Sudah Seberapa Siapkah Anda untuk menghadapi transisi:

Sudah Seberapa Siapkah Anda untuk menghadapi transisi:
(Seleksi Pemilihan).
Oleh: Wong Edan Bagu.
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan.
Sumedang Larang Tatar Pasundan. Hari Kamis. Tanggal 26 Oktober 2017.

22780346_383796298733097_1229364308879720122_n

Para Kadhang Kinasihku sekalian. Pasti pernah dengar Sabda yang berbunyi; “Putero Romo. Kuwi Pilihan” Yen wes kepilih; ” Lakune Saring Sinaring Saring” Berikut yang berhasil saya saksikan di TKP.

Sebelumnya mohon Maaf….
Di Atas Bumi di Bawah langit Dunia ini. Ada berapa banyak orang yang beragama…?!

Berapa banyak tempat ibadah…?! Berapa banyak orang yang taat menjalankan ritual agamanya…?!

Kita sama-sama tahu bukan. Bahwa jumlahnya luar biasa banyak.

Tapi mengapa kemiskinan dan kelaparan, penganiayaan, pemerkosaan, penipuan, perampokan, pembegalan, peperangan bahkan pembunuhan dan bencana alam terus merajalela…!!!

Seakan tiada hentinya dan tidak habis-habisnya terjadi disana-sini.

Sudah berapa banyak dari kita memohon, berdoa pada Tuhan untuk mengakhiri semua itu…?!

Dengan cara berjamaah atau individu. Namun kegelapan tak kunjung sirna, bahkan manusia semakin individualis, bringas, bencana alam kian mengganas. Lalu apakah yang keliru…?!

Apa itu kehendak Tuhan…?!
Benarkah itu kehendak Tuhan…?!

Kalau memang benar itu kehendak Tuhan. Berati Tuhan sedang Stress berat brow…

La gimana tidak Stres berat, menciptakan keindahan, setelah selesai, lalu di rusaknya sendiri dengan begitu saja. Berati stres to…

Contoh;
Saya membuat mobil-mobilan, setelah jadi, lalu saya banting, bahkan belum sempat jadi, sudah saya hancurkan. Atau,,, saya masak sayur asem, supaya rasanya sueger dan lueeezat, ueeenak tenan, saya racik bumbu khusus dan pilihan, namun, setelah selesai, saya buang ke slokan, ada kalanya, baru setengah matang, sudah saya acak-acak dan saya musnahkan. Kalau bukan stress, apa namanya tuh…?!

Saya rasa, itu bukan kehendak Tuhan, melainkan ulah si manusianya itu sendiri. Karena mayoritas manusia, terfokus untuk menjadi relijius bukan spiritualis.

Spiritual berbeda dengan relijius. Spiritual tak ada hubungannya dengan agama. Tapi agama butuh spiritual. Tuhan menghendaki kita untuk menjadi manusia spiritual bukan relijius, dan agama diadakan untuk berspiritual, bukan berelijius.

Tiap agama mengklaim bahwa ajaran mereka yang paling benar dan lainnya salah. Apakah sesungguhnya Tuhan lebih menyukai atau condong ke agama tertentu…?!

Jika iya, mengapa setiap terjadi bencana Tuhan tak hanya menyelamatkan umat agama tertentu…?!

Spiritualitas yang sesungguhnya, adalah kemampuan setiap jiwa untuk hidup selaras dengan Sang Pencipta, hidup sesuai kehendak-Nya, bukan sebaliknya.

Lalu bagaimanakah hidup yang selaras dengan Sang Sumber itu…?!

Ingatlah…!!!
Tuhan kita, Sang Sumber semua dan segalanya itu, ada dalam setiap ciptaan-Nya, seperti yang sudah saya kabarkan melalui media internet sampai hari saya keriting tulisnya, seperti yang sudah saya kabarkan secara langsung, sampai dower bibir saya bicara. Masak… Belum mau bertaubat juga… Masak belum bisa sadar juga.

Para Saudara-saudari dan Kadhang Kinasihku sekalian. Hidup selaras dengan Sang Pencipta, adalah dengan hidup harmonis dengan seluruh mahluk-Nya. Salin asah asih asuh, salin mengerti, salin memberi dan menerima, salin tolong menolong, tanpa ada iri, dengki, benci, dendam, fitnah, prasangka, pamrih dan ego apapun.

Lagi-lagi terkait dan menyangkut Cinta Kasih Sayang bukan….?!

