Jika Ada Yang Berkata dan Bertanya Soal Katanya: (Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling).


Jika Ada Yang Berkata dan Bertanya Soal Katanya:
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling).
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Kabuh Jombang. Hari Sabtu Kliwon. Tgl 11 Maret 2017

Wahai Para Kadhang kinasihku sekalian. Ketahuilah…!!!
Banyak orang yang salah menemui ajalnya, sekalipun dia berilmu tinggi dan mumpuni dalam bidang agama. Mereka tersesat tidak menentu arahnya, panca indera masih tetap siap, segala kesenangan sudah ditahan, napas sudah tergulung, dan angan-angan sudah diikhlaskan, tetapi ketika lepas tirta nirmayanya, belum mau. Maka ia menemukan yang serba indah. Dan ia dianggap manusia yang luar biasa. Padahal sesungguhnya ia adalah orang yang tenggelam dalam angan-angan, yang menyesatkan dan tidak nyata.

Budi dan daya hidupnya, tidak mau mati, ia masih senang di dunia ini, dengan segala sesuatu yang hidup, masih senang ia akan pikirannya. Baginya hidup di dunia ini nikmat, itulah pendapat manusia yang masih terpikat akan keduniawian, pendapat gelandangan yang pergi ke mana-mana tidak menentu, dan tidak tahu bahwa besok ia akan hidup, yang tiada kenal mati. Sesungguhnya dunia ini neraka.

Dunia ini alam kematian. Oleh karena itu, dunia yang sunyi ini, tidak ada Hyang Agung, serta malaikat. Akan tetapi bila Aku besok sudah ada di alam kehidupan-ku, akan berjumpa, dan kadang kala Aku menjadi Allah. Nah,,, di situ Aku akan Patrap/bersembahyang/shalat.

Wahai Para Kadhang kinasihku sekalian. Ketahuilah…!!!
Jika ada yang berkata, bahwa Tuhan/Allah menciptakan alam semesta. Itu adalah kebohongan belaka. Sebab alam semesta itu barang baru, sedang Tuhan/Allah tidak membuat barang yang berwujud, menurut dalil; layatikbiyu hilamuhdil, artinya tiada berkehendak menciptakan barang yang berwujud.

Adapun terjadinya alam semesta ini ibaratnya: drikumahiyati; artinya menemukan keadaan. Alam semesta ini: la awali. Artinya tiada berawal. Panjang sekali kiranya, kalau Aku menguraikan, bahwa alam semesta ini merupakan barang baru, berdasarkan yang ditulis dalam al-qur’an.

Wahai Para Kadhang kinasihku sekalian. Ketahuilah…!!!
Jika ada yang bertanya, di mana rumah Hyang Widhi/Tuhan/Allah/Gusti? Hal itu bukan merupakan hal yang sulit, sebab Allah sejiwa dengan semua Dzat. Dzat wajibul wujud, itulah tempat tinggalnya, seumpamanya Dzat, tanahlah rumahnya. Hal ini panjang sekali kalau Aku terangkan. Oleh karena itu, Aku ambil intisaripatinya saja.

Wahai Para Kadhang kinasihku sekalian. Ketahuilah…!!!
Jika ada yang bertanya, berkurangnya nyawa siang malam, sampai habis, ke manakah perginya nyawa itu? Nah,,, itu sangat mudah untuk menjawabnya. Sebab nyawa tidak dapat berkurang, maka nyawa itu bagaikan jasad , berupa gundukan, tak dapat aus, rusak dimakan andai kata.

Wahai Para Kadhang kinasihku sekalian. Ketahuilah…!!!
Jika ada yang bertanya bagaimanakah rupa Hyang Widhi/Tuhan/Allah/Gusti itu? Kitab Ulumuddin sudah memberitahukan; Wa Allahu dzahir al-insan, wabathin, al-insanu baytullahu), artinya, lahiriah manusia itulah rupa Hyang Widhi/Tuhan/Allah/Gusti. Batiniah manusia itulah rumah Hyang Widhi/Tuhan/Allah/Gusti.

Di beberapa Wejangan yang telah berlalu, Aku pernah mewedarkan asal-usul manusia dengan jelas, semua yang Aku Wejangkan, tiada memakai tirai selubung, tiada pula memakai lambang-lambang sanepan atau teka-teki. Bendera kelompok atau kotak-kotak golongan. Semua penjelasan. Aku berikan secara terbuka, apa adanya dan tanpa mengharapkan apa-apa sedikitpun, kecuali keberhasilan-mu dalam belajar menggali Rasa Sejati Hidupmu.

Dengan demikian musnah segala tipu muslihat, kepalsuan dan segala perbuatan yang dipergunakan untuk melakukan kejahatan. Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan para guru lainnya. Mereka mengajarkan ilmunya secara diam-diam dan berbisik-bisik, seolah-olah menjual sesuatu yang ghaib, disertai dengan harapan untuk memperoleh sesuatu yang menguntungkan untuk dirinya.

Wahai Para Kadhang kinasihku sekalian. Ketahuilah…!!!
Aku sudah pernah keliling jagat/dunia, bahkan lima agama yang resmi di akui dunia, pernah aku salami kedalamannya, sudah berulang kali berguru serta diwejang oleh para Pembimbing mu’min, diberitahu akan adanya Muhammad sebagai Rosulullah serta Allah sebagai Pengeran-ku.

Tapi,,, ajaran yang dituntunkan itu, menuntun serta membuat-ku menjadi bingung, dan menurut pendapat-ku, ajarannya sukar dipahami, merawak-rambang tiada patokan yang dapat dijadikan dasar atau pegangan. Ilmu Arab menjadi ilmu Budha, begitupun sebaliknya, karena hasilnya tidak sesuai dengan yang di praktekan, kemudian Aku mengambil dasar dan pegangan Kanjeng Nabi. Aku mematikan raga, merantau kemana-mana sambil menyiarkan agama. Padahal, ilmu Arab itu tiada kenal bertapa, kecuali berpuasa pada bulan Romadhan, yang dilakukan dengan mencegah makan, tiada berharap apapun.

Jadi jelas kalau Aku dulu itu masih manganut agama Budha, berkedok agama islam, buktinya, Aku masih sering ketempat-tempat sunyi, gua-gua, hutan-hutan, gunung-gunung, bahkan samudera, dengan mengheningkan cipta, sebagai lelaku demi terciptanya keinginan-ku, agar dapat bertemu dengan Dzat Maha Suci. Itulah buktinya bahwa Aku masih dikuasai setan ijajilku sendiri.

