan neraka mu pada orang lain. Karena surga mu, bisa jadi neraka bagi orang lain, dan neraka mu bisa jadi surga pada orang lain.

Sebagaimana Surga dan Neraka yang di bangun oleh masing-masing diri dengan bahan perilaku Sipat hati dan sikap pikiran tiap-tiap individu, di sepanjang perjalanan hidupnya di kehidupan dunia ini.

Sebab itu, bebaskan dan merdeka kanlah dirimu dari memaksakan Surga untuk orang lain atau Neraka bagi orang lain. Karena untuk setiap pemaksaan yang kau lakukan, akan menciptakan rasa neraka bagi yang menolaknya, sehingganya, dengan begitu, tanpa sadar, kau telah menciptakan bahan-bahan untuk membangun Neraka-mu sendiri.

Sama persis dengan sebiji cabe, yang tidak bisa kau paksakan, agar pedasnya bisa di rasakan sebagai penderitaan neraka oleh semua orang, atau rasa manis dari segelintir gula, kau paksakan menjadi kebahagiaan bagi banyak orang, karena di tingkatan rasa, setiap manusia hidup, memiliki hak kebebasan dalam menikmati atau menolaknya.

Begitu juga mengenai Surga dan Neraka, bahkan Tuhan pun, adalah pilihan bebas yang tidak bisa di paksakan, semua sedang bertumbuh melalui tahapan prosesnya masing-masing, untuk itu, bebaskan diri mu dan hargai mereka yang sedang bertumbuh sesuai tahapannya sendiri.

Kapan saja kau mengalami kebebasan hati, untuk tidak terikat pada hasil apapun, dan kemerdekaan sipat dan sikap dalam berIman, serta tidak mengikat orang lain dengan pemahaman pribadimu.

Maka kau akan menemukan dan merasakan kesempurnaan hidup yang nyata-nyata menentramkan kehidupan mu yang bebas merdeka tanpa ikatan apapun dan terikat apapun selain Dzat Maha Suci Hidup.

Seperti seekor singa yang membaringkan tubuhnya dengan tenang, di bawah pepohonan, yang tak jauh dari para rusa, yang sedang lahap memakan rumput dengan bahagia.

Kebebasan yang merdeka hasil dari PerTaubatan dengan iman, bukan tidak ada apa apa atau tidak punya apa apa, melainkan melimpahnya berkah, namun tanpa keterikatan dari kepemilikan atas apapun dalam hatinya dan dogma dalam pikirannya.

Seperti ikan-ikan yang bebas berenang kemanapun dengan bahagia, tanpa merasa memiliki samudera. Seperti burung-burung yang berkicau dan berterbangan kian kemari, yang tak pernaherasa memiliki angkasa.

Kebebasan yang merdeka atas kepemilikan yang terbatas itulah, yang akan membuat hidup kita menemukan miliknya sendiri, yaitu alam semesta, yang tak berbatas ini.

Di sadari atau tidak di sadari, setiap manusia hidup di dunia ini, pasti merasakan bahwa alam semesta ini, seakan milikinya sendiri, tanpa perlu ia merasa memilikinya dalam sebuah keterikatan, namun sayang, kejadiannya, tidak di sadari, andai saya bisa sadar, pasti akan menyadari, kalau bisa menyadari, pasti murni kesadarannya, kalau kesadarannya murni.

Saat itulah jiwanya sudah tiba di rumah semesta-Ku, ia akan merasakan kehadiran-Ku di mana-mana, karena dengan kebersihan hatinya dan kecemer-langan bathinnya, ia telah melihat-Ku ada di mana-mana.

Temukanlah Aku di dalam rumah semesta-Ku yang tak terbatas ini, dengan begitu, kau akan sepenuhnya mengerti, memahami, mengetahui dan mengenal-Ku di dalam kebahagiaan abadi, yaitu ketentraman yang sempurna bersama-Ku.

Baiklah…
Kini aku mengerti, paham dan tahu, bahwa semua tempat di mana aku berada, adalah rumah semesta-Mu. Tapi kenapa dan mengapa…?!

Rasa dan suasananya tidak seperti di dalam rumah-Mu…?!

Yang dalam bayangan-ku, mestinya selalu nyaman, aman, damai, sejuk, bahagia dan menentramkan…?!

Sudah jelas terurai, bahwa rumah semesta-Ku ada di mana-mana, dan rasa juga suasana, bukan semata-mata di tentukan oleh sesuatu yang terlihat diluar matamu, melainkan apa yang terasa di dalam dirimu (hati), maka, rasakanlah ketentraman sempurna-Ku di setiap tempat, sebagai rumah semesta-Ku, sebagaimana engkau nyaman, aman, damai, sejuk, bahagia dan tentram di rumahmu sendiri.

