Sejarah Singkat Turunnya Wahyu Tertua/Pertama Turun Kebumi: (Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling Bagian Pertama)

25587239_408895006223226_4772694128373983166_o

Sejarah Singkat Turunnya Wahyu Tertua/Pertama Turun Kebumi:
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling Bagian Pertama)
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Di Pesanggrahan Pesona Jagat Alit. Hari Jumat. Tanggal 22 Desember 2017.

Para Sedulur dan Kadhang Kinasihku Sekalian. Ketahuilah;
Peradaban Sunda adalah Akar dari Seluruh Peradaban Dunia.
1. Sejarah ilmu tertua.
2. Sejarah kenabian tertua.
3. Sejarah kerajaan tertua.
4. Sejarah agama tertua.
5. Sejarah tarekat tertua.
6. Sejarah kewalian tertua.
7 Sejarah leluhur tertua.
8. Sejarah kampung halaman tertua.
9. Sejarah budaya tertua.

Berawal dari Tanah Pasundan atau Sunda inilah. Kepercayaan atau keyakinan Asli Manusia Jawa bermula, tersebut Kapitayan, yang artinya hampa atau kosong/suwung.

Kapitayan adalah ajaran pertama yang ada di tanah jawa, sebagai Bukti bahwa Para Nabi Pernah diutus di Tanah Jawa.

Jika ada yang bertanya, ajaran apa yang pertama kali ada…?!
Jawabannya adalah ajaran Kapitayan, ajaran paling awal dan pertama kali ada di dunia dan berkembangnya di Tanah Jawa.

Pelakunya Adalah Adam dan Hawa.
Kapitayan adalah sebuah ajaran yang memuja sesembahan utama yang disebut, “Sanghyang Taya” yang bermakna hampa atau kosong/suwung.

Leluhur kita sudah sadar diri, jauh sebelum ajaran agama samawi hadir di tanah Jawa. Ini terbukti dari visi dan misi Kapitayan yang menjadi ajarannya.

Visi Ajaran Kapitayan;
1. Mulih ka jati Mulang ka Asal.
Misi Ajaran Kapitayan;
1. Urang sunda apal kana jati sundana.
2. Urang sunda apal kana jati dirina.
3. Urang sunda apal yen asal muasal peradaban ti sunda, bakal balik deui ka sunda.

Para leluhur jawa, merasa bahwa Visi dan Misi Ajaran Kapitayan itu, adalah untuk di percaya/yakini dan di lakukan, bukannya menjadi bahan perdebatan atau malah dicarikan eksistensinya, itulah alasan kenapa ajaran Jawa tidak perlu di deklarasikan menjadi aliran agama apapun.

Masyarakat Jawa yang ramah dan santun, juga menerima dengan baik ajaran agama yang dibawa oleh kaum migran, seperti Hindu, Budha, Islam, Nasrani dll, selama mempunyai konteks yang sama dengan satu ujung yaitu Tuhan.

Sebab inilah banyak agama yang dibawa kaum migran, lebih banyak memilih basis dakwahnya di tanah Jawa.

Namun ironisnya Ajaran Jawa sebagai tuan rumah, pernah bahkan sering di tekan hebat oleh para tamunya itu.

Padahal, andai mau sadar diri menelisik sejarah perjalanan kehidupan dunia. Adalah Jawa.
Ini buktinya…

(1). Sejarah ilmu tertua;
1. Mun neang nu bener bakal neang oge nu salah, ahirna meunangna kabeneran jeung kasalahan, tungtungna lain mulang tapi malah pasea, tah kieu mun neang ka luar diri.

2. Mun neang nu sabenerna moal aya nu sasalahna, ahirna meunang bebeneran moal meunang sasalahan, tungtungna mulang moal aya pasea, tah kieu mun neang ka jero diri.

3. Matak mun neang ka jero diri mah moal kabobodo tenjo kasamaran tingali sabab meunang bukti nu nyari (eusi) bukti nu nyata (kulit).