Wahai Para Kadhang kinasihku sekalian. Ingatlah…!!!
Dengan lima wasiat laku dibawah ini, yang pernah Aku pelajari dan aku praktekan disetiap waktunya hingga sekarang. Yang berhasil menuntun-ku, bisa mencapai titik finis idaman-ku. lima wasiat laku dibawah ini, Yang menjadi intisaripatinya semua ilmu dan ajaran. Dan lima wasiat laku, yang di amanahkan kepada-ku oleh Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono atau Dzat Maha Suci ini, kini Aku limpahkan dan Aku Amanah kepadamu sekalian.

Wahyu Panca Laku-IMAN;
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampunaning Kawula Gusti.
5. Sampurnaning Pati lan Urip.

Wahyu Panca Laku-IMAN-Arti Dan Maksudnya;
1. Pasrah kepada Dzat Maha Suci.
2. Menerima keputusan Dzat Maha Suci.
3. Mempersilahkan Kuasa Dzat Maha Suci.
4. Merasakan keberadaan Dzat Maha Suci.
5. Menebar Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci.

Gunakan Wahyu Panca Laku yang lebih di kenal dengan sebuatan IMAN ini, untuk menjalankan Wahyu Panca Ghaib. Ingat… jangan merasa benar, jangan merasa pintar dalam segala hal, jangan merasa memiliki, karena hal itu dapat mengikis hingga habis sipat dan sikap belajarmu, merasalah bahwa semua itu hanya titipan dari Dzat Maha Suci, yang membuat bumi dan langit, jadi,,, manusia itu hanyalah sudarma (memanfaatkan dengan baik dengan tujuan dan cara yang baik pula). Pakailah lelaku, syukur dan jujur serta rela/legowo. Dengan ini. Wong Edan Bagu Bisa, saya Jamin… Panjenengan semuanya juga bias, bahkan mungkin lebih bias disbanding Wong Edan Bagu.

Salam Rahayu selalu dariku serta Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Iklan

Kualitas Proses Belajar Berproses:


Kualitas Proses Belajar Berproses:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Kabuh Jombang. Hari Sabtu. Tgl 11 Maret 2017

Manurut WEB. Salah satu cara belajar adalah melalui hati, bukan melalui mata atau intelek. Dan cara itu tidak di langit, atau di bumi, atau penjuru mata angin. Cara itu ada di dalam hati kita. Dalam berdoa, lebih baik menggunakan hati tanpa kata-kata (Semedi), daripada menggunakan kata-kata tanpa hati (wiridz/dzikir). Ketahuilah… Penjara yang paling buruk didunia fana ini, adalah hati yang tertutup. Tanpa hati yang terbuka, kekayaan hanyalah pengemis yang tidak berarti bagiku.

Saat membaca kutipan-kutipan tersebut, ada rasa akrab dan rasa seperti telah mengetahui kutipan tersebut meskipun tidak pernah belajar atau mengikuti figur atau ceritanya. Bagian yang merasakan hal itu adalah hati, “Ketenangan ada di dalam diri kita, bahkan Tuhan itu loh, ada didalam diri kita, janganlah mencari di luar diri kita.”. Namun kita tidak perlu menjadi ketenangan atau menjadi Tuhan, untuk dapat melihat bagaimana orang-orang yang memburu kesuksesan duniawi dalam upaya untuk menjadi bahagia dan damai serta tenteram, tetapi berakhir tanpa mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian apa lagi ketenteraman. Cukup Mempraktekan Wahyu Panca Laku, dan Tuhan akan menuntun kita dengan Jaminan yang Sempurna.

Sejumlah orang kaya biasanya sulit dan bahkan tidak mungkin tersenyum lepas atau merasakan ketenangan dan kedamaian sejati dalam kehidupan sehari-hari mereka. Jika mengabaikan hati, maka mungkin saja kita masih dapat mencapai kesuksesan dan materi duniawi, namun ketenangan dan kebahagiaan serta ketenteraman yang sempurna, akan selalu tetap berada di luar jangkauan. Saat kita membuka hati dan menggunakan hati dengan tepat, akan kita temukan bahwa kepuasan dan kesenangan datang bersamaan dalam satu paket dengan kekayaan, yang akan membantu kita untuk menikmati segala sesuatu dengan lebih baik lagi dan dengan perspektif nyata, bukan semu bukan hayal. Kita juga akan bias berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekitar kita dengan lebih bebas, lepas, merdeka tanpa beban ego atau pamrih apapun, serta menciptakan lingkungan yang mendorong dan mendukung ketenangan dan kedamain serta ketenteraman yang sempurna. Dan dengan ini. Saya mengulang bahasa spiritual saya ditahun 2015 yang lalu. Yaitu;

Jagalah Pikiranmu, karena Pikiran akan menjadi Perkata’anmu. Jagalah Perkata’anmu, karena Perkata’anmu akan menjadi Perbuatanmu. Jagalah Perbuatanmu, karena Perbuatanmu akan menjadi Kebiasa’anmu. Jagalah Kebiasa’anmu, karena Kebiasa’anmu akan membentuk Karaktermu. Jagalah Karaktermu, Karena Karaktermu akan membentuk Nasibmu. Maksimal Jagalah Hati/Qalbumu, karena Hati/Qalbumu akan menentukan Rasamu. Jagalah Rasamu, karena Rasamu akan menentukan Lakumu. Jagalah Lakumu, karena Lakumu akan menentukan Hyang Maha Suci Hidup-mu. tuhan hantu apa hantu tuhan atau hantu-hantuan apa tuhan-tuhanan.

Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

PERBEDA’AN ANTARA Hyang Widhi atau Tuhan/Allah atau Gusti Ingkang Moho suci Dan Romo Serta Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono:


PERBEDA’AN ANTARA Hyang Widhi atau Tuhan/Allah atau Gusti Ingkang Moho suci Dan Romo Serta Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono:
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling).
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Jawa Dwipa. Hari Kamis Pon. Tgl 9 Maret 2017

Jika ada yang menanyakan di mana rumah Tuhan/Allah, maka jawabnya tidaklah sukar. Tuhan/Allah, berada pada Dzat yang tempatnya tidak jauh, yaitu berada dalam tubuh manusia Hidup.

