SEMAKIN MENGENALI DIRI, SEMAKIN BERTAMBAH KEKUATAN IMANNYA DAN PERCAYA DIRINYA:


27164773_431832330596160_5284600850732938238_o

SEMAKIN MENGENALI DIRI, SEMAKIN BERTAMBAH KEKUATAN IMANNYA DAN PERCAYA DIRINYA:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Hari Rabu. Tanggal 31 Januari 2018.

27624699_431832093929517_5827074315805539810_o

Siapa Anda…?!
Dari mana Anda…?!
Seperti apa Anda…?!
Hendak kemana Anda…?!
He he he . . . Edan Tenan.

Para Kadhang Kinasihku sekalian.
Perubahan Diri. Perubahan mental. Perubahan tarap kehidupan. Bahkan sampai soal mengenal Dzat Maha Suci Tuhan. Itu Dimulai Dari Mengenal Diri Sendiri.

Seperti yang sudah saya kabarkan di beberapa Artikel lama saya sekitar tahun 2014 san. Bahwa mengenal diri, merupakan sebuah hal yang sederhana, namun Penting.

Karena dapat membantu untuk melakukan perubahan apapun itu tentang Hidup kita di dalam dunia kehidupan ini, bahkan akherat nanti, itu di tentukan dari mengenal diri, disini letak Pentingnya.

Mengapa mengenal diri sendiri menjadi hal yang sangat Penting?!

Karena jika kita tidak mengenal…
Siapa diri kita…?!
Dari mana diri kita…?!
Seperti apa diri kita…?!
Hendak kemana diri kita…?!

Maka bagaimana kita dapat melakukan sesuatu…?!

Bagaimana kita bisa mengerti…!!!
Bagaimana kita memahami…!!!
Bagaimana kita mengetahui…!!!

La wong…
Siapa dirinya…?!
Dari mana dirinya…?!
Seperti apa dirinya…?!
Hendak kemana dirinya…?!
Saja, tidak mengenalnya…!!!
Ealah tobat,,, begitu kok menilai, membanding, membedakan bahkan menghakimi orang lain. Nggak lucu ‘ah.

Mengenal diri sendiri, bukanlah hal yang mudah. Dalam kenyataannya, dewasa ini, ada berapa banyak orang-orang yang gemar bahkan suka membenci, mendendam, mengFitnah, mengadu domba, iri, syirik, dengki dll…?!

Membanding, membedakan, menghakimi, menilai orang lain dari perbuatan, bukan dari kenapa dia berbuat. Itu semua terjadi dari akibat tidak mengenal dirinya sendiri. Kalau mengenal dirinya sendiri. Mana mungkin melakukan itu semua, la wong orang lain itu pada hakikatnya sama.

Tidak semua individu dapat mengenal dirinya sendiri dengan jelas, apa lagi pasti dan tepat. La tidak tau apa yang harus diubah. Iya tidak…?! Sehingganya tetap sulit untuk melakukan perubahan pada dirinya.

Mengapa diubah, dan bagaimana hasilnya setelah melakukan perubahan diri…?!

Karena sebab hal itulah, maka perubahan diri itu, dimulai dari mengenal diri sendiri terlebih dulu.

Mengenal diri sendiri, diperlukan agar kita dapat mengetahui mana dan bagaimana yang terbaik untuk diri kita.

Secara awam, mengenal diri sendiri, dapat di lakukan dengan cara introspeksi diri, dengan introspeksi, akan di temui letak kekurangan dan kelebihan diri sendiri, dan dengan mengetahui kekurangan dan kelebihan diri sendiri, akan terbentuk suatu keyakinan mengenai diri sendiri dan dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki dengan maksimal.

Namun secara hakikatnya, tepat masih sulit untuk mengenal diri sendiri dengan baik, pasti dan tepat.

Karena Dibutuhkan kemauan atau tekad dan Diperlukan keterbukaan atau kejujuran pada diri sendiri, untuk mengetahui bagaimana sifat dan sikap diri sendiri.

Sebelum belajar, diperlukan iman/Wahyu Panca Laku, sehingga bisa menyadari untuk apa tujuan mengenal diri sendiri dan apa yang akan di dapatkan setelah mengenal diri sendiri.