4. Sabab mun saukur nempo kulit teu nempo eusi mah tungtungna lain mulang tapi malah jadi agul ku payung butut.

5. Da ari geus mulang mah tong boro bukti nu ka tukang, bukti nu ka hareup ge geus nyampak.

6. Tapi nu agul ku payung butut mah tong boro bukti nu ka hareup, bukti nu ka tukang ge moal meunang.

7. Sabab hirup mah ayeuna, lain kamari lain isuk.

Kapitayan yang lebih dikenal masyarakat umum sebagai Ilmu Sundayana, adalah Ilmu Tertua di dunia, Ilmu Sundayana, adalah ilmu keabadian yang diperlukan oleh Nabi Adam dan Siti Hawa agar bisa hidup abadi di surga.

Kenapa Adam dan Hawa belum hidup abadi…?!
Karena posisinya masih di surga taman (jannatullah/taman Allah), bukan di surga rumah (baitullah/rumah Allah).

Sebab, kalau di jannatullah masih ada larangan, yaitu mendekati pohon khuldi (pohon keabadian) apalagi memakan buahnya, sedangkan kalau di baitullah, tidak ada larangan apapun.

Hakikat pohon khuldi, adalah ilmu keabadian, agar bisa masuk baitullah. Sedangkan hakikat buah khuldi, adalah hasil keabadian, yaitu bertemu dengan wujudullah,
(wujud Allah) pemilik baitullah.

Kenapa Adam dan Hawa Diturunkan ke Dunia…?!
Adam dan Hawa diturunkan ke dunia, karena telah mendekati pohon khuldi dan memakan buahnya tanpa memahami hakikatnya terlebih dulu.

Tujuan diturunkan ke dunia, agar belajar untuk memahami hakikat pohon khuldi (ilmu keabadian) dan buah khuldi (hasil keabadian).

Apa itu ilmu keabadian…?!
Ilmu keabadian adalah ilmu mulih ka jati, mulang ka asal. Yang di dalam istilah qitabnya, Inna Illaihi wa Inna ilaihi Raji’un, istilah spiritualnya, Sangkang Paraning dumadi. Yang arti maksudnya; Asal dari Tuhan kembali ke Tuhan.

Istilah mulih ka jati, mulang ka asal atau Inna lillaahi wa Inna ilaihi Raji’un atau Sangkan Paraning dumadi, berasal dari tarekat tertua, yaitu tarekat karahayuan pada jaman Nabi Nuh.

Tarekat adalah bagian dari agama, karena agama itu meliputi syariat (amalan lahir) dan tarekat (amalan batin).

Kenapa ada dua jenis amalan…?!
Karena manusia terdiri dari dua unsur, yaitu jasmani (jasad) dan rohani (ruh). Sebab itu ada ilmu syariat (ilmu lahir/ilmu kulit) dan ilmu hakikat (ilmu batin/ilmu isi).

Apa itu ilmu mulih ka jati, mulang ka asal atau Inna lillaahi wa Inna ilaihi Raji’un atau Sangkan Paraning dumadi…?!

Ilmu mulih ka jati, mulang ka asal atau Inna lillaahi wa Inna ilaihi Raji’un atau Sangkan Paraning dumadi, adalah ilmu “pulang” maksudnya yaitu pulang ke Tuhan, yang sering saya kabarkan di internet dengan menggunakan bahasa istilah Laku Murni Menuju Suci.

Lengkapnya adalah Mulih ka jati, mulang ka asal, dipunut ku Gusti, dicandak ku nu rahayu.
Pulangnya lewat mana…?!

Lewatnya ke dalam diri, bukan ke luar diri. Jalurnya dari martabat alam terendah hingga martabat alam tertinggi, yang ringkas singkat istilahnya “Laku Murni Menuju Suci”.

Ada lima martabat alam dari yang tertinggi hingga yang terendah. Yaitu;
1. Martabat alam zat-kunci-lakunya Pasrah kepada Tuhan.

2. Martabat alam sifat-paweling-lakunya menerima keputusan Tuhan.

3. Martabat alam asma-asmo-lakunya mempersilahkan kuasa Tuhan.

4. Martabat alam ruh-mijil-lakunya merasakan kenyataan Tuhan.

5. Martabat alam jisim-singkir-lakunya menebar cinta kasih sayang Tuhan.

Alias Wahyu Panca Ghaib – Wahyu Panca Laku Bin Sedulur Papat Kalima Pancer-nya Sendiri.

Jadi “asal dari Tuhan, kembali ke Tuhan” adalah dari zat ke sifat ke asma ke ruh ke jisim, kemudian kembali lagi dari jisim ke ruh ke asma ke sifat ke zat. (Nyungsang buana balik)-(curiga Nanjing warangka, warangka Nanjing curiga).