Ingat…!!!
Di dalam tubuh manusia hidup, bukan mayat hidup, artinya, Tuhan/Allah berada di dalam tubuh setiap manusia yang sudah berhasil mengenal hidup-nya (guru sejati-nya), walau begitu, hanya orang yang terpilih saja, yang bisa melihatnya, maksudnya, walau sudah mengenal hidup/guru sejati, belum tentu bisa melihat Tuhan/Allah, kecuali jika Tuhan/Allah itu sendiri menghendaki untuk bisa di lihat. Itulah intisaripati puncaknya Wahyu Panca Ghaib, yang berlandaskan mistik teologi kemanunggalan yang sempurna, ini hanya dapat diungkap atau diketahui, kalau Wahyu Panca Ghaib-nya di ibadahkan/praktekan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku, kalau tidak, mana mungkin.

Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono. Dialah yang luhur dan sangat sakti, yang berkuasa, Maha Besar, lagi pula memiliki dua puluh sifat, kuasa atas segala kehendak-Nya. Dialah Maha Kuasa, pangkal mula segala ilmu, Maha Mulia, Maha Indah, Maha Sempurna, Maha Kuasa, Rupa warna-nya tanpa cacat, seperti hamba-Nya. Di dalam raga manusia, ia tiada tampak. Ia sangat sakti mandraguna, menguasai segala yang terjadi, dan menjelajahi seluruh alam semesta, Ngindraloka.

Hyang Widhi atau Tuhan/Allah atau Gusti Ingkang Moho suci, adalah wujud yang tak tampak oleh mata, mirip dengan ia sendiri, sifat-sifatnya mempunyai wujud, seperti penampakan raga yang tiada tampak. Warnanya melambangkan keselamatan, tetapi tanpa cahaya atau teja, halus, lurus terus menerus, menggambarkan kenyataan tiada dusta, ibaratnya kekal tiada bermula, sifat dahulu yang meniadakan permulaan, karena asal diri pribadi.

Sir Toso Wijaya alias Jaka Tolos atau siapapun Anda yang mengibadhakan/Mempraktekan Wahyu Panca Ghaib dengan menggunakan Wahyu Panca Laku, mengetahui benar, di mana kemusnahan anta ya mulya, yaitu Dzat yang melanggengkan budi, berdasarkan Sabda Romo, ialah Sabda yang dapat memusnahkan beraneka ragam selubung, yaitu dapat lepas bagaikan anak panah, tiada dapat diketahui di mana busurnya. Syari’at, tarekat, hakekat, ma’rifat dan tasyawuf serta bla,,, bla,,, bla,,, lainnya, musnah tiada terpikirkan. Maka sampailah Toso Wijaya alias Jaka Tolos di istana Dat sifat-nya yang sejati. Terima Kasih Romo…

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com

http://webdjakatolos.blogspot.com

ILMU PENGALAMAN LAKU SPIRITUAL:


ILMU PENGALAMAN LAKU SPIRITUAL:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Kabuh Jombang. Hari Minggu Legi. Tgl 12 Maret 2017

Menurut Pengalaman hasil praktek langsung di TKP yang sudah saya dapatkan, Tingkat kesadaran murni di dalam laku spiritual, itu dapat kita ketahui dari sejumlah faktor, disetiap gerak respon kejiwaan kita, saat menghadapi atau mengalami suatu hal, di setiap keseharian kita. Dalam kesempatan kali ini, saya akan berbagi ilmu pengalaman pribadi saya, bukan katanya siapapun dan apapun, tentang beberapa faktor yang bisa kita jadikan sebagai parameter penting, untuk mengetahui tingkat kesadaran murni, yang berkontribusi terhadap laku spiritual kita, seiring dengan pertumbuhannya.

Pertama Tentang Ego atau Pamrih;
Salah satu faktor penting dalam tingkat kesadaran murni laku spiritual seseorang, adalah seberapa banyak ego/pamrih atau kegelapan di sekitar Jiwa (Roh Suci-nya) yang telah dilenyapkan, dan seberapa mampu ia mengidentifikasikan dirinya dengan Jiwa (Roh SUci-nya) yang ada di dalam diri pribadinya.

Maksud saya, dengan kegelapan di sekitar Jiwa atau Ego/pamrih, adalah kecenderungan kita untuk melihat diri kita sendiri, hanya berdasarkan panca indera, pikiran dan intelek. Ego ini juga dikenal sebagai ketidaktahuan spiritual akan Hakikat Hidup-nya Manusia yang Sejati/Sebenarnya, yakni Jiwa (Roh Suci). Sistem edukasi modern dan masyarakat, mengajari kita untuk mengidentifikasikan diri kita dengan tubuh fisik, pikiran dan intelek (akal budi pakarti), karena tidak tahu, bahwa Hakikat Hidupnya Manusia Sejati/Sebenarnya, adalah Jiwa (Roh Suci).

Setelah mempelajari ilmu pengetahuan Spiritualitas, meskipun kita dapat memahami secara intelek tentang keberadaan Jiwa (Roh Suci) di dalam diri kita, kita belum dapat merasakan atau mengalaminya sendiri secara nyata, tetap masih sebatas katanya. Setelah kita melakukan Belajar dan latihan Patrap Semedi dengan Sistem Wahyu Panca Laku, kegelapan jiwa (ego) akan mulai berkurang, sampai kita mencapai tingkat kesadaran murni laku spiritual tertinggi, di mana kita dapat secara utuh, mengidentifikasikan diri dengan Jiwa (Roh Suci) yang ada di dalam diri kita, secara benar-benar nyata, (Bener-Benering-Bener).

Dengan mempraktekan Wahyu Panca Ghaib menggunakan Wahyu Panca Laku. Jangankan ego-ego pada umumnya, ego spiritualpun, akan mulai berkurang, yang mana berkaitan langsung dengan meningkatnya tingkat kesadaran murni laku spiritual kita.

Pada tingkat kesadaran spiritual 20%, maksudnya, sebelum mencapai murni-nya sadar, seseorang sangatlah egois, sadar hanya akan dirinya sendiri dan hanya berpikir tentang dirinya sendiri pula. Setelah kita melakukan Belajar dan latihan Patrap Wahyu Panca Ghaib dengan Sistem Wahyu Panca Laku, kesadaran tentang tubuh fisik kita akan berkurang. Kita tidak hanya akan mampu bertahan dari ketidaknyamanan dan penderitaan saja, tetapi kita juga mampu untuk menerima pujian tanpa menjadi besar kepala.

