MAUNYA NAFSU KEPADA TUHAN-NYA:

23380067_389176338195093_1271632086054119138_n

MAUNYA NAFSU KEPADA TUHAN-NYA:
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Brebes Jateng. Hari Jumat. Tanggal 10 November 2017.

Para Kadhang dan Saudara-saudari Kinasihku sekalian. Di dalam Laku Murni Menuju Suci. Tingkatkan dan tingkatkan terus menerus kesadaran kita, dengan cara Mengibadahkan Wahyu Panca Ghaib menggunakan Wahyu Panca Laku.

Karena disitu, diantara Hati dan Syahwat, ada Nafsu yang cenderung Memaksa Dzat Maha Suci Mengikuti Seleranya….

Manusia hidup memiliki kecenderungan untuk memasuki wilayah yang sudah dijamin Tuhan, dikarenakan adanya dorongan nafsunya.

Nafsu kita ingin memproyeksi supaya Tuhan mengikuti selera kita.

Ada satu kisah yang pernah saya alami beberapa tahun yang lalu, sewaktu saya masih dalam proses perjalanan pencarian jatidiri, pada waktu itu, nama saya sebagai Djaka Tolos, cukup di kenal dalam dunia spiritual keIlmuan.

Pikir saya, apapun yang saya pelajari, kalau saya bisa Istiqomah, terus menerus secara tetap. Misal sholat tahajud atau sholat dhuha atau membaca ayat kursi atau yasiin atau sholawat atau wirid atau puasa, secara terus menerus selama setahun atau dua tahun atau tiga tahun, pasti apapun yang ingin saya gapai bisa tercapai, nasib berubah dll.

Namun dalam kenyataannya, keinginan saya bisa mengenal jatidiri, guru sejati, tidak juga berhasil, nasib saya yang berguru kesana sini, juga tidak berubah-rubah, tetap saja di jadikan bola oleh para guru saya, di suruh begini, begitu, di perintah itu, ini dll.

Setahun Dua tahun. Tiga tahun. Empat tahun. Lima tahun. Enam tahun. Tujuh tahun. Delapan tahun. Akhirnya mulai kendor tahajudnya,
tahajudnya-dhuhanya-ayat kursinya-yasiin nya-sholawatnya-wiridnya-puasanya.

Padahal, saya tahu kalau tahajud, dhuha, ayat kursi, yasiin, sholawat, wirid. Itu lebih utama daripada tujuan dan perubahan nasib yang saya maksud. Tapi kok…?!

Lalu…
Di suatu ketika, saya datang kepada Gus Dur, yang sebagai Guru Spiritual Tauhid saya.

Karena saya sedang Laku Murni Menuju Suci, mau tidak mau, suka tidak suka, kan saya harus jujur apa adanya dalam semua hal kepada siapapun dan dimanapun, khususnya terhadap Sang Guru.

Lalu saya bercerita kepada Gus Dur yang sebagai Guru Tauhid saya.

Gus,,, kan saya sudah tahu syare’at dan hakikatnya sholat, jadi, selama ini saya tidak sholat, la wong sudah ngerti syare’at nya, sudah paham hakikatnya dan sudah tahu maksud tujuan, namun saya melakukan yang sama Persih dengan sholat. Sepundi Gus…?!

Jawab Gus Dur sederhana saja;
Ya tidak apa-apa, sampean kan maunya Allah yang nyembah sampean.

Seketika saya langsung tertunduk, tidak berani lagi menatap wajah Gus Dur.

Karena saya tahu….
Kalimat tersebut dalam sekali.
Ini adalah gambaran umumnya manusia hidup.

Maunya Tuhan yang mengikuti keinginan kita, seakan-akan kita yang menjadi Tuhan. Ini mesti ditegaskan secara jujur, bloko suto, blak kotak opo anane, tanpa tedeng aling-aling, dalam tekad hidup kita di kehidupan ini.

Saya serius terhadap hal-hal yang sudah dijamin oleh Tuhan, namun saya sembrono terhadap hal-hal yang dituntut oleh Tuhan.

Hal ini menunjukkan butanya mata hati saya pada saat itu.

Manusia banyak sekali yang serius terhadap hal-hal yang sudah dijamin Tuhan, seperti yang pernah saya alami dulu dan saya uraikan diatas, padahal itu bisa membuat kabur mata hatinya, dan ini merupakan salah satu wujud keanehan dari manusia.

Manusia inginnya menentukan jaminan-jaminan, misalnya soal pahala. Manusia sering membayangkan pahala, terlebih membayangkan surga dan seisinya.

Padahal apapun yang kita bayangkan, besok di akherat tidak sama sekali seperti yang pernah kita bayangkan akan terjadi seperti yang di bayangkan. Contoh buktikan yang sudah saya alami dan terurai diatas.

Sehebat-hebat apapun bayangan kita tentang masa depan, tentang pahala, tentang surga, pasti kenyataannta tidak seperti yang kita bayangkan.

Karena itu…
Tidak usah dibayangkan seperti apa,,, tidak perlu membayang bagaimana,,, juga tidak penting di tebak dan di kira apa lagi di rancang-rancang.

Contoh;
Jika ibadahku maksimal, ya di buat minim-minimnya berJihat ngebom hotel atau geraja atau pura atau masjid. Di surga nanti saya akan di layani 41 bidadari, lalu merakit bom sambil membayangkan tentang bidadari. Oh… Nanti satu mijitin tangan, satunya kaki, satu kepala, satunya,,, satunya,,, satu lagi… Gundul-mu kroak.

Ngelamun-nya…
Emangnya roh/ruh itu berjenis kelamin… !!!
Gede Panjang Kuat.
Begitu…!!!
Apa lagi kalau sewaktu di dunia pernah urut ke Mak erat. Pasti di akherat nanti bakal lebih gede, lebih panjang, lebih kuat dan tahan lama. He he he . . . Edan Tenan. Ngimpi…!!!

Saya Wong Edan Bagu. Mengucapkan Salam Rahayu selalu serta Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih*
Ttd: Wong Edan Bagu
“PESANGGRAHAN”
PESONA JAGAT ALIT
+WEB+
Angudi Dayaning Sedulur Papat Kalima Pancer.
ALAMAT:
Desa. Karangreja. RT/Rw. 02/03. Kec. Tanjung. Kab. Brebes. Jawa Tengah Indonesia. 52254.
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; DACB5DC3”
@EdanBagu
www.wongedanbagu.com
https://putraramasejati.wordpress.com
http://facebook.com/tosowidjaya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s