Alam keabadian adanya di martabat alam zat. Jadi “asal dari zat, kembali ke zat” atau bisa disebut juga “asal dari alam keabadian, kembali ke alam keabadian”.
Jalur pulangnya adalah;
1. Mulih ka jati, yaitu dari jisim ke ruh.
2. Mulang ka asal, yaitu dari ruh ke asma.
3. Dipunut ku Gusti, yaitu dari asma ke sifat.
4. Dicandak ku nu rahayu, yaitu dari sifat ke zat.

Jadi…
Ilmu mulih ka jati, mulang ka asal, dipunut ku gusti, dicandak ku nu rahayu, disebut juga sebagai Sundayana (ajaran sunda-jawa kuno). Paling tua.

Utusan Ke-9 Setelah Nabi Adam, Adalah Semar. Sang Pembawa Ajaran Langit untuk Tanah Jawa.

Adalah satu kekeliruan, jika kita beranggapan Leluhur jawa, adalah penganut animisme, penyembah benda-benda alam.

Leluhur jawa di masa purba, telah memiliki keyakinan monotheisme, yang disebut “Ajaran Kapitayan”.

Berbagai kajian telah dilakukan untuk mencari data tentang Etnis penghuni jawa (Nusantara), bahwa sejak masa “Berburu” pada jaman Purba, manusia sudah mengenal keyakinan dan harapan yang menjadi cikal bakal Agama Purba.

Sejak jaman Pleistosen akhir para penghuni jawa (Nusantara) sudah mengenal peradaban yang berkaitan dengan Agama, dari berbagai hasil budaya batu purba seperti Menhir, Dolmen, Yupa, Sarkofagus, dan punden berundak, membuktikan bahwa penghuni tanah jawa sudah mengenal Agama dengan berbagai ritual pemujaanya.

Berlanjut ke jaman perunggu sampai ke jaman logam, banyak ditemukan hasil galian yang berhubungan dengan penguburan mayat dan kegiatan sosial, yang mengindikasikan bahwa ada hubungan antara prilaku sosial dan Agama pada kehidupan penghuni tanah jawa.

Pada zaman purbakala, pernah terdapat kesatuan kebudayaan pada wilayah yang luas meliputi India, Indochina, dan Jawa, termasuk kepulauan di wilayah Pasifik.

Mereka percaya kepada sesuatu yang ghaib dibalik benda-benda yang besar dan luas yang telah memberi keberuntungan atau kesialan dalam kehidupan mereka.

Juga percaya bahwa ada orang-orang tertentu yang memiliki kedaulatan untuk memanggil, mendamaikan atau mengusir kekuatan ghaib tersebut.

Kepercayaan tersebut yang disalah artikan oleh Ilmuan Orientalis dengan istilah Animisme dan Dinamisme.

Kepercayaan yang disebut sebagai Animisme Dinamisme tersebut, pada hakikatnya adalah Agama Kuno penduduk jawa (Nusantara) yang dalam istilah jawa dikenal dengan nama Kapitayan.

Agama yang sudah dianut sekian lama sejak Masa Paleolitikum hingga zaman Modern dengan nama yang berbeda-beda di setiap wilayahnya, seiring dengan perkembangan ras manusia dan membentuk suku-suku di seluruh Nusantara.

Seperti berbeda-bedanya bahasa di setiap suku, Nama agama ini pun menjadi berbeda-beda di setiap wilayahnya seperti Istilah Sunda Wiwitan pada suku Sunda, Kejawen pada suku Jawa, Kaharingan/Tjilik Riwut pada suku Dayak, Ugamo Malim pada suku Batak dan nama yang lain pada setiap suku yang berbeda sebelum datangnya pengaruh Industan dan China pada awal abad Masehi dan membentuk kerajaan-kerajaan baru dengan agama baru.

Dalam keyakinan penganut kapitayan di Jawa, leluhur yang pertama kali dikenal sebagai penganjur Kapitayan adalah Danghyang Semar, keturunan tegas dari Manusia Modern (Homo Sapiens) pertama yang di turunkan ke dunia yaitu Adam.