Contohnya;
Suatu indikasi dari ego yang tinggi, adalah, ketika kita tidak secara terbuka, mengakui bahwa kita sedang melakukan latihan/belajar laku spiritual (Wahyu Panca Ghaib), karena hal itu, memungkin, akan membuatnya terasing dari teman-temannya, tetangganya, bahkan keluarganya (hawatir bahkan takut dianggap sesat dll). Dalam kebanyakan kasus, kita juga sering bereaksi negatif, ketika orang lain menunjukkan kesalahan kita. Ketidakmampuan menerima kesalahan, merupakan salah satu tanda dari ego tinggi.

Kedua. Tentang Perhatian terhadap kebahagiaan pribadi dan umum;
Kejengkelan karena harus mengurus anggota keluarga, yang berarti ketidaknyamanan bagi diri sendiri. Kesediaan untuk menghadiri suatu ceramah spiritual, hanya jika diadakan di tempat yang dekat, dan itupun kalau ada waktu dan kesempatan. Kesediaan untuk menyumbang secara moneter, untuk suatu protes terhadap ketidakadilan, tetapi tidak siap untuk merelakan waktu dan upaya karena takut akan ketidaknyamanan.

Hasil positif lainnya dari berkurangnya perhatian terhadap kebahagiaan pribadi adalah, kita menjadi semakin meluas/ekspansif. Kita dengan sepenuh hati akan lebih memperhatikan kebahagiaan orang lain dan masyarakat. Paradoksnya, meskipun kita kurang memperhatikan kebahagiaan diri kita sendiri, seiring kemajuan kita secara laku spiritual, salah satu manfaat dari pertumbuhan laku spiritual, adalah kita mendapatkan akses ke kebahagiaan raga dan ketenteraman jiwa, yang lebih banyak dalam kehidupan kita di dunia hingga akherat nanti.

Semoga Pengalaman Pribadi saya ini, bisa bermanfaat bagi Para Kadhang kinasihku sekalian. Salam Rahayu selalu dariku serta Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Jika Ada Yang Berkata dan Bertanya Soal Katanya: (Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling).


Jika Ada Yang Berkata dan Bertanya Soal Katanya:
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling).
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Kabuh Jombang. Hari Sabtu Kliwon. Tgl 11 Maret 2017

Wahai Para Kadhang kinasihku sekalian. Ketahuilah…!!!
Banyak orang yang salah menemui ajalnya, sekalipun dia berilmu tinggi dan mumpuni dalam bidang agama. Mereka tersesat tidak menentu arahnya, panca indera masih tetap siap, segala kesenangan sudah ditahan, napas sudah tergulung, dan angan-angan sudah diikhlaskan, tetapi ketika lepas tirta nirmayanya, belum mau. Maka ia menemukan yang serba indah. Dan ia dianggap manusia yang luar biasa. Padahal sesungguhnya ia adalah orang yang tenggelam dalam angan-angan, yang menyesatkan dan tidak nyata.

Budi dan daya hidupnya, tidak mau mati, ia masih senang di dunia ini, dengan segala sesuatu yang hidup, masih senang ia akan pikirannya. Baginya hidup di dunia ini nikmat, itulah pendapat manusia yang masih terpikat akan keduniawian, pendapat gelandangan yang pergi ke mana-mana tidak menentu, dan tidak tahu bahwa besok ia akan hidup, yang tiada kenal mati. Sesungguhnya dunia ini neraka.

Dunia ini alam kematian. Oleh karena itu, dunia yang sunyi ini, tidak ada Hyang Agung, serta malaikat. Akan tetapi bila Aku besok sudah ada di alam kehidupan-ku, akan berjumpa, dan kadang kala Aku menjadi Allah. Nah,,, di situ Aku akan Patrap/bersembahyang/shalat.

Wahai Para Kadhang kinasihku sekalian. Ketahuilah…!!!
Jika ada yang berkata, bahwa Tuhan/Allah menciptakan alam semesta. Itu adalah kebohongan belaka. Sebab alam semesta itu barang baru, sedang Tuhan/Allah tidak membuat barang yang berwujud, menurut dalil; layatikbiyu hilamuhdil, artinya tiada berkehendak menciptakan barang yang berwujud.

Adapun terjadinya alam semesta ini ibaratnya: drikumahiyati; artinya menemukan keadaan. Alam semesta ini: la awali. Artinya tiada berawal. Panjang sekali kiranya, kalau Aku menguraikan, bahwa alam semesta ini merupakan barang baru, berdasarkan yang ditulis dalam al-qur’an.

Wahai Para Kadhang kinasihku sekalian. Ketahuilah…!!!
Jika ada yang bertanya, di mana rumah Hyang Widhi/Tuhan/Allah/Gusti? Hal itu bukan merupakan hal yang sulit, sebab Allah sejiwa dengan semua Dzat. Dzat wajibul wujud, itulah tempat tinggalnya, seumpamanya Dzat, tanahlah rumahnya. Hal ini panjang sekali kalau Aku terangkan. Oleh karena itu, Aku ambil intisaripatinya saja.

Wahai Para Kadhang kinasihku sekalian. Ketahuilah…!!!
Jika ada yang bertanya, berkurangnya nyawa siang malam, sampai habis, ke manakah perginya nyawa itu? Nah,,, itu sangat mudah untuk menjawabnya. Sebab nyawa tidak dapat berkurang, maka nyawa itu bagaikan jasad , berupa gundukan, tak dapat aus, rusak dimakan andai kata.

Wahai Para Kadhang kinasihku sekalian. Ketahuilah…!!!
Jika ada yang bertanya bagaimanakah rupa Hyang Widhi/Tuhan/Allah/Gusti itu? Kitab Ulumuddin sudah memberitahukan; Wa Allahu dzahir al-insan, wabathin, al-insanu baytullahu), artinya, lahiriah manusia itulah rupa Hyang Widhi/Tuhan/Allah/Gusti. Batiniah manusia itulah rumah Hyang Widhi/Tuhan/Allah/Gusti.