Tujuan dari mengenal diri sendiri, bagi orang awam. Adalah untuk memaksimalkan potensi diri yang di miliki, sehingga tidak ada lagi waktu atau kesempatan yang terbuang sia-sia. Sedangkan bagi peSpiritual. Adalah untuk mengakrabkan hubungan antara Aku dan Sejati nya Aku, sehingga bisa Pasti Tepat Sasaran dalam Laku Murni Menuju Suci, karena Sedulur Papat Kalima Pancer nya. Bisa selaras dan Seiya sekata.

Secara Awam maupun Khusus. Jika kita sudah mengenal diri sendiri, maka akan sangat banyak keuntungan yang akan didapatkan bagi diri kita sendiri.

Diantaranya adalah, dapat melakukan segala sesuatu dengan tenteram. Artinya; Tanpa beban, tanpa ego, tanpa kemelekatan, tanpa kesan bahkan tanpa modus atau pamrih apapun.

Hidup di dalam.dunia kehidupanpun, menjadi pasti terarah, karena sudah mengerti, memahami dan mengeahui apa intisari patinya dari sifat dan sikap dirinya sendiri.

Semua dan segala sesuatu yang kita lakukan, akan menjadi efektif dan efisien, karena sudah mengerti, memahami dan mengetahui passion diri nya, dan masih banyak sekali keuntungan-keuntungan lainnya.

Terutama soal Asal Usul Sangkan Paraning Dumadi atau Inna Lillaahi Wa Inna Illaihi Rajiun dan Sedulur Papat Kalima Pancer Khususnya Dzat Maha Suci Hidup.

Siapa Anda…?!
Dari mana Anda…?!
Seperti apa Anda…?!
Hendak kemana Anda…?!
He he he . . . Edan Tenan.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu.
Di.
Gubug Jenggolo Manik.
Alamat;
Oro-oro Jenggolo Manik. Jl. Raya Pilangreho. Gang Jenggolo. Dusun Ledok Kulon. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kab. Boyolali Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Iklan

Jujur Ajur/Hancur:


25398794_407515623027831_8944549555649065106_n

Jujur Ajur/Hancur:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Gubug Jenggolo Manik. Hari Sabtu. Tanggal 27 Januari 2018.

Dewasa ini….
Semua manusia hidup. Butuh jujur. Ingin jujur dan merindukan kejujuran. Seperti, sejak jaman purbakala pun sama. Benar-kah…?!

Jujur itu menyakit-kan Lo…!!!
Kok bisa berkata butuh kejujuran…?!
Ingingkan kejujuran…?! Merindukan kejujuran…?!
Ah… Yang benar saja.

Tiga tahun kurang lebihnya, saya menjalankan Laku Murni Menuju Suci lo…

Yang di dalamnya ada syarat harus jujur apa adanya alias tidak boleh bohong atau dusta dan tidak munafik yang menjadi landasan utamanya.

Namun…
Hampir semua orang tidak percaya pada saya bahkan menolak dan menuduh saya sesat.

Loh… Katanya butuh jujur.

Para Kadhang dan Sedulur Kinasihku sekalian. Cinta Kasih Sayang terhadap apapun dengan Jujur alias tidak bohong bin tidak dusta. Adalah syarat utama untuk mengenal Dzat Maha Suci Hidup/Tuhan/Allah.

Kalau syarat untuk mengerti, memahami, mengetahui Dzat Maha Suci Hidup/Tuhan/Allah, ada banyak, seperti ilmu pengetahuan dan pemahaman, rajin baca, agama, adat, puasa atau bertapa dll. Tapi kalau untuk mengenal Dzat Maha Suci Hidup/Tuhan/Allah, syaratnya; Cinta Kasih Sayang terhadap apapun dengan Jujur alias tidak bohong bin tidak dusta.

Laku Murni Menuju Suci yang di dalamnya terdapat Kejujuran alias tidak bohong bin tidak dusta ini, sudah saya jalankan selama tiga Tahun lebih kurangnya. Dan selama itu pula, yang menerima itu, saya rasa hanya orang-orang pilihan saja, selebihnya, tidak percaya bahkan menolak, konyolnya, saya diusir dengan tuduhan sesat bahkan kafir.

Padahal…
Itu saya lakukan dengan penuh kesadaran iman/Wahyu panca laku yang di puncaknya, ada Cinta Kasih Sayang. Apa lagi kalau kejujuran yang konyol… Maksudnya, ada pamrih dan ego atau modus…waow…!!!

Para Kadhang dan Sedulur Kinasihku sekalian. Sekali lagi saya tegaskan. Jujur apa adanya alias tidak bohong/dusta, adalah syarat utama untuk mengenal Dzat Maha Suci, namun bukan Jujur apa adanya alias tidak bohong/dusta karena modus lo ya…

Itu berefek risiko tinggi bahkan, bahkan berbahaya untuk ukuran orang awam, khususnya yang sudah beruasmi istri.