Dalam kitab kuno Pramayoga dan Pustakaraja Purwa Silsilah Nabi Adam sampai Danghyang semar Sebagai berikut;
Nabi Adam.
Nabi Syis.
Anwas dan Anwar.
Hyang Nur Rasa.
Hyang Wenang.
Hyang Tunggal.
Hyang Ismaya.
Wungkuhan.
Smarasanta (Semar)
Jejak ini dapat di telusuri di Situs Semar Di Sirah Cipaku Sumedang.

Dalam keyakinan penganut Kapitayan, leluhur yang pertama kali sebagai penyebar Kapitayan adalah Dang Hyang Semar putera Sang Hyang Wungkuham keturunan Sang Hyang Ismaya.

Yang mengungsi ke Tanah Jawa bersama saudaranya Sang Hantaga (Togog) akibat banjir besar di Negara asalnya dan akhirnya Semar tinggal di Jawa dan Togog di luar Jawa.
Sedangkan saudaranya yang lain yaitu Sang Hyang Manikmaya, menjadi penguasa alam ghaib, kediaman para leluhur yang disebut Ka-Hyang-an.

Secara sederhana, Kapitayan dapat digambarkan sebagai suatu ajaran yang memuja sembahan utama yang disebut Sanghyang Taya, yang bermakna hampa, kosong, suwung, awang uwung.

Taya bermakna yang Absolute, yang tidak bisa dipikirkan dan dibayang bayangkan, tidak bisa didekati dengan panca indera.

Orang jawa kuno mendefinisikan Sanghyang Taya dalam satu kalimat “Tan kena Kinaya Ngapa” yang artinya tidak bisa diapa-apakan keberadaan-Nya.

Kata Taya bermakna tidak ada tapi ada, ada tetapi tidak ada. Untuk itu agar bisa dikenal dan disembah manusia, Sanghyang Taya digambarkan mempribadi dalam nama dan sifat yang disebut Tu atau To, yang bermakna seutas benang, daya ghaib yang bersifat Adikodrati.

Tu atau To adalah tunggal dalam dzat, Satu pribadi. Tu Lazim disebut Sanghyang Tu-nggal, Dia memiliki dua sifat, yaitu kebaikan dan ke-tidak baikan.

Tu yang bersifat baik disebut Tu-han dengan nama Sanghyang Wenang.

Tu yang bersifat tidak baik disebut han-Tu dengan nama Sang Manikmaya.

Baik Sanghyang Wenang dan Sang Manikmaya adalah sifat saja dari sanghyang Tunggal yang Ghaib.

Oleh karena Sanghyang Tunggal dengan dua sifat utamanya itu bersifat ghaib, untuk memujanya dibutuhkan sarana yang bisa didekati oleh panca indera dan alam pikiran manusia.

Demikianlah, dalam ajaran kapitayan dikenal keyakinan yang menyatakan bahwa kekuatan Sang Taya yang mempribadi dalam Tu atau To itu ada dibalik segala sesuatu yang memiliki nama Tu atau To.

Seperti; wa-Tu (Batu), Tu-lang, Tu-ndak (bangunan berundak), Tu-tud (hati,limpa), To-san (pusaka), Tu-ban (mata air), To-peng, Tu-rumbuk (pohon beringin), Tu-gu dll.

Dalam melakukan puja bakti sesembahan kepada Sanghyang Taya, maka disediakan sesaji Tu-mpeng dalam Tu-mpi (keranjang anyaman bambu), Tu-ak (arak), Tu-kung (sejenis ayam) untuk dipersembahkan kepada sanghyang Tu-nggal yang sifat gaibnya tersembunyi dibalik sesuatu yang memiliki daya ghaib seperti wa-Tu, Tu-gu, Tu-rumbuk, Tu-lang, Tu-ndak, To-san, To-ya.

Namun untuk melakukan permohonan yang tidak baik, persembahan ini akan ditujukan kepada han-Tu yang bernama Sang Manikmaya, dengan persembahan yang buruk bernama Tu-mbal.

Berbeda dengan persembahan sesaji kepada Sanghyang Tu-nggal yang merupakan puja bakti melalui pelantara, para Rohaniawan kapitayan melakukan sembah-Hyang, langsung kepada Sanghyang Tu-nggal.

Di suatu ruangan khusus bernama Sanggar, bangunan persegi empat beratap Tu-mpang, dengan Tu-tuk (lubang) di dinding sebelah timur sebagai lambang kehampaan Sanghyang Taya, dengan mengikuti aturan tertentu.