Di beberapa Wejangan yang telah berlalu, Aku pernah mewedarkan asal-usul manusia dengan jelas, semua yang Aku Wejangkan, tiada memakai tirai selubung, tiada pula memakai lambang-lambang sanepan atau teka-teki. Bendera kelompok atau kotak-kotak golongan. Semua penjelasan. Aku berikan secara terbuka, apa adanya dan tanpa mengharapkan apa-apa sedikitpun, kecuali keberhasilan-mu dalam belajar menggali Rasa Sejati Hidupmu.

Dengan demikian musnah segala tipu muslihat, kepalsuan dan segala perbuatan yang dipergunakan untuk melakukan kejahatan. Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan para guru lainnya. Mereka mengajarkan ilmunya secara diam-diam dan berbisik-bisik, seolah-olah menjual sesuatu yang ghaib, disertai dengan harapan untuk memperoleh sesuatu yang menguntungkan untuk dirinya.

Wahai Para Kadhang kinasihku sekalian. Ketahuilah…!!!
Aku sudah pernah keliling jagat/dunia, bahkan lima agama yang resmi di akui dunia, pernah aku salami kedalamannya, sudah berulang kali berguru serta diwejang oleh para Pembimbing mu’min, diberitahu akan adanya Muhammad sebagai Rosulullah serta Allah sebagai Pengeran-ku.

Tapi,,, ajaran yang dituntunkan itu, menuntun serta membuat-ku menjadi bingung, dan menurut pendapat-ku, ajarannya sukar dipahami, merawak-rambang tiada patokan yang dapat dijadikan dasar atau pegangan. Ilmu Arab menjadi ilmu Budha, begitupun sebaliknya, karena hasilnya tidak sesuai dengan yang di praktekan, kemudian Aku mengambil dasar dan pegangan Kanjeng Nabi. Aku mematikan raga, merantau kemana-mana sambil menyiarkan agama. Padahal, ilmu Arab itu tiada kenal bertapa, kecuali berpuasa pada bulan Romadhan, yang dilakukan dengan mencegah makan, tiada berharap apapun.

Jadi jelas kalau Aku dulu itu masih manganut agama Budha, berkedok agama islam, buktinya, Aku masih sering ketempat-tempat sunyi, gua-gua, hutan-hutan, gunung-gunung, bahkan samudera, dengan mengheningkan cipta, sebagai lelaku demi terciptanya keinginan-ku, agar dapat bertemu dengan Dzat Maha Suci. Itulah buktinya bahwa Aku masih dikuasai setan ijajilku sendiri.

Wahai Para Kadhang kinasihku sekalian. Ingatlah…!!!
Dengan lima wasiat laku dibawah ini, yang pernah Aku pelajari dan aku praktekan disetiap waktunya hingga sekarang. Yang berhasil menuntun-ku, bisa mencapai titik finis idaman-ku. lima wasiat laku dibawah ini, Yang menjadi intisaripatinya semua ilmu dan ajaran. Dan lima wasiat laku, yang di amanahkan kepada-ku oleh Kanjeng Romo Sejati Gusti Prabu Heru Cokro Semono atau Dzat Maha Suci ini, kini Aku limpahkan dan Aku Amanah kepadamu sekalian.

Wahyu Panca Laku-IMAN;
1. Manembahing Kawula Gusti.
2. Manunggaling Kawula Gusti.
3. Leburing Kawula Gusti.
4. Sampunaning Kawula Gusti.
5. Sampurnaning Pati lan Urip.

Wahyu Panca Laku-IMAN-Arti Dan Maksudnya;
1. Pasrah kepada Dzat Maha Suci.
2. Menerima keputusan Dzat Maha Suci.
3. Mempersilahkan Kuasa Dzat Maha Suci.
4. Merasakan keberadaan Dzat Maha Suci.
5. Menebar Cinta Kasih Sayang Dzat Maha Suci.

Gunakan Wahyu Panca Laku yang lebih di kenal dengan sebuatan IMAN ini, untuk menjalankan Wahyu Panca Ghaib. Ingat… jangan merasa benar, jangan merasa pintar dalam segala hal, jangan merasa memiliki, karena hal itu dapat mengikis hingga habis sipat dan sikap belajarmu, merasalah bahwa semua itu hanya titipan dari Dzat Maha Suci, yang membuat bumi dan langit, jadi,,, manusia itu hanyalah sudarma (memanfaatkan dengan baik dengan tujuan dan cara yang baik pula). Pakailah lelaku, syukur dan jujur serta rela/legowo. Dengan ini. Wong Edan Bagu Bisa, saya Jamin… Panjenengan semuanya juga bias, bahkan mungkin lebih bias disbanding Wong Edan Bagu.

Salam Rahayu selalu dariku serta Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

Kualitas Proses Belajar Berproses:


Kualitas Proses Belajar Berproses:
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Kabuh Jombang. Hari Sabtu. Tgl 11 Maret 2017

Manurut WEB. Salah satu cara belajar adalah melalui hati, bukan melalui mata atau intelek. Dan cara itu tidak di langit, atau di bumi, atau penjuru mata angin. Cara itu ada di dalam hati kita. Dalam berdoa, lebih baik menggunakan hati tanpa kata-kata (Semedi), daripada menggunakan kata-kata tanpa hati (wiridz/dzikir). Ketahuilah… Penjara yang paling buruk didunia fana ini, adalah hati yang tertutup. Tanpa hati yang terbuka, kekayaan hanyalah pengemis yang tidak berarti bagiku.

Saat membaca kutipan-kutipan tersebut, ada rasa akrab dan rasa seperti telah mengetahui kutipan tersebut meskipun tidak pernah belajar atau mengikuti figur atau ceritanya. Bagian yang merasakan hal itu adalah hati, “Ketenangan ada di dalam diri kita, bahkan Tuhan itu loh, ada didalam diri kita, janganlah mencari di luar diri kita.”. Namun kita tidak perlu menjadi ketenangan atau menjadi Tuhan, untuk dapat melihat bagaimana orang-orang yang memburu kesuksesan duniawi dalam upaya untuk menjadi bahagia dan damai serta tenteram, tetapi berakhir tanpa mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian apa lagi ketenteraman. Cukup Mempraktekan Wahyu Panca Laku, dan Tuhan akan menuntun kita dengan Jaminan yang Sempurna.