Karena…..
Bagaimana mungkin kita bisa hidup harmonis dengan seluruh mahluk-Nya. Dengan salin asah asih asuh, salin mengerti, salin memberi dan menerima, salin tolong menolong, tanpa ada iri, dengki, benci, dendam, fitnah, prasangka, pamrih dan ego apapun. Jika tidak ada Cinta Kasih Sayang dalam hatinya…?!

Tapi ingat…!!!
Ini bukan Soal cinta kasih sayang yang sering terjadi intrik masalah perselingkuhan dan kecemburuan di dalamnya Lo ya…

Melainkan Kesadaran Iman Cinta Kasih Sayang yang sudah sering saya kabarkan, baik itu secara langsung maupun melalui medsos.

Kesadaran iman cinta kasih sayang inilah. Adalah intisaripati dari laku spiritualitas yang sesungguhnya. Dan Kesadaran iman cinta kasih sayang inilah, yang menentukan kualitas jiwa seseorang dalam segi apapun.

Baiklah, saya akan mencoba menjelaskan sekali lagi, soal Kesadaran Iman Cinta Kasih Sayang. Barang kali lupa, kalau soal males baca, karena alasan tulisannya panjang, itu berati bonggane dewek.

Pertama soal Cinta Kasih Sayang; Sepertinya, semua orang tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah ini.

Tapi apakah kita mengerti apa itu Cinta Kasih Sayang…?! Cinta Kasih Sayang adalah mengasihi tanpa ego pamrih, memberi tanpa mengharapkan imbalan.
Tidakah itu sederhana…?!

Ya,,, tetapi pelaksanaannya yang sulit. Pemahaman Cinta Kasih Sayang dari kebanyakan manusia sungguh sempit, hanya sebatas
Cinta Kasih Sayang kepada lawan jenis yang di perbesar, ini yang membuat Sulit.

Hubungan percintaan antar lawan jenis, seperti yang kita ketahui, apakah ini sungguh-sungguh cinta kasih sayang…?!

Berapa banyak orang yang mengaku mencintai lawan jenisnya, lalu berkata “Aku mencintaimu lebih dari apapun bin melebihi segalanta, untuk itu jadilah pasanganku”. Preetttt….

Paling-paling…
Sehari tidak punya besar aja… Sudah manyun kayak ikan sepat. Apa lagi kalau sampai anak tidak bisa jajan di sekolahan, yang malu, lah, kebangetan lah dan bla,,,bla,,,bla,,, ujungnya pisah ranjang bahkan bercerai.

Kembali ke soal awal, yaitu bahwa Cinta Kasih Sayang adalah memberi tanpa pamrih ego mengharapkan imbalan. Jika tidak demikian, Tentu itu bukanlah Cinta Kasih Sayang. Karena Cinta Kasih Sayang itu. MEMBERI bukan MEMINTA. Konsep Cinta Kasih Sayang mayoritas kebanyakan manusia inilah, yang membuat dirinya hanya memikirkan pasangan dan keluarganya.

Padahal Cinta Kasih Sayang yang sesungguhnya, adalah kepada semua manusia, hewan, tumbuhan, Bumi, segala mahluk.

Cinta Kasih Sayang yang lebih dalam, dapat dilihat dari kualitas-kualitas berikut;

Cinta Kasih Sayang;
Itu tak ada benci.
Cinta Kasih Sayang;
Itu tidak ada iri.
Cinta Kasih Sayang;
Itu tidak ada dengki.
Cinta Kasih Sayang;
Itu tidak ada dendam.
Cinta Kasih Sayang;
Itu tidak ada fitnah.
Cinta Kasih Sayang;
Itu tidak ada ego.
Cinta Kasih Sayang;
Itu tidak ada keserakahan.
Cinta Kasih Sayang;
Itu tidak ada kecemburuan.
Cinta Kasih Sayang;
Itu tidak ada kesombongan.
Cinta Kasih Sayang;
Itu tidak agresif.
Cinta Kasih Sayang;
Itu tidak ada kebohongan.
Cinta Kasih Sayang;
Itu tidak ada kompetisi.
Cinta Kasih Sayang;
Itu tidak menyakiti.
Cinta Kasih Sayang;
Selalu selalu melindungi.
Cinta Kasih Sayang;
Itu sabar menanggung segala sesuatu.
Cinta Kasih Sayang;
Itu tidak ada pamrih apapun.
Cinta Kasih Sayang;
Itu tidak melakukan hal yang tidak sopan, hal yang merugikan, hal yang menyinggung dan menyakitkan sesama hidup.
Nah… dari kualitas-kualitas tersebut, sudah berapa banyak yang ada pada diri kita…?! Sudahkah kita hidup dengan Cinta Kasih Sayang…?!