Bilamana ada yang membuatmu tidak nyaman, aman, damai, sejuk, bahagia dan tentram di rumahmu sendiri, benahilah bersama, kau layak menjaga nyaman, aman, damai, sejuk, bahagia dan tentram-mu, di mulai dari dirimu sendiri.

Suasana dunia di luar dirimu, adalah sumber persepsinya kebahagiaan di surga atau penderitaan di neraka, sedangkan suasana semesta di dalam dirimu, adalah sumber kebahagiaan abadi, (sempurna bersama-Ku). Bagi jiwa yang sudah menerima dan mencerna dualitas rasa.

Tubuhmu adalah rumah semesta kecil jiwa-mu. Kau sendirilah yang berhak membangun dan merasakan nyaman, aman, damai, sejuk, bahagia, tentram atau tidaknya, di rumah semesta kecil jiwa-mu sendiri itu.

Jika kau bisa hidup dengan rasa nyaman, aman, damai, sejuk, bahagia, tentram, di dalam rumah semesta kecil jiwa-mu sendiri itu, dengan stabil dan sikron, kelak segala hal di luar diri, tidak akan bisa mempengaruhi atau merubah rasa nyaman, aman, damai, sejuk, bahagia, tentram, di dalam rumah semesta kecil jiwa-mu sendiri itu.

Kehidupan yang kau jalani saat ini, sebagai jiwa dalam tubuh manusia, adalah ruang dan waktu yang berharga bagimu, untuk bergerak belajar memahami, seperti apa kebahagiaan abadi di rumah semesta raya-Ku, segala rahasia semesta raya-Ku, sudah tersimpan di dalam dirimu sendiri, di dalam semesta ini, sudah demikian adanya, meski kau tidak menyadari keadaannya yang demikian itu.

Maka, dengan memeluk atau tidak memeluk suatu agama, yang mengajarkan kepadamu, bahwa api itu panas dan bisa membakar, tidak serta merta akan membebaskanmu dari rasa panas dan terbakar oleh api itu, kau boleh percaya atau tidak, bahwa arus air itu, bisa menghanyutkan mu, namun arus air akan bekerja dan memberi akibat sebagaimana mestinya.

Begitulah ajaran agama di turunkan untuk membantu memahami pengetahuan kesemestaan, memberimu pengetahuan tentang bagaimana menggunakan hati dan pikiran, bila kau menginginkan kesempurnaan di dalam kehidupan dunia dan akherat, ajaran agama adalah pengetahuan, yang hanya akan memberi manfaat ketika kau melaksanakan tuntunan itu dengan sebaik-baiknya.

Sebanyak-banyaknya engkau memahami ajaran agama, namun apabila ajaran itu tidak engkau jalankan untuk kebaikan, sekalipun engkau sudah mengetahuinya dengan baik, bahwa api itu bisa membakar, jika engkau membiyarkan dirimu terbakar, maka engkau akan tetap terbakar.

Begitulah agama yang tidak akan melindungimu dari penderitaan neraka, jika engkau tidak menghindari perilaku yang akan membawamu pada penderitaan neraka itu, agama tidak pula serta merta akan membawamu pada kebahagiaan surga, jika perilaku mu tidak kau jalankan sesuai agama itu, untuk menuju kebahagiaan surga.

Ajaran agama adalah peta penuntun perjalanan jiwa menuju kesadaran murni, tentang kebenaran nyatanya AKU sejati, peta itu tidak akan berhasil menuntunmu ke tempat tujuan, kalau engkau tidak menjalani dengan kebaikan yang tepat.

Tidak ada jalan kekerasan, jalan kebencian, jalan kemunafikan, jalan kebatilan, yang membawamu sampai ke tempat tujuan yang penuh Rahmat cinta kasih sayang-Ku.

Itulah sebabnya, inti dari semua ajaran agama yang Ku-tuturkan adalan tentang cinta kasih sayang, semua agama memiliki inti yang sama, yaitu Rahmat cinta kasih sayang-Ku.

Namun engkau terjebak pada perbedaan dari tampilan luar ajaran moral itu, lalu engkau mengelompokkan diri, mengikuti keterjebakan pikiran engkau akan perbedaan itu.

Engkau membatasi diri berdasarkan perbedaan ajaran agama yang sesungguhnya di turunkan untuk membawa pikiran dan hatimu menuju pahaman yang sadar akan kesadaran murni mu yang tak terbatas.

Pembatasan-pembatasan yang kau ciptakan sendiri, dalam pemahaman ajaran agama itu, tentu saja tidak akan membawa pikiran dan hatimu pada pengetahuan-Ku yang tak terbatas.

Jika agama adalah sebuah perahu yang membawamu dengan aman mengarungi arus sungai kehidupan untuk menuju samudera, semestinya engkau bisa sampai ke samudera luas yang hening, tenang, nyaman, aman, damai, sejuk, bahagia, tentram.