Salah satu Contohnya;
Anda pulang kerja, di perjalanan. Anda bertemu seseorang mantap pacar, lalu terjadilah tegur sapa, hingga berujung ngobrol lama dan santai barsama, karena mantan pacar, berpisahnya juga bukan karena masalah kebencian, jadi ada genit-genitnya gitu deh. He he he Edan Tenan.

Sesampainya di Rumah, di tanya; Kok pulangnya telat Pa? Atau Ma?

Coba saja ceritakan dengan jujur apa adanya apa yang terjadi sepulang kerja tadi, tanpa bohong/dusta. Jika suami atau istri Anda tidak marah dan tidak pisah ranjang malam itu, berati Suami atau Istri Anda memang pilihan Dzat Maha Suci untuk bisa mengenalnya. Itu contoh paling sepele dan paling sering dialami suami istri yang masih awam di luaran sana. Selain itu. Cobalah renungkan sendiri.

Pada inti hakikatnya;
Jujur apa adanya alias tidak bohong/dusta yang dilandasi dengan iman. Itu adalah laku tertinggi dari sekian banyak laku. Sebab itu, sangat berat dan sulit, karena ada efek risiko yang sangat amat menyakitkan bahkan membahayakan di dalamnya.

Dan saya sudah membuktikannya selama tiga tahun lebih kurangnya, dan selama itu pula, walau tidak sedikit orang yang tidak percaya bahkan menolak saya, meremehkan, melecehkan, bahkan menghina dan mengFitnah saya, seperti komentar-komentar di artikel saya yang mungkin pernah Anda ketahui, dengan terang-terangan, dengan bangganya mereka katakan itu.

Namun selama itu, hingga sekarang ini, saya tetap selamat (tidak ada apa apa, apa apa itu tidak ada) Selain semakin tercerahkan. Justru cinta kasih sayang saya terhadap mereka yang belum sadar, belum mengerti, belum memahami, belum mengetahui. Semakin bertambah besar.

Jika mampu, cahaya iman akan tumbuh dalam diri kita, sehingga menjadi tercerahkan. Kalau tidak. Fatal/Ajur/Hancur.

Kesimpulannya;
Laku Murni Menuju Suci adalah Wahyu Panca Ghaib yang di Ibadahkan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku. Di dalamnya ada yang sudah saya uraikan diatas. Dengan Judul Jujur Ajur/Hancur.

Anda Berani…?!
Anda Siap…?!

Berani apa…?!
Siap apa…?!

Loh… Kok malah bertanya, kan sudah dibagas diatas. Ya Berani Jujur Apa Adanya alias tidak Bohong bin Dusta dengan Iman to. Ya Siap Ajur/Hancur. He he he . . . Edan Tenan.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu.
Di.
Gubug Jenggolo Manik.
Alamat;
Oro-oro Jenggolo Manik. Jl. Raya Pilangreho. Gang Jenggolo. Dusun Ledok Kulon. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kab. Boyolali Jawa Tengah. Indonesia 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

SADAR, MENYADARI, KESADARAN:


26904628_427163661063027_1756174871754054252_n

SADAR, MENYADARI, KESADARAN:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Juwangi Boyolali Jateng. Hari Senin. Tanggal 23 Januari 2018.

Sepintas kalimat diatas, yang saya jadikan judul postingan ini, hampir semua orang mengetahuinya, khususnya para pelaku spiritual.

Namun,,, sudahkah kita mengenal dengan baik, tiga kalimat yang selalu di identikan dengan spiritual keTuhanan ini…?!

Mengetahui, belum tentu mengenal, kalau mengenal, sudah pasti mengetahui, itulah bahasa yang selalu saya gunakan untuk menyatakan suatu bukti yang berhasil saya dapatkan ketika praktek di TKP.

Hakikat dari kalimat Sadar. Menyadari dan Kesadaran ini, sebenarnya kata Hidup, maksudnya, berkelanjutan, tidak berhenti di kalimat sadar saja atau menyadari saja atau kesadaran saja.

Saya akan mencoba merefleksikan tiga kalimat tersebut, menjadi benar-benar hidup di dalam kehidupan kita sehari-hari, karena apapun itu, bukti kebenaran nyatanya, ada di tiga kalimat tersebut.