Mula mula sang Rohaniawan melakukan Tu-lajeg (berdiri tegak) menghadap Tu-tuk (lubang) dengan kedua tangan diangkat keatas menghadirkan Sanghyang Taya kedalam Tu-tud (hati), setelah merasa Sanghyang taya hadir didalam hati, kedua tangan diturunkan di dada tepat pada Tu-tud (hati).

Posisi ini disebut Swadikep (sidakep/memegang ke-akuan diri), proses Tulajeg ini dilakukan dalam tempo lama.

Setelah tulajeg selesai, sembahyang dilanjutkan dengan posisi Tu-ngkul (membungkuk memandang kebawah) yang juga dilakukan dalam tempo yang relatif lama.

Lalu dilanjut kan dengan posisi Tu-lumpuk (bersimpuh dengan kedua tumit diduduki) dilakukan dalam relatif lama.

Yang terakhir, dilakukan dengan posisi To-ndhem (bersujud seperti bayi dalam perut ibunya) juga dilakukan dalam tempo yang lama.

Setelah melakukan sembahyang yang begitu lama itu, Rohaniawan Kapitayan dengan segenap rasa dan perasaan, berusaha menjaga keberlangsungan Sanghyang taya yang sudah disemayamkan didalam Tu-tud (hati).

Seorang pemuja Sanghyang Taya yang dianggap saleh akan dikaruniai Tu-ah (kekuatan gaib yang bersifat positif) dan Tu-lah (kekuatan gaib penangkal negatif).

Mereka yang memiliki Tu-ah dan Tu-lah itulah yang dianggap berhak menjadi pemimpin masyarakat dengan gelar ra-Tu atau dha-Tu.

Dalam ajaran kapitayan, para ra-Tu atau dha-Tu yang sudah dikaruniai Tu-ah dan Tu-lah setiap gerak geriknya akan ditandai oleh Pi, yaitu kekuatan dari sanghyang taya yang tersembunyi.

itu sebabnya ra-Tu atau dha-Tu menyebut diri dengan kata ganti Pi-nakahulun.
Jika berbicara disebut Pi-dha-Tu (Pi-dato).
Jika memberi pengajaran disebut Pi-wulang.
Jika memberi petunjuk disebut Pi-tuduh.
Jika memberi nasihat disebut Pi-tutur.
Jika memberi hukuman disebut Pi-dana.
Jika memancarkan wibawa disebut Pi-deksa.
Jika meninggal dunia disebut Pi-tara.

Seorang ra-Tu atau dha-Tu adalah pengejawantahan kekuatan ghaib Sanghyang Taya, Citra pribadi sanghyang Tunggal.

Demikianlah ajaran yang dianut oleh orang jawa sejak zaman purba dan masih bertahan sampai hari ini dengan nama dan cara yang berbeda seiring dengan perkembangan ras manusia beserta kebudayaanya.

Pada masa Modern, ajaran tersebut masih secara utuh dianut oleh sebagian masyarakat suku pedalaman dengan istilahnya masing-masing. Seperti;
Sunda Wiwitan pada suku Sunda. Kejawen pada suku Jawa. Kaharingan/Tjilik Riwut pada suku Dayak. Ugamo Malim pada suku Batak dll.

Adapun agama-agama yang sekarang ada, adalah pengaruh dari luar yang baru datang sejak awal Abad Masehi, seperti Agama Hindu dan Budha dari India dan China, Agama Kristen dari Eropa, dan Agama Islam yang merupakan pengaruh dari berbagai negeri seperti Persia, Arab, Rum, Gujarat, Tiongkok dll.

(2). Sejarah kenabian tertua;
Ilmu keabadian, adalah; Sundayana (Wahyu Panca Ghaib). Sedangkan buah keabadian, adalah; mulih ka jati, mulang ka asal, congo nyurup dina puhu, dalitna kuring jeung kuring, sirnaning pati rawayan jati, disebut juga sebagai Rawayan Jati (Wahyu Panca Laku).

Sundayana (Wahyu Panca Ghaib). Adalah; pohonnya, maksudnya, hakikatnya pohon khuldi.

Sedangkan Rawayan Jati (Wahyu Panca Laku). Adalah; buahnya, maksudnya, hakikatnya buah khuldi.