Kedua soal Kesadaran;
Orang yang sadar. Pasti mengerti.
Orang yang mengerti. Pasti memahami. Orang memahami. Pasti mengetahui. Orang yang mengetahui. Pasti bisa.

Bisa apa…?!
Apa saja bisa jika dia mau…!!!

KESADARAN disini, adalah pemahaman bahwa semua mahluk Tuhan adalah SATU. Maksudnya, semua dan segalanya berasal dari satu Sumber. Yaitu dzat maha suci. Bukan yang lain.

Seseorang yang sadar bahwa setiap mahluk Tuhan salin terhubung satu sama lainnya, alias bahwa KITA SEMUA SATU, tak akan mungkin tega menyakiti yang lainnya.

Ini bisa diibaratkan kita adalah satu tubuh, satu jiwa, satu jalan, satu bekal dan satu tujuan, yaitu Dzat Maha Suci Sang Sumber Segalanya. Jika salah satu bagian tubuh ada yang sakit, tentu seluruh tubuh lainnya akan merasakannya bukan…?!

Namun apa yang terjadi saat ini…?! Manusia menyakiti alamnya sendiri, Bumi tempat tinggalnya sendiri, menyakiti mahluk lain, bahkan dirinya sendiri.

Polusi di tanah, air, udara, juga di tingkat ether dari pikiran dan emosi negatif manusia. Penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, anarki, kompetisi, penipuan, diskriminasi, ketidakpedulian. Bahkan manusia Bumi bersuka ria atas semua itu.

Semua hal negatif ini begitu pekat, terutama di daerah perkotaan, dimana manusianya sangat individualis.

Kesadaran yang selanjutnya, adalah mengerti bahwa Tuhan tak hanya menciptakan manusia di jagat raya yang amat luas ini.

Kita tahu Tuhan kita Maha Bijaksana, Dia tak akan memboroskan energi yang besar, untuk menciptakan jagat raya ini, hanya untuk satu ras manusia saja, Bumi dan sisanya dibiarkan kosong begitu saja. Apalagi harus menunggu manusia untuk bisa menjangkau lalu menempatinya.

Umur bumi kita setidaknya sudah 5 milyar tahun atau lebih, selama itu, bahkan untuk menjelajah angkasa raya ini saja, manusia belum mampu.

Pemahaman mayoritas manusia tentang mahluk Tuhan, sangatlah sempit, yang mereka tahu hanya tumbuhan, hewan, manusia dan astral (jin).

Kenyataan bahwa jagat raya ini amatlah luas, dengan banyaknya planet/bintang yang ukurannya jauh lebih besar dari Bumi, penampakan crop circle, spaceship, pesan via channeling serta peradaban kuno yang berteknologi canggih, itu semua adalah bukti bahwa manusia Bumi tak pernah sendiri.

Ditambah dogma-dogma yang mengatakan bahwa manusia Bumi adalah mahluk Tuhan paling sempurna. Sepertinya hal itu semakin membuat mereka besar kepala saja.

Jika memang manusia Bumi adalah mahluk Tuhan paling sempurna, lalu apa kelebihan manusia Bumi dibanding astral… ?!
Mahluk-mahluk lainnya yang tidak sempurna…?!

Kelebihannya salin membenci…?!
Salin mendendam…?!
Salin bermusuhan…?!
Salin fitnah, iri, dengki, tinggi-tingginya ego dan pamrih…?!
Itu mah bukan lebihan apa lagi kesempurnaan. Tidak lebih baik dari se’ekor hewan jika itu yang menjadi kelebihannya.

Melihat mereka yang seperti itu saja, kita sudah tak mampu.

Dari segi kemampuan fisik, jelas astral lebih unggul, astral mampu berubah-ubah bentuk, berumur panjang, mampu telepati, telekinesis, teleportasi.

Dari segi spiritualitas astral lebih mengerti dibanding manusia Bumi. Dari ilmu pengetahuan & teknologi astral pun tak kalah dengan manusia.

Lalu apa yang ingin kita banggakan….?!

Ketiga adalah SADAR;
Sadar bahwa setiap jiwa akan mengalami proses pembelajaran dalam hidupnya, melalui laku murni menuju suci. Yaitu Perjalanan hidup yang bagaikan sedang sekolah, tujuannya untuk belajar, supaya ngerti dan paham serta tahu makna hidup yang merupakan esensi Tuhan-Nya.