Terutama saat kita Laku Murni Menuju Suci, tanpa adanya Sadar. Menyadari. Kesadaran. Mustahil kita bisa membuktikan nyatanya Dzat Maha Suci yang nyata-nyata ada. Bukan ghaib seperti yang di kira oleh orang pada umumnya.

Para Kadhang dan sedulur Kinasihku sekalian. Seperti ini;
Perjalanan sejarah ilmu pengetahuan, itu setara dengan nafas/angin yang keluar masuk melalui hidup/mulut kita.

Tanpa Sadar. Menyadari. Kesadaran, maka nafas/angin
yang setiap detiknya kita serap dan di keluarkan, menjadi tanpa ada unsur refleksivikasi kritis di dalamnya.

Ilmu pengetahuan, informasi, globalisasi, kapitalisme, modernisasi, budaya, hedonisme, dan gaya hidup serta ajaran yang berbau agama atau non agama dll, semua di serap dan di rekam oleh kita dengan sadar.

Dalam hal ini, kita membutuhkan refleksi kritis terhadap data yang kita serap.

Menyadari yaitu melakukan tranformasi, eksplorasi, implementasi, realisasi terhadap data yang kita serap dari kesehariannya.

Menyadari merupakan aktivitas, keselaluan dalam melaksanakan hasil serapan itu.

Menyadari sebuah ruang dimana kita selalu aktif. Imbuhan me-I artinya aktif.

Jadi…
Menyadari kita di tuntut untuk memanfaatkan ilmu pengetuan, sebagai ladang kita, untuk menciptakan menyadari itu sendiri.

Menyadari merupakan hasil atau buah dari Sadar, yang sudah bisa kita makan.

Mengerti bagaimana caranya. Memahami bagaimana prosesnya dan Mengetahui seperti apa rasanya, manis, pahit, kecut, asin atau…

Sehingganya, kita akan akan mengenal apapun yang kita serap dalam keseharian kita, melalui menyadari-nya terhadap sesuatu yang kita serap dengan sadar selama ini.

Contoh;
Toso Wijaya yang hanya Sadar, menjalani kehidupannya dengan membaca artikel dan menonton vidionya Wong Edan Bagu.

Toso Wijaya melalaikan tanggung jawabnya, untuk melayani kakaknya Djaka Tolos, yang sudah pikun, yang sedang di rawatnya.

Mengapa bisa seperti itu, karena Toso Wijaya hanya Sadar.

Jika,,, beda antara Sadar dan Menyadari, kalau Sadar, kita hanya mampu menyerap.

Sedangkan Menyadari adalah tindakan untuk melakukan sesuatu yang di serap dengan sadar.

Lalu….
Dimakah Kesadaran…?!

Kesadaran adalah keberulangan dari menyadari.

Sudah menjadi adat, atau tradisi.
Misalnya berbuat baik, seperti shalat atau semedi, atau perbuatan kita yang di dorong oleh ilmu pengetahuan atau diri kita sendiri, selalu berulang-ulang, itulah kesadaran.

Simpelnya, buah dari sadar, adalah menyadari, sedangkan buah dari menyadari itu adalah kesadaran.

Contoh lain, kita ingin sekolah, ingin kuliah, ingin berguru, ingin baca buku, ingin menulis, itu lah sadar. Lalu kita melakukan sekolah, melakukan kuliah, melakukan berguru, melakukan baca buku, melakukan menulis, itulah menyadari. Lalu sekolahnya, kuliahnya, berburunya, baca bukunya, menulisnya, tidak hanya sekali, selalu di lakukanya terus menerus hingga lulus, itulah kesadaran.

Sadar Menyadari berbuat kesadaran, itulah Laku Murni Menuju Suci. Sadar Menyadari berbuat kesadaran, itulah Inna lillaahi wa Inna illaihi Raji’un.

Karena Sebab Akibat dari ketiga kalimat inilah. Laku bisa menjadi Murni, dan kalau sudah Murni, alias tak tercampuri oleh apapun lagi, kita akan mampu mengatasi kompleksitas kehidupan, budaya, agama, ekonomi, politik dll, dengan ilmu pengetahuan universal yang berdiri kokoh diatas Wahyu Panca Laku/Iman.

Sehingganya, tidak ada lagi guru, murid, dinding, tirai, ghaib, jarak, pembatas, penghalang, jauh atau dekat, semua dan segalanya satu tempat, satu asal usul, sama tiada beda sama sekali.