Sejumlah orang kaya biasanya sulit dan bahkan tidak mungkin tersenyum lepas atau merasakan ketenangan dan kedamaian sejati dalam kehidupan sehari-hari mereka. Jika mengabaikan hati, maka mungkin saja kita masih dapat mencapai kesuksesan dan materi duniawi, namun ketenangan dan kebahagiaan serta ketenteraman yang sempurna, akan selalu tetap berada di luar jangkauan. Saat kita membuka hati dan menggunakan hati dengan tepat, akan kita temukan bahwa kepuasan dan kesenangan datang bersamaan dalam satu paket dengan kekayaan, yang akan membantu kita untuk menikmati segala sesuatu dengan lebih baik lagi dan dengan perspektif nyata, bukan semu bukan hayal. Kita juga akan bias berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekitar kita dengan lebih bebas, lepas, merdeka tanpa beban ego atau pamrih apapun, serta menciptakan lingkungan yang mendorong dan mendukung ketenangan dan kedamain serta ketenteraman yang sempurna. Dan dengan ini. Saya mengulang bahasa spiritual saya ditahun 2015 yang lalu. Yaitu;

Jagalah Pikiranmu, karena Pikiran akan menjadi Perkata’anmu. Jagalah Perkata’anmu, karena Perkata’anmu akan menjadi Perbuatanmu. Jagalah Perbuatanmu, karena Perbuatanmu akan menjadi Kebiasa’anmu. Jagalah Kebiasa’anmu, karena Kebiasa’anmu akan membentuk Karaktermu. Jagalah Karaktermu, Karena Karaktermu akan membentuk Nasibmu. Maksimal Jagalah Hati/Qalbumu, karena Hati/Qalbumu akan menentukan Rasamu. Jagalah Rasamu, karena Rasamu akan menentukan Lakumu. Jagalah Lakumu, karena Lakumu akan menentukan Hyang Maha Suci Hidup-mu. tuhan hantu apa hantu tuhan atau hantu-hantuan apa tuhan-tuhanan.

Salam Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com

SURGA-NERAKA dan Mati-Hidup: (Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling).


SURGA-NERAKA dan Mati-Hidup:
(Wejangan Tanpa Tedeng Aling-Aling).
Oleh: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Kayangan Api Bojonegoro. Hari Senin Kliwon. Tgl 6 Maret 2017

Aku telah berjanji kepada diriku sendiri. Bahwa aku hanya akan memberi sebuah petunjuk, yang bisa digunakan untuk meniti jembatan (shiratal mustaqim) secara ajaib ke arah-Nya. Aku katakan ajaib,,, karena jembatan itu, bisa menjauhkan, sekaligus mendekatkan jarak mereka, yang sedang meniti dengan tujuan yang hendak dicapai.

Bagi kalangan awam, Kunci lazimnya dipahami, sebagai upaya memohon ampun kepada Dzat Maha Suci, sehingga mereka memperoleh pengampunan. Tetapi bagi Wong Edan Bagu, Kunci, adalah upaya pembebasan diri, dari belenggu keakuan (ego/pamrih) kepada Dzat Maha Suci, yang selama ini, menutupi tabir ghaib, yang menyelubungi manusia. Sesungguhnya di dalam asma al- Ghaffar, terangkum makna Maha Pengampun dan juga Maha menutupi, Maha Menyembunyikan dan Maha Menyelubungi. Ingat itu…!!! Jadi,,, jangan Cuma Pengampunnya saja, yang di telan, lanjutkan, yang detail, yang lengkap, kan ayatnya lengkap, kanapa Cuma di ambil pengampunnya saja, Cuma kulitnya saja…

Semua rintangan manusia, itu berjumlah tujuh, karena kita adalah makhluk, yang hidup di atas permukaan bumi Dzat Maha Suci membentangkan ,tujuh lapis langit yang kokoh di atas kita, sebagaimana bumipun, berlapis tujuh, dan samuderapun berlapis tujuh. Bahkan neraka berlapis tujuh.

Tidakkah anda ketahui, bahwa surgapun berlapis tujuh..?!
Tidakkah Anda ketahui, bahwa dalam beribadah kepada Tuhan/Allah, manusia diberi piranti, tujuh ayat, yang diulang-ulang hingga tujuh kali, entah itu dari Wahyu Panca Ghaib atau dari Al-Quran…?! untuk menghubungkan dengan-Nya…?!

Tidakkah Anda sadari, bahwa saat Anda Patrap/sujud, anggota badan Anda, yang menjadi tumpuan itu, berbentuk aksara tujuh…?! Dimana letak ketelitian belajar/laku Anda, jika sampai tidak mengetahui semua itu…!!!

Bagiku….
Di dunia ini manusia mati. Siang malam manusia berpikir dalam alam kematian, mengharap-harap akan permulaan hidupnya. Hal ini mengherankan sekali. Tetapi sesungguhnya, manusia di dunia ini dalam alam kematian, sebab di dunia ini banyak neraka yang dialami. Kesengsaraan, panas, dingin, kebingungan, kekacauan, ketakutan kehidupan manusia dalam alam yang nyata.

Dalam alam ini manusia hidup mulia, mandiri diri pribadi, tiada diperlukan lantaran ayah dan ibu. Ia berbuat menurut keingginan sendiri, tiada berasal dari angin, air, tanah, api, dan semua yang serba jasad. Ia tidak menginginkan atau mengaharap-harapkan kerusakan apapun. Maka apa yang disebut Tuhan/Allah, ialah barang baru, ditebak-tebak, direka-reka, bahkan dipolitiki menurut pikiran dan perbuatannya masing-masing. He he he . . . Edan tenan.

Mayat-mayat hidup berkeliaran kemana-mana, ke Utara dan ke Timur, mencari makan, sandang dan pangan, yang bagus, dan permata, serta perhiasan yang berkilauan, kedudukan yang tinggi, yang lelaki mengidamkan istri lebih dari satu, yang cantik denok demplon lagi, masih kurang, yang di apa-apain nurut, yang wanita pun sama, tanpa mengetahui, bahwa mereka adalah mayat-mayat belaka. Yang naik kereta, dokar, bendi, atau motor, dan mobil mewah itu, juga mayat, Putro Romo juga buanyak yang sebagai mayat hidup, buktinya… berbulan-bulan bahkan tahunan mengibadahkan/mempraktekan Wahyu Panca Ghaib, tidak mengenal hidupnya/guru sejatinya, malah berkiblat menyembah Romo Semono Sastrohadijoyo yang kuburannya di purworejo, meskipun begitu, seringkali ia berwatak keji terhadap sesamanya.