Namun kalau perahu itu tersangkut di sebuah Empang kecil yang terbatas, itu di karenakan engkau tidak mampu menggunakan perahunya dengan baik, sehingganya, bukan sampai ke samudera luas yang hening, tenang, nyaman, aman, damai, sejuk, bahagia, tentram, sampainya ke Empang yang berbatas sempit, sesempit pemikiranmu.

Katahuilah;
Dia yang mempelajari ajaran agama, namun hanya membawanya sampai pada keterbatasan pemahaman, sesungguhnya, dia belum memahami ajaran agama itu dengan kecerdasan yang baik, akan tetapi, dia yang telah mencapai pemahaman semesta yang tak terbatas, yang menjadi sumber Rahmat cinta kasih sayang kehidupannya, dialah pribadi yang telah memahami ajaran agamanya.

Tidak seluruh mendung di langit akan menurunkan hujan di danau yang sama, untuk kemudian di alirkan melewati sungai yang sama untuk menuju samudera yang sama pula.

Semua mendung dari langit yang sama, akan di turunkan menjadi hujan pada danau dan mata air yang berbeda, kemudian menyusuri sungai-sungai dan aliran air yang berbeda, untuk pada akhirnya sampai pada samudera yang sama.

Begitulah ajaran moral dan pengetahuan semesta di turunkan dari langit kecerdasan yang sama kepada orang-orang yang berbeda, di daerah yang berbeda, dan berbahasa yang berbeda, untuk di jalankan dengan cara yang berbeda, namun memiliki inti yang sama tentang kebaikan dan Rahmat cinta kasih sayang.

Dan tentu saja, akhirnya akan membawa pada kesadaran murni atau kebahagiaan abadi yang sama, yaitu kesempurnaan hidup dan mati.

Tujuan dari setiap ajaran agama adalah; membuat menjadi pribadi yang lebih baik. Maka, ketika ada orang sudah menjadi pribadi yang baik, meski dalam aturan kehidupanmu ia bukan orang yang beragama, ia akan tetap mendapatkan kebahagiaan abadi.

Jika bagimu hanya dengan memeluk agama, jiwamu akan mencapai surga, apakah menurutmu bayi dan anak-anak yang meninggal dunia sebelum memeluk suatu agama, jiwanya akan mencapai neraka…?!

Saat kau benar-benar memahami secara mendalam ajaran agama yang Ku-turunkan di seluruh kehidupan bumi ini, kau akan memahami tujuannya, semua pengetahuan dalam ajaran agama, di tuturkan untuk memberi tuntunan, jalan bagi pembelajaran jiwamu, di kehidupan dunia ini sebagai tuntunan.

Ia di maksudkan untuk mengajarimu tentang bagaimana cara yang baik dan tepat untuk menggunakan hati dan pikiranmu, agar menjadikanmu sebagai pribadi yang bermanfaat di bumi, ia juga ada untuk menuntun hati dan pikiranmu, agar jiwa mu bisa sampai ke samudera pengetahuan yang luas tak terbatas.

Jika seluruh ajaran agama itu kau gunakan dengan baik dan tepat, hingga kau bisa mencapai kesadaran murni yang penuh Rahmat cinta kasih sayang-Ku, saat itu, baru kau akan benar-benar mengerti, memahami, mengetahui, bahkan mengenal seluruh pengetahuan yang Ku-alirkan kepadamu saat ini, disini dan saat-saat berikutnya di tempat lainnya.

Semakin kau dekat dengan sumber api, kau akan semakin cepat terbakar, semakin kau dekat dengan air, kau akan semakin cepat basah, semakin dekat air memasuki samudera, semakin asinlah rasa airnya, semakin kau dekat kau dengan sumber, seharusnya semakin bisa kau merasakan sipat dan sikap sumber tersebut.

Semakin sempit wawasanmu tentang kebenaran yang nyata, semakin kau jauh dari kesejatian universal, semakin kau terkurung oleh sebuah pemahaman, semakin kau jauh dari kemahardikaan jiwamu. Pahamilah kenyataan universal ini…. BERSAMBUNG KE Tuhan Bagi Sekalian Semesta Alam dan Seluruh Isinya. BAGIAN DUA.

Heeeemmmm…. Sepertinya, aku akan membutuhkan banyak waktu untuk bisa memahami dan meresapi pengetahuan-Mu yang tanpa batas ini. Ijinkanlah aku larut sejenak dalam perenungan ku sendiri, untuk bisa menelaah semua petuah-Mu, namun tetaplah bersamaku, wahai Samudera Pengetahuan Tanpa Batas, aku akan kembali lagi dengan sedikit Pertanyaan.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu.
Di.
Gubug Jenggolo Manik.
Alamat;
Oro-oro Ombo. Jl. Raya Pilangrejo. Gang. Jenggolo. Dusun. Ledok Kulon. Rt/Rw 004/001. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kabupaten. Boyolali. Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: http://www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s