Sundayana (pohon/ilmu) dan Rawayan Jati (buah/hasil) menjadi satu pondasi jalan hidup yang disebut kapitayan ageman Sunda. Pelakunya adalah Adam dan Hawa.

Jadi….
Sundayana membentuk. Jatiwanda (kesempurnaan jiwa) sedangkan Rawayan Jati, membentuk. Jatiraga (kesempurnaan raga).

Kapitayan ageman Sunda yang dibawa oleh Nabi Adam, adalah; ajaran intisaripatinya dari semua ajaran/tuntunan yang dibawa oleh para nabi (Para Utusan), karena hakikatnya, semua ajaran/tuntunan samawi, menyuruh umatnya untuk kembali atau pulang kepada Tuhannya, hingga sempurna jiwa raganya.

Darimana asal muasalnya ilmu…?!
Mulih ka jati. Mulang ka asal.
Maksudnya. Yaitu; dari tarekat tertua yang bernama Karahayuan dengan wali mursyid tertua yang bernama Syekh Sanusi.

Tarekat Karahayuan yang dibawa Syekh Sanusi ini, mempunyai sanad (sandaran) atau mata rantai ijazah (ijin) dari Nabi Nuh, kemudian Nabi Idris hingga ke Nabi Adam.

Nama tarekat berkaitan dengan nama syariat. Sebelum jaman Nabi Nuh, belum ada nama syariat atau nama agama apapun, karena pada waktu itu, hanya ada satu ajaran yang dibawa oleh Nabi Adam. Yaitu Kapitayan.

Nama syariat dan tarekat, baru muncul ketika jaman Nabi Nuh, karena pada waktu itu, umat Nabi Nuh, mulai berbuat syirik, dengan membuat ajaran agama sendiri tanpa sanad ke Nabi.
Jadi, pembawa asli pertama atau pelopor utama tarekat Karahayuan adalah Nabi Adam, bertempat di tatar tanah pasundan.

Pada jaman Nabi Adam, belum ada nama syariat dan tarekat, hanya ada satu ajaran. Yaitu ajaran intisaripati hidup. Tersebut Kapitayan ageman Sunda.

Nabi Adam dan Hawa di Turunkan ke Dunia. Tujuannya adalah untuk belajar ilmu keabadian. Yaitu; ilmu mulih ka jati, mulang ka asal” dan buahnya hasil dari ilmu keabadian.

Ilmu mulih ka jati, mulang ka asal atau Sundayana atau ilmu keabadian. Dan di pelajari oleh Adam dan Hawa di Tatar Tanah Pasundan…????

Kalau memang benar. Apakah ada jejak atau simbol-simbol yang bisa di jadikan sebagai buktinya…?!
Jika ada, dimanakah letaknya…?!

Sundayana (Wahyu Panca Ghaib)
Pohon Khuldi;
1. Simbol; Mulih ka jati. Adalah cai kahuripan yang terletak di Gua Pamijahan Tasik, Jawa Barat.

2. Simbol; Mulang ka asal. Adalah cai kadigjayaan yang terletak di Gua Pamijahan Tasik, Jawa Barat.

3. Simbol; Dipunut ku Gusti. Adalah tirta kamandanu yang terletak di Kediri, Jawa Timur.

4. Simbol; Dicandak ku nu rahayu/congo nyurup dina puhu. Adalah air abadi yang terletak di Gunung Bromo, Jawa Timur.

Rawayan Jati (Wahyu Panca Laku)
Buah Khuldi;
5. Simbol; Dalitna kuring jeung kuring. Adalah air arsyil ‘azhim sumur bandung titik 0 yang terletak di jalan Cikapundung Bandung, Jawa Barat.

6. Simbol; Sirnaning pati rawayan jati. Adalah air kalimasada (air opat kalima pancer) Sumur Bandung titik 1 yang ada di belakang gedung Palaguna alun-alun Bandung, Jawa Barat.

Apa arti dari simbol-simbol tersebut…?!
1. Cai kahuripan. Adalah; ilmu untuk memahami alam ruh. Yaitu dengan menghilangkan segala sesuatu selain Tuhan di dalam diri.

2. Cai kadigjayaan. Adalah; ilmu untuk memahami alam asma. Yaitu dengan meniadakan diri (pasrah) atau menghilangkan keakuan.