Jika sudah mencapai tingkatan kesadaran murni ini, dimensi dimana Sang Guru Sejati atau Hidup berada, tempat bersua atau bercumbu nya Sang Hidup dan Dzat Maha Suci Hidup.

Kita boleh melakukan apa saja, asal ilmu pengetahuan yang kita dapat menyeruh. Misalnya Mencuri, korupsi, membunuh, berzinah, minum-minuman memabukkan, dan sebagainya, asalkan ilmu pengetahuan universal yang berdiri Kokoh diatas Wahyu Panca Laku/Iman, menyuruh berbuat seperti itu.

Tapi Ingat…!!!
Jangan lepaskan dulu kesadarannya….

Mana ada Ilmu Pengetahuan Universal yang berdiri Kokoh diatas Wahyu Panca Laku/Iman, yang menyuruh seperti itu…?!

Kalau sampai yang seperti. Berarti Anda telah Tersesat. Ber hati-hatilah.

Koruptor itu Sadar bahwa dia mencuri, bukan uang baik, salah pada hokum, salah pada rakyat, tapi mengapa dia masih melakukan hal itu…?!

Teroris itu Sadar bahwa dia sedang melakukan teror dengan ancaman Bom bunuh diri. Pencuri itu Sadar. Pemerkosa itu Sadar. Penipu. Perusuh. Pembohong itu Sadar. Pengfitnah. Pengadu domba dll itu Sadar, tapi mengapa mereka masih melakukan hal itu…?!

Karena mereka hanya Sadar. Andai saja mereka Menyadari, mereka tidak akan akan melakukan hal-hal yang di larang hukum dan merugikan orang lain. Begitulah seterusnya. He he he . . . Edan Tenan.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Di Alamat;
Oro-oro Jenggolo Manik. Gang Jenggolo. Dusun Ledok Kulon. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kab. Boyolali Jawa Tengah. 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Anda Kenal PANCASILA…?!


27022004_429917100787683_3262955140030042226_o

Anda Kenal PANCASILA…?!
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Juwangi Boyolali Jateng. Hari Minggu. Tanggal 21 Januari 2018.

He he he . . . Edan Tenan.
Sepertinya, tidak semua orang yang bertempat tinggal menempati NKRI ini, tidak semuanya mengenal, mereka hanya sekedar tahu, bukan mengenal, sebab itu, mereka tidak mengerti dan tidak memahaminya.

Menurut saya pribadi yang cinta NKRI. Pancasila adalah sebuah nilai Universal kemanusiaan yang ber Wahyu Panca Laku atau ber Iman.

Mengapa saya katakan sebuah nilai Universal kemanusiaan yang ber Wahyu Panca Laku atau ber Iman…?!

Tentunya bagi manusia Indnonesia yang paham sejarah, paham agama, paham kebudayaan, paham adat, tidak akan bisa merubah Pancasila.

Coba saha cermati dengan seksama sila-sila Pancasila itu.

Sila pertama kata dasarnya adalah Tuhan. Siapa yang tidak bertuhan di Indonesia ini…?!

Lantas, apakah kita pantas menyalahkan, mencemoh, mengFitnah, mengadu domba, syirik, iri, dengki kepada manusia yang sama-sama memiliki Tuhan dan menyembah Tuhan…?!

Sila kedua kata dasarnya adalah manusia. Di dunia ini, bukan angka uang yang mampu membeli harga diri kemanusiaan “TIDAK ADA”.

Oleh karena itu, Pancasila sudah mengumandangkan kepada kita, bahwa kemanusiaan harus dijunjung tinggi untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa.

Karena pada hakikatnya, Tuhan menciptakan manusia, agar saling mengenal satu sama lainnya, bukan saling sikat dan sikut, bukan saling menyesatkan, apalagi mengkafirkan, menyalahkan, mencemoh, mengFitnah, mengadu domba, syirik, iri, dengki.

Untuk itulah Pancasila menjadi penting untuk kita refleksikan bersama, agar Indonesia yang di bangun di atas pondasi Pancasila ini, tidak retak terpetak-petak.

Sila ke tiga kata dasarnya adalah Satu. Kesatuan dan persatuan memang cita-cita Pancasila, sehingga tokoh agama dan tokoh bangsa memiliki tekat, bagaimana kesatuan dan persatuan ini di jaga.

Namun untuk menjaga, tidak serta merta menjaga thok, dibutuhkan kekuatan mental Pancasila, sebab kalau tidak memiliki mental yang kokoh, maka akan sangat mudah di propaganda dengan rayuan-rayuan dari luar, agar meninggalkan Pancasila, sehingga NKRI menjadi Hancur.

