Misteri Oro-oro Jenggolo Manik:

Misteri Oro-oro Jenggolo Manik:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Pesanggrahan Pesona Jagat Alit 2. Hari Kamis. Tanggal 11. Januari 2018.

Selain Moksa nya Prabu Brawijaya yang meninggalkan Misteri Grojogan Sewu dan Prabu Siliwangi yang moksa dengan Keraton nya.

Ada sejarah lain yang tidak kalah misteriusnya, dan menjadi Teka Teki ghaib hingga sekarang ini,
yaitu Keraton Jenggala Manik.

Keraton Jenggala Manik, meski tak berumur lama, namun bagaimanapun, sejarah pernah mencatat keberadaan Kerajaan Jenggala Manik ini, yang konon pernah berdiri di wilayah yang sekarang menjadi Kabupaten Sidoarjo Jatim.

Misteri yang belum terungkap hingga saat ini. Adalah; dimanakah tepatnya lokasi pusat Keraton Jenggala Manik ini berada.

Memastikan hal riyil yang kasat mata saja, tidak gampang, apa lagi sejarah yang berbau mistik ghaib, Tentu tidak mudah memastikannya.

Pasalnya, hingga saat ini belum ditemukan, situs purbakala yang secara jelas menunjukkan bekas Keraton Jenggala Manik, di tambah lagi tidak adanya kitab-kitab peninggalan dari Kerajaan Jenggala Manik.

Menurut buku sejarah di musium Sidoarjo yang menghimpun Panitia Penggalian Sejarah Sidoarjo, (PAPENSE) di tahun 1970 an yang lalu, disebutkan, letak Keraton Jenggala Manik, berada di sekitar sungai Pepe, hal ini didasarkan pada penemuan beberapa arca di lokasi tersebut, yang pada saat ini lokasi yang diyakini sebagai Keraton Jenggala Manik itu, berada di wilayah Kecamatan Gedangan.

Ada lagi yang menyatakan, bahwa Keraton Jenggala Manik, berada di sekitar alun-alun, tepatnya, berada di lokasi yang kini menjadi rumah dinas Bupati Sidoarjo.

Pendapat ini berdasarkan bukti tentang adanya patung katak raksasa dan arca Sang Hyang Ismaya, yang masih berada disana hingga tahun 1975.

Sementara itu, berdasarkan analisa sejarah yang didapat dari berbagai sumber, menyebutkan pusat militer Janggala Manik, diperkirakan berada di daerah Larangan, Kecamatan Candi, peristiwa yang mendukung perkiraan itu, adalah penemuan beberapa benda purbakala, pada saat penggalian pondasi, untuk Pasar Larangan, yang terjadi di tahun 1980-an.

Benda-benda purbakala itu, berbentuk binggal (gelang lengan), pedang, perhiasan dan rompi perang, dari penemuan benda-benda keprajuritan itu, beberapa orang sejarahwan menyimpulkan, bahwa daerah Larangan, dulunya adalah merupakan komplek militer Jenggala Manik.

Beberapa pusat aktifitas Jenggala Manik lainnya, di temukan pula di kawasan kecamatan Taman, sebagai tempat rekreasi bagi para putra-putri kerajaan, diperkirakan di daerah Tropodo.

Sementara itu, Perpustakaan Kerajaan Jenggala Manik (dalam sebuah riwayat disebut sebagai Gedung Simpen) berada di Desa Ental sewu, Kecamatan Buduran.

Sebuah sumber menyatakan, lokasi perpustakaan ini berdasarkan lingua franca, kata Ental dengan TAL.

Tal adalah sejenis pohon yang daunnya digunakan menjadi alat tulis-menulis, adapun daun pohon Tal secara jamak disebut RONTAL (Ron; daun, Tal; pohon Tal). Sedangkan kata sewu (seribu) dibelakangnya lebih menunjukkan jumlah yang banyak.

Menurut sumber itu TAL SEWU berarti menunjukkan jumlah naskah-naskah yang banyak di seuatu tempat.

Masih berdasarkan lingua franca, pusat religi dan spiritual Jenggala Manik, diperkirakan berada di kawasan Buduran.

Sebuah sumber mengkaitkan ini, dengan kata Budur, yang dalam bahasa Sansekerta, berarti Biara, bila kata Budur ber-lingua franca dengan biara, maka Buduran, berarti sebuah komplek berkumpulnya satu atau lebih biara.

Dengan kata lain, Kecamatan Buduran dimasa Jenggala manik, adalah pemukiman bagi pemuka-pemuka agama.

Bahkan ada Juru tafsir sejarah, yang meramalkan, Keraton Jenggala Manik ada di “Dadapan” kecamatan Pagak Kabupaten Malang Jatim, Bukti-bukti peninggalan yang terdapat di Dadapan pun, cukup kuat dan mendukung, untuk meramalkan Keraton Jenggala Manik ada di tempat tersebut.

Dan masih banyak lagi penelusuran-penelusuran yang di dukung dengan bukti-bukti kuat, namun hingga kini masih tetap menjadi misteri yang belum terungkap kepastiannya.

Lalu dimanakah lokasi pusat keraton Jenggala Manik yang Sesungguhnya…?! Simak dulu kisahnya, supaya tidak penasaran. He he he . . . Edan Tenan.

“Sekilas Al-kisah Keraton Jenggala Manik yang Misterius”

Ke-1)…
Kisah Putri Mahkota Kahuripan;
Tersebutlah sebuah kerajaan bernama Kahuripan, dengan Seorang Rajanya yang Arif Bijaksana Bernama Airlangga atau Resi Gentayu.

Resi Gentayu atau Airlangga, memiliki Tiga Orang Anak;
Yang pertama seorang wanita bernama Putri Sanggramawijaya Tunggadewi yang cantik jelita
atau Dewi Kilisuci.

Yang kedua seorang lelaki bernama Lembu Amiluhur, yang sebagai Putra Mahkota bergelar Raden Inu Kertapati, berwajah rupawan dan sangat ramah kepada siapa saja, tanpa memandang status dan jabatannya. Dan yang ketiga seorang lelaki lagi bernama Lembu Perteng.

Putri Mahkota yang bernama Sanggramawijaya Tunggadewi, pewaris takhta Kahuripan, yang pada akhirnya memilih mengundurkan diri, menjadi seorang pertapa, dan bergelar Dewi Kili Suci ini, menjadikan rebutan para pangeran dan raja-raja, yang silih berganti datang untuk melamarnya.

Namun yang melamar bukan dari bangsa manusia sana, pada suatu ketika, Sanggramawijaya Tunggadewi, dilamar dua orang raja sakti berkepala lembu dan kerbau.

Karena yang satu berkepala lembu bernama Raja Lembu Suro dan satunya lagi berkepala kerbau bernama Mahesa Suro.

Untuk menolak lamaran tersebut,
Sanggramawijaya Tunggadewi, membuat sayembara yang tidak mungkin dikerjakan oleh manusia biasa, yaitu membuat dua sumur di atas puncak gunung Kelud, yang satu harus berbau amis dan yang satunya harus berbau wangi dan harus selesai dalam satu malam atau sampai ayam berkokok.

Akhirnya dengan kesaktian Mahesa Suro dan Lembu Suro, sayembara tersebut disanggupi.

Setelah berkerja semalaman, kedua-duanya menang dalam sayembara.

Tetapi Sang putri masih belum mau diperistri. Kemudian Sang putri mengajukan satu permintaan lagi.

Yakni kedua raja tersebut, harus membuktikan dahulu, bahwa kedua sumur tersebut benar-benar berbau wangi dan amis, dengan cara mereka berdua harus masuk ke dalam sumur.

Terpedaya oleh rayuan tersebut, keduanyapun masuk ke dalam sumur yang sangat dalam tersebut.

Begitu mereka sudah berada di dalam sumur, lalu Sanggramawijaya Tunggadewi memerintahkan prajurit Jenggala Manik, untuk menimbun keduanya di dalam sumur dengan batu, maka matilah Mahesa Suro dan Lembu Suro di dalam sumur.

Tetapi sebelum mati, Lembu Suro sempat bersumpah dengan mengatakan. “O-yoh, wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yoiku. Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung”

Artinya;
(Ya, orang Kediri kelak akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi danau).

Ke-2)…
Kisah Putra Mahkota Kahuripan;
Sang Putra mahkota bernama Lembu Amiluhur, yang bergelar Raden Inu Kertapati, bertunangan dengan Dewi Candra Kirana, putri Kerajaan Kediri. Dan…

Pada suatu ketika, Raden Inu Kertapati berangkat ke Kerajaan Kediri untuk menemui tunangannya bersama rombongan lengkap dengan perbekalan dan pengawal yang siap siaga.

Namun di tengah perjalanan, rombongan Raden Inu diberhentikan oleh gerombolan dari Negeri Asmarantaka, yang dipimpin oleh Panji Semirang.

Melihat ada orang yang
menyuruhnya berhenti, Raden Inu bersiap-siap seandainya harus bertempur.

Akan tetapi, gerombolan tersebut tidak menyerang mereka, mereka hanya meminta Raden Inu untuk bertemu dengan pemimpinnya, yaitu Panji Semirang.

Tanpa rasa takut, Raden Inu menemui Panji Semirang, yang menyambutnya dengan ramah, sehingga Raden Inu bertanya;

Rupanya engkau tidak seperti yang selama ini diceritakan orang-orang, wahai Panji Semirang…?!

Panji Semirangpun mengatakan bahwa selama ini dia hanya mengundang rombongan untuk bertemu dengannya, siapa yang tidak berkenan, maka tidak dipaksa.

Akhirnya Raden Inu melanjutkan perjalanannya, setelah menceritakan bahwa dia sedang menuju Negeri Kediri, untuk menemui calon istrinya, Dewi Candra Kirana.

Radin Inu baru pertama kali bertemu dengan Panji Semirang, namun selama pertemuan tersebut, dia merasa seperti sudah mengenalnya sebelumnya, sehingga langsung merasa akrab, hanya saja, Raden Inu tidak dapat mengingat kapan dan di mana dia mengenal Panji Semirang.

Setelah merasa cukup berbincang-bincang dengan Panji Semirang, Raden Inu pun melanjutkan perjalanannya menuju Kediri.

Tiba di Kediri, rombongan Raden Inu disambut dengan meriah, bahkan selir Raja Kediri yang bernama Dewi Liku, yang memiliki putri bernama Dewi Ajeng, ikut menyambut kehadiran Raden Inu Kertapati.

Hanya saja Raden Inu tidak melihat kehadiran Dewi Candra Kirana, ketika Raden Inu menanyakan keberadaan Dewi Candra Kirana, Dewi Ajeng mengatakan bahwa Dewi Candra Kirana menderita sakit ingatan dan sudah pergi lama dari kerajaan.

Mendengar keterangan kepergian Dewi Candra Kirana, Raden Inu kaget sekali, sehingga jatuh pingsan, iapun segera dibawa masuk ke dalam istana.

Memanfaatkan kesempatan ini, dan dengan tipu muslihatnya, akhirnya Dewi Liku berhasil memperdaya Raja Kediri, sehingga menikahkan Raden Inu Kertapati dengan Dewi Ajeng.

Menjelang acara pernikahan ini, segala macam persiapan diperintahkan oleh Raja Kediri, termasuk pesta yang sangat meriah.

Rupanya rencana jahat Dewi Liku tidak berhasil. Tiba-tiba terjadi kebakaran hebat yang menghancurkan seluruh persiapan pernikahan tersebut.

Melihat kejadian tersebut, Raden Inu dan rombonganpun meninggalkan istana, dan setelah berada jauh dari istana, diapun tersadar dan teringat kembali dengan Dewi Candra Kirana, yang sangat mirip sekali dengan Panji Semirang, dia berpikir bahwa bisa jadi Panji Semirang adalah Dewi Candra Kirana.

Kemudian dia dan seluruh rombongannya menuju Negeri Asmarantaka, tempat Panji Semirang berada.

Rupanya Panji Semirang sudah meninggalkan negeri tersebut, namun tanpa putus asa, Raden Inu mencari keberadaan Panji Semirang, hingga akhirnya tibalah mereka di Negeri Gegelang, yang rajanya masih kerabat dari Raja Kahuripan.

Di Negeri Gegelang ini, Raden Inu disambut dengan gembira, dan rupanya, Negeri Gegelang sedang menghadapi kesulitan, yaitu sedang diganggu oleh gerombolan perampok yang dipimpin oleh Lasan dan Setegal.

Akhirnya, Raden Inu Kertapati bersama-sama dengan pasukan dari Negeri Gegelang, menghadapi para perampok. Raden Inu mengerahkan segenap kemampuannya menghadapi perampok tersebut, dan berhasil mengalahkannya, hingga pimpinan perampok tersebut mati.

Pesta tujuh hari tujuh alam diadakan untuk menyambut kemenangan Raden Inu Kertapati dan pasukannya, pada malam terakhir pesta tersebut, Raja memanggil seorang ahli pantun, seorang pemuda bertubuh gemulai.

Pantun yang dibawakannya berisi cerita perjalanan hidup Dewi Candra Kirana dan Raden Inu Kertapati, hal yang membuat Raden Inu menjadi sangat penasaran sehingga akhirnya menyelediki siapa sebenarnya ahli pantun tersebut.

Selidik punya selidik, rupa-rupanya ahli pantun tersebut, adalah Panji Semirang alias Dewi Candra Kirana.

Dewi Candra Kirana bercerita bahwa memang Dewi Liku yang membuatnya hilang ingatan hingga akhirnya keluar dari istana Daha.

Dia disembuhkan oleh seorang pertapa yang memiliki kemampuan mengobati berbagai penyakit.

Setelah semua misteri terungkap jelas, akhirnya Raden Inu Kertapati kembali ke Negeri Kahuripan, untuk melangsungkan pernikahannya dengan meriah, dan menjadi sepasang suami istri yang hidup berbahagia. Hingga memiliki dua orang putra.

Nah…
Berawal dari sinilah, Kerajaan Kahuripan kemudian dibelah menjadi dua kerajaan. Yaitu; Janggala dan Kadiri, yang masing-masing dipimpin oleh kedua adik Sanggramawijaya Tunggadewi.

Yaitu Lembu Amiluhur atau
Raden Inu Kertapati sebagai Raja di Jenggala bergelar
Maha Panji Garasakan dan Lembu Peteng sebagai Raja di Kadiri bergelar Sri Samarawijaya.

Setelah Raja Airlangga membagi Kerajaan Kahuripan di bagi menjadi dua, untuk menghindari perang saudara. Yaitu Kadiri dan Jenggala.

Sebelum mangkat. Prabu Airlangga berpesan kepada kedua putranya, bahwa kedua kerajaan itu, harus disatukan kembali, karena jika tidak, akan menjadi musnah.

Maka kedua raja pun bersepakat menyatukan kembali kedua kerajaan, dengan cara menikahkan putera mahkota Jenggala, Raden Panji Asmarabangun dengan puteri Kadiri, Dewi Sekartaji.

Ibu tiri Sekartaji, selir raja Kadiri, tidak menghendaki Sekartaji menikah dengan Raden Panji, karena ia menginginkan puteri kandungnya sendiri, yang nantinya menjadi ratu Jenggala.

Maka ia menyekap dan menyembunyikan Sekartaji dan ibunya. Pada saat Raden Panji datang ke Kediri untuk menikah dengan Sekartaji, puteri itu sudah menghilang.

Raden Panji sangat kecewa. Ibu tiri Sekartaji membujuknya untuk tetap melangsungkan pernikahan dengan puterinya sebagai pengganti Sekartaji, namun Raden Panji menolak.

Raden Panji kemudian berkelana. Ia mengganti namanya menjadi Ande-Ande Lumut.

Pada suatu hari ia tiba di desa Dadapan. Ia bertemu dengan seorang janda yang biasa dipanggil Mbok Rondo Dadapan.

Mbok Rondo mengangkatnya sebagai anak dan sejak itu ia tinggal di rumah Mbok Rondo.

Ande-Ande Lumut kemudian minta ibu angkatnya untuk mengumumkan bahwa ia mencari calon isteri.

Maka berdatanganlah gadis-gadis dari desa-desa di sekitar Dadapan, untuk melamar Ande-Ande Lumut.

Namun tidak seorangpun yang ia terima sebagai isterinya.

Sementara itu, Sekartaji berhasil membebaskan diri dari sekapan ibu tirinya. Ia berniat untuk menemukan Raden Panji.

Ia berkelana hingga tiba di rumah seorang janda yang mempunyai tiga anak gadis, Klething Abang, Klething Ijo dan si bungsu Klething Biru. Ibu janda menerimanya sebagai anak dan diberi nama Klething Kuning.

Klething Kuning disuruh menyelesaikan pekerjaan sehari-hari dari membersihkan rumah, mencuci pakaian dan peralatan dapur.

Pada suatu hari, karena kelelahan Klething Kuning menangis. Tiba-tiba datang seekor bangau besar.

Klething Kuning hampir lari ketakutan. Namun bangau itu berkata, “Jangan takut, aku datang untuk membantumu”.

Bangau itu kemudian mengibaskan sayapnya dan pakaian yang harus dicuci Klething Kuning berubah menjadi bersih.

Peralatan dapur juga dibersihkannya. Setelah itu bangau terbang kembali.

Bangau itu kembali setiap hari untuk membantu Klething Kuning.

Pada suatu hari, bangau menceritakan tentang Ande-Ande Lumut kepada Klething Kuning dan menyuruhnya pergi melamar.

Klething Kuning minta ijin kepada ibu angkatnya untuk pergi ke Dadapan.

Ibunya mengijinkan ia pergi bila pekerjaannya sudah selesai.

Ia pun sengaja menyuruh Klething Kuning mencuci sebanyak mungkin pakaian, agar ia tidak dapat pergi.

Sementara itu, ibu janda mengajak ketiga anak gadisnya ke Dadapan, untuk melamar Ande-Ande Lumut.

Di perjalanan, mereka tiba di sebuah sungai yang sangat lebar.

Tidak ada jembatan atau perahu yang melintas. Mereka kebingungan.

Lalu mereka melihat seekor kepiting raksasa menghampiri mereka.
Namaku Yuyu Kangkang. Kalian mau kuseberangkan…?

Tentu saja kami mau.

Tapi kalian harus memberiku imbalan, jawab Yuyu kangkang.

Kau mau uang…? tanya ibu janda. Berapa…?

Aku tak mau uangmu. Anak gadismu cantik-cantik. Aku mau mereka menciumku.

Mereka terperanjat mendengar jawaban Yuyu Kangkang. Namun mereka tidak mempunyai pilihan lain. Akhirnya mereka setuju.

Kepiting raksasa itu menyeberangkan mereka satu persatu dan mereka pun memberikan ciuman sebagai imbalan.

Sesampainya di rumah mbok Rondo, mereka minta bertemu dengan Ande-Ande Lumut.

Mbok Rondo mengetuk kamar Ande-Ande Lumut, katanya; Puteraku, lihatlah, gadis-gadis cantik ini ingin melamarmu.
Pilihlah satu sebagai isterimu.

Ibu… Sahut Ande-Ande Lumut. Katakan kepada mereka, aku tidak mau mengambil kekasih Yuyu Kangkang sebagai isteriku.

Ibu Janda dan ketiga anak gadisnya terkejut mendengar jawaban Ande-Ande Lumut.

Bagaimana pemuda itu tahu bahwa mereka tadi bertemu dengan kepiting raksasa itu…?!