Keadaan itulah ,dan begitulah yang Aku ketahui, tentang yang sedang dialami manusia sekarang. Dan demikian pula, yang di ketahui oleh Syekh Siti Jenar pada masanya, sebab itu dia memilih mengasingkan diri, meninggalkan semua dan segalanya, karena enggap menyaksikan adegan yang tidak lucu itu, di pengasingan, syekh siti jenar menemukan jalan pulang atau jalan mati, bahwasannya, jalan matinya adalah dengan cara mengaku Tuhan/Allah, jika tidak, dia akan terlalu lama berada di duniafana yang penuh banggai yang mau tidak mau, suka tidak suka, harus di saksikannya setiap saat, sehingganya, dia tetep idep madep mantep, tak tergoyahkan, oleh ancaman mati para wali, yang pada akhirnya, Siti Jenar, siang malam, berusaha mensucikan budi, serta menguasai ilmu luhur dengan kemuliaan jiwanya. Hingga titik darah penghabisan, yang menjadi jalan kematiannya, kembali pada kesempurnaan yang luar biasa.

Wahai Sedulur dan Para Kadhangku kinasihku. Ketahuilah…!!!
Di alam kematian ada surga dan neraka, dijumpai untung dan rugi serta sial. Keadaan di dunia seperti ini, menurut dalil Samarakandi ”al-mayit pikruhi fayajitu kabilahu” artinya, Sesungguhnya orang yang mati, menemukan jiwa raga, dan memperoleh pahala surga serta neraka.

Dan ingatah… Surga neraka tidaklah kekal, ia dapat lebur, itupun letaknya, hanya dalam Perasa’an masing-masing pribadi manusia, senang puas itulah surga, adapun neraka ialah jengkel, kecewa dalam hati. Bahwa surga neraka terdapat diakhirat. Itulah hal yang semata khayal tidak termakan akal.

Sesungguhnya, meurut ajaran Islam pun, surga dan neraka itu tidak kekal. Yang menganggap kekal surga dan neraka itu, adalah kalangan awam. Sesungguhnya mereka berdua wajib rusak dan binasa. Hanya Dzat Maha Suci Tuhan/Allah yang wajib abadi, kekal, langgeng, dan azali.

Wahai Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian. Ingat…!!!
Sesungguhnya, tempat kebahagian dan kemulian, yang disebut swarga oleh orang-orang Hindu-Budha, di dalam Islam, disebut dengan nama Jannah (yang artinya taman), yang bermakna tempat sangat menyenangkan, yang di dalamnya hanya terdapat kebahagian dan kegembiraan.

Hampir mirip dengan swarga yang dikenal di dalam Syiwa-Budha, di dalam Islam dikenal ada tujuh surga besar, yang disebut ’alailliyyin, al-Firdaus, al-Adn, an-Na’im, al-Khuld, al-Mawa, dan Darussalam. Di surga-surga itulah amalan orang-orang yang baik ditempatkan, sesuai amal ibadahnya selama hidup di dunia.

Sementara itu, tidak berbeda dengan ajaran Syiwa-Budha, yang meyakini adanya Alam Bawah, yaitu neraka, yang bertingkat-tingkat, dan jumlahnya sebanyak jenis siksaan, Islam pun mengajarkan demikian. Jika dalam ajaran Syiwa-Budha, dikenal ada tujuh neraka besar yaitu, Sutala, Watala, Talata, Mahatala, Satala, Atala, dan Patala. Maka dalam Islam juga dikenal tingkatan neraka yaitu, Jahannam, Huthama, Hawiyah, Saqar, Jahim, dal dan Wail.

Sebenarnya,,, yang disebut awal dan akhir itu, berada dalam cipta kita pribadi, seumpama jasad di dalam kehidupan ini, sebelum dilengkapi dengan perabot lengkap, seperti umur 60 tahun, disitu masih disebut sebagai awal, maka disebut masyriq (timur) yang maknanya mengangkat, atau awal penetapan manusia, serta genapnya Hidup.

Yang di sebut Maghrib (Barat) itu penghabisan, artinya, saat penghabisan mendekati akhir, maksudnya setelah melalui segala proses kehidupan di dunia. Maka, sejatinya awal itu memulai, akhir mengakhiri. Jika memang bukan adanya, zaman alam dunia atau zaman akhirat, itu semua masih dalam keadaan hidup semua.

Untuk keadaan kematian, Aku sebut akhirat, hanyalah bentuk dari bergantinya keadaan saja. Adapun sesungguhnya, mati itu juga kiamat. Kiamat itu perkumpulan, mati itu roh, jadi semua roh itu, kalau sudah menjadi satu, hanya tinggal kesempurna’annya saja.

Moksanya roh, Aku sebut mati, karena dari roh itu, terwujud keberadaan Dzat semua, letaknya kesempurnaan roh itu, adalah musnahnya Dzat. Akan tetapi, bagi penerapan ma’rifat, hanya yang waspada dan tepat saja, yang bisa menerapkan aturannya. Disamping semua itu, sesungguhnya, semuanya juga hanya akan kembali kepada asalnya masing-masing, maka dari itu, ketahuilah asal usulmu.

Wahai Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian. Ketahuilah…!!!
Bahwa surga dan neraka itu dua wujud, terjadinya dari keadaan, wujud makhluk itu dari kejadian. Surga dan neraka, sekarang sudah tampak, terbentuk oleh kejadian yang nyata. Aku berikan kiasan sebagai tanda bukti adanya surga, sekarang ini, berdasarkan wujud dan kejadian di dunia, yang berhasil aku buktikan sendiri secara nyata, bukan katanya.

Surga yang luhur itu, terletak dalam perasa’an yang senang, tidak kurang. Contoh missal;

Orang duduk dalam kereta atau mobil mewah yang bagus, merasa sedih, bahkan menangis tersedu-sedu, sedang seorang pedagang keliling, berjalan kaki, sambil memikul barang dangangannya, menyanyi sepanjang jalan. Ia menyanyikan berbagai macam lagu, dengan suara yang terdengar mengalun merdu, sekalipun ia memikul, menggendong, menjinjing atau menyunggi barang dagangannya, pergi ke daerah seberang, Ia itu menemukan surganya, karena merasa senang dan bahagia. Ia tidur di rumah penginapan umum, berbantal kayu sebagai kalang kepala, dikerumuni serangga penghisap darah, tetapi ia dapat tidur dengan nyenyaknya., ituah surga.