3. Tirta kamandanu. Adalah; ilmu untuk memahami alam sifat. Yaitu hilangnya keakuan dan segala sesuatu selain Tuhan.

4. Air abadi. Adalah; ilmu untuk memahami alam zat. Yaitu alam anti materi.

5. Air arsyil ‘azhim. Yaitu buah batin/jiwa dari ilmu keabadian ( jatiwanda ) yaitu bertemu dengan wujudullah (wujud Allah) secara batiniyah.

6. Air kalimasada. Yaitu buah lahir/raga dari ilmu keabadian (jatiraga) yaitu bertemu dengan wujudullah secara zahir.

Dimana Pintu Keluar dan Tempat Diturunkannya Adam dan Hawa Ketika Keluar dari Jannatullah…?!

Pintu keluar jannatullah adalah di Laut Kidul Bungbulang Garut, Jawa Barat.

Adam dan Hawa ditempatkan terpisah, Adam di Gunung Halu Padalarang, Jawa Barat.

Sedangkan Hawa di Laut Kidul Pelabuan Ratu Sukabumi, Jawa Barat.

Adam dan Hawa belajar ilmu mulih ka jati mulang ka asal, setelah memahami ilmu mulih ka jati mulang ka asal, berikutnya adalah memahami buah (hasil) dari ilmu mulih ka jati mulang ka asal yang letaknya di Bandung Jawa Barat.

Karena Bandung Jawa Barat adalah Baitullah. Hakikat air ‘arsyil ‘azhim dan air kalimasada.

Adam dan Hawa masing-masing belajar di tatar Sunda, hingga akhirnya bertemu di Padang Arafah, Arab Saudi.

Jadi, di Arab itu tempat bertemunya dan sifatnya safar (bepergian), kalau kampung halaman Adam dan Hawa adalah di Tatar Tanah Sunda atau Pasundan.

Kemudian sundayana di wariskan di Arab Saudi, menjadi Inna lillaahi wa Inna ilaihi Raji’un, lalu di copy paste oleh orang Hindustan India, Sundayana berubah menjadi Wahyu Mahkota Rama, lalu kembali lagi ke tanah Jawa, Sundayana berubah menjadi Sangkan Paraning dumadi, Karena di salah artikan dan di salah arahkan, kemudian menghilang untuk beberapa saat bersama moksa nya Nabi Isa.

Kemudian kehilangannya di buru oleh para ilmuwan ahli tapa Jawa dan India serta Arab saudi, namun yang di temukan hanyalah jejaknya, dan jejak itu kemudian di sebut sebagai Aji Mundi jati oleh orang India dan Sasongko jati oleh orang Jawa serta Ilmu Tasawuf oleh orang Arab Saudi.

Kemudian muncul kembali di Bumi Jawa pada abad modern, sebagai Wahyu Panca Ghaib. Penerimanya adalah seorang manusia linuwih titisan leluhur seluruh Jawa. Yaitu; Raden Muhammad Timur atau M. Smono Sastrohadijoyo.

Bagaimana hubungannya dengan Ka’bah sebagai Baitullah yang terletak di Mekah…?!

Ka’bah itu Baitullah syariat, kalau Bandung itu Baitullah hakikat.

Sebab itu, kerajaan tertua adalah Kerajaan Parahyangan yang berpusat di Bandung Jawa Barat, dengan Nabi Adam sebagai Rajanya.

Nabi Adam adalah Raja Parahyangan, nenek moyangnya orang Jawa Sunda dan seluruh manusia setelah Adam. Leluhurnya orang Jawa Sunda dan seluruh manusia setelah Adam.

Asal muasal peradaban dari Jayadewata Tanah Pasunda, dan sekarang kembali di Jayadewata Tanah Pasundan. Bersambung Ke Bagian Dua….

Duh… Gusti Dzat Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan. Asal Usul Nenek Moyang Semua Mahluk. Sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup…_/\_…. Aaamiin. Terima Kasih. Terima Kasih Dan Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan. Di…
Pesanggrahan Pesona Jagat Alit.
Alamat; Desa. Karangreja. RT/Rw. 02/03. Kec. Tanjung. Kab. Brebes. Jawa Tengah Indonesia. 52254.
Email: webdjakatolos@gmail.com
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM: DACB5DC3”
Twitter: @EdanBagu
Blogg: www.wongedanbagu.com
Wordpress: http:// putraramasejati.wordpress.com
Facebook: http://facebook.com/tosowidjaya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s