Dengan kecewa mereka pun pulang.

Di rumah, Klething Kuning sudah menyelesaikan semua tugasnya berkat bantuan bangau ajaib, dan sebelum bangau itu pergi, Klenthing Kuning di beri sebatang lidi.

Ketika ibu angkatnya kembali, Klething Kuning sekali lagi meminta ijin, untuk pergi menemui Ande-Ande Lumut.

Ibu angkatnya terpaksa mengijinkan, namun ia sengaja mengoleskan kotoran ayam ke punggung Klething Kuning.

Klething Kuning pun berangkat. Tibalah ia di sungai besar. Kepiting raksasa itu mendatanginya untuk menawarkan jasa membawanya ke seberang sungai.

Gadis cantik, kau mau ke seberang…? Mari kuantarkan,,, kata Yuyu Kangkang.

Tidak usah, terima kasih, kata Klething Kuning sambil berjalan menjauh.

Ayolah, kau tak perlu membayar… Yuyu Kangkang mengejarnya.
Cukup sebuah ciuman saja kok.

Klething Kuning mencambuk Yuyu Kangkang dengan lidi pemberian bangau.

Kepiting raksasa itu pun lari ketakutan. Klething Kuning kemudian mendekati tepi air sungai dan menyabetkan lidinya sekali lagi, dan air sungai terbelah, dan ia pun bisa berjalan di dasar sungai sampai ke seberang.

Klething Kuning akhirnya tiba di rumah Mbok Rondo.

Mbok Rondo menerimanya sambil mengernyitkan hidung, karena baju Klething Kuning bau kotoran ayam.

Ia pun menyilakan gadis itu masuk, lalu ia pergi ke kamar Ande-Ande Lumut.

Ande anakku, ada seorang gadis cantik, tetapi kau tak perlu menemuinya. Bajunya bau sekali, seperti bau kotoran ayam, biyar kusuruh ia pulang saja.

Aku akan menemuinya, Ibu,,, kata Ande-Ande Lumut.

Tetapi… ia…,” sahut Mbok Randa.

Ia satu-satunya gadis yang menyeberang tanpa bantuan Yuyu Kangkang, ibu, dialah gadis yang aku tunggu-tunggu selama ini.

Mbok Rondo pun terdiam. Ia mengikuti Ande-Ande Lumut menemui gadis itu. Klething Kuning terkejut sekali melihat Ande-Ande Lumut, adalah tunangannya, yaitu Raden Panji Asmarabangun.

Sekartaji, akhirnya kita bertemu lagi, kata Raden Panji.

Raden Panji kemudian membawa Dewi Sekartaji dan Mbok Rondo Dadapan ke Jenggala.

Raden Panji dan Dewi Sekartaji pun menikah. Kerajaan Kadiri dan Jenggala pun dipersatukan kembali. Menjadi Jenggala Manik.
Namun sampai disini, sejarah ini terputus, seakan sirna di telan bumi begitu saja.

Lalu dimanakah lokasi pusat keraton Jenggala Manik ini…?! Kalau Kahuripan dan Jenggala serta Kadiri, sudah jelas pada kisah diatas kan…!!! La kalau Jenggala Manik…?! Apa di malang Jatim Kah…?! Atau Sidoarjo Jatim kah…?! Seperti yang sedang sibuk di lacak para ahli sejarah itu…?!

Keraton Jenggala Manik moksa di Tempat. Di mana saya akan mendirikan Pesanggrahan Pesona Jagat Alit 2 Sekarang ini. Oro-oro Jenggolo Manik. Gang Jenggolo. Dusun Ledok Kulon. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kab. Boyolali Jawa Tengah. 57391.
He he he . . . Edan Tenan.

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Di….
Pesanggrahan Pesona Jagat Alit 2.
Alamat;
Oro-oro Jenggolo Manik. Dusun Ledok Kulon. Desa Pilangrejo. Kecamatan. Juwangi. Kab. Boyolali Jawa Tengah. 57391.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s