Orang disurga, segala macam barang serba ada, kalau ingin bepergian serba enak, karena kereta, bendi, mobil merzi, tersedia untuk mondar-mandir kemana saja. Tetapi apabila nerakanya datang, menangislah ia bersama istri, atau suaminya dan anak-anak serta keluarganya.

Wahai Sedulur dan Para Kadhang kinasihku sekalian. Ketahuilah…!!!

Manusia yang sejati itu, ialah yang mempunyai hak, dan kekuasaan Tuhan, yang Maha Kuasa, serta mandiri diri pribadi. Sebagai hamba, ia menjadi Hidup, sedang Dzat Maha Suci, menjadi nyawa. Hilangnya nyawa, bersatu padu dengan hampa, dan kehampaan ini, meliputi alam semesta.

Sir-Nanya Putro menjadi Romo, adanya Romo karena semedi, sebab dengan semedi, manusia hidup menjadi tidak tahu, akan adanya Dzat dan sifat-sifatnya. Nama untuk menyebut Hyang Manon, yaitu Yang Maha Tahu, menyatukan diri, hingga lenyap, dan terasa dalam pribadi. Ya,,, dia,,, ya,,, Aku. Maka dalam hati timbul gagasan, bahwa ia, yang semedi menjadi, Dzat yang mulia.

Dalam alam kelanggengan, yang masih di dunia ini, dimanapun sama saja, hanya manusia yang ada. Romo yang dirasakan, karena adanya waktu orang semedi, jika tidak ada, jadi gagasan yang palsu, sebab pada hakikatnya, adanya Romo yang demikian itu, hanya karena nama saja, itupun masih katanya. Manusia yang melebihi sesamanya, memiliki dua puluh sifat, sehingga dalam hal ini, antara agama Hindu-Budha-Kristen-katolik-Islam dan kepercayaan-kejawen-kapribaden-adat-kebatinan-paguyuban-golongan dan bla,,,bla,,,bla,,, lainnya, sudah menjadi satu, tidak ada bedanya, sama saja, tinggal tahu apa tidak, apa yang menjadi Intisaripatinya. Di samping itu, roh dan nama sudah menyatu. Jadi, tiada kesukaran lagi, mengerti akan hal ini, dan semua sangat mudah untuk bisa dipahami. Firman; Sesungguhnya, aku tidak pernah mempersulit hamba-ku, justru hamba-ku itu sendirilah, yang mempersulit dirinya sendiri).

Heeemmm… Betapa banyak nikmat hidup manfaatnya mati. Kenikmatan ini dijumpai dalam mati, mati yang sempurna teramat eloklah dia. Manusia sejati, sejatinya yang sudah meraih puncak ilmu sejati. Tiada dia mati, hidup selamanya. Menyebutkan mati, syirik.

Lalu…Siapa yang mau mati..!!!
Dalam alam kematian ini, orang kaya akan dosa!
Jika Aku hidup, yang tak kenal ajal, akan langgeng hidup-ku, tidak perlu ini itu. Akan tetapi, bila saya disuruh memilih, hidup atau mati? Aku tidak sudi!. Sekalipun saya hidup, biar Aku sendiri yang menentukan!. Tidak usah sesama manusia yang memulangkan saya ke alam kehidupan!. Saya akan pulang sendiri ke alam kehidupan sejatiku. Bukan karena sebab paksa’an siapapun dan apapun.

Karena bagiku, kematian hanya sebagai pintu kesempurnaan hidup yang sesungguhnya, maka, sebenarnya kematian juga, menjadi bagian tidak terpisahkan, dari keberadaan manusia sebagai pribadi. Oleh karena itu, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan, bukan sesuatu yang bisa dipilih orang lain. Kematian adalah hal, yang muncul dengan kehendak Pribadi, menyertai keinginan pribadi, yang sudah berada dalam kondisi manunggal/menyatu secara sempurna.

Oleh karena itu, dalam sistem Wahyu Panca Gha’ib yang di jalankan dengan menggunakan Wahyu Panca Laku, kasarnya; meniadakan istilah “dimatikan” atau “dipulangkan”, halusnya; menyempurnakan istilah “dimatikan” atau “dipulangkan”,. baik oleh Tuhan/Allah atau oleh siapapun. Sebab dalam hal mati ini, sebenarnya tidak ada unsur tekan-menekan atau paksa’an.

Pintu kematian, adalah, sesuatu hal yang harus dijalani secara sukarela, dan harus diselami pengetahuannya, agar ia mengetahui, kapan saatnya, ia menghendaki kematiannya itu, jika seseorang memang tidak pernah mempersiapkan diri, dan tidak pernah mau mempelajari ilmu kematian, takan tau arahnya ke mana, dan tidak mengerti apa yang sedang dialami. He he he . . . Edan Tenan.

Duh… Gusti Ingkang Moho Suci. Pencipta dan Penguwasa alam semesta seisinya. Bapak Ibu dari segala Ilmu Pengetahuan, sungguh saya telah menyampaikan Firman-Mu, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. maafkan lah saya, jika apa yang telah saya sampaikan, kepada orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi, tidak membuat orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. segera Sadar dan menyadari akan kebenaran-Mu. Ampunilah orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi., dan bukakanlah pintu hati mereka, dan terangilah dengan Rahmat-Mu, agar tidak ada lagi kegelapan dan kesesatan di hati orang-orang yang saya Cintai. Kasihi dan Sayangi. Damai dihati, damai didunia, damai Di Akherat.

Damai… Damai… Damai Selalu Tenteram. Sembah nuwun,,, Ngaturaken Sugeng Rahayu, lir Ing Sambikolo. Amanggih Yuwono.. Mugi pinayungan Mring Ingkang Maha Agung. Mugi kerso Paring Basuki Yuwono Teguh Rahayu Slamet.. BERKAH SELALU. Untuk semuanya tanpa terkecuali, terutama Para Sedulur, khususnya Para Kadhang Konto dan Kanti Anom Didikan saya. yang senantiasa di Restui Hyang Maha Suci Hidup….._/\_….. Aaamiin… Terima Kasih. Terima Kasih. Terima Kasih *
Ttd: Wong Edan Bagu
Putera Rama Jayadewata Tanah Pasundan
Telephon; 0819-4610-8666.
SMS/WhatsApp/Line; 0858-6179-9966.
BBM; D38851E6”
https://putraramasejati.wordpress.com
http://webdjakatolos.blogspot.com