Seperti sekolah, kehidupan juga ada level/tingkatannya, sebab itu di dalam Laku Murni Menuju Suci. Saya membagikan Pengetahuan Dengan Sistem Tiga Level. Karena itu merupakan perbedaan dimensi kehidupan di alam semesta ini.

Jika kita telah lulus di suatu tahap, maka kita akan naik ke tahap selanjutnya, tahap yang lebih tinggi. Tetapi jika tidak lulus, akan mengulang di tahap yang sama, atau bahkan tahap yang lebih rendah.

Saat kelulusan kita dari semua tahap adalah saat kita kembali pada Sang Sumber. Keberadaan astral di dimensi yang lebih tinggi dari manusia Bumi sudah jelas membuktikan adanya perbedaan dimensi dalam kehidupan mahluk-mahluk-Nya.

Laku inilah yang sejak lama diajarkan oleh para avatar, spiritual master, lightworker seperti Jesus, Budha, Kwan Yin, Shiva dan lainnya. Bahkan Romo Smono Sastrohadijoyo

Mereka tak ingin disembah. Mereka ingin manusia Bumi menjadi master seperti mereka. Namun manusia Bumi malah salah menginterpretasikan ajaran mereka hingga kini. Ada yang menyembah, bahkan menuhankan mereka. Aneh tapi tidak lucu kalau menurut WEB. He he he . . . Edan Tenan.

Spiritual et sadar bahwa semua mahluk di alam semesta ini adalah satu pada hakikatnya. Untuk itu dan karena itu, mereka tak henti-hentinya mengingatkan kita untuk meningkatkan spiritualitas seiring dengan masa transisi/transformasi/evolusi Bumi yang sudah di depan mata ini.

Seseorang yang sudah mengerti spiritualitas yang sesunguhnya, akan menyadari bahwa planet ini sungguh-sungguh rusak. Bahwa Ibu Bumi sungguh-sungguh menderita, karena ulah manusia dan ada di ambang kehancuran. Mereka akan merasa sangat tidak nyaman hidup di Bumi seperti ini.

Untuk itulah ada campur tangan Tuhan. Sekali lagi Tuhan kita yang sangat tresno welas asih tak akan membiarkan mahluk-Nya menderita tanpa akhir.

Tuhan sudah memutuskan penderitaan Ibu Bumi cukup sampai disini. Bumi harus bertransisi/bertransformasi/berevolusi dengan meningkatkan vibrasinya.

Dan semua manusia yang ingin hidup di Bumi yang baru, harus bisa menyesuaikan vibrasinya dengan Ibu Bumi. Jika tidak, maka tak akan bisa hidup di atasnya lagi.

Untuk itu akan ada seleksi pemilihan, siapa-siapa yang berhak hidup di Bumi yang baru ini. Ini dilakukan dengan jalan pemurnian, pembersihan total dari semua energi negatif.

Akan ada kekacauan dimana-mana, banyak sekali bencana yang terjadi, juga kehilangan.Tapi itu perlu dilakukan, demi terciptanya Bumi sesuai rencana Tuhan semula, demi tercipta kerajaan Surga-Nya.

Lalu bagaimana caranya untuk bisa menaikan vibrasi kita supaya selaras dengan Ibu Bumi yang sesuai kehendak Tuhan….?!

Jawabannya….
Adalah dengan meningkatkan Spiritualitas Laku Murni Menuju Suci kita masing-masing.

Jadi… sudah seberapa siapkah kita untuk menghadapi transisi tersebut…?! Sudah seberapa spiritualkah diri kita…?! He he he . . . Edan Tenan.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Alamat; Desa. Gintung Lor. Blok. 1. Rt/Rw. 006/001.
Kec. Susukan. Kab. Cirebon. Jawa Barat. Cirebon Indonesia 45166
Telephon/SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; DACB5DC3”
@EdanBagu
www.wongedanbagu.com
https://putraramasejati.wordpress.com
http://facebook.com/tosowidjaya

Iklan

One thought on “Sudah Seberapa Siapkah Anda untuk menghadapi transisi:

  1. Assalamualaikum Pak Web, sy & suami merasa sangat bersyukur krn dpt berjumpa dgn org yg seperti Pak Web, sy dpt melihat kesungguhan di wajah Pak Web mengajar dgn tekun spy dpt menyampaikan ilmu yg menuju kesempurnaan.Syukur Alhamdulillah Ya Allah yg amat pengasih & penyayang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s