Sila ke empat kata dasarnya adalah rakyat. Sesama rakyat Indonesia, haruskah kita bertengkar gara-gara persoalan ideologi…?!

Bagi manusia ber Pancasila, harusnya tidak bukan…!!!

Sebab manusia ber Pancasila, merupakan rakyat yang memiliki tujuan mulia dan dalam berkarya.

Yang bertani, akan menciptakan taninya sukses, yang PNS, akan menciptakan kinerjanya sukses, yang pedagang, akan menciptakan dagangannya sukses, yang kerja hasilnya pun berkah, yang ngajarkan ilmu bisa bermanfaat dll.

Dengan begitu, terciptalah rakyat yang satu, mamiliki kekuatan mental satu, yaitu menjunjung nilai-nilai Pancasila yang tidak bertentangan dengan NKRI.

Hakikat Pancasila adalah abstrak, umum dan universal serta tidak berubah/paten.

Oleh karenanya bangsa yang baik, adalah bangsa yang memahami dan mengamalkan ajaran ideologinya, sebagai bentuk pengabdian rakyat kepada bangsa dan negaranya, maka kebangsaan, kenegaraan, dan kemasyarakat harus dijaga.

Untuk menjaganya tentu kita harus paham asas-asas Pancasila yang memiliki persatuan dan kesatuan, asas perdamaian, dan asas kerja sama nasional dan internasional.

Sebab itu, bangsa negara lain mendefinisikan Pancasila merupakan Sumber yang tak terhingga, dalam, luas, dan kaya bagi perkembangan hidup kenegaraan, kebangsaaan, dan kemanusiaan suatu bangsa.

Sebagai sumber yang tak terhingga, Pancasila melahirkan nilai-nilai gotong-royong yang penuh cinta kasih sayang terhadap apapun dan siapapun. Pancasila sebuah wadah yang manampung nilai-nilai dan pengetahuan universal, pengetahuan sosialogi-antropologi, filsafat, akhlak, dan agama, budaya, spiritual serta keimanan.

Dengan ini saya katakan, bahwa agama dan nasionalisme, sesungguhnya adalah dua kutub yang tidak berseberangan, nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan.

Pancasila dan Agama apapun, adalah hal yang dapat sejalan dan saling menunjang, keduanya tidak bertentangan dan jangan dipertentangkan.

Bukan kah Begitu Para Sedulur dan Para Kadhang Kinasihku Sekalian…?!

Pancasila yang finalnya menjadi dasar falsafah Negara Indonesia, falsafah bangsa indonesia dan falsafah kemanusiaan indonesia, seharusnya ditaati, seharusnya diamalkan, seharusnya tetap dipertahankan, dan seharusnya dijaga kelestariannya, oleh siapapun yang mengaku dan mencintai NKRI.

Dengan Mengerti. Memahami. Mengetahui dan Mengenal Pancasila Saya Wong Edan Bagu berharap secara kemanusiaan. Semoga Pancasila masih di “BACA” di tela’ah, dan direfleksikan untuk menjaga NKRI ini tetap jaya.

Pancasila Jaya dan NKRI harga mati. Artinya kalau ada manusia yang tinggal di Indonesia yang mulai lahir atau orang tuanya sudah mengikuti ideologi tertentu, sementara hari ini pindah atau berubah, dapat dipastikan bahwa ia memiliki mental ideologi yang
kropos (seperti mental krupuk, kena air langsung melempem).

Mengapa kropos, karena ideologi yang ia ikuti tidak diiringi ilmu dan pengetahuan spiritual universal yang bertengger diatas Wahyu Panca Laku/Iman. sehingga akar ideologi melempen.

Akhir-akhir ini banyak di antara kita yang sangat mudah beralih dan pindah ideologi bahkan agama, kepercayaan, keyakinan bahkan adat, karena diyakini sesuatu/aliran yang baru itu lebih wow….

Mereka tidak sadar, sehingga tak menyadari, bahwa ideologi yang selama ini kita ikuti, memiliki sejarah yang tak terukirkan secara turun temurun, yang kemungkinannya tidak akan pernah berakhir selama peradaban manusia masih ada.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Di Alamat;
Oro-oro Jenggolo Manik. Gang Jenggolo. Dusun Ledok Kulon. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kab. Boyolali Jawa Tengah. 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya